-->

Patung Dewi Kwan Im Jilid 14

Jilid 14

Beng Beng Hoatsu, Hwat Kong Tosu, dan Huo Mo-li merasa heran sekali mendengar kata-kata ini. Mereka merasa seakan- akan menghadapi sebuah teka-teki yang sulit. Tapi Kiang Cu Liong dapat menduga dan tersenyumlah dia.

“Ha! Jadi, kau merasa malu-malu untuk mengatakannya? Baiklah, boleh kauterangkan dengan cara apa saja asal jelas bagi kami.”

Tiong Li lalu menggunakan jari telunjukkan membuat lukisan di atas tanah. Keempat orang-orang tua itu mengelilinginya dan membungkukkan badan untuk melihat apa yang digambar oleh anak muda itu.

Tiong Li mula-mula menulis huruf-huruf Hong, Siauw, Lian, dan Tiong. Empat huruf ini ia tulis dalam kedudukan segi empat, dimulai dari huruf Hong. Empat huruf ini dibaca dengan suara nyaring oleh Kiang Cu Liong.

“Hong...... Siauw….... Lian….. Tiong! Hm, kaumaksudkan tentu Hong Cu, Siauw Ma, Lian Eng, dan Tiong Li, bukan?”

Tiong Li hanya mengangguk, kemudian jari telunjuknya membuat gambar coretan seperti anak panah, Mula-mula dari huruf Hong diberi coretan anak panah menuju ke huruf Siauw, dari huruf Siauw menuju ke huruf Lian, dari huruf Lian ke huruf Tiong, dan dari huruf Tiong kembali ke huruf Hong!

Kalau Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu masih mengerutkan kening dan memikirkan apa maksud lukisan ini, adalah Kiang Cu Liong dan Huo Mo-li berseru kaget, bahkan Huo Mo-li berkata. “Celaka, celaka! Kalau begini, bagaimana baiknya??” tanyanya kepada Kiang Cu Liong.

Tabib Dewa ini gunakan tangan kiri mengurut-urut jenggot dan tangan kanan menggaruk-garuk belakang telinga, lalu berkata,

“Waah, sungguh sulit! Mengapa ada terjadi hal sesulit ini? Cinta segi empat, sungguh lebih sulit dari pada hitungan yang bagaimanapun!”

Kini mengertilah Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu akan maksud lukisan itu.

“Jadi Siauw Ma suka kepada Lian Eng, tapi Lian Eng sebaliknya terpikat oleh Tiong Li?” berkata Beng Beng Hoatsu sambil pandang wajah pemuda yang tunduk di atas tanah itu.

“Ya, Lian Eng cinta kepada Tiong Li, tapi anak muda ini berani sekali menolak cintanya dan bahkan jatuh hati kepada Hong Cu!” kata Huo Mo-li dengan sikap keras sambil memandang Tiong Li dengan tak senang.

“Tenang, Huo Mo-li!” kata Kiang Cu Liong yang membela muridnya. “Harus kauingat bahwa keadaan muridku sama saja. Ia mencinta Hong Cu, tapi murid Hwat Kong ini sebaliknya mencinta Siauw Ma!”

“Sama celakanya dengan muridku!” tiba-tiba Hwat Kong Tosu berkata sambil bersungut-sungut. “Murid Huo Mo-li itu sebaliknya suka kepada murid tabib setan ini!” Demikianlah, keempat orang tua itu dengan bingung sekali saling tunjuk dan saling persalahkan murid kawan mereka yang tidak mau membalas cinta muridnya dan dianggap menyakiti hati murid masing-masing!

Tiong Li yang mendengar keributan ini dengan hati bingung, lalu memberi hormat kepada gurunya dan berkata, “Suhu, biarlah murid pergi mencari mereka dan seberapa dapat teecu akan berusaha agar hal ini dapat diselesaikan dengan baik agar jangan meninggalkan dendam.”

Mendengar kata-kata ini, semua guru besar itu menganggap benar dan mereka hentikan percekcokan mereka.

“Kita orang-orang tua sebenarnya harus tahu diri dan tidak mengacaukan hidup murid-murid kita sendiri. Biarlah urusan orang muda ini diselesaikan oleh mereka sendiri. Kita tua bangka untuk apa menguruskan segala soal perkawinan dan perjodohan? Biarlah kita lihat saja, asal mereka tidak menyeleweng dari peri keadilan dan kebajikan.”

Tiong Li lalu memberi hormat sekali lagi kepada Suhunya dan kepada ke tiga guru besar lainnya, kemudian ia loncat dan berlari cepat menuju ke bawah gunung. Pemuda ini merasa sedih sekali karena ia merasa bingung.

<>

Tidak saja ia menyedihi keadaannya sendiri, tapi iapun merasa kasihan kepada ketiga kawannya yang ternyata kesemuanya menjadi korban yang sangat menderita dari kejahilan tangan Dewi Amor yang suka sekali mempermainkan orang-orang muda! Ia maklum bahwa sebagai gadis-gadis alim, Lian Eng dan Hong Cu tentu tak sudi membuka perasaan hatinya dan menyatakan cintanya secara berterang.

Juga mereka itu tentu saja tidak suka mengurbankan perasaan mereka dan menerima pinangan yang salah alamat bagi mereka itu secara demikian saja! Tapi sebaliknya, apakah ia dan Siauw Ma harus mengalah dan berkorban? Ah, serba salah dan serba sulit!

Ketika tiba di sebuah dusun di kaki Pegunungan Thang-la, Tiong Li mencari keterangan tentang jejak kawan-kawan yang dikejarnya. Ia mendengar bahwa Lian Eng dan Siauw Ma memang lewat di dusun itu dan kedua orang itu menuju ke timur, sedangkan Hong Cu tidak lewat di dusun itu.

Siauw Ma tentu mengejar Lian Eng, pikirnya. Kalau menurutkan suara hatinya, ia ingin sekali mencari jejak Hong Cu, tapi mengingat bahwa ia tidak boleh dikuasai perasaan hatinya setelah dapat menduga bahwa gadis itu sebetulnya menaruh hati kepada Siauw Ma, ia lalu menuju ke timur pula!

Sampai delapan hari ia masih dapat mengikuti jejak Siauw Ma yang tentu sedang mengikuti atau mengejar Lian Eng pula. Tapi pada hari kesembilan, ketika ia tiba di sebuah dusun di luar hutan yang panjang, ia kehilangan jejak pemuda itu. Tak seorangpun di dusun itu pernah melihat seorang pemuda seperti yang ditanyakan oleh Tiong Li. Tiong Li menjadi bingung dan sehari itu ia mencari-cari jejak yang lenyap dengan sia-sia dan akhirnya ia menjadi putus asa dan menduga bahwa Siauw Ma tentu telah ambil jalan lain ketika masuk hutan yang lebat di luar dusun itu hingga tidak melalui dusun ini.

Karena tidak mempunyai tujuan tetap ke mana harus mencari kawan-kawannya itu, Tiong Li lalu membelok ke utara dan di tiap dusun dan kota yang dilaluinya, ia selalu menanyakan keterangan tentang kedua orang kawannya itu. Sebagai seorang berjiwa pendekar, sepanjang jalan tak lupa ia menggunakan kepandaiannya untuk menolong mereka yang menderita, baik dengan menggunakan kepandaian silatnya yang tinggi ataupun dengan kepandaian dan pengertiannya tentang ilmu pengobatan.

Kurang lebih tiga bulan kemudian tibalah ia dalam sebuah hutan di dekat kota Lok-bin-an. Ketika ia sedang berjalan sambil pikul keranjang obatnya, tiba-tiba ia mendengar suara kaki kuda dibarengi suara ringkik kuda yang ramai mendatangi dari belakang. Ia buru-buru tunda tindakan kakinya dan loncat ke pinggir, lalu turunkan pikulannya dan memandang.

Terik matahari sangat panasnya dan menembus celah-celah daun pohon langsung menyinari mukanya yang berpeluh hingga Tiong Li gunakan ujung lengan bajunya untuk menghapus keringat itu dari mukanya. Dari jurusan barat datanglah serombongan penunggang kuda sebanyak belasan orang. Kuda-kuda itu semuanya kuda bagus dan besar hingga lari mereka cepat sekali.

Tetapi yang sangat mengherankan hati Tiong Li ialah bahwa semua penunggang kuda itu adalah pendeta pendeta gundul yang kesemuanya berjubah kuning! Pakaian dan sikap mereka aneh seperti bukan orang aseli.

Setelah mereka datang dekat, tahulah Tiong Li bahwa mereka itu adalah pendeta-pendeta Lhama dari Tibet! Ia terkejut sekali karena ia maklum akan kelihaian pendeta-pendeta ini dan sudah menjadi kebiasaan pendeta Lhama yang berani turun ke daratan Tiongkok adalah orang-oran pilihan yang memiliki kepandaian tinggi.

Maka ia tidak merasa heran ketika melihat tiga orang pendeta Lhama yang bertubuh tinggi besar menggunakan kedua kaki mereka untuk lari mengikuti rombongan itu. Mereka berjalan sambil bercakap-cakap, seakan-akan sama sekali tidak sukar baginya untuk menyamai kecepatan kaki kuda yang berlari cepat di depan mereka!

Tiong Li melihat demikian banyaknya pendeta Lhama turun gunung dan bahkan turut pula tiga orang pendeta yang berjubah merah sebagai tanda bahwa mereka adalah pendeta-pendeta kelas dua, tentu saja menjadi heran dan curiga sekali.

Tentu imam-imam ini mempunyai tugas yaqg sangat penting, kalau tidak demikian, tidak nanti mereka turun gunung merupakan rombongan demikian besar. Juga, mereka itu menuju ke timur, agaknya hendak menuju ke kota raja!

