-->

Patung Dewi Kwan Im Jilid 05

Jilid 05

Tapi sekarang ia telah cabut pedang hingga tiba-tiba tampak sinar berkelipan karena tahu-tahu Beng Beng Hoatsu telah pegang sebatang pedang pula dan sambil tertawa keras ia putar pedangnya dengan jurus-jurus Sin-liong-kiam-sut yang hebat.

Maka terkejutlah Kim Bok Sianjin, karena ternyata bahwa ilmu pedang pertapa gendut itu benar-benar lihai dan gerakan- gerakannya luar biasa. Terpaksa ia mundur sambil menangkis dengan sibuk.

Tok-kak-coa tepuk-tepuk tangan dan bersorak-sorak, “Beng Beng, hayo desak terus! Ha, ha, ha, imam Kwan-im-kauw itu telah mandi keringat dingin. Kematian telah berada di depan mata, hi, hi, hi! Biar ia tebus patungnya dengan jiwa.”

Si jahat dari timur itu terus ngoceh dan berteriak-teriak, tapi Beng Beng sekali-kali tidak mau mencelakai Kim Bok Sianjin. Dengan pedangnya ia mendesak dan tiba-tiba ia membuat gerakan berputar hingga po-kiam lawan seakan-akan kena terlilit oleh pedangnya lalu sekali sentak pedang lawan itu terbetot dan terlepas dari pegangan! “Bunuh dia, bunuh dia!” Tok-kak-coa membujuk, tapi Beng Beng Hoatsu bahkan masukkan kembali pedangnya dalam sarung pedang sambil menjura kepada Kim Bok Sianjin.

“Kau telah mengalah, terima kasih,” katanya. Tiba-tiba Siauw Ma berteriak, “Suhu, awas!”

Mendengar ini secepat kilat Beng Beng Hoatsu loncat ke samping dan terdengar suara angin dari belakang oleh Tok-kak-coa dengan tongkat ularnya!

“Eh, gilakah kau?” Beng Beng Hoatsu menegur, tapi Tok-kak-coa hanya tertawa saja, lalu dengan terbungkuk-bungkuk ia pegang tangan Siauw Liong.

“Mari kita pergi, muridku!” Ia bawa muridnya loncat dan sekali bergerak saja tubuhnya telah berada di luar kelenteng.

“Beng Beng, kau makin tua makin tolol saja! Ha, ha, ha! Kim Bok, kau pun goblok dan buta. Patung Kwan-im Pouwsat akulah yang ambil. Kalau kau ada kepandaian, carilah sendiri!”

Bukan main marahnya Kim Bok Sianjin mendengar ini. Ia lupakan kelemahan sendiri dan loncat mengejar. Siauw Ma hanya lihat tubuh imam yang tua itu berkelebat keluar tapi saat itu juga tubuh itu terlempar kembali dan jatuh ke dalam kamar tak dapat bergerak lagi.

“Tok-kak-coa, kau bangsat tua!” Beng Beng Hoatsu memaki lalu loncat ke luar. Dengan ilmu gin- kangnya yang tinggi ia berhasil mengejar Ular Tanduk Berbisa itu dan menyerang dengan kepalan maut. Tok-kak-coa berkelit dan tak berani melayani karena dalam keadaan marah, Beng Beng Hoatsu sungguh berbahaya.

Setiap gerakannya merupakan serangan maut yang sukar dilawan. Maka sambil tertawa nyaring si jahat dari timur itu loncat ke atas genteng dan menghilang dalam gelap.

Beng Beng Hoatsu hendak mengejar, tetapi tiba-tiba ia merasa terkejut sekali karena pundak kirinya terasa linu dan tidak sewajarnya. Ia gunakan tangan kanan meraba dan alangkah terkejutnya ketika terasa betapa kulit pundaknya itu panas sekali. In cepat lari kembali ke dalam kelenteng untuk periksa pundaknya di bawah sinar lilin.

Ternyata pundak itu tidak kelihatan luka, hanya di situ terdapat tanda merah sebesar kacang hijau dan dari tanda merah itulah keluar hawa panas. Ia terkejut karena ia telah terkena tangan berbisa dari si jahat itu, biarpun ia tidak tahu bilakah ia terkena pukulan ini.

Siauw Ma menghampiri dengan khawatir. “Kau kenapa, suhu?”

Suhunya menggeleng-gelengkan kepala dan balas bertanya, “Bagaimana dengan Kim Bok Sianjin?”

“Ia masih pingsan, suhu. Dadanya bengkak dan kulit mukanya berubah hitam. Tapi napasnya masih ada.” Beng Beng Hoatsu mengeluarkan sebungkus obat bubuk warna merah dari saku bajunya dan menuang isinya ke dalam mulut. Kemudian ia memeriksa keadaan Kim Bok Sianjin. Melihat betapa imam Kwan-im-kauw itu rebah dengan mata meram dan kulit muka berwarna hitam, ia menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas.

“Aah, sungguh Tok-kak-coa jahat sekali. Jahat dan lihai!”

“Suhu, kita harus mencari dia. Kita harus merebut kembali patung yang dicurinya dan membalas dia untuk kecurangannya telah menyerang suhu dengan menggelap tadi!”

Beng Beng Hoatsu hanya tersenyum dan ia menggunakan obat yang sama untuk dituang ke dalam mulut Kim Bok Sianjin. Tapi ia tahu bahwa obatnya itu hanya untuk mencegah menjalarnya racun ke jantung saja, dan ia maklum bahwa jiwa Kim Bok Sianjin, juga jiwanya sendiri, berada dalam keadaan bahaya.

Kemudian ia perintah Siauw Ma menjaga tubuh imam Kwan-im- kauw itu, dan ia sendiri duduk bersila mengumpulkan semangat dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk menolak bisa yang telah menyerang tubuhnya. Demikianlah, mereka berdiam diri sampai malam terganti fajar dan ayam terdengar berkokok riang.

Biarpun berkat dari tenaga dalamnya, racun yang memasuki pundaknya itu tidak sampai menjalar makin hebat, namun keadaan Beng Beng masih berbahaya. Lebih-lebih keadaan Kim Bok Sianjin yang kini napasnya tinggal empas-empis menanti maut sewaktu-waktu datang mencabut nyawanya. Kalau tidak dicekok obat Beng Beng Hoatsu, mungkin imam tua itu telah tewas malam tadi.

Beng Beng Hoatsu, yang biasanya tenang dan tabah, melihat keadaan Kim Bok Sianjin, wajahnya berubah muram dan berkali- kali ia menghela napas.

“Suhu, biarlah teecu pergi ke kota untuk mencari tabib yang pandai agar ia memberi obat kepada Kim Bok Sianjin dan terutama sekali kepada suhu sendiri,” kata Siauw Ma.

“Percuma, Siauw Ma. Tidak ada tabib yang sanggup mengusir racun yang disebar oleh Ular Tanduk Berbisa. Ia terlalu lihai!”

“Biarlah suhu, biar teecu coba!” Siauw Ma membujuk.

Melihat kekerasan hati muridnya, Beng Beng Hoatsu terpaksa mengangguk dan berkata, “Aaah, sesuka hatimulah…….!”

Tapi ia lalu tunduk dengan wajah muram. Ia sebetulnya menyedihi keadaan Kim Bok Sianjin karena ia yakin bahwa imam tua itu tentu takkan tertolong. Untuk dirinya sendiri ia tidak khawatir, karena racun yang dilepas oleh Tok-kak-coa hanya sedikit mengenai pundaknya dan dengan tenaga lwee-kang yang dimilikinya, ia tidak usah khawatir dirinya takkan tertolong.

Siauw Ma lari keluar dari kelenteng Gak-im-tong menuju ke tengah kota. Kota Swi-ciang sangat besar dan setelah bertanya kepada orang di situ, ia dapat juga menemukan rumah seorang tabib yang kata orang terpandai di kota itu. Tabib itu seorang she Cia dan tubuhnya kurus kering. Ketika Siauw Ma mengutarakan maksudnya dengan kata-kata sabar, tabib itu hanya mendengarkan dengan tenang sambil sedot huncwenya dengan mata meram melek. Setelah Siauw Ma mengakhiri permohonannya, ia hanya keluarkan sekalimat kata- kata.

“Kau bawa uang berapa?”

Alangkah marahnya Siauw Ma. Ia rogoh saku, tapi ternyata ia tidak membawa sepotongpun uang karena semua ditaruh dalam buntalan pakaian yang ditinggal di dalam kelenteng.

“Lopek, kau ikutlah saja, nanti kubayar semua,” katanya tak sabar. Tabib she Cia itu geleng-geleng kepala.

“Tidak bisa, harus bayar dulu. Orang-orang seperti kamu banyak sekali yang menipuku. Sudah diperiksa, sudah diberi obat sampai sembuh, tidak mau bayar sama sekali, alasan tidak punya uang. Aku tidak mau ditipu lagi.”

“Tidak, tidak. Aku tidak menipu. Nanti pasti kubayar!”

Tapi tabib itu hanya goyang-goyang kepala sambil sedot pipanya dan semburkan asap putih dari mulutnya hingga asap yang berbau tembakau itu membuat Siauw Ma hampir terbatuk-batuk.

“Tapi……. ini mengenai urusan jiwa orang! Mungkin kau masih keburu menolong jiwanya dan jiwa suhu!” Siauw Ma membujuk, suaranya keras karena ia sudah habis sabar. Tabib she Cia itu hanya berkata kukuh, “Uang dulu!” Dan ia tinggalkan Siauw Ma masuk ke dalam.

