-->

Mestika Golok Naga Jilid 04

Jilid IV

"Heii, berhenti!" Bentak kepala perampok ini sambil memandang dengan matanya yang besar menakutkan. "Siapa engkau, dari mana hendak ke mana?"

Tiong Li bersikap tenang walaupun dia sudah pernah mendengar dari para gurunya bahwa sekarang banyak gerombolan perampok dan gerombolan yang menamakan dirinya pejuang akan tetapi tidak segan melakukan segala bentuk kekerasan untuk merampok. Sebutan pejuang hanya untuk kedok saja.

"Namaku Tan Tiong Li, datang dari puncak gunung dan hendak turun gunung," jawabnya terus terang.

"Bagus, tinggalkan buntalan dalam pikulanmu itu atau tinggalkan kepalamu. Pilih!"

"Sobat, buntalan ini hanya terisi pakaian yang sederhana dan tidak ada harganya. Kutinggalkan tidak ada gunanya untuk kalian, maka tidak akan kutinggalkan," jawab Tio ng Li tetap tenang, akan tetapi dia waspada karena orang-orang seperti ini tidak segan melakukan segala kecurangan pula.

"Kalau begitu, tinggalkan kepalamu. Aku ingin meIi hat engkau tidak berkepala lagi !" kata kepala perampok itu dan empatbelas orang anak buahnya menyeringai kejam. Agaknya mempermainkan nyawa orang bagi mereka merupakan hib uran dan kesenangan tersendiri.

"Twa-ko, biarkan aku memuntir putus leher orang ini!" kata seorang anak buahnya yang bertubuh gendut sekali dan mukanya hitam seperti pantat ke wali. Setelah berkata demikian, dia sudah melangkah maju menghadapi Tio ng Li,

"Orang muda, serahkan kepalamu untuk kupuntir sampai putus!" setelah berkata demikian, raksasa gendut itu lalu menerjang maju dengan kedua tangan dipentang seperti seekor biruang hendak menerjang, lalu tangan itu menangkap hendak mencengkeram kepala Tiong Li. Akan tetapi dengan tenang pemuda itu melangkah dua kali ke belakang, lalu kakinya mencuat dengan sebuah tendangan yang tepat mengenai perut yang gendut itu.

"Bukk!" Raksasa itu terjengkang keras dan dia akan bangkit berdiri, namun jatuh terduduk kembali sambil mengelus dan menekan perutnya yang terasa nyeri bukan mai n, mulas melilit-lilit.

Melihat si gendut ini roboh dengan sekali tendang saja, kawan-kawan nya menjadi marah dan mereka rnencabut golok, lalu menyerang Tiong Li kalang kabut. Juga kepala perampok tidak ketinggalan. Dia yang paling tangkas di antara teman-temannya sudah pula maju membacokkan goloknya kepada Tiong Li.

Tiong Li menggunakan ilmu meri ngankan tubuh Jiauw- sang-hui mengelak ke sana kemari dengan kecepatan yang luar biasa sehi ngga gerombolan perampok itu merasa seolah mereka menyerang sebuah bayangan saja yang berkelebaian ke sana sini .

Setelah menurunkan buntalannya dan memegang tongkatnya, Tio ng Li lalu menggerakkan tongkatnya, menyerang dengan totokan totokan dan seorang demi demi seorang kawanan perampok itu roboh bergu1i ngan.

Kepala perampok menyerang dengan pengerahan sepenuh tenaganya, akan terapi goloknva terlepas ketika Tiong Li menotok pergelangan tangannya, Kemudian, sebuah tendangan merobohkannya. Limabelas orang perampok itu roboh semua mengaduh-aduh dan tidak mampu bangkit kembali. Tio ng Li melompat ke dekat kepala perampok dan menodongkan ranting kayu itu kearah lehernya.

"Bagaimana, sobat? Apakah engkau masih ingin melanjutkan perkelahia n ini?"

Kepala perampok itu mengerti betul bahwa dia berhadapan dengan seorang pendekar yang lihai sekali, maka tanpa malu-malu dia lalu berlutut.

"Ampunkan kami, tai-hiap. Kami seperti buta, tidak melihat bukit Thai-san menjulang tinggi di depan mata dan berani mengganggu tai-hap (pendekar besar)”

"Kalian memang buta. Bukan karena menyeranq aku, melainkan karena mengganggu rakyat jelata yang tidak berdosa. Kalian buta tidak melihat bahwa kalian merampoki sesama manusia yang sama sekali tidak bersalah. Apakah kalian begitu buta sehi ngga tidak melihat betapa rakyat jelata sudah amat menderita hidupnya ? Sepatutnya orang gagah-gagah dan kuat- kuat seperti kalian ini membantu manusia lain yang sengsara. bukan malah mengganggu rakyat ang sudah cukup menderita. Dari pada menggunakan tenaga dan kekuatan kalian mengganggu rakyat tanpa mengenal prikemanusiaan, lebi h baik kalau kalian membantu perjuangan para pe ndekar patriot yang hendak membela negara mengusir penjajah Bangsa Yu-cen." "Kami juga seringkali memasuki daerah Kerajaan Kin dan mengacau daerah musuh itu. taihiap. Kami membunuhi banyak orang dan merampas harta milik mereka....!" kepala perampok itu hendak memamerkan jasanya,

"Itu bukan perjuangan namanya ! Perjuangan tidak sama dengan merampoki. Perjuangan berarti menentang pasukan musuh yang mengacau di daerah Kerajaan Sung, atau maju perang bertempur melawan pasukan musuh. Akan tetapi kalian hanya memasuki daerah ! kekuasaan lawan untuk merampoki rakyat pula. Apabedanya rakyat di sana dan rakyat di sini ! Sama saja. Sebangsa dan mereka adalah orang-orang yang tidak berdosa. Orang-orang macam kalian ini sepantasnya dibasmi habis!" Tiong Li menggertak.

"Ampun, tai-hiap. "

"Berjanjilah bahwa kalian akan bergabung dengan para pejuang dan tidak melakukan perampokan lagi, dan aku akan memaafkan kalian. Ketahuilah, kalau kalian berjuang dengan sungguh-sungguh membela rakyat, maka rakyat tentu akan dengan rela hati memberikan ара yang mereka miliki untuk kalia n makan."

"Saya berjanji, tai-hiap."

"Aku ingin kalian semua yang berjanji, tidak hanya engkau!"

"Kami berjanji, tai-hiap...!" semua orang berseru.

"Aku tidak memaksa kalian. Kalau kalian sudah berjanji, lakukanlah dengan sungguh-sungguh, penuhi janji itu. Akan tetapi kalau kalia n tidak suka, boleh bangkit dan melawan aku sampai mati!"

"Kami tidak berani tai-hiap. Kami berjanji        " "Nah, baiklah, aku melepaskan kalian. Akan tetapi ingat, aku akan selalu mengamati dan kalau sekali saja aku melihat kalian masih melakukan perampokan, aku pasti akan membasmi kalian."

"Terima kasih, tai-hiap !" lima belas orang itu memberi hormat sambil berlutut, akan tetapi ketika mereka mengangkat muka, ternyata pemuda itu telah lenyap dari situ seperti menghilang saja. Pengalaman itu membuat mereka jera dan ketakutan dan mereka benar benar mencari kelompok pejuang untuk menggabungkan diri !.

Setelah pengalaman itu, Tiong Li merasa bergembira. Kini dia mengerti ара yang dimaksudkan oleh guru- gurunya. Memang dia dapat mempergunakan kepandaiannya untuk kebaikan dan dia akan terus melakukannya. Di sepanjang perjalanannya, setiap kali bertemu gerombolan perampok, tentu dia menundukkan mereka dan membujuk mereka untuk bertaubat. Dan kalau ada hartawan atau bangsawan berti ndak sewenang-wenang, diapun lalu turun tangan menghajar mereka dan membujuk mereka untuk mengubah sikар dan watak mereka yang tidak benar.

Tiong Li menuju ke kota raja. Di sepanjang perjalanan dia tidak kekurangan bekal karena orang-orang yang ditolongnya tidak segan memberinya bekal dan pakaian, melihat betapa pendekar ini tidak memiliki apa-apa.

