-->

Mestika Golok Naga Jilid 03

Jilid III

Laki-laki itu menengok untuk melihat siapa yang berani memaki dia perampok busuk. Dan dia tercengang melihat bahwa yang memakinya adalah seorang gadis berusia belasan tahun yang amat cantik manis. Dia lalu melangkah maju menghampiri.

"Apa kau bilang, nona?" "Aku bilang engkau perampok busuk, orang tidak tahu malu yang paling rendah budi di dunia ini!" gadis itu kembali memaki, sekali ini lebih ketus lagi.

"Hei , jaga mulutmu!" bentak laki- laki itu. "Engkau sudah memaki aku, hayo cepat beri ciuman atau kalau engkau tidak mau, mulutmu akan kurobek sebagai hukuman!" laki-laki itu menghampiri semakin dekat dan hendak merangkul .

"Plak-plak . .. . !!" Dua kali tangan gadis itu menampar dan laki-laki itu jatuh terjengkang lalu mengaduh- aduh sambil memegangi kedua pipinya yang menjadi bengkak dan giginya rontok sehingga mulutnya berdarah.

Akan tetapi dasar orang tidak tahu diri. Dalam rasa sakitnya, dia malah marah

dan segera bangkit berdiri lalu menyerang gadis itu dengan pukulan kedua tangannya ! Karena dia memang tinggi besar dan kuat pukulannya itu gencar datang nya dan kuat sehi ngga membuat yang menontonnya menjadi khawatiг akan keselamatan gadis itu. Akan tetapi mereka kecelik karena tidak sekalipun pukulan itu mengenai tubuh si gadis, bahkan sebaliknya, begitu gadis itu menggerakkаn kaki nya menendang, untuk kedua kalinya laki-laki itu terjengkang. Akan tetapi sekali ini, dia bangkit dengan perut mulas, dia memegangi perutnya dan lari dari situ tanpa menoleh lagi entah ketakutan entah untuk mencari tempat mengeluarkan isi perutnya yang terguncang ! Melihat ini, semua orang bertepuk tangan dengan girang dan memuji. Pada masa itu, memang banyak sekali orang yang memaksakan kehendaknya, baik dengan bantuan kedudukannya, kekuasaannya, hartanya, maupun kekuatannya. Da n гakyat yang sudah ketakutan itu biasanya tidak ada yang berani melawan. Maka, kini melihat orang yang berti ndak sewenang- wenang mendapatkan hajaran, tentu saja mereka menjadi girang dan puas.

An Kiong mengenal orang pandai Dia lalu memberi hormat kepada gadis itu dengan ramah.

"Nona, engkau telah menolongku dan mengusir orang yang bertindak sewenang-wenang tadi. Kami mohon sudilah nona si nggah di rumah kami untuk berkenalan dan untuk memberi kesempatan kepada kami mengucapkan terima kasih kami."

Sikap hartawan itu amat hormatnya dan kata-katanya pun teratur ramah dan rapi. Mendengar ini, The Siang Hwi lalu menengok kepada gurunya.

"Subo, bagaimana kalau kita singgah sebentar?"

Mendengar gadis itu menyebut subo kepada wanita cantik jelita yang sejak tadi hanya berdiri acuh saja, An wangwie lalu menghampiri nya dan memberi hormat.

"Ah, kiranya toanio adalah guru nona ini? Maafkan kalau kami kurang hormat kaгёna tidak tahu. Toanio, kami mohon sudilah kiranya toanio dan nona singgah di rumah kami sejenak untuk berkenalan dan menghaturkan terima kasih. Kami adalah keluarga yang selalu mengagumi dan menghormati kaum pendekar seperti toanio berdua." Sikap An-wangwe memang baik sekali sehingga Ban- tok Sian-Ii yang biasanya acuh saja kini-menjadi tertarik juga. Orang ini selain dermawan, juga ramah dan sopan sekali.

"Baik, kita sebentar singgah disini, Siang Hwi." katanya sambil mengangguk dan hartawan itu merasa girang bukan main. Dia memberi isarat kepada orang- orangnya untuk melanjutkan dengan pembagian beras dan dia sendiri tergopoh-gopoh mengiringkan dua orang wanita cantik itu memasuki rumahnya.

Sementara itu apa yang terjadi di luar rumah sudah terdengar oleh isteri dan empat orang anak hartawan itu, dan meli hat. hartawan mengiringkan kedua orang masuk, merekapun menyambut dengan ramah dan hormat sehingga amat menyenangkan hati Ban-tok Sian-li.

Kedua orang tamu itu lalu dijamu oleh tuan rumah beserta semua keluarganya yang terdiri dari seorang isteri dan empat orang anak.

An Kiong mengangkat cawan araknya memberi hormat kepada mereka berdua "Kami hendak memperkenaIkan diri kepada ji-wi yang mulia . Nama saya An Kiong, ini isteri saya dan empat orang anak saya yang berusia dari lima tahun sampai lima belas tahun. Kalau ji-wi tidak keberatan, kami ingin sekali mengetahui nama ji-wi yang mulia."

Sikap amat rendah hati ini menggerakkan hati Ban-tok Sian-li. Biasanya ia tidak pernah memperkenaIkan nama aslinya, hanya memperkenalkan nama julukannya saja. Akan tetapi karena hartawan An bukan orang kangouw, dan tidak perlu ia menyembunyikan namanya, maka ia kini memperkenaIkan nama aslinya, bahkan tidak menyebut nama julukannya. "Aku bernama Souw Hian Li dan muridku ini bernama The Siang Hwi. Kami berdua adalah perantau yang datang dari Lembah Maut di tepi sungai Yang- ce."

"Aih, sudah kami duga bahwa ji-wi tentulah tokoh- tokoh kangouw yang perkasa dan budiman. Puteri kami yang sulung telah berusia limabelas tahun dan ia selalu ingin sekali belajar i Imu silat, akan tetapi tidak pernah mendapatkan guru yang pandai. la selalu tertarik kepada mendiang pek-hua-nya (uwa-nya) yaitu Panglima Gak Hui, maka ingi n sekali mempelajari ilmu silat tinggi. Kalau saja toa-nio sudi memberi petunjuk kepadanya, alangkah akan bahagianya hati kami ."

Diam-diam Ban-tok Sian-li Souw Hian Li terkejut. "Ah, kiranya An-wangwe masih terhitung keluarga mendiang Panglima Gak Hui? Sungguh mengherankan, mengapa engkau masi h enak-enak tinggal di kota raja?"

An-wangwe tersenyum. "Ah, kami hanya keluarga jauh. Isteri mendiang Panglima Gak adalah kakak misanku, maka kami terhitung keluarga jauh. Pula, kami tidak pernah ik ut urusan perjuangan, mengapa takut tinggal di kota raja? Kamipun tidak pernah melakukan kejahatan dalam bentuk apapun "

Tiba-tiba terdengar ribut-ribut di luar. Serentak mereka keluar. Ternyata yang ribut-rlbut itu adalah selosin orang pasukan yang menyuruh para pembantu dan petugas yang membagi beras tadi menghentikan pekerjaannya dan mereka menyuruh semua orang pergi. Itulah selosin pasukan yang dipimpin oleh Jin Kiat dan Hak Bu Cu. Ketika Jin Kiat melihat An-wangwe muncul, dia lalu menudingkan telunjuknya dan berteriak lantang.. "An Kiong engkau mengumpulkan orang apakah hendak memberontak?" Anwangwe mengenai pemuda itu dan diapun cepat memberi hormat.

"Jin-kongcu, mengapa berkata demikian? Mereka ini adalah fakir miskin yang mengambil bagian beras yang kubagi-bagikan untuk mereka kongcu."

"Ahhh, jangan membantah. Lihat aku membawa surat perintah Yang Mulia Kaisar untuk menangkapi sejuruh keluarga pemberontak Gak Menyerahlah engkau sekeluargamu untuk kutangkap, An Kiong!"

Seketika wajah An Kiong berubah pucat mendengar ini. "Akan tetapi, kongcu .... kami ... kami bukan keluarga Gak! Kami keluarga An "

"Cukup Siapa tidak tahu bahwa engkau masih saudara misan ibu pemberontak Gak Liu?"

