--> -->

Kesetiaan Mr. X Bab 19 (Tamat)

Bab 19 (Tamat)

Yasuko belum juga beranjak dari bangku taman. Sekujur tubuhnya seakan teriimpit setelah mendengar cerita Yukawa. Cerita yang terlalu berat untuk dicerna hingga hatinya terasa remuk.

Tak kusangka dia berbuat sejauh itu. Yasuko membayangkan guru matematika tetangganya. Selama ini Ishigami tak pernah memberitahunya bagaimana cara menyingkirkan mayat Togashi dan menyuruh Yasuko tak ambil pusing. Yasuko ingat Ishigami berpesan supaya dirinya tak khawatir karena pria itu telah membereskan semuanya.

la merasa aneh mengapa polisi malah menanyakan alibinya sehari setelah kejadian. Sebelumnya Ishigami telah memberitahukan apa yang harus dilakukan Yasuko tanggal sepuluh Maret malam. Pergi ke bioskop, restoran ramen, karaoke, lalu telepon pada larut malam. Yasuko tidak langsung mengerti makna semua instruksi itu. Saat polisi menanyainya, ia menjawab apa adanya walau dalam hati justru ia yang ingin balik bertanya: Mengapa mereka ingin tahu apa yang kulakukan tanggal sepuluh Maret? Kini ia paharn. Semua penyidikan polisi yang terkesan aneh itu hasil dari perbuatan Ishigami. Tak disangka ada hal mengerikan di baliknya. Saat mendengar penjelasan Yukawa, Yasuko belum percaya sepenuhnya, meski ia tahu itulah satusatunya penjelasan yang tepat. Tidak, lebih tepatnya ia tak ingin memercayainya. Ia tak ingin percaya Ishigami berbuat sejauh itu demi wanita sederhana dan tidak menonjol sampai-sampai rela menyia-nyiakan hidupnya. Yasuko merasa tidak cukup kuat untuk menerima penjelasan itu.

Yasuko menutupi wajah. Saat ini ia tak ingin memikirkan apa-apa. Yukawa bilang ia tak akan melaporkannya pada polisi karena semua yang dikatakan Yukawa hanya deduksi tanpa bukti pendukung. Yukawa menyerahkan langkah selanjutnya pada Yasuko.

Tidak tahu apayang harus dilakukan, Yasuko seakan kehilangan tenaga untuk bangkit. Perasaan tak berdaya membebani sekujur tubuhnya. Tiba-tiba ia merasa pundaknya ditepuk. Terkejut, Yasuko mendongak. Seseorang berdiri di sampingnya.

Dengan wajah cemas, Kudo balas menatapnya. ”Apa yang terjadi?” tanyanya.

Yasuko tidak langsung ingat mengapa pria itu ada di sini. Namun saat menatap Kudo, ia teringat pada janji temu mereka. Pasti Kudo khawatir karena Yasuko tidak muncul di tempat yang sudah ditentukan.

”Maaf... Aku hanya agak lelah.” Hanya itu alasan yang bisa diucapkan Yasuko. Nyatanya, ia memang lelah. Tentu saja bukan secara fisik, melainkan batin.

"Sedang tidak enak badan?” tanya Kudo penuh perhatian. Namun perhatian itu kini hanya terdengar seperti hal bodoh di telinga Yasuko. Terkadang, saat belum mengetahui kebenaran, Yasuko merasa bersalah atas sikap Kudo yang seperti itu. Setidaknya sampai beberapa saat lalu.

Yasuko bangkit dari bangku seraya mengatakan ia baikbaik saja. Tubuhnya agak terhuyung. Melihat itu, Kudo segera mengulurkan tangan untuk membantu. Yasuko mengucapkan terima kasih.

”Apa yang terjadi? Wajahmu terlihat pucat.”

Yasuko menggeleng. Kudo bukanlah orang kepada siapa ia bisa menjelaskan semua ini. Bahkan, tidak ada orang seperti itu baginya di dunia ini. "Tidak apa-apa, aku hanya beristirahat karena agak tidak enak badan. Sekarang aku sudah pulih.” la berusaha mengatur agar suaranya terdengar mantap, tapi ia sama sekali tidak punya tenaga.

