-->

Patung Dewi Kwan Im Jilid 08

Jilid 08

Lian Eng tanpa menjawab lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kiang Cu Liong. Tabib Dewa ini mengeluarkan sebuah jarum perak dari keranjang obatnya. Kemudian ia menotok pundak Lian Eng hingga gadis itu menjadi lemas tak berdaya.

Dengan mata tajam dan jari-jari tetap, Tabib Dewa itu lalu menancapkan jarumnya ke arah leher Lian Eng sampai tujuh kali. Kemudian ia mengeluarkan sebungkus obat, mencampur itu dengan sedikit air dan ditempelkan di sekujur leher gadis itu.

Ia lalu menggunakan ujung pisau memotong sedikit jinsom merah yang diambilnya dari dalam patung. Sungguh aneh, getah jinsom itu pun berwarna merah, mengalir seperti darah manusia!

“Tiong Li, kau boleh mencampur jinsom ini dengan arak putih, dan dicampur semangkok air. Masaklah obat ini sampai tinggal setengahnya dan minumkan airnya. Kemudian ampasnya boleh suruh nona ini makan dan telan habis. Mengerti?”

Tiong Li mengangguk. Kiang Cu Liong lalu tepuk gadis itu hingga terbebas dari totokan. Lian Eng merasa lehernya sakit sekali, perih dan panas. Namun gadis ini tahan-tahan rasa sakitnya dan pejamkan mata. “Nah, kalian tinggallah di sini, dan kau nona, kau turutlah saja kata-kata muridku. Kalian boleh beristirahat di dekat telaga itu dan tunggu kedatanganku. Aku perlu melihat pertempuran di atas dan kalau bisa hendak mencegahnya. Patung ini kubawa, nona!”

Lian Eng yang merasa kesakitan, tapi yang telah menyerahkan nasibnya kepada guru dan murid itu dengan setulus hatinya dan penuh kepercayaan, hanya mengangguk lemah.

Kiang Cu Liong kempit patung itu dan sekali berkelebat lenyaplah ia dan dengan cepatnya naik ke atas puncak.

Tiong Li segera ajak Lian Eng ke telaga yang tak jauh dari situ letaknya. Mereka dapatkan tempat di bawah sebuah pohon yang besar dan tua. Tiong Li masak obat itu sebagaimana yang diajarkan oleh suhunya.

Sementara itu, Lian Eng masih saja menahan sakitnya dan rasa perih telah memaksa air mata keluar mengalir di atas kedua pipinya. Namun sedikitpun gadis itu tidak mengeluh.

Hal ini sungguh membuat kagum hati Tiong Li dan diam-diam ia berdoa semoga pengobatan itu berhasil baik.

Tak lama kemudian obat itupun mengebulkan uap dan mendidih. Setelah airnya tinggal setengahnya. Tiong Li lalu tuangkan obat itu ke dalam mangkok. Lian Eng pandang obat dalam mangkok itu dengan mata penuh harapan, tapi ketika ia hendak meminumnya, Tiong Li mencegahnya.

“Sabar, nona. Obat ini masih panas sekali.” Ia lalu pegang mangkok itu dan menggunakan mulutnya meniup ke dalam agar obat itu lekas dingin.

Setelah dingin, Tiong Li lalu angsurkan mangkok itu “Minumlah dan semoga sembuhlah kau!”

Lian Eng terima mangkok itu dengan kedua tangan yang gemetar karena keharuan hatinya, lalu dengan mata terbelalak lebar ia minum obat itu. Ketika obat melalui lehernya, maka terasalah hawa dingin mengusir semua rasa perih dan panas di lehernya, tapi ketika obat itu masuk ke perutnya, ia merasa betapa hawa panas dari dalam perut naik ke atas dan memenuhi dadanya.

“Sekarang kau tidurlah, nona, agar obat itu dapat bekerja dengan baik,” kata Tiong Li dengan suara gemetar, karena iapun merasa terharu dan penuh harap akan berhasilnya pengobatan ini.

Lian Eng menurut dan gadis itu berbaring miring di atas daun- daun kering yang banyak bertumpuk di bawah pohon. Angin telaga bertiup perlahan hingga sebentar saja gadis yang telah letih dan semalam penuh tidak tidur itu jatuh pulas.

Tiong Li duduk termenung di pinggir telaga dan melihat ikan-ikan berenang ke sana ke mari. Ia mencabut beberapa rumput dan melempar-lemparkan akar rumput ke dalam air.

Puluhan ikan menyerbu akar rumput itu menimbulkan pemandangan di dalam air yang menarik hati. Tiong Li sangat gembira dan berkali-kali ia melempar-lemparkan akar rumput ke arah ikan-ikan itu. Tiba-tiba terdengar suara merdu menegurnya, “Hei, kau baru melamun apa?”

Tiong Li terkejut dan menengok. Ternyata dengan rambutnya awut-awutan tapi yang menambah keaslian dan kejelitaan wajah manis yang memandang dengan senyum, Hong Cu telah berdiri di belakangnya.

“Hong Cu!” kata Tiong Li dengan girang sekali seakan-akan baru bertemu dengan seorang yang telah dirindukan bertahun-tahun padahal baru sebulan mereka berpisah. “Kau dari mana dan hendak ke mana?”

“Aku sedang mengejar gadis gagu yang mencuri patung Kwan-im Pouwsat. Ia lari ke jurusan ini, apakah kau tidak melihatnya?”

“Kau maksudkan nona Lian Eng?” tanya Tiong Li.

“Entah siapa namanya. Ia seorang gadis sebaya dengan aku, gagu dan jahat sekali, katanya ia murid Huo Mo-li.”

Kemudian dengan lincah Hong Cu tuturkan pengalamannya dengan ringkas, dan Tiong Li pandang gerak-gerik gadis itu dengan kagum dan senang.

“Hei, jangan kaupandang orang saja!” tegur Hong Cu setelah habis tuturkan pengalamannya dan melihat pemuda itu masih bengong menatap wajahnya. “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apakah kau melihat setan kecil itu lari lewat sini?” Tiong Li tersenyum. “Jangan khawatir. Patung itu telah diantar kembali ke puncak oleh suhu. Adapun tentang nona Lian Eng, ia berada di sana.”

Ia putar tubuh dan menunjuk ke arah di mana gadis gagu tadi berbaring. Tapi alangkah terkejut dan herannya ketika melihat betapa Lian Eng telah berdiri di belakang mereka dengan muka merah.

Agaknya gadis itu telah semenjak tadi berada di situ dan mendengarkan percakapan mereka yang gembira. Tentu gadis itu mendengar pula betapa ia dimaki oleh Hong Cu. Maka kini dengan mata marah sekali ia tatap wajah Hong Cu.

Sebaliknya Hong Cu ketika melihat Lian Eng berdiri di situ segera loncat menyerbu dengan tongkat bambu di tangannya! Lian Eng berkelit gesit dan balas menyerang dengan tidak kalah hebatnya.

Karena sekarang ia tidak membawa patung maka dapat bergerak lebih lincah. Memang mengenai kepandaian, Lian Eng masih menang setingkat jika dibandingkan dengan Hong Cu, maka kini terdorong oleh perasaan marahnya, cepat sekali ia dapat mendesak Hong Cu dengan pukulan-pukulan Huo-mo-kang yang lihai.

Hong Cu gesit sekali dan ia seorang pemberani. Biarpun sudah tahu akan kehebatan Huo-mo-kang, namun ketika ia dipukul, ia berani menangkis dengan tongkatnya. Tongkatnya meluncur cepat memapaki lengan Lian Eng dan “Krak!!” tongkat itu hancur berkeping-keping! Lian Eng tidak sia- siakan kesempatan itu lalu melancarkan serangan maut.

Tapi pada saat itu Tiong Li loncat dan sampok siku tangan Lian Eng yang memukul, hingga Lian Eng terpaksa batalkan pukulannya untuk kelit sampokan ini. Ia pandang wajah Tiong Li dengan sayu dan sedih, dan untuk sesaat ia berdiri diam tak bergerak!

“Nona Lian Eng, kau belum sembuh benar, tak boleh banyak bergerak,” tegur Tiong Li.

“Coba lihat, alangkah jahatnya dia ini!” Hong Cu berkata.

Lian Eng pandang mereka berdua, lalu terdengar isak tangis tersembul dari kerongkongannya dan berhenti di dalam mulut, lalu dengan cepat sekali ia balikkan tubuh terus loncat pergi dan lari secepatnya!

Tiong Li tidak mengejar, ia hanya geleng-geleng kepala dan berkata kepada Hong Cu sambil tersenyum, “Ah, ia memang gadis aneh, tapi ilmu silatnya tinggi sekali.”

“Hayo kita menyusul suhu-suhu kita ke puncak. Untuk apa berdiam di tempat ini?”

“Jangan, Hong Cu. Suhu telah pesan agar aku menanti di sini. Di puncak sedang terjadi keributan antara tokoh-tokoh besar. Berbahaya bagi kita kalau ke sana.” “Aaah, kau penakut sekali!” Hong Cu mencela. “Apakah kita sebagai murid mau enak-enak saja menanti di sini sedangkan guru kita sedang bertempur mati-matian? Apakah ini boleh disebut murid-murid yang setia kepada guru?”

