-->

Pedang Naga Kemala Jilid 05

Jilid 05

Seorang anak laki-laki remaja berusia tiga belas tahun dengan baju tambal- tambalan, berdiri di depan seorang penjual bakpao. Anak itu bertubuh sedang dan melihat betapa urat-urat tubuhnya menonjol, dapat diduga bahwa anak ini sejak kecil biasa dengan pekerjaan kasar dan keras. Mukanya agak pucat dan muka itu tampan gagah, juga menunjukkan kekerasan. Sepasang matanya tajam dan berani, akan tetapi pada saat itu matanya memandang ke arah tumpukan bakpao mengepul panas dengan gairah besar. Beberapa kali dia menelan ludah sendiri dan perutnya yang sejak kemarin tidak diisi itu terasa semakin perih. Sudah sebulan dia terseret arus pengungsi memasuki kota Kan- cou, dan biarpun setiap hari dia mencari dan melamar pekerjaan, namun tidak ada yang dapat menerimanya. Pekerjaan terlalu sedikit dan yang membutuhkan terlalu banyak. Anak seusia dia itu dianggap masih kepalang tanggung, disebut anak-anak bukan, dewasapun belum.

Anak itu bernama Gan Seng Bu, sejak kecil dia ikut ayah bundanya yang bekerja sebagai pemburu dan selalu berpindah-pindah. Akan tetapi, ketika terjadi pemberontakan di barat, ayah bundanya menjadi korban dan tewas di tangan gerombolan pemberontak. Dia sendiri berhasil melarikan diri dan demikianlah, dia hidup seorang diri sebagai gelandangan, tak bersanak kadang tanpa pekerjaan, dan satu-satunya miliknya hanyalah pakaian dan sepatu yang menempel di tubuhnya, yang kini sudah menjadi penuh tambalan dan butut.

Seng Bu merasa betapa perutnya lapar bukan main. Kalau saja dia bisa memperoleh bakpao itu, sebuah saja! Akan tetapi dia tidak mempunyai uang dan tadi dia sudah memberanikan diri minta dari pedagang bakpao. Yang diterimanya hanya makian sehingga dia terpaksa menjauhkan diri dan memandang ke arah tumpukan bakpao itu seperti seekor harimau kelaparan memandang seekor kelinci gemuk yang diintainya. Tidak, dia tidak mau mencuri, atau melakukan kekerasan mengambil bakpao lalu melarikan diri. Dia sudah melihat betapa ada pencuri disiksa orang banyak sampai mati, pernah pula melihat pencuri disiksa oleh petugas keamanan sampai lumpuh kaki tangannya. Dia tidak akan senekad itu. Pula, sejak kecil dia digembleng oleh ayahnya yang keras untuk menjadi orang gagah yang pantang mencuri, demikian satu di antara pelajaran yang diterima dari ayahnya.

Tiba-tiba matanya tertarik oleh gerakan seorang pemuda remaja lain. Pemuda remaja itu bertubuh jangkung, dan usianya sebaya dengan dia, mukanya kurus pula akan tetapi matanya jelilatan. Seperti dia pula, pemuda itu pakaiannya penuh tambalan dan pemuda itu mendekati tempat penjualan bakpao dari belakang. Pada saat si pedagang bakpao sibuk melayani beberapa orang pembeli yang merubungnya, tiba-tiba saja pemuda jangkung itu menyambar dua buah bakpao dari tumpukan di belakang tanpa diketahui oleh si pedagang atau para pembelinya.

Akan tetapi Seng Bu melihatnya! Engkau harus selalu menentang kejahatan,   demikian pelajaran yang diterima dari ayahnya. Biarpun si pedagang bakpao tadi menghardiknya, akan tetapi kini bakpaonya dicuri orang dan dia melihatnya. Dia harus mencegahnya, kalau tidak berarti dia menjadi pembantu pencuri, demikian pelajaran yang diingatnya. Tanpa ragu lagi diapun lalu lari mengejar pemuda remaja yang melarikan dua buah bakpao itu.

Setelah tiba di luar pasar, barulah Seng Bu berhasil menyusul pencuri itu dan dia segera mencengkeram pundak pemuda remaja tinggi kurus itu dari belakang.

“Eh, mau apa kau?” bentak pemuda itu dengan marah sambil membalikkan tubuhnya menghadapi Seng Bu, matanya yang tajam itu memancarkan kemarahan.

“Kau telah mencuri bakpao!” bentak Seng Bu marah, apalagi melihat bahwa bakpaoyang sebuah tinggal separo, agaknya telah dimakan oleh pencuri itu sambil lari tadi.

“Apakah engkau pemilik bakpao itu? Jelas bukan, engkau tentu seorang pemuda gelandangan. Habis kau mau apa?”

“Kembalikan bakpao itu kepada pemiliknya!”

Seng Bu memandang kepada bakpao yang tinggal separuh itu. Nampak daging di dalamnya dan kembali perutnya merintih. Akan tetapi dia teringat akan pelajaran ayahnya dan betapa hinanya menerima sogokan seorang pencuri!

“Aku tidak sudi makan barang curian. Hayo kembalikan atau aku akan menyeretmu ke sana!”

Sepasang mata yang tadi memandang dengan ejekan itu menjadi tajam karena kemarahan.

“Kau mau menyeretku? Setan buruk, kaukira aku takut kepadamu?” Pemuda jangkung itu menantang sambil mengantongi bakpaonya. “Kau pencuri yang perlu dihajar!”

Seng Bu berseru dan diapun lalu menyerang dengan pukulan tangannya. Pemuda remaja jangkung itu menangkis dan balas memukul. Terjadilah perkelahian dan terdengar suara ‘bak-bik-buk’ ketika keduanya saling pukul. Dari gerakan mereka dapat diketahui bahwa keduanya tidak mempergunakan ilmu silat melainkan berkelahi dengan kasar dan liar. Akan tetapi keduanya memiliki tenaga besar dan tubuh yang kuat, sehingga beberapa pukulan yang mereka terima tidak membuat mereka roboh atau mengaku kalah.

Perkelahian ini segera menarik perhatian orang dan mereka dirubung banyak orang yang menjadi gembira nonton perkelahian yang seru ini. Tak seorangpun melerai, bahkan ada suara-suara berpihak, memilih jago masing- masing. Perkerlahian antara dua orang remaja yang tidak paham ilmu silat tentu saja lebih ramai dan menegangkan dari pada perkelahian antara ahli-ahli silat. Seorang ahli silat pantang terkena pukulan dan memiliki kepandaian untuk menghindarkan diri. Akan tetapi dua orang pemuda remaja itu membagi- bagi pukulan yang diterima oleh badan mereka sehingga nampaknya lebih ramai.

“Ha-ha-ha-ha, kalian dua jagoan kecil. Bukan di sini tempat berkelahi. Mari ikut aku ketempat yang lebih enak!”

Berkata demikian, kakek itu melangkah maju melerai dan menyentuh pundak dekat tengkuk kedua orang anak remaja yang sedang berkelahi itu. Tiba-tiba saja keduanya menghentikan perkelahian, memandang kepada kakek gendut itu dan tanpa bersuara lagi, seperti dua ekor anak kerbau, mereka mengikuti kakek itu yang meninggalkan tempat itu. Penonton juga bubaran, melanjutkan pekerjaan masing-masing, dan sebentar saja perkelahian antara dua orang anak gelandangan itupun dilupakan orang.

Tak seorangpun tahu mengapa dua orang anak yang sedang berkelahi itu tiba-tiba saja menurut dan taat kepada kakek yang melerai dan mengajak pergi mereka. Padahal, keduanya belum mengenal siapa kakek itu. Hanya dua orang anak itu yang tahu. Ketika kakek itu melerai dan menyentuh pundak mereka, tiba-tiba saja kedua lengan mereka menjadi lemas dan seperti lumpuh! Tentu saja mereka berdua menjadi kaget bukan main, dan ketika kakek itu mengajak mereka, keduanya tidak berani membantah. Kedua lengan mereka tidak dapat mereka gerakkan, tergantung lepas dan lumpuh, hal ini saja sudah membuat mereka menjadi takut dan khawatir. Hanya kakek itu yang akan dapat memulihkan kedua lengan mereka, maka merekapun menurut saja ketika diajak pergi. Seng Bu sendiri dapat menduga bahwa kakek ini tentu seorang sakti. Biarpun ayahnya tidak pandai silat, hanya memiliki tubuh kekar sebagai seorang pemburu, namun ayahnya banyak bercerita tentang pendekar- pendekar dan orang-orang sakti.

Pemuda jangkung itupun memiliki nasib yang tidak jauh bedanya dengan Seng Bu. Pemuda itu bernama Ong Siu Coan, berusia tigabelas tahun dan dari keluarga petani. Ayahnya pernah menjadi seorang petani yang cukup keadaannya sehingga Ong Siu Coan sempat pula bersekolah. Akan tetapi ketika terjadi pemberontakan, ayahnya ikut pula memberontak karena ayahnya membenci pemerintah penjajah Mancu. Pemberontakan itu dapat dipadamkan dan seluruh keluarga Ong Siu Coan binasa, harta bendanya ludas dirampok pasukan pemerintah. Untung baginya bahwa dia sendiri masih dapat menyelamatkan dirinya, dan arus pengungsi membawanya sampai ke kota Kancou.

Ong Siu Coan melakukan perjalanan dari utara sampai berbulan-bulan sebelum tiba di Kancou. Seperti juga Seng Bu, sukar sekali baginya untuk mendapatkan pekerjaan. Baginya lebih sukar lagi karena ada sedikit keangkuhan dalam dirinya, merasa bahwa dia pernah menjadi anak sekolah sehingga dia enggan bekerja kasar. Akan tetapi, berbeda dengan Seng Bu, agaknya dia tidak mengharamkan mencuri makanan kalau perutnya sudah tidak tahan lagi. Betapapun juga, di dalam dadanya bernyala api perjuangan menentang pemerintah penjajah. Pemuda remaja ini memiliki kegagahan, patriot, juga cerdik sekali, selain itu juga ada keanehan-keanehan pada wataknya.

