--> -->

Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 ~ Jilid 3 : 1995 – 2000

Jilid 3 : 1995 – 2000

SMP Kim Ji-yeong berjarak lima belas menit jalan kaki dari rumah. Kakaknya juga bersekolah di tempat yang sama, tetapi pada tahun kakaknya masuk SMP, sekolah itu adalah SMP khusus perempuan.

Sampai tahun 1990-an, tingkat kelahiran di Korea masih sangat tidak seimbang. Pada tahun 1982 ketika Kim Ji-yeong

lahir, ada 106,8 anak laki-laki yang lahir untuk setiap 100 orang anak perempuan yang lahir. Dan jumlah anak laki-laki meningkat sampai 116,5 di tahun 1990”. Tingkat kelahiran yang alami adalah 103 sampai 107. Jumlah murid laki-laki sangat besar, dan akan bertambah setiap tahunnya, tetapi sekolah yang ada tidak cukup banyak untuk menampung mereka. Di sekolah-sekolah campuran, jumlah murid laki-laki dua kali lebih banyak daripada jumlah murid perempuan, dan

perbandingan yang sangat tidak seimbang dalam satu sekolah

"Populasi dan Gerakannya, Kantor Statistik Nasional yang sama juga menjadi masalah. Tidak masuk akal juga

apabila para murid diharuskan masuk sekolah khusus laki-laki atau perempuan yang jaraknya jauh dari rumah. Pada tahun Kim Ji-yeong masuk SMP, sekolahnya sudah berubah menjadi sekolah campuran. Beberapa tahun setelah itu, semua SMP khusus laki-laki dan SMP khusus perempuan pun berubah menjadi SMP campuran.

Sekolah Kim Ji-yeong adalah sekolah biasa yang kecil dan sudah tua. Lapangan olahraganya sempit, dengan panjang diagonal 100 meter, dan tembok gedung sekolah sudah mulai keropos. Peraturan tentang seragam di sana sangar ketat, terutama bagi anak-anak perempuan. Menurut Kim Eunyeong, peraturannya malah semakin ketat setelah sekolah itu berubah menjadi sekolah campuran. Rok mereka harus panjang sampai menutupi lutut dan harus menyembunyikan lekukan bokong dan paha. Kemeja putih dan tipis mereka nyaris tembus pandang, sehingga mereka juga harus mengenakan singlet berkerah tinggi dan berwarna putih di balik kemeja. Mereka dilarang memakai tank top atau kaus lengan pendek, dilarang juga mengenakan warna lain atau sesuatu yang berenda. Terutama sekali, mereka tidak boleh hanya mengenakan bra di balik kemeja. Di musim panas, mereka harus mengenakan stoking berwarna kulit dan kaus kaki putih. Di musim dingin, mereka harus mengenakan stoking hitam khusus untuk pelajar. Dilarang memakai stoking hitam yang tembus pandang, dan dilarang memakai kaus kaki setelah mengenakan stoking hitam. Dilarang mengenakan sepatu olahraga, hanya boleh mengenakan sepatu biasa. Berkeliaran

di tengah musim dingin hanya dengan stoking dan sepatu biasa tanpa kaus kaki membuat anak-anak perempuan mera-

sa begitu kedinginan sampai mereka ingin menangis.

Untuk murid laki-laki, mereka tidak boleh sengaja membuat celana panjang mereka terlalu longgar atau terlalu sempit, tetapi para guru biasanya menutup sebelah mata menyangkut hal itu. Ada yang mengenakan singlet di balik kemeja, ada juga yang mengenakan kaus lengan pendek, dan bahkan kaus berwarna abu-abu atau hitam. Ketika cuaca sedang panas, mereka melepas beberapa kancing kemeja, atau mereka bahkan hanya akan berkeliaran dengan kaus dalam mereka di saat makan siang atau di waktu istirahat. Mereka boleh mengenakan sepatu biasa, sepatu olahraga, sepatu sepak bola, dan bahkan sepatu lari.

Suatu kali, ada anak perempuan yang dicegat di gerbang sekolah karena mengenakan sepatu olahraga. Ia kemudian memprotes kenapa hanya anak laki-laki yang diperbolehkan mengenakan kaus dan sepatu olahraga. Guru pengawas menjawab itu karena anak laki-laki selalu bergerak.

“Kita semua tahu anak laki-laki tidak akan duduk diam selama sepuluh menit. Mereka pasti akan bermain sepak bola, bola basket, bisbol, atau melompat ke sana kemari. Bagaimana mungkin anak-anak seperti itu disuruh mengenakan kaus berkerah tinggi dan sepatu biasa?”

“Anda pikir anak-anak perempuan tidak suka bergerak? Harus mengenakan rok, stoking, dan sepatu biasa membuat kami merasa tidak nyaman untuk bergerak. Ketika masih duduk di bangku SD, aku juga suka melompat ke sana kemari, berkeliaran ke sana kemari, dan bermain lompat tali setiap jam istirahat.”

Pada akhirnya murid perempuan itu dihukum berjalan sambil berjongkok mengelilingi lapangan. Guru pengawas

menyuruhnya menahan pinggiran roknya agar celana dalamnya tidak terlihat, tetapi murid perempuan itu sama sekali tidak memegangi roknya. Celana dalamnya terlihat seiring setiap langkahnya. Setelah mengelilingi lapangan satu kali, guru pengawas menyuruhnya berhenti.

Teman sekelasnya yang juga ikut diseret ke ruang guru karena mengenakan pakaian yang tidak pantas bertanya kenapa ia tidak memegangi pinggiran roknya.

“Aku ingin mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa pakaian seperti ini sangat tidak nyaman.”

Peraturan sekolah tetap tidak berubah, tetapi entah sejak kapan, para guru mulai pura-pura tidak menyadari kenyataan bahwa anak-anak perempuan mengenakan kaus lengan pendek dan sepatu olahraga.

