--> -->

Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 22

  
Bab 22

Tetapi Seng Tek Sin yang tidak mau memberi kesempatan pada mereka, segera memimpin tentaranya mengejar. Akibatnya tentara Song menderita kerusakan berat. Ransum, senjata dan kereta mereka dirampas oleh musuh.

Saat itu Kong-sun Kouw mengajak Raja Song Siang-kong pulang ke kota Ci-yang.

Sementara itu keluarga tentara Song yang binasa di medan perang, seperti ayah, ibu, istri atau anak, semua datang menggerutu di luar istana. Mereka semua menyesalkan Raja Song Siang- kong yang tidak menuruti nasihat Kong-sun Kouw, sehingga mendapat kekalahan besar.

Raja Song Siang-kong yang mendengar sesalan itu, dengan menghela napas berkata, ”Padahal aku berpegang pada kebajikan dan kewajiban dalam menjalankan peperangan, tetapi yang aku tidak mengerti mengapa sampai mendapat kekalahan begini besar?”

Mendengar ucapan Raja Song Siang-kong tidak seorang pun yang tidak mendongkol, karena kekeliruan raja mereka dalam mengartikan maksud perkataan ”Jin Gi” itu. Saat itu mereka menganggap arti kebajikan dan kewajiban seumpama kucing yang bodoh, sebab waktu melihat tikus, kucing itu tidak mau menerkamnya.

Sementara itu angkatan perang Couw yang dapat kemenangan besar, segera menyeberang di sungai Hong-sui, sambil menyanyikan lagu kemenangan perang. Setelah pasukan perang itu keluar dari batas negeri Song, seorang juru kabar memberi laporan pada Seng Tek Sin.

”Raja Couw telah memerintahkan pasukan besar untuk menyambut kedatangan Tuan. Mereka sudah mendirikan pasanggrahan di Ko-tek.” kata pelapor itu.

Mendengar laporan itu Seng Tek Sin segera pergi ke Ko-tek untuk menemui Raja Couw dan memberi laporan tentang kemenangannya itu. Raja Couw Seng-ong sangat girang.

”Besok Raja The akan mengajak permaisurinya datang kemari untuk menghaturkan selamat. Kalian harus mengatur barisan serapih mungkin!” kata Raja Couw.

Hu-jin The Bun-kong ialah adik perempuan Couw Seng-ong, yang disebut Bun-bi. Dia datang ke Ko-tek bersama Raja The Bun-kong karena ingin bertemu dengan kandanya. Tatkala Raja The dan permaisurinya sampai, Raja Couw Seng-ong menceritakan kemenangannya atas negeri Song. Raja The Bun-kong, suami-isteri langsung mengucapkan selamat. Sesudah itu dia undang Couw-ong supaya berkunjung ke pesta yang akan diadakan nanti.

Esok harinya, Raja The Bun-kong menyambut Raja Couw dan mengajaknya masuk ke dalam kota. Raja The menghormati Raja Couw seperti pada seorang Kaisar saja. Permaisuri Bun-bi mempunyai dua orang putri, yaitu Pek-bi dan Siok-bi, keduanya belum menikah. Permaisuri lalu mengajak kedua putrinya menghadap Couw Seng-ong, menjalankan adat istiadat pertemuan keponakan dengan pamannya.

Melihat keelokan paras kedua keponakannya Raja Couw senang sekali. Waktu Raja Couw hendak pulang ke pesanggrahannya, Couw Seng-ong minta pada Bun-bi, adiknya agar kedua putrinya mengantar dia. Permintaan itu diterima baik oleh Bun-bi dan Raja The. Raja The Bun-kong hanya mengantarkan Raja Couw Seng-ong sampai di luar kota, sedang Bun-bi dan kedua putrinya mengantarkannya sampai di pesanggrahan Couw. Tetapi karena hari sudah sore dan menjelang malam, Bun-bi dan kedua putrinya terpaksa bermalam di dalam pesanggrahan Raja Couw.

Malam harinya, Raja Couw Seng-ong pergi mendatangi kamar tidur kedua keponakannya dan memperkosa keduanya. Sedangkan Bun-bi kebingungan, sehingga semalaman dia tidak bisa tidur pulas. Karena takut oleh pengaruh Raja Couw, terpaksa dia harus belagak bodoh, tidak berani berkata apa-apa. Padahal saat itu kedua anak perempuannya sedang dirusak kehormatannya oleh kandanya yang durjana itu.

Pada esok harinya, Raja Couw Seng-ong menghadiahi Bun-bi separuh dari barang-barang rampasan dari negeri Song. Sedangkan kedua puteri Raja The, Pek-bi dan Siok-bi tidak diizinkan pulang lagi, kedua putri Raja The itu dibawa pulang ke negeri Couw dan dijadikan gundik oleh pamannya. Kelakuan Raja Couw yang seperti binatang, membuat Raja The gusar, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab Raja The lemah dan Raja Couw sangat kuat.

Begitulah nasib orang lemah yang berurusan dengan orang kuat! Kasihan.

Sementara itu Chin Kong-cu sudah tujuh tahun tinggal di negeri Cee, yaitu sejak tahun Ciu Siang-ong ke-8 sampai tahun ke-14. Dia tahu saat Raja Cee Hoan-kong yang tertimpa nasib naas, dan para Raja-muda berebut kekuasaan dan jatuhnya negeri Cee. Ketika Cee Hauw- kong menjadi raja, tetapi dia hanya menjadi raja bodoh yang tidak bisa meneruskan kekuasaan ayahnya dan kerajaannya berada di bawah kekuasaan Raja Song dan Raja Couw.

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan itu, diam-diam Tio Swi berunding dengan kawan-kawannya.

”Kita sedang menumpang di negeri Cee, karena ingin meminjam tentara Cee supaya bisa pulang ke negeri Chin,” kata Tio Swi. ”Tetapi ternyata sekarang Raja Cee yang baru tidak

berkuasa seperti ayahnya, hingga para raja tidak mengindahkannya lagi. Maka kita tak bisa mengharapkan bantuannya. Lebih baik Kong-cu pindak ke negeri lain saja.”

Semua setuju pada saran Tio Swi. Akhirnya mereka pergi ke tempat Pangeran Tiong Ji untuk menyampaikan niat mereka itu. Pangeran Tiong Ji sulit ditemui, karena dia sedang mengeloni Cee Kiang, famili Raja Cee Hoan-kong yang diserahkan kepadanya untuk dijadikan istrinya.

Siang dan malam dia ada di samping si nona manis itu, sudah tidak perduli apapun. Para menterinya yang setia, menunggu ingin bertemu dengan Pangeran Tiong Ji, bahkan hampir sepuluh hari lamanya. Gui Cun uring-uringan, dia menggerutu.

”Karena kupikir Pangeran akan memperoleh kemajuan, maka aku ikut dengannya. Tetapi sepanjang hari kerjanya cuma bersenang-senang dengan perempuan saja selama tujuh tahun sia-sia. Bayangkan kita menunggu tujuh tahun lamanya dengan sia-sia saja. Dia cuma memikirkan bersenang-senang saja. Sudah sepuluh hari lebih kita menunggu ingin bertemu dengannya, tetapi dia tidak mau muncul, jika terus begini bagaimana dia bisa mengerjakan usaha besar?”

”Diam,” kata Ho Yan sambil menggoyangkan tangannya. ”Di sini bukan tempat berunding, mari ikut aku pergi di suatu tempat yang sunyi.”

Semua setuju, sesudah berjalan sejauh 10 li, mereka sampai di Song-im yang di sekitarnya banyak tumbuh pohon Song (murbui), karena daun pohon ini lebat hingga matahari tidak mampu menembus, hingga keadaannnya sangat teduh.. Di sini Tio Swi dan sembilan kawannya lalu berkumpul sambil duduk di tanah. ”Apa yang akan kau lakukan?” tanya Tio Swi pada Ho Yan.

”Untuk mengajak Pangeran Tiong Ji pergi, kita gunakan saja siasat. Kita ajak dia berburu, sekeluar dia dari negeri Cee baru kita bujuk dia pergi dari sini. Tetapi sesudah itu, kita harus menumpang di negeri apa?” kata Ho Yan.

”Raja Song berniat menjadi jago di antara semua Raja-muda, ditambah lagi rajanya bijaksana, mengapa kita tidak ke negeri Soing saja?” kata Tio Swi yang mengajukan usulnya.

”Seandainya kita menumpang di negeri Song dan juga tidak berhasil mencapai niat kita, kita harus segera pergi ke negeri Cin atau Couw. Suatu saat kita akan menemukan jalan yang

baik.”

”Ya, aku dengan Kong-sun Kouw bersahabat, boleh dicoba kita pergi dulu ke negeri Song,” kata Ho Yan yang menyatakan setuju.

Begitu mereka berunding dan membuat rencana lalu mereka bubar. Mereka berunding di tempat sepi, maksudnya supaya jangan ada orang lain yang tahu, tetapi tidak disangka ketika mereka berunding, justru beberapa budak Cee Kiang sedang memetik daun murbei (song) untuk makanan ulat sutera. Mereka tetap bersembunyi sampai semua yang berunding bubar, baru mereka pulang ke istana dan melaporkan pada Cee Kiang.

Mendengar laporan itu Cee Kiang marah-marah dan pura-pura tidak percaya. Menganggap laporan budak-budak itu bohong, lalu Cee Kiang menyuruh menahan budak-budaknya itu dalam kamar tahanan. Sungguh cerdik Cee Kiang ini.

”Sungguh berbahaya bagi Pangeran Tiong Ji dan kawan-kawannnya, aku harus berbuat sesuatu,” kata Cee Kiang.

