-->

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 16

Jilid 16

Aku tidak sudi !" Lan Ci berteriak. "Lebih baik aku 

mati!"

"Engkau tidak akan mati, Manis. Akan tetapi anakmu ini yang akan remuk kepalanya, dan engkau akhirnya akan jatuh pula ke dalam pelukanku, walau untuk itu aku harus melakukan paksaan. Nah, lihat kepala anakmu akan hancur dan otaknya berantakan!"

"Tunggu. ! Jangan bunuh anakku !" siang Lee 

berseru dengan lemah. "Ci-moi lakukanlah apa yang 

dikehendakinya" katanya dan suaranya mengandung isak saking marah dan tidak berdaya.

Sim Lan Ci membelalakkan matanya kepada suaminya. "Apa? Engkau suamiku sendiri, engkau satu-satunya pria varig kucinta, engkau menyuruh aku membiarkan diriku dihinanya? Kemudian, kalau dia sudah menggauli di depan matamu, ialu kelak engkau memandang rendah padaku, ya? Engkau menghinaku, engkau bahkan akan membenciku. !"

"Tidak, isteriku! Sama sekali tidak. Kalau hanya untuk keselamatan diriku sampai mati pun aku tidak rela melihat engkau disentuhnya. Akan tetapi untuk Thian Ki. ! Ingat 

Thian Ki anak kita satu-satunya. ! Dia tidak boleh mati 

konyol begitu saja!"

Sim Lan Ci menjadi lemas. Ia mandang ke kanan kiri bagaikan seekor kelinci yang sudah disudutkan, siap diterkam harimau. Ia tidak tahu harus berbuat apa, akan tetapi melihat anaknya diangkat tinggi-tinggi itu, ia merasa hatinya seperti hancur luluh. "Baiklah ......... baiklah !" Ia berbisik dan terdengar 

isak tertahan. "Aku turut perintahmu, akan tetapi.   

kaubebas dulu anakku......... , lepaskan dia "

"Ha-ha-ha, kaukira aku ini anak kecil yang mudah kautipu begitu saja? Namanya menjual barang, belum memberi dan memperlihatkan barangnya sudah mau minta bayarannya! Hayo kau tanggalkan dulu pakaian itu satu demi satu, dan aku akan membebaskan anakmu!"

Sim Lan Ci merasa bahwa ia berada di dalam cengkeraman seorang gila, atau seorang yang luar biasa jahatnya, kejamnya, akan tetapi juga amat cerdiknya. Bicara dengan orang seperti itu, tidak ada gunanya, juga akan menyakitkan hati saja kalau mencoba untuk mengakalinya. Maka, dengan hati penuh kemarahan sehingga tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena arah, mulailah ia menanggalkan pakaiannya, di depan penjahat muda yang gila itu, juga di depan suaminya yang memandang tidak berdaya.

"Bagus......... bagus........... ah, sudah kuduga. engkau 

memiliki tubuh yang hebat sekali. ! Ah, engkau sungguh 

manis. " Hong San terbelalak, matanya mengeluarkan sinar 

aneh dan hidungnya mendengus seperti seekor kuda, napasnya terengah. Lan Ci tidak peduli, menanggalkan pakaian seolah-olah disitu tidak ada seorang pun yang memandangnya, seperti kalau ia sedang hendak mandi saja.

"Sudah, kulaksanakan perintahmu, karang bebaskan anakku, berikan kepadaku!" kata Sim Lan Ci.

Hong San tertawa. "Ha-ha-ha, aku masih belum selesai denganmu, Manis, Masih belum selesai, bahkan baru mulai. , akan tetapi aku pun bukan orang yang tidak 

memegang janji. Nah, ini anakmu sudah kulepaskan, akan tetapi engkau naiklah ke atas pembaringan itu. Engkau harus melayani aku dengan suka rela, dengan mesra ah, aku 

sungguh semakin tergila-gila padamu, Manis. !" Hong San benar saja melepas Thian Ki yang tidak mampu bergerak itu ke atas lantai, di mana anak itu menggeletak tak mampu bergerak, hanya memandang dengan mata terbelalak ketakutan. Kemudian, dia menghampiri Lan Ci. Wanita ini maklum apa yang akan dilakukan penjahat yang seperti iblis gila Itu. Kalau ia menolak, tetap saja anaknya berada dalam bahaya. Ia harus pura-pura menurut, dan nanti di atas pembaringan, masih ada kesempatan baginya untuk mengadu nyawa! Yang penting, anaknya haruslah benar-benar bebas dari ancaman maut lebih dulu. Maka, ia pun mundur dan duduk di tepi pembaringan, seolah-olah menanti Hong San yang bagaikan seekor harimau menghampiri seekor kelinci gemuk yang sudah menyerah, dan gairah di dalam hati penjahat muda Ini semakin bergelora karena dia pun mengira bahwa sekali ini wanita manis itu telah benar-benar menyerah dan takluk kepadanya.

Sementara itu, sejak tadi Coa Siang Lee menjadi penonton yang tidak berdaya. Dapat dibayangkan bagaimana perasaan hatinya. Dia melihat puteranya terancam maut tanpa mampu melindungi, kini dia bahkan disuruh melihat isterinya tercinta akan diperkosa orang dan dia sama sekali tidak mampu bergerak! Ingin dia memaki, ingin dia berteriak, ingin dia menangis, namun dia tahu bahwa semua itu tidak ada gunanya, balkan kalau penjahat itu marah jangan-jangan Thian Ki akan dibunuhnya lebih dulu!

Hong San kini sudah tiba dekat sekali dengan Lan Ci, dan napasnya semakin memburu dan seluruh tubuhnya seolah- olah kebakaran, bahkan Lan Ci dapat merasakan betapa hawa panas keluar dari tubuh pemuda yang seperti iblis gila itu.

"Hemmm, aku tidak ingin menotokmu, aku ingin engkau hidup dalam pelukanku, ingin engkau menyerahkan diri dengan mesra, dengan suka rela. Aku cinta padamu, Manis 

...................“ Pada saat pemuda itu masih bicara dan berada dalam keadaan penuh nafsu sehingga seperti sebuah balon akan meledak itu, Lan Ci yang sudah siap si sejak tadi, tiba-tiba saja mengirim pukulan ke arah perut Hong San sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Pukulan Itu adalah pukulan beracun yang amat hebat dan sekali terkena pukulan itu biar seorang yang bagaimanapun lihainyn, jangan harap akan dapat hidup lagi. Isi perutnya tentu akan hangus dan membusuk oleh hawa beracun yang amat hebat.

Namun, Hong San memang seorang yang amat cerdik. Biarpun dia dikuasai nafsu berahi yang memuncak pada saat itu, namun dia tidak pernah lengah dan tetap waspada. Hal ini adalah karena dia pun telah maklum bahwa wanita itu amat lihai. Andaikata dia tidak tahu akan hal ini, mungkin saja dia telah terkena pukulan maut itu.

Dia tahu bahwa wanita itu lihai sekali, memiliki senjata rahasia dan pukulan beracun yang bahkan lebih berbahaya daripada suami wanita itu. Maka, biarpun seluruh tubuhnya dikuasai hawa nafsu, tetap saja dia waspada dan begitu Lan Ci menggerakan.tangan memukul, tubuhnya sudah berkelebat ke kiri dan pukulan yang dahsyat itu tidak mengenai sasaran! Tentu saja Lan Ci kaget bukan nain karena dia mengkhawatirkan putranya. Pada saat itu, tiba-tiba daun jendela diterobos tubuh orang dari luar, dan esosok bayangan berkelebat ke dalam kamar.

"Selamatkan anak itu!" terdengar suara yang tenang dan bayangan itu sudah menerjang kearah Hong San dengan dorongan tangan kanan yang datangkan angin keras.

