-->

Nona Berbunga Hijau Jilid 1

Jilid 1

1. Ternak Berbicara di Tibet.

Pegunungan Himalaya memanjang tanpa batas. Puncak-puncaknya menjulang tinggi menyambung bumi dengan langit. Puncak-puncak yang putih tertutup salju, tak pernah tampak, ditelan awan. Kokoh kuat tak pernah goyah diterjang awan setiap saat. Dilihat dari jauh seperti naga raksasa tengah tidur bertapa. Belum pernah ada kaki manusia dapat menjelajah puncak-puncak yang tersembunyi dibalik awan.

Jangankan manusia, malah segala macam burung yang bersayap sekalipun tidak kuat terbang sampai ke puncak-puncak itu.

Daerah propinsi Tibet memang merupakan daerah pegunungan, dimana-mana hanya pegunungan dan tanah tinggi. Di sebelah selatan dan barat terbaris Pegunungan Himalaya dengan puncak-puncak pegunungan Kun-lun dan di sebelah timur menghadang pegunungan Tangla. Dikepung gunung-gunung raksasa ini, Tibet merupakan daerah terpencil, terasing dari dunia luar menjadi daerah yang penuh rahasia dan kegaiban.

Di mana-mana tampak salju keputihan kalau kita melihat daerah ini dari angkasa. Hanya di sana-sini ada kelompok batu-batu, hutan-hutan kecil yang hanya ditumbuhi pohon-pohon yang tahan dingin, kalau boleh bicara tentang tanah subur, agaknya hanya disepanjang sungai Yalu-cangpo saja yang merupakan lembah yang mengandung tanah subur. Di sinilah tempat orang-orang Tibet bercocok tanam, bertani. Di sini pula banyak orang yang tinggal.

Seperti juga keadaan di seluruh Tibet pada masa itu, di sepanjang lembah sungai ini yang berkuasa adalah bangsawan-bangsawan kaya raya yang menjadi tuan-tuan tanah, dan tentu saja para pendeta Lama. Sesungguhnya para pendeta Lama inilah yang memegang kekuasaan tertinggi karena pengaruh agama Buddha yang sudah diputar balik menjadi semacam kepercayaan tahyul. Para Lama ini memegang kekuasaan dengan pengaruh mereka yang penuh rahasia, yang membuat mereka menjadi

Buddha-Buddha hidup, menjadi semacam makhluk super-human, lebih tinggi tingkat hidup mereka dari pada manusia biasa. Tentu saja ini anggapan rakyat Tibet yang sudah dijejali pelbagai ketahyulan, di”lolohi” cerita gaib dan ditipu dengan pertunjukan-pertunjukan ilmu sulap dan ilmu hitam.

Akan tetapi oleh karena para tuan tanah dan bangsawan itu kaya raya dan dapat mendatangkan banyak barang-barang indah dari dunia barat dan timur, royal pula dengan membagi-bagi hadiah atau menyuap, maka para pendeta Lama ini bahkan menjadi kaki tangan mereka. Tentu saja bukan semua pendeta Lama berwatak rakus, mata duitan dan jahat. Akan tetapi sedikit yang baik dan betul-betul saleh menjalankan kewajiban agamanya, merupakan beberapa butir beras baik di antara sepanci beras buruk, mereka ini tidak berpengaruh lagi dan bahkan takut akan suara hati sendiri. Memang sudah lazim bahwa orang-orang baik di antara banyak orang jahat, malah dianggap jahat.

Di sebelah utara sungai, di lembah yang paling subur tanahnya tampak bangunan- bangunan indah dari gedung para tuan tanah, rumah-rumah besar para bangsawan, yaitu para pembesar yang ditunjuk atau diangkat oleh perwakilan dari kerajaan besar di timur, yaitu kerajaan Goan-tiauw (Mongol) yang dengan cepatnya telah dapat menguasai seluruh Tiongkok dan malah merembes keluar Tiongkok. Pembesar- pembesar yang hanya beberapa belas orang banyaknya ini hidup dari pajak-pajak yang mereka atur sendiri, dan terutama sekali hidup dari sokongan tuan-tuan tanah yang kaya raya itu sehingga mereka inipun merupakan kaki tangan tuan tanah yang berhak mengadili dan membenar atau mensahkan segala macam perbuatan para tuan tanah. Selain bangunan besar-besar tempat tinggal para tuan tanah dan para pembesar ini, juga tampak bangunan-bangunan kelenteng yang besar-besar tempat tinggal para pendeta Lama.

Bangunan ini berada di tempat yang tinggi, agak jauh di sebelah utara sungai. Sedangkan dekat dengan sungai, di antara sawah ladang, adalah perkampungan hamba tani atau hamba sahaya yang menjadi budak belian dan menjadi milik para tuan tanah itu. Budak-budak ini tidak mempunyai kemerdekaan dan hak sama sekali. Bahkan mereka tidak berhak atas nyawa dan tubuh sendiri, tiada bedanya dengan ternak. Ya, memang mereka ini dianggap ternak dan disebut “ternak berbicara” oleh para tuan tanah. Dan apa kata pendeta-pendeta yang dianggap sebagai manusia super human yang murni. Buddha-Buddha hidup itu? Mereka menegaskan dengan suara sungguh bahwa para hamba tani atau budak itu adalah orang-orang yang dilahirkan untuk menebus dosa-dosa mereka dalam penjelmaan dahulu.

“Jadilah kamu orang-orang yang taat akan perintah tuanmu, memberontak adalah dosa besar sekali. Hanya dengan hidup taat dan saleh, kamu akan dapat mengurangi sedikit dari dosa-dosamu yang sudah bertumpuk-tumpuk dan kelak dalam penjelmaan mendatang akan menjadi orang yang lebih baik nasibnya.” Demikianlah ucapan yang selalu terdengar oleh para budak, dan tentu saja mereka percaya penuh karena ucapan ini keluar dari mulut pendeta-pendeta Lama yang suci murni.

Di dusun Loka ini hanya ada lima orang tuan tanah dan yang paling kaya dan paling berpengaruh adalah Yang Can. Kalau tuan tanah-tuan tanah yang lain hanya memiliki paling banyak dua ratus orang hamba sahaya, Yang Can mempunyai tiga ratus keluarga budak yang terdiri dari empat ratus jiwa lebih. Tanahnya luas sekali, merupakan tanah-tanah yang paling subur di sepanjang sungai Yalu-cangpo.

Yang Can adalah seorang peranakan Nepal yang semenjak kecil dibawa ayahnya merantau ke pedalaman Tiongkok. Ibunya seorang suku bangsa Tibet dan semenjak kecil ia telah menjadi tuan tanah yang kaya raya di Tibet. Pengaruhnya amat besar dan selain kaya raya, ia juga dianggap paling pandai karena banyak berkelana ke “dunia barat” dan dunia timur. Rumah gedungnya paling besar dan boleh dibilang di desa Loka ia menjadi raja kecil yang kekuasaannya tak terbatas. Gedungnya yang besar amat mewah. Lantai gedungnya dihias permadani dari Persi, dindingnya penuh lukisan dan tulisan indah dari Tiongkok. Perabot-perabot rumahnya dari bahan kayu terbaik, diukir aneka macam dan terutama sekali, gandum di gudangnya yang besar sampai banyak yang membusuk.

Di pinggir sungai, hanya beberapa ratus meter dari rumahnya diperkampungan para budak, rumah-rumah para hamba sahaya itu amat menyedihkan keadaannya.

Sebetulnya tidak patut disebut rumah tempat tinggal manusia. Lebih pantas kalau disebut kandang-kandang babi atau paling baik kandang-kandang kuda. Rumah gubuk tanpa perabot sama sekali, makan, duduk, tidur di atas tanah saja yang ditilami abu dari tai lembu-yak yang dibakar untuk penahan kedinginan tanah yang lembab. Inipun hanya merupakan sisa abu yang dipergunakan sebagai rabuk tanah. Bukan hal aneh kalau seorang budak dicambuki sampai mati hanya karena lantai rumahnya ditutupi abu tai lembu-yak terlampau tebal yang berarti pemborosan dan penghamburan pupuk.

Waktu itu musim panen tiba. Berkat kerja paksa yang tak pernah kenal lelah, pemeliharaan tanaman yang tertib, panen kali ini berhasil baik. Semua tenaga budak dikerahkan untuk mengumpulkan hasil panen. Gandum membanjiri gudang-gudang terutama gudang tuan tanah Yang Can sampai melimpah-limpah. Penjagaan diperkeras sehingga tak sebutirpun dapat dicuri budak.

