-->

Mestika Golok Naga Jilid 06

JILID VI

Dia mencari jejak Siang Hwi namun tidak berhasil sehingga kembali lah dia ke kota raja. Dengan belasan orang rekan itu, Kok Bu menyamar dan berpakaian biasa, tidak seperti раkаian anggauta hek-tung Kai-pang.

Pada saat yang ditentukan, Kok Bu dan kawan- kawannya membakar api besar di dekat pintu gerbang rumah kediaman Jin Kui. Ketika meli hat api berkobar dan melihat belasan orang menyerang para penjaga di pintu gerbang, para penjaga lain datang berlarian ke tempat itu untuk menghadapi para perusuh.

Akan tetapi setelah para penjaga semua berkumpul dan tidak kurang dari tigapuluh orang pasukan jaga melakukan perlawanan, Kok Bu memberi isyarat kepada kawan-kawannya dan segera melarikan diri. Таk seorangpun di antara mereka terluka karena merekapun tidak menyerang dengan sungguh-sungguh, hanya me manci ng saja agar semua penjaga berdatangan ke pintu gerbang.

Sementara itu, dengan gerakannya yang ringan dan gesit seperti seekor burung walet, Tiong Li menggunakan ilmu Jouw-sang-hui, melompat ke atas tembok yang sudah ditinggalkan penjaganya dan melompat masuk ke sebelah dalam tembok pagar. Dia menyusup ke dalam taman sehi ngga tidak nampak, bersembunyi dan menyelinap di balik rumpun bunga, atau batang pohon yang tumbuh di dalam taman itu. Akhirnya, tak lama kemudian dia sudah berada di atas atap gedung tempat tinggal Perdana Menteri Ji n Kui .

Di atas sebuah ruangan di mana duduk Perdana Menteri Jin Kui, dia mendekam dan mengi ntai ke bawah. Dilihatnya Perdana Menteri Jin Kui duduk dijaga oleh lima orang pengawal dan tak lama kemudian muncullah seorang yang amat dikenalnya, yaitu Si Muka Tengkorak yang lihai ! . "Bagaimana Ара yang terjadi di luar?" tanya Perdana Menteri Jin Kui kepada Si Muka Tengkorak.

Tang Boa Lu melapor. "Hanya ada belasan orang pengacau yang membikin ribut di pintu gerbang. Akan tetapi setelah para penjaga datang menyerang, mereka kabur dan menghilang di kegelapan malam. Mereka itu hanya beberapa orang pemberontak pengecut yang agaknya hendak mencoba untuk menyerang para penjaga akan tetapi setelah mendapat perlawanan lalu melarikan diri."

"Ah, para pemberontak itu memperhebat pengacauannya. Jangan-jangan mereka tahu tentang puteri "

"Aih, ара yang mereka ketahui, tai-ji n? Puteri Sung Hiang Bwee kini telah berada di tangan Panglima Besar Wu Chu di Kerajaan Kin, tidak ada seorangpun yaog mengetahui, harap tai-jin jangan khawatir."

Kemudian bermunculan Ciang Sun Hok, Ma Kiu It, dan juga Kui To Cin-ji n.

"Sungguh celaka. Di kota raja terdapat belasan orang pemberontak dan kalian tidak mengetahui nya. Ini sungguh berbahaya sekali."

"Hemm, bagaimana dengan tugas kalian? Apakah dapat menangkap para pengacau itu?"

"Kami telah melakukan pengejaran akan tetapi mereka itu lenyap dalam kegelapan malam, tai-jin," Ciang Sun Hok melapor.

Ma Kiu It, panglima pengawal Jin Kui, segera berkata, "Jangan khawatir, tai-ji n. Besok pagi saya akan mengerahkan pasukan untuk melakukan pembersihan di dalam kota. Saya juga mencurigai para pengemis Hek- tung Kai-pang."

"Ada ара dengan mereka? Bukankah selama ini para pengemis Hek-tung Kai-pang tidak pernah melakukan pelanggaran?" tanya Jin Kui.

"Memang benar, mereka tidak melakukan kejahatan atau pelanggaran apapun. Akan tetapi saya mendengar bahwa mereka semua mempelajari iImu silat dan kabarnya malah mereka memiliki banyak jagoan. Hal ini amat berbahaya karena siара tahu diam-diam mereka itu membantu para pemberontak!"

"Kalau begitu lakukan penggeledahan dalam sarang mereka Kalau mendapatkan senjata tajam, sita dan kalau sikap mereka mencurigakan, lakukan penangkapan!"

"Baik, tai-jin."

Tiong Li sudah mendengar cukup. Pertama, dia sudah tahu bahwa yang diculik adalah Sung Hia ng Bwee dan kiranya puteri itu diserahkan kepada Panglima Besar Wu Chu dari kerajaan Kin. Siapa lagi yang punya ulah seperti itu kalau bukan Perdana Menteri Ji n Kui ? Tiong Li mengepal tinjunya kalau ingat betapa puteri yang cantik jelita itu telah diserahkan kepada panglima Bangsa Kin!

Dan berita kedua juga amat penting. Besok pagi akan diadakan penggeledahan di Hek-tung Kai-pang yang mu- lau dicurigai! Dia harus memberitahu kepada Kok Bu secepatnya.    Karena    itu,    dengan    hati-hati    dia meni nggalkan gedung itu dan memasuki taman.

Akan tetapi sekarang, jalan keluarnya sudah tertutup. Semua tembok terdapat penjaganya, di sebelah dalam dan luar tembok sehi ngga tidak mungkin dia keluar tanpa diketahui orang. Akan tetapi dia tidak perduli. Dengan menggunakan i Imu Jouw-sang-hui, dia melompat ke atas tembok. Para penjaga melihat dan mengejarnya, akan tetapi dua orang penjaga yang terdekat segera roboh begitu Tio ng Li menggerakkan kakinya. Dan sebelum para penjaga lai n dapat menyerangnya, dia sudah berkelebat dan lenyap ditelan kegelapan malam.

Tentu saja para penjaga menjadi gempar dan segera melaporkan kepada Perdana Menteri Ji n Kui. Perdana Menteri Jin Kui menjadi pucat wajahnya mendengar laporan bahwa baru saja ada orang keluar dari dalam tembok pagar rumahnya.

Berarti tadi ada orang yang berkeliaran di rumahnya! Pada hal di situ terdapat Ciang Sun Hok, Ma Ki u It, Kui To Cin-jin dan bahkan Tang Boa Lu. Dan mereka semua tidak mengetahui nya. Ini hanya membuktikan betapa lihainya orang yang menyusup masuk tadi. Dan mungkin orang itu sudah mendengarkan percakapan antara dia dan para pembantunya.

" Celaka! Kejar, cari dan tangkap orangnya!" teriaknya kepada para pembantunya.

Empat orang itu segera berlompatan mengejar, akan tetapi tentu saja mereka hanya berputar-putar dalam kegelepan malam tanpa menemukan siapa- siapa!.