Malamnya budak-budak yang ditahan itu dibunuh seluruhnya. Ini untuk menghindari bahaya di kemudian hari. Sesudah itu Cee Kiang membangunkan suaminya, yaitu Pangeran Tiong Ji.

”Suamiku, anak buahmu hendak mengajakmu pergi dari negeri Cee, saat mereka berunding budak-budakku mengetahuinya, karena khawatir budak-budakku membocorkan rahasia ini, mereka sudah kubunuh semua. Sekarang juga kau harus mengambil keputusan untuk segera meninggalkan negeri Cee.” kata Cee Kiang.

”Aku sudah hidup bahagia di sini, untuk apa aku pergi dari sini. Aku akan hidup dan mati di negeri ini,” kata Pangeran Tiong Ji. Dia kelihatan kurang senang oleh adanya rencana anak buahnya itu.

”Pendapatmu keliru, suamiku,” kata Cee Kiang. ”Sejak kau meninggalkan negeri Chin,

sampai saat ini keadaan di negeri Chin belum aman. I Gouw yang lemah, angkatan perangnya hancur, hingga rakyat kurang puas kepadanya, tetangga negaranya kurang senang. Ini jelas Thian mengharapkan kau. Hamba yakin kau akan berhasil menduduki negeri Chin!” 

Karena Pangeran Tiong Ji sangat mencintai Cee Kiang yang elok, dia merasa berat untuk berpisahan dengan Cee Kiang. Maka itu dia tak mau mendengarkan nasihat isterinya itu.

Esok paginya, Tio Swi, Ho Yan, Kiu Kui dan Gui Cun, empat orang anak buahnya, telah menunggu di luar keraton, mereka ingin mengajak Pangeran Tiong berburu. Mendengar kabar itu Cee Kiang di luar tahu Pangeran Tiong Ji, suaminya, dia buru-buru menyuruh orang memanggil Ho Yan, hanya seorang diri saja masuk ke dalam istananya. Ketika Ho Yan menghadap, Cee Kiang menyuruh semua pelayannya mundur. Baru sesudah itu Cee Kiang menanyakan maksud kunjungan Ho Yan dan kawan-kawannya itu.

”Pangeran senang berburu oleh karena itu kami ingin mengajaknya berburu,” jawab Ho Yan

pada Cee Kiang.

”O, begitu,” kata Cee Kiang sambil tersenyum. ”Tetapi kali ini kalau bukan ke negeri Song

pasti kalian akan ke negeri Cin atau ke negeri Couw. Bukan begitu?” Ho Yan agak kaget. Dia mencoba menenangkan diri.

”Ah, mustahil berburu sampai sekian jauhnya?” sahut Ho Yan.

”Jangan bohong. Aku tahu kau akan membawa kabur Pangeran Tiong, semua aku sudah tahu.” kata Cee Kiang. ”Kalian jangan berdusta padaku! Tadi malam pun aku sudah bujuk suamiku agar pergi dari negeri ini, tetapi dia tidak mau .”

Ho Yan heran, tetapi dia girang.

”Lalu bagaimana selanjutnya?” kata Ho Yan.

”Begini. Nanti malam akan kuajak dia minum sampai mabuk, dalam keadaan mabuk kalian naikkan ke sebuah kereta lalu bawa dia pergi jauh ” kata Cee Kiang. ”Dengan cara demikian

baru kalian berhasil!’

Bukan main senangnya Ho Yan, dia berlutut mengucapkan terima kasih.

”Hamba berterima kasih, ternyata Nyonya seorang yang mulia. Rela berpisah dengan suami tercinta demi kemajuan suami, wanita seperti Nyonya sangat jarang di muka bumi ini ” puji

Ho yan.

Tio Swi, Ho Mo dan lain-lain berangkat duluan sampai di tanah lapang mereka akan menunggu, hanya Ho Yan, Gui Cun dan Tian Kiat, tiga orang, yang membawa dua buah kereta kecil yang disembunyikan dekat istana. Mereka menunggu kabar baik dari Cee Kiang, yaitu sesudah suaminya mabuk berat. Malam harinya, benar saja Cee Kiang telah mengatur perjamuan, dia menyediakan makanan. Saat makan minum Cee Kiang merayu Pangeran Tiong Ji sehingga pangeran makin senang hatinya. Cee Kiang juga memerintahkan beberapa budak perempuannya menyanyi dan menari, hingga akhirnya Cee Kiang berhasil hingga suaminya ini mabuk berat. Sesudah suaminya tertidur karena mabuk, Cee Kiang lalu mengambil selimut dan menutupi tubuh suaminya, kemudian baru memerintahkan orang memanggil Ho Yan.

”Ho Yan mengerti pasti Pangeran Tiong Ji sudah mabuk berat, maka dia ajak Gui Cun dan Tan Kiat masuk ke dalam istana, lalu menggotong Pangeran Tiong Ji bersama selimutnya terus dibawa keluar, dan ditaruh di dalam sebuah kereta kecil yang lebih dulu memang sudah diberi kasur.

Sesudah selesai, Ho Yan mengucapkan selamat tinggal pada Cee Kiang yang sebenarnya merasa berat berpisah dengan pangeran, tetapi terpaksa ia mengeraskan hatinya sambil menangis, karena ingin suaminya mendapat kemajuan. Ho Yan dan dua kawannya dengan cepat, tetapi dengan berhati-hati sekali melarikan kereta yang membawa Pangeran Tiong Ji, ketika hampir tengah malam mereka sudah meninggalkan ibukota Cee cukup jauh, di suatu tempat mereka bertemu dengan Tio Swi dan yang lain-lain, dan dalam keadaan gelap gulita mereka memeruskan perjalanan.

Kira-kira sudah berjalan lima atau enam puluh li jauhnya, terdengar suara ayam berkokok, sementara dari arah Timur mulai tampak sinar cahaya terang. Waktu itulah Pangeran Tiong Ji baru sadar dari tidurnya, dia berguling-guling di dalam kereta, dia berteriak memanggil

pelayan istana meminta air minum karena dia haus. Ho Yan yang memegang kendali kereta itu ada di sampingnya lalu menyahut. ”Mau air harus menunggu sebentar siang.”

Tiong Ji merasa dirinya ada tergoyang-goyang hingga rasanya tidak enak, sembari mengulet ia berkata: ”Marilah, bangunkan aku dan turun dari ranjang!”

”Ini bukan ranjang, tetapi kereta,” sahut Ho Yan. Tiong Ji terkejut, dia membuka matanya celingukan ke kian kemari, lalu dia pegang Ho Yan dan bertanya dengan kasar.

”Siapa kau?”

”Hamba Ho Yan, Tuanku,” sahut menteri yang setia ini. Waktu itu Pangeran Tiong Ji jadi kaget, segera dia sadar kalau dia tekah diculik oleh anak buahnya. Segera dia bangun.

”Chu Hoan, mengapa kalian tidak memberitahuku dulu kalau aku mau diajak kabur?” bentak Pangeran Tiong Ji gusar bukan main. ”Apa ,maksud kalian ini?”

”Kami hendak menyerahkan negeri Chin pada Pangeran,” sahut Ho Yan dengan sabar.

”Sebelum mendapatkan negeri Chin, tetapi aku telah kehilangan negeri Cee, aku tidak mau! Berhenti di sini! Aku tidak mau pergi!”

”Tetapi kita sudah meninggalkan negeri Cee sejauh seratus li lebih,” kata Ho Yan sengaja membohongi junjungannya. ”Lagi pula jika Raja Cee mengetahui Kong-cu minggat, niscaya dia akan mengerahkan pasukan mengejar kita, ini sungguh berbahaya sekali jika kembali ke sana.”

Pangeran Tiong Ji tidak bisa menahan amarahnya, justru dia melihat Gui Cun sedang memegang tombak berjaga di sampingnya, dia lantas rebut tombak itu, dengan tombak itu dia hendak menyerang Ho Yan.

Melihat gelagat kurang baik, Ho Yan buru-buru turun dari kereta dan pergi menyelamatkan diri. Pangeran Tiong Ji melompat turun, lalu mengejar Ho Yan. Sementara itu Tio Swi, Kiu Kui, Ho Sia Kouw, Kay Cu Cui dan yang lain-lain turun dari kereta menghalangi niat Pangeran Tiong Ji. Meski sudah dinasehati, tetapi kemarahan Pangeran Tiong Ji belum bisa lenyap, sambil uring-uringan dia lemparkan tombaknya ke tanah. Ho Yan langsung menghampiri Pangeran Tiong Ji, sesudah itu dia memberi hormat.

”Jika Tuanku membunuhku dan Kong-cu bisa menjadi raja di negeri Chin, aku rela mati di sini.” kata Ho Yan.

”Karena kami ingin Pangeran menjadi Raja Chin,” kata Tio Swi menyambung pembicaraaan Ho Yan, ”maka kami sudah meninggalkan kampung halaman kami, rumah dan anak isteri kami pergi ikut dengan Kong-cu, sebab berharap barangkali saja di kemudian hari nama kami tercatat di dalam buku hikayat. Sekarang Chin Hui-kong tidak memegang aturan, semua rakyat negeri ingin sekali mengangkat Kong-cu menjadi raja, tetapi jika Kong-cu sendiri tidak mau mencari jalan supaya bisa masuk ke negeri sendiri, siapa yang nanti mau menjemput Pangeran ke negeri Cee? Apa yang terjadi tadi malam, sebenarnya sudah disetujui oleh kami semua termasuk istri Pangeran bukan sekali-kali cuma rencana Chu Hoan seorang, maka harap Kong-cu jangan salah mengerti.”