Seorang pemuda yang berpakaian mewah, berwajah tampan dengan bertopi tinggi dan pakaian sutera, bertolak pinggang sambil tertawa-tawa, menjaga di depan gedung mengawasi para budak yang terbungkuk-bungkuk memanggul hasil panen dan memasukkannya ke dalam gudang. Pemuda ini adalah Yang Nam, putera tunggal tuan tanah Yang Can yang terkenal lebih kejam dari pada ayahnya dan mempunyai watak yang amat buruk, mata keranjang dan licik. Dia lebih disegani dari pada ayahnya karena siapakah yang tidak tahu akan kepalan besinya? Siapa tidak takut menghadapi pemuda ini yang biarpun usianya baru delapan belas tahun namun memiliki tenaga melebihi sepuluh orang? Yang Nam adalah murid dari Lama Besar Thouw Tan Hwesio seorang pendeta Buddha berkepala gundul berjubah kuning, seorang ahli ilmu silat juga seorang ahli ilmu hoatsut (sihir).

Pemuda pesolek ini sikapnya jumawa sekali, dengan sebatang tongkat bambu kecil ia memeriksa setiap angkutan gandum dan membentak-bentak kalau seorang membawa muatan terlampau sedikit. Kadang-kadang ia mencambuk punggung seorang hamba sambil tertawa-tawa dan hamba itupun hanya tersenyum menyeringai, tak berani mengaduh tak berani mengeluh.

Seorang gadis Tibet yang berusia lima belas tahun, datang terbungkuk-bungkuk memanggul muatan gandum. Gadis ini seperti juga hamba-hamba lain, berpakaian butut seperti pakaian jembel, akan tetapi pakaian butut itu tak dapat menyembunyikan bentuk tubuhnya yang menarik, langsing dan penuh seperti bunga baru mulai mekar. Kulit mukanya agak menghitam terbakar teriknya matahari di sawah, namun tak dapat menyembunyikan halusnya kulit dan jelinya mata, mancungnya hidung dan manisnya bentuk mulutnya, ditambah warna kemerahan di kedua pipinya oleh santernya jalan darah akibat kerja keras. Inilah Ci Ying, puteri seorang hamba bernama Ci Leng yang pada waktu itu juga tengah sibuk bekerja di sawah. Sudah seringkali Ci Ying digoda secara kurang ajar oleh Yang Nam, akan tetapi gadis itu tidak melayaninya, berpura-pura bodoh dan selalu menjauhkan diri. Yang Nam tidak pernah berhenti merindukan gadis ini, akan tetapi ia agak malu untuk melakukan paksaan oleh karena ayah gadis ini, Ci Leng, terkenal sebagai hamba yang agak pandai dari pada yang lain, yang mengenal huruf dan sering kali membantu ayahnya dalam mengerjakan pembukuan.

Akan tetapi pada saat itu, melihat gadis manis itu berjalan dengan lenggang menggiurkan, lenggang yang tidak dibuat-buat akan tetapi menggairahkan karena gadis itu sedang memanggul muatan berat, hati Yang Nam berdebar dan kurang ajarnya timbul.

“Ci Ying, jangan kau memanggul gandum terlalu banyak, kasihan kedua lengan dan pundakmu yang halus,” kata Yang Nam dengan suara dibuat-buat agar terdengar manis. Akan tetapi Ci Ying berjalan terus sambil menundukkan mukanya, sedikitpun tidak melirik.

“Kau malah boleh beristirahat, tak usah bekerja. Kau di sini saja, membantu aku mengawasi pemasukan gandum,” kata Yang Nam lagi.

“Harap tuan muda jangan menahanku, di sawah banyak pekerjaan. Kalau terlihat aku berhenti, tentu Thiat-tung Hwesio akan marah,” kata Ci Ying lirih menahan marah. Thiat-tung Hwesio atau Hwesio Bertongkat Besi adalah seorang pendeta Lama yang ditugaskan menjaga orang-orang yang bekerja menuai gandum. Hwesio ini berdiri atau berjalan hilir mudik dengan toya besinya dipanggul, toya besi yang berat dan besar. Matanya melotot memandang ke sana ke mari seperti seekor anjing besar menjaga sekelompok domba.

Mendengar kata-kata Ci Ying, Yang Nam hanya tertawa hahah-heheh dan membiarkan gadis itu menyimpan gandum di dalam gudang yang sudah penuh padat. Akan tetapi ketika gadis itu berjalan keluar dari gudang, dengan secara kurang ajar sekali Yang Nam menggunakan tongkat bambunya mencolek baju gadis itu yang robek di bagian atas dada dekat pundak, mencoba untuk menyingkap baju robek itu. Untuk sedetik nampak kulit dada yang putih bersih.

“Kongcu (tuan muda) !” Ci Ying berseru, cepat menutupkan kembali bajunya yang

robek. Mukanya merah, matanya menentang berani, bernyala-nyala, kepalanya dikedikkan dan dadanya terangkat turun naik. Entah mengapa, sinar mata gadis ini membuat Yang Nam kehilangan nyalinya. Ada sesuatu pada gadis ini yang amat berpengaruh, yang membuat pemuda itu tidak berani bertindak lebih lanjut kecuali tersenyum-senyum menyeringai kuda.

“Ci Ying jangan kurang ajar kepada tuan muda. Kau berdosa     ” terdengar suara

teguran seorang kakek hamba yang sudah biasa hidup menjilat-jilat pantat tuan tanah dan puteranya dalam usahanya memperbaiki nasibnya. Ci Ying meninggalkan tempat itu dengan kemarahan ditahan di dada dan dua titik airmata menetes pada pipinya tak terasa.

Kakek penjilat itu sambil membungkuk-bungkuk di depan Yang Nam, dengan sikap bermuka-muka berkata, “Maafkan dia kongcu yang mulia. Seorang anak perawan memang suka berpura-pura galak, akan tetapi kalau sudah dapatkan dia, heh-heh-heh- heh ”

Yang Nam sedang jengkel karena sikap Ci Ying tadi yang tidak menyenangkan hatinya, tidak memuaskannya. Kini melihat kakek ini bermuka-muka, ia menjadi sebal dan sebuah tendangannya membuat kakek itu terjungkal. Celakanya ketika ia jatuh, padi gandum yang tadi dipanggulnya menimpa kepalanya sehingga keningnya menumbuk batu dan berdarah. Akan tetapi sambil mengumpulkan gandum yang berantakan ia masih terheh-heh tidak berani memperlihatkan rasa sakit, masih sempat bermuka-muka biarpun hatinya berdebar ketakutan. Sifat pengecut dan menjilat-jilat seperti inilah yang membuat nasib para budak di Tibet makin memburuk sampai berabad lamanya. Orang macam penjilat ini memang tidak lebih patut diperlakukan seperti seekor anjing. Biarpun ia menjilat dengan usaha memperbaiki nasib dan memperingan beban hidupnya, namun dengan jalan menjilat berarti ia hanya memikirkan diri sendiri dan sudah dapat dipastikan bahwa seorang penjilat adalah seorang keji yang tidak segan-segan mengorbankan kawan-kawan demi keselamatan diri sendiri.

Kakek itupun tidak segan-segan memperlihatkan sifatnya yang buruk dengan berkata perlahan ketika hendak pergi dari gudang itu untuk mengangkut gandum lagi. “Kalau kongcu menghendaki, hamba dapat bicara dengan Ci Leng ”

“Pergi kau, anjing!” Yang Nam memaki dan orang itu pergi, masih tidak lupa mengangguk-angguk seperti orang berterima kasih mendapat hadiah besar.

Hanya Ci Leng yang dapat melihat perubahan pada muka anaknya yang biasanya periang itu ketika Ci Ying kembali ke sawah. Ci Leng yang berusia empat puluh lima tahun itu bertubuh tinggi kurus bersemangat besar, mendekati puterinya dan bertanya lirih, “Ying-ji (anak Ying), ada apakah?”

Mendengar pertanyaan ini, seperti air sungai Yalu-cangpo membanjir air mata dari sepasang mata yang bening itu. Ci Ying tidak biasa dimanja, ia menggigit bibir menahan perasaan, hanya menjawab singkat.

“Yang Nam kongcu kurang ajar.”

