-->

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 20

Jilid 20

Di lain pihak, Giok Cu juga terkejut bukan main, di samping kekagumannya. Pemuda tinggi besar ini memang luar biasa! Pantas ketika ia membantu Hong San mengeroyoknya, mereka berdua tidak mampu mendesak pemuda ini. Memang hebat bukan main, kokoh kuat bagaikan batu karang. Dia merupakan satu-satunya lawan yang pernah dihadapinya, yang membuat ia kehabisan akal. Semua ilmunya telah ia keluarkan, bahkan ilmu-ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari Ban-tok Mo-li ia keluarkan, namun tanpa hasil. Uap panas menghitam yang keluar dari tangannya, membuyar ketika bertemu dengan hawa pukulan yang keluar dari kedua telapak tangan pemuda itu, hawa yang lembut namun mengandung kekuatan yang dahsyat. Beberapa kali, ketika mereka terpaksa mengadu telapak tangan, ia terhuyung mundur dan kedua tangannya terasa kesemutan! Makin bahwa dengan tangan kosong ia tidak akan mampu menang, Giok Cu yang masih penasaran dan ingin menguji sampai sepenuhnya, lalu meloncat ke belakang dan ia sudah menghunus pedangnya. Pedang Seng-kang-kiam yang tumpul!

"Sudah cukup mengadu ilmu silat, tangan kosong, mari kita coba dengan senjata. !" Giok Cu tidak dapat menahan 

napasnya yang terengah dan juga merasa betapa di dada bagian ulu hati terasa berat dan nyeri, la memejamkan mata sebentar dan napasnya memburu.

"Ah, Nona.........! Engkau ........ engkau terluka dalam ! 

Sungguh aneh, aku......... aku tidak memukulmu, tapi jelas 

engkau menderita luka dalam. Cepat bersila nona dan kumpulkan hawa murni melakukan pernapasan dan perlahan- lahan usir hawa dalam dada itu!"

Giok Cu terkejut sekali dan ia merasakan sesuatu kelainan pada ulu hatinya yang terasa semakin nyeri. Teringatlah ia akan nasehat Hek-bin Hwesio ketika mengajarkan latihan pernapasan lan penghimpunan hawa sakti secara bersih,  ketika hwesio sakti itu menggemblengnya. Hek-bin Hwesio memperingatkan agar ia tidak mempergunakan ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari Ban-tok Mo-li, terutama ilmu yang mengandung hawa beracun hitam. "Ilmu itu membahayakan lawan, juga membahayakan dirimu sendiri, Giok Cu," demikian antara lain hwesio sakti itu berkata. "Kalau engkau mempergunakan ilmu itu dan bertemu dengan lawan tangguh yang memiliki sin-kang lebih kuat darimu, engkau dapat terluka oleh hawa beracun itu yang membalik."

Kini ia teringat akan nasehat itu, maka cepat ia pun menyarungkan pedangnya, dan duduk bersila sambil memejamkan mata. Kedua kaki bersila di atas paha, kedua jari manis bertemu dan duduknya seperti kedudukan Kwan Im Pouw-sat. Dengan cepat ia menghimpun tenaga murni dan membiarkan hawa murni berputar-putar di pusar, lalu perlahar lahan, dengan sin-kang, ia mendorong keluar hawa yang menyesak di ulu hati Perlahan-lahan, hawa itu didorong luar melalui mulutnya sedikit demi dikit.

Han Beng terpesona. Melihat gadis itu membuka mulut dia seolah-olah melihat hawa beracun itu keluar, seperti air memancar dan hal ini mengingatkan dia akan sesuatu. Matanya terbelalak dan tak pernah berkedip dia menganati wajah yang matanya terpejam itu, melihat hidung itu, mulut yang terbuka itu, kemudian perlahan-lahan dia menghampiri mengitari dan memperhatikan kulit tengkuk yang kebetulan nampak karena rambut gadis itu agak awut-awutan dan bagian tengkuk terbuka sehingga nampaklah kulit tengkuk yang putih mulus akan tetapi di tengah-tengah nampak sebuah titik hitam sekali. Sebuah tahi lalat hitam. Han Beng merasa betapa jantungnya berdebar tegang dan seperti orang kebingungan dia lari lagi ke depan disitu, kini dia berlutut agar dapat memandang dan mengamati wajah gadis itu lebih jelas lagi. Seperti sedang mimpi Han Beng mengamati wajah itu dan dia menjadi semakin yakin. Giok Cu membuka matanya dan hampir ia menjerit ketika melihat pemuda tinggi besar itu berlutut di depannya, dekat hanya dalam jarak satu meter dan pemuda itu sedang mengamati wajahnya seperti orang mengamati sebuah lukisan yang aneh!

"Heiiiii! Apa yang kaulakukan ini? Mengapa engkau memandangku seperti itu?" la membentak dan suaranya nyaring mengejutkan. Han Beng yang memang sedang termenung itu, sedang melayang kepada kenangan lama, terkejut sekali dan dengan gugup dia pun menjawab dengan kacau, menurutkan jalan pikirannya yang tadi mengenangkan peristiwa masa lalu.

"Aku. aku sudah memijat-mijat perutmu sampai kempis 

kembali!" Han Beng kaget sendiri mendengar ucapannya itu, apalagi Giok Cu. Gadis ini terbelalak, mukanya berubah merah sekali, matanya mencorong dan ia pun meloncat berdiri dan menghunus pedangnya.

"Kau. kau berani kurang ajar padaku, ya? Kaukira aku 

sudah kalah tadi dan kau boleh membuka mulut mengeluarkan kata-kata yang bukan-bukan untuk menghinaku?"

"Eh, maaf......... sabarlah. tenanglah sekali lagi maaf. 

Aku teringat akan masa lampau.......... engkau. bukankah 

engkau Giok Cu. Bu Giok Cu?"

Kini Giok Cu terbelalak memandang kepada pemuda itu, alisnya berkerut lalu ia menghardik. "Hemmm, engkau tentu sudah mendengar namaku disebut orang tadi, apa anehnya itu?"

"Tidak. , tidak, Giok Cu. Ah, lupakah engkau 

kepadaku? Lupakah engkau ketika kita berdua di Sungai Huang-ho berkelahi melawan naga, eh, ular itu, ke mudian  perut kita kembung oleh air dan aku memijat perutmu agar airnya keluar dari perut? Kau lupa kepadaku?"

Kini sepasang mata yang jeli dan bersinar-sinar bagaikan sepasang bintang itu terbelalak, dengan penuh selidik mengamati wajah Han Beng dan terbayanglah peristiwa belasan tahun yang lalu itu. Terkenanglah ia akan peristiwa yang amat hebat itu, ketika nyawanya berada dalam cengkeraman maut yang mengerikan, berkelahi dengan ular di air Sungai Huang-ho, terancam pusaran air, dan dijadikan keroyokan banyak sekali tokoh-tokoh kang-ouw yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Di tempat itu pula ayah dan ibunya tewas, setelah menderita luka parah pukulan Sin-tiauw Liu Bhok Ki seperti yang diceritakan gurunya yang pertama, yaitu Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu. Tentu saja ia ingat kepada anak laki-laki yang menjadi kawan sependeritaan dalam peristiwa itu, anak laki-laki yang memang sudah menjadi sahabatnya sebelum terjadinya peristiwa itu karena orang tua mereka sama-sama pengungsi yang melarikan diri dari kerja paksa dan sama-sama menggunakan perahu dan bertemu di Sungai Kuning!

"Kau............ aku Si Han Beng ?" Tanyanya, masih 

gagap karena ragu-ragu.

Han Beng tertawa, bukan main gembira rasa hatinya karena pertanyaan gadis itu membuktikan bahwa memang benar dia berhadapan dengan Giok Cu!

"Benar, Giok Cu. Aku kawanmu senasib itu!"

"Han Beng. ! Benar engkau ini? Ah, engkau telah 

menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa dan berilmu tinggi, bahkan aku ........ aku sendiri kalah olehmu ”

"Ah, tidak, Giok Cu. Engkau tidak kalah, hanya engkau menderita luka.dalam, bukan karena pertandingan kita tadi.  Dan engkau sendiri. wah, Giok Cu, sungguh tadinya 

bagaimana mungkin aku dapat mengenalmu? Engkau sekarang, telah menjadi seorang gadis yang. amat cantik 

jelita, dan memiliki ilmu kepandaian yang hebat pula! Eh, maafkan aku, Giok Cu, mungkin aku terlalu lancang dan harus menyebutmu nyonya ?"

