-->

Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 23

 
Bab 23

Pada esok paginya, budak keraton, yang Chin Bun-kong percayai lantas menyiarkan kabar, bahwa sang Cu-kong sakit. Orang-orang di dalam keraton hampir semuanya tidak tahu bahwa Raja Chin sudah pergi mininggalkan istananya. Ketika semua pembesar istana sudah  berkumpul semua di pintu istana, tetapi tidak melihat rajanya hadir dalam persidangan, semua menteri pergi di keraton akan mencari keterangan apa sebabnya, mereka mendapatkan sepasang daun pintu yang dicat merah tertutup rapat, sedang di atas pintu tergantung satu pay (papan) pemberitahuan Raja Chin tidak bisa bersidang di istana. Pengawal pintu memberi keterangan, bahwa sang Cu-kong malam tadi secara mendadak sakit demam, hingga tidak

bisa turun dari pembaringannya, katanya Kalau penyakitnya mulai sembuh dia akan mulai bersidang lagi pada awal bulan Sha-gwe (bulan tiga).

Tio Swi mengerti pasti ada sesuatu yang terjadi, di dalam kalangan politik, dia sengaja pura- pura berduka seraya berkata, ”Cu-kong baru duduk di tahta kerajaan, banyak urusannya yang masih belum beres, tetapi tiba-tiba beliau sakit, seperti pribahasa mengatakan : ”Langit tidak bisa dijajaki, angin dan awan, di dunia tidak bisa diketahui datangnya bahaya dan rejeki.”

Semua pembesar menganggap perkataan Tio Swi memang ada benarnya, masing-masing ikut berduka hati dan berjalan pulang. Hanya Lu I Seng dan Kiok Peng yang girang mendengar Raja Chin Bun-kong sakit dan pada awal bulan Sha-gwe baru mulai bersidang lagi di istana, mereka girang karena menganggap seperti Allah ingin membantu usaha mereka, saat mereka akan membinasakan Raja Chin Bun-kong tersebut. Dikisahkan Raja Chin Bun-kong dan Ho Yan yang telah keluar dari perbatasan negeri Chin, mereka masuk ke negeri Cin, dia langsung memerintahkan orang menyampaikan surat rahasia pada Raja Cin Bok-kong, dia minta bertemu untuk membicarakan urusan penting di kota Ong-shia.

Setelah Raja Cin Bok-kong mengetahui Raja Chin datang dengan berpakaian menyamar, dia langsung bisa menerka, pasti di negeri Chin telah timbul huru-hara. Maka dia sengaja menggunakan alasan hendak keluar berburu, hari itu juga dia perintahkan pasang keretanya, yang langsung berangkat ke Ong-shia untuk menemui Raja Chin Bun-kong. Raja Chin lantas menceritakan terus terang maksud kedatangannya.

”Jangan khawatir,” kata Raja Cin Bok-kong. ”Aku yakin Tio Swi bersama kawan-kawannya akan mampu menumpas para pemberontak itu!”

Meski demikian tidak urung dia perintahkan Kong-sun Ci mengepalai sepasukan angkatan perang menunggu di mulut sungai, untuk siap sedia menerjang masuk ke negeri Chin, apabila di kota Kang-touw terbit huru-hara yang mengkhawatirkan. Sementara Raja Chin Bun-kong dipersilakan tinggal di Ong-shia untuk sementara waktu.

Dikisahkan Put Te, karena khawatir Lu I Seng dan Kiok Peng akan jadi curiga, pada hari sebelum mereka mengatur pergerakan, dia sengaja bermalam di rumah pengkhianat itu dan pura-pura berunding dan menyetujui rencana mereka.

Setelah sampai akhir bulan Ji-gwe (bulan dua), pada waktu tengah malam, Put Te, Kiok Peng dan Lu I Seng masing-masing memimpin pasukannya lalu mengepung istana Raja Chin, dan sesaat kemudian di pintu istana lantas timbul kebakaran. Ketika itu orang-orang di dalam istana sedang enak tidur dan sadar dengan kaget hingga lari kalang kabut.

Di tengah lautan api kelihatan banyak sekali tentara sedang menyerang ke timur melabrak ke barat, sementara mereka menyerang sambil berteriak-teriak.

”Jangan biarkan Tiong Ji lolos!”

Orang-orang yang panik banyak yang terbakar saat lari mereka diserang tentara hingga mereka luka-luka. Lu I Seng dengan pedang terhunus terus masuk ke kamar tidur mencari Chin Bun-kong, tetapi tidak menemukannya. Dia bertemu dengan Kiok Peng yang juga memegang pedang dan masuk dari pintu keraton dari belakang.

”Bagaimana, apa sudah beres?” tanya Kiok Peng. Lu I Seng tidak menyahut, melainkan menggoyangkan kepalanya saja. Mereka berdua dengan tidak mempedulikan kobaran api lalu mencari pula di sekeliling tempat.

Sementara itu di sebelah luar terdengar suara ribut sekali. Sesaat kemudian Put Te dengan tergopoh-gopoh memberi kabar, bahwa kelompok keluarga Ho, Tio, Loan, Gui dan yang lain- lain pembesar telah menggerakan balatentara datang menolong memadamkan api, maka kalau menunggu sampai langit terang, dikhawatir mereka akan susah.

”Lebih baik kita menyingkirkan diri dulu, kemudian baru mencari di mana Raja Chin berada, apakan dia sudah mati atau belum?” kata Put Te. Lu I Seng dan Kiok Peng setuju saran Put Te, lalu memimpin anak buahnya menyerang keluar dari pintu istana dan terus lari keluar kota. Siang harinya kobaran api baru bisa dipadamkan, dan baru ketahuan bahwa Lu I Seng dan Kiok Penglah yang menimbulkan huru-hara kebakaran itu. Semua pembesar terkejut, karena tidak menemukan Raja Chin Bun-kong.