Siapakah kakek gendut itu? Orang-orang kang-ouw biasa saja tidak akan mengenalnya, akan tetapi kaum tua di dunia kang-ouw, tentu akan terkejut melihat munculnya orang yang sudah belasan tahun lamanya tidak pernah lagi nampak di dunia ramai itu. Orang ini terkenal sekali puluhan tahun yang lalu karena dia adalah seorang di antara Empat Racun Dunia! Inilah yang dijuluki orang Thian-tok (Racun Langit) yang memiliki kesaktian setingkat dengan San- tok atau Hai-tok! Seperti juga San-tok, dia selama belasan tahun bertapa di gunung-gunung dan baru sekarang nampak muncul di dunia ramai, dan dalam keadaan sederhana, tidak seperti Hai-tok yang menjadi seorang kaya raya. Ketika kakek ini dalam perantauannya tiba di luar pasar dan melihat dua orang pemuda remaja saling gebuk dengan ramainya, diam-diam dia memperhatikan dari jauh. Dan giranglah hatinya. Dia melihat bakat yang amat baik pada diri dua orang muda itu, maka dia sengaja membawa dua orang muda itu ke tempat sunyi setelah membuat mereka tidak berdaya dengan semacam ilmu totok jalan darah yang amat halus.

Thian-tok membawa mereka berdua ke sebuah kuil tua yang sudah tidak dipergunakan lagi, sebuah kuil kosong yang kotor dan rusak. Tempat inilah yang menjadi tempat tinggalnya selama beberapa hari ini, dan dia berjalan terus memasuki kuil tua sampai tiba di sebuah ruangan dalam yang cukup luas.

“Ha-ha, nanti dulu!” kata Thian-tok melihat sinar mata mereka. “Sebelum dimulai, aku ingin mengetahui dulu siapa kalian.” “Namaku Ong Siu Coan,” kata pemuda jangkung.

“Namaku Gan Seng Bu,” kata pula pemuda tegap.

“Bagus, bagus! Nama-nama yang bagus dan gagah. Nah, Siu Coan dan Seng Bu, sekarang buka baju kalian. Baju kalian sudah robek-robek dan akan menjadi hancur kalau tidak dibuka. Apalagi kalau kalian tidak mempunyai pengganti.”

Baru teringatlah dua orang muda remaja itu akan pakaian mereka dan masing-masing menunduk dan memandang baju mereka yang robek-robek dengan muka sedih. Lalu merekapun menanggalkan baju mereka, menaruh di sudut ruangan itu. Kini mereka hanya memakai celana dan sepatu saja, tanpa baju. Mengingat akan baju mereka yang robek-robek, kemarahan kembali memenuhi dada mereka ketika mereka berdiri saling berhadapan.

“Ha-ha-ha, bagus, sekarang kalian mulailah saling hantam. Ingin aku melihat siapa yang menang,” kata kakek itu dambil naik ke atas tembok rendah. Bersila dan menurunkan tempat arak dari pinggang, juga mengambil mangkoknya.

Tubuh kedua orang pemuda remaja itu memang amat kuat dan keduanya tahan uji benar-benar. Muka mereka sudah matang biru oleh pukulan, hidung mereka sudah mengeluarkan darah terkena pukulan, akan tetapi keduanya tidak mau undur selangkahpun. Melihat ini, kakek itu menjadi semakin girang dan tertawa-tawa senang.

“Bagus! Siu Coan, pukul saja dia! Seng Bu, jangan mau kalah kau!”

Teriaknya berulang-ulang, memberi hati kepada keduanya sehingga dua orang anak itu menjadi semakin sengit untuk saling mengalahkan.

Akan tetapi agaknya Siu Coan lebih cerdik dari pada Seng Bu, walaupun dalam hal tenaga dan keuletan mereka seimbang. Karena dia lebih jangkung, Siu Coan mulai dengan gencar menyerang kepala Seng Bu dari atas. Hal ini membuat Seng Bu kewalahan, apalagi setiap kali ada pukulan mengenai ubun- ubun kepalanya, dia merasa pening.

“Ho-ho... Seng Bu, jegal kakinya dan hantam lehernya!”

Tiba-tiba kakek itu memberi nasihat ketika melihat Seng Bu mulai terdesak. Seng Bu mentaati pesan ini dengan otomatis, kakinya menyapu ke arah kaki Siu Coan dan tangannya menghantam leher.

“Plak... Dukkk...!”

Tubuh Siu Coan terpelanting karena dia selalu memperhatikan atas dan ketika kakinya ditendang dan lehernya dihantam, diapun tidak mampu bertahan dan terguling.

Thian-tok yang berwatak aneh itu menjadi semakin gembira. Dia selalu memberi nasihat kepada yang terdesak sehingga dari keadaan terdesak, berbalik menjadi menang, akan tetapi hanya sebentar karena si gendut itu berbalik pula memberi nasihat kepada yang kalah sehingga keadaan kembali berobah. Sampai hampir dua jam mereka berhantam, bergulat dan akhirnya keduanya menggeletak kelelahan, terengah-engah hampir putus napasnya dan tidak mampu melanjutkan, hanya mendeprok di atas lantai dan saling pandang melalui mata yang bengkak-bengkak membiru!

“Ha-ha-ha, istirahatlah sebentar. Nih, kuberi arak biar segar!”

Kakek itu lalu menyemburkan arak dari mulutnya, dan dua orang pemuda remaja itupun kehujanan arak yang amat halus dan mereka merasa terkejut bukan main, karena arak itu seperti ratusan buah jarum yang menusuk-nusuk kulit mereka! Akan tetapi rasanya memang segar mengenai kulit dan biarpun begitu terkena arak bekas-bekas pukulan lawan itu terasa perih, akan tetapi lambat laun rasa linu dan nyeri berkurang banyak.

“Nah, sekarang mulailah lagi, atau seorang di antara kalian harus mengaku kalah!” Tentu saja dua orang remaja ini tidak mau mengaku kalah dan biarpun semua tulang dalam tubuh terasa patah-patah saking lelahnya, mereka bangkit berdiri lagi dan mulailah mereka berkelahi lagi. Ong Siu Coan mulai menyerang, akan tetapi karena dia mempergunakan semua sisa tenaganya dan pukulan itu luput, tubuhnya terhuyung ke depan dan hampir jatuh. Akan tetapi Gan Seng Bu tidak mempergunakan kesempatan ini, hanya berdiri memandang lawannya yang terhuyung.

“Heh-heh, Siu Coan, salahmu sendiri. Bukan begitu caranya menyerang lawan. Nih, begini, tirulah gerakan ini!”

Kakek gendut itu sudah bangkit berdiri di atas tembokan rendah dan dengan lambat namun jelas memberi contoh sejurus pukulan kepada Siu Coan. Pemuda ini cerdik sekali, memperhatikan kedudukan kaki dan gerakan tangan ketika kakek itu memberi contoh. Setelah merasa paham betul, dia lalu menghampiri Seng Bu dan segera menyerang dengan gerakan seperti yang diajarkan oleh kakek gendut. Seng Bu juga melihat gerakan seperti yang diajarkan oleh kakek itu, akan tetapi dia tidak tahu bagaimana cara menghadapinya, maka dengan ngawur saja diapun mencoba untuk menangkis.

“Dess...!”

Akibatnya, tubuhnya tiba-tiba terpelanting dan jatuh terbanting cukup keras, membuat kepalanya menjadi pening.

“Ha-ha-ha… diserang orang bukan melawannya dengan jatuh bangun dan membiarkan diri dipukul!” Tiba-tiba kakek itu berseru lagi.

“Seng Bu, beginilah kalau engkau menghadapi serangan Burung Bangau Menyambar Katak tadi, perhatikan baik-baik.”

Kakek itu memberi contoh, kedua tangannya membentuk cakar dan lengannya bergerak seperti gerakan dua kaki depan harimau, kedua kakinya membuat kuda-kuda yang kokoh kuat.

Seng Bu mencontohnya dan merasa dapat memahaminya. “Nah, kalian lanjutkan sekarang!” kata si kakek gendut.

Siu Coan yang merasa bangga dengan jurusnya yang berhasil baik tadi, menjadi penasaran. Tak mungkin Seng Bu dapat menahan serangannya seperti tadi, pikirnya. Diapun maju lagi dan menyerang dengan jurus tadi, yang oleh si kakek gendut dinamakan Burung Bangau Menyambar Katak. Seng Bu menyambutnya dengan jurus seperti yang diajarkan si kakek, tangan kanannya berhasil menangkis patukan burung yang dilakukan oleh tangan lawan, kemudian dengan cepat tangan kirinya yang membentuk cakar itu menyambar muka lawan. Siu Coan terkejut dan menarik muka ke belakang, akan tetapi cakaran tangan kanan menyusul dan diapun terjengkang ke belakang dan terbanting jatuh!

“Ha-ha-ha! Itulah jurus Harimau Mencakar Batang Pohon! Engkau harus berhati-hati, Siu Coan… dan jangan terlalu mengandalkan sebuah seranganmu, melainkan membagi perhatian untuk berjaga diri.”

Dengan gembira sekali kakek itu lalu memberi petunjuk kepada kedua orang muda remaja itu, mengajarkan jurus baru kepada yang kalah sehingga yang kalah berbalik menang, dan yang menang itu berbalik kalah. Persis seperti tadi, akan tetapi kalau tadi dia hanya memberi petunjuk-petunjuk gerakan tertentu, kini dia memberi petunjuk jurus-jurus silat sehingga dua orang muda itu berkelahi dengan menggunakan jurus-jurus ilmu silat.

