-->

Naga Beracun Jilid 05

Jilid 05 

Siong Ki, jangan bicara seperti itu!

De ngan muka basah air mata dan mata merah, anak itu mengangkat mukanya, memandang kepada wanita itu

Bibi, apa yang harus kulakukan kalau aku dibiarkan hidup

Aku seorang diri, tiada ayah ibu, tiada keluarga

Melihat ayah te was, juga para paman......ah, apa gunanya lagi aku hidup

Tiada lagi yang melindungi aku, bibi.....

Hushh.....! Omongan apa itu

Disini masih ada aku, Siong Ki

Aku yang akan melindungimu, dan engkau boleh ikut denganku selamanya karena mulai saat ini, engkau menjadi muridku.

Siong Ki membelalakkan matanya seperti orang yang tidak percaya

Benarkah ini....

Benarkah, bibi

Atau hanya hiburan kosong belaka?

Tentu saja benar, Siong Ki

Apakah kau tidak percaya kepadaku dan menyangka aku membohongimu?

Anak itu nampak gembira sekali

Kalau begitu, berjanjilah di depan makam ayah, bibi

Biar ayah menjadi saksi, biar ada semangat lagi bagiku untuk hidup!

Lalu anak itu berlutut di depan Liu Hwa dan kini suaranya terdengar lantang dan penuh semangat

Ayah saksikanlah, ayah

Mulai saat ini anakmu, The Siong Ki, mempunyai pelindung baru, yaitu bibi Poa Liu Hwa yang menjadi guruku

Subo, te rimalah hormat tcecu (murid)!

Dan diapun memberi hormat delapan kali kepada wanita itu

Siong Ki, muridku yang baik, bangkitlah.

Teecu tidak akan bangkit sebelum subo (ibu guru) berjanji di depan makam ayah!

Liu Hwa menatap makam itu dan diam-diam ia bergidik

Ia sendiri kehilangan segala-galanya, bahkan puteranya Cin Cin, yang selamat, kini telah dibawa pergi ke te mpat jauh

Ia sendiri sebatangkara, dan kini ia telah mengambil Siong Ki sebagai murid, siap melindunginya dan menjadi pengganti orang tuanya

Suatu tu gas yang amat berat

Sedangkan untuk melindungi diri sendiri saja ia sudah jelas tidak kuat

Buktinya, hampir saja ia celaka dan mungkin sekarang sudah te was te rbunuh atau membunuh diri kalau saja ia tidak dibebaskan dari tangan lt-gan Tiat-gu oleh pendekar Siauw-lim pai itu! Akan tetapi, ia tidak dapat undur kembali, sudah berjanji, dan kalau ada anak ini di sampingnya, setidaknya ia akan te rhibur

Maka iapun lalu mengangkat kedua tangan di depan dada sambil membungkuk ke arah makam The Ci Kok dan berkata dengan lirih

Suheng The Ci Kok

Aku berjanji bahwa mulai saat ini pute ramu The Siong Ki telah menjadi muridku

Semoga arwahmu ikut pula melindungi kami berdua.

Setelah mendengar janji gurunya itu, Siong Ki bangkit dan kini wajahnya menjadi cerah

Liu Hwa juga memandang kepadanya

Anak ini nampaknya cerdik dan seingatnya, Siong Ki bukan seorang anak yang bandel, tidak nakal dan pandai membawa diri

Siong Ki, setelah engkau selesai bersembahyang di sini, susullah aku di makam suamiku.

Aku sudah selesai, subo

Aku selalu berada di sini sejak ayah dimakamkan dan baru satu kali    aku pulang ke rumah,

katanya sambil mengambil sebuah buntalan yang tadi dia gantungkan di cabang sebatang pohon

Engkau sudah siap dengan buntalan pakaianmu

Apakah engkau tidak ingin pulang ke rumah mendiang ayahmu?

Siong Ki menjawab dengan wajah sedih

Tadinya aku sudah ingin pergi saja, subo

Untuk apa kembali ke dusun Ta-bun-cung dimana kita hanya akan diingatkan selalu akan peristiwa menyedihkan itu

Akan te tapi kalau subo ingin kembali.........

Liu Hwa melangkah ke arah makam suaminya, lalu duduk di depan makam, te rmenung

Siong Ki mengikutinya dan anak itupun duduk di depan subonya

Setelah berulang kali menghela napas panjang, Liu Hwa juga berkata dengan sura sendu

Akupun tidak mungkin dapat bertahan tinggal di dusun dimana aku te lah kehilangan segalagalanya

Apalagi, sebelum meninggal, kakek Coa Song telah membagi-bagikan seluruh isi rumah kepada para murid

Aku tidak dapat tinggal di rumah kosong itu, yang setiap saat akan mengingatkan aku kepada suamiku dan anakku.

Lalu, ke mana kita akan pergi, subo?

Wanita itu menundukkan mukanya dengan sedih

Aku tidak tahu, Siong Ki, ....aku tidak tahu.....

Siong Ki bicara lagi, kini suaranya terdengar gembira

Subo, aku mendengar bahwa adik Cin Cin telah diajak pergi oleh susiok Lai Kun ke rumah pendekar sakti Huang-ho Sin-liong Si Han Beng

Bagaimana kalau kita menyusul kesana?

Wajah wanita itu agak cerah mendengar ucapan itu

Sudah diduganya, anak ini cerdik dan penuh semangat, dan senang akan keputusannya mengambil anak ini menjadi murid

Benar, Siong Ki

Agaknya memang sebaiknya kalau kita menyusul adikmu Cin Cin lebih dulu

Setelah itu......setelah bertemu dengan Cin Cin, baru kita mencari tempat tinggal baru

Akan tetapi, ah, aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi

Bahkan senjatapun tidak punya lagi.....

Subo, jangan khawatir?

kata Siong Ki dan anak ini segera menurunkan buntalan pakaiannya yang besar, lalu membukanya

Pertama-tama dia mengeluarkan sebatang pedang dengan sarungnya

I ni pedang milik ayah, subo

Kuambil dari tangan je nazah ayah, lalu sarung pedangnya kucari

Nah, te rimalah pedang ini subo, agar subo dapat melindungi diri kita berdua dalam perjalanan.

De ngan girang Liu Hwa menerima pedang itu dan memeriksanya

Ternyata sebatang pedang yang cukup baik, te rbuat dari baja yang baik

Ia merasa kuat ketika memegang pedang ini

Dan ini, subo

Ini peninggalan ayah, kukumpulkan semua dan kubawa serta

Subo boleh menggunakannya semua untuk biaya apa saja, biaya perjalanan kita, biaya mencari te mpat tinggal baru.......

Liu Hwa te rbelalak

Anak itu membuka sebuah buntalan kecil yang isinya potongan emas dan perak, cukup banyak! 

Siong Ki,

ia berkata dengan terharu

Ternyata bukan aku yang menolongmu, melainkan engkau yang menolongku.

Sama sekali tidak, subo

Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa degan pedang dan emas perak itu

Kuserahkan kepada subo agar subo dapat melindungi kita berdua.

Liu Hwa tiba-tiba teringat kepada pendekar Siauw-lim-pai yang menunggunya di luar pintu gerbang

Ah, sudah terlalu banyak ia menyusahkan pendekar itu

Sungguh ia merasa malu kepada Lie Koan Tek

Pula, sungguh tidak pantas dilihat orang kalau ia berdua saja dengan pendekar itu

Ia kini seorang janda! Dan pendekar Siauw-lim pai Lie Koan Tek, sepanjang yang didengarnya, belum pernah menikah

Biarpun usianya sudah empatpuluh tahun le bih, masih membujang

Pasti akan menimbulkan prasangka yang bukan-bukan dalam benak orang yang melihat seorang janda berduaan saja dengan seorang pria yang masih membujang

Tidak, aku tidak boleh mengganggunya lagi

Akan tetapi, bagaimana ia harus mengatakan kepada pendekar itu bahwa ia tidak mau melanjutkan perjalanan bersama dia

Siong Ki, mari kira pergi.

Pergi

Sekarang juga, subo?

 Liu Hwa mengangguk

Sekarang ini juga, kita pergi meninggalkan dusun kita dan pergi menyusul Cin Cin.

Tentu saja Siong Ki merasa heran

Malam itu biarpun ada bulan, namun te tap saja cuaca hanya remang-remang

Mengapa subonya demikian te rgesa-gesa

Akan tetapi dia tidak berani membantah

Baik subo

Mari!

