-->

Kilat Pedang Membela Cinta Jilid 2

Jilid 2

“Sudahlah, ini bukan urusanmu, mengerti? Sekali lagi, bukan urusanmu dan semua perbuatanku, akan kutanggung sendiri akibatnya. Apa sangkut pautnya dengan kamu?”

“Kakang-Mas, aku adalah adikmu, adik kandungmu. Rama dan Ibu hanya mempunyai dua orang anak, yaitu engkau dan aku. Bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa urusanmu bukan urusanku? Kalau engkau celaka, akupun ikut menderita, kalau engkau senang, akupun ikut bahagia. Di waktu perang yang lalu, boleh saja Kakang-Mas mengumpulkan kekuatan termasuk empat orang ini, akan tetapi sekarang tidak ada perang lagi. Suasana sudah damai dan tenteram, apakah Kakang-Mas bahkan hendak mendatangkan kekacauan?”

“Cukup! Aku bukan adikmu yang boleh kau tegur dan nasihati begitu saja! Apakah engkau akan melaporkan kepada Kanjeng Rama? Atau kepada Ibu karena engkau adalah anak emas dari Kanjeng Ibu? Boleh, akan tetapi awas kau!”

“Kakang-Mas, aku tidak takut akan ancamanmu. Akan tetapi akupun bukan seorang besar mulut yang suka menceritakan atau mengadu kepada Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu. Aku hanya memberi nasihat sebagai saudaramu, kalau tidak kau dengarkan, terserah karena apa yang akan ditanam oleh tangan kanan, buahnya akan dipetik oleh tangan kiri sendiri!” Setelah berkata demikian, pemuda remaja itu cepat meninggalkan mereka, masuk ke dalam.

“Wah, adik Paduka itu sungguh galak, Raden Mas!” kata Bajul Kanisto. “Kalau saya yang mempunyai adik seperti itu, tentu sudah saya pukul!” Panji Sarono mendelik kepada si pendek gendut, orang ke empat dari Empat Bajul itu.

“Hemm, boleh kau coba untuk memukul Panji Saroto, tentu dalam belasan bahkan puluhan jurus belum tentu engkau berhasil. Kau tahu, adikku itu memiliki bakat yang hebat dalam ilmu pencak silat, sehingga sekarang sudah hampir melampuai tingkatku!” Mendengar ini, Bajul kanisto melongo dan empat orang itu menjadi kagum.

“Bagaimana kalau dia melapor kepada Kanjeng Empu...?” tanya Bajul Sengoro khawatir.

“Jangan takut, adikku itu biarpun lancing, tak pernah mau mengadu. Nah, kalian berangkatlah dan laksanakan tugas kalian baik-baik. Sekali ini aku ingin kalian berhasil dan hadiahnya tentu banyak.”

Empat orang itu berangkat pergi dan Panji Sarono memasuki kamarnya dengan hati puas. Akan tetapi Panji Saroto duduk termenung di dalam kamarnya, alisnya berkerut. Itulah akibat perang saudara, pikirnya sedih. Ketika terjadi perang antara Lumajang dan Majapahit, ayahnya dan Kakaknya ikut maju berjuang membela Majapahit. Dan dalam keadaan perang seperti itu, tentu saja Kakaknya boleh mengumpulkan kekuatan dengan mempergunakan tenaga orang-orang dari golongan manapun sehingga Kakaknya bergaul dengan orang-orang macam Empat Bajul itu. Sayangnya, setelah perang selesai Kakaknya terus mempergunakan empat orang jahat itu menjadi kaki tangannya! Dia merasa khawatir sekali karena bagaimanapun juga, dia amat mencinta Kakak kandungnya yang merupakan saudara tunggalnya itu.

 Ketika memasuki taman dan melihat betapa kekasihnya begitu bertemu dengannya langsung saja menubruk dan merangkul pinggang, menyembunyikan mukanya di dadanya, Ong Cun terkejut. Belum pernah Darmini bersikap seperti ini! Karena rindukah? Karena sedih hendak ditinggal pergi? Tidak bukan, sama sekali bukan. Tubuh ini agak menggigil dan dua tangan yang merangkul pinggangnya itu gemetar. Dengan halus dia memegang kedua pundak gadis itu dan mendorongnya agar dia dapat mengamati wajahnya. Benar saja, Gadis itu ketakutan. Wajahnya agak pucat dan matanya terbelalak seperti seekor kelinci dikejar harimau.

“Aih, Darmini sayang. Engkau kenapakah? Engkau kelihatan ketakutan...” Ong Cun berkata sambal tersenyum untuk menghibur bahwa tidak ada sesuat yang perlu ditakutkan.

“Ong Cun... Ah, Ong Cun... Aku takut...” “Kenapa? Takut apakah, Darmini?” “Semalam aku mimpi, Ong Cun.”

“Bagus sekali! Mimpi tentang aku, bukan?” Ong Cun mencoba untuk menggoda dan menghibur kekasihnya. Usahanya berhasil, Darmini Nampak terheran,

“Eh, bagaimana engkau bisa tahu?”

“Tentu saja aku tahu. Habis siapa lagi kalau bukan aku yang muncul dalam mimpimu, seperti juga kau selalu muncul dalam setiap mimpiku?”

“Jangan main-main, Ong Cun, aku sungguh khawatir. Aku bermimpi bahwa kita berdua mendayung sebuah perahu di tengah lautan...”

“Wah, senangnya, berperahu berdua saja!” Ong Cun memotong, masih bergurau untuk menenangkan hati Darmini yang kelihatan agak pucat itu.

“Tiba-tiba air lautan itu berubah merah seperti darah! Aku terkejut sekali dan pada saat itu, engkau terpelanting keluar dari dalam perahu, jatuh ke dalam lautan merah itu, aku menjerit dan sadar. Aku khawatir sekali, Ong Cun karena mimpi seperti itu tentu merupakan alamat yang buruk sekali.” Diam- diam Ong Cun juga merasa heran akan mimpi kekasihnya, namun dengan sikapnya tenang dia memegang tangan gadis itu.

“Jangan pikirkan lagi tentang mimpi, Darmini. Mimpi terjadi karena banyak pikiran mengganggu batin. Tenanglah.”

“Tapi aku... aku takut, aku seperti mendapat firasat yang buruk tentang dirimu, Ong Cun. Ah, bagaimana mungkin hatiku dapat tenteram kalau engkau pergi meninggalkan aku? Apakah keberangkatanmu itu tidak dapat diundur saja?” Ong Cun menggeleng kepala.

“Kalau menurut keinginan hatiku, aku ingin selamanya berada di sampingmu dan tidak pergi lagi, Darmini. Akan tetapi pada saat ini aku adalah seorang anggauta rombongan Laksamana The Ho. Aku harus mentaati perintah atasan. Pula, aku harus cepat-cepat pulang untuk mendapatkan ijin orang

 tuaku, baru aku akan terbang kembali ke sini secepatnya. Ah, kalau saja aku bersayap, tentu aku akan terbang, tidak naik perahu yang memakan waktu lama.”

“Tapi... tapi, mimpiku semalam...”

“Mimpimu semalam? Hanya karena engkau memikirkan aku. Engkau bermimpi naik perahu bersamaku, karena engkau membayangkan aku akan segera naik perahu kembali negeriku melalui lautan luas.”

“Tapi, air laut berubah merah seperti darah dan engkau terjatuh ke dalam air itu...”

“Itu timbul karena engkau mengkhawatirkan diriku. Percayalah, tidak akan ada bahaya mengancam diriku, sayang. Yang penting, engkaulah yang harus berhati-hati menjaga dirimu selama aku pergi.”

“Akan tetapi jangan terlalu, Ong Cun...” Gadis itu menahan isak.

“Tidak, Darmini. Kau kira aku kuat untuk berlama-lama terpisah darimu?”

“Ong Cun...” Karena mereka berdekatan, kembali Darmini merangkul pinggang dan menangis di atas dada kekasihnya. Ong Cun merangkulnya dan mengelus rambut kepala Darmini untuk menghibur dan menenangkan hatinya. Di dalam diri setipa orang manusia sudah terdapat kekuatan mujijat, kepekaan yang amat halus, kepekaan inilah yang kadang-kadang dapat menangkap isyarat yang mengandung getaran halus, dan agaknya hanya di waktu masih bayi sajalah kepekaan halus itu masih bekerja dengan sempurna. Seorang bayi yang masih bersih dari pada segala macan kekotoran pikiran, dapat berhubungan dengan hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh manusia dewasa,

Sayanglah bahwa kekuatan mujijat dan kepekaan halus ini makin lama makin menipis untuk kemudian tidak bekerja sama sekali ketika bayi itu tumbuh menjadi manusia dewasa. Kesibukan pikiran membuat batin menjadi tumpul dan sarat oleh beban menjadi kotor. Bagaikan sebuah bola lampu yang kotor tertutup debu tebal, sinarnya yang berada di dalamnya tidak dapat menyorot keluar sehingga biarpun api di dalamnya masih ada, namun tidak dapat dipergunakan lagi. Kini banyak di antara kita sibuk mencari api itu, sinar itu, dengan berbagai macam cara, menurut contoh dan guru masing-masing. Kenapa mencari api dan sinar yang sesungguhnya sudah ada pada tiap orang manusia? Yang terpenting bukanlah mencari api dan sinarnya, melainkan MEMBERSIHKAN debu penutup itu dari batin.

Kalau batin sudah bersih, tidak lagi penuh kotoran yang keluar dari perahan pikiran yang selalu mengada-ada, maka kita tidak lagi mengejar dan mencari sinar, karena sinar itu sudah ada pada kita masing-masing. Ong Cun dan Darmini terlena dalam kemesraan kasih sayang antara mereka, dan mereka bercakap-cakap dengan penuh kasih sayang dan kemesraan karena malam itu merupakan malam terakhir bagi mereka. Biarpun keberangkatan itu masih beberapa hari lagi, namun besok pagi, Ong Cun tidak lagi diperkenankan keluar dari rombongannya yang harus bekerja keras mempersiapkan segalanya untuk keberangkatan mereka kembali ke negeri mereka. Akhirnya pertemuan itupun harus mereka akhiri. Ong Cun selalu menjaga kesopanan dan menjaga nama baik kekasihnya. Tidak boleh terlalu malam dia berada di situ.

“Darmini, harap kau simpan baik-baik pedangku itu sebagai pengganti diriku,” katanya sambil memegang kedua tangan kekasihnya.

 “Akan kusimpan selalu, Ong Cun, juga bunga teratai darimu itu masih kusimpan dan akan terus kusimpan sampai engkau kembali kepadaku.” Untuk beberapa saat lamanya mereka berdiri berhadapan, dengan kedua tangan saling genggam, dua pasang mata saling pandang dan berbicara lebih banyak dari pada mulut mereka. Akhirnya, dengan lembut Ong Cun melepaskan kedua tangannya.

