--> -->

Lembah Selaksa Bunga Jilid 01

Jilid 01

01.01. Kegalauan Gadis Pendekar

Pagi itu masih gelap kelam, remang-remang karena sinar matahari masih lemah sekali. Mataharinya sendiri belum tampak, agaknya masih jauh di balik bukit itu, baru mengintai dengan sinarnya yang masih lemah.

Dari kaki bukit tampak bayangan seorang gadis berjalan mendaki bukit memasuki hutan. Agaknya ia sakit karena jalannya mulai terhuyung, namun ia memaksa dirinya melangkah terus mendaki sampai di lereng bukit yang pertama. Akan tetapi agaknya ia tidak kuat lagi dan akhirnya tubuhnya yang limbung itu roboh terkulai, telentang dengan lemah.

Agaknya, bau tanah dan rumput yang masih basah oleh embun, amat menyejukkan dan terasa nyaman sekali bagi tubuhnya yang lemah lunglai seperti kehabisan tenaga. Sambil rebah telentang, matanya yang cekung di wajahnya yang pucat itu menatap ke atas, ke daun-daun pohon yang menutupi langit di atasnya. Ia diam saja, tak bergerak, merasakan nikmatnya udara dingin yang memeluknya, bagaikan orang tidur dengan mata terbuka.

Sinar matahari yang mulai menguat menerobos celah-celah daun pohon, menggugah burung-burung yang semalam tidur bergerombol di antara ranting dan daun. Mulailah burung-burung itu terbangun dan hutan itu pun mulai sibuk dengan suara kehidupan. Burung-burung berceloteh riang dan ramai, dan sinar matahari mulai menerangi daun-daun, membuat mata wanita itu dapat menangkap burung-burung yang tadinya hanya dapat didengar kicau mereka saja.

“Aku seperti mereka       ” gadis itu menggumam dan wajahnya yang tampak pucat dan kusut itu mulai agak

bercahaya dan bola matanya bergerak-gerak mengikuti burung-burung yang berceloteh sambil meloncat- loncat dari ranting ke ranting, menggerakkan daun-daun sehingga mutiara-mutiara embun yang bergantungan pada ujung daun-daun itu runtuh ke bawah. Ada tetesan air embun yang membasahi muka pucat itu, menimbulkan senyum lemah karena embun dingin itu sedikit banyak mendatangkan kesegaran.

Ketika burung-burung mulai beterbangan meninggalkan pohon, agaknya hendak mulai dengan tugas mereka sehari-hari untuk mencari makan penyambung hidup, gadis itu menahan senyumnya.

“Aku seperti mereka, terbang bebas seorang diri di dunia ini    ”

Satu demi satu atau bergerombol tiga-empat ekor, burung-burung itu meninggalkan pohon besar di bawah mana gadis itu rebah telentang. Kini tinggal tiga ekor burung yang berada di dahan paling bawah sehingga gadis itu dapat melihat mereka dengan jelas.

Setelah memandang dengan penuh perhatian sejenak, gadis itu mengerutkan alisnya. Seekor burung betina hinggap di ujung dahan, menyendiri, dan tak jauh darinya seekor burung betina lainnya berkasih-kasihan dan bermesraan dengan seekor burung jantan! Keduanya bercumbu, seolah hendak pamer kepada burung betina yang menyendiri itu.

Selagi sepasang burung yang berkasih-kasihan itu berkicau riang gembira, burung betina yang menyendiri itu mengeluarkan bunyi bercicit lemah. Dalam pendengaran gadis itu, suara burung betina ini demikian menyedihkan dan mengharukan! Teringat ia akan dirinya sendiri yang nasibnya sama dengan burung betina itu! Ia terpaksa meninggalkan pemuda yang dicintanya karena pemuda itu memilih gadis lain sebagai pasangannya!

Tiba-tiba sepasang matanya mencorong, tangan kanannya meraup dan menggenggam tanah di dekatnya dan sekali tangannya bergerak melemparkan genggaman tanah itu ke atas, dua ekor burung yang sedang bermesraan itu jatuh ke bawah.

“Jahanam keparat!” Gadis itu seolah-olah mendapat tenaga baru dan ia lalu bangkit duduk, memandang kepada dua bangkai burung yang jatuh dekat di depannya. Mula-mula mata yang mencorong itu memandang puas, akan tetapi lambat laun sinar yang tadi mencorong itu mulai meredup, kemudian alisnya berkerut dan mata itu mulai terbelalak.

Dalam pandang matanya, dua ekor bangkai burung itu tampak sebagai jenazah sepasang orang muda, seorang gadis cantik jelita dan seorang pemuda tampan perkasa! Kemudian, gadis itu menjerit, menangis dan menjambak-jambak rambutnya yang hitam lebat sehingga sanggul rambutnya terlepas dan rambut itu menjadi riap-riapan menutupi mukanya!

“Aduh Lian Hong...... Tek Kun...... apa yang telah kulakukan ini......? Ahhh, maafkan aku...... aku      hu-hu-

huu......!” Ia menangis tersedu-sedu sampai lama, dan tangisnya makin lama semakin melemah dan akhirnya ia terkulai pingsan dengan tubuh telentang!

Gadis itu adalah Nyo Siang Lan yang di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Hwe-thian Mo-li (Iblis Betina Terbang), seorang tokoh kang-ouw yang selain tinggi ilmu silatnya, juga terkenal liar dan ganas sekali. Gadis berusia sekitar duapuluh satu tahun ini adalah murid mendiang Pat-jiu Kiam-ong. Bersama sumoinya (adik seperguruannya) Ong Liang Hong, puteri kandung gurunya itu, ia melakukan balas dendam dan membunuh musuh-musuh besar Pat-jiu Kiam-ong yang dibunuh secara curang oleh para musuhnya.

Dalam usaha balas dendam ini, ia bertemu dengan Kun-lun Siauw-hiap Sim Tek Kun, pendekar Kun-lun-pai yang tampan dan gagah perkasa. Baru pertama kali selama hidupnya, Nyo Siang Lan jatuh cinta kepada Sim Tek Kun.

Akan tetapi kemudian ternyata bahwa pemuda putera Pangeran Sim Liok Ong itu adalah tunangan dari Ong Lian Hong, sumoinya! Maka, terpaksa ia meninggalkan mereka, dua sejoli yang saling mencinta. Ia pergi dengan perasaan tidak karuan, setengah merasa bahagia karena keberuntungan sumoinya, dan setengah lagi sengsara karena putus cinta.

Selama hampir satu bulan berlari-lari tanpa tujuan sampai akhirnya pada pagi hari itu ia terjatuh di dalam hutan di lereng bukit itu karena kelelahan. Berhari-hari ia lupa makan lupa tidur, terombang-ambing oleh perasaan yang menekannya, membuatnya hampir menjadi gila.

Tadi, melihat sepasang burung bermesraan di samping seekor burung betina yang kesepian, ia teringat akan diri sendiri dan timbul amarahnya sehingga ia membunuh sepasang burung itu. Akan tetapi sepasang burung itu dalam pandang matanya seperti berubah menjadi seorang gadis cantik dan seorang pemuda tampan, yaitu Ong Lian Hong dan Sim Tek Kun!

Tapi Lian Hong adik seperguruan yang disayangi dan dianggap seperti adiknya sendiri dan Sim Tek Kun satu-satunya pemuda di dunia ini yang dicintanya! Maka begitu melihat bayangan mereka pada dua bangkai burung yang dibunuhnya itu, ia terkejut, menyesal dan bersedih sekali, merasa seolah ia telah membunuh mereka yang ia sayangi itu karena cemburu. Ia menjerit-jerit minta ampun, menangis sejadi-jadinya sampai akhirnya ia terkulai pingsan saking tidak kuat menahan gelora hatinya.

Tubuh gadis itu tergolek pingsan, dengan rambut tergerai dan mukanya pucat sekali, matanya terpejam dan pernapasannya demikian lemah dan halus seperti orang mati. Pakaiannya kusut dan wajahnya sebagian tertutup rambutnya yang terurai, namun tetap saja mudah dilihat betapa cantik wajahnya dan betapa menggairahkan tubuh gadis yang bagaikan setangkai bunga sedang mulai mekar dengan indahnya itu.

Nyo Siang Lan yang berjuluk Hwe-thian Mo-li memang terkenal sebagai seorang dara perkasa yang cantik jelita, berusia duapuluh satu tahun. Tubuhnya sedang ramping dengan lekuk lengkung sempurna, kulitnya putih kuning mulus dan lembut. Rambutnya hitam lebat dan panjang berikal mayang sehingga biarpun kini sanggulnya terlepas sehingga tergerai, masih tampak indah. Anak rambut yang lembut melingkar di pelipis dan atas dahinya.

Sepasang matanya bagaikan bintang, bening tajam dan agak lebar, dengan kedua ujung agak menjungat ke atas. Hidungnya kecil mancung dan mulutnya membuat setiap orang laki-laki yang memandangnya menjadi tergila-gila. Sulit setelah sekali melihat melupakan sepasang bibir yang lembut, penuh, dan kemerahan karena sehatnya itu dan kalau tersenyum sehingga agak terbuka, memperlihatkan deretan gigi putih bersih dan rapi, rongga mulut dan lidah yang ujungnya merah muda dan sehat.

Siang Lan yang pingsan itu sama sekali tidak tahu bahwa pada saat itu belasan orang muncul dan menghampirinya. Mereka itu datang dari lereng atas dan orang-orang ini mengenakan pakaian yang aneh karena pakaian mereka itu dilukis kembang-kembang beraneka ragam dan warna sehingga nampak indah mencolok akan tetapi juga aneh.

