Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan Jilid 10

 
Jilid 10

Bwee Hwa tersenyum seorang diri ketika ia mendapatkan sebuah gagasan yang amat baik menurut pendapatnya. Ia akan menjadi comblang di antara mereka! Kalau kedua orang kakak beradik itu dapat menjadi suami isteri Kim Siang dan Gin Siang, berarti ia bebas! Ikatan perjodohan dengan seorang di antara kedua kakak beradik yang dulu dibuat oleh mendiang ibunya dan mendiang ibu mereka, telah putus. Kalau hal itu terjadi karena kedua orang pemuda itu tidak ingin berjodoh dengannya, bukan berarti ia telah tidak menaati pesan terakhir ibunya!

Dengan senyum masih menghias bibirnya karena ia gembira sekali dan telah merencanakan apa yang akan dilakukannya besok untuk memenuhi gagasannya tadi, Bwee Hwa meninggalkan taman dan kembali ke kamarnya dan dapat tidur dengan nyenyak. Sama sekali ia tidak tahu bahwa tadi ketika ia mendengarkan percakapan kedua kakak beradik itu, ada bayangan lain yang melihatnya dan ikut mendengarkan percakapan Ui Kiang dan Ui Kong itu. Bayangan itu adalah Sie Bun Sam yang secara kebetulan, tanpa disengaja, juga mencari hawa segar di taman itu.

Pada keesokan harinya, setelah mandi dan bertukar pakaian, Bwee Hwa men-datangi kamar sepasang gadis kembar itu. Mereka tinggal sekamar dalam se-buah kamar yang besar yang diperuntukkan mereka oleh kakak beradik Ui. Setelah dipersilakan masuk, Bwee Hwa mendapatkan sepasang gadis kembar itu juga telah mandi dan memakai pakaian yang bersih dan rapi.

“Wah, sepagi ini engkau sudah begini cantik dan rapi! hendak ke manakah engkau, kami harap engkau tidak ingin segera pergi meninggalkan tempat ini,” kata Kim Siang.

Bwee Hwa tersenyum mengamati mereka berdua. “Wah, siapa yang lebih rapi dan cantik? Kalian juga tampak segar bagaikan dua kuntum bunga yang amat indah menarik. Masa aku hendak meninggalkan tempat yang indah dan menyenangkan ini? Apakah kalian tidak menganggap rumah kedua orang kakak angkatku ini kurang nyaman dan enak untuk dijadikan tempat tinggal?”

“Wah, kami senang sekali berada di sini, Hwa-moi. Rumah ini besar dan indah, juga terawat bersih dan rapi. Dari jendela kamar ini kami dapat melihat taman bunga yang juga amat indah. Kami senang sekali tinggal di sini dan pagi ini kami berdua ingin sekali melihat-lihat keadaan kota Ki-lok ini,” kata Gin Siang.

“Nah, itu baik sekali. Kota ini lumayan ramainya dan mendiang ayah kedua kakak Ui adalah salah seorang hartawan yang amat terkenal di sini karena kedermawanannya. Juga di luar kota kira-kira sepuluh lie (mil) dari sini terdapat Kuil Bah-hok-si yang amat terkenal dengan patung Kwan-im yang kita rampas dari sarang Pek-lian-kauw itu. Kuil itu amat besar dan indah, dikunjungi banyak orang, bahkan dari kota-kota besar lain.”

“Wah, kalau begitu mari kita pergi ke sana, adik Bwee Hwa!” kata Kim Siang dengan gembira.

“Boleh saja, akan tetapi nanti dulu. Kunjunganku ke kamar kalian ini sesung-guhnya membawa tugas yang amat penting.”

“Tugas penting?” Gin Siang memandang penuh selidik, diikuti Kim Siang. “Tugas apakah itu dan siapa pula yang menugaskan, Hwa-moi?”

“Terus terang saja, aku telah dianggap sebagai adik sendiri oleh kedua kakak Ui. Mereka sudah tidak mempunyai ayah ibu, maka akulah yang kejatuhan tugas ini dari mereka. Sebelumnya aku harap kalian tidak menjadi marah kepadaku.”

Sepasang gadis kembar itu semakin heran. “Eh, apa sih maksudmu, Hwa-moi? Apa hubungannya pula dengan kami berdua?” “Nanti dulu, kalian harus berjanji dulu bahwa kalian tidak akan marah kepadaku kalau aku menceritakan apa tugasku ini.”

“Tentu saja kami tidak akan marah! Kenapa kami mesti marah kalau engkau menceritakan tentang tugasmu?” tanya Gin Siang.

“Karena hal ini menyangkut diri kalian berdua.”

“Eh? Benarkah? Engkau membuat kami ingin tahu sekali, adik Bwee Hwa! Tugas apakah itu? Katakan, kami berjanji tidak akan marah!” Kata Gin Siang.

“Nah, kalau begitu baru aku berani menceritakan. Begini, seperti kukatakan tadi, kakak Ui Kiang dan kakak Ui Kong sudah tidak mempunyai keluarga lagi, maka mereka mengangkat aku menjadi utusannya. Dan tugasku menemui kalian berdua pagi hari ini adalah……” Bwee Hwa berhenti lagi dan memandang wajah kedua gadis kembar itu. “Akan tetapi benar, kalian berjanji tidak akan marah, ya?”

Sepasang gadis kembar itu menjadi tidak sabar. “Kami berjanji tidak akan marah! Katakanlah!” kata mereka hampir berbareng.

“Kakak Ui Kiang dan Ui Kong adalah dua orang pemuda yang amat baik budi, sopan dan juga pemalu, maka mereka minta tolong kepadaku untuk menyatakan perasaan mereka berdua kepada kalian. Aku bertugas memberitahu kalian bahwa Kiang-ko jatuh cinta kepadamu, enci Kim Siang, dan Kong-ko jatuh cinta kepada enci Gin Siang, lega hatiku karena telah menyampaikan pesan itu! Kalian tidak marah, bukan?” Bwee Hwa memandang wajah kedua orang gadis kembar itu dan melihat mereka segera menundukkan muka yang menjadi merah dan mereka tersenyum malu-malu, ia berani melanjutkan.

“Dan selanjutnya, biarpun ini belum resmi, kedua Kiang-ko dan Kong-ko meminang kalian untuk menjadi isteri mereka. Tentu saja kalau diharuskan, mereka akan mengajukan pinangan secara resmi, setelah itu akan diadakan upacara pernikahan dengan pesta meriah!”

Dua orang gadis itu masih menundukkan muka. Mereka berdua merasa heran, dan malu-malu, akan tetapi juga di dalam hati mereka merasa girang sekali. Sebetulnya secara diam-diam mereka berdua juga mengagumi kedua orang pemuda kakak beradik itu. Ui Kong pemuda gagah perkasa dengan ilmu silat yang cukup tinggi, dan Ui Kiang, biarpun tidak pandai ilmu silat, namun dia seorang sastrawan yang cerdas dan pandai. Lebih lagi, keduanya adalah pemuda-pemuda kaya-raya, memiliki banyak perusahaan dan mereka terkenal dermawan dan baik budi pula.

“Hei, bagaimana sih kalian ini? Diajak bicara serius malah diam saja, menunduk dan hanya tersenyum- senyum! Jawablah! Bagaimana aku harus memberi jawaban kepada kedua kakak Ui itu kalau mereka bertanya bagaimana hasil pelaksanaan tugasku ini? Enci Kim Siang dan Gin Siang, jawablah apa yang harus kuberikan kepada mereka? Hayo, jawablah dan katakan sesuatu, bukan menunduk dengan muka kemerahan dan diam seribu bahasa!”

Bwee Hwa sengaja menggoda karena sebagai seorang wanita, ia dapat merasakan bahwa bidikannya itu mengenai sasaran yang tepat. Kalau tidak, tentu dua orang gadis itu akan marah, atau setidaknya memperlihatkan ketidak-senangan atau penolakan mereka. Akan tetapi mereka diam dan menunduk malu-malu sambil tersenyum, ia dapat merasakan bahwa mereka itu sesungguhnya sama-sama mau tapi malu!

Akhirnya Kim Siang yang lebih pandai bicara dibandingkan adik kembarnya, menjawab dengan pertanyaan. “Adik Bwee Hwa, benarkah semua ucapanmu tadi? Apakah engkau hanya bergurau hendak menggoda kami? Rasanya tidak mungkin dua orang pemuda sehebat mereka itu mau. sama kami,

dua orang gadis yatim-piatu melarat dan bodoh lagi      ”

“Heiit! Jangan merendahkan diri seperti itu! Dan kalian menganggap mereka dua orang pemuda hebat, ya? Nah, kalau benar mereka itu hebat, lalu apalagi yang menghalangi kalian untuk segera menerima pinangan mereka? Jawablah ya, bahwa kalian sudah menerima pinangan mereka dan suka menjadi isteri mereka agar aku dapat segera menceritakan kepada mereka dan upah jerih payahku tentu banyak sekali!” Bwee Hwa tertawa dan dua orang gadis itu juga merasa geli dan tertawa.

“Hemm, jadi sekarang engkau telah bekerja sebagai mak comblang, adik Bwee Hwa?” Gin Siang bertanya dan kembali ketiganya tertawa. “Mak comblang bayaran?”

“Sudah, jangan berkelakar lagi. Aku menghendaki jawaban yang tegas. Mereka itu sudah menanti-nanti dengan tidak sabar. Hayo beri jawaban, ya atau tidak?”

“Adik Bwee Hwa, bagaimana mungkin perkara perjodohan diputuskan secara kilat dan tergesa-gesa seperti ini? Bagaimanapun juga, kami masih mempunyai seorang piauw-ci (kakak misan) yang juga menjadi guru pertama kami, maka urusan perjodohan kami haruslah dilaporkan kepadanya lebih dulu untuk minta pertimbangan dan restunya,” kata Kim Siang.

“Enci Kim benar, adik Bwee. Kami harus mendapatkan persetujuan dari guru pertama kami, yaitu Pek- hwa Sianli yang tinggal di lereng Bukit Ayam Emas,” kata Gin Siang. “Ia dapat menjadi wali kami.”

