-->

Pedang Naga Kemala Jilid 06

Jilid 06

Wanita itu melirik kepada Ci Kong, akan tetapi lalu menghadapi Siauw-bin- hud lagi ketika bicara, seolah-olah merasa tidak ada gunanya bicara dengan pemuda itu.

“Selama ini, Ang-hong-pai tidak pernah mengganggu Siauw-lim-pai, bahkan ketika banyak orang ramai-ramai mendatangi Siauw-lim-pai enam tahun yang lalu, Ang-hong-pai juga tidak ikut-ikut. Oleh karena itu, tidak ada urusan apa-apa lagi antara kedua perkumpulan, maka pai-cu kini tidak bermaksud menerima kunjungan locianpwe untuk mengadakan urusan apapun.”

“Pai-cu kalian sungguh tidak adil!” Ci Kong berkata.

“Kunjungan orang-orang   ke   Siauw-lim-pai   mempunyai   pamrih   buruk, sedangkan sebaliknya, susiok-couw mengunjungi Ang-hong-pai dengan hati bersih dan penuh persahabatan. Mengapa pai-cu kalian menolak? Kalau begitu, harap saudari Theng-Ci yang datang ke sini menemui kami agar susiok-couw bisa bicara dengannya!”

Kini wanita itu menghadapi Ci Kong dengan alis berkerut.

“Pai-cu kami berpesan bahwa siapa saja yang hendak naik ke puncak, harus dapat melalui Cap-ji-kiam (Duabelas Pedang)!”

“Sing-sing-sing...!”

Nampak sinar berkilauan susul menyusul, dan ketika Ci Kong memandang, ternyata duabelas orang wanita berpakaian merah itu telah mencabut keluar sebatang pedang dan berdiri dengan berbaris rapi! Mengertilah dia bahwa yang dimaksud adalah barisan terdiri dari duabelas orang berpedang! Dia menoleh kepada susiok-couwnya. Kakek ini mengangguk sambil tersenyum dan berkata lirih.

“Hati-hatilah terhadap racun mereka, Ci Kong!”

Ucapan ini merupakan isyarat bagi Ci Kong bahwa susiok-couwnya memperbolehkan dia menghadapi duabelas orang wanita itu. Akan tetapi dia merasa heran mengapa kakek itu memperingatkan dia agar berhati-hati terhadap racun mereka. Apakah pedang mereka itu mengandung racun? Mungkin saja. Dan pandang matanya yang tajam akhirnya dapat menangkap kantong-kantong kecil yang tergantung di pinggang dua belas orang wanita itu. Mengertilah dia. Agaknya para anggauta Ang-hong-pai ini memang ahli mempergunakan racun-racun, dan tentu mereka biasa mempergunakan senjata gelap beracun. Diapun mengangguk kepada susiok-couwnya yang sudah mundur dan duduk bersila di atas rumput, lalu dia melangkah maju menghampiri duabelas orang wanita itu.

“Cici yang gagah tak usah khawatir. Kalau sampai aku mati di dalam pertandingan ini, biarlah aku sendiri yang tanggung, tidak ada sangkut- pautnya dengan Siauw-lim-pai atau susiok-couw,” kata Ci Kong dengan sikap tenang.

Sementara itu, duabelas orang wanita itu sudah bergerak mengepungnya. Mereka melangkah mengitari pemuda itu, dengan pedang di depan dada dan tangan kanan diangkat ke atas kepala. Melihat langkah-langkah mereka yang teratur rapi itu, mengertilah Ci Kong bahwa dia berhadapan dengan semacam kiam-tin (barisan pedang) yang tidak boleh dipandang ringan, karena berbeda dengan pengeroyokan yang liar dan kacau, barisan merupakan gerakan teratur dari banyak orang, sehingga kini dia seperti juga menghadapi seorang lawan dengan satu pikiran akan tetapi dengan duabelas badan!

“Si-cu, ingat, engkau yang menentang, bukan kami. Silahkan!” terdengar wanita yang memimpin barisan pedang itu memperingatkan dari belakangnya. Ci Kong maklum bahwa barisan itu berlaku hati-hati. Bagaimanapun juga, susiok-couwnya tentu tidak setuju kalau dia sampai melukai seorang di antara para pengeroyoknya. Tidak ada permusuhan apapun antara mereka, dan wanita-wanita itupun hanya melaksanakan tugasnya saja mentaati perintah ketuanya. Maka, dia akan mencoba untuk merampas pedang mereka, satu demi

satu dengan menggunakan penyerangan yang sukar dielakkan lawan. “Baiklah, lihat serangan!” bentaknya, dan tiba-tiba dia membuat gerakan,

bukan ke depan melainkan ke belakang, ke arah suara wanita bertahi lalat yang memimpin barisan itu.

Akan tetapi, barisan itu masih terus bergerak sehingga kedudukan wanita pemimpin itu sudah berobah dan dengan demikian, yang diserang oleh Ci Kong adalah seorang wanita lain. Serangannya cepat dan tangannya sudah hampir dapat mencengkeram pergelangan tangan wanita yang memegang pedang dalam usahanya merampas pedang. Akan tetapi terdengar aba-aba pemimpin itu, dan kini pedang datang bertubi-tubi menyerangnya dari belakang, kanan dan kiri. Walaupun kalau dilanjutkan dia akan berhasil merampas pedang dari wanita yang diserangnya, namun sebaliknya dia terancam oleh tusukan- tusukan dan bacokan-bacokan pedang yang lain!

Terpaksa Ci Kong membatalkan niatnya merampas pedang dan dia segera mempergunakan kegesitan tubuhnya untuk mengelak. Akan tetapi, barisan Cap-ji-kiam itu memang hebat sekali. Dengan gerakan susul-menyusul, serangan itu terus dilakukan tak pernah berhenti, sambung-menyambung sehingga kemanapun dia mengelak, Ci Kong sudah disambut oleh serangan pedang berikutnya. Dia meloncat keluar dari kepungan, akan tetapi wanita bertahi lalat itu terus-menerus mengeluarkan aba-aba dan kembali dia sudah terkepung. Gerakan merekacepat dan teratur.

Diam-diam Ci Kong mengatur siasat sambil terus mengelak, mengandalkan gingkang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah dipelajarinya secara sempurna dari susiok-couwnya. Tubuhnya berkelebatan di antara gulungan sinar pedang berkilauan dan betapapun cepatnya para wanita itu menggerakkan pedang, atau kadang-kadang dengan kebutan telapak tangannya, dia bahkan mampu menangkis pedang yang tajam itu. Pemuda ini amat berhati-hati karena dia menduga bahwa tentu pedang-pedang itu beracun. Sekali saja tergores dan terluka, mungkin dia akan keracunan.

Setelah memutar otaknya, tiba-tiba Ci Kong mendapat gagasan yang baik sekali. Cap-ji-kiam ini bergerak secara otomatis, teratur seolah-olah duabelas orang itu merupakan alat-alat yang digerakkan oleh satu pusat. Dan diapun kini teringat bahwa pusatnya ada pada wanita bertahi lalat di dahinya itu. Pusat inilah yang harus dilumpuhkannya terlebih dahulu agar kerja sama mereka menjadi kacau.

“Heeeehhhh...!”

Tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking nyaring, suara yang dikeluarkan mengandung kekuatan khikang yang menyerang lawan. Rencananya berhasil karena lengkingan itu mengejutkan para pengepungnya, membuat mereka selama dua tiga detik tertegun, dan kesempatan ini cukuplah bagi Ci Kong. Begitu mereka berhenti bergerak, dia dapat mencurahkan perhatian kepada wanita pemimpin barisan dan tiba-tiba dia menyuruk ke arah wanita itu, tangan kirinya menotok dan tangan kanannya merampas pedang. Sebelum wanita itu tahu apa yang terjadi, pedangnya telah terampas! Ia menjerit dan memperingatkan teman-temannya.

Akan tetapi Ci Kong tidak menghentikan gerakan-gerakannya. Dengan pedang rampasan di tangan dia mengamuk. Setiap serangan lawan ditangkisnya dan begitu terkena tangkisannya yang dilakukan dengan pengerahan tenaga singkang, pedang lawan terlempar dan terlepas dari pegangan, bahkan ada yang patah! Terdengar suara berdencing dan berkerontangan, dan dalam waktu beberapa menit saja, akhirnya Ci Kong meloncat jauh ke belakang dengan dua pedang rampasan di kedua tangan, sedangkan duabelas orang wanita itu kehilangan semua senjata mereka!

Mereka sama sekali tidak pernah menduga bahwa pemuda itu demikian lihainya, menyerang mereka bertubi-tubi tak pernah berhenti, dan setiap kali beradu pedang, pedang mereka patah atau terlepas karena pemuda itu mempergunakan tenaga yang luar biasa kuatnya. Yang membuat mereka kagum dan heran, betapa dalam waktu singkat pemuda itu mampu melucuti senjata mereka tanpa melukai mereka sedikitpun juga! Bahkan totokan yang dipergunakan juga hanya membuat lengan kanan lumpuh selama beberapa detik saja, cukup untuk membuat pedang mereka terlepas, terlempar atau terampas.

Tiba-tiba wanita bertahi lalat itu mengeluarkan aba-aba, suaranya nyaring melengking dan mereka semua menggerakkan tangan dengan cepat. Bintik- bintik merah beterbangan menyambar ke arah Ci Kong! Akan tetapi pemuda ini memang sudah waspada dan siap siaga. Begitu melihat wanita-wanita itu menggerakkan tangan, diapun cepat memutar dua batang pedang yang dirampasnya. Puluhan batang jarum halus berwarna merah yang mengandung racun itu terpental dan runtuh semua ketika menerjang gulungan sinar yang dibuat oleh pedang yang diputar cepat.

Kiam-tin atau barisan pedang itu walaupun sudah kehilangan pedang, agaknya memiliki cadangan, karena kini mereka sudah mencabut sebatang pisau belati dari pinggang mereka! Dan mereka agaknya hendak nekat melanjutkan perkelahian. Akan tetapi sebelum mereka bergerak, terdengar bentakan halus yang datangnya dari jauh.

