-->

Nona Berbunga Hijau Jilid 2

Jilid 2

3. Pengorbanan Orang Tua.

Ci Leng melangkah maju dan dengan mata melotot tangannya menampar pipi Wang Sin. “Kau kira aku orang macam apa?”

Wang Sin mengusap-usap pipinya yang panas dan tersenyum puas lalu memberi hormat. “Bagus paman, Ci Ying sudah kubantu melarikan diri dengan perahu.” Dengan singkat ia menuturkan apa yang terjadi.

Ci Leng merangkapkan kedua tangannya, berdongak ke udara.

“Terima kasih kepada Dewi Sgrolma Putih. Semoga Dewi melindunginya.” Kemudian ia teringat. “Wang Sin, mereka tentu akan menyiksamu!” Ia nampak terkejut.

“Saudara Ci Leng, demi untuk kebaikan anakmu sendiri, Wang Sin juga harus dapat melarikan diri menyusul Ci Ying. Biar kita yang tua-tua bertanggung jawab menghadapi kemurkaan tuan tanah.” Kata Wang Tun.

“Tidak, ayah! Bagaimana aku bisa membiarkan kau dan paman Ci Leng menjadi korban?”

“Diam kau! Kami sudah tua, tak lama lagi kalau tidak mampus di tangan tuan tanah, tentu akan mampus juga. Kau masih muda, kau diharap-harap oleh Ci Ying.”

“Betul sekali,” sambung Ci Leng. “Biar aku pergi ke kuil menemui Gi Hun Hosiang. Sehari ini kau harus dapat bersembunyi Wang Sin, dan malam nanti kau pergilah ke kuil Gi Hun Hosiang. Dia pasti ada jalan untuk menolongmu. Kalau kau pergi sekarang, terlambat. Semua jalan keluar melalui air tentu sudah terjaga. Aku pergi dulu.” Setelah berkata demikian, dengan terburu-buru Ci Leng meninggalkan ayah dan anak itu. Tak lama kemudian dari bawah bukit terdengar teriakan orang-orang. Dari jauh nampak serombongan tukang pukul antek-antek tuan tanah yang mencari-cari Ci Ying. “Tangkap Wang Sin! Tentu dia tahu di mana adanya Ci Ying!” terdengar teriakan-teriakan mereka.

“Wang Sin, kau harus bersembunyi. Lekas!” kata Wang Tun.

Memang Wang Sin sudah bersiap sedia. Ia telah mempersiapkan sebuah jerami panjang dan dengan benda itu di tangan kiri dan pedang pemberian ayahnya di tangan kanan, ia lalu berlari ke jurusan lain, menuju ke sungai. Ayahnya maklum apa yang akan diperbuat anaknya karena memang ia sudah memberi nasehat anaknya, yaitu kalau tiba masanya anak itu hendak menyembunyikan diri, tempat yang paling aman adalah di bawah permukaan air sungai dan jerami itu dapat dipasang di mulut untuk menyedot hawa dari permukaan air.

Belum lama Wang Sin melenyapkan diri, berlarilah dua belas orang antek tuan tanah mendaki bukit itu. Melihat Wang Tun seorang diri di situ dan domba-domba yang biasa digiring oleh Wang Sin berkeliaran di situ pula, mata para tukang pukul itu liar mencari-cari Wang Sin. Namun tidak terlihat bayangan orang muda itu.

“Pandai besi Wang Tun, kenapa kau di sini? Mana Wang Sin anakmu?” tanya pemimpin rombongan tukang pukul.

“Aku sendiripun sedang mencari anak itu.” Jawab Wang Tun yang terkenal pendiam di antara tukang-tukang pukul. Seperti juga terhadap Wang Sin, terhadap kakek pandai besi ini, para begundal tuan tanah itu tidak begitu berani bersikap kasar dan sewenang-wenang seperti terhadap budak-budak lain.

Hal ini karena selain Wang Tun merupakan pandai besi satu-satunya yang tangannya amat dibutuhkan tuan besar, juga kakek ini sikapnya keras dan suka melawan. Akan tetapi pada waktu itu, para tukang pukul ini sudah mendapat kekuasaan penuh oleh tuan muda untuk mencari Ci Ying sampai dapat dan kalau perlu orang-orang seperti Wang Tun, Wang Sin, dan Ci Leng boleh disiksa untuk memaksa mereka mengaku di mana adanya gadis itu.

“Pandai besi tua bangka, jangan pura-pura. Kalau tidak ada hubungan dengan hilangnya Ci Ying, masa sepagi ini kau sudah di sini? Hayo katakan di mana adanya Wang Sin yang menyembunyikan Ci Ying? Mengakulah sebelum kami hilang kesabaran!”

“Kalian punya mata, carilah sendiri dan jangan ganggu aku!”

“Tangkap saja dan siksa, tentu mengaku si tua bangka ini,” kata seorang tukang pukul sambil mengamang-amangkan tombaknya.

“Ketemu si Wang Sin tentu ketemu pula Ci Ying, tentu si tua bangka ini yang menyembunyikan.”

“Tangkap ” Mendengar suara-suara ini dan melihat sikap mereka mengancam, Wang Tun tersenyum mengejek, matanya bersinar-sinar. Ia mengedikkan kepala dan mengangkat dada, kakinya bergerak sehingga rantai yang mengikat kedua kakinya mengeluarkan bunyi berdencingan. “Kalau aku tidak sudi memberitahu, kalian mau apa?”

“Bangsat, budak hina dina! Kau mau melawan?” bentak kepala rombongan yang memegang toya.

Tiba-tiba Wang Tun tertawa bergelak, tangannya bergerak dan sebatang pedang sudah berada di tangannya. “Hayo, majulah kalian anjing-anjing penjilat pantat tuan tanah! Majulah, ini saat yang kutunggu-tunggu sejak dahulu!”

Tukang-tukang pukul itu maklum bahwa si pandai besi ini biarpun tua, amat kuat dan pandai silat, akan tetapi mereka mengandalkan keroyokan. Dengan memaki-maki marah mereka lalu maju menyerbu Wang Tun yang segera mengamuk sambil memutar-mutar pedangnya.

Dengan garangnya Wang Tun menerjang maju, seputaran pedangnya dapat menangkis semua penyerang dan cepat sekali ia lanjutkan dengan menyerampang ke depan sambil merendahkan tubuhnya. Para tukang pukul yang sedikit-sedikit juga pernah belajar ilmu silat, meloncat ke atas, akan tetapi seorang di antara mereka kurang cepat loncatannya sehingga sebelah kakinya, dekat mata kaki, terbabat pedang sampai putus berikut sepatu-sepatunya.

Ia menjerit kesakitan dan tubuhnya menggelinding ke belakang, lalu berdiri lagi melonjak-lonjak dengan sebelah kaki, berputaran saking sakitnya. Tak lama kemudian ia terguling dan pingsan.

Para tukang pukul menjadi makin marah. Kepungan makin rapat dan datangnya senjata yang menyerang seperti hujan. Namun Wang Tun tidak keder. Ia malah tertawa bergelak ketika pedangnya merobohkan korban pertama. “Ha-ha-ha-ha!”

Tukang pukul yang memegang toya menggebuknya dari belakang dan karena pada saat itu Wang Tun menghadapi hujan senjata dari depan dan kanan kiri, gebukan ini tepat mengenai punggungnya.

“Blek!” dan toya yang terbuat dari kayu itu patah. Wang Tun mengeluarkan seruan menahan sakit. Cepat memutar tubuh dan pedangnya meluncur. “Cepp !” Pedang

itu amblas memasuki perut tukang pukul itu sampai tembus ke belakang.

“Ha-ha-ha-ha-ha!” Wang Tun tertawa terbahak-bahak ketika darah lawan menyemprot membasahi bajunya. Ia cepat mencabut pedangnya dan menggulingkan tubuh ke kiri untuk menghindarkan hujan senjata. Akan tetapi karena kedua kakinya terikat, gerakannya ini kurang cepat dan sebuah penggada menghantam pundaknya.

Punggung dan pundaknya sudah terkena pukulan. Namun Wang Tun benar-benar kuat sekali. Ia hanya mengeluarkan gerakan seperti harimau terluka lalu mengamuk lagi.

Dalam beberapa gerakan pedangnya sudah merobohkan lagi tiga orang pengeroyok. Para tukang pukul yang tinggal tujuh orang menjadi gentar menghadapi amukan pandai besi itu yang seperti harimau terganggu ini. Kepungan mengendur dan mereka hanya menyerang secara hati-hati sekali sambil berteriak-teriak memaki.

“Mundurlah, anjing-anjing tiada guna. Biarkan aku menghadapi sendiri!” Teriakan ini membuat para tukang pukul mundur dengan muka pucat karena mengenal suara tuan muda Yang Nam. Tidak berhasil mengalahkan seorang budak dengan pengeroyokan dua belas orang, benar-benar merupakan kesalahan besar dan kalau mereka nanti hanya menerima makian-makian saja sudah boleh dibilang untung.

Melihat kedatangan tuan muda yang membawa sebatang toya kuningnya, Wang Tun hanya berdiri, dengan pedang melintang di depan dada. Seperti pedang ditangannya yang berlumur darah, juga pakaiannya penuh oleh darah para korbannya dan darahnya sendiri ia telah menderita luka di sana sini. Wajahnya beringas dan matanya berapi- api.

“Wang Tun baik kau katakan saja di mana Ci Ying dan Wang Sin. Kalau kau mau berterus terang, aku akan mengampunkan kau dan biarlah anjing-anjing yang sudah kau robohkan ini karena memang mereka tak berguna. Mengakulah, di mana adanya anakmu itu dan di mana ia menyembunyikan Ci Ying?” kata Yang Nam dengan nada suara halus.

Tergetar pedang di tangan kakek pandai besi itu. Sudah tahu ia akan kelicikan pemuda ini yang lebih jahat dari pada ayahnya. Ia menggelengkan kepala dan berkata. “Hamba tidak dapat memberitahu karena tidak tahu di mana adanya mereka.”

“Wang Tun, jangan kau membohong kepadaku,” suara Yang Nam mulai mengeras, penuh gertakan.

“Hamba tidak membohong. Akan tetapi, lepas dari pada soal membohong atau tidak, hamba tidak setuju kalau Ci Ying yang sudah dijodohkan dengan putera hamba itu hendak tuan rampas,” jawabnya ini membayangkan ketegasan dan kenekatan.

Yang Nam tersenyum, mengangguk-angguk. “Ah, begitukah? Wang Tun apa kau kira aku begitu serakah? Kalau Ci Ying tidak mau, biarlah sekarang juga aku atur perkawinan antara dia dan anakmu. Pokoknya keluarkan dulu mereka dari tempat persembunyian mereka.” Ucapan ini halus dan membujuk.

Namun Wang Tun sudah cukup mengenal pemuda licik ini, ia menggeleng kepala. “Hamba tidak tahu di mana mereka ”

“Eh, itulah mereka!” Tiba-tiba Yang Nam menuding ke kanan, “Wang Sin! Ci Ying, kalian ke kanan saja?”

Wang Tun terkejut sekali dan menengok ke arah yang ditunjuk oleh tuan muda itu. Ia tidak melihat apa-apa dan tahulah dia bahwa tuan muda yang licik itu telah menipunya. Cepat dia berpaling kembali untuk bersiap sedia, akan tetapi terlambat.