Dan pemberian yang dilakukan dengan rela itupun tidak ditolak oleh Tio ng Li kal rena dia memang membutuhkan bekal untuk biaya perjalanannya. Dia pantang untuk melakukan pencurian ара lagi perampasan barang milik orang lain, juga dia tidak sampai hati untuk mengemis. Pada suatu pagi, ketika tiba di sebelah utara kota raja, di dekat sebuah hutan, dia meli hat dua orang wanita sedang dikeroyok oleh sepasukan orang yang dipimpin oleh seorang raksasa hitam yang membuat jantungnya berdebar tegang karena dia mengenal raksasa hitam itu sebagai Si Golok Naga, orang yang telah membunuh ayahnya dan membunuh pula gurunya yang pertama, Рек Hong San-jin! Orang yang telah membunuh empat prang tokoh partai besar, pencuri Mestika Golok Naga dari istana .

Siapakah dua orang wanita itu? Bukan lain adalah Ban-tok Sian li dan The Siang Hwi ! Seperti diceritakan di bagian depan, kedua orang guru dan murid ini telah menyusup keluar dari pintu gerbang kota raja dengan menyamar sebagai pengemis. Setelah berhasil lolos dari pintu gerbang, sampai di tempat sunyi mereka menanggalkan penyamaran mereka dan berpisa h dari para pengemis lain, melanjutkan perjalanan mereka.

Akan tetapi, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh derap kaki kuda dari belakang. Karena mereka telah tiba jauh dari pintu gerbang kota raja, kedua wanita itu tidak merasa gentar 1agi. Kalau mereka harus melawan musuh di kota raja, sungguh berbahaya karena selain mereka terkurung tidak mampu keluar, juga di kota raja banyak terdapat pasukan keamanan. Berbeda kalau berada di luar kota raja, tentu saja mereka tidak takut kalau hanya menghadapi belasan orang pengawal .

Mereka berhenti di tepi jalan dan ternyata yang mengejar mereka adalab pasukan pengawal pili han yang dipimpil sendiri oleh Hak Bu Cu!

"Itu mereka! Kepung!" "Bunuh!" "Tangkap!"

Belasan orang pengawal itu berloncatan turun dari kuda mereka dan dengan senjata di tangan mereka menge- pung. Diam-diam Ban-tok Sian-li merasa kaget juga. Lagi-lagi si raksasa hitam yang muncul di situ, dan raksasa hitam itu telah menghunus goloknya yang hebat, yaitu Mestika Golok Naga. Ban-tok Sian-li merasa heran bukan main. Mestika Golok Naga adalah pusaka yang dicuri orang dari gudang pusaka kerajaan,kenapa sekarang berada di tangan seorang perwira pengawal? Akan tetapi ia tidak sempat berpikir terlampau jauh karena raksasa hitam itu sudah menerjangnya sambil membentak marah,

"Pemberontak, engkau hendak lari ke.mana? "

Golok itu menyambar dahsyat dan Ban-tok Sian-li cepat mengelak lalu membalas dengan pedangnya, dari bawah menusuk ke arah perut raksasa itu. Namun, Hak Bu Cu biarpun tinggi besar ternyata memiliki gerakan yang gesit juga karena begitu perutnya ditusuk, dia sudah dapat menghindar sambil mengelebatkan goloknya menangkis.

"Trangggg !" Bunga api berpijar ketika pedang bertemu golok dan ke dua orang ini sudah saling serang dengan sengitnya. Dan sebentar saja lima orang pengawal sudah membantu si raksasa hitam mengeroyok Ban-tok Sian-li. Wanita ini baru saja sembuh dari luka di pahanya.

Memang sudah tidak nyeri, akan tetapi kini dipakai bertandi ng, mengerahkan tenaga maka pahanya terasa pula agak nyeri karena memang belum pulih benar. Namun dengan gigih wanita itu membela diri dan dengan cepat balas menyerang para pengeroyoknya, seperti seekor harimau yang dikeroyok segerombolan srigala. Sementara itu, Siang Hwi juga dikeroyok sepuluh orang pengawal yang rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tinggi karena mereka yang diajak melakukan pengejaran oleh Hak Bu Cu memang merupakan pengawal-pengawal pili han. Siang Hwi juga mengamuk seperti gurunya namun betapapun lihai gadis ini, para pengeroyoknya berjumlah banyak dan juga tangguh, maka tak lama kemudian iapun terdesak hebat.

Untung bagi Siang Hwi bahwa para pengawal itu sudah mendapat perintah Jin Kiat agar menangkap hidup-hid up gadis itu, maka penyerangan mereka hanya untuk mendesak dan mencari kesempatan untuk merobohkannya tanpa melukai berat. Dengah demikian, Sian Hwi masih dapat melawan dengan gigihnya.

Biarpun demikian, guru dan murid ini sudah terdesak dan agaknya tak lama lagi mereka tentu akan kalah. Dal am keadaan yang terancam bahaya itulah muncul Tio ng Li. Pemuda ini mengenal si raksasa hitam, dan setelah dia mengamati penuh perhatian, dia mengenal pula Ban- tok Sian-li, ара lagi Siang Hwi, gadis yang pernah menyelamatkannya dari ancaman tangan Ban-tok Sian-li yang hendak membunuhnya.

Tidak sukar bagi Tio ng Li untuk mengambil keputusan pihak mana yang harus dibantunya. Da n melihat betара yang paling lihai di antara lawan kedua orang wanita itu adalah si raksasa hitam, dia melepaskan buntalan pakaiannya di atas tanah dan sambil memegang ranting di tangannya, dia meloncat dan berjungklr balik, tahu- tahu telah berhadapa n dengan Hak Bu Cu sambil menotok dengan rantingnya ke arah sik u kanan raksasa itu.

Biarpun yang dipergunakan hanya ranting, akan tetapi mengeluarkan suara bersiutan dan mendatangkan angin pukulan yang amat kuat dan cepat sehingga amat mengejutkan Hak Bu Cu yang segera melempar tubuh ke belakang untuk menghindarkan lengannya dari totokan.

"Bibl, harap membantu adik Siang Hwi dan serahkan raksasa hitam ini kepadaku," kata Tiong Li yang lalu mengerahkan rantingnya menyerang lagi.

Serangannya amat cepat sehingga tidak memberi kesempatan bagi Hak Bu Cu untuk lebih dulu menyerang. Dia berusaha membacok dengan goloknya untuk menangkis dan sekaligus mematahkan ranting itu, akan tetapi ranting itu terlalu cepat gerakannya sehi ngga tidak pernah tersentuh golok. Sementara itu, melihat munculnya seorang pemuda yang lihai menghadapi si raksasa hitam, dan melihat betapa muridnya memang terdesak, Ban-tok Sian-li lalu meloncat dan membantu muridnya.

Lima orang pengawal yang tadi membantu Hak Bu Cu mengeroyok wanita itu, ki nipun mengejar dan dua orang guru dan murid itu ki ni dikeroyok limabelas orang pengawal.

Hak Bu Cu melintangkan pedangnya dan membentak, "Tahan!" Hendengar ini, Tiong Li menghentikan

gerakapnya dan berdiri menghadapi musuh.besar itu sam bil memandang tajam.

"Orang muda, siapakah engkau ? Tidak tahukah engkau bahwa dua orang wanita ini adalah pemberontak? Kami menerima tugas dari Perdana Menteri Jin Kun untuk menangkap pemberontak, dan engkau berani membantu pemberontak? minggirlah dan jangan mencampuri kalau engkau tidak ingin dianggap pemberontak pula!" "Aku bernama Tan Tiong Li dan aku bukan pemberontak, juga dua orang wanita ini bukan pemberontak. Akan tetapi engkaulah yang pemberontak dan pengacau. Engkau mencuri Mestika Golok Naga dan engkau membunuhi empat orang tokoh partai besar, membunuh pula ayahku, dan membunuh Рек Hong San- jin!"

Hak Bu Cu terbelalak dan memandang penuh perhatian. "A hh.... kiranya engkau bocah keparat itu .......

!"

Dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang dengan goloknya. Meli hat golok ini, Tio ng Li menjadi girang. Ini lah golok pusaka yang dicuri itu. Dia harus mendapatkannya dan mengembalikan nya kepada Kaisar.