“Kalian mundurlah!”

Mendengar bentakan halus yang datang dari jauh ini, duabelas orang wanita berpakaian merah lalu berloncatan pergi tanpa menghiraukan lagi pedang mereka yang berserakan di atas tanah.

Ci Kong tersenyum lega dan diapun membuang sepasang pedang rampasan itu. Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara bisikan susiok- couwnya.

“Lebah-lebah itu berbahaya sekali, sengatannya beracun mematikan!”

Ci Kong juga mendengar suara berdengung itu, makin lama semakin kuat dan tak lama kemudian diapun melihat serombongan lebah berwarna

merah yang terbang berkelompok ke arah dia berdiri! Dia merasa heran dan kagum sekali. Binatang itu warnanya sungguh merah cerah, seperti warna pakaian para wanita tadi ! Dan kalau saja tidak mendapat peringatan susiok couwnya, dia tidak akan percaya bahwa binatang kecil mungil yang indah warnanya itu dapat membunuh manusia dengan sengatannya. Kini lebah-lebah itu sudah datang dekat dan tiba-tiba, seperti dikomando saja, mereka menyerbu ke arah Ci Kong !

Pemuda itu melompat jauh menghindarkan diri, akan tetapi betapapun cepatnya gerakan tubuh pemuda itu, mana mungkin dia dapat mengalahkan lebah-lebah itu dalam hal kecepatan gerakan? Ci Kong mulai kewalahan, karena kemanapun dia melompat, lebah-lebah itupun mengejarnya dengan kecepatan yang mengerikan dan suara mereka berdengung itu, ditambah lagi dengan pengetahuan bahwa sengatan mereka mematikan, makin membuat hatinya merasa serem dan ngeri. Dia mengerahkan tenaga pada kedua tangannya dan mulailah dia mengebut ke sana sini, ke arah lebah-lebah yang menyerangnya.

Memang hebat kebutan kedua tangan Ci Kong. Gerakan tangannya mengandung tenaga pukulan yang mematikan dan lebah-lebah yang terkena sambaran angin pukulan telapak tangannya, terlempar atau terbanting dan tewas seketika. Akan tetapi, lebah-lebah itu terlalu banyak dan menyerangnya dari atas kepala sampai ke kaki, mana mungkin dia dapat menyambut mereka semua dengan kedua tangannya. Dia bergidik ketika merasa ada benda menyentuh leher bagian tengkuk dan cepat tangannya bergerak menangkis. Lebah yang berhasil menyusup itu tidak keburu menyengatnya, sudah mati terpukul tangan Ci Kong.

Akan tetapi pengalaman ini membuat Ci Kong maklum bahwa hanya dengan kedua tangannya saja, dia tidak akan mampu menyelamatkan diri. Maka dia lalu menanggalkan bajunya dan memutar bajunya itu. Lebah-lebah itu tentu saja terdorong oleh angin yang ditimbulkan oleh pemutaran baju itu dan mereka menjadi kacau balau. Akan tetapi, hal ini agaknya tidak membuat mereka menjadi jerih, bahkan mereka menjadi marah, menyerang makin liar. Begitu hebatnya serangan mereka sampai ada beberapa bagian baju Ci Kong berlubang ketika mereka terjang!

Ci Kong melihat betapa hanya angin kebutan baju itu yang mampu mendorong lebah-lebah itu, maka ia menggunakan akal. Dia tidak memukul dengan bajunya, melainkan memutar bajunya sedemikian rupa sehingga timbullah angin berputar yang menggulung lebah-lebah itu. Sekali masuk ke dalam putaran angin yang ditimbulkan oleh putaran baju, lebah-lebah itu tidak lagi mampu menguasai diri sendiri dan tergulung atau terlibat ke dalam putaran angin hanya terbang berputaran dengan kacau. Ci Kong bermaksud menggulung mereka sedemikian rupa, lalu membungkus dengan bajunya.

Usahanya berhasil. Makin cepat dia memutar bajunya, angin putaran itu semakin kuat dan lebah-lebah itu semakin cepat pula terputar dan akhirnya, begitu Ci Kong menggerakkan baju menelungkup ke arah kelompok lebah, binatang-binatang itu kena ditangkapnya di dalam gulungan bajunya! Beberapa ekor lebah yang luput dan berada di luar gulungan baju, karena tiba- tiba kehilangan semua kawannya, menjadi bingung dan ketakutan, lalu terbang pergi.

Suara berdengung di dalam gulungan baju itu nyaring sekali, dan Ci Kong sudah tersenyum. Kini sekali banting saja bajunya ke atas tanah, lebah-lebah di dalamnya akan mati semua.

“Tahan...!

Tiba-tiba terdengar bentakan halus ketika dia sudah mengangkat bajunya yang berisi lebah-lebah itu ke atas. Ci Kong menahan gerakannya, menoleh dan melihat seorang wanita yang diikuti oleh duabelas orang wanita Cap-ji-kiam tadi.

“Si-cu, paicu kami minta agar engkau suka mengampuni lebah-lebah itu,” kata wanita bertahi lalat di dahinya.

“Hemm, bagaimana aku dapat melepaskan lebah-lebah jahat ini? Begitu dilepas dia akan menyerangku dan mungkin mencelakai orang lain.”

“Lepaskan dan aku tanggung mereka tidak akan menyerang siapapun juga,” katanya. Diapun mengeluarkan sebuah bumbung bambu dan mengangkatnya ke atas.

Ci Kong yang mendengar bahwa wanita ini adalah ketua Ang-hong-pai, mempercaya kata-katanya, dan diapun mengebutkan bajunya. Baju terbuka dan lebah-lebah merah itupun terpental keluar. Sejenak mereka beterbangan kacau, lalu berkumpul lagi di udara dan tiba-tiba mereka terbang cepat ke arah bumbung bambu yang dipegang oleh ketua Ang-hong-pai. Seperti sekelompok kanak-kanak yang pulang sehabis bermain-main, mereka berebutan memasuki lubang di bumbung itu. Wanita baju merah itu lalu menutup bumbung dengan kayu berlubang-lubang kecil dan menyerahkan bumbung itu kepada wanita bertahi lalat di dahi. Kemudian ia menoleh dan menghadapi Ci Kong sambil berkata.

“Murid Siauw-lim-pai, biarpun masih muda akan tetapi sungguh lihai.”

Kemudian ia melangkah ke arah Siauw-bin-hud dan memberi hormat dengan sikap sopan.

Sejak tadi, Siauw-bin-hud hanya menonton saja cucu muridnya berjuang melawan Cap-ji-kiam, kemudian melawan rombongan lebah merah, sambil tersenyum girang karena dia melihat kegagahan dan kecerdikan pemuda itu. Ketika muncul ketua Ang-hong-pai, dia sudah siap untuk menjaga keselamatan cucu muridnya. Dia sudah mengenal ketua ini, seorang wanita yang amat lihai dan berbahaya. Akan tetapi agaknya wanita itu tidak bermaksud buruk. Sambil tertawa, diapun bangkit berdiri dan membalas penghormatan ketua Ang-hong- pai itu.

“Aha, ketua dari Ang-hong-pai sungguh lihai, dapat mengalahkan usia agaknya! Sudah lewat puluhan tahun masih nampak muda saja,” kata Siauw- bin-hud.

Memang mengagumkan sekali ketua Ang-hong-pai itu. Usianya kini ada enampuluhan tahun, akan tetapi masih tetap cantik, ramping dan orang akan menyangka bahwa usianya paling banyak tigapuluh tahun saja!

Pai-cu itu tersenyum manis.

“Dan Siauw-bin-hud tetap seorang locianpwe yang tidak pernah susah agaknya. Dibandingkan dengan aku, Siauw-bin-hud jauh lebih muda dan selalu bergembira lahir batin, sedangkan aku... ah, hanya lahirnya saja nampak muda, akan tetapi batinnya sudah tua sekali!”

Siauw-bin-hud tertawa dan lebih berhati-hati. Wanita ini, setelah kurang lebih tigapuluh tahun tidak dijumpainya, ternyata semakin cerdik dan berbahaya saja. Kata-katanya sudah matang dan siapa yang dapat menduga isi hati wanita ini?

“Pai-cu, engkaupun maafkanlah cucu muridku yang telah berani menentang hadangan Cap-ji-kiam dan tawon-tawon merahmu.”

“Sudahlah,” wanita itu menarik napas panjang dan memandang kepada Ci Kong.

“Orang-orang macam kita yang sudah berkecimpung di dalam dunia persilatan, kalau tidak bertanding dulu mana dapat saling mengenal? Karena tadi yang maju pemuda ini, maka murid-muridku dan lebah-lebahku berani keluar mencoba-coba. Kalau engkau yang keluar, siapa sih yang akan berani kurang ajar? Sesungguhnya, apakah maksud kedatangan locianpwe ke tempat kami yang buruk?”

“Omitohud... tempat ini indah, semua tempat di seluruh pelosok dunia ini indah sekali, sayang dibikin buruk oleh perbuatan-perbuatan manusia. Pai-cu, seperti sudah kami katakan kepada murid-muridmu tadi, pinceng berkunjung bukan bermaksud buruk, melainkan ingin sekali bertemu dengan muridmu yang bernama Theng Ci, karena pinceng ingin menanyakan sesuatu darinya.”

“Theng Ci...? Murid kepala di sini?” Wanita itu mengangguk-angguk.

“Ia sedang berlatih dan mungkin dalam waktu dua atau tiga jam lagi selesai. Mari, locianpwe, dan engkau orang muda, silahkan naik dan menanti di tempat kami. Ji-wi (kalian berdua) menjadi tamu-tamu Ang-hong-pai yang terhormat.” “Omitohud... engkau terlalu baik, pai-cu, kami sama sekali tidak menduga akan hal ini. Bagaimana kalau kami menanti saja di sini sampai murid kepala Ang-hong-pai itu selesai latihan dan keluar menemui kami di sini?”

