--> -->

Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 ~ Jilid 5 : 2012 – 2015

Jilid 5 : 2012 – 2015

PERTEMUAN resmi antara kedua keluarga diselenggarakan

di sebuah restoran di Gangnam, di dekat terminal. Setelah

saling menyapa dan berbasa-basi sopan, keheningan yang canggung pun terbit. Kemudian ibu Jeong Dae-hyeon tiba-tiba mulai memuji Kim Ji-yeong yang baru ditemuinya dua kali. “Ji-yeong anak yang tenang, ramah, dan penuh perhatian. Dia tahu saya tidak minum kopi, jadi dia membawakan teh tradisional ketika dia datang berkunjung. Dia juga langsung sadar ketika suara saya berubah serak karena flu.” Sebenarnya teh itu adalah hadiah yang direkomendasikan oleh karyawan di supermarket. Mereka memang pernah mengobrol tentang orang-orang yang menderita flu pada saat pergantian musim, tetapi Kim Ji-yeong tidak pernah menyadari suara ibu Jeong Dae-hyeon berubah serak. Kim Ji-yeong merasa agak resah begitu menyadari bahwa perbuatannya yang

sebenarnya tidak berarti apa-apa bisa diartikan menjadi ber-

bagai hal. Ibu Kim Ji-yeong tertawa senang mendengar pujian itu dan

berkata, “Anda terlalu baik. Anak ini memang sudah dewasa, tetapi dia sama sekali tidak bisa apa-apa. Mungkin karena saya tidak tahan membiarkan keadaan rumah berantakan, jadi biasanya saya yang membereskan rumah sendiri. Anak-anak tidak pernah mendapat kesempatan melakukan pekerjaan rumah tangga. Mereka hanya terpaksa memasak kalau sudah kelaparan.”

“Anak-anak zaman sekarang memang seperti itu,” timpal ibu Jeong Dae-hyeon.

Selama beberapa saat kedua ibu itu membicarakan purriputri mereka yang hanya hidup untuk belajar dan bekerja. Lalu ibu Jeong Dae-hyeon berkata, “Tidak ada orang yang langsung pintar segalanya, bukan? Semua orang bisa setelah belajar. Saya yakin Ji-yeong akan baik-baik saja.”

Tidak, Ibu. Aku tidak yakin aku bisa melakukannya dengan baik. Dae-hyeon pasti bisa melakukannya dengan lebih baik. Katanya, setelah menikah pun dia sendiri yang akan mengurus segalanya. Namun, Kim Ji-yeong dan Jeong Dae-hyeon hanya

tersenyum dan tidak bersuara.

Dengan uang deposit dari apartemen studio yang ditempati Jeong Dae-hyeon selama ini, ditambah uang yang berhasil mereka kumpulkan berdua, ditambah sedikit pinjaman, mereka bisa menyewa apartemen seluas 80 meter persegi, membeli perabotan, menyewa gedung untuk pesta pernikahan, dan menutupi biaya yang dibutuhkan untuk bulan madu. Jeong Dae-hyeon memiliki deposito yang cukup besar, dan mereka berdua sudah menabung secara teratur selama ini, sehingga

mereka bisa menikah tanpa perlu meminta bantuan dari orangtua. Mereka mulai bekerja di saat yang sama, tetapi jumlah uang yang berhasil dikumpulkan Jeong Dae-hyeon lebih besar daripada Kim Ji-yeong, walaupun Kim Ji-yeong tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan apa pun karena ia tinggal bersama orangtuanya selama ini. Itu dikarenakan penghasilan tahunan Jeong Dae-hyeon lebih besar. Kim Jiyeong memang sudah menduga penghasilan mereka berbeda, karena perusahaan tempat Jeong Dae-hyeon bekerja lebih besar, tetapi ia sama sekali tidak menduga bahwa selisih penghasilan mereka sebesar itu. Kenyataan tersebut membuat Kim Ji-yeong merasa agak patah semangat.

Kehidupan perkawinan mereka cukup baik. Walaupun mereka berdua bekerja sampai larut, sering harus bekerja di akhir pekan, dan jarang bisa makan bersama, mereka kadangkadang masih bisa menonton film tengah malam, menikmati camilan malam bersama, tidur sampai siang di akhir pekan ketika mereka tidak perlu bekerja, dan membaca program perkenalan film sambil menyantap roti panggang yang disiapkan Jeong Dae-hyeon. Rasanya seperti sedang berkencan atau bermain rumah-rumahan.

Hari itu hari Rabu, tepat satu bulan setelah hari pernikahan. Kim Ji-yeong baru pulang dengan kereta bawah tanah terakhir setelah bekerja lembur. Sebaliknya, Jeong Dae-hyeon pulang lebih cepat hari itu. Ia sudah merebus ramyeon, makan, mencuci piring, dan membersihkan kulkas. Ia sedang menonton serial drama di televisi sambil melipat pakaian yang sudah

kering dan menunggu kepulangan Kim Ji-yeong. Ada secarik kertas di meja makan. Formulir pendaftaran pernikahan. Jeong

Dae-hyeon sudah mengunduh formulir itu di kantor dan bahkan sudah meminta dua orang rekan kerjanya membubuhkan tanda tangan di sana sebagai saksi.

Kim Ji-yeong tertawa. “Kenapa buru-buru? Bukankah kita sudah menjalani upacara pernikahan dan hidup bersama? Mendaftarkan pernikahan tidak akan mengubah apa pun.”

“Pola pikir kita yang akan berubah.”

Kim Ji-yeong senang karena Jeong Dae-hyeon tidak sabar ingin mendaftarkan pernikahan mereka. Rasanya memang menyenangkan, membuat hatinya berbunga-bunga dan melambung. Namun entah kenapa, jawaban Jeong Dae-hyeon yang singkat terasa bagaikan jarum tipis yang melubangi hati Kim Ji-yeong. Hatinya yang melambung perlahan-lahan menciut dan pupus. Ia tidak merasa upacara pernikahan atau pendaftaran pernikahan akan membuat pola pikirnya berubah.

Apakah mungkin Jeong Dae-hyeon merasa bertanggung jawab? Apakah Kim Ji-yeong sendiri yakin bahwa pola pikirnya tidak akan berubah, entah mereka mendaftarkan pernikahan mereka atau tidak? Walaupun Kim Ji-yeong merasa suaminya adalah orang yang bisa diandalkan, entah kenapa ia juga merasakan jarak yang aneh di antara mereka.

Mereka berdua pun duduk berdampingan di meja makan dengan laptop terbuka di depan mereka, mengisi formulir. Jeong Dae-hyeon menulis namanya dalam karakter Cina segaris demi segaris sambil berulang kali menatap layar monitor. Kim Ji-yeong juga melakukan hal yang sama. Seolah-olah baru pertama kali itu mereka menulis aksara Cina. Setelah itu,

kotak-kotak berikutnya diisi dengan mudah. Jeong Dae-hyeon juga menulis informasi pribadi orangtua mereka setelah me-

meriksa Nomor Jaminan Sosial. Lalu nomor lima. Apakah marga anak akan mengikuti marga ibu?

“Bagaimana ini?”

“Apa?”

“Ini. Yang nomor lima.”

Jeong Dae-Hyeon membaca kalimat yang tertera di nomor lima, melirik Kim Ji-yeong sekilas, lalu berkata ringan, “Menurutku marganya Jeong saja...”

Pada akhir tahun 1990-an, perdebatan tentang sistem keluarga patriarki memanas. Ada beberapa kelompok masyarakat yang menuntut sistem keluarga patriarki ditiadakan. Ada orang-orang yang memilih menggunakan marga kedua orangtua, ada juga selebritas yang mengaku mendapat banyak kesulitan di masa kecilnya karena marganya berbeda dengan marga ayah tirinya. Pada masa itu, ada serial drama di televisi yang sangat populer tentang seorang ibu tunggal yang melahirkan dan membesarkan anaknya sendiri, tapi kemudian anaknya dirampas oleh sang ayah kandung yang muncul kembali setelah sekian lama. Melalui serial drama itu, Kim Ji-yeong menyadari betapa tidak rasionalnya sistem keluarga patriarki. Tentu saja, apabila sistem patriarki ditiadakan, semua orang pasti seolah-olah tidak lagi memiliki hubungan keluarga dengan orangtua dan saudara-saudara mereka, dan semua orang akan terlihat seolah-olah berasal dari keluarga yang tercerai-berai.

Pada akhirnya, sistem patriarki ditiadakan. Pada bulan Februari 2005, Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa

sistem patriarki tidak sesuai dengan prinsip kesetaraan gender dalam konstitusi. Pada tanggal 1 Januari 2008, hukum sipil

yang sudah direvisi, yang di dalamnya termasuk penghapusan sistem patriarki, mulai diberlakukan”. Kini di Korea tidak ada lagi yang namanya kartu keluarga, dan KTP saja sudah cukup. Anak-anak juga tidak diharuskan mengikuti marga ayah kandung. Anak-anak boleh mengikuti marga ibu apabila mereka saling setuju pada saat mendaftarkan pernikahan mereka. Namun, setiap tahun hanya ada sekitar 200 kasus anak-anak yang mengikuti marga ibu, dimulai dengan 65 kasus pada tahun 2008 ketika sistem patriarki dihapuskan”.