Toya di tangan Yang Nam sudah menyerangnya dengan hebat dan sebuah sodokan ke arah dadanya tak dapat ia hindarkan lagi. Tubuhnya terjengkang ke belakang dan pukulan kedua yang amat keras mematahkan lengannya yang memegang pedang sehingga pedang itu terlepas dan terlempar.

Namun Wang Tun tidak bersambat, hanya memandang dengan mata melotot.

Melihat pandai besi itu sudah roboh tak berdaya, menyerbulah tukang-tukang pukul itu dengan senjata mereka dan di lain saat mereka sudah memukuli tubuh Wang Tun. “Bak-bik-buk” mereka menggebuki Wang Tun seperti kelompok anak-anak menggebuki seekor ular sampai Wang Tun tak dapat bergerak lagi, rebah mandi darah.

“Tuan muda sungguh gagah perkasa ...” seorang tukan pukul menyeringai dan memuji Yang Nam.

Akan tetapi jawaban pujian ini adalah sebuah tendangan kaki tuan muda itu yang membuat si pemuji terjengkang.

“Gentong-gentong nasi tak punya guna. Hayo lekas cari lagi Ci Ying dan Wang Sin. Biarkan bangkai pandai besi ini membusuk di sini dan dimakan binatang buas.”

Mereka lalu pergi sambil menyeret kawan-kawan yang terluka dalam pertempuran tadi. Juga Yang Nam setelah meludah ke arah tubuh Wang Tun yang mandi darah, lalu pergi uring-uringan. Yang Nam dan antek-anteknya tidak tahu betapa sejam kemudian setelah mereka pergi tubuh yang dikira sudah menjadi mayat itu bergerak lemah, mengerang perlahan lalu mata yang bengkak-bengkak itu terbuka.

“Wang Sin .... Wang Sin ” demikian bisik Wang Tun lirih, kemudian dia diam

kembali tak bergerak. Darah menetes turun dari keningnya.

******

Ci Leng tergesah-gesah berjalan menuju ke kuil besar yang menjadi tempat pujaan seluruh rakyat di daerah itu. Ia membawa sebuah “hata” yaitu sehelai kain selendang yang menjadi tanda penghormatan dan kebaktian, dan sekeranjang gajih. Hata dan gajih ini merupakan barang sumbangan yang harus dibawa oleh setiap orang yang hendak bersembahyang. Tanpa barang-barang itu jangan harap akan dapat memasuki ruangan kuil. Jadi benda-benda itu merupakan pembuka kunci pintu kuil.

Ketika Ci Leng tiba di luar kuil, di situ sudah banyak terdapat budak-budak yang berlutut di atas batu-batu lantai di luar kuil. Mereka ini datang untuk minta berkah. Selain patung-patung di dalam kuil, siapa lagi yang menaruh kasihan kepada mereka? Siapa lagi yang dapat menolong mereka? Kepada patung-patung inilah para budak itu berlari untuk minta perlindungan dan minta berkah.

Ci Leng menjatuhkan diri berlutut di antara pemuja. Batu-batu lantai itu sampai licin sekali, halus dan di sana sini berlubang saking sering dan banyaknya orang datang berlutut. Lubang-lubang kecil bekas telapak tangan dan lutut. Sambil berlutut dan berkali-kali mengangguk-anggukkan kepala, Ci Leng seperti yang lain menggerak- gerakkan bibir membisikkan doa-doa sambil memutar-mutar tasbeh. Serombongan pendeta lama yang masih kecil-kecil, di antaranya baru berusia lima enam tahun, lewat di dekat mereka sambil menggotong ember-ember berisi air. Anak- anak kecil yang berkepala gundul dan berpakaian gerombongan itu dengan susah payah menggotong air, terhuyung-huyung ke kanan kiri. Mereka ini adalah pendeta- pendeta Lama kecil, akan tetapi pada hakekatnya hanyalah budak juga dalam pakaian Lama dan berkepala gundul.

Mereka bekerja setengah mati, diperas sampai tak kuat lagi untuk melayani para pendeta Lama yang merupakan “orang suci” di dalam kuil. Anak-anak ini mencuci, memasak, mencari kayu bakar, mencari air, menyapu yah pekerjaan apa saja mereka lakukan untuk para pendeta Lama. Kalau para budak hamba dijadikan ternak- berbicara oleh para tuan tanah, adalah kacung-kacung ini diperkuda oleh para pendeta Lama.

Setelah mengucapkan doa-doa di depan kuil bersama para tamu kuil yang datang bersembahyang, Ci Leng memasuki halaman kuil di mana orang-orang itu secara bergiliran menyerahkan kain-kain, harta dan barang sumbangan atau disebut juga “korban” kepada seorang pendeta Lama yang bertugas untuk menerima barang- barang berharga itu. Setelah menyerahkan barang sumbangannya, Ci Leng memasuki bangunan sebelah kiri.

Ia berjalan melalui gang di mana penuh dengan lukisan-lukisan di tembok kanan kiri lorong, lukisan tentang manusia-manusia lelaki perempuan bertelanjang bulat yang sedang disiksa dan menderita di dalam neraka. Bermacam-macam lukisan yang mengerikan, dan cukup mendatangkan rasa takut dalam hati para pengunjung kuil, sehingga mereka itu takkan berani melakukan dosa-dosa di dalam hidup agar kelak jangan disiksa seperti dalam lukisan itu?”

Lukisan-lukisan itu betapapun juga merupakan lukisan indah, dan patung-patung yang tak terbilang banyaknya menghias di sana sini. Akan tetapi sepasang mata Ci Leng seakan-akan tidak melihat ini semua. Ia langsung menuju ke sebelah bangunan kecil yang letaknya di ujung kiri, di dekat dapur dan dekat tembok pagar pekarangan kuil. Inilah ruang kerja di mana Lama-Lama yang ahli dalam membuat patung-patung bekerja.

“Losuhu !” Ci Leng memberi hormat ketika ia melihat seorang hwesio seorang diri

bekerja di dalam ruangan itu.

Hwesio ini usianya sudah lima puluh tahun lebih, wajahnya lembut dan kulit mukanya putih tak pernah terbakar sinar matahari, agak pucat. Kedua tangannya penuh dengan lumpur karena ia tengah bekerja, membentuk tanah lihat untuk dijadikan patung. Di seluruh ruangan itu penuh dengan patung-patung yang sudah jadi, setengah jadi dan belum jadi. Pakaiannya yang butut penuh dengan kotoran lumpur dan cat.

Sepasang mata yang jernih dan muka yang agak muram itu berseri ketika Gi Hun Hosiang pendeta Lama itu, memandang kepada Ci Leng.

“Eh, kaukah itu, saudara Ci Leng? Terima kasih bahwa kau tidak melupakan pinceng dan mau menjenguk pinceng di tempat ini.” Akan tetapi pendeta itu menjadi heran dan kaget ketika tiba-tiba Ci Leng menjatuhkan diri berlutut di depannya, mengangguk-angguk dan berkata dengan suara penuh permohonan.

“Losuhu yang mulia, tolonglah kami ”

Gi Hun Hosiang meletakan tanah lempung yang dikerjakannya dan mengangkat bangun Ci Leng. “Eh, eh ada apakah, saudara yang baik? Sang Buddha telah memberi jalan kepada semua manusia untuk menolong diri sendiri. Hanya dengan perbuatan baik orang dapat menolong diri sendiri, tidak ada orang lain dapat menolong kita terbebas kesengsaraan.”

“Malapetaka telah menimpa keluarga kami, losuhu. Dewa-dewa telah menampakan kemurkaan kepada kami.” Dengan singkat Ci Leng menceritakan betapa tuan muda hendak merampas Ci Ying dan betapa gadis itu karena tidak sudi dijadikan selir dan karena sudah bertunangan dengan Wang Sin, telah melarikan diri membawa pergi cucu nenek lumpuh.

“Sekarang Wang Sin dicari-cari dan kalau pemuda itu bisa ditangkap tentu akan disiksa oleh mereka. Oleh karena itu, tolonglah losuhu beri jalan kepada Wang Sin agar supaya dia bisa melarikan diri dari tempat ini. Malam nanti tentu dia akan datang ke sini dan memohon perlindungan losuhu.”

“Omitohud !” Hwesio itu mengucapkan pujian sambil merangkap kedua tangan di

depan dada. “Tuan Yang dan anaknya terlalu menghumbar nafsu. Apa jadinya kelak dengan mereka dalam penjelmaan mendatang? Jangan kau khawatir, saudaraku Ci Leng. Pinceng tak dapat berbuat banyak akan tetapi kalau Wang Sin berada di sini, tentu ia akan terlindung dan pinceng akan berusaha mencarikan daya upaya ”

Ci Leng berlutut lagi menghaturkan terima kasih. “Keluarlah supaya jangan menimbulkan kecurigaan. Semoga Sang Buddha melindungimu,” kata pendeta itu sambil merangkap kedua tangan.

Ci Leng lalu keluar dari ruangan itu dan Gi Hun Hosiang berkemak-kemik membaca doa, lalu disambungnya dengan kata-kata lirih. “Aku hendak membuatkan sebuah patung Sang Buddha yang indah dan besar, patung emas yang akan menjadi kebanggaan kuil ini. Itulah pekerjaanku terakhir setelah itu akan bersihlah aku dari pada dosa-dosaku. Akan tetapi sebagai tambahan baik juga kutolong anak-anak yang patut dikasihani itu ” Kembali Hwesio yang baik hati dan saleh ini membaca

mantra sebelum ia melanjutkan pekerjaannya membuat patung.

Baru saja Ci Leng keluar dari ruangan pembuatan patung dan berjalan sampai di lorong: “hukuman di neraka,” tiba-tiba ia dikejutkan oleh bentakan parau. “Hemm, kau di sini?”

Ketika Ci Leng menengok, ia melihat Thouw Tan Hwesio, seorang Buddha hidup, seorang pendeta besar yang mengepalai kuil itu. Thouw Tan Hwesio berjubah kuning bersih, bertopi tinggi dan wajahnya keren sekali. Tubuhnya tinggi besar dan lengan tangannya berbulu. Sepatunya juga dilapis besi dan sepasang matanya yang bundar itu kini menatap wajah Ci Leng yang ketakutan. Ci Leng cepat-cepat menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada manusia dewa ini.

“Hemmm, Ci Leng. Keluargamu telah membuat kacau. Anakmu yang tak tahu malu minggat bersama setan cilik Wang Sin. Calon besanmu Wang Tun memberontak dan membunuh beberapa orang penjaga sebelum ia sendiri terbunuh. Kau yang dilumuri dosa-dosa keluargamu sekarang berani menginjak lantai kuil ini? Benar-benar kau mengotori kuilku. Hayo, keluar cepat sebelum aku memanggil halilintar untuk menyambarmu menjadi abu!”

Ci Leng dengan muka pucat, bukan hanya takut mendengar ancaman ini namun juga terkejut mendengar tentang kematian Wang Tun, cepat-cepat ia keluar dari kuil itu. Akan tetapi baru saja sampai di luar kuil, beberapa orang antek tuan tanah telah menyergapnya, mengikatnya dan menyeretnya ke gedung tuan tanah Yang Can.

