-->

Kilat Pedang Membela Cinta Jilid 9 (Tamat)

Jilid 9 (tamat)

“Trangggg...!” Darmini menangkis, membuat Bi Kwi terkejut dan heran memandang Darmini.

“Jangan bunuh dulu, aku ingin tahu mengapa dia membunuh Ong Cun!” katanya dan Bi Kwi setuju, lalu gadis ini merengut ke arah topeng yang menutupi muka Walet Hitam.

“Brett...!” Topeng itu robek terbuka.

“Kwee Lok...!” Darmini memekik, juga Bi Kwi meloncat ke belakang sambil menahan teriakannya saking kaget dan herannya. Walet Hitam itu memang Kwee Lok. Dengan mulut menyeringai menahan rasa nyeri di seluruh tubuhnya, dia memandang kepada Darmini dan Bi Kwi bergantian, dan pandang mata itu sudah mulai kosong seperti api kehabisan minyak.

“Kwee Lok, katakan kenapa engkau membunuh Ong Cun, Kakak misan dan Kakak seperguruanmu sendiri?” Darmini bertanya dengan nyaring dan penasaran sekali.

“Dia... dia tahu rahasiaku... membantu Wirabumi... kalau dia melapor... tentu aku celaka... Aku bertemu Bragolo… dan... dan... bekerja sama… aughhhh...!” Kepala kwee Lok terkulai dan diapun tewas. Tusukan terkahir tadi hampir menembus dadanya. Darmini dan Bi Kwi saling pandang, lalu keduanya saling tubruk, saling rangkul sambil menangis. Kemudian Darmini teringat kepada Ibunya, bersama Bi Kwi lalu  

mencarinya dan ketika menemukan Ibunya dalam kamar tahanan di belakang, ia membebaskan Ibunya dan mengajak Ibunya pergi mengungsi ke rumah Raden Gajah.

Seluruh anak buah dan keluarga Ki Demang Bragolo ditangkap dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, raden Gajah membawa pasukan, dibantu oleh para tokoh Majapahit seperti Ki Empu Tanding dan lain-lain, menggebrek rumah Raden Wiratama dan menangkap orang ini berikut semua kaki tangannya tanpa banyak mendapat perlawanan. Sekali ini, Wiratama dapat dituntut karena Empu Kebondanu mengaku akan semua gerakan pemberontakan yang dipimpin oleh Wiratama, juga Ki Bragolo yang sudah buntung kedua lengannya itu membuat pengakuan. Gegerlah Majapahit dengan digulungnya gerombolan pemberontakan ini. Wiratama, Bragolo, dan tokoh-tokoh penting pembrontakan itu dijatuhi hukuman mati.

“Sungguh tidak kusangka bahwa pembunuh Ong Cun adalah Kwee Lok sendiri!” kata Darmini berulang kali, masih terheran-heran melihat kenyataan yang sama sekali tidak pernah disangkanya itu.

“Akupun heran dan tidak pernah mengira bahwa Walet Hitam adalah Kwee Lok!” kata pula Bi Kwi. mereka berdua bercakap-cakap di ruangan belakang, beberapa hari kemudian dan kini mereka berdua sudah mengenakan pakaian wanita sehingga keduanya nampak cantik jelita. Bi Kwi juga mengenakan pakaian wanita daerah. Darmini yang membantunya berdandan tadi dan kini ia menjadi seorang gadis manis yang berkulit putih kuning, cantik dan nampak lemah lembut, sungguh jauh bedanya dengan Bi Kwi yang berpakaian pria memainkan pedang!

“Bi Kwi, engkau datang dari negerimu bersama Kwee Lok, bahkan disini kalian melakukan penyelidikan bersama dia, juga ketika kalian tinggal di rumah Wiratama, kalian berdua. Bagaimana engkau sampai tidak dapat menduga bahwa Walet Hitam adalah Kwee Lok?”

“Bagaimana aku dapat menduga demikian, Mbak-Ayu? Dia cerdik bukan main dan aku telah dapat dikelabuinya. Dia bertindak seolah-olah memang ada Walet Hitam di samping Kwee Lok. Sekarang aku tahu. Pengirim surat yang mengaku kawan dan memberitahu kami agar menghadap Wiratama itu tentulah perbuatannya sendiri, dan dia sendiri yang menancapkan pisau dengan surat itu di pintu. Dan kini aku dapat menduga bahwa dia memang berkenalan dengan Wiratama sebagai dua orang, yaitu sebagai Kwee Lok yang gila judi dan sebagai Walet Hitam yang penuh rahasia dan tamak akan hadiah. Wiratama juga tidak menyangka bahwa Kwee Lok adalah Walet Hitam sehingga Wiratama dua kali mengeluarkan hadiah-hadiah kepada orang yang sama. Kwee Lok melakukan itu untuk dapat mengeduk uang sebanyaknya. Sebagai Kwee Lok dia memperoleh hadiah, sebagai Walet Hitam juga.

