--> -->

Kilat Pedang Membela Cinta Jilid 5

Jilid 5

Di atas pintu menancap sebatang pisau yang runcing, akan tetapi ada sehelai kertas yang tertusuk pisau itu. Kiranya bukan orang menyerang mereka, melainkan mengirim surat dengan lontaran pisau! Kwee Lok mencabut pisau itu dan mengambil kertasnya. Dia sudah mempelajari bahasa daerah berikut tulisannya, bahkan selama dalam pelayaran, Bi Kwi juga belajar darinya sehingga kini gadis itupun sudah pandai bicara bahasa daerah, bahkan dapat juga ikut membaca surat itu. Kakak beradik itu tidak tergesa- gesa membaca surat, melainkan meniliti keadaan pisau dan surat di ruangan dalam, dibawah sinar lampu yang mereka nyalakan. Sebatang pisau belati yang baik, memang enak dipergunakan untuk disambitkan, dengan timbangan yang lebih berat pada mata pisau daripada gagang. Surat itu dari kertas tebal, ditulis dengan huruf yang buruk dan besar-besar, namun mudah dibaca.

“Kalau kalian ingin tahu tentang keluarga Demang Bragolo, datanglah ke Majapahit dan menghadap Raden Wiratama. Dia mengetahui segala!

Dari seorang sahabat.”

“Toako, sungguh aneh sekali orang ini. Engkau yang pernah berada disini lima tahun yang lalu tentu mengenalnya.”

“Bagaimana aku dapat mengenalnya, Kwi-moi? Dia bertindak demikian rahasia. Sudah kukatakan, disini terdapat banyak sekali orang sakti yang memiliki kepandaian aneh. Tentu dia seorang sakti yang hendak menolong kita.

“Akan tetapi siapakah Raden Wiratama itu?”

“Aku sendiripun belum pernah mengenalnya, akan tetapi dia memakai gelar bangsawan, tentu seorang bangsawan di Kotaraja. Penulis surat itu tahu bahwa kita mencari keluarga Demang Bragolo, tentu dia seorang pandai, dan agaknya dia hendak membantu kita.”

“Kalau seorang sahabat yang hendak membantu, kenapa harus bersikap seperti itu?” tanya Bi Kwi meragu. “Perbuatannya mengirim surat ini bahkan patut dicurigai.”

“Ah, bagaimana juga, dia telah memberi petunjuk, bukan? Sudahlah, kita mengaso dan besok pagi kita berangkat ke Majapahit. Kita kunjungi Raden Wiratama itu, siapa tahu dia bisa memberi petunjuk lebih banyak, untuk kepentingan penyelidikan kita.”

 Ketika mereka tiba di Kotaraja Majapahit, Bi Kwi tetap mendesak Kakaknya untuk lebih dulu menyelidiki sendiri dimana adanya Ki Demang Bragolo, sebelum memenuhi bunyi surat gelap itu. Akhirnya mereka mendapat keterangan bahwa Ki Demang Bragolo kini telah naik pangkat dan tinggal di sebuah gedung yang besar di dalam Kotaraja. Dia memperoleh kenaikan pangkat karena telah berhasil menumpas gerombolan yang mengadakan kekacauan di perbatasan Majapahit dan Lumajang.

Berdebar rasa hati Bi Kwi penuh ketegangan ketika ia bersama Kakak angkatnya memasuki halaman gedung besar itu. Ia akan berjumpa dengan Darmini, kekasih mendiang Ong Cun, Kakak kandungnya! Akan tetapi ada pula kekhawatiran dalam hatinya. Bagaimana kalau benar dugaan Kwee Lok bahwa gadis cantik yang sedianya menjadi Kakak iparnya itu telah menikah dengan orang lain dan sudah tidak lagi tinggal di gedung itu? Setidaknya, ia akan dapat bertemu dengan Ki Demang Bragolo dan isterinya dan mungkin dari mereka ia akan mendapat beberapa keterangan tentang kematian Kakak kandungnya. Akan tetapi, hatinya kecewa ketika muncul beberapa orang perajurit penjaga di halaman itu dan mereka mendapat keterangan bahwa Ki Demang Bragolo sedang tidak berada di rumah!

“Kami adalah sahabat baik keluarga beliau. Kalau Ki Demang tidak berada di rumah, kami ingin berjumpa dengan Nyi Demang dan dengan nona Darmini,” kata Kwee Lok. Empat orang perajurit itu mengerutkan alis dan memandang dengan sinar mata tidak senang.

“Hanya Ki Demang yang dapat memberi ijin orang luar bertemu dengan keluarga beliau! Apalagi kalian ini orang-orang asing, sama sekali tidak boleh masuk!”

“Tapi… tapi, lima tahun yang lalu adalah seorang sahabat baiknya dan setiap waktu boleh datang berkunjung!” Kwee Lok membantah.

“Sudahlah, kalian tidak boleh masuk. Tinggalkan saja nama kalian dan kami akan melapor kalau Ki Demang sudah pulang,”kata kepala penjaga.

“Katakan saja bahwa kami adalah Kwee Lok dan adik Ong Cun yang datang berkunjung. Besok pagi kami datang lagi.” Terpaksa Kwee Lok dan Bi Kwi keluar dari halaman gedung itu. Mereka tidak kembali ke rumah pondok dulu, melainkan melakukan penyelidikan tentang keluarga Ki Demang Bragolo. Terkejutlah hati Kwee Lok dan Bi Kwi ketika mendengar keterangan bahwa Nyi Demang yang tua tidak lagi tinggal disitu, juga di gedung itu tidak ada gadis yang bernama Darmini. Dengan hati penasaran mereka pada keesokan harinya pagi-pagi sudah berada lagi di halaman gedung Ki Demang Bragolo. Akan tetapi apa jawaban para penjaga? Dengan tombak ditodongkan, para penjaga menolak mereka masuk.

“Sudah kami laporkan dan Ki Demang Bragolo tidak sempat menerima kalian, katanya tidak mempunyai urusan apapun dengan kalian dan beliau sedang sibuk.” Biarpun penasaran sekali, terpaksa Kwee Lok dan Bi Kwi keluar lagi dari halaman itu. Diam-diam Bi Kwi merasa penasaran sekali. Bagaimana mungkin Kakak kandungnya dahulu memilih seorang gadis dari keluarga yang tidak menyenangkan itu? Keluarga bangsawan yang sombong!

“Sebaiknya kita pergi mencari Raden Wiratama seperti yang dianjurkan oleh pengirim surat gelap. Siapa tahu ada keterangan yang penting bagi kita disana.”

“Baik, Toako. Akan tetapi kalau kita tidak mendapatkan keterangan penting, malam nanti aku akan menyeludup dan memasuki gedung Ki Demang Bragolo, akan kupaksa mereka memberi keterangan kepadaku tentang Darmini. Aku harus bertemu dengan Darmini!” Kwee Lok hanya mengangguk, maklum akan kekerasan hati adik angkatnya itu, dan mereka lalu mulai mencari keterangan tentang Raden Wiratama. Tidak sukar menemukan alamat bangsawan ini dan mereka berdua kagum ketika mereka memasuki halaman rumah gedung yang lebih besar dan lebih megah dibandingkan gedung tempat tinggal ki Demang Bragolo. Berbeda dari para penjaga di rumah Ki Demang, para perajurit penjaga di halaman gedung ini menyambut mereka dengan Ramah ketika memperkenalkan nama dan minta bertemu dengan Raden Wiratama. Tentu saja para perajurit ini sebelumnya sudah dipesan oleh Raden Wiratama yang mengharapkan munculnya Kakak beradik itu seperti yang dijanjikan oleh Walet Hitam kepadanya.

“Silahkan masuk dan menunggu di ruangan tamu.” kata kepala jaga dengan sikap Ramah.

“Raden Wiratama kebetulan berada di rumah dan beliau adalah seorang priyayi agung yang bijaksana dan budiman disamping kaya raya, selalu menerima segala macam tamu dengan kehormatan. Silahkan masuk.”

Tentu saja hati Kwee Lok dan Bi Kwi merasa senang dan lega mendapatkan sambutan seperti itu setelah mereka dikecewakan oleh penyambutan di halaman gedung Ki Demang Bragolo. Sekarang mereka menemukan seorang bangsawan yang baik hati dan bijaksana! Mereka diantar masuk dan menanti di ruangan tamu yang cukup lebar dan bersih Tak lama kemudian, kepala jaga muncul dan mereka dipersilahkan masuk karena Raden Wiratama menanti mereka di ruangan dalam. Kakak beradik itu mengagumi prabot-prabot rumah yang serba terukir indah terbuat dari kayu jati yang mahal, pot-pot yang kuno dan mewah. Mereka diantar ke sebuah ruangan yang luas dan indah sekali dimana terdapat meja, kursi ukiran-ukiran dan disitu telah duduk menanti seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun yang berpakaian mewah.

Bi Kwi memandang penuh perhatian dan selidik. Laki-laki itu berpakaian indah dan tubuhnya jangkung kurus, pipinya kempot dan ketika tersenyum berdiri nampak giginya mengkilat hitam karena sirih kinang, mukanya licin tanpa kumis atau jenggot dan matanya yang besar sebelah itu mengeluarkan sinar mencorong yang aneh. Begitu memandang, timbul perasaan tidak enak dan tidak suka kepada laki-laki itu, terutama sinar mata laki-laki itu seolah-olah menggerayangi seluruh tubuhnya, seolah-olah menelanjangi pakaian dari tubuhnya. Diam-diam Bi Kwi bergidik, merasa ngeri terhadap orang itu. Akan tetapi Raden Wiratama yang sudah bangkit berdiri dan tersenyum itu mengulurkan tangan mengajak bersalaman dengan sikap Ramah sekali.

“Selamat datang di rumah kami.” Katanya sambil menyalami mereka berdua. “Silahkan duduk dan siapakah andika berdua? Kalau tidak salah, andika berdua tentulah Bangsa Cina, bukan?”

“Benar,” jawab Kwee Lok. “Kami adalah orang-orang Cina.”

“Ha-ha, banyak sudah kenalanku orang-orang Cina, pedagang-pedagang di pesisir utara.” “Kami adalah Kakak beradik yang baru saja datang dari Tiongkok...”

“Hebat! Baru datang akan tetapi sudah begini pandai berbahasa daerah.”

