-->

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan Jilid 09

 
Jilid 09

Di lain pihak, sepasang gadis kembar itupun terkejut ketika serangan mereka yang gencar itu selalu gagal. Pemuda itu dapat bergerak dengan cepat sekali sehingga tubuhnya bagaikan bayangan saja yang berkelebatan di antara sinar pedang mereka. Dan kalau sekali-kali Kam Ki mengibaskan tangan untuk menangkis pedang dari samping, mereka merasa betapa tangan mereka tergetar hebat.

Sekarang mengertilah sepasang gadis kembar itu mengapa Pek-hwa Sianli menyuruh mereka berdua mencari dan membunuh Kam Ki. Pek-hwa Sianli sendiri pasti tidak dapat menandingi pemuda yang amat lihai sekali. Mereka lalu mengerahkan seluruh kemampuan mereka dengan kerja sama yang amat baik sehingga mereka mampu menekan Kam Ki walaupun tidak mudah untuk membunuhnya.

Kam Ki melihat Ang-bin Moko sudah muncul di situ dan bersama para anak buah menonton dia bertanding melawan sepasang gadis kembar itu.

“Moko, bantu aku menangkap mereka ini. Jangan bunuh dan jangan lukai, tangkap hidup-hidup!” kata Kam Ki.

Ang-bin Moko maklum apa yang dimaksudkan Kam Ki. Dia lalu membanting bahan peledak di dekat dua orang gadis kembar itu. Terdengar suara ledakan dan asap putih yang tebal membubung. Can Kim Siang dan Can Gin Siang hendak menghindar, namun Kam Ki menghadang mereka dengan tamparan- tamparan yang mendatangkan angin kuat sehingga mereka tidak mampu menjauh dan otomatis mereka menyedot asap putih. Seketika mereka merasa pandang mata mereka gelap dan sambil mengeluh keduanya roboh terguling, pingsan terbius oleh asap yang mengandung pembius amat kuat itu.

Sambil tertawa girang Kam Ki mengempit tubuh dua orang gadis kembar itu dan membawanya masuk ke dalam kamar besar di mana Bwee Hwa masih terikat di atas pembaringan. Kam Ki memerintahkan anak buahnya untuk mengambilkan dua buah dipan, lalu mengikat dua orang gadis kembar itu masing-masing di atas sebuah dipan, seperti keadaan Bwee Hwa, telentang di atas pembaringan dengan kedua kaki tangan terikat kuat!

Kam Ki duduk menghadapi meja dan tertawa-tawa senang sambil memandangi tiga orang gadis itu berganti-ganti. Ketiganya mempunyai daya tarik tersendiri. Ketiganya cantik jelita menggairahkan!

“Ha-ha-ha! Aku semalam tidak bermimpi kejatuhan tiga buah bintang ge-merlapan, tahu-tahu sekarang ada tiga orang gadis cantik manis siap melayaniku. Ha-ha-ha!”

“Engkau jahanam keparat busuk!” Bwee Hwa memaki.

Akan tetapi Kam Ki hanya tertawa sambil menuangkan arak dalam cawan dan meminumnya dengan hati senang.

Dengan perasaan berat tertindih kekhawatiran akan nasib Siong Li yang terkepung, apa lagi nasib Bwee Hwa yang tertawan oleh Kam Ki, ketua Pek-lian-kauw yang lihai itu, Ui Kong membalapkan kudanya menuruni lereng bukit.

Tiba-tiba dia melihat debu mengepul tinggi di dekat bukit dan tampak pasukan yang cukup besar, agaknya tidak kurang dari duaratus orang perajurit! Hati Ui Kong berdebar penuh ketegangan dan harapan, lalu membalapkan kudanya ke depan. Setelah dekat, dia melihat kakaknya, Ui Kiang menunggang kuda di depan pasukan, bersama tiga orang perwira. Pasukan itu mulai memasuki hutan di lereng terbawah. Melihat ini Ui Kong berseru nyaring, “Kiang- ko……!”

Ui Kiang memandang ke depan dan segera mengenal adiknya. Dia memberitahu para perwira agar menghentikan pasukan. Pasukan berhenti dan sebentar saja kedua kakak beradik itu sudah saling berhadapan.

Kedua orang kakak beradik itu melompat turun dari atas kuda dan mereka berlari saling menghampiri. “Kong-te, bagaimana keadaanmu? Di mana Hwa-moi dan saudara Siong Li?”

“Ah, celaka, Kiang-ko. Bwee Hwa tertawan dan Li-ko terancam bahaya,” kata Ui Kong.

“Bagaimana mungkin kalian bertiga sampai dapat dikalahkan?” Ui Kiang berseru heran dan juga kaget.

“Kiang-ko, cabang Pek-lian-kauw itu mempunyai seorang ketua baru, masih muda dan bernama Kam Ki. Dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali, amat lihai dan kami tidak mampu menandinginya,” kata Ui Kong.

“Kalau begitu, mari kita tolong adik Bwee Hwa dan saudara Siong Li. Engkau menjadi penunjuk jalan. Pasukan ini akan membantu kita, Kong-te!”

Ui Kong merasa lega dan dengan semangat meluap-luap karena timbul harapan baru untuk dapat menyelamatkan Bwee Hwa dan Siong Li, dia membedal kudanya, kembali naik ke Bukit Siong, diikuti oleh Ui Kiang, para perwira dan pasukan mereka.

Tak seorangpun di antara mereka melihat atau mengetahui bahwa ketika Ui Kong dan Ui Kiang bicara tadi, ada bayangan orang mengintai dan mendengarkan mereka dari atas sebatang pohon yang tinggi besar dan lebat daunnya. Begitu mendengar nama Kam Ki disebut, bayangan itu lalu berkelebat lenyap dan mendahului pasukan itu naik ke bukit Siong. Gerakannya amat ringan dan larinya seperti terbang cepatnya.

Bagaimana Ui Kiang dapat secara kebetulan tiba di tempat itu bersama Pasukan besar? Kiranya setelah Ui Kong, Bwee Hwa, dan Siong Li pergi, Ui Kiang merasa tidak enak karena dia hanya mampu menyumbangkan pikiran dan tidak dapat melakukan sesuatu untuk membantu mereka. Maka dia lalu cepat menghubungi panglima pasukan keamanan di kota Ki-lok dan menceritakan segalanya, juga tentang dugaannya bahwa sarang pembunuh yang tokoh Pek-lian-kauw itu dapat dilacak melalui gerombolan Kiu-liong-pang. Juga dia menceritakan tentang usaha Ui Kong, Bwee Hwa, dan Siong Li yang ingin menemukan pembunuh ayahnya dan merampas kembali patung Kwan Im dari Kuil Ban-hok-si. Dia minta bantuan panglima itu yang segera memerintahkan tiga orang perwiranya untuk memimpin duaratus orang perajurit membantu Ui Kiang yang hendak melakukan pengejaran dan membantu tiga orang pendekar. Demikianlah, di lereng pertama Bukit Siong itu pasukan bertemu dengan Ui Kong setelah mereka mendatangi gerombolan Kiu-liong-pang di lembah Sungai Kiu-liong dan memaksa tiga orang ketua gerombolan itu untuk memberitahu di mana adanya sarang Pek-lian-kauw.

Dan siapakah bayangan yang berkelebat dan kini berlari secepat terbang mendaki Bukit Siong itu? Dia adalah seorang pemuda yang bentuk tubuhnya sedang, wajahnya gagah namun membayangkan kelembutan, pakaiannya sederhana, kepalanya tertutup sebuah caping lebar. Pemuda ini memiliki sinar mata yang lembut dan wajahnya selalu dihiasi senyum yang ramah, penuh kesabaran dan penuh pengertian.

Dia bukan lain adalah Sie Bun Sam, pemuda berusia duapuluh lima tahun, murid utama Leng-hong Hoatsu. Seperti kita Ketahui, Sie Bun Sam menerima tugas dari Leng-hong Hoatsu untuk mencari sutenya, Thio Kam Ki yang menyeleweng dan berguru pada orang sesat.

Setelah beberapa bulan melacak, pada hari itu secara kebetulan dia mendengar keluhan para penduduk daerah Bukit Siong tentang kejahatan yang dilakukan gerombolan yang bersarang di puncak Bukit Siong. Seperti halnya dua orang gadis kembar, mendengar ini Bun Sam menjadi penasaran. Jiwa pendekarnya tersentuh dan dia mengambil keputusan untuk mendaki Siong-san dan membasmi gerombolan penjahat itu agar tidak lagi mengganggu ketenteraman kehidupan penduduk dusun di sekitar pegunungan itu.

Kebetulan sekali dia melihat pertemuan antara Ui Kong dan Ui Kiang. Bun Sam yang ingin tahu apa yang terjadi sehingga ada pasukan besar berada di situ, cepat melompat ke atas pohon dan sempat mendengarkan percakapan Ui Kong dan Ui Kiang. Ketika dia mendengar bahwa Pek-lian-kauw lah perkumpulan gerombolan pengacau itu dan kini gerombolan itu dipimpin oleh Kam Ki tentu saja dia terkejut dan menyesal sekali.

Tidak disangkanya bahwa sute yang amat disayangnya itu kini malah semakin dalam terperosok dalam kesesatan. Menjadi ketua Pek-lian-kauw! Maka dia harus cepat turun tangan mencegah sutenya itu melakukan perbuatan yang tidak baik. Dia mendengar laporan para penduduk di kaki gunung tadi bahwa gerombolan itu mengganggu rakyat dan bahkan menculik gadis-gadis.

Hati Bun Sam terguncang, penuh keraguan. Benarkah sutenya sekarang melakukan kejahatan seperti itu? Rasanya sukar dipercaya! Akan tetapi kalau dia mengingat betapa sutenya telah memukulnya pingsan dengan ilmu pukulan asing yang bersifat jahat, dia menjadi curiga. Maka, cepat dia melompat dan berlari cepat ke puncak gunung, karena agaknya pasukan pemerintah itu siap untuk membasmi gerombolan yang dipimpin Thio Kam Ki.

Dia hendak membuktikan dulu bagaimana keadaan gerombolan itu. Kalau benar gerombolan itu Pek- lian-kauw melakukan kejahatan dipimpin oleh Kam Ki, dia harus menentangnya. Akan tetapi kalau semua itu hanya fitnah dan sutenya tidak bersalah, dia harus membela sutenya dari serangan pasukan!

