-->

Kilat Pedang Membela Cinta Jilid 8

Jilid 8

“Setelah menerima perintah, kami berempat lalu menghadangnya dan pada malam itu, tak berapa jauh dari rumah Ki Demang Bragolo di Lumajang, ketika pemuda Cina itu keluar dari taman, kami membayangi dan di jalan yang sunyi kami lalu menyerangnya. Dia melawan dan kami berkelahi di tempat yang mulai gelap itu.”

“Dan kalian... kalian membunuhnya…?” Bi Kwi berteriak dengan suara gemetar, kedua tangannya dikepal dan sukar baginya untuk menahan diri.

“Tidak!” Bajul Sengoro menggeleng kepala. “Kami... kami kalah dan kami nyaris celaka...”

“Keparat, jangan bohong!” Tiba-tiba Panji Sarono berteriak. “Bajul Sengoro, kalian pulang dan mengatakan kepadaku bahwa kalian sudah berhasil membunuhnya, dan kalian menuntut upah yang besar!”

“Bukan... bukan kami yang membunuhnya, raden.”

“Kalau begitu engkau menipuku!” Panji Sarono berteriak lagi. Ayahnya lalu menghardiknya.

“Panji Sarono, tutup mulutmu! Baru terbuka matamu betapa engkau tidak boleh bergaul dan percaya kepada orang-orang macam ini? Nini Darmini, teruskan pemeriksaanmu terhadap mereka!”

“Bajul Sengoro, engkau mengatakan bahwa engkau dan tiga orang kawanmu tidak mampu membunuh Ong Cun karena kalian kalah. Hal ini masuk di akal,” Darmini memandang kepada Bi Kwi yang mengerti bahwa memang sukar dipercaya kalau empat orang ini mampu mengalahkan dan membunuh Kakak kandungnya yang lihai itu. “Akan tetapi, engkau telah melapor kepada Kakang-Mas Panji Sarono bahwa kalian telah membunuhnya, dan tadi kau katakan bahwa bukan kalian yang membunuhnya. Bagaimana ini? Siapa sesungguhnya yang telah membunuhnya? Kalian harus dapat mengatakan, baru aku percaya benar bahwa kalian bukan pembunuhnya.”

“Kami tidak tahu, ketika kami berempat kewalahan menghadapi pemuda Cina itu, di dalam keremangan malam, tiba-tiba muncul bayangan hitam yang menyerang pemuda itu dengan tiba-tiba. Pemuda Cina itu terluka dan roboh, dan kemudian kami mendengar bahwa dia telah tewas.”

“Bayangan hitam? Siapa dia...?” Bi Kwi ikut membentak. Empat orang itu saling pandang dan kini Bajul Kanisto yang membantu Kakaknya menjawab.

“Keadaan waktu itu remang-remang, kami sungguh tidak mengetahui siapa orang yang mengenakan pakaian serba hitam itu, apalagi dia memakai sebuah topeng hitam pula.”

 “Pakaian hitam? Topeng hitam? Perawakannya sedang dan tegap?” Darmini bertanya, suaranya mendesak dan napasnya memburu. Empat Bajul itu mengangguk dan membenarkan.

“Si Walet Hitam...!” Darmini berseru sambil mengepal tinju. Empu Tanding terkejut mendengar disebutnya nama ini.

“Si Walet Hitam? Tapi dia... dia juga seorang Cina, dialah yang membantu pemberontak Lumajang, dia pula yang mengakibatkan orang-orang Cina dimusuhi!” Darmini mengangguk-angguk,

“Hemmm... Walet Hitam, dia membunuh Ong cun. Aku harus menemukan dia, apapun yang terjadi!” “Aku akan membantumu, Mbak-Ayu Darmini!” kata Bi Kwi.

“Akupun akan mencari jejaknya agar engkau dapat cepat menemukannya, diajeng Darmini,” kata Sridenta.

“Terima kasih, Kakang-Mas. Akan tetapi, masih ada lagi pertanyaan yang harus kusampaikan kepada Kakang-Mas Panji Sarono. Kakang-Mas Panji, dari keterangan empat orang ini, jelas bahwa pembunuh Ong Cun bukan engkau, bukan pula mereka ini, melainkan menurut perkiraanku adalah Walet Hitam, sekarang aku masih ingin bertanya kepadamu. Apa yang kau lakukan pada malam itu, malam sesudah terjadi pembunuhan atas diri Ong Cun? Apa yang telah kau lakukan pada malam Jumat Kliwon yang terkutuk itu?” Panji Sarono memandang wajah Darmini dengan sinar mata penuh pertanyaan. Sejenak mereka berpandangan dan Darmini melihat bahwa pemuda itu tidak menyembunyikan sesuatu.

“Apa maksudmu, Darmini? Aku begitu gugup setelah mereka membohongi aku bahwa mereka telah berhasil membunuh pemuda Cina itu, dan karena khawatir, malam-malam berikutnya aku tidak berada di Lumajang, melainkan lari ke Majapahit sini untuk mencari hiburan.” Darmini percaya akan keterangan ini. Memang bukan pemuda ini yang telah memperkosanya karena orang itu memiliki tubuh yang lebih besar.

“Satu pertanyaan lagi, Kakang-Mas Panji Sarono, dan kuharap engkau suka memberi keterangan yang sejujurnya. Ketika aku pergi untuk berguru ke Gunung Bromo, di dalam hutan di kaki Gunung Bromo, aku dan pengawalku, yaitu Paman Nala, diserang orang dengan anak panah sehingga Paman Nala terkena anak panah dan tewas...”

“Aku sama sekali tidak tahu akan hal itu! Aku tidak membunuh pengawalmu atau siapapun juga!” Panji Sarono membantah cepat.

“Pertanyaanku belum habis, Kakang-Mas Panji Sarono, ketika aku bertemu dengan Paman Empu Kebondanu yang menyuruh aku bertapa dalam sebuah guha, lalu muncul seorang bertopeng yang menggangguku. Tahukah engkau siapa orang itu?” Terdengar seruan tertahan dan Darmini melirik ke arah Sridenta yang mengeluarkan Suara itu. Ia melihat Kakak seperguruan itu mengerutkan alisnya dan memandang tajam ke arah Panji Sarono sehingga iapun kini menatap lagi wajah Panji Sarono yang nampak agak pucat.

“Aku... tidak tahu apa-apa...”

 “Diajeng Darmini, dialah orangnya! Dialah dulu yang bertopeng mengganggumu di dalam guha itu. Tadi ketika aku berkelahi dengannya, aku sudah merasa heran karena mengenal gerakan-gerakannya, akan tetapi aku lupa lagi di mana dan kapan.Ketika tadi engkau bercerita tentang gangguan orang bertopeng di dalam guha itu, teringatlah aku.” Tiba-tiba Sridenta berkata dan mendengar ini wajah Panji Sarono menjadi makin pucat.

“Hemm, keparat! Puteraku boleh jadi menyeleweng, akan tetapi tidak boleh menjadi pengecut! Panji Sarono, kalau benar engkau bersalah, mengakulah!” bentak Empu Tanding yang mukanya berubah merah sekali, apalagi tadi dia melihat sendiri betapa Empu Kebondanu berada di situ, tanda bahwa memang ada hubungan antara puteranya ini dengan Empu Kebondanu yang berkhianat dan dia sudah mendengar betapa Kakak seperguruannya itu kini membantu Wiratama.

“Baiklah, Kanjeng Rama, saya akan mengaku,” katanya dengan muka pucat. “Saya tidak sudi menjadi pengecut. Penolakan cinta dan pinangan saya terhadap Darmini sungguh menyakitkan hati saya, kemudian pengakuan Empat Bajul bahwa mereka telah berhasil membunuh Ong Cun, membuat hati saya selalu gelisah. Oleh karena itu, setelah berada di Kotaraja, saya lalu mengambil keputusan untuk pergi mengunjungi Paman Empu Kebondanu, untuk belajar ilmu dan sementara menjauhkan diri. Akan tetapi, pada suatu hari, saya melihat Darmini menghadap Paman Empu Kebondanu dan diperintahkan bertapa di sebuah guha. Hati saya tergerak dan bujukan iblis menguasai saya. Saya lalu mengenakan topeng dan bermaksud untuk memiliki diajeng Darmini, walaupun secara paksa… akan tetapi orang ini datang menggagalkan niat saya…” Dia memandang kepada Sridenta. Empu Tanding marah sekali.

“Jahanam engkau, Panji Sarono! Semenjak kecil segala keinginanmu kupenuhi belaka, dan sekarang apa yang kau lakukan untuk membalas semua kebaikan orang tuamu? Engkau mencoreng arang di muka orang tuamu dengan perbuatan yang keji dan jahat! Sungguh memalukan. Hayo katakan, apa pula artinya kehadiran Kakang Empu Kebondanu disini!” Panji Sarono sudah merasa tersudut dan diapun kini melihat kenyataan betapa semua tingkah lakunya yang lalu bertentangan sama sekali dengan watak Ayahnya atau juga watak adiknya, Panji Saroto. Dia dikelilingi oleh teman-teman yang pandai membujuknya, menyeretnya ke dalam kesesatan melalui kesenangan-kesenangan dan pengumbaran nafsu.

“Kanjeng Rama, sesungguhnya Paman Empu Kebondanu mendatangi saya untuk membujuk saya agar suka bersekutu dengan Wiratama dan membantu gerakan mereka bersama semua pembantu dan anak buah saya…”

“Keparat jahanam! Engkau bahkan hendak menjadi pengkhianat!” Empu Tanding mencabut kerisnya dengan muka merah, akan tetapi pada saat itu Panji Saroto meloncat ke depan dan memegang lengan Ayahnya.

“Kanjeng Rama harap ingat dan menyadari bahwa Kakang-Mas Panji Sarono adalah putera Kanjeng Rama sendiri,” kata pemuda ini dengan tenang.

“Tapi dia tersesat, harus dihukum!” bentak Empu Tanding.

“Benar sekali, Kanjeng Rama, akan tetapi bukan melalui kematian di tangan Kanjeng Rama sendiri. Masih ada pengadilan yang akan mempertimbangkan kesalahannya. Bagaimanapun juga, perbuatannya yang jahat terhadap Mbak-Ayu Darmini belum terlaksana, bukan? Juga, dia belum sampai berkhianat, baru menerima bujukan Paman Empu Kebondanu. Bahkan usahanya membunuh Ong Cun ketika itupun  

gagal, berarti bukan dia yang bertanggung jawab atas kematian Ong Cun. Bukankah demikian, Mbak-Ayu Darmini?” Melihat betapa marahnya Empu Tanding yang hendak membunuh puteranya sendiri, Darmini juga membujuk,

“Sudahlah, Kanjeng Paman, memang benar seperti dikatakan Adimas Panji Saroto.” Akan tetapi Empu Tanding masih marah sekali. Dia lalu memanggil perajurit-perajuritnya dan memerintahkan mereka agar menangkap Panji Sarono, Empat Bajul dan semua anak buah Panji Sarono, menjebloskan mereka ke dalam penjara menanti keputusan pengadilan selanjutnya! Dengan kepala ditundukkan dan tidak melawan sama sekali Panji Sarono lalu ditangkap bersama semua anak buahnya, digiring oleh pasukan perajurit ke dalam penjara. Melihat keadaan Kakaknya yang amat dicintainya, Panji Saroto menjadi sedih sekali dan diapun mengepal tinju lalu berkaa lantang,

“Keparat Wiratama! Dialah yang menjadi biang keladi sampai Kakang-Mas Panji Sarono terbujuk! Aku akan membuka kedoknya dan menghancurkan persekutuannya!” Sridenta yang sejak tadi merasa suka dan kagum kepada putera ke dua Empu Tanding ini, segera berkata,

“Kalau boleh, aku bersedia membantumu, Adimas Panji Saroto.” Panji Saroto juga kagum terhadap Sridenta, apalagi mendengar bahwa pemuda ini adalah Kakak seperguruan Darmini, bahkan putera dari Pangeran Arya Cakra, bangsawan tinggi yang sudah meninggal dunia dan yang meninggalkan nama harum diantara para bangsawan dan pamong praja.