Tetapi tidak lama ada budak istana yang membocorkan rahasia, bahwa Raja Chin tiga hari sebelum terjadi kebakaran sudah pergi entah ke mana.

”O, kalau masalah ini lebih baik kita tanyakan pada Kok-kiu Ho Yan,” kata Tio Swi. Mereka mencari Ho Yan tetapi tidak ada cuma ada Ho Mo.

”Beberapa hari di muka adikku masuk ke keraton, sejak saat itu dia tidak pulang lagi,” kata Ho Mo. ”Aku kira Raja Chin dan menterinya sudah mengetahui lebih dulu bencana itu, dua pengkhianat mau berontak. Baiklah kita orang jaga keras saja ini kota raja dan betulkan pula keraton yang terbakar, kita orang menunggu saja pada Cu-kong pulang.”

Gui Cun menyatakan marahnya, ia ingin pimpin satu pasukan balatentara yang akan melabrak dua pemberontak itu. Tetapi kehendaknya itu dicegah oleh Tio Swi, yang berkata: ”Buat keluarkan pasukan perang itu kuasanya pada kepala pemerintah, sekarang Cu-kong tidak ada disini, siapakah yang berani memberi itu titah? Pendeknya kita orang jangan takut apa-apa, meskipun itu dua pengkhianat sudah lari, toh tidak urung kita orang nanti bisa terima

kepalanya.”

Dua pemberontak ini menempatkan tentaranya di luar kota, setelah mendapat kabar Raja Chin

Bun-kong belum mati dan semua Tay-hu telah mengatur penjagaan kota dengan keras,

mereka merasa tidak sanggup untuk terus berperang, maka mereka berniat kabur ke lain negeri. Put Te merasa sekarang sudah waktunya untuk menjalankan siasatnya, buru-buru dia berkata pada dua pemberontak itu.

”Disingkirkan Raja Chin dan dijadikan raja tergantung dari Raja Cin Bok-kong. Istana Raja Chin sudah terbakar, barangkali dia sudah mati terbakar. Lebih baik kita sambut Pangeran Yong untuk dijadikan raja. Seandainya Raja Chin belum mati pun sulit dia bisa masuk ke negaranya.” kata Put Te.

Lu I Seng dan Kiok Peng menyatakan setuju, lalu menyilakan Put Te pergi dulu ke negeri Cin untuk membicarakan maksud tersebut dengan Raja Cin. Segera Put Te berangkat, setelah sampai di mulut sungai, dia mendapat kabar Kong-sun Ci menempatkan tentaranya di tepi sungai sebelah barat, maka dia lantas menyeberang sungai pergi menemui Kong-sun Ci. Di situ satu sama lain menceritakan terus terang urusan yang sebenarnya.

Kong-sun Ci lantas menulis sepucuk surat, di dalam surat dia katakan seolah Raja Cin menerima baik usul yang diajukan oleh dua pemberontak itu. Di dalam surat dinyatakan agar dua pengkhianat itu datang untuk berdamai. Surat lalu diserahkan pada Put Te untuk disampaikan pada dua pemberontak itu.

Tatkala Lu I Seng dan Kiok Peng menerima surat itu, dengan sangat girang segera berangkat. Begitu sampai di tepi sungai di seberang sungai di pesanggrahan Cin, mereka sudah langsung disambut oleh Kong-sun Ci.

Sesudah satu sama lain berbincang-bincang sebentar, Kong-sun Ci langsung mengatur pesta untuk menghormati kedua tamunya, hingga dua pemberontak itu tidak merasa curiga apa-apa.

Selang tiga hari, Lu I Seng dan Kiok Peng minta bertemu dengan Raja Cin untuk membicarakan pengangkatan Kong-cu Yong. Dengan senang hati Kong-sun Ci langsung mengantarkan kedua pembesar durhaka itu ke kota Ong-shia, sesampai di di kota tersebut Kong-sun Ci dan Put Te masuk dulu ke dalam kota untuk memberi kabar pada Raja Cin Bok- kong.

Raja Cin langsung mengeluarkan perintah pada Panglima Pi Pa untuk menyambut Lu I Seng dan Kiok Peng, sedang Raja Chin Bun-kong dia suruh bersembunyi di belakang sekosol (tirai). Tidak lama Lu I Seng dan Kiok Peng sudah datang menghadap, sesudah mereka menjalankan kehormatan pada Raja Cin Bok-kong, lalu mereka membicarakan soal akan mengangkat Kong-cu Yong menjadi raja baru.

”Kong-cu Yong sudah ada di sini!” kata Raja Chin Bok-kong.

Kiok Peng dan Lu I Seng memohon untuk bertemu dengan Kong-cu Yong. ”Ayo raja baru boleh keluar!” teriak Raja Cin Bok-kong.

Sesaat itu dari belakang sekosol kelihatan keluar seorang bangsawan, wajahnya tenang dan anggun, sambil melenggang dia berjalan menghampiri.

Lu I Seng dan Kiok Peng mengawasi orang bangsawan itu, kiranya tidak lain, ialah Raja Chin Bun-kong adanya! Satu teriakan heran dan perasaan ketakutan segera keluar dari mulut kedua pengkhianat itu, semangatnya rasanya sudah terbang dari badannya. Semua orang jadi tersenyum melihat kelakuan kedua pemberontak yang seperti orang terpagut ular itu.

Sementara Raja Cin Bok-kong mempersilakan Raja Chin Bun-kong duduk bersama-sama. Dengan sangat marah Raja Chin Bun-kong menista, ”Hei, orang durhaka yang terkutuk! Aku punya salah apa hingga kalian mau berontak? Coba jika bukan Put Te yang memberitahuku agar aku keluar dari istana, niscaya aku sudah menjadi abu!”

