--> -->

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 14

Jilid 14

Amitohud. ! Enak saja memang kalau bicara, orang 

muda!" kata Thian di Hwesio. "Tidak ada kebakaran tanpa sebab, tidak ada dendam tanpa sebab! Bagaimana pinceng dan kawan-kawan mampu meniadakan dendam kalau teringat akan pembasmian kuil Siauw-lim-si?”

"Siancai omonganmu memang tepat sekali, orang 

muda. Akan tetapi tanpa adanya penyelesaian sekarang, bagaimana mungkin kita merasa aman dan tenteram di masa mendatang? Pertikaian ini memang sudah seharusnya diselesaikan sekarang juga, kalau perlu melalui pengorbanan!" kata seorang tosu.

Han Beng tersenyum. Sudah baik kalau kedua pihak dari orang-orang tua yang kaku itu mau mendengarkan ucapannya, setidaknya dia telah memberi bahan renungan untuk mereka yang sedang dikuasai nafsu dendam dan amarah

"Maafkan saya yang muda dan bodoh, Cu-wi Lo-cian-pwe. Bukankah hidup ini sekarang? Kemarin dan masa lalu hanyalah hal-hal yang lewat, sudah lapuk dan sudah mati, perlu apa dipikirkan dan dikenang lagi? Adapun masa depan dan hari esok adalah hal-hal yang belum akan hanya khayalan dan gambaran pikiran, perlu apa dibayangkan? Yang penting adalah sekarang ini, saat ini. Memang, tidak ada perubahan tanpa pengorbanan dan dalam hal ini, yang menjadi korban adalah perasaan sendiri, bukan mengorbankan orang lain."

"Omitohud. ! Agaknya orang muda ini diam-diam 

memang berpihak kepada para tosu maka dia menghendaki agar kita melupakan semua urusan yang lalu. Kalau kita teringat betapa mendiang Thian Cu Hwesio, ketua Siauw-lirn terpaksa membakar diri sampai mati gara-gara pengkhianatan mendiang Cun Bin Tosu, hati siapa tidak akan terbakar karena kejahatan tosu itu?" demikian seorang hwesio berseru marah. Thian Gi Hwesio lalu berkata kepada Han Beng. "Sudah, minggirlah, orang muda dan jangan mencampuri urusan kami. Maksudmu baik, akan tetapi tidak tepat. Pergilah engkau!" 

Berkata demikian, Thian Gi Hwesio menggerakkan tangan kirinya mendorong, tentu saja sambil mengerahkan sin-kang agar pemuda itu terkejut dan menyingkir. Akan tetapi, biarpun dari ujung lengan bajunya yang lebar itu menyambar angin yang kuat ke arah pemuda itu, ternyata sama sekali tidak membuat pemuda itu bergoyang, apalagi mundur dan terkejut! Pemuda itu tetap tenang saja, bahkan ujung lengan baju itu yang balik seperti bertemu dengan benda kuat yang menghalang tiupan angin dorongan tadi.

"Omitohud. ! Kiranya engkau memiliki kepandaian 

juga? Pantas saja berani mencampuri urusan kami!" bentak Thia Gi Hwesio yang berhati keras dan galak. "Nah, majulah orang muda. Kalau memang engkau hendak memamerkan kepandaian, maju dan lawanlah pincei sebelum engkau melanjutkan kelancanganmu!"

Melihat sikap itu, Han Beng terkejut tak disangkanya bahwa usahanya mendamaikan kedua pihak yang bermusuhan itu diterima salah oleh kedua pihak pula. Bahkan kini ia ditantang oleh seorang hwesio yang kelihatannya galak dan lihai.

"Maaf, Lo-cian-pwe. Saya bermaksud untuk melerai, mendamaikan dan melenyapkan permusuhan, bukan menanambah permusuhan baru!"

"Kalau engkau tidak berani melawan pinceng, hayo cepat pergi dari sini!"

Pada saat itu, terdengar suara ketawa halus dan tiba-tiba saja munculah seorang kakek tua renta yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, pakainnya sederhana sekali dari kain putih. "Siancai , ini namanya orang-orang tua yang 

sepatutnya berguru kepada orang muda, akan tetapi merasa malu untuk mengakuinya!"

Para tosu yang tadinya sudah bediri dan siap untuk berkelahi, begitu Melihat tosu ini, cepat mereka lalu memberi hormat dengan membongkok, bahkan ada yang segera berlutut kembali. Juga Thian Gi Hwesio dan para hwesio lain ketika melihat tosu tua renta ini, mereka terkejut dan cepat memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada.

Akan tetapi, Thian Gi Hwesio mengepulkan alisnya karena ada rasa khawatir juga penasaran dalam hatinya melihat munculnya kakek ini. Biarpun kakek ini, yang terkenal dengan nama Pek I Tojin, merupakan seorang pertapa suci dari Thai- san yang agaknya tidak mungkin mau mencampuri urusan dunia akan tetapi bagaimanapun juga, dia adalah seorang tosu dan tentu akan berpihak kepada para tosu! Dan kalau kakek ini campur tangan, maka keadaan pihaknya akan menjadi gawat.

Siapa yang tidak mengenal Pek I-Tojin, yang kabarnya memiliki kesaktian seperti dewa saja? Bahkan suhengnya sendiri, mendiang Thian Cu Hwesio, pernah mengatakan kepadanya bah untuk jaman itu, sukar dicari orang yang memiliki tingkat kepandaian seperti Pek I Tojin. Mungkin hanya Hek Bin Hwesio saja, suheng dari Thian Cu Hwesio da lam perguruan kebatinan di Himalaya yang mampu mencapai tingkat itu.

Setelah memberi hormat, Thian Hwesio mewakili teman- temannya. "Omitohud, kiranya Lo-cian-pwe Pek I Tojin yang datang. Tidak tahu apakah kedatangan Lo-cian-pwe ini untuk membesarkan hati para tosu dan memberi pelajaran kepada kami?" Pek I Tojin tertawa lembut mendengar ucapan itu. Dia bersikap lembut dan tenang. "Siancai, Thian Gi Hwesio sungguh masih saja penuh semangat. Apakah engkau sudah lupa ketika pinto datang bersama Hek Bin Hwesio melerai keributan antara hwesio dan para tosu? Pinto tidak berpihak siapa pun seperti juga Hek Bin Hwesio tidak berpihak siapa pun. Masing-masing melerai dan menahan golongan sendiri, itu baru benar, sesuai dengan petunjuk pemuda bijaksana ini bahwa perdamaian dimulai dari keadaan hati sendiri. Diri sendiri yang harus ditundukkan, bukan orang lain.”

Melihat munculnya Pek I Tojin, seorang datuk yang amat mereka hormati, para tosu tadinya berbesar hati. Akan tetapi mereka pun teringat betapa tokoh besar yang satu ini tidak suka akan pertentangan, maka tentu kedatangannya ini akan berakibat teguran bagi golongan sendiri. Oleh karena itu, seorang di antara paru tosu sudah cepat memberi hormat dan berkata, "Lo-cian-pwe, kami ini para tosu mohon petunjuk karena kami didesak dan dimusuhi para hwesio yang marah- marah!"

"Siancai, tidak ada kemarahan tanpa sebab dan tidak ada perselisihan timbul kalau kedua pihak tidak saling serang. Tak mungkin bertepuk tangan sebelah! Tak mungkin terjadi kebakaran kalau api tidak bertemu dengan bahan bakar. Para To-yu (sahabat), setelah pinto datang kalian minta petunjuk. Apakah benar kalian akan mentaati apa yang kunasihatkan?"

"Kami taat!" Serentak para tosu itu menjawab karena mereka percaya sepenuhnya kepada datuk besar itu.

"Nah, kalau kalian taat, sekarang juga kalian duduk bersila dan pasrah sepenuhnya. Kalau ada yang menyerang kalian, sampai membunuh kalian pun, kalian jangan bergerak dan jangan melawan!"

Tentu saja para tosu terbelalak. Mereka berhadapan dengan para hwesio yang sedang marah besar dan sudah  siap untuk menyerang, bagaimana mungkin mereka harus berdiam diri, menyerang tanpa perlawanan biar dibunuh sekalipun?