“Jahanam keparat tak kenal budi!” datang-datang ia dimaki oleh tuan tanah Yang Can. “Semejak belasan tahun kau dan anakmu dapat hidup karena ada aku yang menolong, setiap hari kau dan anakmu yang keparat itu makan dan minum dari pemberianku. Dan semua ini kau balas dengan penghinaan hari ini?” Muka Yang Can merah saking marahnya.

“Ampun tuan besar. Hamba sekali-kali tidak merasa telah melakukan penghinaan,” bantah Ci Leng.

“Plakk!” tangan Yang Nam menampar pipi orang tua itu. Karena Yang Nam adalah seorang pemuda ahli silat, tamparannya keras dan seketika darah menyembur dari mulut Ci Leng karena beberapa buah giginya copot. Matanya berkunang-kunang, dan terpaksa ia meramkan mata.

“Iblis tua, pintar kau bicara!” maki Yang Nam. “Kalau bukan kau yang mengaturnya, mana bisa anakmu, seorang gadis muda, berani melarikan diri. Hayo mengaku di mana sembunyinya Ci Ying dan Wang Sin?”

“Hamba tidak tahu .... hamba tidak tahu ”

Beberapa kali pukulan dan tendangan jatuh di tubuhnya, akan tetapi Ci Leng hanya mengucapkan, “Hamba tidak tahu .... hamba tidak tahu ” Sampai akhirnya ia tidak

bisa mengeluarkan suara lagi karena telah pingsan.

“Jangan bunuh dia, kau merugikan kita saja,” bentak Yang Can. “Bawa dia pergi,” perintahnya kepada para tukang pukul. “Suruh bekerja keras dan ikat kakinya dengan rantai supaya tidak mencoba untuk lari.”

Tubuh Ci Leng yang sudah lemas itu diseret keluar dari halaman gedung tuan tanah Yang Can.

******

Wang Sin memang memiliki tubuh yang sangat kuat. Sehari penuh tubuhnya terendam di dalam air sungai tak sekejap pun ia berani memperlihatkan kepala ke atas permukaan air. Tak perlu diceritakan lagi penderitaannya selama sehari itu, direndam di dalam air yang amat dingin. Beberapa kali ia hampir tidak kuat menahan, hampir pingsan dan hasrat untuk naik ke dalam udara segar membuat ia hampir tak kuat menahan lagi. Namun kekerasan hatinya memang luar biasa. Dengan hanya menghisap hawa dari jerami panjang yang ia gigit, ia dapat bertahan menyelam sampai sehari.

Setelah kegelapan malam menembus air, baru ia berani muncul. Paru-parunya serasa akan meledak ketika tiba-tiba ia dapat menghisap hawa udara sepuasnya, tidak melalui jerami kecil-kecil itu. Setelah melihat bahwa dipinggir sungai tidak ada orang menjaga, ia berenang ke pinggir, mendarat dan sambil menahan hawa dingin yang makin meresap ke dalam tulang, ia menyusup ke tempat gelap, hendak menuju ke kuil untuk menemui Gi Hun Hosiang sebagaimana telah dipesan oleh Ci Leng.

Tiba-tiba ia merandek dan cepat bersembunyi ke balik batang pohon. Ia mendengar suara berkeresekan, lalu terdengar keluhan perlahan sekali disusul suara bisikan, “Wang Sin ”

“Ayah !” Wang Sin mengenal suara ayahnya dan cepat menghampiri. Di lain saat

ia telah memangku ayahnya yang ternyata lebih baik mati dari pada hidup, dengan tubuh rusak berlumur darah dan hanya hati dan semangat membaja saja yang dapat menahan nyawa itu belum meninggalkan raga. Malah Wang Tun dengan kemauan keras tiada bandingnya lagi, berhasil merangkak menuruni bukit dan sengaja mencegat di situ untuk menemui anaknya untuk memberi pesan terakhir.

“Syukur .... Dewata masih kasihan kepadaku ....Wang Sin ..... dengar baik-baik ” Ia

terengah-engah. Sukar sekali kata-kata keluar dari kerongkongannya yang sudah tersumbat darah.

“Tuan muda .... dia curang ...Wang Sin, kalau kau bisa lari kelak pergilah cari

guruku .... Cin Kek Tosu .... di Kun-lun-san .....kelak .... tolonglah para budak .....

tolonglah mereka, bebaskan dari cengkeraman tuan tanah .... ahhh ... selamat ” Dan

kakek yang kuat ini akhirnya tak dapat menahan nyawanya yang melayang meninggalkan raganya.

Wang Sin mengepal tinju. Kalau menurutkan nafsu hatinya, ingin ia mengamuk, membalas dendam ini dan kalau mungkin membunuh tuan muda Yang Nam dan yang lain-lain. Akan tetapi, pengalaman-pengalaman getir membuat pemuda ini dapat menahan nafsu dan dapat berpikir panjang. Tiada gunanya, pikirnya. Ayahnya yang gagah perkasa sekalipun tak dapat menang.

Apalagi dia yang hanya memiliki kepandaian terbatas sekali. Ia harus dapat keluar dari neraka ini, harus mempelajari kepandaian dan kelak kembali untuk membalas dendam. Ah, tidak, ayahnya lebih betul. Bukan semata-mata membalas dendam, melainkan yang terutama sekali membebaskan saudara-saudaranya para budak.

“Ayah, ampunkan anakmu tidak dapat merawatmu sebagaimana mestinya.” Dengan airmata bercucuran saking sedih melihat mayat ayahnya rebah tak terawat atau terurus, ia terpaksa meninggalkan mayat itu di situ kalau tidak mau tertangkap oleh kaki tangan tuan tanah. Wang Sin mencari jalan di dalam gelap dan akhirnya ia berhasil memasuki kuil. Tak seorangpun kaki tangan tuan tanah menjaga tempat ini. Siapa mengira bahwa pemuda yang mereka kira sudah melarikan diri bersama Ci Ying itu berani bersembunyi di dalam kuil?

Perhitungan Ci Leng memang tepat. Tempat sembunyi di kuil itu baik sekali. Seandainya Wang Sin mengikuti jejak Ci Ying, melarikan diri menggunakan perahu, tentu ia akan tertangkap karena para antek tuan tanah sudah menjaga sampai jauh di bawah.

Gi Hun Hosiang menerimanya dengan ramah, tanpa banyak suara. Ternyata hwesio ini sudah membuat persiapan lebih dulu karena begitu Wang Sin masuk ia lalu mengambil satu stel pakaian hwesio berikut topinya yang tinggi.

“Buka pakaianmu dan pakai ini,” perintahnya.

Wang Sin juga tidak banyak cakap lagi, segera menanggalkan pakaian budak yang butut dan melemparkan pakaian ini di sudut ruangan. Kemudian ia mengenakan pakaian hwesio itu dan tak lama kemudian ia sudah menjadi seorang pendeta Lama.

“Kau sembunyi di sini dulu, pinceng akan memeriksa keadaan di luar,” kata hwesio itu kemudian, lalu ia pergi ke luar dengan tenang.

4. Murid Cheng Hoa Suthai.

Wang Sin yang ditinggal seorang diri di ruangan penuh patung itu, merasa seram juga. Semenjak kecil ia sudah dijejali dongeng dan kepercayaan bahwa patung-patung itu menjadi tempat tinggal para roh suci, para dewa yang menghubungi manusia melalui patung. Ia merasa seram dan takut, akan tetapi ketika melihat sebuah patung Dewi Kwan Im yang berwajah cantik sekali dan membayangkan budi luhur.

Ia cepat berlutut di depan patung ini, bersujud dan merasa aman. Ia tahu bahwa patung ini adalah pujaan Ci Ying dan patung yang mempunyai wajah demikian lembut tak mungkin jahat. Tentu Ci Ying akan mendapat perlindungannya.

Menjelang tengah malam, Gi Hun Hosiang kembali. Melihat Wang Sin berlutut memuja patung Dewi Kwan Im, ia mengangguk-angguk.

“Kau akan selamat,” gumamnya. Setelah Wang Sin berdiri, ia berkata lagi, lirih akan tetapi bersungguh-sungguh. “Kau pergilah ke kandang kuda. Penjaganya sudah pulas semua terkena obatku. Ambillah seekor kuda yang baik, kemudian tuntun kuda itu ke luar terus ke tempat sepi. Kemudian kau boleh mulai dengan perjalananmu. Ke mana tujuanmu pertama?”

“Menyusul Ci Ying, di mana air sungai Yalu-cangpo berbelok ke selatan,” jawab Wang Sin dengan suara tetap.

“Baik, akan tetapi kalau sudah bertemu, harus pergi ke utara. Pergilah ke Kun-lun- san.” “Memang ayah memesan supaya teecu pergi ke Kun-lun-san mencari guru ayah, Cin Kek Tosu.”

Gi Hun Hosiang mengangguk-angguk. Ia merogo saku dan mengeluarkan segumpal emas. “Benda ini di dunia luar dihargai orang. Bawalah untuk bekal. Nah berangkatlah, Wang Sin!”

Pemuda itu menghaturkan terima kasih, lalu menyelinap ke luar dengan hati-hati, terus menuju ke kandang kuda milik tuan tanah. Tiga puluh ekor lebih kuda yang berada di situ, akan tetapi Wang Sin yang sudah kenal baik kuda-kuda itu tahu harus memilih yang mana. Ia pilih kuda berbulu putih tunggangan tuan tanah Yang Can pribadi. Inilah kuda terbaik dan terkuat.

Karena kuda-kuda itu sudah mengenal Wang Sin, mereka tidak menimbulkan gaduh, bahkan kuda putih yang dituntun ke luar juga menurut saja. Pemuda itu terus menuntunnya dengan hati-hati sampai mereka berada jauh dari situ, baru ia melompat dan mengaburkan kuda itu, jauh dari sungai, akan tetapi terus ke timur menurutkan aliran sungai Yalu-cangpo.

Menjelang pagi Wang Sin masih terus larikan kudanya, kini sudah jauh sekali meninggalkan perkampungan itu. Hatinya lega dan girang seperti seekor burung yang terlepas dari sangkar. Akan tetapi kalau ia teringat akan nasib ayahnya, ia menjadi sedih sekali.

“Aku akan kembali ..... aku akan kembali ” katanya kepada diri sendiri, penuh

kebencian kepada tuan tanah dan antek-anteknya. Teringat akan ini, kedukaannya lenyap dan ia menggigit bibir mengepalkan tinju, terus membedal kudanya lebih cepat lagi, menyongsong matahari di timur, menyongsong kemerdekaan.

Sama sekali ia tidak tahu bahwa bukan hanya ayahnya dan ayah Ci Ying saja yang menjadi korban pelariannya. Pada keesokan harinya, gegerlah tuan tanah dan kaki tangannya ketika melihat bahwa kuda milik tuan tanah telah lenyap dicuri orang.

“Tentu si bedebah Wang Sin, tak bisa lain orang!” maki tuan tanah Yang Can sambil membanting-banting kaki dengan muka merah. “Kalian anjing-anjing tolol!” makinya kepada semua anteknya yang menundukkan kepala. “Masa puluhan orang tidak mampu menangkap seorang anak-anak seperti Wang Sin. Kalian melapor tidak ada, sudah minggat dan lain-lain obrolan kosong. Ternyata malam tadi ia masih berada di sini bahkan dapat mencuri kudaku. Setan!”