“Hemm, tak kusangka dia demikian licik dan jahat,” kata Darmini.

“Kebusukannya memang sudah nampak ketika Ayah meninggal dunia. Dia menguasai semua peninggalan Ayah dan dia setiap hari berjudi, sehingga habislah semua peninggalan Ayah. Kemudian, dia bahkan bermaksud menjualku untuk mengganti hutangnya yang banyak. Pada waktu itu aku sudah marah dan hendak meninggalkan dia. Akan tetapi dia dapat membujukku agar pergi bersama ke Majapahit. Aku tentu saja kena terbujuk karena aku belum pernah ke sini dan perjalanan itu begitu jauh, sebaliknya dia pernah ke sini, maka akupun mau melakukan perjalanan bersamanya.” Darmini menggangguk-angguk.

 “Kiranya dia membunuh Ong Cun karena hanya Ong Cun yang tahu akan rahasianya, bahwa Walet Hitam yang membantu Wiratama sehingga mengakibatkan diserangnya rombongan orang Cina yang berada di Lumajang itu adalah Kwee Lok. Tentu saja dia merasa gelisah, karena kalau Ong Cun melaporkan kepada atasan mereka, tentu Kwee Lok akan ditangkap dan dijatuhi hukuman berat. Bahkan kalau sudah berada di negerinya sendiripun, dia masih akan dihukum karena dialah yang menyebabkan penyerbuan terhadap rombongan orang Cina sehingga mengakibatkan gugurnya seratus tujuh puluh orang.”

“Benar, Mbak-Ayu. Dan agaknya bukan hanya Kakak Cun yang tahu, melainkan juga Ki Demang Bragolo, Ayah tirimu itu...”

“Dia bukan lagi Ayah tiriku, si keparat jahanam itu!” bentak Darmini. Bi Kwi memegang lengan Darmini.

“Kasihan engkau, Mbak-Ayu. Agaknya dia mempergunakan kesempatan selagi terjadi pembunuhan itu untuk melakukan perbuatan terkutuk itu. Akan tetapi, semua itu telah berlalu, Mbak-Ayu. Kwee Lok telah tewas di tangan kita, dan Ki Bragolo juga sudah dijatuhi hukuman mati. Semua kejahatan telah terbalas dan menerima hukuman yang setimpal dan kita terbebas sudah dari himpitan dendam.” Darmini tiba-tiba menutupi mukanya dan biarpun tidak mengeluarkan suara, Bi Kwi tahu bahwa gadis itu menangis. Ada air mata mengalir dari celah-celah jari tangannya, dan iapun mengerti, dan hanya dapat merangkul Darmini dengan terharu.

“Akan tetapi aku... aku telah kehilangan segalanya… aku kehilangan Ong Cun, dan aku… aku telah tertimpa aib, noda pada diriku tak dapat dihapus dan dicuci, biar dengan darah jahanam itu sekalipun...”

“Ah, Mbak-Ayu, jangan berpendapat demikian. Yang sudah lewat biarkan lewat, dan peristiwa terkutuk itu bagaimanapun juga bukanlah terjadi karena kesalahanmu. Engkau hanya menjadi korban kejahatan, tidak ada yang menyalahkan dan membencimu, Mbak-Ayu, bahkan orang akan merasa kasihan kepadamu. Pula, hanya aku yang tahu akan hal itu, dua orang lain yang mengetahuinya, yaitu Bragolo dan Kwee Lok, sudah tewas pula. Aku bersumpah bahwa dari mulutku takkan ada orang siapapun dia, yang mendengar akan halmu itu, Mbak-Ayu Darmini.” Akan tetapi Darmini tidak menghentikan tangisnya.

“Adikku... biarpun begitu... bagaimana pandangan pria terhadap diriku? Bagaimana kalau ada pria ke dua sesudah Ong Cun yang mencinta diriku dan diapun pantas menerima cintaku? Dia tentu akan memandang hina padaku, aku akan dianggapnya sebagai sampah... ah...!” Darmini sekarang terisak. “... aku... aku sudah bukan perawan lagi dan semua laki-laki akan mentertawakan aku… akan memandang rendah padaku..”

“Tidak, Mbak-Ayu. Dia tidak akan memandang rendah. Seorang laki-laki yang berjiwa ksatria, seorang pendekar sejati, akan selalu bersikap bijaksana dan berpandangan luas, tidak picik dan aku yakin bahwa dia tidak akan memandang rendah kepadamu, karena aku tahu bahwa dia seorang yang gagah perkasa, seorang ksatria yang bijaksana...” Darmini mengangkat mukanya yang basah dan mata yang agak kemerahan itu memandang Bi Kwi dengan sinar mata penuh pertanyaan dan keheranan.