"Ampun, kongcu. Kongcu sendiri cukup lama mengenal keluarga kami yang tidak pernah berbuat salah apapun "

"Jangan banyak cakap! Perajurit, tangkap mereka semua!" perintah Jin Kiat .

"Kami tidak bersalah ! Kami tidak mau ditangkap!" terdengar bentakan dan An Siu Hwa, puteri sulung hartawan An itu. sudah mencabut pedangnya.

"Ha-ha-ha, puterimu ini gagah juga, An Kiong! Biar yang ini bagianku!" kata Ji n Kiat dan diapun menubruk kearah gadis itu. Siu Hwa menyambutnya dengan tusukan pedang, akan tetapi ilmu silatnya masih terlampau rendah kalau dibandingkan Jin Kiat yang menjadi murid para jagoan istana.

Jin Kiat mengelak dan dari samping dia sudah menotok tubuh gadis itu sehi ngga Siu Hwa merasa tubuhnya lemas, pedangnya terlepas dan ia jatuh ke dalam rangkulan Jin Kiat yang tertawa-tawa.

Para perajurit lalu menangkapi An Kiong, isterinya dan tiga orang anaknya yang lai n, yang masih kecil-kecil. Melihat ini Ban-tok Sian-li menjadi marah sekali.

"Jahanam busuk, lepaskan mereka!" la menampar dua kali dan dua orang perajurit terjungkal dan tewas seketika. melihat ini, Hak Bu Cu terkejut dan maklum bahwa wanita cantik itu lihai sekali dan memiliki pukulan beracun.

Maka diapun segera menerjang maju dan segera terjadi pertandingan yang seru antara Hak Bu Cu melawan Ban-tok Sian-li yang juga terkejut karena di situ muncul raksasa hitam yang demikian dahsyat tenaga dan tinggi llmu silat nya.

Sementara itu, meli hat betapa Siu Hwa telah dirangkul secara kurang ajar sekali oleh Ji n Kiat, The Siang Hwi mengeluarkan suara melengking nyaring dan ia sudah menyerang pemuda itu dari samping. "lepaskan gadis itu!"

Jin Kiat yang masih merangkul dan tadi menci umi Siu Hwa, menggunakan tangan kiri menangkis pukulan Siang Hwi. Dia terlalu memandang rendah, maka ketika Tangan mereka beradu, hampir saja Jin Kiat terpelanting .

Dia melepaskan Siu Hwa dan terkejut bukan main karena ternyata gadis cantik manis itu memiliki tenaga sinkang yang membuat dia hampir roboh! Dia lalu mencabut pedangnya dan menyerang Siang Hwi. Akan tetapi gadis inipun mencabut sebatang pedang tipis dari punggungnya dan mereka sudah saling serang dengan hebatnya. Para perajurit juga membantu Ji n Kiat sehingga Siang Hwi dikeroyok banyak оrang. Para perajurit itu tidak berani membantu Hak Bu Cu karena pertandi ngan antara Hak Bu Cu dengan wanita cantik itu hebat bukan main, Angin yang dahsyat menyambar-nyambar dari kaki tangan mereka sehi ngga tidak ada perajurit berani mendekat.

Seorang perajurit lari mencari bala bantuan dan tak lama kemudian berdatangan berpuluh-puluh perajurit kerajaan. Meli hat ini, mau tidak mau Bantok Sianli lalu melompat jauh dan bersama muridnya ia terpaksa melarikan diri.

Tidak mungkin menghadapi pengeroyokan puluhan orang perajurit, apalagi,mereka berada di kota raja yang dapat mengerahkan ratusan bahkan ribuan orang perajurit yang tentu akan membahayakan sekali kepada mereka .

Теrpaksa walaupun dengan hati mendongkol sekali, Ban-tok Sian-li dan The Siang Hwi membiarkan An Kiong sekeluarga ditangkap dan dibawa ke penjara.

Mereka berdua juga tidak lepas dari pengejaran para perajurit. Ke manapun mereka pergi, tentu bertemu dengan seregu perajurit dan beberapa kali mereka harus melakukan perlawanan merobohkan beberapa orang perajurit dan lari lagi .

Akhirnya mereka terjebak ke dalam sebuah lorong, pada hal kedua ujung lorong itu telah terjaga oleh ratusan orang perajurit. Pada saat mereka kebingungan itu, muncullah seorang pemuda berpakaian pengemis, pakaiannya tambal tambalan namun bersih.

"Toa-nio, sio-cia, mari ke sini. Tidak ada jalan keluar lain. Mari cepat!-" katanya kepada dua orang wanita itu. Karena memang sudah tersudut, Ban tok Sian-li memberi isyarat kepada muridnya untuk mengikuti pemuda itu. Mereka memasuki sebuah rumah kecil dan dari rumah ini mereka dapat menyusup melalui lorong- lorong kecil, keluar dari lorong yang terkepung itu. Mereka lalu memasuki sebuah kuil. Kuil itu adalah sebuah kuil para pendeta wanita. Seorang ni-kouw tua menyambut kedatangan pemuda pengemis itu.

"Ceng-niko uw, tolonglah kedua orang sahabat ini.

Mereka adalah buruan tentara. Cepat!"

"Baik, masuklah ke sini, ji-wi sio-cia!" kata ni-kouw tua itu kepada Ban-tok Sian-ii dan Siang Hwi. Pengemis itu lalu memberi hormat dan berkata kepada mereka.

"Untuk sementara ji-wi di sini aman. Aku akan mencari jalan untuk ji-wi dapat keluar dari kota raja. Sampai jumpa!"

Pengemis itu laiu menyelinap pergi dari situ dengan cepat. Ban-tok Sian-li dan Siang Hwi segera dibawa masuk ke dalam kamar dan mereka diberi рakаian ni- kouw untuk menyamar, dengan memakai penutup kepala berwarna kuning seperti kebiasaan calon-calon ni-kouw yang belum menggunduli rambutnya.

Benar saja. Tempat itu aman. Biar pun ada rombongan perajurit yang mengadakan pemeriksaan di situ, akan tetapi para perajurit ini tidak berani berbuat sesukanya. Kuil ini biasa dikunjungi oleh permaisur dan keluarga kaisar, maka perajurit pun menghormatinya.

Setelah keadaan agak aman, barulah mereka. berdua berkenalan dengan Ceng Ni-kouw, kepala ni-kouw di situ dan baru mereka tahu bahwa Ceng Niko uw adalah simpatisan para pejuang yang berusaha mengusir para pasukan Kin yang merajalela di perbatasan. Juga, nikouw ini adalah pengagum mendiang Panglima Gak Hui.

Ketika mendengar dari The Siang Hwi mengapa mereka. menjadi buronan, karena membela An Kiong yang ditangkap sebagai anggauta keluarga mendiang Pang lima Gak Ниi, ni-kouw itu merasa senang telah dapat menolong mereka.

"Omitohud...., memang keadaa n sekarang amatlah menyedihkan. Sebetulnya, semua ini gara-gara keluarga Jin itulah!"

"Apakah yang dimaksudkan adalah perdana Menteri Jin Kui?" tanya Ban-tok Sian-li yang merasa tertarik juga.

"Siapa lagi? Sebetulnya kaisar tidaklah jahat, akan tetapi kaisar amat lemahnya dan terlalu percaya kepada perdana menteri itu. Da hulu, Panglima Gak Hui tewas juga karena perdana menteri itu. Hal ini siapakah yang tidak tahu? Seluruh rakyat juga mengetahui belaka akan tetapi kekuasaan Jin Kui amat besar, siapa berani menentang dia? Dan puteranya itu tidak kalah jahatnya dengan ayahnya. Merampas anak gadis orang, bahkan isteri orang, apa saja yang tidak dilakukan pemuda jahat itu. Da n semua orang juga tahu bahwa Perdana Menterl Jin Kui itu diam-diam menjadi antek Kin. Hanya kaisar seorang yang tidak mau tahu dan tidak percaya. Aihh, entah apa yang akan terjadi dengan Kerajaan Sung"

"Akan tetapi kematian Gak Hui sudah lama terjadi. Sekarang mengapa tahu-tahu hartawan An Kiong ditangkap? Apakah bibi mengetahui sebabnya?" tanya Ban-tok Sian-li .