Hak Bu Cu merasa penasaran sekali. Jarang ada orang mampu menandingi nya. Akan tetapi pemuda ini, walaupun hanya bersenjatakan ranting, akan tetapi memiliki gerakan yang demikian cepat dan ilmu silat yang aneh. Tubuhnya berkelebatan seperti bayangan saja sehingga matanya menjadi berkunang dibuatnya. Juga ranting itu demikian berbahaya, mengancam jalan darahnya dengan totokan bahkan beberapa kali mengancam matanya.

Biarpun di dalam hatlnya Tio ng Li mendendam kepada si raksasa ini kalau teringat akan kematia n ayah kandungnya dan guru pertamanya, akan tetapi kesadarannya selalu membuatnya ingat bahwa dia tidak boleh sembarangan membunuh orang. Maka, diapun hanya mengirirn serangan untuk menundukkannya saja, mero bohkan tanpa niat membunuhnya! . Sementara itu, guru dan murid itu mengamuk dan setelah Siang Hwi dibantu gurunya, dalam waktu sabentar saja ia dan gurunya sudah merobohkan dan membunuh lima orang pengawal! Yang sepuluh orang menjadi jerih, ара lagi setelah mereka meli hat betapa pemimpin mereka juga kewalahan menghadapl pemuda yang memainkan ranting demikian hebatnya!

Maka mereka hanya mengepung sambil menjaga jarak, tidak berani mendesak seperti tadi dan kini kedua orang wanita itulah yang menghujankan serangan Kembali tiga orang pengawal terjungkal dan yang lain berlompatan mundur.  

pegangannya. Suatu ketika, Tio ng Li menyerang dengan kecepatan kilat dan rantingnya kini dengan tepat mengenai pergelangan tangan kanan Hak Bu Cu, membuat raksasa itu berteriak kaget karena seketika  tangan

kanannya menjadi lumpuh dan dengan sendirinya golok itupun terlepas dari Sebelum golok itu jatuh ke atas tanah, Tio ng Li sudah menyambar dengan tangan kirinya dan golok itu berada di tangannya. Ketika melihat ini, Hak Bu Cu menubruk kedepan untuk merampas kembali goloknya menggunakan tangan kirinya, akan tetapi dia disambut sebuah tendangan berputar yang amat keras, membuat tubuhnya terlempar .

Malang baginya, tubuhnya yang tertendang itu terjatuh ke dekat Ban-tok Sian Li. Melihat si raksasa hitam itu jatuh ke dekat kakinya, secepat kilat pedang Ban tok Sian Li bergerak menyambar dan terpenggallah

kepala raksasa hitam itu. Darah menyembur keluar dan kepala itu terpisah jauh dari badannya.

Melihat ini, tujuh orang pengawal menjadi terkejut dan mereka segera melarikan diri, meloncat ke punggung kuda dan kabur dengan ketakutan ! .

"Mereka akan datang membawa bala bantuan, kita harus cepat pergi dari slnil" kata The Siang Hwi sambil melompat dan lari, diikuti gurunya dan juga Tio ng Li.

Setelah berlari jauh, barulah mereka berbenti dan Siang Hwi memandang kepada pemuda itu, lalu tersenyum.

"Tiong Li.   !" katanya lirih.

"Siang Hwi, akhirnya kita dapat saling berjumpa juga," kata pula Tio ng Li sambil tersenyum dan memberi hormat kepada Ban-tok Sian-li.

"Sian-li, saya harap Sian-li baik baik saja," katanya.

Ban-tok Sian-li mengerutkan alisnya. la sudah lupa kepada Tiong Li dan bertanya,

"Hemm, siapakah engkau?"

"Su-bo, apakah subo sudah lupa? Dia Tan Tiong Li, murid dari Рек Hon San-ji n yang meni nggal dunia ketika kita berkunjung ke Pek-hong San-кок dahulu itu." "Ahhhh ....... engkaukah anak muda itu? Akan tetapi

......... " la tidak melanjutkan kata-katanya karena merasa terheran-heran.

Kepandaian pemuda itu dulu tidaktah terlalu hebat, akan tetapi sekarang, ia menyaksikan sendiri betapa pemuda itu mengalahkan si raksasa hitam hanya dengan menggunakan sebatang ranting! Dan ia melihat betapa golok milik raksasa hitam itu kini berada di tangan kiri pemuda itu.

"Engkau merampas golok raksasa itu?" tanyanya sambil memandang golok itu penuh perhatian.

"Ini adalah Mestika Golok Naga yang dicurinya dari gudang perpustakaan istana."

"Kenapa engkau merampasnya?"

"Untuk saya kembalikan kepada Kaisar tentu.saja," Kata Tio ng Li.

Ban-tok Sian li tersenyum mengejek.

"Dan menerima hukuman berat dari Kaisar? Golok itu palsu!"

"Ehh ....... ?" Tiong Li terkejut mendengar ucapan Ban tok Sian-li itu.

"Kalau Mestika Golok Naga yang aseli, engkau tidak akan mampu mematahkannya. Akan tetapi coba kaupatahkan golok itu!" kata pula wanita yang berpengalaman itu.

Tiong Li tidak percaya, lalu menggunakan kedua tangan untuk mematahkan golok itu.

"Krekkk!" Golok itu patah menjadi dua potong dengan mudahnya.

Tiong Li terbelalak, dan memandang kepada Ban-tok Sian-li.

"Sian-li, bagaimana Sian-li dapat mengetahui bahwa golok itu palsu?"

"Mudah saja. Kalau Mestika Golok Naga yang aseli, tentu tadi pedangku sudah patah-patah kalau bertemu dengan pusaka itu. Akan tetapi, pedangku sama sekali tidak patah, gempilpun tidak. Itu berarti bahwa golok itu palsu adanya."

Tiong Li membuang gagang golok itu.

"Sungguh aneh. Dia sendiri mengaku mencuri golok pusaka dan bahkan membunuh empat orang tokoh partai besar, kemudian membunuh ayahku dan membunuh pula suhu Рек Hong San-jin untuk menyembunyikan rahasianya. Dan sekarang golok yang dipegangnya itu palsu! Aneh!"

"Kenapa aneh, Tio ng Li? Kurasa dia ada yang mengutus, dan kalau benar dugaanku dia ada yang mengutus, maka golok aselinya tentu berada di tangan yang mengutusnya itu," kata Siang Hwi sambil memandang kepada pemuda itu penuh kagum.

Sejak pertama kali bertemu dulu, Siang Hwi memang sudah suka sekali kepada Tiong Li sehingga dibujuknya gurunya agar tidak membunuh pemuda itu. Kini ia melihat Tiong Li sudah men jadi seorang pemuda dewasa yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka Siang Hwi menjadi kagum bukan main.

Tiong Li juga memandang gadis itu dengan kagum. Kini Siang Hwi telah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita, dan sinar matanya masih seperti dulu, lembut akan tetapi tajam sekali. Dan meli hat ketika gadis itu tadi menghadapi para pengeroyoknya, dia maklum bahwa Siang Hwi memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup tangguh.

"Aku akan mencari pengutusnya sampai kudapatkan golok pusaka itu!"kata Ban-tok Sian-li.

"Aih, subo. Golok itu menjadi milik negara, kalau kita dapat menemukannya harus dikembalika n kepada kaisar."

"Ah, engkau tahu ара! Kaisar amat lemah, lebi h baik golok itu dipergunakап untuk membantu perjuangan! Mari kita pergi!"

Wanita itu yang bagaimanapun merasa tidak enak dan tidak suka karena ia merasa kalah lihai oleh pemuda itu, sudah berkelebat pergi.

'Tiong.Li, aku harus pergi mengikuti subo," kata Siang Hwi sambil memandang kepada pemuda itu dengan menyesal

"Siang Hwi, pertemuan kita singkat sekali. Sebetulnya aku ingin banyak bercakap-cakap denganmu. Kapan kita dapat bertemu kembali? Aku tidak pernah melupakan engkau yang telah menyelamatkan nyawaku."

Siang Hwi tersenyum manis. "Kenapa engkau masih bicara begitu? Soal menyelamatkan nyawa, kalau tadi engkau tidak muncul, kukira aku dan subo akan tewas di tangan mereka. Karena itu, tidak ada hutang budi lagi di antara kita. Kalau memang berjodoh, tentu kelak kita akan dapat bertemu kembali."