“Aku akan merasa gembira sekali kalau kita dapat bekerja sama, Kakang-Mas Sridenta.” Sementara itu, Darmini yang diam-diam merasa kecewa sekali karena penyelidikannya ternyata tidak berhasil menemukan musuh yang dicarinya, segera berpamit kepada Empu Tanding.

“Kanjeng Paman, saya mohon pamit dan maafkanlah kalau saya telah mendatangkan hal-hal yang tidak enak bagi keluarga Kanjeng Paman.” Empu Tanding menarik napas panjang. Betapa segala peristiwa besar dimulai dari hal-hal kecil, api kebakaran yang besarpun selalu dimulai bunga api yang kecil. Andaikata dahulu gadis ini menerima pinangan puteranya, dan berjodoh dengan Panji Sarono, tentu Ong Cun tidak sampai terbunuh dan tidak akan terjadi perkara sekarang ini. Mungkin saja kebijaksanaan Darmini sebagai isteri Panji Sarono akan dapat mengubah jalan hidup puteranya yang tersesat itu. Kalau saja... Kalau saja… ah, semua itu hanya khayal muluk. Kenyataannya amatlah pahit. Dia tidak banyak cakap, hanya berkata dengan suara sedih.

“Tidak perlu minta maaf, Nini. Bahkan engkau telah berjasa karena kalau tidak ada sepak terjangmu ini, mungkin sampai kini aku tidak tahu akan keadaan dan penyelewengan Panji Sarono, bahkan mungkin dia akan benar-benar membantu Wiratama dan hal itu akan merupakan malapetaka paling besar bagi keluarga kami.” Ketika hendak pergi, ada kilatan empat pasang mata yang saling pandang. Antara mata Bi Kwi dan Panji Saroto, dan antara mata Darmini dan Sridenta.

Biarpun hanya sekilas pandang, namun masing-masing merasa seolah-olah pandang mata masing- masing itu menembus sampai jantung. Dalam perjalanan pulang ke rumah Raden Gajah, dua orang gadis itu tidak banyak bicara. Masing-masing berjalan sambil termenung, dan diam-diam masing-masing membayangkan wajah pria yang menarik hati mereka. Bi Kwi kagum kepada Panji Saroto yang ternyata bertindak cepat. Tanpa diberitahukan ia dapat menduga bahwa munculnya Empu Tanding bersama pasukannya tentu karena pemberitahuan Panji Saroto, dan ia melihat betapa besar perbedaan dalam watak antara Panji Sarono yang tersesat dengan Panji Saroto yang gagah perkasa dan bijaksana. Ketika Panji Saroto mencegah Ayahnya hendak membunuh Panji Sarono sudah menunjukkan betapa pemuda itu amat bijaksana. Juga Darmini terkenang kepada Sridenta.

Pemuda itu muncul dalam saat yang amat tepat, karena kalau tidak ada Sridenta, tentu ia dan Bi Kwi terancam bahaya besar. Biarpun keduanya tertarik dan selalu membayangkan pria yang dikaguminya, namun mereka merasa kecewa. Peristiwa yang terjadi dengan Empat Bajul dan Panji Sarono membuyarkan harapan mereka untuk dapat membongkar rahasia kematian Ong Cun dan Nala, juga bagi Darmini, masih belum dapat ia menduga siapa yang memperkosanya. Yang diketahuinya hanyalah rahasianya orang bertopeng yang mengganggunya di dalam guha, ternyata orang itu adalah Panji Sarono. Akan tetapi peristiwaitu kecil saja artinya dibandingkan tiga peristiwa lain yang belum dapat di bongkar, yaitu kematian Ong Cun, kematian Paman Nala dan pemerkosaan atas dirinya. Melihat Darmini termenung dan kadang-kadang menarik napas panjang, Bi Kwi berkata,

“Engkau tentu kecewa, seperti aku, karena rahasia kematian Kakakku Ong Cun belum juga terbongkar dan ternyata mereka itu tadi tidak bertanggung jawab atas kematiannya.”

“Benar adikku. Betapapun juga, kita memperoleh jejak baru, yaitu Walet Hitam. Kita harus dapat menemukannya!”

“Memang, kita harus dapat menemukannya, Mbak-Ayu Darmini. akan tetapi, dimana dia?”

“Akupun tidak tahu dan tidak dapat menduganya. Akan tetapi, mari kita bicarakan dengan Paman Raden Gajah. Bukankah dia tahu siapa adanya orang rahasia itu? Mungkin dia dapat memberi petunjuk kepada kita.” Akan tetapi, dua orang gadis itupun tidak memperoleh petunjuk yang memuaskan dari Raden Gajah. Senopati ini mendengar semua penuturan Darmini tentang peristiwa yang terjadi dengan keluarga Empu Tanding dan diapun menghela napas panjang.

“Sungguh sayang sekali mengapa putera sulung Empu Tanding sampai melakukan penyelewengan dan bergaul dengan orang-orang jahat, bahkan akhir-akhir ini berhubungan dengan kaum pemberontak Lumajang. Empu Tanding sendiri adalah seorang hamba Majapahit yang setia, dan merupakan pembantuku yang boleh dipercaya. Tindakannya sungguh tepat untuk menawan puteranya sendiri dan anak buah Panji Sarono. Akan tetapi, tentang Walet Hitam, siapa yang dapat mencarinya? Sejak dahulu, ketika dia membantu mendiang Wirabumi, orang itu penuh rahasia dan sukar sekali ditangkap. Dia memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tidak seorangpun tahu siapa dia sebenarnya, walaupun kami yakin bahwa dia adalah seorang Cina yang berilmu tinggi. Mengingat bahwa dia dahulu membantu Lumajang, sangat boleh jadi sekarang diapun berhubungan dekat dengan orang-orang yang masih setia kepada Lumajang. Dan tokoh yang paling menonjol adalah Wiratama.” Hanya itulah petunjuk yang dapat diberikan oleh Raden Gajah. Dua gadis itu lalu mengadakan perundingan di dalam kamar mereka.

“Aku tidak yakin bahwa Walet Hitam berada di rumah Wiratama,” kata Bi Kwi. “Selama aku berada di rumah itu, aku memperoleh kebebasan dan tidak pernah aku melihat Walet Hitam di sana. Andaikata benar dia berada di sana, walaupun secara bersembunyi, tak mungkin aku tidak melihatnya atau bayangannya. Kurasa Walet Hitam mempunyai tempat persembunyian yang lain.” Darmini mengerutkan alisnya dan mengangguk-angguk.

“Karena engkau pernah tinggal di sana, tentu pendapatmu itu ada benarnya. Akan tetapi, petunjuk Paman Senopati itupun tepat. Mengingat bahwa Walet Hitam pernah membela Wirabumi, maka setelah kini dia muncul lagi, boleh dipastikan dia berhubungan dengan orang-orang yang setia kepada Lumajang. Kita tinggal mencari saja tokoh mana selain Wiratama yang setia kepada Lumajang, tentu saja tokoh yang menonjol dan penting.

“Ki Demang Bragolo...!” kata Bi Kwi. Darmini terkejut memandang kepada Bi kwi dan ia terheran. “Kanjeng Rama Bragolo...? Wah, bagaimana engkau dapat mencurigainya, Bi Kwi?”

“Maaf, Mbak-Ayu Darmini, aku hampir lupa bahwa dia adalah Ayahmu...” kata Bi Kwi, memandang khawatir. Darmini tersenyum dan memegang lengan Bi Kwi.

“Hanya Ayah tiri, adikku, dan kini hubungan antara kami tidak baik lagi karena Ibuku ditinggalkannya di Lumajang.”

“Ayah tiri...?” Bi Kwi nampak terkejut. “Kenapa Kwee-Toako tiak pernah menceritakan hal itu kepadaku?”

“Kwee Lok tentu tidak tahu. Aku tidak pernah bercerita kepada siapapun, bahkan mendiang Ong Cun sendiri tidak tahu. Kanjeng Rama selalu baik kepadaku, seperti kepada anak kandung sendiri. Hanya sekembaliku dari perguruan, dan melihat betapa Ibu kandungku tidak ikut bersama dia ke Majapahit karena Ibuku tidak tahan terhadap kesombongan seorang selir barunya, hubungan antara kami menjadi agak tegang. Akan tetapi, lepas dari pada hubungan keluarga antara dia dan aku, apa sebabnya engkau tadi menyebut namanya sebagai orang yang patut dicurigai menyembunyikan Walet Hitam?”

“Begini, Mbak-Ayu Darmini. ketika pertama kali kita bertemu di rumah Ki Demang Bragolo, aku datang berkunjung kepadanya, dibawa oleh Wiratama, aku melihat betapa sikapnya amat merendah terhadap Wiratama. Aku yakin bahwa Ki Demang bragolo berpihak kepada Wiratama. Tentu dia juga termasuk kelompok orang yang setia kepada Lumajang, memusuhi Majapahit. Nah, bukankah hal itu mencurigakan dan siapa tahu, Walet Hitam bersembunyi di rumahnya.” Darmini mengerutkan alisnya dan mengangguk-angguk. Siapa tahu, pikirnya. Terjadi perubahan besar pada diri Ayah tirinya itu. Ia sendiri tidak sangat yakin akan kesetiaan Ayahnya terhadap Majapahit. Bukankah Ayahnya juga seorang yang dulu setia kepada Lumajang.?

“Memang sebaiknya kita menyelidiki pula kemungkinan itu,” katanya. “Mulai sekarang setiap hari, terutama sekali malamnya, kita haus keluar dan melakukan pengintaian, terutama di rumah Wiratama dan Ki Demang Bragolo.” Demikianlah, mulai hari itu, kedua orang gadis perkasa ini setiap malam berkeliaran di seluruh kota, kadang-kadang mereka mendekam dan mengintai di atas genteng rumah tak jauh dari gedung Wiratama atau Ki Demang Bragolo. Mereka melakukan pengintaian dengan amat tekun.