Wajah Giok Cu berubah merah dan mulutnya cemberut, akan tetapi ia tidak marah. Bagaimana ia bisa marah kepada Han Beng, kawan baiknya ketika mereka masih kecil itu? Dahulu, setelah peristiwa hebat di Sungai Kuning yang membuat mereka saling berpisah, sering kali ia terkenang kepada kawan baiknya itu.

"Han Beng, jangan macam-macam! Aku belum menjadi nyonya, belum menikah."

Han Beng tertawa lepas dan gadis itu mengamati wajahnya. Masih seperti dulu tawanya, pikirnya, bebas dan membayangkan kejujuran.

"Kenapa engkau mentertawakan aku?" la bertanya, alisnya berkerut.

"Aku senang sekali, Giok Cu!"

"Senang? Aku belum menikah dan engkau senang?"

Kini kedua pipi Han Beng yang menjadi kemerahan, dan dia menjawab gagap, "Oh, tidak ! Aku senang bertemu 

denganmu dan aku senang engkau masih galak seperti dulu!"

Giok Cu juga tertawa dan melihat gadis itu tertawa, jantung di dalam dada Han Beng berdebar keras. Alangkah manisnya Giok Cu! Ingin dia merangkul, ingin dia memondong, ingin dia membawa gadis itu menari-nari saking gembira, hatinya. "Dan engkau masih canggung seperti dulu. Berapa anakmu sekarang, Han Beng?"

"Anak?" Sepasang mata yang lebar itu terbelalak. "Aku tidak beranak!"

"Tentu saja, anak bodoh! Bukan engkau yang beranak, akan tetapi isterimu." Giok Cu sudah terseret dan hanyut dalam suasana dahulu sehingga, seperti dahulu, ia berani memaki Han Beng anak bodoh!

Han Beng tersenyum, girang agaknya mendengar makian sayang ini. "Isteri siapa? Aku belum beristeri."

Wajah yang cantik jelita itu berseri dengan cerahnya dan hal ini nampak nyata oleh Han Beng. "Wah, aku girang sekali mendengar engkau belum menikah, Han Beng!" kata Giok Cu dan giginya yang berderet putih rapi itu tersembul di balik sepasang bibirnya yang merekah.

"Kenapa, Giok Cu? Kenapa hatiku girang mendengar engkau belum menikah dan engkau pun gembira mendengar aku belum menikah?"

Mendengar pertanyaan ini, kembali wajah Giok Cu menjadi kemerahan.

"Ihhh, jangan menyangka yang bukan-bukan, engkau! Aku girang mendengar engkau belum menikah karena kalau sudah, isterimu tentu akan cemburu melihat kita bercakap- cakap!"

"Sungguh aneh, aku pun berpikir demikian!" "Kau hanya tiru-tiru saja!" Seperti dulu ketika mereka masih kecil, Han Beng yang selalu mengalah dan tersenyum menyudahi pertengkaran yang timbul. "Giok Cu, mari duduk yang enak dan kita saling menceritakan riwayat kita masing-masing semenjak kita saling berpisah di Sungai Huang-ho itu."

Mereka duduk berhadapan, di atas batu datar yang terdapat di tempat itu. Sejenak mereka saling pandang, penuh perhatian, penuh kegembiraan dan akhirnya Giok Cu menghela napas panjang. Mengenangkan masa lalu, ia teringat kepada ayah ibunya dan ia merasa berduka.

"Engkau berceritalah dulu," katanya.

"Nanti dulu, Giok Cu. Sebelum itu perlu aku merasa yakin benar bahwa lukamu di dalam tubuh itu tidak berbahaya. Kalau perlu, mari kubantu engkau menghalau luka itu agar sembuh sama sekali."

Giok Cu menggeleng kepala. "Tidak perlu, bukan luka oleh pukulan musuh melainkan karena salahku sendiri, dan nanti kuceritakan tentang itu."

"Apakah tidak sebaiknya kalau kita pulang ke rumahmu dan bicara saja sana? Aku ingin sekali bertemu dengan Ayah Ibumu. " Han Beng menghentikan bicaranya ketika 

melihat betapa tiba-tiba gadis itu memandang kepadanya dengan wajah berubah pucat dan mata muram. "Kenapa Giok Cu. ?" tanyanya khawatir.

"Ayah Ibuku telah tewas!"

"Ohhh ! Kalau begitu sama dengan Ayah Ibuku 

........... " kata Han Beng menyesal.

“Ahhh! Ayah Ibumu juga tewas, Han Beng?" Pemuda itu mengangguk dan keduanya termenung. Kalau tadi mereka saling bertemu, keduanya menjadi gembira sekali, kini mereka merasa bahwa ada ikatan yang lebih erat di antara mereka karena mereka berdua ternyata memiliki nasib yang sama pula!

"Biar kuceritakan saja semua pengalamanku, Giok Cu. Ketika terjadi peristiwa hebat di sungai itu, ketika para tokoh kang-ouw yang tadinya berebutan anak naga, kemudian berbalik memperebutkan kita karena kita telah minum darah anak naga atau ular itu, kita saling berpisah. Aku tentu sudah tewas atau setidaknya ditawan orang jahat kalau saja tidak ditolong oleh Suhuku yang pertama. Suhu itu pun tentu takkan mampu melindungi aku kalau tidak dibantu oleh Suhuku ke dua. Dan di dalam perebutan di sungai itulah Ayah dan Ibuku tewas, entah oleh siapa, Giok Cu. Aku lalu mengikuti Suhuku yang pertama selama lima tahun, lalu Suhu ke dua selama lima tahun, kemudian aku masih berguru lagi kepada seorang tosu. Baru saja aku turun dari Gunung Thai-san dan Suhu menasehati aku untuk membebas rakyat yang tertindas oleh adanya kerja paksa pembuatan terusan, juga untuk menentang kejahatan."

"Aih, gurumu tiga orang. Pantas sekali engkau menjadi begini lihai."

"Dangan terlalu memujiku, Giok Cu Sekarang ceritakanlah pengalamanmu. Ingin sekali aku mendengar."

"Pengalamanku biasa saja, tidak sehebat engkau. Tentu engkau telah menjadi seorang pendekar yang hebat, maka orang-orang Hui itu sampai begitu sayang kepadamu, bukan hanya menyebutmu Huang-ho Sin-liong, akan tetapi juga mereka tidak mau menentangmu."

"Engkau terlalu merendahkan dirimu Giok Cu. Sudahlah, jangan goda aku yang sudah ingin sekali mendengar riwayatmu. Ceritakanlah." "Seperti engkau, ketika terjadi keributan di Sungai Huang- ho itu, aku pun diselamatkan oleh seorang wanita sakti yang kemudian menjadi guruku. Selama tujuh tahun aku digembleng oleh guruku itu. Kemudian, aku bertemu dengan guruku yang ke dua dan dari guruku ke dua ini, seorang hwesio tua yang lebih sakti lagi, aku dilatih selama lima tahun. Nah, aku turun gunung dan seperti engkau pula, Suhu menasehati aku untuk menentang kejahatan dan melindungi rakyat yang tertindas. Tentu saja aku menentang para pejabat yang memaksa rakyat untuk bekerja membuat terusan sebagai kerja paksa tanpa bayaran. Bukankah keluarga kita menderita malapetaka justeru karena adanya kerja paksa itu? Dan di dalam keributan itu, Ayah dan Ibu juga tewas oleh orang jahat."

Han Beng tidak puas mendengar cerita yang singkat itu. Dia tidak merasa bahwa dia sendiri pun tadi menceritakan pengalamannya dengan singkat pula, hanya garis besarnya saja. Dia memang pada dasarnya tidak pandai bicara.

"Lalu bagaimana engkau dapat menderita luka di sebelah dalam tubuhmu kalau tidak terkena pukulan lawan seperti kau katakan tadi?"

