-->

Pedang Naga Kemala Jilid 02

Jilid 02

Ciu Wan-gwe amat sayang kepada puteri bungsunya ini. Ciu Kui Eng, demikian nama anak itu, memang amat cerdas dan menyenangkan hati, selain jelita dan manis, juga biarpun disayang tidak menjadi manja. Yang mengagumkan hati ayahnya adalah karena anak ini selalu bersikap berani dan tegas, bahkan bijaksana sekali.

“Dia mengejekku dan bersikap memberontak. Itu tulisannya.” Ciu Wan- gwe menunjuk kearah kertas yang sudah terobek menjadi dua potong.

Kui Eng mengambil kertas itu, dan dengan alis berkerut dibacanya sajak itu. Biarpun baru berusia enam tahun, anak ini memang cerdik dan sudah dapat menghafal banyak sekali kata-kata tulisan, sehingga sajak itu tidak terlalu sukar baginya untuk dapat dibacanya dengan mengerti. Sehabis membaca sajak itu, ia lalu menghampiri Tan Siucai yang sudah bangkit duduk di atas lantai karena agaknya kemunculan anak perempuan itu membuat Ma-ciangkun juga menyingkirkan injakan kakinya.

“Orang tua, tulisanmu bagus sekali, juga sajakmu bagus dan menggambarkan kenyataan. Akan tetapi engkau lancang sekali berani menulis sajak seperti ini di depan ayah, padahal engkau tahu bahwa ayah adalah seorang pedagang madat. Nah, pergilah! Dan dia itu siapa?”

Ia menuding ke arah Ci Kong yang masih berlutut. Tan Siucai memandang anak perempuan itu dengan heran dan kagum, sungguh anak ini memiliki sikap yang penuh wibawa, dan dari gerak-gerik dan ucapannya, mudah diketahui bahwa ia seorang anak yang cerdik sekali.

“Dia adalah Ci Kong, anakku...” jawabnya lirih, karena seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit, terutama sekali dada kanannya yang tadi terkena tendangan kaki Ma Cek Lung.

“Aku benci melihat anak laki-laki merengek dan meratap minta ampun!”

Tiba-tiba Kui Eng berkata sambil memandang kepada Ci Kong. Ci Kong menoleh dan mereka saling pandang. Ci Kong mengerutkan alisnya dan sepasang matanya seperti mengeluarkan api.

“Aku mintakan ampun untuk ayah, bukan untuk diriku sendiri!” katanya, seketus suara Ciu Kui Eng. Sejenak mereka saling panadang dan Kui Eng lalu membalikkan tubuh, menghampiri ayahnya.

“Ayah, biarkan mereka pergi.” “Pergilah!”

Ma Cek Lung menggerakkan kakinya dan kembali kakinya menendang rusuk kakek itu. Terdengar suara ‘bukk!’, dan tubuh sasterawan itu terlempar, terbanting dan dari mulutnya keluar darah. Tendangan itu saja sedikitnya meretakkan dua tiga batang tulang rusuknya.

“Engkau telah nenimbulkan kekacauan dan engkau kuanggap pemberontak. Kau harus pergi meninggalkan dusun ini, atau kau akan kutangkap dan kumasukkan penjara!” kata Ma Cek Lung. Ci Kong membantu ayahnya bangkit berdiri, mengumpulkan alat-alat tulis dan sambil memapah ayahnya, anak itu lalu mengajak cepat-cepat pergi meninggalkan halaman gedung keluarga Ciu.

Setelah tiba di rumahnya, Tan Siucai jatuh sakit. Tabib yang memeriksanya mengatakan bahwa ada empat tulang rusuknya yang patah dan retak-retak, dan selain itu, Tan Siucai juga menderita luka dalam yang cukup parah dan yang mengharuskannya tinggal di atas pembaringan selama sedikitnya satu bulan! Tan Siucai teringat akan ancaman Ma-ciangkun. Dia harus pergi dari Tung-kang. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, mana mungkin dia dapat pergi? Berjalan kaki jauh. Tidak mungkin. Menyewa kereta lebih tidak mungkin lagi, karena dia tidak punya uang.

Dipanggilnya putranya pada keesokan harinya setelah semalam suntuk dia tidak tidur dan mempertimbangkan masak-masak apa yang harus dilakukan.

“Dengar baik-baik. Kota Nan-ning terletak di sebelah barat, di seberang sungai Si-kiang. Engkau harus menyeberang sungai itu dan menuju ke barat. Dengan bertanya-tanya, tentu engkau akan bisa menemukan kota Nan-ning.”

“Tapi kenapa aku harus pergi kesana sendiri saja, ayah? Engkau sakit, aku harus merawatmu. Kalau ayah takut akan ancaman perwira itu, mari aku antar ayah pergi meninggalkan dusun ini.”

“Tidak, anakku, dan jangan membantah. Semua sudah kupikirkan baik- baik. Kau pergilah ke Nan-ning, dan disana engkau carilah rumah seorang saudara angkatku. Ayahmu ini hidup sebatangkara, hanya dengan engkau seorang, akan tetapi ada seorang saudara angkatku yang bernama Sie Kian. Dia membuka toko obat di kota Nan-ning dan kaucarilah dia, serahkan surat ini kepadanya. Dia yang akan mengatur semuanya, menolong kita pergi dari sini kalau perlu dan... dan dialah satu-satunya orang yang dapat kauharapkan bantuannya kalau aku... tidak dapat menolongmu seperti keadaanku sekarang. Nah, cepat kau berkemas, Ci Kong.”

Ci kong tidak banyak membantah lagi. Dia tahu bahwa keputusan yang diambil ayahnya itu tentulah yang terbaik untuk mereka. Dan dia dapat menduga bahwa keadaan memang gawat dan tentu ayahnya sudah memperhitungkan segalanya, maka diapun tidak ragu-ragu lagi walaupun ada juga rasa bingung dalam hatinya menghadapi perjalanan jauh ke tempat yang selamanya belum pernah diketahuinya itu.

Tidak banyak bekal yang dapat diberikan oleh Tan Siucai kepada puteranya, akan tetapi yang dia serahkan kepada Ci Kong adalah seluruh uang yang dimilikinya.

Setelah siap, Ci Kong berlutut di dekat dipan ayahnya dan sasterawan itu menahan keluarnya air matanya. Tidak, dia tidak boleh memperlihatkan kelemahan di depan puteranya yang menghadapi perjalanan sukar dan jauh. Dia mengulur tangan menyentuh kepala Ci Kong, dibelainya rambut di kepala itu.

“Anakku yang baik, aku menyesal sekali tidak mampu memberi kehidupan yang lebih baik untukmu, bahkan kini terpaksa engkau akan mengalami kesengsaraan dengan melakukan perjalanan jauh yang melelahkan. Akan tetapi aku yakin bahwa engkau anakku yang baik, pandai membawa diri dan berani menghadapi segala macam kesukaran. Pergilah, anakku, dan carilah Sie Kian sampai dapat. Dialah satu-satunya orang yang boleh kauharapkan, boleh kita harapkan, dan jangan sampai hilang di jalan suratku untuknya itu.”

“Baiklah, ayah,  akan  kulaksanakan  semua  perintah  ayah.  Harap  ayah pandai-pandai menjaga diri dan jangan lupa minum obat yang telah diberi oleh sinshe kemarin.”

Anak itu merasa bersedih dan terharu sekali harus meninggalkan ayahnya dalam keadaan sakit seperti itu, namun dia mengeraskan hatinya dan menahan diri agar tidak menangis.

Baru setelah dia meninggalkan rumah, sambil berjalan Ci Kong menangis, mengusapi air mata yang menuruni sepanjang kedua pipinya. Dia tidak tahu betapa pada saat itu, setelah dia pergi, ayahnya juga mengusapi air mata dengan ujung lengan bajunya.

Tentu saja hati orang tua ini merasa hancur membayangkan betapa terpaksa anaknya yang masih begitu kecil harus melakukan perjalanan sukar seorang diri, bahkan mungkin anaknya mulai sekarang akan hidup sebatang kara di dunia yang kejam ini. Dia sudah mengambil keputusan. Sakitnya takkan sembuh, ini dia dapat merasakan benar. Biarpun tabib itu hendak menyembunyikan kenyataan, dia sendiri dapat merasakan. Apalagi dia tidak mempunyai cukup uang untuk biaya pengobatan dirinya sampai sembuh, kalau hal itu mungkin. Dan diapun teringat akan ancaman Ma-ciangkun yang dia tahu bukan merupakan gertakan kosong belaka. Sekali waktu ancaman perwira gendut itu tentu akan dilaksanakan, dan dia tidak ingin puteranya ikut tertangkap nanti. Ci Kong harus bebas dan satu-satunya jalan hanyalah lebih dulu pergi secara diam-diam dari Tung-kang.

Syukur kalau puteranya dapat bertemu dengan Sie Kian, saudara angkatnya di Nan-ning. Andaikata tidak dapat jumpa, setidaknya Ci Kong sudah pergi jauh dari Tung-kang dan aman dari ancaman malapetaka yang datang dari Ciu Wan-gwe dan Ma-ciangkun.

Kini keputusannya telah tetap. Dia tidak boleh mati konyol begitu saja. Sehari itu, juga pada malam harinya, Tan Siucai tiada hentinya menulis, dengan huruf besar-besar di atas kertas bertumpuktumpuk sampai habis kertas- kertasnya baru dia berhenti. Kemudian, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia membawa kertas-kertas itu, berjalan terhuyung-huyung, menuju ke pasar yang berada di tengah-tengah dusun.

Kemudian, di tempat yang belum begitu ramai karena masih amat pagi itu, Tan Siucai menempel-nempelkan semua kertas yang sudah ditulisinya itu di atas papan-papan, pada dinding-dinding toko, pada batang-batang pohon. Tentu saja hal ini menarik perhatian orang, dan sebentar saja tempat-tempat itu penuh dengan kerumunan orang, dan dapat dibayangkan betapa kagetnya semua orang ketika membaca tulisan-tulisan Tan Siucai.