“Saya sendiri pernah datang ke sini lima tahun yang lalu dan saya mempelajari bahasa daerah, juga adik saya ini telah mempelajarinya. Nama saya Kwee Lok dan ini adalah adik saya bernama Ong Bi Kwi.” “Saya senang sekali berkenalan dengan kalian.” Kata Raden Wiratama sambil tiada hentinya memandang wajah Bi Kwi, juga sinar matanya menyusuri seluruh tubuh gadis berpakaian pria itu. Matanya yang berpengalaman tentang wanita itu berkilat, tanda bahwa hatinya berkenan sekali, karena dia tahu bahwa wanita muda yang berpakaian pria ini adalah seorang wanita yang selain memiliki wajah cantik jelita, kulitnya halus, juga bentuk tubuhnya padat dan ramping menggairahkan. Penyamaran itu tidak dapat menyembunyikan kecantikannya dan kini nampak seperti seorang pria yang amat tampan!

“Bagaimana kalian dapat mengenal namaku!”

“Kami sedang kebingungan mencari seorang kenalan lama yang pindah dari Lumajang ke Majapahit. Kami sudah menemukan rumahnya akan tetapi sukar untuk dapat bertemu dengan orangnya. Selagi kami kehilangan akal, kami menerima pemberitahuan seorang teman agar kami datang menghadap Raden Wiratama dan minta petunjuk.” Bangsawan itu tersenyum lebar, memperlihatkan barisan gigi yang hitam mengkilap. Bi Kwi bergidik melihat gigi itu, akan tetapi karena ingin mendapatkan keterangan, iapun memandang wajah orang itu dengan penuh harap. Tahulah Raden Wiratama bahwa itu adalah akal dari Walet Hitam untuk memancing Kakak beradik itu datang kepadanya dan diam-diam dia merasa girang sekali.

“Siapapun juga adanya sahabatmu itu, dia benar. Tidak ada orang yang tidak kukenal di Majapahit ini. Siapakah orang yang sedang kalian cari itu?” Sebetulnya hati Bi Kwi masih meragu untuk mengaku sejujurnya kepada seorang laki-laki yang mendatangkan perasaan tidak senang dan curiga di dalam hatinya itu, akan tetapi Kwee Lok telah menjawab,

“Kami mencari keluarga Ki Demang Bragolo. Kami sudah menemukan rumahnya, akan tetapi para penjaganya mengatakan bahwa ia tidak mau menerima kami. Sungguh penasaran sekali! Padahal, lima tahun yang lalu, saya merupakan seorang sahabat baik keluarga itu!”

“Ah, Ki Demang Bragolo! Saya mengenalnya dengan baik dan jangan khawatir, kalau hanya hendak bertemu dengan dia, tentu saja saya dapat membantu kalian.” Mendengar jawaban ini, hati Bi Kwi merasa girang sekali dan berkuranglah perasaan tidak senang terhadap tuan rumah itu.

“Sebetulnya saya ingin sekali bertemu dengan puterinya yang bernama Darmini...” Raden Wiratama menatap wajah Bi Kwi dan senyumnya melebar.

“Darmini? Ah, benar, puteri tunggal keluarga Ki Demang! Sungguh kasihan sekali, ia amat menderita semenjak tunangannya terbunuh. Tunangannya itu juga seorang Bangsa Cina. Seorang yang amat baik, akan tetapi sayang, menjadi korban pembunuhan kejam sehingga gadis itu merana dan kabarnya bahkan meninggalkan rumahnya.” Tentu saja Kwee Lok dan Bi kwi semakin tertarik. Agaknya benar isi surat orang rahasia yang menyambitkan pisau itu. Raden Wiratama ini tahu banyak akan hal yang sedang mereka selidiki.

“Ah, ia telah pergi meninggalkan rumah? Ke manakah?” Bi Kwi bertanya dengan hati tertarik.

“Hal itu tidak diketahui orang. Akan tetapi semenjak tunangannya dibunuh orang, ia telah pergi meninggalkan rumah dan sampai kini tidak ada beritanya lagi. Mungkin ia merasa sangat sakit hati terhadap pembunuh tunangannya. Ah, kalau saja ia mau mencari keterangan kepada saya, mungkin

 saya dapat membantunya menemukan pembunuh tunangannya itu.” Mendengar ini, Bi Kwi bangkit dari tempat duduknya dan dengan wajah berseri ia bertanya,

“Siapakah pembunuhnya?” Melihat sikap adik angkatnya yang tergesa-gesa sehingga seolah-olah mendesak tuan rumah, Kwee Lok merasa tidak enak, khawatir kalau-kalau tuan rumah tersinggung. Maka dia memberi isarat kepada Bi Kwi agar bersabar dan duduk kembali, kemudian dia menghadapi Raden Wiratama dengan sikap Ramah.

“Maafkan kelancangan adik saya, akan tetapi ia dan saya memang ingin sekali mengetahui keterangan Raden tentang pembunuhan itu.” Raden Wiratama yang sudah mendapat keterangan dari Walet Hitam, tentu saja tidak merasa kurang senang. Dia sudah tahu bahwa gadis yang menyamar pria ini adalah adik kandung dari tunangan Darmini yang terbunuh. Akan tetapi tentu saja dia pura-pura tidak tahu, dan sengaja memandang dengan sikap curiga.

“Siapakah sebenarnya andika berdua ini dan mengapa ingin tahu tentang pembunuhan tunangan Darmini itu?” Kwee Lok menjawab,

“Sesungguhnya, Raden, kami mencari Ki Demang Bragolo juga ada hubungannya dengan perkara pembunuhan atas diri tunangan Darmini itu. Ketahuilah bahwa saya adalah adik seperguruan dari Ong Cun, tunangan Darmini itu, dan adik Ong Bi Kwi ini adalah adik kandung Ong Cun.” Raden Wiratama mengangguk-angguk dan berpura-pura tidak tahu bahwa yang bernama Ong Bi Kwi adalah seorang wanita, apalagi melihat bahwa dua orang tamunya itu tidak membuka rahasia penyamaran itu.

“Ah, jadi kiranya tuan muda ini hendak mencari pembunuh Kakak kandungnya?” tanyanya sambil memandang wajah Bi Kwi dengan tajam dan penuh selidik.

“Benar,” jawab Bi Kwi, kini dapat menguasai dirinya, walaupun ia merasa tegang dan kini, setelah ia melihat harapan unuk mengetahui siapa pembunuh Kakaknya, wajah tuan rumah itu tidaklah begitu menyeramkan lagi.

“Saya ingin sekali mengetahui siapa pembunuh Kakak saya dan mengapa Kakak saya dibunuh.” Raden Wiratama mengangguk-angguk.

“Saya sudah mendengar tentang pembunuhan itu dan memang tidak ada saksi sehingga tidak dapat dibuktikan siapa pembunuhnya. Akan tetapi, dengan melihat keadaan dan persoalannya, saya dapat menarik kesimpulan siapa-siapa kiranya yang dapat dicurigai melakukan pembunuhan itu. Akan tetapi sebelum saya menguraikan hal itu, marilah kita makan dulu, bersama sebagai penghormatan kami terhadap tamu-tamu yang kami hormati.” Kakak beradik itu saling pandang dan merasa tidak enak hati.

“Ah, Raden Wiratama, kami tidak ingin merepotkanmu. Kami diterima di sini dan hendak diberi penjelasan saja sudah amat berterima kasih. Kalau Raden hendak makan dulu, silahkan, kami akan menunggu,” kata Kwee Lok dan Bi Kwi mengangguk menyetujui ucapan Kakaknya itu. Akan tetapi tuan rumah mengerutkan alisnya.

“Ah, jangan begitu! Undangan makan ini merupakan jamuan dari tuan rumah kepada tamunya, kalian tidak dapat menolak. Mari, jangan sungkan karena setelah bercakap-cakap seperti ini, di antara kita sudah ada hubungan persahabatan, bukan?”

 Tuan rumah bangkit berdiri dan kini kedua orang muda itu tidak dapat menolak lagi, merasa tidak enak hati kalau menolak dan merekapun ikut berdiri dan mengikuti tuan rumah menuju keruangan dalam, yaitu ruangan makan di mana telah tersedia makanan dan minuman di atas meja. Dua orang tamu itu lalu dipersilahkan duduk dan diajak makan minum oleh Raden Wiratama, dilayani oleh gadis-gadis pelayan yang cantik-cantik. Kakak beradik itu tidak tahu bahwa betapa ketika tuan rumah mengajak mereka minum untuk pernyataan selamat datang, ketika mereka minum, Raden Wiratama mengarahkan pandang matanya kepada Bi Kwi dan mulutnya berkemak-kemik, sepasang mata yang besar sebelah itu tiba-tiba mencorong aneh.

Kwee Lok agaknya tidak merasakan sesuatu, akan tetapi Bi Kwi merasa ada hal aneh terjadi pada dirinya ketika ia minum. Ketika ia mengangkat muka memandang kepada tuan rumah, ia merasa betapa tuan rumah sama sekali bukan seorang yang tidak menyenangkan hatinya. Sebaliknya malah, tuan rumah kelihatan demikian baik hati, demikian Ramah, bahkan menarik! Mereka makan minum dan Kwee Lok beberapa kali memuji kebaikan hati tuan rumah yang sudah menjamu mereka dengan hidangan yang mewah. Tak lama kemudian mereka kembali duduk di ruangan tadi. Kakak beradik itu sudah siap mendengarkan keterangan Raden Wiratama. Tuan rumah agaknya maklum akan hal itu dan diapun berkata dengan suara tenang,

“Ketika saya mendengar akan pembunuhan atas diri Ong Cun tunangan Darmini itu, sudah timbul dugaan dalam hatiku siapa yang kiranya patut dicurigai. Saya mendengar bahwa pernah ada orang yang mengajukan pinangan kepada puteri Ki Demang Bragolo, akan tetapi pinangan itu ditolak karena Darmini telah bertunangan dengan Ong Cun. Beberapa hari setelah penolakan itu lalu terjadilah pembunuhan atas diri tunangan Darmini. Tentu saja hal ini mencurigakan sekali, apa lagi kalau diingat bahwa peminang yang ditolak itu adalah orang yang memiliki kedudukan tinggi dan juga mempunyai banyak kaki tangan yang pandai, terkenal pula sebagai seorang laki-laki yang suka mengganggu wanita. Atas dasar itulah saya berpendapat bahwa besar sekali kemungkinan pembunuhnya adalah orang itu.”

“Siapakah orang itu, Raden?” tanya Kwee Lok, ingin sekali tahu dan Bi Kwi yang masih merasa aneh itu tidak berkata-kata, namun juga ingin sekali mengetahui siapa orang yang dicurigai membunuh Kakaknya.

“Dia bernama Raden Panji Sarono, putera dari Empu Tanding yang memiliki kedudukan tinggi, pernah menjadi penguasa di Lumajang setelah Lumajang ditundukkan oleh Majapahit.” Mendengar disebutnya nama itu, Kwee Lok kelihatan tertarik sekali.