Tapi kemarahan Siauw Ma sudah memuncak. Dengan sekali loncatan ia sudah mendahului tabib itu menghadang di depan pintu tengah dan sebelum tabib itu sempat menegur, Siauw Ma telah mengulur jari tangannya menotok urat syarafnya sehingga ia tidak dapat lagi menguasai dirinya.

Seketika itu juga tabib itu merasa hilang daya kemauannya seakan-akan semua perintah Siauw Ma harus diturutnya.

Siauw Ma sambil berkata, “Kau mencari penyakit sendiri!” lalu mengajak tabib itu mengikutinya, dan tabib itu hanya menurut seperti sapi yang dituntun gembala (seperti hypnotisme).

Tentu saja semua orang yang berada di dalam toko obat itu kaget dan marah. Mereka berteriak-teriak dan mencoba mencegah Siauw Ma keluar.

Tapi dengan beberapa gerakan saja Siauw Ma telah membikin mereka roboh terguling-guling dan sebentar saja anak muda itu telah lari cepat, dikejar oleh orang-orang yang berteriak-teriak, “Rampok penculik! Tangkap……. kejar!”

Tapi mana mereka mampu mengejar Siauw Ma yang menggunakan ilmu lari cepat. Beban tubuh itu tak berarti baginya dan ia percepat larinya.

<> Tiba-tiba, di sebuah jalan tikungan, ia mendengar suara kelenengan nyaring dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang anak muda baju biru cakap memikul dua keranjang obat.

“Sobat, tahan dulu. Kau mau bawa ke mana orang ini?” anak muda itu bertanya.

“Bukan urusanmu. Minggir!” kata Siauw Ma dan ia menggunakan tangannya nendorong anak muda itu ke sisi. Tapi anak muda itu yang bukan lain ialah Tiong Li, murid Kiang Cu Liong Si Tabib Dewa, menggunakan sebelah tangan menahan dorongan Siauw Ma.

Kesudahan benturan tangan ini membuat kedua-duanya heran bukan main. Tadinya mereka sangka bahwa gerakan mereka itu tentu akan membuat lawannya terdorong mundur, tapi ketika kedua tangan beradu, baik Tiong Li maupun Siauw Ma terhuyung- huyung mundur!

Siauw Ma menjadi marah sekali. Ia perintahkan tabib she Cia itu duduk di rumput dan dengan mata menyala dan ke dua lengan baju tergulung ke atas ia menghampiri Tiong Li.

“Apakah kau sengaja hendak mencari perkara dengan aku?” tegurnya sambil memandang wajah yang tampan itu dengan marah dan heran.

“Tiong Li yang sifatnya lebih sabar dan lemah lembut balas memandang. Ia mengagumi wajah Siauw Ma yang gagah dan alisnya yang berbentuk golok serta tubuhnya yang tegap dengan dada yang bidang itu menarik hati Tiong Li benar. Iapun menurunkan pikulannya di mana terpasang kelenengan kecil dan ia berkata dengan halus.

“Sahabat yang baik, siapa mencari perkara dengan kau? Aku baik-baik bertanya ke mana kau hendak bawa orang ini karena ia adalah segolongan dengan aku. Kau telah menotok ia punya urat syaraf dan kau ajak ia sambil berlari-lari, apakah maksudmu?”

“Kau…… kau segolongan dia? Apa maksudmu?” Siauw Ma balas bertanya.

“Dia ini adalah tukang obat,” kata Tiong Li, “dan akupun tukang obat pula.”

Mendengar Tiong Li menyebut-nyebut “tukang obat” maka Siauw Ma teringat lagi akan suhunya, maka cepat ia ajak pergi tabib she Cia itu dan sambil berkata,

“Ah, aku tidak ada waktu untuk mengobrol denganmu,” ia lari keras.

Ia sengaja mengerahkan tenaga dan menggunakan ilmu lari cepat yang paling tinggi agar dapat segera tinggalkan anak muda yang mengganggunya itu. Ia tidak mau berkelahi dengan anak itu, karena entah mengapa wajah yang lembut lagi jujur itu membuat ia tak sampai hati untuk memukulnya.

Tapi alangkah terkejutnya ketika. ia melihat betapa Tiong Li juga lari menyusul dan kini mereka lari berendeng. Ternyata ilmu lari cepat dari anak muda itu tidak kalah dengannya. “He, kau hendak ke mana?” tanyanya tanpa jawab yang ditanya.

“Eh, engkau mau apakah sebenarnya?” Siauw Ma berkata dengan curiga.

“Akulah yang ingin tahu kau mau apa sebenarnya,” jawab Tiong Li. “Aku hanya mau tahu kau hendak berbuat apa dengan tabib ini.”

Siauw Ma tidak menjawab karena mereka telah tiba di depan kelenteng. Ia langsung loncat masuk ke dalam sambil memondong tabib Cia, disusul oleh Tiong Li di belakangnya.

Siauw Ma bawa tabib itu di depan suhunya yang masih bersamadhi dan sambil berlutut ia berkata, “Suhu, inilah tabib yang pandai, suhu.”

Beng Beng Hoatsu buka matanya dan setelah mengerling sekali ke arah tubuh kurus kering yang masih belum terlepas dari pengaruh totokan itu, ia tersenyum dan berkata,

“Siauw Ma, mana ia bisa mengobati kami? Sudahlah, buka totokannya dan suruh ia pulang. Jangan bikin susah orang saja.”

Siauw Ma menuruti perintah suhunya dengan kecewa. Ia melepaskan totokan pada tubuh tabib Cia yang segera dapat menguasai dirinya kembali.

Tapi pada saat itu, Tiong Li yang semenjak tadi berlutut di dekat tubuh Kim Bok Sianjin, tiba-tiba berteriak kaget, “Celaka! Racun ular jahat. Mana suhu? Suhu…..! Suhu…..!” Sambil berteriak-teriak menyebut suhunya, ia lari ke luar, diikuti pandang mata Siauw Ma dan Beng Beng Hoatsu yang terheran.

Tabib Cia lalu disuruh pulang dan Beng Beng Hoatsu memberinya sepotong perak. Siauw Ma lalu menceritakan tentang Tiong Li yang dijumpainya di jalan. Beng Beng Hoatsu menduga-duga.

Tak lama kemudian dari luar terdengarlah suara kelenengan dan dari luar masuklah seorang tua yang tubuhnya kecil tapi kepalanya besar sekali memikul keranjang obat, diikuti oleh anak muda tadi. Ia ini ialah Si Tabib Dewa Kiang Cu Liong dan muridnya, Tiong Li!

Setelah melihat tabib dewa yang bertubuh aneh itu, maka teranglah wajah Beng Beng Hoatsu yang tadinya muram.

“Ah, Kau datang. Baik sekali! Orang she Kiang lekas kau tolong jiwa Kim Bok Sianjin.”

Tanpa banyak peradatan lagi Beng Beng bangun berdiri dan menunjuk ke arah tubuh Kim Bok Sianjin yang kini telah kaku dan warna hitam telah memenuhi kepala dan lehernya.

Kiang Cu Liong berpaling dan memandang tubuh itu sebentar, kemudian ia memandang kepada Beng Beng Hoatsu dengan tajam, lalu berkata,

“Kau sendiri pun terserang racun, Beng Beng Hoatsu!” “Ah, biarlah. Tidak berbahaya, kau tolonglah dulu dia itu.” Tapi Tabib Dewa itu berlaku ayal-ayalan, seakan-akan di situ tidak ada orang yang sedang bergulat dengan maut.

“Hm, hm, kauw-cu ketiga dari Kwan-im-kauw berada di sini dalam keadaan terluka hebat, dan kau sendiripun dapat terluka. Ah, ah, kalau bukan siluman ular jahat yang turun tangan, siapa lagi yang dapat melakukan semua ini? Aku akan heran sekali kalau ini tidak ada hubungan dengan hilangnya patung Dewi Kwan-im!”

“Kau tahu apa tentang patung yang hilang itu?”

“Heh, heh, heh! Bukan kau saja yang tahu, Beng Beng. Aku sudah bertemu dengan Huo Mo-li, dan aku tahu pula tentang perlombaanmu bertiga dengan Hwat Kong Tosu!

“Sekarang jadikanlah perlombaan itu menjadi perlombaan empat orang. Masukkan aku di dalamnya karena akupun mencari patung itu. Dan apa salahnya kalau sepuluh tahun kemudian akupun ikut pula menguji kelihaian ilmu masing-masing? Heh, heh, heh!”

“Sudahlah, Kiang Cu Liong, jangan banyak ngobrol. Nanti gampang kita bercakap-cakap lebih lanjut. Sekarang kau tolong Kim Bok Sianjin. Keadaannya berbahaya.”

“Sabar, sabar. Aku pasti tolong dia, bahkan menolong kau juga, tapi berjanjilah dulu bahwa kau suka menerima aku mengikuti perlombahan itu.”

Beng Beng Hoatsu maklum akan kelihaian tabib itu dan kini ia tahu bahwa bagaimanapun juga tabib itu perasaannya sama saja dengan dia dan yang lain-lain, yakni tidak mau kalah. Maka ia tertawa dan berkata,

“Apa boleh buat. Kau terlalu mendesak. Biarlah kau kuterima. Nah, lekas sembuhkan dia.”

