-->

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan Jilid 11 (Tamat)

 
Jilid 11(Tamat)

“Ah, sungguh menyesal sekali!” kata kepala dusun. “Kita belum sempat menghaturkan terima kasih, menjamu mereka dan yang lebih kita sesalkan lagi, kita belum sempat mengetahui nama kedua pendekar itu!”

Kepala dusun Liok-teng lalu berseru kepada semua penduduk yang masih bergembira ria di bawah serambi, di atas pekarangan gedungnya. “Hai, saudara-saudara sekalian, penduduk dusun Liok-teng! Apa yang kalian dengar dari keterangan dua orang wakil kalian tadi semua benar belaka! Aku sebagai kepala dusun bertanggungjawab dan tugaskulah untuk mengatur agar semua yang diperintahkan kedua orang pendekar penolong kita itu terlaksana dengan baik. Kami semua telah menyadari kekeliruan kami selama ini dan mulai hari ini, kita semua akan memulai kehidupan baru yang tenteram dan makmur, bersatu padu membangun dusun kita!”

Para penduduk menyambut ucapan kepala dusun mereka itu dengan gembira sekali. Di antara keriuhan sorak-sorai penduduk, Gan-cungcu menghadapi delapan orang hartawan dan berkata lirih yang hanya didengar oleh mereka dan Bu-kauwsu. “Maaf, Cu-wi (kalian) kalau mulai detik ini, kita harus mengubah hubungan kami menjadi sewajarnya. Mari berlumba melakukan kebaikan untuk rakyat kita.”

Delapan orang hartawan itu mengangguk-angguk.

“Dan engkau, Bu-kauwsu, laksanakan perintah taihiap dan lihiap tadi,” kata pula Gan-cungcu kepada Bu- kauwsu dan bekas komandan pasukan keamanan itu mengangguk.

Mereka semua, juga para penduduk, merasa menyesal sekali bahwa kedua orang pendekar itu telah menghilang dengan diam-diam. Pemuda dan gadis perkasa itu bukan hanya mendatangkan keadaan hidup baru bagi semua penduduk, akan tetapi juga tadi telah menyelamatkan semua barang berharga yang akan dirampok penjahat, menyelamatkan pula para gadis yang akan diculik, dan barangkali juga menyelamatkan nyawa mereka dari ancaman gerombolan. Sementara itu, selagi semua penduduk Liok-teng gembira, Bun Sam dan Bwee Hwa sudah pergi jauh meninggalkan dusun itu. Mereka tadi sengaja meninggalkan tempat itu secara diam-diam karena mereka tidak ingin disanjung-sanjung. Setelah jauh meninggalkan dusun Liok-teng, mereka lalu berjalan biasa dengan langkah santai.

“Sam-ko, luar biasa sekali apa yang kaulakukan tadi,” Bwee Hwa memuji te-mannya.

“Ah, tidak, Hwa-moi. Memang seyogianya demikianlah sikap setiap orang manusia, berbuat kebaikan berguna bagi orang lain sekuat kemampuan dan keadaan masing-masing. Kalau kita dapat melakukan sesuatu demi kebaikan orang lain, terutama orang banyak kalau mungkin, maka baru kita menyadari bahwa untuk itulah kita hidup. Saling tolong, saling bantu. Sayang, sebagian besar orang hanya mengerahkan segala kemampuan mereka hanya untuk kepentingan dan kesenangan diri mereka sendiri tanpa memperdulikan keadaan orang lain, seolah orang seperti itu lupa bahwa dia tidak mungkin hidup seorang diri saja di dunia ini. Kita hidup saling bergantungan, saling membutuhkan. Tidak pantas kita hidup kalau hanya dapat meminta, tanpa memberi yang berarti kita hanya menuntut hak tanpa memenuhi kewajiban.”

“Sam-ko, apakah engkau yakin bahwa dusun Liok-teng akan dapat berubah menjadi dusun yang makmur bagi semua penduduknya, tanpa kecuali.”

“Aku yakin hal itu akan tercapai kalau saja setiap orang setia melakukan kewajiban masing-masing. Kalau para pekerja dengan rajin, jujur dan setia maka hasilnya tentu akan berlipat ganda. Si pemilik modal menjamin kehidupan mereka sekeluarga dengan cukup sebagai bagian mereka atas hasil pekerjaan itu, maka semua pihak akan merasa berbahagia dan keadaan itu akan mendatangkan kemakmuran dan persatuan yang kokoh kuat. Akan tetapi kalau mereka itu hanya menuntut hak tanpa melaksanakan kewajiban masing-masing, tentu saja kemakmuran tidak akan tercapai dan persatuan juga menjadi retak. Kekacauan dan kelemahan timbul.”

“Sayang, sebagian orang hanya menuntut hak tanpa mau melaksanakan tugas dengan baik, Sam-ko.”

Pemuda itu menghela napas panjang. “Hal itu merupakan kenyataan yang pahit, Hwa-moi. Akan tetapi kesemuanya itu terpulang kepada pribadi masing-masing, apakah dia ingin mengisi hidup yang tak berapa lama ini dengan pekerjaan yang bermanfaat bagi orang lain ataukah dia hanya menghabiskan waktu selama hidupnya hanya untuk memenuhi kepentingan dan kesenangan diri sendiri belaka tanpa memperdulikan keadaan orang lain. Hidup seperti itu tiada bedanya dengan kehidupan binatang.”

“Wah, kalau engkau bersikap dan bicara seperti ini, Sam-ko, engkau meng-ingatkan aku kepada suhu-ku, dan kepada kakak Ui Kiang.”

“Suhumu Sin-kiam Lojin memang seorang bijaksana dan Ui Kiang juga seorang yang baik budi dan luas pengetahuannya. Setiap orang manusia seyogianya mengerti akan makna kehidupan ini, mengenal diri pribadi sedalam-dalamnya sehingga mudah menyadari akan setiap kesalahan dan dapat segera mengubahnya. Setiap orang manusia patut menyadari bahwa dia diciptakan Tuhan hidup di dunia ini agar dia berguna bagi manusia dan dunia, bukan sekadar makan tidur dan terombang-ambing antara kesenangan dan kesusahan, lalu mati tanpa meninggalkan kesan. Lebih celaka lagi kalau sampai kita tersesat, bukan melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi manusia dan dunia, melainkan melakukan kejahatan yang mencelakakan manusia lain dan mengotori dunia.” Mereka melanjutkan perjalanan dan dalam diri pemuda itu Bwee Hwa merasa mendapatkan seorang sahabat yang dapat pula dijadikan guru atau pembimbing dalam kehidupan. Mereka melanjutkan perjalanan dan karena Bun Sam ingin mendahulukan keperluan Bwee Hwa, maka dia mengajak Bwee Hwa untuk berjalan menuju Heng-san, pegunungan tempat tinggal Sin-kiam Lojin yang ingin dikunjungi gadis itu.

Setelah tiba di sebuah kota, Bwee Hwa membeli dua ekor kuda untuk tunggangan mereka karena mereka telah meninggalkan kuda mereka di dusun itu dengan diam-diam. Karena tidak ingin ada orang mengetahui kepergian mereka, maka mereka terpaksa meninggalkan dua ekor kuda itu dan kini Bwee Hwa menggunakan uang bekal pemberian kedua orang kakak angkatnya untuk membeli dua ekor kuda.