Dia lari ke makam ayahnya, memberi hormat lagi untuk yang terakhir kalinya, kemudian membawa buntalan pakaiannya dan berjalan di samping subonya

Ketika Siong Ki hendak mengambil jalan keluar dari pintu gerbang, Liu Hwa memegang tangannya, dan menariknya ke kiri

Kita ambil jalan ini saja, Siong Ki.

Kembali anak itu te rheran

Jalan keluar dari dusun itu memang ada beberapa buah, a kan tetapi yang paling enak adalah jalan keluar melalui pintu gerbang

Akan te tapi subonya mengajak ia keluar dari dusun melalui jalan setapak yang penuh semak belukar! Akan tetapi diapun tidak berani banyak bertanya dan dengan hati-hati mereka keluar dari dusun itu

Sama sekali Poa Liu Hwa tidak pernah menduga bahwa hanya tiga hari setelah dia pergi, Sim Lan Ci dan Thian Ki datang ke dusun itu pula! Kalau saja hal itu terjadi, pasti jalan hidupnya akan menjadi lain! Hati Liu Hwa menjadi lega setelah mereka keluar dari dusun dan tiba di le reng bukit

Matahari pagi memandikan bumi dengan cahayanya yang hangat dan segar menghidupkan

Biar pun merasa lelah sekali karena selain baru saja mengalami ancaman malapetaka dan te rpendam kedukaan, apa lagi semalam sama sekali tidak tidur, namun Liu Hwa tidak mau berhenti berjalan

Siong Ki berjalan di sebelahnya sambil menggendong buntalan pakaiannya

Kantung berisi emas dan perak oleh Liu Hwa juga dititipkan kepadanya dalam buntalan

Hanya pedang itu kini tergantung di punggung nyonya muda itu

Sudah sejak malam tadi Liu Hwa melihat betapa anak itu kelelahan, juga mungkin sekali kelaparan

Namun, biarpun jalannya kadang te rhuyung, anak itu sama sekali tidak pernah mengeluh

Hal ini saja membuat Liu Hwa semakin suka kepada anak yang kini menjadi muridnya itu

Anak ini keras hati dan tabah bukan main, pikirnya

Ia merasa kasihan akan te tapi tidak mau mengajak Siong Ki berhenti karena ia khawatir kalau sampai bertemu dengan Lie Koan Tek yang ingin dihindarinya

Ia sendiri juga le lah, akan tetapi ia memaksa diri untuk melewati sebuah bukit lagi, baru akan mengaso dan mencari makanan

Ketika ia mulai mendaki bukit itu dan tiba di sebuah hutan kecil, tiba-tiba saja di depannya muncul seorang pria muda yang tam pan sekali

Usianya sekitar duapuluh tujuh tahun, tubuhnya sedang dan dia mengenakan pakaian pelajar yang mewah

Wajahnya tampan dan ganteng, dengan hidung besar mancung, bibir merah seperti diberi pemerah bibir, matanya hitam sekali maniknya

Dan kepalanya yang berambut hitam tebal itu te rtutup sebuah caping le bar

Di pinggangnya te rselip sebatang suling dan melihat  penampilannya, Liu Hwa menduga bahwa pemuda ini tentu seorang pemuda kaya yang te rpelajar

Namun kemunculannya yang tiba-tiba itu mengejutkan hatinya dan ia memandang dengan khawatir

Pemuda itu bukan lain adalah Can Hong San

Setelah dia berpis ah dari Pangeran Cian Bu Ong dan memperoleh sekantung emas, Hong San lalu sengaja pergi ke dusun Ta-bun-cung

Dia masih merasa penasaran, ingin melihat apa yang te rjadi di dusun itu, terutama sekali dia ingin mencari Lie Koan Tek, pendekar Siauw-lim-pai bekas rekannya itu yang dia lihat melarikan seorang wanita cantik ketika mereka menyerbu dusun itu

Kini, bertemu dengan Liu Hwa dan seorang anak laki-laki, dia segera mengenal wanita itu sebagai wanita yang pernah dilarikan Lie Koan Tek, maka cepat dia menghadang wanita itu dan dia tersenyum girang ketika melihat bahwa wanita yang usianya sekita tigapuluh tahun ini juga cukup cantik untuk menggelitik wataknya yang memang mata keranjang.! Hong San tersenyum dan wajahnya nampak tampan dan menarik sekali

Karena sikapnya memang sopan dan halus Liu Hwa juga te rsenyum malu-malu dan nyonya ini menggandeng tangan Siong Ki untuk diajak melewati pemuda itu sambil membungkukkan tubuh sebagai penghormatan

Melihat ini, Hong San cepat melangkah dan menghadang lagi

Perlahan dulu, enci

Kalau aku tidak salah sangka, enci tentu datang dari dusun Ta-bun-cung, bukan?

Dia mengangkat kedua tangan memberi hormat

Melihat sikap yang sopan dan ramah itu, Liu Hwa membalas penghormatan pemuda itu dan menjawab, 

Benar, kongcu

Kami memang  penduduk Ta-bun-cung.

Bukankah enci wanita yang dilarikan oleh Lie Koan Tek malam itu?

Bukan main kagetnya Liu Hwa mendengar pertanyaan itu dan ia memandang Hong San dengan pernuh perhatian

Malam terjadinya penyerbuan di dusun itu te rlalu gelap sehingga ia tidak mengenal para penyerangnya

Bagaimana engkau bisa tahu, kongcu?

tanyanya penuh selidik

Ha-ha-ha, aku tahu segalanya, enci

Beberapa malam yang lalu, He k-houw-pang di dusun Tabun-cung diserbu oleh pembunuh-pembunuh bayaran, bukan

Dan seorang di antara para pembunuh itu adalah Lie Koan Tek

Kemudian, setelah membunuhi banyak orang, mungkin yang te rbanyak di antara rekan-rekannya, Lie Koan Tek agaknya te rtarik kepadamu dan membawamu lari! Apakah kini Lie Koan Tek sudah bosan denganmu dan membiarkanmu pergi, enci yang baik?

Wajah Liu Hwa menjadi merah sekali

Merah karena marah dan merah karena malu

Juga ia merasa dihina ole h pemuda halus ini

Tidak! Lie Koan Tek adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang gagah dan bukan pembunuh bayaran

Dia telah tertipu

Juga dia melarikan aku karena dia ingin menyelamatkan aku!

Ha-ha-ha-ha! Enci yang baik, agaknya engkau telah tergila-gila kepada pembunuh itu! Aku yang le bih tahu bahwa dialah yang membunuh banyak tokoh Hek-houw-pang!

Paman yang baik, apakah Lie Koan Tek itu pula yang te lah membunuh ayahku

Ayahku bernama The Ci Kok, dia suheng dari mendiang ketua He khouw-pang....

Siong Ki!

Liu Hwa menegur muridnya

The Ci Kok

Ha, siapa lagi yang membunuhnya kalau bukan Lie Koan Tek

Aku melihatnya sendiri....

Engkau bohong! Sudahlah, jangan mengganggu kami

Kami akan melanjutkan perjalanan kami!

Liu Hwa kini berkata dengan marah

Mari, Siong Ki, kita pergi!

Ia menggandeng tangan muridnya dan menariknya pergi

Nanti dulu, enci yang manis

Engkau cukup manis untuk menemaniku

Jangan kau pergi dulu

Kalau anak ini mau pergi, biarkan dia pergi, akan tetapi engkau harus menemaniku bercakap-cakap

Aku kesepian sekali, enci yang manis.

Kini tahulah Liu Hwa dengan orang macam apa ia berhadapan

Biarpun pemuda ini amat tampan dan dapat bersikap halus dan ramah, namun ia dapat menduga bahwa pemuda ini adalah seorang pria yang suka memandang rendah dan mempermainkan wanita

Singg...!

Ia mencabut pedangnya dan matanya mencorong marah

Manusia rendah, jangan ganggu kami atau te rpaksa aku akan menggunakan pedang ini!

Akan te tapi tentu saja gerakan itu merupakan sesuatu yang lucu bagi Hong San sehingga dia te rtawa

Ha-ha-ha, sungguh aneh dan lucu

Seekor kelinci betina yang gemuk mengancam seekor harimau! Ha-ha-ha !

Liu Hwa tidak sabar lagi dan iapun menggerakkan pedangnya menusuk ke arah dada pemuda yang kurang ajar itu

Akan tetapi, dengan amat mudahnya Hong San mengelak dan sekali tangannya bergerak, dia telah menyentuh dada Liu Hwa secara kurang ajar sekali

I hhhh......!