Biasanya hanya kaum wanita saja yang mengenakan pakaian berkembang-kembang seperti itu. Seorang di antara mereka yang usianya sekitar empatpuluh tahun dan kepalanya memakai sebuah topi yang dihias kembang-kembang hidup, berjongkok memeriksa Siang Lan.

Laki-laki itu bertubuh tinggi besar dan semua anggauta badannya tampak besar, kepalanya, matanya, hidung dan mulutnya yang menyeringai, semua tampak lebih besar daripada manusia umumnya. Dia tampak terkejut heran dan senang melihat gadis yang demikian cantiknya tergolek di situ dan ternyata masih hidup. Akan tetapi ketika dia melihat gadis yang pingsan itu memiliki sebatang pedang dalam sarung yang amat buruk, dia mengerutkan alisnya. Diambilnya pedang itu dan dicabutnya dari sarung pedang.

Bukan main kaget dan herannya ketika dia mendapat kenyataan bahwa pedang itu berkilauan saking tajamnya. Tahulah dia bahwa pedang itu bukan pedang biasa dan orang yang memiliki pedang pusaka seperti itu tentu bukan orang sembarangan pula. Maka dia menyarungkan kembali pedang itu dan menyerahkannya kepada seorang anak buahnya. Kemudian dia menotok beberapa jalan darah di kedua pundak dan punggung Siang Lan.

Setelah itu dia sendiri mengangkat dan memanggul tubuh gadis yang lemas itu dan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengikutinya naik ke bukit itu. Anak buahnya tampak gembira dan tertawa-tawa mengikuti pemimpin mereka yang memanggul tubuh Siang Lan naik ke arah puncak bukit. Tak lama kemudian tibalah mereka di sebuah lembah bawah puncak yang teramat indah.

Sungguh luar biasa sekali keadaan lembah itu karena sebagian besar tanah di situ penuh dengan tanaman bunga beraneka bentuk dan warna. Hampir semua bunga yang ada di negeri itu agaknya terkumpul di lembah ini! Lembah yang amat luas itu dipenuhi beribu-ribu tanaman bunga sehingga kalau orang berada di tempat itu dia akan merasa seperti berada di taman sorga! Beraneka keharuman bunga memenuhi udara, menyegarkan pernapasan.

Di sekeliling lembah itu terdapat belasan buah rumah mungil dan di tengah-tengah terdapat sebuah rumah besar yang dikelilingi seribu satu macam bunga. Laki-laki tinggi besar itu membawa Siang Lan yang masih pingsan ke dalam rumah besar, lalu ia dibaringkan di atas sebuah pembaringan dalam kamar yang luas indah dan mewah.

Sampai hari menjadi gelap Siang Lan belum juga siuman dari pingsannya. Laki-laki itu mengulang dan memperkuat totokannya agar gadis itu tidak mampu bergerak kalau siuman nanti. Kemudian dia mengambil air dan membasahi kepala dan leher Siang Lan dengan air dingin.

Gadis itu merintih dan bergerak. Ia siuman dari pingsannya akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia merasa kaki tangannya lumpuh dan tidak dapat ia gerakkan.

Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi tahulah ia bahwa ia berada dalam keadaan tertotok oleh seorang ahli yang lihai sekali. Ketika ia di bawah sinar lampu meja melihat seorang laki-laki tinggi besar duduk di tepi pembaringan, ia mengerutkan alisnya dan sepasang matanya mencorong. Ia marah bukan main, maklum, bahwa tentu laki-laki ini yang telah menotoknya.

“Jahanam busuk dan curang! Bebaskan aku dari totokan!” ia berseru.

Laki-laki itu tersenyum, menyeringai dan tampak buruk sekali. Apalagi pakaiannya mewah dan berkembang- kembang sehingga dia tampak seperti seekor kera besar berpakaian!

“Tenanglah, manis. Engkau tidak akan diganggu, bahkan engkau akan menduduki tempat tinggi dan mulia di sini. Sudah lama aku menanti datangnya seorang wanita seperti engkau, dan sekarang harapanku terkabul. Engkau kupilih menjadi isteriku, menjadi isteri ketua perkumpumpulan Ban-hwa-pang (Perkumpulan Selaksa Bunga) yang dimuliakan dan dihormati. Maka, bergembiralah engkau dan jangan marah, jangan pula bersedih!”

Siang Lan terkejut, akan tetapi ia menjadi semakin marah karena sekarang ia tahu bahwa ia telah terjatuh ke tangan orang-orang jahat yang berniat keji terhadap dirinya. Ia hendak diperisteri, dipaksa menjadi isteri laki-laki menyebalkan ini. Tentu saja ia tidak sudi! Akan tetapi apa yang dapat ia lakukan? Bergerak pun ia tidak dapat.

“Siapa sudi menjadi isterimu?” bentaknya. Walaupun kaki tangannya tidak dapat bergerak, namun suaranya masih lantang dan semangatnya masih tinggi karena ia sama sekali tidak merasa gentar sedikit pun. “Hayo cepat bebaskan totokan ini dan kalau engkau memang seorang gagah, mari kita bertanding sampai seorang di antara kita roboh dan tewas! Jangan bertindak pengecut seperti ini!”

“Hua-ha-hah!” Orang itu tertawa, agaknya senang melihat betapa gadis yang amat cantik itu ternyata juga amat gagah berani. Dia bertepuk tangan dan masuklah lima orang wanita berusia sekitar tigapuluh tahun yang rata-rata memiliki wajah cantik dan pakaian mereka mewah sekali.

Mereka berlima membungkuk dengan hormat di depan laki-laki tinggi besar itu dan seorang di antara mereka bertanya.

“Apa yang harus kami lakukan, Pang-cu (Ketua)?” “Kalian jaga baik-baik gadis ini dan perlakukan ia dengan baik, jangan sampai ia tersinggung, jangan pula melakukan gangguan apa pun. Cukupi makan minumnya dan siapkan pakaian terindah untuknya. Ingat, gadis ini adalah calon Nyonya Ketua, calon isteriku. Aku berada di depan bersama para pembantuku untuk membicarakan tentang persiapan pernikahan.

“Awas kalau sampai ia menjadi marah karena ada yang mengganggunya, aku akan memberi hukuman berat dan tidak mengenal ampun. Kukira gadis ini tentu seorang yang amat lihai, oleh karena itu, untuk menjaga segala kemungkinan, sebelum ia terbebas dari totokan, akan kubelenggu dulu kaki tangannya.”

Setelah berkata demikian laki-laki yang disebut Pang-cu itu lalu mengambil tali hitam yang terbuat dari sutera dan mengikat kedua pergelangan kaki dan tangan Siang Lan dengan erat namun tidak sampai mendatangkan rasa nyeri pada gadis itu. Setelah selesai baru dia keluar memesan kepada para wanita itu untuk mencuci muka dan menyisir, menata rambut Siang Lan, menukar pakaiannya, agar gadis itu tampak rapi.

Setelah laki-laki itu keluar, lima orang wanita itu menutupkan daun pintu lalu merawat Siang Lan. Gadis itu memaki-maki, namun mereka tidak peduli. Mereka melucuti semua pakaian Siang Lan, memandikannya dan membersihkan tubuhnya yang penuh debu tanpa gadis itu dapat meronta, hanya memaki-maki.

Setelah membersihkan tubuh dan menyisir rambutnya, bahkan memberi minyak harum di tubuh itu dan membedaki mukanya, mereka untuk sementara membuka tali pengikat kaki tangan Siang Lan. Mereka mengenakan pakaian baru pada tubuh Siang Lan, lalu mengikat lagi pergelangan tangan dan kaki gadis itu.

Akhirnya Siang Lan diam saja karena ia tahu bahwa percuma saja ia memaki-maki lima orang wanita itu dan hal ini bahkan menghabiskan tenaganya karena dilanda kemarahan. Ia berdiam diri dan diam-diam mengumpulkan tenaganya karena ia tahu bahwa kalau ia sampai dapat membebaskan diri dari totokan dan belenggu, ia membutuhkan banyak tenaga untuk melawan para penjahat.

Demikian pula, ketika para wanita itu menyuapinya dengan makanan dan minuman, ia menerima untuk menjaga kesehatan untuk memulihkan tenaga ia yang selama berhari-hari ini ia telantarkan. Tentu saja para wanita itu menjadi lega dan merasa senang.

“Nona yang baik, beginilah seharusnya sikapmu karena sesungguhnya engkau mendapatkan keberuntungan besar yang jarang ada gadis mendapatkannya. Tak lama lagi engkau menjadi Nyonya Ketua kami yang dihormati semua orang, hidup terhormat, mulia dan kaya raya. Karena itu, sambutlah ketua kami dengan manis, Nona, agar hatinya merasa senang karena kami lihat baru sekarang ini Pang-cu jatuh cinta dan tergila-gila kepada seorang gadis.”

Di dalam hatinya Siang Lan menjadi marah sekali akan tetapi kini gadis itu mendapatkan kembali ketenangan dan kecerdikannya. Ia tahu bahwa kalau ia marah dan memaki-maki, hal itu tidak ada gunanya baginya.

Lebih baik ia berpura-pura menyerah agar ia dapat menyelidiki keadaan musuh. Setelah menahan napas untuk menenangkan dan mendinginkan hatinya, mulailah Siang Lan mengubah sikap dan bertanya.

“Enci, bagaimana aku bisa berada di sini? Aku tidak ingat apa yang terjadi dengan diriku. Tolong ceritakan.”

Dengan hati senang karena gadis cantik itu kini menjadi penurut dan hal ini pasti akan menyenangkan hati ketua mereka sehingga mereka akan diberi hadiah, seorang di antara lima wanita itu yang menjadi juru bicara menjawab.