"Wuuuuuttttt. !" Telapak tangan orang itu mendorong 

dan Hong San terkejut sekali, merasa betapa ada angin pukulan yang amat kuat menerjang Dia pun cepat mengerahkan tenaga menangkis. "Desss. !!" Akibat benturan kedua lengan ini, Hong 

San terhuyung dan hampir terpelanting! Akan tetapi, penyerang itu, seorang pemuda tinggi besar gagah, juga terhuyung. Hong San jadi gentar. Baru suami isteri itu kalau mengeroyoknya, dia sudah kewalahan. Kalau kini muncul seorang yang agaknya bahkan jauh lebih lihai dari mereka berarti dia akan celaka. Maka, tanpa banyak cakap lagi, tubuhnya sudah berkelebat lenyap. Dia meloncat keluar melalui jendela yang sudah terbuka, tidak seperti ketika masuk ke kamar itu dia tadi membongkar genteng. 

"Hemmm, jahanam keparat, hemdak lari ke mana kau?" Pemuda Tinggi Besar melompat pula menerobos jendela dan mengejarnya.

Sementara itu, begitu mendengar suara pemuda tinggi besar tadi, Lan Ci sudah melompat, tidak peduli akan keadaan tubuhnya yang telanjang bulat, dan menyambar puteranya, cepat membebaskan puteranya dari totokan. Anak itu segera menangis dalam pondongannya. Lan Cl cepat menghampiri suaminya, membebaskan totokan pada tubuh suaminya dan membantunya melepaskan ikatan.

"Kaupondong dulu Thian Ki, aku akan mengenakan pakaian!" kata Lan Ci. Cepat ia mengenakan pakaiannya kembali, kemudian bersama suaminya, sambil menggendong Thian Ki, dan kini masing-masing membawa pedang mereka, suami isteri itu telah berloncatan keluar dan melakukan pengejaran.

Sementara itu, ketika Hong San melihat bahwa pemuda tinggi besar itu mengejar, dia merasa penasaran sekali. Kini dia berada di luar rumah, di tempat yang luas, maka tidak berbahaya sekali kalau dikeroyok. Dia penasaran belum dapat menandingi pemuda tinggi besar yang telah mencampuri urusannya dan telah mengganggu kesenangannya. Bayangkan saja, tadi wanita manis sudah berada di depannya, bagaikan potong daging sudah berada di bibir tinggal menelannya saja dan muncul orang usil itu yang menggagalkan segalanya! Maka, dia pun segera menghentikan larinya dan mempersiapkan pedang di tangan kanan dan suling ditangan kiri. Dia memang suka bermain suling, pandai meniup suling menyanyikan lagu-lagu yang merdu, akan tetapi dia pandai pula mempergunakan musik tiup itu untuk mengimbangi pemainan pedangnya!

Begitu pemuda itu muncul, Hong menyerangnya dengan tusukan pedang diikuti sambaran suling yang mengeluarkan suara melengking nyaring! Pemuda tinggi besar itu kagum melihat gerakan lawan dan cepat dia menjatuhkan diri ke belakang, bergulingan dan ketika dia meloncat bangun, dia sudah memegang sepotong dahan pohon kering yang dipungutnya ketika dia bergulingan tadi. Hong San tersenyum menyeringai melihat lawannya memegang sebatang tongkat sederhana sebagai senjata. Mampus kau, pikirnya. Sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa yang dihadapinya bukanlah seorang pendekar sembarangan saja. Dia berhadapan dengan Huang-ho Sin-liong! Dan tongkat di tangan pen¬dekar itu dapat menjadi senjata yang amat ampuh, karena dia sudah mewarisi ilmu dari seorang di antara guru-guruya, yaitu Sin-ciang Kai-ong dan ilmu itu adalah Ilmu Tongkat Dewa Mabuk! Bukan itu saja, Huang-ho Sin-liong Si Han Beng ini telah menerima gemblengan dari seorang kakek sakti, yaitu Pek I Tojin. Biarpun gemblengan itu tidak lebih dari satu tahun, namun gemblengan tu telah mematangkan ilmu- ilmu yang diperolehnya dari dua orang gurunya, yaitu Sin- tiauw Liu Bhok Ki dan Sin ciang Kai-ong, di samping tenaga saktinya bertambah kuat bukan main.

Seperti kita ketahui, Han Beng telah menemukan rumah Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci. Sore tadi, seperti juga Hong San, dia melihat betapa suami isteri itu bersama anak mereka hidup berbahagia dan sedang bergembira dalam taman. Keadaan suami isteri itu membuat dia menjadi bingung dan ragu-ragu. Dia merasa tidak sanggup memenuhi janjinya kepada gurunya untuk menghancurkan kebahagiaan suami  isteri itu, apalagi dengan cara mengusahakan agar isteri muda itu melakukan penyelewengan dengannya! Dalam keadaan ragu-ragu itulah dia meninggalkan rumah itu. Akan tetapi, kalau dia tidak mau melaksanakan pesan dan perintah gurunya, berarti dia telah mengingkari janji. Hal ini amat menggelisahkan hatinya dan membuatnya tidak dapat tidur malam itu. Dia bermalam di rumah seorang petani di luar dusun.

Kemudian muncul pikiran. Siapa tahu kkalu-kalau suami isteri yang menurut gurunya memiliki ilmu silat yang cukup tinggi itu diam-diam melakukan perbuatan jahat. Kalau benar demikian, berarti ada jalan baginya untuk menentang mereka. Dan sebaiknya kalau malam itu dia melakukan penyelidikan.

Demikianlah, tanpa menyangka bahwa di rumah suami isteri itu terjadi peristiwa yang hebat, dia pergi ke rumah itu, baru setelah dia mengintai ke dalam, dia melihat dan mendengar semuanya! Betapa suami isteri yang tadinya mengeroyok seorang pemuda bercaping lebar yang amat lihai itu menjadi tidak berdaya setelah pemuda bercaping lebar itu menangkap anak mereka. Dari percakapan itu, diam-diam dia merasa kagum. Suami itu adalah seorang yang gagah perkasa, dan isterinya amat setia. Hanya mereka itu terpaksa menyerah karena si penjahat kejam telah menguasai anak mereka! Dan di saat terakhir, Han Beng melihat betapa isteri yang setia itu tidak menyerah begitu saja, melainkan setelah melihat anaknya dilepaskan dengan nekat dan mati-matian ia pun melakukan perlawanan.

Melihat itu. Han Beng tidak dapat tinggal diam lagi. Dia menerobos jendela lalu menyerang si penjahat yang ternyata memang amat lihai, hal itu dibuktikannya dari benturan antara tanngan mereka. Dan kini, ketika dia mengejar, penjahat itu telah menantinya dan menyerangnya dengan pedang suling. Gerakan serangannya juga a cepat dan dahsyat sekali. Jalan satu-satunya bagi Han Beng untuk menyelamatkan diri  hanyalah membuang diri bergulingan, sambil menyambar sebatang tongkat di atas tanah.

Kini mereka saling berhadapan. Hong San masih menyeringai, tersenyum mengejek melihat lawan hanya bersenjatakan tongkat butut. Sebaliknya, Han Beng memandang kagum. Pemuda di depannya itu nampak gagah perkasa. Biarpun wajah itu hanya diterangi sinar bulan purnama, juga dibantu penerangan lampu gantung di luar rumah, namun jelas nampak bahwa pemuda di depannya ini orang yang ganteng, gerak-geriknya halus, wajah yang selalu tersenyum dengan tarikan muka yang menarik. Tentu banyak di antara para wanita yang jatuh hati kalau bertemu dengan pemuda itu. Akan tetapi, mengapa wataknya demikian kotor dan kejamnya ketika dia menginginkan Sim Lan Ci, wanita yang sudah bersuami dan berputera itu? Diam-diam dia bergidik membayangkan kekejaman yang diperlihatkan pemuda ini tadi, memaksa seorang ibu untuk menyerahkan diri dengan mengancam anaknya yang masih kecil, dan membiarkan si suami dalam keadaan terikat menjadi menonton pula! Hanya orang yang wataknya seperti iblis saja yang memiliki kekejaman seperti itu.

Setelah saling pandang tanpa mengeluarkan kata-kata, tiba-tiba saja Hong san menerjang ke depan lagi, kini pedangnya diputar sangat cepat dan di seling tusukan sulingnya yang melakukan totokan pada jalan darah di tubuh lawan.

