--> -->

Pedang Naga Kemala Jilid 04

Jilid 04

Kakek itu kini memandang ke arah Ci Kong dengan sinar mata berseri penuh kagum. Anak itu sedang memandang kepada Siauw-bin-hud dengan sinar mata mencorong seperti mata anak harimau, dan ketika kakek itu menerima pandang matanya, mereka saling tatap sejenak dan terkagumlah hati kakek itu.

“Siapakah anak itu?” tanya Siauw-bin-hud tanpa melepaskan pandang matanya ke arah Ci Kong.

“Maaf, susiok, teecu tadi sampai lupa melaporkan. Anak ini bernama Tan Ci Kong, dan sejak kurang lebih enam tahun yang lalu menjadi murid teecu. Dia sudah yatim piatu dan ayahnya seorang siucai yang tewas karena madat...”

“Hemm, demikian hebatkah benda beracun itu kini merajalela?” Kakek gendut bertanya dan masih terus memandang ke arah Ci Kong.

“Ayahnya bukan seorang pemadatan, susiok. Sebaliknya malah, ayahnya seorang siucai yang gagah perkasa dan menentang peredaran madat. Dia menentangnya dengan tulisan-tulisan sehingga menyeretnya ke dalam kesukaran. Akan tetapi sampai saat terakhir, sebelum tewas dalam tahanan, Tan siucai masih menyebar tulisan-tulisan yang menentang madat, mengecam pemerintah dan memperingatkan rakyat akan bahayanya menghisap madat. Dia tewas dan karena putera tunggalnya ini tidak lagi mempunyai sanak keluarga, teecu lalu mengambilnya sebagai murid dan berdiam di kuil teecu.”

“Hebat... hebat...!”

Kakek gendut itu mengusap perutnya dan memandang dengan kagum. Entah siapa yang dipujinya, mendiang Tan Siucai ataukah puteranya itu. Akan tetapi, pandang matanya yang tadinya lembut itu kini mencorong tajam dan dia menemukan bahan yang amat baik pada diri anak berusia tigabelas tahun itu.

Pada saat itu, terdengar suara ribut-ribut di luar kuil dan seorang hwesio tergesa-gesa masuk ke ruangan itu dan melaporkan bahwa di luar banyak tamu secara paksa minta bertemu dengan Siauw-bin-hud. Thian Tek Hwesio berusaha mencegah mereka, akan tetapi mereka menjadi ribut dan hendak memaksa masuk.

“Hemm, sungguh tak tahu diri mereka itu!” kata Thian He Hwesio dan sekali menggerakkan tubuh, dia sudah berkelebat keluar dari ruangan itu diikuti pula oleh Thian KongHwesio dan Thian Khi Hwesio.

Siauw-bin-hud agaknya tidak memperdulikan semua itu dan dia melambaikan tangan kepada Ci Kong yang tidak ikut keluar. Di ruangan itu hanya tinggal mereka berdua saja. Melihat betapa kakek itu melambaikan tangan, Ci Kong lalu bangkit dan menghampiri kakek itulalu duduk bersila di depannya, menatap wajah kakek itu tanpa takut-takut. Siapa akan merasa takut terhadap seorang kakek gendut yang tersenyum-senyum begitu ramahnya.

Siauw- bin-hud tidak bicara apa-apa, akan tetapi kedua tangannya meraba- raba tubuh Ci Kong, dari ujung kepala sampai ke kaki, memijat-mijat dan menekan-nekan, dan tiada hentinya dia mengeluarkan suara ketawa kecil.

“Aha, sudah kuduga... hmmm, hebat memang…”

Ci Kong tidak tahu apa yang dimaksudkan kakek itu, akan tetapi dia telah mempelajari ilmu silat selama enam tahun dan diapun dapat menduga bahwa rabaan-rabaan itu tentulah merupakan semacam ujian bagi kakek itu untuk mengetahui kemajuan dalam hal latihan silat.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan Thian He Hwesio, ketua Siauw-lim-pai. Biasanya kakek ini kalau bicara halus biarpun tegas, akan tetapi sekali ini suaranya keras dan agak kasar tanda bahwa dia sedang dilanda kemarahan.

“Cu-wi (anda sekalian) adalah orang-orang terhormat, mengapa bersikap begini kerdil? Sudah pinceng katakan bahwa susiok masih perlu beristirahat dan belum siap menerima kunjungan tamu, mengapa cu-wi memaksa? Sekali lagi kami tekankan bahwa susiok dan kami semua tidak tahu menahu tentang Giok-liong-kiam, dan cu-wi harus tahu bahwa Siauw-lim-pai tidak pernah membohong!”

Kini terdengar suara-suara ‘duk-duk-duk!’ seperti ada benda yang amat berat dipukul-pukul di atas tanah, lalu disambung suara yang mengandung kekuatan khikang yang hebat.

“Hemm… aku datang untuk bertemu dengan Siauw-bin-hud seorang, dan tidak ingin berurusan dengan Siauw-lim-pai. Siauw-bin-hud sudah keluar dari tempat persembunyiannya, apakah dia masih takut bertemu orang?”

Mendengar suara ini, tiba-tiba Siauw-bin-hud yang masih meraba-raba kepala Ci Kong, tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, apakah itu bukan suara Hai-tok yang terdengar begitu keras?”

Suaranya lirih saja, akan tetapi agaknya terdengar dari luar karena suara di luar tiba-tiba terhenti dan sunyi. Kemudian terdengar kembali suara Hai-tok, sekali ini suaranya mengandung kehalusan, seperti orang menghormat.

“Siauw-bin-hud, aku orang she Tang memang ingin bertemu denganmu.

Silahkan keluar!”

Mendengar ini, kembali Siauw-bin-hud tertawa dan diapun bangkit sambil menggandeng tangan Ci Kong.

“Mari, anak baik... eh, siapa namamu tadi?”

“Nama saya Tan Ci Kong, susiok-couw !” kata Ci Kong dengan sikap hormat.

Memang selama enam tahun tinggal di kuil bersama Nam San Losu, dia bukan hanya menerima gem blengan ilmu silat, akan tetapi juga ilmu sastera sehingga dia mengenal tata susila seperti seorang terpelajar. Kini kakek gendut dan anak laki-laki itu berjalan keluar.

Empat orang hwesio itu segera minggir memberi jalan ketika mereka melihat susiok mereka muncul keluar, menuntun Ci Kong. Dan semua mata para tamu itupun kini ditujukan kepada hwesio gendut itu yang tersenyum-senyum ramah, menyapu semua tamu dengan pandang matanya. Setelah berhadapan dengan mereka, hwesio gendut itu tertawa, suara ketawanya lepas dan tidak terkendali, keluar dari perutnya dan terdengar ramah menyenangkan, seperti suara ketawa orang yang kegirangan.

“Heh-heh-heh, setelah duapuluh tahun lebih menyendiri, tetap saja tidak dapat bebas dari urusan dengan orang-orang lain. Ha-ha, jelaslah kini bahwa tidak mungkin hidup sendirian saja, hidup berarti antar hubungan, baik dengan manusia lain, dengan mahluk lain, dengan benda maupun pikiran sendiri... tak salah... tak salah...”

Dua pasang mata menatap kakek gendut itu penuh perhatian, penuh selidik. Mereka adalah Tang Kui, perwira istana yang bertubuh tinggi besar itu, dan Lui Siok Ek, tokoh Thian-tepai. Dua orang inilah yang pada enam tahun yang lalu pernah ikut memperebutkan Giok-liong-kiam dan melihat dengan mata kepala sendiri betapa pedang pusaka itu lenyap bersama munculnya kakek gendut yang bukan lain adalah Siauw-bin-hud. Dan mereka berdua berani bersumpah bahwa orang yang mereka temui enam tahun yang lalu adalah kakek gendut yang kini berhadapan dengan mereka walaupun tokoh Thian-te-pai Lui Siok Ek melihat sesuatu yang diam-diam membuat dia meragu. Ada perbedaan dalam sinar mata kakek ini dengan sinar mata kakek enam tahun yang lalu. Dia melihat sinar mata mencorong hebat dari kakek yang dahulu,   sedangkan kakek   ini   demikian   lembut   dan penuh pengertian. Betapapun juga, kecuali sinar mata ini, hampir segalanya kakek ini tiada bedanya dengan kakek yang muncul dalam perebutan Giok-liong-kiam enam tahun lalu. Gundulnya, gendut bulatnya, jubah kuning sampai sepatunya, dan kembali Lui Siok tertegun. Sepatunya memang sama, sepatu kain, akan tetapi telapak sepatu kakek yang dahulu itu berlapis besi. Ini dia ingat benar, sedangkan telapak sepatu kakek ini tetap dari kain lunak. Akan tetapi, sinar mata yang berbeda itu mungkin saja menunjukkan kemajuan batin kakek itu selama enam tahun ini, dan tentang telapak sepatu, ah, bisa saja kakek itu kini tidak membubuhkan lapisan besi karena tidak sedang melakukan perjalanan

jauh. Dia bisa keliru akan tetapi tetap saja ada keraguan dalarn hatinya.

Akan tetapi perwira Tang Kui tidak melihat perbedaan-perbedaan itu Tang Kui tidak melihat perbedaan-perbedaan itu, dan begitu melihat Siauw-bin-hud muncul, langsung saja dia menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek gundul itu dan berkata dengan suara lantang.

“Dia inilah yang dahulu merampas Giok-liong-kiam!”

Siauw-bin-hud memandang kepada Tang Kui sambil tersenyum. Pandang matanya sama sekali tidak marah, melainkan penuh kesabaran seperti seorang kakek yang baik melihat kenakalan cucunya.

“Si-cu (orang gagah), apakah engkau melihat sendiri pinceng merampas pusaka itu?” tanyanya halus.

Tang kui cemberut dan mukanya menjadi merah karena marah. Dia adalah seorang yang jujur dan kasar, dan tidak suka berpura-pura.

“Locianpwe adalah seorang pendeta yang dihormati, mengapa masih berpura-pura seperti anak kecil? Enam tahun yang lalu begitu bertemu, Locianpwe sudah mengenal aku sebagai Tang Kui, perwira pengawal istana!”