Tiong Li yang mengenakan pakaian hitam itu kembali ke rumah gedung kosong dl mana Gan Kok Bu sudah menanti nya. "Bagaimana hasilnya, tai hiap?"

"Ada berita amat penting dapat kudengar," kata Tio ng Li. "Puteri Sung Hia ng Bwee itu ternyata diculik untuk diserahkan kepada Panglima Besar Wu Chu dari Kerajaan Kin dan sekarang sudah berada di sana!" "Jahanam busuk! Puteri kaisar diserahkan kepada Panglima Kin? Jin Kui memang seorang pengkhianat busuk!"

"Ada berita yang lebih penting sekali untuk kalian," kata Tio ng LI. "Besok pagi-pagi panglima pengawal dari Jin Kui akan mengadaka n pembersihan terhadap Hek- Tung Kai-pang."

"Ah, ара alasannya?" seru Kok Bu terkejut sekali . "Agaknya Hek-tung Kai-pang mulai dicurigai karena

anggautanya banyak yang mempelajari silat. Besok akan

dilakukan pernggeledahan di sarang Hek- tung Kai-pang. Kalau bertemu senjata tajam aka n disita dan kalau si kар kalian mencurigakan akan dilakukan penangkapan ! "

"Terima kasih, Tan-tai hiap. Berita ini memang penting sekalI untuk kami. Nah, selamat tinggal. Sekarang juga aku harus memberitahu ayah dan kawan-kawan agar mereka bersiap-siap menghadapi pemeriksaan besok pagi."

Kok Bu meninggalkan Tiong Li yang kembali menyamar sebagai seorang pengemis dan malam itu juga meninggalkan kоta raja. Untung baginya bahwa kecurigaan terhadap para pengemis belum sampai kepada para petugas jaga di pi ntu gerbang sehi ngga dengan mudah dia menyelinap keluar dari pintu gerbang tanpa banyak halangan.

-o0dw0o-

Perkumpulan Ce ng-lio ng-pang yang berpusat di pegunungan Ceng-lio ng-san adalah sekelompok pejuang yang gigih. Ketuanya, Gui Kong Sek adalah seorang patriot sejati. Biarpun usia nya sudah limapuluh tahun lebih, akan tetapi dia masih menjadi pejuang yang gigih, memimpin anak buahnya yang sebanyak dua ratus orang itu untuk melawan dan menentang penjajah Bangsa Kin. Karena letaknya berada di perbatasan antara Kerajaan Sung dan Kerajaan Kin, terletak di daerah tak bertuan yang amat luas, maka mudah bagi para pejuang Ceng- liong-pang untuk mengganggu pasukan Kin.

Baik pasukan Kerajaan Kin maupun pasukan Sung yang menganggap mereka itu pemberontak, mengalami kesulitan untuk membasmi kelompok ini, Setiap kali diserbu, ketompok ini cerai berai bersembunyi di pegunungan Ceng-lio ng-san, dan mengadakan perlawanan gerilya yang merugikan pasukan yang hendak membasmi mereka.

Gui Kong Sek adalah seorang ahli silat Butong-pai yang berkepandalan tinggi, juga berwatak gagah. Dalam waktu luang, kalau tidak ada pertempuran, dia bisa mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk bersamadhi.

Kalau sudah berada di dalam gua itu tak seorangpun anak buah boleh mengganggunya, kecuali terjadi hal yang penting sekali dan dia dapat bertahan sampai beberapa hari bersamadhi di dalam gua itu.

Pada suatu hari Gui Kong Seng menyudahi samadhinya setelah lima hari berada di dalam gua, dan semua anggauta Ceng-liong-pang merasa heran melihat si kар ketua mereka begitu pendiam, tidak sepertl biasanya. Bahkan berhari hari ketua itu tidak pernah lagi mengadaka n pertemuan dengan para murid dan pembantunya untuk membicarakan рёrjangan.

Pada suatu hari sang ketua memanggil para murid dan pembantunya, dan dengan suara tenang dan berwibawa dia berkata kepada mereka, "Selama ini kita telah salah jalan. Dalam samadhik u aku merenungkan semua yang telah kita lakukan selama ini dan aku merasakan suatu kesalahan yang besar, Kita harus mencontoh mendiang Jenderal Gak Hui yang setia kepada kaisar sampai mati. Kita juga harus setia kepada pemerintah Sung dan kaisar, maka kita harus mencegah adanya pemberontakan terhadap Kerajaan Sung! Kita harus membantu kerajaan untuk membasmi para pemberontak!"

Tentu saja semua murid, dan sute dan pembantu menjadi heran sekali melihat perubahan ini. Sang Ketua yang hid up sebatang kara dan tidak berkeluarga itu kelihatan amat berubah!

"Akan tetapi, pangcu," kata seorang sutenya. "Apakah itu berarti bahwa kita tidak lagi memusuhi Bangsa Kin?"

"Semua tergantung keputusan pemerintah. Kalau Kerajaan Sung memusuhi Kin, kita juga harus memusuhi nya. Akan tetapi kalau Kerajaan Sung berdamai dengan Kin, kita tentu saja tidak boieh menentangnya. Pendcknya, kita harus bekerja untuk Kerajaan Sung dan tidak menentang politik dan pendiriannya!"

Dia lalu membubarkan pertemuan itu dan tentu saja keputusan ini amat menghebohkan para angguta Ceng- liong- pang. Selama ini perkumpulan itu disegani kawan dan lawan sebagai pejuang yang amat gigih, dan ki ni tahu-tahu ke tuanya membanting haluan ke arah yang ber lawanan ! .

Dan keheranan itu bertambah menjadi penasaran ketika dua pekan kemudian, perkumpulan itu menerima kunjungan tamu, yaitu para jagoan dari kota raja para pembantu Perdana Menteri Jin Kui yang membicarakan tentang pembasmia n para pemberontak!.

Hal ini tentu saja membuat para anggauta Ceng-liong- pang menjadi penasaran sekali, terutama dua orang sute dari Hui Kong Sek. Mereka merasa curiga dan hendak melakukan penyelidikan. Akan tetapi, pada malam hari itu, kedua orang sute ini kedapatan tewas di kamar sang ketua yang segera memanggil semua anggauta dan menunjuk mayat kedua orang sutenya sambil berkata,

"Lihat, mereka ini hendak berkhianat dan bermaksud membunuhku! Akan tetapi mereka tidak berhasil dan berbalik terbunuh olehku. Hendaknya mereka ini menjadi contoh kepada kalian. Siара yang hendak berkhianat akan mengalami nasib yang sama! Nah, siара lagi yang hendak membantah keputusanku bahwa mulai sekarang kita harus setia kepada Kerajaan Sung dan membasmi para pemberontak?"

Semua anggauta menjadi ketakutan dan tidak ada yang berani membantah, Bukan itu saja. Setelah Gui Kong Sek bersekutu dengan orang orang kepercayaan Menteri Jin Kui, mulai berdatangan utusan dari Kerajaan Kin!.

