-->

Naga Sakti Sungai Kuning Jilid 13

Jilid 13

Apa yang dikhawatirkan Tang Gu It memang terjadi. Dua hari kemudian, pada suat u hari di tokonya muncul orang laki- laki tinggi kurus, berusia kurang lebih enam puluh tahun. Pakaiannya ringkas seperti pakaian orang di dunia kang-ouw, apalagi di punggungnya terdapat sebatang pecut ekor sembilan dan sikapnya serius sekali. Dia membawa sebuah guci dari besi yang bermulut lebar dan guci yang cukup besar itu ditempelkan tulisan bahwa dia adalah seorang pengumpul derma! Biasanya, yang mengumpulkan derma seperti itu hayalah para pendeta dan pengurus perkumpulan sosial, akan tetapi laki-laki ini tidak memperlihatkan bahwa dia seorang pendeta, juga tidak ada tanda-tanda bahwa dia seorang pengurus perkumpul tertentu yang mengharapkan bantuan sukarela dan para hartawan.

"Krekkkkk!" Kaki meja di toko itu mengeluarkan bunyi hampir patah-patah ketika dia meletakan guci itu di atas meja.

"Heiiiii, jangan taruh benda berat itu di situ!" teriak seorang pegawai toko. "Turunkan saja!"

Melihat betapa laki-laki tinggi kurus itu sama sekali tidak bergerak un¬tuk menurunkan gucinya, hanya berdiri seperti patung membisu, Si Pegawai toko lalu menghampiri dan mencoba untuk menurunkan guci itu. Akan tetapi, benda itu sama sekali tidak bergerak saking beratnya! Beberapa kali dia mengerahkan tenaga namun sia-sia belaka.

"A-kiu, bantu aku menurunkan benda ini. Meja kita bisa runtuh kalau tidak diturunkan!" teriaknya kepada .seorang temannya. Dua orang pegawai itu mengerahkan tenaga dan mencoba, akan tetapi tetap saja benda itu tidak bergerak! Bukan main beratnya benda itu!  Pengurus toko, seorang laki-laki ber¬usia enam puluhan, kepercayaan Tang Gu It, segera menghampiri dan memberi isarat kepada dua orang bawahannya untuk mundur. Dia tahu bahwa laki-laki tinggi kurus ini tentu seorang kang-ouw yang hendak minta derma, maka dia pun merangkap kedua tangan ke depan dada memberi hormat.

"Harap maafkan dua orang pembantu kami. Tidak tahu siapakah Ho-han (Pendekar) dan apa puia keperluan Ho-han berkunjung ke toko kami? Harap jelaskan agar kami dapat menyampaikan kepada majikan kami."

Orang itu agaknya senang disebut ho-han (sebutan pendekar atau patriot) akan tetapi masih bersikap angkuh. "Hemmm, di mana Tang Gu It? Suruh dia keluar bicara dengan aku!"

Melihat sikap ini, tentu saja para pegawai di toko itu menjadi tidak senang. Akan tetapi, pengurus itu menyabarkan mereka dan dia pun tidak ingin majikannya harus turun tangan sendiri menghadapi peristiwa yang dianggapnya hanya gangguan kecil ini. Dia akan mengatasinya sendiri.

"Ho-han datang membawa guci untuk minta derma? Baiklah, kami akan menderma. Nah, ini sumbangan kami, kiranya cukup banyak dan tidak kalah dibandingkan sumbangan para pemilik toko lainnya." Dia mengeluarkan dua potong uang perak dan memasukkannya ke dalam guci. Suara nyaring dari dua potong perak itu menunjukkan bahwa guci itu masih kosong!

Laki-laki tinggi kurus itu mengerutkan alis, matanya memandang beringas dan dia mengeluarkan dua potong perak itu dari dalam guci, mengamatinya dan berkata, "Kalian kira aku Kiu-bwe-houw (Harimau Ekor Sembilan) datang untuk mengemis? Aku bukan mengemis!" Dia lalu menekan dua potong perak itu ke atas meja kayu tebal dan potongan perak  itu melesak masuk ke dalam kayu sampai rata dengan permukaan meja!

Melihat ini, para pegawai menjadi panik dan pengurus toko menjadi pucat mukanya. Akan tetapi, bagaimanapun juga, mereka adalah pegawai-pegawai dari seorang ahli silat yang terkenal, maka biarpun mereka tidak pandai silat, hati mereka cukup besar. Pengurus itu lalu memberi hormat pula.

"Aih, Sobat yang baik. Kalau memang kurang, biarlah kami tambah lagi. Berapa yang kau butuhkan, Ho-han?"

"Penuhi guci ini dengan perak!" kata orang yang berjuluk Kiu-bwe-houw itu. Para pembaca tentu masih ingat kepada orang ini. Dia adalah Kiu-bwe-houw Can Lok, seorang jagoan besar dari Taigoan yang amat terkenal di dunia kang-ouw, terutama sekali senjatanya berupa cambuk ekor sembilan dan cakar harimaunya. Dialah seorang di antara mereka yang pernah memperebutkan anak naga di pusaran maut Sungai Kuning (Huang-ho) akan tetapi telah gagal karena "anak naga" itu jatuh ke tangan Si Han Beng, Bu Giok Cu, dan Liu Bhok Ki. Sebagian besar darah anak naga itu disedot dan diminum oleh Han Beng, sebagian lagi oleh Giok Cu, dan kepalanya dimakan oleh Liu Bhok Ki sehingga menyembuhkan luka beracun yang dideritanya.

Kiu-bwe-houw Gan Lok adalah seorang jagoan, sebetulnya bukan seorang yang pekerjaannya merampok atau mencuri. Sama sekali tidak. Dia menganggap dirinya seorang datuk yang ditakuti dan dia tidak mau melakukan pekerjaan rendah sehingga dia akan dicap perampok, pencuri atau penjahat. Akan tetapi, kalau dia membutuhkan uang, dia datangi saja orang-orang kaya dan dia minta begitu saja dengan ancaman! Sekarang ini, dia membutuhkan banyak uang karena dia sudah merasa tua dan, ingin mengundurkan diri, hidup berkecukupan dengan uang yang besar jumlahnya. Selagi dia mencari jalan bagaimana untuk memperoleh uang banyak tanpa sukar, tiba-tiba saja dia mendengar bahwa hartawan  Tang Gu It adalah masih terhitung ipar bahkan calon besan dari Souw Kun Tiong di kota raja, yang dicap pemberontak dan kaki tangan Siauw-lim-pai oleh pemerintah. Kesempatan baik ini tidak disia-siakan dan pada pagi hari itu dia pun muncul di toko milik keluarga Tang dan menuntut uang sumbangan yang amat banyak!

Mendengar bahwa orang itu menuntut sumbangan perak seguci penuh, semua pegawai di toko itu terbelalak. Pengurus itu pun menjadi pucat wajahnya, dan maklumlah dia bahwa orang ini memang datang untuk mencari gara-gara! Bagaimana mungkin memenuhi guci besar itu dengan perak? Mungkin kalau separuh isi toko dijual, belum tentu bisa memenuhi guci itu dengan perak' Jumlah yang amat besar, cukup untuk modal berdagang sedikitnya tentu akan muat lima ratus tail!

"Aih, Sobat yang baik! Harap jangan main-main! Mana mungkin kami memberi sedekah sebanyak itu? Kami tidak mempunyai perak sebanyak itu!" katanya. Kiu-bwe houw mengerutkan alisnya dan suaranya terdengar marah penuh ancaman. "Kalian ini pegawai-pegawai yang tidak tahu apa- apa, jangan banyak cerewet lagi. Penuhi guci ini dengan perak. Kalau kalian tidak memilikinya, panggil keluar Tang Cu It. Dia harus memenuhi guci ini dengan perak murni, atau kalau tidak, keluarga ini akan kuhancurkan!"

Mendengar ucapan ini, seorang pegawai muda yang pernah belajar silat menjadi marah. Dia berusia dua puluh lima tahun, tubuhnya tinggi besar dan dia memiliki tenaga tiga kali orang biasa. Dia baru saja datang melaksanakan tugas luar dan mendengan ucapan itu, dia men¬adi marah sekali.

"Hem, engkau ini sungguh kurang ajar! Mana ada aturan orang minta-minta sumbangan melebihi rampok seperti itu? Hayo pergi kau!"