Tiong Li bersangsi, tapi karena Hong Cu terus mengajaknya, terpaksa ia pun mengikuti gadis itu lari ke puncak. Karena Tiong Li masih ragu-ragu, maka Hong Cu tidak perdulikan dia lagi dan lari secepatnya ke atas, diikuti oleh pemuda itu dari belakang.

Tiong Li adalah seorang murid yang taat sekali kepada suhunya, tapi kali ini ia tidak berani membantah kehendak Hong Cu, takut kalau-kalau gadis itu marah kepadanya!

Pada saat itu, dari atas tampak seorang turun sambil berlari cepat. Dari jauh saja Hong Cu telah kenal siapa adanya orang itu, maka ia segera berteriak memanggil.

“Siauw Ma!!” dan ia lalu lari keras menghampiri pemuda itu.

Siauw Ma sedang lari mencari-cari Lian Eng, maka mendengar panggilan ini iapun turun.

Begitu bertemu dengan Hong Cu, ia segera bertanya, “Hong Cu, di manakah Lian Eng?” Pertanyaannya mengandung kecemasan dan kekhawatiran akan nasib gadis itu.

Sebenarnya biarpun tadinya Hong Cu merasa marah kepada Siauw Ma karena pemuda itu tidak mau membantunya ketika ia berusaha merebut patung dari Lian Eng, kini setelah bertemu dengan pemuda itu ia sudah melupakan marahnya dan memanggil dengan gembira. Tapi, untuk kedua kalinya ia merasa mendongkol sekali karena begitu berjumpa, yang pertama kali ditanya oleh pemuda itu ialah Lian Eng!

“Gadis gagu yang jahat itu? Ia ia telah pergi!” Kemudian Hong Cu bertanya tentang perkelahiannya dengan Siauw Liong.

Ketika Tiong Li yang menyusul tiba di situ, Siauw Ma dengan Hong Cu sedang bercakap-cakap asyik sekali.

Melihat Tiong Li, Siauw Ma sangat gembira, demikianpun Tiong Li. Kedua pemuda ini saling peluk dengan mesra, karena memang keduanya merasa suka kepada masing-masing. Maka ramailah saling menceritakan pengalaman. Diam-diam Tiong Li memperhatikan betapa sikap dan pandang mata Hong Cu terhadap Siauw Ma sangat manis sekali.

<>

Siauw Ma datang menyusul ke lereng gunung adalah atas petunjuk Kiang Cu Liong Si Tabib Dewa. Orang tua ini ketika dengan cepatnya naik ke puncak sambil mengempit patung, di tengah jalan melihat betapa Siauw Ma dan Siauw Liong saling serang dengan mati-matian.

Ia segera gunakan kepandaiannya tangkap Siauw Liong dan memberi tahu kepada Siauw Ma supaya turun dan berkumpul dengan Tiong Li di dekat telaga serta menanti di situ. Kemudian sambil memanggul Siauw Liong, Tabib Dewa itu terus lari dengan cepat ke puncak. Ketika ia tiba di puncak, pertempuran masih berjalan seru dan hebat sekali. Hwat Kong Tosu masih saling gempur dalam perlawanannya terhadap keroyokan kedua Sianli dari Kwan-im- kauw, sedangkan Beng Beng Hoatsu sambil perdengarkan suara ketawanya yang menggema di seluruh puncak, menggerakkan Pedang Naga Saktinya menahan serangan ke empat pengeroyoknya. Para pengeroyok ke dua tokoh Thang-la itu sudah tampak lelah dan sebentar lagi tentu Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu dapat merobohkan mereka.

Pada saat itu Huo Mo-li sudah mendesak Tok-kak-coa dengan hebatnya. Wanita gagah perkasa ini melancarkan serangan- serangan dengan tenaga Huo-mo-kang yang luar biasa lihainya dan telah beberapa kali Tok-kak-coa terkena pukulan itu hingga mendapat luka dalam.

Pada suatu ketika Tok-kak-coa dalam keadaan terdesak sekali berlaku nekat dan menggunakan tongkatnya menghantam ke arah dada Huo Mo-li tanpa memperdulikan pukulan Huo Mo-li yang mengarah lambungnya. Huo Mo-li menarik kepalan tangannya dan dengan tenaga penuh ia menggempur ujung tongkat itu.

Tongkat hancur beterbangan dan dari dalam tongkat melayang keluar jarum-¬jarum halus penuh bisa ke arah Huo Mo-li! Huo Mo- li terkejut sekali dan cepat berkelit, tapi ia merasa pundaknya sakit dan panas.

Ia tahu telah terluka jarum, maka dengan teriakan keras ia menubruk maju dan mengirim serangan ke iga lawannya. Tok- kak-coa berteriak ngeri dan terpental beberapa kaki lalu roboh tak bergerak lagi! Juga Huo Mo-li terhuyung-huyung dan roboh pingsan.

“Cu-wi sekalian, tahan!” tiba-tiba Kiang Cu Liong berteriak keras dan meloncat ke tengah lapangan pertempuran.

Semua orang mendengar teriakan ini segera menahan serangan masing-masing dan memandang Si Tabib Dewa dengan heran, karena patung yang diperebutkan itu ternyata telah berada di tangan tabib aneh itu.

“Cu-wi, tak perlu kalian ribut-ribut mengadu jiwa di sini hanya untuk sebuah patung ini! Para ketua Kwan-im-kauw! Kalian juga salah sekali menyerang Thang-la Sam-sian sedangkan yang bersalah dalam hal lenyapnya patung ini adalah Tok-kak-coa seorang!

“Ini, terimalah patungmu dan bawalah kembali ke kelentengmu, tapi berhati-hatilah menjaga patung itu agar jangan sampai lenyap pula dan menimbulkan geger yang bukan-bukan!”

Ia lalu melemparkan patung itu ke arah Kim Hwa Sianli yang menerima dengan kedua tangan.

“Patung sudah kembali, tidak lekas pulang tunggu apa lagi?” Kim Hwa Sianli berteriak nyaring kepada kawan-kawannya dengan suara girang kemudian setelah mengangguk ke arah Si Tabib Dewa tanda terima kasih ia lalu loncat turun dari puncak, diikuti oleh kedua adik seperguruannya dan ketiga murid-muridnya. Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu hendak mengejar, tapi Kiang Cu Liong angkat tangan mencegah. “Kalian orang-orang tua apakah masih ingin memiliki emas tak berharga itu? Sungguh lucu!”

“Kau tahu, bukan emas yang diperebutkan di sini!” Beng Beng Hoatsu membentak.

“Bukankah kita semua sedang berlumba mendapatkan patung itu?” Hwat Kong Tosu bertanya dengan heran kepada Si Tabib Dewa.

Kiang Cu Liong menghela napas. “Aku pun mengerti, bahkan aku sendiripun ikut berlumba. Tadi patung telah berada di tanganku, kalau aku berpendirian sebodoh kalian, apakah dengan mudah begitu saja patung kukembalikan kepada pemiliknya?”

Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu saling pandang dengan tak mengerti.

“Dengarlah kau berdua orang-orang tua bodoh dari Thang-la! Urusan patung itu telah banyak mendatangkan ribut dan permusuhan. Perlu apa kita harus memperebutkan patung yang bukan menjadi hak milik kita?

“Kalau hendak mengukur kepandaian masing-masing, biarlah murid-murid kita kelak yang menentukan, tak perlu kita orang- orang tua bangka harus bertindak sendiri! Yang bersalah dalam pencurian patung ini hanya Tok-kak-coa dan lihatlah, ia telah mendapat hukuman! Tapi Huo Mo-li harus dikasihani, iapun mendapat luka berat hanya karena memperebutkan patung tak berharga itu!”

Karena omongan Si Tabib Dewa yang pandai bicara itu dianggap betul juga, mereka lalu menghampiri Huo Mo-li yang masih menggeletak tak jauh dari Tok-kak-coa.

Ternyata jarum halus yang melukai pundak Huo Mo-li sangat berbahaya racunnya hingga sebentar saja tubuh Huo Mo-li telah berwarna hitam! Melihat keadaan ini, Kiang Cu Liong geleng- geleng kepala. “Sungguh berbahaya…… sungguh jahat……!”

Tapi dengan cepat dan tak ragu-ragu lagi ia keluarkan mutiara salju yang dulu diambil dari puncak Gunung Dewi Api. Ia gunakan mutiara salju itu untuk menyedot keluar darah yang terkena bisa dan dengan besi semberani ia sedot keluar jarum itu dari pundak Huo Mo-li. Kemudian ia potong jinsom merah yang didapatnya dari dalam patung Dewi Kwan-im, lalu peras jinsom itu yang mengeluarkan getah merah seperti darah ke dalam mulut Huo Mo-li.

Sungguh mujijat obat itu. Sebentar saja terdengar Huo Mo-li mengeluh dan siuman kembali. Biarpun tubuhnya masih lemas, namun racun yang mengalir di tubuhnya telah dapat dibersihkan dan jiwanya tertolong.

Setelah ia sadar dan membuka matanya, maka ia tahu bahwa jiwanya telah ditolong oleh Si Tabib Dewa. Maka ia berdiri dan menjura sambil berkata. “Aku Huo Mo-li sungguh malu. Telah dua kali kau orang tua menolong aku, dan yang kedua kalinya ini kau telah menghidupkan aku kembali. Biarlah, kalau di waktu hidupku sekarang aku tak kuasa membalas budi, kelak di penjelmaan lain pasti akan kubalas!”