“Adikku, apakah maksudmu? Siapa yang kau bicarakan itu, siapa yang kau sebut-sebut itu? Siapakah itu si dia?”

“Siapa lagi kalau bukan Raden Sridenta, Mbak-Ayu? Dan engkau benar, dia memang seorang laki-laki hebat dan pantas mendapatkan perhatianmu. Tidak perlu engkau merasa rikuh kepadaku, Mbak-Ayu. Aku tahu isi hatimu, engkau tidak perlu merasa bersalah terhadap Ong Cun. Dia sudah meninggal dunia dan engkau sudah berhasil membalaskan kematiannya yang penasaran. Tidak mungkin engkau harus selalu ingat kepadanya dan tidak mencari seorang pengganti yang tepat untuk menjadi jodohmu…”

“Bi Kwi…!” Isak Darmini semakin keras dan kembali ia menyembunyikan mukanya di balik kedua tangan.

“Mbak-Ayu Darmini, aku sayang padamu, aku kagum padamu dan aku dapat merasakan segala penderitaanmu batinmu. Percayalah, sebagai adik kandung Ong Cun, aku sungguh suka dan cinta padamu dan aku dapat melihat bahwa andaikata Ong Cun dapat memberi tanggapan, dia sendiri tentu akan setuju bahwa engkau memilih Raden Sridenta sebagai penggantinya, sebagai calon jodohmu...”

“Bi Kwi, bagaimana... bagaimana engkau bisa tahu bahwa... bahwa dia cinta padaku?” Bi Kwi tersenyum.

“Mbak-Ayu, bukankah engkau juga tahu bahwa ada seorang pria lain yang juga jatuh cinta kepadaku?”

“Dimas Panji Saroto?” Kini Darmini kembali menurunkan kedua tangannya, dan bahkan mulutnya mulai membayangkan senyum. Bi Kwi tersenyum malu-malu dan mengangguk. Keduanya kini termenung dan Darmini sudah menghentikan tangisnya. Bi Kwi membantu menyusuti sisa air matanya dengan saputangan.

“Bi Kwi, aku masih selalu bingung. Terus terang saja, Kakang-Mas Sridenta memang cinta padaku, dan aku… aku… kagum sekali dan suka padanya. Agaknya, dia sajalah orang kedua setelah Ong Cun yang kukagumi dan kusuka dan agaknya tidak sukar bagiku untuk membalas cintanya. Akan tetapi, keadaan diriku ini selalu menjadi seperti momok diriku. Aku sudah ternoda, bukan perawan lagi. Aku ngeri menghadapi kenyataan ini, ngeri membayangkan dia akan memandang hina kepadaku. Aku bingung bagaimana aku harus berskap terhadap dia tentang diriku ini.”

“Mbak-Ayu, satu-satunya jalan yang paling baik adalah menceritakan dengan terus terang apa yang telah terjadi dengan dirimu...”

“Apa?” Darmini terbelalak. “Ah, tidak! Kau maksudkan bahwa aku harus memberi tahu kepadanya bahwa aku bukan perawan lagi?”

“Mbak-Ayu, ceritakan saja seperti bahwa dalam keadaan tidak berdaya engkau diperkosa orang, dan siapa pemerkosa itu. Ceritakan kesemuanya padanya, betapa engkau selama ini merahasiakan hal itu dan dengan susah payah mencari orang yang memperkosamu. Dia akan dapat mempertimbangkan dan tidak akan menyalahkanmu, Mbak-Ayu. Selain itu, andaikata dia lalu menjadi tidak senang, berlawanan dengan dugaanku, andaikata dia lalu menjauhkan diri, bukankah itu masih lebih baik daripada kalau sudah menjadi isterinya lalu dia tahu dan meninggalkannya.” Darmini mengangguk-angguk dan bangkitlah semangatnya.

“Engkau benar! Betapapun pahitnya, aku harus berani menghadapi segala kemungkinan. Engkau sungguh gagah perkasa, Bi Kwi, dan aku harus mencontoh dirimu. Seorang gagah harus berani menghadapi segala macam keadaan, betapa berbahayapun. Bahkan, biarlah hal ini kujadikan ujian, apakah dia benar mencintaku ataukah tidak.”

“Bagus! Begitulah seharusnya, enciku yang manis!”

 “Enci?”