Setelah mendapatkan dua ekor kuda yang baik dan kuat, Sie Bun Sam dan Lim Bwee Hwa melanjutkan perjalanan mereka. Derap kaki kuda mereka me-ninggalkan kota itu, makin lama semakin sayup lalu tak terdengar lagi. Mereka berdua menuju Heng-san yang cukup jauh dari situ dan siap siaga menghadapi segala pengalaman baru dengan bekal sikap pendekar yang selalu membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan yang didasari keangkara-murkaan manusia yang disesatkan iblis melalui nafsu- nafsu daya rendah yang berada dalam diri setiap orang manusia.

Pek-hwa Sianli duduk termenung di depan pondoknya di lereng Bukit Ayam Emas. Pagi itu udaranya cerah, sinar matahari yang masih muda mendatangkan kehangatan mengusir sisa hawa dingin berkabut yang ditinggalkan sang malam.

Wanita cantik yang tampak berusia duapuluh tahun walaupun usianya sudah tigapuluh tahun itu selama beberapa minggu ini tampak murung. Ia kini tinggal seorang diri saja di pondoknya karena ia telah membunuh A-hui dan A-kui, dua orang gadis pelayannya karena mereka telah berjina dengan Thio Kam Ki yang menjadi kekasihnya.

Perginya Kam Ki membuat ia sedih dan kecewa sekali. Ia tergila-gila kepada pemuda itu, bukan hanya karena pemuda itu tampan dan memiliki daya tarik yang amat kuat, juga masih perjaka ketika pertama kali bertemu dengannya, akan tetapi terutama sekali karena pemuda itu amat lihai sehingga dapat diandalkan dan akan memperkuat kedudukannya, dapat membelanya kalau ia mendapat serangan musuh-musuhnya.

Pek-hwa Sianli tahu bahwa ia dimusuhi para pendekar, terutama setelah ia, dibantu oleh Kam Ki, telah membunuh Siang-to Sam Heng-te (Tiga Kakak Beradik Bergolok Pasangan), tiga orang pendekar yang memusuhinya karena ia mereka ketahui sering menculik pemuda-pemuda dan membunuh mereka kalau ia sudah merasa bosan mempermainkan mereka.

Semenjak ia membunuh A-hui dan A-kui, dan Kam Ki pergi meninggalkannya, kemudian ia menyuruh dua gadis kembar Can Kim Siang dan Can Gin Siang untuk mencari dan membunuh Kam Ki, ia tidak betah tinggal di lereng Bukit Ayam Emas. Ia telah mencoba menghibur diri dengan pergi ke tempat jauh dari bukit itu dan bersenang-senang dengan pemuda yang dapat diculik dan dibujuknya. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena setelah ia bertemu dengan Kam Ki tidak ada lagi pria yang dapat menewaskan hatinya. Ia segera merasa bosan dan akhirnya ia kembali ke pondoknya dan seringkali termenung. Ia diam-diam merasa bingung.

Ada perasaan dendam kepada Kam Ki karena pemuda itu meninggalkanya, akan tetapi juga ada rasa rindu kepada pemuda itu. Maka, diam-diam ia merasa menyesal mengapa ia menyuruh dua orang adik misannya, sepasang gadis kembar itu, untuk mencari dan membunuh Kam Ki. Sepasang gadis kembar itu kini lihai sekali setelah menjadi murid Hoa-san Kui-bo, kalau sampai mereka berhasil membunuh Kam Ki, ia akan merasa kehilangan dan bersedih sekali! Akan tetapi semua itu telah terlanjur dan inilah yang membuat ia kini seringkali termenung dengan murung.

Terdengar bunyi kicau burung di atas pohon yang tumbuh di depan pondok itu. Pek-hwa Sianli mencari dengan pandang matanya dan ia melihat dua ekor burung sedang berkicau dan bercumbu di atas ranting pohon. Melihat kemesraan sepasang burung itu, timbul perasaan iri yang membuat hatinya seperti terbakar. Ia segera mengambil sepasang sumpit yang tadi ia pergunakan untuk sarapan bubur dan sekali kedua tangannya bergerak, dua batang sumpit itu meluncur seperti anak panah menuju ke atas pohon dan beberapa detik kemudian tubuh dua ekor burung itu jatuh ke bawah pohon, terkapar mati dengan tubuh tertusuk sumpit!

Tiba-tiba terdengar orang bertepuk tangan dan Pek-hwa Sianli cepat bangkit berdiri dan memutar tubuhnya. Ia terbelalak, akan tetapi wajahnya berseri ketika ia melihat Kam Ki telah berdiri di situ dengan senyumnya yang selalu terbayang olehnya!

“.......kau .......!” katanya dan suaranya terdengar aneh karena mengandung bermacam perasaan. Ada kejutan, ada kegembiraan, akan tetapi bercampur dengan kemarahan, juga keharuan.

Kam Ki memperlebar senyumnya dan sepasang matanya memandang dengan sinar penuh kasih sayang, sinar mata yang sempat membuat wanita itu tergila-gila.

“Sian-li, aku datang karena sudah tidak dapat menahan rasa rinduku kepadamu. Akan tetapi sebelumnya agaknya kita harus menjernihkan dulu kekeruhan yang ada di antara kita. Boleh aku duduk dan kita berbicara dari hati ke hati?”

Sebetulnya Pek-hwa Sianli merasa gembira sekali dan ingin ia menyambut kemunculan pemuda itu dengan pelukan kasih sayang. Akan tetapi sebagai wanita ia mengambil sikap seolah ia tidak acuh, dan berkata dengan dingin, “Silakan.”

Kam Ki bukan orang bodoh. Dia sudah mengenal baik wanita itu, maka dari sinar mata Pek-hwa Sianli saja dia sudah mengetahui bahwa wanita itu menyambut kedatangannya dengan penuh gairah cinta! Dia lalu duduk di atas kursi, berhadapan dengan Pek-hwa Sianli. Lalu dia mengambil sebuah peti berukir kecil dari sakunya dan memberikannya kepada Pek-hwa Sianli.

“Ini aku membawa sedikit hadiah untukmu. Terimalah, Pek-hwa Sianli.”

Dengan tetap mengambil sikap ogah-ogahan wanita itu menerima peti kecil itu dan meletakkan di atas meja yang berdiri di antara mereka.

“Buka dan lihatlah isinya, Sian-li.”

Pek-hwa Sianli adalah seorang wanita yang memiliki banyak harta benda, tentu saja ia tidak membutuhkan barang apapun. Ia mampu membeli perhiasan yang bagaimana bagus dan mahalpun, bahkan iapun akan dapat dengan mudah mencuri barang indah yang diinginkannya kalau ia tidak mampu membelinya. Akan tetapi, pemberian dari pemuda itu diam-diam membuat jantungnya berdebar, penuh kegembiraan karena hadiah dari seorang pria menunjukkan akan cinta pria itu kepadanya. Dibukanyalah tutup peti itu.

Sebuah hiasan rambut dari emas dengan permata indah berkilauan menyambut pandang matanya. Ia girang sekali, akan tetapi menahan mulutnya agar tidak menyuarakan perasaan hatinya. Ia bahkan menutup kembali peti itu.

“Kam Ki, apa yang akan kau bicarakan?” Untuk menunjukkan kemarahannya ia tidak lagi menyebut kakak kepada Kam Ki yang sesungguhnya memang antara tujuh tahun lebih muda daripadanya.

“Aku ingin bicara denganmu tentang hubungan kita yang terputus secara mengecewakan.” “Hemm, siapa yang bikin putus? Engkau meninggalkan aku tanpa pamit!”