Kiu-bwe houw mengerutkan alisnya dan suaranya terdengar marah penuh ancaman. "Kalian ini pegawai-pegawai  yang tidak tahu apa-apa, jangan banyak cerewet lagi. Penuhi guci ini dengan perak. Kalau kalian tidak memilikinya, panggil keluar Tang Cu It. Dia harus memenuhi guci ini dengan perak murni, atau kalau tidak, keluarga ini akan kuhancurkan!"

Mendengar ucapan ini, seorang pegawai muda yang pernah belajar silat menjadi marah. Dia berusia dua puluh lima tahun, tubuhnya tinggi besar dan dia memiliki tenaga tiga kali orang biasa. Dia baru saja datang melaksanakan tugas luar dan mendengan ucapan itu, dia menjadi marah sekali.

"Hem, engkau ini sungguh kurang ajar! Mana ada aturan orang minta-minta sumbangan melebihi rampok seperti itu? Hayo pergi kau!"

Melihat pemuda tinggi besar itu, Kiu-bwe-houw Gan L ok tersenyum mengejek, memperlihatkan giginya yang sudah - anyak rusak. "Hemmm, kalau aku tidak mau pergi sebelum guci ini dipenuhi I erak, kau mau apa?"

"Aku akan melemparkanmu keluar seperti ini!" Pemuda itu menggerakkan dua lengannya yang besar dan berotot untuk menangkap pundak laki-laki tua yang tinggi kurus itu. Gan Lok tidak mengelak sehingga kedua pundaknya dicengkeram pemuda itu yang mengerahkan tenaga untuk mengangkat tubuhnya dan dilemparkan keluar. Akan tetapi, terjadi keanehan! Sedikit pun tubuh yang tinggi kurus itu tidak bergerak walaupun Si Pemuda Tinggi Besar sudah mengerahkan semua tenaganya.

"Hemmm, tikus sombong, pergilah kau!" terdengar Kiu-bwe- houw Gan Lok berseru, kedua tangannya yang kecil bergerak cepat, menepuk punggung pemuda itu yang menjadi lemas seketika dan tiba-tiba saja jagoan dari Tai-goan itu telah mengangkat Si Pemuda dan melemparkannya keluar toko. "Brukkkkk!" Tubuh pemuda tinggi besar itu terbanting keluar toko! Ancaman pemuda itu kini berbalik, bukan Kiu-bwe-houw Gan Lok yang dilempar keluar, melainkan dia sendiri!

Gegerlah di toko itu. Semua pegawai berlari keluar, bukan hanya untuk mej nolong pemuda tadi, melainkan untuk menjauhi Si Tinggi Kurus yang ternyat amat lihai itu. Sang Pengurus toko sudah lari menyelinap ke dalam rumah belakang toko memberi laporan.

Kiu-bwe-houw Gan Lok masih berdiri di dekat meja di mana berdiri pula gucinya yang tinggi besar dan berat ketika Tang Gu It memasuki tokonya. Tang Gu It tadi terkejut mendengar peristiwa di dalam tokonya, apalagi ketika mendengar bahwa perusuh itu mengaku berjuluk Kiu-bwe-houw! Sebagai seorang ahli silat yang banyak mengenal tokoh-tokoh dunia kang-ouw, tentu saja dia pernah mendengar nama jagoan Tai-goan ini walaupun belum pernah melihat orangnya. Dia pun merasa heran mengapa tiada hujan tiada angin, tokoh kang-ouw itu mengganggu dia, padahal di antara mereka tidak ada hubungan atau urusan apa pun juga. Dengan hati-hati dia pun memasuki tokonya.

Kini kedua orang itu saling berhadapan dan saling pandang sejenak, sementara itu para pegawai toko hanya melihat dari kejauhan. Tentu saja mereka semua mengharapkan majikan mereka yang terkenal lihai akan memberi hajaran kepada pemungut derma yang kurang ajar itu.

Biarpun tubuh tinggi kurus dari Gan Lok itu tidak mengesankan, kecuali sinar matanya yang menyeramkan dan wajahnya yang bengis, namun Tang Gu It tidak berani memandang rendah. Sebaliknya, melihat munculnya seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun yang berpakaian ringkas, dengan tubuh yang tegap dan wajah yang berwibawa, Kiu- bwe-houw Gan Lok memandang rendah. "Engkaukah yang bernama Tang Gu It, pemilik toko ini?" tanyanya sambil lalu, sikapnya memandang rendah sekali.

Tadi Tang Gu It sudah mendengar akan guci yang berat itu, dan mendengar betapa dalam segebrakan saja orang ini telah melempar keluar seorang pegawainya yang muda dan kuat. Biarpun dia tidak merasa jerih, akan tetapi dia harus berhati- hati. Dengan sikap hormat dia pun mengangkat kedua tangan ke depan dada.  

"Maaf, karena belum pernah berjumpa, maka kami tidak melakukan penyambutan sebagaimana mestinya. Kami telah lama mendengar nama besar Kiu-bwe-houw dari Tai-goan dan kunjungan ini merupakan kehormatan bagi kami. Silahkan Sobat yang gagah masuk saja ke rumah kami di mana kita dapat bicara dengan baik."

Kiu-bwe-houw Gan Lok mengerutkan alisnya. "Aku bukan datang untuk mengobrol atau berkenalan denganmu. Aku datang untuk minta agar guciku ini kau penuhi dengan perak, baru aku akan pergi dengan damai!"

Tentu saja Tang Gu lt merasa penasaran. Sikap orang ini sungguh keterlaluan. "Sobat yang baik, dengan alasan apakah kami harus memenuhi guci ini dengan uang perak? Kami ingin menerimamu sebagai seorang tamu baik-baik, akan tetapi engkau menolak. Nah, kalau begitu, kami persilakan engkau keluar dari toko kami karena kami tidak mempunyai urusan apa pun denganmu!" Sikap Tang tiu It berwibawa sekali dan mau tidak mau Kiu-bwe-houw Gan Lok agak berkurang kecongkakannya. Dia melihat betapa ruangan di toko itu sempit, penuh dengan barang dagangan, maka kalau sampai dia dikeroyok, akan merugikan dirinya. Sambil menyeringai dia pun melangkah keluar.

"Ha-ha, engkau ingin bicara di luar? Baik, mari kalau engkau ingin tahu mengapa aku datang minta derma seguci uang perak!" Dengan langkah lebar Si Harimau Ekor Sembilan keluar dari toko. Di luar toko sudah berkumpul banyak  penonton yang tertarik melihat ribut-ribut di dalam toko itu. Ketika melihat Si Pengacau itu keluar, para penonton segera menjauh. Di antara para penonton itu Han Beng dan Hui Im. Mereka, baru tiba, akan tetapi begitu melihat ada keributan di toko yang menurut keterangan orang-orang adalah milik Tang Cu It, keduanya tidak masuk dan hanya menonton di luar.

Kini Gan Lok sudah berhadapan dengan Tang Gu It di luar toko. Memang Tang Gu It juga menghendaki agar keributan tidak terjadi di dalam toko. Kalau sampai terjadi' perkelahian di dalam toko, tentu hanya akan merugikan dirinya, barang- barang di tokonya dapat menjadi rusak.

"Nah, Sobat. Sekarang katakan mengapa engkau datang memaksa kami untuk memberi sumbangan seguci uang perak!" Tang Gu It menegur pengacau itu.

Gan Lok tidak segera menjawab, melainkan menoleh ke kanan kiri seolah-olah endak menyatakan kepada tuan rumah bahwa amat tidak baik kalau percakapan tu didengarkan orang lain. "Tang Gu It, erlukah kujelaskan itu? Sebaiknya kalau gkau memenuhi guciku dengan perak, an aku akan pergi tanpa banyak rewel lagi. Kalau kuberitahu sebabnya, engkau sekeluarga akan celaka! Ingat akan apa yang terjadi di kota raja, yang menimpa keluarga Souw!" berkata demikian, an Lok memberi isarat dengan kedipan mata. Mendengar itu, berubah wajah Tang Gu It. Apa yang dikhawatirkannya terjadi! Ada orang yang hendak memerasnya karena pembasmian keluarga Souw di kota raja yang dituduh pemberontak. Timbul kemarahan di dalam hatinya. Orang ini adalah seorang penjahat, seorang pemeras tak tahu malu. 

"Kiu-bwe-houw, sungguh tidak kusangka bahwa orang yang sudah memiliki nama besar seperti engkau, tiada lain hanyalah seorang pemeras yang tak tahu malu!" bentaknya.

