-->

Kilat Pedang Membela Cinta Jilid 3

Jilid 3

 ilmu setan lainnya. Orangnya sudah tua dan tubuhnya bongkok, mukanya... hiiiiih, lebih baik kalau andika tidak pernah melihatnya, Raden. Menyeramkan dan menakutkan, bukan seperti muka manusia.”

Darmini tidak memperhatikan tentang keburukan dan keseraman Kakek yang dinamakan dukun Eyang Rudiro itu. Yang menarik perhatiannya adalah bahwa dukun itu terbunuh orang pada malam Jumat Kliwon, malam jahanam waktu ia diperkosa orang yang tidak dikenalnya. Suatu kebetulan saja? Ataukah masih ada kaitannya? Apakah hubungan atas diri dukun itu dengan perkosaan atas dirinya! Siapa tahu pemerkosanya juga pembunuh dukun itu, seperti ia yakin bahwa pemerkosanya adalah pembunuh Ong Cun. Jahanam itu sendiri mengakuinya sebelum ia pingsan, bahwa jahanam itu telah membunuh kekasihnya, kemudian menggagahinya. Aku harus menyelidiki semua itu.

Akan tetapi tidak sekarang. Tidak, ia hanya seorang gadis lemah. Ia harus belajar dulu menguasai ilmu, agar dengan bantuan pedang Lian-Hwa-Kiam, ia akan mampu melakukan penyelidikan, dan mampu pula membalas dendam, membunuh jahanam yang telah menewaskan Ong Cun dan memperkosanya. Mereka memasuki hutan terakhir dan cuaca menjadi semakin gelap. Pohon-pohon dalam hutan mulai Nampak menakutkan, hitam dan diam, seperti setan-setan atau raksasa-raksasa yang berdiri tegak berbaris untuk menghadang perjalanan mereka berdua. Cabang-cabang besar itu seperti lengan-lengan panjang yang siap menjangkau dan mencengkeram siapa yang berani memasuki hutan itu. Ki Nala bergidik dan tanpa disadarinya, dia makin mendekat Darmini.

“Ada apa Paman?” tanya Darmini ketika merasa betapa sikunya tersentuh lengan pengikutnya.

“Tidak apa-apa, Raden, hanya... huh, kelihatan menyeramkan hutan ini dan hati saya merasa tidak enak...”

“Tenanglah, Paman. Tidak ada apa-apa disini. Pohon-pohon dalam cuaca gelap itu bahkan nampak indah sekali. Lihatlah, di langit timur sudah mulai nampak terang. Bulan akan segera muncul.” Kata-kata ini dipergunakan Darmini bukan hanya untuk membesarkan hati Ki Nala, akan tetapi juga untuk membesarkan hatinya sendiri karena bagaimanapun juga, hutan itu memang nampak sunyi dan menyeramkan.

Untung terdapat jalan setapak yang jelas sehingga mereka dapat mengikuti jalan ini tanpa khawatir akan tersesat jalan. Untuk menenangkan batinnya sendiri, Darmini yang sudah menguluarkan bunga teratai layu dari saku bajunya, menciumi bunga itu dan terbayanglah wajah Ong Cun, tersenyum-senyum kepadanya, seolah-olah merestui dan menyetujui perjalanannya itu. Bunga itu sudah layu, sudah tidak berupa bunga lagi, sudah menjadi benda kering kuning kecoklatan. Namun anehnya, kalau di waktu masih segar bunga teratai itu tidak mengeluarkan bau apa-apa, kini setelah layu dan tidak berujut bunga lagi, mempunyai keharuman yang aneh. Tiba-tiba saja, bunga itu terlepas dari tangan Darmini, yang segera menahan langkahnya.

“Ehhh...” Ia berseru dan membungkuk, memungut bunga yang disayangnya dan yang terjatuh ke atas tanah di depan kakinya itu.

“Syuuuuutt... wirrr... ceppp!”

“Aduhhhhhhh...!” Darmini terkejut bukan main ketika mendengar terikan Ki Nala, apa lagi ketika melihat Ki Nala yang tadi berjalan disampingnya itu kini terpelanting roboh dan berkelojotan!

  “Paman Nala...!” teriaknya sambil berlutut dan matanya terbelalak ketika melihat betapa ada sebatang panah menancap di dada pengikutnya itu sampai tembus! Tangan yang hendak mengguncang pundak Kakek itu ditariknya kembali dan iapun hanya dapat memanggil-manggil dengan bingung.

“Paman... Paman Nala..., ah, bagaimana ini...?” Semenjak meninggalkan rumah berganti pakaian pria. Darmini sudah berjanji di dalam hatinya untuk tidak menangis. Hatinya cukup tabah dan biarpun sekarang iaa merasa bingung sekali, akan tetapi ia tidak menangis. Hatinya hanya merasa ngeri melihat betapa tubuh itu berkelojotan. Anak panah! Ada orang yang membunuh Ki Nala! Darmini cepat bangkit berdiri dan memandang ke arah darimana datangnya anak panah itu. Akan tetapi ia tidak melihat apa- apa, hanya mendengar lapat-lapat suara derap kaki kudah menjauh. Pembunuh itu datang berkuda, pikirnya. Akan tetapi mengapa ia membunuh Ki Nala?

“Paman... Paman Nala...” Ia berjongkok kembali. “Paman, siapa yang melakukan ini dan mengapa?” Kini ia memberanikan diri mengguncangkan pundak orang itu. Akan tetapi tubuh itu sudah diam, tidak berkelojotan lagi. Sinar lemah bulan cukup menerangi muka itu dan Darmini bergidik. Muka Ki Nala itu nampak menyeramkan, matanya terbelalak dan mulutnya ternganga, seperti orang hendak menjerit dan memaki, dan mata itu membayangkan kemarahan!

“Ah, Paman..., maafkan, terpaksa ku tinggalkan engkau disini, Paman,” katanya. Ia memungut bunganya yang terjatuh tadi, dan cepat ia bangkit dan lari dari tempat itu, melanjutkan perjalanan.

Ia kini teringat bahwa anak panah itu datangnya dari arah kiri, dan ia tadi berdiri di sebelah kiri Ki Nala. Hal itu berarti bahwa anak panah itu ditujukan kepadanya, dan kalau saja bunga teratai layu itu tidak jatuh, kalau saja ia tidak membungkuk untuk memungutnya, tentu ialah yang terkena anak panah, bukan Ki Nala! Ia hendak dibunuh, akan tetapi Ki Nala yang menjadi korban. Ia tertolong oleh kembang teratai pemberian Ong Cun! Secara aneh kembang itu tadi terlepas dari jari-jari tangannya dan ia membungkuk, tepat ketika anak panah meluncur! Orang itu bermaksud membunuhnya, pikiran ini membuat Darmini mempercepat larinya, melalui jalan setapak menuju ke arah kaki Gunung Bromo. Rasa ngeri dan takut kalau-kalau pembunuh itu melihat kekeliruannya dan mengejarnya, membuat kedua kakinya seperti ditumbuhi sayap dan ia berlari seperti terbang!

Penat sekali rasanya seluruh tubuh ketika akhirnya Darmini tiba di luar sebuah dusun yang amat sederhana, di kaki Gunung Bromo itu. Terutama sekali kedua kakinya teraa amat lelah dan nyeri, seperti akan patah-patah rasanya semua persendian tulang dari paha kebawah. Akan tetapi, karena tekat yang membaja, Darmini melanjutkan langkahnya, biarpun tertatih-tatih, memasuki dusun itu. Masih sunyi pagi itu, karena masih terlampau pagi. Fajar baru menyingsing dan ayam-ayam jantan berkeruyuk saling bersahutan. Burung-burung juga baru saja keluar, belum begitu banyak, berkicau riang diantara daun- daun pohon. Ketika ia melihat seorang petani memanggul cangkul, hendak keluar dari dusun itu, mungkin hendak ke sawah lading, Darmini cepat menghampirinya dan dengan halus ia bertanya.

“Maafkan saya, Paman. Dapatkah Paman menunjukkan di mana tempat tinggal Eyang Empu Kebondanu? Katanya tinggal di dusun Talasan, apakah benar dusun ini yang bernama Talasan?” Sejenak petani yang usianya empat puluh tahun lebih itu mengamati Darmini dari kepala sampai ke kaki. Agaknya dia kagum melihat orang asing yang masih muda dan amat tampan ini, walaupun nampak kusut dan lelah.

 “Benar, orang muda. Dusun ini adalah Talasan. Andika mencari Eyang Empu Kebondanu? Dia bertapa di sebuah guha, disebelah utara dusun ini, agak naik sedikit ke daerah gunung.” Petani itu menuding ke arah utara di mana samar-samar nampak daerah berbatu yang agak tinggi letaknya. Bukan main girang rasa hati Darmini karena ternyata ia tiba di tempat yang dicarinya. Biarpun semalam tadi ia melakukan perjalanan setengah berlari yang amat melelahkan, ditambah lagi rasa takut dan duka karena kematian Ki Nala yang mengerikan, namun terobatlah rasa jerih payah itu karena ia tiba di tempat yang selama ini dicarinya. Apalagi mendengar bahwa memang benar Empu Kebondanu berada di situ!

“Terima kasih, Paman, terima kasih. Andika baik sekali, semoga sawah ladangmu menghasilkan banyak tahun ini!” Darmini sudah membalikkan tubuh untuk pergi menuju ke utara ketika ia mendengar petani itu bertanya,

“Eh, orang muda, nanti dulu. Siapakah andika dan datang dari mana?” Pertanyaan ini tidak menyenangkan hati Darmini yang tak ingin dikenal orang, ingin menyembunyikan keadaan dirinya. Akan tetapi karena petani itu telah bersikap baik dengan pemberitahuan tentang pertapa yang dicarinya, iapun menjawab singkat,

“Nama saya Darmono dan saya seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggal saya.” Setelah berkata demikian digerakkannya kaki yang nyeri-nyeri itu secepatnya meninggalkan petani yang masih berdiri bengong, lalu melanjutkan perjalanannya ke sawah sambil berkata-kata seorang diri.

“Sungguh aneh orang-orang muda dari kota. Heran, apa yang mereka cari dari seorang pertapa tua yang hanya pandai mengobati orang sakit? Baru kemarin ada seorang bangsawan muda mengunjungi Empu Kebondanu, dan sekarang, begini pagi sudah ada lagi yang datang. Dia jelas pemuda kota, gerak geriknya dan tutur katanya. Hemm, mengherankan!” Akan tetapi sebagai seorang petani yang sederhana, dia sudah melupakan lagi urusan itu setelah dia mulai mengerjakan tanah yang berbau sedap sepagi itu dengan cangkulnya.

Guha itu sudah nampak ketika Darmini keluar dari pintu dusun sebelah utara. Sebuah guha di daerah yang berbatu gamping (kapur), nampak putih dan berlubang-lubang. Ia tidak ragu lagi menuju ke sebuah guha yang besar karena guha itu jelas nampak ditinggali manusia, bahkan di luar guha terdapat sebuah tempat perapian dan sebuah bangku batu yang panjang. Darmini telah mendengar dari Ayahnya bahwa para pertapa adalah orang-orang aneh yang wataknya juga kadang-kadang aneh. Dan Ibunya bercerita bahwa Empu Kebondanu ini seorang yang sakti, maka iapun tidak berani lancang dan begitu tiba di depan guha yang nampak sunyi itu, ia terus saja menjatuhkan diri berlutut dan bersila di depan guha setelah menyembah dengan hormatnya. Enak rasanya duduk di situ. Lantai yang didudukinya itu bukan tanah lembab, melainkan batu kering yang halus.

