-->

Lembah Selaksa Bunga Jilid 06

Jilid 06

Hongbacu, tokoh Mancu itu setelah gagal menangkap Bouw Cun An, lalu melapor kepada Pangeran Bouw bahwa pemuda itu diculik oleh seorang tosu bernama Ouw-yang Sianjin!

“Saya sudah berusaha untuk merebutnya kembali, akan tetapi tosu itu cukup lihai dan dapat melarikan Bouw Kongcu,” demikian Hongbacu mengakhiri laporannya.

“Ah, saya tahu siapa itu Ouw-yang Sianjin!” seru Hwa Hwa Hoat-su tokoh Pek-lian-kauw. “Dia masih mempunyai perhitungan yang harus dibayar dengan nyawanya. Dialah yang menggagalkan rombongan kami sehingga Leng Kok Ho-siang dan beberapa orang tokoh Pek-lian-kauw terbunuh. Sekarang dia malah menculik putera Paduka, Pangeran. Orang itu berbahaya bagi kita semua dan harus dibunuh!”

Pangeran Bouw Ji Kong marah sekali dan dia mengerahkan anak buahnya untuk mencari puteranya yang kabarnya diculik dan dilarikan oleh Ouw-yang Sianjin. Namun semua usahanya sia-sia. Bouw Cu An dan Ouw-yang Sianjin tak dapat ditemukan, lenyap tanpa meninggalkan bekas.

Sementara itu, sesuai dengan rencana yang sudah diatur oleh persekutuan itu, Pangeran Bouw Ji Kong berusaha melakukan pendekatan kepada para pejabat sipil dan militer yang setia kepada Kaisar dan menaati menteri Yang Ting Ho dan Panglima Chang Ku Cing. Dia berusaha untuk membujuk mereka dan memanas-manasi hati mereka dengan penggambaran betapa buruknya pemerintah itu di bawah Kaisar Wan Li yang sudah dipengaruhi dua orang pejabat tinggi itu. Namun, usaha ini ternyata gagal.

Setelah kurang lebih setahun melakukan pendekatan dan bujukan, hasilnya sedikit sekali. Hanya ada beberapa orang saja yang dapat terbujuk dan menerima ajakan Pangeran Bouw untuk bergabung dan mendukung pangeran itu. Sebagian besar menolak dan tetap setia kepada Kaisar dan dua orang pejabat tinggi itu.

Karena cara yang pertama gagal, maka dimulailali cara kedua, yaitu membunuh para pejabat yang setia kepada Kaisar. Untuk pekerjaan ini, diserahkan kepada tiga orang sakti yang tinggal di istana Pangeran Bouw Ji Kong, yaitu Hwa Hwa Hoat-su, Hongbacu, dan Tarmalan.

Bagaikan berlumba saja, tiga orang sakti itu dalam jangka waktu sebulan masing-masing telah membunuh dua orang pejabat tinggi. Tentu saja kota raja menjadi gempar! Dalam waktu sebulan ada enam orang pembesar yang setia kepada kaisar telah terbunuh dan pembunuhnya sama sekali tidak meninggalkan jejak! Juga tidak ada seorang pun perajurit penjaga yang melihat Si pembunuh, bayangannya saja pun tidak tampak!

Kaisar Wan Li pun sempat panik mendengar laporan tentang terbunuhnya enam orang pejabat tinggi secara beruntun itu. Kaisar segera memanggil dua orang pembantunya yang paling diandalkan, yaitu Menteri Yang Ting Ho dan Panglima besar Chang Ku Cing. Dengan tegas Kaisar Wan Li memerintahkan kepada mereka berdua untuk melacak dan menangkap pembunuh yang membuat resah para pembesar di kota raja. Sebelumnya, dua orang pembesar ini memang sudah amat terkejut dan penasaran. Maka, mereka berdua sudah mendatangi rumah mereka yang terbunuh dan memeriksa sendiri keadaan mayat para pembesar yang terbunuh dalam kamar mereka itu. Maka, setelah dipanggil kaisar dan menerima perintah yang mengandung teguran itu, keduanya lalu berunding di gedung tempat tinggal Menteri Yang Ting Ho.

Mereka berunding berdua saja dalam sebuah ruangan tertutup. Dua orang pembantu Kaisar yang usianya sudah sekitar limapuluh tahun itu duduk berhadapan dengan wajah muram.

“Chang Ciang-kun.” kata Menteri Yang, “menurut dugaanku, kiranya tidak salah lagi bahwa pembunuh para pejabat tentulah orang Pek-lian-kauw. Mereka memang memiliki orang-orang sakti, dan bukan mustahil mereka datang mengacau sebagai pembalasan karena dulu gerakan mereka yang dipimpin Leng Kok Ho- siang itu telah gagal.”

“Dugaanmu itu kiranya tidak meleset jauh, Yang Taijin,” kata Panglima Chang yang bertubuh tinggi tegap dan tampak gagah dengan kumis dan jenggotnya yang pendek terpelihara rapi dan pakaiannya sebagai seorang panglima tinggi. “Memang agaknya hanya Pek-lian-kauw saja yang menjadi musuh besar kita di dalam negeri. Akan tetapi ada dua hal yang amat menarik hatiku. Pertama, enam orang yang terbunuh itu merupakan pejabat-pejabat tinggi yang setia kepada Sribaginda Kaisar dan merupakan pejabat yang mendukung kita berdua dalam kesetiaan kita kepada pemerintah. Dua orang pejabat sipil itu adalah pejabat yang baik dan enam orang pejabat militer itu adalah bawahan dan pembantu-pembantuku.”

“Engkau benar, Ciang-kun. Dua orang itupun merupakan pembantumu yang setia. Jadi kalau begitu, pembunuh itu sengaja hendak melemahkan kita dengan jalan membunuhi para pembantu kita?”

“Tentu saja yang mereka incar adalah Sribaginda Kaisar. Karena kita berdua yang memperkuat kedudukan Sribaginda Kaisar, maka kitalah yang lebih dulu diserang. Bawahan kita yang setia dibunuh untuk melemahkan kekuatan kita sehingga mereka akan mudah untuk menujukan serangan mereka dengan sasaran utama, yaitu Sribaginda Kaisar,” kata Panglima Chang.

Menteri Yang Ting Ho mengerutkan alisnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Untuk urusan serang menyerang dan menggunakan siasat menyerang pihak lawan dengan berbagai akal dan cara tentu saja merupakan keahlian Panglima Chang.

“Agaknya engkau benar, Ciang-kun. Akan tetapi hal kedua apakah yang menarik hatimu?” “Taijin, ketika kita memeriksa keadaan jenazah enam orang korban itu aku melihat keanehan.” “Keanehan? Aku hanya melihat bahwa mereka dibunuh secara kejam sekali.”

“Aku memperhatikan penyebab kematian mereka, Taijin. Ada tiga macam sebab kematian mereka, dan masing-masing dua orang mati dengan cara yang sama, berbeda dengan yang lain.”

“Aku tidak melihat hal itu, Ciang-kun. Aku hanya melihat bahwa mereka tewas dalam keadaan mengerikan, ada yang lehernya putus, kepalanya remuk, dadanya luka menembus punggung ”

07.19. Misteri Pembunuhan di Kotaraja

“Nah, itulah Taijin! Dua orang di antara mereka tewas dengan leher terpenggal. Agaknya yang memenggal leher mereka menggunakan senjata yang amat tajam dan berat sehingga leher mereka itu putus terbabat dengan sempurna. Dua orang lagi mati dengan kepala mereka remuk, padahal tidak tampak terluka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka berdua menerima pukulan dengan senjata lunak yang tidak meninggalkan bekas namun dapat menghancurkan, membuktikan bahwa pelakunya memiliki sin-kang yang amat kuat. Adapun dua orang lagi mati dengan dada terluka dan menembus punggung. Luarnya bundar menandakan bahwa mereka berdua tentu ditusuk senjata yang kecil, mungkin tombak atau tongkat, akan tetapi jelas bukan pedang atau golok.”

“Hemm, jadi maksudmu, mereka berenam itu dibunuh oleh tiga orang pembunuh yang memiliki keahlian berbeda?”

“Kesimpulannya begitulah, Taijin. Mereka tentu tiga orang dan mereka memiliki kepandaian tinggi, juga mereka kejam dan berbahaya sekali.”

“Hemm, kalau begitu, bagaimana kita harus menghadapi mereka, Ciang-kun. Kukira engkaulah yang paling tepat untuk menanggulangi bahaya ini. Aku sendiri akan menasihati Sribaginda Kaisar untuk melipat gandakan pasukan pengawal yang kuat dan pilihan agar setiap saat Sribaginda dilindungi dengan ketat.” “Memang sebaiknya begitu, Taijin. Dan lebih penting pula, sebaiknya Sribaginda memanggil semua pejabat tinggi mengadakan persidangan agar terdapat lebih banyak pasukan untuk menjaga keselamatan kerajaan.”

“Baik, aku akan mengemukakan hal itu kepada Sribaginda Kaisar,” kata Menteri Yang.

“Ya, dan aku akan diam-diam secara rahasia menghubungi para pendekar yang setia kepada kerajaan untuk membantu. Karena pihak musuh juga menggunakan orang-orang sakti yang dirahasiakan, maka aku juga akan mencari pendekar-pendekar yang akan menghadapi mereka secara rahasia pula.”

Menteri Yang dan Jenderal atau Panglima Chang telah bersepakat untuk menghadapi serangan yang membunuh para rekan mereka. Panglima Chang mengerahkan pasukan khusus yang diperintahkan untuk melakukan penjagaan kepada para pejabat tinggi yang setia kepada kaisar.

Beberapa hari kemudian, setelah mendapat laporan dan anjuran Menteri Yang Ting Ho, Kaisar Wan Li mengundang para pejabat tinggi untuk datang menghadap dan mengadakan persidangan untuk membahas peristiwa yang menggegerkan itu.

