--> -->

Kesetiaan Mr. X Bab 16

Bab 16

Ishigami menatap Kusanagi dengan ekspresi kosong. Sorot matanya menerawang jauh, seakan tidak fokus pada apa yang dilihatnya. Seakan hanya kebetulan Kusanagi duduk di hadapannya. Cara itu memang selalu berhasil membantunya menyembunyikan perasaan.

”Aku pertama kali melihat pria itu tanggal sepuluh Maret,” Ishigami mulai bercerita dengan nada datar. "Sepulang mengajar, aku melihatnya mondar-mandir di dekat apartemen. Sepertinya dia ada perlu dengan Hanaoka-san karena aku melihatnya mencari-cari sesuatu di kotak pos mereka.”

”Yang kaumaksud dengan 'dia' adalah...”

”Togashi. Tentu saja saat itu aku tidak tahu siapa namanya.” Ujung mulut Ishigami berkedut pelan.

Hanya Kusanagi dan Kishitani di ruang interogasi, sementara Mamiya merekam percakapan mereka dari ruangan sebelah. Ishigami menolak berbicara dengan polisi lain dengan alasan tidak bisa memberi penjelasan dengan runut jika ditanyai petugas yang berbeda-beda. ”Karena penasaran, akhirnya aku menyapanya. Pria itu buruburu menjelaskan dia ada perlu dengan Yasuko Hanaoka-san, dan bahwa dia suaminya yang tinggal terpisah. Tentu aku tahu itu bohong, tapi aku pura-pura percaya supaya dia lengah.”

”Tunggu sebentar, mengapa kau tahu dia berbohong?” tanya Kusanagi.

Ishigami menarik napas. "Karena aku tahu semua tentang Hanaoka-san. Juga bahwa meski dia sudah bercerai, mantan suaminya masih saja merepotkannya hingga dia harus melarikan diri.”

”Aku heran kau bisa tahu banyak. Yang kudengar, kau jarang mengobrol dengan Hanaoka-san dan interaksi kalian hanya saat kau rutin datang ke kedai bent6 tempatnya bekerja.”

”Resminya memang begitu.”

”?Maksudmu?”

Ishigami meluruskan punggung dan membusungkan dada. ”Aku pengawal pribadi Hanaoka-san yang bertugas melindunginya dari pria-pria berniat buruk. Tapi karena dia tak ingin hal ini diketahui masyarakat, akhirnya aku menyamar sebagai guru SMA.”

”Jadi itulah mengapa saat pertama kali aku datang, kau mengaku nyaris tidak mengenalnya?”

Ishigami menghela napas mendengar pertanyaan Kusanagi.

”Waktu itu tujuanmu adalah meminta keterangan tentang terbunuhnya Togashi, bukan? Tentu aku tak bisa menceritakannya karena kau pasti akan langsung mencurigaiku.”

”Begitu.” Kusanagi mengangguk paham. ”Nah, barusan kau bilang sebagai pengawal pribadi Hanaoka-san, kau tahu banyak tentang dirinya.”

”Betul.”

”Artinya sejak dulu kau menjalin hubungan rahasia dengannya?”

”Ya. Tidak ada yang tahu kami bersahabat, termasuk putrinya sendiri. Selama ini kami juga selalu berkomunikasi dengan sangat hati-hati supaya anak itu tidak tahu.”

”Bagaimana caranya?”

"Banyak, tapi haruskah itu dibahas sekarang?” Tatapan Ishigami terlihat waswas.

Ada yang aneh, pikir Kusanagi. Cerita yang disodorkan Ishigami mengenai hubungan rahasianya dengan Yasuko Hanaoka terkesan mendadak dan meragukan. Namun yang penting bagi Kusanagi saat ini adalah segera mengetahui apa yang terjadi. "Soal itu bisa kita bicarakan nanti. Tolong ceritakan lebih detail percakapanmu dengan Togashi. Jadi kau berpura-pura percaya dia suami Hanaoka-san?”

”Dia ingin tahu di mana Hanaoka-san. Kubilang dia sudah tidak tinggal di apartemen itu karena urusan pekerjaan yang mengharuskannya pindah rumah. Dia sangat terkejut dan bertanya apakah aku tahu alamat barunya. Kujawab ya.”