Mereka saling pandang dan saling bertanya-tanya, apakah sasterawan yang mereka hormati dan kagumi tulisannya itu kini sudah menjadi gila! Tulisan-tulisan itu adalah protes-protes terhadap para pejabat, dan protes akan adanya madat yang meracuni bangsanya. Di antaranya terdapat kalimat keras. “Para pendekar… dimana kegagahan kalian?  Apakah kalian  membiarkan saja bangsa kita menjadi pemadat-pemadat lemah yang mudah dihina orang?”

Dan ada lagi kecaman-kecaman keras terhadap para pejabat.

“Apakah para pembesar mengorbankan rakyat hanya untuk memenuhi kantong hasil perdagangan candu?”

Dan banyak macam lagi kata-kata yang mengejutkan semua orang karena kata-kata itu jelas merupakan protes keras dan dapat dianggap sebagai mengandung hasutan-hasutan pemberontakan!

Banyak orang yang sudah mengenal Tan Siucai memberi nasihat agar sasterawan itu menyingkirkan semua tulisan itu. Akan tetapi hal ini membuat Tan Siucai marah dan dia berkata lantang.

“Kalau bangsa kita sudah begini pengecut, apa yang dapat diharapkan?

Anak cucu kita akan menjadi hamba-hamba madat yang hina!”

Makin siang, makin banyak orang berkerumun dan tak lama kemudian, tentu saja pembesar setempat mendengarnya dan Tan Siucai ditangkap! Ketika Ciu Wan-gwe mendengar akan hal ini, cepat dia menghubungi Ma Cek Lung yang segera mengirim pasukan untuk mengambil alih tawanan dari dusun Tung-kang itu. Sebagai seorang tawanan berat, seorang yang dicap sebagai pemberontak, Tan Siucai lalu dibawa ke Kanton sebagai seorang tawanan yang diborgol kaki tangannya, diperlakukan kasar dan dijaga ketat seolah-olah dia seorang yang amat berbahaya! Padahal, napas sasterawan itu sudah empas empis dan sukar sekali dia menggerakkan tubuhnya, karena tarikan-tarikan dan pukulan-pukulan, serta perlakuan kasar yang didapatnya dari para perajurit ketika dia diseret, membuat luka-luka di tubuhnya semakin parah.

Dan apa yang diduga oleh kebanyakan orangpun terjadilah. Tan Siucai meninggal dunia di dalam tahanan tanpa memperoleh kesempatan membela diri di depan pengadilan! Banyak orang tahu bahwa di balik kematian Tan Siucai ini tentu tersembunyi rahasia.

Siapapun maklum akan kelihaian sasterawan itu dalam kesusasteraan, dan andaikata sasterawan itu dihadapkan di pengadilan, tentu akan banyak yang dibicarakan, banyak yang akan dibongkarnya mengenai kebejatan-kebejatan yang terjadi. Dan hal itu amatlah berbahaya bagi para pejabat setempat. Lebih aman dan mudah kalau sasterawan yang memang sudah menderita luka dalam yang parah itu mati saja sebagai seorang tahanan.

Pada waktu itu, yang menjadi kaisar dari kerajaan Ceng-tiauw atau kerajaan Mancu adalah Kaisar Tao Kuang, seorang kaisar yang tidak berhasil mempertahankan kejayaan Kerajaan Mancu yang selama puluhan tahun dibina oleh mendiang Kaisar Kian Liong sehingga menjadi besar dan kuat.

Semenjak Kaisar Kian Liong meninggal dan singgasana diserahkan kepada Kaisar Cia Cing (1796-1820) sampai kini diduduki Kaisar Tao Kuang, putera Kaisar Cia Cing, Kerajaan Ceng-tiauw terus merosot. Pemberontakan terjadi dimana-mana, para pembesar mabok kekayaan dan kedudukan, terjadi perebutan kekuasaan di antara para pembesar, dan penindasan kaum pembesar terhadap rakyat jelata untuk menambah isi gudang kekayaan mereka, korupsi terjadi dimana-mana.

Di bawah pemerintahan Kaisar Cia Cing setelah Kaisar Kian Liong meninggal, rakyat mulai mengenal madat. Mula-mula madat itu didatangkan oleh para pedagang dari India, karena memang dari sanalah datangnya madat itu. Setelah banyak orang mencobanya dan mulai ketagihan, perdagangan madat ini menjadi semakin subur.

Kebutuhan akan madat makin hebat, orang-orang yang ketagihan semakin banyak dan mulailah benda yang amat berbahaya itu mengalir dalam jumlah besar ke Cina. Pada permulaan abad kesembilan belas itulah, Persatuan Dagang India Timur (East India Company) milik orang-orang Inggeris, melihat kesempatan untuk mengeduk keuntungan yang amat besar. Mereka lalu bersekutu dengan para pejabat pemerintah Ceng. Dan sebentar saja, dengan jalan penyuapan dan penyogokan, kaum pedagang Inggeris itu berhasil menguasai seluruh pejabat pemerintah di Kanton, dari gubernurnya sampai kepada perajurit-perajurit petugas keamanan.

Pemerintah Kaisar Tao Kuang sama sekali tidak mengijinkan peredaran madat itu dan mereka sudah tahu akan bahayanya. Akan tetapi, di Kanton terjadi penyelundupan-penyelundupan atau penyuapan-penyuapan dan dengan cara bagaimanapun juga, orang-orang berkulit putih itu berhasil memasukkan madat dalam jumlah yang luar biasa besarnya ke daratan Cina. Melalui madat, kaum kulit putih itu menghisap seluruh kekayaan Cina. Dan melihat sukses yang diperoleh orang-orang Inggeris, maka bangsa kulit putih lainnya seperti Amerika, Portugis dan Belanda, juga tidak mau tinggal diam, dan merekapun mengharapkan bagian sehingga perdagangan madat menjadi semakin ramai. Orang-orang kulit putih itu mengusap-usap perut gendut dan kantong padat, meninggalkan rakyat Cina menjadi kurus kering karena kehabisan kekayaan dan juga karena keracunan madat.

Cerita ini terjadi pada jaman itu, selagi madat merajalela di Cina, dan pusatnya berada di Kanton, dimana terdapat banyak kantor-kantor perdagangan orang kulit putih.

Tidaklah mengherankan kalau Ciu Lok Tai menjadi kaya raya karena dia merupakan seorang diantara para pedagang madat yang menerima madat dari orang-orang kulit putih. Dan tentu saja dia mempunyai hubungan erat dengan para pejabat, termasuk Ma Cek Lung yang menjadi komandan pasukan keamanan di Kanton. Dan tidak mengherankan pula kalau Tan Siucai mati di dalam kamar tahanan karena dia berani menyinggung masalah yang amat peka itu, soal peredaran madat yang tentu saja dianggap membahayakan kedudukan para pembesar yang menjadi makmur karena perdagangan madat.

Pada waktu itu, orang-orang kulit putih tidak memperoleh kebebasan gerak di daratan Cina. Mereka hanya boleh datang di dua tempat saja. Yaitu pertama di Makao yang menjadi pusat orang-orang portugis berpangkal, sedangkan kota ke dua adalah Kanton. Agaknya, setelah ribuan tahun lamanya mempunyai pemerintahan feudal dan keluarga Kaisar selalu menganggap derajatnya amat tinggi, jauh lebih tinggi dari derajat manusia biasa, bahkan Kaisar menganggap dirinya sebagai utusan Tuhan, maka setelah bangsa kulit putih mulai mengadakan hubungan dengan Cina.

Kaisarpun memandang mereka itu atau bangsa-bangsa asing pada umumnya sebagai bangsa biadab. Hal ini mungkin tadinya timbul karena di luar Cina banyak tinggal suku-suku bangsa yang liar dan yang selalu membikin kekacauan, menyerbu ke pedalaman sehingga timbul pandangan bahwa bangsa yang berada di luar Cina adalah bangsa liar atau bangsa biadab. Pandangan yang besar sekali kemungkinan timbul karena kecongkakan pemerintahannya sebagai akibat sistim perbedaan kelas yang menyolok dari keluarga Kaisar ini, kemudian menjalar ke seluruh rakyat sehingga timbul semacam penyakit dalam batin masyarakat Cina untuk menganggap bangsa apapun di luar Cina adalah bangsa biadab.

Kecongkakan dan pemujaan diri sendiri yang berlebihan ini menghancurkan Cina sendiri. Karena congkak, mereka tidak mau tahu bahwa bangsa-bangsa biadab yang mereka pandang rendah itu telah memperoleh kemajuan pesat sekali dan sama sekali tidak dapat dinamakan bangsa yang lebih bodoh, lebih sederhana, atau lebih rendah dari pada mereka. Bahkan untuk mengurus bangsa asingpun oleh pemerintah dinamakan Kantor Urusan Bangsa-bangsa biadab!

Kaisar keturunan  Bangsa  Mancu,  yang  sebelum  menguasai  Cina  juga dianggap bangsa biadab oleh pribumi daratan Cina sendiri, agaknya sengaja mengangkat bangsanya agar terlupa bahwa mereka adalah suku bangsa di luar tapal batas Cina dan hendak melebur diri sendiri dengan pribumi. Pemerintah mengadakan peraturan yang amat menghina bangsa asing. Bangsa asing dari manapun juga yang hendak menghadap Kaisar harus tunggu berbulan lamanya dan diperlakukan sebagai utusan negara yang hendak menyatakan tunduk dan setia kepada Kaisar. Mereka diharuskan menjura dengan hormat kepada kaisar. Kalau tidak mau melakukan penghormatan ini, mereka tidak akan diterima dan akibatnya mereka tidak boleh berdagang, apalagi tinggal di Cina.

Pemerintah juga melarang orang-orang asing melakukan perdagangan langsung ke pasar-pasar, melainkan harus berhubungan dengan badan yang ditunjuk pemerintah khusus melayani mereka, dan badan atau orang ini disebut Co-hong. Akibatnya tentu saja ada persekutuan antara orang-orang asing dengan Cohong-cohong ini, yang meluas menjadi kerja sama dengan para pejabat yang menerima suapan.

Pemberontakan yang merajalela di seluruh Tiongkok membuat pemerintah Kaisar Tao Kuang menjadi semakin lemah. Sementara itu, orang-orang Eropa yang datang ke daratan Cina bukan lagi perantau-perantau seperti abad-abad yang lalu, melainkan orang-orang yang mewakili negara-negara yang mulai berkembang menjadi negara yang kuat.