“Selamat tinggal, Darmini sayang...”

“Bukan selamat tinggal, Ong Cun, hanya selamat berpisah untuk sementara waktu saja. Jaga dirimu baik- baik dan lekaslah kembali ke sini. Ingaaat, aku selalu menantimu, siang malam...” Darmini menahan isaknya.

“Engkau juga, jaga dirimu baik-baik, sayang. Aku pergi takkan lama, aku akan segera kembali...” Ong Cun cepat membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan kekasihnya, karena dia tahu kalau dia tidak pergi cepat-cepat, hatinya akan tidak tega berpisahan dari kekasihnya itu. Dengan langkah cepat Ong Cun keluar dari taman itu, dan karena tadi dia sudah berpamit dari Ki Demang Bragolo dan isterinya, diapun langsung saja keluar tanpa pamit lagi. Ketika dia tiba di daerah sunyi yang menuju ke tempat pemondokan rombongannya, di dekat sebuah anak sungai, mendadak dia berhenti melangkah karena dia melihat berkelebatnya bayangan tiga orang muncul dari balik batang pohon asam besar yang berdiri di tepi jalan itu. Keadaan cuaca terlampau gelap untuk dapat mengenal siapa adanya tiga orang itu.

Akan tetapi nalurinya dan juga pendengarannya yang tajam dapat mengikuti gerakan mereka dan tahulah dia bahwa tiga orang itu menyerangnya dengan dahsyat, dari depan, kanan dan kiri! Mereka menyerang dengan senjata keris. Teringatlah Ong Cun akan tiga orang yang dulu pernah menculik dan hampir memperkosa Darmini. Tentu merekalah yang kini menyerangnya! Dengan marah dia lalu mengelak sambil membalas dengan tendangan kaki kea rah penyerang di depan. Akan tetapi, orang itu dapat pula menghindarkan diri dari tendangannnya dengan loncatan ke belakang, lincah juga gerakannya. Adapun dua orang penyerang lain sudah menerjangnya dari kanan kiri lagi. Ternyata tiga orang ini memiliki gerakan yang cukup cepat dan kuat, agaknya lebih hebat dari pada tiga orang yang dulu pernah dikalahkannya ketika dia menyelamatkan Darmini.

Agaknya mereka ini telah berlatih, dan kini berlaku hati-hati, piker Ong Cun. Betapapun cepat dan kuat gerakan tiga orang pengeroyok itu, Ong Cun tidak menjadi gentar, dan bagaimanapun juga, tiga orang itu masih belum mampu menandingi kelihaian Ong Cun yang menghadapi mereka dengan tangan kosong saja. Memang pemuda ini tidak mempunyai senjata Lain kecuali Lian-Hwa-Kiam. Akan tetapi pedang itu telah diberikannya kepada Darmini dan sekarang dia tidak mempunyai senjata lain kecuali sepasang tangannya. Namun, ini saja sudah cukup untuk menghadapi pengeroyokan tiga orang itu. Kegelapan tempat di bawah pohon asam itu menguntungkan Ong Cun karena baik sepasang matanya maupun sepasang telinganya lebih tergembleng dan lebih tajam daripada tiga orang pengeroyoknya.

Dia mampu mengikuti gerakan mereka melalui pendengarannya saja. Beberapa kali kaki dan tangannya sudah berhasil menyerempet tubuh para pengeroyoknya sehingga beberapa kali mereka itu terjatuh. Akan tetapi, mereka memiliki tubuh yang kebal juga karena begitu terjatuh, mereka sudah cepat meloncat bangkit dan menyerang kembali. Hal ini terutama sekali karena serangan Ong Cun tidak mengenai sasaran yang tepat. Dalam keadaan cuaca yang demikian gelap memang agak sukar untuk mengarahkan serang ke sasaran yang tepat. Selagi Ong Cun mendesak tiga orang pengeroyoknya, tiba- tiba nampak bayangan hitam lain berkelebat dan bayangan ini menyerangnya dari samping dengan tikaman keris. Gerakannya cepat dan kuat sekali, lebih kuat dari pada tiga orang pengeroyok terdahulu.

 “Bretttt...!” Keris situ merobek ujung baju Ong Cun yang menjadi marah sekali. Dengan gerakan refleks yang amat cepat, sebagai reaksi dari serangan lawan yang nyaris merobek perutnya, tubuhnya menerjang dan tangannya menampar dengan kekuatan sinkang.

“Wuuuutttt...” Orang itu mengelak dengan menjatuhkan diri, namun tetap saja tangan kiri Ong Cun yang menyambar itu mengenai pundaknya.

“Krekk...!” Patahlah tulang pundak orang itu yang mengeluarkan teriakan kesakitan dan meloncat jauh ke belakang.

Akan tetapi, pada saat itu, Ong Cun yang juga mengeluarkan teriakan tertahan dan tubuhnya terhuyung lalu dia roboh terpelanting, tangan kirinya mendekap lambung yang terluka dan tangan kanan mencengkeram ke atas seperti hendak menyerang orang yang telah melukainya dengan parah itu. Melihat Ong Cun roboh, orang-orang yang mengeroyoknya berloncatan dan menghilang ke dalam kegelapan malam. Ong Cun merangkak bangun, ketika hendak berdiri dia terguling lagi. Tahulah dia bahwa dia telah menderita luka parah sekali, bahkan nyawanya takkan tertolong lagi. Dibandingkan dengan tempat rombongannya berada, rumah Ki Demang Bragolo lebih dekat, dan sebelum dia mati, dia harus bertemu lebih dulu dengan Darmini. Maka diapun mengerahkan tenaga terakhir, tertatih-tatih dan terhuyung-huyung dia kembali ke taman yang tadi ditinggalkan.

“Darmini... ohhhh, Darmini...!” Dia memanggil-manggil dari dalam taman itu. Agaknya Darmini belum tidur, bahkan masih belum memasuki kamarnya. Ia sedang berdiri di depan jendela yang terbuka, memandang ke arah taman, mengenangkan pertemuannya yang terakhir dengan kekasihnya tadi. Tentu saja ia mendengar Ong Cun yang memanggil-manggilnya dengan lemah itu.

“Ong Cun...!” Ia menjerit karena ada perasaan tidak enak menusuk hatinya. Sambil mengangkat sedikit kainnya sampai ke betis, iapun lari keluar dari dalam kamarnya, masuk ke dalam taman.

“Ong Cun...!” Ia menjerit ketika melihat kekasihnya itu duduk terkulai di atas bangku tempat mereka biasa bertemu, dan Nampak bajunya penuh darah yang mudah dilihat di bawah sinar lampu taman. Ia lari menubruk dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat Ong Cun mendekap lambung yang mengeluarkan banyak darah.

“Darmini... aku... Aku...” Pada saat itu, terdengar suara keras.

“Suheng...!” Dan munculnya Kwee Lok. Melihat keadaan Suhengnya, diapun menubruk dan merangkul Suhengnya. “Suheng, aku disuruh menyusulmu... ah, apa yang telah terjadi, Suheng? Engkau terluka parah, siapakah yang melakukan ini dan mengapa?”

“Sute..., aku tadi..., ahhhhh, sute...! Darmini...!” Tubuh itu terkulai dan tak bergerak lagi.

“Ong Cuuuuuuuunn...! Ong Cuuunnnn...!” Darmini menjerit-jerit dan terguling pingsan di samping jenazah Ong Cun yang masih di pangku olhe Sutenya. Kwee Lok hanya dapat menangis ketika melihat betapa Suhengnya telah tewas. Jeritan-jeritan itu membangunkan semua orang dan tak lama kemudian muncullah Ki Demang Bragolo bersama isterinya dan para pelayan. Tentu saja Ki Demang Bragolo terkejut bukan main, apa lagi melihat betapa calon mantunya itu telah tewas. Nyi Demang menubruk anaknya, dan memanggil-manggil namanya sambil menangis.

  

“Darmini... anakku... ingatlah, naik. Ini Ibumu...” Tubuh itu dipangkunya, didekapnya dan digoncang- goncangnya. Akhirnya Darmini siuman dan melihat Ong Cun, gadis itu meronta lepas dari rangkulan Ibunya dan menubruk jenazah Ong Cun.

“Ong Cun, bawa aku mati bersamamu...!” Jeritnya dan seperti orang kesurupan, ia menguncang- guncang tubuh Ong Cun, tanpa malu-malu lagi ia menciumi muka yang sudah pucat itu, seolah-olah dengan ciumannya hendak menggugah lagi kekasihnya yang telah mati. Akhirnya untuk ke dua kalinya iapun terguling dan jatuh pingsan.

Kwee Lok membawa jenazah Suhengnya kembali ke pemondokan rombongan Laksamana The Ho yang merasa prihatin sekali dengan terjadi pembunuhan lagi atas diri seorang di antara anak buahnya yang baik. Akan tetapi karena urusan itu agaknya menyangkut pribadi, dan karena rombongannya akan segera berangkat dan pemerintah setempat tidak ada hubungannya dengan pembunuhan itu, maka diapun tidak mau memperpanjangnya lagi. Jenazah Ong Cun yang beragama Islam dikubur secara sederhana dan rombongan itupun segera mempersiapkan diri untuk berlayar kembali ke negerinya. Darmini diangkat ke dalam kamarnya dan dalam keadaan pingsan. Dan kalau saja tidak dicegah oleh Ayah dan Ibunya, tentu malam itu dara ini sudah membunuh diri menggunakan pedang Lian-Hwa-Kiam peninggalan Ong Cun.

Akan tetapi Ibunya menangisinya dan akhirnya Darmini membatalkan niatnya untuk membunuh diri dan ia hanya menangis saja di atas tempat tidurnya, tidak mau keluar dari kamar, tidak mau makan atau minum. Pada keesokan harinya, Ki Demang Bragolo menghadiri pemakaman jenazah Ong Cun, dan dia bersama isterinya membujuk Darmini untuk makan dan minum. Namun gadis ini tetap tidak mau sehingga akhirnya ia ditinggal seorang diri di kamarnya. Darmini hanya tidur, kalau terjaga hanya menangis. Sehari itu suasana di rumah Ki Demang Bragolo Nampak sunyi dan berkabung. Untuk menghilangkan semua kedukaan itu, Ki Demang Bragolo mencari hiburan atau melarikan diri kepada minuman keras yang disukanya dan setelah mabok diapun tertidur.