“Nona, sudah kami katakan tadi, engkau sungguh beruntung. Pang-cu sendiri yang menemukan engkau menggeletak pingsan di dalam hutan, lalu Pang-cu menolongmu dan memondongmu sampai di sini.”

“Hemm, kalau dia menolongku dan berniat baik, mengapa aku dibelenggu?”

“Nona, jangan salah mengerti dan maafkan tindakan Pang-cu kami. Dia sungguh tergila-gila dan amat sayang kepadamu. Akan tetapi karena dia belum mengenal betul siapa Nona yang dia sangka tentu Nona amat lihai, maka terpaksa dia menjaga kcmungkinan Nona akan memberontak dan melawan. Karena itu, katakanlah kepada kami siapa Nona dan ceritakan keadaan Nona agar kami dapat melapor kepada Pang- cu,” bujuk wanita itu.

Siang Lan memaksa dirinya untuk tersenyum. Setelah ia menerima makan dan minum, tenaganya mulai pulih dan tubuhnya terasa segar kembali, tidak loyo seperti sebelum ia roboh pingsan dan ditangkap penjahat. “Mudah saja menceritakan keadaan diriku, Enci, akan tetapi tidak enak terbelenggu begini. Tolong buka dulu ikatan kaki tanganku dan kita bicara baik-baik.”

Lima orang wanita itu saling pandang dengan wajah iba akan tetapi juga khawatir, lalu pembicara tadi berkata lembut. “Nona, bukan kami tidak merasa kasihan kepadamu. Akan tetapi kami tidak berani melanggar perintah Pang-cu yang akan menyiksa kami sampai mati kalau kami tidak menaati perintahnya. Kalau engkau sudah menceritakan keadaanmu, nanti kami melapor kepada Pang-cu bahwa engkau bersikap penurut agar ikatan tangan kakimu dibuka.”

“Hemm, baiklah, aku akan sabar menanti. Akan tetapi sebelum aku memperkenalkan diri, tolong ceritakan kepadaku tentang ketua kalian dan tentang perkumpulan di sini agar aku mengetahui dengan siapa aku hendak menikah.”

“Wah, engkau akan merasa gembira kalau mengenal Pang-cu, Nona. Nama Pang-cu adalah Siangkoan Leng dan dia menjadi ketua dari perkumpulan kami Ban-hwa-pang (Perkumpulan Selaksa Bunga). Pang-cu adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian silat amat tinggi dan sukar dicari jagoan yang mampu mengalahkan tombaknya. Dia dijuluki Si Tombak Maut.

01.02. Siapa Pemerkosa Misterius itu?

“Ban-hwa-pang kami telah berdiri selama puluhan tahun, pendirinya adalah mendiang Siangkoan Lo- cianpwe, setelah beliau meninggal perkumpulan dipimpin Pang-cu Siangkoan Leng sejak belasan tahun yang lalu. Perkumpulan kami mempunyai anak buah sebanyak limapuluh orang lebih yang tinggal di lembah ini bersama anak isteri mereka. Pang-cu belum pernah beristeri, maka kini memilihmu, sungguh merupakan keberuntungan besar bagimu, Nona. Nah, sekarang giliranmu untuk memperkenalkan diri.”

Siang Lan sejak tadi harus menekan perasaan marahnya. Belum pernah ia memaksa diri bersikap lemah dan lembut terhadap orang yang dibencinya. Dengan hati mulai panas lagi ia memperkenalkan dirinya.

“Katakan kepada ketua kalian bahwa aku bernama Nyo Siang Lan dan di dunia kang-ouw mereka menyebut aku Hwe-thian Mo-li! Telah banyak sekali penjahat yang mampus di ujung pedangku. Katakan agar dia membebaskan aku dan mengembalikan pedangku kalau dia tidak ingin mampus pula di tanganku!”

Lima orang wanita itu terbelalak dan terkejut. Seorang dari mereka lalu lari keluar dari kamar untuk melapor kepada ketuanya. Tentu saja mereka terkejut dan merasa ngeri karena nama julukan Hwe-thian Mo-li telah terkenal sebagai Iblis Betina Terbang yang amat ganas dan liar!

Tak lama kemudian masuklah Ketua Ban-hwa-pang yang namanya Siangkoan Leng itu. Begitu dia memasuki kamar itu, dia memberi isyarat kepada oara wanita tadi untuk meninggalkan kamar.

Dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar dia duduk di tepi pembaringan dan menatap wajah Siang Lan yang kini tampak semakin cantik jelita dan tersenyum lebar.

“Aih, kitanya engkau yang berjuluk Hwe-thian Mo-li itu, Nona? Bagus, bagus! Makin mantap lagi hatiku untuk memperisterimu, karena kita berdua suami isteri tentu akan menjagoi dunia kang-ouw dan membuat Ban-hwa-pang menjadi semakin besar!”

Kini Siang Lan tak mampu menahan kemarahannya. Ia meronta sambil memaki. “Jahanam Siangkoan Leng! Lepaskan aku dan ingin kulihat sampai di mana kehebatan tombakmu. Hayo, kalau engkau memang laki-laki, kita bertanding sampai napas terakhir!”

Siangkoan Leng terkejut melihat betapa kaki tangan gadis itu mulai bergerak-gerak. Tahulah dia bahwa pengaruh totokannya mulai memudar dan kalau gadis itu pulih kembali tenaganya, bukan tidak mungkin ia akan mampu merenggut putus tali pengikat kaki tangannya. Maka cepat dia menghampiri dan tiga kali jari tangannya bergerak menotok kedua pundak dan punggung Siang Lan, membuat gadis itu tidak dapat lagi menggerakkan kaki tangannya.

“Jahanam! Laki-laki pengecut!” Siang Lan memaki-maki dengan tidak berdaya.

“Ha-ha-ha, tunggu sampai besok, sayangku. Besok engkau tentu akan menyanyikan lagu lain kalau sudah menjadi isteriku!” kata Siangkoan Leng sambil meninggalkan kamar itu.

Gadis itu menjerit-jerit dengan makiannya dan baru berhenti setelah lima orang wanita itu memasuki kamar lagi. Siang Lan dapat mengetahui dari pandang mata mereka bahwa lima orang wanita itu menaruh hati kasihan kepadanya, namun mereka merasa ngeri dan takut akan hukuman ketua mereka, maka mereka pun hanya berusaha untuk menghibur dan menyenangkan hati gadis tawanan itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali semua anak buah Ban-hwa-pang sudah bekerja dan sibuk menyambut pesta pernikahan yang akan dilaksanakan besok lusa atau tiga hari setelah Siang Lan ditawan. Siangkoan Leng yang cukup cerdik tidak mau mengunjungi kamar di mana Siang Lan berada karena dia tidak ingin calon isterinya itu terganggu.

Hanya kadang-kadang saja dia memeriksa apakah gadis itu masih belum membahayakan dan masih dalam keadaan terbelenggu. Karena dia tidak ingin kesehatan calon isterinya terganggu, maka dia tidak lagi memperpanjang tubuh Siang Lan dalam keadaan tertotok.

Dia hanya menggunakan pengikat kaki dan tangan gadis itu yang teramat ulet dan kuat, yang mengikat kedua pergelangan tangan Siang Lan. Adapun kedua kakinya terbelenggu rantai baja yang tebal dengan gelang baja longgar mengikat kedua pergelangan kakinya.

Biarpun gadis itu memiliki sin-kang (tenaga sakti) yang amat kuat, namun kiranya akan sulit baginya untuk dapat melepaskan diri dari belenggu-belenggu ini. Akan tetapi karena belenggu itu panjang, diikatkan pada baja di luar tembok kamar sehingga kuat sekali, Siang Lan kini dapat duduk, berdiri atau rebah di atas pembaringan.

Tubuhnya masih agak lemah karena pengaruh totokan yang terlalu lama pada malam hari tadi. Gadis itu tidak mengamuk lagi, melainkan bersabar menyimpan tenaga dan menanti datangnya kesempatan untuk dapat membebaskan diri.

Ban-hwa-pang menyebar undangan, akan tetapi karena pesta pernikahan itu dilakukan mendadak, hanya ada waktu tiga hari, tentu saja mereka hanya dapat mengundang orang-orang yang tinggal tidak amat jauh dari Ban-hwa-pang.

Pada hari yang kedua, tempat itu telah dihias dan semua anggauta Ban-hwa-pang tampak bergembira. Sang Ketua sendiri, Siangkoan Leng, sibuk di ruangan khusus di mana dia membuat ramuan obat dari berbagai macam bunga. Dia memang ahli membuat obat dari bunga-bunga itu.

Demikian banyaknya bunga tumbuh di lembah itu dan dia sudah mempelajari khasiat setiap macam bunga. Ada bunga yang dapat menyembuhkan luka beracun, ada yang dapat mencuci darah, ada yang menguatkan tubuh, melawan bermacam penyakit. Ada pula bunga yang mengandung racun mematikan, ada yang dapat membius, bahkan ada yang dapat diramu menjadi semacam obat perangsang yang amat kuat.

Ruangan ini merupakan kamar pribadi dan tidak ada orang lain diperbolehkan masuk kecuali seijin Siangkoan Leng. Pada siang hari itu, Siangkoan Leng sibuk membuat ramuan dan dia menutup daun pintu dan jendela kamar itu agar kegiatannya jangan terganggu orang lain.

Dia membuat ramuan obat-obatan dan di antara lain dia meramu obat perangsang yang amat kuat. Siangkoan Leng sudah memperhitungkan bahwa tidak akan mudah menundukkan seorang gadis seperti Hwe-thian Mo-li agar menyerahkan diri secara sukarela kepadanya. Maka dia hendak menggunakan obat itu agar gadis itu mau menyerah tanpa paksaan dan sekali menyerah, gadis itu tentu akan menjadi isterinya yang boleh diandalkan memperkuat kedudukannya!