Sekarang Lu I Seng dan Kiok Peng baru tahu yang dirinya sudah tertipu oleh Put Te, lalu mereka mengaku terus terang kesalahannya, tetapi mereka merembet-rembet Put Te yang dikatakan juga turut dalam persekutuan rahasia itu. Raja Chin Bun-kong lantas tertawa seraya berkatam ”Jika Put Te tidak berlaku begitu, bagaimana dia bisa tahu kalian berdurhaka!” Sehabis berkata begitu Raja Chin Bun-kong segera memerintahkan pengikutnya mengikat kedua pengkhianat itu, lalu menyuruh Put Te menebas kepalanya. Dengan sekejap saja dua kepala pengkhianat itu sudah diantarkan ke bawah tangga. Raja Chin Bun-kong lantas memerintahkan Put Te membawa kepala dua pemberontak untuk dipamerkan, supaya kawan-

kawannya menyerah. Mendengar Raja Chin masih hidup dan dua pengkhianat telah tewas,

rakyat negeri hin gembira.

Sesudah membunuh Lu I Seng dan Kiok Peng, Raja Chin Bun-kong lalu menghaturkan terima kasih kepada Raja Cin Bok-kong, kemudian dia mohon akan mengajak isterinya, Hoay-eng, pulang ke negerinya.

Raja Cin Bok-kong merasa senang sekali, lalu mengajak Chin Bun-kong meninggalkan kota Ong-shia dan pergi lagi ke kota Yong-touw, di sini dia suruh orangnya segera menyediakan sebuah kereta kosong yang dirias sangat indah, kereta itu lalu dipakai untuk dinaiki oleh Hoay-eng dan lima pengantarnya.

Raja Chin Bun-kong dan Hoay-eng sesudah mengucapkan selamat berpisah pada Raja Cin Bok-kong dan Bok-ki, dengan diiringi oleh sejumlah besar balatentara segera menyeberangi sungai.

Tio Swi dan yang lain-lain pembesar negeri Chin memang lebih awal berangkat dan sudah sedia kendaraan di tepi sungai.

Mereka menyambut kedatangan Raja Chin Bun-kong, suami-isteri, dan mempersilakan supaya naik kereta. Beratus-ratus pembesar berkumpul ikut kereta, banyak bendera berkibar-

kibar, suara segala macam tetabuhan sangat riuh sekali, hingga membuat keadaan jadi sangat ramai.

Setelah Raja Chin Bun-kong sampai di kota Kang-shia, rakyat negeri tidak ada yang tidak

menyatakan kegirangan hatinya, hingga suara tempik-sorak jadi gegap-gempita sekali.

Begitu sudah duduk kembali di tahta kerajaan, Raja Chin Bun-kong merasa sangat geram

pada perbuatan Lu dan Kiok, ia hendak membasmi sampai habis sanak keluarganya.

Tetapi niat itu dicegah oleh Tio Swi, yang berkata, ”Dulu Raja Chin Hui-kong dan Chin

Hoay-kong dengan kejam menghukum tanpa belas-kasihan hingga membuat orang sakit hati, maka sekarang harap Tuanku bersabar dan berlaku bijaksana.”

Raja Chin Bun-kong menuruti nasehat Tio Swi, lalu mengampuni dosa kaum durhaka itu. Meski sudah diberi kebebasan, tetapi kaum Lu dan Kiok masih saja merasa curiga, hingga semakin hari gelagatnya jadi semakin buruk, hal itu membuat Raja Chin Bun-kong jadi sangat kecewa.

Pada suatu hari, Touw Si, yaitu pengurus uang dan barang-barang, saat Chin Bun-kong mengembara di negeri Ek mencuri uang dan barang-barang, kemudian kabur, hingga Raja Chin Bun-kong sengsara di dalam perjalanan, sekonyong-konyong hari itu datang ke keraton minta bertemu dengan Chin Bun-kong. Tentu saja Chin Bun-kong masih dendam pada Touw Si, dia lantas memerintahkan pengawal pintu mengusir Touw Si. Tetapi ketika Touw Si memberitahu dia membawa kabar penting, apa boleh buat, Raja Chin Bun-kong mengizinkan dia datang menghadap.

”Apa Cu-kong sudah tahu kaum Lu dan Kiok berapa banyak jumlahnya?” tanya Touw Si sesudah dia melakukan hormat di hadapan Chin Bun-kong. ”O, banyak sekali!” sahut Bun-kong sambil mengerutkan alisnya.

”Sekalipun mereka sudah Tuanku ampuni, tetapi mereka masih dendam pada Tuanku. Maka Tuanku harus menggunakan tipu-muslihat supaya hatinya tenang.” kata Touw Si.

”Dengan tipu apa agar aku bisa menyenangkan mereka?”

”Dulu hamba telah mencuri uang Cu-kong, hingga membuat Cu-kong sengsara di dalam

perjalanan. Dosa hamba semua orang sudah tahu, apabila Cu-kong keluar pesiar dengan

memakai hamba sebagai kusir keretanya, dan semua orang melihatnya. Maka orang-orang yang mendengar atau melihat Cu-kong berlaku bijaksana terhadap hamba, semua orang jadi mengetahui bahwa Cu-kong tidak pendendam dan bijaksana. Maka hamba yakin kaum Lu dan Kiok hilang kecurigaannya.” kata Touw Si.

Raja Chin Bun-kong setuju pada usul Touw Sie. Segera dia bersiap, dengan alasan hendak memeriksa    kota, dia naik kereta dengan memakai kusir Touw Si.

Setelah kaum Lu dan Kiok melihat kelakuan Raja Chin ini, di antara mereka satu sama lain dengan diam-diam bicara, ”Touw Si telah mencuri uang dan barang-barang milik Cu-kong, sekarang dia dipakai lagi, apa lagi bagi orang yang kesalahannya tidak begitu besar?”

Begitulah mulai saat itu semua kaum Lu dan Kiok taat di bawah perintah Chin Bun-kong. Chin Bun-kong lalu mengangkat Touw Si untuk mengurus gudang. Idenya dihargai hingga negeri Chin jadi aman.

