-->

Lembah Selaksa Bunga Jilid 05

Jilid 05

“Ha-ha-ha, bagus! Akan tetapi tetap saja aku tidak sudi bertanding di sini. Kalau engkau bukan jago kandang, hayo kejar aku dan kita bertanding mengadu nyawa di luar perkampungan ini!”

Setelah berkata demikian, Thian-te Mo-ong lalu melayang turun dari atas wuwungan langsung saja dia berlari cepat sekali keluar dari perkampungan Ban-hwa-pang.

“Bangsat busuk, engkau hendak lari ke mana?” Siang Lan memaki dan cepat melakukan pengejaran, mengerahkan seluruh kekuatan gin-kangnya yang kini telah meningkat jauh.

Li Ai dan para anak buah Ban-hwa-pang hanya melihat dua bayangan berkelebat cepat ke arah pintu gerbang lalu lenyap. Li Ai yang mengenal watak baik Siang Lan melarang para anggauta Ban-hwa-pang untuk melakukan pengejaran dan hanya menanti saja di situ dengan hati tegang. Mereka hanya duduk- duduk bergerombol dan tidak ada semangat lagi untuk berlatih. Mereka semua maklum bahwa orang bertopeng itu adalah musuh ketua mereka dan kini tentu ketua mereka sedang bertanding mati-matian dengan musuh yang mereka tahu amat lihai itu. Siang Lan mengerahkan seluruh kecepatan larinya melakukan pengejaran. Akan tetapi musuh besarnya tetap berada di depannya, dalam jarak sekitar tiga tombak. Ternyata kecepatan lari mereka seimbang dan Thian-te Mo-ong juga tidak mampu memperjauh jarak itu. Akhirnya Siang Lan yang marah sekali memungut dua buah batu sebesar kepalannya dan setelah memindahkan pedang ke tangan kirinya, ia melontarkan dua buah batu itu ke arah kepala dan punggung Thian-te Mo-ong.

Thian-te Mo-ong ternyata memiliki pendengaran yang amat tajam. Biarpun ditimpuk dari belakang, dia mampu mendengar desir angin timpukan itu dan cepat melompat ke samping sehingga dua buah batu itu tidak mengenai tubuhnya. Dia berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadapi Siang Lan sambil tertawa mengejek.

“Ha-ha-ha-ha! Sebaiknya di sini kita mengadu nyawa, Hwe-thian Mo-li. Jangan mengira bahwa dengan kecepatan dan sambitan batumu itu aku menjadi gentar!”

“Jahanam busuk Thian-te Mo-ong, bersiapkah untuk mampus di tanganku.”

Siang Lan yang sudah tak dapat menahan kesabarannya lalu menerjang dan menyerang dengan buas dan dahsyat sekali karena ia menggunakan jurus yang paling ampuh. Ia maklum akan kelihaian lawan maka ia pun begitu menyerang mengerahkan semua tenaganya!

Menghadapi serangan maut itu, Thian-te Mo-ong cepat mengelak dan dia melompat ke atas, menyambar sebatang ranting pohon lalu melawan pedang Lu-kong-kiam dengan ranting sepanjang lengan itu! Mereka saling serang dengan hebatnya karena Siang Lan berusaha mati-matian untuk merobohkan dan membunuh musuh besar yang amat dibencinya ini. Ia sudah bersumpah di depan Bu-beng-cu bahwa ia tidak akan membunuh orang lain kecuali Thian-te Mo-ong, maka seluruh kebencian yang berada dalam hatinya terhadap golongan sesat kini ditimpakan seluruhnya kepada Thian-te Mo-ong.

“Singgg......!” Pedang Lui-kong-kiam meluncur dan berdesing membuat gerakan melingkar-lingkar amat dahsyatnya. Gadis itu menggunakan jurus Liong-ong-lo-hai (Raja Naga Kacau Lautan). Lui-kong-kiam berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan mengeluarkan bunyi berdesing-desing menyilauan mata dan menyakitkan telinga.

“Bagus!” Thian-te Mo-ong yang lihai itu memuji karena memang jurus Liong-ong-lo-hai ciptaan mendiang Ong Han Cu yang dijului Pat-jiu Kiam-ong (Raja Pedang Tangan Delapan) itu dahsyat bukan main. Thian-te Mo-ong yang memang memiliki tingkat ilmu silat yang sudah tinggi sekali hanya merasa kagum akan tetapi sama sekali tidak merasa gentar. Dia menghindarkan diri dari serangan maut itu dengan jurus Sian-jin- hoan-eng (Dewa Menukar Bayangan), kemudian membalas dengan totokan-totokan berbahaya dengan ujung rantingnya.

Mereka bertanding tanpa ada orang lain yang mengetahuinya itu berlangsung selama limapuluh jurus lebih dan mereka saling serang tanpa ada yang tampak terdesak. Siang Lan merasa penasaran sekali. Selama setengah tahun lebih ia sudah mendapatkan kemajuan pesat dalam ilmu meringankan tubuh sehingga gerakannya jauh lebih cepat dibandingkan dahulu sebelum digembleng Bu-beng-cu.

Dulu saja ia sudah terkenal memiliki gin-kang yang hebat. Gerakannya amat cepat sehingga dunia kang- ouw memberinya julukan Iblis Betina Terbang. Setelah kini gin-kangnya meningkat banyak, tetap saja ia tidak mampu mendesak musuh besarnya.

Dalam pertandingan itu, ia melihat jelas bahwa lawannya juga dapat bergerak cepat sekali dan agaknya dalam ilmu gin-kang, Thian-te Mo-ong tidak kalah dan dapat mengimbanginya! Gin-kang mereka seimbang, akan tetapi ia harus mengakui bahwa dalam hal tenaga sakti ia masih kalah kuat, bahkan jauh kalah. Hal ini terbukti dari senjata mereka.

Ia sendiri memegang Lui-kong-kiam (Pedang Kilat), sebuah pedang pusaka yang terbuat dari baja langka, biasanya mudah mematahkan senjata-senjata lawan dari besi atau baja. Akan tetapi sekarang, menghadapi sebatang ranting di tangan musuhnya, pedang itu sama sekali tidak berdaya. Apalagi mematahkannya, bahkan kalau pedangnya dan ranting itu bertemu keras, telapak tangannya terasa pedas dan pedih. Hal ini membuktikan bahwa tenaga sakti yang tersalur dalam ranting sungguh amat kuat!

Biarpun ia mulai ragu apakah ia akan mampu mengalahkan dan membunuh musuh besar ini, Siang Lan tidak menjadi putus asa dan ia mengamuk seperti harimau terluka.

Tiba-tiba Thian-te Mo-ong berseru, “Hwe-thian Mo-li, kalau hanya sebegini kepandaianmu, jangan harap engkau akan dapat mengalahkan aku, ha-ha-ha!” Tiba-tiba orang berkedok itu berseru nyaring. “Haiiittt    !” Tangan kirinya, dengan telapak tangan terbuka didorongkan ke arah Siang Lan. Gadis ini cepat

mendorong dengan tangan kiri menyambut pukulan jarak jauh itu.

“Wuuuttt...... desss......!!” Tubuh Siang Lan terpental sekitar dua meter ke belakang, akan tetapi ia dapat berjungkir balik membuat salto sehingga tubuhnya tidak sampai terbanting. Ia terkejut dan semakin marah. Dengan nekat ia menyerang lagi dengan pedangnya.

“Hyaaaahh     !” Pedang itu menyambar ke arah leher Thian-te Mo-ong. Orang berkedok itu menggerakkan

rantingnya menyambut.

“Tuk!” Pedang bertemu ranting dan melekat!

Ketika Siang Lan mencoba untuk menarik pedangnya, ternyata pedang itu tertahan dan melekat pada ranting dan pada saat itu, kembali Thian-te Mo-ong menyerang dengan dorongan tangan kirinya. Siang Lan terkejut dan menyambut dengan tangan kirinya pula.

“Plakk    !” Tubuh Siang Lan terjengkang dan pedangnya terlepas dari pegangannya.

Ia terbanting roboh dan menggulingkan tubuhnya, lalu melompat berdiri lagi. Dadanya terasa sesak dan pedangnya sudah berada di tangan kiri Thian-te Mo-ong. Hampir saja Siang Lan menjerit dan menangis saking marah, kecewa, dan malu. Ia menjadi semakin nekat dan dengan tangan kosong ia menerjang lagi!

“Hemm, belajarlah lagi selama sepuluh tahun, baru engkau akan mampu menandingiku, Hwe-thian Mo-li!” kata orang bertopeng itu dan dia melemparkan pedang Lui-kong-kiam ke atas tanah di depan Siang Lan. Pedang menancap sampai dalam dan dia melompat ke belakang sambil tertawa.

“Ha-ha-ha, setahun lagi aku akan datang menemuimu dan kita boleh bertanding lagi, kalau kau berani!” Kemudian tubuhnya berkelebat dan lenyap dari situ.

Siang Lan yang maklum bahwa ia tidak mampu mengejar karena dalam dadanya masih terasa nyeri, menjatuhkan diri di dekat pedangnya dan ia menangis! Marah, benci, kecewa, malu, dan penasaran mengadu dalam hatinya, membuatnya merasa sedih sekali dan ia menangis mengguguk seperti anak kecil sambil memukul-mukul tanah dengan kedua tangannya.

“Jahanam Thian-te Mo-ong, kubunuh kau...... kubunuh kau...., kubunuh kau......!” Ia berteriak-teriak dan menangis lagi tersedu-sedu. Ia tidak terluka, hanya benturan tenaga dalam tadi mengguncang isi dadanya karena ia kalah kuat.

Jelaslah bahwa ia kalah karena tenaga sin-kangnya masih jauh dibandingkan lawannya. Tanpa memiliki tenaga sakti yang lebih kuat, tidak mungkin ia dapat menang melawan Thian-te Mo-ong. Akan tetapi sekali ini ia tidak putus asa walaupun ia menyesal dan kecewa sekali. Ia bahkan semakin bersemangat. Ia harus memperdalam ilmunya lagi sampai ia mampu mengalahkan dan membunuh musuh besarnya.