Pada suatu malam terang bulan, beberapa hari kemudian, ketekunan mereka memperoleh hasil. Ketika itu keduanya melakukan pengintaian terhadap rumah Ki Demang Bragolo dan menjelang tengah malam, sewaktu mereka mulai merasa bosan dan hendak pergi mencari ke lain tempat, tiba-tiba Darmini yang kebetulan memandang ke arah kiri, memegang lengan Bi Kwi. Gadis ini menengok dan iapun melihat apa yang dilihat Darmini. sesosok bayangan hitam nampak datang menuju ke rumah gedung Ki Demang Bragolo. Dua orang gadis itu serentak berlompatan menyambut orang itu dan setelah dekat, mereka menjadi semakin bersemangat karena bayangan itulah yang mereka cari selama ini! Seorang yang memakai pakaian dan topeng hitam! Orang itu nampak terkejut, terlihat dari sinar matanya dari balik topeng hitam itu, ketika melihat betapa tahu-tahu ada dua orang pemuda berdiri didepannya. “Berhenti!” Darmini menghardik dan memandang tajam. “Engkau Walet Hitam yang dulu pernah hendak membunuh Raden Gajah! Mengakulah saja bahwa dahulu engkau telah membunuh Ong Cun. Akan tetapi orang bertopeng itu tidak menjawab, hanya sepasang mata dibalik topeng itu mencorong dan memandang Darmini dengan sinar mata tajam penuh tantangan.

“Hek-Yan-Cu (Walet Hitam), kalau engkau memang seorang gagah yang bertanggung jawab, mengakulah bahwa engkau benar telah membunuh Kakakku Ong Cun!” kata pula Bi Kwi, mempergunakan bahasa Cina sambil memandang penuh selidik, seolah-olah ingin ia merobek topeng itu dengan pandang matanya. Akan tetapi, Walet Hitam juga tidak menjawab, bahkan tiba-tiba ia menggerakkan tubuhnya hendak melarikan diri.

“Pembunuh jahat, hendak lari ke mana kau?” Darmini membentak dan bersama Bi Kwi iapun meloncat dan menghadang, lalu menyerang denga pedang Lian-Hwa-Kiam yang sudah siap di tangannya.

Bi Kwi juga sudah mencabut pedang Liong-Cu-Kiam dan menyerang dengan dahsyat. Menghadapi serangan pedang dua orang gadis itu, Walet Hitam meloncat jauh ke belakang sambil mencabut pedang dari punggungnya. Diapun menggerakkan pedangnya dan terdengarlah suara berdencing berulang kali ketika pedangnya bertemu dengan pedang kedua gadis yang mengeroyoknya. Terjadilah perkelahian yang hebat dan mati-matian. Ilmu pedang Walet Hitam memang tangguh sekali, pedangnya lenyap dan menjadi sinar pedang bergulung-gulung, bagaikan seekor naga menghadapi serangan pedang dua gadis itu. Namun, ilmu pedang Bi Kwi dan Darmini juga cukup tangguh sehingga betapapun lihainya Walet Hitam menghadapi pengeroyokan dua wanita yang menyerang penuh semangat dan kemarahan bagaikan dua ekor naga betina itu, dia merasa repot juga.

“Keparat!” teriak Bi Kwi setelah beberapa lamanya ia melihat gerakan pedang di tangan lawan. “Kiranya engkau seorang murid Siauw-Lim-Pai pula, seorang murid murtad dan menyeleweng yang suka melakukan kejahatan! Akulah yang akan mewakili Siauw-Lim-Pai menghukum murid murtad macam engkau!” Pedangnya berputar semakin cepat.

Walet Hitam menjadi semakin kewalahan dan dia hanya mampu mengelak dan menangkis saja, berloncatan ke sana-sini dan terus mundur, didesak hebat oleh dua batang pedang pusaka yang berkelebatan bagaikan kilat menyambar-nyambar mencari nyawa. Maklumlah dia bahwa kalau dilanjutkan, dia akan kalah dan akan celaka di tangan dua orang gadis yang perkasa itu. Dia terus mundur sampai akhirnya dia tiba dimulut lorong sempit dimana terdapat beberapa batang pohon besar yang membuat tempat itu menjadi gelap karena sinar bulan tidak dapat menembus daun pohon yang rimbun itu. Tiba-tiba dia mengeluarkan seruan dari tenggorokannya, dan tangan kirinya bergerak.

“Awas senjata rahasia!” teriak Bi Kwi yang mengenal gerakan ini, ia terus memutar pedang di depan dadanya untuk melindungi tubuhnya.

Darmini terkejut, tidak mengenal gerakan itu, akan tetapi teriakan Bi Kwi membuat ia sadar bahwa ia terancam oleh sambaran senjata gelap, maka iapun cepat melempar tubuh ke atas tanah dan bergulingan. Terdengar suara nyaring ketika pedang Bi Kwi memukul runtuh beberapa batang senjata rahasia berupa paku-paku kecil dan Darmini juga terhindar dari sambaran senjata-senjata itu ketika ia bergulingan. Akan tetapi ketika Darmini meloncat bangun dan Bi Kwi menghentikan pemutaran pedangnya, ternyata Walet Hitam telah lenyap ditelan kegelapan malam. Dua gadis itu mencoba untuk melakukan pengejaran. Namun, hanya sebentar saja mereka masih dapat melihat berkelebatnya tubuh  

musuh itu, akan tetapi karena pakaian orang itu serba hitam, maka lenyaplah bayangan itu dan mereka tidak dapat mengetahui kemana Walet Hitam lari dan terpaksa menghentikan pengejaran mereka.

“Sayang sekali!” Darmini mengepal tinju kiri dan diacungkan ke arah kegelapan.

“Dia lihai dan jelas dia murid Siauw-Lim-Pai. Biarpun dia memiliki banyak macam gerakan, namun jelas bahwa dasar ilmu silatnya sama dengan ilmu silat yang kupelajari dari Siauw-Lim-Pai.”

“Kalau begitu, engkau tentu dapat menduga siapa dia, Bi Kwi. Bukankah dia masih saudara seperguruanmu sendiri?” Bi Kwi menggeleng kepalanya.

“Wah, hal itu tidak mungkin, Mbak-Ayu Darmini. Siauw-Lim-Pai kini memiliki cabang dimana-mana, dan banyak tokohnya memiliki murid-murid. Disamping murid-murid yang belajar di Kuil Siauw-Lim-Si sendiri. Kini ada ratusan, bahkan ribuan orang yang mempelajari ilmu silat Siauw-Lim-Pai, bagaimana aku dapat menduganya? Mungkin selamanya aku belum pernah bertemu dengan orang itu.” Darmini mengerutkan alisnya,

“Sukar diduga kalau begitu. Akan tetapi, aku yakin bahwa dia tentulah mengenal Ong Cun, hanya apa sebabnya dia membunuh Ong Cun? Sungguh sulit untuk diselidiki. Marilah kita menghadap Paman Senopati, beliau tentu akan dapat membantu kita dengan petunjuknya. Pada keesokan harinya, pagi- pagi mereka menghadap Raden Gajah dan menceritakan semua pengalaman mereka semalam ketika bertemu dengan Walet Hitam dan mengeroyoknya, akan tetapi sayang bahwa orang jahat itu dapat melarikan diri.

“Saya melihat jelas bahwa dia itu murid Siauw-Lim-Pai, akan tetapi kami tidak dapat menduga siapa dia dan mengapa pula dia membunuh Kakak saya Ong Cun. Kami menjadi bingung, tentu dia akan lebih berhati-hati dan tidak akan memperlihatkan dirinya,” kata Bi Kwi.

“Kami mohon petunjuk Kanjeng Paman, bagaimana selanjutnya kami dapat melanjutkan penyelidikan ini dan dapat menemukan Walet Hitam,” kata Darmini dengan suara sedih. Raden Gajah mengerutkan alisnya, ikut memikirkan, kemudian menarik napas panjang.

“Coba kau ceritakan lagi hasil penyelidikan kalian dan pendapat-pendapat kalian tentang peristiwa ini, mungkin dari keterangan-keterangan itu kita akan bisa menemukan sesuatu.” Darmini lalu menceritakan semua hasil penyelidikannya dan penyelidikan Bi Kwi. Mengenai pembunuhan atas diri Ong Cun, ia telah mendapatkan pengakuan dari Empat Bajul bahwa mereka memang disuruh oleh Panji Sarono untuk mengeroyok dan membunuh Ong Cun, akan tetapi mereka itu bahkan kalah oleh Ong Cun, dan didalam perkelahian itu tiba-tiba muncul seorang berpakaian dan bertopeng hitam yang menyerang dengan curang dan berhasil membunuh Ong Cun. Empat Bajul tidak dapat menjelaskan siapa orang bertopeng itu, akan tetapi mudah diduga bahwa orang itu tentu Walet Hitam walaupun semalam Walet Hitam tidak membuat pengakuan.

“Yang membuat hati saya penasaran, Kanjeng Paman, menurut keterangan Bi Kwi Walet Hitam adalah murid Siauw-Lim-Pai. Padahal Ong Cun juga murid Siauw-Lim-Pai, lalu apa sebabnya dia membunuh Ong Cun?” Senopati itu mengangguk-angguk.

 “Memang ada rahasianya tentu, dan kita dapat mengetahui bahwa Walet Hitam adalah seorang Cina yang membantu Lumajang pada waktu itu, bahkan membantu Wirabumi melarikan diri, dan melindunginya, membelanya ketika Wirabumi hendak saya tangkap. Melihat kenyataan bahwa dia memakai topeng, menunjukkan bahwa dia tidak ingin dikenal, dan berarti bahwa banyak orang mengenalnya, baik dipihak rombongan Cina yang datang pada waktu itu, maupun dipihak orang-orang Lumajang. Ada dua alasan yang memungkinkan dia membunuh tunanganmu itu. Pertama, mungkin karena Ong Cun mengetahui rahasianya dan tahu siapa adanya Walet Hitam. Dan kedua, mengingat bahwa Walet Hitam membantu Lumajang karena mendapatkan hadiah, berarti bahwa dia seorang pembunuh bayaran, bukan tidak mungkin ada orang yang menyuruhnya membunuh Ong Cun. Dan kalau benar demikian, satu-satunya kemungkinan orang yang mengutusnya tentu karena tidak suka melihat engkau bertunangan dengan dia.” Darmini mengangguk-angguk.

“Satu-satunya orang yang ingin membunuh Ong Cun karena pertunangannya dengan saya hanyalah Kakang-Mas Panji Sarono, Kanjeng Paman, dan dia sudah mengaku bahwa yang disuruhnya membunuh Ong Cun adalah Empat Bajul dan ternyata usaha itu gagal. Mengingat betapa keluarga Paman Empu Tanding setia kepada Majapahit, kiranya tidak mungkin kalau Walet Hitam dekat dengan mereka.”

“Kalau begitu harus diselidiki siapa kiranya yang memusuhi Ong Cun ketika itu. Engkau tahu sendiri, Nini. Walet Hitam adalah orang yang melakukan apa saja asal diberi upah. Buktinya, dia berani datang dan berusaha membunuhku malam itu. Hal itupun tentu terjadi karena dia disuruh orang.” kata Raden Gajah.

