-->

Kilat Pedang Membela Cinta Jilid 1

Jilid 1

Kisah ini dimulai pada akhir perang Paregreg (1401-1406), perang saudara yang amat kejam karena perebutan kekuasaan antara para putera keturunan Sang Prabu Hayam Wuruk. Perang saudara inilah yang mengawali suramnya sinar kejayaan Kerajaan Majapahit. Setelah perang itu selesai, Kerajaan Majapahit menjadi semakin lemah, perang saudara timbul di mana-mana,

Para Raja kecil yang tadinya takluk dan mengakui kedaulatan Majapahit, bangkit memberontak. Akhirnya, sekitar tahun 1478 kekuasaan Majapahit runtuh sama sekali. Agaknya kematian Sang Maha Patih Gajah Mada dan Sang Maha Prabu Hayam Wuruk membawa pergi kejayaan Majapahit. Perang Paregreg terjadi karena pemberontakan Wirabumi, seorang putera Hayam Wuruk beribu selir yang diangkat menjadi Raja di daerah Lumajang. Adapun yang menggantikan kedudukan Prabu Hayam Wuruk adalah puterinya yang beribu permaisuri, yaitu Puteri Kusumawardhani bersama suaminya yang bernama Wikramawardhana. Belasan tahun kemudian, karena patah hati kematian puteranya yang menjadi putera mahkota, Wikramawardhana mengundurkan diri meninggalkan singgasana untuk menjadi Pendeta.

Singgasana diserahkan kepada puterinya yang bernama Puteri Suhita yang beribu selir. Pengangkatan Puteri Suhita menjadi pengganti Wikramawardhana inilah yang membuat Wirabumi menjadi berang. Dia menerasa penasaran dan iri hati. Kakak iparnya dianggapnya tidak adil sama sekali! Siapakah gerangan Puteri Suhita ini? Hanya puteri Kakak iparnya dengan selir, sedikitpun tidak berdarah mendiang Prabu Hayam Wuruk. Sepatutnya, kalau Kakak iparnya itu mengundurkan diri, dialah yang diangkat menjadi penggantinya, bukan Suhita, anak selir dan perempuan pula. Melihat pemberontakan ini, terpaksa Wirakramawardhana yang sudah mengundurkan diri menjadi Pendeta itu tampil lagi ke depan, membela puterinya dan dia memimpin pasukan Majapahit untuk melawan pasukan Lumajang di bawah pimpinan Wirabumi yang memberontak itu.

Sungguh kebetulan sekali pada waktu perang Paregreg terjadi, dalam tahun 1405 seorang utusan dari Kaisar Yung Lo di Cina datang berkunjung ke Pula Jawa. Utusan itu bernama Laksamana The Ho yang memimpin ratusan orang anak buahnya, diantaranya terdapat ahli-ahli yang dibutuhkan dalam peristiwa itu. Bahkan diantara mereka terdapat seorang Kyai beragama Islam yang bernama Ma Huan. Tugas Laksamana The Ho melawat ke selatan adalah memperbaiki kembali hubungan dengan negara-negara di selatan yang tadinya rusak selama Cina dijajah oleh pemberontak Mongol, dan untuk memperluas hubungan perdagangan. Karena pada waktu itu Agama Islam mulai tersebar di negara-negara bagian selatan itu, maka Kaisar Yung Lo dari kerajaan Beng itu menyertakan Kyai Ma Huan dalam perlawatan itu.

Dalam tahun 1406, kebetulan sekali rombongan Laksamana The Ho ini tiba di Lumajang, di kerajaan Wirabumi. Maka terjadilah malapetaka yang tak dapat dihindarkan lagi. Karena dalam tahun itu pihak pasukan Lumajang terdesak, dan pasukan Majapahit menyerbu ke dalam kerajaan Lumajang,

Maka terjadilah bentrokan pula antara pasukan penyerbu dengan rombongan anak buah Laksamana The Ho yang disangka pasukan suka rela asing yang membantu Wirabumi. Dalam bentrokan itu, di pihak rombongan The Ho tewas seratus tujuh puluh orang. Selebihnya bersama Laksamana The Ho, Kyai Ma Huan dan yang lain-lain dapat menyelamatkan diri. Tentu saja Laksamana The Ho mengajukan protes kepada Kerajaan Majapahit yang selama ini mempunyai hubungan baik dengan Cina. Sang Prabu Wikramawardhana menyadari kesalahan pasukannya dan segera minta maaf. Akan tetapi setelah peristiwa itu dilaporkan kepada Kaisar Yung Lo, Kerajaan Beng menuntut kepada Kerjaan Majapahit untuk memberi ganti rugi sebanyak enam puluh ribu tahil emas!

Berapa tahun kemudian, permintaan ganti rugi ini dibayar sebanyak sepuluh ribu tahil dan diterima dengan baik oleh Kerajaan Beng di Cina, dan selebihnya dibebaskan. Dengan adanya pembayaran ganti rugi ini, maka hubungan antara kedua negara menjadi baik kembali. Seperti telah tercatat dalam sejarah, perang berakhir dalam tahun 1406 itu, Wirabumi melarikan diri menggunakan perahu, akan tetapi dapat dikejar dan dibunuh oleh seorang Senopati yang berpangkat Ratu Angabaya bernama Raden Gajah. Kepala Wirabumi dipenggal dan dibawa ke Kotaraja Majapahit. Memang sejak itu, perang saudara terhenti dan ketentraman kerajaan dapat di pulihkan. Namun, persaTuan yang menjadi sendi kekuatan Majapahit telah goyah, membuat kerajaan yang pernah besar dan jaya itu menjadi lemah dan menyuram sinarnya.

Darmini merasa gembira bukan main. Ia menggosok kulit tubuhnya yang hitam manis dan halus lembut itu dengan batu hitam yang licin, sambal bersenandung kecil. Rambutnya telah dicucinya dengan abu kulit pohon pisang sehingga rambut yang panjang sampai ke pinggang itu mengkilap. Sore itu ia membersihkan diri dengan teliti, kemudian setelah rambutnya mengering, ia memakai minyak kembang yang harum pada rambutnya, disisir rapih dan digelung secara sederhana namun manis bukan main. Dikenakan pakaian yang baru, kemben baru kuning dan merah, kain berwarna ungu. Wajahnya amat manis, hitam dan manis.

Terutama sekali sepasang mata yang agak lebar, dengan manik mata yang hitam dan bagian putihnya amat bersih, dengan sinar yang lembut jernih, alis melengkung seperti bulan tanggal satu, bulu mata yang panjang lentik, dan mulutnya yang indah. Sepasang Bibir yang kemerahan itu selalu basah segar, dengan bentuk seperti gendewa terpentang, kalau tersenyum muncul lesung pipit di sebelah kiri ujung Bibirnya, kalau bicara sepasang Bibir itu seolah hidup dan dapat menari, kalau tertawa kecil sepasang Bibir terbuka memperlihatkan deretan gigi yang putih seperti mutiara teratur rapi, bekas pangur membuat ujung deretan gigi itu rata menambah kemanisannya, dan kadang-kadang ujung lidah yang kecil kemerahan dan segar menjilat dan mengulum Bibir. Pendeknya, seorang gadis yang amat manis dan sukarlah bagi pria yang manapun untuk tidak menengok kembali setiap kali berpapasan dengannya.

Gadis hitam manis ini bernama Darmini dan ia adalah puteri Ki Demang Bragolo, seorang Pamong di Kerajaan di Lumajang. Biarpun Lumajang telah ditundukkan oleh Majapahit, namun setelah Wirabumi dapat ditewaskan, tidak semua Pamong di Lumajang menerima hukuman. Hanya mereka yang tadinya benar-benar menentang Majapahit sajalah yang menerima hukuman. Ki Demang Bragolo bukan termasuk seorang di antara mereka, oleh karena itu, diapun dimaafkan dan bahkan diperkenankan melanjutkan pekerjaannya sebagai Demang. Akan tetapi tentu saja, sebagai Pamong negara taklukan, dia harus tunduk terhadap penguasa baru yang kini menduduki Lumajang sebagai taklukan atau bagian dari Majapahit. Sambil berdandan, Darmini mengenang kembali segala peristiwa yang terjadi ketika Lumajang diserbu musuh dari Majapahit.

Ketika itu, keadaan di Kotaraja kacau balau tidak karuan. Dan seperti sudah lazim terjadi di manapun juga, di waktu negara dalam keadaan kacau oleh perang, petugas keamanan sibuk mencurahkan seluruh perhatian terhadap musuh yang memerangi negara. Keamanan menjadi tidak terjamin lagi dan kesempatan ini dipergunakan oleh para penjahat untuk bangkit dan mengail di air keruh, yaitu melakukan kejahatan selagi negara dalam keadaan kacau dan keamanan sedang tidak terjaga. Ketika pasukan Majapahit menyerbu Lumajang. Darmini berada di dalam rumah seorang diri. Para pelayan sudah melarikan diri, karena mereka merasa takut untuk berdiam di Kerajaan Lumajang. Ki Demang Bragolo sendiri sejak beberapa hari yang lalu sudah tidak berada di rumah, tentu saja sesuai dengan kedudukannya, diapun ikut membela Lumajang.

Ibunya hanya bersembunyi di dalam kamarnya sambil berdoa kepada Hyang Widhi untuk keselamatan suaminya. Pada saat terjadi keributan dan pertempuran dimana-mana itulah, tiga orang laki-laki menyerbu Pademangan itu dan melihat Darmini, mereka lalu menangkapnya. Darmini menjerit dan meronta, namun seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam, memondongnya dan membawanya lari bersama dua orang kawannya yang sudah pula membawa barang-barang berharga yang mereka rampok dari Pademangan itu. Ketika Darmini menjerit-jerit dan dilarikann tiga orang itulah muncul dua orang pemuda yang cepat melakukan pengejaran. Tiga orang itu melarikan Darmini ke dalam sebuah gubuk kosong, di ujung alun-alun.

“Lepaskan aku... ohhh, lepaskan aku…!” Darmini menjerit-jerit sambil meronta-ronta, namun agaknya usahanya ini malah mendatangkan kegembiraan kepada tiga orang penawannya yang tertawa-tawa dan mulai menggerayangi tubuhnya dan berusaha untuk menanggalkan pakaiannya. Dari penerangan lampu gantung di sudut, Darmini melihat betapa wajah mereka amat menyeramkan, wajah orang-orang yang biasa melakukan kejahatan dan kekejaman, terutama sekali wajah orang tinggi besar muka hitam yang bercambang bauk dan yang memanggulnya tadi.