Tiba tiba wajah gadis itu berubah merah sekali karena ia sudah terlanjur bicara tentang berjodoh, pada hal tentu saja yang ia maksudkan berjodoh untuk bertemu kembali, akan tetapi dapat disalah artikan.

"Sudahlah, Tio ng Li. Aku khawatir subo nanti marah. Selamat tinggal, Tio ng Li. Aku kagum kepadamu yang kini telah menjadi seorang pendekar yang amat lihai."

"Selamat jalan, Siang Hwi, dan ingat, kita pasti akan dapat saling ber jumpa kembali dan dapat berfcakap- cakap lebih lama lagi."

Gadis itu melambaika n tangan lalu berkelebat pergi. Sampai lama Tiong Li berdiri termenung. Dia harus mengakui dalam hatinya bahwa dia amat tertarik kepada Siang Hwi dan merasa amat suka kepada gadis murid datuk wanita itu. Entah mengapa, begitu bertemu kembali dengan gadis itu, dia merasa ada kebahagiaan yang aneh menyelinap di dalam hatinya dan kini setelah berpisah, dia merasa kehilangan dan kesepian.

Cinta asmara memang ajaib. Merasa bahagia kalau bersanding, merasa tersiksa kalau berpisah. Ingin memiliki dan dimiliki, ingin menyenangkan dan di senangkan, ingin memanjakan dan dimanjakan. Ada rasa belas kasihan, ada rasa sayang yang mendalam dan kalau semua kei nginan itu terpenuhi, hati penuh dengan kebahagiaan yang mendalam. Namun, ci nta itu pula yang dapat mendatangkan derita dan siksa.

Kalau ci nta tidak terbalas, kalau cinta dikhia nati, kalau cinta berubah menjadi bosan. Maka cinta dapat berubah menjadi benci! Dan semua ini adalah ulah nafsu. Nafsu bertujuan satu, yakni ingin senang sendiri.

Cinta nafsu selalu menghendaki dirinya senang, maka cinta seperti ini membutuhkan balasan cinta, kalau tidak, cintanya akan berubah menjadi kebencian. Dapatkah seseorang mencinta, kalau yang dicinta itu tidak membalas cintanya dan malah menci nta orang lai n? Dapatkah seseorang mencinta kalau yang dicinta itu tidak menghiraukannya, bahkan mencibir dan menghinanya? Cinta yang bergelimang nafsu selalu menghendaki imbalan, jadi cintanya hanya merupakan cara untuk mendapatkan sesuatu. Jelas, bahwa cinta seperti ini adalah cinta nafsu.

Akan tetapi kita manusia tidak dapat melepaskan diri dari nafsu yang memang diikut sertakan dalam diri setiap orang manusia. Kalau kita mencinta seseorang, maka nafsu mendorong kita menuntut sesuatu yang menyenangkan dari orang yang kita cinta itu, baik yang kita cinta itu kekasih, isteri, anak, sahabat atau siapapun juga.

Kemanakah, larinya ci nta kita kalau isteri kita menyeleweng dengan orang lain? Ke manakah perginya cinta kita kalau anak kita durhaka dan tidak berbakti kepada kita. Atau kalau seorang sahabat mengkhia nati dan merugikan kita? Tidak, kita tidak dapat mencinta tanpa pamrih, tidak dapat menci nta demi cinta itu sendiri.

Bahkan bagi kebanyakan dari kita, cinta kita terhadap Tuhan sekalipun mengandung harapan-harapan dan imbalan .

Lemas rasanya kedua kaki Tiong Li ketika akhirnya dia meni nggalkan tempat itu dan entah bagaimana, kaki nya membawanya kembali ke kota raja ! Dia ingin melihat kota raja, sebuah kota yang kabarnya indah dan ramai.

0oo-dw-oo0

Tewasnya Hak Bu Cu tentu saja amat mengejutkan hati Perdana Menteri Jin Kui. Dia segera mengadakan perundingan dengan para pembantunya, dan juga puteranya. Di dalam ruangan rahasia di bagian belakang gedung perdana menteri itu, berkumpullah mereka.

Yang pertama adalah Perdana Menteri Jin Kui, berusia limapuluh tahun lebi h, sorang pembesar dengan pakaian mewah tubuhnya sedang saja, akan tetapi matanya yang sipit itu melirak-1irik dengan cara yang menunjukkan bahwa di memiliki watak yang cerdik dan licik sekali.

Mulutnya juga selalu tersenyum mengejek dan angkuh. Orang seperti ini pandai sekali menjilat-jilat atasan dan menghina dan menghimpit bawahan, dan kalau menjadi musuh amatlah berbahaya karena hatinya kejam dan banyak tipu muslihatnya. Dia duduk di kepala meja, dihadap oleh empat orang.

Yang pertama, duduk di sebelah kanannya adalah puteranya yang bernama Jin Kiat. Wajah pemuda berusia duapuluh lima tahun ini cukup tampan, akan tetapi juga bentuk wajahnya membayangkan kelicikan dan kecurangan. Terutama sekali pada matanya yang bergerak-gerak lincah itu.

Hidungnya juga melengkung seperti hid ung kakaktua dan suaranya meninggi seperti suara wanita. Dia terkenal sebagai seorang pemuda mata keranjang, akan tetapi juga cerdik sekali dan selain ahli sastera juga ahli dalam hal ilmu silat, menjadi kebanggaan ayahnya. Orang ke dua adalah seorang berpakaian pendeta. Dia seorang tosu bernama Kui To Cin-jin, masih guru dari Ji n Kiat karena tosu ini lah yang mengajarkan ilmu silat tlnggi kepada Jin Kiat. Selain sebagai guru pemuda itu, juga Kui To Cin-ji n bertugas sebagai penasihat Perdana Menteri karena tosu yang berusia limapuluh lima tahun ini memiliki pandangan yang luas. Kui To Cin-jin bertubuh kurus, tinggi dan wajahnya yang seperti wajah tikus itu memiliki jenggot yang panjang sampai ke dada, namun jarang dan tipis.

Orang ke tiga berpakaian seperti ahli silat dan dia bernama Ciang Sun Hok, menjadi jagoan dan tugasnya sebagai pengawal pribadi Perdana Menteri. Karena dia mengawal secara rahasia maka dia mengenakan ракаian biasa, tidak berpakaian sebagai perwira atau perajurit. Tubuhnya tinggi tegap dan dari pembawaannya jelas menunjukkan bahwa dia seorang yang kuat dan bertenaga besar di sampi ng ilmu silatnya yang tinggi.

Ciang Sun Hok yang berusia empatpuluh lima tahun ini adalah seorang peranakan Khitan yang sejak muda sudah menghambakan diri kepada Perdana Menteri Jin Kui maka dipercaya penuh oleh pajabat tinggi itu.

Adapun orang ke empat adalah seorang panglima berpakaian mewah, bernama Ma Kiu It, berusia empatpuluh tahun dan juga dia bertubuh tinggi tegap sehingga nampak gagah dalam ракаian panglima. Dialah panglima pasukan pengawal Perdana Menteri Jin Kui .

Tiga orang pembantu dan puteranya inilah merupakan orang-orang yang dipercaya oleh Perdana Menteri Jin Kui di samping Hak Bu Cu, pembantu yang datang dari utara itu.

Atas bujukan Perdana Menteri Jin Kui inilah maka Kaisar bersikap lunak dan suka mengadakan perdamaian dan mengalah terhadap Bangsa Yu-cen atau Kerajaan Cin (Kin) .Hal ini sebetulnya tidak aneh kalau orang mengetahui asal usul Ji n Kui yang penuh rahasia. Ketika ibu kandung Jin Kui masih seorang gadis, diam-diam ia mempunyai hubungan gelap dengan seorang pelayan keluarganya. Pelayan ini adalah Bangsa Yu-cen. Dari Hubungan ini gadis itu mengandung dan meli hat ini, orang tuanya marah kepada pelayan itu dan diam-diam si pelayan dibunuh dan gadis itu dinikahkan dengan seorang Bangsa Han yang bermarga Jin.

Setelah Ji n Kui agak besar, Ibu kandungnya yang memberitahu kepada nya akan rahasia itu, bahwa ayah kandungnya sesungguhnya seorang berbangsa Yu-cen yang sudah meni nggal dunia. Demikianlah rahasia itu.

