--> -->

Patung Dewi Kwan Im Jilid 06

Jilid 06

“Lupakah kau? Gua Ular tentu berada di puncak Hek-coa-san.”

“Ah, jadi ia sudah kembali ke timur lagi? Hal ini tak kusangka. Hm, bisa jadi ia bawa patung itu ke timur. Tadi aku tidak ada dugaan demikian karena bukankah ia meninggalkan timur setelah dikejar- kejar oleh kaisar?”

Kiang Cu Liong mengangguk-angguk. “Memang, dulu memang demikian. Tapi dengan kepandaiannya, masakan ia takut kaisar? Pula, dia cerdik dan licin sekali, kalau cuma panglima-panglima istana saja agaknya sukar untuk menangkapnya.”

“Memang ia lihai sekali, dan puncak Hek-coa-san juga tempat yang sangat berbahaya. Hm, kita akan menghadapi tugas yang berat. Tapi betapapun juga, kita harus ke sana, kalau tidak, tentu ia akan mentertawakan kita dan menganggap kita takut!”

“Tentu saja!” Tabib Sakti menjawab dengan bernafsu. “Masakan kita harus tinggal diam saja dan tidak berusaha mendapatkan patung itu?”

“Ha, ha, ha! Kau agaknya ingin sekali mendapatkan patung Kwan- im Pouwsat, kawan,” Hwat Kong Tosu menyindir.

“Memang, memang ingin sekali. Pertama untuk menguji kepandaian dan berlomba dengan kalian Thang-la Sam-sian, kedua karena memang perlu sekali aku dapat memiliki patung itu, walau hanya beberapa hari saja sekalipun.”

Sementara itu, lengan tangan Tiong Li yang tadinya gembung dan kehitam-hitaman, kini telah menjadi biasa dan bersih. Maka keduanya lalu menuju ke pinggir telaga dan mencuci lengan dan tangan mereka.

Tiba-tiba Hong Cu bersorak, “Hei, ikan! Ikan!”

Ketika Tiong Li memandang ternyata tampak beberapa ekor ikan tiba-tiba saja mengambang dengan perutnya putih di atas dalam keadaan mati! “Ah, mereka terkena racun yang menempel di tangan dan lengan kita.” Maka ia lalu menggunakan tangannya menangkap bangkai ikan yang terdekat.

“Untuk apa kauambil bangkai itu? Aku tidak sudi makan dagingnya,” kata Hong Cu.

Tiong Li tersenyum. “Bukan untuk di makan, tapi untuk dibuang agar jangan sampai dimakan oleh ikan lain, karena kalau terjadi demikian maka telaga ini akan penuh bangkai ikan.”

Mendengar keterangan ini Hong Cu segera bantu mengambil ikan-ikan yang mengambang itu, tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu dan memandang kepada Tiong Li dengan terkejut.

“Celaka!” katanya dan wajahnya yang cantik berubah muram. “percuma saja kita buang bangkai-bangkai ikan ini. Tidak urung semua ikan di telaga ini akan mati.”

“Mengapa begitu?” tanya Tiong Li heran

“Bukankah kita telah cuci tangan di sini? Racun itu akan membunuh semua ikan dalam telaga ini?”

“Jangan khawatir. Racun itu hanya sedikit sedangkan air telaga ini demikian banyak. Sebentar saja racun itu akan hanyut dan berpencaran hingga hilang ditelan air yang sebanyak ini dan tidak berbahaya lagi.” Hong Cu memandang kepada Tiong Li dengan heran dan kagum. Ia anggap pemuda itu luar biasa pandainya dan agaknya mengerti segala hal yang baginya masih gelap.

Juga ketika bertempur melawan Siauw Liong tadi, ternyata bahwa kepandaian pemuda ini jauh lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri. Tiong Li ketika bertemu pandang dengan Hong Cu, tiba- tiba wajahnya memerah dan ia tidak berani memandang lebih lama.

“Hayo kita kembali kepada suhu,” ajaknya dan mereka lalu berjalan cepat ke tempat suhu mereka.

Ternyata tabib sakti telah siap dengan pikulannya dan hendak berangkat. Ia panggil Tiong Li mendekat dan menegur muridnya itu dengan tiba-tiba.

“Tiong Li, tahukah kau sekarang bahwa kepandaianmu masih rendah sekali hingga sekali bertempur terluka?”

Mendengar teguran dengan suara keren itu Hong Cu merasa penasaran dan adatnya yang polos membuat ia tidak ragu-ragu lagi membela Tiong Li,

“Tapi, peh-peh, ia tidak kalah oleh Siauw Liong!”

Seruan ini membuat si tabib sakti tersenyum, dan Tiong Li cepat- cepat anggukkan kepala kepada suhunya.

“Benar, suhu. Memang teecu masih bodoh dan tadi kurang berhati-hati.” “Nah, baik juga kalau kau mengerti ini. Memang kau terlalu sembrono tadi. Biarlah pengalaman pahit ini menjadi pelajaran bagimu dan selanjutnya kau harus berlatih terlebih giat lagi.”

“Baik, suhu.”

Hwat Kong Tosu memandang murid perempuannya dan berkata dengan tertawa,

“Dengarlah, Hong Cu. Kepandaian Tiong Li sudah jauh lebih tinggi darimu, namun masih saja ia mendapat teguran dan merasa kepandaiannya rendah. Apa lagi dengan kepandaian yang kaumiliki sekarang, ah, kau jauh sekali ketinggalan.

“Tapi jangan kau putus asa, karena kau belum juga setahun belajar silat. Kalau kau rajin, kelak kau tentu dapat mengejar kepandaian Tiong Li dan yang lain-lain.”

Hong Cu mengangguk-angguk tanda mengerti dan tabib sakti itu bersama muridnya telah siap untuk berangkat.

“Nah, selamat berpisah, sahabat yang baik. Sampai bertemu kembali kira-kira sebulan yang akan datang di puncak Hek-coa- san. Aku akan mendaki puncak itu dari selatan,” kata Kiang Cu Liong.

“Dan aku akan naik dari utara. Sampai berjumpa kembali;” kata Hwat Kong Tosu.

Sementara itu, selagi kedua guru itu bercakap-cakap, Tiong Li mendekat Hong Cu dan memberikan sebungkus obat. “Kau minumlah ini, tentu lekas maju kepandaianmu,” bisiknya perlahan.

Hong Cu menerimanya dan mengangguk. Sebetulnya ia takkan mau menerima karena ia paling benci minum obat-obat yang pahit, tapi melihat pandangan mata Tiong Li yang halus, lembut dan penuh desakan, ia menerima juga.

“Kalau nanti tidak kuminum, ia toh tidak tahu juga,” pikirnya.

Maka berpisahlah mereka. Hwat Kong Tosu dan Hong Cu memandang kedua tubuh guru dan murid yang memikul keranjang obat itu menuju ke sebuah perahu kecil di tepi telaga dan dengan cepat perahu itu didayung.

<>

“Hong Cu, kau diberi apakah tadi oleh Tiong Li?” tiba-tiba Hwat Kong Tosu bertanya kepada muridnya.

Hong Cu terkejut sekali. Sedikitpun tidak disangkanya bahwa gurunya mengetahui hal itu. Dengan cepat ia mengeluarkan bungkusan itu dari saku bajunya dan memperlihatkan kepada suhunya sambil berkata.

“Entahlah, suhu. Katanya tadi kalau teecu minum obat ini, tentu kepandaian teecu lekas maju.”

Hwat Kong Tosu membuka bungkusan itu dan ternyata di dalamnya terdapat tiga butir obat berwarna putih. Ketika obat itu ia dekatkan ke hidungnya, maka tercium bau yang harum tapi keras. Hwat Kong Tosu bukanlah ahli obat-obatan, tapi dari baunya ia dapat menduga bahwa obat itu tentu semacam obat kuat yang membersihkan darah dan menguatkan tulang.

“Dia memang anak baik. Kau boleh percaya kepada Tiong Li dan kauminumlah obat itu.”

“Kapan teecu harus minum ini, suhu?” tanya Hong Cu sambil memandang obat itu dengan mata tak senang karena belum apa- apa ia sudah merasa muak.

Hwat Kong Tosu tertawa. “Kalau obat itu aku yang memberi padamu, tentu saja harus kauminum sekarang juga, tapi karena yang memberimu adalah orang lain, maka terserah kepadamu kapan saja kau boleh minum.”

Hong Cu tidak menjawab, tapi lalu menyimpan obat itu ke dalam saku bajunya. Semenjak hari itu ia menerima latihan-latihan gin- kang dan lwee-kang dari suhunya. Latihan-latihan ini dijalankan dengan rajin sekali hingga tiap hari sambil berjalan ia melatih diri.

Belum pernah suhunya berjalan biasa dan perlahan, bahkan sengaja percepat tindakan kakinya hingga terpaksa Hong Cu juga kerahkan kepandaiannya dan gunakan ilmu lari cepat yang sedang dipelajarinya. Demikianlah, maka cepat sekali ia memperoleh kemajuan. Tiap kali beristirahat, ia selalu duduk bersamadhi meniru gurunya, mengumpulkan semangat dan mengatur napas melatih ilmu lwee-kang yang tinggi. Beberapa hari kemudian mereka melalui sebuah hutan yang lebat. Hutan itu penuh dengan pohon-pohon yang aneh dan banyak sekali buah-buah yang lezat.