Tidak ada yang kekal di dunia ini, bahkan hidup inipun tidak. Sekali waktu, entah kapan, entah cepat atau lambat, hidup inipun akan terhenti, direnggut kematian yang tiba-tiba maupun lambat-lambat. Sedangkan nyawa kitapun bukan milik kita, apa lagi benda-benda di luar tubuh kita. Oleh karena itu, tidaklah sia-sia belaka dan hanya menimbulkan kesengsaraan kalau kita terikat kepada apapun juga. Yang kita namakan “AKU” yang kita agung-agungkan, yang selalu kita turuti keinginannya, sebenarnya hanyalah angan-angan belaka. Buatan pikiran yang tidak ingin menerima kenyataan bahwa semua ini akhirnya akan terhenti dan lenyap! Karena itu, mengapa kita tidak mau membuang semua ikatan dengan apapun juga? Kenapa kita tidak menikmati hidup ini saat demi saat?

Menikmati hidup bukan berarti mengumbar kesenangan, bukan berarti menjadi hamba nafsu badani dengan segala macam keinginannya. Sama sekali bukan! Menikmati hidup dalam hal ini berarti bahwa kita menyelami dan menghayati hidup ini detik demi detik, saat demi saat. Sudahkah kita melakukan ini? Sudahkah kita benar-benar hidup, ataukah kita hanya menjadi semacam robot saja yang digerakkan oleh bahan bakar nafsu? Apakah kita hanya menjadi budak saja dari kebiasaan-kebiasaan? Hidup adalah sekarang, saat ini, detik demi detik! Mari kita selidiki diri sendiri. Kalau kita sedang makan, itupun merupakan bahagian hidup ini, saat ini kita makan, itulah saat hidup kita. Pada saat kita makan itu, pernahkah kita menyelami hidup, mencurahkan segenap perhatian kepada diri kita lahir batin, mengikuti setiap gerakan bagian tubuh?

 Ataukah kita makan seperti robot kebiasaan saja, asal bergerak, mengunyah, menelan tanpa kita sadari? Demikian pula kalau kita mandi, bicara, berpikir, melamun, marah, takut, dan segala peristiwa dalam kehidupan ini, apakah terdapat KEWASPADAAN di saat itu? Pernahkah kita melihat keindahan awan berarak di angkasa? Indahnya bunga mekar dikelilingi kupu-kupu, ujung-ujung daun pohon digantungi mutiara-mutiara embun di waktu pagi, atau bergoyangnya padi-padi yang menari-nari ditiup angin di sawah? Ataukah kita sudah kehilangan sama sekali kepekaan kita, kehilangan sama sekali kegairahan hidup, kehilangan kewaspadaan dan tidak melihat betapa segala yang Nampak maupun yang tidak nampak merupakan limpahan berkah untuk kita? Kalau semua itu belum kita lakukan, marilah mulai detik ini juga, kita menikmati hidup dengan jalan mawas diri,

Mengamati diri penuh kewaspadaan setiap saat, waspada terhadap segala sesuatu yang bergerak maupun yang tidak bergerak di luar dan terutama sekali di dalam diri sendiri! Siapa tahu mungkin malam nanti atau besok pagi kita akan mati! Sebelum mati, mari kita nikmati segala keindahan ini. Tengoklah awan putih berarak di bawah langit biru itu. Bintang-bintang cemerlang gemerlapan di langit hitam. Matahari pagi timbul dengan agungnya. Matahari tenggelam dengan sayunya. Betapa ajaib tubuh kita ini! Dengarkan jantung berdetik setiap saat tanpa henti-hentinya, baik kita kehendaki ataupun tidak. Pertumbuhan kuku dan rambut yang tidak nampak tapi pasti, di luar kekuasaan kita untuk mengaturnya pula. Lihat Perhatikan semua itu dan kita akan menemukan sumber pelajaran tentang hidup yang amat indah dan tiada habisnya dalam diri kita sendiri.

Malam itu Jumat Kliwon, Malam Jumat Kliwon yang dianggap malam keramat, malam yang menyeramkan karena pada malam seperti itu biasanya segala setan iblis dedemit keluar dari tempat persembunyian mereka untuk berpesta pora. Malam itu amat menyeramkan, juga amat dinginnya. Sore tadi hujan deras sekali, dan setelah malam tiba, mendung masih menghitamkan langit menyembunyikan bintang-bintang. Malam yang masih basah, dingin dan menyeramkan. Jarang ada orang keluar rumah pada malam hari itu, lebih aman rasanya berada di dalam rumah, dimana terdapat penerangan lampu dan kehangatan teman.

Bau kemenyan dan dupa yang dibakar orang dengan maksud untuk menyenangkan hati para mahluk halus agar jangan mengganggu manusia, bahkan diharapkan agar dapat membantu, berhamburan keluar dari rumah-rumah, membuat malam itu terasa semakin menyeramkan bagi mereka yang kebetulan berada diluar. Kembang setaman dalam takir daun pisang diletakkan orang di sudut-sudut yang dianggap patut, dibawah-bawah pohon bessar, di dapur agar dapur itu setiap hari dapat mengepulkan asap dan uap di tempat-tempat dagangan dengan harapan agar dagangannya semakin laris, pendeknya di mana saja asal menguntungkan. Suasana di Lumajang amat sunyi karena jarang ada orang keluar rumah. Agaknya peristiwa pembunuhan atas diri seorang Cina yang terjadi pada malam sebelumnya, menambah keseraman itu.

Berita tentang pembunuhan itu sudah tersiar dan semua orang bergidik. Perang telah selesai, keadaan sudah aman tentram, maka pembunuhan atas diri seorang saja sudah dapat membuat semua orang merasa tidak aman dan gelisah. Memang demikianlah selalu. Di waktu perang, biarpun puluhan, ratusan bahkan ribuan orang terbunuh, tidak akan menghebohkan orang. Akan tetapi, di waktu aman, pembunuhan atas diri seorang saja sudah cukup menggegerkan. Seolah-olah dalam perang, secara mendadak kutukan terhadap pembunuhan antara sesame manusia dicabut, bahkan membunuh berbalik menjadi hal yang amat dibanggakan dan di puji! Akan tetapi, menjelang tengah malam, nampak asap dupa yang tebal mengepul di dalam pekarangan kuburan yang lebih sunyi lagi.

 Kuburan ini berada di luar kota, di tempat terpencil dan di dalam keremangan cuaca, nampak dua orang laki-laki sedang duduk bersila di depan sebuah makam kuno. Seorang di antara mereka terdengar membaca mantera diikuti oleh orang ke dua yang seolah-olah sedang menghafalkan mantera itu. Asap dupa mengepul semakin tebal dan bau bunga-bunga kamboja yang tumbuh di perkuburan itu kini menjadi semakin wangi karena bercampur bau dupa. Wangi yang menyeramkan. Wangi yang disuka oleh mahluk halus, akan tetapi membuat manusia merasa seram dan mendirikan bulu tengkuk. Setelah asap dupa menipis, mereka berhenti membaca mantera dan mereka bangkit berdiri. Seorang diantara mereka, yang tadi mengajarkan mantera, dan bertubuh kecil bongkok terkekeh. Suara ketawanya juga menyeramkan, seperti suara burung hantu.

“Hu-huh-huk, dengan aji penyirepan Dresti Nendra ini. Setelah kau kerahkan, semua orang sekampung akan tidur nyenyak dan tidak akan dapat tergugah walaupun ada seekor gajah mengamuk. Heh-heh- hek!”

“Terima kasih Eyang. Terimalah sumbangsih saya ini sebagai tanda terima kasih kepada Eyang.” Kata orang kedua sambil mengambil sesuatu dari ikat pinggangnya.

“Oohh-he-hoh, andika baik sekali, terima kasih heh-heh... ohhhh!!” Suara ketawa itu ditutup teriakan kaget dan kesakitan karena orang ke dua itu tadi mengeluarkan sebatang keris dan tahu-tahu keris itu telah dihujamkan ke dada Kakek bongkok. Tanpa dapat bersambat lagi Kakek itupun roboh terkulai dan tewas seketika ketika keris dicabut. Setelah memeriksa dan mendapat keyakinan bahwa Kakek bongkok itu telah tewas. Darahnya mengalir membasahi tanah depan makam kuno, orang itupun melompat dan lenyap ke dalam kegelapan malam! Kuburan itu menjadi semakin menyeramkan.

Seolah-olah terasa teriakan-teriakan dan loncatan-loncatan segala macam mahluk yang tidak nampak, yang menjadi gempar dengan terjadinya peristiwa yang amat kejam dan mengerikan itu. Malam semakin larut dan semakin sunyi, juga semakin menyeramkan. Terutama sekali di sekitar gedung Ki Demang Bragolo yang masih diliputi suasana berkabung sepanjang hari tadi. Pada tengah malam tadi nampak asap yang mengepul keluar dari dalam rumah itu, dan asap ini begitu keluar dari rumah disambut angin dan membuyar ke empat penjuru. Bau wangi yang menyeramkan seperti yang tercium di kuburan tadi kini memenuhi udara. Seluruh penghuni rumah Ki Demang Bragolo tertidur nyenyak. Demikian pula dengan Nyi Demang dan Darmini. Tadi, dua orang wanita ini masih bercakap-cakap didalam kamar Darmini.

Ibu gadis itu tidak mau meninggalkan puterinya dan selalu menemaninya sejak kemarin malam. Darmini sudah dapat dibujuk Ibunya dan mau makan dan minum sedikit, akan tetapi masih sering menangis sambil memangku pedang Lian-Hwa-Kiam dan setangkai bunga teratai yang sudah layu. Kini, lampu masih bernyala di atas meja dan kedua orang wanita itu juga tertidur nyenyak. Akan tetapi kedudukan tubuh mereka menunjukkan bahwa mereka tidur dengan cara yang tidak wajar! Nyi Demang tertidur dalam keadaan duduk di atas kursi dan kepalanya terkulai diatas meja. Sedangkan Darmini lebih aneh lagi. Ia tidur pula dalam keadaan duduk pula di atas pembaringan, tubuhnya bersandar kepada dinding, dan kedua tangannya masih memegang pedang Lian-Hwa-Kiam dan setangkai bunga teratai layu yang terletak di atas pangkuannya.

Rambutnya terlepas riap-riapan diatas pundak dan dadanya, pakaiannyapun kusut, mukanya tidak berbedak. Akan tetapi keadaan yang tanpa riasan itu bahkan menonjolkan kecantikan aseli dari Darmini. Ia tertidur pulas sekali, mulutnya setengah terbuka dan napasnya lambat-lambat dan panjang. Daun pintu dibuka dengan paksa dari luar. Biarpun hal ini menimbulkan bunyi gaduh, namun kedua orang wanita itu sama sekali tidak bergerak. Juga semua orang yang tidur didalam rumah itu tidak ada yang terbangun, seolah-olah tidak ada lagi mahluk hidup tinggal di rumah itu. Keadaan ini tidaklah wajar dan inilah akibat kekuatan aji penyirepan Dresti Nendra! Daun pintu terbuka dan sesosok bayangan meloncat masuk. Daun pintu dibiarkan saja terbuka.