Jin Kui menyadari sepenuhnya bahwa dia keturunan Yu cen dan biarpun dia sendiri merahasiakan hal ini, ketika dia menduduki jabatan sampai menjadi Perdana Menteri, melihat gerakan Bangsa Yu-cen tentu saja diam- diam diapun bersimpati. Inilah yang menyebabkan dia mati-matia n berusaha agar kaisar berdamai dengan bangsa Yu-cen, ара lagi karena Kerajaan Kin banyak mengirim hadiah kepada nya dan sudah lama mengadaka n persekongkolan dengannya.

Ketika mendengar berita bahwa Hak Bu Cu tewas di tangan dua orang wanita pemberontak itu, tentu saja Jin Kuil menjadi terkejut sekali dan segera dia mengadakan perundingan dengan empat orang itu.

"Celaka sekali!" Jin Kui menggebrak meja. "Hak Bu Cu tewas. Kalau Panglima Wu Chu mendengar akan hal ini, tentu dia merasa menyesal dan marah sekali. Jian Kiat, bagaimana engkau sekali ini tidak menyertai dia pergi sehingga dapat membantunya?"

"Ketika ayah menerima berita rahasia itu bahwa dua orang pemberontak wanita menyamar sebagai pengemis lolos dari pintu gerbang utara, ayah mengutus Hak Bu Cu membawa pasukan istimewa melakukan pengejaran dan ketika itu saya tidak tahu," bantah Jin Kiat yang tidak mau dipersalahkan.

"Ma-ciangkun, panggil seorang di antara tujuh pengawai yang selamat itu ke sini. Aku ingin mendengar sendirt keterangan dari nya."

"Baik, tai-jin." Ma Kiu It segera keluar dan tak lama kemudian dia datang lagi bersama seorang perajurit pe ngawal yang kelihatan ketakutan.

Setelah perajurit pengawai itu berlutut di depan Jin Kui, Perdana Menteri Jin Kui berkata dengan ketus,

"Ceritakan bagaimana matinya Hak Bu Cu.dengan jelas!"

"Begini, tai-jin. Kami llmabelas orang pengawai bersama Hak-slcu telah berhasil mengejar dua orang wanita pemberontak itu. Hak-sicu dibantu lima orang pengawal lalu menyerang yang tua sedangkan sepuluh orang pengawal menyerang yang muda dan sesuai dengan kinginan Yin-kongcu kami berusaha untuk menangkapnya hidjp-hidup."

Jin Kui mengerling dengan matanya yang sipit kepada puteranya.

"Hem, yang kaupikirkan hanya wanita saja!"

"Ayah, saya memang menyuruh menangkapnya hidup-hid up agar ia dapat menceritakan di mana adanya kawan-kawannya!" bantah Jin Kiat dengan cerdik.

"Lanjutkan!" perintah Jin Kui kepada pengawal itu. "Sebetulnya kami sudah mulai mendesak dua orang

wanita itu dan hanya tinggal menanti saatnya saja kami dapat menangkap dan merobohkan mereka. Akan tetapi muncul   seorang   pemuda   yang   membantu   mereka. Pemuda itu yang menghadapi Hak-sicu sedangkan dua orang wanita itu mengamuk dan melawan kami lima belas orang pengawal. Tanpa bantuan Hak-sicu, kami kewalahan dan delapan orang dari kami tewas oleh dua orang wanita itu. Kemudian kami meli hat Hak Bu Cu terlempar dan jatuh dekat wanita yang lebi h tua itu dan wanita itu lalu membunuhnya. Kami tujuh orang lalu melarikan diri."

"Hemm, siара pemuda itu?"

"Kami semua tidak mengenalnya, tai-ji n. Dia melawan Hak-sicu menggunakan sebatang ranting."

"Sebatang ranting? Melawan Hak Bu Cu yang bersenjata golok?" seru Kui To Cin-jin sambil mengelus jenggotnya.

"Benar, to-tiang. Pemuda itu lihai sekali dan gerakannya begitu cepat hingga nampak bayangannya saja."

"Seperti ара macamnya pemuda itu ? Apa engkau akan dapat mengenalnya kalau bertemu dengan dia?" tanya Jin Kui .

"Kami bertujuh tidak dapat meli hatnya dengan jelas, tai-jin. Selain sibuk diamuk oleh dua orang wanita itu, juga gerakan pemuda itu begitu cepat sehingga yang nampak hanya bayangannya saja."

"Bodoh ! Sialan. Sudah, engkau boleh pergi!" Bentak Jin Kui Sambil menggebrak meja.

Pengawal   itu   dengan    lega    hati    cepat-cepat meni nggalkan tempat itu setelah memberi hormat. Dia merasa beruntung sekali hanya dibentak, tidak dihukum.

Setelah pengawal itu pergi lima orang itu melanjutkan perundingan mereka. "Sekarang, bagaimana baiknya? Yang terutama sekali dihadapi adalah Panglima Wu Chu dari Kerajaan Kin. Bagaimana untuk menerangkan kepadanya bahwa pembantunya itu tewas di sini?"

Semua orang berdiam, memikir dan mencari jalan keluarnya.

"Tidak ada jalan lai n," akhirnya Kui To Cin-ji n mengemukakan pendapatnya, "kecuali menerangkan duduknya perkara yang sebenarnya, yaitu bahwa Hak- sicu tewas oleh pemberontak yang lihai. Tinggal mencari jalan untuk menghibur hatinya dan membuatnya berkurang kemarahannya."

"Bagaimana kalau mengirim barang berharga untuk mendi ngtnkan hatinya?" usul Panglima Ma Kiu It,

"Hmmm, kurasa itu tidak akan cukup. Selain Panglima Wu C hu sendiri kaya raya, juga Hak Bu Cu adalah pembantu utamanya yang amat disayang. Harus ada cara lain untuk menyenangkan hatinya," kata Perdana Menteri itu.

"Ahh, aku tahu caranya!" Tlba-tiba Jin Kiat berseru dengan girang."Ayah ingat ketika dia pernah berkunjung ke sini sebagai utusan Raja Kin? Ayah mewakili kaisar menjamunya di Istana dan aku yang duduk di sebelahnya meli hat bahwa dia terpesona sekali ketika melihat tarian puteri Sung Hiang Bwee. Matanya melotot sampai akan keluar dari rongganya dan berulang kali dia menelan ludah dan bertanya kepadaku ten- tang puteri itu. Ketika aku member!tahu bahwa Sung Hia ng Bwee itu puteri kaisar dari seorang selir, dia nampak kecewa dan menyesal sekali, berulang kali mengatakan sayang. Aku tahu benar bahwa dia tergila-gila kepada puteri itu!"

"Kalau sudah begitu, mengapa?" Ayahnya mendesak. "Kalau kita dapat menyerahkan Hia ng Bwee kepada Panglima Wu Chu tentu kemarahannya akan hilang. Baginya tentu Hiang Bwee cukup berharga untuk menggantikan nyawa Hak Bu Cu," kata Ji n Kiat dengan cerdik.

"Hemm, ара engkau sudah gila? la puteri kaisar! Bagaimana mungki n menyerahkannya kepada Panglima Wu Chu?"

"Hanya puteri selir, ayah. Kalau kita dapat menculiknya tanpa ada yang tahu dan mengirimnya ke utara, tentu tidak akan ada yang mengetahui dan kaisar sama sekali tidak akan menyangka kita yang melakukan hal itu."

Jin Kui mengelus jenggotnya, matanya yang sipit nampak seperti terpejam dan dia mulai mengangguk- angguk, senyum di bibirnya semakin mengejek.

"Hemm, benar juga, akal itu boleh dikerjakan. Akan tetapi yang mengerjakan haruslah seorang ahli, tidak boleh sama Sekali sampai ketahuan orang,"

Dia mengelus jenggotnya dan memandang kepada empat orang itu dengan matanya yang sipit,

"Lalu siapa kira-kira yang dapat melakukan penculika n itu tanpa diketahui orang?"

"Ayah, siapa lagi yang lebih tepat untuk melakukannya kecuali Panglima Ciang Sun Hok? Dia adalah bekas jagoan istana yang sudah hafal benar akan keadaan di istana. Kalau dia yang melakukannya, aku tanggung akan berhasil dengan baik."

Ciang Sun Hok nampak agak gelisah ketika mendengar ucapan pemuda itu,akan tetapi tentu saja dia tidak berani membantah karena memang ia dahulunya merupakan jagoan istana dan dimasukkan ke sana juga atas bantuan Perdana Menteri yang kemudian menariknya menjadi pengawal pribadinya sendiri.