Akan tetapi, pada permulaan abad ke sembilan belas itu, Cina tidak membutuhkan baran-barang dari Eropa. Kemudian, setelah orang-orang kulit putih melihat kelemahan rakyat Cina yang mulai ketagihan candu, mereka melihat kesempatan baik sekali untuk mengeduk keuntungan sebesarnya, dan mulailah mereka memasukkan madat secara besar-besaran, madat yang mereka datangkan dari India.

Dan madat ini, seperti yang digambarkan oleh Tan Siucai, memang benar- benar merupakan malapetaka bagi rakyat Cina. Dalam waktu beberapa tahun saja, racun itu bukan saja terdapat dalam rumah-rumah madat umum dimana para pecandu boleh membeli dan menghisap madat, akan tetapi juga sudah menyusup ke rumah-rumah para hartawan dan bangsawan, bahkan banyak sekali pendekar-pendekar gagah perkasa tunduk dan lumpuh oleh pengaruh madat, para pejabat juga menjadi hambanya.

Demikianlah gambaran sekilas tentang keadaan di jaman itu, dan mari kita ikuti perjalanan Tan Ci Kong, putera tunggal Tan Siucai yang bernasib malang itu. Pesan ayahnya masih terngiang di telinganya ketika akhirnya dia tiba di tepi sungai Si-kiang, menyusuri tepi sungai sebelah utara menuju ke barat untuk mencari tempat penyeberangan. Air sungai itu penuh dan arusnya deras sekali dan tidak nampak ada perahu disitu. Di antara pesan ayahnya yang paling membingungkan adalah, jangan sekali-kali engkau kembali ke Tung- kang sebelum ada berita dariku. Kelak aku akan menyusulmu ke Nan-ning. Jadi aku tidak akan melihat dusun tempat kelahiranku lagi, pikir Ci Kong ketika dia berjalan dengan menyusuri sungai.

Melakukan perjalanan di waktu itu tak dapat dibilang aman, tidak boleh membawa senjata dan tanpa senjata di tangan, tentu saja orang mudah menjadi korban keganasan perampok-perampok yang bersenjata. Akan tetapi, siapakah mau menganggu seorang anak laki-laki kecil, apa lagi kalau dia tidak memakai pakaian bagus dan tidak membekal uang ?

Setelah menemukan perahu yang suka membawanya ke seberang dan melanjutkan perjalanannya yang amat melelahkan, berulah seminggu kemudian Ci Kong tiba di kota Nan-ning. Kota ini tidak begitu besar dan tidak sukar bagi Ci Kong untuk menemukan toko

Obat milik orang yang bernama Sie Kian. Dia tiba di toko itu setelah hari mulai gelap dan toko itu sudah tutup, hanya daun pintunya saja yang masih terbuka. Sebuah toko sederhana saja, tidak terlalu besar. Ketika Ci Kong mengetuk daun pintu perlahan, muncullah seorang laki-laki berusia limapuluh tahun lebih, pakaiannya seperti seorang pelajar dengan lengan baju yang lebar sekali. Biarpun usianya baru limapuluh tahun lebih, akan tetapi kepala orang itu sudah putih, semua rambutnya sudah menjadi uban. Wajahnya juga bahwa hidupnya lebih membayangkan banyak menderita dari pada bersuka ria. Pandang matanya sayu dan gerak geriknya halus.

“Anak baik, apakah engkau hendak membeli Obat? Ataukah ada yang sakit?” Tanya kakek itu denga sikap ramah.

Ci Kong menggeleng kepala.

“Tidak, paman… saya mencari seorang paman yang bernama Sie Kian dan kata orang tinggal di toko Obat ini.

Ci Kong memandang penuh selidik karena dia sudah menduga bahwa agaknya orang inilah sahabat ayahnya itu.

“Sie Kian? Ah, aku sendirilah orangnya. Engkau anak kecil ada urusan apakah mencari aku? Nampaknya kau lelah sekali.”

Bukan main girangnya hati Ci Kong ketika orang itu mengaku bernama Sie Kian, orang yang dicarinya. Segera dia menjatuhkan diri berlutut sebagai penghormatan.

“Paman Sie Kian, saya datang diutus oleh ayah saya yang bernama Tan Seng...” katanya dengan suara serak karena hatinya merasa terharu sekali.

Orang itu terbelalak.

“Apa? Kaumaksudkan Tan Siucai... yang tinggal di Tung-kang?” “Duduklah. Taruh buntalanmu di atas meja dan keluarkan surat itu. Ingin

sekali aku tahu apa isi surat ayahmu,” kata Sie Kian, masih terheran-heran melihat anak sekecil ini datang sendirian saja dari tempat yang begitu jauhnya. Hatinya merasa tidak enak. Apakah gerangan yang terjadi dengan   diri kakak angkatnya itu? Sudah hampir sepuluh tahun mereka tidak saling mengadakan hubungan, dan dia tidak tahu sama sekali bagaimana keadaan

sasterawan itu.

Setelah dia membaca surat Tan Siucai yang diterimanya dari Ci Kong, wajah orang she Sie itu berobah agak pucat.

“Ah... ahhh...!” berkali-kali dia mengeluh, kemudian dia menyimpan surat itu di saku jubahnya.

“Anak baik, namamu Tan Ci Kong?” “Benar paman.”

“Engkau tinggallah disini bersamaku, engkau bisa membantuku. Besok aku akan menyuruh seorang teman untuk pergi ke dusunmu dan menyelidiki tentang keadaan ayahmu. Kalau mungkin, aku akan membawa ayahmu itu ke sini agar dapat kurawat dia sampai sembuh.”

Tentu saja hati anak kecil itu menjadi girang sekali dan diapun cepat menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sie Kian.

“Terima kasih, paman… aku Tan Ci Kong selama hidup tidak akan lupa kepada budi paman ini.”

Sie Kian merangkul anak itu dengan hati terharu dan diam-diam dia merasa kagum. Anak kecil ini bukan hanya tabah dan pemberani sekali, tahan menderita dan  dapat melakukan perjalanan demikian jauhnya sendirian saja, akan tetapi juga baik budi dan berkelakuan sopan.

Mulai hari itu, Ci Kong membantu paman angkatnya yang tidak mempunyai pelayan. Dia membersihkan rumah, mencuci pakaian, mencari air, masak nasi dan air, juga belajar membuat masakan dari pamannya. Sementara itu Sie Kiam mengutus seorang teman untuk melakukan penyelidikan ke Tung-kang. Seminggu kemudian, teman itu datang kembali dan menyampaikan kabar yang amat mengejutkan hati Sie Kian, bahwa Tan Siucai telah tewas didalam tahanan setelah ditangkap karena menempelkan tulisan-tulisan yang dianggap memberontak!

Sie Kian segera menutup tokonya dan membawa Ci Kong ke dalam kamarnya. Di situ dia merangkul anak itu, tak mampu mengeluarkan kata-kata, dan orang yang bertubuh agak gemuk pendek dan biasanya amat peramah dan halus budi ini menangis!

Ci Kong adalah seorang anak yang amat cerdik. Melihat sikap pamannya, hatinya terasa perih seperti tertusuk.

“Paman Sie Kian, apakah yang telah terjadi dengan ayahku?”

Mendengar pertanyaan ini, Sie Kian makin mengguguk tangisnya dan dia mendekap kepala anak itu di dadanya. Selama ini dia hidup menyepi seorang diri, tanpa sanak tanpa teman, dan segera tiba-tiba dia dipertemukan dengan anak kakak angkatnya ini, akan tetapi ternyata nasib anak ini demikian buruknya.

“Paman, apakah ayah... ayah meninggal dunia?”

Sie Kian terkejut dan memegang kedua pundak kecil itu, melalui air matanya diamemandang wajah itu dengan heran. Ci Kong tidak menangis, akan tetapi kedua matanya juga basah air mata.

“Paman, ketika aku disuruh pergi oleh ayah, dia terluka parah dan hatiku sudah tidak enak. Sikap ayah seolah-olah kami tidak akan saling bertemu kembali.”

Sie Kian menelan ludahnya dan mengangguk. Ci Kong menjatuhkan dirinya berlutut, tidak menangis hanya menundukkan mukanya dan hanya beberapa butir air mata yang menuruni kedua pipinya. Anak itu mengepal kedua tangannya yang kecil. Hening sejenak, yang terdengar hanya tarikan napas panjang berkali-kali dari Sie Kian. Kemudian terdengar suara Ci Kong, lirih dan agak gemetar.

“Paman Sie Kian, bagaimanakah meninggalnya ayahku? Dan siapakah yang mengurus penguburannya?”

Dengan hati-hati dan perlahan-lahan, Sie Kian lalu menceritakan apa yang telah didengarnya dari teman yang disuruhnya melakukan penyelidikan ke Tung-kang itu, betapa ayah anak itu dalam keadaan sakit menempelkan tulisan-tulisan yang menentang madat dan mengutuk para pembesar dan pedagang madat, sehingga dia dianggap pemberontak, ditangkap dan karena keadaannya memang payah, dia meninggal dalam tahanan.

“Ayahmu sungguh keras hati dan nekat,” Sie Kian berkata.

“Dalam keadaan masih sakit berat, dia bahkan berani bertindak demikian jauh sehingga menimbulkan keributan. Mungkin ketika ditangkap, dia berada dalam keadaan yang sudah menghebat sakitnya akibat luka-lukanya dan dia meninggal di dalam kamar tahanan.”

“Ayah hebat!” Tiba-tiba Ci Kong berkata sambil mengepal tinju.

“Biarpun lemah dan sakit, ayah berani menentang apa yang dianggapnya tidak benar, kalau sudah besar, akupun ingin seperti ayah!”

Sie Kian memandang kagum dan tiba-tiba ada sebuah pikiran menyelinap di benaknya.

“Ci Kong, dengar baik-baik. Peristiwa kematian ayahmu mendorongku untuk segera membawamu pergi ke suatu tempat. Engkau tidak bisa tinggal terus disini.”

Ci Kong mengerutkan alisnya, menatap wajah Sie Kian dengan pandang mata tajam penuh selidik.

“Apakah paman takut terlibat dan menerima akibat buruk dari urusan keluarga ayah? Kalau begitu, biarlah aku pergi dari sini agar paman tidak sampai tersangkut.”