Orang itu memperhatikan keadaan dalam kamar dengan sinar matanya yang mencorong, kemudian dia tertawa kecil dan mengambil pedang dan bunga teratai dari pangkuan Darmini, melempar kedua benda itu ke atas meja. Setelah mengamati gadis itu beberapa lamanya sehingga sinar matanya menjadi semakin mencorong penuh gairah, diapun menggerakkan tangan ke arah meja dan lampu itupun padam. Cuaca menjadi remang-remang gelap, sukar untuk mengenal wajah orang dalam cuaca seperti itu. Orang itu lalu merangkul tubuh Darmini dan diangkatnya, dipangkunya di atas pembaringan. Diapun mendekatkan mulut di telinga gadis itu dan membaca mantera. Gadis itu mengeluh dan mengulet, akan tetapi terkejut sekali ketika mendapat kenyataan bahwa dirinya berada di atas pangkuan orang, dalam pelukan orang.

“Ehhh! Apa... siapa... siapa andika? Lepaskan aku!!” teriaknya. Biarpun gadis itu berteriak, namun orang itu tidak berusaha untuki menutup mulutnya. Biarkan ia berteriak siapa yang akan dapat mendengarnya dalam keadaan tidur lelap seperti mati? Dia bahkan memperkuat dekapannya sampai Darmini tidak mampu berkutik lagi, dan dia mengeluarkan suara ketawa seperti ringkik kuda lalu berkata,

“Manis, Cina kekasihmu itu telah kubunuh dan sekarang engkau harus menjadi milikku. Aih, betapa lama sudah aku menahan rindu kepadamu!” Dan dia lalu memeluk lebih kuat dan menciumi muka Darmini. Gadis itu menjerit, meronta, dan menangis. Jantungnya seperti ditusuk-tusuk rasanya. Jadi orang inikah pembunuh Ong Cun?

“Ong Cuuunnn... ah, ini pembunuhmu... Ahhhhh...” ia meronta dan jatuh pingsan ketika orang itu merenggut robek pakaiannya. Ia tidak ingat apa-apa lagi. Ketika Darmini siuman atau tersadar, karena ia sendiri tidak tahu apakah ia tadi pingsan ataukah hanya tidur saja, ia merasa tubuhnya nyeri semua, tulang-tulang seperti patah-patah. Teringatlah ia akan keadaannya dan iapun bangkit duduk, lalu menelungkup dan menangis terisak-isak. Orang itu telah tidak ada disitu, meninggalkan aib dan merenggut kehormatannya. Ia telah diperkosa, hal ini dapat dirasakannya.

“Aduh, Gusti...!” Ia meratap dan air matanya membanjir lagi setelah sehari kemarin ia menangisi kematian Ong Cun.

Kini ia menangisi dirinya sendiri yang tertimpa malapetaka, rasanya lebih hebat daripada maut. Lebih menyedihkan dan menghancurkan hati daripada ditinggal mati Ong Cun. Kemudian ia teringat kepada Ibunya. Di mana Ibunya? Ia menggigit bibir menahan rasa nyeri pada tubuhnya, turun dari pembaringan, menyambar kainnya dan menyelimuti tubuh dengan kain. Ia meraba-raba dalam gelap dan terkejut ketika tangannya menyentuh Ibunya yang ternyata masih tidur di atas kursi, dengan kepala tertumpang pada kedua lengan di atas meja! Diambilnya batu api dengan meraba-meraba sehingga ia menyentuh pedang Lian-Hwa-Kiam dan bunga teratai layu di atas meja dan dinyalakannya lampu. Kini nampak olehnya tanda bahwa ia memang telah diperkosa orang. Darah di atas nilam tempat tidurnya.

“Ong Cunnnn...!” ia menjatuhkan diri berlutut di atas lantai, menelungkup dan menangis meratap-ratap, sesenggukan. Kemudian ia menjadi bringas dan diambilnya pedang dari atas meja. Dicabutnya pedang itu. Ia harus mati! Untuk apa lagi hidup menanggung aib yang begini hebat?

  “Ong Cun, aku menyusulmu, Ong Cun...!” Ia hendak menusuk dadanya dengan pedang, akan tetapi pedang itu terlampau panjang sehingga sukarlah hal itu dilakukan. Melihat betapa pedang itu amat tajam, ia lalu bermaksud untuk menggorok leher sendiri. Akan tetapi, sebelum pedang menempel di kulit lehernya yang halus tipis, tiba-tiba ia terbelalak! Ia melihat wajah Ong Cun di depannya. Jelas benar! Itulah Ong Cun!

“Ong Cun...!” ia melempar pedang itu ke atas lantai dan mengembangkan kedua lengannya sehingga kain yang menyelimuti tubuhnya terlepas. Ia tidak perduli akan ketelanjangannya nampak oleh Ong Cun. Ia hendak menubruk. Akan tetapi, tiba-tiba wajah itu lenyap!

“Ong Cun...!” Ia menjerit. Tiba-tiba ia mendengar suara Ong Cun, lapat-lapat namun jelas sekali terdengar olehnya.

“Darmini, ingatlah. Membunuh diri adalah perbuatan yang amat hina dan dikutuk oleh Langit dan Bumi. Pula, kalau engkau membunuh diri, lalu siapa yang akan menyelidiki, siapa yang akan mencari pembunuhku dan pemerkosamu?”

“Ong Cun... ah, hu-hu-hu-hu, Ong Cun...!” Darmini menangis mengguguk lagi sambil melungkup di atas lantai. Akan tetapi niat untuk membunuh diripun lenyap sama sekali. Setelah mereda tangisnya, ia lalu bangkit, dan terjadi perubahan pada gerak-geriknya. Tubuhnya masih nyeri semua rasanya, akan tetapi ia menggigit bibir dan bertekad untuk menanggungnya tanpa keluhan. Ong Cun benar! Masih banyak waktu kelak untuk menyusul Ong Cun. Akan tetapi ia harus menemukan pembunuh kekasihnya, dan orangnya adalah pemerkosanya tadi! Pembunuhan atas diri Ong Cun dan perkosaan atas dirinya yang dilakukan oleh seorang, tak boleh dibiarkan begitu saja. Dikenakan pakaiannya, dan diambilnya pedang Lian-Hwa-Kiam, dipeluknya pedang telanjang itu, lalu diangkatnya dengan kedua tangannya ke atas kepala, mengacung ke atas.

“Aku bersumpah untuk mencari jahanam itu dan dengan pedang ini akan kubalaskan dendam kami. Semoga para dewata membantuku!” Dalam waktu semalam saja, Darmini yang tadinya merupakan seorang wanita lemah yang tahunya hanya meratap dan menangis, kini menjadi seorang wanita yang dingin dan tabah, penuh dendam kesumat. Dengan tenang ia membersihkan noda darah di tilam pembaringannya karena peristiwa yang baru saja terjadi di atas pembaringannya takkan diberitahukan kepada siapapun juga.

Aib itu akan dibawanya sampai mati, setelah ia berhasil membalas dendam, membunuh jahanam yang memperkosanya, yang telah membunuh kekasihnya. Setelah membereskan semua, ia duduk di atas pembaringan. Pedang yang sudah disarungkan berada di dekatnya, juga bunga teratai layu. Ia tidak menangis lagi. Tidak, mulai saat itu ia tidak menangis lagi. Ia tidak akan memperlihatkan kelemahan lagi. Ia harus menjadi seorang wanita yang kuat, karena hanya kalau menjadi seorang wanita kuat saja ia akan mampu membalas dendam! Mulailah ia mengingat-ingat. Siapa gerangan orang yang memperkosanya tadi, yang juga telah membunuh Ong Cun? Ia merasa menyesal sekali mengapa ia tak sadarkan diri sehingga ia tidak dapat mengenal orang itu.

Biarpun perkosaan itu terjadi di dalam kegelapan, namun kalau ia tidak pingsan, sedikit banyak ia tentu akan dapat mengingat ciri-ciri orang tadi. Sekarang, sama sekali tidak ada ciri-ciri yang teringat olehnya, kecuali suaranya yang parau dan ketawanya yang seperti ringkik kuda. Akan tetapi, suara dapat diatur dan diubah. Bahkan perawakan orang itupun ia tidak tahu, apalagi bentuk wajahnya, tidak tahu pula tua mudanya! Celaka! Akan tetapi, demikian ia memutar otaknya, siapakah yang mempunyai alasan kuat untuk membunuh Ong Cun dan memperkosanya? Kedua perbuatan itu dilakukan tentu karena satu hal, yaitu bahwa orang itu tergila-gila kepadanya dan cemburu melihat ia memilih Ong Cun. Pemerkosanya itupun mengatakan bahwa setelah membunuh Ong Cun, dia harus memilikinya karena sudah lama merindukannya! Siapakah laki-laki yang sudah lama merindukannya?

Terbayanglah beberapa wajah laki-laki. Banyak sudah orang yang pernah mengajukan pinangan kepada dirinya, baik melalui orang tuanya maupun langsung kepadanya, pinangan yang semuanya ditolaknya dengan halus. Kiranya mereka itu tidak mendendam kepadanya, sedikit sekali kemungkinan di antara para peminang yang ditolak itu mengandung dendam dan melakukan pembunuhan terhadap Ong Cun dan perkosaan keji terhadap dirinya itu. Lalu siapa gerangan? Wajah tiga orang penculiknya terbayang terutama sekali si muka hitam bertubuh raksasa itu dan ia bergidik. Orang-orang seperti itu mungkin saja melakukan kecurangan. Mereka adalah penjahat-penjahat kejam dan memang berasalan kalau mereka yang melakukan perbuatan terkutuk itu. Mereka pernah dihajar oleh Ong Cun, hal itu dapat menimbulkan dendam, dan tentang memperkosanya,

Menurut penilaiannya, seorang di antara mereka mungkin saja melakukan hal itu. Ong Cun dibunuh secara keji dan pengecut, walaupun ia tidak melihatnya sendiri namun dapat diduganya bahwa tentu Ong Cun dibunuh secara curang. Kalau tidak, mana mungkin Ong Cun yang gagah perkasa itu dapat dikalahkan lawan lalu meninggalkan gelanggang? Orang seperti kekasihnya itu kalau bertemu lawan, tentu akan menang atau mati di tempat. Kenyataan bahwa Ong Cun lari sampai ke taman dan memanggil-manggilnya, menjadi bukti bahwa dia tentu di serang secara sembunyi dan penyerangnya melarikan diri. Lalu siapa lagi yang dapat dimasukkan catatan sebagai orang yang mungkin menjadi musuh besarnya itu? Panji Sarono! Ah, pemuda itu sudah lama mencintanya, akan tetapi selalu ditolaknya.

