-->

Mestika Golok Naga Jilid 05

Jilid V

Dengan mudah dia mengelak dari sambaran pedang Jin Kiat, akan tetapi ketika pukulan jarak jauh dari Muka Tengkorak itu melandanya, dia terkejut. Kiranya tenaga Si Muka Tengkorak ini luar biasa kuatnya, maka tidak heran ketika dahulu dia terkena pukulan jarak jauh itu, dia sampai pingsan dan Рек Hong San-jin sampai terluka parah yang menyebabkan kematiannya.

Cepat dia mengerahkan tenaga Jia n-kin-lat (Tenaga Seribu Kati) untuk melawan hantaman itu dan ketika kedua tangan bertemu, keduanya terdorong mundur, tanda bahwa tenaga yang terkandung dalam dorongan dan tangkisan itu seimbang kekuatannya.

Si Muka Tengkorak yang menjadi heran dan terkejut bukan main. Kini diapun teri ngat setelah memandang wajah Tiong Li. Tidak salah lagi, pemuda ini adalah pemuda remaja belasan tahun yang dulu pernah dilihatnya di Pek-hong San-кок, murid daгi Рек Hong San-ji n.

Dahulu, ketika baru berusia limabelas tahun saja sudah mampu menandingi Hak Bu Cu, dan sekarang ternyata telah memiliki tenaga sinkang yang mampu menandingi pukulan Angi n Badai yang tadi dia lontarkan!

"Kau ..... ?" bentaknya. "Kau murid Рек Hong San-ji n?

Engkau yang telah membunuh muridku?"

"Hemm, kiranya engkau Si Muka Tengkorak yang dahulu datang bersama Si Golok Naga! Benar aku yang merobohkan muridmu, dia jahat sekali. Habis engkau mau ара!? Bagaimana engkau dapat bergabung dengan pasukan kerajaan?"

Mendengar percakapan itu, Ji n Kiat sudah membentak dan memerintahkan anak buahnya, "Cepat, serang dan bunuh pemuda pemberontak ini "

Dan Tio ng Li sudah diserang dari semua jurusan. Karena lawannya yang mengeroyok amatlah banyaknya, Tiong Li lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuh Jouw-sang-hui dan tubuhnya berkelebatan seperti berubah menjadi bayang-bayang menghindarkan semua senjata yang menyambar ke arahnya.

Pada saat itu terdengar sorak sorai dan muncullah duapuluh orang yang berpakaian seperti petani, dipimpin seorang pemuda tinggi besar yang gagah perkasa. Pemuda ini bersenjatakan sepasang kapak dan begitu terjun ke pertempuran, pemuda itu sudah merobohkan dua orang yang mengeroyok Tiong Li.

Melihat ini, Jin Kiat dan para perajurit menyambut dan terjadilah pertempuran sengit, sedangkan Si Muka Tengkorak bertandi ng melawan Tio ng Li. "Bunuh para pemberontak !"

Jin Kiat berseru nyaring, akan tetapi hatinya gentar sekali ketika dia mengenal pemuda tinggi besar bersenjatakan sepasang kapak itu. Pemuda itu bukan lain adalah Gak Liu, putera mendiang Jenderal Gak Hui yang semenjak kematia n ayahnya, tetap melanjutkan perjuangan menghimpun tenaga rakyat dan kadang juga menentang pasukan Sung sendiгi kalau melihat pasukan itu melakukan pe- nindasan terhadap rakyat jelata!.

Ketika tadi Gak Liu melihat Jin Kiat dan Orang- orangnya mengeroyok serang pemuda, tidak sukar baginya untuk membantu pemuda itu karena dia tahu siара Jin Kiat. Putera Perdana Menteri ini sudah berbuat dosa yang tak terhitung banyaknya. Terutama sekali merampas dan menodai wanita-wanita, baiк yang sudah bersuami maupun gadis-gadis yang dipaksanya, mengandalkan kedudukan, harta benda dan kekuatan.

Gak Liu memang membenci sekali putera Perdana Menteri ini, sebagai putera musuh besarnya dan dia segera mengamuk dengan kapaknya, mendekati Jin Kiat.

Jin Kiat mengamuk dengan pedangnya dan dia mencari jalan untuk meloloskan diri. Setelah merobohkan dua orang pengikut Gak Liu, dia melompat ke luar dari pertempuran dan hendak melarikan diri. Memang Jin Kiat ini mempunya i watak pengecut. Melihat Si Muka Tengkorak belum juga dapat menang melawan pemuda itu, dan kemudian meli hat Gak Liu, dia menjadi ketakutan dan ber usaha meloloskan diri.

Akan tetapi dengan tiga kali lompatan jauh, Gak Li u sudah dapat menghadangnya. Ked ua tangannya memegang kapaknya yang berlumuran darah dan wajahnya yang gagah itu nampak bengis sekali sehi ngga Jin Kiat menjadi semakin jerih.

"Gak Liu, minggir kaul Apakah engkau ingin dlhukum mati pula seperti ayahmu!"

Bentakan ini sungguh salah alamat. Gak Liu tidak menjadi takut atau mundur mendengar bentakan ini, bahkan amarahnya mакin berkobar.

"Jahanam busuk, engkaulah yang akan menerima hukuman mati dari ku!"

Dia menyerang dengan sepasang kapaknya dan Ji n Kiat terpaksa melayani nya bertanding.

Pertandi ngan mati-matian karena keduanya mengerti bahwa siapa yang kalah tidak akan lolos dari maut. Jin Kiat mengerahkan seluruh tenganya dan mengeluarkan semua i Imu pedangnya untuk memenangkan pertandi ngan itu.

Sementara itu, rombongan perajurit itu mendapat serangan hebat dari para pejuang sehingga mereka terdesak. Juga pertandi ngan antara Tang Boa Lu dengan Tiong Li berlangsung tidak seim bang lagi.

Betapapun lihainya Si Muka Tengkorak, namun menghadapi Tiong Li akhirnya dia kewalahan juga. Ара lagi ketika Tiong Li memai nkan ilmu silat Ngo-heng-lian- hoan-kun, dia menjadi repot sekali.

Dalam hal tenaga sinkang, dia juga tidak mampu menandingi pemuda itu. Setelah bertanding lewat limapuluh jurus, Si Muka Tengkorak mulai terengah- engah dan mandi keringat. Terlalu banyak tenaga yang dia kerahkan. Padahal, lawannya masih nampak segar dan bahkan makin lama tenaganya menjadi semаkin kuat. Tahulah Tang Boa Lu bahwa kalau dia nekat melanjutkan pertandingan itu, dia akan menderita kekalahan.

Dia tidak mau nekat mengadu nyawa karena dia hanya menjadi orang yang diperbantukan kepada Perdana Menteri Jin Kui. Untuk ара dia membela Jin Kiat sampai mati? Melihat pemuda itu terus mendesaknya, dia mengerahkan tenaga terakhir dan mengirim pukulan jarak jauh sambil mengeluarkan bentakan dahsyat. Kembali dia telah mengirim dengan pukulan jarak jauh yang bernama ilmu pukulan Angin Badai !.

Akan tetapi sekali ini Tiong Li tidak mau memberi hati kepadanya. Dia sudah menyambut pukulan itu dengan Tal lek-kim-kong-ji u! Dua tenaga sakti bertemu di udara menggetarkan bumi di sekitarnya dan akibatnya tubuh Si Muka Tengkorak terpental dan jatuh bergulingan, dari mulutnya keluar darah segar tanda bahwa dia telah terluka dalam!

Dia tahu akan bahaya, maka tubuhnya berguli ngan terus, lalu dia melompat Jauh dan melarikan diri. Tiong Li tidak mengejarnya. Biarpun Si Muka Tengkorak itu yang menyebabka n kematian suhunya, namun dia tidak mendendam, sesuai dengan ajaran mendiang Рек Hong San-ji n. Dia hanya membantu para pejuang yang menghadapi para perajurit.

Tinggal enam orang perajurit yang masih melawan dan meli hat keadaan mereka demikian terdesak, enam orang ini lalu melarikan diri cerai berai tanpa pimpinan lagi.