“Tuan besar, keparat itu dapat bersembunyi di sini, tentu ada pembantunya. Kalau tidak ada orang yang membantunya, kiranya tak mungkin dia bisa bersembunyi,” seorang di antara antek-anteknya memberanikan diri.

Yang Can berpikir. Betul juga pendapat ini. Akan tetapi pikiran ini malah membangkitkan marahnya. “Tentu ada budak pengkhianat yang menyembunyikan di gubuknya. Kalian semua buta barangkali, tidak dapat melihat dia bersembunyi di gubuk para budak!” Tukang pukul yang mengajukan pendapat itu terkejut. Celaka, pendapatnya malah memukul mereka sendiri.

“Tidak mungkin tuan besar, tidak mungkin. Hamba sekalian teliti, malah semalam suntuk meronda di sekitar gubuk para budak dan di pinggir kali, sepanjang lembah sungai.”

“Hemm, kalau begitu di mana sembunyinya?”

“Hamba rasa    kalau tidak salah dugaan hamba, tentu di sekitar kuil. Di sanalah

yang tidak terjaga.”

Yang Can sadar, namun penuh kesangsian. Para pendeta Lama boleh dibilang semua membantunya. Mungkinkah Wang Sin dapat bersembunyi di sana? “Kita selidiki ke kuil!” akhirnya ia berkata dan beramai-ramai para anteknya mengikuti majikan mereka ini menuju ke kuil pada pagi hari itu.

Thouw Tan Hwesio, pendeta Lama jubah kuning ketua kuil itu, mengerutkan kening dan menggerak-gerakkan alisnya yang tebal ketika ia mendengar penuturan tuan tanah Yang Can.

“Hemm, pinceng sudah menaruh curiga ketika kemaren Ci Leng berkeliaran di kuil. “Jangan-jangan Gi Hun ” Hwesio tinggi besar ini bangkit dari tempat duduknya.

“Harap duduk dulu, biar pinceng pergi menyelidiki.” Kemudian dengan langkah lebar hwesio tua yang masih kuat itu memasuki kuil, langsung menuju ke ruangan pembuatan patung, tempat kerja Gi Hun Hosiang.

Gi Hun Hosiang menyambut kedatangan pendeta kepala itu dengan tenang dan hormat. Ia memberi hormat dan melanjutkan pekerjaannya yang dimulai pagi-pagi sekali. Thouw Tan Hwesio pura-pura melihat-lihat patung, pura-pura memeriksa pekerjaan hwesio bawahannya itu, akan tetapi matanya yang besar itu melirik ke sana ke mari. Akhirnya ia melihat setumpuk pakaian butut, pakaian Wang Sin yang dilemparkan di pojok. Ia menjadi marah sekali dan tiba-tiba ia menghempaskan kakinya ke atas lantai sambil membentak.

“Gi Hun. Apa yang telah kau lakukan malam tadi?”

“Apa yang dimaksudkan twa-suhu yang mulia?” balas tanya Gi Hun Hosiang penuh ketenangan karena ia memang sudah siap sedia memikul semua akibat bantuannya kepada Wang Sin.

“Ha! Kau masih berani berpura-pura? Kau penjahat yang masih bodoh, melakukan perbuatan terkutuk tanpa membersihkan bekas kejahatanmu. Pakaian kotor siapa ini?”

“Itu bekas pakaian Wang Sin.”

Thouw Tan Hwesio tercengang juga mendengar pengakuan terang-terangan ini. “Keparat, kau telah membantu seorang penjahat melarikan diri dan mencuri kuda, kau telah membikin kotor kuil ini. Manusia tak tahu budi. Ketika kau datang keleleran, bukankah pinceng yang menolongmu dan memberi pekerjaan serta makan dan tempat tinggal? Kiranya kau berkhianat, membantu orang jahat dan memalukan pinceng!”

“Twa-suhu yang baik, teecu tidak pernah melakukan pekerjaan jahat.”

“Keparat, kau telah membantu Wang Sin melarikan diri. Apa kau mau bilang itu tidak jahat?”

“Tidak twa-suhu. Teecu mentaati pelajaran dari Sang Buddha yang menghajarkan kita harus mengutamakan keadilan dan prikebajikan. Wang Sin adalah seorang budak yang baik, seorang yang hidupnya penuh derita dan karenanya patut dikasihani. Akan tetapi, oleh keganasan orang lain, ayahnya dibunuh, tunangannya dirampas dan dia sendiri kalau tidak dapat melarikan diri tentu dibunuh pula. Teecu membantu dia terlepas dari pada ancaman angkara murka, bukankah teecu berarti mengutamakan keadilan dan kebajikan?”

“Tikus busuk! Dasar kau murid tosu gila. Kau hanya mengotorkan kuilku. Kau harus dihukum mati!” Sambil berkata demikian Thouw Tan Hwesio yang sudah marah sekali menyerang Gi Hun Hosiang dengan toyanya yang tadi memang sudah ia bawa- bawa.

Gi Hun Hosiang berlaku cepat, mengelak sambil berkata, suaranya keren.

“Thouw Tan Hwesio, kau lah yang tersesat. Ucapan dan sikapmu ini menyatakan bahwa kau bukanlah murid Buddha yang baik.”

“Jahanam!” Thouw Tan Hwesio menyerang lagi lebih hebat, menghantamkan toyanya ke arah kepala Gi Hun Hosiang. Gi Hun Hosiang kembali mengelak, dan “prakkkk!” sebuah patung Buddha yang hampir jadi hancur berkeping-keping terkena pukulan toya.

“Kau hwesio sesat! Berani kau menghancurkan patung suci, hasil jerih payahku!” Gi Hun Hosiang berseru marah sambil menyambar sebuah pisau yang biasa ia pergunakan untuk membuat patung. Terjadilah pertempuran yang seru di ruangan itu. Toya di tangan Thouw Tan Hwesio menyambar-nyambar ganas dan beberapa buah patung hancur lagi terkena angin pukulan toya.

Repot juga Gi Hun Hosiang menghadapi serangan in. Ia adalah seorang murid Kun- lun, murid dari Cin Kek Tosu seorang tokoh Kun-lun, akan tetapi dibandingkan dengan Thouw Tan Hwesio, ia masih kalah jauh, baik dalam ilmu silat maupun dalam kekuatan. Ia masih mencoba untuk membela diri, namun akhirnya ia mengakui keunggulan Thouw Tan Hwesio ketika toya yang berat itu tepat menangkis pisaunya sampai terlempar disusul oleh sambaran toya yang meremukkan kepalanya. Nyawa Gi Hun Hosiang melayang pergi tanpa mulutnya sempat bersambat lagi.

Pada saat itu Yang Can dan Yang Nam mendengar suara ribut-ribut, menyusul ke dalam dan melihat Thouw Tan Hwesio berdiri dengan muka merah dan memandang mayat Gi Hun Hosiang. “Pinceng kehilangan ahli patung yang pandai. Apa boleh buat, dia telah berkhianat dan membantu larinya Wang Sin. Akan tetapi, pinceng akan menyuruh beberapa orang hwesio mengejarnya sampai dapat. Tak salah lagi tentu keparat itu lari ke Kun- lun-san.”

Setelah diketahui bahwa yang membantu Wang Sin melarikan diri adalah Gi Hun Hosiang yang telah dibunuh, Yang Can tidak mengganggu para budak lainnya, kecuali Ci Leng yang semenjak hari itu makin celaka hidupnya, disuruh bekerja berat sampai jauh malam, dikurangi makannya sehingga orang tua ini menjadi kurus dan pucat. Namun ia masih mempertahankan hidupnya karena di dalam hatinya, Ci Leng menaruh kepercayaan akan kembalinya Wang Sin dan Ci Ying untuk membalas dendam, untuk membebaskan para budak.

******

Kalau orang sudah menjelajah daerah Tibet, baru ia akan mengerti mengapa para budak yang hidupnya diperas oleh para tuan tanah, jarang ada yang berani melarikan diri. Selain bahaya besar yang merupakan kaki tangan tuan tanah yang tentu akan mengejar mereka dan menyiksa mereka secara keji kalau mereka tertangkap kembali, dan ancaman bahaya dari tuan tanah-tuan tanah di lain daerah yang tentu akan menggencet hidup mereka seperti tuan-tuan tanah lainnya, juga daerah yang amat sukar itu merupakan ancaman bagi hidup para pelarian.

Daerah Tibet sebagian besar terdiri dari bukit-bukit salju, padang rumput yang amat luas, hutan-hutan di sana sini. Orang akan mudah sesat jalan dan dalam jarak ratusan kilometer takkan bertemu dengan manusia. Selain bahaya kelaparan di jalan, juga masih banyak bahaya mengancam, seperti binatang buas dan lain-lain.

Hanya oleh kenekatan luar biasa Ci Ying dapat mengemudi perahunya yang hanyut oleh air sungai Yalu-cangpo. Baiknya Wang Sin membekali seekor domba yang dapat ia ambil air susunya untuk Wang Tui, bayi yang ia bawa lari itu. Kalau tidak, tentu bayi itu akan mati kelaparan. Baginya sendiri, daging domba yang ia bawa cukup untuk menyambung nyawanya.

Siang malam perahunya bergerak terus ke depan, makin jauh meninggalkan kampungnya yang telah merupakan neraka baginya itu. Ci Ying berlaku tabah dan ini semua karena ia mempunyai harapan akan tersusul oleh Wang Sin. Kalau saja ada pemuda itu di sisinya, tentu akan lebih besar dan tabah lagi hatinya.

Pada hari ke lima ia sudah mendekati belokan sungai Yalu-cangpo yang mengalir ke selatan. Malam itu perahunya bergerak perlahan karena aliran sungai di daerah ini tidak cepat. Wang Tui sudah tidur nyenyak setelah diberi air susu domba yang kini kelihatan agak kurus karena kekurangan rumput segar.

Ci Ying duduk di kepala perahunya, memandang ke sekeliling. Hatinya agak gentar juga ketika perahunya memasuki daerah berhutan yang nampak mengerikan. Ia memperhatikan sungai terus menerus, mengharap-harap melihat sungai itu berbelok untuk mendarat dan menanti Wang Sin di tempat itu. Malam itu indah sekali. Bulan purnama sudah muncul dan menyulap keadaan di sekitar dan di sepanjang kanan kiri sungai menjadi pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Di permukaan air tampak bulan dan pohon-pohon yang menjadi bayang- bayang mengagumkan.

Tiba-tiba Ci Ying menahan napas wajahnya berubah pucat sekali. Anehnya, pada saat itu Wang Tui menangis, agaknya digigit nyamuk, Ci Ying cepat mengangkat bayi itu dan dipeluknya erat, disuruh diam.

Yang mengejutkan hatinya adalah munculnya bayangan orang di pantai sebelah kiri.

Orang itu agaknya sudah melihat perahu kecil itu dan seorang di antara mereka berseru, “Hai, siapakah yang berperahu pada malam hari membawa anak kecil itu?”

