-->

Pedang Naga Kemala Jilid 09

Jilid 09

“Ha-ha-ha, semua jerih payahmu itu tiada gunanya. Kukira apa yang kulakukan tadi lebih berguna.”

“Membunuhi pasukan itu?”

“Bukan hanya itu. Tadi ketika engkau berkelahi, peti kecil yang dipegang si gendut terjatuh. Aku mengambil peti kecil itu dan tahukah engkau apa isinya?”

Ci Kong menggeleng.

“Isinya candu murni! Dan aku membuang setengahnya, lalu kuganti dengan tahi kering yang kuaduk menjadi satu dengan candu. Ha-ha, ingin aku melihat muka orang yang menghisap candu itu sekarang, ha-ha!”

Ci Kong juga tertawa, akan tetapi dia memandang heran. Orang ini bercita- cita besar dan muluk, akan tetapi apa yang dilakukannya itu, mencampuri candu dengan tahi kering, sungguh kekanak-kanakan sekali. Dan mengingat bahwa orang gagah ini  adalah  murid seorang datuk sesat seperti  Thian-tok, diam-diam diapun menjadi bingung sendiri. Murid datuk sesat menjadi patriot “Sudahlah, sobat Ong Siu Coan. Aku akan pergi sekarang dan selamat

tinggal. Mudah-mudahan cita-citamu yang tinggi itu akan dapat berhasil.” “Tentu saja berhasil. Eh, Tan Ci Kong, apakah engkau diutus oleh gurumu

yang gendut itu untuk mencari Giok-liong-kiam?”

Pertanyaan yang tiba-tiba ini mengejutkan Ci Kong, akan tetapi dengan tenang dia menggeleng.

“Tidak, akan tertapi kalau aku bertemu dengan saudara seperguruanmu itu, tentu akan kucoba untuk merampas kembali Giok-liong-kiam untuk dikembalikan kepada yang berhak.”

Ong Siu Coan mengangguk-angguk. Sejenak timbul keinginan hatinya untuk menyerang pemuda murid Siauw-bin-hud ini, akan tetapi keinginan ini ditekannya. Tidak perlu menanam permusuhan dengan pemuda ini, dan diapun belum yakin benar akan dapat mengalahkannya.

“Hemm, biarlah  di lain kesempatan saja aku akan menguji kelihaianmu.

Aku masih mempunyai urusan yang lebih besar. Selamat tinggal!”

Siu Coan lalu membalikkan tubuhnya dan berlari cepat meninggalkan Ci Kong. Pemuda ini lalu melanjutkan pula perjalanannya, menuju Kanton.

Apa yang dikatakan Ong Siu Coan kepada Ci Kong, yaitu bahwa perbuatannya mencampur madat dengan tahi kering itu lebih penting dari pada tindakan Ci Kong, memang terbukti. Perbuatannya yang nakal kekanak- kanakan itu telah menimbulkan akibat yang amat hebat terhadap keluarga hartawan Ciu Lok Tai. Dan juga ketika dia mengatakan bahwa dia ingin sekali melihat muka orang yang menghisap madat bercampur kotoran itu, andaikata dia benar-benar menyaksikan, tentu dia akan merasa puas dan geli, karena yang menjadi korban kenakalannya justeru adalah seorang pembesar Mancu yang dibencinya!

Seperti kita ketahui, dua orang kepercayaan Ciu Wan-gwe, yaitu Gan Ki Bin dan Lok Hun, sedang berangkat meninggalkan rumah gedung hartawan itu untuk melaksanakan tugas mengantarkan sepeti kecil madat kepada wakil kepala daerah Kanton yang oleh Ciu Wan-gwe diharapkan untuk dapat melindunginya dan membantu meredakan kemarahan Wang Taijin dan Ma- ciangkun yang merasa terhina dalam pesta itu oleh Kui Eng. Dan baru saja mereka muncul dari dalam gedung pagi itu, mereka berjumpa dengan Ci Kong sehingga terjadilah keributan. Setelah keributan itu selesai dengan larinya dua orang pemuda yang mengacau itu, mereka berdua menemukan kembali peti candu. Giranglah hati mereka melihat bahwa peti itu masih penuh. Bergegas mereka berganti pakaian lalu melaksanakan tugas yang tertunda itu, naik kuda menuju ke Kanton.

Ketika Gan Ki Bin dan Lok Hun tiba di rumah gedung Lai-taijin, yaitu wakil kepala daerah Kanton, mereka disambut dengan kegembiraan besar oleh Lai- taijin. Pembesar ini adalah seorang pecandu yang sudah tidak ketolongan lagi, sudah mendarah daging. Agaknya racun madat sudah menyusup sampai ke tulang sumsum, sehingga sehari saja tidak mengisap madat, dia akan tersiksa hebat. Dia sudah kehabisan madat yang baik, dan sudah berhari-hari dia terpaksa mengisap madat yang tidak murni lagi, kurang memuaskan. Oleh karena itu, melihat kedatangan dua orang utusan Ciu Wan-gwe yang membawa sepeti kecil madat murni, kegirangannya memuncak.

“Cepat ambilkan pipaku, akan kunikmati sekarang juga, ha-ha!” katanya, dan para pembantunya cepat mengambilkan pipa madat yang segera diisi dengan tembakau yang dicampuri madat murni yang diambil dari peti kecil itu. Dua orang utusan Ciu Wan-gwe masih berlutut di situ. Mereka berdua juga merasa girang sekali, dengan wajah berseri mereka melihat betapa pembesar itu bergembira dan segera mencoba madat murni yang mereka bawa. Tak salah lagi, sebentar lagi mereka tentu akan keluar dengan saku berat dan sarat oleh

hadiah-hadiah berharga!

Jari-jari tangan orang yang ketagihan madat tak dapat bergerak tetap, melainkan agak gemetar, dan kedua tangan wakil kepala daerah itupun gemetar ketika dia sendiri mencampurkan madat murni dari peti itu dengan tembakau, lalu dimasukkanya ke dalam mulut pipanya. Mencampur tembakau dengan madat, lalu memasukkan tembakau madat itu ke dalam pipa, semua ini dilakukan dengan jari-jari tangan yang terlatih dan terbiasa, dan di dalam pekerjaan inipun terkandung kenikmatan besar! Terdapat keluwesan dan seolah-olah mengandung ‘seni’ tersendiri.

Memasukkan tembakau madat ke mulut pipa, tidak boleh terlalu padat, karena hal itu akan menyukarkan penyedotan dan terbakarnya ramuan itu kurang lancar, juga tidak boleh terlalu sedikit sehingga sudah habis terbakar sebelum isapan penuh memasuki paru-paru. Kemudian menyalakan tembakau itu dengan mendekatkan mulut pipa pada api lilin yang tersedia. Lilinnya juga terbuat dari api sumbu lemak, tidak berbau malam. Semua gerakan ini disertai bayangan betapa akan nikmat rasanya kalau asap candu itu memasuki paru- paru. Hangat-hangat menyusup melalui kerongkongan, memasuki paru-paru, dan dari dada yang terasa hangat itu akan menjalar rasa nikmat ke seluruh tubuh. Kalau hawa itu sudah memasuki kepala, maka tubuh akan terasa ringan melayang-layang, pikiran akan menjadi kosong dan bebas seperti seekor burung dara yang terbang di angkasa, panca indera akan menjadi demikian tajam dan peka sehingga warna-warna akan nampak lebih cerah di mata, suara-suara akan terdengar lebih merdu di telinga, dan hidung akan mencium keharuman dan kesedapan suasana yang biasanya tidak pernah terasa. Sorga di dunia!

Dua orang utusan dari Tung-kang itu dengan wajah berseri dan mulut tersenyum mengikuti semua gerak-gerik pembesar itu yang duduk di kursi. Dengan kedua mata dipejamkan, akhirnya Lai-taijin membakar mulut pipa pada api kecil di atas meja, lalu disedotnya pipa itu. Tembakau madat terbakar, nampak bara api pada mulut pipa itu dan tercium bau asap yang aneh. Lai- taijin menyedot terus, sekuatnya karena dia menginginkan agar semua tembakau itu cepat terbakar dan asapnya memenuhi rongga dadanya.

“Eh-ehh... ohh... ugh-ugh-uuggghhh...!”

Tiba-tiba pembesar itu tersentak, duduknya tegak dan matanya mendelik, terbatuk-batuk dan tangan kirinya mencekik leher. Asap yang keluar dari mulutnya berbau aneh dan memuakkan, dan pembesar itu terus batuk-batuk sampai kemudian muntah-muntah. Tentu saja para pengawal menjadi terkejut sekali, juga dua orang utusan itu memandang dengan muka pucat.

“Pranggg...!”

Cawan terisi minuman itupun terpukul oleh tangan pembesar itu dan jatuh ke atas lantai.

“Prakkk...!”

Pipanya dibantingnya dan pembesar itu dengan muka merah seperti udang direbus dan mata melotot, mulut masih mengeluarkan liur, segera memeriksa isi peti kecil. Merabanya, lalu menciumnya dan kembali dia muntah-muntah.

“Keparat! Jahanam busuk! Tangkap mereka, cambuk sampai mereka mengaku bagaimana mereka berani memberi madat bercampur kotoran busuk ini kepadaku!” perintahnya.

Kasihan sekali dua orang utusan itu. Dengan tubuh menggigil mereka minta ampun, akan tetapi para pengawal telah menyeret mereka dan merekapun menjadi korban cambukan sampai kulit belakang tubuh mereka pecah-pecah dan mereka roboh pingsan saking tak kuat menahan nyeri.

“Brakk...!”

Lai Taijin menggebrak meja.

“Keparat Ciu Lok Tai! Berani sekali menghinaku dengan mengirim madat bercampur kotoran!”