Ketika Chin Bun-kong masih muda, pertama kali dia dinikahkan dengan Ci-eng, tetapi isterinya ini tidak beruntung, masih muda sudah meninggal dunia. Kemudian Bun-kong dikawinkan lagi dengan Pek-kit, dari Pek-kit mendapat satu anak lelaki dan satu anak perempuan, yang lelaki diberi nama Koan dan yang perempuan diberi nama Pek-ki. Tetapi Pek-kit juga sudah meninggal di kota Po-shia. Saat Bun-kong melarikan diri, terpaksa dia tinggalkan kedua anaknya itu yang ketika itu masih berusia muda di Po-shia. Tetapi untung ada Touw Si yang mengurus, dia titipkan dua anak itu pada penduduk Po-shia, seorang she Sui untuk dirawat, sedang beras dan pakaian yang cukup diberi setiap tahun. Begitulah pada suatu hari saat sedang ada kesempatan, Touw Si menceritakan pada Bun-kong hal tersebut.

Bun-kong jadi terkejut bercampur girang, dia berkata, ”Aku mengira anakku itu sudah binasa di dalam keributan, kalau begitu mereka masih hidup!”

Segera dia perintahkan Touw Si pergi ke kota Po-shia, memberi hadiah besar pada orang she Sui, dan membawa pulang kedua anak itu. Pertemuan ayah dan anak itu telah menimbulkan perasaan girang bercampur sedih. Segera Bun-kong menyuruh kedua anaknya mengangkat Hoay-eng menjadi ibunya, kemudian baru dia angkat Koan menjadi Si-cu (putra mahkota), sedangkan Pek-ki dinikahkan dengan Tio Swi, yaitu di sebut Tio-ki.

Raja Ek sudah mendapat kabar bahwa Tiong Ji sudah menjadi raja, lalu dia mengirim utusan mengucapkan selamat serta mengantarkan Kui-kui pulang ke negeri Chin. Cee Hauw-kong juga mengirim utusan untuk mengucapkan selamat serta sekalian mengantarkan Kiang-si.

Chin Bun-kong lalu menceritakan pada Hoay-eng tentang kepandaian putri Cee dan Ek serta baik budinya.

Mendengar pujian itu Hoay-eng sangat kagum, dia lantas mengalah dan menyerahkan kedudukannya sebagai Hu-jin (permaisuri) kepada kedua madunya itu. Begitulah lantas ditetapkan pula kedudukan di dalam keraton, yaitu Cee Kiang-si diangkat menjadi Hu-jin pertama, Ek Kui-kui yang ke dua dan Cin Hoay-eng yang ke tiga.

Tio-ki yang mendengar Kui-kui sudah pulang, dia pun membujuk suaminya, Tio Swi untuk menyambut dan mengajak pulang Siok-kui, ibu dan anak. Mulanya Tio Swi tidak mau karena dia takut Chin Bun-kong kurang senang, tetapi sesudah Tio-ki memaksa berulang-ulang, dan juga Chin Bun-kong memberi izin, baru Tio Swi berani mengirim orang pergi ke negeri Ek untuk menyambut isteri, Siok-kui, serta putranya Tio Tun.

Setelah urusan rumah tangga beres, barulah Chin Bun-kong memberi penghargaan kepada semua pembesar menurut jasa masing-masing. Tetapi dengan tidak disengaja Chin Bun-kong sudah melupakan memberi penghargaan untuk Kay Cu Cui, seorang menteri yang sudah pernah memotong pahanya untuk disuguhkan kepadanya, sebab pembesar itu tidak ikut hadir.

Sebenarnya adat Kay Cu Cui sangat aneh, waktu Chin Bun-kong sedang dalam kesusahan dia ikuti, sesudah Bun-kong beruntung dia pergi menyingkirkan diri, seperti dia tidak suka pada kesenangan dunia. Begitulah dengan mendukung ibunya dia pergi ke sebuah tempat yang disebut Bian-siang, di tengah jurang yang dalam. Di sana dia membuat sebuah gubuk, dia makan daun-daunan dan memakai baju rumput, maksudnya hendak menunggu ajalnya di tempat itu.

Satu di antara tetangga Kay Cu Cui yang bernama Kay Thio, melihat Cu Cui tidak mendapat penghargaan jadi merasa kasihan, lalu dia menulis surat sindiran, pada waktu malam dengan diam-diam dia gantungkan di depan pintu istana.

Esok harinya tatkala Chin Bun-kong sedang duduk di singgasananya, menteri yang mendapatkan surat itu, lalu datang mempersembahkannya. Bun-kong kemudian baca :

”Ada seekor naga yang sangat bagus, dia kehilangan tempat tinggalnya hingga menanggung banyak kesusahan, beberapa ular ikut bersamanya, telah berjalan pesiar ke sekeliling tempat, waktu naga lapar kekurangan makanan, satu ular memotong pahanya, setelah naga pulang di goanya, dengan selamat berdiam di tempat kediamannya, beberapa ular masuk ke lubang, semua mendapat sarang yang enak, cuma seekor ular tidak mendapat lubang, hingga menanggung sengsara di tengah tegalan.”

”O, ini sindiran Kay Cu Cui!” kata Bun-kong dengan terperanjat sesudah melihat surat itu.

”Dulu waktu aku lewat di negeri We, aku menanggung kelaparan, tetapi Cu Cui bisa menyuguhkan makanan yang lezat, yaitu dengan memotong pahanya untuk dibuat makanan. Sekarang aku memberi penghargaan besar pada semua pembesar yang berbhakti, aku merasa menyesal sekali atas kealpaanku ini!”