Ada seorang burberry man" yang terkenal suka berkeliaran di depan sekolah. Selama beberapa tahun ia selalu muncul pada waktu tertentu dan di tempat tertentu. Pada pagi hari, ia suka menakut-nakuti murid-murid yang baru datang ke sekolah. Pada hari mendung, entah kenapa ia suka menampakkan diri di tempat yang paling jelas terlihat dari jendela kelas 2-8. Kim Ji-yeong termasuk salah satu murid di kelas 2-8. Anak-anak ketakutan, tetapi kadang-kadang mereka juga terkikik.

Saat itu awal musim semi dan semester baru belum lama di-

("Sebutan untuk pria yang telanjang di balik jaket panjang dan suka membuka jaket di depan anak-anak perempuan. mulai. Pagi-pagi sekali hujan musim semi sudah turun dan ka-

but menggelantung di udara. Pada saat waktu istirahat setelah mata pelajaran ketiga, Il-jin, anak yang duduk di barisan paling belakang di kelas, menopangkan tangan ke bingkai jendela, menatap ke luar, lalu berseru, “Yuhu!” Entah seruan itu dimaksudkan sebagai ledekan atau sorakan. Beberapa orang anak menghampiri jendela lalu ikut berseru, “Sekali lagi! Sekali lagi!” Lalu mereka bertepuk tangan sambil tertawa. Kim Ji-yeong yang duduk agak jauh dari jendela tidak bisa melihat apa-apa walaupun ia sudah menjulurkan kepala. Sebenarnya ia penasaran, tetapi ia malu apabila harus berlari ke sana dan melihat apa yang terjadi. Ia juga tidak berani melihat apa pun itu dengan mata kepalanya sendiri. Ia mendengar dari teman-temannya yang duduk di dekat jendela bahwa si burberry man memberikan pertunjukan yang luar biasa hari itu, mungkin karena anak-anak memberikan sambutan hangat.

Ketika suasana kelas sedang heboh, pintu ruang kelas mendadak terbuka dan wali kelas mereka melangkah masuk. “Kalian yang berteriak-teriak di jendela, maju ke depan! Ayo, maju ke depan, kalian semua!”

Anak-anak yang duduk di samping jendela pun maju dan berdiri di depan meja guru. Mereka memprotes bahwa mereka hanya duduk di tempat, tidak berteriak-teriak, dan tidak memandang ke luar jendela. Wali kelas mereka pun memilih lima anak yang kemudian disuruh melapor ke ruang guru. Pada mata pelajaran keempat, mereka mendapat hukuman dan disuruh menulis surat permintaan maaf.

Il-jin kembali ke kelas setelah jam makan siang berakhir

dan meludah ke luar jendela. “Sialan. Bajingan itu yang buka baju, kenapa kita yang disalahkan? Mereka bukannya pergi

menangkap orang gila itu, malah menyuruh kita introspeksi diri. Introspeksi diri apa? Memangnya aku yang buka-buka baju?”

Anak-anak menoleh sambil terkikik. Walaupun sudah meludah berkali-kali, amarah Il-jin masih belum reda.

Sejak hari itu, kelima anak yang selalu datang terlambat ke sekolah dan yang disuruh introspeksi diri itu pun tiba di sekolah pagi-pagi sekali dan tidur telungkup di meja sepanjang pagi. Sepertinya sesuatu sedang terjadi, tetapi karena hal itu bukan pelanggaran, para guru pun tidak bisa berkata apa-apa. Akhirnya terjadilah. Suatu hari Il-jin berpapasan dengan si burberry man di lorong, dan keempat anak lain yang bersembunyi di belakang Il-jin serentak menyerbu maju, mengikat pria itu dengan tali jemuran dan tali pinggang, lalu menyeretnya ke kantor polisi. Tidak seorang pun tahu apa yang terjadi di kantor polisi dan apa yang terjadi pada si burberry man. Pokoknya sejak hari itu si burberry man tidak pernah muncul lagi dan kelima teman sekelas Kim Ji-yeong diskors. Seminggu kemudian, kelima anak itu kembali ke sekolah, menulis surat permintaan maaf di ruang administrasi di samping ruang guru, dan membersihkan lapangan bermain serta kamar mandi. Mereka sama sekali tidak berkata apa-apa. Kadang-kadang para guru akan berjalan melewati mereka dan memukul kepala mereka, sambil berkata, “Anak-anak perempuan tidak tahu malu. Justru membuat sekolah malu.”

Setelah guru berjalan melewatinya, Il-jin menyumpah dan meludah ke luar jendela.

Kim Ji-yeong mendapat menstruasi pertamanya ketika ia duduk di kelas 2 SMP. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu

lambat. Kakaknya juga mendapat menstruasi pertamanya saat

kelas 2 SMP. Ia kini merasa inilah saatnya ia dan kakaknya memiliki bentuk tubuh dan selera yang sama, serta mereka bisa mengenakan pakaian satu sama lain. Dengan tenang, ia membuka laci pertama di meja tulis kakaknya, mengeluarkan pembalut berwarna biru langit, dan berkata kepada kakaknya bahwa menstruasinya sudah dimulai.

“Wah, kau sudah dewasa rupanya,” sahut Kim Eun-yeong.

Kim Ji-yeong tidak tahu apakah seharusnya ia memberitahu anggota keluarganya yang lain, jadi Kim Eun-yeong pun hanya memberitahu ibu mereka. Sama sekali bukan masalah besar. Ayah berkata beliau pulang terlambat, jadi Ibu dan ketiga kakak-adik itu pun merebus ramyeon untuk makan malam. Begitu panci berisi ramyeon dan empat mangkuk diletakkan di meja, adik bungsu mereka segera mengambil jatahnya sendiri.

Kim Eun-yeong menyentil kening adiknya dan berkata, “Hei, kalau kau sendiri makan sebanyak itu, kami makan apa? Dan kenapa kau yang mengambil makanan lebih dulu? Ibu yang harus mengambil lebih dulu.”

la menyendokkan mi, kuah, dan telur ke mangkuk ibunya, lalu memindahkan separuh isi mangkuk adik bungsunya ke mangkuknya sendiri. Namun, kemudian Ibu memindahkan mi yang ada di mangkuknya ke mangkuk anak bungsunya. Kim Eun-yeong pun berseru, “Ibu! Ibu makan saja! Kalau tidak, lain kali kita pakai panci masing-masing.”