Kiu-bwe-houw Gan Lok tertegun. Tak disangkanya bahwa orang she Tang itu demikian beraninya. Dia sudah memperhitungkan bahwa Tang Gu It tentu akan ketakutan  kalau dia menyebut tentang peristiwa yang menimpa keluarga Souw. Tak tahunya, orang she Tang itu malah memakinya!

Sementara itu, Souw Hui Im terkejut mendengar ucapan orang tinggi kurus yang membawa pecut ekor sembilan di punggungnya itu, yang menyinggung tentang keluarga Souw di kota rajai Ia memegang lengan Han Beng, akan tetapi pemuda ini memberi isarat agar ia diam saja dan hanya mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Tang Gu It! Masih berani engkau membuka mulut besar? Apakah engkav menghendaki aku membuka rahasia bahwa engkau adalah keluarga dari pemberontak yang ditumpas pemerintah?"

Tang Gu It menjadi marah. Dia bertolak pinggang lalu menudingkan telunjuknya ke arah muka Kiu-bwe-houw Gan Lok. "Kiu-bwe-houw Gan Lok! Tidak perlu dirahasiakan lagi. Memang orang she Souw di kota raja adalah iparku! Akan tetapi apakah dia pemberontak tau bukan, bukan urusanku dan aku sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan itu! Dia tinggal di kota raja dan aku tinggal di kota ini! Tidak perlu engkau memeras dan mengancam, dan kalau engkau tidak cepat pergi mem¬bawa gucimu itu, terpaksa aku akan menghajarmu sebagai seorang pengacau!"

"Ayah, serahkan saja babi tua ini kepadaku!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan dari dalam rumah muncul lah seorang pemuda yang tampan dan gagah. Pemuda itu tinggi tegap dan wajahnya jantan. Itulah Tang Ciok An, putra tunggal dari Tang Gu It, seorang pemuda yang tampan dan gagah, dengan kaian yang serba bersih dan rapi, terbuat dari kain sutera yang mahal. Tang Ciok An sudah mewarisi hampir seluruh ilmu kepandaian ayahnya dan di kota Pei-shen dia terkenal sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa dan sukat dicari tandingnya. Sekali melompat, Ciok An yang usianya sudah dua puluh lima tahun itu telah berada di depan Kiu-bwe-houw Gan Lok. Sikapnya angkuh dar memandang  rendah lawan, pandang matanya penuh wibawa ketika pemuda perkasa ini menghadapi orang tinggi kuru itu.

"Hemmm, engkaukah yang berjuluk Kiu-bwe-houw Gan Lok? Kudengar tadjj engkau mengancam dan memeras Ayahlj Sungguh engkau seperti orang yang buta tuli, tidak mendengar siapa Ayahku dan tidak melihat bahwa kami adalah orang 

baik-baik dan kami bukanlah pengecut yang mudah kau gertak! Hayo kau cepat pergi dari sini!"

Melihat munculnya pemuda itu, berdebar rasa jantung dalam dada Hui Ini Ia pernah satu kali melihat Ciok tunangannya dan ia tidak lupa. Itu! tunangannya! Sekarang dia telah menjadi seorang pemuda dewasa yang matang, yang gagah perkasa dan ganteng! Tidak kalah ganteng dan gagahnya dibandingkan Han Beng! Bahkan pakaiannya jauh lebih mewah dan rapi. Sementara itu, Han Beng juga sudah dapat menduga bahwa tentu pemuda itulah tunangan Hui Im. Diam-diam dia merasa kagum dan bersukur. Hui Im mempunyai seorang tunangan yang demikian tampan dan gagah perkasa! Dibandingkan dengan dirinya sendiri, kalau pemuda itu dapat diumpamakan seekor merak, dia sendiri hanyalah seekor burung gagak!

"Dia meninggalkan guci kosong di dalam toko!" kata Tang Gu It sambil memandang kepada puteranya dengan bangga.

"Ah, begitukah? Biar kuambil barangnya itu!" kata Ciok An, melangkah ke dalam toko. Semua orang memandangnya, apalagi para pegawai toko yang tadi sudah merasakan sendiri betapa beratnya guci kosong itu.

Melihat bentuk guci, Ciok An dapat menduga bahwa guci itu tentu berat sekali. Maka dia pun sudah siap sedia, Mengerahkan tenaga di dalam kedua tangannya, lalu sekali tarik, dia berhasil mengangkat guci itu. Memang terasa berat sekali olehnya, namun dia mengerahkan tenaga, menahan napas dan mengangkat guci itu tinggi-tinggi, membawanya  keluar. Para pegawai toko bersorak dan bertepuk tangan memujinya,

"Nih barangmu, ambillah!" bentak Ciok An sambil melemparkan guci yang berat itu kepada pemiliknya. Kiu-bwe- houw Gan Lok menerima guci kosong itu yang dilontarkan oleh Ciok An. Melihat cara dia menyambut guci berat itu, diam-diam Han Beng mengkhawatirkan keselamatan tunangan Hui Im itu, karena dia dapat mengukur dan menduga bahwa orang tinggi kurus itu memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan tunanga Hui Im.

Biarpun hatinya agak gentar melihat betapa pihak tuan rumah ayah dan anak tidak merasa takut akan ancaman dari usahanya melakukan pemerasan, namun Gan Lok tidak mau mundur begitu saja. Dia sudah terlanjur menjual lagak, kini banyak orang menyaksikan di depan toko, walaupun dalam jarak yang aman dan cukup jauh. Setidaknya, dia harus mampu mengalahkan pemuda sombong ini, pikirnya.

"Hemmm, agaknya keluarga Tang sudah nekat!" katanya lantang. "Tunggu saja kalau pasukan pemerintah datang dan membasmi kalian sebagai keluarga pemberontak!"

"Manusia busuk!" bentak Ciok An arah sambil melangkah maju. "Tidak perlu banyak cerewet. Kalau memang engkau berani, tidak perlu mengancam kami dengan fitnah dan pemerasan! Hayo hadapi aku sebagai laki-laki, kalau memang engkau benar Harimau Berekor Sembilan! Kalau tidak berani, lebih baik kaugulung ekor-ekormu itu dan berjuluk Harimau Ompong dan Buntung!"

Ucapan Ciok An ini memancing gelak tawa orang-orang yang mendengarnya. Diam-diam Han Beng mengerutkan alisnya. Hemmm, pemuda ini agak terlalu mengangkat diri sendiri dan merendahkan orang lain. Sikap angkuh itu sungguh tidak akan menguntungkan dirinya. "Hemmm !" la mengeluarkan suara tak puas. "Apa, Twako? Ada apakah?"

Pertanyaan Hui Im itu menyadarkan Han Beng dan mukanya berubah merah. Ih, kenapa dia merasa tidak senang dan mencela pemuda yang menjadi tunangan Hui Im itu? Cemburukah? Iri hatikah?

"Uhhh, tidak apa-apa, Siauw-moi, hanya lihat. itu 

tentu tunanganmu, dia sungguh gagah perkasa!"

Hui Im diam saja, hanya menundukkan mukanya yang berubah merah. Ia sendiri tidak tahu apakah ia harus gembira ataukah berduka mendengar pujian pemuda itu kepada tunangannya.

Sementara itu, ketika mendengar tantangan pemuda itu yang disusul suara tertawa para penonton, Kiu-bwe-houw Gan Lok menjadi merah mukanya dan dia sudah marah sekali. Dicabutnya pecut berekor sembilan dari punggungnya dan begitu pecut itu dia gerak-gerakkan ke udara, terdengar suara meledak-ledak nyaring. Sembilan ujung pecut itu bagaikan ular-ular hidup menyambar-nyambar. Melihat ini, semakin besar rasa khawatir di hati Han Beng. Orang ini memang lihai, pikirnya, dan memiliki pandang mata kejam. Orang seperti ini amat berbahaya, tidak akan pantang untuk membunuh tanpa sebab. Diam-diam ia memungut beberapa butir kerikil dan menggenggamnya dalam persiapannya ntuk melindungi tunangan Hui Im. Biarpun dia tidak mempunyai hubungan apa pun dengan keluarga Tang, akan tetapi mendengarkan percakapan mereka tadi, dia pun tahu bahwa orang kurus tinggi pemegang cambuk berekor sembilan itu adalah seorang pemeras. Hal ini saja sudah membuat hatinya condong berpihak kepada keluarga Tang, apalagi mengingat bahwa pemuda itu adalah tunangan Hui Im. Kini dia pun tahu bahwa berita tentang dibasminya keluarga Souw di kota raja dengan tuduhan pemberontak telah tersiar dan agaknya dipergunakan  oleh orang berjuluk Harimau Ekor Sembilan itu untuk memeras keluarga Tang.