"Akan tetapi bagaimana kalau para hwesio itu menyerang kami dan membunuhi kami, Lo-cian-pwe?"

Pek I Tojin tersenyum. "Adakah manusia membunuh manusia lain kalau Tuhan tidak menghendaki? Kalau sampai kalian mati terbunuh, anggap saja sebagai penebusan dosa yang dilakukan oleh kawan-kawan terdahulu. Biar pinto yang duduk terdepan!" Berkata demikian Pek I lojin juga duduk bersila di depan para tosu lainnya dan dia pun berkata kepada para hwesio dengan lembut dan senyum ramah. "Nah, Saudara-saudara para hwesio, sekarang para tosu sudah menyerah dan tidak akan melawan sedikitpun juga. Terserah kepada kalian apa yang akan kalian lakukan kepada diri kami," berkata demikian Pek I Tojin lalu memejamkan mata dengan mulut tersenyum dan agaknya sudah pulas dalam samadhi. Para tosu lainnya juga meniru perbuatan ini.

Para hwesio saling pandang dengan bingung. Jelas bahwa para tosu itu tidak lagi mau mengadakan perlawanan dengan kekerasan. Betapa mudahnya untuk melampiaskan nafsu amarah dan dendam. Tinggal menghajar saja mereka!

Agaknya ada dua orang hwesio yang suah tidak sabar lagi. Melihat kesempatan baik itu terbuka, dua orang hwesio itu sudah bergerak dan melakukan serangan ke arah dua orang tosu yang bersila paling pinggir. Melihat gerakan dua orang hwesio ini, tiba-tiba toya di tangan Thian Gi Hwesio bergerak dan menyelonong ke depan, mendahului dua orang hwesio itu yang terdorong da mereka terjengkang! Tentu saja dua orang hwesio itu terkejut, heran dan penasaran melihat betapa bekas wakil ketua Siauw-lim-si itu bahkan menyerang mereka untuk mencegah mereka menyerang musuh.

"Apa. apa artinya ini!" mereka berseru. Wajah Thian Gi Hwesio menjadi merah sekali. "Tidak malukah kalian menyerang orang yang sudah tidak mau melawan? Sungguh perbuatan itu merupakan perbuatan pengecut dan tidak tahu malu! Kalau para tosu sudah tidak mau melawan, berarti mereka itu mengalah dan mengakui kesalahan rekan mereka. Kalau kita menyerang orang yang sudah tidak melawan, maka pihak kitalah yang menjadi sejahat-jahatnya orang! Pinceng melarang rekan-rekan kita untuk turun tangan terhadap para tosu yang tidak melawan. Mulai sekarang, kalau para Tosu tidak menggunakan kekerasan, kita tidak boleh menggunakan kekerasan! Lo-cian- pwe Pek I Tojin hendak menggunakan siasat yang lemah menundukkan yang keras, maka kita pun harus menggunakan kelemahan, bukan kekerasan dan menjadi kalah tanpa bertanding!" Setelah berkata demikian, Thian Gi Hwesio memberi hormat kepada Pek I Tojin dan para tosu lainnya, kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar meninggalkan tempat itu. Sembilan orang hwesio lainnya juga mengikuti langkahnya itu sebentar saja mereka sudah meninggalkan puncak itu. 

Setelah para hwesio pergi, Pek I Tojin membuka matanya. "Siancai ! Bagaimanapun juga, Thian Gi Hwesio Jelas 

berwatak keras itu masih memiliki kebijaksanaan." Para tosu lainnya juga membuka mata mereka dan mereka itu merasa lega bahwa semua hwesio telah pergi. "Nah, kalian melihat sendiri buktinya bahwa kekerasaan hanya dapat ditundukkan oleh kelunakan. Apakah kalian masih meragukan hukum Tuhan yang mutlak ini?" Setelah berkata demikian Pek I Tojin kembali tersenyum dan ketika dia menggerakkan tubuhnya, nampak bayangan berkelebat dan dia pun lenyap dari situ. Para tosu memberi hormat ke arah lenyapnya Pek I Tojin kemudian mereka memandang kepada Han Beng yang sejak tadi menonton saja. Seorang di antara mereka menjura.

"Orang muda, terima kasih atas bijaksanaanmu tadi."Setelah berkata demikian, para tosu juga pergi, mengambil arah lain dari arah yang diambil para hwesio. Namun, didalan hatinya, Han Beng masih menaruh curiga.Tadi, sikap para hwesio masih penasaran, apalagi orang yang ditangkis oleh Thian Ci Hwesio. Siapa tahu mereka itu masih belum dapat melenyapkan dendam. Maka, dengan perasaan tidak enak, Han Beng la berlari menuruni puncak, membayangi para hwesio yang turun menuju ke arah barat.

Para hwesio itu berjalan dengan langkah lebar, akan tetapi dengan mudah Han Beng dapat menyusul dan membayangi mereka. Mereka berjalan tanpa bicara. Ketika mereka tiba di tepi sebelah hutan dan Han Beng sudah mulai saja bosan membayangi mereka karena selain mereka tidak bicara, juga agaknya tidak ada sesuatu yang patut dicurigai, tiba-tiba dari dalam hutan muncul kurang lebih dua puluh orang tosu yang memegang senjata dan tanpa banyak cakap lagi dua puluh orang tosu itu telah menyerang sepuluh orang hwesio itu. Tentu saja para hwesio menjadi marah. Mereka tadi memang hanya karena terpaksa oleh sikap Pek I Tojin saja menahan diri dan tidak menyerang para tosu yang tidak mau melawan. Kini, melihat dua puluh orang tosu muncul dari dalam hutan dan agaknya memang sengaja menghadang mereka dan menyerang dengan senjata pedang dan golok, sepuluh orang hwesio itu menjadi marah dan mereka pun mengantuk, dipimpin oleh 'lhian Gi Hwesio yang bersenjatakan toya!

Han Beng yang menjadi penonton sambil bersembunyi dibalik batang pohon, menjadi bingung. Tentu saja tidak dapat menjadi pemisah setelah kedua pihak saling serang seperti itu. Akan tetapi dia melihat bahwa tak seorang pun di antara sembilan tosu yang tadi berada di antara para penyerbu itu Para tosu ini merupakan wajah-wajah baru! Juga melihat gerakan mereka, biarpun kesemuanya pandai ilmu silat namun dibandingkan dengan para hwesio yang rata-rata memiliki tingkat tinggi itu, mereka bukan merupakan lawan yang perlu dikhawatirkan. Dugaannya Beng Han belum ada sepuluh menit dua puluh orang tosu itu melakukan penyerbuan mereka sudah dapat dipukul mundur akhirnya mereka melarikan diri menuju hutan! Ketika ada hwesio yang hendak mengejar, Thian Gi Hwesio berseru, "Jangan kejar! Mengejar musuh di dalam hutan lebat amat berbahaya. Pula, kita harus setia kepada janji dalam sendiri. Mulai sekarang, kita tidak menjadi pihak menyerang. Kalau tosu menggunakan kekerasan, barulah kita membalas. Kalau mereka menggunakan kelembutan dan tidak menyerang, kita pun tidak boleh menyerang mereka. Kini, gerombolan tlosu yang menyerang kita sudah melarikan diri, tidak perlu dikejar lagi."

Akan tetapi Han Beng sudah menyelinap dan berlari-lari di antara pohon-pohon dalam hutan. Dia membayangi para tosu yang melarikan diri karena dia menaruh hati curiga. Para tosu itu sudah menanti dan menghadang di tempat itu agaknya. Tentu mereka sudah tahu para Hwesio macam apa yang akan lewat dan mereka hadapi. Akan tetapi mereka itu tidak melakukan persiapan matang, dan mengajukan tosu-tosu yang tidak berapa tinggi kepandaiannya! Dan setelah menyerang belum berapa lama, belum ada diantara mereka yang terluka parah, tiba-tiba mereka melarikan diri! Sungguh gerakan ini mencurigakan sekali! 