Dengan gerakan perlahan sekali seakan-akan yang dihadapi hanya seorang yang menderita masuk angin biasa saja, Kiang Cu Liong memeriksa tubuh dan terutama dada Kim Bok Sianjin.

“Hm, terkena pukulan Tok-jiauw-kang atau cengkeraman berbisa dari si jahat dari timur.”

Sambil berkata begini Si Tabib Dewa itu mengeluarkan sebuah golok kecil dari kantung goloknya. Golok kecil ini adalah sebuah hui-to atau golok terbang yang semuanya berjumlah sembilan di kantung itu.

Salah satu kepandaian Tabih Dewa ialah menyambit dengan hui- to ini yang lihainya bukan main, apa lagi kalau ke sembilannya disambitkan berbareng!

Dengan golok kecil yang mengkilap putih karena terbuat dari pada perak tulen itu, Kiang Cu Liong membuka dada Kim Bok Sianjin.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah batu karang yang kering berwarna putih seperti kapas. Inilah mutiara salju yang tempo hari ia minta dari Huo Mo-li! Mutiara salju ini setelah dijemur kering menjadi sebuah batu mujijat yang khasiatnya dapat menyedot darah yang dikotori racun. Sementara itu Tiong Li dengan cekatan sekali membuat api dan masak air. Setelah suhunya selesai menggunakan mutiara salju untuk mengisap habis racun dari tubuh Kim Bok Sianjin, Tiong Li angkat air itu dan dekatkan tempat air panas pada suhunya. Kiang Cu Liong menggunakan kapas kering mencuci luka di dada dengan air panas.

Beng Beng Hoatsu dan Siauw Ma melihat pengobatan itu dengan kagum. Guru dan murid ahli obat itu bekerja tanpa banyak cakap dan tangan mereka begitu cekatan seakan-akan telah diatur sebelumnya.

Apa yang diperlukan oleh Kiang Cu Liong telah tersedia oleh Tiong Li yang melayani suhunya dengan wajah berseri-seri dan mata bersinar-sinar. Siauw Ma makin suka kepada anak ini.

Setelah selesai mencuci luka di dada Kim Bok Sianjin, Kiang Cu Liong lalu menempelkan obat bubuk warna hitam di atas luka itu, lalu Tiong Li menggunakan kain bersih membalut dada imam itu dengan rapi.

Perlahan-lahan ketika mutiara salju mengisap darahnya, wajah Kim Bok Sianjin berubah merah lagi dan warna hitam berangsur lenyap.

Kemudian pada waktu Tiong Li mengangkat kepalanya untuk membalut dada, ia siuman setelah menghela napas panjang. Ketika ia membuka mata, pertama-tama yang dipandangnya adalah Beng Beng Hoatsu. Pandangan matanya nampak penuh penyesalan akan kesembronoannya yang telah menuduh orang dengan tanpa penyelidikan teliti lebih dulu.

Karena Kim Bok Sianjin juga memiliki lwee-kang yang cukup sempurna, maka sebentar saja ia bisa mengatur napasnya dan tenaganya berangsur-angsur pulih. Ia bangun dan mengangkat kedua tangan ke arah Beng Beng Hoatsu.

“Beng Beng toyu, maafkan pinceng yang bodoh, dan terima kasih atas perawatanmu. Sebetulnya orang macam pinceng ini sudah seharusnya dibiarkan mati.”

“Ho-ho! Jangan berterima kasih padaku. Tabib tua inilah penolong jiwamu,” jawab Beng Beng Hoatsu sambil tertawa.

Kim Bok Sianjin baru melihat bahwa di situ ada orang lain. Ia berpaling dan alangkah terkejutnya ketia ia melihat Kiang Cu Liong yang telah dikenalnya karena ia pernah bertemu satu kali dengan Tabib Dewa itu.

Cepat ia menjura dan menghaturkan terima kasih, tapi dengan merendah Kiang Cu Liong balas menjura.

“Ah, pinceng memang orang bodoh. Barangkali karena sudah tua maka sudah pikun. Orang macam pinceng mana akan dapat berhasil mendapatkan kembali patung itu?” Dan imam Kwan-im- kauw itu menghela napas panjang, lalu menjura ke arah utara dan berkata perlahan. “Aku hanya membikin kecewa kepada Pouw- sat yang mulia saja.” Paras mukanya berubah sedih sekali. “Sudah tahukah kau siapa sekarang yang mencuri patung itu?” Kiang Cu Liong bertanya dengan halus.

Kim Bok Sianjin mengangguk-angguk, dan berkata malu,

“Tadinya dalam otakku yang kotor bahkan ada juga rasa curiga kepada Kiang-sinshe, karena sesungguhnya pencuri itu menggunakan obat bubuk yang membuat orang pada tidur di sekeliling patung itu. Sepanjang pengetahuan pinceng, yang memiliki obat itu hanya kau, Kiang-sinshe, karena pernah kudengar bahwa obat bubuk itu kau gunakan untuk menidurkan orang jika kau perlu membedah tubuh atau otak orang itu.”

“Ha, memang ada orang yang mencuri sebagian obatku itu. Tapi kini aku sudah tahu siapa pencuri obatku!”

Beng Beng Hoatsu memotong, “Si jahat dari timur, bukan? Dia sudah mengaku telah mencuri patung Kwan-im Pouwsat!”

Kiang Cu Liong mengangguk. “Memang dia, Tok-kak-coa yang licin dan curang itu. Hm, sayang datangku terlambat, kalau tidak, ingin aku mengadu ilmu dan mencoba sampai di mana kesaktiannya hingga ia berani berlaku begitu kurang ajar!”

Beng Beng Hoatsu bersungut-sungut, “Kepandaiannya sih tidak mengherankan, tapi kecurangannya yang membuat kita harus berhati-hati. Tadi ia serang aku secara curang dari belakang tapi dapat kuhindarkan. Hanya entah bagaimana ia berhasil juga mengirim racunnya ke pundakku!” “Ia hebat…… lihai sekali….. baru sekali gebrakan saja aku terpukul olehnya…….” Kim Bok Sianjin menghela napas.

“Coba kuperiksa lukamu,” kata Kiang Cu Liong dan tanpa menanti jawaban, ia menghampiri Beng Beng Hoatsu dan periksa luka di pundak kirinya. Setelah memeriksa seketika lamanya, ia mengangguk-anggukan kepalanya yang besar dan berkata,

“Ah, kau telah diserang dengan tongkat ularnya, bukan?” Beng Beng Hoatsu mengangguk. “Tapi tidak kena.”

“Itulah lihainya senjata tongkat itu. Karena kau belum tahu rahasianya, maka sampai terluka. Ketahuilah, jika tongkat ular itu digunakan untuk menyerang, maka pada waktu tongkat itu tidak mengenai sasaran, dari mulut ular itu keluarlah jarum-jarum yang kecil dan lembut sekali hingga siapa terkena takkan merasa sakit.

“Juga sambaran jarum itu sama sekali tidak mendatangkan angin karena lembutnya. Maka kau sampai kena dilukai olehnya. Lain kali kalau berhadapan dengan dia, jagalah ke mana mulut ular itu menghadap!”

Beng Beng Hoatsu mengangguk-angguk.

“Untung lukamu tidak parah karena hanya terkena dua buah jarum berbisa dan lwee-kangmu kuat sekali untuk menahan menjalarnya racun.”

Dengan dua tiga kali tempelkan mutiara salju pada luka itu, maka sembuhlah luka Beng Beng Hoatsu karena semua racun telah dihisap keluar! Beng Beng Hoatsu tidak mengucapkan terima kasih, hanya berkata kepada Kim Bok Sianjin.

“Kim Bok Sianjin, dengarlah. Kau telah menuduh kami Thang-la Sam-sian mencuri patungmu, maka kami bertiga telah mengadakan perjanjian untuk mencuri dan mendapatkan patung itu.

“Sekarang bertambah dengan Kiang Cu Liong tabib tua ini yang juga ingin memiliki patung itu. Maka marilah kita mencari jalan masing-masing dan berlomba untuk mendapatkan kembali patung itu.

“Jangan kau khawatir, kami berempat bukanlah orang-orang yang serakah dan inginkan emas, tapi hanya menguji kepandaian dan kecerdikan saja. Seandainya seorang di antara kami yang berhasil mendapatkan patung itu, maka sepuluh tahun kemudian patung itu pasti akan dikembalikan ke Kwan-im-bio dengan pernyataan maaf.”

“Memang begitulah baiknya,” Kiang Cu Liong menyambung. “Beng Beng Hoatsu telah berkata terus terang. Memang aku juga ingin mencoba hokhi-ku dengan ke tiga tokoh perkasa dari Thang- la! Dan jika aku beruntung bisa mendapatkan patung Dewi Kwan- im yang bijaksana itu, akupun hanya akan menyimpannya paling lama hanya sepuluh tahun dan setelah itu akan kukembalikan ke Kwan-im-bio tanpa diminta!”

Kim Bok Sianjin menghela napas. “Memang ini adil, Kwan-im-kauw yang rendah kepandaian memang harus mengandalkan tenaga Thang-la Sam-sian dan kepandaian Kiang-sinshe untuk mendapatkan kembali patung kami, dan sudah sepantasnya kalau patung itu ditahan selama sepuluh tahun oleh pendapatnya, sebagai tanda kebodohan kami dan sebagai upah dia yang bisa merampasnya kembali. Nah, sekarang maafkan pinceng, karena pinceng harus segera kembali untuk melaporkan hal ini kepada suci.”