Gui Cun yang terkenal beradat, dengan suara nyaring lantas nyeletuk: ”Satu laki-laki harus

bersemangat untuk memperoleh nama, supaya bisa tersohor sampai di zaman kemudian!

Mengapa hanya memberatkan seorang perempuan, yang cuma menyenangkan sekejap, tetapi tidak memikirkan hari depan.”

Sementara yang lain-lain pun memberi nasihat pada Pangeran Tiong Ji. Mendengar nasihat semua menterinya yang demikian pedas dan pantas, paras Tiong Ji berubah sabar kembali, dia menghela napas seraya berkata, ”Ya, sudahlah, sekarang sudah jadi begini, aku menurut saja.”

Ho Mo datang menyuguhkan ransum kering pada Tiong Ji, sedang Kay Cu Cui datang membawakan air minum. Tiong Ji dan semua anak buahnya makan bersama-sama. Ouw Siok dan beberapa kawannya menyabit rumput untuk memelihata kuda. Kemudian sesudah membereskan semua barang-barang, mereka lalu meneruskan perjalanan.

Mereka berjalan belum sehari telah sampai di negeri Co. Sebenarnya Raja Co Kiong-kong tidak mau menerima Tiong Ji singgah di negerinya, sebab dia keberatan karena tidak menguntungkan baginya menerima kedatangan Pangeran dari negeri Chin ini. Tetapi ketika di antara menterinya ada yang berkata bahwa Pangeran Tiong Ji anak-anakan mata ada dua dan tulang iganya rangkap menjadi satu, Raja Co Kiong-kong jadi heran dan penasaran sekali, maka dia lantas memerintahkan orangnya menyambut kedatangan Pangeran Tiong Ji, dan diizinkan tinggal di gedung tamu.

Tetapi Raja Co memperlakukan Tiong Ji dan menteri-menterinya tidak dengan sepantasnya, dia cuma menyuruh orang membawakan air dan nasi untuk menyuguhi tamunya itu, tidak menghaturkan selamat datang, tidak mengadakan pesta kehormatan bagi tamunya, tegasnya dia tidak menjalankan peraturan menyambut tamu sebagai tuan rumah seperti yang semestinya.

”Karena dihina begitu rupa, Tiong Ji jadi mendongkol dan tidak sudi makan suguhan dari Raja Co itu. Tidak lama budak gedung membawa masuk sebuah paso untuk mandi, lalu menyilakan Pangeran Tiong Ji mencuci badan. Karena melakukan perjalanan jauh dan banyak keluar keringat, memang Tiong Ji hendak mandi maka segera dia pun mandi,

Waktu itu Raja Co Kiong-kong bersama beberapa pengikutnya yang dia sangat sayang dengan berpakaian seperti orang kecil datang di gedung tetamu dan terus masuk ke kamar mandi, di sana mereka mendekati Tiong Ji dan memeriksa tulang iganya, mereka jadi ribut mengeluarkan pendapat mereka.

Ho Yan dan yang lain-lain ketika mendengar ada orang masuk di kamar mandi, buru-buru memeriksa, tetapi sayang semua orang itu sudah pergi. Ho Yan masih sempat mendengar tawa mereka. Ketika Ho Yan minta keterangan, penjaga mengatakan yang datang adalah Raja Co.

Tiong Ji dan para pengikutnya bukan main mendongkolnya, tetapi mereka menahan sabar, dan belum bisa membalas penghinaan raja tolol itu. Ketika Raja Co hendak mengintip, yang sebenarnya itu perbuatan hina telah dicegah dengan sangat oleh Tay-hu Hi Hu Ki, tetapi Raja Co yang angkuh itu tidak mempedulikannya, hingga menteri itu pulang ke rumahnya dengan hati mendongkol. Malam harinya, diam-diam Hi Hu Ki membawakan rupa-rupa hidangan yang lezat ke gedung tamu, sedang di dalam nasi dia selipkan batu mustika yang berharga mahal.

Ketika itu Tiong Ji punya perut memang sedang kelaparan dan duduk diam dengan menahan kemarahan, setelah dia mendengar Hi Hu Ki datang minta bertemu serta membawakan hidangan, lalu dia suruh orang menyambut dan mengajak menteri ini masuk.

Setelah Hi Hu Ki bertemu dengan Pangeran Chin, dia memberi hormat, lebih dulu dia minta dimaafkan atas kelakuan Raja Co yang tidak patut, kemudian baru menjelaskan bahwa kedatangannya ini cuma untuk menyatakan hormatnya.

Tiong Ji girang, dengan menghela napas dia berkata, ”Aku tidak menyangka di negeri Co ada menteri yang berbudi. Di kemudian hari apabila aku beruntung pulang ke negeriku sendiri,

niscaya aku tidak akan melupakan budi ini.”

Sehabis berkata begitu Tiong Ji lantas makan, tetapi di dalam mangkuk nasinya dia menemukan sebuah batu mustika yang begitu bagus, hingga dengan terkejut dia berkata pada Hi Hu Ki, ”Tay-hu menaruh budi padaku membuat aku tidak sampai kelaparan itu sudah

cukup, kenapa harus memberi hadiah ini yang mahal harganya? Tidak, aku tidak bisa

menerimanya, harap Tay-hu terima kembali. Aku sudah menanggung cukup besar budi Tay- hu.”

”Itu cuma sekedar hormatku yang ada dalam hatiku, harap Kong-cu jangan menolak,” kata Hi Hu Ki yang seberapa bisa hendak memaksa. Tetapi meski dipaksa bagaimana pun, Tiong Ji, tetap tidak mau terima.

Setelah Hi Hu Ki berpisah dengan Tiong Ji, dengan menghela napas dia berkata, ”Chin Kong- cu begitu miskin dan melarat, tetapi dia tidak tertarik oleh barang mustikaku yang berharga, jelas dia seorang yang berbudi luhur!”

Pada esok harinya, Tiong Ji dan menteri-menterinya segera berangkat. Hi Hu Ki dengan diam-diam pergi mengantarkan keluar kota sampai kira-kira sepuluh li jauhnya.

Dari negeri Co, kemudian Pangeran Chin dan semua menterinya pergi ke negeri Song. Ho Yan yang berjalan dulu telah sampai lebih dulu, lalu pergi menemui Su-ma Kong-sun Kouw.

Kong-sun Kouw menceritakan pada Ho Yan, bahwa rajanya karena tidak tidak menyadari tenaga sendiri, sudah menggunakan kekuatan tentaranya menyerang negeri Couw, hingga tentaranya mendapat kerusakan besar dan pahanya sendiri terluka, penyakitnya sampai sekarang belum sembuh. ”Tetapi Pangeran Tiong Ji sudah lama namanya termasyur, kedatangannya pasti akan diterima baik oleh rajaku.”

Sehabis berkata begitu Kong-sun Kouw mempersilakan sahabatnya itu duduk menunggu, sedang dia lalu masuk ke istana memberi kabar pada Raja Song Siang-kong tentang kedatangan Pangeran Chin bersama menteri-menterinya.

Raja Song memang sangat sakit hati pada negeri Couw, siang dan malam berharap-harap bisa mendapat bantuan orang-orang pintar untuk melakukan pembalasan pada musuh besarnya itu, maka ketika dia mendengar Pangeran Chin datang di tempatnya, bukan main girangnya.

Raja Song ini, dia pikir negeri Chin negeri besar, sementara Pangeran Tiong Ji terkenal pintar serta berbudi. Cuma dia merasa menyesal karena luka di pahanya masih belum sembuh juga, hingga dia tidak bisa menyambut sendiri, maka apa boleh buat dia perintahkan Kong-sun Kouw pergi keluar kota untuk menyambut, lalu mengajak tamu agung itu tinggal di gedung tempat tamu terhormat.

Esok harinya, Tiong Ji hendak berangkat lagi, tetapi Kong-sun Kouw yang diperintah oleh Song Siang-kong sebisa-bisanya meminta agar pangeran itu mau tinggal beberapa hari lagi. Begitulah Tiong Ji dan menteri-menterinya tinggal di negeri Song sampai beberapa hari lamanya dengan mendapat perhatian besar dari Raja Song. Melihat penyakit Raja Song Siang- kong belum sembuh, dengan diam-diam Ho Yan berunding dengan Kong-sun Kouw

mengenai maksud untuk mengantarkan Tiong Ji pulang ke negeri Chin. Kong-sun Kouw memberitahu dengan jelas.

”Jika Chin Kong-cu cuma mau menumpang di negeri Song selamanya Raja Song bersedia menampungnya, tetapi kalau untuk mengantarkan pulang ke negeri Chin, pasti negeri Song belum sanggup melakukannya, lantaran baru mendapat kerusakan besar, maka lebih baik jika mencari bantuan dari negeri besar, supaya bisa terkabul apa yang dimaksudkan.” kata Kong- sun Kouw.

Kejujuran Kong-sun Kouw membuat Ho Yan jadi senang hati, maka dia pun tidak mau buang waktu, dia segera memberi tahu Pangeran Tiong Ji tentang hal itu dan mengajak kawan sejabatnya membereskan barang-barang mereka bersiap untuk berangkat.

”Mendengar Tiong Ji hendak berangkat, Raja Song mengantarkan ransum, pakaian dan lain- lain barang yang perlu dalam perjalanan. Tiong Ji menghatur kan terima kasih atas kebaikan Raja Song ini.

Luka yang diderita Raja Song makin hari makin berbahaya. Ketika Raja Song merasa ajalnya akan tiba, dia memanggil Pangeran Ong Sin untuk diberi pesan terakhir.