Hong Cu merasa girang sekali dan ia berpesta pora makan buah- buah sambil latihan gin-kangnya. Ia naik ke pohon tidak dengan memanjat pohon itu, tapi dengan loncat ke atas pohon dan memetik buah-buahan yang masak. Hwat Kong Tosu juga gembira sekali melihat hutan kecil yang penuh dengan pohon buah beraneka macam itu.

Di tengah-tengah hutan terdapat sebuah pohon yang sangat besar dan dari jauh sudah tercium bau harum dari pohon itu. Hwat Kong Tosu dan muridnya lalu menghampiri pohon itu dan ternyata yang menyebarkan bau harum adalah beberapa belas buah warna merah yang bergantungan di pohon itu.

Pohon itu tinggi dan besar, tapi buahnya kecil-kecil dan hanya ada sebelas atau duabelas butir saja. Besarnya paling banyak hanya setengah kepalan tangan, bentuknya bulat dan kulitnya halus tipis.

Hong Cu pandang cabang pohon yang tinggi itu. Ia ragu-ragu untuk meloncat ke atas, karena ia sangsi apakah kepandaiannya sudah cukup untuk dapat mencapai cabang setinggi itu. Tapi Hwat Kong Tosu berkata.

“Hong Cu, kau loncatlah ke cabang itu. Kalau loncatanmu kurang tinggi, kau bisa menggunakan gerakan Naga Terbang Jumpalitan dan pegang cabang itu. Cobalah, jangan takut-takut!” Sebenarnya Hong Cu tidak takut, hanya tadi ia merasa ragu karena khawatir kalau-kalau loncatannya gagal dan ia merasa malu kepada suhunya yang tentu menegurnya. Kini mendengar anjuran ini, ia bersiap.

Ia kumpulkan tenaga di ujung kakinya dan dengan seruan nyaring ia enjot tubuhnya ke atas. Betul saja, cabang itu terlalu tinggi untuknya, maka ia segera berpok-sai yaitu membuat salto dan enjot tubuhnya ke atas lagi.

Ia berhasil dan kedua tangannya dapat mencapai cabang itu yang lalu ditangkapnya. Tubuhnya terayun-ayun dan sekali ayun saja ia dapat menarik tubuhnya ke atas dan berdiri di atas cabang itu. Setelah loncatannya berhasil, Hong Cu seakan-akan lupa kepada suhunya yang masih berdiri di bawah..

Ia segera memetik buah yang merah dan nampak segar itu, lalu langsung menggigitnya. Ternyata buah itu enak sekali, manis segar, dingin dan harum. Cepat ia makan sampai habis tiga butir.

Tiba-tiba is merasa ada angin berkelebat di belakangnya dan ketika ia menengok, tahu-tahu Hwat Kong Tosu sudah berada di belakangnya, berdiri di atas batang yang besar. Batang yang diinjak oleh suhunya itu sedikitpun tidak bergoyang, menandakan bahwa kakek tua itu sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali dalam ilmu meringankan tubuh.

“Anak nakal, jangan habiskan sendiri buah itu!” tegurnya sambil tertawa. Hong Cu baru ingat dan iapun tertawa gembira dan berkata.

“Suhu, enak betul buah ini. Kalau orang makan buah ini, apapun akan terlupa olehnya!”

“Betulkah?” Suhunya lalu memetik sebuah dan memakannya. Jenggotnya yang panjang lagi putih itu berkibar-kibar tertiup angin dan matanya meram melek ketika ia menikmati rasa buah yang benar-benar lezat itu.

“Suhu, buah apakah namanya ini?” tanya Hong Cu.

“Entahlah! Selama hidup baru kali ini aku merasakannya. Rasanya seperti buah tho tapi macamnya dan harumnya berbeda.”

Tiba-tiba Hong Cu ingat obatnya. “Ah, kalau dimakan dengan buah yang manis ini tentu obat itu tidak terasa pahitnya,” pikirnya, maka segera ia mengeluarkan obat itu dari sakunya.

“Suhu, teecu hendak makan obat ini sekarang,” katanya dengan tersenyum.

Hwat Kong Tosu sudah biasa dengan adat muridnya yang jujur dan polos, pula sering kali memang gadis cilik itu mempunyai keinginan tiba-tiba maka mendengar kata-kata ini ia hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju, sementara terus saja ia makan buah yang lezat itu.

Hong Cu menjumput sebutir obat warna putih itu, menggigit sepotong buah dan memasukkan obat itu ke dalam mulut. Ia menyangka akan merasakan pahitnya obat itu, tapi tiba-tiba matanya terbuka lebar.

Ternyata setelah obat itu masuk ke dalam mulutnya, hidungnya mencium bau harum yang luar biasa dan yang mengalahkan bau harum buah itu! Rasa buah yang manis itu menjadi tambah manis dan tambah lezat.

Karena itu ia memandang suhunya dengan terheran-heran, tapi suhunya ternyata tidak memperhatikan dia dan tengah makan buah dengan meram melek dan giginya yang sudah ompong itu menggayem dengan enaknya!

Hong Cu tidak berani mengganggu suhunya, maka ia menggigit sepotong lagi, lalu memasukkan sisa obat yang tinggal dua butir ke dalam mulutnya. Ia merasakan kelezatan yang luar biasa hingga tak terasa dua titik air mata keluar dari matanya.

Namun Hong Cu tidak merasakan ini dan ia terus saja memetik buah dan makan dengan enaknya. Sebentar saja duabelas buah butir buah itu telah habis terbagi antara guru dan murid itu. Hwat Kong Tosu menghabiskan lima butir dan Hong Cu telah makan tujuh butir!

“Aah……. enak sekali…… belum pernah aku makan seenak ini. Luar biasa!”

Hwat Kong Tosu berkata sambil duduk di atas cabang pohon dan sandarkan punggungnya. Tapi tiba-tiba ia loncat berdiri dan tubuhnya melesat ke bawah. Untung ia berlaku gesit dan cepat untuk menyambar tubuh Hong Cu yang terpelanting ke bawah! Entah mengapa, tiba-tiba Hong Cu merasa tubuhnya panas sekali dan perutnya berbunyi keras seperti ada beberapa ekor ayam jantan berkeruyuk di dalam perutnya.

Kepalanya menjadi pening dan matanya gelap! Maka ia tak dapat menahan tubuhnya yang menjadi limbung dan kakinya lalu terpeleset hingga tubuhnya terpelanting ke bawah!

Setelah dapat menyambar tubuh muridnya, Hwat Kong Tosu lalu loncat turun. Alangkah kagetnya ketika ia melihat bahwa muridnya telah pingsan dengan tubuh lemas dan tubuh itu menjadi merah sekali seperti warnanya buah yang mereka makan tadi, dan panasnya luar biasa!

Mata Hong Cu meram dan dari mulutnya terdengar suara rintihan- rintihan seakan-akan dalam pingsannya ia menderita sakit, sedangkan dari perutnya masih saja terdengar suara berkeruyukan keras!

Hwat Kong Tosu menjadi bingung sekali dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Ia benar-benar tidak berdaya pada saat itu, melihat keadaan muridnya yang tersayang itu, hampir saja ia menangis keras karena putus asa!

Cepat ia lari ke sana ke mari untuk mencari air. Setelah menemukan sebuah anak sungai, ia segera mengambil air dan menggunakan air itu membasahi kepala dan muka muridnya. Hwat Kong Tosu lalu duduk bersamadhi dan menggunakan kekuatan batin dan kekuatan tenaga dalamnya untuk membantu muridnya sambil memegang pergelangan tangan muridnya ia mengerahkan tenaganya yang dengan hangat dan tak tampak menjalar melalui jari tangannya dan memasuki tubuh muridnya melalui pergelangan tangan itu.

Lama mereka berdiam dalam keadaan demikian itu. Dalam tekadnya, Hwat Kong Tosu takkan bangun sebelum muridnya sembuh. Demikian besar cinta kasihnya terhadap Hong Cu, murid yang satu-satunya semenjak ia mengambil Souw Cin Ok sebagai murid dulu.

Perlahan-lahan jari tangannya merasa betapa hawa panas yang keluar dari tubuh muridnya itu berkurang dan bunyi perut berkeruyukan itu kini menjadi perlahan dan hampir tak terdengar lagi.

Dengan hati lega diam-diam ia berterima kasih kepada Thian Yang Maha Tunggal dan dengan perlahan ia membuka matanya yang tadi dimeramkan ketika bersamadhi.

Ternyata warna merah di kulit tubuh Hong Cu secara berangsur- angsur lenyap dan nafasnya menjadi biasa kembali. Tak lama kemudian gadis cilik itu terdengar mengeluh dan biji matanya dalam pelupuk yang meram itu bergerak-gerak.

Kemudian mata itu terbuka dan mulutnya berkata lirih. “Ah, haus…… haus…….” “Ini air, Hong Cu, minumlah ini.......” kata Hwat Kong yang lalu memberi minum gadis itu.