“Tenanglah, manis. Percuma saja engkau menjerit. Semua orang sibuk dengan urusannya sendiri, heh- heh-heh. Kau menurut sajalah, manis!”

“Tidak... tidak!! Lepaskan aku,... ohhh, lepaskan...!”

“Brakkkk!” Tiba-tiba pintu gubuk itu jebol dan dua orang laki-laki telah berdiri di ambang pintu. Tiga orang itu tentu saja terkejut sekali.

“Lepaskan nona itu!” kata seorang di antara dua pendatang dengan suara tenang. Ketika mendapat kenyataan bahwa yang muncul adalah dua orang laki-laki muda berbangsa Cina, yang dapat mereka kenal dari pakaian dan gelung rambut, si muka hitam meloncat bangun dan memandang dengan mata terbelalak marah. Dia tahu bahwa di Kotaraja memang kedatangan rombongan orang Cina yang menjadi tamu kerajaan.

“Keparat, berani engkau mencampuri urusanku? Mampuslah!” Berkata demkian, si tinggi besar yang sudah mencabut sebuah penggada besar yang tadi terselip di punggungnya, menyerang dengan dahsyat ke arah pemuda itu. Pemuda ini bertubuh sedang, namun memiliki gerakan yang gesit. Cepat dia mengelak, dan kembali mengelak sambil meloncat keluar gubuk ketika dua orang lawan lain juga menyerangnya dengan keris di tangan. Tiga orang itu mengejarnya keluar gubuk dan pemuda itu berkata dalam Bahasa Cina kepada temannya.

“Sute, kau jaga nona itu, biarkan aku menghadapi tiga orang jahat ini!”

“Baik, Suheng,” kata pemuda Cina ke dua, Sute berarti adik seperguruan dan Suheng berarti Kakak seperguruan. Pemuda Cina ke dua itu lalu mendekati Darmini dan dengan sikap ramah dia memberi isarat agar Damini membereskan pakaiannya yang hampir telanjang. Biarpun hanya mengamati gadis itu sambil melirik, namun pemuda ini diam-diam merasa kagum, bahkan terpesona oleh kecantikan gadis hitam manis itu. Darmini dengan tubuh menggigil membereskan pakaiannya, kemudian bersama pemuda itu ia menonton perkelahian yang terjadi di luar gubuk dari pintu gubuk yang sudah roboh karena ditendang pemuda tadi. Dan kagumlah hati Darmini. Pemuda yang menolongnya itu hebat bukan main.

Ia sendiri, walaupun seorang wanita, suka akan olah raga pencak, dan meskipun belum banyak ia menguasai ilmu bela diri itu, namun ia suka sekali nonton orang bermain pencak. Oleh karena itu, melihat cara pemuda penolongnya itu menghadapi tiga orang lawannya membuat hatinya kagum bukan main. Pemuda itu bertubuh sedang saja, jauh kalah besar dibandingkan tiga orang lawannya. Dan tiga orang lawannya itu semua memegang senjata, si tinggi besar muka hitam bersenjata sebuah penggada kuningan yang berat dan besar, dan dua orang temannya memegang sebatang keris di tangan masing- masing. Akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak memegang senjata! Dengan tangan kosong saja dihadapinya tiga orang pengeroyoknya dan dia sama sekali tidak terdesak. Bahkan sebaliknya, tiga orang itu yang terdesak dan beberapa kali mereka menerima tamparan dan tendangan!

Gerakan pemuda itu seperti seekor burung saja, berloncatan ke sana-sini menyambar-nyambar, dan kadang-kadang dengan beraninya dia menangkis penggada dengan lengan tangannya, mengelak dari tusukan keris dengan mudahnya untuk membalas dalam detik berikutnya dengan tamparan atau tendangan yang membuat tubuh tiga orang pengeroyok jatuh bangun. Akhirnya, tiga orang itu mengerti bahwa lawan mereka terlalu tangguh dan amat berbahaya kalau mereka melanjutkan pengeroyokan mereka, maka merekapun segera melarikan diri dan menghilang ke dalam kegelapan malam. Pemuda itu mengebutkan pakaiannya, lalu menghampiri Sutenya dan Darmini yang keluar dari dalam gubuk. Melihat betapa penolongnya telah berhasil mengusir tiga orang perampok yang menculiknya. Darmini tanpa ragu lagi lal menjatuhkan diri berlutut, bersimpuh dan menyembah kepada penolongnya.

“Andika telah menyelamatkan saya dari malapetaka yang lebih mengerikan dari pada maut, untuk budi itu, saya takkan melupakan selamanya dan semoga para Dewata saja yang akan membalas budi andika. Saya akan selalu membakar dupa dan menaburkan bunga untuk mendoakan andika...”

“Aih, nona, bangkitlah dan jangan berkata demikian,” jawab pemuda itu dengan suara yang terdengar asing namun cukup jelas. Agaknya pemuda Cina ini sudah mempelajari bahasa daerah dengan cukup baik walaupun lidah Cinanya kaku mengucapkan beberapa huruf se-perti “r” dan “d” yang dalam.

“Berucap syukurlah engkau kepada Tuhan ALLAH karena hanya Tuhan yang menyelamatkan dirimu, walaupun melalui pertemuan antara kita. Aku hanya menunaikan kewajiban sebagai manusia yang harus menolong sesamanya saja,” demikian dia berkata sambil memegang lengan tangan Darmini dan menariknya agar gadis itu mau bangkit berdiri. Sejenak mereka berdiri berhadapan dan saling pandang di bawah sinar bulan yang nampak cerah. Dua pasang mata bertemu, yang sepasang memandang penuh kagum dan terima kasih, yang sepasang lagi memandang penuh kagum dan kasihan. Akhirnya Darmini yang lebih dulu menundukkan mukanya dan pemuda itu bertanya lembut,

“Siapakah namamu, nona dan di mana engkau tinggal?”

“Namaku Darmini dan saya adalah puteri Ki Demang Bragolo, tinggal di sudut barat kota.”

“Ah, kalau begitu mari kami antar pulang, nona. Sute, kau bawalah barang-barang rampasan itu.” Sambungnya ke dalam Bahasa Cina kepada Sutenya yang mengangguk dan segera mengangkuti dua karung barang rampokan yang dibawa oleh para perampok tadi. Darmini diantar pulang dan di tengah perjalanan, gadis itu memberanikan dirinya bertanya,

 “Andika siapakah? Aku melihat andika bukan pemuda sini, seperti... Seperti para tamu rombongan orang Cina yang pernah saya lihat kemarin dulu...” Pemuda itu mengangguk.

“Engkau benar, nona Darmini. Namaku Ong Cun dan ini adalah adik misan, juga adik seperguruanku bernama Kwee Lok. Kebetulan saja kami melihat engkau dilarikan penjahat maka kami dapat cepat melakukan pengejaran.”

“Sungguh besar rasa terima kasihku, Tuan...”

“Jangan sebut Tuan, nona. Kita adalah saudara, seperti ujar-ujar kuno di negeri kami yang mengatakan bahwa di empat penjuru lautan, semua adalah saudara. Namaku Ong Cun dan sebut saja namaku...” Darmini tersenyum, lupa akan peristiwa yang tadi membuatnya ketakutan setengah mati itu. Pemuda Cina ini demikian sederhana, pikirnya.

“Baiklah, Ong Cun, akan tetapi kenapa engkau yang tidak mau disebut Tuan, juga menyebut nona kepadaku? Bukankah kau tahu bahwa namaku Darmini?”

“Darmini..., nama yang indah,” kata Ong Cun dan Darmini tersenyum semakin manis, hatinya gembira sekali mendengar pujian ini.

“Dan namaku Kwee Lok... Darmini.” tiba-tiba pemuda yang ke dua itu, yang memanggul dua karung barang rampokan, berkata di belakangnya. Darmini berhenti melangkah, menengok dan tersenyum.

“Terima kasih, seperti juga kakakmu, engkau baik sekali, Kwee... Eh, siapa lagi namamu tadi?” Agaknya sukar juga bagi Darmini mengingat nama yang asing baginya itu.

“Kwee Lok.”

“Oya, Kwee Lok.” Dapat dibayangkan betapa kaget dan juga girang rasa hati Demang Bragolo dan isterinya ketika malam-malam menjelang pagi itu puteri mereka, anak tunggal itu, kembali dalam keadaan selamat. Bahkan barang-barang berharga yang dirampok kembali pula dalam keadaan utuh, diantar oleh dua orang pemuda Cina yang menolong puteri mereka. Demang Bragolo dan isterinya menyambut mereka dan Darmini segera menceritakan bagaimana tiga orang perampok masuk ke rumah itu dan selain merampoki barang juga menculiknya dan betapa Ong Cun telah menolongnya dan mengalahkan tiga orang perampok itu.

“Perampok-perampok itu menakuktkan sekali, Ayah. Terutama yang bermuka hitam dan tinggi besar. Hiiiihhh, masih meremang bulu tengkukku kalau mengingat mereka,” gadis itu bergidik lalu jatuh ke dalam rangkulan Ibunya.

“Untung ada Ong Cun ini dan adiknya... eh,... Kwee Lok ini, menolongku, mengusir mereka dan mengantar aku pulang sambil membawa kembali barang-barang kita yang dirampok.” Dengan ramah Demang Bragolo lalu mempersilahkan kedua orang pemuda Cina itu duduk di serambi tengah. Dia sudah tahu akan kunjungan rombongan orang Cina itu, dan kini dia memandang kedua orang tamu itu dengan penuh perhatian. Juga Darmini sekarang dapat mengamati wajah mereka dibawah sinar lampu yang terang. Pemuda yang bernama Ong Cun itu usianya sekitar dua puluh lima tahun, bertubuh tegap dan kulit mukanya putih bersih tanpa kumis.

 Sepasang alisnya tebal menghitam dan sepasang matanya seperti mata harimau, mengeluarkan sinar gagah. Pembawaannya tenang dan kuat, sedangkan pakaiannya yang terbuat dari kain tebal agak kasar itu amat sederhana. Seorang pemuda yang berwajah gagah dan sederhana. Adapun Kwee Lok seorang pemuda yang usianya baru dua puluh tahun lebih. Ada kumis tipis mulai tumbuh di bawah hidungnya, dan dia lebih tampan dibandingkan Suhengnya. Tubuhnya juga sedang, gerak-geriknya halus dan lembut namun gesit, dan wajahnya yang tampan itu selalu tersenyum, dengan sinar mata yang lincah sekali. Pakaiannya juga lebih bagus dibanding Suhengnya, dari sutera berwarna biru. Setelah menerima pernyataan terima kasih dari Ki Demang Bragolo yang diucapkan dengan penuh rasa sukur, dan menolak pemberian hadiah dari keluarga itu, Ong Cun lalu berpamit.