“Memang benar. Aku mengakui itu, akan tetapi, Sian-li, kepergianku itu adalah untuk menjaga agar jangan terjadi pertentangan dan keributan di antara kita. Melihat engkau membunuh A-hui dan A-kui, maka aku rasa lebih baik kalau untuk sementara aku pergi dan menjauhkan diri darimu agar tidak terjadi keributan.”

Pek-hwa Sianli cemberut. “Tentu saja aku membunuh mereka karena mereka berani main gila denganmu!”

“Aih, engkau tidak adil, Sian-li. Kita saling mencinta, akan tetapi tidak harus saling mengikat. Engkau boleh berhubungan dengan laki-laki lain, mengapa aku tidak boleh? Itu tidak adil namanya. Sekarang begini, Sian-li. Setelah berpisah darimu, baru aku merasa amat kehilangan dirimu dan aku merasa rindu padamu. Nah, kuharap engkau suka bersikap jujur. Bagaimana perasaanmu terhadap diriku? Apakah sekarang menjadi benci dan tidak mau bersahabat lagi dengan aku? Akui saja terus terang.”

“Hemm, kalau mau bersahabat lagi bagaimana dan kalau tidak bagaimana?”

“Nah, pertanyaan itu aku suka, Sianli. Kita harus jujur dan terbuka dalam hubungan kita. Kalau engkau tidak mau bersahabat lagi, aku akan pergi dan tidak akan mendekatimu lagi. Kita boleh tidak bersahabat, akan tetapi tidak perlu bermusuhan. Sebaliknya, kalau engkau ingin bersahabat lagi, aku akan merasa senang sekali. Akan tetapi dalam hubungan kita itu kita harus tetap bebas. Engkau boleh saja berhubungan, dengan laki-laki lain, demikian pula aku boleh berhubungan dengan wanita lain. Bukankah ini adil namanya? Kita dapat saling membantu dalam segala hal, jadi sama-sama untung, sama-sama senang. Bagaimana pendapatmu?”

Sampai lama Pek-hwa Sianli terdiam, berpikir dan mempertimbangkan dalam hatinya. Kemudian wajahnya berseri dan bibirnya yang tadinya cemberut itu kini tersenyum. Ia menyadari bahwa usul pemuda itu memang cocok dengan isi hatinya. Ia sendiripun akhirnya akan bosan dengan Kam Ki dan menginginkan teman pria baru. Dan memang akan menyenangkan sekali kalau mereka berdua tetap bebas. Dan selain Kam Ki merupakan pria yang dapat menyenangkan hatinya, pemuda itupun dapat menjadi kawan, bahkan pelindung yang amat boleh diandalkan dengan kesaktiannya!

“Anak nakal, tega benar engkau meninggalkan aku kesepian seorang diri sampai begitu lama! Kaukira hanya engkau yang rindu? Akupun rindu setengah mati, kau bocah nakal!” “Jadi engkau setuju dengan syaratku tadi?”

“Tentu saja, bodoh! Kenapa tidak dari dulu kaukatakan kepadaku? Engkau sebaliknya malah minggat!”

Kedua orang itu sama-sama bangkit berdiri dan saling berpelukan dengan mesra. Keduanya menumpahkan rasa rindu dengan bercinta sepuas hati mereka.

Setelah mereka mendapat kesempatan bercakap-cakap, Kam Ki berkata, “Sian-li, engkau menyuruh dua gadis kembar Can untuk membunuhku, bukan?”

Pek-hwa Sianli menciumnya dan menjawab manja. “Habis, engkau sih yang membuat aku susah dan marah, pergi minggat begitu saja. Memang aku menyuruh mereka untuk mencarimu dan membunuhmu, sungguhpun setelah mereka pergi aku merasa menyesal sekali, takut kalau engkau benar-benar terbunuh. Akan tetapi syukur engkau selamat, kekasihku!”

Kam Ki tertawa. “He-he, kaukira dua orang gadis kembar itu mampu me-ngalahkan aku? Tidak, mereka tidak mampu mengalahkan aku, akan tetapi merekapun agaknya mengkhianatimu, Sian-li, karena mereka berdua telah bergabung dengan para pendekar yang memusuhi aku dan perkumpulan yang kupimpin, yaitu Pek-lian-kauw.”

Kam Ki lalu menceritakan tentang penyerbuan Ong Siong Li, Ui Kong dan Lim Bwee Hwa yang kemudian bersatu dengan dua gadis kembar utusan Pek-hwa Sianli itu. Akan tetapi Kam Ki sama sekali tidak menyebut nama Sie Bun Sam sehingga Pek-hwa Sianli mengira bahwa kekasihnya ini kalah karena dikeroyok banyak orang, termasuk dua orang gadis kembar, adik misannya itu.

Selama beberapa hari, Kam Ki dan Pek-hwa Sianli bersenang-senang me-lepaskan kerinduan hati mereka. Segala sesuatu tampak indah bagi Pek-hwa Sianli. Di lubuk hatinya, wanita ini harus mengakui bahwa ia benar-benar jatuh cinta kepada Kam Ki. Bukan sekedar cinta berahi yang selama ini membuatnya mabok. Kini ia benar-benar mencinta Kam Ki, bukan memperalat Kam Ki untuk memuaskan nafsu berahinya seperti terhadap para pemuda lain yang pernah ia permainkan, melainkan sungguh-sungguh mempunyai perasaan kasih sayang, ingin membahagiakan, ingin membela dan siap berkorban apapun demi membahagiakan pemuda ini.

Kurang lebih dua pekan kemudian, pada suatu senja, Kam Ki dan Pek-hwa Sianli duduk berdua di ruangan depan pondok. Mereka tampak santai dan wajah Pek-hwa Sianli tampak lebih cantik daripada biasanya. Kini sepasang matanya bersinar lembut, mulutnya selalu membayangkan senyum dan gerak- gerik tubuhnya nampak lembut, santai dan malas, seperti seekor harimau betina yang kekenyangan sehingga menjadi malas. Mereka duduk berdampingan di atas bangku dan dengan malas dan manja Pek- hwa Sianli menyandarkan kepalanya di dada Kam Ki.

“Sian-li, sungguh tidak baik kalau kita berdua hanya begini saja seperti ini, tinggal di tempat sunyi ini dan tidak melakukan apa-apa.”

“Kekasihku, mengapa engkau berkata demikian? Bukankah kita berdua merasakan kesenangan berdua seolah kita berada di sorga?”

“Akan tetapi kalau begini terus dapat membosankan, Sian-li.” Pek-hwa Sianli bangkit duduk dan menatap tajam wajah pemuda itu. “Bosan? Kam Ki, apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau bosan kepadaku?”

Kam Ki tersenyum dan merangkul. “Bodoh, siapa bisa bosan padamu, Sianli? Bukan engkau yang membosankan, melainkan keberadaanku di tempat sunyi ini, hanya makan tidur dan tidak mempunyai kegiatan apa-apa. Dengar, Sian-li. Aku pernah merasakan kesenangan besar ketika aku memimpin banyak anak buah di Pek-lian-kauw. Aku merasa mempunyai kekuasaan dan mempunyai kedudukan yang kuat. Nah, aku merindukan keadaan seperti itu. Setelah kini kita bersatu, maka kita menjadi lebih kuat dan kalau kita dapat membentuk suatu perkumpulan yang kuat, dengan anak buah yang banyak, maka kita dapat hidup sebagai seorang raja yang memiliki pasukan!”