Kedua kakinya terasa berdenyut-denyut dan baru sekarang terasa betapa lelah kedua kakinya, terasa semua perjalanan darah melalui otot-otot dan urat-uratnya. Entah berapa lama ia duduk di situ ia tidak tahu lagi, Matahari telah nampak di ufuk timur ketika terdengar suara batuk-batuk, batuk orang tua, dari dalam guha dan tak lama kemudian keluarlah seorang Kakek dari dalam guha itu. Darmini mengangkat muka memandang. Seorang Kakek yang usianya tentu sudah lebih dari enam puluh tahun, mengenakan pakaian serba hitam dan kulitnya, dari kulit kaki yang telanjang, kulit tangan sampai kulit muka dan lehernya, demikian hitam seperti arang, juga nampak kulitnya itu tebal dan kasar. Pantaslah kalau Kakek ini bernama Kebondanu. Sepasang matanya yang lebar itu nampak bersinar dan menambah kebengisan wajahnya, dan suaranya terdengar parau dan kasar ketika ia membuka mulut.

 “Jagad Dewa Bathara...! Andika hendak mencari siapakah, orang muda?” Melihat bahwa Kakek itu belum tua benar, hanya sepuluh tahun lebih tua dari Ayahnya, bahkan nampaknya tidak lebih tua dari Uwanya, yaitu Empu Tanding, Darmini merasa tidak tepat kalau menyebut Eyang kepadanya. Setelah mempertimbangkannya sejenak, iapun menjawab dengan hormat.

“Maaf, Paman, saya datang mencari Paman Empu Kebondanu.”

“Hemmmm, tanpa diundang dan tanpa memberi-tahu lebih dulu andika datang ke sini mencari aku, siapakah andika dan ada keperluan apakah?” Diam-diam Darmini merasa tidak enak juga menghadapi sikap yang kasar dan sama sekali di luar dugaannya itu. Tadinya ia menggambarkan bahwa seorang pertapa sakti, tentu Empu Kebondanu lebih berwibawa dan lemah-lembut penuh kebijaksanaan, akan tetapi Kakek ini demikian kasar, walaupun harus diakui memiliki kewibawaan yang besar.

“Maafkan saya, Paman Empu, kalau saya mengganggu. Maksud kedatangan saya ini adalah untuk mohon belas kasihan Paman Empu agar sudi menerima saya sebagai murid.”

“Hemmm, andika ini orang muda hendak belajar apakah?”

“Saya ingin mempelajari ilmu bela diri, aji kedigdayaan, Paman Empu.” Tiba-tiba Kakek itu tertawa dan suara ketawanya seperti suara burung hantu, menyeramkan dan menggetarkan lantai yang diduduki Darmini.

“Ha-ha-ha-ha! Tidak begitu mudah, orang muda. Akan tetapi siapakah sebenarnya andika?”

“Nama saya... Darmono, dan saya datang dari Lumajang. Saya mau melakukan apa saja untuk dapat menguasai ilmu itu, Paman, betapapun beratnya akan saya lakukan!” Sepasang mata yang lebar itu mengeluarkan sinar aneh.

“Orang muda, aku masih sangsi apakah benar andika akan bertahan untuk melakukan tapabrata yang berat. Aku ingin mengujimu lebih dulu. Sanggupkah andika bertapa dalam guha yang sunyi, seorang diri saja, dan biar sampai mati tidak boleh menghentikan samadhimu sebelum kusuruh bangun? Sanggupkah andika?”

“Saya sanggup, Paman. Asal Paman memberi petunjuk di mana guha itu dan bagaimana saya harus bersikap dalam tapabrata itu.” kata Darmini dengan suara tegas dan kemauan membaja. Ia memang sudah bertekad menahan derita dan kesukaran yang bagaimanapun juga, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya untuk dapat menguasai ilmu yang tinggi agar ia mampu mem belas dendam. Kembali Kakek itu tertawa.

“Ha-ha-ha, kemauanmu keras. Nah, disebelah kanan dari guha ini, sejauh kurang lebih seribu langkah, andika akan mendapatkan sebuah guha yang tidak lebar, hanya setengahnya guha ini, akan tetapi amat dalam dan gelap. Masuklah dan setelah tiba di ujungnya, andika harus duduk bersila, mengheningkan cipta, mematikan segala rasa dan tidak akan bangun sebelum aku datang.”

“Hanya itukah, Paman? Baik, akan saya taati perintah Paman,” kata Darmini dan setelah menyembah, iapun bangkit. Terasa betapa nyeri kedua kakinya ketika bangkit.

 Setelah beberapa lamanya kaki itu dipakai bersila dan tidak digerakkan, kini ketika digerakkan terasa amat nyeri, kiut-miut rasanya, seperti tertusuk-tusuk tulang kakinya. Namun ia menggigit bibir dan menahan rasa nyeri, terpincang-pincang ia lalu pergi ke arah kanan guha besar itu. Amat sukar melangkahkan kaki yang sudah nyeri-nyeri itu melalui jalan yang penuh dengan batu-batu tajam meruncing. Namun, Darmini melangkah terus sambil diam-diam ia menghitung langkahnya. Setelah kurang lebih seribu langkah, benar saja ia melihat tak jauh di depan, sebuah guha yang tidak terlalu lebar seperti yang diceritakan Empu Kebondanu tadi. Akan tetapi dari jauh saja sudah nampak betapa guha itu gelap, karena lubangnya nampak seperti mulut yang menghitam. Tanpa ragu sedikitpun, setelah meneliti keadaan luar guha, ia masuk ke dalam guha.

Memang guha itu cukup dalam. Ia berjalan terus sampai ke ujungnya. Setelah lorong dalam guha itu tertutup, barulah ia berhenti. Keadaan cuaca memang gelap karena sinar matahari di luar guha masih lemah. Akan tetapi setelah terbiasa, matanya dapat melihat keremangan dan ia lalu menurunkan buntalan pakaiannya, mencari lantai yang paling rata dan halus, kemudian iapun mulai duduk bersila seperti diperintahkan Empu Kebondanu tadi. Karena kemauannya memang keras sekali dan hatinya mulai tenteram karena ia merasa sudah tiba di tempat tujuan dan bertemu dengan seorang guru yang sakti, sebentar saja Darmini sudah terlena dalam samadhinya. Ia tidak tahu berapa lamanya ia terlena dalam Samadhi. Ia sadar dari samadhinya karena merasa ada sesuatu yang meraba-raba tubuhnya. Ketika ia membuka mata, cuaca dalam guha tidaklah begitu gelap seperti tadi.

Agaknya matahari yang tadi masih lemah, kini telah naik makin tinggi dan cahayanya yang kuat masuk dari luar mendatangkan cuaca remang-remang. Yang mengejutkan hati Darmini adalah ketika ia melihat adanya seseorang berjongkok di depannya dan agaknya orang inilah yang tadi meraba-raba tubuhnya. Ia terkejut dan hampir bergerak dan menjerit namun segera teringat akan larangan Empu Kebondanu dan iapun teringat akan dongeng tentang orang yang bertapa. Menurut dongeng, orang yang bertapa akan menghadapi banyak godaan setan dan iblis! Maka, iapun diam saja, bahkan memejamkan kembali kedua matanya dan mematikan rasa sekuat mungkin. Akan tetapi, kembali ia terkejut. Kalau hanya godaan “setan” itu terbatas kepada rabaan saja masih tidak mengapa. Akan tetapi sepasang tangan itu mulai melepaskan kancing-kancing bajunya dan berusaha hendak menanggalkan pakaiannya!

“Keparat...!” Ia membentak dan cepat bangkit berdiri sambil membuka mata dan memandang penuh perhatian. Bayangan itu ternyata seorang laki-laki yang mengenakan sebuah topeng pada mukanya!

“Brett-breeett...!!” Bayangan itu kini menggunakan kedua tangannya untuk merobek-robek pakaiannya sehingga potongan-potongan kain lepas dari tubuhnya, membuat ia dalam keadaan setengah telanjang! Kini sadarlah Darmini bahwa yang dihadapinya bukanlah godaan setan atau iblis, bukan pula godaan yang menjadi ujian bagi samadhinya, melainkan seorang jahanam yang hendak melakukan perbuatan keji terhadap dirinya!

Orang ini hendak memperkosanya, mengulang perbuatan terkutuk di malam jahanam yang pernah dialaminya! Darmini meronta-ronta, akan tetapi orang itu yang ternyata kuat sekali, agaknya menjadi semakin kalap melihat tubuhnya yang setengah telanjang itu. Sambil mengeluarkan gerengan menyeramkan, kedua tangan itu kembali mencengkeram robek sisa pakaiannya. Ketika Darmini mencakar dengan kedua tangannya ke arah dan muka yang bertopeng, kedua tangan Darmini ditangkapnya dengan jari-jari yang kokoh kuat dan tubuh Darmini tersentak ke depan, tahu-tahu telah dirangkul dan didekapnya amat kuat. Barulah perasaan takut yang amat sangat menyelinap dalam hati Darmini. Ia hendak diperkosa orang lagi! Tiba-tiba ia mengeluarkan jerit melengking, di susul teriakan- teriakan nyaring,  

“Jahanam busuk, lepaskan aku! Lepaskan! Aughhppp...” Tiba-tiba teriakannya terhenti ketika sebuah tangan yang kuat menutupi mulutnya. Darmini meronta-ronta sekuat tenaga dan dalam pergulatan ini, semua sisa pakaiannya terlepas, bahkan rambutnya yang disembunyikan di bawah kain kepala juga terlepas dan terurailah rambut yang hitam tebal dan panjang itu.

“Manusia berhati kotor dan hina, lepaskan wanita itu!” Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. Darmini melihat berkelebatnya seorang yang pakaiannya serba putih, seorang laki-laki yang kini telah berada di situ. Orang yang menggelutinya tadi tiba-tiba melepaskannya dan membalik dengan kesigapan seekor harimau marah.

“Babo-babo, keparat! Berani engkau mencampuri urusanku?” Tanpa memberi kesempatan kepada orang berpakaian putih itu untuk menjawab, orang berkedok yang berpakaian serba hitam itu tiba-tiba menubruk ke depan dengan pukulan yang amat keras!

“Wuuuuutt...!” Di dalam guha yang sempit itu, pukulan ini menyambar dahsyat, mengeluarkan angin yang menyambar kuat. Namun, si baju putih dengan lincahnya mengelak dan pukulan itu hanya menyambar lewat di atas kepalanya saja. Orang berkedok menjadi semakin marah dan dia sudah menyusulkan serangan berikutnya secara bertubi-tubi.