“Penyelidikan kami hanya sampai disitu, Kanjeng Paman. Kami menduga bahwa Walet Hitam yang membunuh Ong Cun, seperti yang diakui oleh Empat Bajul. Saya kira mereka itu tidak berani berbohong kepada kami. Akan tetapi, pembunuh Paman Nala masih belum dapat saya duga siapa orangnya. Memang, pada waktu itu, di kaki Bromo ada pula Kakang-Mas Panji Sarono dan seperti pengakuannya, dialah orangnya yang memakai kedok dan hendak mengganggu saya di dalam guha. Akan tetapi dia tidak membunuh Paman Nala, hal itu disangkalnya. Pula, pembunuhan itu sebenarnya ditujukan kepada saya, hanya kebetulan saya membungkuk sehingga yang terkena anak panah dan terbunuh adalah Paman Nala. Tidak ada alasan sedikitpun bagi Kakang-Mas Panji Sarono untuk membunuh saya atau Paman Nala. Sampai sekarang saya belum dapat menduga sedikitpun juga siapa pelepas anak panah itu, dan mengapa pula ada orang yang ingin membunuh saya atau Paman Nala.”

“Memang tidak muda menyelidiki perkara yang sudah terjadi lima enam tahun yang lalu, Nini. Kukira, satu-satunya jalan adalah menemukan dan menangkap Walet Hitam. Aku juga akan mengerahkan orang-orangku untuk melakukan pengintaian setiap malam dan kalau melihat Walet Hitam, memberi tanda agar Walet Hitam dapat dikepung dan ditangkap. Kurasa, kalau dia tertangkap, semua rahasia itu akan dapat diungkapkan.” Darmini mengangguk-angguk. Pembunuh Ong Cun sudah diketahui, yaitu Walet Hitam yang masih harus dicari dan ditangkap, hal yang tidak mudah. Pembunuh Paman Nala belum diketahui siapa orangnya, dan juga orang yang memperkosanya, belum dapat ditangkap, bahkan belum dapat diduga siapa pula orangnya. Akan tetapi jelas bukan Panji Sarono, karena seingatnya, orang itu berperawakan besar, lebih besar daripada pemuda itu.

Setiap malam dua orang gadis itu masih terus melakukan pengintaian dan pencaharian, bahkan seringkali mereka bertemu dengan orang-orang yang disebar oleh Raden Gajah dengan tugas yang sama, yaitu mencari jejak Walet Hitam. Namun, agaknya setelah terjadi pekelahian di malam itu, Walet Hitam terus bersembunyi dan tidak pernah lagi memperlihatkan diri.

 Belasan hari kemudian, pada suatu senja, datang utusan dari Ki Demang Bragolo ke rumah gedung Raden Gajah. Utusan itu datang membawa sepucuk surat yang dialamatkan kepada Darmini, dari Ki Demang Bragolo. Darmini menerima surat itu dan ketika membuka simpulnya dan membaca isinya, ia terkejut dan girang sekali. Ayah tirinya menulis bahwa Ibunya telah datang ke Majapahit dan menyusul Ayahnya, bahkan di dalam surat itu terdapat pula tulisan Ibunya yang minta kepadanya untuk datang berkunjung! Bi Kwi hanya melihat saja ketika Darmini keluar dan mengatakan kepada utusan agar pulang dan menyampaikan kepada Ayah Ibunya bahwa malam ini ia akan datang berkunjung. Setelah utusan itu pergi, Bi Kwi mengerutkan alisnya dan berkata kepada Darmini,

“Mbak-Ayu Darmini, kurasa kurang bijaksana kalau Mbak-Ayu pergi berkunjung ke sana. Apakah tidak berbahaya? Setidaknya engkau harus bertanya pendapat Raden Gajah dan menunggu sampai dia pulang.” Darmini tersenyum.

“Adikku, tidak perlu khawatir. Apa sih yang dapat dilakukan Ayah tiriku kepadaku? Kini Ibu telah berada disana. Aku harus pergi mengunjungi Ibu dan melihat keadaan kesehatannya, selain itu, akupun ingin bertanya kepada Ayah tiriku mengapa dia dahulu tidak mencegah ketika mendengar dari Gagak Ireng bahwa Empat Bajul hendak membunuh Ong Cun. Ingin kuketahui bagaimana jawabnya.”

“Akan tetapi, apakah tidak berbahaya, Mbak-Ayu? Biarkan aku ikut agar aku dapat membantumu kalau sampai terjadi sesuatu.”

“Tentu saja engkau ikut, adikku. Tanpa kau minta sekalipun, aku akan mengajakmu. Dan kalau ada engkau di sampingku, aku tidak takut menghadapi siapaun juga!” Darmini merangkul dan Bi Kwi membalas, lalu mencium pipi Darmini.

Makin lama berkumpul, ia merasa semakin kagum kepada Darmini dan semakin menyesal mengapa Kakak kandungnya terbunuh orang. Kalau tidak, alangkah akan senangnya mempunyai seorang Kakak ipar seperti Darmini ini. Dua orang gadis itu bersiap-siap, tidak lupa membawa pedang mereka dan berangkatlah mereka menuju ke rumah gedung Ki Demang Bragolo. Malam mulai tiba dan bulan belum muncul. Dua orang gadisyang melakukan perjalanan dengan tetap berpakaian sebagai pria itu masing- masing merasakan ketegangan dalam hati mereka, akan tetapi ketegangan mereka berbeda. Kalau Darmini merasa tegang karena hendak bertemu Ibunya dan melihat perkembangan hubungan antara Ibu kandungnya dan Ayah tirinya, juga tegang membayangkan akan tegurannya terhadap Ayah tirinya, sebaliknya Bi Kwi merasa tegang karena hatinya merasa tidak enak.

Ia seperti mendapat firasat yang tidak baik, merasa seolah-olah bersama Darmini memasuki guha yang penuh dengan binatang buas yang mengancam keselamatan mereka. Lentera yang banyak bergelantungan di pendopo gedung Ki Demang Bragolo menyambut kedatangan dua orang gadis itu. Para penjaga di luar agaknya sudah diberitahu akan kunjungan itu, maka mereka tidak banyak lagak lagi. Bahkan seorang kepala jaga yang berkumis tebal, menyambut Darmini dengan hormat, mempersilahkan dua orang gadis itu memasuki pendopo di mana mereka di sambut oleh seorang penjaga pendopo dan mereka lalu diantar ke ruangan tamu di samping kiri. Dan di ruangan tamu itu sudah duduk menanti Ki Demang Bragolo dan Nyi Demang Bragolo, Ibu kandung Darmini. Melihat ibunya, Darmini lalu menubruk maju, berlutut di depan Ibunya dan menyembah.

“Kanjeng Ibu...” katanya lirih, terharu melihat Ibunya kini telah kembali kepada Ayah tirinya, diam-diam merasa heran juga karena bukankah dahulu Ibunya sudah menceritakan betapa sikap Ki Demang Bragolo amat sadis dan  kejam kalau  di tempat tidur? Dan  bukankah  selir terbaru Ayah  tirinya  itu bersikap menghina kepada Ibunya? Apakah kini selir itu telah berubah sikap, ataukah Ibunya yang mau menerima penghinaan? Dilihat sepintas lalu ketika Ibunya duduk disamping Ayah tirinya seperti itu, seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu di antara mereka. Nyi Demang Bragolo, merangkul anaknya dan menangis.

“Anakku... Nini... sukur engkau masih dalam keadaan sehat dan selamat. Aku... aku sungguh mengkhawatirkan keadaanmu, anakku. Apakah engkau tinggal bersama Pamanmu Senopati Raden Gajah?” Ibu ini mencium pipi puterinya. “Bagaimana engkau tahu bahwa aku berada disini?” Darmini terkejut mendengar ini. Ia melepaskan rangkulan Ibunya, lalu bangkit berdiri menghadapi Ki Demang Bragolo, kemudian memandang lagi kepada Ibunya.

“Kanjeng Ibu, bukankah paduka yang minta kepadaku untuk datang berkunjung? Surat itu…” Dan Darmini menoleh kepada Ayah tirinya.

“Surat apa, Nini? Aku... baru kemarin aku dibawa kesini... Aku tidak tahu engkau dimana dan tidak dapat mengundangmu untuk datang walaupun aku ingin sekali bertemu denganmu...”

“Kajeng Rama! Apa artinya ini?” Darmini kini menghadapi Ki Demang Bragolo. “Kalau bukan Kanjeng Ibu, lalu siapa yang memalsukan namanya mengundangku datang berkunjung?”

“Akulah yang menulisnya, Nini Darmini.” kata Ki Demang Bragolo, sikapnya tenang saja.

“Memang aku menghendaki kedatanganmu karena kau ingin membicarakan hal yang penting, Nini. Mengenai Ibumu dan dirimu sendiri, mengenai hubungan keluarga di antara kita bertiga.” Panas rasa hati Darmini, merasa dipermainkan.

“Sayapun ingin menanyakan sesuatu kepada paduka!” katanya, sikapnya masih hormat namun suaranya terdengar lantang dan ketus.

“Kebetulan sekali disini disaksikan pula oleh Kanjeng Ibu! Kanjeng Rama, bukankah lima tahun yang lalu, paduka mempunyai seorang pembantu yang bernama Gagak Ireng?” Ki Demang Bragolo memandang tajam dan alisnya berkerut.

“Hemm, kalau benar begitu, kenapakah? Banyak aku mempergunakan orang di Lumajang dahulu, dan di antara mereka memang ada yang bernama Gagak Ireng.”

“Kanjeng Rama,” sambung Darmini, sebutan itu terasa kaku di lidahnya karena sejak turun gunung bertemu Ibunya, di dalam batinnya ia sudah enggan menganggap orang itu sebagai Ayahnya. “Gagak Ireng pernah melapor kepada paduka bahwa Empat Bajul hendak membunuh Ong Cun, kenapa ketika itu paduka diam saja dan tidak memperingatkan Ong Cun?” berkata demikian, Darmini menatap wajah orang yang selama belasan tahun menjadi Ayahnya itu dengan sinar mata tajam penuh selidik. Ia melihat di bawah sinar lampu yang cukup terang betapa wajah Ayah tirinya itu menjadi merah dan matanya yang lebar menjadi liar, akan tetapi sikapnya masih tenang ketika dia menjawab,

“Ah, itukah? Memang benar si Gagak Ireng itu ada bercerita tentang Empat Bajul yang hendak membunuh seorang Cina. Akan tetapi dia tidak menjelaskan bahwa Cina itu adalah Ong Cun, dan aku tidak ingin mencampuri urusan orang. Sudahlah, aku mempunyai urusan yang lebih penting lagi untuk dibicarakan denganmu, Nini Darmini. Dan ini... hemm, bukankah engkau adik perempuan Ong Cun yang pernah datang bersama Raden Wiratama?” Bi Kwi memandang dengan alis berkerut dan mata mencorong.