Melihat betapa lawannya sudah mengeluarkan senjata pecut, Tang Ciok An lalu mencabut pula pedang yang tadi tergantung di pinggangnya. Dia pun bukan seorang bodoh walaupun wataknya agak tinggi hati. Pemuda ini sejak kecil digembleng oleh ayahnya dan dia pun cukup awas untuk melihat bahwa lawannya adalah seorang yang lihai dan berbahaya maka melihat lawan memegang senjata aneh, dia pun mengeluarkan senjatanya.

"Bocah sombong, majulah kalau engkau ingin dihajar oleh cambukku!" bentak Gan Lok.

"Engkau yang datang mencari perkara, maka engkaulah yang lebih dulu maju menyerang," kata pemuda itu dan sikap ini diam-diam dipuji Han Beng. Cerdik juga pemuda itu, walaupun berwatak tinggi hati. Namun sudah sepatutnya kalau tinggi hati. Bukankah dia seorang pemuda yang tampan, kaya raya, gagah perkasa dan berkedudukan baik dan terpandang di kota itu?

"Bocah sombong, sambutlah cambukku!" Bentak Gan Lok dan dia sudah menyerang dengan sambaran cambuknya dari atas. Sedikitnya empat dari sembilan ekor ujung cambuk itu menyambar dan menyerang dan atas, datang dari berbagai penjuru ke arah kepala, leher dan pundak pemuda itu. Berbahaya sekali serangan itu, akan tetapi Tang Ciok An masih dapat mengelak dengan loncatan ke belakang sambil memutar pedangnya sehingga empat ekor cambuk yang menyambar itu tidak mengenai sasaran. Secepat kilat, Ciok An sudah membalas dengan terjangan ke depan sambil menusukkan pedangnya ke arah perut lawan. Namun, serangan ini dapat pula digagalkan oleh Gan Lok yang meloncat ke samping dan kini pecutnya yang tadi sudah diputarnya ke belakang, sudah menyambar lagi ke depan. Sekarang bukan hanya ada empat ekor yang menyambar,  melainkan tujuh ekor ujung cambuk itu menyambar cepat dan ganas, yang diarah adalah bagian-bagian tubuh yang lemah dan ubun-ubun kepala sampai ke pusar!

Pemuda itu terkejut bukan main. Biarpun dia sudah memutar pedangnya dan kembali meloncat ke belakang, namun nyaris lehernya terkena ujung cambuk. Kemudian, Gan Lok terus menyerang bertubi-tubi dan pemuda itu hanya mampu mengelak sambil menangkis saja. Dia merasa seperti dikeroyok oleh sembilan orang lawan. Ujung-ujung cambuk itu memang lihai sekali, menyerangnya bertubi-tubi dari sudut- sudut yang tidak terduga sehingga Ciok An sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk membalas. Pemuda ini hanya mampu melindungi tubuhnya saja dan terus main mundur. Jelas bahwa dia terancam ba haya dan sewaktu- waktu tentu akan dapat dirobohkan lawan!

Melihat ini, Tang Gu It merasa khawatir sekali. Dia pun dapat melihat betapa puteranya terdesak dan diam-diam dia terkejut. Puteranya sudah memilik kepandaian yang cukup tinggi, hanya sedikit selisihnya dengan tingkatnya sendiri. Kalau Ciok An sama sekali tidak mampu membalas serangan lawan itu, berarti bahwa dia sendiri pun tidak akan dapat menandingi Kiu-bwe-houw Gan Lok!

Akan tetapi, tiba-tiba dia terbelalak! Terjadilah perubahan pada perkelahian itu! Kini bukan Ciok An yang terdesak hebat, melainkan keadaannya berbalik dan Gan Lok yang terdesak oleh pedang di tangan Ciok An! Permainan cambuk ekor sembilan yang tadi demikian lihainya, kini kacau balau dan bahkan beberapa kali ada ujung cambuk yong saling belit dan menjadi ruwet! Apakah yang sesungguhnya terjadi? Tidak ada yang tahu kecuali Han Beng sendiri, Bahkan Gan Lok sendiri pun hanya dapat merasa terkejut dan terheran-heran. Dia hanya merasa betapa beberapa kali pangkal lengannya terasa nyeri, kesemutan hampir lumpuh seperti terkena totokan, dan permainan cambuknya menjadi kacau, bukan hanya karena lengannya setengah lumpuh, akan tetapi juga beberapa kali  ekor ujung cambuknya seperti tidak mau menuruti gerakan tangannya, melainkan menyeleweng dan saling libat sampai menjadi ruwet. Tentu saja dia terkejut sekali dan bingung sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya. Yang mengetahi presis hanyalah Han Beng karena hal itu terjadi akibat ulah pemuda ini. Meliha betapa pemuda tunangan Hui Im terancam bahaya sehingga Hui Im sendiri dapat melihat ini dan gadis itu tampak gelisah, diam-diam Han Beng mempergunakan jari telunjuknya untuk menyentil sebuah kerikil yang menyambar dengan amat cepatnya dan menotok pang kal lengan Kiu-bwe houw Gan Lok dai membuat lengan itu setengah lumpuh. Kemudian, beberapa kali Han Beng me nyentil kerikil lain yang tepat mengenal ekor-ekor ujung cambuk yang menjadi kacau dan saling belit!

Setelah Gan Lok menjadi bingung permainan cambuknya menjadi kacau balau, kini Ciok An mendesak dengan pedangnya dan akhirnya dia berhasil melukai pundak kiri dan paha kanan lawan.

Gan Lok meloncat ke belakang, lalu menghentikan permainan cambuknya, menjura kepada pemuda itu.

"Baiklah, hari ini aku mengaku kalah. Akan tetapi hari-hari masih banyak dan kelak aku akan menembus kekalahan hari ini!" berkata demikian, dia lalu mengambil gucinya yang masih kosong dan meninggalkan tempat itu.

Tentu saja semua orang bertepuk tangan memuji dan saking gembiranya melihat betapa perkelahian itu berubah dengan kemenangan di tangan puteranya, Tang Gu It gembira bukan main.

"Kiu-bwe-houw, tunggu dulu !" teriaknya sambil meloncat ke dekat orang yang mau pergi itu dan dia mengeluarkan sepotong perak. "Aku bukan seorang yang pelit dan setiap ada orang yang datang minta sumbangan, sudah pasti kuberi. Nah, inilah sepotong besar perak kuberikan untuk sumbangan!" Dia  melemparkan potongan perak itu yang dengan cepat masuk ke dalam guci yang dipangku! Gan Lok.

oooOOooo

Gan Lok melotot. Pemberian itu dirasakan sebagai penghinaan dan mukanya menjadi merah. Akan tetapi dia mengangguk tanpa berkata sesuatu pun, lalu pergi dengan tergesa-gesa, mukanya merah padam karena malu, penasaran dan marah. Diam-diam Kiu-bwe-houw Can Lok masih merasa bingung dan heran. Jelas bahwa dia tadi hampir memperoleh kemenangan dan pemuda itu didesaknya sehingga tidak mampu membalas serangannya. Akan tetapi, mengapa lengan kanannya tiba-tiba menjadi setengah lumpuh dan ekor-ekor cambuknya menjadi kacau balau? Kemudian menyadari. Ah, tentu ada orang pandai diam-diam membantu pemuda itu. Kalau yang membantu itu adalah Tang Gu It sendiri, maka betapa hebat kepandaian orang itu! Dia pun menjadi jerih sekali.

Ciok An sendiri merasa bangga bukan main. Matanya bersinar-sinar wajahnya yang tampan itu berseri ketika dia memasukkan pedangnya ke sarung pedang yang tergantung dipinggangnya. Bibirnya tersenyum manis dan dengan congkak dia memandang ke sekeliling, menikmati pandang mata orang banyak yang ditujukan kepadanya dengan kagum. Para penonton itu segera bubaran dan tentu saja menjadi juru- juru warta yang amat baik sehingga nama Tang Ciok An disanung-sanjung dan dipuji-puji.