Setelah Kaisar Wan Li secara singkat menceritakan tentang pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi yang terkenal setia, dia berkata.

“Menurut pendapat kami, pelakunya tentulah orang-orang yang menentang pemerintah dan hendak melemahkan dan membikin kacau para pejabat pemerintah. Dan mereka yang memusuhi pemerintah pada saat ini adalah golongan pemberontak Pek-lian-kauw dan tentu saja bangsa Mancu yang kini telah menyusun kekuatan di utara. Mungkin juga ada suku-suku di luar daerah kita yang dapat dihasut mereka. Kita harus siap dan berusaha sekuatnya untuk membekuk pembunuh itu agar suasana menjadi tenang dan tenteram kembali.”

Setelah berhenti sejenak dan memandang kepada para pejabat itu, Kaisar Wan Li melanjutkan. “Karena urusan ini teramat penting dan berbahaya, maka kami telah menyerahkan penanganannya kepada Panglima Chang Ku Cing. Bagaimana pendapat kalian? Apakah ada yang mengajukan usul yang baik?”

Pangeran Bouw Ji Kong membungkuk dengan hormat sambil bangkit berdiri dari kursinya. “Kakanda Kaisar yang mulia. Kalau menurut perkiraan hamba, pemberontak Pek-lian-kauw maupun para suku bangsa tidak akan berani melakukan kejahatan itu. Pek-lian-kauw telah kita gagalkan dan hancurkan usaha mereka mengacau beberapa waktu yang lalu, maka kiranya mereka tidak akan berani gegabah mencobanya lagi. Juga hamba yang mengawasi hubungan antara kita dan para suku bangsa di luar daerah. Hubungan itu cukup baik dan kiranya mereka tidak akan berani merusaknya dengan pembunuhan-pembunuhan itu. Menurut hamba, ada pihak lain yang melakukannya.”

Kaisar Wan Li memandang kepada adik tirinya itu. “Hemm, Adinda Pangeran, begitukah pendapatmu? Coba jelaskan, pihak lain mana dan siapa yang engkau maksudkan itu?”

“Yang Mulia, sudah bukan rahasia lagi bahwa di dunia kang-ouw terdapat orang-orang yang menamakan dirinya para pendekar. Banyak di antara mereka itu yang merasa tidak puas dan membenci para pejabat. Sudah banyak pejabat di kota raja maupun di daerah yang dihajar atau bahkan dibunuh para pendekar itu, dengan dalih bahwa pejabat itu tidak adil, sewenang-wenang, atau memeras menindas rakyat. Hamba condong untuk menduga bahwa yang membunuh enam orang pejabat itu adalah para pendekar yang hamba maksudkan itu.”

Kaisar Wan Li adalah seorang yang lemah dan selalu mengandalkan pendapat para pembantunya. Mendengar ucapan adik tirinya itu, timbul keraguan dalam hatinya dan dia memandang kepada para pejabat yang hadir.

“Kami rasakan apa yang dikemukakan Adinda Pangeran Bouw Ji Kong itu ada benarnya juga. Bagaimana kalau menurut pendapat kalian?”

Para pejabat tinggi diam saja. Mereka sudah mengenal siapa Pangeran Bouw dan bagi para pejabat yang sudah menjadi anak buahnya tentu setuju dengan pendapat itu. Adapun mereka yang tidak setuju, tidak berani mencela karena mereka merasa bahwa Pangeran Bouw tidak suka kepada mereka yang tidak mau dibujuk untuk menerima hadiah dan taat kepadanya.

Panglima besar Chang Ku Cing segera bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Kaisar. “Hamba tidak dapat membenarkan perkiraan Pangeran Bouw bahwa para pendekar yang melakukan pembunuhan itu. Para pendekar yang gagah perkasa, pembela kebenaran dan keadilan tidak akan melakukan pembunuhan- pembunuhan terhadap enam orang pejabat itu karena hamba mengenal betul siapa mereka. “Mereka adalah pejabat-pejabat yang setia kepada Paduka, mereka bersih, jujur dan adil. Tentu Paduka masih ingat betapa dahulu, setahun lebih yang lalu, ketika Pek-lian-kauw mempunyai niat jahat untuk mengacau dan Leng Kok Ho-siang sebagai wakil mereka menghadap Paduka, justeru para pendekar yang telah membantu pemerintah menghancurkan usaha jahat mereka. Hamba berani menanggung bahwa bukan para pendekar yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, melainkan musuh-musuh negara dan para pemberontak.”

Para pejabat yang setia kepada kaisar mengangguk-angguk membenarkan pendapat Panglima Chang ini. Adapun para pejabat yang telah menjadi pengikut Pangeran Bouw tidak ada yang berani membantah.

Kaisar Wan Li menutup persidangan dan memberi tugas khusus kepada tiga pejabat penting. Panglima Chang ditugaskan untuk mencari dan menangkap pembunuh itu. Menteri Yang ditugaskan untuk menenteramkan suasana di antara para pejabat, dan Pangeran Bouw diberi tugas untuk melakukan penyelidikan apakah para suku bangsa di luar daerah tidak ada yang melakukan aksi yang mencurigakan, terutama dia ditugaskan untuk mengamati gerak-gerik bangsa Mancu dan memberi laporan kalau ada yang mencurigakan.

Para pejabat menanti sampai kaisar Wan Li mengundurkan diri dari ruangan sidang, baru mereka kembali ke gedung masing-masing. Pangeran Bouw cepat menghubungi tiga orang sakti yang bersembunyi di istananya dan menganjurkan mereka lebih baik untuk sementara menghentikan pembunuhan dan diam- diam meninggalkan kota raja untuk menghindar dari usaha Panglima Chang yang tentu akan mencari pembunuh itu dengan cermat.

Berbeda dengan Pangeran Bouw Ji Kong yang masih giat karena ambisius, sebaliknya Pangeran Sim Liok Ong yang merupakan saudara misan kaisar, tidak memegang kedudukan apa-apa, maka dia tidak ikut dipanggil dalam persidangan yang diadakan kaisar. Akan tetapi dia dapat menduga bahwa Kaisar dan para pejabat tinggi tentu gelisah dengan adanya pembunuhan-pembunuhan rahasia itu.

Yang amat tertarik dengan terjadinya peristiwa pernbunuhan-pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi yang setia dan jujur adalah putera Pangeran Sim Liok Ong, yaitu Sim Tek Kun. Sim Tek Kun yang berusia duapuluh empat tahun ini adalah murid Kun-lun-pai yang lihai dan terkenal di dunia kang-ouw sebagai Kun-lun Siauw-hiap (Pendekar Muda Kun-lun) yang selalu membela kebenaran dan keadilan sebagai seorang pendekar gagah perkasa. Juga isterinya adalah seorang pendekar wanita yang cantik jelita dan lihai, yaitu Ong Lian Hong.

Ong Lian Hong ini adalah puteri mendiang Pat-jiu Kiam-ong (Raja Pedang Tangan Delapan) Ong Han Cu, dan ia menjadi sumoi (adik seperguruan) Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan, murid mendiang ayahnya. Dulu, sekitar dua tahun yang lalu, Ong Lian Hong bersama Sim Tek Kun yang ketika itu belum menjadi suaminya, dan Hwe-thian Mo-li, ia membantu Panglima Chang Ku Cing membasmi orang-orang Pek-lian-kauw yang mengacau kota raja. Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong telah menikah sekitar satu setengah tahun yang lalu namun mereka belum dikaruniai anak.

Selama dua tahun ini, Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong hidup bahagia dan penuh kedamaian karena mereka tidak lagi mencampuri urusan dunia persilatan. Mereka tinggal di gedung Pangeran Sim Liok Ong yang tidak aktip dalam pemerintahan sehingga tidak pernah mendapatkan persoalan. Akan tetapi, biarpun demikian, mereka memperhatikan peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi di kota raja, maka pembunuhan- pembunuhan yang terjadi baru-baru ini membangkitkan perasaan penasaran dan menarik perhatian mereka. Jelas telah terjadi kejahatan dalam kota raja dan mereka tentu saja tidak dapat membiarkan hal itu terjadi berlarut-larut tanpa ikut menyelidiki dan memberantasnya atau menangkap pembunuhnya.

Pada suatu sore, suami isteri itu duduk di serambi bersama Pangeran Sim Liok Ong. Pangeran ini berusia sekitar empatpuluh delapan tahun dan masih tampak segar dan tampan dengan sikapnya yang lembut. Mereka membicarakan tentang pembunuhan itu.

“Kalau menurut pendapat Ayah, mengapa enam orang pembesar itu dibunuh orang dan mengapa terjadi hal ini? Pertanda apakah ini, Ayah?” tanya Sim Tek Kun kepada ayahnya.

“Aku mengenal baik enam orang pejabat tinggi yang terbunuh itu. Mereka semua adalah pejabat yang setia dan jujur. Karena itu, melihat pembunuhan yang dilakukan secara diam-diam penuh rahasia itu, sangat boleh jadi bahwa orang yang mengatur pembunuhan itu sengaja hendak melemahkan kedudukan kaisar dengan membunuhi para pembesar yang setia. Kalau pembunuhan ini merupakan dendam pribadi, rasanya tidak mungkin secara berturut-turut enam orang pembesar dibunuh dan mereka semua ternyata merupakan pembantu-pembantu setia dari Sribaginda Kaisar!” Sim Tek Kun dan isterinya, Ong Lian Hong, mengangguk-angguk setuju dengan pendapat pangeran itu. “Kalau enam orang pejabat tinggi itu terbunuh secara rahasia dan tidak ada yang mengetahui siapa pembunuh mereka, jelas bahwa dalang pembunuhan itu mengutus orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi untuk melakukan pembunuhan itu,” kata Ong Lian Hong.

“Dugaanmu itu tentu tepat, Hong-moi. Dan kukira yang patut dicurigai adalah Pek-lian-kauw! Merekalah yang dulu mengacau di kota raja, dan memang Pek-lian-kauw mempunyai banyak orang lihai. Agaknya sekali ini pun pembunuhan itu dilakukan mereka untuk membikin kacau atau seperti dikatakan Ayah tadi, untuk melemahkan pemerintah yang dipimpin Sribaginda Kaisar,” kata Sim Tek Kun.