Dua orang pemuda remaja itupun makin lama makin gembira mempelajari jurus-jurus itu. Lenyaplah semua permusuhan di antara mereka, dan kini mereka menganggap lawan menjadi teman berlatih silat! Akan tetapi tenaga mereka terbatas dan akhirnya kembali mereka mendeprok di atas lantai. Mereka saling pandang dan jantung mereka berdebar keras karena dalam sinar mata mereka ketika saling pandang itu, keduanya merasa seolah-olah mereka saling memberi isyarat yang mereka mengerti, yaitu bahwa keduanya merasa girang dapat saling berkenalan, bahwa terdapat kecocokan yang hangat karena mereka saling serang dan sama-sama berlatih silat tadi, dan bahwa mereka berdua sama-sama ingin menjadi murid kakek gendut sakti itu! Ong Siu Coan berkedip memberi isyarat, lalu dia bangkit duduk, berlutut menghadap kakek gendut.

“Kakek yang baik, kami berdua mohon agar dapat menjadi muridmu.” Kakek itu membuka matanya dan sinar mencorong menyambar ke arah Siu

Coan.

“Heh-heh-heh!” Dia hanya tertawa.

Akan tetapi Seng Bu juga sudah bangkit duduk, lalu berlutut di samping kiri Siu Coan sambil berkata.

“Benar, locianpwe, kami berdua mohon dapat menjadi murid locianpwe.” “Ha-ha-ha-ha, bukankah kalian tadi berkelahi dan saling bermusuhan?”

Siu Coan dan Seng Bu menoleh dan saling pandang. Tidak ada sedikitpun rasa permusuhan dalam hati mereka terhadap satu sama lain, dan keduanya tersenyum.

“Sekarang kami tidak lagi bermusuhan,” kata Siu Coan.

“Kami malah merasa cocok dan suka, locianpwe,” kata Seng Bu.

“Ha-ha-ha, sungguh lucu. Ong Siu Coan, coba jawab terus terang, mengapa engkau ingin menjadi muridku?”

Tanpa ragu-ragu, Siu Coan menjawab lantang.

“Saya ingin dapat menjadi seorang pandai yang dapat berjuang untuk bangsa, menjadi seorang pahlawan yang mengusir penjajah dari tanah air!”

Sepasang mata kakek gendut itu terbelalak. Memang aneh sekali mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang anak jembel yang tadi mati-matian berkelahi memperebutkan sepotong roti! Dan dia tertawa bergelak. Agaknya kakek ini memang suka sekali tertawa, suara ketawa yang bebas dan lepas, akan tetapi nadanya selalu mengejek.

“Ha-ha-ha… cita-cita yang terlalu tinggi, lebih tinggi dari pada cita-citaku.

Dan kau, Gan Seng Bu, kenapa engkau ingin menjadi muridku?”

“Saya melihat locianpwe seorang sakti, maka saya ingin menjadi murid locianpwe agar memiliki kepandaian untuk menolong orang-orang lemah. Dunia begini kejam dan banyak orang menderita sengsara, saya mau mempergunakan kepandaian untuk menentang gerombolan yang mengganggu rakyat!”

Tentu saja jawaban Seng Bu ini terdorong oleh pengalaman keluarganya yang binasa oleh gerombolan pemberontak yang di samping memberontak terhadap pemerintah, sebagian besar juga melakukan perampokan- perampokan dan mengganggu rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa.

“Ha-ha-ha, maksudmu gerombolan pemberontak?”

Seng Bu teringat akan gerombolan yang membasmi keluarganya dan dia mengangguk.

“Wah, kalau begitu… kelak kalian tentu akan bermusuhan lagi. Siu Coan ingin menjadi pemimpin pemberontak dan engkau akan menjadi penentang pemberontak. Bagaimana ini?” “Locianpwe, saya ingin memberontak terhadap penjajah Mancu, bukan pengganggu rakyat jelata!”

Siu Coan berkata dengan tegas dan penuh semangat kegagahan.

“Dan saya tidak membela pemerintah, melainkan membela rakyat yang tertindas!” kata pula Seng Bu.

“Suhu...!” kata Siu Coan dan Seng Bu hampir berbareng, berlutut di depan kaki kakek gendut itu.

Si kakek gendut tertawa bergelak beberapa lamanya, lalu tiba-tiba dia berhenti ketawa dan bersikap sungguh-sungguh.

“Kalian gigit lengan kiri sendiri sampai keluar darah!”

Tiba-tiba dia berkata, sekali ini tidak tertawa lagi, bahkan suaranya terdengar galak. Dua orang anak itu hanya sebentar saja kelihatan kaget, akan tetapi tanpa menoleh ke sana-sini, Siu Coan lalu membawa lengan kirinya ke mulut dan menggigit lengan dekat pergelangan sampai kulit terobek dan darah mengalir keluar. Seng Bu juga melakukan hal yang sama walaupun tidak secepat Siu Coan.

Siu Coan dan Seng Bu merangkak dekat, dan kakek itu lalu menarik lengan mereka, menekan dan beberapa tetes darah keluar dari luka itu, ditadahnya dengan mangkok. Setelah menadahi beberapa tetes darah dari kedua orang pemuda remaja itu di dalam mangkok, dia lalu menuangkan arak ke dalam mangkok.

“Kalian benar-benar ingin menjadi muridku?” Dua orang anak laki-laki itu mengangguk.

“Kalau begitu… bersumpahlah kepada darahmu sendiri bahwa kalian berdua sejak sekarang menjadi saudara seperguruan, dan tidak boleh bermusuhan satu sama lain. Dan kedua, kalian harus mentaati apa saja yang kuperintahkan tanpa ragu-ragu dan tanpa bertanya-tanya.”

“Baik, suhu.”

Atas petunjuk Thian-tok, kedua orang anak itu lalu berlutut delapan kali dan mengucapkan sumpah itu, dan atas permintaan Thian-tok menambahkan bahwa kalau mereka melanggar sumpah, mereka akan mati mandi darah.

Kakek itu lalu minum sedikit arak bercampur darah itu, kemudian minta kepada Siu Coan dan Seng Bu untuk minum pula, seorang separuh. Dua orang pemuda remaja itu tanpa ragu-ragu minum arak bercampur darah mereka dan barulah kakek itu tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha, selama hidupku, baru satu kali aku mempunyai murid, akan tetapi dia sudah mengecewakan hatiku. Sekarang tiba-tiba aku mendapatkan dua orang murid yang menyenangkan. Eh, Siu Coan dan Seng Bu, tahukah kalian siapa yang menjadi guru kalian ini?”

Dua orang anak itu mengangkat muka memandang wajah gurunya dan baru sekarang mereka teringat bahwa mereka itu sama sekali tidak mengenal kakek yang telah menjadi guru mereka ini, dan betapa aneh pertemuan antara mereka dengan guru mereka itu. Mereka menggeleng kepala dan memandang dengan sinar mata penuh pertanyaan.

Kakek gendut itu tertawa. Perutnya yang besar itu bergerak-gerak seperti ada apa-apanya yang hidup di sebelah dalamnya, dan matanya mengeluarkan sinar mencorong yang membuat kedua orang anak itu merasa serem dan takut. Ada sesuatu pada diri kakek peramah ini yang amat menyeramkan dan menakutkan.

“Ha-ha-ha, ketahuilah  bahwa  gurumu  ini  bukan  orang  sembarangan, bahkan pada waktu ini dapat dibilang menduduki tempat nomor satu dan paling tinggi di dunia persilatan!”

Tentu saja dua orang pemuda remaja itu terkejut dan girang, akan tetapi juga merasa ragu-ragu. Apakah kakek yang menjadi guru mereka ini tidak terlalu sombong, pikir mereka.

“Orang menjuluki aku Thian-tok, Racun Langit! Ha-ha-ha, Racun Langit, seorang diantara empat Racun Dunia, akan tetapi jelas bahwa akulah yang paling hebat, ha-ha-ha…!”

Dua orang pemuda remaja itu menoleh dan saling pandang. Jangan-jangan kakek gendut ini telah miring otaknya, pikir mereka. Mereka berdua sama sekali tidak pernah mendengar julukan dengan segala racun itu.

“Terima kasih, suhu,” kata dua orang anak itu, masih agak ragu-ragu walaupun girang.

Demikianlah, mulai hari itu, Ong Siu Coan dan Gan Seng Bu menjadi murid- murid Thian-tok dan dua orang pemuda remaja ini mengikuti kakek itu merantau. Makin lama mereka menjadi murid kakek itu, mereka menjadi semakin kaget, heran dan takut di samping perasaan girang karena kakek itu memang benar sakti sekali dan mengajarkan ilmu-ilmu yang amat tinggi kepada mereka.

Yang membuat mereka merasa serem adalah setelah makin lama mereka makin mengenal watak kakek itu. Watak yang aneh, mendekati gila, dan kadang-kadang dapat bersikap kejam bukan main, membunuh orang sambil tertawa-tawa saja, tidak pantang pula mencuri dan melakukan perbuatan- perbuatan jahat lainnya. Akan tetapi semua perbuatan itu dilakukan sambil tertawa dan dengan mempergunakan ilmu yang mengagumkan hati dua orang pemuda remaja itu.

