-->

Kilat Pedang Membela Cinta Jilid 7

Jilid 7

“Benarkah? Keparat, berani benar dia! Sungguh mati, saya tidak tahu menahu soal itu, Raden. Ketika ia datang, ia marah-marah tentang Ibunya yang saya tinggalkan di Lumajang, dan ia hanya bicara tentang ingin mencari pembunuh kekasihnya yang dahulu terbunuh si Ong Cun itu.”

“Tidak perduli engkau tersangkut atau tidak, akan tetapi ia adalah anak tirimu dan engkau harus bertanggung jawab! Aku perintahkan engkau yang mencarinya dan menangkap dan menyeretnya ke sini, hidup atau mati, barulah aku yakin bahwa engkau setia kepada golongan kami dan tidak menjadi pengkhianat.” Ki Demang Brogolo mengepal tinju, diam-diam marah sekali kepada Darmini.

“Akan saya usahakan untuk mencarinya Raden. Dan saya akan mengerahkan segala kemampuan aya untuk menangkapnya.”

“Bagus, aku masih percaya padamu, kalau tidak, sekarang juga tentu engkau sudah kusuruh bunuh! Nah, pulanglah dan tangkaplah puterimu itu sampai dapat!” Ki Demang Bragolo pulang dengan hati mendongkol bukan main. Biarpun Raden Wiratama menjadi tokoh besar dari keluarga Lumajang yang kini memimpin gerakan anti Kerajaan Majapahit, namun tidak sepatutnya bersikap demikian menghinanya, apalagi di depan Empu Kebondanu, pikirnya. Dia sendiri bukan orang lemah dan tidak takut kepada Wiratama atau Empu Kebondanu sekalipun. Hanya karena kedudukan dalam gerakan itu saja maka dia menjadi bawahan. Dia mengepal tinju. Darmini menjadi gara-gara ini semua.

Kenapa mencari pembunuh Ong Cun berkeliaran sampai ke gedung Raden Wiratama? Hemm, dia harus menangkap gadis itu! Harus! Kalau tidak, dia akan mendapat kesukaran dengan Raden Wiratama, dan terutama Darmini sendiri sekarang dapat menimbulkan banyak urusan. Gadis itu harus ditangkap, dan dialah yang mengatur agar Darmini dapat ditangkap dan dibawanya kepada Raden Wiratama. Selagi dia berjalan tergesa-gesa menuju pulang dan tiba di sebuah tikungan jalan yang pada waktu tengah malam itu sunyi sekali, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang yang berpakaian hitam dan memakai topeng. Ki Demang Bragolo sudah meraba gagang kerisnya, siap melakukan perlawanan, akan tetapi ketika dia melihat bayangan itu dibawah sinar bulan sepotong, dia menyarungkan kembali keris yang sudah setengah dicabut itu dan berseru girang.

“Walet Hitam! Kiranya engkau sudah datang? Aku sedang menanti-nanti kemunculanmu!” Topeng hitam itu tertawa kecil.

“Ki Demang Bragolo, dari manakah engkau pada waktu begini? Dan tergesa-gesa benar nampaknya. Menanti munculku, apakah ada benar rencana kerja sama seperti dulu?”

 “Sialan aku baru saja mendapat marah dari Raden Wiratama! Kau tahu, anak tiriku si Darmini itu, baru saja mengacau di gedungnya, dan kini aku diberi tugas untuk menangkapnya. Tentu saja, kita dapat bekerja sama, asal engkau tidak tamak seperti dulu, meminta terlampau banyak.”

“Ha-ha, andika tahu bahwa sifat Walet Hitam hanya mau bekerja sama kalau ada imbalan yang pantas. Ada pekerjaan apakah sekarang, Ki Demang?”

“Pekerjaan untuk kepentingan kita berdua. Hayo, kita bicara dirumahku saja.” Mereka lalu berjalan cepat menghilang di dalam kegelapan malam menuju ke rumah gedung Ki Demang Bragolo.

Hari telah menjelang pagi dan sinar matahari telah mulai mengusir kegelapan malam ketika dua orang gadis itu berhenti berjalan di luar Kotaraja, di tepi sebuah hutan yang sunyi. Darmini berhenti melangkah dan Bi Kwi juga ikut berhenti. Semenjak mereka berdua melarikan diri dari gedung tempat tinggal Raden Wiratama tadi, mereka tak pernah bicara. Darmini yang memimpin pelarian itu, membawa Bi Kwi keluar Kotaraja.

Ia tidak berani mengajak gadis itu pergi bersembunyi atau berlindung ke rumah Raden Gajah, pertama karena ia tidak ingin melibatkan keluarga Raden Gajah ke dalam pertentangan secara terbuka terhadap Wiratama, dan kedua karena akan terasa tidak enaklah kalau ia mengajak seorang lain, apalagi seorang wanita Cina ke dalam rumah senopati yang menjadi saudara misan Ibu kandungnya itu. Ia meragukan kesediaan keluarga itu menerima Bi Kwi. Kini mereka berhenti melangkah, berdiri saling berhadapan dalam jarak dua meter di tepi hutan itu, di dalam cuaca subuh yang cerah, saling pandang dengan penuh perhatian. Bentuk tubuh mereka hampir bersamaan. Sama ramping dan sama tinggi, dan Darmini cepat menguatkan perasaannya ketika ia merasa betapa sepasang matanya menjadi panas karena wajah itu kembali mengingatkannya kepada Ong Cun.

“Engkau... engkau adik Ong Bi Kwi...” Akhirnya ia berkata lirih, seperti hendak meyakinkan hatinya sendiri.

“Dan engkau... Mbak-Ayu Darmini...” Bi Kwi juga berkata dan suaranya mengandung isak haru. Mendengar suara ini, Darmini tidak dapat menahan dirinya lagi.

“Adikku...!” Dan iapun melangkah maju, disambut Bi Kwi dan keduanya saling rangkul, dan keduanya tidak dapat menahan lagi air mata yang mengalir turun membasahi pipi, tanda keharuan yang wajar dua orang wanita muda. Beberapa saat lamanya mereka saling peluk dan saling bersentuhan pipi, yang basah, kemudian Darmini dapat menguasai hatinya, memegang kedua pundak Bi Kwi dan memandang wajah itu dengan senyum di antara basahnya kedua pipi oleh air mata.

“Engkau Bi Kwi... ah, sekali melihat saja aku sudah tahu, wajahmu mirip sekali dengan wajah Ong Cun...!” kata Darmini sambil tersenyum girang setelah keharuan dapat ia tundukkan. “Ong Cun banyak bercerita tentang dirimu, dia... dia amat sayang kepadamu, Bi Kwi.”

“Dan aku pernah mendengar tentang dirimu dari Toako Kwee Lok, dan sungguh aku merasa berbahagia sekali dapat bertemu denganmu, Mbak-Ayu Darmini. Tahulah aku sekarang mengapa mendiang Ong Cun demikian mencintamu, karena engkau memang seorang wanita yang pantas mendapatkan cintanya. Telah sejak aku tiba di Lumajang, aku mencari-carimu, Mbak-Ayu, siapa mengira bahwa kini engkau malah yang telah menyelamatkan diriku dari ancaman malapetaka!” Kembali Bi Kwi merangkul. Masih

 ngeri kalau ia membayangkan betapa hampir saja ia menjadi korban kekejian Wiratama, dan ia berterima kasih sekali kepada bekas kekasih Kakaknya ini.

“Terima kasih, Mbak-Ayu Darmini.”

“Tidak perlu berterima kasih, adikku. Agaknya semangat Ong Cun yang menuntun kita untuk saling menolong dan saling berjumpa. Engkau sendiri telah menolongku ketika aku malam kemarin menyelidiki rumah Wiratama dengan sambitan kerikil itu. Kalau engkau berniat buruk, tentu aku telah tertangkap. Mari kita masuk ke hutan ini dan bicara agar jangan sampai nampak oleh orang lain.” Keduanya lenyap di antara pohon-pohon dan semak-semak belukar, menemukan petak rumput yang gemuk dan bersih diantara pohon-pohon besar dan merekapun duduk di atas rumput, bertilamkan daun kering yang bersih. Keduanya duduk berhadapan dan saling berpegang tangan, terdapat rasa sayang di dalam hati masing-masing.

“Sekarang ceritakan tentang dirimu, tentang kedatanganmu kesini.” kata Darmini. Bi Kwi bercerita tentang berita yang diterimanya dari Kwee Lok bahwa Ong Cun telah tewas terbunuh orang, dan tentang pertunangan Ong Cun. Kemudian tentang kematian Ayahnya, tentang ia belajar ilmu silat di kuil Siauw-Lim-Pai, dan tentang bujukan Kwee Lok agar ia menikah sampai peristiwa yang terjadi di rumah keluarga Cu Hok Sim.

“Aku mengambil banyak emas dari orang yang berniat buruk terhadap diriku itu, kemudian bersama Kakak Kwee Lok meninggalkan kampung halaman untuk pergi ke Jawa. Ketika orang she Cu itu bersama anak buahnya mengejar dan menyusul kami di tengah perjalanan, kami melawan dan menghajar mereka, kemudian melanjutkan perjalanan dengan perahu dagang ke selatan. Dan kamipun sampai di Lumajang, kemudian terus ke Majapahit.”

“Jadi engkau datang bersama Kwee Lok? Aku sudah mengenal baik adik seperguruan Ong Cun itu. Dimana dia?” Bi Kwi menarik napas panjang.

“Di negara kami, dia pernah gila judi dan gara-gara dia gila judi maka sampai dia membujuk aku menikah dengan orang she Cu itu. Setelah kami tiba di Majapahit dan bertemu dengan Raden Wiratama, kami berdua tanpa kami sadari terjatuh ke dalam cengkeramannya dan kembali dia menjadi gila judi, bahkan melupakan tugas kami untuk mencari pembunuh Kakakku Ong Cun. Sungguh menjengkelkan sekali.” Bi Kwi lalu menceritakan betapa ia dan Kwee Lok sudah berusaha mencari Darmini namun tidak berhasil dan sebelum ia dan Kakak angkatnya itu dapat melanjutkan penyelidikan mereka, mereka telah terjatuh ke dalam cengkeraman Wiratama.

“Untung ada engkau, Mbak-Ayu Darmini. Kalau tidak, tentu aku telah binasa dan dendam kematian Kakakku tidak akan terbalas.”

“Akupun tidak tinggal diam, adikku. Semenjak kematian Ong Cun, aku lalu berguru dan mempelajari ilmu kesaktian. Aku juga sedang melakukan penyelidikan, karena pembunuh Ong Cun harus dapat kutemukan untuk mendapat hukuman atas kejahatannya. Akan tetapi akupun belum berhasil. Kalau menurut penyelidikanmu dan Kwee Lok, sudah sejauh mana hasilnya? Apakah sudah ada petunjuk untuk menemukan pembunuh itu?” Bi Kwi menarik napas panjang.