“Harap andika jangan sungkan, orang muda. Sudah sepatutnya kalau kami menyatakan terima kasih kami. Demi memberi sekedar hadiah kepada kalian.”

“Terima kasih, Ki Demang. Hal itu tidak perlu dan tidak layak karena kami menganggap pertolongan itu sudah sewajarnya. Hanya satu saja permintaan kami...”

“Katakanlah, apa permintaanmu itu? Kami tentu akan suka sekali memenuhinya.”

“Karena kami di sini tidak mempunyai teman, maka bolehkah kami menganggap keluarga Ki Demang sebagai sahabat dan bolehkah kami sewaktu-waktu datang berkunjung?”

“Ha-ha-ha!” Ki Demang Bargolo tertawa bergelak, juga isterinya dan puterinya tersenyum. “Tentu saja boleh. Tapi, perang ini belum selesai dan ke manakah kalian hendak pergi?”

“Kembali ke tempat penginapan rombongan kami...”

“Ah, saudara Ong Cun dan Kwee Lok. Apakah kalian belum tahu? Tempat kalian itu kena serbu dan terjadi pertempuran ketika rombongan kalian diserang oleh pasukan Majapahit yang menyerbu Kotaraja.” Dua orang pemuda itu meloncat bangun dari tempat duduk mereka.

“Begitukah? Kami tidak tahu! Kalau begitu, kami minta diri…!” Dan keduanya tanpa menanti jawaban lagi terus berloncatan bagaikan dua ekor kijang muda saja, tubuh mereka berkelebat dan lenyap ke luar gedung Pademangan.

Betapa kaget hati mereka ketika melihat bahwa keterangan Demang Bragolo tadi memang benar adanya. Rombongan mereka di serang dan terjadi pertempuran antara rombongan mereka dengan pasukan Majapahit. Ketika mereka tiba di situ, pertempuran masih berlangsung dan banyak mereka roboh dan tewas disamping korban yang berjatuhan pula di pihak pasukan penyerang. Mereka lalu bersama sisa kawan mereka terpaksa melarikan diri keluar dari Kotaraja Lumajang karena jumlah lawan terlampau banyak dan sebetulnya mereka sama sekali tidak ingin terlibat dalam perang saudara itu. Kemudian setelah Sang Prabu Wikramawardhana mendengar akan penyerangan terhadap rombongan orang Cina anak buah Laksamana The Ho.

Dan Raja itu minta maaf sehingga kemudian terjadi perjanjian untuk membayar ganti rugi, maka para anak buah The Ho tentu saja dapat masuk kembali ke Lumajang dengan aman. Dan selama Laksamana The Ho berada di daerah itu, Ong Cun sering datang berkunjung ke rumah gedung Pademangan sehingga persahabatannya dengan Darmini menjadi semakin akrab. Kadang-kadang pula ia ditemani oleh Sutenya, Kwee Lok, akan tetapi seringkali dia datang seorang diri. Dan agaknya Ki Demang Bragolo dan isterinya tidak berkeberatan melihat hubungan antara puteri tunggal mereka dengan pemuda Cina yang selalu bersikap sopan itu. Mereka menyangka bahwa hubungan antara kedua orang muda itu hanyalah perhubungan persahabataan antara orang yang pernah menolong dan ditolong saja.

Akan tetapi, sesungguhnya tidaklah demikian. Seperti dapat dilihat keadaan Darmini di sore hari itu ketika ia mandi, keramas dan kemudian mengenakan pakaian rapi, hubungan itu telah sedemikian mendalam sehingga setiap kali pemuda itu akan datang berkunjung, Darmini merasa gembira sekali dan siap menyambut datangnya sahabat itu dengan merias diri secantiknya. Dan pada sore hari itu, Darmini juga sudah siap menyambut kunjungan Ong Cun, karena pada kunjungan terakhir dua hari yang lalu, pemuda itu berjanji akan memberi sesuatu sebagai tanda mata dan kenang-kenangan kepadanya! Gadis ini, tanpa ada pengakuan sepatah katapun dari Ong Cun, sudah mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa di dalam persahabatan antara ia dan Ong Cun, terdapat sesuatu yang lebih kuat daripada persahabatan biasa, dari pada hutang budi belaka.

Ia telah jatuh cinta kepada pemuda itu dan Ong Cun juga jatuh cinta kepadanya. Hal ini ia merasa yakin benar, dan naluri kewanitaannya tak mungkin membohonginya. Nampak demikian jelas cinta kasih Ong Cun kepadanya, melalui suaranya, lewat pandang matanya. Yang membuat hati Darmini merasa gembira adalah karena ia tau betul bahwa Ayahnya tidak akan menghalangi hubungan mereka. Tidak, Ayahnya tidak berkeberatan karena Ayahnya memandang tinggi Ong Cun dan bangsanya. Menurut cerita Ayahnya, Bangsa Cina adalah bangsa yang memiliki negara yang jauh di utara, negara yang amat besar dengan Kaisar yang kekuasaannya besar sekali, tentaranya kuat dan negaranya kaya raya. Menurut cerita Ayahnya, bahkan Kerajaan Majapahit pertama kali berdiri dibantu pasukan dari Cina.

Karena bantuan pasukan Cinalah maka Raden Wijaya yang kemudian menjadi Sang Prabu Kertarajasa dapat berkuasa dengan Kerajaan Majapahit. Juga Ayahnya tidak keberatan bahwa Ong Cun adalah seorang pemuda Cina yang beragama Islam. Menurut Ayahnya, Bangsa Cina yang belum beragama Islam juga beragama Budha seperti Bangsa Jawa. Dan pada waktu itu, Bangsa Jawa juga sudah banyak yang memeluk Agama Islam, terutama yang berada di pesisir utara Pulau Jawa, yang dikuasai oleh raja-raja kecil. Setelah lewat senja, nampaklah dua orang pemuda berlenggang menuju ke gedung Pademangan. Mereka adalah Ong Cun dan Kwee Lok. Dan tidak seperti biasanya, sekali ini Ong Cun berdandan agak rapi, walaupun tidak serapi Kwee Lok, bahkan dia membawa sebatang pedang dengan rangka yang indah berukir bunga teratai, digendong di punggungnya.

Dia kelihatan gagah perkasa dan sejak tadi wajahnya cerah oleh senyum. Beberapa kali dia menahan ketawa karena digoda oleh Sutenya. Memang malam ini adalah malam istimewa baginya. Perang di Majapahit telah selesai dan keadaan telah tenang kembali. Laksamana The Ho akan melanjutkan pelawatannya dan kembali ke Cina, karena itu semua anggauta rombongan juga diharuskan bersiap siaga untuk berangkat. Dan Ong Cun sudah mengambil keputusan tetap bahwa dia hendak meminang Darmini untuk menjadi isterinya! Itulah janji yang diberikan kepada Darmini dua hari yang lalu. Yang akan diberikannya adalah janji dan sumpah kesanggupannya untuk menjadi pelindung Darmini selama hidupnya. Dan dia percaya bahwa Darmini dan orang Tuanya menerimanya!

Beberapa kali sudah Ki Demang Bragolo dan isterinya mengisaratkan kesediaan mereka menerimanya sebagai mantu. Dan sikap Darmini sendiri, kalau dia tidak salah sangka, menunjukkan bahwa gadis hitam manis itupun takkan membiarkan dia bertepuk tangan sebelah dalam cinta kasihnya. Alangkah akan girang hati Ayahnya di sana. Dia pulang membawa kejutan yang akan membahagiakan Ayahnya dan adik perempuannya. Ibunya sudah tidak ada, sayang, meninggal ketika dia masih kecil. Akan tetapi dia mengenal watak Ayahnya. Tentu akan gembira menyambut mantunya yang demikian hitam manis, demikian cantik jelita, dengan pakaiannya yang aneh dan tata rambutnya yang mempesona, dengan suaranya yang merdu, dan mantu yang amat pandai menari dan bernyanyi, tarian dan nyanyian yang akan membuat Ayahnya dan adik perempuannya pasti akan bengong saking kagum dan herannya!

“Darmini memang cantik jelita dan hitam manis, Suheng.” Ong Cun menoleh kepada Sutenya dan tersenyum.

“Sudah beberapa kali kau katakan hal itu, Sute. Memang engkau benar, ia cantik jelita dan manis sekali, dan aku... aku amat sayang kepadanya, aku cinta padanya, Sute.”

“Akan tetapi, apakah ia akan menerima pinanganmu, Suheng? Bagaimana kalau ia menolak? Siapa tahu hatinya mencinta orang lain, laki-laki lain? Dan orang Tuanya? Bagaimana kalau mereka tidak setuju mempunyai mantu seorang bangsa asing?”

“Akupun tidak khawatir akan hal itu. Aku percaya bahwa mereka akan menyetujuinya.”

“Kalau benar demikian, engkau beruntung sekali, Suheng. Kionghi (Selamat)!” Kwee Lok berhenti melangkah dan bersoja (mengangkat kedua tangan di depan dada) memberi selamat. Ong Cun tertawa.

“Aih, mengapa tergesa-gesa amat, Sute? Nanti kalau mereka sudah dengan resmi menerima pinanganku, masih belum terlambat bagimu untuk memberi selamat!”

Keduanya tertawa dan melanjutkan perja-lanan. Ketika mereka berdua tiba di gedung Pademangan, mereka disambut dengan gembira oleh Ki Demang Bragolo, isterinya, dan juga Darmini. Kini rumah itu sudah ramai dengan para pelayan yang sudah berani bekerja kembali setelah suasananya aman dan dua orang tamu muda itu segera diberi hidangan minuman. Akan tetapi ada sedikit kekecewaan dalam hati Darmini. Kenapa pria yang dinanti-nantinya sejak tadi itu datang bersama adik seperguruannya. Ia akan lebih senang kalau Ong Cun datang sendirian saja agar terbuka banyak kesempatan bagi mereka untuk bercakap-cakap berdua saja! Akan tetapi, ketika Ong Cun dengan suara yang tenang dan halus mulai bicara, Darmini mendengarkan sambil duduk di belakang Ibunya.