“Baik, hal itu mudah dilakukan. Akan tetapi yang paling penting sekarang adalah pengakuan kalian berdua. Dua orang kakak Ui sudah menyatakan cintanya kepada kalian berdua. Sekarang bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga mencinta mereka...... eh, maksudku, apakah kalian berdua pada hakekatnya suka menjadi isteri mereka?”

Dua orang gadis kembar itu saling pandang, kulit wajah mereka yang cantik itu menjadi semakin merah, lalu keduanya mengangguk sambil tersenyum malu-malu.

“Nah, begitu dong! Wah, sebagai seorang mak comblang amatir, hasil karya pertamaku ini tidak mengecewakan!” Bwee Hwa berseru gembira sekali dan kembali tiga orang gadis itu tertawa riuh.

“Heii! Kalian bertiga begitu gembira! Bolehkah kami ikut merasakan kegembi-raan itu?”

Sepasang gadis kembar itu terbelalak kaget dan menundukkan muka mereka ketika melihat bahwa yang datang adalah Ui Kiang dan Ui Kong yang agaknya tertarik oleh suara tawa tiga orang gadis itu. Melihat mereka, Bwee Hwa terkejut. Celaka, permainannya bisa ketahuan, pikirnya. Maka ia lalu berlari keluar dan di depan pintu ia memegang tangan Ui Kiang dan Ui Kong, lalu di-ajaknya pergi ke ruangan lain.

“Tentu saja kalian boleh ikut gembira karena aku membawa kabar baik!” seru Bwee Hwa nyaring agar terdengar dua orang gadis dalam kamar itu. Kakak beradik itupun heran dan terkejut melihat Bwee Hwa menggandeng tangan mereka dan menariknya ke ruangan lain.

“Eh, Hwa-moi, ada apakah ini?” Mereka tentu saja merasa heran karena gadis ini belum, pernah bersikap sedemikian akrab, apalagi sampai memegang tangan mereka dan menariknya masuk ke ruangan dalam itu!

Setelah tiba di ruangan itu, Bwee Hwa melepaskan tangan mereka dan berkata, “Silakan duduk, Kiang-ko dan Kong-ko. Aku membawa kabar yang amat baik dan menggembirakan kalian!”

Kedua orang kakak beradik itu duduk berhadapan dengan Bwee Hwa meman-dang wajah ayu itu penuh selidik. “Kabar apakah, Hwa-moi? Engkau begini penuh rahasia!” kata Ui Kong.

“Coba sekarang jawablah dulu pertanyaanku. Kiang-ko, engkau mencinta Can Kim Siang dan Kong-ko mencinta Can Gin Siang, bukan?”

Kakak dan adik itu terkejut sekali dan merasa khawatir kalau-kalau hal itu membuat gadis yang telah dipertunangkan dengan seorang di antara mereka itu menjadi marah.

“Bagaimana engkau dapat berkata begitu?” tanya mereka hampir berbareng. Melihat pandang mata kedua orang pemuda itu kepadanya mengandung kekhawatiran, maka Bwee Hwa tersenyum dan berkata.

“Akuilah saja terus terang, aku tidak akan marah. Aku akan marah kalau kalian berbohong dan tidak mau mengaku secara jantan. Nah, kuulangi pertanyaanku. Kiang-ko, engkau mencinta enci Can Kim Siang, bukan?”

Ui Kiang memandang Bwee Hwa dengan muka berubah kemerahan. Dia menghela napas panjang lalu menjawab, “Tidak kusangkal, Hwa-moi, aku mencinta adik Can Kim Siang.”

“Dan engkau mencinta Can Gin Siang, Kong-ko?”

Ui Kong akhirnya menjawab dengan tegas. “Benar, Hwa-moi, aku mencinta adik Can Gin Siang! Akan tetapi bagaimana engkau tahu akan hal itu?”

“Ya, bagaimana engkau mengetahui rahasia hati kami itu, Hwa-moi?” Ui Kiang juga bertanya.

“Dengarlah baik-baik! Semalam secara tidak sengaja aku mendengar percakapan kalian berdua di taman. ”

“Ahh      !” Kakak beradik itu terkejut sekali.

“Tenanglah! Aku sama sekali tidak marah dan susah, bahkan aku merasa gembira sekali. Untuk membuktikan bahwa aku tidak marah atau susah, pagi ini aku mendatangi kedua enci kembar itu dan aku mewakili kalian berdua untuk menyatakan keinginan kalian untuk memperisteri mereka, mengajukan pinangan secara tidak resmi ” “Ahhh.    !” Kakak beradik itu semakin terkejut.

“Jangan ber ah-ah ber uh-uh, karena hasilnya amat menggembirakan. Kedua enci kembar itu menerima cinta kasih kalian dengan girang. Mereka bersedia menjadi isteri kalian, sekarang tinggal melamar dan menanti laporan mereka kepada piauw-ci mereka di Bukit Ayam Emas, yaitu Pek-hwa Sianli. Nah, bu- kankah itu kabar yang amat membahagiakan kalian?”

Kakak beradik itu saling pandang, lalu menatap wajah Bwee Hwa. “Aduh, terima kasih atas semua kebaikanmu ini, Hwa-moi!” kata Ui Kong.

“Hwa-moi, kami mohon maaf kepadamu kalau tanpa disengaja kami telah menyinggung perasaanmu,” kata Ui Kiang.

Bwee Hwa tersenyum. “Sama sekali tidak, Kiang-ko, aku bahkan merasa gembira sekali karena sesungguhnya, aku sendiri sama sekali belum mempunyai keinginan untuk menikah. Kalau aku sampai menghubungi kalian, itu adalah karena aku ingin menaati pesan terakhir ibuku.”

“Ah, kalau begitu, sekali lagi terima kasih, Hwa-moi. Engkau sungguh seorang gadis yang bijaksana dan baik budi!” kata Ui Kong.

“Hwa-moi, karena kita bertiga ini sama-sama sudah yatim piatu dan tidak mempunyai sanak keluarga lain, maka kami akan merasa berbahagia sekali kalau engkau mau menjadi adik angkat kami agar hubungan baik antara ibu kita dapat dilanjutkan!” kata Ui Kiang.

“Aku akan senang sekali menjadi adik angkat kalian!” jawab Bwee Hwa. “Bagus! Wah, kami yang merasa beruntung sekali!” kata Ui Kong.

“Siang ini kita rayakan pengangkatan saudara ini! Kita rayakan bersama kedua adik kembar dan juga kakak Sie Bun Sam! Kita mengadakan pesta antara kita!” seru Ui Kiang.

“Pesta pengangkatan saudara ataukah, pesta pertunangan kalian?” Bwee Hwa menggoda. “Yah. kedua-duanya!”

Biarpun sudah mendapat kabar yang menentukan dari Bwee Hwa bahwa cinta mereka kepada dua orang gadis kembar itu mendapat sambutan, namun kakak beradik Ui itu masih belum yakin benar. Pula mereka berdua sama sekali tidak mempunyai pengalaman tentang hubungan cinta kasih sehingga kalau bertemu dengan dua orang gadis kembar itu, mulut mereka seperti dibungkam dan mereka tidak dapat berkata apa-apa. Melihat hal ini Bwee Hwa menjadi gemas dan penasaran juga.

Pagi hari itu Bwee Hwa menemani sepasang gadis kembar melihat-lihat keadaan kota Ki-lok, bahkan pergi berkunjung ke kuil Ban-hok-si.

Ketika mereka pulang, mereka melihat bahwa sebuah meja sembahyang telah diatur rapi karena kedua orang kakak beradik Ui itu hendak melakukan upacara sembahyangan untuk acara angkat saudara antara mereka dan Bwee Hwa. Sie Bun Sam tampak membantu kesibukan dua orang kakak beradik itu. Tak lama kemudian semua telah dipersiapkan. Dari alat-alat upacara sembahyang sampai pesta antara mereka berenam di ruangan dalam, di mana ter-dapat sebuah meja besar dengan enam buah kursinya.

Dengan Ui Kiang sebagai pengatur karena dia yang lebih tahu akan upacara itu, mereka bertiga melakukan sumpah di depan meja sembahyang, sumpah pengangkatan saudara antara dua orang kakak beradik Ui itu dengan Lim Bwee Hwa. Setelah selesai upacara pengangkatan saudara antara tiga orang itu yang disaksikan dengan penuh perhatian oleh Sie Bun Sam dan sepasang gadis kembar, Ui Kiang lalu berkata.

“Sekarang, untuk merayakan upacara pengangkatan saudara ini, kami bertiga, aku sendiri, adik Ui Kong dan adik Bwee Hwa, mengundang kakak Sie Bun Sam dan kedua adik Kim Siang dan adik Gin Siang untuk bersama kami berpesta makan minum.”

Mereka berenam lalu duduk menghadapi meja makan bundar yang besar itu. Segera para pelayan datang menghidangkan masakan-masakan yang mewah dan mahal ke atas meja, disertai anggur dan arak. Tiga orang gadis itu tidak berani minum arak yang keras, dan hanya minta anggur yang lebih halus. Mereka makan minum dengan gembira.

Sie Bun Sam mengangkat cawan araknya lalu dengan wajah gembira berkata, “Aku memberi selamat kepada adik-adik Ui Kiang, Ui Kong dan Bwee Hwa atas pengangkatan saudara ini, semoga kalian bertiga dapat menjadi kakak beradik yang rukun, setia dan saling membantu. Marilah kita minum untuk itu!”

Semua orang minum dari cawan masing-masing dan pesta itu dirayakan oleh mereka berenam dengan gembira. Setelah selesai makan, Bwee Hwa mengangkat cawan anggurnya. “Sekarang aku hendak memberi selamat kepada Kiang-ko dan Kong-ko, dan kepada enci Kim dan enci Gin atas hubungan kasih antara mereka. Semoga hubungan itu akan segera membawa mereka dua pasangan ke jenjang pernikahan yang berbahagia.”

Biarpun wajah mereka berubah kemerahan, kedua saudara Ui dan kedua gadis kembar terpaksa minum dari cawan masing-masing, diikuti Bun Sam yang tersenyum.