“Menurut Kwee-Toako, ada orang bernama Panji Sarono yang dulu kelihatan membenci Cun-Koko dan dia patut dicurigai. Juga ada tiga orang perampok yang pernah menculikmu dan mereka dihajar oleh Cun-Koko, maka mungkin saja mereka itupun mendendam kepada Cun-Koko. Akan tetapi, kami belum sempat menyelidiki mereka dan kami telah lebih dulu bertemu dengan Wiratama. Kwee-Toako sendiri tidak pernah menceritakan apakah dia sudah melakukan penyelidikan, agaknya setelah gila judi dia tidak perduli lagi atas urusan itu.” Darmini mengangguk-angguk.

“Memang merekapun menjadi orang-orang yang kucurigai, Bi Kwi. Bahkan tiga orang perampok itu telah kutemukan dan kuhajar mereka, kupaksa mengaku, akan tetapi mereka sama sekali tidak melakukan pembunuhan atas diri Ong Cun. Kita harus mencari ke arah lain, dan memang keadaan keluarga Raden Panji Sarono cukup mencurigakan. Terus terang saja, Raden Panji Sarono itu masih saudara misanku, karena Ayahnya Uwa Empu Tanding, adalah Kakak misan Ibuku. Akan tetapi kita perlu menyelidiki dan kalau benar dia yang membunuh Ong Cun, aku pasti akan turun tangan menghukumnya. Sekarang kita sudah berkumpul dan hal ini baik sekali karena kita dapat bekerja sama sehingga keadaan kita lebih kuat. Sebaiknya kalau Kwee Lok dapat kita temui dan ajak bicara. Dimana dia? kalau dia membantu kita, tentu akan lebih mudah menemukan pembunuh itu.” Bi Kwi menggeleng kepala.

“Entah bagaimana, aku mulai tidak percaya kepadanya, Mbak-Ayu, bahkan ada rasa tidak suka. Semenjak dia setengah memaksaku menikah dengan orang she Cu dikampung halaman kami, kemudian dia ikut bersamaku ke selatan, aku tidak begitu percaya lagi padanya. Apa lagi setelah disini dia kembali gila judi dan agaknya melupakan tugas kami, aku tidak suka lagi dia membantuku mencari Cun-Koko. Mbak-Ayu, urusan ini adalah urusan kita berdua, juga dia adalah Kakak kandungku satu-satunya. Mari kita berdua saja bekerja untuk membengkuk batang leher pembunuhnya dan tidak memperdulikan lagi Kwee Lok yang mata duitan itu.” Darmini mengangguk-angguk setuju.

“Baiklah adikku. Dan sekarang mari kuajak engkau pergi menghadap Raden Gajah, masih Pamanku sendiri. Di sanalah untuk sementara aku tinggal dan aku yakin dia akan mau menerimamu kalau kuceritakan siapa adanya engkau. Kurasa, tidak ada tempat yang lebih aman bagi kita kecuali di dalam rumahnya dan dari sana kita dapat melakukan penyelidikan kita.

“Baiklah, Mbak-Ayu. Mulai sekarang, engkaulah yang memimpin, aku hanya membantumu.” Dua orang “pemuda” itu lalu bergandeng tangan meninggalkan hutan. Matahari mulai muncul dan pagi itu cerah sekali, secerah wajah keduanya karena pertemuan itu sungguh mendatangkan kegembiraan luar biasa dalam hati mereka.

“Kwee Lok, engkau tahu betapa selama engkau dan adikmu tinggal disini, aku telah melimpahkan hadiah dan bahkan semua keperluan berjudi aku cukupi. Karena itu sudah sepatutnya kalau engkau kini bertanggung jawab atas larinya adikmu itu!” kata Raden Wiratama kepada Kwee Lok yang duduk sambil menundukkan muka di depannya.

“Akan tetapi, Raden. Bukankah engkau sendiri yang mengatakan bahwa ia telah setuju untuk menjadi selirmu? Bahkan ia telah tidur di dalam kamarmu? Bagaimana ia sekarang dapat melarikan diri dari sini dan apa sebabnya?”

“Semalam datang seorang yang mengajaknya pergi melarikan diri, bahkan mereka berdua menggunakan kekerasan melawan pasukan pengawal!”

“Siapa orang itu? Siapa yang mengajaknya pergi, Raden?” tanya Kwee Lok dengan heran. “Engkau takkan dapat menduga. Orang itu adalah Darmini.” “Ahhh...!” Kwee Lok membelalakkan matanya, membayangkan wajah Darmini, gadis hitam manis yang dulu pernah menjadi kekasih Ong Cun, yang sudah dikenalnya dengan baik. Darmini mampu melakukan itu? Dan apa maksudnya mengajak pergi Bi Kwi?

“Akan tetapi... Kwi-moi belum pernah berkenalan dengannya. Bagaimana kini mereka dapat lari bersama?” Tentu saja Raden Wiratama tidak dapat menceritakan hal yang sebenarnya, dan dia hanya berkata,

“Darmini datang dan mengingatkan kepada Bi Kwi bahwa ia tidak patut menjadi selirku dan berhasil membujuknya untuk melarikan diri. Ketika aku mengerahkan pasukan untuk menghalangi mereka pergi, mereka berdua melawan. Sekarang, engkau harus mencari Bi Kwi dan membawanya kembali kepadaku. Kalau tidak, engkau harus mengembalikan semua uang yang pernah kau pinjam dan mengembalikan pula semua barang hadiah yang pernah kuberikan kepadamu, atau kalau tidak, terpaksa kusuruh orang- orangku membunuhmu! Ingat, aku tidak mau dipermainkan, dan aku tahu bahwa engkau tangguh. Akan tetapi ketahuilah, aku mempunyai orang-orang yang juga amat tangguh, seperti Empu Kebondanu, dan juga Walet Hitam yang tentu akan dapat membunuhmu dengan mudah!” Kwee Lok mengerutkan alisnya dan mengangguk-angguk.

“Baiklah Raden. Kita adalah sahabat, mengapa harus menggunakan kekerasan? Tentu saja aku mau pergi mencari adikku itu sampai dapat. Memang ia banyak menyusahkan aku saja. Aku pasti dapat mencari mereka, dan sekalian mencari Darmini!”

“Tidak perlu. Bawa saja Bi Kwi ke sini! Mengenai Darmini, Ki Demang Bragolo sudah sanggup untuk menangkapnya.”

“Baik, baik... Akan kucari anak bandel itu!” Kwee Lok merasa jengkel terhadap Bi Kwi karena gadis itu dianggapnya hanya membuat dia repot saja.

Tadinya dia sudah merasa senang hidup di dalam rumah Wiratama yang kaya raya, dan dia boleh bersenang-senang sesuka hatinya. Bi Kwi juga akan menjadi selir tokoh yang kaya raya dan berkuasa itu. Mau apa lagi? Siapa kira, semua itu kini hancur, bahkan dia terancam pembalasan Wiratama gara-gara ulah Bi Kwi. Gadis itu dibawa pergi Darmini, dan mengingat bahwa Ki Demang Bragolo yang menjadi anak buah Wiratama sudah berjanji akan menangkap Darmini, maka sebaiknya kalau dia bekerja sama dengan Ki Demang Bragolo yang sudah dikenalnya sejak dahulu. Demi kepentingan mereka bersama, tentu mereka berdua dapat bekerja bersama dengan baik, dan kedua orang gadis itu akan lebih mudah untuk diketemukan dan ditangkap.

Sementara itu, Darmini mengajak Bi Kwi menghadap Raden Gajah. Raden Gajah menerima mereka di ruangan tamu, dan Senopati itu memandang kepada Bi Kwi dengan alis berkerut dan hati dipenuhi keheranan, juga kecurigaan. Mengapa keponakannya membawa tamu seorang pemuda Cina, pikirnya.

Bagaimanapun juga ada perasaan yang tidak enak dalam hati Raden Gajah terhadap bangsa Cina. Hal itu adalah karena peristiwa lima tahun yang lalu, betapa ada seorang tokoh rahasia Cina, yaitu Walet Hitam, membantu pelarian Wirabumi. Biarpun akhirnya dia berhasil menangkap dan membunuh pemberontak itu dan memaksa Walet Hitam melarikan diri, namun Cina rahasia itu sempat membunuh banyak anak buahnya. Dan akibat dari perbuatan Walet Hitam, para tamu Cina di Lumajang diserbu sehingga terjadi pertempuran yang akhirnya amat merugikan Kerajaan Majapahit sendiri karena harus mengganti kerugian kepada negeri Cina. Hal itu menimbulkan rasa tidak suka di hatinya melihat kini Darmini datang bersama seorang pemuda Cina, walaupun dia tahu bahwa Darmini pernah bertunangan dengan seorang pemuda Cina yang akhirnya terbunuh.

“Nini Darmini, siapakah orang muda yang kau ajak menghadapku ini?” tanyanya dan dari suaranya saja tahulah Darmini bahwa Pamannya merasa tidak suka.

“Maafkan saya, Kanjeng Paman Senopati,” katanya penuh hormat. “Adik ini adalah seorang gadis yang menyamar pria seperti saya. Ia bernama Ong Bi Kwi dan ia adalah adik mendiang Ong Cun yang datang dari negerinya untuk menuntut balas atas kematian Kakak kandungnya. Kami berdua telah bersepakat untuk bekerja sama mencari pembunuh Ong Cun. Karena itu, tanpa lebih dahulu memberitahukan Kanjeng Paman, saya mengajaknya ke sini. Kalau ia boleh tinggal di sini selama kami melakukan penyelidikan, sukurlah. Andaikata Paman berkeberatan, saya akan mencarikan tempat pondokan untuknya dan saya akan menemaninya.”

Raden Gajah mengamati tajam wajah Bi Kwi, diam-diam kagum hatinya. Seorang gadis begitu muda datang jauh dari negeri Cina seorang diri saja, menyamar sebagai pria untuk menuntut balas atas kematian Kakaknya. Tentu gadis ini bukan orang sembarangan seperti halnya Darmini.

“Raden, maafkan kalau saya mengganggu dan merepotkan saja,” kata Bi Kwi. Raden Gajah semakin kagum. Biarpun masih agak kaku, gadis ini telah pandai berbahasa daerah dan pandai pula membawa diri. Dia mengangguk-angguk,

“Tidak mengapa, nona. Engkau bukan hanya sahabat, melainkan juga tadinya akan menjadi adik Darmini, maka terhitung keluarga juga. Tinggalah disini bersama Nini Darmini, kami tidak merasa keberatan.” Tentu saja dua orang gadis itu merasa girang bukan main dan keduanya cepat menghaturkan terima kasih kepada Senopati yang gagah perkasa itu. Raden Gajah lalu memperkenalkan mereka dengan keluarganya dan mulai hari itu tinggallah Bi Kwi bersama Darmini di rumah Senopati Raden Gajah.