”Lantaran aku tidak menuruti nasihat Cu Gi, maka aku sampai jadi begini rupa,” kata Raja Song Siang-kong. ”Kau sebagai pewaris tahtaku. Maka kau harus mendengar nasihat Cu Gi. Sedangkan Raja Couw musuh besar kita, kau jangan bersahabat dengannya. Jika Pangeran Chin bisa pulang ke negerinya, niscaya dia akan menjadi raja di negeri Chin. Kau harus

bersatu dengan negeri Chin.” kata Raja Song. ”Ingat baik-baik pesanku ini.”

Sehabis meninggalkan pesan, selang tidak berapa lama Raja Song Siang-kong menghembuskan napasnya yang penghabisan. Dia menjadi raja selama empat belas tahun lamanya. Cita-citanya menjadi Raja Jagoan tidak berhasil.

Sesudah mengurus upacara berkabung beres, Pangeran Ong Sin langsung naik takhta kerajaan, yang memakai gelar Raja Song Seng-kong. Sekeluarnya dari negri Song, rombongan Pangeran Tiong Ji berjalan sampai di negeri The. Tetapi Raja The Bun-kong tidak sudi menyambut kedatangan rombongan Pangeran Tiong Ji, malah Raja The telah memerintahkan menterinya yang menjaga pintu kota menutup rapat pintu kotanya. Maka Tiong Ji yang melihat begitu lalu berjalan terus pergi ke negeri Couw.

Raja Couw menerima baik kedatangan pangeran Tiong Ji, malah dia menghormatinya. Hampir setiap hari Raja Couw Seng-ong mengadakan pesta, Pangeran Tiong Ji menghaturkan terima kasih. Begitulah mereka berdua ternyata cocok satu sama lain, maka Tiong Ji pun jadi betah tinggal di negeri Couw.

Pada suatu hari, Raja Couw Seng-ong mengajak Tiong Ji pergi berburu di tanah In-tek dan Bong-tek. Dalam perburuan itu Raja Couw mengeluarkan kepandaiannya, yaitu dengan beruntun dia memanah menjangan dan seekor kelinci, yang semuanya telah kena dengan jitu. Semua panglima Couw berlutut di tanah memberi selamat. Sementara itu justru muncul seekor beruang menyeruduk lewat di depan keretanya. Raja Couw berkata pada Tiong Ji.

”Kong-cu, lekas panah beruang itu!” kata Raja Couw.

Tiong Ji mengangkat busur dan anak panahnya, setelah busur panah menjeprat, beruang itu

segera jatuh terguling-guling. Tentara Couw mengambil beruang itu ternyata sudah mati dan

dibawa ke hadapan Raja Couw. Raja Couw terkejut, dan merasa kagum dia berkata, ”Kong-cu betul-betul seperti malaikat panah!”

Tiong Ji menolak pujian itu dan coba bersikap merendah. Tiba-tiba terdengar suara riuh. Couw Seng-ong memerintahkan pengikutnya pergi memeriksa ada apa hingga orang jadi begitu ribut.

Tidak lama orang suruhan sudah kembali, dia memberitahu. ”Di sebuah sela gunung orang telah mengejar satu binatang aneh, rupanya seperti beruang, hidungnya seperti gajah, kepalanya seperti singa, kakinya seperti macan, bulunya seperti anjing hutan, kumisnya seperti babi hutan, buntutnya seperti kerbau, badannya seperti kuda dengan belang hitam dan putih, meski orang sudah menombak, dan membacok dengan kapak, digaet dan dipanah, tetapi tidak mempan, dia menggigit besi seperti menggigit lumpur, roda gerobak yang terlapis besi semua sudah digigitnya sampai hancur, tegasnya orang sudah putus akal untuk

membinasakan binatang itu, maka orang telah jadi ribut kalang kabut.” kata pesuruh Raja Couw itu.

Mendengar laporan itu Raja Couw heran, lalu bertanya pada Tiong Ji.

”Kong-cu lahir di Tiong-goan (Tiongkok), pandanganmu luas dan pengetahuanmu pun banyak, apakah kau tahu binatang apa namanya?”

Tiong Ji lantas berpaling dan mengawasi Tio Swi.

”Hamba tahu namanya binatang itu!” kata Tio Swi sambil maju di hadapan Raja Couw.

”Binatang itu namanya binatang Bo, dia lahir dari barang logam yang mendapat hawa langit dan bumi, kepalanya kecil, kakinya pendek, dia suka makan tembaga dan besi, tulangnya padat tidak ada sumsumnya, keras seperti palu, kulitnya kalau dijadikan kasur, bisa menolak segala hawa jelek.”

”Tetapi bagaimana akalnya untuk menangkap binatng itu?” tanya Raja Couw.

”Kulit dan dagingnya semua berasal dari besi, pasti berbagai alat senjata tidak akan mempan,” sahut Tio Swi. ”Cuma di tengah lubang hidungnya ada lubang kosong, jika kita menggunakan benda terbuat dari baja asli untuk menusuk hidungnya, atau kita gunakan api, karena binatang itu takut api pasti dia binasa.”

Baru saja Tio Swi berhenti bicara, Gui Cun lantas berseru, ”Tidak usah memakai senjata, hamba sanggup menangkap binatang itu untuk dibawa kemari!”. Sehabis berkata begitu, orang gagah ini segera melompat turun dari keretanya terus berlari dengan kencang sekali. Couw Seng-ong tercengang melihat kehebatan Gui Cun ini, dia berkata pada Tiong Ji. ”Mari kita pergi melihatnya.” kata Raja Couw.

Setelah Tiong Ji menyatakan setuju, Raja Couw langsung memerintah kusirnya menjalankan kendaraannya pergi ke tempat orang banyak yang sedang mengepung binatang itu. Di tempat itu mereka melihat Gui Cun sudah sampai di depan binatang itu, dia mengangkat kepalannya menjotos sampai beberapa kali, tetapi binatang itu sedikit pun tidak merasa sakit, malah dia mengeluarkan suara seperti kerbau, segera dia menerjang dan berdiri, dengan lidahnya sekali jilat pinggang Gui Cun, ikat pinggangnya yang terbuat dari kuningan telah hilang sepotong.

”Meski pertandingan itu sangat berbahaya, tetapi sedikit pun Gui Cun tidak merasa takut,

malah dengan sangat marah dia berkata, ”Hei, kau jangan kurang ajar!” Sambil berkata begitu Gui Cun melompat hingga terpisah dari tanah kira-kira lima kaki tingginya.

Binatang itu langsung terguling di tanah, lalu melompat dan menunggangi bagian belakang binatang itu, sedang tangannya langsung memeluk leher binatang itu sekencang-kencangnya. Binatang itu berjingkrak dan berontak, tetapi Gui Cun mengikutinya saja, meski dia dilemparkan ke atas atau dibanting ke tanah, dia peluk terus leher binatang itu tidak mau dia lepaskan.

Sesudah bergulat lama, tenaga binatang itu perlahan-lahan jadi berkurang. Melihat demikian Gui Cun lantas kencangkan sikutnya, mencekik leher binatang itu semakin keras. Binatang itu karena susah bernapas, dan memang tenaganya sudah habis, diam saja tidak bisa berkutik.

Gui Cun melompat turun, dengan tangannya yang seperti tulang besi urat kawat lalu memegang hidung binatang yang mirip belalai gajah itu, terus dia tuntun seperti orang menuntun anjing atau kambing dibawa menghadap ke hadapan Raja Couw dan Tiong Ji. Tio Swi memerintahkan laskar perang mengambil api untuk memanggang hidung binatang itu.

Begitu hawa api menembus ke hidungnya, binatang itu langsung jadi lemas dan jatuh

tengkurup. Gui Cun baru melepaskan tangannya, kemudian mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya mau membacok binatang itu. Tetapi bacokan itu seperti orang membacok besi saja, melainkan memancarkan percikan api saja, sedang bulu binatang itu tidak rusak sedikit pun.

”Jika mau membunuh binatang ini dan mengambil kulitnya, harus memakai api, kurung dan panggang dia,” kata Tio Swi.

Raja Couw menurut omongan Tio Swi, lalu memerintahkan tentaranya berbuat begitu.

Setelah dari empat penjuru berhasil dipanggang dengan api, binatang yang kulit dan dagingnya seperti besi itu perlahan-lahan jadi lunak, hingga dapat dikuliti dengan gampang.

Melihat begitu Couw Seng-ong kagum sekali, dia bersyukur pada Tiong Ji yang punya pengikut begitu tangkas, di bagian sipil pembantunya begitu pintar, dan di bagian militernya begitu gagah. Waktu berburu itu dihentikan, Raja Couw mengajak Tiong Ji pulang ke istananya, di sana diadakan pesta besar.

”Jika Kong-cu bisa pulang ke negeri Chin, bagaimana kau akan membalas kebaikanku?” kata Raja Couw Seng-ong pada Tiong Ji. ”Perempuan cantik, batu mustika dan kain sutera, ini semua di sini masih sangat banyak,” sahut Tiong Ji. ”Bulu burung dan kulit binatang memang keluar dari tanah Couw,

sesungguhnya aku pun bingung tidak tahu dengan apa aku membalas kebaikan Tuanku.”

”Sekalipun demikian, pasti kau bisa membalas kebaikanku, coba aku ingin dengar,” kata Raja Couw sambil tertawa.

”Seperti kubilang, aku tidak tahu bagaimana nanti membalas kebaikan Tuanku, sebab segala macam barang yang berharga, Tuanku sudah memilikinya. Cuma seandainya aku bisa mendapatkan kembali negeri Chin, kami bersahabat baik demi kesejahteraan rakyat. Jika Tuanku mengerahkan angkatan perang, aku akan memberi hormat dengan mudur sejauh 90 li sebagai penghormatan.”