“Sam-ko, aku ingin bicara denganmu, akan tetapi jangan didengar orang lain. Maka marilah kita keluar dan tinggalkan dua kakakku dengan kekasih mereka masing-masing!” ajak Bwee Hwa pada Sie Bun Sam.

Pemuda itu yang sudah maklum apa yang terjadi, tersenyum dan bangkit lalu bersama Bwee Hwa meninggalkan runangan itu.

Setelah tiba di ruangan depan, Bun Sam dan Bwee Hwa duduk di atas bangku berhadapan. “Hwa-moi, apakah yang ingin kau bicarakan dengan aku?” tanya pemuda itu.

Bwee Hwa tersenyum. “Aku hanya ingin memberi kesempatan kepada dua pasang kekasih itu untuk bercakap-cakap dengan leluasa. Kehadiran kita hanya akan mengganggu mereka.”

Bun Sam menghela napas panjang dan memandang gadis itu dengan sinar mata kagum. “Adik Lim Bwee Hwa, engkau selain gagah perkasa, juga engkau memiliki kebijaksanaan. Apa yang telah kaulakukan terhadap dua pasangan itu, sungguh luar biasa dan cerdik sekali.” “Eh? Apa maksudmu?” tanya Bwee Hwa heran karena tidak mengira ada orang yang mengetahui akal yang ia pergunakan untuk mempertemukan dua pasang hati itu.

“Aku tahu dan menyaksikan ketika engkau mendengarkan percakapan kedua orang adik Ui di taman, dan aku tahu pula betapa pagi tadi engkau beraksi sebagai mak comblang! Padahal, menurut apa yang kudengar dari semua percakapan itu, engkaulah yang sebetulnya dijodohkan dengan seorang di antara dua kakak beradik itu.”

“Ah, aku sama sekali tidak menginginkan hal itu dan kenyataan bahwa kedua orang kakak angkatku itu mencinta kedua enci kembar, merupakan jalan keluar terbaik untuk membatalkan ikatan yang dulu diadakan oleh ibu kami. Sekarang, kedua orang pemuda itu menjadi kakak angkatku dan aku merasa gembira sekali. Akan tetapi sudahlah, hal itu tidak perlu kita bicarakan lagi, Sam-ko, setelah meninggalkan kota ini, engkau hendak pergi ke mana?”

“Sudah kukatakan bahwa aku ingin mencari sute-ku Thio Kam Ki untuk memenuhi pesan guruku.” “Kalau begitu, ijinkan aku ikut dan membantumu menangkap sutemu itu!”

“Akan tetapi setelah engkau menjadi adik angkat kedua saudara Ui, seharusnya engkau tinggal di sini

membantu pekerjaan mereka, Hwa-moi.”

“Hemm, jadi engkau tidak suka kalau aku ikut dan membantumu menangkap Thio Kam Ki itu?” Bwee Hwa bertanya dan matanya mencorong memandang wajah pemuda itu.

“Ohh, tidak, bukan begitu, Hwa-moi!” Cepat Bun Sam membantah sambil menggoyangkan kedua tangan untuk menyangkal.

“Kalau begitu, aku boleh ikut?” Bwee Hwa cepat menyerang pemuda yang masih gelagapan itu.

“Eh, oh....... begini, Hwa-moi. Terus terang saja, aku tidak pernah melakukan perjalanan bersama seorang gadis asing ”

“Aku bukan gadis asing! Kita telah bekerja sama dan menjadi sahabat. Ataukah keliru anggapanku ini dan engkau tidak sudi menganggap aku sahabat?” Bertubi-tubi serangan kata-kata Bwee Hwa sehingga Bun Sam menjadi kewalahan dan tidak berdaya.

“Begini maksudku.    ” katanya gagap, “ah, engkau membikin aku bingung, Hwa-moi.”

“Mengapa bingung? Urusannya sederhana. Aku ingin ikut dan membantumu menangkap Thio Kam Ki. Jawabanmu tinggal boleh atau tidak, habis perkara. Mengapa mesti bingung-bingung?”

“Hemm, engkau benar juga. Memang aku kurang pengalaman menghadapi wanita sehingga begitu engkau mendesakku, aku kehabisan akal. Akan tetapi sebelum aku memutuskan, aku ingin mendapatkan dulu penjelasanmu. Mengapa engkau ingin ikut denganku mencari sute-ku yang belum kuKetahui di mana adanya itu? Padahal engkau dapat tinggal di sini bersama kedua kakakmu? Mengapa mencari kesusahan dan kesulitan melakukan perjalanan tidak tentu arahnya dan mungkin menghadapi segala macam bahaya?” “Baik, akan kujawab. Akan tetapi setelah itu, engkau harus pula memberi jawaban, boleh atau tidak! Begini, Sam-ko. Aku adalah seorang pengembara, ingin bertualang, tidak akan betah tinggal di rumah, betapapun baiknya dan menyenangkannya rumah itu. Selain itu, akupun mendendam sakit hati kepada Thio Kam Ki, mengingat akan kematian sahabat baikku, kakak Ong Siong Li.”

“Akan tetapi, menurut apa yang kudengar dari kalian, saudara Ong Siong Li itu tewas karena dikeroyok oleh Ang-bin Moko dan anak buah Pek-lian-kauw, sedangkan Ang-bin Moko sudah tewas oleh adik Ui Kong. Bukankah itu berarti kematian saudara Ong Siong Li telah terbalas?”

Bwee Hwa menggeleng kepalanya. “Akan tetapi penyebab tewasnya kakak Ong Siong Li adalah karena Kam Ki yang berada di sana dan memimpin Pek-lian-kauw. Kalau tidak ada dia, kami bertiga, aku Kong- ko dan Li-ko akan mampu membasmi Pek-lian-kauw dan Li-ko tidak akan tewas! Biangkeladinya adalah Thio Kam Ki dan juga aku ingin membalas karena dia pernah menangkap aku dan kedua enci Can dengan niat terkutuk dan keji!”

Bun Sam mengerutkan alisnya. “Hwa-moi, aku tidak ingin membunuhnya, hanya menyadarkannya dan mengajak dia pulang kepada suhu agar suhu dapat menyembuhkan sakitnya.”

“Sakit? Dia sakit?”

“Benar, Hwa-moi. Bukan jasmaninya yang sakit, melainkan rohaninya. Aku tidak ingin engkau membunuhnya. Dengar, Hwa-moi, dendam merupakan racun yang akan merusak hati sendiri. Dendam menimbulkan kebencian dan seorang pendekar menentang orang yang sesat untuk menghentikan perbuatan jahatnya, bukan menentang karena kebenciannya. Kebencian menghilangkan keadilan, padahal seorang pendekar harus mempertahankan kebenaran dan keadilan. Aku, pernah mendengar akan nama Sin-kiam Lojin dari guruku yang memujinya sebagai seorang pendekar pedang yang bijaksana dan baik budi. Aku percaya bahwa sebagai muridnya engkaupun tentu memiliki sifat-sifatnya yang bijaksana itu.”

Bwee Hwa menundukkan mukanya dan teringatlah ia kepada gurunya, Sin-kiam Lojin dan hatinya merasa terharu. Memang dahulu gurunya sering menerangkan kepadanya soal kebijaksanaan. Setelah kini ia kehilangan ibu kandungnya, biarpun ia sudah mendapatkan dua orang kakak angkat yang baik dan sayang kepadanya, namun ia merasa rindu kepada gurunya yang telah mengasuh dan mendidiknya semenjak ia berusia delapan tahun. Gurunya sudah tua dan tinggal sebagai pertapa, seorang diri di rumah puncak bukit Pegunungan Heng-san. Setelah menghela napas panjang, ia berkata.

“Engkau benar, Sam-ko. Ucapanmu mengingatkan aku kepada guruku. Pernah suhu mengatakan bahwa lebih baik orang jahat yang bertaubat dan menghentikan kejahatannya daripada orang yang merasa dirinya baik karena sekali waktu dia akan dapat menyeleweng dari kebenaran. Seperti orang sakit dapat sembuh dan orang sehat sekali waktu dapat saja jatuh sakit.”

“Lo-cianpwe (orang tua gagah) Sin-kiam Lojin memang seorang sakti yang bijaksana.”

“Ah, bicara tentang suhu membuat aku merasa rindu sekali padanya, Sam-ko. Kalau begitu, tentang Kam Ki biar kuserahkan saja padamu apa yang akan kaulakukan terhadap dirinya. Kalau engkau tidak keberatan, aku ingin ikut padamu mencari sambil meluaskan pengalaman di dunia kang-ouw, dan kalau kita berada dekat Heng-san, aku akan berkunjung kepada suhu yang sudah tua.” “Tentu saja aku tidak keberatan, Hwa-moi. Kalau engkau setuju kita dapat mulai perjalanan kita besok.”

“Besok? Aku harus bicara dulu dengan kedua orang kakakku, dan merundingkan urusan pertunangan mereka dengan kedua enci kembar.”

“Wah, engkau memang pandai menjadi comblang. Mungkinkah kelak engkau juga menjadi comblang dan mencarikan seorang jodoh untukku?”

“Apakah engkau yang sudah berusia duapuluh lima tahun belum mempunyai calon jodoh, Sam-ko?”

Bun Sam tersenyum dan menggeleng kepalanya. “Belum, Hwa-moi. Entah me-ngapa, akan tetapi sampai sekarang aku masih belum laku. Bahkan yang datang menawarkan belum pernah ada!”

“Ih! Memang engkau ini barang dagangan? Hayo kita temui mereka, Sam-ko. Sudah cukup lama kita memberikan kesempatan kepada mereka untuk bercakap-cakap dan berunding. Mari Sam-ko!”

Mereka lalu memasuki ruangan di mana mereka tadi meninggalkan dua pasang kekasih itu bercakap- cakap dengan leluasa. Karena tidak ingin mengganggu, maka setelah tiba di depan pintu ruangan, sebelum masuk Bun Sam mengetuk daun pintunya terlebih dulu.

“Siapa? Masuklah!” terdengar Ui Kiang menegur dari dalam.