Tiong Li menjadi tertarik dan gembira, karena ia ingin sekali tahu ada peristiwa penting apakah di kota raja. Maka dipanggulnya kembali pikulan obatnya dan iapun menggunakan ilmu lari cepat mengejar rombongan itu. Ia maklum bahwa mereka itu, terutama ketiga pendeta jubah merah, adalah orang-orang berilmu tinggi, maka ia berlaku hati-hati dan hanya mengejar dari jarak jauh.

Rombongan pendeta Lhama itu melakukan perjalan terus menerus, hanya berhenti untuk sekedar beristirahat dan makan bahkan ada kalanya mereka berjalan sambil makan ransum kering! Tetapi Tiong Li tetap membayangi mereka dengan setia. Ia makin merasa yakin bahwa rombongan pendeta dari Tibet itu tentu mempunyai tugas yang sangat penting.

Karena perjalanan mereka yang dilakukan tanpa ditunda-tunda dan cepat sekali itu, tak sampai sebulan mereka telah tiba di kota raja. Begitu masuk di pintu gerbang tembok tebal yang mengelilingi kota raja, seorang Lhama jubah merah menghampiri penjaga dan sambil memperlihatkan sebuah tanda yang dikeluarkan dari sakunya, ia menanyakan sebuah gedung di kota itu.

Melihat tanda itu, si penjaga mengubah sikapnya menjadi hormat sekali bahkan memberi penghormatan secara tentara. Tiong Li tentu saja tidak dapat mendekati mereka, hanya melihat dari tempat jauh hingga ia tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Setelah mendapat keterangan dari penjaga itu, rombongan Lhama itu segera melanjutkan perjalanan mereka memasuki kota. Kini kuda mereka dijalankan perlahan.

Orang-orang di dalam kota, walaupun pernah melihat pendeta Lhama, namun belum pernah melihat demikian banyak Lhama mendatangi kota raja, menjadi heran dan memandang kepada rombongan itu dengan mata curiga.

Hal ini menggirangkan hati Tiong Li, karena ia segera mendapat akal. Dengan wajah dibuat seperti orang yang sangat heran dan ingin tahu, ia menghampiri penjaga itu.

“Eh, twako, mereka itu hendak ke manakah? Sudah bertahun- tahun aku tidak melihat pendeta-pendeta Tibet sebanyak itu. Mereka datang ke kota raja mau apakah?”

Biarpun Tiong Li telah mengatur suara dan mukanya seperti orang yang hanya ingin tahu saja dan bukan hendak menyelidik, namun penjaga itu tetap curiga.

“Untuk apa ikut-ikut mencampuri urusan mereka? Mereka adalah tamu-tamu Pangeran Yo dan apa kehendak mereka bukanlah urusanmu atau urusanku. Pergilah!”

Meskipun mendapat jawaban kasar, namun Tiong Li tidak menjadi marah. Ia bahkan tersenyum puas dan menjura dalam-dalam kepada penjaga itu. “Terima kasih banyak, twako.”

Penjaga itu menyangka bahwa Tiong Li tentu merasa jerih dan takut mendengar nama Pangeran Yo, karena siapakah orangnya yang tidak takut dan gentar mendengar nama ini? Tidak hanya di dalam kota raja, bahkan sampai jauh di luar kota rajapun, nama Pangeran Yo sangat terkenal.

Ia mempunyai kedudukan besar karena puteri pangeran ini telah menjadi permaisuri ketiga dari kaisar dan sangat dicinta hingga kedudukan ayahnya tentu saja kuat dan berpengaruh. Berkat jasa puterinya, Pangeran Yo diangkat menjadi penasihat baginda, bahkan ia demikian pandainya memikat hati kaisar hingga menerima tanda jasa berupa sebuah pedang pusaka yang memberi ia kekuasaan penuh sebagai duta besar dari kaisar dan bila mana atau di mana saja ia dapat gunakan kekuasaannya itu untuk bertindak!

Tentu saja para pembesar lain, besar kecil, sangat takut padanya. Apa lagi setelah Pangeran Yo berlaku sewenang-wenang kepada para pembesar yang tak disukainya!

Orang-orang ini ia perintahkan untuk memegang jabatan yang sukar dan banyak sudah pembesar yang ia pindahkan ke tempat- tempat jauh dan berbahaya, hanya karena pembesar-pembesar itu tidak ia sukai. Karena inilah maka pada masa itu, kekuasaan Pangeran Yo terhadap para pembesar dan pejabat pemerintah adalah lebih besar dari pada kaisar sendiri.

Penjaga itu tidak tahu bahwa sebenarnya Tiong Li sama sekali tidak tahu akan pengaruh Pangeran Yo ini. Jangankan tahu akan pengaruhnya, bahkan melihat orangnya atau mendengar namanyapun belum pernah! Tiong Li lalu mencari keterangan di mana letaknya gedung Pangeran Yo ini. Pertanyaan ini membuat orang yang ditanyainya memandangnya dengan mata terbelalak, karena siapakah yang tidak tahu di mana gedung Pangeran Yo? Tapi setelah tahu bahwa pemuda ini datang dari tempat jauh, akhirnya orang itu lalu memberitahunya juga.

Tiong Li lalu mencari tempat penginapan dan malamnya ia lalu loncat naik ke atas genteng dan berlari-lari mencari gedung Pangeran Yo. Ternyata gedung itu sesuai dengan kebesaran dan pengaruh penghuninya, karena bangunan itu selain kokoh kuat dan besar, juga wuwungan dan gentengnya sangat tinggi dengan bertingkat tiga, jauh lebih tinggi dari gedung-gedung di sekitarnya.

Tiong Li berlaku sangat hati-hati karena ia cukup maklum bahwa di tempat semacam itu pasti sekali banyak terdapat pengawal- pengawal yang berkepandaian tinggi, apa lagi jika dipikir bahwa belasan imam dari Tibet itu pada malam hari ini berada di situ pula.

Benar saja dugaannya, di empat penjuru terdapat penjaga- penjaga yang gesit dan ringan gerakannya, sedang melakukan penjagaan dengan cermat. Agaknya di dalam sedang berlangsung pertemuan, karena dari ruang dalam menyorot ke luar cahaya penerangan yang besar.

Ketika memeriksa dengan hati-hati sekali, Tiong Li mendapat kenyataan bahwa di bagian belakang, yakni tempat kebun bunga yang sangat luas, penjagaan agak kurang kuat. Ia lalu bertindak cepat dan dengan diam-diam bagaikan gerakan bayangan setan, ia sergap dua orang penjaga pintu kebun.

Karena ia gunakan gerakan yang cepat sekali, sebelum dua orang itu sempat berseru, mereka telah dapat ditotok roboh oleh pemuda itu. Ia lalu angkat dua tubuh itu dan menyembunyikan mereka di sebuah tempat yang gelap, lalu dengan tak ragu-ragu lagi ia loncat ke dalam taman.

Keadaan taman bunga itu tidak berapa terang, karena penerangan yang di gunakan di situ hanya beberapa buah teng yang digantungkan di beberapa batang pohon. Tapi penerangan yang suram suram ini bahkan menambah keindahan taman dan Tiong Li merasa dirinya berada dalam surga karena ternyata di dalam taman itu tertanam ratusan macam bunga yang indah- indah dan ada yang menyiarkan bau harum sekali. Tapi ia tidak lama menikmati dan mengagumi semua keindahan ini, hanya cepat berindap-indap mendekati bangunan.

Pada saat itu, kebetulan sekali dua orang penjaga, jalan dengan tindakan perlahan ke arahnya! Tiong Li tak ingin menggunakan kekerasan karena khawatir kalau-kalau mereka sempat berteriak dan menimbulkan gaduh, maka ia lalu enjot tubuhnya ke atas pohon.

Gerakannya demikian ringan hingga tidak menerbitkan suara, hanya tampak daun pohon di mana ia berada bergoyang-goyang sedikit. Namun hal ini cukup untuk membuat kedua orang penjaga itu bercuriga dan tahan tindakan kaki mereka. “Lauw-ko, mengapa tidak ada angin daun pohon itu bergoyang- goyang?” tanya seorang.

“Aah, paling-paling tentu burung malam yang banyak berkeliaran di atas pohon,” jawab kawannya.

“Mungkin kau benar. Kalau orang tentu gerakannya akan mengeluarkan suara,” kata orang pertama, tapi karena masih sangsi, ia lalu pungut sepotong batu kecil dan menimpuk ke jurusan pohon itu!

Tiong Li kagum akan ketelitian orang. Batu itu tepat meluncur ke arah dadanya, maka ia ulur tangan dan menyambut batu itu yang lalu di lemparkan ke belakangnya.

“Aah, burung itu tentu sudah terbang!” kata penyambit itu dan mereka berdua lalu melanjutkan perondaan mereka di sekitar gedung itu.

Tiong Li lalu loncat turun dan kini ia berhasil mengintai ke dalam ruang yang terang itu. Ia melihat betapa di dalam ruang itu penuh orang-orang yang mengelilingi meja besar.

Tiga orang imam Tibet berjubah merah tampak duduk di kursi kehormatan, sedangkan belasan Lhama jubah kuning juga mengelilingi meja itu. Ketika Tiong Li memperhatikan pula, ia terkejut karena melihat bahwa Ban Kok Si Garuda Sakti dan Ho- pak Chit-kiam, Tujuh Pedang dari Ho-pak, yakni orang-orang yang dulu membantu Siauw Liong dan Bu-eng-cu di puncak Bukit Kee-san berada di situ pula! Mereka ini duduk di rombongan tuan rumah, bersama beberapa orang gagah lainnya. Dan di kepala meja, di tempat tuan rumah dengan sebuah kursinya yang besar dan terukir indah duduklah seorang tinggi kurus yang dilihat dari pakaiannya tentulah seorang berpangkat besar yang hartawan. Tiong Li dapat menduga bahwa bangsawan ini tentulah Pangeran Yo yang ditakuti orang.