Saking senangnya membayangkan penyerahan diri Hwe-thian Mo-li secara sukarela kepadanya, Siangkoan Leng meramu obat sambil tersenyum-senyum. Setelah selesai membuat beberapa ramuan bunga kering itu menjadi bubuk halus, dia memasukkan bubukan obat itu ke dalam sebuah kantung kain kecil lalu mengantunginya.

Tiba-tiba ada angin bertiup dibarengi suara lembut. “Leng-te (Adik Leng).   !”

Siangkoan Leng terkejut sekali dan begitu membalikkan tubuhnya, dia melihat daun jendela sudah terbuka dan di depannya telah berdiri seorang laki-laki bertubuh sedang, wajahnya tampan lembut namun rambutnya telah hampir putih seluruhnya sehingga sukar ditaksir berapa usianya. Pakaiannya juga sederhana, berwarna kuning. Laki-laki itu berdiri memandang kepadanya sambil tersenyum lembut dan matanya yang tajam itu memiliki pandangan yang menembus.

Melihat siapa yang datang, Siangkoan Leng tidak menjadi heran lagi. Bagi orang ini, tidak ada tempat yang tidak dapat dimasukinya, pikirnya dan dia berseru dengan gembira. “Liong-ko (Kakak Liong)......!!” Dua orang laki-laki itu saling mendekati dan laki-laki yang baru datang itu menaruh kedua tangan di atas pundak Siangkoan Leng.

“Liong-ko, sudah bertahun-tahun engkau menghilang, ke mana sajakah engkau?”

“Aku merantau ke barat, Leng-te dan baru sekarang kembali ke timur. Baru sekarang aku datang dan begitu memasuki Lembah Selaksa Bunga aku disambut suasana pesta yang meriah. Mendengar bahwa engkau besok pagi akan menikah, aku hampir tidak percaya dan langsung saja mencarimu ke kamar ini. Leng-te, benar-benarkah engkau hendak menikah?”

“Benar, Liong-ko. Mari kita duduk di ruangan dalam! Pertemuan menggembirakan ini harus kita rayakan. Ah, betapa bahagianya hatiku bahwa engkau datang pada saat aku akan merayakan pernikahanku, Liong-ko!” kata Siangkoan Leng gembira.

Mereka keluar dari kamar itu lalu duduk menghadapi hidangan dan arak di ruangan dalam di mana mereka bercakap-cakap dengan gembira sekali karena kakak dan adik ini sudah saling berpisah selama hampir duapuluh tahun!

Laki-laki itu berusia sekitar empatpuluh dua tahun dan bernama Sie Bun Liong. Ketika dia berusia lima tahun, ayahnya meninggal dunia dan ibunya yang menjadi janda diperisteri oleh Siangkoan Kok, Ketua Ban- hwa-pang yang juga sudah menduda dan mempunyai putera Siangkoan Leng. Jadi, hubungan antara Sie Bun Liong dan Siangkoan Leng sebetulnya jauh, tidak ada hubungan keluarga.

Mereka hanya saudara tiri berlainan ayah ibu. Akan tetapi karena sejak berusia lima tahun Sie Bun Liong ikut ibunya yang menjadi isteri Ketua Ban-hwa-pang, maka dia tumbuh besar di Lembah Selaksa Bunga itu. Mereka berdua belajar ilmu silat dari mendiang Siangkoan Kok, akan tetapi ternyata Sie Bun Liong memiliki bakat yang jauh lebih baik sehingga dalam ilmu silat, dia selalu menjadi contoh dan pembimbing adik tirinya.

Ketika Siangkoan Kok meninggal, yang menggantikannya menjadi Ketua Ban-hwa-pang adalah Siangkoan Leng sebagai putera kandung. Biarpun Sie Bun Liong jauh lebih lihai ilmu silatnya, namun dia yang ketika itu berusia duapuluh tahun menganjurkan adik tirinya menjadi ketua.

Dia sendiri tidak senang menjadi ketua. Dia lebih senang memperdalam ilmu silat dan sastra, bahkan beberapa tahun sesudah adik tirinya itu menggantikan ayah tirinya menjadi Ketua Ban-hwa-pang, Sie Bun Liong meninggalkan Lembah Selaksa Bunga dan melakukan perantauan sampai bertahun-tahun dan baru sekarang dia muncul, bertemu lagi dengan adik tirinya setelah mereka berdua berusia lebih dari empatpuluh tahun.

Selama makan minum, Sie Bun Liong tidak bicara, agaknya dia tidak ingin mengganggu adiknya yang bergembira menyambut kedatangannya. Akan tetapi setelah mereka selesai makan minum, mereka duduk di ruangan depan yang hawanya lebih sejuk dan Sie Bun Liong bertanya.

“Leng-te, ketika aku datang, di sini sedang dihias untuk menyambut pesta pernikahanmu besok. Leng-te, gadis manakah yang telah membuat engkau mengambil keputusan untuk menikah, padahal sejak dulu engkau bilang bahwa engkau tidak akan mengikat diri dengan pernikahan?”

“Ah, Liong-ko, sekali ini aku benar-benar terpesona dan tergila-gila melihat calon isteriku. Dan ia itu adalah seorang gadis kang-ouw yang amat terkenal dengan julukan Hwe-thian Mo-li, lihai dan cantik jelita.”

“Mo-li ?” Sie Bun Liong mengerutkan alisnya mendengar adiknya akan menikah dengan seorang wanita

yang berjuluk Mo-li (Iblis Betina)! Karena selama ini dia merantau dan tinggal di barat, di daerah Pegunungan Himalaya, maka tentu saja dia tidak mengenal julukan Hwe-thian Mo-li itu.

“Ia memang seorang tokoh persilatan yang liar dan ganas, juga lihai sekali, Liong-ko. Maka aku mengambil keputusan untuk menjadikannya isteriku agar aku dapat membimbing ia meninggalkan keganasannya.”

Sie Bun Liong mengangguk-angguk. “Hemm, niatmu itu tidak buruk. Akan tetapi dasar perjodohan harus ada cinta kasih kedua pihak. Apa engkau mencintanya?”

“Wah, aku tergila-gila padanya, Liong-ko. Aku sungguh telah jatuh cinta begitu aku bertemu dengannya,” kata Siangkoan Leng gembira. Kakaknya mengamati wajahnya yang tidak dapat dibilang menarik itu.

“Bagus kalau engkau begitu mencintanya. Akan tetapi bagaimana dengan gadis itu? Apakah ia juga mencintamu?”

Ditanya begini, Siangkoan Leng tak mampu menjawab. Di dalam hatinya dia merasa bingung. Sejak dulu dia amat takut terhadap kakaknya ini yang selalu penyabar, mengalah, namun yang segala-galanya melebihi dirinya. Justeru karena kelembutan dan kebaikan hati Sie Bun Liong itulah yang membuat dia selalu tunduk dan menurut.

“Aku...... aku belum tahu, Liong-ko. Maklumlah, wanita biasanya malu-malu untuk mengaku cinta. Akan tetapi aku sedang membujuknya dan agaknya ia tidak menolak ketika kulamar untuk menjadi isteriku.”

“Hemm, calon isterimu itu gadis dari manakah dan di mana ia tinggal?”

Siangkoan Leng semakin bingung. Dia merasa yakin benar bahwa kalau kakaknya yang selalu menuntut kebenaran ini tahu bahwa calon isterinya adalah gadis yang ditawannya dan dia hendak memaksanya menjadi isterinya, tentu kakaknya akan marah sekali dan jelas akan melarangnya! Dia sudah tergila-gila kepada Hwe-thian Mo-li dan tidak ingin dihalangi pernikahannya dengan gadis itu.

Dia harus menggunakan akal karena tidak mungkin dia dapat menggunakan kekerasan terhadap kakaknya untuk mencapai niatnya. Dia tahu bahwa selain dia tidak akan mampu mengalahkan Sie Bun Liong, juga sebagian anggauta Ban-hwa-pang terutama yang sudah lama, tentu tidak mau membelanya untuk mengeroyok Sie Bun Liong yang disegani dan dihormati semua anggautanya.

“Liong-ko, Hwe-thian Mo-li adalah seorang gadis kang-ouw yang sudah tidak berkeluarga dan bertempat tinggal tetap. Sejak kami bertemu, ia tidak meninggalkan tempat kita ini.”

“Ah, dia sudah berada di sini? Aku ingin melihat calon Adik Iparku, Leng-te!” kata Sie Bun Liong dengan wajah berseri gembira dan agak kemerahan karena dia telah minum agak terlalu banyak arak. Sudah beberapa tahun ini dia jarang minum arak sampai demikian banyaknya sehingga dia kini terpengaruh dan agak mabok.

Siangkoan Leng terkejut sekali. “Ah, Liong-ko, mana mungkin engkau dapat menemuinya sekarang? Ia tentu malu sekali dan memang seorang calon mempelai wanita tidak boleh menemui seorang pria sebelum menikah, bahkan aku sendiri tidak berani menemuinya. Ia tentu akan merasa terhina, dan ia galak sekali, Liong-ko. Bersabarlah sampai kami menikah besok. Sekarang karena aku merasa rindu sekali padamu, mari kita minum sepuasnya sambil berbincang-bincang. Engkau harus menceritakan semua pengalamanmu selama merantau!”

Karena alasan yang dikemukakan adiknya itu masuk akal, Sie Bun Liong tidak mau mendesak lagi untuk bertemu dengan Hwe-thian Mo-li.