"Sing-sing-wuuuuuttttt. !" Serangan bertubi-tubi itu 

dielakkan dengan mudah oleh Han Beng. Kemudian, ketika untuk kesekian kalinya pedang itu menyambar ke arah lehernya, dia mengelak dengan menekuk lutut kirinya dalam- dalam saat itu juga, tongkatnya menyambar ke arah lutut kiri lawan. kalau terkena sasaran, tentu sambungan lutut akan terlepas! Namun, Hong San juga sudah mengelak dengan meloncat ke atas dan kembali pedangnya menyambar kini membacok dari atas mengarah kepala Han Beng, disusul  tusukan suling ke arah leher. Kembali Han Beng mengelak dengan loncatan ke belakang, lalu dengan gerakan berputar, tongkatnya terayun-ayun hendak memukul lawan.

Melihat gerakan ini, Hong San yang tinggi hati itu tertawa. Gerakan iti sungguh lucu dan buruk, seolah-olah di gerakkan oleh orang sinting atau orang yang mabuk. Akan tetapi, baru saja tertawa, suara ketawanya berubah menjadi seruan tertahan karena kaget.

"Bukkk!" Pinggulnya terkena hantaman tongkat itu! Sungguh aneh dan sukar dipercaya. Gerakan tadi demikian canggung dan kaku, sehingga dia menjadi lengah, mengira bahwa pukulan itu tentu tidak akan mengenai dirinya karena dia sudah menggeser kaki ke kanan dan pedangnya sudah menusuk lagi ke arah lambung lawan. Gerakan yang seperti orang mabuk itu dilanjutkan. Lawannya yang tinggi besar terhuyung, akan tetapi pedangnya tidak mengenai sasaran dan sebaliknya, tongkat itu tahu-tahu menyeleweng dan menggebuk pinggulnya! Tentu saja Hong San menjadi marah bukan main. Dia tidak tahu bahwa memang yang dimainkan oleh lawan adalah Ilmu Tongkat Dewa Mabuk. Justeru dalam gerakan yang terhuyung, lucu dan buruk itulah letak keampuhan ilmu dari Sin-Ciang Kai-ong itu. Gerakan yang seperti orang mabuk itu membuat lawan menjadi lengah dan memandang rendah! Akan tetapi di samping kemarahannya, juga Hong San mulai merasa gentar. Apalagi ketika itu, dia melihat suami isteri tadi sudah berlarian keluar membawa pedang di tangan. Tahulah dia bahwa kalau dia melanjutkan perlawanan, dia akan celaka di tempat itu. Maka, melihat betapa lawan yang telah menggebuk pinggulnya itu tidak mendesak, dia pun lalu meloncat jauh dan melarikan di secepatnya.

"Jahanam busuk, kau hendak lari mana?" Coa Siang Lee berseru dan mengejar.

"Kita kejar dan bunuh iblis itu!" ka pula Sim Lan Ci. "Harap Ji-wi (Kalian) tidak mengejarnya. Hal itu amat berbahaya bagi Ji-wi, terutama bagi putera Ji-wi!" kata Han Beng.

Mendengar itu, suami isteri itu menghentikan langkah mereka dan kini mereka berdua menghampiri Han Beng penuh kagum. Mereka tadi telah meliha betapa pemuda tinggi besar ini telah menyelamatkan mereka dari keadaan yang amat gawat, dari malapetaka yang mengerikan, yang mungkin bagi seorang wanita lebih hebat daripada maut! Bahkan mungkin akan menimbulkan kehancuran kebahagiaan keluarga itu. Dan mereka pun melihat betapa hanya dengan sebatang tongkat saja, pemuda tinggi besar itu mampu membuat penjahat tadi melarikan diri. Padahal, penjahat tadi memiliki ilmu silat yang amat hebat!

Saking terharu mengingat akan hebatnya ancaman bahaya tadi, Coa Siang Lee lalu menuntun tangan isteri dan anaknya, lalu mereka menjatuhkan diri berlutut di depan Han Beng!

"Tai-hiap, kami menghaturkan banyak terima kasih atas budi pertolonganmu. !"

Han Beng menjadi sungkan sekali dan cepat dia membangunkan mereka dan berkata, "Harap Ji-wi tidak melakukan sesungkanan seperti ini! Sudah semestinya kita menentang orang-orang jahat. Mari kita bicara di dalam saja, hawa udara terlalu dingin dan dapat membuat anak kalian masuk angin."

Suami isteri itu nampak gembira bukan main karena Han Beng sudi singgah di rumah mereka. Mereka memasuki rumah dan duduklah Han Beng dan Siang Lee di ruangan dalam, sedangkan Sim Lan Ci minta diri untuk menemani Thian Ki tidur kembali. Melihat sikap kedua suami isteri itu demikian sopan dan halus, kembali Han Beng condong merasa suka kepada mereka dan merasa heran bagaimana suhunya yang gagah perkasa menghendaki kehancuran kedua orang yang nampak baik-baik ini.

"Apakah yang telah terjadi di sini dan siapa sebenarnya pemuda bercaping lebar yarg amat lihai tadi itu?" Han Beng segera mengajukan pertanyaan ini begi mereka duduk menghadapi meja.

Siang Lee menarik napas panjang "Sungguh kami sendiri tidak mengenalnya, Tai-hiap. Menurut pengakuannya, kebetulan lewat saja. ah, sungguh aneh sekali peristiwa 

malam ini, muncul penjahat yang kebetulan lewat, kemudian muncul pula penolong yang kebetul lewat."

Han Beng tersenyum. "Juga amat kebetulan bahwa yang diganggu penjahat Itu bukanlah suami isteri petani biasa melainkan suami isteri yang memiliki Ilmu kepandaian tinggi."

"Tidak ada harganya untuk dipuji, Tai-hiap. Buktinya, kalau tidak ada Tai-hiap, entah apa jadinya dengan kami. Kami akui bahwa kami memang pernah mempelajari ilmu silat, cukup mendalam, akan tetapi selama dua belas tahun ini kami tidak pernah bersilat, baik berkelahi maupun latihan. Kami hidup aman dan tenteram di tempat ini, siapa sangka malam ini hampir terjadi malapetakan. Perkenalkan, Taihiap. Saya bernama Coa Kiang Lee dan isteri saya tadi Sim Lan Ci. Anak kami tadi bernama Coa Thian Ki. Seperti saya katakan tadi, sejak dua belas tahun yang lalu kami berdua meninggalkan dunia persilatan dan tidak mempunyai sedikit pun keinginan untuk melibatkan diri dengan urusan kang-uuw. Kami tidak ingin mengajarkan ilmu silat kepada anak tunggal kami, agar dia tidak perlu melibatkan diri dalam kekerasaan dan permusuhan. Maka, sungguh kami merasa penasaran sekali melihat munculnya penjahat yang amat lihai tadi." Dia berhenti sebentar, lalu memandang wajah Han Beng penuh kagum dan  berkata, "Tai-hiap masih begini muda sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Kalau boleh saya mengetahui nama besar Tai-hiap "

"Namaku Si Han Beng dan harap Coa Toako tidak bersikap sungkan dan menyebutku tai-hiap, membuat aku merasa canggung dan tidak enak saja."

Coa Siang Lee makin kagum terhadap pemuda tinggi besar dan gagah perkasa itu. Masih begitu muda bukan saja sudah lihai bukan main, akan tetapi juga sudah pandai merendahkan diri, tanda dari kerendahan hati. Dia pun merasa girang sekali di balik kekhawatirannya karena peristiwa tadi.

"Baiklah, Siauw-te (Adik). Sebenarnya, seorang dengan kepandaian sepertimu, sudah sepatutnya disebut tai-hiap (pendekar besar), akan tetapi karena engkau merasa canggung, biarlah kusebut Siauw-te. Terus terang saja, kami sama sekali tidak pernah mengenal orang tadi, dan karena sudah belas tahun kami menjauhkan diri dari dunia kang-ouw, maka munculnya orang lihai itu pun kami tidak ketahui. Engkau yang tentu sudah banyak mengenal tokoh kang-ouw, barangkali mengenal dia, Siauw te?”

Han Beng menggeleng kepalanya, sedikit memincingkan matanya suatu kebiasaan kalau dia berpikir-pikir. "Tidak, aku pun tidak pernah melihatnya. Akan tapi jelas bahwa dia seorang penjahat cabul!" sambungnya gemas.