Sementara itu, agak jauh dari situ, Thian-te Mo-ong bersembunyi di balik batang pohon besar dan mengintai ke arah Siang Lan yang menangis tersedu-sedu sambil memukuli tanah. Dia menghela napas berulang- ulang, lalu melepaskan topengnya dan menyembunyikan topeng kayu itu di balik bajunya.

Kini tampak wajah Bu-beng-cu, wajah yang tampak muram dan sedih ketika dia memandang ke arah Siang Lan. Sepasang matanya dikejap-kejapkan dan dua tetes air mata melompat keluar dari pelupuk matanya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu perlahan-lahan berbisik kepada diri sendiri.

“Aku harus membangkitkan semangatnya, harus mengembalikan harga dirinya. Suatu hari ia akan mengalahkan aku dan membunuhku. Tidak ada lain jalan untuk membangkitkan semangatnya dan memulihkan harga dirinya.”

Dia terus mengamati Hwe-thian Mo-li sampai gadis itu menghentikan tangisnya dan pergi dari tempat itu, kembali ke perkampungan Ban-hwa-pang.

Setelah Siang Lan pergi, barulah Bu-beng-cu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa dipakai oleh Bu-beng-cu. Pakaian yang longgar dengan jubah lebar yang tadi dipakai Thian-te Mo-ong dia gulung dan dia lalu pergi perlahan-lahan meninggalkan tempat itu.

Setibanya di perkampungan Ban-hwa-pang, Siang Lan disambut oleh Li Ai dan para anggauta perkumpulan itu. Melihat wajah Siang Lan yang muram, para anggauta tidak ada yang berani bertanya walaupun pandang mata mereka kepada Siang Lan mengandung keinginan tahu tentang laki-laki bertopeng yang dikejar ketua mereka tadi. Siang Lan diam saja dan terus memasuki rumah, diikuti oleh Li Ai. Gadis ini juga dapat melihat keadaan maka ia tidak bertanya apa-apa ketika Siang Lan datang. Akan tetapi setelah mereka berdua memasuki kamar, Li Ai bertanya dengan hati tegang.

“Bagaimana, Enci? Berhasilkah engkau mengejar penjahat bertopeng tadi? Engkau tentu telah dapat membunuhnya, bukan?”

Pertanyaan itu dirasakan Siang Lan seperti menusuk hatinya. Ia menahan tangisnya dan menggelengkan kepalanya.

“Ia masih terlalu kuat bagiku, Li Ai. Aku harus memperdalam lagi ilmuku sampai akhirnya aku mampu mengalahkannya dan membalas dendam.”

Melihat wajah Hwe-thian Mo-li yang muram dan mendengar bahwa gadis itu gagal membunuh musuh besarnya, Li Ai tidak berani bertanya lagi.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Siang Lan sudah keluar dari perkampungan menuju ke lereng di mana Bu-beng-cu tinggal dalam guha. Ketika ia tiba di situ, ia melihat Bu-beng-cu sudah duduk di depan guha, di atas batu datar, bersila dan kedua matanya terpejam.

“Paman Bu-beng-cu ” Sian Lan menghampiri dan berlutut di depan gurunya itu.

Bu-beng-cu membuka matanya sejenak dia memandang kepada wajah gadis itu. Kemudian, dia berkata suaranya terdengar lembut mesra.

“Hwe-thian Mo-li, engkau datang ?”

Mendegar suara laki-laki itu, suara yang menggetar dan penuh keakraban, bahkan terdengar begitu penuh perhatian dan mesra, Hwe-thian Mo-li tiba-tiba tak dapat menahan isaknya. Ia menangis, menutupi muka dengan kedua tangannya. Biarpun ia menahan suara tangisnya, namun ia terisak, kedua pundaknya bergoyang-goyang dan air mata menetes melalui celah-celah jari kedua tangannya.

Bu-beng-cu tentu saja maklum akan penderitaan hati gadis itu. Dia memandang penuh keharuan dan rasanya ingin dia merangkul dan menghibur gadis itu. Akan tetapi ada perasaan lega dan girang bahwa Hwe-thian Mo-li tidak putus asa dan kedatangan gadis itu kepadanya menunjukkan bahwa ia tentu ingin minta bimbingan lebih lanjut dalam ilmu silat.

Dia membiarkan gadis itu menumpahkan perasaannya dalam tangis. Setelah tangis Siang Lan mereda, barulah dia berkata dengan lembut.

“Hemm, inikah gadis perkasa yang disebut Hwe-thian Mo-li? Sekarang menjadi seorang gadis cengeng seperti kanak-kanak? Nona, bukan begini sikap seorang gagah. Hapuslah air matamu, hentikan tangismu dan kita bicarakan permasalahan apa yang membuat engkau sampai menangis seperti ini. Tidak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan dan diatasi!”

Mendengar ucapan itu, bangkit semangat Siang Lan. Ia mengusap air mata di pipi dengan kedua tangannya, lalu memandang Bu-beng-cu dengan mata agak kemerahan.

“Paman Bu-beng-cu, aku datang untuk sekali lagi mohon pertolonganmu.”

Bu-beng-cu mengamati wajah itu dengan tajam, lalu berkata. “Engkau tentu tahu bahwa aku selalu siap untuk membantumu, Nona. Katakan, bantuan apa yang dapat kulakukan untukmu?”

“Paman, kemarin musuh besarku datang memenuhi janjinya. Kami bertanding, aku memang dapat mengimbangi kecepatannya. Akan tetapi akhirnya aku kalah, Paman. Aku masih jauh kalah kuat dalam sin- kang (tenaga sakti) dan juga ketika dia bersenjata sebatang ranting, dia memainkan ranting itu dengan ilmu pedang yang aneh dan aku pun tidak mampu menandingi senjatanya yang hanya ranting pohon itu. Paman, hanya engkaulah yang dapat menolongku. Bimbinglah aku agar ilmu pedang dan tenaga sin-kangku meningkat sehingga kelak aku akan mampu mengalahkannya. Aku malu, Paman, dan rasanya aku hampir putus asa ”

“Hwe-thian Mo-li, tidak ada kata ‘putus asa’ bagi seorang gagah! Kalau engkau sungguh-sungguh mau belajar dengan tekun, bukan hal mustahil engkau akan mampu mengalahkan musuh yang bagaimana tangguhpun. Akan tetapi, Nona, benar-benarkah engkau hendak membunuh orang yang satu itu? Mengapa kau mendendam kepadanya? Dendam apakah itu yang membuat engkau ingin membunuhnya?” Mendapat pertanyaan ini, Hwe-thian Mo-li menundukkan mukanya yang berubah merah. Apa yang harus dikatakannya? Bagaimana mungkin ia menceritakan tentang aib yang dideritanya kepada orang yang ia kagumi dan yang telah menolongku berulang kali ini? Ia takut kalau-kalau Bu-beng-cu akan berubah pandangan terhadap dirinya, akan memandang rendah dan menganggap dirinya kotor. Bukankah Bong Kin yang tadinya mencinta Li Ai juga berubah pandangan dan menganggap gadis itu tidak pantas menjadi isterinya setelah Li Ai mengaku bahwa ia telah diperkosa orang?

Baru sekali ini seumur hidupnya Hwe-thi mo-li merasa takut kalau-kalau dipandang rendah dan kotor oleh seorang laki-laki. Hal ini adalah karena ia menganggap Bu-beng-cu sebagai gurunya, sebagai pembimbingnya dan sebagai satu-satunya pria yang dikaguminya, terutama sekali sebagai sumber harapannya. Akan tetapi, iapun tidak mau berbohong kepada Bu-beng-cu.

Ia harus jujur dan terbuka, tidak peduli bagaimana nanti penilaian Bu-beng-cu terhadap dirinya! Ia yang mengajarkan Li Ai untuk berterus terang mengaku bahwa ia bukan gadis lagi. Apakah sekarang ia sendiri tidak berani mengakui hal yang sama?

“Paman, Thian-te Mo-ong adalah musuh besarku. Aku mempunyai dendam sakit hati sebesar gunung sedalam lautan kepadanya dan aku harus dapat membalas dendam ini dengan membunuhnya!”

“Hemm, Hwe-thian Mo-li, dendam sakit hati itu hanya akan merusak hatimu sendiri, bagaikan api yang akan membakar perasaanmu. Dosa apakah yang dilakukan Thian-te Mo-ong maka engkau demikian membencinya dan hendak membunuhnya?”

Bu-beng-cu kini menatap tajam wajah Siang Lan. Pandang mata mereka bertemu dan dengan nekat tanpa menundukkan pandang matanya Siang Lan menjawab.

“Dia telah memperkosaku!”

Bu-beng-cu yang mengelakkan pandang mata itu. Dia menunduk. “Hemm, begitukah ?” katanya lirih.

“Paman Bu-beng-cu, setelah Paman mendengar aib yang menimpa diriku, apakah Paman masih mau menolongku? Apakah Paman masih mau mengajarkan ilmu untuk memperkuat tenaga sakti dan memperdalam ilmu pedangku?”

“Kenapa engkau bertanya begitu?”

“Karena...... kukira...... Paman akan memandang rendah diriku, menganggap aku kotor dan      tidak patut

menerima pelajaran dari paman    ”

“Ah, mengapa engkau berpikir demikian, Nona? Peristiwa itu terjadi bukan karena engkau sengaja, bukan kesalahanmu, engkau tidak berdaya. Aku sama sekali tidak memandang rendah padamu, Hwe-thian Mo-li. Aku aku merasa kasihan padamu dan tentu saja aku mau memberikan seluruh kepandaianku kepadamu

kalau hal itu ada artinya bagimu.”