Kiang Cu Liong tertawa terbahak-bahak.

“Huo Mo-li, Huo Mo-li! Kau gagah perkasa, mungkin lebih gagah dari padaku, tapi jalan pikiranmu tetap seperti seorang wanita yang berperasaan halus!

“Siapa hendak bicara tentang balas membalas budi? Aku menolong kau karena memang aku adalah seorang tabib, dan sudah menjadi kewajibanku menolong siapa saja yang perlu ditolong! Tentang membalas, mungkin sekarang ini akulah yang membalas budimu yang telah kautanam pada penjelmaan kita yang lalu, si apa tahu?”

Beng Beng Hoatsu tertawa keras.

“Bicaramu betul sekali, orang she Kiang! Dari kata-katamu itu saja, pantas kalau kau ikut berlumba mengadu ilmu dengan kami Thang-la Sam-sian! Ha, ha!”

Huo Mo-li agaknya baru teringat akan imam-imam dari Kwan-im- kauw maka ia bertanya, “Di manakah imam-imam Kwan-im-kauw yang nekat itu?”

“Mereka sudah pulang sambil membawa patung mereka.” Huo Mo-li terkejut. “Patung? Bagaimanakah……?”

Hwat Kong Tosu lalu memberi tahu kepada Huo Mo-li akan peristiwa yang terjadi tadi.

“Aku setuju dengan tindakan Kiang-sianseng. Memang patung itu harus dikembalikan kepada yang berhak. Kita berempat tidak membutuhkan emas itu.”

“Tapi untuk mengukur kepandaian     ?” tanya Huo Mo-li.

“Ini mudah dilakukan tanpa mengganggu barang lain orang,” kata Kiang Cu Liong. “Marilah kita gembleng murid kita masing-masing dan kita tentukan pada lima tahun yang akan datang dengan mengadakan pertemuan di puncak Thang-la. Di sanalah kita nanti uji kepandaian murid-murid kita, siapa di antara mereka yang lebih unggul, karena dari murid dapat diukur pula ketinggian ilmu gurunya!”

Semua orang setuju dan menentukan untuk saling berjumpa di puncak Thang-la pada permulaan musim chun lima tahun yang akan datang.

Ketika Kiang Cu Liong memberi tahu kepada Huo Mo-li bahwa ia telah mengambil obat dari dalam patung dan telah menyuruh muridnya mengobati Lian Eng, Huo Mo-li menjadi girang sekali.

“Di manakah mereka itu?” tanyanya. Juga Beng Beng Hoatsu dan Hwat Kong Tosu menanyakan murid masing-masing. “Kalau tidak salah, mereka berempat itu semua berkumpul di dekat telaga di lereng gunung,” jawab Tabib Dewa.

Mereka lalu mendekati Tok-kak-coa yang masih rebah dengan napas empas-empis. Kiang Cu Liong memeriksa dada Tok-kak- coa. Ternyata pukulan Huo Mo-li itu menyebabkan beberapa tulang iganya patah-patah dan isi perutnya mendapat luka dalam yang berat.

“Ah, pukulanmu hebat sekali, Huo Mo-li!” katanya perlahan.

Dengan menggunakan kepandaiannya, Kiang Cu Liong menotok beberapa bagian tubuh Tok-kak-coa yang segera siuman dan merintih.

“Mana mana muridku?” si jahat dari timur bertanya.

Kiang Cu Liong lambaikan tangan ke arah Siauw Liong yang semenjak tadi berdiri di bawah pohon dan tidak berani sembarangan bergerak karena telah diancam oleh Kiang Cu Liong bahwa tanpa perintahnya ia tidak boleh pergi dari situ.

Kini setelah Tabib Dewa yang sakti itu melambaikan tangan, Siauw Liong lalu lari menghampiri. Ia kerutkan jidat dan tampak terharu melihat keadaan suhunya, dan Tok-kak-coa melihat bahwa muridnya masih selamat lalu tersenyum.

“Jangan…… ganggu….. muridku……” katanya.

Huo Mo-li lalu berkata, “Kau terkena bencana karena kejahatanmu sendiri, Tok-kak-coa, maka tak perlu penasaran. Muridmu masih kecil, maka kau harus didik baik-baik padanya. Kalau ternyata kemudian ia jahat, tentu ada orang yang akan bereskan padanya, dan ia akan menderita kematian yang menyedihkan.”

Beng Beng Hoatsu sambil mendelik pandang Siauw Liong dan berkata, “Anak inipun bertulang jahat. Awas kau! Kalau kau tidak mau mengubah watakmu, maka gurumu inilah sebagai contohnya!”

“Anak muda, kau telah menerima budi suhumu, maka sekarang kau harus balas budinya itu. Pondonglah dia ke dalam gua dan peliharalah dia sampai sembuh.”

Siauw Liong mendengarkan semua ini dengan kepala tunduk dan hati tak karuan rasa.

Kiang Cu Liong lalu mengeluarkan sebungkus obat dan menyerahkan itu kepada Siauw Liong. “Gunakanlah obat ini dan beri minum kepada suhumu. Tapi jangan harap ia akan pulih kembali dan menjadi orang lihai seperti sediakala. Mungkin ia masih dapat hidup beberapa tahun lagi.”

Siauw Liong terima obat itu, lalu dengan perlahan ia angkat suhunya dan pondong tubuh yang lemas itu ke dalam gua.

“Anak itu kelak hanya akan mendatangkan kerewelan belaka,” Huo Mo-li berkata perlahan. Ketiga orang tua gagah mendengar ini diam-diam membetulkan ramalan Huo Mo-li, karena merekapun tahu bahwa anak muda itu memang mempunyai dasar yang jahat!

Setelah melihat Siauw Liong menggendong gurunya dan menghilang ke dalam Gua Ular, ke empat tokoh besar itu segera meninggalkan tempat itu dan turun ke lereng mencari murid mereka. Benar saja, mereka mendapatkan Siauw Ma, Tiong Li, dan Hong Cu berkumpul di dekat telaga sambil bercakap-cakap gembira.

Hanya Lian Eng yang tak tampak dan Huo Mo-li segera bertanya kepada para muda itu di mana perginya muridnya. Ketika mendengar bahwa muridnya telah pergi tanpa alasan, ia menjadi heran dan khawatir, maka segera iapun minta diri dari ke tiga tokoh lainnya untuk menyusul muridnya.

Beng Beng Hoatsu, Hwat Kong Tosu, dan Kiang Cu Liong girang sekali melihat betapa ketiga orang murid mereka dapat bergaul dengan baik dan tampaknya rukun sekali.

Kiang Cu Liong bertanya kepada Tiong Li tentang Lian Eng, dan muridnya menceritakan semua keadaan gadis itu.

“Dia tadinya beristirahat setelah minum obat itu, suhu, tapi teecu tidak tahu mengapa ia tampak marah dan pergi dari sini setelah bertempur sebentar melawan nona Hong Cu.” Hwat Kong Tosu menghela napas. “Ah, gadis gagu itu agaknya selain mewarisi ilmu lihai dari Huo Mo-li, juga mewarisi pula adatnya yang aneh.”

Mendengar semua pembicaraan ini, diam-diam Siauw Ma merasa tidak senang dan kasihan kepada Lian Eng. Baiknya Beng Beng Hoatsu, suhunya sendiri tidak ikut membicarakan tentang gadis itu, karena kalau suhunya ikut-ikutan mencela Lian Eng, tentu Siauw Ma akan merasa tidak puas sekali.

Setelah berjanji akan saling bertemu di puncak Thang-la lima tahun kemudian, ketiga tokoh luar biasa itu membawa murid masing-masing dan pulang ke tempat sendiri-sendiri. Mereka diam-diam makin berkeras hendak menumpahkan seluruh kepandaian kepada muridnya, agar lima tahun kemudian murid itu akan menjadi orang terpandai hingga membuat gurunya bangga.

Beng Beng Hoatsu mengajak Siauw Ma kembali ke puncak Gunung Harimau Salju, sedangkan Hwat Kong Tosu juga kembali ke Hong-lun-san, dan Si Tabib Dewa Kiang Cu Liong yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap, lalu melanjutkan perantauannya dan akhirnya iapun menetap di sebuah pulau dekat pantai Laut Timur di Tiongkok Selatan, karena iapun perlu melatih muridnya agar tiap hari dapat rajin berlatih di bawah pengawasannya. Selain ilmu silat, Tiong Li menerima pula pelajaran ilmu obat- obatan.

Demikianlah, untuk waktu tidak kurang dari tiga tahun, sedikitpun tidak terdengar berita tentang mereka itu karena dengan tekun guru dan murid berlatih silat dan tidak memperdulikan urusan dunia hingga boleh dikata mereka semua setengah mengasingkan diri.

Kurang lebih empat tahun kemudian, pada suatu pagi di atas puncak Pegunungan Thang-la yang tertutup salju tebal, tampak seorang pemuda yang bertubuh tegap dan berwajah tampan gagah berjalan dengan perlahan. Biarpun hawa di atas daerah salju itu sangat dingin namun kulit muka pemuda itu kemerah- merahan dan sepasang matanya yang terang dan bersinar tajam itu memandang lurus membayangkan kejujuran hatinya.

