-->

Kilat Pedang Membela Cinta Jilid 6

Jilid 6

“Engkau menjadi murid Empu Kebondanu?”

“Tidak, Kanjeng Paman. Memang tadinya saya berkeinginan demikian karena tidak ada nama lain yang saya kenal. Akan tetapi kemudian di puncak Bromo saya bertemu dengan Eyang Panembahan Ganggamurti dan menjadi murid beliau.”

“Panembahan Ganggamurti di puncak Bromo? Jagad Dewa Bathara...! Sungguh luar biasa sekali, Nini. Engkau menjadi muridnya! Padahal dahulu pernah aku menghadap beliau untuk belajar ilmu, akan tetapi beliau menolaknya. Tidak sembarang orang dapat menjadi murid beliau dan engkau telah menjadi muridnya selama lima tahun? Bukan main! Mari, mari, Nini, kuperkenalkan dengan bibimu dan keluarga kami.” Darmini diajak masuk dan diperkenalkan dengan isteri dan keluarga Raden Gajah yang menyambutnya dengan gembira dan ramah membuat kelakar-kelakar sopan ketika melihat bahwa “pemuda” itu ternyata adalah seorang gadis!

“Karena Nini Darmini sedang betugas mencari pembunuh-pembunuh kejam, maka ia mengenakan pakaian pria.” Raden Gajah menerangkan kepada isterinya. Keluarga itupun menganjurkan agar Darmini tinggal di rumah mereka selama berada di Majapahit dan tentu saja Darmini merasa gembira bukan main.

Keluarga itu amat ramah terhadap dirinya. Malam itu Darmini rebah di dalam kamarnya dan ia gelisah tak dapat tidur. Ia masih belum menceritakan kepada Raden Gajah tentang hasil penyelidikannya. Bagaimanapun juga, keluarga Empu Tanding masih sanak dengan keluarga Raden Gajah. Tidak, ia akan merahasiakan dulu hasil penyelidikannya dan hanya akan mencari dan menyelidiki Empat Bajul. Tiba- tiba pendengarannya yang tajam terlatih mendengar sesuatu. Darmini sedang duduk bersila dalam samadhi karena tadi dalam keadaan gelisah ia lalu bersila dan bersamadhi untuk menenteramkan batin. Ia membuka matanya dan mencurahkan perhatiannya. Tak salah lagi. Ada suara lirih di atas gedung! Seperti seekor kucing besar sedang melangkah atau bergerak di atas genteng!

Cepat ia menyambar ikat kepala, membungkus rambut kepalanya dan ia memang masih mengenakan pakaian pria, maka ia meloncat turun dari pembaringan. Ia mengambil pedang dari buntalan pakaiannya. Siapapun orangnya yang dapat bergerak seringan itu di atas genteng, tentu bukanlah seorang lawan yang ringan, maka ia berhati-hati dan membawa pedang Lian-Hwa-Kiam peninggalan Ong Cun. Ia mengikatkan tali sarung pedang di pinggangnya, kemudian membuka jendela kamarnya dan meloncat keluar. Ketika ia menyelinap di antara tihang-tihang gedung itu menuju ke ruangan tengah di mana terdapat kamar Raden Gajah, tiba-tiba saja nampak sesosok bayangan hitam berkelebat. Sebelum ia bergerak, tiba-tiba pula daun pintu kamar Raden Gajah terbuka dari dalam dan Senopati itu meloncat keluar dengan keris di tangan!

“Siapa engkau!” bentak Raden Gajah sambil meloncat ke depan bayanga hitam yang tidak sempat melarikan diri. Akan tetapi bayangan hitam itu tidak menjawab, melainkan cepat menyerang dengan pedang di tangan. Serangannya dahsyat sekali. Akan tetapi Raden Gajah adalah seorang Senopati yang digdaya. Menghadapi serangan pedang yang berkelebat ke arah lehernya itu, meloncat ke kiri sambil menangkis dengan kerisnya. Akan tetapi, kembali pedang sudah berkelebat cepat menyambar pinggangnya! Raden Gajah terkejut bukan main melihat ketangkasan penyerangnya, dan diapun menangkis dengan keris.

“Cringggg...!” Nampak bunga api berpijar dan tubuh Raden Gajah agak terhuyung. Kiranya penyerang itu kuat bukan main selain memiliki gerakan yang amat lincah. Namun Raden Gajah tidak menjadi gentar dan diapun cepat dapat menguasai dirinya, lalu balas menyerang. Terjadilah perkelahian seru dan mati- matian. Melihat betapa Pamannya terdesak, Darmini yang sejak tadi memperhatikan penyerang Pamannya itu, kini meloncat maju.

“Tahan dulu!” bentaknya dan pedang Lian-Hwa-Kiam sudah berkelebat, merupakan sinar kilat menangkis pedang di tangan penyerang itu.

“Trangg...!” Orang itu terkejut dan melangkah mundur, menatap tajam kepada Darmini. Sebaliknya Darmini juga mengamati orang itu. Seorang yang bertubuh sedang, mengenakan pakaian serba hitam dengan kepala dan muka tertutup topeng hitam pula! Tangannya memegang sebatang pedang yang berkilauan dan orang itu memandang kepada Darmini dengan mata berkilat-kilat dari balik topeng itu, kemudian memandang kepada pedang di tangan Darmini.

“Siapakah engkau dan mengapa engkau hendak membunuh Kanjeng Paman Raden Gajah?” bentak Darmini sambil melangkah maju. Akan tetapi, jawaban orang itu hanya tusukan pedang secara kilat ke arah perut Darmini.

“Trangggg...!” Kembali bunga api berpijar ketika dua batang pedang saling bertemu dan Darmini melanjutkan tangkisannya dengan serangan balasan. Namun, si topeng hitam itu bergerak cepat sekali menghindar dan pada saat itu, Raden Gajah juga menerjang dengan kerisnya. Biarpun dikeroyok dua, topeng hitam itu dapat berloncatan seperti seekor burung saja lincahnya. Biarpun demikian, sambaran pedang di tangan Darmini membuat dia repot juga. Kemudian bermunculan perajurit-perajurit penjaga dengan tombak di tangan dan melihat dirinya dikepung, tiba-tiba si topeng hitam ini menerjang ke belakang, merobohkan dua orang pengepung dan meloncat ke belakang gedung.

 “Hendak lari ke mana kau!” Darmini mengejar dan meloncat pula, akan tetapi gerakan orang bertopeng itu cepat sekali dan dia sudah lenyap ditelan kegelapan malam dikebun belakang.

“Jangan kejar dia!” Raden Gajah yang juga meloncat ke belakang Darmini, memperingatkan gadis itu. “Dia berbahaya sekali, tidak perlu mengejarnya. Biarkan para perajurit melakukan pengejaran dan penyelidikan.” Senopati itu lalu memerintahkan kepala pengawal untuk memimpin pasukan melakukan pengejaran dan penyelidikan, dia sendiri mengajak Darmini masuk kembali ke dalam rumah. Keluarganya sudah terbangun semua dan gegerlah seisi rumah itu ketika mendengar betapa ada maling bertopeng masuk dan menyerang sang Senopati.

“Aku sudah mendengarnya dan siap menyambutnya. Ternyata dia tangguh sekali dan Untung engkau keluar, Nini. Kalau tidak, agaknya aku tidak akan mampu menahan serangan pedangnya,” kata Raden Gajah, kagum memandang keponakannya. Dia tadi melihat sendiri betapa keponakan perempuan itu ternyata memiliki ilmu berkelahi yang amat kuat, dapat mengimbangi kecepatan dan kekuatan si topeng hitam.

“Akan tetapi saya merasa penasaran, Kanjeng Paman. Siapakah penjahat itu dan mengapa pula dia menyerang Kanjeng Paman?”

“Nanti dulu, Nini. Engkau sudah memiliki ilmu yang tinggi dan bahkan engkau pernah bertunangan dengan seorang pendekar Cina, dan pedangmu itupun pedang Cina. Coba katakan, menurut pendapatmu, bagaimana ilmu silat dari penyerang tadi?” Darmini mengingat-ingat.

“Dia memang lincah dan kuat sekali, Kanjeng Paman. Dan kalau tidak salah, gerakan-gerakannya bersilat seperti silat Cina.” Raden Gajah mengangguk-angguk.

“Tidak keliru, memang dia seorang Cina rahasia yang pernah muncul lima tahun yang lalu. Dia adalah orang yang dijuluki Walet Hitam. Kami belum pernah melihat mukanya, akan tetapi kami menduga keras bahwa dia tentu seorang Cina, melihat dari gerakannya ketika memainkan senjata pedang. Ketika kami melakukan penyerbuan ke Lumajang dan hendak menangkap pemberontak Wirabumi, pemberontak itu dapat lolos dari Istana berkat pertolongan Walet Hitam itulah!”

“Ah, begitukah, Paman?” Darmini bertanya, heran dan juga kaget mendengar bahwa penyerang tadi ternyata mempunyai hubungan dengan mendiang Wirabumi.

“Ya, bahkan nyaris Adipati Wirabumi dapat menyelamatkan diri dengan naik perahu, setelah Walet Hitam itu meloloskannya dari Istana dan membunuh banyak perajurit Majapahit yang sudah menyerbu ke Istana. Untunglah aku dan pasukanku keburu tiba dan berhasil menangkap dan membunuh Wirabumi dan menghadapi banyak lawan, Walet Hitam tidak mampu menyelamatkannya, bahkan dia sendiri melarikan diri.”

“Kalau begitu, dia seorang yang menjadi musuh Majapahit. Kenapa malam ini dia datang menyerang Kanjeng Paman?” Senopati itu menarik napas panjang.

“Engkau baru pulang dari pertapaan, agaknya belum tahu banyak akan apa yang sedang terjadi disini, Nini. Ketahuilah, sekarang ini banyak sekali orang-orang yang menganggap diri mereka sanak atau juga pengikut Wirabumi, bersekutu dan melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap tokoh-tokoh

 Majapahit. Sudah banyak tokoh yang diam-diam tewas begitu saja dan agaknya satu diantara algojo mereka adalah Walet Hitam tadi.”

“Ah, berbahaya sekali kalau begitu. Kenapa pemerintah tidak membasmi dan menangkap saja para pemberontak itu?”

“Itulah sekarang. Mereka tidak teranga-terangan memusuhi kerajaan, dan pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan secara sembunyi dan rahasia. Tanpa bukti bahwa mereka yang mengirim pembunuh- pembunuh, bagaimana dapat menangkap mereka?”

“Lalu siapa kiranya yang menjadi pimpinan mereka, Kanjeng Paman? Siapa pula kiranya yang mengirim Walet Hitam itu datang malam ini untuk membunuh Kanjeng Paman?”

“Sukar diketahui siapa kepalanya, akan tetapi tokoh-tokoh diantara mereka banyak sekali. Bahkan mungkin ada persekutuan di antara mereka dengan orang-orang Daha dan Wengker yang mempunyai kecenderungan memberontak. Sekarang Walet Hitam terang-terangan mulai bergerak menyerangku, aku harus memperkuat penjagaan disini.”