Ci Ying tidak berani menjawab, takut sekali karena mengira bahwa mereka tentulah kaki tangan tuan tanah yang berhasil mengejarnya. Otaknya sudah diperas untuk mencari jalan melarikan diri dari mereka. Akan tetapi bagaimana? Ia melihat mereka bertiga meloncat ke dalam sebuah perahu dan mendayung perahu itu ke tengah.

Ci Ying menaruh bayi yang menangis itu, lalu dengan kedua tangannya ia mendayung sekuat tenaga untuk melarikan diri. Namun, perahu yang didayung oleh tiga orang itu cepat sekali meluncur mendekati perahunya, malah kini melampauinya dan menghadang di tengah, dan tiga orang laki-laki itu memberi isyarat supaya berhenti.

“Seorang perempuan muda!” seru seorang di antara mereka, heran dan terkejut. Ci Ying menjadi lega hatinya. Bukan, melihat pakaian dan sikap mereka, tiga orang ini bukanlah kaki tangan tuan tanah, biarpun mereka itu orang-orang Tibet, mungkin pemburu-pemburu binatang. Ia tidak takut lagi. Biasanya, bangsanya sendiri adalah orang-orang ramah dan hampir tak pernah terjadi ada orang lelaki mengganggu wanita, kecuali tentu saja, kaki tangan tuan-tuan tanah yang merupakan serigala- serigala liar.

“Kawan-kawan harap memberi jalan kepadaku. Biarkan aku meneruskan perjalanan,” katanya ramah.

Bulan purnama memancarkan cahayanya sepenuhnya ke wajah Ci Ying, membuat tiga orang itu dapat melihat bahwa dia adalah seorang gadis Tibet yang cantik dengan bentuk tubuh yang menarik.

“Eh, bukankah ini gadis bernama Ci Ying yang melarikan diri dari tuan besar Yang Can?” tiba-tiba seorang di antara mereka berseru.

Kekagetan Ci Ying seperti pada saat itu ia disambar geledek mendengar seruan itu, sampai ia menjadi bengong terbelalak memandang mereka tanpa dapat mengeluarkan suara lagi.

“Betul, tentu ini anaknya. Ah, pantas saja tuan muda Yang Nam itu mau mengambilnya sebagai selir. Kiranya begini cantik. Aha, kalau kita tangkap dan bawa kepada tuan muda Yang Nam, tentu kita mendapat hadiah besar!” kata orang kedua. “Apa tidak baik antarkan kembali kepada tuan tanah Yang Can? Tentu kita dihadiahi

....” kata yang ke tiga.

“Ah, keliru. Bunga begini cantik amat dibutuhkan oleh tuan tanah Nam, mengapa harus jauh-jauh diantar kepada tuan tanah Yang Can?”

Mendengar percakapan mereka, makin takutlah hati Ci Ying. Tidak salah lagi, mereka ini tentulah antek-antek tuan tanah lain yang tidak kalah kejam dan jahat dari pada Yang Can. Akan tetapi ia masih mencoba dan meletakkan bayi itu di atas geladak perahu.

“Saudara-saudara harap kasihani aku yang berusaha melarikan diri dari neraka, melarikan diri dari tindasan tuan tanah yang selalu menggencet kita semua para budak. Harap saudara lepaskan aku dan aku akan selalu berdoa kepada Dewi Putih Sgrol-ma untuk kalian bertiga ”

“Ha-ha-ha, berkah Dewi dan Dewa tidak akan sebaik berkah tuan tanah berupa pakaian dan bahan makanan anak manis. Lebih baik kau menurut saja, menjadi selir tuan Nam. Dia tentu akan membuat hidupmu serba cukup dan bahagia.”

Ci Ying tidak dapat mencari jalan untuk melarikan diri. Lebih baik mati, pikirnya. Ia melarikan diri karena tidak sudi diselir tuan muda Yang Nam, masa sekarang harus menyerahkan diri untuk diselir oleh tuan tanah lain yang selama hidupnya belum pernah ia lihat? Lebih baik mati! Cepat sekali ia lalu melompat dari perahu dan membuang diri ke dalam sungai.

“Setan, dia membuang diri ke sungai!” seru seorang di antara tiga orang laki-laki yang ternyata adalah orang-orang Tibet yang biarpun bukan antek-antek tuan tanah namun mereka itu adalah sebangsa keliaran yang pekerjaannya memburu atau berdagang atau melakukan apa saja untuk mendapat hasil, termasuk pekerjaan jahat merampok atau melakukan sesuatu untuk tuan tanah-tuan tanah dan mendapatkan upah.

Melihat Ci Ying melempar diri ke air, dua orang di antara mereka cepat melepas pakaian dan terjun berenang dan tak lama kemudian mereka telah dapat menangkap dan menaikkan ke perahu mereka tubuh Ci Ying yang sudah pingsan. Mereka tertawa-tawa dan sama sekali tidak perdulikan lagi kepada Wang Tui, bayi yang menangis menjerit-jerit terbawa oleh perahu yang sudah hanyut lagi ke depan.

Ketika siuman kembali dan mendapatkan dirinya berada di atas kuda dipeluk oleh seorang di antara tiga orang penculiknya yang tertawa-tawa gembira, Ci Ying merontah dan menangis, menjerit-jerit minta dilepaskan. Namun segala usahanya sia- sia belaka, malah membuat gelak tiga orang itu makin menjadi. Ci Ying memaki-maki saking marahnya.

“Ha-ha-ha, sekarang kau memaki-maki kami. Akan tetapi kelak kalau sudah menjadi nyonya besar, kau akan bersyukur kepada kami dan memberi hadiah. “Ha-ha-ha!”

Pada saat itu, tiba-tiba mereka menjadi kaget dan menghentikan kuda mereka. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di depan mereka. Di tengah jalan menghadang berdiri seorang wanita tua berpakaian putih seperti pendeta, wajahnya bersih dan matanya bersinar terang, usianya kurang lebih lima puluh tahun sedangkan kedua tangannya memegang seuntai tasbeh dan sebuah kebutan warna merah.

Tiga orang itu adalah orang-orang kasar yang tidak takut apapun juga, akan tetapi ada sesuatu pada diri nenek ini yang membuat mereka tidak berani berlaku sembrono.

Mereka adalah orang-orang yang percaya akan tahyul, maka munculnya nenek ini membuat mereka selain kaget dan heran, juga serem di hati. Apalagi nenek ini berpakaian pendeta, golongan orang yang mereka pandang tinggi.

“Nenek tua, harap minggir agar jangan tertubruk kuda,” kata seorang di antara mereka.

“Akan tetapi nenek itu tidak mau minggir, malah memandang tajam ke arah Ci Ying.

“Kalian mau apa dengan perempuan muda itu?” tanyanya, dalam bahasa Tibet yang agak kaku tapi cukup jelas.

Tiga orang itu ketika mendengar suara ini, berkurang rasa hormat mereka karena maklum bahwa nenek ini adalah bangsa Han dari timur dan karenanya tak mungkin merupakan pendeta suci titisan para dewi. Orang yang memeluk Ci Ying tertawa sambil menjawab.

“Ha-ha, perempuan ini adalah biniku yang bandel, tidak mau diajak pulang.”

Ci Ying merontah dan berteriak, “Bohong! Mereka ini orang-orang jahat yang menculikku, hendak menjualku kepada tuan tanah ” Ci Ying tak dapat bicara terus

karena tangan yang lebar dari orang itu menutupi mulutnya.

Sepasang mata nenek itu yang tadinya bening dan lembut, kini menyinarkan pandangan tajam berapi. Mukanya yang putih menjadi kemerahan dan ia membentak nyaring. “Keparat-keparat jahanam, di tempat sesunyi ini masih ada saja manusia berhati binatang! Lepaskan dia!”

Akan tetapi tiga orang ini mana mau menurut? Terhadap orang-orang kuat belum tentu mereka takut, apalagi menghadapi seorang nenek tua yang lemah? Yang paling depan tertawa, menggerakkan kudanya sambil berkata, “Kau nenek bawel, tidak mau minggir jangan menyesal kalau mampus terinjak kuda!”

Kudanya tersentak maju, akan tetapi tiba-tiba terdengar pekik mengerikan dan orang yang menunggang kuda itu terguling roboh dari atas kudanya yang lari ketakutan ke kanan. Ketika kedua orang kawannya memandang, ternyata orang itu sudah tak bernapas lagi, mati dengan mata mendelik dan lidah keluar!

Bukan main herannya mereka. Nenek itu tidak terlihat menggerakkan tangan, bagaimana kawannya bisa tewas secara demikian mengerikan? Akan tetapi kemarahan mereka melebihi keheranan itu dan serentak orang kedua maju sambil memaki. “Siluman dari mana berani kurang ajar?”

Untuk kedua kalinya terdengar pekik mengerikan dan sekarang karena orang ketiga memandang penuh perhatian, ia melihat nenek itu menggerakkan kebutannya dan ujung kebutan merah itulah yang mengenai dada kawannya yang terguling sambil menjerit dan tewas di saat itu juga. Gerakannya itu demikian cepat dan lemah sehingga hampir tidak kelihatan.

Orang kedua juga tewas seketika itu juga. Sebelum orang ketiga yang menjadi pucat itu dapat bergerak, nenek lihai ini sudah menggerakkan tubuh ke depan, tasbehnya bergerak berbareng dengan kebutannya. Orang yang memeluk tubuh Ci Ying sudah mencabut golok dan mencoba untuk menangkis tasbeh.

Namun goloknya terlepas dan tasbeh terus menimpa kepalanya. Terdengar suara “prakk!” dan orang inipun terguling tak bernyawa lagi dengan batok kepala retak- retak. Adanya kebutan itu telah membelit tubuh Ci Ying dan tahu-tahu gadis ini telah melayang turun dari kuda.

Kalau tidak mengalami sendiri, mungkin Ci Ying takkan mau percaya. Tak mungkin ada manusia, apalagi wanita sesakti itu, kecuali kalau seorang dewi yang menjelma menjadi manusia. Dewi! Ah, nenek itu memang masih kelihatan cantik dan kulitnya putih. Tidak salah lagi, dia tentulah Dewi Putih Sgrol-ma! Serta merta Ci Ying yang dipengaruhi oleh jalan pikirannya yang sudah penuh ketahyulan itu menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu sambil berkata.

“Dewi yang mulia, terima kasih atas pertolongan Dewi. Harap Dewi sudi menolong Wang Tui yang terbawa hanyut oleh perahu di sungai. Dewi tolonglah segera !”

Nenek itu memang kurang pandai bahasa Tibet. Ia tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh gadis itu menyebut-nyebutnya Dewi Sgrol-ma segala macam. Ia tidak tahu bahwa ia dianggap Kwan Im Pousat oleh gadis itu.

“Aku bukan Dewi, jangan ngaco!” bentaknya dan suaranya berubah keren galak. “Juga aku tidak sudi menolong orang lain. Kalau ia hanyut, biarkan hanyut. Masa bodoh!”

Kaget sekali Ci Ying mendengar ini. Betapa jauh bedanya dengan tadi. Tadi nenek itu menolongnya, mengapa sekarang bisa mengeluarkan kata-kata begitu kejam dan tidak mau menolong Wang Tui?

“Nenek budiman, tolonglah dia. Wang Tui masih bayi, dia tadi bersamaku di perahu sampai aku diculik oleh penjahat dan bayi itu dibiarkan hanyut di dalam perahu.