Sie Kian merangkul pundak anak itu.

“Jangan salah sangka, anak baik. Dengarlah. Ayahmu dimusuhi oleh pemerintah, dan dicap pemberontak. Hal ini amat berbahaya bagimu. Kalau mereka tahu bahwa ayahmu mempunyai seorang putera, tentu mereka akan mencarimu dan kalau sampai ketahuan engkau disini, bagaimana aku akan dapat melindungimu ? Karena itu, engkau harus disingkirkan dan diselarnatkan, disembunyikan dari mereka. Dan kedua, engkau tadi mengatakan bahwa engkau ingin segagah ayahmu, bukan? Akan tetapi, bagaimana engkau dapat berhasil melakukan kegagahan kalau tubuhmu lemah seperti ayahmu? Engkau harus menjadi seorang yang berbeda dengan ayahmu yang hanya pandai menulis itu. Engkau harus menjadi seorang ahli silat yang pandai dan kuat.”

Ci Kong yang masih kecil itu dapat menangkap apa yang dimaksudkan pamannya dan dia mengangguk-angguk.

“Lalu apa yang akan paman lakukan?”

“Aku akan mengantarmu ke sebuah kuil. Kepala kuil itu adalah seorang hwesio tua yang berilmu tinggi. Aku mengenalnya dengan baik karena diantara kami terdapat kecocokan, yaitu kami sama-sama penentang pemerintah penjajah Mancu. Di sana engkau akan lebih terlindunng, juga tersembunyi. Engkau dapat belajar ilmu dari hwesio itu dan membantu pekerjaan di kuil. Setujukah engkau, Ci Kong?”

Anak itu mengangguk. Dan pada hari itu juga, Ci Kong dibawa oleh Sie Kian pergi ke sebuah kuil tua yang besar. Kuil itu berada di lereng dekat puncak sebuah bukit, di sebelah utara kota Nan-ning, dua hari perjalanan dari kota itu. Dari bukit inilah mengalirnya sungai Si-kang ke timur.

Ketua kuil itu bernama Nam San Losu, seorang penganut agama Budha yang taat, berusia enampuluh tahun lebih namun tubuhnya tinggi besar masih nampak kokoh kuat, dan dengan wajahnya yang hitam dan kasar, dia kelihatan seperti seorang yang berhati keras. Akan tetapi sesungguhnya tidak demikian, karena Nam San Losu memiliki watak yang lembut, halus tutur sapanya dan halus gerak geriknya walaupun dalam setiap gerakannya itu tenaga yang amat kuat.

Dengan sabar Nam San Losu mendengarkan penuturan Sie Kian yang sudah lama menjadi sahabatnya, karena keduanya suka bertukar pikiran tentang ilmu pengobatan. Dan setelah Sie Kian selesai bercerita, kakek kepala gundul itu menarik napas panjang dan memandang kepada Ci Kong.

“Omitohud… pinceng sendiri prihatin melihat makin banyak rakyat yang menjadi korban madat. Kalu saja semua orang memiliki kebijaksanaan seperti Tan Siucai, tentu pengaruh madat itu akan dapat ditentang dan ditolak.” Kemudian dia bertanya kepada Ci Kong. “Anak baik, siapakah namamu?” “Namaku Tan Ci Kong, losuhu.”

“Engkau tidak lagi mempunyai sanak keluarga di dunia ini?” “Tidak, kecuali paman Sie Kian seorang.”

Ci Kong mengangguk tanpa menjawab, akan tetapi sinar matanya yang tajam berseri itu menunjukkan bahwa dia menyukai tempat sunyi yang berhawa sejuk itu.

“Ci Kong, tempat ini adalah sebuah kuil, dan hanya orang-orang yang telah bersumpah mengabdikan dirinya kepada agama saja dan menjadi hwesio yang tinggal disini. Pinceng tinggal disini bersama lima orang hwesio yang menjadi murid pinceng. Akan tetapi kulihat engkau tidak mempunyai bakat untuk menjadi pendeta. Satu-satunya jalan agar engkau dapat tinggal disini untuk sementara waktu hanyalah menjadi muridku, bukan murid agama melainkan murid ilmu silat. Bagaimana?”

Ci Kong memang cerdik. Sebelumnya dia sudah mendengar penuturan Sie Kian tentang hwesio tua ini, maka mendengar ucapan itu, diapun segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki hwesio itu.

“Teecu suka sekali menjadi murid suhu dan akan mentaati segala petunjuk dan perintah suhu.”

Hwesio itu tersenyum dan saling bertukar pandang dengan Sie Kian yang mengangguk-angguk girang dan kagum.

“Selain mempelajari ilmu silat, karena kau putera seorang siucai, engkaupun harus mempelajari ilmu sastera dan pinceng akan memimpinmu sedapat mungkin. Akan tetapi, di waktu tidak belajar, engkau harus bekerja keras membantu para suhengmu di kuil ini.”

“Teecu akan mentaatinya!”

Demikianlah, mulai hari itu, Sie Kian meninggalkan Ci Kong di kuil tua dan anak itu menjadi murid Nam San Losu, hwesio tua yang hidup seperti pertapa di dekat puncak bukit sunyi itu. Dia belajar ilmu silat dan sastera kepada hwesio itu, dan bergaul dengan akrabnya dengan para suhengnya yang menjadi hwesio-hwesio berusia antara empatpuluh sampai limapuluh tahun.

Anak ini rajin sekali, tidak pernah bermalas-malasan sehingga bukan saja Nam San Losu suka kepadanya, juga lima orang hwesio lainnya menjadi sayang kepadanya. Untunglah bagi Ci Kong, karena Nam San Losu adalah seorang ahli silat dari Siauw-lim-pai, dan betapapun beratnya gemblengan yang dilakukan Nam San Losu terhadap dirinya, dia terima dengan segala keikhlasan hati dan dia belajar tanpa mengenal lelah.

Malam yang gelap di kota Kanton. Kota ini menjadi sebuah kota yang ramai dan mewah setelah kota itu ditentukan untuk menjadi kota perdagangan dengan orang-orang berkulit putih. Kota inilah, disamping kota Makao, yang menampung penyelundupan candu dan di kedua kota ini rakyat dapat melihat orang-orang berkulit putih yang kalau masuk ke pedalaman, tentu akan menimbulkan perasaan heran bukan main karena kulit mereka yang putih, rambut dan bola mata mereka yang berwarna.

Malam itu gelap, kecuali rumah-rumah besar para pedagang kaya yang sekelilingnya digantungi lampu-lampu minyak yang besar dan yang sinarnya mendatangkan penerangan sekedarnya di jalan-jalan depan rumah-rumah gedung itu. Rumah berpintu merah itu amat dikenal oleh mereka yang suka melacur dan mereka yang suka menghisap madat. Di dalam rumah itu, laki-laki iseng dapat menghamburkan uangnya untuk pelacur ataupun untuk menghisap madat. Memang dua kebiasaan ini berdekatan selalu. Kalau malam tiba, terdengar suara cekikikan ketawa wanita menyelinap keluar melalui jendela kamar-kamar itu bersama keluarnya asap tipis berbau madat yang memuakkan bagi mereka yang tidak biasa, akan tetapi merupakan asap ajaib yang dapat mendatangkan kenikmatan tanpa batas bagi mereka yang telah mencandu.

Orang-orang yang tidak punya uang jangan harap dapat memasuki rumah berpintu merah ini, karena selain madat mahal harganya, juga para pelacur yang berkumpul di situ, yang jumlahnya belasan orang, terdiri dari pelacur- pelacur kelas mahal.

Seorang laki-laki tinggi kurus yang mukanya pucat kehijauan keluar dari dalam kamar yang bau pengap oleh asap madat dan dengan langkah terhuyung akan tetapi kedua kakinya bergerak ringan, dia berjalan ke ruangan depan. Sebuah buntalan kuning digendongnya di belakang punggung dan wajah si muka kehijauan ini nampak senyum penuh kepuasan seperti biasa senyum laki- laki yang meninggalkan kamar madat itu.

“Hai, A-Ceng! Kau hendak kemana? Malam belum larut dan kau sudah mau pergi?”

Tegur seorang laki-laki gendut yang sedang memangku seorang pelacur dan bergurau dengan teman-temannya yang masing-masing dikawani seorang pelacur pula.

Mereka, empat orang itu, duduk menghadapi arak mengelilingi sebuah meja bundar dan agaknya mereka ini lebih suka minum-minum di situ ditemani pelacur dari pada menghisap madat atau melacur di dalam kamar. Atau mungkin juga mereka tadi sudah puas menghisap madat. Orang bermuka kehijauan yang mengaku bernama A Ceng itu melambaikan tangan sebagai balasan salam.

“Aku sudah puas menghisap, dan ada keperluan penting. Besok aku datang lagi!”

A Ceng melanjutkan langkahnya keluar dari rumah berpintu merah itu. Si Kaki Besi memberi syarat kepada tiga orang kawannya. Merekapun segera meninggalkan pelacur-pelacur itu, dan dengan berindap-indap mereka berempat keluar pula dari tempat itu melalui pintu samping, dengan sikap yang amat mencurigakan. Empat orang wanita pelacur itu saling pandang dengan heran, akan tetapi seperti biasa, mereka tidak perduli dan segera memperbaiki muka dan rambut mereka dengan bedak, pemerah bibir dan sisir untuk menanti datangnya lain tamu iseng. Malam masih terlalu panjang bagi mereka ini.

A Ceng berjalan menyelinap di antara rumah-rumah penduduk dan tiba- tiba dia berhenti di dekat tempat terbuka yang sunyi, memandang ke kanan kiri dan belakang, karena dia seperti mendengar suara yang mencurigakan. Dari sikapnya yang penuh curiga dan waspada, dapat diduga bahwa dia tidak sedang berjalan-jalan biasa melainkan ada suatu urusan penting yang sedang dikerjakannya. Melihat si gendut, wajah A Ceng yang tadinya terkejut nampak lega.

“Ah, kiranya engkau, toako! Ada apakah menyusulku? Aku tidak meninggalkan hutang di rumah Pintu Merah.”