Sesudah itu perjamuan ditutup dan Tiong Ji pulang ke gedungnya. Seng Tek Sin marah-marah dan langsung berkata kepada Raja Couw Seng-ong. ”Tuanku telah berlaku begitu baik pada Chin Kong-cu, tetapi sekarang dia telah mengeluarkan perkataan yang tidak pantas, jelas di kemudian hari jika dia sudah pulang ke negeri Chin, niscaya dia akan melupakan budi

Tuanku. Karena itu harus diberi pelajaran atas kesombongannya, yaitu hamba mohon izin akan membunuhnya.” kata Seng Tek Sin.

”Jangan, kita tidak pantas bertindak begitu,” kata Raja Couw yang tidak setuju. ”Chin Kong- cu seorang yang budiman, sedang pengikutnya semua seperti alat negara yang baik, jelas seperti dibantu oleh Allah, maka bagaimana kita berani melawan pada Allah?”

”Jika Tuanku tidak mau membunuh Tiong Ji, lebih baiklah kita tahan saja Ho Yan, Tio Swi dan beberapa kawannnya. Ini untuk membuat agar macan tambah sayap.”

”Menahan mereka itu tidak baik, malah akan membuat orang jadi benci pada kita. Sekarang aku sedang memberikan kebajikan pada Chin Kong-cu, kalau demi kebajikan lalu diganti

dengan kebencian, ini bukan cara yang bagus.”

Melihat rajanya berpegang keras kebijakannya, Seng Tek Sin tidak bisa membujuk lagi, melainkan menarik napas panjang pendek. Begitulah seterusnya Couw Seng-ong bersikap baik sekali pada Kong-cu Tiong Ji.

***

Pada tahun Ciu Siang-ong ke-15, Chin Hui-kong jatuh sakit. Sakitnya Chin Hui-kong cukup berat. Putranya, yaitu Pangeran Gi sudah lama berada negeri Cin sebagai jaminan, di sana dia sudah dinikahkan pada anak perempuan Raja Cin Bok-kong yang disebut Chin Hoay-ong.

Ibu Pangeran Gi putri raja negeri Liang. Raja Liang sangat kejam pada rakyat negerinya, setiap hari dipaksa bekerja berat, karena itu semua rakyat negrinya jadi sangat mendongkol, hingga bukan sedikit yang pindah ke negeri Cin, supaya luput dari siksaan yang keji.

Raja Cin Bok-kong menggunakan waktu yang baik itu, lalu memerintahkan Pek Li He menggerakkan angkatan perang melabrak negeri Liang. Dalam peperangan itu Raja Liang terbunuh oleh rakyat negerinya, yang semuanya tunduk kepada Raja Cin.

Tatkala Pangeran Gi mengetahui negeri Liang telah dimusnahkan dan kakek-luarnya telah binasa, dia jadi sakit hati pada Raja Cin. ”Dia juga mendapat kabar ayahnya, Raja Chin Hui-kong, sakit parah, dia berpikir jika dia ditahan selamanya di negeri Cin, esok lusa jika ayahnya menutup mata, maka akan ada lain pangeran yang merebut tahtanya. Karena dia ingin sekali menjadi raja, maka Pangeran Gi pun dengan tidak permisi lagi pada Raja Cin lalu kabur ke negaranya.

Setelah Raja Cin Bok-kong mengetahui Pangeran Gi sudah kabur, dia marah sekali, lalu dia berkata pada semua mentrinya.

”I Gouw, ayah dan anak semuanya telah mengkhianatiku, aku harus membalas kejahatannya. Ah, sesungguhnya aku menyesal dulu tidak mengambil Tiong Ji untuk dijadikan raja di negeri Chin.”

Semua pembesar pun marah oleh sikap kurangajar dari pangeran Gi itu. Raja Cin Bok-kong

lalu mencari tahu keberadaan Pangeran Tiong Ji. Setelah tahu Tiong Ji ada di negeri Couw, sudah beberapa bulan lamanya, Raja Cin Bok-kong memerintahkan Pangeran Ci dengan membawa bingkisan pergi ke negeri Couw.

Kong-sun Ci menyampaikan bingkisan itu pada Raja Couw, serta berkata bahwa dia diperintah menyambut Pangeran Tiong Ji untuk diajak ke negeri Cin, karena hendak diantarkan pulang ke negerinya.

Mendengar berita itu Pangeran Tiong Ji girang sekali, tetapi dia sengaja berpura-pura berkata pada Raja Couw, ”Daripada pergi ke negeri Cin, aku rasa lebih baik aku menunggu saja

Tuanku punya pertolongan.”

”Couw dan Chin terpisah jauh,” jawab Couw Seng-ong, ”apabila Kong-cu hendak ingin masuk ke negeri Chin, pasti harus melewati beberapa negeri lagi. Sedang Raja Cin dengan Raja Chin batas negaranya bersambung, jika berangkat pagi, baru sorenya sampai, apalagi Raja Cin kabarnya pintar dan berbudi, ditambah dia sangat benci pada Raja Chin. Ini boleh dibilang Allah telah membuka jalan buat kebaikanmu, maka haraplah Kong-cu segera

berangkat.”

Tiong Ji menghaturkan terima kasih dan menyatakan setuju dengan pendapat Raja Couw. Raja Couw Seng-ong menghadiahi Pangeran Tiong Ji emas, kain sutera, kuda, kereta dan lain-lain barang berharga. Sesudah pamitan pada Raja Couw, Pangeran Chin alias Tiong Ji dan pengikutnya ikut dengan Kong-sun Ci berangkat.

Beberapa bulan berselang barulah mereka sampai di perbatasan negeri Cin. Meskipun di dalam perjalanan telah melewati beberapa negeri, tetapi lantaran Tiong Ji di antar oleh Kong- sun Ci dan pasukan perang Cin, maka dalam perjalanan itu tidak kurang satu apa pun.

Tatkala Cin Bok-kong terima kabar Tiong Ji sudah sampai di negrinya, parasnya kelihatan sangat girang, ia sendiri ajak mentri-mentrinya pergi ke luar kota untuk menyambut Tiong Ji dan mengajak masuk ke dalam kota. Cin Hu-jin Bok-ki juga cinta Tiong Ji dan benci Si-cu

Gi, lalu bujuk Cin Bok-kong supaya serahkan Hoay-eng pada Tiong Ji buat teruskan perhubungan famili. Bok-kong setuju dengan pikiran itu, segera menyuruh Kong-sun Ci menyampaikan itu kepada Tiong Ji.

Oleh karena Tiong Ji pikir, Si-cu Gi dengan ia pernah paman dan cucu, sedang Hoay-eng sendiri juga terhitung ia punya cucu perempuan, apabila ia terima untuk dinikahi, ia khawatir ada melanggar kesopanan, maka ia berniat hendak menolak. Tetapi Tio Swi mencegah seraya berkata: ”Hamba dengar Hoay-eng cantik dan pintar, raja Cin dan permaisurinya sangat sayang padanya. Jika tidak terima putrinya Cin, jadi tidak ada jalan buat menggirangkan Cin. Hamba mendengar, kalau orang hendak cinta kita, lebih dulu kita harus cinta orang, begitupun jika orang hendak turut kita punya keinginan, lebih dulu kita harus turut orang punya kehendak. Tegasnya manakala tidak bikin senang Cin dan hendak pakai Cin punya tenaga, tentu tidak boleh terima. Dari itu, menurut pikiran hamba, sebaiknya Kong-cu jangan

menolak.”

Tiong Ji masih merasa sangsi, lalu menanya bagaimana pikiran Ho Yan.

”Sekarang Kong-cu hendak masuk di negri Chin,” berkata Ho Yan, ”apakah Kong-cu mau tunduk kepada Si-cu Gi atau ingin gantikan ia menjadi raja?”

Tiong Ji diam saja tidak menyahut.

”Negri Chin punya kendali pemerintah akan dipegang oleh Gi,” kata Ho Yan ketika lihat

Tiong Ji diam saja. ”Jika Kong-cu hendak takluk pada Gi, maka Hoay-eng jadi pernah ibu- suri. Akan tetapi kalau mau gantikan Gi jadi raja, maka putrinya raja Cin itu jadi terhitung musuhnya bekas istri. Demikianlah hamba punya pikiran, Kong-cu boleh ambil putusan sendiri.”

”Justru Kong-cu mau rebut ia punya negri, kenapa musti ia punya istri?” kata Tio Swi, menyambung bicara Ho Yan. ”Tegasnya, kalau mau jalankan urusan besar dan takut langgar pada peraturan kecil, di kemudian hari nanti mau menyesal sudah jadi kasep.”

Kiu Kui dan yang lain-lain juga turut bantu membujuk.

Melihat mentri-mentrinya semua kasih pikiran yang serupa, Tiong Ji lantas ambil putusan terima baik itu persetujuan. Kong-sun Ci segera balik kembali memberi berita kepada Bok- kong, bahwa Tiong Ji bersedia terima pernikahan itu. Ini kabar membuat Bok-kong girang sekali, lalu kasih tahu pada Bok-ki, yang juga jadi sangat senang.

Ketika sampai pada hari yang ditetapkan itu, pernikahan pun dirayakan, Tiong Ji sambut Hoay-eng dan mengajak pulang ke gedung tempat tinggalnya. Hoay-eng punya paras lebih

elok dari Ce-kiang, sementara empat perempuan yang jadi pengantarnya juga berparas cantik, hingga membuat Tiong Ji bukan main girangnya. Lantaran ini, cinta Cin Bok-kong kepada Tiong Ji semakin kekal, hingga setiap tiga hari dibikin satu pesta kecil dan lima hari bikin

satu pesta besar.