Cuma tinggal Ji n Kiat kini yang masih melawan Gak Liu mati-matian. Dia tidak mempunyai kesempatan untuk melarikan diri lagi karena sepasang kapak di tangan Gak Liu mendesaknya dengan hebat. Wajah Jin Kiat sudah menjadi pucat hatinya diliputi ketakutan yang amat sangat. Si Muka Tengkorak sudah melarikan diri, semua anak buahnya juga sudah tewas atau lari, tinggal dia sendiri. Akan tetapi Gak Liu juga tidak mengandalkan kawan-kawannya. Dia melarang anak buahnya yang hendak mengeroyok.

"Biarkan aku menghadapinya sendiri!" teriaknya ketika ada yang hendak membantunya.

Para anak buahnya tidak berani maju dan hanya menjadi penonton sambiI mengepung tempat itu. Tentu saja Jin Kiat makin tak dapat lolos karena pengepungan itu, maka diapun melawan dengan nekat dan mati- matian. Dia mengeluarkan seluruh ilmu pedangnya untuk melawan, akan tetapi sepasang kapak di tangan Gak Liu itu hebat bukan main, seperti sepasang naga berebut mestika, menyambar-nyambar dari segala jurusan.

"Singggg ...... tranggg    !!"

Pedang yang menyambar itu ditangkis oleh sepasang kapak yang menjepitnya dan pedang itu patah menjadi dua! Sebuah tendangan kaki Gak Liu membuat Jin Kiat jatuh tersungkur. Kini Jin Kiat tidak dapat lagi menahan rasa takutnya. Dia merangkak dan berlutut mengangkat kedua tangannya ke atas dan minta-mi nta ampun.

"Hemm, ingat engkau ketika para gadis dan wanita itu minta-minta ampun kepadamu? Apakah engkau mengampuni dan melepaskan mereka! Engkau malah menertawakan mereka. Rasakan ini!" Kapak itu menyambar dan mengenai kepala Jin Kiat yang seketika roboh terpelanting dengan kepala pecah. "Ini untuk hukumanmu. Terimalah ini, dan ini, dan ini ...! "

Kedua kapak itu bertubi- tubi menghantami tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi Itu. Di antara anak buah Gak Liu yang memaling kan muka karena tidak tahan melihat peristiwa yang mengerikan itu. Agaknya Gak Liu melampiaskan semua

dendam atas kematia n ayah dan saudara-saudaranya' dan melampiaskan amarahnya kepada putera perdana Menteri Jin Kui yang dibencinya itu.

Tiba-tiba kapaknya tertahan di udara. Ada orang yang memegangi kedua lengannya dan dia tidak mampu menggerakkan tangan lagi walaupun dia sudah mengerahkan tenaga! Gak Li u terkejut dan menoleh. Ternyata yang menahan kedua tangannya adalah pemuda yang tadi bertanding dengan Si Muka Tengkorak.

"Sudah cukup, twa-ko. Menyiksa tubuh yang sudah menjadi mayat dan yang tak dapat melawan lagi bukanlah perbuatan seorang gagah, melai nkan perbuatan seorang yang gila karena dendam."

Mendengar perkataan itu, Gak Liu menurunkan kedua kapaknya dan memandang kepada Tio ng Li penuh perhatian, lalu dia memandang kepada mayat Jin Ki at yang hancur, kemudian menghela na- pas panjang.

"Engkau benar, sobat," Lalu dia memerintahkan semua anak buahnya untuk mengubur semua jenazah, bukan hanya jenazah teman- teman, akan tetapi juga jenazah semua perajurit termasuk jenazah Jin Kiat.

Kemudian dia mengajak Ti ong Li duduk di bawah pohon untuk bercakap-cakap dan berkenalan,

"llmu silatmu hebat sekali, sobat muda. Siapakah namamu dan bagaimana engkau tahu-tahu dapat dikeroyok oleh Jin Kiat dan anak buahnya?"

"Nama saya Tan Tio ng Li, dan sebelum saya menceritakan mengapa saya diserang mereka, lebih dulu saya ingin tahu siapakah twa-ko yang gagah perkasa ini?"

"Hemm, namaku Gak Liu."

"She Gak? Mengi ngatkan aku akan Jenderal Gak Hui," kata Tiong Li lebih ramah karena meli hat Gak Liu juga ramah kepadanya.

"Mendiang Jenderal Gak Hui adalah ayahku."

Tiong Li terkejut dan cepat bangkit lalu memberi hormat.

"Ah, kirariya putera mendiang Jenderal Gak Hui yang amat terkenal gaga h perkasa dan budiman itu!? Maafkan kalau saya bersikap kurang hormat!"

Gak Liu menghela napas panjang, "Aihhh, mendiang ayahku memang seorang gagah perkasa dan budiman. Akan tetapi aku .......aku hanya seorang pejuang biasa yang kadang naik darah, sama sekali tidak budiman. Aku tidak mau membonceng ketenaran nama ayahku. Saudara Tio ng Li, aku meli hat IImu silatmu tinggi sekali. Bagaimana sampai engkau tadi dikeroyok oleh iblis kecil putera Perdana Menteri Jin Kui itu?" Kembali Tiong Li terkejut, Dia sudah lama mendengar nama Perdana Menteri Jin Kui yang dibenci, banyak orang dan dimaki sebagai seorang menteri durna yang menghasut dan membujuk Kaisar sehingga mau mengalah terhadap Bangsa Kin, Jadi pemuda yang dibantai tadi adalah putera Menteri Jin Kui itu? Kini mengertilah dia. Dia sudah mendengar bahwa kematian Jenderal Gak Hui adalah gara-gara Perdana Menteri Jin Kui. Jadi sekarang putera Jenderal Gak Hui membuat pembalasan terhadap putera Perdana Menteri Jin Kui!

"Hemm, kiranya dia itu putera Perdana Menteri Jin Kui? Pantas engkau begitu membencinya, Gak-twako, tentu karena dendam."

"Bukan hanya dendam, Tan-te (adik Tan), akan tetapi pemuda itu memang seorang yang tidak kalah jahat dari ayahnya. Dia suka mempermainkan wanita dan diapun meni ndas rakyat yang tidak mau menjilat-ji lat kepadanya. Dia sudah pantas mati seperti itu. Lalu bagaimana engkau sampai dimusuhi olehn dia?"

"Aku sendiri tidak tahu dengan jelas, twa-ko. Aku pernah menolong seorang puteri kaisar yang diculik penjahat. Aku mengantarnya pulang ke istana. Kaisar hendak memberi anugerah pangkat, akan tetapi aku tidak mau dan aku pergi meni nggalkan istana. Eh, tahu- tahu di sini dikejar oleh rombongan itu dan pemuda tadi mengatakan bahwa dia diperintah oleh kaisar untuk membunuhku dengap alasan bahwa aku seorang pemberontak. Aku minta tanda perintah kaisar, akan tetapi dia tidak dapat membuktikannya maka aku melawan ."

"Hemm, bedebah itu! Sama dengan ayahnya. Menggunakan nama Kaisar yang lemah untuk menuduh semua orang pemberontak. Tan-te, engkau seorang yang berilmu tinggi, marilah engkau bergabung dengan kami!"

"Maaf, Gak-twako. Aku setuju sekali dengan perjuangan rakyat menentang Kerajaan Kin dari utara dan usaha untuk mengusir mereka dari tanah air. Akan tetapi akupun setia kepada Kerajaan Sung dan karenanya aku tidak suka memusuhi Kaisar yang harus kubela. Aku amat setuju dengan siкар dan tindakan mendiang Jenderal Gak, ayahmu sendiri."

"Aaahh, itu merupakan suatu titik kelemahan! Karena kekerasan hatinya mempertahankan kelemahan itulah ayah sampat diracuni dan menemukan kematia n nya secara menyedihkan sekali. Tidak, Tan-te, sikap itu keliru. Musuh besar kita memang Bangsa Kin yang harus kita usir dari tanah air, akan tetapi banyaк sekali pejabat korup dan penindas rakyat, pejabat yang pada lahirnya saja setia kepada kaisar akan tetapi pada dasarnya hanya mencari keuntungan sendiri, pejabat demikian itu malah melemahkan kerajaan dan perlu dibasmi. Kerajaan perlu dibersihkan dari para pejabat semacam itu ! "

"Akan tetapi itupun merupakan pemberontakan karena mereka adalah pejabat pemerintah. Kecuali urusan pribadi, maka tidak akan melibatkan pemerintah. Kalau sudah merupakan permusuhan terbuka dengan pasukan mereka itu merupakan pemberontakan. Pantas saja kalian dianggap pemberontak."