Bibir dan dagunya membayangkan keteguhan iman dan kekerasan hatinya, sedangkan bahunya yang bidang dan tubuhnya yang tegap lurus menunjukkan bahwa ia adalah seorang pemuda yang kuat dan sehat. Pakaiannya sederhana berwarna biru muda sedangkan kopiahnya dari bulu menutup rambutnya yang hitam.

Keadaan pemuda yang gagah dan masih muda berada di atas puncak yang dingin itu sudah ganjil, tapi lebih aneh lagi kalau orang perhatikan tiga makhluk yang berjalan di dekatnya ini. Di sebelah kirinya berjalan seekor harimau berbulu putih yang besar dan bertubuh kuat sekali.

Harimau macam ini jarang terlihat orang-orang biasa, karena harimau ini adalah harimau salju yang hanya terdapat di puncak Gunung Harimau Salju, sebuah dari pada puncak-puncak yang tinggi dari Pegunungan Thang-la. Dan di sebelah kanan pemuda itu berjalan dua ekor makhluk yang lebih hebat lagi, karena tubuh dan gerak-geriknya seperti manusia-manusia, tapi tubuh yang besar dan berbulu putih itu lebih menyerupai binatang monyet yang besar! Inilah sepasang monyet peliharaan Beng Beng Hoatsu yang diberi nama Wan-eng dan Wan-nio!

Melihat adanya dua ekor monyet salju ini, maka mudahlah untuk mengetahui siapa gerangan pemuda yang gagah dan tampan itu. Ia bukan lain ialah Siauw Ma, murid tunggal Beng Beng Hoatsu.

Setelah selama empat tahun terus menerus rajin mempelajari Ilmu Pedang Sin-liong-kiam-sut, maka Beng Beng Hoatsu menganggap bahwa muridnya itu telah mewarisi ilmu pedang itu seluruhnya, hanya tinggal memperdalam saja dengan latihan- latihan pertempuran melawan musuh-musuh yang lihai. Maka ia anggap bahwa waktu pertemuan yang tinggal setahun lagi itu biarlah dipakai untuk meluaskan pengalaman muridnya, agar Siauw Ma dapat berkelana selama setahun dan menjalankan tugas sebagai seorang pendekar ilmu pedang yang tinggi untuk menolong sesama hidup dengan menggunakan kepandaiannya. Dengan jalan inilah maka muridnya itu akan memperdalam ilmu silatnya, karena ia berkesempatan bertemu dengan lawan-lawan yang berat.

Setelah mendapat nasihat-nasihat Beng Beng Hoatsu dan juga menerima sebuah pedang kuno yang gagangnya berukiran seekor kepala naga dan disebut Sin-liong-kiam oleh suhunya, maka berangkatlah pada pagi hari itu Siauw Ma turun gunung.

Keberangkatannya mengharukan hati kawan-kawannya. Si pelayan, orang tua yang selalu menjaga pertapaan dan melayani Beng Beng Hoatsu dengan setia, mengantarkannya keluar gua, sedangkan harimau salju dan kedua monyet salju bahkan mengantarkan sampai jauh keluar gua.

Setelah sampai di lereng gunung. Siauw Ma berpaling kepada ketiga kawannya yaitu binatang-binatang yang jinak itu.

“Kawan-kawanku, kalian pulanglah kembali! Kelak kita pasti akan bertemu kembali.”

Harimau salju mengaum panjang hingga menggetarkan puncak, sedangkan dua monyet itu bergantian memeluknya. Kemudian ketiga binatang itu kembali ke atas puncak, sedangkan Siauw Ma lalu turun dari lereng gunung dengan cepat.

Ia menuruti jalan yang telah ditunjuk oleh suhunya dan karena ia menggunakan ilmu lari cepat yang kini telah mencapai tingkat tinggi, sebentar saja ia tiba di dalam hutan dimana dulu ia berkumpul dengan para pemburu. Peristiwa pertemuannya dengan Lian Eng pada beberapa tahun yang lalu terbayang kembali di depan matanya, maka ia menahan kakinya dan untuk beberapa lama berhenti di situ, membayangkan kembali ketika ia dibikin jatuh bangun oleh gadis gagu itu!

Ia tersenyum geli dan dengan penuh harapan ia rindu akan pertemuannya kembali dengan gadis gagu itu. Menurut suhunya, pada permulaan musim chun tahun depan, ia harus naik ke puncak Thang-la untuk mengadakan pertemuan dengan empat tokoh terbesar di kalangan persilatan, maka ia merasa terhibur, karena kegembiraannya. Setahun lagi dan ia akan bertemu dengan kawan-kawan yang disukanya. Tiong Li, kawan yang setia dan peramah itu. Hong Cu, gadis yang cantik dan gembira jenaka, dan akhirnya Lian Eng, gadis gagu yang selalu terbayang di muka matanya!

Siauw Ma dengan wajah berseri lalu melanjutkan perjalanannya, kini langsung menuju ke kampung di mana ibunya tinggal! Segala bayangan tadi lenyap dan tergantilah dengan bayangan ibunya, hingga wajahnya yang tadinya berseri gembira terganti dengan getaran halus karena terharu dan bahagia mengenangkan ibunya yang kini hendak dijumpainya!

Telah kurang lebih lima tahun ia meninggalkan ibunya. Ketika pergi, ia baru berusia limabelas, tapi kini ia telah berusia duapuluh tahun, menjadi seorang pemuda dewasa yang memiliki kepandaian tinggi.

Sambil berlari cepat Siauw Ma teringat akan empe pengisap pipa yang sangat suka padanya. Ah, masih hidupkah empe yang suka mendongeng itu? Makin gembira, makin cepatlah Siauw Ma berlari hingga tak lama kemudian tibalah ia di kampung tempat ia dibesarkan!

Kampung itu kini lebih ramai karena datangnya penduduk baru. Tapi dengan mudah Siauw Ma dapat mencari rumah ibunya.

Dan kedatangannya kebetulan sekali karena ketika itu orang- orang kampung sedang beramai-ramai menguliti beberapa ekor binatang buas hasil buruan dan para pemburu di kampung itu baru saja kembali dari hutan! Mereka itu berkumpul di depan rumah ibu Siauw Ma.

Ketika orang-orang itu melihat Siauw Ma, mereka heran dan kagum tapi tiba-tiba seorang tua yang berambut putih meloncat bangun dan lari menghampiri Siauw Ma. Ia itu bukan lain adalah empe si pengisap pipa! Biarpun wajahnya telah penuh keriput dan rambutnya telah putih semua, namun pipa yang tergantung di mulutnya masih pipa yang dulu juga.

“Siauw Ma!!” Empe itu berteriak girang.

“Lo pe-pe!!” Siauw Ma balas menegur dengan gembira. Mereka berpelukan dan Siauw Ma harus kuatkan hatinya untuk menahan air matanya ketika merasa betapa pundaknya basah oleh air mata empe itu!

“Lopeh, dimana ibu?” tanya Siauw Ma dalam pelukan.

Si pengisap pipa mempererat pelukannya ketika ia mendengar pertanyaan ini. Kemudian ia lepaskan pelukannya dan memegang kedua buah bahu Siauw Ma dan memandang anak muda itu dengan wajah mengandung iba hati dan duka.

“Siauw Ma, ibumu……. ibumu telah menutup mata.” Terbelalak mata Siauw Ma memandang orang tua itu. “Apa?? Mengapa??” “Tenanglah, anak,” orang tua itu tepuk-tepuk bahunya. “Kehendak Tuhan tak dapat dibantah. Kau tahu sendiri betapa semenjak ditinggal ayahmu, ibumu selalu menderita penyakit di dadanya. Nah, ketika mendengar tentang kepergianmu, ia jatuh sakit lagi dan setahun kemudian ia meninggal dunia.”

Siauw Ma menggunakan kedua tangan menekap mukanya. “Aku……. aku anak berdosa, lopeh…….”

“Dan ibumu meninggalkan pesan, Siauw Ma.”

Siauw Ma melepaskan tangan dari mukanya dan pandang si pengisap pipa itu dengan wajah pucat. “Apakah pesannya, lopeh?”

“Ibumu setelah mendengar cerita tentang lenyapmu dulu itu, berpendapat bahwa gadis gagu itulah yang menjadi gara-gara hingga kau lenyap dan memisahkan kau dari ibumu. Karena ini maka ibumu sebelum meninggal, pesan bahwa jika aku dapat bertemu dengan kau harus kusampaikan padamu pesannya ini, yaitu karena katanya kau korbankan diri untuk menolong gadis itu, maka tentu kau suka padanya.

“Oleh karena itu, ibumu pesan agar kaucari dan mengambil gadis itu sebagai isterimu! Akan tetapi, jika dugaannya ini tidak benar dan kau tidak suka kepada gadis itu, kau tetap harus mencari padanya dan membunuhnya, karena menurut ibumu, gadis itulah yang menjadi sebab malapetaka menimpa kau dan ibumu.” Mendengar pesan ini, muka Siauw Ma sebentar berubah merah dan sebentar pucat.