Peristiwa itu menimbulkan akibat yang amat hebat, sama sekali tidak disangka oleh Ong Siu Coan sendiri yang membuat ulah. Karena merasa amat malu, marah dan menganggap bahwa hartawan Ciu sengaja menghinanya, Lai Taijin lalu pergi menghadap Wang Taijin yang menjadi atasannya. Tentu saja dia tidak bicara tentang peristiwa candu kiriman itu, melainkan bicara tentang Ciu Wangwe yang dianggap kurang ajar berani menghina para pembesar dan pejabat Kanton.

“Kalau aku tidak ingat bahwa dia telah banyak melakukan kebaikan terhadap kita, tentu aku sudah mencapnya sebagai pemberontak dan mengerahkan pasukan untuk menangkap dan menghukumnya,” demikian Wang Taijin berkata setelah mendengar pancingan wakilnya tentang peristiwa di gedung Ciu Wan-gwe itu.

“Akupun mendapatkan malu besar sekali ketika kepala pengawalku dipermainkan oleh anak perempuannya. Sungguh keterlaluan sekali gadis itu.” “Akan tetapi, walaupun dia telah  banyak  melakukan  kebaikan  terhadap kita, sebaliknya kalau tidak ada kita yang mendukung, apakah dia mampu menjadi pedagang madat yang memonopoli pemasukan madat dari orang- orang kulit putih? Agaknya, yang dia berikan kepada kita belum ada seperseratus keuntungan yang didapatkannya karena dukungan kita,” bantah

Lai Taijin.

“Orang seperti dia itu patut dihajar!”

“Kuharap engkau dapat bersabar,” kata Wang Taijin.

“Hartawan Ciu mempunyai pengaruh yang cukup besar. Tanpa sebab tidak dapat kita bertindak apa-apa terhadap dia, karena di kota rajapun dia mempunyai hubungan. Sebaiknya kita mulai sekarang waspada dan mencari kesempatan baik untuk membalas penghinaannya.”

“Harap taijin tidak usah khawatir. Saya akan menghubungi komandan Ma Cek Lung. Biarpun tadinya Ma-ciangkun merupakan sahabat baik Ciu Wan- gwe, akan tetapi peristiwa penghinaan terhadap dirinya di depan unnum dalam pesta itu tentu membuat Ma-ciangkun malu dan tentu dia berpihak kepada kita.”

Demikianlah, Lai Taijin yang merasa sakit hati sekali itu mulai membuat persekutuan dengan Wang Taijin dan Ma-ciangkun untuk menanti kesempatan baik agar mereka dapat membalas dendam terhadap Ciu Wan-gwe yang mereka anggap telah melakukan penghinaan besar terhadap diri mereka.

Dan kesempatan itupun tidak lama kemudian tibalah! Pada waktu itu, madat telah tersebar luas dan mencengkeram makin banyak korban di antara rakyat, juga menyusup ke kotaraja dan mempengaruhi para pembesar. Akan tetapi, yang paling parah keadaannya adalah daerah Kanton, dimana orang- orang kulit putih berada dan kota ini merupakan sarang mereka, merupakan sumber penyebaran candu. Bukan hanya mempengaruhi badan, akan tetapi juga dengan adanya candu, para pembesar berkomplot dengan para pedagang candu yang amat menguntungkan itu.

Para pejabat menerima sogokan, para pedagang candu menumpuk keuntungan besar, dan rakyat yang menjadi korban. Hal ini membuat rakyat menjadi semakin gelisah. Kekayaan dikuras, ditukar dengan candu yang makin banyak dibutuhkan orang. Para tuan tanah menekan ke bawah dan rakyat petani yang dicekik agar menghasilkan uang lebih banyak.

Keadaan yang kacau ini terasa sampai ke kota raja dan sampai pula ke dalam istana. Para penasihat Kaisar Tao Kuang cepat menghadap kaisar dan melaporkan tentang keadaan yang amat parah itu.

“Menurut penyelidikan hamba, rakyat sudah menjadi gelisah sekali, para pejabat kehilangan kesetiaan mereka dan mudah digosok oleh para pedagang. Kalau dibiarkan berlarut-larut, hamba khawatir kalau pemberontakan di antara rakyat makin menjadi-jadi. Pula, harta kekayaan rakyat akhirnya akan dikuras habis oleh orang-orang kulit putih, ditukar dengan madat yang hanya mendatangkan malapetaka.” Demikian antara lain para menteri itu melapor dan menasihati kaisar.

Setelah mendengarkan banyak peringatan dan nasihat para menterinya, akhirnya Kaisar Tao Kuang mengambil keputusan yang tegas. Keputusan yang kemudian terkenal sekali dalam sejarah sebagai permulaan perang yang dinamakan Perang Madat.

Kaisar Tao Kuang mengangkat seorang jenderal yang bernama Lin Ce Shu sebagai seorang penguasa, seorang Gubernur untuk membawa pasukan besar pergi ke Kanton dan bertindak terhadap pengedar candu yang memang tadinya sudah dilarang itu. Lin Ce Shu adalah seorang pembesar yang paling benci dengan perdagangan candu yang dimasukkan oleh para pedagang kulit putih. Oleh karena itu, begitu menerima kekuasaan, dia bergerak cepat. Dikerahkannya pasukan besar yang secara kilat dan serentak tanpa ada kebocoran, menuju ke Kanton!

Gedung itu bagus sekali, coraknya masih merupakan gedung hartawan di kota Kanton, akan tetapi perabot-perabot rumahnya sudah berlainan sama sekali dengan gedung para hartawan Kanton. Perabot-perabot rumah itu asing, kursinya besar-besar, ruangannyapun lebar-lebar. Melihat keadaan perabot dan hiasan rumah itu, mudah diketahui bahwa yang tinggal di situ bukanlah seorang penduduk aseli Kanton, melainkan seorang asing.

Rumah gedung itu ditinggali oleh keluarga Hellway. Tuan Hellway ini seorang opsir yang menjadi pembantu kapten Charles Elliot yang pada waktu itu menjadi penguasa Inggeris di Kanton. Opsir Hellway bertugas menghubungi pedagang-pedagang Kanton, oleh karena itu dia pandai berbahasa daerah dan sudah belasan tahun dia tinggal di Kanton bersama isteri dan seorang puterinya.

Ketika mereka pindah ke Kanton, puteri tunggalnya baru berusia empat tahun. Kini Sheila, demikian nama puterinya, berusia tujuhbelas tahun. Karena ayah dan ibunya pandai berbahasa daerah, maka Sheila juga mempelajari bahasa ini dari para pelayan, sehingga iapun pandai berbahasa daerah. Bukan itu saja, Sheila seringkali mendengar dongeng dari para pelayannya, tentang pendekar-pendekar yang gagah perkasa, tentang ilmu silat yang tinggi, dan dari beberapa orang pengawal yang bekerja pada ayahnya, ia malah sempat mempelajari ilmu silat, yang walaupun tidak terlalu mendalam, namun cukup membuat ia pandai menjaga diri dan tubuhnya juga selalu berada dalam keadaan sehat dan kuat.

Sheila telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan lembut. Rambutnya berwarna kuning emas, panjang dan berombak amat indahnya. Sepasang matanya biru laut, tubuhnya, seperti biasa tubuh wanita barat, padat dan tinggi semampai, lebih tinggi dari pada tubuh gadis-gadis pribumi. Juga ia tidak pemalu seperti gadis pribumi, melainkan berani menentang pandang mata pria dengan tenang walaupun keadaan keluarga membuat ia beranggapan bahwa bangsanya adalah bangsa yang lebih maju dan lebih pandai dari pada bangsa pribumi yang kadang-kadang aneh dan sukar untuk dapat dimengertinya itu. Akan tetapi karena ia bergaul erat dengan para pelayan, sedikit banyak ia tahu akan keadaan atau cara hidup bangsa pribumi yang penuh dengan tradisi dan ketahyulan itu. Juga ia tahu bahwa Tiongkok berada dalam penjajahan Bangsa Mancu yang dahulunya hanya merupakan suku bangsa liar di utara yang kecil saja, namun yang kini telah menjadi kelompok yang kuat. Tahu pula ia bahwa dimana-mana terjadi pemberontakan dari para patriot rakyat yang tidak rela melihat tanah air dijajah oleh orang Mancu. Lebih lagi ia tahu segalanya tentang merajalelanya madat yang amat jahat, yang meracuni rakyat jelata dan yang membuat hatinya merasa amat tidak senang, karena ia tahu bahwa madat itu didatangkan oleh bangsanya, oleh English East India Company. Lebih lagi, ayahnya menjadi opsir, menjadi pembantu Kapten Charles Elliot, jelas bahwa ayahnya mempunyai peranan besar sekali dalam masalah penyebaran madat yang diam-diam amat dibencinya itu.

Ketika ia mendengar cerita dari seorang pelayan tentang seorang suami yang menukarkan kehormatan isterinya dengan madat, tentang seorang ayah yang menjual anak gadisnya karena ketagihan madat, dan orang yang membunuh diri karena ketagihan madat dan tidak mempunyai uang lagi untuk membelinya, hatinya memberontak dan pagi hari itu segera menemui ayahnya. Opsir Hellway amat mencinta puterinya karena memang dia hanya mempunyai anak satu-satunya itu. Dia sedang duduk bersama isterinya, siap untuk berangkat ke kantor ketika Sheila masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah cemberut dan muka agak pucat karena semalam gadis itu tidak dapat tidur, gelisah membayangkan semua peristiwa mengerikan yang terjadi di

antara rakyat jelata gara-gara madat.

“Selamat pagi, papa dan mama,” katanya kurang gairah.

“Selamat pagi, sayang. Eh, kenapa wajahmu nampak muram dan agak pucat? Apakah engkau sakit, Sheila?” tanya ayahnya dengan nada lembut dan ibunya lalu merangkul dan menciumnya.

Gadis itu menggeleng kepala, lalu melepaskan diri dari rangkulan ibunya dan iapun duduk di atas kursi berhadapan dengan mereka.