Selagi mereka bercakap-cakap, terdengar derap kaki kuda dan roda kereta. Mereka semua memandang dan melihat sebuah kereta memasuki pekarangan gedung itu dan para penjaga di pintu pekarangan memberi hormat. Dari keretanya saja Pangeran Sim Liok Ong sudah mengenal siapa yang datang berkunjung.

“Panglima Chang Ku Cing yang datang!” katanya dan mereka bertiga segera bangkit dan menyambut di luar serambi.

Setelah kereta berhenti, benar saja yang keluar dari kereta adalah Panglima Chang Ku Cing yang berusia sekitar limapuluh tahun, bertubuh tinggi tegap dengan kumis dan jenggot pendek terpelihara rapi sehingga dia tampak gagah sekali dalam pakaian panglima yang serba gemerlapan. Dia ditemani seorang pemuda gagah berusia sekitar duapuluh lima tahun.

Pangeran Sim, diikuti putera dan mantunya, memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada yang dibalas oleh Panglima Chang. Pangeran Sim Liok Ong berkata gembira.

“Selamat datang, Panglima Chang. Mari, silakan masuk, kami merasa gembira menyambut kunjunganmu.”

“Terima kasih dan maafkan kalau saya mengganggu, Pangeran. Saya datang untuk membicarakan sesuatu denganmu, terutama sekali dengan putera dan mantumu,” kata panglima itu sambil memandang kepada Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong.

“Mari, silakan masuk dan kita bicara di dalam, Panglima!” kata Pangeran Sim dan mereka lalu memasuki ruangan tamu.

Lima orang itu duduk saling berhadapan mengelilingi sebuah meja besar. Pangeran Sim lalu menutupkan pintu depan dan belakang dari ruangan itu, memesan kepada pelayan agar mereka jangan diganggu. Tak seorang pun boleh memasuki ruangan sebelum dipanggil.

“Saya kira Pangeran sudah dapat menduga kepentingan apa yang hendak saya bicarakan. Sebelumnya, perkenalkan dulu. Pemuda ini adalah keponakan saya putera tunggal adik saya yang telah gugur dalam perang. Namanya adalah Chang Hong Bu dan dia telah lulus belajar ilmu silat di kuil Siauw-lim-si.”

Pangeran Sim Liok Ong, putera dan mantunya itu memandang kepada pemuda itu penuh perhatian. Baru sekarang Pangeran Sim bertemu dengan pemuda itu bahkan baru sekarang dia mendengar bahwa panglima yang terkenal itu memiliki seorang keponakan yang gagah perkasa, murid Siauw-lim-pai.

Seorang pemuda berusia duapuluh lima tahun yang bertubuh tegap, berwajah tampan dan gagah sikapnya tenang dan wataknya pendiam, sinar matanya tajam berwibawa seperti mata pamannya. Ketika diperkenalkan pemuda bernama Chang Hong Bu itu bangkit dan memberi hormat dengan membungkuk kepada keluarga tuan rumah.

“Kami senang sekali dapat berkenalan dengan keponakanmu yang gagah, Panglima. Kalau kami tidak salah duga, tentu kedatangan Panglima ini ada hubungannya dengan masalah yang tadi baru saja kami bicarakan, yaitu masalah pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di kota raja. Benarkah?”

Panglima Chang tertawa dan menoleh kepada keponakannya.

“Ha-ha-ha! Kau dengar sendiri, Hong Bu! Tidak salah, bukan, keteranganku tadi, bahwa Pangeran Sim Liok Ong adalah seorang yang amat cerdik? Baru saja kita datang beliau ini telah dapat menduga dengan tepat maksud kedatanganku. Tentu Pangeran telah mengetahui pula apa yang kami inginkan sehubungan dengan peristiwa itu, bukan?”

Pangeran Sim juga tersenyum. “Aih, Panglima. Saya dapat berbuat apakah menghadapi urusan kekerasan ini? Tentu putera dan mantuku lebih tepat untuk Panglima ajak membicarakannya.” Kembali panglima Chang tertawa dan memandang kepada keponakannya, seolah hendak membuktikan bahwa lagi-lagi pangeran itu telah dapat menebak dengan tepat.

“Memang benar, terus terang saja kami semua merasa penasaran dengan adanya peristiwa pembunuhan itu. Karena itu, saya teringat akan puteramu Sim Tek Kun dan isterinya Ong Lian Hong yang dulu pernah membantu kami menghancurkan para tokoh Pek-lian-kauw yang mendatangkan kekacauan di kota raja. Bagaimana pendapatmu tentang adanya pembunuhan-pembunuhan itu, nanda Tek kun?”

Sim Tek Kun menoleh kepada ayahnya lalu memandang kepada Panglima Chang. “Seperti telah dikatakan Ayah tadi, Paman Panglima, ketika Paman datang, kami bertiga sedang membicarakan peristiwa itu. Menurut pendapat kami bertiga, pembunuhan-pembunuhan itu sengaja dilakukan oleh pihak yang memusuhi pemerintah. Yang dibunuh adalah pejabat-pejabat yang setia kepada Sribaginda Kaisar, maka pembunuhan itu agaknya dilakukan untuk mendatangkan kekacauan dan melemahkan pemerintah. Mengingat bahwa yang dulu memusuhi pemerintah adalah Pek-lian-kauw dan mengingat pula bahwa pembunuhan tentu dilakukan orang-orang yang lihai, maka kami menduga bahwa yang melakukan adalah orang-orang Pek-lian-kauw.”

Panglima Chang mengangguk-angguk. “Kami semua juga mempunyai dugaan seperti itu. Pek-lian-kauw atau bukan, yang melakukannya tentu mereka yang memusuhi pemerintah dan ingin melemahkan pemerintah dengan membunuhi para pejabat tinggi yang setia. Perkara ini amat gawat sehingga Sribaginda Kaisar mengadakan rapat khusus dan menugaskan saya untuk mencari dan menangkap pembunuhnya.

“Setelah kami selidiki, kami berpendapat bahwa enam orang itu dibunuh oleh tiga orang yang memiliki ilmu berbeda aliran. Hal ini dibuktikan dengan cara tewasnya enam orang itu. Dua orang tewas dengan kepala terpenggal, dua orang lagi tewas dengan dada tertusuk dan tembus sampai punggung, sedangkan yang dua orang lagi tewas dengan kepala hancur isinya tanpa luka di luarnya.

“Kita berurusan dengan orang-orang yang tinggi sekali ilmu kepandaiannya, oleh karena itu kami yang diberi tugas ingin minta bantuan para pendekar yang dulu juga membantu kami menghadapi orang-orang Pek- lian-kauw yang lihai. Bagaimana, nanda Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong, bersediakah ji-wi (Anda berdua) membantu kami?”

“Tentu saja kami siap membantu sekuat kemampuan kami, Paman Panglima,” kata Sim Tek Kun.

“Terima kasih, nanda Sim Tek Kun. Dengan bantuan nanda berdua isteri, kami semakin yakin bahwa akhirnya kita akan dapat mengetahui siapa dalang pembunuhan ini dan kalau kita beruntung, akan dapat menangkap pelaku-pelaku pembunuhan itu. Akan tetapi kami teringat akan Hwe-thian Mo-li. Kalau saja kita dapat minta bantuannya, kiranya pekerjaan ini akan menjadi semakin mudah.

“Barangkali nanda Ong Lian Hong mengetahui, di mana tempat tinggal Hwe-thian Mo-li sekarang? Saya ingin mengutus keponakan kami Chang Hong Bu ini untuk menyampaikan permintaan saya kepadanya untuk membantu.”

Mendengar pertanyaan ini, Ong Lian Hong mengerutkan alisnya dan sinar matanya membayangkan kesedihan. Ia sudah mendengar pengakuan suaminya bahwa Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan dahulu jatuh cinta kepadanya. Biarpun dia tidak membalas cinta Hwe-thian Mo-li namun dia merasa bahwa Nyo Siang Lan jatuh cinta kepadanya tanpa pernah menyatakannya dengan ucapan.

Mendengar ini Lian Hong baru menyadari mengapa sucinya itu sengaja mempermainkan ia dan Tek kun yang telah ditunangkan kepadanya sejak dulu, membuat mereka saling bertanding dan saling mengerti bahwa mereka telah menjadi calon jodoh sejak dulu. Dan mengapa sejak itu sucinya pergi dan tidak pernah menjumpainya atau memberi kabar! Kini, mendengar pertanyaan Panglima Chang, tentu saja ia teringat kepada Nyo Siang Lan dan merasa sedih.

“Paman Panglima, saya sendiri tidak pernah bertemu atau mendengar berita tentang enci Nyo Siang Lan sejak kami bersama-sama menentang orang-orang Pek-lian-kauw itu. Saya pernah melakukan penyelidikan dan mendengar bahwa Ban-hwa-pang di Ban-hwa-kok diserbu dan diambil alih kekuasaan ketuanya oleh seorang gadis yang amat lihai. Mungkin sekali gadis itu adalah Enci Siang Lan, akan tetapi saya tidak berani memastikannya.”

“Ban-hwa-kok (Lembah Selaksa Bunga)? Di manakah itu?” Panglima Chang bertanya, penuh perhatian. “Saya sendiri tidak tahu, Paman ” 07.20. Pemuda Murid Siauw-lim-pay

“Nanti dulu!” Tiba-tiba Sim Tek Kun memotong. “Lembah Selaksa Bunga? Saya pernah mendengar tentang itu, kalau tidak salah, dulu ada Ban-hwa-pang (Perkumpulan Selaksa Bunga) di lembah itu, dan pemimpinnya adalah seorang she (marga) Siangkoan yang amat lihai yang dijului Si Tombak Maut. Lembah Selaksa Bunga itu berada di puncak Ban-hwa-san (Bukit Selaksa Bunga), sebuah di antara bukit-bukit yang menjadi bagian dari Lu-liang-san.”