Hanya dua orang yang tidak meninggalkan tempat itu.mereka adalah Han Beng dan Hui Im. Setelah semua orang pergi, Hui Im lalu menghampiri Tang Gu It dan Ciok An yang sudah bergerak hendak memasuki toko mereka, dan Han Beng hanya mengikuti gadis itu.

“Paman !” Hui Im berkata sambil memberi hormat 

ketika ia berhadapan dengan Tang Gu It. Pria berusia lima  puluh tahun yang berperawakan gagah dan berwibawa itu, dengan pakaian yang jelas menunjukkan bahwa dia seorang hartawan, menjadi heran mendengar sebutan itu. Dia memandang kepada Hui m dan juga kepada Han Beng. Agaknya dia sudah lupa sama sekali kepada keponakan yang juga menjadi calon mantunya ini, apalagi karena dia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis itu akan muncul di situ

.

"Maaf, siapakah Nona. ?" tanyanya sambil mengerutkan 

alisnya dan memandang tajam. Juga Ciok An memandang kepada gadis itu, lalu kepada Ha Beng yang mendampinginya.

"Paman, lupakah Paman kepada saya? Saya Souw Hui Im. "

"Ahhh!" Tang Cu It berseru kaget dan kini baru dia mengenal keponakannya itu. Juga Ciok An tertegun dan mengamati gadis yang cantik itu dengan jantung berdebar, akan tetapi alisnya berkerut ketika dia melihat ada seorang pemuda sederhana namun tampan, seperti seorang pemuda dusun, yang menemani tunangannya itu.

"Mari, mari kita masuk dan bicara di dalam. !" kata Tang 

Gu It sambil memandang ke kanan kiri. Tentu saja timbul kekhawatiran di dalam hatinya kalau-kalau ada yang mengetahui bahwa gadis ini adalah puteri Souw Kun Tiong yang dituduh memberontak.

Hui Im mengangguk dan menoleh pada Han Beng. Pemuda itu nampak ragu untuk ikut masuk, akan tetapi gadis itu berkata, "Marilah, Toako."

Mereka memasuki pekarangan rumah sete!ah menembus toko ke belakang, dan Ciok An yang sejak tadi merasa tidak senang dengan kehadiran Han Beng segera bertanya, "Akan tetapi, siapakah dia Ini?" Dia menuding ke arah Han Beng. "Dia ah, sebaiknya kalau kita bicarakan semua di dalam. Bagaimana, Paman?" kata Hui Im.

Pamannya mengangguk. "Baik, memang seharusnya begitu. Mari kita masuk ke dalam saja. Engkau juga, orang muda," ajaknya kepada Han Beng yang kembali bersikap ragu-ragu ketika mendengar pertanyaan tunangan Hui Im tadi.

Tuan rumah membawa dua orang tamu muda itu ke ruangan dalam dan mereka disambut pula oleh isteri Tang Gu It yang tentu saja merasa terkejut akan tetapi juga girang melihat betapa keponakan suaminya atau juga calon mantunya itu berada dalam keadaan selamat, walaupun seperti juga puteranya, wanita ini mengerutkan alisnya ketika melihat bahwa gadis calon mantunya itu datang bersama seorang pemuda yang tidak mereka kenal sama sekali.

"Paman Tang Gu it, dan Bibi, perkenankan saya lebih dulu memperkenalkan Saudara ini. Dia bernama Si Han Beng, dan Toako inilah yang telah mengantar saya sampai ke sini. Toako, mereka inilah keluarga Tang seperti yang saya ceritakan kepadamu. Ini adalah Paman Tang Gu it dan isterinya, dan dia. dia adalah Kanda Tang Ciok An.”

Han Beng bangkit berdiri dan menberi hormat kepada tiga orang itu yang disambut dengan dingin saja oleh mereka bertiga, terutama sekali oleh Ciok An dan ibunya. Dua orang ini tetap merasa tidak suka melihat gadis itu diantar oleh seorang pemuda asing dalam melakukan perjalanan yang demikian jauhnya.

"Nah, sekarang ceritakan apa yang telah terjadi dengan Ayahmu. Ketahuilah, Hui Im. Baru-baru ini aku sendiri pergi ke kota raja berkunjung ke rumah keluargamu. Akan tetapi yang kudapat hanyalah berita yang mengejutkan itu. Aku mendengar pula bahwa engkau lolos dan tidak ada seorang pun tahu ke mana engkau pergi. Bagaimana kini tiba-tiba dapat muncul di sini?" Hui Im lalu bercerita tentang pertentangan antara keluarganya dengan Ang-kin Kai-pang, dan tentang fitnah yang dilontarkan Ang-kin Kai-pang kepada ayahnya sehingga ayahnya dituduh pemberontak.

"Kalau tidak ada Toako Si Han Beng dan gurunya, kiranya saya pun tak mungkin dapat selamat. Bahkan Ayah dan Susiok juga diselamatkan oleh Toako Han Beng dan gurunya, akan tetapi mereka berdua tewas karena luka-luka mereka. Karena saya tidak mempunyai tempat tinggal lagi, tidak mempunyai keluarga, maka satu-satunya tujuan adalah datang kepada Paman dan Toako Han Beng demikian baiknya untuk mengantar saya sampai ke sini." 

Suara Hui Im mengandung kedukaan, akan tetapi ia tidak lagi menangis. Sejak melakukan perjalanan dengan Han Beng, ia banyak mendengar tentang isi kehidupan dan ia pun telah pandai mengubah sikap yang keliru.

"Hemmm, engkau melakukan perjalanan sejauh itu, selama berhari-hari, berdua saja dengan pemuda ini, Hui Im? Itu namanya tidak sopan dan tidak pantas!" isteri Tang Gu It berkata dengan alis berkerut dan mulutnya meruncing tanda bahwa hatinya tidak senang.

"Benar, Bibi.Habis dengan siapa? Toako Han Beng ini penolong saya dan dia suka mengantar. "

"Memang kurang pantas kalau seorang gadis melakukan perjalanan jauh yang berhari-hari lamanya bersama seorang pemuda bukan sanak keluarga," kata pula Ciok An. Mendengar ucapan calon ibu mertua dan calon suami itu, Hui im tidak mau membantah, hanya menundukkan mukanya dengan alis berkerut.

"Sudahlah! Biarpun tidak pantas, akan tetapi kalau keadaan memaksa, mau bagaimana lagi? Apakah kalian menganggap  bahwa lebih baik Hui Im melakukan perjalanan seorang diri? Lebih tidak pantas lagi, juga tidak aman," kata Tang Gu It. "Hui Im, sukurlah kalau engkau selamat. Tidak perlu engkau bersedih. Tinggallah di sini dan setengah tahun kemudian, pernikahan antara engkau dan Ciok An kami rayakan di sini."

"Aih, kalau saja aku berada di sana, Im-moi, tentu tidak akan terjadi malapetaka menimpa keluarga Ayahmu. Aku akan lebih dulu membasmi perkumpulan pengemis-pengemis hina itu sebelum mereka dapat bertindak jahat!" kata Ciok n kepada tunangannya. "Jaman sekarang ini memang kita tidak boleh percaya kepada sembarang orang, Moi-moi. Lihat saja tadi, Si Kiu-bwe-houw Gan Lok. Namanya saja besar, akan tetapi dia bukan lain hanyalah seorang pemeras. Untung ada aku! Benarkah engkau tidak menemui halangan sesuatu ketika engkau pergi meninggalkan kota raja kesini, Moi-moi. Tidak ada yang berbuat jahat kepadamu?"

Hui Im memandang kepada tunangannya, dan menggeleng kepala. "Tidak terjadi apa-apa. " 

"Benarkah? Tidak ada misalnya laki-laki yang mengganggu dan menggodamu?" Ciok An melirik ke arah Han Beng. "Engkau seorang gadis muda yang cantik menarik, Moi-moi. Aku tidak akan merasa heran kalau banyak pria tergila-gila kepadamu dan mencoba untuk ber¬buat kurang ajar kepadamu!"

Hui Im maklum bahwa tunangannya itu diam-diam secara tidak langsung merasa cemburu kepada Han Beng. la mengerutkan alisnya dan kini mengangkat muka memandang tajam kepada Ciok An.