Melihat betapa dua orang itu kini berkelahi di dalam guha yang sempit, Damini yang tubuhnya menggigil itu cepat merangkak dan mencari buntalan pakaiannya. Sambil terus menonton perkelahian itu, ia mengeluarkan pakaian dan mengenakannya untuk menutupi tubuhnya yang telanjang bulat. Tentu saja ia masih khawatir sekali. Tak mungkin melarikan diri saat itu karena tempat itu terlalu sempit dan jalan keluar sudah tertutup oleh kedua orang yang kini sedang berkelahi dengan serunya. Terpaksa ia hanya menanti kesempatan baik, membungkus lagi buntalannya dan menalikannya di punggung, siap untuk melarikan diri. Di dalam keremangan itu sukar untuk mengetahui siapa yang unggul di antara kedua orang itu, walaupun diam-diam Darmini mengharapkan kemenangan bagi orang berpakaian putih.

Ia tidak mengenal mereka berdua, akan tetapi si baju putih itu jelas datang untuk menolongnya, bahkan sudah membebaskannya dari bahaya yang dianggapnya lebih mengerikan daripada maut. Orang berkedok itu memang tangguh sekali, gerakannya gesit, serangannya datang dengan cepat, kuat dan bertubi-tubi. Namun orang berpakaian putih itu ternyata lebih hebat. Gerakannya tenang dan mantap, selain itu, agaknya dia memang tidak tergesa-gesa membalas serangan orang. Dia hanya mengelak dan sekali-sekali menangkis, akan tetapi setiap kali dia menangkis dan kedua lengan saling beradu, orang bertopeng itu mengeluh dan terhuyung. Jelas bahwa dalam hal tenaga sakti, dia masih kalah oleh orang berpakaian putih. Setelah yakin akan hal ini, tiba-tiba si topeng itu membentak marah.

“Keparat, mampuslah engkau!” nampak sinar berkilat dan hawa yang menyeramkan menyambar ke arah orang berpakaian putih.

“Hemmm, engkau memang manusia berhati kejam!” bentaknya dan diapun cepat mengelak ketika sebatang keris yang ampuh menyambar ke arah dadanya, elakan ini dilakukan dengan membuang diri ke samping kanan, akan tetapi sambil mengelak, tangan kirinya berusaha memegang lengan kanan lawan, sedangkan tangan kanannya menyambar dengan kecepatan kilat.

 “Plakkkk!” Biarpun si topeng berusaha mengelak, tetap saja pundaknya kena ditampar dan tubuhnya terpelanting menabrak dinding guha. Agaknya dia terkejut bukan main dan tanpa banyak cakap lagi, orang itu meloncat keluar dan melarikan diri.

“Pengecut, hendak lari ke mana kau?” Orang berpakaian putih itu juga meloncat keluar dan melakukan pengejaran. Ketika tiba di luar guha, mata mendadak menjadi silau karena matahari di luar guha itu terik sekali. Orang berpakaian putih itu memandang ke sana sini dan akhirnya di sebelah kiri guha itu dia melihat bayangan hitam dari orang yang dikejarnya. Diapun meloncat dan bagaikan seekor kijang muda, dia sudah berloncatan dan berlari cepat sekali. Akan tetapi tiba-tiba orang yang dikejarnya itu lenyap begitu saja. Pengejar itu berhenti dan termangu-mangu memandang ke depan. Si baju hitam bertopeng tadi menghilang ketika tiba di guha besar tempat tinggal Empu Kebondanu!

“Paman Empu...?” bibirnya berkemak kemik. “Ah, tidak mungkin. Bukan, bukan dia. Tapi siapa dan bagaimana menghilang di sana?” Sejenak dia meragu, lalu melangkahkan kakinya perlahan-lahan ke depan, menghampiri guha itu. Ketika dia tiba di depan guha, dia melihat Empu Kebondanu sedang duduk tanpa baju, hanya bercawat, agaknya kegerahan, di atas batu di depan guhanya, memukul-mukul sebatang tongkat terbuat dari bambu gading atau bambu kuning sambil mendendangkan tembang lirih- lirih. Melihat munculnya pemuda berpakaian putih itu. Empu kebondanu menghentikan tembangnya dan memandang dengan alis berkerut.

“Eh, kiranya engkau, Sridenta. Mau apakah engkau datang mengganggu ketenanganku!” Pemuda yang bernama Sridenta itu memberi hormat dan sembah sambil membungkuk.

“Maaf, Paman. Bukan maksud saya untuk menggangu ketenangan, akan tetapi karena sudah terlanjur lewat disini, saya hanya ingin bertanya apakah Paman baru saja melihat seorang laki-laki yang memakai topeng pada mukanya lewat disini?”

“Huh! Laki-laki bertopeng? Tidak, Sridenta, aku tidak melihat ada seorang laki-laki bertopeng lewat di sini. Sudah, janga ganggu aku lagi!” Dan diapun melanjutkan tembangnya sambil mengetuk-ngetuk tongkat bambu kuningnya.

“Maaf dan permisi, Paman,” kata Sridenta sambil memberi hormat dan memutar tubuhnya meninggalkan tempat itu, kembali ke guha tadi. Sementara itu, Darmini yang sudah berganti pakaian itu sudah pula keluar dari dalam guha. Karena iapun bermaksud pergi mengunjungi Empu Kebondanu untuk mengadukan peristiwa yang baru saja dialaminya, maka ia bertemu dengan pemuda berpakaian putih itu, keduanya berhenti melangkahkan kaki, berdiri berhadapan dan saling pandang. Darmini mengamati orang di depannya itu dengan ragu-ragu. Inikah penolongnya tadi. Tadi ia hanya melihat seorang yang pakaiannya serba putih menyerang orang yang hendak memperkosanya, kemudian mengejar keluar guha. Pemuda ini usianya kurang lebih dua puluh tahun, wajahnya tampan dan gagah, kulitnya kuning bersih.

Wajah yang membayangkan ketenangan itu selain tampan juga agung, seperti wajah bangsawan- bangsawan yang masih berdarah Keraton, kumisnya tipis, rambutnya hitam berombak, dadanya bidang dan tubuhnya tegap. Di lain pihak, pemuda yang bernama Sridenta itupun mengamati “pemuda” yang berdiri di depannya. Inikah gadis yang diselamatkannya tadi? Tadi dalam keremangan dalam guha, dia tidak dapat melihat jelas, hanya tahu bahwa dia menolong seorang gadis dari cengkeraman seorang laki- laki jahanam yang hendak memperkosa gadis itu dan gadis itu sudah dalam keadaan telanjang bulat. Dia memiliki pandang mata yang tajam dan biarpun Darmini menyamar sebagai seorang pemuda dalam penyaraman yang cukup baik, namun dia mencurigainya dan menduga bahwa agaknya inilah “gadis” tadi.

“Maafkan aku, Ki-Sanak,” kata Sridenta dengan sikap hormat. “Bolehkah aku bertanya, engkau hendak pergi ke manakah?” Hanya ini yang dapat dia tanyakan, karena dia merasa tidak patut untuk bertanya tentang peristiwa tadi. Ada dua hal yang melarang dia bertanya tentang itu.

Pertama, kalau benar yang berdiri di depannya ini gadis yang tadi hendak di perkosa, tentu amat memalukan gadis itu kalau dia bertanya, mengingat betapa dia tadi telah melihatnya dalam keadaan telanjang. Ke dua, kalau benar ini gadis tadi, kenyataan bahwa ia kini menyamar sebagai seorang pemuda jelas menunjukkan bahwa gadis ini hendak menyembunyikan diri bahwa ia seorang wanita. Masih ada kemungkinan lain yang membuat dia harus berhati-hati, yaitu kalau-kalau dugaannya keliru dan orang ini memang benar pemuda yang hitam manis! Seperti juga Sridenta, Darmini juga meragukan apakah benar ini orangnya yang menolongnya tadi. Kalau benar, ia harus menghaturkan terima kasih, akan tetapi disamping merasa hutang budi, ia juga merasa malu sekali. Penolongnya tadi telah melihatnya dalam keadaan telanjang bulat! Maka pertanyaan itu membuat ia merasa bingung untuk menjawabnya.

“Aku... aku hendak pergi ke guha tempat bertapa Paman Empu Kebondanu.” Sridenta terkejut bukan main. Kalau begitu gadis yang ditolongnya tadi adalah orang yang berdiri di depannya, maka pergi ke guha itu sama dengan menyerahkan diri bagi seekor domba kepada seekor srigala yang telah menunggunya disana!

“Maafkan kalau aku berterus terang,” akhirnya dia berkata. “Apakah... apakah engkau ini gadis yang baru saja terbebas dari cengkeraman seorang penjahat hina dari dalam guha kecil itu?” Dia menuding kearah guha sempit di belakang Darmini. Darmini mengangkat muka memandang wajah itu. Wajah seorang yang gagah dan jujur seperti yang pernah dilihatnya pada wajah Ong Cun, maka timbullah kepercayaannya.

“Dan apakah engkau ini orang berpakaian putih yang tadi telah menyelamatkan gadis itu, kemudian mengejar penjahat bertopeng itu?” ia balas bertanya. Kini yakinlah hati Sridenta bahwa benar orang ini adalah gadis tadi, maka sambil berbisik dia berkata,

“Kalau engkau percaya kepadaku, marilah ikuti aku menjauh dari tempat ini dan kita bicara.” Melihat sikap yang bersungguh-sungguh itu, apa lagi mengingat betapa pemuda ini tadi telah menyelamatkannya, tentu saja Darmini percaya. Agaknya pemuda ini mempunyai suatu rahasia yang hendak disampaikan kepadanya, akan tetapi tidak ingin mengatakannya di tempat itu. Iapun menggangguk dan mengikut pemuda itu mendaki gunung! Setelah melalui jalan berliku-liku dan berada jauh dari daerah berbatu itu, barulah Sridenta berhenti. Darmini juga berhenti, mengatur pernapasannya yang terengah-engah dan menghapus keringatnya di muka dan lehernya dengan sehelai saputangan. Gerakan ini saja bagi yang berpenglihatan tajam sudah menunjukkan sifat kewanitaannya.

“Nah, Ki-Sanak, sekarang ceritakan apa artinya sikapmu yang penuh rahasia ini.” Darmini berkata sambil menatap wajah didepannya itu penuh selidik.

“Sebelumnya, perkenalkan lebih dulu. Namaku Sridenta murid Eyang Panembahan Ganggamurti dilereng Bromo. Apakah andika ini gadis yang berada di dalam guha tadi?” Kedua pipi Darmini berubah merah. “Kalau benar, mengapa?”

“Maaf,... nona. Kalau benar, sungguh aku merasa heran sekali mengapa setelah terbebas dari malapetaka, engkau bahkan hendak menghadap Paman Empu Kebondanu.”

“Kenapa tidak?” Darmini balas bertanya dan memandang heran. “Beliau adalah guruku...”

“Ah, jadi engkau adalah murid Paman Empu Kebondanu...” Melihat pemuda itu terkejut mendengar ia murid Kakek itu, Darmini merasa malu. Tentu saja pemuda itu heran karena tadi ketika di serang orang di dalam guha, ia tidak mampu membela diri. Murid macam apa begini lemah?

“Aku... aku baru pagi hari ini diterima menjadi murid dan aku belum mempelajari apa-apa.” “Akan tetapi, bagaimana engkau dapat berada di dalam guha itu, nona?”

“Itu merupakan pelajaran pertama atau ujian dari guruku. Aku disuruh bersamadhi disitu dan dipesan tidak boleh keluar sebelum dia datang menyuruhku. Baru saja setengah hari, muncul jahanam itu. Hemm, kalau tidak ada engkau yang menolongku... ah, aku menghaturkan banyak terima kasih atas pertolonganmu, Ki-Sanak.”