Kakek itu tersenyum lebar, juga matanya lebar.

“Ahhh, betapa anehnya. Bahkan dalam mimpipun pinceng belum pernah jumpa dengan ciangkun, sama tidak pernahnya pinceng mendengar apalagi melihat pusaka yang bernama Giok-liong-kiam.”.

“Aku belum gila untuk menuduh locianpwe yang bukan-bukan. Akan tetapi dia itu dahulupun pernah menjadi saksi!”

Tang Kui menunjuk ke arah Lui Siok Ek dan kini semua mata memandang ke arah tokoh Thian-te-pai itu. Lui Siok Ek sedang berdiri bingung. Memang dia melihat perbedaan, dan juga suara ketawa kakek gendut ini sama sekali tidak mengandung tenaga khikang yang menggetarkan jantung seperti kakek enam tahun yang lalu, walaupun dalam suara kakek ini terasa pula adanya tenaga yang amat kuat. Kini, dituding secara tiba-tiba oleh Tang Kui, dia menjadi gugup dan melihat betapa semua orang memandang kepadanya, diapun mengangguk.

“Memang benar, locianpwe Siauw-bin-hud dari Siauw-lim-pai yang telah mengambil Giok-liong-kiam ketika terjadi perebutan di antara kami.”

“Aha, sudah dua orang yang menjadi saksi mata! Wah, ini berat jadinya untukku!” kata kakek gendut.

“Kalau saja pinceng tidak yakin benar bahwa pinceng selama duapuluh tahun bertapa dalam ruangan, tentu pinceng mulai tidak yakin kepada diri sendiri! Akan tetapi, pinceng sudah menyelidiki diri sendiri dan tidak pernah pinceng meninggalkan ruangan, jadi… tidak mungkin mengambil pusaka. Eh, apakah jiwi-sicu melihat sendiri pinceng mengambil pedang itu?”

Lui Siok Ek mengerutkan alisnya. Seperti juga Tang Kui, ketika enam tahun yang lalu dia berhadapan dengan Siauw-bin-hud, kakek ini sudah mengenalnya, akan tetapi kini agaknya tidak mengenalnya.

“Kami tidak melihat sendiri. Kami berlima sedang memperebutkan pusaka itu. Giok-liong-kiam terlempar ke udara dan meleset ke arah dimana kami menemukan locianpwe duduk bersamadhi. Siapa lagi kalau bukan locianpwe yang mengambilnya?”

“Duk-duk-duk…!!”

Semua orang terkejut ketika kakek tinggi besar muka merah menotok- notokkan tongkanya ke tanah. Dari ketukan tongkat ini saja sudah dapat dibayangkan betapa kuatnya tenaga yang tersembunyi di dalam lengan tangan yang besar itu. Dan memang nama Hai-tok (racun lautan) Tang Kok Bu sudah terkenal di seluruh dunia persilatan, maka semua orang memandang kepadanya dengan agak gentar.

“Aku tahu bahwa Siauw-bin-hud bukanlah seorang pengecut, melainkan seorang datuk persilatan yang besar namanya. Tidak perlu banyak cakap lagi tentang urusan tetek bengek. Yang jelas, Siauw-bin-hud telah memiliki Giok- liong-kiam melalui ilmu kepandaiannya yang hebat sehingga dia mampu mengambil pusaka itu tanpa diketahui orang lain. Dalam dunia persilatan memang ada peraturan bahwa siapa menang, dia berhak meraih pahalanya. Enam tahun yang lalu dia menang, dan kini setelah dia keluar, aku orang she Tang mohon diberi kesempatan untuk menguji kepandaian orang yang telah menguasai Giok-liong-kiam. Kalau aku kalah, sudahlah, aku tidak akan banyak ribut lagi tentang pusaka itu.”

“Omitohud...!”

Siauw-bin-hud berkata lirih akan tetapi masih tersenyum lebar dan sabar. “Hai-tok makin tua semakin keras saja. Apakah orang seperti engkau ini

tidak mau menerima penjelasan orang seperti aku, bahwa pinceng sungguh tidak pernah melihat Giok-liong-kiam, apalagi memilikinya?”

“Aku tidak pernah menuduh, hanya mendengarkan berita di luaran dan kini ada dua orang saksi mata. Mungkin mereka benar, mungkin pula engkau yang benar, siapa tahu akan kebenaran yang sesungguhnya? Yang penting, mari kita menguji kepandaian. Kalau aku kalah, sudahlah… aku akan minta maaf dan akan pergi dari sini, akan tetapi kalau engkau yang kalah, engkau harus menyerahkan Giok-liong-kiam kepadaku.”

“Wah, wah, wah… tulang-tulangku sudah tua ini bernasib sial hendak menerima gebukan orang. Hai-tok, bagaimana kalau aku kalah akan tetapi aku tidak memiliki pusaka itu untuk dapat diserahkan kepadamu?”

Dunia kang-ouw mempunyai bukti-bukti bahwa engkau yang merampas pedang itu, maka engkau harus dapat pula membuktikan bahwa bukan engkau perampasnya!”

“Ha-ha-ha… dengan lain kata, engkau menghendaki aku mencari perampasnya yang agaknya mempergunakan namaku?”

“Begitulah… dan bersiaplah, Siauw-bin-hud!”

“Nanti dulu. Tamuku bukan hanya engkau seorang, melainkan masih ada beberapa orang lagi. Kautunda dulu niatmu, Hai-tok… aku ingin bertanya kepada yang lain-lain.”

Lalu kakek gendut itu dengan sikap tenang, sabar dan peramah memalingkan mukanya kepada rombongan perwira istana yang dipimpin oleh Pouw Gun atau Pouw Ciang-kun itu.

“Cu-wi sekalian ini apa juga datang ke Siauw-lim untuk urusan pusaka yang hilang itu?”

Pouw Gun menjura dengan sikap tegas dan hormat. Sebagai seorang perwira tinggi, sikapnya tegas dan berwibawa, akan tetapi sebagai seorang ahli silat tinggi diapun menghormati angkatan yang lebih tua seperti Siauw- bin-hud.

“Locianpwe, saya Pouw Gun bersama beberapa orang teman datang sebagai utusan sri baginda kaisar. Karena seorang di antara saudara muda kami, yaitu Tang Kui, pernah mendapatkan Giok-liong-kiam yang kemudian dirampas oleh locianpwe, maka kami atas nama sri baginda kaisar mohon dengan hormat agar locianpwe menyerahkannya kepada kami.”

“Heh-heh, semua orang minta pusaka itu dariku. Aneh! Ciangkun, kalau cu- wi menjunjung perintah sri baginda kaisar, tentu membawa surat perintah.”

Wajah panglima yang bertubuh kecil itu menjadi merah.

“Maaf, locianpwe… selama enamtahun ini, Siauw-lim-pai tidak mengakui tentang Giok-liong-kiam, oleh karena itu, urusan ini menjadi urusan pribadi. Kami ditugaskan untuk mencari dan membawa Giok-liong-kiam ke istana. Andaikata kami harus berurusan dengan Siauw-lim-si, tentu kami akan membawa surat perintah. Akan tetapi karena Siauw-lim-si tidak mengakui, dan karena ada saudara kami yang melihat sendiri bahwa pusaka itu... oleh locianpwe... “

“Ha-ha-ha, Pouw-ciangkun… jelaskan saja apa yang hendak kaulakukan sekarang,” kakek gendut itu memotong dengan suara kasihan melihat kegugupan perwira itu.

“Seperti saya katakan tadi, kami mohon dengan hormat agar locianpwe suka menyerahkan pusaka itu kepada kami, demi nama sri baginda kaisar.”

“Kalau pinceng tidak bisa memberikannya, bagaimana ciangkun?” “Terpaksa saya melupakan kebodohan sendiri mohon petunjuk dari

locianpwe.”

“Aha! Menantang lagi! Kiranya engkau tidak sendirian dalam hal berkeras kepala untuk memukuli badanku yang sudah tua, Hai-tok. Baiklah, kautunggu dulu, ciangkun… aku akan bertanya kepada rombongan lain.”

Kakek itu tanpa menanti jawaban lalu menghadapi rombongan Thian-te-pai yang berdiri berbaris dengan sikap gagah.

“Cu-wi tentu utusan perkumpulan Thian- te-pai,” katanya ramah sambil memandang ke arah dada orang-orang itu.

“Lalu apa kehendak cu-wi datang mencari aku orang tua?”

Coa Bhok yang gagah dan angkuh melangkah maju menghadapi Siauw-bin- hud. “Saya Coa Bhok sebagai wakil ketua Thian-te-pai, mewakili perkumpulan kami untuk memohon kebijaksanaan locianpwe Siauw-bin-hud. Pusaka Giok- liong-kiam sejak dahulu menjadi pusaka perkumpulan kami, bahkan menjadi lambang kebesaran perkumpulan Thian-te-pai kami. Enam tahun lebih yang lalu, pusaka kami itu lenyap dicuri orang, dan setelah itu timbullah perebutan diantara orang-orang kang-ouw untuk mencari dan merampasnya. Sute kami Lui Siok Ek ini pada enam tahun yang lalu hampir berhasil merebut kembali pusaka kami itu, akan tetapi menurut keterangannya tadi, pusaka itu oleh locianpwe dirampas. Karena selama enam tahun ini locianpwe berada dalam pertapaan, kami segan untuk berurusan dengan Siauw-lim-si, dan mendengar locianpwe telah keluar, kami memberanikan diri untuk datang menghadap dan minta kembali pusaka yang disimpankan oleh locianpwe itu.”

“Aha, dengan arti lain, cu-wi hendak memaksaku untuk mendapatkan pusaka itu dan mengembalikan kepada Thia-te-pai?”

“Begitulah!”

“Wah-wah-wah, runyam sekali ini!”

Siauw-bin-hud mengelus kepala Ci Kong yang masih berdiri di dekatnya. Dia heran melihat anak itu mukanya merah dan matanya mengeluarkan sinar marah.