Pangeran Yo itu berusia kira-kira empatpuluh lima tahun. Matanya sipit dan mulutnya selalu seperti mengejek dan memandang rendah orang lain. Orang yang biasa melihat mulutnya ini tentu akan heran sekali melihat pada waktu ia menghadap dan bicara dengan kaisar, karena sifat dan bentuk mulutnya menjadi lain sekali, penuh hormat dan ramah, dan sopan tutur sapanya.

Tapi sekarang ini, biarpun di depannya duduk tamu-tamu agung, utusan-utusan terhormat dari kepala pendeta Lhama di Tibet, namun ia masih tetap merasa dirinya jauh lebih tinggi dan pandang mereka sambil kedikkan kepala.

Setelah mengintai dan mendengar percakapan mereka beberapa lama, Tiong Li merasa heran sekali karena ternyata bahwa utusan-utusan dari Tibet ini membuat persekutuan rahasia dengan Pangeran Yo! Karena merasa cemas melihat perkembangan Agama Kwan-im yang makin meluas di daerah perbatasan Sin-kiang Tibet, maka para pendeta Lhama menjadi marah dan anggap bahwa Kwan-im-kauw menyaingi mereka.

Tapi pada masa itu, pemerintah yang berkuasa di Tibet, yakni dalam tangan kepala pendeta Lhama yang sangat berpengaruh, telah mengatakan damai dan bersahabat dengan Kaisar Tiongkok, maka para pendeta Lhama itu tidak berani semparangan bergerak dan mengganggu pendeta-pendeta Kwan-im-kauw yang seluruhnya terdiri dari orang-orang dari daratan Tiongkok pedalaman.

Kemudian kepala pendeta mengadakan hubungan dengan Pangeran Yo yang selainnya berpengaruh, juga terkenal sangat tamak akan harta kekayaan. Maka diutuslah ketiga imam jubah merah itu dengan para imam jubah kuning untuk mengantar barang-barang berharga sebagai tanda penghormatan dan untuk merundingkan tentang pembasmian Kelenteng Kwan-im! Para imam Tibet itu maklum bahwa pendeta-pendeta Kwan-im-kauw tak boleh dibuat gegabah karena memiliki kepandaian tinggi.

Di dalam perundingan yang diadakan pada malam itu diambillah keputusan bahwa Pangeran Yo akan memperjuangkan izin dari kaisar untuk membubarkan dan menghancurkan Kwan-im-kauw dengan tuduhan memberontak. Memang telah terkenal bahwa imam-imam dari Kwan-im-kauw tidak ada yang sudi menjadi anjing-anjing penjilat kaisar, bahkan membenci para durna yang memeras rakyat.

Kemudian, setelah mendapat izin, Pangeran Yo akan memperkuat rombongan imam-imam Tibet itu untuk bersama- sama menghancurkan Kwan-im-bio dengan perjanjian bahwa patung emas Dewi Kwan-im dan sekalian harta dari emas dan perak yang terdapat dalam bio itu akan diserahkan seluruhnya kepada Pangeran Yo! Perjanjian ini diterima baik oleh utusan Tibet, karena mereka ini sesungguhnya tidak menghendaki harta. Di istana kepala pendeta Lhama mereka telah cukup banyak terdapat barang-barang berharga, emas, dan batu-batu permata. Apakah artinya patung Dewi Kwan-im dan lain-lain barang itu?

Mendengar persekutuan ini, biarpun Tiong Li merasa tak senang dan di dalam hati membela para imam dari Kwan-im-kauw, namun pemuda ini pikir bahwa persoalan ini sebetulnya bukanlah urusannya dan sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan dia, karena bukankah ia mempunyai tugas yang lebih penting, yaitu mencari kawan-kawannya untuk melenyapkan segala ketidak- enakan yang terasa di antara mereka secara terang-terangan? Setelah berpikir demikian, maka ia balikkan tubuh hendak pergi dari situ.

Tapi tiba-tiba kakinya kena injak tempat rahasia yang dipasang di situ dan tiba-tiba terdengarlah bunyi nyaring di dalam gedung karena ternyata alat rahasia itu bekerja dan memberi tanda ke dalam. Orang-orang yang berada di situ, baik yang berada di dalam maupun yang berjaga di luar, menjadi kaget sekali dan mereka cepat loncat keluar dan mencari tahu sebabnya.

Tiong Li juga terkejut dan hendak segera loncat ke taman, tapi ia telah terlambat karena empat orang penjaga yang menyerbu dari luar dapat melihatnya dan segera membentak.

“Penjahat dari mana begitu berani mati?” dan tanpa menanti jawaban, empat batang golok menyambar ke tubuh Tiong Li.

Tapi empat orang penyerang itu menjadi terkejut sekali karena pemuda itu tahu-tahu telah melejit di antara sinar empat golok itu dan telah lenyap dari pandangan mata mereka! Tiba-tiba Tiong Li telah mencelat ke atas genteng, tapi kini ia menghadapi para imam Tibet yang telah mencegat di atas genteng pula! Juga Ho- pak Chit-kiam dan Ban Kok Si Garuda Sakti sudah berada di sit

Beberapa orang pengawal mengejar naik dengan obor di tangan, maka keadaan menjadi terang dan wajah Tiong Li dapat terlihat nyata! Tiba-tiba Ban Kok Si Garuda Sakti bertindak maju dan berteriak keras.

“Celaka, orang ini mata-mata!”

Tiong Li tertawa keras. “Orang tua, kau sudah kenal padaku dan kau tahu aku bukan mata-mata!”

“Bohong! Justeru karena aku telah kenal kau maka aku tahu kau mata-mata! Cu-wi suhu sekalian, orang ini benar-benar penyelidik Kwan-im-kauw! Aku tahu betul, karena ia adalah kawan baik si iblis wanita itu!”

Maka terdengar seruan-seruan marah dari para imam itu. Tiong Li terkejut mendengar ini. Siapakah yang dimaksudkan iblis wanita oleh Ban Kok ini? Apakah Lian Eng? Ataukah Hong Cu?

Agaknya mereka ini pernah “makan tangan” seorang di antara dua orang gadis kawannya itu hingga memusuhinya. Tapi apa hubungannya dengan Kwan-im-kauw?

Tiong Li tak sempat banyak berpikir karena para imam jubah kuning telah maju dengan pedang di tangan. Ia dikepung oleh belasan orang itu dan terpaksa Tiong Li cabut keluar pikulan obatnya yang tadi diselipkan di pinggangnya.

Sekali gebrak saja ia berhasil membuat beberapa batang pedang terpental dari tangan musuh dan kagetlah semua imam itu melihat kelihaian anak muda yang mereka sangka makanan empuk itu.

Sebaliknya Ho-pak Chit-kiam si tujuh saudara berpedang dan Ban Kok yang telah tahu akan kelihaian Tiong Li, berlaku hati-hati dan kini mulai ikut maju mengepung. Keadaan Tiong Li sungguh berbahaya karena para pengeroyoknya adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Ia putar pikulannya sedemikian rupa dan senjatanya yang aneh ini memang mempunyai gerakan istimewa dan tidak terduga hingga lagi-lagi beberapa orang imam jubah kuning berseru kaget.

Akhirnya tiga orang imam jubah merah yang juga sudah berada di situ, membentak marah dan tiga bayangan merah berkelebat dan menyerang Tiong Li. Anak muda ini terkejut sekali karena tiga orang ini benar-benar kosen. Hampir saja ia mendapat celaka ketika tiga orang ini maju berbareng dan mengirim tiga macam serangan dengan tangan mereka yang memiliki tenaga lwee-kang hebat!

Baiknya Tiong Li memang telah berlaku waspada dan telah maklum bahwa para pengeroyoknya adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi hingga ia dapat cepat gunakan gin-kangnya yang luar biasa dengan jalan menekan pikulannya pada wuwungan dan enjot tubuhnya mencelat ke atas berjumpalitan beberapa kali dan tahu-tahu ia telah melayang ke wuwungan rumah lain!

Tapi alangkah kagetnya ketika ia turunkan kakinya di wuwungan itu, tahu-tahu ada angin menyambar dari belakang dan tiga orang imam jubah merah itu kembali telah berada di situ dan mengirim, serangannya yang berbahaya.

“Bagus! Rupanya kalian hendak mengadu jiwa?” teriak Tiong Li gemas. Ia lalu keluarkan seluruh kepandaiannya.

Tapi ternyatalah segera bahwa ia tidak mampu mendesak tiga imam itu, karena kepandaian tiga imam itu tidaklah berada di sebelah tingkat kepandaiannya sendiri! Andaikata ia melawan seorang diri pada mereka saja, belum tentu ia mampu menjatuhkan dengan mudah dan cepat, apa lagi harus menghadapi ketiga-tiganya!

Harus diketahui bahwa ketiga imam Lhama jubah merah itu adalah tiga tokoh ternama di Tibet yang menduduki tingkat kedua! Mereka ini adalah Ui Liong Taisu, Ang Liong Taisu, dan Hek Liong Taisu dan sesuai dengan nama mereka, Ui Liong Taisu bermuka semu kuning, Ang Liong taisu bermuka merah, dan Hek Liong Taisu bermuka hitam!

Dan ketiganya memiliki kepandaian khusus yang tinggi. Ui Liong Taisu bersenjatakan sepasang sumpit kuningan yang digerakkan cepat sekali untuk menotok jalan darah dan tiap kali ia mainkan sepasang sumpit kuningan yang selalu digosok sampai mengkilap itu, senjatanya menyambar-nyambar menyilaukan mata lawan.