“Wah, terserah kepadamu, Kam Ki. Aku setuju dan mendukung niatmu itu dan aku akan selalu menyertai dan membantumu. Lalu, apa yang hendak kaulakukan sekarang?”

“Begini, Sian-li. Kalau engkau mendukung keinginanku, besok kita pergi meninggalkan tempat sunyi ini. Aku akan mencari sisa-sisa dari mereka yang dulu menjadi anak buahku. Kita bersama lalu menghimpun tenaga, mengumpulkan orang-orang yang pantas menjadi anak buah kita, lalu memilih sebuah tempat yang baik untuk kita jadikan sarang perkumpulan kita. Kalau keadaan kita sudah kuat seperti itu, kita tidak perlu takut lagi menghadapi permusuhan dengan mereka yang menamakan dirinya pendekar. Bahkan akan kita basmi satu demi satu mereka yang memusuhi kita. Bagaimana pendapatmu?”

Pek-hwa Sianli memandang kekasihnya dan tersenyum manis. “Ah, bagus sekali, Kam Ki. Aku mendukung sepenuhnya!”

Mereka berangkulan dan bermesraan kembali. Akan tetapi tiba-tiba Kam Ki melepaskan rangkulannya. “Dengar, ada yang datang berkuda!”

Pek-hwa Sianli juga mendengarkan. Sejenak mereka berdiam diri, mendengar-kan penuh perhatian. “Benar, ada dua ekor kuda mendaki puncak. Hemm, mungkin sekali mereka adalah dua orang adik misanku yang kembar itu, Kam Ki. Agaknya mereka kembali ke sini.”

“Kalau begitu, aku harus bersembunyi dulu, keluar dari pondok. Aku menantimu di guha karang dan nanti engkau datang menemuiku setelah menyambut kedatangan mereka.”

“Baik, Kam Ki, pergilah.”

Kam Ki lalu keluar dari pondok melalui pintu belakang dan terus pergi ke sebuah guha yang berada sekitar setengah lie (mil) dari pondok itu.

Sementara itu, dengan hati tegang karena sudah mendengar bahwa dua orang adik misannya itu membalik, bersatu dengan para pendekar memusuhi Kam Ki, Pek-hwa Sianli berdiri menanti datangnya dua orang penunggang kuda yang telah terdengar derap kaki kudanya sebelum kelihatan.

Setelah dua orang pemuda itu muncul, Pek-hwa Sianli melihat bahwa seorang di antara mereka adalah Can Gin Siang akan tetapi orang kedua adalah seorang pemuda bertubuh tinggi tegap dan berwajah ganteng, berusia sekitar duapuluh dua tahun yang ia tidak kenal. Dua orang itu setelah tiba di pekarangan pondok lalu turun dari atas kuda mereka. Ui Kong, pemuda itu, membantu tunangannya menambatkan kuda mereka pada sebatang pohon, kemudian mereka melangkah maju menghampiri Pek-hwa Sianli yang masih berdiri menanti di depan pintu pondok.

“Hemm, engkau baru datang, A Gin?” tegur Pek-hwa Sianli, dengan hati bim-bang. Dua macam perasaan teraduk dalam hatinya ketika ia melihat Can Gin Siang. Ia girang bahwa Gin Siang dan Kim Siang tidak berhasil membunuh Kam Ki, akan tetapi ia juga penasaran mendengar betapa dua orang adik misannya itu kini bersatu dengan para pendekar.

Gin Siang menghampiri sampai ke depan Pek-hwa Sianli dan memberi normat, lalu memperkenalkan. “Enci Hwa, ini adalah tunanganku, namanya Ui Kong. Kong-ko inilah enci Pek-hwa Sianli yang juga menjadi guru pertamaku.”

Ui Kong memberi hormat dan Pek-hwa Sianli mengamati wajah pemuda ini dengan sinar mata kagum. Seorang pemuda yang tampan dan gagah, menggairahkan sekali, bisik hati akal pikirannya yang memang selalu tertarik dan bergairah setiap melihat seorang pria yang tampan.

“Kalian masuklah, kita bicara di dalam, A Gin.”

Mereka bertiga masuk dan duduk di ruangan depan. Untung bahwa di situ tidak terdapat tanda-tanda kehadiran Kam Ki, pikir Pek-hwa Sianli sambil mengerling ke sekitarnya.

“A Gin, mana A Kim dan apa artinya engkau memperkenalkan saudara Ui Kong ini sebagai tunanganmu?”

Gin Siang merasa heran mengapa kakak misannya ini tidak menanyakan tentang tugas yang diberikan kepada ia dan saudara kembarnya, tidak bertanya tentang hasil usaha mereka membunuh Kam Ki. Akan tetapi ia ingin menceritakan semua yang terjadi.

“Begini, enci Hwa. Pertama-tama saya hendak melaporkan bahwa kami berdua telah berhasil bertemu dengan Kam Ki dan menyerangnya. Akan tetapi dengan menyesal saya beritahukan bahwa dia dapat lolos dari tangan kami karena memang dia memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali dan dia telah menjadi pimpinan Pek-lian-kauw. Kami berdua bahkan tertawan olehnya karena kami pingsan ketika dia mempergunakan peledak yang mengandung obat bius. Untunglah muncul kanda Ui Kong ini dan kawan- kawannya sehingga kami dapat terbebas dari bahaya. Kami berdua bersama Kong-ko dan kawan- kawannya berhasil menghancurkan perkumpulan itu akan tetapi Kam Ki dapat meloloskan diri. Kemudian, kami berdua menemukan jodoh kami, enci. Kim Siang bertunangan dengan kakak Ui Kiang dan aku bertunangan dengan Ui Kong ini. A Kim tertinggal di kota Ki-lok membantu tunangannya mengurus perusahan dan mewakilkan aku dan Kong-ko untuk menghadap enci dan memberi kabar tentang semua yang kuceritakan itu.”

Sebetulnya, di dalam hatinya Pek-hwa marah mendengar kedua orang adik misannya itu kini bukan hanya bergabung, bahkan bertunangan dengan orang-orang yang memusuhi Kam Ki. Akan tetapi wanita yang cerdik ini memperlihatkan wajah gembira. Ia dapat menduga bahwa pemuda bernama Ui Kong ini tentu seorang yang tangguh maka dapat menolong dua orang adik misannya yang tertawan Kam Ki dan Pek-lian-kauw, dan iapun tahu bahwa tingkat kepandaian A Gin tidak berselisih jauh dengan tingkatnya sendiri setelah dua orang gadis kembar itu berguru kepada Hoa-san Kui-bo, bibi gurunya yang bertapa di Hoa-san. Maka ia bersikap ramah agar mereka tidak curiga. “Ah, aku senang sekali mendengar kalian berdua telah mendapatkan jodoh, A Gin. Kapan akan diadakannya perayaan pernikahannya?”

“Secepatnya, enci. Dan kami datang ini selain untuk melaporkan yang tadi, juga untuk mengundang agar enci dapat menghadiri perayaan pesta pernikahan kami di Ki-lok.”

“Tentu saja, A Gin. Sekarang, hari telah menjelang malam dan kalian telah melakukan perjalanan jauh. Mari, kalian mandi dan berganti pakaian dulu agar segar kembali, kemudian kita makan malam dan bicara lebih lanjut. Kalian mandi dan mengaso dulu sementara aku akan mencari beberapa macam bumbu masakan di luar.”