“Eh, kau kenapa, anak baik?”

“Susiok-couw, orang-orang ini sungguh tidak memiliki rasa keadilan sama sekali, mau menangnya sendiri saja, dan mendesak susiok-couw secara sewenang-wenang!”

Ci Kong berseru dengan suara nyaring. Kakek gendut itu tertawa bergelak dan mengelus kepala Ci Kong dengan halus.

“Wah-wah, kalau engkau begini keras, lalu apa bedanya dengan mereka yang keras juga? Tenanglah, anak baik dan kita lihat saja perkembangannya.” “Heh-heh-heh-heh… banyak lalat dan hawanya panas, sungguh tidak

nyaman...” tiba-tiba terdengar suara orang mengomel.

Semua orang menoleh dan ternyata yang mengomel itu adalah Bu-beng San-kai yang duduk agak jauh dari orang-orang lain, duduk sembarangan saja di atas rumput sambil mengipasi tubuhnya seolah-olah dia benar-benar merasa gerah, padahal hawa di puncak bukit itu tentu saja sejuk! Seorang anak perempuan berusia sebelas tahun yang cantik mungil, bermata lebar dan bersikap pendiam duduk di belakangnya, hanya sepasang matanya yang lebar itu saja bergerak memandangi semua orang akan tetapi mulutnya yang kecil merah itu tak pernah dibukanya.

“Jembel badut!” tiba-tiba Hai-tok Tang Kok Bu mengejek.

“Agaknya yang kaumaki lalat itu termasuk dirimu sendiri, kalau tidak demikian, mau apa engkau muncul di sini!”

Siauw-bin-hud memandang kakek kurus yang bajunya tambal-tambalan itu dan diapun tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, kiranya ada pula Bu-beng San-kai di sini! Wah-wah, Sankai, apakah benar dugaan Hai-tok bahwa engkaupun datang ke sini untuk memperebutkan Giok-liong-kiam?”

Semua orang, kecuali Hai-tok, terkejut bukan main dan kini mereka memandang ke arah pengemis tua itu dengan mata terbelalak. Bu-beng San- kai? Sebuah nama yang pernah menggemparkan dunia persilatan, dan tak seorangpun di antara mereka, kecuali Hai-tok dan Siauw-bin-hud, menyangka bahwa kakek jembel yang nampaknya tidak ada apa-apanya itu ternyata adalah Bu-beng San-kai! Kalau disebut San-tok (Racun Gunung), tentu semua orang akan lebih kaget lagi tadi. Akan tetapi nama Bubeng San-kai (Pengemis Berkipas Tak Bernama) atau San-tok (Racun Gunung) juga sama saja.

Di dunia persilatan, pernah muncul empat orang tokoh yang amat hebat, yang dinamakan Racun-racun Dunia. Mereka adalah San-tok (Racun Gunung) yaitu yang berjuluk pula Bu-beng San-kai, lalu Hai-tok (Racun Lautan) yang kini menjadi orang kaya di Pulau Layar. Masih ada dua orang lagi, yaitu Thian-tok (Racun Langit) dan Tee-tok (Racun Bumi) yang tidak pernah didengar orang pula, entah berada dimana. Kalau orang-orang seperti Hai-tok dan San-tok kini muncul, dapat dibayangkan betapa penting dan berharganya Giok-liong-kiam! Kalau Tang Kok Bu, seperti julukannya, Hai-tok, dahulunya adalah datuk para bajak laut, sebaliknya San-tok adalah datuk para perampok di pegunungan dan hutan-hutan. Akan tetapi, berbeda dengan Hai-tok yang kini nampaknya menjadi orang kaya raya, San-tok masih kelihatan miskin, bahkan

pakaiannya seperti seorang pengemis.

Bu-beng San-kai atau San-tok terkekeh mendengar ucapan Hai-tok dan Siauw-bin-hud, dan diapun menjawab.

“Siauw-bin-hud, engkau tahu bahwa aku bukan seorang yang mata duitan atau haus akan harta. Aku datang hanya untuk menonton keramaian, dan apa salahnya setelah sama tuanya, kita saling membuktikan siapa yang menjadi loyo lebih dahulu di antara kita semua tuabangka-tuabangka ini? Ha-ha-ha!”

Dan diapun mengebutkan kipasnya semakin cepat. Kipas itu butut saja, akan tetapi begitu dikebut dengan cepat, semua orang yang berada di situ hampir menggigil karena hawa menjadi semakin dingin seperti ada angin besar yang lewat!

Siauw-bin-hud mengenal empat racun dunia sejak masih muda, bahkan mereka itu boleh dibilang merupakan saingan-sainganya dalam dunia persilatan. Sejak dahulu, ilmu kepandaian antara para Racun Dunia itu sebanding, dan masing-masing di antara mereka juga hampir dapat menandingi tingkat kepandaian Siauw-bin-hud sendiri yang ketika itu masih menjadi seorang tokoh Siauw-lim-pai yang disegani. Hanya selisih sedikit saja kepandaian tokoh Siauw-lim ini dengan kepandaian para Racun Dunia itu. Kini, melihat munculnya dua orang ini, diam-diam Siauw-bin-hud maklum bahwa mereka berdua itu bukan semata-mata mencari pedang pusaka karena haus akan harta, melainkan dalam usia tua itu agaknya hendak melanjutkan persaingan waktu dahulu untuk menjadi orang nomor satu. Atau mungkin juga mereka itu masih memiliki keinginan untuk menjadi Bu-lim Beng-cu (Pemimpin Rimba Persilatan) yang disegani dan dihormati seluruh dunia persilatan!

Sebelum Siauw-bin-hud menjawab, tiba-tiba saja Ci Kong sudah melompat ke depan dan dengan membusungkan dada dia menghadapi para tamu itu, memandang kepada mereka dengan sinar mata mencorong.

“Kalian ini orang-orang tak tahu malu, tamu-tamu tak diundang datang mengganggu Susiok-couw, seorang tua yang tidak berdosa. Apakah kalian tidak malu? Kalau memang kalian berhati kejam, biarlah aku yang maju mewakili susiok-couw, kalian boleh bunuh atau siksa aku untuk memuaskan hati kalian yang kotor dan jahat!”

Tentu saja sikap dan ucapan Ci Kong itu sama sekali tidak terduga-duga dan semua orang menjadi tertegun. Bahkan Nam Sam Losu sendiri terkejut, tidak mengira bahwa muridnya akan seberani dan selancang itu. Mukanya sudah menjadi pucat karena marah dan malu. Dia sebagai gurunya harus bertanggung jawab atas kelancangan muridnya itu, apalagi mengingat nama Siauw-lim-pai yang dapat tercemar karena sikap anak itu. Juga para tamu menjadi kaget dan heran, apalagi mendengar bahwa anak itu menyebut susiok- couw (paman kakek guru) kepada Siauw-bin-hud! Seorang anak kecil, duabelas tahun, dengan tingkat yang serendah itu dari Siau-lim-pai, berani menantang mereka yang terdiri dari orang-orang berkedudukan tinggi di dunia persilatan, bahkan dua di antara mereka adalah San-tok dan Hai-tok.

“Huh!” Hai-tok mendengus.

“Dibandingkan anakku yang di rumah, dia itu bukan apa-apa, Siauw-bin- hud!”

“Heh-heh, benarkah dia begitu hebat, Siauw-bin-hud? Aku tidak percaya!” berkata demikian, San-tok atau Bu-beng San-kai lalu menggerakkan kakinya dan dalam keadaan duduk, tahu-tahu tubuhnya melayang ke depan dan dia sudah berdiri di depan Ci Kong sambil tersenyum-senyum. Ci Kong sama sekali tidak menjadi gentar dan memandang kakek berpakaian jembel itu dengan sepasang mata mencorong.

“Bocah bernyali besar, kalau engkau tidak membolehkan aku mengganggu susiok-couwmu, lalu kau mau apa? Apa kau berani melawan aku?”

Sikap dan ucapan ini membuat Ci Kong marah bukan main.

“Apalagi engkau, biar raja iblis sekalipun akan kulawan kalau dia jahat dan hendak mengganggu kami!” bentaknya.

“Wah-wah, agaknya engkau memang memiliki ilmu yang lihai maka kecil- kecil berani menantang aku. Nah, coba kulihat, apakah engkau berani memukul perutku ini?”

Kakek itu mencoba untuk membusungkan perutnya yang kempis. Hanya tantangan itu saja yang memaksanya untuk memukul.

“Baik, aku akan memukulmu seperti yang kau tantang itu. Bersiaplah!” katanya sambil memasang kuda-kuda.

“Ha-ha, kauwakili susiok-couwmu memukulku, dan kerahkan semua tenagamu!” Kakek kurus itu menantang.

Ci Kong tidak tahu betapa Nam San Losu, gurunya, sudah bergerak hendak mencegahnya, akan tetapi tiba-tiba gurunya terkejut karena tubuhnya seperti disedot angin dari belakang yang membuatnya tidak mampu bergerak. Ketika suhunya menengok, ternyata Siauw-bin-hud sudah mengulurkan tangannya dan kini kakek itu tersenyum lebar dan memberi isyarat agar dia tidak melakukan sesuatu terhadap anak itu.

Legalah hati Nam San Losu karena dia maklum bahwa susioknya itu tentu tidak akan membiarkan muridnya celaka, hanya dia merasa heran mengapa susioknya itu seperti mendukung sikap dan perbuatan Ci Kong yang dianggapnya kurang ajar terhadap tingkatan yang tua. Ngeri dia membayangkan apa akan menjadi akibatnya kalau muridnya itu memukul tubuh San-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia itu! Dia sudah mendengar nama ini dan agaknya tingkat kepandaian susioknya, Siauw-bin-hud sajalah yang dapat mengimbangi kepandaian Empat Racun Dunia. Bahkan para suhengnya sendiri yang kini menjadi para pemimpin Siauw-lim-pai, juga tidak akan mampu menandingi San-tok!

“Hyaaaattt…!!”