“Leng-te, dalam perjalananku ke sini, aku mendengar kabar-kabar yang tidak begitu menyenangkan tentang Ban-hwa-pang kita. Ada yang mengabarkan bahwa kini Ban-hwa-pang merupakan perkumpulan yang ditakuti orang, anggautanya banyak yang bertindak kasar dan kejam terhadap rakyat. Bahkan kabarnya Ban-hwa-pang suka memeras para pedagang di kota-kota sekitar sini. Benarkah engkau melakukan hal yang tidak patut itu, Leng-te?”

“Ah, itu hanya kabar bohong, disebarkan orang-orang yang tidak suka kepada perkumpulan kita, Liong-ko. Kami memang menerima sumbangan, namun itu diberi secara sukarela oleh para pedagang yang merasa keamanannya terlindung oleh Ban-hwa-pang. Kalau kami bersikap tegas dan keras, itu pun hanya terhadap para penjahat yang mengganggu rakyat!”

“Hemm, mudah-mudahan keteranganmu benar. Biarlah, soal calon isterimu itu, biar kutemui besok. Kalau memang ia dengan sukarela mau menjadi isterimu, aku pun tidak akan menghalangimu. Akan tetapi, aku melarang keras kalau engkau menggunakan kekerasan dan paksaan.”

“Ah, tentu saja tidak, Liong-ko. Mari, mari minum lagi, Liong-ko!” “Ah, sudah terlalu banyak aku minum, Adikku!”

“Liong-ko, tanpa doa restumu sebagai pengganti orang tua kita, aku tidak akan merasa tenang dan bahagia. Marilah minum, Liong-ko, demi mendoakan kebahagiaanku bersama calon isteriku. Marilah, Liong-ko!”

Sampai malam mereka bercakap-cakap membicarakan masa lalu dan pengalaman masing-masing sejak mereka berpisah sebagai pemuda dan kini mereka sudah sama-sama berusia empatpuluh tahunan. Mereka bercakap-cakap dengan gembira dan minum arak. Siangkoan Leng yang memang setiap hari suka minum banyak arak, tentu saja lebih kuat dalam hal minuman ini dibandingkan kakaknya yang sudah bertahun- tahun tidak pernah minum arak.

Akhirnya, Sie Bun Liong yang ikut bergembira menghadapi pernikahan adiknya sehingga tidak tega menolak ajakan Siangkoan Leng untuk minum arak tanpa ukuran lagi, meletakkan kepalanya berbantal lengan di atas meja dalam keadaan tidak sadar karena mabok berat. Sambil tertawa-tawa Siangkoan Leng membantu dan memapah kakaknya keluar dari ruangan itu.

“Ha-ha-ha, Liong-ko, engkau sudah tidak kuat minum lagi! Ha-ha, marilah, mari beristirahat, engkau harus membantuku, Liong-ko ha-ha-ha!” Siangkoan Leng yang hanya setengah mabok tertawa-tawa gembira.

Dia ingin menyenangkan hati kakaknya agar kakaknya itu tidak menghalangi pernikahannya, melainkan membantunya.

Malam telah larut, bahkan setelah tengah malam, gedung tempat tinggal Siangkoan Leng telah menjadi sepi. Semua anggauta Ban-hwa-pang yang sehari penuh tadi bekerja menghias seluruh perkampungan mereka untuk mempersiapkan perayaan pernikahan ketua mereka, kini sudah tidur melepaskan lelah.

Siang Lan melihat betapa lima orang wanita yang menjaganya sudah tidur pulas di atas lantai. Ia sejak tadi berusaha untuk melepaskan tali yang mengikat pergelangan tangannya, namun tidak berhasil. Tali itu terlampau kuat, agak lentur sehingga tidak dapat putus. Juga rantai baja pada kakinya amat kuat. Kini ia duduk bersila di atas pembaringan untuk menghimpun tenaga. Ia pikir bahwa untuk melaksanakan upacara pernikahan besok, mau tidak mau Siangkoan Leng pasti akan melepaskan ikatan kaki tangannya. Tidak mungkin ia harus melakukan upacara pernikahan dalam keadaan terbelenggu disaksikan para tamu!

Nah, kesempatan itu, walaupun sedikit dan di sana akan terdapat banyak kaki tangan Siangkoan Leng, akan ia pergunakan untuk mengamuk dan membebaskan diri! Untuk itu ia membutuhkan banyak tenaga murni, maka malam ini ia duduk melakukan siu-lian (samadhi) menghimpun tenaga.

Lewat tengah malam, suasananya menjadi semakin sepi. Siang Lan yang tenggelam ke dalam samadhi menjadi peka sekali. Ia bahkan dapat mendengar dengkur yang datang dari kamar-kamar sebelah, bahkan pernapasan halus dari lima orang wanita pelayan di lantai itupun terdengar dengan jelas olehnya.

Tiba-tiba, pada waktu jauh lewat tengah malam, pendengarannya menangkap gerakan yang tidak wajar itu di luar kamar itu. Ia membuka sepasang matanya dan melihat betapa lilin yang tadi bernyala di sudut kamar telah padam. Juga lampu kecil di atas meja berkedap-kedip, apinya bergoyang.

Kemudian ada angin bertiup dan api lampu itu pun padam, membuat ruangan itu menjadi remang-remang karena hanya mendapat sedikit sinar dari lampu yang berada di luar. Sinar itu memasuki kamar lewat daun jendela yang telah terbuka!

Sesosok bayangan dalam cuaca remang-remang itu berkelebat mendekati pembaringan. Siang Lan cepat mengerahkan tenaga dan menggerakkan kedua tangannya yang terikat untuk menyerang bayangan yang mendekatinya itu.

“Wuuuttt    !” Pukulan gadis itu dahsyat sekali karena ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk membunuh

bayangan yang ia yakin tentulah Siangkoan Leng yang berniat buruk terhadap dirinya..

“Plakk! Plakk!” Dua pukulannya itu tertangkis dan Siang Lan merasa betapa kedua tangannya bertemu tangan yang demikian lemas dan lunak sehingga menyerap semua tenaga pukulannya. Ia terkejut sekali akan tetapi tiba-tiba dengan cepat sekali ada tangan yang menotoknya.

Seketika ia terkulai lemas, tak mampu bergerak menggunakan kekuatan tenaga sin-kang lagi, bahkan tidak mampu mengeluarkan suara. Demikian hebatnya totokan itu, membuat ia terheran-heran. Tubuhnya tidak terasa nyeri, juga tidak lumpuh, akan tetapi anehnya ia tidak mampu menggunakan tenaganya!

01.03. Pembantaian Laki-laki Ban-hwa-pang

Tiba-tiba ia menjerit, akan tetapi tidak ada suara keluar dari mulutnya. Jerit itu terjadi di dalam hatinya saking kaget dan ngerinya karena ada tangan yang dengan lembut melepaskan pakaiannya dan menanggalkan pakaian itu dari tubuhnya! Dan tangan-tangan yang gerakannya lembut namun kuat sekali itu bahkan membuka ikatan kedua tangannya dan juga belenggu pada kakinya.

Ia kini bebas dari belenggu, akan tetapi tubuhnya tidak dapat meronta dan sama sekali tidak berdaya. Yang terjadi kemudian membuat ia menjerit-jerit dalam hatinya.

Air matanya bercucuran keluar dari sepasang matanya dan akhirnya ia jatuh pingsan karena tidak dapat menahan rasa ngeri, marah, benci dan perasaannya hancur lebur. Pada saat itu, sebelum ia jatuh pingsan, ia ingin mati saja. Ia telah diperkosa orang tanpa ia mampu bergerak atau menjerit. Siang Lan tentu saja tidak tahu berapa lamanya ia dalam keadaan seperti itu dan pingsan. Ketika ia siuman, ia mendengar suara seperti isak tangis dan ada bayangan terhuyung meninggalkan pembaringan menuju ke jendela yang terbuka.

Pada saat itu, Siang Lan teringat apa yang telah terjadi menimpa dirinya dan tiba-tiba ia merasa betapa ia dapat lagi menggerakkan kaki tangannya yang sudah tidak terbelenggu lagi. Cepat ia melompat turun hendak mengejar bayangan itu, yang kini telah melompat keluar melalui lubang jendela. Akan tetapi melihat betapa dirinya dalam keadaan telanjang bulat, ia terkejut bukan main dan menahan gerakannya yang hendak melakukan pengejaran.

Dalam cuaca remang-remang itu, cepat ia menyambar pakaiannya yang bertumpuk di atas tepi pembaringan. Cepat ia mengenakan pakaian dengan air mata bercucuran akan tetapi menahan suara tangisnya. Ia menyadari benar apa yang telah terjadi. Tadi malam ia tertotok dan dalam keadaan tak berdaya telah diperkosa orang!

Agaknya fajar telah menyingsing dan cuaca dalam kamar itu tidak segelap malam tadi. Ia melihat lima orang wanita penjaga masih rebah di lantai dan ketika ia memeriksa, mereka pun bukan sedang tidur melainkan pingsan tertotok pula!

Siang Lan cepat melompat melalui lubang jendela untuk melakukan pengejaran. Hatinya menangis dan menjerit-jerit teringat akan keadaan dirinya. Akan tetapi ketika tiba di luar ia tidak melihat orang yang semalam memperkosanya. Andaikata ia melihatnya, ia pun tidak akan mengenalnya karena semalam ia hanya melihat bayangan orang itu dalam kegelapan.

Akan tetapi hatinya merasa yakin bahwa pelakunya sudah pasti Siangkoan Leng, Ketua Ban-hwa-pang. Kalau bukan dia, siapa lagi yang berani melakukan perbuatan keji yang terkutuk itu? Kini ia merasa hatinya panas. Rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuh. Ia merasa seperti dibakar kemarahan dan kebencian.