“Ki Demang Bragolo, bagaimana andika bisa tahu bahwa aku adalah perempuan? Ketika diperkenalkan oleh Wiratama, engkau menerimaku sebagai seorang pemuda!” Ditanya demikian, Ki Demang Bragolo nampak terkejut, akan tetapi hanya sebentar saja. Dia lalu tersenyum lebar dan Darmini melihat betapa sepasang mata itu menjadi beringas.

“Ha-ha, nona. Kau kira dapat mengelabui mata seorang tua seperti aku yang sudah banyak pengalaman? Nini Darmini, kebetulan sekali ia ikut datang karena aku justeru hendak bicara penting dengan kalian berdua. Akan tetapi sebaiknya kalau Ibumu masuk dulu dan tidak ikut mendengarkan percakapan kita.”

“Tidak! Ibu biar berada disini saja, aku bahkan ingin bertanya kepada Kanjeng Ibu. Bagaimana Kanjeng Ibu dapat berada disini? Bukankah Kanjeng Ibu tidak sudi lagi lagi dihina?”

“Aku... aku dipaksa, anakku. Aku dipaksa, diseret ke dalam kereta dan dilarikan...”

“Keparat!” Darmini menghunus pedangnya, marah bukan main ketika ia menghadapi Ayah tirinya.

“Kanjeng Ibu sudah dihina oleh selirmu, kemudian mengalah dan tidak mau ikut ke sini, kenapa sekarang malah dipaksa? Apa maksudnya semua ini?” bentaknya sambil memandang wajah Ayah tirinya dengan sinar mata penuh kemarahan.

“Mari. Kanjeng Ibu, mari pergi bersama saya, tidak perlu lagi lebih lama berada di tempat ini!” berkata demikian dengan tangan kirinya Darmini menggandeng tangan Ibunya yang menurut saja.

“Darmini! Engkau tidak boleh pergi dari sini!” bentak Ki Demang Bragolo dengan suaranya yang besar dan parau. Sambil tetap menggandeng tangan Ibunya. Darmini membalikkan tubuh menghadapi Ayah tirinya, pedang Lian-Hwa-Kiam di tangan kanan.

“Siapa yang akan melarang aku pergi?” suara dan pandang matanya penuh tantangan.

“Kami yang melarang!” terdengar suara dari arah belakangnya dan ketika Darmini juga Bi Kwi membalikkan tubuh, mereka berdua melihat bahwa di ruangan itu telah muncul pasukan pengawal yang mengepung tempat itu, dan di depan sendiri nampak Ki Empu Kebondanu dan Walet Hitam! Tentu saja dua orang gadis itu terkejut setengah mati melihat munculnya dua orang musuh besar yang tangguh itu. Tak mereka sangka sama sekali bahwa surat undangan dari Ki Demang Bragolo itu ternyata merupakan perangkap bagi mereka. Tahulah kini Darmini mengapa Ibunya dipaksa ke tempat itu oleh Ayah tirinya. Ternyata untuk melengkapi jebakan untuknya dan jelas bahwa semua ini telah diatur oleh Ayah tirinya, yang dibantu oleh Walet Hitam dan Ki Empu Kebondanu.

“Mbak-Ayu Darmini, lindungi Ibumu, biar aku yang menahan mereka!” teriak Bi Kwi yang melihat betapa gawatnya keadaan. Ia sudah mencabut pedangnya dan memutar pedang itu, siap menghadapi Walet Hitam dan Empu Kebondanu.

“Heh-heh-heh, engkau gadis yang panas dan penuh api semangat! Pantas saja, Raden Wiratama begitu tergila-gila kepadamu! Marilah, nona yang cantik dan gagah, menyerahlah saja untuk kami bawa

 menghadap Raden Wiratama yang sudah siap menyambutmu dengan cintanya yang berkobar-kobar,ha- ha-ha!”

“Tua bangka keparat, mampuslah!” bentak Bi Kwi dan gulungan sinar pedangnya menyilaukan mata, dari situ mencuat sinar pedang berkelebat meluncur ke arah leher Empu Kebondanu. Kakek ini sudah mengenal Bi Kwi dan mengenal pula ketangguhan dan berbahayanya pedang gadis Cina ini, maka diapun cepat menggerakkan tongkat bambu gadingnya menangkis dari samping dengan cepat.

“Tringgg...!” Akan tetapi pedang yang ditangkis itu kini menyambar dari samping, membacok ke arah lambung pertapa di kaki Pegunungan Bromo itu. Kakek itu terkejut bukan main karena gerakan pedang lawan ini luar biasa cepatnya.

“Trangg...!” Kembali nampak bunga api berpijar dan ternyata pedang di tangan Bi Kwi yang tadi membacok dari samping, telah tertangkis dari bawah oleh sebatang pedang lain yang dipegang oleh Walet Hitam! Walet Hitam ternyata tidak tinggal diam melihat Empu Kebondanu terancam tadi.

“Jahanam busuk!” Bi Kwi memaki orang bertopeng itu dalam Bahasa Cina. “Jauh-jauh engkau datang dari negeri Cina hanya untuk menyebar kejahatan!” Dan kini pedangnya sudah diputar cepat dan iapun menyerang Walet Hitam yang cepat menangkis dan balas menyerang.

Empu Kebondanu juga menerjang maju dan bersama Walet Hitam dia mengeroyok Bi Kwi. Darmini tadinya hendak memondong Ibunya untuk diajak lari. Akan tetapi melihat Bi Kwi dikeroyok Walet Hitam dan Empu Kebondanu, dua orang lawan yang tangguh sedangkah di situ masih ada Ki Bragolo dan banyak perajurit pengawal, tentu saja ia menjadi tidak tega. Tidak mungkin ia membiarkan Bi Kwi seorang diri saja tertimpa malapetaka di tempat itu. Maka, terpaksa ia melepaskan Ibunya dan sambil berseru nyaring iapun terjun membantu Bi Kwi, memutar pedangnya dan menyerang Empu Kebondanu. Nyi Demang Bragolo yang bernama Puriwati itu memandang penuh kekhawatiran, lalu menjauhkan diri sampai disudut ruangan itu di mana ia berdiri dengan muka pucat dan tidak berdaya.

Sementara itu, Demang Bragolo sudah menerjang lagi ke dalam medan pertempuran, membantu Empu Kebondanu dan Walet Hitam, dan ternyata kakek yang bertubuh kurus namun berperawakan tinggi besar ini bukan seorang lemah! Dia memegang sebatang penggada dan tenaganya kuat sekali ketika penggada itu diputar-putar dan senjata yang berat ini menyambar-nyambar dahsyat kearah dua orang gadis itu. Perkelahian dua lawan tiga yang amat seru dan ternyata orang gadis itu memang benar-benar hebat, perkasa seperti dua ekor singa betina mengamuk. Biarpun tiga orang pengeroyok mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, namun mereka sama sekali tidak merasa gentar, bahkan tidak sampai terdesak biarpun kini Ki Demang Bragolo membantu, dan ikut mengeroyok mereka.

Sinar pedang di tangan dua orang gadis ini menyambar-nyambar bagaikan kilat, kadang-kadang bergulung-gulung sinarnya, rapat dan sukar ditembus senjata tiga orang pengeroyok mereka. Para perajurit pengawal yang ternyata adalah anak buah Raden Wiratama, yang datang bersama Empu Kebondanu dan sudah siap siaga mengepung dua orang gadis itu menurut siasat yang sudah direncanakan merka bersama, kini hanya menonton dengan kagum dan tidak ada yang berani turun tangan. Memang amat sukar bagi mereka, para perajurit ini yang tentu saja kalah jauh tingkat kepandaian mereka disbanding dengan mereka yang sedang berkelahi itu. Kalau mereka maju, mungkin mereka bahkan akan mengacaukan pengeroyokan, dan sukar bagi mereka mengikuti gerakan dua orang gadis itu yang kadang-kadan hanya nampak bayangannya saja.

 Darmini dan Bi Kwi memang cerdik. Mereka maklum bahwa di antara tiga orang pengeroyok mereka, terdapat Walet Hitam yang pandai mempergunakan senjata rahasia, oleh karena itu, mereka berdua selalu bergerak berloncatan ke sana sini dan mengajak para pengeroyok itu berputaran. Demikian cepat gerakan mereka berdua, lincah dan gesit sehingga tiga orang pengeroyoknya terpaksa ikut pula berputaran dan hal ini membuat Walet Hitam sukar untuk mempergunakan senjata rahasianya. Besar sekali bahayanya akan mengenai teman sendiri. Pula, agaknya Walet Hitam juga enggan mempergunakan senjata gelapnya, kecuali kalau dia memang terhimpit dan terdesak seperti waktu dia dikeroyok dua oleh gadis itu dan terancam bahaya.

Kini, besarlah hatinya karena dia dibantu oleh Empu Kebondanu yang tangguh, juga Demang Bragolo yang bertenaga besar, sedangkan diluar pendopo itu masih ada dua puluh orang lebih perajurit yang siap untuk membantunya. Pedang di tangan Walet Hitam inilah yang paling hebat, dapat mengimbangi kecepatan gerakan dua orang gadis itu. Masih untuk bagi Darmini dan Bi Kwik karena tiga orang yang mengeroyok mereka itu agaknya berhati-hati dan selalu menjaga agar tidak sampai kesalahan tangan membunuh mereka berdua karena mereka itu ingin menangkap hidup-hidup Darmini dan Bi Kwi. terutama sekali Bi Kwi karena Raden Wiratama memperingatkan mereka agar jangan sampai membunuh gadis itu atau melukainya dengan parah.

Namun, Darmini dan Bi Kwi bukanlah dua ekor domba jinak yang mudah ditangkap begitu saja. Sama sekali bukan! mereka lebih menyerupai dua ekor singa betina yang liar dan buas, pantang menyerah dan agaknya hanya akan menyerah kalau sudah roboh tak bernyawa lagi. Mereka gigih membela diri dan akan melawan sampai titik darah terakhir! Melihat kenekatan ini, tiba-tiba Ki Demang Bragolo mendapatkan akal licik. Dia meloncat keluar dari kalangan perkelahian dan cepat dia lari menghampiri Nyi Demang. Sebelum isteri pertamanya itu tahu apa yang akan terjadi, Ki Demang sudah memegang lengan tangannya dan ditelikungnya ke belakang, menggunakan tangan kiri saja sedangkan tangan kanan yang memegang penggada itu mendekatkan penggada di kepala wanita itu, kemudian di dorongnya isterinya itu mendekati tempat pertempuran.

“Darmini, hentikan perlawananmu, kalau tidak... kepala Ibumu ini akan kuhancurkan lebih dulu!” Mendengar ucapan itu, Darmini terkejut sekali dan cepat meloncat ke luar medan perkelahian dan dengan mata terbelalak ia melihat betapa Ibunya telah ditangkap dan diancam oleh Ayah tirinya. Mukanya yang tadi merah berubah pucat, lalu merah lagi.