“Ada artinya    ? Setelah terjadi peristiwa itu, aku tadinya ingin bunuh diri saja, Paman. Akan tetapi setelah

aku mengetahui siapa pemerkosa itu, aku bersumpah untuk membalas dendam dan membunuhnya. Kemudian aku berjumpa denganmu, Paman, dan muncul harapan baru dalam hatiku. Aku tidak ingin mati dulu sebelum dapat membunuh jahanam itu dan agaknya di dunia ini hanya Paman yang akan mampu membantu aku memenuhi sumpahku.”

06.16. Persekongkolan Jahat Pangeran Bouw

“Aku pasti akan membantumu, Hwe-thian Mo-li. Akan tetapi mendengar pengakuanmu bahwa engkau hendak membunuh diri, membuat aku merasa ngeri. Apa artinya bagiku bersusah payah mengajarkan semua ilmuku kepadamu, kalau akhirnya engkau hanya akan membunuh diri? Bunuh diri merupakan perbuatan yang paling rendah dan merupakan dosa besar, di samping memperlihatkan sifat pengecut.

“Kita hidup ini bukan atas kemauan kita sendiri, melainkan ada yang menghidupkan. Karena itu, kita tidak berhak menghentikan kehidupan kita. Yang berhak menghentikan hanyalah Dia yang telah menghidupkan kita. “Bunuh diri hanya dilakukan oleh seorang pengecut yang tidak berani menghadapi kehidupan. Apakah engkau kelak ingin disebut seorang pengecut yang berdosa besar, berdosa dan melakukan sesuatu yang sama sekali bukan menjadi hakmu? Kalau begitu, aku tidak mau mengajarkan apa-apa lagi kepadamu!”

“Paman Bu-beng-cu, setelah aku bertemu denganmu dan menerima pelajaranmu, juga mendengarkan semua nasihatmu, aku menyadari bahwa bunuh diri bukan merupakan perbuatan orang gagah. Baik, Paman, aku akan menambahkan janji dan sumpahku. Pertama, aku tidak akan membunuh diri dan kedua, aku tidak akan sembarangan membunuh orang kalau tidak terpaksa untuk membela diri. Akan tetapi hanya satu kecualinya, yaitu aku pasti akan membunuh Thian-te Mo-ong!”

Bu-beng-cu menghela napas lega.

“Sekarang hatiku lega, Hwe-thian Mo-li, karena aku yakin bahwa kelak engkau benar-benar akan menjadi seorang pendekar wanita yang bijaksana. Nah, marilah kita mulai berlatih. Akan tetapi, untuk melatih agar sin-kangmu benar-benar kuat, membutuhkan waktu lama, sedikitnya satu tahun. Dan untuk mengembangkan dan mematangkan ilmu pedangmu, juga membutuhkan waktu sedikitnya satu tahun.”

“Aku akan belajar dengan tekun, Paman, berapa lama pun sampai akhirnya akan dapat mengalahkan musuh besarku yang amat lihai itu.”

Demikianlah, mulai hari itu, Siang Lan dengan amat tekun dan penuh semangat mulai menerima gemblengan lagi dari Bu-beng-cu yang mengajarkan cara menghimpun dan memperkuat tenaga sakti dengan sungguh-sungguh. Seperti juga dulu, Siang Lan datang ke lereng itu setiap pagi dan pulang setelah tengah hari. Waktu yang tersisa ia pergunakan untuk mengajarkan ilmu silat kepada Li Ai yang juga memperoleh banyak kemajuan. Juga para anggauta Ban-hwa-pang tekun mempelajari ilmu silat.

Pada waktu itu, sekitar tahun 1602, Dinasti Beng semakin kehilangan pamornya. Hal ini terjadi karena banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan dari rakyat di daerah-daerah yang merasa tidak puas dengan pemerintah. Waktu itu yang menjadi kaisar adalah Kaisar Wan Li (1572-162O) yang sudah berusia sekitar limapuluh tahun.

Dapat dibilang bahwa seluruh pejabat pemerintah, dari para Thai-kam (Orang Kebiri), pejabat tinggi sampai yang paling rendah, hampir tidak ada yang jujur. Semua melakukan kecurangan, korupsi dan pemerasan terhadap rakyat, berlumba-lumba untuk memperkaya diri sendiri. Keadilan hanya digembar gemborkan belaka oleh para pejabat. Kesejahteraan rakyat juga hanya digambarkan sebagai mimpi, namun kenyatanya yang sejahtera, bahkan jauh lebih daripada sejahtera, adalah para pejabat dari yang rendah, terutama yang tinggi.

Para pejabat hidup bermewah-mewah, memborong tanah sampai beratus hektar bersekutu dengan para pedagang hartawan sehingga mereka hidup berlebihan. Rakyat kecil sama sekali tidak pernah merasakan apa yang digembar-gemborkan para pembesar tentang kemakmuran. Mereka hidup serba kekurangan, masih ditekan lagi oleh para pembesar daerah yang bersikap seolah menjadi raja di daerah mereka. Para petani diwajibkan memberi sumbangan dengan ancaman hukuman kalau menolak. Penindasan dan pemerasan terjadi di mana-mana sehingga rakyat mulai bersikap tidak setia terhadap pemerintah.

Masih untung bagi kerajaan dinasti Beng bahwa pada saat kerajaan itu tidak populer lagi di mata rakyat dan di mana pemberontakan-pemberontakan terjadi di utara dan barat, pemerintah mempunyai dua orang menteri yang setia dan bijaksana. Dua orang menteri itulah yang seolah merupakan tiang penyangga sehingga pemerintah Kerajaan Beng tidak sampai ambruk.

Yang pertama adalah menteri Yang Ting Ho, menteri yang menjadi penasihat Kaisar Wan Li. Dengan adanya Menteri Yang Ting Ho, kekuasaan para Thai-kam pejabat sipil dapat dikekang karena setidaknya mereka takut kepada Menteri Yang Ting Ho yang terkenal jujur, setia dan pemberani. Kaisar yang lemah itu menaruh rasa hormat yang mendalam terhadap Menteri Yang Ting Ho sehingga semua nasihat Menteri Yang masih dipercaya dan dipatuhi kaisar.

Yang kedua adalah menteri Chang Ku Cing yang menjadi panglima besar, menguasai seluruh bala tentara Kerajaan Beng. Panglima yang berusia limapuluh tahun lebih ini bertubuh tinggi tegap, gagah, memelihara kumis jenggot yang pendek rapi. Dia seorang jantan yang jujur dan setia, berani memberantas segala kemunafikan dan keburuan para pembesar yang korup.

Dengan adanya dua orang menteri ini, keadaan di kota raja tampak tenteram. Kalau ada kerusuhan, hal itu terjadi di daerah yang jauh dari kota raja. Panglima Chang Ku Cing selalu siap dengan pasukannya untuk menghancurkan setiap pemberontakan yang terjadi di daerah kota raja. Adapun urusan pemerintah sipil, dengan adanya Menteri Yang, di kota raja dapat dilaksanakan dengan tertib dan teratur. Para pejabat hanya dapat melakukan kegiatan korup mereka secara hati-hati sekali karena sekali saja ketahuan oleh menteri Yang, mereka pasti dituntut.

Karena dua orang menteri ini merupakan penghalang bagi para pembesar yang suka menyalahgunakan kekuasaan mereka untuk mengumpulkan kekayaan sebesar-besarnya, maka diam-diam mereka lalu bersekutu dan mencari seorang yang mereka anggap memiliki cukup kemampuan dan kekuasaan untuk menghadapi dua orang menteri itu.

Orang yang mereka pilih ini adalah Pangeran Bouw Ji Kong, adik tiri Kaisar Wan Li. Pangeran Bouw ini beribu seorang puteri kepala suku Hui yang diambil selir oleh Kaisar. Sebagai putera selir, tentu saja dia tidak mewarisi tahta kerajaan yang kemudian jatuh ke tangan Pangeran Mahkota yang kini menjadi Kaisar Wan Li.

Biarpun tidak berani berterang, diam-diam Pangeran Bouw Ji Kong menaruh rasa iri kepada Kaisar Wan Li. Kaisar Wan Li juga memberi kedudukan kepada adik tirinya ini sebagai penasihat kaisar di bidang hubungan dengan suku-suku bangsa yang berada di luar daerah Kerajaan Beng. Kedudukan ini cukup tinggi dan karena itu Pangeran Bouw Ji Kong cukup berpengaruh. Bahkan dia berani mengatur kebijaksanaan para pembesar daerah-daerah perbatasan.

Ketika para pembesar dan hartawan yang sudah bergabung dengan para Thai-kam di istana itu mendekatinya, tentu saja dia menerima dengan senang. Bagi pangeran Bouw Ji Kong, semakin banyak orang yang mendukungnya, semakin baik karena bagaimanapun juga, dia sering mengharapkan suatu saat dapat menggantikan kedudukan kakaknya sebagai kaisar!

Hubungannya dengan para pembesar dan hartawan ini membuat istana tempat tinggal Pangeran Bouw dibangun dan amat indah, menyaingi istana kaisar sendiri! Pangeran Bouw Ji Kong melihat betapa banyaknya pembesar yang mendukungnya, menjadi semakin ambisius untuk dapat menguasai tahta kerajaan.

Untuk memperkuat kedudukannya, maka diam-diam dia mengadakan kontak dengan suku-suku bangsa di utara, terutama dengan suku bangsa ibunya, yaitu suku Hui dan dengan bangsa Mancu! Ada beberapa orang perwira tinggi yang menjadi pendukung Pangeran Bouw, di samping banyak pembesar sipil.

Tentu saja mereka semua mengetahui akan ambisi pangeran Bouw untuk berusaha menggulingkan Kaisar Wan Li dan merampas kedudukannya sebagai kaisar. Mereka itu mendukungnya, dengan janji mendapat imbalan pangkat tinggi kelak kalau usaha pemberontakan itu berhasil.