“Sebagian besar orang masih mengikuti marga ayah. Orangorang pasti berpikir ada yang aneh jika seorang anak mengikuti marga ibu. Dan kita terpaksa berulang kali memberikan penjelasan, koreksi, dan penegasan,” kata Jeong Dae-hyeon.

Kim Ji-yeong mengangguk-angguk. Tangannya mencentang kata “Tidak”, tetapi hatinya terasa hampa. Dunia memang sudah banyak berubah, tetapi peraturan kecil, janji, dan kebiasaan di dalam dunia ini tidak banyak berubah. Jadi secara keseluruhan, dunia sebenarnya tidak berubah. Kim Ji-yeong kembali memikirkan ucapan Jeong Dae-hyeon bahwa mendaftarkan pernikahan bisa mengubah pola pikir mereka. Apakah hukum dan sistem yang mengubah nilai kehidupan, atau apakah nilai kehidupan yang mengubah hukum dan

sistem?

Para orangtua terus menunggu “kabar baik”. Mereka akan

 Berakhirnya Sistem Patriarki: Melintasi Tembok Patriarki Menuju Dunia yang Setara, lihat Laporan Kebijakan Pemerintah Partisipatoris (2008).

Marga Pilihan Orangtua Sama Dengan Kesetaraan Gender?, Women News,

. 3. 5, bermimpi, lalu menelepon Kim Ji-yeong dan menanyakan

kabarnya. Setelah beberapa bulan, mereka mulai meragukan kesehatan Kim Ji-yeong.

Pada perayaan ulang tahun ayah mertua Kim Ji-yeong yang pertama setelah ia menikah, para kerabat Jeong Dae-hyeon dari Busan berkumpul untuk makan bersama. Selama persiapan makan siang, selama makan, dan selama membereskan piring-piring bekas makan siang, para orang tua terus bertanya kepada Kim Ji-yeong apakah belum ada kabar baik, kenapa belum ada kabar baik, dan usaha apa yang sudah dilakukannya selama ini. Kim Ji-yeong menjawab bahwa mereka belum berencana memiliki anak, tetapi kerabat-kerabat Jeong Daehyeon mengabaikan jawaban itu dan mulai berdiskusi di antara mereka sendiri tentang kenapa sampai sekarang Kim Ji-yeong masih belum hamil. Kim Ji-yeong tidak muda lagi, tubuhnya terlalu kurus, tangannya dingin dan peredaran darahnya tidak lancar, dagunya yang berjerawat menandakan rahimnya tidak bagus... Pokoknya, seakan-akan masalahnya ada pada diri Kim Ji-yeong.

Salah seorang bibi diam-diam bertanya kepada ibu Jeong Dae-hyeon, “Kenapa kau tidak melakukan apa-apa? Beri vitamin kepada menantumu agar dia cepat hamil. Dia pasti sedih.”

Kim Ji-yeong sama sekali tidak sedih. Yang tidak tahan dihadapinya adalah saat-saat seperti itu. Kim Ji-yeong ingin berkata bahwa ia sangat sehat, tidak butuh vitamin apa pun, dan ia ingin membahas rencana keluarganya dengan suaminya sendiri, bukan dengan kerabat-kerabat yang baru pertama kali ditemuinya. Namun, yang bisa dikatakannya hanya, “Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.” Jeong Dae-hyeon dan Kim Ji-yeong bertengkar di dalam

mobil sepanjang perjalanan kembali ke Seoul. Kim Ji-yeong sangat kecewa karena suaminya diam seribu bahasa sementara dirinya diperlakukan seolah-olah menderita cacat fisik yang parah. Jeong Dae-hyeon beralasan bahwa ia tidak berkata apa pun karena tidak ingin memperbesar masalah di depan orangorang yang lebih tua tersebut. Kim Ji-yeong berkata ia sama sekali tidak memahami jalan pikiran Jeong Dae-hyeon, dan Jeong Dae-hyeon berkata Kim Ji-yeong terlalu sensitif. Kim Ji-yeong semakin sedih mendengar dirinya dibilang sensitif. Pertengkaran pun terus berlanjut.

Mereka sama sekali tidak berhenti di area peristirahatan sepanjang perjalanan. Setelah mobil berhenti di pelataran parkir bawah tanah gedung apartemen mereka, Jeong Daehyeon membuka suara. “Aku sudah memikirkan masalah ini. Ketika kau merasa terbebani di depan keluargaku, kurasa aku memang seharusnya membelamu. Karena aku bisa lebih mudah berbicara kepada mereka. Sebaliknya, kau juga harus membelaku di depan keluargamu. Bagaimana? Aku mengaku bersalah untuk kejadian hari ini. Maafkan aku.”

Mendengar kata-kata Jeong Dae-hyeon yang tak disangkasangka, amarah Kim Ji-yeong pun surut. “Baiklah,” sahutnya.

“Ada satu cara agar mereka berhenti meributkan masalah ini.”

“Apa?”

“Melahirkan seorang anak. Bagaimanapun, kita memang akan memiliki anak, dan kau tidak perlu lagi menghadapi ocehan orang-orang. Bagaimana kalau kita melahirkan anak

sementara kita masih muda?” kata Jeong Dae-hyeon dengan nada santai dan ringan, seolah-olah ia sedang berbicara tentang

membeli ikan atau berkata bahwa ia ingin menggantung puzzle lukisan “The Kiss” karya Klimt di dinding.

Paling tidak, seperti itulah kedengarannya bagi Kim Jiyeong. Namun, kata-kata Jeong Dae-hyeon tidak salah. Walaupun mereka tidak pernah membahas tentang rencana keluarga mereka atau kapan mereka ingin memiliki anak, mereka berdua tahu mereka pasti akan memiliki anak setelah menikah. Hanya saja, bagi Kim Ji-yeong keputusan itu tidak mudah.

Kim Ji-yeong tidak pernah melihat wanita hamil atau bayi yang baru lahir, karena kakaknya yang menikah setahun lebih cepat juga belum memiliki anak dan sebagian besar temannya tidak terburu-buru menikah. Ia tidak tahu perubahan apa yang akan terjadi pada tubuhnya dan ia tidak yakin ia bisa menyeimbangkan kehidupan profesionalnya dengan kehidupannya sebagai orangtua. Ia dan suaminya sering bekerja sampai larut malam dan sering bekerja di akhir pekan. Masalah itu tidak akan bisa diselesaikan dengan tempat penitipan anak atau pengasuh anak. Orangtua mereka juga tidak bisa dimintai bantuan untuk menjaga anak mereka. Lalu mendadak Kim Ji-yeong merasa bersalah karena berpikir hendak menempatkan anaknya di bawah pengawasan orang lain. Kenapa ia harus melahirkan anak yang bahkan tidak sanggup dibesarkannya sendiri? Kim Ji-yeong mendesah keras.

Jeong Dae-hyeon menepuk pundaknya. “Aku akan membantumu sebaik mungkin. Aku akan mengganti popok, memberinya susu, dan mencuci pakaiannya.”

Kim Ji-yeong berusaha menjelaskan kepada suaminya ten-

tang perasaannya sendiri, apakah ia masih bisa melanjutkan kariernya setelah melahirkan, dan tentang perasaan bersalahnya

karena berpikir seperti ini.

Jeong Dae-hyeon mendengarkan kata-kata istrinya dengan tenang, dan mengangguk-angguk di saat yang tepat. “Tapi, Ji-yeong, sebaiknya kita tidak berpikir apa yang akan hilang dari kita. Coba pikirkan apa yang akan kita peroleh. Menjadi orangtua adalah sesuatu yang sangat berarti. Dan apabila tidak ada yang bisa menjaga anak, kau tidak perlu merasa khawatir apabila kau harus berhenti bekerja. Aku bisa menafkahi kalian. Aku tidak mengharuskanmu terus bekerja.”

“Kalau begitu, apa yang hilang darimu?”

“Hm?

“Kau berkata kita sebaiknya tidak memikirkan apa yang hilang dari kita. Aku mungkin akan kehilangan masa muda, kesehatan, pekerjaan, rekan-rekan kerja, teman-teman, rencana hidup, dan masa depanku. Karena itu aku selalu memikirkan apa yang akan hilang dariku. Tetapi apa yang akan hilang darimu?”

“Aku... aku juga... Aku juga tidak akan sama seperti sekarang. Bagaimanapun, nantinya aku harus pulang lebih cepat sehingga tidak akan bisa berkumpul dengan teman-temanku lagi. Aku juga tidak bisa lagi dengan tenang mengikuti acara kantor atau bekerja lembur. Aku juga pasti akan lelah karena harus membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga sepulang dari kantor. Lalu sebagai kepala keluarga, aku harus... bertanggung jawab! Itu dia. Tanggung jawabku akan sangat besar terhadap dirimu dan anak kita.”

Kim Ji-yeong berusaha memahami alasan Jeong Dae-hyeon,

tapi gagal. Alasan-alasan yang dilontarkan suaminya tadi sepertinya masih terlalu sepele jika dibandingkan dengan peru-

bahan-perubahan yang akan dialami Kim Ji-yeong sendiri. “Begitu rupanya. Kau juga akan susah. Tapi alasan aku bekerja bukan karena kau memintaku bekerja. Aku bekerja karena aku suka bekerja. Aku menyukai pekerjaanku dan uang yang kudapatkan.” Kim Ji-yeong tidak sanggup menyingkirkan perasaan tidak adil dan kehilangan yang menyergap dirinya.