Ang Liong Taisu bersenjata sepasang hud-tim atau kebutan yang panjang dan pendek. Yang panjang di tangan kanan dan yang pendek di tangan kiri. Juga sepasang hud-tim ini berbahaya sekali karena ujung hud-tim yang berambut lemas ini dapat digerakkan dengan tenaga lwee-kang hingga menjadi keras dan dapat menotok jalan darah pula!

Berbeda dengan kedua saudaranya, Hek Liong Taisu tak pernah mainkan senjata. Ia andalkan sepasang kepalannya yang telah dilatih hebat dan sampai menjadi hitam. Kulit lengannya ini telah menjadi kebal dan kuat untuk dipakai menangkis senjata tajam!

Selain ini, iapun pandai menggunakan senjata rahasia, yakni pelor besi yang hitam pula dan yang diisi obat sedemikian rupa hingga kalau tertangkis oleh senjata musuh, pelor itu dapat meledak dan melepaskan jarum-jarum kecil sekali!

Demikianlah, maka tidak heran jika Tiong Li yang biarpun memiliki kepandaian tinggi, merasa sibuk sekali dan terdesak hebat!

“Ha, ha, ha! Anak muda, sayangilah jiwa dan kepandaianmu! Kau masih begini muda tapi kepandaianmu sudah boleh juga. Lebih baik kau menyerah dan membantu kami!” berkata Ui Liong Taisu yang tunda sepasang sumpitnya. “Kauanggap aku manusia macam apakah? Tak tahu malu!” balas Tiong Li menyindir hingga si muka kuning itu menjadi marah sekali.

“Kau mencari mampus!” serunya dan sepasang sumpitnya meluncur cepat menyerang tempat berbahaya.

Kalau sekali saja serangan ini mengenai tubuh Tiong Li, maka jiwa anak muda itu berada dalam bahaya maut! Tetapi biarpun sangat terdesak, Tiong Li pergunakan seluruh kemahirannya dan seluruh kepandaian gin-kangnya untuk mencelat ke sana ke mari sambil mencari ketika untuk melarikan diri.

Pada saat ia terdesak sekali, tiba-tiba datang serangan tangan kiri Hek Liong Taisu. Serangan hebat ini datang pada saat ia sibuk menangkis serangan sepasang sumpit dan hud-tim, hingga tak mungkin dihindarkan pula. Terpaksa Tiong Li miringkan tubuh dan pasang pangkal lengannya yang diisi tenaga lwee-kang untuk menerima pukulan itu

“Buk!!” dan Tiong Li terpental setombak lebih! Ia jatuh berdiri di atas genteng, tetapi merasa betapa lengannya menjadi kesemutan dan, ia maklum telah mendapat luka di dalam.

Keadaannya serba susah sekali, karena mau lari tak mungkin karena ilmu lari cepat musuh-musuhnya bukanlah rendah. Mau melawan terus juga tiada harapan. Tiba-tiba, ketika ketiga imam jubah merah itu loncat untuk menghabiskan nyawanya, berkelebatlah bayangan putih dibarengi bentakan nyaring.

“Imam-imam busuk pergilah!” dan benar saja, begitu bayangan itu menyerang, Hek Liong Taisu telah kena terpukul oleh sebatang tongkat yang digerakkan secara luar biasa hingga tulang kering bawah lutut Hek Liong Taisu terpukul hampir patah! Imam muka hitam itu tak dapat menahan rasa sakitnya dan ia jatuh di atas genteng yang menjadi pecah, dan ia tinggal duduk di situ sambil memijit-mijit kakinya dengan muka pringisan!

“Hong Cu, kau datang!” Tiong Li berseru girang sekali, tapi tiba- tiba ia merasa mukanya berubah merah dan panas karena teringatlah ia akan persoalan yang ada di antara mereka.

“Tiong Li, hayo kita gempur imam-imam busuk ini!” teriak Hong Cu yang putar tongkatnya sedemikian rupa hingga kedua imam itu terkejut sekali karena ternyata bahwa kepandaian gadis yang baru datang ini tidak kalah lihainya dengan pemuda itu!

Tiong Li mendapat semangat baru dan biarpun pundak dan lengan kirinya tak dapat digunakan, namun tangan kanannya masih dapat mainkan pikulannya dengan hebat.

Kini Ui Liong Taisu dan Ang Liong Taisu tidak mendesak terlalu dekat karena mereka harus pula bersilat secara hati-hati.

Hong Cu yang tahu bahwa Tiong Li telah terluka segera berkata. “Mari kita pergi saja, tak perlu melayani dua imam busuk ini terlebih lama pula!”

Tiong Li berterima kasih sekali atas ajakan ini, karena iapun telah merasa betapa pundak kirinya sakit sekali dan sebentar lagi tentu luka itu akan menghebat. Ia lalu putar pikulannya mengirim serangan maut kepada Ang Liong Taisu hingga lawannya ini mencelat mundur.

Saat itu adalah kesempatan baik bagi Tiong Li, maka ia lalu loncat jauh diikuti oleh Hong Cu. Karena merasa penasaran Ui Liong Taisu segera berteriak.

“Hek-sute, lekas gunakan senjata rahasiamu!”

Tapi Hek Liong Taisu yang masih duduk di atas genteng sambil pencet-pencet kakinya hanya mengerang. “Aduhh kakiku….. aduh kakiku……”

Kedua saudaranya segera memeriksa dan ternyata tulang kaki yang terpukul itu agak retak dan kulitnya matang biru dan bengkak! Maka segera mereka tolong saudara ini.

Sementara itu, para pengawal lain juga telah tiba di situ dan sama- sama menolong Hek Liong Taisu yang digotong ke dalam gedung Pangeran Yo.

Pangeran Yo marah sekali mendengar betapa mata-mata itu telah dapat melarikan diri. Ia gebrak-gebrak meja dan memaki-maki para pergawalnya yang dikatakan tidak becus! “Masa untuk menangkap seorang mata-mata yang masih muda saja kalian tidak mampu? Ah, sungguh celaka! Tentu ia akan memberi laporan ke kelenteng Kwan-im-bio dan mereka tentu akan membikin persiapan dan penjagaan kuat. Gagallah rencana kita. Bagaimana pikiran dan pendapatmu, Ui-totiang?” tanyanya kepada Ui Liong Taisu yang mengepalai rombongan imam utusan.

“Memang musuh mempunyai banyak orang pandai. Tapi tak perlu kita takut. Biarpun Hek-sute terluka kakinya, namun ia telah memberi persen kepada pangkal lengan mata-mata itu. Dan ketahuilah bahwa bekas tangan Hek-sute bukankah tidak berbahaya! Kalau tidak segera mendapat obat yang mujijat, dalam satu dua hari ini pemuda itu tentu akan menderita sakit hebat dan racun pukulan itu akan dapat menewaskan jiwanya!”

Yo-taijin merasa girang mendengar itu. “Tapi, betapapun juga, lebih baik kalian segera berangkat ke sana mendahului mereka agar penyerbuan ini akan lebih berhasil dan mudah.”

Semua utusan dari Tibet menyanggupi dan malam itu juga diadakan persiapan untuk berangkat besok pagi-pagi sekali, menuju ke perbatasan Sin-kiang dan Tibet untuk menghancur leburkan Kwan-im-kauw dan seberapa dapat membunuh mati semua imam di situ dan merampas semua harta kekayaan.

Hong Cu dan Tiong Li beruntung sekali bahwa yang terluka adalah Hek Liong Taisu, karena kalau si muka hitam itu tidak terluka, mereka tentu takkan dapat lari semudah itu dan masih akan terancam bahaya oleh pelor-pelor yang lihai dari imam muka hitam itu. Tiong Li hendak kembali ke rumah penginapannya, tapi Hong Cu mencegah.

“Boleh kita mampir sebentar untuk mengambil barang-barangmu, tapi kita harus pergi ke tempat persembunyianku. Di kota raja kita sudah tidak bisa bergerak leluasa lagi karena orang telah mengenal kita!”

Mereka lalu mampir ke rumah penginapan Tiong Li, dan dengan diam-diam mereka masuk ke kamar pemuda itu melalui jendela, lalu ambil semua barang-barang yang ditinggal di situ. Kemudian, mereka lalu menuju keluar kota raja.

Di tengah jalan Tiong Li telan dua butir obat untuk mencegah menjalarnya racun di pundaknya. Tapi ternyata pekerjaan para pengawal cepat sekali.

Pada waktu mereka masih bertempur melawan tiga imam jubah merah tadi, para pengawal telah memberi perintah kepada penjaga pintu gerbang tembok yang mengelilingi kota raja untuk melarang semua orang yang hendak keluar meninggalkan kota itu! Dan penjagaan di situ diperkuat, bahkan ada beberapa orang pengawal yang telah berada di situ menjaga pula!

“Bagaimana, kita terjang saja mereka?” tanya Hong Cu karena gadis ini juga bingung melihat penjagaan demikian kuat.

Tiong Li geleng-geleng kepalanya sambil menunjuk kepada pundaknya. “Aku terluka agak payah juga. Perlu diobati dulu dan tak dapat aku gunakan tenaga bertempur. Kalau kau maju sendiri, tentu kau akan menang, tapi belum tentu dapat keluar dari sini, karena para penjaga dan pengawal lain tentu datang membantu, juga kita tidak tahu cara bagaimana membuka pintu gerbang yang berat itu. Kurasa tentu ada rahasia pada pintu itu!”

Selamanya Tiong Li berlaku hati-hati dan selalu mempertimbangkan masak-masak lebih dulu sebelum bertindak, maka Hong Cu yang telah kenal padanya dan maklum akan kecerdikan pemuda ini, minta nasihatnya. Mendengar pendapat Tiong Li, ia menyatakan setuju juga, tetapi bagaimanakah mereka akan dapat loloskan diri?