"Kukira bukan hanya penjahat cabul, Siauw-te," Coa Siang Lee membantah, Kami merasa curiga bahwa dia memang datang dengan sengaja untuk memusuhi kami sekeluarga."

"Kurasa memang demikian, dan aku dapat menduga siapa dia!" Tiba-tiba terdengar suara Sim Lan Ci yang muncul dari kamar. Puteranya sudah tidur kembali dan ketika ia keluar, ia mendengar ucapan suaminya, maka ia lalu menjawab,  mendengar ucapan itu, Han Beng dan Siang Lee cepat memandang dengan mata bertanya.

Lan Ci duduk di dekat suaminya yang segera menegurnya. "Bagaimana engkau bisa tahu siapa dia? Sedangkan Siauw-te Si Han Beng ini saja yang amat ini tidak mengenalnya, apalagi engkau yang selama belasan tahun tidak pernah meninggalkan dusun ini?"

"Aku juga tidak tahu, akan tetapi dapat menduganya. Lee- koko, lupakah engkau kepada orang yang amat membenci kita, yang ingin melihat kita lebih menderita daripada kematian sendiri?"

"Kau maksudkan Sin-tiauw Liu Bhok Ki?" tanya suaminya, kini nampak teringat dan terkejut pula. Mereka saling pandang sehingga tidak melihat betapa wajah tamu mereka berubah dan nampak kaget pula mendengar ucapan nyonya rumah itu.

"Siapa lagi kalau bukan Kakek Iblis yang jahat itu? Hanya dialah seorang dunia ini yang amat membenci kita dan dia akan girang sekali melihat kita hancur atau terbasmi, termasuk anak kita. Aku hampir yakin bahwa pemuda bercaping itu tentulah utusannya, entah pembantunya atau muridnya!"

"Ah, engkau benar, isteriku! Memang masuk akal sekali pendapatmu itu. Melihat kelihaiannya, agaknya memang dia itu orangnya kakek jahat Sin-tiauw Liu Bhok Ki!"

"Bukan! Dia sama sekali bukan murid Sin-tiauw Liu Bhok Ki, dan kakek yang gagah perkasa itu tidak membenci kalian, tidak ingin membunuh kalian!"

Mendengar ucapan Han Beng itu, Siang Lee dan Lan Ci cepat memandang kepadanya dan mereka merasa heran sekali "Siauw-te, engkau tadi mengatakan bahwa engkau tidak  mengenal pemuda bercaping itu, bagaimana sekarang bisa tahu bahwa dia bukan murid Sin-tiauw Liu Bhok Ki?"

"Karena murid Sin-tiauw Liu Bhok Ki hanya ada seorang saja, yaitu aku sendiri."

"Ahhh. !" Suami isteri itu berseru kaget dan keduanya 

bangkit dari tempat duduk mereka, memandang kepada Han Beng dengan mata terbelalak. Akan tapi Han Beng tersenyum dan menggerakkan tangan memberi isarat agar tereka tenang. "Sekarang harap Ji-wi suka menceritakan, mengapa Ji-wi menganggap bahwa orang tadi murid Suhu dan mengapa pula Ji-wi agaknya membenci Suhu dan menyebutnya kakek iblis. Aku sebagai muridnya berhak mengetahuinya, bukan?"

Siang Lee menarik napas panjang juga isterinya dan mereka berdua lalu duduk kembali. "Maafkan kami, Siauw-te. Bukan maksud kami menghina Suhumu, akan tetapi memang sungguh orang tua itu bagi kami amatlah jahatnya bahkan sebetulnya kamilah yang sepatutnya mendendam sakit hati kepadanya. Akan tetapi karena kejahatannya terhadap kami itu berakhir dengan baik dan membahagiakan bagi kami, maka kami mencoba untuk melupakan dia, dan karena kami masih takut terhadap dia, maka selama ini kami mengasingkan diri di dusun sunyi ini."

Hati Han Beng semakin tertarik. "Ceritakanlah, Toako. Ceritakan saja apa adanya dengan terus terang, tidak perlu merasa sungkan kepadaku karena sudah dapat mempertimbangkan mana benar dan mana salah. Kalau tidak demikian, tentu aku tidak akan membantu kalian tadi, bukan? Apalagi karena sebelumnya aku pun sudah tahu bahwa kalianlah yang dicari oleh Suhu."

Kembali dua orang itu terkejut mendengar bahwa mereka dicari oleh Sin-tiauw Liu Bhok Ki, akan tetapi karena sikap Han Beng jelas baik, tidak memusuhi mereka bahkan telah menyelamatkan mereka, maka mereka pun tidak merasa ragu  lagi untuk menceritakan semua yang mereka alami ketika mereka menyerbu tempat tinggal Liu Bhok Ki, sekitar dua belas tahun yang lalu.

"Mendiang Ayahku bernama Coa Kun Tian, putera Hek- houw-pang di dusun Ta-bun-cung. Sungguh tidak beruntung sekali Ayah jatuh cinta kepada isteri Liu Bhok Ki yang bernama Phang Hui Cu. Mereka saling jatuh cinta dan melihat bahwa isterinya dan Ayahku saling mencinta, Liu Bhok Ki marah sekali, lalu dia membunuh Ayahku dan isterinya sendiri. Kalau saja hal itu cukup sampai di situ, kiranya aku pun akan memaklumi keadaan dan menyadari bahwa kematian Ayahku adalah karena kesalahan sendiri. Akan tetapi, ternyata tidak demikian Kakek yang kejam itu memenggal kepala Ayahku, memberi obat pengawet menggantungkan kepala Ayahku itu rumahnya! Mendengar ini, pada suatu hari, dua belas tahun yang lalu, mendatangi rumahnya untuk membalas dendam atas kematian dan penghinaan terhadap kepala jenazah Ayahku. Dan pada waktu aku tiba di sana, aku ber temu dengan isteriku ini."

"Aku pun hendak membalas dendam atas kematian Bibiku, yaitu Phang Hui Cu. Kepala Bibiku juga diawetkan dalam sebuah botol besar, direndam anggur seperti juga kepala kekasih Bibiku iti Kuanggap perbuatannya itu amat keterlaluan dan menghina sekali!" Siang Lee melanjutkan. "Kami berdua mengeroyoknya, akan tetapi kami kalah d.an dia berhasil merobohkan kami. Akan tetapi, kami tidak dibunuhnya! Dia memiliki rencana yang lebih kejam lagi untuk memuaskan hatinya. Kami diberi obat perangsang sehingga di luar kesadaran kami, kami melakukan hubungan suami isteri! Baiknya kami memang saling tertarik dan saling mencinta, maka kami melanjutkan hubungan itu dengan ikatan suami isteri. Akan tetapi akibatnya, aku diusir oleh Kakekku di Hek- bouw-pang, dan ketika kami berkunjung ke Ibu isteriku, kami pun diusir. Maka, kami lalu menyembunyikan diri di sini dan kini sudah mempunyai seorang anak laki-laki." "Akan tetapi, kenapa Suhu melakukan hal itu? Kenapa Suhu ingin melihat kalian menjadi suami isteri kalau memang dia membenci kalian?" tanya Han teng, tidak mengerti.

"Hal itu hanya membuktikan betapa besarnya kebenciannya terhadap kami. Dia ingin kami menjadi suami isteri untuk kemudian dia dapat menghancurkannya, seperti rumah tangganya sendiri yang hancur karena hubungan antara mendiang Ayah dan mendiang isterinya sendiri."

"Tapi. , tapi, dua orang musuhnya itu sudah terbunuh. 

Mengapa kalian yang harus dibalas seperti itu?"

Kini Lan Ci yang menjawab, "Karena wajah suamiku mirip dengan mendiang, Ayahnya, dan wajahku mirip dengan mendiang Bibiku. Dia seolah-olah ingin melihat Coa Kun Tian dan Phang Hui Cu hidup kembali, menjadi suami isteri agar dia dapat membalas dengan gangguan yang sama, yaitu membikin pernikahan itu menjadi hancur berantakan."