“Papa, kemarin aku mendengar cerita yang mengerikan sekali,” katanya. “Bukan cerita burung, papa, melainkan cerita tentang orang-orang gagah

yang menjual isteri atau anak perempuannya, orang-orang yang membunuh diri dan melakukan kejahatan-kejahatan, semua itu karena gara-gara madat.”

“Ehh...?”

Opsir Hellway memandang tajam kepada anaknya dan mengerutkan alisnya.

“Apa maksudmu?”

“Papa, semua itu memang terjadi. Madat telah meracuni rakyat, madat telah membikin sengsara rakyat di sini...”

“Sheila!” ibunya berseru.

“Omongan apa yang kaukeluarkan itu? Madat mendatangkan keuntungan besar kepada bangsa kita, mendatangkan kemakmuran kepada bangsa kita!”

“Mama, apa artinya keuntungan besar, kemakmuran kalau datang melalui kesengsaraan orang lain?”

“Sheila! Siapa yang bercerita kepadamu? Orang itu perlu kuhajar!” tiba-tiba Opsir Hellway berseru marah.

“Tidak! Tidak ada yang bercerita kepadaku. Aku mendengar omongan orang di jalan.”

Sheila cepat menjawab, tidak ingin melihat pelayan yang bercerita itu dihukum ayahnya.

“Hemm, lalu apa maksudmu?” bentak opsir itu yang merasa tersinggung sekali dengan ucapan-ucapan puterinya tadi.

“Papa, aku sungguh merasa tidak rela melihat papa menjadi seorang pejabat yang mewakili English East India Company yang memperdagangkan candu, yang memasukkan madat beracun itu ke negeri ini, meracuni rakyat jelata dan...”

“Cukup!” Opsir Hellway membentak marah, mukanya menjadi merah sekali. “Sadarkah kau akan omonganmu tadi? Segala yang kau makan dan pakai

sampai kau dewasa ini, semua kebutuhan kita sekeluarga, dicukupi karena perdagangan madat, dan engkau berani berkata demikian? Sheila, mengertilah bahwa salah mereka sendiri yang suka menghisap madat kalau keadaan mereka menjadi demikian. Kita hanya melayani saja sebagai pedagang, melayani kebutuhan mereka dan mendapatkan keuntungan. Itu sudah wajar, bukan?”

“Tidak, papa! Kalau rakyat tidak dikenalkan dengan madat, mereka takkan menjadi pecandu! Madat itu datang dari India, dan kalau kita tidak mendatangkannya dari India, tentu rakyat tidak pernah mengenalnya.”

“Belum tentu! Kaukira orang-orang India sendiri tidak akan membawanya ke sini? Dan orang-orang sini sendiri yang membutuhkannya dapat pula mencari ke India.”

“Bagaimanapun juga, aku tidak senang melihat papa menjadi opsir yang mengurus perdagangan madat yang terkutuk itu...”

Sheila lalu menangis.

“Hemm, engkau harus kami kirim ke Inggeris. Kalau dibiarkan tinggal terus di sini, engkau akan menjadi rusak, pikiranmu akan diracuni oleh pikiran- pikiran pribumi. Engkaupun perlu melanjutkan pelajaran ke sana.”

Akhirnya Opsir Hellway berkata dan dia bertukar pandang dengan isterinya yang merasa setuju dengan pendapatnya.

“Biar berada dimanapun juga, hatiku akan merana kalau mengingat betapa di sini papa melakukan pekerjaan yang amat tidak baik itu...”

“Kau tahu apa tentang baik dan tidak baik dalam suatu pekerjaan?” bentak ayahnya, dan melihat suaminya marah-marah, nyonya Hellway cepat mendekati suaminya dan menyabarkannya.

“Sheila, masuklah ke kamarmu, jangan membikin marah papamu,” kata nyonya itu, dan Sheila dengan mata masih merah karena tangisnya tadi, lalu lari memasuki kamarnya. Ia merasa berduka sekali melihat kenyataan bahwa ayahnya mempunyai pekerjaan yang demikian kejam dan jahatnya.

Ketika Opsir Hellway yang masih marah karena ulah puterinya itu hendak berangkat ke kantor, tiba-tiba datang seorang utusan dari atasannya yang menyerahkan surat dari Kapten Charles Elliot. Opsir Hellway membaca surat itu dan seketika wajahnya menjadi pucat.

“Baik, aku akan segera pergi menghadap Kapten Elliot!” katanya kepada utusan itu yang segera memberi hormat dan pergi.

“Ada urusan apakah?” tanya isterinya yang merasa tidak enak melihat suaminya nampak terkejut dan gugup itu.

“Celaka! Kaisar laknat itu telah melakukan tindakan kekerasan! Kota Kanton ini telah dikepung oleh pasukan yang besar dari kota raja, dan semua madat yang berada di kota ini harus diserahkan dengan ancaman hukuman mati! Ini perang! Perang...!”

Sheila agaknya mendengar pula ribut-ribut itu dan ia datang berlari ke ruangan itu.

“Papa! Mama! Aku mendengar bahwa kota ini dikepung tentara kerajaan.” Opsir Hellway teringat akan sikap puterinya tadi.

“Nah, puaslah sekarang hatimu. Kita semua akan celaka. Berkemaslah kau dan ibumu, siapkan pakaian dan barang berharga, siapa tahu kita harus pergi mengungsi. Aku mau ke kantor. Sheila, jangan kau keluar dari rumah, keadaan gawat dan berbahaya.”

Gubernur Lin Ce Shu bersama pasukannya yang besar telah tiba dan mengurung kota Kanton, menguasai empat pintu gerbang dan memerintahkan kepada pasukan keamanan di kota Kanton untuk mengumumkan bahwa siapapun yang keluar masuk kota itu akan digeledah, bahkan semua gudang milik para pedagang, termasuk pula milik orang-orang kulit putih, akan diperiksa dan siapapun yang memiliki simpanan madat harus diserahkan!

Tentu saja peristiwa ini menimbulkan kegemparan hebat. Dan seperti lumrahnya setiap peristiwa kekerasan, tentu ada yang menyambut dengan gembira, akan tetapi ada pula yang menyambut dengan duka. Yang merasa gembira adalah rakyat yang merasa tercekik oleh beredarnya candu, juga para pendekar yang membenci keadaan itu namun mereka tidak berdaya. Sebaliknya, yang gelisah adalah para pedagang candu, para pembesar yang melindungi mereka, dan tentu saja para pemadatan yang khawatir akan kehilangan benda yang amat disayang itu.

Inilah kesempatan yang dinanti-nantikan oleh Wang Taijin, Lai Taijin, dan Maciangkun untuk dapat membalas dendam hati mereka kepada keluarga Ciu Wangwe! Mereka ini adalah penguasa-penguasa di Kanton yang tadinya merupakan orang-orang paling rajin mendukung orang-orang kulit putih dan para pedagang candu, karena mereka itu menerima suapan dan sogokan yang luar biasa banyaknya. Merekalah yang tadinya seperti melindungi perdagangan candu itu.

Akan tetapi, begitu pasukan kota raja datang mengepung kota Kanton dengan maksud menyita semua madat dan menentang perdagangan itu, para penguasa ini seketika merobah warna muka mereka, seketika mereka itu nampak gigih dan rajin sekali melaksanakan kebijaksanaan pemerintah ini! Dan di dunia ini memang penuh dengan penguasa macam mereka ini, bisa didapatkan dimana-mana. Pejabat-pejabat seperti ini seperti ular-ular kepala dua yang dapat menggigit ke depan dan ke belakang, sikap mereka dapat berobah seperti angin, semua dilakukan demi kesejahteraan dan kesenangan mereka sendiri.

Demikianlah, dengan dalih melakukan kegiatan merampas madat yang berada di luar kota Kanton, Ma Cek Lung membawa pasukannya pergi ke Tung- kang dan pasukan yang sudah menerima perintahnya itu, langsung saja menyerbu gedung keluarga Ciu Lok Tai! Tentu saja keluarga itu terkejut sekali dan keadaan menjadi geger ketika para penyerbu itu bertindak kejam, membunuhi pelayan-pelayan yang sama sekali tidak mampu melakukan perlawanan.

Melihat ini, Ciu Lok Tai lalu mengerahkan pasukan pengawalnya dan terpaksa mereka itu melawan karena tidak melawanpun akan dibunuh. Ciu Lok Tai sendiri melawan dengan menggunakan pistolnya, dan tigapuluh orang lebih pasukan pengawalnya ikut melawan mati-matian. Tentu saja yang mengamuk paling hebat adalah Kui Eng. Gadis ini marah bukan main melihat pasukan keamanan yang bertindak seperti perampok itu.

Mula-mula Ma Cek Lung menyatakan bahwa kedatangan pasukannya itu adalah untuk melakukan penggeledahan dan untuk menyita semua madat yang berada dalam gedung keluarga Ciu. Ciu Wangwe sudah mendengar akan gerakan pasukan dari kota raja, maka diapun tidak akan menentang dan tadinya dia menyerah, bahkan mempersilahkan perwira yang pernah menjadi sahabat baiknya itu untuk melakukan penggeledahan. Akan tetapi penggeledahan itu ternyata berobah menjadi pembantaian, dan jelaslah bahwa pasukan itu memang datang untuk menghancurkan keluarga Ciu. Dan terjadilah perlawanan itu sehingga terjadi pertempuran mati-matian.

Jumlah pasukan yang dibawa Ma Cek Lung ada seratus limapuluh orang, oleh karena itu tentu saja pasukan keamanan yang hanya tigapuluh orang itu tidak dapat berbuat banyak dan dalam waktu yang tidak lama mereka sudah roboh semua! Juga Ciu Wan-gwe, isterinya dan semua pelayannya dibantai oleh pasukan yang sudah keranjingan itu.