“Aihh, locianpwe… apa akan kata orang di dunia kang-ouw kalau mendengar bahwa Ang-hong-pai menyambut tokoh besar Siauw-lim-pai di lapangan rumput saja? Kemana mukaku yang buruk ini akan kusembunyikan? Marilah, mari, tamu-tamuku yang terhormat, mari ikut dengan kami.”

Ci Kong memandang kepada susiok-couwnya yang mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar, akan tetapi Ci Kong melihat betapa sepasang mata yang lembut dari susiok-couwnya itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya aneh. Diapun dapat menduga bahwa tentu ada sesuatu yang menarik, akan tetapi karena dia melihat kakek itu sudah melangkah mengikuti rombongan orang Ang-hong-pai, diapun terpaksa mengikuti kakek itu dari belakang.

Ketika memasuki pintu gerbang tembok yang mengelilingi perkampungan Anghong-pai, kemudian diajak masuk ke dalam ruangan dari bangunan terbesar, Ci Kong merasa kagum bukan main. Tak disangkanya bahwa di puncak bukit sunyi itu, terdapat perkampungan yang amat indah, penuh dengan bangunan-bangunan mungil dan taman-taman bunga yang amat indah teratur, dan terutama sekali setelah memasuki ruangan gedung tempat tinggal ketua Ang-hong-pai, dia menjadi bengong karena ruangan itu amat hebat! Layaknya menjadi ruangan di dalam istana puteri-puteri dalam dongeng saja. Jelaslah bahwa Ang-hong-pai amat kaya raya. Lantainya licin seperti kaca, ruangannya terhias perabot yang serba mahal dan indah, sutera-sutera halus bergantungan, periuk-periuk kuno yang serba aneh dan indah, hiasan-hiasan batu giok yang mahal, lukisan-lukisan yang pilihan. Akan tetapi dia melihat betapa susiok-couwnya memasuki ruangan itu seperti memasuki sebuah ruangan kuil atau sebuah guha belaka, sama sekali tidak nampak heran atau kagum, masih tetap tersenyum-senyum seperti biasa.

“Silahkan duduk, silahkan...!” kata wanita itu dengan ramah.

“Sambil menanti selesainya Theng Ci, kita ngobrol sambil menikmati hidangan sekedarnya.”

“Omitohud, engkau terlalu sungkan, terlalu menghormat, sehingga kami merasa tidak enak hati dan mengganggu saja, paicu.” Siauw-bin-hud berkata sambil tersenyum lebar.

“Ah, tidak, locianpwe, dan jangan khawatir, aku tahu bahwa locianpwe dan cucu muridnya ini tentu tidak makan barang berjiwa, juga tidak minum arak. Kami akan menghidangkan makanan dan minuman yang bersih.”

Tanpa menanti jawaban tamu-tamunya, ketua ini lalu menyembunyikan sebuah genta yang terbuat dari pada emas sehingga terdengar amat gemercing nyaring. Bukan main, pikir Ci Kong. Genta kecil itu saja sudah merupakan benda yang luar biasa mahalnya!

Tak lama kemudian, beriringan datanglah lima orang wanita berpakaian merah yang membawa baki-baki terisi masakan masakan. Bau gurih sedap memenuhi ruangan itu. Seorang di antara mereka membawa baki terisi guci- guci kecil terbuat dari pada batu giok! Mangkok-mangkok besar terisi masakan sayuran-sayuran yang beraneka warna memenuhi meja di hadapan mereka.

“Lihat, locianpwe, semua masakan sayur-sayuran, daun-daunan, akar- akaran dan buah-buahan. Sedikitpun tidak ada barang berjiwa, tidak ada secuwilpun daging, tidak ada setetespun gajih. Semua bersih dan dimasak oleh ahli-ahli masak kami yang berpengalaman!” Nyonya rumah itu dengan ramah sekali mempersilahkan dua orang tamunya makan, dan ia menemani mereka makan. Agaknya ia sengaja meyakinkan hati dua orang tamunya bahwa masakan-masakan itu tidak mengandung barang berbahaya, karena semua masakan dicicipinya dengan sepasang sumpit gadingnya!

Siauw-bin-hud tertawa-tawa dan makan dengan lahapnya, sedikitpun tidak menaruh curiga. Melihat ini, Ci Kong yang sudah lapar pula perutnya, juga makan dengan lahap. Memang enak bukan main masakan-masakan itu, walaupun hanya dari barang-barang tak berjiwa. Ci Kong tidak pantang barang berjiwa, tidak seperti Siauw-bin-hud, karena dia bukanlah seorang calon pendeta. Akan tetapi belum pernah dia makan masakan selezat ini.

Ketua Ang-hong-pai membuka tutup guci yang terbuat dari batu giok itu. “Dan ini bukan minum-minuman keras, melainkan madu! Bukan madu

lebah, melainkan madu bunga, sari bunga yang rasanya manis dan harum. Jangan khawatir, locianpwe, saya tidak berani menghidangkan makanan atau minuman yang kotor terhadap seorang suci, seperti locianpwe.”

“Ha-ha-ha, kalau orang seperti pinceng ini kau namakan suci, aha, alangkah mudahnya menjadi orang suci…”

Kata Siauw-bin-hud sambil melihat wanita itu menuangkan madu yang berwarna kuning kemerahan ke dalam cawannya, cawan Ci Kong dan cawan wanita itu sendiri. Semua terjadi dengan wajar, dan tidak ada yang mencurigakan.

“Nah, terimalah hormatku, locianpwe, dan engkau juga, orang muda perkasa!” kata nyonya itu yang membawa cawan ke bibirnya.

Melihat susiok-couwnya juga siap minum madu itu, Ci Kong juga mengikutinya. Madu itu memang madu manis dan harum, enak sekali. Tiga kali nyonya itu mengisi cawan, dan tiga kali ia mengajak tamu-tamunya minum, yang pertama sebagai penghormatan, yang kedua sebagai permintaan maaf atas penyambutan tadi, dan ketiga sebagai ucapan terima kasih atas kunjungan Siauw-bin-hud.

Ci Kong sudah banyak mendengar, baik dari Nam San Losu maupun para hwesio lain penghuni kuil di puncak bukit mata air Si-kiang, bahwa di dalam dunia kang-ouw terdapat banyak kaum sesat yang berwatak curang, tidak segan-segan mempergunakan siasat yang licik untuk menjatuhkan lawan. Juga dia sudah mendengar banyak tentang penggunaan racun. Dia sudah tahu bahwa saat itu dia berada di dalam sarang golongan hitam atau kaum sesat, dan andaikata dia hanya sendirian saja di situ, tentu dia tidak akan berani menerima hidangan-hidangan dari seorang seperti ketua Ang-hong-pai. Akan tetapi dia datang bersama susiok-couwnya dan tentu saja dia percaya penuh akan kesaktian susiok-couwnya itu, maka melihat betapa kakek itu menerima hidangan, baik masakan maupun minuman madu, diapun tidak ragu-ragu lagi untuk menerima hidangan madu sampai tiga cawan.

Setelah kedua orang tamunya minum cawan madu yang ketiga, ketua Ang- hong-pai itu tersenyum manis dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong yang mengejutkan hati Ci Kong. Tiba-tiba ada rasa curiga yang amat besar menyelinap di dalam hati pemuda itu, dan dia hendak berdiri untuk memberi peringatan kepada susiok-couwnya, akan tetapi tiba-tiba kepalanya terasa pening dan matanya menjadi gelap.

“Susiok-couw… celaka…!”

Keluhnya dan  dia  mencoba  untuk  menahan  napas  dan  mengerahkan sinkangnya, akan tetapi ketika dia melihat dengan remang-remang betapa tubuh kakek itupun menjadi lemas dan kakek itu meletakkan kepala di atas meja, kekhawatiran membuat peningnya datang kembali dan diapun tidak mampu mempertahankan lagi. Ci Kong seperti juga Siauw-bin-hud, telah pulas atau pingsan di atas kursinya, dengan kepala di atas meja!

“Hi-hi-hi-hik…! Orang-orang Siauw-lim-pai…! Kalian manusia-manusia sombong, sekarang baru tahu kelihaian Ang-hong-pai!”

Ketua Ang-hong-pai bangkit berdiri dan bertepuk tangan tiga kali. Dari segala penjuru berloncatan wanita-wanita berpakaian merah, dipimpin oleh Theng Ci, murid kepala yang tadi dikatakan sedang berlatih itu.

“Jebloskan mereka dalam tahanan, belenggu kaki tangan mereka dan masukkan dalam kamar tahanan yang paling kuat, dan di luar kamar perketat penjagaan, jangan biarkan mereka lolos. Hati-hati, mereka ini lihai sekali, terutama kakek ini. Selama tiga jam mereka tidak akan siuman dan sebelum tiga jam, aku akan memberi mereka pembius lagi,” kata ketua itu dengan senyum mengejek memandang ke arah dua orang tamunya yang masih pulas di atas meja.

“Akan tetapi, subo. Apakah tidak sebaiknya kalau kita bunuh saja mereka sekarang? Mereka terlalu berbahaya kalau dibiarkan hidup.” kata Theng Ci dengan sinar mata kejam.

“Aih, betapa bodohnya engkau! Mereka ini, terutama Siauw-bin-hud, adalah tokoh penting Siauw-lim-pai dan kalau kita memberi kabar ke Siauw- lim-pai bahwa mereka berada ditangan kita minta tukar dengan Giok-liong- kiam, bukankah hal itu menguntungkan kita?”

“Akan tetapi, bagaimana kalau kelak mereka datang membuat perhitungan? Apakah subo merasa mampu menghadapi Siauw-lim-pai?”

“Anak bodoh kau ini,” kata si ketua sambil terkekeh.

Karena Theng Ci itu muridnya, maka wanita ini terbiasa menyebutnya anak, padahal murid kepala itu usianya sudah empat puluh tahun lebih.