Ong Siu Coan yang juga memiliki watak ugal-ugalan dan aneh, di samping kecerdikan luar biasa, agaknya suka dan cocok sekali dengan watak gurunya yang aneh itu, bahkan dia dapat ikut tertawa-tawa kalau gurunya menyiksa atau membunuh orang. Adapun Gan Seng Bu yang melihat semua ini, diam- diam merasa tidak suka. Akan tetapi karena kakek itu sayang kepadanya dan menurunkan pelajaran ilmu-ilmu yang tinggi, diapun menahan diri dan berlatih dengan giatnya. Diam-diam dia mengkhawatirkan keadaan suhengnya, Siu Coan yang agak lebih tua menjadi suheng dan dia menjadi sute, karena suhengnya ini kadang-kadang juga aneh seperti orang gila. Banyak tempat mereka jelajahi dan kadang-kadang kakek itu mengajak mereka ‘pulang yaitu ke sebuah guha besar di puncak Tai-yun-san, dimana Thian-tok suka bertapa dan bersembunyi di dunia ramai. Dan dalam guha besar yang banyak rahasianya inilah, Thian-tok menyimpan barang-barangnya yang ternyata amat banyak dan cukup membuat orang menjadi kaya raya, yaitu benda-benda hasil pengumpulannya ketika dia masih menjadi datuk sesat, dan tumpukan benda itu masih terus ditambah dari hasil pencuriannya di gedung-gedung besar milik para hartawan atau bangsawan. PEDANG NAGA KEMALA

( GIOK LIONG KIAM )

Oleh : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Semenjak terjadi peristiwa antara Ciu Lok Tai dengan mendiang guru silat Siauw Teng yang kemudian disusul pula dengan peristiwa dengan Tan Siucai, hati hartawan ini merasa tidak enak dan selalu terancam. Dia dapat merasakan bahwa sesungguhnya banyak terdapat orang-orang seperti mereka itu, dan bahwa tulisan-tulisan Tan Siucai menghasut orang-orang yang mungkin kini memandang kepadanya dengan penuh kebencian. Orang-orang yang tidak setuju adanya candu yang beredar di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, dia lalu memanggil jagoan-jagoan dari seluruh Kanton untuk menjadi pengawal-pengawalnya. Akan tetapi dia selalu kurang puas dengan mereka ini. Dari hubungan dagangnya dengan orang barat, dia berhasil memperoleh sebuah senjata api yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi. Bahkan waktu tidur sekalipun, senjata api itu disimpan di bawah bantalnya.

Saking khawatirnya akan keselamatan diri sendiri dan keluarganya yang timbul dari perasaan banyak dimusuhi orang, Ciu Wan-gwe atau Ciu Lok Tai selalu merasa tidak puas dengan jagoan-jagoan yang mengawalnya, dan setiap ada jagoan baru yang datang untuk bekerja padanya, dia mengujinya dengan pistolnya! Setiap orang calon harus mampu menghadapi serangan pistolnya dalam jarak tiga tombak sebanyak tiga kali tembakan! Dan sampai beberapa tahun lamanya, hasilnya tidak memuaskan. Entah sudah berapa banyaknya jagoan yang roboh tertembus peluru, ada yang tewas dan banyak yang luka- luka. Tentu saja mereka tidak diterima, hanya diberi uang sekedar biaya berobat atau mengurus penguburannya saja. Dan makin jarang yang berani datang melamar pekerjaan kepala pengawal itu.

Terpaksa Ciu Wan-gwe harus mengandalkan keselamatannya pada pengawalan hampir seratus orang pengawal yang selalu mengepung gedungnya, hal yang amat tidak enak dirasakannya. Dia menghendaki satu dua orang saja pengawal yang benar-benar tangguh, yang mampu menghadapi musuh yang datang menyerang dengan senjata api!

Dan sesungguhnya bukan karena ingin mempunyai pengawal yang tangguh saja dia mencari orang yang mampu menandingi pistolnya, akan tetapi selain itu juga, dia ingin mencarikan seorang guru untuk putrinya yang terkasih. Ciu Wangwe mempunyai banyak istri, akan tetapi hanya dari seorang selirnya yang paling disayangnya sajalah dia memperoleh keturunan, seorang anak perempuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila dia dan sekeluarganya amat sayang kepada Ciu Kui Eng, puterinya itu. Puterinya itu sejak kecil suka sekali dengan ilmu silat dan sejak kecil telah disuruhnya para pengawal yang memiliki ilmu silat yang lihai untuk memberi gemblengan kepada puterinya.

Namun semua usahanya itu sia-sia. Agaknya tidak ada ahli silat yang berani lagi mencoba ujian dengan pistol itu. Tentu saja, di dunia persilatan banyak yang akan mampu menandingi lawan yang berpistol, akan tetapi para pendekar yang berjiwa patriot mana sudi menghambakan diri kepada seorang hartawan yang membantu penyebaran racun madat kepada rakyat jelata? Itulah sebabnya mengapa sampai lewat enam tahun setelah terjadi peristiwa dengan Tan Siucai, Ciu Wan-gwe belum juga mendapatkan seorang jagoan yang mampu menandingi pistolnya. Dan selama enam tahun itu, terpaksa pula Kui Eng hanya belajar ilmu silat dari guru-guru biasa yang menjadi pengawal- pengawal ayahnya.

Pada suatu pagi, Kui Eng berlatih ilmu silat di pekarangan depan gedungnya, dipimpin oleh tiga orang guru silat sekaligus. Guru-guru silat ini merupakan kepala-kepala pengawal di gedung Ciu Wangwe. Anak ini memang manja, karena dimanja oleh keluarga orang tuanya. Kalau berlatih kadang- kadang ia minta dilakukan di pekarangan depan. Hal ini adalah karena kemanjaannya, untuk pamer karena kalau ia berlatih di pekarangan itu, orang- orang di luar gedung dapat melihatnya melalui pintu besi terbuka. Ia senang sekali mendengar seruan kagum dari orang-orang yang lewat, dan pandang mata mereka yang penuh kagum. Ia tidak perduli apakah mereka itu sungguh- sungguh mengagumi kelincahannya bersilat, atau kecantikannya, atau juga hanya sekedar mengeluarkan seruan kagum untuk menyenangkan hatinya sebagai puteri orang terkaya di Tung-kang! Ia tidak perduli. Pokoknya, ia ingin dipuji dan disanjung orang.

Memang menyenangkan sekali nonton gadis cilik itu bersilat. Pada waktu itu, Kui Eng telah berusia dua belas tahun, seorang gadis remaja yang sudah mulai nampak kecantikannya walaupun masih kekanak-kanakan. Wajahnya manis sekali, sinar matanya tajam dan pakaiannya indah. Gerakan-gerakannya juga indah dan manis gemulai, seperti orang menari saja, dan tiga orang guru silat yang melatihnya memandang sambil kadang-kadang mengangguk- anggukkan kepala dengan hati bangga. Ketika orang-orang di luar pintu gerbang berkerumun ikut nonton, hati tiga orang guru silat ini semakin besar. Kamilah gurunya, demikian hati mereka bersorak.

“Heiiiittt...!!”

Kui Eng mengakhiri gerakan silatnya dengan sebuah pukulan mematikan kepada lawan yang hanya dibayangkannya saja, kemudian ia berdiri tegak ke arah pintu gerbang sambil tersenyum manis, menggerakkan kepala untuk memindahkan kuncir rambutnya yang hitam panjang itu ke belakang. Terdengarlah tepuk tangan dan sorakan memuji dari luar pintu gerbang, dan seperti seorang pemain panggung yang menerima pujian para penontonnya, Kui Eng mengangguk-angguk ke arah mereka sambil memperlebar senyumnya. Akan tetapi, dari penonton itu muncul seorang  kakek  yang  pakaiannya jubah pendeta atau tosu. Kakek ini sukar ditaksir usianya, tentu sudah lanjut sekali usianya. Tubuhnya pendek kecil, kepalanya botak hampir gundul. Alis, kumis dan jenggotnya panjang dan sudah putih semua. Tangan kirinya memegang tasbeh hitam dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat

hitam butut.

“Heh-heh, nona cilik. Engkau tadi menari ataukah bersilat? Uhhh, bukan begitulah orang bersilat!”

Wajah gadis cilik yang tadinya berseri-seri itu berubah, sepasang alisnya yang hitam berkerut dan sepasang matanya yang tajam itu memandang marah.

“Kau… kakek lancang mulut ! Siapakah kau?”

Bentaknya sambil membanting kaki kanannya karena jengkel dicela oleh kakek itu yang dianggapnya sebagai penghinaan dan mengusir semua rasa bangga dari hatinya.

“Heh-heh, kalau engkau haus pujian seperti itu, sampai kapanpun engkau tidak akan bisa menguasai ilmu silat yang sesungguhnya, kecuali ilmu tari- tarian yang nampak indah saja. Lebih baik belajar menari saja, nona.”

Melihat munculnya kakek itu yang mencela ilmu silat murid mereka, tentu saja tiga orang guru silat yang juga menjadi kepala pengawal itu menjadi marah sekali. Mereka maju menghadapi kakek itu dan memandang dengan penuh perhatian, ingin tahu siapa gerangan kakek yang lancang dan berani mencela murid mereka itu. Akan tetapi, mereka merasa belum pernah mengenal kakek ini, juga tidak pernah mendengar adanya seorang tokoh persilatan seperti kakek ini. Seorang kakek pendek kecil, ditiup saja rasanya sudah akan terjungkal!

Pada saat itu, terdengar pertanyaan yang nyaring. “Ada apakah? Kenapa ribut-ribut?”

Melihat munculnya ayahnya dari dalam, Kui Eng yang manis lalu lari dan merangkul pinggang ayahnya.

“Ayah, kakek itu kurang ajar sekali, berani mencela ilmu silatku, mengatakan agar aku belajar menari saja karena ilmu silatku seperti orang menari.”

Sementara itu, tiga orang guru silat ketika melihat majikan mereka keluar, menjadi semakin galak, seperti anjing-anjing peliharaan yang mengibaskan ekor melihat majikannya dan ingin menjilat dan mencari muka.

“Kakek tua bangka tak tahu diri, berani engkau lancang mulut mencela permainan murid kami?”

Seorang di antara tiga kepala pengawal itu membentak.

“Kalau tidak melihat engkau sudah tua mau mati, tentu aku sudah menghajarmu!” teriak pula orang kedua.

“Engkau ini kakek busuk yang tidak tahu apa-apa tentang ilmu silat, besar mulut sekali berani menilai!” bentak orang ketiga.

“Ayah, dia kurang ajar, berani menghinaku,” puterinya yang berdiri di sisinya berkata penasaran.

Ayahnya mengangguk, lalu berkata kepada kakek itu.