Gak Liu tertawa. "На-ha-ha, engkau masih hijau dalam hal perjuangan, Tan-te. Nanti kalau engkau sudah mengalami sendiri, ара lagi kalau sudah bentrok de ngan Perdana Menteri Jin Kui, baru engkau mengerti ара yang kumaksudkan dengan membasmi para pejabat korup dan jahat," "Maaf, Gak-twako. Aku sendiri biarpun bersimpati kepada para pejuang, belum ingin melibatkan diri. Aku hanya ingin melangkah sebagai seorang pendekar yang membela kebenaran dan keadilan, meli ndungi mereka yang tertindas dan menentang mereka yang melakukan ke kerasan untuk memaksakan kehendaknya."

"Baiklah, Tan-te. Aku yakin akhirnya engkau akan bergabung juga dengan para pejuang."

Mereka lalu berpisah dan Tiong Li memandang kepergian orang gagah itu bersama anak buahnya dengan termenung. Dia sudah banyak mendengar dari para gurunya tentang Jenderal Gak Hui, dan dia melihat betapa Gak Liu itupun memiliki kegagahan yang mengagumkan. Kalau para pejuang seperti Gak Liu itu pendiriannya, agaknya Bangsa Kin akan dapat di usir keluar dari tanah air.

Sayang, Kaisar memang lemah dengan adanya banyak pejabat macam Jin Kui yang mempe ngaruhlnya.

0oo-dw-oo0

Si Muka Tengkorak melarikan diri kembali ke gedung Perdana Menteri Jin Kui membawa luka dalam dan membawa berita buruk. Dia masih sempat mengi ntai ketika Jin Kiat terbunuh oleh Gak Liu dan dia bergegas kembali ke rumah Perdana Menteri Jin Kui untuk melapor.

Sepasang mata sipit yang biasanya bergerak cepat dengan cerdiknya Itu kini terbelalak, mukanya sebentar pucat Sebentar merah ketika dia mendengar laporan tentang kematian puteranya. "Apa ....... ? Gak Li u membunuh Jin Kiat puteraku?

Celaka......! Jahanam betul ! Ahhhhh ... "

Hampir gila Jin Kui dibuatnya karena marah dan sedi h hatinya. Dia berjalan hilir mudik di ruangan itu, sebentar mengepal tinju, sebentar menangis seperti orang gila.Dia segera mengumpulkan semua orang kepercayaannya untuk diajak berunding.

Ciang Sun Hok, jagoan yang dipercaya itu, lalu Kui To Cin-jin yang menjadi guru Jin Kiat, Ma Kiu It panglima pengawal Jin Kui, dan Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak hadir sambil menundukkan muka karena maklum bahwa majikan mereka sedang marah dan berduka.

"Celaka....! Mereka membunuh anak ku! Ара yang kita perbuat sekarang?" Berulang kali Jin Kui berteriak dan akhirnya Kui To Cin-jin memberanikan dirinya untuk bicara.

"Tai-jin, karena jelas bahwa pembunuhnya adalah Gak Liu, maka kita kerahkan pasukan untuk mencari dan menangkap pemberontak itu."

"Akan tetapi semua ini gara-gara puteri selir itu!, Kalau Jin Kiat tidak mengejar pemuda bernama Tan Tiong Li itu tentu dia tidak akan tewas di tangan Gak Liu. Puteri selir itu harus tetap ditangkap dan terutama Tiong Li itu harus dapat dibunuh!"

Kui To Cin-jin berkata,

"Maaf,Tai-jin. Untuk menghadapi Tan Tio ng Li tidaklah mudah. Sa ya sendiri sudah merasakan ? kehebatan ilmu kepandaiannya .seorang pemuda sakti. Karena itu, kalau tai-jin setuju, saya akan memanggil beberapa orang kawan yang berilmu tinggi dari utara untuk bersama- sama menghadapinya." "Baik, engkau boleh berangkat sekarang juga untuk memanggil mereka!" kata Jin Kui yang sudah marah dan bernafsu sekali untuk membalas penyebab kematian puteranya.

"Setelah berunding, dia lalu menetapkan keputusannya. Pertama, puteri Sung Hiang Bwee harus tetap ditangkap dan diserahkan kepada Panglima.Wu Chen dari Kerajaan Kin. Kedua, sebarkan fitnah bahwa yang menculik sang puteri adalah; para pemberontak yang dipimpin oleh Gak Liu. Ke tiga mengerahkan pasukan untuk melakukan pembersihan terhadap para pemberontak. Ke empat, mencari.Tan Tiong Li dan Gak Liu sampai dapat dan membunuh mereka. Dan kelima dari para penyidik kini telah diketahui bahwa dua orang wanita yang membantu para pemberontak adalah Ban- tok Sian-li dan muridnya dari Lembah Maut dan harus diserbu.

Dan untuk pelaksanaan semua ini, Kui To Cin-ji n akan memanggil dua orang sutenya dari utara. Dua orang sutenya itu adalah pertapa-pertapa dari Kui-san dan memiki ilmu kepandaian yang tidak dibawah tingkat ilmu kepandaian Kui To Сin jin sendiri.

Mereka adalah какак bёгadik, yang tua berusia limapuluh tujuh tahun dan bernama Ouw Yang Кian berjuluk Toat-beng-jiauw (Cakar Pencabut Nyawa) dan adiknya Ouw Yang Sian berusia limapuluh tahun berjuluk Hek-bin- kwi (Setan Muka Hitam).

Sebagai para sute dari Kui To Cin-jin memang kepandaian masing-masi ng tidak setinggi kepandaian Kui To Cin-jin, akan tetapi kalau mereka maju bersama, Kui To Cin- jin itupun tidak akan mampu menandingi mereka. Malam yang sunyi. Kembali di Istana ada bayangan hitam berkelebat cepat sekali dan tahu-tahu dia sudah berada di atas genteng kamar Sung Hiang Bwee. Semenjak terjadi penculikan atas diri puteri selir ini, Kaisar memerintahkan kepada para pengawal agar setiap malam diadakan penjagaan secara bergantian di depan kamar sang puteri.

Мака pada saat itupun nampak empat orang pengawal berdiri di depan kamar sang puteri, Akan tetapi bayangan hitam yang memakai kedok ini tidak merasa gentar, bahkan dia lalu melayang turun di depan empat orang itu. Sebelum empat orang itu sempat berteriak, baru menggerakkan senjata mereka, tahu-tahu mereka trlah roboh semua, tertotok dengan kecepatan luar biasa.

Kemudian si kedok hitam mendobrak daun pintu. Dua orang dayang yang menemani Hiang Bwee terkejut dan berteriak, akan tetapi sebelum suara mereka sempat keluar dengan nyaring, tubuh mereka juga sudah roboh pingsan.

Tinggal sang puteri yang terbelalak memandang, lupa untuk menjerit saki ng kaget dan takutnya. Orang berkedok yang amat lihai itu cepat menyambarnya, menotoknya dan memanggulnya setelah memasukannya kedalam karung sutera. Seperti yang dilakukan oleh Ciang Sun Hok dahulu, sekarang ini diapun melarikan diri melalui jalan rahasia sehingga dia tiba di luar istana tanpa diketahui orang lain.

Kini, berbeda dengan penculika n terdahulu, di luar istana sudah menanti sebuah kereta yang ditumpangi oleh perdana Menteri Jin Kui sendiri! Si kedok hitam lalu membawa masuk puteri da lam karung sutera hitam itu. kemudian setelah memberi Isyarat dia lalu berkelebat lenyap. Pelaku penculIkan yang amat lihai ini bukan lai n adalah Si Muka Tengkorak sendiri. Kereta lalu dijalankan oleh kusir kereta menuju ke rumah gedung Perdana Menteri Jin Kui.

Andaikata ada orang meli hat kereta itu, tentu takkan ada yang berani mencoba untuk menegur atau menyelidiki karena siара orangnya berani menegur Perdana Menteri Jin Kui ? Kereta itu masuk halaman gedung terus ke belakang, ke arah istana dan di sini, tanpa terlihat orang lai n, sang puteri diturunkan dan dimasukkan ke dalam sebuah kamar.