Setelah minum air, Hong Cu menjadi sadar betul. Ia loncat bangun dan pandang suhunya. “Eh, suhu, kenapakah?”

Ia kerut-kerutkan kening mengingat-ingat karena heran sekali mendapatkan dirinya terlentang dan suhunya duduk di dekatnya dengan wajah sedih dan aneh. Maka teringatlah ia bahwa tadi ia merasa pening sekali berada di atas pohon dan terpelanting ke bawah.

“Suhu, tadi…… teecu jatuh?” tanyanya.

Hwat Kong Tosu tersenyum, karena hatinya telah lega dan girang.

“Kau bikin kaget orang tua saja. Tadi tiba-tiba kau jatuh. Untung dapat kusambar tubuhmu, tapi kau menjadi pingsan dan tubuhmu panas sekali.”

Hong Cu berdiri dan memandang ke sekelilingnya dengan heran. “Aneh, tubuhku terasa ringan dan mataku terang sekali, suhu, apakah yang terjadi dengan teecu?”

Hwat Kong Tosu mengelus-elus jenggotnya yang putih panjang.

“Kau tadi telah makan obat pemberian Tiong Li. Hatiku tadinya penuh curiga dan kebencian. Ah, kalau saja obat mujijat itu sampai mengakibatkan kau menderita sesuatu, aku pasti tidak dapat memberi ampun kepada Tiong Li dan tabib sakti!” Hong Cu memandang suhunya dengan aneh. “Oh, jadi obat itukah yang membuat teecu jatuh pingsan? Teecu tadi menyangka, buah itulah yang menyebabkannya.”

Guru dan murid itu sama sekali tidak tahu bahwa dengan tidak disengaja, Hong Cu telah membuat ramuan obat yang ajaib, karena obat kuat pemberian Tiong Li tadi ketika di dalam mulutnya tercampur dengan buah merah itu, lalu menjadi obat yang luar biasa pengaruhnya.

“Suhu, alangkah ganjilnya perasaan teecu. Tubuhku ringan sekali.”

Hong Cu lalu mengenjot untuk mencoba meloncat ke cabang pohon yang tinggi itu dan aneh! Sekali meloncat saja ia telah melewati cabang itu sedangkan tadi sebelum makan obat itu ia telah mengerahkan tenaga dalam loncatannya namun tetap tak dapat mencapai cabang!

Tentu saja murid dan guru itu menjadi demikian girang hingga keduanya berloncat-loncatan!

“Kulihat gin-kangmu telah naik dua kali lipat. Heran, sungguh heran! Tapi, kalau betul obat kuat itu yang membantu begini, tentu Tiong Li yang mudah saja makan obat itu dari gurunya sudah memiliki gin-kang yang tiada bandingannya.

“Sedangkan melihat gerakan pemuda itu, kepandaian gin- kangnya mungkin sekarang hanya sedikit selisihnya dengan kepandaianmu. Aneh, aneh! Hong Cu, kurasa bukan obat itu yang mendatangkan kekuatan ini dalam tubuhmu. Ku rasa buah itulah!”

“Suhu juga sudah makan buah itu, adakah terasa perubahan dalam tubuh suhu?” Hong Cu bertanya.

Hwat Kong Tosu diam dan merasa-rasa lalu menggeleng- gelengkan kepala.

“Tidak terasa apa-apa, hanya hawa yang hangat dan enak dalam perutku.”

Dengan girang sekali Hwat Kong Tosu lalu memberi tambahan pelajaran gin-kang kepada muridnya dan perlahan-lahan mulai memberi teori-teori ilmu silatnya yang lihai, yaitu Ilmu Tongkat Ular Hitam. Mula-mula ia memberi pelajaran gerakan tangan kosong, sebagai lanjutan dari ilmu silat yang dulu telah diajarkan, yaitu dasar-dasar segala kuda-kuda dan pukulan.

Untuk melatih lwee-kang, dulu ia sengaja memberi pelajaran menggunakan sabuk sutera merah. Makin dalam pelajaran lwee- kangnya, makin lihailah sabuk sutera itu hingga dengan memainkan sabuk sutera, dapat dijadikan ukuran bagi kemajuan lwee-kang gadis cilik itu.

Hampir satu hari mereka berdiam dalam hutan kecil penuh buah itu dan tiada bosan dan lelahnya Hong Cu berlatih silat. Kemudian, setelah hampir sore, mereka melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ilmu lari cepat. Demikianlah, setelah makan obat campur buah yang mendatangkan tenaga luar biasa dalam tubuhnya, Hong Cu makin gembira mempelajari silat hingga mendapat kemajuan pesat sekali. Ia demikian tekun belajar sampai-sampai ia tidak perduli lagi akan keadaan dirinya.

Pakaiannya kusut dan mulai ditambal-tambal, sepatunya yang kiri sudah bolong hingga ibu jari kakinya tampak. Rambutnya yang hitam panjang dan halus itu tak terawat dan dikuncir sembarangan saja. Sungguhpun demikian, namun kecantikannya tidak hilang, bahkan nampak manis dan aseli.

<>

Jalan yang ditempuh oleh Hwat Kong Tosu dan Kiang Cu Liong biarpun satu tujuan yaitu Hek-coa-san, namun jurusannya berbeda, karena Kiang Cu Liong si tabib sakti bersama muridnya ambil jalan melalui Kam-leng untuk pergi ke kaki gunung itu sebelah selatan, sedangkan Hwat Kong Tosu ambil jalan melalui Lam-hu untuk pergi ke kaki gunung itu sebelah utara. Karena itu maka yang seorang berjalan ke arah tenggara sedangkan yang ke dua ke arah timur laut.

Setengah bulan kemudian, Hwat Kong Tosu dan muridnya memasuki Lam-hu. Hwat Kong Tosu yang suka makan enak, ajak muridnya masuk ke dalam sebuah rumah makan dan pesan masakan daging bebek. Memang masakan-masakan di Lam-hu sangat tersohor lezatnya. Pelayan rumah makan itu memandang heran kepada Hwat Kong Tosu dan Hong Cu, karena pakaian mereka tambal-tambalan seperti pengemis-pengemis saja mengapa berani masuk rumah makan besar yang mewah dan pesan masakan yang mahal harganya? Maka beberapa orang pelayan itu saling bisik.

“Lote, awas. Jangan-jangan ia nanti tidak bisa bayar,” kata seorang pelayan kepada rekannya.

“Baiknya suruh bayar di muka saja,” kata yang lain.

“Tapi sinar mata mereka halus dan tajam, agaknya ahli-ahli silat. Bagaimana kalau mereka mengamuk?”

“Laporkan saja kepada penjaga keamanan kota.”

Macam-macamlah pendapat mereka tapi tak seorangpun bergerak untuk menjalankan usul-usul itu. Hwat Kong Tosu tak perduli semua itu dan duduk dengan tenang.

Tapi Hong Cu sayup-sayup mendengar juga percakapan mereka, maka ia menghampiri beberapa orang pelayan yang berdiri di sudut. Gadis itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sepotong perak yang beratnya beberapa tail, lalu berkata kepada mereka.

“Kamu orang jangan takut bahwa kami tidak akan membayar makanan yang kami pesan. Nah, ini boleh dibuat uang tanggungan!” Sambil berkata demikian ia tekan perak itu ke atas meja kayu yang keras sambil kerahkan tenaga lwee-kangnya. Setelah itu ia pergi ke meja suhunya lagi.

Lima orang pelayan yang tadinya kagum melihat kecantikan Hong Cu yang luar biasa ketika gadis itu mendekat, kini mereka berdiri bengong dengan mata terbelalak. Semua mata mereka ditujukan untuk memandang potongan perak yang ditaruh gadis itu di atas meja tadi, karena perak itu telah melesak ke dalam kayu hingga rata dengan permukaannya.

Seorang di antara mereka ulurkan tangan hendak mencabut perak itu, tapi ternyata bahwa benda itu masuk dalam dan kuat sekali hingga ketika ia mencoba mencabut, sedikitpun tak bergerak! Lain orang mencoba pula hasilnya sama. Mereka saling pandang dan leletkan lidah.

Tapi Hong Cu dan suhunya sama sekali tidak melihat ke arah mereka hingga tidak tahu betapa ke lima orang pelayan itu memandang ke arah mereka dengan heran dan kagum. Mereka buru-buru menyediakan masakan yang dipesan oleh Hwat Kong Tosu.

Dengan gembira Hwat Kong Tosu bersama muridnya makan bebek tim yang sedap dan empuk dan sebelum masakan yang dihadapinya habis termakan, Hwat Kong Tosu sudah pesan lagi lain masakan! Tapi Hong Cu tidak banyak makannya, maka setelah merasa kenyang, ia tinggalkan suhunya yang masih enak- enak sikat habis semua makanan dan keluar dari rumah makan, berdiri di luar melihat-lihat. Tiba-tiba dari kiri jalan terdengar suara gembreng dan tambur dan tampak iring-iringan orang yang mengiringkan joli pengantin. Anak-anak kecil dengan gembira mengikuti iring-iringan itu sambil tertawa-tawa. Dari sana-sini terdengar orang berseru, “Pengantin! Pengantin!”