Selain itu, juga Pangeran Bouw mempunyai pasukan pengawal sendiri yang cukup kuat. Pasukan pengawal yang terdiri dari kurang lebih seratus orang ini merupakan pasukan perajurit yang terlatih dan rata-rata memiliki ilmu silat cukup tangguh.

Mereka pun mengenakan seragam yang megah, dengan ciri khas, yaitu topi berwarna kuning. Di kota raja pasukan pengawal Pangeran Bouw ini dikenal sebagai Pasukan Topi Kuning!

Yang diserahi pimpinan pasukan ini, juga yang melatih para perajurit pengawal itu dengan ilmu silat andalan tujuh orang tokoh kang-ouw yang amat terkenal di dunia persilatan. Mereka bertujuh saudara seperguruan itu di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Kang-lam Jit-sian (Tujuh Dewa dari Kang-lam). Julukan ini sedikit banyak mendatangkan kejumawaan dalam hati mereka dan mereka merasa seolah menjadi datuk tanpa tanding, sakti seperti dewa-dewa!

Tujuh jagoan ini dahulunya merupakan murid murid Thian-san-pai, akan tetapi mereka juga mempelajari berbagai ilmu silat dari aliran lain sehingga mereka tidak lagi menggunakan nama Thian-san-pai sebagai pusat perguruan mereka. Karena kesombongan mereka, maka para pimpinan Thian-san-pai menyatakan bahwa mereka bertujuh tidak diakui lagi menjadi murid dan segala sepak terjang mereka bukan tanggung jawab perguruan itu.

Kang-lam Jit-sian terdiri dari tujuh orang laki-laki yang sampai saat itu belum berkeluarga walaupun usia mereka sudah setengah tua. Yang pertama bernama Ji Gan, berusia limapuluh tahun, bertubuh tinggi besar dengan muka persegi penuh berewok. Senjata andalannya adalah sebuah tombak berkepala naga. Orang kedua bernama Lui Kok, berusia empatpuluh delapan tahun, tubuhnya gemuk pendek tampak bundar, mukanya yang bulat itu tampak kekanak-kanakan, akan tetapi dia ini tidak boleh dipandang ringan karena senjata andalannya berupa golok besar dan berat amat berbahaya.

Yang ketiga bernama Pui Song, tinggi besar bermuka hitam seperti arang dan senjata andalannya adalah siang-kiam (sepasang pedang). Yang keempat bernama Pui Seng, adik dari Pui Song, tinggi kurus dengan muka pucat dan senjatanya juga sepasang pedang. Pui Song berusia empatpuluh tujuh tahun sedangkan adiknya, Pui Seng, berusia empatpuluh lima tahun.

Kemudian yang kelima bernama Lo Kwan, usianya empatpuluh tiga tahun, bertubuh sedang mukanya berbentuk mirip monyet dengan hidung pesek dan bibir tebal, senjatanya adalah siang-to (sepasang golok). Orang keenam berusia empatpuluh dua tahun bertubuh sedang dan mukanya tidak lebih baik dari Si muka monyet Lo Kwan karena To Pan ini kulit mukanya penuh lubang-lubang burik atau bopeng (bekas penyakit cacar).

Orang terakhir atau yang ketujuh berusia empatpuluh tahun, bertubuh sedang dan dia inilah yang paling enak dipandang di antara mereka bertujuh karena Gu Mo Ek ini yang berkulit putih bersih memiliki wajah yang tampan. Senjata andalannya juga sebatang pedang.

Dengan adanya Kang-lam Jit-sian ini maka Pasukan Topi Kuning merupakan pasukan pengawal yang amat kuat karena para anggautanya dilatih oleh mereka. Juga pasukan ini mengenakan pakai seragam yang mewah gemerlapan, hingga tampak gagah dan mentereng mengalahkan pasukan pengawal Kim-i-wi (Pengawal Baju Emas) yang berada di istana kaisar!

Pangeran Bouw Ji Kong maklum benar bahwa kedudukan kakak tirinya, Kaisar Wan Li, sesungguhnya rapuh dengan adanya pemberontakan-pemberontakan di daerah barat dan utara. Akan tetapi berkat kebijaksanaan dua orang menteri Chang Ku Cing dan Yang Ting Ho, maka pemerintah masih kuat.

Karena itu, setelah mengadakan perundingan rahasia dengan para sekutunya, Pangeran Bouw memutuskan bahwa untuk mengawali langkah pertama, yang terpenting harus lebih dulu melenyapkan kekuatan yang mendukung kaisar. Mereka yang setia kepada Panglima Chang Ku Cing dan Menteri Yang Ting Ho, haruslah dilenyapkan sebelum kedua orang menteri itu yang mendapat giliran. Setelah mereka semua lenyap, maka akan mudah menggulingkan kaisar Wan Li dari kedudukannya dan merampas singgasana!

Pada suatu malam yang gelap dan sunyi karena langit masih tertutup mendung tebal dan agaknya hujan sore tadi masih terancam hujan susulan, dua sosok bayangan orang berkelebat cepat sehingga kalau ada yang melihatnya tentu tidak akan mengira bahwa yang berkelebat itu adalah manusia. Dua bayangan itu dengan kegesitan luar biasa telah berhasil melewati pagar manusia Pasukan Topi Kuning yang menjaga di sekeliling istana Pangeran Bong! Mereka berdua melayang ke atas wuwungan tanpa ada yang mengetahui.

Sementara itu, di ruangan dalam, sebuah ruangan luas yang dirahasiakan dalam istana itu. Pangeran Bouw Ji Kong duduk di dalam ruangan itu, di kepala meja panjang dan belasan orang duduk di sekeliling meja menghadapnya.

Pangeran Bouw Ji Kong berusia sekitar empatpuluh lima tahun. Tubuhnya tinggi dengan perut gendut, wajahnya berwibawa dan memiliki garis-garis yang menunjukkan kekerasan hatinya. Pakaiannya mentereng dengan sulaman benang emas, seperti pakaian kaisar saja. Di pinggang kirinya tergantung sebatang pedang.

Enambelas orang yang duduk menghadapinya itu terdiri dari tujuh Kang-lam Jit-sian dan sembilan orang pembesar sipil dan militer. Sembilan orang itulah yahg merupakan para pembesar di kota raja yang mendukung Pangeran Bouw Ji Kong. Sebetulnya terdapat lebih banyak lagi, namun yang diundang berkumpul pada malam hari itu hanyalah para pendukung yang berpangkat tinggi.

Sejak tadi mereka bercakap-cakap membicarakan rencana Pangeran Bouw, akan tetapi bukan merupakan rapat karena mereka semua masih menanti datangnya orang-orang yang mereka anggap penting sekali. Kehadiran orang-orang itu ditunggu sejak tadi oleh Pangeran Bouw Ji Kong.

Agaknya Pangeran Bouw merasa tidak sabar karena malam semakin larut dan mereka yang dinanti-nanti belum juga muncul. Dia memandang ke arah seorang perwira tinggi yang hadir di situ lalu menegur.

“Su-goanswe (Jenderal Su), mana mereka yang engkau laporkan kepada kami akan datang hadir? Mengapa sampai sekarang mereka belum juga muncul?”

Su Lok atau Jenderal Su yang bertubuh tinggi besar dan memelihara kumis tikus dan jenggot panjang itu memberi hormat lalu menjawab.

“Harap Pangeran bersabar. Saya merasa yakin bahwa mereka pasti akan hadir karena kedua pihak itu telah memberi kepastian kepada saya. Agar tidak mencolok, maka mereka tentu datang dengan diam-diam.” “Ahh, jangan-jangan mereka itu ketahuan dan tertangkap!” kata seorang pembesar sipil dengan wajah tegang dan gelisah. Kalau sampai persekutuan mereka diketahui karena tertangkapnya utusan dari luar itu, tentu mereka semua akan celaka.

Jenderal Su Lok Ti mengerutkan alisnya kepada pembesar yang mengatakan kekhawatirannya itu, akan tetapi dia tidak ingin ribut berbantahan dengan seorang rekan. Dia berkata lagi kepada Pangeran Bouw.

“Harap Pangeran tidak khawatir. Pihak utara dan selatan pasti mengirim utusan-utusan yang berkepandaian tinggi sekali sehingga tidak mungkin mereka dapat tertangkap. Saya kira sebaiknya Paduka mulai dengan rapat ini, menjelaskan rencana Paduka kepada kami semua. Nanti kalau para utusan itu datang, dapat dijelaskan kepada mereka keputusannya.”

Semua orang menyetujui usul ini dan Pangeran Bouw mengangguk.

“Baiklah kalau begitu. Seperti yang kita semua ketahui, pendukung Kaisar yang merupakan penghalang besar bagi kita adalah menteri Yang Ting Ho dan Panglima besar Chang Ku Cing yang diikuti beberapa orang pembesar yang setia kepada mereka. Sekarang yang ingin kita bicarakan, bagaimana kita harus menanggulangi dan menyingkirkan penghalang-penghalang itu. Kalau ada yang mempunyai usul atau saran yang baik, katakanlah.”

Seorang yang berpakaian perwira tinggi berkata penuh semangat. “Pangeran, sebaiknya kita langsung saja mencabut akar yang menjadi penghalang itu. Kita bunuh saja Yang Ting Ho dan Chang Ku Cing!”

Semua orang terkejut mendengar saran yang radikal itu. Pangeran Bouw mengerutkan alisnya, lalu menggelengkan kepalanya.

“Saran itu menuju ke sasaran pokok, namun tidak mungkin dilakukan. Ingat, mereka berdua merupakan orang penting yang dekat kaisar dan mereka mempunyai banyak bawahan yang setia kepada mereka. Amat sukar untuk dapat melenyapkan mereka karena mereka mempunyai pengawal yang kuat. Andai kata kita dapat membunuh mereka pun, tentu akan menimbulkan kegemparan dan kita dapat dicurigai. Akan berbahaya kalau kita ketahuan sebelum kedudukan kaisar menjadi lemah.