Ci Kong yang sudah melihat kakek itu bersiap diri, lalu menerjang ke depan, tangan kanannya dikepal dan memukul ke arah perut. Menurut apa yang sudah dipelajarinya, memukul bagian lunak dari tubuh lawan sebaiknya memutar kepalan tangan karena hasilnya akan lebih baik, sehingga tangan membuat gerakan seolah-olah membor perut lawan. Akan tetapi karena dia tidak berniat mencelakai lawan, hanya sekedar “menghajar” saja untuk memperlihatkan bahwa dia benar-benar berani menentang siapa saja yang hendak mengganggu susiok-couwnya, dia memukul biasa saja ke arah perut kecil itu.

“Bukkk...!”

Pukulan itu tepat mengenai perut bawah kakek kurus itu, akan tetapi sedikitpun kakek itu tidak menangkis atau mengelak, juga tidak bergoyang sedikitpun oleh pukulan si anak kecil. Ci Kong yang merasa betapa kepalan tangannya memasuki daging lunak sekali, menjadi terkejut dan cepat menarik kembali tangannya. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika kepalan tangannya memasuki perut itu tidak dapat ditarik kembali, bahkan kepalannya tidak dapat dibuka! Dia mengangkat muka memandang, dan melihat betapa wajah San-tok masih menyeringai biasa, dan sepasang mata kakek itu memancarkan sinar aneh. Kembali dia berusaha membetot tangannya, namun tiba-tiba tubuhnya malah terasa lemas kehilangan semua tenaga dan kepalan tangannya terasa hangat, lalu semakin lama menjadi semakin panas!

“Heh-heh-heh, Siauw-bin-hud, engkau benar. Anak ini jauh lebih baik dari pada aku atau Hai-tok, dan aku kagum sekali!”

Melihat keadaan muridnya yang nampak lemas dan tidak mampu menarik kembali tangannya dari perut San-tok, tentu saja Nam San Losu menjadi terkejut sekali. Dia maklum bahwa nyawa muridnya terancam maut, maka dengan nekat diapun bangkit dan melangkah maju untuk menolongnya. Akan tetapi kembali tubuhnya tersedot ke belakang dan Siauw-bin-hud memberi isyarat dengan pandang matanya agar dia tidak sembarangan bergerak. Nam San Losu mentaatinya karena kakek inipun maklum bahwa keadaan muridnya itu seperti telah ditolong. Sedikit saja dia bergerak dengan mudah San-tok akan dapat membunuh anak itu.

“Ha-ha-ha, San-tok. Jelas dia jauh lebih baik, tidak seperti engkau yang tanpa malu-malu memperdayakan seorang anak kecil. Apa kehendakmu?”

Siauw-bin-hud berkata, dengan sikap masih tenang. Diapun maklum betapa licik dan jahatnya Empat Racun Dunia, akan tetapi dia menghadapi kelicikan San-tok yang kini mengancam nyawa cucu muridnya itu dengan tenang dan sikap yang masih ramah tanpa dibuat-buat. Bagi seorang yang tingkat kebatinannya seperti Siauw-bin-hud, sudah tidak mengenal lagi rasa dendam atau khawatir, juga tidak dipengaruhi lagi oleh emosi. Dan kewajaran ini seperti kembali kepada sifat kanak-kanak yang bersih dan polos, namun matang dan tidak menjadi permainan emosi sehingga tenang dan jernih bagaikan air telaga dalam yang tenang.

“Ha-ha, apalagi, Siauw-bin-hud, kalau bukan Giok-liong-kiam yang ingin kulihat?Aku ingin sekali melihat macamnya benda yang diperebutkan itu.”

“Dan untuk itu kau akan membebaskan anak itu?” “Tentu dia kubebaskan.”

“Ha-ha-ha, Racun Gunung, kurasa engkau tidak begitu bodoh untuk tetap menyangka bahwa aku menyembunyikan pusaka itu, bukan? Pusaka itu tidak ada padaku.”

“Aku percaya padamu dan kiranya ada orang lain yang mempergunakan namamu untuk merampas pusaka itu. Akan tetapi, seperti dikatakan orang Thian-te-pai itu, penggunaan namamu oleh orang lain itu adalah urusanmu. Aku minta agar engkau mencari pemalsu itu, merampas kembali Giok-liong- kiam, kemudian memberikan kepadaku!”

“San-tok!” tiba-tiba Hai-tok membentak marah.

“Enak saja engkau memaki orang lain tadi, kini engkau sendiri hendak memaksa Siauw-bin-hud menyerahkan pusaka kepadamu! Tak tahu malu!”

“Heh-heh, siapa tak tahu malu?” kata kakek kurus.

“Aku hanya ingin melihat, kemudian akan kuputuskan siapa yang berhak menyimpan pusaka itu kelak. Nah, Siauw-bin-hud, bagaimana?”

Siauw-bin-hud tersenyum lebar.

“Heh-heh, tanpa kauminta sekalipun, aku merasa sudah menjadi kewajibanku untuk mencari pusaka itu. Pusaka itu sudah lenyap selama enam tahun dan kalian tidak mampu mendapatkannya kembali. Karena itu, sudah adillah kiranya kalau kalian memberi waktu enam tahun juga kepada pinceng untuk mencarinya. Enam tahun lagi, pada hari dan bulan yang sama, pinceng harap cu-wi suka datang kesini dan kita lihat saja, apakah pinceng berhasil mendapatkannya kembali.”

“Setuju...!”

San-tok atau Bu-beng San-kai berseru, mendahului orang lain yang masih ragu-ragu dan memandang dengan alis berkerut.

“Nah, terimalah kembali cucu muridmu, Siauw-bin-hud!”

Semua orang memandang ke arah Ci Kong yang masih bergantung pada perut kakek itu dengan tangan kanannya menancap di perut itu sampai di pergelangan tangan. Anak itu sudah lemas dan kini kulit muka dan tangannya nampak kehijauan! Begitu kakek kurus itu menggerakkan perutnya, anak yang sudah pingsan itu terlempar ke belakang, ke arah Siauw-bin-hud yang cepat menangkapnya lalu merebahkan anak itu di atas tanah.

Melihat betapa kulit muridnya menjadi kehijauan dan anak itu pingsan, Nam San Losu menjadi terkejut dan gelisah sekali. Akan tetapi diapun seorang kakek yang berpengetahuan luas. Dan dia tidak berani sembarangan bergerak, menyerahkan segalanya kepada susioknya. Sungguh heran dia melihat betapa susioknya setelah meletakkan telapak tangannya ke dada Ci Kong, lalu tertawa girang, dan memandang ke arah San-tok lalu berkata.

“Ha-ha-ha, San-tok… agaknya selama ini engkau telah memperoleh banyak kemajuan lahir batin. Terima kasih!”

Tiba-tiba, terdengar bentakan halus. “Kakek berwatak keji!”

Dan tahu-tahu, anak perempuan yang sejak tadi berada di belakang Bu- beng San-kai atau Santok dan hanya menjadi penonton saja seperti yang lain, tiba-tiba meloncat ke depan dan sudah menghadap Siauw-bin-hud sambil mengeluarkan suara celaan setengah memaki itu.

Siauw-bin-hud mengangkat muka memandang. Dia masih bersila ketika memeriksa tubuh Ci Kong, dan melihat anak perempuan yang berdiri di depannya, dia tersenyum ramah lalu menoleh ke arah San-tok yang hanya memandang sambil tersenyum-senyum.

“Nona kecil, mengapa engkau datang-datang memaki aku?” tanya Siauw- bin-hud.

Anak perempuan itu adalah Lian Hong. Sejak tadi anak ini mengikuti jalannya peristiwa dan melihat betapa anak laki-laki yang pemberani itu menjadi korban karena membela kakek gendut, hatinya merasa penasaran sekali. Apalagi melihat sikap kakek gendut yang menerima cucu muridnya yang pingsan itu sambil tertawa-tawa, bahkan mengucapkan terima kasih kepada gurunya, hatinya memberontak. Ia mengenal gurunya sebagai seorang kakek yang wataknya aneh luar biasa, maka iapun tidak dapat mengerti apa arti perbuatan gurunya itu. Karena itu, melihat betapa gurunya tadi menerima pukulan anak laki-laki dan membuat anak laki-laki pingsan dengan kulit kehijauan, ia tahu bahwa anak itu keracunan akan tetapi ia tidak berani menegur gurunya yang juga menjadi kakeknya itu. Kemarahannya karena merasa kasihan dan penasaran melihat anak laki-laki itu menjadi korban, kini ditimpakan kepada Siauw-bin-hud yang dianggapnya menjadi gara-gara.

“Engkau ini orang tua yang keji dan tak tahu diri! Semua urusan pusaka ini adalah gara-garamu, akan tetapi engkau tidak mau maju sendiri, malah membiarkan seorang anak kecil maju mewakilimu sehingga terluka. Patutkah itu?”

“Hemmm… anak perempuan licik!” tiba-tiba Hai-tok mengejek.

“Gurumu yang mencelakai anak itu, engkau malah memaki Siauw-bin- hud!”

Hati kakek yang menjadi Racun Lautan ini sudah mendongkol sekali melihat permainan antara Siauw-bin-hud dan San-tok, sehingga dia sendiri terdesak. Dua orang itu sudah membuat janji-janji dan menganggap orang- orang lain yang hadir di situ seolah-olah tidak ada dan tidak memiliki hak suara untuk menentukan tentang urusan Giok-liong-kiam.

Lian Hong menoleh ke arah kakek pesolek itu.

“Kakekku dipukul dan hanya membela diri!” teriaknya membela kakeknya. “Ha-ha-ha, San-tok, cucumu ini hebat sekali, sama hebatnya dengan cucu

muridku. Nah, baiklah, kau pukullah aku, nona cilik!” “Bersiaplah kau, kakek tua!”

Lian Hong memasang kuda-kuda dan kini iapun menerjang ke depan, mengirim tanparan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam ke arah kepala kakek yang masih duduk bersila itu. Tanparannya ini hebat sekali, karena biarpun ia baru berusia sebelas tahun, selama enam tahun ini Lian Hong menerima gemblengan yang keras dari kakeknya atau gurunya.