“Aku harus memeriksanya dulu, sobat… apa isi bungkusan itu.” Wajah yang kehijauan itu berobah pucat dan matanya terbelalak. “Aku tidak mengambil apa-apa, tidak mencuri apa-apa. Ini adalah barangku sendiri!”

“Heh, mana aku tahu kalau belum kulihat isi buntalan itu?” hardik si gendut, dan dengan sikap mengancam dia mendekati A Ceng, diikuti tiga orang temannya yang jelas memperlihatkan sikap mengurung dan mengancam.

“Toako, sekali lagi kuperingatkan bahwa aku tidak mencuri apa-apa, dan ketika memasuki rumah Pintu Merah aku sudah membawa barangku ini.” Bantah pula orang yang mengaku bernama A Ceng.

“Ha-ha! Kaukira kami orang-orang bodoh atau buta? Engkau bukan bernama A Ceng, melainkan she Phek, seorang buaya darat dari sebelah utara Kanton. Engkau mengaku bernama A Ceng dan engkau membawa barang yang selalu kaurahasiaka. Hayo buka dan perlihatkan kepadakami!”

“Baiklah... baiklah...!” kata A Ceng, dan diapun menurunkan buntalannya dari gendongan dan meletakkannya di atas tanah.

Ketika dia membuka buntalan itu perlahan-lahan, empat orang itu membungkuk di sekelilingnya, karena mereka ingin melihat lebih jelas apa isi bungkusan itu dan tempat itu hanya mendapat penerangan sedikit saja dari lampu yang tergantung di rumah agak jauh dari tempat itu.

A Ceng tidak membuang waktu lagi. Melihat betapa empat orang itu kebingungan menggosok-gosok mata dengan kedua tangan, diapun cepat meloncat berdiri dan membagi-bagi pukulan dan tendangan yang dilakukan penuh pengarahan tenaga sinkangnya.

“Bukk...! Dess...! Kekkk...!”

Tiga orang teman Si Kaki Besi terjungkal ketika dua pukulan mengenai lambung dan sebuah tendangan mengenai selangkangan. Mereka roboh dan muntah darah, lalu pingsan. A Ceng mendesak terus, kini menyerang Si Kaki Besi dengan pukulan maut ke arah leher. Akan tetapi Si Kaki Besi agaknya lebih pandai dari pada kawan-kawannya. Dia dapat mendengar angin tendangan itu dan cepat meloncat ke belakang. Ketika dia mendengar gerakan A Ceng menyerbu ke depan, cepat dia menggerakkan kedua kakinya bergantian, dan memang Si Kaki Besi ini tidak sia-sia saja mempunyai julukan itu. Kedua kakinya dapat melakukan tendangan berantai yang amat cepat dan amat kuat, sehingga biarpun A Ceng yang menjadi kaget cepat mengelak ke samping, tetap saja sebuah tendangan menyerempet pahanya dan diapun roboh terguling. Akan tetapi tendangan itu tidak tepat sekali, dan A Ceng bergulingan menjauh sehingga tendangan-tendangan berikutnya yang dilakukan ngawur itu tidak mengenai sasaran. Sayang bagi Si Kaki Besi bahwa dia belum dapat membuka kedua matanya yang masih terasa pedas dan perih terkena pasir yang tadi disambitkan A Ceng.

Maka kini dia hanya menyerang dengan ngawur, mengandalkan pendengarannya saja. Sementara itu A Ceng atau yang lebih tepat sebenarnya bernama Phek Kiat itu, sudah meloncat lagi dan menjadi marah sekali. Lawannya yang sudah tak mampu membuka mata itu masih dapat menendangnya sehingga hampir saja dia celaka. Dengan cepat dan kuat dia lalu menyerang dari samping. Si Kaki Besi mendengar angin serangan ini dan berusaha menangkis, akan tetapi tangkisannya luput dan sebuah pukulan yang keras mengenai lambungnya.

“Bukk...!”

Tubuh yang gendut itu terpelanting. Sebelum dia dapat bangkit, sebuah tendangan mengenai dadanya dan kembali dia terjengkang. Phek Kiat tidak memberi kesempatan lagi kepadanya dan menghujankan pukulan dan tendangan. Sebuah tendangan yang tepat mengenai tengkuk membuat Si Kaki Besi itu roboh terkulai dan tidak mampu bergerak lagi.

Melihat empat orang lawannya sudah menggeletak tak berkutik lagi, si muka hijau itu menyeringai puas dan kini nampaklah bentuk mukanya yang kejam, sinar matanya yang licik dan senyumnya yang menyeramkan. Diperbaiki lagi buntalannya, dan diapun cepat meninggalkan tempat itu. Peristiwa itu terjadi amat cepatnya, di tempat sunyi dan gelap sehingga terjadi tanpa diketahui orang lain.

Akan tetapi agaknya tidak demikian. Ketika A Ceng atau Phek Kiat meninggalkan tempat itu dengan berlari cepat dan ringan, sesosok bayangan berkelebat dan terus membayangi orang bermuka kehijauan itu. Bayangan ini memiliki gerakan yang amat cepat dan ringan, sehingga langkah kakinya ketika berlari tidak menimbulkan suara apapun. Namun, Phek Kiat agaknya merasa sesuatu yang tidak enak maka beberapa kali dia menoleh dengan tiba-tiba.

Hebat sekali gerakan bayangan itu. Begitu Phek Kiat menoleh, dia sudah menyelinap dengan kecepatan seperti terbang, dan setiap kali Phek Kiat menengok, dia tidak melihat apa-apa karena bayangan itu telah bersembunyi di balik pohon atau dinding rumah.

Phek Kiat melanjutkan larinya menuju ke pinggir kota yang sepi dan di bagian ini tidak ada rumahnya karena daerahnya terdapat banyak rawa dan sawah. Phek Kiat tiba di atas sebuah jembatan yang tua. Sunyi dan gelap di tempat ini, hanya diterangi bintang-bintang yang memenuhi langit. Dan begitu tiba di tempat itu, Phek Kiat bersuit perlahan. Tak lama kemudian suitan itu dibalas orang, dan muncullah seorang laki-laki dari bawah jembatan. Agaknya sejak tadi dia sudah menanti di situ dan seperti juga Phek Kiat, orang itu juga membawa sebuah buntalan hitam.

“Sin-touw (Maling Sakti), engkau sudah di sini pula? Bagus!” kata Phek Kiat dengan hati lega dan girang, apalagi melihat betapa orang berpakaian hitam- hitam itu memondong sebuah buntalan hitam yang bentuknya persegi panjang. “Phek Kiat, aku belum pernah melanggar janji. Engkau... sudah membawa...itu…?” tanya si baju hitam yang disebut Maling Sakti itu dengan

suara agak gugup.

Lalu Maling Sakti menoleh ke kanan kiri seolah-olah merasa takut kalau- kalau pembicaraan mereka dilihat atau didengar orang lain. Akan tetapi tempat itu sunyi, tidak nampak sesuatu selain berkelap-kelipnya bintang-bintang di langit dan tidak terdengar sesuatu kecuali kerik jengkerik di sawah-sawah kering.

“Ha, jangan khawatir, sobat. Akupun bukan orang yang suka melanggar janji. Nih, sudah kubawa, lengkap seperti yang kauminta. Tigapuluh kati, sedikitpun tidak kurang, barang murni tidak campuran pula.” Phek Kiat menunjuk bungkusannya.

“Sobat Phek, tolong, beri aku sedikit dulu, sudah tiga hari aku tidak mengisap, badanku sakit semua rasanya, tolonglah... kau tentu membawa yang sudah dicampur tembakau, bukan?”

Si baju hitam itu mengeluarkan sebuah pipa cangklong kecil dari balik bajunya, pipa yang biasanya dia pakai untuk menghisap madat. Kedua tangannya gemetar ketika dia mengeluarkan pipa itu. Melihat ini, Phek Kiat tersenyum dan matanya bersinar aneh. “Tentu saja, Sin-touw. Akan tetapi sejak tadi sudah ingin sekali melihat benda itu. Berilah aku lihat sebentar saja, dan aku akan memberi madat sampai engkau dapat menghisap sepuasmu. Coba buka dan perlihatkan padaku benda itu,” kata Phek Kiat sambil memandang ke arah buntalan kain hitam yang persegi panjang itu.

Maling Sakti itu agaknya sudah percaya benar kepada Phek Kiat, atau memang dia sudah amat ketagihan candu, maka diapun segera membuka buntalan kain hitam dan nampaklah sebuah peti hitam pula. Dibukanya tutup peti itu dengan sebuah kunci, dan begitu tutup peti itu terbuka, nampaklah sebuah benda berkilauan, benda yang berwarna hijau kemerahan, berbentuk sebatang pedang kecil berukir tubuh naga dan benda itu terbuat dari batu giok yang luar biasa indahnya! Sepasang mata Phek Kiat terbelalak penuh kagum. Sungguh selama ini tidak pernah dia dapat membayangkan akan dapat melihat benda pusaka ini, bukan hanya melihatnya, bahkan sebentar lagi benda itu akan menjadi miliknya!

“Giok-liong-kiam...!” bisiknya.

“Ya, Giok-liong-kiam...!” kata pula Sin-touw dengan suara penuh kebanggaan.

Siapa yangtakkan merasa bangga telah berhasil mencuri sebuah benda keramat, pusaka yang dikagumi dan diinginkan oleh seluruh tokoh besar dunia persilatan? Hanya dialah yang mampu dan julukannya Sin-touw kiranya pantas diabadikan karena dia telah berhasil memiliki benda pusaka ini. Akan tetapi semenjak dia berhasil mencuri benda pusaka ini kurang lebih setengah tahun yang lalu, hidupnya menjadi sengsara! Dia harus melarikan diri terus dan selalu bersembunyi, tidak pernah berani muncul di siang hari. Keselamatannya terancam karena banyak sekali orang pandai mencarinya, begitu terdengar berita di dunia kang-ouw bahwa pusaka Giok-liong-kiam lenyap dari ketua perkumpulan Thian-te-pai (Perkumpulan Langit Bumi)! Bukan hanya jagoan jagoan Thian-te-pai yang mencari jejaknya, bahkan tokoh-tokoh besar dari semua golongan juga mencari maling yang telah melarikan pusaka itu. Bahkan juga dari istana muncul jagoan-jagoan yang berkeliaran mencari pusaka itu. Seolah-olah terjadi perlumbaan untuk memperebutkan benda pusaka itu. Setelah kini benda pusaka itu bukan lagi menjadi pusaka Thian-te-pai, karena sudah berhasil dicuri orang, maka semua golongan mencarinya dan kini siapa yang berhasil merampasnya dari si pencuri, berarti berhak untuk memiliki pusaka keramat Giok-liong-kiam atau Pedang Naga Kemala.