Dengan tidak ayal lagi Bun-kong langsung memerintahkan orang pergi memanggil Kay Cu Cui. Tetapi sudah terlambat, karena Cu Cui sudah pergi dari rumahnya, hingga orang suruhan itu pulang kembali dengan tangan kosong. Hal itu membuat Raja Chin Bun-kong jadi sangat

penasaran, lalu memerintahkan orang pergi menanyakan pada tetangga-tetangganya ke mana Cu Cui sudah pergi, serta dijanjikan barangsiapa yang bisa memberi keterangan akan

dikurniai pangkat.

Mendengar kabar Kay Thio segera pergi menemui Raja Chin Bun-kong, pada raja dia mengaku terus terang, bahwa surat sindiran itu sebenarnya dia yang menulis, sebab dia tahu Kay Cu Cui merasa malu untuk minta penghargaan, telah mendukung ibunya pergi bersembunyi di tengah jurang di gunung Bian-siang. Lantaran dia merasa kasihan, maka dia menulis surat sindiran untuk mengingatkan Raja Chin menggantikan Kay Cu Cui untuk menjelaskan bhaktinya.

”Ya, memang jika bukan kau yang menggantungkan surat itu, hampir saja aku melupakan Kay Cu Cui yang bhaktinya sangat besar,” kata Bun-kong dengan paras sedikit girang, yang lantas mengangkat Kay Thio menjadi He-tay-hu, dan hari itu juga dia segera perintahkan

orang memasang kereta, dengan Kay Thio sebagai penunjuk jalan mereka berangkat menuju ke gunung Bian-siang.

Raja Chin Bun-kong, seorang raja yang sangat berbudi, itu sebenarnya, karena meskipun harus melewati gunung yang berundak-undak, pohon dan rumput yang sangat lebat, aliran air yang besar dan kecil, ia merasa tidak bosan mencari, malahan ia jadi semakin geregetan, sebab sudah sekian lama diubek-ubek, belum juga bisa kelihatan Kay Cu Cui di mana berada.

Akhirnya sesudah mencari di berbagai penjuru, hanya ketemu dengan beberapa orang tani. Karena ingin dapat keterangan yang betul, maka Bun-kong sendiri pergi tanya petani, apakah melihat kaij Cu Cui?

”Pada beberapa hari lalu,” menyahut satu di antara orang tani itu, ”betul ada kelihatan satu orang lelaki menggendong seorang perempuan tua beristirahat di kaki gunung ini. Ia timba air untuk diminum, tetapi kemudian ia dukung lagi perempuan tua itu dan naik ke gunung,

sampai sekarang tidak ketahuan ke mana perginya.”

Setelah dapat keterangan itu, Bun-kong memerintahkan memberhentikan semua kereta di bawah gunung, kembali dia menyuruh orang mencari Kay Cu Cui di mana-mana.

Orang-orang mencari sampai beberapa hari, tidak bisa mendapatkan menteri itu.

Wajah Chin Bun-kong kelihatan kurang senang, lalu dia berkata pada Kay Thio: ”Kau lihat sendiri bagaimana aku sudah sungguh-sungguh mencari Kay Cu Cui, aku tidak mengerti mengapa dia sampai begitu marah padaku? Tetapi kabarnya Cu Cui seorang anak berbakti, bila kita nyalakan api untuk membakar hutan ini, pasti dia akan mendukung ibunya untuk dibawa lari keluar dari kobaran api.”

Sebagian besar menteri-menteri membenarkan perkataan Chin Bun-kong, maka segera dikeluarkan perintah kepada balatentaranya supaya menyalakan api di sekitar gunung itu. Dengan sebentar saja api sudah berkobar besar sekali, sementara itu angin bertiup keras, hingga membuat beberapa bagian hutan menjadi lautan api.

Tiga hari berselang api baru padam. Tetapi Kay Cu Cui tidak muncul juga, ini membuktikan kekerasan hatinya. Ketika dilakukan pencarian, prajurit menemukan anak dan ibu itu saling berpelukan, hingga mereka mati hangus bersama di bawah pohon Liu yang sudah kering.

Di antara serdadu yang mencari mayat Kay Cu Cui, lalu memberi kabar kepada Raja Chin Bun-kong tentang penemuan mereka itu.

Raja yang berbudi itu ketika mendengar keadaan ibu dan anak itu sudah mati hangus, hatinya jadi sangat terharu, sehingga tidak hentinya mengucurkan air mata. Kemudian dia perintahkan orang mengubur dengan baik dua mayat itu di kaki gunung Bian-siang, serta mendirikan kelenteng untuk tempat menyembayangi roh Kay dan ibunya. ”Di bilangan sekitar gunung Bian-siang ladang dan sawahnya, semua menjadi milik kelenteng itu, lalu menyuruh petani mengurus sembayang setiap tahun. Sesudah mengurus sampai selesai semua urusan kehormatan Kay Cu Cui, barulah Chin Bun-kong pulang ke istananya.

Peristiwa tewasnya Kay Cu Cui dan ibunya ini sampai saat ini dirayakan sebagai hari Nyepi. Begitulah mulai saat itu dan selanjutnya, senantiasa Raja Chin Bun-kong memperhatikan betul urusan pemerintahan negeri, dia juga beramal, mempekerjakan orang-orang yang pandai, berhati-hati menjalankan hukuman, meringankan pajak rakyat, memperluas perniagaan atau perekonomian negara, menghormati semua tamu, mengasihi orang yang miskin dan menolong yang sengsara, lantaran demikian di dalam negerinya jadi sangat sentosa.

Sri Baginda Ciu Siang-ong yang mendapat kabar tentang aman dan sentosannya negara Chin di bawah perintah Raja Chin bun-kong, lalu mengutus Thay-cay Ciu-kong Khong dan Lwe-su Siok Hin, untuk mengaruniakan gelar Houw-pek pada Raja Chin ini.

Dengan manis budi Raja Chin Bun-kong memperlakukan dua utusan Kaisar Ciu itu, serta dia meminta tolong agar ucapan terima kasihnya disampaikan pada Kaisar Ciu.

