-->

Patung Dewi Kwan Im Jilid 15

Jilid 15

Lian Eng suka sekali bersamadhi sambil bersujud di depan Kwan- im Pouwsat di mana ia mendapat hiburan besar sekali bagi hatinya yang luka. Ia merasa tenteram dan penuh damai. Di waktu senggang ia melatih silat kepada murid-murid Kwan-im-pai hingga kepandaian mereka makin maju saja. Setelah tinggal di situ sebulan lebih, maka Lian Eng makin betah saja. Baginya, para imam dan nikouw yang menganut Agama Kwan-im-kauw benar menuntut pengidupan suci. Iapun mulai mempelajari kitab-kitab yang dianggap suci dan pelajarannya dianut oleh mereka. Di dalam lubuk hatinya, Lian Eng masih saja teringat akan sikap gurunya yang terlalu kasar terhadap mendiang Kim Hwa Sianli hingga kini ia hendak menebus kesalahan gurunya itu.

Di samping itu, ia memang mendapat dapat hiburan batin besar sekali di kuil ini.

Semenjak ia berada di situ, benar saja berbulan-bulan tidak ada gangguan dari luar. Tapi ia sama sekali, tidak sangka bahwa ada pesuruh Yo-taijin yang telah dihajarnya itu kini sedang siap sedia melakukan pembalasan dengan menggabungkan diri kepada rombongan utusan Tibet, yakni imam-imam Lhama yang berkepandaian tinggi!

<>

Baiklah kita sekarang melihat keadaan Siauw Ma, pemuda gagah perkasa yang berwatak jujur itu. Pemuda ini biarpun tak dapat disebut bodoh, namun karena kejujurannya yang aseli itu membuat ia tak dapat menduga-duga akan keadaan pikiran dan hati Lian Eng. Ia hanya menganggap bahwa gadis yang dicintanya itu tentu tidak suka kepadanya, jangankan mencinta, bahkan mungkin membenci padanya! Karena itulah maka ketika mendengar akan dijodohkan dengannya gadis itu menjadi sedih dan marah lalu pergi tanpa pamit! Sedikitpun tidak ada pikiran lain yang menggoda kepada Siauw Ma ketika ia lari turun gunung untuk mencari gadis itu.

Sebagai seorang pemuda yang berwatak gagah, ia merasa terhina sekali karena tindakan Lian Eng. Kalau hanya ditolak lamarannya, baginya hanya mendatangkan kecewa dan sedih saja, tapi gadis itu telah menyatakan ketidaksenangannya dengan lari meninggalkan dia di depan para guru besar hingga seakan- akan membiarkan dia ditertawai! Mengapa tidak terus terang saja gadis itu menyatakan bahwa ia tidak suka?

Mengingat akan hal ini, Siauw Ma kertak giginya dan ia berkeras hendak mencari nona itu dan menyatakan dengan terus terang! Ia menuntut penjelasan dan keputusan nona itu dalam menolak lamarannya, dan ia tidak puas kalau Lian Eng pergi begitu saja tanpa menyatakan penolakannya secara terus terang!

Sambil menggunakan lari cepat yang telah sempurna, ia lari keras sekali. Tapi, karena Lian Eng telah berlaku nekat dan melompati jurang-jurang tanpa menuruti jalan tertentu, sebentar saja ia kehilangan jejak gadis itu dan ia lalu turun gunung tanpa tujuan tertentu.

Ia hanya pergi ke mana saja kakinya membawanya dengan harapan akan bertemu dengan Lian Eng. Rasa penasaran, di dalam hatinya terhadap dara yang dicintanya itu membuat ia ingat akan pesan ibunya yang disampaikan kepadanya oleh pengisap huncwe. Mendiang ibunya pesan supaya ia memperisteri Lian Eng, atau kalau tidak berhasil mengawininya, ia harus membunuh gadis itu!

Ketika teringat akan pesan ini, Siauw Ma tahan tindakan kakinya karena kedua kaki itu tiba-tiba menggigil. Ia harus membunuh Lian Eng??

Ah, tak mungkin! Pertama, belum tentu ia dapat menangkan gadis yang lihai itu. Kedua, betapapun juga, ia takkan sampai hati membunuh gadis yang dicintanya itu. Jangankan membunuh, menyakiti saja ia takkan mampu!

Tapi memang Lian Eng pangkal segala penderitaannya! Demikianlah Siauw Ma berpikir lagi. Kalau saja ia dulu tidak bertemu dengan gadis itu dan mengejar ke atas bukit, belum tentu ibunya akan meninggal karena sedih ia tinggalkan dan belum tentu pula ia sekarang akan menderita kecewa dan patah hati.

Mungkin ia kini telah menjadi seorang pemburu yang memburu binatang buas di tengah hutan, bergembira dan bernyanyi-nyanyi dengan kawannya, dengan empek pengisap huncwe itu!

Ketika mengenangkan semua pengalamannya ketika ikut dengan para pemburu kawan-kawannya, Siauw Ma menjadi gembira dan pergilah ia duduk di atas sebuah batu, lalu bernyanyi di tempat yang sunyi itu!

Suaranya memang nyaring dan enak didengar. Ia masih ingat akan lagu pemburu yang dulu sering ia nyanyikan maka kini iapun nyanyikan lagu itu. Berbaju  kulit hasil buruan, Di tangan   tombak   peminum  darah! Menghitung  langkah  mengukur   jarak Mengintai, merunduk menyelinap, berlari!

Dada berdebar, tombak menggetar

Mata bersinar mengintai korban.

Biruang diterjang, harimau diterkam!

Takut?   Tak   kenal! Maju terus, tabah tak gentar, Pemburu di bukit salju yang gagah berani!

Dua kali ia nyanyikan lagu ini dan ketika ia bernyanyi, sepasang matanya berseri-seri gembira. Terbayang di depan matanya segala peristiwa dan kegembiraan ketika ia masih bersama-sama dengan para pemburu yang gagah berani itu.

Siauw Ma tersenyum-senyum, tapi tiba-tiba ia teringat akan keadaannya sekarang! Ia merasa betapa sunyi hidupnya, betapa sengsara. Ah, kalau saja ia dapat hidup berbahagia seperti dulu!

Tiba-tiba ia merasa malu kepada diri sendiri. Ia seorang laki-laki gagah, mengapa merasa sedih dan putus asa? Siauw Ma lalu bangkit dan lari pula, kini makin cepat!

Setelah berlari-lari dan mencari Lian Eng ke sana ke mari selama sepekan, tibalah ia pada suatu pagi di sebuah hutan yang sangat luas. Ketika ia tiba di sebuah tikungan, tiba-tiba dari jauh terdengar suara orang bercakap-cakap. Siauw Ma tak ingin bertemu dengan orang lain dalam hutan itu, karena entah mengapa, ia tidak senang bertemu orang yang hanya akan mengganggu lamunannya! Maka ia lalu loncat naik ke atas sebuah pohon besar dan bersembunyi di situ sambil beristirahat karena merasa lelah. Semenjak kemarin ia tiada pernah berhenti dan bahkan belum makan sesuatu.

Suara orang bercakap-cakap makin keras dan tak lama kemudian, dari atas pohon itu ia melihat bahwa yang bercakap- cakap itu adalah seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian sebagai seorang persilatan. Bajunya serba ringkas dan di bagian lengan digulung hingga tampak urat lengannya yang besar dan kuat.

Lehernya kuat dan besar pula, sesuai dengan bahunya yang bidang dan dadanya yang menonjol ke depan. Pendeknya, seorang laki-laki yang gagah dan patut menjadi seorang ahli silat.

Yang seorang lagi adalah seorang gadis muda yang sikapnya lemah lembut sesuai dengan wajahnya yang cantik manis dan potongan tubuhnya yang biarpun agak tinggi namun lemah gemulai dan menarik hati. Gadis ini mengenakan pakaian serba biru dan biarpun sikapnya sangat lembut namun gagang pedang yang tampak mengintai dari belakang pundaknya Membuktikan bahwa iapun mengerti ilmu silat.

Mereka datang sambil naik kuda yang dijalankan perlahan. Ketika mereka tepat berada di bahwa pohon itu, Siauw Ma terkejut melihat bahwa gadis manis itu wajahnya mirip sekali dengan wajah Lian Eng! Seketika itu juga hatinya berdebar keras dan ia tertarik sekali. Ia mendengar gadis itu berkata ketika mereka lewat perlahan di bawahnya.

“Tetapi, betapapun tangguh bangsat-bangsat itu, aku tetap tidak takut, ayah!”

Laki-laki tegap itu tersenyum. “Memang kau setabah aku, Ceng. Tetapi kali ini betul-betul kita menghadapi lawan yang tangguh. Harapanku satu-satunya ialah jangan sampai mereka itu dapat menggunakan siasat mereka mengadu domba, karena kalau sampai para ho-han dapat mereka bujuk dan memusuhi kita, celakalah kita.”

Tiba-tiba gadis itu tahan kendali kudanya, wajahnya merah karena ia merasa penasaran sekali.

“Ayah, apakah masih patut disebut ho-han (orang gagah) kalau sampai dapat terbujuk oleh mulut berbisa dan tanpa ia memeriksa lebih dulu lalu mengeroyok kita? Kalau sampai mereka demikian bodoh, ah, kita bahkan harus basmi mereka itu sekalian, ayah.”

“Ha, ha, ha! Cun Ceng, kau bicara mudah saja!”