Inilah sebabnya maka Sin-touw yang merasa hidupnya terancam, ketika bertemu dengan Phek-Kiat yang sudah lama dikenalnya sebagai seorang penjahat yang cerdik dan licik, dia mengadakan perjanjian dengan orang itu. Dia yang sudah ketagihan candu, setuju untuk menukarkan benda pusaka itu dengan tigapuluh kati madat murni. Tigapuluh kati! Jumlah yang tidak sedikit dan mahal sekali harganya. Dan bukan itu saja. Juga Phek Kiat berjanji untuk mencukupi semua kebutuhannya akan madat kalau yang tigapuluh kati itu sudah habis. Berarti selama hidupnya dia tidak akan kekurangan candu. Kesenangannya terpenuhi, keselamatannya tidak terancam lagi. Dan selain itu, yang lebih penting lagi, dia tahu dimana adanya pusaka itu. Dia seperti menitipkannya saja kepada Phek Kiat, mengalihkan bahaya yang mengancam kepada orang she Phek itu. Dan kalau sewaktu-waktu dia hendak mengambil kembali benda pusaka itu, apa sukarnya baginya untuk mencari Phek Kiat? Bahkan, kalau keadaan memaksa, dia dapat menjual orang itu kepada tokoh pandai yang mengejar, dan untuk keterangan bahwa dia tahu dimana adanya benda pusaka itu, tentu dia akan memperoleh hadiah yang amat besar pula. Dia harus dapat mengeduk keuntungan sebanyaknya dari Giok- liong-kiam tanpa membahayakan keselamatan diri sendiri.

“Srrrr...!”

Sebatang jarum hitam halus menyambar dari sebuah lubang rahasia di bawah cangklong. Karena jaraknya amat dekat, jarum yang tiba-tiba meluncur itu dengan tepat sekali mengenai tenggorokan Phek Kiat yang sama sekali tidak menduganya dan tidak mempunyai kesempatan untuk mengelak. Tahu- tahu jarum itu telah menusuk tenggorokannya. Dia terkejut dan merasa tenggorokannya panas dan perih sekali. Dia terbelalak memandang pencuri itu.

“Keparat...! Kau...kau...!”

Phek Kiat menerjang ke depan, mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghantam. Akan tetapi, Sin-touw sudah bersiap siaga, sekali menggerakkan kakinya dia sudah meloncat jauh ke belakang sehingga tubrukan A Ceng atau Phek Kiat mengenai tempat kosong dan tubuh itupun terguling. Phek Kiat bukanlah seorang lemah, akan tetapi jarum yang menancap hampir seluruhnya ke dalam tenggorokannya itu bukan jarum sembarangan, melainkan jarum yang mengandung racun amat keras, sehingga begitu tempat yang lemah itu tertusuk, racun dalam jarum itu sudah terbawa oleh darah dan menjalar amat cepatnya. Leher itu seketika menjadi bengkak dan Phek Kiat merasa kepalanya pening berputar sehingga dia roboh dan berkelojotan.

Sin-touw tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha... baru engkau tahu akan kelihaian Sin-touw, ha-ha-ha!”

Dia merasa girang sekali. Akal ini baru diperolehnya tadi ketika dia menanti munculnya Phek Kiat di bawah jembatan. Dia teringat bahwa Phek Kiat adalah seorang penjahat yang amat licin dan keji, dan mulailah dia merasa menyesal mengapa dia memilih Phek Kiat sebagai orang yang akan menyimpan Giok- liong-kiam. Bagaimana kalau kelak dia ditipunya? Bagaimana kalau Phek Kiat di luar tahunya menjual pusaka itu dengan harga yang amat tinggi, beberapa kali lipat dari sekedar tigapuluh kati candu? Dan hal ini amat boleh jadi mengingat bahwa Phek Kiat adalah seorang yang berwatak rendah. Lebih baik mencari orang lain yang lebih dapat dipercaya, demikian timbul pikirannya dan diapun mencari akal untuk membatalkan jual beli itu dengan membunuh Phek Kiat. Dan candu tigapuluh kati itu akan menjadi miliknya, dengan gratis karena pusaka Giok-liong-kiam masih akan tetap berada padanya.

“Ha-ha-ha-ha!”

Si Maling Sakti tertawa lagi, lalu merenggut buntalan dari pundak tubuh Phek Kiat yang sudah kaku tak bergerak lagi. Dibukanya buntalan itu dan ketika dia melihat candu sebanyak itu, kembali dia tertawa girang.

“Aku harus memberi selamat kepada diri sendiri dengan mengisap sepuasnya!”

Dia lalu menyeret tubuh tubuh Phek Kiat yang sudah tidak bernyawa itu ke bawah jembatan. Kemudian diapun mengikat dua bungkusan itu menjadi satu dan menggendongnya di punggung. Setelah duduk di dekat mayat Phek Kiat, dia lalu menyalakan tembakau di mulut pipa cangklongnya dan mulailah dia mengisap tembakau madat. Wajahnya berseri gembira dan matanya terpejam ketika dia menyedot asap candu itu sampai memenuhi paru-parunya. Terasa nikmat sekali dan dia menghisap terus-menerus dan sambungmenyambung.

Akan tetapi tiba-tiba dia tersentak kaget, pipa cangklong itu dibuangnya dan diapun meloncat bangun, menekan dadanya. Akan tetapi, dia terguling roboh dan muntah-muntah, kedua tangannya mencengkeram ke arah dadanya dan ditarik-tariknya bajunya sehingga robek-robek. Mukanya kini berobah kehitaman, tidak lagi berseri-seri melainkan penuh ketakutan dan kemarahan.

“Celaka...! Jahanam keparat...!”

Dia memaki dan dengan marah, dia menendang mayat Phek Kiat. Akan tetapi baru dua kali dia menendang, tubuhnya terguling dan berkelojotan, dan tak lama kemudian nyawanya menyusul Phek Kiat. Kiranya tembakau madat yang oleh Phek Kiat dimasukkan ke dalam pipa cangklong itu bukanlah tembakau biasa, melainkan tembakau madat yang sudah dicampuri racun yang jahat sekali. Baru menyedot satu kali saja, sudah cukup untuk membunuh orang, apalagi Sin-touw yang menghisapnya berkali-kali sampai paru-parunya penuh!

Setelah tubuh Sin-touw tidak bergerak lagi, mencullah sesosok bayangan hitam yang gerakkannya gesit. Dia meloncat turun ke bawah jembatan, sejenak berdiri memandang dua mayat itu dan dia tertawa terkekeh. Suara ketawanya aneh menyeramkan, seperti ringkik kuda dan perutnya yang gendut bergoyang-goyang.

“Manusia-manusia hina, kalian memang tidak pantas untuk hidup lebih lama lagi di dunia ini. Orang-orang macam kalian mana pantas menjamah Giol- liong-kiam?”

Dia lalu menggerakkan tangannya dan tahu-tahu buntalan kain hitam persegi panjang itu sudah direngutnya dari punggung mayat Sin-touw. Dibukanya buntalan itu dan ketika dia membuka tutup peti, matanya bersinar- sinar melihat pedang kemala yang berkilauan kehijauan itu. Ditutupnya kembali peti itu dan tiba-tiba dia memandang ke kanan kiri seperti orang khawatir.

Hati siapakah yang tidak merasa gelisah setelah berhasil memperoleh Giok- liong-kiam? Benda pusaka ini diinginkan oleh semua orang di dunia persilatan, baik dari golongan sesat maupun para pendekar. Bahkan orang-orang dari istana juga menginginkannya. Belum lagi diingat orang-orang dari Thian-te-pai yang ingin merampas kembali benda pusaka perkumpulan mereka.

Para tokoh dunia persilatan, baik dari golongan hitam maupun golongan pendekar, ingin menguasai Giok-liong-kiam karena benda pusaka ini menjadi lambang dari keunggulan seseorang, menjadi bukti ketinggian tingkat kepandaiannya dan bahkan sebelum benda itu terjatuh ke tangan Thian-te-pay, pernah Giok-liong-kiam dianjurkan oleh para datuk persilatan untuk menjadi tanda kuasa seseorang Bu-Lim Beng-cu (Ketua Dunia Persilatan) yang diakui oleh semua orang di dunia kang-ouw! Ada pula golongan sesat yang menginginkan benda itu bukan karena kekeramatannya, melainkan karena harganya. Benda itu amat berharga, karena selain batu kemala hijau kemerahan itu merupakan kemala pilihan yang sukar didapatkan di dunia ini, juga ukir- ukiran berbentuk pedang naga itu amat halus dan indahnya, kabarnya dilakukan oleh seorang ahli ukir di jaman Tang, ahli ukir dari istana yang kenamaan, seribu tahun yang lalu. Sukar dinilai berapa harganya benda itu dan agaknya orang-orang yang kaya raya akan berlumba membelinya dengan harga yang paling tinggi sekalipun!

Tidaklah mengherankan kalau terjadi pembunuhan-pembunuhan keji semenjak orang tahu bahwa A Ceng atau Phek Kiat sedang melakukan urusan yang ada kaitannya dengan Giok-liong-kiam. Mula-mula dengan matinya Si Kaki Besi dan tiga orang kawannya yang hendak merampas tiga puluh kati madat dari tangan Phek Kiat, kemudian kematian Phek Kiat dan Sin-touw yang saling membunuh untuk memperebutkan Giok-liong-kiam dan madat yang banyak itu.

Dan kini, si Gendut berpakaian serba hitam itu dengan jantung berdebar penuh ketegangan menggendong Giok-liong-kiam baik-baik dan merasa cemas. Akan tetapi diapun lalu mengambil buntalan madat, karena madat sebanyak tigapuluh kati itu merupakan harta yang amat banyak pula. Sambil menyeringai puas dan girang, si gendut berpakaian hitam itu melompat ke luar dari bawah jembatan, setelah merasa yakin bahwa tempat itu sunyi dan tidak ada orang lain kecuali dia yang menyaksikan perkelahian antara Phek Kiat dan Sin-touw yang mengakibatkan keduanya tewas itu.