”Kau jawab apa?”

Ishigami menyeringai. ”Shinozaki. Kujelaskan sekarang mereka tinggal di apartemen dekat Sungai Kyuu-Edo.”

Akhirnya dia menyebut-nyebut daerah Shinozaki, batin Kusanagi. "Tapi informasi itu saja pasti belum cukup.”

”Tentu saja dia ingin tahu alamat lengkapnya. Aku masuk ke kamar dan menuliskan alamat sambil melihat peta. Lokasinya di sekitar pabrik pembuangan limbah. Kau tak bisa membayangkan betapa senangnya dia saat aku menyerahkan catatan itu. Dia bahkan sampai mengucapkan terima kasih.”

”Mengapa kau memilih tempat itu?”

”Karena aku ingin dia datang ke tempat yang relatif tidak dikenal orang. Kebetulan aku juga sangat mengenal daerah di sekitar pabrik itu.”

"Sebentar, jadi kau sudah memutuskan akan membunuh Togashi begitu bertemu dengannya?” tanya Kusanagi sambil menatap lekat-lekat wajah Ishigami. Jelas ia sangat terkejut.

”Tentu saja.” jawab Ishigami datar. "Sebagai pelindung Hanaoka-san, sudah tugasku untuk segera menyingkirkan pria yang selama ini membuatnya menderita.”

”Dan kau yakin dengan cerita itu?”

”Bukan hanya yakin, tapi aku memang tahu. Hanaoka-san tinggal di sebelahku karena dia ingin melarikan diri dari pria itu.”

”Hanaoka-san sendiri yang menceritakannya padamu?”

”Ya, dia memberitahuku dengan metode komunikasi khusus.”

Ucapan Ishigami mengalir lancar. Jelas ia sudah mengatur semua di benaknya sebelum muncul di kantor polisi. Namun ada banyak ketidakwajaran dalam ceritanya, setidaknya begitulah yang dirasakan Kusanagi dari Ishigami yang selama ini ditemuinya.

Sekarangyang paling pentingadalahmendengarkankelanjutan ceritanya. "Kau menyerahkan kertas alamat, lalu?”

”Dia bertanya apakah aku juga tahu alamat tempat kerja Hanaoka-san. Kujawab tidak tahu persis, tapi setahuku dia bekerja di bar. Biasanya dia akan bekerja sampai pukul 22.00 lalu pulang bersama putrinya yang juga menunggu di sana. Tentu semua itu hanya rekaanku.”

”Alasanmu membohonginya?”

?Supaya bisa membatasi gerak-geriknya. Meski tempat yang didatanginya terbilang sepi, akan sangat merepotkan kalau aku bertindak terlalu dini. Aku juga yakin jika dia tahu istrinya bekerja sampai malam dan putrinya belum pulang, dia tak akan mendatangi apartemen mereka.”

”Maaf,” potong Kusanagi sambil mengangkat tangan. "Semua itu kaurencanakan dalam sekejap?”

”Betul. Ada yang aneh?”

"Tidak... aku hanya terkesan melihatmu merencanakannya dalam waktu sangat singkat.”

”Itu bukan hal penting.” Wajah Ishigami kembali serius. "Aku hanya mempersiapkan diri karena tak bisa mencegah Togashi menemui Hanaoka-san. Bukan hal sulit.”

”Mungkin bagimu demikian,” kata Kusanagi yang kemudian menjilat bibir. "Setelah itu?”

”?Aku memberikan nomor telepon genggamku dengan pesan untuk menghubungiku jika dia tak berhasil menemukan apartemen mereka. Biasanya orang akan merasa aneh saat orang lain bersikap begitu penuh perhatian, tapi dalam kasus Togashi, sedikit pun dia tidak curiga.”

”Karena tak seorang pun berpikir ingin membunuh seseorang yang baru pertama kali ditemuinya.”

”Justru seharusnya dia merasa aneh karena itu pertama kali kami bertemu. Setelah memasukkan kertas itu ke sakunya, dia lantas meninggalkan gedung apartemen dengan langkah ringan. Begitu dia pergi, aku masuk ke kamar dan mulai mempersiapkan semuanya.” Ishigami mengulurkan tangan untuk mengambil cangkir teh. Ia meminum teh itu dengan nikmat.