Ci Leng menghela napas panjang. Ketika ibu anaknya melahirkan Ci Ying, iapun dahulu menarik napas panjang. Alamat buruklah bagi keluarga budak apabila melahirkan seorang anak perempuan. Kalau buruk rupa takkan laku kawin, kalau cantik akan menjadi korban tuan-tuan tanah. Ini sudah merupakan kelaziman yang tak dapat dibantah pula. Makin besar Ci Ying, makin cantik anak itu, makin besar pula kekhawatiran hati Ci Leng dan sekarang kekhawatirannya mulai memperlihatkan kenyataan. Ia hanya bisa menggunakan ujung bajunya yang butut menyusut air mata dari pipi Ci Ying.

“Tenanglah, jangan kehilangan semangat. Selama aku masih terpakai oleh tuan besar, kau aman. Biar sore nanti aku bicarakan tentang ikatan perjodohanmu dengan pandai besi Wang Tun,” katanya menghibur. Mendengar ini, makin merah muka Ci Ying, bukan merah karena marah, melainkan merah karena jengah. Akan tetapi hatinya berdebar gembira dan ia mulai bekerja lagi penuh semangat mengumpulkan gandum. Peristiwa yang menyakitkan hatinya tadi sudah terlupa oleh kata-kata ayahnya. Terbayanglah di depan matanya wajah seorang pemuda yang tegap dan gagah, Wang Sin, berwajah gagah bertubuh kokoh tegap, paling pandai menunggang kuda, bertenaga besar dan terkenal sebagai seorang pemuda pemberani. Wang Sin pemuda berusia tujuh belas tahun, tunangannya.

Tiba-tiba terdengar teriakan ngeri disusul makian dan suara orang bersambatan minta ampun. Ci Leng dan puterinya, juga semua budak yang sibuk bekerja, menengok untuk menyaksikan peristiwa yang tidak asing lagi, malah terlampau sering terjadi di antara mereka. Seorang hamba laki-laki berusia tiga puluhan sedang dihajar oleh Thiat-tung Hwesio karena berusaha menyembunyikan beberapa batang gandum di balik bajunya. Sekali pukul dan sekali tendang saja sudah cukup membuat hamba itu menggelepar di atas tanah, setengah pingsan.

Thiat-tung Hwesio memanggil seorang tukang pukul yang biasa dijuluki anjing-anjing penjaga tuan tanah dan budak yang mencuri gandum itu diseret pergi.

“Losuhu .... ampunkan suami saya , ampunkanlah dia dan jangan dilaporkan kepada

Loya (tuan besar) .... dia mengambil gandum untuk anak kami yang baru lahir ”

Seorang hamba wanita memohon-mohon sambil berlutut dan menyembah-nyembah hwesio itu.

Thiat-tung Hwesio menendang perempuan itu sampai bergulingan di atas tanah lumpur. Air susu bercucuran keluar dari dada perempuan yang belum lama melahirkan anak itu, bercampuran dengan air mata dan air lumpur. “Losuhu, ampuni dia ... ampuni !” tangisnya dengan suara serak.

“Diam kau! Hayo bekerja lagi! Maling-maling hina dina tak tahu diri. Kalau banyak cerewet ku kemplang kepalamu,” bentak hwesio itu.

Beberapa orang budak segera membangunkan perempuan itu dan menghiburnya agar bekerja kembali karena kalau tidak tentu hwesio itu menjadi makin marah dan akan terjadi lain penyiksaan. Dengan isak tangis tertahan perempuan itu melanjutkan pekerjaannya, setiap kali teringat akan nasib suaminya ia tersedu, hatinya seperti ditusuk-tusuk. Dari jauh terdengar suara teriakan-teriakan para “anjing penjaga” tunan tanah. “Potong tangan! Kerat lidahnya!” Semua orang yang mendengar ini meremang bulu tengkuknya dan perempuan itu menjadi makin pucat dan tentu akan roboh pingsan kalau Ci Leng tidak cepat-cepat memeluk dan menolongnya.

Ci Leng menarik napas panjang lagi, menggeleng-geleng kepala dan mengangkat kepala memandang langit yang agaknya ayem saja menyaksikan peristiwa-peristiwa ini. “Hidup yang sekarang untuk kebaikan hidup kemudian ini kata suci para

pendeta. Sampai berapa ratus kali penjelmaankah hidup akan menjadi baik?” demikian pikirnya dan kembali ia menarik napas panjang.

Sementara itu, seorang nenek tua di dalam gubuk butut, kedua kakinya sudah lumpuh, menimang-nimang seorang bayi yang baru berusia beberapa hari, bayi merah telanjang yang menangis menjerit-jerit. Nenek itu menggerak-gerakkan pahanya dan menyeret kedua kaki tangannya itu untuk mencoba maju mundur mendiamkan tangis cucunya.

“Diamlah cucuku manis diamlah jangan menangis saja. Ayah bundamu sedang

bekerja di ladang, panen sawah baik hasilnya, pembagian para budak tentu agak banyakkan ...! Diamlah, nanti ayah bundamu pulang membawa hadiah gandum ....

kau akan dibelikan baju.” Anak itu menangis terus sampai megap-megap. Nenek tua itu dengan mengesot menghampiri bilik di mana tergantung beberapa padi gandum, mengambil beberapa butir lalu mengunyah beras gandum dengan mulutnya yang sudah ompong. Biarpun sukar, karena terkena air ludah lama-lama gandum itu hancur juga dan dimasukkannya dari mulut ke mulut bayi itu yang agaknya kelaparan dan kehausan.

“Nah, diamlah, cucuku manis. Mari berselimut abu hangat, anakku? Cucuku gagah, cucuku manis, kelak menjadi pelayan di gedung tuan besar!” Nenek itu menimang- nimang cucunya yang kecapaian menangis dan kini tertidur. Anak itu, juga neneknya, tidak tahu betapa ayah bayi itu disiksa hanya karena hendak mengambil beberapa batang gandum untuk keluarganya.

Sampai jauh senja pekerjaan menuai gandum itu selesai di bagian yang ditentukan dan semua budak pulang ke rumah masing-masing dengan tubuh lemas kelelahan. Tidak hanya tubuh yang lemas karena lelah dan lapar, akan tetapi juga hati dan pikiran menjadi lemas.

“Tidak ada waktu membagi gandum, besok saja!” Ucapan singkat dari Yang Nam putera tuan tanah ini merupakan keputusan mati yang tidak dapat ditawar lagi dan ketika mengucapkan kata-kata ini sambil menyeringai, pemuda ini melirik ke arah Ci Ying.

Dan kakek penjilat mengomel sepanjang jalan, menyalahkan gadis itu yang dikatakannya menjadi gara-gara sehingga tuan muda menjadi murung dan kesal yang akibatnya merugikan semua budak. Hanya setelah Ci Leng membentaknya, kakek penjilat itu tidak berani banyak cerewet lagi.

Malam itu mereka terpaksa menahan lapar. Baiknya kaum tertindas ini sudah mengenal setia kawan dan dengan secara gotong royong mereka mengumpulkan gandum seadanya dan membagi-bagi di antara mereka. Dengan jalan ini mereka seringkali dapat mengatasi bahaya kelaparan. Sayang seribu sayang gotong royong ini hanya dipergunakan untuk melawan bahaya kelaparan dan sedikitpun tidak pernah timbul dalam benak mereka untuk mempergunakan persatuan itu di bidang lain yang lebih penting, misalnya untuk menentang tuan tanah. Pada masa itu, siapa sih yang berani? Menentang tuan tanah sama dengan menentang para pendeta, menentang pendeta-pendeta itu sama dengan menentang Lama-Lama Besar dan menentang orang-orang suci ini sama dengan menentang Sang Buddha sendiri, menentang Tuhan! Demikianlah pelajaran yang sudah digoreskan dalam-dalam di hati semua budak, sudah mendarah daging.

****** Langit di barat merah seperti terbakar dikala matahari mulai mengundurkan diri. Dan semua makhluk di dunia pun biasanya ikut pula mengundurkan diri untuk beristirahat menanti datangnya esok berikutnya.

Segerombolan domba muncul dari kaki langit ketika mereka menanjak sebuah bukit kecil. Perut binatang-binatang ini menyendul kekenyangan, tanda bahwa dengan baik- baik pengembalanya telah membawa mereka ke padang rumput dan membiarkan mereka makan sekenyangnya.

“Hiyooo sini hitam! Kau selalu mau menyeleweng saja. Apa sudah lupa jalan

pulang?” demikian terdengar suara laki-laki yang nyaring sekali. Kemudian muncullah orangnya, seorang pemuda tegap yang memegang sebuah cambuk. “Hayo pemalas, hayo sini kumpul dengan rombongan!”