“Bagus!” kata Panglima Chang girang. “Nah, Hong Bu, engkau sudah mendengar sendiri. Nanda Sim Tek Kun berdua isterinya kami minta bantuannya untuk ikut menyelidiki siapa yang melakukan pembunuhan itu, dan engkau pergilah ke Lu-liang-san, cari Lembah Selaksa Bunga dan temui Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan. Aku akan membuat Surat untuknya. Nah, mari kita pulang, engkau cepat berkemas dan bawa suratku.”

Panglima Chang lalu berpamit kepada Pangeran Sim, putera dan mantunya, dan bersama keponakannya kembali ke gedungnya. Setelah panglima itu pergi, Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong membuat persiapan untuk mulai melakukan penyelidikan tentang pembunuhan-pembunuhan itu.

Chang Hong Bu adalah seorang pemuda yang yatim piatu. Ayahnya, adik Panglima Chang Ku Cing, juga seorang perwira tinggi yang gugur dalam perang melawan pemberontak di utara. Ibunya juga meninggal dunia karena sakit sehingga Chang Hong Bu menjadi yatim piatu. Sejak kecil dia lalu ikut pamannya yaitu Panglima Chang Ku Cing.

Melihat bakat anak itu baik sekali untuk ilmu silat, Panglima Chang lalu mengirimnya ke Siauw-lim-pai untuk belajar ilmu silat. Selama limabelas tahun, sejak berusia sepuluh tahun, Hong Bu digembleng ilmu silat di kuil Siauw-lim-pai. Setelah tamat belajar dan usianya sudah duapuluh lima tahun, dia kembali ke rumah pamannya.

Kini Hong Bu menerima tugas dari pamannya untuk mencari Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan di pegunungan Lu-liang-san. Tentu saja dia merasa senang sekali menerima tugas ini. Setelah tamat dari Siauw-lim-pai dia telah menjadi seorang pendekar muda perguruan silat yang amat terkenal itu.

Tentu saja dia ingin memanfaatkan semua pelajaran yang telah ditekuninya selama limabelas tahun itu untuk bertualang di dunia kang-ouw sebagai seorang pendekar yang menegakkan kebenaran dan keadilan. Akan tetapi kini tugasnya yang utama adalah menemukan Hwe-thian Mo-li agar dapat menyampaikan, surat undangan Panglima Chang. Dari gurunya, yaitu Ci kok Ho-siang yang menjadi wakil Ketua Siauw-lim-pai, dia bukan hanya menerima pelajaran bu (ilmu silat), akan tetapi juga bun (ilmu sastra).

Hong Bu melakukan perjalanan cepat, menghindari segala gangguan dalam perjalanan karena dia harus lebih dulu menunaikan tugas yang diberikan pamannya.

Setelah tiba di kaki pegunungan Lu-liang-san, Hong Bu mulai bertanya-tanya kepada para penduduk dusun- dusun di sekitar pegunungan itu di mana adanya Ban-hwa-san (Bukit Selaksa Bunga). Karena hari telah menjelang senja, dia melewatkan malam itu di sebuah dusun di kaki bukit, karena dia merasa tidak sopan kalau berkunjung ke tempat tinggal orang pada malam hari. Apalagi yang dicarinya adalah seorang gadis.

Dia bermalam di rumah seorang petani tua yang duda dan sudah berusia limapuluh tahun lebih. Dari petani inilah dia mendengar tentang Ban-hwa-pang.

Menurut kakek itu, dahulu, ketika Ban-hwa-pang masih merupakan gerombolan yang dipimpin oleh Si Tombak Maut Siangkoan Leng, tidak ada orang berani tinggal di sekitar kaki bukit itu karena gerombolan Ban-hwa-pang itu terkenal bengis dan kejam. Akan tetapi setelah gerombolan itu dibasmi oleh seorang wanita sakti berjuluk Hwe-thian Mo-li, dibunuhi semua berikut ketuanya, lalu perkumpulan yang tetap bernama Ban-hwa-pang itu kini menjadi perkumpulan yang anggautanya terdiri dari wanita semua dan dipimpin oleh Hwe-thian Mo-li, perkumpulan itu berubah menjadi baik dan tidak pernah ada anggauta perkumpulan itu melakukan gangguan terhadap dusun-dusun di sekitarnya.

Maka mulailah ada penduduk dusun yang pindah ke kaki Bukit Ban-hwa-san yang memiliki tanah subur untuk tinggal dan bertani di situ. Apalagi Ban-hwa-pang kini tidak memungut pajak kepada mereka, bahkan kalau ada yang berani mengganggu penduduk dusun Ban-hwa-pang akan turun tangan memberi hajaran kepada pengacau itu.

Mendengar keterangan ini, hati Chang Hong Bu merasa lega. Jelaslah bahwa orang yang dicarinya, Hwe- thian Mo-li, biarpun julukannya mengerikan, yaitu Iblis Betina Terbang, ternyata bukan orang jahat.

Pada keesokan harinya setelah matahari naik cukup tinggi, barulah Hong Bu mendaki bukit itu. Baru tiba di lereng tengah saja dia sudah merasa kagum bukan main karena lereng itu sudah penuh dengan tanaman bunga beraneka bentuk dan warna, dan harumnya semerbak sejak dari lereng pertama. Ratusan ekor kupu- kupu dengan berbagai macam warna beterbangan seperti menari-nari di atas bunga-bunga itu.

Hwe-thian Mo-li setelah menguasai Ban-hwa-kok, dengan bantuan anak buahnya, memperindah lembah itu dengan menanam lebih banyak bunga lagi. Akan tetapi ia membongkar dan melenyapkan semua perangkap dan jebakan yang dulu dipasang oleh Siangkoan Leng. Bahkan jalan menuju ke puncak juga ia suruh bangun sehingga pendakian ke puncak kini amat mudah dan menyenangkan.

Ketika Chang Hong Bu sedang menikmati pemandangan yang amat indah di lembah itu, tanpa terasa dia sudah mendaki sampai di lereng bawah puncak. Para wanita anggauta Ban-hwa-pang sedang sibuk bekerja di kebun sayur, maka tidak ada yang melihat datangnya pemuda ini.

Ketika Hong Bu tiba di tanah datar di bawah pondok di mana terdapat sebuah beranda bercat merah yang indah, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan putih dan di depannya telah berdiri seorang laki-laki yang berusia sekitar empatpuluh dua tahun, bertubuh sedang dan wajahnya tampan, sinar matanya tajam namun lembut. Baru melihat cara orang itu muncul begitu saja Hong Bu sudah dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Maka dia cepat memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada.

Laki-laki itu adalah Sie Bun Liong atau yang mengaku bernama Bu-beng-cu kepada Hwe-thian Mo-li. Sebetulnya, Bu-beng-cu tidak tinggal di Lembah Selaksa Bunga. Bahkan dia tidak mau sampai terlihat oleh para anggauta Ban-hwa-pang karena dia khawatir kalau-kalau ada anggauta Ban-hwa-pang yang mengenalnya biarpun ketika datang berkunjung kepada adik tirinya, dia datang dengan diam-diam. Akan tetapi karena dia amat memperhatikan keadaan Hwe-thian Mo-li maka dia sering diam-diam mendatangi Lembah Selaksa Bunga untuk melihat-lihat kalau-kalau gadis yang menjadi pusat perhatiannya itu terancam bahaya dan membutuhkan pertolongannya.

Pada pagi hari itu, ketika dia berada di kaki Bukit Ban-hwa-san, dia melihat seorang pemuda mendaki bukit itu. Timbul kecurigaannya. Dia tahu bahwa Hwe-thian Mo-li memiliki banyak musuh karena gadis pendekar ini biasanya bertindak amat keras terhadap orang-orang jahat.

Bahkan adik tirinya, Siangkoan Leng, Ketua Ban-hwa-pang, berikut semua anak buahnya telah dibunuh oleh Hwe-thian Mo-li. Maka kalau kini ada pemuda yang tampak gagah perkasa mendaki Ban-hwa-pang, dia menjadi curiga, mengira pemuda itu tentu memiliki maksud yang tidak baik. Diam-diam dia membayangi Chang Hong Bu dan setelah Hong Bu benar-benar hendak ke puncak, setibanya di lereng bawah puncak, Bu-beng-cu dengan cepat muncul dan menghadangnya.

Di lain pihak, Chang Hong Bu ketika melihat ada seorang laki-laki muncul di situ, dia pun merasa curiga. Menurut keterangan petani tadi, Ban-hwa-pang kini merupakan perkumpulan wanita dan tidak ada laki-laki boleh naik ke puncak atau jelasnya, tempat itu merupakan daerah terlarang bagi pria. Kini di sana ada seorang laki-laki, maka tentu saja dia pun merasa curiga.

Dengan sinar mata tajam penuh selidik Bu-beng-cu bertanya, “Siapakah engkau dan ada keperluan apakah mendaki Ban-hwa-san?”

Hong Bu mengerutkan alisnya. Dia tadi memberi hormat karena orang itu lebih tua daripada dia dan orang itu kini tanpa membalas penghormatannya bertanya seperti menyelidik.

“Seingatku, menurut keterangan orang yang mengetahui, Ban-hwa-pang adalah perkumpulan wanita dan tidak ada pria yang boleh memasuki daerah lembah ini. Kalau yang menyambut kedatanganku dan menegurku seorang wanita, hal itu dapat kumengerti dan aku tentu akan menjelaskan maksud kunjunganku. Akan tetapi yang muncul adalah seorang laki-laki, maka aku pun kiranya berhak untuk bertanya, siapakah engkau dan mengapa engkau seorang laki-laki berada di daerah perkumpulan wanita?” kata Hong Bu sambil memandang tajam.