Hiang bwee dikeluarkan dari karung sutera dan direbahkan di pembaringan dalam keadaa n tertotok, kemudian kaki tangannya diikat dengan kain sehi ngga seandainya totokannya sudah punah, iapun tidak akan mampu bergerak.

Hiang Bwee hanya meli hat dua orang berkedok hitam yang mengeluarkannya dari dalam karung hitam dan yang mengikat kaki tangannya. Ketika ia sudah terbebas dari totokan, ia meronta- ronta-namun usahanya sia-sia karena ka ki tangannya terikat kuat oleh kain sehingga ia tidak merasa nyeri, hanya tidak mampu bergerak. ia membuka mulut hendak mengeluarkan teriakan minta tolong, akan tetapi seorang berkedok masuk kamarnya dan berkata,

"Nona, sebaiknya nona tidak mengeluarkan suara kalau tidak ingin kutotok lagi sehingga tidak mampu bergerak."

Hiang Bwee tentu saja merasa tidak enak kalau ditotok, maka ia lalu mengangguk. "Kalau nona berjanji akan diam saja dan menurut, kami tidak akan mengganggu nona dan tidak akan membe- lenggumu lagi."

"Aku akan menurut. Lepaskan ikatan kaki tanganku," kata puteri itu.

Si kedok hitam itu bukan lain adalah Tang Boa Lu Si Muka Tengkorak. Dia merasa yaki n bahwa gadis ini tidak akan mampu berbuat sesuatu. Andaikata berteriak sekalipun, tidak akan terdengar oleh orang di luar gedung.

Мака, sesuai dengan pesan Perdana Menteri Jin Kui- bahwa nona yang akan dipersembahkan kepada Panglima Besar Wu Chu itu jangan sampai menderita, dia lalu melepaskan ikatan kaki tangannya. Hiang Bwee lalu bangkit duduk, menggosok gosok kaki tangan bekas ikatan. la memandang ke kanan kiri. Kamar itu indah dan besar, bukan kamar orang biasa. Tentu kamar seorang yang kaya raya, pikirnya. la bangkit dan hendak menghampiri pintu. Akan tetapi Si Muka Tengkorak berkata,

"Sebaiknya nona tidak beranjak dari kamar ini. Kamar ini terjaga ketat dan nona tidak akan bisa melarikan diri."

Setelah berkata demikian, Si Mijka Tengkorak yang berkedok itupun keluar dari kamar itu dan menjaga di luar kamar bersama para pengawal .

Hiang Bwee membuka daun pi ntu yang segera ditutupnya kembali ketika la menghadapi todongan tombak empat orang pengawal. Ketika ia membuka daun jendela, iapun melihat ujung tombak dan dua orang penjaga di luar jendela.

Ditutupkannya kembali daun jendela itu dan iapun duduk di atas kursi. Mengapa ia diculik ? Siapa penculik nya ? Tidak, bukan orang berkedok itu. Tentu orang berkedok itu hanya seorang utusan, dan ada orang di balik semua ini yang mendalanginya. Akan tetapi ара maunya orang itu menyuruh menculiknya? Hatinya mulai merasa takut dan teringatlah ia kepada Tan Tio ng Li! Ah, kalau saja Tiong Li menjadi pengawalnya dan berada di Istana, belum tentu ia akan dapat diculik orang. Akan tetapi, siapa tahu pendekar itu akan muncul lagi menolongnya.

la ingin berteriak, ingin menjerit minta tolong. Akan tetapi ia teringat dan menahan keinginannya. Menjerit belum tentu terdengar orang dan akibatnya ia akan ditotok kembali. Ah, tidak enak. Lebih baik begini. Setidaknya ia masih dapat bebas bergerak dan bicara.

Akhirnya sang puteri melupakan segalanya dan merebahkan dirinya di tempat tidur yang indah itu dan dapat tidur pulas.

Pada keesokan harinya, pagi pagi sudah muncul dua orang dayang yang membawa air untuk mencuci badan, bahkan melayaninya. Akan tetapi ketika ia mencoba untuk menanyai mereka, keduanya hanya menggeleng kepala dan tidak mengeluarkan suara, tidak berani bicara sepatah katapun! Hiang Bwee tidak perduli, setelah membersihkan badan ia lalu makan sarapan yang dibawa oleh dua orang wanita pembantu itu. Setelah selesai, dua orang wanita itu keluar lagi .

Таk lama kemudian, si kedok hitam masuk lagi. Hiang Bwee segera meregurnya.

"Siapakah engkau? Mengapa engkau menculikk u dan membawaku ke si ni? Араkah engkau tidak takut akan hukuman berat kalau sampai tertangkap?" "Nona, harap jangan banyak bertanya dan menurutlah saja," kata si kedok hitam dan tiba-tiba saja tangannya menyambar. Hiang Bwee terkulai dalam keadaan pingsan.

la lalu dipondong dan diangkat keluar dari dalam kamar dan tak lama kemudian la sudah berada di dalam sebuah kereta, di tengah-tengah antara empat orang selir Perdana Menteri Jin Kui! Karena dijepit di tengah- tengah, puteri itu nampaknya seperti seorang di antara selir-selir itu. Pada hal puteri itu berada dalam keadaan pingsan.

Kereta itu dijalankan menuju ke pintu gerbang utara, dikawal oleh seorang perwira pengawal yang menunggang kuda. Ketika melewati penjagaan pintu gerbang, Semua perwira memberltahukan kepada para penjaga bahwa para selir Perdana Menteri pagi Itu hendak pergi mengunjungi kui I yang berada di luar kota.

Para penjaga tidak berani banyak rewel, hanya menjenguk sebentar ketika tirai kereta disingkap oleh seorang selir dan meli hat bahwa yang berada di dalam kereta adalah selir-selir yang muda dan cantik. Kereta lalu malewati plntu gerbang dan menuju ke utra.

Setelah agak jauh dari pintu gerbang, telah menanti sebuah kereta lain yang lebi h kecil. Kereta ini dikusiri oleh Ciang Sun Hok sendiri dan bahkan dikawal oleh Si Muka Tengkorak. Sang puteri lalu dipindahkan ke dalam kereta dan kemudian kereta para selir melanjutkan perjalanan ke kui l.

Setelah sang puteri dipindahkan ke dalam kereta kecil, ditemani Si Muka Tengkorak, dengan cepat tangan Tang Boa Lu membebaskan totokannya. Hiang Bwee sadar kembali, membuka matanya dan ia menahan jerltnya ketika melihat seorang yang mukanya seperti tengkorak duduk dl depannya.

"Sssst, tidak perlu menjerit nona. Tidak akan ada yang mendengar dan kalau engkau menjerit, terpaksa aku akan menotokmu pingsan lagi. Aku tidak akan mengganggumu!"

Hiang Bwee memandang muka itu dengan jijik dan ngeri. "Siapakah engkau? Da n aku.... akan dibawa ke manakah?"

"Aku adalah seorang panglima Kerajaan Kin        "

"Ohhh ......... .!" Hiang Bwee terkejut sekali mendengar bahwa ia telah terjatuh ke tangan musuh!"

"Jangan takut, nona kami tidak akan mengganggumu engkau hanya dijadikan tawanan dan akan kuserahkan kepada panglima kami. Kalau nona diam saja dan menurut, kami akan memperlakukanmu dengan baik."

Hiang Bwee hanya mengangguk-angguk,matanya masih terbelalak, mukanya masih pucat. la maklum bahwa untuk sementara ini ia tidak dapat berbuat sesuatu dan memang lebi h baik menurut saja dari pada dibuat pingsan seperti tadi.

Kereta lalu dibalapkan menuju ke utara, memasuki daerah antara Kin dan Sung yang merupakan daerah tak bertuan.

Kereta itu berjalan dengan cepat karena ditarik oleh empat ekor kuda. Akan tetapi ketika kereta sudah mendekati daerah Kin, tiba-tiba saja dari balik rumpun alang-alang dan batang-batang pohon berlompatan belasan orang, Kereta terpaksa berhenti karena dihadang orang-orang yang memegang pedang dan golok, Jumlah mereka ada limabelas orang, dipimpin seorang pemuda yang tampan dan gagah memegang pedang.

"Berhenti! Siapa di kereta dan hendak pergi ke- mana?" Bentak pemuda itu.