Suatu pagi di akhir pekan, mereka berdua berjalan-jalan di kebun botani. Kebun itu dipenuhi rumput putih. Jeong Daehyeon bertanya, “Memangnya ada rumput berwarna putih di dunia ini?”

“Sepertinya ini semacam tanaman obat,” sahut Kim Jiyeong,

Mereka berdua berjalan melintasi rerumputan. Setelah berjalan beberapa lama, mereka melihat ada sesuatu yang menonjol di tengah-tengah padang rumput. Sesuatu yang bular, hijau, dan sebesar kepala anak kecil. Mereka berjalan mendekat. Ternyata lobak. Lobak raksasa dan berkilau yang setengahnya terkubur di tanah dan setengahnya mencuat ke atas. Kim Ji-yeong mengulurkan tangan untuk mencabut lobak itu, dan lobak itu tertarik keluar dari tanah dengan mudah.

Jeong Dae-hyeon tertawa mendengar cerita Kim Ji-yeong tentang mimpinya. “Maksudmu lobak raksasa seperti yang ada di dalam dongeng? Mimpi aneh macam apa itu?”

Mimpi aneh itu ternyata pertanda kehamilan.

Kim Ji-yeong mengalami mual yang parah di pagi hari, bahkan apabila ia hanya menguap. Di luar itu, ia tidak me-

rasa sakit, bengkak, atau pusing yang parah. Namun, pencernaannya sedikit bermasalah. Ia mengalami konstipasi yang berakibat pada perut kembung. Pinggangnya juga kadangkadang terasa pegal. Ia selalu merasa lelah, tetapi susah tidur.

Perusahaan tempatnya bekerja memberi pertimbangan kepada karyawan wanita yang hamil dengan mengizinkan mereka tiba di kantor tiga puluh menit lebih lambat untuk memastikan keselamatan mereka. Namun, begitu Kim Ji-yeong mengumumkan kehamilannya, para rekan kerja prianya langsung berkomentar, “Wah, enak sekali. Sekarang kau bisa datang terlambat.”

Kalau begitu, kau boleh merasa mual, tidak bisa buang air, lelah, mengantuk, dan sekujur tubuhmu pegal, batin Kim Jiyeong. Namun, ia tidak bisa menyuarakannya. Walaupun ia merasa kesal karena komentar rekan-rekan kerjanya yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang ketidaknyamanan dan penderitaan wanita hamil, ia sadar bahwa orang-orang yang bukan suami atau keluarganya tidak akan pernah mengerti.

Karena Kim Ji-yeong diam saja, seorang rekan kerja pria yang lain berkata, “Walaupun dia masuk kerja 30 menit lebih lambat, dia juga baru boleh pulang 30 menit lebih lambat. Jam kerjanya tetap sama. Lalu apa bedanya?”

“Kita juga tidak pernah pulang tepat waktu di perusahaan ini. Jadi lumayan bisa mendapat keringanan 30 menit.”

Merasa kesal, Kim Ji-yeong pun berkata bahwa ia tidak bermaksud datang terlambat. Ia berkata bahwa ia akan masuk dan bekerja seperti biasa, tidak kurang semenit pun. Ia menyesal

pernah berkata bahwa ia akan berangkat kerja satu jam lebih awal karena ingin menghindari kepadatan di kereta bawah ta-

nah. Mendadak ia berpikir bahwa ia mungkin sudah merampas hak rekan-rekan juniornya sesama wanita dengan sikapnya yang seperti itu. Jika memanfaatkan pertimbangan dan keuntungan yang diberikan kepadanya, ia akan dianggap makan gaji buta. Namun, jika tidak memanfaatkan pertimbangan dan keuntungan itu, ia merampas kesempatan bagi rekan-rekan kerjanya yang lain untuk melakukan hal yang sama.

Ketika ia bekerja di luar kantor, atau pulang di tengah hari, atau dalam perjalanan ke rumah sakit, ia sering diberi tempat duduk di dalam kereta bawah tanah. Namun, tidak di jamjam sibuk. Sambil berdiri dengan tangan menahan pinggang, Kim Ji-yeong menghibur diri dengan berpikir bahwa orangorang bukannya bersikap acuh tak acuh, tetapi mereka hanya terlalu lelah untuk peduli. Sebenarnya ia juga merasa kesal ketika melihat orang-orang yang menunjukkan ekspresi tidak nyaman atau tidak senang ketika ia berdiri di depan mereka.

Pada suatu hari Kim Ji-yeong pulang dari kantor lebih malam. Tidak ada tempat duduk yang kosong, dan bahkan tidak ada tempat pegangan yang kosong. Akhirnya ia berhasil menemukan pegangan di dekat pintu. Seorang wanita setengah baya yang duduk di hadapannya melirik perut Kim Ji-yeong dan bertanya kehamilannya sudah berapa bulan. Karena tidak ingin menarik perhatian orang-orang di sekitarnya, Kim Jiyeong pun tersenyum kikuk dan memberikan jawaban samar. Wanita itu bertanya apakah Kim Ji-yeong baru pulang bekerja. Kim Ji-yeong mengangguk, lalu mengalihkan pandangan.

“Sekarang pinggangmu mulai terasa sakit, bukan? Lutut dan

pergelangan kakimu juga? Sebenarnya minggu lalu aku naik gunung dan pergelangan kakiku terkilir. Sekarang pun masih

berdenyut-denyut walaupun aku duduk begini. Kalau bukan gara-gara pergelangan kakiku, aku pasti sudah menawarkan tempat dudukku kepadamu. Aduh, seandainya ada yang bersedia memberikan tempat duduk mereka. Kau pasti lelah.”

Wanita itu jelas sekali membuat orang-orang di sekitar mereka resah, dan membuat Kim Ji-yeong lebih resah lagi. Kim Ji-yeong bersikeras bahwa ia baik-baik saja, tetapi wanita itu tetap mendesak, sampai Kim Ji-yeong memutuskan pindah tempat. Tepat pada saat itu, seorang gadis yang duduk di samping wanita tadi melompat berdiri dengan kesal. Gadis yang mengenakan sweter berlogo salah satu universitas itu membenturkan bahunya ke bahu Kim Ji-yeong ketika ia berjalan lewat sambil berkata, “Orang yang berkeliaran di kereta bawah tanah dengan perut bunci demi mencari uang masih ingin punya anak?”

Tiba-tiba air mata Kim Ji-yeong terbit. Ternyata aku orang seperti itu. Orang yang mencari uang, orang yang berkeliaran naik kereta bawah tanah, walaupun dalam keadaan hamil. Tidak mampu lagi menahan air mata yang jatuh, ia pun cepat-cepat turun di stasiun berikut. la duduk di salah satu bangku di peron dan menangis untuk waktu yang lama sebelum akhirnya keluar dari stasiun. Walaupun jarak ke rumah masih jauh, walaupun ia berada di tempat asing, dan walaupun ia tidak mengenal jalan-jalan di sini, setidaknya ia sudah keluar dari stasiun. Ada deretan taksi yang menunggu di bahu jalan. Kim Ji-yeong pun masuk ke taksi pertama. Sebenarnya bukan masalah besar ia menangis di dalam kereta bawah tanah,

karena tidak seorang pun mengenalnya. Walaupun tadi ia turun dari kereta karena terlalu terguncang, ia bisa saja naik

kereta berikut. Namun, akhirnya ia memilih naik taksi. Karena pada hari itu, itulah yang ingin dilakukannya.

Dokter kandungan Kim Ji-yeong, yang kehamilannya lebih tua daripada Kim Ji-yeong, tersenyum ramah dan meminta Kim Ji-yeong menyiapkan pakaian berwarna merah muda. Kim Jiyeong dan suaminya tidak mengharapkan jenis kelamin tertentu untuk anak mereka, tetapi jelas sekali bahwa para orangtua pasti mengharapkan anak laki-laki. Hati Kim Ji-yeong terasa berat ketika membayangkan seberapa besar tekanan yang akan dirasakannya begitu para orangtua tahu bahwa anak yang dikandungnya adalah anak perempuan. Ibu Kim Ji-yeong berkata, “Anak berikutnya mungkin laki-laki.” Sedangkan ibu Jeong Dae-hyeon berkata, “Tidak apa-apa.” Kata-kata mereka sama sekali tidak menghibur.

Bukan hanya para orangtua. Kim Ji-yeong sering mendengar orang-orang bercerita tentang bagaimana mereka merasa resah setelah melahirkan anak perempuan dan bukan anak laki-laki, bagaimana mereka merasa bangga di hadapan mertua apabila mereka sedang mengandung anak laki-laki, bagaimana mereka bisa menyantap makanan mahal sepuas hati apabila sedang mengandung anak laki-laki. Kim Ji-yeong juga ingin berkata bahwa ia merasa bangga, bahwa ia makan apa pun yang ingin dimakannya, dan bahwa jenis kelamin anak sama sekali tidak

penting baginya. Namun, entah kenapa ia tetap merasa rendah

diri. Ketika hari persalinan semakin dekat, Kim Ji-yeong bingung

apakah ia harus mengambil cuti melahirkan atau berhenti bekerja sama sekali. Akan lebih menguntungkan apabila ia mengambil cuti melahirkan walaupun nantinya ia memutuskan berhenti bekerja, tetapi hal itu tentu saja tidak akan menguntungkan bagi rekan-rekan kerjanya.