"Bagus, apakah engkau sanggup melakukannya, Ciang Sun Hok?" tanya Jin Kui kepada pengawal pribadinya itu.

"Semua perintah tai-jin akan saya taati. Akan tetapi yang menjadi persoalan bukanlah menculik puteri itu. Hal itu memang mudah saja dilakukan. Akan tetapi persoalannya adalah, bagaimana membawanya keluar dari kota raja tanpa diketahui orang?"

"Itu mudah diatur," kata Perdana Menteri Jin Kui. "Setelah berhasil menculiknya keluar istana, sembunyikan dalam rumah penginapan An-Iok. Kemudian, pada keesokan paginya aku akan mengirim para selir pergi keluar kota mengunjungi kui I itu dan kesempatan itu kau pergunakan untuk menyelundupkan puteri itu ke dalam kereta sehingga ia dapat dibawa keluar kota raja tanpa banyak kesulitan."

"Bagus, itu bagus sekali, ayah! Setelah tiba di luar kota, biar aku sendiri yang memimpin pasukan untuk me ngantarnya dengan kereta ke utara."

"Jangan engkau, Jin Kiat. Kalau sampai ketahuan bahwa kita yang mengatur penculikan, kaisar tentu tidak a- kan mengampuni kita. Biar Ciang Sun Hok saja yang melakukan tugas Itu."

"Baik, tai-Jln. Akan saya laksanakan semua perintah tai-jin."

Perundingan untuk mengatur siasat dilanjutkan sampai jauh malam dan akhirnya mereka bubaran, masing-masi ng mempersiapkan diri untuk rencana itu. 0oo-dw-oo0

Sung Hiang Bwee adalah puteri kaisar dari selir yang ke empat. Seorang gadis berusia delapanbelas tahun yang cantik jelita seperti bidadari dan sejak kecil puteri ini telah mempelajari segala macam kesenia n, terutama sekali seni tari. Demikian indah dan pandainya ia menari sehingga setiap kali kaisar menyambut datangnya tamu agung sang puteri menerima perintah Ayahnya untuk memperli hatkan kemahirannya menari.

Karena ia seorang puteri, tentu saja martabatnya tidak dapat disamakan dengan para penari biasa, da n kalau ia menari, karena semua orang tahu bahwa ia puteri kaisar, tidak ada yang berani mengeluarkan kata-kata yang menyi nggung, kecuali tepuk tangan memuji keidahannya menari.

Banyak sudah para putera bangsawan dan hartawan yang tergila-gila kepada puteri ini, akan tetapi sang puteri belum senang bergaul dengan pria. Juga kaisar belum melihat adanya seorang pemuda yang pantas menjadi suami puterinya yang cantiк itu, maka sampai berusia delapanbelas tahun Sung Hiang Вwee masih belum bertunangan. la tinggal di istana bagian puteri dan mengajarkan seni tari kepada para puteri istana lain yang masih kecil, yaitu adik adik dan keponakan- keponakannya, puteri dari para pangeran tua dan muda.

Pada malam itu, setelah puteri mengajarkan tari kepada para muridnya, la beristirahat di bangunan tengah ta- man yang indah. Di bangunan terbuka ini ia merasa sejuk setelah tadi berkeringat mengajarkan tari. Angin malam yang sejuk seperti mengipasi dirinya sehingga ia yang duduk di atas bangku menjadi mengantuk. Dua orang dayang yang melayani nya, duduk di atas lantai, menunggu sang puteri yang duduk melenggut.

Tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan dua orang dayahg itu tiba-tiba merasa tubuh mereka kejang, lalu lemas dan tahu-tahu mereka telah jatuh pingsan tertotok. Mendengar suara kedua orang dayang pelayannya roboh, Sung Hia ng Bwee terkejut dan menengok.

la meli hat seorang laki-laki berpakaian dan berkedok hitam sudah berdiri di depannya. Sebelum ia sempat berteriak, laki-laki itu sudah menotoknya dan iapun roboh dengan lemas tak ingat apa- apa lagi.

Orang behpakaian dan berkedok hitam itu mengeluarkan sebuah kantung hitam besar, memasukkan tubuh sang puteri ke dalam karung sutera itu, lalu memanggulnya dan sekali berkelebat dia sudah melayang pergi dengan cepat sekali dari tempat itu. Tidak ada orang lain melihat ара yang dia lakukan ini.

Ternyata orang itu adalah Ciang Sun Hok, pengawal pribadi Perdana Menteri Jin Kui. Dia sudah melakukan persiapan dengan baiknya, mengenakan pakaian dan kedok hitam sehi ngga andaikata ada juga yang melihatnya, tentu tidak akan mengenalnya. Dia sudah membuat perhitungan, tahu akan kebiasaan sang puteri yang setelah melatih tari biasanya memang mencari angin sejuk di taman itu.

Мака mudah saja dia menculik.puteri itu, dan sekarang setelah menangkap sang puteri, dia juga mengambil jalan rahasia yang hanya diketahui oleh para pengawai istana. Sebentar saja dia sudah keluar dari daerah istana, menyelinap di antara rumah-rumah orang dan tanpa ada yang mengetahuinya, dia sudah melompat naik ke atas atap rumah penginapan An-lok.

Dia memang sudah memesan kepada pemilik rumah penginapan untuk mendapatkan sebuah kamar paling belakang dan tidak boleh siapapun juga mendekati kamar itu.

Dengan jalan melalui jendela, dia memasuki kamar itu, mengeluarkan sang puteri dari karung sutera dan merebahkan sang puteri yang masih dalam keadaan lemas tertotok itu ke atas pembaringan. Sung Hia ng Bwee yang sudah sadar hanya dapat memandang dengan wajah ketakutan, akan tetapi ia tidak mampu bergerak atau bersuara. la hanya melihat betapa orang itu tidak mengganggunya, setelah merebahkan ia di atas pembaringan,    orang    berkedok    hitam    itu     lalu meni nggalkan kamar dan menutupkan daun pintunya dari luar.

Ciang Sun Hok memang keluar untuk mendengarkan berita. Ternyata sunyi saja, tanda bahwa hilangnya sang puteri belum diketahui orang dan hatinya merasa lega. Sekarang tinggal melanjutkan sesuai rencana, yaitu pada besok pagi-pagi menunggu Menteri Jin Kui yang akan mengirim para selirnya berpesiar keluar kota raja dan menyelundupkan sang puteri dalam kereta para selir itu.

Akan tetapi perhitungan rencana siasat yang sudah diatur sebaiknya itu ternyata tidak memperhltungkan hal- hal yang terjadi secara kebetulan. Tanpa mereka duga, kebetulan sekali Tiong Li yang berada di kota raja malam itu juga bermalam di hotel An-lok! Kamarnya agak di belakang dan karena malam itu dia belum tidur, masih duduk melamun, dia mendengar jejak какi di atas genteng itu, betapapun hati-hati Ciang Sun Hok berlompatan. Andaikata penculiк itu tidak membawa beban, belum tentu Tiong Li dapat mendengarkan jejak kakinya, akan tetapi beban itu cukup be rat dan membuat kakinya agak berat mengi njak atap sehi ngga terdengar oleh telinga Tiong Li yang terlatih baik.

Tentu saja Tio ng Li menjadi curiga mendengar jejak kaki di atas genteng itu. Cepat dia lalu berpakaian, mengenakan sepatu dan tak lama kemudian dia sudah melompat naik ke atas atap rumah. Sunyi saja di atas rumah itu dan mulai lah Tiong Li mengintai ke kamar- kamar belakang.

Dan di kamar paling belakang itulah dia melihat seorang gadis sedang rebah telentang, tidak bergerak sama sekali, hanya matanya saja yang memandang ke sana si ni dengan ketakutan. Sekali pandang saja dia sudah dapat menduga bahwa gadis itu rebah secara tidak wajar dan mungki n sekali dalam keadaan tertotok. Maka, setelah membongkar jendela dengan mudahnya, dia melompat ke dalam kamar.

Sung Hia ng Bwee terkejut, sekali meli hat seorang pemuda berpakaian putih tiba-tiba meloncat masuk darl jendela. la terbelalak akan tetapi pemuda itu menaruh telunjuk di depan, mulut dan berbisik,

"Jangan takut, nona. Aku datang untuk menolongmu!"