Setelah kedua kakinya dengan ringan sekali hinggap di atas jembatan, dia celingukan lagi dan makin legalah hatinya ketika melihat kesunyian sekeliling jembatan itu. Malam itu juga dia harus dapat keluar dari kota Kanton, pikirnya. Dia tidak akan merasa aman sebelum meninggalkan Kanton.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, si gendut baju hitam itu dapat lolos dari kota dengan jalan melompati pagar tembok kota di bagian yang sunyi tidak terjaga. Setelah meloncat ke luar dari tembok, dia lalu mempercepat gerakan kakinya, berlari seperti terbang menuju ke utara. Tujuannya adalah ke kota Sau- koan, dimana dia mempunyai seorang sahabat yang dapat dimintai tolong agar membantunya menyembunyikan diri untuk sementara.

Menjelang pagi, selagi dia menuruni sebuah bukit kecil, tiba-tiba dia mendengar derap kaki kuda dari belakang. Dia terkejut sekali. Akan tetapi setelah dia mendengarkan dengan teliti dan ternyata yang datang dari belakang itu hanya seekor kuda saja, hatinya menjadi tenang. Kalau hanya menghadapi seorang lawan saja, dia tidak takut. Apalagi yang datang dari belakang itu belum tentu seorang musuh, mungkin sekali hanya orang yang kebetulan lewat saja. Karena itu, setelah mempererat gendongannya, dia melanjutkan perjalanan dengan jalan seenaknya agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Tak lama kemudian, setelah derap kaki kuda itu semakin keras suaranya, muncullah seorang penunggang kuda yang membalapkan kudanya mendahului si baju hitam. Si gendut baju hitam ini melirik dan dia melihat seorang laki-laki tinggi besar menunggang kuda yang besar pula. Seorang laki- laki biasa saja yang pandai menunggang kuda dan agaknya tergesa-gesa. Akan tetapi ketika si gendut itu melihat baju orang itu, jantungnya berdebar tegang, Baju Kulit Harimau!

Teringatlah dia akan nama Lam-hai Ngo-houw (Lima Harimau Laut Selatan) yang terkenal di Kanton, lima orang kakak beradik yang ditakuti, karena mereka adalah orang-orang kuat yang kadang-kadang mengandalkan kekuatan dan kepandaian silat mereka untuk memaksakan kehendak mereka kepada orang- orang atau golongan yang lebih lemah. Ciri khas mereka adalah baju harimau mereka. Biar dalam musim panas sekalipun, mereka tak pernah menanggalkan baju harimau mereka.

Akan tetapi, penunggang kuda ini hanya seorang saja, pikir si gendut baju hitam. Dan khabarnya, Lam-hai Ngo-Houw selalu maju berlima. Mungkin bukan mereka, dan andaikata benar orang ini seorang di antara Lima Harimau itu, takut apa? Orang itu tentu tidak tahu apa isi dua buntalan di punggungnya. Juga dia tidak pernah berkenalan dengan Lam-hai Ngo-houw dan tidak mempunyai urusan apapun juga. Tanpa sebab, tidak mungkin Lam-hai Ngo- houw mau mengganggu dirinya. Hatinya lebih tenang melihat betapa penunggang kuda itu membalap terus dan agaknya sama sekali tidak memperhatikan dirinya.

Karena hatinya lega, si gendut itu lalu beristirahat di dalam sebuah hutan dan pada keesokan harinya, setelah matahari mulai mengusir kegelapan malam, diapun melanjutkan perjalanan menuju ke utara. Dia tahu bahwa setelah dia keluar dari dalam hutan ini, kota Sau-koan tinggal belasan li saja lagi jauhnya.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika tiba-tiba dia mendengar suara auman harimau dari depan! Seekor harimau! Dia merasa heran sekali karena dia bukan seorang asing di daerah ini dan dia tahu betul bahwa di hutan ini tidak pernah orang bertemu harimau. Akan tetapi auman itu jelas merupakan auman harimau. Tiba-tiba dia terlonjak kaget ketika terdengar auman harimau lain lagi, kini datang dari arah belakangnya! Ketika terdengar lagi suara auman dari kanan kiri, keheranannya berobah menjadi kegelisahan dan mukanya berobah agak pucat. Tidak mungkin ada harimau demikian banyaknya tersesat di dalam hutan ini! Harimau! Lima ekor banyaknya! Tiba-tiba wajah si gendut menjadi semakin pucat dan dia siap siaga menghadapi segala kemungkinan karena dia teringat akan penunggang kuda berjubah harimau semalam.

Tahulah dia sekarang bahwa penunggang kuda semalam itu hanya ingin memperoleh keyakinan bahwa dia memang memasuki hutan ini. Diam-diam dia merasa menyesal sekali atas kelengahannya sendiri. Kalau dia berhati-hati dan sudah menduga lebih dulu akan berurusan dengan Lam-hai Ngo-houw, tentu malam tadi diam-diam dia melarikan diri. Banyak terdapat kesempatan baginya untuk diam-diam merobah tujuan perjalanan semalam. Akan tetapi kini sudah terlanjur dan pula, andaikata dia merobah tujuan dan melarikan diri, siapa tahu lima orang jahanam ini sudah selalu mengintai dan membayanginya. Dia menabahkan hatinya dan berhenti melangkah, memandang kepada laki-laki tinggi besar berkumis tebal, yang agaknya menjadi pemimpin dari lima orang berjubah harimau itu.

“Maafkan saya…” katanya dengan sikap merendah.

“Saya adalah seorang perantau yang tidak mempunyai apa-apa dan tidak pernah mengganggu orang. Ada keperluan apakah ngo-wi menghadang perjalanan saya?”

Si kumis tebal menyeringai dan memandang tajam, bukan ke arah wajah si gendut, melainkan ke arah punggungnya. Hal ini saja membuat si gendut menjadi semakin gelisah dan dia sudah dapat menduga bahwa lima orang ini agaknya tahu akan isi kedua bungkusannya.

“Hemm, bukankah engkau yang berjuluk Tai-lek Hek-wan (Lutung Hitam Tenaga Besar) dari Nan-leng?”

Si gendut yang dijuluki Lutung Hitam itu terkejut. Kiranya lima orang ini sudah mengenalnya! Maka diapun tidak mau berpura-pura lagi dan cepat menjura.

“Saya seorang perantau dari Nan-leng merasa gembira sekali dapat bertemu dengan Lam-hai Ngo-houw yang terkenal gagah perkasa!”

“Hemm, mengapa bergembira?” tanya si kumis tebal dengan suara bernada ejekan.

“Bertemu dengan  orang-orang  segolongan,  berarti  bertemu  dengan saudara sendiri. Persatuan antara kita akan menciptakan kekuatan untuk menghadapi lawan kita bersama. Sebaliknya perpecahan di antara kita hanya akan mendatangkan kelemahan dan menguntungkan pihak lawan.”

Lima orang itu saling pandang.

“Siapakah lawan yang kau maksudkan, Hek-wan?” tanyasi kumis tebal. Tai-lek Hek-wan menarik napas panjang.

“Banyak sekali ! Terutama sekali orang-orang yang berhati sombong selalu mengejarku dan kalau aku tidak bertemu dengan kalian berlima, tentu aku akan celaka. Aku minta bantuan kalian agar kita dapat bekerja sama, dan segala keuntungan yang kudapatkan, tidak akan kumakan sendiri. Buktinya, inilah kuberikan untuk kalian ! Dia lalu menurunkan buntalan madat dan melemparkannya kepada si kumis tebal. Orang tinggi besar ini menerima buntalan itu dan membukanya, diikuti oleh empat orang adiknya. Ketika mereka melihat isi buntalan yang ternyata adalah madat murni yang demikian banyaknya, mereka terbelalak.

Si gendut tertawa, merasa menang dan berhasil mengambil hati mereka sebagai kawan. Untuk sementara ini dia harus mempergunakan akal menambah teman, bukan menambah musuh. Dia tidak takut menghadapi lima orang ini, akan tetapi selama Giok-liong-kiam belum dia simpan dan sembunyikan dengan baik, berbahayalah menentang mereka ini sambil membawa benda pusaka itu.

“Ha-ha, itu baru sebagian, Lam-hai Ngo-houw. Kalau kalian mau bersekutu dengan aku, masih banyak lagi kelak bagian kalian. Bagaimana? Ataukah kalian mau nekat menggangguku, belum tentu kalian menang dan kalian akan menghadapi semua pendekar yang melakukan pengejaran kepadaku?”

Lima orang itu adalah tukang-tukang pukul bayaran yang sudah biasa menerima pembayaran untuk melakukan perbuatan-perbuatan jahat dan kekerasan. Kini ada orang yang memberi hadiah madat demikian banyaknya, tentu saja hati mereka senang sekali. Mereka bukan pemadatan, akan tetapi mereka yang menjadi penduduk Kanton tentu saja tahu betapa mahalnya benda itu.

“Dan... Giok-liong-kiam...?”

Akhirnya si kumis tebal bertanya sambil memandang ke arah buntalan yang kedua dan yang berada di punggung Tai-lek Hekwan.

“Itulah yang menggelisahkan hatiku, kawan,” katanya dengan sikap sebagai seorang atasan terhadap para pembantunya.

“Dengan kelihaianku, aku berhasil mendapatkannya. Akan tetapi betapa banyaknya orang yang hendak memperebutkannya, dan bukan hanya orang- orang biasa. Karena itu, kita harus bersatu menghadapi mereka. Dan kelak, kalau aku berhasil menjualnya dengan harga tinggi, kita bagi bersama.”

Kembali lima orang itu saling pandang dan akhirnya si kumis tebal mengangguk-angguk.

“Baiklah, melihat pemberianmu ini kepada kami, kami menilai bahwa engkau seorang kawan baik. Akan tetapi kelak jangan lupakan kami kalau benda itu sudah menjadi uang.”