Liu Hwa menjerit dan meloncat ke belakang

Wajahnya menjadi merah karena malu dan marah, akan tetapi iapun terkejut karena tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan yang amat lihai

lapun menjadi nekat dan dengan ganas wanita itu memutar pedangnya melakukan penyerangan bertubi-tubi

Namun, semua serangan itu dapat dihindarkan dengan amat mudahnya oleh Hong San

Kalau pemuda ini menghendaki, dalam satu dua jurus saja tentu ia mampu merobohkan Liu Hwa

Akan tetapi watak pemuda ini memang aneh

I a ingin menjadi seperti seekor kucing mempermainkan tikus

Dia akan membekuk wanita ini setelah mempermainkannya

Ia hanya mengelak, menangkis sambil mencolek dagu, dada, mengelus pipi sambil tertawa, membuat Liu Hwa menjadi semakin marah dan nekat

Siong Ki melihat ini dengan alis berkerut

Hatinya kecewa

Wanita yang diangkatnya sebagai guru itu te rnyata tidak berdaya sama sekali melawan pemuda itu! Mempunyai guru se le mah itu sungguh tidak ada untungnya baginya

Can Hong San, jangan kurang ajar kau!

tibatiba te rdengar bentakan dan muncullah Lie Koan Tek yang langsung menyerang dengan rantai baja yang selalu dipakai sebagai ikat pinggang

Pendekar ini menanti Liu Hwa di luar pintu gerbang

Ketika pagi tadi dia tidak melihat Liu Hwa keluar dia lalu mencari-cari, menyusul ke tanah kuburan dan melihat bekas peralatan sembahyang

Ketika dia tidak menemukan lagi wanita itu di dusun, tahulah dia bahwa Liu Hwa tentu telah pergi meninggalkan dusun, meninggalkan dia melalui jalan lain

Dia cepat melakukan pengejaran dengan hati merasa aneh dan heran

Mengapa Liu Hwa meninggalkan dia

Andaikan tidak ingin bersamanya, setidaknya wanita itu akan memberi tahu kepadanya lebih dulu

Akhirnya dia menemukan Liu Hwa yang sedang dipermainkan oleh Hong San

Biarpun dia tahu bahwa Hong San amat lihai, melihat wanita yang telah menjatuhkan hatinya itu dipermainkan, dia menjadi marah dan langsung menyerang dengan rantai bajanya

Hong San meloncat ke belakang dan mencabut sulingnya

Ha-ha , Lie Koan Tek!

Engkau pengkhianat besar

Engkau hendak melindungi wanita yang kau larikan ini, ya

Bagus, aku memang sedang mencarimu untuk memberi hukuman atas nama Pangeran Cian Bu Ong!

Lie Koan Tek yang sudah nekat itu tidak menjawab melainkan segera menyerang dengan dahsyatnya

Liu Hwa tidak mau tinggal diam dan iapun membantu pendekar Siauw-lim-pai itu dengan pedangnya

Melihat ini, kembali Hong San te rtawa sambil memutar suling untuk menangkis kedua senjata pengeroyoknya

Ha ha, si penculik dan yang diculik saling bantu! Bagus, agaknya kalian sudah saling jatuh hati

Ha-ha-ha!

Dan sulingnya diputar sedemikian rupa sehingga amat merepotkan Lie Koan Tek

Apa lagi Liu Hwa

Setiap kali pedangnya berte mu suling, ia pasti terdorong dan te rhuyung

Untung baginya bahwa Hong San tidak ingin membunuh wanita ini, kalau demikian halnya, tentu ia sudah roboh dan tewas

Hong San hendak membunuh Lie Koan Tek akan tetapi ingin menangkap Poa Liu Hwa hidup-hidup

Bagaimanapun juga, Lie Koan Tek adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang sudah matang dalam pengalaman

Dia pernah diuji kepandaiannya melawan Hong San dan dia tahu betapa lihainya suling di tangan pemuda itu

Maka pengalamannya ketika dia bertanding melawan Hong San kini dia pergunakan untu k berjaga diri, tidak menuruti kemarahan hatinya sehingga dia dapat bertahan ketika Hong San mulai membalas dengan desakan sulingnya

Sementara itu, biarpun beberapa kali pedangnya hampir te rlepas dari tangannya yang kadang seperti lumpuh kalau pedang itu bertemu suling, Liu Hwa tidak pernah mundur dan dengan nekat ia membantu Lie Koan Tek tanpa memperdulikan lagi keselamatan dirinya sendiri

Ia merasa yakin bahwa Lie Koan Tek adalah seorang pendekar tulen, sedangkan pemuda yang bernama Can Hong San ini seorang penjahat yang berbahaya sekali

Kiranya Can Hong San ini yang memimpin penyerbuan te rhadap He k-houwpang itu dan kini ia pun ingat

Can Hong San inilah yang telah merobohkan dan membunuh suaminya, Kam Seng Hin! Maka iapun menyerang dengan mati-matian

Namun, kini Hong San juga sudah mencabut pedangnya

Dia mempergunakan pedang di tangan kanan dan suling di tangan kiri, dan desakandesakannya membuat Lie Koan Tek makin repot

Pada saat itu te rdengar bentakan nyaring, 

Penjahat dari mana berani mengganggu paman Lie Koan Tek?

Dan muncullah seorang wanita muda yang usianya sekitar duapuluh empat tahun, wajahnya bulat berkulit putih, hidungnya mancung dan matanya tajam

Gerakannya ringan bukan main dan begitu muncul, ia telah menggerakkan sepasang pedangnya dan menyerang Hong San dengan cepat dan kuat! Hong San terkejut sekali

Dia menangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga untuk membuat pedang kiri gadis itu patah atau te rpental

Akan tetapi, tangkisannya luput dan tubuh gadis itu sudah meloncat ke atas, bagaikan seekor burung rajawali ia sudah menyerang lagi dengan tubuh menukik ke arah Hong San! 

Trang! Tranggg........!

Hong San menangkis dan te rpaksa melangkah ke belakang

Diam-diam gadis itupun terkejut karena tangkis an pemuda tampan itu membuat kedua tangannya terasa panas dan te rgetar hebat

Mengertilah ia mengapa pamannya, Lie Koan Tek pendekar Siauw-lim pai itu tadi te rdesak hebat, iapun turun dan menyerang lagi dengan dahsyatnya, membantu Lie Koan Tek dan Liu Hwa yang juga sudah menyerang lagi

Lie Koan Tek terheran-heran, tidak mengenal gadis yang menyebutnya paman itu

Akan te tapi dia tidak sempat banyak berpikir, hanya mencurahkan seluruh perhatiannya untuk bersama gadis itu dan Liu Hwa mengeroyok Hong San

Ternyata kepandaian gadis yang baru datang itu hebat pula, bahkan tidak kalah dahsyatnya dibandingkan kepandaian Lie Koan Tek sendiri

Biarpun belum te ntu kalau dikeroyok tiga dia akan kalah, Hong San merasa tidak ada gunanya untuk berkelahi te rus

Gadis itu cukup lihai, dan kalau mereka itu nekat, diapun mungkin akan te rluka

Maka, setelah mendapatkan kesempatan, diapun meloncat jauh ke belakang dan melarikan diri dengan cepat

Gadis itu hendak mengejar sambil berseru,  

Jangan lari !

akan tetapi Lie Koan Tek cepat mencegahnya

Nona, jangan kejar dia

Dia berbahaya!

Gadis itu tidak jadi mengejar

Iapun agaknya tahu bahwa seorang diri saja, ia bukanlah lawan pemuda tampan yang lihai tadi, maka iapun berhenti dan kini menghadap Lie Koan Tek sambil memberi hormat

Paman, bertahun-tahun saya mencari paman tanpa hasil

Sekarang, secara kebetulan kita dapat berte mu di sini!

katanya dengan nada suara girang

Nanti dulu, maafkan aku, nona

Akan tetapi, siapakah engkau?

Gadis itu memandang aneh

Paman Lie Koan Tek lupa kepada saya

Saya Bi Lan, paman, Kwa Bi Lan.

Bi Lan......

Ah, Bi Lan, kiranya engkau ini?

Lie Koan Tek memandang dengan wajah berseri dan girang

Tentu saja aku lupa

Engkau sudah begini dewasa dan ilmu kepandaianrau hebat sekali.