Bwee Hwa dan Bun Sam muncul dan serentak empat orang muda yang berada di dalam menyambut dengan gembira dan mereka berseru, “Nah, ini mak comblang kita datang!”

Bwee Hwa memandang kepada mereka dan ikut tertawa senang melihat betapa wajah empat orang itu begitu cerah berseri dan mereka tersenyum gembira.

“Hemm, sepatutnya kalian berempat berterima kasih dan memberi hadiah kepadaku, bukan malah mentertawakan aku!” kata Bwee Hwa.

Dua orang gadis kembar menghampiri dan merangkulnya.

“Adikku yang manis, kami memang amat berterima kasih padamu!” kata Ui Kiang dan Ui Kong hampir berbareng.

Mereka semua duduk mengelilingi meja. “Nah, sekarang ceritakan padaku, keputusan apa yang telah kalian ambil. Aku sebagai mak comblang harus mengetahuinya!”

“Begini, Hwa-moi. Adik Gin Siang bersama aku akan pergi mengunjungi Pek-hwa Sianli di Kim-ke-san (Bukit Ayam Emas) untuk membicarakan urusan perjodohan kami berempat, sedangkan enci Kim Siang akan berada di sini membantu Kiang-ko mengurus perusahaan kita yang cukup merepotkan. Tentu saja engkau juga harus membantu Kiang-ko mengurus beberapa macam perusahaan kita, Hwa-moi.”

“Wah, sayang sekali aku belum dapat membantu, Kiang-ko dan Kong-ko. Aku juga akan pergi membantu Sam-ko mencari Thio Kam Ki, dan aku ingin me-ngunjungi guruku di Heng-san untuk memberitahu bahwa aku telah mendapatkan dua orang kakak angkat yang baik hati di Ki-lok. Aku sudah merasa rindu kepada suhu yang sudah tua.” “Tapi...... engkau harus berada di sini kalau. kami merayakan pernikahan kami!” kata Ui Kiang.

“Benar, Hwa-moi! Kami tidak akan merasa bahagia kalau adik kami satu-satunya tidak hadir menyaksikan upacara pernikahan kami!” kata Ui Kong.

Bwee Hwa tertawa. “Hemm, jangan kalian khawatir, kakak-kakakku yang baik! Katakan saja, kapan pernikahan kalian dilaksanakan, aku pasti akan pulang pada waktunya!”

“Ah, hal ini kami belum dapat memastikan kapan, Hwa-moi,” kata Ui Kiang. “Tergantung hasil pertemuan Kong-te dan Gin-moi nanti dengan Pek-hwa Sianli. Kami ingin melangsungkan pernikahan secepatnya ”

“Aih, terburu-buru amat! Tidak sabar lagi, Kiang-ko?” Bwee Hwa menggoda sehingga muka Ui Kiang menjadi merah.

“Hussh!” cela Ui Kong. “Adik macam apa kau ini, menggoda kakak yang lebih tua!” Akan tetapi berkata begini dia sambil tertawa sehingga semua orang ikut tertawa, maklum bahwa itu hanya kelakar belaka. “Kita semua sudah yatim piatu, maka kalau memang sudah ada keputusan, mengapa harus menunggu- nunggu lagi? Perusahaan kita yang banyak membutuhkan penanganan perlu segera kita urus, dan enci Kim beserta adik Gin dapat membantu kami. Juga engkau!”

“Begini saja,” kata Bwee Hwa. “Besok pagi aku berangkat, dan bagaimana kalau setahun kemudian aku kembali? Apakah terlalu lama untuk kalian yang sudah tidak sabar lagi?”

“Setahun?” kata Ui Kiang. “Nanti dulu, lama waktunya tergantung dari kepergian Kong-te berdua ke Kim-ke-san. Berapa lama kira-kira perjalanan ke sana sampai selesai dan kembali ke sini, Kim-moi?”

Kim Siang dan Gin Siang mengingat-ingat, lalu Kim Siang berkata. “Kim-ke-san cukup jauh dari sini. Perjalanan menunggang kuda akan makan waktu sekitar dua bulan.”

“Hemm, dua bulan? Jadi perjalanannya saja empat bulan pulang pergi, belum waktu yang dipergunakan untuk berunding di sana bersama Pek-hwa Sianli, dan belum lagi diperhitungkan kalau ada rintangan dalam perjalanan. Kukira kalau aku kembali satu tahun setelah besok aku pergi, aku tidak akan terlambat menghadiri upacara pernikahan kalian.”

“Baiklah, Hwa-moi. Kamipun harus menghabiskan masa perkabungan kami. Jadi, setahun lagi engkau harus pulang dan kami akan menunggu kedatanganmu sampai setahun sejak besok pagi,” kata Ui Kiang.

Malam itu, enam orang muda ini bercakap-cakap sampai jauh malam. Mereka bercakap-cakap dan bersendau gurau sehingga suasana semakin akrab. Bahkan Sie Bun Sam sendiri yang selama ini tinggal di Pegunungan Himalaya yang sunyi, merasa amat gembira karena belum pernah dia mendapatkan sahabat-sahabat yang sehaluan dan sebaik mereka.

Diam-diam dia memperhatikan sikap dan ucapan Bwee Hwa dan dia mengambil kesimpulan bahwa gadis yang cantik jelita ini biarpun tampaknya keras hati, namun sesungguhnya memiliki watak yang lembut dan juga berjiwa pendekar. Maka dia menjadi semakin tertarik kepada Ang-hong-cu Lim Bwee Hwa, Si Tawon Merah ini. Pada keesokan harinya, Bwee Hwa berangkat pergi dengan Bun Sam. Biarpun Bun Sam dengan sungkan menolak namun kedua orang kakak beradik Ui itu memaksanya untuk menerima pemberian mereka seekor kuda. Bwee Hwa juga mendapatkan seekor kuda dan sekatung uang emas dan perak untuk bekal perjalanan. Ui Kong dan Can Gin Siang juga pergi menunggang kuda. Ui Kiang tinggal di rumah bersama Can Kim Siang yang akan membantunya mengurus perusahaan keluarga Ui yang banyak itu.

Dusun Liok-teng sebetulnya merupakan sebuah dusun yang cukup besar dan ramai, dan daerah itu sebetulnya merupakan daerah yang subur. Hasil pertanian dan perkebunan di daerah itu melimpah sehingga sebetulnya dapat memakmurkan rakyatnya. Akan tetapi, seperti kebanyakan keadaan dusun di waktu itu, hampir semua tanah pertanian maupun perkebunan dimiliki oleh beberapa orang hartawan saja sehingga sebagian besar rakyatnya hidup dari penghasilan mereka sebagai pekerjaan tani yang mendapat upah yang besarnya ditentukan oleh para pemilik tanah dan kebun. Maka, keadaan di dusun Liok-teng, kalau dilihat dari rumah-rumah para penduduk, tampaknya seperti daerah yang miskin.

Rumah-rumah penduduk kebanyakan kecil dan menggambarkan kemiskinan. Namun di situ terdapat banyak toko besar dan juga ada rumah penginapan dan rumah makan karena dusun itu didatangi banyak tamu yang berdagang dengan para hartawan. Dan ada sepuluh rumah besar dan mewah di dusun itu, yaitu delapan buah rumah besar tempat tinggal para hartawan yang memiliki tanah dan sawah di pedusunan itu. Yang dua buah lagi adalah rumah kepala dusun dan komandan pasukan keamanan yang hanya terdiri dua losin orang saja.

Pada suatu pagi, dusun Lok-teng geger karena dusun itu diserbu perampok yang jumlahnya tidak kurang dari limapuluh orang, dipimpin dua orang kepala perampok yang bertubuh tinggi besar dan wajahnya menyeramkan. Tentu saja pasukan kemanan dusun itu segera melakukan perlawanan. Akan tetapi ternyata para perampok itu rata-rata tangguh dan sudah biasa berkelahi, apalagi dua orang pemimpin mereka adalah orang-orang yang amat tangguh. Jumlah mereka juga terlampau banyak bagi dua losin perajurit yang bertugas menjaga keamanan dusun itu.

Para perajurit ini tidak pernah bertempur dan mereka itu biasanya hanya menghadapi orang-orang dusun yang tidak berani melawan. Maka begitu menghadapi lawan yang selain jauh lebih besar jumlahnya, juga rata-rata jagoan berkelahi, sedikitnya selosin orang perajurit roboh dan sisanya melarikan diri cerai berai keluar dari dusun Liok-teng.

Para perampok itu bersorak-sorak dan mereka merampas lima buah kereta dan hendak mengisi kereta- kereta itu dengan barang-barang berharga yang akan mereka ambil dengan mudahnya dari toko-toko dan rumah gedung para hartawan.

Kepala dusun dan komandan keamanan beserta delapan orang hartawan dan keluarga mereka, bersembunyi di dalam gedung masing-masing dan tidak berani keluar.

Dua orang kepala perampok itu dengan wajah gembira berdiri di pekarangan rumah gedung milik kepala dusun karena lima buah kereta itu dikumpulkan di situ. Limapuluh lebih perampok itu kini sambil bersorak mengangkuti barang-barang berharga yang mereka ambil dari toko-toko dan rumah gedung para hartawan tanpa ada yang berani menghalangi mereka. Setelah melihat betapa sudah ada tiga buah kereta dipenuhi barang, tinggal dua kereta lagi yang kini sedang diisi barang-barang rampokan, dua orang perampok itu sambil tertawa-tawa dan minum arak dari guci arak yang mereka ambil dari rumah makan, mereka memberi perintah kepada anak buah mereka. “Jangan lupa bawa para wanita muda dan cantik. Kumpulkan mereka di sini!”

Para perampok yang semua berwatak liar itu bersorak dan mulailah mereka menyerbu rumah-rumah gedung. Terdengar jeritan-jeritan wanita yang mereka paksa keluar dari rumahnya, diseret ditarik dan ada yang dipondong dengan paksa. Tidak kurang dari tigapuluh orang gadis dusun Liok-teng telah ditawan, dan mereka adalah gadis-gadis yang paling cantik di dusun itu. Para gadis itu menangis sehingga suasana menjadi riuh.