Tinggal Kui Eng seorang yang masih mengamuk. Melihat betapa orang tuanya tewas dan seluruh isi rumah binasa, hati Kui Eng seperti disayat-sayat rasanya. Ia tahu bahwa perwira Ma itu memang datang untuk membalas dendam karena pernah dikalahkannya dalam pesta tempo hari. Maka dengan kemarahan meluap-luap, gadis ini mengamuk dan bermaksud untuk membunuh perwira yang memimpin penyerbuan itu.

Akan tetapi, sekali ini Ma-ciangkun telah bersiap siaga. Dia maklum akan kelihaian gadis puteri Ciu Wan-gwe itu, maka diapun kini mengajak belasan orang anak buahnya yang memiliki ilmu silat lumayan untuk mengeroyok Kui Eng. Karena itu, usaha Kui Eng untuk dapat berhadapan dengan Ma Cek Lung sia-sia belaka. Ia dikurung dengan ketat oleh puluhan orang prajurit penjaga keamanan dari Kanton itu, di antaranya terdapat belasan orang yang memiliki ilmu silat yang cukup kuat. Maka gadis inipun mengamuk dan sudah banyak anggauta pasukan musuh yang roboh dan tewas oleh tanparan atau tendangan kakinya.

Akan tetapi, pengepungan dan pengeroyokan tetap ketat saking banyaknya pihak musuh sehingga setelah merobohkan tidak kurang dari tigapuluh orang, akhirnya gadis itu kehabisan tenaga. Apalagi karena hatinya sedang gelisah dan berduka oleh kematian keluarganya. Maka, iapun mulai terkena senjata lawan yang datang bagaikan hujan itu. Namun, ia tidak menjadi gentar. Beberapa kali terdengar suara Ma-ciangkun yang menyerukan agar gadis itu menyerah saja. Memang dia mempunyai niat kotor terhadap gadis cantik itu dan mengharapkan akan dapat menangkap gadis itu dalam keadaan hidup. Akan tetapi, Kui Eng pantang menyerah dan mengambil keputusan untuk melawan sampai napas terakhir.

Memang hebat sekali sepak terjang gadis itu. Ia hanya bertangan kosong karena tadi penyerbuan itu terjadi dengan tiba-tiba. Tadinya ia sama sekali tidak mengira bahwa penggeledahan itu akan berakhir dengan pembantaian maka iapun tidak sempat mengambil sebatang tongkat yang menjadi senjata andalannya. Terpaksa ia melawan dengan tangan kosong, akan tetapi tanpa senjatapun, gadis ini sudah merupakan lawan yang amat menggiriskan bagi para perajurit itu. Gerakannya seperti seekor burung walet saja, cepat dan setiap kali tamparan tangannya atau tendangan kakinya mengenai sasaran, tentu seorang pengeroyok roboh untuk tidak dapat bangkit kembali! Tubuhnya seperti seekor burung beterbangan, menyelinap di antara bayangan puluhan batang golok dan pedang. Di antara limabelas orang ahli silat yang diperbantukan pada pasukannya oleh Ma Cek Lung, sudah ada sembilan orang roboh! Hal ini membuat para pengeroyok menjadi gentar, akan tetapi juga penasaran. Apalagi karena dari belakang, Ma-ciangkun melancarkan aba-aba dan mendorong anak buahnya untuk merobohkan gadis itu, menangkapnya hidup atau mati.

Sebagian   dari    pasukan    itu    melakukan    perampokan    dengan    dalih menggeledah dan mencari madat. Memang ada belasan peti madat murni yang disita, akan tetapi di samping madat ini, juga ikut pula disita benda-benda berharga yang terdapat di gedung itu dalam jumlah banyak! Sehabis merampok mereka lalu membakar gedung itu!

Melihat ini Kui Eng menjadi semakin marah dan sakit hati. Ia mengamuk semakin hebat, akan tetapi betapapun lihainya, ia dikeroyok oleh seratus lebih orang yang kesemuanya adalah perajurit-perajurit yang biasa berkelahi, yang semua memakai pakaian perang yang dilindungi baju besi dan semua memegang senjata tajam pula.

Kui Eng memang seorang gadis yang telah menerima gemblengan seorang sakti dan ia telah memiliki kepandaian tinggi sekali, akan tetapi ia masih kurang terlatih. Kalau saja ia mau melarikan diri, kiranya tidak akan ada yang mampu menahannya. Akan tetapi, kesedihan karena kematian orang tuanya dan melihat keluarganya binasa dan rumahnya terbakar dan habis dirampok, kemarahan karena semua itu membuat ia sama sekali tidak mempunyai niat untuk menyelamatkan diri sendiri. Satu-satunya keinginannya hanyalah membasmi semua perajurit ini dan juga membunuh Ma Cek Lung.

Akan tetapi, tenaganya terbatas dan akhirnya karena selama berjam-jam mengerahkan sinkang untuk menghadapi puluhan orang bersenjata lengkap itu, tenaga Kui Eng mulai berkurang. Hal ini terutama sekali terdorong oleh kesedihan hatinya dan karena kurang cepat lagi gerakannya, mulailah dara ini terkena sambaran ujung golok dan pedang. Pangkal lengan kanan dan kedua pahanya telah tercium ujung senjata tajam yang membuat kulit dan sedikit dagingnya tergores dan berdarah. Melihat ini Ma Cek Lung menjadi girang.

“Kepung terus, bikin habis tenaganya. Kalau mungkin tangkap hidup- hidup, jangan bunuh!”

Perwira tinggi besar ini memang telah tergila-gila oleh kecantikan gadis ini dan sekarang dia mempunyai kesempatan sepenuhnya untuk dapat menguasai gadis itu, kalau perlu dengan kekerasan, bukan hanya untuk melampiaskan nafsu binatangnya, melainkan juga untuk memuaskan hatinya yang pernah sakit karena dibikin malu oleh gadis itu di depan orang banyak.

Kui Eng yang lelah sekali itu, gerakannya mulai lambat dan kacau, pandang matanya berkunang-kunang dan ia sudah terhuyung-huyung. Sebuah tendangan dari Ma Cek Lung yang kini ikut mengeroyok, tepat mengenai lutut Kui Eng. Gadis ini mengeluh, akan tetapi begitu tubuhnya roboh, ia menggulingkan tubuhnya dan seorang perajurit yang menubruk untuk memeluknya, disambut dengan tanparan yang amat dahsyat.

“Prokkk...!”

Perajurit itu terpelanting dengan kepala retak dan tewas seketika. Akan tetapi, pengerahan tenaga terakhir ini membuat Kui Eng kehabisan tenaga dan iapun terkulai dalam keadaan setengah pingsan!

Pada saat itu, berkelebat sesosok bayangan orang dan para perajurit itu terkejut sekali karena tiba-tiba muncul seorang pemuda yang menyambar tubuh gadis yang sudah terkulai itu dan memanggul tubuh itu lalu melarikan diri.

“Tangkap dia!” teriak Ma Cek Lung dengan marah.

Gadis itu sudah tidak berdaya, tinggal menangkap dan membelenggu saja dan seperti sepotong daging sudah tinggal menyumpit dan memasukkan mulut, akan tetapi tiba-tiba terlepas dan tentu saja dia tidak mau membiarkan pemuda itu melarikan Kui Eng. Akan tetapi, gerakan pemuda ini luar biasa cepatnya, dan setiap perajurit yang mencoba untuk menghadangnya, dirobohkan dengan pukulan-pukulan tangan kiri atau tendangan kaki, sedangkan lengan kanannya memanggul tubuh Kui Eng di atas pundak kanan.

“Lepaskan gadis itu!”

Akan tetapi, dengan sebuah tendangan kilat, pemuda itu merobohkan pembantunya dan Ma-ciangkun sendiri terkena pukulan tangan kiri yang cepat dan kuat. Dadanya terpukul dan biarpun dada perwira itu dilindungi baju besi, tetap saja dia terpental dan roboh pingsan dengan napas sesak!

Pemuda itu lalu berloncatan dan dengan cepat sekali menerobos kepungan para perajurit, merobohkan beberapa orang lagi tanpa membunuh mereka, dan akhirnya lolos dari kepungan. Beberapa orang perajurit mencoba untuk mengejar, akan tetapi pemuda itu dapat berlari cepat bukan main walaupun sambil memondong tubuh Kui Eng, dan akhirnya para perajurit tidak mengejar lagi. Mereka sibuk dengan mengumpulkan barang rampokan, mengurus teman-teman yang terluka atau tewas, dan mencoba untuk menyadarkan Ma Cek Lung yang pingsan.

Kui Eng sudah kehabisan tenaga dan tubuhnya lemas. Ia setengah pingsan, akan tetapi ia masih dapat mengetahui bahwa ia telah ditolong oleh seorang laki-laki yang memondongnya dan membawanya lari. Pandang matanya sudah kabur dan ia tidak dapat melihat jelas wajah laki-laki ini, apalagi ketika ia dipanggul, kepalanya berada di belakang tubuh orang itu. Akan tetapi ia tahu bahwa orang ini telah menyelamatkannya, dan diam-diam ia bersyukur karena ia tahu bahwa tenaganya sudah habis dan nyawanya takkan tertolong lagi. Ia tidak takut mati, akan tetapi kalau ia mati, siapa yang akan membalaskan kematian ayah ibunya? Ia berterima kasih kepada laki-laki ini yang sudah menyelamatkannya sehingga masih ada harapan dan kesempatan baginya untuk kelak membalas dendam kepada Ma Cek Lung dan anak buahnya. Ia merasa aman dan ketika pemuda itu berlari cepat memanggul tubuhnya ke luar kota Tung-kang, diam-diam ia beristirahat dan menghimpun hawa murni untuk mengumpulkan kembali kekuatannya.