Setelah menjura, Kim Bok Sianjin tinggalkan Kelenteng Gak-im- tong.

“Nah, sekarang kitapun harus berpisah, Beng Beng Hoatsu!”

“Baiklah, dan sampai bertemu kembali di puncak Thang-la sembilan tahun kemudian!”

“Kenapa sembilan tahun?”

“Karena janji kami bertiga untuk saling bertemu setahun yang lalu. Waktunya tinggal sembilan tahun lagi.”

“Ah, kalau begitu aku harus mulai mencari patung itu sekarang juga. Dan sudah beberapa hari ini Tiong Li tidak kutambah pelajarannya, hm, jangan-jangan ia kelak tidak akan dapat berdaya sedikit juga terhadap murid-murid Thang-la Sam-sian!” Tabib sakti yang berkepala besar itu tertawa keras.

Ketika Kiang Cu Liong hendak berangkat, ia memandang ke kanan kiri tapi tidak kelihatan muridnya. “Eh, di manakah anak-anak itu?” tanyanya. Juga Beng Beng Hoatsu tidak melihat mereka.

Tiba-tiba dari halaman belakang terdengar suara teriakan dan tertawa-tawa. Kedua kakek itu saling pandang dan tanpa berkata apa-apa mereka berdua bertindak ke belakang untuk melihat.

Ternyata Siauw Ma dan Tiong Li ketika melihat ke dua orang yang membutuhkan pertolongan itu telah diobati dan ke tiga kakek itu sedang bercakap-cakap yang tidak menarik hati mereka, diam- diam mereka pergi ke belakang dan bercakap-cakap sendiri. Tiong Li sifatnya halus dan ramah, ditambah wajahnya yang tampan maka amat menarik hati Siauw Ma.

Sebaliknya murid tabib itu suka sekali melihat sifat-sifat Siauw Ma yang gagah, jujur dan agung itu. Mereka mengobrol tentang suhu masing-masing dan tentang pelajaran-pelajaran silat.

Ternyata tingkat mereka tidak berbeda banyak. Dalam hal tenaga, Siauw Ma lebih unggul, tapi ia kalah gesit dan gin-kang Tiong Li lebih lihai dari padanya.

Ketika mereka melihat batu-batu bundar yang besar dan berat, Siauw Ma teringat akan perbuatan Siauw Liong murid si ular jahat ketika melempar sebuah batu kepadanya. Ia menceritakan hal itu kepada Tiong Li yang mendengarkan sambil tertawa dan mereka sama-sama mentertawakan sikap Siauw Liong yang sombong.

Kemudian mereka bermain-main dengan batu itu. Mereka pilih batu-batu yang terlicin dan terberat, lalu saling melempar batu. Seorang melempar yang lain menyambut untuk dilempar kembali, hingga batu-batu itu beterbangan di udara dan ada kalanya bertumbukan hingga mengeluarkan suara keras dan mengeluarkan api! Ke dua anak muda itu dalam kegembiraannya sampai melupakan suhu mereka dan sambil berlempar-lemparan batu mereka tertawa gembira.

Dan ke dua suhu mereka mendapatkan mereka dalam keadaan demikian.

“Lihat, tenaga muridmu lebih besar dari pada tenaga muridku,” Kiang Cu Liong berkata kepada Beng Beng Hoatsu. Benar saja, pada saat itu dua buah batu bertubrukan di udara dan ke duanya jatuh ke atas tanah, tapi batu lemparan Tiong Li lebih jauh terlemparnya.

“Tapi muridmu lebih lincah dan gagah menyambut batu yang dilempar kepadanya.”

Memang benar pula, karena Tiong Li tampak berkelebat ke sana ke mari menyambut batu-batu yang berat dan banyak beterbangan menyambarnya, sedangkan Siauw Ma hanya menggunakan tenaganya untuk menepuk batu-batu itu kembali atau mengadunya dengan batu yang dilemparkan hingga bertumbukan di udara.

Akhirnya kedua murid itu melihat pula kedatangan suhu mereka, maka mereka segera mengakhiri permainan itu. Masing-masing lalu lari menghampiri gurunya. “Tiong Li, kita berangkat sekarang,” Kiang Cu Liong berkata kepada muridnya.

“Baik, suhu,” jawab Tiong Li, tapi ia memandang kepada Siauw Ma dengan mata kecewa. Tapi Siauw Ma yang berhati keras hanya membalas pandangan itu dengan tersenyum manis dan ia menghampiri Tiong Li lalu memeluk bahunya.

“Sampai bertemu kembali, kawan!” katanya dan Tiong Li menjawab.

“Sampai bertemu kembali, sahabat!”

<>

Maka berangkatlah kedua guru dan murid itu sambil memikul keranjang obat mereka. Tiong Li berjalan di depan dan suhunya berjalan di belakang. Kelenengan yang dipasang di pikulan mereka terdengar nyaring.

Beberapa kali Tiong Li berpaling ke belakang dan melambaikan tangan karena Siauw Ma semenjak tadi berdiri di depan kelenteng dan melambai kepadanya. Ternyata sekali saja bertemu, kedua anak muda itu saling cocok dan saling suka.

Di tengah jalan Kiang Cu Liong berkata kepada muridnya yang jalan di depan, “Kau suka kepada anak itu agaknya. Bagaimanakah dia?”

“Siauw Ma baik sekali, suhu. Ia jujur dan setia, teecu suka sekali padanya. Dan bagaimana dengan gurunya, suhu?” Murid itu balas menanya, karena memang sudah biasa ia dan suhunya berjalan sambil mengobrol dengan ramah tamah.

“Gurunya? Kaumaksudkan Beng Beng Hoatsu? Ah, ia seorang cabang atas dari Thang-la, seorang dari pada ke tiga tokoh Thang-la yang terkenal sakti. Ia memiliki ilmu silat dan ilmu Pedang Naga Sakti yang betul-betul luar biasa, karena biarpun aku sendiri belum pernah melihatnya, namun menurut pendengaranku, di dunia ini jarang dicari keduanya!”

“Kalau begitu, beruntunglah Siauw Ma!”

Kiang Cu Liong pandang belakang kepala muridnya dengan tajam, seakan-akan hendak menembusi kepala itu dan memandang wajahnya. Kemudian ia percepat larinya hingga sekejap saja ia telah berdiri di depan muridnya.

“Tiong Li, jangan kau terlalu menganggap rendah diri sendiri. Kurasa, kalau kau betul-betul rajin mentaati semua petunjukku dan belajar dengan giat, belum tentu kepandaianmu berada di bawah kepandaian Siauw Ma!”

Tiong Li segera turunkan pikulannya dan berlutut. “Suhu, maafkan teecu, bukan maksud teecu untuk merendahkan suhu. Teecu hanya berkata begitu karena girang mendengar Siauw Ma menjadi murid seorang pandai. Tentu saja teecu berjanji untuk mentaati segala petunjuk suhu dan takkan mengecewakan suhu.”

“Nah, begitulah seharusnya!” Mereka lalu melanjutkan perjalanan. Kini dengan cepat sekali karena masing-masing menggunakan ilmu lari cepat. Ketika melihat sebuah sungai yang lebar mengalir dalam sebuah hutan, Kiang Cu Liong menyuruh muridnya berhenti.

Tiong Li yang mengira bahwa suhunya melihat tetumbuhan obat di tempat itu, segera turunkan pikulan dan gunakan ujung bajunya untuk menghapus peluhnya dari muka dan lehernya yang kemerah-merahan karena panas.

“Tiong Li, sekarang sudah tiba waktunya kau perdalam gin- kangmu. Karena ketahuilah, untuk dapat mainkan ilmu silat yang kuajarkan kepadamu, kau harus mahir sekali menggunakan ilmu ringankan tubuh. Dengan gin-kang yang sempurna kau mudah untuk menyerang dengan cepat, melebihi kecepatan lawan. Nah, kaulihatlah baik-baik!”

Kiang Cu Liong lalu turunkan pikulannya dan kumpulkan lima batang kayu kering yang agak besar. Kemudian ia ajak Tiong Li menghampiri tebing sungai yang ternyata sangat lebar itu, dengan airnya yang mengalir perlahan menandakan bahwa sungai itu cukup dalam.

“Lihatlah, sungai ini sangat lebar hingga tak mungkin dapat meloncatinya dengan sekali lompat saja. Bagaimana akalnya untuk dapat menyeberang jika di sini tiada jembatan sedangkan kau tak pandai renang? Nah, lihatlah kegunaannya ilmu gin- kang.” Setelah berkata demikian, tabib sakti yang berkepala besar itu melempar sepotong kayu kering ke air dan tubuhnya secepat kilat menyusul dan meloncat ke arah kayu yang mengambang itu, dan dengan ujung kaki ia menotol kayu itu sambil melemparkan lain kayu ke tengah. Dengan meminjam kayu itu sebagai panjatan, ia enjot tubuhnya menyusul kayu kedua dan kembali ia menggunakan gerakan seperti tadi, yakni turun dan menjejakkan ujung kakinya ke atas kayu yang mengambang itu dan melemparkan kayu ketiga.