“Raden Wiratama, apakah yang bernama Panji Sarono itu orangnya tegap, gagah dan tampan, dengan kumis tipis, sedangkan Empu Tanding itu orangnya angkuh, rambutnya putih, membawa sebatang tongkat ular hitam...?” Tuan rumah itu berseru,

“Benar sekali! Jadi engkau telah mengenal mereka?” Kwee Lok menggeleng kepalanya. “Pernah saya melihat mereka satu kali di taman keluarga Ki Demang…”

“Ah, dia itu yang kau ceritakan memandang kepada Cun-Koko dengan sinar mata penuh kebencian itu, Toako?” Bi Kwi bertanya dan Kwee Lok mengangguk.

“Di mana rumah mereka, Raden?” Kami harus segera menyelidiki ke sana!” kata Kwee Lok.

 “Benar, akupun ingin segera menyelidiki mereka. Kalau benar mereka itu pembunuh Kakakku...” Sambung Bi Kwi sambil mengepal tinju.

“Harap kalian bersikap tenang,” kata Raden Wiratama dan sikapnya kini berubah, masih Ramah akan tetapi juga berwibawa. “Tidak boleh bersikap sembrono, karena ketahuilah bahwa Empu Tanding dan putera-puteranya bukanlah orang-orang lemah dan tempat tinggal mereka terjaga dengan ketat. Kalian dapat menemui bencana kalau bersikap gegabah. Pula, kita hanya curiga saja kepada mereka dan belum ada buktinya bahwa merekalah yang membunuh Ong Cun. Lebih baik kalau kita yang juga menyelidiki dari keluarga Ki Demang Bragolo, karena tentu mereka dapat bercerita lebih jelas lagi. Besar kemungkinan dari mereka, terutama dari Darmini, kita akan dapat memperoleh keterangan yang lebih jelas.”

“Akan tetapi, kami tidak dapat menemui mereka...” bantah Kwee Lok.

“Saya dapat mengaturnya,” kata Raden Wiratama. “Kalian berdua dengarlah baik-baik. Di antara kita terdapat suatu pertalian kepentingan. Lima tahun yang lalu, rombongan Bangsa Cina yang berada di Lumajang, secara terang-terangan atau diam-diam, telah terlibat dalam perang melawan Majapahit.

“Kami adalah keluarga Sang Adipati Wirabumi yang tidak akan tinggal diam saja melihat kekalahan Lumajang. Ong Cun merupakan seorang di antara rombongan itu, maka kematiannya harus pula kami selidiki dan kalau perlu pelaku pembunuhan itu kami hukum. Sekarang, sebaiknya kita bekerja sama. Kamipun memusuhi keluarga Empu Tanding, yang menjadi kaki tangan Kerajaan Majapahit, orang-orang yang setia dan memusuhi keluarga Adipati Wirabumi. Sebaiknya sekarang kita menyelidiki keadaan keluarga Empu Tanding malam ini, dan saya akan mengajak saudara Ong Bi Kwi untuk pergi mengunjungi keluarga Ki Demang Bragolo.

“Kalau saya yang datang, tentu mereka tidak akan menolaknya, karena mereka adalah kenalan baik saya.” Kwee Lok mengerutkan alisnya, seperti orang yang tidak setuju.

“Akan tetapi, maafkan kami, Raden Wiratama. Kami berdua mempunyai tugas pribadi sendiri untuk membalas kematian Kakak kami Ong Cun, kami tidak sempat melibatkan diri dalam urusan permusuhan antara keluarga Lumajang dan pemerintah Majapahit.” Raden Wiratama teringat akan pesan si Walet Hitam, maka dia memandang wajah Kwee Lok dan berkata dengan nada serius,

“Saudara Kwee Lok, bukan kami hendak melibatkan kalian berdua dengan urusan kami, melainkan kepentingan kami dengan kepentingan kalian memang berkaitan. Aku membantu kalian mencari pembunuh Ong Cun, maka sudah sepatutnya kalau kalian juga membantu kami, bukan? Dan kamipun bukan orang yang tidak tahu terima kasih! Tunggu sebentar!” Tuan rumah itu lalu meninggalkan dua orang tamunya, pergi ke dalam.

“Toako, kenapa engkau berkata demikian? Aku mempunyai harapan besar untuk dapat menemukan pembunuh Cun-Koko, dengan bantuannya. Kita harus bersikap baik terhadapnya...” Bi Kwi tidak melanjutkan kata-katanya karena tuan rumah sudah keluar lagi membawa sebuah keris dalam warangkanya yang terukir indah. Dia menaruh keris itu di atas meja, di depan Kwee Lok.

“Saudara Kwee Lok, pernahkah engkau melihat keris seindah ini?” Kwee Lok mengambil keris itu dan mengamati. Matanya bersinar-sinar penuh kagum ketika dia melihat betapa warangka dan gagang keris itu terbuat dari lapisan emas murni dengan hiasan permata yang besar-besar! Dan ketika ia mencabut kerisnya, ternyata keris itupun merupakan sebuah senjata yang kuno dan ampuh. Sebatang keris pusaka yang amat indah dan tentu amat mahal harganya! Bi Kwi yang melihat dari samping, diam-diam merasa heran melihat wajah Kakak angkatnya itu berseri dan matanya bersinar-sinar seperti itu. Belum pernah ia melihat wajah Kakak angkatnya seperti itu.

“Keris hebat! Indah sekali dan tentu langka dan amat berharga,” kata Kwee Lok tanpa mengalihkan pandang matanya dari senjata yang indah itu.

“Tentu saja amat langka dan berharga, saudara Kwee Lok, karena senjata ini merupakan sebuah di antara pusaka-pusaka peninggalan Blambangan! Masih banyak yang lebih berharga lagi dan sebagai tanda persahabatan kita, kuberikan keris ini kepadamu.” Sepasang mata Kwee Lok terbelalak.

“Apa...? Be... Benarkah?” Raden Wiratama tersenyum.

“Tentu saja benar. Ambillah, keris pusaka ini kuberikan kepadamu. Dan kalau ternyata saudara menguntungkan bagi gerakan kami, masih banyak barang indah yang akan saya hadiahkan kepadamu.”

“Ah, terima kasih, Raden, terima kasih...!” Kwee Lok mengelus keris itu dengan girang bukan main. Bi Kwi merasa heran melihat sikap Kakak angkatnya, akan tetapi ia juga tersenyum memandang kepada tuan rumah yang kini dianggapnya sebagai orang yang amat baik hati dan sebagai seorang sahabat yang boleh dipercaya. Raden Wiratama, dengan kekuatan sihirnya telah dapat menarik hati Bi Kwi, dan dengan keroyalannya telah dapat menyenangkan hati Kwee Lok pula.

“Tidak baik kalau orang-orang melihat kalian keluar masuk sebagai tamu di sini, oleh karena itu mulai saat ini lebih baik kalian tinggal di dalam rumah kami. Kita dapat berunding sewaktu-waktu dan tidak akan menarik perhatian orang luar.”

“Tapi pakaian kami masih berada di rumah penginapan…” kata Kwee Lok.

“Jangan khawatir, saya akan mengirimkan utusan untuk mengambilnya,” kata tuan rumah dan Kwee Lok tidak membantah lagi. Mereka lalu mendapatkan dua buah kamar terpisah dan hal ini diam-diam membuat Bi Kwi berterima kasih. Andaikata mereka diberi satu kamar saja, dara inipun tak mungkin dapat menolak, karena tuan rumah menganggap ia seorang pria, akan tetapi tentu tidak enak sekali baginya kalau harus tinggal sekamar dengan Kwee Lok! Mereka diperlakukan sebagai tamu-tamu agung sehingga keduanya merasa semakin berterima kasih dan semakin akrab dengan Raden Wiratama.

“Ibuuu... oh, Ibuuu...!” Pemuda yang berpakaian serba putih itu menjatuhkan diri berlutut di tepi dipan kayu dan memeluk tubuh wanita yang kurus itu. Wanita itu usianya belum lima puluh tahun, akan tetapi sudah nampak tua, rambutnya sudah hampir putih semua, wajahnya berkeriputan dibayangi duka nestapa, tubuhnya kurus kering sehingga tinggal kulit membungkus tulang saja, matanya redup dan sayu dengan pandangan kosong ia menoleh ke arah pemuda berpakaian putih itu.

“Kau... kau siapakah...?” tanyanya dengan suara lemah dan sama sekali tidak ada gairah hidup. Pemuda berpakain putih itu merangkul dan mendekatkan mukanya, lalu berkata halus,

“Kanjeng Ibu... sudah lupakah kepada saya? Pandang baik-baik, Kanjeng Ibu, saya adalah anak tunggal Kanjeng Ibu...”

 “Darmini...?” Pemuda berpakaian putih itu membuka kain kepalanya dan terurailah rambut panjang yang halus itu...

“Benar, Ibu, saya Darmini...”

“Darmini...!!” Wanita itu menjerit lalu merangkul dan menangislah ia sesenggukkan seperti anak kecil. Akan tetapi Darmini tidak menangis. Walaupun hatinya amat terharu melihat Ibunya demikian kurus dan dalam keadaan sakit, namun batinnya yang sudah terlatih itu membuat ia tidak mudah terseret ke dalam duka. Iapun maklum bahwa Ibunya menderita dan agaknya menahan derita batinnya sehingga jatuh sakit, maka kini melihat Ibunya menangis ia tahu bahwa itulah jalan terbaik bagi Ibunya untuk melepaskan dan menyalurkan semua derita batin yang mengganjal melalui air mata. Dan memang tangis karena pertemuannya dengan puterinya ini merupakan obat yang amat mujarab bagi wanita itu. Hatinya terasa ringan dan setelah tangisnya mereda, ia mampu bangkit duduk sambil merangkul puterinya.

“Darmini, anakku... Ah, engkau mengejutkan hatiku, Nini. Kenapa engkau mengenakan pakaian pria seperti ini?”

“Semenjak pergi meninggalkan rumah untuk berguru, saya selalu mengenakan pakaian pria, Kanjeng Ibu. Saya baru turun gunung meninggalkan perguruan, langsung saya pulang ke Lumajang. Akan tetapi rumah Kanjeng Rama telah ditinggali keluarga bangsawan lain. Saya mendengar bahwa Kanjeng Rama telah naik pangkat dan kini tinggal di Majapahit, akan tetapi saya mendengar pula bahwa Ibu tidak ikut dan tinggal di dusun ini, mondok di rumah pelayan kita yang setia Mbok Marsih, maka saya lalu mencari kesini...” Wanita itu mengusap air matanya dan sejenak menatap wajah puterinya. Puterinya telah berubah, pikirnya. Seorang wanita yang matang, yang memiliki sepasang mata demikian tajam dan jernih, sikapnya tenang berwibawa. Gagah! Biarpun puterinya itu tidak mengeluarkan kata-kata bertanya namun sinar mata itu penuh selidik dan keinginan tahu, Ia menarik napas panjang.

