--> -->

Kesetiaan Mr. X Bab 17

Bab 17

Yukawa berdiri di ambang jendela dan menatap ke luar. Punggungnya mengesankan kekecewaan dan kesepian yang tersembunyi. Kusanagi bisa melihat sesuatu yang mengusik benak Yukawa, selain karena terkejut mengetahui kejahatan yang dilakukan sahabat lamanya.

” Jadi,” gumam Yukawa pelan, "kau percaya pada perkataan Ishigami? Semua kesaksiannya itu...”

”Sebagai polisi, aku tak punya alasan untuk meragukannya,” komentar Kusanagi. "Kami sedang menyelidiki kesaksian itu dari berbagai sisi. Hari ini aku juga sudah mencari informasi di daerah sekitar bilik telepon umum yang letaknya agak jauh dari apartemennya. Dari situlah dia menelepon Yasuko Hanaoka setiap malam. Pemilik toko kelontong yang tinggal di dekat bilik telepon bilang dia pernah melihat orang yang mirip dengan Ishigami. Sepertinya dia masih ingat karena belakangan jarang ada yang menggunakan telepon umum. Menurutnya beberapa kali dia melihat Ishigami sedang menelepon.” Perlahan Yukawa berbalik menghadap Kusanagi. "Justru karena kau polisi, jangan sampai kau mengucapkan sesuatu yang ambigu. Yang kutanyakan adalah apa kau memercayai kesaksiannya, tidak ada urusan dengan prosedur penyidikan.”

Kusanagi mengangguk dan menghela napas. "Jujur saja, aku tidak percaya. Memang tidak ada kontradiksi dalam kesaksiannya, tapi entah mengapa itu belum cukup untuk meyakinkanku. Gampangnya, aku tak bisa membayangkan pria itu melakukan hal seperti itu. Tentu saja mustahil aku mengajukan alasan seperti itu pada atasanku.”

” Karena dia sudah puas bisa menangkap si pelaku tanpa ributribut?”

” Ceritanya akan berbeda jika ada satu hal saja yang meragukan, tapi sayangnya kali ini tidak ada. Semuanya sangat sempurna. Lalu tentang mengapa si pelaku tidak menghapus sidik jari dari sepeda, dia menjawab karena dia tak tahu korban menaiki sepeda itu. Tak ada yang aneh dengan itu. Semua yang dikatakannya benar. Saat ini mereka tak akan menarik penyidikan itu, tak peduli apa yang kukatakan.”

Singkatnya, kau tidak yakin, tapi situasi saat ini memang menempatkan Ishigami sebagai pelaku kejahatan itu?”

”Tolong jangan menyindir. Kau sendiri yang bilang prinsipmu adalah menekankan fakta alih-alih perasaan, bukan? Dasar-dasar seorang ilmuwan adalah memercayai segala hal yang sesuai dengan logika meski bertentangan dengan perasaan. Itu yang selalu kautekankan.”

Yukawa menggeleng pelan, lalu dia duduk menghadap Kusanagi. "Terakhir kali bertemu Ishigami, dia memberiku soal matematika populer P versus NP. Menurut soal itu, mana yang paling mudah: menjawab berdasarkan pemikiran kita sendiri atau memastikan benar-tidaknya jawaban yang berasal dari pihak lain.”

Kusanagi langsung cemberut. ”Itu soal matematika? Kedengarannya lebih mirip filsafat.”

"Dengar. Justru dengan menyerahkan diri dan mengaku, Ishigami telah menyodorkan satu jawaban untuk kalian. Dilihat dari sisi mana pun, jawaban itu memang benar karena seluruh kemampuan otaknya telah dikerahkan untuk merancangnya. Sekali kalian menelannya mentah-mentah, maka kekalahan di pihak kalian. Saat ini dia sedang menantang sekaligus menguji kalian, jadi kalian harus berusaha keras membuktikannya.”

” Justru karena itu kami sedang mengumpulkan bukti dengan berbagai cara.”

”Cara itu hanya bisa digunakan untuk menelusuri metode pembuktiannya. Yang harus kalian lakukan adalah mencari apakah ada jawaban lain. Sekali kalian berpikir tidak ada jawaban selain yang telah ditunjukkan Ishigami, sampai di situ saja pembuktiannya dan kalian akan berkeras itulah satu-satunya jawaban yang benar.”