“Wah, bagus...!”

Siauw-bin-hud memuji dan sama sekali tidak mengelak. “Plakkk!”

Telapak tangan itu tepat mengenai kepala yang gundul dan hal ini tentu saja dianggap amat kurang ajar oleh para hwesio Siauw-lim-pai yang memandang dengan mata mendelik. Ingin mereka memukul anak perempuan yang berani menampar kepala susiok mereka itu. Akan tetapi, Siauw-bin-hud hanya tersenyum lebar dan kini terulanglah peristiwa seperti yang terjadi pada diri Ci Kong tadi. Lian Hong merasa betapa telapak tangannya bertemu dengan batok kepala yang amat lunak dan dingin seperti es! Ketika ia hendak menarik kembali tangannya, ternyata telapak tangan itu melekat pada batok kepala yang halus itu. Berkali-kali ia mengerahkan tenaga untuk membetotnya kembali, akan tetapi makin dibetot makin melekat dan semakin dingin sehingga ia menggigil dan kehabisan tenaga untuk meronta. Dan sebentar saja, iapun pingsan dengan tangan masih menempel pada kepala kakek itu!

Terdengar Hai-tok terkekeh.

“Ha-ha-ha… ternyata Siauw-bin-hud setelah bertapa duapuluh tahun, tidak berobah menjadi dewa. Sama saja dengan San-tok!”

Mendengar ejekan ini, Siauw- bin-hud tertawa lalu dia menggerakkan kepalanya sambil berkata. “San- tok, kauterimalah cucumu yang baik ini!”

Dan tubuh anak perempuan yang pingsan itupun terlempar ke arah Bu- beng San-kai yang cepat menyambutnya. Ternyata Lian Hong pingsan dengan muka kebiruan seperti orang yang menderita kedinginan hebat! San-tok meletakkan telapak tangannya ke punggung cucunya, lalu tertawa girang.

“Ha-ha-ha… agaknya engkau bukan orang yang suka berhutang, Siauw- bin-hud. Terima kasih!”

Tentu saja semua orang menjadi terheran-heran. Jelas bahwa San-tok tadi melukai Ci Kong, akan tetapi Siauw-bin-hud malah berterima kasih, dan sekarang Siauw-bin-hud melukai Lian Hong akan tetapi San-tok juga berterima kasih! Hanya Hai-tok yang ilmunya paling tinggi di antara mereka yang lain, diam-diam merasa mendongkol sekali. Dia dapat menduga bahwa dua orang kakek itu bukan melukai untuk mencelakakan, melainkan masing-masing telah menyalurkan tenaga ke dalam tubuh dua orang anak itu sehingga dua orang anak itu bukannya dirugikan, malah menerima tenaga yang hebat. Dua orang kakek itu telah saling menukar kebaikan!

“Cukuplah semua permainan sandiwara dan badut ini!”

Hai-tok berkata dan diapun melangkah maju menghadapi Siauw-bin-hud. “Siauw-bin-hud, mari kita main-main sebentar saja untuk menentukan

siapa yang berhak menjadi pemilik Giok-liong-kiam, baik sekarang maupun kelak.”

Kakek ini sudah mengangkat tongkatnya ke atas. Tongkat itu panjangnya lima kaki, berlapis emas dan terhias batu permata sehingga nampak indah dan berkilauan ketika diangkatnya di depan dada.

“Wah-wah, Racun Lautan ini hendak menjual lagak di sini? Kita sama-sama menjadi tamu di Siauw-lim-si, sungguh tidak enak kalau aku membiarkan saja engkau mengacau. Pergilah dan jangan membikin malu aku sebagai sama- sama tamu Siauw-lim-si!”

Tiba-tiba Bu-beng San-kai atau San-tok sudah melompat ke depan, menghadapi Hai-tok dengan kipas bututnya di tangan.

Dua orang kakek itu, dua di antara Empat Racun Dunia, kini saling berhadapan dengan mata melotot seperti dua ekor ayam jago berlagak dan hendak saling bertempur mati-matian. Entah sudah berapa puluh kali dua orang ini dahulu saling mengukur kepandaian, dan belum pernah di antara mereka ada yang menang atau kalah. Di antara empat orang Racun Dunia, memang tidak ada yang lebih kuat atau lebih lemah. Mereka masing-masing memiliki keistimewaan sendiri, dan karena maklum bahwa tidak seorangpun di antara mereka yang dapat menjagoi, maka merekapun dapat bekerja sama kalau menghadapi lawan. Tentu saja untuk membela kepentingan sendiri, para tokoh sesat ini seringkali saling gempur sendiri.

Dan sekarangpun, setelah belasan tahun tidak saling jumpa dan berhubungan, kini sekali bertemu mereka sudah siap untuk saling gebuk lagi! Tentu saja semua orang memandang dengan hati tegang sekali. Sudah belasan tahun mereka mendengar nama besar Empat Racun Dunia, dan baru sekarang berkesempatan melihat orangnya, dua diantara mereka, bahkan kini dua orang itu siap untuk saling serang. Tentu saja mereka merasa tegang dan juga gembira karena berkesempatan menyaksikan kehebatan dua orang yang dianggap sakti dan jahat seperti iblis itu.

“Bagus!” Hai-tok Tang Kok Bu membentak marah.

“Biarkan kita membuat perhitungan di sini dan lihat, siapa yang lebih pantas menjadi pemilik Giok-liong-kiam!” “Nanti dulu!”

Tiba-tiba Pouw Gun atau Pauw-ciangkun, perwira tinggi dari istana itu melangkah maju.

“Ji-wi locianpwe tidak berhak menentukan sebagai calon pemilik Giok- liong-kiam. Hendaknya jiwi ketahui bahwa sri baginda kaisar telah mengutus kami untuk mencari dan membawa pusaka itu ke istana!”

“Tidak! Kamilah yang paling berhak karena pusaka itu adalah pusaka perkumpulan kami yang hilang dicuri orang!” kata Coa Bhok, wakil ketua Thian- te-pai yang merasa penasaran melihat orang-orang membicarakan Giok-liong- kiam tanpa memperdulikan mereka yang merasa paling berhak atas pusaka itu. Dua orang kakek yang tadi sudah saling berhadapan untuk berkelahi itu, kini tiba-tiba saling pandang dan tersenyum. Dari pandang mata yang saling tatap itu, keduanya mengalami kegembiraan seperti di jaman dahulu dan seolah-olah pandang mata mereka menjadi isyarat bagi mereka untuk bersatu, walaupun hanya untuk sementara, guna menghadapi lawan yang datang dari luar menentang mereka! Secara otomatis, keduanya lalu membalikkan tubuh, membagi tugas! Karena dia seorang yang hidup sebagai seorang hartawan kaya raya, agaknya Hai-tok masih merasa sungkan untuk berurusan dengan orang pemerintah, maka dia memilih berhadapan dengan orang-orang Thian- te-pai! Sambil tersenyum mengejek dan melintangkan tongkat emasnya di depan dada, dia menghadapi Coa Bhok wakil ketua Thian-te-pai dan empat

orang adik seperguruannya.

“Hemm… kalian ini anak-anak kecil, sudah tidak becus menjaga Giok-liong- kiam, juga tidak becus menemukannya kembali selama enam tahun ini, sekarang hendak berlagak mencampuri urusan dan perjanjian orang-orang tua? Pergilah dan jangan kalian mengganggu kami!”

Karena Hai-tok sudah memilih lawan, terpaksa San-tok menghadapi Pouw Gun dan dua orang temannya. Tentu saja kakek yang hidup sebagai seorang perantau miskin dan jembel ini tidak takut berurusan dengan para pengawal istana.

“Heh-heh-heh, biasanya utusan lebih sombong dari pada yang mengutusnya. Kalian hanya utusan, kalau tidak berhasil menemukan Giok- liong-kiam, laporkan saja ke atasan bahwa kalian tidak berhasil. Kenapa hendak mencampuri urusan kami orang-orang tua?”

Tentu saja orang-orang dari dua rombongan itu menjadi marah mendengar ucapan dua orang kakek yang memandang rendah itu. Terutama sekali Pouw- ciangkun dan dua orang temannya. Mereka adalah perwira-perwira pengawal dari istana, dan di istana dikenal sebagai jagoan, terutama sekali Pouw Gun, dan sekarang mereka sama sekali tidak dipandang mata oleh seorang kakek jembel. Biarpun Pouw Gun pernah mendengar akan nama Bu-beng Sankai, akan tetapi dia tidak takut, didukung oleh kedudukannya dan oleh dua orang temannya yang sudah siap untuk membantunya.

“Bagus, kau orang-orang tua hendak memberontak terhadap petugas istana?”

Bentaknya dan dia sudah mengeluarkan pedangnya, diikuti pula oleh si raksasa Tang Kui dan seorang temannya lagi yang kedudukannya lebih tinggi dari pada Tang Kui dan memiliki ilmu silat lebih tinggi pula. Sebagai perwiraperwira istana, tentu saja mereka tidak dilarang membawa senjata dan masing-masing kini sudah mencabut golok mereka, berdiri di kanan kiri Pouw Gun yang memegang pedang. Melihat ini, Santok terkekeh.

“Majulah, majulah... heh-heh, sudah lama kipasku tidak menepuk lalat lalat hijau!”

Jelas bahwa ucapannya ini merupakan ejekan, mengejek para perajurit Mancu yang oleh sebagian orang patriot diejek sebagai lalat-lalat hijau. Pouw Gun dan dua orang temannya sudah membuat gerakan mengurung dan membentuk barisan segi tiga, seorang di belakang, dan dua orang di depan kanan kiri. Yang di belakang adalah Pouw Gun sedangkan dua orang temannya yang bergolok siap di depan kakek kurus yang memegang kipas dan nampak enak-enakan mengipasi tubuhnya yang kurus.