Giok Cu teringat akan subonya dan ia menarik napas panjang. Subonya ia adalah penolongnya, akan tetapi ternyata juga merupakan orang yang mencelakakannya. Memang, ia disayang dan diajari ilmu-ilmu milik subonya. Akan tetapi sejak ia kecil, subonya sudah memberi tanda merah pada lengannya itu. Tanda merah yang membuat ia selama hidupnya tidak akan berani menjadi isteri orang! Dan sekarang, ternyata ilmu- ilmu dari subonya itu juga berbahaya bagi nyawanya. Tepat seperti dikatakan oleh Hek Bin Hwesio, gurunya kedua bahwa menggunakan llrnu-ilmu sesat dari subonya itu amat berbahaya. Kalau ia bertanding dengan orang yang memiliki kekuatan yang lebih besar, maka hawa beracun yang dipergunakan dalam pukulannya seperti yang diajarkan subonya itu akan dapat membalik dan melukai diri sendiri. "Ah, itu memang salahku sendiri. Ketahuilah bahwa Suboku adalah seorang datuk sesat yang mengajarkan ilmu-ilmu yang mengandung hawa beracun kepadaku. Setelah aku berguru kepada hwesio tua itu, Suhu meberitahu bahwa amat berbahaya bagiku kalau mempergunakan ilmu-ilmu dari Subo itu dalam perkelahian melawan lawan yang tangguh. Aku tidak mentaati nasehatnya dan aku telah nenggunakan ilmu-ilmu sesat itu sehingga aku terluka, maka itu adalah kesalahanku sendiri."

"Siapakah Subomu itu, Giok Cu?"

"Subo berjuluk Ban-tok Mo-li bernama Phang Bi Cu 

............"

"Ahhhhh !" Han Beng berseru, kaget karena dia sudah 

amat mengenal nama datuk sesat itu. Bahkan puteri dari Ban- tok Mo-li itu, ialah Sim Lan Ci, adalah Nyonya Coa Siang Lee yang telah menjadi saudara angkatnya!

"Engkau sudah mengenal Subo?" tanya Giok Cu sambil memandang tajam penuh selidik.

"Tidak, akan tetapi aku sudah sering mendengar nama besarnya. Dan siapa nama Suhumu yang ke dua itu?"

"Nama Suhu adalah Hek bin Hwesio. Apakah engkau juga sudah mengenalnya?''

Dengan jujur Han Beng menggeleng kepala. "Aku hanya pernah mendengar ilmu kepandaian Hek-bin Hwesio amat tinggi. Tidak heran engkau begini lihai Giok Cu. Kiranya murid Lo-cianpwe (Orang Tua Sakti) Hek-bin Hwesio."

"Han Beng, engkau ingin tahu segalanya dariku, akan tetapi engkau sendir tidak menceritakan apa-apa tentang dirimu. Siapakah nama guru-gurumu itu Tentu mereka merupakan  orang-orang yang sakti di dunia kang-ouw maka engkau dapat memiliki ilmu kepandaian sehebat itu."

"Ah, boleh jadi guru-guruku pandai akan tetapi aku sendiri hanya seorang murid bodoh yang masih harus banyak belajar. Guruku yang pertama berjuluk Liu Bhok Ki, yang ke dua Sin- ciang Kai-ong dan yang ke tiga adalah Pek I Tojin. eh, 

kenapa kau?"

Giok Cu tidak mendengarkan lagi nama-nama berikutnya setelah mendenga nama guru pertama dan ia sudah bangkit berdiri, memandang kepada Han Ben dengan sinar mata bersinar aneh dan muka kemerahan karena marah.

"Liu Bhok Ki ............ ? Sin-tiauw Liu Bhok Ki ?"

"Benar dia, apakah engkau sudah kenal dengan Suhu, Giok Cu?"

"Tentu saja aku kenal! Di mana dia sekarang? Di mana aku dapat bertemu dengan Sin-tiauw Liu Bhok Ki. ?"

Han Beng yang berwatak jujur itu tidak melihat perubahan sikap gadis itu. Dia bahkan merasa girang bahwa Giok Cu mengenal suhunya. "Suhu Liu Bhok Ki masih berada di tempat pertapaan-nya yang dulu, yaitu di puncak Kim-hong-san di lembah Sungai Kuning "

"Bagus sekali! Sekarang juga aku akan mencarinya di sana!" Berkata demikian, gadis itu siap untuk pergi meninggalkan tempat itu. Akan tetapi tentu saja sikap ini membuat Han Beng terkejut dan heran. Dia sudah melangkah ke depan Giok Cu, memandang gadis itu dengan penuh selidik.

"Giok Cu, nanti dulu. Mengapa engkau tergesa-gesa mencari Suhu Liu Bhok Ki? Ada urusan apakah dengan dia?" "Bukan urusanmu, dan engkau tidak boleh mencampuri. Ini urusan pribadiku!"

"Akan tetapi, ada apakah, Giok Cu ? Aku adalah sahabatmu, dan aku muridnya "

"Hemm, jadi engkau hendak membelanya, ya?" "Membelanya? Apa maksudmu? Engkau engkau 

mau apakah mencari Suhu?" "Aku hendak membunuhnya!"

Tentu saja Han Beng merasa terkejut bukan main sehingga sejenak dia tidak mampu mengeluarkan kata-kata, hanya memandang kepada Giok Cu dengan mata terbelalak. Lalu dia teringat bahwa gadi ini adalah murid Ban-tok Mo-li, ibu kandung Sim Lan Ci. "Giok Cu, apakah engkau diutus Ban-tok Mo-li untuk memusuhi Suhu Liu Bhok Ki?" Suaranya mengandung teguran. Sikap ini membuat Giok Cu menjadi marah.

"Kalau betul engkau mau apa? Engkau hendak membela gurumu? Boleh!" tantangnya dan gadis itu sudah mencabut pedangnya yang tumpul.

"Sabarlah, Giok Cu. Engkau sendiri tadi mengaku bahwa gurumu itu, Ban-Tok Mo-li adalah seorang datuk sesat. Kalau engkau mewakili Ban-tok Mo-li untuk menyerang Suhu karena urusan Sim Lan Ci, maka aku dapat memberi penjelasan. Suhu tidak bersalah, bahkan kini dia sudah berbaik dengan Sim Lan Ci dan suaminya, Coa Siang Lee."

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan itu. Aku hendak membunuh Liu Bhok Ki bukan karena diutus Subo, melainkan urusan pribadiku. Dia telah berdosa besar dan bagaimanapun juga, Han Beng, aku harus membunuhnya.  Kalau engkau hendak membelanya, terpaksa engkau pun akan kuhadapi sebagai musuh! Aku siap mempertaruhkan nyawa untuk tugas ini!"

Tentu saja Han Beng menjadi semakin kaget. Tentu ada urusan yang amat besar telah terjadi antara gurunya yang pertama itu dengan gadis ini. Kalau tidak begitu, tidak mungkin Giok Cu mendendam sehebat ini.

"Giok Cu, aku bukan hendak membela Suhu, hanya aku sungguh tidak mengerti mengapa engkau memusuhi Suhu seorang pendekar yang budiman. Katakanlah agar aku tidak penasaran, Giok Cu mengapa engkau hendak membunuh Suhu Liu Bhok Ki?"

"Karena dia telah membunuh Ayah dan Ibuku!"

Han Beng tersentak kaget, matanya melebar dan mukanya menjadi agak pucat, bahkan dia seperti menerima pukulan pada mukanya yang membuat dia terhuyung ke belakang sampai lima langkah.

"Tidak ........ tidak mungkin !" Dia berteriak. "Tidak 

mungkin Suhu Liu Bhok Ki melakukan kekejian itu! Mengapa dia harus membunuh Ayah Ibumu? Ah, engkau salah sangka, Giok Cu, Suhu Liu Bhok Ki sama sekali tidak membunuh Ayah Ibumu. Akulah yang menjadi saksinya. Sebelum dia membawaku pergi kami berdua telah bertemu dengan Ayah Ibumu karena aku mencari orang tuaku dan bahkan mereka diobati oleh guruku itu!”

"Diobati dengan racun! Ayah Ibuku telah diobati dengan racun oleh gurumu yang jahat itu, maka aku telah bersumpah bahwa aku akan membunuh Sin-tiauw Liu Bhok Ki!"

"Hemmm, hal itu tidak mungkin sama sekali, Giok Cu. Suhu Sin-tiauw Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar yang gagah  perkasa, bagaimana mungkin dia membunuh orang dengan obat beracun? Pula, kalau memang dia hendak membunuh Ayah Ibumu, mengapa pula harus memakai racun? Tentu dia dapat melakukannya dengan mudah."

"Akan tetapi, Ayah Ibuku tewas karena racun setelah mereka diobati Sin-tiauw Liu Bhok Ki, maka tidak salah lagi. Dialah yang membunuh Ayah Ibuku, dan kini aku ingin membalaskan kematian mereka. Siapapun tidak boleh menghalangi, engkau pun tidak!"