Tatkala utusan itu kembali dan menghadap pada Baginda Ciu Siang-ong, mereka menyatakan pendapatannya, bahwa Chin Bun-kong pasti akan menjadi raja jagoan dari semua Raja-muda. Maka tidak boleh tidak harus bersahabat baik dengannya. Baginda percaya keterangan menterinya, begitulah mulai saat itu Kaisar jadi renggang dengan negeri Cee dan dekat pada negeri Cin.

Waktu itu Raja The yang tunduk di bawah pengaruh negeri Couw tidak mau bergaul dengan Raja-raja muda yang lain di Tiongkok. Bersandar pada negeri Couw yang kokoh, Raja The sering melecehkan negeri lain yang lemah. Begitulah pada suatu hari Raja The merasa benci pada Raja Kut yang berpihak kepada raja dan negeri We dan tidak tunduk pada negeri The, maka Raja The langsung mengerahkan angkatan perangnya menyerang negeri Kut itu.

Kut-pek yang mendengar tentara The menyerang jadi ketakutan, dia minta berdamai. Tetapi baru saja pasukan The mundur dari negerinya, Raja Kut langsung memihak kembali pada negeri We. Raja The Bun-kong jadi sangat murka, segera memerintahkan Kong-cu Siat dan Touw Ji Bi menggerakan pasukan besar dan melabrak negeri Kut dengan hebat sekali.

Waktu itu Raja We Bun-kong dengan Kerajaan Ciu sedang baik-baiknya, lalu mereka mengadukan perbuatan Raja The Bun-kong yang tidak patut itu. Baginda Ciu Siang-ong lalu memerintahkan Tay-hu Yu Si Pek pergi ke negeri The, untuk mendamaikan Raja The supaya jangan mengepung negeri Kut.

Sebelum utusan dari Raja Ciu datang, The Bun-kong sudah mendapat kabar hingga dia jadi kurang enak hati pada Baginda, karena Raja We dan The sama-sama telah berjasa pada Kerajaan Ciu, mengapa Baginda berpihak pada negeri We, maka dia lantas memerintahkan orang menahan Yu Si Pek di bilangan tanah The, menunggu sesudah dia mengalahkan negeri Kut baru akan dilepas kembali.

Utusan Kaisar Ciu itu ditahan, pengikutnya segera lari pulang memberi kabar pada Baginda Ciu. Perbuatan Raja The yang kurang ajar sudah membuat Baginda Ciu Siang-ong jadi marah lalu Kaisar Ciu memerintahkan Twe Siok dan To Cu untuk mengadakan perserikatan dengan negeri Ek, segera juga menyerang ke negeri The. Dalam peperangan itu bukan saja negeri Kut dapat ditolong, malah negeri The tentaranya telah mendapat kerusakan besar. Ingat pada jasa raja negeri Ek besar, justru belum lama Baginda telah kematian permaisurinya, sementara Baginda mendengar kabar puteri Raja Ek sangat cantik, maka Kaisar Ciu memerintahkan Twe Siok dan To Cu pergi ke negeri Ek untuk melamar putri Raja Ek.

Raja Ek menerima baik lamaran itu, segera dia kirim utusan untuk mengantarkan anak perempuan Siok-kui, kepada Kaisar Ciu.

Baginda Ciu Siang-ong ketika melihat paras Siok-kui begitu cantik, dia jadi sangat girang, lalu mengangkatnya menjadi permaisuri. Tidak disangka ternyata Siok-kui ini seorang

perempuan genit, dia merasa kurang senang dinikahkan pada Baginda Ciu yang sudah berusia lima puluh tahun lebih, maka dengan diam-diam dia mengadakan hubungan gelap dengan Tay Siok Tay, tentu saja dengan memberinya uang suap besar pada budak-budak istana supaya mereka tutup mulut.

Tay-siok Tay sebenarnya saudara tiri Baginda Ciu Siang-ong, selain usianya masih muda, parasnya pun cakap. Dulu dia sudah pernah mau merebut tahta kerajaan, dia mengundang bangsa Jiong untuk menyerang ibukota Kerajaan Ciu, tetapi maksudnya tidak kesampaian, karena perbuatannnya ketahuan. Raja-raja muda datang menolong Baginda Ciu Siang-ong, maka dia melarikan diri ke negeri Cee. Tetapi kemudian lantaran ibunya, Hui-houw, dan banyak juga menteri-menteri yang meminta ampun, maka terpaksa Baginda panggil pulang lagi dia serta mengembalikan kebesarannya.

”Asap tidak bisa ditutupi!” begitu kata pribahasa. Maka tidak heran, lama kelamaan lewat laporan seorang budak istana, Siauw-tong, akhirnya Baginda Ciu Siang-ong mengetahui juga hubungan rahasia antara permaisurinya dengan saudara tirinya itu. Baginda Ciu marah sekali, lalu memerintahkan orang memenjarakan Siok-kui di penjara Leng-kiong, pintu penjara dikunci dengan keras, cuma di tembok dilubangi sebuah lubang kecil untuk memasukan makanan dan minuman.

Tay-siok Tay yang mengetahui rahasianya sudah terbongkar, sebelum ditangkap buru-buru dia melarikan diri ke negeri Ek. Sedang Twe Siok dan To Cu yang juga takut Baginda Ciu marah kepadanya, sebab mereka yang sudah melamar putri Ek, maka mereka menyusul Tay- siok Tay ikut melarikan ke negeri Ek.

Setelah mereka bertiga sampai di negeri yang dituju, mereka lalu menghasut Raja Ek, dikatakan Baginda Ciu Siang-ong berlaku tidak adil, Siok-kui yang berhati putih bersih dituduh berzinah dan di penjara dalam penjara keraton.