“Kenapa ribut-ribut hanya gara-gara ramyeon? Lagi pula, kalau kita pakai panci masing-masing, siapa yang akan men-

cuci semua panci itu? Kau?” “Tentu saja aku. Kan aku yang selalu mencuci piring dan

membersihkan rumah. Aku juga yang menyimpan jemuran yang sudah kering. Ji-yeong juga. Yang tidak pernah mengerjakan apa pun di rumah ini hanya satu orang.”

Mata Kim Ji-yeong menatap adik bungsunya.

Ibu mengusap kepala adik bungsu mereka dan berkata, “Dia masih kecil.”

“Apanya yang masih kecil? Ketika berumur sepuluh tahun, aku sudah membantu membereskan tas sekolah Ji-yeong dan memeriksa PR-nya. Cuma kami yang menggosok lantai, mencuci pakaian, merebus ramyeon, atau menggoreng telur sendiri.”

“Dia anak bungsu.”

“Bukan karena dia anak bungsu. Tapi karena dia laki-laki!” seru Kim Eun-yeong marah sambil membanting sumpit ke meja, lalu berderap ke kamar.

Ibu menatap pintu kamar yang ditutup dengan resah, lalu mendesah. Kim Ji-yeong merasa begitu khawatir sampai ia hanya bisa menunduk menatap ramyeon-nya.

“Kalau nenek kalian masih hidup, dia pasti akan marahmarah pada kakak kalian. Dia pasti berkata berani-beraninya dia memukul kepala laki-laki.”

Adik bungsunya menyeruput ramyeon sambil menggerutu. Kali ini, Kim Ji-yeong yang menyentil keningnya.

Ibu tidak menghibur putri sulungnya, tetapi tidak juga marah-marah. Ja menyendok sup dari mangkuknya dan memberikannya kepada Kim Ji-yeong. “Makanlah sementara masih hangat. Jangan lupa pakai pakaian tebal supaya tidak kedi-

nginan.” Kim Ji-yeong punya teman yang menerima bunga dari

ayahnya, juga ada teman yang mengadakan pesta lengkap dengan acara potong kue bersama keluarganya. Namun, bagi sebagian besar dari mereka, itu adalah rahasia yang hanya diketahui oleh ibu dan saudara-saudara perempuan mereka. Rahasia-rahasia yang menyulitkan dan memalukan. Keluarga Kim Ji-yeong juga seperti itu. Ibu menolak mengomentari hal buruk yang terjadi dan hanya bisa memberikan kuah ramyeon kepada Kim Ji-yeong.

Malam itu Kim Ji-yeong berbaring di samping kakaknya dengan resah dan bercerita tentang apa yang terjadi. Ia berpikir tentang menstruasi dan ramyeon. Ia berpikir tentang ramyeon dan anak laki-laki, tentang anak laki-laki dan anak perempuan, tentang anak laki-laki, anak perempuan, dan pekerjaan rumah. Beberapa hari kemudian, Kim Ji-yeong menerima sebuah kantong kain beritsleting dari kakaknya. Isinya adalah enam buah pembalut berukuran sedang.

Pembalut dengan ge/ yang berdaya serap tinggi belum tersedia. Pembalut di dalam plastik hitam yang dibeli kakaknya itu memiliki perekat yang tidak kuat dan daya serapnya nyaris tidak ada. Walaupun ia sudah sangat berhati-hati, darah dari menstruasinya sering mengenai pakaian dan seprainya. Terlebih lagi di musim panas ketika ia mengenakan pakaian yang lebih tipis dan lebih ringan. Misalnya ketika ia baru bangun tidur dan bersiap-siap berangkat sekolah dalam keadaan mengantuk, ibunya akan berteriak begitu melihat darah menstruasi di pakaian Kim Ji-yeong. Kim Ji-yeong pun melesat masuk kembali ke kamar untuk berganti pakaian, mera-

sa seolah-olah dirinya sudah melakukan kesalahan besar. Kram akibat menstruasi jauh lebih menyusahkan daripada

perasaan tidak nyaman selama menstruasi. Karena sudah diperingati oleh kakaknya, Kim Ji-yeong pun sudah menguatkan diri. Namun, pada hari kedua, Kim Ji-yeong merasa kaku, tegang, dan sakit mulai dari bagian dada, pinggang, perut bagian bawah, panggul, paha, sampai ke bokong. Ia bisa pergi ke klinik sekolah untuk meminjam kompres panas, tetapi ia tidak ingin mengumumkan bahwa ia sedang menstruasi dengan membawa kompres merah besar berisi air panas dan berbau karet ke mana-mana. Namun, apabila ia meminum obat yang biasanya diminum untuk meredakan sakit kepala, sakit gigi, dan kram akibat menstruasi, kepalanya akan terasa kebas dan perutnya akan terasa mual. Itulah sebabnya Kim Ji-yeong biasanya memilih menahan diri.

Ini adalah sesuatu yang berlangsung selama beberapa hari setiap bulannya, jadi Kim Ji-yeong berpikir jika ia minum obat, hal itu tentu tidak akan berdampak baik pada kesehatannya.

Sambil berbaring telungkup di lantai kamar tidur, memegangi perut bagian bawahnya, dan mengerjakan PR, Kim Ji-yeong terus-menerus menggerutu bahwa hal ini benar-benar tidak bisa dipercaya. Bahwa separuh penduduk dunia mengalami hal yang sama setiap bulannya. Daripada membuat obat penghilang rasa sakit tidak jelas yang hanya membuat perut mual, perusahaan farmasi pasti bisa menghasilkan keuntungan besar apabila mereka menciptakan obat yang efektif menghilangkan kram tanpa efek samping.

Kim Eun-yeong, yang sedang membungkus botol plastik berisi air panas dengan handuk, setuju. “Itulah. Kenapa tidak

ada obat untuk kram menstruasi di dunia ini, padahal mereka sudah bisa menyembuhkan kanker dan melakukan trans-

plantasi jantung? Mungkin mereka takut obatnya bisa meru-

sak rahim. Tapi memangnya ini semacam wilayah gencatan

senjata?” katanya sambil menunjuk perutnya sendiri. Walaupun kesakitan, Kim Ji-yeong masih bisa terkikik

sambil memeluk botol air panasnya.