Hong Cu sudah lama tidak melihat iring-iringan pengantin. Dulu memang pernah ia melihatnya, tapi setelah merantau dengan suhunya setahun lebih, belum pernah ia bertemu dengan rombongan orang menjemput pengantin.

Pengantin laki-laki yang menjemput pengantin wanita tampak naik kuda dan pakaiannya mewah dan indah, tersulam dan warnanya macam-macam. Dalam pakaian yang mewah itu pengantin laki- laki itu nampak tampan dan gagah juga. Dilihat dari pakaian pengantin laki-laki dan pakaian para pengawal, juga dari besarnya joli yang terukir indah, maka dapat diterka bahwa pengantin laki- lakinya tergolong orang kaya.

Hong Cu memandang iring-iringan itu dengan hati senang. Tapi tiba-tiba telinganya yang terlatih dan tajamnya melebihi telinga orang biasa itu, mendengar keluhan dan tangisan yang memilukan dari dalam joli.

Suara itu ditahan-tahan di belakang saputangan oleh orang yang menangis, maka tak terdengar oleh orang lain. Akan tetapi pendengaran Hong Cu memang lihai. Ia mendengar keluhan yang berbunyi, “Oh…... Thian Yang Maha Agung, lebih baik hamba mati saja…..” Hong Cu merasa heran dan hatinya tergerak. Tanpa perdulikan apa-apa ia melangkah lebar ke arah joli pengantin yang diarak dan dipikul oleh empat orang.

Seorang pengawal menggunakan cambuk kudanya untuk menghalangi Hong Cu, sambil membentak, “Eh, pengemis cilik! Kau minggirlah, jangan terlalu dekat!”

Tapi Hong Cu tak perdulikan padanya dan terus saja maju ke arah joli hingga pengawal itu menjadi marah dan membentak lebih keras.

“He, tulikah kau? Minggir!”

Ia menggunakan cambuknya menyabet ke arah leher Hong Cu. Tanpa menengok padanya dan hanya mendengar angin sabetan itu saja, Hong Cu mengulurkan tangan dan dapat menangkap ujung cambuk. Sekali betot saja cambuk itu telah pindah tangan! Gadis cilik itu terus maju ke dekat joli sedangkan pengawal yang tadi menyerangnya menjadi bengong karena heran dan juga malu dan marah!

Hong Cu menyingkap mui-li penutup joli dan di dalam ternyata duduk seorang gadis yang cantik tapi wajahnya muram dan kedua matanya merah, jelas bahwa ia sedang berduka dan menangis. Melihat mui-li jolinya disingkap orang, pengantin perempuan itu terkejut, tapi wajahnya berubah heran ketika ia melihat bahwa yang membuka jolinya adalah seorang gadis cilik Karena herannya, maka ia hanya memandang muka Hong Cu tanpa dapat mengeluarkan kata-kata sesuatu. Sebaliknya Hong Cu segera bertanya dengan suara halus.

“Cici, kenapa kau menangis? Kenapa kau ingin mati? Bukankah menjadi pengantin itu biasanya senang?”

Tapi pada saat itu, pengawal yang direbut cambuknya itu telah turun dari kuda dan tangannya bergerak hendak menjambak kucir di belakang kepala Hong Cu dan hendak menariknya pergi. Tapi Hong Cu hanya gerakkan tangannya yang memegang cambuk dan terdengarlah suara cambuk yang nyaring, disusul suara teriakan kesakitan karena tepat sekali muka pengawal itu kena dihajar dengan ujung cambuk yang panjang dan lemas hingga tampaklah bekas cambuk yang melintang merah di muka orang itu!

“Kurang ajar! Kau sudah bosan hidup!” Pengawal itu maju menyerang dengan kepalannya ke arah dada Hong Cu.

Tapi Hong Cu dengan bibir tersenyum mengejek berkelit ke samping dan secepat kilat cambuknya bergerak lagi, kini cambuk itu membelit leher penyerangnya dan sekali menyentak, dengan cambuknya, orang sial itu terlempar dan bergulingan ke atas tanah. Dari leher dan mukanya mengalir darah yang membuat mukanya tampak menyeramkan.

Maka ributlah orang-orang di situ, baik yang sedang mengantar pengantin, maupun orang-orang yang sedang nonton. Para penonton bubar dan menjauhkan diri, sedangkan para pengawal segera mengurung Hong Cu, dikepalai oleh pengantin laki-laki.

Tapi dengan tenang Hong Cu mendekati joli dan sekali menekan ke bawah, maka keempat orang pemikul joli merasa seolah-olah joli itu dimuati barang ribuan kati beratnya hingga pundak mereka terasa sakit seakan-akan tulang pundak mereka hendak patah rasanya, maka buru-buru mereka turunkan joli ke atas tanah dan mundur ketakutan.

Hong Cu berkata kepada pengantin perempuan yang memandang semua itu dengan heran dan takut.

“Bagaimana, cici? Apakah aku harus hajar semua kutu busuk ini?”

Pengantin itu kagum memandang Hong Cu tapi berbareng juga takut melihat sikap orang-orang yang mengurung mereka. “Ah, adik yang baik, jangan kau berbuat demikian! Kau….. kita….. akan dibunuh oleh mereka karenanya.”

“Tak perlu kau takut, cici. Jangankan baru beberapa ekor kutu busuk ini, biar ditambah lima kali lipat juga aku takkan mundur dan mereka akan kuhajar satu-persatu. Kaulihat sajalah. Tapi katakan dulu, kalau aku hajar mereka, apakah kau akan senang? Apakah kau dipaksa oleh mereka?”

Pengantin perempuan itu tiba-tiba menangis sedih dan menjawab dengan suara terputus-putus.

“Aku…… aku hendak dijual oleh dia itu!” Ia menunjuk ke arah orang yang berpakaian pengantin laki-laki. “Apa? Kau hendak dijual oleh suamimu?”

“Dia bukan suamiku! Dia penipu rendah, buaya darat yang kejam! Dia berhasil menipu orang tuaku dan mengawini aku, tapi….. tadi ia telah bilang padaku….. aku…… aku hendak dijualnya menjadi bini ketujuh dari…… dari seorang kaya raya di kota Lok-cu!”

“Jangan banyak buka mulut!” Pengantin laki-laki itu membentak dan berkata kepada orang-orangnya. “Pukul pengemis hina ini, lempar dia jauh-jauh!”

Sementara itu, mendengar cerita pengantin perempuan itu, Hong Cu marah sekali. Ia berjalan perlahan menghampiri pengantin laki-laki yang kini telah turun dari kudanya, sikapnya mengancam sekali.

Tapi karena ia hanya seorang gadis cilik maka para pengiring pengantin itu tidak gentar dan dengan bentakan keras seorang pengawal yang tinggi besar meloncat maju sambil menyindir.

“Eh, eh, kau wanita cilik ini, apakah kaupun ingin menjadi pengantin? Kalau mau, hayo kawin dengan aku saja!”

Kawan-kawan pengawal itu tertawa geli dan seorang lain berkata keras.

“Ah tidak kusangka pengemis ini cantik juga. Lihat itu kulitnya putih bersih, matanya indah menarik. Ah, ah! Aku juga mau kawin dengan dia!” Banyak olok-olok terdengar di sekelilingnya hingga muka Hong Cu yang putih kemerah-merahan itu menjadi makin merah saja. Sepasang matanya mengeluarkan cahaya kilat sebagai tanda bahwa ia marah sekali, dan dalam keadaan demikian ia sangat berbahaya.

Namun para pengawal dan pengiring itu sama sekali tidak melihat hal ini dan terus saja menggoda. Bahkan orang yang tinggi besar itu melangkah maju dan tangannya diulur hendak memegang tubuh Hong Cu.

Gadis cilik itu marah benar. Ia tidak berkelit tapi menyambuti lengan yang besar itu. Dengan cepat sekali ia berhasil menangkap pergelangan tangan yang besar itu dalam cengkeramannya dan sekali ia mengerahkan tenaganya maka terdengar bunyi tulang patah dan orang tinggi besar itu menjerit keras sekali karena ternyata Hong Cu telah mematahkan lengannya dengan sekali puntir saja!

Belum puas dengan hajarannya ini Hong Cu menarik lengan yang telah patah tulangnya itu dan sambil membentak nyaring ia mengayun tubuh tinggi besar itu hingga dengan berteriak-teriak ngeri orang itu terangkat dan diputar-putarkan di sekelilingnya untuk menghantam orang-orang yang datang mendekati!

Tiga orang segera roboh bergelimpangan kena hantam tubuh orang itu. Ketika Hong Cu melepaskan lengan yang dipegangnya dan melempar orang itu ke pinggir, ternyata orang itu telah tiga perempat mati. Juga orang-orang yang terkena pukulan tadi berguling-gulingan di tanah seperti cacing kepanasan. Maka ribut dan paniklah semua pengawal. Mereka kaget sekali dan marah melihat betapa gadis cilik itu telah menghajar kawan- kawannya. Terutama pengantin laki-laki itu. Dengan marah sekali ia berteriak-teriak, menganjurkan orang-orangnya untuk menyerbu dengan senjata tajam di tangan!

