-->

Lima Jagoan Jaman Cun Ciu Bab 19

Bab 19

Mendengar ucapan itu Tiong Ji segera naik ke atas kota untuk melihat sendiri orang itu. Di antara mereka dia mengenali pemimpinnya, yaitu seorang she Tio bernama Swe alias Cu I, dia adik Tio Wi.

”Karena Cu I datang, aku tidak merasa khawatir lagi!” kata Tiong Ji dengan girang,

Maka dia perintahkan orang membukakan pintu kota dan menyuruh semua orang masuk ke dalam kota.

Menteri-menteri yang ikut bersama Tio Swe, di antaranya Tan Sin, Gui Cun, Ho Sia Kouw, Tian Kiat, Kai Cu Cui, Sian Cin dan beberapa puluh pengikutnya.

”Kalian para pegawai istana, mengapa kalian datang kemari?” tanya Tiong Ji dengan sangat terkejut. ”Lantaran Cu-kong salah, ia mencintai Li-ki, perempuan siluman itu, sehingga Cu- kong telah membunuh pangeran, maka kami yakin tidak lama lagi di negeri Chin akan kacau! Kami tahu kau pandai dan berbudi, maka kami kabur dari istana mau ikut denganmu!”

Sementara itu raja Ek dengan budi bahasa yang manis segera menyilakan semua orang masuk ke dalam kota. Memang Kong-cu Tiong Ji sejak masih kecil telah berkelakuan manis dan mau merendah dan hormat pada orang. Ketika dia sudah berusia tujuh belas tahun, terhadap Ho Yan, dia memperlakukannya seperti memperlakukan ayahnya. Tio Swe dia anggap sebagai gurunya, dan terhadap Ho Sia Kouw, ia bersikap seperti kepada kandanya.

Saat itu orang terpelajar dan ternama, baik yang di istana, maupun yang di luar istana, semua simpatik kepada Pangeran Tiong Ji. Maka tidak heran, ketika Tiong Ji minggat dari negeri Chin, dan keselamatannnya terancam pun, banyak orang yang ingin mengabdi kepadanya.

Mereka tidak takut bahaya maupun akan hidup sengsara. Hanya Kiok Peng dan Lu I Seng yang merasa lebih suka kepada Kong-cu I Gouw, sedang Kek Sia memang saudara ibu Pangeran I Gouw, hingga mereka kabur ke negeri Kut dan membela I Gouw.

Tatkala mereka itu sudah bertemu dengan I Gouw, mereka memberi tahu, bahwa tidak berapa lama lagi Ke Hoa dan tentaranya bakal datang menyerang. Kabar ini membuat I Gouw sangat kaget, segera dia perintah orang mengatur bala-tentaranya untuk melakukan penjagaan ketat terhadap kotanya. Beruntung Ke Hoa baik hati, dia tidak tega untuk menangkap I Gouw, maka waktu tentaranya sudah sampai di Kut, dia sengaja bertindak lambat ketika mengepung kota. Malah dengan secara rahasia dia suruh orang membari tahu pada I Gouw, agar I Gouw segera melarikan diri, sebab jika ayal sedikit saja, tentara Chin sudah ditambah pasti akan bertambah susah untuk bisa lolos.

Begitu mendapat kabar, I Gouw segera berunding.

”Kong-cu Tiong Ji ada di negri Ek, apakah tidak lebih baik kita juga pergi ke sana?” kata I Gouw.

”Oh, jangan, Pangeran tidak boleh ke sana,” kata Kiok Peng mencegah. ”Cu-kong memang menyangka dua Pangeran ikut berkhianat. Jika sekarang Pangeran ke sana berkumpul dengan pangeran Tiong Ji, niscaya Li-ki punya alasan yang bagus sekali, sehingga pasti tentara Chin akan datang ke negeri Ek. Maka paling benar Pangeran lari ke negeri Liang, karena negeri Liang dekat dengan negeri Cin, sedang negeri Cin saat ini sangat maju dan kuat! Apalagi Rajanya masih famili Pangeran, maka di kemudian hari Pangeran bisa meminjam tentara

negeri Cin agar bisa kembali ke negeri Chin!”

I Gouw setuju pada saran tersebut, segera dia berangkat ke negeri Liang. Ke Hoa pura-pura mengejar, tetapi tentu saja dia sengaja agar tidak bisa mengejar, lalu ia pulang ke Kota-raja Chin dan memberi laporan pada Chin Hian Kong. Karena kedua Kong-cu tidak satu yang tertangkap, Chin Hian-kong marah sekali. Dia akan membunuh Ke Hoa. Tetapi untung Pi The Hu yang mencegahnya dengan alasan karena dua pangeran berkuasa atas angkatan perang,

mereka mampu melawan Ke Hoa. Chin Hoan Kong tidak berdaya terpaksa menurut. Ke Hoa diampuni.

Kemudian atas usul Liang Ngo, Raja Chin memberi perintah pada Put Te membawa pasukan perang pergi menyerang ke negeri Ek untuk menangkap Pangeran Tiong Ji.

Tetapi raja Ek tidak tinggal diam, dia mengatur tentaranya di Cay-song (batas negeri Chin) siap menangkis serangan dari negeri Chin.