Akan tetapi, Kui Eng yang kini sudah kuat kembali, lalu bangkit berdiri dan menghadapi pemuda itu, baru pertama kalinya ia ingin dan dapat melihat wajah penolongnya karena tadi ia mencurahkan semua perhatiannya untuk menghimpun hawa murni. Dua pasang mata yang sama tajamnya saling tatap dan tiba-tiba Kui Eng undur dua langkah dan berseru kaget.

“Kau...!!”

Kemudian, tanpa banyak cakap lagi, gadis ini lalu menerjang pemuda itu kalang kabut, mengerahkan lagi seluruh tenaga yang ada, dan oleh karena itu serangannya dahsyat sekali.

Pemuda itu bukan lain adalah Tan Ci Kong! Seperti juga semua orang yang berada di sekitar daerah Kanton, Ci Kong juga mendengar tentang pengepungan pasukan besar kerajaan terhadap kota Kanton dan diapun merasa heran dan ingin tahu apa yang terjadi. Ketika mendapat keterangan bahwa pasukan yang dipimpin oleh Panglima Lin Ce Shu itu adalah utusan kaisar untuk menyita semua madat, diam-diam dia merasa bersyukur sekali dan memuji tindakan itu yang dianggap akan menyelamatkan rakyat dari racun yang amat berbahaya itu.

Akan tetapi, Ci Kong melihat pasukan yang dipimpin oleh Ma Cek Lung keluar dari Kanton. Pasukan yang besarnya seratus limapuluh orang, membalapkan kuda keluar dari kota itu. Hatinya tertarik karena dia mengenal Ma Cek Lung sebagai perwira tinggi besar gendut yang pernah menyiksa dan hampir membunuh dia dan ayahnya pada duabelas tahun yang lalu di dalam rumah Ciu Wan-gwe. Karena hatinya tertarik, maka diapun mengikuti jejak pasukan ini yang ternyata menuju ke kota Tung-kang.

Pasukan ini mendatangi rumah gedung hartawan Ciu, dan ketika Ci Kong mendengar bahwa mereka akan menyita madat, diapun tidak mau mencampuri, bahkan diam-diam merasa girang. Memang hal itu sudah semestinya sejak dahulu dilakukan pemerintah, pikirnya sambil meninggalkan Tung-kang karena dia tidak ingin mencampuri. Akan tetapi, dia melihat asap mengepul dari dalam kota itu. Dia terkejut. Kebakaran? Apakah yang terjadi?

Sudah berjam-jam Ci Kong meninggalkan kota itu dan tidak menduga akan terjadi kekerasan, karena siapakah yang akan melawan dan menentang keputusan kaisar? Kebakaran itu menarik hatinya dan diapun cepat menggunakan ilmu berlari cepat memasuki kota Tung-kang kembali. Makin terkejut dia ketika mendengar berita di dalam kota itu bahwa rumah gedung keluarga Ciu Wan-gwe diserbu, dirampok dan dibakar oleh pasukan yang datang dari Kanton. Dia merasa heran, dan ketika dia cepat datang ke tempat itu, dia melihat betapa gadis puteri Ciu Wan-gwe yang cantik dan lihai itu dikeroyok puluhan orang perajurit dan melihat pula banyaknya perajurit yang tewas dan juga betapa rumah itu terbakar dan banyak pengawal dan pelayan keluarga itu sudah berserakan menjadi mayat. Maka diapun cepat turun tangan menyambar tubuh Kui Eng yang setengah pingsan itu dan melarikannya ke luar kota.

“Harap kau tenanglah, nona, karena sekali ini aku tidak memusuhi siapapun juga. Aku bahkan ikut bersedih melihat hancurnya keluargamu...”

Akan tetapi, Kui Eng tidak pernah merasa kenal kepada pemuda ini yang hanya diketahuinya pada pagi hari itu mengacau di gedung keluarganya, dikeroyok oleh para pengawal sampai ia datang dari jalan-jalan pagi dan menyerang pemuda itu, hanya tahu bahwa pemuda itu, dengan seorang kawan lain, telah mengacau, bahkan mendatangkan banyak kematian di antara para pengawal dan anak buah pasukan keamanan kota Tung-kang yang datang membantu. Tentu saja, melihat pemuda ini, biarpun kenyataannya tadi menyelamatkannya, ia menduga bahwa tentu ada hubungan antara penyerangan pemuda ini beberapa hari yang lalu dengan penyerbuan pasukan sekarang ini.

“Manusia busuk, sekaranglah saatnya kita membuat perhitungan!” bentaknya, dan dengan cepat Kui Eng sudah menyambar sepotong kayu dari dahan pohon yang berdekatan. Dengan kayu sebagai tongkat di tangannya, dara inipun menyerang kembali dengan dahsyat.

Melihat betapa sepotong kayu itu kini berobah menjadi sinar kehijauan dan ujungnya bergetar menjadi banyak sekali menyerang ke arah jalan darah di bagian depan tubuhnya, Ci Kong kaget bukan main. Inilah serangan maut yang amat berbahaya, pikirnya, dan cepat dia berloncatan mengelak. Akan tetapi, gadis itu terus mendesaknya dengan tongkat istimewa itu dan memang gadis itu telah mengeluarkan ilmunya yang paling hebat yang dipelajarinya dari Tee- tok, yaitu Cui-beng Hek-pang (Tongkat Hitam Pengejar Nyawa)!

Ci Kong mengenal ilmu tongkat sakti, maka diapun harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menghadapi lawan yang amat tangguh ini. Kedua lengannya seperti berobah menjadi baja sehingga setiap kali lengannya menangkis tongkat, Kui Eng merasa betapa lengannya yang memegang tongkat tergetar. Keduanya mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sama mahirnya sehingga tubuh mereka lenyap berobah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara sinar tongkat hitam kehijauan yang mengeluarkan suara mendengung-dengung.

Diam-diam Ci Kong merasa kagum sekali. Ilmu tongkat ini hebat bukan main dan untung baginya bahwa gadis itu sudah kehilangan banyak tenaga, andaikata tidak, ia akan terancam bahaya maut karena ilmu tongkat itu aneh dan sukar dilawan. Andaikata tadi gadis itu menggunakan tongkat, kiranya akan lebih banyak korban yang roboh di pihak para pengeroyok dan mungkin tidak perlu dibantunya. Akan tetapi, pemuda ini adalah murid Siauw-bin-hud dan telah mempelajari banyak ilmu yang tinggi-tinggi, sehingga dia masih mampu menghindarkan diri dan terpaksa untuk mengimbangi kedahsyatan serangan gadis itu, diapun kadang-kadang membalas dengan totokan-totokan untuk menghentikan serangan gadis itu.

Berkali-kali Ci Kong berkata, suaranya tetap sabar dan tenang. Kui Eng sudah merasa semakin penasaran sekali. Ia telah mempergunakan tongkat dan telah memainkan Cui-beng Hek-pang, akan tetapi tetap saja ia tidak mampu mengalahkan pemuda ini, bahkan tenaganya sendiri mulai berkurang lagi dan napasnya mulai memburu. Ingin ia menangis saking jengkelnya. Ketika untuk kesekian kalinya pemuda itu mengajak bicara, ia mendapatkan kesempatan baik untuk beristirahat, untuk menghimpun tenaga baru dan menenangkan kembali pernapasannya. Maka iapun meloncat ke belakang, memandang tajam dan berusaha menguasai pernapasannya yang terengah-engah.

“Kau... kau mau bicara apalagi?” katanya ketus.

“Nona, marilah kita bicara dengan baik. Aku mengerti bahwa nona memusuhi aku karena salah kira saja.”

“Huh, aku masih belum buta untuk mengenal engkau sebagai pengacau yang pernah membikin ribut di rumah keluargaku beberapa hari yang lalu.”

Ci Kong mengangguk.

“Tidak kusangkal, nona. Akan tetapi, kedatanganku pada waktu itu hanya untuk mengingatkan Ciu Wan-gwe tentang buruknya pengaruh madat terhadap rakyat, dan ingin minta kepadanya agar dia menghentikan usaha pengedaran madat itu. Akan tertapi aku tidak diperkenankan bertemu dengan Ciu Wan-gwe, bahkan aku dikeroyok.”

“Siapa sudi percaya omonganmu? Engkau mengatakan tidak bermaksud buruk dan hanya mau mengingatkan, akan tetapi engkau membunuh belasan orang pengawal!”

“Menyesal sekali, nona. Akan tetapi bukan aku yang membunuh mereka, melainkan orang yang datang membantuku...”

“Kawanmu, sekutumu, sama saja!”

“Tidak, aku sama sekali tidak pernah mengenal dia, nona. Dan aku tidak setuju dengan perbuatannya itu. Nona, kalau memang aku memusuhimu, perlu apa aku menyelamatkanmu dan membawamu ke luar Tung-kang?”

Sejenak Kui Eng meragu. Benar juga apa yang dikatakan pemuda ini, akan tetapi ia masih merasa penasaran. Dalam sekejap mata saja ia telah kehilangan keluarga, harta benda, kehilangan segala-galanya, dan kepada siapa ia akan menumpahkan kemarahannya? Betapapun juga, pemuda ini pernah berkelahi melawannya, pernah menjadi musuh keluarganya.

“Maaf,  nona.   Sungguh   aku   merasa   ikut   bersedih   melihat   nasib keluargamu…”

Mendengar ucapan ini, seperti didorong keluar saja air mata dari sepasang mata yang indah tajam itu. Akan tetapi, Kui Eng mengusap air matanya dengan ujung lengan baju.

“Dulupun engkau tidak kasihan, kini tidak perlu kasihan, engkau pernah memusuhi kami, sekarangpun tetap musuh!”

Dan Kui Eng pun menerjang kembali, kini tenaganya sudah agak pulih dan napasnya tidak lagi memburu seperti tadi.

“Nona...!”