“Kakek tua, sungguh kami tidak mengerti mengapa engkau begitu usil untuk mencela permainan silat anakku. Anakku ini selama bertahun-tahun dilatih ilmu silat oleh mereka bertiga, bagaimana sekarang engkau berani mencela permainan anakku? Dengan demikian berarti engkau mencela ilmu silat mereka bertiga. Apakah menurut pendapatmu, engkau memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dari pada mereka bertiga itu?”

“Taiya (tuan besar), kakek tua bangka ini terlalu menghina kami, bolehkah kami menghajarnya?” seorang di antara mereka minta perkenan.

Ciu Wan-gwe kembali memandang kakek itu.

“Kakek tua, beranikah engkau melawan tiga orang kepala pengawal kami ini? Kalau kau tidak berani, cepat berlutut dan minta ampun kepada puteriku, juga kepada tiga orang kepala pengawalku!”

Tiga orang kepala pengawal yang tadinya marah sekali itu kinipun saling pandang. Mereka juga menduga bahwa kakek ini tentu orang gila, maka tidak enaklah hati mereka kalau harus menghajar, apalagi mengeroyok seorang kakek gila yang sekali dorong saja akan robohdan mungkin tewas. Mereka tidak mau mencari perkara dan biarlah mereka akan menyeret saja kakek itu dan melemparnya keluar pintu seperti yang diperintahkan majikan mereka.

“Kakek gila, minggatlah dari sini!”

Teriak mereka, dan tiga orang kuat itu lalu mencengkeram tubuh si kakek. Seorang memegang lengan kiri, seorang lengan kanan, dan orang ketiga mencengkeram tengkuk kakek itu. Mereka bermaksud untuk menyeretnya dan melemparkannya keluar.

Akan tetapi kini terjadi keanehan yang membuat semua orang terbelalak. Tiga orang kepala pengawal itu tentu saja adalah orang-orang yang bertenaga besar, berusia kurang dari limapuluh tahun dan memiliki ilmu silat yang cukup lihai. Akan tetapi kini mereka bertiga itu nampak terkejut karena ternyata mereka tidak kuat dan tidak mampu menarik tubuh si kakek tua! Biarpun mereka telah mengerahkan tenaga membetot-betot, namun sedikitpun tubuh kakek itu tidak bergeming! Kakek itu berdiri tegak dan hanya tersenyum menyeringai, akan tetapi tiga orang kepala pengawal itu seperti tiga ekor monyet yang berusaha mencabut sebatang pohon yang akarnya mencengkeram tanah amat kuatnya! Tiga orang itu tentu saja bukan hanya terkejut dan heran, akan tetapi juga penasaran sekali.

“Uhhh! Hehhh! Uhhh!”

Mereka mengerahkan tenaga sekuatnya, tidak percaya bahwa mereka tidak akan mampu menyeret tubuh tua yang ringkih itu.

“Prooott...!”

Tanpa disangka-sangka, dan tidak dapat ditahan-tahan, seorang di antara tiga kepala pengawal itu yang pagi tadi terlalu banyak makan bubur gandum, mengeluarkan gas yang memberobot dari belakang. Agaknya pengerahan tenaga sekuatnya itu membuat bendungan belakangnya jebol.

“Uwahhhh... bau kentut busuk...!”

Kakek itu menutupi hidungnya dengan sikap jijik dan memandang kepada Ciu Wangwe.

“Wan-gwe lihat, betapa sia-sianya memberi makan enak kepada mereka ini, hanya menjadi kentut busuk saja!”

Terdengar suara ketawa karena mereka yang nonton di luar pintu gerbang tak dapat menahan rasa geli di dalam hati mereka melihat peristiwa lucu itu. Tentu saja tiga orang kepala pengawal itu selain terkejut dan heran, juga marah dan penasaran sekali. Kini merekapun dapat menduga bahwa kakek ini seorang pandai, akan tetapi karena kakek itu mereka anggap terlalu menghina dan juga merendahkan mereka dalam pandangan Ciu Wan-gwe, berarti membahayakan kedudukan mereka, maka merekapun menjadi nekat.

“Tua bangka, engkau menggunakan ilmu siluman!” teriak mereka dan kini mereka tidak hanya berusaha menyeret, melainkan menggerakkan tangan untuk memukul tubuh kakek kecilkurus itu dengan pengerahan tenaga yang kuat.

Tiga buah tangan yang dikepal kuat menghantam ke arah punggung, dada dan kepala kakek itu yang agaknya sama sekali tidak mau mengelak atau menangkis. Melihat ini, semua orang merasa khawatir, bahkan Ciu Wan-gwe sendiri mengerutkan alisnya. Kakek itu tentu akan tewas dan dia tidak suka melihat tiga orang kepala pengawal itu membunuh orang di rumahnya tanpa perintah darinya.

Terdengar suara ‘bak-bik-buk’ ketika tiga kepalan tangan itu menimpa sasarannya. Akan tetapi terjadilah keajaiban. Bukan tubuh kecil kurus itu yang ringsek, melainkan tubuh tiga orang kepala pengawal itulah yang terpental, terjengkang dan terbanting keras ke atas tanah!

“Kakek iblis!”

Teriak mereka dan kini mereka sudah menyambar golok mereka. Tiga orang ini adalah kepala pengawal CiuWa-gwe yang berpengaruh di antara para pejabat daerah, oleh karena itu mereka berani mempergunakan senjata tajam walaupun ada peraturan resmi dari pemerintah yang melarang orang memiliki dan membawa senjata tajam. Dengan kemarahan meluap, tiga orang itu sudah menerjang kakek kecil kurus dan pendek itu tanpa banyak cakap lagi.

Ciu Wan-gwe hendak mencegah, akan tetapi tiba-tiba diapun tertarik sekali. Siapa tahu kakek pendek kecil ini seorang yang sakti dan dia amat membutuhkan orang sakti, terutama sekali yang akan mampu menandingi pistolnya! Dia membutuhkan seorang pengawal sakti, bukan hanya untuk menjaga keselamatan keluarganya, juga terutama sekali untuk dapat menjadi guru Kui Eng. Maka, dia membiarkan tiga orang kepala pengawalnya itu untuk menyerang kakek itu untuk mengujinya.

Semua orang memandang dengan mata terpentang lebar-lebar untuk mengikuti gerakan mereka yang berkelahi. Tiga orang kepala pengawal itu menyerang si kakek kecil dari tiga jurusan, dan kakek itu agaknya tidak akan berpindah dari tempat dia berdiri. Akan tetapi sungguh aneh sekali. Ketika tiga orang penyerang itu telah tiba dekat dan golok mereka itu sudah menyambar, hanya tinggal beberapa sentimeter saja dari tubuh kakek itu, tiba-tiba mereka bertiga mengeluarkan teriakan kaget dan tubuh mereka terlempar ke kanan kiri, padahal kakek itu hanya memutar tasbehnya satu kali saja dan tidak kelihatan tasbeh itu mengenai tubuh mereka. Sekali ini, tiga orang kakek itu terbanting keras sekali dan golok mereka terlepas, dan sekali ini tidak mudah bagi mereka untuk meloncat bangun, melainkan mengaduh-aduh dan mencoba untuk merangkak bangun.

Kini mereka telah sampai di batas yang tidak mungkin untuk mundur lagi. Mereka jelas telah mendapat malu dari kakek itu, bukan hanya di depan majikan mereka, bahkan di depan banyak orang yang berkerumun di depan pintu. Mereka akan menjadi bahan ejekan, nama mereka akan merosot dan jatuh. Tidak ada lain jalan kecuali nekat mengadu nyawa dengan orang yang mendatangkan malapetaka bagi mereka itu. Biarpun tubuh mereka terasa sakit-sakit, dan biarpun mereka kini sudah tahu bahwa kakek itu sungguh seorang yang amat lihai, mereka yang sudah nekat itu lalu berhasil bangkit kembali, mengambil golok mereka dan dengan sikap mengancam kini mengurung kakek itu yang hanya tersenyum menyeringai dengan sikap mengejek dan memandang rendah.

“Tahan...!” Tiba-tiba terdengar bentakan Ciu Wan-gwe kepada tiga orang kepala pengawalnya.

“Mundurlah kalian dan biarkan aku bicara dengan kakek itu.”

Mendengar perintah majikan mereka, tiga orang itu menyimpan golok dan mundur, dengan hati yang agak lega karena mereka kini dapat menghentikan perkelahian itu bukan karena kalah, melainkan karena dilerai dan dilarang oleh majikan mereka. Semua orang dapat melihat bahwa walaupun sudah dua kali roboh, mereka masih belum menyerah dan akan menyerang lagi, berarti mereka belum kalah! Mereka kini berani mengangkat dada sambil mundur mendekati nona majikan, juga murid mereka yang kini bersama ayahnya sudah turun dari atas undak-undakan.

“Orang tua yang gagah,” kata Ciu Wan-gwe ketika berhadapan dengan kakek itu.

“Sudah lama sekali kami mencari seorang pengawal yang memiliki kesaktian. Akan tetapi usaha kami itu selalu gagal karena semua pelamar tidak mampu lulus dalam ujian yang kami adakan. Melihat kehebatanmu yang mampu melawan tiga orang kepala pengawalku, agaknya engkau memiliki kepandaian yang tinggi. Maukah engkau menjadi pengawal keluarga kami? Berapa saja upah yang kauminta, tentu akan kami penuhi!”

Sejenak mata kakek itu memandang Ciu Wan-gwe dengan sinar mata penuh selidik, kemudian dia tertawa.

“Heh-heh, semua orang di dunia ini gila akan uang, dari kecil sampai tua dan mati. Akan tetapi apakah artinya uang bagi seorang tua renta macam aku ini? Tidak, Wan-gwe, aku tidak gila harta. Aku mau tinggal di sini dan menjadi pengawal keluargamu, bukan untuk uang, melainkan untuk anak itu!”

Kakek kecil pendek itu menudingkan tongkat hitamnya ke arah Kui Eng yang sejak tadi berdiri nonton dengan sepasang mata bersinar-sinar.