“Menurut kami,  akan lebih baik kalau kita berusaha melemahkan kedudukan kedua orang penting itu dengan jalan diam-diam membinasakan para pengikut mereka yang setia. Kematian pembesar lain tentu tidak akan menimbulkan banyak kegemparan.”

“Pangeran, saya mempunyai saran yang kiranya lebih baik dan lebih aman,” kata seorang pembesar sipil yang usianya sudah enampuluh tahun lebih.

“Kita tentu masih ingat akan kematian Panglima Kui Seng yang membunuh diri di depan Panglima besar Chang Ku Cing. Semua orang tahu bahwa mendiang Panglima Kui Seng adalah pembantu utama yang setia kepada Panglima besar Chang. Bahkan sudah membuat banyak jasa. Akan tetapi panglima besar Chang mendesaknya karena demi menolong puterinya, Panglima Kui telah membebaskan tawanan dari penjara.

“Nah, peristiwa itu tentu mendatangkan perasaan tidak senang dan penasaran dalam hati para perwira anak buah Panglima besar Chang. Kesempatan ini kita pergunakan untuk membujuk mereka agar meninggalkan Panglima besar Chang dan mendukung gerakan kita. Demikianlah, kalau mereka semua meninggalkan Panglima besar Chang, berarti kedudukan mereka menjadi lemah dan mudah bagi kita untuk menyingkirkan mereka.”

Pangeran Bouw mengangguk-angguk dan sepasang matanya bersinar gembira.

“Bagus sekali saran Ciok-taijin (Pembesar Ciok) itu. Baik, kita mencoba untuk membujuk mereka dan kalau ada yang menolak, baru kita bunuh mereka yang menolak ajakan kita. Nah, siapa yang akan melaksanakan pembasmian mereka yang tidak mau bekerja sama dengan kita? Pekerjaan ini harus dilakukan dengan hati- hati jangan sampai ketahuan.”

“Pangeran, saya yang akan mengatur pembasmian mereka itu!” kata Jenderal Su Lok Ti.

“Wah, itu terlalu berbahaya!” cela seorang pejabat tinggi lainnya. “Kalau Su-goanswe yang mengatur, lalu ketahuan, berarti rahasia kita semua terbongkar.”

“Tidak akan ada yang dapat mengetahui!” bantah Jenderal Su yang berwatak keras.

Terjadi perbantahan antara mereka yang hadir, ada yang pro Su-goanswe akan tetapi ada pula yang anti. Akhirnya Pangeran Bouw mengangkat tangan memberi isyarat dan semua orang terdiam. “Kita harus bertindak hati-hati. Memang sebaiknya kalau usaha pembasmi pihak musuh itu dilakukan oleh sekutu kita yang datang dari luar. Selain mereka mempunyai banyak orang sakti, juga seandainya mereka tertangkap, istana tentu akan menganggap penyerangan sebagai tindakan para pemberontak di luar daerah itu dan sama sekali tidak akan mencurigai kita,” kata Pangeran Bouw Ji Kong.

“Akan tetapi bagaimana kalau mereka kemudian mengaku tentang persekutuan mereka dengan kita, Pangeran?” tanya seorang di antara para perwira tinggi yang berada di situ.

06.17. Kekecewaan Putera Pangeran Bouw

“Mereka tidak akan mengaku, dan andaikata mereka mengaku, Kaisar tidak akan percaya. Buktinya tidak ada dan kaisar pasti akan lebih percaya kepadaku daripada mereka. Sudahlah, jangan khawatir. Sekarang sudah kita tentukan. Kita akan membujuk para pendukung Panglima besar Chang dengan matinya Panglima Kui sebagai alasan. Kalau bujukan itu telah dilaksanakan, maka siapa di antara mereka yang tidak mau bekerja sama, akan kita bunuh satu demi satu dan yang melaksanakan adalah orang-orang dari suku Mancu, suku Hui, dan dari Pek-lian-kauw.”

“Akan tetapi, apakah mereka sanggup melaksanakan tugas berat itu?” tanya seorang pembesar sipil.

“Ha-ha-ha, siapa yang menyangsikan kesanggupan dan kemampuan kami?” tiba-tiba terdengar suara yang berlogat asing dan tiba-tiba berkelebat dua sosok bayangan dan tahu-tahu di dalam ruangm itu telah berdiri dua orang. Agaknya mereka berdua tadi melayang masuk melalui atap yang mereka buat tanpa ada pengawal yang melihat mereka saking cepatnya mereka bergerak.

Seorang kakek tinggi kurus berwajah pucat seperti mayat dengan rambut putih, matanya sipit dan mulutnya menyeringai penuh ejekan membawa sebatang pedang di punggung dan sebatang kebutan putih terselip di ikat pinggang, dan seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian serba tebal, tubuhnya tinggi besar, mukanya berwarna merah tanpa kumis maupun jenggot, di pinggangnya tergantung sebatang golok gergaji.

Kakek itu berusia sekitar enampuluh lima tahun dan dia adalah Hwa Hwa Hoat-su, seorang datuk dari Pek- lian-kauw yang berilmu tinggi, baik ilmu silat maupun ilmu sihirnya. Dia datang berkunjung sebagai wakil dan utusan Pek-lian-kauw yang menjadi satu di antara para sekutu Pangeran Bouw.

Adapun laki-laki kedua bermuka merah itu adalah Hongbacu, berusia sekitar empatpuluh lima tahun. Dia bukan orang sembarangan karena dia adalah adik seperguruan dari Nurhacu, tokoh Mancu yang kelak berhasil merobohkan kerajaan Beng dan membangun dinasti Ceng.

Hongbacu ini menjadi wakil pihak Mancu dan utusan dari Nurhacu yang diam-diam juga menjadi sekutu Pangeran Bouw. Hongbacu memiliki ilmu kepandaian tinggi pula, di antara bangsa-bangsa di utara dia amat terkenal karena kelihaiannya.

Pangeran Bouw yang sudah mengenal dua orang tokoh itu segera bangkit berdiri menyambut dengan girang.

“Ah, kiranya Hwa Hwa Hoat-su wakil Pek-lian-kauw dan Saudara Hongbacu wakil dari Mancu. Selamat datang dan silakan duduk!”

Setelah mereka berdua duduk di kursi yang memang sudah dipersiapkan untuk mereka, Hongbacu memandang kepada para hadirin, lalu bertanya dengan heran kepada tuan rumah.

“Pangeran Bouw, saya tidak melihat Tarmalan, padahal dia adalah orang penting dalam persekutuan kita. Kenapa dia tidak hadir malam ini?”

“Saudara Hongbacu, jangan khawatir, kami yakin bahwa dia pasti akan hadir,” jawab Pangeran Bouw. “Heh-heh, apakah aku terlambat?” terdengar suara orang tanpa tampak orangnya.

Lalu dari jendela muncul gumpalan asap memasuki ruangan itu dan perlahan-lahan asap itu membuat bentuk lalu berubah menjadi seorang laki-laki bertubuh sedang, berwajah tampan dan memegang sebatang tongkat ular. Usianya sekitar limapuluh lima tahun.

Inilah Tarmalan, orang penting yang menjadi utusan suku bangsa Hui dan terkenal sebagai dukun atau ahli sihir. Dukun Tarmalan ini masih terhitung paman dari pangeran Bouw karena ibu kandung Pangeran Bouw yang menjadi selir Kaisar Cia Ceng ayah Kaisar Wan Li yang sekarang menjadi kaisar Kerajaan Beng, adalah kakak tertua dari Tarmalan. Kecuali Hongbacu dan Hwa Hwa Hoat-su yang berilmu tinggi, mereka yang duduk di situ memandang kagum atas kemunculan Tarmalan yang luar biasa itu. Tarmalan yang menjadi dukun dari suku bangsa Hui memang terkenal lihai, terutama ilmu sihirnya.

Setelah tiga orang tamu istimewa itu duduk, Pangeran Bouw lalu berkata kepada mereka.

“Terima kasih atas kedatangan Sam-wi (Anda bertiga) yang memang sejak tadi kami menantikan. Di dalam perundingan kami tadi, kami telah mengambil keputusan dan kini hanya tinggal minta pertimbangan Sam-wi apakah keputusan itu dapat diterima ataukah ada usul lain.”

“Apakah keputusan itu, Pangeran? Harap jelaskan dan akan kami pertimbangkan,” kata Hwa Hwa Hoat-su sambit mengelus jenggotnya yang putih.

“Keputusan kami begini, Locianpwe (orang Tua Perkasa). Kekuatan pemerintah terletak kepada Menteri Yang Ting Ho dan Panglima Chang Ku Cing. Kalau mereka berdua tidak ada, maka pemerintah akan menjadi lemah dan mudah kita gulingkan. Membinasakan dua orang tokoh itu tidaklah mudah dan akan menimbulkan kegemparan sehingga ada bahayanya persekutuan kita ketahuan sebelum kita sempat bergerak. Maka, kami tadi mengambil keputusan untuk melemahkan kedudukan dua orang itu dengan dua cara, yaitu pertama membujuk para pembesar sipil dan militer yang setia kepada mereka berdua dan cara kedua, membunuh mereka yang tidak mau bergabung dengan kita.”

“Ah, bagus sekali rencana itu!” kata Hwa Hwa Hoat-su. “Tidakkah engkau juga menyetujuinya, Sobat Hongbacu?”

Tokoh Mancu itu mengangguk-anggukan kepalanya. “Memang tepat sekali kalau dua orang menteri itu kehilangan pendukung mereka, kedudukan mereka tentu lemah dan mudah bagi kita untuk menyingkirkannya sehingga Kaisar tidak lagi mempunyai pendukung setia yang tangguh.”

“Kami memang senang bahwa Sam wi agaknya sudah setuju dengan keputusan itu. Dan mengingat akan penting dan sukarnya pekerjaan ini, maka kami mengharapkan bantuan Sam-wi untuk melaksanakannya.”