Kasihanilah dia, dia anak baik ” ia memohon lagi, bingung teringat nasib Wang

Tui.

“Hu, anak baik? Tidak ada orang baik di dunia ini. Yang baik hanya kita sendiri. Tidak usah kau banyak ribut, aku bukan orang yang biasa diperintah. Kau bernama siapa dan dari mana? Bagaimana kau bisa diculik orang-orang rendah ini?”

Biarpun bingung sekali karena nenek itu tidak mau menolong, Ci Ying terpaksa menjawab dengan singkat. “Aku bernama Ci Ying, seorang budak yang melarikan diri karena hendak dipaksa menjadi selir tuan tanah. Nenek yang baik kalau kau tidak mau menolong Wang Tui, biarlah aku mencoba untuk menolongnya.” Setelah berkata demikian, Ci Ying lalu lari secepatnya menuju ke sungai kembali untuk mengejar perahu yang hanyut. Akan tetapi baru saja ia melangkah beberapa tindak, tiba-tiba pinggangnya terlibat sesuatu dan ia tidak dapat maju lagi. Ternyata kebutan di tangan nenek itu telah melibat pinggangnya.

“Berhenti kau!” bentak nenek itu, “Kau berjodoh untuk menjadi muridku. Kau telah hidup tergencet, sengsara dan menderita. Apakah kau tidak ingin memiliki kepandaian dan kelak membasmi orang-orang jahat yang telah merusak hidupmu?”

Mendengar kata-kata ini, teringatlah Ci Ying akan semua sakit hatinya. Teringat ia betapa ayahnya tentu akan disiksa atau mungkin dibunuh. Teringat pula akan kesaktian wanita tua ini dan kalau saja ia bisa mempelajari ilmu seperti tadi, tentu ia akan dapat menolong ayahnya, atau kalau sudah terlambat dapat menolong para budak lain dan membasmi tuan tanah dan kaki tangannya. Tentang Wang Tui, seandainya ia kejar juga, mana ia bisa menyusul?

Dengan tersedu-sedu menangisi nasib Wang Tui, Ci Ying lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata perlahan, “Teecu bersedia menjadi murid Dewi. ” Ia lupa dan

menyebut Dewi.

“Aku manusia biasa, namaku Cheng Hoa Suthai. Ci Ying marilah ikut aku ke tempatku di gunung Heng-toan-san.”

“Baik, Suthai.” Dan berangkatlah dua orang wanita ini meninggalkan tempat itu.

Siapakah Cheng Hoa Suthai ini? Namanya tentu saja asing dan tidak ada yang kenal di daerah Tibet, akan tetapi makin ke Timur, makin dikenal oranglah wanita perkasa ini. Dia seorang tokoh kang-ouw yang kenamaan, seorang sakti yang lihai dan terkenal berwatak aneh dan ganas terhadap musuh-musuh atau orang-orang yang dibencinya. Cheng Hoa Suthai bertapa di puncak gunung Heng-toan-san, akan tetapi ia suka sekali berkelana sampai jauh ke timur, pernah menggegerkan pantai lautan timur.

Sekarang ia sedang berkelana ke barat sampai di Tibet. Melihat Ci Ying, ia amat tertarik dan ingin sekali mengambil murid gadis sengsara itu. Keanehan wataknya terlihat ketika ia membantu Ci Ying membunuh para penculik gadis itu, akan tetapi sama sekali tidak perduli akan nasib bayi yang hanyut terbawa perahu di sungai Yalu- cangpo. Memang wanita ini aneh dan berwatak keras, malah lebih sering bersikap ganas dan jahat dari pada baik sehingga di dunia kang-ouw ia terkenal sebagai tokoh yang ganas dan jahat.

Ci Ying gadis yang semenjak kecil menderita sengsara lahir batin, sekarang menjadi murid wanita aneh ini dan pengalaman-pengalaman pahit getir dalam hidupnya membuat ia mudah saja mengoper watak gurunya, yakni membenci orang-orang dan selalu menaruh dendam di dalam hatinya.

Ci Ying juga seorang gadis yang berwatak keras sekali, tahan uji dan sudah mengeras oleh penderitaan-penderitaan, biarpun sebelah kakinya tidak bersepatu karena sepatu bututnya yang kiri terlepas ketika ia meronta-ronta ditangkap tiga orang penjahat tadi. Akan tetapi biarpun kakinya pecah-pecah ketika ia mengikuti Cheng Hoa Suthai, ia tidak mengeluh dan dengan keras kepala berjalan terus sampai akhirnya ia roboh dan oleh gurunya ia diangkat dan dibawa lari cepat seperti angin.

5. Anak Murid Kun-lun-pai.

Bagaimana dengan nasib Wang Tui, bayi itu? Sungguh kasihan, anak yang usianya baru beberapa hari ini menangis sampai megap-megap di atas perahu tanpa ada yang menolongnya. Agaknya suara tangisnya menarik perhatian seekor ikan besar yang sudah sejak tadi berenang mengikuti perahu, menyentuh-nyentuh perahu dengan moncongnya yang besar.

Apalagi bunyi domba betina mengembik-embik di atas perahu membuat ikan itu maklum bahwa di dalam perahu terdapat mangsa yang akan mengenyangkan perutnya. Ketika perahu itu tiba di sebuah belokan di mana air memutar, ikan itu menyabet dengan ekornya dan perahu itu terguling.

“Siancai .... siancai setelah pinto menyaksikan ini, bagaimana pinto bisa berpeluk

tangan saja?” terdengar suara halus dan ringan seperti kabut, sesosok bayangan seorang kakek berjenggot panjang melayang ke tengah sungai, hinggap di atas perahu yang sudah terbalik. Tangan kirinya bergerak dan di lain saat ia telah menyambar tubuh bayi yang hampir tenggelam. Di saat itu juga, seekor ikan yang besar melebihi orang dewasa menyambar domba betina dan sekali caplok domba itu lenyap dari permukaan air.

Sambil mendukung bayi itu, kakek ini melompat kembali ke darat. Ia pegang kedua kaki bayi itu sehingga kepala anak itu tergantung ke bawah dan air itu tumpah keluar dari mulutnya. Setelah menggerak-gerakkan beberapa kali dan menepuk sana-sini, bayi itu baru bisa menangis lagi.

“Kasihan, anak siapakah ini?” Kakek itu celingukan memandang ke kanan kiri, akan tetapi sekitar tempat itu sunyi saja. Perahu yang tadi dibikin terbalik oleh ikan besar, terus hanyut bersama sisa-sisa daging domba yang kini dijadikan rebutan oleh ikan- ikan kecil.

Kakek itu menarik napas dan mendukung bayi di dalam bajunya supaya hangat. Ia adalah seorang yang sudah sangat tua, sedikitnya enam puluh tahun usianya, tubuhnya jangkung kurus dengan rambut dan jenggot panjang sudah putih semua. Pakaiannya berwarna kuning sederhana potongannya, kuku tangannya panjang terawat bersih. Di punggungnya tergantung sebatang pedang.

Kakek ini adalah seorang tokoh besar di Kun-lun-san, seorang kakek pertapa yang tidak tentu tempat tinggalnya. Ia jarang dikenal orang, malah orang-orang kang-ouw jarang ada yang mengenalnya kecuali para tokoh dan ketua partai persilatan yang besar. Namun, nama julukannya, yaitu Pek-kong Kiam-sian (Dewa Pedang Sinar Putih) selalu menjadi buah bibir para ahli silat biarpun mereka belum pernah melihat orangnya. Nama aselinya adalah To Tek Cinjin dan dia seorang pertapa yang condong kepada agama To sungguhpun ia bukan seorang tosu (pendeta To). “Anak baik, tidak kusangka setua aku ini masih menerima tugas yang berat. Kau tercipta di tengah sungai Yalu-cangpo, biarlah kuberi nama Yalu Sun (cucu sungai Yalu). Ha-ha-ha!”

Kemudian ia lalu membawa pergi anak itu dengan berlari cepat sekali, mencari pedusunan di mana ia dapat mencarikan air susu untuk bayi itu.

******

Tanpa memperdulikan letih dan lapar, Wang Sin memacu kudanya, terus ke timur mengikuti aliran sungai Yalu-cangpo. Kadang-kadang ia meninggalkan kudanya dan dengan hati-hati ia menuju ke pinggir sungai sambil sembunyi-sembunyi, takut kalau- kalau terlihat oleh kaki tangan tuan tanah, untuk melihat apakah sungai itu masih belum berkelok.

Setelah melakukan perjalanan dengan cepat selama beberapa hari, akhirnya ia tiba di bagian sungai yang berbelok ke selatan. Akan tetapi alangkah kecewa dan gelisah hatinya ketika ia tidak melihat Ci Ying di tempat itu. Ia turun dari kuda, menambatkan kendali kudanya pada pohon dan berjalan menyusuri pantai sungai, mencari-cari.

Bukan main kagetnya ketika akhirnya ia melihat sebuah perahu kecil terbalik, berhenti di pinggir tertahan batu karang. Tak salah lagi, itulah perahu yang dipergunakan Ci Ying ketika melarikan diri. Hatinya berdebar-debar penuh kekhawatiran. Terbalikkah perahu gadis itu? Celaka, apa jadinya dengan Ci Ying dan bayi yang dibawanya? Setelah mencari-cari tanda tanpa menemukan sesuatu.

Wang Sin mencari-cari di dalam hutan dekat pantai itu, mengharapkan kalau-kalau Ci Ying dapat berenang ke pinggir dan bersembunyi di dalam hutan. Akan tetapi kegelisahannya memuncak ketika ia menemukan sebuah sepatu butut. Itulah sepatu Ci Ying.

Wang Sin menjadi girang sekali. Ditemukannya sepatu ini di dalam hutan menjadi tanda bahwa gadis ini tidak mati tenggelam dan sudah bisa mendarat. Akan tetapi mengapa sepatunya tertinggal di situ? Biarpun butut, sepatu ini masih dapat melindungi kaki dari tajamnya batu-batu karang. Ia memasukkan sepatu butut itu di kantong bajunya, lalu menunggangi kudanya memasuki hutan, terus mencari sambil memanggil-manggil, “Ci Ying ...... Ci Ying !”

Sehari semalam ia menjelajahi hutan itu sambil memanggil-manggil, lupa akan lapar di perutnya, lupa bahwa kudanya sudah terlampau lama ia pacu sampai akhirnya kuda itu terguling roboh kelelahan. Namun Wang Sin tidak memperdulikannya, malah meninggalkan kuda itu dan melanjutkan usahanya mencari Ci Ying dengan jalan kaki. Akhirnya iapun terpaksa menghentikan usahanya ini ketika pada keesokkan harinya ia sendiri terguling roboh pingsan di bawah pohon saking lelah, lapar dan gelisah.

Matahari telah naik tinggi ketika Wang Sin siuman dari pingsannya. Ia merasa sekuruh tubuhnya lemas, akan tetapi tidak selemas semangatnya yang penuh diliputi kekhawatiran. Di mana adanya Ci Ying? Apakah, setelah bersusah payah melarikan diri, akhirnya gadis itu terjatuh juga ke dalam tangan tuan tanah, atau ke dalam tangan orang lain yang jahat? “Ci Ying. ” keluhnya dan ia segera bangkit kembali dan berjalan terhuyung-

huyung melanjutkan perjalanannya mencari gadis yang dicintainya itu.