Sementara itu, seorang tamu di rumah makan itu segera lari kepada Hwat Kong Tosu yang masih enak-enak makan minum, dan berkata gugup,

“Eh, lo-suhu! Keluarlah lekas, muridmu berkelahi dengan orang banyak!”

Hwat Kong menunda sumpitnya dan bertindak keluar dengan tenang. Pada saat itu, hampir delapan buah senjata golok, pedang dan tombak, menyambar ke arah Hong Cu.

Tapi Hong Cu yang telah memiliki gin-kang luar biasa, dengan mudah saja dapat menerobos di antara sekian banyak senjata itu dan meluputkan diri. Tidak lupa sambil berkelit kaki tangannya bekerja hingga lagi-lagi ada dua orang yang berteriak kesakitan dan roboh tak dapat bangun lagi!

Hwat Kong Tosu melihat betapa pengeroyok-pengeroyok muridnya hanya buaya-buaya kecil biasa saja, dan melihat bahwa di situ terdapat seorang pengantin perempuan duduk di dalam joli sambil menangis dan ketakutan, segera berjalan kembali ke mejanya dan melanjutkan makan minum! Menghadapi orang-orang yang ternyata hanya mengerti ilmu silat pasaran itu, Hong Cu dapat melayani dengan seenaknya saja. Tapi karena pengeroyoknya makin banyak dan kini semua pengawal yang berjumlah belasan orang itu maju mengeroyoknya, ia terpaksa menarik keluar selendang suteranya yang berwarna merah.

Dengan selendang atau sabuk suteranya ini di tangan, maka Hong Cu mengamuk. Sabuk itu bergulung-gulung dan melayang- layang, ujungnya menyambar dan membetot senjata lawan, kadang-kadang menyabet muka seorang, kadang-kadang membelit kaki dan membuat seorang lawan jatuh bangun.

Karena sabuk suteranya lihai sekali, maka Hong Cu dapat berdiri di tengah dan melawan semua pengeroyoknya yang mengelilinginya, tanpa ada seorang lawanpun dapat mendekatinya. Hong Cu melihat betapa pengantin laki-laki yang disebut penipu itu hendak naik kuda, agaknya hendak kabur, maka cepat bagai kilat Hong Cu kebutkan sabuknya ke arah pengantin laki-laki itu.

Laki-laki itu ketika merasa betapa tiba-tiba ujung sabuk yang melingkar bagaikan ular itu membelit leher dan mencekiknya, menjadi kaget sekali.

Hong Cu betot sabuknya dan lelaki itu terguling dari atas kuda. Malang sekali baginya, jatuhnya tepat di bawah kuda di mana terdapat kotoran kuda yang lembek dan masih hangat, dan karena tibanya tengkurap, maka tak ampun lagi mukanya masuk ke dalam kotoran kuda itu hingga ia menjadi gelagapan! Sebentar saja, delapan orang telah dapat dirobohkan oleh Hong Cu dan sisanya lalu lari tunggang langgang!

Hong Cu dengan tenang kebut-kebut sabuknya yang kotor lalu menggulungnya perlahan, sementara itu dari dalam rumah makan keluarlah Hwat Kong Tosu.

“Bagus, Hong Cu. Kau telah mulai maju,” puji guru itu dengan bangga.

Tapi pada saat itu tampak seorang penunggang kuda balapkan kudanya hingga debu mengepul di belakangnya. Para pengawal yang tadinya telah melarikan diri, kini berlari pula mendatangi sambil berseru girang, “Coa-kauwsu datang!”

Penunggang kuda yang disebut Coa-kauwsu (guru silat Coa) itu adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun dan tubuhnya kekar. Pakaiannya ringkas dan di pinggangnya tergantung golok besar. Ia segera turun dari kuda dan suaranya terdengar bagaikan guntur ketika bertanya.

“Setan manakah yang berani menghina saudara-saudaraku?”

Seorang pengawal menghampirinya dan dengan menggerak- gerakkan tangan ia bercerita, kemudian sambil menuding ke arah Hong Cu ia berkata, “Dia itulah siluman yang telah mengganggu kami!”

Pada wajah kauw-su itu nyata sekali terbayang keheranan besar ketika ia menghampiri Hong Cu. Hampir ia tak dapat percaya bahwa seorang gadis cilik seperti ini dapat menghajar habis- habisan para pengawal sebanyak itu!

“Eh, kau siapakah dan mengapakah memusuhi kami?” bentaknya kepada Hong Cu.

Gadis ini tersenyum saja memandang kepada Coa-kauwsu, dan menjawab dengan suara merdu halus.

“Siapa adanya aku tak usah kauketahui, dan tentu ada sebabnya maka aku memusuhi kalian!”

“Sebabnya apa? Hayo katakan!”

“Sebabnya tak perlu kukatakan padamu. Kau dapat bertanya kepada buaya darat yang suka makan tahi kuda itu, dan kaulepaskan cici yang berada di dalam joli, habis perkara!” jawab Hong Cu.

Sementara itu, Hwat Kong Tosu yang rupanya terlalu kenyang makan minum tadi, kini duduk di bawah sebatang pohon di tepi jalan dan matanya meram melek, agaknya ia sedang tidur ayam.

“Kurang ajar!” guru silat itu membentak marah. “Kau anak kecil keliaran mengapa usil dan berani mencampuri urusan orang lain? Kau sudah mengacau di sini dan melukai orang-orangku, maka sudah sepantasnya kuhajar! Bersiaplah menerima pukulanku!”

Sebagai penutup katanya, Coa-kauwsu maju menubruk, tapi dengan lincahnya Hong Cu meloncat ke samping. Coa-kauwsu kaget juga melihat kelihaian gin-kang gadis itu, lebih-lebih ketika Hong Cu mengejek,

“Cabutlah golokmu itu. Untuk apa kau pakai itu? Apakah untuk aksi saja dan menakut-nakuti orang?”

Maka dengan marah sekali Coa-kauwsu mencabut goloknya yang besar dan ia membentak.

“Siluman perempuan! Hayo keluarkan senjatamu kalau kau memang pandai!”

Hong Cu mengangkat sabuknya yang sudah tergulung itu dan menjawab lucu, “Senjataku sejak tadi sudah kupegang.”

Coa-kauwsu segera memutar goloknya hingga menimbulkan angin, lalu dengan bentakan yang keras ia meloncat dan menerjang dengan gerak tipu Sambar Mutiara di Kepala Naga. Hong Cu siang-siang sudah mengulur sabuknya dan kini sabuk itu dipegang di tengah-tengah hingga kedua ujungnya merupakan sepasang senjata pendek.

Ia meloncat berkelit dari serangan berbahaya itu dan mata golok lewat cepat di dekat kepalanya. Kemudian ia menyabet dengan sabuknya di tangan kiri.

Biarpun yang menyabetnya hanya ujung sabuk yang terbuat dari pada sutera, tapi guru silat itu maklum bahwa lawannya yang masih setengah kanak-kanak itu mempunyai kepandaian tinggi dan tenaga lwee-kang yang dalam, maka ia tidak berani menerima dengan tubuhnya. Ia cepat menggerakkan goloknya untuk menangkis.

Inilah yang dikehendaki oleh Hong Cu, karena sekali tangannya bergerak, maka ujung sabuk yang tertangkis itu tiba-tiba melibat leher golok!

Tapi ia keliru perhitungan, karena Coa-kauwsu bukanlah seorang lemah seperti para pengawal pengantin tadi. Tenaga guru silat ini lebih besar dari pada tenaga Hong Cu maka dengan bentakan hebat golok itu dapat digerakkan dan terlepas dari libatan sabuk, bahkan mata golok itu dapat memutuskan sedikit ujung sabuk yang merah itu.

Bukan main terkejutnya hati Hong Cu. Ia merasa bahwa ia takkan menang melawan guru silat ini, tapi karena ia memang tabah, ia tidak menjadi gentar. Tiba-tiba terdengar suhunya berkata.

“Hong Cu, kaupakailah ini!” dan sebatang cabang kering menyambar ke arah gadis itu dengan perlahan. Hong Cu menangkap cabang kering itu dan Hwat Kong Tosu berkata lagi.

“Coba kaugunakan jurus ke lima sampai ke sepuluh dari Ouw- coa-koai-tung-hwat kita secara beruntun!”

Sementara itu, si guru silat yang melihat betapa gadis itu memegang sebatang kayu kering, lalu maju lagi menyabet dengan goloknya. Hong Cu menggunakan gin-kangnya meloncat berkelit dan ia segera menjalankan perintah gurunya. Ia mulai menyerang dengan jurus kelima, yakni gerak tipu Ular Hitam Keluar Gua dan kayu cabang di tangannya yang dipakai sebagai senjata tongkat itu meluncur ke arah iga dan menotok jalan darah lawan.

Kauw-su itu terkejut karena ketika meluncur dalam serangannya, kayu cabang itu gerakannya memutar hingga sukar diduga hendak menyerang bagian tubuh mana. Ia kelebatkan goloknya untuk membacok putus kayu itu tapi Hong Cu rubah gerakannya, kini menyerang dengan jurus keenam, yakni gerak tipu Ular Hitam Naik Pohon, dan senjatanya yang istimewa itu kini cepat menyerang ke muka lawan, mengarah kedua matanya!