Setelah berkata demlklan, dia menotok jalan darah di tubuh gadis itu. sehingga Hiang Bwee dapat bergerak lagi. Akan tetapi karena sudah mendapat is yarat, ia tidak berteriak.

Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan masuklah Ciang Sun Hok yang masih berkedok. Dia terkejut dan heran melihat seorang pemuda berpakaian putih sudah berada di kamar dan sang puteri sudah dapat duduk di pembaringan. Tahu lah dia bahwa pemuda itu yang menolongnya, maka tanpa banyak cakap lagi dia menyerang Tio ng Li dengan pukulan dahsyat.

Ciang Sun Hok adalah seorang jagoan yang lihai sekali, memiliki tenaga yang amat kuat. Pukulan yang ditujukan ke arah Tiong Li mendatangkan angin berdesir keras.. Akan tetapi dengan tenang sekaii Tiong Li menangkis pukulan itu dengan lengannya.

" Dukk         "

Dua lengan bertemu dan Ciang Sun Hok terkejut sekali, merasa seperti bertemu dengan lengan yang amat lunak sehingga tenaganya lenyap begitu bertemu dengan lengan itu! .

Dia melompat ke samping lalu menyerang lagi dengan pukulan yang lebih hebat, sekali ini dia memukul dengan jari tangan terbuka, seperti orang mendorong. Inilah jurus "Mendorong Kereta Emas" sebuah pukulan yang disertai tenaga sln-kang yang kuat sekali.

Melihat ini, Tio ng Li juga mendorongkan tangan kanannya sehingga kedua telapak tangan bertemu di udara.

" Desss ....... " Sekali ini Ciang Sun Hok merasa betapa telapak tangannya bertemu dengan dinding baja yang amat keras dan akibatnya, dia terdorong ke belakang sampai menabrak dindi ng.

Pengawal Itu terkejut sekali dan maklumlah dia bahwa lawannya amat tangguh. Dia khawatir bahwa suara gaduh perkelahia n itu akan terdengar orang dan rahasianya akan terbuka, maka tanpa bicara apa-apa lagi tubuhnya menyelinap keluar dari pintu kamar itu, pergi melarikan diri. Lebih baik pergi sekarang sebelum terbuka kedoknya! Tiong Li tidak mengejar, melai nkan menoleh kepada gadis yang duduk ke takutan di atas pembaringan itu.

"Nona siapakah dan ара yang telah terjadi ? Siара pula si kedok hitam itu?"

"Terima kasih atas pertolonganmu, tai-hiap. Aku bernama Sung Hiang Bwee, seorang puteri istana. Tadi ketika berada di taman istana, muncul si kedok hitam itu membuatku pingsan dan membawaku ke tempat ini. Aku tidak tahu siара dia dan mengapa dia menculikk u."

Tiong LI terkejut sekali dan sejenak dia hanya dapat menatap wajah yang cantik jelita itu. Pantas demikian cantik dan pakaiannya demikian indah, pikirnya. Kiranya seorang puteri Kaisar

"Maafkan saya, nona. Saya tidak tahu bahwa пола seorang puteri istana !" katanya sambil memberi hormat.

"Sudahlah, dalam keadaan begini tidak perlu bersikap sungkan," kata Hiang Bwee. "E ngkau telah menyelamatkan aku dari penculikan, tolonglah antar aku pulang ke istana !"

"Baik, tuan puteri," kata Tio ng Li dengan siкар hormat.

Sementara itu, Ciang Sun Hok melarikan diri dari hotel, langsung menghadap Perdana Menteri Jin Kui untuk melaporkan kegagalannya karena munculnya seorang pemuda baju putih di dalam kamar hotel di mana dia menyekap puteri Sung Hiang Bwee.

Mendengar ini, Jin Kui menjadi marah.

"Apakah mungkin pemuda itu yang telah menyebabka n tewasnya Hak Bu Cu?"

"Mungkin sekali, tai-jin. Ilmu silatnya sungguh  hebat sekali dan karena saya khawatir kalau keributan itu menarik perhatian banyak orang, terpaksa saya menlnggalkan pergi sebelum ada orang datang."

"Tentu puteri itu akan diantar pulang ke istana. Biar aku sendiri membawa pasukan menghadangnya " kata Jin Kui yang merasa penasaran sekali karena rencananya gagal.

Dia lalu membawa dua losin pengawal, diikuti pula oleh jagoan Ciang Sun Hok untuk menghadang perjalanan pulang puteri Sung Hiang Bwee.

Demikianlah, ketika Tiong Li mengantar sang puteri kembalI ke istana dengan berjalan kaki, mereka berdua bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Jin Kui.

"Tangkap penculik!" teriak sang perdana menteri. Ciang Sun Hok dan para pengawal sudah mengepung

Tiong LI dengan siкар mengancam. "Tahan !"

Seru puteri Sung Hiang Bwee sambil mengangkat tangan ke atas.

"Jin-taijin harap jangan salah sangka. Pemuda ini sama sekali tidak menculikk u, bahkan dia yang membebaskan aku dari tangan penculik! Kalau kalian mengeroyok dan mencelakai dia, aku akan melapor kepada ayahanda Kaisar!"

Gertakan ini mengena. Ji n Kui segera memberi aba- aba agar pasukannya mundur.

"Ah, begitukah? Kalau begitu kami salah sangka.

Siapakah namamu, orang muda?"

"Nana saya Tan Tio ng Li, taijin,"! jawab Tiong Li dengan hormat. "Kebetulan saja saya membebaskan sang puteri dari tangan penculik dan saya memenuhi perintah sang puteri untuk mengantarkannya pulang ke istana."

"Bagus, jasamu akan dicatat, Tio ng Li. Sekarang pergilah dan serahkan sang puteri kepada kami. Kami yang akan mengantarkannya pulang ke istana."

"Baiк, tai-jin."

"Tidak, Jin-taijin. Saya ingin mёngajak penolong saya ini ke istana dan melaporkan tentang jasanya kepada ауаhanda kaisar !" kata puteri itu dan terpaksa Ji n Kui tidak dapat membantah. Maka, bersama pasukannya dia lalu mengawal kedua orang itu memasuki istana .

Malam itu juga kaisar menerima puterinya yang dikawal Tio ng Li. Kaisar marah sekali ketika mendengar bahwa puteri nya diculik orang. Jin Kui yang ikut menghadap segera mendahului,

"Tidak salah lagi, Yang Mulia. Ini pasti perbuatan kaum pemberontak laknat itu!"

"Benar, kita harus hancurkan pemberontak- pemberontak itu. Kalau tidak, tindakan mereka akan menjadi semakin- kurang ajar!"

Kaisar lalu memandang kepada Tiong Li, "Siapakah namamu, orang muda?"

"Nama hamba Tan Tiong Li, Yang Muliа."

"Tiong Li, jasamu besar sekali telah menyelamatkan puteri kami. Karena itu, kami hendak menghadiahkan pangkat perwira pengawal kepadamu."

"Ampun beribu ampun,Yang Mulia. Banyak terlma kasih atas anugerah yang paduka berikan kepada hamba. Akan tetapi hamba minta waktu, Yang Mulia pada saat ini hamba masih mempunyai banyak urusan pribadi yang harus diselesaikan, maka perkenankan hamba menyelesaikan urusan pribadi lebih dahulu, barulah kelak hamba akan menaati perintah paduka. "

"Hemm, baiklah. Kalau engkau sudah selesai dengan urusanmu, datanglah menghadap kepada kami dan kami akan memberi anugerah pangkat kepadamu."

Setelah mendapat perkenan dari Kaisar, Tio ng Li lalu meni nggalkan istana Akan tetapi ketika dia sudah tiba di ruangan paling depan, tiba-tiba ada yang memanggilnya.

"Tan-taihiap !"

Tiong Li menengok dan alangkah herannya melihat bahwa yang memanggi Inya itu adalah sang puteri, Sung Hiang Bwee. Tentu puteri itu telah mengambil jalan pintas maka dapat mendahuluinya tiba di ruangan luar itu.

"Tuan Puteri          " Dia memberi hormat.