Thio Kam Ki duduk menghadap meja dan minum arak sambil memandang ke arah tiga orang gadis yang telah diikat kaki tangannya dan rebah telentang di atas pembaringan masing-masing itu! Dia merasa girang sekali. Tiga orang gadis itu sungguh cantik menarik dan mereka bertiga itu sudah berada dalam tangannya. Bagaikan tiga potong daging sudah berada dalam mangkok di depannya, tinggal makan saja! Akan tetapi, dia merasa kecewa dan tidak puas. Dia ingin tiga orang gadis cantik itu mau melayaninya dan membalas cintanya. Bukan melayaninya karena dipaksa. Kalau saja mereka bertiga suka menjadi isteri-isterinya dan hidup bersamanya di situ, tentu dia akan merasa berbahagia sekali!

Setelah puas minum arak, Kam Ki lalu menghampiri pembaringan Bwee Hwa. Dia duduk di tepi pembaringan dan membujuk Bwee Hwa, karena bagaimanapun juga, dia lebih tertarik kepada Bwee Hwa.

“Bwee Hwa, bagaimana, apakah engkau tetap menolak? Lihat, mereka berdua menjadi tawananku. Merekapun cantik-cantik dan memiliki ilmu silat yang bahkan lebih lihai daripada kepandaianmu. Mereka tentu akan senang sekali kalau menjadi isteriku.” “Jahanam busuk! Siapa sudi menjadi isterimu? Aku tidak sudi!” kata Can Kim Siang yang kini sudah siuman dari pingsannya.

“Akupun tidak sudi! Lebih baik mati!” teriak Can Gin Siang yang juga sudah siuman.

“Huh, laki-laki tidak tahu malu!” Bwee Hwa mengejek. “Tulikah telingamu sehingga kamu tidak mendengar ucapan mereka? Mereka berdua menolak untuk menjadi isterimu, akupun lebih baik mati daripada menjadi isterimu. Mau bunuh boleh bunuh, akan tetapi untuk menjadi isterimu, jangan harap!” kata Bwee Hwa dengan suara mengandung ejekan.

Ucapan-ucapan tiga orang gadis itu mendatangkan kesan baik satu sama lain di antara mereka dan mereka merasa lebih kuat karena mengalami nasib yang sama.

Mendengar ucapan tiga orang gadis itu, wajah Kam Ki menjadi merah sekali. Dia merasa marah bukan main. Untung tidak ada orang lain yang melihat keadaan dan mendengar makian tiga orang gadis itu. Kalau ada orang lain melihat dan mendengarnya, dia akan merasa malu bukan main! Dia, seorang pemuda yang berilmu tinggi, berwajah tampan dan gagah pula, kini ditolak mentah-mentah oleh tiga orang gadis. Bukan hanya ditolak, bahkan dimaki-maki dan dihina. Kalau menurutkan nafsu amarahnya, ingin dia membunuh tiga orang gadis itu pada saat itu juga! Akan tetapi tiga orang gadis itu begitu cantik dan manis, sayang kalau dibunuh begitu saja!

Untuk menenangkan hatinya yang panas dan marah, Kam Ki menuang dan minum arak dari cawannya sampai tiga kali. Kemudian dia tertawa.

“Ha-ha-ha! Kalian ini gadis-gadis yang angkuh dan besar kepala! Kalian berani menolakku? Ha-ha-ha, kalian kira begitu mudah menghinaku, ya? Tunggu saja! Aku akan menghinamu sepuluh kali lipat! Aku akan memperkosa kalian satu demi satu di sini, mempermainkan kalian sesuka hatiku dan sepuasku! Kalau aku sudah bosan, aku akan memberikan kalian kepada anak buahku, biar kalian dibuat permainan mereka sampai kalian mampus!”

Biarpun mulut mereka diam saja, namun di dalam hatinya, sepasang gadis kembar itu merasa ngeri juga mendengar ancaman itu. Akan tetapi mereka diam saja dan mereka berdua kagum ketika mendengar Bwee Hwa tertawa mengejek.

“Huh, ucapanmu itu hanya menunjukkan bahwa engkau adalah seorang pemuda yang tidak tahu malu dan jahat, keji, dan licik! Kalau memang engkau seorang pemuda gagah, hayo lepaskan ikatan ini dan mari kita bertanding sampai mati! Aku tidak takut padamu dan tidak takut akan ancamanmu, keparat! Kalau engkau melaksanakan ancamanmu itu, setelah mati aku pasti akan menjadi setan penasaran dan akan mengejarmu sampai di manapun juga.”

Thio Kam Ki memandang kepada Bwee Hwa dengan mata melotot dan sinarnya mencorong marah. “Hemm, Lim Bwee Hwa gadis sombong! Engkaulah yang akan kusiksa dan kuhina lebih dulu di depan dua orang gadis kembar ini!”

Setelah berkata demikian, Kam Ki bangkit dari kursinya dan menghampiri pem-baringan di mana Bwee Hwa rebah telentang dengan kaki tangan terikat. Karena merasa tidak berdaya, Bwee Hwa memejamkan kedua matanya agar ia tidak usah menyaksikan apa yang akan dilakukan pemuda itu kepadanya. Kam Ki yang telah banyak minum arak sehingga nafsunya semakin berkobar membakar dan mempengaruhi hati akal pikirannya, sambil menyeringai lebar berkata.

“Tunggulah sebentar, manisku. Aku merasa panas dan hendak mandi dulu biar badanku segar sehingga aku akan mampu melayani kalian bertiga berturut-turut, ha-ha-ha!” Setelah berkata demikian, dia mengusap pipi Bwee Hwa. Gadis itu membuang muka dan Kam Ki lalu meninggalkan kamar itu sambil tertawa bergelak.

Setelah pemuda itu pergi meninggalkan kamar, Can Kim Siang yang tadi melihat sikap Bwee Hwa dan merasa suka akan keberaniannya, bertanya, “Sobat, siapakah engkau dan bagaimana dapat tertawan oleh bangsat itu?”

Bwee Hwa yang tadi juga melihat betapa dua orang gadis itu berani menentang dan memaki Kam Ki, segera menjawab. “Namaku Lim Bwee Hwa, orang menyebut aku Ang-hong-cu. Aku bersama dua orang sahabatku menyerang Pek-lian-kauw untuk membunuh Pek-bin Moko dan merampas kembali patung emas Dewi Kwan Im yang dia curi dari kuil Ban-hok-si. Kami berhasil membunuh Pek-bin Moko, akan tetapi……” Bwee Hwa berhenti sebentar karena lehernya serasa dicekik kesedihan, “seorang sahabatku tewas dan yang lain entah bagaimana nasibnya, sedangkan aku sendiri tertawan.”

“Ah…… kami tadi berpapasan dengan seorang pemuda bertubuh tinggi tegap naik kuda dengan cepat sekali menuruni lereng bukit. Apakah itu sahabatmu yang kedua itu?” tanya Can Gin Siang, dan Kim Siang juga mengangguk karena menduga demikian.

“Berapa kira-kira usianya dan apa warna pakaiannya?” tanya Bwee Hwa.

“Usianya sekitar duapuluh tahun lebih, pakaiannya berwarna kuning,” kata Kim Siang.

“Ah, benar dia!” seru Bwee Hwa. “Tentu dia itu Kong-ko, maksudku Ui Kong. Dia dapat meloloskan diri, syukurlah dan aku yakin dia pasti tidak akan tinggal diam begitu saja melihat aku tertawan. Aku yakin bahwa dia tentu mencari bala bantuan!”

“Ssssttt....... dia datang……!” kata Kim Siang dan mereka bertiga menanti dengan jantung berdebar penuh ketegangan.

Mereka bertiga sudah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan ikatan kaki tangan mereka, akan tetapi Kam Ki yang tahu bahwa tiga orang gadis itu memiliki kepandaian tinggi, sudah mengikat kaki tangan mereka dengan tali yang amat kuat sehingga usaha mereka bertiga selalu gagal.

Tiga orang gadis itu otomatis menengok ke arah pintu kamar. Akan tetapi mereka tidak melihat siapa- siapa di situ dan ada suara gerakan orang di jendela kamar. Mereka otomatis menengok ke arah jendela.

Daun jendela terbuka dari luar dan pengganjalnya dari palang itupun patah. Sesosok tubuh orang dengan gerakan yang amat gesit melompat ke dalam kamar itu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, seolah seekor burung raksasa yang terbang masuk lewat jendela.

Tiga orang gadis tawanan itu menengok dan memandang dengan heran dan hati tegang, akan tetapi ketika melihat bahwa orang itu sama sekali bukan Thio Kam Ki seperti yang mereka duga dan khawatirkan, mereka menjadi lega, akan tetapi juga heran dan bertanya-tanya dalam hati apakah masuknya orang asing ini akan mendatangkan malapetaka ataukah pertolongan. Orang itu adalah seorang pemuda berusia kurang lebih duapuluh lima tahun, tubuhnya sedang saja, juga wajahnya tidak terlalu tampan namun juga tidak jelek, sederhana seperti pakaiannya. Sebuah caping lebar menutupi kepalanya.

Bwee Hwa yang berada paling dekat dengan orang itu, berkata lirih. “Siapakah engkau, kawan ataukah lawan? Kalau lawan, cepat bunuh kami! Kami tidak takut mati!”

Laki-laki itu adalah Sie Bun Sam. Dia memandang kepada Bwee Hwa dan tersenyum lembut. Pandang matanya seolah terpesona melihat wajah Bwee Hwa dan dia berkata lembut. “Bukan kawan dan bukan lawan, nona. Akan tetapi tidak dapat aku berdiam diri saja melihat kejahatan dilakukan orang.” Setelah berkata demikian, dia mengampiri Bwee Hwa dan dua kali tangannya bergerak, ikatan pada kaki dan tangan gadis itu putus.

Hwa menggosok-gosok pergelangan kaki dan tangannya untuk melancarkan jalan darahnya lalu melompat turun dan melihat Sin-hong-kiam miliknya yang tadi dirampas Thio Kam Ki berada di atas meja, ia menyambar pedangnya itu.

Sementara itu Bun Sam sudah melepaskan ikatan pada kaki tangan Can Kim Siang dan Can Gin Siang. Dua orang gadis kembar inipun segera mengambil Siang-kiam (pedang pasangan) masing-masing yang tadi juga dibawa Kam Ki dan berada di atas meja. Tiga orang gadis itu merasa girang sekali, seolah-olah burung garuda mendapatkan kembali paruh dan cakarnya.