“Silakan Pangeran mengadakan pendekatan dan bujukan kepada para pembesar yang mendukung Menteri Yang dan Panglima Chang itu, kemudian memberitahu kami siapa-siapa yang tidak mau bergabung dan harus dienyahkan. Pekerjaan itu akan kami bagi bertiga agar dapat terlaksana lebih cepat,” kata Hwa Hwa Hoat-su yang memandang ringan tugas itu.

“Ha-ha-ha!” Hongbacu tertawa. “Tugas semudah itu serahkan saja kepadaku. Aku akan dapat membasmi mereka. Katakan saja kepadaku siapa-siapa yang harus dibunuh, Pangeran!”

“Heh-heh-heh, Hongbacu, tidak boleh kau borong sendiri! Aku setuju dengan pendapat Hwa Hwa Hoat-su tadi. Tugas itu kita bagi bertiga dan kita lihat saja siapa yang lebih dulu dapat menyelesaikan tugas dengan sempurna!” Tarmalan berkata sambil memandang kepada tokoh Mancu bertubuh tinggi besar dan bermuka merah itu.

“Kami akan melaksanakan cara pertama, melakukan pendekatan dan membujuk para pembesar itu. Sementara itu, Sam-wi lebih baik tinggal di sini dan tidak keluar agar jangan terlihat orang lain. Nanti setelah kami melakukan cara pertama, baru kami akan memberitahukan siapa-siapa yang harus dilenyapkan oleh Sam-wi,” kata Pangeran Bouw.

Semua orang setuju dan pertemuan itu ditutup dengan makan malam yang sudah dipersiapkan. Hidangan mewah dengan arak yang harum. Sampai larut lewat tengah malam barulah pertemuan itu diakhiri dan para pembesar sipil dan militer itu kembali ke rumah masing-masing.

Hwa Hwa Hoat-su, Hongbacu, Tarmalan masing-masing diberi sebuah kamar mewah dalam istana Pangeran Bouw dan sejak malam itu mereka menanti di istana, dilayani dengan baik oleh para pelayan wanita yang khusus bertugas melayani tamu-tamu agung ini.

Pada keesokan harinya, menjelang senja, ketika Pangeran Bouw Ji Kong sedang duduk termenung memikirkan pelaksanaan rencananya mengambil alih kekuasaan kaisar Wan Li, kakak tirinya, dia mendengar langkah orang memasuki kamarnya. Dia menoleh dan melihat seorang pemuda memasuki kamar itu.

Pemuda itu adalah Bouw Cu An atau yang biasa disebut Bouw Kongcu (Tuan Muda Bouw), putera tunggalnya. Seorang pemuda bertubuh sedang dengan pakaian seperti seorang sastrawan, wajahnya tampan bulat, matanya lembut dan mulutnya selalu tersenyum. Wajah pemuda ini mirip wajah ibunya yang cantik. “Hemm, engkau, Cu An?” tegur Sang Ayah dengan lembut. Karena dia hanya mempunyai seorang putera, tentu saja Pangeran Bouw amat sayang kepada puteranya ini.

Bouw Cu An memberi hormat kepada ayahnya sebelum duduk di depan ayahnya, terhalang meja.

“Ayah, maafkan saya kalau saya mengganggu ketenangan Ayah. Akan tetapi ada hal-hal penting yang ingin saya tanyakan dan bicarakan dengan Ayah, kalau sekiranya Ayah membolehkan.”

Pangeran Bouw tersenyum. Dia selalu merasa senang melihat sikap dan cara puteranya ini bicara, penuh kesopanan dan hormat kepadanya di samping perasaan berbakti dan sayang kepada orang tua.

“Boleh saja, Cu An. Bicaralah! Apa yang ingin kautanyakan?”

“Sebelumnya saya minta maaf, Ayah. Saya melihat ada tiga orang tamu asing di ruangan bagian tamu dan saya mendengar bahwa mereka adalah utusan dari Pek-lian-kauw, dari bangsa Mancu, dan suku Hui. Apakah artinya semua ini, Ayah? Juga saya mendengar bahwa Ayah bersekutu dengan mereka untuk menentang Sribaginda Kaisar. Benarkah ini, Ayah?”

“Cu An,” kata Pangeran Bouw dan suaranya terdengar tegas. “Engkau tidak perlu mencampuri urusan pribadi Ayahmu. Aku melihat betapa pemerintahan Paman kaisar itu berengsek, para pejabatnya sebagian besar melakukan korupsi, menyeleweng dan bertindak sewenang-wenang. Aku tidak mungkin tinggal diam saja. Kekuasaan Pamanmu Kaisar harus dihentikan, kalau tidak rakyat akan menderita sengsara! Untuk menentang pemerintahan, aku harus bersekutu dengan pihak-pihak yang memusuhi pemerintah! Engkau tidak perlu ikut memikirkan, tidak perlu ikut campur. Engkau masih terlalu muda dan tidak tahu apa-apa.”

Bouw Cun An atau Bouw Kongcu mengerutkan alisnya yang hitam. Dia bukan hanya mewarisi wajah ibunya, akan tetapi juga watak ibunya yang lembut dan baik, dan sejak kecil dia mempelajari sastra, telah banyak membaca kitab-kitab suci, tahu akan jalan hidup terbaik yang harus ditempuh manusia.

“Maaf, Ayah. Kalau saya tidak salah dengar, Pek-lian-kauw adalah perkumpulan pemberontak yang terkenal jahat, menggunakan agama baru Teratai Putih untuk mengelabuhi rakyat. Mereka itu pembunuh dan perampok. Adapun bangsa Mancu adalah bangsa di Utara yang kini telah menguasai seluruh daerah utara dan merupakan ancaman bagi tanah air dan bangsa kita. Adapun dukun Tarmalan itu, menurut Ibu merupakan orang yang kabarnya juga menjadi rekan bangsa Mancu. Bagaimana kini Ayah bersekutu dengan mereka? Apakah tindakan Ayah itu sudah diperhitungkan benar dan tidak keliru?”

“Anak bodoh! Pek-lian-kauw dan bangsa Mancu kini memiliki kekuatan yang dapat membantu kita. Tanpa bantuan mereka, akan sukarlah menjatuhkan pemerintahan ini. Dan engkau tahu, siapa itu Tarmalan? Dia adalah Kakekmu, karena dia adalah Paman dariku! Dia adalah seorang pandai dan sakti dari suku Hui, dan dapat membantu kita menentang pemerintah Pamanmu Kaisar yang lemah itu!”

“Sekali lagi maaf, Ayah. Kalaupun benar bahwa Paman kaisar Wan Li itu lemah, dipengaruhi para Thai-kam dan para pembesar penjilat, sudah sepatutnya kalau Ayah sebagai adiknya membela Kaisar yang harus ditentang bukanlah Kaisar, melainkan para pembesar yang menyeleweng dan korup itu. Kalau pemerintah yang Ayah tentang, berarti Ayah akan melakukan pemberontakan ”

“Diam.....!” Pangeran Bouw membentak marah. “Cu An, jangan lanjutkan pikiran dan bicaramu seperti itu! Apakah engkau ingin agar rasa sayangku kepadamu berubah menjadi rasa benci?”

Cu An terkejut melihat ayahnya berkata demikian. Baru sekali ini ayahnya marah seperti itu kepadanya dan memandangnya dengan sinar mata berapi penuh kebencian. Hal ini membuat hatinya berdua sekali. Bukan dua karena tindakan ayahnya yang dia anggap keliru, melainkan terutama sekali karena rasa sayang ayahnya demikian mudah dapat berbalik menjadi rasa benci.

“Maafkan saya, Ayah........” katanya halus dan dia lalu meninggalkan ruangan itu. Pangeran Bouw menampar permukaan meja dengan perasaan kesal.

Ayah dan anak ini sama sekali tidak tahu bahwa pembicaraan mereka tadi didengar Hongbacu yang kebetulan keluar dari kamarnya dan berjalan-jalan dekat ruangan itu. Mendengar semua ucapan Bouw Kongcu, tokoh Mancu yang tinggi besar bermuka merah itu mengepal tangannya.

Anak ini sungguh berbahaya, pikirnya, dan kalau ada orang yang sepatutnya dibinasakan, maka pemuda inilah yang menjadi orang pertama. Kalau pemuda itu berhasil membujuk ayahnya dan Pangeran Bouw berubah pikiran, maka semua rencana akan hancur dan dia akan mendapatkan teguran keras dari pemimpinnya yang keras, yaitu Nurhacu. Bouw Kongcu merasa sedih melihat sikap ayahnya. Sama sekali tidak disangkanya bahwa ayahnya akan memberontak terhadap Kaisar yang masih kakak tirinya sendiri. Biasanya, sikap ayahnya selalu merasa penasaran dan menentang para pembesar yang korup dan yang menggunakan kekuasaan mereka untuk berlumba mengumpulkan kekayaan saja.

Sikap ini dianggapnya baik karena dia sendiri juga muak melihat para pembesar korup yang suka sewenang-wenang terhadap rakyat jelata. Akan tetapi, kini ayahnya hendak memberontak dan terasa olehnya bahwa ayahnya ingin sekali menggantikan kedudukan kaisar.

Yang amat menyedihkan hatinya, ayahnya telah bersekutu dengan orang Pek-lian-kauw dan orang Mancu, juga dibantu Dukun Tarmalan yang menurut cerita ibunya merupakan seorang dukun bangsa Hui, masih paman dari ayahnya, akan tetapi terkenal jahat. Bagaimana ayahnya sampai terperosok sedemikian dalamnya, bersekutu dengan orang-orang jahat untuk memberontak terhadap Kaisar?

Menurut kepantasan, ayahnya sebagai adik tiri kaisar, mestinya membela Kaisar dari orang-orang jahat, bukan sebaliknya bersekutu dengan mereka menentang Kaisar! Apakah ayahnya akan menjadi pengkhianat tanah air dan bangsa?

Pemuda yang terpelajar ini maklum bahwa semua penyelewengan ayahnya itu didorong oleh ambisinya untuk menjadi kaisar! Dan dia menjadi sedih sekali.