Akan tetapi, tiba-tiba beberapa orang anggauta perampok terpelanting roboh. Mereka mengaduh-aduh dan para anak buah yang lain melihat betapa ada seorang pemuda dan seorang gadis datang dan setiap orang perampok yang berani menghadang mereka robohkan dengan tamparan atau tendangan!

Pemuda dan gadis itu adalah Sie Bun Sam dan Lim Bwee Hwa. Mereka kebetulan lewat di dusun itu dan melihat banyak orang berlarian keluar dari dusun dengan wajah ketakutan, mereka segera bertanya. Ada yang memberitahu bahwa dusun Liok-teng kedatangan perampok yang kini sedang merampok barang-barang berharga dari dusun itu dan banyak orang, terutama para petugas keamanan, roboh oleh amukan mereka.

Mendengar ini, Bun Sam dan Bwee Hwa cepat berlari memasuki dusun Liok-teng dan mereka segera mendengar jerit tangis para wanita. Segera mereka berlari menuju suara ribut-ribut itu dan ketika ada beberapa orang perampok hendak menghadang mereka, mereka merobohkan para penghadang itu dengan tamparan atau tendangan. Sebentar saja delapan orang anak buah perampok terpelanting roboh dan mengaduh-aduh kesakitan. Para anak buah perampok yang lain menjadi marah dan mereka mencabut golok. Akan tetapi Bun Sam berbisik kepada Bwee Hwa.

“Kita tangkap dua orang pemimpin mereka itu!” katanya ketika melihat dua orang kepala perampok yang tinggi besar itu berdiri di pekarangan rumah gedung kepala dusun sambil tertawa-tawa dan bertolak pinggang.

Bwee Hwa mengangguk dan ketika puluhan orang anak buah perampok menyerbu hendak mengeroyok mereka dengan golok di tangan, dua orang pendekar itu melompat tinggi, melampaui atas kepala para perampok dan setelah keluar dari kepungan mereka lalu berlari menghampiri dua orang kepala perampok itu.

Dua orang kepala rampok itu tadi melihat betapa anak buah mereka ada yang roboh dan melihat pula pemuda dan gadis yang membuat beberapa orang anak buah mereka berpelantingan itu. Akan tetapi melihat banyak anak buah mereka sudah mencabut golok dan mengepung, mereka menjadi senang dan berteriak, “Bunuh dua orang itu!”

Akan tetapi alangkah kaget hati mereka ketika melihat betapa pemuda dan gadis itu melompati para anak buah mereka yang mengepung dan kini tahu-tahu telah berdiri di depan mereka!

Bun Sam dan Bwee Hwa melihat ke arah dua orang kepala perampok itu. Memang mereka ini menyeramkan sekali. Tubuh mereka tinggi besar, hampir satu setengah kali tinggi dan besar tubuh orang biasa. Yang seorang memiliki wajah yang penuh dengan bekas penyakit cacar, menjadi bopeng dan berlubang-lubang. Matanya sipit seperti terpejam dan dia memelihara jenggot dan kumis tebal, agaknya dalam usahanya untuk menutupi bopengnya. Tubuhnya gempal dan tampak kokoh sekali. Usianya sekitar empatpuluh tahun.

Orang kedua juga sama besar dan kokoh, usianya juga sebaya. Akan tetapi mukanya agak pucat kekuningan dan tanpa jenggot maupun kumis. Kepalanya botak, bagian atasnya licin tanpa ada sehelaipun rambutnya. Yang ditumbuhi sedikit rambut hanya di atas telinga dan tengkuk. Matanya lebar melotot menyeramkan dan mulutnya juga lebar.

“Hei, dua orang bocah yang bosan hidup! Berani benar kalian mencampuri urusan kami!” bentak Si Muka Bopeng mata sipit.

“Kalian sudah bosan hidup berani menentang Thian Te Sai-ong,” bentak Si Kepala Botak mata melotot.

“Wah, kalian ini Thian Te Sai-ong (Raja Singa Langit Bumi)? Tidak pantas, baiknya diganti menjadi Raja Singa Bopeng Botak!” kata Bwee Hwa sambil ter-senyum mengejek.

Dua orang kepala perampok itu marah sekali, akan tetapi Thian Te Sai-ong, yang menjadi pemimpin pertama, terpesona oleh kecantikan Bwee Hwa.

“Te-sai-ong (Raja Singa Bumi), bunuh pemuda itu dan aku akan menangkap yang perempuan. Gadis ini pantas untuk menjadi pendampingku, ha-ha-ha!” kata kepala perampok berwajah bopeng dan bermata sipit.

Te Sai-ong tadi melihat bahwa pemuda dan gadis itu lihai, akan tetapi dia tidak khawatir karena dia yakin akan kemampuan sendiri, pula kini semua anak buah perampok sudah meninggalkan kesibukan mereka dan mengepung tempat itu, membuat lingkaran sehingga gadis dan pemuda itu tidak akan dapat lari. Mendengar perintah Thian Sai-ong, dia tertawa dan begitu tangan kanannya bergerak, dia telah mencabut sebatang golok besar yang berkilauan saking tajamnya.

“Ha-ha, bocah tolol! Berani menentang kami berarti bosan hidup! Mampuslah!” Dia menggerakkan goloknya yang menyambar dahsyat ke arah leher Bun Sam. Akan tetapi dengan mudah saja Bun Sam mengelak sehingga Te Sai-ong men-jadi penasaran dan marah. Dia menyerang bertubi-tubi, namun bagi Bun Sam, gerakan orang tinggi besar botak itu amat lambat dan dia tahu bahwa lawannya lebih memiliki tenaga kasar yang besar daripada ilmu silat yang baik. Semua serangan itu dapat dia hindarkan dengan amat mudahnya.

Sementara itu, Thian Sai-ong yang memandang ringan Bwee Hwa dan ingin segera mendekapnya, sudah menubruk bagaikan seekor singa kelaparan menubruk seekor domba muda. Kedua lengannya yang panjang berotot itu dikembangkan dan menyambar dari kanan kiri hendak menangkap tubuh Bwee Hwa. Akan tetapi Bwee Hwa tidak sesabar Bun Sam menghadapi kepala perampok itu. Ia melangkah mundur dengan gerakan cepat pada saat kedua lengan itu menyambar dari kanan kiri dan begitu tangkapan itu luput Bwee Hwa bergerak ke samping lalu kakinya mencuat ke arah perut lawan.

“Bukk……!” Perut gendut sebesar perut kerbau itu terkena tendangan, mengeluarkan suara seperti tambur besar ditabuh dan tubuh Thian Sai-ong terhuyung ke belakang. Bwee Hwa tidak memberi kesempatan kepada lawannya. Cepat tubuhnya melompat ke depan dan tangannya menampar. “Crottt      !!” Pipi kanan Thian Sai-ong terkena tamparan tangan kiri Bwee Hwa. Karena tamparan itu

mengandung tenaga dalam yang amat kuat, maka tak dapat dihindarkan lagi, pipi itu membengkak dan beberapa buah gigi sebelah kanan copot dan bibirnya pecah berdarah!

Melihat ini, beberapa orang anak buah perampok menerjang untuk membela pimpinan mereka yang terpelanting dan mengaduh-aduh itu. Akan tetapi mereka disambut tubuh gadis itu yang berkelebatan, hanya tampak bayangan merah dan enam orang sudah berpelantingan dan mengaduh-aduh, ada yang ditampar tangan dan ada pula yang kebagian tendangan kaki.

Thian Sai-ong menggereng seperti singa dan dia sudah mencabut goloknya. Wajahnya yang buruk penuh bopeng itu kini menjadi semakin jelek karena pipi kanannya membengkak. Lenyaplah semua gairah berahinya terhadap Bwee Hwa, terganti rasa benci yang membuat dia mendengus-dengus seperti kerbau gila. Matanya yang sipit itu menjadi semakin sipit, apalagi yang kanan karena pipinya membengkak besar.

“Auurrgghhhh     ” dia menggereng dan menyerang dengan bacokan goloknya.

“Tranggg     !” Golok itu bertemu dengan pedang Sin-hong-kiam (Pedang Tawon Sakti) di tangan Bwee

Hwa sehingga terpental dan nyaris terlepas dari tangan Thian Sai-ong yang terasa pedas dan panas sekali. Dia berteriak memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk mengeroyok gadis yang kini dia tahu amat lihai itu.

Segera belasan orang mengeroyok Bwee Hwa dengan senjata golok mereka. Tentu saja tidak lebih dari belasan orang yang dapat mengeroyok, karena kalau terlalu banyak, tentu akan mengacaukan kawan sendiri. Akan tetapi Bwee Hwa menggerakkan pedangnya dengan cepat, tubuhnya berkelebatan, pedangnya berubah menjadi gulungan sinar yang mengeluarkan suara berdengung seperti ratusan ekor lebah mengamuk sehingga tidak ada pengeroyok yang mampu mendekatinya. Kalau ada yang berani terlalu dekat, tentu dia akan roboh disambar pedang.

Sekali ini Bwee Hwa teringat akan percakapannya dengan Bun Sam. Ia merobohkan para pengeroyok tanpa membunuhnya sehingga pedangnya tidak pernah membacok leher atau memasuki tubuh, hanya melukai pundak, lengan atau kaki lawan saja.

Sementara itu, Bun Sam juga sudah dikeroyok karena Te Sai-ong juga merasa kewalahan. Akan tetapi Bun Sam yang amat lihai itu melayani mereka dengan tenang. Setiap ada golok menyambar, dia berani menangkis, bahkan menangkap golok itu dan sekali remas, golok itu patah-patah. Dia merobohkan para pengeroyok dengan tendangan atau tamparan tangannya yang mengakibatkan patah tulang.

Melihat Bwee Hwa juga mengamuk dan dikeroyok, Bun Sam merasa khawatir kalau-kalau gadis itu akan melakukan banyak pembunuhan. Maka dia membuka kepungan terhadap dirinya lalu melompat ke dekat Bwee Hwa. Kini dia melihat betapa Bwee Hwa juga hanya merobohkan para pengeroyoknya tanpa membunuh dan hal ini menggirangkan hatinya.