Diam-diam Han Beng bergidik. Dan percaya akan keterangan mereka karena dia sendiri melihat betapa dua buah tengkorak manusia itu masih disimpan suhunya dan akhirnya dia yang memintanya dan menguburkannya. Suhunya memang telah menjadi seperti gila oleh rasa cemburu yang berkobar menjadi dendam kebencian selebar lautan!

Han Beng menarik napas panjang "Aihhh, sungguh aku merasa menyesal Sekali Dan Suhu mengutus aku yang harus menghancurkan rumah tangga dan kehahagiaan kalian! Mana mungkin aku lakukan hal yang sekeji itu?"

Suami isteri itu saling pandang dan merasa betapa bulu tengkuk mereka meremang. Kalau saja pemuda perkasa ini melaksanakan perintah suhunya, bagaimana mereka akan mampu menyelamatkan diri? Memang belum tentu pemuda mi  akan mampu membujuk rayu dan menjatuhkan hati Lan Ci yang mencinta suaminya dan memiliki kesetiaan, tidak seperti mendiang bibinya. Akan tetapi kalau pemuda ini menggunakan kekerasan, bagaimana mereka akan mampu menghindarkan diri?

"Dan engkau tidak mengganggu kami sama sekali, bahkan menyelamatkan kami dari malapetaka, Si-siauwte? Sungguh untuk itu, kami merasa berterima kasih dan hutang budi kami semakin mendalam."

"Tidak perlu berterima kasih, Toako. Aku hanya melakukan hal yang wajar dan semestinya saja. Aku belajar silat bukan untuk melakukan kejahatan, bahkan sebaliknya, aku harus menentang kejahatan, dari mana pun juga datangnya!" 

"Bagus! Omongan besar! Kiranya aku telah memelihara anak harimau, setelah besar hendak menerkam aku sendiri!'

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan nampak berkelebat bayangan orang.

"Suhu. !"

"Liu Bhok Ki !" Suami isteri itu pun berseru kaget 

setengah mati melihat munculnya kakek yang tinggi besar itu. Akan tetapi kakek itu berdiri tegak dan memandang kepada muridnya dengan sepasang mata terbelalak penuh kemarahan. Han Beng bersikap tenang dan dengan hormat dia pun lalu rnenjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

"Si Han Beng!" bentak Kakek itu dengan suara menggeledek. "Tahukah engkau siapa aku?"

Sambil memberi hormat dan berlutut Han Beng menjawab, "Suhu adalah Sin tiauw Liu Bhok Ki, guru tee-cu (murid) yang bijaksana." "Hemmm, kalau engkau masih ingat apa pesanku kepadamu terhadap dua orang suami isteri itu?"

"Teecu masih ingat, Suhu. Suhu mengutus teecu untuk menghancurkan kebahagiaan keluarga ini."

"Murid gila! Lalu mengapa tidak segera kaulakukan itu?" "Maaf, Suhu, teecu melihat bahwa mereka adalah orang 

baik-baik, saling mencinta dan saling setia. Karena itu teecu tidak dapat melaksanakan tugas yang Suhu berikan kepada teecu." jawaban ini diucapkan dengan suara tenang sedikit pun tidak memperlihatkan bahwa murid itu merasa takut.

Marahlah kakek gagah perkasa yan berwatak keras itu. "Bagus! Kiranya engkau berubah menjadi seorang yang berhati lemah dan lunak sekali! Kalau engkau tidak sanggup menghancurkan mereka, biarlah aku yang akan membunuh sendiri mereka!"

Setelah berkata demikian, tiba-tiba sekali tubuh kakek tinggi besar itu meloncat ke atas dan bagaikan seekor burung rajawali menyambar calon mangsanya, dia sudah menerkam dan menyerang Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci. Serang-Itu dahsyat bukan main karena dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya dalam jurus maut dari Hui-tiauw Sut-kun (Silat Sakti Rajawali Terbang) itu. Betapapun lihainya suami isteri itu, kiranya menghadapi jurus maut ini mereka akan sukar untuk dapat menghindarkan diri. Dan menangkis serangan itu berarti mereka harus menghadapi gelombang tenaga yang amat dahsyat. Mereka tentu akan tewas atau setidaknya menderita luka dalam yang parah kalau melakukan tangkisan.

"Wuuuuuttttt. desssss.!!!"

Tubuh Sin-tiauw Liu Bhok Ki terpental dan hampir terpelanting, namun Han Beng yang menangkis serangan itu  pun terjengkang sampai terguling-guling karena memang dia tadi tidak berani mengerahkan tenaga terlalu kuat agar tidak melukai gurunya. Dia tidak rela melihat gurunya menyerang suami isteri itu dengan jurus maut yang dia tahu amat berbahaya, maka cepat dia menangkis serangan itu dari samping.

Liu Bhok Ki sudah berdiri tegak lagi dan kini mukanya berubah merah, matanya mengeluarkan sinar berapi ketika dia memandang kepada muridnya yang kembali sudah berlutut di depan kakinya.

"Si Han Beng! Apa yang kaulakukan ini? Engkau hendak melawan aku dan melindungi dua orang musuhku ini?"

"Maaf, Suhu. Sama sekali teecu tidak berani melawan Suhu dan teecu buta melindungi Coa-toako dan isterinya, melainkan teecu harus mencegah Suhunya melakukan perbuatan yang tidak benar. Suhu, mereka ini bukanlah musuh Suhu. Bukankah dua orang musuh Suhu telah Suhu bunuh selama bertahun-tahun, Suhu bahkan telah menyiksa tengkorak mereka? Dua orang ini sama sekali tidak bersalah kepada Suhu. Karena itu, Suhu teecu mohon agar Suhu menyadari kekeliruan tindakan ini, agar Suhu dapat membuang jauh cemburu dan dendam yang tidak pada tempatnya."

Sepasang mata itu semakin terbelalak marah. "Apa? Engkau berani bicara seperti itu? Bagus! Engkau murid murtad engkau sudah berpihak kepada musuh oleh karena itu, engkau pun kini menjadi musuhku. Aku akan bunuh dulu engkau, baru mereka!" Berkata demikian kaki kakek itu menendang.

"Desss. !" Tubuh pemuda itu terpental dan terbanting 

keras. Akan tetapi Han Beng yang sama sekali tidak melawan itu, sudah bangkit duduk, lalu berlutut kembali ke arah suhunya, memberi hormat tanpa mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya. Melihat keadaan itu, Coa Siang Lee menggandeng tangan isterinya dan cepat mereka berlutut di depan kaki Liu Bhok Ki, menghalangi kakek itu menghajar muridnya.

"Lo-cian-pwe, dia adalah penyelamat nyawa kami. Jangan Lo-cian-pwe membunuh dia. Kalau Lo-cian-pwe menghentikan nyawa kami, silakan, kami menyerahkan nyawa kami kepadamu!"

Melihat dua orang suami isteri itu berlutut di depan kakinya dan minta dibunuh untuk menyelamatkan Han Beng, ! Liu Bhok K i menjadi bengong. Pada saat itu, terdengar suara anak kecil. "Ayah.......... Ibu. !" dan muncullah Thian Ki. 

Anak itu mencari-cari dengan pandang mata nya. Ketika melihat mereka itu berlutut di depan kaki seorang kakek yang tinggi besar, Thian Ki lalu berlari menghampiri mereka, dan dia pun ikut-ikutan berlutut di depan kakek itu!

Melihat ini, Sin-tiauw Liu Bhok Ki menjadi semakin bengong. Tadinya di melihat Coa Siang Lee sebagai Coa Ku Tian dan Sim Lan Ci sebagai Phang Hui Cu, akan tetapi kini dia melihat mereka sebagai sepasang suami isteri dengan seorang anak mereka.

"Lo-cian-pwe, kami ibu ayah dan anak menyerah kepada Lo-cian-pwe, dan mohon Lo-cian-pwe suka mengampuni Adik Si Han Beng." kata Sim Lan Ci.