Raja Ek percaya saja omongan pengkhianat itu, dia jadi marah sekali pada Baginda Ciu, lalu dia perintahkan panglima perangnya, Cek Teng, memimpin lima ribu tentara bersama Twe Siok dan To Cu segera mengiringkan Tay Siok Tay menyerang ke negeri Ciu.

Tatkala peperangan sudah berlangsung pihak Ciu mendapat kekalahan, hingga membuat keadaan kota raja jadi terancam bahaya besar. Atas usul beberapa pembesar terpaksa Baginda Ciu menyingkir dari kota raja pergi ke negeri The.

Di pihak Ek mengetahui Baginda Ciu sudah lari, lalu menyerang kota semakin sengit.

Ciu-kong Khong dan Siauw-kong Ko yang mewakili Baginda menjaga kota, sebab khawatir tentara Ek akan melakukan perampokan besar-besaran apabila kota sudah dipukul hancur. Mereka berdiri di atas loteng kota dan memberitahu pada Tay-siok Tay, bahwa tentara Ek ditahan di luar kota tidak diizinkan masuk ke dalam kota, mereka membuka pintu kota untuk menyambut Tay-siok Tay.

Tay-siok Tay berjanji pada Cek Teng akan memberi hadiah padanya dan tentara negeri Ek. Tay-siok Tay masuk ke dalam kota, bukan untuk menjenguk ibunya yang waktu itu sedang sakit payah, tetapi pergi ke penjara Leng-kiong untuk melepaskan Siok-kui, kemudian baru pergi menghadap pada ibunya.

Ketika ibunya melihat anaknya, bukan main girangnya sang ibu ini, tetapi dia cuma tertawa satu kali kemudian melepaskan napasnya yang penghabisan. Esok harinya, Tay-siok Tay memberitahu semua pembesar, menurut pesan Ibusuri yang penghabisan, maka dia mengangkat dirinya menjadi Kaisar Ciu, sedang Siok-kui dia angkat menjadi Ong-houw (permaisuri).

Kaisar Ciu yang baru ini menerima semua pembesar yang mengucapkan selamat kepadanya, dia mengeluarkan uang dan barang-barang dari gudang negeri untuk hadiah tentara Ek. Baru mengurus perkabungan ibunya. Sebagian besar menteri-menteri dan rakyat negeri sangat benci pada Tay-siok Tay, hingga di sana-sini banyak yang menyindir dia, hal itu membuat Tay-siok Tay jadi malu. Buru-buru dia ajak Siok-kui pindah ke tanah Un, di sana dia mendirikan sebuah istana besar, siang dan malam dia bersenang-senang saja, sedang urusan negara semua dia serahkan pada kekuasaan Ciu-kong Khong dan Siauw-kong Ko.

Baginda Ciu Siang-ong yang melarikan diri ke negeri The, merasa malu untuk masuk ke

dalam kota Raja The, sebab dulu dia telah berpihak pada Raja We dan membuat kerugian besar pada Raja The, maka setelah lari sampai di kota Hoan-shia, kampung Tiok-coan, dia perintahkan pengikutnya menghentikan kendaraannya, lalu menumpang tinggal di rumah seorang petani she Hong.

Atas usul Tay-hu Co Yan Hu, Baginda menulis surat pemberitahuan, lalu memnerintahkan orang membagikannya ke negeri-negeri Cee, Song, Tan, The dan We, di dalam pengumuman itu dijelaskan Baginda Ciu telah mendapat susah dan sekarang tinggal di tanah Hoan-shia.

Ketika Raja The Bun-kong menerima pengumuman Baginda Ciu Siang-ong, dia tertawa dan berkata. ”Sekarang Baginda Ciu baru tahu kebaikan negeri Ek masih tidak seperti kebaikan negeri The.” kata Raja The.

Raja The segera mengirim orang dan tukang pergi ke Hoan-shia, di sana dibangun sebuah gedung untuk Baginda Ciu. Raja The memperlakukan Baginda Ciu dengan baik sekali.

Sementara itu Raja Louw, Song dan beberapa negeri juga mengirim utusan untuk menanyakan kesehatan Baginda, serta masing-masing mengantar hidangan yang lezat untuk Baginda Ciu. Di musin He bulan Si-gwe (bulan empat), Raja Chin Bun-kong mengerahkan angkatan perangnya, sedang Raja Cin Bok-kong cuma mengirim Kong-cu Ci untuk

membantu.

Setelah pasukan besar Chin Bun-kong sampai di kota Yang-hoan, Raja Chin Bun-kong memerintahkan Tio Swi memimpin sepasukan tentara pergi ke Hoan-shia untuk mengajak Baginda Ciu pulang ke kota raja, dan memerintahkan Kiok Cin memimpin sepasukan angkatan perang pergi melabrak pada Tay-siok Tay di kota Un.

Begitu Baginda Ciu Siang-ong sampai di kota raja, segera dia disambut Ciu-kong Khong dan Siauw-kong Ko yang menyilahkan Baginda Ciu masuk ke dalam istana. Rakyat negeri di kota Un waktu mendengar kabar Sri Baginda Ciu sudah duduk kembali di tahta kerajaan, mereka beramai-ramai segera bergerak dan membinasakan Twe Siok dan To Cu, kemudian membuka pintu kota untuk menyambut tentara Chin.

Tay-siok Tay yang tahu rakyat telah berontak, dengan tergopoh-gopoh mengajak Siok-kui

naik ke kereta dan hendak menerobos dari pintu kota untuk melarikan diri ke negeri Ek. Tetapi tentara yang menjaga pintu kota segera menutup pintu, tidak mau menerimanya. Tay- siok Tay lalu mencabut pedangnya menebas roboh beberapa orang, tetapi sebelum dia bisa membuka pintu kota, Gui Cun, salah satu di antara panglima Chin yang tersohor gagah

perkasa sudah keburu mengejar dan menyusul dia. Segera juga sebuah perkelahian yang sengit dilakukan, tetapi Tay-siok Tay tidak mampu melawan Gui Cun, hingga dengan gampang sudah dibinasakan oleh orang gagah itu.