“Coba kaupertimbangkan baik-baik. Kalau kita membunuh mereka, apa untungnya bagi kita? Yang jelas saja, kerugian ada karena siapa tahu Siauw- lim-pai akhirnya akan tahu dan kalau mereka memusuhi kita, akan celakalah kita. Mereka begitu lihai dan mungkin saja mereka dapat mengetahuinya. Sekarang sebaliknya, kalau kita membiarkan mereka hidup dan minta tukar nyawa mereka dengan Giok-liong-kiam...”

“Akan tetapi bagaimana kalau kelak mereka membuat perhitungan dan merampas kembali pusaka?”

“Heh-heh, Theng Ci… apakah engkau tidak tahu siapa Siauw-lim-pai? Sekali berjanji, orang-orang yang terikat oleh janji itu tidak akan mau mengganggu kita. Sudahlah, jebloskan mereka dalam tahanan!”

Para murid Ang-hong-pai itu mentaati perintah guru mereka, dan tak lama kemudian, Siauw-bin-hud dan Ci Kong sudah berada di dalam sebuah kamar tahanan yang amat kuat, sebuah kamar di bawah tanah yang dindingnya berlapis baja, pintunya juga dari baja kuat sekali, dengan hanya ada jeruji-jeruji besi. Tangan kaki mereka terbelenggu rantai baja yang panjang, dan di luar pintu kamar tahanan itu, duabelas orang Cap-ji-kiam berjaga dengan ketat!

Akan tetapi, baru saja mereka meninggalkan kamar tahanan dan menutupkan pintunya, kakek itu sudah bergerak dan membuka mata sambil tersenyum lebar. Bagaikan tukang sulap saja, kakek itu dengan mudah menarik dan meloloskan kedua tangan kakinya dari belenggu. Kaki tangan itu seperti berobah menjadi belut yang amat licin dan tak mungkin dapat ditahan dengan belenggu-belenggu itu. Kemudian, setelah melihat bahwa tidak ada orang melihatnya, dia menghampiri Ci Kong yang menggeletak terlentang di atas lantai. Dia menempelkan telapak tangannya di kepala dan dada pemuda itu, dan tak lama kemudian pemuda itupun membuka mata dan menggerakkan bibirnya. Siauw-bin-hud cepat menutup mulut pemuda itu dengan telapak tangannya dan memberi isyarat dengan kedipan mata agar pemuda itu tidak mengeluarkan suara.

Ci Kong segera teringat akan peristiwa tadi dan dia mengangguk, tanda bahwa dia sudah mengerti. Dengan isyarat, kakek itu minta kepada Ci Kong agar membebaskan diri dengan ilmu Sia-kut-hoat seperti yang pernah dipelajarinya. Ci Kong segera mengumpulkan hawa murni, mengerahkan singkangnya dan dengan perlahan dia menarik lengan tangannya lolos dari belenggu, seperti yang dilakukan kakek tadi. Ilmu Sia-kut-hoat adalah ilmu melepaskan tulang melemaskan diri. Dengan ilmu ini tubuh dapat ditekuk- tekuk dan kaki lengan bisa lemas seperti belut.

“Mari kita duduk bersandar dan biarkan belenggu-belenggu itu menempel di kaki tangan seolah-olah kita masih terbelenggu. Nanti kalau pintu dibuka, kita bergerak dan keluar,” kakek itu berbisik dengan suara mengandung khikang sehingga yang terdengar suaranya hanyalah pemuda itu saja, seolah- olah dia berbisik di dekat telinga Ci Kong.

“Susiok-couw tadi tidak terpengaruh oleh madu itu?”

Kakek itu tersenyum lebar tanpa suara, lalu menggeleng kepala.

“Pinceng tidak minum madu, bagaimana bisa terpengaruh? Sebagai orang yang sudah puluhan tahun tidak pernah makan daging, sekali cium saja pinceng tahu bahwa madu itu bukanlah madu kembang yang murni, melainkan ada bau amis yang menunjukkan bahwa ada sesuatu pada madu itu. Maka, pinceng hanya pura-pura minum, lalu membuang madu itu.”

“Akan tetapi mengapa susiok-couw membiarkan teecu meminumnya dan bahkan pura-pura pingsan?”

“Pinceng ingin melihat apa maksud mereka membius kita. Bukankah kita sedang melakukan penyelidikan? Dalam keadaan pingsan, tentu mereka akan bicara dengan leluasa.”

Diam-diam Ci Kong merasa kagum. Kakek ini cerdik dan juga amat tabah, berani mengambil resiko terjatuh ke tangan iblis-iblis itu.

“Dan bagaimana hasilnya, susiok couw?” Kakek itu menggeleng kepala.

“Mereka agaknya tidak tahu dimana adanya pusaka itu, malah menawan kita untuk memaksa Siauw-lim-pai mencari pusaka itu dan ditukar dengan nyawa kita.”

Mereka menghentikan percakapan bisik-bisik yang hanya dapat mereka dengar sendiri itu ketika terdengar suara orang di luar kamar tahanan mereka. Suara ketua Ang-hong-pai dan Theng Ci!

“Untuk apa racun itu, subo?” terdengar suara Theng Ci.

Jawaban ketua Ang-hong-pai didahului dengan suara ketawanya yang halus akan tetapi mengandung kekejaman.

“Hi-hik, pembius di dalam madu itu mana kuat mempengaruhi Siauw-bin- hud untuk waktu lama? Orang biasa akan terbius selama tiga jam, akan tetapi aku khawatir kakek gendut itu akan cepat sadar. Maka, aku akan memaksakan racun ini agar mereka lumpuh selama tiga hari tiga malam. Dengan demikian, selain lebih aman, kalian tidak akan diperlukan menjaga terlampau ketat. Buka pintunya.”

Nampak kepala dua orang wanita itu di luar jeruji pintu. Mereka menjenguk ke dalam dan melihat betapa dua orang tawanannya masih pulas atau pingsan. Kakek itu bersandar dinding seperti tadi, dan Ci Kong menggeletak terlentang. Pemuda yang cerdik ini cepat sudah merobah kedudukannya. Dia teringat bahwa ketika pertama kali sadar, dia berada dalam keadaan rebah terlentang, maka kalau kini dia duduk seperti susiok-couwnya, tentu akan menimbulkan kecurigaan. Hal yang kecil tapi penting ini agaknya tidak teringat oleh susiok- couwnya tadi!

Daun pintu terbuka dan masuklah ketua Ang-hong-pai yang membawa sebuah guci kecil, sedangkan Theng Ci mengawal di belakang gurunya sambil memegang sebatang pedang, agaknya kesaktian kakek itu membuat orang- orang Ang-hong-pai ini berhati-hati sekali.

“Ha-ha-ha-ha-ha!”

Wajah ketua Ang-hong-pai seketika menjadi pucat sekali. Baru pertama kali itulah iblis betina ini mengalami guncangan batin yang hebat, bukan hanya karena peristiwa ini sama sekali tidak pernah disangkanya, seperti melihat orang mati hidup kembali secara mendadak, akan tetapi juga suara ketawa kakek itu membuat tubuhnya menggigil dan guci itupun terlepas dari tangannya.

“Prakkk!!”

Guci itu pecah dan tercium bau yang harum-harum amis memuakkan. Selagi guru dan murid ini terbelalak dengan muka pucat, tubuh Ci Kong melesat ke daun pintu dan tiba-tiba diapun sudah menutupkan daun pintu itu dan menguncinya dari dalam! Setelah itu, dia berdiri dengan keadaan siap siaga, menanti tindakan susiok-couwnya. Tanpa perintah kakek itu, dia tentu saja tidak berani sembarangan bergerak. Sementara itu, kakek Siauw-bin-hud sudah bangkit berdiri dan wajahnya tetap cerah dan ramah penuh senyum lebar.

“Pang-cu, engkau sungguh sungkan sekali. Sudah menjamu kami sampai kekenyangan dan tertidur, kini masih hendak kautambah lagi. Apakah itu? Madu pelumpuh badan?”

“Siauw-bin-hud...!”

Kini ketua Ang-hong-pai itu nampak bulunya yang aseli dan sikapnya tidak manis dan menghormat lagi seperti tadi.

“Bagaimana... bagaimana kalian...”

Ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya saking herannya melihat ada orang mampu sadar dari pengaruh obat biusnya sedemikian cepatnya.

“Iktikad baik, pai-cu, iktikad baik, batin bersih dan hidup bersih. Pinceng datang dengan maksud baik, hanya ingin menanyakan sesuatu kepada muridmu Theng Ci, setelah itu kami akan pergi dengan aman...”

Tiba-tiba ketua Ang-hong-pai itu tersenyum.

“Aih, kalau begitu aku telah membuat kesalahan terhadap Siauw-bin-hud, harap suka memaafkan aku...”

Berkata demikian, wanita ini menjura dengan hormat, akan tetapi tibatiba saja dari kedua tangannya yang memberi hormat itu menyambar sinar-sinar merah ke arah tujuh jalan darah terpenting di bagian depan tubuh Siauw-bin- hud! Penyerangan itu dilakukan dalam jarak yang amat dekat, hanya dua meter jaraknya, begitu tiba-tiba dan tidak terduga-duga, apalagi jarum-jarum itu meluncur dengan kecepatan kilat.

Agaknya kakek gendut itu sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk mengelak atau menangkis, maka tujuh batang jarum merah beracun itu tahu- tahu sudah menancap, dua di pundak kanan kiri, satu di tenggorokan, satu di ulu hati, satu di pusar, dan dua lagi di kedua selangkangan! Karena tertutup pakaian, maka di bagian lain jarum-jarum itu tidak nampak, hanya yang amat jelas sebatang jarum yang menancap di tenggorokan itu, telah menancap sampai tinggal seperempatnya saja!