Hati kakek itu seperti ditusuk-tusuk rasanya. Dia menunduk dan memandang mereka, dan kebetulan Thian K i menengadah. Pandang mata mereka bertemu dan seketika Sin-tiauw Liu Bhok Ki menjadi lemas. Entah daya kekuatan apa yang terkandung dalam sepasang mata anak berusia tiga tahun itu! Mata yang bebas dari perasaan hati dan akal pikiran, sepasang mata yang menyinarkan suatu yang suci, seperti mata malaikat, atau mata yang mengandung sinar mata kasih dan kekuasaan Tuhan, yang ampuh melumpuhkan dan mencairkan semua kekerasan yang menggumpal di dalam hati  Sin-tiauw Liu Bhok Ki! Pada saat pertemuan pandang mata itu, seketika Liu Bhok Ki menyadari akan semua sepak terjangnya yang dipenuhi nafsu dendam kebencian yang timbul dari cemburu. Baru dia merasa betapa jahat dan kejamnya dia selama ini dan tak dapat ditahannya lagi, kakek itu meringis sampai mengguguk!

Melihat keadaan suhunya ini, Han Beng merasa terkejut, heran dan juga terharu. Dia merasa bersalah, mengira ihwa karena dia tidak mentaati gurunya maka orang tua itu kini merasa menyesal dan menangis. Dia segera berlutut dan menyentuh ujung sepatu gurunya.

"Suhu, ampunkan teecu. !"

Liu Bhok Ki menangis semakin sedih, sampai terisak-isak dan sesenggukan, kedua tangan menutupi mukanya. Air mata mengalir keluar dengan derasnya melalui celah-celah jari tangannya. Seolah-olah semua gumpalan yang tadinya membeku di dalam dirinya telah mencair dan menjadi air mata, kini tertumpah keluar semua. Dadanya terasa lapang dan dia lalu menurunkan kedua tangannya, memegang kedua pundak muridnya dan menariknya berdiri.

"Han Beng, kau maafkan Suhumu. Kemudian dia 

menyentuh kepala Sian Lee dan Lan Ci sambil berkata, "Kalian. kalian maafkanlah semua perbuatanku yang 

lalu. "

"Lo-cian-pwe. !" Sim Lan Ci kini menangis, tidak dapat 

menahan keharuan hatinya mendengar betapa kakek yang keras hati itu kini menangis dan minta maaf padanya.

Liu Bhok Ki kini membungkuk mengangkat Thian Ki dalam pondongannya. Anak itu sama sekali tidak merasa takut, merangkul leher kakek itu dan terdengar suaranya yang merdu. "Kong-kong (Kakek), kenapa engkau menangis?"

Pertanyaan itu membuat air mata makin deras keluar dari kedua mata Liu hok Ki, akan tetapi mulutnya tersenyum dan dia mengejap-ngejapkan mata memandang wajah yang mungil, tampan dan merah itu. Senyumnya makin melebar dan akhirnya dia pun tertawa bergelak gelak. Suara ketawanya menggetarkan keadaan sekitarnya dan belum pernah Han Beng-mendengar gurunya tertawa seperti itu, bebas lepas dan ini merupakan tanda bahwa orang tua itu telah benar-benar terbebas dari siksaan batin berupa racun dendam kebencian.

"Ha-ha-ha. Cucu yang baik, siapakah namamu?" Dia 

mengakhiri tawanya dan menimang Thian Ki.

"Namaku Coa Thian Ki, Kong-kong." kata anak itu manja. "Bagus! Terima kasih, Thian Ki, terima kasih Cucu yang 

baik. !" Dia menurunkan anak itu, kemudian menoleh 

kepada Han Beng.

"Han Beng, engkau benar, lanjutkan perjalanan dan pertahankan sikapmu yang tadi. Aku bangga menjadi gurumu."

"Teecu akan mentaati pesan Suhu."

"Dan kalian, Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci, kalian jaga baik-baik anak kalian ini, jangan biarkan dia menjadi hamba kekerasan seperti kita. Kalian benar anak ini tidak perlu diperkenalkan dengan ilmu silat dan kekerasan! Nah, selamat tinggal semua. Han Beng, kalau engkau perlu bertemu denganku, aku berada di Kim-hong-san!" Setelah berkati demikian, kakek itu berkelebat dan lenyap dari situ.

Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci saling pandang, maklum bahwa tentu kakek itu sejak kemarin membayangi mereka sehingga mendengar pula percakapan mereka tentang  maksud mereka untuk tidak memperkenalkan Thian Ki dengan ilmu silat dan kekerasan. Kemudian mereka teringat akan keadaan mereka, lalu mereka berdua menghampiri Han Beng yang juga sudah bangkit berdiri.

"Kami harap Si Siauw-te suka tinggal di sini bersama kami. Kami sunggu berterima kasih sekali, Siauw-te. Ternysta engkau seorang yang budiman, sampai rela hampir mengorbankan nyawa demi keselamatan kami. Entah bagaimana kami akan mampu membalas budimu." kata Siang Lee, sedangkan Sim Lan Ci juga mengangguk-angguk membenarkan dan memandang kepada pemuda perkasa itu dengan sinar mata penuh kagum dan rasa sukur, sedangkan Thian Ki berada dalam pondongan ibunya, matanya kini nampak mengantuk karena beberapa kali tidurnya terganggu.

"Sudahlah, Toako. Tidak perlu bersungkan-sungkan. Kalian sendiri tadi juga rela mengorbankan nyawa untuk menolongku. Malam ini biar aku berada di sini, untuk menjaga kalau-kalau pemuda bercaping itu datang kembali. Besok aku akan melanjutkan perjalanan dan sebaiknya, menurut pendapatku, kalau kalian pindah saja ke lain tempat. Aku khawatir kalau pemuda jahat itu muncul kembali untuk mengganggu kalian."

Siang Lee dan isterinya saling pandang. "Kami tidak akan pindah, Siauw-te.

Pengalaman ini menyadarkan kami bahwa demi melindungi keluarga sendiri kami berdua harus selalu bersiap-siap. Kami akan diam-diam berlatih dan selalu waspada dan mempersiapkan senjata. Kalau kami maju berdua dengan senjata di tangan, kiraku penjahat bercaping itu belum tentu akan mampu mengalahkan kami." Isterinya mengangguk membenarkan. Apa perlunya pindah? Kalau memang hendak mengejar, tentu penjahat itu mampu mencari kami. Lebih baik tetap tinggal disitu akan tetapi berhati-hati. Han Beng mengangguk-angguk. Dia tadi juga sudah menyaksikan kelihaian mereka. Kalau mereka berlatih dan selalu mempersiapkan pedang, kiranya tidak akan mudah bagi penjahat bercaping tadi untuk mengalahkan suami isteri ini.

"Baiklah, kalau begitu, aku akan meninggalkan semacam latihan sin-kang untuk kalian, karena dengan sin-kang yang agak lebih kuat, kiranya penjahat itu tidak akan mampu menandingi kalian berdua."

Tentu saja suami isteri itu menjadi girang bukan main. Setelah Thian Ki tidur kembali, Han Beng lalu malam itu juga mengajarkan cara melatih dan memperkuat tenaga sakti kepada suami isteri itu.

Pada keesokan harinya, setelah lewat tengah hari, barulah Han Beng meninggalkan suami isteri yang amat berterima kasih kepadanya itu. Bahkan Coa Siang Lee berhasil membujuk Han Beng mau mengaku sebagai saudara angkat. Upacara sederhana mereka lakukan di depan meja sembahyang. Han Beng menyebut toako dan so-so (kakak ipar perempuan) kepada suami isteri itu dan mereka menyebutnya siauw-te. Thian Ki yang masih kecil itu pun sebentar saja akrab dengan Han Beng dan menyebutnya paman.

Ketika Han Beng pergi, suami isteri itu menjadi sedemikian terharu sehingga keduanya mengantar sampai ke tepi dusun dan ketika pemuda itu pergi, mereka tak dapat menahan mengalirnya air mata keharuan. Mereka yang sudah belasan tahun merasa terasing dan tidak pernah berhubungan dengan keluarga, seolah-olah ditinggal pergi adik sendiri yang amat berbudi dan berjasa, yang amat mereka kasihi.

ooOOoo Kota Siong-an hari itu nampak ramai. Kota yang berada dekat tepi Sunga Huang-ho ini memang merupakan kota yang penting bagi para pedagang. Letaknya di daratan tinggi, lebih tinggi dari sungai sehingga di waktu Sungai Kuning itu mengamuk dengan banjirnya sekali pun, kota ini tidak pernah terendam air Karena itu, banyak orang kaya dari daerah pedusunan memiliki rumah di kota ini sebagai tempat pengungsian kala musim hujan tiba. Selain itu, juga menjadi penampung barang dagangan yang datang melalui sungai.