“Ayahmu pindah ke Majapahit, dua tahun setelah engkau pergi, dan aku... aku memutuskan untuk tidak ikut dan tinggal di sini bersama Marsih...”

“Akan tetapi, kenapa, Kanjeng Ibu? Kenapa tidak ikut bersama Kanjeng Rama ke Majapahit?” Sungguh gadis itu merasa penasaran dan heran sekali. Ayahnya naik pangkat dan pindah ke Kotaraja, akan tetapi mengapa Ibunya malah tidak mau ikut dan tinggal di dalam dusun, dalam rumah sederhana milik pelayannya?

“Aku tidak kuat menghadapi selir baru yang diambil oleh Ayahmu…” “Hemm, agaknya Kanjeng Rama telah berubah terhadap Ibu!”

“Tidak, anakku. Engkau sudah mengenal Kanjeng Ramamu yang sejak dahulu memang banyak memiliki selir. Akan tetapi selir yang terakhir itu... ah, memalukan kalau aku memperlihatkan perasaan cemburu. Tidak, aku tidak cemburu dan dia boleh memiliki selir berapapun banyaknya. Akan tetapi selir terakhir itu, amat galak dan ia menguasai Kanjeng Ramamu sehingga ia berani menghina padaku secara terang- terangan, di depan Kanjeng Ramamu pula, dan Ayahmu itu hanya tertawa. Ketika mereka pindah, aku tahu bahwa kalau aku ikut, aku hanya akan menjadi bulan-bulan kemanjaan dan kegalakannya saja, karena itu aku memilih tinggal disini dan selama ini aku rindu kepadamu, aku menanti kembalimu, anakku.” Mendengar keterangan itu, muka Darmini menjadi merah karena marah, akan tetapi ia mampu menekan perasaannya dan hanya matanya saja yang berkilat namun sikapnya tenang. “Kalau begitu, biar saya akan mencari Kanjeng Rama dan menegurnya, kalau perlu akan saya hajar selirnya yang kurang ajar itu!” katanya mengepal tinju. Ibu yang tahu bahwa puterinya telah mempelajari aji kedigdayaan itu memegang lengan Darmini,

“Jangan, anakku, jangan! Akan memalukan sekali kalau begitu. Biarkanlah saja, bukan Ayahmu yang mengusirku, melainkan aku sendiri yang pergi darinya. Aku memang sudah tidak tahan lagi hidup bersama dia!” Ucapan ini membuat Darmini memandang wajah Ibunya dengan heran.

“Ah, mengapa Kanjeng Ibu? Bukankah selama itu Kanjeng Rama bersikap amat baik terhadap Kanjeng Ibu?” Wanita itu menarik napas panjang, agaknya merasa menyesal telah kelepasan bicara. Akan tetapi sekali sudah terucapkan tidak mungkin ditarik kembali dan iapun melanjutkan,

“Memang demikianlah, didepanmu atau di depan orang lain dia kelihatan sebagai seorang suami yang baik, akan tetapi kalau kami sendirian, hanya berdua saja... ah, tak dapat kuceritakan kepadamu, anakku. Aku merasa menyesal dan menderita sejak menikah dengan dia, dan sekarang kebetulan sekali ada alasan untuk menjauhkan diri.” Darmini masih terkejut dan heran. Sukar ia membayangkan Ayah tirinya itu bersikap tidak baik terhadap Ibu kandungnya.

“Akan tetapi... Saya telah dewasa, Kanjeng Ibu, katakanlah apa yang dilakukan Kanjeng Rama terhadap Ibu?” Kembali wanita itu menarik napas panjang.

“Tidak dapat kuceritakan, cukup kau ketahui bahwa dia adalah seorang laki-laki yang sama sekali tidak menghormati wanita, dia... dia menganggap wanita hanya sebagai barang permainan belaka, tempat pelepas nafsunya, membuat wanita merasa dirinya hina dan kotor… tentu saja kecuali wanita macam selirnya yang baru itu! Aku tidak cemburu, hanya gemas kalau mengingat betapa wanita pelacur itu berani sekali menghinaku!”

“Sungguh mengherankan. Padahal Kanjeng Rama selalu bersikap baik terhadap saya, Ibu, seolah-olah saya ini puterinya sendiri, puteri kandung. Bahkan saya sendiripun mencintanya seperti seorang Ayah sendiri, sampai sekarang...” Ibunya mengangguk-angguk.

“Memang dia baik sekali kepadamu, anakku, dan akupun tidak ingin kalau engkau membencinya. Kecuali di tempat tidur, diapun bersikap baik kepadaku, menghormatiku dan pada umumnya dia seorang suami yang baik. Engkau tetaplah berbaik dengan dia anakku, akan tetapi aku tidak, aku ingin hidup disini sampai mati. Sudahlah, hatiku sudah senang karena engkau sudah pulang. Aku akan segera sembuh. Sekarang ceritakan bagaimana pengalaman selama lima tahun ini. Apakah engkau sudah berguru kepada Empu Kebondanu?” Darmini tidak mau menceritakan tentang dugaan yang buruk terhadap Empu Kebondanu maka ia tidak menyinggung tentang peristiwa di dalam guha sempit itu.

“Saya tidak jadi berguru kepadanya, Ibu. Saya bertemu dengan seorang guru yang lebih sakti lagi, yang bertapa di puncak Gunung Bromo bernama Eyang Panembahan Ganggamurti dan selama ini saya menerima pelajaran ilmu-ilmu kedigdayaan dari Eyang Panembahan.”

“Akan tetapi kenapa Nala tidak pulang setelah mengantarmu kesana? Apakah dia juga ikut tinggal bersama panembahan itu?” Darmini mengerutkan alisnya. Ketika ia turun gunung, ia sengaja membawa sebuah cangkul dan ia memasuki hutan di mana pengawalnya itu roboh. Ia menemukan kerangka dari pengawalnya itu. Paman Nala, pengantarnya yang dulu amat Ramah itu, tukang kebun yang telah mengabdi di Kademangan semenjak ia kecil, kini tinggal tulang-tulang saja. Ia lalu menggali lubang dan mengubur kerangka manusia itu. Dan kini Ibunya menanyakan Nala sehingga ia teringat kembali.

“Ibu, Paman Nala telah tewas...” “Eh, mati? Kenapa? Sakitkah dia?”

“Tidak, Kanjeng Ibu. Dia tewas dibunuh orang.” Darmini lalu menceritakan peristiwa yang terjadi di dalam hutan itu dimana sebatang anak panah meluncur dan membunuh paman Nala.

“Ah, kenapa dia dibunuh orang? Nala adalah seorang yang sederhana dan tidak mempunyai musuh, bekerja kepada kami dengan baik dan jarang keluar…”

“Bukan dia yang tadinya menjadi sasaran anak panah itu, Kanjeng Ibu, melainkan saya. Akan tetapi, kebetulan saya membungkuk dan yang terkena adalah Paman Nala.” Wanita itu membelalakkan matanya.

“Engkau? Ah, sungguh berbahaya sekali. Kenapa ada orang hendak membunuhmu, anakku?” Hal ini sudah seringkali menjadi pertanyaan dalam benak Darmini, dan iapun sudah mencoba mencari jawabannya. Agaknya orang yang melepas anak panah hendak membunuhnya itu ingin menghalanginya berguru. Orang itu tentu tahu bahwa kalau ia memiliki ilmu kedigdayaan akan mencari pembunuh Ong Cun dan pemerkosa dirinya, oleh karena itu ia menduga bahwa pelepas anak panah itu pasti sama orangnya dengan si pembunuh Ong Cun dan si pemerkosa dirinya.

“Saya belum tahu dengan pasti, Ibu. Mungkin sekali dia juga seorang yang telah membunuh Ong Cun. Oleh karena itu, sekarang saya mempunyai tugas untuk mencari orang itu. Mencari pembunuh Ong Cun dan pembunuh Paman Nala. Orang itu amat jahat dan berbahayalah membiarkan orang seperti itu berkeliatan dengan bebas. Saya harus mencarinya dan menghukumnya.”

“Akan tetapi, apakah tidak berbahaya, anakku?”

“Memang berbahaya, akan tetapi saya telah belajar selama lima tahun dan saya dapat membela diri dengan baik, Kanjeng Ibu.” Ibu dan anak itu bercakap-cakap, lalu Darmini juga menemui pemilik rumah, janda Marsih bekas pelayan Kademangan yang kini dipondoki Ibunya. Ia tinggal di rumah itu selama tiga hari, kemudian berpamit kepada Ibunya untuk memulai dengan tugasnya. Ibunya memesan agar ia berhati-hati.

“Kalau engkau melakukan penyelidikan sampai ke Majapahit, engkau pergilah mencari Raden Gajah. Dia adalah seorang senopati Majapahit dan masih terhitung saudara misanku. Dari dia engkau akan dapat memperoleh banyak keterangan yang kau butuhkan, dan engkau dapat pula minta nasihat-nasihatnya. Juga Kakak misanku Empu Tanding kini pindah ke Majapahit.”

Darmini mengangguk-angguk. Memang orang pertama yang dicurigainya adalah Empu Tanding dan Panji Sarono. Ia berniat menyelidiki mereka itu, kalau perlu melalui anak buah mereka yang banyak. Uang dan perhiasan pemberian Ibunya lima tahun yang lalu masih utuh, hanya sedikit saja yang dibelanjakannya selama ia berada di pertapaan puncak Bromo dan harta itulah yang dapat membantunya mencari keterangan itu. Ia lalu berangkat setelah memperoleh doa restu Ibunya. Mula-mula Darmini hendak melakukan penyelidikan di Lumajang.  

Keluarga Empu Tanding telah pindah ke Majapahit, maka ia hendak melakukan penyelidikan tentang orang-orang lain yang dicurigainya memiliki dendam kepada Ong Cun dan mungkin saja membunuh kekasih dan tunangannya itu! Yaitu tiga orang perampok yang pernah melakukan perampokan di rumah Kademangan dan pernah menculik dirinya, kemudian mereka bertiga dihajar oleh Ong Cun yang menyelamatkannya. Dengan menyamar sebagai pria bernama Darmono, ia mulai mengadakan hubungan dengan para kepala rampok di daerah Lumajang. Ia mempergunakan uang yang dihamburkannya, dan mendatangi tempat perjudian dan tempat menyabung menyabung ayam, bahkan tempat pelacuran didatanginya untuk mencuri dan membeli keterangan. Sayang bahwa ia tidak mengetahui nama ketiga orang itu, akan tetapi ia masih ingat akan wajah mereka.