Keduanya tidak berani bergerak lebih dulu, hingga keduanya cuma menunggu hingga dua bulan lebih tanpa bertempur. Keadaan seperti ini membuat Pi The Hu jadi girang, dia menyarankan pada Chin Hian Kong, agar Raja Chin ini menarik mundur pasukannya.

”Jika kita berperang dengan negeri Ek, belum tentu kita menang. Ditambah lagi ini akan kurang baik di mata para Raja-muda, masakan Tuanku sebagai seorang ayah begitu kejam ingin membunuh kedua anak kandungnya. Malah ini akan membuahkan bahan lelucon di mata umum!” kata Pi Te Hu pada Chin Hian Kong.

Nasihat Pi The Hu dituruti juga oleh Chin Hian-kong, yang segera memanggil Put Te untuk menarik mundur tentaranya. He Ce diangkat menjadi Si-cu (Putra Mahkota). Semua pembesar kecuali dua Ngo dan Sun Sit, tidak seorang pun yang jengkel. Maka banyak yang beralasan sakit mereka minta berhenti. Pada tahun pertama dari bertahtanya Baginda Tiu Siang Ong, waktu itu Chin Hian-kong sudah bertahta selama 26 tahun.

Pada tahun itu dalam musim Ciu, Cee Hoan-kong dan para Raja-muda mengadakan pertemuan di Kui-kiu. Chin Hian-kong akan hadir, tetapi terlambat. Saat dia pulang di tengah jalan dia jatuh sakit. Sesampai di negerinya, penyakit Chin Hian-kong bertambah parah. Melihat andalannya bakal

lenyap Li-ki merasa khawatir sekali. Dia duduk di dekat pembaringan Raja Chin sambil

menangis. Melihat tingkah Li-ki Raja Chin merasa kasihan sekali pada Li-ki. Ketika Chin

Hian-kong merasakan penyakitnya makin parah dan bakal meninggal, dia memanggil Sun Sit datang menghadap.

Dia berpesan pada Sun Sit. ”Hati-hati kau harus membela He Ce dan Li-ki.” kata Raja Chin. Sun Sit berjanji akan memperhatikan benar pesan junjungannya itu. Selang beberapa hari kemudian, Chin Hian-kong menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Li-ki segera memondong He Ce yang waktu itu baru berusia sebelas tahun, lalu dia serahkan kepada Sun Sit. Karena Sun Sit ingat telah menerima pesanan dari Chin Hian-kong yang paling penghabisan, dia angkat He Ce untuk memimpin upacara duka cita. Semua pembesar berkumpul akan menyatakan berduka-cita atas wafatnya raja mereka. Saat itu Li-ki mengangkat Sun Sit menjadi Siang-kong (Perdana Mentri), Liang Ngo dan Tong Koan Ngo dinaikan pangkatnya menjadi Co Yu Su Ma.

Tatkala semua urusan sudah selesai dan semua pembesar sudah bubar, diam-diam Li Kek mengunjungi rumah Pi The Hu untuk mengadakan pembicaraan rahasia.

”Anak kecil itu bakal jadi raja, sekarang bagaimana sebaiknya kita menolong Pangeran yang menanggung sengsara di luar?” kata Li Kek pada temannya.

”Semua urusan tergantung pada Sun Sit seorang, mari kita temui dia apa yang akan dilakukannnya?” sahut Pi The Hu.

Li Kek setuju dengan pendapat itu. Mereka berdua berkunjung ke gedung Sun Sit. Kedatangan mereka disambut oleh Sun Sit dengan manis, mereka diajak masuk ke ruang dalam.

”Cu-kong telah wafat, tetapi Pangeran Tiong Ji dan Pangeran I Gouw semua ada di luar negeri,” kata Li Kek pada Sun Sit, ”Siok Hu menjadi pembesar di negeri ini. Mengapa Tuan tidak mengundang mereka, malah mengangkat anak-anak pendengki untuk memimpin

upacara berkabung. Apa ini bisa membuat semua orang puas?”

”Aku telah menerima pesan Cu-kong almarhum,” kata Sun Sit, ”Maka kuanggap He Ce-lah junjunganku. Aku tidak bisa mengingkari pesan Cu-kong kita, kecuali aku mati!”

”Kalau mati secara demikian tidak ada gunanya, apa lebih baik kau ubah saja putusan Cu- kong itu?” kata Pi The Hu.

”Oh, tidak bisa!” sahut Sun Sit. ”Aku sudah berjanji hendak memperhatikan pesan itu! Sekalipun aku harus mati tidak ada gunanya, aku tidak mau melangggar pesan Cu-kong.”

Sekalipun kedua orang ini membujuknya berulang-ulang, tetapi Sun Sit tetap kukuh. Pendiriannya keras sekali seperti besi. Sadar bujukan mereka tidak akan berhasil, kedua orang itu pamit pada Sun Sit dan pergi.

”Sun Sit keras tidak mau mengubah pendiriannya, sekarang bagaimana?” tanya Li Kek.

”Ia bekerja untuk He Ce, kita untuk Pangeran Tiong Ji, masing-masing punya junjungan sendiri. Mau apa lagi?” kata Pi The Hu. ”Ya, itu betul,” sahut Li Kek.

Segera mereka perintahkan orang kepercayaannya, dengan menyamar. Mereka masuk ke istana pura-pura menjaga Pangeran He Ce. Anak buah Li Kek dan Pi The Hu akhirnya berhasil membunuh pangeran He Ce, saat pangeran ini sembahyang.