“Kalau begitu, Kanjeng Paman... Ketika terjadi penyerbuan ke Lumajang dan orang-orang Cina banyak yang dibunuh, apakah ada hubungannya dengan perbuatan Walet Hitam itu?”

“Tepat sekali dugaanmu! Itulah penyebab kesalahpahaman itu. Sebenarnya, rombongan orang Cina itu tidak mau campur dalam perang saudara itu, akan tetapi muncul Walet Hitam yang tentu seorang diantara mereka, jelas dan terang-terangan membela Wirabumi. Karena itu tentu saja pasukan Majapahit menuduh bahwa rombongan orang Cina itu membantu musuh dan terjadilah penyerbuan yang mengakibatkan pertempuran sehingga menewaskan banyak orang Cina itu. Walet Hitam itulah penyebabnya. Akan tetapi hal itu diketahui atau tidak oleh pimpinan rombongan karena tidak ada buktinya.”

“Sungguh sayang tadi saya tidak dapat menangkapnya, Kanjeng Paman. Saya ingin sekali melihat siapa sesungguhnya orang bertopeng itu. Dengan munculnya orang itu dan apa yang dilakukannya lima tahun yang lalu sehingga mengorbankan banyak orang Cina dalam rombongan itu, saya mendapatkan bahan baru lagi. Siapa tahu pembunuhan atas diri Ong Cun tunangan saya itupun ada hubungannya dengan orang ini.”

“Hemm, segala mungkin saja terjadi lima tahun yang lalu itu, karena perang mendatangkan segala macam kekacauan. Akan tetapi orang itu memang tangguh sekali. Gerakannya cepat dan kuat, bagaimana dapat menangkapnya? Apalagi kita tidak tahu di mana dia bersembunyi.”

“Begini, Kanjeng Paman. Harap paduka pertimbangkan baik-baik, siapa kiranya yang pantas menjadi pesuruh Walet Hitam untuk melakukan penyerbuan malam ini, dan sayalah yang akan melakukan penyelidikan ke sana. Sudah dapat dipastikan bahwa dia, seperti seekor anjing, setelah dipukul akan lari kembali kepada tuannya.” Raden Gajah memandang kagum. Keponakannya ini, biarpun perempuan, tadi sudah membuktikan ketangkasannya, dan kini membuktikan lagi kecerdikan jalan pikirannya. Diapun mengingat-ingat.

“Sudah kukatakan, banyak tokoh yang masih setia kepada pemberontak Wirabumi. Dan karena aku merupakan orang yang menangkap dan membunuh Wirabumi, tentu banyak diantara mereka yang mendendam dan membenciku. Akan tetapi diantara sekian banyaknya tokoh, yang jelas menentangku, tidak menyukai bahkan membenciku adalah Raden Wiratama.” Dia lalu menjelaskan siapa adanya Raden Wiratama, seorang yang masih sanak dekat dengan Wirabumi, dan yang kini pindah pula ke Majapahit. Darmini memperhatikan baik-baik gambaran tentang orang itu, kemudian iapun bertanya,

“Bagaimana dengan Kanjeng Rama, Ki Demang Bragolo, yang dahulu juga menjadi ponggawa Lumajang? Apakah dia termasuk seorang diantara mereka itu, Kanjeng Paman?” Senopati itu menarik napas panjang,

“Itulah yang mengkhawatirkan hatiku, Nini. Agaknya Ayah tirimu itu condong pula dekat dengan mereka, dan hal ini tidak mengherankan mengingat bahwa dahulu dia merupakan seorang ponggawa yang setia di Lumajang. Kalau sehabis perang dia diampuni hanya karena Ibu kandungmu masih dekat dengan aku, juga masih sanak dari Kakang-Mas Empu Tanding yang menjabat sebagai penguasa dari Majapahit di Lumajang. Disebutnya nama Empu Tanding memberi alasan bagi Darmini untuk bertanya mengenai keluarga itu pula.

“Ah, Uwak Empu Tanding? Beliau sekeluarga tentu seperti juga paduka, menentang para pemberontak itu, bukan, Kanjeng Paman?” Ditanya demikian, tiba-tiba Senopati itu mengamati wajah Darmini dan dua pasang mata itu bertemu. Diam-diam Senopati itu kagum melihat sepasang mata yang mencorong demikian tajamnya, membayangkan kecerdikan luar biasa. Diapun bukan orang bodoh. Kalau gadis ini menanyakan tentang Empu Tanding, hal itu hanya berarti bahwa gadis ini meragukan kesetiaan orang tua itu terhadap Majapahit dan tentu ada alasannya mengapa ia bersikap demikian! Diapun tahu bahwa Kakak misannya itu tidak mempunyai nama yang terlalu harum, walaupun dia sendiri tidak meragukan akan kesetiaan Empu Tanding kepada Majapahit.

“Tentu saja, Kakang-Mas Empu Tanding selalu menentang pemberontak, dan aku yakin seperti juga aku, dia dimusuhi oleh para pemberontak.”

“Kanjeng Paman, bagaimanapun juga, usaha pembunuhan atas diri Paman ini tidak boleh didiamkan begitu saja. Saya yang akan menyelidiki Wiratama, kalau dapat saya buktikan bahwa Walet Hitam berada disana...”

“Kalau benar Walet Hitam berada disana, jangan turun tangan sendiri, Nini. Hal itu berbahaya karena tentu dia memiliki kaki tangan yang pandai. Lebih baik malapor ke sini dan aku sendiri yang akan membawa pasukan melakukan penyerbuan dan membasmi gerombolan pemberontak. Dengan adanya Walet Hitam di sana, sudah cukuplah buktinya.” Pada keesokan malamnya. Darmini melakukan penyelidikan ke sekitar rumah gedung Raden Wiratama. Ia mempergunakan kepandaiannya untuk menyelinap di antara pohon-pohon di luar pagar tembok gedung itu, dengan hati-hati sekali karena ia sudah mendengar dari Raden Gajah bahwa tempat itu terjaga ketat dan memiliki banyak orang pandai.

Dilihatnya banyak perajurit penjaga di pintu gerbang dan juga ada pula yang hilir mudik melakukan perondaan. Malam itu bulan bersinar terang sehingga menyulitkan Darmini untuk dapat meloncat masuk, apalagi dia selalu mengenakan pakaian putih, warna pakaian perguruannya. Seperti juga Sridenta dan guru mereka, Panembahan Ganggamurti, Darmini kini selalu mengenakan pakaian serba putih. Ia merasa menyesal mengapa ia tidak membawa jubah atau mantel yang warnanya gelap untuk menutupi pakaiannya yang serba putih. Malam terlalu terang sehingga kalau ia nekat meloncat ke atas tembok, banyak bahayanya akan ketahuan. Ia baru mencurigai saja Raden Wiratama sebagai pengirim pembunuh malam kemarin ke rumah Raden Gajah, belum ada buktinya. Rugilah kalau sampai ia ketahuan sebelum ia mendapatkan bukti bahwa benar Walet Hitam berada di gedung besar dan angker itu. Beberapa kali sudah ia mengitari sekeliling tembok pagar gedung itu. Memang banyak dilihatnya tempat yang baik untuk meloncat masuk, seperti pohon asem yang tumbuh di luar tembok itu dapat dipergunakan sebagai tempat loncatan yang tidak nampak dari luar. Ada pula pintu kecil tembusan di sebelah belakang. Namun ia tidak tahu apakah di balik tembok itu terdapat penjaga atau tidak! Akhirnya, di bagian yang agak gelap karena tertutup bayangan pohon, ia mengambil keputusan untuk menjenguk ke dalam dan iapun menggunakan kepandaiannya untuk meloncat ke atas pagar tembok. Akan tetapi begitu kakinya menginjak pagar tembok, ia mendengar suara berdesir dan melihat berkelebatnya sebuah benda kecil yang menyambar ke arah dadanya!

Tentu saja Darmini terkejut sekali dan cepat ia menggunakan tangan kirinya menangkis benda kecil itu. Benda itu terlempar dan kembali Darmini terkejut karena merasa betapa benda kecil yang ternyata hanya sebutir kerikil itu mengenai tangkisan tangannya dengan amat kuatnya. Tahulah ia bahwa ada orang pandai yang usil dan menyerangnya dengan kerikil. Darmini tahu akan bahaya dan iapun meloncat turun kembali ke luar tembok, lalu menjauh. Akan tetapi, segera ia melihat bayangan orang, sesosok tubuh yang kecil ramping sudah berada di atas tembok dimana tadi ia berada. Melihat ini, mengertilah Darmini bahwa kehadirannya telah ketahuan orang, maka iapun cepat melarikan diri. Ia tidak mau menimbulkan keributan di rumah Raden Wiratama karena bukan ini yang menjadi tujuan kunjungannya. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika tiba-tiba ada orang membentak di belakangnya,

“Berhenti.” Ketika ia membalikkan tubuhnya, kiranya orng yang tadi dilihatnya meloncat ke atas tembok pagar sudah berada di depannya! Betapa cepat gerakan orang ini, pikirnya.

“Siapa engkau dan mau apa berkeliaran di sana tadi?” Orang itu menunjuk ke arah gedung Raden Wiratama. Suaranya jelas, akan tetapi Darmini merasakan keanehan dalam suara dan logat bicara orang itu.

“Bukan urusanmu!” Iapun membentak.

“Eh, kau seorang wanita!” kata orang itu yang ternyata merupakan seorang pemuda tampan sekali, dengan sepasang mata yang bening dan muka yang bersih. Sayang bahwa ia tidak dapat melihat dengan jelas karena hanya sinar bulan yang pada saat itu teraling mega putih yang menerangi. Ia terkejut, akan tetapi lalu tersenyum mengejek.

“Engkaupun seorang wanita.”

“Menyerahlah untuk kutangkap!” Orang itu menubruk dan berusaha menangkap lengan Darmini, akan tetapi tentu saja Darmini mengelak. Orang itu lalu melanjutkan gerakannya dengan menyerang. Darmini melihat serangan yang cepat dan kuat, maka iapun mengelak, dan menangkis serangan ke dua lalu balas menyerang. Demikian cepat gerakan mereka sehingga dalam beberapa gebrakan saja mereka telah saling serang dengan dahsyat. Tiba-tiba terdengar suara gaduh dan muncul seorang laki-laki jangkung kurus yang diikuti oleh lima orang perajurit penjaga. Melihat ini, Darmini maklum bahwa ia berada dalam bahaya. Maka iapun lalu meloncat jauh ke belakang lalu melarikan diri ke dalam kegelapan malam.

“Kejar dia...!” Raden Wiratama, orang yang baru muncul itu, berseru dan para perajurit lalu bersebaran mencari, namun Darmini telah lari jauh dan telah lenyap ditelan kegelapan malam. Darmini langsung  

kembali ke rumah Raden Gajah. Kepada Senopati itu ia menceritakan betapa kuatnya penjagaan di rumah Raden Wiratama. “Hampir saja saya tertangkap, Kanjeng Paman. Ternyata di sana terdapat seorang yang amat tangguh. Ketika saya akan dikeroyok, saya melarikan diri.” Senopati itu mengangguk- angguk.