Kusanagi bisa mendeteksi kegelisahan dalam nada bicara Yukawa yang keras. Jarang sekali sang fisikawan yang biasanya selalu tenang dan sabar bersikap begitu. ”Kau bilang Ishigami berbohong. Artinya bukan dia pelakunya?”

Alis Yukawa berkerut, lalu ia menundukkan kepala. Melihat temannya seperti itu, Kusanagi melanjutkan, "Apa yang membuatmu yakin dengan itu? Aku ingin mendengar analisismu. Atau jangan-jangan kau hanya tak ingin mengakui sahabat lamamu membunuh seseorang?”


Yukawa bangkit dan berjalan ke belakang Kusanagi. ”Yukawa,” panggil Kusanagi. "Kau benar, aku memang tak ingin memercayainya,” kata Yukawa. "Dulu aku pernah bilang Ishigami selalu mendahulukan logika, sementara perasaannya di urutan kedua. Dia sanggup berbuat apa saja selama itu dianggapnya efektif dalam memecahkan masalah. Tapi jika sampai harus membunuh... sulit kubayangkan dia mau membunuh seseorang yang tak ada kaitan dengannya.”

”Hanya itu alasanmu?”

Yukawa berbalik dan mendelik pada Kusanagi. Namun bukannya marah, justru sorot sedih dan menderita yang terpancar dari matanya. "Aku tahu di dunia ini kadang kita harus menerima fakta yang tak ingin kita percayai.”

Dan kau tetap menganggap Ishigami tak bersalah?

Yukawa mengernyitkan wajah dan menggeleng. "Tidak, aku tak akan mengatakan demikian.”

”?Aku paham maksudmu. Kau menganggap Yasuko Hanaoka-ah yang membunuh Togashi dan Ishigami hanya melindunginya, bukan? Tapi semakin jauh penyidikan yang kami lakukan, kemungkinan itu sangat tipis. Banyak petunjuk yang membuktikan Ishigami seorang penguntit, dan sekuat apa pun niatnya melindungi wanita itu, aku tak yakin dia rela berbuat sejauh itu. Memangnya di dunia ini ada orang yang bersedia mengambil alih dosa pembunuhan yang dilakukan orang lain? Yasuko bukan keluarga atau istri Ishigami, bahkan kekasihnya pun bukan. Meski ingin melindunginya dengan membantu menyembunyikan kejahatan Yasuko, dia pasti akan mundur jika ada sesuatu yang tidak beres. Begitulah naluri manusia.”

Yukawamembelalakkan mata, seakan baru menyadari sesuatu. ”Mundur jika ada sesuatu yang tidak beres... Itulah yang akan dilakukan orang biasa, karena melindungi seseorang sampai titik darah penghabisan tugas yang sangat sulit,” gumamnya sambil menerawang jauh. ”Tapi Ishigami yakin dia bukan orang seperti itu. Jadi...”

?Apa?”

”Tidak.” Yukawa menggeleng. "Tidak ada apa-apa.”

”Aku pribadi tidak menganggap dia sebagai pelaku. Tapi selama belum ada fakta baru, aku tak bisa mengubah arah penyidikan.”

Bukannya menjawab, Yukawa malah mengusap-usap wajah. Kemudian ia mengembuskan napas keras-keras. "Dia... itu berarti dia memilih mendekam di penjara?”

”Menurutku wajar, jika terbukti dia telah membunuh.”

”Begitu...” Yukawa menundukkan kepala dan terdiam. Kemudian, masih sambil menunduk, ia berkata, "Maaf, hari ini aku sedikit lelah. Kau pulang saja dulu.”

Ada sesuatu yang janggal pada Yukawa, tapi Kusanagi memilih tidak bertanya. Ia bangkit dari kursi. Ia dapat melihat betapa lelah temannya itu.

Setelah meninggalkan Laboratorium No. 13, Kusanagi sedang menyusuri selasar yang gelap saat seorang mahasiswa muda menaiki tangga. Ia tidak asing lagi dengan mahasiswa kurus dan agak gugup itu. Namanya Tokiwa, mahasiswa pascasarjana yang belajar di bawah bimbingan Yukawa. Dialah yang dulu memberitahu Kusanagi bahwa Yukawa pergi ke Shinozaki saat dosennya itu absen.