“Terima kasih, sobat!” kata Bwee Hwa.

Sebelum Bun Sam sempat menjawab, terdengar suara ribut-ribut di luar kamar itu. “Mereka datang mengejarku ke sini. Mari kita keluar menyambut mereka dan serahkan orang yang bernama Thio Kam Ki kepadaku!”

Bun Sam mendahului tiga orang gadis itu, membuka daun pintu kamar dan ternyata di luar kamar terdapat belasan orang anggauta Pek-lian-kauw. Mereka adalah para anggauta yang melakukukan pengejaran terhadap Bun Sam.

Pemuda itu tadi memasuki perkampungan Pek-lian-kauw dan ketika dia dihadang tiga orang anggauta Pek-lian-kauw dengan mudah dia merobohkan mereka. Akan tetapi dia kelihatan oleh beberapa orang anggauta lain yang segera mengumpulkan teman-temannya dan melakukan pengejaran.

Bwee Hwa, Kim Siang, dan Gin Siang yang sudah marah sekali lalu menerjang maju dan tiga orang anggauta Pek-lian-kauw terjungkal mandi darah disambar pedang mereka. Yang lain-lain cepat berlari keluar karena mereka semua sudah maklum akan kelihaian tiga orang gadis tawanan itu. Mereka tadi ketika mengejar Bun Sam sama sekali tidak mengira bahwa tiga orang gadis itu sudah bebas.

Melihat tiga orang rekan mereka roboh mandi darah, yang lain segera melarikan diri keluar dari rumah itu, selain untuk mencari tempat yang lebih luas sehingga mereka dapat leluasa mengeroyok, juga mereka mengharapkan bantuan para anggauta lain. Terutama sekali mereka menanti munculnya Thio Kam Ki dan Ang-bin Moko yang mereka andalkan. Sementara itu, ketika dia sedang mandi, Kam Ki mendengar suara hiruk pikuk itu. Cepat dia mengeringkan tubuh lalu mengenakan pakaian, kemudian dia melompat keluar, cepat menuju ke kamar di mana tiga orang gadis tawanannya berada.

Alangkah kaget dan marahnya ketika dia tidak melihat tiga orang gadis itu di atas pembaringan masing- masing, juga pedang-pedang mereka tidak ada. Tahulah dia bahwa mereka itu, entah bagaimana caranya, telah dapat me-lepaskan diri. Mendengar suara ribut di depan rumah, Kam Ki cepat berlari ke- luar, merasa penasaran, kecewa dan marah.

Ketika dia tiba di pekarangan yang luas itu, dia melihat semua anak buah sedang mengepung dan mengeroyok tiga orang gadis yang telah bebas itu. Para anak buah itu dipimpin sendiri oleh Ang-bin Moko. Melihat Ang-bin Moko memimpin kurang lebih limapuluh orang anggautanya itu mengeroyok, Kam Ki merasa yakin bahwa dia akan mampu menangkap tiga orang gadis itu kembali.

“Ang-bin Moko, tangkap mereka hidup-hidup! Jangan bunuh atau lukai mereka!” teriaknya.

Tiba-tiba ada bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu di depan Thio Kam Ki telah berdiri Sie Bun Sam yang memandangnya dengan alis berkerut dan sinar mata penuh mengandung teguran!

“Suheng……! Kau…… di sini?” tanyanya gagap, bukan karena takut melainkan karena kaget. Kini mengertilah dia mengapa tiga orang gadis yang ditawannya itu dapat terlepas. Tentu suhengnya ini yang membebaskannya!

“Sute, apa saja yang kaulakukan ini? Sungguh menyedihkan dan memalukan. Engkau tersesat jauh sekali, sute!”

Kam Ki sudah dapat menenangkan hatinya dan dia tertawa mengejek. “Suheng, kenapa engkau mencampuri urusanku? Ingat, aku dapat mengalahkanmu seperti dulu, engkau pernah roboh pingsan oleh pukulanku. Apakah engkau kini hendak menentangku? Suheng, kunasihatkan kepadamu. Pergilah sebelum aku hilang sabar karena aku akan menyesal kalau harus membunuhmu!”

Bun Sam tersenyum. “Sute, dulu engkau merobohkan aku karena kecuranganmu. Sekarang dengarlah nasihatku, sute. Ingatlah, sejak dahulu aku menyayangmu, aku tidak ingin melihat engkau celaka. Maka, sadarlah, sute. Ingat akan nasihat suhu. Tinggalkan perkumpulan sesat ini dan mari kita kembali kepada suhu yang akan membimbingmu! Aku yang akan mintakan ampun kepada……”

Akan tetapi ucapan itu terpaksa dihentikan karena secara curang sekali, tiba-tiba Kam Ki sudah menyerangnya dengan pukulan Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) yang dulu pernah merobohkan Bun Sam. Dia tahu bahwa kalau dia menggunakan semua ilmu yang dia pelajari dari Leng-hong Hoatsu, tidak mungkin dia mampu mengalahkan Bun Sam yang memiliki tingkat lebih tinggi.

Dia menggunakan Ban-tok-ciang yang dipelajari dari Hwa Hwa Cin-jin karena Bun Sam tentu tidak mengenal ilmu ini. Serangannya memang hebat sekali. Kedua tangan yang sudah dialiri hawa beracun itu menyambar-nyambar ganas dan mengeluarkan bau yang amis seperti ada ratusan ular berbisa menyerang Bun Sam.

Akan tetapi sebelum turun gunung, Bun Sam sudah diberitahu gurunya bahwa dia tidak akan kalah oleh ilmu sesat sutenya kalau dia menggunakan seluruh tenaga saktinya. Kalau dulu dia sampai terluka dan pingsan, hal itu terjadi karena dia tidak menyangka dan dia hanya mempergunakan tenaga tidak sepenuhnya agar sutenya tidak terluka.

Kini, menghadapi serangan bertubi itu, dia menggunakan kelincahan gerak tubuhnya untuk mengelak ke sana-sini, dan mencari kesempatan untuk menotok roboh sutenya. Bagaimanapun juga, Bun Sam tetap sayang kepada sutenya yang sejak kecil hidup bersama dia di bawah asuhan Leng-hong Hoatsu. Dia tidak tega untuk melukai sutenya itu, apalagi membunuhnya. Maka, pertandingan itu menjadi seimbang dan Kam Ki yang licik itu agaknya maklum bahwa suhengnya mengalah.

Hal ini tidak membuat hatinya tergerak dan terharu, bahkan dia hendak mencari keuntungan dari kelemahan hati Bun Sam itu. Dia menyerang semakin ganas, memainkan ilmu silat Ciu-kwi-kun (Silat Setan Mabok) yang dipelajari dari Hwa Hwa Cinjin. Pertandingan itu menjadi seru sekali dan tidak mudah bagi Bun Sam untuk dapat merobohkan sutenya tanpa melukainya.

Sementara itu, tiga orang gadis, tanpa perundingan lebih dulu, sudah menghadapi pengeroyokan banyak orang dengan saling membelakangi. Dengan demikian, mereka tidak sampai diserang dari belakang. Ketiganya mengamuk dengan pedang mereka dan gerakan mereka memang lincah dan kuat sekali sehingga para pengeroyok tidak berani terlalu mendekat setelah ada enam orang roboh oleh pedang tiga orang dara perkasa itu. Ang-bin Moko akhirnya dilawan oleh Bwee Hwa, sedangkan sepasang gadis kembar itu menghadapi puluhan orang anak buah Pek-lian-kauw.

“Bwee Hwa, hati-hati, tosu (pendeta) siluman itu memiliki alat peledak yang mengeluarkan asap beracun!” teriak Kim Siang, sambil memutar sepasang pedangnya menghadapi pengeroyokan puluhan orang itu.

Biarpun sepasang gadis kembar ini lihai sekali ilmu sepasang pedang mereka, namun jumlah pengeroyok terlampau banyak. Mereka berdua harus memutar sepasang pedang mereka untuk melindungi diri mereka dari datangnya serangan golok, pedang, atau tombak yang seperti hujan lebat. Mereka berdua hanya mampu melindungi diri tanpa dapat membalas karena serangan banyak orang itu tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk balas menyerang.

Perkelahian antara Ang-bin Moko melawan Bwee Hwa amat seru. Tingkat kepandaian mereka seimbang sehingga perkelahian itu ramai sekali, sukar diduga siapa di antara mereka yang akan keluar sebagai pemenang. Sesungguhnya, Bwee Hwa lebih bersemangat dan gerakannya lebih lincah.

Namun Ang-bin Moko menang pengalaman dan selain dari itu, pimpinan cabang Pek-lian-kauw ini mengandalkan banyak anggauta yang akan dapat disuruh membantunya mengeroyok Bwee Hwa kalau dua orang gadis kembar itu sudah dapat ditundukkan. Yang membuat dia repot adalah karena tadi Kam Ki berteriak agar tiga orang gadis cantik itu ditangkap hidup-hidup, jangan dilukai atau dibunuh. Semua anak buah mendengar dan tentu saja mereka merasa takut kepada Kam Ki kalau melanggar perintah itu. Hal ini membuat mereka hanya mengepung rapat akan tetapi selalu menjaga agar gadis-gadis itu jangan sampai terluka atau roboh tewas.

Mendadak mendengar sorak sorai dan duaratus orang perajurit yang dipimpin para perwira tiba di puncak itu. Mereka adalah pasukan yang diajak Ui Kiang dan kemudian bertemu dengan Ui Kong dan kini mereka tiba di puncak itu dengan Ui Kong sebagai penunjuk jalan. Begitu tiba di perkampungan Pek- lian-kauw, para perajurit itu menyerbu masuk. Ui Kong sendiri sudah cepat terjun ke dalam pertempuran. Dia girang bukan main melihat Bwee Hwa masih hidup dan kini sedang bertanding mati- matian melawan Ang-bin Moko.

“Hwa-moi, mari kita basmi para iblis Pek-lian-kauw!” bentak Ui Kong dan dia sudah menggunakan pedangnya untuk membantu Bwee Hwa menyerang Ang-bin Moko.

Gegerlah semua anggauta Pek-lian-kauw menghadapi penyerbuan pasukan pemerintah yang amat banyak jumlahnya itu. Mereka menjadi panik dan sebentar saja banyak anggauta Pek-lian-kauw roboh. Yang hendak melarikan diri, tidak mendapatkan jalan karena mereka sudah terkepung ketat.