Mendengar ini, dan melihat ada belasan orang menghadang kereta Hia ng Bwee berteriak,

"Aku puteri Kaisar diculik " Suaranya terhenti karena

Si Muka Tengkorak sudah menotoknyal Tafig Boa Lu segera meloncat keluar dari dalam kereta dan bersama Ciang Sun Нбk menghadapi belasan orang itu.

"Kalian Jangan mencampuri urusan каmi ...!!" bentak Ciang Sun Hok. "Aku adalah Seorang panglima perrgawal dari Perdana Menteri Jin Kui, dan harus mengantarkan gadis ini ke suatu tempat."

"Bebaskan sang puteri!" terdengar teriakan.

"Bunuh antek Menteri Jin Kui yang jahat!" terdengar teriakan lain.

Akan tetapi pemuda yang memimpi n gerombolan itu mengangkat tangan kiri ke atas menyuruh anak buahnya berhenti berteriak, kemudian dia berkata kepada Ciang Sun Hok.

"Benarkah gadis itu puteri kaisar yang diculik? Tidak mungki n engkau panglima Perdana Menteri kalau engkau menculik seorang puteri istana!"

Karena didesak demlklan itu, Ciang Sun Hok menjadt marah dan dia membentak,

"Kalian memang harus dlbasmi!"

Dan dia sudah menubruk kedepan dengan cengkeramannya. Pemuda Itu terkejut meli hat serangan yang amat dahsyat Itu. Dia melompat ke belakang dan menggerakkan pedangnya menyerang dan begitu dia malnkan pedangnya, tahulah Ciang Sun Hok bahwa dia berhadapan dengan seorang murid Kun-lun-pai yang hebat sekali llmu pedangnya. Мака diapun mencabut pedang dari punggungnya dan mereka sudah terlibat dalam perkelahia n yang seru.

Sementara itu, belasan orang sudah mengepung dan hendak membantu pimpinan mereka, akan tetapi Si Muka Teng korak mengamuk. Amukannya demikian hebatnya sehi ngga dalam beberapa detik saja empat orang sudah roboh oleh hantaman tangannya. Ара lagi ketika dia melolos sehelai sabuk rantai baja yang ujungnya runcing tajam lebih banyak lagi anak buah para pejuang itu yang roboh bermandikan darah.

Melihat ini, pemuda Kun-lun-pai terkejut bukan main dan sebelum dia dapat berbuat sesuatu, Si Muka Tengkorak sudah melompat dekat membantu Ciang Sun Hok. Rantainya yang panjang sudah melibat pedang pemuda itu dan sekali renggut pedang itupun terampas dan di lain saat Ciang Sun Hok sudah mengirim sebuah tendangan yang membuat pemuda itu terjungkal dan pingsan! Para anak buah pejuang yang tinggal lima orang itu lalu melarikan diri, tak sanggup melawan dua orang yang ilmunya tinggi itu.

"Kita tangkap pemuda Kun-lun-pai ini, bawa menghadap sebagai hadiah kepada panglima!" kata Si Muka Tengkorak dan Ciang Sun Hok setuju saja.

Pemuda itu lalu dibelenggu dan dilemparkan ke dalam kereta, sedangkan Si Muka Tengkorak duduk di depan bersama Ciang Sun Hok. Kereta lalu dibalapkan lagi menuju ke utara, memasuki perbatasan daerah Kin. Hiang Bwee terkejut dan juga khawatir sekali melihat pemuda yang dilempar masuk. Tadinya ia mengira bahwa pemuda itu Tan Tio ng Li, akan tetapi ternyata bukan dan hatinya menjadi agak lega.

Kini ia memperhatikan pemuda itu. Seorang pemuda yang tampan dan dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya. Ketika pemuda itu merintih, Hiang Bwee membantunya untuk bangkit dan duduk di atas bangku kereta di depannya. Pemuda itu membuka matanya dan menjadi bengong ketika memandang wajah seorang gadis cantik jelita yang duduk didalam kereta.

Kemudian dia teringat dan berusaha untuk meronta dan melepeskan diri dari ikatan, namun sia-sia, ikatan itu terlampau kuat, Dia lalu menyadari keadaannya. Ked ua orang itu terlalu kuat buat dia dan mereka duduk didepan. Andaikata dia mampu melepaskan ikatannyapun akan percuma saja.

Dia ti dak dapat melepaskan diri dari mereka berdua. Dia teringat akan teriakan tadi lalu mengangkat muka, memandang lagi kepada gadis itu. Hiang Bwee juga sedang memandang kepadanya. Dua sorot mata bertemu dan Hiang Bwee menunduk.

"Nona, benarkah engkau puteri Sri baginda Kaisar?" "Benar., aku diculik dari Istana," kata Hiang Bwee lirih.

Akan tetapi betapapun lirihnya mereka bicara, tetap saja

dapat terdengar oleh dua orang yang duduk dl depan. Dan agaknya kedua orang itu tidak perduli karena yakin bahwa dua orang tawanan mereka itu tidak akan dapat berbuat sesuatu untuk membebaskan diri.

"Mau dibawa ke mana, nona?"

"Aku tidak tahu. Siapakah namamu?" "Saya bernama Souw Cun Ki, murid Kun-lun-pai yang bergabung dengan para pejuang."

"Souw-enghiong (pendekar Souw), engkau harus berusaha untuk membebaska n aku namaku Sung Hia ng Bwee,puteri kaisar ..."

"Ha-ha-ha, jangan bermimpi!" tiba tiba terdengar Ciang Sun Hok tertawa. "Kalian tidak akan dapat bebas dan kalau banyak membuat ulah, kami akan memukul pingsan kalian!"

Mendengar ini, Cun Ki memberi isyarat dengan matanya kepada puteri itu agar berdiam diri. Dia maklum bahwa ucapan itu bukan bualan kosong belaka. Ked ua orang itu memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi, dan andaikata dia dapat membebaska n kedua kaki tangannya sekalipun, dia tidak akan mampu menandingi mereka. Ара lagi dia telah kehilangan pedangnya.

Akhirnya kereta dapat mencapai perbentengan di mana Panglima Besar Wu C hu berada. Panglima ini seorang laki- laki yang gagah, berusia empatpuluh tahun lebih, tubuhnya tinggi besar dan wajahnya gagah perkasa dengan jenggot lebat, matanya lebar dan dia memang sejak mudanya menjadi perwira. Ketika dia mendengar laporan pembantunya, Si Muka Tengkorak bahwa Hak Bu Cu tewas di tangan seorang pemberontak, dia marah sekali.

"Kenapa Perdana Menteri Jin tidak suruh tangkap pembunuh itu dan menghadapkannya kepadaku?" Bentaknya marah.

Ciang Sun Hok yang menjadi utusan Perdana Menteri Jin Kui segera memberi hormat. "Harap thai-ciangkun tidak berkecil hati. Kami akan mencari sampai dapat pembunuh itu dan sekarangpun sudah menjadi buruan kami. Sementara itu, Jin-taijin mohon maaf dan untuk menghib ur hati thai-ciangkun, Jin- tai- jin mengirimkan seorang siuli (wanita cantik) untuk menghibur hati Ciang- kun."

"Hemm, terima kasih atas perhatian Jin-taiji n. Akan tetapi aku sudah mempunyai cukup banyak selir dan tidak membutuhkan wanita cantik," kata panglima besar itu dengan suara masih mengandung kemarahan.

"Akan tetapi thai ciangkun belum tahu siapa yang dikirimkan kepada thai ciangkun. ia adalah puteri Kaisar Sung!"

"Aha! Puteri Kaisar Sung?"

"Ya, dan puteri yang pernah membuat thai-ciangkun terkagum-kagum ketika ciangkun berkunjung ke istana," tambah pula Ciang Sun Hok.

"Cepat bawa ia masuk ke sini !" perintah panglima besar itu dengan hati tertarik sekali.

Mendengar bahwa wanita itu adalah puteri Kaisar Sung, tentu saja persoalannya menjadi lain lagi. Ketika puteri itu sudah dibawa masuk dan berdiri dengan kepala tunduk di hadapa nnya, ia tersenyum lebar dan wajahnya yang gagah itu menjadi berseri-seri. Dia teringat akan puteri yang pandai menari dan ketika dia berkunjung ke Istana Kaisar Sung dan disuguhi tarian puteri ini, dia memang sudah tergila-glla, akan tetapi tidak berdaya karena penari itu adalah puteri Kaisar! Dan sekarang, ternyata Perdana Menteri Jin dapat mengirim puteri yang pernah membuatnya terglila-gila itu kepadanya, bahkah mempersembahkan kepadanya! . "Ah, puteri yang pandai menari itu!" katanya sambil memandang dengan penuh kagum.