Ternyata para tosu itu melarikan sampai menembus hutan dan keluar dari sisi lain, kemudian mereka mendaki sebuah bukit! Ini pun mencurigakan Jelas bahwa mereka hendak menghilarngkan jejak dengan melalui hutan itu. Orang akan menyangka bahwa mereka berkumpul di hutan itu, padahal hutan itu hanya sekedar untuk lewat saja!

Setelah mendaki bukit yang penuh dengan hutan dan jurang yang curam itu, dan tiba di sebuah lereng di mana terdapat semacam perkampungan, mereka berhenti. Han Beng cepat menyelinap dekat untuk mendengarkan percakapancmereka. Seorang tosu yang tinggi kurus berkata kepada kawan-kawannya. "Kalian semua sudah tahu bahwa untuk bebera hari lamanya, sebelum ada perintah, kalian tidak boleh meninggalkan perkampungan. Kami bertiga akan melaporkan kepada Beng-cu (Pemimpin)."Setelah berkata  demikian, tosu tinggi kurus dan dua orang lainnya melanjutkan perjalan menuju ke puncak, sedangkan tujuh belas orang tosu yang lain memasuki perkampungan itu. Sebagian dari mereka ketika memasuki pintu gerbang perkampungan yang terjaga itu, sudah menanggal jubah tosu dan di sebelah dalam jubah itu ternyata mereka mengenakan pakaian ringkas! Hemmmn, kiranya hanya tosu-tosu palsu, pikir Han Beng yang menjadi semakin curiga. Dia pun segera membayangi tiga orang tosu yang mendaki puncak, ingin tahu siapa yang mereka sebut Beng-cu itu dan apa yang akan mereka laporkan.

Tiga orang itu kini dipuncak dan ternyata bahwa di puncak itu, tertutup oleh hutan yang mengelilingi puncak, terdapat sebuah bangunan besar dan baru.

Ketika Han Beng menyelinap dan mengintai, dia melihat tiga orang tosu palsu itu langsung menuju ke pintu gerbang yang terjaga ketat dan pada saat itu, terdengar derap kaki kuda dan muncullah seorang perwira pasukan pemerintah, menunggang kuda dan dikawal oleh dua losin tentara. Melihat perwira ini, para penjaga pintu gerbang segera memberi jalan dengan sikap hormat.

Han Beng termenung dan kecurigaannya semakin menebal. Melihat pakaian penjaga pintu gerbang itu, jelas bahwa mereka bukan tentara. Akan tetapi perwira dan para pengawalnya itu pasti pasukan pemerintah. Apa maksudnya berkunjung ke tempat aneh di puncak bukit ini? Dan para tosu palsu itu pun ke situ untuk bertemu dengan bengcu atau pimpinan mereka! Tentu ada kaitannya antara pimpinan para tosu palsu dan perwira pasukan pemerintah! 

Tak lama kemudian, menggunakan ilmu kepandaiannya, Han Beng berhasil melompati pagar tembok tanpa diketahui para penjaga dan dia pun sudah menyelinap diantara pohon- pohon di taman bunga, mendekati bangunan dan dengan gerakan bagaikan seekor burung walet dia sudah meloncat ke atas genteng bersembunyi di balik wuwungan dan merayap  seperti seekor kucing tanpa mengeluarkan suara untuk mengintai ke dalam.

Akhirnya dia tiba diatas sebuah ruangan yang luas di mana terdapat berapa orang sedang duduk menghadapi meja besar dan bercakap-cakap. Han Beng yang mengintai dari atas, mengenal tiga orang tosu yang dipimpin tosu kurus tadi, juga melihat perwira yang tadi menunggang kuda berada pula di situ. Di kepala meja duduk seorang laki-laki berusia enam puluh tahun lebih dan melihat orang ini, Han Beng terkejut. Sungguh seorang laki-laki yang menyeramkan. rambut, kumis dan jenggotnya masih hitam, tebal dan lebat, tidak terawat sehingga awut-awutan. Rambutnya keriting dan tebal sekali sehingga kepala itu seperti mengenakan topi bulu yang aneh. Mukanya persegi empat, dan muka itu sipenuhi brewok sehingga mirip muka seekor singa atau harimau.Tubuhnya tinggi besar dan nampak kokoh kuat, sepasang matanya juga mencorong seperti mata harimau. Kuku-kuku jari tangannya panjang meruncing. Mengesankan sekali orang ini dan menakutkan. Baru melihat keadaan tubuhnya saja mudah diduga bahwa ia tentu seorang yang memilliki tenaga kuat sekali dan tentu pandai pula, memiliki ilmu silat yang tinggi, Memang dugaannya ini tidak meleset dari kenyataan. Raksasa kulit hitam itu adalah seorang datuk sesat yang selama hampir dua puluh tahun ini menghilang di dunia kang-ouw. Ketika dia muncul kembali, dunia kang-ouw geger karena ia memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia. Munculnya menundukkan para datuk sesat sehingga sebentar namanya terkenal sekali dan dia diakui sebagai seorang datuk besar dunia hitam.

Apalagi, disamping ilmu silatnya yang tinggi juga dia memiliki ilmu sihir dan kemunculannya membawa pula suatu aliran kepercayaan baru, yaitu penyembah Raja Setan yang disebut Thian-te Kwi-ong! Hebatnya, Cui-beng Sai-kong, demikianlah nama datuk ini, mampu mendatangkan Raja Setan yang disembah-sembah itu! Karena dia dapat membuktikan hal-hal yang aneh, disamping dia yang memiliki  kepandaian silat dan sihir yang ampuh, sebentar saja banyak orang yang terdiri dari para datuk sesat yang takluk kepadanya dan menjadi pengikut atau anggauta perkumpulan atau aliran kepercayaan itu! Aliran kepercayaan yang menyembah dan memuja Raja setan.”

Seperti kita ketahui, Hok-houw To to Lui Seng Cu juga seorang penyembah Thian-te Kwi-ong dan orang itu adalah murid pertama atau pembantu pertama dari Cui-beng Sai- kong! Dari raksasa hitam inilah Lui Seng Cu menerima aliran kepercayaan baru itu dan dia pun bertugas untuk menyebar- luaskan kepercayaan itu dan akhirnya, seperti kita ketahui, Lui Seng Cu berhasil mengait Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu menjadi anggautanya!

Di dekat kursi Cui-beng Sai-kong yang disebut beng-cu (pemimpin) oleh para tokoh sesat itu, duduk pula seorang kakek yang lebih tua. Usia kakek itu tentu sudah lebih dari tujuh puluh, dan pakaiannya seperti seorang tosu. Tubuhnya pendek, dengan kaki dan tangan yang pendek. Akan tetapi pedang yang tergantung dipunggung belakang itu panjang dan melengkung, semacam pedang Samurai dari Jepang. Jubahnya berwarna kuning dan rambutnya yang sudah putih digelung keatas. Dia ini bukan lain adalah Tung-hai Cin-jin, seorang tosu perantau yang berasal dari pantai timur. Tung- hai Cin-jin tadinya penasaran dengan munculnya Cui-beng 

Sai-kong dan dia pernah mencoba kepandaian datuk sesat itu. Akan tetapi dia kalah jauh dan tosu perantau ini tunduk dan suka ditarik menjadi pembantu beng-cu itu. Apalagi karena Tung-hai Cin-jin juga tertarik kepada aliran kepercayaan itu yang menjanjikan kesaktian dan juga usia panjang!

Han Beng mendengarkan percakapan lima orang-orang itu dengan hati terarik. Ketika itu, perwira yang agaknya menjadi tamu itu menepuk meja dengan wajah gembira.

"Bagus! Jadi berhasil baik rencana kita, Beng-cu? Ah, harap ceritakan bagaimana hasilnya!" "Tadinya memang mengkhawatirkan sekali, Ciangkun," kata Tung-hai Cin-jin yang duduk di sebelah pemimpinnya, pinto bertugas untuk mengamati pertemuan antara rombongan hwesio dan tosu di puncak Bukit Kijang. Mereka sudah saling siap untuk bertempur ketikaa tiba-tiba muncul seorang pemuda seorang pertapa yang berhasil melerai sehingga dua pihak tidak jadi berkelahi.”