Aih, paman terlalu memujiku

Siapakah enci ini, paman?

tanya Bi Lan sambil menunjuk kepada Liu Hwa

I a

Ah, ia ini adalah isteri mendiang ketua Hekhouw-pang di dusun Ta-bun-cung

Panjang ceritanya, Bi Lan, dan......eh, engkau mencari siapakah, nyonya?

Koan Tek mengalihkan pembicaraannya kepada Liu Hwa yang nampak kebingungan dan mencari-cari dengan pandang matanya

Saya mencari Siong Ki! Di mana dia

Siong Ki......! Siong Ki, di mana engkau.......?

Siapa Siong Ki?

tanya Koan Tek heran

Dia muridku, anak laki-laki berusia enam tahun, putera dari suheng suamiku yang juga menjadi korban pembunuhan.....

Liu Hwa mencari-cari dan kini dibantu oleh Koan Tek dan diikuti pula oleh Bi Lan

Akan tetapi sia-sia saja usaha pencarian mereka

Siong Ki lenyap dan tidak meninggalkan je jak

Melihat Liu Hwa bingung dan khawatir, Koan Tek juga ikut merasa khawatir

Can Hong San itu jahat dan licik bukan main

Jangan-jangan dia yang menculik anak itu dan membawanya lari.

Liu Hwa mengerutkan alisnya mengingat-ingat, lalu menggeleng kepalanya

Kurasa tidak begitu

Agaknya anak itu memang.......sengaja hendak meninggalkan saya, tai hiap

Tadi, ketika pemuda itu muncul, sebelum tai-hiap datang pemuda itu menyebut-nyebut nama tai-hiap sebagai pembunuh ayah Siong Ki

Ole h karena itu,ketika tai-hiap datang dan membantuku, a gaknya dia lalu diam-diam pergi meninggalkan aku

Dia anak yang cerdik sekali, tai-hiap

Aku berte mu dengan dia di depan makam ayahnya dalam keadaan pingsan, lalu kuajak dia sebagai muridku.

Hemmm.......

Lie Koan Tek menggumam marah kepada Hong San

Hong San memang dapat melakukan kejahatan apa saja

Biar nanti aku yang membantumu mencari anak itu, nyonya

Sekarang perkenalkan, ini keponakanku bernama Bi Lan, pute ri dari enciku

Bi Lan, ini adalah nyonya.......

 

Namaku Poa Liu Hwa, adik Bi Lan

Terima kasih atas pertolonganmu tadi sehingga pemuda yang jahat sekali itu dapat diusir,

kata Liu Hwa

Aih, enci jangan terlalu sungkan

Aku hanya kebetulan lewat dan melihat enci dan paman didesak, maka aku te ntu saja segera membantu

Masih untung ada paman dan enci sendiri, kalau aku seorang diri harus melawannya, kurasa aku tidak akan mampu menang.

Akan tetapi kulihat ilmu kepandaianmu sudah maju pesat, Bi Lan, dan bukan sepenuhnya ilmu silat Siauw-lim-pai

Oya, bagaimana dengan ibumu

Sekarang di manakah ia tinggal?

Ditanya tentang ibunya, Bi Lan menarik napas panjang

Aih

paman

Ibu sudah meninggal lima tahun lebih yang lalu.

Ah, kasihan! Engkau menjadi yatim piatu....

Karena kematian ibu itulah aku lalu pergi mencarimu, paman

Aku hidup sebatangkara setelah ibu meninggal, dan satu-satunya keluarga hanyalah paman

Akan te tapi, sia-sia aku mencari paman.......

Tentu saja

Aku ditangkap pemerintah dan dipenjarakan, bagaimana engkau dapat menemukan aku

Lalu, bagaimana engkau sampai le wat di s ini

Ceritakanlah pengalamanmu, Bi Lan

Setelah itu, baru nanti kuceritakan semua pengalamanku dan tentang nyonya ini.

Mereka lalu memilih tempat yang te duh di bawah sebatang pohon besar di dalam hutan itu

Mereka duduk di atas batu dan Bi Lan menceritakan pengalamannya

Kwa Bi Lan adalah seorang gadis Siauw-lim-pai pula, pute ri tunggal dari kakak perempuan Lie Koan Tek

Ibunya seorang janda karena ayahnya sejak ia kecil telah meninggal dunia

Ketika ibunya meninggal dunia, Bi Lan menjadi sebatangkara

Ia lalu meninggalkan rumahnya, bahkan menjual semua miliknya dan mulai merantau mencari pamannya, satu-satunya keluarga yang ada

Namun, segala jerih payahnya sia-sia belaka karena ia tidak pernah berhasil menemukan pamannya yang menjadi buruan pemerintah karena Siauw-lim-pai dianggap sebagai pemberontak oleh pemerintah Kerajaan Sui yang ketika itu belum jatuh

Setelah hampir putus-asa mencarimu, paman, pada suatu hari aku hampir celaka menghadapi segerombolan perampok

Untung ada bintang penolong, yang kemudian menjadi guruku

Dia adalah Sin-tiauw Liu Bhok Ki.

Ah, dia seorang pendekar besar!

kata Lie Koan Tek

Namanya terkenal sekali di dunia persilatan.

Aku menjadi muridnya, bahkan kemudian aku dijodohkan oleh suhu kepada seorang muridnya yang ketika itu belum pernah kujumpai karena murid itu sudah turun gunung

Karena suhu amat baik kepadaku, seolah menjadi pengganti orang tuaku, maka akupun menurut saja, yakin bahwa suhu tentu telah mengatur sebaiknya untuk diriku

Akan tetapi....

 

Bagaimana selanjutnya, Bi Lan?

tanya Koan Tek yang melihat wajah gadis itu berubah muram

Ternyata kemudian bahwa suhengku yang menjadi calon suamiku itu, yang ketika itu sudah menyetujui, di luar tahu suhu te lah menikah dengan seorang wanita lain

Mendengar berita itu kemudian, suhu menjadi marah sekali, juga menjadi sakit hati

Akan tetapi dia tidak mampu berbuat sesuatu, karena dia maklum bahwa ketika itu kepandaian murid pertama itu sudah jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri

Agaknya, kalau tidak ada aku, suhu te ntu telah membunuh diri

Dia merasa dikhianati, merasa tidak dipandang dan hina oleh muridnya sendiri yang amat disayang dan dibanggakan

Aku merasa kasihan sekali, aku menangis dan menderita batin bersama suhu

Sejak mudanya suhu sudah banyak menderita karena ditinggal isterinya yang tercinta.! Suhu tidak mempunyai anak, tidak mempunyai siapa-siapa

Akhirnya......sudah kehendak Thian agaknya, kami........maksudku, suhu dan aku......

kami menikah dan menjadi suami isteri.

Gadis itu menghentikan ceritanya sambil menundukkan muka

Koan Tek memandang heran, akan te tapi tidak sampai hati untuk memberi komentar

Lima tahun yang lalu, pikirnya

Tentu keponakannya ini baru berusia sembilanbelas tahun, dan dia mendengar bahwa Liu Bhok Ki yang berjuluk Sin-tiauw (Rajawali Sakti) itu jauh lebih tua darinya, mungkin sekarang sudah mendekati tujuhpuluh tahun, dan ketika bertemu dengan keponakannya te ntu usianya sudah enampuluh tahun lebih!  Llu Hwa yang juga ikut mendengarkan, tidak merasakan sesuatu yang ganjil karena ia hanya pernah mendengar nama Sin-tiauw Liu Bhok Ki sebagai seorang datuk persilatan yang lihai

Ketika akhirnya Bi Lan mengangkat mukanya, Koan Tek telah dapat menguasai hatinya dan wajahnya tidak membayangkan sesuatu

Legalah hati Bi Lan dan iapun melanjutkan dengan suara yang bernada sedih

Setelah kami menikah, aku merasa hidupku berbahagia sekali, paman

Dia amat baik kepadaku, dan dia kuanggap sebagai guru, orang tua, dan suami yang amat kucinta

Akan te tapi, agaknya luka yang dideritanya karena ulah muridnya yang mengingkari janji itu tidak pernah dapat diobati

Dia tetap saja menderita, dan akhirnya, setelah menikah denganku selama dua tahun le bih, guruku dan suamiku itu meninggal dunia karena sakit dalam hatinya.

Bi Lan berhenti dan biarpun ia tidak menangis namun kedua matanya basah dan punggung tangannya mengusap beberapa butir air mata

Ah

Rajawali Sakti itu telah meninggal dunia?