Mereka lalu lanjutkan perjalanan mereka hingga Siauw Ma yang mendengar percakapan mereka dari atas pohon tak dapat mendengar lagi.

Setelah mereka berdua itu pergi jauh, barulah Siauw Ma seakan- akan sadar. Ia tadi begitu kesima dan heran karena baik rupa maupun suara, gadis yang disebut Cun Ceng oleh ayahnya tadi, benar-benar mirip Lian Eng.

Kalau saja gadis itu tidak mirip Lian Eng, tentu Siauw Ma takkan mau ambil perduli. Tetapi kemiripan ini membuat ia tertarik sekali, terutama mendengar bahwa gadis yang mirip Lian Eng berada dalam bahaya karena agaknya hendak menghadapi lawan-lawan yang tangguh! Tanpa terasa pula Siauw Ma melayang turun ketika loncat dari atas pohon dan ia lalu gunakan, ilmu cepat mengejar.

Tak lama kemudian ia dapat mendengar suara kaki kuda berlari- lari di depannya, dan ia tahu bahwa itu adalah suara dua ekor kuda berlari cepat. Hatinya menjadi girang karena itu tentulah kuda ayah dan anak tadi, maka ia perlambat larinya.

Ia hendak mengikuti dengan diam-diam dan tidak ingin dilihat oleh mereka, karena betapapun juga ia tidak kenal mereka dan tidak baik sekali mencampuri urusan lain orang!

Ternyata ayah dan anak itu menuju ke timur lalu keluar dari hutan dan membelok ke utara. Ketika hari telah senja, tibalah mereka di sebuah kota, yaitu kota Long-kun-san.

Agaknya di sinilah tujuan mereka karena kedua ayah dan anak ini lalu mencari rumah penginapan. Siauw Ma lalu bermalam juga di rumah penginapan itu, yaitu di kamar belakang.

Malam harinya, kira-kira menjelang tengah malam, ia mendengar suara gamelan kim ditabuh orang. Suara itu demikian merdu dan sangat indah dan sedap didengar pada waktu tengah malam itu. Siauw Ma segera buka jendela kamarnya dan memandang keluar. Ternyata bulan muda mengintai di balik awan-awan putih hingga pemandangan sungguh romantis. Siauw Ma teringat akan Lian Eng dan otomatis pikirannya melayang ke kamar gadis dan ayahnya itu. Maka terheranlah ia karena suara khim itu ke luar dari kamar itu.

Ia lalu ringkaskan pakaian dan loncat keluar dengan ringan. Ketika dilihatnya betapa jendela kamar gadis itupun terbuka, ia segera loncat dan tubuhnya telah berada di dalam gerombolan daun pohon yang berada tak jauh dari jendela kamar gadis itu.

Karena gerakannya yang ringan sekali, maka ia tidak menerbitkan suara apa-apa, dan hanya sedikit saja daun-daun pohon itu bergerak-gerak. Tetapi agaknya gadis yang asyik menabuh khim itu tidak ambil perhatian, hanya terus dengan perlahan jari-jari tangannya menabuh sedangkan sepasang matanya yang jernih itu memandang ke arah bulan.

Pada saat itu Siauw Ma bagaikan lupa segala. Wajah itu memang sama benar dengan wajah Lian Eng, hanya kalau wajah Lian Eng diliputi kegagahan dan kekerasan hati, adalah wajah gadis ini begitu lembut hingga menimbulkan bayangan seakan-akan ia berhati lemah sekali. Tiba-tiba suara khim berhenti dan gadis itu menegur nyaring.

“Bangsat dari mana berani kurang ajar dan mengintai orang? Turunlah kalau kau benar-benar lelaki!” Siauw Ma terkejut sekali mendengar bentakan ini. Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis itu diam-diam tahu akan kehadirannya di situ! Ia menjadi bingung sekali dan pada saat ia hendak loncat turun dan bertemu secara terang-terangan, tiba- tiba dari atas genteng menyambar turun tubuh seorang pendek kecil!

“Matamu awas sekali, nona. sungguh membikin aku takluk!” kata si pendek itu sambil menyengir.

Barulah Siauw Ma tahu bahwa yang ditegur oleh gadis itu bukanlah dia, tetapi si pendek karena seluruh perhatiannya tertarik oleh si gadis itu dan pendengarannya penuh oleh bunyi lagu yang dimainkan oleh jari-jari tangan yang mungil. Maka Siauw Ma lalu tahan niatnya hendak turun tadi dan mengintai lagi dengan penuh perhatian.

Cun Ceng, gadis manis itu, kini telah loncat keluar dari jendelanya. Ternyata bahwa gadis itu memang telah bersiap, karena melihat pakaian yang dipakainya, bukanlah pakaian untuk tidur, tapi pakaian ringkas untuk dipakai jalan malam! Pakaian serba hijau itu membuat ia tampak makin manis.

“Tuan, sopankah itu pada tengah malam buta mengintai seorang wanita? Apa kehendakmu?” tegur gadis itu yang biarpun menggunakan kata-kata lembut, namun sangat pedas.

Si pendek itu menyengir lagi, lalu ia berkata dengan lagak menjemukan. “Aku hanya mendengar bahwa besok pagi akan datang seorang gagah perkasa yang sangat terkenal, yakni Tiat-hong-liong Si Naga Besi dan seorang puterinya yang juga sangat gagah perkasa dan tidak kalah oleh ayahnya. Tidak tahunya puteri Naga Besi itu selain gagah perkasa juga sangat lemah lembut dan pandai menabuh khim, ha, ha, ha!”

Terang sekali bahwa di balik pujian ini terkandung ejekan hebat hingga Siauw Ma yang mendengarnya ikut menjadi gemas lalu memandang. Ternyata orang itu berusia kurang lebih tigapuluh tahun. Tubuhnya pendek kecil tapi kepalanya besar dan kedua lengannya panjang.

Cun Ceng yang dapat menahan sabar berkata, “Tuan, apakah hubunganmu dengan kedatangan Tiat-hong-liong maka kau begitu memperhatikan dan datang ke sini?”

“Ha, ha, ha! Ketahuilah, nona. Aku adalah sahabat baik dari Ngo- lo-enghiong dan tentu saja aku ingin sekali melihat macamnya orang-orang yang hendak menyerbu lima pendekar tua itu. Aku ingin sekali mengukur kepandaian Naga Besi. Di manakah ayahmu itu? Suruhlah dia keluar!”

Kini Cun Ceng tak dapat mengendalikan marahnya mendengar kesombongan orang ini. Tangan kanannya bergerak ke belakang dan tahu-tahu sebatang pedang yang tipis dan kecil tapi tajam berkilauan berada dalam tangannya. “Kau malam-malam sengaja datang mengacau. Tak perlu bertemu dengan ayah, kalau ingin mengetahui kelihaian kami, cabutlah senjatamu!”

Diam-diam Siauw Ma merasa kagum melihat sikap gagah dara itu. Ternyata dalam hal ketabahan dan keberanian, dara itu tidak kalah dengan Lian Eng.

Siauw Ma ingin sekali melihat sampai di mana sebenarnya kelihaian gadis yang mirip Lian Eng ini. Namun, ia bersiap untuk membela gadis itu jika perlu karena ia tahu bahwa tamu malam yang pendek itu bukanlah orang sembarangan dan dapat diduga dari gerakannya yang gesit ketika melayang turun dari genteng tadi.

Si pendek tertawa geli.

“Ha, ha, nona manis. Kau sungguh berhati jantan. Pantas, pantas, ayah naga anak pun naga. Hanya saja, sayang kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa! Aku Bwee Lo Kun sungguh malu kalau harus melayani seorang dara manis seperti engkau. Tapi kalau tidak diberi rasa, tentu kau takkan tahu sampai di mana kelihaianku!”

Di dalam hati, Cun Ceng terkejut sekali mendengar nama ini. Ia segera tenangkan hatinya dan bersikap waspada. Sedangkan Siauw Ma juga pernah mendengar nama orang she Bwee ini. Pernah ia mendengar bahwa di daerah Ko-ciu terdapat seorang berandal tunggal bernama Bwee Lo Kun dan mempunyai julukan Cap-jiu-siauw-koai atau Setan Kecil Tangan Sepuluh! Ketika Siauw Ma pandang Bwee Lo Kun, ia terkejut karena kini si pendek itu mulai gerak-gerakkan kedua tangannya dan melihat betapa kedua tangan si pendek itu berubah menjadi seperti cakar burung, ia maklum bahwa Bwee Lo Kun tentu seorang ahli Eng- jiauw-kang atau Ilmu Silat Cengkeraman Garuda!

“Majulah kalau kau berani, nona!” orang she Bwee itu menantang dan, senyumnya yang menyebalkan tak pernah tinggalkan mukanya.

Cun Ceng juga melihat kedua tangan lawan itu maka ia berlaku hati-hati dan tanpa sungkan-sungkan lagi, ia lalu gerakkan pedangnya mengirim serangan dengan gerak tipu Angin Meniup Daun Cemara. Gerakan ini mula-mula perlahan dan merupakan tusukan ke arah leher, tapi sebelum ditangkis atau dikelit lawan, mata pedang dibalikkan ke bawah untuk menyerang dada dan terus ke bawah merupakan sabetan berbahaya.

Bwee Lo Kun berseru, “Bagus!” dan ia berkelit mundur hingga gerakan serangan gadis itu gagal sama sekali.