“Paman Bragolo berdua Bibi, sebelumnya saya mohon maaf apa bila apa yang hendak saya kemukakan ini mengganggu dan menyinggung perasaan Paman berdua. Ada suatu maksud dalam hati untuk saya sampaikan kepada Paman berdua, namun saya masih meragukan...” Ki Demang Bragolo yang menyuruh kedua pemuda itu menyebut Paman dan Bibi kepada dia dan isterinya, dan dia sendiri menyebut nama kedua orang pemuda itu begitu saja, demikian akrab hubungan antara mereka.

“Ha-haha, Ong Cun, engkau bicara seperti baru saja kita saling berkenalan! Kalau ada sesuatu yang hendak kau sampaikan kepada kami, katakanlah dan jangan meragu. Aku sudah mendengar bahwa rombonganmu akan meninggalkan Majapahit dan kembali ke Cina, benarkah?” Terdengar suara jerit halus tertahan dan kiranya Darmini yang menahan seruan kaget itu. Ketika Ong Cun menoleh kepadanya, Darmini sedang memandang kepadanya dengan muka berubah agak pucat dan mata yang lebar indah itu terbelalak penuh kegelisahan.

“Ah, benarkah engkau hendak segera meninggalkan kami, Ong Cun?” isteri Ki Demang Bragolo juga bertanya sambil merangkul anaknya.

“Kalian tenanglah,” kata Ki Demang Bragolo sambil tersenyum lebar. “Di dunia ini, mana ada pertemuan tanpa perpisahan? Nah, ceritakanlah keinginan hati yang hendak kau sampaikan kepada kami, Ong Cun.”

“Memang benar bahwa kami harus berangkat dalam waktu beberapa hari lagi, Paman. Dan justeru karena itulah maka saya memberanikan diri untuk mengutarakan isi hati saya kepada Paman. Kalau saja keluarga saya berada di negeri ini tentu bukan saya pribadi yang menyampaikannya, akan tetapi karena Ayah saya tinggal begitu jauh, terpaksa saya memberanikan diri, lancang mengulurkan tangan mengajukan pinangan atas diri Darmini... kalau Paman dan Bibi tidak berkeberatan.” Kembali terdengar jerit halus tertahan di susul oleh bangkitnya Darmini yang segera lari kebelakang! Ki Demang Bragolo tertawa bergelak melihat kelakuaan puterinya.

“Ha-ha-ha-ha! Sejak dahulu sampai sekarang sama saja! Setiap kali mendengar dirinya dipinang orang, seorang gadis tentu akan lari terbirit-birit karena merasa malu. Ong Cun, sebelum engkau mengajukan pinangan, sesungguhnya hal ini sudah menjadi bahan percakapan antara aku dengan isteriku. Karena itu, sekarang tanpa berunding lagi dengan Bibimu, aku dapat memberi keputusan padamu. Begini! Terus terang saja, kami berdua suka kepadamu dan kami akan merasa bersukur kalau engkau dapat menjadi mantu kami, menjadi suami puteri kami Darmini yang menjadi anak tunggal kami. Akan tetapi, kami terlalu sayang kepada anak kami itu, sehingga kalau ia sendiri tidak setuju, kamipun tidak akan mau memaksanya.”

“Terima kasih banyak atas kemuliaan hati Paman berdua Bibi yang telah mempercayai saya sedemikian besarnya!” kata Ong Cun dengan hati berbahagia. “Kalau Paman dan Bibi mengijinkan, sekarang juga saya akan menyampaikan kepada Darmini dan saya akan menyampaikan kepada Darmini dan minta jawabannya apakah ia setuju ataukah tidak untuk menjadi isteri saya. Maafkan, Paman dan Bibi. Saya harus tergesa-gesa karena beberapa hari lagi saya harus ikut bersama rombongan kami, dan saya ingin dapat memboyong Darmini ke negara saya.”

“Ahh, tidak...! Tidak...!” Tiba-tiba isteri Ki Demang Bragolo berseru dan air matanya segera turun membasahi kedua pipinya.

“Hemm, engkau ini kenapakah?” suaminya bertanya heran.

“Bibi, apakah Bibi... Tidak setuju kalau saya menjadi suami puteri Bibi?” Ong Cun bertanya gelisah.

“Bukan, bukan itu. Akan tetapi aku tidak setuju kalau Darmini kau boyong ke negaramu, Ong Cun. Anak kami hanya seorang itu, bagaimana mungkin aku dapat berpisah darinya? Tentu saja aku tidak keberatan ia kau boyong kalau kau tinggal di negeri ini, karena bagaimanapun jauhnya, aku masih akan dapat berjumpa anankku. Akan tetapi ke negara Cina sana? Ah, aku tidak sanggup...”

Ong Cun terhenyak kebingungan. Hal ini sungguh sama sekali tak pernah dia bayangkan! Di negaranya saja, setiap orang Ibu akan merasa gembira melihat puterinya diboyong pergi oleh suaminya, merasa bangga dan terlepas dari beban, walaupun untuk patutnya sang Ibu akan menangis ketika anaknya berangkat ke rumah suaminya. Kini, tiba-tiba saja Ibu Darmini menyatakan keberatan kalau dia memboyong gadis itu ke negaranya! Melihat dia termenung bingung, tiba-tiba Ki Demang Bragolo mendekat dan menepuk bahunya.

 “Ong Cun, aku tidak menyalahkan Bibimu. Anak kami memang hanya seorang. Dan pula, akupun mengira bahwa Darmini sendiri akan keberatan untuk meninggalkan Ibunya yang sudah tua. Bagaimana kalau engkau saja yang setelah menikah dengan Darmini lalu tinggal disini, nak? Engkau tidak perlu ikut pulang ke negara Cina, dan kalau perlu, aku suka untuk menemui pimpinanmu dan ikut mengajukan permohonan untukmu.”

Sekilas terbayang di wajah Ong Cun harapan dan kegembiraan, akan tetapi dia termenung kembali. Tadi terbayang olehnya betapa akan bahagianya kalau dapat demikian, seperti yang diminta oleh calon Ayah mertuanya. Akan tetapi, dia sendiri masih mempunyai seorang Ayah yang sudah tua dan seorang adik perempuan yang menjadi tanggungjawabnya! Dan dia, belum pernah memberi tahu Ayahnya, bahwa dia akan menikah dengan seorang gadis di pulau yang berada jauh di selatan ini. Andaikata dia mau juga menerima usulan Ki Demang Bragolo, setidaknya dia harus pulang dulu untuk mohon diri dari Ayahnya dan adiknya!

“Maaf, Paman dan Bibi... bolehkan saya... eh, membicarakan urusan ini dengan Darmini?” Ki Demang Bragolo maklum dan mengangguk.

“Pergilah kau ke taman, Ong Cun. Kalau ia belum menanti di sana, biarlah kami akan menyuruhnya menyusulmu di sana.” Ong Cun mengangguk berterima kasih, bangkit dan melakukan sembah sebagai pengganti penghormatan dengan bersoja, lalu berkata kepada Kwee Lok.

“Sute, aku pergi dulu.”

“Baik, Suheng. Semoga berhasil,” kata adiknya itu sambil tersenyum. Kwee Lok tetap tinggal disitu bercakap-cakap dengan Ki Demang Bragolo sedangkan Nyi Demang masuk ke dalam untuk melihat apakah Darmini masih berada di dalam kamarnya ataukah sudah pergi ke taman di belakang gedung mereka. Ong Cun memasuki taman itu dengan jantung berdebar. Makin kencang debar jantungnya ketika dia menemukan Darmini sedang duduk di atas bangku di depan empang ikan emas di mana tumbuh pula banyak bunga teratai putih dana merah itu sambil menangis perlahan!

“Darmini...!” panggilnya lembut sambil menghampiri gadis itu. “Darmini, kenapa engkau menangis…?” pertanyaan ini lembut dan mengandung kasih sayang melalui suara menggetar, membuat Darmini menjadi semakin sedih dan iapun menangis lagi, menutupi muka dengan kedua tangannya. Jari tangan yang lembut menyentuh pundak gadis itu, sentuhan sopan penuh kasih.

“Darmini, hentikanlah tangismu. Ada apakah engkau berduka? Apakah... Apakah ucapanku di depan orang tuamu tadi menyinggung perasanmu? Kalau begitu, maafkan aku, Darmini...”

“Ong Cun, benarkah engkau... akan meninggalkan aku? Engkau akan pulang ke negerimu dalam beberapa hari lagi?” Ong Cun mengangguk kepada gadis yang kini menurunkan kedua tangan dan dengan muka basah air mata menengadah memandang kepadanya itu. Dia ingin melihat bagaimana sikap gadis ini mendengar dia akan pergi meninggalkannya.

“Ouhh... lalu aku... aku bagaimana...?” Ong Cun merasa betapa dadanya lega dan penuh rasa bahagia. Kata-kata itu saja sudah jelas menunjukkan betapa besar rasa cinta gadis itu kepadanya!

“Hentikan dulu tangismu, Darmini dan aku datang kesini untuk membicarakan urusan kita berdua denganmu.” Darmini mengusap air matanya dengan saputangan sutera yang dikeluarkan Ong Cun dari sakunya. Setelah tangisnya terhenti, ia mengembalikan saputangan yang basah itu kepada Ong Cun, yang menerimanya dan menyimpannya kembali ke dalam saku bajunya.

“Bicara tentang urusan... kita berdua?” Darmini bertanya, masih agak bingung karena tadi ia benar- benar berduka mendengar betapa orang yang dicintanya itu akan pergi, pulang ke negerinya.

“Benar, Darmini. Engkau sudah mendengar sendiri tadi bahwa aku... aku menghadap orang tuamu dan meminangmu untuk menjadi isteriku. Nah, sebelum kita bicarakan hal lainnya, lebih dulu aku ingin mendengar jawabanmu. Maukah engkau menjadi isteriku, Darmini?” Sejenak mereka saling pandang di bawah sinar lampu taman yang tergantung di batang pohon dekat empang, kemudian Darmini menunduk dan mengangguk.

“Engkau mau?” Ong Cun mendesak. Kembali Darmini mengangguk.

“Katakanlah dengan jawaban, Darmini. Engkau juga cinta padaku dan suka menjadi isteriku. Jawablah ya atau tidak?”

“...Ya...” Terdengar suara lirih dan malu-malu. Ong Cun ingin sekali merangkul gadis yang dicintanya itu, namun ia menahan dirinya. Tidak, dia amat mencinta gadis ini. Dia harus menghormatinya, dia harus menjaga harga diri Darmini dan tidak akan berlaku lebih dari sekedar saling berpegang tangan sebelum gadis itu menjadi isterinya. Dia sudah banyak mempelajari soal sopan santun, dan hukum-hukum agamanya dalam hubungan antara pria dan wanita. Jantungnya berdebar kencang ketika dia memegang tangan gadis itu. Kedua pasang tangan itu saling genggam dan jari-jari tangan mereka saling remas. Dari jari-jari tangan merekalah terasa getaran cinta kasih di antara mereka.