Setelah domba-dombanya berkumpul dan melanjutkan perjalanan ke kandang, pemuda yang usianya tujuh belas tahun itu bernyanyi sekuat dadanya :

“Wahai, Himalaya yang tinggi. Ahoi, Yalu-cangpo yang panjang. Dapatkah kalian memberi jawaban? Kedua tanganku kuat bekerja berat. Tapi tiada seperseratus hasilnya.

Menjadi bagianku!

Aku punya mulut.

Tak dapat mengeluarkan suara hati. Telingaku disusur tuli.

Mataku disusur buta.

Aku punya nyawa.

Aku punya nyawa.

Tak lebih berharga seekor domba! Wahai, Himalaya sembunyikan aku dipuncak-puncakmu!

Ahoi, Yalu-cangpo, lenyapkan aku di muaramu!”

Suara nyanyiannya nyaring dan mengandung keluhan jiwa para budak, akan tetapi terdengar bersemangat. Kemudian cambuknya dibunyikan di udara dan ia menyumpah-nyumpahi domba itu. “Hiyooo ! Domba-domba pemalas, jangan

menyeleweng! Tak pandai kerja, makan sekenyangnya. Kalah orang yang bekerja melebihi kuda, makanpun hampir tak kenyang!” Suara ini disusul bunyi “tar-tar-tar!” cambuknya yang dihantamkan dengan gemas di udara.

Tiba-tiba ia melihat bocah yang berteriak-teriak girang. Kuda tua larilah! Kuda tua lucu !!”

Ia melihat seorang anak laki-laki berusia lima-enam tahun menunggangi punggung seorang hamba tua yang kurus. Kakek itu terengah-engah dan berlari menggunakan sepasang tangan dan kaki seperti kuda dan bocah ini menjambak rambut dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya yang memegang cambuk memukul-mukul leher kakek itu. Kakek itu berlari makin keras dan sebentar saja lenyap di sebuah tikungan. Yang terdengar hanya teriak kegirangan bocah itu di antara napas yang megap-megap dari si hamba kakek.

“Anak iblis!” pemuda itu menggertak gigi dan mengepal tinju, kemudian cambuknya diayun memukul sebatang pohon dengan keras sampai menimbulkan suara keras dan kulit pohon itu lecet-lecet. Pemuda itu, Wang Sin, marah sekali. Sudah terlalu banyak ia menyaksikan kejadian-kejadian yang menyakitkan hatinya, sudah terlalu sering ia mendengar cerita ayahnya tentang kesengsaraan-kesengsaraan budak-budak di daerah ini, namun sebegitu lama ia dan ayahnya tidak berdaya.

Ayahnya Wang Tun, adalah satu-satunya pandai besi yang menjadi hamba tuan tanah Yang Can. Semenjak masih muda ayahnya sudah menjadi hamba sahaya, kerjanya setiap hari di perapian, menggembleng dan membentuk alat-alat pertanian dan alat- alat lain yang dibutuhkan oleh tuan besarnya. Kadang-kadang tuan besar membutuhkan barang-barang yang harus ditempa dan dijadikan secepat mungkin sehingga ayahnya harus bekerja siang malam, kadang-kadang sampai ketiduran di dapur kerja saking lelah dan mengantuknya.

Ayahnya bukan seorang lemah. Sudah dua kali ayahnya mencoba melarikan diri, yaitu ketika belum menikah, masih seorang pemuda yang kuat. Akan tetapi, anjing- anjing penjaga dan pendeta-pendeta Lama yang kosen dapat mengejar dan menangkapnya. Ia dipukuli habis-habisan, lebih mati dari pada hidup dan semenjak saat itu kedua kaki ayahnya dipasangi belenggu yang berantai panjang. Ayahnya dapat berjalan akan tetapi tidak mungkin dapat lari cepat. Dengan kedua belenggu di kaki ayahnya menikah, atau lebih tepat dinikahkan oleh tuan besar untuk menjadi pengikat yang lebih kuat dari pada belenggu. Setelah ia terlahir dan ibunya mati karena kekurangan darah, ayahnya membawanya lari lagi. Melarikan diri akan tetapi tidak berlari, hanya berjalan cepat di tengah malam. Malang tertawan lagi dan belenggu dikakinya diperpendek rantainya dan diperkuat. Semenjak itu, hati ayahnya yang sekuat baja melumer dan tidak mencoba melarikan diri lagi sampai sekarang, sudah lima puluh tahun usianya.

Alangkah buruknya hidup. Ketika ia masih kecil, sudah sering kali Wang Sin mengalami gebukan dan penghinaan. Pernah dia dijadikan kuda tunggangan tuan muda Yang Nam sampai kedua tangannya hampir patah karena dipakai berlari seperti binatang. Akhirnya, karena dia merupakan orang muda terkuat, ia dipilih sebagai pengembala domba. Ia harus melindungi dan menjaga domba-domba itu dengan seluruh jiwanya karena hilang seekor domba saja mungkin harus diganti dengan sebelah kaki atau tangannya. Ah, betapa buruknya hidup.

Kembali saking gemasnya Wang Sin mengayun cambuknya, memukuli batang pohon yang ia umpamakan sebagai tuan besar dan tuan kecil, sebagai anjing-anjing penjaga tuan tanah dan pendeta-pendeta gundul yang kejam. “Tar-tar-tar-tar!” bunyi cambuknya berkali-kali.

“Tar-tar-tar-tar!” Di lain tempat, tak jauh dari situ, cambuk lain diayun mencambuki sesuatu. Akan tetapi kalau cambuk di tangan Wang Sin hanya membikin lecet-lecet kulit-kulit pohon saja, cambuk yang lain ini memecah kulit mengiris daging punggung orang sehingga darah muncrat ke sana-sini diiringi rintihan yang makin lama makin lemah sampai akhirnya tidak terdengar lagi biarpun cambuknya masih terus berbunyi membuat kulit hancur bersama dagingnya.

“Rasakan kau, bangsat hina dina, berani mencuri gandum!” kata Yang Can, tuan tanah yang menyuruh tukang pukulnya menyiksa budak yang berani mengambil gandum di sawah tadi sambil meludahi muka budak itu yang sudah tidak keruan macamnya karena menjadi korban cambuk.

Budak itu diikat pada sebuah tiang di pekarangan samping rumah tuan tanah, dan kepala yang tadinya sudah lemas itu mendadak diangkat lagi, matanya yang bengkak- bengkak itu dibuka dan mulutnya mengeluarkan rintihan terakhir. “Menebus dosa ,

menebus dosa ..... untuk hidup kemudian ” Dan budak itu menghembuskan napas

terakhir. Kasihan orang ini, dan saat terakhir pengaruhnya dongeng para pendeta Lama masih menguasainya sehingga siksaan yang membuat nyawanya melayang itu ia anggap sebagai penebus dosa-dosanya.

“Suamiku !” Seorang wanita, isteri dari hamba yang disiksa sampai mati itu,

dengan rambut riap-riapan berlari datang sambil menangis. Dari sawah ia langsung lari ke situ ketika mendengar dari budak-budak lainnya bahwa suaminya disiksa oleh tuan tanah. Melihat suaminya terikat dan kepalanya menggantung tak bergerak-gerak lagi, mandi darah, ia menjerit ngeri dan menubruk mayat suaminya sambil memeluki kedua kakinya dan menangis tersedu-sedu. “Suamiku .... suamiku jangan

tinggalkan aku dan anakmu yang masih kecil ”

Yang Nam, putera tuan tanah yang keluar mendengar suara ribut-ribut ini, melotot marah melihat perempuan itu menjerit-jerit. Juga Yang Can marah sekali. Tukang pukulnya yang tadi menyiksa hamba itu sampai mati, melihat kemarahan pada wajah tuan besar dan tuan muda, segera mengangkat kaki menendang perempuan itu. “Pergi kau!”

Perempuan itu terguling-guling memegangi dadanya yang kena tendang, kemudian tiba-tiba ia melompat berdiri, rambutnya riap-riapan, matanya merah, kedua tangannya mengepal.

“Iblis! Biadab kau! Anjing penjilat tuan tanah, kau dan tuan tanah akan mampus dibakar api neraka!” Karena duka dan marah, wanita ini sudah tidak ingat apa-apa lagi, tidak kenal takut, sambil menuding-nudingkan telunjuknya kepada Yang Nam dan Yang Can dan tukang pukul itu, ia memaki-maki.