Tapi Cun Ceng tidak mau memberi hati, lalu maju mengejar dan mengirim serangan kedua, kini dengan gerak tipu Chong-eng- kim-touw atau Garuda Sambar Kelinci. Pedangnya diayun ke atas hingga terputar-putar bagaikan seekor garuda terbang dan cepat sekali pedang itu menyambar ke bawah dan menyabet leher!

Melihat gerakan-gerakan gadis itu, Siauw Ma dapat menduga bahwa ayah gadis itu tentu seorang ahli silat dari cabang Hoa- san-pai dan kegesitan gadis itu sudah lumayan juga. Tapi ketika ia melihat gerakan si pendek yang kembali secara mudah dapat berkelit, ia tahu bahwa si pendek itu kepandaiannya masih menang setingkat.

Kini Bwee Lo Kun balas menyerang yang dapat juga dikelit oleh gadis itu dan mereka berdua lalu bertempur seru.

Benar seperti dugaan Siauw Ma, setelah bertempur limapuluh jurus lebih, Cun Ceng mulai terdesak, biarpun permainan pedangnya masih bagus. Hanya kegesitan gadis itu saja yang membuat ia dapat bertahan sekian lamanya.

Serangan-serangan si pendek itu sungguh-sungguh berbahaya dan tiap kali tangannya yang seperti cakar itu bergerak, maka selalu mengancam tempat-tempat berbahaya. Jari-jari tangan yang ditekuk seperti kuku harimau ini tak boleh dibuat gegabah karena sekali kulit tubuh tercengkeram, maka kulit beserta dagingnya akan dapat dicengkeram sampai terlepas dari tubuh!

Pada suatu saat, setelah didesak dengan tiga kali cengkeraman yang berbahaya, Cun Ceng menjadi sengit. Ia ayun pedangnya menyabet ke arah cakar kanan si pendek yang menjijikkan itu, dengan maksud hendak menabas putus lengan itu.

Tetapi alangkah terkejutnya ketika tangan yang berbentuk cakar itu tiba-tiba ditahan gerakannya hingga sabetan pedang tidak mengenai sasaran. Pada saat pedang itu lewat, tangan yang seperti cakar itu mencengkeram dan tepat sekali dapat memegang punggung pedang. Cun Ceng membetot pedangnya, tetapi pedang itu seakan-akan terpegang oleh jepitan besi dan tak dapat ditarik terlepas dari cengkeraman Bwee Lo Kun! Mereka saling betot dan berebut pedang, dan pada saat itu Bwee Lo Kun ulur tangan kirinya yang merupakan cengkeraman garuda itu ke arah dada Cun Ceng!

Serangan ini berbahaya sekali dan agaknya tiada lain jalan bagi Cun Ceng untuk menyelamatkan diri selain terpaksa melepaskan pedangnya dan berkelit mundur. Tetapi pada saat itu, dari atas melayang turun dua benda kecil sekali dan dua benda itu tepat mengenai dua pundak Bwee Lo Kun!

Si pendek yang telah merasa girang karena ia pasti akan mendapat kemenangan dengan merampas pedang gadis itu, tiba- tiba terbelalak matanya dan mulutnya menjerit, “Aduh!!”

Kedua lengan tangannya terasa linu dan lemas hingga terpaksa ia melepas pedang yang dicengkeramnya itu sedangkan serangannya ke arah dada lawannya itu otomatis gagal dan urung. Ia cepat gunakan kedua kakinya yang tak terpengaruh oleh sambitan itu untuk meloncat mundur.

Juga Cun Ceng merasa heran sekali. Tadinya ia telah putus asa dan hendak melepaskan pedangnya dan berkelit ke belakang agar jangan sampai menjadi korban serangan lawan yang lihai itu.

Tetapi tiba-tiba ia merasa betapa pegangan lawan pada pedangnya menjadi kendur dan terlepas sedangkan wajah lawannya itu seperti orang kesakitan, matanya terbelalak dan tiba- tiba lawannya loncat mundur. Ia sama sekali tidak melihat menyambarnya dua benda kecil yang memukul pundak lawannya tadi.

Setelah loncat mundur, Bwee Lo Kun dongakkan kepala memandang ke arah pohon. Ketika melihat Siauw Ma nongkrong di atas cabang pohon sambil tersenyum mentertawakannya, si pendek terkejut sekali.

Ia tadi sekelebatan melihat bahwa yang dipakai menyambit pundaknya itu tak lain hanyalah daun-daun pohon yang dikepal menjadi benda bulat kecil, namun sambitan bola daun yang lunak itu telah dapat membuat kedua lengan tangannya terasa hilang tenaga dan tak berdaya! Maka, ketika melihat seorang laki-laki nongkrong di atas pohon, ia menduga bahwa laki-laki itu tentulah ayah gadis itu, yaitu Si Naga Besi sendiri!

Ia tak dapat melihat tegas di dalam keadaan yang remang- remang itu, maka tak dilihatnya bahwa laki-laki itu adalah seorang muda taruna yang sama sekali tak layak menjadi ayah Cun Ceng. Maka ia lalu angkat kedua tangan tanda menghormat ke arah Siauw Ma yang masih nongkrong di atas sambil berkata.

“Ternyata nama Tiat-hong-liong Si Naga Besi bukanlah nama kosong belaka. Aku Bwee Lo Kun telah mendapat pelajaran dan petunjuk. Terima kasih dan sampai bertemu pula!”

Setelah berkata demikian, Bwee Lo Kun gerakkan tubuhnya dan loncat pergi, lenyap di dalam gelap. Sementara tu, Cun Ceng yang bermata tajam telah melihat bahwa yang nongkrong di cabang pohon itu bukanlah ayahnya, tetapi seorang pemuda yang berwajah tampan sekali. Ia dapat menduga bahwa entah dengan cara apa, pemuda itu telah menolongnya, maka ia lalu berkata.

“Eng-hiong yang telah menolong orang, silahkan turun.”

Tetapi tiba-tiba tubuh yang nongkrong di atas cabang pohon itu bergerak cepat sekali dan tahu-tahu telah lenyap dari situ! Dan selagi Cun Ceng terheran-heran dan kagum sekali, datanglah ayahnya melayang turun dari atas genteng.

“Eh, mengapa kau berada di sini, Cun Ceng? Apa yang telah terjadi?” tegur orang tua itu dengan heran sekali.

Ternyata bahwa semenjak sore tadi Cun Beng Si Naga Besi, ayah gadis itu, telah keluar dari rumah penginapan dan melakukan penyelidikan ke tempat yang akan dikunjunginya besok hari. Oleh karena inilah maka tadi ia tidak muncul ketika terjadi pertempuran antara puterinya dan si pendek yang lihai itu.

Melihat ayahnya baru saja tiba kembali, Cun Ceng lalu ajak orang tua itu masuk ke dalam kamarnya.

“Ayah, baru saja telah datang orang pihak sana yang hendak mengacau. Hampir saja anakmu ini mendapat malu besar kalau saja tidak ada seorang eng-hiong luar biasa dan aneh menolong secara diam-diam!”

Terkejutlah Cun Beng mendengar ini dan ia segera minta anaknya menceritakan apa yang telah terjadi. Cun Ceng lalu menuturkan tentang kunjungan Bwee Lo Kun tadi. Cun Beng mengangguk-angguk.

“Hmm, aku tahu berandal itu, dan biarpun aku belum bertemu muka dengan dia, namun ia tentu benci padaku karena aku pernah memberi hajaran kepada seorang sutenya.”

Cun Ceng lalu menceritakan tentang pertempuran tadi.

“Berandal itu memang hebat, ayah, dan hampir saja aku mendapat malu. Ilmunya Eng-jiauw-kang lihai sekali. Setelah bertempur kurang lebih limapuluh jurus, aku mulai terdesak dan pada saat aku hampir celaka, tahu-tahu ia diserang orang secara menggelap. Aku sendiri tidak tahu dengan cara bagaimana ia diserang, tapi tahu-tahu serangannya kepadaku gagal.”

“Siapakah yang menolongmu?” tanva Cun Beng tertarik sekali.

“Entahlah. Orang she Bwee itu menyangka bahwa penolong itu kau sendiri maka ia lalu minggat dari sini. Dan orang yang menolongku itu adalah seorang pemuda asing. Tapi begitu aku melihatnya, ia lalu lari pergi dari pohon itu dengan cara yang mengagumkan sekali.”

Demikianlah, Cun Ceng dengan gembira sekali menceritakan pengalamannya tapi tentu saja ia tidak berani katakan bahwa yang menolongnya adalah seorang pemuda yang berwajah tampan sangat menarik hati!

Cun Beng menghela napas. “Memang, pihak lima jago tua itu kuat sekali dan tadi aku melihat betapa banyak sekali orang gagah datang pula menghadiri pesta mereka. Di antaranya aku melihat iblis tua Souw Lee! Entah bagaimana nasib kita besok.

“Kalau saja lima orang tua itu bermain curang dan menghasut orang-orang lain untuk memusuhi kita, terpaksa kita harus melawan mati-matian. Tapi, betapapun juga, kita tak perlu takut! Thian selalu melindungi orang-orang yang benar, seperti buktinya tadi kau juga terlepas dari pada bahaya atas pertolongan seorang gagah.”

Sebenarnya ada urusan apakah yang membuat Cun Beng dan puterinya itu datang ke kota Long-kun-san unluk mengunjungi lima jago tua dan hendak mengadu kepandaian dengan mereka?

Cun Beng adalah seorang piauw-su tunggal, yakni seorang tukang mengirim barang-barang berharga dari satu ke lain tempat. Pada masa itu, pengiriman-pengiriman barang tak dapat dilakukan seperti sekarang, yakni dengan segala macam kendaraan.