"Wah, sungguh sayang sekali kalau begitu!" kata perwira itu kecewa.

"Akan tetapi, rombongan tosu palsu yang kita buat telah berhasil meny ergap para hwesio itu di luar hutan!" kata Cui- beng Sai-kong dengan bangga. kita sekarang tinggal menanti hasil penyergapan para hwesio palsu buatan yang bertugas untuk menyerang rombongan tosu itu."

Perwira itu mengangguk-angguk, sukurlah kalau berhasil. Para hwesio dan tosu itu merupakan orang-orang yang keras kepala. Merekalah yang merupakan golongan yang menentang kebijaksanaan pemerintah. Karena pengaruh mer eka maka rakyat juga menentang pembuatan terusan dan mereka kurang semangat Padahal, pembangunan terusan itu membutuhkan biaya yang amat banyak, teruutama tenaga manusia yang besar jumlahnya. Para hwesio dan tosu itu, terutama para hwesio Siauw-lim-si, merupakan penghambat besar. Karena itulah maka kita mengadakan siasat mengadu domba antara mereka agar mereka sibuk dengan permusuhan mereka sendiri dan tidak ada lagi waktu untuk mengganggu lancarnya pembangunan terusan."

Cui-beng Sai-kong tertawa. "Serahkan saja kepada kami, Ciangkun. Asal Ciangkun tidak lupa memberi laporan yang baik buat kami ke atasan Ciang-kun.”

Perwira itu tertawa pula. "Jangan khawatir, Bengcu. Bukankah selama ini kami dari pihak pasukan pemerintah telah bekerja sama dengan baik sekali denganmu? Bukankah  kami juga mengakui kedaulatan dan kekuasaanmu di antara para tokoh kang-ouw?"

Para pelayan wanita datang membawa hidangan dan mereka pun makan minnum dengan gembira. Tak lama kemudian, muncullah tiga orang hwesio palsu, kepala mereka memang tidak berambut, akan tetapi pakaian mereka telah menjadi pakaian yang ringkas karena mereka telah menanggalkan jubah pendeta mereka seperti yang dilakukan para tosu tadi sebelum mereka memasuki ruangi itu. Setelah memberi hormat kepada pimpinan mereka dan orang-orang lain dan dipersilakan duduk, seorang di antara tiga orang "hwesio" ini lalu membuat laporan.

Seperti juga rombongan tosu palsu yang menghadang para hwesio, juga tiga orang hwesio palsu itu melaporkan tapa mereka dengan rombongan hwesio palsu telah berhasil menghadang dan menyerang para tosu yang meninggal puncak Bukit Kijang. Mereka pun dipukul mundur, akan tetapi mereka berhasil membuat para tosu yang mereka serang itu tentu saja menjadi marah dan permusuhan di antara kedua pihak kobar lagi

"Ha-ha-ha, bagus sekali! Beng-cu kami akan melaporkan hasil ini kepa atasan kami dan tentu Bengcu dan kawan-kawan akan menerima balas jas kata perwira itu.

Han Beng sejak tadi mendengarku mengepal tinju. Sungguh licik dan jahat orang-orang ini, pikirnya. Kini, tanpa ragu lagi dia dapat membayangkan mengapa permusuhan antara para tosu dan para hwesio semakin meluas sejak Siauw-lim-si dibakar. Tentu juga atas usaha orang-orang seperti inilah maka kedua pihak itu semakin mendendam dan saling membenci.Tentu ada di antara mereka ini yang membunuh tosu dengan menyamar sebagai hwesio atau sebaliknya. Dia bergidik membayangkan betapa luasnya akibat yang disebabkan oleh usaha yang amat jahat itu. Tentu para hwesio dan para tosu menjadi semakin saling membenci.  Apalagi dilandasi perbeda agama, maka permusuhan itu akan jadi malapetaka yang mengerikan. 

"Sungguh keji sekali kalian ini orang-orang jahat!" bentaknya dan di lain saat, tubuhnya sudah melayang turun ke dalam ruangan itu. Tentu saja semua yang menjadi terkejut bukan main ketika melihat seorang pemuda bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah telah berdiri disitu, menentang mereka dengan pandangan mata mencorong penuh kemarahan.

Cui-beng Sai-kong adalah seorang datuk besar yang sadar akan kemampuannya, maka biarpun diam-diam dia terkejut melihat munculnya seorang pemuda tanpa dia ketahui kehadirannya tadi, namun dia bersikap tenang saja.

Perwira itulah yang terkejut dan marah. "Wah, ada mata- mata musuh kesini! Dia harus ditangkap!" Perwira itu mengeluarkan teriakannya sebagai aba-aba dan dari luar ruangan yang luas iti berhamburan masuk dua lusin perajurit pengawalnya! Atas isarat yang diberikan oleh perwira itu sendiri yang sudah mencabut pedang dan memimpim langsung pasukannya, Han Beng segera dikepung.

"Hemmm, mata-mata keparat! Menyerahlah engkau sebelum kami melakukan kekerasan! Menyerahlah untuk kami tangkap!"

Han Beng bersikap tenang. "Ciangkun, aku tidak dapat menyalahkan engkau karena bagaimanapun juga, engkau adalah seorang perwira yang melaksanakan tugas untuk atasanmu. Akan tetapi, mereka ini adalah orang-orang jahat yang ingin mengadu domba dan mencelakakan orang lain hanya untuk mendapatkan imbalan jasa. Merekalah yang kutentang bukan engkau, Ciangkun!" Akan tetapi perwira itu tidak peduli dan memberi aba-aba untuk menyerang pemuda itu. "Tangkap dia dan bunuh kalau melawan!" bentaknya. Dua lusin perajurit itu bergerak dan banyak sekali tangan dijulurkan untuk mencengkeram dan menangkap Han Beng. Akan tetapi pemuda ini meloncat dan mereka semua hanya mencengkeram udara kosang. Tahu- tahu pemuda itu telah berada di luar kepungan. Mereka membalik dan kembali mengepung, sekali ini mereka mempergunakan senjata untuk menyerang. Han Beng menggerakkan kaki tangannya dan segera terdengar para pengepungnya berrteriak kesakitan, pedang, dan golok beterbangan dan lima orang roboh susul-menyusul oleh dorongan tangan, tamparan atau tendangan kakinya. Namun, Han Keng membatasi tenaganya karena dia tidak ingin membunuh orang.

Perwira itu marah sekali. Dia meloncat, menubruk dengan pedangnya yang menyambar ganas kearah leher Han Beng. "Aku tidak mau bermusuhan dengan pasukan pemerintah!" kata Han Beng dan tangan kirinya menyambar, menangkap pedang itu. Perwira itu membetot sekuat tenaga, namun pedang seperti terjepit jari-jari baja saja. mengerahkan tenaga sekuatnya, menarik lagi dan tiba-tiba saja dia terjengkang dengan pedang yang tinggal sepotong karena yang sepotong lagi tertinggal tangan Han Beng!

Melihat kehebatan pemuda ini, yang begitu saja menangkap pedang telanjang komandan mereka, apalagi kemudian mematahkannya, para perajurit menjadi gentar dan ragu-ragu untuk melanjutkan pengeroyokan mereka. Sebelum perwira itu dapat memberi aba-aba baru karena dia sendiri masih terkejut melihat kelihaian pemuda itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

oooOOooo

"Saudara-saudara mundurlah semua. Biarkan pinto yang menghadapi bocah sombong ini!" Yang berteriak ini adalah Tung-hai Sin-jin, tosu tua renta yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih itu. Melihat majunya pembantu utama dari Bengcu, perwira itu yang merasa jerih kepada Han Beng memberi isarat kepada anak buahnya dan pasukan itu pun memundurkan diri dan keluar dari ruangan itu. Kini,kakek pendek itu sudah berhadapan dengan Han Beng. Melihat kakek ini, Han Beng merasa seperti sudah pernah melihatnya, akan tetapi dia lupa lagi entah

kapan dan di mana.