Karena gerakan gadis itu sungguh cepat dan tidak terduga, maka hampir saja mata kiri Coa-kauwsu menjadi korban. Tapi ia masih dapat berkelit dengan gulingkan tubuh ke belakang.

Baru saja ia bangun berdiri dan putar goloknya, tahu-tahu Hong Cu sudah bergeser kakinya dan loncat ke belakangnya, lalu mengeluarkan tipu pukulan ketujuh yang disebut Ular Hitam Semburkan Racun. Ini adalah gerak tipu, ketujuh dari Ilmu Silat Ouw-coa-koai-tung-hwat dan lihainya bukan main.

Tongkat itu terputar ujungnya dan menyerang dengan bergantian, lima jalan darah di leher, pundak, dan lambung lawan! Totokan pertama sampai keempat dikelit oleh Coa-kauwsu, tapi totokan kelima dengan tepat menghantam jalan darahnya bagian twi- hong-hiat hingga ia menjadi lemas dan tubuhnya terguling ke atas tanah tanpa daya lagi! Hong Cu hendak tambahkan dengan sabetan tapi Hwat Kong Tosu membentak, “Sudah cukup, Hong Cu!”

Hwat Kong Tosu menghampiri pengantin perempuan itu dan bertanya bagaimana duduknya hal maka ia sampai dapat dibawa oleh pengantin laki-laki yang disebutnya penipu dan buaya darat itu? Maka setelah berlutut menghaturkan terima kasih gadis yang malang itu bercerita.

Ia adalah anak seorang petani di sebuah kampung tak jauh dari situ. Ayahnya orang miskin dan hidupnya hanya menjadi buruh tani dan mengerjakan sawah orang lain. Karena anak banyak dan keadaan sangat miskin, maka orang tua itu banting tulang, peras keringat untuk dapat mencegah keluarganya kelaparan.

Kemudian datang musim kering yang agak lama sehingga ia tidak dapat menghasilkan banyak hasil bumi dan pendapatan yang hanya sedikit itu tentu saja menjadi bagian tuan tanah sebagai sewa tanah yang dikerjakan. Maka keluarganya terancam bahaya kelaparan.

Lalu datanglah penipu itu yang menolong keluarga miskin itu dengan sedikit uang dan semenjak itu ia menjadi teman baik ayahnya dan ketika ia melamar dirinya, maka ayahnya tanpa ragu-ragu lagi menerima lamaran itu.

Ia sendiri juga tidak menolak, karena orang itu memang tidak buruk dan lagaknya seperti orang yang mempunyai harta. Tapi tidak disangka sama sekali setelah mereka dikawinkan dan ia dibawa di dalam joli pergi dari rumah orang tuanya yang bobrok, di tengah jalan pengantin laki-laki itu dengan secara terus terang berkata bahwa ia sebenarnya hendak dijual kepada seorang hartawan yang mencari seorang gadis untuk menjadi isteri ketujuh!

Laki-laki bajingan itu ternyata hanya memikat saja untuk mendapat keuntungan besar dan ia dipesan supaya berlaku manis kepada hartawan tua yang hendak membelinya nanti, kalau tidak, ia akan dibunuh! Maka pengantin itu menangis sedih dengan takut-takut dan seberapa dapat menahan tangisnya dengan menekan kain pada mulutnya. Tapi ternyata tangisnya tu terdengar oleh Hong Cu yang mengakibatkan pertempuran besar itu.

Hwat Kong Tosu lalu mengeluarkan dua potong emas dari kantung bajunya dan memberikan kepada perempuan yang malang itu. Lalu ia menarik seorang penonton laki-laki tua yang berwajah jujur dan berpakaian rombeng.

“Eh lauw-ko, maukah kau menolong perempuan ini? Coba kauantarkan pulang ia ke kampungnya dan ini untuk upah lelahmu.” Ia memberi beberapa perak kepada orang tua itu yang menerimanya sambil tersenyum dan berterima kasih.

“Nah, nona kau pulanglah. Berikan itu kepada orang tuamu untuk membeli tanah agar kau sekeluarga tidak akan kelaparan lagi.”

Gadis itu berlutut di depan Hwat Kong Tosu dan menganggukkan kepala berulang-ulang sebagai tanda terima kasih, kemudian merangkul dan menciumi Hong Cu dengan air mata mencucur deras. Lalu ia diantar oleh orang tua itu pulang ke kampungnya.

“Hei, kau buaya rendah!” Hwat Kong Tosu berkata kepada bekas pengantin laki-laki itu yang kini merangkak bangun. “Masih untung muridku mengampuni jiwa anjingmu. Lain kali kalau kami mendengar tentang kecuranganmu, biarpun berada di tempat yang jauhnya ribuan lie, kami akan datang dan kami pisahkan kepalamu dari tubuhmu!”

Kemudian Hwat Kong Tosu menghampiri Coa-kauwsu yang masih rebah tak berkutik karena menjadi korban totokan. Sekali depak dengan ujung sepatunya, guru silat itu terbebas dari totokan.

“Kau menjadi guru silat, tapi ternyata kecewa sekali telah menjual diri kepada orang kaya untuk menindas yang miskin dan lemah. Tidak malukah kau menjadi orang gagah?” Hwat Kong Tosu membentak.

Guru silat itu merasa malu sekali, ia menjura dan berkata,

“Teecu seorang buta, tidak melihat Gunung Thai-san di depan mata. Teecu berjanji takkan berani berlaku sewenang-wenang lagi.”

Maka Hwat Kong Tosu dan muridnya lalu meninggalkan Lam-hu dan terus menuju ke timur.

Melihat kemajuan Hong Cu yang diperlihatkan ketika bertempur tadi, Hwat Kong Tosu makin gembira untuk melatih ilmu silat tinggi kepada muridnya itu dan Hong Cu yang baru sekali itu bertempur dan memperoleh kemenangan, merasa betapa pentingnya memiliki kepandaian, maka ia belajar makin rajin lagi.

<>

Beberapa hari kemudian mereka memasuki kota Lam-koan. Karena masih banyak waktu, Hwat Kong Tosu mampir di kota itu. Seperti biasa ia mencari tahu tentang makanan enak di kota itu!

Ternyata bahwa kota itu terkenal sekali akan masakan panggang babinya. Di pinggir pasar banyak sekali orang-orang berdagang panggang babi dan asap mengepul memenuhi jalan dan udara membawa bau sedap dari bumbu terbakar.

Hwat Kong tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan ia memilih pedagang yang nampaknya paling lezat masakannya lalu membeli lima mangkok. Tapi Hong Cu sejak kecil tidak begitu suka makan daging, apa lagi daging babi, sedangkan daging- daging ternak lainnya seperti sapi, kerbau atau dombapun ia tidak doyan.

Di antara segala daging hanya daging burung, ayam atau ikan saja yang biasa dimakan olehnya. Karena itu ia tidak ikut suhunya makan, hanya melihat-lihat di dekat situ. Yang menarik perhatiannya ialah serombongan pengemis yang meneduh di bawah pohon besar di dekat tempat itu.

Kumpulan pengemis itu nampaknya menyedihkan sekali hingga Hong Cu memandang ke arah mereka dengan iba hati. Tiba-tiba ia melihat seorang pengemis muda yang berbaju lengan panjang sedang makan sisa makanan yang didapatnya dari seorang tamu.

Melihat cara orang makan sisa makanan itu mendatangkan rasa haru dalam hati Hong Cu. Gadis ini melihat betapa pandang mata pengemis muda itu penuh kesedihan.

Tiba-tiba hati Hong Cu berdebar karena heran dan kaget melihat bahwa cara makan pengemis yang selalu mendekatkan daun isi makanan yang dipegang di tangan kiri dengan mulutnya, pada saat ia menyuap makanan dengan tangan kanan adalah karena kedua pergelangan tangannya terbelenggu!

Belenggu itu terbuat dari pada besi kecil dan agak panjang hingga kedua tangannya agak bebas tapi dalam segala gerakan harus dekat pada waktu tangan kanan digunakan. Tadi Hong Cu tidak melihat belenggu itu karena tertutup oleh lengan baju pengemis yang panjang.

Hong Cu dengan tertarik mendekat. Ia tak dapat menahan rasa ibanya, maka lalu bertanya, “Eh, siapakah yang membelenggu tanganmu?”

Pengemis itu menunda makannya dengan sedih, tapi ia hanya menggelengkan kepalanya.

“Kenapa tidak kaubuka saja?” tanya Hong Cu lagi.

Pengemis itu membuka matanya lebar-lebar lalu menjawab, “Aku tidak bisa.” Hong Cu makin mendekat dan memandang rantai itu. Rasanya ia sanggup mematahkan belenggu itu, maka sambil berkata “Aku bisa!” ia cepat sekali mengulur tangannya dan sebelum pengemis itu dapat mencegah, sekali renggut saja Hong Cu telah mengerahkan tenaga dalamnya dan patahlah belenggu itu!

Dengan kedua tangan memegang rantai yang telah putus, Hong Cu berkata sambil tertawa,

“Nah, lihatlah, rantainya telah putus! Sekarang engkau bebas. Bukankah lebih enak demikian?”