Sekarang biarlah kita tinggalkan dulu pada Tiong Ji, baiklah kita menyusul pula pada Si-cu Gi yang telah minggat pulang ke negrinya. Pulangnya Si-cu Gi membuat Chin Hui-kong jadi

girang sekali, lalu ia berkata pada anaknya itu: ”Aku menanggung sakit sudah lama, memang aku sedang jengkel tidak ada putraku untuk menerima warisan, sekarang engkau bisa terlepas dari kurungan musuh dan bisa pulang kembali ke negri sendiri, inilah yang membuat hatiku senang.”

Si-cu Gi minta ayahnya jangan buat jengkel, dan juga ia harap biarlah itu penyakit bisa lekas sembuh.

Pada musim Ciu bulan Kauw-gwe, Chin Hui-kong rasakan penyakitnya bakal membawanya ke lubang kubur, lalu ia tinggalkan pesanan pada Lu I seng dan Kiok Peng, supaya nanti membela Si-cu Gi dengan segenap hati. Pada malam itu benar saja Chin Hui-kong menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Mendengar kabar itu Pangeran Gi dan menterinya menyatakan berduka cita. Kemudian sesudah mengurus jenazah dan selesai berkabung, Pangeran Gi segera menjadi raja, yang memakai gelar Chin Hoay-kong.

Karena Chin Hoay-kong khawatir Pangeran Tiong Ji mengadakan pemberontakan, dia ingin menarik semua pengikut Pangeran Tiong Ji, jika tidak punya pembantu pasti Tiong Ji tidak bisa bergerak. Maka dia langsung mengeluarkan perintahnya, dalam tiga hari sejak saat itu

diumumkan, setiap pembesar yang masih famili pada menteri-menteri yang yang ikut dengan

Pangeran Tiong Ji harus segera dipanggil pulang. Jika yang tidak pulang atau terlambat maka daftar namanya akan dihapus jabatannnya, ditiadakan. Bahkan sanak familinya pun akan dihukum sesuai aturan.

Lo-kok-kiu Ho Tut mempunyai dua orang putera, yaitu Ho Mo dan Ho Yan, semua ikut dengan Pangeran Tiong Ji dan tinggal di negeri Cin. Dengan diam-diam Kiok Peng membujuk Ho Tut supaya menulis surat memanggil kedua putranya itu pulang.

Tapi Ho Tut berkeras tidak mau menurut. Lantaran bujukannya tidak berhasil, Kiok Peng mengadu pada Raja Chin Hoay-kong, bahwa Ho Tut bermaksud buruk, karena dia tidak mau memanggil dua orang putranya kembali dari negeri Cin.

Raja Chin Hoay-kong segera memerintahkan orang memanggil Ho Tut. Setelah Ho Tut datang menghadap, Chin Hoay-kong mengajukan pertanyaan.

”Ho Mo dan Ho Yan ada di luar negeri, apa Lo-kok-kiu sudah mengirim surat untuk memanggil mereka pulang?” kata Raja Chin.

”Belum,” sahut Ho Tut.

”Aku telah mengeluarkan perintah, barang siapa yang lewat waktu masih belum pulang, maka orang itu dianggap berdosa. Bahkan keluarganya pun ikut tersangkut, apa kau sudah tahu hal itu?”

”Kedua putra hamba sudah diserahkan kepada Kong-cu Tiong Ji, itu bukan baru sehari. Menurut kewajiban orang yang menjadi hamba harus membela dengan setia pada junjungannya sampai mati. Mereka tidak boleh berhamba pada orang lain lagi. Tegasnya kedua putra dan kesetiaanya kepada Kong-cu Tiong Ji, seperti semua pembesar di istana ini kepada Tuanku. Seandainya mereka sendiri yang kabur dan datang kemari, akulah yang akan menghukum mereka! Mereka akan aku bunuh di negeri leluhur kaum Ho, maka bagaimana aku mau disuruh memanggil mereka pulang?”

Jawaban Ho Tut membuat Raja Chin Hoay-kong marah sekali, lalu memerintahkan dua orang algojo dengan golok yang tajam memenggal kepala Ho Tut.

”Jika kau bisa memanggil putramu pulang, jiwamu selamat dari kematian. Kalau tidak, kau tahu sendiri!” ancam Chin Hoay-kong.

Kemudian dia perintahkan orangnya mengambil alat tulis yang ditaruh di hadapan Ho Tut. Kiok Peng memegangi tangan Ho Tut dan dia dipaksa menulis surat.

”Jangan pegangi tanganku, aku akan menulis sendiri!” bentak Ho Tut, lalu dia mengambil pina dan menulis delapan buah huruf besar, kata-katanya demikian bunyinya: ”Anak tidak dua ayah, menteri tidak dua raja.” Melihat tulisan itu, bukan alang kepalang marahnya Raja Chin Hoay-kong, sambil berjingkrak dan memukul meja dia berseru, ”Oh, sesungguhnya kau tidak takut padaku!”

”Jadi anak tidak berbakti dan jadi menteri tidak setia, itu hamba takutkan,” jawab Ho Tut

dengan suara tetap. ”Pendeknya mati dalam perkara yang patut, itu hamba pandang seperti perkara yang lumrah, kenapa hamba harus takut?”

Sehabis berkata begitu pembesar tua dan jujur itu memasang lehernya untuk menerima hukuman. Raja Chin Hoay-kong tidak bisa menahan sabar lagi, segera dia memerintahkan algojo memenggal leher Ho Tut di tengah pasar.

Di antara budak-budak keluarga Ho segera ada yang melarikan diri ke negeri Cin untuk memberitahukan kabar celaka itu pada kedua Ho bersaudara. Setelah Ho Mo dan Ho Yan mengetahui ayahnya telah dianiaya oleh Raja Chin Hoay-kong, alangkah terharu dan penasarannya mereka, sambil memukuli dada, mereka pun menangis sedih sekali. Tio Swi, Kiu Kui dan yang lain-lain semua datang menghibur.

”Orang yang sudah mati pasti tidak bisa hidup kembali, terlalu banyak sedih pun tidak ada gunanya,” kata Tio Swi menghibur lebih jauh. ”Mari kita bersama-sama menemui Kong-cu Tiong Ji untuk berunding mengenai urusan besar ini.”

Ho Mo dan Ho Yan baru berhenti menangis, bersama Tio Swi dan yang lain-lainnya mereka pergi menemui Pangeran Tiong Ji. Dua saudara Ho lalu menceritakan apa yang terjadi di negeri Chin, dan sehabis bercerita kembali mereka berdua menangis dengan sedih.

”Jangan menangis, tunggu sampai aku sudah kembali, sakit hati kalian akan kubalas!” kata pangeran Tiong Ji.

Pangeran Tiong Ji naik kereta pergi menemui Raja Cin Bok-kong, dia ceritakan apa yang telah terjadi di negeri Chin.

”Ini seperti Allah telah membuka jalan bagimu untuk mendapatkan negeri Chin,” kata Raja Cin Bok-kong. ”Aku akan antarkan kau ke negerimu!”

Tiong    Ji    menghaturkan terima kasih, lalu        pamit   kembali   ke gedungnya.

Ia pulang belum berapa lama, pengawal pintu datang melapor. ”Ada orang dari negeri Chin datang minta bertemu, katanya membawa kabar rahasia.” kata pengawal itu.

Tiong    Ji    segera   menyuruh pengawal      supaya orang itu diajak masuk.

Setelah orang itu memberi hormat pada Tiong Ji, lalu dia memperkenalkan diri sambil

berkata, ”Hamba putra Chin Tay-hu Loan Ci yang bernama Loan Tun. Raja Chin yang baru kejam dan kasar hingga rakyat benci. Semua pembesar tidak suka kepadanya. Maka Ayah hamba memerintahkan hamba secara rahasia mengantarkan kabar ini pada Kong-cu.”

Mendengar keterangan dari Loan Tun, wajah Tiong Ji kelihatan girang.

”Kepercayaan Raja baru ada dua orang, mereka itu, Lu I Seng dan Kiok Peng berdua,” kata Loan Tun menyambung pembicaraannya, ”pejabat lama seperti Kiok Pouw Yang, Han Kan dan yang lain-lain, semua tidak terpakai, maka mereka berdua jangan dikhawatirkan. Ayah hamba sudah membuat perjanjian dengan Kiok Cin, Ciu Ci Kauw juga yang lainnya, dengan diam-diam telah mengumpulkan tentara, mereka menunggu sampai Kong-cu menyerang dari luar, mereka akan segera menyambut dari dalam.” Tiong Ji girang sekali, dia lantas menetapkan perjanjian, pada awal tahun yang akan datang dia hendak menyerang ke negeri Chin. Loan Tun lalu pamitan dan kembali ke negeri Chin.

Esok harinya.......

Pangeran Tiong Ji menemui Raja Cin Bok-kong memberi tahu pembicaraannya dengan Loan

Tun. Kabar ini membuat Raja Cin Bok-kong jadi senang sekali, lalu dia tetapkan pada musim

Tang bulan Cap-ji-gwe (sebelas Imlek), dia akan menggerakan pasukan perangnya ke negeri Chin. Panglima Pi Pa mendengar kabar bahwa Raja Cin Bok-kong hendak mengantarkan Tiong Ji, dia memohon ingin menjadi Sian-hong (Panglima Pasukan Pelopor), permohonan itu diluluskan oleh Raja Cin.