“Sudah kuduga, disana tentu dijaga kuat sekali. Dan, tanpa bukti bahwa Walet Hitam benar berada di sana atau menjadi kaki tangannya, aku sendiri tidak dapat berbuat apa-apa, terhadap dirinya. Dia bukan orang sembarangan, melainkan seorang bangsawan yang masih sanak dekat dengan mendiang Adipati Wirabumi, berarti masih ada hubungan keluarga dengan Kerajaan Majapahit. Tanpa bukti, sukar untuk menuduhnya walaupun semua orang tahu belaka bahwa dia masih setia kepada mendiang Wirabumi.”

Pada keesokan harinya, Darmini pergi mengunjungi rumah Ayah tirinya. Ia tetap mengenakan pakaian pria. Ketika Ki Demang Bragolo akhirnya menyambutnya di ruang tamu, Darmini merasa agak terharu juga. Laki-laki yang berdiri di depannya itu sudah nampak tua sekarang. Tubuhnya tinggi kurus dan cambang bauknya sudah bercampur putih. Kurang lebih enam tahun ia berpisah dari orang ini dan teringat betapa dahulu Ki Demang Bragolo ini bersikap amat baik terhadap dirinya. Biarpun kenangan akan Ibu kandungnya membuat hatinya tawar, namun berhadapan dengan orang yang pernah dianggapnya sebagai Ayah kandung sendiri ini mendatangkan rasa haru. Dengan ramah seperti yang telah menjadi sikapnya selama ini, Ki Demang Bragolo menyambut tamu muda itu.

“Andika siapakah dan ada keperluan apakah mencari saya?” tanyanya setelah mempersilahkan tamu mudanya mengambil tempat duduk. Kalau saja, ia tidak ingat akan keadaan Ibunya, tentu Darmini tidak ragu-ragu lagi akan berlutut dan menyembah. Akan tetapi, bayangan keadaan Ibunya membuat ia mengeraskan hati dan tidak melakukan sembah sujut.

“Kanjeng Rama, apakah lupa dengan saya? Saya adalah Darmini,” katanya tenang. Ki Demang Bragolo meloncat bangkit dari kursinya, terbelalak memandang kepada Darmini.

“Jagad Dewa Bathara...! Kau... Kau... ah, benar, engkau Nini Darmini...!” katanya, tadinya gagap dan kaget lalu nampak gembira sekali.

“Ah, sungguh aku pangling dan engkau mengejutkan aku, Nini. Mari masuk saja ke dalam rumah!” Dia memandang wajah anak tirinya itu penuh selidik, kemudian melanjutkan dengan wajah cerah,

“Aih, selama ini...! Dan engkau sudah mempelajari ilmu, Nini? Apakah engkau menjadi murid Kakang Empu Kebondanu?” Darmini mengeleng kepala.

“Tidak, Kanjeng Rama. Tidak belajar ilmu kepadanya...” “Marilah masuk, kita bicara di dalam...”

“Tidak, Kanjeng Rama. Di sini saja sudah cukup. Saya hanya singgah sebentar saja untuk bertanya kepada kepada Kanjeng Rama tentang Kanjeng Ibu.” Mereka saling pandang dan melihat sinar mata yang mencorong dari anak tirinya itu, memandang kepadanya penuh selidik, Ki Demang Bragolo menundukkan pandang matanya dan menarik napas panjang,

“Yaaah, Ibumu telah meninggalkan aku, Nini...” “Kenapa Kanjeng Ibu meninggalkan paduka?” tanya Darmini dengan suara mendesak. Kakek itu kelihatan bingung, akan tetapi kembali dia menghela napas untuk menenteramkan hatinya.

“Aku tidak tahu, hanya ketika kami sekeluarga pindah dari Lumajang ke Majapahit, Ibumu tidak mau ikut, katanya ingin hidup menyepi di dusun.” Sejenak Darmini tidak mampu membantah. Memang Ibunya sendiri sudah menceritakan bahwa Ibunya tinggal di dusun bukan karena diusir atau tidak diajak ke Majapahit oleh Ayahnya, melainkan atas kehendak sendiri karena Ibunya tidak tahan lagi hidup serumah dengan seorang diantara para selir Ayahnya.

“Kanjeng Rama, sudah berapa lama Kanjeng Ibu hidup bersama paduka dan tak pernah Kanjeng Ibu ingin hidup terpisah dan menyepi. Kalau sekarang Kanjeng ingin hidup menyepi adalah karena tidak tahan hidup di dalam rumah paduka yang menyiksa batin Ibu. Paduka mendiamkan saja seorang selir paduka yang suka menghina Kanjeng Ibu!” Kini Darmini menatap wajah Ayah tirinya dengan sinar mata penuh tuduhan dan penasaran.

“Ah, Nini, engkau tahu bagaimana kalau wanita-wanita tinggal serumah dan...” Tiba-tiba nampak seorang perajurit penjaga menghampiri mereka sehingga Ki Demang menghentikan pembicaraannya. Perajurit itu melaporkan bahwa di luar ada tamu.

“Raden Wiratama dan seorang temannya datang berkunjung,” kata penjaga itu.

“Silahkan mereka masuk,” kata Ki Demang Bragolo, lega hatinya karena kedatangan tamu itu menghentikan percakapan dengan puteri tirinya yang mendatangkan perasaan tidak enak dalam hatinya. Sementara itu, mendengar disebutnya nama Raden Wiratama, Darmini terkejut sekali. Baru semalam ia melakukan penyelidikan ke rumah orang itu dan nyaris tertangkap. Kini orang itu malah datang berkunjung ke sini selagi ia berada di situ!

“Kanjeng Rama, tidak perlu memperkenalkan saya dengan mereka, dan saya juga mohon pamit!”

“Mengapa tergesa, Nini...?” Ki Demang hendak menahan, akan tetapi pada saat itu, kedua orang tamunya sudah masuk sehingga terpaksa ia menyongsong kedatangan dua orang tamunya itu, sedangkan Darmini lalu melangkah untuk keluar. Tanpa dapat dicegah lagi, Darmini berpapasan dengan dua orang tamu itu. Hampir saja ia mengeluarkan seruan kaget ketika ia melihat dua orang tamu itu.

Yang seorang adalah si jangkung kurus yang semalam muncul, dan orang kedua adalah seorang pemuda tampan yang dari wajahnya sudah diketahui bahwa dia seorang pemuda Cina. Yang membuat Darmini hampir mengeluarkan seruan kaget adalah karena wajah pemuda itu serupa benar dengan wajah Ong Cun! Hanya lebih muda, akan tetapi... seperti itulah wajah Ong Cun ketika bertunangan dengannya lima tahun yang lalu! Juga pemuda itu memandang kepadanya. Dua pasang mata bertemu, saling bertaut sebentar, keduanya penuh keraguan dan Darmini sudah meninggalkan mereka. Raden Wiratama hanya memandang sepintas lalu saja kepadanya, akan tetapi di dalam pandang mata pemuda mirip Ong Cun itu ada keraguan dan juga keheranan. Setelah tiba di luar, tiba-tiba Darmini berhenti dan wajahnya berubah pucat,

“Ahhh... Jagad Dewa Bathara…! Benar ialah orangnya semalam! Gadis yang menyamar pria!” Dan iapun cepat keluar dan menyelinap di tempat yang agak jauh untuk mengintai. Gadis yang menyamar semalam, yang berilmu tinggi dan hampir dapat menangkapnya. Gadis yang wajahnya seperti Ong Cun! Teringatlah ia betapa sudah beberapa kali Ong Cun bercerita kepadanya bahwa kekasihnya itu di negeri Cina mempunyai seorang adik perempuan. Pernah pula disebutnya nama adiknya itu, akan tetapi ia sudah lupa lagi siapa. Dan kini muncul seorang gadis berpakaian pria yang mukanya mirip sekali dengan Ong Cun! Jangan-jangan... Gadis ini adik Ong Cun, gadis berpakaian pria yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan hampir menangkapnya semalam.

Akan tetapi, andaikata benar demikian, mengapa gadis yang tinggal di Tiongkok itu kini tiba-tiba berada di sini dan bahkan menjadi pengawal atau teman Raden Wiratama? Ia menjadi bingung, merasa heran dan juga hatinya terasa tegang. Ia harus menyelidiki hal ini! Tidak lagi sehubungan dengan rahasia rencana pembunuhan terhadap Raden Gajah, melainkan sehubungan dengan penyelidikannya terhadap pembunuh Ong Cun dan Nala. Sementara itu, ketika saling berjumpa dengan Darmini, Bi Kwi juga terkejut sekali, ketika ia berada di dalam taman bunga, ia melihat bayangan putih berkelebat di atas pagar tembok. Melihat gerakan yang cepat dari orang itu, Bi Kwi merasa curiga dan iapun menyambit dengan sebutir kerikil untuk menguji dan ternyata bayangan putih itu dapat menangkis kerikilnya! Ia lalu berlari dan meloncat ke atas pagar tembok, melakukan pengejaran.

Ketika berhadapan dengan pemuda tampan berpakaian putih, dan mendengar suaranya, Bi Kwi segera dapat mengerti bahwa ia berhadapan dengan seorang gadis yang menyamar pria, seperti dirinya. Dan ternyata gadis itupun tahu akan rahasianya sehingga mereka telah bertanding. Diam-diam Bi Kwi terkejut melihat kenyataan betapa gadis berpakaian pria berwarna putih itu tangguh bukan main! Kemudian muncul Raden Wiratama dari dalam bersama perajurit dan si pakaian putih itu berhasil melarikan diri. Setelah beberapa hari tinggal di gedung Raden Wirata, Bi Kwi merasa senang sekali. Tuan rumah itu baginya kini kelihatan amat baik hati, ramah dan juga selalu nampak menyenangkan baginya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa perlahan-lahan ia mulai terjatuh ke dalam pengaruh kekuatan sihir yang diterapkan perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit oleh Raden Wiratama.

Bangasawan ini amat tertarik kepada Bi Kwi, bahkan tergila-gila dan dia ingin gadis Cina ini menyerah kepadanya dengan suka rela, menyerahkan jiwa raga kepadanya dan untuk ini dia harus lebih dahulu menundukkannya dengan sihir. Kakak gadis itu, Kwee Lok, juga sudah dicengkeramnya dengan pengaruh uang, minuman, pelesiran lain seperti perjudian dan pelacuran. Pemuda itu kini mulai nampak acuh terhadap adik angkatnya dan agaknya akan dapat dengan mudah dikuasainya. Hari itu, memenuhi janjinya, Raden Wiratama mengajak Ong Bi Kwi berkunjung kepada Ki Demang Bragolo. Semalam gadis itu telah memergoki pencuri atau seorang yang berniat jahat dan hal ini saja menunjukkan bahwa mulai ada kesetiaan dalam hati gadis itu terhadap dirinya.