“Tidak perlu berterima kasih, karena semua itu merupakan kewajiban setiap orang. Kita patut berterima kasih kepada Sang Hyang Widhi.”

“Akan tetapi, kenapa engkau melarang aku pergi kepada Paman Empu, dan membawaku ke sini untuk bercakap-cakap?”

“Ketahuilah bahwa ada terjadi hal yang aneh sekali. Ingatkah bagaimana aku melakukan pengejaran terhadap orang bertopeng itu? Dia melarikan diri dan lenyap ketika tiba di dekat guha tempat bertapa Paman Empu.”

“Ahhh...?” Darmini terkejut bukan main. “Tapi... tapi orang bertopeng itu bukan Paman Empu Kebondanu, dia seorang yang masih muda!”

“Benar, nona. Akan tetapi aku merasa yakin bahwa Paman Empu tahu siapa dia dan bahkan melindunginya.”

“Kalau begitu, sekarang juga aku akan pergi menemuinya dan bertanya!” Darmini yang merasa penasaran hendak melangkah pergi.

“Nona, tahan dulu!” Sridenta meloncat ke depannya dan menggembangkan kedua lengannya. “Engkau baru saja bebas dari mulut srigala, apakah sekarang bahkan hendak memasuki guha srigala?”

“Kau maksudkan... Paman Empu Kebondanu akan mencelakai aku?”

“Aku tidak bilang demikian, akan tetapi manusia hina tadi berada di dalam guha Paman Empu yang agaknya melindunginya. Pula, mendengar ceritamu tadi, sesungguhnya engkau belumlah menjadi muridnya karena engkau belum diberi pelajaran apapun, kecuali disuruh Samadhi. Hemm, disuruh Samadhi di dalam guha itu, lalu datang jahanam tadi. Terkutuk! Tidak, percayalah kepadaku, nona. Engkau sama sekali tidak boleh kembali kepada Paman Empu Kebondanu kalau engkau tidak ingin celaka!”

“Akan tetapi, dari tempat jauh aku menempuh perjalanan yang amat sukar mencari Paman Empu Kebondanu, sengaja untuk belajar ilmu kedigdayaan!” Darmini membantah penasaran. “Bagaimana mungkin aku harus meninggalkan dia setelah dapat kutemukan. Lalu bagaimana denga cita-citaku mempelajari ilmu ketangkasan?”

“Nona, kalau boleh aku bertanya, engkau datang dari manakah?” “Dari Lumajang.”

“Ah, dari tempat jauh, dan engkau seorang wanita yang menyamar sebagai pria untuk mencari guru yang pandai. Aku dapat mengerti bahwa tentu ada alasan yang amat kuat yang memaksamu berbuat demikian berani dan nekat nona. Kalau memang engkau berniat untuk mempelajari ilmu, kenapa tidak menghadap saja guruku, Eyang Panembahan Ganggamurti! Beliau tentu akan dapat membantumu, nona.” Darmini mengerutkan alisnya, sejenak ia meragu. Ia datang dari Lumajang dengan hanya satu tujuan, yaitu berguru kepada Empu Kebondanu yang disohorkan sakti mandraguna itu dan ia sudah berhasil menghadap Kakek itu. Bagaimana kini secara mendadak saja ia harus berganti guru, seorang yang sama sekali belum pernah didengarnya?

“Apakah dia sakti?” tanyanya sambal mengamati wajah pemuda itu. Pemuda itu tersenyum.

“Aku tidak dapat menjawab pertanyaan itu, nona, karena kalau engkau menanyakan hal itu kepada Eyang Panembahan, tentu beliau akan menjawab bahwa yang sakti hanyalah Hyang Widhi.” Darmini mempertimbangkan dengan akal budinya. Pemuda ini mengaku murid Eyang Panembahan Ganggamurti dan ia sudah melihat sendiri betapa pemuda berpakaian serba putih ini tadi telah mengalahkan orang bertopeng yang mengeluarkan senjata keris pula. Jelas bahwa pemuda ini memiliki kedigdayaan, dan tentu saja gurunya lebih sakti lagi.

Ia mengingat kembali sikap Empu Kebondanu terhadap dirinya. Sikap Kakek itu sungguh tidak menyenangkan, juga wajahnya Nampak bengis. Ia disuruh bersamadhi begitu saja tanpa diberitahu caranya dengan baik. Begitu sembarangan! Dan ia sampai diserang orang akan diperkosa, akan tetapi mengapa gurunya yang hanya tinggal seribu langkah saja dari guha sempit itu tidak datang menolongnya? Kalau memang sakti, tentu Empu Kebondanu akan mengetahuinya dan menyelamatkannya. Ataukah memang sengaja ia mendiamkannya saja? Bukankah Sridenta tadi mengatakan bahwa manusia jahat yang hendak memperkosanya tadi menghilang di guha tempat tinggal Empu Kebondanu? Berpikir demikian menepislah keraguannya. Setelah memandang wajah Sridenta penuh selidik, iapun lalu mengangguk.

“Baikah, aku suka ikut bersamamu menghadap Eyang Panembahan Ganggamurti.” Ia mengerutkan alisnya. “Akan tetapi, bagaimana kalau beliau tidak suka menerimaku sebagai murid karena aku seorang wanita? Apakah sebaiknya kalau aku tetap menyamar sebagai pria?”

“Ah, kurasa tidak perlu demikian, nona. Itulah kesalahanmu ketika engkau menghadap Paman Empu Kebondanu. Aku mengerti, melakukan perjalanan jauh bagi seorang gadis memang tidak aman dan memang sebaiknya kalau engkau melakukan perjalanan dengan menyamar sebagai seorang pemuda. Akan tetapi, setelah berhadapan dengan orang yang berkepentingan, mengapa engkau masih mengaku pria? Hal itu tentu saja merupakan suatu kebohongan dan kepalsuan, padahal engkau datang menghadap untuk mohon menjadi murid.” Darmini mengangguk-angguk dan menyadari kesalahannya.

“Baiklah kalau begitu. Mudah-mudah beliau akan menerimaku.”

“Andaikata Eyang Panembahan tidak menerima sebagai murid, setidaknya beliau tentu akan memberi petunjuk dan jalan yang baik untukmu. Beliau seorang yang amat bijaksana, karena itu ceritakanlah semua keadaan dirimu dan keinginan hatimu kepada beliau.”

“Terima kasih, akan kulaksanakan semua petunjukmu.”

“Kalau begitu, mari kita berangkat. Eh, nanti dulu, aku belum mengetahui siapa namamu, nona.” “Aku? Namaku Darmono... eh, maksudku Darmini.”

“Tentu kalau menyamar engkau menggunakan nama Darmono, bukan? Mari kita berangkat.” Mereka lalu mendaki Gunung Bromo yang menjulang tinggi dengan puncaknya yang coklat kemerahan tertutup bekas lahar itu. Pemandangan alam di situ indah sekali dan Sridenta menceritakan apa nama bukit-bukit dan dusun-dusun di sekitar tempat itu.

“Bagian lereng ini tidak berbahaya, karena bagian ini tidak pernah di lalui lahar kalau Gunung Bromo mengamuk. Karena itu, Empu Panembahan memilih lereng bagian ini.”

“Siapakah sesungguhnya Eyang Panembahan Ganggamurti itu, dan sudah berapa lama beliau berada di tempat ini.”

“Menurut penuturan Eyang, sudah puluhan tahun beliau bertapa disini dan mengajarkan kebatinan sesuai dengan agama Hindu Budha, juga beliau suka menolong para penduduk di pedusunan sekitar tempat ini yang sedang menderita sakit. Beliau sudah berusia tujuh puluh tahun lebih, dan beliau tidak pernah mau menceritakan dari mana beliau datang. Nah, nanti kalau sudah menjadi muridnya, engkau akan dapat melihatnya dan mendengarnya sendiri, nona.” Tempat pertapaan Panembahan Ganggamurti itu nyaman sekali. Sebuah gubuk untuknya sendiri berdiri di tempat yang sejuk, di dekat sumber air yang membentuk sebuah sendang kecil dibawah pohon beringin. Gubuk itu dikelilingi ladang sayur-sayuran, juga ladang tumbuh-tumbuhan obat, yang cukup luas.

Dan di sana sini, jauh di ujung ladang, nampak gubuk-gubuk lain yang menjadi tempat tinggal para cantrik dan murid. Kagum sekali hati Darmini melihat tempat itu karena ia merasakan suatu ketentraman dan kedamaian menyelimuti hatinya begitu kakinya menginjak tanah daerah pertapaan itu. Kebetulan sekali ketika Sridenta mengajak Darmini menghampiri gubuk di tepi sendang, mereka melihat Sang Panembahan Ganggamurti sedang duduk di depan gubuknya. Gubuk itu cukup besar, dengan dua buah kamar dan ruangan depan yang cukup luas, akan tetapi terbuat dari bahan sederhana saja. Dindingnya dari ayaman bamboo, tihang-tihangnya dari kayu dan lantainya tanah kering, atapnya dari daun nipah. Bahkan perabot rumahnya juga sederhana sekali, meja dan bangku-bangku kayu yang dibuat secara kasar dan sederhana.

Namun, rumah gubuk yang terbuka daun pintu dan jendelanya itu kelihatan demikian sejuk, penuh suasana damai dan tenteram. Banyak orang pergi bertapa dan mengasingkan diri dengan pamrih tertentu, ada yang hendak melarikan diri dari kehidupan ramai yang tidak disukainya, ada pula yang bertapa untuk mencari sesuatu, menemukan sesuatu yang dianggap lebih baik dan lebih menyenangkan daripada kehidupan sehari-hari. Kalau demikian halnya, maka pergi bertapa itu hanya sekedar pelarian atau sekedar cara untuk mencari kesenangan dalam bentuk lain. Segala bentuk pencaharian timbul dari keinginan mendapatkan sesuatu itu, dalam pakaian apapun, di sebut dengan nama apapun, sudah pasti sesuatu itu dianggap akan menyenangkan, mengguntungkan atau setidaknya di anggap dapat melepaskan orang dari hal-hal yang tidak menyenangkan!

Betapa seperti itu hanya merupakan suatu bentuk pengejaran keinginan belaka dan dalam bentuk apapun juga, pengejaran kesenangan menuntun kita kepada kesengsaraan! Ada orang mengejar harta benda dan perbuatan ini menimbulkan perbuatan-perbuatan yang tidak benar, korupsi, penipuan, pencurian, dan sebagainya lagi. Ada orang mengejar kedudukan dan pengejaran inilah yang menimbulkan pemberontakan, perebutan kekuasaan dan sebagainya. Pengejaran kesenangan melalui nafsu sex menuntun kepada perbuatan yang tercela seperti perkosaan, pelacuran, perjinaan dan sebagainya lagi. Banyak orang bilang pergi bertapa karena ingin menjadi baik, ingin bebas, ingin bersih, ingin sempurna dan sebagainya, yang pada hakekatnya adalah “ingin senang” dalam bentuk terselubung.