Tokiwa juga menyadari kehadiran Kusanagi. la mengangguk kecil untuk memberi salam, lalu hendak melewatinya.

”Maaf,” sapa Kusanagi. Ia tersenyum pada Tokiwa yang kebingungan. "Kalau kau punya waktu, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan.”

Tokiwa melirik arloji dan menjawab, ”Baik, sebentar saja.”

Mereka berdua meninggalkan gedung laboratorium fisika dan masuk ke kafetaria yang sering digunakan mahasiswa Fakultas Sains. Setelah membeli kopi di mesin penjual otomatis, mereka duduk berhadapan.

?Rasanya lebih enak daripada kopi instan di laboratorium kalian,” komentar Kusanagi setelah menyesap kopi dalam gelas kertas. Ia melakukan itu supaya Tokiwa bisa lebih santai.

Tokiwa tertawa, tapi sikapnya masih kaku. Yakin dirinya hanya akan membuang-buang waktu dengan berbasa-basi tentang masalah sehari-hari, Kusanagi memutuskan langsung ke topik utama. ”Ini tentang Asisten Profesor Yukawa,” katanya. "Apakah belakangan ini kau melihat ada sesuatu yang aneh padanya?”

Tokiwa terlihat bimbang. Mungkin caraku bertanya yang salah, pikir Kusanagi. "Maksudku, apakah akhir-akhir ini dia sering menyelidiki sesuatu atau pergi ke suatu tempat yang tak ada hubungannya dengan pekerjaan. Kurang lebih seperti itu.”

Tokiwa menelengkan kepala, tampak berpikir keras.

Kusanagi tersenyum. "Tentu saja bukan berarti dia terlibat sesuatu. Memang agak sulit dijelaskan, tapi kurasa ada yang disembunyikan dan dia tak ingin membuatku resah. Seperti yang mungkin sudah kauketahui, sifatnya memang eksentrik.”

Kusanagi tidak yakin sejauh mana Tokiwa memahami penjelasannya, tapi ekspresi kaku di wajah mahasiswa itu sedikit mencair saat ia mengangguk. Kemungkinan besar ia setuju dengan istilah ”eksentrik” yang digunakan Kusanagi.

”?Aku tidak tahu apa yang sedang dia selidiki, tapi beberapa hari lalu aku melihatnya menelepon perpustakaan,” terang Tokiwa.

"Perpustakaan? Di universitas?”

”Ya, kalau tak salah dia menanyakan apakah mereka menyediakan surat kabar.”

”Surat kabar? Kalau itu pasti perpustakaan punya.” ”Memang, tapi sepertinya yang diinginkan Yukawa-sensei adalah edisi lama.”

”Surat kabar edisi lama...”

”Tapi kurasa bukan edisi yang terlalu lama. Yukawa-sensei bertanya apakah dia bisa membaca seluruh edisi bulan ini di sana.”

”Edisi bulan ini? Apa yang ada dalam edisi itu? Apakah dia sudah membaca semuanya?”

"Dia langsung ke sana begitu tahu perpustakaan masih menyimpannya.”

Kusanagi mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Tokiwa, lalu bangkit sambil membawa gelas yang masih setengah terisi.

Perpustakaan Universitas Teito merupakan gedung kecil berlantai tiga. Semasa masih kuliah, Kusanagi hanya pernah dua-tiga kali mengunjunginya dan ia tak tahu apakah tempat itu pernah direnovasi atau tidak karena gedung itu masih tampak baru.

Kusanagi masuk ke gedung dan segera menghampiri staf wanita di meja tamu. Wajah staf itu terlihat tidak senang saat Kusanagi bertanya tentang Asisten Profesor Manabu Yukawa yang pernah datang mencari surat kabar edisi lama.

Kusanagi terpaksa mengeluarkan lencananya. "Ini bukan soal Yukawa-sensei. Saya hanya ingin tahu artikel apa yang dibacanya waktu itu.” Pertanyaannya tidak wajar, tapi ia tidak tahu cara lain untuk menyampaikannya.

”Dia bilang ingin membaca artikel sepanjang bulan Maret,” jelas staf itu hati-hati.