Ni-kouw Itu menghela napas panjang. "Omitohud ....... sebetulnya, kalau memang hendak ditangkap sudah dari dahulu. An Kiong itu masih saudara misan mendiang nyonya Gak Hui, maka dapat di kata masih sanak keluarga. Akan tetapi kalau sampai sekarang baru ditangkap hal ini tentu sudah lai n jadinya. Mungki n Jin Kiat itu tergita-gila kepada puteri Sulungnya atau mungki n juga merupakan usaha untuk merampas kekayaannya. Pin-ni (aku) sendiri tidak tahu jelas mengapa dia sekeluarga ditangkap. Pada hal semua orang di kota raja tahu belaka bahwa hartawan An itu adalah seorang yang dermawan dan bi jaksana, tidak pernah melakukan kejahatan sama sekali .

"Kalau begitu, pasti ada sebab tertentu dan mengapa Perdana Menteri Jin Kui sampai mengutus puteranya sendiri bahkan ditemani raksasa hitam yang lihai itu "

"Pin-ni juga tidak tahu. Lalu ji-wi ini siapakah dan bagaimana sampai terlibat dalam penangkapan An Kiong itu?"

"Nama saya Souw Hian Li dan ini murid saya bernama The Siang Hwi, bibi. Kami berdua kebetulan tertarik melihat Anwangwe membagi-bagikan beras kepada fakir miskin. Kemudian ketika terjadi penangkapan, kami berdua menjadi tamunya. Sayang sekali kami tidak dapat melindunginya dari tangkapan karena datangnya banyak pasukan kerajaan dan si raksasa hitam itu lihai bukan main. Terpaksa kami melarikan diri, kalau tidak kami tentu tertangkap oleh pasukan yang demikian banyaknya."

"Jangan ji-wi khawatir. dii sini ji-wi pasti aman. Tidak ada yang akan berani menggeledah sampai ke dalam karena kui l ini biasa dikunjungl permaisuri dan keluarga kaisar." "Kami tidak mengkhawatirkan diri kami, bibi, yang kami khawatirkan adalah keadaan keluarga An yang ditangkap."

"Omitohud, apa yang dapat kita lakukan, toa-nio? Kekuasaan Perdana Menteri Jin Kui amat besar, hanya di bawah kekuasaan kaisar sendiri. Hanya kaisarlah yang dapat menghentikan semua perbuatannya. Apa daya kita?"

"Hemm, kalau perlu kami akan mempergunakan kekerasan untuk membebaska n hartawan An, atau dapat juga kami memaksa Perdana Menteri Ji n Kui!" kata Ban- tok Sian-li sambil mengepal tinju.

la sungguh merasaya tidak rela meli hat An Kiong, hartawan yang demikian bijaksana dan dermawan, diperlakukan sewenanq-wenang oleh siapapun juga. Memang demikianlah watak Ban-tok Sian-li. Kalau ia sudah tidak perduli, maka iapun tidak akan memperhatikan apapun yang terjadi kepada seseorang, ia akan acuh saja. Akan tetapi sekali ia membela orang, akan dibelanya sampai semampunya! .

"Harap toa-nio bersabar. Jin Kui itu besar sekali kekuasaannya dan dia dijaga oleh sepasukan pengawal yang berilmu tinggi. Berbahaya sekalilah kalau memasuki ruangan gedungnya. Sebaik nya kita menanti sampai Gan-enghio ng datang."

"Gan-enghiong?"

"Oh ya, ji-wi belum mengetahui namanya. Pemuda yang membawa ji-wi ke sini, dia adalah putera ketua Hek-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam). Biarpun golongan pengemis, namun mereka adalah para pengemis kang ouw yang gagah dan tidak pernah berbuat jahat, bahkan selalu siap menolong orang yang tertindas. Bahkan ketuanya bersimpati kepada para pejuang, akan tetapi di kota raja tentu saja mereka tidak berani terang-terangan .

"Bukankah para pejuang itu berarti membela pula kedaulatan Kerajaan Sung?"

"Sebenarnya demikian. Para pejuang itu setia kepada kerajaan dan mereka memusuhi Kerajaan Kin, Akan tetapi, karena pengaruh Perdana Menteri Jin Kui, Kaisar menyalahkan para pejuang yang dianggap membikin kacau saja memanci ng permusuhan dengan Kin."

"Sungguh aku tidak mengerti. Kaisar dibela para pejuang malah memusuhi mereka. Pasti ada hal-hal kotor dan busuk tersembunyi dibalik semua, ini " kata Ban-tok Sian-li penasaran.

"Telah menjadi rahasia umum bahwa Perdana Menteri Jin Kui memang bersikap baik dan bersahabat terhadap Kerajaan Kin. Dia yang membujuk. Kaisar untuk berdamai dengan Kerajaan Kin. Contohnya Pang lima Gak Hui. Kurang bagaimana panglima besar Itu? Dia setia kepada Kaisar, akan tetapi kenyataannya dia dihukum mati hanya karena dia bersikap terus menentang Kerajaan Kin dan melancarkan serangan yang sama sekali tidak disetujui oleh Perdana Menteri Jin Kui."

"Sungguh celaka! Äpa yang akan terjadi dengan Kerajaan Sung sikapnya demikian lemah terhadap musuh yang selalu mengancam keamanan negara dan bangsa? Sungguh mengherankan sekali. Semestinya kaisar merasa bangga dan senang meli hat rakyatnya setia dan membela kerajaannya. Pada hal, sudah amat luas tanah air yang dijajah bangsa Yu cen. Sepatutnya kaisar menghimpun kekuatan rakyat untuk merampas kembali daerah yang direbut oleh penjajah Itu."

"Pikiran seperti toa-nio itulah yang membuat para pendekar patriot membentuk laskar-laskar rakyat dan menyerang pasukan Kin.Akan tetapi sayangnya di rumah sendiri mereka dimusuhi oleh pasukan Sung yang semestlnya malah mendukung dan membela mereka.. Yah, beginilah keadaa nnya, toa-nio. Kita mampu berbuat apakah?"

Sampai jauh malam mereka bercakap-cakap Bantok Sian-li dan muridnya mendapat banyak keterangan dari ni-kouw itu sehingga hati datuk wanita itu menjadi semakin tertarik. Tadinya ia sama sekali tidak perduli tentang perjuangan akan tetapi kini ia mulai bersimpati kepada para pejuang.

O0dw0O

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Gan Kok Bu, yaitu pemuda yang menolong guru dan murid semalam dan menyembunyikan mereka ke dalam kuil ni-kouw, muncut di kuil itu.

Kedatangannya secara rahasia dan Ceng Nikouw lalu membawanya ke ruangan belakang dl mana dia bertemu dengan Ban-tok Si anli dan The Slang Hwi.

Begitu bertemu, Ban-tok Sian-li segera bertanya, "Saudara Gan, bagaimana kabarnya dengan An-wangwe dan keluarganya?"

Yang ditanya menggeleng kepalanya dan menghela napas panjang lalu berkata pendek,

"Celaka mereka itu      " Siang Hwi menjadi terkejut dan khawatir. "Apa yang terjadi dengan mereka?"

"Benar-benar keparat ayah dan anak she Jin itu!" Kok Bu berkata sambil mengepel tinju. "Orang-orang yang tidak bersalah apapun, bahkan yang berjasa bagi rakyat jelata, dibunuhi secara kejam!"

"Dibunuh? Maksudmu, mereka semua dibunuh?" tanya Ban-tok Sian-li membelalakkan matanya yang indah.

"Tidak cuma dibunuh, mereka disiksa sampai mati." "Akan tetapi, mengapa? Apa kesalahan mereka?"

Ban-tok Sian-li kini bertanya dengan setengah berteriak.

Sukar ia membayangkan orang tua yang berbudi itu dibunuh sеkеluarganya begitu saja, bahkan disiksa sampai mati! .

"Menurut hasil penyelidikan kami melalui para perajurit pengawal, mereka itu disiksa untuk mengaku di mana adanya pemberontak Gak Liu. Karena tidak ada yang dapat mengatakan di mana adanya Gak Liu, mereka disiksa sampai mati dan dicap sebagai pemberontak. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, puteri sulung An wangwe oleh Jin Kiat telah diperkosa kemudian diserahkan kepada pengawal sampai gadis itupun menemui ajalnya. Da n harta benda hartawan itu disita untuk negara yang tentu saja telah disaring dulu melalui tangan Perdana Menteri .