Pengiriman barang pada waktu itu sukar sekali, karena selain tidak terdapat kendaraan-kendaraan yang cepat dan baik, juga jalan-jalan sangat buruknya, ditambah pula dengan banyaknya gangguan-gangguan perampok dan berandal.

Oleh karena itu, maka para saudagar yang hendak mengirim barang-barang dagangannya, atau orang-orang kaya yang hendak mengirim barang-barangnya, selalu mencari piauw-su yang akan mengurus pengiriman barang-barang itu sampai di tempat tujuan dengan selamat. Jadi piauw-su adalah semacam pengusaha expedisi.

Pada masa itu banyak sekali terdapat piauw-kiok atau perusahaan expedisi macam ini dan piauw-kiok yang paling laku adalah mereka yang mempunyai jagoan-jagoan gagah dan yang menjadi pelindung atau pengantar barang-barang itu.

Cun Beng bekerja secara tunggal, yakni dikerjakan sendiri berdua dengan anak gadisnya yang semenjak kecil berlatih silat. Nama Cun Beng yang mendapat julukan Si Naga Besi sangat terkenal di kotanya, yakni di kota Tung-hai-kwan. Telah belasan tahun ia menjadi piauw-su dan selama itu selalu berhasil mengantar barang berharga yang dipercayakan kepadanya sampai di tempat tujuan dengan selamat.

Memang sering kali ia mendapat gangguan perampok yang mencoba untuk merampas barang-barang berharga yang sedang dikirim, tapi semua perampok terpaksa mengakui kegagahan Cun Beng hingga lambat-laun nama Si Naga Besi demikian ditakuti hingga tak seorangpun perampok berani mencoba-coba untuk ganggu “naga” ini!

Tapi disamping gangguan-gangguan para perampok, ada satu hal lagi yang menjadi pengganggu pekerjaan Cun Beng, yakni adanya persaingan di antara Perusahaan-perusahaan expedisi lain! Makin ternama dan dipercaya orang, makin dibencilah ia oleh piauwsu-piauwsu lain, karena semua orang-orang kaya yang berani bayar biaya pengiriman semahal-mahalnya selalu mencari Cun Beng untuk diberi tugas mengawal barang-barang mereka! Hal ini tentu saja menimbulkan iri hati kepada piauw-su lain di kota itu.

Di antaranya terdapat seorang pemimpin piauw-kiok bernama Thio Lui yang bergelar Ui-bin-houw Si Harimau Muka Kuning. Biarpun Thio Lui juga sangat ternama karena kegagahannya dan disegani para perampok, namun lagaknya yang sombong dan tak segan-segan memasang tarip setinggi-tingginya itu membuat para langganan tidak senang, dan mereka ini lebih suka mempercayakan barang-barangnya kepada Cun Beng yang selain sopan-santun dan ramah-tamah, juga tidak pasang tarip memukul!

Dan mulailah permusuhan timbul antara Cun Beng dan Thio Lui yang tentu saja dimulai dari pihak Thio Lui.

Pada suatu hari, Thio Lui menyuruh seorang comblang atau ceng- kauw untuk mengunjungi rumah Cun Beng dan melamar puterinya. Ketika ceng-kauw itu datang, ia diterima dengan ramah-tamah oleh Cun Beng, yang selalu menerima tamu- tamunya, baik orang kaya maupun orang biasa dengan baik dan sopan.

Setelah duduk dan minum teh yang dihidangkan, mulailah ceng- kauw itu menceritakan maksud kedatangannya.

“Sebetulnya, jika diperbolehkan, ingin saya tahu, berapakah usia puteri saudara itu tahun ini?” Cun Beng yang sudah tahu bahwa yang duduk di depannya adalah seorang comblang atau pengantara perjodohan, tersenyum.

“Ah, kaumaksudkan Cun Ceng? Anak itu baru juga berusia tujuhbelas tahun, dan bodohnya bukan main.”

Comblang itu tarik alisnya ke atas dan matanya yang sipit berseri gembira. “Kau bilang Cun-siocia itu bodoh? Ah, jangan terlampau merendah. Untuk kota kita ini, kiraku tak ada seorangpun dara yang dapat nempil jika dibandingkan dengan puterimu, baik kecantikannya maupun kepandaiannya.”

“Kalau kau maksudkan kepandaian silat, mungkin. Tetapi silat bukanlah kepandaian wanita…..” Memang Cun Beng adatnya suka merendah.

“Aah, lauw-te, janganlah kau merendahkan diri begitu rupa. Siapakah yang tidak inginkan puterimu itu menjadi anak mantunya?” Dan comblang itu tertawa bergelak-gelak.

“Twako, sebenarnya ada urusan penting apakah maka kau tidak sari-sarinya mengunjungi pondokku?” akhirnya Cun Beng bertanya karena tak suka melihat cara bicara ceng-kauw ini yang hanya memuji-muji tiada habisnya.

Comblang itu terkejut, lalu buru-buru berkata, “Memang betul dugaanmu, lauw-te. Kedatanganku ke sini adalah atas perintah orang yang mengajukan permohonan untuk mengikat erat perhubungan kekeluargaan dengan kau.” Cun Beng tersenyum. Nah, tampak sekarang ekornya, ia pikir.

“Twako, siapakah yang menyuruhmu datang ke mari ini?” tanyanya.

“Aku disuruh oleh Thio-kauwsu, guru silat dan piauw-su yang tentu kau telah ketahui kegagahan dan kekayaannya itu……”

“Ya, aku tahu siapa dia!” jawab Cun Beng memotong dengan cepat, karena ia merasa heran sekali mengapa piauw-su itu yang menyuruh comblang ini datang. Setahunya Thio-piauwsu ini telah beristeri, dan puteranya masih kecil sekali! Untuk siapakah lamaran kepada anaknya ini dimaksudkan?

“Nah, baik sekali kalau kalian sudah kenal mengenal. Oh, ya! Kenapa aku begitu bodoh? Tentu saja kalian sudah kenal, bukankah sama-sama bekerja sebagai piauw-su? Beginilah maksudnya, lauw-te, karena puterimu itupun seorang ahli silat yang biasa mengawal barang kiriman hingga cocok sekali dengan pekerjaan Thio-piauwsu, maka jika kau orang tua tidak merasa keberatan, dia menyuruh aku untuk minta tangan puterimu…….”

“Apa?” Cun Beng bangun dari kursinya. “Maksudmu dia melamar anakku untuk…… dia sendiri?”

Comblang itu mengangguk. “Ya, dia mengajukan pinangan terhadap puterimu. Soal mas kawin jangan kau khawatir, tentu beres dan akan menerima segala syarat yang kuajukan.”

“Tetapi....... tetapi…… bukankah orang she Thio itu sudah mempunyai isteri, bahkan sudah mempunyai putera?” Comblang itu tersenyum. “Lauw-te, terpaksa aku membuka rahasianya, isterinya selalu sakit saja hingga ia bermaksud hendak menceraikannya kelak. Sementara itu, puterimu akan menduduki tempat sebagai isteri kedua.”

Cu Beng menjadi pucat sekali. Hampir saja ia ayun kepalan tangannya ke arah muka comblang itu kalau saja ia tidak ingat bahwa comblang itu hanyalah seorang pesuruh saja. Ia tahan- tahan kemarahannya dan tak dapat ucapkan kata-kata, hanya pandang comblang itu dengan mata seakan-akan hendak ditelannya bulat-bulat comblang itu!

Pada saat itu, dari luar terdengar suara merdu dan nyaring.

“Ayah, aku datang!” Dan bagaikan seekor burung yang cepat dan ringan gerakannya, Cun Ceng yang cantik meloncat masuk.

Ia baru saja datang kembali dari tugasnya mengantar barang ke tempat yang tak berapa jauh dari kota itu hingga hanya makan waktu tiga hari pulang pergi. Pakaiannya masih penuh debu dan pedangnya tergantung di pinggang. Ia tampak gagah sekali.

Ketika melihat bahwa di situ ada tamu dan melihat ayahnya bagaikan patung dengan muka pucat, ia segara pegang lengan ayahnya.

“Ayah, ada apakah?” tanyanya khawatir.

Barulah Cun Beng dapat ucapkan perkataan dengan suara berat. “Orang….. orang telah menghina kita! Sungguh keterlaluan! Anjing Thio itu sungguh tak memandang muka orang!”

“Ada apakah, ayah?”

“Kau perlu juga tahu, Ceng. Saudara ini adalah suruhan dari Thio Lui untuk melamar engkau sebagai isterinya kedua!”

“Apa?!?” Cun Ceng berseru kaget dan tiba-tiba tangannya memukul dada comblang yang berdiri dengan takut.

Baiknya Cun Beng kibaskan tangan untuk menangkis pukulan anaknya kepada comblang itu hingga tangan Cun Ceng terpental dan tidak mengenai dada, hanya mengenai pundak comblang itu, tetapi cukup membuat comblang itu terlempar dan kepalanya membentur dinding hingga mengeluarkan darah!

“Manusia rendah, aku bunuh kau!”

Gadis itu dengan muka merah lalu cabut pedangnya dan memburu ke arah comblang itu. Tetapi Cun Beng cepat memburu dan pegang lengan anaknya.

“Sabar, Ceng! Ingat, ia hanya seorang pesuruh saja. Bukan dia yang menghina kita. Dia hanya menyampaikan lamaran dan menanyakan mas kawin saja!”