”Mobilku diparkir tidak jauh dari sini. Istirahatlah sebentar, baru kita pergi.”

Yasuko balas menatap Kudo. ”Pergi?”

”?Aku sudah memesan tempat di restoran untuk pukul 19.00. Mungkin kita akan terlambat tiga puluh menit, tapi itu tidak masalah.”

”0o0oh...”

Bahkan kata restoran pun terasa seperti berasal dari dimensi lain. Dan sekarang mereka akan makan di sana. Sanggupkah ia berpura-pura tersenyum di tengah situasi ini, bahkan untuk sekadar menggunakan pisau dan garpu dengan benar? Tetapi itu bukan salah Kudo. Yasuko menggumamkan permintaan maaf dan berkata, "Sepertinya hari ini aku tidak bisa menerima ajakanmu. Mungkin saat kondisiku sudah lebih baik. Maaf, tapi hari ini aku agak... eh...”

”Baiklah.” Kudo menyentuh tangan Yasuko tanda mengerti. ”Aku mengerti. Wajar jika kau kelelahan, mengingat peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini. Lebih baik kau cukup beristirahat. Kalau dipikir-pikir, memang sudah lama kau tidak bisa bersantai. Maaf karena aku kurang peka.”

Sambil menatap Kudo yang meminta maaf, Yasuko berpikir betapa baiknya pria ini, selalu memperlakukan Yasuko dengan tulus. Yasuko bertanya-tanya mengapa ia tak bisa mendapat kebahagiaan, sementara banyak orang bisa mencintainya seperti Kudo.

Yasuko mulai berjalan bersama Kudo yang bisa dibilang mendorongnya. Mobil pria itu diparkir di jalan yang berjarak beberapa puluh meter dari tempat mereka. Kudo berkata ia akan mengantar Yasuko. Meski sempat berniat menolak, akhirnya Yasuko setuju karena merasa jarak rumahnya terlalu jauh.

Kudo bertanya lagi setelah mereka di dalam mobil. ”Kau yakin kau baik-baik saja? Kalau ada masalah, ceritakan padaku, jangan menyembunyikannya.” Pertanyaan wajar, mengingat kondisi Yasuko saat ini.

”Aku baik-baik saja. Maaf sudah membuatmu khawatir.” Yasuko berusaha keras tersenyum. Benaknya dipenuhi penyesalan yang akhirnya membuatnya teringat alasan Kudo ingin bertemu dengannya hari ini. "Kau bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan?”

”Begitulah.” Kudo menatap ke bawah. ”Tapi lain kali saja kita bahas.”

”Kau yakin?”

”Ya.” Kudo menyalakan mesin mobil.

Yasuko menatap kosong ke luar jendela sementara dirinya terguncang-guncang di mobil yang dikemudikan Kudo. Matahari telah kembali ke peraduan, dan malam pun mulai mengubah wajah kota. Andai semuanya berubah menjadi kegelapan sekaligus mengakhiri dunia ini, pikir Yasuko. Mobil berhenti di depan gedung apartemen. ”Aku akan menghubungimu lagi. Istirahatlah yang cukup.”

Yasuko mengangguk dan sudah memegang gagang pintu mobil saat tiba-tiba Kudo berkata, "Tunggu sebentar.”

Yasuko menoleh, melihat Kudo sedang menjilat bibir sambil mengetuk-ngetuk kemudi. Lalu pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku jas.

Kudo berkata, ”Sebaiknya kukatakan sekarang.”

?Apa?”

Kudo mengeluarkan kotak kecil. Sekali lihat saja Yasuko tahu kotak apa itu.

”Sebenarnya aku segan melakukan ini karena sudah sering melihatnya di drama televisi, tapi mungkin memang itu salah satu caranya,” kata Kudo sambil membuka kotak itu di hadapan Yasuko. Cincin dengan berlian berukuran besar. Berlian itu mengeluarkan cahaya halus.

” Kudo...” Yasuko terpana memandang wajah pria itu.