“Orang muda, engkau kutanya belum menjawab malah berbalik bertanya kepadaku. Siapa aku dan apa urusanku berada di sini tidak ada sangkut pautnya denganmu. Nah, katakan siapa engkau dan apa maumu?”

“Urusanku juga tidak ada sangkut pautnya denganmu. Aku datang untuk bertemu dengan Hwe-thian Mo-li dan aku tidak mempunyai urusan denganmu.”

“Hemm, mau apa engkau mencari Hwe-thian Mo-li?” “Bukan urusanmu!” kata Hong Bu marah. “Kalau begitu, engkau tentu mempunyai niat buruk datang ke tempat ini!” Bu-beng-cu berseru. “Mungkin engkau yang mempunyai niat buruk, bukan aku!” jawab Hong Bu.

“Bocah sombong, cepat engkau pergi dari sini atau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!” kata Bu- beng-cu.

Hong Bu yang masih muda itu menjadi marah juga, dan kecurigaannya bertambah. “Engkau tidak berhak mengusirku dan kalau hendak menggunakan kekerasan, coba saja kalau engkau mampu!”

Bu-beng-cu atau Sie Bun Liong merasa ditantang. Dia memang mencurigai kedatangan Hong Bu, dan ada sedikit rasa cemburu di hatinya. Pemuda itu tampan gagah dan masih muda, bukan tidak mungkin Hwe- thian Mo-li akan tertarik hatinya kalau bertemu dengan pemuda ini, demikian bisikan hatinya yang cemburu!

“Hemm, bocah sombong, pergilah!” Bu-beng-cu mendorong dengan tangan kirinya ke arah Hong Bu. Dorongan mengandung sin-kang (tenaga sakti) yang amat kuat, akan tetapi bukan untuk memukul melainkan untuk mendorong agar pemuda itu terdorong mundur, menjadi gentar dan pergi meninggalkan tempat itu. Angin dorongan yang amat kuat menyambar ke arah Hong Bu.

Akan tetapi menghadapi serangan dorongan ini Hong Bu tidak menjadi gentar. Dia tidak mengelak, bahkan dia lalu mengerahkan tenaga pada tangan kanannya dan menyambut dorongan telapak tangan Bu-beng-cu.

“Wuuuttt desss!!”

Bu-beng-cu terkejut bukan main. Tidak disangkanya sama sekali bahwa pemuda itu mampu menyambut dorongannya dengan tenaga yang cukup besar sehingga tubuh pemuda itu sama sekali tidak terdorong mundur, melainkan hanya tergetar, akan tetapi dia sendiri juga mengalami getaran yang kuat. Ini membuktikan bahwa pemuda itu memiliki sin-kang yang mampu mengimbangi kekuatannya sendiri!

“Bagus! Kiranya engkau memiliki kepandaian? Pantas sikapmu begini sombong!” kata Bu-beng-cu. “Nah, mari kita lihat siapa di antara kita yang lebih unggul!” Dia lalu mulai menyerang dan dua orang itu lalu berkelahi dengan seru.

Setelah bertanding belasan jurus, dengan kaget Bu-beng-cu mengenal ilmu silat Siauw-lim-pai yang aseli dan kokoh kuat. Ternyata pemuda itu seorang murid Siauw-lim-pai yang tingkat kepandaiannya sudah sedemikian tingginya sehingga mampu menandingi dan mengimbanginya!

Dia merasa kagum dan mulai hilang kecurigaannya. Dia tahu benar bahwa murid Siauw-lim-pai biasanya berwatak gagah sebagai seorang pendekar dan rasanya tidak mungkin mempunyai niat jahat.

Pasti dia mempunyai urusan penting dengan Hwe-thian Mo-li dan bukan berniat tidak baik. Akan tetapi setelah mereka bertanding, Bu-beng-cu yang juga suka menguji ilmu silat orang lain, mulai tertarik dan ingin melanjutkan untuk melihat sampai di mana kehebatan pendekar muda Siauw-lim-pai ini. Dia menyerang terus dan kini dia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling ampuh.

Setelah mereka bertanding selama limapuluh jurus, barulah tampak bahwa Hong Bu masih kalah kuat dan dia mulai mencurahkan kepandaiannya untuk bertahan dan melindungi dirinya. Pertahanannya kokoh kuat dan sukar ditembus, merupakan ciri dari ilmu silat Siauw-lim-pai.

Diam-diam Bu-beng-cu menjadi semakin kagum dan dia mulai merasa suka kepada pemuda itu. Dalam keadaan terdesak, pemuda itu tidak mau mencabut pedangnya. Hal ini saja menunjukkan kegagahannya yang tidak mau melawan orang bertangan kosong dengan pedangnya! Seorang pemuda yang gagah perkasa!

Tiba-tiba ada bayangan orang berkelebat dan terdengar bentakan nyaring.

“Penjahat dari mana berani mengacau di sini?” Sinar pedang berkilat menyambar ke arah Hong Bu. Pemuda ini terkejut sekali. Dia cepat melompat ke samping sambil mencabut pedangnya.

Kembali sinar kilat dari pedang di tangan Hwe-thian Mo-li menyambar ke arah lehernya. Hong Bu mengerahkan tenaganya dan menangkis dengan pedangnya.

“Tranggg !!” Bunga api berpijar dan pedang Lui-kong-kiam di tangan Hwe-thian Mo-li terpental.

Sebelum kedua orang itu saling serang, Bu-beng-cu sudah melompat dan melerai. “Tahan pedang! Jangan berkelahi!!” Karena Bu-beng-cu melompat di tengah-tengah, di antara mereka, maka baik Hwe-thian Mo-li maupun Hong Bu cepat melompat ke belakang dan menahan pedang mereka. Mereka kini berdiri saling pandang dan melihat bahwa yang menyerangnya dengan pedang secara hebat tadi adalah seorang gadis yang cantik jelita dan gagah, Hong Bu terkejut.

“Maaf, apakah...... apakah...... Nona yang bernama Hwe-thian Mo-li    ?”

Nyo Siang Lan mengerutkan alisnya dan memandang pemuda itu dengan sinar mata penuh selidik. “Siapa engkau dan mengapa engkau mengacau di sini dan berkelahi dengan Paman Bu-beng-bu?”

Bu-beng-cu segera berkata menengahi, “Nona, kurasa semua ini hanya merupakan salah pengertian belaka. Pemuda ini bertemu denganku di sini dan kami sama-sama saling mencurigai. Setelah bertanding, baru aku tahu bahwa dia ini murid Siauw-lim-pai yang tangguh dan aku tadi hanya ingin menguji kepandaiannya. Dia datang untuk mencarimu, Hwe-thian Mo-li.”

Mendengar ini, Hong Bu menyadari bahwa dia berhadapan dengan gadis yang dicarinya dan bahkan laki- laki gagah itu sama sekali bukan orang jahat, melainkan agaknya masih keluarga dengan Hwe-thian Mo-li yang menyebutnya paman.

Dia cepat menyimpan pedangnya dan mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat kepada mereka berdua.

“Saya Chang Hong Bu mohon maaf sebesarnya kepada Paman dan juga kepadamu, Nona. Seperti dikatakan Paman tadi, semua ini hanya merupakan kesalah pahaman belaka. Sayalah yang bersalah dan mohon maaf.”

Hwe-thian Mo-li dan juga Bu-beng-cu merasa suka kepada pemuda ini yang ternyata selain gagah juga sikapnya sopan. Akan tetapi Nyo Siang Lan masih curiga karena belum tahu apa maksud kedatangan pemuda yang tidak dikenalnya itu ke Ban-hwa-san.

“Paman Bu-beng-cu tadi bilang bahwa engkau datang mencari aku. Padahal aku sama sekali tidak pernah mengenalmu. Ada urusan apakah engkau mencariku?” tanya Siang Lan sambil menatap tajam wajah pemuda itu dan ia pun menyimpan kembali pedang Lui-kong-kiam ke dalam sarung pedangnya.

“Saya datang sebagai utusan Paman Panglima Chang Ku Cing dari kota raja untuk membicarakan urusan yang amat penting dan menyampaikan surat darinya kepadamu, Nona.”

“Ah, jadi engkau adalah utusan dari panglima Chang Ku Cing? Dan engkau pun bermarga Chang, jadi    ”

kata Bu-beng-cu ragu.

“Saya adalah keponakan Panglima Chang Ku Cing,” kata Hong Bu sederhana.

“Hwe-thian Mo-li, kalau begitu, dia ini membawa berita yang teramat penting. Maka, sudah sepatutnya kalau engkau membicarakan urusannya di Lembah Selaksa Bunga. Aku masih mempunyai urusan lain, maafkan, aku pergi dulu!” Setelah berkata demikian, Bu-beng-cu perkelebat dan cepat menuruni lereng itu. Hong Bu memandang dengan kagum sekali.

“Bukan main lihainya Paman itu,” katanya. “Kalau tadi dia bersungguh-sungguh dan tidak banyak mengalah, tentu aku sudah dikalahkannya.”

“Dia itu Paman Bu-beng-cu      sahabat baik kami. Marilah, Chang Kongcu (Tuan Muda Chang), silakan ke

puncak, kita bicara di sana.”

“Baik, Nyo Siocia (Nona Nyo),” kata Hong Bu.

Siang Lan berhenti melangkah dan memandang pemuda itu dengan heran. “Engkau mengenal namaku?”

“Tentu saja, Nona. Namamu Nyo Siang Lan, bukan? Paman Panglima yang memberitahu dan beliau mengetahui namamu dari isteri Saudara Sim Tek Kun.”

“Ah, Lian Hong ” Siang Lan berseru. “Kongcu, bagaimana keadaan adikku Ong Lian Hong?”

“Setahuku, mereka semua itu baik-baik saja. Sebelum ke sini aku diajak Paman Panglima untuk mengunjungi mereka. Paman minta kepada mereka untuk membantu Paman melakukan penyelidikan, dan menanyakan alamatmu. Setelah Paman diberitahu bahwa mungkin engkau berada di sini, Paman lalu mengutus aku untuk mencarimu di sini, Nona.” “Apakah mereka sudah mempunyai putera?”