“Heh-heh, kalau bukan karena puterimu itu, perlu apa aku datang ke tempat ini?” kakek itu balas bertanya.

“Tadi aku telah melihat gerak-geriknya dan aku berpendapat bahwa baru sekaranglah aku menemukan calon murid yang sudah lama kucari-cari.”

Mendengar ini, bukan main girangnya rasa hati Ciu Wan-gwe.

“Kakek yang sakti, tidak mudah menjadi guru puteriku dan pengawal pribadi keluargaku. Engkau harus melalui sebuah ujian dariku...”

“Heh-heh, kau terlalu mengandalkan dan membanggakan senjata apimu itu, Wan-gwe. Orang lain boleh jadi takut menghadapinya, akan tetapi aku tidak!”

Ketika dia melihat bahwa banyak orang berkerumun di depan pintu gerbang, Ciu Wan-gwe lalu menyuruh para pengawal mengusir orang-orang itu dan menutupkan daun pintu gerbang, kemudian dia mempersilahkan kakek itu dengan sikap hormat.

“Orang tua yang gagah, sebelum kita bicara tentang pengangkatanmu sebagai pengawal keluarga dan guru puteriku, marilah lebih dahulu buktikan bahwa engkau mampu menandingi orang yang mempergunakan senjata api. Bagaimana?”

Berkata demikian, hartawan itu lalu mengeluarkan sebuah pistolnya, senjata yang amat diandalkan, dan yang ditakuti oleh semua orang, termasuk para pengawalnya. Entah sudah berapa banyak orang berkepandaian tewas atau luka-luka oleh senjata ini ketika mereka diuji untuk menjadi pengawal keluarga Ciu.

Kakek itu terkekeh.

“Heh-heh, boleh saja, boleh sekali. Bagaimana caranya, Wan-gwe?” “Seperti yang pernah saya lakukan kepada para pelamar pekerjaan

pengawal keluarga kami. Engkau berdiri dalam jarak tiga tombak dan menghadapi serangan pistolku sebanyak tiga kali. Kalau engkau tidak roboh oleh tiga kali tembakan, berarti kau lulus. Akan tetapi kalau merasa gentar, sebaliknya batalkan saja karena sudah banyak orang yang terluka bahkan tewas oleh peluru-peluru pistol ini.”

Berkata demikian, Ciu Wan-gwe mengelus pistolnya yang dipelihara baik- baik sampai mengkilap. Kakek itu terkekeh.

“Heh-heh-heh, jarak tiga tombak cukup dekat bagiku untuk merobohkan orang yang akan menembakku. Mungkin sebelum menembak dia sudah jatuh olehku. Akan tetapi kalau engkau hendak mengujiku dengan tiga tembakan, silahkan, Wan-gwe. Tembakan pertama akan kutangkis. Tembakan kedua akan kuelakkan dan tembakan ketiga sebelum meletus, pistol itu sudah akan pindah ke tanganku!”

Semua orang terbelalak dan menganggap kakek itu benar-benar sudah gila, atau memang orangnya sombong setengah mati. Mana ada orang mampu menangkis peluru? Mengelakkan mungkin bisa walaupun hal ini amat sukar dan berbahaya. Dan merampas peluru sebelum ditembakkan juga rasanya tidak mungkin. Akan tetapi Ciu Wan-gwe mempunyai penilaian tinggi terhadap kakek kecil pendek ini, dan diapun mengajak kakek itu untuk pergi ke ruangan belakang.

“Kami mempunyai ruangan yang khusus untuk ujian itu, agar peluru tidak sampai nyasar membahayakan orang lain.”

Sambil tersenyum-senyum, kakek itu lalu mengikuti Ciu Wan-gwe dan para pengawal yang semua segera tertarik untuk menyaksikan kelihaian kakek ini. Kui Eng sendiri sejak tadi sudah merasa kagum kepada kakek yang mampu mengalahkan tiga orang gurunya hanya dalam dua gebrakan saja, maka iapun tidak mau ketinggalan dan ikut ke ruangan itu dengan wajah berseri dan pandang mata bersinar-sinar.

Suasana amat menegangkan ketika kakek itu dengan kedua tangan masih memegang tongkat dan tasbeh, berdiri dengan sikap amat tenangnya di depan Ciu Wan-gwe, hanya dalam jarak tiga tombak saja, kurang lebih lima meter!

“Sebelum aku menembakkan pistolku, aku ingin mengetahui siapakah sebetulnya locianpwe ini, datang dari mana dan mengapa tiba-tiba saja mengunjungi kami?”

Ciu Wan-gwe bertanya sambil menimang-nimang pistolnya yang sudah diisi enam peluru baru. Karena dia sendiri tidak pandai ilmu silat dan untuk mempelajarinya memakan waktu lama dan dia tidak tekun, maka dia mempelajari ilmu menembakkan pistol itu, dan dalam hal ini Ciu Wan-gwe dapat dibilang mahir juga. Tidak enak rasanya menembak orang yang belum diketahuinya siapa karena mungkin saja kakek ini akan tewas oleh peluru pistolnya.

“Ciu Wan-gwe, begitu memasuki Tung-kang, aku sudah mendengar bahwa engkau mencari seorang pengawal keluarga dengan ujian pistol. Kau ingin mengetahui namaku? Heh-heh, aku tidak punya nama, akan tetapi aku pernah dikenal orang dengan julukan Tee-tok (Racun Bumi), heh-heh! Dan tempat tinggalku adalah di dunia ini, dimana saja aku berada di situlah tempat tinggalku. Nah, aku sudah siap, Ciu Wan-gwe.”

Nama ini sama sekali tidak dikenal oleh Ciu Wan-gwe maupun para pengawalnya yang saling pandang. Akan tetapi sikap kakek itu sungguh mengesankan hati semua orang dan kini timbul kepercayaan di hati hartawan itu bahwa kakek inilah yang kiranya akan mampu lulus ujian pistolnya.

“Baik, locianpwe, aku akan menghitung sampai tiga baru akan kutembakkan peluru pertama yang disusul peluru kedua dan ketiga tanpa hitungan lagi. Awas, tembakanku cepat dan tepat, locianpwe.”

“Ha-ha-ha, aku sudah siap sejak tadi, mulailah!” “Satu... dua... tiga... Dorrr...! Tringgg...!”

Ketika Ciu Wan-gwe tadi menghitung sampai tiga, kakek itu tiba-tiba memutar tongkatnya dan nampaklah gulungan sinar hitam lebar menutupi tubuhnya di bagian depan seperti sebuah perisai lebar, sehingga ketika tembakan pertama dilakukan, peluru itu tertangkis perisai istimewa itu dan pelurunya terpental entah kemana.

Ciu Wan-gwe terkejut dan sudah siap menembakkan peluru kedua. Pada jaman itu, pistol yang dipergunakan besar dan berat, memiliki daya tendang yang kuat sehingga untuk menembakkannya, orang harus mengerahkan tenaga dan membanting ke depan. Hal ini tentu saja memperlambat gerakan menembak dan begitu pistol itu meledak dan asap mengepul sebagai tembakan kedua, tubuh kakek kecil pendek itu sudah lenyap karena dia sudah melempar tubuh ke atas tanah, beberapa detik saja dari lewatnya peluru yang mengenai dinding tebal di belakangnya! Ternyata kakek itu mampu menghindarkan diri dari peluru kedua dengan cara mengelak seperti yang dijanjikannya tadi.

Ciu Wan-gwe melihat tubuh kecil itu bergulingan. Dia teringat bahwa kakek tadi berjanji akan merampas pistol sebelum tembakan ketiga kalinya dilakukan. Biarpun dia kagum terhadap kakek yang mampu menghindarkan diri dari dua kali tembakan, namun rasa harga dirinya dan kebanggaannya tersinggung kalau dia dikalahkan, maka dia sengaja memegang pistolnya erat- erat dan cepat-cepat hendak menembakkan peluru ketiga ke arah tubuh yang bergulingan sebelum pistolnya terampas, sehingga andaikata dia luput menembak juga, tetap saja pistol itu berada di tangannya dan tidak terampas. Dengan demikian, walaupun si kakek lulus, akan tetapi tidak mampu merampas pistolnya! Akan tetapi tubuh itu bergulingan dengan amat cepatnya sehingga sukarlah dia menentukan bidikannya. Sasaran yang bergerak demikian cepatnya memang sukar ditembak.

Tiba-tiba nampak sinar hitam kecil berkelebat, disusul teriakan Ciu Wan- gwe dan pistol itu tiba-tiba saja terlepas dari tangannya yang mendadak menjadi lumpuh karena pergelangan tadi disambar sebutir biji tasbeh yang tepat mengenai jalan darahnya! Sebelum dia mampu berbuat sesuatu, tiba-tiba saja tubuh yang bergulingan itu berkelebat dan pistol yang jatuh ke atas tanah itu telah disambar oleh tangan si kakek kecil yang sudah berdiri lagi sambil memegang pistol yang masih mengepulkan asap itu, menimangnya dengan alis mata berkerut dan hidung diangkat mencemoohkan!

“Bagus... bagus...!”

Kui Eng bersorak dan bertepuk tangan, dan perbuatan ini segera diturut oleh para pengawal yang merasa kagum bukan main. Kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tentu mereka tidak akan percaya bahwa ada orang bukan hanya berhasil menghadapi serangan tiga kali tembakan dari jarak dekat, bahkan sebelumnya telah menentukan cara penghindaran diri dengan menangkis, mengelak lalu merampas pistol! Setelah kehilangan rasa kagetnya, Ciu Wan-gwe yang ternyata tidak mengalami cedera, hanya kaget karena tangannya tiba-tiba lumpuh, kini ikut pula bertepuk tangan memuji. Dia tersenyum girang ketika kakek itu tanpa berkata-kata mengembalikan pistolnya yang cepat disimpannya.

Sebagai orang yang pandai mengambil hati pembantu yang berguna, Ciu Wangwe lalu menjura ke arah Tee-tok dan berkata.