"Orang muda," kata Tung-hai Cin-Jin dengan sikap penuh wibawa. "Engkau ini orang yang masih muda sekali akan tetapi berani lancang mencampuri urusan orang lain! Siapakah namamu dan siapa yang menyuruhmu menjadi mata-mata di sini?"

"Totiang, sungguh aku merasa heran sekali. Engkau juga seorang tosu, tetapi setidaknya berpakaian sebagai seorang tosu. Akan tetapi mengapa engkau ikut pula mengotorkan tanganmu mengatur rencana permusuhan antara para hwesio dan para tosu sendiri? Tidak ada yang menyuruh aku, akan tetapi aku tadi melihat ketika para tosu palsu menghadang para hwesio, maka aku mengikuti tosu-tosu palsu itu kesini.”

"Siancai, pemuda yang besar mulut. Engkau tidak tahu bahwa engkau berhadapan dengan Tung-hai Cin-jin! Hayo cepat engkau berlutut dan minta ampun baru mungkin aku dapat mintakan ampun untukmu kepada Beng-cu!"

Kini Han Beng teringat. Pernah gurunya yang pertama, yaitu Sin-tiauw Liu Bhok Ki, menceritakan kepadanya siapa- siapa saja para tokoh kang-ouw yang ikut memperebutkan anak naga di kedung maut Sungai Huang-ho, bahkan kemudian memperebutkan dia dan Giok Cu karena dia dan Giok Cu telah menghisap darah anak naga. Dan menurut guru yang pertama itu, di antara para to kang-ouw itu terdapat yang bernama Tung-hai Cin-jin dan kini dia pun teringat. "Ah, kiranya Totiang adalah petualang yang dimana pun selalu mengejar keuntungan itu! Pernah kita saling bertemu, Totiang, kurang lebih sepuluh atau sebelas tahun yang lalu, di tepi pusaran maut Sungai Huang-ho!"

Tosu itu mengerutkan alisnya dan ia memandang dengan sinar mata penuh perhatian. Lalu dia menuding dengan telunjuk kirinya, sedangkan tangan kanan meraba gagang samurainya. "Bagus! Kiranya engkau bocah penghisap darah naga Ho-ho, sungguh kebetulan sekali, pinto semakin tua dan membutuhkan sekali darahmu untuk obat kuat dan panjang umur!" 

"Aha, jadi itukah bocah yang pernah kau ceritakan kepadaku, Tung-hai Cin-jin? Kalau begitu, tangkaplah dia untukku!" tiba-tiba Cui-beng Sai-kong berseru gembira. Dia sudah mendengar cerita pembantunya itu tentang perebutan mustika dan darah naga di Sungai Huang-ho, maka mendengar bahwa pemuda itu adalah anak yang menghisap darah naga, tentu saja dia tertarik sekali.

Tung-hai Cin-jin mengerutkan alisnya dan ingin dia menampar mulut sendiri. Kenapa dia membuka rahasia itu di depan bengcu! "Beng-cu, pin-to. pinto sudah tua dan 

loyo, amat membutuhkan darahnya "

"Bodoh! Darah itu kini telah menjadi banyak setelah dia dewasa, lebih dari cukup untuk kita berdua!"

Tung-hai Cin-jin merasa terhibur juga. Ucapan itu menyatakan bahwa dia tentu akan mendapat bagian dari darah pemuda ini yang amat dia butuhkan. Maka terdengar suara berdesing dibarengi sinar berkilat menyilaukan mata ketika dia mencabut pedang samurai dari belakang punggungnya. Han Beng melihat i ni maklum bahwa tosu tua itu ahli bermain pedang dan bahwa pedang yang panjang melengkung itu tajam bukan main. Dia sejak tadi sudah menyadari sepenuhnya bahwa dia memasuki tempat  berbahaya, gua harimau dan akan menghadapi orang-orang berbahaya. Oleh karena itu, ketika dia masuk tadi, dia sudah mematahkan sepotong dahan pohon sebagai tongkat untuk dipakai sebagai senjata.

Kini, dengan potongan kayu sebesar lengan itu di tangan, dia bersikap tenang. "Hemmm, kiranya engkau pun hanya seorang tosu yang palsu saja, Tung-Hai Cin-jin. Seorang tosu yang tulen tentu telah dapat menguasai nafsu-nafsunya dan hidup selaras dengan To, tidak seperti engkau yang masih diperbudak oleh nafsu-nafsu sendiri."

"Bocah sombong, pinto membutuhkan darahmu!" Berkata demikian, kakek itu lalu menggerakkan pedangnya. Pedang itu panjang dan melengkung, berat dan Tung-Hai Cin-jin mempergunakan kedua tangan untuk memegang gagangnya dan menyerang. Serangannya itu cepat dan kuat bukan main. Sungguh aneh permainan pedangnya itu, menggunakan kedua tangan! Akan tetapi, ketika Han Beng mengelak, pedang itu sudah datang lagi menyambar dari arah yang berlawanan! Ternyata biarpun dia mempergunakan dua tangan, namun gerakan pedang itu tidak kalah cepatnya seperti kalau digerakkan oleh satu tangan saja.

Han Beng segera mengelak lagi sambil mulai memainkan tongkatnya. Dia telah mempelajari ilmu tongkat dari Sin-ciang Kay-ong, ilmu tongkat yang menjadi andalan guru ke dua itu, yang dinamakan "Tongkat Dewa Mabuk"! Tongkat di tangannya menyambar kacau, ringan gerakan miring dan kadang-kadang seperti tidak akan mengenai sasaran akan tetapi dengan gerakan menyerong itu ujung tongkat mengancam jalan darah yang berbahaya di tubuh lawan!

Tung-hai Cin-jin terkejut dan cepat memutar pedangnya untuk membabat tongkat yang hanya terbuat dari dahan pohon itu agar patah-patah. Namun, gerakan tongkat itu aneh sekali dan selain dapat menghindarkan setiap bacokan untuk disusul dengan pukulan atau totokan tongkat. Tung-hai Cin-jin merasa penasaran dan dia memutar pedang semakin cepat sehingga nampaklah gulungan sinar pedang yang putih kemilauan, menyambar-nyambar dengan bunyi berdesing-desing Namun, Han Beng selalu dapat mengelak dan tongkatnya yang sederhana berubah menjadi gulungan sinar hijau. Tadinya, pada dahan itu masih menempel beberapa lembar daun. Kini, daun-daun itu sudah rontok, akan tetapi sebelum rontok, sudah berkesempatan untuk lebih dulu menyambar kearah tubuh Tung-hai Cin-|in. Dua helai daun tadi telah menyambar dan menampar kedua pipi kakek itu. Hanya daun terbang, akan tetapi karena mengandung tenaga kuat, maka kedua pipi itu menjadi merah sekali!

Kakek itu memang amat hebat dengan pedang samurainya.

Namun, dia sudah terlalu tua untuk berkelahi dalam waktu lama. Sebentar saja, tubuhnya sudah basah dengan keringat dan napasnya mulai terengah-engah. Melihat keadaan pembantunya itu, diam-diam Cui-beng Sai-kong terkejut juga. Dia mengenal kepandaian kakek pendek itu yang cukup lihai. Akan tetapi melawan pemuda ini, belum juga dua puluh jurus lamanya, Tung-hai Cin-jin sudah terdesak dan terengah- engah.

"Bocah sombong, lihat seranganku!"

Dia membentak dan kakek tinggi besar hitam seperti raksasa itu sudah meloncat kedalam medan pertempuran, kedua lengannya diayun dan angin menyambar ke arah Han Beng yang pada saat itu sedang menahan pedang samurai lawan dengan tongkatnya. Cepat dia melepaskan pedang itu dari tempelan tongkatnya sambil melompat kebelakang. Namun, angin pukulan itu tetap saja masih membuat dia terhuyung kebelakang. Dari belakang, ada beberapa orang pembantu beng-cu itu menyambutnya dengan serangan golok dan tombak. Akan tetapi Han Beng melempar tubuh ke bawah menggelinding ke arah mereka dan begitu tongkatnya bergerak, dua orang pengeroyok telah roboh tertotok  sambungan lutut mereka! Dia meloncat bangun kembali dan kini bersikap hati-hati, karena dia maklum betapa lihainya beng-cu itu. 