Dan berkat bantuan Gui Kong Sek, banyak kelompok pejuang yang dapat dibasmi. Sarang mereka diserbu atas petunjuk ketua Ceng- liong-pang itu, bahkan para anggauta Ceng-lio ng-pang dipaksa untuk ikut menyerbu .

Pada suatu hari, Tiong Li yang melakukan perjalanan untuk mencari puteri Sung Hiang Bwee, tibalah di daerah kekuasaan Ceng-liong-pang. Selagi dia berjalan seorang diri, kini dia tidak lagi menyamar sebagai pengemis sejak keluar dari kota raja, mendadak bermunculan duapuluh orang lebih yang menghadangnya. Tadinya dia mengira bahwa mereka adalah perampok- perampok, akan tetapi melihat pakaian mereka yang pantas, dia mengira mereka itu kelompok pejuang. Dengan tenang Tiong Li menghadapi seorang tinggi kurus yang agaknya menjadi pemimpin dari kelompok orang itu.

"Sobat-sobat sekalian,ada keperluan apakah anda sekalian menghadang perjalananku?"

Mendadak seorang di antara mereka berseru,

"Aku mengenal orang ini. Gambarnya terpampang di mana-mana. Dia adalah Tan Tiong Li, pemberontak yang melarikan puteri istana itu!"

"Tangkap dia!"

"Jangan sampai lolos pemberontak ini !"

Orang-orang itu berteriak-teriak dan menghunus senjata, mengepung Tio ng Li .

Tiong Li berusaha menyabarkan mereka,

"Kawan-kawan, harap jangan terburu nafsu. Memang benar aku bernama Tan Tiong Li dan memang benar gambarku terpampang di papan pengumuman di mana- mana, akan tetapi semua itu hanyalah fitnah belaka. Aku bukan seorang pemberontak dan aku sama sekali tidak menculik puteri Istana."

"Bohong       !"

"Mana ada mali ng mengaku pencuri?" "Serang dia! Bunuh!"

Orang-orang itu sudah tidak terkendalikan lagi, beramai-ramai mereka menyerang Tiong Li. Pemuda itu mengelak dari semua serangan itu, tubuhnya berkelebatan dan begitu dia menggerakkan tangan kaki, para pengeroyok itu berpelantingan seperti daun-daun kering di terbangkan angi n!

Si Tinggi kurus sendiri menggunakan pedangnya menusuk dada Tiong Li, akan tetapi dengan mudah Tiong Li meloncat ke samping dan sebelum si kurus sempat menyerang lagi, sebuah totokan membuatnya roboh dengan lemas dan tidak dapat bangkit kembali.

Tiong Li terus mengamuk dan dalam waktu singkat semua orang yang berjumlah duapuluh tlga orang itu telah roboh semua! Dia memang tidak bermaksud membunuh, maka mereka itu hanya mengalami salah urat atau tertotok saja, tidak ada yang terluka berat ataupun tewas.

Tiong Li mendekati si tinggi kurus dan sekali tepuk dengan tangannya, dia membebaskan totokannya, lalu bertanya,

"Sebetulnya kalian siapakah dan mengapa memusuhik u ? Kulihat kalian bukan perampok."

Si tinggi kurus maklum ba hwa dia berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki kesaktian. "Kami adalah anggauta Ceng-lio ng-pang."

"Hemmm.. !" Tiong Li mengerutkan alisnya dengan heran. "Bukankah menurut pendengaranku Ceng-Iio ng- pang adalah sebuah perkumpulan para pejuang patriot yang menentang penjajah Kin? Kenapa menyerang aku yang difitnah oleh Perdana Menjeri Jin Kui?"

Si tinggi kurus itu menghela napas panjang,

"Ini semua atas perintah pang-cu. Entah ара yang terjadi, pangcu kami telah berubah sama sekali. Bukan saja berhubungan dengan para utusan Perdana Menteri Jin Kui, akan tetapi juga dengan utusan dari Kerajaan Kin!"

"Ah ...... !" Tio ng Li terkejut sekali. "Ара yang telah terjadi?"

Si tinggi kurus ini adalah seorang murid tertua dan dia sendiri sebenarnya tidak setuju dengan tindakan gurunya, ара lagi setelah kedua orang paman gurunya tewas oleh gurunya sendiri. Kini, bertemu dengan seorang pemuda sakti yang dimusuhi Perdana Menteri Jin Kui, timbul harapannya kalau-kalau pemuda ini dapat membongkar rahasia ара yang terkandung di balik perubahan sikар ketua mereka itu.

"Terjadi nya beberapa bulan yang lalu, Setelah keluar dari tempat samadhi nya, pangcu menjadi berubah sama sekali. Dia melarang kami melakukan gerakan menyerang pasukan Kin, bahkan tak lama kemudian dia menerima utusan dari Menteri Ji n Kui, dan utusan dari pasukan Kin. Dan kemudian dia bahkan memaksa kami untuk memusuhi para pejuang yang disebutnya sebagai pemberontak-pemberontak yang patut dibasmi."

"Ара alasannya?"

"Katanya kita harus mengikuti jejak mendiang Jenderal Gak Hui yang setia kepada kaisar sampai mati. Kita tidak boleh menentang kebijaksanaan Kaisar dan kalau Kaisar berbalik dengan penjajah Kin, kitapun harus mengikuti jejak Kaisar. Dengan sikapnya itu, dia membantu pasukan Sung untuk membasmi kaum pejuang. Hal ini amat mendukakan kami semua akan tetapi kami tidak berdaya, tai-hiap."

"Ah, sungguh mencuгigakan!" kata Tiong Li. "Mungki n ketua kalian itu di ancam dan dipaksa. Aku harus menyelidiki persoalan ini!" Si tinggi kurus itu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Tiong Li dan perbuatan ini diturut oleh semua anak buahnya.

"Kami akan merasa berterima kasih sekali kalau taihiap suka menyelidiki. Dua orang paman guru kami yang hendak menyelidiki masalah itu bahkan dibunuh sendiri oleh ketua kami."

"Jangan khawatir, aku akan menyelidikinya. Pasti ada sebabnya yang membuat ketua kalian berubah pendirian secara mendadak seperti itu. Nah, mari bawa aku menghadap dia !"

Duapuluh tiga orang itu lalu berramai-ramai mengantar Tiong Li ke sarang mereka. Kedatangan mereka disambut oleh para anggauta lainnya yang berjumlah kurang lebih duaratus orang itu, dan ketika mereka mendengar bahwa pemuda itu adalah Tan Tio ng Li yang di cari-cari oleh pemerintah, dan mendengar bahwa pemuda itu hendak menyelidiki sang ketua yang berubah pendirian, sebagian besar dari mereka merasa senang sekali. Ada memang beberapa orang di antara mereka yang berplhak ke pada sang ketua, akan tetapi. jumlah mereka tidak banyak dan mereka disuruh diam oleh para anggauta yang menghendaki agar Tiong Li menyelidiki perubahan sikар ketua mereka. Berbondong-bondong mereka lalu mengantar Tiong Li menghadap Gui Kong Sek, ketua mereka.