“Terima kasih, Darmini, terima kasih. Aku mencintamu semenjak kita bertemu dan aku mencintamu dengan sepenuh jiwa ragaku. Sekarang kita bicara tentang hal yang amat penting sebagai kelanjutan dari diterimanya pinanganku kepadamu. Sadarkah engkau bahwa setelah kita menikah, engkau akan ikut aku yang menjadi suamimu ke negeriku, Darmini? Engkau ikut bersama aku ke negara Cina?” Tanpa melepaskan kedua tangannya, bahkan kini menggenggam erat, Darmini nampak terkejut dan menatap wajah kekasihnya.

“Ohhh? Ke negara Cina? Begitu jauhnya... dan Ibu... bagaimana aku bisa meninggalkan Ibuku?” Ong Cun menarik napas panjang. Sama dengan Ibunya. Memang kejam sekali dia kalau harus memaksa Ibu dan anak tunggal ini saling berpisah untuk mungkin selamanya.

“Jadi, engkau berkeberatan kalau harus ikut bersama aku, meninggalkan Ibumu dan Ayahmu, Darmini?” Darmini menjadi bingung ketika dihadapkan pada pilihan ini.

“Tapi... tapi... Ong Cun, bukankah engkau yang akan tinggal di sini, bersama dengan aku untuk selamanya?” Memang sama benar Ibu dan anak ini, pikir Ong Cun.

“Nah, inilah yang ingin kubicarakan dengamu, Darmini. Tadi Ibumu juga menyatakan keberatan kalau aku memboyongmu ke negeriku dan ia minta agar aku yang tinggal di sini.”

“Aku setuju dengan permintaan Ibu! Itu baik sekali, Ong Cun. Dengar... bukan aku ingin mengatakan bahwa aku tidak suka mengalah, bukan karena aku tidak suka tinggal di rumah orang tuamu. Akan tetapi pikirlah baik-baik, betapa engkau sudah betah tinggal di sini, engkau sudah cocok dengan Ayah Ibuku. Dan aku? Aku belum pernah melihat negerimu! Bagaimana kalau aku tidak betah tinggal di sana? Dan bagaimana kalau... eh, orang tuamu tidak suka kepadaku? Ah, aku takut, Ong Cun, aku takut!” Melihat gadis itu hendak menangis lagi dan ada dua butir air mata membasahi bawah matanya, Ong Cun mengeluarkan saputangannya dan dengan lembut dan mesra dia menghapus air mata itu.

“Jangan khawatir, Darmini. Karena itulah aku ingin mengajakmu bicara. Jadi, jelaslah bahwa Ibumu dan engkau tidak ingin kalau aku memboyongmu ke negara Cina dan minta agar aku yang tinggal di sini. Aku tentu saja mau, Darmini. Demi ALLAH, aku mau dan akan senang sekali hidup sebagai suamimu di negara yang teramat indah ini. Akan tetapi ingat, aku masih mempunyai seorang Ayah yang menduda, dan juga mempunyai seorang adik perempuan yang remaja puteri. Sudah menjadi kewajibanku yang mutlak untuk minta ijin Ayah, dan untuk memikirkan nasib adikku itu.”

“Ahhh, lalu bagaimana baiknya, Ong Cun?” Darmini bertanya, khawatir sekali. Ong Cun mengelus punggung tangan kiri kekasihnya, dengan maksud untuk menghiburnya.

“Tenangkan hatimu dan jangan khawatir, Darmini yang manis. Sudah kupikirkan masak-masak begitu tadi aku melihat kenyataan bahwa engkau tidak dapat dipisahkan dari Ibumu. Memang akulah yang harus mengalah, dan aku memang suka sekali tinggal di negeri yang indah ini. Akan tetapi, aku harus pulang dulu untuk minta ijin Ayah, dan mungkin aku akan mengajak adikku ke sini, karena akulah yang bertanggung jawa atas nasib dirinya.”

“Jadi engkau akan ikut pulang bersama rombonganmu? Ahh, Ong Cun, begitu jauhnya... tentu akan lama sekali engkau meninggalkan aku...”

“Memang jauh, akan tetapi tidak akan lama sekali, Darmini. Sekarang banyak kapal dagang yang besar dan cepat berlayar dari negeriku ke selatan. Begitu tiba di sana dan mendepat perkenan Ayah, aku akan segera kembali ke sini. Apa kau kira aku suka berpisah lama-lama darimu, Darmini? Aku akan segera kembali, membawa restu Ayah, dan... tentu saja membawa mas kawin dan syarat lain yang sepatutnya.” Akhirnya Darmini terhibur juga dan berulang-ulang ia memesan agar kekasihnya jangan terlalu lama meninggalkan dirinya. Ong Cun lalu bangkit berdiri, melepaskan tali pengikat sarung pedangnya dari punggung.

“Darmini, engkau terimalah pedangku ini. Kuberikan kepadamu sebagai tanda cinta, sebagai tanda pengikat pertunangan. Ketahuilah, bagi seorang pendekar di negeri kami, pedang merupakan pelindung badan dan nyawa, dan tidak akan dilepaskan sebelum nyawa meninggalkan badan. Karena itu, pedang ini merupakan pusaka yang paling berharga yang ada padaku. Kuserahkan kepadamu, berarti aku telah menyerahkan jiwa ragaku, kehidupanku kepadamu. Terimalah Darmini dan simpanlah sampai aku datang kembali kepadamu.” Darmini merasa terharu sekali. Dengan kedua tangannya, ia menerima pedang itu dan mencium sarung pedang itu, dengan hidung dan Bibir gemetar.

“Pedang ini namanya Lian-Hwa-Kiam atau Pedang Bunga Teratai, Darmini, dan kebetulan sekali kulihat ada bunga teratai di sini. Biar kupetik sekuntum untukmu.” Ong Cun lalu menghampiri empang ikan dan memetik sekuntum bunga teratai putih yang indah sekali.

“Terimalah bunga ini, Darmini. Lihat, seperti teratai putih inilah cintaku” Darmini menerima bunga itu dan dua tetes air mata menjadi saki pemberian yang amat berharga itu.

  

“Terima kasih, Ong Cun. Akan kusimpan pedang ini, dan juga bunga ini, kusimpan sampai engkau kembali kepadaku. Dan engkau pakailah kalungku ini, Ong Cun, sebagai pengganti diriku dan agar engkau selalu ingat kepadaku setiap kali engkau melihat kalung ini.” Darmini melepaskan kalungnya dan mengenakannya di leher Ong Cun. Ketika melakukan hal ini, mereka seperti saling merangkul dan muka mereka saling berdekatan sekali. Namun Ong Cun menahan diri dan memejamkan mata, hampir tidak kuasa menahan gejolak hatinya yang ingin sekali mendekap dan mencium muka itu.

“Aku selalu ingat kepadamu, Darmini, waktu terjaga maupun waktu tidur,”katanya meraba kalung yang kini tergantung di lehernya. Tiba-tiba Ong Cun melangkah mundur dua langkah menjauhkan diri dari kekasihnya dan cepat membalikkan tubuhnya ke kanan. Darmini tidak mendengar apa-apa, akan tetapi melihat laku kekasihnya, iapun menengok dan terkejutlah ia melihat bahwa di situ telah berdiri dua orang laki-laki yang dikenalnya sebagai Empu Tanding dan putera sulungnya yang bernama Panji Sarono.

“Babo-babo! Kiranya engkau seorang Cina, berani sekali menjadi maling!” Panji Sarono berseru marah sambil melangkah maju menghampiri. Ong Cun memandang pemuda itu. Seorang pemuda yang sebaya dengannya, bertubuh tegap, berwajah tampan dan perhiasaan di tubuhnya menunjukkan bahwa dia seorang priyayi (bangsawan).

“Maaf, sobat. Aku bukan pencuri,” Ong Cun membantah. Panji Sarono berdiri tegak dengan sepasang mata melotot marah, kumis tipis di bawah hidungnya bergerak-gerak, hidungnya kembang-kempis, tangan kirinya bertolak pada gagang keris yang terselip di pinggang, tangan kanan bertolak pinggang, kemudian tangan ini bergerak menudingkan telunjuk ke arah muka Ong Cun.

“Kau lebih hina dari pencuri biasa! Kamu seorang perusak pagar ayu!”

“Kakang-Mas Panji Sarono!” Tiba-tiba Darmini melangkah maju menghadapi pemuda itu dengan sepasang mata mengeluarkan sinar marah. “Jangan engkau menunduh sembarangan saja! Dia bukan pencuri, juga bukan perusak pagar ayu, melainkan Ong Cun, seorang tamu kami dan sahabatku yang baik!”

“Nini Darmini,” tiba-tiba laki-laki ke dua yang usianya sekitar enam puluh tahun, rambutnya sudah putih sebagian dan tangannya memegang sebatang tongkat hitam yang bentuknya seperti ular, berkata kepada Darmini. Suaranya halus namun penuh wibawa. “Bagaimanakah seorang perawan seperti engkau ini mengadakan pertemuan dengan seorang pemuda yang bukan keluargamu di taman ini, apalagi pemuda ini seorang Cina yang asing?”

“Uwa Empu, dia ini bukan orang yang asing, melainkan seorang sahabat baik yang sudah lama kami kenal.”

“Kalau cuma kenalan saja tidak pantas mengadakan pertemuan rahasia seperti ini!” Kakek itu mencela. Ong Cun merasa berkewajiban membela kekasihnya, maka diapun maju dan menjura dengan sikap hormat kepada kakek itu. Kakek itu disebut uwa oleh kekasihnya, berarti Paman Tuanya, maka dia harus bersikap hormat.

“Harap andika sudi memaafkan saya, Paman. Sesungguhnya kami bukanlah kenalan biasa, melainkan tunangan...”

 “Tunangan...!” Bentak Panji Sarono kaget dan suaranya menunjukkan kemarahan hatinya yang merasa penasaran sekali.

“Benar, dia sudah meminangku kepada Ayah dan Ibu!” Darmini membela, bahkan berdiri tegak membusungkan dadanya yang sudah busung itu seperti menantang Panji Sarono yang menjadi bengong saking kaget dan herannya.