Karena keroyalannya di tempat pelacuran walaupun ia tidakpernah tidur dengan pelacur, keberaniannya bertaruh ditempat penyabungan ayam atau di tempat perjudian sebentar saja nama Darmono sudah terkenal di kalangan hitam. Pada suatu malam, selagi Darmono berada di daerah pelacuran dan bercakap-cakap dengan para pelacur yang hampir semua suka berdekatan dengan pemuda tampan yang royal sekali dengan uangnya akan tetapi tidak pernah mengganggu mereka itu, muncul seorang laki-laki tinggi besar bercambung bauk dan berpakaian serba hitam, laki-laki itu muncul seperti setan saja dan begitu muncul dan berhadapan dengan para pelacur dan Darmono, para pelacur menahan jerit dan melarikan diri dari ruangan itu, memasuki kamar atau lari ke dapur. Agaknya laki-laki tinggi besar itu amat mereka takuti. Melihat itu, orang tinggi besar itu tertawa bergelak.

“Ha-ha, ha-ha, Gagak Ireng datang para pelacur lari ketakutan! Padahal sekali mereka jatuh ke dalam pelukanku, mereka takkan mau terlepas lagi, ha-ha-ha?” Darmini mengamati laki-laki tinggi besar yang usianya tentu kurang lebih lima puluh tahun itu penuh perhatian. Ia bersikap tenang saja, dan melihat betapa orang yang mengaku bernama Gagak Ireng itu kini menghampirinya, ia malah mengambil cangkirnya dan minum air tuwaknya.

“Apakah andika yang bernama Darmono?” tiba-tiba laki-laki tinggi besar bermuka hitam itu bertanya, suaranya parau, sepasang matanya yang lebar itu menatap wajah Darmni.

“Benar, namaku Darmono, andika siapakah?”

“Gagak Ireng namaku, aneh kalau engkau belum pernah mendengarnya. Seluruh Lumajang gemetar mendengar nama Gagak Ireng. Kau lihat tadi betapa pelacur-pelacur itu lari ketakutan?”

“Hemm, agaknya engkau tidak pernah mau bayar, maka mereka lari ketakutan,” kata Darmini, sengaja bersikap berani dan seperti seorang yang sudah matang berkecipung di dunia hitam. Padahal baru beberapa hari saja ia berkeliaran di tempat-tempat seperti ini!

“Ha-ha-ha, merekalah yang harus bayar kepadaku, bukan aku kepada mereka! Heh, Darmono. Kata orang engkau mencari aku? Engkau mencari seorang perampok yang bertubuh besar, bermuka hitam dan bercambang bauk, siapa lagi kalau bukan aku? katanya engkau akan menghadiahkan sepuluh reyal uang siapa yang dapat menemukan aku. Nah, aku datang, keluarkan dua puluh reyal untukku!” Darmini mengerutkan alisnya,

“Hemm, mengapa aku harus membayar dua puluh reyal?”

 “Untuk upah si penemu sepuluh reyal, dan upah aku yang datang sendiri sepuluh reyal, jadi dua puluh reyal!”

“Siapa yang menemukan?”

“Aku sendiri! Ha-ha-ha!” Darmini menggeleng kepala,

“Sayang, jangankan dua puluh reyal, setengah reyalpun aku tidak akan memberimu, Gagak Ireng.”

“Hah?” sepasang mata itu terbelalak keheranan, seperti tidak percaya ada orang berani menolak permintaannya dan otomatis tangan kanannya meraba gagang golok yang terselip di pinggang, nampak jelas karena baju hitamnya terbuka seluruhnya menelanjangi dadanya yang berbulu. “Berani benar kamu! Kenapa tidak mau membayarku?”

“Karena biarpun yang kucari itu seorang laki-laki yang tinggi besar bermuka hitam dan bercambang bauk, akan tetapi bukan engkau orangnya, Gagak Ireng. Yang kucari itu orang lain!”

“Orang lain atau aku, engkau harus membayar dua puluh reyal orang muda! Kalau engkau masih ingin bernapas tentunya!” Darmini memang sengaja ingin menarik perhatian. Ia melihat bahwa orang ini agaknya orang penting di dunia para rampok di Lumajang, maka kalau ia dapat menundukkannya, mungkin orang ini dapat pula membantunya.

“Hemm, engkau mau apa? Kau kira mudah membuat aku berhenti bernapas? Kau kira aku takut padamu?” Darmini sengaja menantang. “Jangankan hanya engkau seorang, biar engkau maju bersama puluhan anak buahmu, aku tidak akan undur selangkahpun.”

“Babo-babo, sumbarmu seperti guntur di musim hujan! Ha-ha-ha, tubuhmu yang kecil kerempeng itu, sekali kena kutonjok, akan menjadi gepeng, sekali kena kutendang, akan pecah dadamu dan pata-patah tulang igamu!”

“Gagak ireng, kumpulkan semua orang yang berada di sini untuk menjadi saksi dalam pertandingan antara kita. Atau, engkau tidak berani kalau ada orang-orang yang nonton, karena engkau takut kalah?”

“Keparat, sombongnya! Aku kalah olehmu? Ha-ha-ha, lucu sekali, ha-ha! Baik, akan kukumpulkan semua orang di sini menjadi saksi!” Dia lalu lari ke dalam dan tak lama kemudian, dia menggiring semua pelacur, germonya, para tamu yang tadinya sedang bersantai di dalam kamar, bahkan semua tetangga, ke tempat itu. Oran-orang itu kelihatan ketakutan, tanda bahwa memang Gagak Ireng ini tersohor sekali, ditakuti orang. Tidak kurang dari dua puluh orang laki perempuan, berkumpul di situ dan memandang dengan khawatir. Bagaimana mungkin seorang pemuda yang demikian kecil tubuhnya, lemah lembut dan halus seperti wanita, akan bertanding mengadu kerasnya tulang tebalnya kulit, melawan seorang raksasa seperti Gagak Ireng?

“Bagus, semua orang telah berkumpul. Sekarang, Gagak Ireng, dalam pertandingan ini harus ada taruhannya. Aku bukan orang yang mau main-main begitu saja tanpa taruhan.”

“Ha-ha-ha, bagus, bagus! Apa taruhannya? Apa yang kau pertaruhkan? Isterimu? Ha-ha, tentu cantik isteri seorang pemuda macam engkau. Atau harta bendamu? Berapa?”

 “Kalau dalam pertandingan ini aku kalah, aku akan membayar seratus reyal kepadamu ditambah lagi setengah setengah kati emas!” Semua orang terkejut mendengar jumlah sebesar itu,

“Ha-ha-ha, enak saja kau bicara. Kalau engkau kalah berarti engkau mampus, lalu bagaimana aku dapat menerima taruhan itu?” kata Gagak Ireng, tertarik mendengar jumlah demikian besarnya.

“Aku bukan orang yang curang. Berani bertaruh tentu berani pula membayar kalau kalah.” Kata Darmini dan iapun mengeluarkan jumlah dan emas itu dari kantung kulit yang dibawanya dan digantung di pinggangnya. Diserahkannya seratus reyal dan setengah kati emas itu kepada Samijen, pelacur hitam manis yang menjadi kembang tempat pelacuran itu. “Manis, kau pegang taruhan ini dan kalau aku kalah, berikan kepada Gagak Ireng.” Melihat betapa pemuda itu benar-benar telah menyediakan taruhannya. Gagak Ireng terkejut, akan tetapi juga girang.

“Akan tetapi aku tidak mempunyai harta sebanyak itu.” katanya.

“Tidak usah,” kata Darmini. “Kalau engkau kalah, dan aku tidak akan membunuhmu, engkau harus dapat menemukan tiga orang perampok yang kucari.”

“Ha-ha-ha,baik! Semua perampok di Lumajang sudah kukenal, dan kalau mereka itu masih hidup, tentu akan kutemukan mereka.”

“Kalau begitu, mari kita mencari tempat yang luas di halaman itu,” kata Darmini, sikapnya tenang ketika ia bangkit dari kursinya dan turun ke halaman depan yang luas, diterangi sinar lampu yang cukup terang.

Gagak Ireng menggiring semua orang keluar halaman dan membuat lingkaran yang cukup luas, kemudian dia menghampiri Darmini yang sudah berdiri seenaknya di tengah lingkaran. Mereka kini saling berhadapan. Para penonton merasa tegang. Sungguh jauh bedanya antara keduanya itu. GagakIreng bertubuh tinggi besar seperti raksasa, mukanya hitam penuh brewok, matanya lebar dan dada serta kedua lengannya yang besar itu berotot, nampak kokoh kuat seperti batu karang. Sebaliknya, Darmono yang mereka kenal sebagai seorang pemuda yang sopan dan lembut itu bertubuh keil saja, dan nampak begitu halus dan lemah lembut. Sungguh, andaikata dua ekor jago, bukan tandingannya, seperti jago Katai melawan jago Bangkok!

“Aku sudah siap, Gagak Ireng. Engkau mulailah. Boleh juga kalau engkau hendak mempergunakan golokmu itu!” kata Darmini dengan sikap tenang sekali, namun sesungguhnya ia diam-diam telah menyalurkan tenaga Bayu sakti di dalam tubuhnya dan sepasang matanya mencorong penuh kewaspadaan.

“Babo-babo! Belum lecet kulitnya, tidak sudi aku menggunakan golok. Nah, jagalah pukulan dan tendanganku. Sekali mengenai dadamu, akan ambrol dan pecahlah tubuhmu!” Begitu ia berhenti mengancam, tubuhnya yang tiggi besar itu sudah bergerak dengan dahsyat sekali, seperti seekor banteng mengamuk, kedua lengan yang besar dan panjang itu bergerak mengirim serangan seperti dua buah alu besi yang kuat, menonjok, menampar, mencengkeram,

Sedangkan kedua kaki itupun bergantian menyambar seperti belalai gajah! Tadinya semua orang merasa khawatir sekali, akan tetapi begitu pemuda berpakaian putih itu bergerak, merekapun menjadi kagum bukan main. Tiba-tiba saja pemuda tampan itu lenyap dan sebagai gantinya, nampaklah oleh mereka bayangan putih  berkelebatan, ke kanan kiri, atas  bawah,  cepat bukan main seperti seekor burung terbang, dan semua serangan Gagak Ireng hanya mengenai tempat kosong, sedikitpun tidak pernah menyentuh tubuh lawan! Tentu saja Gagak Ireng menjadi penasaran sekali. Serangannya menjadi semakin gencar. Namun, makin cepat dia menyerang, makin cepat pula lawan berkelebatan dan hasilnya hanyalah keringatnya sendiri yang bercucuran dan napasnya terengah-engah.