Kembali sebuah pukulan tukang pukul membuat ia roboh terguling. “Bunuh anjing betina ini!” seru tuan tanah Yang Can.

“Tidak, ayah. Dia berani memaki kita. Potong lidahnya!” kata Yang Nam, marah sekali karena dia yang semenjak kecil didewa-dewakan oleh semua budak, sekarang mengalami dimaki-maki oleh hamba perempuan itu.

“Betul, potong lidahnya!” ayahnya membeo. Tukang pukul yang mencari muka cepat menangkap wanita itu yang meronta-ronta, mengikatnya menjadi satu dengan mayat hamba yang disiksanya tadi, kemudian secara keji, di luar batas prikemanusiaan, ia memaksa membuka mulut wanita itu, menarik keluar lidahnya dan memotong lidahnya dengan pisau.

Terdengar pekik meraung mengerikan sekali dan di lain saat tubuh wanita malang itu berkelonjotan, nyawanya melayang menyusul nyawa suaminya.

“Kumpulkan semua budak, suruh menonton biar tidak ada lagi yang berani main gila,” gerutu Yang Can yang pergi memasuki rumah bersama puteranya.

2. Perlakuan Manis Berhati Palsu.

Kelihatannya Yang Nam berbisik-bisik minta sesuatu kepada Yang Can. Ayahnya ini memandang tajam mengerutkan kening dan menggeleng kepala. Anaknya membujuk terus dan akhirnya ayah itu tersenyum mengangguk.

“Selirmu sudah tujuh, masih ditambah lagi? Baiklah, jangan khawatir,” terdengar ayah ini berkata.

Sementara itu, tukang pukul itu lalu memanggil para budak dan mengabarkan bahwa hamba itu mati karena mencuri gandum dan isterinya dicabut lidahnya karena berani memaki yang dipertuan. Semua budak menjadi pucat, akan tetapi tak seorangpun berani mengeluarkan suara.

Wang Sin melihat dua mayat ini terikat pada pohon ketika ia menggiring domba- domba ke dalam kandang. Ia terkejut sekali dan sebuah makian tergumam di dalam mulutnya. Tanpa menghiraukan perutnya yang sudah lapar karena sehari belum diisi, setelah mengunci pintu kandang, ia lalu menghampiri pohon itu dan melepaskan ikatan pada dua mayat. Seorang anjing penjaga tuan tanah menghampirinya.

“Budak Sin, kau mau apa?” tanya tukang pukul itu.

“Kau lihat sendiri, melepaskan ikatan mereka,” jawab Wang Sin dengan muka muram.

Kalau lain hamba yang berani memberi jawaban seperti ini kepada seorang tukang pukul, tentu ia akan menerima cambukan atau setidaknya akan ditampar mulutnya. Akan tetapi terhadap Wang Sin, sembarangan tukang pukul saja tidak berani sewenang-wenang. Dahulu, setahun yang lalu pernah Wang Sin melawan seorang tukang pukul sampai tukang pukul itu rebah dengan kepala benjol-benjol dan tuan tanah yang sayang kepada tenaga kerja Wang Sin, tidak menghukumnya.

“Budak Sin, apa kau mencari mampus? Maling ini dihukum oleh tuan besar sendiri karena ia mencuri gandum dan bininya dihukum karena berani kurang ajar dan memaki tuan besar. Dan kau sekarang berani melepaskan mereka?”

“Kau yang cari mampus, bukan aku,” jawab Wang Sin tenang.

“Bagaimana kau berani bilang begitu, bocah lancang?” tukang pukul itu marah. “Tentu saja, karena kau sebagai hamba tidak tahu akan kewajiban. Mereka ini sudah menjadi mayat, apakah kau mau mendiamkan saja dua mayat ini membusuk di sini dan mengotorkan tempat tinggal tuan besar, meracuni semua keluarga tuan besar?

Masih belum dikatakan lagi kalau roh mereka mengamuk. Apa kau berani bertanggung jawab?”

Mendengar itu, tukang pukul itu menjadi pucat karena kaget dan takut. Ia menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Pada saat itu dari dalam muncul Yang Nam. Tukang pukul itu menjadi makin pucat dan mengira tuan muda pasti akan marah sekali. Wang Sin telah menyelesaikan pekerjaan melepaskan dua orang mayat itu dan ia bersikap tenang, sudah terlalu biasa menghadapi kemarahan tuan-tuannya sehingga tidak ada kekhawatiran lagi dalam hatinya.

Akan tetapi aneh, benar-benar di luar dugaan tukang pukul itu, malah di luar dugaan Wang Sin sendiri. Yang Nam bersikap manis, tersenyum-senyum kepada Wang Sin dan berkata.

“Tepat sekali kata-katamu, Wang Sin. Memang seorang pekerja harus mengetahui kewajibannya sendiri.”

Kemudian dibentaknya tukang pukul itu disuruh pergi.

Setelah berdua saja dengan Wang Sin, Yang Nam memandang kepada kepada Wang Sin dan berkata dengan sungguh-sungguh. “Wang Sin, pakaianmu sudah robek semua. Setelah kau selesai mengurus dua mayat itu, mintalah makan ke dapur dan nanti kau kuberi pakaian baru satu stel. Biar kusuruh pelayan-pelayan gila itu membantumu.”

Wang Sin berdiri melongo saking herannya. Sampai datangnya pelayan-pelayan atau tukang pukul-tukang pukul itu, dua orang banyaknya untuk membantu ia mengangkut dua orang mayat, ia masih berdiri keheranan. Ia bekerja tanpa membuka mulut, dan timbul kekhawatiran dan kesangsian besar. Ia sudah terlalu kenal watak tuan muda, Yang Nam. Apakah kehendaknya maka ia begitu manis dan baik hati kepadaku.

Pikirnya gelisah. Biasanya, belum tentu dua tahun sekali ia mendapat pakaian apalagi pakaian baru. Dan menyuruh dia makan. Dalam mimpi pun belum pernah ia mendapat perlakuan semanis itu. Aneh, ada apakah? Demikian suara hatinya berbisik, membuat ia makin gelisah.

Sampai setelah sikap manis tuan muda itu menjadi kenyataan, yaitu ia sudah makan kenyang dan benar-benar mendapat hadiah satu stel pakaian yang tebal dan bagus sekali baginya. Wang Sin masih gelisah bukan main. Pakaian itu hangat dan membuat ia merasa enak badannya, akan tetapi tidak membuat enak hatinya. Sikap manis atau sikap baik dari tuan-tuan itu tidak pernah dikenal oleh para budak. Dan sikap tuan muda Yang Nam itu sudah berlebihan manisnya.

Wang Sin tidak dapat tidur. Jangankan tidur, meramkan mata saja hampir tidak dapat. Belum pernah ada perlakuan manis pada dirinya, dari ayahnya yang pemarahpun belum. Kecuali Ci Ying. Hanya gadis itulah orang satu-satunya di dunia ini yang

amat manis budi baginya. Entah bagaimana, bertemu saja dengan gadis itu sudah membuat dunia menjadi lebih terang. Setiap gerakan Ci Ying melembutkan hatinya, seakan-akan gadis itu sengaja menghiburnya, dengan senyum, dengan pandangannya, dengan suaranya yang halus. Memang Ci Ying tunangannya, itulah satu-satunya orang yang pernah dan selalu bersikap manis kepadanya. Akan tetapi Yang Nam?

Teringat akan tunangannya, terhibur hati Wang Sin. Ci Ying selain manis budi juga amat cerdik seperti ayahnya. Pandai melukis pandai menulis, pandai berhitung dan selalu banyak ceritanya yang hebat-hebat. Ci Ying gadis pandai, tentu akan dapat menerangkan arti sikap berlebihan dari tuan muda. Akan kutanyakan kepadanya, besok. Dengan wajah Ci Ying membayang di depan matanya, akhirnya Wang Sin dapat pulas juga.

Kalau saja ia dapat mendengar percakapan antara tuan besar Yang Can dan Yang Nam, agaknya bayangan wajah Ci Ying bahkan akan membuat ia tidak dapat tidur sama sekali.