Gui Kong Sek sedang berbincang- bi ncang dengan seorang tamunya, yaitu utusan dari pasukan Kin yang datang ke mari n. Tamu ini adalah seorang utusan panglima Besar Wu Chu yang bernama Un Ci Siang, seorang bertubuh tinggi besar seperti raksasa dan nampaknya kuat sekal!. Begitu mendengar suara ribut-ribut di luar, ketua Ceng-lio ng-pang bersama tamunya lalu berlari keluar.

Mereka meli hat para angguta berbondong datang mengiringkan seorang pemuda tampan. Melihat pemuda ini, Gui Kong Sek terbelalak dan berteriak sambil menudingkan telunjuknya kepada Tiong Li.

"Dia pemberontak itu, penculik puteri kaisar! Tangkap dia!"

Akan tetapi anak buahnya tidak ada yang bergerak, dan Tio ng Li sambil tersenyum melangkah maju menghampiri Gui Kong Sek.

"Anak buahmu tidak akan menangkap aku, pangcu. Bahkan mereka mempercayaiku untuk bicara denganmu. Harap pangcu menjawab terus terang saja semua pertanyaanku."

Gui Kong Sek mengerutkan alisnya.

"Bicara denganmu? Bicara ара lagi !? Engkau seorang pemberontak laknat !"

"Aku bukan pemberontak dan bukan pula penculik puteri. Hal ini tentu engkau tahu benar kalau memang engkau telah bersekutu dengan Perdana Menteri Jin Kui. Pangcu, aku mewakli para anggauta Ceng-lio ng-pang untuk bertanya kepadamu. Kenapa engkau mengubah sikар mu sebagal seorang pejuang ? Engkau bersekutu dengan Perdana Menteri Jin Kui dan engkau berbaik dengan orang-orang Kin yang seharusnya kau musuhi. Ара artinya ini semua?"

"Aku taat kepada Perdana Menteri berarti taat kepada pemerlntah. Kami bukan pemberontak melai nkan pejuang yang membela kepentingan. Kerajaan Sung."

"Akan tetapi mengapa bersekutu dengan orang Kin?" "Kerajaan Sung tidak memusuhi kerajaan Kin, melainkan ingin bersahabat, kita hanya mendukung politik yang digariskan oleh Kaisar! Tan Tiong Li, engkau lancang mencampuri urusan dalam perkumpulan kami!"

"Urusan dalam perkumpulan Ceng-liong-pang adalah urusan kita semua yang merasa sebagai pejuang yang hendak mengusir bangsa Kin dari tanah air Engkau telah berbalik haluan, mengubah pendirian tentu ada sebab tertentu. Apakah engkau dipaksa oleh Perdana Menteri Jin Kui, atau engkau telah makan suapan Bangsa Kin? Kenapa pula engkau membunuh dua orang sutemu yang hendak menyelidiki masalah perubahan sikapmu itu?"

Mendengar ini, Un Ci Siang yang tinggi besar itu telah menjadi marah dan tidak sabar lagi.

"Pang-cu, kalau bocah ini mengganggumu, biarkan aku yang mengusirnya untukmu!"

"Jangan usir, melainkan tangkap hid up atau mati karena dia seorang buronan pemerintah Sung!" kata Gui Kong Sek.

Tiong Li sudah mendengar dari orang-orang Ceng- liong-pang tadi bahwa tamu inipun utusan panglima Kin, maka dia memandang dengan mata bersinar.

"Engkau seorang perwira Kin, musuh besar kami!

Engkaulah yang harus menyerah kepada kami!"

Si tinggi besar itu sudah mencabut sebatang golok yang besar dan mengkilap tajam, membentak,

"Pemberontak laknat, kematian sudah di depan mata, jangan banyak mulut tagi!" Dan diapun sudah menyerang dengan goloknya. Serangannya dahsyat sekali karena memang raksasa ini memiliki tenaga yang besar . Tiong Li mengelak dan membalas dengan tendangan yang juga dapat dielakkan lawan.Ternyata raksasa itu adalah seorang jagoan dari Kin, memiliki ilmu siat yang cukup tangguh. Akan tetapi lawannya adalah Tio ng Li, seorang pemuda yang telah memiliki kesaktian, maka biarpun hanya bertangan kosong, Tiong Li sama sekali tidak terdesak, bahkan ketika dia memainkan ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan-kun, si raksasa menjadi repot sekali harus mengelak ke sana sini.

Pertandi ngan seru itu menjadi perhatian semua anggauta Ceng-lio ng-pang dan meli hat betapa tamunya belum juga berhasil merobohkan Tiong Li, mendadak Gui Kong Seng mengeluarkan teriakan nyaring dan dia sudah melompat ke depan menggunakan pedangnya untuk mengeroyok!

Pada saat itulah para murid dan anggauta Ce ng-lio ng-pang memandang heran. Mereka sama sekali tidak mengenal ilmu pedang yang dimainkan ketua merekа! Bukan ilmu pedang dari Ceng-Iiong-pang yang dimainkan ketua itu, melai nkan ilmu pedang yang asing sama sekali bagi para murid Ceng-Iiong-pang, namun harus diakui bahwa ilmu pedang itupun dahsyat sekali! .

Biarpun dikeroyok dua oleh orang yang bergolok dan berpedang sedangkan dia sendiri bertangan kosong, namun sama sekali Tiong Li tidak pernah terdesak. Memang kedua orang lawannya memainkan pedang dan golok dengan dahsyat dan cepat, membentuk dua gulungan sinar yang melingkar-iingkar, namun tubuh Tiong Li seperti berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua gulungan sinar itu.

Таk pernah golok dan pedang itu dapat mengenai tubuhnya dan ketika dia menggunakan ilmu pukulan Thai-lek Kim-kong-ji u, golok yang berada di tangan Un Ci Siang terlepas karena lengannya kena di hantam tenaga sakti itu sehingga tergetar hebat.

Di lain saat, ketika Tiong Li membalik untuk menghantam Gui Kong Sek, orang ini sudah meloncat ke belakang dan bersama tamunya dia melarikan diri ! Agaknya baik Un CI Siang maupun Gui Kong Sek mаklum bahwa mereka berdua tidak akan mampu menandingi Tiong LI, maka keduanya segera kabur cerai berai !.

"Jangan biarkan orang Kin itu lolos!" teriak Tiong LI kepada anak buah Ceng-liong-pang dan dia sendiri segera mengejar Gui Kong Seng. Orang-orang Ceng- liong-pang bagalkan baru sadar dari mimpi, Tadi mereka bengong dan terkagum-kagum meli hat betapa Tiong Li mampu menandi ngi pengeroyokan dua orang itu dan kini, meli hat Un Сi Siang melarikan diri, mereka segera beramai- ramai mengejar dan mengepung sambil me ngacung acungkan senjata untuk mengeroyok.