Sung Hia ng Bwee mengangkat muka dan memandang kepada panglima utu dengan alis berkerut.

"Kalau engkau sudah tahu bahwa aku puteri Kaisar, cepat kirim aku kembali kalau engkau tidak menghendaki ayahanda Kaisar marah kepadamu ! "

Panglima besar itu hanya tertawa dan memerintahkan beberapa orang dayang untuk membawa sang puteri ke dalam gedungnya. Hiang Bwee lalu di iri ngkan beberapa orang dayang ke dalam, dengan memegang! kedua lengannya dari kanan kiri.

Kini wajah panglima itu. menjadi cerah dan agaknya dia sudah melupakan lagi tentang kematlan pembantu yang di sayangnya, yaitu Hak Bu Cu.

Kini Si Muka Tengkorak yang ingin mendapat pujia n melaporkan bahwa dia juga menangkap seorang pemimpin pemberontak yang penting karena pemuda itu lihai sekali dan masih tokoh Kun-lun- pai .

"Hemm, Kun-lun-pai berani terang-terangan memusuhi kita? Bawa dia masuk!"

Souw Cun Ki diseret masuk dalam keadaan terbelenggu. Dia berdiri tegak di depan Panglima Wu Chu dan baru berlutut setelah dari belakang lututnya ditendang oleh Si Muka Tengkorak.

"Benarkah engkau seorang tokoh Kun-lun-pai?" tanya Panglima Wu Chu sambi1 memandang wajah yang tampan itu. "Siapa namamu dan siapa menyuruh engkau melakukan perlawanan terhadap Kerajaan Kin?"

"Aku memang murid Kun-lun-pai bernama Souw Cun Ki, akan tetapi aku melawan penjajah Kin tidak atas suruhan siapa-siapa, melainkan kehendakku sendiri! Kalau mau hukum, laksanakanlah, aku tidak takut mati !"

"Hemm, kamipun tidak percaya bahwa Kun-lun-pai terang-terangan memusuhi kami! Kalau demikian halnya, kami akan mengutus pasukan untuk membasmi Kun-lun- pai! Pengawal, masukkan dia dipenjara sambil menanti penyelidikan apakah benar Kun-lun-pai memusuhi kita!"

Empat orang pengawal lalu maju dan menyeret Cun Ki untuk dibawa dan dimasukkan ke dalam penjara.. Setelah itu, Panglima Wu C hu menjamu Ciang Sun Hok sebagai utusan Perdana Menteri Jin Kui sambil bercakap-cakap membicarakan keadaan di Kerajaan Sung.

"Harap thai-ciangkun jangan khawatir. Jin-taiji n sedang berusaha sekuatnya untuk menghancurkan para pemberontak itu dan kami yakin akan dapat menangkap pembunuh Hak Bu Chu," kata Ciang Sun Hok ketika mereka menghadapi perjamuan.

"Aku percaya akan hal itu dan sampaikan terima kasihku kepada Jin-tai jin atas pengiriman puteri itu." KataWu Chu dengan gembira membayangkan betapa dia akan dilayani oleh seorang puteri tulen, bahkan puteri dari Kaisar Sung.

Sebuah penghormatan yang teramat besar! Bahkan rajanya sendiri tidak memperoleh kehormatan seperti itu!

Akan tetapi, betapa kecewa hati Pangiima besar Wu Chu. Ketika malam itu dia memasuki kamar Sung Wang Bwee, puteri itu sama sekali tidak mau menerimanya dengan Ьаik, ара lagi mela- yaninya. Puteri itu bahkan memaki-maкi ia sebagai orang tidak tahu malu. "Engkau dulu menjadi tamu ayahanda Kaisar dan diterima dengan penuh penghormatan. Siapa tahu engkau hanya seorang manusia rendah budi, seorang pengecut besar yang menyuruh orang mencullk aku. Jangan dekati aku. Kalau sampai meraba tubuhku, aku akan membunuh diri!"

Panglima Besar Wu C hu adalah seorang jantan. Selama ini, hampir setiap wanita mengharapkan untuk menjadi selirnya. Dia adalah orang mempunyai kekuasaan besar di Kerajaan Kin, menjadi orang kedua setelah raja. Dia gagah perkasa dan royal, maka mana ada wanita menolaknya.

Kini, berhadapa n dengan puteri Sung Hiang Bwee, dia malah dimaki-maki! Dia bukan seorang laki-laki yang suka memaksa atau memperkosa wanita. Maka tentu saja dia menjadi marah bukan main karena merasa terhina.

"Bawa ia ke penjara! Jebloskan ke dalam kurungan sampai ia bersedia melayani aku!" bentaknya dengan marah setelah dia membujuk-bujuk dengan halus sampai kasar tidak dapat menundukkan hati puteri itu..

Para pengawal lalu menggiring Hia ng Bwee masuk ke dalam penjara. Agaknya panglima itu hendak memanci ng agar sang puteri dan orang Kun-lun-pai itu bercakap- cakap mengenai rahasia pemberontakan, maka dia menyuruh kurung puteri itu berdekatan dengan kamar tahanan Souw Cun Ki hlngga mereka dapat saling bicara melalui celah-celah jeruji baja yang memisahkan mereka.

Ketika melihat penolongnya berada di kamar sebelah, hati Hiang Bwee agak terhibur dan segera ia mendekati dan memegang jeruji baja itu sambil memandang ke kamar sebelah. Souw C un Ki terkejut dan heran meli hat sang puteri dimasukkan dalam kamar penjara sebelahnya.

"Eh, kenapa engkau Juga dipenjara, nona?" katanya dan dalam keadaan seperti itu, dia lupa akan peradatan bersikap dan berbicara kepada sang puteri kaisar! Hiang Bwee juga tidak

memperdulikan

pemuda itu

menyebutnya nona dan berengkau ke padanya.

"Aku menolak kehendaknya yang terkutuk dan dia marah lalu aku dipenjarakan!" jawabnya."Biar aku dibunuh mati sekalipun, aku tidak akan sudi menyerah kepadanya!"

Cun Ki memandang kagum. Heran dia melihat seorang puteri kaisar demikian tabahnya menghadapi segala kesulitan yang demikian menyudutkannya.

"Ah, engkau seorang pemberani, nona. Sungguh aku kagum dan hormat kepadamu."

"Akan tetapi engkau, Souw-enghiong. Demi menolong aku, engkau sendiri sampai tertangkap dan nyawamu terancam."

"Акц tidak takut mati, nona. Mati dalam perjuangan merupakan suatu kehormatan bagiku. Mati bukan apa- apa bagiku, akan tetapi aku amat memprihatinkan dirimu, nona.. Engkau terancam bahaya yang hebat, bahkan mungki n bahaya maut." Gadis itu tersenyum! Hampir Cun Ki tidak percaya kepada matanya sendiri. Dalam keadaa n seperti ttu, gadis itu masi h dapat tersenyum demikian manisnya.

" Dalam hal keberanian menghadapi kematian, engkau bukan seorang diri, enghio ng. Aku sendiripun tidak takut mati kalau kehormatanku terancam. Aku lebih menghargai kehormatan dari pada kematian."

"Nona...... engkau.... engkau Seorang Wanita yang mulia dan bijaksana, aku kagum sekali !" kata Cun Ki dengan suara terharu.

Panglima Wu Chu marah sekali mendengar laporan penjaga akan isi percakapan mereka itu dan dia memerintahkan menahan terus kedua orang itu.

0oo-dw-oo0

Istana gempar lagi pada keesokan harinya ketika kaisar mendengar laporan para pengawal dan dayang. Puteri Sung Hia ng Bwee kembali dicuHk orang berkedok hitam! Kaisar lalu memanggil semua menteri dan panglima dan memerintahkan mereka semua untuk berusaha menemukan puteri   dan   menghukum penculik nya dengan hukuman yang paling berat.