"Terkutuk! Kami tidak dapat mendiamkannya saja, subo!" tiba-tiba Siang Hwi berseru nyaring, mukanya berubah merah sekali saki ng marahnya.

"Benar! Kita harus berti ndak. Malam ini juga kita berdua akan menyusup ke dalam gedung Perdana Menteri Jin dan kita bunuhi mereka semua sekeluarga!" kata Ban-tok Sian-1i.

"Omitohud..., toa-nio dan nona pi n-ni harap ji-wi tidak melakukan pekerjaan yang amat berbahaya itu. Salah salah ji-wi sendiri yang akan menderita celaka di tangan para pasukan pengawal."

"Kami tidak takut, bibi . Sudah menjadi resiko dunia persilatan, kalau tidak berhasil tentu gagal kalau tidak menang tentu kalah dan kekalahan ada kalanya membawa nyawa. Kami tidak takut!" kata Ban-tok Sian-li dengan ucapan yang keren dan tegas.

"Maaf, toanio dan siocia (nona) bukannya saya ingin mencampuri urusan ji-wi, akan tetapi benar seperti yang dikatakan Ceng Ni-kouw, menyerbu ke dalam gedung istana Perdana Menteri amat lah berbahaya. Perdana Menteri Jin Kui telah mengundang beberapa orang jagoan istana untuk mengawalnya, dan kedudukannya kuat sekali."

"Kami tidak takut!" kata pula Ban tok Sian-li. "Pendeknya malam ini kami harus dapat membunuh Perdana Menteri keparat Itu!"

Karena merasa tidak mampu untuk mencegah guгu dan murid itu, Kok Bu hanya menghela napas panjang dan dia berpamit. Akan tetapi diam-diam dia ngumpulkan beberapa putuh anak buahnya yang paling lihai dan bersiap-siap untuk meli ndungi guru dan murid itu. Entah mengapa, hatinya merasa tidak rela meli hat The Siang Hwi terancam bahaya kalau ik ut gurunya menyerbu rumah ge dung Perdana Menteri Jin.

Malam itu amatlah sunyi dan dingi n. Malam terang bulan yang sejuk. Akan tetapi seperti biasa, setelah agak malam semua penduduk memasuki rumahnya. Apa lagi tersiar berita bahwa pasukan mencari-cari buronan dan ini berarti setiap saat dapat saja rumah penduduk diserbu pasukan, digeledah dan hal ini membuat setiap penduduk merasa ketakutan. Kalau kebetulen pasukan yang menggeledah itu dipimpin seorang perwira yang baik, maka penggeledahan berjalan wajar dan tidak terjadi gangguan kalau mereka tidak menemukan orang yang dicari di rumah itu.

Akah tetapi kalau ternyata sebaliknya, pasukan itu dipimpin oleh seorang perwira yang jahat, maka pasukan itu menggunakan kesempatan untuk menggerayangi harta milik penduduk, dan tidak segan-segan mengganggu wanita yang muda dan cantik.

Di antara bayang bayang pohon berkelebatan dua sosok bayangan yang gerakannya gesit bukan main. Mereka itu adalah Ban-tok Sian-li dan muridnya, The Siang Hwi. Dengan menyelinap diantara pohon-pohon mereka menghamplri gedung besar tempat tinggal Perdana Menteri Jin Kui dan tak lama kemudian mereka telah tiba di luar pagar tembok yang tinggi.

Di pintu gerbang pagar tembok itu terdapat gardu penjagaan dan di situ berkumpul belasan orang penjaga. Mereka secara bergilir meronda, mengeliIi ngi gedung Itu.

Dengan gerakan ringan dan mudah saja, guru dan murid ini lalu melom- pati pagar tembok dan turun di sebelah dalam. Mereka telah berada di datam taman dan agaknya tidak ada penjaga yangmengetahui gerakan mereka. De ngan girang guru dan murid ini lalu melaya naik ke atas genteng dan dari sana me ceka mencari- cari, mengintai ke bawah .

Tiba tiba mereka berhenti bergerak dan mendekam di atas wuwungan. Mereka melihat pemuda yang bukan lain adalah Ji n Kiat bersama seorang laki-laki setengah tua duduk di sebuah ruangan yang lampunya terang, seda ng makan minum.

Dari si kap Jin Kiat yang menghormat laki-laki setengah tua itu, mudah diduga bahwa orang itu tentulah perdana Menteri Jin Kui, ayah pemuda itu. Mereka berdua makan minum dilayani beberapa orang dayang dan di sekitar ruangan itu nampak lima orang perajurit pengawal menjaga.

"Kesempatan baik," bisik Ban-tok Sian-1i kepada muridnya. "Mari serbu!"

Dua orang wanita perkasa itu lalu melayang turun, dan mendadak saja semua penerangan di ruangan itu menjadi padam sehingga keadaannya menjadi gelap . Mereka terkejut dan maklum bahwa mereka terjebak. Dan tiba-tiba ruangan menjadi terang benderang kembali akan tetapi Perdana Menteri Jin Kui dan para dayang telah menghilang.

Yang ada hanyalah Ji n Kiat yang ki ni memimpi n belasan orang pengawal, di antaranya terdapat raksasa hitam yang lihai! Mereka itu telah mengepung guru dan murid itu.

Melihat guru dan murid ini, Jin Kiat segera mengenai mereka sebagai orang-orang yang pernah membela An Kiong sekeluarga ketika keluarga ttu hendak ditangkap, maka dia tertawa mengejek.

"Ha-ha-ha, kiranya kalian dua orang wanita pemberontak! Tangkap mereka! Terutama yang muda itu, tangkap hidup-hidup dan jangan lukai !"

Para pengawal itu sudah mencabut senjata masing- masing, dan Ban tok Sian-li yang maklum bahwa si tinggi besar muka hitam itu amat lihai, sudah menerjang kepada raksasa hitam ini dengan pedangnya. Pedang di tangan datuk wani ta ini bersinar hitam dan pedang itu amatlah berbahaya karena telah direndam racun yang amat berbahaya. Sekali terkena goresan pedang ini musuh akan tewas dan tidak mungkin dapat disembuhkan lagi.

Melihat wanita itu menghunus pedang yang bersinar hitam. Hak Bu Cu juga menghunus goloknya yang tersembunyi di balik jubahnya.

Melihat golok ini, Ban-tok Sian-li berseru kaget. "Mestika Golok Naga ! "

"Engkau sudah mengenal. golokku ! Bagus, hayo cepat menyerah sebelum golokku membuat engkau menjadi setan tanpa kepala ! "

Akan tetapi Ban-tok Sian-li sudah menggerakkan pedangnya, menyerang dengan dahsyatnya menusukkan pedang ke arah dada lawan.

Hak Bu Cu tidak berani memandang rendah. Dia sudah merasakan kelihaian wanita ini dan harus mengakui bahwa tanpa bantuan pengawal, kemarin dia tidak akan mampu menandi ngi wanita ini.

Maka diapun cepat menggerakkan golok yang besar itu menangkis sambl1 mengerahkan tenaga.

"Cringggg ..... trangg      !!"

Dua kali pedang bertemu golok dan bunga api berpijar menyilaukan mata. Beberapa orang pengawal sudah menyerbu dan Ban- tok Sian-li lalu dikeroyok. Sementara itu, Siang Hwi juga sudah mengamuk, dikeroyok Jin Kiat dan orang-orangnya sehingga gadis ini, seperti juga gurunya, sudah dikepung ketat.

Guru dan murid itu mengamuk dan mereka sudah berhasil membunuh beberapa orang pengawal, akan tetapi datang pula regu pengawal yang lain sehi ngga mereka semakin terdesak. Ketika menge- lak dari sambaran banyak senjata; tiba tiba Ban-tok Sian-li terkena tendangan yang dilontarkan oleh Hak Bu Cu. Keras sekali tendangan itu dan Ban-tok Sian-li tidak sempat mengelak lagi, karena ia sedang mengelak dan menangkis sambaran banyak senjata para pengeroyok.

Tendangan itu mengenai paha kiri nya. Biarpun paha itu tidak menderita luka, akan tetapi saking kerasnya tendangan itu, kakinya menjadi memar dan rasanya nyeri Ьukап main.