Un Ci Siang terkepung dan mengamuk dengan tangan kosong. Amukannya merobohkan sedikitnya lima orang anggauta Ceng-liong-pang, akan tetapi karena jumlah mereka amat banyak, akhirnya jagoan dari Kerajaan Kin itu jatuh juga menjadi korban puluhan senjata yang membuat tubuhnya hancur dan tewas. Setelah menewaskan Un Ci Siang, para anggauta Ceng-lio ng-pang itu lalu ikut mengejar ketua mereka sendiri yang dikejar oleh Tiong Li.

Dengan panik Gui Kong Sek lari ke gua di mana dia biasa bertapa. Akan tetapi Tiong Li tetap mengejarnya dan meli hat bahwa dia tidak dapat melepaskan diri dari pengejarnya, ketua Ceng-liong-pang ini lalu masuk ke dalam gua tempat dia biasa bertapa itu.

Gua itu besar dan gelap dan ketika tubuh ketua Ceng- liong-pang itu masuk ke dalamnya dia segera ditelan kegelapan gua itu. Dengan berani Tiong Li mengejar masuk dengan sikap hati-hati dan waspada sekali. Tiba- tiba dia mendengar desir angin dari depan dan sangat cepat tubuh nya mengelak ke samping. Tiga batang piauw (pisau terbang) meluncur lewat tubuhnya dan dia terus mengejar ke da1am.

Kiranya gua itu bukan hanya lebar, akan tetapi juga dalam dan merupakan semacam terowongan yang berlika-lik u. Di sebelah dalam keadaannya tidak segelap di bagian luar karena mendapat sorotan si nar dari atas, mungki n dari celah-celah di mana si nar matahari dapat masuk.

Ketika dia masuk terus akhirnya dia tiba di sebuah ruangan dan Tiong Li berhenti melangkah dan memandang dengan mata terbelalak. Dia melihat ketua Ceng-lio ng-pang yang tadi sudah berdiri didekat seorang laki-laki yang terbelenggu kaki tangannya sambil menodongkan pedangnya ke dada laki-lakl itu.

Dan laki-laki itu memiliki bentuk wajah yang serupa benar dengan ketua Ceng-liong-pang itu! Sekarang mengertilah Tiong Li. Ketua Ceng-liong-pang yang dikejarnya tadi adalah ketua yang palsu, sedangkan ketua aselinya menjadi menjadi orang tahanan di dalam gua ini, dibelenggu kaki tangannya! .

Pantas saja ketua Ceng-liong-pang membawa anak buahnya menyeleweng dan bersengkongkol dengan Perdana Menteri Jin Kui dan orang Kin, kiranya dia adalah ketua palsu! .

"Jangan mendekat, atau orang ini akan kubunuh lebi h dulu !" bentak ketua palsu itu.

"Hemm, biar engkau membunuhnya juga bagaimana engkau akan dapat lolos dari si ni? " Tiong Li balas menggertak. Diam-diam mendengar lapat-lapat suara para anggauta Ceng-liong-pang yang mengejar menuju tempat itu.

"Aku punya usul. Bagaimana kalau engkau membebaskan dia sedangkan aku membebaska nmu, membiarkan engkau keluar dari sini dan melarikan diri?"

Ketua palsu itu memang menghendaki demikian. "Bagaimana aku dapat percaya kepadamu?"

bentaknya.

"Aku Tan Tio ng LI bukan orang yang suka melanggar janji. Aku bersumpah tidak akan mengganggumu dan membiarkan engkau keluar dari sini kalau engkau membebaskan tawanan itu! Kalau engkau tidak percaya dan tidak mau, silakan lakukan ара saja akan tetapi jangan harap dapat lolos dari tanganku! "

Gertakan ini mengenal sasaran. "Baik, aku akan membebaskan dia dan minggirlah!"

Tiong Li minggir memberi Jalan kepada orang itu yang segera meloncat melewati Tio ng Li dan berlari keluar terowongan gua. Tio ng Li tidak memperdulikannya lagi karena dia percaya bahwa ketua palsu itu tentu akan bertemu dengan para anggauta Ceng-liong-pang yang melakukan pengejaran dan sudah tiba di depan gua!

Dia lalu meloncat ke dekat orang yang terbelenggu itu.

"Apakah engkau ini pangcu Gui Kong Sek yang aseli?"

Orang itu mengangguk lemah. "Benar, dan orang tadi adalah seorang kaki tangan Bangsa Kin yang menyamar sebagai diriku, ketika aku bersamadhi disini, tiba-tiba aku diserang dan ditotok sehi ngga tidak berdaya."

Tiong Li lalu membebaskan kaki tangan orang itu dan mengajaknya keluar. Mereka mendengarkan suara ribut- ribut di luar gua .

"Aku adalah ketua kalian! Kalian mau ара? Apakah hendak berkhia nat kepadaku? Apakah kalian semua minta mati?"

Tiba-tiba Gui Kong Sek yang aseli meloncat ke depan.

"Jangan percaya, dia pembohong. dan dia menyamar sebagai aku. Akulah Gui Kong Sek yang aseli, yang selama ini dia tahan, di dalam gua!"

Semua orang terkejut meli hat ada dua Gui Kong Sek, akan tetapi mereka semua percaya kepada Gui Kong Sek yang pakaiannya kumal dan kurus ini, maka segera mereka mengepung Gui Kong Sek yang palsu. Orang itu menggunakan pedangnya mengamuk, akan tetapi dia di keroyok dan kini Gui Kong Sek yang aseli juga sudah menerima sebatang pedang dari anak buahnya dan dengan sengit ikut menyerang.

Tiong Li hanya menonton saja. Dia sudah bersumpah tidak akan mengganggu Gui Kong Sek palsu itu, dan dia sudah memperhitungkan bahwa ketua palsu Itu tidak akan dapat meloloskan diri karena para anggauta Ceng- liong-pang sudah tlba di depan gua. Perhitungannya tepat sekali dan kini ketua palsu itu di keroyok oleh banyak sekali anggauta Ce ng-liong-pang yang membantu ketuanya yang aseli.

Biarpun ketua palsu itu cukup lihai, akan tetapi kini dia menghadapi ketua aseli yang juga hebat Ilmu pedangnya, ditambah lagi pengeroyokan puluhan orang anggauta Ceng-Iio ng-pang. Akhirnya diapun roboh dan menjadi sasaran puluhan batang senjata tajam sehi ngga tubuhnya hancur lebur.

Tiong Li hendak mencegah akan tetapi sudah terlambat. Dia hanya menyatakan penyesalannya kepada Gui Kong Sek ketua Ceng-liong-pang.

"Sayang sekali, kalau dia ditangkap hid up-hidup tentu kita dapat bertanya siapa dalang semua ini ? "

"Maafkan kami, taihiap. Kami tidak lagi dapat menahan kemarahan."