“Siauw Ma, sudah mengertikah kau kehendak ibumu? Pendeknya, bagaimanapun juga, kau harus mencari gadis itu sampai dapat. Kemudian, untuk dibunuh atau dikawin terserah padamu!”

Siauw Ma mengangguk-angguk dan di dalam hatinya timbul berbagai macam perasaan. Ia harus mencari gadis itu? Ah sungguh ibunya seorang waspada. Tahu saja orang tua itu akan segala yang bergerak dalam hatinya.

Ia harus mencari Lian Eng dan…… memperisterinya! Ah, mudah saja ibunya itu. Tidak tahu orang macam apakah gadis itu, agaknya begitu mudah untuk dibunuh atau dikawin!

Kalau ibunya tahu bahwa gadis itu adalah Lian Eng murid Huo Mo-li, gadis yang cantik jelita dan ilmu kepandaiannya tinggi sekali, tentu orang tua itu takkan meninggalkan pesan seperti itu.

“Di manakah makam ibu, lopeh?”

Maka diantarlah ia oleh si penghisap pipa ke sebuah kuburan yang sederhana dan penuh ditumbuhi rumput hijau yang segar. Nyata sekali bahwa kuburan yang sederhana itu terawat baik, hingga Siauw Ma merasa terharu dan berterima kasih sekali kepada si penghisap pipa dan orang-orang kampung itu. Ia berlutut dan bersembahyang di depan makam ibunya dan bermalam di kuburan itu semalam penuh. Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali ia minta diri dari si pengisap pipa dan semua penduduk kampung, untuk pergi melanjutkan perantauannya. Si pengisap pipa mengantarnya sampai di luar kampung.

“Siauw Ma, memang pesan ibumu itu hanya pesan seorang wanita yang tak dapat melupakan kepentingan puteranya biarpun sudah mendekati matinya. Kau adalah putera tunggal dan kewajibanmu terakhir ini untuk berbakti kepada ibumu, bagaimanapun juga harus kaupenuhi. Tapi…… kalau dapat diikhtiarkan……. kulihat dulu bahwa gadis gagu itu cukup baik dan menarik. Kuharap saja kau tidak akan membunuhnya!”

Siauw Ma memegang lengan si penghisap pipa. “Jangan khawatir, lopeh. Aku takkan membunuh dia, bukan hanya belum tentu aku dapat menangkan dia, tapi juga tak mungkin aku dapat melakukan hal itu. Kami…… kami telah berkenalan dan menjadi kawan, lopeh.”

Giranglah si pengisap pipa itu mendengar ini.

“Kalau begitu, kau...... kau akan mengawininya?” tanyanya dengan wajah berseri gembira.

Melihat kegairahan orang tua itu, mau tidak mau Siauw Ma terpaksa tersenyum lalu berkata perlahan sambil geleng kepala.

“Hal ini takkan semudah itu, lopeh.”

Orang tua itu sedot pipanya lalu berkata sungguh-sungguh. “Besar harapanku sebelum aku mati akan dapat melihat kau datang ke kampung kita dengan dia sebagai isterimu!”

Kata-kata ini masih bergema dalam telinganya ketika Siauw Ma meninggalkan kakek pengisap pipa itu. Dengan diam-diam iapun ikut mengharapkan sebagaimana yang diharapkan orang tua itu!

Siauw Ma berlari cepat melalui hutan di kaki Pegunungan Thang- la. Tiba-tiba terdengar suara orang berseru.

“Hai, orang di depan. Berhenti kau!”

Siauw Ma heran sekali karena suara itu adalah suara seorang wanita. Iapun tahan kakinya dan balikkan tubuh.

Seorang pendeta wanita yang sudah tua tapi yang memiliki ilmu lari cepat sekali mengejar dari belakang dan kini telah berdiri di depannya. Pendeta wanita atau nikouw itu memegang sebuah kebutan yang panjang. Dengan matanya yang bersinar sedih pendeta wanita itu memandang wajah Siauw Ma dengan penuh perhatian.

Siauw Ma merasa kenal kepada pendeta wanita ini, tapi ia lupa lagi di mana ia pernah bertemu dengan nikouw yang sekarang berdiri di hadapannya. Maka ia lalu menjura untuk memberi hormat dan bertanya.

“Lo subo mengapa suruh teecu berhenti? Ada keperluan apakah?” “Anak muda, kau siapakah dan mengapa kau berlari-lari secepat itu?” nikouw itu balas bertanya.

“Teecu bernama Siauw Ma,” jawab Siauw Ma dan merasa heran melihat sikap pendeta wanita yang kelihatan marah dan tak senang hati ini.

“Siapa gurumu?” pendeta wanita itu bertanya lagi, sikapnya seperti orang memaksa minta jawab.

Siauw Ma merasa tak senang tapi karena wajah nikouw itu tampak seperti orang yang sedang menderita sedih, ia bersabar hati dan menjawab juga,

“Suhuku ialah Beng Beng Hoatsu.”

“Ha, benar dugaanku. Jadi gurumu ialah Beng Beng si jahat!” Dan berbareng dengan kata-katanya itu, ia mencabut pedang yang terselip di punggungnya! Kemudian nikouw itu melempar jubah luarnya.

Kini Siauw Ma dapat melihat lukisan bunga teratai besar di dada nikouw itu dan teringatlah dia.

“Kau….. kau…… bukankah Kim Hwa Sianli dari Kwan-im-kauw?” tanyanya. Kim Hwa tersenyum sindir.

“Bagus, jadi kau kenal aku? Sekarang aku ingat, kau adalah anak laki-laki yang dulu ikut Beng Beng! Nah, kausambutlah seranganku ini!” Langsung saja Kim Hwa Sianli maju menyerang dengan pedang dan kebutannya dengan gerakan yang hebat!

Tentu saja Siauw Ma menjadi kaget sekali. Ia cepat loncat berkelit dan berkata.

“Eh, kenapa datang-datang menyerang orang?”

Namun Kim Hwa Sianli tidak perdulikan protes anak muda itu, ia terus menyerang dengan tipu-tipu gencar dan lihai hingga Siauw Ma tidak berani berlaku ayal. Ia tahu bahwa ilmu silat pendeta ini lihai sekali, maka cepat ia cabut keluar Sin-liong-kiam dari pinggangnya dan menangkis.

Mula-mula ia mengalah dan gunakan senjatanya untuk membela diri saja, tapi karena nikouw itu tidak memberi kesempatan padanya untuk berlaku seenaknya, perlahan-lahan ia tak mungkin hanya menangkis saja tanpa balas menyerang.

“Apakah kau tidak mau terangkan sebabnya kau menyerangku?” sekali lagi Siauw Ma membentak. Tapi nikouw itu tanpa menjawab segera kirim serangan yang lebih hebat.

Kali ini Siauw Ma tidak mau mengalah lagi dan ia keluarkan kepandaiannya. Pedangnya bergerak cepat bagaikan naga menyambar dan sebentar sinar pedangnya mengurung lawannya.

Tiba-tiba Kim Hwa Sianli loncat mundur dan berseru, “Tahan!”

Siauw Ma tahan pedangnya, hatinya puas karena ia menduga bahwa nikouw itu merasa jerih padanya setelah ia keluarkan ilmu pedangnya. Dengan perlahan ia  masukkan pedang ke dalam sarung pedangnya kembali.

Tapi kata-kata yang dikeluarkan nikouw itu membuatnya makin heran. Nikouw itu geleng-geleng kepala dan berkata.

“Bukan, bukan kau orangnya!”

“Eh, sebenarnya apakah kehendakmu, Kim Hwa Sianli yang terhormat? Kenapa kau sengaja hendak menghina orang muda?”

Kini Kim Hwa Sianli pandang padanya dengan tersenyum. Kedua matanya menyinarkan pandang kagum.

“Ilmu silatmu hebat sekali, anak muda. Kau tidak kecewa menjadi murid Beng Beng Hoatsu. Sayang bukan kau orang yang kucari!”

“Kalau aku orang yang kaucari, bagaimana!” “Kalau kau orang yang kucari, kau akan kubunuh!”

Siauw Ma tersenyum. “Ah, ternyata kau orang tua masih belum merubah adatmu yang galak.”

Dengan cara terus terang Siauw Ma keluarkan pendapatnya. Kim Hwa Sianli tidak marah, bahkan melihat kepolosan pemuda itu, ia lalu bercerita.

“Kau tentu heran mengapa datang-datang aku menyerangmu. Sebenarnya aku hendak mencoba kepandaianmu untuk menguji, apakah kau orang yang kucari. Ternyata bukan, kepandaianmu cukup lihai, tapi tidak seaneh kepandaian dia.”

“Dia siapakah yang kaumaksudkan?” “Dia, pencuri patung kami.”

Siauw Ma memandang pendeta wanita tua itu dengan mata terbelalak.

“Apa? Patung Dewi Kwan-im itu hilang lagi?”

Kim Hwa Sianli mengangguk sedih. “Bukan hanya patung itu hilang, tapi pencurinya bahkan telah membunuh Cin Hwa Sianli dan Kim Bok Sianjin.”

Kini Siauw Ma benar-benar terkejut.

“Dan tadi kau menyangka bahwa teecu orang yang melakukan perbuatan terkutuk itu?”

Nikouw tua itu menghela napas.