"Ampun, Yang Mulia. Menurut pendapat hamba, penculik nya pastilah pemuda yang bernama Tan Tiong Li itu."

Kaisar mengerutkan alisnya. "Ah, tidak masuk diakal! Pemuda itu bahkan yang menolongnya dari penculik nya yang pertama kali. Bagaimana kini engkau menuduh dia menjadi penculiknya?"

"Dengan perhitungan yang tepat, Yang Mulia. Menurut basil laporan para penyelidik, terjali n hubungan antara pemuda itu dengan tuan puteri sejak ia ditolong. Dan mengi ngat bahwa pemuda itu belum lama ini bergabung dengan pemberontak Gak Li u, bahkan mengakibatkan kematian anak laki-laki hamba, maka hamba yakin bahwa penculiknya tentulah dia ! Bukan menculik, melainkan sudah bersekutu dengan sang puteri yang ingin melarikan diri dari istana untuk dapat berkumpul dengan pemuda itu!"

"Jin Kui, kalau engkau ternyata tidak mengucapkan tuduhan yang benar, kami dapat marah sekali kepadamu

! " bentak kaisar.

"Akan tetapi kalau hamba berkata benar bagaimana, Yang Mulia ? Kalau pemuda itu dapat tertangkap, tentu akan dapat ditemukah di mana adanya puteri paduka."

"Kalau begitu tangkap dia!"

'Акаn tetapi, dahulu paduka pernah menjanjika n kedudukan kepada nya, kalau sekarang tanpa perintah penangkapan paduka, bagaimana hamba dapat melaksanakannya?"

"Baik, kubuat perintah penangkapan Tan Tio ng Li!" kata Kaisar yang sedang sedih dan khawatir karena terculik nya Sung Hia ng Bwee.

Perdana Menteri Jin Kui memang cerdik sekali. Tentu saja dia tahu bahwa yang menculik Hiang Bwee bukan Tiong Li melainkan Si Muka Tengkorak, bahkan dia yang mengatur semua itu. Dan untuk memperkuat pengejaran terhadap Tio ng Li pertu sekali ada surat perintah Kaisar sehingga dia dapat mengerahkan seluruh tenaga pasukan.

Bagaimana kalau nanti Tiong Li tertangкар dan Hia ng Bwee tidak dapat diajak pulang? Mudah saja. Bunuh pemuda itu, habis perkara dan katakan kepada Kaisar bahwa Hia ng Bwee telah terbunuh oleh pemuda itu.

Mulailah Perdana Menteri Jin Kui melaksanakan semua rencananya untuk membalas kematian puteranya. Hiang Bwee yang menjadi gara-gara kematian puteranya sudah terbalas, dan sekarang tentu telah menjadi selir Panglima Besar Wu Chu, dan Tiong Li sudah dijadikan buronan pemerintah.

Kemudian dia mengerahkan pasukan yang dipimpin oleh Kui To Cin-jin dan dua orang sutenya yang sudah datang dari utara, yaitu kaкак beradik Ouw Yang, menyerbu ke Lembah Maut untuk membasmi Ban-tok Sian-li dan anak buahnya yang dianggap telah membantu pemberontak! Juga pasukan ini ditugaskan untuk mencari para gerombolan pemberontak dan membasminya, terutama sekali yang dipimpin oleh Gak Liu.

Dengan surat perintah penangkapan atas diri Tan Tiong Li dari Kaisar, maka kini di mana-mana terpasang pengumuman tentang pelaria n Tan Tio ng Li sebagai orang buruan. Pada saat itu Tiong Li sedang berkunjung ke dusun lereng Liong-san untuk bersembahyang didepan makam ayahnya dan juga untuk ber sembahyang di bekas pondok gurunya, Рек Hong San-jin yang dulu dibakarnya bersama jenazah kakek itu.

Setelah selesai bersembahyang dia meninggalkan pegunungan Liong-san dan beberapa hari kemudian tibalah dia di kota Cun-keng. Begitu memasuki kola itu, dia melihat banyak orang berkerumun membaca sehelai pengumuman yang di tempel di dinding. Dia ikut berdesakan untuk membacanya dan betapa terkejutnya melihat wajahnya terpampang di pengumuman itu dan di situ disebutkan bahwa siapa yang dapat menangkap Tiong Li, pemberontak dan penculik puteri akan diberi hadiah oleh Kaisar!.

Tiong Li terkejut bukan main dan pada saat itu dia mendengar orang berteriak di sebelahnya. "Wah, ini dia orangnya, pemberontak dan penculik puteri itu!"

"Bukan! Aku bukan pemberontak apalagi penculik puteri!" bantah Tiomg Li.

Akan tetapi orang-orang itu sudah mengenalnya dari gambar yang terlukis di pengumuman dan banyak orang segera mengulur tangan untuk menangkaprnya. Tio ng Li tidak mau melawan mereka yang hanya bertindak karena pengumuman itu dia mengelak lalu melarikan diri dengan cepat keluar kota Cun-keng, dikejar orang banyak dan tak lama kemudian ada pasukan penjaga kota yang ikut mengejar. Akan tetapi dia telah lari jauh meninggalkan kota dan tiba dalam hutan di luar kota.

Dia berhenti berlari dan duduk di atas batu, termenung. Dia menjadi orang buruan. Dan kaisar sendiri yang mengumumkan bahwa siара dapat menangkapnya akan diberi hadiah. Puteri telah diculik orang.

Siapakah puteri itu? Apakah Hia ng Bwee kembali dicilik orang dan kaisar menyangka dia yang me lakukannya? Fitnah keji ! .

Kata fitnah ini mengingatkan dia kepada Jin Kui. Orang itu penuh dengari siasat licik dan fitnah keji. Dahulupun ketika dia menolong Hiang Bwee malah akan di fitnah sebagai penculik nya, dan ketika dia keluar kota, dia malah diserang puteranya dengan fitnah memberontak.

Perdana Menteri Jin Kui patut dicurigai sebagai pelempar fitnah dan kalau dia yang melempar fitnah, tentu dia tahu pula siapa yang menculik sang puteri. Tidak ada lain jalan, dia harus ke kota raja untuk melakukan penyelidikan. Akan tetapi karena gambarnya terpampang di mana-mana, tidak mungkin dia memasuki kota raja begitu saja. Dia akan ditangkap sebelum dapat melakukan apa-apa, baru memasuki pintu gerbang saja dia akan dikepung pasukan dan ditangkap.

Setelah mencari akal, Tio ng Li melanjutkan perjalanannya dengan menyamar sebagai pengemis. Dia mengotori muka dan tangannya, memakai sepatu butut, pakaiannya juga butut dan penuh tambalan, memakai sebuah caping butut: yang lebar menutupi mukanya. Dengan pakaian seperti itu, benar saja dia tidak diperhatikan orang dan dapat melakukan perjalanan dengan leluasa.

Siapa orangnya yang akan mencurigai seorang pengemis berpakaian. butut, bersepatu butut, memakai caping rusak pula dan kaki tangan dan mukanya kotor seperti orang yang sudah berhari-hari tidak pernah mandi? .

Demikian pula ketika Tiong Li memasuki pintu gerbang kota raja Hang-couw, para penjaga keamanan di pintu gerbang itu tidak memperdulikan, bahkan memandang jijik dan menghardiknya agar cepat pergi jangan terlalu lama berada di pintu gerbang! .

Akan tetapi tanpa setahu Tio ng Li, ada seorang yang memperhatikannya sejak dia memasuki pintu gerbang, bahkan ketika dia berjalan memasuki kota, orang itu membayangi nya dari jauh, tanpa sadar bahwa dia dibayangi orang karena yang berjalan di belakang nya, agak jauh itu adalah seorang pengemis yang memegang tongkat hitam. Orang itu masih muda dan wajahnya tampan gagah biarpun bajunya baju pengemis. Memang, pengemis muda itu bukan lain adalah Gan Kok Bu, putera ketua Hek-tung Kai-pang yang pernah menolong Bаn-tok Sian-li dan yang jatuh ci nta kepada The Siang Hwi. Ketika Kok Bu melihat seorang pengemis baju butut masuk ke pintu gerbang, orangnya tidak dikenalnya, dan juga tidak ada tanda-tanda dari sebuah perkumpulan pengemis, dia menjadi curiga dan membayangi. Dia menduga bahwa pengemis bercaping butut itu adalah seorang yang menyamar, dan dia tidak tahu orang itu berdiri di pihak mana.