"Nanti dulu, Giok Cu, aku tidak akan menghalangimu bahkan mungkin aku juga akan menuntut guruku kalau memang dia demikian jahatnya. Akan tetapi aku tidak melihat sebab mengapa guruku membunuh orang tuamu. Apakah engkau melihat sendiri ketika guruku memberi obat beracun kepada orang tuamu?"

"Aku melihat sendiri Ayah Ibuku mati karena keracunan!" "Dan engkau melihat guruku yang memberi racun kepada 

mereka?"

"Tentu saja aku tidak melihat. Akan tetapi, Ayah dan Ibu sendiri yang mengatakan bahwa baru saja engkau dan Liu Bhok Ki datang dan gurumu itu telah mengobati mereka. Dan di depan mataku, tiba-tiba saja mereka berdua itu mati keracunan. Siapa lagi kalau bukan gurumu yang telah meracuninya?"

Han Beng mengerutkan alisnya. Sungguh mustahil gurunya meracuni ayah ibu Giok Cu. 

"Giok Cu, siapakah yang mengatakan kepadamu bahwa guruku yang memberi obat beracun? Ketika engkau berada- bersama orang tuamu, siapa yang berada di situ?" "Aku mengajak Subo untuk lebih dulu mencari orang tuaku sebelum ia membawaku pergi. Subo berada di sana menjadi saksi dan Subo yang mengatakan bahwa orang tuaku tewas karena obat beracun yang diberikan oleh Sin-tiauw Liu Bhok Ki."

"Ah, aku mengerti sekarang! Giok Cu, bukan guruku Liu Bhok Ki yang meracuni Ayah Ibumu, melainkan Ban-tok Mo-li sendiri!"

Giok Cu mengerutkan alisnya. "Hemm, tidak mungkin! Untuk apa ia meracuni dan membunuh orang tuaku kalau ia hendak mengambil aku sebagai muridnya?”

"Mari kita pikirkan baik-baik dan dengan hati dan kepala dingin, Giok Cu. Percayalah, aku masih sahabatmu yang dahulu. Kalau benar guruku Sin-tiauw Liu Bhok Ki membunuh Ayah Ibumu, aku sendiri yang akan menuntutnya dan meminta pertanggungan jawabnya. Akan tetapi, mari kita selidiki. Guruku itu seorang pendekar besar, dan dia sama sekali tidak mempunyai alasan mengapa harus meracuni orang tuamu. Kalau dia hendak membunuh orang, tentu dilakukannya dengan pukulan saktinya, bukan menggunakan racun! Dan sekarang kita selidiki keadaan Subomu, Ban-tok Mo-li itu. Ia seorang datuk sesat yang tidak segan melakukan kekejaman bagaimana pun juga. Dari julukannya saja diketahui bahwa ia seorang ahli racun dan engkau sendiri tentu tahu bahwa ia ahli pula. melakukan pukulan beracun seperti yang juga kau pelajari. Jadi, mudah sekali baginya untuk memberi pukulan beracun kepada Ayah Ibumu, dan engkau pada waktu itu tentu tidak akan mengetahuinya. Dan ia mempunyai niat untuk membawamu sebagai murid. Mungkin ia takut Ayah Ibumu akan melarangmu, maka ia membunuh mereka, dan sengaja ia melempar fitnah kepada guruku agar engkau tidak mendendam kepadanya melainkan kepada guruku."

Giok Cu adalah seorang gadis yang cerdik sekali. Mendengar semua ucapan Han Beng itu, hatinya tergerak. Ia  cukup mengenal subonya, seorang wanita iblis yang amat kejam sehingga apa yang dikatakan Han Beng itu bukan suatu hal yang mustahil dilakukan subonya. Akan tetapi, ia tidak mempunyai bukti, maka ia mulai meragu.

ooOOoo

"Tapi ........ tapi Subo mengatakan bahwa Sin-tiauw 

Liu Bhok Ki yang membunuh Ayah Ibuku, dan selama bertahun-tahun ini, di dalam hatiku sudah keambil keputusan bahwa suatu hari aku akan nenemui Liu Bhok Ki untuk membalas dendam atas kematian Ayah Ibuku!"

"Ingatlah, Giok Cu. Bagaimana kalau engkau yang terburu nafsu berhasil membunuh guruku Liu Bhok Ki dan kemudian mendapat kenyataan bahwa pembunuh orang tuamu bukan Sin-tiauw Liu Bhok Ki melainkan Ban-tok Mo-li sendiri?"

"Ahhhhh " Giok Cu menjadi semakin ragu, " tapi 

........... tapi ..........., apa yang harus kulakukan. ?"

"Giok Cu, dengarlah baik-baik. Kita masih sahabat seperti dahulu, bukan? Dahulu, kita menghadapi ular itu bersama, kita bersama menggigitnya sampai dia mati. Kita bersama menghadapi ancaman maut di tangan orang-orang jahat. Nah, maukah engkau kuajak untuk bersama-sama pula menghadapi semua ini? Aku akan membantumu, Giok Cu. Demi langit dan bumi, aku tidak akan memihak Suhu kalau memang dia bersalah. Kita selesaikan dulu urusan di sini urusan yang penting sekali karena akan terjadi pemberontakan. Kita menghadap Liu Tai-jin, maksudku bukan menghadap beliau, melainkan menyampaikan semua hasil penyelidikan kita tentang Cang Ta-jin dan para pemberontak. Keteranganmu merupakan berita yang penting sekali. Sesudah itu, barulah kita berdua akan mengunjungi mereka."

"Mereka siapa maksudmu?" "Pertama, kita kunjungi guruku, Si tiauw Liu Bhok Ki dan aku yang akan terang-terangan bertanya apakah di telah membunuh orang tuamu dengan obat beracun!"

"Tentu dia menyangkal "

"Kalau memang dia melakukan perbuatan itu, aku tanggung dia tidak akan menyangkal, Giok Cu. Aku mengenal benar orang macam apa adanya guruku. Dia amat keras dan jujur, amat tinggi menghargai diri dan kehormatan sehingga menjadi angkuh. Kalau. dia melakukan sesuatu, pasti dia akan mengakuinya kepada siapapun juga. Dia paling membenci sikap pengecut."

"Lalu bagaimana setelah kita menemui gurumu dan dia menyangkal?"

"Setelah itu, kita pergi menemui gurumu, Ban-tok Mo-li." "Ia akan memusuhiku karena aku telah melarikan diri 

darinya dan membuatnya marah." Giok Cu berhenti sebentar lalu melanjutkan. "Aku kini tidak takut kepadanya dan aku akan mampu menandinginya, akan tetapi bagaimana 

kalau ia pun menyangkal bahwa ia telah membunuh Ayah Ibuku? Apakah aku hanya akan puas dengan keterangan dua orang itu dan tidak lagi membalaskan kematian orang tuaku?"

"Kita coba saja dulu, Giok Cu. perkembangannya bagaimana nanti kita lihat dan kita tentukan tindakan kita lebih lanjut. Maukah engkau bekerja sama dengan aku seperti dulu ketika kita menghadapi mereka yang hendak menawan kita di sungai itu?"

Giok Cu teringat akan masa dulu dan ia pun tersenyum, mengangguk. "Baiklah, Han Beng. Tapi, bagaimana dengan orang tuamu sendiri? Siapakah yang membunuh mereka?"

"Mereka terbunuh dalam keributan itu. Demikian banyaknya orang kang-ouw yang jahat dan pandai di sana sehingga sukar diselidiki siapa yang telah membunuh Ayah dan Ibu. Akan tetapi ketika tadi aku melihat engkau dikeroyok aku melihat dua orang yang kalau tidak salah dahulu ikut pula memperebutkan anak naga, kemudian memperebutkan diri kita di Sungai Huang-ho."

"Eh? Benarkah? Aku tidak mengenal mereka! Yang manakah?"

"Dahulu guruku Sin-tiauw Liu Bhok Ki pernah menceritakan siapa adanya mereka yang ikut memperebutkan diri kita seorang demi seorang, dan kalau tidak salah yang menggunakan golok rantai bertubuh tinggi kurus tadi, dan seorang lagi yang gendut pendek dan tongkatnya dilapisi warna emas."

"Hemmm, mereka adalah ketua Pouw beng-pang yang bernama Kim-bwe-eng Gan Lok dan wakilnya yang bernama Kim-kauw-pang Pouw In Tiong!"

"Tepat sekali! Hanya bedanya, ketuanya yang berjuluk Gan Lok itu menurut Suhu berjuluk Kiu-bwe-houw (Harimau Ekor Sembilan) dan senjatanya pecut ekor sembilan dan cakar harimau, bukan golok rantai seperti sekarang. Akan tetapi jelas mereka berdua itu yang dulu juga ikut memperebutkan kita."