“Setahuku belum, Nona,” Hong Bu merasa heran melihat gadis itu seolah tidak mempedulikan urusan yang dia bawa dari panglima Chang, melainkan sibuk bertanya tentang Ong Lian Hong dan suaminya. Tentu hubungannya dengan mereka itu baik sekali.

Setelah tiba di bangunan mungil di tengah perkampungan Ban-hwa-pang yang dipenuhi taman-taman bunga serba indah, Hong Bu dipersilakan duduk di sebuah ruangan terbuka di samping rumah Siang Lan. Gadis itu sengaja menerima pemuda itu di ruangan terbuka sehingga tampak dari sekelilingnya karena ia merasa tidak pantas mengadakan pertemuan dengan seorang pemuda asing di tempat tertutup.

Keharuman bunga semerbak memenuhi ruangan itu. Begitu duduk berhadapan kembali Siang Lan menghujani pemuda itu pertanyaan-pertanyaan tentang keadaan Lian Hong dan suaminya!

Akhirnya, Hong Bu mendapat kesempatan untuk menyerahkan surat pamannya kepada Siang Lan. Gadis itu membuka surat dan membacanya. Kemudian ia meletakkan surat di atas meja, memandang kepada Hong Bu dan berkata.

07.21. Dua Hati Mulai Berbicara

“Chang Kongcu, Panglima Chang dalam suratnya minta bantuanku untuk ikut mencari pembunuh yang melakukan pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi di kota raja. Dan dia menulis bahwa engkau dapat memberi penjelasan kepadaku tentang semua peristiwa yang terjadi di kota raja. Sebetulnya, peristiwa penting apakah yang terjadi sehingga Chang Goan-swe (Jenderal Chang) sampai minta bantuanku?”

Hong Bu lalu bercerita tentang pembunuhan-pembunuhan itu dengan jelas. “Pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi itu merupakan peristiwa gawat sehingga menarik perhatian Sribaginda sendiri. Paman Panglima mendapat tugas untuk mencari dan menemukan pembunuh-pembunuh itu.”

“Kenapa begitu penting dan apakah ada banyak pembunuh?”

“Menurut penyelidikan, enam orang yang terbunuh itu adalah para pejabat tinggi yang setia kepada Sribaginda Kaisar sehingga pembunuh ini berbau pemberontakan atau setidaknya ada usaha untuk melemahkan pemerintah maka para pejabat tinggi yang setia dibunuh. Menurut perkiraan, yang membunuh enam orang pejabat itu ada tiga orang karena kematian mereka dengan tiga cara yang berbeda.”

Pemuda itu lalu menceritakan secara rinci penyebab kematian enam orang itu. Dua orang mati dengan leher terpenggal, dua orang dengan dada tertembus dan berlubang, sedangkan yang dua lagi mati dengan isi kepala hancur tanpa ada luka.

Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan mengerutkan alisnya. “Hemm, kalau begitu pembunuhan-pembunuhan itu ditujukan kepada para pembantu setia Sribaginda Kaisar dan dilakukan oleh orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Aku tidak akan merasa heran kalau kemudian diketahui bahwa pembunuh-pembunuh itu adalah orang-orang Pek-lian-kauw. Perkumpulan itulah yang biasa memberontak dan mereka memiliki banyak orang pandai.”

“Paman Panglima juga berpendapat demikian, Nona. Akan tetapi kalau mereka itu orang-orang Pek-lian- kauw, bagaimana mereka dapat bergerak bebas di kota raja? Mereka tidak mungkin dapat bersembunyi di rumah-rumah penginapan karena semua sudah diperiksa dan digeledah.”

Tiba-tiba terdengar suara gaduh, lalu mereka berdua dikejutkan suara yang bergema nyaring, datangnya dari arah pintu perkampungan itu.

“Hwe-thian Mo-li! Keluarlah engkau untuk menerima pembalasan kami!”

Dengan gerakan ringan dan cepat sekali Siang Lan melompat keluar, diikuti oleh Hong Bu. Mereka segera melihat dua orang kakek berpakaian seperti pendeta yang diiringkan sepuluh orang anak buah mereka.

Hwe-thian Mo-li terkejut karena ia mengenal dua orang kakek itu dengan baik. Mereka adalah Hoat Hwa Cin-jin, tokoh Pek-lian-kauw dan yang lain adalah Hwa Hwa Hoat-su yang merupakan datuk sakti dari Pek- lian-kauw. Tentu saja sepuluh orang di belakang mereka itu adalah para anggauta Pek-lian-kauw. Melihat mereka, Hwe-thian Mo-li segera berseru kepada para wanita anggauta Ban-hwa-pang yang sudah berlarian menuju ke situ. “Kalian semua mundur dan jangan turut campur!”

Ia melarang anak buahnya untuk ikut menghadapi dua orang tokoh Pek-lian-kauw dan anak buahnya karena maklum bahwa anak buahnya yang belum lama ia latih ilmu silat, bukanlah tandingan orang-orang Pek-lian-kauw sehingga kalau mereka maju melawan, sama saja dengan bunuh diri!

“Siapa mereka, Nona?” bisik Hong Bu yang belum banyak pengalaman.

“Mereka adalah tokoh-tokoh Pek-lian-kauw,” jawab Siang Lan dan dengan tenang dan tabah ia melangkah maju menghampiri duabelas orang itu, diikuti Hong Bu yang terkejut dan waspada ketika mendengar bahwa mereka itu adalah orang-orang Pek-lian-kauw.

Kini dua orang muda itu sudah berhadapan dengan duabelas orang Pek-lian-kauw itu. Hwe-thian Mo-li segera menegur dengan suara nyaring.

“Kiranya Hwa Hwa Hoat-su dan Hoat Hwa Cin-jin! Hemm, kalian berdua pemberontak-pemberontak Pek- lian-kauw, datang ke Ban-hwa-kok ini mau apakah?”

“Iblis betina Hwe-thian Mo-li! Dosamu telah bertumpuk-tumpuk! Engkau telah membunuh Leng Kok Ho- siang yang menjadi utusan kami, juga engkau telah membunuh Cia Kun Tosu dan Cin Kok Tosu para keponakan murid kami, bahkan engkau telah membunuh Siangkoan Leng sahabat kami dan merampas Lembah Selaksa Bunga! Dosamu terlalu besar maka kami datang untuk menghukummu. Serahkan nyawamu untuk menebus dosa-dosamu!” kata Hwa Hwa Hoat-su dengan marah.

Hwe-thian Mo-li tersenyum mengejek. “Pendeta palsu! Kalian ini memakai pakaian pendeta dan menggunakan nama pendeta, semua itu hanya seperti serigala berbulu domba! Siapa tidak tahu bahwa Pek-lian-kauw adalah pemberontak dan penjahat yang berkedok sebagai pejuang, menipu rakyat jelata?

“Kalian ini memutar balikkan fakta. Aku membunuh Leng Kok Ho-siang karena dia jahat dan curang, membunuh guruku Pat-jiu Kiam-ong, juga dia menjadi utusan pemberontak Pek-lian-kauw. Dia sudah patut dihukum mati sampai seratus kali!

“Aku memang membunuh Cia Kun Tosu dan Cin Kok Tosu, orang-orang Pek-lian-kauw yang bejat akhlaknya itu. Mereka itu keponakan muridmu? Pantas! Mereka itu tukang pemerkosa wanita dan sayang aku hanya dapat membunuh mereka satu kali! Juga si keparat Siangkoan Leng, dia sudah sepantasnya dibunuh! Dia itu sahabatmu, ya? Memang sudah sepatutnya, anjing bersahabat dengan serigala dan buaya!”

Hong Bu sendiri sampai terkejut mendengar ucapan Siang Lan yang demikian galak dan berani! Sungguh keberanian luar biasa, memaki-maki dua orang datuk Pek-lian-kauw seperti itu!

Dapat dibayangkan betapa panas dan marahnya hati dua orang datuk Pek-lian-kauw itu. Tak mereka sangka bahwa Hwe-thian Mo-li bukan saja lihai ilmu silatnya, ternyata mulutnya lebih lihai lagi berdebat sehingga mereka merasa tidak mampu menandingi ketajaman mulut yang pandai melontarkan kata-kata amat menghina dan menyakitkan hati itu.

“Perempuan iblis keparat!” Hwa Hwa Hoat-su melemparkan kebutannya ke atas dan kebutan itu terbang meluncur ke arah Siang Lan dan menyerang dengan dahsyatnya!

Namun, dengan tenang saja Siang Lan bergerak dan sinar pedangnya berkilat menangkis. Kebutan yang dikendalikan dengan kekuatan sihir itu mengelak, agaknya Hwa Hwa Hoat-su jerih untuk mengadu kebutannya dengan pedang lawan yang berkilat.

Kemudian, pendeta ahli sihir itu sudah menerjang ke depan, membantu kebutannya dengan serangan pedangnya yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sakti sepenuhnya sehingga pedang itu berubah menjadi sinar yang menyambar ke arah leher Siang Lan. Gadis ini cepat memutar pedangnya menangkis dan karena ia sudah mengenal kelihaian pendeta ini, ia pun menangkis dengan pengerahan tenaga sakti sepenuhnya.

“Trangggg......!!” Bunga api yang besar berpijar menyilauan mata dan Hwa Hwa Hoat-su terkejut bukan main.

Dia pernah bertanding melawan gadis ini dan kini dia mendapat kenyataan bahwa tenaga sakti gadis ini agaknya jauh lebih kuat dibandingkan sekitar satu-dua tahun yang lalu. Kemudian belum hilang kagetnya karena pedangnya terpental dan tangannya tergetar hebat, Siang Lan sudah membalas dengan serangan- serangan yang bertubi, hebat dan dahsyat. Biarpun Hwa Hwa Hoat-su kini menangkap kebutannya dengan tangan kiri, lalu melawan dengan sepasang senjatanya, namun tetap saja dia terdesak oleh Siang Lan yang mengamuk bagaikan seekor naga betina!! Akan tetapi, Hwa Hwa Hoat-su adalah datuk Pek-lian-kauw yang berilmu tinggi dan dia merupakan utusan dari Pek-lian-kauw pusat untuk memimpin gerakan Pek-lian-kauw yang diam-diam bersekutu dengan Pangeran Bouw Ji Kong di kota raja. Maka tidak mudah bagi Siang Lan untuk mengalahkannya dan kini keduanya saling serang dengan sengit dan mati-matian.