”Kau tak perlu terburu-buru memberi jawaban,” kata Kudo. ”Selain harus memikirkan perasaan Misato, kau juga harus mempertimbangkan perasaanmu sendiri. Tapi kuharap kau mengerti ini ungkapan tulus perasaanku. Aku yakin aku bisa membahagiakan kalian.” Ia meraih tangan Yasuko dan meletakkan kotak itu di atasnya. "Kumohon jangan anggap pemberian ini sebagai beban. Ini hadiah dariku. Tapi jika kelak kau merasa siap menjalani hidup bersamaku, barulah cincin ini memiliki makna khusus. Maukah kau mempertimbangkannya?”

Sambil menirnang-nimang kotak kecil itu, Yasuko tidak tahu harus berbuat apa. Terlalu banyak kejutan yang diterimanya hari ini, sehingga setengah saja dari perkataan Kudo tidak masuk ke otaknya. Namun ia paham maksud Kudo dan justru hal itu membuatnya kebingungan. ”Maaf, aku tahu ini terlalu mendadak.” Senyum malu-malu mengembang di wajah Kudo. "Karena itu kau tidak perlu segera menjawab. Sebaiknya bicarakan dulu dengan Misato.” Kemudian, Kudo menutup kembali kotak di tangan Yasuko. "Semoga kau tidak keberatan.”

Yasuko tidak berhasil menemukan kata-kata yang sepantasnya ia ucapkan, karena saat ini benaknya dipenuhi banyak hal, termasuk tentang Ishigami... Bukan, justru masalah itulah yang paling menyitanya. Akhirnya dengan susah payah ia berhasil mengucapkan, ”Akan... kupertimbangkan.”

Kudo mengangguk setuju. Kemudian Yasuko turun dari mobil. Ia baru beranjak ke apartemennya setelah melihat mobil Kudo meninggalkan tempat itu. Saat hendak membuka pintu apartemen, tatapannya tertuju ke apartemen sebelah. Kotak pos apartemenitu penuh, tapi tidak terlihat satu punsurat kabar. Pasti Ishigami sudah berhenti berlangganan sebelum menyerahkan diri ke polisi. Karena tidak ada gunanya berlangganan koran lagi.

Misato belum pulang. Yasuko duduk dan menghela napas panjang. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, lalu membuka laci di sampingnya. ia membuka kotak kue yang disimpan di bagian paling dalam, lalu ia membuka tutupnya. Biasanya ia menggunakan kotak itu untuk menyimpan surat-surat lama, tapi kali ini ia mengeluarkan sehelai amplop dari bagian paling bawah. Di dalamnya ada sehelai kertas ukuran A4 yang penuh tulisan.

Sebelum telepon terakhir dari Ishigami, amplop itu telah dimasukkan ke kotak pos Yasuko oleh Ishigami. Selain surat itu, masih ada tiga amplop lain, semuanya mengindikasikan selarmna ini Ishigami menguntit Yasuko. Saat ini ketiga amplop itu ada di tangan polisi.

Pada surat yang dipegang Yasuko, tertulis rapi cara menggunakan ketiga surat lainnya, juga cara menjawab pertanyaan detektif. Selain instruksi untuk Yasuko, surat itu juga berisi petunjuk untuk Misato. Di situ tertera cara mengantisipasi setiap kemungkinan, juga penjelasan detail bagaimana seharusnya mereka bersikap supaya tidak terpengaruh oleh interogasi detektif. Berkat semua petunjuk itu, baik Yasuko maupun Misato sanggup menghadapi interogasi detektif dengan baik. Selama ini Yasuko merasa jika dirinya sampai membuat kesalahan bodoh hingga kebohongan ini terbongkar, semua usaha keras Ishigami akan sia-sia belaka. Pasti Misato juga merasakan hal yang sama.

Ada catatan tambahan di bawah semua instruksi itu:

”Menurutku Kuniaki Kudo pria yang bisa dipercaya. Jika kau menikah dengannya, kau dan Misato pasti akan sangat berbahagia. Mulai sekarang, lupakan diriku. Jangan pernah merasa bersalah, karena jika kau tidak merasa bahagia, maka semua usahaku akan sia-sia.”