Tiba-tiba muncul tiga orang anggauta Ban-hwa-pang. Mereka terkejut melihat calon pengantin yang tadinya menjadi tawanan itu telah bebas dan berada di luar kamar dengan rambut tergerai dan sepasang mata berkilat.

“Hei......! Nona pengantin, telah terlepas    !” teriak seorang di antara mereka.

“Syuutt      dukk!” Orang itu terjengkang dan tewas seketika karena tamparan tangan Siang Lan membuat

kepalanya retak.

Dua orang rekannya terkejut dan marah. Cepat mereka mencabut pedang akan tetapi sebelum mereka sempat menyerang, kembali kedua tangan Siang Lan berkelebat dan mereka berdua roboh dan tewas!

Setelah membunuh tiga orang itu, Siang Lan menjadi semakin beringas seperti seekor harimau mencium darah. Ia menyambar sebatang pedang milik anggauta Ban-hwa-pang yang tewas itu, lalu ia mulai mencari Siangkoan Leng dengan hati penuh dendam kebencian yang membuat ia hampir gila mengingat akan malapetaka yang menimpa dirinya semalam!

Lima orang anggauta Ban-hwa-pang muncul. Para anggauta perkumpulan itu memang mulai bangun dan siap untuk melanjutkan persiapan perayaan pernikahan ketua mereka.

Ketika lima orang itu melihat Hwe-thian Mo-li berdiri dengan pedang di tangan, tentu saja mereka terkejut. Mereka sudah mendengar bahwa calon pengantin itu adalah seorang gadis yang berjuluk Iblis Betina dan lihai sekali.

Tadinya mereka mendengar dan bahwa gadis itu menjadi tawanan, terbelenggu dan tertotok sehingga tidak mungkin dapat lolos. Kini, tahu-tahu gadis itu telah berada di depan mereka. Maka sambil berteriak-teriak memanggil teman, mereka lalu mengepungnya.

“Nona, engkau hendak ke manakah? Sebagai calon pengantin, Nona tidak boleh keluar kamar    ”

“Singgg     crakkk!” Pembicara itu roboh dengan leher hampir putus terbabat pedang!

Empat orang yang lain terkejut dan marah. Mereka lalu mengeroyok dengan pedang mereka dan para anggauta lain yang mendengar keributan itu, berdatangan berbondong-bondong. Akan tetapi pedang rampasan di tangan Hwe-thian Mo-li menyambar-nyambar dan sinarnya bergulung-gulung. Ia mengamuk seperti Iblis Betina benar-benar dan terdengar jeritan disusul robohnya tubuh para pengeroyok.

Darah muncrat dan membanjiri lantai! Karena ruangan itu terlalu sempit, apalagi sudah ada enam orang malang melintang tewas disambar pedangnya. Hwe-thian Mo-li merasa tidak leluasa mengamuk. Maka ia lalu melompat keluar dan setelah tiba di pekarangan depan rumah besar Siangkoan Leng, ia berhenti menanti sampai puluhan orang anggauta Ban- hwa-pang datang mengepungnya.

“Anjing-anjing jahanam keparat! Majulah kalian semua. Hari ini kalau tidak dapat membunuh bangsat Siangkoan Leng dan kalian semua anak buahnya, jangan sebut aku Hwe-thian Mo-li!” Ia menjerit dan segera tubuhnya berkelebatan, pedangnya menyambar-nyambar.

Terjadilah perkelahian yang mengerikan. Puluhan orang anggauta Ban-hwa-pang itu bagaikan segerombolan anjing serigala mengeroyok Hwe-thian Mo-li yang mengamuk seperti seekor naga. Jerit dan teriakan susul menyusul. Tubuh para pengeroyok berpelantingan dan tewas seketika, terkena sambaran pedang atau tamparan tangan, kiri gadis itu. Baju Hwe-thian Mo-li sudah berlepotan darah mereka yang ia robohkan. Banjir darah di pekarangan gedung itu.

Setelah merobohkan dan membunuh lebih dari duapuluh orang pengeroyok, tiba-tiba terdengar gerengan dahsyat dan muncullah Sang Ketua yang bertubuh tinggi besar itu.

“Perempuan iblis!” Siangkoan Leng membentak, melintangkan tombak cagaknya di depan dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah Hwe-thian Mo-li. “Perempuan tidak tahu diuntung! Engkau hendak kuangkat derajatmu menjadi Nyonya Ketua Ban-hwa-pang, sekarang malah membunuhi anggauta perkumpulanku! Engkau harus menebus dosa ini dengan nyawamu!”

Kini Siang Lan dapat melihat laki-laki itu dengan jelas dan ia bergidik muak. Kepala yang besar itu dengan semua anggauta badan yang bulat dan besar membuat ketua itu tampak seperti seekor kera yang menjijikkan. Mengingat bahwa orang ini semalam telah melakukan penghinaan yang sebesar-besarnya kepadanya, telah memperkosanya, maka sepasang mata Siang Lan mencorong.

Apalagi ia melihat pedangnya tergantung di pinggang orang itu, saking marahnya ia hampir tak mampu bicara. “Mampuslah, jahanam!” Ia menjerit dan pedangnya sudah menyerang dengan dahsyatnya.

Siangkoan Leng bukan seorang lemah, akan tetapi ketika dia menggerakkan tombaknya untuk menangkis, terdengar bunyi berdentang dan dia terhuyung ke belakang. Dia terkejut bukan main. Ternyata gadis ini memang lihai dan memiliki tenaga sakti yang amat kuat. Dia meneriaki anggauta perkumpulannya untuk mengeroyok dan kembali Siang Lan mengamuk. Ia sengaja selalu menjauhi Siangkoan Leng yang merupakan lawan paling tangguh. Ia mengamuk di antara para anggauta Ban-hwa-pang.

Satu demi satu para pengeroyok itu ia robohkan. Setelah terjadi pertempuran yang lebih merupakan pembantaian itu selama hampir dua jam, akhirnya semua anggauta Ban-hwa-pang roboh dan tewas! Kini hanya tinggal Siangkoan Leng seorang yang menghadapi Siang Lan dengan muka pucat dan merasa ngeri. Limapuluh lebih anak buahnya tewas di tangan Hwe-thian Mo-li!

Tadi memang sengaja gadis itu menghindari Siangkoan Leng karena dengan cara demikian, tidak ada anak buahnya yang melarikan diri. Kalau ia lebih dulu merobohkan ketuanya, maka sisa anak buahnya pasti akan melarikan diri ketakutan. Memang Hwe-thian Mo-li sudah memperhitungkan dan mengambil keputusan untuk membunuh semua anggauta Ban-hwa-pang!

“Jahanam busuk! Sekarang tiba saatnya aku mencincang hancur tubuhmu yang amat kotor dan jahat itu!” Hwe-thian Mo-li berseru dan ia segera menyerang dengan cepat.

Siangkoan Leng masih merasa ngeri melihat semua anak buahnya tewas. Untuk melarikan diri pun sudah tidak ada kesempatan lagi maka dia pun dengan nekat melawan mati-matian, mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmu silat tombaknya yang lihai.

Mereka bertanding di antara puluhan mayat yang berserakan. Terkadang mereka terpaksa menginjak mayat karena pekarangan itu memang penuh dengan mayat. Sepak terjang Hwe-thian Mo-li amat mengerikan. Ia bagaikan kesetanan, tidak mengenal ampun. Hati dan pikirannya dipenuhi dendam kebencian yang amat hebat karena peristiwa semalam yang merenggut kehormatannya sebagai seorang gadis.

Siangkoan Leng adalah seorang yang memiliki tingkat ilmu silat tinggi dan sudah memiliki banyak pengalaman berkelahi. Dalam hal ilmu silat dan tenaga, mungkin tingkatnya tidak berselisih jauh dari tingkat kepandaian Hwe-thian Mo-li. Akan tetapi yang jelas, dia kalah jauh dalam hal gin-kang (ilmu meringankan tubuh) sehingga ketika dalam perkelahian itu Siang Lan mengerahkan seluruh gin-kangnya, pandang mata Ketua Ban-hwa-pang itu menjadi kabur karena baginya, tubuh gadis itu seperti berubah banyak, menyerang dari berbagai jurusan dan bayangannya sedemikian cepatnya sehingga sukar baginya untuk dapat mengarahkan serangannya. Maka, setelah bertanding kurang lebih limapuluh jurus lamanya, Siangkoan Leng yang memang sudah merasa jerih dan ngeri melihat betapa semua anak buahnya telah tewas, tak mampu mengelak dari tendangan Siang Lan yang mengenai bawah perutnya. Dia berteriak mengaduh dan roboh terjengkang!

Bagaikan kesetanan Siang Lan menubruk ke depan, pedang yang berada di pinggang Siangkoan Leng itu disambarnya dan di lain saat Lui-kong-pokiam (Pedang Pusaka Halilintar) yang bersarung buruk, pedang pusaka pemberian mendiang gurunya, menggantikan pedang rampasan yang dibuangnya. Tampak sinar menyilaukan mata menyambar-nyambar ke arah tubuh Siangkoan Leng. Hanya dua kali Ketua Ban-hwa- pang itu menjerit dan selanjutnya, tubuhnya dicincang oleh Siang Lan yang sudah memegang pedangnya sendiri. Mengerikan sekali keadaan tubuh Siangkoan Leng. Siang Lan terus membacoki sambil mencucurkan air mata.

“Mampuslah, mampuslah......!” berulang-ulang ia berseru dan akhirnya ia berdiri setengah lunglai, lelah sekali, berdiri memegangi pedangnya yang berlepotan darah memandang ke arah onggokan daging di depannya, bekas tubuh Siangkoan Leng yang dicincang berikut tulang-tulangnya itu!