Cui-beng Sai-kong yang melihat betapa pemuda itu bukan saja berhasil menghindarkan diri dari serangannya, bahkan sambil menggelundung tadi tadi merobohkan pula dua orang pembantunya yang cukup lihai, menjadi marah dan penasaran. Kalau dia tidak cepat merobohkan pemuda itu, tentu kebesarannya akan tercemar! Sekali menggerakkan tubuhnya, dia telah meloncat ke depan Han Beng. Dan mulailah dia menyerang dengan gerakan aneh dan cepat, juga kedua tangannya yang menyambar-nyambar itu mengeluarkan suara berkerotokan seolah-olah semua tulangnya Itu saling beradu, dibarengi menyambarnya angin dahsyat. Serangkaian serangan terdiri dari sembilan pukulan dan cengkeraman yang bertubi-tubi datangnya dapat dihindarkan oleh Han Beng dengan elakan dan loncatan kesana-kemari. Gerakan tubuhnya lincah sekali sehingga dia berhasil lolos. Namun, kembali dia terhuyung karena serangan-serangan itu mendatangkan angin pukulan yang mendorong dengan kuatnya. Sebagai balasan, ketika dia melihat kesempatan setelah lewatnya serangkaian serangan itu, ujung tongkatnya bergerak lengan ujungnya berputaran kedepan muka lawan. Kalau lawannya tidak lihai sekali, tentu akan bingung dan pandang matanya kabur melihat ujung torgkat berputaran didepan mata seperti itu. Namun tidak demikian dengan Cui- ben Sai-kong yang selain memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga memiliki pengalaman yang matang dalam soal perkelahian. Sudah banyak dia menghadapi lawan-lawan tangguh, maka biarpun ilmu tong kat yang dimainkan pemuda itu aneh dan membingungkan, namun dia tidak menjadi gentar dan tiba-tiba saja tangan kanannya menyambar kedepan, mencengkeram ke arah pusar lawan sedangkan tangan kirinya diputar sedemikian rupa untuk menangkap ujung tongkat itu! Tentu saja Han Beng tidak mau tongkatnya tertangkap lawan. Dia menarik tongkatnya dan menghindarkan cengkeraman itu dengan memiringkan tubuh ke kanan. Akan tetapi, dari atas,  tangan kiri yang diputar tadi telah menyambar, mencengkeram ke arah ubun-ubun kepalanya dan tangan kanan yang luput mencengkeram tadi pun sudah menyambar dari samping dengan pukulan tangan terbuka yang dasyat sekali!

Han Beng terkejut, cepat dia mengelak lagi sambil melompat ke atas, kini menggunakan gerakan dari Hui-tiauw Sin-kun (Silat Sakti Rajawali Terbang) yang dipelajarinya dari Sin-tiauw Liu Bhok Ki. Gerakannya cepat dan tubuhnya bagaikan bersayap saja. Dari atas, tongkatnya kembali menyambar ke bawah, kearah tengah kepala lawan. Kini kakek itu yang terkejut.

"Aihhhhh. !" Dia mendengus, akan tetapi biarpun dia 

sudah mengelak sambil menggunakan kedua tangan untuk melindungi kepala, berusaha menangkap tongkat, namun tongkat itu menyeleweng ke samping dan berhasil mencium pundaknya.

"Tukkk!" Pundak itu dilindungi kekebalan yang luar biasa sehingga ujung tongkat terpental. Keduanya terkejut. Han Beng terkejut karena hampir saja tongkat yang berhasil menotok pundak Itu patah, sudah melengkung, dan sebaliknya kakek itupun terkejut karena biarpun dia mampu menyelamatkan pundaknya dengan perlindungan kekebalan, namun tetap saja pundaknya terasa nyeri, tanda bahwa tenaga di dalam tongkat itu sungguh amat kuatnya! Mau tidak mau, Cui-beng Sai-kong terhuyung. Akan tetapi pada saat itu, Tung-hai Cin-jin sudah menyerang lagi dengan samurainya disabetkan dari kanan ke kiri membabat pinggang Han Beng. Kalau mengenai sasaran, agaknya pemuda itu akan sukar menyelamatkan diri dan tubuhnya tentu akan buntung menjadi dua potong! Dia melempar tubuh ke belakang, tongkatnya diputar di sebelah kirinya menyambut pedang itu yang begitu bertemu tongkat Ialu ikut terputar dan hampir terlepas dari tangan kakek tua renta itu. Tung-hai-Cin-jin terkejut, cepat menarik kembali samurainya dan melompat ke belakang dengan muka pucat. Akan tetapi, kini Cui-beng Sai-kong  sudah mengerahkan tenaga dalam dan menggunakan ilmu hitamnya. Dia mengeluarkan suara menggereng seperti auman singa marah dan se galanya tergetar hebat oleh auman itu. Inilah semacam ilmu Sai-cu Ho-kang (Tenaga Auman Singa) yang amat ampuh dapat menggetarkan dan melumpuhkan lawan. Ilmu ini memang diambil pengaruh dari auman singa. Seekor singa harimau atau binatang buas lain, serta mempergunakan kekuatan auman ini untuk melumpuhkan lawan.

Han Beng terkejut sekali. Banyak orang di situ roboh bergelimpangan, pemuda itu pun merasa betapa kedua kakinya lemas! Pada saat itu, Cui-Sai-kong sudah menubruk dengan kedua lengannya mencengkeram ke arah leher dan dada!

Han Beng teringat akan nasihat kedua orang gurunya kalau menghadapi serangan yang mengandalkan kekuatan suara atau ilmu hitam. Dia mengerahkan Sin-kang di tubuhnya, dihalau ke seluruh tubuh sampai menembus ke otak pada saat serangan datang, dia sudah pulih kembali, tidak lagi merasa Iumpuh dan dia dapat membuang tubuhnya kiri sehingga cengkeraman kedua tangan lawan itu luput dan dari kiri, Han Beng sudah mengirim tusukan dengan tongkatnya ke arah lambung lawan! 

“Tukkk!" Totokan itu tak mengenai sasaran, meleset dan pada saat itu, dalam keadaan terhuyung, Cui-beng Sai-kong yang lihai itu telah mengirim tendangan dengan kakinya yang panjang dan besar.

"Desss. !" Tendangan itu mengenai paha Han Beng dan 

tubuh pemuda ini terlempar jauh ke atas! Dan tubuh itu tidak turun kembali! Semua orang terbalak memandang ke atas. Kiranya, Tubuh pemuda itu disambar oleh seorang kakek yang pakaiannya serba putih. Kakek itu menarik tubuh Han Beng melalui atap yang sudah berlubang dan mereka pun lenyap. ”Kejar!" teriak Cui-beng Sai-kong sambil bersama Tung-hai Cin-jin mendahului melompat ke atas genteng. Namun sia-sia. Kakek itu bersama Han Beng telah lenyap entah ke mana. Kakek yang melarikan Han Beng itu bukan lain adalah Pek I Tojin! Han Beng tidak terluka. Tadi ketika terkena tendangan, karena sudah tidak mampu menghindarkannya lagi, dia melindungi tubuh dengan sin-kang, bahkan membiarkan tubuhnya ringan sehingga ketika terkena tendangan yang amat kuat itu, tubuhnya seperti sebutir bola melambung ke atas. Tahu-tahu ada orang menyambarnya. Beng hendak meronta, akan tetapi ketika mengenal kakek yang pernah dilihatnya ketika melerai pertikaian antara para hwesio dan tosu, dia pun diam saja, bahkan membiarkan dirinya dibawa lari sampai jauh.

Di dalam hutan yang sunyi Pek I Tojin melepaskan tubuh Han Beng dia memandang heran melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak terluka dan berlutut di depannya memberi homat.

"Eh, kau tidak. terluka ?"

"Tidak, Lo-cian-pwe."

Kakek itu mengangguk-angguk. "Bagus! Kiranya engkau telah menerima gemblengan orang pandai. Tidak tahu siapakah gurumu ?"