“Aku bingung sekali. Pencuri dan pembunuh yang datang mengacau kelenteng kami sebulan yang lalu adalah seorang pemuda.

“Ia memakai kedok sutera hitam hingga aku tidak dapat mengenal mukanya. Tubuhnya tegap dan ia masih muda benar, tapi kepandaiannya sangat aneh dan lihai. “Ia berhasil menewaskan kedua saudaraku dan mencuri patung kami. Aku telah bertempur melawan dia beberapa lama, tapi ia dapat melarikan diri sambil membawa lari patung itu.

“Karena suhumu dan kedua tokoh Thang-la yang lain pernah ribut memperebutkan patung itu, maka dugaanku tidak lain tentu murid-murid Thang-la Sam-sian yang datang mengacau.

“Kalau bukan murid Thang-la yang berkepandaian tinggi, siapa lagi? Tapi ternyata bukan kau, karena ilmu silatmu berbeda dengan pencuri itu.”

Sehabis berkata demikian, Siauw Ma melihat betapa mata pendeta wanita itu mengeluarkan air mata yang menuruni ke dua pipinya yang telah dimakan keriput. Timbullah rasa iba di hatinya.

“Kurang ajar betul pencuri itu. Jangan khawatir, teecu Siauw Ma pasti akan membantu membekuk batang leher maling jahat itu!”

Tapi Kim Hwa Sianli biarpun sudah tua masih mempunyai keangkuhan dan kesanggupan untuk membalas dendam, maka ia hanya tersenyum tawar dan berkata,

“Kau bukan pencurinya sudah cukup baik. Nah, selamat tinggal.” Nikouw tua itu lalu menggerakkan tubuhnya dan tubuhnya melayang pergi dengan cepatnya.

Siauw Ma menghela napas dan berkata dalam hati, “Heran sekali, patung Kwan-im Pouwsat itu mengapa selalu dicuri penjahat? Apanyakah yang berharga hingga penjahat itu tak segan-segan membunuh dua orang ketua Kwan-im-kauw?” Kemudian iapun lari keluar dari hutan dan melanjutkan perjalanannya.

Pada suatu hari Siauw Ma masuk ke dalam kota Bie-koan. Di depan sebuah kelenteng tua yang berpekarangan lebar, ia melihat panggung lui-tai, yakni tempat orang bermain silat, yang didirikan di depan kelenteng itu.

Panggung itu masih baru dan tingginya hampir dua tombak. Di sekeliling panggung itu berdiri banyak sekali penonton hingga keadaan menjadi ramai dan hati Siauw Ma tertarik, maka iapun memasuki pekarangan dan mendekati panggung itu.

Ternyata di atas panggung berdiri dua orang laki-laki setengah tua yang berpakaian sebagai ahli-ahli silat. Kedua orang itu berusia kira-kira empatpuluh tahun dan tubuh mereka tegap. Seorang di antaranya yang lebih tua dan mempunyai wajah peramah, berdiri dan rangkapkan kedua tangan sambil menjura ke sekeliling panggung,

“Cu-wi yang mulia, seperti yang telah kami nyatakan tadi, kami berdua saudara Oei tidak sekali-kali hendak pamerkan kepandaian yang masih rendah atau mencari permusuhan. Maksud kami mendirikan lui-tai ini bukan lain hendak berkenalan dengan para enghiong yang gagah perkasa di seluruh tempat. Maka kami persilahkan kepada para enghiong di tempat ini, sudilah kiranya memperkenalkan diri dan memberi tambahan pengertian kepada kami berdua.” Ternyata sikap orang itu halus dan sopan hingga Siauw Ma merasa suka dan tertarik. Ia bertanya kepada seorang penonton yang berdiri di dekatnya.

“Lauw-ko, sudah berapa lamakah kedua saudara itu membuka lui- tai di sini?”

Orang itu memandangnya dan menaruh perhatian ketika melihat betapa di pinggang Siauw Ma tergantung sebuah pedang.

“Mereka telah tiga hari membuka lui-tai dan selama itu mereka telah pertunjukkan kepandaian mereka yang luar biasa. Telah banyak guru silat yang naik dan mencoba kepandaian mereka, tapi tak seorangpun dapat mengalahkan mereka.”

“Jadi keduanya itu sengaja menjatuhkan para guru silat di sini?” tanya Siauw Ma heran.

“O tidak, mereka baik sekali. Biarpun mereka menang tapi mereka tidak pernah jatuhkan pukulan. Mereka betul-betul hanya hendak adu kepandaian belaka dan mencari persahabatan. Para orang gagah yang mereka kalahkan tidak ada yang mendapat malu atau merasa kurang senang, bahkan semua lalu berkenalan dan memuji kedua orang she Oei itu.”

Tapi pada saat itu tampak dua bayangan tubuh loncat naik ke atas lui-tai. Gerakan mereka menarik dan cepat sekali hingga para penonton lalu cepat mendekati lui-tai dan memuji.

Tapi alangkah kaget mereka ketika melihat bahwa yang loncat naik itu adalah dua orang pengemis. Yang menarik perhatian adalah baju kedua pengemis itu karena baju yang mereka pakai adalah baju penuh tambalan, tapi semua tambalannya adalah terbuat dari kain berkembang hingga baju mereka menarik sekali, berkembang-kembang dengan warna beraneka ragam!

“Celaka, mereka adalah anggauta-anggauta Hwa-ie-kai!” terdengar seorang berkata perlahan.

Siauw Ma yang mendengar itu lalu mendekati orang itu dan bertanya.

“Apakah itu Hwa-ie-kai?” tanyanya.

“Hwa-ie-kai atau Pengemis Berbaju Kembang adalah sekumpulan pengemis yang besar sekali pengaruhnya di selatan. Kau tentu bukan orang sini maka tidak kenal mereka,” orang itu memandang Siauw Ma dengan curiga.

Pada saat itu kedua saudara she Oei sudah berdiri dan menyambut kedatangan kedua pengemis itu dengan menjura memberi hormat. Mereka tahu bahwa kedua pengemis yang masih muda ini bukanlah orang-orang sembarangan karena gerakan loncat mereka tadi sungguh cepat dan lihai.

Sebagai orang-orang yang berpengalaman, mereka juga pernah mendengar nama Hwa-ie-kai yang berpengalaman, bahkan mereka juga telah bertemu dengan ketua Hwa-ie-kai, maka kini melihat dua orang Hwa-ie-kai dengan ikat pinggang warna biru, mereka tahu bahwa yang naik itu adalah pengemis-pengemis tingkat tiga. Sepanjang pengetahuan mereka, pengemis-pengemis Hwa-ie-kai terbagi menjadi beberapa tingkat. Tingkat pertama tentu saja ketua Hwa-ie-kai sendiri, sedangkan tingkat kedua adalah pengemis-pengemis berikat pinggang kuning.

Tingkat ketiga adalah pengemis berikat pinggang biru. Maka mengertilah kedua saudara Oei bahwa kedua pengemis itu tentu memiliki kepandaian tinggi.

“Ji-wi pheng-yu (sahabat) sudi naik ke lui-tai kami, sungguh merupakan kehormatan besar. Bagaimana dengan keadaan pang-cu perkumpulan ji-wi? Kami harap saja pang-cu (ketua) dalam sehat dan baik-baik saja.” Seorang dari pada kedua saudara Oei itu menyambut dengan senyum lebar.

Tapi kedua pengemis itu hanya tersenyum menghina. Seorang pengemis yang berkepala gundul dan penuh kudis berkata menyindir. “Pang-cu kami apa hubungannya dengan lui-tai kalian? Kami sudah datang, maka lekaslah kalian mengeluarkan kepandaian untuk mencoba-coba kami.”

Mendengar ucapan yang terang mencari-cari perkara dan permusuhan ini, ke dua saudara Oei masih memperlihatkan sikap sabar.

“Harap ji-wi tidak salah paham. Telah kami nyatakan bahwa kami membuka lui-tai untuk mencari persahabatan dengan semua orang gagah. Kami sekali-kali tidak hendak menjual kepandaian, apa lagi di depan kedua jiwi yang terhormat dan berkepandaian tinggi, mana kami berani memperlihatkan kebisaan yang rendah?” “Hem, hem, apakah kalian tidak menganggap kami termasuk orang-orang gagah maka tidak mau membuat perkenalan? Ah, kamu orang-orang dari Siauw-lim-si memang terkenal sombong! Hayo, kalian layani kami berdua, kalau tidak berani, lebih baik gulung tikar dan jangan banyak jual lagak di sini!” Pengemis ke dua yang giginya ompong berkata dengan marah.

Mendengar kata-kata itu, Siauw Ma menjadi tidak senang, apa lagi setelah diketahui bahwa kedua saudara Oei itu adalah murid- murid cabang Siauw-lim-si karena ia sendiri pernah dididik oleh seorang guru silat Siauw-lim. Maka ia memandang lui-tai dengan penuh perhatian.

Ternyata kedua saudara Oei itupun tidak dapat menahan sabar lagi. Mereka tersenyum pahit dan berdiri lalu berkata,

“Kalau ji-wi memaksa, apa boleh buat, kami tak dapat tidak harus melayani kalian.”