“Kenapa tidak? Enci atau Mbak-Ayu, apa bedanya? Artinya Kakak, dan biarpun aku tidak menjadi adik iparmu, namun aku ingin menjadi adikmu selamanya dan bagiku, engkau adalah Kakakku, engkau adalah satu-satunya orang di dunia ini yang menjadi keluargaku, sahabatku…” Mereka saling berpelukan dan Darmini mencium pipi Bi Kwi, merasa amat sayang dan terharu karena ia tahu bahwa gadis ini yang datang dari tempat sedemikian jauhnya, setelah kematian Kwee Lok, kini memang tidak memiliki keluarga lagi, seorang diri saja di negeri yang asing baginya ini.

Mereka berada di dalam taman yang indah dan luas itu, dibelakang gedung Senopati Raden Gajah. Duduk berhadapan di atas bangku taman. Darmini menceritakan hasil penyelidikannya terhadap pembunuhan Ong Cun sampai berhasil merobohkan Kwee Lok dan Bragolo,

Tentang betapa Kwee Lok membunuh Kakak misan dan Kakak seperguruan sendiri karena takut kalau rahasianya sebagai Walet Hitam yang membantu Wirabumi terbuka oleh Ong Cun yang mengetahuinya. Sebaliknya, Sridenta juga menceritakan betapa dia dan Panji Saroto melakukan penyelidikan terhadap Raden Wiratama dan berhasil mengetahui rahasianya, betapa Wiratama mendatangkan pula Empu Kebondanu dan betapa Ki Bragolo juga menjadi seorang pembantu utamanya, untuk melakukan pembunuhan dan pengacauan terhadap orang-orang penting di Majapahit. Kemudian, mereka melihat Empu Kebondanu pada sore hari itu, membawa pasukan yang menyamar dan berpencar, semua menuju ke rumah Ki Demang Bragolo dan bersembunyi sehingga tidak kentara oleh orang luar.

“Kami berdua menghubungi Paman Senopati Raden Gajah dan membuat persiapan dengan pasukan untuk menyerbu ke rumah Ki Demang Bragolo setelah kami melihat engkau dan Bi Kwi masuk dan tidak muncul kembali. Karena persiapan, itulah maka kami datang agak terlambat,” Sridenta menutup ceritanya.

“Sama sekali tidak terlambat, Kakang-Mas.” kata Darmini sungguh-sungguh. “Bahkan baik sekali pertolonganmu itu datangnya agak terlambat, karena andaikata tidak, belum tentu aku dapat mendengar mereka berdua itu menceritakan rahasia mereka sendiri, karena mereka yakin bahwa kami berdua sudah tidak berdaya dan tidak akan mampu meloloskan diri. Aku dan Bi Kwi sangat berterima kasih kepadamu dan kepada Adimas Panji Saroto, karena kalau tidak ada kalian yang datang menolong, entah apa jadinya dengan kami?”

“Ah, Diajeng Darmini, kenapa engkau masih bersikap sungkan dan berterima kasih? Engkau adalah adik seperguruanku, dan untuk menolongmu, biar dengan taruhan nyawa sekalipun tentu akan kulakukan. Engkau tahu, Diajeng bahwa aku... biarlah, sekarang setelah engkau berhasil menghukum pembunuh tunanganmu dahulu, berarti telah selesai tugasmu, biarlah aku memberanikan diri menyatakan perasaan hatiku, Diajeng. Aku cinta padamu, Diajeng. Hal ini tanpa kukatakan sekalipun, tentu engkau telah mengetahuinya. Aku cinta padamu, dan kalau engkau dapat menerimanya aku akan mohon kepada orang tuaku untuk meminangmu kepada Ibumu.” Mendengar ucapan ini, wajah Darmini berubah merah, lalu pucat dan ia merasa betapa jantungnya berdebar kencang. Inilah saat yang ditunggu-tunggunya dengan perasaan penuh kegelisahan! Ia tahu bahwa Sridenta mencintanya,

Sejak ia belajar ilmu di puncak Bromo, dan ia sudah menduga bahwa pemuda itu tentu akan segera menyatakan cintanya dalam waktu dekat. Kini, biarpun ia sudah siap menghadapi peristiwa ini, ketika Sridenta menyatakan cintanya dengan kata-kata dan sikap sederhana, ingin rasanya ia menangis! Lenyaplah semua keberaniannya, semua persiapan jawabannya membuyar dan ia menjadi ketakutan. Takut membayangkan betapa pandang yang kini menatapnya penuh cinta kasih dan kagum itu akan segera berubah menjadi pandang mata yang mencemoohkan, menghina dan membenci kalau ia sudah membuka rahasia pribadinya! Melihat Darmini menundukkan mukanya saja yang menjadi agak pucat, jari-jari tangannya mempermainkan ujung kemben, Sridenta terpesona. Gadis ini sungguh cantik jelita dan manis sekali dalam pakaian wanita, kelihatan lembut keibuan.