” Artikel apa tepatnya?”

"Tunggu sebentar.” Staf itu menggumam seperti sedang mencoba mengingat-ingat. "Ah, kalau tidak salah hanya artikel berita lokal.”

” Artikel berita lokal? Di mana saya bisa membacanya?”

Staf itu membawa Kusanagi menuju deretan rak datar. Di sana ada tumpukan surat kabar. Ia menjelaskan edisi tanggal sepuluh Maret juga ada di situ.

”Di sini hanya tersedia edisi bulan lalu, karena edisi yang lebih lama sudah dibuang. Dulu kami pernah menyimpannya, tapi sekarang tidak perlu karena Anda bisa membacanya lewat internet.”

”Yukawa... Yukawa-sensei bilang dia hanya mencari artikel sepanjang bulan Maret?”

”'Ya, tepatnya artikel setelah tanggal sepuluh Maret.”

"Sepuluh Maret?”

”Begitu yang dia bilang.”

”?Bolehkah saya melihat edisi itu?”

”Silakan. Anda bisa memanggil saya setelah selesai.”

Setelah staf itu meninggalkan ruangan, Kusanagi mengeluarkan sebundel surat kabar dan meletakkannya di meja. Ia mulai membaca berita lokal tanggal sepuluh Maret.

Tanggal sepuluh Maret adalah hari terbunuhnya Shinji Togashi. Jelas Yukawa ke perpustakaan waktu itu untuk menyelidikinya, tapi apa yang ditemukannya dari surat kabar ini?

Kusanagi mencari-cari artikel yang memuat kasus Togashi. Artikel pertama muncul di edisi sore bertanggal sebelas Maret, sementara artikel tentang terungkapnya identitas mayat ada di edisi pagi tanggal dua belas. Namun setelah itu tidak ada lagi artikel serupa. Satu-satunya artikel yang masih berkaitan adalah berita Ishigami menyerahkan diri ke polisi.

Apa yang menarik perhatian Yukawa dari semua artikel ini? Kusanagi membaca artikel itu berulang kali, tetapi tidak menemukan sesuatu yang istimewa. Jelas Yukawa bisa memperoleh informasi yang lebih lengkap dari Kusanagi, tidak perlu sampai harus membaca artikel ini.

Kusanagi melipat lengan. Selama ini ia tidak pernah menganggap Yukawa tipe orang yang menyelidiki kasus hanya dengan mengandalkan artikel surat kabar. Pada masa di mana kasus pembunuhan nyaris terjadi setiap hari, jarang ada surat kabar yang konsisten menyoroti kasus tertentu kecuali jika ada terobosan besar. Kasus pembunuhan Togashi bukan tipe kasus yang sensasional. Yukawa pasti tahu itu.

Tapi Yukawa tidak pernah melakukan sesuatu tanpa maksud tertentu...

Seperti yang sudah dikatakan pada sahabatnya, Kusanagi merasa tidak yakin Ishigami-lah pelaku kejahatan itu. Ia tak bisa menyingkirkan perasaan gelisah bahwa ia dan rekan-rekannya mengambil rute penyidikan yang salah. Ia juga yakin Yukawa tahu betul kesalahan itu, apalagi Yukawa sudah beberapa kali membantu Kusanagi dan kepolisian, dan pasti bisa memberi petunjuk berharga. Namun mengapa sampai sekarang Yukawa belum mengatakan apa-apa?

Kusanagi membereskan tumpukan surat kabar dan memanggil staf wanita tadi.

Staf itu bertanya dengan gelisah, "Anda berhasil menemukan sesuatu?”

”Begitulah...” Kusanagi sengaja membiarkan jawabannya mengambang.

Ketika Kusanagi hendak meninggalkan gedung perpustakaan, staf wanita itu berkata, ”Yukawa-sensei juga mencari sesuatu di surat kabar prefektur.” ”Eh?” Kusanagi memutar tubuh. ”Surat kabar prefektur?”

"Ya, dia bertanya apakah kami juga memiliki surat kabar Prefektur Chiba dan Saitama. Saya jawab tidak.”

”'Apa ada hal lain yang ditanyakannya?”

"Tidak ada, itu saja.”

”Chiba dan Saitama...”