"Ah, Tai-hiap, jangan menyebutku tuan Puteri. Namaku Sung Hiang-Bwee," kata puteri itu dengan ramah dan manis .

"Eh, nona Sung Hiang Bwee         "

"Hah, begitu lebih akrab, bukan Tai-hiap, kenapa engkau menolak pemberian pangkat oleh ayahanda kaisar? Akti ingin sekali engkau menerimanya sehi ngga engkau dapat tinggal di istana, menjadi pengawal dan kita dapat setiap saat sali ng berjumpa. "

"Saya belum siap untuk menjadi pengawal, nona. Saya masih mempunyai banyak urusan pribadi dan masih ingin bebas dari ikatan pekerjaan." "Akan tetapi, tai-hiap, kalau engkau pergi, sampai kapan kita akan dapat saling bertemu kembali?" gadis itu bertanya, suaranya terdengar penuh kecewa dan penyesalan.

"Sekali waktu kita tentu akan dapat bertemu kembali, nona. Setelah saya merasa bahwa saatnya tiba, saya ten tu akan menghadap Sribaginda Kaisar kembali untuk membantu belia u."

"Benarkah, tai-hiap? Saya akan selalu menanti kedatanganmu. Saya akan merasa kehilangan sekali kalau taihiap tidak segera datang kembali. Selamat Jalan, tai-hiap."

"Selamat tinggal, nona."

Mereka berpisah karena sudah nampak beberapa orang dayang dan pengawal memandang mereka dari kejauhan dengan sinar mata heran. Dan diam-diam Tiong Li merasa heran akan sikap gadis puteri kaisar itu. Kenapa sikapnya demikian ramah dan akrab? Apakah karena merasa telah ditolongnya? Dia merasa tidak enak sendiri. Hia ng Bwee adalah puteri kaisar, dan dia hanya seorang pemuda miskin putera petani dan pemburu sederhana. Agaknya tidak pantas kalau mereka bersahabat.

Tiong Li sama sekali tidak tahu bahwa ketika dia bercakap-cakap dengan Hiang Bwee tadi, terdapat sepasang mata yang mengintai dengan sinar mata mencorong penuh iri hati dan kemarahan. Mata itu adalah mata Jin Кiat! .

Sebetuli ya, sudah lama Jin Kiat tergila-gila kepada Hiang Bwee dan beberapa kali dia dengan jelas menyatakan perasaan hatinya kepada gadis itu. Akan tetapi Hiang Bwee tidak menanggapinya, bahkan membelakanginya, tidak perduli bahkan kelihatan tidak suka kepada nya. Кarena itu, untuk membalas sakit hatinya, dia mengusulkan kepada ayahnya agar menculik dan menyerahkan gadis itu kepada Wu Chu, panglima Kin itu.

Akan tetapi, penculikan itu digagalkan seorang pemuda dan ki ni dia melihat dengan mata kepala se ndiri betapa Hiang Bwee bercakap-cakap dengan pemuda itu, dengan sikap demikian mesra. Hati siapa takkan menjadi panas dan cemburu ?

0oo-dw-oo0

Jin Kiat mengerahkan pasukan untuk melakukan pengejaran terhadap Tio ng Li.Akan tetapi dia tidak berani turun tangan di kota raja. Tiong Li baru saja akan dihadiahi pangkat oleh kaisar. Kalau dia menyerangnya, maka tentu kaisar yang berterima kasih kepada pemuda itu menjadi tidak senang kepada nya. Dia hanya membayangi dengan dua losi n pasukan dan ditemani pula oleh seorang ,yang berusia enampuluh tahun, tinggi kurus dengan muka seperti tengkorak.

Itulah Tang Boa Lu, Manusia Tengkorak, guru dari mendiang Hak Bu Cu. Manusia Tengkorak ini yang dahulu bersama Hak Bu Cu telah menyerang Рек Hong San jin sehingga mengakibatkan tewasnya hwe-shiо pertapa di Liong San  itu.

Tang Boa Lu ini memang diperbantu kan kepada Perdana Menteri Jin Kui oleh pang lima Bangsa Kin yaitu Wu Chu. Meli hat sepak terjang Tiong Li, Jin Kiat menduga bahwa agaknya pemuda yang lihai inilah yang telah menyelamatkan Hia ng Bwee dari penculikan, yang dulu pernah mengalahkan dan mengakibatkan kematian Hak Bu Cu.

Menurut para pengawal, pemuda yang mengalahkan Hak Bu Cu dan menyebabka n Hak Bu Cu tewas di tangan Ban-tok Sian-li, adalah seorang pemuda yang terlalu cepat gerakannya sehingga tidak dapat dikenali wajahnya, akan tetapi para pengawal itu mengetahui bahwa pemuda itu lihai bukan main. Dan pemuda yang menolong Hiang Bwee inipun amat lihai sehingga jagoan istana Ciang Sun Hok tidak mampu menandi nginya.

Inilah sebabnya ketika melakukan pengejaran, dia mengajak Tang Boa Lu. Dan Manusia Tengkorak ini pun ikut dengan penuh semangat ketika diberitahu bahwa mungki n pemuda yang dikejarnya itu yang telah menewaskan Hak Bu Cu, muridnya.

Betapa senang rasa hati Jin Kiat, ketika dia melihat Tiong Li pergi ke rumah pengi napan An-lok untuk mengambil pakaiannya dan membayar sewa kamar, kemudian pemuda itu langsung saja pergi keluar dari kota raja. melalui pi ntu selatan.

Terbukalah kesempatannya untuk menyerang dan membunuh pemuda itu! Mereka segera melakukan pengejaran dan setelah tiba di tempat yang sunyi, cukup jauh dari pintu gerbang selatan, Ji n Kiat dan Tang Boa Lu membawa dua losi n pasukan itu menyusul dan mengepung Tiong Li.

"Berhenti!" bentak Ji n Kiat sambil mencabut pedangnya.

Dihadang dan dikepung duapuluh enam orang itu, Tiong Li bersikap tenang saja, ара lagi ketika melihat рака ian para anak buah pasukan itu adalah ракаian perajurit; Kerajaan Sung. Baru saja dia hendak diangkat perwira oleh kaisar, maka tentu saja kini dia tidak berprasangka buruk terhadap pasukan Sung.

"Ciang-kun," katanya kepada Jin Kiat yang berpakaian panglima. "Ada keperluan apakah cia ng kun menyusul saya? Apakah ada perintah dari Sribaginda Kaisar-?"

"Benar, Sribaginda Kaisar mengutus kami untuk menangkapmu!" bentak Jin Kiat.

Tentu saja Tio ng Li merasa terkejut sekali mendengar ucapan yang ketus ini. Dia mengerutkan alisnya dan bertanya, "Ара kesal ahanku?"

"Kesalahanmu sudah jelas! Engkau sёога ng pemberontak! Engkau membantu dua orang wanita pemberontak melawan pasukan pemerintah. Engkau harus ditangkap!"

Tiong Li teringat akan pertempurannya ketika dia membantu Ban-tok Sian Li dari The Siang Hwi, dan tentang pertandi nqannya melawan Si Golok Naga.

"Hemm, kalau benar Sribaginda Kaisar memerintahkan untuk menangkap aku, Coba perlihatkan surat perintahnya " Dia merasa curiga.

"Tidak perlu surat perintah! Engkau menyerah atau kami akan menggunakan kekerasan membunuhmu!" bentak Jin Kiat.

"Kukira tidak akan semudah itu, sobat! Tanpa surat perintah Kaisar, aku tidak akan menyerah!"

Mendengar ini, Ji n Kiat lalu bегseru keras, "Serang!

Bunuh!!"

Jin Kiat sendiri sudah menggerakkan pedangnya menyerang Tio ng Li sedangkan Si Muka Tengkorak juga sudah menggerakkan kedua tangannya memukul dari jarak jauh.

Melihat Si Muka Tengkorak, walaupun kini mengenakan pakaian panglima, Tio ng Li tiba-tiba teringat. Orang inilah yang dulu bersama Si Golok Naga mengeroyok suhunya, Рек Hong San-jin! Kini mengertilah dia mёngapa kelompok pasukan ini, yang dipimpin oleh pemuda tampan dan Si Muka Tengkorak, menghadangnya dan hendak menangkapnya.

Tentu Si Muka Tengkorak itu akan membalaskan kematian Si Golok Naga!

0oo-dw-oo0