“Diajeng, kenapa engkau kelihatan ragu-ragu? Jawablah sejujurnya, Diajeng, pergunakan kegagahan yang ada padamu untuk berterus terang. Percayalah, aku akan menerima dengan hati tabah andaikata engkau menolak cintaku, berlawanan dengan dugaanku bahwa engkau juga mencintaku. Jawablah, karena kebimbanganlah yang dapat menyiksa hatiku, bukan ketegasanmu.” Kata-kata ini menghidupkan kembali semangat Darmini yang tadinya melemah karena gelisah dan takut. Ia mengangkat mukanya dan kini dua pasang mata itu bertemu pandang, dan keduanya demikian tajam penuh selidik seolah-olah mereka sedang bertanding dengan sinar mata mereka. Akhirnya, Darmini menundukkan kembali mukanya dan terdengar ia berkata lirih namun jelas karena ia telah dapat menguasai perasaannya dan mengusir rasa takutnya.

“Kakang Sridenta, aku merasa terharu dan berterima kasih kepdamu yang telah sudi melimpahkan cinta kasih dan perhatian kepada seorang seperti aku. akan tetapi, Kakang-Mas Sridenta, ketahuilah bahwa aku adalah seorang wanita yang sungguh tidak pantas untuk menjadi jodohmu, menjadi calon isteri seorang ksatria seperti engkau, putera seorang pangeran yang mulia dan terhormat. Aku tidak pantas menjadi sisihanmu untuk selamanya, Kakang-Mas...”

“Diajeng Darmini! bagaimana engkau dapat berkata demikian, Diajeng? Bukankah Eyang Panembahan sudah memberitahukan kepada kita bahwa manusia tidak diukur nilainya dari keadaan lahiriah, melainkan keadaan batinnya? Kedudukan, harta benda, kepandaian, kebangsawanan, hanyalah keadaan lahiriah belaka, Diajeng. Kita adalah dua orang manusia, pria dan wanita dan dimana ada cinta, maka semua keadaan lahiriah yang hanya menjadi embel-embel hidup itu tidak masuk hitungan lagi. Aku cinta padamu, Diajeng, apa dan bagaimanapun juga keadaanmu. Yang kuperlukan saat ini hanyalah jawabanmu, apakah engkau sudi menerima uluran cintaku dan memperbolehkan aku mengajukan pinangan kepada orang tuamu?”

Darmini mengangkat mukanya dan terkejutlah hati Sridenta melihat betapa sepasang mata yang bening itu kini dibasahi air mata, dan betapa pandang mata itu menjadi sayu dan penuh duka, betapa wajah yang tadinya cantik dan cerah bagaikan setangkai bunga mawar bermandikan embun, kini menjadi keruh.

“Diajeng Darmini! Ada... ada apakah?” tanyanya gugup dan khawatir kalau-kalau gadis ini sebetulnya tidak membalas cintanya, seperti yang di duga dan diharapkannya. Dengan mata masih basah dan masih ditujukan kepada pemuda itu dengan pandangan sayu dan duka, Darmini berkata,

“Kakang-Mas Sridenta, dengarlah baik-baik. Aku bukanlah seorang gadis suci seperti yang kau kira, aku... aku bukan perawan lagi!”

“Jagad Dewa Batara...!” Sridenta berseru dan matanya terbelalak, mukanya berubah agak pucat. “Engkau… engkau telah mendengarnya, dan engkau tentu memandang rendah kepadaku...!”

 “Tidak, Diajeng, sama sekali tidak. Aku hanya terkejut saja, karena sama sekali tidak menyangka engkau akan berkata seperti itu.”

“Engkau tidak menyesal? Tidak menganggap aku hina?”

“Tidak sama sekali!” Darmini menatap tajam, melalui genangan air matanya, penuh selidik dan memang ia tidak melihat perubahan pada sinar mata pemuda itu, kecuali kekejutan saja.

“Diajeng Darmini, kalau boleh, aku ingin mendengar ceritamu tentang pengakuanmu tadi.” Karena tidak melihat pandang mata merendahkan dari pemuda itu. Darmini merasa lega. Andaikata ada sedikit saja pandang mata merendahkan, tentu ia sudah meninggalkan Sridenta. Ia lalu menundukkan mukanya, mengusap air matanya sebelum menjawab. Kemudian dengan suara lirih, diceritakanlah peristiwa di malam jahanam itu, dimana ia dalam keadaan penuh dukacita karena kematian Ong Cun, diperkosa orang tanpa ia dapat melawan sama sekali. Hanya karena dendam terhadap kematian Ong Cun, dan juga terhadap perkosaan atas dirinya yang disangkanya dilakukan oleh orang yang sama, ia tidak membunuh diri.