Dan Panji Sarono bersama Empu Tanding pernah menegur mengenai pertemuannya dengan Ong Cun di dalam taman, bahkan kemudian Panji Sarono dikalahkan oleh Ong Cun. Pantas sekali kalau pemuda itu menaruh dendam dan membunuh Ong Cun. Memperkosanya? Bukan tidak mungkin bagi orang seperti Panji Sarono. Ia sudah banyak mendengar tentang pemuda itu dari berita diluar. Seorang pemuda mata keranjang, sombong, mengandalkan kedudukan untuk mempermainkan banyak wanita, tidak perduli ia gadis atau isteri orang! Akan tetapi, siapapun orangnya yang telah membunuh Ong Cun dan memperkosa dirinya, jelas adalah seorang laki-laki yang tangguh. Apa dayanya sebagai seorang wanita lemah untuk menghadapinya? Apa yang dapat dilakukannya andaikata ia berhasil menemukan musuh itu? Membalas dendam? Bagaimana caranya?

“Aahhh, Ong Cun, apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan?” Ia meratap dan mendekap pedang Lian-Hwa-Kiam. Ketika ia mendekap pedang itu, seperti ada penerangan mengusir kegelapan hatinya. Tentu saja dengan pedang ini! Dan untuk itu ia harus belajar bagaimana harus mempergunakan pedang ini sebaiknya! Seolah-olah demikian bisikan suara Ong Cun kepadanya

“Baiklah, kekasihku, baiklah. Aku akan mempelajari ilmu kadigdayaan (kesaktian) dan akan kupergunakan pedangmu ini untuk membalas dendam!” demikian keputusan yang diambilnya.

Pada keesok harinya, segala berjalan seperti biasa seolah-olah malam tadi tidak terjadi sesuatu. Hanya banyak orang yang merasa heran, termasuk Nyi Demang karena malam tadi banyak di antara mereka yang tertidur begitu saja di tempat mereka duduk, seolah-olah mereka tak dapat lagi menahan rasa kantuk dan tidak sempat pindah ke atas pembaringan. Akan tetapi karena tidak terjadi sesuatu, tidak ada yang mempersoalkan hal itu, tidak tahu bahwa malam tadi mereka tidur karena pengaruh aji penyirepan yang ampuh!

Semenjak kematian Ong Cun, Darmini lebih banyak mengeram diri di dalam kamarnya. Ia tidak menangis lagi, akan tetapi kini wajahnya Nampak dingin dan acuh kehilangan sinar seolah-olah menjadi boneka hidup yang tidak bergairah. Melihat keadaan ini, tentu saja Ki Demang Bragolo dan isterinya menjadi khawatir sekali, prihatin dan berduka. Kurang lebih satu bulan semenjak kematian Ong Cun, pada suatu senja, rumah Ki Demang Bragolo kedatangan tamu. Mereka adalah Empu Tanding dan isterinya. Suami isteri bangsawan ini Nampak agung ketika menuruni kereta yang membawa mereka dari rumah berkunjung ke Kademangan.

Empu Tanding, biarpun usianya sudah enam puluh tahun dan rambutnya sudah putih, namun tubuhnya masih Nampak tegap dan sore itu dia Nampak gagah dan keren dengan pakaian baru, tidak ketinggalan tongkat hitamnya yang berbentuk ular. Isterinya berusia kurang lebih empat puluh dua tahun, kelihatan masih muda dan cantik, dengan pakaian baru pula. Ki Demang Bragolo dan isterinya menyambut kedatangan tamu ini dengan gembira dan heran. Tidak seperti biasanya suami isteri bangsawan yang masih sanak itu kini datang berkereta dan dengan pakaian serba baru, kelihatan dari pakaian dan sikapnya bahwa kunjungan ini adalah kunjungan resmi, bukan sekedar ajang ono antara keluarga belaka. Merekapun menyambut tamu itu dengan sikap ramah dan hormat. Nyi Demang segera berangkulan dengan Nyi Empu,

“Ah, angin apakah yang menerbangkan Kakang Empu dan Mbakyu ke sini? Selamat datang dan silahkan masuk.” Mereka memasuki ruangan dalam dan sepasang tamu itu dipersilahkan duduk. Pelayan segera datang menghidangkan air the panas dan kueh yang terbuat dari ketan. Setelah berbasa-basi saling menanyakan keselamatan, Ki Empu Tanding menoleh ke kanan kiri dengan mata mencari-cari.

“Eh, adimas Demang, ke mana perginya Nini Darmini? Sejak tadi aku tidak melihatnya!”

“Benar, akupun sudah kangen kepada Nini Darmini! Dimana keponakanku yang cantik itu?” sambung pula Nyi Empu. Ditanya demikian, tiba-tiba saja Nyi Demang menitikkan air mata yang diusahakan untuk dihapus secepatnya.

“Eh, engkau kenapakah diajeng? Kenapa tiba-tiba menangis!” tanya Nyi Empu. Nyi Demang menghela napas panjang.

“Anak kami itu masih berkabung atas kematian tunangannya, selalu berada di dalam kamar dan jarang sekali keluar, sungguh membuat hati kami merasa prihatin sekali.”

“Itu tandanya bahwa ia seorang tunangan yang setia diajeng. Akan tetapi kalau dibiarkan berlarut-larut dalam kedukaan juga amat tidak baik. Yang sudah mati tidak akan kembali, kenapa menyiksa diri?”

“Benar sekali kata-kata Mbakyu kalian itu,” Empu Tanding berkata. “Dan kedatangan kami berkunjung inipun ada kepentingan yang berhubungan dengan diri Nini Darmini. Mengingat bahwa kini Nini Darmini telah bebas, tidak terikat pertunangan dengan orang lain maka kami sengaja datang untuk mengajukan pinangan atas diri Nini Darmini, untuk menjadi pasangan atau jodoh putera sulung kami, Panji Sarono.”

Ki Demang Bragolo saling pandang dengan isterinya untuk sejenak lamanya. Ki Demang Bragolo maklum bahwa isterinya tidak suka kalau Darmini dijodohkan dengan Panji sarono karena wanita itu sudah mendengar akan kelakuan Panji Sarono yang buruk, seorang pemuda perayu dan perusak pagar ayu. Akan tetapi, untuk menolak begitu saja pinangan itu, diapun merasa kurang enak, apalagi kini tidak ada alasan untuk menolak karena memang benar bahwa Darmini sudah tidak terikat oleh pertunangan dengan orang lain.

“Aku ingin sekali ada ikatan yang lebih erat antara keluar kita, diajeng,” kata pula Nyi Empu. “Kulihat sudah tepat dan serasi sekali kalau Nini Darmini menjadi jodoh Panji Sarono. Tahun ini usia Panji Sarono sudah dua puluh lima tahun, sudah cukup untuk mempunyai seorang isteri yang sah sebelum dia menduduki suatu jabatan yang akan dimintakan oleh ayahnya kepada Sribaginda kelak. Aku suka sekali kepada Nini Darmini, anak itu begitu manis dan lemah lembut, cocok dengan puteraku yang juga tampan dan gagah.” Nyi Demang tidak dapat menjawab dan hatinya bingung pula seperti suaminya, Ki Demang Bragolo maklum akan nisi hati isterinya, maka diapun segera berkata sebagai jawaban atas pinangan itu.

“Kami menghaturkan terima kasih atas budi kecintaan Kakang-Mas Empu berdua dan kami bersyukur bahwa andika berdua masih memikirkan keadaan Nini Darmini!”

“Jadi kalian menerima pinangan kami!” Empu Tanding mendesak. Demang Bragolo menarik napas panjang.

“Harap andika jangan tergesa-gesa, Kakang-Mas Empu. Agaknya bagi kami berdua, sungguh tak tahu diri kalau kami menolak pinangan itu, akan tetapi hendaknya diketahui bahwa kami tidak mungkin menerimanya sekarang. Kami harus bertanya dulu kepada anak kami, karena ialah yang akan menjalani pernikahan. Dan kami kira, sekarang belum saatnya bagi kami untuk membicarakan soal perjodohannya dengan orang lain kepada Nini Darmini.”

“Hemm, jadi bagaimana? Kalian menolaknya?” Empu Tanding yang memang wataknya agak keras itu menegaskan.

“Nanti dulu, Kakang Empu, jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Harus diingat akan keadaan Nini Darmini yang kau pinang untuk Panji Sarono itu. Ia masih berkabung, masih bingung. Bagaimana kami dapat bicara dengannya tentang perjodohan baru? Karena itulah kami minta waktu, satu dua bulan. Kalau keadaannya sudah membaik, tidak tenggelam dalam kedukaan lagi, barulah kami perlahan-lahan akan bicara dengannya. Nah, itulah sebabnya maka terpaksa kami belum dapat menerima pinangan itu, Kakang Empu.” Empu Tanding sudah mendengar dari puteranya betapa puteranya itu jatuh cinta kepada Darmini akan tetapi selalu Darmini bersikap tidak suka. Hal ini saja sudah membuat dia merasa penasaran, maka kini mendengar jawaban Ayah Ibu Darmini, dia merasa bahwa mereka itu sengaja mencari alasan untuk menolak pinangannya.

“Alasan itu terlalu dicari-cari!” Demikian katanya dengan alis berkerut. “Jawaban setiap orang anak gadis berada dimulut Ayah Ibunya! Aku tidak percaya bahwa kalian berdua tidak dapat membujuk dan memaksanya. Kalau kalian sudah menerima pinangan, sudah setuju, iapun tinggal menggangguk saja. Katakan saja kalian tidak suka mempunyai mantu Panji Sarono, habis perkara, tidak usah mencari alasan yang bukan-bukan!” Ki Demang Bragolo diam saja, akan tetapi Nyi Demang yang tentu saja tidak berapa gentar menghadapi Kakak kandungnya sendiri, segera membantah.

“Harap Kakang tidak bicara seperti itu! Ketahuilah bahwa anak kami hanya seorang saja, dan Nini Darmini memiliki watak yang amat keras sejak kecil. Bagaimana kami dapat memaksa ia untuk melakukan sesuatu kalau ia tidak menyetujuinya? Apalagi dalam hal perjodohan, bagaimana kami dapat memaksa? Ia bukanlah seekor ayam atau domba yang dapat kami ikat dan serahkan kepada calon suaminya. Kalau sampai kami memaksa dan ia lalu nekat membunuh diri, yang kehilangan bukanlah Empu berdua, melainkan kami juga.”

“Sudahlah, sudahlah, perlu apa ribut-ribut!” Nyi Empu mencela. “Pertemuan ini dimaksudkan untuk mempersatukan keluarga, membicarakan hal yang menggembirakan, bukan untuk bercekcok. Biarlah mereka rundingkan dulu dengan anak mereka. Kami berdua hanya mengharapkan dari andika untuk memberi kabar keputusan secepat mungkin.”