Kusanagi meninggalkan gedung perpustakaan dengan kesal. la sama sekali tidak memahami jalan pikiran Yukawa. Mengapa Yukawa menganggap surat kabar prefektur begitu penting? Atau ia sengaja membuatku memikirkannya, padahal kenyataannya surat kabar prefektur tidak berhubungan dengan kasus itu sama sekali?

Sambil berpikir keras, Kusanagi kembali ke tempat parkir. Hari ini ia memang datang dengan mobil. Namun ketika ia sudah di mobil dan bersiap menyalakan mesin, Manabu Yukawa muncul dari gedung kampus. Kali ini ia tidak mengenakan jas putih, melainkan jaket biru tua. Tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya, Yukawa berjalan lurus menuju gerbang samping dengan ekspresi serius.

Begitu melihat Yukawa meninggalkan gerbang dan berbelok ke kiri, Kusanagi menjalankan mobil. Tidak jauh dari gerbang kampus, Yukawa mencegat taksi. Begitu taksi melaju, Kusanagi mengikutinya.

Karena masih melajang, sebagian besar hari-hari Yukawa selalu dihabiskan di kampus. Alasannya jarang pulang adalah karena ia menganggap membaca dan berolahraga lebih praktis dilakukan di kampus, begitu juga makan.

Kusanagi melihat arlojinya yang menunjukkan pukul lima kurang. Tidak mungkin Yukawa pulang saat masih sore. Sambil mengikuti taksi yang ditumpangi temannya, Kusanagi mencatat nama perusahaan dan nomor taksi. Dengan begitu, meski ada risiko taksi itu lolos dari pandangannya di tengah jalan, ia bisa memeriksa di mana Yukawa turun.

Taksi itu menuju timur. Kondisi jalan agak padat. Meski dibatasi beberapa mobil di depannya, mobil Kusanagi untungnya tidak ketinggalan gara-gara lampu lalu lintas atau semacamnya. Kemudian taksi melewati Shinbashi dan tidak lama kemudian berhenti menjelang jalur penyeberangan Sungai Sumida, tepatnya di sisi Shin-Ohashi. Apartemen Ishigami tidak jauh dari sana.

Kusanagi menepikan mobil dan mengawasi keadaan sekitar. Yukawa sedang menuruni tangga di sisi Shin-Ohashi. Kelihatannya ia tidak berniat pergi ke apartemen. Kusanagi memperhatikan sekelilingnya, mencari tempat ia bisa memarkir mobil. Untung tempat di depan meteran parkir kosong. Ia memarkir mobil di situ dan bergegas mengikuti Yukawa.

Yukawa berjalan perlahan menuju hilir Sungai Sumida. Langkahnya begitu santai, seakan tidak ada keperluan mendesak. Sesekali ia mengamati para tunawisma di daerah itu, tapi tidak sekali pun berhenti berjalan. Ia baru berhenti setelah sampai di area yang kosong dari rumah tunawisma, lalu mengistirahatkan lengan di pagar pembatas sungai. Lalu tiba-tiba saja ia melihat Kusanagi.

Kusanagi sedikit terkejut, tapi tidak dengan Yukawa. Ia malah tersenyum tipis seolah mengisyaratkan ia sudah tahu Kusanagi mengikutinya sejak tadi.

Kusanagi mendekati Yukawa dengan langkah lebar. "Jadi kau sudah tahu?”

”Mobilmu terlalu menarik perhatian,” kata Yukawa. ”Akhirakhir ini aku jarang melihat mobil Skyline tua seperti milikmu.”

”Kau sengaja turun di sini karena tahu aku mengikutimu atau

memang sejak awal kau ingin ke sini?” "Keduanya benar, tapi ada sedikit perbedaan. Tujuanku sebenarnya masih di depan sana, tapi karena ingin mengajakmu ke sini, kuputuskan untuk sedikit mengubah rute.”

” Kenapa kau ingin mengajakku ke sini?” Kusanagi memandang sekeliling.

”Di sinilah terakhir kali aku mengobrol dengan Ishigami. Saat itu aku bilang tak ada roda gigi yang tak bermanfaat di dunia ini. Dan yang bisa menentukan bagaimana dirinya akan digunakan hanya si roda gigi itu sendiri.”

"Roda gigi?”