Mulailah Bi Kwi dan Darmini melakukan penyelidikan. Mereka sudah sama sepakat bahwa pertama- tama mereka akan menyelidiki keadaan keluarga Empu Tanding, terutama sekali Panji Sarono yang pernah bentrok dengan Ong Cun. Apalagi karena Darmini telah mendengar keterangan Gagak Ireng bahwa empat jagoan yang terkenal dengan nama Empat Bajul pernah menyatakan hendak membunuh Ong Cun, dan menurut keterangan itu, Empat Bajul kini berada di Kotaraja dan menjadi anak buah Panji Sarono!

“Kwee-Toako juga pernah bercerita kepadaku tentang Panji Sarono dan Ayahnya, Empu Tanding itu, Mbak-Ayu Darmini. Kurasa memang sebaiknya kalau menyelidik ke sana dan mencari mereka, terutama Empat Bajul itu. Andaikata bukan mereka yang membunuh Cun Koko, setidaknya mereka tahu siapa yang melakukannya.”

Demikianlah, pada suatu malam, malam yang gelap karena sore tadi hujan turun dengan derasnya, dua orang gadis menuju ke rumah gedung tempat kediaman Empu Tanding. Darmini menggunakan sebuah mantel hitam untuk menutupi pakaiannya yang serba putih dan mereka tidak lupa membawa pedang masing-masing. Malam itu gelap dan dingin sekali sehingga penduduk kota sudah tidak menampakkan diri di luar rumah mereka. Memang lebih enak tidur dikamar yang hangat daripada berkeliaran diluar rumah dalam malam yang gelap dan dingin itu, demikian pendapat semua orang. Namun bagi mereka yang berada diluar rumah, kalau mau membuka mata dengan waspada, akan nampaklah keindahan malam yang khas, malam sehabis hujan.

Kesemuanya bersih segar, baru saja mandi air hujang yang mencuci semua debu dari daun-daun pohon. Tanah yang mengeluarkan bau yang khas, sedap dan sehat ketika hawa keluar dari dalam tanah yang tersiram air hujan. Langit juga bersih karena semua mendung telah tercurahkan ke bumi menjadi air, langit yang hitam legam karena bulan muda sudah sejak tadi menghilang dan bintang-bintang hanya menurunkan sinar yang lemah dan lembut saja. Sunyi sekali, anginpun agaknya beristirahat di malam itu, membiarkan daun-daun pohon tidur nyenyak tanpa gangguan tangan angin nakal. Setelah mereka tiba di luar pagar tembok di luar gedung tempat tinggal keluarga Empu Tanding, dua orang gadis itu menyelinap ke bawah pohon besar. Masih ada air menetes kadang-kadang dari ujung daun, sisa air hujan.

“Kita menyelidiki dengan berpencar dan kembali ke pohon ini.” kata Darmini. “Kalau ada bahaya, beri tanda dengan suara burung hantu seperti yang sudah kita pelajari tadi.” Bi Kwi mengangguk dan keduanya lalu meloncat naik ke atas pohon dan dari pohon besar itu, setelah celingukan dan tidak melihat adanya penjaga di tempat itu, mereka melompat ke atas pagar tembok, lalu turun ke sebelah dalam pagar. Para penjaga memang sedang berkumpul di gardu penjagaan yang berada di pintu gerbang pagar tembok, karena malam terlalu dingin membuat mereka malas berjaga di luar atau meronda.

Dan lagi, siapa berani bermain gila mengganggu rumah Empu tanding yang terkenal sakti dan memiliki putera-putera yang sakti pula, belum lagi dihitung pasukan pengawal dan penjaga yang memperkuat penjagaan rumah itu? Karena merasa aman, para penjaga menjadi lengah. Setelah mempelajari keadaan gedung yang besar dan luar itu dari atas, dua orang gadis itu lalu berpencar. Darmini meloncat ke kiri dan Bi Kwi membelok ke kanan. Dengan hati-hati sekali Bi Kwi berloncatan ke atas wuwungan rumah, kemudian ia meloncat turun ke sebuah taman kecil yang berada di kanan bangunan induk. Perumahan itu luas sekali, dengan gedung induk di tengah, dan dibagian belakang terdapat pula beberapa bangunan lain.

Ia tahu bahwa memasuki bangunan induk amat berbahaya. Ia sudah mendengar dari Darmini bahwa Empu Tanding adalah seorang yang sakti, dan disitu terdapat pula putera-puteranya, juga pengawal- pengawal pilihan. Yang penting melakukan penyelidikan apakah Empat Bajul tinggal di kompleks perumahan itu, maka iapun menyelinap ke belakang, menuju ke deretan bangunan kecil. Ketika ia melihat sebuah pondok masih terang menandakan bahwa penghuninya masih belum tidur, iapun cepat menyelinap ke pondok itu dan mengintai dari balik jendela yang daunnya masih terbuka. Ruangan di balik jendela itu tidak berapa luas, merupakan ruangan duduk yang cukup mewah. Seorang pemuda nampak duduk di atas bangku, membaca kitab yang didekatkan pada lampu penerangan yang terletak di atas meja. Bi Kwi memperhatikan pemuda itu.

Seorang pemuda yang usianya dua puluh tahun lebih, bertubuh tegap dan berwajah tampan, wajahnya bersih dan cerah, dengan sepasang mata yang tajam dan mulut yang membayangkan keramahan dan kelembutan. Pemuda itu agaknya asyik sekali dengan bacaannya, atau memang gerakan Bi kwi yang terlalu ringan dan tidak mengeluarkan suara apapun sehingga dia tidak tahu bahwa ada sepasang mata yang mencorong memperhatikannya. Bahkan dia lalu bertembang dengan suara merdu dan lirih, namun cukup menembus jendela yang terbuka memasuki malam gelap, menyusup di antara daun-daun pohon lalu membumbung ke udara bercampur denga segala suara malam itu. Sejenak Bi Kwi terpesona dan ia merasa jantungnya berdebar keras. Hatinya amat tertarik dan pria di dalam itu baginya kelihatan demikian tampan, ganteng, gagah dan lemah lembut, Dan suara tembang yang asing itu terdengar aneh bagi telinganya, aneh akan tetapi lembut dan anggun, agung. Bi Kwi menekan perasaan aneh yang menyelinap di hatinya ini dan iapun sudah sadar lagi, siap untuk melakukan penyergapan. Tanpa menangkap seorang diantara mereka dan bertanya dengan ancaman, mustahil ia akan dapat mengetahui apakah Empat Bajul berada di situ ataukah tidak. Dengan gerakan seperti seekor burung murai terbang, ia meloncat ke dalam ruangan itu dan sebelum pemuda itu sempat melakukan sesuatu, tahu-tahu Bi Kwi sudah berada di belakangnya dan menodongkan pedangnya menempel pada leher si pemuda! Pemuda itu menengok dan nampak terkejut, juga heran sekali melihat betapa tahu-tahu dia telah ditodong pedang oleh seorang pemuda asing!

“Jangan berteriak kalau tidak ingin pedangku menembus lehermu!” Bi Kwi membentak lirih dan diam- diam ia merasa kagum dan heran melihat betapa pemuda yang ditodongnya itu sama sekali tidak kelihatan ketakutan, walaupun nampak kaget dan heran. Sikap pemuda itu tetap tenang saja dan hal ini mengagumkan karena orang lain tentu sudah menjadi pucat ketakutan ditodong seperti itu. Mendengar kata-kata Bi kwi, pemuda itu kelihatan semakin heran karena dia kini yakin bahwa yang menodongnya adalah seorang asing.

“Sobat, engkau agaknya seorang Cina, akan tetapi kenapa menodongku? Kalau engkau seorang pencuri, tidak perlu menodongku. Kalau engkau benar dalam keadaan susah dan ingin harta benda, aku dapat membantumu tanpa kau todong. Nah, duduklah dan ceritakan apa kesusahanmu, aku pasti akan menolongmu,sobat?” Kini Bi Kwi yang tercengang dan melongo. Orang ini ditodong malah menawarkan bantuan!

“Jawab, dimana adanya Empat Bajul?” Bi Kwi berbisik dan mengancam. Pemuda itu tersenyum dan kembali Bi Kwi kagum. Dalam keadaan begitu, selain menawarkan bantuan, malah masih dapat tersenyum demikian wajarnya, bukan senyum buatan. Bukan main pemuda ini, pikirnya.

“Sobat, engkau ini aneh dan mengajukan pertanyaan yang aneh pula. Empat Bajul? Siapa itu? Mendengar nama itupun baru sekarang? Di sini tempat manusia, bukan tempat Bajul (Buaya).”

“Jangan cengengesan!” bentak Bi Kwi dan pemuda itu memperlebar senyumnya mendengar kata ‘cengengesan’ itu yang diucapkan dengan lidah kaku. “Katakan saja di mana adanya Bajul Sengoro, Bajul Sengkolo, Bajul Puruso dan Bajul kanisto itu!” Pemuda itu tidak menghentikan senyumnya,

“Wah, wah, penudah dengan Bajul! Heran sekali, kalau engkau yang mengenal segala macam Bajul itu, kenapa engkau datang kesini dan bertanya kepadaku? Aku tidak mengenal mereka , walaupun aku tahu bahwa mereka adalah penjahat-penjahat tersohor dari Lumajang. Aku bahkan tidak tahu bahwa mereka berada di Majapahit. Sobat, sungguh sayang sekali kalau engkau yang merupakan pendatang dari jauh, disini hanya bergaul dengan penjahat-penjahat macam mereka. Agaknya engkau ini seperti si Walet Hitam yang mau melakukan apa saja asal di beri hadiah banyak, begitukah?”

Wajah Bi Kwi berubah merah karena marah. Ingin ia menampar muka orang yang menghinanya itu, dan karena orang itu mengatakan tidak tahu tentang Empat Bajul, walaupun mungkin berbohong, ia hendak meninggalkannya. Akan tetapi orang ini harus dibuat tidak berdaya agar jangan berteriak setelah ia pergi. Tangan kirinya sudah bergerak hendak menampar, akan tetapi ia teringat akan sesuatu dan tamparannya diurungkan.

“Engkau siapakah?” tiba-tiba ia bertanya. “Aku bernama Panji Saroto dan tidak pernah bergaul dengan segala macam Bajul…”

“Tukkk!” Tiba-tiba jari tangan kiri Bi Kwi menotok jalan darah di pundak dan lehernya secara cepat sekali dan pemuda itupun terkulai lemas karena sudah tertotok lumpuh dan tidak mampu bersuara lagi. Bi Kwi lalu menyimpan pedangnya dan memanggul tubuh yang lemas itu. Ia harus menawan orang ini, pikirnya karena jelas bahwa orang ini membohong.

Darmini tentu akan setuju dengan perbuatannya ini karena orang ini merupakan orang pertama dan terpenting untuk dicurigai sebagai pembunuh Ong Cun atau setidaknya orang yang mengutus si pembunuh. Dengan ringan biarpun kini memanggul tubuh seorang pemuda, Bi Kwi meloncat keluar dan terus ke atas genteng, kembali ke pohon besar yang tumbuh diluar pagar tembok itu. Pohon trembesi itu besar dan melalui cabangnya yang tumbuh di atas pagar tembok, mereka tadi dengan mudah memasuki tempat itu. Sambil berlompatan, Bi Kwi mengeluarkan suara seperti suara burung hantu dan segera memperoleh jawaban. Ia harus memanggil Darmini karena telah mendapatkan tawanan penting. Hampir berbareng mereka tiba di pohon trembesi itu dan melihat Bi Kwi memanggul tubuh seorang, Darmini merasa heran dan bertanya,

“Bi Kwi, siapakah dia?”