SMA Kim Ji-yeong adalah SMA khusus perempuan yang berjarak 15 menit dengan bus dari rumah. Ia juga mengikuri kelas tambahan di tempat kursus yang berjarak 30 menit dengan bus, dan sering mengunjungi distrik universitas yang berjarak satu jam dengan bus. Di masa SMA, lingkaran pergaulan Kim Ji-yeong bertambah luas. Ia menyadari dunia ini besar dan dipenuhi orang-orang brengsek. Banyak tangan mencurigakan yang menyapu pinggul atau dada para wanita di dalam bus dan kereta bawah tanah. Ada juga bajinganbajingan gila yang suka menempelkan diri ke paha dan punggung para wanita. Walaupun para wanita sebal pada para kakak senior laki-laki—di sekolah, tempat kursus, atau gereja—yang suka memegang bahu mereka, mengusap bagian belakang leher mereka, atau berusaha mengintip ke balik celah kancing kemeja mereka, mereka hanya akan berusaha menghindar tanpa menimbulkan keributan.

Mereka juga tidak bisa tenang di sekolah. Ada guru pria yang suka mencubit bagian dalam lengan atas murid wanita, menepuk bokong anak perempuan yang sudah besar, atau mengusap punggung mereka di antara tali bra. Ketika Kim Ji-yeong masih duduk di kelas 1 SD, wali kelasnya adalah seorang pria berusia lima puluh tahun. Ia suka membawa alat

penunjuk berbentuk jari telunjuk ke mana-mana. Lalu dengan alasan memeriksa label nama di seragam murid, ia akan menusuk-nusuk dada anak-anak perempuan dengan alat penunjuknya. Atau ia akan mengangkat rok mereka dengan alasan memeriksa seragam mereka. Suatu kali, wali kelas mereka lupa membawa pergi alat penunjuknya setelah selesai memberikan wejangan pagi. Begitu wali kelas mereka keluar dari ruang kelas, seorang anak perempuan berdada besar yang label namanya sering diperiksa berderap maju ke meja guru, meraih alat penunjuk itu, membantingnya ke lantai, lalu menginjakinjaknya sampai patah sambil menangis. Anak-anak yang duduk di barisan depan segera memungut alat penunjuk yang sudah hancur itu, sementara sahabat anak perempuan tadi merangkulnya dan menghiburnya.

Karena ia hanya pergi ke sekolah dan tempat kursus, situasi Kim Ji-yeong lebih baik. Situasi yang dialami temantemannya yang harus bekerja paruh waktu cukup buruk. Mereka harus menghadapi atasan yang memotong gaji mercka dengan alasan biaya seragam atau pelayanan yang tidak memuaskan, juga harus menghadapi para pelanggan yang mengira mereka berhak bermain-main dengan karyawan wanita karena mereka sudah membeli produk yang dijual. Tanpa disadari, ketidaksukaan dan ketakutan pada pria mulai

tertanam jauh di dalam diri para anak perempuan.

EF

Hari itu ada kelas khusus di tempat kursus, sehingga Kim Ji-yeong pulang lebih malam. Ia sedang berdiri menunggu bus di halte sambil menguap ketika seorang murid laki-laki

menghampirinya dan menyapanya. Walaupun wajah anak itu terkesan tidak asing, Kim Ji-yeong tidak mengenalnya, jadi ia hanya mengangguk canggung, berpikir anak laki-laki itu adalah teman sekelasnya di tempat kursus. Anak laki-laki yang tadinya berdiri tiga atau empat langkah dari Kim Ji-ycong bergerak mendekat. Setelah orang-orang yang berdiri di antara mereka masing-masing naik bus dan pergi, anak laki-laki itu pun kini berdiri tepat di samping Kim Ji-yeong.

“Naik bus nomor berapa?” tanyanya.

“Oh? Memangnya kenapa?” Kim Ji-yeong balas bertanya.

“Kupikir kau ingin aku mengantarmu.”

“Aku?”

Sya”

“Tidak. Sama sekali tidak. Silakan duluan.”

Sebenarnya Kim Ji-yeong ingin bertanya, “Siapa kau? Memangnya kau kenal aku?” Namun, ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan, jadi ia pun memalingkan wajah dan menatap lampu-lampu mobil di kejauhan. Ketika bus yang ditunggunya datang, ia pura-pura tidak menyadarinya. Sampai ketika bus itu hendak berangkat lagi, barulah Kim Ji-yeong cepat-cepat naik. Namun, anak laki-laki itu juga cepat-cepat ikut naik. Kim Ji-yeong melihat bayangan punggung anak laki-laki itu di kaca jendela bus. Ia ketakutan memikirkan bahwa anak laki-laki ivu pasti juga bisa melihat bayangan dirinya di kaca jendela.

“Kau tidak apa-apa? Ada yang sakit? Duduklah di sini.” Seorang wanita berwajah lelah yang sepertinya sedang dalam

perjalanan pulang dari tempat kerja menawarkan tempat duduknya kepada Kim Ji-yeong yang terlihat pucat pasi dan

berkeringat. “Kau sakit? Mau kutemani ke rumah sakit?”

Kim Ji-yeong menggeleng, lalu menurunkan tangannya ke bawah sehingga tidak terlihat oleh anak laki-laki tadi, dan merentangkan ibu jari dan kelingkingnya untuk menandakan telepon. Wanita itu menatap tangan dan raut wajah Kim Ji-yeong, berpikir sejenak, lalu mengeluarkan sebuah ponsel besar dari tas tangannya dan menyelipkannya ke tangan Kim Ji-yeong. Kim Ji-yeong menunduk dan mengirim pesan singkat kepada ayahnya. Ini Ji-yeong. Tolong jemput aku di halte. Cepatlah.