“Ah, sungguh Thian telah mengirimkan seorang sahabat dan seorang pandai yang sakti kepada keluarga kami. Locianpwe, mulai hari ini, locianpwe adalah penyelamat keluarga kami dan murid anak tunggal kami. Kui Eng, cepat beri hormat kepada suhumu!”

Kui Eng adalah seorang anak perempuan yang cerdik sekali. Biarpun ia pernah dilatih oleh para pengawal ayahnya, akan tetapi ia tidak pernah menganggap mereka itu guru-gurunya, apalagi karena merupakan nona majikan mereka. Kini, berhadapan dengan seorang kakek yang begitu sakti, tanpa ragu-ragu lagi iapun menjatuhkan diri berlutut memberi hormat delapan kali kepadanya.

“Ha-ha-ha, namamu Ciu Kui Eng? Bagus, mulai sekarang engkau menjadi muridku. Kui Eng, engkau tidak tahu bahwa mulai detik ini, engkau telah mengangkat dirimu sendiri menjadi calon wanita paling lihai di dunia ini!”

Semua orang yang mendengar ucapan ini menganggap bahwa kakek itu memang sombong sekali. Akan tetapi Kui Eng tidak berpendapat demikian. Ia percaya penuh akan ucapan suhunya, dan ia menganggap bahwa suhunya adalah orang yang paling pandai di dunia persilatan. Dugaannya memang tidak meleset jauh karena pada jaman itu, orang yang dapat manandingi Tee-tok memang hanya dapat dihitung dengan jari tangan saja.

Mulai hari itu, Tee-tok tinggal bersama keluarga hartawan Ciu Lok Tai. Biarpun dianggap pengawal pribadi keluarga Ciu, namun dia tidak pernah bekerja sebagai pengawal, dan semenjak dia berada di situ, tidak pernah ada orang seperti mendiang Tan Siucai yang berani mati, apalagi sekarang setelah tersiar berita bahwa pengawal keluarga itu adalah seorang yang demikian saktinya sehingga mampu melawan musuh yang mempergunakan senjata api! Dan biasanya, berita itu selalu dibesar-besarkan, semut menjadi gajah, sehingga nama Tee-tok menjadi semakin terkenal dan ditakuti orang.

Sang Waktu melesat dengan kecepatan kilat, dan hal ini terbukti apabila kita mengenang kembali masa lampau. Demikian cepatnya sang waktu berkelebat sehingga tahun-tahun beterbangan seperti detik-detik saja. Seorang kakek-kakek akan teringat masa kanak-kanaknya seperti baru kemarin saja, dan agaknya sukar untuk percaya bahwa waktu kanak-kanak itu telah ditinggalkannya selama puluhan tahun lamanya! Sebaliknya, kalau kita mengamati dan memperhatikan, waktu merayap seperti siput, perlahan-lahan dan seperti tidak pernah maju.

Sang Waktu nampak diam namun bergerak, dan memiliki kekuasaan yang tak terbatas, seperti juga tanah. Waktu menelan dan melahap semuanya, apa saja yang nampak, apa saja yang hidup. Bahkan segala macam perasaanpun ditelannya habis-habis. Kesenangan, kedukaan, apa saja akan lenyap ditelan waktu, seperti juga tanah yang akhirnya menelan segala sesuatu di dalam perutnya.

Waktu melesat dengan cepat, dan hampir enam tahun lewat semenjak Siauw-bin-hud berjanji kepada para tokoh yang memperebutkan pedang pusaka Giok-liong-kiam, untuk mencari pusaka itu. Selama waktu itu, Siauw- bin-hud mengajak Ci Kong merantau sambil melakukan penyelidikan. Anak itu sendiri tidak tahu bagaimana cara kakek itu melakukan penyelidikan, akan tetapi sering kali di waktu malam, kakek itu lenyap.

Pada suatu pagi, nampak seorang kakek gendut berjalan memasuki kota Nan-ping di Propinsi Hok-kian, ditemani seorang pemuda yang berpakaian sederhana, bertubuh tegap dan nampaknya seperti seorang pemuda petani biasa. Wajah pemuda ini tanpan dan sikapnya gagah walaupun dari gerak- geriknya terbayang kesederhanaan dan kerendahan hati. Usianya kurang lebih sembilan belas tahun. Kakek gendut itu kepalanya gundul bulat seperti juga perutnya. Wajahnya periang, matanya berseri lembut dan mulutnya tersenyum- senyum, usianya sukar ditaksir karena wajahnya yang berseri itu masih nampak segar. Dia bisa saja berusia delapanpuluh tahun, akan tetapi mungkin juga kurang dari enampuluh tahun. Jubahnya dan kepalanya gundul menandakan bahwa kakek itu seorang hwesio. Jubahnya berwarna kuning longgar.

Kakek itu bukan lain adalah Siauw-bin-hud, tokoh Siauw-lim-pai yang hampir enam tahun yang lalu keluar dari ruangan pertapaannya, hanya untuk dihadapkan sebuah tugas yang amat sulit, yaitu mencari sebuah pusaka yang dirampas oleh seorang yang agaknya menyamar sebagai dirinya. Tanpa mengetahui siapa orang itu, dimana tempat tinggalnya, bahkan selamanya belum pernah dia melihat Giok-liong-kiam, tentu saja mencari perampas itu tidaklah mudah. Dia sudah melakukan penyelidikan dengan cermat selama hampir enam tahun, dan barulah dia menduga-duga siapa adanya orang yang telah memalsukan dirinya itu. Namun, dia masih belum yakin benar dan karena itu, pada pagi hari ini dia bersama cucu muridnya, Tan Ci Kong, berada di kota Nan-ping.

Selama itu, sambil merantau melakukan penyelidikan mencari jejak perampas Giok-liong-kiam, kakek ini setiap hari melakukan penggemblengan atas diri cucu muridnya. Tan Ci Kong adalah seorang pemuda yang berbakat baik sekali dan berkemauan keras. Kini, menerima gemblengan seorang sakti seperti Siauw-bin-hud, tentu saja dia memperoleh kemajuan yang hebat! Kakek itu hanya menurunkan ilmu-ilmu yang amat tinggi dan lewat hampir enam tahun itu, kini Ci Kong telah menjadi seorang pemuda berusia sembilanbelas tahun yang sakti! Kalau melihat orangnya, begitu pendiam dan sederhana, seperti seorang pemuda tani saja, takkan ada orang dapat menyangka bahwa di dalam tubuh pemuda ini tersembunyi ilmu kepandaian dan tenaga yang sukar ditandingi.

Setelah memasuki kota Nan-ping, Siauw-bin-hud mengajak cucu muridnya terus keluar lagi dari kota itu melaui pintu gerbang utara, kemudian berjalan mendaki sebuah bukit yang nampak hitam kehijauan. Dari bawah, nampak tembok bangunan di puncak bukit, samar-samar nampak di antara pohon- pohon di hutan puncak.

Ci Kong yang selalu mengikuti paman kakek gurunya itu, diam-diam merasa prihatin karena walaupun kakek itu tidak pernah mengeluh, dia tahu betapa kakeknya belum juga berhasil menemukan perampas Giok-liong-kiam yang dicarinya selama ini. Kini, melihat bahwa kakek itu jelas menuju ke puncak bukit, hatinya yang merasa kasihan kepada kakek yang telah menjadi gurunya itu dan dia tidak dapat menahan lagi keinginan tahunya.

“Susiok-couw, tempat apakah yang akan kita kunjungi di puncak bukit itu?”

Seperti biasa kalau bicara, Siauw-bin-hud mendahuluinya dengan senyum cerah, lalu dia berkata.

“Yang di puncak bukit itu adalah pusat dari perkumpulan Ang-hong-pai.”

Biarpun dia sendiri tidak pernah dimintai bantuan atau disuruh melakukan sesuatu oleh kakek itu dalam urusan mencari jejak pembawa Giok- liong-kiam, akan tetapi Ci Kong sudah mendengar akan semua hal mengenai Giok-liong- kiam, semenjak dicuri orang dari Thian-te-pai sampai menjadi perebutan dan akhirnya terampas oleh orang yang memalsukan nama Siauw-bin-hud. Oleh karena itu, diapun sudah mendengar akan nama Ang-hong-pai, bahkan ketika terjadi keributan di depan kuil Siauw- lim-si, diapun melihat sendiri sepak terjang orang-orang yang hendak memperebutkan Giok-liong-kiam.

Dari gurunya, Nam Sam Losu, Ci Kong mendengar banyak tentang Ang- hong-pai sebagai satu di antara pihak yang ingin memiliki pusaka yang diperebutkan itu. Dia teringat akan cerita bahwa dalam perebutan pertama, muncul seorang tokoh Ang-hong-pai yang tidak berhasil pula merampas pusaka itu. Sejak itu, tidak terdengar lagi tentang orang-orang Ang-hong-pai, juga mereka tidak datang mengganggu Siauw-lim-si.

“Tentu susiok-couw hendak mencari tokoh Ang-hong-pai yang pernah bertemu dengan perampas Giok-liong-kiam itu, bukan?” tanyanya hati-hati.

Kakek itu tersenyum dan mengangguk.

“Sudah banyak keterangan kuperoleh, akan tetapi hatiku masih belum puas dan belum yakin benar. Keterangan terakhir yang akan meyakinkan hatiku kuharapkan dapat diberikan oleh tokoh Ang-hong-pai itu.”

“Akan tetapi, mereka itu tidak pernah muncul kembali.” “Itulah yang menarik,” kata Siauw-bin-hud.