"Koko! Apakah engkau menuduh aku berbuat yang tidak- tidak, melakukan hal yang tidak sopan dan tidak tahu malu dalam perjalananku ke sini?" Ia mengajukan pertanyaan ini dengan pandang mata tajam dan suara meninggi. "Aih, tentu saja, Moi-mol. Tentu saja engkau tidak melakukan sesuatu yang tidak baik. Akan tetapi, biasanya laki- laki yang suka kurang ajar kepada wanita. Dan engkau melakukan perjalanan berhari-hari bersama seorang laki-laki asing. "

"Koko! Toako ini adalah Si Han Beng, seorang pendekar sejati! Dia adalah murid dari Sin-tiauw Liu Bhok Ki dan Sin- Ciang Kai-ong! Sedikit. pun dia tidak pernah memperlihatkan sikap yang buruk kepadaku!"

"Hemmm, seorang pendekar sejati, ya?" Ciok An memandang kepada Han Beng dengan mata dipicingkan

"Ciok An!" kini Tang Gu It membentak puteranya. "Bersikaplah wajar dan hormat kepada tamu! Bagaimanapun juga, Si taihiap (Pendekar Besar Si) telah menyelamatkan 

calon isterimu! Si-taihiap, harap maafkan kami dan kami berterima asih sekali kepadamu."

Sejak tadi Han Beng telah merasa marah sekali. Hatinya terasa panas bukan main. Dia memang sudah merasa terpukul batinnya ketika melihat Hui Im bertemu dengan tunangannya, biarpun Dihiburnya perasaannya sendiri bahwa gadis itu memiliki seorang calon suami mg amat baik, tampan kaya raya, dan gagah perkasa. Karena itulah, maka tadi diam-diam membantu Ciok An megalahkan Gan Lok. Akan tetapi kini, dia hanya mendengar kata-kata yang amat tidak enak dan melihat sikap yang amat memandang rendah kepadanya. Dan sikap Tang Gu It yang merendah itu pun amat yang merendah itu pun amat dibuat-buat, atau mungkin karena mendengar nama kedua orang gurunya. Hatinya terasa panas sekali dan kalau bukan untuk Hui Im, tentu sudah sejak tadi dia pergi

.

Ibu Ciok An agaknya juga menyadari bahwa suaminya marah dan menegur puteranya, maka ia pun hendak bersikap baik. "Benar, Ciok An. Pemuda ini sudah mengantar calon isterimu sampai ke sini dengan selamat. Sebaiknya engkau cepat  mengambil perak beberapa puluh tail untuk diberikan kepadanya sebagai imbalan dan uang lelah!"

Han Beng tidak dapat menahan lagi. Dia bangkit berdiri dengan kedua telapak tangan masih berada di atas meja, lalu memandang kepada Hui Im tanpa menjawab semua kata-kata dari keluarga tuan rumah itu. "Siauw-moi, engkau tahu benar bahwa aku mengantarmu sampai kesini tanpa pamrih apa pun. Aku sudah merasa berbahagia sekali bahwa engkau telah bertemu dengan keluarga calon suamimu dengan selamat. Aku tidak minta imbalan upah apa pun, akan tetapi aku pun tidak sudi untuk dipandang rendah oleh siapa pun! Nah, engkau sudah tiba di tempat tujuan, Siauw-moi, maka perkenankan aku pergi sekarang."

"Nanti dulu, Toako! Ah, jangan engkau pergi dengan perasaan tidak enak seperti itu. Kau kaumaafkanlah semuanya, Toako. Semua ini hanya kesalah pahaman belaka. Toako, aku minta, dengan hormat dan sangat, sudilah engkau hadir pada perayaan pernikahanku tengah tahun mendatang."

Mereka berdiri dan saling pandang. Han Beng melihat betapa sepasang mata yang indah itu memandang kepada penuh permohonan, bahkan kedua mata itu basah dengan air mata. Hanya terasa lemas dan dia pun mengangguk. "Kalau Tuhan memperkenan aku tentu akan datang. Nah, selamat tinggal, Adik Souw Hui Im!"

Setelah berkata demikian, semua orang yang duduk di situ hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu tubuh pemuda itu sudah lenyap dari situ! Tentu saja Tang Gu It, isterinya dan Ciok An, terkejut bukan main. Mereka memandang ke arah pintu depan, namun tidak nampak lagi bayangan Han Beng dan tiba-tiba Tang Gu It menuding kearah meja yang tadi dihadapi Han Beng dengan telunjuk gemetar. Ciok An dan ibunya memandang, juga Hui Im. Dan meja di mana tadi ditekan oleh kedua telapak tangan Han Beng, nampak ada tanda dua telapak tangan dan papan meja itu  hangus dan masih mengepulkan sedikit asap! Agaknya, saking marahnya dan menahan perasaannya, Han Beng menyalurkan kekuatannya melalui kedua telapak tangan dan sin-kang itu mendatangkan hawa panas yang sampai membakar papan meja!

"Ahhhhh. !" Ciok An berseru dan wajahnya berubah 

pucat. Dia memandang kepada tunangannya. "Im-moi.   

dia.............. dia begitu saktikah. ?"

Gadis itu menundukkan mukanya agar jangan nampak kedukaan membayangkandiwajahnya dan dengan perlahan ia mengangguk, "la memang seorang pendekar sakti, seperti seekor naga sakti "

Tang Gu It menarik napas panjang "Nah, sekarang terbukalah matamu, Ciok An. Jangan mudah memandang rendah orang lain. Tadi pun aku sudah terkejut mendengar bahwa dia murid Sin-tiauw Liu Bhok Ki dan Sin-ciang Kai-ong! Tahukah engkau siapa kedua orang sakti itu? Mereka adalah dua orang sakti yang amat terkenal di dunia kang-ouw, karena itu tadi pun aku segera menyebutnya taihiap. Akan tetapi engkau sudah tidak tahu diri, masih saja merendahkannya. Bahkan ingin memberi hadiah uang kepada seorang pendekar sakti! Sungguh menggelikan dan memalukan sekali!"

Keluarga itu masih belum hilang kagetnya dan sejak hari itu, mereka tidak pernah lagi menyebut nama Han Beng, apalagi membicarakan persangkaan buruk kepada pendekar itu. Sikap mereka terhadap Hui Im juga menjadi baik dan hal ini sedikit banyak menghibur hati gadis itu yang merasa kehilangan sekali setelah Han Beng pergi. Baru ia yakin benar bahwa sesungguhnya ia telah jatuh cinta kepada pendekar itu. Akan tetapi apa daya? Sejak kecil ia sudahditunangkan denganTang Ciok An dan tidak mungkin ia mengubah kenyataan ini. Pertama, ia harus mentaati keputusan ayahnya, apalagi setelah ayahnya meninggal dunia, ia harus lebih mentaatinya lagi. Pesan seorang yang sudah meninggal dunia  adalah pesanan yang suci dan harus ditaati. Kedua, ia sudah ditampung oleh keluarga tunangannya, dan bagaimanapun juga, calon ayah mertuanya adalah pamannya sendiri pula. Ia tidak mempunyai tempat lain atau keluarga lain yang dapat ditumpangi. Dan ke tiga, harus diakuinya bahwa pilihan orang tuanya itu pun tidak keliru, tidak mengecewakan. Ia sudah harus merasa beruntung mendapatkan seorang calon suami seperti Tang Ciok An, Dia ganteng, tampan, gagah perkasa, kaya raya. Mau apa lagi?

Kehidupan ini akan terisi penuh konflik kalau kita membiarkan diri kita dicengkeram oleh pikiran yang sudah bergelimang nafsu. Nafsu selalu melahiran keinginan- keinginan akan hal-hal buruk! Yang baik dan menyenangkan hanyalah apa yang diinginkan itu! Mempunyai ini, ingin yang itu sehingga yang ini nampak tidak ada daya tariknya; Mendapatkan yang itu, menginginkan yang ini, dan demikian selanjutnya. Hanya orang yang menyerahkan segala-galanya kepada kekuasaan Tuhan sajalah yang akan dapat menerima apa yang ada tanpa penilaian! Apa pun yang datang menimpa dirinya, apa pun yang didapatkan; dari hasil usahanya, dianggapnya sebagai suatu anugerah dari Tuhan, sebagai suatu kemurahan dari Tuhan sehingga diterima dengan hati penuh keikhlasan, penuh penyerahan diri dan penuh ketawakalan. Biasanya, setiap mulut mengatakan bahwa dia ber-Tuhan, bahwa dia percaya kepada Tuhan. Akan tetapi buktinya? Kalau orang benar-benar ber-Tuhan hanya mulut saja yang mengakuinya, melainkan jauh di lubuk hatinya, didalam dasar batinnya, harus ada kepercayaan itu. Kepercayaan yang mendalam ini yang akan mendatangkan peyerahan, keikhlasan, dan kalau apa pun yang menimpa diri dianggap sebagai pelaksanaan kehendak Tuhan, maka senyum ini takkan pernah meninggalkan mulut. Yang ada hanya rasa terima kasih dan syukur Tuhan Yang Maha Kasih. Dan kalau sudah begitu penderitaan lain tidak ada lagidan penderitaan batin tidak ada lagi dan penderitaan lahir pun tidak meninggalkan bekas, seperti awan lalu. Kepercayaan yang mendalam ini yang akan mendatangkan kekuasaan  Tuhan bekerja di luar dan di dalam diri karena kekuasaan Tuhan meliputi seluruh alam, yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang paling kecil sampai yang paling besar, paling rendah sampai paling tinggi, yang paling dalam dan paling luar, pendeknya tidak ada apa pun di alam mayapada ini yang tidak diliputi kekuasaan Tuhan Yang Maha Kasih! Dan kalau kekuasaan Tuhan yang bekerja, maka segalanya akan wajai dan sempurna! Yang menimbulkan baik buruk, suka duka dan segala macam pertentangan adalah penilaian yang timbul dari nafsu.