”?Apa saja persiapan itu?” Kali ini Kusanagi yang lebih dulu bicara.

”Sederhana sekali. Aku berpakaian ringkas, lalu tinggal menunggu hingga waktu yang ditentukan. Sambil menunggu aku sibuk memikirkan bagaimana aku harus membunuh pria itu. Kuputuskan memilih metode pencekikan karena hasilnya sudah pasti. Jujur aku tak yakin bisa menghabisinya dalam satu serangan, belum lagi pasti banyak darah yang mengalir jika aku menikam atau memukulinya. Sedangkan dalam pencekikan, senjata yang digunakan sangat sederhana asal kokoh. Aku memakai kabel kotatsu.”

”Mengapa harus kotatsu? Banyak kabel lain yang sama kokohnya.”

”Sempat terpikir olehku untuk memakai dasi atau tali pengikat bungkusan, tapi rupanya keduanya sangat licin dan ada kemungkinan melar. Kabel kotatsu pilihan terbaik.”

”Dan kau membawanya ke TKP?”

Ishigami mengangguk. "Aku meninggalkan apartemen pukul 22.00. Selain senjata, aku juga membawa pisau serbaguna dan pemantik sekali pakai. Sesampainya di seberang stasiun, aku menemukan plastik biru di tempat sampah untuk membungkus semua alat itu. Kemudian aku naik kereta sampai Stasiun Mizue dan melanjutkan perjalanan menuju Kyuu-Edo dengan taksi.”

”Stasiun Mizue? Bukan Shinozaki?”

”Karena aku khawatir akan berpapasan dengan pria itu jika turun di Shinozaki,” jelas Ishigami gamblang. "Bahkan tempat aku turun dari taksi pun masih cukup jauh dari lokasi yang kujelaskan pada Togashi. Aku harus berhati-hati jangan sampai bertemu dengannya sebelum waktu yang ditentukan.”

”Lalu setelah kau turun dari taksi?”

”Aku berjalan menuju tempat dia akan muncul, tentu saja sambil berusaha tidak menarik perhatian orang. Yah, sebenarnya tidak perlu sampai seperti itu karena tak ada orang lain yang berjalansendirian di sekitar situ. Tak lama setelah akutiba, telepon genggamku berbunyi. Dari lelaki itu. Dia bilang sudah sampai tapi bingung karena tidak melihat ada gedung apartemen. Aku tanya di mana dia sekarang, dan dia jawab masih di sekitar tempat itu. Rupanya dia tidak sadar aku ada di dekatnya. Sebelum menutup telepon, kusuruh dia mengecek lagi alamatnya dan menunggu. Saat itu juga aku berhasil menemukannya. Dia sedang duduk di rerumputan dekat tanggul. Aku mendekatinya diam-diam. Dia baru menyadari kehadiran orang lain saat aku berada tepat di belakangnya, tapi saat itu aku sudah mengalungkan kabel kotatsu di lehernya. Dia sempat memberontak, tapi aku menarik kabel itu kuat-kuat sampai akhirnya tubuhnya lemas. Mudah sekali.” Tatapan Ishigarni jatuh ke cangkir teh. "Boleh aku minta tambah?”

Kishitani bangkit dan menuangkan teh. Ishigami mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.

”Mengingat korban yang baru berumur empat puluhan dan berfisik prima, kurasa tak semudah itu kau mencekiknya,” komentar Kusanagi.

Wajah Ishigami tetap datar, hanyamatanyayangagakmenyipit. ”Aku penasihat klub judo. Serangan dari belakang sangat ampuh melumpuhkan pria yang tubuhnya sedikit lebih besar dari kita.”

Kusanagi mengangguk, lalu mengamati telinga Ishigami. Bentuknya menyerupai kembang kol—sesuatu yang dianggap kehormatan bagi para judoka. Di kepolisian pun banyak opsir yang memiliki bentuk telinga serupa. Ia kembali bertanya, "Apa yang kaulakukan setelah membunuhnya?”