“Ketika terjadi perampasan pusaka itu oleh orang yang memalsukan diriku, terdapat lima orang tokoh kang-ouw, yaitu Tang Kui si perwira istana, Lui Siok Ek tokoh Thian-te-pai, Kam Hong Tek seorang pendekar selatan, Pek-bin Tiat- ciang seorang tokoh sesat, dan Theng Ci tokoh Ang-hong-pai. Dari kelima orang itu, yang muncul pada enam tahun yang lalu hanya Tang Kui dan Lui Siok Ek. Pendekar Kam Hong Tek tidak muncul, hal ini tidaklah mengherankan, karena bagaimanapun juga, dia pernah menjadi murid Siauw-lim-pai sehingga tentu tidak berani mengganggu Siauw-lim-si. Tinggal dua orang lagi, yaitu Theng Ci dan Pek-bin Tiat-ciang, keduanya adalah golongan sesat. Mengapa mereka tidak muncul di Siauw-lim-si? Kiranya dari kedua orang inilah dapat diharapkan keterangan-keterangan yang menarik dan pinceng sengaja mendatangi Ang- hong-pai karena lebih mudah dikunjungi dari pada mencari Pek-bin Tiat-ciang yang tidak keruan tempat tinggalnya itu. Pula, biasanya kaum wanita lebih tajam pandangannya dan lebih kuat ingatannya mengenal seseorang.”

“Teecu harap mudah-mudahan susiok-couw berhasil.”

Kakek itu tertawa, menghentikan langkahnya dan menatap wajah pemuda itu penuh perhatian.

“Mengapa, Ci Kong? Mengapa engkau mengharapkan aku berhasil?” Kini pemuda itu yang balas memandang dengan heran.

“Bukankah… bukankah susiok-ciow mengharapkan berhasil dalam penyelidikan enam tahun ini?”

“Pinceng? Ha-ha-ha, pinceng tidak mengharapkan apa-apa, Ci Kong!” Pemuda itu semakin heran. Kakek ini memang seringkali bicara yang aneh-

aneh dan tidak sama bahkan kadang-kadang bertentangan dengan pendapat umum. Dan kalau sudah demikian, dia akan mendengarkan banyak kenyataan- kenyataan hidup yang tadinya belum pernah didengarnya dan banyak sudah ucapan kakek ini yang membuka batinnya dan membuat dia dapat memandang dengan waspada dan bijaksana. Akan tetapi sekali ini dia merasa heran sekali. “Maaf, susiok-couw, akan tetapi bukankah dalam setiap pekerjaan, setiap

perbuatan terkandung harapan untuk berhasil?”

Kembali kakek itu tertawa dan aneh sekali, begitu timbul kegembiraannya untuk bicara, dia lalu duduk di tepi jalan, bersila di atas rumput-rumput hijau. Ci Kong yang tahu akan kesukaan gurunya, yaitu bicara dengan santai dan seenaknya, lalu duduk pula di depan gurunya. Jalan liar ke puncak bukit itu memang sunyi sekali, tidak nampak orang lain kecuali mereka dan hawa udara amat sejuk, sinar matahari pagi amat cerah.

“Ci Kong, karena adanya harapan untuk mencapai hasil inilah, maka timbul segala macam konflik di dalam batin. Adanya harapan untuk mencapai hasil ini membuat gerak perbuatan itu sendiri menjadi palsu, setengah-setengah, tidak sepenuhnya dan membuat perbuatan kehilangan gairahnya, kehilangan mutu dan nikmatnya. Sebaliknya, kalau setiap perbuatan itu hidup, barulah kita dapat menikmati setiap perbuatan kita, barulah perbuatan itu benar dan bersih.”

Ci Kong mengangguk-angguk. Sebagai seorang yang cerdik, diapun maklum apa yang dimaksudkan oleh kakek itu. Memang, pengejaran akan hasil baik, dan biasanya hasil baik ini berlandaskan kepentingan dan kesenangan diri pribadi, membuat apa yang dilakukan itu seringkali menjadi berobah sifatnya, dapat menimbulkan penyelewengan-penyelewengan dan kejahatan dalam pelaksanaannya. Perbuatan yang ditunggangi pamrih mencapai sesuatu selalu condong untuk menyeleweng, terdorong oleh keinginan mencapai hasil yang menyenangkan diri sendiri itu, kalau perlu boleh saja menyusahkan orang lain. Akan tetapi Ci Kong masih merasa penasaran.

“Maaf, susiok-couw. Kalau dalam setiap perbuatan tidak membutuhkan harapan akan hasil yang menjadi pendorong perbuatan itu, lalu apakah yang mendorong susiok-couw bersusah payah selama enam tahun menyelidiki dan mencari pusaka yang hilang itu?”

“Pinceng melihat bahwa perampasan mempergunakan nama pinceng itu harus dibikin terang, karena kalau tidak, hal itu akan menimbulkan banyak sekali kekacauan, bahkan mungkin permusuhan. Karena melihat pentingnya pencarian itu, maka pincengpun keluar dan mengerjakannya. Dalam minat karena melihat kepentingannya inilah timbul gairah dan pinceng sepenuhnya dapat menikmati pekerjaan ini karena tidak dirongrong oleh keinginan mencapai hasil.”

“Kalau begitu, apakah artinya hasil bagi susiok-couw? Apakah artinya bagi susiok-couw berhasil atau tidaknya usaha susiok-couw mencari pusaka itu?”

Kakek itu tersenyum dan menggeleng kepala perlahan.

“Jelas tidak ada bedanya bagiku pribadi, Ci Kong. Bagi orang yang tidak menyembunyikan pamrih dalam setiap perbuatannya, maka hasil hanya merupakan suatu akibat saja dari pada suatu pekerjaan yang dilakukan. Berhasil ataukah tidak, sama saja dan tentu kita bertindak selanjutnya sesuai dengan akibat itu yang berupa berhasil ataukah gagal. Maksud pinceng, kata gagal itu hanyalah kata yang dipakai oleh umum untuk menyatakan kekecewaannya bahwa harapannya tidak terpenuhi. Akan tetapi bagi pinceng sendiri, tidak ada kata gagal itu. Yang ada hanyalah akibat dari suatu perbuatan, dan akibat ini berkaitan dengan perbuatannya, dan tidak mungkin dapat dirobah lagi kalau sudah tiba, seperti buah tidak terpisah dari keadaan pohonnya, dan keadaan buah itu tidak dapat dirobah kalau sudah terjadi. Hanya dengan merobah perbuatan saja, yang bersumber dari batin sendiri, maka buah itupun akan berubah. Mengertikah engkau, Ci Kong?”

Pemuda itu mengangguk. Banyak yang harus direnungkan dari hasil percakapan singkat itu.

“Nah, marilah kita lanjutkan pendakian kita. Lihat, kedatangan kita sudah diketahui orang,” kata kakek itu sambil bangkit berdri.

Ci Kong juga bangkit dan melihat ke arah puncak. Dan dia tertegun penuh kagum. Dari atas puncak nampak pasukan berpakaian merah dan belasan orang yang berbaris rapi itu berlari-larian turun dengan ringan dan cepat sekali, juga selalu berbareng dan amat indah dilihat dari bawah. Karena kakek itu melanjutkan langkahnya, kini dengan cepat mendaki ke atas, diapun mengikuti dari belakang, diam-diam jantungnya berdebar tegang karena dia sudah mendengar bahwa Ang-hong-pai adalah sebuah perkumpulan yang para anggautanya terdiri dari wanita-wanita yang lihai, dan perkumpulan itu termasuk perkumpulan kaum sesat yang amat ditakuti di dunia kang-ouw.

Kakek itu berhenti menanti dengan sikap tenang dan wajah berseri, didampingi Ci Kong yang juga berdiri dengan sikap tenang namun penuh kewaspadaan. Selama ini, dia sudah mengikuti kakek itu mengunjungi Thian- te-pai, bahkan menemui perwira Tang Kui di kota raja. Dan selama ini, belum pernah kakek itu bentrok atau terlibat dalam sebuah perkelahian. Jangan memancing perkelahian, demikian antara lain kakek itu memberi nasihat kepadanya, dan bersikaplah sabar dan mengalah. Ilmu silat hanya untuk berjaga diri, bukan untuk mencelakai orang. Akan tetapi karena kini menghadapi perkumpulan kaum sesat yang kabarnya amat lihai dan jahat, agaknya kakek itupun bersikap hati-hati.

Tak lama kemudian, muncullah dua belas orang wanita berpakaian serba merah, kemunculan merekapun rapi, dengan teratur mereka berloncatan dan tahu-tahu mereka telah membuat gerakan melingkar di depan kakek dan pemuda itu. Usia mereka antara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun, dan rata-rata berwajah manis, dengan wajah terpelihara dan pakaian rapi bersih seperti serombongan penari karena pakaian itu seragam. Seorang di antara mereka, seorang wanita cantik yang mempunyai tahi lalat di dahi, tepat di tengah-tengah, berkata dengan suara lantang.

“Pai-cu kami mengutus kami untuk menyambut locianpwe Siauw-bin-hud!” “Omitohud...! Terima kasih, nona. Pai-cu kalian sungguh baik sekali,” kata

Siauw-bin-hud dan merangkapkan kedua tangan di depan dada.

“Pai-cu menghaturkan hormat, kemudian paicu mengutus kami agar minta kepada locianpwe, berdua dengan enghiong ini, untuk segera turun bukit kembali meninggalkan wilayah kami.”

Siauw-bin-hud hanya tersenyum lebar.

“Pinceng datang bukan untuk mengunjungi Ang-hong-pai atau berurusan dengan pai-cu kalian, melainkan ingin bertemu sebentar dengan seorang anggauta atau murid Ang-hong-pai yang bernama Theng Ci.”

“Tidak bisa…” kata wanita itu.

“Toa-suci sedang berlatih dengan ketua kami dan mereka tidak mau diganggu. Harap ji-wi segera pergi saja.”

Ci Kong merasa penasaran dan diapun cepat berkata.

“Susiok-couw hanya ingin bicara sebentar dengan orang yang bernama Theng Ci. Setelah bicara, kami akan segera pergi tidak akan mengganggu Ang- hong-pai. Kami datang bukan dengan niat jahat, mengapa Ang-hong-pai menyambut tidak semestinya dan dengan sikap bermusuh?”