Ketika bus sudah hampir tiba di halte di depan rumahnya, Kim Ji-yeong memandang ke luar jendela dengan resah. Ayah tidak terlihat di mana-mana. Anak laki-laki tadi berdiri di belakang Kim Ji-yeong ketika pintu bus terbuka. Ia takut turun dari bus, tetapi ia juga tidak mungkin berkeliaran ke tempat asing malam-malam begini. Tolong jangan ikuti aku, jangan ikuti aku, Kim Ji-yeong berdoa dalam hati sementara ia turun dari bus dan menginjak halte yang kosong. Anak laki-laki itu ikut turun. Hanya mereka berdua yang turun dari bus. Tidak ada orang yang akan kebetulan lewat di halte terpencil itu, dan lampu jalan di sana rusak, membuat keadaan di sekeliling mereka gelap gulita.

Anak laki-laki itu menghampiri Kim Ji-yeong yang berdiri membeku. “Kau selalu duduk di depanku. Kau menyerahkan print-out kepadaku sambil tersenyum. Kau selalu mengucapkan 'sampai jumpa kepadaku sebelum meninggalkan kelas. Kenapa sekarang kau memperlakukanku seperti orang aneh?”

Kim Ji-yeong tidak tahu. Ia tidak tahu siapa yang duduk

di belakangnya, atau seperti apa raut wajahnya ketika menyerahkan print-out untuk disebarkan, atau apa yang dikatakan-

nya kepada seseorang yang berdiri menghalangi jalannya.

Tepat pada saat itu, bus yang tadinya sudah melaju mendadak berhenti dan wanita tadi turun dari bus sambil berseru, “Dik! Dik! Barangmu ketinggalan!” Ia melambaikan syal yang melilit lehernya, yang sama sekali tidak cocok untuk anak sekolahan seperti Kim Ji-yeong, sambil berlari mendekat.

Si anak laki-laki menyumpah, “Dasar jalang.” Lalu berderap pergi dengan langkah lebar.

Ketika wanita itu tiba di halte, Kim Ji-yeong jatuh berjongkok dan meledak menangis. Tepat pada saat itu ayahnya berlari datang sambil terengah-engah. Kim Ji-yeong pun menceritakan secara singkat apa yang terjadi kepada mereka berdua. Bahwa anak laki-laki tadi sepertinya adalah teman sekelasnya di tempat kursus, bahwa ia sama sekali tidak ingat pada anak lakilaki itu, bahwa anak itu mengira Kim Ji-yeong menyukainya.

Akhirnya wanita tadi, Kim Ji-yeong, dan Ayah duduk di halte bus menunggu bus berikut. Ayah meminta maaf kepada wanita itu karena ia terburu-buru keluar dari rumah sehingga tidak membawa uang yang bisa diberikannya kepada wanita sebagai biaya taksi.

Wanita itu mengibaskan tangan dan berkata, “Taksi justru lebih menakutkan. Sepertinya dia sangat terguncang. Tolong hibur saja dia.”

Namun, hari itu Kim Ji-yeong dimarahi ayahnya. Kenapa ia harus kursus di tempat sejauh itu? Kenapa ia berbicara kepada sembarang orang? Kenapa ia memakai rok sependek itu? Ia harus banyak belajar. Ia harus berhati-hati, harus ber-

pakaian pantas, harus bersikap pantas. Ia harus menghindari jalan yang berbahaya, waktu yang berbahaya, dan orang yang

berbahaya. Kalau ia sampai tidak sadar dan tidak menghindar, maka ia sendiri yang salah.

Ibu menelepon wanita di bus waktu itu untuk menawarkan uang taksi, hadiah kecil, secangkir kopi, dan bahkan sebutir jeruk, tetapi wanita itu bersikeras menolak. Kim Ji-yeong sendiri memutuskan menelepon wanita itu untuk mengucapkan terima kasih. Wanita itu lega mendengar Kim Ji-yeong baik-baik saja, dan berkata bahwa Kim Ji-yeong tidak bersalah. Ia juga berkata di dunia ini ada banyak pria aneh, bahwa ia sendiri juga sudah sering mengalami hal-hal seperti itu. “Yang bersalah adalah mereka, bukan kau,” kata wanita itu.

Ketika mendengar itu, air mata Kim Ji-yeong mendadak tumpah dan ia tidak bisa berkata apa-apa.

Wanita itu menambahkan, “Tetapi ada lebih banyak lagi pria baik di dunia ini.”

Pada akhirnya Kim Ji-yeong berhenti mengikuti kursus, selama beberapa waktu ia bahkan tidak berani mendekati halte bus apabila langit sudah gelap. Ja tidak lagi tersenyum atau bertatapan dengan orang asing. Ia begitu takut pada semua laki-laki sampai ia bahkan menjerit ketika berpapasan dengan adiknya di tangga. Pada saat itu kata-kata terakhir wanita dalam bus itu kembali tebersit dalam pikirannya. Semua ini bukan salahmu. Ada lebih banyak pria baik di dunia ini. Seandainya wanita itu tidak berkata begitu, mungkin Kim Ji-yeong tidak akan pernah melepaskan diri dari rasa takut

yang menguasai dirinya. Pengaruh IMF juga menimpa keluarga Kim Ji-yeong. Seluruh

jajaran pegawai negeri yang tadinya dianggap aman akan mengalami restrukturisasi. Konon pemutusan hubungan kerja hanya akan dialami oleh para karyawan perusahaan keuangan atau perusahaan besar, tetapi ternyata Ayah yang pegawai negeri juga disarankan mengundurkan diri. Rekan-rekan kerjanya menolak mengundurkan diri, jadi Ayah pun ikut menolak. Namun, keadaannya meresahkan. Walaupun gajinya tidak besar, kebanggaan terbesar Ayah adalah kenyataan bahwa ia mampu menghidupi keluarganya. Selama ini ia menjalani hidup dengan tegar, jujur, tanpa membuat kesalahan apa pun, tapi ancaman terhadap kehidupan itu membuat Ayah sangat bingung dan terguncang.

Tepat pada saat itu Kim Eun-yeong sudah duduk di kelas 3 SMA. Suasana di rumah menegangkan, tetapi ia tidak terpengaruh dan tetap berhasil mempertahankan nilai yang lumayan. Peningkatan nilainya memang tidak besar, tetapi nilainya sedikit demi sedikit bertambah baik dan ia mendapat nilai ujian akhir yang memuaskan.