Waktu itu Yu Si ada di samping Pangeran He Ce, melihat He Ce terbunuh dia segera

mencabut pedangnya hendak menolong, tetapi tidak terduga dia sendiri pun terbunuh. Saat itu di pertengahan keraton menjadi ribut sekali. Sun Sit menangisi jenazah Cu-kong-nya dan waktu akan mundur dari tempat duka itu, tiba-tiba dia mendengar suara ribut, dengan sangat kaget dia lari masuk ke tengah. Di situ ia melihat dua mayat tergeletak. Ia merasakan semangatnya seperti terbang, dia peluk mayat He Ce, dan sambil menangis dia berkata, ”Aku terima pesan Cu-kong yang penghabisan untuk melindungi pangeran He Ce. Sekarang aku tidak bisa menjaga dengan baik, ini dosaku!”. Sehabis berkata begitu, Sun Sit mendekati tiang akan membenturkan kepalanya.

”Tahan: Sun Tay-hu jangan berpikir pendek!” kata Li Ki mencegah. ”Apa Tay-hu lupa jenazah Tuanku belum diurus beres? Sekalipun He Ce binasa, masih ada Tok Cu yang bisa menggantikannya!”

Mendengar nasihat itu, Sun Sit membatalkan niatnya, lalu dia bunuh beberapa puluh orang penjaga di tempat itu. Hari itu juga dia mengadakan pertemuan dengan semua pembesar. Dia membicarakan pengangkatan Tok Cu sebagai pengganti Pangeran He Ce yang terbunuh. Tok Cu ketika itu baru berumur sembilan tahun. Li Kek dan Pi The Hu berlagak kurang sehat dan tidak mau datang dalam pertemuan itu.

Liang Ngo mengusulkan supaya Li Kek dan Pi The Hu dihukum, karena menurut dugaannya kematian Pangeran He Ce pasti perbuatan mereka. Ini dibuktikan dengan tidak mau hadir dalam pertemuan para pembesar. Tetapi Sun Sit tidak setuju pada saran Liang Ngo tersebut.

”Jangan sembarangan, kelompok mereka kuat dan banyak, tidak gampang menyingkirkan mereka. Lebih baik kita urus dulu soal perkabungan ini. Sesudah Tok Cu menjadi raja, dan kita sudah berserikat dengan negeri lain, baru kita bertindak!” kata Sun Sit.

Maka diambil putusan Tok Cu diangkat menjadi pengganti He Ce, dan ditetapkan harinya akan mengubur jenazah Chin Hian Kong. Sesudah itu persidangan ditutup, Liang Ngo dan Toan Koan Ngo segera mengadakan pertemuan rahasia. Mereka menganggap Sun Sit kurang cekatan mengurus pekerjaan dan terlalu lamban. Maka diputuskan mereka akan melakukan pembalasan terhadap Li Kek dan Pi The Hu.

”Sekarang penguburan sudah dekat,” kata Liang Ngo, ”jika kita perintahkan orang bersembunyi di pintu kota sebelah timur, saat Li atau Pi mengantar jenazah Cu-kong, mereka serang si jahanam itu, pasti mereka tidak bisa lolos!”

”Bagus, aku setuju!” kata Tong Koan Ngo dengan girang. ”Aku punya seorang sahabat, namanya Touw Gan I, tenaganya kuat sekali, bila kita janjikan padanya pangkat, pasti dia bersedia melakukan pekerjaan ini.”

Tong Koan Ngo memanggil Touw Gan I untuk membicarakan rencananya. Ternyata Touw Gan I setuju. Touw Gan I bersahabat kekal dengan Tay-hu Tiauw Coan, diam-diam dia memberi tahu niat kedua Ngo pada Tiauw Coan, Touw Gan I minta pendapat sahabatnya ini. ”O, jangan kau lakukan, itu keliru sekali jika kau bunuh Li atau Pi!” kata Tiauw Coan mencegah. ”Kematian He Ce memang mengenaskan. Tetapi semua itu gara-gara Li Ki, ibunya sendiri yang serakah. Saat ini Li dan Pi berniat menyingkirkan Li Ki dan konco- konconya. Aku tahu mereka akan mengangkat pangeran Tiong Ji yang sah! Ini aku pikir

usaha yang mulia. Bila kau membantu yang jahat dan memusuhi yang setia, kau berbuat keji hingga kau akan dijauhi sahabat-sahabatmu sendiri!”

Touw Gan I membenarkan ucapan Tiauw Coan.

”Baik, akan kutolak ajakan jahat itu!” kata Touw Gan I.

”Kalau kau tolak pasti mereka akan menyuruh orang lain,” kata Tiauw Coan. ”lebih baik kau pura-pura menerima perintah itu, tetapi kau segera balikkan senjata itu untuk menghantam kaum durhaka itu. Nanti kalau raja yang budiman sudah duduk di istana, aku nanti pujikan kau punya pahala, pasti kau bakal dapat ganjaran yang besar.”

”Terima kasih Tay-hu atas petunjukmu, akan kulaksanakan saran itu!” kata Touw Gan I.