“Anjing rendah she Thio! Jadi dia melamarku untuk menjadi isteri kedua dan menanyakan syarat mas kawin! Boleh boleh! Hai kamu manusia rendah. Dengarlah syaratku! Aku terima lamaran anjing she Thio itu, tetapi mas kawinku ialah kepalanya. Nah, kausampaikan syaratku ini. Kepalanya, kau dengar??!”

Comblang itu dengan mata terbelalak dan wajah pucat lalu menjura dan membungkuk-bungkuk sambil lari menuju ke pintu!

Setelah comblang itu pergi, Cun Ceng jatuhkan diri di kursi sambil menangis melampiaskan kemendongkolan hatinya. Ayahnya pegang pundaknya dan menghibur.

“Cun Ceng, ingatlah! Tak perlu kita marah-marah dan makan hati hanya karena hal remeh ini. Aku tahu, anjing she Thio itu yang selalu merasa kalah maju perusahaannya, tentu menjadi iri hati dan sengaja mengirim orang untuk menghina kita.

“Tapi biarlah, aku Cun Beng selama hidup belum pernah dihina orang seperti ini. Tak mungkin aku diamkan saja hal ini. Kau tinggal saja di rumah dan kau dengar-dengar saja apa yang akan terjadi malam hari ini!”

Dan pada malam harinya, Cun Beng pergi ke rumah Thio Lui. Ke dua musuh besar ini bertemu dan bertanding, tapi setelah melawan sampai seratus jurus lebih, akhirnya Thio Lui kena tendang dadanya hingga mendapat luka di dalam yang berat juga! Puaslah hati Cun Beng dan setelah memaki-maki dan mengancam, ia tinggalkan Thio Lui yang merintih-rintih.

Ketika mendengar dari ayahnya apa yang telah terjadi, Cun Ceng merasa girang sekali dan puas. Hanya ia masih penasaran, karena kalau menurut kata hatinya yang panas, orang macam Thio Lui itu harus dibikin mampus saja!

Tapi ternyata peristiwa itu tak habis sampai di situ saja. Thio Lui merasa sakit hati sekali dan ia berhasil menghasut lima orang jago tua di Long-kun-san. Kelima orang ini adalah Thio San, Thio Lok, Thio In, Thio Gak dan Thio Hauw.

Lima orang ini sebetulnya masih ada hubungan keluarga dengan Thio Lui, yakni kakak-kakak misan. Telah lama ke lima saudara Thio yang telah tua ini mengundurkan diri dari pekerjaannya yang dulu, yakni menjadi kepala perampok! Mereka telah dapat mengumpulkan harta dah tinggal di Long-kun-san dan karena orang-orang tahu akan kepandaian mereka yang tinggi, mereka disebut Ngo-lo-enghiong atau Lima Pendekar Tua.

Ketika,Thio Lui sambil menangis menceritakah betapa piauw-su Cun Beng telah menghina dan memukulnya, kelima saudara itu menjadi marah juga.

“Apakah lantarannya?” tanya Thio San yang tertua dan lebih teliti.

“Sebab-sebab perkelahian itu hanyalah karena kami bersaingan,” kata Thio Lui.

Akhirnya kelima orang tua itu kena dibujuk dan mereka lalu keluar untuk membalaskan sakit hati adik misan itu. Setelah mendengar bahwa Cun Beng dan puterinya mengantar sebuah pengiriman barang-barang sangat berharga milik seorang pembesar yang pindah dan pulang kampung, mereka mencegat dalam sebuah hutan.

Biarpun merasa heran sekali melihat orang-orang tua itu terjun kembali ke dunia rimba hijau, Cun Beng dan puterinya tentu saja tidak mau memberikan barang-barang tanggungan mereka itu dan bertempurlah mereka.

Tapi sungguh di luar dugaan Ngo-lo-enghiong itu, ternyata kepandaian Cun Beng dan puterinya yang mendapat warisan dari Hoa-san-pai itu ternyata lihai sekali! Mereka berlima tak dapat mengalahkan ayah dan anak itu, bahkan saudara termuda dari mereka terluka pundaknya oleh Cun Beng!

Setelah menderita kekalahan, akhirnya lima orang tua itu melarikan diri dengan penasaran dan malu! Mereka penasaran karena dengan berlima mereka tak mampu menjatuhkan Cun Beng dengan anak gadisnya, dan mereka malu sekali kepada Thio Lui karena mereka telah berjanji dan menyombong bahwa mereka tentu akan dapat membalaskan sakit hati saudara muda itu. Tak tahunya mereka sendiri yang keok!

Cun Beng yang berpengalaman dapat menduga bahwa ke lima saudara Thio itu tentu telah kena dibujuk oleh Thio Lui yang merasa sakit hati, kalau tidak demikian halnya, tak mungkin kelima orang itu tanpa sebab telah berani mengganggunya. Maka semenjak itu ia berlaku hati-hati sekali dan setiap pengiriman barang, ia tidak perbolehkan puterinya mengantar seorang diri, dan selalu harus berdua dengan dia. Karena tindakan yang hati- hati ini, Thio Lui dan kelima jago tua itu tak berdaya! Akhirnya ke lima jago tua she Thio itu mengambil keputusan untuk mengundang Cun Beng mengadakan pertandingan pada waktu mereka berlima merayakan hari ulang tahun ke limapuluh dari saudara tertua, yakni Thio San!

Maka pada hari itu, Cun Beng dan puterinya mendapat surat undangan dari lima jago tua dari Long-kun-san itu. Cun Beng sebagai seorang gagah yang ternama tentu saja tak dapat menolak undangan ini, karena kalau ditolak berarti ia takut dan tentu ke lima orang she Thio itu akan menyiarkan hal ini dan namanya akan jatuh!

Ia harus menjaga namanya akan jatuh! Ia harus menjaga namanya, terutama nama piauw-kioknya! Karena inilah, bersama puterinya ia mengunjungi Long-kun-san dan bertemu dengan Siauw Ma.

<>

Ketika malam hari itu setelah Bwe Lo Kun terusir oleh Siauw Ma dan Cun Ceng sedang bercakap-cakap dengan ayahnya di kamarnya, diam-diam Siauw Ma mendengarkan dari atas genteng. Gerakannya yang sangat ringan tak dapat terdengar oleh dua orang di bawah itu.

Ketika mendengar bahwa ayah dan anak itu sedang terancam keselamatan mereka oleh orang yang menjadi kawan Bwee Lo Kun, Siauw Ma ambil keputusan untuk membantu dengan diam- diam. Keesokan harinya, dengan tindakan gagah dan tenang, Cun Beng dan Cun Ceng menuju ke rumah keluarga Thio yang telah penuh dengan tamu. Di luar pekarangan tempat pesta itu banyak orang penduduk kota itu berdiri menonton.

Sebetulnya pada saat itu tidak ada sesuatu yang layak ditonton, karena yang ada hanya tamu-tamu duduk sambil menikmati hidangan, hingga yang dapat ditonton hanyalah orang-orang sedang makan minum.

Tapi orang-orang yang berkerumun di luar itu, di antaranya banyak juga terdapat pengemis yang menanti sisa-sisa makanan, telah mendengar bahwa akan diadakan pertunjukan silat, hingga mereka dengan sabar menanti di luar sambil menjulur-julurkan leher melongok ke dalam pekarangan yang lebar itu.

Kedatangan Cun Beng berdua disambut oleh ke lima orang tua itu sendiri. Di mulut mereka berlima tampak senyum menghias bibir, tetapi Cun Beng dan Cun Ceng dapat menduga apa yang berada dalam hati mereka berlima itu. Cun Beng dan anaknya mendapat tempat kehormatan yang ditempatkan di tempat agak tinggi hingga tampak oleh semua tamu.

Setelah mereka semua duduk, tiba-tiba Thio San, saudara tertua dari ke lima jago tua itu, berdiri dan menjura kepada semua tamu.

“Cu-wi yang terhormat, ijinkanlah kami memperkenalkan tamu agung kami, yaitu Tiat-hong-liong Cun Beng Si Naga Besi yang terkenal gagah berani!” Ucapan ini disambut oleh tepuk tangan memuji dari beberapa orang tamu yang memang betul-betul mengagumi piauw-su itu.

“Dan inilah puterinya yang juga tersohor karena kepandaiannya!”

Kembali terdengar sambutan tepuk tangan memuji, terutama dari para tamu muda yang mengagumi kecantikan Cun Ceng.

Setelah itu, Thio San berkata lagi,

“Sebagaimana cu-wi sekalian telah tahu bahwa untuk memeriahkan perayaan ini, akan diadakan pertunjukan silat di atas panggung di tengah-tengah ini yang memang telah disediakan khusus untuk keperluan ini. Baiklah kami memberitahukan sebuah hal yang perlu diketahui agar tidak menimbulkan salah paham.

“Ketahuilah bahwa di antara kami berlima dan tamu agung kami terdapat perjanjian untuk menguji kepandaian masing-masing di atas panggung ini. Maka kami persilahkan saudara Cun Beng dan puterinya naik ke atas panggung untuk segera bersiap menghadapi kami berlima dan memeriahkan suasana pesta ini.”

Cun Beng merasa marah sekali. Baru saja ia datang terus ia ditantang. Maka dengan gagah iapun berdiri dan ajak puterinya loncat naik ke atas panggung. Ia lalu menjura kepada semua tamu dan berkata.