Akan tetapi karena serangan itu memang hebat, Ci Kong terpaksa meloncat cepat mengelak dan balas menyerang agar gadis itu tidak terus mendesaknya, karena kalau dia harus mengelak terus terhadap tongkat yang lihai itu, amat berbahaya. Terjadilah lagi perkelahian yang amat hebat antara dua orang muda yang lihai itu.

Kui Eng menyerang mati-matian dan mengerahkan segala-galanya. Di lain pihak, Ci Kong melayaninya tanpa maksud mencelakai gadis yang sedang marah-marah itu. Dia lebih banyak melindungi dirinya dan kadang-kadang saja dia membalas serangan hanya untuk menahan gelombang serangan lawan. Dan serangannya hanya berupa totokan-totokan ke arah jalan darah untuk menghentikan gerakan gadis itu tanpa membahayakan keselamatan gadis itu. Kui Eng sebagai murid seorang guru yang sakti tentu saja tahu bahwa pemuda ini banyak mengalah kepadanya, dan hal ini membuatnya semakin penasaran, walaupun ia juga merasa kagum karena kini ia tahu benar betapa lihainya pemuda itu dan bahwa kalau pemuda itu juga berniat merobohkannya,

kiranya ia tidak akan dapat bertahan terlalu lama.

Tiba-tiba bermunculan belasan orang yang sikapnya gagah dan seorang di antara mereka meloncat di antara dua orang yang sedang berkelahi itu sambil berseru.

“Tahan!”

Dari gerakan orang itu melerai, baik Kui Eng maupun Ci Kong maklum bahwa orang inipun lihai sekali, karena goloknya yang menangkis dapat menahan tongkat Kui Eng sedangkan tangan kirinya menahan lengan Ci Kong, dan mereka berdua ini merasa betapa orang ini memiliki tenaga yang amat kuat. Mereka berdua menjadi kaget dan heran, lalu meloncat ke belakang. Ketika keduanya memandang, ternyata yang melerai itu adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, bertubuh tegap dan kokoh membayangkan tenaga yang besar. Pemuda ini memegang sebatang golok yang tajam, dan pakaiannya kasar sederhana, sesuai dengan wajahnya yang membayangkan kejujuran dan kegagahan.

Biarpun pemuda itu membayangkan kegagahan yang menimbulkan perasaan segan, namun Kui Eng yang galak itu sama sekali tidak merasa gentar, bahkan ia memandang pemuda itu dengan mata melotot, tidak peduli bahwa pemuda itu datang bersama belasan orang yang kesemuanya membayangkan kegagahan para pendekar.

“Mau apa kau mencampuri urusanku? Apakah kau datang mau membantunya? Kalau begitu majulah, aku tidak takut menghadapi pengeroyokan kalian semua!”

Dan Kui Eng sudah siap memalangkan tongkatnya di depan dada, siap menghadapi pengeroyokan, bukan sekedar gertakan saja. PEDANG NAGA KEMALA

( GIOK LIONG KIAM )

Oleh : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Pemuda yang gagah perkasa itu bukan lain adalah Gan Seng Bu! Seperti kita ketahui, murid Thian-tok ini berpisah dari suhengnya, Ong Siu Coan. Akan tetapi dalam mengikuti jejak Koan Jit yang melarikan Giok-liong-kiam, diapun akhirnya tiba di daerah Kanton. Ketika terjadi pengepungan kota Kanton oleh pasukan kerajaan yang mulai bertindak hendak menumpas perdagangan madat, Gan Seng Bu menyambutnya dengan gembira sekali. Di daerah Kanton ini dia bertemu dengan para anggauta Thian-te-hwe atau Thian-te-pang, sebuah perkumpulan para pendekar yang berjiwa patriot dan anti pemerintah penjajah Mancu. Bahkan di sini dia bertemu pula dengan suhengnya, Ong Siu Coan yang telah mendahuluinya dan terkenal di perkumpulan itu sebagai seorang tokoh yang gagah perkasa! Biarpun dia tidak berambisi seperti suhengnya, namun Gan Seng Bu berjiwa gagah dan dia merasa cocok dengan para anggauta Thian-te-pang, maka diapun ikut dengan mereka menuju ke kota Kanton untuk melihat suasana, dan kalau perlu membantu pasukan pemerintah untuk menghadapi orang-orang kulit putih. Memang mereka tidak suka kepada pemerintah Mancu yang dianggap sebagai penjajah yang harus diusir dari tanah air, akan tetapi sementara ini, kalau menghadapi orang-orang kulit putih yang lebih asing lagi dan yang jelas merusak dengan perdagangan candu mereka, mereka akan membantu pihak pemerintah untuk menentang orang kulit putih lebih dahulu.

“Kami melihat kalian berdua adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Dalam keadaan kacau seperti sekarang ini, alangkah sayangnya kalau kalian yang lihai ini saling serang dan bermusuhan. Tidakkah lebih baik kalau kalian ikut bersama kami ke Kanton, menyumbangkan tenaga untuk memihak rakyat, dan menghalau musuh rakyat? Kami adalah orang-orang Thian-tepang yang selalu berjuang demi rakyat, kaum patriot yang pantang bermusuhan antara bangsa sendiri.”

Kui Eng sudah mendengar akan nama Thian-te-pang ini, maka ia cepat berkata,

“Apakah kalian semua ini pemberontak-pemberontak yang menentang kekuasaan Ceng?”

“Kami adalah pejuang, dan penjajah memang menyebut kami pemberontak!” bentak seorang di antara para pendekar itu yang merasa tidak senang mendengar gadis itu menamakan mereka pemberontak.

“Bagus! Kalau begitu, aku akan membantu kalian menghadapi pemerintah Ceng yang biadab! Baru saja ayah ibuku tewas oleh pasukan pemerintah!” kata Kui Eng penuh semangat sambil mengepal tinju.

“Akan tetapi, sementara ini yang penting adalah menghalau orang-orang kulit putih!” kata Gan Seng Bu.

“Merekalah yang merupakan penyakit utama pada saat ini. Nona yang gagah, kami akan gembira sekali kalau nona suka bergabung dengan kami, karena kami melihat nona memiliki kepandaian tinggi. Dan bagaimana dengan engkau sobat?” Gan Seng Bu memutar tubuhnya menghadapi Ci Kong. Baru sekarang dia melihat Ci Kong karena sejak tadi dia berhadapan dengan Kui Eng, dan begitu bertemu pandang dengan Ci Kong, diapun terkejut.

“Eh… bukankah engkau ini… murid Siauw-bin-hud…”

Semua orang, termasuk Kui Eng, terkejut bukan main mendengar ini. Nama Siauw-bin-hud adalah nama yang amat dikenal di dunia kang-ouw, apalagi dengan adanya peristiwa Giok-liong-kiam itu.

Ci Kong sendiri juga sejak tadi sudah teringat siapa pemuda gagah perkasa ini dan diam-diam dia merasa terheran-heran. Dia tahu bahwa Thian-tok adalah seorang datuk sesat yang terkenal, seorang di antara Empat Racun Dunia yang amat jahat. Akan tetapi mengapa dua orang muridnya seperti orang-orang gagah? Murid yang pertama itu pernah membantunya ketika dia dikeroyok oleh para pengawal Ciu Wan-gwe dan para pasukan keamanan, dan biarpun murid yang bernama Ong Siu Coan itu teramat kejam dan menyebar maut, namun jelas telah membantunya walaupun tahu bahwa dia cucu murid Siauw-bin-hud. Dan murid kedua dari Thian-tok ini malah bergaul dengan orang-orang Thian- te-pang yang terkenal sebagai para pendekar patriot! Maka diapun tidak mau menyebut nama Thian-tok di depan mereka dan dia hanya menjawab dengan singkat.

“Aku adalah cucu murid beliau.”

Seng Bu juga merasa tidak enak bertemu dengan pemuda ini. Bagaimanapun juga, dia tahu bahwa gurunya adalah seorang datuk sesat dan hal ini sengaja dia sembunyikan dari para pendekar di Thian-te-pang. Kalau para pendekar ini tahu bahwa dia adalah murid Thian-tok, agaknya dia tidak akan diterima sebagai kawan seperjuangan!

“Nah, bagaimana? Kalian berdua adalah orang-orang gagah, apakah mau menggabungkan diri dengan kami dan pergi ke Kanton?” tanyanya.

Kui Eng sendiri masih termangu memandang kepada Ci Kong yang baru diketahui bahwa pemuda itu adalah murid atau cucu murid Siauw-bin-hud. Pantas lihainya bukan main, pikirnya. Mendengar pertanyaan Seng Bu, ia berkata.

“Akan kuingat kalian di Kanton. Akan tetapi sekarang aku masih mempunyai urusan. Harap kalian berangkat lebih dulu.”

“Aku lebih suka menyendiri,” kata Ci Kong.

Seng Bu mengangkat pundaknya dan memandang kepada kawan- kawannya.

“Baiklah, asal kalian berdua jangan saling gebuk sendiri!”

Lalu dia bersama belasan orang kawannya melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Kanton. Ci Kong dan Kui Eng mengikuti bayangan orang-orang gagah itu dengan hati kagum. Betapapun juga, nama Thian-te-pang atau Thian- te-hwe sebagai kumpulan para patriot sudah amat terkenal. Di waktu itu, perkumpulan pendekar-pendekar yang menentang pemerintah penjajah dengan gigih, yang paling terkenal adalah Thian-te-pang atau perkumpulan Bumi Langit, lalu perkumpulan Tombak Merah, Pintu Sorga, Perkumpulan Toa- kiam (Pedang Besar). Mereka semua mengaku sebagai keturunan perkumpulan Sorban Kuning, yaitu sebuah perkumpulan pendekar patriot berbangsa hari di jaman Dinasti hari.

“Jadi engkau seorang murid Siauw-bin-hud?”

Kui Eng bertanya sambil menatap wajah Ci Kong. Pemuda itu mengangguk. “Benar, nona, dan namaku Tan Ci Kong.”