Air mata Yasuko berlinang sementara ia membaca surat itu berkali-kali. Seumur hidup, ia belum pernah menemukan seseorang yang mencintainya begitu dalam. Atau mungkin lebih tepatnya ia tidak tahu ada orang seperti itu. Di balik wajah kaku Ishigami, rupanya tersembunyi cinta.

Ketika mendengar kabar Ishigami menyerahkan diri, Yasuko sempat berpikir itu dilakukan Ishigami semata hanya demi menggantikan mereka. Namunsetelahmendengar cerita Yukawa, ditambahisi surat yang berisi curahan perasaan Ishigami, kini dada Yasuko terasa dicabik-cabik. Ia berniat menceritakan semuanya pada polisi, tetapi sadar itu tidak akan menolong Ishigami karena pria itu akan didakwa melakukan pembunuhan lain.

Tatapan Yasuko jatuh ke kotak cincin pemberian Kudo. Ia membuka kotak itu dan menatap kemilau berliannya. Setelah sejauh ini, mungkin sebaiknya ia lebih memikirkan kebahagiaan dirinya dan putrinya seperti yang diharapkan Ishigami. Apalagi Ishigami berpesan usahanya akan sia-sia jika Yasuko merasa gentar.

Memang berat menyembunyikan kebenaran. Ia tak akan memperoleh kebahagiaan sejati jika terus menyembunyikan kebenaran. Ia tak akan bisa hidup tenang karena terus dihantui perasaan bersalah seumur hidupnya. Namun mungkin itu yang harus dijalaninya untuk menebus dosa.

la menyelipkan cincin ke jari manisnya. Berlian yang menghiasinya memang cantik. Alangkah bahagia jika ia bisa bersamasama Kudo tanpa awan gelap menggelayuti hatinya. Sayangnya, itu angan-angan semata. Hatinya tidak merasa cerah. Sebaliknya, justru Ishigami yang tidak merasakan beban itu.

Telepon genggam Yasuko berbunyi ketika ia mengembalikan cincin ke kotaknya. Di layar telepon terpampang nomor tak dikenal.

”Halo?”

”Halo, apakah Anda ibu Misato Hanaoka?” Terdengar suara pria yang tak dikenal.

”Betul.” Yasuko merasakan firasat buruk.

”Saya Sakano dari SMP Morishita-Minami. Maaf tiba-tiba menelepon.”

Itu sekolah Misato.

”Apa yang terjadi pada Misato?”

” Kami menemukannya pingsan di belakang gedung olahraga. Eh, kelihatannya dia menyayat pergelangan tangannya dengan benda tajam.”

”Hah?” Jantung Yasuko seakan melompat, napasnya sesak.

”Kami segera membawanya ke rumah sakit karena darah yang keluar cukup banyak, Anda tak perlu khawatir. Jiwanya tidak terancam. Hanya saja, saya rasa Anda harus tahu bahwa dia punya kemungkinan melakukan percobaan bunuh diri...”

Setelah itu Yasuko sama sekali tidak menyimak apa yang dikatakan lawan bicaranya.

Dinding di hadapannya dipenuhi titik noda. Ia memilih beberapa titik yang sesuai, lalu menggabungkannya membentuk garis lurus dalam benak. Diagram yang telah selesai ia susun merupakan gabungan dari segitiga, segi empat, dan segi enam. Berikutnya, ia membagi dan mewarnai diagram dengan empat warna. Setiap bentuk tidak boleh memiliki warna yang sama dengan bentuk di sebelahnya. Tentu saja, semua itu dikerjakan dalam otaknya.

Ishigami berhasil menyelesaikan soal itu dalam satu menit. Lalu dihapusnya diagram itu, memilih titik lain, dan kembali melakukan hal serupa. Ia sama sekali tidak merasa lelah meski melakukannya berulang kali. Jika kelelahan mengerjakan soal teorema empat warna, ia tinggal beralih ke soal analisis matematis. Ia bisa menghabiskan waktu hanya dengan menghitung koordinat noda dinding.

la sama sekali tidak mempermasalahkan penahanannya. Selama ada kertas dan pena, ia masih bisa mengerjakan soal matematika. Bahkan jika tangan dan kakinya diikat, ia masih bisa melakukannya dalam benak. Tak seorang pun bisa menginterupsi kerja otaknya, meski ia tak bisa melihat atau mendengar apa pun. Bagi Ishigami, kondisi dernikian tak ubahnya surga abadi. Jika matematika adalah mineral terkubur, bahkan waktu seumur hidup pun terbilang pendek untuk menggali semuanya.