Kim Ji-yeong dan Jeong Dae-hyeon banyak berdiskusi. Mereka membahas kemungkinan apabila Kim Ji-yeong langsung kembali bekerja setelah melahirkan, apabila Kim Ji-yeong baru kembali bekerja setelah mengambil cuti melahirkan selama setahun, apabila Kim Ji-yeong tidak kembali bekerja. Lalu mereka juga membahas siapa yang akan menjaga anak mereka dalam ketiga kemungkinan situasi itu, berapa biayanya, serta semua kelebihan dan kekurangannya. Apabila mereka berdua tetap bekerja, tidak akan ada pilihan lain selain meninggalkan anak mereka di rumah orangtua Jeong Dae-hyeon di Busan atau mempekerjakan pengasuh anak purnawaktu.

Rasanya terlalu berlebihan apabila meninggalkan anak mereka di rumah orangtua di Busan. Walaupun orangtua Jeong Dae-hyeon tidak keberatan mengasuh anak itu, mereka berdua sudah tua dan ibu Jeong Dae-hyeon baru saja menjalani operasi pinggang. Kim Ji-yeong dan Jeong Dae-hyeon sama-sama tidak setuju mempekerjakan pengasuh purnawaktu. Bagaimanapun, pengasuh itu nantinya tidak hanya akan mengasuh anak, tetapi juga akan terlibat dalam kehidupan keluarga mereka. Mencari orang yang bisa mengasuh anak dengan baik saja sudah susah, apalagi mencari seseorang yang bisa diajak hidup bersama dengan baik. Seandainya pun mereka berhasil menemukan

pengasuh yang baik, biayanya sama sekali tidak murah. Ditam-

U2 bah lagi, pengasuh itu harus dipekerjakan sampai kapan? Sam-

pai ketika anak itu sudah bisa berangkat ke sekolah sendiri, berangkat ke tempat kursus sendiri, menyiapkan makan malam sendiri? Dan berapa lama mereka harus hidup dengan perasaan bersalah? Pada akhirnya, mereka memutuskan bahwa salah seorang dari mereka harus berhenti bekerja untuk menjaga anak. Dan sudah sewajarnya Kim Ji-yeong-lah yang harus berhenti bekerja. Hal itu dikarenakan pekerjaan Jeong Dae-hyeon lebih stabil dan penghasilannya lebih besar. Selain itu, praktik umum selama ini adalah suami bekerja dan istri membesarkan anak.

Hal itu bukan sesuatu yang mengejutkan, tetapi Kim Jiyeong tetap merasa tertekan. Jeong Dae-hyeon menepuk bahu Kim Ji-yeong yang melesak dan berkata, “Kalau dia sudah lebih besar, kita bisa mencoba mempekerjakan pengasuh atau menitipkannya ke tempat penitipan anak. Dan selama itu kau bisa belajar lagi atau mencari pekerjaan lain. Kau bisa mengambil kesempatan ini untuk memulai pekerjaan baru. Aku akan membantumu.”

Jeong Dae-hyeon bersikap tulus, dan ia tahu suaminya bermaksud baik, tetapi Kim Ji-yeong mendadak merasa marah. “Tidak bisakah kau berhenti mengoceh tentang bantuan? Kau membantu dalam urusan rumah tangga, membantu membesarkan anak, membantu urusan pekerjaanku. Memangnya rumah ini bukan rumahmu? Memangnya keluarga ini bukan keluargamu? Anak ini bukan anakmu? Lagi pula, selama aku bekerja, memangnya hanya aku sendiri yang menikmati hasilnya? Kenapa kau berbicara seolah-olah kau bersikap murah hati menyangkut pekerjaanku?”

Kim Ji-yeong merasa tidak enak karena marah-marah setelah mereka mencapai kesepakatan. Ia pun meminta maaf kepada

suaminya dengan tergagap. Jeong Dae-hyeon tidak mempermasalahkannya.

Kim Ji-yeong tidak menangis ketika ia memberitahu atasannya bahwa ia akan berhenti bekerja. Ia tidak menangis ketika Kim Eun-sil berkata bahwa ia berharap bisa bekerja sama lagi dengan Kim Ji-yeong di masa depan. Ia juga tidak menangis sementara ia membereskan barang-barang di meja kerjanya setiap hari, ketika menghadiri pesta perpisahaan, dan ketika ia melangkah keluar dari kantornya untuk yang terakhir kali. Keesokan paginya setelah ia berhenti bekerja, ia memanaskan susu untuk Jeong Dae-hyeon yang hendak berangkat kerja, mengantar kepergiannya, lalu tidur kembali sampai ia terbangun pada jam sembilan. Ia berpikir ia harus membeli roti dalam perjalanan ke stasiun kereta bawah tanah, lalu siangnya ia akan makan lebih cepat hari ini dan pergi nonton, dan ia harus mampir ke bank untuk mengurus depositonya yang sudah jatuh tempo. Namun, mendadak ia tersadar bahwa ia tidak lagi harus berangkat kerja. Kesehariannya sudah berubah, dan ia tidak bisa merencanakan apa pun sampai ia sendiri sudah menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya. Saat itulah air matanya baru tumpah.

Itu adalah pekerjaan pertamanya. Itu adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki ke dunia ini. Dunia ini bagaikan hutan belantara. Teman-teman yang ditemuinya setelah lulus kuliah tidak bisa dibilang teman-teman sejatinya, tetapi me-

“Sup kacang kedelai reka tetap teman-temannya. Walaupun perusahaan tempatnya

bekerja memiliki banyak kekurangan dan gaji yang diterimanya kurang memuaskan, perusahaan itu sudah menjadi tempat di mana ia bisa bebas menjadi dirinya sendiri. Rekan-rekan kerjanya juga adalah orang-orang yang baik. Ia bergaul lebih baik dengan mereka daripada dengan teman-temannya di masa sekolah dulu, mungkin karena mereka memiliki minat dan selera yang sama. Walaupun pekerjaannya tidak menghasilkan banyak uang, tidak mengubah dunia, dan tidak membuatnya berhasil mendapatkan apa pun yang diinginkannya, ia tetap merasa masa-masa itu adalah masa-masa yang menyenangkan. la merasa puas setiap kali ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya, dan ia merasa gembira bisa menjalani hidup dengan hasil dari kerja kerasnya sendiri. Namun, semua itu sudah berakhir. Itulah kenyataannya, walaupun Kim Ji-yeong bukan orang yang tidak mampu atau tidak bersungguh-sungguh. Apabila kita memilih tetap bekerja dan meninggalkan anak di bawah pengawasan pengasuh anak, tidak berarti kita tidak menyayangi anak kita. Sama seperti apabila kita berhenti bekerja demi membesarkan anak, tidak berarti kita tidak memiliki semangat untuk bekerja.

Pada tahun 2014 ketika Kim Ji-yeong berhenti bekerja, satu dari lima orang wanita yang sudah menikah di Korea Selatan berhenti bekerja karena alasan perkawinan, kehamilan, persalinan, serta pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka yang masih kecil?. Tingkat partisipasi wanita Korea dalam ak-

tivitas perekonomian sebelum dan sesudah melahirkan turun

 Kehidupan Wanita dalam Statistik 2015, Kantor Stastistik Nasional, drastis. 63,8Yo wanita dalam kategori usia antara 20 sampai 29

tahun berpartisipasi dalam kegiatan perekonomian, lalu angka itu turun menjadi 5890 dalam kategori usia 30 sampai 39 tahun, lalu naik lagi menjadi 66,796 di kategori usia 40-an ta-

hun,

Kim Ji-yeong tidak merasa sakit sampai setelah hari persalinannya berlalu dan anaknya masih belum lahir. Anaknya semakin besar dan cairan amniotiknya semakin berkurang, jadi pada akhirnya induksi pun dilakukan. Pada malam sebelum Kim Ji-yeong harus masuk rumah sakit, ia dan Jeong Daehyeon makan empat porsi daging, semangkuk nasi, lalu tidur lebih awal. Hanya saja, Kim Ji-yeong tidak bisa tidur. Ia merasa takut sekaligus penasaran. Kenangan-kenangan kecil dari masa lalu tebersit dalam benaknya. Kenangan ketika kakaknya membantunya mengerjakan PR saat ia masih kecil, kenangan tentang Ibu yang lupa menyiapkan bekal kimbap untuknya di hari pinik sekolah, dan kenangan ketika kakaknya membeli kerupuk beras untuknya saat rasa mual akibat kehamilannya sedang parah. Perasaan dan kesan dari masamasa itu terbayang dengan sangat jelas. Ia akhirnya terlelap ketika fajar menjelang, dan ia berkali-kali bermimpi tentang melahirkan anak.