Para penonton menjadi berdebar dan suasana sangat tegang karena mereka menduga bakal terjadi perkelahian yang betul- betul seru dan hebat. Tapi semua hati berpihak kepada kedua saudara Oei hingga diam-diam mereka mengharapkan kemenangan kedua saudara dari cabang Siauw-lim-si itu.

Tapi Siauw Ma berpendapat lain. Ia tahu dari gerak-gerik mereka bahwa kedua saudara she Oei itu bukanlah lawan kedua pengemis muda yang memiliki lwee-kang tinggi, maka ia memandang dengan khawatir. Melihat betapa kedua saudara Oei itu telah pasang kuda-kuda dan siap melayani mereka, kedua pengemis itu tertawa besar lalu dengan secara tiba-tiba mereka kirim pukulan kilat. Kedua murid Siauw-lim cukup awas dan hati-hati. Mereka menangkis dan balas menyerang hingga sebentar saja di atas panggung itu terjadi pertempuran yang seru.

Empat orang itu bertempur dengan sengitnya dan tidak mau saling mengalah. Kini pertempuran terjadi berbeda dengan perkelahian kemarin, karena kemarin itu di atas panggung bukan terjadi perkelahian, hanya lebih pantas disebut mempertontonkan kepandaian dan mengukur ilmu silat masing-masing belaka.

Sekarang yang bertempur ada empat orang dan semua serangan dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tak sungkan-sungkan.

Benar sebagaimana yang dikhawatirkan Siauw Ma, sebentar saja kedua saudara Oei itu terdesak hebat. Kedua pengemis itu melancarkan serangan-serangan berbahaya, dibarengi tenaga lwee-kang yang jauh lebih tinggi dari pada tenaga ke dua saudara Oei.

Baiknya ilmu silat Siauw-lim-si mempunyai dasar yang kokoh kuat dan ilmu silat ini jika digunakan untuk membela diri sangat teguh hingga tak mudah bagi kedua pengemis itu untuk segera menjatuhkan kedua murid Siauw-lim-si itu. Akan tetapi karena terdesak dan panggung di situ sempit hingga mereka harus berputar-putar sambil mundur, akhirnya mereka berdua kena terpukul. Saudara Oei pertama terpukul dadanya hingga ia terlempar ke bawah panggung sambil muntahkan darah, sedangkan yang kedua kena tertendang perutnya hingga ia terpental lebih jauh ke bawah panggung dan jatuh terus pingsan!

Tentu saja hal ini membuat panik para penonton, tapi banyak orang segera menolong kedua saudara Oei itu, terutama para guru silat yang pada hari-hari kemarin telah mengikat persahabatan dengan kedua saudara Oei. Mereka segera membawa kedua saudara itu pulang untuk diobati. Hati mereka panas sekali, tapi mereka telah melihat kelihaian kedua pengemis Hwa-ie-kai itu hingga tidak ada seorangpun yang berani naik menuntut bela.

Setelah menjatuhkan kedua lawannya, kedua pengemis itu dengan sombong sekali tertawa bergelak-gelak.

“Ha, ha, sam-te, tak kusangka kedua cacing pita she Oei itu hanya sedemikian saja kepandaiannya!” Si pengemis gundul berkata kepada kawannya.

“Memang mereka itu hanya lagaknya saja yang besar, ji-ko,” jawab pengemis ompong.

Lalu dengan sombongnya ia berkata kepada para penonton hingga mulutnya yang ompong tampak nyata dan mengherankan orang yang melihatnya betapa seorang yang masih begitu muda sudah ompong! “Saudara-saudara sekalian! Telah kalian lihat betapa cacing pita she Oei itu tak lain hanya gentong kosong belaka! Orang macam itu mana ada harganya untuk mencari sahabat dengan orang- orang gagah di kalangan kang-ouw?

“Tapi kami bukanlah orang-orang pengecut yang tidak berani menanggung jawab tindakan kami. Kalau ada kawan-kawan cacing pita she Oei yang hendak menuntut balas, silahkan naik sekarang juga agar lebih lekas dapat kami bereskan!”

“Ya, ya! Kalau ada jagoan Siauw-lim-si lagi, boleh naik segera, kami tak mau menunggu lama-lama di sini!” menyambung pengemis gundul.

“He, setan gundul dan siluman ompong! Kalau yang naik bukan orang Siauw-lim, bagaimana?” tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring.

Siauw Ma dan orang-orang di situ heran sekali melihat betapa yang membentak itu adalah seorang pemuda berpakaian sasterawan yang tampan sekali, tapi yang tampaknya lemah lembut.

Karena pemuda itu berada di tengah-tengah sekelompok penonton yang banyak jumlahnya, kedua pengemis itu tak dapat menemukannya dan mereka hanya memandang ke arah kelompok penonton itu dengan mata marah.

“Cecunguk mana yang berani berkata-kata? Tak perduli orang Siauw-lim-si atau bukan, jika di antara kamu ada orang yang pandai dan berani, jangan hanya buka mulut, naiklah!” Karena sambil bicara demikian kedua pengemis itu memandang ke sekeliling dengan sikap menantang sekali.

Siauw Ma tak dapat menahan kemarahannya lagi. Sekali berkelebat ia telah berada di atas panggung dan berdiri sambil bertolak pinggang.

“Heran sekali di dunia ada monyet-monyet seperti kamu orang,” Siauw Ma menegur.

Kedua pengemis itu membalikkan tubuh dan terkejut sekali mereka karena mereka sama sekali tidak mendengar datangnya anak muda yang tampan dan gagah itu. Mereka menduga bahwa yang membentak tadi tentu pemuda ini maka mereka berdua segera menubruk dalam serangan yang ganas.

Tapi sekali mengulur kedua lengannya, Siauw Ma telah berhasil menjambret leher baju kembang itu dan dengan ringan sekali kedua tangannya mengangkat tubuh kedua pengemis dan memutar-mutarkan mereka di atas kepalanya.

Gerakannya demikian cepat dan tak terduga hingga kedua pengemis itu menjadi bingung dan tak sempat berbuat sesuatu! Ketika mereka sadar dari herannya dan hendak bergerak melawan, tiba-tiba Siauw Ma melempar tubuh mereka jauh ke bawah panggung yang kosong agar tidak menimpa orang sambil berkata keras.

“Pergilah kamu berdua anjing busuk!” Perbuatannya yang luar biasa ini di sambut oleh sorak-sorai yang riuh-rendah dari para penonton karena kagum, heran, dan suka hati melihat betapa pengemis sombong itu diberi hajaran. Tapi tempik sorak mereka tiba-tiba terhenti ketika melihat kejadian yang lebih aneh lagi!

Kedua pengemis itu bagaikan dua buah balok kayu melayang ke bawah panggung dan tahu-tahu di situ telah berdiri pemuda sasterawan yang cakap dan yang tadi membentak!

Pemuda cakap itu mengulur kedua lengannya seperti gerakan yang dibuat oleh Siauw Ma tadi, lalu dengan ringannya ia menangkap kedua pengemis itu pada leher baju mereka! Kemudian, sambil berkata, “Hajaran belum cukup!”

Ia memutar-mutar tubuh kedua pengemis itu di atas kepala seperti yang diperbuat oleh Siauw Ma tadi dan langsung melempar kedua pengemis itu kembali ke atas panggung. Kedua tubuh itu menyambar ke atas, ke arah Siauw Ma yang berdiri bengong dan yang lalu tertawa gembira melihat permainan pemuda sasterawan yang “lemah lembut” itu!

Ia tidak menyambuti kedua tubuh itu, tapi menggunakan kedua ujung kaki dengan cepat bergerak menendang kedua tubuh itu kembali ke arah pemuda sasterawan di bawah panggung dengan kecepatan luar biasa!

Pemuda sasterawan itupun tertawa, suara ketawanya nyaring dan panjang, lalu dengan mengangkat ke dua tangannya ia gerakkan kepalan ke arah tubuh yang masih melayang ke arahnya. Heran sekali, tubuh kedua pengemis itu yang masih berada di udara dan melayang ke arah bawah panggung, tiba-tiba seperti terdorong oleh tenaga raksasa, tahu-tahu mereka terlempar kembali ke atas panggung!”

Siauw Ma terkejut sekali. Ia tahu pemuda itu lihai, tapi tak disangkanya pemuda itu memiliki tenaga lwee-kang sedemikian tinggi hingga dengan gerakan Pai-in-cut-siu atau Dorong Awan Keluar Puncak dapat memukul kembali tubuh itu dalam jarak yang demikian jauh!

Ternyata pemuda itupun seorang ahli silat tinggi. Maka iapun tidak mau kalah. Dengan cepat ia gerakkan kedua lengannya dan menyampok ke arah tubuh yang melayang ke arahnya dengan gerakan Ombak Laut Terbawa Angin. Dan seperti tadi, kedua tubuh itupun membal kembali seperti terdorong oleh tenaga raksasa!

“Bagus!” pemuda sasterawan itu berkata sambil tersenyum dan iapun mendorong kembali seperti tadi. Siauw Ma juga terdorong kembali. Maka perang tanding di antara kedua pemuda itu yang mengadu kekuatan lwee-kang terjadilah dengan hebatnya!