Akan tetapi Sang Panembahan Ganggamurti bukan pertapa semacam ini. Dia tidak mencari sesuatu. Dia pergi bertapa dan tinggal di tempat sunyi itu adalah karena dia memang suka dan merasa cocok tinggal di tempat sunyi dan berhawa bersih. Pula, dia merasa bahwa tinggal di tempat yang ramai tidak ada gunanya, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. puluhan tahun sudah dia tinggal di Gunung Bromo, memberi pelajaran tentang kehidupan, melalui Agama Hindu Buddha, juga mengobati orang- orang dusun yang sakit dan minta tolong kepadanya. Banyak pula dia menerima cantrik (murid Pendeta) yang dipilihnya di antara mereka yang memiliki kesadaran dan kemauan keras, juga mereka yang berbakat. Dia mengajarkan ini sari pelajaran agama kepada para cantrik, dan untuk membuat mereka sehat lahir batin,

Dia mengajarkan pula beberapa bentuk olah raga kedigdayaan agar mereka dapat membela diri terhadap bahaya yang mengancam keselamatan badan mereka. Satu-satunya murid yang khusus dilatih ilmu-ilmu kedigdayaan, aji-aji kesaktian hanyalah Sridenta. Para cantrik di situ merasa heran akan hal ini, namun mereka tidak berani bertanya dan mereka yakin bahwa guru mereka tentu mempunyai alasan kuat mengapa Sridenta dibedakan dari para cantrik lain. Merekapun dapat menduga bahwa pemuda yang menjadi murid Pendeta itu tentu bukan pemuda sembarangan, walaupun Sridenta sendiri tidak pernah mau menceritakan darimana dia datang. Pribadinya diliputi penuh rahasia walaupun sikapnya amat ramah dan lembut terhadap para cantrik. Akan tetapi, diapun tidak menolak ketika para cantrik menyebutnya Raden, sedangkan dia menyebut Kakang kepada semua cantrik.

Diterimanya sebutan Raden ini saja sudah menunjukkan bahwa dia berdarah bangsawan. Para cantrik menyebutnya Raden karena mendengar betapa Sang Panembahan Ganggamurti kadang-kadang menyebut Raden pula kepada pemuda itu, walaupun lebih sering Kakek itu menyebutnya angger atau kulup. Ketika Sridentan membawanya menghadap Sang Panembahan Ganggamurti yang sedang duduk diatas sebuah batu besar di depan gubuknya, Darmini ikut pula menjatuhkan diri, menyembah lalu duduk bersimpuh dengan sikap hormat. Akan tetapi iapun mengamati Kakek tua renta itu dan segera ia merasa suka, tunduk dan hormat karena Kakek ini memiliki pribadi yang demikian halus lembut dan penuh damai, sama sekali berbeda dengan wajah Empu Kebondanu yang berwajah bengis.

“Angger Sridenta, siapakah yang kau bawa menghadap ini?” tanya Kakek itu dengan lembut. Memang Kakek ini memiliki wibawa yang lembut, membuat orang mau tak mau menaruh hormat. Rambut, kumis dan jenggotnya sudah putih semua, dan seperti juga Sridenta, Kakek inipun memakai pakaian serba putih, bahkan tidak dapat dinamakan pakaian karena hanya merupakan kain putih panjang yang dilibatkan di tubuhnya yang kurus tinggi. Sridenta menyembah dengan hormat, lalu dengan suara lirih namun jelas dia menceritakan tentang pertemuannya dengan gadis yang berpakaian pria itu. Diceritakannya betapa dia mencegah perbuatan jahat seorang laki-laki bertopeng yang hendak memperkosa Darmini dan betapa gadis ini baru saja berguru kepada Empu Kebondanu dan oleh Kakek itu disuruh bertapa di dalam guha sempit dan tahu-tahu muncul laki-laki bertopeng yang hendak memperkosanya.

“Saya berhasil menandingi orang bertopeng itu, Eyang. Dia lari keluar guha dan saya mengejarnya karena saya ingin melihat siapa adanya orang yang mempunyai perbuatan jahat itu. Akan tetapi dia menghilang di dekat guha pertapaan Paman Empu Kebondanu, dan ketika saya bertanya kepada Paman Empu, beliau menyatakan tidak melihat orang bertopeng. Karena saya merasa yakin bahwa akan berbahaya sekali bagi nona ini untuk melanjutkan berguru kepada Paman Empu Kebondanu, maka saya telah melakukan kelancangan, membawanya menghadap Eyang untuk menerima petunjuk.”

Kakek itu mendengarkan keterangan Sridenta dengan penuh kesabaran, kadang-kadang mengagguk- angguk dan memandang kepada wajah gadis yang menyamar pria itu. Penglihatannya yang amat tajam itu dapat melihat kedukaan besar menggores batin wanita muda itu dan diapun merasa amat iba hati, akan tetapi ada sesuatu pada pandang mata gadis itu yang juga mendatangkan perasan khawatir dalam batin Sang Panembahan, yaitu kekerasan hati dan dendam! Setelah muridnya itu selesai memberi keterangan, Kakek itu kini memandang kepada Darmini dan bertanya dengan ramah dan halus,

“Anak yang baik, siapakah namamu dan dari mana engkau datang?” Darmini menyembah dulu sebelum menjawab, kemudian iapun menjawab dengan suara biasa, suara wanita berbeda dengan suaranya ketika ia dalam penyamaran.

“Eyang Panembahan, nama saya Darmini dan saya datang dari Lumajang,” jawabnya dengan singkat karena Darmini tidak ingin menceritakan riwayat dirinyaa yang penuh dengan duka dan aib. Kakek itu mengangguk-angguk, dapat menduga bahwa gadis ini hendak menyembunyikan rahasia dirinya.

“Dan engkau seorang gadis, bagaimana sampai datang berguru kepada Empu Kebondanu?”

“Di Lumajang saya mendengar bahwa Empu Kebondanu adalah seorang pertapa sakti, oleh karena itu saya datang menghadap padanya dan minta diberi pelajaran ilmu kedigdayaan.”

“Jagad Dewa Bathara...!” Sang Panembahan Ganggamurti berseru. “Angger, seorang wanita seperti engkau ini mengapa hendak mempelajari ilmu kedigdayaan? Untuk apakah, angger? Bukankah seyogjanya wanita mempelajari segala macam ilmu kelembutan yang mendatangkan ketentraman, keindahan dan kedamaian?” Darmini tetap tidak ingin menceritakan riwayatnya, apa lagi di situ terdapat Sridenta, dan juga tiga orang cantrik yang kebetulan menghadap Kakek Pendeta itu. Agaknya Sang Panembahan Ganggamurti memiliki perasaan yang teramat peka, memiliki indera ke enam yang penuh kekuatan sehingga dia dapat merasakan getaran yang tidak dirasai oleh orang lain yang masih tidur indera keenamnya itu. Diapun berkata kepada murid-muridnya,

 “Raden Sridenta, dan kalian para cantrik, harap suka mundur lalu agar aku dapat bicara empat mata dengan Nini Darmini.” Sridenta dan tiga orang cantrik itu mengundurkan diri dan kini Darmini seorang diri berhadapan dengan Kakek tua renta itu. Sukar menaksir berapa usia Kakek ini, tentu sudah lebih dari tujuh puluh tahun.

“Nah, angger Nini Darmini, sekarang ceritakanlah, apa yang menyebabkan engkau, seorang wanita muda, sampai bersusah payah menyamar sebagai pria dan ingin sekali mempelajari ilmu kedigdayaan. Untuk apa engkau mempelajari ilmu untuk berkelahi itu?”

“Ampunkan saya kalau saya tidak dapat menceritakan riwayat diri saya yang penuh penasaran dan aib, Eyang. Akan tetapi yang sudah pasti saya melihat banyaknya peristiwa yang membuat hati merasa penasaran, betapa banyaknya orang jahat sekali berkeliaran di dunia ini, seperti yang diceritakan oleh Raden Sridenta tadi betapa disinipun terdapat orang yang hampir saja memperkosa saya. Nah, melihat kenyataan itu, Eyang, saya ingin sekali mempelajari aji kesaktian untuk menentang kejahatan, untuk membela diri sendiri dan membela mereka yang lemah tertindas, mereka yang menjadi korban kejahatan dan kekerasan. Tanpa memiliki kedigdayaan, saya tidak berdaya dan hanya akan selalu menderita dan merasa penasaran.”

Mendengar jawaban ini, Sang Panembahan Ganggamurit mengangguk-angguk. Tanpa bercerita sekalipun dia dapat mengetahui bahwa gadis ini telah menderita perlakuan buruk yang mendatangkan perasan penasaran dan dendam. Maka diapun berkata sambil memejamkan mata.

“Ommm... shanti-shanti-shanti... semoga perdamaian meliputi hati seluruh umat manusia! Nini Darmini, dendam merupakan racun yang amat jahat dan yang akhirnya hanya akan merugikan diri sendiri karena dendam melahirkan kebencian dan kekejaman. Kebencian membutakan mata dan menyeret orang kepada perbuatan yang kejam dan jahat. Kalau saja engkau dapat melenyapkan api kebencian dan dendam yang membakar dalam hatimu itu, Nini...” Darmini merasa terkejut. Memang tak dapat disangkal bahwa yang mendorongnya pergi mencari guru untuk mempelajari ilmu kesaktian adalah dendamnya karena kematian Ong Cun dan karena perkosaan terhadap dirinya! Ia lalu menyembah dengan suara penuh duka ia berkata,

“Saya mohon petunjuk Eyang Panembahan...” Ia menyerahkan diri karena ia merasa yakin bahwa hanya Kakek inilah agaknya yang dapat menolongnya.

“Jagat Dewa Bathara...! Agaknya para dewata yang menuntunmu ke sini, Darmini. Ilmu kedigdayaan, aji kesaktian harus dipelajari dengan hati bersih, dan memang sepatutnya dipergunakan untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan perlindungan. Tidak boleh sekali-kali dipergunakan untuk kejahatan, dan berbuat atas dasar dendam kebencian juga merupakan suatu kejahatan. Kalau engkau benar-benar hendak mempelajari ilmu kedigdayaan, aku mau membantumu, akan tetapi hanya dengan syarat bahwa engkau harus lebih dulu melenyapkan dendam dari dalam hatimu. Bagaimana, Nini?”

Darmini mengerutkan alisnya. Ia ingin mempelajari aji kesaktian memang harus untuk membalas dendam! Akan tetapi kini terbukalah hatinya dan ia menjadi lebih waspada. Ia dapat menangkap apa yang dimaksudkan oleh Kakek itu dan ia dapat melihat kebenaran yang terkandung di dalamnya. Ia menyembah lagi.

 “Maaf, Eyang. Bagaimana kalau kepandaian itu kelak saya pergunakan untuk mencari orang yang melakukan kejahatan dan menghukumnya?” Ia berhenti sebentar lalu menyambung cepat. “Bukan karena dendam, melainkan karena membela keadilan dan kebenaran, yaitu bahwa yang melakukan kejahatan haruslah dihukum, dan orang yang telah diperlakukan jahat tanpa dosa haruslah dibela.” Kakek itu tersenyum.