Setibanya di rumah sakit, Kim Ji-yeong berganti pakaian, melakukan enema, membiarkan mereka memasang alat peme-

“Choi Min-jeong, Kenyataan dan Tantangan dari Kebijakan Dukungan untuk Wanita, Forum Kesehatan dan Kesejahteraan 2015. 9, halaman 63. riksa gerakan janin, lalu berbaring di ruang bersalin untuk

menerima suntikan induksi. Lalu ia mulai merasa mengantuk. Namun, setiap kali ia hendak tertidur, dua orang perawat dan seorang dokter bergantian melakukan pemeriksaan dalam. Pemeriksaannya agak berbeda dengan pemeriksaan biasa. Mereka seolah-olah sedang berusaha menggapai tangan si bayi dan menariknya keluar. Rasanya seperti ada angin puting beliung atau gempa bumi yang terjadi di dalam tubuh Kim Ji-yeong. Perlahan-lahan, rasa sakit mulai terbit di bagian bawah tulang punggungnya. Rasa sakit iru semakin besar, semakin sering, dan tidak lama kemudian, Kim Ji-yeong mulai berteriak-teriak sambil mencengkeram bantal. Rasa sakit di pinggangnya berlanjut, dan ia merasa seperti mainan Lego yang pinggangnya diputar ke belakang. Namun, rahimnya tetap tidak membuka dan bayinya tidak turun. Tidak tahan lagi, Kim Ji-yeong pun meminta suntikan epidural. Suntikan itu memberikan waktu dua setengah jam penuh kedamaian kepada Kim Ji-yeong dan suaminya. Hanya saja, rasa sakit yang muncul setelah jeda singkat itu jauh lebih besar.

Bayinya lahir pada jam empat pagi. Melihat bayinya yang cantik, air mata Kim Ji-yeong mengalir lebih deras daripada ketika ia sedang menahan sakit. Namun, bayi cantik itu terus menangis sepanjang malam apabila tidak digendong, jadi Kim Ji-yeong pun mengerjakan pekerjaan rumah tangga, pergi ke kamar mandi, dan tidur sambil menggendong bayinya. Kim Ji-yeong sering menangis karena seluruh tubuhnya sakit. Ia harus menyusui bayinya setiap dua jam, yang berarti ia pun tidak bisa tidur lebih dari dua jam. Ia harus menjaga rumahnya

dua kali lebih bersih daripada dulu, ia harus mencuci pakaian dan handuk bayinya, dan ia harus memaksa diri rajin makan

agar ASI-nya lancar.

Suatu hari, ia tidak bisa menggerakkan pergelangan tangannya. Pada hari Sabtu pagi, ia meminta Jeong Dae-hyeon menjaga bayi mereka sementara ia pergi ke klinik ortopedi di depan rumah mereka, tempat ia dulu pernah berobat untuk pergelangan kakinya yang terkilir. Dokter pria yang sudah tua itu berkata bahwa pergelangan tangan Kim Ji-yeong meradang, tetapi tidak parah. Lalu ia bertanya apakah Kim Ji-yeong bekerja menggunakan pergelangan tangannya. Ketika Kim Ji-yeong menjawab bahwa ia baru saja melahirkan beberapa waktu yang lalu, dokter itu pun mengangguk-angguk mengerti.

“Setelah melahirkan, persendian bisa melemah. Aku tidak bisa memberimu obat karena kau sedang menyusui. Apakah kau bisa datang untuk menjalani terapi?”

Kim Ji-yeong menggeleng.

“Jangan terlalu banyak menggerakkan pergelangan tanganmu. Tidak ada pilihan lain.”

“Aku harus mengasuh anak, mencuci pakaian, membersihkan rumah... Aku tidak mungkin tidak menggerakkan pergelangan tanganku,” kata Kim Ji-yeong lirih.

Dokter tua itu tersenyum lebar. “Orang-orang zaman dulu harus menggunakan kayu pemukul untuk mencuci pakaian, lalu merebusnya di atas api, lalu mengucek-uceknya sambil berjongkok. Sekarang ada mesin cuci dan pengisap debu. Wanita zaman sekarang tidak perlu repot-repot, bukan?”

Pakaian kotor tidak bisa berjalan sendiri ke dalam mesin cuci, air dan deterjen juga tidak bisa masuk sendiri, dan pa-

kaian yang sudah selesai dicuci juga tidak bisa menyampirkan diri sendiri ke tali jemuran. Pengisap debu juga tidak berjalan-

jalan sendiri sambil membawa lap basah. Kim Ji-yeong bertanya-tanya apakah dokter itu pernah menggunakan mesin cuci atau pengisap debu.

Sang dokter membaca riwayat kesehatan Kim Ji-yeong di layar komputer, mengeklik mouse-nya beberapa kali, lalu berkata bahwa ia akan meresepkan obat yang aman dikonsumsi saat menyusui. Dokter zaman dulu harus mencari catatan kesehatan pasien dan menulis resep secara manual, tetapi dokter zaman sekarang tidak perlu repot-repot, bukan? Karyawan kantor di zaman dulu harus membawa setumpuk kertas laporan dan pergi menemui atasan mereka untuk meminta persetujuan, tetapi karyawan zaman sekarang sama sekali tidak perlu repot-repot, bukan? Para petani zaman dulu harus menanam padi dengan tangan dan memotong padi dengan sabit, tetapi para petani zaman sekarang sama sekali tidak perlu repot-repot, bukan? Mudah sekali mengucapkan kata-kata seperti itu. Semua orang mengakui bahwa teknologi terus berkembang dan kebutuhan akan tenaga fisik semakin berkurang. Lain halnya dengan pekerjaan rumah tangga. Setelah menjadi ibu rumah tangga, Kim Ji-yeong sering merasa bahwa masih ada dualisme dalam pendapat orang-orang tentang ibu rumah tangga. Kadang-kadang mereka meringankan situasi dengan berkata bahwa menjadi ibu rumah tangga sama dengan bersantai-santai saja di rumah. Kadang-kadang mereka justru menganggap menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang paling penting di dunia. Karena apabila sesuatu sudah diberi harga, seseorang harus membayar-

nya.

Pk Ibu Kim Ji-yeong tidak bisa membantu karena kesibukannya

di restoran. Banyak restoran baru yang bermunculan di sekitar restoran mereka, sehingga keadaan restoran bubur mereka pun tidak lagi sebaik dulu. Demi mengurangi pengeluaran biaya, mereka harus mengurangi jumlah karyawan, yang berarti tugas Ibu pun semakin banyak. Namun, restoran mereka masih bisa mendatangkan penghasilan yang cukup untuk membiayai pendidikan putra mereka yang berlangsung lebih lama. Kadang-kadang, Ibu datang mengunjungi Kim Ji-yeong sambil membawa makanan dari restoran.

“Melihat dirimu yang kurus kering mampu melahirkan anak, menyusuinya, dan membesarkannya sendiri membuatku bangga. Kasih sayang seorang ibu memang tak terukur,” kata ibunya.

“Seperti apa dulu ketika Ibu membesarkan kami? Tidak kerepotan? Tidak menyesal? Apakah saat itu Ibu merasa luar biasa?”

“Astaga. Dulu kakakmu sering menangis. Dia menangis sepanjang siang dan malam sampai aku harus membawanya ke rumah sakit berulang kali. Walaupun anak sudah tiga, ayahmu tidak pernah sekali pun menyentuh popok, dan nenekmu masih harus diberi makan tiga kali sehari. Banyak pekerjaan yang harus dilakukan sementara aku selalu merasa mengantuk, badanku selalu terasa sakit, dan hidup terasa seperti neraka.”

Namun, kenapa Ibu tidak pernah bercerita tentang kesulitan yang dialaminya? Tidak hanya ibu Kim Ji-yeong, tetapi semua kerabat, rekan senior, dan teman-teman yang pernah melahirkan tidak pernah memberikan informasi yang tepat. Di film-

film, bayi-bayi yang dilahirkan selalu terlihat menggemaskan, dan ibu-ibu mereka sekali terlihat cantik dan anggun. Tentu

saja Kim Ji-yeong akan membesarkan anak dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab. Hanya saja, ia sama sekali tidak suka mendengar kata-kata seperti “bangga” atau “luar biasa”. Karena apabila ia mendengar kata-kata itu, ia merasa seharusnya ia tidak merasakan semua kesulitan yang dihadapinya ini.

Pada tahun ketika Kim Ji-yeong menikah, ada film dokumenter yang ditayangkan di televisi tentang peningkatan persalinan secara alami dan banyak buku tentang topik itu juga mulai diterbitkan. Intinya adalah mengurangi campur tangan medis dan membiarkan bayi lahir dengan sendirinya. Namun, proses itu menyangkut nyawa dua orang. Kim Ji-yeong memilih melahirkan di rumah sakit karena ia merasa lebih aman apabila ia mendapat bantuan para ahli, dan ia merasa metode persalinan yang dipilih tergantung sepenuhnya pada pendapat dan situasi orangtua yang bersangkutan. Satu metode tidak lebih baik daripada metode yang lain. Namun, tidak sedikit media yang memberitakan bahwa perawatan di rumah sakit dan obat-obatan yang diberikan bisa berpengaruh buruk bagi anak-anak, membuat orang-orang merasa bersalah dan resah. Orang-orang yang langsung minum obat ketika kepala mereka sakit sedikit, orang-orang yang langsung mengoleskan salep ketika kulit mereka terluka sedikit, merekalah yang justru mendesak para calon ibu agar tidak membiarkan rasa takut dan rasa sakit mengalahkan mereka. Dengan alasan bahwa itu adalah kasih sayang seorang ibu. Mungkin ada agama yang diberi nama “naluri keibuan” di dunia ini. Percayalah pada “naluri keibuan”. Surga pun akan mendekat!