Tubuh Ban tok Sian-li terpelanting dan dengan cepat iapun bergulingan. Ketika, dua orang pengawal mengejarnya dengan bacokan golok, ia menggerakkan pedangnya dan dua orang pengawal itupun roboh mandi darah dan tewas seketika.

la melompat berdiri lagi dan mengamuk. Sudah lebi h dari sepuluh orang pengawal roboh oleh pedangnya, demikian pula muridnya telah merobohkan banyak pengawal. Akan tetapi Jin Kiat ma si h terus mengepungnya dengan pengawal pengawal baru yang datang membantu.

Keadaan guru dan murid itu kini terdesak dan mereka dalam bahaya. Apa lagi kini Ban-tok Sian-li sudah terkena tendangan yang membuat gerakannya kurang lincah, sedangkan Hak Bu Cu terus mendesak dengan hebatnya. Selagi mereka berdua terdesak, mendadak nampak banyak bayangan berkelebat dan muncullah belasan orang membantu guru dan murid itu. Mereka berpakaian seperti orang-orang kang-ouw, dan senjata mereka juga bermacam-macam.

Akan tetapi melihat bahwa yang muncul itu adalah Gan Kok Bu, Maklumlah Ban-tok Sian-li dan Siang Hwi bahwa orang-orang itu tentu para anggauta Hek-tung Kai-pang yang sengaja menyamar agar jangan ketahuan bahwa mereka anggauta perkumpulan pengemis itu. Maka mereka tidak mengenakan рakаian pengemis dan tidak pula menggunakan senjata tongkat hitam.

Bagaimanapun juga, setelah rombongan ini datang membantu, Bап-tok Si an-li dan Siang Hwi lolos dari kepungan. Kok Bu segera menghampirl mereka dan berseru, "Mari kita pergi !"

Karena maklum bahwa kalau dilanjutkan perkelahia n itu, pihaknya tentu akan menderita kekalahan dan akan celaka di tangan para pengawal, Ban-tok Sian-li yang sudah terluka pahanya lalu melompat pergi dan mengajak muridnya.

"Siang Hwi, kita pergi ! "

Siang Hwi juga meloncat pergi . Bantuan para anggauta Hek-tung Kai-pang memungki nkan mereka meni nggalkan para pengeroyok itu.

Pada saat itu, bagian ki гi gedung itu terbakar, dibakar oleh anggauta Kai-pang yang bertugas untuk itu. Melihat ini, tentu saja para pengawal menjadi panik dan kesempatan ini memungkinkan mereka semua untuk melarikan diri, walaupun ada tiga orangg anggauta Kai- pang terpaksa ditinggal karena mereka sudah roboh dan tewas. Kok Bu mengajak guru dan murid itu pergi bersembunyi di tempat rahasia ayahnya, yaitu ketua Hek- tung Kai-pang, Tempat ini adalah sebuah rumah seorang pejabat tinggi bagian kebudayaan.

Pejabat tinggi ini juga seorang yang bersimpati kepada para pejuang, maka memberikan rumahnya yang kosong untuk tempat bersembunyi ketua Hek- tung Kai-pang; Dan tidak akan ada orang yang mencurigai tempat itu karena tempat itu kadang-kadang dijadikan tempat peristirahatan sang pembesar tinggi.

Selain itu, masih ada hubungan keluarga antara pejabat tinggi itu dengan ketua Hek-tung Kai-pang yang bernama Gan Liang.

Adapun pusat Hek-tung Kai-pang sendiri berada di luar kota raja. Para anggauta Hek-tung Kai-pang dengan bebas berkeliaran di kota raja karena mereka tidak pernah membikin ribut dan mereka membantu para pejuang secara rahasia, tidak terang-terangan.

Ban-tok Sian-li dan The Siang Hwi disambut oleh Hek- tung Kai-pang-cu Gan Liang sendiri, seorang laki-laki berusia limapuluh tahun yang nampaknya masih gagah. Ayah Gan Kok Bu ini sudah mendengar dari, puteranya tentang sepak terjang wanita bernama Souw Hian Li dan muridnya yang bernama The Siang Hwi itu .

Ketika menyambut dua orang wanita itu, Gan Liang yang memberi hormat kepada Ban-tok Sian-li tertegun. Dia memandang wanita itu penuh perhatian, lalu berseru heran,

"Bukankah toanio ini Ban-tok Sia n-li "

Yang di tanya balas memandang. "Bagaimana engkau dapat mengenaIku?" "Siapa yang tidak mengenai Ban-tok Sian-li dari Lembah Maut yang ter sohor itu?"

Melihat sikap ayahnya yang nampak kaget dan juga tidak senang itu, Gan Kok Bu lalu mempersilakan mereka, duduk. Suasana menjadi agak kaku karena Gan Liang lebih banyak diam dari pada bicara.

Tentu saja hal ini dirasakan oleh Ban-tok Sian-li dan dengan terus terang datuk ini berkata,

"Agaknya Hek-tung Kai-pangcu tidak menyukai kehadiran kami di sini !"

"Ah, tidak! Sama sekal! tidak! Aku hanya terkejut dan terheran bahwa Ban-tok Sian-li tiba-tiba menjadi seorang pejuang yang membela An-wangwe, Pada hal dahulu engkau tidak pernah pemperdulika n perjuangan, Sian-li."

"Pang-cu, tidak ada orang yang boleh memaksaku untuk berjuang dan tidak ada orang pula yang boleh melarangku untuk berjuang. Karena itu, engkau tidak perlu heran," jawab Ban-tok Sian- li dengan ketus.

Wanita itu memang aneh wataknya. Kalau ia ditentang, ia akan bangkit melawan dengan keras. Dan kiranya ini sudah menjadi watak para datuk persilatan pada umumnya.

"Tidak, Sian-li, siapa berani mёlarangmu? Silakan tinggal di sin!, dan selama di sini, engkau akan aman dari pengejaran pasukan. Maaf, saya ada keperluan lain, terpaksa harus meni nggal kan ji-wi."

Dia lalu keluar dari ruangan itu dan tinggal Kok Bu yang sikapnya jauh berbeda dengan ayahnya. Dia melayani dua orang tamunya dengan baik dan penuh penghormatan, lalu menunjukkan sebuah kamar untuk mereka. Juga dia menyediakan makanan untuk kedua orang tamunya itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Siang Hwi sudah mandi dan keluar dari kamarnya. Gurunya masih beristirahat karena semalam gurunya itu hampir tidak tidur melainkan menghimpun tenaga murni untuk mengobati luka di pahanya yang memar.

Rumah pejabat itu cukup besar dengan pekarangan yang luas, dan di bela kang terdapat seb.uah taman bunga yang cukup indah dan luas pula. Siang Hwi memasuki taman itu. Udara pagi itu amat сеrah, burung- burung masih banyak yang berkicau di taman itu, belum berangkat pergi mencari makan, Sinar matahari pagi mulai menghangatkan taman. Siang Hwi menghampiri serumpun kembang merah dan dipetiknya setangkai lalu di pasangnya di rambutnya.

"Nona       !"

la terkejut dan memutar tubuhnya. Ternyata Kok Bu yang memanggilnya tadi dan pemuda itu berdiri di depannya„ terbelalak dan memandangnya dengan mata terpesona. Bagi Kok Bu, gadis itu nampak cantik jelita pagi itu, apa lagi dengan bunga merah di rambutnya, nampak

seperti seorang bidadari dari kahyangan yang turun ke taman Itu bersama cahaya matahari pagi.

"Eh, Bu toako kiranya. Selamat pagi. Eh, toako engkau kenapakah?"

"Kenapa        ?" "Engkau memandangku seperti belum pernah melihat aku saja!"

Kok Bu tersenyum salah tingkah dan menjawab gugup, "Aku.... ah, kembang di rambutmu itu membuatmu nampak cantik jellta seperti bidadari saja, nona "

"Hemm, engkau terlalu memujiku, toako.!'

"Sungguh mati, aku bukan merayu atau memuji kosong, nona Siang Hwi. Engkau adalah gadis yang paling cantik yang pernah kutemui selama hidupku."

"Omong kosong! Engkau tinggal di kota raja, bahkan engkau banyak mengenal para bangsawan. Banyak putri bangsawan cantik jelita di kota raja, apa lagi puteri istana."