“Mbak-Ayu, aku telah menangkap Panji Sarono!” kata Bi Kwi dan mendengar ini, Darmini merasa terkejut akan tetapi juga girang.

“Engkau setuju, bukan?”

“Tentu saja!” jawab Darmini. “Mari kita bawa dia ke gubuk itu!” mereka tadi memang telah menentukan sebuah gubuk di tengah sawah untuk tempat persembunyian malam itu kalau terjadi sesuatu. Tempat itu sunyi dan takkan ada orang tahu atau menduga bahwa mereka berada di gubuk itu. Setelah tiba di dalam gubuk, Bi Kwi melemparkan tubuh yang lumpuh itu ke atas tanah dan Darmini lalu membuat api menyalakan sebuah lentera kecil yang memang sudah dipersiapkan di dalam gubuk. Ketika penerangan lentera itu menyinari muka pemuda itu, Darmini mengeluarkan seruan kaget.

“Adik Bi Kwi, dia bukan Panji Sarono…!!” kemudian disambungnya, “Akan tetapi diapun akan dapat memberi keterangan. Bebaskan dia, Bi Kwi!” Bi Kwi tadi salah menangkap ketika Panji Saroto memperkenalkan namanya. Yang diingat hanyalah Panji Sarono sebagai orang pertama yang dicurigai, maka ketika Panji Saroto memperkenalkan diri, ia mengira bahwa pemuda itu adalah Panji Sarono dan langsung menotok dan menawannya. Setelah mendengar bahwa ia salah tangkap orang, Bi Kwi merasa rikuh sekali dan iapun membebaskan totokannya, akan tetapi ia meloncat mundur dan berseru,

“Aihhhh…!” Ia terbelalak. “Kau... kau... sudah bebas dari totokanku!” Sambil tersenyum Panji Saroto bangkit berdiri dan memandang kepada Bi Kwi. Dari percakapan dua orang tadi, tahulah dia bahwa pemuda Cina yang menangkapnya ternyata seorang wanita, hal yang sudah diduganya sejak pertama kali pemuda itu memasuki kamarnya. Pemuda itu terlampau manis untuk menjadi pria!

“Nona, ilmu kepandaianmu hebat dan dengan susah payah baru aku dapat membebaskan diri dalam perjalanan tadi.”

  “Jadi kau... bebas sejak tadi...? Kenapa diam saja?” Bi Kwi bertanya sambil mengamati wajah yang tersenyum itu. Panji Saroto balas memandang dengan senyum mengejek.

“Nona, sudah sejak kecil aku tidak merasakan bagaimana enaknya digendong orang. Kini engkau, tanpa kuminta, telah memondongku, maka untuk apa aku ribut-ribut tadi? Lebih baik menikmati gendongan. Eh, engkau juga disini kiranya, Mbak-Ayu Darmini? Kiranya nona Cina ini adalah sahabatmu? Sungguh mengherankan sekali, apa maksudmu menawan aku, adik misanmu sendiri?” Darmini tidak menyangkal lagi. Lima enam tahun yang lalu, Panji Saroto ini masih seorang pemuda remaja, akan tetapi kini dia telah dewasa, maka iapun menjawab dengan sungguh-sungguh,

“Adimas Panji Saroto, maafkan kalau adikku Ong Bi Kwi ini telah mengganggu dan menangkapmu. Akan tetapi hal itu memang merupakan suatu kesalahan karena ia sesungguhnya menyangka bahwa engkau adalah Kakang-Mas Panji Sarono. Sekarang engkau telah menjadi tawanan kami, dan memang terus terang saja kami sedang melakukan penyelidikan di rumah Uwa Empu Tanding!” Melihat sikap yang sungguh-sungguh dari Darmini yang berpakaian pria ini, Panji Saroto tidak berani main-main lagi. Diam- diam dia mendapat kenyataan bahwa Darmini bukanlah gadis manis yang ramah dan lembut seperti dahulu lagi, melainkan seorang wanita yang gagah dan sikapnya anggun penuh wibawa.

“Mengapa engkau memusuhi kami, Mbak-Ayu? Apakah barangkali engkau telah memihak Ki Demang Bragolo, Ayah tirimu itu? Engkau telah membantu gerakan para pemberontak Lumajang!”

“Sama sekali tidak!” jawab Darmini. “Aku melakukan ini demi urusan pribadiku. Aku sedang menyelidiki Empat Bajul yang kabarnya menjadi anak buah dari Kakang-Mas Panji Sarono, dan akupun ingin bertemu dengan Kakang-Mas panji Sarono!” Panji Saroto adalah seorang pemuda yang cerdik sekali. Tentu saja dia sudah mendengar tentang peristiwa yang terjadi di Lumajang, tentang Darmini yang bertunangan dengan seorang pemuda Cina, betapa kemudian pemuda itu terbunuh orang dan kabarnya Darmini pergi merantau mempelajari ilmu! Tentu untuk membalas dendam! Dan agaknya Darmini mencurigai Kakak kandungnya, Panji Sarono dan dia tidak terlalu menyalahkan gadis itu, karena dia sendiri mengenal baik siapa adanya Kakak kandungnya itu, bahkan diapun tahu bahwa Empat Bajul itu adalah kaki tangan Kakaknya!

“Mbak-Ayu Darmini, apakah urusan pribadi itu adalah urusan kematian tunanganmu dahulu itu? Dan engkau agaknya menuduh Kakakku yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu?” Darmini menentang pandang mata pemuda itu dengan sinar mata mencorong.

“Agaknya engkau bukan kanak-kanak lagi, adimas Panji Saroto, dan engkau telah mengetahuinya. Benar seperti kau katakan tadi. Kelirukah kecurigaanku kepadanya menurut pendapatmu?” Panji Saroto mengangkat kedua pundaknya.

“Aku tidak tahu, Mbak-Ayu, dan aku tidak ingin mencampuri urusan itu. Memang sebaiknya kalau Mbak- Ayu bicara sendiri dengan Kakang-Mas Panji Sarono.”

“Dimana adanya Empat Bajul itu?”

“Saya tidak tahu apakah mereka itu masih bersama Kakang-Mas Panji Sarono, akan tetapi hal itupun dapat kau tanyakan sendiri kepadanya?”

 “Bagaimana aku dapat bertemu dengan Kakang-Mas Panji Sarono?”

“Dia jarang berada di rumah karena Kanjeng Rama selalu marah kepadanya. Dia mempunyai sebuah rumah dimana dia menyimpan selir-selirnya, diujung Kotaraja sebelah selatan. Rumahnya bercat kuning dan di depannya penuh dengan tanaman bunga mawar, terkenal di sana dengan nama Gedung Mawar.”

“Hemm, kuharap saja keteranganmu ini benar, adimas Panji Saroto.”

“Kenapa tidak benar? Aku tidak pernah membohong dan ini... nona ini apa hubungannya dengan urusan pribadinya. Mbak-Ayu Darmini? Kenapa ia ikut campur pula?”

“Ong Bi Kwi adalah adik kandung mendiang tunanganku Ong Cun, jadi ia bukan orang lain…”

“Wah! Jauh-jauh dari negeri Cina datang untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya?” Panji Saroto berseru sambil memandang gadis Cinta itu dengan mata terbelalak.

“Kau pikir seorang pembunuh keji harus dibiarkan saja karena dia adalah Kakakmu sendiri?” Bi Kwi balas mengejek. Panji Saroto menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

“Bukan demikian maksudku, kalau memang dia bersalah, biar Kakak kandungku sendiri, dia patut menerima hukuman. Akan tetapi kalian berdua ini, wanita-wanita muda, kini telah berubah menjadi dua ekor singa betina yang haus darah. Betapa mengerikan!” Mendengar ucapan adik misannya ini, Darmini teringat akan pesan gurun, Sang Panembahan Ganggamurti, maka iapun cepat menjawab,

“Kami bukan haus darah, bukan semata-mata hendak membalas dendam sakit hati, adimas, melainkan kami sebagai orang-orang yang menjungjung tinggi keadilan, tidak dapat membiarkan seorang pembunuh keji berkeliaran tanpa dihukum!” Kembali Panji Saroto menarik napas panjang.

“Bunuh-membunuh, balas-membalas menurutkan amarah dan kebencian. Jagad Dewa Bathara... semoga para dewata mengampuni kita manusia yang lemah ini, hanya aku pesan kepadamu, Mbak-Ayu Darmini agar engkau tidak mabok dalam dendam, dan bertindak adil tidak sembarangan membunuh orang agar tidak sampai kesalahan tangan membunuh orang yang tidak berdosa.”

“Aku hanya ingin menegakkan keadilan, bukan haus darah dan ingin membunuh orang, apa lagi orang tidak berdosa, adimas Panji Saroto,” jawab Darmini.

“Dan engkau, nona... siapa tadi namamu? Nona Bi Kwi, lain kali kalau engkau ingin memondong orang, tidak perlu pakai todong-todongan pedang segala!” kata Panji Saroto kepada Bi Kwi yang menjadi merah mukanya. Kalau saja ia tidak ingat bahwa pemuda itu adalah adik misan Darmini, tentu akan ditamparnya mulut yang mengejeknya itu. Panji Saroto lalu keluar dari gubuk dan kembali ke rumah orang tuanya. Setelah pemuda itu pergi, Darmini saling pandang dengan Bi Kwi dan gadis ini mengomel,

“Celaka, sungguh sial aku. Salah comot membuat aku menjadi bahan ejekan!” Darmini tertawa kecil.

“Jangan murung, adikku. Bagaimanapun juga, keterangan Panji Saroto tadi amat penting. Sekarang juga kita pergi ke Gedung Mawar dan mencari Empat Bajul di sana.” Mereka memadamkan lentera dan meninggalkan gubuk. Di dalam perjalanan menuju ke ujung kota bagian selatan ini, Bi Kwi sempat bertanya, “Aku merasa heran sekali, apakah yang bernama Panji Sarono itu juga seperti adiknya tadi?” “Seperti adiknya bagaimana?”

“Dia tadi tidak kelihatan sebagai orang jahat!”

“Memang tidak sama. Panji Sarono adalah seorang pemuda mata keranjang yang sudah terkenal suka mengganggu dan merusak pagar ayu, mengejar wanita. Akan tetapi, nama Panji Saroto tidak pernah dibicarakan orang, dan agaknya dia orang yang baik dan dia… oh, ketika memandangmu tadi, agaknya dia amat suka dan kagum padamu, adikku!” Wajah Bi Kwi menjadi merah dan jantungnya berdebar kencang.

“Ihh! Tertarik untuk mentertawakan dan mengejek? Heran, bagaimana dia dapat membebaskan diri sendiri dari pengaruh totokanku tadi?”