Dengan hati-hati Ibu menyarankan putri sulungnya masuk sekolah keguruan di luar kota. Ibu sudah memikirkan hal itu untuk waktu yang lama. Orang-orang tua dipecat dari pekerjan mereka, sementara anak-anak muda kesulitan mencari pekerjaan. Pekerjaan Ayah yang dulunya terjamin kini tidak lagi pasti, sementara Kim Eun-yeong masih memiliki dua adik, dan situasi perekonomian terus memburuk. Demi kebaikan Kim Eun-yeong sendiri, juga demi kebaikan keluarga, Ibu ingin putri sulungnya kuliah di tempat ia berkesempatan mendapatkan pekerjaan. Terlebih lagi, uang kuliah di sekolah keguruan tidak besar. Namun, saat itu profesi pegawai nege-

ri dan guru adalah profesi yang populer, sehingga nilai tes minimun untuk diterima dalam kedua profesi itu ditingkatkan. Walaupun nilai ujian Kim Eun-yeong memungkinkannya kuliah di universitas di Seoul, semua itu tidak cukup untuk masuk sekolah keguruan di ibu kota.

Kim Eun-yeong bercita-cita menjadi PD—Program Director, jadi ia pun ingin mengambil jurusan media dan ia sudah mencari-cari universitas yang bisa dimasukinya dengan nilai yang didapatkannya. Ketika Ibu menyarankan sekolah keguruan, Kim Eun-yeong langsung menolak tanpa ragu sedikit pun.

“Aku tidak ingin menjadi guru. Aku ingin bekerja di bidang lain. Lagi pula, kenapa aku harus keluar dari rumah untuk kuliah di tempat sejauh itu?”

“Kau harus berpikir jauh ke depan. Kau tahu apa keuntungannya menjadi guru bagi wanita?”

“Apa keuntungannya?”

“Jam kerja yang singkat, ada waktu libur, gampang mengambil curi. Tidak ada pekerjaan lain yang lebih baik yang bisa dilakukan ketika kau sudah punya anak nanti.”

“Itu memang pekerjaan yang bagus ketika kita sudah punya anak. Kalau begitu, bukankah itu pekerjaan yang bagus untuk semua orang? Kenapa hanya bagus untuk wanita? Memangnya wanita melahirkan anak sendirian? Ibu, apakah Ibu juga akan berkata seperti ini kepada anak laki-laki Ibu? Apakah Ibu akan mengirim anak bungsu Ibu ke sekolah keguruan?”

Kim Eun-yeong dan Kim Ji-yeong tidak pernah mendengar

bahwa mereka harus mencari suami baik-baik, harus menjadi ibu yang baik, dan harus belajar memasak. Tentu saja sejak

kecil mereka sudah banyak membantu melakukan pekerjaan rumah tangga, tetapi itu mereka lakukan untuk membantu orangtua mereka yang sibuk, bukan karena mereka harus membiasakan diri dengan semua itu karena mereka perempuan. Sampai usia tertentu, mereka hanya sering mendengar dua jenis keluhan dari orangtua mereka. Yang pertama adalah mengenai kebiasaan atau sikap hidup. Duduk yang tegak, rapikan meja belajar, jangan membaca di tempat gelap, rapikan tas sekolah, hormati orang yang lebih tua. Yang kedua adalah tentang belajar.

Sekarang sepertinya hampir tak ada lagi orangtua yang berpikir anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Bagaimanapun, sudah lama anak-anak perempuan turut mengenakan seragam, menyandang tas, dan pergi sekolah. Anak-anak perempuan juga mencemaskan ujian seperti halnya anak lakilaki, serta membuat rencana dan bersaing demi masa depan profesional. Pada masa itu dukungan sosial yang menyuarakan bahwa wanita juga bisa melakukan semua hal mulai bergaung. Undang-undang yang melarang diskriminasi antara pria dan wanita ditetapkan pada tahun 1999 ketika Kim Eun-ycong berusia dua puluh tahun, lalu Kementerian Kesetaraan Gender dibentuk pada tahun 2001 ketika Kim Ji-yeong berusia dua puluh tahun", Namun, pada saat-saat penting, label “wanita” bisa menyelinap keluar, menghalangi pandangan, mencengkeram, dan menjegal langkah orang-orang. Kenyataan itu mem-

buat segalanya lebih membingungkan.

Situs Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga “Lagi pula, aku belum tahu apakah aku akan menikah atau

tidak, atau apakah aku akan punya anak atau tidak. Malah, mungkin saja aku sudah mati sebelum semua itu terjadi. Kenapa kita harus mempersiapkan diri untuk masa depan yang belum tentu akan terjadi, dan bukannya menjalani hidup dengan melakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang?”

Ibu menoleh ke arah peta dunia di dinding. Ada beberapa stiker berbentuk hati berwarna hijau dan biru yang menempel di peta usang itu. Kim Eun-yeong pernah menyerahkan stiker yang dibelinya untuk menghias diari kepada Kim Ji-yeong dan berkata, “Bagaimana kalau kita menandai negara-negara yang ingin kita kunjungi?” Kim Ji-yeong menempelkan stikernya di negara-negara yang sudah sering didengarnya seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Cina. Sementara Kim Eunyeong menempelkan stikernya di negara-negara Eropa Utara seperti Denmark, Swedia, dan Finlandia. Ketika ditanya alasan ia memilih negara-negara itu, Kim Eun-yeong menjawab bahwa sepertinya tidak banyak orang Korea di negara-negara itu.

Sepertinya Ibu juga memahami arti stiker-stiker tersebut. “Kau benar. Pikiran Ibu salah. Seharusnya Ibu tidak berkata seperti itu. Berusahalah yang terbaik dalam ujianmu,” kata Ibu. Ia mengangguk, lalu berbalik hendak keluar dari kamar.

“Ibu,” panggil Kim Eun-yeong. “Apakah Ibu mengusulkan hal itu karena biaya kuliah di sekolah keguruan lebih murah? Apakah karena kariernya terjamin? Karena aku bisa langsung menghasilkan uang begitu lulus dari sana? Karena situasi Ayah sedang tidak pasti akhir-akhir ini dan masih ada dua adik yang harus dipikirkan?” “Benar. Itu salah satu alasan besarnya. Alasan lain adalah

Ibu berpikir guru merupakan profesi yang bagus. Tapi sekarang Ibu pikir kata-katamu benar,” sahut Ibu jujur.