“Baik, Mbakyu, berilah kami waktu paling lama dua bulan, pasti kami akan datang memberi keputusan,” kata Ki Demang Bragolo dengan hati lega melihat betapa Nyi Empu dapat meredakan kemarahan suaminya. Dua orang tamu itu lalu berpamit dan dengan wajah agak muram mereka meninggalkan gedung Kademangan memasuki kereta mereka, tidak seperti ketika mereka datang tadi. Pada malam harinya, dengan hati-hati sekali Nyi Demang Bragolo memasuki kamar puterinya dan mengajak puterinya bicara. Seperti biasa, Darmini hanya melayani pembicaraan Ibunya dengan singkat dan dingin saja. Akan tetapi sikapnya berubah ketika Ibunya bicara tentang kunjungan Ki dan Nyi Empu Tanding sore hari tadi.

“Ada keperluan apakah mereka datang berkunjung, Ibu?” tanya Darmini dan baru sekali ini semenjak kurang lebih sebulan yang lalu Darmini memperlihatkan keinginan tahu. Hal ini menggembirakan hati Ibunya yang segera merangkulnya.

“Mereka datang untuk keperluan yang ada hubugannya dengan dirimu, Nini.” Darmini semakin tertarik. Ia memandang wajah Ibunya penuh selidik lalu bertanya,

“Urusan apakah itu, Ibu?”

“Mereka datang untuk meminangmu, Darmini, untuk dijodohkan dengan Panji Sarono.” Darmini tersenyum, senyum dingin dan mengejek yang belum pernah selamanya dilihat oleh Ibu itu kepada bibir puterinya dan diam-diam ia bergidik. Ada sesuatu dalam senyum itu, sesuatu yang kejam membayang, kejam dan aneh. Lalu gadis itu berbisik dan seperti bicara kepada diri sendiri.

“...sudah kuduga... kesitu juga larinya...” Karena ia bicara dengan bisikan. Ibunya hanya mendengar sedikit dan tidak jelas.

“Nini, kau berkata apa tadi?” Darmini menatap wajah Ibunya.

“Tidak apa-apa, Ibu. Lalu, bagaimana pendapat Kanjeng Rama dan Ibu sendiri? Apakah pinangan itu tidak diterima begitu saja?” Ibunya cepat menggeleng kepala. Kalau menurutkan kata hatinya, ia tentu seketika menolak dan tidak setuju kalau puterinya berjodoh dengan pemuda yang namanya terkenal buruk itu. Seorang pemuda perusak pagar ayu, gila perempuan dan tidak bertanggung jawab. Ia pernah mendengar adanya beberapa orang perawan yang membunuh diri karena mengandung tanpa ayah, dan besar dugaan umum bahwa yang menghamili perawan-perawan itu bukan lain adalah Raden Panji Sarono!

“Kami belum memberi jawaban, anakku. Kami ingin mendengar dulu pendapatmu bagaimana, dan kami telah minta waktu satu bulan sampai dua bulan baru akan memberi jawaban.” “Tidak saja, Ibu!”

“Mengapa, anakku? Bukankah Kakak misanmu Panji Sarono seorang pemuda yang tampan, kaya raya dan bangsawan pula?” Ibunya memancing. Sinar berapi mencorong dari sepasang mata gadis itu dan hal inipun baru pertama kali nampak oleh Ibu itu yang menjadi terkejut.

“Ibu, dia seorang pemuda yang jahat sekali. Dia perusak wanita, dia hidung belang, mata keranjang dan perusak pagar ayu! Apakah Ibu rela anaknya menjadi hamba seorang laki-laki macam begitu? Tolak saja, Ibu!” Ibunya mengangguk-angguk.

“Terus terang saja, Ibu sudah mendengar tentang kelakuannya, Nini. Akan tetapi engkau sendiripun tahu, Ayahmu, bagaimanapun juga, adalah bekas kawulo (hamba) mendiang Sang Adipati Wirabumi yang sudah kalah, menjadi kawulo negara taklukan. Sebaliknya, Kakang Empu Tanding adalah seorang pejabat yang mewakili Sang Prabu di Majapahit, utusan pihak pemenang. Dari kedudukan saja kita sudah kalah jauh, apa lagi diingat bahwa Kakang Empu Tanding adalah Kakak kandungku. Karena itulah, maka Ayah dan Ibumu merasa susah sekali menolak. Sungguh terasa berat dan tidak enak, akan tetapi kamipun tidak sudi menerima kalau engkau tidak suka. Jadi, aku bingung sekali, bagaimana kita harus berbuat sekarang?” Kini sikap Darmini nampak benar-benar mengherankan hati Ibunya. Puterinya yang biasanya pendiam dan lemah itu, kini kelihatan begitu tabah dan begitu tenang.

“Jangan takut, Ibu. Ada satu alasan kuat yang membuat Ayah dan Ibu dapat menolak pinangan itu dengan mudah. Aku akan pergi dari rumah ini!” Ibunya terbelalak dan merangkul lagi puterinya.

“Pergi? Engkau seorang gadis... engkau hendak pergi ke mana, anakku?” Dengan halus Darmini melepaskan rangkulan Ibunya. Agaknya ia telah berubah benar, tidak suka akan sifat-sifat kewanitaan yang lemah.

“Itulah yang membuat aku selaman ini berpikir dan mencari-cari, Ibu. Aku ingin bertapa dan mencari guru yang pandai.”

“Bertapa? Mencari guru? Guru apa, Nini?”

“Guru dalam olah keperwiraan, mempelajari aji kesaktian!”

“Kau? Seorang perempuan? Untuk apa, nak?” Darmini memandang wajah Ibunya dengan sinar mata tajam.

“Ibu, lupakah Ibu sudah kepada Ong Cun?”

“Ehh? Tentu saja tidak. Akan tetapi apa perlunya diingat terus orang yang sudah meninggal dunia? Ada apa dengan Ong Cun?”

“Dia adalah seorang yang memiliki aji kedigdayaan, gagah perkasa. Akan tetapi dia terbunuh juga. Jelas bahwa pembunuhnya adalah seorang yang tangguh, Ibu. Karena itulah aku harus menjadi seorang yang digdaya, yang sakti karena aku hendak mencari pembunuh Ong Cun, untuk membalaskan dendamnya.”

 “Ah, untuk apa, Nini? Apa perlunya semua itu? Engkau hanya akan menempatkan dirimu ke dalam bahaya. Engkau seorang wanita akan mampu berbuat apa? Jangan-jangan engkau malah akan menjadi korban.”

“Aku sudah bertekad, Ibu. Kasihan Ong Cu. Nyawanya akan melayang menjadi roh penasaran kalau dendam ini tidak terbalas. Dan dia tidak mempunyai siapapun di sini, kecuali aku. Akulah yang akan membalaskan dendamnya dan untuk itu aku harus belajar kedigdayaan dan bertapa. Sekarang kebetulan ada urusan pinangan ini. Jadi, kepergianku ini mempunyai dua keuntungan. Pertama, akan tercapai keinginan hatiku, dan kedua, dapat membebaskan Ayah dan Ibu dari keadaan serba salah. Kalau aku pergi bertapa dan berguru, tentu Uwa Empu Tanding akan mengerti bahwa kalian tidak dapat memberi keputusan mengenai pinangan itu.” Nyi Demang Bragolo nampak bingung dan gelisah.

“Akan tetapi, anakku, engkau seorang wanita muda, lalu hendak mencari guru kemanakah? Duh gusti, kemalangan apa lagi yang harus hamba derita ini?” Dan sepasang wanita itu sudah basah lagi.

“Sudahlah, Kanjeng Ibu, jangan menangis. Lebih baik bantulah aku. Tadinya aku teringat bahwa Uwa Empu Tanding adalah seorang yang memiliki aji kesaktian, demikian kata orang. Benarkah itu?”

“Benar sekali, Darmini. Uwamu itu seorang yang digdaya.”

“Tadinya aku berniat untuk bergur kepadanya. Akan tetap sekarang tidak mungkin lagi setelah dia datang meminang dan pinangan itu kita tolak. Aku harus mencari guru lain, bahkan kalau mungkin lebih digdaya dari pada Uwa Empu. Tahukah engkau, Ibu, siapa guru Uwa Empu Tanding?”

“Guru uwamu itu adalah Kakak seperguruannya juga yang bernama Empu Kebondanu, seorang pertapa di dusun Talasan di kaki Gunung Bromo.”

“Apakah dia lebih digdaya dibandingkan Kanjeng Uwa Empu Tanding, Ibu?”

“Aku tidak tahu pasti, anakku. Yang kutahu hanyalah bahwa yang bernama Empu Kebondanu adalah seorang pertapa sakti, dan biarpun dahulunya menjadi Kakak seperguruan, ketika guru mereka meninggal dunia, Empu Kebondanu yang melanjutkan mendidik uwamu.”

“Kenapa kalau Kanjeng Uwa menjadi seorang pejabat dan bangsawan, Empu Kebondanu tidak?”

“Karena kabarnya dia tidak suka akan keduniawian, lebih suka menjadi seorang pertapa di dusun Talasan itu.”

“Ah, agaknya dialah orangnya, Ibu. Aku akan pergi ke sana, berguru kepada Empu Kebondanu! Kalau Kanjeng Uwa menjadi muridnya, tentu dia amat sakti, jauh lebih sakti daripada Kanjeng Uwa sendiri.”

“Tapi, anakku, dusun itu jauh sekali, dan engkau seorang anak perempuan!” kata Ibunya khawatir sambil merangkul anaknya.

“Ibu, apakah lebih senang melihat aku berdiam disini dan mati?” Nyi Demang menjerit. “Tidak, tidak...!” “Kalau aku tinggal saja disini, sama saja dengan mati, Ibu. Hatiku akan diracuni dendam dan penasaran. Sebaliknya, kalau aku mempelajari ilmu, akan timbul harapan dalam hatiku dan ada gairah semangat untuk hidup. Ibu jangan khawatir, aku akan menyamar sebagai seorang pria, dan kalau Ibu demikian mengkhawatirkan, biarlah Ibu menyuruh seorang yang dapat dipercaya untuk menemaniku pergi ke Talasan mencari Empu Kebondanu.”

“Baiklah, anakku, akan tetapi biarkan Ibumu ini lebih dulu merundingkaan dengan ayahmu... ahhhh, anakku...” Sambil mengeluh panjang Ibu yang gelisah itu lari keluar dari kamar anaknya untuk menyampaikan berita yang mengejutkan itu kepada suaminya. Mendengar penuturan isterinya, Ki Demang terbelalak.

“Apa?” Untuk beberapa saat lamanya dia tidak mampu berkata-kata. Berita itu terlalu mengejutkan, sama sekali tak pernah disangkanya. Akhirnya, dia menghela napas panjang dan memandang isterinya.