Tiauw Coan pura-pura tidak percaya, sehingga Touw Gan I segera bersumpah. Sesudah itu Touw Gan I pulang, Tiauw Coan segera mengabari Pi The Hu, dan Pi The Hu pun memberi tahu Li Kek. Maka mereka segera mengatur anak buahnya masing-masing, mereka sepakat saat mengantar mengubur jenazah Chin Hian-kong mereka akan bergerak secara berbareng.

Begitu sampai waktu mengubur jenazah Raja Chin, Li Kek memberi kabar, karena sakit tidak bisa ikut mengantar mengubur jenazah Raja Chin. Touw Gan I segera meminta Tong Koan Ngo mengerahkan tiga ratus tentara akan mengepung rumah Li Kek, permintaan itu segera dikabulkan.

Ketika rumahnya dikepung, Li Kek sengaja memerintahkan orang pergi ke pekuburan untuk memberi tahu telah timbul huru-hara. Mendengar kabar itu, Sun Sit terkejut, dia minta keterangan.

”Kabarnya Li Kek hendak menggunakan kesempatan penguburan yang baik akan membuat huru-hara,” kata Tong Koan Ngo, sebelum orang Li Kek memberi keterangan. ”Sebab aku curiga pada Li Kek, maka aku sudah perintahkan Touw Gan I menyiapkan tentara untuk menjaga rumahnya, boleh jadi telah terjadi pertarungan antara Touw Gan I dengan anak buahnya. Jika urusan ini bisa beres, itu keuntungan buat Tay-hu, bila tidak beres, Tay-hu pun tidak kerembet-rembet.”

Hat Sun Sit merasa sangat tidak enak, segera dia menyelesaikan upacara penguburan. Kemudian dia perintahkan kedua Ngo memimpin tentaranya untuk membantu melabrak Li Kek, sedang dia sendiri mengantarkan Tok Cu pulang ke istana untuk menunggu kabar baik.

Tong Koan Ngo dan tentaranya sampai di tengah pasar sebelah timur, justru saat itu dia berpapasan dengan Touw Gan I. Gesit luar biasa Touw Gan I mencekal leher Tong Koan Ngo yang terus dia patahkan hingga binasa, sedang tentaranya jadi kalang-kabut.

”Pangeran Tiong Ji bersama tentara Cin dan Ek sudah ada di luar kota!” teriak Touw Gan I pada semua tentara Chin. ”Aku terima perintah Li Tay-hu untuk membalas penasaran hati almarhum Pangeran Sin Seng! Basmi seluruh konco orang-orang jahat, sambut Kong-cu Tiong Ji untuk menjadi raja! Kalian jika mau membantu, ikut bersamaku! Jika tidak silakan pergi!” Mendengar Pangeran Tiong Ji bakal jadi raja, semua gembira dan akan ikut membantu.

Liang Ngo yang mendapat kabar itu mengajak Sun Sit membawa lari Pangeran Tok Cu.

Tetapi begitu melihat dorna itu lari, Touw Gan I segera mengejarnya. Sementara Li Kek, Pi The Hu dan Tiauw Coan, masing-masing sudah membawa orangnya datang ke tempat itu.

Melihat gelagat tidak baik, Liang Ngo pikir pasti dia juga tidak akan bisa meloloskan diri, segera mencabut pedangnya dan gorok lehernya sendiri, tetapi sebelumnya, Touw Gan I keburu menubruk dan menangkapnya. Ketika itu Li Kek sampai di situ, segera dia angkat goloknya dan menebas dorna itu hingga jadi dua potong.

Waktu itu Tay-hu Kiong Hoa juga memimpin orangnya datang membantu Li Kek. Semua orang dengan berbareng menerjang masuk ke pintu istana. Li Kek sambil memegang pedang jalan duluan, sedang yang lain-lain ikut dengannya. Pembesar yang ada di istana semua jadi kaget dan bubar, hanya Sun Sit yang tidak berubah parasnya, tangan kirinya memeluk Tok

Cu, sedang tangan kanannya mengangkat tangan bajunya untuk menghalangi raja yang masih kecil itu. Tok Cu ketakutan dan menangis.

”Anak kecil ini apa dosanya?” kata Sun Sit pada Li Kek. ”Lebih baik bunuh saja aku, harap kalian sisakan putra raja almarhum!”

”Sin Seng bagaimana? Dia juga anak raja almarhum!” sahut Li Kek, yang segera lirik Touw Gan I dan berkata, ”Lekaslah turun tangan!”

Touw Gan I segera merampas Tok Cu dari tangan Sun Sit, lalu dia lemparkan ke bawah tangga istana. ”Gubral!” Saat itu juga Tok Cu telah binasa. Sun Sit jadi sangat marah, dia mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya akan menyerang Li Kek. Tetapi kembali dia kena dibunuh oleh Touw Gan I.

Semua orang segera menerjang masuk ke dalam keraton. Li Ki jadi sangat ketakutan, dengan tergopoh-gopoh dia lari ke keraton Ke Kun. Tetapi Ke Kun menutup pintu tidak mau menerima. Sebab sudah putus harapan, dengan badan gemetar perempuan dengki itu lari ke kebun belakang, dari atas jembatan dia menceburkan diri ke dalam air, dan segera mati.

Li Kek masih penasaran, dia perintahkan orangnya mengangkat mayat perempuan dengki itu dan dicincang sampai jadi hancur lebur. Adik perempuan Li Ki, meski pun dia yang melahirkan Tok Cu, tetapi sebab tidak begitu jahat seperti kakaknya Li Ki, dia diampuni tidak dibunuh, melainkan dipenjara di salah satu kamar di istana. Sementara keluarga dua Ngo dan Yu Si semua dibunuh.