Melihat betapa Hwa Hwa Hoat-su belum dapat mendesak gadis itu, Hoat Hwa Cin-jin segera mencabut siang-to (sepasang golok) dan melompat hendak mengeroyok. Akan tetapi tiba-tiba Chang Hong Bu melompat dan menghadapinya dengan pedang di tangan!

Hoat Hwa Cin-jin tadinya memandang rendah pemuda yang datang menyambut bersama Siang Lan. Dia mengira hanya Hwe-thian Mo-li saja yang merupakan lawan tangguh. Maka melihat pemuda itu kini berani menghadapinya dengan pedang di tangan, dia membentak.

“Bocah tolol, apakah engkau sudah bosan hidup berani menghadang Hoat Hwa Cin-jin?” Bentakannya ini mengandung tenaga sihir untuk menjatuhkan nyali lawan sehingga terdengar menggetar seperti auman seekor harimau. Namun Hong Bu tersenyum.

“Hoat Hwa Cin-jin, engkaulah yang tidak akan selamat karena kejahatanmu!”

“Mampus kau!” bentak Hoat Hwa Cinjin yang cepat menyerang dengan sepasang goloknya.

Hong Bu mengelebatkan pedangnya menangkis lalu balas menyerang sehingga dua orang ini sudah berkelahi mati-matian, saling serang dengan hebat karena mereka mengeluarkan jurus-jurus maut yang amat berbahaya bagi lawan. Setelah lewat belasan jurus, Hoat Hwa Cin-jin merasa kecelik karena ternyata pemuda lawannya itu tangguh bukan main?

Hoat Hwa Cin-jin kini maklum bahwa dia dan rekannya menghadapi lawan-lawan yang tangguh dan agaknya akan sukar untuk dapat mengalahkan, apalagi membunuh mereka. Maka dia lalu memberi aba-aba kepada sepuluh orang anak buahnya.

Mendapat isyarat aba-aba ini, sepuluh orang itu lalu mencabut golok masing-masing dan mereka mulai maju mengeroyok. Lima orang mengeroyok Siang Lan dan lima orang lagi mengeroyok Hong Bu.

Setelah mereka mengeroyok, baru tahulah Siang Lan dan Hong Bu bahwa sepuluh orang itu bukan anak buah Pek-lian-kauw biasa, melainkan orang-orang Pek-lian-kauw yang sudah memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi. Gerakan mereka cepat, tenaga mereka juga kuat dan ilmu golok mereka lihai sekali.

Kini Siang Lan dan Hong Bu mulai terdesak. Siang Lan tidak berani menyuruh anak buahnya yang menonton dari jarak jauh untuk mengeroyok, karena dara perkasa ini maklum bahwa anak buahnya masih terlalu lemah untuk bertanding melawan orang-orang Pek-lian-kauw yang lihai itu.

Bantuan anak buahnya tidak ada gunanya baginya, bahkan akan mengambil banyak korban menewaskan para anak buahnya. Maka tidak ada jalan lain baginya kecuali melakukan perlawanan dengan nekat.

Demikian pula Hong Bu. Biarpun terdesak, pemuda ini memiliki jurus-jurus pertahanan yang amat kokoh sehingga tidak mudah bagi para pengeroyok untuk melukai atau merobohkannya. Akan tetapi tentu saja sekarang dia tidak ada kesempatan untuk membalas serangan mereka yang datang bertubi-tubi itu. Demikian juga dengan Siang Lan. Walaupun ia lebih kuat dan keadaannya tidak separah Hong Bu karena ia masih mampu membalas, namun tetap saja ia terdesak hebat.

Pada saat yang amat gawat bagi Siang Lan dan Hong Bu itu, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan Bu- beng-cu sudah berada di situ. Tangannya memegang sebatang ranting kayu dan dia menggunakan ranting itu untuk mengamuk.

Mula-mula dia menerjang ke arah para pengeroyok Siang Lan dan dalam waktu beberapa jurus saja dia telah membuat lima orang anak buah Pek-lian-kauw itu terpaksa melepaskan golok karena tangan mereka terluka oleh tusukan ranting yang ternyata keras seperti baja! Setelah membuat lima orang pengeroyok Siang Lan itu tidak mampu lagi mengeroyok, dia lalu menerjang ke arah para pengeroyok Hong Bu. Seperti juga tadi, rantingnya menyambar-nyambar dan lima orang itu berteriak kesakitan dan berlompatan menjauh?

Melihat kejadian ini, dua orang pendeta Pek-lian-kauw itu menjadi terkejut dan jerih, apalagi ketika mereka mengenal laki-laki yang membantu Hwe-thian Mo-li ini sebagai orang yang dulu juga pernah membantu Iblis Betina Terbang itu ketika mereka berdua menyerangnya. Laki-laki yang bernama Bu-beng-cu! Maka, kedua orang itu maklum bahwa kalau mereka melanjutkan perkelahian, mereka berdua tentu akan celaka.

Dua orang pendeta Pek-lian-kauw itu berseru nyaring dan mereka membanting dua buah benda peledak. Terdengar dua kali ledakan keras dan tampak asap hitam mengepul tebal memenuhi tempat itu.

Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan, Chang Hong Bu, dan Bu-beng-cu segera berlompatan menjauhi asap karena mereka maklum bahwa bukan tidak mungkin asap dari bahan peledak itu mengandung racun karena Pek-lian-kauw memang terkenal pandai menggunakan alat peledak dengan asap beracun.

Setelah asap menghilang, dua belas orang penyerang itu sudah menghilang. Siang Lan hendak mengejar bersama Hong Bu, akan tetapi Bu-beng-cu mencegah mereka.

“Musuh yang sudah kalah dan melarikan diri tidak perlu dikejar.”

Siang Lan memandang Bu-beng-cu dengan sinar mata bersyukur. Betapa baiknya orang ini, pikirnya. Bukan hanya mau melatih ilmu silat kepadanya sehingga tingkatnya naik dengan cepat dan hal ini dapat ia rasakan ketika ia melawan Hwa Hwa Hoat-su tadi.

Dahulu, satu tahun setengah yang lalu, ketika ia melawan kakek datuk Pek-lian-kauw itu, ia merasa kewalahan dan terdesak. Akan tetapi tadi ia sama sekali tidak merasa berat walaupun juga tidak mudah mengalahkan kakek itu. Ia baru repot ketika datang lima orang yang mengeroyoknya. Selain menggemblengnya dengan ilmu silat tinggi, juga Bu-beng-cu beberapa kali menolong dan menyelamatkannya dari bahaya!

“Paman, aku berterima kasih sekali atas pertolonganmu. Engkau selalu muncul pada saat yang tepat. Terima kasih, Paman!” Sinar mata gadis itu jelas membayangkan kekaguman dan rasa terima kasih yang besar.

Hong Bu juga kagum sekali kepada laki-laki itu. Ketika dia bertanding melawan Bu-beng-cu yang hendak mengujinya, dia juga sudah menduga bahwa orang ini memiliki ilmu silat yang lihai, akan tetapi tidak disangkanya setelah benar-benar bertanding, tadi dia menyaksikan betapa hanya dengan sebatang ranting Bu-beng-cu dapat membuat lima orang yang mengeroyoknya dan lima orang lagi yang mengeroyok Siang Lan, dalam beberapa gebrakan saja mundur semua! Padahal dia merasakan sendiri betapa lima orang itu juga cukup kuat dengan ilmu golok mereka yang lihai.

“Saya juga mengucapkan terima kasih, Paman Bu-beng-cu. Kalau tidak ada Paman yang datang menolong, mungkin saya sudah celaka di tangan para pengeroyok itu,” kata Hong Bu sambil memberi hormat.

“Ah, tidak perlu berterima kasih, ilmu pedangmu sendiri juga cukup lihai,” kata Bu-beng-cu sederhana. “Nah, sekarang aku mau turun dari sini menyelesaikan urusanku sendiri.” Setetah berkata demikian, Bu-beng-cu membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah pergi.

“Nanti dulu, Paman!” kata Siang Lan. “Sore ini aku ingin mengundangmu makan di sini. Mari kita makan sama-sama, Paman, untuk merayakan kemenangan kita menghadapi orang-orang Pek-lian-kauw tadi.”

Bu-beng-cu menggelengkan kepalanya. “Terima kasih, Nona. Biar lain kali saja. Sekarang aku ingin memeriksa keadaan di Lembah Selaksa Bunga ini karena aku khawatir kalau-kalau pihak Pek-lian-kauw masih penasaran dan lain waktu akan datang untuk membalas kekalahannya pada Ban-hwa-pang.”

“Apa yang hendak Paman lakukan?”

“Sebuah tempat yang menjadi pusat perkumpulan merupakan markas atau asrama atau juga benteng. Harus diperkuat, kalau perlu dengan perangkap dan jebakan agar tidak mudah diserbu orang luar. Aku akan merencanakan dan membuatkan sarana pertahanan itu dan untuk itu aku harus membuat rencana dan gambarnya. Nah, aku pergi dulu, Hwe¬thian Mo-li!” Setelah berkata demikian, Bu-beng-cu sudah berkelebat pergi.

Hong Bu memandang kagum, kemudian menghela napas dan berkata.

“Bukan main! Hebat sekali paman Bu-beng-cu itu. Dia seorang pendekar yang gagah perkasa, budiman, dan aneh.”