“Terima kasih karena sudah sering membawakan makanan. Tanpa Ibu, aku pasti sudah mati kelaparan,” kata Kim Ji-

yeong. Hanya itu yang bisa dikatakannya.

Mantan rekan sekantornya, Kang Hye-soo, mengambil cuti sehari dan datang mengunjunginya sambil membawa pakaian bayi, popok, dan Jipglass.

“Lipeloss? Untuk apa?” tanya Kim Ji-yeong.

“Itu warna yang kupakai sekarang. Warnanya bagus, bukan? Karena warna kulit kita sama, warna yang kita sukai pasti juga sama.”

Untunglah Kang Hye-soo tidak berkata bahwa walaupun Kim Ji-yeong sudah menjadi ibu, ia tetap adalah wanita. Atau bahwa Kim Ji-yeong seharusnya merias diri dan tidak hanya berdiam diri di rumah. Kang Hye-soo hanya berkata bahwa ia menghadiahkan lipgloss itu kepada Kim Ji-yeong karena ia merasa warnanya cocok untuk Kim Ji-yeong. Itu saja. Tidak bertele-tele. Suasana hati Kim Ji-yeong pun membaik dan ia langsung mencoba /lipgloss itu. Ternyata benar, warnanya sangat sesuai untuknya, dan Kim Ji-yeong pun merasa semakin gembira.

Mereka berdua mengobrol sambil menyantap jjajangmnyeon dan daging asam manis yang dibeli dari restoran Cina. Di sela-sela itu, Kim Ji-yeong menyusui anaknya, Jeong Ji-won, memberinya makanan bayi, mengganti popoknya, dan menggendongnya apabila anak itu mulai menangis. Kang Hye-soo tidak berani menyentuh bayi kecil, tetapi ia membantu memanaskan makanan bayi di microwave, mengambilkan popok, dan membereskan piring-piring bekas makan. Ia menunduk menatap Ji-won yang sudah tidur dan berkata, “Dia sangat manis. Tapi itu tidak berarti aku ingin punya anak.”

“Ya, dia memang manis. Tapi itu tidak berarti kau harus punya anak. Sungguh. Tapi kalau-kalau kau berubah pikiran,

aku akan menyumbangkan pakaian Ji-won kepadamu.”

“Bagaimana kalau anakku laki-laki?”

“Kau tahu betapa mahalnya pakaian bayi? Selama kau bisa mendapat pakaian gratis, kau tidak akan mempermasalahkan apakah warnanya merah muda atau warna apa pun.”

Kang Hye-soo tertawa terbahak-bahak.

“Omong-omong, kenapa kau tidak bekerja hari ini? Di kantor tidak sibuk?” ranya Kim Ji-yeong.

Kang Hye-soo berkata bahwa keadaan di kantor sedang kacau. Ada kamera tersembunyi yang ditemukan di toilet wanita yang berada tepat di depan ruang kerja mereka. Pelakunya adalah salah seorang pria berusia 20-an yang bekerja sebagai petugas keamanan di gedung itu. Tahun lalu, perusahaan mereka menandatangani kontrak dengan perusahaan keamanan baru, dan mereka mengganti para petugas keamanan yang sudah tua dengan anak-anak muda. Sebagian orang berkata bahwa mereka merasa lebih tenang dengan adanya petugas-petugas keamanan yang masih muda, tetapi sebagian orang lain berkata bahwa mereka justru merasa lebih takut pada petugas keamanan daripada pencuri.

Kim Ji-yeong bertanya-tanya ke mana perginya para petugas keamanan yang dulu.

Yang lebih menyedihkan adalah bagaimana keberadaan kamera tersembunyi itu akhirnya diketahui. Si perugas keamanan memasang serangkaian foto-foto yang diambilnya secara diamdiam di salah satu situs khusus dewasa, yang kemudian ditemukan oleh salah seorang manajer pria dari kantor mereka yang

juga adalah anggota situs itu. Si manajer merasa sepatu dan pakaian yang dikenakan para wanita di dalam kamar kecil itu

tidak asing, lalu ia menyadari bahwa semua wanita itu adalah rekan kerjanya. Namun, ia malah menyebarkan foto-foto itu kepada para rekan kerja pria yang lain tanpa melaporkannya kepada polisi atau memberitahu para korban. Tidak ada yang tahu foto-foto apa saja yang tersebar, berapa banyak pria yang melihat foto-foto itu, berapa lama foto-foto itu sudah tersebar, dan apa saja yang dibicarakan para pria menyangkut foto-foto itu. Kemudian seorang karyawan pria lain yang melihat foto itu mendesak kekasihnya yang juga bekerja di perusahaan yang sama agar menggunakan toilet lain. Wanita itu merasa aneh dan menuntut kekasihnya menjelaskan apa yang terjadi. Saat itulah segalanya baru terkuak. Hanya saja, wanita itu juga tidak bisa langsung menceritakannya kepada orang lain. Karena hubungannya dengan si kekasih masih belum diketahui siapa pun. Pada akhirnya wanita itu hanya memberitahu seorang rekan kerja yang akrab dengannya. Dan orang itu adalah Kang Hye-soo.

“Aku sudah memberitahu semua karyawan wanita. Kami pergi mencari kamera itu bersama-sama dan melaporkannya kepada polisi. Sekarang si petugas keamanan gila dan semua karyawan pria yang menjijikkan itu sedang diperiksa kepolisian.”

“Oh, menjijikkan. Benar-benar menjijikkan.” Hanya katakara itu yang meluncur dari mulut Kim Ji-yeong. Tepat pada saat itu, Kim Ji-yeong bertanya-tanya apakah dirinya juga sempat difoto, apakah fotonya sudah dilihat oleh orang-orang di kantor, apakah fotonya saat ini sudah tersebar di internet.

Seolah-olah bisa membaca pikiran Kim Ji-yeong, Kang

Hye-soo berkata bahwa kamera itu baru dipasang musim panas ini, setelah Kim Ji-yeong berhenti bekerja. “Sebenarnya

aku pergi menemui psikiater. Walaupun aku tertawa dan bersikap seolah-olah semua baik-baik saja, sebenarnya aku sudah nyaris gila. Setiap kali menatap mata seseorang, aku selalu bertanya-tanya apakah mereka sudah melihat fotoku. Setiap kali ada yang tertawa, aku selalu merasa seolah-olah mereka menertawakanku. Rasanya seolah-olah semua orang di dunia mengenalku. Banyak karyawan wanita yang minum obat dan menghadiri konseling. Jeong-eun bahkan sempat dilarikan ke UGD karena menelan obat tidur. Dua orang karyawan di bagian Umum, Choi Hye-ji dan Park Seon-yeong, sudah berhenti bekerja.”

Seandainya Kim Ji-yeong masih bekerja, kemungkinan besar dirinya juga akan difoto. Ia mungkin juga akan merasa tertekan, masuk rumah sakit, lalu berhenti bekerja seperti karyawan-karyawan wanita yang lain. Ia tidak pernah menyangka kasus foto telanjang bisa terjadi pada orang-orang biasa. Gara-gara petugas keamanan pria yang memasang kamera tersembunyi itu dan para karyawan pria yang melihat foto-foto itu, Kang Hye-soo berkata bahwa di dunia ini tidak ada lagi pria yang bisa dipercaya.

“Tetapi para karyawan pria yang diperiksa polisi berkata bahwa kita terlalu berlebihan. Kata mereka, bukan mereka yang memasang kamera itu dan bukan mereka yang mengambil foto-foto itu. Mereka hanya melihat foto-foto itu di sembarang situs, tetapi malah dianggap sebagai pelaku pelecehan seksual. Tapi mereka menyebarkan foto-foto itu. Mereka mendukung kejahatan. Dan mereka tidak sadar itu salah?

Benar-benar tidak bisa dipercaya.”

Ea Ketua tim mereka, Kim Eun-sil, dan beberapa orang korban

lain yang masih bisa bersikap tegar berkumpul dan menerima konseling dari organisasi wanita. Saat ini Kim Eun-sil berencana memulai usahanya sendiri dan ia akan mengajak beberapa karyawan wanita pilihan untuk ikut bergabung. Ia sudah menuntut pernyataan maaf, janji bahwa hal seperti ini tidak akan terjadi lagi, dan menuntut hukuman untuk orang-orang yang bertanggung jawab, tetapi direktur mereka justru mencoba menutup-nutupi kasus ini.

“Apa yang akan terjadi pada perusahaan ini kalau semua orang sampai tahu? Semua karyawan pria memiliki keluarga dan orangtua. Kita tidak mungkin merusak kehidupan mereka, bukan? Bagaimanapun, kalian para wanita juga yang akan dirugikan apabila semua orang tahu foto-foto kalian tersebar luas.”

Sang direktur benar-benar memiliki pikiran yang jauh lebih sempit dibandingkan orang-orang sebaya dirinya. Mendengar pernyataan konyol, defensif, egois, dan penuh pembelaan diri yang meluncur dari mulut sang direktur, Kim Eun-sil pun tidak bisa menahan diri lagi dan berkata, “Punya istri dan orangtua bukan alasan untuk memaafkan perbuatan seperti itu. Justru sebaliknya. Sebaiknya Anda mengubah jalan pikiran Anda. Jika Anda terus hidup dengan pola pikir seperti itu, walaupun Anda beruntung bisa menghindari masalah kali ini, hal seperti ini akan terjadi lagi. Anda tahu selama ini kita sama sekali belum menerima pelatihan yang memadai untuk mencegah pelecehan seksual, bukan?”