Dugaan Han Beng memang tepat. Ketua Pouw-beng-pang itu memang tokoh kang-ouw yang dahulu berjuluk Kiu-bwe- houw dan bersenjata pecut ekor sembilan. Akan tetapi setelah dia terlibat dalam pemberontakan dan menjadi buruan pemerintah, dia lalu mengubah julukannya menjadi Kim-bwe- eng dan mengganti pula senjatanya dengan golok rantai. Perubahan julukan dan senjata ini, sedikit banyak menolongnya dalam pelarian sampai dia menjadi ketua Pouw- beng-pang seperti sekarang.

Setelah menyetujui ajakan Han Beng untuk bekerja sama, pemuda dan gadis itu lalu melakukan perjalanan cepat, memasuki kembali kota Siong-an.

"Kita harus berhati-hati," kata Han Beng. "Sebaiknya memasuki kota Siong-an pada malam hari. Bagaimanapun juga, kepala daerah kota itu, Cang Tai-jin, adalah sekutu pemberontak dan tentu dia menyebar petugas untuk mengejar kita."

"Mengapa kita berkunjung ke Siong-an ?" tanya Giok Cu. "Liu Tai-jin telah memesan kepadaku bahwa kalau aku 

hendak menghubunginya, aku dapat mengadakan kontak dengan seorang pedagang obat yang membuka toko obat di kota Siong-an. Orang itu bernama Kui Song dan dia adalah mata-mata dari Liu Tai-jin."

Mereka berdua menanti di luar kota sampai hari menjadi gelap, barulah mereka menggunakan ilmu kepandaian mereka memasuki kota itu dengan meloncat pagar tembok kota dan bagaikan dua bayangan mereka berkelebatan mencari rumah tinggal Kui Song.

ooOOoo

Tidak sukar mencari toko itu. Mereka berdua berjalan mondar-mandir beberapa kali di jalan depan toko obat itu. Setelah melihat keadaan di toko itu sepi, juga di jalan mulai sepi karena malam mulai larut, dan para penjaga toko obat itu mulai menutup toko, mereka lalu menghampiri para penjaga  toko. Karena mengira mereka hendak membeli obat, seorang penjaga toko menyambut mereka.

"Kongcu dan Siocia (Tuan Muda dan Nona) hendak mencari obat apakah?"

"Kami hendak menawarkan rempah-rempah dan obat-obat yang kami bawa dari hulu sungai. Apakah Paman Kui Song ada? Kami ingin bicara sendiri perdagangan ini dengan dia."

Penjaga toko itu memandang dengan mata menyelidik. "Kalau hendak menawarkan dagangan, sebaiknya kalau besok pagi saja engkau datang lagi. Kui Sin-she (Tabib Kui) sedang beristirahat dan tidak boleh diganggu."

"Hemmm, akan tetapi selain menawarkan dagangan, juga kami mempunyai urusan penting, mengenai pesanan Paman Kui. Harap sampaikan kepadanya bahwa kami perlu bertemu karena urusan yang amat penting."

Orang itu kembali mengamati Han Beng dan Giok Cu, lalu bertanya denga hati-hati. 

"Siapakah Ji-wi (Anda Berdua) dan keperluan apakah yang penting itu. Akan kusampaikan kepada Kui Sin-she."

"Katakan saja bahwa aku orang she Si membawa berita penting untuk orang she Liu."

Kini penjaga toko itu tidak banyak cakap lagi, lalu masuk ke dalam dan dua orang kawannya melanjutkan pekerjaan mereka menutup toko. Tak lama kemudian, dia kembali lagi bersama seorang pria berusia lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus, berpakaian seperti seorang sastrawan dan memiliki pandang mata yang tajam. Melihat Han Beng, dia mengamati dengan tajam, lalu bertanya dengan suara lirih. 

"Huang-ho Sin-liong ?"

Han Beng mengangkat kedua tangan ke depan dada. "Aku Si Han Beng mempunyai urusan penting dengan Paman Kui Song. Dan ini adalah Nona Bu Giok Cu, seorang sahabat baik."

Kui Song cepat membalas penghormatan mereka. "Mari, silakan masuk. Kita bicara di dalam saja," katanya sambil melempar pandang dengan penuh perhatian ke jalan raya. Dia mengangguk lega ketika melihat suasana yang sunyi di luar. Sambil mengantar dua orang tamunya masuk, dia berkata kepada tiga orang penjaga toko itu, "Setelah tutup kalian berjaga di luar."

Setelah masuk ke dalam, ternyata rumah itu luas juga dan selain tiga orang pria yang bertugas menjaga toko dan menjaga di luar, di dalam terdapat pula dua orang pemuda yang bertugas sebagai pelayan pula. Padahal, seperti juga yang berada di luar, mereka berlima itu adalah lima orang perajurit pengawal yang memiliki kepandaian silat lumayan, dan sengaja diperbantukan kepada Kui Song yang bertugas sebagai seorang penyelidik atau mata-mata. Tidak ada seorang pun wanita di situ. Kui Song tidak begitu bodoh untuk memboyong keluarganya yang berada di kotaraja, karena di Siong-an dia mempunyai tugas yang berbahaya. Kalau tugasnya gagal dan ketahuan pihak musuh, nyawanya terancan bahaya. Di kota raja, Kui Song mempunyai kedudukan sebagai seorang perwira tinggi. Karena dia mengerti tentang obat-obatan, maka dia menyamar sebagai seorang tabib yang berdagang obat di kota itu.

Setelah mereka duduk di ruangan dalam, Kui Song berkata, "Harap Si Tai-hiap jangan heran bahwa aku sudah menduga bahwa engkau adalah Huang-ho Sin liong yang terkenal itu  karena aku sudah menerima keterangan dari Liu Tai-jin! tentang dirimu. Oleh karena itu, begitu! pembantuku melapor bahwa ada tamu she Si yang hendak menyampaikan berita! penting untuk Liu Tai-jin, aku segera dapat menduga siapa adanya engkau. Dan maafkan aku, bagaimana dengan Nona Bu ini? Aku belum mengenalnya."

"Justeru ialah yang menjadi pembawa berita dan keterangan yang teramat penting tentang gerombolan pemberontak karena ia baru saja keluar dari sana dan sempat melihat dan mendengar tentang persekutuan mereka itu. Nona Bu ini adalah seorang sahabatku yang dapat dipercaya sepenuhnya, dan ia adalah seorang pendekar wanita yang amat lihai."

Mendengar ini, Kui Song segera bangkit dan memberi hormat kepada Giok Cu. "Ah, kalau begitu, harap maafkan aku, Li-hiap (Pendekar Wanita). Nah, sekarang harap Ji-wi suka menceritakan, berita apa yang amat penting itu?"

"Bahwa terdapat bukti adanya persekutuan antara Cang Tai-jin dengan pihak gerombolan pemberontak dan tentang perkumpulan Pouw-beng-pang yang bersekutu dengan orang- orang Hui untuk memberontak dengan dalih berjuang demi kepentingan rakyat tertindas," kata Han Beng. Mendengar ucapan itu, wajah Kui Song berseri.

"Itu sungguh berita yang amat penting! Memang itulah yang ditunggu-tunggu oleh Liu Tai-jin. Tuntutan terhadap Cang Tai- jin sebagai seorang yang menyalahgunakan tugas dan wewenang-nya, memaksa rakyat untuk menjadi pekerja paksa tanpa bayaran membuat terusa memang merupakan urusan besar, akan tetapi lebih besar lagi kalau dia bersekutu dengan gerombolan pemberontak. Si Tai-hiap, harap ceritakari dengan jelas."

"Nona Bu ini yang dapat bercerita lebih jelas. Kami sengaja hendak menyampaikan hal ini kepada Paman Kui Song,  karena kami tidak ada waktu untu'k menghadap sendiri kepada Liu Tai-jin. Juga kami tidak ingin mencampuri urusan pemerintah, hanya ingin membantu untuk menentang kejahatan saja. Giok Cu, ceritakanlah."

Giok Cu lalu menceritakan tentang semua hal yang dilihat dan didengarnya Betapa Cang Tai-jin, kepala daerah Siong-an bersekutu dengan gerombolan pemberontak dan sebagai utusan dari wakilnya, dia mengutus Kim-bwe Sam houw, tiga orang tokoh sesat yang amat terkenal di daerah Siong-an itu. Kemudian ia juga bercerita tentang Kim-kauw-pang Pouw In Tiong, juga tentang Yalami Cin, kepala suku Hui yang bersekutu dengan para pemberontak yang bersembunyi di balik nama pejuang pembela rakyat itu!