"Teecu (Murid) pernah dibimbing Suhu Sin-tiauw Liu Bhok Ki dan kemudian oleh Suhu Sin-ciang Kai-ong."

"Siancai ! Pantas kalau begitu. Dan Engkau telah 

mewarisi ilmu-ilmu mereka dengan baik. Akan tetapi engkau masih terlalu hijau, tidak mengukur kekuatan lawan. Ketahuilah bahwa Cui-beng Sai-kong itu selain lihai sekali, juga memiliki banyak anak buah. Untung engkau tadi belum  dikeroyok oleh seluruh anak Buahnya. Hemmm, kenapa engkau dapat berada di sarang mereka itu?"

Han Beng menceritakan tentang penyerbuan tosu-tosu palsu yang diatur oleh gerombolan itu untuk mengadu domba antara para hwesio dan tosu. Mendengar ini, Pek I Tojin tersenyum. "Sudah pinto duga begitu. Pinto juga melihat dua puluh orang hwesio palsu menyergap para tosu, maka pinto juga membayangi paru hwesio palsu itu dan tiba di sarang mereka."

“Ah, kalau begitu, usaha Lo-cian-pwe melerai dan mendamaikan para tosu dan para hwesio akan menjadi sia-sia saja mereka tentu sudah terpengaruh oleh siasat busuk mengadu domba itu."

"Tidak, orang muda. Bahkan pinto melihat jalan yang baik untuk mendamaikan antara mereka, mungkin untuk selamanya. Mari kita membagi pekerjaan. Kau pergilah ke barat. Di luar hutan terdapat sebuah kuil tua dan pinto kira disana engkau akan dapat menemukan sepuluh hwesio pimpinan itu. Ceritakan apa yang kau lihat tentang tosu tosu palsu itu, kemudian ajak mereka ke sini. Katakan bahwa pinto menanti disini bersama para tosu pimpinan. Kemudian kita bersama-sama menyerbu sarang Cui-be Sai-kong dan anak buahnya. Dengan terbongkarnya kepalsuan dan fitnah adu domba itu, kiranya para hwesio dan tosu akan benar-benar insaf betapa bodohnya sikap mereka selama ini dan bahwa permusuhan hanya akan memancing datangnya malapetaka bagi diri sendiri."

Han Beng dapat mengerti apa yang dimaksudkan kakek itu. Dia lalu berlari cepat menuju ke barat sedangkan kakek itu pun berkelebat menuju ke timur.

Benar saja, Han Beng dapat menjumpai para hwesio yang dipimpin oleh Thian Gi Hwesio itu di dalam sebuah kuil. Mereka sedang berdoa ketika dia tiba di situ. Ketika para  hwesio mendengar keterangannya tentang para tosu palsu yang menyerbu mereka, para hwesio itu menjadi marah.

"Omitohud. ! Kiranya begitu? Kami sudah merasa 

bingung dan heran sekali. ! Mari kita serbu ke sarang 

mereka!" Thian Gi Hwesio berkata dan para hwesio lainnya menyambut penuh semangat.

"Nanti dulu, Lo-suhu. Saya disuruh oleh Lo-cian-pwe Pek I Tojin agar mengajak Cu-wi ke dalam hutan. Di sana dia akan menanti bersama para tosu yang juga disergap oleh segerombolan hwesio palsu."

Berangkatlah para hwesio itu dan Han Beng menjadi petunjuk jalan. Ketika mereka tiba di dalam hutan, ternyata Pek I Tojin dan sembilan orang tosu pimpinan sudah berada di situ. Ketika para hwesio dan para tosu mendengarkan siasat yang dijalankan pemerintah dengan bantuan tokoh-tokoh sesat untuk mengadu domba antara para hwesio dan para tosu, tentu saja mereka menjadi penasaran dan marah sekali.

Pek I Tojin tersenyum, diam-diam girang melihat sikap mereka. "Nah, sekarang kalian dapat melihat sendiri betapa ruginya kalau antara kedua pihak selalu bermusuhan. Dapat dipergunakan oleh golongan ke tiga untuk mengadu domba kalian sehingga memperlemah diri sendiri. Tahukah kalian mengapa pemerintah memusuhi golongan pendeta, banyak para hwesio maupun para tosu, dan tidak segan-segan mempergunakan tokoh-tokoh sesat untuk memusuhi kalian? Bukan lain karena di samping para pendekar, kedua golongan hwesio dan tosu yang melindungi rakyat dan menyatakan tidak setuju dan menentang pelaksanaan penggalian terusan yang memakan korban banyak sekali nyawa rakyat. Kalau kalian ditentang pemerintah yang tidak segan bersekongkol dengan kaum sesat, maka hal itu berarti bahwa perjuangan kalian sudah benar. Nah, sekarang hendaklah pengalaman ini menjadi pelajaran dan kalian dapat menyebarluaskan kepada  saudara-saudara golongan masing-masing betapa bodoh dan kelirunya untuk saling bermusuhan."

Setelah mendengarkan nasihat itu, mereka semua berangkat menuju ke Sarang Cui-beng Sai-kong di puncak bukit, Ketika tiba di lereng bukit dan Han Beng mengajak mereka lebih dulu menyerbu markas di mana tinggal para anak buah datuk sesat itu, ternyata markas telah kosong dan semua anggauta-anggauta gerombolan telah dikerahkan oleh Cui-Beng Sai-kong, melakukan penjagaan di Puncak! Mereka telah memusatkan kekuatan di puncak. Bahkan perwira itu telah mengutus anak buahnya untuk mendatangkan pasukan sebanyak seratus orang!

Ketika rombongan tosu dan hwesio tiba di sarang gerombolan itu, mereka disambut dengan serangan oleh para anak buah gerombolan. Dapat dibayangkan betapa marahnya hati para tosu dan Hwesio ketika melihat bahwa di antara para penyambut itu terdapat hwesio-hwesio dan tosu-tosu palsu yang tadi telah menyergap mereka!

Matahari mulai turun ke barat cuaca menjadi gelap ketika terjadi pertempuran yang amat seru. Para hwesio dan tosu itu adalah para pimpinan rata-rata mereka memiliki kepandandian tinggi sehingga banyak anak buah gerombolan dan juga anggauta pasukan pemerintah yang roboh, luka atau tewas.

Cui-beng Sai-kong sendiri dengan marah sudah keluar dibantu oleh Tu hai Cin-jin dan beberapa orang pembantu yang cukup lihai. Tung-hai Cin-jin dengan samurainya segera disambut oleh Han Beng. Pemuda ini dikepung dan dikeroyok oleh Tung-hai Cin-jin yang bantu oleh tiga orang tokoh sesat, namun, Han Beng dapat menandingi mereka dengan baik, menggunakan sebatang tongkat yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Ketika dia mengeluarkan sebuah sabuk dan memegang sabuk dengan tangan kirinya, dia bahkan segera dapat mendesak empat orang pengeroyoknya. Sementara itu, Cui-beng Sai-kong dihadapi oleh Pek I Tojin sendiri! Tosu tua ini tersenyum dan bersikap tenang sekali ketika kakek raksasa itu dengan muka semakin hitam karena masih menghadapi dan memandang kepadanya dengan sinar mata mencorong.

"Hemmm, kiranya Pek I Tojin yang berdiri di belakang pemberontakan terhadap pemerintah!" kata Cui-beng Sai- Kong dengan nada suara mengejek. "Bagus! Seorang pertapa yang mengaku dirinya suci, tidak pernah mencampuri urusan dunia, sekarang begitu muncul menjadi pentolan pemberontak!"

Pek I Tojin tidak menjadi marah mendengar ejekan itu. Dia memandang seperti seorang tua memandang tingkah laku seorang anak-anak nakal.