Sebenarnya Kim Eun-sil juga takut dan frustrasi. Kim Eun-

sil, Kang Hye-soo, dan para korban yang sama-sama khawatir ingin masalah ini segera diselesaikan sehingga segalanya

bisa kembali normal. Sementara para pelaku kejahatan mencemaskan sedikit hal remeh yang akan hilang dari mereka,

para korban harus bersiap-siap kehilangan segalanya.

Ketika berumur satu tahun, Jeong Ji-won pun mulai dititipkan ke tempat penitipan anak. Untunglah ia bisa menyesuaikan diri dengan baik. Ia tiba di sana jam 9.30, menyantap camilan, bermain sebentar, lalu makan siang. Jam 13.00 ia pulang ke rumah untuk tidur siang. Di luar waktu yang dibutuhkan untuk mengantar dan menjemput Ji-won, Kim Ji-yeong memiliki waktu kurang lebih tiga jam untuk dirinya sendiri. Namun, waktu itu bukan sepenuhnya waktu istirahat baginya. Ia harus mencuci pakaian, mencuci piring-piring kotor yang menumpuk, membersihkan rumah, lalu menyiapkan camilan dan makanan untuk anaknya. Jarang sekali ia bisa duduk minum kopi dengan tenang.

Pada kenyataannya, waktu santai seorang ibu rumah tangga yang mengurus anak-anak kecil berusia O sampai 2 tahun adalah sekitar 4 jam 10 menit setiap hari, dan waktu santai seorang ibu rumah tangga yang menitipkan anaknya ke semacam institusi adalah 4 jam 25 menit. Hanya selisih 15 menit. Ini berarti menitipkan anak ke institusi tidak berarti seorang ibu rumah tangga bisa beristirahat. Perbedaannya hanyalah mengerjakan pekerjaan rumah tangga tanpa menggendong anak atau sambil

menggendong anak”. Tentu saja, Kim Ji-yeong merasa jauh

“ Akbir Ibu Rumah Tangga, Hankyoreh21, no. 948, lebih nyaman karena bisa berkonsentrasi hanya pada pekerjaan

rumah tangga.

Pengawas di tempat penitipan anak berkata bahwa Ji-won boleh dititipkan di sana sampai setelah ia bangun dari tidur siangnya, karena Ji-won anak yang penurut dan mudah menyesuaikan diri. Kim Ji-yeong bermaksud tetap akan membawa pulang anaknya setelah jam makan siang, tetapi karena ia diberitahu ia boleh menitipkan anaknya sedikit lebih lama, ia pun ingin mencobanya.

Sebelum Ji-won lahir, Jeong Dae-hyeon dan Kim Ji-yeong memiliki penghasilan ganda dan rajin menabung, sehingga mereka mampu melunasi seluruh biaya sewa apartemen mereka. Hanya saja, di akhir masa kontrak dua tahun, pemilik apartemen menaikkan harga sewa sebesar 60 juta won karena situasi pasar, sehingga Kim Ji-yeong dan Jeong Dae-hyeon harus mengambil pinjaman. Penghasilan Jeong Dae-hyeon sama sekali belum cukup untuk membeli rumah kecil tempat ia bisa hidup tenang bersama keluarga kecilnya tanpa perlu memikirkan uang sewa atau keharusan pindah rumah. Mereka juga harus memikirkan uang sekolah dan uang kursus setelah Ji-won besar nanti. Kim Ji-yeong merasakan tekanan besar untuk menghasilkan uang. Harga sewa, harga barang, dan uang sekolah terus meningkat. Semua orang pasti akan merasa kesulitan, kecuali mereka mendapat warisan dalam jumlah besar atau mereka adalah pekerja profesional dengan gaji besar.

Banyak juga para ibu di sekitar Kim Ji-yeong yang menitipkan anak-anak mereka ke semacam institusi dan kembali

bekerja. Ada yang bekerja sebagai pekerja lepas (freelance), ada yang memasuki pasar pendidikan privat seperti menjadi guru

les yang datang ke rumah atau guru di tempat kursus. Tetapi sebagian besarnya melakukan pekerjaan paruh waktu seperti menjadi kasir, pelayan restoran, agen pemurni air, dan staf telekonseling. Lebih dari separuh wanita yang berhenti bekerja tidak mampu mencari pekerjaan baru selama lebih dari lima tahun. Mencari pekerjaan baru sudah cukup menyulitkan, ditambah lagi jenis pekerjaan yang ada sering kali tidak memadai. Ketika hendak melamar kerja kembali serelah menikah dan mengundurkan diri dari perusahaan sebelumnya, kemungkinan besar wanita hanya akan diterima di perusahaanperusahaan kecil dengan jumlah karyawan kurang dari empat orang. Kesempatan mereka bekerja di bidang industri atau manajerial juga mengecil. Mereka akan lebih banyak mendapat pekerjaan yang berhubungan dengan penyewaan akomodasi, restoran, dan penjualan. Tentu saja, gaji yang didapat tidak terlalu bagus:.

Dengan kebijakan penitipan anak gratis, orang-orang berkata bahwa para ibu muda zaman sekarang menitipkan anak-anak mereka ke tempat penitipan supaya mereka sendiri bisa pergi minum kopi, melakukan perawatan kuku, dan berjalan-jalan di mal. Namun pada kenyataannya, hanya sebagian kecil orang berusia 30-an yang memiliki kekuatan ekonomi sebesar itu di Korea Selatan. Justru lebih banyak ibu yang mendapat gaji minimum dengan menyajikan makanan di restoran dan kafe, merawat kuku orang lain, dan menjual barang-barang di super-

“Kim Yeong-ok, Wanita yang Berhenti Bekerja dan Kebijakannya, Analisis Pasar Tenaga Kerja KEIS 2015, market atau pusat perbelanjaan. Setelah anaknya lahir, setiap

kali Kim Ji-yeong melihat wanita-wanita pekerja, ia selalu bertanya-tanya apakah mereka memiliki anak, berapa usia anakanak mereka, dan siapa yang mengasuh anak mereka. Resesi ekonomi, harga barang yang tinggi, situasi pekerjaan yang sulit... Banyak orang yang menolak menerima kenyataan bahwa pria dan wanita juga merasakan kesulitan hidup yang sama.

Ketika Kim Ji-yeong pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan setelah menitipkan anaknya ke tempat penitipan anak, ia melihat iklan lowongan pekerjaan paruh waktu di toko es krim yang ada di dekat di pintu masuk supermarket. Jam kerjanya mulai dari jam sepuluh pagi sampai jam empat sore. Gaji 5.600 won per jam. Ibu-ibu rumah tangga dipersilakan melamar. Mata Kim Ji-yeong berkilat-kilat. Sepertinya karyawan yang saat ini bekerja di toko es krim juga adalah ibu rumah tangga. Kim Ji-yeong pun terpaksa membeli sebuah es krim yang sebenarnya tidak diinginkannya sementara ia bertanya tentang lowongan pekerjaan itu. Si karyawan menjelaskan dengan ramah. Katanya, ia adalah ibu dengan dua anak, dan ia sudah bekerja selama empat tahun sementara anak-anaknya dititipkan ke tempat penitipan anak. Ia terpaksa berhenti bekerja karena anak sulungnya akan segera masuk SD.

“Karena toko kami ada di dalam gedung, tidak ada banyak pembeli di hari-hari biasa. Kalau cuaca sedang dingin, toko lebih sepi lagi. Pada awalnya, lenganku agak pegal karena harus menyendok es krim, tetapi sekarang aku sudah terbiasa.”

“Tapi tidakkah seharusnya status Anda berubah menjadi pegawai tetap apabila Anda sudah bekerja selama dua tahun?”

“Astaga. Anda terlalu polos. Mana ada pekerjaan paruh waktu dengan kontrak kerja yang ditandatangani dan asuransi?

Hanya ada kesepakatan verbal. Mereka berkata, “Anda bisa mulai bekerja besok.' Lalu kita berkata, “Baiklah.” Gaji ditransfer ke rekeningku, lalu pindah ke rekening suamiku. Begitulah. Tetapi karena aku sudah bekerja cukup lama, aku akan mendapat pesangon.


Mungkin karena Kim Ji-yeong juga punya anak, atau mungkin karena sikap Kim Ji-yeong yang naif, si pegawai toko es krim terlihat peduli padanya. Katanya, tidak banyak pekerjaan yang bisa dilakukan selama anak berada di tempat penitipan, dan tidak ada banyak lowongan pekerjaan seperti ini, jadi ia akan menyimpan iklan lowongan pekerjaannya supaya Kim Jiyeong bisa berpikir-pikir dulu dan menghubunginya kembali.

Kim Ji-yeong berkata bahwa ia akan berdiskusi dengan suaminya, lalu berbalik hendak pergi.

Wanita itu mendadak berkata, “Sebenarnya aku juga lulusan universitas.”

Ucapannya yang tak terduga membuat Kim Ji-yeong menangis. Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di telinganya. Ketika Jeong Dae-hycon pulang dari kantor malam itu, Kim Ji-yeong pun meminta pendapatnya.