Lie Koan Tek berseru perlahan dan memandang kepada keponakannya dengan penuh perasaan iba

Tiba-tiba wajah yang menunduk itu terangkat dan sepasang mata Bi Lan mengeluarkan sinar mencorong, dan kedua tangannya dikepal

I ni semua gara-gara Si Han Beng! Aku akan pergi mencari nya dan dia harus membayar kematian suamiku, guruku dan orang tuaku itu dengan nyawa!

 

Bi Lan!

Koan Tek berseru kaget

Apa maksudmu

Si Han Beng

Kau maksudkan Huangho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning)

Ada apa pula dengan dia

!

Dialah suhengku itu! Dialah murid suhu dan suamiku itu!

Akan tetapi.....Huang-ho Sin-liong adalah seorang pendekar sakti yang ilmu kepandaiannya amat tinggi!

 

Aku tidak perduli, dan tidak takut

Aku rela mati di tangannya untuk membela kematian suamiku juga guruku!

kata Bi Lan dan kini sikapnya amat keras

Dan dia te rkenal sebagai seorang pendekar budiman yang selalu membela kebenaran dan keadilan

Bi Lan, ingatlah dan jangan menurutkan perasaan!

kata pula pamannya

Hemm, paman mengira bahwa aku sakit hati karena dia membatalkan ikatan perjodohan itu

Sama sekali tidak, paman! Ketika ikatan perjodohan itu dilakukan oleh suhu, aku masih belum mengenal Si Han Beng

Aku tidak atau belum mempunyai perasaan cinta kepadanya

Apalagi setelah aku menjadi isteri suhu

Cintaku hanya untuk suamiku seorang! Dan suamiku yang bertubuh sehat dan kuat itu te ntu belum mati kalau hatinya tidak dirusak oleh kemurtadan Si Han Beng!

Bi Lan, bersabarlah, ingatlah bahwa engkau hanya te rdorong oleh perasaan dendam yang timbul dari kedukaan

Kematian setiap manusia berada di tangan Thian, engkau tidak boleh mencari Si Han Beng untuk membalas dendam kematian gurumu.....eh, suamimu!

Tidak, paman

Aku harus pergi mencarinya dan mengadu nyawa dengannya

Aku sudah bersumpah di depan makam suamiku!

Wanita muda itu meloncat dan memandang kepada pamannya dengan sinar mata mencorong

Paman atau siapapun juga tidak berhak melarangku

Selamat tinggal, paman!

Dan iapun meloncat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu

Bi Lan.....!

Lie Koan Tek hendak mengejar

Tidak ada gunanya dikejar

Ia takkan mau membatalkan niatnya,

kata Liu Hwa dan Koan Tek tahu akan hal ini maka diapun membatalkan niatnya untuk mengejar, duduk kembali di atas batu di depan Liu Hwa dan menghela napas panjang menggele ng-gelengkan kepalanya

Bi Lan memiliki kekerasan hati yang luar biasa

Aku dapat melihat pada pandang matanya,

kata pula Liu Hwa yang merasa kasihan kepada penolongnya itu

Kembali Koan Tek menghela napas panjang

Seingatku, Bi Lan adalah seorang gadis yang le mbut hati

Aku tahu, perubahan pada dirinya itu pertama karena kedukaan yang mendalam, kedua karena agaknya watak suaminya te lah menular kepadanya

Aku mendengar bahwa Sin tiauw Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar yang berhati baja, keras dan sukar diluluhkan

Aih, apa yang akan terjadi nanti kalau sampai ia berte mu dengan Huang-ho Sin-liong?

Tai-hiap, menurut apa yang kudengar, pendekar sakti Si Han Beng adalah seorang pendekar yang berhati budiman dan le mbut

Siapa tahu dia akan bisa menundukkan kekerasan hati Bi Lan sehingga tidak perlu terjadi perkelahian di antara mereka.

Mudah-mudahan begitu

Sekarang kita bicara te ntang dirimu sendiri, nyonya Kam.......

Tay-hiap, harap jangan menyebutku nyonya Kam

Suamiku meninggal dunia dan sebutan itu hanya mengingatkan aku kepadanya

Namaku Poa Liu Hwa dan tai-hiap boleh menyebut namaku saja.

Lie Koan Tek menahan senyumnya, senyum gembira

Baiklah, akan te tapi engkaupun jangan menyebutku tai-hiap

Se but saja namaku, Lie Koan Tek.

Liu Hwa memandang wajah pendekar itu dengan hati terharu

Engkau penolongku yang budiman dan di dekatmu aku merasa aman seolah berada di dekat seorang kakak yang baik

Biarlah kusebut engkau Lie-toako (kakak Lie).

Baik sekali, adik Liu Hwa

Nah, sekarang, katakan

Kenapa engkau meninggalkan dusun Tabun-cung dengan mengambil jalan lain dan tidak memberitahu kepadaku yang menantimu di luar pintu gerbang?

Liu Hwa menundukkan mukanya yang berubah merah

Ia merasa malu sekali

Ia menghindarkan diri dari pendekar ini sehingga ia bertemu orang jahat dan kembali pendekar ini yang menyelamatkannya, bahkan hampir berkorban nyawa kalau tidak muncul keponakan pendekar ini

Tai-hiap......eh, toako

Sesungguhnya, aku sengaja mengambil jalan ini untuk menghindarkan perte muan denganmu.......maafkan aku, toako.

Lie Koan Tek mengerutkan alisnya

Ehh

Kenapa, Hwa-moi (adik Hwa)?

Makin merah wajah Liu Hwa mendengar sebutan 

adik Hwa

yang demikian le mbut

Maaf, toako

Aku merasa betapa aku telah banyak merepotkanmu, bagaimana mungkin aku berani membuat toako menjadi semakin sibuk untuk melindungiku te rus

Bagaimana aku akan mampu membalas budimu yang bertumpuk-tumpuk

Siapa tahu, di sini aku berte mu dengan penjahat keji itu dan kembali engkau yang telah menolongku

Toako, maafkan aku.....

Lie Koan Tek menarik napas panjang

Dia dapat mengerti dan sikap itu bahkan membuat nyonya muda ini menjadi semakin te rpuji

'Hwa-moi, kenapa engkau mempunyai anggapan bahwa engkau merepotkan aku

Dan mengapa pula tidak mungkin aku menjadi pelindungmu selamanya

Aku sanggup melindungimu se lamanya, Hwa-moi.

Pendekar itu menghentikan ucapannya dengan kaget, karena tanpa disengaja dia telah membongkar rahasia hatinya sendiri

Wanita itupun dapat merasakan apa yang tersirat dalam kata-kata itu, jantungnya berdebar keras, dan ia merasa berdosa terhadap suaminya

Baru saja beberapa hari, belum sebulan, ia ditinggal mati suaminya dan sekarang sudah ada pria yang menyatakan perasaan tertarik kepadanya! Ia juga te rkejut bukan main, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pendekar perkasa yang dikagumi itu diam-diam te rnyata mengandung perasaan cinta kepadanya

Taihiap......?

Ia berkata lirih sambil te rbelalak, lupa lagi akan sebutan kakak

Aku......aku tidak bermaksud buruk, Hwa-moi

Maafkan kata-kataku kalau mengejutkan hatimu

Sudahlah, aku menerima alasanmu tadi

Akan tetapi, bukankah engkau katakan bahwa engkau hendak mencari anakmu

Tadinya kusangka Siong Ki itu anak yang kaucari-cari.

Ucapan ini mengingatkan kembali Liu Hwa kepada anaknya dan kepada Siong Ki sehingga rasa kaget dan sungkannya te rusir

Siong Ki bukan ana kku, toako

Sudah kukatakan tadi, aku berte mu dengannya di depan makam ayahnya

Ayahnya adalah The Ci Kok, suheng dari mendiang suamiku

Melihat dia sebatang kara, yatim piatu, maka aku ingin mengajaknya pergi dan mengakui sebagai murid

Adapun ana kku, Cin Cin, seorang anak perempuan, telah diajak pergi oleh Lai Kun, sute dari suamiku, atas pesan kakek Coa Song.

Dibawa pergi

Ke mana, Hwa-moi?

Ke dusun Hong-cun di te pi Sungai Huang-ho untuk diserahkan kepada Huang ho Sin-liong Si Han Beng, disertai surat dari kakek Coa Song agar Cin Cin dapat diterima sebagai murid pendekar itu.