“Kita terpaksa harus bermalam di dalam kota ini,” akhirnya Tiong Li berkata, “Besok siang kalau pintu gerbang sudah dibuka, kita bisa keluar dengan mudah.”

Hong Cu memandangnya heran.

“Mudah? Kau aneh sekali! Semua pengawal akan mengenal kita dan dengan mudah kita dikeroyok!”

Tetapi Tiong Li hanya tersenyum dan melihat betapa pemuda itu tersenyum sambil meringis menahan sakit, baru Hong Cu teringat akan luka di pundak pemuda itu, maka ia lalu buru-buru mendahului pemuda itu mencari tempat penginapan.

Di dalam kota itu, terdapat sebuah bio besar yang berloteng dan di atas loteng itulah kedua anak muda itu bersembunyi. Dengan menggunakan kepandaian mereka, keduanya loncat naik tanpa diketahui oleh penjaga bio yang berada di bawah. Kebetulan sekali bio bagian atas itu kosong, maka mereka dapat menempati tempat itu dengan aman.

Tiong Li lalu keluarkan keranjang dan bungkusan obat dari pikulannya, lalu mengobati luka di pundaknya. Ternyata bahwa Hek Liong Taisu mempunyai tangan yang jahat dan lihai karena tangan itu telah terendam dan mengandung hawa beracun.

Pukulan tangannya tidak hanya berat dan bertenaga lwee-kang yang sukar dilawan, juga membawa hawa yang berbisa! Baiknya tenaga lwee-kang pemuda itu sudah cukup tinggi maka ia dapat pergunakan tenaganya untuk menahan dan melawan pengaruh bisa.

Pula, tadi ia telah makan obat penawar hingga racun itu hanya berhenti di pundaknya saja dan membuat kulit pundaknya tampak hitam. Tiong Li gunakan tiga jarum untuk membuka jalan darah di pundaknya hingga bekas tusukan jarum itu mengeluarkan darah hitam. Kemudian dengan semacam obat tempel atau koyo, ia keluarkan semua racun dari pundaknya.

Setelah beres mengobati lukanya, Tiong Li lalu bersamadhi untuk menyembuhkan bekas pengaruh racun di pundaknya itu. Kepada Hong Cu ia minta supaya mengumpulkan tenaga untuk besok, dan tentang cara keluar dari kota raja dengan selamat baik diserahkan saja kepadanya! Pada keesokan harinya, setelah matahari naik agak tinggi, barulah pintu gerbang dibuka. Orang-orang yang lalu lintas merasa gelisah, terutama para pedagang yang mempunyai keperluan untuk mengeluarkan gerobaknya keluar kota atau yang hendak masuk kota, mereka ini harus menanti di dalam atau di luar pintu.

Penjagaan di pintu gerbang itu diperkuat dan tampak beberapa pengawal keraton berada pula di situ dengan tangan mereka siap di gagang golok. Orang-orang yang lalu lintas di situ di amat-amati dengan mata tajam.

Di antara banyak orang yang keluar kota melalui pintu gerbang itu, terdapat dua orang pemuda tani yang berwajah buruk sekali. Yang seorang berwajah hitam dengan mata besar sebelah, sedangkan orang ke dua wajahnya bopeng dan biarpun ia masih muda, tapi rambutnya sudah penuh uban. Dua orang ini berjalan perlahan seakan-akan tidak ambil perduli sama sekali akan segala keributan para penjaga itu.

Dan para penjaga juga tidak perdulikan mereka, karena yang mereka cari adalah seorang pemuda yang cakap dan seorang gadis cantik yang malam tadi telah berani mengacaukan gedung Pangeran Yo! Namun, biarpun dijaga keras sampai hari menjadi sore, kedua anak muda yang dicari-cari itu tidak tampak muncul dari situ.

Oleh karena ini, maka para penjaga menjadi khawatir sekali, dan menyangka bahwa kedua orang itu tentu masih berada di dalam kota raja dan siapa tahu, gedung mana lagi yang akan di kacau oleh mereka! Sedangkan pada waktu itu, para jagoan-jagoan keraton yang terlihai, pagi-pagi tadi telah berangkat semua bersama para imam dari Tibet!

Mereka ini tentu saja sama sekali tak pernah menduga bahwa dua orang muda yang buruk rupa tadi, setelah pergi jauh sekali dari tembok kota raja, mampir di sebuah anak sungai dan sambil tertawa geli mereka cuci muka dan berganti pakaian. Sebentar saja dua orang yang buruk menjijikkan tadi telah berganti rupa menjadi Tiong Li dan Hong Cu!

Ternyata, dengan kepandaiannya ilmu pengobatan yang diwarisinya dari Kiang Cu Liong, Tiong Li telah dapat mengubah rupa dan rambut mereka sedemikian rupa hingga jangankan para penjaga itu, biarpun mereka sendiri kalau dapat melihat muka sendiri tentu takkan dapat mengenal!

<>

Setelah dapat lolos dari penjagaan di gerbang benteng itu dengan mudah, Tiong Li dan Hong Cu lalu melanjutkan perjalanan mereka.

“Hong Cu, tak perlu kiranya aku menyatakan padamu betapa besar rasa terima kasihku atas pertolonganmu malam tadi,” kata Tiong Li di tengah perjalanan.

“Aah, jangan terlalu sungkan, bukankah kita sahabat baik?” “Sungguh aku tidak sangka akan bertemu dengan engkau di kota raja. Sebetulnya, bagaimana kau bisa tiba di sana? Bukankah kau pergi mengejar Lian Eng?” tanya Tiong Li.

“Memang maksudku semula hendak mengejar Lian Eng, tapi ia lihai sekali dan larinya keras hingga aku kehilangan jejaknya. Berpekan-pekan aku mencari-cari dan menjelajah banyak tempat, tapi sia-sia belaka. Maka aku lalu menjadi putus asa dan merantau tanpa tujuan sampai berbulan-bulan.

Akhirnya, dengan secara kebetulan sekali, aku melihat Ho-pak Chit-kiam! Tentu saja aku ingat kepada mereka ini yang dulu membantu musuh-musuh kita. Mereka datang dari jurusan barat membawa beberapa orang kawan dan di antaranya ada yang terluka.

Melihat luka yang mereka derita, aku heran karena luka itu hanya dapat ditimbulkan oleh pukulan Huo-mo-kang dari Lian Eng! Karena itulah maka diam-diam aku mengikuti mereka dan pada malam hari aku mencuri dengar percakapan mereka. Dan benar saja, yang melukai mereka adalah Lian Eng!”

“Di mana, adanya gadis itu?” Tiong Li bertanya dengan tak sabar.

“Menurut pendengaranku yang terpotong-potong, agaknya mereka itu baru pulang dari menyerbu Kwan-im-bio dan agaknya Lian Eng berada di sana membantu para imam Kwan-im-kauw dan mengusir mereka yang menyerbu ini!”

“Lalu bagaimana?” tanya Tiong Li dengan hati tertarik. “Aku masih curiga dan terus saja mengikuti mereka, tapi mereka itu menuju ke kota raja! Menurut pembicaraan mereka yang dapat kutangkap, mereka menanti di gedung Pangeran Yo dan menanti datangnya utusan rombongan imam Lhama dari Tibet.

“Telah beberapa malam aku menyelidik di atas gedung itu, tapi belum juga rombongan yang dinanti-nanti itu tiba. Akhirnya, malam tadi aku datang lagi menyelidiki keadaan gedung itu dan melihat kau sedang dikeroyok!”

“Ah, kalau begitu, tahulah aku mengapa aku dicap mata-mata oleh mereka! Tentu kita dianggap sengaja datang memata-matai mereka untuk membantu Lian Eng dan Kwan-im-kauw!” kata Tiong Li.

Tapi Hong Cu masih saja merasa heran dan tidak mengerti. “Kurasa Lian Eng hanyalah membantu para imam Kwan-im-kauw, jadi hanya kebetulan saja ia berada di sana. Apakah hal ini tidak mereka ketahui? Apakah mereka menganggap bahwa Lian Eng akan terus menerus membela Kwan-im-kauw?”

“Habis, kalau menurut pendapatmu, bagaimana baiknya?” tanya Tiong Li.

“Bagaimana baiknya? Tentu saja kita harus segera mendahului pergi ke Kwan-im-bio di perbatasan Sin-kiang! Biarpun cici Lian Eng sengaja membela Kwan-im-kauw maupun tidak, tapi ia tentu mempunyai alasan kuat sekali untuk membela Kwan-im-kauw mati-matian, maka tak boleh tidak aku harus pergi ke sana dan melindungi kelenteng itu. Siapa tahu kalau-kalau aku akan dapat bertemu dengannya di sana!”

Kemudian, setelah memandang pemuda itu, ia berkata lagi, “Tapi, tentu saja aku tidak memaksamu untuk ikut pergi ke tempat yang sangat jauh itu!”

“He, mengapa begitu? Kalau kau pergi ke sana, Mengapa aku tidak? Bukankah aku kawan Lian Eng dan…… kawanmu pula?” kemudian pemuda itu teringat betapa menurut dugaannya gadis ini mencinta Siauw Ma, maka ia lalu berkata dengan wajah sungguh-sungguh setelah menunda larinya.

“Hong Cu, dengarlah baik-baik. Soal yang dibicarakan oleh guru- guru kita itu……. jangan kau anggap bahwa aku mendesak. Tidak, nona yang baik, aku tidak mendesakmu. Biarpun aku harus menyatakan secara terus terang bahwa hal itu memang merupakan cita-cita muluk dalam mimpi bagiku.