Aku tak butuh pengakuan orang lain, pikir Ishigami. la memang berambisi menerbitkan artikel dan memperoleh penghargaan, tetapi itu bukan esensi matematika. Penting sekali baginya jika kelak ada seseorang yang pertama kali mencapai tingkat itu, tetapi akan lebih baik jika dirinya saja yang memahami hal itu.

Butuh waktu cukup lama bagi Ishigami untuk mencapai posisinya sekarang. Andai tidak memilih matematika sebagai jalan hidupnya, mungkin ia akan merasa kehidupannya sia-sia belaka. Bahkan belum lama ini ia pernah nyaris kehilangan semangat hidup. Yang ada di benaknya setiap hari hanya kematian. Jika ia mati, alih-alih berduka atau sedih, mungkin tak akan ada seorang pun yang menyadari kematiannya.

Peristiwa itu terjadi setahun lalu. Saat itu Ishigami di dalam kamar, memegang seutas tambang. Tidak ada tempat yang pas di apartemennya untuk menggantungkan tambang itu. Akhirnya ia memasang paku berukuran besar ke pilar supaya bisa melingkarkan tambang, lalu memastikan tambang itu bisa menahan bobot tubuhnya. Meski sempat berderak dan pakunya agak bengkok, pilar itu akan bisa menahan tambang.

Ishigami naik ke meja, dan nyaris mengalungkan tambang ke leher saat bel pintu berdering.

Bunyi bel yang menjadi penentu takdirnya.

Ishigami tidak mendiamkan bel itu karena tidak ingin merepotkan orang lain. Mungkin saja orang di depan pintu itu punya keperluan penting. Ia membuka pintu dan mendapati dua wanita sedang berdiri. Sepertinya mereka ibu dan anak. Wanita yang lebih tua memberi salam dan memberitahukan mereka baru saja pindah ke apartemen sebelah. Putrinya juga menundukkan kepala memberi salam. Saat melihat mereka, seolah ada sesuatu yang menembus tubuh Ishigami.

Indah sekali mata mereka, pikir Ishigami. Selama ini ia belum pernah dibuat terharu atau tertarik pada keindahan, terutama karena ia sama sekali tidak memahami seni. Namun detik itu juga, akhirnya ia paham. la sadar keindahan yang disaksikannya setara dengan keindahan soal matematika yang berhasil dipecahkan.

Ishigami tidak begitu ingat bagaimana ia menjawab salam ibu dan anak itu, tetapi kedipan mata mereka yang sedang menatapnya masih terekam dalam benaknya hingga kini. Hidupnya pun berubah sejak pertemuannya dengan ibu-anak Hanaoka. Niatnya untuk bunuh diri lenyap, dan ia kembali merasakan kebahagiaan. Hanya membayangkan di mana dan apa yang sedang dilakukan kedua tetangganya itu sudah membuatnya senang. Baginya, Yasuko dan Misato merupakan dua titik yang menghubungkannya dengan dunia. Keajaiban.

Hari Minggu merupakan saat paling menyenangkan. Begitu membuka jendela, Ishigami bisa mendengar obrolan ibu dan anak itu. Ia tidak berusaha menguping, tapi suara samar obrolan yang terbawa semilir angin tak ubahnya alunan musik sempurna. la tak pernah mengharapkan sesuatu yang lebih dari mereka, dan ia sendiri tak ingin memulai ke arah itu. Sama dengan matematika. Dapat terlibat dalam sesuatu yang sangat mulia sudah membuatnya sangat bahagia, mengapa ia harus merusak martabatnya hanya demi memperoleh ketenaran?

Ishigami merasa tindakannya menolong ibu dan anak itu wajar. Tanpa mereka, mungkin sekarang ia sudah tidak ada di dunia ini. Yang dilakukannya bukan demi menggantikan kedua tetangganya, tetapi sebagai balas budi. Mungkin mereka akan melupakannya, tapi tidak masalah. Kadang demi menolong seseorang, yang harus kita lakukan hanyalah hadir di tempat itu.