Mereka berdua lalu mengamuk dan dalam waktu singkat, lebih dari setengah jumlah para perampok itu sudah mereka robohkan! Kedua kepala perampok itupun masih mencoba untuk membunuh pemuda dan gadis itu, namun akhirnya Thian Sai-ong roboh dengan pundak terluka parah oleh pedang Sin-hong- kiam, sedangkan Te Sai-ong roboh dengan kaki kanan patah tulangnya. Melihat ini, sisa anak buah perampok menjadi gentar sekali. Penduduk dusun Liok-teng yang melihat betapa sepasang orang muda itu mengamuk dan banyak sekali perampok yang roboh, kini menjadi berani dan mulailah mereka menolong para gadis, membawa mereka pergi ke rumah masing-masing dan merekapun membongkar barang-barang dari kereta dan dikembalikan kepada pemiliknya!

Akhirnya sisa para perampok yang tinggal belasan orang itu, menjadi ketakutan dan mereka melarikan diri cerai berai meninggalkan mereka yang terluka!

Bwee Hwa menghampiri dua orang kepala perampok yang kini duduk di atas tanah saling berdekatan karena tadi Thian Sai-ong yang terluka pundaknya menghampiri Te Sai-ong yang patah tulang kakinya. Melihat gadis itu menghampiri mereka dengan pedang di tangan dua orang kepala perampok ini menjadi pucat wajahnya dan memandang dengan mata terbelalak ketakutan. Bun Sam juga melihat ini dan melihat wajah Bwee Hwa yang kemerahan karena marah itu cepat berseru.

“Hwa-moi, jangan bunuh, maafkan mereka, beri kesempatan kepada mereka untuk bertaubat!”

Bwee Hwa mengayun pedangnya dua kali. Darah muncrat dan dua orang kepala perampok itu berteriak lalu roboh terguling. Kaki kanan mereka telah buntung sebatas lutut!

“Aih, Hwa-moi     !” Bun Sam yang sudah tiba dekat menegur.

“Sam-ko, aku tidak membunuh mereka, akan tetapi kalau mereka tidak di-buntungi sebelah kaki mereka, tentu mereka akan mengulangi lagi perbuatan mereka melakukan perampokan! Kalau sudah buntung begini, tentu mereka tidak berani merajalela karena mudah dilawan dan dikalahkan,” bantah Bwee Hwa.

Bun Sam mengeluarkan obat bubuk dan memberi dua bungkus obat kepada dua orang kepala perampok itu.

“Hemm, kalian hari ini makan buah pahit hasil tanaman kalian sendiri! Apakah kalian masih belum sadar dan bertaubat, lalu mengambil jalan yang benar?”

Setelah mengobati luka mereka sehingga kaki yang buntung itu tidak mengeluarkan darah lagi, Thian Sai-ong berkata. “Kami akan mencoba kembali ke jalan benar, taihiap (pendekar besar).”

“Baik sekali kalau begitu. Nah, pergilah kalian dan ajak semua anak buahmu pergi dari sini!”

Kedua orang kepala perampok itu memanggil anak buahnya untuk membantu mereka berjalan. Akan tetapi tidak ada seorangpun yang mau mendekati mereka. Wibawa kedua orang kepala perampok itu agaknya sudah hilang bagi anak buahnya, melihat mereka berdua itu kini telah menjadi seorang yang buntung sebelah kaki mereka.

Melihat ini, Thian Sai-ong membentak, “Pergilah kalian! Mulai sekarang, kalian bukan anak buah kami lagi. Gerombolan itu telah bubar dan mulai sekarang harus menanggungjawabkan perbuatan sendiri! Hayo bubar!” Semua anak buah perampok tertatih-tatih, saling bantu, meninggalkan dusun Liok-teng. Kedua orang kepala perampok itupun meninggalkan dusun itu sambil terpincang-pincang, berjalan hanya dengan sebelah kaki, berloncat-loncatan sehingga Bun Sam merasa kasihan. Dia mengambil dua batang pohon sebesar lengan, membuangi daunnya sehingga menjadi dua batang tongkat, lalu dia berlari mengejar dua orang yang berloncat-loncatan itu.

“Kalian pakai ini agar lebih mudah berjalan,” katanya.

Dua orang kepala perampok itu menerima dua buah tongkat dan kini mereka dapat maju lebih leluasa karena dibantu tongkat.

Ketika Bun Sam kembali ke dekat Bwee Hwa, gadis itu berkata.

“Sam-ko, hatimu memang baik, akan tetapi terlalu lemah. Orang-orang macam mereka itu sudah sepatutnya dihajar agar benar-benar bertaubat dan menyadari bahwa kejahatan tidak akan mendatangkan akibat yang menguntungkan. Kalau sudah dihajar seperti itu, setidaknya mereka akan merasa takut, terutama sekali mereka tidak lagi dapat mengandalkan kekuatan untuk bertindak sewenang-wenang.”

“Engkau benar, Hwa-moi. Akan tetapi, melihat keadaan mereka, timbul kembali rasa iba di hatiku. Bagaimanapun juga, mereka itu adalah manusia juga.”

Kini berbondong-bondong penduduk dusun Liok-teng datang menghampiri sepasang muda-mudi itu, dipimpin oleh kepala dusunnya yang bernama Gan See Ki yang biasa disebut Gan-cungcu (kepala dusun Gan) berusia sekitar limapuluh tahun, bertubuh pendek gendut, mukanya bundar gemuk, tampak angkuh dan pakaiannya mewah. Dia ditemani oleh Bu Sui yang biasa disebut Bu-kauwsu (guru silat Bu) karena dahulunya dia adalah seorang guru silat yang kemudian dijadikan kepala keamanan di dusun itu dan pakaiannya juga mewah.

Mereka berdua ini diikuti oleh delapan orang laki-laki, berusia antara empatpuluh sampai enampuluh tahun yang dari pakaian mereka mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang kaya. Kemudian di belakang sepuluh orang ini, berduyun-duyun para penduduk ikut pula menghadap Bwee Hwa dan Bun Sam dan sebagian besar dari mereka berpakaian lusuh dan menunjukkan bahwa mereka adalah orang- orang yang miskin.

Melihat ratusan orang itu, Bun Sam mengajak Bwee Hwa untuk naik ke serambi gedung milik kepala dusun itu karena serambi ini agak tinggi sehingga mereka dapat melihat semua orang itu. Menurut taksiran mereka, di antara para penduduk dusun yang berkumpul di pekarangan yang luas itu, terdapat laki-laki yang terhitung masih muda, tidak kurang dari seratus limapuluh orang banyaknya.

“Hemm, begini banyak orang akan tetapi lemah tak berdaya,” kata Bwee Hwa dan Bun Sam mengangguk.

Gan-cungcu dan Bu-kauwsu mengikuti muda-mudi yang naik ke serambi itu, lalu mereka memberi hormat, diikuti oleh delapan orang hartawan. “Ji-wi taihiap (dua orang pendekar besar), kami seluruh warga Liok-teng ini menghaturkan banyak terima kasih kepada ji-wi (kalian berdua) yang telah menyelamatkan kami dari gangguan gerombolan perampok tadi.”

“Tidak perlu kalian berterima kasih kepada kami karena apa yang kami lakukan itu hanyalah merupakan kewajiban kami belaka. Akan tetapi kami merasa heran bukan main, kenapa penduduk dusun ini yang demikian banyak jumlahnya sama sekali tidak melakukan perlawanan ketika gerombolan itu datang mengganggu?

“Sebetulnya pasukan keamanan kami telah melakukan perlawanan, akan tetapi kalah karena jumlah pasukan kami hanya dua losin orang sedangkan pasukan gerombolan itu terdiri dari limapuluh orang lebih.” kata Bu-kauwsu.

“Engkau siapakah?” Bwee Hwa bertanya sambil memandang wajah sepuluh orang berpakaian mewah itu berganti-ganti, sementara itu para penduduk yang lain hanya mendengarkan dari bawah serambi.

Kini Gan See Ki, kepala dusun itu yang menjawab. “Sebaiknya kami memperkenalkan diri kepada ji-wi taihiap. Saya sendiri adalah kepala dusun di sini bernama Gan See Ki dan saudara ini adalah Bu Sui yang menjadi komandan pasukan keamanan di dusun kami. Adapun delapan orang yang berada di belakang kami adalah delapan orang pedagang terbesar di dusun ini.”

“Dan yang berada di pekarangan itu adalah penduduk dusun ini?” tanya Bwee Hwa sambil mengamati mereka yang berada di bawah, yang rata-rata berpa-kaian lusuh.

“Benar sekali, lihiap.”

“Gan-cungcu, berapa banyaknya jumlah penduduk dusun ini?” tanya lagi Bwee Hwa kepada kepala dusun itu.

Jumlah seluruhnya ada kurang lebih seribu limaratus orang,” jawab sang kepala dusun. “Berapa banyak laki-laki yang masih muda?”

“Kurang lebih tiga ratus orang.”

“Apakah pekerjaan mereka, Gan-cungcu?” kini Bun Sam yang bertanya, sambil mengamati wajah kepala dusun itu dengan penuh selidik.

“Sebagian besar di antara mereka adalah pekerja-pekerja tani yang menggarap sawah dan kebun milik kami.”

“Mereka adalah orang-orang miskin?”

“Ya, begitulah. Akan tetapi kami sepuluh orang ini yang menolong mereka dengan memberi pekerjaan dan upah yang cukup,” kata pula kepala dusun itu. Tiba-tiba Bun Sam melangkah maju ke tepi serambi dan berkata kepada banyak orang itu, suaranya lantang karena dia telah mengerahkan tenaga sakti sehingga suaranya dapat terdengar sampai jauh. Semua orang yang berkumpul di pekarangan itu dapat mendengar suaranya dengan jelas.