Sesudah melakukan pembalasan pada orang-orang durhaka itu, Li Kek segera memanggil

semua pembesar mengadakan rapat di istana. Li Kek usul hendak mengangkat Pangeran Tiong Ji menjadi raja. Tetapi Pi The Hu bilang lebih baik tanya dulu pendapat Ho Tut, seorang pembesar Chin yang paling tua. Karena itu segera diutus seseorang untuk

mengundang Ho Tut. Tetapi Ho Tut menolak hadir, dia berkata, ”Aku sudah tua, aku setuju saja apa keputusan para Tay-hu!”

Ketika itu suruhan itu kembali dan memberitahukan ucapan Ho Tut, semua pembesar segera mengambil keputusan hendak mengangkat Pangeran Tiong Ji menjadi raja. Segera disebar surat udangan yang ditandatangani oleh Li Kek. Pi The Hu, Kiong Hoa, Ke Hoa, Tiauw Coan dan yang lain-lain. Semua berjumlah tiga puluh orang lebih. Touw Gan I segera diutus membawa surat undangan itu ke negeri Ek, akan meminta Kongcu Tiong Ji pulang ke negeri Chin untuk menjadi raja. Ketika Tiong Ji menerima undangan itu, dia melihat nama Ho Tut tidak tercantum di sana, sehingga dia jadi curiga. Sedang Ho Yan juga memberi saran.

”Lebih baik jangan pergi, sebab baru kematian ayahanda Tuanku dan lagi dalam keadaan kalut, apabila tuanku menerima menjadi raja, bukan saja nama jadi buruk. Ditambah, khawatir kaum orang-orang durhaka akan melakukan pembalasan secara rahasia.” kata Ho Yan.

Tiong Ji memberi tahu pada Touw Gan I, dia tidak bersedia menerima untuk menjadi raja, biarlah supaya diangkat saja pangeran yang lain. Touw Gan I segera kembali memberitahukan hal itu, Li Kek masih penasaran, dia hendak memerintahkan utusan lain mengundang Tiong

Ji. Tetapi Tay-hu Nio Yu Bi segera mencegah.

”Percuma saja kita undang dia, pasti Kong-cu Tiong Ji akan tetap menolak, supaya tidak buang waktu, undang saja Kong-cu I Gouw.” kata Nio Yu Bi.

”I Gouw orangnya serakah dan kejam,” kata Li Kek kurang senang. ”Lantaran tamak maka dia tidak bisa dipercaya, dan lantaran kejam pasti dia tidak punya rasa cinta pada rakyat.”

”Tetapi daripada mengangkat pangeran lain, lebih pantas angkat Kongcu I Gouw, bukan?” kata Nio Yu Bi.

”Ya, itu betul!” seru orang banyak.

Li Kek karena kalah suara, apa boleh buat segera memerintahkan Touw Gan I ikut Nio Yu Bi pergi menjemput Kong-cu I Gouw di negeri Liang. Memang benar adat I Gouw berlainan jauh dengan Tiong Ji, sedangkan Tiong Ji manis budi, sebaliknya I Gouw dia tamak dan kejam, seperti kata Li Kek.

Ketika I Gouw melarikan diri ke negeri Liang, raja Liang menikahkan putrinya dengan I Gouw, dan dari pernikahan itu mereka berputra seorang diberi nama Gi. Begitu mendapat kabar ayahnya telah wafat, I Gouw segera memerintahkan Lu I Seng pergi merampas kota Kut. Kemudian setelah mendengar kabar He Ce dan Tok Cu dibunuh dan semua pembesar mengundang Tiong Ji, dengan tidak ayal lagi dia segera berunding dengan Kek Shia dan Kiok Peng untuk merebut kedudukan jadi raja. Tetapi sebelum putusan diambil datang Nio Yu Bi dan Touw Gan I mengundangnya, hingga bukan alang kepalang girangnnya Pangeran I Gouw.

Kiok Peng segera menyatakan pendapatnya.

”Jika Tiong Ji sudah tidak mau menjadi raja, pasti dia masih curiga di dalam negeri masih terlalu banyak komplotan jahat. Jika sekarang seumpama I Gouw mau masuk ke lubang macan, Tuan harus sedia dulu senjata tajam, supaya apabila timbul bencana, Tuan sudah siaga. Setahuku kelompok yang terkuat adalah yang dipimpin oleh Li Kek dan Pi The Hu, maka kedua Tay-hu itu harus diberi suap yang besar. Selain itu kita juga harus menyuap negeri Cin, sebab Cin sangat kuat dan bertetangga dengan Chin, maka dengan meminjam tenaga negeri kuat serta dekat itu, pasti mereka bisa masuk ke negeri Chin dengan gampang dan tidak ada yang berani menghalanginya.” kata Kiok Peng.