Ketika melihat mayat Togashi, benak Ishigami langsung mengaktifkan program. Sulit menyingkirkan mayat itu dengan sempurna. Bagaimanapun, mustahil ia membuat kemungkinan identitas mayat itu akan terungkap menjadi nol. Bahkan jika ia berhasil menutupinya dengan sempurna, itu belum cukup untuk membuat hati Yasuko dan putrinya tenteram. Mereka akan terus khawatir bahwa kelak seseorang akan menemukan mayat itu. Ia tak bisa membiarkan mereka mengalami penderitaan seperti itu.

Hanya ada satu cara untuk menjaminnya. Ia harus menjauhkan Yasuko dan putrinya dari kasus itu. Kendati sekilas mereka terlibat, ia harus mengatur sedemikian rupa supaya Yasuko dan Misato tetap berada di jalur yang tidak bersimpangan dengan peristiwa tersebut.

Dari situlah ia memutuskan akan memanfaatkan ”Insinyur”.

Sang Insinyur. Pria yang belum lama memulai kehidupan sebagai tunawisma di sebelah Shin-Ohashi. Pagi hari tanggal sepuluh Maret, Ishigami mendekatinya. Sesuai julukannya, sang Insinyur duduk di tempat yang agak terpisah dari rekan-rekannya. Ishigami berkata ia ingin menawarkan pekerjaan. Karena tahu pria itu pernah bekerja di bidang konstruksi, ia ingin pria itu mengawasi pabrik di dekat sungai selama beberapa hari.

Mengapa harus aku? Sang Insinyur ragu-ragu. Kami mendapat masalah, jawab Ishigami. Orang yang seharusnya bertugas tidak bisa hadir karena kecelakaan, sementara izin pabrik tidak akan turun kalau tidak ada pengawas. Karena itulah mereka sangat membutuhkan pengganti. Sang Insinyur langsung setuju setelah menerima uang muka lima puluh ribu yen. Kemudian Ishigami membawanya ke kamar penginapan yang disewa Togashi. Ia memerintahkan supaya pria itu mengenakan pakaian Togashi dan tinggal di kamar itu sampai malam.

Malam harinya, Insinyur dipanggil ke Stasiun Mizue. Sebelumnya Ishigami telah mencuri sepeda di Stasiun Shinozaki. Ia sengaja mencuri sepeda baru supaya si pemilik memunculkan kehebohan seperti yang diharapkan. Namun sebenarnya ia juga telah menyiapkan satu sepeda lagi, yaitu sepeda yang dicurinya di Stasiun Ichinoe, satu stasiun sebelum Mizue. Bedanya sepeda yang ini sudah tua dan kuncinya rusak.

Ishigami menyuruh Insinyur menaiki sepeda baru, lalu mereka menuju lokasi, yaitu tepi Sungai Kyuu-Edo. Setiap kali Ishigami teringat apa yang terjadi sesudahnya, perasaannya berubah suram. Sampai napas penghabisannya, sang Insinyur tidak pernah tahu mengapa dirinya harus mati.

Ishigami tak ingin pembunuhan kedua ini sampai diketahui orang lain, terutama oleh Yasuko dan putrinya. Karena itulah ia menggunakan senjata dan metode pencekikan yang sama. Ia memutilasi mayat Togashi menjadi enam bagian di kamar mandi, dan masing-masing bagian diberi batu pemberat, lalu dibuang ke tiga lokasi berbeda di Sungai Sumida. Semua dilakukannya selama tiga hari dan pada malam hari. Ia tidak peduli jika suatu saat potongan jenazah itu ditemukan.

Karena yakin hanya Yukawa yang mengetahui trik ini, Ishigami memilih menyerahkan diri pada polisi. Semua sudah dipersiapkan sejak awal. Ia tahu Yukawa pasti akan menyampaikannya pada Kusanagi, yang lalu meneruskannya pada atasannya. Namun tetap saja polisi tidak akan bertindak karena mereka tidak dapat membuktikan perbedaan identitas korban. Tidak lama lagi Ishigami akan menghadapi dakwaan dan tak ada jalan kembali. Niat untuk kembali tak sedikit pun tebersit di benaknya. Sehebat apa pun analisis sang fisikawan genius, itu tak ada artinya dibandingkan pengakuan si pelaku.