“Jangan pandang rendah padanya, Bi Kwi. Ayahnya adalah Uwa Empu Tanding yang memiliki aji kesaktian dan kabarnya Panji Saroto itu tidak kalah tangguhnya dibandingkan Kakaknya, Panji Sarono.”

“Hemmm...” Bi Kwi tidak melanjutkan kata-katanya, hanya diam-diam timbul keinginan hatinya untuk menguji sampai dimana ketangguhan Panji Saroto tadi.

Rumah itu tidak sebesar kelompok bangunan tempat tinggal Empu Tanding. Akan tetapi cukup besar untuk disebut sebagai gedung, Dan taman di depan rumah yang luas itu memang penuh dengan tanaman bunga mawar beraneka warna sehingga dari luar pagar tembok saja orang sudah dapat mencium bau mawar semerbak harum. Letak gedung itu agak terpencil, di ujung selatan. Para penjaga yang mengantuk karena malam sudah sangat larut, bahkan menjelang subuh berkumpul di dalam gardu penjagaan sehingga mudahlah bagi. Darmini dan Bi Kwi untuk melompati pagar tembok dan langsung saja mereka menyelinap di antara tihang-tihang, berindap-indap menghampiri ruangan dalam. Sunyi sekali di situ dan gelap karena penerangan hanya terdapat di ujung depan dan belakang sehingga ruangan terbuka yang mereka masuki itu nampak remang-remang. Selagi kedua orang gadis itu merasa ragu apakah rumah ini ada penghuninya ataukah kosong, tiba-tiba saja terdengar suara bergelak disusul suara parau,

“Ha-ha-ha, dua ekor kelinci berani memasuki sarang harimau, agaknya dua orang mata-mata muda ini sudah bosan hidup!” Darmini dan Bi Kwi terkejut, akan tetapi tetap tenang dan waspada, dan mereka sudah berdiri saling membelakangi untuk menghindarkan serangan gelap dari belakang. Kini, nampak sinar terang bernyala-nyala dan muncullah sedikitnya dua puluh orang dan setengah jumlah mereka itu memegang obor di tangan kiri dan golok di tangan kanan sedangkan selebihnya juga sudah siap dengan senjata mereka yang bermacam-macam bentuknya. Mereka telah mengepung ruangan terbuka itu dan kini Darmini dan Bi Kwi maklum bahwa mereka telah memasuki perangkap, bahwa pihak lawan agaknya sudah tahu akan kedatangan mereka dan mempersiapkan diri.

Namun mereka tidak takut dan keduanya lalu bergerak memutar untuk mengamati semua orang itu, dengan tetap saling membelakangi. Mereka mencari-cari dengan pandang mata mereka, dan akhirnya Darmini melihat empat orang seperti yang digambarkan oleh Gagak Ireng kepadanya. Seorang tinggi besar dengan brewok hitam, memegang sebatang senjata kapak besar, disebelahnya seorang tinggi kurus yang mukanya putih penuh dengan panu, memegang sebatang arit panjang kemudian seorang yang tampan pesolek memegang golok di samping orang k empat yang bertubuh gendut pendek, mukanya buruk dan dia memegang sebatang lembing. Maka iapun berhenti bergerak menghadapi empat orang itu.

“Apakah kalian yang dijuluki Empat Bajul?” tanya Darmini, suaranya tenang namun matanya seperti menyambar-nyambar ke arah empat orang itu.

“Ha-ha-ha, sudah tahu Empat Bajul berada disini, kalian berdua tikus-tikus cilik berani sekali masuk! Kalian tentulah mata-mata pihak musuh yang berniat buruk. Menyerah sebelum kami bergerak menghancurkan kepala kalian!” bentuk Bajul Sengoro yang tinggi besar.

“Empat Bajul, kami datang karena urusan pribadi dengan kalian berempat! Kalau memang gagah, keluarlah dan kami tidak melibatkan orang-orang lain di sini!” kembali Darmini berkata dengan sikap gagah.

“Ha-ha, sudah masuk jangan harap dapat keluar dengan badan utuh! Percuma engkau menggunakan akal mencari jalan keluar, orang muda. Lekas berlutut dan menyerah!” kembali Bajul Sengoro menjawab sambil mengangkat kepaknya dengan sikap mengancam

“Hemmm, jangan harap kami berdua akan menyerah terhadap coro-coro macam kalian!” Darmini membentak dan kini terdengar suara bentakan nyaring dan parau dari belakang orang-orang itu.

“Aummmm! Kiranya kalian dua orang gadis yang nekat itu!” Dan muncullah orangnya yang bukan lain adalah Ki Empu Kebondanu yang memegang tongkat bambu gading yang ampuh itu. Dan agak jauh di belakangnya nampak seorang pria muda yang tampan, berkumis tipis dan matanya lincah, namun sikapnya sombong. Darmini juga segera mengenal orang itu yang bukan lain adalah Panji Sarono. Akan tetapi orang muda itu tidak mengenal Darmini yang berpakaian pria dan masih memandang bingung dan heran mendengar betapa Empu Kebondanu mengatakan bahwa dua orang pemuda yang dikepung oleh orang-orangnya itu adalah dua orang gadis.

“Kiranya Empu Kebondanu juga berada disini! Pantas mereka semua ini jahat dan kejam!” kata Darmini dengan marah melihat munculnya kakek ini walaupun ia merasa heran pula.

Bukankah Kebondanu tadinya berada di rumah Wiratama pemimpin pemberontak Lumajang itu? Dan kenapa kini berada bersama Panji Sarono, padahal menurut keterangan Raden Gajah, Empu Tanding termasuk seorang yang setia kepada kerajaan? Apakah kini diam-diam diluar tahunya Raden Gajah, Empu Tanding sudah berubah dan berkhianat, ataukah hanya Panji Sarono saja yang memiliki langkah hidup yang berbeda dari Ayahnya dan menyimpang? Akan tetapi ia tidak sempat banyak bicara karena tiba-tiba saja terdengar bentakan nyaring yang dipimpin oleh Empat Bajul dan para pengepung itu telah menyerbu dan menyerang mereka! Darmini dan Bi Kwi maklum akan bahaya yang mengancam, maka hampir berbareng mereka menggerakkan tangan mencabut pedang mereka. Sinar pedang berkilat menyilaukan mata ketika pedang Lian-Hwa-Kiam dan Liong-Cu-Kiam dicabut dari sarungnya.

Dan lenyaplah bentuk kedua pedang itu ketika dua orang gadis perkasa itu memainkannya, karena telah berubah menjadi dua gulung sinar pedang yang menyambar-nyambar dan melindungi tubuh mereka dari serangan banyak senjata. Terdengar suara nyaring berkali-kali disusul teriakan beberapa orang pengeroyok yang senjatanya buntung begitu bertemu dengan kerasnya tertangkis dua gulungan sinar pedang itu. Empu Kebondanu yang masih merasa penasaran terhadap Darmini, kini menerjang dengan tongkat bambu gadingnya dan disambut oleh pedang Darmini. Mereka segera terlibat dalam perkelahian yang seru, sedang Bi Kwi kini dikeroyok oleh Empat Bajul. Anak buah yang lain hanya mengepung dan kadang-kadang saja mengerakkan senjata mengeroyok karena perkelahian itu amat cepat jalannya sehinga mereka bingung juga bagaimana dapat membantu kawan.

Empu Kebondanu kini mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya, mendesak Darmini yang harus mengakui bahwa kakek itu hebat bukan main. Serangannya dahsyat dan kejam sifatnya, dan tongkat bambu kuning itupun merupakan senjata ampuh yang mampu menahan pedangnya dengan pukulan dari samping, tidak langsung menyambut mata pedang. Yang hebat, dalam gerakan kakek itu terkandung tenanga mujijat, bukan tenaga sewajarnya, bahkan dalam bentakannya yang seperti macan mengaum itu mengandung kekuatan yang akan mampu melumpuhkan atau setidaknya menggetarkan jantung mengecilkan nyali lawan. Namun, Darmini adalah murid dari Panembahan Ganggamurti yang sudah digembleng dan diisi dengan kekuatan batin yang tangguh.

Biarpun demikian, karena ia hanya selama lima tahun menjadi murid di puncak Bromo, menghadapi seorang kakek yang sudah matang ilmunya seperti Empu Kebondanu, Darmini mulai terdesak. Ia kalah pengalaman, juga kalah matang gerakan-gerakannya disamping kalah banyak perkembangan gerakannya. Apa lagi kakek itu memiliki banyak sekali ilmu-ilmu pukulan yang curang dan tidak disangka- sangka. Hanya karena ia memiliki sebatang pedang ampuh saja Darmini masih dapat bertahan, dengan lindungan kilatan sinar pedang yang diputar cepat. Bi Kwi juga mulai terdesak karena selain Empat Bajul itu merupakan ahli-ahli dalam perkelahian, juga mereka itu buas dan memiliki tenaga kuat sekali, apalagi masih dibantu kadang-kadang oleh anak buah yang mengepung. Gadis ini melawan dengan penuh semangat.

Empat orang itu adalah orang-orang yang diduga keras menjadi pembunuh Kakak kandungnya, maka iapun mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk melawan, tidak segan-segan kalau perlu merobohkan dan membunuh mereka karena ia maklum bahwa kalau ia kalah, ia akan menebusnya dengan nyawa pula. Sudah ada tiga orang anak buah yang ikut mengeroyok roboh oleh pedangnya. Perkelahian antara Ki Empu Kebondanu dan Darmini berlangsung semakin seru, dan kini Darmini sudah benar-benar terdesak, bahkan pernah satu kali paha kirinya terkena pukulan tongkat bambu kuning. Tidak sampai terluka memang, namun terasa nyeri sekali sehingga permainan pedangnya agak mengendur. Hal ini dapat dilihat oleh Empu Kebondanu yang mentertawakannya dan membujuk agar mau menyerah saja.

“Heh-heh-heh, percuma saja engkau melawan. Lebih baik menyerah tanpa terluka, daripada terancam maut di ujung tongkatku, heh-heh!” Akan tetapi Darmini menyambut bujukan ini dengan babatan pedangnya ke arah pinggang Kakek itu. Gerakannya cepat dan kuat sekali, sehingga Kakek itu tidak sempat mengelak, hanya dapat menangkis dengan tongkatnya.

“Tranggg...!” keduanya meloncat ke belakang karena lengan mereka yang memegang senjata tergetar hebat oleh pertemuan dua senjata itu. Darmini yang masih merasa kenyerian pahanya agak terhuyung. Keringat sudah membasahi leher wanita ini, namun ia sama sekali tidak merasa gentar dan sudah siap lagi dengan pedang melintang di depan dada ketika saat itu dipergunakan oleh dua orang anak buah yang menyerang secara tiba-tiba dari belakang. Darmini merasakan adanya angin menyambar dari belakang, maka iapun cepat membalikkan tubuh, pedangnya mengeluarkan kilat dan dua orang itupun menjerit, seorang di antara mereka buntung lenganya, dan seorang lagi terluka pundaknya!