”Aku juga mencoba melontarkan pertanyaan yang berkaitan dengan kasus ini, hanya saja saat itu dia tidak mau menjawab. Namun jawaban itu akhirnya muncul setelah kami berpisah. Yaitu dengan menyerahkan dirinya ke polisi.”

”Kalau dari ceritamu, sepertinya dia menyerahkan diri atas kemauannya sendiri.”

?Hmmm, benarkah atas kemauannya sendiri? Yah, bisa jadi begitu, dalam arti tertentu. Dia merasa belum saatnya mengeluarkan kartu as yang sudah disiapkannya dengan cermat.”

”Apa yang kaubicarakan dengan Ishigami?”

”Sudah kubilang, kami membahas soal roda gigi.”

“Setelah itu kau memberondongnya dengan pertanyaan, bukan? Itu yang ingin kuketahui.”

Senyum muram membayang tipis di wajah Yukawa saat kepalanya bergerak maju-mundur. ”Itu tidak penting.”

”Tidak penting?”

"Topik tentang roda gigi itulah yang mendorong Ishigami memutuskan menyerahkan diri.”

Kusanagi menghela napas panjang. "Untuk apa kau memeriksa surat kabar di perpustakaan?” ”Pasti Tokiwa yang memberitahumu. Rupanya kau sudah mulai mengawasi gerak-gerikku, ya?”

”Akuterpaksa melakukannya karena kau takmaumenceritakan apapun.”

"Oh, aku tidak marah. Lagi pula itu sudah pekerjaanmu, termasuk memeriksaku.”

Kusanagi menatap Yukawa, lalu menundukkan kepala. ” Kumohon, Yukawa. Hentikan permainan ini. Kau pasti mengetahui sesuatu, bukan? Jelaskan padaku. Kau yakin Ishigami bukan pelakunya, maka kau menganggap tidak masuk akal jika dia yang harus menanggung kejahatan itu. Kau tak ingin sahabat lamamu dituduh sebagai pembunuh.”

”Angkat wajahmu.”

Kusanagi menatap Yukawa dan terperanjat. Wajah sang fisikawan seakan digerogoti kepedihan. Yukawa menekan dahi dengan tangan, lalu perlahan memejamkan mata.

”Tentu saja aku tak ingin dia didakwa sebagai pembunuh. Tapi, tak ada lagi yang bisa kulakukan. Entah apa yang mendorongnya berbuat seperti itu...”

”Sebenarnya apa yang membuatmu menderita? Bukankah kita berteman? Kenapa kau tak mau menceritakannya padaku?”

Yukawa membuka mata dan berkata tegas, "Kau memang temanku, tapi kau juga polisi!”

Kusanagi kehilangan kata-kata. Setelah sekian lama berteman denganYukawa, barukaliiniia merasakan dindingyangmembatasi mereka. Statusnya sebagai polisi tidak memungkinkannya untuk menanyakan apa sebenarnya yang membuat sahabatnya begitu menderita.

”Akuakan pergi ke apartemen Yasuko Hanaoka,” kata Yukawa. ”Mau ikut?” ”'Kau yakin?”

”Ya, tapi tolong jangan menginterupsi pembicaraan kami.”

” Baik.”

Yukawa berbalik dan mulai berjalan, diikuti Kusanagi. Rupanya tujuan Kusanagi sejak awal adalah Benten-tei. Walau ingin sekali mengetahui apa yang akan dibicarakan Yukawa dengan Hanaokasan, Kusanagi memilih diam dan terus berjalan. Setibanya di Jembatan Kiyosu, Yukawa menaiki tangga dan menunggu Kusanagi.

"Di situ ada gedung perkantoran.” Yukawa menunjuk gedung di sebelah jembatan. "Pintu masuknya terbuat dari kaca. Kau bisa melihatnya?”

Kusanagi menoleh ke arah yang ditunjuk Yukawa. Bayangan mereka terpantul di pintu kaca.

”Ya. Lalu kenapa?”

”?Sehari setelah pembunuhan itu, aku bertemu Ishigami di sini dan bayangan kami juga terpantul di pintu itu. Waktu itu aku tidak sadar sampai dia yang memberitahukannya. Saat itu, aku sama sekali tidak mempertimbangkan kemungkinan dia terlibat, mungkin karena saking senangnya bisa bertemu lagi dengan rival lama.”