“ah, jadi begitukah?” Empu Tanding, kakek itu mengangguk-angguk. “Akan tetapi, biarpun sudah bertunangan, kalian belumlah menjadi suami isteri, karena itu sungguh tidak patut mengadakan pertemuan berdua saja di dalam taman, apa lagi pada malam hari.”

“Benar sekali, Ayah!” Panji Sarono berseru. “Sungguh tidak pantas! Ini namanya perjinaan dan harus ditangkap laki-laki tidak tahu sopan santun ini!” Diam-diam Ong Cun menjadi marah mendengar tuduhan ini. Bagi dirinya sendiri, dia tidak perduli andaikata dia dituduh berjina, akan tetapi tuduhan itu dilontarkan di depan Darmini, berarti bahwa gadis kekasihnya itupun ternoda tuduhan keji.

“Nanti dulu!” katanya, biarpun sikapnya masih hormat dan tenang, namun di dalam suaranya terkandung ketegasan. “Harap andika jangan menuduh sembarangan saja. Darmini adalah seorang gadis yang baik-baik, penuh susila dan selalu menjaga kesopanan diri...”

“Tentu saja!” Panji Sarono membentak. “Akan tetapi kamu...!”

“Sayapun bukan orang yang suka melakukan hal-hal yang tidak patut!” Ong Cun memotong. “Saya keturunan orang baik-baik yang tidak suka merendahkan wanita. Saya amat mencinta Darmini dan ingin menjadikannya sebagai isteri saya, sebagai calon Ibu anak-anak saya. Bagaimana mungkin saya merendahkan wanita yang saya cinta dan saya hormati? Harap jangan menuduh yang bukan-bukan. Saya telah meminang secara resmi kepada orang tua Darmini, dan sekarang kami mengadakan pertemuan di sini bukan untuk melakukan hal yang tidak patut, melainkan karena saya hendak berpamit darinya. Saya hendak minta ijin dari orang tua saya disana, kemudian baru saya datang kembali untuk menjadi suami Darmini. Apakah pertemuan seperti ini dianggap melanggar susila?” Dalam perasaan penuh penasaran itu, Ong Cun dapat bicara panjang lebar walaupun kadang-kadang berhenti untuk berpikir mencari kata-kata yang tepat.

“Uwa Empu dan Kakang-Mas Panji, jangan memandang rendah kepadaku.” Darmini juga berkata dengan marah. “Aku mengerti benar akan martabat wanita. Aku tahu benar bahwa wanita harus pandai menjaga kehormatannya. Sekali dirinya ternoda, hal itu merupakan noda yang takkan dapat dicuci, kecuali dengan darah yang membawa maut. Ong Cun adalah tunanganku yang bertanggung jawab dan sopan!”

“Ah, begitukah...?” Kakek itu nampak puas dengan keterangan ini, akan tetapi putera sulungnya, Panji Sarono yang memang berdarah panas, masih belum puas.

“Bagaimanapun juga,dia seorang Cina yang baru saja telah mendatangkan keributan di Lumajang, bahkan telah bentrok dengan pasukan Majapahit dan telah menjatuhkan banyak korban diantara pasukan Majapahit!” bentaknya. Ong Cun mengerutkan alisnya.

“Akan tetapi, pihak kami malah kehilangan seratus tujuh puluh orang yang tidak berdosa. Kami disangka membantu mendiang Adipati Wirabumi, padahal kami hanyalah menjadi tamu saja. Terpaksa kami harus membela diri sehingga jatuh korban di antara para penyerang. Jatuh dan tewas atau terluka dalam pertempuran adalah hal biasa dan bentrokan itu hanya terjadi karena kesalahpahaman. Bukankah kini telah dibereskan dan didamaikan oleh Sang Prabu di Majapahit sendiri?”

“Hemm, jangan sombong kamu! Pendeknya, aku tidak suka padamu dan dalam kesempatan ini, aku tantang padamu untuk mengadu ilmu kesaktian!”

“Aku tidak bermusuhan denganmu,” jawab Ong Cun.

“Tidak perduli! Aku hanya merasa tidak suka padamu dan menantangmu untuk mengadu ilmu dan aji kesaktian. Tentu saja kalau engkau berani! Kalau engkau hanya seorang pengecut dan penakut, lalu hendak berlindung di balik kain diajeng Darmini, apa boleh buat, terpaksa kutinggalkan seperti meninggalkan seekor anjing yang merangkak ketakutan!” Panas rasa perut Ong Cun. Dia adalah seorang pendekar, dan tentu saja dia sudah digembleng untuk menahan perasaan marah. Akan tetapi, kini dia dihina di depan kekasihnya, dan penghinaan ini juga menyangkut kehormatan Darmini sendiri sebagai calon isterinya. Bagaimanapun juga, dia tidak mungkin dapat mengelak dan menghindar begitu saja dari tan-tangan. Tantangan pibu (adu ilmu silat) merupakan hal yang biasa di negerinya, maka iapun mengangguk dan melangkah ke bagian yang lebih lega, menjauh dari empang ikan dan dari kekasihnya.

“Baiklah, kalau andika menantang adu ilmu, saya sudah siap!” katanya sambil berdiri tegak.

“Bagus! Jagalah baik-baik, lengah sedikit saja pecah dadamu!” bentak Panji Sarono dan dengan pekik dahsyat dia sudah menyerang dengan pukulan tangan kiri ke arah pelipis kepala Ong Cun. Ketika pemuda ini mengelak dengan memiringkan kepala, kaki Panji Sarono sudah melakukan tendangan kilat yang amat cepat dan kuatnya ke arah dada Ong Cun.

“Wuuuutt! Plakk!” Ong Cun menangkis sambil menggeser kaki ke samping lalu membalas dengan totokan jari tangannya ke arah pundak lawan. Namun dengan sigap Panji Sarono mengelak dan melindungi pundak dengan lengan yang ditekuk ke atas.

“Haitttt...!” Panji Sarono sudah menyerang lagi dengan pukulan bertubi ke arah kepala dan lambung Ong Cun dengan kedua tangan yang bergerak secara beruntun. Namun Ong Cun dapat mengelak dengan mudahnya. Melihat betapa pukulan kedua tangannya gagal, Panji Sarono kini menghujankan serangan kombinasi pukulan dan tendangan.

Diam-diam Ong Cun memperhatikan gerakan lawan sambil mengelak ke sana-sini dan kadang-kadang menangkis. Boleh juga ilmu bela diri pemuda ini, pikirnya. Penjagaannyapun ketat dan walaupun serangan-serangannya kurang “isi,” namun cukup cepat dan bertubi-tubi datangnya. Dia hanya melihat suatu kelemahan, yaitu di bagian kaki lawan. Biarpun kaki lawan itu dapat bergerak cepat dan bergeser kesana-sini, melangkah mundur maju, namun kuda-kuda dari kedua kaki itu kurang kuat pada dasarnya. Diapun tidak ingin mencelakai lawan karena di antara mereka tidak terdapat permusuhan apapun. Apalagi mengingat bahwa masih ada hubungan keluarga antara pemuda ini dan calon isterinya. Biarpun dia tidak ingin mencelakainya, setidaknya dia harus dapat mengalahkannya dan menundukkannya dalam adu ilmu ini.

“Hyaaaat...!” Tiba-tiba Ong Cun membalas dengan kedua tangannya menyambar-nyambar ke arah ubun-ubun dan pelipis kepala Panji Sarono. Tentu saja pemuda ini terkejut melihat perubahan yang mendadak itu.  Tadinya lawannya hanya mengelak dan menangkis saja, akan tetapi kini mendadak melakukan serangan sedahsyat itu. Seolah-olah ada enam buah tangan yang menyerang ke arah kepalanya, bertubi-tubi dan dari segala penjuru. Tentu saja diapun cepat menggerakkan kedua lengannya melindungi kepala dengan tangkisan-tangkisan sambil berusaha mencengkeram dan menangkap lengan lawan. Pada saat itu, tiba- tiba Panji Sarono mengeluh dan merasa betapa lutut kirinya lumpuh seketika sehingga tanpa dapat dicegah lagi, diapun jatuh berlutut dengan kaki kirinya. Ternyata sambungan lututnya telah tercium oleh ujung sepatu kanan Ong Cun yang tadi sengaja memancing agar semua perhatian lawan tercurah ke bagian kepala yang diserangnya dan dengan mudah dia menotok lutut lawan sehingga lawan itu roboh tanpa menderita luka parah.

“Uhhh...!” Tanpa dapat ditahannya, Panji Sarono bertekuk lutut, akan tetapi karena lutut itu kini tidak terasa sakit lagi, diapun meloncat bangkit dengan muka merah dan mata bersinar merah. Dicabutnya keris dari pinggangnya.

“Keparat! Bersiaplah untuk menyambut kerisku. Keluarkan senjatamu!” teriaknya marah. Akan tetapi Ong Cun yang sudah meloncat ke belakang mendekati Darmini, memberi hormat dan berkata halus,

“Maafkan aku, aku tidak ingin berkelahi lagi. Biarlah aku mengaku kalah!”

“Tidak!” bentak Panji Sarono. “Engkau tidak boleh menghentikan pertarungan kita. Belum lecet kulit, belum patah tulang...”

“Sudahlah, anakku. Cukup sudah. Mari kita pergi,” kata Empu Tanding sambil melirik ke arah Kwee Lok yang tiba-tiba muncul di situ.

“Suheng, apakah yang terjadi?” tanya Kwee Lok khawatir. “Karena terlalu lama, aku datang mencarimu.”

“Tidak apa-apa, Sute. Tidak apa-apa,” jawab Ong Cun. Agaknya melihat kenyataan betapa tangguhnya Ong Cun, dan munculnya seorang pemuda Cina lain yang mungkin juga tangguh, maka Empu Tanding yang tadi melihat betapa lawan puternya itu telah mengalah dan jauh lebih pandai dari pada Panji Sarono, dia menganggap lebih baik kalau menyudahi adu ilmu yang tidak menguntungkan itu. Panji Sarono tidak berani membantah perintah Ayahnya dan merekapun segera pergi dari taman itu dengan langkah lebar, akan tetapi lebih dahulu dia memandang ke arah wajah Ong Cun dengan sinar mata berkilat penuh kebencian.