Sekeluarnya dari ruangan itu, Bouw Kongcu langsung keluar dari istana. Baginya, istana ayahnya menjadi tempat yang memuakkan dan juga berbahaya, telah menjadi tempat persembunyian orang-orang jahat yang mengatur rencana pemberontakan!

Tanah pekarangan istana ayahnya saat itu terasa panas, menembus sepatunya dan membakar telapak kakinya. Dia bersicepat lari keluar dari pekarangan.

Empat orang perajurit pengawal yang berjaga di pintu gerbang memberi hormat kepadanya, namun tidak dipedulikan. Padahal biasanya Bouw Kongcu bersikap ramah dan manis kepada semua perajurit pengawal ayahnya, bahkan para pelayan dalam istana menghormati dan menyukainya karena dia bersikap manis kepada siapapun juga tanpa memandang kedudukan mereka.

Ketika tiba di jalan besar, Bouw Kongcu seolah melihat kota raja yang terancam perang akibat pemberontakan ayahnya. Banyak orang tewas dan banjir darah terjadi. Dia merasa ngeri dan cepat-cepat dia keluar dari pintu gerbang kota raja sebelah selatan.

Dia tidak tahu akan pergi ke mana. Pokoknya dia harus meninggalkan kota raja, meninggalkan istana keluarganya, meninggalkan ayahnya sejauh mungkin agar jangan ikut ternoda kotoran akibat ulah ayahnya.

Senja telah menjelang malam. Matahari mulai terbenam di barat sehingga cahayanya yang tertinggal amat lemah. Sebentar lagi tentu digantikan kegelapan malam. Bouw Kongcu berjalan terus dan tiba di jalan tepi hutan yang sunyi. Teringat akan ayahnya, Bouw Kongcu berhenti melangkah dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, memejamkan mata dan berulang-ulang menarik napas panjang.

Tiba-tiba ada bayangan orang berkelebat dan Hongbacu yang tinggi besar bermuka merah, tokoh Mancu itu, telah berdiri di depannya. Bouw Kongcu mendengar suara tawa seperti ringkik kuda dan ketika dia membuka matanya, dia melihat Hongbacu dan merasa terkejut sekali karena dia mengenal orang tinggi besar itu sebagai seorang di antara tiga tamu asing yang berada di istana ayahnya.

Melihat orang itu tertawa dan matanya memandangnya dengan sinar yang menyeramkan, Bouw Kongcu dapat merasakan ancaman bahaya. Maka tanpa berkata apa pun, dia lalu memutar tubuhnya dan melarikan diri. Dia tidak tahu ke mana akan pergi. Dia hanya ingin menjauhkan diri dari orang Mancu itu.

Akan tetapi baru belasan langkah dia melarikan diri, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu Hongbacu telah berdiri menghadang di depannya sambil bertolak pinggang dan tertawa.

“He-he-hek! Engkau hendak pergi ke mana, Bouw Kongcu?”

Pemuda itu dari ketakutan menjadi marah dan menegur. “Bukankah engkau ini orang Mancu yang menjadi tamu Ayahku? Kenapa engkau menghalangi perjalananku?” Dia melanjutkan dengan bentakan. “Aku hendak pergi ke mana tidak ada urusannya denganmu. Minggir dan biarkan aku lewat, atau aku akan melaporkan kepada Ayahku tentang kekurang-ajaranmu ini!”

“Hi-hi-he-he-hek! Justru aku mewakili Ayahmu untuk mencegah engkau pergi dan berbuat macam-macam untuk menentang kami! Aku diminta untuk membawamu pulang.” “Aku tidak mau pulang dan jangan engkau mencampuri urusan pribadiku!”

“Heh-heh-heh, engkau mau atau tidak, aku tetap akan membawamu pulang, Bow Kongcu!”

Akan tetapi Bouw Cu An sudah membalikkan tubuhnya dan lari lagi secepatnya menjauhi Hongbacu. “Ha- ha-hi-hik, engkau hendak lari ke mana, Bouw Kongcu?”

Kembali Bouw Kongcu hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu Hongbacu sudah berdiri di depannya, dalam jarak sekitar tiga tombak! Tokoh Mancu ini menyeringai dan melangkah perlahan menghampiri pemuda itu.

“Ah, di mana-mana yang kuat menekan yang lemah!” terdengar suara lembut dan sesosok tubuh melayang dan seorang laki-laki telah berdiri di antara Bouw Cu An dan Hongbacu, menghadapi orang Mancu itu.

Dia seorang laki-laki berusia sekitar empatpuluh enam tahun, berpakaian jubah tosu (pendeta Agama To) kuning, bertubuh tinggi kurus dengan wajah tampan dan sikapnya lembut. Di punggungnya terselip sebatang pedang, akan tetapi kalau ada orang memperhatikan pedang itu, dia tentu akan merasa aneh dan lucu karena pedang itu hanya sebatang pedang dari bambu seperti pedang mainan anak-anak!

Akan tetapi biarpun dia tidak mengenal tosu itu, Hongbacu adalah seorang yang mempunyai banyak pengalaman dan melihat tosu itu mempunyai sebatang pedang dari bambu, dia sama sekali tidak berani memandang rendah. Bahkan dia merasa terkejut karena kalau seorang berani membawa senjata selemah itu, hal ini jelas menunjukkan bahwa dia tentu seorang yang berilmu tinggi! Setelah menatap tajam wajah tosu itu, Hongbacu berkata.

06.18. Bangkitlah Bila Menjadi Muridku!

“Sobat, engkau seorang pendeta, tidak pantas mencampuri urusan orang lain!”

“Siancai (damai). ! Pinto (aku) tidak mencampuri urusan, hanya ingin mengetahui apa yang terjadi maka

seorang gagah seperti engkau hendak memaksa seorang pemuda yang lemah.”

“Dengarlah, tosu yang baik! Pemuda ini minggat dari rumah orang tuanya dan aku diutus Ayahnya untuk membawanya pulang! Pantaskah kalau engkau menghalangiku?”

Tosu itu menoleh kepada Bouw Cu An. “Orang muda, benarkah engkau minggat dari rumah dan sobat ini diutus Ayahmu untuk mengajakmu pulang?”

“Totiang (Bapak Pendeta), saya tidak percaya kalau dia diutus Ayah untuk mengajak saya pulang. Orang Mancu ini pasti mempunyai niat jahat terhadap saya karena saya dia anggap sebagai penghalang semua niat buruknya.”

Tosu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Dua keterangan yang berbeda dan saling bertentangan. Sekarang begini saja, Sobat. Kaubiarkan pemuda ini pergi dan jangan ganggu dia lagi, lanjutkan saja perjalanan masing-masing dan aku berjanji tidak akan mencampuri urusan kalian berdua.”

“Tidak bisa!” Hongbacu berseru marah. “Dia harus ikut aku pulang ke rumah orang tuanya, mau atau tidak dia harus ikut!”

“Siancai    ! Ini namanya pemaksaan sewenang-wenang dan pinto jelas tidak dapat mendiamkannya saja.”

“Bagus, Tosu usil, siapakah engkau yang berani mencampuri urusanku dan menentangku?”

“Pinto bernama Ouw-yang Sianjin, pinto tidak menentangmu, Sobat, melainkan menentang perbuatan jahat dan sewenang-wenang.”

Ouw-yang Sianjin ini adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal di dunia persilatan karena dia merupakan seorang pendekar perantau yang berilmu tinggi dan selalu menentang kejahatan. Dia adalah sute (adik seperguruan) dari mendiang Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu, ayah dari Ong Lian Hong atau guru dari Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan.

Pada senja hari itu, secara kebetulan saja dia melihat Bouw Kongcu didesak oleh Hongbacu, maka dia segera turun tangan membela Bouw Kongcu.

“Ouw-yang Sianjin, tosu keparat! Engkau sudah bosan hidup!” kini Hongbacu tidak sabar lagi. Memang pada dasarnya orang Mancu ini berwatak keras dan sombong karena bagi seluruh suku Mancu, dia merupakan jagoan yang sudah tersohor dan jarang dapat ditandingi. Setelah membentak dia sudah mencabut gergajinya dari pinggang.

Senjata ini menyeramkan. Sebatang golok yang lebar dan berat, berkilauan saking tajamnya dan punggung golok itu bergigi seperti gergaji! Tanpa bicara lagi dia menggerakkan goloknya yang berat itu dengan cepat. Golok itu mengeluarkan bunyi berdesing dan mengandung kekuatan yang dahsyat menyambar ke arah leher Ouw-yang Sianjin.

“Yaahhhh!” Ouw-yang Sianjin cepat mengelak dan dari serangan pertama itu saja tahulah dia bahwa orang Mancu yang menjadi lawannya itu merupakan lawan yang tangguh. Maka dia pun melompat ke belakang menghindari serangan susulan sambil mencabut senjatanya yang aneh dan ringan, yaitu sebatang pedang terbuat dari bambu! Akan tetapi begitu dia menggerakkan dan memutar-mutar pedang bambu itu, tampak gulungan sinar yang bercuitan mengelilingi tubuhnya seperti membentuk sebuah perisai sinar!

Hongbacu merasa penasaran dan sambil mengerahkan sin-kang dia menyerang dengan goloknya dengan maksud untuk mematahkan pedang bambu lawan. Sinar goloknya meluncur hendak menerobos gulungan sinar pedang bambu itu.

“Singgg...... takk.   !” Golok yang berat itu terpental ketika bertemu pedang bambu. Akan tetapi Ouw-yang

Sianjin juga merasa betapa tangannya yang memegang gagang pedang kayu tergetar hebat.

Keduanya terkejut dan mundur, maklum bahwa lawan memiliki sin-kang yang kuat dan seimbang. Hongbacu sudah menerjang lagi. Ouw-yang Sianjin bergerak cepat mengelak lalu balas menyerang. Pedang bambunya itu amat lihai dan mampu menembus kulit daging lawan yang betapa kebal pun!