“Memang Paman Bu-beng-cu memiliki watak yang aneh, Kongcu ”

“Ah, sungguh tidak enak mendengar engkau menyebutku kongcu, Nona. Setelah kita berkenalan dan menjadi sahabat, bahkan tadi telah bersama menghadapi musuh dan mungkin juga akan bersama menghadapi musuh bila membantu Paman Panglima di kota raja, haruskah engkau bersikap sungkan dan menyebutku Kongcu?”

“Engkau ini aneh dan mau menang sendiri!” Siang Lan menegur akan tetapi sambil tersenyum manis. “Engkau sendiri menyebut aku Siocia (Nona), mengapa aku tidak boleh menyebutmu Kongcu (Tuan Muda)?”

“Baiklah, aku yang bersalah. Nah, kalau engkau tidak keberatan, aku akan menyebutmu moi-moi (Adik perempuan). Bagaimana pendapatmu, Lan-moi (Adik Lan)?”

Siang Lan tersenyum. “Baik, dan aku akan menyebutmu Koko (Kakak laki-laki). Begitu kehendakmu, Bu-ko (Kakak Bu)?”

Hong Bu tersenyum dan jantungnya berdebar. Sejak pertama dia sudah tertarik dan kagum sekali kepada Siang Lan. Kini dia semakin kagum dan timbul perasaan suka yang mendalam, yang membuat jantungnya berdebar. Belum pernah dia merasakan hal seperti ini.

Dalam usianya yang duapuluh lima tahun itu Hong Bu belum pernah bergaul dekat dengan wanita. Akan tetapi dia maklum bahwa kehadirannya di situ merupakan hal yang melanggar kesopanan karena lembah Selaksa Bunga merupakan perkampungan wanita.

“Lan-moi, engkau baik sekali. Sekarang kukira sudah tiba saatnya bagiku untuk pulang ke kota raja. Akan tetapi aku memerlukan jawabanmu untuk kusampaikan kepada Paman Panglima.”

“Oh, ya      akan tetapi tunggu dulu, Bu-ko. Tadi aku mengajak Paman Bu-beng-cu makan, dia tidak mau.

Barang kali engkau mau makan bersamaku sore ini? Pula, hari sudah sore, sebentar lagi malam tiba. Bagaimana kalau engkau bermalam di sini semalam, besok pagi-pagi baru turun bukit dan kembali ke kota raja? Tentang jawabanku kepada Pamanmu, tentu saja aku suka membantunya dan aku pasti akan pergi ke sana mengunjungi adikku Ong Lian Hong.”

Hong Bu girang bukan main mendapat tawaran makan dan bermalam di situ. “Akan tetapi, Lan-moi......

apakah     apakah aku tidak melanggar kesopanan kalau aku bermalam di Lembah Selaksa Bunga?”

Siang Lan tersenyum dan hatinya merasa senang. Pemuda ini selain tampan gagah dan ilmu silatnya tinggi, juga sopan. Jarang terdapat pemuda seperti ini.

“Aih, Bu-ko! Melanggar kesopanan atau tidak itu tergantung dan pikiran dan sikap seseorang. Bukankah begitu? Aku mengundangmu karena engkau tamuku, utusan Panglima Chang Ku Cing yang terhormat, karena hari hampir malam dan tidak semestinya engkau turun bukit dalam keadaan gelap. Siapa berani menganggap kita melanggar kesopanan?”

“Terima kasih, Lan-moi. Engkau sungguh bijaksana dan baik sekali.”

Tanpa ragu lagi Hong Bu lalu mandi, makan, dan bermalam di situ. Dia merasa senang karena para anggauta Ban-hwa-pang juga terdiri dari para wanita yang bersikap gagah dan sopan. Dia tahu bahwa mereka belum memiliki ilmu silat yang tinggi karena belum lama Hwe-thian Mo-li memimpin mereka. Akan tetapi dia percaya bahwa perkumpulan Lembah Selaksa Bunga ini kelak akan menjadi perkumpulan yang besar.

08.22. Pengeroyokan Pengikut Pek-lian-kauw

Ketika dia diajak makan malam di ruangan makan, muncul seorang gadis manis yang kulitnya putih mulus, bertubuh tinggi ramping dengan sepasang mata lebar. Wajahnya yang bulat dan manis itu seolah mengandung kesedihan yang tersembunyi.

“Bu-ko, mari kuperkenalkan. Ini adalah adik angkatku, namanya Kui Li Ai. Li Ai, ini adalah Kakak Chang Hong Bu, murid Siauw-lim-pai yang malam ini menjadi tamu kita.”

Li Ai memberi hormat dengan gaya yang lembut dan sopan. “Chang Taihiap (Pendekar Chang),” katanya sopan dan lirih.

“Kui Siocia, saya senang mendapat kehormatan berkenalan denganmu,” kata Hong Bu yang merasa heran karena sikap gadis ini bukan seperti gadis gunung, melainkan penuh tata susila seperti gadis bangsawan! “Aih, kalian tidak perlu bersungkan-sungkan,” kata Siang Lan. “Bu-ko, Li Ai ini adalah adik angkatku sendiri, sebut saja namanya. Dan Li Ai, tidak perlu menyebut Taihiap (Pendekar Besar) kepada Bu-ko, sebut saja Bu-ko seperti aku.”

“Siauw-moi, (Adik Muda), maafkan kelancanganku, aku hanya menaati usul Lan-moi,” kata Hong Bu.

Setelah mereka bertiga duduk, dua orang wanita anggauta Ban-hwa-pang segera menghidangkan makanan. Mereka makan minum tanpa banyak bicara karena bagaimanapun juga, Hong Bu merasa sungkan juga makan minum bersama dua orang gadis yang demikian cantik. Baru sekarang dia mengalami hal seperti ini dan membuatnya menjadi canggung sekali.

Dia melihat di bawah sinar lampu betapa Kui Li Ai memang cantik manis dan lembut sekali. Akan tetapi tetap saja dia lebih kagum melihat Siang Lan yang lebih matang, juga penuh wibawa dan semangat. Dia merasa betapa dia jatuh cinta kepada Hwe-thian Mo-li!

Selesai makan, Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan mengajak Kui Li Ai yang sekarang telah menjadi adik angkatnya dan Chang Hong Bu yang menjadi tamu mereka untuk duduk bercakap-cakap di serambi depan. Bulan purnama tampak menjenguk melalui jendela, menambah semarak cahaya lampu gantung di serambi itu. Mereka bertiga duduk mengelilingi sebuah meja bundar yang besar.

“Ah, aku tadi lupa menceritakan keadaan kalian masing-masing. Sekarang aku teringat bahwa sesungguhnya kalian berdua bukanlah asing sama sekali satu terhadap yang lain karena sama-sama berasal dari kota raja dan sama-sama menjadi keluarga perwira tinggi yang setia dan berjasa terhadap Kerajaan! Bu-ko, ketahuilah bahwa adikku Li Ai ini adalah puteri dari mendiang Kui Ciang-kun (Perwira Kui), seorang perwira yang gagah perkasa dan setia, dan kalau tidak salah, dia dahulu merupakan tangan kanan atau orang kepercayaan dari panglima Chang Ku Cing. Tentu engkau pernah mengenalnya.”

Chang Hong Bu mengingat-ingat dan menggelengkan kepalanya, lalu berkata. Diam-diam dia berkata kepada dirinya sendiri bahwa tidak aneh kalau tadi dia melihat sikap gadis itu begitu anggun seperti sikap seorang gadis bangsawan. Kiranya puteri seorang perwira tinggi!

“Maaf, aku tidak pernah mendapat kehormatan mengenal Kui Ciang-kun seperti yang kusebutkan tadi, Lan- moi. Ketahuilah bahwa sejak berusia sepuluh tahun aku telah meninggalkan kota raja, oleh Paman aku dikirim ke Siauw-lim-pai untuk mempelajari ilmu selama limabelas tahun. Kemudian baru beberapa minggu aku kembali ke kota raja dan langsung menerima tugas mengunjungimu ini. Akan tetapi aku merasa girang mendengar bahwa Adik Li Ai adalah puteri seorang perwira tinggi di kota raja.”

Tentu saja dalam hatinya dia merasa heran mengapa puteri seorang perwira tinggi sekarang tinggal di Lembah Selaksa Bunga, menjadi adik angkat Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan. Akan tetapi keheranan ini tidak dia tanyakan karena dia khawatir akan menyinggung perasaan orang.

“Li Ai, ketahuilah bahwa Kakak Chang Hong Bu ini adalah keponakan dari panglima Chang Ku Cing.”

Tiba-tiba muka gadis itu menjadi merah sekali dan hati Hong Bu terkejut bukan main ketika dia memandang, dia melihat betapa sepasang mata indah yang memandangnya itu mengeluarkan kilatan sinar berapi penuh kemarahan dan kebencian!

Li Ai bangkit berdiri dan berkata kepada Siang Lan. “Enci Lan, maaf, aku masuk kamar dulu, kepalaku agak pusing.” Tanpa menanti jawaban dan sama sekali tidak menoleh kepada Hong Bu, Li Ai lalu meninggalkan serambi itu dengan cepat.

Siang Lan menghela napas panjang. Hong Bu merasakan sesuatu yang tidak enak, maka dia segera bertanya. “Lan-moi, mungkin keliru penglihatanku, akan tetapi aku melihat agaknya Adik Li Ai berubah sikap dan menjadi marah ketika mendengar bahwa aku adalah keponakan Paman Panglima Chang. Benarkah dugaanku itu?”

Siang Lan nnenganggu-anggukan kepalanya, dan menghela napas lagi.

“Kasihan Adikku itu, aku tidak dapat menyalahkannya kalau ia bersikap seperti itu, walaupun tadinya aku mengira ia sudah mulai melupakannya. Ia agaknya masih menganggap bahwa Panglima Chang yang menyebabkan kematian ayahnya dan agaknya sukar ia untuk dapat melupakan hal itu, maka mendengar bahwa engkau keponakan Panglima Chang, ia merasa tidak enak dan pergi.”