“Aku adalah puteri tunggal keluarga Ciu, maka tentu engkau dapat membayangkan betapa sakit hatiku ketika engkau mengacau di rumah kami dan kini ayah ibuku telah tewas.”

Suaranya mengandung isak. Akan tetapi dengan gagah, gadis ini menahannya. Ci Kong menarik napas panjang.

“Kematian akan datang kepada keluarga manapun juga, nona, dan kematian bukan urusan kita manusia. Memang menyedihkan, akan tetapi kita tidak dapat berbuat sesuatu,” katanya sederhana, bukan untuk menghibur, melainkan keluar dari lubuk hatinya karena pada saat itu diapun teringat bahwa ayah ibunya juga telah tiada.

“Aku... aku harus mengambil jenazah mereka dan menguburnya baik-baik.” “Mari kubantu engkau, nona. Akan tetapi, kita harus masuk secara menyelundup, karena kalau secara berterang tentu akan menghadapi

kesulitan.”

Gadis itu sejenak memandang tajam, agaknya merasa heran mendengar penawaran pemuda itu. Mengambil jenazah dua orang di tempat yang penuh dengan musuh tidaklah mudah kalau ia lakukan sendirian saja, maka mendengar penawaran itu, ia mengangguk dan keduanya lalu berlari kembali ke Tung-kang.

Untunglah bagi mereka bahwa pasukan yang dipimpin Ma Cek Lung itu ternyata telah kembali ke markas pasukan keamanan Tung-kang untuk mengurus anggauta pasukan yang tewas dan luka-luka, sehingga di tempat tinggal keluarga Ciu itu tidak nampak lagi pasukan. Gedung itu masih terbakar sebagian, dan para tetangga yang melihat munculnya Kui Eng, segera datang membantu. Kui Eng berhasil menemukan mayat ayah ibunya. Air matanya bercucuran akan tetapi ia tidak terisak. Bahkan dengan cepat ia lalu mengumpulkan tetangga dan minta pertolongan mereka untuk mengurus mayat para pelayan dan pengawal yang tewas. Kepada para tetangga itu ia berkata dengan suara sedih.

“Harap kalian suka menolongku, mengubur semua jenazah ini, dan semua barang yang masih ada di rumah ini boleh kalian pakai untuk biaya.”

Setelah berkata demikian, gadis ini dibantu oleh Ci Kong lalu membawa dua jenazah keluar kota. Tentu saja mereka harus cepat-cepat pergi membawa dua jenazah itu karena kehadiran mereka tentu akan segera diketahui, dan mereka tidak ingin menghadapi kesulitan dalam usaha mereka mengubur jenazah Ciu Lok Tai dan isterinya.

Jauh di luar kota Tung-kang, di kaki sebuah bukit yang sunyi, Kui Eng memilih sebuah tempat untuk mengubur jenazah ayah ibunya, dibantu oleh Ci Kong yang melakukan semua itu tanpa banyak kata. Diapun hanya memandang saja ketika gadis itu berlutut di depan kuburan sederhana itu. Akhirnya Kui Eng bangkit berdiri dan menghadapi Ci Kong, lalu menjura.

“Saudara TanCi Kong, engkau sungguh telah menolongku dan aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu ini. Terima kasih banyak.”

“Tidak perlu berterima kasih, sudah sepatutnya kalau hidup di dunia ini tolong menolong antara manusia,” jawab Ci Kong dengan Sikap sederhana.

“Akan tetapi, engkau seorang pendekar Siauw-lim-pai, engkau pernah hendak menegur mendiang ayahku yang menjadi pedagang madat. Akan tetapi, kenapa kemudian engkau yang pernah kuserang dan kukeroyok, malah sebaliknya menyelamatkan aku dari pengeroyokan pasukan itu, dan bahkan menolongku mengubur jenazah ayah ibuku? Mengapa?” Ci Kong tersenyum.

“Nona...” Dia meragu karena belum mengenal nama gadis itu. “Namaku Kui Eng, Ciu Kui Eng.”

“Nona Kui Eng, apa yang kulakukan itu tidak ada artinya karena kalau dulu engkau tidak menolongku, agaknya aku tidak akan dapat hidup sampai sekarang ini.”

“Menolongmu? Aku tidak merasa pernah menolongmu...”

“Tentu kau sudah lupa, nona. Terjadi kurang lebih duabelas tahun yang lalu ketika kita masih kecil. Kalau tidak engkau turun tangan mencegah, tentu aku dan ayahku waktu itu telah tewas di tangan Ma-ciangkun.”

Kui Eng mengerutkan alisnya, masih juga belum ingat. “Siapakah ayahmu?”

“Mendiang ayahku adalah Tan Siucai...” “Ahhh!”

Mata yang indah itu terbelalak dan sejenak gadis itu menatap wajah Ci Kong penuh perhatian, lalu sinar matanya membayangkan kekaguman ketika ia teringat akan Tan Siucai yang namanya kemudian dikenal sebagai seorang patriot yang gagah perkasa, walaupun dia seorang sasterawan yang lemah tubuhnya.

“Kiranya engkaukah anak laki-laki itu? Teringat aku sekarang. Engkau minta-minta ampun dan aku mencelamu.”

“Benar, aku mintakan ampun untuk ayahku, bukan untuk diriku.”

“Aku mengerti. Ah, ayahmu seorang gagah perkasa, aku kagum sekali, sedangkan ayahku... ayahku...”

Kui Eng pernah ribut-ribut dengan ayahnya ketika dulu ia mendengar akan nasib Tan Siucai yang dikaguminya. Nampaklah olehnya sekarang betapa ayahnya adalah orang yang hanya mementingkan harta saja, hanya pandai mencari harta dan juga tidak segansegan melakukan hal-hal yang buruk.

“Sudahlah, nona. Orang tua kita sudah tiada, tak perlu dibicarakan lagi. Sekarang, setelah engkau kehilangan keluargamu, apa yang akan kaulakukan selanjutnya?”

Ci Kong bertanya dengan suara penuh iba, lupa bahwa dia sendiripun hidup sebatangkara.

“Engkau sudah tidak mempunyai tempat tinggal, hidup seorang diri...” “Keluarga ayah berada di Kanton. Aku adalah anak tunggal, ibuku isteri ke

tiga. Aku masih mempunyai ibu-ibu tiri di Kanton... akan tetapi... aku tidak akan tinggal diam sebelum dapat kubunuh jahanam Ma Cek Lung itu. Setelah itu, mungkin aku akan mengabungkan diri dengan orang-orang Thian-te-pang. Dan engkau sendiri, saudara Ci Kong? Apakah engkau juga akan bergabung dengan mereka?”

Ci Kong menggeleng kepala.

“Aku tidak akan melibatkan diri dalam pemberontakan, nona… walaupun aku mengerti betapa mulia cita-cita mereka yang hendak membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajah. Aku lebih suka menyendiri.”

“Baiklah, kalau begitu kita berpisah di sini. Aku akan menyelundup ke Kanton. Sekali lagi terima kasih dan mudah-mudahan kita akan dapat bertemu kembali!”

Kui Eng berkata dan gadis ini lalu membalikkan tubuhnya dan berlari cepat menuju ke Kanton. “Mudah-mudahan...”

Ci Kong mengguman sambil mengikuti bayangan gadis itu dengan pandang matanya. Ada keharuan aneh menyelinap di dalam hatinya. Gadis itu manis sekali, amat menarik dan juga amat gagah perkasa. Kasihan sekali gadis itu bernasib demikian malang. Biarpun ayah gadis itu bukan seorang yang baik, akan tetapi agaknya gadis itu tidak memiliki sifat ayahnya, bahkan memiliki kegagahan. Ah, kenapa dia tidak menanyakan siapa guru gadis itu? Ilmu silatnya demikian tinggi, apalagi ilmu tongkatnya. Hebat! Tentu gurunya seorang yang sakti.

Setelah bayangan Kui Eng tidak nampak lagi, Ci Kong menarik napas panjang dan melanjutkan perjalanannya. Tanpa disengaja, kakinya juga bergerak menuju ke Kanton dimana dia mendengar terjadi hal-hal penting, yaitu pengepungan kota oleh pasukan pemerintah yang hendak menentang dan menghentikan perdagangan madat yang bersumber di Kanton.

Memang terjadi hal-hal penting di Kanton. Panglima Lin Ce Shu mengepung dan menahan kota Kanton selama enam minggu, dan setiap hari dilakukan penggeledahan dan penyitaan madat di seluruh kota. Kapten Charles Elliot yang memimpin perkumpulan English East India Company dan mengepalai semua pedagang, bahkan menjadi wakil pemerintahnya, menghadapi pukulan besar sekali. Segala usaha telah dilakukannya, dengan jalan melakukan bujukan dan penyogokan. Namun, Panglima Lin Ce Shu tidak bergeming dalam tugasnya, tidak dapat dibujuk sama sekali! Dan akhirnya, secara terpaksa sekali kapten itu menyerahkan semua madat yang dimiliki para pedagang kulit putih. Lebih dari duapuluh ribu peti madat murni disita dari orang-orang kulit putih ini, dan seluruh madat yang disita oleh pasukan Lin Ce Shu berjumlah mendekati satu juta kilogram!

Tumpukan-tumpukan peti madat yang amat besar jumlahnya ini oleh Panglima Lin Ce Shu lalu dibakar di depan umum, sehingga menimbulkan api besar bernyala-nyala dan bau yang menyengat hidung seluruh penduduk Kanton! Bahkan dalam kesempatan ini, Lin Ce Shu mengundang para pemuka orang kulit putih seperti Kapten Charles Elliot, Opsir Hellway dan lain-lain untuk datang menyaksikan ‘kembang api’ luar biasa itu.