“Nah, kau sudah mendengar isi hatiku dan pendirianku, maka janganlah kau gelisah dan anggap bahwa aku…… aku sudah….. sudah anggap urusan kita itu sebagai hal yang pasti!”

Hong Cu tundukkan mukanya yang agak kemerah-merahan. Memang, seandainya tidak ada Siauw Ma di dunia ini, tentu ia takkan ragu-ragu menerima seorang pemuda sebagai Tiong Li ini untuk menjadi suaminya. Tapi ia telah tertarik kepada Siauw Ma sungguhpun ia dapat menduga bahwa pemuda yang dicintanya itu tidak membalas kasihnya dan sebaliknya mencinta Lian Eng! “Tiong Li, kau memang seorang laki-laki jantan yang suka berterus terang. Sikap inilah yang selalu kujunjung tinggi. Tapi ketahuilah bahwa aku sendiripun sama sekali belum mendapat kepastian dalam hal ini.

“Biarlah kita tunda saja dulu hal yang masih mentah ini dan kita harus memikirkan keadaan cici Lian Eng yang malang. Hati cici Lian Eng keras sekali, maka keputusan-keputusan yang tidak sesuai dengan suara hatinya tentu akan membuat ia patah hati dan bertindak nekat!

“Marilah kita cari dia dulu, dan juga Siauw Ma. Aku tidak tahu

apa jadinya dengan ke dua saudara kita itu sekarang!”

Mata Tiong Li bercahaya kagum dan girang. Ia maklum bahwa gadis di depannya ini benar-benar cerdas otaknya dan agaknya sudah dapat menangkap pula segala rahasia cinta segi empat ini.

Juga ia sangat kagum akan kebijaksanaan Hong Cu, karena di dalam kekecewaannya telah tertolak cintanya terhadap Siauw Ma yang sebaliknya mencinta Lian Eng, gadis ini tidak menaruh dendam kepada Lian Eng, tapi sebaliknya bahkan menaruh hati kasihan!

Rasa kagumnya menjadi rasa haru yang ketika ia pandang mata Hong Cu menyuram, maka dengan suara setengah berbisik Tiong Li berkata.

“Hong Cu….. kau kau mencinta Siauw Ma, bukan?” Gadis itu menatap muka kawannya, lalu sambil menggigit bibir dan menahan jatuhnya air mata yang telah membasahi bulu matanya, ia mengangguk perlahan.

“Alangkah mulianya hatimu, Hong Cu. Jawabanmu tidak membuat aku kecewa, bahkan membuat aku sangat kagum padamu. Kau jujur dan mulia, kau cerdik dan bijaksana. Aku hanya doakan semoga kelak kau bahagia hidup di samping Siauw Ma, ia seorang yang baik…….”

Tak tertahan rasa terharu yangmenyerang hati gadis itu dan titik air mata yang ditahan-tahannya tadi menetes turun. Tapi ia segera tindas perasaannya dan tetapkan hatinya, lalu memaksa senyum menerangi kemuraman wajahnya.

“Bagaimana kita ini? Katanya hendak mendahului bangsat- bangsat itu ke Kwan-im-bio, tak tahunya kita mengobrol seperti kakek dan nenek yang cerewet!”

Lagi-lagi Tiong Li pandang mulut dengan giginya yang rata sedang tersenyum di depannya itu dengan kagum sekali. Iapun ikut tersenyum, lalu berkata, “Hayo kita berlomba. Sudah tahukah kau jalan menuju ke sana?”

Hong Cu mengangguk dan mereka lalu gunakan ilmu lari cepat. Tubuh mereka lenyap dan merupakan bayangan saja yang berkelebat cepat.

Ternyata ilmu lari cepat mereka berimbang dan Tiong Li hanya menang sedikit saja. Tapi  pemuda ini tentu  saja tidak mau tinggalkan gadis itu dan berlari di sebelah Hong Cu sambil panggul pikulan keranjang obatnya.

Telah dua hari mereka mengejar, tapi belum juga dapat melihat rombongan imam Tibet dengan kambrat-kambratnya yang berangkat lebih dulu. Mereka menjadi heran sekali.

Tentu saja Tiong Li dan Hong Cu yang hanya mengenal jalan besar, tidak tahu bahwa mereka itu telah pergi melewati jalan kecil yang memotong dan lebih dekat hingga dapat mendahului taruna remaja itu.

<>

Mari kita tengok dulu keadaan Lian Eng, gadis keras hati, murid Huo Mo-li yang lihai itu, yang tak dapat menahan perasaan hatinya dan di depan ke empat guru besar di puncak Thang-la, telah melarikan diri ketika diberi tahu bahwa ia hendak dijodohkan dengan Siauw Ma! Rasa marah, kecewa, sedih dan terharu bercampur-aduk di dalam hatinya hingga membuatnya menangis terisak-isak sambil lari cepat sekali karena ia telah gunakan ilmu lari cepat yang paling hebat.

Gadis ini merasa sakit hati sekali dan adatnya yang keras membuat ia berlaku nekat. Jurang-jurang besar kecil diloncati begitu saja tanpa dihiraukan bahaya jika jatuh terpeleset. Karena inilah maka ia dapat turun dari gunung itu dengan cepat sekali dan sukarlah bagi Hong Cu yang mengejar dapat menyandaknya. Ia merasa menyesal sekali. Mengapa orang-orang tua itu demikian bodoh? Mengapa mereka tidak bertanya lebih dulu dan tahu-tahu secara lancang menjodohkan orang, demikian pikirnya dengan hati kesal.

Mengapa ia dijodohkan dengan Siauw Ma dan Hong Cu dengan Tiong Li? Mengapa bukan ia dengan Tiong Li dan Hong Cu dengan Siauw Ma?? Ah, memang harus diakuinya bahwa Siauw Ma mencinta padanya dan ia tahu pula bahwa Siauw Ma adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, jujur dan baik.

Semenjak pertemuan pertama ketika ia masih gagu dulu, memang Siauw Ma telah memperlihatkan cinta dan pembelaannya. Agaknya cinta Siauw Ma kepadanya inilah yang membuat orang-orang tua itu menarik kesimpulan bahwa jodohnya adalah pemuda itu!

Kalau saja di dunia ini tidak ada Tiong Li, kalau saja ia tak pernah ditolong oleh Tiong Li dan gurunya hingga dapat bicara pula, kalau saja hatinya tidak seberat itu condong kepada Tiong Li, tentu ia akan tunduk dan puas akan keputusan orang-orang tua itu.

Memang selain Tiong Li, agaknya sukar menemukan seorang pemuda sebaik Siauw Ma. Tetapi di sana ada Tiong Li demikianlah sambil lari cepat, Lian Eng putar-putar otaknya dan akhirnya tangisnya berhenti juga.

Ketika ia lari secepat terbang hampir tiba di kaki gunung, tiba-tiba dari bawah ia melihat seorang pendeta berlari-lari naik dengan wajah tampak bingung dan tergesa-gesa. Lian Eng menghampiri dan ketika pendeta itu melihat seorang gadis cantik berlari secepat terbang dari atas, ia segera angkat tangan memberi isyarat supaya gadis itu berhenti.

“Tolonglah, nona…….” Pertapa itu berkata dengan napas terengah-engah, “Tolong beritahu di mana pinto dapat bertemu dengan Huo Sian-li……?”

Mendengar nama, gurunya disebut, Lian Eng memandang tajam dan penuh perhatian. Rambut pendeta itu diikat menjadi satu di tengah-tengah, ujungnya dipotong dan ikatan itu dihias dengan setangkai teratai perak. Jubah pendeta itu berwarna kuning dan di bagian dadanya terdapat sulaman tiga bunga teratai. Maka teringatlah Lian Eng akan perkumpulan Agama Kwan-im-kauw yang dulu kehilangan patung Dewi Kwan-im hingga menimbulkan heboh dan pertempuran ramai.

“Kau mau apa mencari Huo Sian-li?” tegurnya dengan kaku.

“Tolonglah, lihiap……. Pinto hendak bertemu dengan Huo Sian-li dan memohon pertolongannya!” imam itu lalu menjura dan perkenalkan diri, “Pinto adalah murid ketiga dari Kwan-im-pai.”

Lian Eng pergunakan sepasang matanya yang tajam untuk memandang ke kaki bukit dan mencari-cari, tetapi ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Maka ia lalu menegur.

“Kau minta ditolong apakah? Kulihat tidak ada sesuatu yang mengancammu untuk apa minta tolong?” Imam itu memandang Lian Eng dan agaknya kurang senang. “Nona, dapatkah kau menolong pinto dan memberitahukan di mana tempat tinggal Huo Sian-li? Urusanku penting sekali.”

“Kaukatakan dulu apa keperluanmu sebelum kujawab!”

Kata-kata Lian Eng yang tegas dan tetap itu membuat imam itu tiba-tiba timbul dugaan bahwa mungkin inilah Huo Sian-li! Bukankah kawan-kawannya memberitahu bahwa Huo Sian-li biarpun usianya sudah tua tapi masih cantik seperti bidadari? Maka ia lalu menjura lagi, kini lebih dalam dan lebih menghormat.

“Apakah…… apakah pinto berhadapan dengan Huo Sian-li sendiri?”

Lian Eng menjawab. “Aku muridnya. Sama saja kau bertemu dengan Huo Sian-li atau dengan muridnya. Kau ada urusan apakah dan hendak minta tolong apa?”

“Maaf, lihiap. Ini urusan besar dan penting sekali. Pinto diutus oleh semua saudara dari Kwan-im-pai untuk memohon pertolongan Huo Sian-li membela kami dari serbuan para jagoan dari kota raja.”