“Engkau tentu tahu bahwa ia telah kuanggap sebagai darahku sendiri, sebagai anakku sendiri, apalagi karena kau tidak mempunyai anak lain kecuali Nini Darmini. Sungguh berat rasanya membiarkan dia pergi dari sini, apalagi untuk berguru dan bertapa! Seorang gadis mempelajari aji kesaktian dan bertapa, padahal tidaklah mudah untuk mempelajari ilmu itu, harus berani hidup sengsara, kurang makan kurang tidur. Akan tetapi, kalau kita melarangnya dengan keras, tentu akan berbahaya sekali. Ia sudah bicara tentang kematian, berarti kalau kita melarang, ia akan membunuh diri. Ah, sungguh tidak kusangka akan begini akibat pertunangannya dengan Cina itu...”

“Sudahlah, tidak ada artinya menyesal hal yang sudah lewat. Yang penting sekarang, bagaimana engkau dapat mengatur agar anak kita dapat selamat menghadap Eyang Empu Kebondanu yang terkenal sakti itu.”

“Bagaimana kalau aku sendiri yang mengantarkannya ke sana?”

“Tidak, Kanjeng Rama, aku tidak ingin Kanjeng Rama yang mengantarkan aku. Harap dicarikan orang lain saja, atau aku akan pergi seorang diri saja!” Tiba-tiba muncul Darmini. Ki Demang Bragolo dan isterinya terkejut bukan main, tidak mengira bahwa Darmini telah berada di situ.

“Nini, sudah... Sudah lamakah engkau berada di situ?” Darmini yang baru saja keluar dari balik tihang besar itu mengangguk.

“Sudah sejak tadi, Ibu.”

“Kalau begitu... kau... apakah mendengarkan semua percakapan kami?” tanya pula Ki Demang Bragolo sambil menantap wajah gadis itu penuh perhatian dan selidik. Darmini menghampiri mereka lalu duduk di atas bangku, berhadapan dengan mereka.

“Harap Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu tidak menjadi kaget atau gelisah mengenai keadaan saya karena apa yang saya dengar tentang hubungan Kanjeng Rama dengan saya tadi sudah sejak lama saya ketahu.”

“Apa...? Kau... kau sudah tahu bahwa engkau bukan...”

“Saya tahu bahwa saya bukan puteri kandung Kanjeng Rama, Ibu.”

 “Bagaimana engkau bisa tahu, Nini?” Ki Demang Bragolo bertanya kaget.

“Saya pernah mendengar desas-desus tentang hal itu sejak beberapa tahun yang lalu, akan tetapi karena saya tidak ingin membuat Paduka berdua gelisah, saya pura-pura tidak tahu saja. Dan lagi, apa bedanya bagi saya? Kanjeng Rama demikian baik kepada saya, sudah saya anggap sebagai Ayah kandung sendiri.” Legalah hati suami isteri itu dan Nyi Demang Bragolo lalu duduk di dekat anaknya, merangkul pinggang puterinya.

“Nini, maafkan kami yang tidak pernah menceritakan hal ini kepadamu. Memang sesungguhnya kami sengaja tidak bercerita karena kami khawatir hal itu akan membuat engkau berduka. Sekarang ketahuilah bahwa Ayah kandungmu sendiri telah meninggal ketika engkau masih kecil. Ibumu lalu menikah lagi dengan ayahmu yang sekarang ini dan karena engkau masih kecil, maka kamipun mengambil keputusan untuk merahasiakan keadaaan dirimu itu, apalagi karena Kanjeng Rama mengganggap engkau sebagai anak kandungnya sendiri.”

“Ibu, hal itu sudah berlalu dan anggap saja bahwa saya tetap tidak pernah mengetahui. Yang saya ingin bicarakan bukan hal itu, melainkan tentang keinginan saya berguru. Saya tidak setuju kalau Kanjeng Rama yang mengantarkan saya, karena dengan demikian berarti belum bulat tekad saya. Saya harus pergi seorang diri saja meninggalkan rumah ini, dan kalau Kanjeng Ibu demikian mengkhawatirkan saya, biarlah ada orang kepercayaan yang mengantar saya sampai ke dusun Talasan di kaki Bromo.” Ki Demang Bragolo mengangguk-angguk dan kelihatan terharu. Dia meraba-raba dagunya yang tidak berjenggot, lalu berkata,

“Aku melihat betapa tekadmu sudah bulat sekali, Nini. Engkau dibara dendam yang mendalam karena kematian tunanganmu. Baiklah, aku akan mencarikan seorang perajurit yang gemblengan untuk mengawalmu sampai ke kaki Bromo, sampai engkau dapat menghadap Eyang Empu Kebondanu.”

“Akan tetapi, Kanjeng Rama. Kalau dapat harap dipilihkan seorang abdi biasa saja dari keluarga kita sendiri. Selain saya tidak senang melakukan perjalanan dengan orang yang sama sekali belum pernah kukenal, juga saya khawatir orang luar itu akan membocorkan rahasia dan menceritakan kepergianku kepada orang-orang lain.

“Biarlah Paman Nala, tukang kebun kita itu saja, yang mengantar Nini Darmini,” kata Nyi Demang. “Dia sudah belasan tahun mengabdi kepada kita, sejak Darmini masih kanak-kanak, dan dia seorang yang setia dan jujur.”

“Saya setuju, Ibu!” kata Darmini. “Biar dia yang menemani saya. Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu, besok pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit, saya akan berangkat. Saya akan memberi tahu Paman Nala sekarang juga.” Dan gadis itupun tanpa menanti jawaban lari masuk ke bagian belakang rumah itu. Ayah dan Ibunya hanya saling pandang dan Nyi Demang lalu menubruk suaminya sambil menangis. Suaminya memeluknya dan mengusap rambutnya, mengeluarkan kata-kata menghibur.

Pemuda itu tampan sekali. Dari pakaiannya saja, dengan baju indah menutup tubuh atasnya, dan kain kepala menutupi rambutnya, mudah diketahui bahwa dia bukan seorang pemuda dusun belaka yang jarang menutup bagian tubuh atas dengan baju. Tentu seorang pemuda bangsawan dari kota raja, atau setidaknya tentu seorang pemuda kaya raya dari dari kota. Akan tetapi melihat betapa pakaiannya sederhana saja, lebih tepat kalau dia seorang pemuda putera seorang Ponggawa atau putera seorang Pendeta yang meniru-niru pakaian pemuda kaya akan tetapi tidak mampu membeli pakaian indah yang mahal. Perawakannya sedang atau lebih tepat kecil ramping, sebagian rambut yang tersembul dari kain kepala demikian hitam dan segar. Wajahnya yang lembut dan agak dingin muram itu amat tampan. Kulit kaki dan tangannya juga halus, tanda bahwa pemuda ini jarang bekerja berat. Teman yang berjalan disampingnya itu seorang lak-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun,

Pakaiannya juga sederhana dan sikapnya seperti seorang petani yang biasa bekerja keras. Punggungnya agak bongkok, agaknya karena sejak kecil sampai tua jarang melepas gagang cangkul. Orang ini tinggi kurus, wajahnya lonjong, dan nampak bodoh, akan tetapi sinar matanya lembut dan mulutnya ramah, sikapnya gembira, berbeda dengan pemuda itu yang nampak jarang tersenyum, padahal kalau sekali-kali dia tersenyum, nampak betapa wajahnya menjadi tampan sekali! Pemuda itu bukan lain adalah Darmini yang menyamar sebagai seorang pemuda, dan temannya adalah Nala, tukang kebun yang menjadi hamba keluarga Ki Demang Bragolo semenjak Ibu kandung Darmini menikah dengan Demang itu. Ki Nala ini seorang duda yang tidak mempunyai anak, tidak mempunyai keluarga pula, seorang perantau yang datang jauh dari dusun di Pegunungan Kidul dekat pantai laut selatan.

Mereka telah melakukan perjalanan selama beberapa hari dan pada siang hari yang panas itu mereka beristirahat di tepi jalan, tepi sawah dimana tumbuh sebatang pohon beringin dan duduk bercakap- cakap sambil makan ketupat yang mereka beli pagi tadi di sebuah dusun yang mereka lalui. Siang itu matahari terik sekali. Bahkan dibawah pohon beringin itu masih nampak sinar matahari yang menyelinap di antara celah-celah daun pohon, menciptakan garis-garis sinar lurus menimpa bumi. Beberapa ekor burung di dalam phon beringin itu tidak mengeluarkan bunyi, agaknya merekapun merasakan panasnya siang hari itu dan mengaso di dalam perlindungan daun-daun hijau yang sejuk. Namun, setelah melakukan perjalanan yang melelahkaan di antara sengatan terik matahari dan pengapnya debu,

Duduk di atas batu di bawah pohon beringin itu amatlah sejuknya... Apalagi ketika angin semilir menerpa tubuh, segar rasanya. Baju yang basah oleh keringat menjadi kering, dan laparpun terasa oleh perut. Dalam keadaan seperti itu, dialam terbuka, dibawah pohon yang rindang, ditiupi angin lembut, makan ketupat dan sambal tempe yang mereka beli tadi sudah terasa nikmat dan lezat bukan main! Perpisahan dengan Ayah Ibunya terjadi singkat saja. Hari keberangkatan, pagi-pagi sekali dilengkapi tangis Ibunya. Darmini sudah siap bersama Ki Nala ketika Ayah dan Ibunya muncul. Ibunya terbelalak melihat puterinya berpakaian pria dan berubah menjadi seorang pemuda tampan, lalu menubruk, merangkul dan menangis. Darmini mencium kedua pipi Ibunya, lalu melepaskan diri dengan lembut dan berkata,

“Harap Kanjeng Ibu suka menenangkan hati dan jangan memberatkan beban saya dengan kedukaan. Sebaliknya, saya mohon doa restu dan saya membutuhkan kegembiraan dan semangat untuk melakukan perjalanan ini, Kanjeng Ibu.” Mendengar ucapan puterinya, Nyi Demang menghentikan tangisnya. Darmini lalu berlutut menyembah di depan kaki Ki Demang Bragolo.

“Kanjeng Rama, saya mohon diri dan mohon doa restu.”

“Kuberi doa restuku, Nini. Semoga engkau selalu dilindungi Hyang Widhi Wisesa di sepanjang perjalanan dan dapat terkabul cita-citamu.”

“Terima kasih, Kanjeng Rama, Kanjeng Ibu, saya mohon pamit dan doa restu.”

“Anakku...!” Nyi Demang juga berlutut dan merangkul, tak dapat menahan tangisnya. “Semoga selamat perjalananmu, anakku. Aku akan memujikan siang malam... dan bawalah ini, Nini, perlu untuk bekal di dalam perjalananmu. Ki Nala, hati-hatilah menjaga momonganmu Damini.” Darmini menerima peti kecil berisi perhiasan dari Ibunya, walaupun ia tidak merasa perlu membawa barang berharga itu. Ia sudah membawa pakaian laki-laki yang telah disuruhnya beli Ki Nala semalam, dibuntalnya bersama beberapa pakaian wanita. Ia tidak melupakan pedang Lian-Hwa-Kiam dan juga bunga teratai layu pemberian Ong Cun dahulu!