 

Ah, kalau begitu bagus sekali

Anakmu te ntu akan menjadi seorang pendekar wanita yang hebat kelak kalau ia dapat menjadi murid Huang-ho Sinliong!

seru Lie Koan Tek dengan girang

Lalu, apa, kehe ndakmu sekarang, Hwa-moi

Tadinya bersama Siong Ki, engkau hendak pergi ke manakah?

Aku hendak menyusul Cin Cin.

Apa

Engkau hendak minta anakmu agar tidak menjadi murid pendekar sakti itu?

Bukan begitu, toako

Akupun senang sekali mendengar bahwa Cin Cin diantar paman gurunya untuk menjadi murid Si Tai-hiap

Akan te tapi.........sekarang aku hanya mempunyai ia seorang, tai-hiap

Bagaimana aku dapat berpisah darinya

Aku hanya akan menjenguknya, dan aku sendiri yang akan menyerahkan dan menitipkan anakku kepada keluarga Si Tai-hiap, kemudian aku akan tinggal di dusun itu, bekerja apa saja di sana, pokoknya aku tidak jauh dari anakku dan setiap waktu dapat menengoknya

Lie Koan Tek mengangguk-angguk

Me mang kukira sebaiknya begitu, Hwa-moi

Nah, karena te mpat tinggal Huang-ho Sin-liong amat jauh dari sini, dan kini perjalanan amat tidak aman dan banyak orang jabat, mari kuantar engkau sampai dapat berte mu dengan puterimu.

Biarpun hatinya merasa sungkan sekali, akan tetapi terpaksa Liu Hwa menyambut penawaran itu dengan hati girang

Kalau ia melakukan perjalanan menyusul puterinya bersama pendekar ini, ia akan merasa aman, dan juga tidak akan sesat di jalan

Terima kasih

Lie-toako

Engkau begini baik kepadaku, aku tidak mungkin dapat membalas semua budi kebaikanmu

Biarlah Thian yang akan membalasnya, toako

Biarlah kelak dalam penjelmaan yang lain aku akan menjadi pelayanmu,

katanya terharu

Aih, Hwa-moi, lupakan saja semua itu

Aku tidak mengharapkan balasan, juga tidak merasa menolongmu

Memang akupun ingin sekali berte mu dengan pendekar sakti yang kukagumi itu

Mari kita berangkat.

Setelah mereka berangkat, baru Liu Hwa teringat   bahwa sekantung uang yang tadinya ia terima dari Siong Ki, ia titipkan kepada anak itu dan ketika pergi, agaknya anak itu membawa pergi pula uang yang dia berikan kepada subonya

Ia tidak mempunyai apa-apa lagi, bahkan pakaianpun hanya yang menempel pada tubuhnya.! Tentu saja ia merasa canggung dan sungkan bukan main

Apalagi setelah mereka melewati sebuah kota, Koan Tek yang berpengalaman dan bijaksana itu, tanpa bertanya sudah mengetahui keadaannya dan pendekar itu mengajaknya ke toko dan membelikan beberapa potong pakaian untuknya!

Hampir Liu Hwa menangis saking girang dan te rharunya mendapatkan bekal ganti pakaian yang amat dibutuhkannya itu

Dan disepanjang perjalanan, seperti telah diduganya, Lie Koan Tek selalu berlaku sopan dan lembut

Setiap kali menginap di rumah penginapan, pendekar ini selalu menyewa dua buah kamar yang berpisah, walaupun berdekatan

Tak pernah sedikitpun pendekar Siauw-lim-pai itu memperlihatkan sikap kurang ajar

Kalaupun ada tanda-tanda bahwa pendekar itu te rtarik kepadanya, maka hal itu hanya nampak pada pandang matanya yang kadang seperti orang terpesona, dan pada sikapnya yang le mah lembut

Diam-diam, sebagai seorang wanita yang berperasaan peka, Liu Hwa mengerti bahwa pendekar itu jatuh hati kepadanya, atau setidaknya menaruh perhatian besar sekali kepadanya

Hal ini membuat ia merasa te rharu sekali, akan tetapi juga bingung dan selagi tidur sendiri di waktu malam, ia suka menangis dan meratap kepada mendiang suaminya

Ia seorang wanita yang cantik dan sehat, usianya baru tigapuluh tahun

Mungkinkah ia akan menyiksa diri, menjanda selama hidupnya

-ooo0dw0ooo- 

Susiok, katanya susiok hendak membawaku kepada ibu

Mana ibu

Kenapa kita belum juga tiba di tempat ibu

Kita sudah melakukan perjalanan selama berhari-hari! Paman, jangan bohongi aku! Mana ib, susiok (paman guru)?

Anak itu kini mulai merengek dan hampir menangis

Ia seorang anak perempuan berusia lima tahun yang manis

Akan te tapi pada saat itu ia nampak marah, sedih dan juga kecewa

Ia adalah Kam Cin yang diajak Lai Kun meninggalkan dusun Ta-bun-cung, memenuhi pesan kakek Coa Song

Amat sukar membujuk Kam Cin untuk ikut bersamanya, akan tetapi Lai Kun mempunyai akal

Setelah ia mengatakan bahwa dia mengajak anak itu untuk mencari dan menyusul ibunya yang menghilang pada malam te rjadinya penyerbuan penjahat itu, tentu saja Kam Cin menjadi girang sekali dan seketika ia menyatakan setuju

Kini Lai Kun menghadapi anak yang mulai rewel dengan alis berkerut

Sebagai sute dari ayah anak itu, mendiang Kam Seng Hin, dia mengenal benar watak Kam Cin

Seorang anak yang dapat menjadi manis sekali, akan tetapi kalau sudah marah, juga menjadi anak yang rewel dan sulit diatur! Mereka sudah melakukan perjalanan selama sepuluh hari, dan mulai pada hari kelima saja Kam Cin sudah selalu merengek dan marah kepadanya

Sabarlah, Cin Cin

Tempat ibumu jauh sekali dan kita belum sampai, terpaksa bermalam di rumah penginapan ini

Mari kita makan

Lihat, masakan yang kupesan ini enak sekali, bukan

Mari kita makan, lalu tidur dan besok pagi-pagi kita lanjutkan perjalanan!

Kata pria itu dengan suara membujuk sambil menyodorkan mangkok dan sumpit ke arah anak yang sedang marah itu

Dia seorang pria berusia empatpuluh tahun, kurus jangkung dengan hidung agak besar dan mata kecil

Dia adalah Lai Kun, murid Hek-houw pang, sute mendiang Kam Seng Hin

Karena diapun masih membujang, dan tidak mempunyai keluarga lagi, maka setelah terjadi penyerbuan para penjahat yang membasmi Hek-houw-pang itu, Lai Kun tentu saja tidak betah lagi tinggal di Ta-buncung

Maka, ketika menerima tugas dari kakek Coa Song, untuk mengantar murid keponakan itu kepada Huang-ho Sin-liong di dusun Hong-cun, dia merasa gembira sekali

Pertama, dia akan  meninggalkan dusun Ta-bun-cung yang kini nampak menyedihkan itu, apa lagi Hek-houw-pang sudah dibubarkan, dan kedua dia akan berte mu dengan pendekar sakti Si Han Beng yang sudah lama didengar nama besarnya dan dikaguminya itu

Tak disangkanya, baru ju ga setengah perjalanan, Cin Cin sudah mulai rewel dan kini malah mogok makan

Tidak, aku tidak lapar! Susiok makan saja sendiri!

kata Cin Cin sambi mendorong kembali mangkok nasi itu

Aku mau tidur!

Anak itu lalu turun dari bangku dan lari ke pembaringan, langsung saja ia meloncat ke atas pembaringan, menghadap ke dinding

Lai Kun mengerutkan alisnya memandang ke arah murid keponakan itu dan menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya

Sudah beberapa hari ini dia selalu jengkel menghadapi Cin Cin dan mulai dia menyesali tugasnya yang te rnyata tidak menyenangkan ini

Beberapa kali bahkan dia sudah membentak Cin Cin kalau te rlalu rewel

Akan tetapi anak ini memang keras dan sukar diatur

Dihadapi dengan sikap halus, tetap marah

Kalau dikasari , bertambah marah! Sulit memang! Dia mengangkat ke dua pundaknya dan melanjutkan makan sendiri

Sejak siang tadi, Cin Cin tidak mau makan

Hanya pagi tadi saja makan bubur semangkuk

Anak itu memang bandelnya bukan kepalang

Tiba-tiba Cin Cin membalik sedikit dan menengok kepadanya

Lai Kun sudah merasa girang karena mengira anak itu mulai kelaparan dan mau mengubah sikapnya, mau makan

Akan tetapi Cin Cin yang kedua matanya merah karena tangis yang ditahan-tahan itu berkata ketus

Susiok, kalau besok kita belum tiba di tempat ibu

Jelas bahwa engkau berbohong dan aku tidak mau lagi melakukan perjalanan bersamamu!