"Sudahlah, sekarang pangcu mempunyai tugas baru yang amat berat dan penting, yaitu membersihkan nama Ceng-lio ng-pang yang sudah terlanjur buruk di mata para pejuang."

Setelah itu Tiong Li berpamit dan diantar sampai keluar dari daerah Ceng Iio ng-pang oleh ketuanya dan para anggautanya yang berterima kasih sekali. Kalau tidak ada pertolongan pemuda perkasa itu tentu Ceng- liong-pang terlanjur menjadi sebuah perkumpulan yang menyimpang dan menyeleweng! .

Tiong Li melanjutkan perjalanannya, hatinya dilip uti kekhawatiran meli hat betapa plhak Bangsa Kin agaknya berusaha benar-benar untuk bersama Perdana Menteri Jin Kui menumpas para patriot pejuang.

-0odwo0- Ban-tok Sian li Souw Hia n Li tinggal di Lembah Maut, sebuah lembah yang curam dan berbahaya di tepi Sungai Yang-ce, Karena tempat itu memang merupakan perbukitan dengan lembahnya yang curam dan banyak terdapat jurang, berbahaya sekali, maka disebut Lembah Maut. Di tempat berbahaya ini Ban-tok Sian-li mempunyai sebuah rumah gedung yang megah, tinggal di situ bersama muridnya, The Siang Hwi dan beberapa orang pembantu wanita.

Di sekeliling rumahnya terdapat pondok-pondok mungil dan ini merupakan tempat tinggal anak buahnya yang berjumlah sekitar tigapuluh orang. Para anggauta itu, yang juga merupakan murid-murid yang dilatih oleh The Siang Hwi yang mewakili gurunya, adalah wanita yang berusia dari duapuluh sampai tigapuluh tahun.

Biarpun namanya Lembah Maut, akan tetapi tempat ini mempunyai bagian yang subur sekali sehingga mereka dapat bercocok tanam di tanah subur itu.Ada pula yang setiap hari mencari ikan di Sungai Yang-ce.

Pada suatu hari, setelah mandi Siang Hwi bertemu dengan gurunya di beranda depan, Ba n-tok Sian-li Souw Hian Li sepagi itu juga sudah mandi dan namраk segar sehingga Siang Hwi menjadi kagum. Gurunya itu nampak selalu tetap muda, pantas menjadi kakaknya yang hanya berbeda satu dua tahun. Pada hal, gurunya itu sepuluh atau sebelas tahun lebi h tua darinya.

"Selamat pagi, subo."

"Selamat pagi, Siang Hwi. Kenapa engkau kelihatan wajahnya agak pucat dan muram?" "Semalam aku kurang tidur, subo Aku mendapatkan mimpi buruk sekali membuat aku sukar tidur."

Gurunya tersenyum. "Ihh, seperti anak kecil saja engkau, Siang Hwi. Keпара mimpi saja dipikirkan sampai tidak dapat tidur?"

"Entahlah," subo. Akan tetapi sungguh mimpi itu membuat teecu tidak dapat tidur dan hati merasa gelisah. S ngai Yang-ce meluap dan airnya sampa menghanyutkan semua yang berada di sini !"

Senyum Ban-tok Sian-li semakin melebar.

"Anak bodoh! Mana mungkin air Sungai Yang-ce dapat naik ke lembah ini? Andaikata benar terjadi banjir, tidak mungkin air sungai dapat naik ke tempat yang tinggi ini!"

Baru saja percakapa n mereka sampai ke situ, tiba-tiba terdengar suara hiruk plkuk dan sorak sorai. Seluruh anak buah Lembah Maut menjadi gempar karena tiba- tiba sekali tempat itu sudah diserbu oleh pasukan yang besar jumlahnya! Tidak kurang dari seratus orang perajurit Kerajaan Sung menyerbu tempat itu, dan tanpa banyak cakap ,lagi telah menyerang.

Siang Hwi dan Ban-tok Sian-li сераt berlari keluar sambil membawa pedang dan mereka segera disambut oleh Kui To Cin-jin dan Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak!. Segera terjadi pertempuran hebat antara Ban-tok Sfan-li dan Tang Boa Lu, sedangkan The Siang Hwi sudah bertanding melawan Kui To Cin-ji n yang bersenjatakan rantai baja.

"Tangkap pemberontak!" "Hancurkan mereka!" Teriakan-teriakan itu terdengar dan Ban-tok Sian-li tidak merasa perlu untuk bertanya lagi. Memang ia kini bersimpati kepada para pejuang dan semenjak peristiwa di kota raja, yaitu tewasnya An Kiong hartawan dl kota raja yang dibelanya itu, la sudah dianggap sebagai pemberontak pula.

Маkа, iapun mengamuk dan mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk merobohkan lawan, Akan tetapi lawannya, Si Muka Tengkorak, merupakan lawan yang setingkat dengannya sehi ngga pertandi ngan itu men-- jadi amat seru.

Sementara itu, para anggauta pasukan Kerajaan Sung ketika mendapat kenyataan bahwa lawan mereka semua adalah wanita yang rata-rata masih muda dan cantik, mereka merasa gembira sekali dan berusaha keras untuk menangkap mereka hid up-hidup. Karena jumlah mereka seratus orang lebi h sehingga jauh lebih besar dari pada jumlah anak buah Lembah Maut yang hanya tigapuluh orang, maka dengan cepat mereka dapat mendesak lawan.

The Siang Hwi yang mendapatkan lawan Kui To Cin- jin, merasa kewalahan. Orang yang berjubah seperti pendeta dan bersenjata rantai baja ini memang lihai bukan main. Mukanya yang seperti tikus, kini tersenyum dan Jenggotnya yang panjang bergoyang-goyang. Biarpun tubuhnya tinggi kurus, namun rantai yang menyambar-nyambar dengan amat kuat dan setiap kali bertemu dengan pedangnya, Siang Hwi merasa betapa telaраk tangannya panas dan tergetar hebat .

Setelah lewat limapuluh jurus, Siang Hwi sudah tidak kuat bertahan lagi.

"Trangggg       !" Dengan keras sekali pedangnya bertemu rantai baja dan pedang itu terlepas dari pegangannya dan sebelum sempat menghi ndar, sebuah tendangan membuat ia terpelanting dan sebuah totokan menyusul, membuat ia ti dak mampu bergerak lagi.

Pada saat itu, sebagian besar anak buah Lembah Maut juga sudah tertawan dan ada pula beberapa orang yang terluka parah dan tewas. Akan tetapi lebi h banyak yang tertawan hidup-hid up.

Melihat keadaa n yang tidak menguntungkan ini, Ban- tok Sian-li memutar pedangnya dengan kecepatan hebat dan ia dapat membuat lawannya terpaksa mundur. Kesempatan ini ia pergunakan untuk meloncat jauh ke belakang dan Ban- tok Sian-li melarikan diri. la tidak ingin tertangkap atau terbunuh pula karena maklum bahwa pihaknya sudah menderita kekalahan.