I Gouw jadi girang, lalu dia terima saran dari Kiok Peng ini. Ia memberi keterangan pada Touw Gan I dan disuruh pulang lebih dulu. I Gouw berjanji akan memberi hadiah pada Li Kek seribu petak sawah di Hun-yang, dan Pi The Hu tujuh ratus petak sawah di Hu-kiu. Sedang Nio Yu Bi diutus ke negeri Cin, untuk memberi tahu pada raja Cin bahwa semua pembesar di negeri Chin telah mengundang I Gouw untuk dijadikan raja di negeri Chin. Maka I Gouw minta dukungan dari raja Cin, tentara untuk mengantarkan dia kembali ke negeri Chin. Untuk rasa terima kasihnya, I Gouw menjanjikan hendak menyerahkan lima buah kota di sebelah luar Sungai Huang-hoo (Sungai Kuning).

Cin Bok Kong meluluskan permohonan I Gouw, lalu memerintahkan pada Kong-sun Ci memimpin tiga ratus kereta perang dan tentara untuk mengantar I Gouw. Sementara itu Cee Hoan Kong ketika mendapat kabar di negeri Chin terjadi huru-hara, dia mengumpulkan raja-raja muda untuk berunding. Tetapi waktu dia sampai di tanah Ko-liang,

dia mendapat kabar negeri Cin sudah membawa tentaranya untuk mengantarkan I Gouw. Baginda Ciu Siang Ong memerintahkan pada Ong-cu Tong membawa tentara datang ke negeri Chin, dan hanya mengutus Sek Peng memimpin pasukan tentara berkumpul dengan tentara Cin dan Ciu untuk bersama-sama mengantarkan I Gouw.

Lu I Seng dan Pi The Hu mengundang Ho Tut untuk memimpin upacara penyambutan di perbatasan negeri Chin.

Begitulah Kong-cu I Gouw telah masuk ke kota Kang-touw dan menjadi raja yang bergelar Chin Hui Kong. Waktu itu adalah tahun Ciu Siang Ong ke-2. Chin Hui Kong mengangkat putranya, Kongcu Gi menjadi Si Cu (putra mahkota), Ho Tut dan Kek Shia menjadi Siang Tay-hu, yang lain-lain semua tetap dalam jabatannya yang lama. Juga dia perintah Nio Yu Bi ikut Ong-cu Tong pergi ke negeri Ciu, Han Kan ikut Sek Peng pergi ke negeri Cee, untuk menghaturkan terima kasih atas budi mereka yang sudah mengantarkan dia pulang ke negerinya.

Angkatan perang negeri lain sudah pulang, hanya tinggal Kong-sun Ci yang hendak mengambil lima kota sesuai janji I Gouw pada mereka. Maka itu mereka masih tinggal menunggu di negeri Chin.

Rupanya Chin Hui Kong merasa sayang untuk melepaskan lima kota, segera dia

mengumpulkan semua menterinya untuk berunding. ”Ketika tuanku mau menyerahkan lima kota kepada raja Cin,” kata Lu I Seng, ”ketika itu tuanku belum menjadi raja, jadi negeri ini bukan milik tuanku. Tetapi sekarang negeri ini sudah menjadi milik tuanku. Sekarang tuanku sudah menjadi raja Chin! Menurut pendapatku, meskipun kita tidak menyerahkan kota-kota itu, pasti Cin tidak bisa berbuat apa-apa.”

”Aku rasa tidak baik jika Tuanku berbuat begitu,” kata Li Kek membantah, ”karena tuanku baru menjadi raja, lalu tuanku ingkar dan menghilangkan kepercayaan orang kepada tuanku! Ditambah negeri Cin sangat kuat dan mereka tetangga kita pula. Lebih baik tuanku serahkan saja!”

”Kehilangan lima kota, sama dengan kehilangan separuh dari negeri Chin,” kata Kiok Peng yang tidak setuju pada saran Li Kek. ”Meskipun negeri Cin menghabiskan tentaranya, tidak gampang mereka bisa mengambil lima kota kita dengan begitu mudah! Ingat raja kita almarhum, begitu sulitnya mendapatkan negeri ini. Masa dengan gampang kita serahkan lima buah kota pada mereka?”

”Sudah tahu ini milik almarhum raja kita, mengapa kau janjikan akan diserahkan kepadanya?

Sudah janji tetapi tidak ditepati, apa itu tidak akan membuat raja Cin gusar?” kata Li Kek

dengan keras. ”Ingat waktu raja kita almarhum mendirikan negeri Kiok-ah, tanahnya sangat kecil, lantaran beliau bisa mengurus beres pemerintahan, sehingga bisa merampas negeri- negeri kecil untuk memperbesar daerahnya! Manakala tuanku bisa mengatur betul pemerintahan dan rukun pada tetangga negeri, buat apa merasa khawatir dengan lenyapnya lima kota itu?”

”Kata-kata Li Kek hanya untuk kepentingan negeri Cin!” teriak Kiok Peng dengan sangat

marah. ”Karena dia khawatir tuanku tidak jadi memberinya seribu petak sawah di Hun-yang yang telah dijanjikan kepadanya, maka dia hendak bersandar pada raja Cin!”

Melihat gelagat kurang baik, Pi The Hu dengan sikutnya dia senggol Li Kek.

Akhirnya Chin Hui Kong mengeluarkan putusan menurut saran Lu I Seng dan Kiok Peng. Dia perintahkan Lu I Seng menulis surat untuk dikirim pada raja Cin. Surat itu berbunyi

demikian: ”Bukan aku mungkir janji, karena sebagian besar pembesar Chin tidak setuju menyerahkan lima kota itu, maka aku Chin Hui Kong minta waktu dulu untuk penyerahan lima kota itu, sebab aku mau berunding lebih jauh.”