"Sudah banyak aku bertemu puteri bangsawan, akan tetapi tidak ada yang dapat menandingi engkau dalam hal kecantikan dan kegaga han, nona. Aku sungguh terpesona dan begitu bertemu denganmu, seketika aku jatuh hati. Maafkan keIancanganku "

Wajah Siang Hwi menjadi kemerahan akan tetapi ia tidak marah. Sikap pemuda ini terlalu jujur dan ucapannya itu bukan rayuan, hal ini ia dapat merasakan benar. Akan tetapi, sedikitpun ia tidak mempunyai perasaan cinta kepada pemuda yang baru dikenalnya itu, walau pun ia merasa berterima kasih dan juga kagum atas pertolongan pemuda ini kepada nya dan kepada gurunya.

"Sudahlah, toako, jangan bicara soal itu. Aku tidak senang mendengarnya. Sama sekali belum ada dalam pikiranku persoalan yang kau kemukakan itu. Maafkan aku." Dan iapun pergi meninggalkan,pemuda itu menuju ke rumah untuk masuk ke kamarnya di mana gurunya masih tidur.

Akan tetapi ia melihat sesosok bayangan berkelebat dan tahulah ia bahwa bayangan itu adalah Gan-pangcu, ayah dari Kok Bu. Karena ingin tahu apa yang akan terjadi, ia menyelinap ke balik sebatang pohon dan mengi ntai.

Gan Liang klni bicarara keras kepada anaknya sehingga Slang Hwi tidak perlu mengerahkan pendengarannya untuk dapat mendengar apa yang dikatakan ketua Hek-tung Kai-pang itu.

"Apa? Engkau mencinta gadis itu? Tidak tahukah engkau murid siapa ia? Gurunya adalah Ban-tok Sian-li, datuk sesat yang tinggal di Lembah Iblis! Tidak, aku tidak suka kalau engkau mencinta gadis itu. Apa lagi menikah dengannya! Aku tidak suka berbesan dengan datuk sesat!"

Mendengar ini, Siang Hwi mengerutkan alisnya dan diam-diam ia pergi meninggalkan tempat itu, kembali ke dalam gedung. la mendapatkan gurunya sudah bangun dan sudah mandi.

"Subo, sebaiknya kita cepat pergi dari tempat ini dan keluar kota raja," kata Siang Hwi.

Melihat wajah muridnya seperti orang yang marah, Ban-tok Siап-li memandang penuh selidik,

"Ada apakah, Siang Hwi ?"

"Su-bo, aku mendengar Gan-pangcu berkata kepada puteranya bahwa dia merasa khawatir dan tidak senang kalau kita tinggal di sini lebih lama lagi karena dapat membahayakan dirinya dan perkumpulannya. Kаrеna itu, sebaiknyi kita pergi sekarang juga, subo. Mereka sudah menolong kita, tidak enak kalau harus menyusahkan mereka lebi h lanjut."

Gurunya mengangguk. "Engkau benar, Siang Hwi. Kalau begitu mari kita berkemas dan pergi dari sini sekarang juga."

Siang Hwi menjadi girang dan cepat ia berkemas bersama gurunya.

Selagi keduanya berkemas, muncul Kok Bu di depan kamar mereka. Meli hat kesibukan guru dan murid yang berkemas dan menggendong buntalan pakaian di punggung, dia terkejut sekali.

"Eh, toanio, dan nona.ji wi hendak pergi ke manakah?" Ban-tok Sian-li yang menjawab tegas.

"Kami akan berpamit dan pergi dari sini sekarang juga."

"Akan tetapi, itu berbahaya sekali Ji-wi akan diketahui oleh para pengawal dan perajurit dan tentu akan di tangkap! Pula, di kota raja ini, ji-wi hendak bersembunyi di mana? Di sini merupakan tempat terbaik bagi ji-wi untuk bersembunyi."

"Kami hendak keluar dari kota.raja!" kata Siang Hwi yang bicara dan suaranya terdengar dingin.

"Tapi.    tapi itu lebih berbahya!" kata Kok Bu. "Semua

pintu gerbang dijaga ketat oleh pasukan dan tidak mungki n Ji-wi dapat melewati pintu gerbang dengan selamat."

"Kami tidak takut! Akan kami lawan mati-matian!" kata pula Ban-tok Sian-Li . "Aihh, kenapa ji-wi memaksakan diri? Kalau ji-wi memaksa, baiklah, akan kami atur agar ji-wi dapat melewati pintu gerbang dengan aman. Jalan satu- satunya hanyalah menyamar sebagai anggauta Hek-tung Kai-pang."

" Menyamar?" tanya Ban-tok Sian li .

"Jangan ji-wi khawatir. Di antar anak buah kami terdapat seorang yang ahli dalam hal mendandani orang dalam penyamaran. Dalam waktu singkat saja ji-wi sudah akan menjadi orang lai n yang tidak akan dikenal bahkan oleh orang-orang terdekat. Bagaimana pendapat ji-wi? Kiranya itulah jalan satu-satunya untuk dapat menyusup keluar dari pintu gerbang dengan selamat."

Tentu saja guru dan murid itu tidak dapat menolak tawaran yang menarik dan juga menguntungkan itu. Anggauta Hek-tung Kai-pang yang ahli merias itu dipanggil dan segera dia mendandani Ban-tok Sian-li dan The Siang Hwi. Dalam waktu kurang dari satu jam, kedua guru dan murid ini benar-benar telah berubah, menjadi dua orang anggauta pengemis yang berjalan terbongkok- bongkok membawa tongkat .

Тak lama kemudian, di pintu gerbang utara, ada serombongan pengemis terdiri tujuh orang melewati pintu gerbang itu, para petugas jaga tentu saja tidak mau didekati para pengemis yang berpakaian kotor dan berbau. Maka merekapun membiarkan para pengemis itu lewat.

Setelah melewati pintu gerbang, para pengemis itu segera pergi berpencar. Dua di antara mereka yang berjalan terbongkok-bongkok melanjutkan perjalanann dengan cepat menuju ke barat. Akan tetapi belum lama para pengemis itu melewati pintu gerbang, tampak belasan orang penunggang kuda tiba di tempat itu, yaitu rombongan pengawal rumah gedung Perdana Menteri, dipimpin oleh seorang raksasa hitam yang bukan lain adalah Hak Bu Cu.

"Apakah ada serombongan pengemis lewat di sini?" tanya Hak Bu Cu yang berpakaian perwira.

Para petugas jaga di pintu gerbang itu tidak mengenal Hak Bu Cu, akan tetapi melihat pakaiannya, mereka memberi hormat dan seorang di antara mereka menjawab bahwa baru saja ada serombongan tujuh orang pengemis lewat di situ dan keluar kota.

"Hayo cepat kejar!" bentak Hak Bu Cu dan anak buahnya lalu membedal kuda melakukan pengejaran keluar kota melalui pintu gerbang utara.

Bagaimana sampai para pengawal mencurigai serombongan pengemis itu? Semua ini adalah ulah ketua Hek-tung Kai-pang sendiri. Setelah dia membiarkan puteranya menolong dua orang wanita itu melarikan diri dengan mendandani mereka seperti dua orang pengemis, Gan Liang lalu mengutus seorang anak buahnya untuk memberitahu kepada Perdana Menteri Jin Kui bahwa ada serombongan penjahat yang menyamar pengemis melarikan diri keluar kota raja melalui pintu gerbang utara!

Tentu saja Perdana Menteri Jin lalu mengutus Hak Bu Cu untuk melakukan pengejaran. Sementara itu, mendengariakan perbuatan ayahnya ini, Gan Kok Bu marah sekali kepada ayahnya.

"Ayah, apa yang telah ayah takukan ini? Kenapa ayah mengkhianati mereka yang jelas membantu para pejuang?" "Tadinya aku memang setuju engkau membantu mereka karena mereka membantu para pejuang. Akan tetapi setelah aku tahu siapa wanita yang kau bantu, aku lebih senang meli hat mereka tertangkap. dan terhukum! Engkau tidak tahu siapa itu Ban-tok Sian-li ! Ketika ia masih gadis dahulu, telah banyak orang menjadi korban karena kecantikannya! Banyak pemuda tergila-gila kepadanya dan mengajukan pinangan. Akan. tetapi apa yang diiakukan? la menghi na semua yang memi nangnya dan menghajar setiap orang pria yang berani meminangnya, bahkan ada yang terbunuh olehnya! Wanita macam apa itu? Biarlah ia ditangkap dan menerima hukuman mati, baru puas hatiku ... "

Melihat betapa ayahnya nampak mendendam sekali kepada Ban-tok Sian-li, Kok Bu bertanya dengan alis berkerut,

"Hemm, agaknya ayah termasuk seorang yang telah ditolak pinangannya?"