Tentu saja ketua Ang-hong-pai menjadi girang bukan main, kegirangan yang dinyatakan dengan senyum lebar. Akan tetapi, senyum itu segera berobah menjadi melongo dan terbelalak, perasaan girang itu berobah menjadi kekagetan yang membuat wajahnya kembali menjadi pucat sekali. Kakek yang sudah tertusuk tujuh jarum merah beracun yang amat berbahaya itu, masih berdiri biasa saja sambil terkekeh gembira, seolah-olah tujuh jarum itu tidak pernah menyentuhnya! Kemudian dia menarik napas panjang.

“Aihhh, jarum-jarum bernasib malang. Engkau tidak dipergunakan untuk menjahit sehingga berjasa, sebaliknya malah dipergunakan untuk membunuh orang. Sialan! Pai-cu, kukembalikan jarum-jarummu. Terimalah!”

Dan tiba-tiba saja, jarum-jarum yang tadinya menancap di tujuh tempat bagian tubuh depan Siauw-bin-hud, meluncur dengan cepat sekali ke depan. Ketua Ang-hong-pai itu bukan seorang lemah, akan tetapi karena ia masih dalam keadaan terpesona dan terkejut, apalagi jarum-jarum itu meluncur dengan kecepatan dua kali lipat dari pada kecepatan serangannya tadi, tahu- tahu tujuh batang jarum itu telah menusuk gelung rambut di atas kepalanya! Ia merasa betapa gelung rambut kepalanya tergetar dan ketika ia meraba, matanya terbelalak mendapat kenyataan bahwa tujuh batang jarumnya telah menghias sanggul rambutnya dengan rapi!

Pada saat itu, Theng Ci yang melihat subonya tidak berhasil, menggunakan pedangnya menyerang Ci Kong. Tusukannya cepat dan kuat sekali ketika dari samping ia menusuk ke arah lambung pemuda yang sedang nonton gurunya menghadapi ketua Ang-hong-pai. Akan tetapi, pemuda ini telah memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Dia dapat mendengar suara angin serangan, juga matanya yang amat tajam dapat menangkap berkelebatnya pedang. Dengan tenang sekali, dia memutar tubuh sehingga pedang itu meluncur lewat dekat pinggangnya, hanya dalam jarak beberapa sentimeter saja.

Dan sebelum Theng Ci sempat menarik kembali pedangnya, tiba-tiba saja jari tangan Ci Kong melayang dan tubuh wanita baju merah itupun terguling dalam keadaan lumpuh tertotok! Totokan yang amat hebat dari Ci Kong itu adalah totokan yang diberi nama It-ci-san, totokan sebuah jari telunjuk yang amat cepat dan tepat.

Ketua Ang-hong-pai yang sedang meraba sanggulnya, menoleh ketika mendengar suara gedebrukan. Ketika ia melihat bahwa murid kepala itu roboh dan tak dapat berkutik, ia cemberut.

“Bocah tolol, kau mencari penyakit!”

Ia memaki jengkel dan dengan ujung sepatunya ketua Ang-hong-pai ini menendang ke arah tengkuk muridnya, dan Theng Ci mengeluh lalu dapat bangun kembali, memungut pedangnya dan mundur, berdiri mepet dinding dengan muka merah, kadang-kadang melirik ke arah Ci Kong yang masih berdiri tenang saja.

Ketua Ang-hong-pai menghela napas dan nampak uring-uringan, lalu memandang kepada Siauw-bin-hud. Suaranya tidak lagi manis, bahkan ketus dan kasar.

“Siauw-bin-hud, engkau adalah seorang pendeta yang katanya suci, mengapa engkau dan cucu muridmu ini datang ke sini untuk menghina orang? Patutkah perbuatanmu ini?”

“Omitohud...!”

Siauw-bin-hud mengeluh dengan muka masih tertawa cerah.

“Maafkanlah pinceng, seribu kali maaf, pai-cu, kalau engkau merasa terhina. Akan tetapi sesungguhnya kami datang bukan untuk mengganggu atau menghina orang, melainkan untuk bertemu dengan muridmu yang bernama Theng Ci dan untuk menanyakan sesuatu. Hanya itulah, sayang bahwa kalian membesar-besarkan urusan sehingga berlarut-larut.”

Karena terdesak dan merasa tidak akan mampu menandingi kakek ini dan cucu muridnya yang lihai, ketua itu akhirnya mengalah. Ia sendiri bersama murid kepala Ang-hong-pai telah terjebak ke dalam ruangan itu sehingga mengerahkan anak buahnyapun sia-sia belaka, bahkan ia tentu akan menderita lebih banyak malu lagi.

“Ia ini muridku yang bernama Theng Ci.”

Mendengar ucapan subonya, Theng Ci melangkah maju menghadapi kakek gendut itu.

“Aku yang bernama Theng Ci, ada keperluan apakah locianpwe dengan aku?”

Siauw-bin-hud dan Ci Kong memandang tajam ke arah wanita yang mengaku bernama Theng Ci itu. Seorang wanita yang usianya empatpuluhan tahun, masih nampak cantik akan tetapi matanya membayangkan kekerasan, pakaiannya ringkas serba merah dan biarpun mukanya terawat baik-baik, garis-garis duka nampak di ujung mulut dan mata. Seorang wanita yang banyak menderita dan keras hati.

“Omitohud, kiranya engkau yang bernama Theng Ci? Apakah engkau yang hadir sebagai wakil Ang-hong-pai ketika terjadi perebutan Giok-liong-kiam di luar kota Kanton, dan engkau menjadi saksi pula ketika pusaka itu dirampas oleh orang yang mengaku bernama Siauw-bin-hud dari Siauw-lim-pai?”

Theng Ci mengerutkan alisnya dan membuang mukanya yang menjadi merah sekali.

“Semua orang sudah tahu, kenapa locianpwe bertanya kepadaku?” “Begini, nona. Yang ingin pinceng tanyakan, apakah engkau yakin benar

bahwa orang itu adalah pinceng sendiri! Ataukah orang lain yang menyamar sebagai pinceng?”

Wanita itu meragu. “Aku... aku tidak tahu!”

“Nona, sebenarnya pinceng sudah memperoleh banyak keterangan akan tetapi pinceng masih belum yakin benar. Oleh karena itu, pinceng sengaja mencarimu untuk minta bantuanmu. Engkau seorang wanita, tentu lebih mudah mengingat keadaan seseorang. Apakah ada sesuatu pada diri orang itu yang merupakan ciri khasnya?”

Tiba-tiba Theng Ci mengangkat muka memandang wajah Siauw-bin-hud itu dan sinar kebencian memenuhi matanya.

“Tua bangka tak tahu malu! Masihkah engkau berpura-pura lagi seperti tidak mengenal aku? Sungguh biadab!”

Ci Kong terkejut bukan main dan marah. Susiok-couwnya adalah seorang alim, juga seorang terhormat, kini dimaki dengan kata-kata kotor oleh perempuan ini. Akan tetapi, kakek itu hanya tersenyum lebar seolah-olah makian itu hanya lewat saja tanpa meninggalkan bekas kepadanya, lahir maupun batin.

“Aha, sikapmu ini menarik sekali, nona. Tentu ada terjadi sesuatu antara engkau dan aku, maksudku, orang yang merampas pedang pusaka Giok- liong- kiam itu, sehingga engkau kini bersikap begini marah dan penuh kebencian. Mungkin aku sudah terlalu tua untuk mengingat kembali peristiwa lama. Karena itu, nona, maukah engkau menceritakan mengapa engkau begini membenci pinceng ? Apakah yang telah terjadi antara kita enam tahun yang lalu itu?”

Dengan muka sebentar pucat sebentar merah, wanita itu melotot ketika memandang kepada Siauw-bin-hud dan suaranya tegas dan nyaring.

“Masih berpura-pura lagi! Engkau... tua bangka binatang jahat, engkau telah memperkosaku!”

Jawaban ini bagaikan halilintar menyambar, membuat wajah Ci Kong berobah merah sekali. Gilakah wanita ini? Dan dia memandang kepada wajah susiok-couwnya dan wajah kakek itu hanya tersenyum lebar, sama sekali tidak kelihatan kaget walaupun sebenarnya berita inipun tidak kalah hebatnya bagi kakek itu sendiri.

“Ha-ha-ha, alangkah aneh dan lucunya. Pinceng selama duapuluh tahun tidak pernah meninggalkan ruangan bertapa di Siauw-lim-si, dan tahu-tahu kini muncul tuduhan-tuduhan aneh, bukan hanya merampas Giok-liong-kiam, akan tetapi juga memperkosa wanita. Hemm… nona Theng Ci, menurut penuturan mereka yang ikut memperebutkan pusaka itu, setelah pusaka dirampas orang yang seperti pinceng, mereka semua, termasuk engkau menuduh bahwa pinceng... eh, orang itu, melakukan perkosaan?”

“Huh, engkau atau bukan, pokoknya orangnya persis engkau ini, tidak ada bedanya sedikitpun juga! Aku memang pergi seperti yang lain karena tidak berani berbuat sesuatu terhadap Siauw-bin-hud, seorang tokoh besar Siauw- lim-pai, apalagi karena lenyapnya pusaka itu tidak ada buktinya diambil oleh Siauw-bin-hud. Akan tetapi ketika aku pergi, malamnya tiba di hutan. Aku membuat api unggun dan tiba-tiba muncul engkau yang mempergunakan kepandaian menaklukkan aku, dan… semalam itu engkau mempermainkan aku, memperkosa… menghina… uhh…”

“Theng Ci, kenapa engkau tidak memberitahukan hal itu kepadaku?” tiba- tiba gurunya membentak.

Theng Ci menjatuhkan dirinya berlutut di depan gurunya sambil menahan tangisnya.

“Subo, maafkan aku. Hal yang begitu menghancurkan hatiku, bagaimana mungkin aku menceritakan kepada subo atau kepada siapapun juga? Hanya karena terpaksa dengan munculnya tua bangka ini, terpaksa aku bercerita.”

“Omitohud...!”

Siauw-bin-hud mengeluh walaupun mukanya masih penuh senyum. “Tenanglah, nona… dan cobalah nona lihat baik-baik kepadaku. Benarkah

pinceng yang melakukan perbuatan terkutuk itu terhadap dirimu? Tidak salah lagikah?”