Sementara itu, Coa Bhok dan empat orang saudaranya juga sudah mengepung kakek tinggi besar bermuka merah itu. Coa Bhok maklum akan kelihaian Hai-tok, maka diapun tidak malu-malu untuk maju bersama empat orang sutenya. Mengapa mesti malu? Urusan ini adalah urusan perkumpulan, untuk merebut kembali pusaka perkumpulan, bukan urusan pribadi sehingga boleh saja mereka maju bersama. Apalagi mereka menghadapi seorang di antara Empat Racun Dunia sehingga pengeroyokan mereka tidak akan ditertawakan orang kang-ouw.

Karena pada zaman itu, pemerintah Mancu mengeluarkan larangan keras bagi siapa saja untuk membawa senjata tajam, apalagi akhir-akhir ini setelah timbul banyak pemberontakan kecil dimana-mana, maka Thian-te pai juga melarang murid-muridnya membawa senjata. Bahkan perkumpulan itu kini lebih mengutamakan ilmu silat tangan kosong dan semua murid memperdalam ilmu silat tangan kosong mereka. Mereka bahkan menciptakan ilmu silat khas mereka yang diberi nama Thian-te-kun, yang sesungguhnya hanya merupakan ilmu silat tangan kosong yang diperbarui dan dikembangkan dari Im-yang-kun, namun dimasuki gerakan-gerakan dan langkah-langkah khas dari ilmu silat Thian-te-pai. Kini, dalam menghadapi Hai-tok, mereka berlima yang mengepung ini juga tidak memegang senjata tajam.

Melihat ini, Hai-tok lalu sengaja menyelipkan tongkat emasnya, senjatanya yang paling ampuh, di pinggangnya dan berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang, sama sekali tidak mengacuhkan pengepungan lima orang itu, sikapnya sama benar dengan sikap San-tok!

Seperti dikomando saja, tiga orang perwira tinggi yang mengeroyok San- tok dan lima orang Thian-te-pai yang mengeroyok Hai-tok itu bergerak dan melakukan penyerangan. Tiga orang perwira tinggi yang dipimpin oleh Pouw Gun itu melakukan penyerangan dengan teratur sekali. Tang Kui dan temannya yang memegang golok menyerang dari kanan kiri, menggunakan golok mereka, yang seorang membacok kepala dan yang kedua membabat pinggang. Serangan ini disusul dengan selisih beberapa detik saja oleh Pouw Gun yang menusukkan pedangnya ke punggung kakek kurus itu dan kemudian pedang itu dikelebatkan untuk mencegat semua jalan keluar! Sungguh merupakan serangan gabungan yang susul-menyusul, bahkan saling bersambungan dan berbahaya sekali. Akan tetapi, apa yang terjadi?

Kakek kurus yang memegang kipas itu, yang berdiri seenaknya dengan kipas dikebut-kebutkan mengipasi tubuhnya, sama sekali tidak menggeser kakinya, sama sekali tidak mengelak, hanya kebutan kipasnya yang tadi mengebuti tubuhnya saja yang berobah gerakannya. Kipas itu berkelebatan ke kanan kiri lalu ke belakang, dan terdengar suara nyaring tiga kali yang akibatnya membuat tiga orang perwira tinggi itu berloncatan ke belakang dengan muka pucat.

Juga Pouw Gun meloncat ke belakang dan menatap pedangnya sendiri dengan muka pucat, karena tadi, tangkisan kipas butut itu membuat lengannya tergetar hebat, bahkan hampir lumpuh! Kiranya, gagang kipas yang hanya terbuat dari bambu itu, ketika menangkis tiga buah senjata itu, menimbulkan suara nyaring seolah-olah senjata mereka bertemu dengan baja. Dan yang luar biasa sekali, setiap kali terbentur senjata tajam, gagang kipas itu langsung melesat dan ujung gagang itu menotok pergelangan tangan. Begitu tepat totokannya sehingga lengan itu seketika menjadi hampir lumpuh!

Sementara itu, Hai-tok juga sudah menghadapi pengeroyokan lima orang tokoh Thian-te-pai. Karena ilmu silat Thian-te-kun yang mereka pergunakan itu merupakan penggabungan tenaga lemas dan kasar, lima orang itu menyerang dengan berselang-seling, ada yang melakukan pemukulan dengan amat kuat, ada pula yang menampar dengan lembut namun mengandung tenaga singkang yang berbahaya. Serangan mereka juga bertubi dan saling susul, karena mereka itu memasang bentuk barisan Ngo-heng-tin dan mengepung darilima jurusan.

Akan tetapi, sikap kakek tinggi besar berpakaian mewah ini tidak kalah anehnya dari sikap San-tok. Dia membuat gerakan seperti menari, kedua lengannya bergerak ke kanan kiri muka belakang, dan dari kedua ujung lengan bajunya menyambar angin yang amat kuat dan... empat orang sute dari Coa Bhok terpental, sedangkan Coa Bhok sendiri terhuyung ke belakang! Padahal wakil ketua Thiantepai ini memiliki tenaga singkang yang cukup kuat!

Sukar untuk dapat dipercaya betapa hanya dengan angin pukulan saja, Hai- tok membuat lima orang lawan yang tangguh itu terpelanting. Tentu saja wajah Coa Bhok berubah merah sekali. Sebagai wakil ketua Thian-te-pai, tentu saja ilmu kepandaiannya sudah amat tinggi, akan tetapi kenapa menghadapi kakek ini, padahal dibantu empat orang sutenya, mereka berlima dibuat tidak berdaya seperti lima orang anak kecil saja! Dia menjadi penasaran dan bersama empat orang sutenya mengepung lagi, seperti juga tiga orang perwira tinggi sekarang sudah mengepung tubuh San-tok yang masih berdiri tegak.

Tiga orang perwira tinggi itu sudah menyerang lagi dengan senjata mereka, kini secara berbareng karena mereka maklum bahwa lawan terlalu tangguh untuk diserang secara bergantian. Tiga batang senjata tajam itu menyerang dari tiga jurusan dalam detik yang sama. Akan tetapi, tiba-tiba mata tiga orang itu menjadi gelap ketika kipas itu mengebut dan berkelebatan di depan muka mereka. Hawa dingin dari angin kipas membuat mereka tidak dapat membuka mata, dan tahu-tahu dua orang teman Pouw Gun terpukul gagang kipas, perlahan saja di pundak mereka namun cukup membuat mereka terpelanting dengan golok terlepas dari tangan karena tubuh mereka kehilangan tenaga dan pundak terasa nyeri bukan main.

Adapun Pouw Gun yang lebih lihai dan bertindak hati-hati, dapat mengelak dari sambaran kipas dan tahu-tahu pedangnya sudah menusuk dari samping ke arah lambung San-tok. Kakek ini miringkan tubuh, tangan kirinya bergerak ke bawah dan mencengkeram pergelangan tangan Pouw Gun yang terpaksa melepaskan pedangnya karena dia merasa seolah-olah pergelangan tangannya itu patah-patah. Di lain detik, tengkuknya sudah dicengkeram oleh tangan kiri San-tok dan tidak mampu berkutik lagi!

Di lain bagian, dengan amat mudahnya Hai-tok juga sudah membuat para pengeroyoknya kocar kacir. Serangan-serangan lima orang itu yang dilakukan lebih cepat dan kuat disambutnya dengan totokan-totokan kedua ujung lengan bajunya sehingga dalam segebrakan saja, empat orang sute dari Coa Bhok sudah roboh oleh totokan. Coa Bhok dapat menangkis totokan ujung lengan baju, akan tetapi pada saat itu, tangan kanan Hai-tok sudah bergerak mencengkeram ke arah ubun-ubun kepalanya. Coa bhok terkejut sekali dan dengan menarik tubuh atasnya ke belakang, cengkeraman itu tidak mengenai sasaran. Akan tetapi, cengkeraman itu hanya gertak saja, atau berfungsi sebagai gertakan kalau dielakkan, karena secepat ular mematuk, ujung lengan baju dari tangan yang mencengkeram itu telah mencuat ke depan dan tahu- tahu sudah menotok dan mengenai jalan darah di pundak Coa Bhok, seketika tubuh wakil ketua Thiante-pai ini menjadi lemas dan Hai-tok telah mencengkeram tengkuknya!

“Hai-tok, terimalah ini!” terdengar San-tok berseru sambil melontarkan tubuh Pouw Gun yang dicengkeramnya tadi.

“Nih, untukmu!” Hai-tok juga berteriak.

Keduanya sama-sama melontarkan tubuh orang yang dicengkeram tengkuknya, dengan maksud untuk saling menyerang karena setelah kini tidak ada lagi yang menjadi penghalang, dua orang Racun Dunia ini telah teringat kembali akan persaingan mereka! Dua batang tubuh yang sudah tidak mampu bergerak itu melayang ke udara dan saling bertumbukan di udara. Sungguh sial bagi mereka, tubuh mereka yang melayang itu tepat sekali saling hantam muka sama muka.

“Dukkk...!”

Darah muncrat dari hidung dua orang itu yang sama sekali tidak berdaya untuk mengelakkan tubrukan antar hidung itu, dan tubuh mereka terbanting ke atas tanah dalam keadaan pingsan!

Dua orang perwira yang maklum bahwa mereka tidak mampu menang menghadapi San-tok, segera menolong Pouw-Gun, memanggulnya dan membawanya pergi tanpa pamit. Juga empat orang tokoh Thian-te-pai menolong wakil ketua mereka dan menggotongnya pergi tanpa pamit.

Terlalu hebat peristiwa yang menimpa dua golongan ini. Pouw Gun adalah jagoan pengawal istana yang biasanya amat ditakuti, juga Coa Bhok adalah wakil ketua Thian-tepai yang berkedudukan dan berkepandaian tinggi. Akan tetapi sekali ini, dua orang itu hanya menjadi barang permainan yang sama sekali tidak berdaya di tangan dua orang Racun Dunia.

Kini dua orang kakek itu sudah saling berhadapan lagi, seperti lupa akan perkelahian yang baru saja terjadi. Dalam perkelahian tadipun mereka bersaing, tidak mau kalah dan memang mereka menyelesaikan perkelahian itu dalam dua gebrakan saja!

“San-tok, kalau aku dapat mengantarmu ke alam baka sekarang, matipun aku akan dapat terpejam!” kata Hai-tok.