Di antara serdadu Chin ada yang berhasil menangkap Siok-kui lalu membawanya menghadap pada panglima itu.

”Ha, ini perempuan genit untuk apa dibiarkan hidup lebih lama lagi!” kata Gui Cun dengan marah, yang segera memerintahkan tentaranya melepaskan panah pada permaisuri itu hingga meninggal. Dua mayat orang itu dibawa dan ditunjukkan kepada Kiok Cin, sesudah diperiksa lalu dikubur.

Sesudah Kiok Cin menetapkan hati penduduk di kota Un, baru dia perintahkan orang

memberi laporan pada Raja Chin Bun-kong di kota Yang-hoan. Sedang Raja Chin langsung naik kereta pergi ke kota raja, dia menghadap pada Baginda Ciu Siang-ong untuk memberitahukan apa yang sudah terjadi. Baginda Ciu girang sekali, lalu menyuguhi arak pada Raja Chin dan menghadiahkan mas dan kain sutera pada tentara Chin.

Atas jasa Chin Bun-kong, sebagai tanda mata Baginda menghadiahkan tanah Un, Goan, Yang-hoan dan Can-mauw, empat kota, yang letaknya di dalam daerah kekaisaran Ciu. Chin Bun-kong mengucapkan terima kasih atas hadiah tersebut, sesudah pesta ditutup baru dia permisi keluar dari istana.

Rakyat negeri berdatangan menyatakan suka-cita, mereka berjejal-jejal di sepanjang jalan. Mereka berebut ingin melihat wajah Chin Bun-kong. Orang banyak itu menghela napas sambil berkata, ”Cee Hoan-kong sekarang muncul kembali!”

Raja Chin Bun-kong segera mengeluarkan perintah untuk menarik mundur pasukan perangnya, kemudian dia mengangkat Tio Swi nejadi Goan Tay-hu untuk mengurus kota Goan dan Yang-hoan, Kiok Cin diangkat menjadi Un Tay-hu untuk mengurus kota Un dan

Can-mauw, sesudah memberi masing-masing dua ribu tentara untuk menjaga kota pada kedua Tay-hu, baru Raja Chin Bun-kong pulang.

Ketika mendengar nama Raja Chin Bun-kong jadi terkenal, Raja Cee Hauw-kong jadi iri dia juga berniat meneruskan nama besar almarhum Raja Cee Hoan-kong menjadi raja jagoan. Tetapi sayang dia tak mengurus pemerintahan negerinya, melainkan hendak menggunakan kekuatan angkatan perangnya untuk menunjukan pengaruhnya di Tiong-goan (Tiongkok).

Di antara negeri-negeri kecil, dia memperoleh kabar di negeri Louw sedang terjangkit bahaya kelaparan, sementara Raja Louw Hi-kong sudah pernah berselisih dengannya, maka dia merasa sekarang dianggap tepat untuk mengalahkan Raja Louw. Maka dia segera mengerahkan angkatan perangnya ke negeri Louw. Raja Louw yang mendapat kabar pasukan perang Cee datang menyerang negrinya, dia jadi

merasa khawatir juga, sebab negerinya sedang dilanda bahaya kelaparan. Dia tidak punya harapan untuk melawan perang, maka langsung dia utus Tian Hi untuk berdamai dengan Raja Cee, selain itu dia juga mempersembahkan bingkisan, dan berjanji bersedia berserikatan dengan negeri Cee.

Kecerdikan Tian Hi yang pandai sekali bicara telah menarik hati Cee Hauw-kong, hingga dengan gampang dia menerima baik perdamaian itu dan langsuung Raja Cee menarik kembali pasukan perangnya. Tetapi Raja Louw Hi-kong tidak tulus mengadakan perserikatan dengan negeri Cee ini, malah dia merasa sakit hati atas kelakuan Raja Cee Hauw-kong, maka begitu pasukan perang Cee sudah mundur, dia langsung mengutus Kong-cu Sui dan Cong Sun Sin membawa bingkisan pergi ke negeri Couw, mereka menghasut Raja Couw supaya mengerahkan pasukan perangnya menyerang ke negeri Cee dan negeri Song.

Dengan gampang Raja Couw Seng-ong sudah berhasil dihasut, yang segera memerintahkan Seng Tek Sin dan Sin-kong Siok Houw memimpin pasukan perang pergi menyerang ke negeri Cee. Dalam peperangan itu pasukan Couw sudah mendapat kemenangan, hingga dia bisa mengambil tanah Yang-kok. Kemudian pasukan Couw dipecah menjadi dua bagian, satu bagian dipimpin oleh Sin-kong Siok Houw untuk menjaga negeri Louw supaya tidak diganggu, satu bagian pula dipimpin oleh Seng Tek Sin yang berjalan pulang ke negeri Couw untuk melaporkan kemenangannya.

Waktu itu Leng-i Cu Bun sudah berusia tua, karena melihat Seng Tek Sin seorang pintar serta gagah, dia memohon pada Raja Couw Seng-ong supaya jabatan Leng-i (Perdana Menteri) diserahkan kepada Cu Bun.

Tetapi Raja Couw tidak setuju pada usul tersebut. ”Seng Tek Sin berhasil mengalahkan negeri Cee, sekarang aku minta Cu Bun melabrak negeri Song jika negeri Song sudah dikalahkan,

baru aku izinkan sesuka Cu Bun, apakah dia mau berhenti atau memangku jabatan.” kata Raja Couw.

Sesudah Cu Bun membuktikan kehebatannya seperti Seng Tek Sin, baru Raja Couw menerima usul itu, lalu mengangkat Seng Tek Sin menjadi Leng-i dengan merangkap jabatan sebagai Goan-swe (Jendral Perang).