Melalui mata yang basah, Theng Ci memandang wajah kakek itu, lalu sinar matanya menjelajahi tubuh kakek itu dari kepalanya yang gundul sampai ke sepatunya yang terbuat dari kain. Dan terbayanglah semua pengalamannya yang membuat hatinya sakit. Entah sudah berapa puluh pria yang digaulinya, yang menjadi kekasihnya. Ia mudah bosan dan tentu saja ia selalu memilih pria yang ganteng dan tanpan. Dengan pengaruhnya, dengan kepandaiannya mudah saja baginya untuk memilih pria yang disukainya. Bahkan dengan kekejamannya, ia seringkali menaklukkan pria dengan paksaan dan ancaman sehingga pria itu karena takut mati terpaksa memenuhi hasrat dan nafsunya. Akan tetapi, pengalamannya ketika ia berada di dalam hutan itu sungguh membuat ia merasa muak, terhina dan sakit hati sekali.

Ketika itu, hatinya sudah dipenuhi kekecewaan mengingat betapa pusaka Giok-liong-kiam lepas dari tangannya. Padahal, tadinya ia sudah amat mengharapkan pusaka itu dapat dirampasnya. Pusaka itu sudah berada di tangannya! Akan tetapi, sungguh tak disangkanya akan muncul demikian banyaknya orang pandai yang ikut memperebutkan pusaka itu. Apalagi setelah muncul Siauw-bin-hud, harapannyapun lenyaplah. Ia tahu diri dan seperti yang lain, tidak berani mengganggu kakek gendut itu, pertama karena iapun sudah mendengar akan kesaktian kakek ini yang mengatasi kelihaian Empat Racun Dunia. Kedua, siapa berani sembarangan mengganggu seorang tokoh besar Siauw-lim-pai? Dan ketiga, tak seorangpun melihat bahwa kakek ini yang merampas pusaka yang sedang diperebutkan itu.

Karena hatinya kesal, biarpun tubuhnya lelah sekali dan matanya mengantuk, ia tidak dapat tidur. Padahal, ia telah memilih tempat di bawah pohon dimana terdapat rumput hijau yang tebal dan ia sudah menghamparkan tikar di situ. Ia lalu duduk termenung di depan api unggun besar yang mengusir nyamuk dan hawa dingin.

Tiba-tiba terkejutlah ia ketika mendengar suara terkekeh dan tahu-tahu Siauw-bin-hud telah berdiri di depannya. Kakek gendut itu nampak menyeramkan sekali berdiri di dekat api unggun itu, dan perutnya yang tertutup jubah kuning itu bergerak-gerak ketika dia tertawa.

Melihat munculnya kakek itu, timbul harapan di hati Theng Ci. Apa maksud kedatangannya? Apakah... apakah hendak menyerahkan pusaka itu kepadanya? Karena itu, Theng Ci lalu bersikap hormat, bangkit dan memberi hormat kepada kakek gendut itu sambil tersenyum ramah, hal yang jarang sekali dilakukannya.

“Locianpwe, petunjuk apakah yang akan locianpwe berikan kepada saya maka locianpwe datang menemui saya?” tanyanya dengan suara lembut.

“Ha-ha-ha-ha-ha, nona manis. Coba kauterka keperluan apa yang kubawa maka aku mencarimu, ha-ha-ha!”

“Bukankah locianpwe hendak menganugerahi saya dengan pusaka Giok- liong-kiam itu? Locianpwe, saya merasa berterima kasih sekali dan akan suka mencium kaki locianpwe kalau saya diberi pusaka itu!” katanya penuh harap.

“Ha-ha-ha, enak saja kau bicara! Pinceng lewat di sini dan kedinginan, lalu melihatmu. Maka pinceng mengambil keputusan untuk mengajakmu menemani pinceng untuk mengusir hawa dingin. Aahhhh, ada tikar di sini? Bagus, enak untuk tidur. Ke sinilah nona...”

Kakek gendut itu lalu merebahkan dirinya begitu saja di atas tikar. Tubuhnya yang bulat itu menggelinding seperti bola ke atas tikar, terlentang dan dengan kedua tangan dikembangkan, dia mengapai ke arah Theng Ci!

Tentu saja Theng Ci menjadi marah bukan main. Kakek yang tua bangka itu, dan tubuhnya yang gendut bulat, perutnya yang begitu besar, mengajak ia bermain cinta? Tentu saja ia tidak sudi! Banyak  pria muda tampan siap melayani dan memuaskannya kalau ia mau.

“Locianpwe, harap jangan main-main!” tegurnya, suaranya mulai ketus. “Siapa main-main, manis?”

Dan tiba-tiba lengan itu dapat memanjang dan tahu-tahu sudah merangkul leher Theng Ci. Wanita ini terkejut dan meronta, akan tetapi tiba-tiba pundaknya ditekan dan iapun terkulai lemas. Selanjutnya... ah, sukar baginya untuk dapat mengenang peristiwa memalukan itu. Ia diperkosa, dihina, dipermainkan semalam suntuk oleh kakek gendut itu tanpa mampu menolak atau meronta sedikitpun. Dan pada keesokan harinya, kakek gendut itu meninggalkannya sambil tertawa-tawa mengejek!

Dengan sepasang mata yang merah dan basah, Theng Ci kini memandang kepada Siauw-bin-hud. Memang ada keraguan di dalam hatinya. Memang ia telah merasa curiga pada malam hari sial itu juga. Mungkinkah Siauw-bin-hud, yang terkenal sebagai seorang tokoh besar Siauw-lim-pai, sebagai seorang hwesio Siauw-lim-si yang alim, mau melakukan perbuatan begini biadab? Dan tingkah laku kakek gendut itu ketika mempermainkannya, lebih pantas dilakukan oleh seorang manusia liar, manusia hutan atau binatang, sama sekali tidak nampak lagi bekas-bekas seorang hwesio Siauw-lim-pai yang terkenal alim dan sakti. Akan tetapi... bagaimana aku bisa tahu aseli ataukah palsunya? Wajahnya, tubuhnya, pakaiannya, ketawanya, semua memang serupa... pikirnya agak bingung.

“Nona Theng Ci, ingatlah baik-baik, apakah tidak ada suatu tanda yang dapat membedakan antara kami? Ingatlah...”

Kembali Ci Kong mengerutkan alisnya dan tentu dia sudah marah dan menegur wanita tak tahu malu itu kalau saja dia tidak melihat betapa susiok- couwnya dengan sungguh-sungguhlalu membuka jubahnya yang lebar, bahkan menanggalkan jubah itu, kemudian berdiri dengan tubuh atas telanjang di depan Theng Ci! Nampaklah perut yang bulat itu, kulitnya yang kuning halus mulus karena tak pernah terkena sinar matahari, kulit yang halus seperti kulit anak bayi.

Terdengar Theng Ci mengeluarkan seruan kecil, lalu ia mengelilingi tubuh kakek itu dan memeriksa dengan teliti.

“Ah, bukan kau... bukan kau...! Kulitnya tidak sehalus ini, dan dadanya berbulu, dan... dan... di lambung kirinya terdapat tanda hitam sebesar telapak tangan. Bukan kau, locianpwe, orang itu... ah, sudah kuragukan sejak dulu.”

Dan Theng Ci menangis sesenggukan, menutupi mukanya. “Diam kau!!”

Ketua Ang-hong-pai membentak muridnya yang segera menghentikan tangisnya. Lalu ia menghadapi Siauw-bin-hud.

“Apa sudah cukup pertanyaan-pertanyaanmu, Siauw-bin-hud? Kalau sudah, harap segera meninggalkan tempat ini. Sudah cukup banyak kau mendatangkan kekacauan di sini.”

Siauw-bin-hud diiringkan oleh Ci Kong keluar dari dalam kamar itu, lalu mereka berdua dengan sikap tenang meninggalkan perkampungan Ang-hong- pai tanpa ada seorangpun yang berani coba mengganggu.

Akan tetapi, ketika mereka tiba di pintu gerbang, ketua Ang-hong-pai yang mengikuti mereka lalu bertanya.

“Siauw-bin-hud, apakah engkau sudah tahu siapa orang yang memalsu dirimu itu?”

“Ha-ha-ha… mungkin sekali aku tahu, mungkin juga keliru. Selamat tinggal, pai-cu…” kata kakek itu yang segera melangkah lebar meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi, diikuti oleh Ci Kong.

Setelah dua orang tamu yang lihai itu pergi, ketua Ang-hong-pai mengomeli Theng Ci.

“Sialan kau ini! Dengan kebocoran mulutmu, tentu kini dia telah mengetahui dimana adanya pusaka itu dan akan merampasnya kembali. Sungguh tolol kau ini. Dulu engkau diam saja tidak menceritakan kepadaku tentang perampas pusaka yang memperkosamu, dan sekarang engkau malah bocor mulut sejadi-jadinya!”

“Ah, apakah subo tahu siapa orang itu?”

“Bodoh kau. Kalau dari dulu engkau bercerita, tentu aku dapat menduganya dan kita dapat lebih dulu berusaha merampasnya. Orang itu siapa lagi kalau bukan Thian-tok?”

“Thian-tok...? Wah, kalau benar dia, siapa akan mampu merampas dari tangannya?”

Setelah kini mendengar bahwa yang menghinanya adalah satu di antara datuk-datuk iblis itu, makin habislah semangatnya untuk dapat membalas dendam. Kini ia tidak merasa heran. Kalau orang itu benar Thian-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia, ia masih boleh mengucap syukur karena ia tidak mati konyol, atau tersiksa lebih hebat lagi dan dapat lolos dari maut mengerikan dalam waktu semalam saja! Sungguh aneh sekali wanita ini. Begitu mendengar bahwa pemerkosanya adalah Thian-tok, lenyaplah rasa penasaran di hatinya, bahkan ada rasa bangga yang luar biasa bahwa ia telah dipilih oleh Thian-tok, datuk iblis itu!