“Jaham keparat Bragolo!” bentaknya dengan suara melengking tinggi. “Pengecut engkau! Hayo lepaskan Ibuku dan mari kita bertanding sampai seorang diantara kita binasa!” Tangan kirinya menuding dengan telunjuk, sedangkan tangan kanan yang memegang pedang agak gemetar karena hatinya cemas sekali melihat keadaan Ibunya.

“Anakku, jangan menyerah... Biar dia membunuhku, jangan menyerah…” Ibunya berteriak, akan tetapi Ki Demang Bragolo mendorong lengan yang ditelikung itu ke atas sehingga kata-kata itu diakhiri dengan jerit kesakitan dari wanita itu. Melihat ini, Darmini menjadi tidak tega. Bagaimana mungkin ia dapat melihat Ibunya disiksa dan dibunuh.

“Adik Bi Kwi, engkau larilah!” tiba-tiba ia berteriak untuk memperingatkan Bi Kwi. Akan tetapi, gadis itu tetap saja mengamuk.

“Tidak, Mbak-Ayu Darmini, akan kubunuh iblis-iblis ini!” dan Bi Kwi mengamuk semakin nekat. Akan tetapi, Darmini tidak berani bergerak lagi karena takut kalau Ibunya disiksa dan dibunuh. Ia tahu bahwa Ayah tirinya yang kini sudah kelihatan belangnya, tidak akan segan-segan membunuh Ibunya, bukan sekedar omong kosong belaka.

“Bragolo, lepaskan Ibuku, aku menyerah!” katanya sambil melempar pedangnya ke atas lantai.

“Ha-ha-ha, begitulah baru anak baik namanya!” kata Bragolo yang mendorong tubuh isterinya kearah Darmini dan diapun membungkuk dan mengambil pedang Lian-Hwa-Kiam, kemudian memerintahkan perajurit untuk membelenggu kedua tangan Darmini. Dengan takut-takut, empat orang perajurit maju menghampiri Darmini yang sudah memeluk Ibunya yang menangis tersedu-sedu.

Akan tetapi demi keselamatan Ibunya, Darmini tidak melawan dan menyerah saja ketika kedua lengannya ditelikung ke belakang di belenggu dengan tali kulit kerbau yang amat kuat. Juga kedua kakinya dan kini Ibunya merangkul dan menangisi gadis yang terpaksa jatuh terduduk di sudut ruangan itu ketika didorong oleh Demang Bragolo yang menjadi girang sekali. Bi Kwi masih mengamuk dengan hebat. Kini Ki Demang Bragolo iku pula mengeroyoknya dan memerintahkan beberapa orang perajurit untuk mengambil tali-tali yang kuat, kemudian dengan tali-tali yang dibentuk seperti laso, gadis yang dikeroyok itu diserang dari kanan kiri dan belakang dan akhirnya tubuhnya terjerat dan amukannya terhenti. Walet Hitam menubruk dari belakang dan menotoknya, menghentikan semua perlawanannya dan tak lama kemudian, iapun sudah terikat kaki tangannya seperti keadaan Darmini.

“Ha-ha-ha, akhirnya berhasil juga kerja sama kita, Walet Hitam!” kata Ki Demang Bragolo sambil merangkul pundak orang bertopeng hitam itu. Terdengar orang itu tertawa saja, tanpa menjawab.

“Juga berkat bantuan Kakang Empu Kebondanu maka kita berhasil menangkap dua ekor singa betina ini. Tentu Kakang akan memperoleh hadiah besar dari Raden Wiratama!” kata pula Demang Bragolo.

“Ah, aku memang telah menjadi pembantunya. Yang jelas memperoleh hadiah besar tentulah Walet Hitam,” kata Empu Kebondanu sambil tertawa pula.

“Silahkan Kakang Empu Kebondanu untuk beristirahat dan menerima pelayanan dari para dayang, aku dan Walet Hitam masih ada urusan dengan dua orang gadis itu. Marilah, Walet Hitam, mari kita berpesta berdua untuk merayakan kemenangan kita, ha-ha-ha!” Ki Demang Bragolo dengan kasar lalu menyeret Nyi Demang Bragolo dan menyerahkannya kepada seorang pengawal.

“Jebloskan ia ke dalam kamar tahanan dan jaga jangan sampai lolos!” perintahnya. Nyi Demang Bragolo yang tadinya merangkul puterinya, menjerit-jerit dan tidak mau melepaskan anaknya, akan tetapi karena diseret dan dijambak rambutnya, pegangannya terlepas dan ia hanya dapat menangis. Melihat ini, Darmini menggigil bibirnya dan mukanya menjadi merah sekali, kedua matanya menjadi basah.

“Anjing Bragolo, tunggu saja! Sekali kau jatuh ke tanganku, aku tidak akan memberi ampun padamu!”

“Ha-ha-ha, engkau boleh mengeluarkan semua omonganmu, Darmini. Engkau sudah terjatuh ketanganku, takut apa? Marilah, Walet Hitam!” Dan tanpa banyak cakap lagi, Demang Bragolo mengangkat dan memondong tubuh Darmini, sedangkan Walet Hitam memondong tubuh Bi Kwi.

Kedua orang gadis itu hanya dapat saling pandang, tidak meronta karena maklum bahwa merontapun tidak ada gunanya. Mereka berdua diam-diam mencoba kekuatan tali kulit kerbau yang mengikat kaki tangan mereka karena bagaimanapun juga, mereka harus dapat meloloskan diri dan melepaskan ikatan, atau mereka tahu bahwa mereka akan mengalami malapetaka hebat dalam tangan dua orang manusia iblis ini! Ki Demang Bragolo dan Walet Hitam membawa dua orang gadis itu memasuki sebuah kamar yang besar, dimana terdapat sebuah pembaringan dan Ki Bragolo melempar tubuh Darmini ke atas pembaringan, dan menyuruh Walet Hitam berbuat serupa dengan Bi Kwi. Walet Hitam juga melempar tubuh Bi Kwi keatas pembaringan kemudian berkata kepada Ki Bragolo.

“Ki Demang Bragolo, sebaiknya kalau aku segera membawa gadis itu ke rumah Raden Wiratama. Dia tentu sudah menanti-nanti dengan tidak sabar.”

“Ha-ha-ha, engkau tetap saja tamak seperti dahulu ya? Gadis itu sudah dapat kita tawan, mengapa tergesa-gesa? Engkau ingin segera menerima hadiah dari Raden Wiratama? Nanti dulu, kawan. Mari kita makan minum, berpesta merayakan kemenangan kita berdua. Bukankah kita selalu berhasil kalau bekerja sama? Ha-ha, kini lenyap sudah semua ancaman. Aku percaya Raden Wiratama akan mampu mematahkan semangat gadis Cina itu, seperti aku mematahkan semangat Darmini. Mari kita minum!” Ki Bragolo bertepuk tangan dan dua orang pelayan wanita segera muncul membawa hidangan, arak dan buah-buahan segar. Sementara itu, Darmini menggeser tubuhnya mendekati Bi Kwi, lalu berbisik.

“Kita berusaha melepaskan ikatan... Dan aku akan mengorek rahasia dari mereka...” Bi Kwi mengangguk dan kedua orang gadis itu menghadap kearah dua orang itu, sambil diam-diam berusaha melepaskan ikatan pada kedua pergelangan tangan mereka. Darmini melihat betapa dua orang gadis pelayan sudah keluar lagi dan kini dua orang itu makan minum. Walet Hitam membuka topengnya bagian bawah sehingga mulutnya nampak, akan tetapi karena dia duduk membelakangi dua orang gadis itu, mereka tidak dapat melihat mukanya bagian bawah. Ingin sekali Darmini melihat mukanya, maka iapun berkata dengan suara dibuat tenang.

“Walet Hitam, kami sudah kalah dan tertawan, tidak mampu melawan lagi. Akan tetapi, apakah engkau masih demikian pengecut untuk tidak berani mengaku bahwa engkau telah membunuh Ong Cun? Benarkah engkau yang telah membunuh Ong Cun enam tahun yang lalu?” Walet Hitam hanya mengangguk tanpa menoleh dan Ki Bragolo tertawa lebar.

“Ha-ha-ha, Darmini, engkau boleh tahu sekarang bahwa memang benar Walet Hitam yang telah membunuh Ong Cun.”

“Akan tetapi kenapa?” Bi Kwi berteriak dalam Bahasa Cina.

“Apa? Aku tidak mengerti maksudmu!” Kata Ki Bragolo yang mengira gadis Cina itu bicara kepadanya.

“Maksudku, mengapa dia membunuh Kakakku? Walet Hitam, jawablah mengapa engkau membunuh Kakakku? Jelaskan alasanmu agar kami tidak menjadi penasaran.” Bi Kwi berkata pula dalam bahasa daerah.

“Itu... itu urusanku sendiri!” hanya demikian Walet Hitam menjawab, dan agaknya dia tidak mau memberi penjelasan.

“Engkau... pengecut! Engkau tidak berani mengaku! Engkau laki-laki tak tahu malu, pengecut keparat! Lepaskan aku dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita mampus, kalau engkau memang laki-laki! Engkau memalukan nama Siauw-Lim-Pai saja!” Bi Kwi memaki-maki marah, akan tetapi Walet

 Hitam tetap makan minum tanpa memperdulikan kata-kata Bi Kwi. Darmini menyuruh Bi Kwi untuk memberi isyarat agar gadis itu dapat menenangkan dirinya dan tidak menurutkan hati yang panas.

“Walet Hitam,” kata Darmini, suaranya tenang walaupun agak menggetar, “Engkau sudah mengaku bahwa engkau yang telah membunuh Ong Cun. Ada satu pertanyaan lagi dariku yang kuharap engkau cukup jantan untuk mengakuinya pula. Pada hari kematian Ong Cun itu, pada malam harinya, engkaukah yang telah memasuki kamarku dan... yang telah memperkosaku?” Bi Kwi mengeluarkan jerit tertahan dan matanya terbelalak memandang kepada Darmini, kemudian mata itu menjadi basah. Hal ini tidak pernah diceritakan Darmini kepadanya dan baru sekarang ia mendengarnya. Kasihan gadis yang sedianya menjadi Kakak iparnya ini. Sudah kematian kekasih dibunuh orang, malamnya malah diperkosa orang pula! Iapun ikut menanti jawaban Walet Hitam. Tanpa menoleh, terdengar suara Walet Hitam.

“Tanya saja kepada Ki Demang Bragolo.” Pandang mata Darmini kini ditujukan kepada Ayah tirinya itu, dengan alis berkerut karena ia tidak mengira bahwa Ayah tirinya tahu pula akan peristiwa perkosaan atas dirinya itu.

“Ki Bragolo, dengan siasat busuk engkau telah menawan aku dan Bi Kwi. Aku sudah kalah, akan tetapi aku menuntut penjelasan akan semua ini. Tahukah engkau siapa yang telah memperkosa aku malam itu?” Tiba-tiba Ki Bragolo tertawa bergelak. Mukanya yang merah karena pengaruh arak dan ketika dia bergelak itu cambang bauknya bergerak-gerak bersama kepalanya, berdongak ke atas lalu memandang kepada Darmini.