Ketika bertemu dengan Darmini, Bi Kwi merasa terkejut karena merasa seperti sudah mengenal pemuda berpakaian putih itu. Ingatannya menjadi lemah sekarang, ia lupa lagi bahwa semalam, orang yang mencurigakan yang berilmu tinggi itu, gadis yang menyamar pria dan secara mencurigakan mendatangi rumah Raden Wiratama, juga mengenakan pakaian serba putih. Akan tetapi karena perjumpaan dengan Darmini di rumah Ki Demang itu hanya selewatan saja, iapun sudah melupakannya lagi setelah diperkenalkan kepada Ki Demang Bragolo. Ki Demang Bragolo juga melihat persamaan wajah “pemuda” itu dengan wajah mendiang Ong Cun, dan dia tidak merasa heran lagi ketika diperkenalkan bahwa “pemuda” itu adalah saudara dari Ong Cun yang datang dari negeri Cina untuk menyelidiki tentang pembunuhan atas diri Ong Cun!

“Karena dahulu Kakaknya pernah bertunangan dengan puterimu, maka dia ingin berkenalan denganmu, Kakang Demang Bragolo,” kata Wiratama.

 “Dia ingin tahu lebih banyak tentang Kakaknya.” Bi Kwi yang sama sekali tidak tahu bahwa Raden Wiratama sudah tahu akan rahasianya sebagai seorang gadis, kini memberi hormat kepada Ki Demang Bragolo, lalu berkata,

“Benar sekali, Paman. Saya ingin tahu pendapat Paman sendiri, mengapa Kakakku Ong Cun dibunuh orang dan siapa pula kiranya yang melakukan perbuatan keji itu.” Ki Demang Bragolo saling pandang dengan Raden Wiratama, lalu menarik napas panjang,

“Ah, peristiwa itu sudah terlalu lama terjadi, Saudara Ong Bi Kwi, sudah lebih dari lima tahun. Menurut pendapatku, karena yang membunuh Ong Cun adalah orang rahasia yang tidak diketahui siapa, tentu dia itu seorang di antara musuh-musuh Ong Cun. Maklumlah, ketika itu baru saja terjadi perang dan sebagai seorang anggauta rombongan dari Cina, Ong Cun juga bertempur melawan pasukan Majapahit. Mungkin saja pembunuhnya seorang tokoh Majapahit yang membenci para pendatang Cina itu. Kukira itu sebabnya, dan siapa pelakunya, sungguh aku tidak tahu dan tidak dapat menduga siapa.”

“Paman, bolehkah saya berkenalan dengan bekas tunangan Kakakku itu? Nona Darmini, saya ingin berkenalan dan bicara dengannya.” Untung Darmini baru saja pergi, pikir Ki Demang Bragolo. Dia sudah merasa lega akan kepergian anak angkatnya itu karena terbebas dari pembicaraan tentang Ibu kandung gadis itu yang membuat dia merasa tidak enak sekali.

“Ah, Nini Darmini? Kasihan sekali anak itu, semenjak kematian Ong Cun, ia merana dan otaknya menjadi miring...”

“Ahhhhh...!!” Ong Bi kwi berseru kaget bukan main dan hampir ia menitikkan air matanya ketika keharuan mencengkeram hatinya. Kekasih dan tunangan Kakaknya itu sampai menjadi gila karena kematian Ong Cun!

“Ia… ia menjadi… gila...?” Tanyanya dengan leher seperti dicekik rasanya. Ki Demang Bragolo mengangguk.

“Sejak itu ia pergi, menjauhi dunia ramai dan bertapa di puncak Gunung Bromo. Ah, sudahlah hatiku menjadi sedih kalau bicara tentang anakku itu…” Melihat keadaan membayang di wajah tuan rumah, Bi Kwi tidak berani mendesak lagi. Kasihan Darmini, pikirnya. Ah, pantas ia dicinta oleh Kakaknya, dan ternyata Darmini memang seorang gadis yang amat mencinta Ong Cun.

“Jangan berduka, engkau Darmini,” bisik hatinya. “Aku akan mencari pembunuh kekasihmu itu sampai dapat dan membalas dendam ini!” Melihat betapa pemuda itu berdiam diri dan termenung, Ki Demang Bragolo yang ingin mengalihkan percakapan, segera menghadapi Raden Wiratama dan bertanya,

“Bagaimana kabarnya dengan gerakan kita, adimas Wiratama?” Raden Wiratama menggeleng kepala.

“Tidak begitu baik, Kakang demang. Pihak sana agaknya lebih siap siaga sehingga usahaku menggunakan Walet Hitam yang terakhir ini gagal.”

“Walet Hitam? Dimana dia kini? Saya ingin bertemu dan bicara dengannya, adimas.”

“Hemm, siapa tahu di mana dia berada? Seperti engkau tidak tahu saja, Kakang. Dia datang dan pergi seperti iblis, melakukan sesuatu, menerima upahnya, pergi lagi. Dia liar dan sukar dikurung, seperti seekor burung walet. Akan tetapi melihat kenyataan seperti sekarang ini, dimana pihak sana makin siap siaga dan memperkuat kedudukan, kurasa kita harus mendatangkan orang-orang yang lebih sakti lagi. Aku sedang berusaha mengutus orang-orang untuk dapat membeli tenaga Empu Kebondanu.”

“Ahhh...!” Ki Demang Bragolo memandang terbelalak. “Mungkinkah itu? Kakang Empu Tanding…?”

“Hanya dia seorang yang menjadi penghalang, akan tetapi dia paling takut dan tunduk kepada Empu Kebondanu, jadi, tidak perlu diragukan. Aku yakin dengan hadiah yang cukup, dia mau meninggalkan pertapaan dan membantu kita.” Bi Kwi mendengarkan percakapan itu, akan tetapi ia tidak mengerti apa yang mereka maksudkan. Siapakah Walet Hitam? Dan siapa pula Empu Kebondanu, dan siapa pula yang dimaksud dengan “pihak sana?” Apakah yang dimaksud adalah tokoh-tokoh Majaphit yang ia tahu dimusuhi oleh Raden Wiratama seperti pernah diceritakan kepada ia dan Kwee Lok? Ia harus menemui Kwee Lok. Jarang ia bertemu dengan Kakak angkatnya itu sehingga ia belum mendengar keterangannya tentang penyelidikannya terhadap keluarga Empu Tanding dan Panji Sarono yang dicurigai.

Ia merasa heran mendengar dari Raden Wiratama bahwa kini Kwee Lok lebih suka bermain judi dan bermalam di rumah pelacuran! Sukar ia membayangkan Kakak angkatnya seperti itu! Padahal dahulu ia menganggap Kakak angkatnya itu seorang pendekar sejati. Rasa tidak senangnya kembali muncul. Pernah ia merasa tidak suka kepada Kwee Lok ketika Kakak angkatnya itu membujuknya untuk menjadi selir Cu Hok Sim putera Jaksa Cu itu, dan mendengar bahwa Kakaknya ini banyak hutangnya karena gila judi. Dan sekarang, agaknya Kakak angkatnya ini kumat lagi penyakit gila judi sehingga seolah-olah sudah lupa akan tugas mereka mencari pembunuh Ong Cun di negeri yang jauh sekali ini. Ketika Raden Wiratama berpamit dan mengajak Bi Kwi pulang, gadis ini lemas dan termenung.

Penyelidikan ke rumah keluarga Darmini itu gagal. Ia tidak dapat memperoleh keterangan penting, bahkan tidak bertemu dengan Darmini. Mereka berdua menunggang kereta, dan mereka tidak tahu betapa ada sepasang mata yang jernih dan tajam mengamati mereka, bahkan kemudian pemilik mata itu membayangi mereka dari jauh sampai mereka tiba di rumah gedung Raden Wiratama dan masuk ke dalam. Bayangan itu adalah Darmini. Pada sore hari itu, Bi Kwi membujuk Raden Wiratama untuk menyuruh panggil Kwee Lok yang hampir tak pernah dijumpainya selama mereka tinggal di rumah Raden Wiratama beberapa hari ini. kwee Lok datang dengan muka agak pucat, rambut kusut dan pakaiannya yang biasanya rapi itupun kusut. Sikapnya agak marah ketika dia bertemu dengan adik angkatnya di depan kamar Bi Kwi. Begitu melihat Bi Kwi, dia mengomel,

“Ada kepentingan apakah engkau memanggilku, Kwi-moi? Aku sedang mengejar kekalahanku semalam, engkau mengganggu saja!” Dengan muka merah, akan tetapi masih dapat menahan kemarahannya, Bi Kwi lalu berkata,

“Toako, engkau ini bagaimana sih? Setelah berada di sini, kenapa engkau lalu seperti lupa akan urusan kita? Engkau tak pernah nampak di sini, dan aku mendengar engkau hanya bersenang-senang. Lalu bagaimana dengan penyelidikanmu?”

“Kwi-moi, kenapa engkau mengomel? Bukankah aku yang membawamu ke sini dan engkau juga hidup senang di sini? Kurang apa? Bukankah Raden Wiratama bersikap manis dan baik sekali kepadamu?”

 “Toako! engkau sudah lupa daratan lagi agaknya! Engkau sudah kembali seperti dulu lagi, kambuh pula penyakitmu. Mabok-mabokan, berjudi, melacur lagi!” Kwee Lok yang memang agak mabok itu tertawa menyeringai dan Bi Kwi melihat betapa wajah Kakak angkatnya yang biasanya tampan gagah itu kini kelihatan licik dan tidak menyenangkan.

“Heh-heh, Kwi-moi, engkau ini mengomeli aku seperti seorang isteri cerewet saja! Aku bukan suamimu yang boleh kau ikat! Aku boleh berbuat sesuka hatiku. Bukankah dahulu di Tiongkok akupun sudah tidak setuju dengan niatmu pergi kesini? Kenapa dulu engkau menolak menjadi isteri putera Jaksa Cu yang kaya raya? Sudahlah, kalau engkau tidak suka di sini, kau boleh pergi. Aku masih betah disini!” Setelah berkata demikian, Kwee Lok pergi meninggalkan adik misannya yang berdiri dengan mata terbelalak dan muka merah! Bi Kwi ingin marah-marah, akan tetapi iapun menyadari bahwa ia sama sekali tidak berhak. Kwee Lok hanyalah Kakak angkatnya dan dialah yang mempunyai kepentingan di Majapahit ini. Kakaknya hanya terbawa saja olehnya. Kakak angkat itu bukan pegawainya, bukan pula anak buahnya. Muncullah Raden Wiratama dari dalam dan dengan senyum ramah dia menegur,

“Saudara yang baik, dari dalam aku mendengar ribut-ribut seperti orang cekcok dalam bahasamu yang tidak kumengerti. Apakah engkau cekcok dengan Kakakmu?” Bi Kwi menarik napas panjang. Alangkah baik tuan rumah ini!

“Sesungguhnya, Raden, kami telah cekcok. Aku menegur Kakakku yang hanya berjudi, mabok-mabokan dan melacur. Tugas kami belum selesai, pembunuh Kakak kandungku belum kutemukan.”

“Jangan cekcok dan jangan berduka, sahabat baikku. Percayalah kepadaku, aku yang akan menemukan pembunuh itu dan menyeret ke depan kakimu. Akupun tidak tinggal diam dan sudah menyebar orang- orangku untuk menyelidiki pembunuhan lima tahun yang lalu itu. Mari, mari kita makan, sahabatku.”