Mendengar keterangan itu, Kui Song gembira bukan main. "Ah, sungguh keterangan kalian ini amat penting! Tak kusangka mereka sudah bergerak sejauh itu! Mereka mempunyai anak buah kurang lebih lima ratus orang ditambah orang-orang Hui kurang lebih dua ribu orang? Berbahaya sekali! Kalau mereka bergerak sekarang, kota Siong-an dapat mudah mereka duduki. Penjagaan di sini tidak begitu kuat. Ah, berita ini harus cepat kusampaikan kepada Liu Tai-jin di kota raja! Ji-wi telah berjasa besar dan akan dilaporkan kepada Liu Tai-jin. Kalau kemudian Liu Tai-jin melaporkan ke istana, tentu Ji-wi akan mendapat anugerah besar dari Sribaginda Kaisar. Liu Tai-jin adalah seorang atasan yang amat adil dan bijaksana."

Giok Cu mengerutkan alisnya dan menjawab dengan suara yang dingin.

"Aku tidak pernah mengharapkan ini balasan jasa! Aku tidak menganggap ini sebagai jasa, melainkan sebagai kewajiban, maka tidak perlu Paman membuat laporan."

"Apa yang dikatakan Nona Bu benar, Paman Kui. Kami sudah merasa cukup puas kalau pemberontakan itu dapat  dibasmi sebelum terjadi perang yang hanya akan menyengsarakan rakyat. Dan kami percaya bahwa Liu Tai-jin akan menyeret pembesar-pembesar seperti Cang Tai-jin itu ke pengadilan. Kalau rakyat tidak dipaksa bekerja, kalau diberi jaminan dan penerangan yang baik tanpa paksaan dan tekanan, aku yakin rakyat akan dengan suka rela membantu penyelesaia pembuatan terusan itu. Jangan rakyat yang sudah miskin itu ditindas dan dijadikan kerja paksa lagi."

"Jangan khawatir, Tai-hiap dan Li-hiap. Biarpun di mana- mana terdapat pembesar-pembesar korup yang menekan rakyat semacam Cang Tai-jin, namun masih ada pemimpin- pemimpin seperti Liu Tai-jin yang menjalankan tugasnya dengan baik, bijaksana, dan adil."

Setelah menceritakan semua yang mereka ketahui tentang gerombolan pemberontak, Han Beng dan Giok Cu pergi meninggalkan rumah obat itu dengan diam-diam. Mereka menyelinap ke dalam kegelapan malam dan malam itu juga mereka keluar kota.

"Menurut keterangan guruku, Kui-bwe-houw Gan Lok yang kini mengubah julukan menjadi Kim-bwe-eng itu memang seorang tokoh kang-ouw yang tidak segan melakukan apa saja demi memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri. Akan tetapi yang mengherankan adalah Kim-kauw-pang Pouw In Tiong. Menurut Suhu, dia seorang jagoan dari Lu-liang-san, seorang yang biarpun wataknya sombong namun suka berlagak sebagai pendekar yang menentang kejahatan. Heran bagaimana dia pun terlibat ke dalam gerakan pemberontakan itu," kata Han Beng ketika mereka sudah meninggalkan kota Siong-an.

"Hemmm, apa anehnya? Harta dan kedudukan dapat membuat orang lupa diri? Menurut wejangan guruku, yaitu Hek-bin Hwesio, pikiran yang bergelimang nafsu amatlah cerdiknya, bagaikan bisikan iblis yang amat licin penuh muslihat sehingga segala perbuatan yang dilakukan, selalu  nampak benar dan baik saja, walaupun pada dasarnya mengandung pamrih untuk kesenangan pribadi,” kata Giok Cu.

Diam-diam Han Beng merasa girang dan kagum. Biarpun pernah menjadi murid seorang wanita iblis seperti Ban-tok Mo- li yang tersohor kejam sekali, ternyata Giok Cu beruntung mendapat gemblengan lahir batin dari seorang sakti dan bijaksana seperti Hek-bin Hwesio.

"Memang benar sekail wejangan Suhumu itu, Giok Cu. Kurasa Kim-kauw-pang Pouw In Tiong juga ditipu oleh pikirannya sendiri. Tentu dia menganggap bahwa dengan menjadi wakil ketua Pouw-beng-pang, dia telah melakukan tugas sebagai seorang pendekar, yaitu membela rakyat yang tertindas. Nama perkumpulannya saja Pouw-beng-pang (Perkumpulan Pembela Rakyat). Tentu saja di lubuk hatinya, dia tahu bahwa yang terutama mendorongnya adalah pemberontakan yang didasari keinginan untuk memperoleh kedudukan tinggi. Namun, nafsu telah menghapus kesadaran itu, dan dia melihat bahwa semua yang dilakukan itu benar dan baik. Oleh karena itulah, guruku Pek I Tojin selalu mengatakan bahwa kita harus berhati-hati terhadap musuh tak nampak yang berada di dalam diri kita sendiri, yaitu nafsu yang menguasai hati dan pikiran."

Giok Cu mengangguk-angguk, kemudian ia berhenti melangkah. Han Beng juga berhenti. Dia melihat betapa gadis itu melihat ke atas dan dia pun menengadah. Betapa indahnya malam itu. Tiada awan secuwil pun, langit bersih, agak kehitaman dan ditaburi laksaan bintang yang berkilauan dengan indahnya, ada yang bersinar terang, ada yang berkedip-kedip, laksaan jutaan, tak terhitung banyaknya! Sejenak menyelinap kesadarannya betapa ajaibnya semua itu, betapa agungnya, betapa indah dan betapa besarnya alam, dan betapa maha kuasa Sang Pencipta! Kedua orang muda itu bagaikan terpesona dan akhirnya Giok Cu menarik napas panjang. "Ada apakah, Giok Cu?" tanya Han Beng ketika mendengar helaan napas itu.

Giok Cu menundukkan muka dan mereka saling pandang. "Tidak apa-apa, aku hanya mengagumi keindahan alam." 

"Memang indah," kata Han Beng.

"Hidup tidaklah seindah ini " kembali gadis itu 

menarik napas panjang, teringat akan semua pengalaman hidupnya semenjak ditinggal mati ayah dan ibunya.

"Memang tidak seindah ini," kata pula Han Beng.

"Masih jauhkah tempat tinggal Sin-tiauw Liu Bhok Ki dari sini, Han Beng."

Sejenak Han Beng tidak menjawab, seperti terkejut diingatkan akan urusan gadis itu dengan gurunya. Kalau tadi, alam nampak indah dan hidup terasa demikian bahagia, kini dia seperti ditarik lari ke dalam kehidupan yang penuh persoalan, penuh pertentangan! Dia menarik napas panjang, teringat betapa masih banyak hal yang harus dia hadapi, hal- hal yang tidak mengenakkan hati.

"Tidak begitu jauh. Kita menuju ke Sungai Huang-ho, lalu mencari perahu dan melanjutkan perjalanan dengan perahu. Lebih cepat dan tidak melelahkan. Setelah tiba di kaki Bukit Kim-hong-san di lembah sungai, kita mendarat dan mendaki bukit. Dalam waktu paling lama lima hari kita akan tiba di tempat pertapaan Suhu Liu Bhok Ki."

Karena kota Siong-an letaknya di dekat sungai itu, maka menjelang tengah malam mereka sudah tiba di tepi sungai. Mereka berhasil menyewa sebuah perahu kecil dan tukang perahu, seorang laki-laki berusia empat puluh tahunan, suka mengantar mereka sampai ke kaki Bukit Kim-hong-san dengan bayaran yang pantas.

Perahu kecil saja, biliknya di tengah-tengah yang terlindung atap sederhana itu hanya dapat memuat seorang saja.

Han Beng mempersilakan Giok Cu mengaso dalam bilik sempit itu, sedangkan dia sendiri duduk di kepala perahu bersama tukang perahu, bahkan membantunya mendayung perahu yang mengikuti aliran air yang tidak begitu deras. Giok Cu tidak rikuh lagi, lalu mengaso dan merebahkan diri telentang di dalam bilik perahu. Tak lama kemudian ia pun sudah tidur nyenyak karena memang tubuhnya terasa lelah sekali.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Giok Cu sudah terbangun dari tidurnya dan ia pun keluar dari dalam bilik itu. Melihat Han Beng masih duduk di kepala perahu bersama tukang perahu, ia lalu menghampiri.