“Suheng, aku tidak suka melihat kilatan mata pemuda itu. Dia amat benci kepadamu dan ada ancaman maut di dalam sinar matanya,” kata Kwee Lok kepada Suhengnya. Karena Sutenya bicara dalam bahasa Cina, dan khawatir kalau-kalau Darmini yang tentu saja tidak mengerti itu menjadi tidak senang, Ong Cun tersenyum dan berkata dalam bahasa Jawa,

“Tidak apa-apa. Dia sedang marah...” Akan tetapi Darmini juga melihat kilatan cahaya mata penuh ancaman itu, dan dipegangnya lengan kekasihnya, dirapatkan rubuhnya ke tubuh Ong Cun. Merasa betapa tubuh kekasihnya menggigil, Ong Cun cepat bertanya,

“Ada apakah, Darmini? Mereka sudah pergi, dan tidak ada apa-apa lagi. Kenapa engkau seperti ketakutan?”

 “Ong Cun, aku khawatir sekali. Kakang-Mas Panji Sarono itu sudah lama menaruh hati kepadaku. Aku selalu menolak cintanya.”

“Sungguh mengherankan, Darmini,” kata Ong Cun sambil tersenyum. “Bukankah ketika itu engkau belum bertemu dengan aku, dan bukankah Panji Saroso itu tampan dan gagah, agaknya bangsawan pula dan bahkan masih ada hubungan keluarga denganmu?” Darmini cemberut.

“Huh, siapa sudi menerima cinta seorang pria seperti dia? Hanya wanita bodoh saja yang akan jatuh oleh rayuannya. Dia terkenal sebagai seorang laki-laki mata keranjang, perayu dan perusak wanita. Entah sudah berapa banyak gadis yang jatuh bertekuk lulut karena rayuannya, dan setelah menjadi korbannya lalu ditinggalkannya begitu saja. Di Kotaraja Majapahit dia sudah terkenal sekali dan kini setelah Lumajang menjadi telukan Majapahit, tentu dia akan merajalela di sini. Huh, biarpun dia itu masih Kakak misanku karena Ayahnya adalah Kakak kandung Ibuku, akan tetapi sejak dulu aku tidak suka dan muak melihat sikapnya yang mata keranjang.”

“Suheng, harap engkau hati-hati terhadap orang seperti dia,” kembali Kwee Lok memperingatkan Suhengnya. Ong Cun tetap tenang dan tersenyum. Kebahagiaan yang baru saja diperolehnya karena pinangannya diterima, baik oleh orang tua Darmini maupun oleh gadis itu sendiri, tidak ingin dia mengganggunya dengan segala macam kekhawatiran.

“Darmini, aku akan pulang dulu. Keberangkatan kami masih beberapa hari lagi dan percayalah, setiap sore aku pasti akan datang mengunjungi setelah selesai pekerjaanku sehari,” Sambil memegang kedua tangan kekasihnya, Ong Cun berpamitan dan melihat kemesraan diantara mereka, biarpun hanya saling berpegangan tangan. Kwee Lok memalingkan dan membuang muka. Mereka lalu pergi meninggalkan Darmini yang memandang bayangan kekasihnya dengan wajah cerah. Biarpun ia tahu bahwa beberapa hari lagi ia akan berpisah dari kekasihnya, namun perpisahan itu hanya sementara saja. Ia percaya penuh kepada kekasihnya. Tentu Ong Cun akan segera kembali dari negerinya dan akan berada disampingnya untuk selamanya. Ia mengambil pedang dan bunga teratai putih, menciumi kedua benda itu lalu melangkah memasuki rumah dengan sinar mata penuh kebahagiaan.

Setelah Kwee Lok meninggalkan Ki Demang Bragolo untuk pergi mencari Kakaknya ke taman, Ki Demang Bragolo duduk melamun seorang diri. Tak lama kemudian, suara orang berkulo-nuwun (memberitahukan kedatangannya) menyadarkannya dari lamunan. Ketika dia melihat bahwa yang muncul adalah Ki Empu Tanding dan puteranya, Panji Sarono, berubah wajah Ki Demang Bragolo. Cepat dia bangkit berdiri menyongsong kedua tamunya itu. Ki Empu Tanding adalah Kakak isterinya, akan tetapi, yang lebih dari pada itu, kakek berambut kelabu itu adalah seorang Ponggawa Majapahit yang kini ditugaskan di Lumajang. Berarti bahwa orang ini adalah utusan yang membawa kekuasaan dari Majapahit, kekuasaan si pemenang atas yang kalah, dan dia sendiri sebagai bekas Pamong Kerajaan Lumajang, merasa sebagai wakil dari yang kalah!

“Ah, kiranya Kakang-Mas Empu yang datang. Selamat datang dan silahkan duduk, Kakang-Mas. Dan andika juga, anak-mas Panji Sarono, silahkan duduk. Ki Empu Tanding duduk tanpa menjawab, sedangkan Panji Sarono hanya menggumamkan kata terima kasih dengan lirih. Tidak enak rasa hati Ki Demang Bragolo. Sikap mereka yang dingin itu menjadi tanda peringatan baginya bahwa hati mereka sedang kesal.

“Kakang-Mas Empu, kepentingan apakah yang mendorong Kakang-Mas malam-malam begini me- langkahkan kaki memberi kehormatan kepada saya dengan kunjungan ini? Ataukah hanya bertandang saja?” tanya Ki Demang dengan hati-hati. Dengan wajah bersungut-sungut, Ki Empu Tanding menghentakkan tongkat hitamnya ke atas lantai, seperti hendak memperlihatkan bahwa dia sedang tidak sabar.

“Adimas Demang, kami datang untuk bertandang, akan tetapi ketika kami melalui taman, kami melihat hal yang membuat hatiku terasa amat tidak senang dan kesal.” Ki Demang Bragolo mengerutkan alisnya, sejenak belum dapat menangkap apa yang menyebabkan kekesalan hati Kakak isterinya itu.

“Apakah yang terjadi, Kakang-Mas? Apakah yang telah menyebabkan hati Kakang-Mas menjadi kesal?”

“Tidak lain melihat puterimu, nini Darmini, bergaul sedemikian akrabnya dengan seorang pemuda asing! Malam-malam lagi berdua di dalam taman. Sungguh memalukan!” Mengertilah Ki Demang Bragolo dan diapun tersenyum.

“Harap Kakang-Mas melegakan hati. Pemuda itu bukan orang asing, melainkan sahabat baik, bahkan kini menjadi tunangan Darmini, calon suaminya.”

“Apa? Sejak kapan andika mempunyai niat bermenantukan seorang Bangsa Cina?”

“Maaf, Kakang-Mas. Sejak anak kami Darmini jatuh cinta kepada Ong Cun, pemuda itu yang menyelamatkannya dari ancaman orang-orang yang merampok dan menculiknya. Dan kami menyetujuinya karena pemuda itu amat baik.”

“Tapi dia Cina!”

“Apa salahnya itu, Kakang-Mas? Cinapun manusia juga bukan? Dan bukankah sejak dahulu bahkan Maharaja-Maharaja banyak yang beristerikan seorang wanita Cina?”

“Ah, itu lain lagi, kalau pria bangsa kita menikah dengan wanita Cina. Akan tetapi puterimu, anak tunggal lagi, hendak kau nikahkan dengan seorang laki-laki Cina? Tahukah engkau laki-laki itu pengikut Laksamana The Ho yang baru-baru ini terlihat dalam perang melawan pasukan Majapahit?”

“Saya sudah tahu, Kakang-Mas. Akan tetapi, perang itu hanya merupakan suatu kesalah-pahaman belaka, bukan? Dan bukankah sekarang urusan itu telah didamaikan?”

“Huh! Didamaikan akan tetapi Majapahit harus membayar uang kerugian yang amat banyak! Dia, seperti yang lain-lain, tentu orang beragama Islam pula!”

“Maaf, Kakang-Mas. Saya sendiri belum pernah mendengar secara jelas apa sesungguhnya Agama Islam itu, apa bedanya dengan agama kita yang Hindu Buddha. Akan tetapi, melihat betapa kini banyak sudah para Adipati dan Raja muda di pesisir utara telah masuk ke dalam Agama Islam, saya kira agama itupun sama baiknya. Bagi kami, yang menikah itu orangnya, Kakang-Mas, bukan agamanya, dan syarat kami sebagai Ayah dan Ibu hanya satu, iyalah kebahagiaan puteri kami. Kalau nini Darmini sudah setuju dan ia saling mencinta dengan calon suaminya, sudah cukuplah syarat itu bagi kami untuk menerima pinangan pria itu.”

“Adimas Demang Bragolo, apakah andika berani bertanggung jawab akan pilihan itu? Bertanggung jawab bahwa Darmini telah andika pilihkan jodoh seorang pemuda Cina beragama Islam? Ingat, nini Darmini bukanlah puteri kandungmu!” Mendengar ini, sepasang mata Ki Demang Bragolo menjadi terbelalak dan mukanya berubah merah. Akan tetapi, dia belum berani memperlihatkan sikap marah kepada Kakak isterinya ini, yang juga menjadi kuasa dari Majapahit itu. Dia menahan sabar.

“Benar, Kakang-Mas. Memang nini Darmini bukan puteri kandung saya, akan tetapi ia telah saya anggap sebagai puteri kandung sendiri, bahkan ia sendiri tidak tahu bahwa Ayah kandungnya sudah meninggal dan bahwa ketika ia masih bayi, Ibunya menikah dengan saya. Ia menganggap saya sebagai Ayah kandung sendiri. Dan saya berani bertanggung jawab, karena hendaknya Kakang-Mas ketahui bahwa yang menyetujui perjodohan ini bukan saya sendiri, melainkan juga Ibunya, yaitu adik Kakang-Mas sendiri.” Pada saat itu, terdengar suara langkah kaki dan muncullah isteri Ki Demang Bragolo. Melihat bahwa suaminya sedang bercakap-cakap dengan Kakaknya, dan di situ hadir pula keponakannya, Nyi Demang Bragolo segera berseru,

“Ah, kiranya ada tamu agung! Kenapa saya tidak diberitahu bahwa Kakang-Mas Empu Tanding dan Panji Sarono yang datang berkunjung? Sudah lamakah, Kakang-Mas Empu?”

“Sudah cukup lama, dan karena ada keperluan lain, kami malah hendak minta diri. Kami akan pulang. Permisi!” Empu Tanding bangkit berdiri diikuti puteranya dan mereka berdua segera meninggalkan pendopo gedung kademangan itu.

“Eh, mengapa Kakang-Mas Empu kelihatan marah-marah? Apakah yang telah terjadi?” tanya Nyi Demang kepada suaminya. Ki Demang Bragolo menarik napas panjang dan menceritakan tentang percakapan mereka tadi mengenai pertunangan Darmini dan Ong Cun. Wanita itu mengerutkan alisnya dan menjadi marah.