Lewat tengah hari ia tiba di sebuah padang rumput yang luas. Tiba-tiba ia kucek- kucek matanya ketika melihat seorang gadis duduk membelakanginya. Gadis ini pakaiannya sudah tambal-tambalan di sana sini, duduk seorang diri di atas sebuah batu besar, melamun dan agaknya menikmati tiupan angin yang memberisik.

“Ci Ying. !” seru Wang Sin lemah sambil berjalan terhuyung menghampiri gadis itu

dari belakang. Mungkin karena berisiknya suara rumput saling bergesek, gadis itu tidak mendengar ada orang mendekatinya.

“Ci Ying. !” Wang Sin menjadi gembira sekali sampai ia lupa diri dan menubruk

gadis itu, merangkulnya dari belakang saking girangnya.

Gadis itu terkejut, tangannya bergerak dan “Plaakk!” kepala Wang Sin sudah ditamparnya, tamparan ini keras sekali, membuat tubuh pemuda itu terpelanting dan jatuh telentang di antara rumput-rumput tebal. Gadis itu berdiri membelalakkan matanya sambil memaki.

“Keparat, berani kau kurang ajar kepadaku?!!”

Kagetnya Wang Sin bukan kepalang ketika kini ia melihat dengan jelas bahwa yang dipeluknya itu bukanlah Ci Ying melainkan seorang gadis cantik, seorang gadis bangsa Han yang memaki-maki kepadanya tanpa ia ketahui apa yang dimakinya karena ia tidak mengerti sepatapun kata-kata Han. Akan tetapi ia dapat mengerti bahwa gadis itu marah sekali malah kini gadis itu mencabut pedangnya dan menghampirinya dengan mata mengancam.

Wang Sin sudah tidak berdaya lagi. Tubuhnya memang sudah lemah dan tidak bertenaga saking lelah dan lapar, ditambah lagi oleh tamparan yang keras lagi membuat pandang matanya berkunang dan kepalanya pening. Ia hanya bisa meramkan mata ketika gadis itu menodongkan ujung pedang yang runcing itu di hulu hatinya. Juga tidak mengerti ketika gadis itu membentaknya.

“Keparat, siapa kau dan apa maksudmu berlaku begitu kurang ajar?”

Karena Wang Sin hanya rebah telentang tak bergerak sambil meramkan mata, gadis itu makin marah. “Bangsat, apa kau sudah bosan hidup?” Ia angkat pedangnya hendak membacok.

“Hui-ji (anak Hui). jangan bunuh orang!” tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dan

muncullah seorang laki-laki gagah perkasa, berusia kurang lebih empat puluh tahun bertubuh tegap dan di pinggangnya tergantung pedang. Dengan lompatan yang cekatan laki-laki ini sudah berada di samping anak gadisnya dan mencekal pergelangan tangan gadis itu yang sudah siap membacok leher Wang Sin. “Ada apakah? Siapa dia ini dan kenapa kau hendak membunuhnya?”

“Dia kurang ajar, ayah. datang-datang ia.     ia menubruk dan memelukku. Biar

kubunuh anjing gila ini!!” “Ssttt, jangan. Kulihat dia seperti orang sakit,” kata ayahnya sambil memandang kepada Wang Sin yang kini sudah membuka matanya dan bangun duduk dengan kepala masih puyeng.

“Orang muda, kau siapakah?” tanya ayah gadis itu. Akan tetapi Wang Sin sama sekali tidak menjawab karena tidak mengerti apa yang ditanyakan.

Orang tua itu memandang dengan tajam dan kini terlihatlah olehnya raut wajah Wang Sin raut wajah seorang Tibet. Ia lalu mengulangi pertanyaannya dalam bahasa Tibet yang cukup lancar dan jelas.

“Agaknya kau orang pedalaman. Siapa kau dan mengapa kau bersikap kurang ajar?”

Wang Sin menjadi lega hatinya. Setidaknya orang Han ini bisa bicara dalam bahasanya. Ia lalu merayap bangun dan memberi hormat. “Harap tuan besar sudi memaafkan hamba tadi, hamba tidak mengenal nona ini, hamba kira dia. ”

Kakek itu mengangguk. “Kau tentu seorang budak, bukan? Mencuri dan melarikan diri, ya?”

Wang Sin kaget sekali dan seketika semangatnya bangkit untuk melakukan perlawanan. Tak mungkin orang akan dapat menangkapnya begitu saja, tekadnya.

“Tidak...., tidak. ! Jangan harap kau akan dapat menangkap aku kembali!” serunya

dan tiba-tiba ia melakukan serangan memukul dengan tangan kanannya ke arah dada kakek itu dengan sepenuh tenaga. Biarpun tidak sangat sempurna Wang Sin pernah mempelajari ilmu pukulan dari ayahnya dan pukulannya selain cepat, juga mantap sekali.

Kakek itu mengeluarkan seruan heran sambil mengelak dari pukulan itu. Bukankah itu gerakan Pek-wan-hian-ko (Lutung putih berikan buah), sebuah jurus dari ilmu silat Kun-lun-ciang-hoat? Melihat pukulannya mengenai angin kosong, Wang Sin menyusul dengan pukulan kedua, lebih hebat dari yang pertama.

Sekali lagi kakek itu terkejut. Inilah gerak tipu Thi-gu-keng-te (Kerbau Besi Meluku Sawah) tidak bisa keliru lagi, biarpun gerakannya kaku namun kedudukan kaki dan tangan adalah seratus prosen ilmu silat Kun-lun-pai. Ia sengaja menyambut pukulan itu dengan tangkisan lengannya dan ia merasa betapa tenaga pemuda ini besar sekali, tenaga luar yang mengagumkan.

Namun ia belum mau merobohkan Wang Sin, memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk menyerang terus karena ia ingin melihat gerakan-gerakan pemuda yang bisa mainkan Kun-lun-ciang-hoat ini. Dan makin lama kakek itu makin heran.

Wang Sin benar-benar telah mengeluarkan banyak jurus Kun-lun-ciang-hoat yang kesemuanya kaku gerakannya, akan tetapi adalah ilmu silat aseli dari Kun-lun-pai, belum bercampur ilmu pukulan lain cabang. Aneh, bagaimana seorang pemuda Tibet bisa mainkan ilmu silat ini? “Tahan dulu, orang muda. Aku mau bicara!” kata kakek itu sambil menangkis sebuah pukulan.

Namun Wang Sin yang sudah ketakutan kalau-kalau ia akan ditangkap oleh orang ini dan dibawa kembali kepada tuan tanah, tidak perduli dan terus menyerang seperti kerbau gila. Karena terlalu bernafsu melihat pukulannya selalu tidak mengenai lawan, ia menjadi ngawur dan kini bergerak asal memukul saja. Juga tubuhnya mulai menjadi lemas sekali.

Melihat kenekatan pemuda itu, kakek tadi lalu menggunakan jari tangannya menotok dan robohlah Wang Sin tidak mampu bergerak lagi. Akan tetapi ia masih memandang kakek itu dengan sepasang mata melotot, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut atau menyerah.

“Jangan nekat menyerang terus, orang muda, mari kita bicara baik-baik,” kata kakek itu sambil membebaskan totokannya tadi.

Begitu terbebas dari totokan, Wang Sin berkata, “Aku tidak sudi kembali, lebih baik kau bunuh aku sekarang juga!”

Gadis yang sama sekali tidak mengerti percakapan antara ayahnya dan pemuda itu, melihat sikap Wang Sin terus melawan dan melotot-lotot, menjadi gemas. “Ayah, mampuskan saja orang kurang ajar ini, habis perkara!”

Ayahnya memberi tanda dengan tangan supaya gadisnya bersabar. Lalu ia berkata kepada Wang Sin, “Orang muda kau salah duga. Aku sama sekali tidak akan membawamu kembali, hanya ingin bertanya. Kau siapa dan kenapa tadi kau bersikap kurang ajar? Pula, kau mempelajari ilmu silat dari siapakah?”

Wang Sin masih menaruh curiga maka ia segan untuk menceritakan keadaannya, akan tetapi ia menjawab juga, “Aku belajar dari ayahku sendiri.”

“Siapa nama ayahmu?”

“Ayah bernama Wang Tun. ”

Kakek itu nampak tercengang. “Apa? Ayahmu bernama Wang Tun? Ah, dia murid suheng Cin Kek Tosu. Orang muda kita adalah orang-orang sendiri. Di mana ayahmu? Mengapa kau sampai di sini?” Dia memegang pundak Wang Sin dengan girang.

Wang Sin juga terkejut. Ayahnya telah berpesan supaya ia mencari guru ayahnya yang bernama Cin Kek Tosu di Kun-lun-san dan kalau kakek ini masih adik seperguruan Cin Kek Tosu, berarti kakek ini adalah paman guru ayahnya. Pantas demikian lihai.

“Ayah...... ayah telah dibunuh oleh tuan tanah. ”

Kakek itu menarik napas panjang. “Hemmm, lagu lama terulang kembali. Tuan tanah- tuan tanah di Tibet mulai mengganas, memperlakukan hamba-hambanya seperti hewan. Anak, ceritakanlah dengan sejujurnya apa yang telah terjadi. Jangan ragu- ragu, ketahuilah bahwa aku adalah Ong Bu Khai, terhitung paman guru dari ayahmu sendiri dan ini adalah puteriku, Ong Hui. Di antara orang sendiri kau tidak perlu menyembunyikan sesuatu, barangkali kami akan dapat menolongmu.”

Kemudian ia berkata kepada gadis itu. “Hui-ji bocah ini bukan orang lain. Dia adalah putera dari Wang Tun si pandai besi, murid dari supekmu Cin Kek Tosu.”

“Kenapa dia kurang ajar?”

“Hushh, dengarkan dulu riwayatnya, tentu ada sebab-sebabnya.”

Wang Sin mulai percaya dan berceritalah dia tentang semua penderitaannya. Tentang para budak yang dijadikan “ternak berbicara” oleh tuan tanah Yang Can, tentang semua penindasan dan akhirnya tentang Ci Ying yang melarikan diri karena hendak dipaksa menjadi selir tuan muda, tentang ayahnya yang terbunuh dan dia sendiri yang melarikan diri sampai ke tempat itu.

“Aku tidak dapat menemukan Ci Ying, hanya sepatunya...... dan anak bayi itu. ah,

apa yang terjadi dengan mereka?” Wang Sin mengakhiri penuturannya yang disalin dalam bahasa Han oleh Ong Bu Khai kepada puterinya.

Ayah dan anak itu terharu sekali mendengar penuturan Wang Sin.

“Ayah, dia memang patut dikasihani. Akan tetapi dia belum menceritakan tentang sikapnya yang kurang patut kepadaku tadi,” kata Ong Hui kepada ayahnya setelah ia mendengarkan pula penuturan itu melalui terjemahan ayahnya.

“Wang Sin, penuturanmu mengharukan kami, biarpun aku tidak heran lagi mendengar akan kekejaman para tuan tanah. Akan tetapi, kenapa kau tadi bersikap tidak patut kepada anakku?”