Sebelum Hek-wan menjawab, tiba-tiba terdengar suara ketawa yang lirih namun jelas sekali seolah-olah suara itu berada di dekat telinga mereka berenam. Suara ketawa wanita yang tidak nampak orangnya, merdu dan juga halus menusuk anak telinga, seperti suara ketawa kuntilanak dalam dongeng. Tentu saja enam orang kasar itu, apalagi setelah kini mereka bersatu, tidak takut menghadapi lawan yang bagaimanapun juga. Akan tetapi menghadapi mahluk yang tidak nampak, hanya terdengar suara ketawanya saja yang demikian merdu, mereka terbelalak dan memandang ke kanan kiri tanpa hasil karena tidak nampak seorang wanita di sekeliling tempat itu.

“Hik-hik, tikus-tikus kecil mana ada harga untuk bicara tentang Giok-liong- kiam?”

Tiba-tiba suara ketawa itu disusul kata-kata mengejek dan kini suara itu datangnya dari atas. Enam orang itu memandang ke atas dan tiba-tiba dari atas melayang turun bayangan merah yang menyambar ke arah Hek-wan. Tentu saja si Lutung Hitam terkejut sekali, maklum bahwa orang ini menyeranganya untuk merampas buntalan Giok-liong-kiam. Dia cepat mengelak dengan meloncat ke kiri sambil menggerakkan kakinya menendang ke arah tubuh yang menyambar dari atas bagaikan seekor burung walet cepatnya itu.

“Plakkk...!”

Kaki Hek-wan yang menendang bertemu dengan tangan yang dimiringkan dan akibatnya, tubuh Hek-wan terjengkang dan bergulingan. Dia merasa ada angin menyambar ketika dia bergulingan dan cepat dia menggerakkan tangan untuk menangkis atau mencengkeram. Akan tetapi tiba-tiba dia merasa buntalan di punggungnya terlepas dan ketika dia meloncat berdiri, buntalan persegi panjang itu telah berada di tangan seorang wanita cantik berpakaian merah!

Tentu saja si gendut ini menjadi terkejut dan marah sekali. Giok-liong-kiam telah dirampas orang sedemikian mudahnya. Dan kini wanita berpakaian serba merah itu, yang usianya sekitar tiga puluhan tahun, dengan amat tenang berdiri mengamat-amati peti hitam panjang, lalu membuka tutupnya dan melihat isinya yang membuat matanya terbelalak lebar dan wajahnya berseri, mulutnya tersenyum kagum dan wanita itu mengguman lirih.

“Giok-liong-kiam... indah sekali...” “Kembalikan barangku!”

Hek-wan membentak dan tubuhnya sudah menerjang ke depan dengan cepatnya. Gerakan Tai-lek Hek-wan ini selain cepat juga amat kuat karena dia terkenal sekali memiliki tenaga yang besar. Dan kecepatan gerakannya inipun sesuai dengan julukannya Lutung Hitam, karena memang dia dapat bergerak cepat dan lincah seperti seekor monyet atau lutung.

“Wuuuttt!”

Tubrukan Hek-wan untuk merampas pedang kemala dengan tangan kiri dan menyerang dengan tangan kanan yang mencengkeram ke arah kepala wanita itu, hanya mengenai tempat kosong saja, karena wanita itu tahu-tahu sudah menyingkir dengan gerak langkah kaki ringan dan aneh, tanpa menghentikan pekerjaannya mengagumi pedang itu! Kembali Hek-wan menubruk, akan tetapi sekali lagi serangannya dielakkan dengan amat mudahnya. Tahulah Tai-lek Hekwan bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang amat pandai, maka untuk ketiga kalinya dia menyerang, sepenuhnya menyerang, bukan seperti tadi perhatiannya dipecah untuk merampas Giok-liong-kiam. Dan serangan seorang bertenaga besar seperti Tai- lek Hek-wan amatlah berbahaya dan agaknya hal inipun diketahui oleh wanita itu yang sudah mengalungkan bungkusan itu di lehernya. Wanita itu bukan hanya mengelak sekarang, melainkan menangkis dari samping.

“Heiiittt...!”

Dan tangkisan tangan yang kecil lunak itu membuat Hek-wan terpelanting kehilangan keseimbangan badannya! Terkejutlah Hek-wan. Dia berhasil melompat bangun.

“Ngo-houw, bantulah!” teriaknya tanpa malu-malu lagi karena kini dia hampir yakin bahwa dia berhadapan dengan lawan yang lebih tinggi tingkat ilmu silatnya.

Lam-hai Ngo-houwyang dipimpin oleh si kumis tebal itupun cepat bergerak mengurung. Mereka melihat betapa Giok-liong-kiam sudah berpindah tangan, maka mereka harus turun tangan membantu Hek-wan untuk merampas benda berharga itu kembali dari tangan wanita berpakaian merah.

Orang ketiga dari Lam-hai Ngo-houw yang berusia tiga puluh lima tahun adalah seorang laki-laki yang mata keranjang. Melihat kecantikan wanita berpakaian merah itu, sejak tadi dia sudah melongo penuh kagum. Kini, sambil mengepung bersama teman-temannya, diapun membujuk,.

“Manis… mengapa seorang cantik seperti engkau membahayakan diri memperebutkan sebuah pedang kemala? Ikutlah aku, dan aku akan membelikan tusuk konde kemala dan barang-barang indah lain, juga engkau akan terlindung dan aman...!”

Sungguh merupakan rayuan yang menggelikan karena pada saat itu, si wanita sedang dikepung dan diancam oleh enam orang laki-laki yang kuat- kuat. Wanita itu agaknya tidak marah mendengar rayuan itu. Melihat betapa lima orang Lam-hai Ngo-houw memasang kuda-kuda dengan kedua tangan membentuk cakar harimau, sedangkan Tai-lek Hek-wan juga memasang kuda- kuda seperti ilmu Silat Monyet, iapun terkekeh dengan suara yang agak genit. “Hi-hi-hik, seekor lutung dan lima ekor harimau! Tapi kalian bisa berbuat

apa terhadap seekor burung bangau yang dapat terbang?”

Tiba-tiba saja tubuhnya sudah melompat tinggi ke atas dan mulailah ia melancarkan serangan-serangan dari atas dengan kecepatan yang mengejutkan. Sebelum enam orang itu tahu apa yang terjadi, mereka melihat warna merah menyambar-nyambar dari atas dengan totokan-totokan jari tangan yang cepat sekali. Mereka berusaha menangkis dan mengelak, akan tetapi dua di antara Lam-hai Ngo-houw yang kurang cepat mengelak, terkena totokan pada ubun-ubun kepala mereka. Ubun-ubun kepala itu pecah berlubang dan merekapun roboh berkelojotan dan tewas seketika.

Tentu saja tiga orang Lam-hai Ngo-houw terkejut setengah mati melihat robohnya dua orang adik mereka dalam segebrakan saja itu. Mereka berlima merupakan jagoan-jagoan di Kanton yang sudah terkenal dan ditakuti karena ilmu silat mereka yang tinggi. Tentu saja merekapun tahu bahwa banyak orang pandai di dunia ini dan mereka tidak berani mengaku yang paling pandai, akan tetapi dalam segebrakan saja harus kehilangan dua orang saudara yang roboh tewas, hal ini sungguh sukar untuk dapat mereka terima. Apalagi kalau diingat bahwa mereka berlima, bahkan berenam dengan Tai-lek Hek-wan yang mereka tahu juga memiliki ilmu kepandaian silat tinggi. Biarpun mereka dapat menduga bahwa lawan yang satu ini memang lihai bukan main, namun kemarahan dan sakit hati membuat mereka kehilangan rasa gentar, dan merekapun mengeluarkan suara gerengan-gerengan seperti harimau marah. Gerakan mereka kini semakin ganas dan kedua tangan mereka membentuk cakar harimau dengan kuat sehingga tangan dan jari-jarinya itu seperti telah menjadi kaku dan keras.

Si kumis tebal lebih hebat lagi. Ketika melihat Hek-wan menyerang ganas kepada wanita itu, dibantu oleh dua orang adiknya yang juga telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang, dia mempergunakan kesempatan itu untuk meloncat ke atas dan menerkam punggung wanita itu, kedua tangannya yang membentuk cakar harimau itu mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala. Wanita itu terkejut bukan main. Ia sedang menghadapi terjangan Hek-wan dan dua orang Ngo-Houw yang lain, dan tiba-tiba ada angin keras sekali menyambar dari belakang atas!

“Heiiiittt!”

Ia membentak dan mengelak. Tubrukan itu luput akan tetapi terdengar bunyi kain robek dan ternyata buntalan Giok-liong-kiam itu robek dan peti panjang itu terlepas dan jatuh dari pinggang si wanita. Dan sebelum wanita itu dapat mengambilnya kembali, tiga orang Ngo-houw sudah menerjangnya lagi, dan melihat kesempatan ini, Hek-wan yang cerdik sudah bergulingan ke arah Giok-liong-kiam dan sudah berhasil menyambar peti itu! Cepat dia membungkusnya lagi dan menggantungkan di lehernya!

Melihat ini, wanita baju merah itu tentu saja marah bukan main, akan tetapi dalam kemarahannya, ia malah tersenyum-senyum, agaknya sama sekali tidak khawatir akan kehilangan pusaka itu karena ia yakin akan mampu mengalahkan empat orang ini.

“Hemm… kalian masih belum mau menyerah!” bantak wanita baju merah itu sambil tersenyum mengejek.

Akan tetapi karena serangan tiga orang itu benar-benar amat berbahaya, wanita itupun kembali berloncatan ke atas dengan amat lincahnya. Melihat ini, diam-diam Tailek Hek-wan terkejut dan khawatir sekali. Dia adalah seorang yang amat cerdik dan melihat tewasnya dua orang di antara Lam-hai Ngo- houw, diapun maklum bahwa wanita ini benar-benar seorang lawan yang amat tangguh dan amat berbahayalah kalau sampai dia melanjutkan perlawanan. Yang penting adalah menyelamatkan Giok-liong-kiam, pikirnya. Maka, begitu melihat tiga orang Lam-hai Ngo-houw sudah menyerang lagi dan sekali ini serangan mereka penuh dengan rasa dendam sehingga amat hebat, diapun mempergunakan kesempatan ini untuk melarikan diri !