Akhirnya semua anggauta Lembah Maut telah kalah. Duapuluh orang tertawan hid up-hidup dan mereka itu berada dalam rangkulan para perajurit yang tertawa-tawa penuh kemenangan. Kui To Cin-jin menawan Siang Hwi karena dia tahu bahwa muridnya, mendiang Ji n Kiat pernah tergila-gila kepada gadis ini dan seolah gadis ini yang patut dimintai pertanggungan jawab. Маkа dia bermaksud membawanya kepada Perdana Menteri Jin Kui untuk diadili karena gurunya dapat melarikan diri.

Sarang itu lalu dirampok habis-habisan, kemudian rumah gedung dan semua pondok yang mengelilingi nya dibakar oleh pasukan itu.

Kui To Cin-ji n tidak memperdulika n nasib para anggauta Lembah Maut. Dia menyerahkan mereka kepada anak buahnya yang bagaikan segerombolan serigala yang haus darah lalu mempermainkan dan memperkosa mereka sampai puas dan merekapun di tinggalkan mati di tempat itu. Meli hat ini, Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak juga tidak perduli sama sekali.

The Siang Hwi yang meli hat ini merasa sakit sekali hatinya dan diam-diam ia bersumpah bahwa kelak ia akan berusaha untuk membalas sakit hati ini kepada dalangnya yang ia duga bukan, lai n adalah Perdana Menteri Jin Kui, Akап tetapi pada saat itu ia tidak berdaya sama sekali, menjadi tawanan Kui To Cin-jin.

la memang tidak diganggu dan Kul To С in jin melarang para perajurit mengganggunya karena ia hendak diserahkan kepada Perdana Menteri Jin Kui untuk diadili, akan tetapi ia di ikat kedua tangannya dan dinaikkan kuda di depan Kui To Cin-jin, ditelungkupkan melintang di atas punggung kuda .

Kui To Cin-ji n dan Tang Boa Lu menunggamg kuda di depan pasukan itu. Mereka berdua merasa gembira karena telah berhasil membasmi para pemberontak di Lembah Maut. Perdana Menteri Jin Kui memerintahkan jagoannya yang diandalkan, yaitu Kui To Cin-jin untuk memimpin penyerangan itu, dan mengi ngat bahwa Bantok Sian-li amat lihai, maka dia minta agar Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak membantunya.

Dan ternyata mereka berhasil. Biarpun Ban-tok Sian-li dapat melarikan diri, akan tetapi muridnya dapat ditangkap dan semua anak buahnya dibasmi habis!.

Dua orang jagoan ini sama sekali tidak tahu bahwa ketika mereka tiba di sebuah jalan sunyi dan berpapasan dengan seorang pria muda yang memakai caping dan menutupi mukanya dengan caping, pria muda itu lalu membayangi mereka dari belakang. Tidak menyangka sama sekali bahwa pria muda itu adalah orang yang selama ini mereka cari-cari, yaitu Tan Tio ng Li .

Tan Tio ng Li sedang dalam perjalanan mencari puteri Sung Hiang Bwee yang terculik orang dan dibawa ke daerah Kin, dan baru saja dia meninggalkan Ceng-liong- pang ketika dia dari jauh meli hat rombongan pasukan itu. Dia menutupi mukanya dengan caping dan betapa kagetnya ketika ia melihat The Siang Hwi rebah melintang di atas kuda yang ditunggangi oleh Kui To Cin- jin!. Tahulah dia bahwa gadis itu ditawan, maka dia lalu membayangi dengan cepat. Bahkan tanpa mereka ketahui, dengan mengambil jalan pintas dia mendahului mereka dan naik ke atas pohon tepi jalan.

Dia sudah memperhitungkan dengan cermat sekali, maka ketika rombongan itu lewat, dan tepat ketika kuda yang ditunggangi Kui To Cin-jin berada di bawah pohon, pemuda itu lalu melayang turun. Bagaikan seekor burung garuda yang besar dia menyambar tubuh Siang Hwi dari atas kuda Kui To Cin-ji n, tanpa pendeta itu dapat menghalangi karena gerakan dengan ilmu Jouw-sang-hui itu cepat bukan main dan tahu-tahu Siang Hwi telah berada dalam pondongan nya ! .

Ketika melihat siара orangnya yang merampas gadis tawanannya itu,Kui To Cin-jin terkejut sekali dan cepat dia berteriak,

"Tangkap orang itu         !! "

Tang Boa Lu yang lebih dulu dapat mengejar dengan loncatannya, akan tetapi Tiong Li yang sudah membebaskan ikatan tangan gadis itu, membalik dan melontarkan pukulan Thai-lek Kim-kong- jiu kepada Si Muka Tengkorak. Tang Boa Lu terkejut dan menangkis dengan pengerahan tenaga. "Desssss !"

Dua tenaga sinkang yang kuat itu bertemu di udara dan akibatnya Si Muka Tengkorak hampir terpelanting!.

"Mari kita pergi!" kata Tio ng Li sambil menggandeng tangan Siang Hwi dan membawanya loncat jauh.

Melihat ke tangguhan pemuda itu, Si Muka Tengkorak menjadi jerih kalau harus melawan sendiri, sedangkan yang lai n-lai n masih  belum cukup kepandaian mereka untuk dapat melakukan pengejaran.

Terpaksa Kui To Cin-jin hanya dapat menyumpah- nyumpah dan mengajak mereka melakukan pengejaran. Akan tetapi semua usaha itu sia-sia belaka. Yang dikejar sudah lenyap entah ke mana. Dengan uring-uringan Kui To Cin-jin terpaksa mengajak mereka kembali ke kota raja, melapor kepada Perdana Menteri Jin Kui bahwa usaha pembasmian ke Lembah Maut sudah berhasil baik akan tetapi Ban-tok Sian-li dan muridnya telah berhasil melarikan diri.

-o0odwo0o-

Tiong Li berhenti berlari dan memandang kepada Siang Hwi yang terengah engah kelelahan karena dipaksa melarikan diri dengan cepat sekali itu. Dia melihat wajah gadis itu pucat dan wajahnya yang cantik jelita itu diliputi kedukaan besar.

"Hwi-moi....." tegurnya sambil memandang kepada gadis itu dengan penuh iba.

"Li-koko       !" Dan tiba-tiba saja gadis itu menangis.

Tiong Li terkejut dan merangkulnya, "Hwi-moi, ada apakah ?" Siang Hwi menangis di dada pemuda itu, lupa bahwa ia telah berada dalam pelukan orang. la hanya ingin menumpahkan semua kedukaan pada saat itu dan baginya dada pemuda itu merupakan tempat bersandar yang sentausa dan aman. Karena maklum bahwa gadis itu baru saja mengalami hal yang hebat dan mungkin mendukakan, Tiong Li mendiamkan saja menangis, bahkan menahan dirinya untuk tidak bertanya tentang gurunya yang tidak nampak.