Kemudian Nyo Siang Lan memerintahkan keluar semua penghuni dalam perkumpulan Ban-hwa-pang itu.

“Hayo, semua orang keluar dan berkumpul di sini! Siapa yang tidak mematuhi perintahku ini, akan kubunuh seperti yang lain!” bentaknya sambil mengerahkan lwee-kang (tenaga dalam) sehingga suaranya terdengar lantang menggema sampai ke seluruh lembah itu, bahkan menggetarkan semua pondok yang berada di situ!

Mendengar seruan ini, berbondong-bondong keluarlah keluarga para anggauta Ban-hwa-pang bersama anak-anak mereka. Para wanita dan anak-anak itu menangis karena merasa ngeri dan ketakutan melihat banjir darah dan mayat-mayat suami dan ayah mereka berserakan! Juga di gedung besar tempat tinggal Siangkoan Leng, keluar belasan orang wanita yang tadinya menjadi pelayan ketua itu. Mereka semua berlutut dan menggigil ketakutan.

Melihat puluhan orang wanita dan kanak-kanak itu, hati Siang Lan menjadi agak lemas dan kemarahannya memudar, terganti rasa iba.

“Hemm, mana yang laki-laki? Aku tidak melihat seorang pun laki-laki di antara kalian!”

“Semua laki-laki telah tewas terbunuh, Li-hiap (Pendekar Wanita), dan ada beberapa orang yang melarikan diri. Tinggal kami para isteri dan anak. !” jawab seorang di antara mereka yang agak tabah.

Tadi sehabis berkelahi membantai para anggauta Ban-hwa-pang, Siang Lan baru melihat betapa indahnya tempat itu. Lembah yang penuh dengan bunga beraneka warna! Sinar matahari pagi membuat pemandangan dari lereng itu semakin semarak dan indah sekali sehingga ia mengambil keputusan untuk memiliki lembah ini!

“Mulai saat ini, aku yang memiliki lembah ini. Akan kubangun lembah ini. Kalian yang mempunyai anak, bawalah semua harta milik kalian dan pergilah meninggalkan lembah. Akan tetapi kalian yang tidak mempunyai anak, boleh tinggal di sini membantuku Aku akan mendirikan sebuah perkumpulan terdiri dari wanita semua di lembah ini!”

Lima orang wanita yang semalam melayani Siang Lan, kemudian pingsan tertotok dan kini agaknya sudah pulih kembali dan ikut keluar, segera maju dan berlutut di depan gadis perkasa itu.

“Lihiap, kami berlima tidak mempunyai keluarga, kami ingin ikut dan membantu Lihiap,” kata seorang di antara mereka yang usianya sekitar tigapuluh dua tahun dan berwajah manis.

Siang Lan memang suka kepada mereka karena selama melayaninya mereka bersikap amat baik, bahkan merasa kasihan kepadanya. Ia mengangguk, lalu bertanya kepada pembicara itu.

“Enci, siapa namamu:,”

“Nama saya Kiok Hwa (Bunga Seruni), Bwe Kiok Hwa, Lihiap.”

“Baik, kuangkat engkau menjadi pembantu utamaku. Kuterima kalian berlima sebagai para pembantuku!” Lima orang wanita itu memberi hormat dengan girang.

Para wanita yang merasa tidak mempunyai anak atau keluarga, segera berbondong maju dan berlutut di belakang lima orang wanita pelayan itu. Mereka berjumlah sekitar tigapuluh orang, berusia antara limabelas sampai tigapuluh tahun. “Kami siap membantu dan menjadi anak buah Lihiap!” seorang di antara mereka berseru. Siang Lan merasa senang.

“Bagus! Sekarang kalian semua yang ingin membantuku, kuberi tugas dengan dipimpin Bwe Kiok Hwa. Pertama, bantulah para isteri dan anak mengurus penguburan suami dan ayah mereka. Semua jenazah agar dikubur di luar daerah bukit ini, di kaki bukit sana. Kalian pilih saja tempat yang baik. Kedua, kalian bantu mereka yang harus pergi meninggalkan lembah, dan atur agar mereka membawa semua barang milik mereka, juga kalau ada simpanan harta di sini, berilah bekal secukupnya kepada keluarga yang meninggalkan lembah. Aku tidak ingin ada laki-laki dan kanak-kanak berada di sini!

“Ketiga, bakar gedung bekas tempat tinggal Siangkoan Leng ini. Aku tidak sudi melihatnya lagi, dan kita akan bangun sebuah gedung baru. Kiok Hwa, kau atur agar barang-barang berharga tidak ikut dibakar karena kita perlu untuk membiayai bangunan baru. Akan tetapi semua perabot dalam rumah ini harus dibakar habis. Aku tidak sudi lagi melihatnya. Nah, mengertikah kalian semua akan tiga tugas itu?”

“Kami mengerti!” terdengar para wanita itu riuh menjawab. Hati mereka merasa gembira karena selama ini para wanita di situ seolah hanya dijadikan budak, melayani para laki-laki dan terkadang diperlakukan kasar. Kini, dengan seorang ketua pendekar wanita, mereka melihat kecerahan di masa depan mereka.

“Untuk tugas pertama dan kedua, aku minta agar dapat diselesaikan dalam tiga hari. Setelah tiga hari, di sini tidak ada lagi wanita dengan anak-anak mereka, juga wanita yang tidak ingin menjadi anggauta perkumpulanku. Adapun tugas ketiga, yaitu membakar gedung, harus dilakukan sekarang juga. Nah, aku pergi dan tiga hari kemudian aku kembali ke sini!”

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat, tubuh Siang Lan lenyap dari depan para wanita itu yang menjadi makin takut. Mereka ada yang sudah mendengar bahwa gadis itu berjuluk Iblis Betina Terbang dan sekarang mereka menyaksikan sendiri betapa wanita itu pandai menghilang seperti iblis!

Hwe-thian Mo-li berlari menuruni lereng di mana terdapat lembah yang penuh dengan bunga itu. Setelah tiba di lereng bawah, ia menengok dan melihat asap membubung tinggi dan tahulah ia bahwa gedung tempat tinggal Siangkoan Leng itu mulai dibakar oleh para pembantunya. Ia membalik lagi dan memandang ke depan. Melihat sebuah telaga kecil dengan airnya yang mengkilap tertimpa sinar matahari pagi, ia cepat berlari menuju ke telaga itu.

Setelah tiba di tepi telaga kecil yang sunyi dan indah itu, Siang Lan yang merasa betapa tubuhnya lunglai, menjatuhkan diri di atas rumput tebal di tepi telaga dan menangislah gadis itu. Menangis sejadi-jadinya, tersedu-sedu, terisak sampai terengah dan merintih-rintih, bahkan tanpa ia sadari terdengar rintihannya memilukan.

“Ibuuu...... lbu......, Ayah...... di mana kalian......? Ibu......!” Hatinya terasa seperti diremas-remas teringat akan peristiwa semalam. Ia telah dihina, diperkosa seorang laki-laki macam Siangkoan Leng tanpa berdaya. Ia merasa begitu terhina, kotor dan menjijikkan.

“Ibuuu......! Suhuuu......, teecu (murid) lebih baik mati saja......!” Kini ia merintih memanggil mendiang gurunya yang mengasihinya seperti ayahnya sendiri.

Siang Lan duduk setengah rebah menelungkup, membiarkan mukanya terbenam dalam rumput dan menjadi basah oleh air mata dan embun, tubuhnya yang terisak-isak itu bergoyang-goyang, sesenggukan seperti seorang anak kecil. Ia telah membantai puluhan orang untuk melampiaskan dendamnya, namun perbuatan itu ternyata tidak memuaskan hatinya, bahkan menambah ganjalan hatinya kalau ia teringat bahwa belum tentu semua orang yang dibunuhnya itu jahat atau bersalah kepadanya. Ia telah membunuhi suami orang, ayah orang, tanpa memperhitungkan apakah yang ia bunuh itu jahat atau tidak.

Sama sekali ia tidak tahu bahwa sejak ia lari meninggalkan lembah tadi, ada bayangan orang yang selalu mengikutinya dari jauh. Kini, ketika ia menangis, meratap dan merintih di tepi telaga kecil, bayangan itu bersembunyi di balik semak-semak, tidak begitu jauh darinya sehingga pengintai itu bukan saja dapat melihat semua yang ia lakukan, bahkan mendengar semua ratapan dan rintihannya.

Dan, orang itu, seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun lebih, wajahnya tampak pucat dan matanya muram alisnya berkerut. Melihat Siang Lan meratap dan menangis, dia lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri yang sudah banyak ubannya itu sambil bercucuran air mata!

02.04. Penyesalan Seorang Pendekar “Sie Bun Liong, jahanam busuk kau! Apa yang telah kau lakuan......? Kau layak mampus    !” Sepuluh jari

tangannya menjambak-jambak rambutnya sendiri sampai gelungnya terlepas awut-awutan, kemudian kedua tangannya menampari kedua pipinya dari kanan kiri.

“Plak-plak-plak-plak-plak-plak! Kau layak mampus, layak mampus huu-huu-huuhh......!” Dia menangis sambil menahan suaranya, air matanya bercucuran, kedua pipinya bengkak-bengkak oleh tamparannya sendiri dan kedua ujung bibirnya berdarah!

Kalau orang melihat Hwe-thian Mo-li menangis mengguguk seperti anak kecil seperti itu, tentu orang yang mengenal Hwe-thian Mo-li akan terheran-heran. Gadis yang dikenal dengan juluan Iblis Betina Terbang, yang terkenal pemberani, tak mengenal takut, keras, liar dan ganas itu, bagaimana mungkin kini menangis mengguguk seperti anak kecil?