“Terima kasih, Kanjeng Ibu. Saya berangkat, selamat tinggal!” Dengan cepat Darmini meninggalkan Ayah Ibunya yang mengikutinya dengan pandang mata kabur karena linangan air mata. Kalau tidak dirangkul suaminya, tentu Nyi Demang sudah mengejar puterinya atau jatuh pingsan. Darmini tidak menengok lagi, bahkan berjalan cepat keluar dari rumah gedung orang tuanya. Demikianlah, mereka melakukan perjalanan dengan cepat. Karena Darmini seorang gadis pingitan, puteri seorang Demang yang tentu saja jarang melakukan perjalanan, dan tidak pernah melakukan perjalanan kaki demikian jauh, maka perjalanan ini merupakan siksaan bagi tubuhnya, terutama sekali kedua kakinya. Akan tetapi, berkat tekadnya yang bulat, didorong oleh dendam sakit hatinya yang setinggi langit sedalam lautan, ia menanggung semua itu tanpa pernah mengeluh sedikitpun juga.

Seringkali Ki Nala menggeleng kepala, penuh rasa iba, juga penuh rasa kagum, melihat betapa gadis yang menyamar pria itu melangkahkan kakinya dengan berat agak terpincang-pincang, namun terus saja ia melangkah tanpa mengeluh, hanya menggigit bibir dengan sinar mata mencorong penuh semangat. Kakek inipun merasa kasihan sekali melihat betapa kalau mereka berhenti, gadis itu memijat-mijat kedua kakinya yang agak membengkak! Ingin dia menggendong momongannya itu, gadis yang dikenalnya sejak gadis itu masih seorang anak kecil yang baru belajar jalan. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani mengatakannya, karena pernah ketika dia mengusulkan apakah sebaiknya tidak berhenti dulu kalau gadis itu merasa lelah, Darmini membentaknya.

“Paman Nala, jangan sekali-kali mengatakan bahwa aku lelah! Dan ingat, namaku sekarang Darmono, jangan salah sebut sehingga membuka rahasiaku. Engkau harus menyimpan rahasiaku ini dengan taruhan nyawa. Maukah engkau berjanji, Paman?” Ki Nala mengangguk-angguk.

“Baik, dan maafkan saya... eh, Raden Darmono.” Darmini tersenyum mendengar Kakek itu agak meragu, lalu lenyaplah sudah kemarahannya. Ia mendekat dan memegang tangan kanan Ki Nala.

“Engkaulah yang harus maafkan sikapku tadi, Paman. Engkau begini setia, dan aku hanya membentakmu, padahal engkau bermaksud baik.” Demikianlah, mereka melanjutkan perjalanan lagi setelah beristirahat dan makan di bawah pohon beringin. Gunung Bromo yang menjulang tinggi itu kini sudah nampak dekat. Dusun Talasan tidak jauh lagi. Menurut orang terakhir yang mereka tanyai, mereka harus melewati tiga buah hutan lagi dan perjalanan itu akan makan setengah hari, dan mereka akan tiba di dusun Talasan. Ketika mereka tiba di hutan ketiga, hari sudah menjelang malam. Cuaca sudah remang-remang.

“Maaf Raden, malam telah hampir tiba. Apakah tidak lebih baik kalau kita berhenti di luar hutan ini dan melanjutkan besok?”

“Tidak, Paman. Hutan ini adalah hutan terakhir menurut keterangan orang yang kita tanyai tadi. Lebih baik cepat-cepat kita tembusi hutan ini dan kita sudah akan tiba di dusun Talasan.”

 “Tapi, malam hampir tiba, tentu gelap sekali di dalam hutan.”

“Apakah engkau takut, Paman? Aku tidak!” Mendengar ucapan itu dan melihat sikap gadis yang gagah itu. Ki Nala merasa malu untuk memperlihatkan kekecilan hatinya.

“Kalau begitu baiklah, Raden. Saya tidak takut, saya tadi hanya ingin menguji sampai dimana keberanian hati andika.” Darmini tersenyum mendengar ucapan ini. Kadang-kadang kegembiraan dan kelucuan sikap Ki Nala dapat memancing senyumnya, dan memang seringkali Kakek itu sengaja melucu untuk dapat menggembirakan hati momongannya.

“Mari, Paman, kita percepat jalan kita agar dapat segera sampai di tempat tujuan. Malam ini bulan muncul sore-sore, lumayan untuk menerangi perjalanan kalau sampai kita kemalaman di hutan.” Kadang-kadang Kakek ini sendiri merasa heran akan ketabahan hati momongannya. Demikian beraninya sampai seperti orang nekat yang tidak lagi menghiraukan bahaya.

Akan tetapi, sebagai seorang yang lebih tua dan terutama sekali sebagai laki-laki, tentu saja dia merasa malu kalau memperlihatkan rasa serem dan takutnya memasuki hutan itu padahal hari mulai malam gelap begini. Yang mengharukan hatinya, setiap kali menghadapi bahaya atau kelelahan yang sangat, gadis itu seperti mendapatkan tenaga baru kalau sudah mengeluarkan kembang teratai layu dari saku bajunya, memegangi bunga layu itu dari saku bajunya, memegangi bunga layu itu dan mencium- ciumnya. Sebagai seorang tukang kebun yang sejak dahulu bekerja di keluarga Kademangan, tentu saja dia tahu akan riwayat asmara momonganya ini. Dia tahu pula betapa kekasih dan tunangan momongannya mati terbunuh orang. Bahkan di dalam perjalanan pernah Darmini mengajaknya bercakap-cakap tentang peristiwa pembunuhan itu.

“Paman Nala, masih ingatkah engkau kepada Ong Cun?” demikian tiba-tiba gadis itu bertanya, beberapa hari yang lalu ketika mereka bermalam di dalam gubuk di tengah sawah.

“Tentu saja, Raden.” Dia sudah terbiasa kini menyebut Raden Darmono, kepada gadis momongannya itu. “Akan tetapi, baikkah membicarakan dia?”

“Tidak apa-apa, Paman. Aku terkenang kepadanya, dan aku sudah dapat mengatasi kesedihanku atas kematiannya. Dia... dia seorang yang mulia, gagah dan baik sekali, Paman. Aku cinta sekali padanya.”

“Tentu saja Raden. Sayapun pernah diajaknya bercakap-cakap dan biarpun terhadap seorang tukang kebun seperti saya.”

“Ah, semua itu hanya tinggal kenangan. Dan sekarang yang tinggal daripadanya hanyalah pedang ini, dan... dan layon kembang ini, Paman. Ini setangkai bunga teratai yang dipetiknya dari kolam kita, dan diberikannya kepadaku. Kusimpan selalu bersama pedang ini, sampai matipun aku tidak mau berpisah lagi.” Ki Nala merasa terharu sekali. Dia pernah muda, pernah mempunyai isteri yang juga amat dicintainya. Isterinya itu kemudian lari dengan pria lain, dan untuk beberapa tahun lamanya dia berduka. Untung bahwa mereka belum mempunyai anak dan semenjak itu, dia tidak lagi mau menikah. Akan tetapi, kini melihat cinta yang demikian mendalam dari gadis momongannya, yang masih tetap setia dan mencinta kekasihnya walaupun telah ditinggal mati, membuat dia merasa terharu bukan main.

“Biarpun nasibnya buruk dan telah meninggal dibunuh orang, akan tetapi tunangannya andika itu, siapa lagi namanya...” “Ong Cun...”

“Oya, Ong Cun, sukar benar teringat oleh saya nama Cina itu. Tunangan andika itu sungguh beruntung sekali mempunyai seorang tunangan seperti andika, Raden.” Darmini terdiam. Percakapan tentang Ong Cun itu menggugah kembali rasa kehilangan dan membangkitkan kembali rasa kehilangan dan kesedihan hatinya.

Memang, duka timbul dari pikiran, timbul dari ingatan. Suatu peristiwa terjadi. Pikiran yang menciptakan si-aku menyambut dan menilai peristiwa itu. Ternyata merugikan si-aku yang penuh ikatan. Ikatan putus dan si-aku merasa dirugikan. Timbullah iba diri dan iba diri ini mendatangkan duka. Setiap kali pikiran teringat, timbullah duka itu. Kalau tidak teringat, dukapun tidak ada! Demikian pula Darmini. Begitu bicara tentang Ong Cun dan teringat bahwa ia telah kehilangan kekasihnya itu, ia merasa sengsara, merasa kesepian, merasa kehilangan, dan timbul iba diri yang mendatangkan duka. Ini tidak benar, celanya kepada diri sendiri. Melemahkan semangat saja. Yang penting sekarang adalah berusaha membalas dendam dan ia sedang pergi untuk mempelajari ilmu agar kelak dapat membalas dendam setelah berhasil menemukan pembunuh Ong Cun, pemerkosa dirinya!

“Paman Nala, Ong Cun terbunuh pada malam Kamis Wage, bukan?” “Maaf, saya tidak ingat lagi, Raden. Agaknya begitulah. Mengapa?”

“Aku ingat dan takkan pernah dapat melupakan malam itu dan malam berikutnya.”

“Malam berikutnya? Setelah malam Kamis Wage, malam berikutnya adalah malam Jumat Kliwon! Ada apa dengan malam itu, Raden?”

“Benar, Paman, malam Jumat Kliwon.” Diam-diam Darmini mengepal tinju dan bergidik. “Malam itu serem sekali, Paman, dan aku masih diliputi kedukaan mendalam berhubung dengan kematian Ong Cun. Ingatkah engkau Paman, barangkali ada terjadi sesuatu hal yang menarik di malam Jumat Kliwon itu?”

“Malam Jumat Kliwon itu? Di Kademangan memang tidak ada apa-apa, akan tetapi... hiiiihhh...” Ki Nala bergidik seperti orang ketakutan teringat akan sesuatu. Berdebar rasa jantung dalam dada Darmini. Agaknya ada terjadi sesuatu pada malam jahanam itu!

“Apakah yang telah terjadi, Paman? Cepat ceritakan padaku!”

“Saya hanya mendengar saja cerita orang, Raden. Dikabarkan bahwa pada pagi harinya setelah malam Jumat Kliwon itu, orang mendapatkan seorang yang terkenal sebagai dukun dengan nama Eyang Rudiro telah mati terbunuh orang di tanah kuburan yang angker. Hiih, orang itu memang menyeramkan sekali, akan tetapi kematiannya sungguh penuh rahasia. Jelas dia dibunuh orang dikuburan itu, dan disitu masih Nampak bekas kembang menyan berserakan.”

“Siapakah itu Eyang Rudiro, Paman? Aku belum pernah mendengar namanya.”

“Memang lebih baik kalau tidak mendengar nama orang seperti itu dan selamanya tidak usah berkenalan. Dia terkenal sebagai seorang dukun tukang tenung, tukang guna-guna dan segala macam