Demikianlah, seperti seekor capung bermain-main di atas air, ia dapat melintasi sungai itu dengan mudah dan selamat sedangkan jangankan bajunya, ujung sepatunyapun tidak basah sedikit juga? Dari seberang sana, tabib sakti itu menggunakan cara seperti tadi untuk kembali.

Tiong Li merasa kagum sekali, dan ia mulai berlatih di bawah petunjuk-petunjuk suhunya. Mula-mula ia berlatih di atas tanah dengan cara melempar-lempar kayu ke atas tanah dan disusul dengan tubuhnya untuk menginjak kayu itu dengan ujung kaki lalu melempar kayu ke dua dan mengenjotkan tubuh di atas kayu itu.

Demikianlah ia berlatih dengan giatnya. Sambil melanjutkan perjalanan, di sepanjang jalan tiada hentinya Tiong Li mempelajari ilmu baru ini. Karena Tiong Li memang sudah lama mempelajari ilmu silat tinggi hingga gin-kangnya memang sudah baik sekali, maka dengan sekali petunjuk suhunya cara-cara ia bergerak untuk mengenjot tubuh, maka dalam setengah bulan saja ia sudah sanggup melintasi sungai seperti yang telah dilakukan oleh gurunya itu! Pada suatu hari, Kiang Cu Liong dan suhunya memasuki kota Him-kwan. Tabib sakti itu sengaja pergi ke kota itu karena menurut penyelidikannya, si jahat dari timur kabarnya berada di kota itu.

Disebelah luar kota Him-kwan, terdapat sebuah telaga yang luas sekali dan di tengah-tengah terdapat pulau kecil. Karena adanya telaga dengan pemandangannya yang indah inilah maka kota Him-kwan banyak mendapat pengunjung karena selain pemandangan di telaga itu menarik para pelancong, juga pengeluaran ikan yang dapat dijala dari telaga itu merupakan hasil yang membuat banyak para pedagang datang ke kota ini.

Kiang Cu Liong memang suka sekali akan tamasya yang indah, maka mendengar tentang telaga ini ia langsung mengajak muridnya melihat. Ketika mereka mengunjungi telaga itu, keadaan di situ masih sunyi karena hari masih pagi benar.

Hanya ada beberapa buah perahu saja nampak bergerak-gerak di tengah telaga dan kebanyakan ialah perahu nelayan penangkap ikan.

Kiang Cu Liong menyewa sebuah perahu dan bersama muridnya ia mendayung perahu itu naik ke pulau dam melihat-lihat.

“Suhu, di sini sepi, bolehkah teecu melatih gin-kang? Air di sini diam hingga mudah untuk melatih diri dengan menggunakan perahu.” Suhunya melihat ke sana ke mari, ternyata memang keadaan masih sunyi hingga muridnya tentu takkan menarik perhatian siapa juga, maka ia mengangguk.

Tiong Li lalu dayung perahunya ke tengah sambil membawa beberapa potong kayu. Setelah agak jauh, ia mulai berlatih dan dari perahu itu ia menyeberang ke darat, begitu sebaliknya dari darat ke perahu.

Ia telah berloncat-loncatan beberapa kali dari perahunya. Ketika ia gunakan lemparan yang makin jauh hingga loncatannya juga harus lebih keras pula, ia dayung perahunya makin jauh, ia telah siap dengan kayu yang cukup. Lalu dari perahunya ia mulai dengan lemparan kayu pertama yang disusul oleh tubuhnya melayang mengejar kayu itu.

Gerakannya demikian ringan hingga perahu yang dipakai landasan loncat itu bergoyangpun tidak! Ia berhasil menginjak kayu pertama dan lemparkan kayu kedua itu. Tapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba sebuah benda yang dilempar keras sekali membuat kayu yang akan diinjaknya itu bergerak cepat dan tidak ampun lagi ia kena injak air!

Karena tidak pandai renang, otomatis tubuhnya tenggelam ke dalam air. Tiong Li gerakkan kaki tangannya dan tubuhnya mumbul lagi ke permukaan air. Ia mendengar suara anak muda tertawa dan karena gugup dan takutnya Tiong Li menjerit.

“Suhuuuuuu…..! Tolong……!” Tapi tiba-tiba sebuah benda yang panjang berwarna merah datang menyambar, dan membelit tubuhnya dan sesaat kemudian ia merasa tubuhnya dibetot keras sekali hingga ia melayang ke atas. Karena gin-kangnya memang sudah sempurna, Tiong Li dapat imbangi tubuhnya dan dengan berjumpalitan ia dapat melihat datangnya sebuah perahu kecil dari mana benda panjang merah itu datang.

<>

Cepat ia melayang ke arah perahu itu dan turun dengan selamat! Hanya pakaiannya saja yang basah dan wajahnya pucat.

Ketika ia memandang, ternyata yang menolongnya adalah seorang gadis kecil yang usianya sepantar dengan dia dan gadis itu kini pegang sabuk sutera merah yang panjang dan yang digunakan menolongnya tadi, dengan senyum yang manis di wajahnya yang cantik jelita dan putih.

Tiong Li memandang ke arah suara orang yang menertawakan tadi dan melihat seorang pemuda sebaya dengannya berdiri di atas perahunya sambil tertawa menyeringai. Pemuda itupun berwajah tampan sekali, tapi mukanya memperlihatkan kekejaman dan kenakalan ketika in mengejek ke arah Tiong Li.

“Eh, bagaimana rasanya mandi di telaga? Dingin, ya?”

Tiong Li marah sekali dan hendak balas memaki, tapi pada saat itu ia melihat suhunya mendatangi dengan cepat bagaikan berjalan di atas air! Juga gadis kecil itu terkejut dan kagum melihat betapa seorang kakek yang tubuhnya kecil dan kepalanya besar berlari cepat di atas air dan menuju ke perahu mereka!

Padahal Tiong Li tahu bahwa gurunya itu menggunakan gin-kang yang tinggi, karena orang tua itu tidak menggunakan kayu sebagai loncatan, tapi ia telah menggunakan batu-batu kecil yang dilempar sedemikian rupa hingga dapat berloncatan-loncatan di atas air dan segera dikejar dengan cepat sekali untuk dipakai sebagai batu-batu loncatan!

Ternyata Kiang Cu Liong tadi telah mendengar teriakan muridnya dan kini secepat terbang ia telah berada di atas perahu gadis kecil itu.

Dengan paras masih pucat karena marah, Tiong Li menceritakan kepada suhunya bahwa ketika ia sedang berlatih, ada seorang anak muda yang mengganggu dia dengan menyambit kayu injakannya hingga ia tercebur dalam air, tapi untungnya ada gadis kecil itu menolongnya dengan sabuk sutera merahnya yang panjang dan lihai.

“Mana anak muda itu?” tanya Kiang Cu Liong.

Tiong Li menengok ke arah perahu kecil tadi, tapi ternyata anak muda yang tadi mengganggunya telah tidak ada di situ pula. Agaknya pemuda jahat itu melihat pula kedatangan orang tua yang lihai itu hingga ia menjadi takut dan mendayung pergi perahunya. Kiang Cu Liong kini memandang gadis itu! Anak perempuan itu paling banyak berusia empatbelas tahun, wajahnya bundar telur dan putih kemerah-merahan. Mulutnya selalu tersenyum dan sepasang matanya seperti mata burung hong, dan yang sangat menarik hati ialah pandang mata yang halus itu menatap orang dengan terus terang dan terbuka hingga dapat diduga bahwa ia adalah seorang anak yang berhati mulia dan jujur.

“Anak, kau siapakah dan siapakah suhumu yang mengajarmu menggunakan sabuk sutera itu?” tanya Kiang Cu Liong karena ia tahu bahwa untuk dapat menggunakan sabuk sutera yang lemas itu untuk membelit dan membetot orang, dibutuhkan tenaga lwee- kang yang hebat juga dan latihan yang keras.

Anak gadis itu telah melihat kelihaian orang tua itu dan tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang sakti, maka ia menjura dengan hormat dan sopan.

“Teecu bernama Hong Cu dan suhu adalah Hwat Kong Tosu.”

Tiba-tiba Kiang Cu Liong berdongak ke atas dan tertawa lebar.

“Ha, ha, ha! Pantas, pantas! Tidak tahunya anak murid Hwat Kong Tosu, pantas saja kau lihai. Hei, Tiong Li, ini adalah murid dari Hwat Kong Tosu, seorang dari pada ketiga tokoh besar dari Thang-la. Nona, di mana suhumu sekarang?”

“Hei……! Kiang Cu Liong, aku di sini!” Suara ini terdengar nyata sekali tapi orangnya tak tampak! Ternyata Hwat Kong Tosu yang telah mempelajari ilmu untuk mendengar pembicaraan jauh telah dapat menangkap ucapan Kiang Cu Liong tadi dan ia yang duduk di pantai telaga lalu mengirim suaranya dengan menggunakan tenaga dalam yang terkumpulkan di suaranya. Kiang Cu Liong tertawa lagi dan memandang ke arah pantai.

“Bagus, Hwat Kong! Aku datang!”

Ia lalu rogoh sakunya dan keluarkan beberapa buah batu yang lalu dilempar sebuah ke atas air lalu dikejar oleh tubuhnya. Demikianlah ia tampak seperti berlari-lari di atas air dan sebentar saja tiba di pantai, di mana Hwat Kong Tosu telah berdiri menyambutnya sambil tertawa lebar.