“Cu-wi sekalian, agar jangan menimbulkan salah dugaan, baiklah kami ayah dan anak memberi sedikit penjelasan. Sebetulnya kami berdua dulu pernah mempunyai sedikit salah paham dengan ke lima lo-enghiong yang sekarang menjadi tuan rumah, dan kesalahpahaman ini tak perlu kiranya kami uraikan asal diketahui oleh cu-wi bahwa kami adalah pengusaha piauw-kiok sedangkan ke lima Ngo-lo-enghiong sebagai bekas tokoh-tokoh liok-lim telah cuwi ketahui!”

Bicara sampai di sini, semua tamu keluarkan suara-suara perlahan karena mereka dapat menduga bahwa di antara pengantar barang atau piauw-su dan tokoh liok-lim atau perampok, tentu sekali terdapat permusuhan!

“Cu-wi sekalian. Agaknya ke lima Ngo-lo-enghiong masih penasaran kepada kami, karena buktinya kami menerima undangan untuk menguji ilmu kepandaian pada hari ini. Dan hal ini bukanlah hal yang terlalu penting bagi kami. Akan tetapi, orang- orang tua yang ternama seperti Ngo-lo-enghiong ini dapat begitu saja dihasut oleh seorang piauw-su bernama Thio Lui yang merasa iri hati karena perusahaannya tidak semaju perusahaan kami, sungguh memalukan!”

Kelima saudara Thio membentak. “Cun-piauwsu, sudahlah jangan banyak mengobrol. Kalau kalian memang orang-orang gagah, bersiaplah!”

“Ngo-lo-enghiong, kami sebagai tamu hanya menuruti permintaan tuan rumah. Kalian menghendaki bagaimana? Dengan tangan kosong atau bersenjata?” tanya Cun Beng dengan tenang, sementara itu, Cun Ceng berdiri memandang dengan mata tajam mengancam. Tapi pada saat itu, dari tempat tamu loncatlah seorang muda naik ke panggung. Gerakannya gesit dan indah hingga orang-orang memuji.

Anak muda itu berusia kira-kita duapuluh lima tahun dan pakaiannya berwarna hitam. Mukanya tampan, tapi sepasang matanya sangat jahat dan liar, tanda bahwa ia memiliki jiwa yang kotor. Beberapa kali ia mengerling ke arah Cun Ceng, kemudian ia menjura kepada lima orang tua she Thio itu.

“Ngo-wi lo-enghiong,” katanya dengan suara dibuat-buat, “Agaknya kurang pantas kalau ngo-wi sebagai tuan rumah harus turun tangan sendiri untuk memeriahkan pesta ini. Biarlah siauwte mewakili ngo-wi untuk mengukur sampai di mana tingginya kepandaian tamu agung ini!”

Ketika mengucapkan kata-kata “tamu agung” ia sengaja melirik ke arah Cun Beng dengan pandang menghina.

Thio San melihat anak muda ini lalu cepat balas menjura dan berkata sambil tersenyum. “Ada Kim-lian Kiam-hiap yang mewakili kami orang-orang tua lemah, tentu saja kami harus mengalah. Tapi tidak tahu apakah tamu agung kita ini berani menghadapinya!”

Cun Beng dan Cun Ceng tersenyum mengejek. Mereka tahu bahwa memang hal ini telah diatur sebelumnya, karena untuk maju sendiri, ke lima orang tua itu tahu bahwa mereka pasti akan kalah! Sebetulnya Cun Beng hendak mengundurkan diri saja, karena kalau ia mundur, bukan berarti ia takut kepada ke lima orang itu tapi segan untuk melayani bertanding dengan orang lain.

Akan tetapi, Cun Ceng tidaklah sesabar ayahnya. Mendengar kata-kata Thio San yang menyindir bahwa belum tentu tamu agung berani menghadapi orang yang mempunyai julukan Pendekar Pedang Teratai Emas ini, ia menjadi penasaran dan marah sekali.

“Mengapa kami harus takut? Asal saja orang-orang yang maju ke sini bukan maju karena kehendak mereka sendiri tetapi sudah bersekongkol dengan kalian, pasti kami akan layani baik-baik! Kami tahu betul bahwa kalian sudah kami pecundangi dan tak mungkin berani maju lagi, maka keluarkanlah jagoan-jagoan yang kau sengaja undang! Tak perlu pakai kata-kata memutar dan berpura-pura lagi!”

Suara Cun Ceng nyaring dan merdu hingga ketika ia bicara, keadaan di situ menjadi sunyi dan semua telinga mendengar ucapannya tadi dengan kagum akan keberanian gadis itu.

Kena disentil oleh sindiran yang tepat dan pedas ini, Kim-lian Kiam-hiap merah seluruh mukanya. Ia lalu berkata kepada ke lima tuan rumah, “Silahkanlah ngo-wi turun, biar siauwte menghadapi orang-orang jumawa ini.”

Ke lima orang she Thio itu segera loncat turun.

“Aku mendengar bahwa Tiat-hong-liong Si Naga Besi adalah seorang gagah perkasa, dan bersama puterinya merupakan pasangan yang jarang bandingnya di daerah ini. Aku yang datang dari jauh mendapat kehormatan untuk menguji kebodohan sendiri dengan kalian, sungguh dapat dibilang beruntung.”

Sambil berkata begini, matanya kembali mengerling tajam ke arah Cun Ceng.

Kemudian ia gerakkan tangan kanan dan tahu-tahu sebatang pedang yang tajam berkilau tercabut dari punggungnya. Gagang pedang ini berukiran teratai berwarna keemasan, dan karena inilah maka pedang disebut Kim-lian-kiam dan ia sendiri disebut Kim-lian Kiam-hiap.

“Ji-wi silahkan maju berbareng!” anak muda itu menantang dan memasang kuda-kuda yang menarik hati dengan kaki kiri dilonjorkan ke depan dan kaki kanan agak ditekuk, tangan kiri ke depan dengan pedang ditekuk di belakang lengan!

Melihat lagak orang, Cun Ceng berkata kepada ayahnya. “Ayah, biarlah anak bereskan orang gila ini!”

Biarpun tadi ketika meloncat mempunyai gerakan yang gesit, tapi melihat kejumawaan dan pasangan kuda-kuda ini, Cun Beng mendapat dugaan bahwa lawan ini tidak mempunyai kepandaian yang berisi, paling-paling lebih tinggi sedikit dari pada seorang di antara Ngo-lo-enghiong, maka ia tak usah merasa khawatir puterinya akan dikalahkan. Ia lalu mengangguk setelah berkata.

“Kami tidak biasa maju dengan keroyokan, kecuali jika pihak tuan rumah mendahului!” Cun Ceng lalu cabut pedangnya yang bernama Tin-hong-kiam dan juga merupakan sebatang pedang pusaka yang cukup tangguh.

“Ah nona hendak maju sendiri! Bagus, bagus!” kata pemuda baju hitam. “Mari kita main-main sebentar!”

Cun Ceng tidak membuang waktu lagi dan segera mulai menyerang dengan pedangnya. Pemuda itu menangkis dan lenyaplah sikap main-main dari mukanya ketika ia mendapat kenyataan bahwa gadis itu memiliki kepandaian yang tak boleh dibuat gegabah.

Apa lagi ketika Cun Ceng keluarkan kepandaiannya dan mainkan ilmu silat dari Hoa-san-pai yang indah dan gesit gerakan- gerakannya! Terpaksa Kim-lian Kiam-hiap yang biasanya sangat jumawa dan sangat mengandalkan kehebatan ilmu pedangnya itu kini keluarkan seluruh kepandaiannya untuk menjaga dirinya dari hujan tusukan dan sabetan yang dilancarkan oleh gadis itu!

Mereka bertempur ramai sekali dan tubuh mereka berputar-putar di antara sambaran pedang. Para penonton kagum sekali melihat kelincahan kedua orang itu hingga pertempuran itu benar-benar merupakan tontonan yang sangat indah menarik hati.

Para penonton dari luar yang menonton sambil berdiri sampai bersorak-sorak gembira, mereka ini yang tidak mengerti ilmu silat hanya tahu bahwa permainan itu bagus sekali. Tetapi para ahli silat yang menjadi tamu, merasa khawatir sekali karena mereka maklum bahwa kedua orang itu bukanlah sedang main-main dan sekali saja gerakan mereka salah, tentu salah seorang akan terkena serangan maut dan sedikitnya akan mengalirkan darah!

Setelah bertempur lebih limapuluh jurus, ternyatalah kehebatan ilmu pedang Hoa-san-pai yang makin lama makin kuat mendesak itu. Kini pemuda baju hitam itu hanya bisa menangkis sambil main mundur saja, tapi Cun Ceng terus mendesak keras!

Pada suatu saat terdengar seruan kaget pemuda itu dan pedang Cun Ceng yang menyambar dadanya hanya dapat dikelit sedikit hingga bajunya tersongkel ujung pedang hingga robek! Ketika Cun Ceng hendak maju memberi tikaman, tiba-tiba ayahnya berseru.

“Ceng……. tahan!” Cepat sekali gadis itu tahan serangannya dengan patuh dan loncat mundur lalu berdiri dengan pedang di tangan dan sikap mengancam. Ia berdiri tegak dengan gagah sekali hingga banyak orang melihat kemenangannya ini bertepuk tangan memuji.

Si Pendekar Pedang Teratai Emas berdiri dengan tunduk dan setelah menjura kepada Cun Ceng, tanpa banyak cakap lagi ia lalu loncat turun dari panggung.

Pada saat Cun Ceng hendak menantang tuan rumah, tiba-tiba terdengar bentakan keras dan seorang tinggi besar yang bermuka hitam loncat naik ke atas panggung.