Patut diketahui bahwa Theng Ci adalah seorang wanita yang tergolong kaum sesat. Perkumpulan Ang-hong-pai juga perkumpulan sesat. Oleh karena itu, walaupun Ang-hong-pai tidak dapat dikatakan menjadi anak buah atau pengikut Empat Racun Dunia, akan tetapi kedudukan Thian-tok yang tinggi membuat dia dipandang dengan rasa takut, kagum dan hormat oleh para anggauta kaum sesat, seperti pandangan seorang tahyul terhadap iblis atau dewa.

Maka, mendengar bahwa dirinya dipilih oleh Thian-tok, timbul rasa bangga dalam hati wanita ini.

Puncak Tai-yun-san merupakan puncak yang indah dan masih liar karena jarang dikunjungi manusia. Memang tidak ada gunanya bagi orang biasa, kecuali hanya untuk melancong, datang ke puncak itu. Selain amat terjal dan sukar dicapai, penuh dengan hutan liar dimana terdapat banyak binatang buas, juga hawanya terlalu dingin. Akan tetapi semenjak beberapa tahun ini, di puncak itu terdapat tiga orang, yaitu Thian-tok, dan dua orang muridnya yang baru, yaitu Ong Siu Coan dan Gan Seng Bu. Dua orang muda itu digembleng dengan sungguh-sungguh oleh Thian-tok, sehingga selama enam tahun mereka telah menerima ilmu-ilmu kesaktian dari datuk iblis itu.

Kini mereka berdua sudah mengenal benar watak guru mereka yang luar biasa, aneh, dan kadang-kadang mengerikan. Di dalam perantauannya, Thian- tok mengajak dua orang muridnya itu bertualang dan dengan terang-terangan dia melakukan pencurian, bahkan penculikan dan pemerkosaan terhadap gadis-gadis cantik. Dua orang muridnya tertegun, cemas dan ngeri, akan tetapi mereka tidak berani mencampuri. Mereka bergidik melihat betapa guru mereka itu sambil tertawa bergelak-gelak memperkosa wanita, dan sambil tersenyum- senyum membunuh wanita itupada keesokan harinya! Bahkan pernah kakek gendut itu merobek dada seorang korbannya, mengeluarkan jantung yang masih berdenyut dan mengganyangnya mentah-mentah. Dua orang pemuda itu hampir muntah menyaksikan hal ini, akan tetapi guru mereka mengatakan bahwa jantung yang hidup itu merupakan obat kuat yang tiada taranya!

Kadang-kadang, kalau sedang berdua saja, Seng Bu menyatakan kecewa dan penyesalannya kepada suhengnya, yaitu Siu Coan, tentang watak gurunya. Dia mengatakan bahwa kalau melihat watak suhunya, dia ingin minggat saja, tidak sudi menjadi murid seorang yang demikian jahatnya. Akan tetapi, Siu Coan membantahnya dan mengingatkan bahwa guru mereka adalah seorang yang luar biasa saktinya. Mencari di ujung dunia sekalipun belum tentu akan bisa mendapatkan seorang guru selihai Thian-tok.

“Pula, apa hubungannya semua perbuatannya dengan kita?” demikian Ong Siu Coan berkata, membujuk sutenya.

“Dia adalah seorang sakti, dan semua orang sakti di dunia ini memang aneh. Bahkan ada yang mendekati gila. Siapa bisa mengikuti jalan pikirannya? Mungkin saja ada sebab-sebab rahasia yang mendorong semua perbuatannya yang kelihatannya jahat dan mengerikan itu.”

“Hemm, apa yang mendorong kecuali nafsu buruk?” Seng Bu berkata. “Memperkosa gadis, lalu membunuh gadis yang tak berdosa itu!

Bayangkan saja! Dia mencuri barang-barang berharga dari dalam gedung orang. Sungguh aku tidak mengerti, mengapa suhu yang sudah setua itu masih mau mengganggu wanita, dan untuk apa pula barang-barang berharga itu.”

Akan tetapi setelah mereka tiba di dalam guha di puncak Pegunungan Tai- yun-san, barulah terjawab pertanyaan kedua dari Seng Bu. Di dalam guha besar itu terdapat terowongan dan kamar-kamar dalam tanah, dan di dalam sebuah di antara kamar-kamar itulah disimpannya banyak sekali barang-barang berharga yang langka! Pusaka-pusaka, emas permata, batu giok dan bertumpuklah barang-barang itu seperti dalam guha harta karun saja! Dan kadang-kadang Thian-tok bermain-main di dalam kamar itu seperti anak kecil, menimang-nimang semua benda-benda itu sambil tertawa-tawa seorang diri!

Kalau Seng Bu merasa tidak cocok dengan watak gurunya dan hanya memaksa diri bertahan untuk mengganggu ilmu kesaktian dari kakek itu, sebaliknya diam-diam Ong Siu Coan merasa kagum bukan main terhadap gurunya! Bahkan ada perasaan puas di lubuk hatinya melihat betapa gurunya melakukan semua kekejaman yang sadis itu. Hanya anak ini menyadari bahwa perbuatan-perbuatan itu tidak benar, maka diapun memaksa hatinya sendiri untuk memerangi perasaan puas itu sehingga di luarnya, dia nampak halus budi dan pandai menyimpan gejolak hatinya.

Seng Bu sendiripun tidak dapat menyelami batin suhengnya yang baginya dianggap seorang yang cerdik, pandai dan juga tidak pernah melakukan perbuatan tercela. Sikap suhengnya yang pendiam, serius, dan gagah sekali, terutama kalau bicara tentang perjuangan menentang penjajah Mancu, benar- benar amat mengagumkan hati Seng Bu. Dia sendiri berwatak jujur, terbuka dan agak bodoh walaupun dia memiliki jiwa yang gagah perkasa dan berani.

Demikianlah, dalam asuhan orang aneh seperti Thian-tok, dua orang pemuda remaja itu tumbuh menjadi pemuda-pemuda yang gagah perkasa. Dalam usia sembilanbelas tahun, Siu Coan merupakan seorang pemuda dewasa yang bertubuh tinggi tegap, berwajah tanpan dan gagah sekali, sepasang matanya mencorong, kadang-kadang nampak aneh, sikapnya pendiam dan serius, pandang matanya penuh selidik dan membayangkan kecerdikan.

Gan Seng Bu yang usianya hanya beberapa bulan saja lebih muda dari suhengnya, bertubuh sedang namun bentuknya kokoh dan kuat sekali, dengan otot-otot yang menonjol. Wajahnya tidak begitu tampan, akan tetapi wajahnya jantan dan membayangkan kegagahan. Sinar matanya terbuka dan dari situ berpancar cahaya mata yang jujur dan terang.

Sudah hampir enam tahun mereka menjadi murid Thian-tok dan boleh dibilang hampir semua ilmu-ilmu pilihan dari kakek itu telah diajarkan kepada mereka, terutama sekali ilmu-ilmu andalan Thian-tok. Diantaranya adalah llmu Sin-houw Ho-kang, yaitu ilmu yang berdasarkan penggunaan tenaga khikang pada suara sehingga kalau ilmu ini dipergunakan, maka auman yang dikeluarkan itu demikian hebatnya sehingga mampu merobohkan lawan tanpa menyentuhnya melainkan menyerang jantung dan isi perut melalui pendengaran dan getaran suara!

Ada lagi ilmu yang diberi nama Kim-ciong- ko. Dengan mengandalkan ilmu ini, kalau dikuasai dengan sempurna dan kalau pelakunya sudah memiliki tenaga singkang yang sempurna, maka tubuh akan menjadi kebal terhadap senjata tajam dan kedua lengan dapat dipergunakan sebagai senjata, kuat menahan senjata tajam sekalipun!

Adapun ilmu siat tangan kosong yang diandalkan oleh Thian-tok adalah Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, ilmu silat yang berdasarkan gerakan Ngo-heng atau Lima Unsur yang saling berkaitan, saling menolong saling menghidupkan dan membunuh.

Kalau dibuat perbandingan antara Siu Coan dan Seng Bu. Maka Siu Coan yang cerdik lebih mahir dalam ilmu silat, akan tetapi dalam hal kekuatan, dia masih tidak mampu menandingi sutenya yang kokoh kuat seperti pagoda besi itu.

Pagi hari itu, dua orang pemuda yang sudah dewasa ini sedang berlatih silat di depan guha kecil dimana terdapat sumber mata airnya. Guha kecil ini letaknya agak jauh dari guha tempat tinggal mereka dan guru mereka, dan mereka setiap pagi kalau hendak mengambil air, mandi atau bercuci muka, tentu berlatih silat di depan guha kecil itu. Melihat dua orang pemuda itu berlatih silat dengan bertelanjang dada, hanya memakai celana panjang dan sepatu, amat mengagumkan. Sungguh jauh bedanya dengan perkelahian yang mereka lakukan pada enam tahun yang lalu di depan Thian-tok ketika kakek ini mengadu mereka di kuil tua.

Dulu mereka berkelahi secara liar, pukul-memukul, tendang-menendang dan jambak-menyambak, sehingga hujan pukulan mengenai badan masing- masing dan terdengar suara bak-bik-buk ketika pukulan mengenai badan. Akan tetapi sekarang, tidak terdengar sesuatu dalam gerakan mereka. Demikian ringannya kaki tangan mereka bergeser, namun sama sekali tidak mengeluarkan suara. Hanya kalau pukulan mereka meluncur saja terdengar angin bersiut, dan kadang-kadang terdengar bentakan mereka untuk menambah daya serang dalam pukulan atau tendangan mereka. Akan tetapi sekali ini, tidak ada satu kalipun pukulan atau tendangan yang mengenai tubuh lawan. Betapapun cepat dan kerasnya mereka menyerang, pihak lawan tentu mampu mengelak atau menangkisnya dengan baik sekali. Mereka sedang melatih ilmu silat tangan kosong Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, ilmu silat yang menjadi andalan guru mereka. Selagi mereka asyik berlatih, tiba-tiba terdengar suara orang mendengus dan nampaklah bayangan hitam berkelebat dan terasa oleh dua orang muda itu angin pukulan menyambar dengan dahsyatnya ke arah mereka! Tentu saja mereka terkejut bukan main, karena mereka tahu bahwa mereka diserang secara hebat sekali oleh orang yang berilmu tinggi dan yang memiliki tenaga singkang yang amat kuat.