"Engkau tidurlah. Semalam engkau tidak tidur, engkau tentu lelah," katanya.

Han Beng menggeleng kepalanya. "Aku tidak mengantuk dan semalam aku sudah duduk mengaso di sini. Alam indah bukan main dan rasa lelah pun hilang. Lihat, matahari demikian indahnya, Giok Cu," katanya, menunjuk ke depan.

Bagian sungai itu lebar sekali seperti lautan dan matahari nampak seperti sebuah bola merah yang amat besar, dan sinarnya belum menyilaukan mata. Giok Cu memandang bola yang perlahan-lahan muncul dari permukaan air di depan, ia kagum bukan main. Memang penglihatan itu indah sekali. Sukar membayangkan betapa bola kemerahan seperti emas yang indah dan redup itu sebentar lagi akan menjadi bola api yang selain panas, juga tidak mungkin dapat dipandang mata karena menyilaukan. Lebih sukar untuk mengerti betapa bola  api yang teramat jauh itu menjadi sumber tenaga, bahkan menjadi sumber kehidupan di permukaan bumi! Setiap kali kita melihat matahari, sepatutnya kita bersukur dan memuji nama Sang Maha Pencipta yang demikian penuh kuasa dan kasih sayang kepada seluruh alam semesta, terutama begitu kasih sayang kepada manusia.

Kini matahari telah berubah menjadi bola emas yang cerah sekali, mulai tak tahan mata memandang gemilangnya sinar matahari, dan bola emas itu membuat jalan emas di permukaan air Sungai Huang-ho. Bola emas yang mulai berkobar dan menggugah seluruh permukaan bumi dari tidur lelap.

Tiba-tiba perhatian Han Beng dan Giok Cu tertarik akan munculnya sebuah perahu besar yang datang dari tepi dan agaknya sengaja menghadang perjalanan perahu kecil mereka. Tukang perahu juga melihatnya dan tiba-tiba tukang perahu itu menggigil ketakutan.

"Celaka ........... kita dihadang bajak sungai !" 

bisiknya. Mendengar ini, Han Beng dan Giok Cu memandang penuh perhatian. Di atas perahu besar itu nampak belasan orang dan beberapa orang di antara mereka memegang golok besar. Wajah mereka beringas dan jelas nampak bahwa mereka adalah orang-orang kasar yang sudah biasa mempergunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak mereka. Bajak sungai! Dan pada layar perahu yang setengah berkembang itu terdapat gambar tengkorak putih. Terdengar para bajak itu mulai berteriak-teriak dan tertawa-tawa ketika mereka melihat seorang gadis cantik di atas perahu kecil yang mereka hadang.

Kemudian nampak seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam menjenguk ke bawah dan melihat betapa para bajak itu minggir untuk memberi tempat Si Muka Hitam itu, mudah diduga bahwa tentulah dia itu kepalanya. Melihat Giok Cu, Si Muka Hitam juga tertawa dan terdengar dia berseru nyaring.  "Heiii, perahu yang di bawah, Serahkan gadis itu kepadaku, baru perahu boleh lewat dengan aman! Kalau tidak, gadis itu akan kami rampas dan kalian akan kami bunuh, kami jadikan umpan ikan, ha-ha-ha!"

Giok Cu marah sekali, akan tetapi ia didahului Han Beng yang berkata tenang, "Giok Cu, engkau tinggallah menjaga di sini, biar aku yang menghadapi mereka. Ini adalah wilayahku!" Setelah berkata demikian, sekali meloncat, Han Beng telah melayang ke atas perahu besar.

Giok Cu ingin menyusul, akan tetapi ia teringat bahwa Han Beng berjuluk Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning), maka ia pun tersenyum. Han Beng telah menjadi seorang pendekar yang mengambil sungai itu sebagai wilayahnya, di mana ia menentang semua kejahatan di sepanjang sungai!

Sementara itu, para bajak terkejut melihat pemuda tinggi besar dan tampan gagah itu melayang seperti terbang saja ke atas perahu mereka. Akan tetapi, karena mereka berjumlah enam belas orang, tentu saja mereka tidak takut dan segera mereka menyambut pemuda itu dengan bacokan-bacokan golok besar di tangan mereka. Akan tetapi, begitu pemuda itu menggerakkan kaki dan tangannya, empat orang bajak berteriak kesakitan, golok mereka beterbangan dan tubuh mereka pun terlempar ke luar dari perahu besar. Air sungai muncrat ketika tubuh mereka menimpa air. Sementara itu, begitu para bajak laut menyerbu lagi, kembali empat orang terlempar oleh kaki tangan Han Beng dan tubuh mereka terbanting ke air.

Melihat betapa dalam dua gebrakan saja Han Beng telah melemparkan delapan orang anak buahnya keluar perahu, kepala bajak sungai yang bermuka hitam itu menjadi terkejut, akan tetapi juga marah sekali. Dia mengeluarkan bentakan nyaring dan menyerang dengan senjatanya, yaitu sebatang tombak panjang yang besar dan berat. Ujung tombak yang runcing itu meluncur ke arah perut Han Beng! Namun, pemuda  ini dengan tenang saja miringkan tubuh sehingga tombak itu lewat di samping pinggangnya dan begitu ia menurunkan tangan kanan, dia telah menangkap tombak itu. Si Kepala Bajak mencoba untuk menarik tombaknya, namun sama sekali tidak berhasil. Dia semakin marah dan melepaskan tangan kanannya dari gagang tombak, melangkah maju dan menghantamkan tangan kanannya dengan kepalan yang besar itu ke arah muka Han Beng! Pemuda itu menyambutnya dengan tangan kiri yang terbuka. 

"Plakkkk!" Kepalan tangan kanan kepala bajak yang kuat dan besar itu bertemu dengan telapak tangan Han Beng yang segera mencengkeram, dan kepala bajak itu menjerit-jerit kesakitan, mencoba untuk menarik tangannya namun tidak dapat terlepas. Dua orang bajak menyerang dengan golok, namun dua kali kaki Han Beng melayang dan tubuh dua orang itu pun terlempar keluar dari perahu!

"Aduh, ampun.............. aduhhhhh, ampun. Tai-

hiap. !" Kepala bajak itu mengaduh-aduh karena 

kepalan tangan yang dicengkeram itu seperti dipanggang dalam api saja rasanya. Panas dan nyeri bukan main, sampai menusuk ke tulang sumsum dan meremas jantung.

"Hemmm, orang macam engkau ini seharusnya dibasmi!" kata Han Beng sambil mendorongkan tangannya dan cengkeramannya dilepaskan. Kepala bajak itu terjengkang dan dia memegangi tangan kanannya yang tulang-tulangnya remuk itu dengan tangan kiri, mengaduh-aduh. Ketika dia melihat anak buahnya masih memegang goloknya, dia membentak.

"Buang senjata kalian dan berlutut minta ampun kepada Tai-hiap!"

Sisa bajak yang tinggal lima orang itu dengan ketakutan lalu membuang golok mereka dan menjatuhkan diri berlutut,  mengangguk-angguk seperti sekumpulan ayam mematuki beras sambil minta ampun.

Sepuluh orang bajak yang terlempar ke air sungai tadi tidak menderita luka. Mereka berenang dan menuju ke perahu kecil, dengan maksud untuk menangkap gadis cantik di perahu itu. Akan tetapi, mereka disambut hantaman dayung oleh Giok Cu. Biarpun ada yang mencoba untuk menyelam dengan maksud menggulingkan perahu, namun dayung itu tetap saja dapat menghantam mereka dalam air dan berturut-turut, sepuluh orang bajak sungai itu pingsan dan tubuh mereka hanyut perlahan-lahan?

Han Beng melihat hal itu. Dia khawatir kalau bajak-bajak yang dipukuli dayung oleh Giok Cu itu tewas, maka dia pun berkata kepada para bajak, "Kalian selamatkan dulu kawan- kawan kalian itu!"

Kepala bajak yang masih meringis kesakitan karena buku- buku jari tangan kanannya patah-patah, memerintah, "Cepat tolong mereka!" Dan lima orang anak buahnya itu berloncatan ke air, berenang dan masing-masing menjambak rambut dua orang kawan yang pingsan dan menyeret mereka ke perahu. Biarpun dengan susah payah, akhirnya mereka berhasil juga menyeret tubuh sepuluh orang bajak yang pingsan itu ke atas perahu.

"Ampun, Taihiap Kami seperti buta saja, tidak mengenal seorang gagah. Bukankah Tai-hiap ini Huang-ho Sin-liong?"