Jeong Dae-hyeon melirik jam, berpikir sejenak, lalu balas bertanya, “Apakah kau ingin melakukannya?”

Sebenarnya Kim Ji-yeong tidak suka es krim. Ia tidak tertarik pada es krim dan ia tidak mau belajar atau terus bekerja di industri yang berhubungan dengan es krim. Bekerja paruh waktu tidak akan membuatnya diangkat menjadi karyawan tetap, manajer, atau membuatnya bisa bekerja di divisi yang diingin-

kan. Mungkin gaji per jam hanya akan naik setiap tahun mengikuti kenaikan gaji minimum. Pekerjaan seperti ini tidak memi-

liki masa depan, tetapi keuntungan yang diterima secara langsung sangat jelas. Penghasilan sebesar 700.000 won sebulan bukan jumlah yang bisa diabaikan keluarga dengan pekerjaan biasa. Selain menitipkan anaknya di tempat penitipan, ia tidak perlu mencari pengasuh anak lain. Ja juga masih bisa mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kim Ji-ycong merasa sulit memutuskan.

“Kau ingin melakukannya?” tanya Jeong Dae-hyeon sekali lagi.

“Tidak juga,” sahut Kim Ji-yeong.

“Tentu saja tidak semua orang bisa melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Tapi, Ji-yeong, saat ini aku melakukan apa yang ingin kulakukan. Walaupun begitu, aku tidak mampu membantumu agar bisa melakukan apa yang ingin kaulakukan. Aku juga tidak ingin menyuruhmu melakukan apa yang tidak ingin kaulakukan. Itulah yang kupikirkan.”

Setelah sepuluh tahun, Kim Ji-yeong kembali mencemaskan kariernya. Sepuluh tahun yang lalu, tes minat dan kualifikasilah yang dianggap paling penting, tetapi sekarang ada jauh lebih banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Prioritas utama tentu saja mengasuh Ji-won sebaik mungkin, dan Kim Ji-yeong bisa bekerja hanya dengan menitipkan Ji-won ke tempat penitipan tanpa perlu mempekerjakan pengasuh lain.

Selama bekerja di perusahaan humas, Kim Ji-yeong sebenarnya ingin menjadi reporter. Walaupun pada kenyataannya sulit sekali memasuki perusahaan media sebagai karyawan baru, ia berpikir ia mungkin bisa mencoba menjadi reporter

lepas atau penulis lepas. Gagasan memulai sesuatu setelah sekian lama membuatnya bersemangat. Pertama-tama, ia me-

meriksa institusi-institusi pendidikan yang relevan dan menyadari bahwa sebagian besar kelasnya adalah kelas malam. Waktu yang tepat untuk para pegawai kantoran yang baru pulang bekerja. Hanya saja, saat itu tempat penitipan anak sudah ditutup, dan walaupun suaminya pulang kerja tepat waktu, Kim Ji-yeong tetap akan tiba terlambat di tempat kursus. Ia mencari informasi tentang pengasuh anak yang bisa menjaga Ji-won selama waktu kursus, tetapi justru lebih sulit mencari pengasuh yang bersedia menjaga anak selama waktu yang singkat. Sebenarnya Kim Ji-yeong sudah merasa lelah karena harus mencari pengasuh walaupun ia belum bekerja dan hanya sekadar mengikuti kursus. Biaya kursus dan biaya pengasuh pasti juga akan semakin membebaninya. Kursus-kursus di siang hari sebagian besar adalah kelas-kelas yang berhubungan dengan hobi, dan kursus untuk mendapatkan sertifikat sebagai guru les untuk anak-anak. Kalau mampu, ia bisa memiliki hobi. Kalau tidak mampu, ia bisa menjadi guru les. Ia merasa dibatasi dalam hal minat dan bakat karena sudah memiliki anak. Semangatnya mereda dan ia mulai merasa lesu. Ketika ia kembali mengunjungi toko es krim setelah beberapa waktu, sudah ada karyawan paruh waktu yang baru di sana. Kim Ji-yeong pun memutuskan apabila ia menemukan pekerjaan paruh waktu yang sesuai dengan waktu dan situasinya, ia

akan langsung menerimanya, apa pun industrinya.

Musim panas sudah berlalu, dan sekarang musim gugur benar-

benar sudah dimulai. Kim Ji-yeong menjemput Ji-won dari tempat penitipan dan mendudukkannya di dalam kereta bayi.

Sebelum cuaca bertambah dingin, ia pun pergi ke taman di dekat sana untuk menikmati sinar matahari dan udara segar, sementara bayinya tidur di dalam kereta dorong. Walaupun berpikir sudah waktunya pulang, Kim Ji-yeong terus berjalan karena cuaca hari itu sangat indah. Ada sebuah kafe yang mengadakan program diskon di lantai dasar gedung di seberang taman. Kim Ji-yeong pun membeli secangkir kopi Americano dan duduk di bangku taman.

Ji-won tidur dengan liur yang membasahi mulutnya. Kopi yang akhirnya bisa diminum Kim Ji-yeong setelah sekian lama juga terasa enak. Ada beberapa karyawan kantoran berusia 30-an yang duduk di bangku di samping bangku Kim Ji-yeong sambil menikmati kopi yang juga dibeli dari kafe yang sama. Walaupun ia tahu para karyawan kantoran itu mungkin merasa lelah dan frustrasi, Kim Ji-yeong tidak bisa menahan rasa irinya sementara ia mengamati mereka. Saat itu salah seorang pria yang duduk di sana melirik Kim Ji-yeong, lalu mengatakan sesuatu kepada rekan kerjanya. Kim Ji-yeong bisa mendengarkan percakapan mereka, walaupun tidak terlalu jelas.

“Aku juga mau punya suami yang bekerja sehingga aku bisa berjalan-jalan santai sambil minum kopi.”

“Ibu-ibu kafe memang beruntung.”

“Aku tidak sudi menikah dengan wanita Korea.”

Kim Ji-yeong berjalan begitu cepat meninggalkan taman sampai kopi yang dipegangnya tumpah mengenai punggung tangannya. Ia terus mendorong kereta bayi sampai ke rumah, tidak menyadari anaknya sudah terbangun dan menangis. Ia

melamun sepanjang siang. Ia menyuapi sup yang belum dihangatkan kepada anaknya, ia lupa memakaikan popok Ji-won

sampai pakaian Ji-won pun kotor semua, ia lupa tadi mencuci pakaian di mesin cuci dan baru teringat setelah Ji-won tidur sehingga pakaian yang dijemur pun sudah kusut dan kaku. Karena menghadiri acara kantor, Jeong Dae-hyeon baru tiba di rumah setelah lewat tengah malam. Ketika Jeong Daehyeon meletakkan sebungkus roti berbentuk ikan isi kacang merah di meja, Kim Ji-yeong baru menyadari bahwa ia sama sekali belum makan siang dan makan malam hari ini. Ketika ia berkata ia belum makan sama sekali sejak pagi, Jeong Daehyeon pun bertanya apa yang dikerjakannya seharian ini.

“Orang-orang menyebutku ibu-ibu kafe,” kata Kim Jiyeong.

Jeong Dae-hyeon mendesah. “Itu istilah yang diciptakan anak-anak muda. Istilah itu hanya ditemukan di internet. Tidak ada seorang pun yang menggunakan istilah itu sehari-hari. Tidak ada yang menganggapmu seperti itu.”

“Tidak. Tadi aku mendengarnya sendiri. Ada seorang karyawan kantoran yang mengenakan jas dan terlihat normal berkara seperti itu di taman di ujung jalan.” Lalu Kim Ji-yeong menceritakan apa yang terjadi hari itu. Saat itu ia hanya berpikir ingin melarikan diri karena bingung dan malu. Namun, sekarang ketika ia berusaha menjelaskan apa yang terjadi, wajahnya memanas dan tangannya gemetar.

“Harga kopi itu 1.500 won. Mereka juga minum kopi yang sama, jadi seharusnya mereka tahu benar harganya. Memangnya aku bahkan tidak berhak minum kopi seharga 1.500 won? Tidak, anggap saja harga kopinya 15 juta won. Bagaimana

aku ingin menghabiskan uang dari suamiku adalah urusan keluarga kita sendiri, bukan urusan mereka. Aku juga bukan-

nya mencuri uangmu. Aku sudah melahirkan seorang anak dengan susah payah, aku sudah melepaskan hidupku, pekerjaanku, impianku, keseluruhan diriku demi membesarkan anakku. Tetapi aku malah dianggap seperti serangga. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?”


Jeong Dae-hyeon menarik Kim Ji-yeong ke dalam pelukan tanpa berkata apa-apa. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, jadi ia hanya bisa menepuk-nepuk punggung Kim Ji-yeong dan bergumam, “Tidak seperti itu. Jangan dipikirkan lagi.”

Kim Ji-yeong mulai berubah menjadi orang lain. Ia bisa berubah menjadi orang yang sudah meninggal, atau orang yang masih hidup. Ia bisa berubah menjadi wanita mana pun yang ada di sekitarnya. Ia tidak terlihat sedang bergurau atau ingin mempermainkan orang lain. Sungguh, ia benar-benar dan

sepenuhNya sudah berubah “