“Nona, ilmu pedangmu hebat sekali. Suteku yang bodoh mana bisa menangkan kau! Jangan kepalang, nona berilah aku kesempatan mencoba ilmu pedangmu yang lihai!” kata orang ini sambil menggerak-gerakkan sebuah senjata rantai baja yang melingkar-lingkar di dalam tangan kanannya.

Melihat gerakan orang yang mengaku kakak seperguruan dari Kim-lian Kiam-hiap tadi, Cun Beng tahu bahwa si muka hitam yang tinggi besar ini berkepandaian tinggi juga, maka ia lalu loncat ke atas panggung.

“Ceng, kau turunlah dan beristirahatlah. Biar aku yang menerima tantangan tuan ini.”

“Bagus, bagus! Kalau Si Naga Besi sendiri yang naik, maka aku makin merasa terhormat sekali. Nah, cobalah kau memberi petunjuk kepada aku, Hek-houw Sun Liang!”

“Awas seranganku!” Cun Beng segera menyerang dengan tangan kanannya ke arah dada orang muka hitam yang mengaku bernama Sun Liang Si Harimau Hitam itu. Sun Liang cepat berkelit dan rantai bajanya segera menyambar dengan kencang sambil keluarkan suara bersiutan karena kerasnya.

Melihat serangan hebat ini, semua orang terkejut, begitupun Cun Beng sendiri. Ia tahu bahwa lawannya ini selain gesit, juga bertenaga kuat sekali. Maka ia cepat berkelit sambil cabut pedangnya.

Kalau saja lawannya ini tidak menggunakan senjata yang lemas dan lihai, ia masih berani melayaninya dengan kepalannya yang kuat. Tetapi rantai baja ini berbahaya sekali dan harus dilawan dengan senjata pula.

Sebentar saja kedua orang itu bertempur seru. Jauh lebih hebat dan menyeramkan dari pada pertempuran tadi. Kini tubuh kedua orang ini merupakan bayangan yang terputar-putar dan berloncatan ke sana-sini, sedangkan kedua senjata mereka merupakan hantu-hantu maut yang setiap saat dapat merenggut nyawa mereka!

Betapapun kuat dan lihainya si muka hitam, namun ilmu silat Hoa- san-pai memang luar biasa. Apa lagi dimainkan oleh Cun Beng yang memiliki tenaga lwee-kang yang cukup tinggi, maka pedangnya merupakan naga yang terbang menyambar-nyambar hingga rantai baja lawan itu tak berdaya lagi karena ke mana saja rantai itu menyambar, selalu tertumbuk dengan dinding kuat yang dibentuk oleh pedang itu.

Akhirnya terpaksa ia harus mengakui kehebatan Tiat-hong-liong, dan agar jangan sampai mendapat malu dan dirobohkan, si muka hitam itu berseru.

“Terima kasih, kau lihai sekali!”

Akan tetapi, pada saat itu, Cun Beng sedang menyerang dengan tipu Dewa Mempersembahkan Arak, sebuah tipu yang hebat sekali, maka karena gerakannya begitu cepat sedangkan si muka hitam agak lambat karena berbicara, tak dapat ditahan lagi ujung pedangnya menyambar ke arah tenggorokan si muka hitam! Cun Beng sendiri terkejut sekali karena ia tidak sangka lawannya akan selambat itu. Ia cepat miringkan tangannya hingga pedangnya tidak langsung menusuk tenggorokan dan meleset hingga mengerat kulit leher saja!

Namun si muka hitam merasa perih dan sakit sedangkan darah mengalir di lehernya, membuat ia menjerit kaget dan loncat turun ke bawah panggung. Ia ambil saputangan dan dengan selampai itu ia tutup lukanya di leher yang mengucurkan banyak darah.

Banyak tamu berteriak ngeri, dan menyangka bahwa si muka hitam itu mendapat luka parah. Padahal yang terluka hanya kulitnya saja!

Pada saat itu, seorang hwesio gundul dengan badan gemuk pendek loncat ke atas panggung. Dia ini adalah Ling Lung Hwesio yang menjadi susiok atau paman guru si muka hitam tadi.

Sebenarnya Ling Lung Hwesio tidak hendak mencampuri urusan “kanak-kanak” ini, tapi melihat betapa murid keponakannya terluka yang disangkanya luka hebat, ia merasa penasaran dan marah sekali. Bukan marah karena luka itu, tapi marah karena disangkanya Cun Beng bersikap curang.

Sudah jelas terdengar bahwa si muka hitam tadi mengucapkan pujiannya dan mengaku kalah, namun masih saja diserang dengan hebat hingga terluka lehernya! Ia tidak tahu bahwa sebenarnya hal itu terjadi bukan disengaja oleh Cun Beng. “Orang kejam, terpaksa pinceng turun tangan!” Ia lalu serang Cun Beng dengan kedua tangannya.

Serangan ini hebat sekali karena dari kedua tangan keluar tenaga lwee-kang yang sangat kuat. Juga pada saat itu Cun Beng sedang berdiri kesima dan menyesal.

Ia sendiri masih menyangka bahwa si muka hitam itu terluka parah, maka ia menyesal sekali. Kini tahu-tahu diserang sedemikian hebat sedangkan hatinya masih bingung, ia tak keburu berkelit dan tahu tahu dadanya telah terpukul hebat!

Harus diketahui bahwa hwesio itu adalah seorang ahli dari Liong- san yang keistimewaannya terletak pada kekuatan lwee-kangnya. Maka dapat ditaksir betapa hebatnya ketika tangannya yang digunakan pada saat ia marah itu dan mengandung tenaga lwee- kang kuat sekali memukul dada Cun Beng. Si Naga Besi menjerit dan roboh terjengkang, pedangnya terpental jauh!

Pada saat itu, dua bayangan orang melayang ke atas panggung. Yang satu adalah Cun Ceng yang menubruk ayahnya, sedangkan yang seorang lagi adalah Siauw Ma yang loncat dari tengah- tengah penonton di luar pekarangan. Gerakannya demikian cepat hingga tak seorangpun tahu dari mana datangnya pemuda tampan itu!

Cun Ceng angkat tubuh ayahnya ke bawah panggung sambil memanggil-manggil sedangkan Siauw Ma menghadapi hwesio itu sambil tersenyum. “Kepala gundul! Kau tadi berkata kejam, tapi sebenarnya siapakah yang kejam? Kau gunakan tangan jahat sewaktu orang sedang tak bersedia!”

“Anak muda, kau siapa dan mau apa?”

“Aku bernama Siauw Ma dan aku mau menghukum kau karena perbuatanmu yang kejam tadi.”

“Siauw Ma, kau masih begini muda. Pergilah, jangan mengantar nyawa dengan sia-sia. Lihat saja, Si Naga Besi dalam sejurus saja sudah roboh olehku. Apa lagi kau yang semuda ini!”

Pada saat itu terdengar jerit Cun Ceng dari bawah panggung, dan sesaat kemudian gadis itu loncat ke atas panggung. Wajahnya pucat, air matanya turun dan ia pegang pedangnya sambil pandang hwesio itu dengan mata mengancam.

“Bangsat gundul, kau harus ganti jiwa ayahku!”

Siauw Ma menghadapi nona itu dan tiba-tiba ia beri tanda gadis itu dengan sebelah mata yang dikedipkan. “Nona biarlah aku hukum dulu orang ini, baru kemudian kau boleh membalas dendam.”

Gadis itu pandang wajah Siauw Ma dan terkejutlah ia, karena ia kenal wajah ini sebagai wajah orang yang malam tadi telah menolongnya. Dalam kesedihannya Cun Ceng berpikir bahwa kalau ia sendiri yang maju, pasti ia kalah. Karena itu, ia mengangguk sebagai pernyataan terima kasih, lalu ia kembali kepada ayahnya yang masih rebah tak bergerak dengan mata meram.

Siauw Ma menghadapi Hwesio itu lagi. “Kepala gundul, kau jumawa sekali. Kau tadi jatuhkan Si Naga Besi karena curang. Coba kauserang aku, kutanggung dalam sepuluh jurus saja bukan aku yang jatuh, tapi kau yang akan rebah di sini tak berdaya.”

“Bangsat kecil yang sombong, kau harus dihajar!” teriak hwesio itu.

“Kaulah yang harus dihajar!” kata Siauw Ma.

Hwesio itu melancarkan serangan pukulannya yang hebat, tapi tubuh Siauw Ma melejit lenyap dan tahu-tahu sudah berada di belakangnya. Melihat gin-kang sehebat ini, hwesio itu terkejut dan berlaku hati-hati. Ia kirim lagi pukulannya dengan tenaga sepenuhnya, tapi lagi-lagi Siauw Ma berkelit cepat.

“Pengecut, sambut pukulanku kalau kau laki-laki!” kata hwesio itu sambil memukul lagi.

“Kepala gundul, rasakan tanganku!” jawab Siauw Ma dan ketika pukulan hwesio itu menyambar, ia sengaja memukulnya dari samping dan akibatnya Ling Lung Hwesio menjadi terkejut sekali karena tangannya kena terpukul ke samping dan terpental.

Ternyata tenaga lwee-kang anak muda itu lebih kuat darinya! Pucatlah wajahnya dan keringat dingin mengucur. “Kau siapakah, anak muda? Kau murid dari manakah?” tanyanya perlahan.

“Baru empat jurus, ingat? Kita berjanji sepuluh jurus! Aku datang dari Thang-la, kalau kau mau tahu.”