 “Perempuan nekat!” bentak Empu Kebondanu marah dan tongkatnya diputar sambil mendesak ke depan. Kembali Darmini membalik dan menghadapi serangan ini dengan pedangnya, akan tetapi karena baru saja ia menghadapi dua orang dan serangan Kakek itu amat cepat, ia tidak dapat menghindarkan diri ketika kaki kiri Empu Kebondanu menendang, menyerempet pinggangnya dan membuat tubuhnya terjengkang ke belakang! Namun Darmini bergulingan dan meloncat bangkit kembali sehingga ia dapat menangkis dengan tepat ketika melihat ujung tongkat kuning itu menyambar dan meluncur ke arah tenggorokannya.

“Trang...!” Kembali keduanya mundur selangkah dan pada saat itu nampak berkelebat bayangan putih. “Diajeng, jangan takut, aku membantumu!”

“Kakang-Mas Sridenta...!” Darmini berseru girang sekali melihat pemuda berpakaian putih itu tahu-tahu telah berada disitu dan menyambut terjangan empat anak buah yang segera mengeroyoknya begitu melihat munculnya pemuda berpakaian putih ini. Biarpun ia hanya bertangan kosong saja, namun Sridenta menyambut serangan-serangan itu dengan tenang dan dua batang golok runtuh oleh sabetan kedua tangannya, sedangkan dua orang yang lain roboh karena lutut mereka tercium ujung kaki Sridenta yang menendang dengan gerakan amat cepatnya. Melihat munculnya pemuda berpakaian putih ini, Empu Kebondanu menjadi kaget dan marah. Sambil menggereng dia meloncat ke depan Sridenta, menudingkan tongkatnya ke arah muka pemuda itu dan membentak dengan suaranya parau dan kasar,

“Sridenta! Ini bukan urusanmu dan tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu. Berani engkau mencampuri dan menghinaku?” Dengan sikap tenang dan mulut tersenyum penuh kesabaran, Sridenta menghadapi Kakek itu menjawab,

“Paman Empu, bagaimana saya dapat tinggal diam saja melihat seorang adik seperguruan terancam bahaya?”

“Babo-babo! Jadi gadis ini menjadi murid Ganggamurti?” tanya Empu Kebondanu marah.

“Benar, Paman,” jawab Sridenta tenang. “Karena itu, saya mengharap dengan hormat agar Paman mengalah dan mundur, tidak mencampuri urusannya.”

“Bocah sombong! Kau kira aku takut kepadamu?” bentak Kakek itu.

“Uwa Empu, biar aku yang menghadapi bocah ini!” Tiba-tiba terdengar bentakan Panji Sarono dan diapun sudah menerjang dengan kerisnya, menusuk ke arah perut Sridenta. Tentu saja Sridenta cepat mengelak karena diapun maklum bahwa keris yang dipergunakan oleh lawannya itu bukan keris sembarangan saja, melainkan sebuah keris pusaka yang ampuh. Dan memang sesungguhnya demikian. Keris di tangan Panji Sarono itu adalah keris yang bernama Kyai Crubuk, keris ber-luk tujuh dan berbahaya sekali karena mengandung racun warangan yang sudah meresap ke dalam pamor keris itu. Akan tetapi, begitu tusukannya meleset dan luput, tangan kiri Panji Sarono menyambar dan mencengkeram ke arah muka Sridenta. Sekali ini Sridenta mengangkat tangan kanan menangkis.

“Dukkk!” Panji Sarono terdorong ke belakang, sedangkan Sridenta juga terkejut karena ternyata lawan juga amat kuat. Akan tetapi yang membuat dia lebih kaget lagi adalah karena dia teringat akan gerakan orang yang menyerangnya ini.

 Pernah dia bertanding dengan orang ini, hal itu dia yakin benar, hanya dia lupa lagi entah kapan dan dimana. Namun, Panji Sarono tidak memberi banyak kesempatan baginya untuk berpikir, karena sudah menerjang lagi secara bertubi-tubi dengan kerisnya. Kalau Panji Sarono maju menghadapi Sridenta, adalah karena dia belum tahu siapa pemuda ini dan sama sekali tidak pernah menyangka bahwa kepandaian Sridenta jauh lebih tinggi dibandingkan Darmini, dan tadi dia sudah melihat betapa Empu Kebondanu hampir dapat mengalahkan Darmini, maka kini ingin membiarkan Empu Kebondanu lebih dahulu mengalahkan Darmini, baru dapat membantunya menghadapi pemuda berpakaian putih itu. Empu Kebondanu kembali menyerang dengan tongkat bambu gadingnya, dan Darmini menyambutnya dengan pedang ditangan.

Kini semangat Darmini bangkit serentak terdorong oleh perasaan gembira yang tiba-tiba muncul begitu dia melihat Sridenta! Diluar kesadarannya sendiri, sebenarnya ia telah lama merindukan pemuda ini, maka begitu bertemu, terdapat kegembiaraan yang meluap-luap. Juga hatinya menjadi besar karena kini ia mendapatkan bantuan Kakak seperguruannya itu yang ia tahu memiliki kesaktian yang jauh melebihi kepandaiannya sendiri. Bi Kwi sendiripun masih mengamuk, dikeroyok oleh Empat Bajul yang dibantu oleh para pengawal dan kini ia dikepung semakin rapat, didesak oleh hujan senjata yang selalu mental kembali terhalang oleh gulungan sinar pedangnya. Akan tetapi, gadis perkasa inipun sudah merasa lelah. Selagi perkelahian itu makin memuncak, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring,

“Semua berhenti berkelahi! Sarono, apa yang kau lakukan ini?” Panji Sarono terkejut bukan main mendengar suara Ayahnya! Dia meloncat ke belakang meninggalkan Sridenta dan ketika membalikkan tubuhnya, dia melihat Ayahnya. Emput Tanding, telah berdiri disitu dan disebelah orang tua ini berdiri Panji Saroto, adiknya dan dibelakang mereka terdapat pasukan perajurit yang sudah mengepung tempat itu. Empu Kebondanu juga menghentikan serangannya terhadap Darmini yang segera meloncat ke dekat Bi Kwi untuk membantu gadis itu.

Akan tetapi, Empat Bajul yang mengetahui bahwa Ayah majikan mereka telah datang, tidak berani membantah bentakan tadi dan kini merekapun sudah mundur. Sridenta lalu menghampiri Darmini dan Bi Kwi, berdiri di dekat gadis-gadis itu, siap untuk melindungi mereka. Akan tetapi dua orang gadis itu, melihat betapa pihak lawan tidak lagi menyerang, sudah menyimpan kembali pedang mereka ke dalam sarung pedang, dan Darmini memandang kepada Empu Tanding, Kakak misan ibunya itu, dengan sinar mata tajam dan tenang, sedikitpun tidak merasa takut. Empu Tanding juga berdiri tegak, memandang kepada mereka yang tadi berkelahi, satu demi satu sampai akhirnya pandang matanya bertemu dengan pandang mata Empu Kebondanu. Muka Empu Tanding menjadi kemerahan dan alisnya berkerut.

“Kakang Empu Kebondanu,” katanya dengan suara membayangkan kemarahan hatinya, Kiranya andika telah berada disini. Sungguh aneh, kenapa kalau berkunjung tidak langsung berkunjung ke rumah kami, akan tetapi berada disini bersama puteraku Sarono?”

Empu Kebondanu nampak gugup mendengar teguran ini. Empu Tanding adalah seorang adik seperguruannya, bahkan pernah diajarkannya ilmu kepada adik seperguruan itu sehingga biarpun usia mereka hanya berselisih beberapa tahun, Empu Tanding boleh juga dibilang muridnya. Akan tetapi, selama beberapa tahun ini tidak pernah mereka sejalan. Bahkan kinipun, kalau dia memenuhi panggilan Raden Wiratama untuk membantu gerakan mereka, sebaliknya dia tahu bahwa Empu Tanding adalah seorang hamba Kerajaan Majapahit yang setia. Maka diapun mendekati Panji Sarono yang sudah lama mempunyai hubungan dengannya, bahkan diam-diam Panji Sarono berlatih ilmu kedigdayaan kepadanya.

 “Aku memang melancong ke Kotaraja dan... eh, karena kangen aku berkunjung kepada puteramu Panji Sarono, maksudku… eh, besuk atau lusa baru aku akan berkunjung padamu, adikku Empu Tanding.” Memang Empu Tanding merupakan seorang hamba yang setia dari Majapahit, bahkan dia menjadi pembantu senopati Raden Gajah dalam menghadapi gerakan para pemberontak Lumajang dan para pemberontak lainnya, oleh karena itu, melalui para penyelidiknya, diapun sudah mendengar bahwa Kakak seperguruannya yang memang mempunyai watak yang buruk dan mudah menyeleweng walaupun menjadi pertapa ini telah dapat dibujuk oleh Raden Wiratama untuk datang ke Majapahit. Inilah sebabnya mengapa dia menjadi tidak senang begitu melihat Kakek pertapa itu.

“Sudahlah, Kakang Empu Kebondanu, kuharap agar Kakang tidak mencampuri urusan anak anak ini, karena ini merupakan urusan keluarga antara puteraku Panji Sarono dan keponakanku Nini Darmini. Biarlah lain hari saja kita mengadakan pertemuan dan bercakap-cakap.”

Ucapan ini merupakan pengusiran halus, dan memang Empu Kebondanu sudah merasa canggung sejak tadi. Tak disangkanya bahwa dia akan bertemu dengan Empu Tanding di situ. Dia menerima tugas dari Raden Wiratama untuk menghubungi Panji Sarono yang menjadi murid dan juga murid keponakan itu untuk menarik pemuda itu dan anak buahnya menjadi sekutu, karena untuk membujuk Empu Tanding sungguh tidak mungkin. Kalau Panji Sarono dapat dibujuk dan bersekutu, tentu akan berguna sekali karena pemuda itu akan dapat menjadi mata-mata untuk menyelidiki rencana dan keadaan pihak musuh. Tak di sangkanya, ketika dia berada disitu, terjadi keributan dengan serbuan Darmini dan Bi Kwi sehingga dia terpaksa turun tangan membantu Panji Sarono dan kini dia berhadapan dengan Empu Tanding!

“Baiklah, adi empu, aku pergi saja, tidak mau mencampuri urusan kanak-kanak, dan urusan keluarga.” Kakek itu lalu pergi tersaruk-saruk menyeret tongkatnya, keluar dari rumah itu dan para pengawal yang datang bersama Empu Tanding memberi jalan kepadanya. Setelah Kakek itu pergi, Empu Tanding memandang puteranya yang nampak gelisah. Kakek ini tadi sudah menerima pelaporan Panji Saroto tentang kemunculan Darmini dan Ong Bi Kwi yang menyelidiki rahasia pembunuhan atas diri Ong Cun lima tahun yang lalu, dan mereka itu agaknya mencurigai Panji Sarono dan Empat Bajul.