“Huh, apa pedulinya? Aku tahu mengapa dia marah. Tentu dia kecewa karena pernah dia dahulu mengutarakan maksud hatinya untuk mejodohkan Darmini dengan Panji Sarono. Akan tetapi, siapa sudi mempunyai mantu seperti dia? Seorang laki-laki mata keranjang yang suka mempermainkan wanita, hanya pandai menjual tampang saja, memelihara banyak tukang pukul dan terkenal sebagai pemuda yang berlagak bangsawan, memaksakan kehendaknya diantara rakyat kecil, Huh!” Biarpun demikian, suami isteri itu merasa tidak enak hati ketika Ong Cun dan Kwee Lok berpamit. Seolah-olah merasa adanya suatu ancaman yang tidak kelihatan. Maka mereka memberi nasihat kepada Ong Cun agar berhati-hati.

Perasaan tidak enak yang dirasakan oleh Ki dan Nyi Demang bukan merupakan bayangan kosong belaka. Memang terdapat ancaman yang datang dari pihak Panji Sarono. Ketika pulang ke rumah gedung keluarganya, Panji Sarono lalu pulang ke pondoknya sendiri, sebuah gedung mungil di belakang kompleks perumahan Ayahnya, merupakan tempat tinggal untuk dia dan adik kandungnya, yaitu Panji Saroto yang baru berusia lima belas tahun.

Dia segera mengutus seorang pelayan untuk memanggil anak buahnya, yaitu empat orang yang terkenal sebagai bekas bajak-bajak Sungai Berantas yang kini menjadi anak buah atau kaki tangan Panji Sarono. Tak lama kemudian, datanglah empat orang laki-laki yang sikapnya menyeramkan. Mereka itu berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, dan rata-rata memiliki tubuh yang kokoh kuat dan gerak- gerik yang kasar, sikap yang menunjukkan bahwa mereka adalah golongan orang-orang yang suka sekali mempergunakan kekerasan dan pamer kekuatan. Mereka adalah empat orang Kakak beradik angkat yang sudah amat terkenal sebelum menjadi kaki tangan Panji Sarono sebagai Empat Bajul Brantas karena mereka selalu mengganggu lalu lintas Sungai Brantas. Orang pertama bernama atau berjuluk Bajul Sengoro, tubuhnya tinggi besar dengan otot-oto menonjol dan melingkar-lingkar di seluruh tubuhnya, mukanya hitam penuh brewok dan matanya lebar selalu melotot, dan dipinggangnya terselip sebatang senjata yang mengerikan, yaitu sebuah kapak besar yang kelihatan berkilauan saking tajamnya dan masih berbau batu asahan. Orang kedua bertubuh tinggi kurus, kulitnya putih sekali, akan tetapi kalau diteliti akan nampak bahwa putihnya itu adalah karena seluruh kulit tubuhnya menderita penyakit panu. Dia nampak malas dan selalu garuk-garuk sana-sini, usianya sebaya dengan Bajul Sengoro, yaitu sekitar tiga puluh lima tahun dan orang ke dua yang namanya Bajul Sengkolo ini menyimpan sebatang arit panjang terselip di pinggang.

Juga arit ini berkilauan saking tajamnya, melengkung menyeramkan. Orang ke tiga bertubuh sedang, berusia tiga puluh tahun bernama Bajul Paruso. Dibandingkan dengan dua orang terdahulu, dia dapat disebut tampan. Orangnya pesolek, pakaiannya juga bersih dan terpelihara, di pinggangnya terselip sebatang golok. Orang ini selain ahli bermain golok, kejam hatinya, juga cabul dan suka mempermainkan wanita. Adapun orang ke empat bernama Bajul Kanisto, bertubuh pendek dengan perut gendut sekali. Mukanya buruk dan bopeng, dan dia selalu membawa sebatang lembing yang dipakai sebagai tongkat. Melihat munculnya empat orang pembantunya yang memberi hormat kepadanya, legalah hati Panji Sarono.

“Raden Mas Panji, ada perintah apakah maka malam begini memanggil kami?” tanya Bajul Sengoro setelah disuruh duduk oleh pemuda itu di dalam ruangan belakang dimana tidak ada orang lain kecuali mereka berlima.

“Apakah ada yang harus dibunuh malam ini?” Bajul Sengkolo meraba gagang aritnya. “Hemm, ada si cantik yang harus di culik?” kata pula Bajul Paruso sambil menyeringai genit.

“Kalau hanya tugas biasa saja, serahkan kepadaku, tentu beres!” kata pula Bajul Kanisto sambil mengetuk-ngetukkan gagang lembingnya di atas lantai.

“Memang aku ingin kalian membunuh seseorang, akan tetapi kukira tidaklah semudah yang kalian duga. Orang itu tangguh sekali sehingga aku sendiripun tak mampu mengalahkan dia.” Empat orang bekas bajak sungai itu saling pandang. Mereka mengenal siapa Raden Panji Sarono, seorang pemuda bangsawan yang royal, akan tetapi juga memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, walaupun tentu saja masih kalah kalau dibandingkan mereka! Pemuda itu menerima ilmu-ilmunya dari Sang Empu Tanding sendiri dan bahkan Bajul Sengoro yang merupakan orang pertama di antara Empat Bajul itupun jeri menghadapi Empu Tanding yang sakti. Dan pemuda ini mengatakan tidak mampu mengalahkan musuh itu?

“Siapa dia, Raden? Jangan khawatir, betapapun saktinya dia, kalau kami maju berempat, dia pasti akan dapat kami bunuh!”

“Benar sekali, Raden!” kata Bajul Kanisto yang paling pendek, akan tetapi paling sombong di antara rekan-rekannya. “Biar dia sakti setinggi langit, biar dia berkawan dewata sekalipun, kalau menghadapi kami berempat, tentu akan kami hancurkan kepalanya, kami pecahkan dadanya!” Panji Sarono mengerutkan alisnya. Kadang-kadang ia merasa kesal juga melihat kecongkakan empat orang pembantunya ini. Benar bahwa mereka ini sudah banyak berjasa baginya, terutama dalam merampas dan menculik wanita untuknya. Wanita manapun di Majapahit, asalkan jangan puteri bangsawan, yang diinginkannya, dia tinggal menunjuk saja dan tentu, dengan halus maupun kasar, dengan jalan merayu maupun menculik, akan didapatkannya dengan bantuan empat Bajul ini. Akan tetapi, sikap mereka yang kadang-kadang amat sombong itu membuat dia kurang puas.

“Sebaiknya kalian berhati-hati sekali ini. Yang kuinginkan agar kalian membunuhnya adalah seorang pemuda Bangsa Cina...”

“Ehhh...!” Empat orang itu serentak berseru kaget dan saling pandang. Sepak terjang rombongan Cina yang pernah bertempur melawan pasukan Majapahit membuat mereka merasa agak gentar juga.

“Apakah anggauta rombongan yang belum lama ini bertempur melawan pasukan kita di Lumajang, Raden?”

“Benar, karena itu kalian harus berhati-hati. Yang kuhendaki memang hanya satu orang saja. Akan tetapi dia memiliki banyak kawan dan kalau sampai kawan-kawannya tahu, bukan saja tugas kalian akan gagal, malah kalian dapat mampus di tangan dia dan teman-temannya. Karena itu, harus dipergunakan siasat, dicari kesempatan selagi dia seorang diri, lalu kalian menyerang secara tiba-tiba.” Suaranya berubah menjadi bisik-bisik ketika Panji Sarono menceritakan betapa dia telah berselisih dengan Ong Cun di taman Kademangan, dan betapa Ong Cun telah diterima menjadi tunangan Darmini yang diharapkannya menjadi korbannya yang terbaru, atau juga isterinya karena dia tergila-gila kepada gadis hitam manis itu.

“Dalam waktu beberapa hari ini, Ong Cun akan pergi bersama rombongannya. Dan aku yakin bahwa besok atau lusa, sebelum dia berangkat, pasti dia akan datang mengunjungi Darmini di taman rumah Paman Demang Bragolo. Nah, itulah kesempatan baik bagi kalian. Aku sendiri akan membantu dari jauh dan bawalah keris pusakaku ini untuk membunuhnya. Akan tetapi hati-hati, jangan sampai kerisku ini kau tinggalkan, dan sampai kelihatan orang lain. Aku ingin kerisku sendiri yang mencabut nyawa pemuda Cina keparat itu!” kata Panji Sarono dengan gemas mengingat kekalahannya.

Dia kalah di depan Darmini, hal ini sungguh merupakan penghinaan baginya. Tiba-tiba lima orang itu terkejut dan percakapan segera terhenti ketika mendadak muncul seorang pemuda remaja keluar dari pintu sebelah dalam. Pemuda ini wajahnya mirip Panji Sarono, akan tetapi kulitnya lebih bersih dan sepasang matanya amat tajam dan terang. Usianya lima belas tahun dan dia adalah Panji Saroto, adik kandung Panji Sarono. Dengan sepasang matanya yang tajam pemuda remaja ini melihat keris pusaka Kyai Crubuk berluk tujuh itu di tangan Bajul Sengoro. Dia lalu menoleh kepada Kakaknya, mengerutkan alis dan berkata dengan suara yang halus dan tegas.

“Kakang-Mas Sarono, apa lagi yang kau perintahkan kepada empat orang yang menjemukan ini? Dan mengapa pula pusaka Kyai Crubuk kau berikan kepada mereka? Siapa yang harus mereka bunuh?” Wajah Panji Sarono berubah merah dan dia melotot kepada adik kandungnya.

“Saroto, engkau anak kecil jangan mencampuri urusan orang dewasa. Pergilah masuk kedalam!” bentaknya. Akan tetapi Panji Saroto tetap berdiri tegak dan sedikitpun tidak merasa gentar kepada Kakaknya.

“Kakang-Mas, aku bukan anak kecil lagi yang boleh kau hardik dan usir begitu saja! Aku tadi telah mendengar sebagian bahwa engkau menyuruh mereka membunuh seseorang dengan Kyai Crubuk. Kakang-Mas, apakah nasihat yang diberikan oleh Kanjeng Rama masih juga belum cukup untukmu? Hentikanlah perbuatan jahat itu. Membunuh orang, menculik wanita, bermabok-mabokan, berjudi sampai berhari-hari. Ibu sampai berduka memikirkan keadaanmu, Kakang-Mas. Rencanamu kali ini jahat sekali, janganlah kau lanjutkan.”