Cui-beng Sai-kong dua puluh tahun yang lalu ketika engkau mengundurkan diri ke pegunungan sunyi, semua orang mengira dan mengharapkan bahwa engkau mau meninggalkan jalan sesat, memulihkan diri dan menebus dosa. Tidak tahunya sekarang engkau muncul kembali lebih jahat daripada sebelumnya Engkau mengumpulkan tokoh- tokoh sesat bersekongkol dengan pemerintah dan mengadu domba antara para tosu dan para hwesio. Mereka bukan pemberontak engkau pun tahu akan hal ini, dan pinto sendiri yang tidak lagi membutuhkan apa-apa, untuk apa memberontak? Para hwesio dan tosu yang berjiwa pendekar itu tidak rela melihat rakyat jelata dikorbankan, yang ditentang adalah aturan yang menindas rakyat, bukan pemerintah!"

"Ahhh, banyak omong tidak akan menyelamatkan dirimu, Pek I Tojin! Lihat naga hitamku akan menelanmu bulat-bulat!" Cui-beng Sai-kong membungkuk mencengkeram segenggam tanah dan dilontarkan tanah itu ke udara dan berbareng dengan meledaknya asap hitam nampak seekor naga yang dahsyat mengerikan hendak mencengkeram ke Pek I Tojin! Pek I Tojin tetap berdiri tegak, tersenyum lembut dan matanya memandang kepada naga ciptaan yang menyeramkan Itu. Kemudian dia berkata lembut, "Cui-beng Sai-kong, tidak perlu bermain-main seperti anak kecil! Apa pun yang berasal dari tanah pasti kembali menjadi tanah!" berkata demikian, kakek pakaian putih ini menggunakan ujung tongkatnya mencokel tanah di depannya. Segumpal kecil tanah melayang dan nyambar ke arah "naga" itu dan asap hitam mengepul tebal, naga itu pun lenyap dan udara kembali terang di bawah sinar lampu-lampu yang digantung sekitar tempat itu.

Cui-beng Sai-kong marah sekali, mengeluarkan suara aumannya yang amat berbahaya itu. Namun, juga auman sama sekali tidak mempengaruhi Pek I Tojin, dan dia tetap berdiri tegak dengan penuh kewaspadaan. Maklum akan lihainya kakek berpakaian putih ini, beng Sai-kong lalu mencabut sebatang pedang dan menyerang dengan gencar dan dahsyat. Namun, semua sambaran sinar pedangnya membalik ketika bertemu dengan tongkat di tangan Pek I Tojin.

Sementara itu, Han Beng yang mengamuk dengan tongkatnya, berhasil merobohkan Tung-hai Cin-jin dan tiga orang kawannya. Nyaris pundak Han Beng terluka ketika Tung-hai Cin-jin, dengan sisa tenaga yang ada karena kakek ini sudah merasa lelah sekali, mengayun pedang samurainya. Pedang itu berat dan cara kakek itu bermain pedang, menguras banyak tenaganya, padahal lawannya Han Beng, memiliki gerakan yang lincah sekali sehingga semua serangannya tak pernah menyentuh lawan. Ketika pedang samurai itu terayun, Han Beng sedang menendang roboh seorang pengeroyok terakhir, maka kakinya sedang terangkat

dan tepat pada saat itulah pedang samurai datang menyambar lehernya. Dia cepat menekuk lututnya dan samurai itu menyambar lewat, dekat sekali dengan pundaknya sehingga terasa dingin sambaran pedang itu. Dia cepat meluncurkan  tongkatnya ke samping, tepat ujung tongkatnya menotok pinggul dari kakek itu. 

"Ahhh!" Seketika kaki kiri Tung-hai Cin-jin terasa lumpuh dan dia pun roboh, tangan yang memegang pedang samurai itu sudah lemas dan pedang yang berat itu pun meluncur ke bawah, hampir tak terkendalikan tangannya dan tahu-tahu pedang itu meluncur dan menusuk lehernya sendiri! Kakek itu berkelojotan dengan leher yang hampir putus!

Han Beng terbelalak ngeri. Sama sekali dia tidak bermaksud membunuh Tung-hai Cin-jin seperti itu. Dia cepat membuang muka dan pada saat itu, melihat betapa tongkat Pek I Tojin memukuli punggung dan pinggul Cui-be Sai-kong. Dia menjadi kagum bukan main. Dia sudah merasakan kelihaian Cui-beng Sai-kong yang bertangan kosong kini datuk sesat itu memegang pedang. Namun ternyata Pek I Tojin mampu mempermainkannya dan memukuli pinggang dan punggungnya seperti seorang guru memberi hukuman kepada seorang murid yang nakal!

Cui-beng Sai-kong melihat betapa pembantu utamanya, Tung-hai Cin-Jin telah roboh tewas dan para pembantunya juga banyak yang sudah roboh, Bahkan anak buahnya mulai kocar-kacir dihajar para hwesio dan tosu. Pasukan pemerintan itu pun tidak banyak dapat membantu karena mereka sendiri pun kewalahan menghadapi pengamukan para hwesio dan tosu. Karena itu, dia lalu melompat jauh meninggalkan Pek I Tojin dan melarikan diri. 

Melihat betapa datuk sesat itu telah larikan diri dan anak buahnya sudah dihajar, Pek I Tojin lalu berseru dengan suara nyaring."Para hwesio dan tosu, kita tidak memusuhi pemerintah. Biang keladinya sudah melarikan diri! Mari kita tinggalkan tempat ini!"

Para hwesio dan tosu itu maklum bahwa tidak ada untungnya kalau mereka terus mengamuk dan membunuh  banyak prajurit pasukan pemerintah. Tadi pun dalam pertempuran, mereka menjaga diri dan tidak ingin membunuh para perajurit. Kini mendengar seruan Pek I Tojin, mereka pun berloncatan meninggalkan tempat itu dan menghilang di dalam kegelapan malam. Perwira yang menjadi komandan pasukan, berlari memberi aba-aba kepada pasukan untuk melakukan pengejaran. Akan tapi tentu saja hal ini tidak ada gunanya karena selain para penyerbu itu dapat berlari cepat sekali, juga para prajunt sudah merasa gentar dan tak berani mengejar tanpa mengandal banyak teman.

Peristiwa itu benar saja, seperti harapan Pek I Tojin, menjadi obat mujarab yang menyembuhkan dendam kebencian antara para hwesio dan para tosu. Sejak terjadinya peristiwa itu, para hwesio dan para tosu itu menyebarkan berita itu dengan luas di antara golongan masing-masing sehingga kedua pihak membuang jauh-jauh perasaan bermusuhan itu. Bahkan tidak jarang mereka itu bekerja sama untuk membela rakyat jelata yang tertindas oleh oknum-oknum yang mempergunakan kesempatan dalam pelaksanaan pekerjaan besar menggali terusan itu untuk mengeduk keuntungan sebesarnya dengan memaksa rakyat bekerja tanpa upah!

Sementara itu, jauh di luar hutan di tempat terbuka yang sunyi, dan diterangi oleh sinar bulan yang baru muncul. Han Beng berlutut di depan Pek I Tojin.

"Orang muda, pinto melihat bahwa ilmu silatmu sudah cukup tinggi dan engkau telah mewarisi inti sari dari ilmu kepandaian Liu Bhok Ki dan Sin-ciang Kai-ong. Mengapa pula engkau kini mohon untuk menjadi murid pinto?" tanya Kakek itu dengan suara yang lembut, sama sekali dia tidak memperlihatkan perasaan gembiranya yang timbul ketika melihat pemuda ini menyatakan hendak menjadi muridnya. Dia sendiri kagum kepada pemuda ini, maklum bahwa pemuda ini selain memiliki tenaga sin-kang yang luar biasa  sekali kuatnya, juga memiliki bakat yang baik dan watak yang tidak tercela.

"Maaf, Lo-cian-pwe. Sama sekali bukan berarti bahwa teecu meremehkan kedua ajaran dari kedua Suhu yang telah teecu terima. Akan tetapi ketika teecu bertanding melawan Cui-beng Sai-kong, terasa benar oleh teecu betapa pengetahuan teecu masih dangkal sekali. Kemudian teecu melihat betapa Lo-cian-pwe dengan amat mudahnya mampu menundukkan datuk sesat itu. Oleh karena itulah, teecu bertekad untuk memperdalam ilmu di bawah pimpinan Lo- cian-pwe, tentu saja kalau Lo-cian pwe sudi menerima teecu sebagai murid.”