Para penonton menahan napas dan kepala mereka bergerak dari kiri ke kanan dan sebaliknya mengikuti jalannya tubuh kedua orang itu, bagaikan orang sedang nonton bola yang dilempar ke kanan kiri pulang pergi! Yang paling celaka adalah kedua pengemis itu karena tubuh mereka harus mengalami gempuran- gempuran dua tenaga lwee-kang yang sangat tinggi! Karena ke dua pemuda itu bergerak dengan berbareng, maka akhirnya tenaga mereka bertemu di udara hingga kedua tubuh itu untuk sesaat tergantung di udara tak bergerak! Mereka tergencet di antara dua tenaga lwee-kang yang saling dorong hingga ke kanan tidak, ke kiripun tidak!

Siauw Ma tahu bahwa permainan ini tak dapat diteruskan tanpa terjadi salah paham, maka iapun tarik lengannya, sambil loncat berkelit cepat agar jangan sampai terpukul tenaga lawan dan sambil tarik kedua lengan ia kerahkan lengan sedemikian rupa ke arah lantai untuk membuang tenaga yang ditarik kembali dan yang terdorong oleh tenaga lawan hingga terdengar suara “krak!!!” dan papan lantai itu pecah berlubang!

Pemuda sasterawan itupun tarik kembali kedua lengannya dan kini tubuh pengemis itu tiba-tiba melayang turun dan jatuh terbanting di atas tanah! Ketika orang-orang melihatnya, ternyata kedua pengemis itu telah putus napasnya!

“Maaf, maaf!” Pemuda sasterawan itu berkata ke arah Siauw Ma sambil melemparkan senyum di wajahnya yang tampan, lalu cepat ia meloncat pergi meninggalkan tempat itu!

“Hei, sobat, tunggu dulu!” Siauw Ma berseru dan meloncat mengejar.

Para penonton menjadi sangat kagum, heran dan bingung karena mereka hanya melihat dua bayangan berkelebat cepat dan tahu- tahu kedua pemuda yang gagah perkasa dan aneh itu telah lenyap dari situ! Selama hidup belum pernah melihat yang seaneh itu, maka tentu saja mereka tidak habisnya membicarakan kedua pemuda lihai itu. Mayat kedua pengemis juga diurus dengan baik oleh para guru silat di kota Bie-koan.

Siauw Ma mengerahkan seluruh kepandaian ilmu lari cepatnya untuk mengejar bayangan pemuda di depannya itu. Tapi ternyata jarak antara pemuda itu dan dia tetap tidak berubah hingga ia makin kagum saja.

Dalam hal ilmu lari cepatpun pemuda itu tidak di bawah dia! Tapi pemuda itupun diam-diam kagum sekali karena betapapun ia mengerahkan gin-kangnya, tetap saja Siauw Ma berada di belakangnya dan tidak tertinggal jauh.

Sebentar saja mereka telah lari puluhan lie jauhnya dan akhirnya pemuda itu berhenti di dekat sawah yang sepi dan menanti datangnya Siauw Ma sambil tersenyum. Senyum inilah yang menarik hati Siauw Ma karena tiap kali tersenyum pemuda itu tampak demikian tampan dan menarik hingga siapa saja tentu akan senang bersahabat dengannya.

Setelah berhadapan, Siauw Ma menjura dengan hormat dan pandang wajah pemuda itu dengan kagum dan muka berseri.

“Sahabat, sudilah memperkenalkan diri padaku. Aku kagum sekali melihat kepandaianmu,” katanya.

Pemuda itupun merendah dan balas menjurah. “Kaulah yang membuat orang kagum. Kepandaianmu jauh lebih hebat dari pada sedikit kemampuan yang kumiliki.” “Namaku Siauw Ma dan aku adalah murid Beng Beng Hoatsu dari Thang-la di puncak Gunung Harimau Salju. Mohon tanya nama saudara yang mulia.”

“Siauwte adalah seorang tak terkenal. Siauwte she Souw bernama Eng dan sedikit kepandaian yang siauwte miliki adalah pemberian seorang yang tak mau disebut namanya.”

Melihat tutur bahasa yang sopan dan sikap yang merendah dari pemuda itu. Siauw Ma makin suka dan mereka bercakap-cakap dengan gembira.

“Bolehkah aku mengetahui, saudara hendak ke mana? Apakah mempunyai tujuan yang tetap?” tanya Siauw Ma ketika mereka telah berjalan perlahan di sepanjang pinggir sawah.

Pemuda itu geleng-geleng kepala. “Aku merantau tanpa tujuan, tanpa sanak tanpa kadang tanpa cita-cita, ke mana saja sepanjang kakiku membawa diriku.”

Mendengar jawaban ini, Siauw Ma makin merasa cocok, karena keadaan itu justeru sama benar dengan keadaannya sendiri. Bukankah ia juga tak bersanak dan berkadang dan tak mempunyai tujuan tetap?

“Kalau begitu, jika kau tidak keberatan, aku akan merasa suka dan terhormat sekali bila kau mau terima aku sebagai kawan seperjalanan. Akupun sedang merantau tanpa tujuan tetap.” Untuk sejenak pemuda sasterawan itu memandangnya dengan pandang curiga dan tajam hingga Siauw Ma merasa heran, tapi kemudian Souw Eng tersenyum.

“Mengapa tidak? Asal kita tidak saling ganggu dan tidak saling menghalangi, kurasa tidak salahnya kita jalan bersama.”

Siauw Ma merasa girang sekali. Karena pemuda ini memang jujur, ia tidak sembunyikan rasa girangnya dan dengan gembira sekali ia pegang tangan sahabatnya dan berkata,

“Kau lebih muda dari padaku, biarlah aku menyebutmu adik Souw dan kau boleh panggil aku twako, bukankah ini lebih baik?”

Siauw Ma merasa heran ketika tangan yang berkulit halus itu tiba- tiba mengeras dan merenggut lepas dari pegangannya. Tapi ketika ia pandang wajah Souw Eng, pemuda sasterawan itu sama sekali tidak nampak marah, bahkan tersenyum dan menjawab.

“Baik sekali, twako!”

Siauw Ma terbelalak heran. Aneh betul tabiat kawan barunya ini. Wajahnya tersenyum dan menyatakan baik, tapi kenapa dengan keras dan kasarnya ia merenggutkan tangannya yang terpegang?

Mereka lalu melanjutkan perjalanan dengan bercakap-cakap gembira. Ternyata Souw Eng suka sekali bicara dan pemuda ini memang pandai tentang ilmu kesusasteraan, terutama pandai sekali bersyair! Tiap kali melihat Souw Eng tersenyum, maka berdebarlah jantung Siauw Ma. Ia seperti pernah melihat senyum itu! Senyum yang menarik hati dan mendebarkan dadanya. Tapi ia lupa lagi di mana ia melihatnya dan siapa yang tersenyum semanis itu!

Pernah pikirannya melayang kepada Lian Eng, gadis gagu yang selalu terbayang di depan matanya. Tapi segera ia mengusir perbandingan ini. Lian Eng seorang gadis gagu pula….. Pemuda ini adalah seorang yang pandai sekali bicara!

Karena kedua pemuda itu melanjutkan perjalanan dengan berjalan perlahan sambil mengobrol dan menikmati pemandangan alam, maka sebentar saja mereka tersusul oleh empat orang yang sejak tadi mengejarnya dengan berlari cepat.

Mereka ini bukan lain ialah ketua Hwa-ie-kai atau Perkumpulan Pengemis Baju Kembang, seorang pengemis tua yang berkepandaian tinggi dan mendapat julukan Hwai-ie-kai-ong atau Raja Pengemis Baju Kembang. Dari baju sampai ke celana dan sepatunya, terbuat dari kain berkembang hingga ia merupakan tontonan yang aneh!

Usianya sudah limapuluh lebih, tubuhnya tinggi kurus dan rambutnya panjang tak terpelihara. Ketiga orang lain adalah murid-murid kepalanya, yakni pengemis-pengemis yang berikat pinggang kuning. Mereka inipun bukannya orang-orang lemah dan kepandaian mereka cukup terkenal.

Souw Eng dan Siauw Ma berlenggang seenaknya, seakan-akan tidak mendengar akan datangnya ke empat orang dari belakang itu. Tapi sesungguhnya bukan sekali-kali mereka tidak mendengar, karena ketika seorang pengemis ikat pinggang kuning dengan marah mengayun tangannya dan empat butir peluru kuningan menyambar ke arah kedua anak muda itu dari belakang, Siauw Ma dan Souw Eng tanpa menengok mengulur tangan ke belakang dan menangkap dua butir peluru yang menyambar ke arah masing-masing!

Setelah ke empat pengejarnya berada dekat di belakang, mereka saling memandang dan berkedip, lalu berhenti dan membalikkan tubuh, tapi pura-pura tidak melihat ke empat pendatang itu.

“Hei, orang muda! Apakah kalian yang membunuh mati murid- murid kami di Bie-koan tadi?” seorang pengemis botak berikat pinggang kuning bertanya kasar.

“Bukan kami yang membunuh mati, tapi merekalah yang mencari mampus sendiri. Mengapa kautanyakan hal itu kepada kami?” Souw Eng balas bertanya dengan halus tapi cukup tajam.

“Jangan kau lancang mulut, anak muda!” Si raja pengemis mencela. “Coba terangkan, mengapa kalian memusuhi kaumku dan terangkan siapakah kalian dan siapa guru kalian?”