“Keparat, jangan pengecut dan selalu mengelak. Hayo mengadu kerasnya tulang tebalnya kulit. Balaslah seranganku!” Gagak Ireng berseru dengan suara agak megap-megap. Baru saja berhenti kata-katanya, tiba-tiba seperti ada kilat menyambar dan tahu-tahu tengkuknya kena tamparan.

“Plakk!” Tidak begitu keras tamparan itu, namun cukup membuat Gagak Ireng terpelanting dan pandang matanya berkunang. Tubuh yang besar itu jatuh berdebuk terbanting keras sampai debu mengebul dan terdengarlah seruan-seruan kagum dan kaget, juga heran, diantara penonton.

Hampir mereka tidak dapat percaya kalau tidak melihat sendiri betapa raksasa itu tiba-tiba terpelanting jatuh! Apalagi para penonton, bahkan Gagak Ireng yang mengalaminya sendiripun sukar untuk dapat percaya betapa tiba-tiba saja tengkuknya kena ditampar dan tubuhnya terpelanting tanpa dapat dipertahankannya lagi. Tentu saja dia menjadi semakin penasaran dan marah. Suara para penonton yang menyambut kejatuhannya membuat mukanya yang sudah hitam menjadi semakin hitam dan diapun menggoyang-goyangkan kepalanya mengusir kepeningan, seperti seekor anjing mengusir air dari tubuhnya. Kemudian dia bangkit berdiri lagi, menggerakkan kedua lengannya sampai mengeluarkan bunyi berkerotokan, matanya marah melotot kepada Darmini yang sudah berdiri dengan tegak dan sikap seenaknya, tersenyum manis memandang kepada lawannya.

“Menyerah?” tanya Darmini. Pertanyaan ini bagaikan minyak disiramkan kepada api kemarahan yang berkobar di dalam hati Gagak Ireng. Dia mengeluarkan suara menggereng dan kembali dia menerjang ke depan, sekali kakinya yang kanan melakukan tendangan yang amat kuat dan dahsyat, seolah-olah dia hendak menendang lawannya yang bertubuh kecil itu sampai terlempar jauh ke udara! Akan tetapi, kembali nampak bayangan putih berkelebat, tendangan itu mengenai tempat kosong dan tiba-tiba Gagak Ireng merasa kaki kirinya tertekuk karena ditendang dari belakang tepat pada sambungan lutut. Karena kaki kanannya masih melayang, dan kaki kiri tertekuk, tentu saja diapun segera jatuh lagi, jatuh berlutut dan hampir menelungkup!

“Gagak ireng, sudah dua kali engkau jatuh!” kata Darmini. Bagaikan terbakar seluruh hati dan kepala Gagak Ireng. Dia melompat bangun dan goloknya sudah berada di tangan, terhunus. Tertimpa sinar lampu, golok itu mengeluarkan sinar berkilauan. Para penonton kembali menjadi tegang dan ketakutan, membayangkan betapa pemuda yang tampan dan halus itu tubuhnya akan terkoyak-koyak dan mandi darah. Maka ketika golok itu diayun dan menyambar-nyambar, banyak diantara mereka, terutama para pelacur, menutupi kedua mata dengan tangan, bahkan ada yang menangis dan ada pula yang pingsan!

“Wuuuuttt...!” Golok itu menyambar ganas dan melihat kekejaman tersembunyi dalam serangan ini, yang jelas mengandung nafsu membunuh terdorong oleh penasaran dan marah. Darmini bertindak cepat. Dengan gerakan lincah ia miringkan tubuh dan golok itu lewat didekat tubuhnya. Iapun mengerahkan tenaga dan tangan kirinya memukul dengan dimiringkan ke arah pergelangan tangan kanan lawan.

“Dukk!! Aduhhh...!” Gagak Ireng untuk pertama kalinya mengaduh dan goloknya terlepas dari tangan yang tiba-tiba menjadi lumpuh dan nyeri bukan main itu. Darmini menyusulkan tendangan dengan kakinya mengenai lutut kiri kakek raksasa itu.  

“Dess...!” Tubuh itu terpental bergulingan. Begitu bangkit, Darmini sudah menyambut lagi dengan tamparan-tamparan sehingga tubuh itupun jatuh bangun. Gagak Ireng terkejut, terheran, dan juga kesakitan ketika tubuhnya dipergunakan sebagai sebuah bal saja oleh lawan tanpa dia mampu melawan sedikitpun. Bumi serasa berputar-putar baginya.

“Aduh... aduhhhhh, tobaaattt... Ampunkan aku. Den Bagus...!” Dia mengeluh ketika untuk kesekian kalinya tubuhnya terpelanting keras.

“Engkau sudah mengaku kalah sekarang?”

“Sudah, sudah... Aduh, selama hidupku baru sekarang ini aku bertemu dengan lawan sesakti engkau!” kata Gagak Ireng sambil merangkak bangun.

“Kalau begitu, engkau akan mentaati segala perintahku?”

“Taat... taat... sampai mati...” Orang seperti Gagak Ireng ini amat mudah berjanji dan bersumpah, sama mudahnya dengan kalau dia melanggarnya.

“Kalau begitu, hayo kau ikut bersamaku.” Kata Darmini dan tidak lupa ia memberi tinggalan uang secara royal kepada rumah pelacuran itu. Gagak Ireng yang kini sudah menjadi jinak, mengikuti Darmini menuju ke sebuah rumah sederhana di luar kota Lumajang. Rumah kecil ini disewa untuk sementara oleh Darmini dari keluarga petani yang memilikinya. Tempatnya sunyi dan jauh tetangga. Heranlah hati Gagak Ireng melihat pemuda yang royal dan kaya itu mengajaknya ke sebuah rumah yang demikian sederhana, akan tetapi dia tidak berani banyak bertanya, dan mereka masuk ke dalam rumah itu.

“Dengar baik-baik, Gagak Ireng. Aku tidak pernah menyuruh orang tanpa upah, dan kalau engkau dapat membawa tiga orang itu kepadaku, engkau akan kuberi hadiah sepuluh reyal. Akan tetapi kalau engkau mengingkari janjimu sebagai pembayaran kekalahan taruhan tadi, awas, aku akan mencarimu dan sekali ini aku tidak akan memberi ampun lagi.”

“Baik Raden Bagus, baiklah,” kata Gagak ireng dengan girang mendengar akan diberi hadiah itu. “Akan tetapi siapakah mereka?”

“Aku tidak tahu nama mereka, akan tetapi yang seorang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam, juga brewok seperti engaku, matanya tidak selebar matamu, dan mulutnya selalu menyeringai, gigi atasnya ompong bagian tengahnya. Orang kedua tinggi kurus, matanya juling dan telinga kirinya cacat, sedangkan orang ketiga, jalannya agak pincang, perutnya gendut dan pendek, didagunya terdapat tanda codet. Mereka pada lima tahun yang lau pernah merampok rumah Ki Demang Bragolo ketika Lumajang diserbu pasukan Majapahit.”

“Ahhh... Ahhhh... sekarang aku tahu siapa mereka! Tidak sukar, Raden, mereka masih menjadi perampok di hutan sebelah antara perbatasan. Aku akan membawa mereka ke sini!”

“Kapan?”

“Paling lambat dua hari pasti akan kubawa mereka kesini, mau atau tidak akan kupaksa mereka!”

 Darmini merasa girang dan iapun memberi sekedar uang jalan kepada tokoh perampok itu. Dan memang janji Gagak Ireng sekali ini tepat, tentu saja karena ada sepuluh reyal menunggunya di pondok itu! Malam itu, ketika Darmini menerima kunjungan Gagak Ireng bersama tiga orang itu, jantungnya berdebar-debar. Tidak salah lagi, pikirnya, inilah tiga orang perampok itu! Tak mungkin ia melupakan wajah hitam yang pernah mencoba menciuminya dan hampir memperkosanya itu! Tiga orang itu adalah perampok tulen, orang-orang kasar dan karena mereka kalah pengaruh dan takut kepada Gagak Ireng, maka mereka terpaksa mau diajak ke Lumajang dan memasuki pondok sederhana itu. Ketika mereka bertiga melihat bahwa mereka dibawa menghadap pemuda tampan yang rumahnya begitu sederhana, mereka bertiga menjadi kecewa.

“Hemmmm, Kakang Gagak Ireng!” tegur si muka hitam. “Engkau bilang hendak membawa kami menghadap seorang yang sakti dan kaya raya, kenapa sekarang kami dibawa menghadap seorang kanak- kanak yang masih hijau dan miskin pula? Dia hanya mempunyai ketampanan, akan tetapi kami tidak butuh bocah tampan, kalau bocah ayu sih boleh, Kakang!” Dua orang temannya mengangguk setuju dan mereka memandang kepada Gagak Ireng dengan alis berkerut kecewa.

“Ha-ha-ha-ha, kalian memiliki mata akan tetapi sudah tua sehingga tidak dapat membedakan mana intan dan mana beling! Ha-ha-ha! Inilah dia Raden bagus yang sakti dan kaya raya itu!” Melihat sikap tiga orang itu, Darmini maklum bahwa untuk memenangkan kepercayaan mereka, ia harus memperlihatkan kepandaiannya. Pula, iapun ingin sekali memberi hajaran kepada tiga orang yang pernah hampir memperkosanya itu.

“Hemm, kalian ini tiga orang perampok cilik berani memandang rendah kepadaku, ya? Mari keluar dan kita boleh menguji ketangkasan masing-masing. Gagak Ireng, kau nyalakan obor untuk menerangi halaman depan itu!”

“Baik, Den bagus, ha-ha-ha!” Gagak Ireng tertawa-tawa, menyalakan obor dan merekapun keluar dari pondok itu, ke halaman rumah yang luas dan sunyi itu. Tiga orang perampok itu tidak merasa gentar. Menghadapi seorang pemuda hijau seperti itu, takut apa? Mereka bertiga, dan telah ditantang.

“Asal engkau berjanji, Kakang Gagak Ireng, bahwa engkau tidak akan membantunya menghadapi kami!” kata si muka hitam yang memang takut kepada Gagak Ireng!