Ang-bin Moko terkejut bukan main. Menghadapi Bwee Hwa saja dia sudah merasa repot, apalagi kini ditambah seorang musuh yang tingkat kepandaiannya tidak kalah dibandingkan tingkatnya sendiri. Dia terdesak hebat dan terancam oleh pedang Bwee Hwa dan Ui Kong. Dia lalu melompat ke belakang dan mengayun tangan, membanting alat peledak.

“Awas, Kong-ko, asap beracun!” Bwee Hwa berseru dan kedua orang muda ini cepat melompat menjauhi ketika ledakan itu mengeluarkan asap yang mengandung pembius. Beberapa orang perajurit yang berada dekat tempat ledakan, terserang asap ini dan mereka roboh pingsan!

Ang-bin Moko menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Karena tempat itu telah terkepung ketat. Dia mengamuk dengan pedangnya dan berhasil membobolkan kepungan dengan merobohkan empat orang perajurit. Akan tetapi pada saat itu, dua batang pedang menyambar. Ang-bin Moko masih berhasil menangkis pedang Bwee Hwa, akan tetapi pedang Ui Kong memasuki lambungnya. Ang-bin Moko mengeluh dan roboh, tewas seketika.

Betapapun lihainya, Thio Kam Ki kini menjadi panik. Ketika semua ilmunya dia keluarkan untuk merobohkan Bun Sam tidak berhasil, barulah dia maklum bahwa dulu dia dapat merobohkan Bun Sam karena suhengnya itu tidak mengira dia menggunakan ilmu pukulan sesat yang dahsyat dan tidak menjaga diri dengan tenaga sepenuhnya.

Sekarang, dia mendapat kenyataan bahwa suhengnya itu memang tangguh bukan main. Akan tetapi karena suhengnya tidak mau membunuhnya, maka dia masih mampu melawan. Berulang kali mereka mengadu tenaga selalu Thio Kam Ki terdorong mundur.

Kini, melihat dengan jelas betapa anak buah Pek-lian-kauw berjatuhan karena tidak dapat mengimbangi kekuatan lawan yang jauh lebih banyak jumlahnya, melihat pula betapa pembantu utamanya, Ang-bin Moko juga roboh, dia menjadi khawatir sekali dan maklum bahwa kalau dilanjutkan perlawanannya, nyawanya terancam bahaya maut. Dia lalu mengerahkan seluruh tenaga Ban-tok-ciang menyerang Bun Sam dengan pukulan jarak jauh sambil membentak nyaring dengan suara yang mengandung kekuatan sihir untuk menggetarkan jantung lawan dan membuatnya lemah.

“Yaaaaahhhhhh!”

Menghadapi serangan dahsyat ini, Bun Sam menyambut dengan kedua telapak tangan didorongkan pula. Akan tetapi tetap saja Bun Sam membatasi tenaga karena dia sama sekali tidak ingin melukai apalagi membunuh sutenya yang masih disayangnya. “Blaarrrr……!” Dua tenaga sakti yang amat kuat bertemu dan akibatnya, tubuh Kam Ki terlempar ke belakang. Akan tetapi dia tidak terluka, hanya terdorong dan terpental seolah tenaganya bertemu dengan sesuatu yang lunak namun yang membuat dia terpental seperti menghantam sebuah bola karet besar.

Kini dia melihat kesempatan untuk menyelamatkan diri. Begitu kakinya menyentuh tanah, dia sudah melompat jauh, terjun ke dalam pertempuran antara para perajurit dan anak buah Pek-lian-kauw dan menghilang di antara banyak orang yang sedang bertempur itu.

Kam Ki mencari jalan keluar dengan merobohkan setiap orang yang berada di depannya. Karena dia menyusup ke dalam pertempuran antara banyak orang itu maka Bun Sam tidak dapat mengejarnya, juga tiga orang gadis yang mengamuk dan Ui Kong juga tidak tahu bahwa Thio Kam Ki sedang berusaha melarikan diri. Kejadian itu berlangsung demikian cepat dan Kam Ki berhasil meloloskan dirinya setelah merobohkan belasan orang perajurit!

Mellhat keadaan para anggauta Pek-lian-kauw sudah terdesak hebat dan para pimpinan mereka tidak ada lagi, Ui Kong dan Bwee Hwa lalu cepat memasuki bangunan induk tempat tinggal Kam Ki dan melakukan penggeledahan. Dalam sebuah kamar, mereka menemukan patung emas Dewi Kwan Im dari kuil Ban-hok-si. Ui Kong segera mengambilnya. Mereka juga menemukan belasan orang gadis muda dan cantik, yaitu mereka yang selama ini diculik oleh orang-orang Pek-lian-kauw. Ui Kong lalu menyerahkan mereka kepada para perwira pasukan agar kelak para gadis itu dikembalikan ke dusun mereka.

Akhirnya, semua anggauta Pek-lian-kauw yang tadinya melakukan perlawanan mati-matian itu terbasmi hampir semua dan sisanya, hanya belasan orang menjadi putus asa dan melemparkan senjata sambil berlutut tanda menyerah. Mereka menjadi orang-orang tawanan.

Para perwira pasukan lalu memerintahkan para anggauta Pek-lian-kauw yang masih hidup untuk mengurus dan mengubur semua mayat yang menjadi korban pertempuran, merampas semua barang berharga yang berada di perkampungan itu, lalu membakar semua rumah yang terdapat di situ. Kemudian pasukan meninggalkan perkampungan Pek-lian-kauw yang sudah menjadi puing, kembali ke kota Ki-lok dengan gembira karena telah memperoleh kemenangan.

Sie Bun Sam, Ui Kong, Ui Kiang, Lim Bwee Hwa dan dua orang gadis kembar dengan hormat mengurus dan mengubur jenazah Ong Siong Li yang tewas dalam perlawanannya menghadapi pengeroyokan banyak anggauta Pek-lian-kauw tadi. Bwee Hwa tidak dapat menahan keharuan dan kesedihan hatinya ketika jenazah Siong Li telah dikubur. Ia menangis di depan gundukan tanah itu sehingga membuat para pendekar, terutama Ui Kong dan Ui Kiang yang maklum betapa akrabnya hubungan antara Bwee Hwa dan Siong Li, yang sudah seperti kakak dan adik.

Enam orang pendekar ini menjauhi perkampungan di mana para perajurit tadi sibuk mengurus para korban, merampas barang-barang lalu membakari pondok. Mereka tidak ingin mencampuri urusan pasukan pemerintah.

Dalam kesempatan itu, Bwee Hwa yang memandang Sie Bun Sam berkata, “Saudara yang gagah perkasa dan budiman telah menyelamatkan kami bertiga. Kalau tidak ada engkau, mungkin kami bertiga sekarang sudah mati terbunuh atau membunuh diri.” “Benar sekali. Kami berdua kakak beradik bersyukur dan sangat berterima kasih atas budi pertolongan taihiap tadi,” kata Can Kim Siang sambil mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan, diikuti oleh adiknya.

“Aneh, kami bertiga berhutang nyawa kepadamu, akan tetapi kita belum saling berkenalan!” kata Bwee Hwa sambil tersenyum. Agaknya kedukaannya karena kematian Siong Li hanya sebentar saja mengganggu kelincahan Bwee Hwa yang selalu bersemangat dan gembira itu.

Sie Bun Sam seolah terpesona memandang wajah dan gaya bicara Lim Bwee Hwa. Belum pernah dia merasa seperti ini. Sudah banyak dia melihat wanita cantik tanpa kesan, akan tetapi sekali ini, ada sesuatu pada diri Bwee Hwa yang membuat dia terpesona.

Dua orang gadis kembar itupun cantik menarik, akan tetapi bagi Bun Sam mereka itu biasa saja. Dia merasa heran sendiri mengapa jantungnya berdebar ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Bwee Hwa dan dia menutupi debar jantungnya itu dengan senyum ramah dan dia mengangkat kedua tangan di depan dada kepada tiga orang gadis dan dua orang pemuda itu, membalas penghormatan mereka.

“Ah, sesungguhnya di antara kita tidak perlu merasa berhutang budi karena dalam menghadapi gerombolan penjahat ini kita semua telah bersatu padu. Semua juga berjasa karena telah memenuhi kewajiban masing-masing sebagai orang-orang menentang kejahatan. Bahkan aku mohon maaf dari anda sekalian akan kejahatan yang dilakukan Thio Kam Ki yang sesungguhnya adalah sute-ku (adik seperguruanku) sendiri.”

Bun Sam menghela napas panjang, perasa kecewa dan menyesal sekali bahwa sute yang disayangnya itu ternyata telah tersesat amat jauhnya.

Tentu saja lima orang muda itu terkejut bukan main dan mereka semua memandang kepada Bun Sam dengan sinar mata heran. “Sute-mu? Dia itu sute-mu? Akan tetapi mengapa dia begitu jahat dan engkau musuhi sendiri?” tanya Bwee Hwa.

Bun Sam menghela napas panjang lalu tersenyum. “Sebelum aku menceritakan lebih lanjut tentang Thio Kam Ki, apakah tidak sebaiknya kita saling berkenalan dulu. Rasanya tidak enak bercakap-cakap dengan orang-orang yang tidak kukenal. Nah, perkenalkan, aku bernama Sie Bun Sam, berasal dari pegunungan Himalaya.”

“Aku bernama Lim Bwee Hwa dari…… Twi-bok-san.” Ia mengaku Twi-bok-san, di mana mendiang ibunya tinggal menjadi isteri mendiang Kauw-jiu Pek-wan Kui Ciang Hok, yang sekarang tentu saja menjadi haknya.

“Kami berdua adalah saudara kembar, aku bernama Can Kim Siang, dan ini adikku bernama Can Gin Siang. Kami tinggal di rumah piauw-ci (kakak perempuan misan) kami di bukit Ayam Emas.” Kim Siang memperkenalkan diri mereka, bukan hanya Bun Sam, melainkan kepada Bwee Hwa, Ui Kiang, dan Ui Kong.

“Kami berdua adalah kakak beradik. Aku bernama Ui Kong, dan yang baru datang membawa pasukan ini adalah kakakku Ui Kiang. Kami tinggal di kota Ki-lok.” Ui Kong memperkenalkan diri dan kakaknya. Setelah mereka saling memperkenalkan nama mereka, Bwee Hwa lalu berkata. “Secara kebetulan sekali kita semua berada di sini, bersatu melawan gerombolan Pek-lian-kauw dan saling berkenalan. Sebelum kita bercerita, sebaiknya kalau kita duduk di sana, rasanya canggung kalau kita bicara sambil berdiri saja.”