Di dalam rumah gedung hanya beberapa belas meter jauhnya dari tempat tidur Wang Sin di kandang domba, dalam kamar duduk yang indah dan mewah Yang Can sedang bercakap-cakap dengan Yang Nam. Tuan besar itu duduk di kursi malas setengah berbaring. Dua orang selir muda dan cantik mengawaninya, seorang mengipasinya dengan kipas bulu domba, yang kedua memijit-mijit kaki tuan tanah itu yang kelelahan karena seharian tadi banyak berdiri dan berjalan ikut sibuk memeriksa hasil panen tanahnya. Yang Nam duduk di atas kursi di depan ayahnya, mukanya yang tampan ditundukkan, akan tetapi sepasang matanya yang sipit itu kadang-kadang mencuri pandang dan melirik dari ujung mata ke arah selir yang mengipasi ayahnya, selir yang cantik dan muda dan yang seringkali ia ajak bermain mata di luar tahu ayahnya.

“Panen tahun ini bagus sekali. Sayang ada saja gangguan sehingga terpaksa kita kehilangan dua orang tenaga budak,” terdengar suara tuan besar Yang Can. Dari ucapan ini saja sudah dapat diketahui bahwa nyawa para budak bagi tuan besar ini tidak ada artinya sama sekali, yang penting dan disesalkannya adalah hilangnya tenaga mereka, tenaga orang-orang yang ia peras untuk menumpuk harta kekayaan.

“Akan tetapi ada baiknya juga, ayah,” bantah puteranya. “Mereka itu perlu dikorbankan, tidak saja untuk menebus dosa mereka yang telah berani mencuri dan menghina kita, akan tetapi perlu untuk menjadi contoh dan membikin takut para budak. Orang-orang seperti mereka itu kalau tidak diatur dengan tangan besi, mana bisa taat? Mereka itu memang sudah berwatak rendah sehingga setiap saat dan kesempatan pasti akan mereka gunakan untuk mencuri dan memberontak.”

Yang Can mengangguk-angguk, cocok sekali dengan pikiran anaknya ini. Juga selir yang sedang menggoyang-goyang kipas tersenyum senang. Akan tetapi selir yang memijit-mijit kedua kaki tuan tanah itu menundukkan kepala dan menahan kedukaan hatinya. Dia ini tahu apa yang menyebabkan para budak kadang-kadang melakukan pencurian karena diapun berasal dari budak. Karena kebetulan ia cantik wajahnya dan halus putih kulitnya maka ia mendapat nasib baik menjadi selir tuan tanah itu. Ia tahu bahwa para budak terpaksa mencuri karena terlalu sering kelaparan, mencuri untuk menambah kebutuhan perut mereka. “Nam-ji (anak Nam), tentang permintaanmu tadi, tentu saja tidak menjadi soal kalau kau ingin menambah seorang selir lagi, akan tetapi gadis Ci Ying itu, bukankah sudah ditunangkan dengan anak si pandai besi? Dulu pernah kukatakan kepada mereka bahwa dua orang itu akan menjadi pasangan terbaik di antara para budak.”

“Pertunangan antara budak bisa dibatalkan!”

Tuan tanah itu mengangguk-angguk, berpikir. “Tentu saja, akan tetapi mereka itu tenaga-tenaga terbaik, Yang Nam. Kita akan rugi kalau kehilangan tenaga mereka. Ci Leng selain seorang petani baik, juga pandai membantu mengatur catatan-catatan dan perempuannya itupun rajin dan cepat. Harus diingat lagi Wang Sin yang amat setia dan pandai merawat domba. Malah ayahnya juga pandai besi satu-satunya.”

“Apa salahnya? Mereka, orang-orang tua itu, tentu akan senang sekali kalau dapat berjasa kepada kita, tentu mereka senang kalau Ci Ying menjadi selirku. Tentang Wang Sin, ah, biar aku yang mengurus dia. Diberi hadiah-hadiah sedikit saja masa ia tidak rela melepaskan Ci Ying?”

Ayahnya mengangguk-angguk. “Sesukamulah, kau atur sendiri. Akan tetapi sedapat mungkin jangan sampai mengecewakan hati mereka yang amat kita butuhkan tenaganya.”

Demikianlah percakapan di dalam kamar, di gedung itu yang tentu akan membuat Wang Sin gelisah dan tak dapat tidur kalau ia mendengarnya.

******

Di dalam sebuah gubuk seperti kandang butut itu, nenek tua yang lumpuh menangis terisak-isak sampai tidak ada suara lagi terdengar dari lehernya. Kedua tangannya memondong bayi yang menangis lirih karena kehabisan suara.

“Cucuku .... ahhh ..... cucuku yang manis .... kau harus lekas besar cucuku harus

lekas besar bagaimana aku bisa meninggalkan kau seorang diri di dunia ini?

Cucuku .... siapa yang akan menyusuimu sekarang, siapa siapa yang akan

menyambung hidupmu ?”

Nenek lumpuh ini sudah mendengar tentang kematian anak dan menantunya. Dapat dibayangkan betapa hancur hatinya, betapa hebat kedukaannya. Akan tetapi kebingungan dan kegelisahannya lebih besar lagi. Seorang nenek tua yang tak mampu bekerja seperti dia, tentu sudah dibiarkan mati kelaparan kalau saja anak dan mantunya tidak bekerja keras, membanting tulang dan membagi sedikit hasil makanan mereka dengan dia. Sekarang anak dan mantunya sudah mati, siapa lagi dapat diharapkan untuk memberi dia dan cucunya makan?

Keadaan cuaca masih gelap karena masih amat pagi. Sesosok bayangan memasuki gubuk melalui pintunya yang reyot.

“Nenek, jangan terlalu berduka,” kata Ci Ying dengan suara terharu sambil minta bayi itu yang segera dipondongnya dengan cara yang kaku namun penuh kasih sayang. Ci Ying tidak pernah mempunyai adik kandung, maka ia tidak biasa menggendong anak kecil, canggung benar ia memondong bayi itu, takut-takut kalau terlepas dan jatuh.

Kedatangan dan hiburan Ci Ying ini membuat nenek itu makin merasa nelangsa dan makin tersedu-sedu. Akhirnya dapat juga ia mengeluarkan suara,

“Ci Ying .... bagaimana aku takkan .... berduka .... bagiku yang sudah tua bangka ....

mati kelaparan bukanlah soal lagi .... akan tetapi .... cucuku ini ..... cucuku yang

belum punya nama ini ..... ia akan kelaparan ..... akan mati sedikit demi sedikit aduh,

alangkah ngerinya cucuku, dosa apakah yang kau lakukan dalam hidup yang

terdahulu ?”

Ci Ying terharu sekali. Sebagai anak seorang budak, ia maklum benar nasib sengsara apa yang dihadapi anak ini dan neneknya.

“Nenek, jangan khawatir. Aku akan memeliharanya, aku akan membagi makananku dengan nenek dan anak ini ” hiburnya.

Nenek itu memandang gadis ini dengan mata terbelalak, kemudian runtuh pula air matanya yang agaknya tidak mau habis. Terseok-seok ia mengesot bergerak dengan pahanya menghampiri gadis itu. Ci Ying maklum akan maksud nenek itu memeluknya sambil menangis.

“Ci Ying, kau baik sekali semoga Sang Buddha membersihkan kau dari sisa dosa-

dosamu dan mengangkatmu ke dalam penghidupan lebih bahagia. Kau kau

bawalah cucuku itu, tentang aku biarkan aku mati di gubuk ini, biarlah aku

menyusul anak dan mantuku. Tidak mau aku membiarkan gadis seperti kau kekurangan makan karena aku Pergilah, anak yang baik, pergilah!”

Ci Ying maklum bahwa ia takkan dapat memaksa nenek ini. Ia berdiri dan mendukung bayi itu ke pintu Sampai di pintu ia berhenti dan menoleh. “Akan

tetapi kau bagaimana dengan kau, nenek?”

“Aku dapat mengemis makanan atau mati kelaparan, bagiku sama saja. Eh, bawa anak itu sekali lagi ke dekatku, Ci Ying.”

Gadis itu datang lagi dan berlutut membiarkan nenek itu memeluk dan menciumi bayi itu. “Cucuku, kalau kau sudah besar, ingatlah semua yang menimpa ayah bundamu.

Kau kau, kuberi nama Wang Tui.”

Kemudian dengan isyarat tangannya karena tidak kuasa mengeluarkan suara lagi saking terharunya, menyuruh Ci Ying pergi. Gadis itu lalu meninggalkan rumah gubuk dan berlari pulang ke rumah ayahnya.