“Suhumu lihai sekali, siapakah dia?” Hong Cu memandang kepada Tiong Li sambil bertanya.

Mau tak mau Tiong Li merasa bangga sekali, tapi ia tindas perasaannya hingga suaranya terdengar biasa saja ketika ia menjawab,

“Guruku itu ialah Tabib Dewa Kiang Cu Liong, sedangkan namaku sendiri Tiong Li. Tapi suhumu yang berada di pantai itu juga tidak kalah lihainya.”

Sambil berkata demikian, Tiong Li pandang gadis kecil itu yang dalam pandangannya tampak sangat cantik jelita dan agung, hingga pemuda tanggung itu memandang dengan tiada bosan- bosannya dan mulut ternganga! Melihat keadaan Tiong Li ini, Hong Cu merasa malu dan tak senang, maka ia berkata untuk memecahkan kesunyian dan suasana tidak enak itu.

“Pakaianmu basah semua, tentu tak enak dipakai. Hayo kita ke pantai menyusul suhu.”

Tiong Li sadar dari lamunannya dan dengan muka merah karena teringat akan kelakuannya yang tidak sopan itu, ia tundukkan muka dan mengangguk.

Gadis itu jalankan perahunya dan ternyata tenaganya sangat besar hingga perahu itu meluncur laju. Di dalam perjalanan perahu itu ke pantai, Tiong Li tetap tundukkan kepala dan tidak berani pandang wajah gadis kecil itu.

Mereka mendarat dan menghampiri ke dua guru mereka yang sedang duduk di pulau kecil bercakap-cakap dengan gembira. Memang Kiang Cu Liong telah lama kenal kepada Hwat Kong Tosu. Melihat muridnya, tabib sakti itu dengan tertawa memperkenalkan dan berkata kepada muridnya.

“Tiong Li, inilah tokoh dari Thang-la yang tersohor. Tidak kecewa kau tertolong oleh murid seorang di antara ke tiga Thang-la Sam- sian!”

Tiong Li dengan hormat dan sopan lalu berlutut di depan Hwat Kong Tosu memberi hormat hingga Hwat Kong Tosu merasa senang sekali melihat anak nuda itu. Sebaliknya ia lalu perintah muridnya memberi hormat kepada tabib sakti itu yang dilakukan oleh Hong Cu dengan taat.

“Tiong Li, siapakah yang tadi menggodamu di atas telaga?” tanya Kiang Cu Lion

“Entahlah, suhu. Teecu tidak kenal. Ia adalah seorang pemuda sebaya dengan teecu, dan wajahnya tampan dan putih.”

“Teecu tadi melihat pemuda itu seperahu dengan seorang tua yang aneh. Kakek itu kepalanya gundul dan bertanduk.”

Hwat Kong Tosu dan Kiang Cu Liong saling pandang penuh arti dan segera bertanya kepada Hong Cu, “Di manakah orang tua itu?”

“Tadi teecu melihat ia berdua dengan pengganggu saudara ini dalam satu perahu, tapi setelah kau orang tua datang terbang di atas air, ia tak tampak lagi dan teecu tidak memperhatikan lebih lanjut padanya.”

“Si Ular Tanduk Berbisa!” kata Kiang Cu Liong. “Si jahat dari timur!” Hwat Kong Tosu berseru.

Tiong Li dan Hong Cu bertanya, “Orang macam apakah dia itu?” “Pencuri yang curang dan lihai,” kata Kiang Cu Liong.

“Hi, hi, hi, hi! Dua tua bangka sedang menakut-nakuti muridnya dan memaki orang seenaknya saja!” tiba-tiba terdengar, suara parau dan Tok-kak-coa, si jahat dari timur sendiri telah tampak berdiri muncul dari balik gerombolan tetumbuhan, membungkuk- bungkuk dan berjalan menghampiri mereka.

Tongkat ularnya yang mengerikan dipegang pada bagian kepala dan ekornya dipakai menekan tanah untuk menunjang tubuhnya yang bungkuk. Ketika ia berjalan menghampiri, maka mulutnya menyeringai hingga giginya yang sudah ompong tampak dan matanya yang sipit itu hampir tertutup sama sekali.

“Siapa memaki? Memang kau curang dan lihai!” Kata Kiang Cu Liong, si tabib sakti.

“Dan siapa tidak kenal dan tahu bahwa si jahat dari timur adalah jahat dan curang?” kata Hwat Kong Tosu.

“Ha, ha, ha! Sesukamulah aku merasa bangga bahwa orang tua renta seperti aku masih bisa mendatangkan rasa takut kepada kalian, jago-jago tua yang terkenal sakti.” Kemudian tanpa dipersilahkan lagi, ia duduk di dekat kedua orang tua gagah itu.

Tiong Li dan Hong Cu yang merasa ngeri dan takut melihat orang tua aneh itu, segera pindah tempat dan diam-diam mereka meninggalkan tempat itu setelah Tiong Li memberi isyarat dengan mata kepada Hong Cu.

Tiba-tiba Kiang Cu Liong meloncat berdiri. Matanya memandang tajam dan kepalanya yang besar tegak menentang muka Tok-kak- coa. “Tok-kak-coa! Kedatanganmu ini tentu terdorong oleh kesombongan hatimu yang memandang rendah kepadaku dan kepada Hwat Kong! Tapi memang kebetulan sekali karena aku memang mencari-carimu. Kau tentu tahu mengapa aku mencarimu!”

Tok-kak-coa masih saja tersenyum dan tertawa, ha, ha, hi, hi mendengar si Tabib Dewa itu. “Kau sakit hati karena, sedikit obat tidurmu kuambil? Begitu kikirkah kau?”

Kiang Cu Liong perdengarkan suara penghinaan.

“Hah! Siapa yang sekikir itu? Kalau kau pakai obat itu untuk mengobati orang sakit atau untuk keperluan lain, aku takkan menyesal bahkan merasa bersyukur.

“Tapi kaugunakan obatku itu untuk melakukan pencurian di kelenteng orang! Bukankah itu berarti lempar batu sembunyi tangan? Kau yang dapat dagingnya, aku yang terkena tahinya!”

Tok-kak-coa tertawa lagi, sedikitpun ia tidak perlihatkan rasa takut. “Habis kamu mau apa?”

“Bagaimana juga, hari ini kita adu kepandaian. Kalau aku kalah, aku takkan banyak cerewet lagi. Tapi kalau kau tak dapat kalahkan aku, kau harus kembalikan patung Kwan-im Pouwsat itu padaku!”

Tok-kak-coa masih duduk di atas rumput sambil tertawa ha, ha, hi, hi. Sebelum ia menjawab Hwat Kong Tosu telah bangun lebih dulu dan berkata kepada Kiang Cu Liong. “Eh, eh. Jangan kau terburu-buru, kawan. Siluman ular ini harus melawanku dulu. Akupun mencari-carinya lama sekali. Gara-gara dia inilah maka aku dimusuhi imam-imam Kwan-im-bio!”

Ternyata Hwat Kong khawatir kalau-kalau patung itu nanti terjatuh ke dalam tangan tabib sakti itu, karena kalau si tabib itu yang mendapatkan patung, maka sukar baginya untuk merebutnya. Bukan karena ia takut, tapi karena ia memang sudah kenal baik sekali dan tak enak hati kalau harus merampas patung itu dari tangan kawannya.

Tiba-tiba Tok-kak-coa bangun berdiri dan tertawa bergelak-gelak.

“Baru ini hari aku melihat dua orang berebut untuk dapat berkelahi melawan aku! Biarlah aku memilih. Kedatanganku ke sini bukan secara kebetulan. Aku memang sengaja datang hendak menemui Hwat Kong.

“Aku mendengar tentang ilmu tongkatmu yang disebut Ouw-coa- koai-tung-hwat! Entah sampai di mana kebenaran kabar yang mengatakan bahwa ilmu tongkatmu itu paling lihai di dunia ini.

“Ingin sekali aku mencobanya. Mana tongkatmu, Hwat Kong! Keluarkanlah dan kasih aku melihatnya. Baik mana dengan tongkatku ini?” Sambil berkata demikian ia gerak-gerakkan tongkat ularnya.

Hwat Kong Tosu berpaling kepada si tabib sakti dengan tersenyum. “Nah, kawanku, terpaksa kau harus mengalah. Dia memilih aku!” Kemudian ia gerakkan tongkat bambunya yang kecil bagaikan sepotong bambu kering yang tidak ada artinya.

“Terpaksa aku mengalah. Kau yang beruntung,” kata Kiang Cu Liong yang lalu duduk di pinggir dengan bersungut-sungut.

“Tok-kak-coa, inilah tongkatku. Sambutlah!”

Secepat kilat Hwat Kong Tosu lalu menyabet dengan tongkatnya ke arah muka Tok-kak-coa yang cepat berkelit. Maka bertempurlah kedua orang itu.

Keduanya menggunakan sebatang tongkat kecil yang dimainkan seperti orang mainkan pedang, karena tongkat itu ujungnya runcing dan dapat digunakan untuk menusuk dan mengemplang. Hanya Tok kak-coa memegang tongkatnya dengan aneh, karena yang dipegangnya ialah bagian ekor ular yang kecil sedangkan tongkat ular itu dipakai menyerang. Namun gerakannya hebat sekali.