Dan hanya kekuasaan Tuhan ini sajalah yang akan mampu menundukkan nafsu sehingga menjadi jinak dan berman faat bagi kehidupan manusia, bukan lagi sebagai perusak, melainkan sebagai pembantu dan alat mempertahankan hidup.

oooOOooo

"Omitohud, sejak dahulu, para to-su memang berhati palsu. Pada lahirnya saja kelihatan halus dan baik budi, akan tetapi di sebelah dalamnya kotor dan curang!" Seorang di antara sepuluh orang hwesio yang berada di puncak itu berseru, sedangkan sembilan orang hwesio lainnya mengangguk- angguk menyetujui.

"Sian-cai ! Para hwesio seharusnya dapat mengekang 

musuh yang paling besar dalam kehidupan ini, yaitu nafsu amarah. Kenapa sudah mencukur gundul rambutnya dan sudah mengenakan jubah kuning masih mudah dikuasai nafsu amarah sehingga menyebar fitnah buruk kepada orang atau pihak lain?" seorang di antara sembilan orang tosu itu pun membantah dan kini delapan orang rekannya yang mengangguk-angguk membenarkan.

Puncak bukit itu datar dan ditumbuhi rumput yang subur. Mereka, sepuluh orang hwesio dan sembilan orang tosu itu duduk saling berhadapan, pihak hwesio satu garis dan  berhadapan dengan mereka, pihak tosu juga satu garis. Mereka terdiri dari orang-orang yang sudah tua, sedikitnya berusia enam puluh tahun. Para hwesio itu mengenakan jubah kuning dan berkepala gundul, sedangkan para tosu mengenakan jubah putih dengan rambut diikat ke atas. Jelas dari sikap mereka bahwa kedua pihak saling mencela dan dalam pandangan mata mereka nampak api kemarah yang menjurus kepada kebencian.

"Siapa yang marah dan siapa yai menyebar fitnah?" bentak seorang antara para hwesio itu sebagai law an. "Kami tidak menuruti nafsu amarah dan tidak menyebar fitnah, melainkan bicara seperti apa adanya saja! Golongan kalian para tosulah yang tukang sebar fitnah! Kalau tidak karena fitnah seorang tosu, yaitu Cun Bin Tosu, apakah kuil Siauw-lim-si sampai terbakar dan banyak jatuh korban yang tidak berdosa? Nah, apakah kini kalian para tosu masih mencoba untuk menyangkal kenyataan itu?"

"Siancai , kami tidak menyangka adanya orang seperti 

Cun Bin Tosu. seperti juga kami tidak menyangkal adanya banyak tosu yang melakukan perbuatan yang sesat. Akan tetapi, apa hubungannya hal itu dengan kami? Apakah kesalahan seorang tosu harus dipikul dosanya oleh seluruh tosu di permukaan bumi ini? Apakah di dunia ini tidak ada seorang pun hwesio yang menyeleweng? Dan kalau ada, apakah juga kesalahan seorang hwesio itu harus ditanggung oleh seluruh hwesio di permukaan bumi? Kalau begitu halnya, maka kesalahan tiap orang manusia juga harus ditanggung dosanya oleh kita semua, karena bukankah kita semua ini juga manusia! Jadi, kesalahan Cun Bin Tosu itu juga harus ditanggung oleh kita semua, juga oleh kalian para hwesio karena Cun Bin Tosu seorang manusia, seperti kita semua, termasuk kalian juga."

"Omitohud! Sejak dahulu para tosu memang pandai bicara, seperti perempuan, pandai memutarbalikkan kenyataan. Sekarang tidak perlu banyak cakap lagi. Kita adalah orang- orang yang sejak kecil sudah mempelajari ilmu, oleh Karena itu, daripada mengadu lemasnya lidah palsunya kata-kata, mari kita buktikan siapa di antara kita yang lebih jantan dan lebih gagah!" berkata demikian, hwesio yang jadi juru bicara itu bangkit berdiri, diikuti oleh sembilan orang temannya. Melihat ini, sembilan orang tosu juga serentak bangkit dan kedua pihak sudah siap untuk saling hantam dan saling serang untuk menyudahi percekcokan tadi.

Sudah lama sekali terjadi permusuhan antara hwesio dan para tosu. Hal ini terjadi semenjak kuil Siauw-lim-si dibakar oleh pasukan pemerintah. Pihak para hwesio selalu menyesalkan peristiwa itu dan karena memang seorang tosu yang menjadi mata-mata pasukan pemerintah, yaitu Cun Bin Tosu yang akhirnya tewas dalam pertempuran para hwesio dan murid Siauw-lim-si, maka di dalam hati para hwesio terkandung dendam kepada para tosu. permusuhan ini semakin lama semakin menjadi sehingga menjadi permusuhan terbuka di mana setiap perjumpaan antara seorang hwesio dengan seorang tosu pasti menimbulkan percekcokan, saling mengejek sehingga berakhir dengan perkelahian. Sudah ada beberapa orang jatuh menjadi korban dalam permusuhan itu.

Akhirnya, para pimpinan hwesio dan para pimpinan tosu mengadakan keputusan untuk mengakhiri permusuhan itu dengan jalan mengadakan pertemuan antara para pimpinan di puncak bukit Kijang itu. Kedua pihak, yaitu para pimpinan yang sudah lebih luas pandangannya dan lebih matang menyerap pelajaran agama masing-masing melihat betapa tidak benarnya permusuhan itu, dan mereka bermufakat untuk mengadakan peremuan di puncak itu. Akan tetapi, kembali mereka dikuasai nafsu dan pertemuan yang dimaksudkan untuk mencari perdamaian itu berakhir dengan percekcokan yang semakin memanas dan akhirnya kedua pihak siap untuk saling serang dan saling bunuh! Betapapun pandainya seseorang, betapapun tinggi ilmunya, pada saat nafsu mencengkeram dan menguasainya, maka akan hilanglah  semua pertimbangannya, lenyap semua kebijaksanaannya. Yang ada hanyalah menyalanya nafsu jalang yang menuntut pemuasan melalui kemenangan dan tercapainya keinginan. Nafsu memang terbawa sejak lahir dan nafsu merupakan alat yang amat dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya dunia ini. Karena itu, usaha manusia yang melihat betapa berbahayanya nafsu, bermacam-macam. Ada yang berusaha menundukkan nafsu melalui tapa, melalui latihan-latihan pernapasan, samadhi, melalui penyiksaan diri, pengurangan makanan dan sebagainya lagi. Namun, semua, itu masih tidak keluar dari lingkaran nafsu, karena semua usaha itu mengandung suatu keinginan. Hasilnya hanya pengurangan saja, itu pun hanya sementara. Merupakan pengekangan saja terhadap nafsu. Pengekangan ini buka berarti sudah dapat menguasai nafsu sepenuhnya. Usaha melenyapkan nafsu Tidak mungkin! Nafsu tak mungkin dilenyapkan dari kehidupan kita, karena kehidupan ini ada karena nafsu, bagaikan nyala api membutuhkan bahan bakar. Melenyapkan nafsu berarti melenyapkap keadaan badan dan berarti mati! Selama masih hidup, manusia tidak mungkin dapat meninggalkan nafsu. Nafsu itu suatu keperluan untuk hidup. Namun, kalau nafsu dibiarkan menguasai batin, maka dia akan menyeret kita ke dalam penyelewengan. Nafsu adalah anugerah Tuhan, ciptaan Tuhan dan satu-satunya yang dapat mengatur agar nafsu dapat sesuai dengan kehidupan kita, dapat menjadi alat yang baik dan bukan menjadi majikan yang merajalela, yang dapat menundukkannya hanyalah kekuasaan Tuhan! Dan kekuasaan Tuhan dalam diri akan bekerja dengan sempurna kalau kita dengan sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada Tuhan, menyerahkan diri de¬ngan ikhlas, dengan penuh ketawakal. Kalau kita membiasakan diri setiap saat teringat akan kekuasaan Tuhan, maka kita pun akan terbimbing oleh kekuasaan yang maha hebat itu. Dan nafsu-nafsu akan menyingkir dan menduduki tempat masing-masing dengan teratur. Tanpa kekuasaan Tuhan, betapapun kita berusaha, maka hasilnya pun hanya akan tipis sekali dan hanya untuk sementara karena usaha kita itu pun hanya di dalam  lingkungan akal budi, dan pikiran padahal pikiran dan akal budi sudah bergelimangan dengan nafsu!