“Para penduduk dusun Liok-teng, dengarlah baik-baik. Kami berdua kebetulan lewat di dusun ini dan melihat gerombolan yang mengganggu kalian. Sekarang kami ingin agar ada wakil-wakil dari kalian yang hidup dalam kemiskinan untuk maju ke sini. Aku minta dua orang wakil yang dapat mewakili semua orang dan jangan takut, kami berdua yang menjamin bahwa tidak akan ada orang yang dapat mengganggu kalian berdua. Nah, pilihlah di antara kalian dan dua orang wakil majulah dan naik ke serambi ini!”

Mereka yang berada di bawah kini saling berunding, memilih-milih dan akhirnya dua orang di antara mereka maju menuju serambi. Mereka berdua adalah orang-orang berpakaian petani, berusia kurang lebih empatpuluh tahun dan tubuh mereka kurus, wajah mereka penuh garis-garis penderitaan.

Sekali pandang saja dapat tampak jelas bahwa mereka adalah orang-orang miskin, akan tetapi langkah mereka tegap dengan tubuh tegak dan sinar mata mereka menunjukkan bahwa mereka berdua bukan orang bodoh dan bersemangat. Biarpun demikian, setibanya di bawah serambi, mereka tampak ragu karena sepuluh orang berpakaian mewah itu berdiri di atas serambi dan memandang mereka.

Melihat keraguan mereka, Bwee Hwa menjadi tidak sabar. “Hei, kalian naiklah ke sini. Kalian seperti orang takut. Apa sih yang ditakuti?”

Mendengar ini, barulah kedua orang itu berani naik serambi yang bertangga itu dan berdiri di depan Bun Sam sambil memberi hormat dan seorang di antara mereka berkata, “Taihiap, kami yang ditugaskan oleh para teman untuk menjadi wakil dan mendengarkan apa yang taihiap perintahkan.”

“Kami tidak memerintahkan, akan tetapi akan mengajak kalian bercakap-cakap dan kami harap kalian berdua bicara sebenarnya, jangan menyembunyikan sesuatu dan jangan berbohong. Ketahuilah, kami berdua hanya ingin mengatur agar kehidupan di dusun ini menjadi aman tenteram dan makmur bagi semua orang.”

“Mari, ji-wi taihiap, silakan duduk agar lebih enak kita bicara,” kata Gan-cungcu, mempersilakan Bwee Hwa dan Bun Sam untuk mengambil tempat duduk di atas kursi yang berada di serambi itu.

Mereka semua lalu duduk mengitari sebuah meja besar. Empatbelas orang itu duduk saling berhadapan terhalang meja bundar itu. Dua orang wakil penduduk yang agaknya masih takut-takut sengaja mengambil tempat duduk di sebelah Bun Sam, seolah mereka ingin mendapat perlindungan.

“Nah, sekarang kami berdua ingin bertanya kepada kalian berdua yang mewakili penduduk dusun ini. Sebetulnya mengapa penduduk yang kami lihat cukup banyak ini tidak dapat bersatu dan tidak melakukan perlawanan ketika gerombolan itu datang mengganggu?”

Seorang di antara kedua wakil penduduk itu, yang tubuhnya kurus akan tetapi sinar matanya penuh semangat, setelah melirik ke arah kepala dusun Gan See Ki dan komandan keamanan Bu Sui, lalu berkata dengan suara cukup lantang. “Ji-wi taihiap, apa yang dapat dilakukan orang-orang miskin seperti kami? Kami tidak memiliki apa-apa, maka gerombolan itu tidak dapat mengganggu kami.”

“Kalian hidup dalam kemiskinan? Aneh, kami lihat dusun ini cukup ramai dan tampaknya kehidupan rakyatnya makmur karena dusun ini menghasilkan banyak hasil bumi. Sebagai petani, tentu kalian memiliki sawah ladang dan mempunyai penghasilan yang cukup.”

Orang itu menggeleng kepala. “Kami tidak mempunyai tanah, taihiap.”

“Lalu tanah yang luas dan subur yang kami lihat di luar dusun itu, milik siapa?” tanya Bwee Hwa. “Semua itu milik Gan-cungcu, Bu Kauwsu, dan delapan orang hartawan ini.”

“Dan kalian sendiri, bekerja apa?” tanya pula Bwee Hwa.

“Kami hanya pekerja bayaran, menggarap sawah ladang milik mereka.”

“Hemm, melihat keadaan penduduk yang rata-rata miskin, berarti upah yang kalian terima sedikit, bukan?”

Dua orang itu tampak rikuh dan beberapa kali mengerling ke arah kepala dusun dan komandan. Kemudian orang kedua menjawab lirih, “Yah, cukup untuk makan, lihiap.”

“Sekarang aku mengerti mengapa tidak ada persatuan di antara penduduk dusun ini.” kata Bun Sam. “Ternyata di antara yang kaya dan yang miskin tidak saling membantu. Dan ini merupakan kesalahan kepala dusun yang tidak mampu mengatur! Gan-cungcu, kami memberi ingat kepadamu. Menjadi kepala dusun haruslah mendahulukan kepentingan rakyat, jangan hanya mementingkan diri sendiri, menumpuk kekayaan untuk diri sendiri tanpa memikirkan keadaan penduduknya. Ingatlah, tanpa adanya penduduk dusun, engkau tidak akan menjadi kepala dusun! Kalau engkau tidak mampu mengatur demi kesejahteraan rakyat, engkau tidak pantas menjadi kepala dusun! Bagaimana mungkin sebagai kepala dusun engkau menjadi kaya-raya, padahal engkau tidak berdagang seperti para saudagar? Diadakannya seorang kepala dusun adalah untuk melayani dan mengatur kebutuhan penduduk dusunnya, bukan sebaliknya rakyat harus melayani kebutuhanmu! Mengertikah engkau, Gan- cungcu?” Suara Sie Bun Sam penuh wibawa sehingga kepala dusun itu menundukkan mukanya yang berubah pucat.

“Saya mengerti, taihiap.”

“Dan engkau, Bu-kauwsu, apakah tugasmu sebagai pemimpin pasukan keamanan di dusun ini?” tanya Bun Sam dengan suara keren.

“Saya saya bertugas menjaga keamanan di dusun ini, taihiap.”

“Keamanan siapa yang kaumaksud? Engkau dan anak buahmu menjadi kea-manan mereka yang kaya- raya ataukah menjaga keamanan seluruh penduduk dusun?”

“Menjaga keamanan...... eh....... seluruh penduduk dusun ! “Hemm, benarkah begitu? Melihat penduduk yang miskin tidak ada yang membantu, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa tidak ada kerja sama yang baik antara pasukan dengan penduduk. Seperti yang kulihat di mana-mana, pasukan keamanan dipimpin komandannya biasanya hanya menjadi tukang- tukang pukul membela kepala dusun dan para hartawan. Buktinya engkau menjadi seorang di antara mereka yang kaya raya di dusun ini! Tentu engkau dan anak buahmu bersikap bengis dan membantu kepala dusun menindas rakyat, maka mereka tidak mau membantu ketika ada gerombolan mengganggu. Engkau menjadi komandan keamanan bertugas untuk menjaga keamanan di dusun, melindungi semua penduduk, bukan hanya melindungi para hartawan dan kepala dusun agar mendapatkan banyak uang memperkaya diri sendiri! Kenyataan seperti ini membuat pasukanmu lebih tepat disebut pasukan penindas rakyat daripada pasukan penjaga keamanan dusun. Mengertikah engkau?”

Bu Kauwsu menundukkan mukanya yang pucat seperti muka kepala dusun Gan. Dia tidak berani membantah karena memang demikianlah kenyataannya. Mereka itu biasanya membela kepentingan kepala dusun dan para hartawan. Kalau ada penduduk yang membangkang perintah kepala dusun atau banyak menuntut kepada para hartawan, Bu Kauwsu ini dan anak buahnya yang bertindak sebagai tukang pukul dan mengancam penduduk sehingga penduduk terpaksa melakukan apa saja yang diperintahkan Gan-cungcu dan bekerja untuk para hartawan dengan upah yang sebetulnya kurang namun mereka tidak berani membantah karena pasukan keamanan siap untuk menghukum mereka yang banyak membantah!

“Sekarang kalian para hartawan dusun ini! Tidak sadarkah kalian darimana kalian mendapatkan kekayaan kalian itu? Coba renungkan! Apakah kalian menggunakan kaki tangan dan tenaga kalian sendiri untuk menggarap sawah ladang yang menghasilkan banyak uang? Ataukah itu hasil cucuran para pekerja itu? Kalian tidak boleh mementingkan diri sendiri, menumpuk harta tanpa memperhatikan mereka yang bekerja mati-matian untuk mendatangkan banyak uang bagi kalian! Apakah kalau kalian mati kalian akan membawa uang ke alam baka? Apakah kalau ada serangan para gerombolan tadi, uang kalian dapat menolong kalian? Sebaliknya malah, kalian diganggu perampok justeru karena kalian punya banyak uang! Harta benda tidak selamanya mendatangkan kebahagiaan, bahkan mendatangkan kesengsaraan kalau tidak dipergunakan dengan baik, untuk menolong mereka yang kekurangan! Kalau tadi kami tidak datang, ke manakah sekarang harta kalian, atau puteri kalian, atau bahkan nyawa kalian? Karena kalian memeras tenaga rakyat dusun ini, maka hubungan kalian dengan para penduduk tidak akrab. Hal ini membuat para penduduk miskin itu tidak mempunyai rasa kasih terhadap kalian karena kalian juga tidak memiliki rasa kasih kepada mereka. Mereka tidak mengacuhkan kalau harta benda kalian dirampok gerombolan! Dapatkah kalian menyadari kesalahan kalian?”

Para hartawan itu mengangguk-angguk dengan muka berubah kemerahan karena merasa malu. Baru sekali ini mereka mendengar ucapan seperti itu dan seolah baru terbuka mata mereka bahwa ucapan itu mengandung kebenaran. Kalau tidak ada para pekerja tani itu, tidak mungkin mereka dapat mengumpulkan harta! Dan kalau dilihat apa yang mereka dapatkan dari hasil keringat para pekerja tani itu, yang membuat harta kekayaan mereka semakin bertumpuk, memang harus diakui bahwa apa yang didapatkan dari cucuran keringat para pekerja itu sama sekali tidak sesuai, jauh terlalu kecil dan hanya tiba pas, bahkan harus mengurangi jatah makan, untuk kebutuhan perut mereka sekeluarga sehari-hari. Untuk membeli pakaian dan kebutuhan selain makan hampir tidak ada kelebihannya, apalagi untuk membangun atau memperbaiki rumah tinggal!