“Tidak tahukah engkau, Darmini, bahwa tanpa engkau bersusah payah sekalipun, hukum terhadap setiap perbuatan itu memang sudah ada? Orang takkan mampu menghindar dari hukum setiap perbuatannya, karena hukum itu sudah melekat pada perbuatan itu sendiri! Hanya tinggal menanti kembang dan buahnya saja. Hukum Karma takkan pernah lengah atau tidak adil, Nini, perbuatan apapun juga sudah membawa hukumnya sendiri, hal itu sama bulatnya dengan sebuah piring sehingga tidak lagi diketahui mana ujung pangkalnya. Mari kita sama lihat, apakah benar engkau dapat melenyapkan dendam itu dari dalam hatimu. Kalau sudah bersih dari dendam, barulah aku akan mau mengajarkan ilmu kepadamu.” Darmini menjadi girang bukan main dan iapun cepat menyembah.

“Terima kasih, Eyang. Hanya Eyanglah gantungan harap saya, dan saya akan mentaati petuah dan perintah Eyang.” Kakek itu lalu menoleh ke kanan dan memanggil, suaranya perlahan saja.

“Angger Sridenta, ke sinilah, angger!” Darmini menoleh ke kiri, untuk melihat. Akan tetapi ia tidak melihat pemuda yang dipanggilnya itu. Akan tetapi, ia melihat bayangan Sridenta berjalan cepat dari jauh dan sebentar saja pemuda itu sudah berada di situ, duduk bersimpuh dan menyembah kepada Sang Panembahan Gagangmurti sambil bertanya,

”Eyang memanggil saya?” Diam-diam Darmini terkejut. Pemuda itu tadi agaknya berada di ladang, melihat betapa celananya digulung sampai ke atas lutut dan betisnya penuh lumpur, juga kedua lengan bajunya digulung, kedua tangan berlumpur pula. Ladang itu tidak nampak dari situ, amat jauh, akan tetapi bagaimana pemuda itu mampu mendengar suara Kakek itu yang memanggilnya begitu lirih? Apakah pemuda itu memiliki pendengaran sakti, ataukah Kakek itu yang mengeluarkan suara sakti tadi?

“Benar, angger. Mulai hari ini, berikan pondokmu untuk Darmini dan engkau boleh tinggal bersamaku di gubuk ini, menempati kamar belakang yang kosong.” Wajah yang tampan itu berseri.

“Jadi... diajeng Darmini diterima menjadi murid Eyang?” Kakek itu mengangguk.

“Tergantung dari ia sendiri, kalau ia dapat membersihkan hatinya dari dendam kebencian...”

“Akan saya coba dan saya taati semua petunjuk Eyang!” kata Darmini. “Dan sayapun mengharapkan petunjuk dari andika, Raden Sridenta.” Demikianlah, mulai hari itu, Darmini tinggal di pertapaan Eyang Panembahan Gagangmurti, dan untuk tahap pertama, Kakek itu memberi petunjuk kepada Darmini untuk bersamadhi dan menenangkan hati, mempelajari dendamnya sehingga dendam kebencian itu lenyap dari dalam hatinya, membuat batinya bersih dan siap untuk menerima pelajaran ilmu-ilmu kesaktian dan kedigdayaan.

Wakitu meluncur dengan amat cepatnya kalau tidak diperhatikan. Hari, bulan dan tahun meluncur begitu saja dan tahu-tahu bertahun-tahun telah lewat sebelum kita menyadarinya. Kalau kita, orang- orang dewasa menengok ke belakang, ke dalam masa kanak-kanak kita maka terbayanglah semua peristiwa di masa kita masih kanak-kanak, seolah-olah baru kemarin atau kemarin dulu saja terjadinya, padahal, sudah belasan atau puluhan tahun kita tinggalkan! Apa lagi kalau peristiwa yang terjadi di waktu yang lalu itu amat mengagumkan, maka lewat puluhan tahun juga, kalau kita membayangkan, seolah-lah baru terjadi kemarin. Kalau kita menengok ke masa lampau, kita terkejut mengetahui bahwa hal itu telah terjadi bertahun-tahun yang lalu!

Demikianlah, lima tahun telah lewat sejak peristiwa yang terjadi di Lumajang, ketika Ong Cun terbunuh tanpa ada yang mengetahui siapa yang telah membunuhnya. Kini kita beralih ke Tiongkok, negara Cina yang berada jauh sekali dari Lumajang atau Majapahit, jauh di utara melalui lautan yang amat luas. Kota Thian-Cin terletak di sebelah tenggara Kotaraja Peking. Thian-Cin merupakan sebuah kota yang besar dan penting sebagai pusat perdagangan karena kota ini menghubungkan Kotaraja dengan pantai lautan Pohai. Karena kota ini besar dan ramai dengan perdagangannya maka dusun-dusun disekitarnya juga ikut makmur. Setiap hari para petani dari dusun menjual hasil tanaman mereka ke kota Thian-Cin. Di sebuah dusun yang di sebut Kim-Ke-Bun yang letaknya di sebelah barat kota Thian-Cin, tinggal Kwee Lok dan Ong Bi Kwi. Kita sudah mengenal Kwee Lok, yaitu Sute dan juga adik misan dari Ong Cun.

Ketika rombongan yang dipimpin Laksamana The Ho kembali ke Tiongkok, setelah rombongan dibubarkan di Kotaraja, Kwee Lok segera pulang ke Kim-Ke-Bun, dan disambut oleh Kakek Ong Kui dan puterinya yang bernama Ong Bi Kwi. Kakek Ong Kui ini Ayah Ong Cun. Dengan sedih Kwee Lok menceritakan tentang kematian Ong Cun terbunuh orang secara gelap. Dapat dibayangkan betapa sedihnya keluarga Ong mendengar tentang kematian Ong Cun jauh di negeri asing itu. Ong Kui, yang hanya mempunyai seorang putera disamping puterinya, menangis sedih, juga puterinya yang ketika itu baru berusia empat belas tahun menangis. Habislah harapan Ong Kui. Dia seorang duda dan harapan satu-satunya hanya kepada puteranya, yang diharapkan akan menjadi tulang punggung keluarganya kelak, dan menjadi pelindung di hari tuanya.

Akan tetapi Ong Cun tewas di negeri asing, bahkan kuburannya tak mungkin dia kunjungi! Kwee Lok yang yatim piatu menghibur orang tua dan gadis remaja itu dan timbullah keinginan Ong Kui mengangkat Kwee Lok sebagai puteranya, pengganti Ong Cun yang mati. Kwee Lok adalah keponakan isterinya, sudah yatim piatu pula, dan sejak kecil menjadi saudara misan, sahabat baik, dan bahkan Sute (adik seperguruan) dari Ong Cun. Kwee Lok yang hidup sebatangkara itu menerima pengangkatan itu dan jadilah dia putera angkat Ong Kui dan Kakak angkat Ong Bi Kwi. Ketika Bi Kwi mendengar cerita Kwee Lok tentang kematian Kakaknya di Pulau Jawa, tentang pertunangan Kakaknya dengan seorang gadis jawa, timbul keinginan hati Bi Kwi untuk mencari pembunuh Kakaknya!

Ia amat mencinta Kakaknya yang menjadi saudara tunggal itu, dan mendengar betapa Kakaknya dibunuh orang, ia merasa sakit hati sekali. Ketika itu, seperti juga Ong Cun, Ong Bi Kwi telah mempelajari ilmu silat dan semenjak kembalinya Kwee Lok, ia semakin tekun berlatih, bahkan atas perkenan Ayahnya, ia belajar silat yang lebih tinggi di perguruan Siauw-Lim-Pai. Akan tetapi, biarpun dia sudah mengangkat Kwee Lok sebagai putera, sebagai pengganti Ong Cun, tetap saja hati Ong Kui tak pernah dapat terhibur. Dia jatuh sakit dan tubuhnya semakin lemah. Akhirnya, dua tahun semenjak dia mendengar akan kematian puteranya, Ong Kui meninggal dunia. Di depan Kwee Lok dan Bi Kwi yang menangisinya, Kakek ini meninggalkan pesan agar Kwee Lok suka membimbing Bi Kwi sebagai adiknya, dan mencarikan jodoh yang baik.

Adapun semua peninggalannya, rumah dan sawah ladang, diberikannya kepada Kwee Lok. Kemudian matilah Kakek Ong Kui. Tentu saja Bi Kwi merasa semakin terpukul batinnya. Kini ia sebatang kara, dan semakin besar tekadnya untuk menamatkan pelajaran silatnya, kemudian ia akan berlayar ke selatan, ke Majapahit untuk mencari pembunuh Kakaknya yang menyebabkan hancurnya keluarganya. Ia tahu bahwa Ayahnya meninggal dunia karena duka kehilangan Ong Cun. Kini ia telah tamat dan usia Bi Kwi sudah sembilan belas tahun. Berkali-kali, selagi ia menjadi murid Siauw-Lim-Pai, semenjak ia berusia enam belas tahun, Kakak angkatnya, Kwee Lok membujuknya untuk menerima pinangan. Akan tetapi dengan keras ia menolaknya.

“Aku ingin menamatkan pelajaran silatku lebih dulu, Twa-Ko.” Demikian ia selalu menolak. Sekarang ia telah tamat dan kembali Kakak angkatnya itu membujuk dan mendesaknya agar ia mau menikah. Mereka berdua duduk di ruangan dalam, melarang pelayan memasuki ruangan itu ketika kembali Kwee Lok membujuknya.

“Kwi-moi (adik Kwi), sekarang usiamu sudah sembilan belas tahun. Sudah cukup dewasa, bahkan terlalu dewasa dan agak terlambat untuk segera menikah.”

“Twa-Ko, aku belum mempunyai keinginan untuk itu.” Bi Kwi menolak sebelum Kakaknya bicara lebih panjang.

“Ah, engkau tidak boleh selalu menolak, Kwi-moi. Engkau harus ingat akan kedudukan aku. Bukankah aku telah menjadi Kakakmu, diangkat anak oleh Ayah kandungmu? Dan lupakah engkau akan pesan terakhir dari Ayah kita bahwa aku harus mengurusmu dan mencarikan jodoh yang baik untukmu? Kalau engkau terus menolak, engkau sungguh membikin aku merasa tidak enak dan susah. Bagaimana kelak aku dapat bertemu dengan Ayahmu dan juga dengan Kakak kita Ong Cun kalau aku mati? Aku akan merasa malu sekali karena tidak dapat memenuhi tugasku dengan baik, Kwi-moi, harap engkau sekali ini jangan menolak lagi.” Bi Kwi mengangkat mukanya menatap wajah Kakak angkatnya, yang juga merupakan Kakak misan, juga Kakak seperguruan karena mereka berdua sama-sama menjadi murid Tiong Sin Hwesio ketua Kuil Siauw-Lim-Pai yang juga menjadi guru mendiang Ong Cun juga.

Kwee Lok menatap wajah adik angkatnya. Keduanya saling pandang sampai beberapa lamanya. Bi Kwi mengamati wajah Kakak angkatnya untuk menyelidiki isi hati Kakak angkatnya itu. Namun, wajah yang tampan dan gagah itu tidak memperlihatkan apa-apa, matanya tetap tajam menusuk, kumisnya yang tipis menambah ketampanan wajahnya dan rambutnya di sisir rapi, pakaiannya juga bersih. Kakak angkatnya ini memang seorang laki-laki yang tampan, gagah dan pesolek! Di lain pihak, Kwee Lok juga mengamati wajah adiknya, dengan alis berkerut karena dia mulai tidak senang melihat gadis itu selalu menolak. Wajah adik angkatnya ini cukup manis, berbentuk bulat telur dan kulit mukanya putih bersih. Mirip sekali dengan wajah Ong Cun. Seorang gadis yang jelita dan tentu banyak pemuda yang akan suka menjadi suaminya.