Tongkat ularnya bergerak-gerak bagaikan ular hidup yang menyambar-nyambar. Ketika tongkat itu menyambar, maka tercium bau amis dan keras, tanda bahwa jika tongkat itu dimainkan, maka hawa racun keluar dari mulut ular itu!

Namun kali ini si Ular Tanduk Berbisa menemukan tandingan yang setimpal. Hwat Kong Tosu cukup kenal akan kelihaian dan kecurangan Tok-kak-coa, tahu pula bahwa orang luar biasa ini adalah ahli racun yang berbahaya, maka ia mengeluarkan gerakan-gerakan ilmu tongkatnya yang paling tepat dan lihai hingga tidak saja sinar tongkatnya merupakan benteng hitam melindungi tubuhnya, juga angin sambaran tongkatnya itu jauh- jauh telah meniup pergi semua racun dan hawa racun yang mencoba menyerangnya.

Dengan gerakan-gerakan panjang, maka Tok-kak-coa tak berdaya sama sekali untuk mendekati lawannya, sebaliknya pukulan-pukulan maut yang dilayangkan oleh Tok-kak-coa dan disertai hawa racun yang disebarkan oleh tongkatnya membuat Hwat Kong Tosu tidak berani mendekat dan tidak berani menggunakan serangan dengan gerakan pendek.

Maka ramailah pertempuran itu. Kalau tongkat Tok-kak-coa merupakan seekor ular yang panjang dan menyambar-nyambar, maka tongkat Hwat Kong Tosu adalah seekor landak yang mengeluarkan dan memasang semua duri-duri di sekitar tubuhnya hingga ular itu tidak berdaya melukainya, sebaliknya si landak juga tidak mampu menyerang ular yang gesit itu!

Ratusan jurus mereka bertempur dan diam-diam Si Tabib Dewa yang menonton dari pinggir merasa kagum akan kehebatan kedua orang itu.

Dilihat dengan teliti, maka tampak kehebatan ilmu tongkat Hwat Kong dan seandainya Tok-kak-coa tidak melindungi diri dengan hawa racun yang keluar dari tongkatnya, tentu sudah lama ia kena dirobohkan. Sebaliknya iapun bersangsi apakah ia akan dapat mengalahkan Ular Tanduk Berbisa itu yang mengurung diri dengan hawa racun berbahaya. Sementara itu, di sebelah sana pulau itu, terjadi lain pertempuran yang tak kalah hebatnya! Kiranya Tiong Li juga sedang mengadu kepalan dengan Siauw Liong!

Tadi ketika melihat kedatangan Tok-kak-coa, Tiong Li telah dapat menduga bahwa murid dari si jahat dari timur tentu ikut datang pula, maka ia memberi isyarat kepada Hong Cu untuk meninggalkan tempat itu. Gadis kecil itu agaknya dapat menangkap maksud isyarat mata Tiong Li, maka iapun berdiri dan bersama-sama mereka mengelilingi pulau itu.

Benar saja, mereka melihat Siauw Liong pemuda yang tadi mengganggu Tiong Li, sedang berdiri di pantai di mana tampak sebuah perahu kecil. Melihat kedatangan mereka, Siauw Liong tersenyum dan tolak pinggang dengan sikap sombong sekali.

“Pakaianmu sudah kering?” tanyanya kepada Tiong Li, kemudian sambil memandang Ke arah Hong Cu dengan sikap kurang ajar ia berkata.

“Nona cantik, kenapa kau tolong buaya ini? Biarkan saja ia berenang di dalam telaga! Barangkali kau suka padanya karena wajahnya yang tampan? Ha, ha, ha!”

Bukan main marahnya Hong Cu karena kata-kata yang kurang ajar itu. Ia buka sabuk sutera merahnya yang terselip di pinggang lalu gerakkan sabuk itu ke arah Siauw Liong.

Tiong Li yang tadi melihat bahwa gerakan gadis kecil itu masih sangat lambat dan menunjukkan bahwa gadis itu belum lama belajar silat, hendak mencegah, tapi sudah terlambat. Sabuk sutera merah itu bagaikan seekor naga menyambar ke arah muka Siauw Liong.

Pemuda yang cakap tapi nakal inipun tahu pula bahwa kepandaian Hong Cu belum berapa hebat, maka ia sengaja berlaku lambat dan ketika ujung sabuk hendak menyabet mukanya, baru ia gerakkan kepala berkelit tanpa pindah dari tempatnya! Untuk mengejek gadis itu, ia tertawa bergelak-gelak.

Tapi biarpun baru belajar silat belum cukup setahun, di bawah gemblengan Hwat Kong Tosu, ternyata Hong Cu mendapat kepandaian yang lumayan juga. Melihat bahwa serangannya dengan mudah dapat digagalkan lawan, ia gerakkan tahgannya pula.

Kini ujung sabuknya mengelilingi tubuh Siauw Liong dan langsung menjirat kakinya lalu ditarik dengan sentakan keras! Siauw Liong tak dapat menduga gerakan ini dan hampir saja ia kena dirobohkan.

Maka dengan marah sekali ia gunakan ilmu bikin berat tubuhnya seakan-akan berakar di tanah, kemudian cepat sekali ia pegang sabuk itu dan gunakan tenaganya yang besar untuk membetot. Tentu saja Hong Cu jauh kalah dalam hal adu tenaga, maka tubuhnya segera terbetot ke arah Siauw Liong yang membuka tangan untuk memeluknya dengan sikap kurang ajar sekali sambil berkata.

“Mari, mari, manis! Mari datang kepada kokomu!” Hong Cu coba pertahankan tubuhnya, tapi karena ia telah terhuyung ke depan, agaknya tak dapat ditolong pula ia tentu akan roboh dalam pelukan Siauw Liong. Tiba-tiba pada saat itu Siauw Liong merasa sambaran angin pukulan dari samping hingga ia merasa terkejut sekali. Sambaran pukulan itu membawa tenaga yang keras sekali hingga dengan cepat ia berkelit sambil loncat ke pinggir.

Karena pukulan inilah maka Hong Cu terlepas dari pada hinaan. Sebaliknya Siauw Liong marah sekali dan pandang kepada penyerangnya dengan mata melotot.

Tiong Li dengan tenang menghadapinya dan berkata kepada Hong Cu.

“Biarlah aku yang melawannya!”

“Bangsat kecil kau sombong sekali, dan curang! Tidak tahukah kau bahwa kau berhadapan dengan murid dari Tok-kak-coa? Jangan kau berani main-main di depan tuanmu!”

“Pantas sekali kalau kau menjadi murid siluman ular itu! Kau sendiri tentu siluman cacing yang banyak tingkah tapi makananmu hanya tanah lumpur!” Tiong Li balas mengejek dengan sikap tenang sekali hingga Siauw Liong makin marah .

“Beri tahu namamu kalau kau laki-laki!” bentaknya.

“Aku Tiong Li, murid Kiang Cu Liong si Tabib Dewa, sedangkan nona ini adalah Hong Cu, murid dari Hwat Kong Tosu.“ “Bagus! Kalau begitu sekarang tentu kedua gurumu itu telah terbunuh oleh guruku. Maka sudah menjadi kewajibanku, Siauw Liong, untuk membasmi kau dan bawa pergi nona ini untuk dijadikan kawan seperjalanan!”

“Mulutmu kotor sekali!” Tiong Li maju dan menyerang dengan kepalannya ke arah dada Siauw Liong. Tapi Siauw Liong segera menangkis dengan keras dan ternyata tenaga mereka seimbang.

Siauw Liong balas menyerang dengan hebat tapi dapat ditangkis oleh Tiong Li. Maka ramailah kedua anak muda itu mengeluarkan kepandaian masing-masing untuk menjatuhkan lawannya.

Siauw Liong mengeluarkan tipu dari Kun-lun-pai yang telah dicampuk aduk dengan tipu-tipu cabang lain hingga sangat membingungkan. Memang gerak tipu Siauw Liong yang diajarkan oleh gurunya ini cocok dan sesuai dengan silat Tok-kak-coa, yakni curang dan licin.

Dengan bersilat cara demikian, maka secara tidak langsung ia telah mencemarkan nama baik cabang-cabang persilatan itu, karena kalau dibilang bahwa ia masih cucu murid cabang itu, bukan. Tapi dibilang bukan, ilmu silatnya mencangkok tipu-tipu dari cabang itu.

Akan tetapi, seperti sifat gurunya, Tiong Li selalu tenang dan waspada. Ia bersilat dengan Ilmu Silat Sin-hong-kun-hwat, yakni ilmu pukulan ciptaan si tabib sakti. Ilmu silat ini sifatnya lebih banyak membela diri, tapi mengandung keuletan dan kekuatan yang hebat untuk memusnahkan serangan yang bagaimana jahatpun. Dengan tenang dan cukup gesit Tiong Li menghindarkan semua serangan lawan dan menggunakan kesempatan-kesempatan kosong untuk mengirim serangan balasan yang tidak kalah berbahayanya.

Pada suatu ketika, siku kanan Tiong Li berhasil menggempur pundak kiri Siauw Liong hingga pemuda itu terhuyung-huyung ke belakang sambil meringis kesakitan. Tiba-tiba wajahnya menjadi menyeramkan karena marahnya. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan bungkusan bubuk yang cepat digosokkan ke atas kulit ke dua lengannya.

Kemudian ia meloncat menerjang lagi. Tiong Li cukup cerdik dan sebagai murid seorang ahli obat, ia dapat menduga bahwa obat itu tentu racun berbahaya. Ia berlaku waspada dan hati-hati, tapi terlambat!