Setelah tangis itu mereda, barulah Siang Hwi sadar bahwa ia berada dalam pelukan Tiong Li. la menjauhkan diri, melihat betapa baju bagian dada Tiong Li sudah basah air matanya.

"Ah, maaf, koko, bajumu   menjadi   basah

....... " katanya tersipu.

"Tidak mengapa, Hwi- moi. Sekarang ceritakan, ара yang telah terjadi denganmu dan bagaimana engkau sampai tertawan oleh orang-orangnya Perdana Menteri Ji n Kui itu ? "

"Tempat kami .telah dlserang pasukan tadi, koko. Semua anak buah telah ...dibunuh ....... " la tidak sampai hati menceritakan betapa semua anak buah itu dihi na dan diperkosa sebelum di bunuh.

"Ah, dan di mana subomu?"

"Subo dapat melarikan diri akan tetapi aku tertawan. Tempat kami diramроk dan dibakar habis. Aku.     ah,

entah ара yang akan terjadi dengan diriku kalau saja tidak ada engkau yang menolongku, koko. Aku berterima kasih kepadamu "

"Hussh, tidak perlu bicara tentang terima kasih. Sudah selayaknya kita saling bantu. Dahulupun kalau bukan engkau yang menolong, aku sudah lama mati dl tangan subomu. Sekarang, bagai mana, Hwi-moi? Ара yang akan kaulakukan?"

Siang Hwi menghela napas panjang dan memandang pemuda itu dengan memelas.'"Aku tidak tahu, koko. Aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Tempat sudah dibakar, subo juga entah pergi ke mana. Aku tidak tahu ke mana harus pergi dan ара yang harus kulakukan," katanya bingung.

"Kalau engkau hendak mencari subomu, mari kutemani dan kubantu mencarinya."

"Ke mana kita harus mencarinya?

la melarikan diri dan kami berdua tentu kini menjadi buruan pemerintah. Ke manapun kita pergi tentu akan diburu dan kalau ketahuan akan ditangkap. Aih koko, aku tidak mengira sekali. nasibku akan menjadi begini."

"Sudahlah, moi-moi. Bagaimana kalau engkau kembali kepada keluargamu? Aku akan mengantarmu ke sana."

Gadie itu memejamkan jnatanya dan kembali beberapa butir air mata mengalir keluar dan cepat dihapusnya.

"Li koko, aku sudah tidak mempunyai keluarga, sudah tidak mempunyai orang tua. Aku hidup sebatang kara di dunia ini, tadinya aku hanya mempunyai subo, akan tetapi sekarang ... " Gadis Itu memandang sedih sekali.

Tiong Li memegang kedua lengan gadis itu. "Besarkan hatimu, Hwi-moi, Ketahui lah bahwa aku sendiri juga seorang yatim piatu yang tidak mempunyai siapa-siapa lagi, kita sama-sama sebatang kara akan tetapi.... bukankah kita ini sekarang saling... memiliki ? Aku akan membantumu dalam segala hal, dan akan melindungimu, kalau perlu dengan taruhan nyawaku, Hwi-moi. "

"Li-koko ..... engkau begini baik. Sejak dahulu engkau amat baik kepadaku. Kenapa engkau begini baik kepada ku, koko? Bahkan subo yang biasanya baik kepadaku meni nggalkan aku ketika aku tertawan. Akan tetapi engkau ah, mengapa engkau begini baik kepadaku?"

"Mengapa? Aku sejak pertama kali bertemu sudah amat tertarik kepadamu, Hwi-moi, tertarik karena kebaikan hatimu ketika engkau mencegah subomu untuk membunuhku. Aku sudah suka sekali kepadamu dan aku

.... ah, aku cinta padamu, Hwi-moi. Tidak terasakah olehmu?"

Tlba-tiba Siang Hwi menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali. "Aku. aku merasakan itu.koko."

"Dan bagaimana dengan perasaan hatimu, Hwi moi?

Bagaimana perasaan hati mu terhadap aku?"

Sampai lama Siang Hwi tidak mampu menjawab. Bagaimana seorang gadis dapat membuka rahasia hatinya begitu saja ? la merasa tersipu dan malu sekali.

"Koko, aku.... aku hanya pasrah kepadamu. Aku....

kalau engkau tidak berkeberatan, aku akan ikut denganmu ke manapun engkau pergi. Aku akan membantumu sekuat kemampuanku dan aku     aku akan

setia kepadamu."

Tiong LI merasa gembira sekali dan berbesar hati "Akan tetapi bagaimana kalau kita bertemu lagi dengan.su bomu? Engkau akan meninggalkan aku dan ikut lagi kepada subomu? "

"Tidak! Subo telah meninggalkan aku ketika aku tertawan. Aku tidak lagi mau ik ut subo. Aku ingin Ikut engkau, koko!"

"Hanya ikut saja? Sebagai ара?"

"Terserah kepadamu, aku hanya me nurut. Sebagai muridmu, atau sebagai pelayanmu, aku tidak akan menolak."

Tiong Li merasa terharu sekalI dan tlba-tlba dia merangkul lagi gadis Itu, Dikecupnya keni ng yang halus; itu dan dia berbisik,

"Bagaimana kalau engkau Ikut denganku sebagai....

tunangan ku, sebagai kekasihku, sebagai calon isterlku? Aku cinta padamu, Hwi-moi."

Dengan tersip u Siang Hwi menyembu nylkan mukanya di dada pemuda itu. "Sudah kukatakan aku pasrah dan ш menurut saja semua kei nginanmu, koko."

"Akan tetapi, ci ntakah engkau kepadaku?" Tiong Li menci um rambut kepala yang bersandar di dadanya itu.

Siang Hwi tidak menjawab, akan tetapi Tiong Li merasa dengan dadanya betapa kepala itu mengangguk- angguk! Dan itu sudah cukup baginya. Hatinya merasa demikian besar dan gembira. Dia menangkap tubuh itu, lalu dilemparkannya ke atas, ditangkap dan dilemparkan lagi.

Siang Hwi terkekeh dan menjerit-jerit kecil,akan tetapi Tiong Li tetap melambungkannya ke atas dan menangkapnya lagi seperti sebuah bola. Siang Hwi lalu mengerahkan tubuhnya sehingga berat. Akan tetapi Tiong LI dapat menangkapnya dan ketika melambungkannya lagi gadis itu menggunakan ginkangnya untuk meloncat dan berjungkir balik se hingga ketika ia turun kepalanya terlebi h dulu. la menjulurkan kedua tangannya untuk menangkis tangkapan kekasihnya sambil terkekeh. Tiong Li menerimanya dan merangkul, memondongnya seperti anak kecil dan mengecup kedua pipinya.

"Aih, engkau nakal, Li-ko ! " Siang Hwi berkata, akan tetapi ia merangkulkan lengannya ke leher pemuda itu.

Demikianlah, kedua orang muda itu bermain-mai n dan bermesraan dengan hati penuh kasih sayang.

0o-dw-o0