“Kami menyadari kekurang bijaksanaan kami. Akan tetapi, bagaimana baiknya menurut taihiap?” tanya seorang di antara delapan hartawan itu. Bwee Hwa yang sejak tadi mendengarkan ucapan Bun Sam kini menjadi kagum bukan main. Tak disangkanya sama sekali bahwa Bun Sam bukan saja memiliki ilmu silat yang amat lihai, jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaiannya, atau kepandaian Ui Kong, atau bahkan tingkat kepandaian mendiang Ong Siong Li sekali pun, akan tetapi juga memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan mendalam tentang kehidupan rakyat. Maka iapun ikut mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Sekarang kami berdua menganjurkan kepada kalian semua, pertama-tama kepada Kepala Dusun Gan See Ki. Jadilah pemimpin rakyat dusun yang bijaksana, adil dan mementingkan kesejahteraan rakyat jangan menuruti kemurkaan nafsu sendiri untuk menumpuk harta kekayaan dengan cara menerima suapan dari para hartawan dan penindasan terhadap yang miskin dan lemah. Kalau engkau tidak sanggup melakukan semua syarat itu, lebih baik sekarang juga engkau meletakkan jabatanmu! Kalau engkau sanggup, laksanakanlah dengan benar karena kalau lain kali kami lewat di sini dan mendengar engkau masih melanjutkan sikap dan perbuatanmu yang lalu, terpaksa kami akan memberi hajaran keras kepadamu!”

“Akan saya perhatikan dan saya taati petunjuk taihiap!” kata Gan See Ki dengan suara merendah.

“Dan engkau, Bu-kauwsu, mulai sekarang bubarkan semua anak buahmu yang hanya terdiri dari tukang pukul yang tiada gunanya. Buktinya mereka melarikan diri ketika gerombolan datang. Mulai sekarang yang menjadi penjaga keamanan dusun adalah para pemuda dusun yang ratusan jumlahnya. Engkau bertugas melatih ilmu silat kepada mereka, tanpa memeras. Dan engkau tidak boleh melaksanakan semua perintah yang tidak benar dari kepala dusun atau para hartawan dengan upah besar. Kalau ratusan orang laki-laki yang masih muda itu bersatu padu dan menjaga keamanan, kiranya tidak ada gerombolan yang berani mengganggu. Sanggupkah engkau?”

“Saya sanggup, taihiap.”

“Jangan hanya mengatakan sanggup akan tetapi tidak kaulaksanakan, Bu-kauwsu!” kata Bwee Hwa. “Kalau lain hari aku mendengar engkau tidak melak-sanakan apa yang kaujanjikan itu, lihat ini!” Gadis itu menjulurkan tangannya pada ujung batu marmar tebal meja itu dan sekali mengerahkan tenaga, ujung batu marmar itu telah diremasnya hancur menjadi tepung!

Melihat ini, wajah Bu Kauwsu menjadi pucat. Sebagai seorang ahli silat dia tahu benar betapa dahsyatnya tenaga gadis itu.

“Saya akan melaksanakan apa yang telah saya janjikan, lihiap!” katanya.

“Nah, sekarang dengarkan baik-baik, para wan-gwe (hartawan) dan juga kalian yang mewakili penduduk miskin. Kaya dan miskin bukan hal yang perlu dipertentangkan, bahkan yang kaya dan yang miskin itu dapat saling melengkapi karena kedua pihak saling membutuhkan. Apa jadinya kehidupan ini kalau semua orang kaya raya? Tentu tidak ada yang bekerja di sawah, tidak ada yang berjualan, tidak ada yang membuat pakaian sehingga setiap orang kalau membutuhkan sandang, pangan, papan harus mencari dan membuat sendiri! Pendeknya, kalau semua orang itu kaya raya, kehidupan tidak dapat dilanjutkan karena tidak ada yang mengerjakan untuk mengadakan apa yang dibutuhkan untuk hidup. Sebaliknya, kalau semua hidup miskin, kehidupan akan menjadi sengsara, serba kekurangan dan akhirnya akan saling berebutan. Karena itu, ada yang kaya dan ada yang melarat itu baik sekali. Keduanya dapat saling bekerja, saling membantu sehingga kehidupan rakyat pada umumnya dapat makmur dan sejahtera, tidak kekurangan sandang pangan papan. Akah tetapi, kedua pihak haruslah hidup yang benar dan baik, sesuai dengan kemampuan masing-masing.

“Dengan adanya yang kaya, maka dia dapat memodali perusahaan yang menyerap banyak tenaga kerja. Dengan adanya yang miskin, maka tersedia tenaga kerja. Yang kaya membutuhkan yang miskin sebagai karyawannya, yang miskin membutuhkan yang kaya untuk lapangan kerja. Karena itu, yang kaya harus membagi hasil keuntungan perusahaannya karena para pekerja itulah yang memiliki jasa atas kemajuan perusahaannya. Yang kaya harus mencukupi kebutuhan para pekerjanya dan terbuka hati dan tangannya untuk menolong mereka yang kekurangan. Di lain pihak, yang miskin harus rajin bekerja dengan jujur dan setia karena perusahaan di mana mereka bekerja merupakan sumber kehidupan dia dan keluarganya.

“Dengan demikian, maka mereka saling membutuhkan akan tetapi juga saling dibutuhkan. Kedua pihak memberi dan mengambil. Hubungan antara mereka menjadi akrab dan baik, tidak ada yang meninggikan tidak ada yang merendahkan. Kalau sudah begitu, maka apabila terjadi suatu gangguan seperti tadi, maka seluruh penduduk akan bangkit, bersatu untuk melawan dan menghalau pengganggu kehidupan mereka. Mengertikah kalian apa yang kami maksud?”

Para hartawan itu mengangguk-angguk dan tampaknya senang dan setuju. Dua orang wakil penduduk yang miskin tersenyum. “Alangkah akan berbahagianya kami kalau terjadi seperti yang taihiap maksudkan. Kalau kehidupan kami terjamin, tentu saja kami akan bekerja dengan rajin dan setia menjaga sumber kebutuhan hidup kami.”

“Kami juga akan merasa senang sekali kalau semua penduduk dapat hidup rukun, bersatu seperti itu,” kata seorang hartawan.

“Nah, kalau begitu mulai sekarang ubahlah semua keadaan yang pincang ini. Cukupilah kebutuhan penduduk yang miskin. Beri mereka penghasilan yang dapat menjamin tercukupnya sandang pangan mereka sekeluarga. Mereka akan bekerja dengan rajin sehingga hasil sawah ladang tentu akan bertambah dan semua dapat mengalami kemakmuran. Dan untuk pelaksanaan keadaan baru ini, harus dilaksanakan oleh Gan-cungcu dengan adil dan bijaksana. Bu-kauwsu boleh mulai memilih mereka yang muda sebanyaknya, melatih ilmu silat kepada mereka agar setiap saat ada bahaya mengancam, penduduk sendiri yang akan menghalau para pengacau.”

Ketika dua orang wakil itu diperkenankan turun untuk mengabarkan kepada semua penduduk yang berkumpul di pekarangan gedung kepala dusun, mereka berdua lalu bicara dengan lantang di tepi serambi, menceritakan rencana perubahan mengenai keadaan penduduk dusun itu seperti yang dianjurkan oleh kedua orang pendekar dan telah disetujui semua pihak.

Mendengar ini, penduduk itu bersorak-sorai dan tertawa-tawa gembira, ada yang menari-nari bahkan ada yang menangis tersedu-sedu. Baru mendengar beritanya saja mereka sudah demikian gembira, apalagi kalau berita itu sudah menjadi kenyataan. Enyahlah lapar dan dingin! Minggatlah duka nestapa! Pergilah iri dan dengki!

Para hartawan, Kepala Dusun Gan See Ki, dan Bu Sui kepala pengawal tertarik dan menghampiri ke tepi serambi. Melihat penduduk begitu gembira, mereka dicekam keharuan dan mereka menyadari bahwa selama ini mereka memang telah menempuh jalan sesat, mencari keuntungan dengan menari di atas penderitaan orang-orang lain! Dengan terheran-heran mereka menemukan kenyataan aneh bahwa kebahagiaan orang-orang di bawah itu bukan hanya mengharukan, akan tetapi juga mendatangkan perasaan bahagia yang belum pernah mereka rasakan selama ini!

Belum juga melaksanakan semua rencana tadi, mereka sudah merasa berjasa, bermanfaat. Hidup mereka kini mempunyai tugas tertentu. Hidup mereka kini berguna bagi banyak orang. Mereka diberi kesempatan untuk menjadi alat penyalur berkah Thian (Tuhan) kepada banyak manusia!

Akan tetapi ketika mereka menoleh ke belakang, mereka terbelalak karena mereka tidak melihat lagi Bun Sam dan Bwee Hwa!

“Aih, ke mana perginya kedua pendekar itu?” tanya seorang hartawan. Mereka semua, sepuluh orang itu mencari-cari dengan pandang mata mereka, akan tetapi tidak tampak bayangan dua orang yang tadi duduk menghadapi meja dan bicara dengan mereka.

“Hemm, tentu mereka telah pergi dengan diam-diam!” kata yang lain.

“Bukan main! Mereka seperti dewa saja, dapat menghilang begitu saja!” kata Bu Sui, guru silat itu. Dia tahu bahwa beberapa orang yang pernah mengajarkan ilmu silat kepadanya tidak mungkin mampu menandingi ilmu silat dua orang pendekar itu.
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Lihat update cersil yang baru diupload 3 Bulan Terakhir

27 Oktober 2022] Kaki Tiga Menjangan

05 November 2022] Seruling Samber Nyawa (Bu Lim Su Cun)

Mau donasi lewat mana?

BCA - Nur Ichsan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain
]