“Darmini, masih belum dapatkah engkau menduga siapa orangnya? Ha-ha-ha, akulah yang melakukannya!” Darmini menjerit dan mukanya menjadi pucat sekali, matanya terbelalak menatap wajah kakek bercambang bauk yang masih tertawa-tawa itu. Kalau saja pada saat itu kaki tangannya tidak terbelengu, tentu ia akan menerjang dan membunuh Ayah tirinya itu!

“Ha-ha-ha, engkau sepatutnya mengetahui bahwa sejak engkau berangkat dewasa, aku telah tergila-gila kepadamu. Aku yang setiap hari melihat engkau bagaikan kuncup bunga yang makin lama semakin mekar menggairahkan, tentu tidak rela engkau hendak di petik pemuda asing itu. Malam itu... Aku tidak dapat lagi menahan diri, dan aku puas sudah dapat memiliki dirimu sebagai laki-laki pertama... ha-ha-ha. Dan sekarang, aku akan memilikimu sepuasnya untuk kemudian kupertimbangkan apakah engkau patut dibunuh atau tidak. Kalau engkau mau bersikap baik, menurut dan dengan suka rela menjadi seorang selirku tersayang mungkin engkau tidak akan kubunuh...”

“Keparat jahanam, iblis berwajah manusia. Kiranya Ayah tiriku seorang manusia berwatak iblis berhati binatang!” Kini wajah Darmini menjadi merah sekali, matanya beringas dan bibirnya yang bawah sampai berdarah sedikit karena tergigit sendiri olehnya. Hal ini sungguh tak pernah disangkanya. Kiranya Ki Demang Bragolo yang telah memperkosanya! Padahal dahulu orang ini kelihatan demikian sayang kepadanya! Dia dipangku, ditimang seperti anak kandung sendiri! Ketika memperkosanya, orang ini membisik seolah-olah dia yang membunuh Ong Cun, tentu hanya untuk menghilangkan jejaknya, agar ia mengira bahwa pembunuh Ong Cun dan pemerkosanya adalah satu orang saja. Mengerti ia kini mengapa Ki Bragolo tidak bertindak sesuatu ketika mendengar dari Gagak Ireng bahwa Empat Bajul hendak membunuh Ong Cun.

Tentu diam-diam Ki Bragolo tidak suka kepada Ong Cun dan kematian Ong Cun merupakan hal yang amat menyenangkan hatinya. Dan melihat betapa kini dia bersekutu dengan Walet Hitam, mengingat percakapan antara mereka tadi dimana Ki Bragolo mengatakan bahwa kerja sama antara mereka itu selalu berhasil, maka jelaslah bahwa Ki Bragolo agaknya dahulu sudah mengatur siasat dengan Walet Hitam yang hendak membunuh Ong Cun. Bahkan mungkin Ki Bragolo yang membujuk Walet Hitam membunuh Ong Cun, atau setidaknya tentu memberi hadiah untuk perbuatannya itu. Setelah dapat menguasai hatinya, dengan air mata bercucuran membasahi kedua pipinya, hidung kembang kempis saking marahnya dan matanya merah liar, Darmini bertanya,

“Kalau demikian... Paman Nala...”

“Ha-ha-ha, panahku yang membunuhnya! Kasihan dia ! Bukan dia yang hendak kubunuh...” “Aku yang hendak kau bunuh, keparat!”

“Benar. Ketika engkau pergi hendak berguru, kau kira aku enak-enak saja menunggu sampai engkau pandai kemudian menyelidiki perkara itu? Aku mengejarmu dan menyerangmu dengan anak panah. Akan tetapi engkau membungkuk dan Nala menjadi korban. Kemudian engkau menjadi murid Panembahan Ganggamuri, tentu saja aku tidak dapat mengganggu dan terpaksa menantimu sampai pulang. Dan sekarang, tetapi saja aku yang menang. Ha-ha-ha!” Sekarang jelaslah sudah semuanya. Ong Cun dibunuh Walet Hitam, sebabnya belum diketahui karena orang itu tidak mau mengaku. Ia diperkosa Ki Bragolo, dan Paman Nala dibunuh pula oleh Ki Bragolo. Ki Bragolo merupakan pembantu Wiratama yang setia kepada Lumajang dan hendak memberontak terhadap Majapahit, dan agaknya Walet Hitam membantu gerakan itu karena upah yang besar.

“Brettt...!”

“Brettt...!” Hampir berbareng, Bi Kwi dan Darmini berhasil membikin putus tali pengikat kedua tangan mereka. Akan tetapi, kedua kaki mereka masih terbelenggu dan pada saat mereka hendak merenggut putus tali yang mengikat kaki, Walet Hitam dan Ki Bragolo sudah meloncat ke dekat pembaringan sambil menodongkan senjata mereka. Dua orang gadis itu hanya melirik ke arah meja di mana pdang mereka tadi diletakkan oleh ke dua orang yang menangkap mereka itu, dan mereka tidak berdaya karena bergerak lagi tentu senjata lawan akan menyerang.

“Brakkkkk!” Daun pintu yang hanya ditutupkan oleh para gadis pelayan tadi, tiba-tiba terbuka lebar dan tiga sosok bayangan menerjang ke dalam kamar besar itu. Walet Hitam dan Ki Bragolo terkejut, cepat membalikkan diri dan pada saat mereka berbalik itulah, kedua orang gadis lalu cepat meloncat turun dan menjauh.

Ki Demang Bragolo terbelalak ketika melihat bahwa tiga orang yang tiba-tiba memasuki kamar itu, dua di antaranya adalah Raden Gajah dan Panji Saroto, dua orang yang tentu saja sudah dikenalnya. Kehadiran Raden Gajah membuat kedua lututnya gemetar. Akan tetapi dia tidak dapat berkata apa-apa lagi karena pada saat itu, orang ke tiga yang tidak dikenalnya, seorang pemuda berpakaian serba putih, telah menyerangnya dengan tamparan yang dahsyat. Ki Bragolo cepat mengelak sambil mengayun senjatanya yang berat, yaitu sebatang penggada dari galih asam. Senjata itu menyambar-nyambar ke arah kepala Sridenta dan pemuda ini segera mundur untuk mencari tempat yang lebih luas. Sementara itu, melihat munculnya Raden Gajah, Walet Hitam mengeluarkan seruan nyaring dan pedangnya meluncur dan menyerang ke arah Raden Gajah.

 “Cringgg...!” Pedangnya tertangkis oleh sebatang keris dan bunga api berpijar. Kiranya yang menangkis adalah keris di tangan Panji Saroto dan kedua orang itu sudah berkelahi dengan hebat. Tiba-tiba muncul Empu Kebondanu dan melihat munculnya kakek yang memegang tongkat ini, Raden Gajah menghardik,

“Hem, Pertapa yang sesat! Andika meninggalkan tempat Pertapaan untuk menjadi kaki tangan pemberontak!” Berkata demikian, Raden Gajah sudah menghunus kerisnya dan menyerang, disambut oleh putaran tongkat Empu Kebondanu. Baik Ki Bragolo, Walet Hitam maupun Empu Kebondanu merasa jerih, apalagi melihat betapa dua orang gadis itu telah dapat membebaskan belenggu pada kaki mereka,

dan kini mereka berloncatan menyambar pedang masing-masing yang terletak di atas meja. Maklumlah mereka bahwa mereka terancam bahaya dan merekapun segera berloncatan keluar dari kamar itu untuk melarikan diri. Akan tetapi betapa kaget rasa hati mereka melihat bahwa tempat itu telah penuh dengan perajurit Majapahit dan betapa semua anak buah mereka telah di tawan! Kini mereka berada diluar kamar yang luas, dan dibawah penerangan lampu-lampu gantung di ruangan yang luas itu, mereka melanjutkan perkelahian. Dengan kemarahan meluap-luap, Darmini menerjang Ki Bragolo dan segera ia dibantu oleh Sridenta. Panji Saroto terdesak oleh Walet Hitam, akan tetapi Bi Kwi segera terjun ke dalam perkelahian itu membantunya sambil memaki Walet Hitam.

Pedang Liong-Cu-Kiam bergulung-gulung sinarnya mendesak Walet Hitam, sedangkan keris ditangan Panji Saroto juga berbahaya sekali karena selain keris itu merupakan senjata yang ampuh, juga ternyata pemuda ini memiliki gaya dan gerakan yang indah dan cepat tangkas, serta tenaga yang cukup kuat. Ki Empu Kebondanu juga dihadapkan kepada seorang lawan yang tangguh, yaitu Senopati Raden Gajah yang sudah terkenal kegagahannya itu. Empu Kebondanu tidak banyak cakap lagi. Dia tahu betapa tangguhnya Raden Gajah, seorang Senopati yang terkenal di Majapahit ini, dan dia tahu pula betapa berbahaya keadaan dia dan kawan-kawannya karena tempat itu telah terkepung perajurit Majapahit. Maka dia lalu berkemak-kemik membaca mantera sambil memutar tongkat bambu gadingnya sedemikian rupa sehingga Raden Gajah harus berhati-hati menjaga diri dengan kerisnya.

“Aummmmm...!” Empu Kebondanu mengaum seperti seekor harimau dan memang ini merupakan satu diantara kesaktiannya. Auman itu mengandung kekuatan dahsyat yang dapat meruntuhkan semangat lawan, mendatangkan rasa jerih dan kaget sehingga gerakan lawan menjadi kacau atau bahkan dapat membuatnya lumpuh sama sekali seperti auman seekor harimau melumpuhkan seekor domba. Namun, yang dihadapinya kini bukanlah seorang muda yang masih mentah, melainkan seorang tokoh kawakan yang sudah banyak sekali pengalaman pertempuran dalam dunia ini. Menghadapi aji kesaktian ini,

Raden Gajah cepat mengerahkan kekuatan batinnya dan dapat menahan pengaruh auman itu, sedangkan kerisnya tidak tinggal diam, cepat diluncurkan menusuk ke arah ulu hati lawan. Melihat betapa lawannya tidak terpengaruh oleh aumannya, bahkan menyerang dengan tusukan maut, Empu Kebondanu cepat melangkah ke kiri dan tongkatnya menghantam ke arah pergelangan tangan lawan yang memegang keris, dengan maksud agar senjata itu terlepas. Namun Raden Gajah sudah menarik kembali tangannya sehingga hantaman tongkat itupun luput. Empu Kebondanu memutar tongkat, kini tongkat bambu gading itu menyambar ke arah kepala dengan luncuran keras sekali. Raden Gajah mengelak dengan merendahkan tubuh dan memiringkan kepala, kerisnya kembali menusuk ke arah lambung.

“Trangg!” Terpaksa Empu Kebondanu menurunkan tongkatnya menangkis sehingga tusukan itupun gagal. Mereka serang-menyerang dengan seru, dan nampak seimbang walaupun kurang leluasa melakukan perlawanan dengan senjatanya yang pendek melawan senjata lawan yang panjang. Keuntungan ini agaknya diketahui oleh Empu Kebondanu yang segera menjaga jarak diantara mereka, jarak yang cukup jauh bagi keris di tangan Raden Gajah namun cukup dekat bagi tongkat bambu gadingnya yang panjang.