Setiba di rumah, ia melihat ayahnya berdiri, seperti patung dengan muka agak pucat dan di depannya berdiri seorang hamba tukang cuci yang kerjanya mencuci pakaian keluarga tuan tanah. Setiap hari, pagi-pagi sekali hamba ini mengambil pakaian- pakaian kotor dari rumah tuan besar untuk dibawa ke sungai dan dicuci. Melihat kedatangan puterinya yang memondong seorang bayi yang menangis, Ci Leng bertanya, suaranya ketus seperti orang marah.

“Ci Ying, anak siapa yang kaugendong itu?”

Ci Ying terkejut melihat ayahnya seperti orang marah. Belum pernah ayahnya marah kepadanya, biasanya bicaranya selalu manis terhadapnya. Memang Ci Leng agak memanjakan anaknya, karena anak yang sudah tidak beribu lagi ini mengingatkan dia kepada isterinya yang tercinta, isteri yang juga meninggal dunia karena gara-gara tuan tanah. Isteri Ci Leng amat cantik, seperti juga Ci Ying. Semenjak menjadi isterinya, tuan tanah selalu berusaha mendapatkan isterinya itu dan nafsu buruk ini ditahan- tahan karena isteri Ci Leng mengandung. Setelah Ci Ying terlahir, tuan tanah itu makin menjadi rindu dan gila. Dipergunakan segala daya upaya untuk mendapatkan isteri hambanya, namun isteri Ci Leng tidak sudi meladeninya. Akhirnya saking gelisah dan selalu ketakutan isteri Ci Leng jatuh sakit sampai matinya.

“Ayah, inilah cucu nenek lumpuh. Ayah bundanya sudah meninggal, siapa lagi yang akan memeliharanya? Biarlah aku membagi makananku dengannya.” Kemudian dengan sikap manja untuk menyenangkan hati ayahnya. “Ayah, bukankah kau ingin mempunyai anak laki-laki? Nah, dia ini laki-laki dan oleh nenek lumpuh diberi nama Wang Tui. Bagus, bukan? Lihat, anaknya sehat dan montok ”

“Gila kau!” ayahnya memaki dan kembali Ci Ying menjadi kaget. Selamanya belum pernah ayahnya memakinya.

Kemudian ayahnya menarik napas panjang, menundukkan muka tidak sudi melihat bayi itu. “Memang malapetaka tidak datang sendirian. Kau tambah lagi dengan beban, seakan-akan beban dan malapetaka yang menimpa kita masih kurang berat.”

Ci Ying pucat. “Ayah, ada apakah ?”

Ayahnya tidak menjawab, hanya memandang kepada hamba yang datang ke situ, perempuan tukang cuci itu. Ci Ying menengok kepadanya. “Bibi, ada apakah?”

Perempuan yang mukanya dimakan cacar itu berkata, “Celaka besar, Ci Ying. Aku diberitahu oleh nyonya besar ke lima bahwa tuan muda berkehendak mengambil kau sebagai selir ke delapan.”

“Ayah !” Hampir saja Ci Ying melepaskan bayi yang dipondongnya kalau ia tidak

ingat dan cepat-cepat memeluk bayi itu makin erat sambil memandang ayahnya dengan mata terbelalak lebar.

Ayahnya hanya menghela napas sekali lagi. “Celakanya, tuan besar yang kuharapkan akan dapat mengatasi tuan muda, malah sudah menyetujui kehendak tuan muda itu.”

“Betul,” sambung budak tukang cuci. “Nyonya besar ke lima mendengar sendiri percakapan antara tuan besar dan tuan muda.” Yang dimaksudkan nyonya besar ke lima itu adalah selir Yang Can ke lima yang dahulunya menjadi budak pula, selir yang memijiti kakinya ketika terjadi percakapan antara ayah dan anak di malam itu. Selir ini betapapun juga masih ingat akan asal-usulnya, mereka kasihan kepada Ci Ying dan diam-diam memberi kabar melalui tukang cuci yang setiap pagi mengambil cucian. Kebetulan sekali dialah yang mempunyai tugas mengumpulkan pakaian- pakaian kotor.

Hampir tidak terdengar lagi oleh Ci Ying kata-kata budak pencuci pakaian itu. Pikirannya tidak karuan, bingung, sedih, marah, takut menjadi satu. Pada saat itu ia teringat kepada Wang Sin, tunangannya. Bayangan Wang Sin menjadi sinar terang yang mencegahnya jatuh pingsan. Tiba-tiba ia lari keluar sambil berseru perlahan. “Aku tidak mau .....! Aku tidak mau !”

Melihat akibat berita yang dibawanya, tukang cuci itu menjadi takut kalau-kalau perbuatannya terlihat oleh para centeng tuan tanah. Maka ia cepat-cepat angkat kaki menuju ke sungai untuk memulai pekerjaannya.

Ci Leng kembali menarik napas berulang-ulang, lalu meninggalkan gubuknya. “Aku harus bicara dengan tuan besar,” katanya lirih kepada diri sendiri.

Sementara itu, sambil mengendong Wang Tui yang kembali menangis, Ci Ying lari terus ke bukit di mana ia tahu Wang Sin membawa domba-dombanya. Ia takut terlambat menghadang tunangannya itu dan kalau pemuda itu sudah melewati bukit, ia harus menyusul ke tempat yang agak jauh. Ia merasakan tubuhnya lemah sekali, namun ia paksakan diri, mendaki bukit sambil berlari.

Tiba-tiba ia menjadi girang sekali dan terusirlah semua kesengsaraan hatinya ketika ia mendengar suara nyanyian yang sudah dikenalnya amat baik itu.

“Wahai, Himalaya yang tinggi. Ahoi Yalucangpo yang panjang.

Dapatkah kalian memberi jawaban?”

“Wang Sin !” teriak Ci Ying, mempercepat larinya.

Suara nyanyian itu berhenti dan dari atas bukit berlari turun pemuda itu.

“Ci Ying ! Kebetulan sekali kau datang, aku memang ingin bertemu dengan kau!”

Tak lama kemudian mereka telah saling berhadapan dan saling berpandangan. Kabut tebal masih tidak kuasa melenyapkan sinar mata mereka ketika kedua orang remaja ini saling pandang penuh perasaan.

“Pakaianmu baru !” seru Ci Ying, baru ia melihat pakaian pemuda itu yang indah

dan tebal.

“Kau menggendong bayi !” Wang Sin juga berseru heran. Perhatiannya tadi

seluruhnya dikuasai oleh wajah gadis itu sehingga baru sekarang ia melihat dan mendengar tangis bayi di dalam pondongan Ci Ying.

“Ini anak yatim piatu yang orang tuanya dibunuh kemarin. Ku ambil dari nenek lumpuh,” jawab Ci Ying mengalah. Kemudian ia cepat mengulangi pertanyaannya, “Wang Sin, dari siapa kau mendapatkan pakaian baru yang indah ini?” Wajah Wang Sin menjadi merah, setengah malu-malu setengah bangga dan girang mendapat kesempatan memperlihatkan diri dalam pakaian itu di depan tunangannya. Tentu ia kelihatan gagah dan tampan. Otomatis tanpa disadarinya, tangan kirinya bergerak ke atas dalam usaha membereskan rambutnya. Pemuda mana di dunia ini takkan berlagak memperbagus diri di depan wanita, apalagi tunangan sendiri yang ayu seperti Ci Ying?

“Aku mendapat hadiah dari tuan muda. Inilah yang hendak kutanyakan kepadamu. Menurut pikiranmu, mengapa dia memberi hadiah pakaian kepadaku?”

Mendengar ini, malapetaka yang menimpa dirinya teringat kembali oleh gadis itu dan ia lalu menjatuhkan diri di atas tanah sambil menangis. Bukan main kagetnya hati Wang Sin melihat reaksi yang sebaliknya ini dari tunangannya. Ia cepat menjatuhkan diri berlutut pula sambil memegangi pundak Ci Ying.

“Ci Ying, ada apakah? Kenapa kau menangis?” tanyanya.

Ci Ying tak dapat menjawab karena bayi itu menangis lagi karena lapar. Ia berusaha mendiamkan bayi itu sambil menyusuti air matanya sendiri.

“Kenapa dia? Lapar?” tanya Wang Sin masih bingung.

Ketika gadis itu mengangguk, Wang Sin lalu cepat menghampiri kelompok dombanya, memegang kepala seekor domba yang sedang menyusui anaknya dan menuntun domba itu ke dekat Ci Ying.

“Si putih ini banyak air susunya, beri dia air susu,” katanya.