Raden Wiratama lalu menggandeng lengan Bi kwi dengan rangkulan akrab. Tentu saja Bi Kwi merasa kikuk dan malu sekali, akan tetapi karena ia menyamar sebagai seorang pria dan gandengan itu bermaksud baik sebagai seorang sahabat akrab yang bermaksud menghibur, iapun menurut saja dan setelah mereka tiba di kamar makan, barulah dengan lembut ia melepaskan tangannya yang digandeng. Seperti biasa, Raden Wiratama mengajaknya makan bersama dan sekali ini Bi Kwi sudah tidak lagi merasa heran seperti yang pertama kalinya, dimana ia bertanya-tanya di dalam hatinya mengapa tuan rumah ini hanya mengajak ia makan bersama, dan tidak mengajak keluarganya.

Ia tidak tahu betapa di dalam makanan itu telah diberi ramuan oleh tuan rumah, dan dengan bantuan kekuatan sihirnya, ia membuat Bi Kwi semakin tunduk lagi di bawah pengaruhnya. Setelah selesai makan, Raden Wiratama melihat perubahan pada wajah tamunya. Sepasang mata itu semakin kehilangan cahayanya yang mencorong, dan tahulah dia bahwa calon korbannya sudah makin lemah kemauannya untuk menentang. Sudah tiba saatnya baginya untuk bertindak! Dia bangkit dari kursinya dan melihat betapa Bi Kwi agak terhuyung ketika bangkit, dia cepat merangkul pundaknya. Dan gadis itu tidak menolak! Agaknya sudah lumpuh semua daya lawannya, dan ia membiarkan saja tuan rumah itu merangkulnya.

“Sayang, engkau kelihatan lemah dan pusing, lebih baik kau pakai tidur saja. Mari kuantar ke kamarku...” Dan iapun menuntun Bi Kwi yang tetap dirangkulnya itu ke dalam kamar, bukan kamar gadis itu melainkan kamarnya sendiri, kamar pribadinya yang penuh rahasia. Ketika mereka memasuki kamar itu, Bi Kwi teringat bahwa itu bukan kamarnya.

 “Ini… ini bukan kamarku, Raden...” Katanya lemah.

“Ah, apa salahnya? Engkau adalah sahabatku yang terbaik, bukan? Bahkan kekasihku...” Dan Raden Wiratama mencoba lagi keadaan gadis itu dengan mencium pipi Bi Kwi dengan hidungnya. Bi Kwi nampak terkejut, akan tetapi pandang matanya bingung dan kosong.

“Aku... aku adalah seorang laki-laki... Kenapa engkau begitu, Raden Wiratama…?” kedua pipinya berubah merah karena naluri kewanitaannya menembus tabir pengaruh sihir yang melumpuhkan itu dan ia merasa terkejut, juga malu dah hampir marah! Melihat reaksi yang lemah ini, Raden Wiratama tertawa, semakin gembira hatinya.

“Ha-ha-ha, apa salahnya itu sahabatku? Kita sama-sama pria, bukan? Dan kebetulan sekali aku memang amat sayang kepada pria tampan seperti engkau. Marilah...” Dan diapun menuntun Bi Kwi ke pembaringan di mana gadis itu langsung merebahkan diri karena memang merasa pening dan bingung.

“Tidurlah agar kepeningan itu hilang…” kata Raden Wiratama sambil keluar dari kamar itu dan menutupkan daun pintunya.

Dia menyeringai penuh kemenangan setelah lebih dahulu dia berdiri di dekat pembaringan tadi, berkemak-kemik dan menggerak-gerakkan kedua tangannya ke arah muka Bi Kwi, dengan sihirnya memerintahkan gadis itu tidur. Malam ini dia harus berhasil, pikirnya. Sekali dia telah meniduri gadis itu, perlahan-lahan dia akan melepaskan pengaruh sihirnya dan wanita itu tentu sudah berhasil ditundukkan dan akan menjadi selirnya yang selain cantik dan menggairahkan, juga memiliki ketangguhan yang dapat diandalkan untuk menjadi pengawal dan pelindungnya. Dia segera bersamadhi di kamar samadhi untuk memperkuat kekuatan sihirnya dan setelah malam mulai larut, baru dia menghentikan samadhinya dan bersiap-siap untuk memasuki kamarnya. Pada saat itu, Kwee Lok muncul dengan muka lesu.

“Dari mana saja engkau, saudara Kwee Lok?” tanya Raden Wiratama, agak terkejut karena kehadiran pemuda ini mengingatkan dia bahwa sebelum dia dapat melanjutkan niatnya terhadap Bi Kwi, lebih dahulu dia harus menundukkan Kakak angkatnya ini. Hampir ia lupa bahwa disitu terdapat Kwee Lok yang dapat menjadi penghalang keinginan hatinya terhadap gadis Cina itu.

“Duduklah!” Mereka duduk berhadapan.

“Raden, aku kalah lagi, sungguh sial aku hari ini. harap engkau suka memberi pinjam lagi kepadaku lima puluh reyal untuk modal berjudi malam ini.” Diam-diam tuan rumah itu tersenyum gembira. Semua usahanya berhasil baik. Dia tahu akan kegemaran Kwee Lok berjudi dan dia telah mencarikan lawan- lawan berjudi di kalangan bangsawan yang banyak uangnya, akan tetapi diam-diam dia memilihkan jago- jago perjudian yang pandai bermain sulap! Tidak mengherankan kalau Kwee Lok lebih banyak kalah daripada menangnya. Menang sedikit dan kalau kalah banyak sampai beberapa kali berhutang kepadanya! Dan diapun sengaja meloloh pemuda itu dengan hutang!

“Lima puluh reyal? Kenapa engkau tidak pinjam kepada adikmu? Kulihat saudara Ong Bi Kwi mempunyai banyak emas.” Dia memancing.

“Dia akan marah kalau tahu aku berjudi, dan pula, sejak tadi aku tidak melihatnya. Entah dia pergi ke mana…”

 Sepasang mata Raden Wiratama memancarkan sinar aneh. Dia tahu bahwa dia harus berani mengambil keputusan sekarang juga. Kalau Kwee Lok dapat dibelinya, seperti pernah dikatakan oleh Walet Hitam, sukurlah. Dan melihat betapa setan perjudian telah mencengkeram batin pemuda ini, kiranya keterangan Walet Hitam itu banyak benarnya. Andaikata tidak dan sebaliknya Kwee Lok akan menentang kehendaknya, maka sekali dua kali bertepuk tangan saja tempat itu akan dikepung pasukan pengawal dan betapapun tangguhnya pemuda pemabokan ini, tentu dia akan berhasil membunuhnya dengan pengeroyokannya, apalagi kalau Walet Hitam muncul malam itu Bahkan besok pagi Empu Kebondanu juga akan datang untuk membunuhnya setelah para penyelidik dan kaki tangannya berhasil memikat hati Kakek Pertapa itu.

“Saudara Kwee Lok, aku akan meminjamkan bukan hanya lima puluh reyal, bahkan sampai seribu reyal akan kuberikan kepadamu, ditambah barang-barang kuno yang amat berharga. Mari kita bicara baik- baik.” Kwee Lok mengamati wajah tuan rumah dan mengerutkan alisnya.

“Apa yang kau masudkan, Raden Wiratama?”

“Ketahuilah bahwa Ong Bi Kwi sekarang sedang tidur di dalam kamarku.” Kwee Lok memandang heran, akan tetapi teringat bahwa Bi Kwi menyamar pria, maka dia bertanya,

“Kenapa tidur di kamarmu dan kalau begitu, mengapa?” “Aku tahu bahwa dia adalah seorang gadis cantik.”

“Ahh...?” Kwee Lok bangkit berdiri dan matanya terbelalak.

“Tenanglah, saudara Kwee Lok dan duduklah baik-baik,” katanya dengan nada memerintah dan setelah Kwee Lok duduk kembali, dia melanjutkan, “Semenjak bertemu, aku sudah menduga bahwa adikmu itu adalah seorang gadis. Aku kagum dan suka sekali padanya dan setelah dia tinggal di sini beberapa hari lamanya, aku tahu bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Karena itu, terus terang aja, aku minta kepadamu agar menyetujui bahwa aku akan mengambilnya sebagai seorang selirku yang tercinta…” Berkata demikian, sepasang mata Raden Wiratama mengeluarkan cahaya yang membuat Kwee Lok tidak berani menentangnya terlalu lama.

“Akan tetapi…”

“Saudara Kwee Lok, ingatlah baik-baik. Apakah selama ini aku tidak bersikap amat baik terhadap kalian? Dan setiap kali engkau membutuhkan uang atau apa saja, selalu aku memberi kepadamu? Kalau ia menjadi selirku, ia akan hidup berbahagia, terhormat dan serba kecukupan. Bahkan aku membantunya mencarikan musuh besarnya dan membalas dendam atas kematian Ong Cun! Dan engkau sendiri, engkau memilih benda pusaka yang kau sukai dari kumpulanku, juga uang sebanyak seribu reyal untuk biaya engkau pulang ke negerimu.”

Di dasar hatinya, Kwee Lok yang suka berjudi adalah seorang yang mata duitan. Apa lagi dia sudah melihat kumpulan barang-barang pusaka dari tuan rumah, yang serba indah, kuno dan amat berharga. Keris pusaka yang diberikan kepadanya beberapa hari yang lalu itu saja sudah merupakan sejumlah modal besar! Apalagi dia masih boleh memilih dan mengambil lagi, ditambah uang seribu reyal!

 “Akan tetapi,urusan perjodohan adikku itu, bagaimana aku dapat memaksanya, Raden? Kalau ia tidak mau, akupun tidak bisa berbuat sesuatu, terserah kepadanya...”

“Ha-ha-ha!” Raden Wiratama tertawa dan nampaklah giginya yang hitam mengkilap.

“Apa kau kira aku akan minta persetujuanmu kalau ia tidak membalas cintaku? Iapun suka kepadaku, saudara Kwee Lok, karena itulah ia kini tidur di dalam kamarku, ha-ha-ha!”

“Aihh! Jadi kau sudah... Sudah...” Raden Wiratama menggeleng kepalanya,

“Aku tidak tergesa-gesa seperti itu, saudaraku yang baik. Kalau engkau sudah menyetujui, maka besok atau lusa akan kuadakan pesta pernikahan dan baru aku akan benar-benar memilikinya!” Kwee Lok termenung dan nampaknya mempertimbangkan, kemudian diapun berkata,

“Kalau memang ia sudah setuju, yaaah, apa yang dapat kulakukan? Terserah saja, Raden. Akan tetapi biar besok kutanyai adikku itu, sekarang aku hanya membutuhkan lima puluh reyal, kawan-kawan sudah menunggu.”