Kemudian Chin Hui Kong bertanya siapa yang bersedia membawa surat ke negeri Cin. Pi The Hu menyatakan bersedia pergi, dan diizinkan oleh Chin Hui Kong. Pi The Hu pergi ikut bersama Kong-sun Ci ke negeri Cin.

Ketika Cin Bok Kong sudah menerima surat dan sudah membaca surat itu, dia jadi marah sekali, karena dia yakin raja Chin hendak membohonginya, dia segera mau membunuh Pi The Hu. ”Menteri-menteri negeri Chin tidak ada yang tidak ingat pada budi tuanku, semua suka menyerahkan tanah tersebut,” kata Pi The Hu memberi keterangan. ”Tetapi lantaran Lu I Seng dan Kiok Peng, dua orang itu, mencegah dengan keras, ditambah rajaku yang baru pun rupanya berniat begitu, maka lima kota itu tidak diserahkan kepada Cin. Sekarang sebaiknya tuanku dengan baik-baik panggil dua orang itu, sesampai di sini segera bunuh mereka, kemudian tuanku antarkan Kong-cu Tiong Ji, aku dan Li Kek akan mengusir I Gouw dan menyambut kedatangan tuanku dari dalam, pasti Kong-cu Tiong Ji bisa naik menjadi raja Chin. Jika ini perkara sudah beres, pasti Tiong Ji suka menurut kepada tuanku, apakah ini

bukan akan lebih baik?”

Cin Bok Kong memang suka pada Kong-cu Tiong Ji, dia jadi girang sekali setelah mendengar ucapan Pi The Hu, maka segera dia perintahkan Tay-hu Leng Ci ikut Pi The Hu pergi membawa bingkisan ke negeri Chin, dengan maksud hendak memikat Lu I Seng dan Kiok Peng.

Ketika Pi The Hu diutus ke negri Cin, Kiok Peng memberi saran pada Raja Chin Hui Kong, supaya Raja Chin membunuh Li Kek, karena dia mendapat laporan Li Kek berniat mengangkat Tiong Ji menjadi Raja.

”Jika benar dan Tiong Ji menyerang dari luar sedang Li Kek menyambut dari dalam, pasti berbahaya sekali bagi kedudukan Tuanku!” kata Kiok Peng menghasut.

Tanpa pikir lagi Chin Hui-Kong menyatakan setuju akan membunuh Li Kek, dan dia menyuruh Kiok Peng melakukan pembunuhan itu.

Kiok Peng segera mengunjungi Li Kek. Kepada Li Kek, Kiok Peng bilang,”karena kau membinasakan He Ce, Tok Cu dan Sun Sit, maka sekarang Chin Hui-Kong hendak

menghukumanmu!” kata Kiok Peng. ”Aku singkirkan ketiga orang itu untuk kepentingan Cu-

kong! Sekarang Cu-kong sudah menjadi Raja, mengapa bukan diberi hadiah malah mau dihukum?” kata Li Kek membela diri. ”Cu-kong juga bilang, jika bukan kau yang membantu pasti dia tidak akan menjadi Raja.

Maka itu beliau juga tidak melupakan jasamu itu,” sahut Kiok Peng. ”Tetapi . . . tetapi kau dengan Cu-kong itu urusan pribadimu! Sekarang kau boleh pilih mau mati dengan cara apa, agar jangan sampai algojo yang melaksanakannya!”

Li Kek sadar sekalipun mau adu bicara bagaimana pun, pasti tidak akan berhasil, maka dia segera cabut pedang di pinggangnya terus bunuh diri. Meninggalnya Li Kek telah membuat semua pembesar tidak senang, terlebih Ki Ki, Kiong Hoa, Ke Hoa, Tiauw Coan dan yang lain. Mereka mencaci dan menista Raja Chin kejam dan biadab. Ketika Chin Hui- Kong tahu, dia berniat membinasakan mereka. Tetapi Kiok Peng mencegahnya,

”Lebih baik cari dulu kesalahannya.” kata Kiok Peng.

Sementara itu Pi The Hu telah pulang, dia menghadap Chin Hui- Kong untuk melaporkan

hasil pekerjaannya. Kemudian baru dia ajak Leng Ci menghadap, untuk menyerahkan surat balasan dan barang bingkisan dari Raja Cin.

Chin Hui-Kong membuka dan melihat surat itu, isinya menggembirakan hatinya. Karena Raja Cin dengan sangat manis tidak membicarakan panjang masalah lima kota itu. Hanya dalam surat itu Raja Cin minta agar Kiok Peng dan Lu I Seng datang ke negeri Cin untuk diajak

berunding.

Bukan main girangnnya Chin Hui- Kong, segera dia perintahkan Lu I Seng dan Kiok Peng pergi ke negeri Cin untuk berunding dengan Raja Cin. Tetapi dua pembesar ini cerdik, sebelum menyatakan siap memenuhi perintah atasannnya, mereka berunding dulu dengan rekannnya. ”Kedatangan utusan Cin ini sangat mencurigakan, aku rasa mereka bermaksud kurang baik,” kata Kiok Peng. ”Bingkisan mereka banyak dan ucapan manis, boleh jadi

mereka hendak memancing kita, maka jika kita pergi ke Cin, niscaya kita akan dapat susah.”