Semua orang setuju dan menghampiri tempat yang ditunjuk Bwee Hwa, yaitu sebuah pohon besar di bawah mana terdapat banyak batu yang dapat mereka jadikan tempat duduk. Setelah semua orang duduk berhadapan, Bun Sam segera bercerita.

“Kami berdua, yaitu aku dan sute Thio Kam Ki, adalah murid-murid suhu Leng-hong Hoatsu di Himalaya.”

“Ohh! Leng-hong Hoatsu yang mendirikan Hwe-coa-kauw?” tanya Bwee Hwa yang pernah mendengar cerita mendiang Siong Li tentang Hwe-coa-kauw dan tentang pertapa sakti itu.

Bun Sam menggeleng kepala. “Kabar itu sama sekali tidak benar, nona Lim Bwee Hwa……”

“Ih, twako (kakak), kenapa begitu sungkan menyebut aku dengan nona segala? Namaku Bwee Hwa, Lim Bwee Hwa, tanpa nona bagi seorang sahabat,” cela Bwee Hwa.

“Baiklah, Hwa-moi (adik Hwa). Kuulangi, kabar bahwa guruku menjadi pendiri Hwe-coa-kauw itu sama tidak benar. Dahulu, tigapuluh tahun lebih yang lalu, suhu Leng-hong Hoatsu pernah turun gunung dan merantau ke timur, mengajarkan agama dan kebajikan, menolong orang-orang sakit. Beliau memang mempunyai seekor ular yang aneh yang beliau temukan dalam perjalanan dan memelihara ular itu. Ular kecil itu memang mempunyai tonjolan di kanan kiri seperti sayap, dan keadaannya yang aneh itu orang- orang menamakannya Hwe-coa (Ular Terbang). Sesungguhnya ular itu tidak dapat terbang, hanya melompat dari pohon ke bawah dan tonjolan di kanan kiri itu dibentangkan untuk menahan lajunya peluncuran. Nah, orang-orang bodoh yang tahyul itu mulai menyembah-nyembah ular itu yang mereka anggap sebagai penjelmaan dewa dan bahkan mengabarkan bahwa semua kepandaian suhu adalah berkat pertolongan ular itu. Ketika orang-orang itu tidak memperdulikan bantahan suhu, maka suhu menjadi kecewa dan agar ketahyulan itu tidak berlarut-larut, beliau kembali ke Himalaya membawa ularnya. Begitulah ceritanya.”

Para pendengarnya mengangguk-angguk. Bwee Hwa lalu berkata, “Aku pernah mendengar cerita itu, Sam-ko (kakak Sam) dan ternyata cocok dengan ceritamu. Sekarang lanjutkan ceritamu tentang Thio Kam Ki.”

“Sejak kecil Thio Kam Ki yatim piatu seperti juga aku. Dia dirawat dan diambil murid suhu dan sejak kecil kami berdua tinggal bersama suhu. Aku lebih tua dua tahun daripada sute, dan aku banyak membimbingnya. Beberapa bulan yang lalu, seperti biasa sute mengajak aku berlatih silat dan mengadu tenaga sakti. Dan seperti yang sudah-sudah, aku mengalah dan tidak mengerahkan seluruh tenaga karena khawatir dia terluka. Akan tetapi ketika kami mengadu sin-kang, aku terkena pukulan beracun yang asing sehingga aku jatuh pingsan. Suhu menolongku dan ternyata sute telah pergi meninggalkan pondok suhu. Suhu mengatakan bahwa aku terkena pukulan beracun yang sesat dan menduga bahwa sute telah mempelajari ilmu sesat dari orang lain. Karena suhu tidak ingin melihat sute tersesat melakukan kejahatan, maka aku disuruh mencari sute dan menghalangi kalau dia melakukan kejahatan. Ketika aku lewat di kaki bukit ini, aku mendengar keluh kesah penduduk dusun bahwa gerombolan yang berada di puncak ini sering melakukan gangguan. Aku lalu mendaki bukit dan tiba-tiba aku melihat rombongan pasukan juga mendaki bukit ini. Ketika saudara Ui Kong bicara dengan kakaknya tentang pemimpin gerombolan yang bernama Kam Ki, aku terkejut dan cepat mendahului mereka naik ke sini dan kebetulan aku dapat membebaskan adik Bwee Hwa dan kedua adik kembar ini. Selanjutnya kalian sudah tahu. Aku bertanding melawan Thio Kam Ki, akan tetapi sayang dia dapat meloloskan diri.”

“Sam-ko, maafkan pendapatku ini. Aku yakin bahwa kalau engkau menghendaki, tentu Thio Kam Ki sekarang telah menggeletak tanpa nyawa. Engkau sengaja membiarkan dia lolos!”

Bun Sam diam-diam terkejut walaupun tidak dia perlihatkan, lalu sambil mena-tap tajam wajah gadis yang menawan hatinya itu, dia bertanya.

“Hwa-moi, bagaimana engkau dapat menduga begitu?”

Bwee Hwa tersenyum nakal. “Bukan duga sembarang duga, twako. Tadi aku mendengar betapa engkau membujuk Kam Ki dan mengajaknya kembali kepada suhumu. Aku yakin engkau amat menyayang sutemu yang sejak kecil kaukenal itu, dan engkau yang memiliki budi pekerti halus dan bijaksana, tentu tidak tega untuk membunuhnya.”

Bun Sam menghela napas. “Engkau benar, Hwa-moi. Aku memang tidak mau mendesaknya, bukan karena aku berbudi baik dan bijaksana, melainkan karena aku lemah. Aku tidak patut dipuji, sepantasnya dicela!”

“Aku kagum padamu dan aku selalu memujimu, Sam-ko. Sekarang tiba giliranmu, Kong-ko. Ceritakan pengalamanmu, bagaimana engkau dapat melo-loskan diri dan datang bersama Kiang-ko dan pasukan.”

“Hwa-moi, engkau dulu ceritakan apa yang terjadi. Kami sudah ingin sekali mendengarnya, terutama aku,” kata Ui Kiang.

“Baiklah, dan karena Sam-ko dan kedua enci kembar belum mengetahui, biar kuceritakan dari semula. Kami bertiga, aku, Kong-ko ini, dan mendiang twako Ong Siong Li, melakukan pengejaran terhadap penjahat Pek-lian-kauw yang merampok patung emas Dewi Kwan Im dari kuil Ban-hok-si dan telah membunuh paman Ui Cun Lee, ayah kakak Ui Kiang dan Ui Kong ini. Setelah kami menemukan sarang Pek-lian-kauw di puncak bukit ini, kami bertiga mendaki puncak dan.       ah, kalau aku teringat lalu aku

menyadari betapa bodoh dan lancangnya aku. Mendiang kakak Ong Siong Li sudah memperingatkan bahwa tempat ini berbahaya dan sebaiknya mencari bala bantuan. Akan tetapi aku.       aku yang dungu

ini membantah dan aku memaksanya nekat menyerbu perkampungan Pek-lian-kauw. Dan akibatnya.......

Li-ko telah tewas....... ah, aku menyesal sekali tidak menaati peringatannya.” Teringat akan ini, Bwee Hwa memejamkan matanya mencegah mengalirnya kembali air matanya.

“Hwa-moi, akulah yang bersalah!” Ui Kong berkata sambil mengepal tangannya. “Aku juga membantah pendapat Li-ko dan memaksanya terus naik ke sarang Pek-lian-kauw. Dia tewas karena kebodohanku yang sombong mengandalkan kekuatan sendiri sehingga akhirnya dia malah yang menjadi korban. Li-ko tewas karena kecerobohanku!”

“Kecerobohan kita berdua, Kong-ko.”

Can Gin Siang yang duduk dekat Bwee Hwa, merangkul gadis itu dan membujuk. “Sudahlah, Bwee Hwa, tiada gunanya disesali dan ditangisi lagi. Bagaimanapun juga, dia tewas sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa.” Can Kim Siang juga menghibur Bwee Hwa. “Benar apa yang dikatakan A Gin itu, Bwee Hwa. Setiap orang bisa saja melakukan kekeliruan perhitungan seperti itu. Lebih baik lanjutkan ceritamu.”

Bwee Hwa mengangguk. Menyadari bahwa Siong Li tewas sebagai seorang pendekar gagah sedikitnya dapat menghibur hatinya.

“Setelah kami bertiga tiba di perkampungan Pek-lian-kauw, kami segera dihadapi Thio Kam Ki dan dikeroyok para anggauta Pek-lian-kauw yang dipimpin oleh Ang-bin Moko dan Pek-bin Moko. Aku sendiri menghadapi Thio Kam Ki, akan tetapi dia terlalu lihai bagiku sehingga aku tertawan dan aku masih sempat melihat kakak Ong Siong Li dikeroyok banyak anak buah Pek-lian-kauw. Si jahanam Thio Kam Ki itu menawanku dan mengikat aku ke dalam sebuah kamar. Tak lama kemudian aku mendengar ribut-ribut di luar seperti orang berkelahi dan tak lama kemudian jahanam itu masuk kamar sambil membawa kedua enci ini sebagai tawanan pula. Dia juga mengikat kaki tangan mereka seperti aku. Kami sama sekali tidak berdaya dan jahanam itu mengeluarkan ancaman-ancaman yang mengerikan. Akan tetapi ketika dia keluar dari kamar, katanya hendak mandi, muncullah Sam-ko ini yang membebaskan kami bertiga. Kami segera bersama Sam-ko keluar dan mengamuk! Nah, itulah ceritaku. Sekarang aku minta kakak Ui Kong menceritakan pengalamannya karena ketika Siong Li dikeroyok dan aku tertawan, dia masih dikeroyok banyak orang.”

Ui Kong menghela napas panjang. “Wah, menyeramkan sekali ceritamu, Hwa-moi. Untung ada Sam-ko ini! Tentang diriku. ah, semakin sedih kalau kuingat pengalamanku. Ketika terjadi pertempuran itu

aku berhadapan dengan Pek-bin Moko yang amat kubenci karena dialah yang dulu membunuh ayahku. Biarpun dikeroyok banyak orang, dengan nekat aku menerjangnya dan akhirnya aku berhasil membalaskan kematian ayah, berhasil membunuh Pek-bin Moko. Akan tetapi keadaan Li-ko dan aku semakin terdesak. Dalam keadaan seperti itu Li-twako mendesak aku agar supaya aku melarikan diri dan mencari bala bantuan. Tadinya aku membantah, akan tetapi Li-ko mendesak dan mengatakan agar aku mencari bantuan untuk menolong Hwa-moi yang tertawan. Terpaksa aku mencari jalan keluar dan Li-ko mengamuk, menahan mereka yang hendak mengejar aku. Aku berhasil mendapatkan kuda kami dan aku melarikan diri turun gunung.”