Mendengar bahwa lawannya yang muda ini adalah murid Thang- la, makin tergetarlah hati Ling Lung Hwesio dan ia lalu kerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menjatuhkan Siauw Ma. Setelah menyerang sampai sembilan jurus belum juga dapat menjatuhkan Siauw Ma, tiba-tiba Siauw Ma berseru.

“Nah, sekarang jurus ke sepuluh adalah saat kau rebah di sini!”

Ling Lung Hwesio yang hendak menjaga namanya kirim serangan paling berbahaya, yakni ia pukulkan tangan kanan ke arah dada lawan sedangkan tangan kiri dikibaskan ke arah pusar lawan itu, dan kedua kakinya siap menendang. Serangan ini demikian lengkap hingga tak memungkinkan lawan balas menyerang dan merobohkannya.

Tapi siapa sangka bahwa ketika kepalan tangannya hampir mengenai dada Siauw Ma, pemuda itu mendahului mengetok pergelangan tangannya dari samping yang tepat mengenai jalan darah hingga tangannya terasa sakit sekali, sedangkan tangan kirinya yang dikibaskan ke arah pusar dapat ditangkis oleh lutut pemuda itu. Kemudian sebelum ia dapat bergerak lebih lanjut, tangan kanan Siauw Ma telah menyelonong ke dada dan menotoknya hingga ia rebah tak berdaya, tepat sebagaimana dikatakan Siauw Ma tadi.

Pada saat itu, Cun Ceng dengan pedang di tangan loncat naik ke atas panggung dan ketika pedangnya berkelebat, kepala hwesio itu putus tertabas!

Tentu saja keadaannya menjadi kalut, tapi Siauw Ma segera berdiri dan membentak keras,

“Cu-wi sekalian! Ketahuilah bahwa nona ini membunuh karena hendak membalas dendam! Ayahnya, yaitu Cun-piauwsu yang tadi terpukul oleh hwesio ini telah meninggal maka sudah sepantasnya puterinya membalas dendam ini.

“Sebetulnya gara-gara semua keributan ini adalah salah dari pada ke lima Ngo-lo-enghiong yang menjadi tuan rumah. Kalau ia mempunyai permusuhan dengan ayah nona ini, mengapa tidak dibereskannya saja sendiri?

“Tetapi mereka ini, orang-orang rendah dan bersifat pengecut yang berani menyebut diri sendiri orang-orang gagah, telah demikian pengecut untuk menghasut orang lain dan mengadukan orang-orang gagah lain untuk memusuhi ayah nona ini! Kalau kata-kataku ini tidak benar, silahkan mereka yang berani membuktikan ketidak benarannya naik ke panggung ini!”

Tetapi tak seorangpun berani naik ke panggung menghadapi pemuda aneh yang lihai sekali ini. “Aku adalah murid dari Pegunungan Thang-la dan tugasku ialah membasmi segala kejahatan. Seharusnya ke lima orang tua yang menjadi tuan rumah ini kuhajar, tetapi mengingat bahwa mereka inipun hanya terkena hasutan seorang rendah bernama Thio Lui, biarlah kali ini kuampunkan mereka!”

Kemudian Siauw Ma ajak Cun Ceng membawa jenazah ayahnya pergi dari situ. Dengan bantuan Siauw Ma, Cun Ceng dengan sedih sekali terpaksa mengubur jenazah ayahnya di kota itu dan kelima orang tua yang telah insaf dan menyesal setelah terjadi peristiwa hebat yang mengambil nyawa dua orang itu, ikut pula membantu dengan sungguh-sungguh hingga rasa ganjalan sakit hati di antara mereka dan nona itu telah lenyap.

Ngo-lo-enghiong itu sangat kagum kepada Siauw Ma dan mereka paksa anak muda itu mengunjungi rumah mereka dan menjamunya. Juga Cun Ceng mereka paksa untuk mengunjungi rumah mereka di mana mereka menyatakan menyesalnya dan minta maaf atas segala kejadian.

Ketika mereka sedang mengobrol, tiba-tiba Thio San bertanya kepada Siauw Ma, “Siauw-taihiap, kalau kau datang dari Thang- la, tentu kau kenal kepada seorang nona yang sangat lihai yang bernama Lian Eng dan menjadi murid Huo Mo-li yang terkenal?”

Mendengar ini, Siauw Ma cepat berkata, “Tentu saja kenal! Kami sahabat-sahabat baik. Tahukah kau di mana ia berada, lo- enghiong?” “Begitukah?” Thio San berkata kaget. “Kalau begitu, kau harus tolong dia!”

Siauw Ma bangun dari bangkunya. “Apa? Apa yang terjadi? Lo- enghiong, tolong kauberitahukan yang jelas!”

“Sebenarnya hal ini rahasia dan kami tak berani menceritakan kepada siapa juga, taihiap. Tetapi kau perlu sekali diberitahu agar kau dapat membantu sahabatmu itu.

“Kami mendengar dari beberapa orang kawan kami yang dapat terbujuk oleh pengawal-pengawal pangeran, kabarnya pangeran Yo dengan pengawal-pengawalnya hendak serbu dan hancurkan Kuil Kwan-im-bio di perbatasan Tibet-Sin-kiang. Dan yang menjadi ketua di sana adalah seorang gadis murid Huo Mo-li bernama Lian Eng dan yang datang dari Thang-la.”

Siauw Ma terheran sekali. “Dia menjadi kauw-cu? Ah, tak masuk pada akal!”

“Entahlah, tapi kurasa kawanku itu tidak membohong. Justeru karena gadis lihai itu berada di sana, maka Pangeran Yo hendak memperkuat rombongannya.”

Maka gelisahlah Siauw Ma mendengar ini. Ia lalu buru-buru tinggalkan rumah Ngo-lo-enghiong itu dan bersama Cun Ceng kembali ke rumah penginapan.

“Nona, sekarang kuharap kau suka kembali ke kotamu. Teruskanlah usaha ayahmu yang baik itu, karena aku tak dapat mengawanimu lebih jauh. Aku harus segera pergi ke perbatasan Tibet-Sin-kiang dan mencari kawanku di Kuil Kwan-im-bio itu!”

Cun Ceng pandang pemuda itu dengan mata basah.

“Siauw-taihiap, kau telah berkali-kali menolongku, bahkan kau pula yang telah membalaskan sakit hati ayahku. Budimu ini sungguh besar sekali dan selama hidupku tak mungkin dapat membalasnya.

“Maka, taihiap, karena akupun hidup sebatangkara, kalau saja kau sudi dan perkenankan, biarlah aku ikut kau pergi ke sana. Biarpun kepandaianku masih sangat rendah bila dibandingkan dengan kepandaianmu yang sangat tinggi, namun percayalah, Cun Ceng takkan ragu-ragu dan sayang mengorbankan jiwa untuk keperluan dan membelamu!”

Bukan main rasa terharu hati Siauw Ma mendengar kesanggupan yang diucapkan sejujur-jujurnya ini. Kalau saja yang bicara ini seorang laki-laki, tentu ia akan memeluknya dengan rasa berterima kasih sekali, tapi Cun Ceng adalah seorang gadis.

Seorang gadis yang cantik lagi, dan lebih dari itu, seorang gadis yang wajah dan potongan tubuhnya mirip sekali dengan Lian Eng, yang dicintanya itu!

Ah, ia dapat menduga dari sinar mata gadis yang dibasahi air mata ini bahwa di dalam hati gadis ini tumbuh rasa kagum dan hutang budi yang besar sekali, dan bahwa gadis ini kalau saja ia keluarkan kata pinangan, akan menerimanya dengan kedua tangan terbuka dan dengan hati beruntung sekali.

Tapi, Siauw Ma mempunyai pendirian yang teguh. Cintanya terhadap Lian Eng sangat mendalam dan tak mungkin mudah digeser begitu saja. Maka ia lalu gelengkan kepala dan berkata.

“Terima kasih atas janjimu hendak membela, nona. Tapi, terus terang saja, kalau kau ikut pergi, maka perjalanan itu akan menjadi lama sekali. Maaf, bukan aku hendak menghina, tapi ilmu lari cepat yang kaumiliki masih jauh dari pada sempurna hingga kau hanya akan memperlambat perjalananku. Sedangkan aku perlu sekali segera sampai di sana, takut kalau-kalau aku datang terlambat. Seorang kawan baik sedang terancam bahaya di sana!”

Cun Ceng mengerti hal ini dan ia mengangguk-angguk lalu menghela napas, dan tak kuasa berkata apa-apa lagi.

<>

Siauw Ma lalu tinggalkan ia dan lari cepat menuju ke barat, di mana ia harapkan akan bertemu dengan Lian Eng biarpun ia masih ragu-ragu jika mengingat bahwa tak mungkin sekali seorang gadis seperti Lian Eng bisa menjadi kauw-cu atau ketua agama di Kwan-im-bio.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa setelah ia tinggalkan, gadis yang bernasib malang dan ditinggal mati ayahnya itu, karena merasa betapa hatinya menjadi kosong dan sunyi setelah ditinggal pergi pemuda itu, diam-diam melakukan pengejaran ke barat. Ia tetap hendak membela pemuda itu, biarpun ia harus datang belakangan!

Dengan menggunakan ilmu lari cepat dan tiada pernah berhenti kecuali hanya kalau perutnya terasa lapar saja, Siauw Ma menuju ke Kwan-im-bio di perbatasan Tibet Sin-kang.