Tiga hari sebelum sampai pada hari yang ditetapkan, Raja Cin Bok-kong mengadakan pesta di gunung Kiu-liong-san untuk mengucapkan selamat jalan pada Kong-cu Tiong Ji.

Kemudian Raja Cin yang baik budi itu memberi hadiah pada Tiong Ji sepuluh pasang batu mustika, empat ratus ekor kuda, dan rupa-rupa berbagai keperluan, ransum dan rumput secukupnya. Sedang Tio Swi dan kawan-kawannya yang berjumlah sembilan orang, juga masing-masing diberi sepasang batu mustika dan empat ekor kuda.

Tiong Ji dan menteri-menterinya memberi hormat serta mengucapkan terima kasih.

Setelah sampai pada hari yang telah ditetapkan, Raja Cin Bok-kong mengajak Pek Li Hee, Yu I, Pangeran Ci dan Kong-sun Ci memerintahkan Pi Pa (anaknya Pi The Hu) menjadi Siang- hong, memimpin empat ratus kereta perang, segera berangkat dari kota Yong-ciu untuk mengantarkan Kong-cu Tiong Ji pulang ke negeri Chin.

Pangeran Eng (anak Raja Cin Bok-kong) bersahabat baik dengan Pangeran Tiong Ji, mereka merasa berat sekali untuk berpisah, lalu dia antarkan sahabatnya itu sampai di Wi-yang, di sana satu sama lain sambil menangis terpaksa harus berpisah.

Pada tahun Ciu Siang-ong ke-16, atau tahun pertama pemerintahan Raja Chin Hoay-kong, pada musim Cun bulan Chia-gwe (bulan satu) waktu Raja Cin Bok-kong dan Kong-cu Tiong Ji telah berjalan sampai di tepi sungai Hong-ho.

Di situ sudah tersedia perahu cukup banyak untuk orang-orang menyeberang.

Sekali lagi Raja Cin Bok-kong mengadakan pesta untuk mengucapkan selamat jalan kepada Tiong Ji. Kemudian baru dia bagi sebagian tentaranya. Dia perintahkan Pangeran Ci dan Pi Pa memimpin pasukan perang untuk mengantarkan Tiong Ji menyeberang di sungai, sedang Raja Cin sendiri lalu menempatkan tentaranya di pinggir sungai sebelah barat, untuk menunggu kabar baik.

Sesudah Pangeran Tiong Ji dengan pengantarnya menyeberangi sungai Hong-ho, Tiong Ji yang diiringkan oleh pasukan perang Cin lalu berjalan menuju ke jurusan timur, terus sampai di kota Leng-ho.

Pembesar yang menjaga di tempat itu bernama Teng Hun, segera dia menyiapkan tentaramya hendak menghadang kedatangan musuh ini. Balatentara Cin lantas mengepung kota itu. Pi Pa maju dan menyerbu. Dia naik ke atas kota, perbuatan Pi Pa segera ditiru oleh anak buahnya. Maka dalam pertempuran yang hebat, kota pun akhirnya jatuh ke tangan tentara Cin.

Sesudah itu Tiong Ji bersama angkatan perang Cin maju terus, ketika sampai di kota Song- coan dan kota Pek-swe, semua pembesarnya keluar menyerah. Tatkala juru kabar memberitahukan kabar ini, Raja Chin Hoay-kong kaget sekali, lalu dia mengeluarkan seluruh kereta perang dan tentaranya yang ada dalam negeri, memerintahkan Lu I Seng dan Kiok Peng memimpin pasukan perang, dan berjaga-jaga di Li-liu untuk menahan majunya tentara Cin.

Tetapi dua panglima yang dengki hati ini merasa jerih pada pasukan Cin yang tangguh itu,

mereka tidak berani maju hanya berjaga saja di dalam kota. Pangeran Ci sebagai wakilnya

Raja Cin Bok-kong lalu menulis surat pada dua pembesar itu, dalam suratnya dikatakan kejahatan Chin Hui-kong dan Chin Hoay-kong, karena mereka berdua telah berkhianat pada ayahnya Raja Cin Bok-kong, sekarang Raja Cin Bok-kong hendak mengantarkan Pangeran Tiong Ji untuk menggantikan jadi raja, dia minta agar kedua pembesar itu membantu dari bagian dalam untuk menyambut Pangeram Tiong Ji, dengan demikian dosa mereka akan diampuni dan kemuliaan pangkatnya tidak akan hilang.

Lu I Seng dan Kiok Peng sesudah menerima surat itu jadi sangsi, hendak melawan perang mereka khawatir tidak akan menang, mau menyerah mereka takut Tiong Ji masih ingat peristiwa meninggalnya Li Kek dan Pi The Hu. Akhirnya sesudah berunding cukup lama

juga, baru mereka bisa mengambil keputusan, yaitu menulis surat balasan pada Pangeran Ci, mereka mau menyerah, asalkan Pangeran Tiong Ji tidak mengungkap dosa lama mereka.

”Setelah Kong-cu Ci membaca surat balasan itu, Pangeran Ci mengerti bahwa kedua dorna itu sangsi, maka dengan hanya seorang diri Pangeran Ci naik kereta pergi di Li-liu untuk menemui kedua pembesar itu.

Lu I Seng dan Kiok Peng dengan sangat girang mereka keluar menyambut, sesudah menpersilakan tamunya duduk, mereka menerangkan rahasia hatinya, yaitu bukan mereka tidak mau menyerah, sebenarnya mereka takut pada Kong-cu Tiong Ji tidak bersedia memakai mereka, maka mereka ingin mendapat perjanjian yang pasti.

”Jika Tay-hu suka mengundurkan tentara ke jurusan barat-daya,” kata Kong-cu Ci, ”atas jasa Tay-hu ini akan kusampaikan pada Kong-cu Tionbg Ji, pasti dia akan membuat perjanjian yang Tay-hu inginkan itu.”

Dua pembesar itu menyatakan baik. Setelah Kong-cu Ci pulang, segera mereka berdua menarik mundur tentaranya ke kota Sun-shia. Tatkala Kong-cu Ci memberi tahu hal ini, Pangeran Tiong Ji memerintahkan Ho Yan ikut Kong-cu Ci pergi di kota Sun-shia untuk berunding dengan Lu I Seng dan Kiok Peng. Di sini mereka berunding dan bersumpah dengan cara minum darah dan berjanji akan mendukung Pangeran Tiong Ji menjadi Raja Chin yang baru.

Sesudah perjanjian itu dibuat, Lu I Seng dan Kiok Peng lalu mengutus orangnya ikut Ho Yan pergi di Pek-swe, untuk menyambut Pangeran Tiong Ji datang ke kota Sun-shia untuk memimpin pasukan besar menyerang ke negeri Chin.

Dikisahkan Raja Chin Hoay-kong, karena sudah lama tidak menerima laporan apa-apa dari Lu I Seng dan Kiok Peng, hatinya jadi merasa khawatir, lalu memerintahkan Put Te pergi memberi bantuan. Put Te baru berjalan setengah jalan dia mendapat kabar bahwa Lu I Seng dan Kiok Peng telah mengundurkan tentaranya ke kota Sun-shia, mereka sudah berdamai dan menyerah dan bergabung dengan Ho Yan dan Kong-cu Ci akan berontak melawan Raja Chin Hoay-kong. Buru-buru dia pulang dan memberitahukan hal ini pada Raja Chin Hoay-kong. Bukan main kagetnya Chin Hoay-kong, buru-buru dia perintahkan orang memanggil Kiok

Pouw Yang, Han Kan, Loan Ci, Su Hwe dan yang lain-lain, karena dia hendak mengajak

mereka berunding mencari cara untuk menghadapi serangan dari Pangeran Tiong Ji. Tetapi semua pembesar yang diundang dengan alasan sakit dan alasan lainnya tidak ada yang mau datang, Karena mereka pun sudah sepakan akan melawan pada Raja Chin.

Melihat keadaan yang berbahaya Chin Hoay-kong jadi putus asa, dia menarik napas dan meratap. ”Mengapa para pembesar itu tidak mau datang?” kata Raja Chin.

”Hamba dengar semua pembesar sudah mengadakan persekutuan rahasia, mereka bersama- sama hendak menyambut raja baru, maka Cu-kong tidak boleh tinggal lebih lama lagi di sini,” kata Put Te. ”Sekarang hamba mohon menjadi kusir kereta, hamba hendak mengajak Cu-kong pergi menyingkir ke Ko-liang untuk sementara waktu, di sana nanti boleh berikhtiar lagi

bagaimana baiknya.”

Raja Chin Hoay-kong yang sudah putus asa, lalu menurut saja pada usul anak buahnya itu, dia ikut Put Te pergi lari ke Ko-liang. Ketika Pangeran Tiong Ji sampai di perkemahan tentara besar, Lu I Seng dan Kiok Peng memberi hormat pada Tiong Ji dan mohon diampuni

dosanya. Sedang Tiong Ji dengan perkataan lemah lembut menghibur pada kedua menteri durjana itu.

Tio Swi, Kiu Kui dan yang lain-lain juga menemui Lu I Seng dan Kiok Peng, mereka saling memberi hormat dan mencoba menghilangkan dendam mereka. Lu I Seng dan Kiok Peng sangat girang, lalu mengajak Pangeran Tiong Ji masuk ke dalam kota Kiok-ak untuk sembayang di kelenteng raja Chin almarhum. Para pembesar lama pun menyambut kedatangan Pangeran Tiong Ji, terutama para bekas pengikut Raja Chin Hui-kong almarhum.