“Hidungmu!” Gagak Ireng memaki. “Biar kalian bertiga ditambah lagi menjadi tiga puluh, masih tidak akan mampu mengatasi Den Bagus ini! Perlu apa aku mengeroyok?” Mereka bertiga sudah siap menghadapi Darmini, tentu saja tidak percaya akan ucapan Gagak Ireng. Darmini juga sudah siap siaga walaupun kelihatan tidak memasang kuda-kuda, hanya berdiri tegak dengan kedua lengan tergantung lepas di sisi tubuh.

“Nah, kalian majulah dan jangan sungkan. Boleh pukul boleh tendang, boleh kalian coba untuk merobohkan aku!” tantangnya. Tiga orang itu lalu menyerang sambil mengeluarkan teriakan-teriakan seperti tiga ekor harimau kelaparan yang memperebutkan seekor domba muda. Mereka menubruk dari depan dan kanan kiri. Akan tetapi tiba-tiba lawan mereka itu lenyap dan mereka hanya melihat bayangan berkelebat, tubrukan mereka mengenai tempat kosong dan ketika mereka membalikkan tubuh, ternyata pemuda pakaian putih itu sudah berada di belakang mereka!

 “Eh, cepat juga gerakanmu!” kata si muka hitam, lalu dia menerjang dengan pukulan tangannya yang besar, disusul pukulan-pukulan kedua orang temannya. Namun, Darmini tidak mau memberi hati kepada tiga orang yang pernah menculiknya ini.

“Terimalah hajaran ini!” bentaknya sambil mengelak dan kini ia menggerakkan kaki tangannya, sedemikian cepatnya sehingga tiga orang itu tidak melihat apa-apa, hanya tahu-tahu tubuh mereka telah menjadi sasaran tamparan dan tendangan yang demikian kerasnya sehingga tubuh mereka terpelanting, dan setiap kali mereka bangkit kembali, mereka segera di buat roboh oleh tamparan atau tendangan susulan. Mula-mula mereka merasa penasaran dan ingin melawan terus akan tetapi tubuh mereka semakin babak belur dan sakit semua. Dan di sana Gagak Ireng tertawa-tawa bergelak, obor di tangannya sampai menari-nari.

“Ha-ha-ha-ha, rasakan kalian sekarang, tikus-tikus buta!” katanya, girang sekali karena dia sendiri pernah menjadi bulan-bulan kaki tangan pemuda halus itu. Memang demikianlah watak orang yang sepenuhnya dikuasai aku dan segala nafsunya. Kalau diri celaka, dia akan merasa nelangsa dan sengsara, akan tetapi melihat orang lain lebih celaka dari dirinya, hal itu mendatangkan rasa senang dan terhibur! Sebaliknya, melihat orang lain lebih mujur, hal ini mendatangkan rasa iri dan benci! Darmini yang sengaja hendak menghajar mereka lebih keras daripada yang dilakukannya terhadap Gagak Ireng tempo hari, akan tetapi tidak terlalu keras sehingga tidak akan membunuh mereka. Akhirnya tiga orang itu tidak malu-malu lagi untuk melolong-lolong minta ampun.

“Toba tobaaatt, kami menyerah...!” teriak si muka hitam yang mengalami hajaran paling hebat sehingga bibirnya pecah-pecah dan hidung berdarah.

“Ampuunn..., ampunkan kami...” dua orang temannya juga menyembah-nyembah sambil berlutut di atas tanah. Darmini mengebut-ngebutkan ujung pakaiannya yang terkena debu.

“Nah, kalau kalian sudah menyerah, mari kita bicara di dalam. Mari Gagak Ireng, bawa mereka ke dalam!” Ia mendahului masuk ke dalam pondok itu. Sambil mentertawakan mereka, Gagak Ireng mengajak tiga orang perampok itu masuk dan membiarkan mereka bertiga duduk bersimpuh di atas lantai sedangkan dia sendiri duduk di kursi lain agak jauh dari Darmini.

“Harap paduka ampunkan kami yang benar-benar telah buta tidak mengenal orang sakti,” kata si muka hitam dengan ketakutan. “Setelah kami menghadap paduka, ada keperluan apakah paduka memanggil kami bertiga?” Diam-diam Darmini merasa girang karena ia merasa yakin bahwa mereka sekali ini telah takluk dan tentu tidak akan berbohong. Juga hatinya merasa puas telah dapat menghajar mereka.

“Hajaran tadi agar menjadi peringatan bagi kalian agar tidak terlalu mengandalkan kekuatan sendiri dan menghina orang lain. Aku ingin bertanya, apakah benar kalian lima tahun yang lalu pernah merampok rumah Ki Demang Bragolo?” Tiga orang itu saling pandang dengan kaget dan merekapun teringat akan peristiwa itu. Mereka telah merampok, membawa barang-barang berharga sedangkan si muka hitam itu sendiri melarikan perawan cantik puteri Ki Demang!

“Benar, akan tetapi perbuatan itu gagal seluruhnya, Raden Bagus. Di tengah jalan kami ketahuan orang, lalu kami diserang dan terpaksa kami melarikan diri tanpa membawa apapun. Semua barang rampokan itu kami tinggalkan.” Darmini tersenyum,

 “Berapa orangkah yang telah menyerang kalian ketika itu?” Kembali mereka bertiga saling pandang dan dengan suara berat si muka hitam menjawab,

“Hanya... satu orang saja, Den Bagus...” Tiba-tiba Gagak Ireng tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha, kiranya kalian bertiga ini memang hanya perampok-perampok coro, oleh satu orang saja kalah!”

“Kakang Gagak Ireng, engkau tidak tahu, orang itu adalah seorang Cina yang tangguh bukan main!” Mendengar ini, suara tawa Gagak Ireng menjadi semakin terbahak sehingga Darmini membentaknya.

“Diamlah, Gagak Ireng dan biarkan aku bicara!” “Maaf, Den Bagus,” kata Gagak Ireng.

“Justeru orang itulah yang ingin kutanyakan kepada kalian!” kata Darmini. “Aku... Bermusuhan dengan orang itu. Tahukah kalian di mana mereka? Katakan di mana dia, dan aku akan memberi hadiah kepada kalian bertiga.” Tiga orang itu saling pandang dan Darmini mengamati mereka dengan pandang mata penuh selidik. Ia sengaja mengatakan bermusuhan kepada Ong Cun agar mereka tidak ragu-ragu mengaku kalau saja mereka itu membunuh Ong Cun atau mengetahui tentang pembunuhan itu.

“Ah, Raden, agaknya percuma saja paduka mencari orang Cina itu!” kata si muka hitam. Darmini pura- pura terkejut.

“Hemm, apa maksudmu? Mengapa kau katakan percuma aku mencari musuhku itu?”

“Sungguh sayang sekali, kalau dia masih ada tentu akan ramai sekali bertanding dengan paduka, saya akan menjagoi paduka! Akan tetapi dia telah tidak ada lagi…”

“Maksudmu? Dia sudah pulang ke negerinya?” “Sudah pulang ke alam baka, Raden. Sudah mati.”

“Ahh...!!” Darmini pura-pura kaget lagi. Bahkan dia bangkit berdiri dari kursinya, lalu duduk kembali. “Sudah mati? Bagaimana kalian bisa tahu? Kenapa dia mati?”

“Setelah dia menghalangi dan menggagalkan kami, tentu saja kami merasa sakit hati dan kami merencanakan untuk membalas dendam. Akan tetapi karena dia amat tangguh, kami harus berhati-hati. Akan tetapi ternyata kami didahului orang, Raden. Pada suatu malam kami mendengar bahwa dia telah dibunuh orang! Dia mati di taman tempat tinggal Ki Demang Bragolo.” Mendengar ini, kecewalah rasa hati Darmini. Akan tetapi ia mendesak.

“Tahukah kalian siapa yang telah membunuh musuh besarku itu? Sungguh membuat aku merasa penasaran, akan tetapi juga berterima kasih kepada pembunuhnya!”

“Sayang, kami tidak mengetahuinya, Raden.” kata si muka hitam. Tiba-tiba Gagak Ireng yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, bangkit dari duduknya dan menghampiri Darmini, “Ah, jadi dia itukah yang kau cari Raden? Bukankah pemuda Cina yang tadinya akan menjadi mantu Ki Demang Bragolo dan kemudian tewas terbunuh di taman itu?” Darmini yang tadinya sudah hilang harapan karena tiga orang perampok itu tidak mengetahui lebih banyak tentang pembunuhan atas diri Ong Cun, kini terkejut dan girang. Ia memandang kepada Gagak Ireng dengan penuh perhatian.

“Engkau mengenalnya?”

“Mengenai orang Cina itu memang tidak, bahkan belum pernah jumpa. Akan tetapi karena Ki Demang Bragolo adalah pelindungku, tentu saja aku mengetahui apa yang terjadi pada keluarga itu.” Diam-diam Darmini merasa terkejut dan heran sekali mendengar pengakuan Gagak Ireng? Sungguh aneh sekali! Akan tetapi mungkin saja Gagak Ireng hanya membual karena orang macam ini sungguh tak dapat dipercaya sepenuhnya. Kalau memang orang ini dahulu dekat dengan Ayahnya, mengapa ia tidak pernah melihatnya?

“Apakah engkau pernah menjadi perajuritnya atau pengawalnya?” ia bertanya.

“Ha-ha-ha!” Gagak Ireng memutar kumis kanannya. “Bukan pengawal di dalam gedung, melainkan seorang kepercayaan di luar, Raden, diluar gedung.”

“Dan kau tahu apa tentang pembunuhan atas diri musuh besarku itu? Siapa yang membunuhnya dan bagaimana terjadinya?”

“Hal itu aku tidak tahu dengan pasti, Raden. Akan tetapi beberapa hari sebelum terjadi peristiwa pembunuhan itu, aku bertemu dengan empat orang kawan baikku dan mereka membawa sebatang keris pusaka yang indah dan ampuh, keris yang biasa menjadi pegangan seorang bangsawan tinggi, dan mereka bicara tentang niat mereka membunuh seorang pemuda Cina. Tadinya aku tidak mengira bahwa pemuda calon mantu Ki Demang Bragolo yang akan dibunuh, setelah peristiwa itu terjadi, barulah aku tahu...”

“Siapakah empat orang kawanmu itu?” Darmini bertanya, sedapat mungkin menekan perasaan hatinya yang terguncang dan jantungnya yang berdebar keras.

“Mereka adalah empat Bajul, yaitu Bajul Sengoro, Bajul Sengkolo, Bajul Paruso, dan Bajul Kanisto, yang amat terkenal di Lumajang, Raden.”

“Hemm, yakin benarkah engkau bahwa mereka itu yang membunuh musuhku, pemuda Cina itu?”