“Ah, tidak perlu merepotkanmu, Enci Hwa.” “Tidak ada yang repot, kalian mandilah dulu.”

Pek-hwa Sianli lalu meninggalkan pondok, diam-diam menekan kemarahannya karena kini A Gin menyebutnya “enci Hwa” tidak lagi menyebut seperti dulu. Sebutan ini diucapkan Gin Siang sebagai tanda keakraban bersaudara, akan tetapi bagi Pek-hwa Sianli dianggap tidak menyenangkan karena ia lebih senang disebut Sianli yang berarti Dewi!

Setelah meninggalkan pondok, Pek-hwa Sianli cepat mengambil jalan memutar menuju ke guha di mana Kam Ki telah menantinya dengan tidak sabar.

“Yang datang adalah Can Gin Siang bersama tunangannya. Tunangannya itu bernama Ui Kong yang katanya membantunya menyerbu Pek-lian-kauw dan ikut mengeroyokmu. Iapun menceritakan bahwa Kim Siang juga bertunangan dengan kakaknya Ui Kong itu. Gin Siang datang selain untuk melaporkan kegagalannya membunuhmu, juga mengundangku ke perayaan pernikahan dua orang gadis kembar itu. Sekarang bagaimana baiknya, Kam Ki?”

“Kalau menurut engkau, bagaimana baiknya?”

“Kalau kita maju bersama, kukira tidak akan terlalu sukar untuk mengalahkan mereka. Mari kita bunuh saja mereka!”

Kam Ki mengangguk. “Mari kita bunuh laki-laki itu, akan tetapi Gin Siang jangan dibunuh dulu. Sayang kalau langsung dibunuh. Aku masih ingat, ia cantik jelita. Kita tangkap ia hidup-hidup dan serahkan saja ia kepadaku, nanti kalau aku sudah bosan akan kubunuh.”

“Uh, engkau mau enak sendiri saja!” Pek-hwa Sianli bersungut. “Ui Kong itu pun muda dan tampan sekali. Kalau engkau mau bersenang-senang, akupun juga. Diapun tidak langsung boleh dibunuh!”

Kam Ki tersenyum menyeringai, maklum akan maksud wanita itu. “Kalau begitu, kita tangkap mereka, kita bersenang-senang, baru kita bunuh mereka. Begitukah?”

“Ya, akan tetapi kalau membunuh mereka tidak begitu sukar, sebaliknya kalau hendak menangkap hidup-hidup, bukan merupakan pekerjaan mudah! Ingat, merekapun memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan tangguh sekali.” “Ha-ha, apa sukarnya? Ketahuilah, aku membawa obat bius dari Pek-lian-kauw. Kalau dicampurkan arak, tidak akan terasa sama sekali dan bekerjanya cepat. Kusimpan dalam buntalan pakaianku dalam kamarmu. Pergunakan itu. Kalau mereka sudah pingsan, kita pergunakan obat perangsang milikmu itu dan kita bersenang-senang.”

Pek-hwa Sianli mengangguk-angguk dengan gembira. Kemudian ia pergi, kembali ke pondok dan langsung sibuk di dapur untuk masak. Tentu saja sebelum itu ia sudah mengambil obat atau racun pembius dari buntalan pakaian Kam Ki dalam kamarnya dan mencampurkannya dengan arak dalam guci arak yang akan dihidangkannya nanti.

Setelah selesai mandi dan bertukar pakaian, Gin Siang membantu kesibukan Pek-hwa Sianli di dapur, sedangkan Ui Kong mengurus kuda, memberi dua ekor kuda itu makan dan minum.

Malampun tiba. Kini tiga orang itu sudah duduk sekeliling meja makan. Dengan gembira mereka makan dan minum dan Pek-hwa Sianli menuangkan arak merah yang harum baunya ke cawan masing-masing. Tentu saja sebelumnya ia sudah menelan obat penawar atau pemunah racun pembius yang berada dalam arak itu.

Ketika mereka makan minum, Kam Ki telah mendekati pondok dengan hati-hati, tanpa menimbulkan suara sedikitpun dan dia mengintai dari luar ruangan makan. Jantungnya berdebar tegang dan girang melihat Can Gin Siang yang cantik jelita itu.

Begitu cawan pertama diminum Ui Kong dan Gin Siang, Pek-hwa Sianli sudah menuangkan arak dari guci itu kembali memenuhi cawan mereka.

“Mari kita minum untuk merayakan perjodohan antara kalian yang sungguh amat menggembirakan hatiku!” katanya sambil mengangkat cawan. Tentu saja Ui Kong dan Gin Siang tidak menolak maksud baik itu dan mereka pun mengangkat cawan lalu minum isinya sampai habis.

“Celaka......!” Tiba-tiba Ui Kong berseru, tubuhnya limbung ketika dia bangkit berdiri. Dia melihat tunangannya malah sudah merebahkan kepala di atas meja dalam keadaan lemas dan terkulai.

Ui Kong mendengar suara tawa dan dengan marah ia mengumpulkan tenaga yang terasa hilang, lalu melontarkan cawan arak yang kosong ke arah muka Pek-hwa Sianli yang tertawa. Akan tetapi karena lontaran itu lemah dan Pek-hwa Sianli mengelak, sambitan itupun tidak mengenai sasaran. Ui Kong mencoba melangkah mundur dari meja, akan tetapi dia terkulai dan roboh!

Kam Ki muncul dari pintu dan bertepuk tangan memuji sambil tertawa. “Ha-ha-ha, bagus sekali, Sianli! Mulai malam ini kita bersenang-senang sampai sepuasnya!” kata Kam Ki dan dia tertawa dengan suara tawanya yang terdengar penuh ejekan. Dia menghampiri Gin Siang yang masih duduk di atas kursi dengan kepala berbantal lengan di atas meja dalam keadaan pingsan atau tidur dan hendak memondongnya.

“Sabar dulu, Kam Ki. Engkau lupa! Mereka harus diberi minum anggur merah perangsang dulu agar jinak, dan tidak menolak atau melawan!”

“Ah, benar, aku lupa, Sian-li. Ambil anggurmu itu!” Pek-hwa Sianli berlari ke kamarnya mengambil sebotol anggur merah yang merupakan obat perangsang yang amat manjur, yang ia pergunakan kepada para pemuda yang diculiknya dahulu untuk membakar gairah para pemuda itu.

Ia menuangkan anggur merah itu ke dalam cawan arak yang dipakai Gin Siang dan Ui Kong tadi sampai penuh. Kemudian, Kam Ki mendekatkan cawan itu ke mulut Gin Siang dan Pek-hwa Sianli juga menempelkan cawan itu ke bibir Ui Kong. Dengan tangan kiri, mereka menekan geraham memaksa mulut dua orang korban itu terbuka agar mereka dapat menuangkan anggur merah itu ke dalam perut mereka.

Tiba-tiba pada saat itu, dua sinar merah kecil menyambar ke dalam kamar berturut-turut. Sinar pertama menyambar ke arah cawan yang dipegang Pek-hwa Sianli dan sinar kedua menyambar ke arah cawan yang dipegang Kam Ki.

“Cringg......! Cringg.    !”

Biarpun dua sinar itu ternyata hanya jarum-jarum merah yang meluncur sambil mengeluarkan suara seperti tawon terbang, namun cukup mengejutkan Kam Ki dan Pek-hwa Sianli sehingga mereka menarik tangan mereka dan melepaskan cawan sehingga anggurnya tumpah ke atas lantai. Keduanya melompat dan memutar tubuh ke arah jendela dari mana dua sinar tadi menyerang ke arah tangan mereka yang memegang cawan. Mereka melihat berkelebatnya bayangan di luar jendela.