“Kami berpapasan denganmu ketika kami berdua menunggang kuda mendaki puncak!” kata Can Gin Siang sambil memandang wajah Ui Kong.

“Ya, aku ingat dan aku sempat heran melihat dua orang gadis yang persis sama segalanya,” kata Ui Kong sambil tersenyum. “Setelah tiba di lereng bawah, aku bertemu dengan kakakku Ui Kiang ini yang membawa duaratus orang perajurit. Kami lalu menyerbu ke puncak dan selanjutnya kalian sudah mengetahui.” Ui Kong mengakhiri ceritanya.

“Engkau tidak perlu menyesal telah meninggalkan Li-ko, karena bagaimanapun juga, Li-ko benar. Kalau engkau tidak melarikan diri mencari bala bantuan, tentu engkaupun akan tewas dikeroyok begitu banyak orang, terutama di sana ada Kam Ki dan Ang-bin Moko yang lihai,” kata Bwee Hwa. “Sekarang giliranmu, Kiang-ko. Dahulu engkau kami tinggalkan di kota Ki-lok, lalu bagaimana engkau dapat mengajak pasukan untuk menolong kami?”

Ui Kiang menghela napas panjang dan berkata dengan suaranya yang lembut. “Setelah kalian bertiga berangkat untuk mencari penjahat yang membunuh ayah dan mencuri patung, aku merasa gelisah dan juga bersedih. Ayah dibunuh orang dan aku yang lemah ini tidak mampu berbuat apa-apa. Aku hanya seorang kutu buku, seorang siucai (sastrawan) yang lemah dan tiada guna. Patung kuil Ban-hok-si dicuri orang akupun tidak dapat bantu mencarinya. Aku khawatir kalian bertiga akan menghadapi bahaya, maka aku lalu menghubungi komandan pasukan keamanan yang menjadi sahabat baik ayah dan minta bantuannya. Dia segera membantuku dengan mengirim pasukan beserta tiga perwiranya. Aku lalu mengajak mereka pergi mencari gerombolan Kiu-liong-pang dan berhasil memaksa pimpinan mereka untuk mengatakan di mana adanya sarang Pek-lian-kauw. Setelah mendapatkan keterangan, aku lalu mengajak pasukan itu ke sini dan selanjutnya kalian tahu apa yang terjadi.”

Ui Kong memegang lengan kakaknya. “Kiang-ko, biarpun engkau tidak pernah belajar ilmu silat, akan tetapi engkau berjasa besar dalam peristiwa ini. Engkau pula yang dulu memberi petunjuk kepada kami untuk mencari keterangan kepada Kiu-liong-pang dan sekarang, engkau yang menolong kami membasmi Pek-lian-kauw. Biarpun tubuhmu tidak mengandung tenaga kuat seperti kami yang telah mempelajari ilmu silat selama bertahun-tahun, namun engkau memiliki pikiran yang kuat dan pandai. Aku bangga sekali, Kiang-ko!”

“Nah, semua orang telah menceritakan pengalamannya. Kini tinggal kalian berdua, enci (kakak perempuan) kembar. Aih, aku bingung sekali kalau memandang kalian ini. Tadi kalian sudah memperkenalkan nama kalian dan aku ingat benar, yaitu Can Kim Siang dan Can Gin Siang, akan tetapi kalian begitu sama segala-galanya, bagaimana aku tahu mana yang Kim (emas) mana yang Gin (perak)?” kata Bwee Hwa sambil tertawa.

Mereka semua ikut tertawa. Betapa cepatnya gadis itu melupakan kedukaannya karena kematian Ong Siong Li, sahabatnya yang paling baik. Pada umumnya orang akan beranggapan bahwa Bwee Hwa tidak mengenal budi atau tidak sayang kepada sahabat baiknya itu. Anggapan ini sebenarnya keliru sehingga banyak orang, demi “jangan dianggap demikian”, suka berlarut-larut dalam perkabungannya karena kematian keluarga. Bahkan ada yang mengenakan pakaian berkabung sampai setahun atau beberapa tahun sebagai tanda kedukaannya! Biar dianggap mengenal budi dan setia kepada orang yang telah meninggal dunia. Padahal, semua kedukaan yang tampak atau sengaja diperlihatkan itu kebanyakan hanya pada luarnya saja. Dalam batinnya sudah lama tidak ada lagi kedukaan itu!

Bwee Hwa adalah seorang gadis yang polos, tidak suka berpura-pura. Orang seperti Bwee Hwa ini tidak mudah terbawa emosi, tidak akan larut dalam duka dan tidak akan mabok dalam suka. Suka dan duka hanya bagaikan angin yang melandanya, namun hanya sebentar dan setelah lewatpun tiada bekasnya lagi.

“Ah, aku tahu mana yang bernama Can Kim Siang dan mana yang Can Gin Siang,” kata Ui Kiang dengan senyum yang khas, senyuman yang membayangkan kesabaran hatinya.

“Aku juga tahu mana Nona Can Gin Siang, tidak mungkin salah!” kata pula Ui Kong dengan gembira.

Bwee Hwa membelalakkan mata dan mengangkat alisnya, senyumnya melebar. Hemm, kakak beradik yang salah satu akan dijodohkan dengannya ini ternyata menaruh perhatian kepada gadis kembar itu! Kalau benar dugaannya, ia merasa lega dan girang sekali.

Sesungguhnya, ia sendiri bingung kalau harus menentukan siapa di antara mereka yang harus dipilihnya. Kedua orang pemuda itu memiliki keistimewaan masing-masing dan ia merasa yakin bahwa keduanya dapat menjadi suami yang baik. Akan tetapi, harus ia akui bahwa biarpun ia merasa kagum dan suka kepada kedua orang kakak beradik Ui itu, seperti juga rasa kagum dan sukanya kepada Ong Siong Li, tidak ada keinginan dalam hatinya untuk menjadi isteri seorang di antara mereka bertiga.

Dulu pernah ia mengira bahwa ia mencinta Siong Li, akan tetapi akhir-akhir ini ia menyadari bahwa rasa sukanya itu hanyalah rasa sayang di antara sahabat. Siong Li terlalu baik kepadanya sehingga ia merasa berhutang budi, kagum dan juga sayang karena ia merasa benar betapa Siong Li amat menyayangnya. Karena itu, melihat kini kedua orang kakak beradik Ui itu tampaknya tertarik kepada sepasang gadis kembar, ia merasa senang sekali.

Karena selain ia merasa tidak ingin menjadi isteri seorang di antara mereka, juga ia merasa bingung dan kasihan kalau harus memilih salah satu karena itu akan membikin kecewa yang lain. Sejak pertemuan pertama, kedua kakak beradik itu seolah bersaing atau berlumba untuk menarik hatinya!

“Kiang-ko dan Kong-ko, coba buktikan kalau kalian memang benar dapat membedakan antara kedua orang enci kembar ini! Rasanya tidak mungkin engkau dapat membedakan. Mereka begitu persis, tidak ada perbedaannya sedikitpun juga. Wajahnya, bentuk badannya, gelung rambutnya, pakaiannya! Wah, benar-benar membingungkan!” kata Bwee Hwa dan melihat gadis kembar itu tertawa, ia berseru, “Lihat, ketawanya juga sama. Bukan main!”

“Akan tetapi aku akan selalu mengenal adik Can Kim Siang!” kata Ui Kiang dengan suara penuh keyakinan dan sepasang matanya memandang ke arah wajah Kim Siang.

“Dan aku akan selalu dapat mengenal adik Can Gin Siang!” kata pula Ui Kong tidak kalah yakin.

“Sekarang begini saja! Aku akan menguji kalian!” kata Bwee Hwa dan ia merasa sangat gembira. “Akan tetapi kalian berdua pergilah dulu ke belakang semak belukar itu agar jangan dapat melihat ke sini. Nanti akan kupanggil untuk memilih satu demi satu. Jangan mengintai, jangan curang dan Sam-ko di sini yang menjadi saksinya!”

Mereka semua merasa gembira seperti sekumpulan anak-anak sedang bermain-main. Ui Kiang dan Ui Kong dengan gembira lalu pergi ke belakang semak belukar. Bwee Hwa berbisik kepada dua orang gadis kembar itu.

“Eh, yang mana sih enci Kim Siang?”

Kim Siang sambil tersenyum menjawab. “Aku Kim Siang dan ini adikku Gin Siang.” Bwee Hwa mengambil sehelai sapu tangan merah dari saku bajunya.

“Kalian menurut saja, aku akan menguji mereka apakah benar-benar mereka dapat mengenal kalian.”

Ia lalu menyelipkan saputangan merah itu di ikat pinggang Kim Siang sehingga tentu saja kini ia tidak bingung lagi. Kim Siang yang memakai saputangan merah di sabuknya dan Gin Siang tidak.

“Kiang-ko, engkau keluarlah!” Bwee Hwa berseru ke arah semak belukar. Ui Kiang keluar dan menghampiri, dipandang oleh Bwee Hwa, dua orang gadis kembar, dan Bun Sam dengan senyum.

“Nah, Kiang-ko, coba katakan yang mana enci Kim Siang?” Sejenak Ui Kiang memandang kepada dua orang gadis kembar yang tersenyum itu, kemudian tanpa ragu dia mendekati Kim Siang dan berkata.

“Inilah adik Can Kim Siang!” Dia menuding ke arah gadis yang memakai tanda merah di ikat pinggangnya itu.

Bwee Hwa dan Bun Sam mengangguk-angguk, dan Bwee Hwa lalu berseru ke arah semak belukar, “Kong-ko, sekarang engkau keluarlah!” kepada Ui Kiang ia berkata, “Kiang-ko, sekarang engkau kembalilah ke belakang semak itu.”

Ui Kong datang dan Ui Kiang kembali ke belakang semak. “Nah, katakan yang mana enci Gin Siang, Kong- ko?” tanya Bwee Hwa.

Ui Kong sejenak memandang dua orang gadis kembar itu dan tanpa ragu lagi dia menunjuk ke arah gadis yang tidak memakai saputangan merah sambil berkata, “Inilah adik Can Gin Siang!”