Tapi akibat dari perbuatannya ini sungguh jauh berbeda dengan apa yang disangkanya. Wajah pengemis muda itu tiba-tiba menjadi pucat seperti mayat. Kedua matanya memandang terbelalak ke arah patahan belenggu dan makanan yang berada di dalam daun jatuh terlepas dari tangannya.

“Celaka! Kau harus mampus lebih dulu!” dengan kata-kata ini pengemis muda itu meloncat menerkam Hong Cu dengan pukulan berbahaya.

Hampir saja Hong Cu celaka karena pukulan hebat itu, karena sedikitpun ia tidak pernah menyangka bahwa akibatnya akan begitu. Untung sekali ia berlaku gesit dan secepat kilat meloncat jauh dan berdiri dengan tolak pinggang dan memandang heran.

“Eh, eh, eh! Gilakah kau ini? Ditolong orang, tidak berterima kasih malahan tanpa alasan menyerang! Benar-benar kau berotak miring!” “Menolong apa? Perempuan celaka, kaulah yang harus mampus lebih dulu!” Dan pengemis itu menyerang lagi dengan sengitnya.

Kini Hong Cu merasa gemas dan setelah berkelit ia lalu balas menyerang: Ternyata kepandaian pengemis muda itu lihai juga karena ia menggunakan tipu-tipu pukulan dari Sin-kai-pang. Tapi biarpun Hong Cu baru saja belajar silat kurang lebih satu tahun, namun gadis cilik itu adalah murid Hwat Kong Tosu yang telah makan obat tercampur buah mujijat, maka kepandaiannya telah melebihi kepandaian seorang yang telah sepuluhan tahun belajar silat biasa!

Baiknya gadis yang jujur itu masih saja menyangka bahwa pengemis itu adalah seorang gila, maka ia tidak mau turunkan tangan kejam. Setelah bertempur puluhan jurus, Hong Cu berhasil menendang paha pengemis itu hingga terlempar dua tombak lebih jauhnya dan jatuh sambil merintih dan pegang-pegang pahanya!

Pada saat itu seorang pengemis yang memegang tongkat bambu, meloncat ke dekat pengemis muda dan meraba-rabanya. “Kau kenapa?” tanya pengemis yang ternyata sudah tua dan kedua natanya buta.

Ketika pengemis muda tidak menjawab si buta meraba ke arah pergelangan tangannya dan kagetlah ia ketika kedua tangan itu kini tidak terbelenggu lagi. Ia meloncat mundur dan bertanya dengan suara keren.

“Belenggumu terlepas?” Tubuh pengemis muda itu menggigil dan buru-buru ia berlutut di depan pengemis buta sambil meratap. “Ampunkan siauw-jin yang tidak berdaya, supek. Bukan siauw-jin yang mematahkannya, tapi gadis celaka itu!”

Sambil mengeluarkan suara, “Hmmm, kau tunggu di sini sebentar!”

Pengemis buta itu meloncat mendekat dan tahu-tahu pengemis muda itu telah tertotok jalan darahnya hingga menjadi lemas dan tak dapat bergerak pergi dari situ! Gerakan ini saja sudah cukup membuktikan betapa lihainya pengemis buta itu dan diam-diam Hong Cu memandang kagum dan heran.

Bagaimana seorang buta dapat bertindak demikian cepat dan serangannya demikian tepat? Ia ingin sekali mencoba dan diam- diam mencari akal.

Sementara itu, pengemis buta itu yang belum pernah mendengar di mana adanya Hong Cu, segera berdiri diam dan memasang telinga lalu membentak, “Eh, gadis celaka, di manakah kau yang lancang tangan?”

Hong Cu telah memungut sepotong pecahan bata dan melemparkan perlahan ke depan pengemis buta untuk mencoba apakah pengemis itu benar-benar buta! Ternyata pendengaran pengemis itu luar biasa sekali dan jauh lebih tajam dari pendengaran orang biasa. Lemparan bata kecil itu tertangkap olehnya dan ia tahu pula dari mana datangnya bata itu! Dengan sekali gerakkan tangan, tongkatnya telah menghantam pecahan bata itu dan cepat sekali bata itu terpental ke arah Hong Cu!

“Bagus sekali!” tak terasa pula Hong Cu berseru memuji dan pengemis buta itu segera meloncat ke arah gadis tu. Gerakannya cepat tak terduga dan tongkatnya yang melayang ke arah kepala Hong Cu juga sangat berbahaya dan lihai.

Tapi Hong Cu tak pantas disebut murid Hwat Kong Tosu kalau dengan mudah dapat dikalahkan oleh pengemis buta itu. Dengan gin-kangnya yang hebat ia dapat berkelit ke sana ke mari dan ketika lawannya putar tongkatnya dengan cepat dan menyerang bertubi-tubi, ia mengikuti gerakan tongkat hingga merupakan seekor kupu-kupu melayang terbang di antara cabang pohon kembang!

Akan tetapi, karena bertangan kosong, bagaimanapun juga, lama- kelamaan ia merasa sibuk juga karena pengemis buta itu memang benar-benar lihai. Permainan tongkatnya adalah pelajaran asli dari Sin-kai-pang dan ia telah memiliki lebih dari setengah pelajaran itu, sedangkan Hong Cu adalah seorang gadis cilik yang belum banyak pengalaman bertempur.

Sebenarnya kalau ia mau Hong Cu dengan mudah dapat meloncat pergi mengandalkan gin-kangnya dan meninggalkan pengemis buta itu, tapi ia mempunyai watak yang keras dan pantang mundur, maka ia masih terus melakukan perlawanan yang lebih tepat disebut pembelaan diri. Dengan tangan kosong ia tak sempat untuk balas menyerang tanpa membahayakan diri sendiri.

Pada saat itu terdengar orang berseru, “Hong Cu, terima ini!” dan sebuah tongkat bambu meluncur ke arah Hong Cu.

Gadis itu girang sekali karena yang berseru adalah suhunya dan tongkat bambu itu dengan cepat dapat dipegangnya. Kini Hong Cu merupakan seekor harimau tumbuh sayap. Dengan wajah gembira ia berkata.

“Nah, sekarang kita sama-sama bertongkat. Majulah, empek buta, kita main-main sebentar.”

Pengemis buta itu memang sejak tadi sudah merasa heran sekali. Biarpun ia buta, tapi ia dapat mengetahui dari gerakan Hong Cu bahwa yang dilawannya adalah seorang gadis cilik. Tapi sebegitu lama belum juga ia dapat menjatuhkan gadis itu.

Kini tiba-tiba gadis itu memegang tongkat dan ketika tongkat mereka beradu, pengemis buta itu terkejut sekali! Tongkat di tangan gadis itu demikian berat dan gerakannya lenggak-lenggok tak tertentu dan tak terduga sama sekali gerak-geriknya hingga baru beberapa jurus saja, ujung tongkat Hong Cu telah memberi gebukan perlahan di belakang pahanya!

Ia tidak tahu bahwa Hong Cu telah memainkan Ilmu Tongkat Ouw- coa-koai-tung-hwat, Ilmu Tongkat Ular Hitam, yang boleh dibilang pada masa itu merupakan ilmu tongkat nomor satu di kolong langit! Mana pengemis itu bisa tahan? Lebih-lebih terkejutnya ketika Hong Cu mencoba kepandaian barunya, yakni menggunakan tongkatnya dengan gerakan menempel dan membetot. Dengan berseru nyaring Hong Cu berhasil menempel tongkat lawannya dan sekali gentak, tongkat pengemis itu telah terbetot lepas dari tangan dan membubung ke atas!

Hong Cu tertawa keras dan menangkap tongkat lawannya ketika benda itu melayang ke bawah, lalu mengajukan kepada pengemis buta.

“Empek buta, ini tongkatmu, terimalah kembali.”

Pengemis buta itu menerima tongkatnya dan sekali tekuk maka tongkat itu patah tengahnya. “Aku tua bangka goblok telah terjatuh dalam tanganmu, tak pantas lagi aku memegang tongkat.”

Maka pergilah pengemis buta itu dengan maju perlahan dan menggunakan ujung ke dua kakinya meraba-raba jalan! Hong Cu mengawasi pengemis itu dengan menyesal dan kasihan.

Sementara itu, Hwat Kong Tosu telah menghampiri pengemis muda yang kena totok tadi lalu membebaskannya dari totokan. Begitu terbebas dari totokan, pengemis muda itu lalu menutup muka dengan kedua tangannya dan menangis sedih. Tentu saja Hwat Kong Tosu dan Hong Cu yang kini telah mendekat pula, merasa sangat heran. “Eh, anak muda, kenapa tingkahmu begini aneh. Muridku telah menolong kau membuka belenggumu, tapi mengapa kau tidak berterima kasih bahkan menyerang mati-matian? Dan siapakah kawanmu yang buta tadi?” tanya Hwat Kong Tosu.

Karena maklum bahwa ia sedang berhadapan dengan orang- orang pandai, pengemis itu lalu menceritakan riwayatnya.