Ketika sepuluh orang hwesio dan sembilan orang tosu sudah bangkit diri, kesemuanya sudah dikuasai nafsu amarah dan siap untuk saling serang dan saling membunuh, seorang di antara para hwesio itu berseru dengan suaranya yang lantang.

"Saudara semua, tahan dulu senjata Pinceng hendak bicara!"

Suaranya lantang dan berwibawa, semua hwesio yang melihat siapa yang akan bicara, merangkap kedua tangan depan dada dan berseru. "Omitohud ! dan mereka pun 

mundur. Yang bicara itu adalah Thian Gi Hwesio, seorang hwesio yang bertubuh tinggi besar berusia tujuh puluh tahun, dan dia ter kenal dengan wataknya yang terbuka jujur dan galak. Thian Gi Hwesio tentu saja amat terkenal dan disegani oleh para rekannya karena dia adalah wakil ketua dari kuil Siauw-lim-si yang terbakar itu. Juga para tosu mengenalnya, maka merekapun mendengarkan dengan penuh perhatian, ingin tahu apa yang akan dikatakan hwesio yang Jangkung menjadi korban dalam peristiwa kebakaran Siauw-lim-si itu. 

Thian Gi Hwesio melintangkan senjata toyanya dan dia memandang kepada para tosu di depannya. "Para To-yu (Sobat) sekalian. Kita semua sudah melihat bahwa tidak mungkin diadakan perdamaian tanpa adu kepandaian di antara para hwesio dan tosu. Akan tetapi kita pun tahu betapa kelirunya hal ini. Tidak ada permusuhan di antara para tosu dan para hwesio. Mereka itu hanya terseret oleh setia kawanan belaka. Oleh karena itu, kita sebagai golongan lebih tua, sebaiknya tidak membiarkan para murid kita saling hantam dan saling serang tanpa alasan yang sehat. Maka, sekarang pin-ceng maju mewakili para hwesio untuk menyelesaikan urusan pertikaian yang berkepanjangan ini melalui adu kepandaian yang sehat dan adil, seperti yang  sudah sepatutnya dilakukan oleh orang-orang yang menjunjung keadilan dan kebenaran. Harap para To-yu mengajuk seorang wakil dari para tosu dan biarlah pertandingan ini akan menentukan siapa di antara kedua golongan yang benar dan lebih kuat. Yang kalah tidak diperbolehkan menuntut balas atau mendendam!"

"Siancai ! Ucapan Thian Gi Hwesio memang tepat, 

akan tetapi siapa yang dapat menanggung kalau sesudah ada pertadingan adu kepandaian antara dua orang wakil ini lalu tidak ada lagi murid yang saling berkelahi?" tentu dengan seruan seorang di antara para tosu.

"Bagi pinceng, sekali sudah berjanji akan dipegang sampai mati!" Thian Hwesio berseru. 

"Andaikata ada murid atau hwesio yang kelak melanggar janji, pinceng sendiri yang akan menghajarnya!"

"Sian-cai ! Kami semua percaya akan kejujuran dan 

kegagahan bekas wakil ketua Siauw-lim-si! Akan tetapi ucapan itu lebih mudah dikeluarkan mulut daripada dilaksanakan. Bagaimana seorang saja akan mampu menjaga agar janji itu dilaksanakan di seluruh negeri?" Ucapan ini disambut dengan suara setuju oleh semua tosu, bahkan diantara para hwesio sendiri juga melihat betapa sukarnya janji itu dipenuhi kelak. Bagaimana mungkin Thian Gi iHwesio atau dibantu oleh mereka semua, sepuluh orang hwesio akan mampu menjaga seluruh hwesio yang jumlahnya ratusan ribu itu agar menepati janji yang dadakan hari ini? Pula, apakah seluruh hwesio telah menyatakan persetujuannya atas janji yang dikeluarkan oleh Thian Gi Hwesio?

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara orang, "Harap para Locianpwe menyadari akan buruknya permusuhan dan dapat menghabiskan sampai di sini saja"' Mendengar ucapan yang nyaring itu, para hwesio dan para tosu menoleh dan Mereka melihat munculnya seorang pemuda dari balik batang pohon yang tumbuh tidak jauh dari padang rumput itu. mereka semua heran. Mereka sembilan belas orang adalah orang-orang yang sudah memiliki tingkat kepandaian tinggi akan tetapi bagaimana tidak ada seorangpun yang tahu akan kehadiran pemuda Itu? Apakah karena mereka semua terlalu tegang dan mencurahkan seluruh perhatian kepada urusan mereka, ataukah memang pemuda itu memiliki tingkat kepandaian yang tinggi? Pemuda itu tidak terlalu mengesankan. Pemuda berusia dua puluh dua tahun, bertubuh tinggi besar dan berwajah tampan, nampak sederhana sekali, dengan pakaian seperti seorang pemuda petani saja.

"Siancai ! Darimanakah datangnya seorang pemuda 

yang begini la berani mencampuri urusan gawat orang-orang tua?" bentak seorang di antara para tosu.

Akan tetapi Thian Gi Hwesio yang tadi pun nampak ragu- ragu setelah usulnya dibantah, memandang tajam. "Omitohud. ! Orang muda yang gagah. Siapakah 

engkau dan apa maksud ucapanmu tadi?"

Han Beng, pemuda itu, memberi hormat kepada semua pendeta itu, lalu berkata dengan sikap sungguh-sungguh. "Saya hanyalah seorang pemuda biasa yang lebetulan lewat di sini dan melihat, juga mendengar semua perbantahan antara Cu-wi Locianpwe (Para Orang Tua Gagah Sekalian). Saya merasa ikut prihatin, akan tetapi, semua pendapat dari para lo- cianpwe itu menurut saya, tidak akan dapat membuka jalan keluar. Bahkan akan semakin membesarkan nyala api permusuhan dan dendam."

Thian Gi Hwesio mengerutkan alisnya yang tebal dan melintangkan toyanya. "Hemmm, orang muda yang lancang mulut! Agaknya engkau berani mencela kami tentu sudah  mempunyai kebijaksanaan yang lebih patut. Nah, katakanlah bagaimana cara yang baik menurut pendapatmu?"

"Cu-wi Lo-cian-pwe bukan orang-orang muda dan merupakan orang-orang yag dipenuhi kebijaksanaan. Sepatutnya Cu-wi sudah mengetahui bahwa semua permusuhan, dendam kebencian, bukan datang dari luar melainkan datang dari dalam batin masing-masing. Oleh karena itu, melenyapkan permusuhan tidak mungkin dilakukan dengan cara menundukkan musuh yang berada di luar. Yang penting adalah mengalahkan musuh yang berada di dalam diri sendiri! Cu-wi Lo-cian-pwe dan sekalian pengikutnya, para hwesio dan para tosu yar terhormat, seyogianya mawas diri masirng-masing dan mengenyahkan semua dendam kebencian dari hati masing-masing, kalau sudah begitu, dengan sendirinya dak mungkin ada permusuhan. Kalau di dalam sudah padam, tidak mungkin menjalar dan membakar keluar. Nah, sukarnya kalau mulai detik ini juga Cu-wi masing- masing memadamkan api dalam itu dan dengan demikian tiada lagi permusuhan dan dendam?"