"Dan kau curiga padanya hanya karena melihat bayangan kalian di kaca?”

”Dia bilang mengapa sampai sekarang aku masih terlihat muda, bahkan sampai mengomentari rambutku yang masih tebal sambil membandingkannya dengan rambutnya sendiri. Jelas aku sangat kaget, karena Ishigami bukan tipe pria yang sangat memperhatikan penampilan fisik. Sejak dulu dia berpegang teguh pada prinsip bahwa nilai seseorang tidak ditentukan lewat penampilan fisik dan dia tak akan memilih jalan hidup seperti itu. Lalu mengapa sekarang dia tiba-tiba begitu peduli? Di usianya sekarang, wajar bila rambutnya mulai menipis. Melihatnya begitu memikirkan masalah fisik, aku sadar dia sedang jatuh cinta. Kalau tidak, untuk apa dia menyinggung soal penampilannya di tempat seperti itu?”

Kusanagi langsung memahami maksud Yukawa. la berkata, ”Karena tak lama lagi dia akan bertemu dengan wanita pujaannya?”

Yukawa mengangguk. ”Aku juga berpikir demikian. Aku lantas menduga jangan-jangan wanita di kedai bento yang tinggal di sebelahnya, yang mantan suaminya terbunuh itu, adalah wanita yang dicintainya. Tapi itu menyisakan satu pertanyaan besar, yaitu posisi Ishigami dalam kasus ini. Seharusnya dia hanya bertindak sebagai pengamat, walau tentu saja mau tak mau hal itu akan mengganggunya. Jika itu benar, berarti aku yang terlalu jauh berpikir dia jatuh cinta pada wanita itu. Karena itulah aku mengajaknya ke kedai bento, berharap bisa mengetahui sesuatu dari sikapnya di sana. Ternyata saat kami di sana, muncul seseorang yang tak terduga. Pria kenalan Yasuko Hanaoka.”

”Namanya Kudo,” kata Kusanagi. "Saat ini dia menjalin hubungan dengan Yasuko.”

"Sepertinya begitu. Dan wajah Ishigami saat melihat pria itu mengobrol dengan Yasuko...” Yukawa mengerutkan alis dan menggeleng. "Saat itulah aku yakin. Ishigami memang mencintai wanita itu. Kecemburuan terlihat jelas di wajahnya.”

”Tapi dengan begitu muncul lagi satu pertanyaan.”

”Kau benar. Hanya ada satu penjelasan untuk inkonsistensi itu.”

”Dari situkah kau mulai mencurigai keterlibatan Ishigami?” Kusanagi menatap pintu kaca gedung di depan mereka. "Kau membuatku ngeri, Yukawa. Jadi rasa sakit hati itulah yang membuatnya bertindak fatal?”

”Setelah sekian tahun, aku masih ingat karakternya yang keras. Jika tidak, mungkin aku juga tak akan menyadarinya.”

”Itu berarti dia sedang sial.” Kusanagi mulai mengarah kejalan, tapi langsung berhenti begitu sadar Yukawa tidak mengikutinya. ”Tidak jadi ke Benten-tei?”

Yukawa menatap ke bawah dan mendekati Kusanagi. "Aku tahu ini keterlaluan, tapi bersediakah kau melakukan sesuatu untukku?”

Kusanagi tertawa masam. "Tergantung apa permintaanmu.”

”? Kumohon kau bisa mendengarkan ceritaku sebagai teman, bukan sebagai polisi. Bisakah?”

” Apa maksudmu?”

”Ada yang ingin kusampaikan, tapi aku ingin membicarakannya dengan teman, bukan dengan polisi. Kau sama sekali tak boleh menceritakannya pada orang lain, baik itu pada atasan, rekan, atau keluarga. Janji?” Sepasang mata di balik kacamata itu terlihat begitu mendesak, seolah Kusanagi ditekan untuk mengambil keputusan pada detik terakhir.

Kusanagi ingin sekali mengatakan itu tergantung pada apa yang diminta Yukawa, tetapi ia menelan kembali kata-kata itu. Ia yakin jika ia menolak, kelak Yukawa tak akan lagi menganggapnya sahabat.

”Baiklah,” kata Kusanagi. ”Aku janji.”