Di daerah itu terdapat sebuah perserikatan pengemis yang disebut Sin-kai-pang atau Perkumpulan Pengemis Sakti. Organisasi ini mempunyai anggauta ribuan orang pengemis yang semuanya mengerti ilmu silat dan yang dipencar di seluruh propinsi sebelah timur. Ketua atau pang-cu dari perkumpulan ini adalah seorang tokoh persilatan terkenal dan berkepandaian tinggi.

Ia disebut Coa-kai-ong atau Raja Pengemis she Coa, karena tak seorangpun tahu siapa nama raja pengemis itu. Semenjak mendirikan perkumpulan pengemis ini, maka Coa-kai-ong mengadakan peraturan dan disiplin yang keras sekali.

Pengemis muda yang terbelenggu itu adalah seorang anggauta Sin-kai-pang dan telah tertangkap basah oleh pengawas perkumpulan ketika ia sedang mencopet. Perbuatan ini dilarang keras oleh perkumpulan itu, maka ia segera ditangkap dan diseret di depan Coa-kai-ong yang segera mengadilinya.

Hukumannya ialah kedua tangannya dibelenggu untuk selama dua tahun. Selama itu ia tidak boleh membuka belenggunya dan kalau hal ini terjadi, maka tanpa banyak tanya lagi, ia akan dibunuh!

Setelah menuturkan keadaannya ini, pengemis muda itu menangis lagi dan wajahnya nampak sangat ketakutan.

“Mengapa kau begitu bodoh! Kalau dipersalahkan karena terbukanya belenggu bilang saja bahwa orang lain yang membukanya. Bukan salahmu!”

“Kauanggap mudah saja perkara ini, nona!” mencela pengemis itu. “Aku pernah melihat dengan mata sendiri ketika seorang anggauta perkumpulan kami dibunuh oleh ketua kami yang sangat bengis dan memegang teguh peraturannya!”

“Hm, pernah pinto mendengar nama raja pengemis itu, sekarang lewat di sini, bukankah ini kebetulan sekali? Hayo, berdirilah kau dan antarkan kami menemui ketuamu. Jangan kau takut, kami membelamu.”

Pengemis muda itu dengan wajah masih pucat lalu berdiri dan mengantar Hwat Kong Tosu dan Hong Cu menuju ke pusat perkumpulan pengemis yang berada di luar kota. Sebetulnya Sin- kai-pang tidak mempunyai tempat atau markas tertentu, di mana saja ketua mereka berada, maka di situlah pusat mereka dan mereka mengadakan pertemuan-pertemuan di mana saja.

Ada kalanya dalam sebuah hutan, dalam kelenteng-kelenteng tua atau di gua-gua. Kali ini Coa-kai-ong tinggal dalam sebuah kelenteng tua yang sudah tidak dipakai, dan para pengemis yang berada di dekat situ semua datang memberi laporan-laporan akan keadaan para pengemis di situ. Tiap hari puluhan pengemis masuk ke dalam kelenteng untuk mendengar perintah dan pelajaran ketua mereka.

Raja Pengemis she Coa ini selain menjadi ketua, juga menjadi guru silat yang menyebar ilmu silat ciptaannya kepada para pengemis. Ia terkenal sebagai seorang ahli main silat tongkat yang disebut Sin-kai-tung-hwat atau Ilmu Tongkat Pengemis Sakti.

Ketika sampai di depan kelenteng bobrok yang dijadikan markas sementara itu, pengemis muda yang mengantar Hwat Kong Tosu dan Hong Cu kelihatan takut sekali dan seluruh tubuhnya menggigil.

Di luar kelenteng terdapat banyak sekali pengemis dari macam- macam usia yang berkumpul merupakan kelompok-kelompok dan sedang bercakap-cakap atau bermalas-malasan. Mata Hwat Kong Tosu yang sangat tajam itu dapat melihat beberapa orang pengemis tua yang memiliki ilmu silat tinggi berada pula di situ.

Melihat betapa pengemis pengantarnya sangat ketakutan, Hwat Kong Tosu mendesaknya maju dan menghibur. “Jangan takut, hayo antar kami masuk!”

Semua pengemis yang berada di luar kelenteng memandang kepada Hwat Kong Tosu dengan mata lebar. Tiba-tiba seorang pengemis tua yang tadinya duduk melenggut di emper kelenteng, jalan terseok-seok menghadang mereka. Sambil tertawa ha, ha, hi, hi ia berkata kepada pengemis yang mengantar Hwat Kong Tosu.

“Eh, kau setan berani mati! Belenggumu kaubuang ke mana?” Sambil berkata demikian ia menampar dengan telapak tangannya ke arah pengemis muda itu.

Tamparan ini hebat sekali karena dilakukan dengan tenaga lwee- kang sepenuhnya. Kalau kepala pengemis muda sampai terpukul, pasti akan pecah!

Untung Hwat Kong Tosu segera bertindak. Ia maju selangkah dan menggunakan ujung lengan bajunya menangkis tamparan itu sambil berkata, “Maaf, sahabat. Kami tidak ada waktu untuk bermain-main dengan kau.”

Pengemis tua itu tak keburu tarik kembali tangannya dan telapak tangannya segera beradu dengan ujung lengan baju Hwat Kong Tosu. Alangkah kagetnya ketika ia merasa betapa tenaganya sendiri membalik hingga ia merasa pundaknya seakan-akan hampir terlepas ketika terpental dengan keras! Buru-buru ia menjura dan mundur.

Biarpun keadaan di luar kelenteng itu serba butut, tapi di sebelah dalam telah dibersihkan hingga menyenangkan. Lantai telah disapu dan digosok bersih sampai mengkilap. Di atas meja sembahyang yang biasanya ditempati oleh patung yang dipuja, kini duduk bersila seorang pengemis tua. Pengemis ini tinggi kurus dan pakaiannya telah penuh tambalan. Tapi anehnya, pakaian yang bertambal-tambal itu dihias sulam- sulaman indah, sulaman burung hong dan naga, sebagai tanda bahwa ia adalah seorang raja!

Ternyata bahwa Raja Pengemis itupun awas sekali. Melihat tindakan kaki Hwat Kong Tosu yang demikian ringan seakan-akan tidak menginjak lantai tahulah ia bahwa ia sedang berhadapan dengan orang macam apa.

Raja Pengemis itu sedang makan biji kacang. Melihat kedatangan tamunya, ia segera memasukkan segenggam biji kacang yang belum termakan ke dalam kantung jubahnya dan meloncat turun ia dari atas meja.

“Selamat datang, sahabat yang gagah!” katanya sambil menjura kepada Hwat Kong Tosu.

Hwat Kong Tosu membalas hormat itu dan untuk sejenak mereka saling pandang. Tiba-tiba Raja Pengemis itu melihat pengemis muda yang berdiri menggigil di pinggir. Matanya menyapu tubuh pengemis itu dan terlihatlah olehnya bahwa belenggu di tangan anggauta perkumpulannya itu telah lenyap.

Ia marah sekali, tapi dapat di tahannya dan ia dapat menduga sedikit bahwa belenggu itu tentu dipatahkan oleh tamunya ini. Maka dengan senyum dingin ia menjura lagi sambil bertanya.

“Ada keperluan apakah maka tempatku menjadi kehormatan menerima kunjungan seorang gagah seperti tuan?” “Kami datang hanya mengantar anak muda ini karena ia takut datang ke sini. Hendaknya diketahui bahwa belenggu di pergelangan tangannya telah patah, dan yang mematahkan adalah muridku ini. Tak lain kami mengharap kebijaksanaanmu untuk mengampuni anak muda itu yang telah ketakutan karena ia akan dibunuh!”

Mata Raja Pengemis itu berpaling ke arah Hong Cu yang berdiri dengan tenang dan sedikitpun tidak merasa gentar. Tapi ketika pandang mata Raja Pengemis itu bertemu dengan pandang matanya, terpaksa ia melangkah mundur setindak. Sepasang mata pengemis aneh itu sangat tajam dan saat itu agaknya ia marah sekali.

“Sungguh tidak menghargai kedaulatan orang di daerah sendiri.” Raja Pengemis itu berkata perlahan. “Dia adalah anggauta perkumpulan kami, dia harus tunduk kepada peraturan-peraturan yang telah diadakan. Dia mau kami bunuh atau tidak, ada sangkut-paut apakah dengan kalian?”

Tak senang Hwat Kong Tosu mendengar kata-kata ini. Raja Pengemis itu terlalu memandang ringan padanya. Maka terdengarlah ketawa Hwat Kong Tosu yang nyaring.

“Biarpun ia anggauta perkumpulanmu, tapi ia tetap seorang manusia seperti aku. Dan aku tidak membiarkan begitu saja seorang manusia dibunuh tanpa salah. Pula, yang mematahkan belenggu bukanlah dia!” “Yang mematahkan belenggu berarti menghina perkumpulan kami, dan dia harus mati pula!”

Hong Cu mendengar kata-kata ini menjadi marah sekali. Ia bertindak maju sedikit lalu berkata kepada suhunya.

“Suhu, orang ini sangat sombong. Siapakah orang ini sebenarnya?”

Gurunya tertawa keras. “Ah, anak kecil, mana kau tahu! Inilah yang disebut Raja Pengemis she Coa yang merajai segala macam pengemis.”