Sambil tertawa Raden Wiratama mengeluarkan lima puluh reyal dan menyerahkannya kepada Kwee Lok sambil tersenyum, senyum kemenangan. Kwee Lok menerima uang itu lalu pergi. Baik Kwee Lok maupun Raden Wiratama, sama sekali tidak tahu bahwa sejak pertama kali mereka bertemu dan bercakap-cakap tadi, ada sepasang mata bening yang mengintai. Pemilik mata bening tajam ini bukan lain adalah Darmini yang bersembunyi di atas wuwungan rumah dan mengintai ke dalam ruangan di mana dua orang laki-laki itu tadi bercakap-cakap. Tentu saja jantung Darmini berdebar ketika dalam pengintaiannya tadi untuk pertama kalinya ia melihat Kwee Lok. Segera dikenalnya pemuda itu yang dulu selalu menemani Ong Cun, bahkan pemuda inipun ada ketika Ong Cun menolongnya dari tangan tiga orang perampok itu.

Ia merasa heran dan terkejut. Lebih terkejut lagi ketika ia mendengarkan percakapan mereka, mendengar betapa Kwee Lok agaknya menyetujui bahwa adik perempuannya akan diambil selir oleh Raden Wiratama! Dan gadis yang disebut oleh Kwee Lok itu agaknya berusaha mencari musuh besarnya, yaitu hendak membalas dendam atas kematian Ong Cun! Ah, tidak salah lagi. Yang mereka bicarakan itu adalah gadis yang menyamar pria, yang ia jumpai di rumah Ayah tirinya! Gadis yang mirip Ong Cun itu dan dugaannya tentu benar. Gadis itu tentu adik kandung Ong Cun yang kini datang ke Majapahit untuk membalas dendam kematian Kakaknya! Jantungnya berdebar penuh ketegangan. Adik Ong Cun itu kini hendak diselir oleh Raden Wiratama dan agaknya oleh Kwee Lok setengah “dijualnya” kepada bangsawan yang buruk rupa itu.

Ia hampir tidak dapat menerimanya bahwa gadis itu membalas cinta kasih Raden Wiratama seperti yang didengarnya tadi. Tidak, tidak mungkin. Tentu ada apa-apanya disini, pikirnya dan iapun sudah mengambil keputusan tetap untuk diam-diam menemui gadis Cina itu, dan mengajaknya bicara dengan serius, bukah hanya tentang kematian Ong Cun, akan tetapi juga tentang sikap Kwee Lok yang seperti menjual dirinya kepada Raden Wiratama. Kalau gadis itu benar-benar adik kandung Ong Cun, ia merasa berkewajiban untuk menjaga dan melindunginya seperti adiknya sendiri. Adik Ong Cun hendak dijual oleh Kwee Lok seharga seribu reyal dan benda kuno berharga! Akan tetapi sebelum ia sempat mencari jalan untuk dapat bertemu dengan adik Ong Cun, setelah Kwee Lok pergi, Raden Wiratama menerima seorang tamu lain yang agaknya baru malam itu tiba di situ.

 Dan kembali Darmini yang masih mendekam di wuwungan melakukan pengintaian itu terkejut sekali ketika ia mengenal siapa adanya tamu yang baru datang itu. Seorang kakek yang usianya sekitar enam puluh lima tahun. Kulit mukanya yang hitam seperti arang itu nampak tebal dan matanya yang lebar dan besar itu mengeluarkan sinar yang aneh dan mencorong, wajahnya nampak bengis dan tangannya memegang sebatang tongkat dari bambu gading atau bambu kuning, Ki Empu Kebondanu! Darmini semakin berhati-hati dan ia tidak dapat mengintai mereka yang memasuki sebuah ruangan yang paling dalam yang rapat. Ia tidak boleh semberono karena di situ ada Empu Kebondanu yang sakti! Ia tetap bersembunyi di wuwungan dan termenung. Raden Wiratama adalah seorang pemimpin pemberontak, demikian menurut Pamannya, yaitu Raden Gajah.

Sekarang Empu Kebondanu datang disitu, disambut penuh hormat oleh Wiratama. Berarti bahwa Empu Kebondanu agaknya membantu gerakan pemberontakan itu. Dan Walet Hitam? Ia belum melihatnya. Salahkah dugaannya, dugaan Raden Gajah bahwa Walet Hitam dikirim oleh Raden Wiratama untuk melakukan pembunuhan terhadap Senopati Majapahit itu? Apa hubungannya Empu Kebondanu dengan Wiratama? Dan apa pula hubungannya gadis adik Ong Cun itu, siapa namanya tadi... Ia mengingat-ingat. Ong Bi Kwi, begitulah yang didengarnya dari percakapan antara Kwee Lok dan Wiratama tadi. Ong Bi Kwi, tentu saja! Adik Ong Cun, sama Ong-nya! Ah, tidak ada jalan lain. Ia harus menemui Ong Bi Kwi, dan bicara dengannya. Gadis itupun memiliki ilmu silat yang tinggi, seperti Ong Cun. Mereka berdua dapat bekerja sama membongkar rahasia pembunuhan atas diri Ong Cun!

Karena maklum bahwa tempat itu tidak boleh dibuat main-main, penuh dengan pasukan pengawal yang kuat, ditambah lagi dengan hadirnya Empu Kebondanu, Darmini tidak tergesa-gesa bertindak. Ia bersembunyi di atas wuwungan sampai larut malam, sampai keadaan menjadi sunyi dan banyak diantara lampu penerangan di dalam rumah dipadamkan orang. Ia membiarkan peronda lewat dua kali, barulah ia bergerak di atas wuwungan mencari kamar Wiratama. Bukankah tadi Wiratama mengatakan kepada Kwee Lok bahwa gadis itu tidur di dalam kamarnya? Hal inipun membuat ia bergidik. Apa artinya itu? Seorang gadis seperti Bi Kwi tidur di dalam kamar Wiratama? Benarkah gadis itu telah menyerahkan diri kepada Wiratama? Mau dijadikan selir? Sungguh di luar dugaannya. Adik kandung Ong Cun! Rasanya tidak mungkin. Akan tetapi siapa tahu! Cinta memang kadang-kadang aneh.

Banyak sudah ia melihat seorang wanita cantik mencintai seorang suami yang buruk rupa, dan seorang wanita muda mencintai seorang suami yang tua renta. Bagaimana kalau Ong Bi Kwi mencinta Wiratama? Tentu ia tidak akan mampu berbuat apa-apa, seperti yang dikatakan Kwee Lok tadi! Karena sukar melakukan penyelidikan dari wuwungan, Darmini melayang turun ke sebuah taman kecil di dalam lingkungan bangunan itu. Baru saja ia turun, ia melihat bayangan orang berjalan dan cepat ia menyelinap di balik sebuah pot kembang yang besar. Untuk tempat itu agak gelap sehingga mudah baginya untuk bersembunyi. Jantungnya berdebar keras. Wiratama yang lewat itu! Laki-laki jangkung kurus yang pernah dilihatnya bersama Bi Kwi mengunjungi Ki Demang Bragolo, juga dia yang bicara dengan Kwee Lok tadi, dan yang menyambut kedatangan Empu Kebondanu.

Agaknya tuan rumah ini baru saja selesai bercakap-cakap menyambut tamunya, dan kini hendak ke kamarnya! Kamarnya! Di situlah Bi Kwi berada! Dengan hati-hati Darmini menyelinap di antara thiang- thiang membayangi Wiratama yang menuju ke sebelah dalam. Ketika Wiratama tiba di depan pintu kamarnya yang istimewa, kamar yang biasa di pergunakan untuk menggilir selir-selirnya, dia berhenti di ambang pintu yang sudah dibukanya, kemudian menggerak-gerakkan kedua tangannya ke arah dalam kamar, mulutnya berkemak-kemik. Melihat ini tiba-tiba Darmini merasakan suatu hal yang aneh telah terjadi. Ia merasa bulu tengkungnya meremang dan ada hawa dingin menyelinap. Alisnya berkerut dan sepasang matanya yang bening mengeluarkan cara mencorong. Tahulah ia bahwa Wiratama sedang mengerahkan suatu kekuatan yang aneh, semacam sihir dan aji yang mengandung kekuatan tersembunyi. Wiratama seorang ahli sihir dan tiba-tiba terbuka mata Darmini. Tak percuma ia selama lima tahun digembleng oleh seorang sakti di puncak Bromo. Ia tidak pernah diajar melakukan sihir atau ilmu aneh untuk menguasai orang, akan tetapi gurunya telah mengajarkan ilmu untuk menolak kekuatan sihir dan ia sudah memiliki kepekaan terhadap kekuatan yang tidak wajar itu sehingga kini ia tahu pasti bahwa Wiratama sedang mempergunakan kekuatan sihir. Ketika tuan rumah itu masuk dan menutupkan daun pintu kamarnya. Darmini cepat menyelinap dan mendekati jendela. Ia mengintai dari celah-celah antara dua daun jendela setelah mempergunakan aji Bayu Sakti untuk merenggangkan dua daun jendela itu.

Kamar itu cukup terang. Wiratama mendekati pembaringan dan di atas pembaringan itu rebah terlentang seorang berpakaian pria. Gadis yang pernah ditemuinya itu. Ong Bi Kwi, tidak salah lagi! Agaknya gadis itu tidur pulas, atau dalam keadaan tidak sadar yang tidak sewajarnya. Sejenak Wiratama berdiri di dekat pembaringan, mengamati wajah gadis itu sambil tersenyum menyeringai. Gigi hitamnya berkilat tertimpa sinar lampu dalam kamar. Dengan gerakan halus Wiratama menyentuh dahi Bi Kwi dengan telapak tangan kirinya, dan mulutnya berkemak-kemik membaca mantera dan setelah selesai membaca mantera, dia meniup tiga kali ke arah muka Bi Kwi sambil berkata dengan suara lirih, namun cukup jelas untuk tertangkap oleh pendengaran Darmini.

“Ong Bi Kwi, ingat baik-baik bahwa aku, Raden Wiratama adalah satu-satunya orang yang baik kepadamu, satu-satunya pria yang mencintamu. Engkau sepenuh hatimu percaya kepadaku, menerima cintaku dan membalas cintaku, karena hanya di dalam cintaku engkau memperoleh kebahagiaan. Engkau akan menyerahkan jiwa ragamu kepadaku, setiap saat aku memintanya tanpa perlawanan, dengan penuh kerelaan karena aku mencintamu dan engkau mencintaku.” Hemm, jahanam ini sedang mempergunakan aji pengasihan, pikir Darmini kaget. Ia melihat Wiratama mengusap wajah Bi Kwi dan seketika gadis itu mengeluh dan menggeliat membuka matanya. Begitu membuka matanya, gadis itu terkejut dan bangkit duduk. Nalurinya agaknya menjebol jaringan kekuatan aneh itu.

“Aihhhh... Raden Wiratama, kenapa aku berada disini...? Ini bukan kamarku...!” Wiratama mengusap rambut di kepala gadis itu.

“Tentu saja, Bi Kwi, karena ini adalah kamarku, yang berarti juga kamarmu. Engkau mencintaku, dan aku mencintamu, dan malam ini aku ingin engkau melayaniku, tidur bersamaku...!” Di dalam suara ini terkandung kekuatan yang membuat Darmini merasa bulu tengkuknya meremang.