Kim Eun-yeong tidak berkata apa pun.

Namun, setelah hari itu ia mulai mencari informasi tentang pendidikan SD, berkonsultasi beberapa kali dengan guru, pergi mengunjungi sekolah keguruan di luar kota, lalu membeli formulir aplikasi. Kali ini Ibu berusaha menghalanginya. Ibu tahu benar seperti apa rasanya terpaksa melepaskan impian sendiri demi keluarga dan saudara-saudaranya. Hubungan Ibu dan para saudara laki-lakinya tidak dekat. Penyesalan dan kekesalan yang timbul akibat pengorbanan yang dipaksakan sangat mendalam, dan pada akhirnya itulah yang merusak hubungan dalam keluarga.

Kim Eun-yeong berkata bahwa ia tidak seperti itu. Katanya ia sebenarnya tidak memiliki keinginan besar untuk menjadi PD dan sebenarnya ia bahkan tidak tahu seperti apa sebenarnya pekerjaan PD itu. Karena sejak kecil ia suka membaca untuk adik-adiknya, membantu mereka mengerjakan PR, membantu mereka membuat hasil karya seni, ia merasa dirinya lebih memiliki kemampuan sebagai guru daripada PD.

“Seperti kata Ibu, itu profesi yang bagus. Bisa pulang kerja lebih cepat, punya waktu libur, dan aman. Rasanya menyenangkan bisa mengajarkan berbagai hal kepada anak-anak kecil yang masih polos. Walaupun aku yakin aku pasti akan lebih sering berteriak-teriak.”

Kim Eun-yeong mendaftar ke sekolah keguruan yang pernah dikunjunginya, dan diterima. Ia juga diterima masuk asrama.

Ibu mengantar putrinya yang sudah berumur dua puluh tahun

#d dan penuh semangat ke sekolah keguruan, menyerahkan bebe-

rapa barang keperluan sehari-hari, dan memberikan nasihat yang tidak diindahkan. Setibanya di rumah, Ibu menelungkupkan diri di meja belajar Kim Eun-yeong yang kosong dan menangis. Kata Ibu, ia menangis bukan karena Kim Eun-yeong masih muda dan tidak seharusnya keluar dari rumah. Ibu hanya berharap putrinya kuliah di tempat yang benar-benar diinginkannya. Ibu tidak ingin putrinya sampai berakhir seperti dirinya. Ia tidak tahu apakah ia merasa kasihan pada putrinya atau pada masa kecilnya sendiri.

Kim Ji-yeong hanya bisa menghibur ibunya dengan berkata, “Kakak benar-benar ingin masuk sekolah keguruan. Setiap malam dia tidur sambil memeluk brosur sekolah. Coba lihat, brosurnya sampai lusuh begitu.”

Setelah melihat-lihat brosur yang mulai robek di bagian lipatannya itu, air mata Ibu mulai reda. “Kau benar.”

“Masa Ibu tidak mengenal Kakak yang sudah Ibu besarkan selama dua puluh tahun ini? Memangnya Kakak sudi melakukan sesuatu yang tidak ingin dilakukannya? Dia mengambil keputusan itu atas pilihannya sendiri. Jadi, Ibu tidak perlu khawatir.”

Ibu keluar dari kamar dengan wajah yang lebih cerah dan langkah yang lebih ringan. Kim Ji-yeong merasa aneh tapi senang karena kini ia bisa menguasai kamar tidur ini sendiri. la berguling-guling di lantai saking gembiranya. Ini pertama kalinya ia memiliki kamar tidur sendiri. Ia langsung berpikir ingin menyingkirkan meja belajar kakaknya dan meletakkan

ranjang di sana. Ia selalu ingin punya ranjang.

Te Keputusan Kim Eun-yeong menyangkut kuliahnya adalah

keberhasilan bagi seluruh keluarga.

Pada akhirnya, Ayah memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan. Kehidupannya masih panjang, tetapi dunia sudah banyak berubah. Ayah, yang berasal dari generasi manual, masih mengetik dengan dua jari. Ia sudah cukup umur untuk menerima tunjangan pensiun, dan sekarang ia juga bisa menerima pesangon dalam jumlah besar. Jadi ia pun mengumumkan bahwa ia akan memulai babak kedua dalam hidupnya sebelum terlambat. Bahkan bagi Kim Ji-yeong yang masih muda, keputusan Ayah untuk berhenti bekerja sungguh berisiko, karena salah seorang anaknya baru mulai kuliah dan ada dua anak lain yang masih harus dinafkahi. Kim Ji-yeong khawatir, tetapi Ibu tidak mengomel, tidak cemas, dan tidak berusaha mengubah keputusan Ayah.

Setelah menerima pesangon, Ayah memutuskan menjalankan usaha sendiri. Seorang mantan rekan kerjanya yang juga mengundurkan diri menyarankan agar Ayah ikut bergabung dengan para mantan rekan kerja mereka untuk memulai semacam usaha dagang dengan Cina. Ayah berkata bahwa ia akan menginvestasikan sebagian besar uang pensiunnya. Kali ini Ibu menentang keras.

“Selama ini kau sudah bekerja keras untuk menghidupi keluarga ini. Aku sangat berterima kasih. Karena itu, sekarang kau boleh beristirahat. Santai saja. Jangan berani-berani mengungkit bisnis dengan pihak Cina. Begitu kau berinvestasi di

sana, kita bercerai.” Walaupun mereka jarang menunjukkan kasih sayang di

depan umum, sekurang-kurangnya setahun sekali Ayah dan Ibu akan pergi berlibur berdua, kadang-kadang mereka pergi menonton dan minum-minum. Mereka juga tidak pernah bertengkar hebat di depan anak-anak. Ketika ada keputusan penting menyangkut keluarga yang harus diambil, Ibu akan menyampaikan pendapatnya dengan hati-hati, dan Ayah akan menuruti saran dari Ibu. Selama dua puluh tahun perkawinan mereka, untuk pertama kalinya Ayah sendiri yang memutuskan berhenti bekerja, lalu ingin memulai usaha. Hal itu menimbulkan perselisihan di antara mereka berdua.