“Twa-Ko, kenapa engkau begitu mendesakku untuk menikah?” Bi Kwi kini bertanya dengan sinar mata tajam penuh selidik. Ia seorang gadis yang cerdik sekali dan sudah biasa bersikap teliti.

“Kenapa? Engkau masih bertanya lagi? Aku adalah satu-satunya keluargamu, Kakak angkatmu, juga pengganti Ayah Ibumu yang sudah tiada, pengganti Kakak kandungmu yang sudah tiada. Aku harus mentaati pesan terakhir dari Ayah kita. Dan mengingat bahwa engkau kini telah berusia sembilan belas tahun, sungguh amat terlambat. Aku seolah-olah mendengar setiap kali dalam mimpiku betapa Ayah kita menegurku.” Dia berhenti sebentar untuk menarik napas panjang, kemudian melanjutkan. “Dan ingatlah, adikku. Bukankah sudah berkali-kali engkau minta waktu kepadaku, selalu mengatakan bahwa engkau akan menamatkan dulu pelajaran ilmu silatmu? Bukankah sekarang telah tamat dan aku telah sabar menanti sampai tiga tahun? Bagaimana sekarang engkau hendak melanggar janji dan menolak lagi?”

 “Twa-Ko, aku sama sekali tidak melanggar janji, karena aku selamanya belum pernah berjanji padamu. Ingat baik-baik. Ketika engkau membujuk aku, aku hanya mengatakan bahwa aku ingin menamatkan pelajaran silatku lebih dulu. Aku tidak pernah berjanji bahwa setelah tamat aku akan mau menikah!”

“Akan tetapi, apa sih sebenarnya yang menyebabkan engkau menolak terus seperti ini? Kalau engkau memiliki pilihan hatimu sendiri, katakan siapa dia! Kalau menurut penyelidikan dan penilaianku dia cukup baik untukmu, aku tidak akan berkeberatan.”

“Tidak, Twa-Ko. Aku tidak mempunyai pilihan hati. Aku sama sekali tidak pernah memikirkan untuk menikah, karena aku pada saat ini hanya mempunyai satu saja keinginan.”

“Apakah itu?”

“Pergi ke Jawa, ke Kerajaan Mahapahit, ke Lumajang dan mencari pembunuh Kakakku!” “Engkau mendendam! Bukankah hal itu merupakan usaha yang sama sekali tidak mungkin!” “Kenapa tidak mungkin?”

“Lumajang itu jauh sekali, adikku. Dan pembunuh itupun tidak diketahui siapa adanya! Dan disana terdapat banyak sekali orang sakti yang memiliki kesaktian luar biasa dan aneh-aneh. Engkau tidak dapat mengerti Bahasa mereka, bagaimana engkau dapat mencari dan menemukan pembunuh Kakak kita Ong Cun?”

“Hemm, betapapun jauhnya, bukan tidak mungkin dikunjungi, Twa-Ko. Buktinya engkau pernah juga berkunjung kesana. Dan tentang bahasa, dapat kupelajari. Akupun tidak takut menghadapi pembunuh Cun-twako, betapapun saktinya. Pendeknya, aku harus pergi ke sana, Twa-Ko.” Kwee Lok menggeleng- gelang kepalanya. Tak disangkanya bahwa adik angkatnya ini mempunyai kemauan yang demikian besarya, sudah demikian nekat. Dia menarik napas panjang.

“Dan ingat akan biayanya, Kwi-moi. Biayanya bukan sedikit untuk pergi ke sana. Dengarkan baik-baik. Tentang dendam itu, perlahan-lahan dapat kita bicarakan. Kalau engkau sudah menikah, suamimu yang mengajakmu melawat ke sana dan aku akan membantumu mencari musuh pembunuh Kakakmu itu. Akan tetapi, lebih dulu engkau harus menikah dengan calon suamimu itu.”

“Dan kalau sudah menikah aku lalu harus terikat dan harus mentaati semua kemauan suamiku? Tentu dia tidak akan mengijinkan aku pergi ke selatan! Pula, siapakah calon yang agaknya sudah kau sediakan untukku itu, Twa-Ko?”

“Dia seorang yang hebat, adikku. Dan sejak engkau berusia lima belas tahun, dia sudah jatuh cinta padamu dan sampai sekarang pun dia masih menantimu! Dia seorang laki-laki yang bukan saja berdarah bangsawan, kaya raya, Ayahnya memiliki kekuasaan besar di Thian-Cin. Dia adalah Cu Hok Sim, putera pembesar di Thian-Cin. Ayahnya, Cu-Taijin (pembesar Cu) adalah jaksa yang memiliki kekuasaan besar di Thian-Cin...”

“Apa?” tiba-tiba Bi Kwi bangkit berdiri dan memandang kepada Kakak angkatnya dengan mata terbelalak. Kwee Lok tersenyum, mengira bahwa adik angkatnya itu terkejut dan heran mendengar bahwa calon itu adalah putera bangsawan tinggi yang kaya raya dan terkenal berkuasa besar itu. “Jangan heran, adikku. Dia adalah seorang sahabat baikku dan...”

“Justeru aku merasa heran sekali mengapa engkau dapat bersahabat dengan seorang seperti dia, Twa- Ko! Bukankah dia yang terkenal dengan sebutan Cu-Kongcu (tuan muda Cu), laki-laki yang suka mempermainkan anak bini orang dengan mengandalkan kedudukan Ayahnya dan kekayaannya, dibantu oleh segala macam penjahat besar yang menjadi kaki tangannya!”

“Ah, itu hanyalah fitnah belaka, adikku. Biasalah di dunia ini, kalau ada orang yang berhasil dalam hidupnya, banyak orang lain menjadi iri hati dan suka menyebarkan fitnah dan kabar kosong! Memang dia telah mempunyai beberapa orang selir walaupun dia belum menikah dan diantara selirnya itu berasal dari dusun kita. Apa salahnya itu? Seorang putera bangsawan yang kaya raya, sudah biasa memiliki beberapa orang selir! Dan kalau dia ditakuti karena kedudukan Ayahnya yang tinggi, itupun bukan salahnya. Tentang menggunakan kekayaan, siapa tidak mengenal keroyalan Cu-Kongcu menolong orang yang kesusahan dengan uangnya? Dan yang disebut penjahat-penjahat besar itu adalah pasukan pengawalnya yang memang terdiri jago-jago silat dan itu hanya menunjukkan kebesarannya.”

“Tidak! Aku sudah mendengar di Kuil Siauw-Lim-Si, ada beberapa orang Suheng di sana yang menceritakan betapa Cu-Taijin, jaksa itu, adalah seorang pembesar yang kejam dan sewenang-wenang, yang selalu memenangkan orang yang dapat menyogoknya dan mengalahkan mereka yang miskin walaupun benar, suka main sita milik orang untuk dirinya sendiri. Apakah para Suheng yang menjadi Hwesio itu juga suka menyebar fitnah?”

“Ah, mungkin mereka itu mendengar dari orang lain dan yang didengarnya adalah kabar bohong. Sudahlah, adikku. Apa kau kira aku akan mencelakakan adik sendiri? Sejak engkau berusia lima belas tahun, Cu-Kongcu mengutarakan keinginan hatinya, mengatakan kepadaku bahwa dia jatuh cinta padamu dan ingin meminangmu sebagai isterinya. Bukan sebagai selir! Dan aku selalu minta waktu karena engkau selalu menolak. Akan tetapi sekarang aku tidak dapat menolak lagi, adikku. Sudah terlalu lama dia bersabar...

“Hemm, kalau aku menolak dia mau apa?” Bi Kwi membentak marah.

“Bukan begitu, adikku. Kalau engkau menolak, diapun tidak akan berbuat apa-apa, akan tetapi kemanakah akan kutaruh mukaku? Aku akan merasa malu sekali dan tidak enak hati terhadap keluarga Cu yang kuhormati, juga aku akan merasa malu terhadap arwah Ayah kita karena sudah beberapa kali aku bersembahyang dan menyebut urusan perjodohanmu dengan Cu-Kongcu kepada Ayah kita. Adikku Bi Kwi, apa lagi yang dapat kau lakukan untuk berbakti kepada orang tua kalau tidak menikah dengan Cu-Kongcu?”

“Eh, bagaimana engkau mengatakan begitu? Berbakti kepada orang tua dengan menikah dan menjadi isteri orang itu?”

“Tentu saja. Satu-satunya jalan untuk berbakti kepada orang tua bagi seorang gadis adalah kalau dia menjadi seorang isteri yang baik, isteri seorang yang berkedudukan tinggi, terhormat, kaya-raya dan mulia. Dengan menjadi isteri Cu-Kongcu, engkau akan mendapatkan itu semua dan dengan jalan demikian berarti engkau akan mengharumkan nama mendiang Ayah dan Ibumu. Sebaliknya, kalau sampai seusia seperti engkau ini dan belum menikah, engkau hanya akan membikin malu nama keluarga orang tuamu.” Bi Kwi menundukkan mukanya dengan sepasang alis berkerut. Ia seorang gadis yang hidup di jaman seperti itu, jaman dimana wanita terbatas gerakannya, terbatas langkahnya, terutama sekali dalam hal pernikahan. Yang terpenting bukan si gadis, melainkan orang tuanya. Pernikahan itu diadakan demi kepentingan orang tua, dan seorang gadis hanya diperalat untuk memuaskan hati orang tua, walaupun orang tua selalu mempergunakan dalih bahwa pemilihan dilakukan demi kebahagiaan anaknya! Pernikahan seperti itulah yang lazim di lihat dan didengar oleh Bi Kwi setiap ada pernikahan di dusunnya, dan ucapan Kakak angkatnya itu tak dapat dibantahnya lagi kebenarannya. Kebenaran umum yang sudah diterima oleh umum, sehingga akan janggal dan mengejutkan kalau ia menentang pendapat umum yang sudah dianggap sebagai kebenaran itu. Melihat Adik angkatnya menunduk diam, Kwee Lok menambahkan,

“Kalau engkau menjadi isteri Cu-Kongcu yang bangsawan dan hartawan, engkau akan dapat memperbaiki kuburan orang tuamu. Nah, dengan demikian engkau akan memuliakan nama keluarga orang tuamu!” Biarpun hatinya sangat tidak setuju untuk menerima pinangan putera jaksa yang tersohor itu, Bi Kwi tidak dapat menyalahkan pendapat Kakak angkatnya. Semua orang tua akan berpendapat demikian, dan dalam hal ini, Kwee Lok merupakan pengganti orang tuanya.

“Bagaimana, adikku? Engkau tidak akan menolak lagi, bukan? Sudah lama sekali pihak keluarga Cu menanti jawabanku dengan penuh harapan.”

“Toako, aku tidak menolak akan tetapi juga belum menerimanya. Berilah aku waktu agar aku dapat berpikir masak-masak karena hal ini menyangkut masa depan kehidupanku.”