“Keparat, jangan lari!” Bentak Kam Ki dan Pek-hwa Sianli. Keduanya lalu melompat dengan gesit seperti burung terbang keluar melalui jendela dan tiba di ruangan luar yang luas.

Ternyata penyerang itu sama sekali tidak melarikan diri. Di tengah ruangan itu, di bawah sinar lampu gantung yang cukup terang, berdiri dua orang yang membuat wajah Kam Ki menjadi pucat ketika melihat mereka. Mereka adalah seorang pemuda dan seorang gadis, yaitu Sie Bun Sam dan Lim Bwee Hwa!

Bagaimana dua orang itu tiba-tiba saja dapat berada di situ? Seperti telah diceritakan, Bwee Hwa dan Bun Sam melakukan perjalanan menuju ke Heng-san karena Bwee Hwa ingin sekali mengunjungi gurunya, Sin-kiam Lojin yang sudah tua dan sudah ia tinggalkan mencari ayahnya selama lebih dari dua tahun.

Bun Sam menemaninya dan di sepanjang perjalanan, Bwee Hwa semakin kagum kepada Bun Sam. Pemuda ini mengingatkan ia akan mendiang Ong Siong Li yang jujur, bijaksana, sopan dan gagah perkasa.

Kebetulan saja perjalanan mereka itu melalui kaki Bukit Ayam Emas.

“Bukankah itu Bukit Ayam Emas?” tanya Bwee Hwa ketika mereka tiba di kaki bukit itu.

“Benar, lihat saja bentuk puncaknya seperti seekor ayam, dan pohon-pohon di sana itu berwarna kekuningan seperti emas. Bagus, ya?” “Tapi, bukankah kakak Ui Kong dan Gin Siang pergi ke sana? Kata dua orang gadis kembar itu, kakak misan atau juga guru pertama mereka yang bernama Pek-hwa Sianli tinggal di lereng Bukit Ayam Emas. Kalau begitu, mereka berdua tentu pergi ke sana juga.”

“Ah, benar juga katamu, Hwa-moi. Akan tetapi mengapa jalan umum ini begini sepi? Sejak tadi kita tidak melihat ada seorang pun lewat di jalan ini,” kata Bun Sam sambil menghentikan kudanya dan Bwee Hwa juga berhenti.

“Eh, lihat itu ada orang. Akan tetapi mengapa ia melarikan diri begitu melihat kami?” Bwee Hwa menunjuk ke depan. Benar saja. Ada seorang laki-laki muncul di tikungan jalan, akan tetapi begitu melihat mereka berdua, orang itu melarikan diri seperti orang ketakutan.

“Kejar dan tanya dia mengapa dia ketakutan, Sam-ko!”

Tanpa diminta dua kali, Bun Sam sudah melompat turun dari kudanya dan tubuhnya berkelebat, mengejar orang yang melarikan diri ketakutan itu. Sebentar saja dia sudah dapat melewati dan menghadang di depan orang itu. Dia seorang laki-laki setengah tua, berusia sekitar limapuluh tahun dan begitu melihat Bun Sam tiba-tiba saja menghadang di depannya, dia segera menjatuhkan diri berlutut menyembah-nyembah.

“Ampunkan saya, tai-ong (raja besar, sebutan untuk perampok)     !” Orang itu memohon ketakutan.

Bun Sam terbelalak. Tai-ong? Dia disangka perampok?

“Paman, bangkitlah dan jangan takut. Aku sama sekali bukan orang jahat dan tidak akan mengganggumu. Percayalah, aku bahkan menolong siapa saja yang diganggu orang jahat. Berdirilah dan mari kita bicara.”

Orang itu memandang penuh perhatian, setelah melihat bahwa yang menghadangnya itu seorang pemuda yang sederhana, baik wajah maupun pakaiannya, mengenakan caping lebar, mulutnya tersenyum ramah, matanya lembut dan tidak memegang senjata, sama sekali bukan seperti penampilan seorang penjahat, dia menjadi lega dan timbul kembali keberaniannya. Dia bangkit berdiri.

“Akan tetapi...... mengapa engkau tadi bersama iblis betina itu berada di sana? Dan mengapa pula mengejar saya?”

“Hemm, aku berada di sana bukan dengan iblis betina, melainkan dengan seorang sahabatku, seorang pendekar wanita. Dan aku mengejarmu karena melihat engkau melarikan diri ketakutan dan aku ingin bertanya mengapa engkau lari. Akan tetapi sekarang aku sudah tahu bahwa engkau ketakutan karena mengira sahabatku itu iblis betina. Nah, sekarang katakan padaku, paman, siapakah yang kau sebut iblis betina itu dan mengapa engkau menyebutnya iblis betina dan di mana ia tinggal?”

Orang yang pakaiannya sebagai petani itu menengok ke kanan kiri dan tampaknya ketakutan. “Saya......

saya takut     ”

“Jangan takut. Aku dan sahabatku yang akan melindungimu,” kata Bun Sam dan pada saat itu, Bwee Hwa menunggang kuda menghampiri sambil menuntun kuda tunggangan Bun Sam. Melihat gadis cantik itu kembali orang itu ketakutan, akan tetapi setelah Bwee Hwa turun dan tersenyum kepadanya, rasa takutnya hilang.

“Apa yang terjadi?” tanya Bwee Hwa.

“Paman ini tadi lari ketakutan karena mengira engkau iblis betina,” kata Bun Sam. “Wah, sialan! Aku disangka iblis betina? Menghina sekali kau!”

“Ah, maafkan...... ampunkan saya, nona ” orang itu berkata.

“Hemm, kalau engkau tidak mau bercerita tentang iblis betina itu, sahabatku ini tentu akan marah sekali kepadamu karena engkau menyangka ia iblis betina. Hayo ceritakan, paman.”

“Benar, paman. Kalau engkau tidak mau bercerita, aku benar-benar akan menjadi iblis betina dan marah kepadamu!” kata Bwee Hwa dengan suara galak.

“Ah, maaf...... iblis itu...... ia seorang wanita cantik akan tetapi kejam, suka menculik dan membunuh pemuda-pemuda namanya Pek-hwa Sianli dan tinggalnya di lereng bukit itu. ”

“Ahhh. !!” Bun Sam dan Bwee Hwa berseru demikian kuat sehingga orang itu kembali ketakutan lalu

melarikan diri! Akan tetapi sekali ini, Bun Sam dan Bwee Hwa tidak mengejar.

“Wah, Sam-ko. Kalau begitu Kong-ko dan Gin Siang yang pergi ke sana dapat terancam bahaya!” “Benar, mari kita sekarang juga naik ke sana, Hwa-moi!”

“Akan tetapi sekarang sudah menjelang senja, sebentar lagi malam tiba, Sam-ko.”

“Kita tinggalkan kuda di kaki bukit dan mendaki jalan kaki saja. Bulan muncul lewat senja nanti, kita dapat mencari jalan ke atas.”

Demikianlah, dua orang pendekar itu mendaki bukit dan mereka dapat menolong Ui Kong dan Gin Siang pada saat yang tepat sekali. Bwee Hwa yang tadi melepas jarum tawonnya untuk menyerang tangan Pek-hwa Sianli dan Kam Ki yang hendak menuangkan anggur perangsang ke dalam mulut dua orang korban mereka.