“Aku merasa kehidupanku sudah hancur dan hanya dendam yang dapat menguatkan aku untuk melanjutkan hidup, Kakang-Mas. Karena itulah aku lalu berangkat ke Gunung Bromo untuk berguru ilmu. Setelah turun gunung aku bertekad menemukan orang yang memperkosaku itu disamping menyelidiki tentang pembunuhan Ong Cun.” Kini Sridenta juga sudah dapat menguasai hatinya yang diguncangkan rasa kaget tadi.

“Dan apakah engkau telah berhasil menemukannya?” tanyanya. Darmini mengangguk. “Dia... adalah Ayah tiriku sendiri, Ki Demang Bragolo...”

“Ahhh…!” Kembali Sridenta terkejut dan teringatlah dia betapa ganasnya Darmini menyerang Ki Bragolo, membuntungi kedua lengannya dan hampir membunuhnya kalau tidak ia halangi.

“Nah, Kakang-Mas Sridenta, sekarang engkau telah mengetahui dan hatiku terasa lega. Sejak aku berjumpa denganmu, aku dibayangi rasa takut karena aku harus menyampaikan kenyataan pahit ini kepadamu. Engkau tahu sekarang bahwa aku adalah seorang wanita yang sudah ternoda, bukan perawan lagi, karena itu tidak patut menjadi calon jodohmu...” Tak dapat menahan lagi rasa dukanya, Darmini menangis terisak-isak. Ia sudah siap, takkan mengangkat mukanya kalau mendengar Sridenta pergi meninggalkannya. Akan tetapi, dua buah lengan yang kuat melingkari pundak dan lehernya dan suara yang halus berbisik di dekat telinganya.

“Diajeng, mengapa engkau masih meragukan cintaku padamu? Aku mencinta engkau! Engkau mengerti? Aku mencinta dirimu, lahir batin, bukan mencinta keperawanan, bukan mencinta kedudukan. Dan apapun keadaan dirimu, tidak akan merobah cintaku kepadamu. Apalagi dalam hal ini, hilangnya keperawanmu bukanlah karena kehendakmu, Diajeng. Engkau tidak berdaya dan diperkosa. Engkau tidak bersalah!” Air mata makin deras bercucuran dari kedua mata Darmini.

“Tapi... Kau… kau tidak membenciku... karena itu… Kakang-Mas...?”

“Membenci? Ah, sebaliknya malah. Aku semakin kasihan kepadamu, semakin kagum karena keberanianmu membuat pengakuan itu. Cintaku kepadamu semakin mendalam, Diajeng” “Kakang-Mas...!” Darmini menjerit lirih dan balas merangkul sambil menyembunyikan mukanya di dada Sridenta.

“Aku... aku.. perempuan hina ini, aku... merasa berbahagia karena aku... akupun cinta padamu, Kakang- Mas Sridenta...” Sridenta mendekap kepala di dadanya itu, ketika merasa betapa air mata gadis itu membasahi dadanya, dia menengadah, seolah-olah hendak menghaturkan puji syukur yang dipanjatkan ke angkasa. Air mata di dadanya itu seperti menembus kulitnya, menyirami taman hatinya sehingga seperti tanah yang kering merekah, tiba-tiba disiram air hujan, menjadi sejuk nyaman segar dan subur, siap untuk menumbuhkan bunga-bunga cinta.

Sementara itu, disudut lain dari taman itu, agak jauh dan tidak nampak oleh mereka, terdapat pula pasangan lain yang sedang duduk bercakap-cakap, di atas rumput hijau dikelilingi bunga mawar dan melati yang semerbak harum. Mereka adalah Bi Kwi dan Panji Saroto. Memang, pemuda ini datang bersama Sridenta, berkunjung ke gedung Senopati Raden Gajah, dan diterima oleh dua orang gadis itu yang membawa mereka berjalan-jalan di dalam taman dan kemudian dua pasangan itu berpencar.

“Nona Bi Kwi, kebetulan kita sekarang berdua saja. Kesempatan ini akan kupergunakan untuk membicarakan sesuatu yang selama ini memenuhi seluruh batinku...”

“Raden, kita sudah menjadi sahabat, kenapa engkau masih begitu sungkan menyebut nona kepadaku?” kata Bi Kwi sambil tersenyum, menatap wajah pemuda yang sejak pertama kali berjumpa telah menarik hatinya itu.

“Habis, apakah aku harus menyebutmu, Diajeng? Diajeng Bi Kwi, ah, betapa lucunya...?” “Sebut saja Kwi-moi.”

“Apa artinya?”