“Ya... ya... Raden Wiratama...” Ong Bi Kwi berbisik, seolah-olah tidak kuasa atas dirinya sendiri, dan iapun diam saja ketika tangan yang tadi membelai rambut kepalanya itu kini turun, membelai mukanya, lehernya, kemudian mulai menanggalkan kancing bajunya.!

“Engkau akan menaati segala perintahku, melakukan apa saja yang kuhendaki darimu karena aku cinta padamu, dan engkau cinta padaku...” kata Wiratama dengan suara menggetar, jari-jari tangannya berhasil membuka hampir semua kancing baju di dada Bi Kwi.

“Ya..., ya.... Raden Wiratama...” Darmini memejamkan mata sejenak, memusatkan kekuatan batinnya, lalu membentak dengan suara melengking.

 “Tidak, Ong Bi Kwi! Sadarlah, engkau berada dalam cengkeram ilmu hitam!” Lalu Darmini berkemak- kemik membaca mantera untuk mengusir hawa jahat yang mengotori kamar itu. Raden Wiratama terkejut. Bi Kwi juga terkejut mendengar suara melengking itu, akan tetapi tiba-tiba ia meloncat ketika untuk sedetik tirai kekuatan sihir yang menyelimuti dirinya itu terpecah dan terkuak oleh pengaruh mantera yang dibaca oleh Darmini. Ia lebih terkejut lagi melihat betapa jari-jari tangan Raden Wiratama masih memegang bajunya yang sudah terbuka bagian atasnya, dan tangan kiri orang itu bahkan merangkul pundaknya yang telanjang. Raden Wiratama tengah berusaha menanggalkan baju atasnya.

“Aihhh...!” Ia mendorong tubuh Wiratama dengan kaget dan meloncat turun, dengan Jari-jari tangan gementar, ia mengancingkan kembali bajunya dan memandang dengan mata terbelalak kepada Wiratama, masih bingung karena separuh semangatnya masih terpengaruh sihir.

“Brakkkkk!” Daun pintu jendela pecah di dobrak dari luar dan sesosok bayangan putih meloncat masuk. Akan tetapi Wiratama yang sudah menguasai hatinya, meloncat dan menyambut dengan tusukan keris pusakanya yang sudah dipersiapkan. Melihat serangan hebat ini, Darmini terpaksa meloncat keluar dari dalam kamar itu.

“Keparat, hendak lari ke mana kau?” bentak Wiratama dengan marah karena ada orang berani menghalangi kesenangannya.

Bagaikan makanan daging lunak hangat, daging itu sudah berada di bibirnya, tinggal menggigit, mengunyah dan menelannya. Akan tetapi tiba-tiba daging kenyal itu direnggut orang. Hati siapa yang tidak menjadi mengkal dan marah? Diapun meloncat keluar dari kamar melakukan pengejaran. Kini Darmini sudah siap. Ruangan di luar kamar itu luas dan lebih leluasa untuk bertanding di situ. Pedang Lian-Hwa-Kiam telah berada di tangannya ketika Wiratama melompat dan berhadapan dengannya. Mereka berdiri saling pandang dibawah sinar lampu-Lampu yang tergantung di sepanjang dinding ruangan itu. Wiratama merasa pernah melihat pemuda yang berpakaian serba putih ini, akan tetapi dia lupa lagi dimana. Memang dia hanya berpapasan saja dengan Darmini keika mengunjungi rumah kediaman Ki Demang Bragolo.

“Babo-babo, keparat yang bosan hidup. Siapa engkau? berani sekali memasuki rumah kami tanpa ijin? Apakah engkau seorang pencuri?” bentak Wiratama, diam-diam terkejut karena dia merasa heran bagaimana ada orang dapat masuk kesitu tanpa diketahui para petugas keamanan yang banyak berjaga di luar dan dalam rumah.

“Wiratama, engkaulah yang jahanam keparat, hendak memperkosa wanita dengan menggunakan ilmu hitam!” bentak Darmini dan tentu saja Bi Kwi mendengar suara mereka. Gadis ini bergidik. Kini iapun sadar sepenuhnya. Ia tidur di kamar Wiratama, dan tadi... Meremang bulu kuduknya teringat betapa ia hampir ditelanjangi oleh Wiratama. Tentu saja ia tahu apa artinya ini dan mendengar suara melengking itu bahwa ia hampir diperkosa dengan pengaruh ilmu sihir, iapun mengerti sepenuhnya.

Ketika ia meloncat keluar kamar, Wiratama telah menyerang pemuda berpakaian putih itu dengan kerisnya. Serangan-serangan Wiratama dahsyat dan amat kuat namun dengan lincahnya Darmini mengelak dengan loncatan ke samping dan pedangnya membalas dengan tusukan dari samping mengarah dada lawan. Melihat gerakan lawan yang cepat itu, diam-diam Wiratama terkejut dan diapun menghindarkan diri dengan tangkisan kerisnya dan cepat ia berteriak memanggil anak buahnya! Tanpa dipanggilpun, para pengawal sudah mendengar keributan itu dan kini belasan orang telah berada di situ,

  

dan melihat majikan mereka bertanding melawan seorang pemuda berpakaian putih, merekapun tanpa diperintah lagi mengepung dan menghujankan serangan dengan parang, tombak dan keris.

Akan tetapi, tanpa merasa gentar sedikitpun juga, Darmini memutar pedangnya menangkis dan terdengar seruan-seruan kaget, ketika beberapa buah parang dan ujung tombak terbabat putus bertemu dengan Lian-Hwa-Kiam. Akan tetapi, belasan orang itu mendesak terus, bahkan kini muncul empat orang tinggi besar yang menjadi kepala pengawal di situ dan memiliki ilmu kepandaian yang paling di antara para perajurit pengawal. Mereka berempat itu memegang senjata ruyung besar yang berat dan kuat dan ketika menangkis ruyung itu, pedang Lian-Hwa-Kiam tidak mampu merusaknya. Sementara itu, melihat betapa si baju putih sudah terkepung rapat, Raden Wiratama merasa lega. Dia sendiri sudah terbebas dari ancaman pemuda berbaju putih yang amat tangguh itu, dan kini dia berteriak-teriak untuk mengerahkan semua pasukan pengawalnya.

“Tangkap dia! Mati atau hidup!” bentaknya berkali-kali dan diapun memanggil Empu Kebondanu yang baru tiba tadi dan kini sedang beristirahat di dalam kamarnya. Empu Kebondanu mendengar keributan dan panggilan itu. Dia keluar dari kamarnya, membawa tongkat bambu gadingnya dan melihat betapa seorang pemuda berpakaian putih dikeroyok oleh belasan orang pengawal yang dipimpin oleh empat orang perwira tinggi besar, diapun melompat dekat dan berseru dengan suara seperti gerengan harimau.

“Mundurlah kalian semua dan biarkan aku menghadapinya!” Melihat munculnya Empu Kebondanu, besarlah rasa hati Wiratama dan diapun berseru agar anak buahnya mundur. Mereka membuat kepungan besar dan membiarkan Kakek berkulit hitam itu menghadapi pemuda berpakaian putih. Kedua orang itu kini saling berhadapan, Darmini berdiri tegak dengan pedang melintang di depan data, sepasang matanya mencorong menatap wajah Empu Kebondanu.

Teringat ia betapa ketika pertama kali mencari guru, ia pernah mengangkat orang ini menjadi gurunya, akan tetapi ia bahkan di dorong ke dalam jurang kehinaan oleh orang ini, disuruh bertapa di dalam guha da seolah-olah dikorbankan menjadi mangsa seorang laki-laki keji yang memakai topeng. Apalagi setelah ia mendengar dari Sridenta tentang Empu Kebondanu, lenyaplah perasaan hormat dari dalam hatinya terhadap pertapa itu. Di lain pihak, Empu Kebondanu terbelalak dengan alis berkerut memandang pemuda berpakaian putih yang berdiri dengan sikap tegak menantang di depannya itu. Seorang pemuda hitam manis yang memiliki sepasang mata lebar dan mencorong, dengan mulut yang indah dan membayangkan kekerasan di balik kelembutan sikapnya. Wajah yang pernah dikenalnya.

“Orang muda ini siapakah dan mengapa ia membikin ribut di sini, Raden?” tanya Empu Kebondanu kepada Raden Wiratama.

“Dia seorang mata-mata, tangkap dan bunuh dia, Paman Empu!” kata Raden Wiratama yang sejak tadi juga memandang wajah Darmini penuh perhatian. Dia tidak pernah bertemu... ah, nanti dulu. Terbayanglah pertemuan selewat saja dengan seorang pemuda pakaian putih di dalam gedung Ki Demang Bragolo! Benarkah pemuda ini yang dilihatnya di rumah demang itu?

“Engkaukah orang yang kulihat berada di rumah Ki Demang Bragolo?” bentak Wiratama dengan penasaran. Ki Demang Bragolo termasuk sekutunya yang boleh dipercaya, tidak mungkin kalau kini dia mengirim orang yang berkepandaian tinggi untuk mematai-matainya!

 “Siapakah andika, anak muda?” Empu Kebondanu juga bertanya.

“Empu Kebondanu, tak perlu aku memperkenalkan diri. Ketahuilah saja bahwa aku selalu menentang kejahatan dan di dalam rumah ini terjadi kejahatan yang besar sekali, kejahatan yang terkutuk! Wiratama ini mempergunakan sihir untuk menguasai seorang gadis dan memperkosanya, karena itu aku datang menentangnya!” Sepasang mata Darmini mencorong dan menantang Kakek itu, sama sekali tidak gentar walaupun Empu Kebondanu memiliki muka yang bengis dan menakutkan. Kulit tubuhnya dari muka sampai ke kaki, hitam arang dan tebal seperti kulit buaya, matanya besar melotot, sikap dan suaranya kasar, dan biarpun usianya sudah enam puluh lima tahun lebih, namun tubuhnya masih nampak Kokok kuat.

“Babo-babo, keparat! Bocah sombong, engkau dan agaknya memang sudah bosa hidup, bersiaplah untuk mampus di ujung tongkatku!”

Kakek itu marah sekali dan cepat menyerang. Tongkat bambu gading di tangannya tergetar dan ketika dia menggerakkan senjata itu, maka lenyaplah bentuk tongkatnya, berubah menjadi sinar kuning yang mengeluarkan suara berdengung dan bercicit ketika dilecutkan ke arah kepala Darmini. Gadis itu maklum bahwa lawannya tentu memiliki kepandaian tinggi, maka ia tidak berani memandang ringan. Cepat ia meloncat ke samping sambil menarik kepalanya ke belakang, menghindarkan lecutan tongkat, dan dari samping ia mengirim tusukan dengan Lian-Hwa-Kiam. Gerakannya tidak kalah cepatnya sehingga Empu Kebondanu terkejut. Tongkatnya digerakkan ke samping untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga, dengan maksud memukul pedang itu dengan kuat agar terlepas dari pegangan tangan lawan.