Han Beng mengangguk. "Sebetulnya, sudah menjadi tugasku untuk membunuh kalian semua!"

"Ampun, Tai-hiap, ampunkan kami kami tidak 

mengenal Tai-hiap maka berani berbuat lancang. " "Hmmm, keparat kau! Jadi kalau berhadapan dengan yang kuat kalian tidak berani, akan tetapi kalau berhadapan dengan orang lemah kalian lalu berbuat jahat dan sesuka hati kalian?"

"Ampun, kami tidak berani lagi. " kata kepala bajak.

Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat dan Giok Cu telah berdiri di perahu itu. Melihat ini, kepala bajak dan anak buahnya menjadi semakin terkejut. Baru mereka tahu bahwa bukan hanya Huang-ho Sin-liong yang lihai, bahkan nona yang cantik itu pun lihai bukan main. Dari caranya merobohkan sepuluh orang bajak di air dan caranya meloncat dari perahu kecil ke perahu besar saja sudah membuktikan kelihaiannya.

"Han Beng, kenapa tidak kau bunuh saja semua tikus sungai ini?" kata Giok Cu, sengaja berkata demikian untuk menakut-nakuti mereka. Dan benar saja, mendengar ucapan itu, kepala bajak dan anak buahnya yang kini banyak yang sudah siuman dari pingsan, segera mengangguk-angguk sambil berlutut ke arah gadis itu.

"Lihiap, ampunkan kami .......... kami bertaubat "

"Ingin kami mengetahui, bagaimana caranya kalian akan bertaubat. Kalau sekarang kami mengampuni kalian, lalu kalian kembali akan merajalela dengan perahu kalian ini dan menghadang orang-orang untuk dibajak?" tanya Han Beng.

"Ampun, kami tidak berani lagi. Dahulunya kami adalah nelayan yang mencari ikan dan menjual tenaga untuk mengangkut barang dagangan dengan perahu. Kami akan kembali bekerja seperti dulu "

"Hemmm, hendak kami lihat apakah kalian akan memegang janji ini. Sekali ini kami suka membebaskan kalian, akan tetapi ingat, kalau satu kali lagi kami mendapatkan kalian membajak, kami tidak akan mengampuni kalian lagi!" "Baik, Tai-hiap. Dan terima kasih, Tai-hiap, Li-hiap!" Kepala bajak itu dengan girang mengangguk-anggukkan kepalanya dan dia sudah lupa akan tangannya yang nyeri bukan main.

"Mari, Giok Cu, kita lanjutkan perjalanan." Mereka berdua lalu meloncat ke dalam perahu kecil mereka dan menyuruh tukang perahu mengembangkan layar agar pelayaran dapat dipercepat.

Akan tetapi tukang perahu itu bahkan mendayung perahunya ke tepi. "Maafkan, saya tidak berani lagi melanjutkan. Pengalaman tadi sudah cukup bagi saya. Saya harus mengingat nasib anak isteri di rumah. Kalau saya mati di dalam pelayaran ini, biarpun Ji-wi membayar banyak,apa gunanya uang?"

Giok Cu dan Han Beng saling pandang. Lalu Giok Cu berkata, "Kami membutuhkan perahu ini. Kalau engkau tidak berani mengantar kami pun tidak mengapa, akan tetapi perahumu ini harus diserahkan kepada kami. Akan kubeli, jangan khawatir. Kami bukan bajak-bajak macam tadi yang suka merampas milik orang lain!"

Mendengar ini, tukang perahu itu memandang dengan wajah berseri. Dia lalu memberi harga yang pantas dan tanpa menawar lagi Giok Cu membayarnya. Tukang perahu itu menghaturkan terima kasih dan cepat meninggalkan tempat yang dianggapnya amat berbahaya itu.

"Wah, engkau mengeluarkan banyak uang untuk membeli perahu ini, Giok Cu," kata Han Beng.

"Tidak mengapa, aku mempunyai uang, hasil menjual gelang emas pemberian Subo dahulu. Sekarang perahu ini milik kita, lebih leluasa dan dapat kita pergunakan selama kita masih membutuhkan. Kalau sudah tidak kita pakai, dapat dijual atau diberikan kepada nelayan miskin." Kini mereka berdua melanjutkan perjalanan dan beberapa hari kemudian perahu mereka 'pun mereka daratkan di kaki Bukit Kim-hong-san. Tempat itu sunyi, maka Han Beng lalu menarik perahu itu ke darat dan menyembunyikannya ke semak belukar sehingga tidak nampak dari luar. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan mendaki bukit.

ooOOoo

Liu Tai-jin menerima laporan pembantunya, yaitu Tabib Kui Song dari Siong-an tentang pemberontakan itu dan tentang keterlibatan Cang Tai-jin dengan para pemberontak. Mendengar laporan yang lengkap ini, Liu Tai-jin merasa girang sekali.

"Di mana adanya Huang-ho Sin-liong dan Nona Pendekar itu sekarang?" tanyanya karena dia mempunyai keinginan untuk menarik dua orang muda perkasa yang sudah berjasa besar itu menjadi pembantunya.

"Sayang sekali, Tai-jin. Mereka berdua mengatakan bahwa mereka sudah cukup memenuhi kewajiban dan mereka tidak ingin terlibat dengan urusan pemerintah, juga mereka tidak mengharapkan balas jasa. Mereka telah pergi karena masih mempunyai banyak urusan pribadi yang harus mereka selesaikan."

Pejabat tinggi itu menarik napas. "Sudah kuduga, memang para pendekar itu lebih suka berkelana dengan bebas, tidak mau terikat. Bagaimanapun juga, selama masih ada pendekar- pendekar seperti mereka itu, negara menjadi aman dan kejahatan pun berkurang."

"Akan tetapi, Tai-jin, menurut keterangan yang saya dapatkan, di antara para pemberontak itu pun terdapat banyak mereka yang menamakan diri pejuang dan pendekar!" "Ah, di mana ada pendekar menjadi pemberontak? Kalau memang rakyat tertindas, mereka akan menentang para penindas. Akan tetapi, sekarang ini rakyat tertindas oleh pejabat-pejabat yang korup. Kalau pemberontakan itu dimaksudkan untuk merebut kekuasaan dan mencari kedudukan, apalagi bersekutu dengan pejabat korup seperti Cang Tai-jin, jelas bahwa pendekar yang bergabung di situ adalah pendekar sesat! Orang yang pada dasarnya hanya mencari kesenangan pribadi dan berkedok sebagai pendekar. Lihat Huang-ho Sin-liong itu. Dialah seorang pendekar sejati! Tidak mau menerima imbalan jasa, tidak mempunyai pamrih keuntungan pribadi dalam sepak terjangnya. Sayang dia tidak mau membantu kita, kalau kita memiliki tenaga seperti dia, alangkah baiknya."

"Akan tetapi, kalau dia menjadi pembantu Tai-jin, berarti dia menjadi seorang petugas negara, bukan seorang pendekar lagi!"

Pembesar itu tersenyum. "Benar juga engkau. Nah, sekarang kita harus mempersiapkan pasukan untuk membasmi para pemberontak dan menangkap Cang Tai-jin!"

Liu Tai-jin lalu menghubungi panglima yang segera mempersiapkan pasukan yang terdiri tidak kurang dari tiga ribu orang. Berangkatlah pasukan itu dengan cepat menuju ke Siong-an dan sarang pemberontak di bukit itu dikepung! Para pemberontak menjadi terkejut sekali karena tidak menduga bahwa rahasia mereka terbuka, tidak menduga bahwa tempat itu demikian cepat dikepung pasukan pemerintah. Kim-bwe- eng Gan Lok lalu memerirtahkan para pembantunya untuk mengatur pasukan melakukan perlawanan. Juga orang-orang Hui, di bawah pimpinan Yalami Cin, melakukan perlawanan mati-matian. Namun, pertempuran itu hanya berlangsung setengah hari saja. Banyak pemberontak dapat ditewaskan atau dilukai dan lebih banyak lagi yang melarikan diri kocar- kacir. Kim-bwe-eng Gan Lok dan Kim-pauw-pang Pouw In Tiong tewas dalam pertempuran itu. Akan tetapi Can Hong  San yang amat cerdik itu, sebelum keadaan terlalu berbahaya bagi dirinya, sudah lebih dulu lolos dan melarikan diri dari tempat itu. Begitu melihat bahwa persekutuan itu tidak mempunyai harapan, dia pun cepat meninggalkannya.