Wajah ayahnya berubah kemerahan.

"Benar , dan ia telah merobohkanku, hampir saja membunuhku. Тak pernah aku dapat melupakan penghinaan itu!"

"Ayah, peristiwa itu telah terjadi bеrtahun-tahun yang lalu, kenapa ayah masih mendendam? Da n pula, sudah wajar kalau ci nta seseorang ditolak, kenapa harus merasa sakit hati ? Tentang penyerangan itu, mudah diketahui. sebagai seorang ahli silat, agaknya ia hendak menguji setiap orang pemuda yang meminangnya, ia tidak ingin memperoleh suami yang kalah olehnya. Itu wajar saja, ayah ! "

"Sudahlah, engkau tahu apa ? Wanita itu memiliki pukulan beracun segalanya yang ada padanya beracun, kukunya, rambutnya, dan juga hatinya beracun!". kata ayahnya dan meni nggalkan puteranya yang merasa penasaran sekali. Yang tidak di сегitakan oleh Gan Liang adalah bahwa ketika hal itu terjadi dia sudah mempunyai istеri dan anak .

Karena kecantikan Souw Hia n memang luar biasa sekali dan mendenger bahwa gadis itu mau diperisteri pria yang dapat mengalahkannya, maka diapun yang tergila-gila melihat kecantikannya, ikut masuk sayembara itu, dengan maksud kalau sampai dia berhasil wanita itu akan dijadikan isteri kedua..

Akan tetapi bukan saja dia tidak berhasil bahkan dia hampir tewas oleh рukulan beracun Souw Hian Li yang kemudian berjuluk Ban-tok Sian-Li .

Kok Bu merasa marah sekali kepada ayahnya. Dia anggap ayahnya tidak adil dan tidak benar tindakannya. Maka, dia lalu berkemas dan meninggalkan rumah itu tanpa pamit lagi kepada ayahnya Dia hendak menyusul Siang Hwi dan kalau tidak bertemu, dia akan membantu pergerakan para pejuang di luar kota raja.

Tadi dia memang tidak mengantarkan Siang Hwi dan gurunya karena kalau dia yang mengantar dan terjadi sesuatu amat berbahaya bagi Hek-tung Kai-pang karena para penjaga banyak yang sudah mengenalnya sebagai pimpinan Hek tung Kai-pang.

0odwo0

"Tiong Li, sudah lima tahun engkau mempelajari ilmu dari, kami berdua. Semua i Imu yang kami kuasai telah kami berikan kepadamu, dan karena engkau sebelumnya telah digembleng oleh Реk Hong San-ji n, maka kini tingkat kepandaianmu sudah lebi h tinggi dari pada tingkat kami berdua. Nah, sekarang setelah tiba saatnya untuk kita saling berpisa h, apa yang hendak kaulakukan?" tanya Thia n Kui Lo-ji n yang tinggi kurus kepada muridnya.

"Usiamu sudah duapuluh satu tahun, sudah cukup dewasa untuk menentukan jalan hidupmu sendiri. Kami hanya ingin mengetahui, jalan mana sekarang yang hendak kautempuh? Apa yang akan kaulakukan ? " tanya pula Tee Kui Lo-jin yang bertubuh gendut pendek.

Ditanya demikian oleh kedua ,orang gurunya, Tiong LI menjatuhkan dirinya berlutut menghadap kedua orang gurunya Itu.

"Suhu walaupun teecu sudah dewasa dan telah menerima gemblengan dari mendiang suhu Реk Hong San-ji n kemudian dari suhu berdua, akan tetapi teecu sama sekali tidak mempunyai pengalaman. Teecu masih hijau dan kalau ji-wi suhu bertanya apa yang hendak teecu lakukan, teecu menjadi bingung. Teecu sendiri tidak tahu apa yang hendak Tёёcu lakukan setelah teecu terpaksa berpisah dari ji-wi suhu. Teecu mohon pe tunjuk!"

"Ha-ha-ha, bag us engkau masuh berrendah hati untuk bertanya. Рakаilah sikap rendah hati ini untuk Selamahya,Tio ng Li. Hanya orang yang rendah hati sajalah yang akan dapat memperoleh tambahan pengetahuan," kata Tee Kui Lok jin. "Tiong ki, manusia diberi kehidupan dan dilahirkan di dalam dunia ini tentu bukan percuma saja, bukan seperti binatang saja asal makan tidur lalu mati. Tuhan tentu mempunyai maksud tertentu terhadap manusia yang dibekali hati akal pikiran, diberi akal budi sehingga manusia dapat menentukan sendiri , memilih apa yang baik untuk dirinya. Manusia bukanlah benda mati, bukan pula binatang atau tumbuh- tumbuhan. Manusia berakal budi, karena itu hidup di dunia ini haruslah bertanya kepada diri sendiri, apa yang dapat dilakukan demi diri sendiri,demi orang Iain , demi kemanusiaan dan demi dunia pada umumnya. Jadikanlah dirimu seorang manusia yang berguna dan bermanfaat bagi kemanusiaan dengan perbuatan- perbuatan yang bijaksana,benar da n adil. Sia-sia sajalah manusia hidup didunia kalau hanya untuk menanti datang nya kematian tanpa melakukan sesuatu yang berguna bagi kemanusiaan ."

"Akan tetapi; suhu. Apa yang harus dapat teecu lakukan? "

"Sian-cai, banyak sekali yang dapat kauIakukan, muridku," kata Thian Lo-jin." Kalau engkau tidak tahu apa yang kauIakukan, lalu untuk apa Engkau mempelajari semua i Imu itu? Kau tahu, di dunia ini terdapat banyak sekali kejahatan di Iakukan manusia yang batinnya dikuasai Iblis. Engkau sudah memiliki iImu kepandaian untuk menghadapi mereka yang suka meIakukan perbuatan sewenang-wenang, menggunakan kekerasan mengandalkan tenaga dan kepandaian. Engkau dapat mencegah perbuatan jahat itu dan menolong mereka yang tertindas. Engkau dapat berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan demi perikemanusiaan. Dan engkau dapat juga membaktikan dirimu demi nusa dan bangsa, dapat membantu gerakan para pejuang yang membendung kekuasäan Bangsa Yucen yang semakin sewenang-wenang melebarkan kekuasaannya. Engkau dapat mengingatkan dan memberi hajaran kepadà para pembesar yang menyalahgunakan kekuasaan dan wewenang nya, yang suka memeras dan meni ndas rakyat jelata. Wah banyak sekali yang dapat kau lakukan Tiong Li !" "Teecu mengerti dan akan teecu laksanakan petunjuk suhu," kata Tiong Li.

"Akan tetapi berhati-hatilah, Tio ng Li.Kekuatanmu itu dapat mendatangkan kekuasaan, dan kekuasaan yang bagaimanapun juga bentuknya dapat membuat orang menjadi lupa diri dan menyalahgunakan kekuasaannya . Oleh karena itu, engkau harus lebi h waspada terhadap musuhmu itu, musuh tunggal yang tidak kelihatan akan tetapi yang keli hai annya sukar dilawan," kata Tee Kui Ji n

"Siapakah musuh itu, suhu?"

"Musuh itu adalah dirimu sendiri hati akal pikiranmu sendiri. Kalau engkau sudah memiliki kekuatan dan kepandaian, lalu merasa diri memiliki kekuasaan, berhati- hatilah karena hati akal pikiranmu dapat dipergunakan oleh iblis untuk berbuat sewenang-wepang karena mengejar kesenangan bagi dirimu sendiri."

"Teecu mengerti, suhu. Teecu masih mengingat akan semua nasehat suhu Реk Hong San-jin bahwa teecu harus melakukan tiga macam kesetiaan, yaitu setia dan berbakti kepada Tuhan, berbakti kepada negara dan berbakti kepada orang tua atau guru. Dan teecu harus menjadi alat yang baik; untuk Tuhan Yang Maha Kuasa."