Seorang pejuang ataukah seorang mata-mata Kerajaan Kin yang menyelundup masuk, Karena curiga, dia lalu membayangi. Kecurigaannya semakin bertambah ketika dia tidak melihat pengemis itu pergi ke pasar atau tempat-tempat ramai melainkan berjalan kelili ng kota dan beberapa kali melewati rumah gedung Perdana Menteri Jin Kui.

Kalau sedang lewat di depan gedung ini, pengemis muda itu memandang penuh perhatian. Juga ketika melewati papan pengumuman tentang pemberontak yang akan ditangkap, pengemis muda itu memandang dengan penuh perhatian. Gan Kok Bu semakin curiga dan dia kini mendekati, memandang penuh perhatian dan akhirnya matanya yang tajam mengenal pengemis muda itu seperti lukisa n orang yang diburu pemerintah, yang bernama Tan Tiong Li. Mengerti lah dia. 0rang ini adalah buruan itu, seorang pemberontak, berarti seorang pejuang! Dia harus memperingatkannya karena dalam kota raja disebar banyak mata-mata Oleh Perdana Menteri Jin Kui.

Tiong Li menjadi terkejut sekali ketika melihat seorang pengemis muda mendekatinya dan berbisik, "Saudara Tan Tio ng Li, mari kau ik uti aku dan kita bicara "

Karena orang itu jelas sudah mengenalnya, Tiong Li terpaksa mengikuti ke mana orang itu pergi. Dia tidak menyangka buruk, akan tetapi tetap bersiкар waspada sehingga kalau orang itu berniat buruk, dia sudah dapat menjaga diri. Orang itu mengajaknya keluar masuk 1orong-lorong sempit yang sunyi kemudian mengajaknya memasuki sebuah bangunan lama yang kosong. Di situ berkumpul banyak pengemis dari bermacam usia dan keadaan. Ada yang timpang, ada yang buta, dan ada yang membawa anak, ada laki-laki dan perempuan.

Ketika orang itu lewat, para pengemis itu kelihntan tunduk kepadanya dan mereka memberi jalan dengan siкар hormat, bahkan di sebuah ruangan sebelah dalam ketika orang itu masuk dan memberi isyarat, para pengemis yang tadinya berada di situ lalu menyi ngkir tanpa berkata apapun.

Dalam rumah gedung tua kosong itu terdapat sedikitnya duapuluh orang pengemis dan agaknya menjadi Semacam tempat berteduh atau bermalam mereka.

Setelah ruangan itu kosong, orang itu mempersilakan Tiong Li duduk di lantai, berhadapa n dengan dia. Sejenak mereka saling pandang dan Tiong Li ber kata dengan suara berbisik.

"Saudara siapakah dan bagaimana bisa mengenalku?"

"Namaku Gan Kok Bu, putera dari ketua Hek-tung Kai- pang. Aku dapat mengenalmu karena betapa baikpun penyamaranmu, kalau orang sudah menaruh curiga dan mengamati penuh perhatian, tentu akan dapat melihat persamaan antara saudara dengan gambar di papan pengumuman itu."

"Dan dengan maksud apa engkau mengundangku ke sini?" tanya Tio ng Li, memandang tajam.

Kok Bu tersenyum. "Tidak dengan maksud buruk, sobat. Ketahuilah bahwa kami semua bersimpati dan membantu perjuangan para pejuang."

"Akan tetapi aku bukan seorang pejuang " kata Tio ng

Li.

Gan Kok Bu tersenyum. "Orang yang disebut

pemberontak oleh Perdana Menteri Ji n Kui, adalah seorang pejuang."

"Perdana Menteri Ji n Kui?"

"Ya, tentu dia yang berdiri di belakang pengumuman itu. Entah kesalahan ара yang kau lakukan terhadap dirinya maka dia memasang pengumuman itu atas nama kaisar. Engkau berhati-hatilah,sobat, karena Perdana Menteri itu licik sekali dan dia telah menyebar banyak mata-mata di kota raja."

Maklumlah Tio ng Li bahwa orang ini tentu sudah lama tadi membayanginya dan meli hat dua kali dia lewat di depan rumah Perdana Menteri. Мака dia tidak perlu tagi pura-pura.

"Begini, saudara Gan Kok Bu. Memang benar bahwa aku hendak melakukan penyelidikan karena sesungguhnya aku, sama sekali tidak bersalah. Aku tidak menculik puteri istara. Nah, dapatkah engkau memberi keterangan kepadaku mengenai hal itu? Pertama, puteri siapakah yang diculik orang? Siapa namanya nya?"

"Puteri yang paling terkenal di kota raja, namanya Sung Hia ng Bwee. la diculik orang beberapa hari yang lalu, diculik di waktu malam oleh orang berkedok yang melumpuhkan para pengawal dan dayang."

Diam-diam Tiong Li merasa khawatir sekali. Kembali Sung Hiang Bwee di culik orang! Mungkin penculik nya yang dulu bergerak lagi. Memang orang itu lihai sekali, dan agaknya tidak sukar bagi orang itu untuk merobohkan рагa pengawal dan menculik sang puteri. Akan tetapi siapa berdiri di baliк Ini semua ? Melihat betapa Perdana Menter Jin Kui yang berdiri di belakang fitnah yang dilemparkan kepadanya, mungkin juga pembesar itu yang mengetahui perihal penculikan puteri itu.

"Agaknya kalau Perdana Menteri Jin Kui melakukan fitnah terhadap diri ku bahwa aku yang menculik sang puteri, dia tahu. siapa pelakunya."

Gan Kok Bu mengangguk-angguk sangat boleh jadi walaupun aku masih sangsi apakah dia yang mendalangi penculika n, Kalau benar demikian, untuk ара? Kalau yang mendalangi itu puteranya, Ji n Kiat, memang sangat boleh jadi karena puteranya itu mata keranjang. Akan tetapi Jin Kiat telah tewas oleh Pendekar Gak Liu, maka sulit lah menduga siapa dalangnya."

"Akan tetapi setidaknya Perdana menteri itu tentu mengetahui nya ," kata Tiong Li.

"Akupun menduga demikian. Lalu, ара yang hendak kaulakukan, Tan tai- hiap? Aku sudah mendengar pula bahwa engkau bentrok dengan Jin Kiat dan justeru ketika engkau dikeroyok itu muncul Gak Liu yang kemudian berhasil membunuh Ji n Kiat. Mungkin juga karena itulah maka engkau difitnah karena sekarang Perdana Menteri Jin Kui juga berusaha keras untuk menangkap Gak Liu."

"Aku harus menyelidiki ke rumah Jin Kui ! " Kok Bu nampak terkejut sekali. ."Akan tetapi itu amat berbahaya! Rumah itu dikepung dan dijaga ketat sekali!"

"Aku tidak takut dan dapat mengatasi bahaya itu." "Akan tetapi, kalau engkau masuk   ke   sana   lalu

diketahui dan dikejar-kejar, bagaimana mungkin engkau

akan dapat melakukan penyelidikan? Ah, aku mempunyai akal dan aku akan membantumu, Тал- taihiap! Aku akan membawa beberapa orang kawan untuk mengacau dipintu gerbang, untuk menarik para penjaga agar berdatangan ke pi ntu gerbang. Nah, dalam keadaan panik itu tentu engkau dapat menyusup melalui tembok yang ditinggalkan para penjaganya. Bagaimana pendapatmu, tai hiap?"

Wajah Tiong Li berseri. "Akal yang bagus sekali ! Terima kasi h banyak atas bantuanmu, saudara Gan. Akan tetapi hal ini akan merepotkan engkau saja."

"Aih, tidak ada kata repot! Bukankah kita sama-sama pejuang yang membela kepentingan rakyat jelata? Malam ini kita bergerak, Tan-taihiap."

Demikianlah, pada malam hari itu,Tiong Li sengaja mengenakan ракаian serba hitam da n Kok Bu membawa belasan orang rekan dari Hek-tung Kai-pang tanpa setahu ayahnya karena sejak ayahnya mencela Siang Hwi sebagai murid Ban-tok Sian-li dan melarang dia bergaul dengan gadis itu, Kok Bu masih marah kepada ayahnya.

0o-dw-o0