Kini, Pek-hwa Sianli dan Kam Ki berhadapan dalam ruangan luas itu, saling pandang. Tentu saja Kam Ki merasa gentar bukan main melihat suhengnya dan Bwee Hwa yang pernah menyerbu Pek-lian-kauw yang dipimpinnya dengan para pendekar lain. Dia maklum bahwa kini dia menghadapi lawan yang amat tangguh, terutama sekali suhengnya. Akan tetapi Pek-hwa Sianli yang tidak mengenal mereka, memandang rendah.

“Keparat, siapa yang sudah bosan hidup menyerang kami dengan am-gi (senjata gelap) tadi!” bentaknya.

“Engkau tentu Pek-hwa Sianli, si iblis betina itu, bukan? Tidak kusangka, julukannya Dewi akan tetapi sebetulnya seorang iblis betina, benar-benar harimau berbulu domba! Akulah yang mencegah kalian melakukan perbuatan hina kepada Ui Kong dan Can Gin Siang tadi!” kata Bwee Hwa. “Keparat sombong! Siapakah kalian? Perkenalkan nama agar kalian tidak mam-pus tanpa nama!”

“Hemm, kenapa tidak tanya saja kepada si jahat Thio Kam Ki rekanmu itu? Lihat, mukanya sudah pucat ketakutan melihat kami!”

Sementara itu, Bun Sam berkata kepada Kam Ki. “Sute, lebih baik engkau menyerah kubawa kembali menghadap suhu. Bertaubatlah, sute. Suhu tentu akan memaafkanmu dan membimbingmu ke jalan benar.”

Akan tetapi Pek-hwa Sianli sudah tidak dapat menahan diri lagi. “Bocah sombong, mampuslah!” Ia membentak dan ketika dua tangannya bergerak, tampak dua sinar berkelebat dan ia sudah mencabut siang-kiam (sepasang pedang) yang tergantung di punggungnya. Tanpa memberi peringatan lagi, Pek- hwa Sianli sudah menerjang maju menyerang Bwee Hwa, sepasang pedangnya digerakkan cepat membentuk dua lingkaran sinar.

Bwee Hwa dapat menduga bahwa kakak misan atau guru pertama si kembar Kim Siang dan Gin Siang ini tentu memiliki kepandaian tinggi, maka ketika melihat wanita itu mencabut siang-kiam, iapun sudah cepat mencabut Sin-hong-kiam dari punggungnya. Ketika Pek-hwa Sianli menyerang, iapun cepat memutar pedangnya menyambut. Terdengar bunyi berdentingan disusul bunga api berpijaran ketika pedang mereka saling bertemu di udara. Mereka segera saling serang dengan seru dan mati-matian, berkelahi bagaikan dua ekor harimau betina!

Kam Ki yang merasa tersudut tentu saja tidak mau menyerah begitu saja. Tidak rela dia meninggalkan kehidupannya yang dianggapnya amat menyenangkan itu. Kini ada Pek-hwa Sianli di sampingnya dan kalau wanita itu mampu merobohkan lawannya, tentu akan dapat membantunya menghadapi Bun Sam. Maka diapun membentak nyaring dan menerjang maju, menyerang Bun Sam dengan dahsyat.

Biarpun Kam Ki dan Bun Sam berkelahi dengan tangan kosong, namun sebe-tulnya perkelahian antara mereka lebih seru dibandingkan perkelahian antara Pek-hwa Sianli dan Bwee Hwa yang menggunakan pedang. Serangan tangan dan kaki kedua orang saudara seperguruan ini merupakan sambaran tangan- tangan maut yang amat berbahaya.

Kam Ki mengerahkan seluruh tenaganya yang dia dapat dari bimbingan Hwa Hwa Cinjin sehingga pukulannya mengandung racun yang amat jahat. Dia menggunakan ilmu Bantok-ciang (Tangan Selaksa Racun) yang amat keji karena sekali terkena senggolan tangan itu, maka tubuh lawan akan keracunan hebat dan bagi lawan yang kurang kuat tenaga saktinya akan tewas seketika! Juga ilmu silat yang dia mainkan adalah ilmu silat Ciu-kwi-kun (Silat Setan Arak) yang gerakannya seperti orang mabok, sukar diduga perkembangannya dan amat berbahaya bagi lawan.

Namun Sie Bun Sam sudah mendapat penggemblengan tambahan dari Leng-hong Hoatsu sehingga dia dapat membuat pertahanan yang amat kuat dan di samping itu, dapat melakukan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya. Biarpun Kam Ki sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmu simpanannya, tetap saja dia mulai terdesak.

Sementara itu, perkelahian antara Pek-hwa Sianli melawan Bwee Hwa berlang-sung ramai. Mereka saling serang dengan seru dan mati-matian dan keadaan mereka masih seimbang sehingga Kam Ki menjadi repot sekali. Dia terdesak terus akan tetapi tidak dapat mengharapkan bantuan Pek-hwa Sianli yang sedang berkelahi dengan seru dan seimbang melawan Bwee Hwa. Akan tetapi karena Bun Sam tidak bermaksud membunuh sutenya, hanya ingin menangkap dan membawanya kembali ke gurunya, maka Kam Ki masih dapat melakukan perlawanan sengit.

Sementara itu, Gin Siang dan Ui Kong masih belum sadar. Gin Siang masih duduk di atas kursi dengan kepala berbantal lengan di atas meja, sedangkan Ui Kong masih rebah miring di atas lantai. Akan tetapi Ui Kong tadi tidak menenggak habis araknya karena setelah minum secawan tadi dia sudah merasa pening. Padahal dia sudah amat biasa minum arak. Kalau hanya menghabiskan lima cawan saja dia tidak akan mabok. Akan tetapi tadi baru minum secawan saja dia sudah merasa agak pening. Maka dia menjadi agak curiga dan cawan kedua itu hanya diminumnya setengah.

Dialah yang pertama kali tahu bahwa minuman itu tidak wajar dan mengandung sesuatu yang tidak baik, maka dia berusaha memperingatkan Gin Siang, namun terlambat dan dia pun terguling roboh dan pingsan. Akan tetapi karena kadar racun pembius yang diminumnya tidak sebanyak Gin Siang, maka dia dapat sadar lebih dulu. Dia membuka kedua matanya dan seketika dia teringat apa yang telah terjadi. Cepat dia melompat dan melihat Gin Siang “tertidur” di atas kursinya, dia cepat mengambil air, mengurut tengkuk dan menotok kedua pundak gadis itu beberapa kali, membasahi muka dan ubun- ubunnya dengan air dan Gin Siang juga siuman. Mereka mendengar suara beradunya senjata di luar kamar dan tanpa bicara keduanya cepat bergerak dan melompat keluar jendela yang menembus ke ruangan itu.

Setibanya di ruangan itu mereka melihat Bwee Hwa sedang bertanding melawan Pek-hwa Sianli, dan Bun Sam bertanding dengan pemuda yang menjadi ketua Pek-lian-kauw itu.