“Bagus, sekarang aku hendak menguji kalian sekali lagi. Kembalilah ke belakang semak, Kong-ko.”

Sambil tersenyum Ui Kong kembali ke balik semak di mana Ui Kiang sudah lebih dulu bersembunyi. Bwee Hwa cepat mengambil saputangan merah dari ikat pinggang Kim Siang dan memasangnya di ikat pinggang Gin Siang. Dua orang gadis kembar itu tersenyum geli dan Bun Sam juga tersenyum, memandang kagum kepada Bwee Hwa melihat kecerdikan gadis itu menguji kebenaran pengakuan dua orang pemuda itu bahwa mereka dapat mengenal dan membedakan dua orang gadis kembar itu.

“Kiang-ko dan Kong-ko, sekarang kalian berdua keluarlah!” Bwe Hwa berseru. Dua orang pemuda itu keluar dan sambil tersenyum menghampiri dua orang gadis kembar itu.

“Sekarang, coba kalian pilih, yang mana Emas yang mana Perak?” kelakar Bwee Hwa. Dengan menukar tanda sapu tangan merah itu, ia yakin bahwa dua orang pemuda itu akan keliru atau salah pilih.

Akan tetapi yang membuat Bwee Hwa dan Bun Sam terheran-heran adalah ketika dua orang pemuda itu tanpa ragu dan tanpa meneliti lagi sudah melakukan pilihan masing-masing dengan tepat. Ui Kiang menghampiri Kim Siang dan memegang tangan gadis itu.

“Inilah adik Kim Siang!”

Dan Ui Kong tanpa ragu-ragu menghampiri gadis yang mengenakan sapu tangan merah di sabuknya, memegang tangannya dan berkata dengan tegas. “Inilah adik Gin Siang!”

Bwee Hwa tertawa dan bertepuk tangan memuji.

Bun Sam merasa kagum, dan berkata. “Hebat sekali kalian, Kiang-te dan Kong-te, bagaimana kalian dapat mengenal dan membedakan antara mereka dengan baik? Padahal aku harus mengakui bahwa aku sendiri akan bingung kalau disuruh membedakan di antara kedua orang adik kembar ini!”

“Kiang-ko dan Kong-ko, bagaimana kalian dapat memilih begitu tepat? Pada hal aku sudah memindahkan saputangan merah itu dari sabuk enci Kim Siang ke sabuk enci Gin Siang! Tentu ada rahasianya sehingga kalian dapat melihat perbedaan di antara mereka! Katakanlah, apa rahasia mereka itu?”

“Tidak ada rahasianya. Akan tetapi aku akan mudah mengenal adik Gin Siang, biarpun andaikata ia mempunyai seratus orang saudara kembar. Sinar pandang matanya itulah yang membuat aku dapat mengenalnya dengan segera!” kata Ui Kong sambil menatap tajam wajah gadis itu.

Gin Siang balas memandang dan ketika dua pasang mata itu bertemu pandang, ada sesuatu yang membuat jantung mereka berdebar dan Gin Siang, gadis gagah perkasa itu menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan seperti seorang gadis dusun yang pemalu!

“Dan bagaimana dengan engkau, Kiang ko? Apa yang membuat engkau begitu mudah mengenal enci Kim Siang?” tanya Bwee Hwa.

Ui Kiang tampak malu-malu, apalagi dia baru menyadari bahwa sejak tadi dia masih memegangi tangan Kim Siang dan anehnya, gadis itupun membiarkan saja tangannya sejak tadi dipegang pemuda sasterawan itu!

“Kalau aku....... ah, mudah saja       begitu adik Kim Siang tersenyum aku segera mengenalnya karena

…… karena ada yang gingsul (bertumpang tindih) pada giginya yang atas, yang membuat senyumnya menarik sekali.”

Semua orang tertawa dan Kim Siang menjadi perhatian. Iapun ikut tertawa dan tampaklah oleh semua orang bahwa memang benar ada giginya yang gingsul sedangkan Gin Siang tidak. Kalau keduanya tidak tersenyum, perbedaan itu sama sekali tidak tampak!

“Hei, kenapa kita semua lupa bahwa kita belum mendengar cerita kedua adik kembar ini? Enci Kim Siang, ceritakanlah pengalamanmu, bagaimana kalian berdua sampai tertawan pula oleh si jahanam Kam Ki,” kata Bwee Hwa.

Kim Siang menghela napas panjang.

“Kami berdua telah menjadi yatim piatu sejak kami berusia sembilan tahun. Ayah dan ibu tewas ketika terjadi perang saudara dan kami pasti terlantar kalau saja tidak ada piauw-ci (Kakak perempuan misan) kami yang menolong kami. Ia memelihara dan mendidik kami, mengajarkan ilmu silat kepada kami. Ketika kami berusia enambelas tahun, kami menjadi murid Hoa-san Kui-bo dan tinggal di Hoa-san selama tiga tahun. Setelah itu, kami kembali ke rumah piauw-ci di Kim-ke-san (Bukit Ayam Emas).

“Piauw-ci kami minta kepada kami untuk membalaskan dendam kepada seorang pemuda bernama Thio Kam Ki karena pemuda yang menjadi kekasihnya itu telah melakukan penyelewengan dan menyakitkan hatinya. Mengingat akan budi kebaikan piauw-ci itu kepada kami, terpaksa kami menyanggupi. Akan tetapi kami berdua diam-diam mengambil keputusan bahwa kalau Thio Kam Ki itu seorang pemuda yang baik-baik, kami tidak akan membunuhnya, hanya minta dia kembali ke Kim-ke-san untuk menghadap piauw-ci mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Akan tetapi di kaki bukit ini kami mendengar keluhan penduduk pedusunan tentang gerombolan pengganggu rakyat yang berada di puncak ini. Kami lalu naik untuk membasmi gerombolan. Sungguh tidak disangka bahwa pemimpin gerombolan Pek-lian-kauw ini mengaku bernama Thio Kam Ki, orang yang kami cari-cari. Tentu saja kami lalu menyerang untuk membunuhnya, pertama karena seorang kepala gerombolan yang jahat, kedua untuk memenuhi permintaan piauw-ci kami.

Kemudian, kami dikeroyok dan dibuat pingsan oleh asap pembius dari ledakan benda peledak. Dalam keadaan pingsan itu kami tidak tahu apa yang terjadi dan ketika siuman, kami sudah berada di dalam kamar, terikat kaki tangan kami, bersama Bwee Hwa ini. Nah, demikianlah kisah kami.”

“Sungguh luar biasa!” Ui Kiang berkata. “Betapa anehnya kalau Tuhan mengatur perjalanan hidup para manusia! Kita berenam ini secara kebetulan bertemu dan berkumpul di sini, bersama-sama menentang gerombolan penjahat dan kini aku mendapat kenyataan bahwa kami semua ini adalah orang-orang yatim piatu! Sungguh merupakan suatu kebetulan yang luar biasa. Karena itu, aku dan Kong-te dalam kesempatan ini mengundang kalian semua, kakak Sie Bun Sam, adik Lim Bwe Hwa, dan kedua adik Can Kim Siang dan Can Gin Siang, untuk bersama-sama berkunjung ke rumah kami. Secara kebetulan kita semua telah menjadi sahabat-sahabat baik, dan di rumah kami, kita dapat mempererat persahabatan kita dan dapat bercakap-cakap lebih leluasa. Marilah, kalian berempat kami undang!”

Kim Siang dan Gin Siang saling pandang dan Gin Siang berkata.

“Akan tetapi....... kami belum berhasil membunuh jahanam Thio Kam Ki, kami harus mengejar dan mencarinya.”

“Gin Siang-moi, jangan khawatir aku akan membantumu mencari penjahat itu. Sekarang. kuharap engkau sudi singgah ke rumah kami seperti yang diminta kakakku tadi.”

“Hemm, bukan aku tidak menghargai undangan kalian, akan tetapi aku harus mengejar Kam Ki agar dia tidak mendatangkan kekacauan mengganggu rakyat lebih lanjut!” kata Sie Bun Sam.

“Akan tetapi, Sam-ko, mengapa engkau begitu tergesa-gesa? Kam Ki itu tidak akan dapat menghilang. Seorang yang sesat biasanya tidak dapat mengubah kelakuannya yang jahat dan dia pasti akan meninggalkan jejak kejahatannya. Singgah dulu di Ki-lok hanya memakan waktu beberapa hari. Marilah, Sam-ko, kita bersama-sama singgah dulu ke rumah kakak beradik Ui. Baru nanti dari sana kita mencari jejak Kam Ki!” kata Bwee Hwa.

“Kita?” Bun Sam bertanya ragu.

“Ya, twako, karena aku sendiripun tidak mau sudah begitu saja! Jahanam itu terlalu menghinaku dan aku akan terus merasa penasaran sebelum melihat dia tewas!”

“Akan tetapi, aku berniat untuk membujuknva untuk menyerah dan menghadap suhu agar dia dapat bertaubat dan mengubah jalan hidupnya yang sesat, bukan membunuhnya.”

“Kalau dia tidak mau?” tanya Bwee Hwa.

“Kalau dia tidak mau, baru aku akan menggunakan kekerasan dan paksaan, akan tetapi bukan membunuhnya,” kata Bun Sam.

Ui Kiang mengangguk-angguk. “Ah, kak Bun Sam sungguh merupakan seorang pendekar budiman. Ilmu silatnya tinggi dan hatinya penuh kelembutan. Dia benar, Hwa-moi. Kita harus belajar memberi maaf kepada orang lain, apa lagi kalau orang itu mau bertaubat dan mengubah jalan hidupnya yang sesat. Manusia manakah di dunia ini yang sempurna? Hanya Thian (Tuhan) Yang Maha Sempurna. Setiap orang manusia pasti berdosa, pasti pernah melakukan kesalahan, hanya kadarnya saja yang berbeda menurut ukuran kebudayaan dan peradaban manusia sendiri. Kalau kita tidak dapat memaafkan kesalahan orang lain, bagaimana Tuhan akan sudi mengampuni kesalahan kita? Setiap orang dari kita pasti mempunyai kesalahan, maka kalau ada orang lain bersalah, sudah sepatutnya kalau kita memberi maaf. Sam-ko, kebijaksanaanmu semakin mengagumkan hatiku, maka kuharap sukalah engkau menerima undangan kami!”