Makin mendalam kerut di antara alis Lai Kun

Hatinya mulai panas oleh kejengkelan melihat sikap menantang anak itu

Hemm

lalu apa yang akan kau lakukan kalau engkau tidak mau melakukan perjalanan bersamaku?

tanyanya menahan marah

Tidak perlu susiok tahu! Pendeknya, aku akan mencari sendiri ibuku!

Lai Kun menggebrak meja di depannya sehingga mangkok piring berdentingan

Anak bandel! De ngar kau baik-baik

Kaukira aku kesenangan mengantarmu

Aku hanya mentaati perintah kakek Coa Song untuk membawamu kepada Huang-ho Sin-liong Si Han Beng, kautahu

Kita sedang melakukan perjalanan ke sana! Dan engkau harus mentaati pesan kakek Coa Song!

Cin Cin melompat turun dari pembaringan, berdiri memandang wajah Lai Kun dengan marah

Nah, benar saja! Susiok te lah bohong kepadaku! Aku tidak mau pergi ke manapun! Aku hendak mencari ibuku

Bawa aku kembali ke Ta-bun-cung, aku mau mencari ibuku!

Melihat anak itu berteriak-te riak marah, hampir saja Lai Kun menamparnya

Akan te tapi dia te ringat dan menahan kemarahannya

Mukanya merah sekali dan diapun mengangguk

Baiklah, besok pagi kita pulang!

katanya singkat

Agaknya Cin Cin juga puas dengan keputusan itu dan iapun kini mau duduk menghadapi makanan di atas meja

Ia mengambil nasi dan sayur, mulai makan

Agaknya timbul semangat anak itu ketika akan diajak pulang! Akan te tapi Lai Kun sudah marah sekali maka diapun mendiamkan saja

Dia merasa bingung

Bagaimana dia dapat mengajak anak itu pulang ke Ta-bun-cung setelah melakukan perjalanan setengahnya menuju ke dusun Hong Cun

Dan dia tidak ingin pulang ke dusun Ta-bun-cung! Sehabis makan dan setelah pelayan menyingkirkan mangkok piring, dia hanya berkata singkat kepada Cin Cin

Kau tidurlah, aku hendak jalan-jalan dulu

Besok pagi-pagi kita berangkat!

Pulang?

Cin Cin menegas

Ya, pulang!

jawab Lai Kun singkat, lalu dia keluar dari kamar, menutupkan daun pintu kamar itu dari luar

De ngan hati mengkal dia lalu berjalan-jalan di sepanjang jalan raya kota itu

Kota Ji-goan merupakan kota yang cukup besar, te rletak di sebelah utara Sungai Huang-ho, sedangkan Lok-yang, kota raja, te rletak tidak te rlalu jauh dari pantai selatan Sungai Kuning itu

Bahkan penyeberangan sungai dari utara ke selatan dan sebaliknya berada di kota Ji-goan, maka te ntu saja kota yang menjadi pusat lalulintas ke kota raja itu cukup besar, mempunyai banyak los men dan rumah makan

Sudah lazim bahwa jika sebuah kota dikunjungi banyak tamu, maka selain perdagangan menjadi ramai, juga usaha hiburan berkembang biak dengan cepat sekali

Para tamu itu membutuhkan hiburan dan mereka berani mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan kesenangan

Apa lagi mereka adalah pedagang-pedagang yang mempunyai uang

Sete lah memperoleh keuntungan, mereka tidak sayang menghamburkan sebagian kecil keuntungannya di rumah-rumah judi dan rumah pelesir

Karena dia tidak mengenal jalan, tanpa disadari Lai Kun memasuki lorong yang terkenal di kota itu sebagai lorong pusat te mpat hiburan

Dia melihat rumah-rumah ju di akan te tapi tidak te rtarik

Dia sedang mengkal, sedang marah karena kerewelan Cin Cin

Ketika melihat sebuah rumah minum yang dihias indah, dia te rtarik

Dipesannya arak dan kueh kering, lalu diapun minum untuk menghilangkan rasa je ngkelnya

Kehadirannya sejak tadi diikuti sepasang mata yang je li, mata seorang wanita muda yang wajahnya dirias cantik, sikapnya genit dan wanita itu memang seorang pelacur yang sedang mengintai korban di rumah makan itu

Melihat Lal Kun minum-minum seorang diri, dan nampak jelas bahwa pria ini adalah orang luar kota, pelacur itu melihat,seorang calon korban yang akan menguntungkan dirinya

Ia menanti sampai Lai Kun menghabis kan seguci kecil arak dan kepalanya sudah agak bergoyang-goyang

Ketika Lai Kun minta tambah arak, pelacur itu menghadang pelayan yang datang membawakan arak

Biar aku yang mengantarkan kepadanya,

bisik pelacur yang dikenal dengan nama Sui Su itu

Pelayan itu te rsenyum

Kalau pelacur itu berhasil, dia pasti akan menerima imbalannya nanti

Diberikannya guci arak itu kepada Sui Su yang dengan langkah gontai, bibir tersenyum-senyum dan sikap memikat membawa guci arak itu kepada meja Lai Kun

Silakan, tuan

Ini tambahan araknya,

katanya dengan suara merdu

Lai Kun memandang kepadanya dengan alis berkerut

Eh

Siapakah nona....?

Sui Su te rsenyum sehingga nampak giginya berkilat di balik sepasang bibir yang merah, akan tetapi dengan luwes ia menutupi mulutnya dengan saputangan sute ra

Nama saya Sui Su, tuan dan saya menjadi pelayan tuan untuk malam ini.....

Matanya mengerling tajam dan penuh daya pikat

Lai Kun sudah setengah mabok

Akan te tapi dia bukan ana k kecil

Dia seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun dan biarpun sudah setengah mabok, namun dia mengerti bahwa dia berhadapan dengan seorang pelacur yang memiliki wajah cukup cantik dan bentuk tubuh yang menggiurkan

Hem, maaf, nona

Aku tidak ingin melacur malam ini......

katanya akan tetapi dia tidak menolak ketika wanita itu menuangkan arak dari guci ke dalam cawan araknya

Sui Su pura-pura marah

Aih, jangan menghina, tuan

Saya bukan pelacur! Saya memang suka menghibur tamu yang kesepian dan yang sedang menderita sedih, akan tetapi saya bukan pelacur murahan!

Lai Kun te rsenyum sedikit dan minum araknya

Bukan pelacur murahan te ntu pelacur mahalan, pikirnya

Akan te tapi dia memang sedang je ngkel, membutuhkan hiburan dan agaknya wanita ini amat ramah sikapnya, menyenangkan kalau diajak bercakap-cakap

Duduklah, nona

Mungkin aku membutuhkan teman bercakap-cakap malam ini.

Wanita itu duduk di bangku, dekat dengannya dan melayaninya makan kue kering dan minum arak

Dan memang benar dugaan Lai Kun, wanita itu amat pandai bicara, pandai bercerita dan pengetahuan umumnya juga banyak

Pandai bercerita tentang peristiwa-peristiwa penting yang te rjadi di kota Ji-goan

Karena terpikat oleh gaya bicara Sui Su yang ramah, Lai Kun mempergunakan kesempatan itu untuk berse nang-senang

Dari kakek Coa Song, dia menerima sekantung emas yang kelak harus diserahkan kepada pendekar sakti Si Han Beng, sebagai biaya hidup Cin Cin kalau menjadi murid pendekar itu agar jangan memberatkan penanggungan keluarga Si Naga Sakti Sungai Kuning

Akan te tapi kemurungan dan kemarahannya te rhadap Cin Cin membuat murid He k-houw-pang ini lupa diri, bahkan dia agaknya seperti sengaja hendak menghamburkan uang itu untuk menumpahkan kemarahannya te rhadap Cin Cin

Dan Sui Su memang seorang wanita yang berpengalaman dan cerdik

Dari cara Lai Kun yang sudah setengah mabok itu membayar harga makanan dan minuman secara royal, iapun gembira sekali dan tahu bahwa dugaannya benar