Dan orang yang mengenal laki-laki yang bersembunyi itu tentu akan lebih heran. Dia adalah Sie Bun Liong yang telah kita kenal ketika malam tadi berkunjung ke rumah adik tiri berlainan ayah ibu di Ban-hwa-pang. Sie Bun Liong adalah seorang perantau, seorang kelana yang bertahun-tahun berkelana di daerah Tibet dan Himalaya, seorang ahli sastra dan ahli silat yang amat pandai, kini menangis, menjambak-jambak rambutnya dan menampari pipinya sendiri!

Sie Bun Liong maklum bahwa adiknya berlainan ayah dan ibu, Siangkoan Leng, adalah seorang laki-laki yang lemah dan mudah diperbudak nafsu-nafsunya. Karena itu, sebelum meninggalkan Ban-hwa-pang di mana adiknya itu menjadi ketua, dia sudah meninggalkan banyak pesan dan nasihat agar adiknya tidak meninggalkan jalan kebenaran seperti seorang pendekar.

Namun, ketika kemarin dia menuju ke Ban-hwa-pang, dia mendengar keterangan yang kurang menyenangkan tentang Ban-hwa-pang dari para penduduk. Maka, ketika melihat Ban-hwa-pang mempersiapkan pesta pernikahan adiknya itu, dia sudah merasa curiga dan ingin bertemu calon pengantin wanita untuk melihat apakah wanita itu mau menikah dengan Siangkoan Leng dengan suka rela atau dipaksa. Kalau dipaksa, dia akan turun tangan mencegah dan melarang adiknya memaksa wanita untuk menjadi isterinya!

Akan tetapi Siangkoan Leng melarangnya bertemu dengan calon pengantin dengan alasan yang kuat dan karena betapapun juga Sie Bun Liong memiliki rasa sayang kepada adik tiri ini, maka dia mau diajak minum bermabok-mabokan oleh adiknya. Dia minum sampai begitu maboknya sehingga dia tidak ingat apa-apa lagi.

Ketika dia sadar dari keadaan setengah pingsan itu, dia merasakan tubuhnya panas dan tidak karuan. Kepalanya berdenyut-denyut dan berdengung, perasaannya demikian gembira tidak wajar.

Dia membuka mata dan mendapatkan dirinya rebah di atas pembaringan dan di dekatnya rebah pula seorang wanita dalam keadaan telanjang bulat! Dalam keremangan cuaca dalam kamar dia melihat kulit tubuh yang putih mulus, ketika tersentuh merasakan kehangatan yang luar biasa dan mencium keharuman yang tiba-tiba membuat gairahnya berkobar dan memuncak!

Sie Bun Liong bukan seorang laki-laki yang mudah tergiur wanita, bahkan dalam usia empatpuluh dua tahun itu dia belum pernah bergaul secara intim dengan seorang wanita. Melihat keadaan dirinya yang juga setengah telanjang karena pakaian luarnya bertumpuk di tepi pembaringan itu, Sie Bun Liong mencubit lengannya sendiri karena mengira bahwa semua itu tentu hanya mimpi. Akan tetapi ternyata bukan mimpi.

“Gila!” Dia berseru dalam hatinya dan berusaha sekuatnya untuk menolak karena nalurinya mengatakan bahwa semua ini tidak benar! Akan tetapi, semakin dilawan, gairah itu semakin kuat, seolah api yang berkobar membakar dirinya.

Dalam keadaan seperti gila dan masih setengah sadar dia tidak mampu lagi menahan gairah berahinya dan terjadilah peristiwa yang sama sekali tidak dikehendaki hati nuraninya. Hatinya menolak namun badannya tidak dapat dikendalikan lagi dan terjadilah peristiwa itu. Dia telah menggauli wanita yang tidak dikenalnya itu, wanita yang agaknya berada dalam keadaan setengah sadar atau pingsan.

Ketika pengaruh hawa rangsangan yang amat kuat itu mulai melemah, pada pagi hari itu dia segera mengenakan pakaiannya dan turun dari pembaringan. Dia hampir gila karena penyesalan, bercampur keheranan dan penasaran mengapa sampai terjadi hal seperti itu.

Apa yang telah terjadi? Siapa gadis itu? Apakah adiknya, Siangkoan Leng yang sengaja menyuruh gadis itu melayaninya? Akan tetapi ketika dia keluar dari jendela kamar itu, dia mendapat kenyataan bahwa itu merupakan kamar terbesar dan di depan pintu kamar terdapat hiasan kamar pengantin dengan kain merah! Gadis itu adalah gadis calon pengantin, calon isteri Siangkoan Leng! Sie Bun Liong tidak dapat menahan lagi rasa malu, marah, dan penyesalannya. Perbuatannya semalam merupakan dosa yang tak dapat diampuni, merupakan perbuatan kotor dan hina, menyeretnya menjadi manusia iblis yang merusak kehormatan seorang gadis! Terkutuk! Dia lalu melarikan diri, meninggalkan Ban-hwa-pang dengan amat cepat sehingga tidak diketahui siapa pun.

Setelah berada jauh dari Ban-hwa-pang, dia berhenti, menjatuhkan diri di atas tanah lalu berlutut, menangis dan berdoa mohon pengampunan atas dosa yang telah diperbuatnya! Akan tetapi dia juga merasa heran.

Bagaimana mungkin dia melakukan perbuatan hina seperti itu, memperkosa seorang gadis yang berada dalam keadaan tidak berdaya? Sekarang baru dia dapat menduga bahwa gadis itu tentu telah ditotok sehingga tidak mampu menggerakkan kaki tangan dan tidak mampu mengeluarkan suara!

Akan tetapi, mengapa dia mau melakukan perkosaan seperti itu? Ini sama sekali bukan dirinya. Sampai mati pun dia tidak akan sudi melakukan hal itu. Akan tetapi mengapa dilakuannya juga?

Dia mengingat-ingat dan membayangkan apa yang terjadi kemarin sore. Dia minum-minum dengan Siangkoan Leng, minum arak sebanyak-banyaknya karena adiknya itu membujuk dan setengah memaksanya untuk minum, demi kebahagiaan adiknya. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi dan yang teringat hanya peristiwa malam tadi. Malam jahanam yang membuat dia berubah menjadi iblis! Mengapa begitu?

Sie Bun Liong duduk termenung, diam tak bergerak seolah telah berubah menjadi arca. Dia memikirkan hal yang telah terjadi secara aneh dan luar biasa itu. Lalu dia teringat akan perasaannya ketika mulai sadar dan mendapatkan dirinya berada di atas pembaringan, di dekat seorang gadis yang rebah telentang dalam keadaan telanjang bulat. Dia merasa tubuhnya seperti dibakar, kepalanya berdenyut, telinganya berdengung sehingga sukar baginya untuk berpikir.

“Ah    !” Tiba-tiba dia teringat bahwa adiknya, Siangkoan Leng adalah orang yang suka sekali mempelajari

tentang semua bunga di Lembah Selaksa Bunga itu dan membuat ramuan obat dari bunga-bunga itu!

Mungkin dia telah keracunan, pikirnya! Ya, malam itu dia terpengaruh racun yang amat hebat, racun perangsang yang amat kuat sehingga seolah melumpuhkan semua kesadaran dan pertahanan batinnya. Dia dalam pengaruh racun perangsang! Akan tetapi, bagaimana dia dapat diracuni?

Apakah ketika dia minum-minum dengan adiknya? Dan siapa yang meracuninya? Adiknya sendiri? Rasanya tidak mungkin! Mana mungkin Siangkoan Leng meracuni kakak sendiri agar kakaknya memperkosa gadis yang menjadi calon isterinya? Sama sekali tidak mungkin! Lalu siapa? Apa yang sebenar telah terjadi?

Dia merasa malu, bahkan ngeri untuk kembali ke Lembah Selaksa Bunga. Bagaimana dia dapat berhadapan muka dengan Siangkoan Leng setelah dia memperkosa calon isteri adiknya itu? Lebih lagi, bagaimana dia akan dapat berhadapan dengan gadis yang semalam telah dia perkosa?

Sampai lama sekali, setelah termenung di situ seperti orang yang kehilangan ingatan, Sie Bun Liong baru bangkit berdiri. Dia tidak boleh berdiam diri saja, pikirnya. Dia harus menyelidiki bagaimana peristiwa semalam itu dapat terjadi dan apa artinya semua itu.

Laki-laki bertubuh sedang dengan pakaian sederhana itu kini melangkah menuju ke Lembah Selaksa Bunga kembali. Wajahnya yang memiliki garis-garis kehidupan mendalam dengan bentuk yang jantan dan tampan itu kini tampak muram. Sepasang matanya yang biasanya lembut penuh kesabaran dan tenang itu kini tampak gugup dan bingung.

Setelah agak dekat dengan perkampungan Ban-hwa-pang dia mendengar suara orang-orang berkelahi di perkampungan itu. Dia terkejut dan cepat berlari menuju ke Ban-hwa-pang. Ketika dia tiba di sana dan memandang ke pekarangan gedung tempat tinggal adiknya, matanya terbelalak, mukanya pucat dan tubuhnya gemetar.

Jantungnya hampir berhenti berdetak ketika dia melihat seorang gadis cantik jelita dan gagah, rambutnya awut-awutan, pakaiannya berlepotan darah, memegangi sebatang pedang yang berkilauan, berdiri di tengah pekarangan dan di sekelilinginya tampak mayat-mayat puluhan orang berserakan! Dia mendengar Hwe-thian Mo-li mengucapkan perintah tiga macam tugas kepada puluhan orang wanita yang berlutut menghadapnya.