“Engkau masih minta waktu lagi, Kwi-moi? Sampai kapan? Aku sungguh merasa tidak enak dan malu terhadap keluarga Cu...”

“Tidak lama, Toako. Berilah waktu seminggu saja. Dalam waktu seminggu, aku akan memberi jawaban yang pasti.” Giranglah hati Kwee Lok. Seminggu bukan waktu yang lama dan melihat sikap adiknya, dia mendapat banyak harapan.

“Baiklah, adikku. Aku akan menanti sampai seminggu dengan sabar.” Tiga malam kemudian, sesosok bayangan hitam yang memiliki gerakan cepat sekali berkelebat di taman belakang rumah besar keluarga Cu-Taijin di kota Thian-Cin. Bayangan itu adalah Bi Kwi yang sudah sejak kemarin dulu melakukan penyelidikan di gedung itu, untuk mengikut gerak-gerik Cu Hok Sim, putera jaksa Cu yang oleh Kakak angkatnya hendak dijodohkan dengannya. Akan tetapi pada malam-malam yang lalu ia tidak berhasil dalam penyelidikannya karena Cu-Kongcu itu pergi ke luar kota. Malam ini ia berhasil karena Cu-Kongcu sudah pulang. Ketika Bi Kwi berloncatan di atas genteng tebal rumah gedung keluarga Cu, ia berhasil mengintai ke dalam sebuah kamar besar dimana Cu Hok Sim Nampak sedang makan minum dilayani oleh tiga orang wanita muda yang cantik-cantik.

Itulah selir-selir Cu-Kongcu yang banyak jumlahnya dan agaknya malam ini, mereka bertigalah yang ditunjuk untuk melayaninya. Ketika Bi Kwi mengintai, baru saja Cu Hok Sim selesai makan minum. Meja sedang dibersihkan oleh pelayan dan kini pemuda bangsawan itu duduk dengan santai di atas kursi panjang, dirubung tiga orang wanita cantik itu. Ada yang duduk di atas pangkuannya, ada yang memijiti punggungnya, bahkan seperti memperebutkan kasih sayang laki-laki tampan itu. Memang harus diakui oleh Bi Kwi bahwa Cu Hok Sim adalah seorang laki-laki yang tampan, bertubuh tinggi besar gagah, usianya sekitar tiga puluh tahun dan pakaiannya mewah. Akan tetapi, muak hatinya melihat cara hidup yang dilihatnya sekarang ini. “Kongcu, benarkah bahwa Kongcu hendak menikah dengan seorang gadis dari dusun Kim-Ke-Bun, gadis she Ong?” tanya wanita yang berada di atas pangkuannya dengan sikap manja.

“Dan saya mendengar gadis she Ong itu pandai ilmu silat” kata wanita yang memijiti punggunya. Cu Hok Sim hanya tertawa tanpa menjawab, mengambil sepotong jeruk yang sudah dikupas wanita ke tiga, memakannya.

“Wah, kalau ia sudah menjadi nyonya besar kami, tentu kami akan dipukulnya sampai setengah mati.” kata wanita ketiga.

“Aduh, Kongcu yang tercinta, kalau sampai terjadi seperti itu, apakah Kongcu tidak kasihan kepada kami, selir-selir yang hina ini...!” wanita pertama berkata sambil merangkul manja. Cu Hok Sim mencium wanita pertama yang berada di atas pangkuannya itu. Wanita itu adalah selirnya yang termuda dan terbaru yang paling disayangnya.

“Jangan khawatir, sayang. Gadis she Ong itu memang menarik hatiku dan aku ingin memilikinya, akan tetapi tidak ada bedanya dengan kalian semua. Iapun hanya akan kujadikan selirku. Mana aku mau mengambil isteri seorang gadis dusun dari kalangan rendah belaka? Isteri pertama untukku tentu harus seorang puteri bangsawan yang mulia dan terhormat!”

“Tapi, khabarnya Kongcu hendak menikah dengan resmi, mengambil gadis Ong itu sebagai isteri yang sah!” Kembali Cu Hok Sim mencium selir termuda itu.

“Tidak, itu hanya janji agar ia mau saja. Setelah tiba disini, ia menjadi selir baruku, tiada bedanya dengan kalian. Dan ia tidak akan berani mempergunakan ilmu silatnya disini. Setelah kutundukkan gadis itu menjadi selirku. Ia akan dapat berbuat apakah? Kalau ia menjadi galak, aku akan menyuruh pengawal menangkap dan menghukumnya di depan kalian!”

Giranglah hati tiga orang wanita itu yang segera berusaha untuk merayu dan mencumbu Cu Hok Sim, memperebutkan perhatiannya agar malam itu dipilih menjadi teman tidurnya. Bi Kwi hampir tidak dapat menahan kemarahannya. Akan tetapi ia masih dapat menguasai hatinya dan karena ia tidak dapat melanjutkan pengintaiannya melihat pertunjukan yang dianggapnya memuakkan itu. Hatinya masih panas membayangkan apa yang dilihat dan didengarnya tadi, akan tetapi juga ada kelegaan. Ia sudah melihat macamnya orang yang akan dijadikan suaminya dan kini ia telah mengambil keputusan tetapi, yaitu menolak pinangan itu! Ia akan menolak pinangan itu dan akan berlayar ke selatan, ke Kerajaan Majapahit untuk mencari pembunuh Kakaknya! Tiba-tiba ia berhenti melangkah. Berlayar ke selatan amat jauh dan menurut Kakaknya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Dan ia tidak memiliki apa-apa. Rumah dan sawah ladang Ayahnya telah diwariskan kepada Kwee Lok, sehingga tak mungkin dijual untuk mendapatkan uang bekal pelayaran. Ia harus mendapatkan uang yang cukup banyak untuk bekal perjalanannya! Dan di rumah gedung besar ini pasti terdapat banyak sekali harta benda. Tidak ada jalan lain. Cu Hok Sim telah memiliki niat buruk terhadap dirinya, hendak menipu ia dan Kakaknya, meminang untuk dijadikan isteri akan tetapi kemudian hanya akan menjadi selir! Bergidik ia membayangkan sikap para selir tadi, tiada ubahnya wanita-wanita pelacur saja! Untuk penipuan ini, sudah sepatutnya kalau pemuda she Cu itu diberi hukuman. Dan hukumannya harus yang menguntungkan dirinya! Bi Kwi meloncat dan tubuhnya berkelebat lagi ketika ia kembali ke rumah gedung itu. Setelah melakukan pengintaian, ia memilih kamar terbesar, yaitu kamar dari Cu-Taijin sendiri yang ditemani oleh dua orang selir dan isterinya. Dari atas genteng yang dilubanginya, Bi Kwi mengintai dan melihat sebuah lemari besar di sudut kamar itu. Tentu di situlah disimpannya barang-barang berharga, pikirnya. Iapun menanti sampai pembesar itu tidur bersama isteri-isternya. Setelah lewat tengah malam, keadaan sunyi sekali dan terdengar dengkur orang-orang yang berada di dalam kamar itu. Bi Kwi lalu meloncat turun, dengan hati-hati menyelinap ke belakang sebuah pot kembang besar ketika ada dua orang pengawal melakukan perondaan lewat di lorong dekat kamar besar itu. Setelah mereka pergi jauh, barulah ia menghampiri jendela, menggunakan tenaga jari-jari tangannya untk membuka daun jendela tanpa mengeluarkan banyak suara berisik.

Bagaikan seekor kucing saja ia meloncat ke dalam dan menutupkan daun jendela itu kembali. Baru sekali ini selama hidupnya ia merasakan ketegangan luar biasa, sampai tubuhnya agak gemetar. Selama hidupnya belum pernah ia mencuri, bahkan perbuatan itu merupakan pantangan. Akan tetapi sekali ini ia masuk sebagai seorang pencuri! Ia terpaksa harus melakukan ini, bukan hanya karena ia memang membutuhkan biaya pelayaran, akan tetapi juga untuk menghukum keluarga Cu yang hendak menipunya dan menghancurkan hidupnya! Teringat akan rencana busuk Cu-Kongcu, kemarahan mengusir ketegangannya dan iapun berindap-indap menghampiri lemari besar di sudut kamar. Untung baginya bahwa Cu-Taijin tidak suka tidur di dalam gelap, dan kamar itu masih diterangi oleh sebatang lilin sehingga biarpun cuaca remang-remang, ia masih dapat melihat dengan jelas.

Ketika ia melihat sebatang pedang yang sarungnya diukir indah tergantung di dinding dekat lemari. Dicabutnya sedikit pedang itu dan ia girang sekali. Pedang itu ternyata sebatang pedang yang baik sekali, ringan, tipis dan mengkilap. Pedang sebaik ini tidak ada gunanya berada di tangan Cu-Taijin, hanya menjadi penghias dinding saja. Ia lalu mengikatkan pedang itu dipunggunya, lalu ia menghampiri lemari besar. Dengan kedua tangannya yang memiliki tenaga sinkang yang ampuh, ia berhasil membuka daun pintu lemari itu. Tidak salah dugaannya. Lemari itu selain penuh dengan pakaian kebesaran dan tanda- tanda pangkat, juga di dalamnya terdapat dua buah peti yang ketika ia buka, terisi penuh uang emas dan perhiasan-perhiasan yang serba mahal!

Bi Kwi mengambil sehelai kain dari dalam lemari, kemudian membungkus uang emas dan perhiasaan sebanyak mungkin dengan kain itu. Buntalan barang curian yang cukup berat ini ditalikannya pula diatas punggung, kemudian iapun berindap-indap keluar dari dalam kamar. Baru saja ia menutupkan daun jendela kamar itu dari luar, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara anjing menggonggong, dekat di belakangnya. Seekor anjing besar menyalak-nyalak, bahkan kini menyerangnya, hendak menggigit kakinya! Bi Kwi terkejut dan cepat menggerakkan kakinya menendang, mengenai leher binatang itu. Anjing itu terlempar dan menguik-nguik kesakitan. Bi Kwi meloncat ke arah lorong yang menuju ke taman belakang.

“Sstt... Hitam, engkau kenapakah?” tiba-tiba muncul tiga orang pengawal yang mendengar suara anjing itu dan kini mereka berlarian ke arah anjing yang masih menguik-nguik kesakitan. Bi Kwi berlari terus memasuki taman. Akan tetapi, hampir ia bertabrakan dengan seorang pengawal yang muncul tiba-tiba dari taman.

“Hei, tahan. Siapa engkau?” bentak pengawal itu. Ketika Bi Kwi tidak menjawab dan hendak lari, pengawal itu mencabut goloknya dan menyerang! Diserang dari samping, Bi Kwi mengelak dan golok itu berdesing lewat di dekat tubuhnya. Bi Kwi menggerakkan kakinya yang menotok lutut orang itu.

“Tuk!” Ujung sepatunya mengenai sambungan lutut kanan dan orang itupun terguling. Dia mencoba berdiri akan tetapi terguling lagi karena kaki kanannya seperti lumpuh. Kesempatan ini dipergunakan oleh Bi Kwi untuk meloncat ke dalam. Orang itu berteriak-teriak dan gegerlah seluruh penghuni gedung itu. Apa lagi ketika Cu-Taijin terbangun dan bersama isterinya melihat betapa lemari mereka dibongkar orang dan banyak uang emas dan perhiasan lenyap dari dalam lemari.