Mula-mula para pemuka orang kulit putih itu tidak tahu mengapa Panglima Lin yang mengadakan penyitaan madat itu mengundang mereka untuk makan malam dan berpesta. Mereka mengira bahwa tentu panglima itu merasa tidak enak hati dan kini menebus peristiwa itu dengan sikap lunak dan penghormatan dalam pesta. Walaupun hati mereka merasa mendongkol sekali karena peristiwa penyitaan madat itu mendatangkan kerugian yang tak terhitung besarnya, namun mereka datang pula dengan pakaian indah gemerlapan. Opsir Hellway datang bersama isterinya, dan Sheila juga ikut. Gadis ini nampak cantik jelita dengan gaun berwarna kuning emas itu berkilauan tertimpa sinar lampu warna-warni yang menerangi ruangan di atas benteng itu.

Ternyata para pembesar sipil dan militer berkumpul di situ. Wajah-wajah tegang meliputi tempat itu karena bagaimanapun juga, peristiwa penyitaan madat itu mendatangkan kerugian yang bukan sedikit pula bagi beberapa orang pembesar yang tadinya menjadi pelindung para pedagang asing itu. Kini, para pembesar yang tadinya menjadi sahabat-sahabat baik kapten Charles Elliot dan anak buahnya, kini hanya dapat saling bertukar pandang dengan orang-orang kulit putih itu dengan muka yang suram dan pandang mata layu dicekam ketegangan.

Akan tetapi, Panglima Lin Ce Shu melalui wakil dan juru bahasanya menyambut para tamu asing itu dengan ramah, dan mereka semua dipersilahkan duduk dan dijamu dengan meriah. Setelah mereka kenyang makan minum, Lin Ce Shu bangkit dari kursinya dan melalui seorang penterjemah dia berkata.

“Malam yang baik ini akan kami isi dengan pertunjukan indah bagi para tamu, terutama sekali para tamu bangsa asing yang malam ini berkumpul di sini memenuhi undangan kami. Kami persilahkan untuk menikmati keindahan kembang api istimewa!”

Panglima itu memberi isyarat dan tirai-tirai kain yang tadinya tertutup di depan jendela-jendela itupun dibuka. Nampak oleh orang-orang berkulit putih itu, jauh di luar terdapat tumpukan peti-peti candu dan perajurit-perajurit yang sudah siap dengan obor di tangan. Panglima Lin Ci Shu memberi isyarat dengan tangan dan mulailah para perajurit membakar tumpukan candu yang puluhan ribu peti jumlahnya itu!

Wajah orang-orang berkulit putih itu menjadi pucat ketika sinar api yang amat terang menimpa mereka. Mereka terbelalak. Sheila menahan pekik karena merasa ngeri ketika mencium bau candu dibakar, napasnya menjadi sesak dan cepat ia berlindung di belakang ayahnya yang merangkulnya. Opsir Hellway mengepal tinju.

“Terkutuk...!” Dia menyumpah perlahan. Tak disangkanya bahwa mereka semua akan disuguhi tontonan yang menusuk perasaan itu.

Setelah para tamu dipersilahkan duduk kembali, dengan resmi Lin Ce Shu mengumumkan bahwa mulai hari itu, dilarang keras memasukkan candu ke Kanton. Semua kapal akan diperiksa dan siapa yang melanggar akan dijatuhi hukuman. Orang-orang asing, kalau kedapatan menyelundupkan candu, akan diusir dan semua harta bendanya disita, juga kapal yang membawa candu akan disita.

Setelah mendengar peringatan keras ini, orang-orang kulit putih itu tentu saja merasa tidak enak untuk duduk di situ lebih lama lagi. Kapten Charles Elliot lalu pamit dan para tamu asing itu meninggalkan tempat itu dengan wajah muram. Mereka semua merasa seperti menerima tanparan keras, selain dirugikan, juga mendapatkan malu dan ancaman. Masa depan mereka menjadi suram. Kalau tidak boleh memasukkan madat, berarti mereka kehilangan mata pencarian yang amat menguntungkan!

Sepulang mereka dari pesta itu, para pedagang lalu berkumpul di rumah Kapten Elliot dan mereka berunding. Dengan nada kesal dan marah sekali, para pedagang itu menyatakan protes mereka dan menuntut agar Kapten Elliot tidak mendiamkan saja penghinaan dari pemerintah Ceng itu. Akhirnya Kapten Elliot, setelah melalui perdebatan dan perundingan yang panas, menyanggupi. “Demi kehormatan bangsa dan pemerintah kita, demi kelangsungan kehidupan dan perdagangan kita, demi keamanan kita di negeri ini, aku akan membuat pelaporan kepada pemerintah kita dan minta bantuan pasukan agar

kita dapat membuat pembalasan,” demikian katanya.

Kemudian Kapten Charles Elliot menganjurkan agar mereka semua bersiap- siap untuk meninggalkan Kanton dengan kapal-kapal yang disediakan. Sebelum datang bala bantuan, mereka dianjurkan tenang-tenang dan diam- diam saja dulu. Kalau pasukan bala bantuan sudah datang, sebelum pasukan itu bertindak, mereka akan diberitahu untuk meninggalkan Kanton dan mengungsi ke kapal yang akan menyelamatkan mereka.

Akan tetapi, di antara orang-orang kulit putih ada yang pemabokan, dan beberapa hari kemudian, dalam keadaan mabok diapun mengoceh dan membual di luaran bahwa pasukan Inggeris akan datang dan menyerbu kota Kanton untuk memberi hukuman atas perlakuan yang diberikan pemerintah terhadap orang-orang Inggeris pada malam hari itu. Ada yang mendengar obrolan ini dan tentu saja berita itu didesas-desuskan orang.

Pada waktu itu, terdapat banyak perkumpulan pendekar yang anti orang kulit putih yang menyebarkan madat itu. Ada pula perkumpulan pendekar yang hanya anti pemerintah Ceng sebagai pemerintah penjajah Mancu. Di antara golongan kedua ini adalah perkumpulan Thian-te-pang. Perkumpulan ini hanya anti pemerintah Mancu. Walaupun mereka juga tidak suka melihat orang kulit putih menyebar madat, namun mendengar desas-desus bahwa pasukan Inggeris akan menyerbu Kanton dan memusuhi pemerintah Ceng, diam-diam mereka merasa senang. Penyerbuan pasukan asing itu akan mereka terima dengan baik, karena membuka kesempatan bagi mereka untuk melemahkan kekuatan pemerintah penjajah Mancu.

Akan tetapi, para pendekar yang tergolong anti kulit putih, mendengar desas-desus itu, menjadi marah sekali kepada orang-orang asing. Dan beberapa hari sebelum pasukan Inggeris tiba, meledaklah ketegangan yang terasa makin panas di Kanton. Dimulai dari pertengkaran antara seorang kulit putih setengah mabok dengan seorang pecandu yang ketagihan dan dalam keadaan setengah sadar pecandu ini mendatangi orang kulit putih itu dan nekat minta diberi madat. Orang kulit putih setengah mabok itu marah-marah dan memaki-maki, lalu terjadi perkelahian yang menjalar menjadi kerusuhan ketika golongan anti kulit putih menyerbu dan mengeroyok si pemabok dan beberapa orang kawannya.

Pasukan penjaga keamanan cepat bertindak karena para pembesar tidak menghendaki terjadinya kerusuhan itu. Orang-orang kulit putih menjadi panik, apalagi ketika mendengar bahwa pemerintah mereka telah mengirim armada yang kuat untuk menyelamatkan mereka dan menggempur Kanton! Mulailah terjadi pengungsian besar-besaran menuju ke pelabuhan dimana terdapat kapal-kapal mereka.

Karena gerakan pengungsian ini, maka golongan anti kulit putih mulai bergerak menyerang mereka yang berusaha melarikan diri. Tentu saja orang- orang kulit putih ini melakukan perlawanan dan mereka itu rata-rata memiliki senjata api, sehingga terjatuh pula korban di antara para pendekar yang membenci mereka. Hal ini membuat perkelahian menjadi-jadi. Pasukan keamanan yang repot! Karena orang-orang kulit putih itu tidak melawan pemerintah, maka kewajiban pemerintah untuk melindungi mereka selama mereka masih berada di daratan. Lebih menggegerkan lagi ketika golongan pendekar yang menentang pemerintah Mancu, mempergunakan kesempatan selagi terjadi keributan itu untuk mengacau dan menyerang pasukan keamanan pemerintah sendiri! Golongan ini bahkan ada yang melindungi orang-orang kulit putih karena mereka ini sengaja hendak mengadu domba antara pemerintah penjajah dan orang-orang kulit putih dalam usaha mereka menumbangkan kekuasaan penjajah dari tanah air.

Pertempuran kecil-kecilan yang kacau balau terjadi, dan penduduk yang tidak mau ikut-ikut dalam perkelahian-perkelahian itulah yang menjadi panik dan banyak pula yang lari mengungsi meninggalkan Kanton. Hal ini membuat suasana menjadi semakin gaduh dan kacau balau. Dan sudah biasa bahwa setiap kali sebuah kota mengalami kekacauan dan penjaga keamanan tidak mampu mengatasi keadaan, maka para penjahatpun keluar semua, merajalela mempergunakan kesempatan ini untuk mencari keuntungan seenaknya dan semudahnya. Perampokan terjadi dimana-mana terhadap para pengungsi atau pencurian terhadap rumah-rumah yang ditinggalkan.

Opsir Hellway tentu saja tidak mau tinggal diam melihat keadaan yang gawat itu. Pagi-pagi sekali dia bersama isteri dan puterinya, berkendaraan kereta meninggalkan rumah mereka untuk melarikan diri ke kapal, dikawal oleh belasan orang pengawal kulit putih dan Bangsa India yang membawa senapan. Sheila dan ibunya duduk di dalam kereta itu, sedangkan opsir Hellway dan para pengawal berjaga di luar kereta. Barang-barang berharga beberapa buah peti penuh berada dalam kereta itu pula.