Terjadilah perkelahian yang amat seru. Gerakan kedua orang itu sedemikian ringan dan cepatnya sehingga tubuh mereka seperti berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua sinar kuning dan putih dari pedang bambu dan golok. Tenaga sakti yang mereka pergunakan sedemikian kuatnya sehingga gerakan senjata mereka menimbulkan angin yang menyambar-nyambar dan merontokkan daun-daun pohon di sekeliling mereka.

Bouw Cu An bersandar pada batang pohon sambil terduduk di atas tanah. Dia memandang bengong, heran, kagum dan tegang mencekam hatinya. Bunyi pedang bambu bertemu golok terkadang mengeluarkan getaran amat kuat sehingga Bouw Kongcu harus menutupi kedua telinganya dengan tangan karena suara berdenting itu seolah menusuk gendang telinganya. Pandang matanya juga menjadi kabur oleh sinar yang bergulung-gulung dan menyambar-nyambar itu. Jantungnya berdebar tegang karena dia maklum bahwa kalau tosu yang membelanya itu kalah, nyawanya sendiri pasti terancam.

Lebih dari seratus limapuluh jurus mereka bertanding, kini mereka bertanding dalam kegelapan karena malam telah tiba, atau sinar matahari tidak bersisa lagi. Keduanya mengandalkan ketajaman telinga dan perasaan untuk berkelahi karena pandang mata tidak dapat diandalkan lagi. Biarpun sudah demikian lamanya mereka berkelahi, tidak ada yang menang ataupun kalah. Jangankan menang, mendesak lawan pun tidak dapat. Kekuatan mereka seimbang, baik tenaga sin-kang, gin-kang (meringankan tubuh) maupun kehebatan jurus-jurus silat mereka.

Akan tetapi kini terdapat perbedaan. Hongbacu mulai lelah dan pernapasannya mulai memburu. Usia mereka memang sebaya, sekitar empatpuluh enam tahun, dan tenaga mereka juga seimbang. Hanya bedanya, dan ini merupakan perbedaan besar, kalau Ouw-yang Sianjin hidup dengan sehat dan bersih tidak pernah menghamburkan tenaga untuk melampiaskan nafsu-nafsunya, sebaliknya Hongbacu hidup bergelimang kesenangan duniawi dan menuruti nafsu-nafsunya, terutama nafsu berahinya.

Sebagai orang yang berkedudukan tinggi dan pembantu terpercaya Nurhacu pemimpin bangsa Mancu, Hongbacu memiliki banyak isteri. Inipun masih belum memuaskan nafsunya dan dia masih sering menggoda wanita cantik di mana pun dia berada.

Hal ini memboroskan tenaganya dan memperlemah daya tahan pernapasannya. Maka setelah bertanding hampir seratus tujuhpuluh jurus, dia mulai merasa lemah. Maklum bahwa kalau dilanjutnya dia akan kalah dan tidak mungkin menang, Hongbacu mengeluarkan teriakan melengking dan tubuhnya melompat jauh ke belakang lalu dia menghilang dalam kegelapan malam!

Ouw-yang Sianjin tidak mengejar karena dia memang tidak bermaksud untuk bermusuhan dengan orang Mancu itu. Dia hanya ingin membela pemuda yang terancam tadi.

Setelah Hongbacu pergi, Ouw-yang Sianjin menyimpan pedang bambunya dan memandang kepada pemuda yang masih duduk bersandar batang pohon. Cuaca yang gelap, hanya remang-remang mendapat sinar bintang-bintang yang bertaburan di langit, membuat dia tidak dapat melihat jelas keadaan pemuda itu. Dia menghampiri dan berkata.

“Orang muda, bahaya telah lewat. Hari telah malam, sebaiknya engkau segera pulang ke rumahmu.”

Bouw Cu An bangkit berdiri dan memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan ke dada lalu membungkuk sampai dalam. “Totiang, saya menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Totiang. Kalau tidak ada Totiang, mungkin sekali saya telah dibunuh oleh orang Mancu itu.”

“Sudahlah, tidak perlu berterima kasih kepada pinto, karena Sang Maha Penolong adalah Thian (Tuhan) dan kebetulan saja tadi Thian menolongmu dengan menggunakan diriku. Sekarang sebaiknya engkau pulang saja.”

“Totiang, saya tidak akan pulang, saya merasa ngeri untuk pulang, apalagi setelah terjadi peristiwa tadi.”

“Tidak mau pulang dan merasa ngeri untuk pulang? Aih, aneh sekali. Apakah yang telah terjadi di rumahmu, orang muda?”

“Sesungguhnya hal ini tidak semestinya saya ceritakan kepada orang lain karena saya tidak ingin menjadi anak yang durhaka, Totiang.”

“Kalau begitu, jangan ceritakan kepadaku.”

“Totiang, saya pernah mendengar nama Totiang. Tentu Totiang ini Ouw-yang Sianjin yang dulu pernah berjasa membongkar rencana busuk Pek-lian-kauw. Terhadap Totiang, saya ingin berterus terang, karena Totiang yang akan dapat mengerti.”

Bouw Cu An lalu menceritakan tentang utusan Mancu yang tadi hendak menangkapnya, yang bersama Hwa Hwa Hoat-su utusan Pek-lian-kauw dan Tarmalan dukun suku Hui kini berada di rumah ayahnya dan mengadakan persekutuan dengan ayahnya.

Ketika dia bercerita sampai di sini, Ouw-yang Sianjin bertanya. “Ah, siapakah Ayahmu itu?”

“Ayah saya adalah Pangeran Bouw Ji Kong, adik tiri Sribaginda Kaisar. Saya adalah putera tunggalnya, nama saya Bouw Cu An.”

Ouw-yang Sianjin terkejut. “Ah, kiranya engkau putera Pangeran Bouw, Kong-cu? Kalau begitu, engkau harus cepat pulang dan laporkan saja kepada Ayahmu apa yang tadi hendak dilakukan orang Mancu itu kepadamu.”

“Tidak, Totiang, saya tidak akan pulang, saya tidak mau pulang dan melihat Ayah saya bersekutu dengan orang-orang jahat dan mempunyai rencana jahat terhadap Kaisar. ”

Tiba-tiba pemuda itu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki tosu itu. “Saya mohon agar Totiang suka membawa saya pergi dan menerima saya sebagai murid. Tolonglah, Totiang, terimalah saya karena saya ingin belajar ilmu silat agar kelak dapat menghadapi para penjahat ”

“Akan tetapi, Kongcu, engkau adalah seorang putera bangsawan tinggi, bagaimana mungkin engkau menjadi murid pinto yang hanya seorang tosu perantau? Engkau akan hidup sengsara dan serba kekurangan.” Dia menyentuh pundak pemuda itu dan hendak menariknya. “Bangkitlah, Kongcu, tidak pantas engkau menghormati pinto seperti ini.”

“Tidak, Totiang, sebelum Totiang menerima saya sebagai murid, saya akan tetap berlutut. Saya tidak mau pulang dan saya tidak tahu harus pergi ke mana.”

Ouw-yang Sianjin menghela napas panjang. Dia adalah seorang yang sejak muda menjauhkan diri dari dunia ramai, tidak seperti mendiang suhengnya, yaitu Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu, yang hidup sebagai pendekar dan pejuang, bahkan menikah dan mempunyai seorang puteri.

Dia sendiri tidak menikah, bahkan selama hidupnya baru satu kali dia menerima murid, yaitu Ong Lian Hong puteri suhengnya itu. Bahkan gadis itu pun hanya dia bimbing untuk memperdalam ilmu silatnya saja karena Ong Lian Hong sudah menerima pelajaran dari ayahnya.

Dia seorang perantau yang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Kini ada seorang pemuda bangsawan tinggi putera pangeran dan keponakan dari kaisar Wan Li, ingin menjadi muridnya! Apalagi ayah pemuda ini agaknya seorang pengkhianat yang hendak memberontak terhadap kaisar dan bersekutu dengan musuh- musuh negara seperti bangsa Mancu dan perkumpulan Pek-lian-kauw! Akan tetapi pemuda ini luar biasa, pikirnya. Ayahnya hendak memberontak dan dia sebagai putera tunggal menentang, bahkan meninggalkan ayahnya, ingin menjadi muridnya dan siap hidup serba kekurangan dan sengsara. Juga sikapnya demikian lembut, baik dari ucapannya yang menunjukkan bahwa dia seorang terpelajar maupun dari gerak geriknya. Timbul perasaan suka dan iba di hatinya terhadap Bouw Cun An.

“Baiklah, Bouw Kongcu. Kalau engkau bertekad untuk menjadi muridku dan ingin ikut denganku, bangkitlah.”

Bukan main girang rasa hati Bouw Cu An. Dia yang masih berlutut segera memberi hormat dan berkata dengan terharu. “Terima kasih atas penerimaan Suhu dan teecu (murid) mohon agar Suhu tidak menyebut teecu Bouw Kongcu (Tuan Muda Bouw). Sebut saja nama teecu Bouw Cu An.”

“Baiklah, Cu An. Sekarang bangkitlah dan mulai sekarang juga engkau harus melatih badanmu memperkuat daya tahan. Ikuti aku!”

Tosu itu lalu melangkah dan sengaja dia memilih jalan dalam hutan yang sukar dan penuh rintangan. Selain gelap karena hanya diterangi cahaya bintang-bintang, juga jalan itu kasar berbatu-batu, terhalang semak belukar yang kadang-kadang berduri. Bahkan dia mulai mendaki bukit sehingga Bouw Cu An yang sejak kecil hidup serba enak itu merasa tersiksa sekali.

Namun, hanya badannya yang tersiksa karena hatinya masih diliputi rasa girang. Dia sudah bertekad untuk mempelajari ilmu silat dan untuk ini dia siap untuk menderita sengsara, yaitu kesengsaraan, kenyerian dan kelelahan badannya.