“Sam-ko, aku sendiri menganggap Kiang-ko dan Kong-ko seperti kakak sendiri, maka akupun ikut mengundangmu!” kata Bwee Hwa yang entah bagaimana, ingin sekali memperdalam hubungan persahabatnya dengan Sie Bun Sam.

“Kalau Bu Sam-ko tidak mau menerima undangan itu, kamipun merasa tidak enak untuk menerimanya!” kata pula Can Gin Siang.

“Ah, Gin-moi, engkau harus datang!” kata Ui Kong sambil memandang wajah gadis itu dengan penuh harapan.

Melihat semua orang membujuknya untuk memenuhi undangan kakak beradik Ui itu, Bun Sam tertawa. “Aha, baiklah kalau begitu. Aku akan pergi bersama kalian.”

Semua orang bergembira dan karena tadi Ui Kiang minta kepada para perwira pasukan untuk memberi dua ekor kuda lagi, maka kini enam orang itu meninggalkan tempat itu dengan menunggang kuda.

Enam orang muda itu tiba dengan selamat di rumah gedung keluarga Ui. Ui Kiang dan Ui Kong lalu memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan pesta untuk menghormati para tamunya. Dan atas permintaan Bwee Hwa, mereka juga mempersiapkan sebuah meja sembahyang untuk mendoakan agar arwah Ong Siong Li mendapatkan tempat yang baik.

Sepasang gadis kembar memperoleh sebuah kamar, dan masing-masing sebuah kamar untuk Sie Bun Sam dan Lim Bwee Hwa. Gedung keluarga Ui yang kaya itu memang merupakan gedung besar dan memiliki banyak kamar. Kini keluarga Ui itu tinggal Ui Kiang dan Ui Kong yang tentu saja merasa repot sekali harus mengurus semua perusahaan peninggalan ayah mereka. Untung bagi mereka, mendiang Hartawan Ui Cun Lee adalah seorang dermawan sehingga para pegawainya amat setia sehingga dapat dipercaya untuk mengurus perusahaan itu.

Malam itu, Ui Kiang dan Ui Kong menjamu empat orang tamu mereka. Di dalam kamarnya Bwee Hwa duduk melamun. Ia masih bingung memikirkan urusannya dengan kedua orang saudara Ui itu. Oleh mendiang ibunya, ia dijodohkan dengan seorang dari mereka, dan mendiang ayah ibu dua orang muda itupun sudah setuju menerimanya sebagai mantu. Akan tetapi bagaimana dengan Ui Kiang dan Ui Kong sendiri? Mereka berdua tampak kagum dan tertarik kepadanya, bahkan seperti berlumba mengambil hatinya. Akan tetapi hal itu bukan menjadi bukti bahwa mereka mencintanya.

Dan yang terpenting, ia sendiri tidak mempunyai rasa cinta terhadap mereka, walaupun ia suka kepada mereka berdua yang merupakan pemuda-pemuda yang baik. Tidak ada sedikitpun keinginan dalam hatinya untuk diperisteri seorang di antara mereka. Akan tetapi, apakah ia harus membangkang terhadap pesan terakhir ibunya? Inilah yang membuat Bwee Hwa melamun dengan hati risau. Dua orang kakak beradik itu memang tampan. Yang seorang adalah sastrawan yang memiliki kebijaksaan dan berpemandangan luas tentang kehidupan. Yang lain adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu silat tinggi. Ditambah lagi mereka itu kaya-raya. Mereka akan dapat menjadi suami yang baik, hal ini tidak diragukan hati Bwee Hwa.

Tampan, pandai, bijaksana, kaya-raya. Apalagi yang kurang bagi seorang wanita? Akan tetapi, ia harus mengaku dalam hatinya bahwa ia tidak mempunyai perasaan cinta seorang wanita terhadap pria, tidak ingin menjadi isteri mereka, hanya suka menjadi sahabat baik atau saudara.

Kerisauan hatinya membuat Bwee Hwa merasa panas dan ia segera keluar dari kamarnya yang menghadap ke taman. Ia ingin mencari udara segar untuk menenangkan hatinya. Begitu keluar dari kamar, udara segar, angin semilir lembut dan keharuman bunga-bunga menyambutnya. Ia merasa senang dan berjalan-jalan di dalam taman yang luas dan penuh tanaman pohon-pohon buah dan bunga- bunga yang mekar semerbak harum. Taman itu memang indah. Apalagi malam itu bulan tiga perempat bulat berseri di langit yang tiada mendung.

Bwee Hwa menemukan sebuah kolam ikan di tengah taman dan di tepi kolam terdapat bangku panjang. Ia lalu duduk di atas bangku. Kerisauan hatinya sudah terbawa angin semilir dan hatinya kini merasa tenteram kembali.

Tiba-tiba ia mendengar orang-orang bicara dan langkah kaki mereka menuju ke tempat di mana ia duduk. Bwee Hwa cepat bangkit dari bangku dan menyelinap ke balik sebatang pohon yang besar. Siapa tahu mereka itu musuh yang datang dengan niat jahat, pikirnya. Akan tetapi hatinya lega ketika melihat bahwa yang datang adalah Ui Kiang dan Ui Kong. Ia hendak keluar menyambut mereka, akan tetapi menahan gerakannya ketika ia mendengar namanya disebut-sebut.

“Urusan dengan Hwa-moi harus kita selesaikan sekarang juga, Kiang-ko, selagi ia masih berada di sini agar keraguan ini dapat segera diakhiri dan diambil keputusan di antara kita.” Demikian Bwee Hwa mendengar suara Ui Kong yang berkata kepada Ui Kiang.

“Mari kita duduk dan bicara dengan hati terbuka, Kong-te. Memang selama ini aku merasa seolah kita bersaing untuk memperisteri Hwa-moi,” ajak Ui Kiang.

Dua orang muda itu duduk dan tentu saja Bwee Hwa makin tertarik untuk mendengarkan percakapan mereka yang menyangkut dirinya.

“Biar, Kiang-ko. Terus terang saja, tadinya akau amat tertarik kepada Hwa-moi. Siapa yang tidak akan tertarik? Ia cantik jelita dan ilmu silatnya tinggi. Akan tetapi setelah aku melihat Can Gin Siang, baru aku menyadari bahwa aku jatuh cinta kepada Gin-moi dan terhadap Hwa-moi aku hanya merasa kagum dan suka sebagai seorang sahabat atau saudara. Karena itu, menikahlah dengan Lim Bwee Hwa, Kiang-ko karena engkau yang lebih berhak sebagai saudara tua.”

“Wah, keadaan kita sama, Kong-te. Akupun menganggap Hwa-moi sebagai sahabat atau saudara saja. Engkau sebenarnya lebih tepat dan cocok untuk menjadi suaminya, kalian sama-sama pendekar. Selain itu, aku juga perlu membuat pengakuan, yaitu bahwa pertemuanku dengan Can Kim Siang membuat aku yakin bahwa aku mencintanya.”

“Aduh, bagaimana sekarang?” kata Ui Kong dengan suara sedih. Kedua orang pemuda itu berdiam diri, tenggelam dalam lamunan masing-masing. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa di balik batang pohon besar itu, Bwee Hwa mendengarkan percakapan mereka dan gadis itu hampir bersorak kegirangan mendengar pengakuan mereka! Seketika lenyap keraguan dan kerisauan dari dalam hatinya.

“Akupun bingung memikirkan persoalan ini. Aku tidak berani mengaku di depan Hwa-moi bahwa aku tidak dapat menjadi suaminya. Hal itu akan menyinggung perasaannya, padahal ia begitu baik terhadap keluarga kita.”

“Akupun tidak berani, koko. Padahal ia yang datang kepada kita untuk me-menuhi pesan mendiang ibunya untuk menyerahkan diri menjadi isteri seorang di antara kita. Sekarang bagaimana kita dapat menolaknya? Siapa yang berani bicara terus terang kepadanya? Ia tentu akan merasa tersinggung, merasa ditolak dan mungkin penolakan kita akan dianggap sebagai penghinaan baginya. Ah, aku bingung sekali, Kiang-ko? Bagaimana baiknya ini?”

Ui Kiang menghela napas panjang. “Ah, aku sendiri masih bingung memikirkan hal ini, Kong-te. Dulu, aku mengira bahwa adik Lim Bwee Hwa saling mencinta dengan adik Ong Siong Li. Akan tetapi, sekarang dia telah tewas. Kalau masih ada dia, tentu saja dia dapat menolong kita. Kalau Hwa-moi dapat berjodoh dengan dia, berarti kita terbebas dari ikatan jodoh yang ditentukan ibu kita itu. Akan tetapi Ong Siong Li telah tiada.”

“Bukan soal adik Lim Bwee Hwa saja yang membingungkan, Kiang-ko, akan tetapi juga mengenai perasaan cinta kita terhadap dua orang gadis kembar itu. Bagaimana kalau mereka tidak mau menerima cinta kita? Dan bagaimana pula kita akan mengajukan pinangan seandainya mereka membalas cinta kita? Ingat bahwa bukan hanya kita yang yatim piatu, akan tetapi mereka juga sudah tidak mempunyai ayah ibu lagi.”

“Ah, aku sendiri bingung, Kong-te. Engkau tahu bahwa akupun sama sekali tidak mempunyai pengalaman dalam urusan cinta dan perjodohan.”

Kedua orang kakak beradik itu tampak bingung dan tidak dapat mengambil keputusan apa yang harus mereka lakukan menghadapi urusan mereka dengan Bwee Hwa dan dengan dua orang gadis kembar.

“Marilah malam ini kita masing-masing pikirkan secara mendalam agar besok kita dapat menemukan jalan terbaik untuk mengatasi masalah ini,” kata Ui Kiang dan kedua orang kakak beradik itu, lalu meninggalkan taman itu, kembali ke kamar masing-masing.

Setelah mereka pergi, Bwee Hwa keluar dari tempat sembunyiannya, sepasang matanya bersinar dan wajahnya cerah, bibirnya tersenyum. Hatinya merasa girang bukan main mendengar percakapan dua orang kakak beradik itu. Masalah yang ia hadapi dengan hati bingung kini telah terpecahkan oleh pengakuan dua orang pemuda dalam percakapan mereka tadi. Mereka tidak ingin berjodoh dengannya karena mencinta sepasang gadis kembar itu! Hatinya merasa lega. Ia sendiri walaupun kagum dan suka kepada mereka, akan tetapi tidak ada keinginan sedikitpun untuk menjadi isteri seorang dari mereka.