Pertempuran Walet Hitam yang dikeroyok dua oleh Bi Kwi dan Panji Saroto juga amat seru dan mati- matian. Dan ternyata bahwa Walet Hitam memang hebat. Biarpun dikeroyok dua, dia sama sekali tidak kelihatan terdesak, bahkan gerakan pedangnya yang cepat dan kuat itu membuat Bi Kwi dan Panji Saroto harus berhati-hati sekali. Ia harus mengakui bahwa kalau tidak dibantu oleh Panji Saroto, tentu ia sudah kalah sejak tadi dan mungkin ia sudah roboh. Keris di tangan pemuda itupun hebat, mencuat kesana-sini dan kadang-kadang membuat Walet Hitam meloncat menghindar dengan kaget sekali. Akan tetapi, beberapa kali pedang Walet Hitam juga mengancam jiwa Panji Saroto. Untung bahwa Bi Kwi mengenal semua gerakan itu sehingga ia dapat melindungi Panji Saroto kalau pemuda itu didesak hebat.

“Trang-trang-cring...” Dua kali keris di tangan Panji Saroto menangkis pedang Walet Hitam dan ketika pedang itu masih terus mengancam, dari samping pedang Liong-Cu-Kiam di tangan Bi Kwi menangkis sehingga pedang Walet terpental dan gagallah desakannya untuk ke sekian kalinya kepada Panji Saroto. Walet Hitam agaknya ingin lebih dahulu menjatuhkan Panji Saroto, baru dia akan menghadapi Bi Kwi dengan kekuatan penuhnya. Namun berkali-kali Bi Kwi dapat melindungi pemuda itu dan menggagalkan desakan Walet Hitam.

Hal ini membuat Walet Hitam menjadi marah dan tiba-tiba dia memutar pedangnya menyerang Bi Kwi! Hebat sekali serangan ini, pedangnya berkelebat menyilaukan mata dan dalam satu gerakan saja pedang itu telah membabat dari kanan, ketika dielakkan membalik dari kanan ke kiri dan begitu ditangkis, pedang itu meluncur ke depan, menusuk ke arah dada Bi Kwi dan berbareng, kaki kiri Walet Hitam menyusulkan sebuah tendangan yang keras. Bi Kwi terkejut sekali, berhasil menangkis dengan pedangnya, akan tetapi tendangan itu membuat ia terpaksa melempar tubuh ke belakang. Walet Hitam yang melihat lawannya itu terdesak, mengejar untuk menyerang lagi dengan hebat, akan tetapi pada saat itu, Panji Saroto yang melihat betapa Bi Kwi terancam bahaya, sudah menyerang dari samping dengan kerisnya, menusuk lambung.

“Tringgg…!” Terpaksa Walet Hitam menghentikan kejarannya terhadap Bi Kwi dan mengerakkan pedang ke kanan untuk menangkis keris yang berbahaya itu, dan tentu saja kini Bi Kwi sudah dapat menguasai keadaan dan keseimbangan tubuhnya, lalu dengan marah gadis inipun membalik dan menyerang, membantu Panji Saroto mengeroyok lawan yang amat lihai itu. Walet Hitam memutar pedangnya yang menjadi sinar bergulung-gulung melindungi tubuhnya dari segenap penjuru seperti benteng sinar pedang yang kokoh kuat. Pertempuran itu menjadi semakin seru dan mati-matian karena Walet Hitam tidak lagi melihat jalan keluar kecuali merobohkan semua lawannya, baru dia dapat membuka jalan darah menerjang keluar di antara para pengepungnya.

Perkelahian antara Ki Demang Bragolo yang dikeroyok oleh Darmini dan Sridenta merupakan perkelahian yang paling tidak ramai di antara yang lain. Biarpun Ki Demang Bragolo seorang yang memiliki tenaga raksasa, dan senjatanya yang berupa penggada besar itu amat berat dan berbahaya, namun dia menghadapi dua orang murid Sang Panembahan Ganggamurit yang memiliki gerakan yang amat ringan dan serangan-serangan yang amat cepat. Sridenta yang maju dengan tangan kosong itu, demikian gagahnya sehingga dia berani menangkis penggada lawan dengan lengannya. Tentu saja Ki Bragolo menjadi kewalahan karena pedang Lian-Hwa-Kiam di tangan Darmini menyambar-nyambar ganas, seperti kilat yang menyilaukan mata.

 Kilat pedang itu seolah-olah tangan-tangan maut yang mengancamnya, membuat Ki Bragolo repot sekali. Andaikata dia harus menghadapi Darmini soerang, atau bahkan Sridenta seorang diri saja, agaknya dia akan dapat melakukan perlawanan yang lebih seimbang. Akan tetapi kini, menghadapi pengeroyokan dua orang itu, dia benar-benar kewalahan dan setelah dia melindungi dirinya dengan memutar penggada yang amat berat itu beberapa lamanya, napasnya mulai terengah dan tubuhnya basah oleh keringat kelelahan dan keringat ketakutan. Betapapun juga, dia harus melawan mati-matian karena maklum bahwa tidak ada jalan keluar baginya. Semua anak buah yang tadinya dibawa oleh Empu Kebondanu yaitu pasukan dari Raden Wiratama, telah ditawan oleh pasukan Majapahit yang dibawa oleh Raden Gajah.

Dan kini, para pembantunya yang diandalkan, yaitu Walet Hitam dan Empu Kebondanu sendiri, juga sedang repot melindungi diri masing-masing. Dia harus melawan mati-matian dan dengan menggertak gigi, dia memutar penggadanya, memukul ke arah Sridenta dengan sekuat tenaga. Pemuda ini maklum bahwa betapa bahayanya penggada yang menyambar ke arah kepalanya itu. Dia miringkan tubuhnya dan dari samping tangan kanannya menyambar dan menangkap pergelangan lengan yang memegang penggada. Namun, lengan itu berkeringat dan amat keras seperti besi sehingga licin dan cengkeraman tangan Sridenta meleset kini saling membetot, memperebutkan penggada. Pada saat itu, sinar pedang berkelebat dan pedang di tangan Darmini sudah datang dan menyambar ke arah leher Ki Bragolo! Kakek ini terkejut, terpaksa dia mengangkat lengan kiri menangkis.

“Crakkk...!” Lengan kiri itu putus sebatas siku dan Ki Bragolo mengeluarkan suara gerengan sedemikian dahsyatnya sambil merenggut penggadanya sehingga terlepas dari cengkeraman Sridenta, dan kakek itu membalik, dengan mata mendelik merah, mulut mengeluarkan busa saking marahnya, dia menyerang Darmini dengan penggadanya, darah bercucuran dari lengan kiri yang buntung! namun, Darmini meloncat ke samping dan kembali pedangnya berkelebat cepat sekali.

“Crakkkk...!” kembali darah muncrat mengiringi teriakan Bragolo dan lengan kanannya juga sudah buntung, penggada itu terlempar. Akan tetapi, kakek itu tidak roboh, dengan kedua lengan buntung yang meneteskan darah segar, dia berdiri menghadapi Darmini yang menjadi ngeri sendiri. Gadis ini, siap melakukan tusukan maut, akan tetapi tiba-tiba lengannya dipegang oleh Sridenta.

“Cukup, diajeng...!” Darmini tersadar dan iapun menahan napas untuk menindih hawa kemarahan yang berkobar. Pada saat itu, Ki Bragolo yang sudah buntung kedua lengannya itu, mengeluarkan teriakan dan menerjang ke arah Darmini dengaan tendangan kakinya. Akan tetapi, Sridenta menyambut tendangan itu dengan tangkisan lengannya sambil mengerahkan tenaga dan tubuh Ki Bragolo terbanting roboh dan kakek inipun pingsan!

Sridenta melihat betapa Raden Gajah masih bertanding mati-matian melawan Empu Kebondanu cepat meloncat dan maju membantu Senopati itu. Dia menampar dengan keras dan ketika Empu Kebondanu mengelak, tamparan itu berubah menjadi cengkeraman untuk merampas tongkat bambu gading! Empu Kebondanu terkejut sekali dan cepat menarik tongkatnya, akan tetapi pada saat itu keris di tangan Raden Gajah sudah pula menyambar. Dia meloncat mundur dan terdesak hebat oleh kedua orang pengeroyoknya. Sementara itu Raden Gajah memerintahkan perajurit untuk membelengu kedua kaki Ki Bragolo dan mengobati luka di lengannya, dan dia berseru kepada para pembantunya untuk mengeroyok Empu Kebondanu.

 “Jangan bunuh dia, tangkap hidup-hidup!” teriaknya. Kini Empu Kebondanu dikepung banyak orang. Dia masih mencoba mengamuk dengan tongkatnya, akan tetapi ketika tongkat itu berhasil ditangkap oleh Sridenta, para perwira pembantu lalu menyerangnya, dan menelikungnya,

Membelenggu kaki tangannya seperti seekor sapi yang hendak disembelih. Kini yang bertempur mati- matian hanya tinggal Walet Hitam. Akan tetapi, dia sudah repot bukan main karena kini dia dikeroyok tiga, yaitu oleh Bi Kwi, Panji Saroto, dan Darmini! Terutama sekali Darmini dan Bi Kwi menyerangnya dengan penuh semangat. Dua buah pedang di tangan kedua orang gadis ini menyambar-nyambar bagaikan kilat, membuat Walet Hitam kewalahan sekali. Dan semua ini masih ditambah serangan keris di tangan Panji Saroto. Betapapun lihainya, menghadapi pengeroyokan tiga orang ini, dia kewalahan sekali dan tubuhnya sudah menanggung luka-luka terkena ujung pedang dan keris. Namun, melihat bahwa tidak ada jalan keluar baginya, dia mengamuk terus.

“Trangg...!” Pedangnya bertemu dengan pedang Darmini dan pada saat itu, pedang Bi Kwi menyambar ke bawah.

“Brettt...!” Bukan hanya celana di bagian paha itu saja yang terobek, akan tetapi berikut juga kulit paha dan sebagian daging pahanya.

Darah mengalir membasahi celananya dan luka sekali ini cukup parah membuat gerakannya menjadi kacau dan agak lambat. Perlawanan Walet Hitam menjadi lemah, apalagi darah yang mengalir keluar dari beberapa luka ditubuhnya terlalu banyak, membuat tubuhnya menjadi lemas dan tenaganya berkurang. Kembali pedang Darmini menyambar dan melukai pundak kirinya, membuat lengan kirinya tergantung lumpuh dan tubuhnya terhuyung-huyung. Tusukan keris di tangan Panji Saroto mengenai siku kanannya dan terjatuhlah pedang yang dipegang Walet Hitam. Saat itu dipergunakan oleh Darmini untuk mengelebatkan pedangnya. Kilat pedang berkelebat menyambar dada dan robohlah Walet Hitam, roboh mandi darah, terutama yang banya keluar dari luka barunya di dada yang tertusuk pedang tadi. Bi Kwi dengan gemas sekali meloncat dekat dan pedangnya terayun membacok leher.