Sebagai kota dagang yang banya dikunjungi pedagang dari kota lain, yan terutama sekali membutuhkan baha bangunan, kayu yang baik, dan juga rempah-rempah, kota Siong-an cepat berkembang dan di situ kini banyak terdapat rumah penginapan dan rumah makan.

Rumah makan Hotin merupakan rumah makan terbesar di kota Siong-an. Bukan hanya terbesar, melainkan juga terbaik dan terkenal dengan hidangan yang lengkap dan lezat, dari yang murah sampai yang termahal. Karena itu, hampir setiap hari, bahkan sampai jauh malam, restoran ini dikunjungi banyak orang dari segala golongan. Para pedagang besar yang menjamu para tamunya, para pedagang dari lain kota, tentu mempergunakan restoran itu sebagai tempat pesta dan pertemuan. Juga mereka yang melancong ke kota Siong-an, untuk berperahu di Sungai Huang-ho atau hanya berbelanja di kota yang ramai dan penuh dengan toko itu, tidak lupa untuk makan pagi, makan siang, atau makan malam di restoran Hotin. Ruangannya luas, ada lotengnya, dapat menampung tamu lebih dari seratus orang. Ada belasan orang pelayan yang sigap dan trampil, seorang kasir yang ramah dan juru- juru masak yang berpengalaman. Baru memasuki ruangan restoran itu saja, para tamu sudah disambut aroma masakan yang sedap dari dapur sehingga selera mereka segera timbul dan perut mendadak terasa semakin lapar. Juga di restoran itu dijual arak Hang-couw yang amat terkenal manis, harum, dan daya mabuknya lembut. Hari itu, sejak pagi kota Siong-an sudah ramai sekali karena hari itu orang orang sibuk mempersiapkan pesta perayaan tahun baru Imlek! Seperti biasa jauh hari sebelumnya, pasar mendadak menjadi lebih ramai, toko-toko juga penuh dengan orang yang berbelanja untuk keperluan sembahyang dan pakaian baru. Dan hari itu merupakan hari terakhir karena besok adalah hari tahun baru.

Restoran Hotin, sejak pagi sudah kebanjiran tamu. Kurang lebih jam delapan pagi, seorang gadis memasuki restoran yang penuh tamu itu. Kemunculan gadis ini tentu saja menarik perhatian bukan hanya karena ada seorang gadis muncul seorang diri di rumah makan umum, melainkan terutama sekali karena gadis itu bukan gadis sembarangan. wajahnya cantik jelita dan manis sekali, bibirnya yang merah basah tanpa gincu itu selalu tersenyum lucu, sikapnya lincah dan matanya kocak jenaka. Pakaiannya indah walaupun tidak mewah, dengan warna merah muda. Rambutnya yang digelung ke atas itu dihias burung merak dari perak, dan punggungnya nampak sebuah buntalan kain kuning. Ujung kain itu diikatkan di dadanya.

Dari sikap, juga dari buntalan kain kuning di punggung, mudah diketahui bahwa ia adalah seorang gadis kang-ouw yang biasa melakukan perjalanan seorang diri. Akan tetapi laki-laki mana yang tidak tertarik melihat wajah yang demikian cantik jelita dan bentuk tubuh yang demikian indahnya? Semua tamu yang melihatnya, tak mudah melepaskan pandang mata mereka yang melekat pada wajah dan tubuh itu. Namun, gadis berpakaian merah muda itu tidak peduli. Agaknya sudah biasa ia menghadapi tatapan mata seperti itu dan satu-satunya cara terbaik untuk menghadapi kegenitan para pria yang memandangnya adalah pura-pura tidak melihat kekaguman mereka dan tidak peduli. Ia tahu bahwa sekali dilayani atau ditanggapi, kekurangajaran para pria itu akan semakin melonjak. Bukan ia tidak berani menanggung akibatnya, akan tetapi kalau ia harus menghajar setiap orang  pria yang bersikap kurang ajar, maka setiap langkah tentu ia akan berurusan dengan seorang pria!

Ketika seorang pelayan restoran it menyambutnya dengan sikap hormat da ramah, gadis itu pun mengikuti pelayan yang mengantarnya ke sebuah meja yang masih kosong, agak di pinggir. Meja itu kecil, diperuntukkan empat orang dengan empat buah bangku. Gadis itu menurunkan buntalan kuning, meletakkannya di atas meja dan dengan sikap gembira seolah-olah di situ tidak ada puluhan pasang mata pria menatapnya, ia memesan makanan kepada Si Pelayan.

"Masakan apa saja yang paling leza t di rumah makan ini?" tanyanya kepada pelayan itu.

Pelayan itu mengerutkan alisnya, mengamati gadis itu penuh perhatian. Bukan seorang gadis miskin, akan tetapi juga tidak dapat dikatakan seorang gadis bangsawan atau kaya raya, melihat pakaian dan perhiasan yang dipakainya. Akan tetapi dia harus berhati-hati karena dia tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis kang-ouw yang kadang- kadang dapat bersikap galak.

"Nona, restoran kami menyediakan segala macam makanan, dari yang paling murah sampai yang paling lezat, harganya amat mahal."

Gadis itu tersenyum dan banyak pria menelan ludah. Senyum itu! Manisnya! Lesung pipit yang mungil dan lucu muncul di kanan kiri mulut, dan sinar mata yang jeli itu seperti menari-nari.

"Tentu saja, yang lezat itu mahal. Dan aku berani pesan yang mahal tentu mampu pula membayarnya. Hayo katakan, apa saja yang paling lezat?" Pelayan itu mengangguk-angguk, takut gadis itu tersinggung, lalu menghitung dengan jari tangannya. "Pertama ada cakar daging burung Hong, ada goreng lidah ki-lin, ada pula sup sirip raja hiu atau tim buntut badak, juga sup cakar harimau atau sup daging naga."

Gadis itu bengong, lalu alisnya berkerut dan mukanya berubah merah, karena ia merasa dipermainkan pelayan itu "Apakah otakmu belum miring? Jangan kau main-main!"

Pelayan itu yang kini bengong karena dia sama sekali tidak merasa bersalah tiba-tiba dimaki orang. Mukanya berubah merah dan dia menjawab dengan sungguh-sungguh dan juga dengan suara mengandung penasaran. "Aih, Nona. Siapa yang main-main? Kalau tidak percaya lihat saja ini daftar makanan, tentu saja kalau Nona pandai membaca!" Ucapan terakhir itu untuk membalas karena biasanya, gadis kang-ouw yang kasar mana dapat membaca tulisan? Akan tetapi, gadis itu menyambar daftar makanan yang disodorkan, membacanya lalu tersenyum. Manisnya!

"Wah, kaumaafkan aku, ya? Habis, siapa percaya ada masakan cakar daging burung Hong, kiranya daging burung ayam! Lidah ki-lin adalah lidah sapi, sirip raja hiu hanya sirip hiu biasa, tim buntut badak hanyalah buntut kerbau, cakar harimau hanya cakar domba dan daging naga hanya daging ular, hi-hik!" Gadis itu tertawa tanpa menutupi mulutnya, namun tidak nampak kasar karena tawanya tidak terbahak, lebih mirip senyum lebar nampak deretan giginya yang putih mengkilap. "Nah, kalau begitu, cepat hidangkan masakan butir-butir mutiara sawah, otot-otot dewa digoreng basah, gule daging singa, ditambah buah sian-to (buah to dewa) dan minuman sorga!"

Pelayan itu bengong, sejenak tak mampu bicara dan memandang kepada gadis itu, mulai curiga jangan-jangan gadis itu yang miring otaknya. Melihat pelayan itu bengong, gadis itu kembali tertawa. "Hi-hik, sekarang engkau yang  bengong! Kenapa bengong dan bingung? Kutir mutiara sawah adalah nasi putih, otot-otot dewa adalah bakmi, daging singa adalah daging kambing. Buah sian-to adalah apel dan minuman sorga adalah minuman anggur, tolol kau!"