“Ha-ha-ha, aku yang akan membuat engkau mampus dengan mata melek, Racun Lautan!” balas Bu-beng San-kai.

Belum habis ucapan ini, Hai-tok sudah menerjang maju didahului oleh sinar kuning emas, karena menghadapi lawan berat ini, Si Racun Lautan sudah mencabut tongkat emasnya dan menyerang dengan dahsyat. Tongkat emas itu berobah menjadi sinar berkeredepan menyambar bagaikan kilat cepatnya. Si Racun Gunung tidak mau kalah. Kipas bututnya mengebut dengan tangkisan yang amat kuat.

“Cringgg...!” Bunga api berpijar dan keduanya menarik kembali senjata mereka, lalu saling serang lagi dengan cepat dan bertenaga kuat. Angin sambaran senjata mereka bersiutan, kadang-kadang berdesing saking cepat dan kuatnya. Makin cepat gerakan mereka, makin kabur lagi pandang mata mereka yang nonton perkelahian itu. Bayangan tubuh mereka segera diselubungi gulungan dua sinar, putih dan kuning emas.

Para hwesio Siauw-lim-pai memandang dengan sinar mata penuh kagum, bahkan mereka yang belum begitu tinggi tingkatnya, tak dapat mengikuti gerakan dua orang tokoh sakti itu dengan jelas. Kini hampir seluruh hwesio Siauw-lim-pai berada di luar dan sejak tadi nonton peristiwa hebat yang terjadi di luar pintu gerbang kuil mereka.

Yang dapat mengikuti perkelahian antara dua orang itu dengan jelas hanyalah Siauw-bin-hud seorang. Kakek ini juga merasa kagum dan maklum bahwa dua orang itu memang memiliki ilmu silat yang kiranya sukar dicari bandingannya pada jaman itu. Betapa sukarnya kedua orang itu mengumpulkan semua ilmu kepandaian itu, betapa lamanya mereka melatih dan mencari ilmu-ilmu itu. Timbullah rasa sayang dalam hati hwesio gendut ini. Dua orang itu sudah tua, tidak perlu bertanding untuk saling membunuhpun akan berapa lama lagi mereka dapat mempertahankan hidup masing-masing? Dia tahu bahwa kalau dilanjutkan perkelahian itu, biarpun akan makan waktu yang lama, tentu seorang di antara mereka akan tewas, atau setidaknya keduanya akan menderita luka yang amat parah. Usia mereka sudah terlalu tua untuk dapat bertahan dalam perkelahian seperti itu. Dia dapat melihat dengan jelas betapa Hai-tok menang kuat dan tongkatnya itu lihai bukan main, akan tetapi di lain pihak, San-tok menang cepat dan agaknya menang daya tahannya, menang kuat napasnya.

“Omitohud, belum cukupkah main-main ini? Ha-ha, kalian seperti dua orang anak kecil berebut kembang gula saja!”

Sambil berkata demikian, tiba-tiba nampak tubuh yang gendut itu bergerak maju seperti sebuah bola besar dan tahu-tahu kakek tua renta gendut itu sudah masuk di antara dua gulungan sinar. Terdengar dua orang Racun Dunia itu berseru kaget dan dua gulungan sinar itupun lenyap. San-tok dan Hai-tok masing-masing meloncat ke belakang dan mereka memandang kepada Siauw- bin-hud dengan mata terbelalak penuh kagum. Ketika mereka sedang berkelahi dengan penuh semangat tadi, tentu saja mereka melihat masuknya hwesio tua ini. Mereka menganggap kebetulan karena mereka memperoleh kesempatan untuk menguji hwesio ini yang sejak dahulu memang belum pernah dapat mereka kalahkan. Dengan menambah kecepatan gerakan dan besarnya tenaga, mereka mengharapkan untuk dapat membuat Siauw-bin-hud tidak mampu memisahkan mereka, bahkan membahayakan keadaan hwesio tua itu sendiri. Akan tetapi, begitu tubuh gendut itu masuk dan kedua tangannya mendorong, ada hawa pukulan yang demikian kuatnya sehingga keduanya tidak sanggup bertahan lagi, masing-masing terdorong ke belakang dan tentu akan terhuyung kalau saja mereka tidak cepat melompat ke belakang untuk melenyapkan tenaga dorong yang amat hebat itu! San-tok lebih dulu dapat menguasai dirinya.

“Ha-ha-ha… memang hanya Siauw-bin-hud yang kiranya mampu menguasai Giok-liong-kiam pada enam tahun yang lalu, dan Siauw-bin- hud pula yang kini akan dapat membongkar rahasia ini dan menemukan kembali Giok-liong-kiam.” Dia lalu melangkah mundur sambil mengipasi tubuhnya yang berkeringat, dan melawan Hai-tok tadi menyadarkannya bahwa dia sudah tua dan bahwa Hai-tok merupakan lawan yang masih seperti dulu, tangguh dan sukar dikalahkan.

Diam-diam Hai-tok masih merasa penasaran terhadap San-tok. Akan tetapi, melihat munculnya Siauw-bin-hud, diapun merasa tidak enak untuk mendesak. Perbuatan Siauw-bin-hudyang melerai tadi saja sudah membayangkan bahwa hwesio tua ini merupakan lawan yang lebih berat dibandingkan San-tok, padahal Racun Gunung itupun masih cukup berat baginya, dan dia tidak terlalu yakin akan dapat mengalahkan kakek kurus itu. Maka diapun menyimpan tongkatnya, menarik napas panjang.

“Sudahlah, akupun harus tahu diri. Enam tahun lagi, kalau aku masih hidup, aku ingin melihat engkau memenuhi janjimu, Siauw-bin-hud. Atau kalau tidak, tentu ada yang mewakili aku.”

Setelah berkata demikian, dia mendengus dan memberi isyarat kepada tujuh orang pemuda yang mengiringkannya. Tujuh orang pemuda itu adalah anak buahnya, atau lebih tepat lagi pelayan-pelayan dan juga kekasih- kekasihnya, karena kakek majikan Pulau Layar ini memang suka sekali dengan pemuda-pemuda remaja yang tampan halus. Semenjak istrinya meninggal dunia, meninggalkan seorang anak perempuan yang kini sudah berusia kurang lebih sebelas tahun, kakek ini mulai suka dengan pemuda-pemuda tampan. Kesukaan memelihara pemuda-pemuda tampan sebagai pengganti selir-selir wanita ini memang banyak dimiliki oleh hartawan-hartawan atau bahkan pejabat-pejabat tinggi di jaman itu.

Setelah rombongan dari Pulau Layar ini pergi, San-tok lalu berlutut dekat murid atau cucu angkatnya yang masih pingsan. Kini wajah Lian Hong tidak begitu kebiruan lagi, mulai putih, dan pernapasannya juga mulai longgar. Beberapa kali dia mengurut leher dan punggung gadis cilik itu, dan akhirnya Lian Hong siuman. Ketika kakek ini mengangkat muka, dia melihat betapa Siauw-bin-hud melakukan hal yang sama terhadap diri Ci Kong, dan pemuda cilik itu siuman lebih dahulu.

“Ha-ha-ha, anak baik, sungguh engkau menerima keuntungan besar sekali. Hayo cepat menghaturkan terima kasih kepada Bu-beng San-kai!” kata Siauw- bin-hud kepada Ci Kong.

Tentu saja anak ini mengerutkan alisnya dengan penasaran. Jelas bahwa kakek itu tadi mencelakakannya melalui penyaluran tenaga dalam, bagaimana sekarang susiok-couwnya bahkan menyuruh dia menghaturkan terima kasih?

“Hong Hong, cepat kauhaturkan terima kasih kepada Siauw-bin-hud yang telah memberi petunjuk padamu!”

Mendengar ini, Lian Hong cemberut, akan tetapi ia tahu bahwa kakeknya yang suka senyum-senyum itu berwatak aneh dan tidak mau dibantah, maka biarpun dengan hati panas, terpaksa iapun melangkah maju dan hampir saja ia bertabrakan dengan Ci Kong yang juga melangkah maju untuk memenuhi perintah susiok-couwnya. Lian Hong tidak mau minggir, dan Ci Kong yang mengalah dan mengelak ke pinggir. Gadis cilik itu agaknya menanti dan sengaja bersikap lambat.

“Locianpwe, saya menghaturkan terima kasih kepada locianpwe dan maafkan kelancangan saya tadi.”

Ci Kong menambah kalimatnya karena anak yang cerdik ini maklum bahwa susiok-couwnya tidak mungkin menyuruhnya berterima kasih kalau tidak ada sesuatu yang menguntungkan dirinya. Karena itulah, di samping menghaturkan terima kasih, sekalian dia minta maaf mengingat betapa tadi dia bersikap lancang dan berani memukul perut kakek itu.

Melihat betapa pemuda cilik itu telah memberi hormat sambil berterima kasih kepad akakek angkatnya, Lian Hong juga memaksa dirinya menjura kepada Siauw-bin-hud, akan tetapi suaranya masih terdengar ketus ketika berkata.

“Locianpwe, saya menghaturkan terima kasih.”

Hanya dua orang kakek itu yang tahu akan perbuatan masing-masing. Siauw-bin-hud tadi dengan cepat mengetahui bahwa biarpun kulit tubuh cucu muridnya kehijauan, namun keracunan itu bukan membahayakan. Sebaliknya malah, kakek kurus yang dijuluki Racun Gunung itu telah mengoperkan tenaga singkang yang hebat kepada Ci Kong, melalui tangan pemuda itu yang tadi menempel di perutnya. Tahulah dia bahwa San-tok juga merasa kagum kepada Ci Kong dan telah berkenan menghadiahi anak itu. Hal ini saja membuktikan bahwa San-tok kini telah memiliki kasih sayang di dalam hatinya, dan juga perbuatan itu menunjukkan iktikad baik terhadap Siauw-lim-pai. Oleh karena itulah, begitu melihat kesempatan terbuka ketika Lian Hong memukulnya, diapun membalas dengan mengoperkan tenaga sakti ke dalam tubuh anak perempuan itu yang dia tahu juga memiliki bakat yang baik sekali.