“Aku tidak melihat sendiri pembunuhan itu, akan tetapi mengingat akan pembicaraan mereka hendak membunuh seorang pemuda Cina, agaknya merekalah yang telah membunuhnya. Setelah terjadi pembunuhan langsung saja aku memberitahukan kepada Ki Demang Bragolo, tentang pembicaraan mereka beberapa hari yang lalu.”

“Hemm, kau memberitahukan kepada Ki Demang? Lalu apa yang dilakukan Ki Demang?” Gagak Ireng tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, tidak apa-apa, Raden! Bahkan dia memesan agar aku menyimpan saja rahasia ini! Ha-ha, siapa orangnya yang mau mengawinkan anak perempuannya dengan seorang pemuda asing? Tentu diam-diam Ki Demang tidak setuju dengan pertunangan itu dan merasa lega bahwa calon suami puterinya itu terbunuh orang.” Kalau saja Darmini belum mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi di puncak Bromo, tentu akan nampak pada wajahnya betapa kaget rasa batinnya mendengar ucapan Gagak Ireng itu. Ayahnya, Ki Demang Bragolo, telah mendengar tentang siapa pembunuh Ong Cun dan Ayahnya itu diam saja, bahkan memesan kepada Gagak Ireng agar jangan bercerita kepada orang lain? Benarkah ini? Padahal Ayahnya dulu tidak menyatakan keberatan atas pertunangannya dengan Ong Cun, dan tidak kelihatan membenci pemuda itu, bahkan sebaliknya selalu menerima Ong Cun dengan ramah!

“Gagak Ireng, dimana adanya Empat Bajul itu sekarang? Aku ingin menemui mereka dan mengetahui dengan pasti bahwa musuh besarku itu terbunuh oleh mereka. Kalau benar demikian, aku harus memberi hadiah kepada mereka!”

“Mereka telah pindah ke Kotaraja Majapahit, Raden, terbawa oleh keluarga Raden Panji Sarono yang menjadi pelindung mereka.” Kembali rasa kaget menyelinap dalam dada Darmini. Debar jantungnya semakin mengencang. Kiranya Empat Bajul itu adalah anak buah Panji Sarono! Sungguh tepat karena Panji Sarono adalah orang pertama yang dicurigainya, sebagai pembunuh tunangannya!

“Hem, jadi mereka adalah kaki tangan orang yang bernama Raden Panji Sarono? Apakah kalau begitu pembunuhan itu atas perintahnya?” Gagak Ireng bersikap hati-hati karena dia mengenal siapa keluarga Empu Tanding, maka tidak berani dia mengaitkan nama keluarga itu dengan pembunuhan atas diri pemuda Cina itu.

“Aku sungguh tidak tahu, Raden. Yang kuceritakan hanya yang kuketahui saja.”

“Baik, engkau telah memberi keterangan yang memuaskan hatiku, Gagak Ireng. Nah, terimalah hadiah ini, dan kalian juga!” kata Darmini memberi uang dua puluh reyal kepada Gagak Ireng yang menjadi girang bukan main, dan tiga orang perampok yang tadi dihajar oleh Darmini juga menerima hadiah masing-masing satu reyal. Darmini lalu menyuruh mereka pergi, dan malam itu juga ia meninggalkan pondok sewaannya untuk pergi ke Majapahit. Petunjuk yang diperolehnya sudah amat jelas. Darmini tidak mau tergesa-gesa dalam penyelidikannya di Majapahit. Ia tahu bahwa ia harus berhati-hati sekali dan harus dapat menemui Empat Bajul itu, memaksa mereka mengaku terus terang. Karena kalau sampai diketahui oleh Panji Sarono bahwa ia melakukan penyelidikan tentang kematian Ong Cun,

Semua rencananya dalam penyelidikan itu dapat gagal dan mungkin saja Empat Bajul itu akan disuruhnya tutup mulut. Ia tidak boleh memperlihatkan diri kepada Panji Sarono atau Uwaknya, Empu Tanding. Selain itu, iapun dibuat penasaran oleh pengakuan Gagak ireng mengenai sikap Ayah tirinya. Ia harus menanyakan hal itu kepada Ayah tirinya dengan terang-terangan! Selain bertanya tentang sikapnya mengenai pembunuhan atas diri Ong Cun, juga hendak menegur Ayah tirinya itu tentang Ibunya. Biarpun Ibunya yang kini meninggalkan Ayahnya, namun yang menjadi penyebab adalah selir terbaru Ayahnya itu, yang bersikap kurang aja dan menghina. Kalau perlu ia akan menghajar pula selir itu! Akan tetapi, ketika ia tiba di Majapahit, ia teringat akan pesan Ibunya, Raden Gajah, Senopati di Majapahit!

Benar, sebaiknya ia menghadap Kakak misan Ibunya itu. Di gedung seorang Senopati, ia akan terlidung dan dapat bersembunyi, dan kalau malam ia dapat melakukan penyelidikannya. Tentu saja ia harus mengenal dulu keluarga Raden Gajah dan melihat bagaimana sikap bangsawan itu. Setidaknya, ia akan dapat minta petunjuk dan keterangan dari Pamannya itu. Sore hari itu ia berdiri di depan gedung besar tempat tinggal Senopati Raden Gajah. Rumah itu besar dan kuno, nampak menyeramkan. Di depan nampak sebuah gardu dimana terdapat beberapa orang perajurit penjaga. Sebagai seorang Senopati, tentu saja rumah Raden Gajah terjaga oleh perajurit pengawal. Darmini yang menggendong buntalan pakaian itu memasuki halaman dan segera dua orang perajurit menghadangnya dengan tombak melintang di tangan.

“Andika siapa? Ada keperluan apa masuk kesini?” tanya seorang di antara mereka dan pandang mata mereka tajam penuh selidik.

“Namaku Darmono dan aku adalah keponakan dari Paman Senopati Raden Gajah. Aku ingin menghadap Paman Senopati.” Dua orang penjaga itu memandang dengan heran dan curiga. Mereka tidak pernah mendengar seorang keponakan dari atasan mereka ini, akan tetapi mereka itu tidak berani bersikap kasar dan lancang, apalagi melihat bahwa pemuda berpakaian putih itu memang tampan sekali dan pantas kalau menjadi sanak keluarga Raden Gajah. Maka Darmini dipersilahkan menanti sebentar di dalam gardu, dan dua orang diantara para penjaga itu lalu melapor kedalam.

“Harap laporkan bahwa aku adalah putera dari Ki Demang Bragolo, dari Lumajang.” Darmini memesan ketika dua orang itu hendak memasuki gedung. Tak lama kemudian, dua orang petugas itu datang lagi memasuki gardu dan Darmini dipersilahkan masuk, dikawal oleh mereka berdua. Sang Senopati menerima Darmini di dalam ruangan tamu yang besar dan setelah berhadapan dengan seorang laki-laki yang gagah perkasa dan berusia lebih tua sedikit dari Ibunya, Darmini segera memberi hormat dengan sembah. Dua orang perajurit itu disuruh keluar oleh Raden Gajah dan kini dia memandang kepada pemuda itu dengan penuh perhatian.

“Siapakah sebenarnya andika, Ki Sanak? Andika mengaku bernama Darmono putera Ki Demang Bragolo, padahal setahuku, Ki Demang Bragolo tidak mempunyai seorang putera! Apa artinya ini?” Darmini menyembah dengan sikap hormat. Setelah mendapatkan gemblengan dari gurunya, Sang Panembahan Ganggamurti, sedikit banyak ia dapat menilai watak seseorang dari wajah dan sikapnya. Ia melihat perbedaan besar antara Raden Gajah dan Empu Tanding, dua orang saudara misan Ibunya, dan ia percaya kepada Senopati ini.

“Sebelumnya saya mohon maaf sebesarnya, Paman Senopati. Sesungguhnya saya adalah anak tiri dari Kanjeng Rama Ki Demang Bragolo, saya adalah puteri tunggal Kanjeng Ibu Puriwati yang memesan agar saya menghadap paduka Paman kalau berada di Majapahit. Maafkan penyamaran saya sebagai seorang pria karena hal itu memudahkan perjalanan saya.” Raden Gajah memandang dengan mata terbelalak, mengamati wajah “pemuda” itu, kemudian tertawa lebar.

“Ha-ha, pandai engkau mengelabui seorang Paman, kiranya engkau adalah puteri dari diajeng Puriwati! Siapakah namamu, Nini?”

“Nama saya Darmini, Kanjeng Paman.”

“Ha-ha, Darmono Darmini, engkau sungguh pandai, Darmini... Ya, pernah aku mendengar namamu ini, engkau anak tunggal diajeng Puriwati. Ketika kau bertemu dengan Ibumu yang terakhir kali, sebelum Ayah tirimu pindah ke Majapahit, ia pernah bercerita. Bukankah engkau puterinya yang tadinya bertunangan dengan seorang pemuda Cina yang kemudian terbunuh, dan engkau pergi berguru kepada Empu Kebondanu di kaki Gunung Bromo!”

 “Benar, Kanjeng Paman. Saya sudah selesai belajar dan pulang ke Lumajang, ternyata Kanjeng Rama telah pindah ke Majapahit, akan tetapi Kanjeng Ibu…” Senopati itu menggerakkan tangan dan menarik napas panjang.

“Aku tahu, Ibumu tidak mau ikut ke Majapahit. Ibumu memang sejak dulu keras hati, Nini Darmini. Akan tetapi itu adalah urusan pribadi dan aku tidak mau mencampurinya. Apakah yang kau cari di Majapahit? Apakah hanya ingin berkunjung kepadaku, ataukah ada keperluan lain?”

“Kanjeng Paman, ketika saya pergi ke Bromo untuk berguru, saya dikawal oleh tukang kebun kami bernama Nala, dan dikaki Bromo, dalam hutan, ada anak panah gelap menyambar ke arah saya. Akan tetapi saya terluput dan anak panah itu membunuh Paman Nala. Kematian tunangan saya terbunuh orang, juga kematian Paman Nala, mendatangkan keinginan dalam hati saya untuk mencari si pembunuh dan menghukum mereka. Karena jejak yang saya ikuti menuju ke Majapahit, maka sayapun datang ke sini dan mohon petunjuk dan nasihat dari Paman.” Senopati itu memandang dengan hati tertarik.

“Engkau seorang wanita hendak menyelidiki pembunuhan dan menangkap pembunuhnya, Nini? Hemm, apakah hal itu tidak berbahaya bagimu?”

“Selama lima tahun saya telah mempelajari ilmu membela diri, Kanjeng Paman.” Senopati itu mengangguk-angguk, masih meragukan apakah gadis yang bertubuh ramping ini cukup kuat menghadapi penjahat-penjahat kejam.