"Bagus! Kalau engkau masih ingat akan hal itu dan memegang semua keyakinan itu, maka kami pun akan merasa lega melepasmu, Tiong Li, " kata pula Tee Kui Lojin. "Hanya yang harus kau selalu Ingat, jangan terlampau mudah membunuh orang kalau tidak amat terpaksa dan perlu sekali. Jangan membunuh ,orang yang sudah tidak mampu melawan, jangan menyombongkan kepandaian dan ingat selalu, setiap orang lawan haruslah di hadapi dengan sikap hati-hati dan waspada, tidak boleh meremehkan orang lain. Dan lagi, betapapun tingginya puncak gunung dan awan, masih ada langit yang lebih tinggi lagi, kагелa itu jangan menganggap diri pali ng pandai ."

Setelah menerima banyak nasihat dari kedua orang gurunya, Tio ng Li lalu turun gunung membawa buntalan pakaian yang sederhana dan membawa sebatang ranting kayu yang dijadikan pikulan buntalan pakaiannya.

Dia kini telah berusia duapuluh satu tahun, seoranq pemuda yang bertubuh tegap, langkahnya seperti seekor Harrmau, dadanya bidang pinggangnya ramping. Wajah pemuda ini sederhana namun tampan dengan tatapan mata yang kadang mencorong kadang lembut seperti mata seekor rajawali. Rambutnya hitam tebal digelung keatas dan diikat dengan pita kuning.

Dahinya lebar dan alis matanya berbentuk golok, hitam dan tebal, melindungi matanya yang tajam. Hidungnya mancung dan bibirnya selalu tersenyum seperti bayangan dari keadaan hati yang lapang: Dagunya agak berlekuk menunjukkan bahwa di balik keramahan senyumnya tersembunyi hati yang dapat mengeras, dan dagu itu menimbulkan kesan jantan kepadanya .

Setelah jauh meninggalkan puncak Ki-li n-san, dan tiba di lereng pegunungan Kui-san, Tiong Li berhenti Dia menoleh memandang ke atas, ke puncak Ki-li n-san. Nampak awan menyelimuti puncak itu dan dia teringat akan kedua orang gurunya, penghela napas lalu memandang jauh ke bawah. Nampak Sungai Wu-kiang berkelak-kelok dan berlenggak-lenggok seperti seekor ular besar melalui tebing-tebing gunung. Dan jauh di kaki pegunungan itu nampak pedusunan dalam kelompok- kelompok kecil. Dia lalu menggunakan waktu selama limabelas tahun untuk mempelajari ilmu silat dan ilmu sastera. Dia bukan ahli sastera; sekedar dapat membaca dan menulis, dan sudah banyak kitab agama di bacanya. Mengenai ilmu silat, dia sudah mеmреlajari banyak macam iImu, dan di antaranya adalah ilmu-ilmu simpanan ke tiga orang gurunya.

Dari Реk Hong San-Jin dia mempelajari Hui-eng Kiam- sut (ilmu Pedang Elang Terbang) dan Tai-lek Kim-kong- jiu (Tenaga Besar Sinar Emas) yang mengandalkan sinkang yang kuat?. Kepandaian ilmu tangan kosong mengandalkan sinkang ini ditambah lagi oleh ilmu Jian- kin-lat (Tenaga Seribu Kati) yang dipelajarinya dari Tee Kui Lo-ji n, bersama ilmu silat Ngo-heng Lian-hoan-kun, merupakan ilmu silat berantai Lima Anasir yang lihai.

Dari Thian Kui Lo-jin dia mempelajari ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang disebut Jiauw-sang -hui (Terbang Atas Rumput) dan I-kiong-hoan-hi-at (Ilmu Memindahkan Jalan Darah).

Dengan ilmu-ilmu itu maka kini Tio ng Li, menjadi seorang pemuda yang sukar menemukan tandingan! .

Ketika melihat ke bawah ini, Tiong Li melamun, teringat akan hal-hal yang telah lalu dan tak terasa lagi hatinya menjadi kosong dan trenyuh, merasa hid up seorang diri dan hampa. Cepat-Cepat tangan kirinya mengusap ke arah kedua matanya yang tiba-tiba menjadi basah air mata! Untung tidak ada Tee Kui Lo-jin di situ.

Kalau gurunya yang gendut pendek itu melihatnya menangis, tentu guru itu akan tertawa terpingkal pingkal kemudian marah kepadanya. Bagi gurunya itu, pantang untuk menangis selama hidupnya. Tertawalah dan jangan sekali sekali menangis, begitu pesannya berulang kali.

Duka timbul dari iba diri. Dan iba diri timbul kalau pikiran ini mengenang hal-haI yang lalu, mengenangkan segala kehilangan yang direnggut dari dirinya, atau kalau pikiran mengenangkan masa depan akan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi dirinya.

Begitu mengenangkan masa lalu, Tiong Li teringat akan ayahnya yang terbunuh mati, akan Реk Hong San- jin yang juga terbunuh mati, kemudian dia membayangkan masa depannya yang dianggapnya kosong dan suram, tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini, tidak mempunyai tempat tinggal, tidak memiliki apa-apa kecuali sebuntal рakаian sederhana!

Masa lalunya muram, masa depannya suram! Lalu semua kenangan dan bayangan itu mendatang kan iba- diri, merasa diri paling sengsara di dunia ini dan setelah timbul iba diri, lalu muncullah du ka. Berbahagialah orang karena lepas dari duka kalau dia tidak mengenangkan masa lalu dan tidak membayangkan masa depan.

Kalau orang hanya menghadapi masa kini , saat ini, saat demi saat, apa adanya, wajar, maka kedukaanpun tidak akan pernah menyerang dirinya, Tentu saja waktu lalu boleh diingat, akan tetapi yang ada hubungannya dengan pekerjaan, demikian pula waktu yang akan datang boleh diperhitungkan untuk pekerjaan, akan tetapi kalau waktu lalu dan waktu mendatang itu di hu- bungkan dengan keadaan diri, maka hasilnya hanya akan mendatangkan rasa takut, dan rasa duka belaka. Tidak ada gunanya sama sekali .

Tiong Li yang sedang termenung teringat akan pelajaran ini , maka wajahnya menjadi сеrah kembali . . Lenyaplah segala kenangan masa lalu, hilanglah segala bayangan masa depan. Dan pemandangan di bawah lereng gunung nampak indah bukan main. Indah dan luas, terbentang luas di depan kakinya!.

Dan semua kekhawatiran dan keresahan tadi yang mengganggu batinnya lenyaplah seketika dan dia bangkit, mengayun langkah dengan tegapnya seperti seekor harimau melangkah menuruni lereng itu.

Yang dinamakan hidup ini adalah sekarang ini, saat demi saat, inilah hidup,sambung menyambung dari saat ke saat. Yang lalu itu sudah mati, tak perlu diingat kembali. Yang akan datang itu hanya lamunan, hanya khayal, tidak perlu dibayangkan.

Saat ini, sekarang ini, harus bersih dan benar dan segalanya akan berjalan dengan baik. Saat demi saat waspada dan benar, waktu yang lain tidak perlu dipikir. Masa lalu hanya menimbulkan kesedihan belaka, dan dendam kebencian.

Masa depan hanya mendatangkan rasa takut dan khawatir belaka. Akan tetapi kalau saat ini, yang kita hadapi saat demi saat, tidak ada rasa takut, tidak ada rasa sedih, yang ada hanyalah apa adanya.

Kini dia sudah berada di kaki pegunungan Kui-san. Sudah mulai ada pedusunan. Ketika dia sudah melewati beberapa buah dusun dan tiba di tepi sebuah hutan, tiba tiba dari balik pohon-pohon besar itu berloncatan Iimabelas orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat.

Wajah mereka bengis dan mereka adalah orang-orang yang, biasa memaksakan kehendaknya sendiri, gerombolan perampok yang tidak segan melakukan bentuk kekerasan apapun untuk memaksakan kehendak. Di antara limabelas orang itu terdapat kepalanya, seorang berusia empatpuluhan tahun yang bertubuh tinggi besar dan mukanya penuh brewok, matanya besar dan tangannya memegang sebatang golok besar yang mengkilap saking tajamnya.

0o-dw-o0