“Tranggggg...!” Empu Kebondanu terkejut. Pedang lawan bukan terpental lepas, bahkan dia sendiri merasa betapa tongkatnya terguncang hebat setelah bertemu pedang dan kini pedang lawan sudah berkelebat lagi, menjadi sinar menyambar ke arah kepalanya.

“Auuuummmm...!” Tiba-tiba Kakek itu mengeluarkan suara mengaum garang sehingga menggetarkan semua orang yang berada di situ, dan ketika tongkat bambu kuningnya menangkis, tongkat itu menempel pada pedang! Darmini terkejut sekali karena ketika ia berusaha menarik kembali pedangnya, pedang itu telah melekat pada tongkat lawan dan pada saat itu, tangan kiri Kakek itu sudah mencengkeram ke arah kepalanya! Darmini terkejut dan cepat mengerahkan tenaga Bayu sakti untuk menangkis dengan tangan kirinya pula, menyerong ke kanan.

“Dukkk...!” Kembali Empu Kebondanu terkejut, apa lagi melihat betapa pukulan atau cengkeraman tangan kirinya yang amat kuat tadi hanya mampu membuat kain pengikat rambut dan penutup kepala pemuda itu putus terlepas dan kini terurailah rambut yang panjang hitam dan halus sampai ke pinggul! Kiranya pemuda berpakaian putih itu seorang wanita dan Empu Kebondanu segera teringat.

“Ah, kiranya engkau!” bentaknya dan diapun agak gentar karena tahu bahwa gadis yang pernah minta menjadi muridnya itu telah menjadi murid Panembahan Ganggamurti yang bertapa di puncak Bromo. Hal inipun dibuktikan dengan ampuhnya tenaga Bayu sakti yang dipergunakan gadis itu ketika menangkisnya tadi.

“Dia seorang wanita...!” Raden Wiratama berseru kaget dan kini diapun maju bersama para anak buahnya untuk memperketat kepungan.

 “Tangkap gadis ini! Tangkap hidup-hidup, Paman Empu!” Darmini dikeroyok. Biarpun gadis itu tidak merasa gentar dan dengan rambut terurai panjang ia memutar pedang Lian-Hwa-Kiam untuk melindungi dirinya, namun menghadapi pengeroyokan orang-orang yang berilmu tinggi tentu saja ia mulai terdesak. Sementara itu, sejak tadi Bi Kwi bengong saja. Ia masih merasa terlalu kaget dan ngeri. Tak disangkanya sama sekali bahwa Raden Wiratama yang amat baik terhadap ia dan Kwee Lok itu ternyata adalah seorang laki-laki keji yang memiliki niat kotor terhadap dirinya. Jelaslah bahwa orang itu sudah lama mengetahui bahwa ia seorang wanita dan seperti seekor laba-laba yang memasang perangkap dengan sarangnya untuk menjebak seekor lalat,

Selama ini mengatur siasat untuk menguasai dirinya. Ia bergidik kalau teringat betapa hampir saja ia celaka! Ia sudah berada di bawah pengaruh sihir. Baru saat ini terbuka matanya dan ia selamat. Semua ini berkat pertolongan gadis yang menyamar pria berpakaian putih itu. Saking heran, kaget dan ngerinya, Bi Kwi hanya bengong terlongong menonton Darmini dikeroyok. Barulah ketika rambut gadis itu terlepas dan terurai, dan terutama sekali melihat pedang Lian-Hwa-Kiam, ia merasa yakin siapa adanya gadis perkasa itu dan jantungnya berdebar penuh keharuan. Darmini! Kekasih mendiang Kakaknya, tunangan atau calon isterinya! Calon Kakak iparnya, sekarang telah menjadi seorang gadis perkasa yang menyamar pria seperti dirinya sendiri!

“Mbak-Ayu, jangan khawatir, aku membantumu. Mari kita basmi tikus-tikus busuk ini!” tiba-tiba Bi Kwi yang seperti baru sadar dari mimpi buruk, telah meloncat dan menerjang para pengeroyok itu,

Menggerakkan pedang Liong-Cu-Kiam yang mengeluarkan gulungan sinar putih seperti perak! Terdengar jeritan kesakitan dan dua orang perajurit pengawal roboh mandi darah. Pengepungan atas diri Darmini menjadi kacau dan dengan mudah Bi Kwi sudah dapat membobolkan kepungan, masuk ke dalam dan sambil membelakangi punggung Darmini ia menjaga pengeroyok yang berada di belakang Darmini. Dua batang pedang mereka di putar membentuk payung yang amat kuat, dan dari gulungan sinar itu kadang- kadang mencuat sinar tajam yang merobohkan setiap orang pengeroyok yang terlalu dekat atau lengah. Melihat majunya Bi Kwi yang membantunya, dan mendapat sebutan “Mbak-Ayu,” Darmini merasa terharu sekali akan tetapi juga gembira.

Adik Ong Cun ini adalah seorang gadis yang perkasa dan cerdik, dan untunglah bahwa ia berhasil menyelamatkan adik kandung kekasihnya itu dari bencana yang bagi seorang gadis merupakan malapetaka yang dapat menghancurkan kehidupannya. Iapun merasa khawatir. Biarpun Bi Kwi tangguh dan ia sendiripun dapat membela diri, namun mereka tetap berada di dalam gedung seorang bangsawan tinggi yang tentu akan mampu mengerahkan pasukan yang lebih banyak lagi, dan belum lagi bermunculan orang-orang sakti yang tentu banyak dimiliki Raden Wiratama sebagai pembantunya. Apalagi kalau muncul Walet Hitam yang sudah ia ketahui ketangguhannya, dapat membuat mereka berdua terancam bahaya. Ia datang bukan untuk berkelahi dengan golongan Wiratama, melainkan untuk menolong Bi Kwi.

“Adik Bi Kwi, mari kita pergi saja!” katanya sambil memutar pedangnya. Bwi Kwi juga bukan seorang bodoh. Ia tahu betapa besar bahayanya kalau melanjutkan perkelahian di tempat itu. Ia harus pergi dari Wiratama yang ternyata jahat sekali itu. Tentang Kakak angkatnya, atau Kakak misannya Kwee Lok, terserah. Kakaknya itu agaknya sudah gila judi dan sudah terjatuh ke dalam cengkeraman Wiratama dan kawan-kawannya. Dan sikap Kakaknya tadipun menunjukkan bahwa Kakaknya tidak perduli lagi padanya. Baiklah, ia akan mengambil jalan sendiri mencari pembunuh Kakaknya, dan kebetulan sekali kini ia bertemu dengan kekasih Kakak kandungnya yang sudah menjadi seorang wanita perkasa pula. Ia

 mengerti ajakan Darmini. Dan memang sebaiknya kalau melarikan diri sebelum Wiratama berhasil mendatangkan bala bantuan.

“Baik, Mbak-Ayu, mari kita pergi!” katanya dan gadis inipun memutar pedangnya yang membuat para pengeroyoknya silau dan gentar. Kedua orang gadis itu dipimpin oleh Darmini lalu meloncat ke luar ruangan, dan terus berloncatan melalui pagar tembok.

“Kejar! Tangkap mereka!” Wiratama membentak marah. Empu Kebondanu dan para pengawal melakukan pengejaran, namun Kakek hitam itupun maklum bahwa dia berhadapan dengan dua orang gadis yang tidak boleh dipandang ringan. Melawan seorang diantara mereka saja, belum tentu dia akan dapat memperoleh kemenangan dengan mudah. Pedang mereka itu benar-benar sukar dilawan. Karena itu, melihat bahwa dia tidak mempunyai teman yang boleh diandalkan, Empu Kebondanu hanya setengah hati melakukan pengejaran, tidak

berani mendahului para pengawal karena dia seorang diri merasa gentar kalau harus melawan dua orang gadis itu. Pengejaran itupun gagal dan Raden Wiratama menjadi kesal dan mengkal hatinya. Kemarahannya diluapkannya kepada Ki Demang Bragolo yang dipanggilnya menghadap malam itu juga ke dalam gedungnya. Dengan rambut kusut dan pakaian tidak rapi, Ki Demang Bragolo menghadap Raden Wiratama yang menjadi atasannya dalam gerakan menentang keluarga Majapahit. Dia merasa heran dan terkejut menerima panggilan tengah malam buta seperti itu dan lebih khawatir lagi hatinya ketika ia melihat Raden Wiratama duduk menantinya dengan alis berkerut dan sikap marah. Keheranannya bertambah ketika dia melihat Empu Kebondanu berada pula di ruangan itu, menemani Raden Wiratama.

“Ah, kiranya Kakang Empu Kebondanu juga sudah berada di sini. Kapankah Kakang Empu datang?” katanya sambil memberi hormat.

“Aku baru saja datang sore tadi, adi Bragolo,” jawab Empu Kebondanu.

“Demang Bragolo!” Raden Wiratama sudah membentak marah. Hatinya memang penuh kekecewaan dan kemarahan. Daging segar lunak yang sudah diujung bibirnya, tinggal mengunyah dan menelan, tergelincir lepas! Bi Kwi telah dapat melarikan diri, dan tentu tidak akan sudi lagi tinggal di rumahnya, dan semua ini gara-gara gadis yang menyamar sebagai pemuda berpakaian putih yang dia dapat menduga siapa orangnya!

“Bagus sekali perbuatanmu, ya!” Tentu saja Ki Demang Bragolo terkejut dan dia memandang sambil mengerutkan alisnya.

“Raden, apakah artinya kemarahan padaku ini?”

“Engkau masih pura-pura? Demang Brogolo lupakah engkau apa yang kau ceritakan kepadaku tadi pagi tentang anak tirimu yang bernama Darmini itu? Engkau menceritakan bahwa ia telah menjadi gila dan berkeliaran di Pegunungan Bromo, benarkah demikian?” Wiratama mengamati wajah bawahannya itu dengan penuh selidik. Ki Demang Bragolo mengela napas panjang.

“Memang tidak sepenuhnya demikian, Raden. Akan tetapi, ia sudah saya anggap gila semenjak ia pergi mencari guru di Pegunungan Bromo. Bahkan, ketika ia berangkat, ia bermaksud untuk berguru kepada Kakang Empu Kebondanu dan saya tidak tahu apa jadinya dengan maksudnya berguru itu. Tiba-tiba saja  

ia muncul di rumah saya dan ia marah kepada saya karena urusan Ibunya. Baru saja ia tiba dan sedang bicara dengan saya paduka datang bersama pemuda Cina itu, dan iapun pergi lagi. Karena itu, ketika ditanya oleh pemuda adik Ong Cun itu, saya katakan saja bahwa Darmini telah menjadi gila. Sungguh saya tidak tahu mengapa kini tahu-tahu paduka marah kepada saya...”

“Engkau mau tahu? Ataukah pura-pura tidak tahu? Baru saja puterimu yang kau katakan gila itu datang mengacau di sini, tentu ia mematai-matai kami dan siapa lagi kalau bukan engkau yang mengutusnya? Engkau menjadi pengkhianat, ya?” Sepasang mata Ki Demang Bragolo terbelalak dan mukanya berubah pucat, kedua tangannya mengepal tinju.