”Ya, aku duga Cin baik pada Chin tidak akan sampai begini,” sahut Lu I Seng sambil manggut. ”Ah, ini pasti ulah Pi The Hu yang sudah mendengar kematian Li Kek, maka dia

khawatir dirinya juga tidak akan luput dari kematian, maka dia mengatur siasat ini dengan

Raja Cin, supaya Raja Cin membunuh kita, kemudian dia mengadakan huru-hara.”

”Betul, dugaan sangat tepat!” kata Kiok Peng. ”Pi The Hu dan Li Kek satu kelompok, jika

Kek dibunuh, bagaimana The Hu tidak ketakutan? Tetapi sekarang semua pembesar sebagian besar konco-konco Li dan Pi, maka kita harus menyelidik dengan hati-hati gerakkan mereka.

Sekarang kita minta utusan Cin itu pulang lebih dulu, bilang saja kita akan menyusul belakangan, yaitu begitu kita sudah beres dengan urusan pemerintahan.”

Lu I Seng setuju dengan pendapat rekannnya. Begitulah mereka berdua diam-diam menemui Raja Chin untuk berunding.

Sesudah mendengar laporan Lu dan Kiok, Raja Chin Hui-kong langsung setuju, lalu mempersilakan Leng Ci pulang duluan ke negeri Cin,untuk memberi kabar pada Raja Cin. Dengan lasan urusan di negeri Chin belum beres, dia minta tempo sedikit . Baru Raja Chin akan mengutus Lu dan Kiok datang ke negeri Cin.

Leng Ci tidak bisa memaksa, apa boleh buat dia pamit dan kembali ke negeri Cin. Dengan diam-diam Lu dan Kiok memerintahkan orangnya yang dapat dipercaya, supaya setiap malam bersembunyi di dekat gedung Pi The Hu untuk mengintai gerak-geriknya. Sekian lama Pi The Hu melihat Lu dan Kiok masih belum juga mau pergi ke negeri Cin, dengan diam-diam dia undang Ki Ki, Kiong Hoa, Ke Hoa, Tiauw Coan. Mereka berkumpul dan entah apa yang dibicarakan, sampai pukul 5 pagi orang-orang itu baru pulang.

Mata-mata Kiok Peng segera melaporkan hal itu pada tuannya, seperti yang telah dilihatnya.

Kiok Peng menduga pembicaraan mereka pasti mengenai pengkhianatan, maka tidak ayal lagi dia pergi dan berunding dengan Lu I Seng. Sesudah berunding seketika lamanya, mereka mengambil putusan segera mengeluarkan perintah untuk mengundang Touw Gan I. Tidak

berapa lama Touw Gan I sudah datang menghadap.

”Bahaya sedang mengancammu, bagaimana kau tenang-tenang saja?” kata Kiok Peng. Touw Gan I terkejut, dengan wajah pucat dia bertanya:, ”Bahaya apa,Tay-hu?”

”Dulu kau telah membantu Li Kek membinasakan dua raja yang masih kecil, sekarang Li Kek sudah dihukum mati, kau juga pasti akan mendapat giliran. Tetapi karena kami ingat kau

berjasa, kami tidak tega melihat kau mendapat bencana, maka kami segera memberitahumu.” Touw Gan I jadi ketakutan. Dia minta tolong supaya bisa luput dari hukuman.

”Kemarahan Cu-Kong sulit dicegah, kami tidak yakin bisa memintakan ampun untukmu,” kata Kiok Peng. ”Cuma satu cara, mungkin kau bisa bebas. ”

Touw Gan I segera berlutut dan bertanya. ”Bagaimana caranya?” tanya Gan I.

Kiok Peng dengan suara perlahan berkata, ”Kau harus menyingkirkan konco Li Kek, yaitu Pi The Hu. Kami dengar dia berniat hendak membuat huru-hara. Dia mau menyingkirkan Cu-

Kong dan mengangkat Tiong Ji menjadi raja. Kau pura-pura ketakutan, dan minta diajak

bersekongkol dalam gerakan mereka. Jika kau sudah memperoleh rahasia mereka, kau siarkan tentang kejahatannnya. Bukan saja dosamu akan diampuni kau juga akan dinaikan pangkat

dan diberi hadiah!”

Hasutan Kiok Peng menarik hati Touw Gan I, yang tadi begitu ketakutan, sekarang girang sekali, ”Karena pertolongan Tay-hu, aku selamat, aku siap melaksanakan tugas itu. Tetapi aku tak pandai bicara ” kata Touw Gan I.

”Jangan khawatir, akan aku ajari,” kata Lu I Seng.

Kemudian Lu I Seng mengajari apa yang harus dikerjakan oleh Tuw I Gan, Malam itu juga Touw Gan I pergi menemui Pi The Hu dan mengatakan dia akan menyampaikan pesan rahasia.

Pi The Hu menyuruh orangnya memberi tahu Touw, karena sedang mabuk arak dan sudah tidur, Pi tak mau menemuinya. Touw Gan I tidak percaya, dengan pura-pura sedang punya urusan penting, dia masuk ke dalam. Terpaksa Pi The Hu menerimanya. Touw Gan I berlutut di depan Pi The Hu, dan berkata seperti orang yang ketakutan, ”Tay-hu tolong selamatkan selembar jiwaku ini.”