“Bagus begitu, Hong Hong. Mari kita pergi dari sini. Siauw-bin-hud, enam tahun lagi aku datang menagih janji!” kata San-tok sambil menggandeng tangan Lian Hong, dan merekapun pergi dari tempat itu tanpa menoleh lagi.

Sunyi kembali depan kuil itu setelah semua tamu yang aneh itu pergi. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu, para hwesio lalu kembali melakukan tugas harian mereka masing-masing, akan tetapi semua peristiwa yang terjadi pagi tadi sungguh akan melekat di dalam hati mereka dan sampai lama akan menjadi bahan percakapan mereka di waktu sebelum tidur.

Siauw-bin-hud lalu mengumpulkan keempat orang pimpinan Siauw-lim-si, juga Nam San Losu, Nam Thi Hwesio, dan Ci Kong diajak masuk ke dalam ruangan belakang dimana kakek gendut itu bicara dengan suara sungguh- sungguh walaupun sikapnya masih ramah dan senyumnya tak pernah meninggalkan wajahnya yang bulat.

“Kalian semua tentu tahu bahwa munculnya urusan Giok-liong-kiam ini mengikatkan pinceng pada sebuah tugas, hal yang sama sekali tak pernah pinceng duga-duga. Akan tetapi, segala sesuatu memang sudah digariskan dan kita hanya tinggal melaksanakannya saja. Ada orang mempergunakan nama pinceng untuk merampas pusaka itu. Jelaslah bahwa maksudnya, selain mengalihkan perhatian agar dia dapat menyimpan pusaka itu dengan aman, juga dia meminjam nama Siauw-lim-pai dengan maksud mencari keamanan dan juga mungkin saja untuk mengadu domba. Nah, tidak ada lain pilihan lagi, pinceng sendiri harus pergi mencari benda yang menimbulkan keributan itu.”

“Maaf, susiok. Apakah tidak lebih baik kalau susiok mengutus murid-murid saja untuk melakukan penyelidikan, mencari dan merampas kembali pusaka itu?”

Siauw-bin-hud tersenyum, akan tetapi menggelengkan kepalanya. “Pinceng dapat menduga bahwa orang yang merampas pedang itu tentu

seorang yang Iihai sekali. Buktinya, orang-orang pandai seperti San-tok dan Hai-tok saja tidak mampu mencarinya dan dapat ditipu sehingga mereka mencari ke sini. Tidak, harus pinceng sendiri yang mencarinya. Bukankah dia memakai nama pinceng untuk perbuatannya itu? Pinceng sendiri yang akan pergi, dan pinceng hanya minta ditemani oleh Ci Kong ini saja.”

Nam San Losu terkejut, akan tetapi juga girang. Hal itu berarti bahwa muridnya itu akan memperoleh kemajuan yang luar biasa. Di bawah bimbingan susioknya sendiri yang demikian sakti!

“Akan tetapi, dia masih kanak-kanak, apakah tidak hanya akan menjadi beban dan gangguan bagi susiok?” katanya.

“Justru karena dia masih kanak-kanak, maka akan cocok untuk pergi menemani pinceng. Ci Kong, maukah engkau menemani pinceng untuk mencari pusaka yang diperebutkan itu?”

Tentu saja Ci Kong merasa girang bukan main. Dia sudah maklum bahwa susiok-couwnya ini memiliki kesaktian luar biasa, maka kalau dia boleh menemani kakek itu berarti dia akan dapat memperoleh banyak petunjuk dalam ilmu silat tinggi. Dia cepat berlutut di depan kakek itu.

“Teecu akan merasa girang dapat melayani susiok-couw.”

“Ha-ha-ha, anak cerdik. Kalau begitu bersiaplah, sekarang juga kita berangkat.”

Semua orang terkejut mendengar rencana pemberangkatannya yang tiba- tiba ini, akan tetapi karena mereka semua sudah tahu akan watak yang luar biasa anehnya dari Siauw-bin-hud, mereka tidak berani membantah. Dan tak lama kemudian Siauw-bin-hud nampak berjalan keluar dari kuil Siauw-lim-si, menggandeng tangan Ci Kong yang menggendong buntalan besar berisi pakaiannya sendiri dan pakaian hwesio itu, diantar oleh para hwesio sampai di lereng bukit.

Kota Kan-cou di Propinsi Kiang-si merupakan kota yang cukup besar dan ramai, karena kota itu juga menjadi kota pelabuhan perahu-perahu yang melayari Sungai Kan-kiang. Karena Sungai Kan-kiang itu mengalir ke utara, maka banyaklah tukang perahu sibuk melayarkan para pedagang yang mengirim barang-barang ke daerah pedalaman, ke kota-kota besar di bagian utara. Memang pada waktu itu, sarana pengangkutan barang maupun orang yang paling cepat, praktis dan murah adalah melalui sungai.

Juga kota Kan-cou menjadi semakin ramai dan penuh manusia karena kebanjiran pengungsi dari barat ketika terjadi pemberontakan-pemberontakan di Hunan, baik pengungsi orang-orang kaya yang menyelamatkan harta benda mereka, maupun pengungsi-pengungsi miskin yang menyelamatkan nyawa mereka. Bertambahnya toko-toko yang dibuka oleh para pengungsi kaya, makin meramaikan kota itu, akan tetapi, bertambah pula pengemis dan gelandangan yang tidak mempunyai rumah dan tidak mempunyai pekerjaan pula. Orang- orang berebutan mencari pekerjaan, dan karena banyaknya pengangguran, tak dapat dihindarkan lagi banyak pula terjadi kejahatan-kejahatan.

Tak dapat disangkal pula bahwa segala macam perbuatan jahat seperti pencurian, penjambretan, pencopetan, bahkan perampokan, timbul dari keadaan yang dicengkeram kemiskinan. Orang-orang yang sudah tersudut karena tidak memiliki pekerjaan, atau orang-orang pemalas yang tidak suka bekerja dan ingin mencari uang mudah, atau orang-orang yang tidak merasa puas dengan keadaannya, condong untruk mudah terbujuk dan menjadi pelaku-pelaku kejahatan. Hal ini bukan berarti bahwa orang kaya raya tidak mau melakukan kejahatan. Setidaknya, tidak mau melakukan pencurian. Akan tetapi orang kaya raya sekalipun, kalau batinnya memang tamak dan tidak puas dengan keadaannya dan selalu ingin lebih dari pada yang dimilikinya, condong pula untuk melakukan kejahatan yang lain bentuknya akan tetapi sama saja sifatnya, yaitu demi kesenangan sendiri tanpa memperdulikan bahwa perbuatannya itu merugikan orang lain. Mereka itu melepas uang panas dengan bunga tinggi, menindas para petani dan buruh, mempermainkan perdagangan demi keuntungan mereka, bermanipulasi dan korupsi, dan sebagainya.

Uang atau harta benda memang merupakan sarana hidup, satu di antara persyaratan untuk hidup bahagia, dan mencari uang bahkan merupakan suatu kaharusan yang mutlak kalau kita ingin mempunyai sandang pangan dan papan yang cukup. Akan tetapi pengejarannya terhadap uang itulah yang amat berbahaya. Pengejaran yang dilakukan karena kebutuhan masih tidak begitu berbahaya, akan tetapi pengejaran yang didorong oleh kelobaan, oleh nafsu ingin meraih keadaan yang dianggap lebih baik dari pada keadaan yang ada sekarang, amat berbahaya dan condong untuk menjerumuskan kita ke dalam perbuatan jahat, merugikan orang lain. Seperti orang yang mengejar-ngejar sesuatu di depan sana, matanya hanya tertuju kepada yang dikejarnya sehingga kalau ada orang lain berada di depannya, dianggap penghalang dan dilompati, bahkan mungkin ditendangnya untuk dapat mencapai apa yang dikejarnya.

Pengejaran inilah yang perlu kita amati pada diri sendiri, pengejaran uang menimbulkan pencurian, penipuan, korupsi dan sebagainya. Pengejaran kedudukan menimbulkan jagal-jegalan, perkelahian bahkan perang. Pengejaran kesenangan sex menimbulkan pelacuran, perjinahan. Kesenangan apapun juga bentuknya di dunia ini, kalau sudah menguasai kita, dapat saja menjadi pendorong agar kita mengejar-ngejar, menjadi suatu tujuan dan biasanya, tujuan menghalalkan segala cara bagi orang-orang yang sudah buta akan kesadaran. Kita hidup berhak untuk menikmati kesenangan, akan tetapi justeru pengejaran akan keadaan yang lebih dari pada sekarang itulah yang melenyapkan kesenangan yang ada pada saat ini. Mata kita selalu tertuju ke depan, kepada kesenangan-kesenangan yang belum ada, kepada bayangan- bayangan sehingga kita tidak melihat lagi keindahan apa yang ada pada kita.

Pada hari itu sudah ramai di pusat kota Kan-cou. Apalagi di pasar-pasar, para pedagang sudah memamerkan dagangannya dan para pembelanja sudah hilir mudik mencari-cari barang-barang yang dibutuhkan. Ramai suara para pedagang menawarkan dagangannya, memuji barang-barang dagangannya dan berusaha menarik orang-orang yang berlalu lalang agar berbelanja di tempatnya. Ada pula pengemis-pengemis tua muda yang berjalan-jalan, menggunakan segala cara untuk menarik perhatian dan kasihan orang, minta- minta dengan tangan diulurkan, dengan suara yang memelas. Lucunya, ada pula yang pura-pura timpang, pura-pura buta. Ada pula anak-anak, dari usia lima tahun sampai yang remaja berusia belasan tahun, berkeliaran, minta- minta atau mencari barang-barang yang dapat dimakan, di tempat-tempat sampah, kadang-kadang berebutan dengan anjing-anjing yang banyak pula berkeliaran di situ. Bau sayur busuk, ikan dan tanah lumpur menyesakkan hidung, akan tetapi agaknya bau campur aduk seperti ini terasa sedap oleh mereka yang sudah terbiasa.