Biarpun Gin Siang tahu bahwa kakak misannya, Pek-hwa Sianli ternyata masih jahat dan tadi nyaris mencelakainya dan mengorbankan dirinya kepada Kam Ki, namun ia tetap tidak tega untuk menyerang dan mengeroyok Pek-hwa Sianli. Bagaimanapun juga, ia merasa berhutang budi yang cukup banyak kepada Pek-hwa Sianli. Maka Gin Sang menumpahkan semua kemarahannya kepada Thio Kam Ki dan tanpa banyak cakap lagi, iapun mencabut Siang-kiam (Sepasang Pedang) lalu menerjang kepada Kam Ki yang sudah terdesak berat oleh Bun Sam. Adapun Ui Kong yang melihat betapa Bwee Hwa bertanding seimbang dengan Pek-hwa Sianli, lalu memutar pedangnya membantu Bwee Hwa.

Bun Sam terkejut. Serangan sepasang pedang dari Gin Siang cukup ganas dan dahsyat, maka dia khawatir kalau-kalau Kam Ki akan menjadi korban dan tewas oleh pedang gadis itu. Kam Ki juga semakin terdesak hebat. Suatu saat, karena sudah terhuyung oleh serangkaian pukulan Bun Sam, dia tidak mampu menghindar lagi ketika pedang kiri Gin Siang menyambar ke arah lehernya.

“Plakk.     !” Gin Siang terkejut dan melompat ke belakang ketika pedangnya ditangkis oleh tangan kiri

Bun Sam! Pada saat itu, Bun Sam membuat gerakan berputar dan kakinya menendang, tepat mengenai lambung Kam Ki. Tubuh Kam Ki terpental dan dia roboh pingsan.

Pada saat yang hampir sama, terdengar Pek-hwa Sianli mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya terpelanting roboh mandi darah. Ia tewas seketika oleh sabetan pedang Bwee Hwa yang tentu saja mendapat banyak kesempatan karena masuknya Ui Kong yang membantunya.

Ketika Ui Kong dan Bwee Hwa melihat Kam Ki menggeletak pingsan, mereka berdua melompat dan hendak membunuh pemuda itu dengan pedang mereka. Akan tetapi Bun Sam berkelebat cepat dan menghadang mereka. “Jangan bunuh dia!”

“Ahhh.......! Mengapa, Sam-ko? Dia amat jahat      !” Bwee Hwa membantah dan memandang Bun Sam

dengan sinar mata penasaran.

Bun Sam menghela napas panjang dan mengangkat lalu memondong tubuh Kam Ki, lalu berkata, “Maafkan aku, Hwa-moi. Dia adalah suteku (adik seperguruanku) dan aku hanya memenuhi perintah suhu untuk menangkap dan membawanya kepada suhu, bukan membunuhnya. Maafkan aku.” Dia lalu melangkah keluar dari pondok itu.

Sejenak Bwee Hwa berdiri tertegun, kemudian ia lalu mengejar dan dapat menyusul Bun Sam di depan pondok. Bulan bersinar dengan terang di atas kepala mereka.

“Sam-ko……!”

Bun Sam berhenti melangkah. Kini mereka berdiri berhadapan. “Hwa-moi,” katanya lirih. “Mengapa mengejarku?”

“Sam-ko, apakah engkau akan meninggalkan aku begini saja?”

“Hwa-moi, aku harus menyelesaikan tugasku, membawa Kam Ki kembali ke Himalaya menghadap suhu.” “Akan tetapi...... apakah. apakah kita tidak akan saling bertemu kembali, Sam-ko?” Suara Bwee Hwa

gemetar.

“Hwa-moi, ada waktunya bertemu, ada pula waktunya berpisah. Kalau Thian menghendaki, pasti kita akan dapat saling bertemu kembali. Maafkan aku, Hwa-moi, karena aku harus membawa suteku ini kepada suhu, aku tidak dapat menemanimu pergi ke Heng-san bertemu dengan suhumu Sin-kiam Lojin.”

Ketika Bun Sam hendak melanjutkan perjalanan, sebelum dia menggerakkan kakinya, Bwee Hwa berkata lirih. “Sam-ko.......” suaranya mengandung isak tertahan. “aku...... aku ingin ikut denganmu, Sam-ko. ”

Bun Sam menggeleng kepalanya dan berkata lembut. “Tidak, Hwa-moi, aku harus melaksanakan tugasku dulu. Selamat berpisah, Hwa-moi, dan baik-baiklah menjaga dirimu.” Setelah berkata demikian, Bun Sam melompat dan berkelebat lenyap di keremangan malam.

“Sam-ko......, jangan tinggalkan aku seorang diri ” Bwee Hwa tak dapat menahan turunnya air mata

ke atas kedua pipinya. Akan tetapi seruannya itu hanya digumam saja.

Malam sudah larut. Can Gin Siang keluar dari pondok, melihat Bwee Hwa berdiri seorang diri di luar pondok, diam seperti arca, ia menghampiri.

“Adik Bwee Hwa,” tegurnya lembut. Setelah menjadi tunangan Ui Kong, Gin Siang menyebut adik kepada Bwee Hwa, “mari masuk ke dalam pondok. Kami sedang mengurus jenazah piauw-ci (kakak misan), setelah besok pagi kami kubur, kita lalu meninggalkan tempat ini. Mari masuklah.” Gin Siang memegang tangan Bwee Hwa namun Bwee Hwa menarik tangannya. “Engkau masuklah, aku ingin berada di luar. Hawanya lebih sejuk.”

Setelah beberapa kali membujuk tanpa hasil, akhirnya Gin Siang meninggalkan Bwee Hwa sendiri. Bwee Hwa lalu duduk di atas bangku yang terdapat di depan pondok itu dan duduk melamun sambil memandang ke arah perginya Bun Sam, seolah mengharapkan pemuda itu muncul kembali.

Sampai keesokan harinya ketika Ui Kong dan Gin Siang menguburkan jenazah Pek-hwa Sianli di belakang pondok, Bwee Hwa masih tidak beranjak dari bangku itu. Beberapa kali Gin Siang membujuknya, namun tetap saja ia tidak mau meninggalkan bangku itu.

Setelah selesai mengubur jenazah Pek Hwa Sian-li memenuhi permintaan Gin Siang, Ui Kong dan Gin Sang pergi ke depan pondok. Melihat Bwee Hwa masih duduk seperti patung, Ui Kong menggeleng- geleng kepalanya. Perlahan-lahan dia menghampiri Bwee Hwa dari belakang dan meletakkan tangannya di atas pundak Bwee Hwa.

“Hwa-moi, mari kita pulang.”

“Pulang?” Bwee Hwa mengulang kata itu seperti orang kehilangan semangat.

“Tentu saja pulang ke Ki-lok, bukankah engkau ini adikku yang tercinta dan aku ini kakakmu?”

Perlahan-lahan Bwee Hwa mengangkat mukanya yang menunduk dan tampaklah wajah yang pucat, sepasang mata yang sayu memandang wajah Ui Kong.

“Kakak Ui Kong     ” bibir itu gemetar.

“Ya, adikku. Mari kita pulang. Jangan khawatir, jodoh itu berada di tangan Thian, kalau memang engkau berjodoh dengan dia, kelak pasti akan dapat saling bertemu kembali. Percayalah!”

“Kong-ko.    !” Bwee Hwa terisak, menangis dalam rangkulan kakaknya.

Tak lama kemudian, Ui Kong, Gin Siang, dan Bwee Hwa menuruni Bukit Ayam Emas itu dan selanjutnya menuju ke kota Ki-lok menunggang kuda mereka. Karena pandainya Ui Kong dan Gin Siang menghiburnya di sepanjang perjalanan, akhirnya Bwee Hwa mendapatkan kembali semangat dan kelincahannya.

TAMAT