Wajah Wang Sin menjadi merah dan ia melirik kepada Ong Hui, kelihatan jengah sekali. “Lo-enghiong, aku. aku tadi mengira bahwa puterimu adalah Ci Ying. Dari

belakang ia seperti Ci Ying, yaitu.... bentuk tubuhnya dan. dan pakaiannya yang

tambal-tambalan ”

“Apanya sih Ci Ying itu?” tanya Ong Hui setelah mendengar jawaban ini, merasa lega bahwa pemuda itu tadi memeluknya bukan karena kurang ajar, melainkan karena salah lihat. Pertanyaan ini diulang oleh Ong Bu Khai dalam bahasa Tibet.

Mendengar pertanyaan ini, Wang Sin menjadi bingung dan ragu-ragu. “Dia. dia

itu..... adalah adik misanku puteri tunggal paman Ci Leng yang pandai membaca

dan menulis dan juga berani berkorban menolong bayi cucu nenek lumpuh,” kata Wang Sin dengan suara bangga.

Mendengar jawaban ini, Ong Hui mengangkat dadanya. “Akupun pandai membaca dan menulis kiranya tidak kalah oleh gadis bernama Ci Ying itu. Akupun berani membela orang, kalau tuan tanah jahat itu berada di sini, akan kupatahkan lehernya.”

Ayahnya tersenyum dan kata-kata ini tidak ia terjemahkan kepada Wang Sin yang memandang kepada gadis itu dengan kagum. Ia tadi sudah merasai tamparan gadis ini dan tahulah ia bahwa gadis ini tentulah pandai silat. Teringatlah ia akan pesan mendiang ayahnya dan tiba-tiba ia menjatuhkan diri berlutut di depan Ong Bu Khai.

“Lo-enghiong, setelah mendengar riwayat teecu, harap lo-enghiong sudi memberi pelajaran silat kepada teecu, agar kelak teecu dapat membalaskan kematian ayah, dapat membebaskan kawan-kawan budak dari cengkeraman tuan tanah jahat dan antek-anteknya.

Ong Bu Khai menarik napas panjang, teringat akan keadaan di tanah airnya sendiri, di pedalaman Tiongkok. “Dunia ini di mana sama saja,” katanya mengeluh, “Si kaya memeras si miskin, si kuat menindas si lemah. Nafsu jahat menguasai manusia, hukum negara diinjak-injak, yang berwajib silau oleh harta dunia melupakan tugas, pembesar-pembesar tidak merupakan pimpinan bijaksana hanya berusaha mati-matian membesarkan kesenangan pribadi melupakan rakyat. Di Tiongkok, di Tibet dan di mana-mana rakyat kecil menderita. ”

Diam-diam Wang Sin merasa heran mendengar ini. Apakah di lain tempat juga terjadi penindasan seperti di Tibet?

“Lo-enghiong, apakah di negerimu juga terdapat budak-budak yang hidupnya lebih sengsara daripada kuda atau kerbau?” ia memberanikan hatinya bertanya.

Kembali orang gagah itu menarik napas panjang. “Perbudakkan sudah hapus, tidak ada lagi budak-budak yang dapat diperjual belikan. Akan tetapi apa bedanya? Yang bekerja paling berat mendapatkan hasil paling sedikit. Para petani yang menggarap sawah, dari meluku tanah sampai menanam dan menuai padi, mereka yang menghasilkan bahan makan dengan pupuk peluh dan darah, malah kadang-kadang tidak dapat makan dan mati kelaparan. Memang aneh, tidak sesuai dengan hukum alam, akan tetapi nyata. Yang membuat tidak memakai, yang menanam tidak memakan hasilnya. Celaka...... celaka. ”

Wang Sin menjadi makin penasaran. “Kalau begitu, lo-enghiong, para dewa tidak adil! Siapa menjadi penegak hukum yang adil kalau para pembesar sendiri tidak melakukan kewajibannya dan silau oleh harta dunia?”

“Kita yang harus bertindak, kita yang harus turun tangan membela keadilan. Biarpun tenaga kita terbatas, biarpun tindakan kita hanya merupakan setetes air dalam samudera, setidaknya kita bisa menghukum orang-orang jahat dan membela yang lemah tertindas. Itulah tugas pendekar-pendekar yang mempelajari ilmu semenjak kecil dengan susah payah. Untuk membela keadilan, aku dan anakku ini tidak segan- segan mempertaruhkan nyawa.”

Wang Sin kagum bukan main dan kini ia memandang kepada gadis itu dengan hormat. Ia lalu berlutut kembali. “Lo-enghiong kalau begitu mohon kau sudi menerimaku sebagai murid agar akupun dapat ikut-ikut membela kebenaran membasmi yang jahat.”

Ong Bu Khai mengangguk-angguk, lalu berkata, “Wang Sin, oleh mendiang ayahmu kau disuruh menemui suhengku Cin Kek Tosu di Kun-lun-san. Oleh karena itu marilah kau ikut dengan kami ke Kun-lun-san dan sesampainya di sana terserah keputusan suheng. Kalau suheng suka menerimamu sebagai murid, itu baik sekali.

Kalau seandainya suheng yang sudah tua itu sekarang malas mengajar, barulah kau boleh belajar sedikit ilmu yang kumiliki.”

Bukan main girangnya hati Wang Sin. Sambil berlutut ia menghaturkan terima kasihnya berulang-ulang. Dan beberapa hari kemudian ia telah kelihatan berjalan di samping ayah dan anak itu, dengan rukun ia berjalan di sebelah Ong Hui sambil mempelajari bahasa Han sedikit demi sedikit.

******

Cin Kek Tosu, seorang tokoh Kun-lun-pai yang terkenal, sudah terlalu tua untuk menerima murid baru. Akan tetapi mendengar bahwa Wang Tun dianiaya sampai tewas oleh tuan tanah, dan mendengar pula penuturan tentang riwayat Wang Sin, kakek ini menjadi marah dan minta kepada sutenya, Ong Bu Khai untuk mendidik pemuda Tibet itu di bawah pengawasannya sendiri. Kesempatan baik ini dipergunakan pula oleh Ong Hui untuk memperdalam ilmu silatnya dibawah petunjuk supeknya yang memang memiliki tingkat lebih tinggi daripada ayahnya.

Sebetulnya, biarpun Wang Tun mengaku sebagai murid Cin Kek Tosu, akan tetapi pandai besi Tibet ini sebetulnya hanya belajar selama setengah tahun saja kepada tosu Kun-lun itu. Terjadi dua puluh tahun lebih yang lalu, ketika rombongan besar yang mengantar Puteri Wen Ceng datang di Tibet. Karena peristiwa ini juga merupakan hal yang menarik, baiklah kita mundur dua puluh empat tahun yang lalu dan mengikuti jalannya peristiwa pernikahan antara seorang raja Tibet dengan seorang Puteri dari Tiongkok, yaitu Puteri Wen Ceng puteri dari maharaja Tai Cung dari dinasti Tang.

Pada masa itu, raja di Tibet yang bernama Turfan atau Sron Can Gampo yang baru berusia enam belas tahun, mendengar berita dari orang-orang yang datang dari timur bahwa puteri maharaja yang cantik jelita dan terkenal cerdas dan pandai dalam hal bermacam-macam pekerjaan tangan, juga pengetahuannya tentang ilmu luas sekali. Gandrunglah raja yang masih muda ini dan ia segera mengutus seorang menterinya yang terkenal cerdik dan gagah perkasa bernama Gar untuk pergi ke Tiang-an dan meminang puteri itu.

Berangkatlah menteri ini dengan membawa berpeti-peti barang berharga, pusaka- pusaka terbuat daripada emas dan perak, dihias ratna mutu manikam yang tidak ternilai harganya. Benda-benda ini dibawa untuk dihaturkan kepada maharaja Tang sebagai mahar atau boleh juga disebut sebagai mas kawin.

Ketika menteri Gar tiba di Tiang-an, ternyata bahwa selain dia, banyak juga utusan- utusan dari negara lain yang berdatangan di ibukota kerajaan Tang untuk meminang Puteri Wen Ceng. Maharaja Tai Cung yang tidak ingin membeda-bedakan dan menyinggung perasaan negara lain, lalu mengadakan sayembara, yaitu ia menguji kecerdikan para utusan itu.

Akhirnya, berkat kecerdikan Menteri Gar, ia menang dan pinangan rajanya diterima. Dengan diantar rombongan-rombongan ahli kerajinan tangan, ahli pertanian, ahli musik dan lain-lain, Puteri Wen Ceng diboyong ke Tibet. Dalam rombongan inilah Cin Kek Tosu ikut, yaitu diperintahkan oleh pembesar yang bertugas mengumpulkan orang-orang gagah untuk mengawal perjalanan Puteri Wen Ceng ke barat.

Setelah puteri itu tiba dengan selamat di Lasha ibu kota Tibet, Cin Kek Tosu lalu menjelajah daerah Tibet. Ia tertarik oleh keadaan penduduknya yang masih amat sederhana hidupnya, dan terutama ia mencari bahan pedang yang baik, yang kabarnya banyak terdapat di daerah liar ini.

Dalam penjelajahannya inilah ia bertemu dengan Wang Tun, pandai besi yang pandai membuat pedang. Ketika itu Wang Tun baru berusia dua puluhan tahun, biarpun sudah menjadi budak, namun masih berdarah panas dan suka memberontak.

Cin Kek Tosu tertarik ketika kebetulan datang di dusun itu dan mendengar bahwa di situ terdapat seorang pandai besi yang pandai. Didatanginya pondok pandai besi ini dan ia melihat dengan kagum seorang pemuda Tibet sedang menempa besi merah dengan kuatnya. Melihat sinar kebiruan yang berpijar setiap kali besi merah itu dipukul, diam-diam Cin Kek Tosu mengagumi baja tulen itu. Ia lalu masuk dan pandai besi menunda pekerjaannya, memandangnya dengan mata marah.

Wang Tun ketika itu sedang marah. Terlalu banyak pesanan pekerjaan dihujankan oleh tuan tanah kepadanya. Hendak menolak tidak berani karena antek-antek tuan tanah selalu siap mengeroyok dan menyiksanya. Kalau diterima, berarti siang malam ia akan bekerja keras.

“Kau siapa dan mau apa?” bentaknya melihat seorang berpakaian pendeta berwajah asing dan kepucatan.

Cin Kek Tosu tersenyum. Ia sudah cukup lama berada di Tibet dan sudah mempelajari bahasa daerah itu. “Namaku Cin Kek Tosu dan aku datang hendak menonton kau bekerja.”

Wang Tun merasa diejek. Pekerjaan baginya bukan pekerjaan lagi, melainkan siksaan dan orang yang menonton dia disiksa tiada lain artinya hanya untuk mengejek.

“Apa kau datang hendak menertawakan aku?” bentaknya dengan mata merah.

Cin Kek Tosu terheran, lalu tersenyum melihat sikap yang galak dari pandai besi yang hitam penuh arang dan debu tubuhnya itu. “Tidak kawan. Aku tidak mengejek melainkan mengagumi pekerjaanmu. Mengapa pula aku harus mengejek?”

“Apalagi kerjaan orang-orang Han selain untuk mengejek kami para budak?” “Eh, kenapa kau bilang begitu? Apa salahnya orang Han?”