Suatu hari, ketika hubungan mereka masih dingin, Ayah yang bersiap-siap pergi membuka lemari pakaian dan bertanya, “Itu di mana ya?”

Ibu mengeluarkan kardigan biru tua dari laci dan menyerahkannya kepada Ayah.

Lalu Ayah bertanya lagi, “Itu di mana ya?”

Ibu menyerahkan sepasang kaus kaki hitam kepadanya.

Lalu, “Tolong carikan itu untukku.”

Ibu menyerahkan jam tangan Ayah kepadanya dan berkata, “Aku yang paling memahami isi hatimu. Ada pekerjaan lain yang lebih sesuai untukmu, jadi sebaiknya kau menghentikan omong kosong dengan Cina itu.”

Ayah pun membaralkan investasinya pada pihak Cina dan berkata ia ingin membuka toko. Dengan keuntungan yang diperoleh Ibu ketika menjual apartemen yang dulu dibelinya untuk investasi, ditambah uang pensiun dari Ayah, Ibu kemudian membeli satu ruko yang belum terjual di lantai satu

gedung apartemen multifungsi. Walaupun harga belinya tidak lebih rendah daripada tempat lain, Ibu sepertinya berpikir

bahwa itu investasi yang bagus. Area-area permukiman tua di sekeliling mereka akan segera diubah menjadi kompleks-kompleks apartemen, dan Ibu berpikir bagaimanapun mereka pasti membutuhkan ruko untuk menjalankan usaha mereka. Daripada membayar sewa bulanan untuk ruko yang sudah ada, akan lebih menguntungkan jika mereka membeli ruko yang belum terjual.

Usaha pertama mereka adalah usaha ayam semur. Saat itu restoran franchise ayam semur sedang populer, dan restoran Ayah sukses besar sampai orang-orang rela mengantre. Namun, kepopulerannya tidak bertahan lama. Mereka memang tidak rugi, tetapi pada akhirnya usaha pertama mereka ditutup tanpa menghasilkan keuntungan. Setelah itu, mereka membuka restoran ayam goreng. Walaupun disebut restoran ayam goreng, tempat itu bisa juga disebut bar. Ayah, yang selama ini terbiasa bekerja dari jam sembilan pagi sampai jam enam sore, tidak kuat bekerja sepanjang malam. Kali ini, usaha mereka ditutup karena alasan kesehatan. Setelah itu mereka membuka toko roti franchise, tetapi mendadak toko-toko roti yang serupa bermunculan di sekeliling mereka, bahkan persis di depan toko Ayah. Sadar bahwa mereka tidak mungkin menghasilkan keuntungan dengan membuka usaha serupa, satu per satu dari mereka pun mulai menutup toko. Ayah, yang tidak perlu membayar sewa bulanan, masih bisa bertahan. Namun, ketika sebuah kafe yang merangkap toko roti dibuka tidak jauh dari sana, Ayah pun terpaksa menerima kekalahan.

Ketika Kim Ji-yeong duduk di kelas 3 SMA, keadaan di rumah terasa seburuk ketika kakaknya duduk di kelas 3 SMA. Demi menjamin masa depan anak-anak, Ayah dan Ibu tidak

sempat memperhatikan kehidupan anak-anak mereka saat ini. Kim Ji-yeong menjalani tahun ketiga di SMA dengan mencuci dan menyetrika sendiri pakaiannya dan pakaian adiknya, menyiapkan bekal makan siang untuk mereka, memastikan adiknya yang merasa tidak diperhatikan tetap belajar sementara Kim Ji-yeong sendiri juga harus berkonsentrasi pada pelajarannya sendiri. Kadang-kadang ia merasa lelah dan ingin menyerah, tetapi kakaknya menyemangatinya dengan berkata bahwa ketika Kim Ji-yeong kuliah nanti, ia bisa menguruskan badan dan mencari kekasih. Sebenarnya kakaknya memang berhasil menguruskan badan dan mendapat kekasih, sehingga hal itu benar-benar menjadi sumber semangat bagi Kim Jiyeong.

Setelah lulus ujian akhir, Kim Ji-yeong bertanya-tanya apakah orangtuanya sanggup membiayai kuliahnya. Ketika Ibu pulang ke rumah sebentar untuk menyiapkan makan malam untuk Kim Ji-yeong dan adiknya, Kim Ji-yeong dengan hati-hati bertanya kepada Ibu tentang hasil penjualan di toko, tentang kesehatan Ayah, dan tentang rekening mereka di bank. Sebenarnya ia agak gugup, takut Ibu akan meledak menangis, atau menyuruh Kim Ji-yeong membiayai kuliahnya sendiri.

Ibu menenangkan keresahan Kim Ji-yeong dengan berkata, “Akan kita pikirkan nanti ketika saatnya tiba.”

Kim Ji-yeong diterima di jurusan Humaniora di salah satu universitas di Seoul. Itu adalah murni pilihan dan pertimbangan Kim Ji-yeong sendiri karena keluarganya tidak terlibat dalam pemilihan kariernya. Sekarang karena ia sudah diterima,

ia kembali mencemaskan uang kuliah. Dengan jujur, Ibu berkata bahwa mereka memiliki uang

untuk membiayai kuliah Kim Ji-yeong selama setahun. “Apabila dalam setahun keadaannya masih tidak berubah, kita bisa menjual rumah atau menjual toko. Jadi setelah satu tahun berlalu, kau tetap tidak perlu khawatir.”

Pada hari kelulusan SMA, untuk pertama kalinya Kim Jiycong minum sampai mabuk. Kakaknya mengajaknya dan dua orang teman pergi minum soju. Ketika ia mencicipi soju untuk pertama kalinya, rasanya begitu manis dan lezat sampai ia tak bisa berhenti meminumnya. Pada akhirnya kakaknya terpaksa membopong Kim Ji-yeong pulang ke rumah. Kepada kakaknya, orangtua mereka mengajarkan hal-hal yang baik, tapi kepada Kim Ji-yeong, mereka tidak mengatakan apa pun.