“Moi berarti adik perempuan atau juga Diajeng, maka kalau engkau menyebut Kwi-moi, sama saja dengan Diajeng Kwi, begitu.”

“Baiklah, Kwi-moi... Hemm enak juga sebutan ini. Akan tetapi engkaupun jangan menyebut aku Raden lagi.”

“Habis, bagaimana ? Engkau adalah putera seorang putera bangsawan…” “Sebut aku Kakang-Mas Panji Saroto, bagaimana?”

“Kakang-Mas Panji Saroto...”

“Nah, begitu baru enak di hati, Kwi-moi.” Keduanya tertawa gembira.

“Oya, apakah yang hendak kau bicarakan tadi, Kakang-Mas?” Panji Saroto dapat bersikap jenaka, akan tetapi kini dia memandang dengan sinar mata bersungguh.

 “Kwi-moi, terus terang saja, sejak aku merasakan pondonganmu dahulu itu, aku... rasanya aku ingin kau pondong terus...!”

“Ihhh…!” Wajah gadis itu berubah merah.

“Engkau memang nakal dan genit, suka menggoda orang, Kakang-Mas.”

“Sungguh, Kwi-moi. Semenjak kita saling berjumpa, hatiku tertarik kepadamu dan wajahmu tak pernah dapat kulupakan. Sekarang aku yakin bahwa aku telah jatuh cinta padamu, Kwi-moi. Aku… aku ingin agar engkau suka menjadi isteriku. Bagaimana, Kwi-moi? Sukakah engkau menerimaku sebagai suamimu?”

Wajah yang manis itu menjadi semakin merah dan Panji Saroto memandang terpesona. Gadis ini berpakaian daerah, sungguh manis dan memiliki kecantikan yang lucu dan aneh, namun menarik sekali. Matanya yang agak sipit itu dapat mengerling tajam seperti membetot kalbunya, dan senyum dimulut kecil itu amat menggairahkan. Bi Kwi menundukkan mukanya sampai lama, tidak mampu menjawab. Pikirannya melayang-layang dan hanya dengan kekerasan hatinya ia tidak sampai mengeluarkan air mata. Teringatlah ia betapa ia hidup sebatangkara dinegeri orang yang jauh, betapa ia tidak punya orang tua lagi, tiada sanak kadang, satu-satunya sahabat yang dianggap sebagai saudaranya sendiri hanyalah Darmini seorang. Dan pemuda ini memang sejak semula telah menarik hatinya.

“Bagaimana, Kwi-moi? Aku tidak main-main, jawablah sejujurnya.” Bi Kwi mengangkat mukanya dan dua pasang mata mereka saling bertemu, bertaut sampai beberapa lamanya, kemudian Bi Kwi berkata,

“Kakang-Mas, sudah kau pikirkan benar-benar ucapanmu tadi? Mungkinkah seorang pemuda seperti engkau mencinta seorang gadis seperti aku?”

“Kenapa tidak? Aku seorang pria yang sehat lahir batin, dan engkau seorang wanita yang sehat lahir batin, mengapa tidak mungkin aku mencintamu?”

“Bukan begitu maksudku, Kakang-Mas. Akan tetapi engkau adalah putera seorang bangsawan yang berkedudukan tinggi, sedangkan aku...”

“Engkau seorang gadis yang cantik jelita dan manis, memiliki kepandaian yang tinggi pula!”

“Aku hanyalah seorang gadis sebatangkara, tidak mempunyai keluarga lagi, tidak mempunyai apa-apa…”

“Kalau sudah menjadi isteriku, keluargamu menjadi besar, dan engkau memiliki segala-galanya, Kwi-moi, dirimu itu, pribadimu itu, bagaimana engkau bilang tidak memiliki apa-apa?” Bi Kwi kewalahan,

“Akan tetapi, Kakang-Mas, aku... aku adalah seorang gadis Cina...”

“Apa salahnya? Engkau gadis Cina, aku pemuda Jawa, apa bedanya? Cina juga manusia, Jawa juga manusia. Perbedaannya hanya pada kulit dan lahiriah belaka. Mungkin kulitmu agak lebih putih dari pada aku, mungkin matamu agak lebih sipit daripada mataku, mungkin Bahasa aselimu berbeda dengan bahasaku, akan tetapi engkaupun pandai dalam bahasaku. Perbedaan tidak ada artinya dibandingkan persamaan antara kita sejak lahir sampai kelak kalau sudah mati.”

“Eh? Persamaan yang bagaimana?”  

“Ketika lahir, kita sama-sama dilahirkan oleh seorang Ibu, dan begitu terlahir kita sama-sama menangis, bukan? Ataukah barangkali ketika terlahir, engkau terbahak-bahak?” Bi Kwi tersenyum geli.