“Menurut keterangan Mbak-Ayu Darmini, mungkin pembunuhnya adalah Empat Bajul atas suruhan Kakang-Mas Panji Sarono,” demikian Panji Saroto mengakhiri laporannya. Hal ini membuat Empu Tanding merasa tidak enak sekali dan diapun mengikuti putera bungsunya untuk mencari putera sulungnya itu, sambil membawa sepasukan perajurit.

“Panji Sarono, urusan ini harus kita selesaikan sekarang juga. Suruh semua anak buahmu, kecuali Empat Bajul keluar dari ruangan ini!” terdengar suara Empu Tanding, keren. Panji Sarono tidak berani membantah dan dengan isyarat tangan dia menyuruh semua anak buahnya keluar sambil membawa mereka yang terluka dalam pertempuran tadi. Empat Bajul, empat orang pembantu utamanya, merasa tidak enak dan hendak pergi, namun ditahan oleh Panji Sarono yang juga membutuhkan kehadiran mereka untuk dijadikan kawan dan pelindung pula.

Setelah di pihak Panji Sarono tinggal dia dan Empat Bajul, kini Empu Tanding juga memberi isyarat kepada semua perajurit untuk keluar dan menanti dipekarangan luar, dan hanya dia dan Panji Saroto yang tinggal. Kemudian dia memandang kepada Darmini, Bi Kwi, dan Sridenta yang masih berdiri dengan sikap tenang disitu. Kalau saja belum diberitahu bahwa Darmini berada disitu menyamar sebagai seorang pria, agaknya tidak mudah bagi Empu Tanding untuk mengenal pemuda berpakaian serba putih itu sebagai keponakannya. Dia memandang penuh perhatian dan diam-diam merasa kagum. Lenyaplah sifat kelembutan dan kelemahan seorang wanita dan dia melihat seorang wanita yang seperti Srikandi, demikian gagah, berani dan tenang, dengan sepasang mata yang mencorong penuh semangat.

“Jagat Dewa Bathara...! Hampir aku tidak dapat mengenalmu, Darmini. Aku hanya mendengar bahwa lima tahun yang lalu engkau menghilang dan kini tahu-tahu muncul sebagai seorang wanita perkasa dan bahkan memusuhi anakku sendiri!” Darmini cepat memberi hormat dengan sembah kepada Empu Tanding.

“Harap Uwa Empu sudi memberi maaf kepada saya. Terpaksa sekali saya melakukan hal ini demi menuntut keadilan atas kematian Ong Cun tunangan saya itu.”

“Hemmm..., engkau sungguh seorang wanita sejati, seorang wanita yang setia. Baiklah, kita urus hal itu. Akan tetapi nanti dulu, siapakah mereka ini? Aku tidak ingin orang luar untuk mencampuri urusan keluarga. Engkau tahu sendiri, betapa aku menyuruh pergi Kakak Empu Kebondanu dan semua orang lainnya.” Darmini menunjuk kepada Bi Kwi.

“Uwa Empu, ia bernama Ong Bi Kwi, adik kandung dari mendiang Ong Cun. Jauh-jauh gadis ini datang dari negerinya untuk mencari siapa pembunuh Kakak kandungnya.” Empu Tanding megerutkan alisnya dan mengangguk-angguk, memandang kagum. Bukan main! Seorang gadis demikian keras hatinya, bulat tekatnya, melakukan pelayaran sedemikian jauhnya untuk mencari pembunuh Kakak kandungnya. Dia memandang kepada dua orang gadis itu bergantian, penuh kagum. Sukar ditemukan dua orang gadis seperti mereka ini, seperti Srikandi dan Larasati dalam cerita wayang, dua orang di antara isteri-isteri Raden Harjuna yang dikenal sebagai wanita-wanita perkasa!

“Dan andika ini, siapakah?” Empu Tanding kemudian menghadapi Sridenta, tidak senang karena ketika tiba tadi, dia melihat pemuda ini berkelahi melawan Panji Sarono. Sridenta cepat memberi hormat kepada Empu Tanding.

“Paman Empu tidak mengenal saya karena memang tidak pernah bertemu, akan tetapi tentu Paman mengenal baik Ayah saya yaitu mendiang pangeran Arya Cakra...”

“Jagad Dewa Bathara...!” Ki Empu Tanding berseru kaget dan wajahnya berubah, berseri dan kagum memandang pemuda berpakaian putih itu. “Kiranya andika putera beliau…” Tentu saja dia mengenal mendiang Pangeran Arya Cakra, seorang pangeran yang bijaksana dan disayang oleh semua kawula dan pamong praja di Majapahit.

“Benar, Paman Empu Tanding, dan selain itu, saya juga Kakak seperguruan dari diajeng Darmini. Kami berdua adalah murid Eyang Panembahan Ganggamurti. Saya tidak mencampuri urusan pribadi diajeng Darmini, akan tetapi tadi melihat ia dikeroyok dan terancam bahaya, terpaksa saya turun tangan melindungi dan membelanya.” Empu Tanding merasa tidak enak hati kalau mengusir Sridenta, apa lagi kalau diingat bahwa pihak Darmini hanya ada dua orang, keduanya gadis-gadis muda, sehingga tidak enaklah keadaannya.

“Biarlah andika hadir pula sebagai saksi, Raden...”

“Nama saya Sridenta, Paman Empu.” Ruangan itu cukup luas dan kini diterangi lampu-lampu dan lentera yang bergelantungan di setiap sudut. Ki Empu tanding lalu berkata kepada Darmini, suaranya lantang dan tegas. “Nini Darmini, sekarang ceritakan apa maksud kedatanganmu disini dan menyerbu tempat tinggal anakku Panji Sarono sehingga terjadi perkelahian.”

“Begini, Paman. Saya dan Bi Kwi memang sedang menyelidiki tentang rahasia kematian mendiang Ong Cun yang terbunuh lima tahun yang lalu. Dari penyelidikan itu, kami mendapatkan keterangan bahwa dahulu Empat Bajul ini pernah menyatakan hendak membunuh Ong Cun, dan mengingat bahwa mereka adalah anak buah Kakang-Mas Raden Panji Sarono, maka tentu saja kami merasa curiga kepada mereka. Malam ini kami datang untuk bertemu dengan Empat Bajul dan minta pengakuan mereka mengenai peristiwa itu, akan tetapi kami dikeroyok sehingga terjadi perkelahian.”

“Sekarang, kalian telah kupertemukan dengan Panji Sarono dan Empat Bajul. Nah apa yang hendak kau tanyakan?”

“Saya hanya minta kepada Empat Bajul untuk menceritakan tentang usaha mereka membunuh Ong Cun, dan siapa diantara mereka yang telah membunuhnya, lalu siapa pula yang mengutus mereka. Juga kepada Kakang-Mas Panji Sarono saya hendak bertanya, benarkah Kakang-Mas Panji Sarono mengutus kaki tangannya untuk melakukan pembunuhan atas diri Ong Cun?” Dengan matanya yang berbinar-binar kini Darmini menoleh dan memandang kepada lima orang ini bergantian.

“Heh, kalian ini Empat Bajul. Siapakah nama kalian?” “Hamba bernama Bajul Sengoro.”

“Hamba Bajul Sengkolo.” “Hamba Bajul Paruso.”

“Hamba Bajul Kanisto,” kata empat orang itu berturut-turut.

“Kalian sudah mendengar sendiri pertanyaan Nini Darmini, karena itu jawablah sejujurnya agar persoalan ini segera dapat diselesaikan,” kata pula Empu Tanding. Empat orang itu saling pandang, kemudian Bajul Sengoro yang agaknya menjadi pimpinan mereka, menjawab sambil melotot kearah Darmini.

“Kami adalah Empat Bajul yang selamanya tidak pernah dipaksa membuat pengakuan apapun oleh siapapun, kecuali oleh atasan kami atau kalau kami sudah dikalahkan. Karena itu kami baru mau membuat pengakuan kalau nona ini mampu mengalahkan kami!” Mendengar ucapan Bajul Sengoro itu, tiga temannya mengangguk-angguk, tersenyum mengejek dan memandang kepada Darmini. Mendengar ini, Empu Tanding mengerutkan alisnya, akan tetapi tentu saja dia tidak mau bertindak berat sebelah, apalagi karena empat orang itu adalah anak buah dari puteranya sendiri.

“Nini, engkau sudah mendengar jawaban mereka, terserah kepadamu.”

“Mbak-Ayu, Darmini, biarlah aku yang menghadapi empat ekor buaya ini!” Bi Kwi berseru dan iapun sudah melangkah maju menghadapi Empat Bajul. Akan tetapi Darmini juga melangkah maju dan berkata.

 “Mereka maju berempat, biarlah kita maju berdua, Bi Kwi. Nah, Empat Bajul, kami berdua melawan kalian berempat dan kalau kalian kalah, kalian harus memenuhi janji dan menceritakan segala yang telah terjadi dengan sebenarnya karena ketahuilah, untuk menentang kejahatan dan menegakkan keadilan, kami tidak sega-segan untuk membunuh kalian kalau kalian berbohong!” Empu Tanding tidak melarang melihat kedua orang gadis itu maju. Memang mereka berdua itulah yang langsung tersangkut dalam urusan ini, sedangkan Sridenta hanya berdiri di sudut, menonton dengan sikap tenang.

“Boleh, kedua pihak boleh maju, empat lawan dua, akan tetapi tidak boleh mempergunakan senjata karena disini hanya merupakan pertandingan adu kepandaian. Nah mulailah!” Karena dilarang mempergunakan senjata mereka, Empat Bajul itu melemparkan senjata mereka kesudut ruangan, sedangkan dua orang gadis itupun melepaskan pedang dan Darmini menyerahkan dua batang pedang itu kepada Sridenta. Pemuda ini percaya sepenuhnya bahwa Darmini dan gadis Cina itu tidak akan kalah. Dia tadi sudah melihat gerakan gadis Cina itu ketika ia berkelahi dan dikeroyok banyak orang. Empat Bajul tadi sudah pernah mengeroyok Bi Kwi dan mereka tahu betapa lihainya gadis Cina itu, maka Bajul Sengoro lalu memberi isyarat kepada teman-temannya, yaitu dia dan Bajul Sengkolo mengeroyok Bi Kwi sedangkan Bajul Paruso dan Bajul Kanisto menghadapi Darmini.

Mereka berloncatan kedepan dan segera mengepung dari kanan kiri. Darmini menghadapi Bajul Paruso dan Bajul Kanisto. Yang pertama merupakan orang paling bersih dan tampan diantara mereka berempat dan Bajul Paruso ini juga terkenal dengan kecabulan dan mata keranjangnya. Usianya sudah tiga puluh lima tahun lebih dan tubuhnya sedang, kini dia menghadapi Darmini dari kanan, sedangkan Bajul Kanisto yang pendek gendut bermuka buruk itu maju dari arah kiri, Darmini berdiri tegak saja, tidak menggerakkan tubuh, hanya sepasang matanya saja yang melirik kekanan kiri penuh kewaspadaan, kedua tangannya dipasang dengan gaya Braja-gunting, kedua pergelangan tangan saling bersilang di depan dada, sepuluh jari tangan terbuka dan menunjuk keatas.