Akulah pemenangnya, renung Ishigami. Terdengar suara bel yang menandakan ada seseorang masuk atau keluar dari ruang tahanan. Penjaga bertindak. Setelah pembicaraan singkat, seseorang masuk ke ruangan dan berdiri di depan sel Ishigami. Kusanagi. la memerintahkan penjaga mengeluarkan Ishigami. Setelah menjalani pemeriksaan fisik, penjaga menyerahkan Ishigami pada Kusanagi. Sang detektif sama sekali tidak berkata-kata selama proses itu.

Setelah keluar dari ruang tahanan, Kusanagi menoleh ke arah Ishigami. "Bagaimana kondisi Anda?”

Ishigami memperhatikan detektif itu menggunakan bahasa formal. Ia tidak tahu apakah itu memang sudah menjadi kebijakan polisi atau ada makna lain. Lalu ia menjawab, "Agak lelah. Kalau bisa, aku ingin segera menjalani prosedur hukum.”

”Kalau begitu, ini akan menjadi interogasi terakhir. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda.”

Ishigami mengerutkan kening. Siapa orang itu? Mustahil Yasuko.

Setibanya di depan ruang interogasi, Kusanagi membukakan pintu. Manabu Yukawa berada di dalam. Ia menatap Ishigami dengan wajah keruh.

Ini akan jadi halangan terakhir, Ishigami menguatkan diri.

Kedua genius itu duduk berhadapan. Selama beberapa saat mereka hanya berdiam diri. Kusanagi berdiri menyandar di dinding, mengawasi mereka.

”Kau terlihat agak kurus,” Yukawa berinisiatif berbicara lebih dulu.

”Begitu, ya. Tapi aku makan teratur.”

”Baguslah kalau begitu. Oh, ya...” Yukawa menjilat bibir, "apakah kau tidak kesal dianggap sebagai penguntit?” "Aku bukan penguntit,” jawab Ishigami. "Sudah berkalikali kujelaskan selama ini aku diam-diam melindungi Yasuko Hanaoka.”

”Aku tahu. Dan sampai sekarang kau masih terus melindunginya.”

Sepintas Ishigami terlihat jengkel. Ia mendongak kepada Kusanagi. "Kurasa percakapan ini tidak ada manfaatnya bagi penyidikan.”

Karena Kusanagi memilih diam, Yukawa melanjutkan ucapannya, "Aku sudah menjelaskan analisisku padanya. Tentang apa yang kaulakukan, siapa yang kaubunuh...”

”Tak ada yang melarang membahas analisismu.”

”Dan Yasuko Hanaoka juga sudah tahu.”

Ucapan Yukawa sempat membuat Ishigami terpaku. Namun ia segera tersenyum tipis. "Apakah dia menyesal? Atau justru berterima kasih padaku? Jangan-jangan justru dia mengakuaku tidak berkaitan dengan masalah ini, padahal aku sudah membantunya membereskan pria yang selama ini mengganggunya?”

Kusanagi meringis dan merasa dadanya sesak melihat Ishigami kini memainkan peran antagonis. Ia sangat kagum melihat ada manusia yang sanggup mencintai seseorang sedalam itu.

”Kusangkakau tipemanusiayangtidak percaya kebenaranakan terungkap kecuali kebenaran itu muncul dari dirimu sendiri, tapi aku salah,” kata Yukawa. ”Pada tanggal sepuluh Maret, seorang pria tak berdosa menghilang tanpa jejak. Andai identitasnya jelas, polisi bisa mencari keluarganya dan melakukan tes DNA. Hasil tes bisa dicocokkan dengan mayat yang selama ini dianggap mayat Shinji Togashi untuk mengetahui identitas aslinya.”