Pelayan itu tertawa dan tersipu, dan beberapa orang tamu yang mejanya berdekatan dan mendengar percakapan itu tertawa. Setelah pelayan itu pergi untuk memesankan makanan kepada koki, gadis itu duduk seorang diri dan tidak mempedulikan pandang mata banyak pria yana ditujukan kepadanya. Bahkan mereka yang duduk membelakanginya, kini memutar leher seperti leher burung bangau, ada yang memandang dari samping, melirik sampai matanya seperti juling.

Tiba-tiba dua orang laki-laki muda, berusia kurang lebih dua puluh tahun dan agaknya sudah setengah mabuk karena agak terhuyung, menghampiri meja gadis itu sambil menyeringai. Mereka harus diakui memiliki wajah yang cukup tampan dan melihat pakaian mereka jelas bahwa mereka adalah pemuda pemuda yang kaya.

"Nona, bolehkah kami menemanimu? Kasihan engkau seorang diri saja makan minum, tentu kurang menggembirakan, he-he!" kata yang seorang.

"Ha-ha, benar sekali, Nona. Jangan khawatir, semua makanan dan minuman untukmu kami yang akan bayar!" kata yang ke dua.

Gadis berpakaian merah muda itu mengangkat muka memandang dan ia tersenyum, sama sekali tidak marah, bahkan senyumannya manis dan penuh kesabaran. "Terima kasih," katanya lem¬but. "Kalian baik sekali, akan tetapi sayang, saat ini aku ingin makan seorang diri saja dan tidak ingin diganggu." "Tapi, Nona, kami tidak mengganggu, bahkan ingin menggembirakan hati Nona!

Kami. !

Belum habis seorang di antara dua pemuda itu bicara, terdengar suara orang membentak, "Kalian ini tikus-tikus kecil sungguh tak tahu diri! Nona kalian tidak mau diganggu, mengerti?"

Dua orang pemuda setengah mabuk itu membalikkan tubuhnya dan mereka hendak marah. Akan tetapi melihat bahwa yang berada di belakang mereka dan menegur itu adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang bertubuh! seperti raksasa, keduanya menjadi ke takutan.

"Maafkan, kami tidak ingin mengganggu. "

Akan tetapi, sekali menggerakkan kedua lengannya yang panjang dan besar itu, Si Raksasa sudah mencengkeram tengkuk dua orang pemuda itu dan mengangkatnya, lalu membawanya pergi, keluar dari ruangan itu! Kemudian dia melemparkan dua orang pemuda itu keluar restoran, diiringi suara ketawa di sana-sini. Melihat betapa raksasa itu mampu mengangkat dua orang pemuda dan melemparkan mereka seperti itu, dapat dilihat betapa kuat tenaganya. Si raksasa itu kembali ke meja di mana tadi ia duduk bersama lima orang temannya dan kini dia membungkuk kepada gadis in sambil tersenyum.

Gadis itu pun tersenyum, hanya memandang. Kiranya raksasa itu mempunya lima orang teman dan seorang di antaranya berpakaian seperti seorang hartawan, usianya kurang lebih tiga puluh tahun dan yang lain agaknya merupakan pengawal, anak buah atau tukang pukulnya karena mereka itu lagak dan pakaiannya sama dengan raksasa tadi. Gadis itu melihat betapa pria yang berpakaian mewah itu memandang kepadanya, lalu mengedipkan mata kanannya  dengan cara yang genit sekali, la pun tidak peduli dan membuang muka.

Gadis itu berusia kurang lebih dua puluh dua tahun, wajahnya yang cantik jelita dan manis itu hanya dipolesi bedak tipis, dan ia memiliki senyum memikat. Siapakah ia? Bukan lain adalah Bu Giok Cu! Seperti kita ketahui, Giok Cu pernah menjadi murid Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu, dan biarpun sejak berusia sepuluh tahun ia hidup di antara golongan sesat selama lima tahun lebih, namun bagaikan setangkai bunga teratai yang hidup di lumpur, ia tetap bersih dan berjiwa gagah. Akhirnya, ia bentrok dengan Ban-tok Mo-li karena melihat Mibonya itu tergila-gila kepada Hok-houw liia to Lui Seng Cu dan aliran agama barunya. Ia menentang subonya, yang melakukan pembunuhan keji terhadap muda mudi tak berdosa dan akhirnya ia bahkan dimusuhi gurunya dan hendak dibunuh. Untung ia tertolong oleh Hek-bin Hwesio, seorang pertapa sakti dari Himalaya dan ia lalu menjadi murid hwe¬sio gendut berkulit hitam itu. Dan hampir lima tahun gadis ini digembleng sehingga bukan saja ilmu silatnya yang sudah lihai itu menjadi semakin tinggi juga ia semakin mendalami soal-soal kebatinan atau rohaniah. Bahkan ia pernah menyatakan keinginan hatinya kepada Hek-bin Hwesio untuk menjadi nikouw (pendeta wanita), namun dilarang oleh gurunya yang melihat bahwa ia tidak berbakat menjadi nikouw.

Demikianlah, Giok Cu kini merantau, usianya sudah dua puluh dua, namun alam perantauannya itu ia belum pernah nenemukan seorang pria yang menarik atinya. Pengalaman- pengalaman yang pahit ketika ia berusia lima belas tahun, diganggu oleh pemuda-pemuda murid para tokoh sesat yang menjadi tamu subonya, kemudian pengalaman sepanjang perjalanan melihat betapa pria suka sekali mengganggunya, membuat ia tidak pernah mengagumi pria!

Kalau saja ia belum menjadi murid Hek-bin Hwesio dan tidak memiliki kesabaran besar, dan masih menjadi murid Ban tok Mo-li, tentu tadi sudah dihajarnya dua orang pemuda itu.  Akan tetap setelah menjadi murid Hek-bin Hwesio ia menjadi seorang gadis yang penyabar dan tidak mudah turun tangan menggunakan kekerasan. Tentu saja hal ini bukan berarti bahwa ia diam saja kalau ada yang berani mengganggunya. Hanya ia tidaklah sekeras dan segalak sebelum men¬jadi murid hwesio hitam itu. Bahkan ia mewarisi kejenakaan kakek gendut itu, suka tertawa dan bergurau.

"Nona, Cukong (Majikan) kami hendak berkenalan denganmu. Dia adalah seorang hartawan besar di kota Siong- cu, hanya tiga puluh li dari kota Siong-an tidak seperti dua ekor tikus tadi, Nona. Cukong kami minta dengan hormat agar Nona suka menerima undangannya untuk makan di mejanya."

Giok Cu kembali memandang kepada Pria yang tersenyum penuh gaya itu. la tidak marah, hanya merasa jemu dengan gangguan-gangguan, maka ia hanya menjawab, "Terima kasih, aku ingin makan sendiri saja di mejaku sendiri."

"Boleh, boleh, Nona Manis," kata pria kaya itu, lalu berkata kepada jagoannya yang seperti raksasa tadi, "A-lok, kita pindahkan meja Nona itu bersambung dengan meja kita dan ia boleh makan di mejanya sendiri, bukan?"

A-lek, Si Raksasa itu terkekeh dan sambil menyeringai, dia menghampiri meja Giok Cu. Gadis itu diam-diam mendongkol sekali, akan tetapi ia masih tersenyum manis dan meletakkan tangan kirinya di atas meja. Ketika A-lok hendak mengangkat meja itu, diam-diam ia mengerahkan sin-kang yang disalurkan ke tangan kiri itu dan menekan meja. A-lok menggunakan kedua tangan memegang meja dan mengerahkan tenaga mengangkat. Akan tetapi, dia terkejut bukan main! Meja itu sama sekali tidak dapat diangkatnya. Apalagi terangkat, bergerak pun tidak, seolah-olah empat buah kaki meja itu tertanam ke dalam lantai. Di menjadi penasaran. Kalau perlu, andaikata benar empat kaki meja itu tertanam ke dalam lantai, hendak dijebolnya! Kembali dia mengerahkan tenaganya, namun tetap saja meja itu tidak bergerak.