“Pembelaan bagaimanakah? Hayo kau terangkan yang jelas padaku!”

Mendengar ucapan-ucapan yang tegas dan sikap yang keren dari gadis muda lagi cantik ini, imam Kwan-im-pai itu dapat menduga bahwa murid Huo Sian-li ini pasti berkepandaian tinggi sekali, pula tadi ia telah melihat ilmu lari cepat yang luar biasa ketika gadis itu menuruni gunung.

“Lihiap, ketahuilah. Di kelenteng kami selain disimpan patung Kwan-im Pouwsat yang kami puja, juga terdapat beberapa barang berharga seperti cawan dan lain-lain. Agaknya hal ini diketahui pula oleh seorang pangeran rakus dan tamak yang disebut Pangeran Yo di kota raja. Nah, sekarang pangeran inilah yang menyuruh jagoan-jagoannya untuk menyerbu dan merampas barang-barang di kelenteng kami.”

“Hm, baru menghadapi beberapa anjing penjilat kaisar saja kalian imam-imam Kwan-im-pai sudah ketakutan setengah mati. Tapi, bagaimana kau bisa tahu bahwa pangeran itu hendak merampas barang-barang di kelentengmu?”

“Kami mempunyai hubungan dengan cabang-cabang Kwan-im- pai yang berada di mana-mana. Kini kautolonglah kami, lihiap.”

“Baik, marilah kita pergi!” kata Lian Eng dengan suara tak acuh.

Imam itu memandangnya heran. “Pergi? Bukankah lihiap hendak membawa pinto menghadap Huo Sian-li?”

“Urusan sekecil ini tak perlu mengganggu guruku. “Aku pergipun sama saja. Hayolah!”

Imam itu tak berani membantah. Ia pikir, biarpun tak berhasil membawa gurunya, tapi muridnya inipun agaknya sudah cukup pandai. Maka iapun lalu lari sambil berkata, “Marilah, lihiap!” Ia lari sekuatnya, tapi Lian Eng yang bergerak di dekatnya hanya gerakkan kaki dengan seenaknya saja namun tetap tidak pernah ketinggalan!

Karena imam itu kenal jalan memotong yang melalui gunung- gunung dan jurang-jurang, beberapa hari kemudian mereka tiba di Kelenteng Kwan-im-bio.

Kelenteng ini adalah sebuah kelenteng besar dan luas sekali. Letaknya di Pegunungan Kun-lun-san di bagian ujung barat dan di atas puncak sebuah bukit kecil yang indah bentuknya.

Pegunungan ini disebut juga Pegunungan Kokoshili dan menjadi perbatasan antara Sin-kiang dan Tibet. Dulu, su-couw atau pendiri dari Kwan-im-bio, yaitu kuil Kwan-im yang megah dan besar itu, adalah Bu Su Sianjin, yang berkepandaian tinggi.

Ketiga murid Bu Su Sianjin ini, yaitu dua orang murid wanita bergelar Kim Hwa Sianli dan Cin Hwa Sianli, dan seorang murid laki-laki bergelar Kim Bok Sianjin. Ketiga-tiganya telah tewas ketika terjadi perebutan patung emas Dewi Kwan-im dengan Siauw Liong yang jahat itu.

Semenjak meninggalnya Kim Hwa Sianli, Kwan-im-pai tidak mempunyai kauw-cu (ketua agama) lagi dan untuk sementara waktu para murid tingkat tertinggi hanya mengatur perkumpulan mereka bersama-sama. Jumlah seluruh imam yang berdiam di dalam kelenteng yang besar dan megah itu seluruhnya ada seratus tigapuluh tiga orang, dan kesemuanya adalah anak murid Kwan-im-pai yang mempunyai kepandaian bertingkat-tingkat. Selain imam-imam lelaki, terdapat juga nikouw atau imam-imam wanita, yaitu murid-murid Kim Hwa Sianli dan Cin Hwa Sianli. Semua nikouw ini pandai bersilat dengan pedang di tangan kanan dan kebutan hud-tim di tangan kiri, kepandaian tunggal yang lihai dari Kim Hwa Sianli dan Cin Hwa Sianli.

Karena inilah, maka kedudukan Kuil Kwan-im amat kuat. Dulu pernah berkali-kali para pendeta Lhama dari Tibet mencoba untuk mengusir mereka, tapi mereka kena mundur. Apa lagi ketika itu terdapat Bu Su Sianjin yang memiliki kepandaian tinggi sekali.

Kedatangan Lian Eng mendapat sambutan meriah dari para pendeta di situ, terutama para nikouw yang merasa kagum melihat kecantikan Lian Eng. Tapi rata-rata semua pendeta, terutama murid-murid tertinggi kedudukannya, merasa ragu-ragu akan ketinggian ilmu silat gadis muda itu. Mereka ini merasa kecewa mendengar bahwa utusan mereka tak sempat bertemu dengan Huo Sian-li yang telah mereka dengar dan kagumi kelihaiannya.

Sebaliknya, ketika memasuki kuil besar itu dan melihat kehidupan para nikouw dan pendeta di dalam kelenteng yang tampak demikian tenteram, penuh damai, dan berbahagia, tiba-tiba segala kepusingan di kepala Lian Eng menjadi lenyap. Ia merasa seakan-akan memasuki tempat yang menyenangkan sekali.

Terutama ketika ia menghadap patung Dewi Kwan-im yang telah ditaruh di tempat semula, yakni di tengah-tengah empang, dikelilingi daun-daun dan bunga-bunga teratai emas, dan di sekeliling tempat itu para nikouw duduk membaca Liam-keng, hati Lian Eng menjadi terharu sekali. Tak terasa pula ia lalu berlutut di depan patung itu dan pada saat itulah seorang nikouw yang kebetulan memandangnya, menjerit keras!

Semua nikouw memandang ke arah nikouw itu yang sedang memandang Lian Eng dengan mata terbelalak, maka semua mata kini memandang Lian Eng dan terdengarlah seruan-seruan tertahan karena kagum dan heran.

Ternyata setelah duduk berhadapan dengan patung Dewi Kwan- im, wajah gadis itu tampak agung dan mirip sekali dengan wajah patung itu! Karena inilah maka nikouw tadi begitu terkejut dan menjerit.

Timbullah gaduh dari suara-suara para nikouw yang menyatakan keheranan dan kekagumannya, tapi segera murid tertua terus dapat menenangkan mereka dan liam-keng dilakukan terus seperti biasa.

Dan pada saat itulah terdengar suara bambu-bambu dipukul gencar di luar kuil hingga semua nikouw serentak mundur dan mengganti kitab mereka dengan pedang dan kebutan! Murid tertua dari Kim Hwa Sianli yang bernama Swi Hwa Sianli, segera mengajak Lian Eng keluar dengan berkata,

“Lihiap, mereka penyerbu-penyerbu kurang ajar itu telah datang!”

Lian Eng cepat loncat keluar. Ia masih bingung karena ketika berlutut di depan patung Dewi Kwan-im tadi, ia merasa demikian tertarik dan suka sekali hatinya, maka kini seakan-akan ia baru sadar dari mimpi yang muluk. Karena gerakan tubuhnya memang luar biasa, ia datang terdahulu di depan kuil itu. Di situ sudah ada beberapa orang imam yang bersiap dengan senjata di tangan memandang ke bawah bukit.

Ketika Lian Eng memandang, ternyata dari bawah bukit tampak beberapa belas orang naik dengan tindakan cepat sekali, menandakan bahwa mereka adalah orang-orang berkepandaian tinggi. Ketika orang-orang itu telah datang dekat, terkejutlah Lian Eng karena di antara orang-orang itu terdapat Ho-pak Chit-kiam dan Ban Kok Si Garuda Sakti yang dulu membantu Bu-eng-cu!

Juga ketujuh saudara dari Ho-pak dan Ban Kok merasa heran berbareng terkejut melihat betapa gadis gagah perkasa yang dulu pernah mereka lihat di puncak Bukit Kee-san itu telah berdiri di situ mencegat mereka.

“Hm, kukira anjing-anjing dari mana yang berani datang mengotori Kuil Kwan-im Pouwsat yang suci ini, tidak tahunya anjing-anjing busuk sisa pelarian dari Kee-san!” datang-datang Lian Eng menegur mereka.

Marahlah Ban Kok Si Garuda Sakti mendengar ini. “Anak muda, jangan kau kurang ajar! Dulu ketika di Kee-san, memang kami yang kurang waspada dan terseret dalam perkara yang tiada sangkut-pautnya dengan kami. Tapi kedatangan kami kali ini adalah membawa firman kaisar! Kau minggirlah dan biarlah ketua kuil ini datang menghadap kami!” Swi Hwa Sianli yang telah berdiri di sebelah Lian Eng segera menjawab, “Cu-wi yang mulia, di sini tidak ada ketua, yang ada hanya murid-murid Kwan-im-pai. Kalau ada pesan apa-apa, silahkan cu-wi menyampaikan kepada pinni.”

“Dengarlah kamu semua, hai imam-imam Kwan-im-kauw!” suara Ban Kok terdengar keras dan nyaring. “Kami datang atas perintah Pangeran Yo yang menerima titah baginda untuk mengangkut patung Dewi Kwan-im dan selosin cawan arak emas ke istana untuk dipasang di sana dan menjadi penghias keraton.”

Terdengar suara dan seruan-seruan marah dari para imam yang berkumpul di depan kuil. Ban Kok keluarkan sehelai kertas kuning dan sambil angkat benda itu tinggi di atas kepala ia berkata,

“Lihatlah, kami datang membawa surat perintah Pangeran Yo, bukan atas kehendak kami sendiri!”