”Aku tak mengerti maksudmu.” Ishigami tersenyum. ”Kau bilang pria itu tak punya keluarga. Memang ada metode lain untuk mengungkap identitasnya, tapi itu akan memakan waktu dan tenaga cukup besar. Sementara itu terjadi, proses pengadilanku sudah selesai. Apa pun putusan yang diberikan, aku tak akan naik banding. Begitu putusan keluar, kasus ini selesai. Kasus pembunuhan Shinji Togashi berakhir. Polisi tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu...” Ishigami menatap Kusanagi, "apakah polisi akan mengubah alur penyidikan hanya gara-gara analisis Yukawa? Tapi untuk itu kalian harus melepaskanku. Apa alasannya? Karena aku bukan pelakunya? Tapi jelas akulah si pembunuh. Bagaimana kalian mengatur supaya aku bisa bebas?”

Kusanagi menundukkan kepala. Perkataan itu ada benarnya. Memang begitu sistem yang diterapkan kepolisian. Selama tidak terbukti pengakuan Ishigami palsu, mereka tak akan bisa menghentikan alur penyidikan.

”Ada satu hal yang ingin kukatakan,” kata Yukawa.

Ishigami balas memandangnya dengan sorot seolah bertanya ”Apa?”

”Otakmu... sayang sekali jika kemampuan otakmu yang luar biasa itu tidak bisa lagi digunakan. Aku benar-benar sedih karena harus kehilangan pesaing beratku selamanya.”

Ishigami menutup mulut rapat-rapat dan menatap ke bawah. Seakania tengah menahan sesuatu. Laluia berkata pada Kusanagi, "Sepertinya dia sudah selesai bicara. Boleh aku pergi?”

Kusanagi menatap Yukawa. Yang ditatap mengangguk dalam diam. Kusanagi membuka pintu sambil berkata, ” Ayo.” Ishigami yang pertama keluar, disusul Yukawa.

Saat Kusanagi bermaksud membawa Ishigami kembali ke sel tahanan—minus Yukawa—Kishitani muncul dari sudut lorong. Di belakangnya mengikuti seorang wanita.

Yasuko Hanaoka. ”Ada apa?” tanya Kusanagi.

”Eh... Nyonya ini menelepon dan bilang ingin membicarakan sesuatu. Sesuatu... yang sangat penting...”

”?Hanya kau yang mendengarkan keterangannya?”

”Tidak, Komandan juga ikut mendengar.”

Kusanagi menatap Ishigami. Wajah pria itu berubah abu-abu. Matanya yang kemerahan menatap Yasuko. "Kenapa.... kau ada di sini...” bisik Ishigami.

Runtuh sudah ekspresi beku di wajah Yasuko. Air matanya mengalir. Ia maju ke hadapan Ishigami, dan tiba-tiba bersujud. ”Maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf! Kami... kami sama sekali tak menyangka kau rela...” Bahunya berguncang keras.

”Apa maksudmu? Hei... jangan bicara... yang aneh-aneh...” Suara yang meluncur dari mulut Ishigami terdengar seolah ia tengah merapal mantra.

”Kau berharap kami hidup bahagia... itu mustahil. Aku juga bersalah dan siap menanggung hukuman bersamamu, Ishigamisan. Hanya itu yang bisa kulakukan demi kau. Maafkan aku. Maafkan aku.” Yasuko menempelkan kedua telapak tangan ke lantai dan membenturkan kepala.

Sambil memalingkan wajah, Ishigami mundur teratur. Wajahnya dipenuhi penderitaan hebat. Ia mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua tangan sambil berbalik ke arah berlawanan.

”Aaaaaaaaaargh!!!” Ishigami berteriak bagai binatang buas meraung. Teriakan sedih yang berbaur dengan penderitaan dan kekalutan itu mengguncang jiwa semua orang yang mendengarnya.

Beberapa polisi bergegas mendekat untuk meringkus Ishigami.

” Jangan sentuh dia!” cegah Yukawa yang segera menghalangi mereka. ”Biarkan dia menangis...” Dihampirinya Ishigami dari belakang dan diletakkan tangannya di kedua bahu pria itu.

Teriakan Ishigami terus bergema di ruangan. Di telinga Kusanagi, teriakan itu sangat memilukan, seakan jiwa sang pemilik ikut terlepas dari badannya.

Tamat