Korbannya ini memang golongan 

kakap

, maka iapun memperhebat usahanya untuk menjatuhkan hati Lai-kun dan akhirnya ia berhasil membujuk Lai Kun untuk mengantarnya pulang! De ngan senang hati Lai Kun mengantarnya, dan te rnyata bahwa te mpat tinggal Sui Su adalah sebuah rumah pelesir yang cukup te rkenal di kota itu, yaitu rumah pelesir Ang-hwa (Bunga Merah)

Karena sudah mabok arak dan mabok kecantikan dan rayuan maut Sui Su, Lai Kun tidak memperdulikan banyaknya tamu dan para wanita muda yang cantik yang memenuhi ruangan tamu yang luas itu

Juga dia acuh saja ketika seorang wanita berusia limapuluh tahun yang bertubuh gendut menyambutnya dengan ramah sekali

Samar-samar dia mendengar bahwa Sui Su memperkenalkan wanita itu sebagai Cia Ma, yang diperkenalkan sebagai ibu angkatnya! Tentu saja Cia Ma ini adalah sang mucikari, pemilik dan pengurus rumah pelesir itu yang te rsenyum-senyum melihat Sui Su mendapatkan seorang korban

Ini berarti reje ki baginya, tentu saja! Lai Kun, biarpun usianya sudah empatpuluh tahun, pengalamannya dalam pergaulan dengan wanita tidaklah terlalu banyak, maka mudah saja dia jatuh oleh Sui Su yang pandai dan  berpengalaman itu

Untuk beberapa jam lamanya, dia lupa diri dan dapat mereguk kesenangan, merasa terhibur dan lupa akan segala kemurungan hatinya tadi

Namun, setelah semua itu lewat, dia te ringat lagi kepada Cin Cin yang ditinggalkannya di rumah penginapan, teringat betapa besok pagipagi anak itu te ntu akan menagih janji dan akan marah-marah lagi

Maka, teringat akan ini, Lai Kun kembali menjadi murung, bangkit dan duduk di te pi pembaringan, tidak lagi menengok kepada Sui Su yang baru saja melayaninya dan membuat dia merasa senang dan te rhibur

Melihat ini, Sui Su memandang penuh perhatian, ikut bangkit dan merangkul dengan sikap manja

Lai-toako (kakak Lai), engkau kenapakah

Mengapa engkau tiba-tiba saja menjadi murung

Sejak engkau minum seorang diri di rumah makan, aku sudah melihat engkau murung dan kelihatan marah

Tadi engkau dapat melupakan semua kemurunganmu, akan te tapi sekarang kembali engkau murung

Toako yang baik, apakah yang menyebabkan engkau murung

Ceritakan kepada Sui Su, pasti aku akan dapat menghiburmu!

Lai Kun menghela napas panjang

Teringat akan tugasnya, teringat akan kerewelan Cin Cin, dia merasa penasaran dan je ngkel sekali dan dia memang memerlukan seseorang untuk menumpahkan semua rasa penasaran di hatinya

Maka, dia lalu menceritakan semua itu kepada Sui Su

Dianggapnya bahwa Sui Su adalah seorang wanita yang baik sekali, yang amat mencintanya! De mikianlah bodohnya pria kalau sudah berhadapan dengan wanita yang pandai mengambil hatinya

Betapapun gagahnya seorang pria, sekali berhadapan dengan wanita yang mampu menjatuhkan hatinya, dia akan berte kuk lutut dan menyerah! Lai Kun tidak menyembunyikan sesuatu, mengharapkan nasihat dari wanita itu

Diceritakannya tentang He k-houw-pang yang dibasmi penjahat-penjahat lihai; tentang kematian para pimpinan He k-houw pang, kemudian te ntang tugasnya mengajak Cin Cin pergi ke Hong-cun dan te ntang kerewelan Cin Cin yang membuat dia pusing sekali

Setelah Lai Kun mengakhiri ceritanya, Sui Su merangkulnya dan te rsenyum, akan tetapi suaranya te rdengar sungguh-sungguh ketika ia bertanya, 

Lai-toako, apakah anak perempuan itu cantik

Dan berapa usianya?

Usianya baru lima tahun, akan te tapi ia memang seorang anak yang cantik mungil, akan tetapi keras hati dan keras kepala seperti setan!

Lai Kun menjawab

Bagus kalau ia cantik, akan te tapi sayang usianya baru lima tahun

Toako, engkau tadi berkata bahwa engkau hidup sebatangkara dan tidak ingin kembali lagi ke Ta-bun-cung, dan bahwa He k-houw-pang sudah dibubarkan

Tentu engkau sudah tidak ingin lagi kembali ke sana, bukan?

Lai Kun menggelengkan kepalanya

Untuk apa aku kembali ke sana

Sudah tidak ada apa-apanya yang menarik kecuali kenangan pahit.

Nah, kalau begitu, mengapa susah-susah engkau hendak mengantar Cin Cin ke tempat jauh, sedangkan anak itu rewel dan membuatmu pusing

Kenapa tidak mempergunakan kesempatan yang tadinya menjengkelkan ini berubah menjadi menguntungkan dan menyenangkan

Engkau akan te rbebas dari pada kejengkelan, dan akan mendapatkan keuntungkan besar.

Eh

Apa maksudmu, Sui Su?

Dengar baik-baik, toako

Ibu angkatku, Cia Ma,   tidak mempunyai anak kandung dan ia ingin sekali mengangkat anak perempuan yang mungil

Biarpun ia s udah mempunyai beberapa orang anak angkat, akan te tapi mereka sudah dewasa dan Cia Ma merasa tidak senang

Ia ingin merawat dan mendidik seorang anak angkat yang masih kecil

Nah, kau serahkan Cin Cin itu kepada Cia Ma, anak itu akan berada di tangan yang penuh kasih sayang, akan dididik menjadi seorang wanita yang pandai dengan segala pekerjaan wanita, dan kelak akan memperoleh jodoh seorang pria yang baikbaik, kalau tidak bangsawan tinggi tentu hartawan besar

Dan sebagai pengganti uang le lah, kalau benar anak itu cantik jelita, engkau akan menerima im balan sedikitnya seratus tail perak.! Kalau lebih cantik dari pada yang kuduga, mungkin lebih dari itu!

Ahhh......?

Lai Kun terbelalak dan kalau bukan Sui Su yang bicara, dia te ntu marah sekali mendengar usul untuk 

menjual

Cin Cin itu

Akan tetapi, dia sudah te rpengaruh ole h Sui Su yang dianggapnya amat baik, maka usul itu menjadi bahan pertimbangannya

Tapi.....hal itu tak dapat kulakukan,

akhirnya dia berkata

Kenapa, toako

Apakah usulku itu tidak amat baik?

Kalau kelak hal ini diketahui orang, tentu aku dipersalahkan.

Mana mungkin

Engkau tidak menyia-nyiakan Cin Cin, bahkan menyerahkannya ke tangan orang yang benar-benar dapat merawat dan mendidiknya

Mereka bahkan akan berterima kasih kepadamu, toako.

Akan te tapi, menurut kakek Coa Song, Cin Cin akan diserahkan kepada seorang pendekar sakti untuk menjadi muridnya.

Aihh, toako

Cin Cin seorang anak perempuan, dan cantik pula menurut ceritamu

Betapa sayangnya seorang wanita cantik kelak menjadi tukang pukul, galak, menjadi pembunuh dan tukang berkelahi! Sayang kulitnya yang putih halus menjadi kasar dan keras

Tidakkah seorang wanita le bih baik dan menyenangkan kalau menjadi wanita sepenuhnya, penuh kelembutan, kehangatan, penuh dengan kemesraan dan pandai dalam hal kesenian dan kebudayaan, bukan menjadi tukang berkelahi yang mengerikan?

Lai Kun te rsenyum

Percuma bicara dengan seorang wanita yang sama sekali tidak mengerti silat, tentang perlunya seorang wanita menjadi pendekar

Akan tetapi kini hatinya tertarik

Kalau Cin Cin diserahkan kepada tangan yang baik, yang akan mendidiknya dan merawatnya baik-baik sehingga kelak Cin Cin menjadi seorang wanita yang pandai dan berguna, berarti dia telah melakukan usaha yang baik untuk pute ri suhengnya itu! Dan dia tidak perlu pusing menghadapi kerewelan Cin Cin yang berkeras minta pulang karena ingin mencari ibunya, tidak mau diajak menghadap Huang-ho Sin-liong

Ditambah pula dia mendapat seratus tail perak yang dapat dia pergunakan sebagai modal kerja atau berdagang! -ooo0dw0ooo-