Ci Ying menahan gelora hatinya sendiri, menahan mulutnya yang ingin menceritakan semua kesengsaraan dirinya untuk mendahulukan kebutuhan bayi itu. Ia membawa bayi ke dekat susu domba itu dan tak lama kemudian bayi itu menyusu dari susu domba. Lahap sekali bayi itu yang sudah sehari semalam tidak diberi apa-apa.

Setelah bayi itu kenyang, ia tertidur pulas dalam gendongan Ci Ying. Baru ia teringat akan keadaan diri sendiri. Sambil menangis ia bercerita.

“Wang Sin malapetaka menimpa diriku. Pagi tadi bibi pencuci membawa berita celaka. Ia mendengar dari nyonya besar ke lima bahwa ... bahwa tuan muda ... hendak

... hendak mengambil aku sebagai ... sebagai selirnya yang ke delapan ... dan ... tuan besar sudah menyetujuinya ” Ia menangis makin keras.

Wang Sin menjadi pucat. Ia serentak berdiri, mengepalkan tinjunya, matanya bersinar-sinar, mukanya menjadi muram dan giginya berbunyi.

“Bedebah! Si keparat!” makinya dan di lain saat ia telah menanggalkan pakaian barunya yang menutupi pakaian butut. Dikoyak-koyaknya pakaian itu, hancur berkeping-keping. “Si keparat jahanam makanan neraka!” Kembali ia memaki. “Jadi itulah gerangan sebabnya ia berbaik kepadaku? Bedebah!” Ia melemparkan kepingan- kepingan baju itu ke atas tanah dan menginjak-injaknya dengan gemas membayangkan bahwa si pemberi yang ia injak-injak itu. “Wang Sin, bagaimana baiknya? Aku lebih baik aku mati dari pada menjadi

selirnya.”

“Aku akan pergi kepadanya! Aku yang akan membantah, aku yang akan melarang. Biar kuputar batang leher si keparat.”

“Wang Sin, apa kau gila? Kau takkan menang melawan anjing-anjing penjaga, kau akan dipukul sampai mati !”

“Tidak apa mati untuk membelamu!” Pemuda itu hendak pergi akan tetapi Ci Ying memegang lengannya sambil menangis.

“Wang Sin, kalau kau dipukuli sampai mati, apa kau kira aku dapat terlepas dari malapetaka ini? Tiada bedanya! Lebih baik aku melarikan diri. Bantulah aku lari dari neraka ini.”

Wang Sin sadar akan kebenaran kata-kata gadis itu. Kalau ia mengamuk, berarti ia mengantar nyawa dengan sia-sia dan gadis itu tetap saja akan dipaksa menjadi selir tuan muda. Kalau sudah begitu, apa arti pengorbanannya? Tidak ada sama sekali.

“Lari Ci Ying? Ke mana?”

“Ke mana saja asal terlepas dari tangan tuan muda. Biar aku pergi dibawa aliran sungai Yalu-cangpo ke timur. Wang Sin, kau carikan sebuah perahu untukku, aku akan naik perahu itu mengikuti aliran Yalu-cangpo.”

“Akan tetapi      ke mana tujuanmu dan bagaimana kita bisa bertemu lagi?”

“Aku akan terus mengikuti aliran Yalu-cangpo sampai sungai itu berbelok. Aku pernah mendengar cerita ayah bahwa jauh di timur sungai itu membelok ke selatan. Nah, di belokan itulah aku mendarat dan menanti kau. Lekaslah, Wang Sin, sebelum kaki tangan tuan muda menyusul ke sini.”

Karena hanya itu jalan satu-satunya, Wang Sin cepat bekerja. Ia menangkap dua ekor domba yang gemuk, membunuhnya untuk dipakai bekal rangsum tunangannya sedangkan domba yang mempunyai susu itupun ia bawa ke pinggir sungai. Mudah baginya mencuri sebuah perahu dan tak lama kemudian Ci Ying yang menggendong bayi itu sudah naik ke atas perahu. Domba yang menyusui itu diikat mulutnya sehingga tidak bisa mengeluarkan suara, lehernya diikat pada tiang. Bangkai dua ekor domba ditumpuk di situ dan di dekatnya terdapat sepikul rumput untuk makanan domba yang menyusui.

Untuk penghabisan kali Wang Sin memegang pundak Ci Ying, matanya membasah. “Hati-hatilah, Ci Ying. Mudah-mudahan kita bisa bersua kembali.”

Ci Ying juga mengucurkan air mata, mengangguk dan berkata. “Mungkin aku akan tewas diperjalanan. Akan tetapi lebih baik mati diperjalanan dari pada mati di tangan tuan muda, bukan?” Wang Sin mengangguk dan mendorong perahu itu ke tengah, lalu Ci Ying mendayung perahu itu terus ke tengah sampai aliran air yang kuat membawa perahu itu meluncur cepat.

Dengan air mata berlinang Wang Sin berdiri di pinggir sungai melihat perahu itu lenyap ditelan kabut yang masih tebal menutupi permukaan sungai. Hatinya lega. Dengan adanya kabut itu, tak mudah perahu yang melarikan Ci Ying itu terlihat oleh para centeng tuan tanah.

“Wang Sinnn !!” Teriakan keras ini membuat pemuda itu terkejut dan cepat-cepat

ia lari kembali ke bukit di mana tinggalkan domba-dombanya. Kembali suara panggilan itu menggema dan ternyata ayahnya yang memanggil dari bukit itu.

Melihat Wang Sin muncul, Wang Tun menegur. “Ke mana saja kau meninggalkan domba-dombamu?” Tiba-tiba orang tua itu menudingkan telunjuknya ke bawah.”Eh, ini banyak darah. Celaka! Tentu domba-dombamu ada yang ganggu!”

Wang Sin bersikap tenang. “Ayah, sebelum aku menjawab pertanyaan ini, ada keperluan apakah ayah mendaki ke sini? Mengapa ayah bersusah payah mencariku?” Memang tidak mudah bagi Wang Tun yang terikat rantai kedua kakinya itu untuk mendaki bukit. Hal ini membuktikan bahwa tentu ada keperluan yang amat penting yang membawa orang tua ini datang ke situ menyusul puteranya.

“Ada peristiwa hebat. Ci Ying hendak dijadikan selir tuan muda. Ayahnya sudah menghadap akan tetapi ditolak malah diancam supaya segera menghantarkan Ci Ying ke gedung. Celakanya, Ci Ying dicari-cari tidak ada. Aku khawatir kau yang menyembunyikannya. Betul tidak?”

Wang Sin mengangguk. “Ci Ying sudah pergi dengan aman, ayah. Melarikan diri dengan perahu kubawai bekal dua bangkai domba dan sebuah domba hidup untuk memberi susu bagi bayi yang dibawanya.”

“Bayi?”

“Cucu nenek lumpuh.”

Pandai besi itu menggeleng kepalanya. “Hebat! Kalian orang-orang muda sungguh hebat! Ci Ying menolong bayi itu mempertaruhkan nyawa sendiri dan kau menolong Ci Ying, tidak perduli akan bahaya yang mengancam dirimu. Ah, kalau semua budak bersemangat seperti kalian dan bersatu melawan tuan tanah, kiranya nasib kita takkan begini.”

“Ayah, kau tidak marah       ?”

Ayahnya tersenyum. “Mengapa mesti marah? Lihat, akupun sudah siap mempertaruhkan nyawa.” Kakek itu mengeluarkan dua batang pedang panjang yang dibuatnya secara sembunyi di dalam dapur pekerjaannya. Ia berikan sebatang kepada Wang Sin. “Mereka tentu akan mencurigaimu, tentu akan memaksa kita dan menyiksa kita supaya mengaku di mana adanya Ci Ying. Daripada mampus seperti domba, lebih baik mati sebagai harimau, bukan?” Wang Sin mengangguk-angguk tak kuasa mengeluarkan kata-kata saking terharunya, akan tetapi tangannya menangkap lengan ayahnya kuat-kuat. Dua orang laki-laki gagah, satu tua satu muda, dalam saat itu merasa bersatu dan senasib sependeritaan.

Pada saat itu, tampak seorang laki-laki berlari-lari naik ke bukit itu. Terengah-engah ia berhenti di depan Wang Tun dan Wang Sin.

“Paman Ci Leng !” tegur Wang Sin.

“Apa kalian melihat Ci Ying?” tanya orang tua ini terengah-engah, memandang tajam kepada Wang Sin.

“Aku tidak melihatnya,” jawab Wang Tun.

“Paman, untuk apa kau mencari Ci Ying? Untuk diserahkan kepada tuan muda?” tanya Wang Sin penuh curiga.