Tidak lama Kong-cu Tiong Ji naik tahta kerajaan, yang memakai gelar Chin Bun-kong. Terhitung sejak berumur 43 tahun dia lari ke negeri Ek, umur 55 tahun tinggal di negeri Cee, umur 61 tahun tinggal di negeri Cin, dan sampai kembali di negerinya menjadi raja, usianya sudah 62 tahun.

Sesudah Chin Bun-kong pegang kendali pemerintah di negeri Chin, lalu ia perintahkan orang pergi ke Ko-liang untuk membunuh Chin Hoay-kong. Chin Hoay-kong yang baru memerintah enam bulan lamanya, dia terbunuh.

Panglima Put Te merawat dan mengurus jenazah Chin Hoay-kong, kemudian dia kembali ke negeri Chin. Raja Chin Bun-kong mengadakan pesta besar untuk menghormati para panglima Cin, yaitu Kong-cu Ci dan yang lain-lain, juga dia tidak lupa memberi hadiah pada tamu dan tentara Cin yang telah membantu merebut kerajaannya. Di antara panglima Cin adalah Pi Pa yang berlutut di hadapan Raja Chin Bun-kong sambil menangis, dia memohon pada Chin

Bun-kong supaya kuburan ayahnya, Pi The Hu, diperbaiki. Dengan senang Raja Chin Bun- kong meluluskan permintaan itu.

Kemudian Raja Chin Bun-kong hendak menahan Pi Pa supaya bekerja kembali di negeri Chin, tetapi Pi Pa menolak, dia berkata, ”Karena hamba sudah mengabdikan diri pada Raja Cin, maka hamba tidak berani berhamba pada dua orang raja.”

Sesudah pamitan, Pi Pa ikut Kong-cu Ci kembali ke sungai Hong-ho, di sana mereka memberi kabar pada Raja Cin Bok-kong, bahwa pekerjaan mereka sudah berjalan dengan baik dan berhasil bagus. Lapor itu membuat Raja Cin Bok-kong senang sekali, lalu dia menark mundur tentaranya pulang kembali ke negerinya. Lu I Seng dan Kiok Peng, sebetulnya menyerah karena terpaksa saja, sebab mereka takut pada pengaruh pasukan perang Cin. Sekarang sesudah Raja Chin

Bun-kong memerintah, hati mereka selalu curiga, begitu pun jika bertemu dengan Tio Swi,

Kiu Kui dan yang lain-lain, tidak urung mereka merasa jengah pada dirinya sendiri, meski pun orang tidak menghina atau mengejek atau menyindir mereka.

Ditambah lagi sejak Chin Bun-kong menjadi raja beberapa hari lamanya, beliau belum memberi hadiah maupun pangkat pada mereka, hal ini makin membuat mereka gelisah dan curiga saja bahkan terhadap yang berjasa mau pun berdosa belum dilakukannya. Maka itu kedua dorna ini berniat mengacau dan hendak membakar istana serta membunuh Chin Bun- kong.

Meski pun niat mereka telah bulat, tetapi kedua durjana ini masih berpikir-pikir, di istana tidak ada pejabat yang bisa dijadikan andalan yang bisa mendukung gerakan mereka. Hanya Put Te seorang yang menjadi musuh Chin Bun-kong. Sekarang Raja Chin Bun-kong sudah sangat berpengaruh, pasti Put Te pun takut dihukum, maka mereka pikir Put Te boleh diajak bekerja sama.

Segera mereka memanggil Put Te, mereka menceritakan maksud hati mereka. Put Te girang sekali dan menerima perintah untuk menjalankan perbuatan khianat itu. Tiga orang dengan minum darah menetapkan perjanjian, dalam bulan Ji-gwe saat rembulan sedang gelap, tengah malam nanti secara bersama mereka akan menerbitkan huru-hara. Lu I Seng dan Kiok Peng masing-masing pergi ke tanah miliknya, dengan diam-diam mengumpulkan orang untuk

dijadikan tentara mereka.

Tetapi tidak disangka Put Te cuma mulutnya saja menyatakan setuju, sedang dalam hatinya berlainan. Put Te berpikir sekarang Hui-kong dan Hoai-kong yang dia anggap seperti junjungan yang sejati, semuanya sudah meninggal dunia, sedang Raja Chin Bun-kong seorang raja yang budiman dan menteri-menterinya semua pintar dan gagah, jika dia melakukan perbuatan khianat, bukan saja dia bakal celaka, lagi pula bisa membuat negeri Chin jadi kacau kembali.

Tetapi dia tidak berani langsung menemui Raja Chin Bun-kong untuk memberi tahu tentang rencana Lu I Seng dan Kiok Peng tersebut. Dia sadar dia berdosa dan bekas pengikut Raja Chin yang digulingkan. Bahkan jatuhnya Raja Chin itu pun atas prakarsa Lu I Seng dan Kiok Peng yang berkhianat. Maka diam diam pada tengah malam dia pergi menemui Ho Yan dulu.

Melihat kedatangan Put Te yang luar biasa, Ho Yan terkejut, lalu bertanya apa maksudnya. Put Te tidak bersedia memberi penjelasan, dia hanya minta diantarkan menemui Raja Chin Bun-kong.

Ho Yan mengerti pasti Put Te punya rahasia besar, maka dengan tidak ayal lagi dia ajak Put Te pergi ke istana. Ketika Ho Yan memberitahukan bahwa Put Te minta berjumpa, Raja Chin Bun-kong marah sekali, dia lantas mau mengeluarkan perintah untuk menebas kepala Put Te. Tetapi sesudah dicegah oleh Ho Yan dan dikasih mengerti bahwa Put Te pasti membawa kabar rahasia besar, apa boleh buat Chin Bun-kong menyabarkan hatinya dan terpaksa mengizinkan Put Te datang menghadap.

Meski pun demikian Raja Chin ini belum hilang kemarahannya, maka ketika Put Te datang bertemu dan mejalankan kehormatan, dengan sengit Raja Chin menistanya. ”Oh, orang durhaka! Kau tebas bajuku, sampai sekarang baju itu aku masih kusimpan, setiap kali aku melihatnya, hatiku merasa sangat pedih. Kemudian kembali kau datang ke negeri Ek hendak menikamku, meski pun Chin Hui-kong memberi waktu tiga hari, tokh esok harinya kau berangkat, untung Allah masih melindungiku, hingga aku tidak sampai mati di tanganmu.

Sekarang aku sudah menjadi Raja di negeri Chin, bagaimana kau masih punya muka untuk

datang menemuiku? Tetapi aku masih kasihan pada jiwamu, ayo, lekas kau keluar dari negri Chin, jika ayal kau akan binasa!”

”Ha, ha, ha! Sekalipun Cu-kong sudah mengembara 19 tahun lamanya di luaran, ternyata pengalamanmu masih cetek.” kata Put Te dengan berani. ”Ayah Tuanku Raja Chin Hian- kong, sedangkan Raja Chin Hui-kong, adik Tuanku. Coba bayangkan, dalam hal ini telah terjadi ayah memusuhi anaknya dan adik memusuhi kandanya, apa lagi bagi Put Te yang

hanya menjadi menterinya? Tegasnya Put Te hanya seorang bawahan yang rendah, dia cuma tahu Chin Hian-kong dan Chin Hui-kong, bagaimana aku harus tunduk pada Tuanku? Dulu Koan Tiong membela Kong-cu Kiu, Koan Tiong telah memanah Raja Cee Hoan-kong hingga sangketan angkinnya kena terpanah, tetapi akhirnya lantaran Cee Hoan-kong memakai dia,

hingga dia bisa menjagoi di dunia. Maka pertemuan Tuanku dengan hamba saat ini, mirip dengan kejadian yang dialami Raja Cee dan Koan Tiong. Jika hamba pergi dari sini, maka bahaya besar akan menimpa Tuanku!”

Mendengar kata-kata Put Te begitu, Raja Chin Bun-kong heran, dia suruh mundur semua budak-budaknya yang ada di situ, baru dia minta Put Te menerangkan apa maksud ucapannya tadi. Put Te menceritakan terus terang tentang rencana Lu I Seng dan Kiok Peng hendak

mengadakan pemberontakan.

”Sekarang kedua pengkhianat itu sudah mengatur anak buahnya di dalam kota, sedang mereka telah pergi mengumpulkan tentara. Karena itu lebih baik Cu-kong jangan buang waktu,

malam ini juga harus menyamar dan bersama Kok-kiu Ho Yan buru-buru keluar kota, untuk minta bantuan Raja Cin Bok-kong mengerahkan pasukan perangnya, dengan demikian baru pemberontakan bisa dipadamkan. Sedang hamba akan siaga di dalam kota, untuk membantu membinasakan dua pengkhianat itu dari dalam kota.” kata Put Te.

”O, masalah ini sangat gawat, mari kita segera bertindak!” kata Ho Yan. ”Urusan di dalam negeri Tuanku jangan takut, pasti Chu I bisa mengurusnya dengan rapi.”

Raja Chin Bun-kong berpesan Put Te agar dia berhati-hati. Put Te manggut dan pergi. Tidak lama Raja Chin Bun-kong memanggil budaknya yang paling dipercaya, lalu dipesan bagaimana caranya harus bekerja. Sesudah itu Raja Chin Bun-kong tidur kembali seperti biasa.

Setelah hampir kira-kira pukul tiga pagi, Chin Bun-kong pura-pura sakit perut, lalu memerintahkan budak yang dapat dipercaya itu membawa teng (lampion) mengantarkannya ke wc, tetapi sebenarnya dia keluar dengan menyamar dari pintu belakang, bersama Ho Yan dia naik ke sebuah kereta dan segera keluar kota.