Serangan yang dilakukan oleh Siauw Liong bukan main hebatnya. Tangan kanannya memukul ke arah leher dan tangan kiri mencengkeram ke arah anggauta rahasia!

Tiong Li dapat kelit pukulan ke arah lehernya, tapi cengkeraman dengan tenaga Eng-jiauw-kang itu tak sempat dikelit lagi dan terpaksa ditangkis! Karena benturan itu terjadi ketika keduanya mengerahkan tenaga lwee-kang masing-masing, maka ke duanya terpelanting dan jatuh. Ke duanya cepat meloncat bangun dan pada saat itu terdengar teriakan Tok-kak-coa, ”Siauw Liong, lekas jalankan perahu!”

Mendengar teriakan suhunya ini, Siauw Liong cepat loncat ke perahunya dan mendayungnya ke tengah. Pada saat itu, dari jauh berkelebatlah bayangan orang yang dengan cepat sekali telah melayang mengejar perahu itu dan turun ke dalam perahu dengan ringan sekali.

Itu adalah Tok-kak-coa yang melarikan diri. Guru dan murid itu cepat-cepat mendayung perahu mereka dan tinggalkan pulau itu!

Ternyata bahwa setelah bertempur ratusan jurus dengan Hwat Kong Tosu dan belum juga dapat mendesak lawannya bahkan dia yang terkurung oleh tongkat tokoh Thang-la itu, Tok-kak-coa menjadi gugup. Baru melawan Hwat Kong Tosu seorang saja ia telah kewalahan, belum mencoba si Tabib Dewa.

Jangan-jangan Kiang Cu Liong kepandaiannya lebih hebat dari Hwat Kong Tosu! Memikirkan hal ini Tok-kak-coa diam-diam merasa bingung juga hingga permainan tongkat ularnya agak kacau. Hal ini diketahui baik-baik oleh Hwat Kong Tosu yang segera mendesaknya dengan serangan-serangan gerak pendek.

Ketika mendapat kesempatan baik, Hwat Kong Tosu maju merangsek dan hawa amis yang keluar dari mulut tongkat ular lawannya ia punahkan dengan tiupan keras, kemudian ia putar tongkatnya sedemikian rupa hingga menempel tongkat ular Tok- kak-coa dan membuat tongkat ular itu terpaksa ikut berputar. Lalu dengan bentakan keras sekali Hwat Kong Tosu kerahkan lwee- kangnya dan membetot ke atas!

Tok-kak-coa tak dapat menahan pegangannya lebih lama lagi dan tongkat ular itu terlepas dan terlempar ke atas tinggi sekali.

Tapi Tok-kak-coa benar-benar lihai. Melihat betapa tongkatnya itu terpental ke atas dan ke arah dari mana ia datang tadi, dengan gerakan kilat ia loncat ke atas dan sambar tongkat ularnya itu kemudian dibawa kabur!

“Aku tunggu kalian di Gua Selaksa Ular!” teriaknya dan cepat sekali ia ajak muridnya melarikan diri.

“Kejar!” kata Hwat Kong Tosu tapi Kiang Cu Liong mencegahnya.

“Jangan! Ia lihai sekali gunakan senjata rahasia beracun! Biarlah lain hari kita datangi gua ularnya itu!”

Sementara itu, setelah melihat Siauw Liong loncat ke perahunya, Tiong Li tadinya hendak menyusul. Tapi ia melihat bahwa suhu Siauw Liong telah datang dan pada saat itu ia merasa betapa lengannya yang digunakan untuk menangkis lengan Siauw Liong tadi terasa gatal-gatal dan sakit, maka ia urungkan maksudnya.

Kini tangannya makin sakit sekali hingga ia meringis-ringis menahan rasa gatal. Hong Cu lari menghampiri dan dengan khawatir gadis itu memandangnya.

“Lukakah kau?” tanyanya. Tiong Li terpaksa tersenyum karena melihat kekhawatiran gadis itu. Ia tidak mau membikin Hong Cu menjadi cemas, maka ia geleng-geleng kepala menyatakan bahwa ia tidak apa-apa.

“Tapi mengapa kau meringis seperti orang yang kesakitan?” “Siauw Liong lihai sekali, dan aku lelah…….”

“Ia masih kalah olehmu. Sayang kepandaianku rendah karena aku baru belajar silat setahun, kalau kepandaianku sudah tinggi, ingin sekali aku memberi hajaran kepada bangsat itu!”

Mata gadis itu memancar marah hingga biasanya melembut seperti mata burung hong itu kini menjadi menyala dan tajam menyambar.

“Kepandaianmu sudah cukup lihai, belum tentu kalah oleh aku sendiri.”

Tiong Li memang berwatak sopan-santun dan suka merendah, terutama terhadap Hong Cu, gadis kecil yang menarik hatinya dan yang menimbulkan rasa suka. Maka iapun sengaja menghibur dan meninggikan gadis itu.

Tapi ia tidak sangka bahwa hal ini mendatangkan rasa tidak senang dalam hati gadis itu. Hong Cu berwatak jujur. Segala apa ia menghendaki terus terang dan biarpun ia seorang anak perempuan, tapi ia tidak malu-malu untuk mengaku bodoh kalau memang hal itu benar. Kini mendengar kata-kata Tiong Li yang merendahkan diri dan memuji-mujinya, ia menjadi tidak senang.

Pada saat itu ia melihat betapa lengan kanan Tiong Li bengkak dan merah. Ia terkejut sekali dan otomatis ia ulur tangannya untuk pegang lengan itu dan memeriksanya. Tapi tidak disangkanya, Tiong Li gerakkan lengannya dan berkelit.

“Jangan pegang!” katanya penuh rasa khawatir kalau-kalau gadis itu terkena racun pula.

Merahlah muka Hong Cu karena sesungguhnya ia tidak tahu akan hal itu. Segera ia buang muka dan lari tinggalkan Tiong Li.

Tiong Li hanya menghela napas, kemudian iapun segera menuju ke tempat suhunya. Ketika ia tiba di situ, dilihatnya ke dua orang tua itu sudah kembali duduk di atas rumput dan Hong Cu duduk di atas sebuah batu di belakang suhunya. Gadis itu tampak cemberut!

“Tiong Li, kau terluka?” Datang-datang suhunya berkata dengan heran.

“Benar, suhu. Teecu terluka oleh racun di lengan Siauw Liong.” “Siauw Liong? Siapakah itu?”

“Dia murid siluman ular itu, suhu.”

Kiang Cu Liong mengangguk-angguk dan mendekati muridnya. Setelah melihat sebentar keadaan lengan muridnya, ia berkata. “Ah, tidak apa-apa, hanya racun ular merah. Kau telan dua butir pek-tan dan gosok lenganmu dengan obat bubuk dalam bungkusan kuning itu.”

Setelah berkata demikian, tabib sakti itu kembali berpaling kepada Hwat Kong Tosu dan bercakap-cakap dengan asyik, sedikitpun tidak acuhkan muridnya lagi, seakan-akan luka kena racun itu bukanlah hal yang penting baginya.

Mendengar percakapan itu, timbul rasa iba juga dalam hati Hong Cu. Ia memandang ke arah Tiong Li dan timbul pertimbangan dalam kepalanya bahwa pemuda itu terluka karena tadi telah membelanya. Ia merasa tidak adil kalau sekarang diam-diam saja. Maka ia segera menghampiri Tiong Li.

Ketika melihat betapa pemuda itu gunakan tangan kiri saja untuk mencari-cari bungkusan di dalam keranjang, tanpa dapat gunakan tangan kanannya yang kini telah membengkak makin besar, Hong Cu segera berjongkok dan membantu. Cepat sekali tangannya yang cekatan memilih-milih dan sebentar saja ia sudah dapatkan obat yang dicari. Tanpa ucapan sepatah katapun Hong Cu ambilkan pek-tan atau obat pulung warna putih dan memberikan dua butir kepada Tiong Li yang terus menelannya.

Kemudian gadis cilik itu bantu menggosok-gosok lengan Tiong Li yang bengkak dengan obat gosok. Tiong Li merasa sungkan dan malu sekali, tapi sebelum ia mencegah, gurunya berkata kepada Hong Cu. “Nah, menggosoknya yang keras, nona. Dan jangan digosok dengan urutan ke atas, harus ke bawah. Sesudah menggosok kau harus mencuci tanganmu bersih-bersih, juga kau Tiong Li, kalau bengkaknya sudah kempis dan warna hitam sudah lenyap, kau harus mencuci tangan dan lenganmu biar bersih!”

Hong Cu adalah seorang gadis yang berwatak jujur dan tulus, maka tanpa ragu-ragu dan sungkan-sungkan lagi ia memajukan diri membantu Tiong Li dan sedikitpun tidak memperlihatkan malu-malu. Tapi Tiong Li yang halus sekali perasaannya dan lebih tua setahun, merasa likat sekali dan malu.

Ia hanya menundukkan muka dan perasaan aneh menyerang lubuk hatinya. Ia merasa girang, malu, dan aneh ketika merasa betapa lengannya digosok-gosok dan diurut-urut oleh jari-jari gadis yang halus dan hangat itu!

Sementara itu, Hwat Kong Tosu bertanya kepada Kiang Cu Liong.

“Ia menantang kita supaya datang di Gua Ular, entah di mana tempat itu.”