“Ih, aneh-aneh saja engkau ini, Kakang-Mas. Bagaimana aku bisa tahu ketika terlahir aku menangis atau tertawa?”

“Akan tetapi aku yakin bahwa Bangsa Cina pun kalau bayinya terlahir, bayi itu tentu menangis. Kemudian lihat seluruh anggauta tubuh kita. Sama, bukan? Matamu dua, seperti mataku, biarpun matamu jauh lebih indah. Hidungmu satu, seperti hidungku, biarpun hidungmu kecil mancung dan lucu. Telingamu dua seperti telingaku, tangan dan kakimu sepasang seperti...” Bi Kwi tertawa. “Sudahlah, Kakang-Mas. Tentu saja semuanya sama karena memang kita berdua ini manusia yang lumrah.”

“Nah, kalau sudah sama, apa lagi? Cina atau Jawa sama saja. Yang saling mencinta itu orangnya, hatinya, bukan bangsanya. Aku cinta padamu, Kwi-moi. Sekali lagi, aku cinta padamu. Sekarang, tidak perlu engkau menjawab dengan segala macam urusan tentang Cina dan Jawa, bangsawan atau bukan, kaya atau miskin. Jawab saya, engkau cinta padaku atau tidak? kalau tidak, terpaksa aku mundur teratur, akan tetapi kalau engkaupun cinta padaku, kita kawin, menjadi suami-isteri dan hidup berbahagia, punya anak selusin!”

“Ih, banyaknya!”

“Aku senang banyak anak, enam perempuan enam laki-laki!” “Enaknya! Aku yang repot mengurusnya!”

“Aku akan membantumu!”

“Eh, apa-apaan kita bicara tentang anak-anak?” Bi Kwi merasa geli sendiri.

“Kwi-moi, kalau kita saling mencinta dan menikah, tentu kita mempunyai banyak anak. Kwi-moi, katakanlah apakah engkau menyambut uluran cintaku? Apakah engkau juga mencintaku seperti aku mencintamu?” Bi Kwi tersenyum. Tak dapat disangkal lagi bahwa ia mencinta pemuda ini. Akan tetapi ia masih ragu-ragu melihat perbedaan antara mereka, terutama sekali mengenai kebangsaan.

“Kakang-Mas, terus terang saja, aku ingin sekali mengetahui karena aku khawatir sekali, yaitu apakah orang tuamu sudi menerima aku sebagai mantu mereka?”

“Aku yakin mereka akan menerima dengan gembira sekali!” “Bagaimana engkau bisa begitu yakin, Kakang-Mas Panji Saroto?”

“Karena aku sudah membicarakan hal ini dengan Ayah dan Ibuku, dan mereka sangat setuju! Ayahku juga kagum kepadamu dan engkau akan diterima sebagai seorang mantu yang terhormat dan dikagumi. Nah, tidak ada lagi aral melintang bukan? Sekarang katakan, apakah engkau juga cinta padaku?” Bi Kwi memandang dengan wajah berseri dan sinar mata cerah, penuh kebahagiaan mendengar itu, lalu ia tersenyum. Manis sekali,

 “Kakang-Mas Panji Saroto, masih perlukah aku harus mengucapkan pengakuan cinta? Apakah engkau tidak mendengar bisikan hatiku, dan tidak melihat pancaran sinar mataku?”

“Kwi-moi...!” Panji Saroto maju merangkul dan di lain saat, gadis itu telah berada dalam dekapannya. Bi Kwi menyembunyikan muka di dada yang bidang itu dan tubuh kedua orang itu menggetar penuh perasaan.

“Kwi-moi, bagaimanapun juga, aku ingin mendengar suaramu mengaku cinta padaku...” Bi Kwi mengangkat mukanya dan mereka saling berpandangan, dekat sekali, lalu ia berbisik lirih dalam Bahasa Cina,

“Aku cinta padamu...” Tentu saja Panji Saroto tidak mengerti ucapan ini, akan tetapi cinta memang merupakan sesuatu yang ajaib. Biarpun tidak mengenal kata-kata Cina itu, namun Panji Saroto mengerti dan diapun menunduk dan dua buah mulut itu saling cium dengan mesra, seolah-olah menjadi materai yang mengesahkan berpadunya dua hati yang saling mencinta, dimana tidak ada lagi halangan-halangan remeh berupa perbedaan suku atau bangsa, perbedaan kedudukan dan lain-lain lagi.

Sampai disini, berakhirlah sudah kisah “Kilat Pedang Membela Cinta” ini, dan ditutup dengan harapan pengarang semoga di samping memberi hiburan di kala senggang, juga kisah ini mengandung manfaat bagi para pembaca.

Lereng Lawu, akhir April 1981.

TAMAT