“Heeeaahh...!” Tiba-tiba Bajul Sengoro membentak dan tubuhnya yang tinggi besar itu bergerak menubruk kedepan, menggunakan kedua lengannya yang panjang dan tangannya yang besar dengan jari-jari panjang kuat itu mencengkeram ke arah kepala dan dada Bi Kwi yang dikepung di sisi lain.

Gadis ini dikepung oleh Bajul Sengoro dan Bajul Sengkolo dan kini dalam serangannya tiba-tiba Bajul Sengoro sudah membuka serangannya. Tadi Bi Kwi berdiri dengan kedua lutut ditekuk, agak merendah, dengan kedua lengan dikembangkan lurus dengan pundak, ke kanan kiri, dengan tangan terbuka dan jari berdiri tegak. Melihat tubrukan Bajul Sengoro yang menyerang dengan cengkeram ini, Bi Kwi tidak menjadi, dengan sigap kedua kakinya digeser dan tubuhnya sudah berada diluar jangkauan kedua tangan besar berbulu itu, bahkan ia membalas secara kontan dengan sebuah tendangan ke arah lambung Bajul Sengoro yang berdiri miring.

“Dukk!” Bajul Sengoro menangkis dengan lengannya dan tubuhnya terdorong oleh kerasnya tendangan, namun dia telah menghindarkan lambungnya terkena tendangan itu, sedangkan pada saat itu, Bajul Sengoro sudah menyerang dengan pukulan tangannya ke arah tengkuk Bi Kwi dari belakang. Lengan orang ke dua dari Empat Bajul ini panjang sekali dan tahu-tahu sudah menyambar dekat tangan yang memukul dengan miring terbuka seperti golok itu. Namun, angin pukulannya terdengar oleh Bi Kwi dan gadis inipun cepat membalik dan mencengkeram ke arah lengan yang menyambarnya.

Untung Bajul Sengkolo masih sempat menarik kembali lengannya, kalau tidak, tentu lengan itu akan terkena cengkeraman Bi Kwi yang dapat menghancurkan kulit daging dan mematahkan tulang! Kedua orang itu lalu menyerang lagi bertubi-tubi dan sebentar saja Bi Kwi harus mempergunakan kelincahan tubuhnya dengan geseran-geseran kaki yang mantap, yang merupakan ciri khas dari ilmu silat yang dipelajarinya dari Kuil Siauw-Lim. Sementara itu, gerakan Darmini lain lagi dalam menghadapi pengeroyokan dua orng lawannya. Ia telah digembleng oleh Panembahan Ganggamurti dengan ilmu yang membuat tubuhnya dapat bergerak ringan dan cepat seperti burung srikatan saja, sehingga serangan kedua orang itu selalu luput dan sebaliknya, tamparan tangan dan tendangan kaki Darmini membuat keduanya menjadi repot sekali.

“Kena...!” tiba-tiba Bajul Paruso berteriak, menubruk maju dan kedua tangannya mencengkeram ke arah dada Darmini. Sungguh merupakan serangan yang curang dan tidak sopan terhadap seorang lawan wanita! Darmini cepat memutar tubuhnya menghindarkan dadanya dicengkeram, dan berbareng kakinya mencuat dari samping belakang, menyambut tubuh Bajul Paruso.

“Bukkk!!” Tumit kaki Darmini mengenai ulu hati orang ke tiga dari Empat Bajul itu.

“Hekkkk!” Tubuh Bajul Paruso terjengkang dan dia megap-megap karena sukar bernapas, kemudian dia roboh tak sadarkan diri! Melihat ini, Bajul Kanisto menyerang kalang kabut dengan marah sekali, akan tetapi Darmini yang membayangkan betapa empat orang ini pernah mengeroyok Ong Cun dan berusaha membunuhnya, bahkan mungkin terjadi pembunuhan, sudah menyambutnya dengan tamparan keras yang mengenai telingan kanannya.

“Plakk!” Tamparan itu keras sekali. Tubuh Bajul Kanisto terputar, lalu diapun roboh tak sadarkan diri. Ketika Darmini membalikkan tubuh untuk membantu Bi Kwi, ia melihat betapa Bajul Sengkolo sudah roboh merintih-rintih memegang pundak kanannya yang patah tulangnya, sedangkan Bajul Sengoro sudah repot sekali menghadapi serangan Bi Kwi. Biarpun orang pertama Empat Bajul itu sudah berusaha untuk melindungi dirinya dengan ilmu kekebalan, namun ketika kaki Bi Kwi yang kecil itu melayang ke arah mukanya, diapun tidak mampu menghindar lagi.

“Prakkk!” Rontoklah gigi dari mulut Bajul Sengoro dan hidungnya berdarah pula, seperti mulutnya yang juga berdarah dan ketika dia mengaduh sambil mundur, Bi Kwi menyusulkan totokan ke arah pundaknya dan tubuhnya roboh terkulai dengan lemas tak mampu berkutik lagi.

Diam-diam Empu Tanding memandang kagum. Dua orang gadis itu sungguh hebat, memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi dan merupakan lawan yang tangguh. Kepandaian Empat Bajul tadi jelas amat dahsyat, namun ternyata mereka berempat dapat dirobohkan oleh dua orang gadis itu dalam waktu yang tidak terlalu lama! Diapun menoleh kepada Panji Sarono yang berdiri dengan muka agak pucat melihat betapa empat orang kaki tangannya yang paling diandalkan itu roboh semua. Biarpun dia sendiri juga memiliki kepandaian yang tinggi, apalagi setelah selama ini dia sering minta petunjuk Empu Kebondanu, namun harus diakuinya bahwa kalau empat orang kepercayaannya itu yang maju bersama saja kalah, maka dia seorang diripun takkan menang menghadapi dua orang gadis itu.

“Panji Sarono!” panggilan membentak dari Ayahnya ini mengejutkan hatinya. “Bagaimana dengan engkau? Engkau mau memberi keterangan sejelasnya dan sejujurnya, ataukah engkau kini sudah seperti orang-orang kasar ini, bersikap pengecut dan tidak berani mengaku terus terang dan ingin menguji kepandaian kedua orang gadis ini?”

“Kakang-Mas Panji Sarono, lebih baik engkau mengaku saja terus terang dan jangan mengajak mereka bertanding. Baru melawan nona Ong Bi Kwi ini saja, wah akan sukar mencapai kemenangan. Ia tangguh

 bukan main! Dan lagi, kalau memang engkau tidak bersalah, apa salahnya mengaku, Kakang-Mas?” kata Panji saroto kepada Kakaknya.

Dia tahu bahwa Kakaknya menyeleweng dan suka bergaul dengan segala macam penjahat, suka sekali mengejar dan mempermainkan wanita, baik wanita itu perawan, janda ataukah isteri orang lain! Akan tetapi, dia tidak pernah melihat petunjuk Kakaknya membunuh orang dengan tangannya sendiri. Panji Sarono meragu. Tadinya dia merasa penasaran, merasa disudutkan oleh Darmini dan dia merasa malu kalau harus mengalah kepada seorang wanita saja. Ingin ia menggunakan kekerasan dan melawan, akan tetapi ucapan adiknya itu menyadarkannya. Adiknya ini memiliki kedigdayaan yang mungkin masih berada di atas tingkatnya, dan kalau adiknya memuji, tentu bukan pujian kosong. Aplagi dia memang tidak merasa bersalah mengenai pembunuhan atas diri Ong Cun.

“Baiklah, kau mau bertanya apa, akan kujawab sebenarnya!”! akhirnya dia berkata sambil memandang kepada Darmini dengan mata berkilat karena hatinya mendongkol sekali. Legalah hati Darmini. Sama sekali ia tidak gentar menghadapi Panji Sarono akan tetapi tidak enaklah rasa hatinya kalau ia harus mengalahkan pemuda itu didepan Uwanya. Dan kini Panji Sarono bersedia menjawab, di depan Empu Tanding pula, tentu tidak berani berbohong.

“Kakang-Mas Panji Sarono,” katanya dengan hormat walaupun tegas dan lantang. “Menurut hasil penyelidikan kami, engkau pernah mengutus Empat Bajul ini untuk membunuh Ong Cun. Benarkah engkau melakukan hal itu?”

“Benar, memang aku pernah mengutus mereka untuk membunuh pemuda Cina itu...”

“Panji Sarono!” Tiba-tiba Empu Tanding membentak marah, mukanya menjadi pucat kemudian merah sekali. “Tak kusangka engkau telah melakukan kejahatan di luar tahuku! Keparat, engkau memalukan orang tua. Kenapa engkau mengutus mereka untuk melakukan perbuatan keji itu?” Hampir saja Empu Tanding menghampiri puteranya untuk memukulnya, kalau saja Panji Saroto tidak menyentuh lengan Ayahnya itu untuk menyabarkannya. Kini, pemuda yang merasa tersudut itu menghadapi Ayahnya, mukanya menjadi merah sekali, akan tetapi tidak ada tanda sedikitpun juga bahwa dia merasa telah melakukan suatu kesalahan.

“Kanjeng Rama tentu masih ingat betapa sakit hati saya ketika pinangan kita ditolak oleh diajeng Darmini yang sudah bertunangan dengan seorang pemuda Cina. Saya menganggapnya suatu penghinaan, dan pemuda itu saya anggap sebagai penghalang, oleh karena itu saya mengutus mereka berempat ini untuk membunuhnya!” Bi Kwi sudah mengepal tinju, akan tetapi pundaknya dirangkul Darmini dan iapun sadar bahwa ia tidak boleh menurutkan perasaan hatinya.

“Kalau begitu benar mereka inilah yang telah membunuh Ong Cun?” tanya Darmini kepada Panji Sarono. Pemuda itu mendengus dan menjawab dengan sikap acuh.

“Tanya saja sendiri kepada mereka!” Bi Kwi juga sudah tidak sabaran lagi, lalu menghampiri Bajul Sengoro yang masih tidak mampu berkutik karena tertotok tadi. Ia membebaskan totokannya, sehingga Bajul Sengoro mampu bergerak lagi dan orang inipun bangkit duduk di atas lantai, kepalanya ditundukkan karena maklumlah orang pertama dari Empat Bajul ini bahwa mereka telah kalah.

“Engkau tadi sudah berjanji, kalau kalah akan menjawab sejujurnya. Awas, kalau kalian berbohong, aku tidak akan segan-segan menyiksa atau membunuhmu!” kata Bi Kwi. “Nah, Mbak-Ayu Darmini, tanyai mereka!” Darmini bertanya kepada Bajul Sengoro yang dianggap pemimpin keempat orang tukang pukul itu.

“Bajul Sengoro, sekarang ceritakan dengan jeas bagaimana kalian berempat melaksanakan tugas yang diperintahkan Raden Panji Sarono, kepada kalian untuk membunuh Ong Cun.” Bajul Sengoro menarik napas panjang.