Pada saat itu tangan Swi Hwa Sianli bergerak dan beberapa batang Kwan-im-ciam, yakni jarum-jarum berkepala bunga teratai, menyambar dan menancap di kertas yang terpegang di tangan Ban Kok itu!

“Cu-wi congsu hendaknya suka kembali saja, karena bagi kami, diambilnya patung Kwan-im Pouwsat sama artinya dengan mengambil jiwa kami. Raja adalah pelindung rakyat yang adil, dan raja lebih tahu akan aturan agama dan akan kesopanan! Belum pernah pinni mendengar ada seorang raja hendak merampok kelenteng! Pergilah kalian dan jangan mencari perkara dengan kami.” Ban Kok melihat betapa jarum-jarum itu dengan cepat dan jitu telah mengenai kertas yang dipegangnya, tahu bahwa nikouw itu mempunyai kepandaian yang tinggi juga, maka ia segera berteriak kepada semua kawannya.

“Mereka menentang perintah Pangeran Yo. Hayo serbu pemberontak-pemberontak ini!”

Dia sendiri lalu maju dan menghantam ke arah Swi Hwa Sianli dengan goloknya, tapi tiba-tiba Lian Eng kibaskan tangan kirinya ke arah Ban Kok hingga tubuh Ban Kok terdorong oleh tenaga yang besar dan panas.

Terkejutlah Si Garuda Sakti karena ia tahu bahwa gadis muda ini adalah murid Huo Mo-li yang sakti dan hebat. Ia lalu berkata,

“Nona, ada sangkutan apakah maka kau membela Kwan-im- kauw?”

“Kau perduli apakah? Aku sudah berada di sini dan siapa saja berani menyerbu Kwan-im-bio yang suci, harus dapat melewati aku!”

“Bagus, dasar berjiwa pemberontak!” Ban Kok lalu ayun goloknya dan menyerang hebat, dibarengi dengan keroyokan Ho-pak Chit- kiam yang hendak membalas dendam.

Mereka ini delapan orang kakek yang berkepandaian tinggi mengeroyok seorang gadis muda, sungguh kalau dilihat tidak seimbang dan lucu sekali. Apa lagi ke delapan laki-laki itu semuanya bersenjata tajam, Ban Kok bersenjata golok besar, sedangkan tujuh jago pedang dari Ho-pak itu tentu saja bersenjata pedang yang menjadi keistimewaan mereka. Padahal yang mereka keroyok, yaitu Lian Eng, melayani mereka dengan tangan kosong saja!

Penyerbu-penyerbu yang lain segera berhantam dengan Swi Hwa Sianli dan saudara-saudaranya hingga halaman depan kuil Kwan- im-bio itu terjadilah pertempuran mati-matian yang ramai sekali.

Biarpun dikeroyok delapan oleh orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, namun murid Huo Mo-li tidak menjadi gentar. Ia bergerak cepat sekali dan dari kedua lengan tangannya bersambaran angin pukulan yang mengerikan karena selain pukulan-pukulan itu mendatangkan angin besar, juga membawa hawa panas. Inilah ilmu pukulan Huo-mo-kang yang hebat!

Sebentar saja delapan orang laki-laki yang kesemuanya memiliki kepandaian tinggi dan tenaga lwee-kang yang cukup hebat, menjadi terdesak mundur. Mereka tidak kuat menahan pukulan Lian Eng dan mereka sama sekali tidak berani mendekat, karena jangankan sampai terkena tangan Lian Eng, baru terkena angin pukulannya dari dekat saja, kulit tubuh mereka bisa hitam bagaikan terbakar dan sakit sekali!

Namun Lian Eng juga tidak mudah menjatuhkan ke delapan lawannya yang berkelahi sambil main loncat menjauhinya dan menyerang tiba-tiba dengan senjata mereka dari belakang. Kalau ia cepat membalik, maka penyerang itu loncat menjauhi dan orang lain yang berada di belakangnya menyerang cepat! Dikurung secara demikian, Lian Eng menjadi gemas dan marah sekali hingga kedua matanya menjadi merah dan mengeluarkan cahaya menakutkan.

Gadis itu tiba-tiba menjerit keras dan tiba-tiba tubuhnya lenyap karena ia telah menggunakan ilmu gin-kang yang tertinggi dan loncat melewati kepala penyerangnya di depan. Begitu kakinya menginjak tanah, tanpa putar tubuh lagi ia tiba-tiba loncat lagi ke pingir dan kirim pukulan kepada seorang pengeroyok yang masih menjadi bingung karena gerakan-gerakannya yang seperti burung berloncat-loncatan cepat sekali itu.

Seorang dari pada Ho-pak Chit-kiam terkena pukulan Huo-mo- kang dan sekali keluarkan jeritan ngeri ia roboh dengan menderita luka berat di dalam dadanya! Jerihlah pengeroyoknya melihat kehebatan pemudi ini, maka Ban Kok lalu berteriak lagi minta bantuan kepada lain pengawal.

Tiga orang lalu menggabung di situ dan ikut mengeroyok. Tapi karena tiga orang ini kepandaiannya tak setinggi Ho-pak Chit- kiam atau Ban Kok, baru beberapa gebrakan saja, Lian Eng telah berhasil merobohkan mereka ini dengan pukulan Huo-mo-kang!

Sementara itu, karena imam-imam Kwan-im-kauw juga rata-rata memiliki kepandaian yang tinggi, pula jumlah mereka yang jauh lebih banyak dari pada pihak penyerbu, sebentar saja tubuh para penyerbu itu bergelimpangan menderita luka-luka.

Tiba-tiba Ban Kok berseru keras, “Tahan!!” sambil loncat ke belakang. “Mau apa?” teriak Lian Eng dengan marah. Kini gadis ini yang berdiri terdepan dan seakan-akan mewakili semua imam Kwan- im-kauw.

“Biarlah kali ini kami mengaku kalah karena kalian mengandalkan jumlah yang besar!” kata Ban Kok menahan malu.

“Pengecut busuk! Kau bilang kami mengandalkan jumlah besar? Bukankah kamu yang mengeroyok tadi?” Lian Eng menyindir.

“Tapi kawan-kawanku dikeroyok oleh para imam yang puluhan banyaknya,” bantah Ban Kok.

“Sudahlah jangan banyak cerewet. Sekarang marilah kita bertempur satu lawan satu dan aku berjanji kedua tanganku ini akan menamatkan riwayat kalian. Jangan satu-satu, kalian boleh majukan tiga orang melawan aku seorang. Bagaimana?”

Ban Kok merasa kewalahan. Ia tahu bahwa jika Kwan-im-kauw mengajukan gadis ini sebagai jagonya, tentu pihaknya takkan ada yang dapat melawan.

“Sebetulnya mengapa nona membela kelenteng ini mati-matian? Sedangkan nona bukan, anggauta Kwan-im-kauw?”

“Siapa bilang bukan? Lihiap bukan saja anggauta kami, bahkan menjadi pengurus dan ketua kami!” berkata Swi Hwa Sianli.

“Apa?? Benarkah?” Ban Kok memandang Lian Eng dengan mata terbelalak. Lian Eng balas memandang dengan sikap menantang. “Habis kalau benar kau mau apa?”

Ban Kok merasa terkejut dan pikir bahwa lebih baik ia ajak kawan- kawannya pergi, maka ia lalu menjura dan berkata. “Baiklah, kalian memberontak dan kami kali ini mengaku kalah. Biar kautunggu saja pembalasan Pangeran Yo.”

Lian Eng tersenyum menghina. “Pergilah, anjing-anjing penjilat!”

Dengan menahan kemendongkolan hatinya, Ban Kok dan Ho-pak Chit-kiam pimpin kawan-kawannya turun dari bukit itu sambil membawa kawan-kawan yang terluka.

Setelah semua orang pergi, Lian Eng putar tubuhnya dan hampir saja ia berseru karena terkejut dan heran. Ternyata bahwa semua imam yang berada di situ, di bawah pimpinan Swi Hwa Sianli berlutut di hadapannya!

“Eh, eh, Cu-wi suhu mengapa berbuat begini?” tanyanya heran. Swi Hwa Sianli lalu berkata dengan hormat,

“Lihiap, sudilah kiranya lihiap memimpin kami yang bodoh. Semenjak kami tidak mempunyai kauw-cu, kami merasa gelisah sekali. Kini melihat sepak terjang lihiap dan melihat wajah lihiap yang serupa benar dengan Pouw-sat, kami sekalian percaya bahwa lihiap tentu titisan Pouw-sat dan sengaja dipilih untuk menjadi kauw-cu kami. Harap saja lihiap jangan menolak.” Dan pada saat ia berdiri si situ, disembah oleh sekian banyak imam dan nikouw, tiba-tiba terjadi hal aneh dalam hati Lian Eng.

Ia tadinya merasa sedih dan patah hati, tapi setelah berada di kuil itu dan bersujud di depan patung Dewi Kwan-im, hatinya terasa bahagia dan terjadi perubahan besar dalam jiwanya. Kini ia merasa seakan-akan ia memang berkewajiban penuh untuk melindungi bio ini dan memimpin para pendeta di dalam kuil itu.

Karena perasaan inilah maka ia berkata, “Kalian berdirilah. Aku yang muda sebenarnya tidak patut menjadi pemimpin kalian, tapi aku berjanji akan membela kalian dari serbuan para penjahat berpakaian alat pemerintah itu.”

Bukan main rasa girang hati para imam dan nikouw, mereka lalu mengangguk-anggukkan kepala tiga kali sambil menyebut, “Kauw-cu!”

Dan Lian Eng lalu menyuruh mereka semua berdiri. Kemudian semua orang mengikuti gadis itu memasuki bio! Semenjak saat itu, secara luar biasa sekali Lian Eng telah menjadi kauw-cu atau ketua agama dari Kwan-im-kauw!