Orang itu bertubuh tinggi kurus bermuka hitam dengan sepasang mata mencorong kehijauan seperti mata kucing, pakaiannya serba hitam pula dan dengan dua pukulan yang ganas sekali dia telah menyerang Siu Coan dan Seng Bu, dengan tamparan ke arah leher Siu Coan dan tonjokan ke arah dada Seng Bu.

“Haiiiittt...!”

Siu Coan berteriak sambil melakukan penangkisan dengan tangan kirinya. “Heiiiittt...!”

Seng Bu yang kaget itupun cepat mengelak dengan miringkan tubuhnya dan menyampok tonjokan itu dengan lengan kanannya.

“Dukk! Dukk!”

Dua orang pemuda itu semakin kaget karena ketika lengan mereka yang menangkis itu terbentur dengan lengan lawan, mereka merasa seolah-olah menangkis besi panas, dan juga tenaga lengan lawan itu sedemikian kuatnya sehingga mereka merasa lengan mereka tergetar hebat!

Siu Coan dan Seng Bu kaget bukan main. Lawan mereka itu memiliki gerakan cepat bukan main. Begitu serangan pertama dapat mereka hindarkan, serangan-serangan selanjutnya menyusul sedemikian cepatnya sehingga tahu- tahu mereka telah diserang secara bergantian dan bertubi-tubi sampai tiga kali! Namun, mereka kini telah menguasai banyak ilmu silat tinggi dan tubuh mereka sudah mampu bergerak secara otomatis menghadapi ancaman serangan itu, selain itu mereka yang tahu bahwa penyerang mereka ini amat lihai, sudah mengerahkan seluruh tenaga singkang mereka sehingga mereka mampu menangkis dengan baik.

Kembali orang itu mendengus, dan agaknya orang itupun merasa heran melihat betapa serangannya yang bertubi itu tidak berhasil merobohkan seorang dari mereka, bahkan kini dua orang pemuda itu mulai membalas. Tiba- tiba dia mengeluarkan suara mekengking lirih, akan tetapi di dalam suara yang lirih tinggi itu mengandung tenaga serangan yang amat hebat. Dua orang pemuda itu terkejut. Mereka mengenal Sin-houw Ho-kang yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Cepat mereka melangkah mundur dan mengerahkan tenaga khikang untuk melawan suara itu dan melindungi diri. Kembali orang itu kelihatan terkejut dan heran, lalu suara serangannya berhenti dan sekali berkelebat, orang itu telah lenyap di balik semak-semak tebal.

Siu Coan dan Seng Bu tidak mengejar, hanya saling pandang dengan heran. “Orang itu sungguh lihai sekali...!” katanya menarik napas panjang. “Serangannya mendadak dan kalau kita kurang hati-hati, tentu menjadi

korban.”

Seng Bu menggeleng-geleng kepala, keheranan.

“Mengapa dia menyerang kita membabi-buta tanpa alasan? Siapa dia?” “Aku dapat menduga siapa dia.” Tiba-tiba Siu Coan berkata.

Seng Bu memandang wajah suhengnya denga heran.

“Engkau tahu siapa dia, suheng? Apakah kau sudah mengenalnya?” Siu Coan menggeleng kepala. “Sute, lupakah engkau akan ucapan suhu ketika dia menerima kita sebagai murid? Suhu pernah mengatakan secara samar-samar bahwa suhu mempunyai seorang murid yang sudah tidak diakuinya lagi. Agaknya orang itulah murid suhu, mengingat bahwa dia mengenal ilmu silat Ngo-heng Lian-hoat kita, juga ketika dia menyerang kita dengan Sin-houw Ho-kang. Siapa lagi orangnya yang mampu melakukan dua ilmu itu kalau bukan murid suhu itu?”

Seng Bu mengangguk-angguk.

“Akan tetapi, kalau benar dia, berarti dia itu adalah toa-suheng kita. Mengapa dia menyerang kita mati-matian seperti itu? Kurang cepat sedikit saja kita mengelak atau menangkis, tentu seorang di antara kita akan roboh dan tewas.”

“Akupun tidak tahu mengapa, sute. Hanya, menurut ucapan suhu dahulu, tentu dia tidak berhubungan secara baik dengan suhu. Entah mengapa suhu tidak mengakuinya lagi. Sebaiknya hal ini kita tanyakan kepada suhu.”

Dua orang pemuda lalu membersihkan diri di sumber air dan setelah itu mereka berjalan kembali menuju ke guha besar tempat tinggal mereka. Ketika mereka mencari guru mereka, akhirnya mereka menemukan guru mereka duduk bersila di depan kamar harta karun dimana disimpan semua pusaka dan barang-barang berharga milik guru mereka itu. Akan tetapi, mereka terkejut bukan main melihat betapa Thian-tok yang duduk bersila itu berwajah pucat sekali dan jelas kelihatan sedang menghimpun hawa murni dengan tarikan- tarikan napas panjang. Siu Coan berseru kaget dan heran, diikuti oleh Seng Bu yang kemudian mereka berlutut di depan kakek itu.

“Suhu… ada apakah?”

Kakek itu membuka kedua matanya dan melihat dua orang muridnya, dia tersenyum menyeringai, lalu berkata dengan suara yang agak parau.

“Ah, dia datang... mengambil Giok-liong-kiam... dan aku kena ditipunya, terkena pukulannya, akan tetapi... diapun membawa bekas pukulanku, mungkin terluka parah pula...”

Siu Coan yang cerdik segera dapat menduga.

“Suhu, apakah suhu maksudkan murid suhu itu yang datang?” Thian-tok terbelalak.

“Kau… kau sudah mengenal Koan Jit?” Siu Coan menggeleng kepala.

“Tidak, suhu… teecu hanya menduga saja. Tadi ada seorang bertubuh jangkung, bermuka hitam dan berpakaian serba hitam pula, menyerang teecu berdua yang sedang berlatih silat di depan guha sumber air. Melihat gerakan- gerakannya, teecu menduga bahwa tentu dia murid suhu itu. Dan dia lalu melarikan diri setelah tidak berhasil merobohkan kami.”

Kakek itu mengangguk-angguk.

“Benar, dialah Koan Jit, murid durhaka itu. Ah, aku terlalu sayang kepadanya... dan dia terlalu durhaka...”

“Suhu, apakah yang telah terjadi?”

Seng Bu kini bertanya dengan hati penasaran sekali. Suhunya ini menyatakan merasa sayang terhadap murid yang bernama Koan Jit itu, akan tetapi juga mengatakan bahwa murid itu terlalu durhaka.

“Kalian belum tahu... baiklah kuceritakan agar kalian dapat mengenal siapa dia dan orang macam apa dia itu. Akan tetapi dia memang hebat, dia paling berbakat, dan dia patut menjadi datuk iblis penggantiku, akan tetapi dia durhaka kepadaku. Ah… sungguh sayang. Kalau tidak, tanpa dimintapun akan kuberikan Giok-liong-kiam kepadanya…”

Kakek itu lalu bercerita dengan singkat tentang muridnya yang bernama Koan Jit itu. Orang she Koan bernama Jit itu telah menjadi murid Thian-tok, murid tunggal semenjak dia masih kecil. Thian-tok amat sayang kepada muridnya ini, karena bukan saja Koan Jit memiliki bakat yang amat baik sehingga dapat mewarisi hampir seluruh ilmu kepandaiannya akan tetapi juga watak anak itu cocok benar dengan watak Thian-tok. Anak itu kejam, dapat bersikap jahat dan licik, pendeknya seorang yang patut menjadi calon datuk iblis yang menjagoi di dunia kaum sesat! Dan di waktu kecilnya Koan Jit nampak patuh dan setia sekali kepada gurunya sehingga Thian-tok merasa sayang kepadanya. Thian-tok yang tidak pernah berkeluarga dan tidak mempunyai keturunan itu, bahkan hanya mempunyai seorang saja murid, menganggap Koan Jit seperti anak sendiri.

Akan tetapi setelah Koan Jit tamat belajar, limabelas tahun yang lalu, dalam usia duapuluh lima tahun, watak jahat Koan Jit mencapai puncaknya, bukan saja dia melakukan segala perbuatan jahat seperti mencuri, merampok, membunuh, memperkosa dan mengkhianati siapa saja, bahkan dia berkhianat pula kepada gurunya sendiri! Urusannya hanya menyangkut diri seorang wanita yang diculik oleh Thian-tok. Kebiasaan Thian-tok, satu di antara kebiasaan buruknya adalah menculik dan memperkosa wanita mana saja yang menarik hatinya. Dan setelah diperkosanya, biasanya hanya untuk satu dua hari saja, lalu wanita itu dibunuhnya.

Akan tetapi, beberapa hari kemudian, guru ini mendapatkan wanita pilihannya itu ada dalam pelukan muridnya! Hal ini saja masih belum menyakitkan hati datuk iblis itu kalau saja si wanita tidak terang-terangan menyatakan bahwa ia mencinta Koan Jit dan tidak sudi berdekatan dengan Thian-tok. Marahlah si datuk iblis dan wanita itupun dibunuhnya.

Tak disangkanya sama sekali bahwa Koan Jit mendendam karena peristiwa ini, dan pada suatu malam, selagi Thian-tok tidur pulas, murid durhaka itu telah menotoknya, membelenggunya dan menyerahkannya kepada yang berwajib! Tentu saja alat pemerintah girang melihat penjahat besar itu diserahkan dalam keadaan terbelenggu, karena kalau tidak, mereka tahu tidak akan mungkin dapat memegang Thian-tok yang menjadi iblis jahat dan terkenal sekali di dunia kaum sesat.