”Jelas menyembunyikan identitas mayatnya karena aku khawatir ada yang akan menghubungkannya dengan Hanaokasan. Pertama-tama, aku melucuti pakaiannya dengan pisau serbaguna, lalu kurusak wajahnya.” terang Ishigami datar. "Aku menutupi wajahnya dengan plastik biru, mengambil batu besar, dan menghantamnya beberapa kali. Aku tak ingat berapa kali tepatnya, mungkin sepuluh kali? Kemudian kubakar jemarinya dengan pemantik untuk menghilangkan sidik jari. Setelah selesai, aku meninggalkan tempat itu sambil membawa semua pakaiannya. Tidak jauh dari situ ada gentong sake. Aku memasukkan semua baju itu ke dalamnya dan membakarnya. Di luar perhitunganku, apinya sangat besar sehingga aku langsung pergi karena khawatir orang lain akan mengetahuinya. Aku berjalan sampai halte bus dan dari sana naik taksi ke Stasiun Tokyo, lalu berganti taksi untuk pulang. Kalau tak salah aku tiba di sana pukul 00.00 lebih sedikit.” Ishigami mengembuskan napas keras-keras setelah selesai bicara. Itulah yang kulakukan. Kabel kotatsu, pisau serbaguna, dan pemantik ada di apartemanku.”

Sambil melirik Kishitani yang sedang merekam poin-poin penting percakapan barusan, Kusanagi menyelipkan sebatang rokok. Disulutnya rokok itu, lalu ia mengembuskan asapnya sebelum kembali menatap wajah Ishigarni. Tatapan pria itu sama sekali tidak menyiratkan perasaan apa-apa.

Tidak ada yang perlu diragukan dari cerita Ishigami. Kondisi TKP dan mayat pun sesuai dengan detail di tangan polisi. Tidak mungkin ia hanya mereka-reka karena sebagian besar detail itu belumpernah diumumkan pada masyarakat. ”Setelahmembunuh Togashi, apakah kau menceritakannya pada Hanaoka-san?”

”Tidak,” jawab Ishigami. "Aku khawatir dia akan menceritakannya pada orang lain. Kau tahu wanita sulit menjaga rahasia.”

”Dan kau tak pernah membahas kasus itu dengannya?”

”Tentu tidak. Aku tak ingin kalian, para polisi, sampai mengetahui kaitan Hanaoka-san dengan kasus ini. Sebisa mungkin aku ingin mencegah kalian mengadakan kontak dengannya.”

"Kau sempat menyinggung metode khusus untuk berkomunikasi dengan Hanaoka-san supaya tak diketahui orang lain. Seperti apa metode itu?”

”Ada beberapa, salah satunya dia tinggal berbicara supaya aku mendengar.”

” Apakah kalian bertemu di suatu tempat?”

”Tidak. Kami tak ingin bertemu di tempat umum. Dia cukup berbicara di apartemennya sendiri dan aku bisa mendengarnya dengan bantuan alat.”

”Alat?”

”Aku memakai mikrofon yang dipasang di dinding kamarku menuju kamar mereka.”

Kishitani mengangkat wajah dan mengacungkan tangan tanda interupsi. Kusanagi tahu rekannya ingin mengatakan sesuatu.

”Itu namanya menguping,” kata Kishitani.

Ishigami mengerutkan alis seolah keheranan, lalu menggeleng. ”Aku tidak menguping. Aku hanya menyimak permintaannya.”

” Jadi dia tahu keberadaan alat itu?”

”Mungkin tidak, tapi dia selalu bicara sambil menghadap dinding kamarku.”

”Sama dengan mengobrol?”

”Betul. Tapi dia tidak bisa bicara terang-terangan jika putrinya ada di sana. Makanya dia berpura-pura mengajak anak itu mengobrol, padahal dia sedang mengirimkan pesan untukku.”

Rokok di jari Kusanagi terbakar setengah. Dijatuhkannya rokok itu ke asbak, lalu ia bertukar pandang dengan Kishitani. Juniornya terlihat kebingungan.

”Apakah Hanaoka-san memberitahu kapan dia berpura-pura mengobrol dengan putrinya padahal kaulah yang dituju?”

”Dia tak perlu mengatakannya karena aku paham dengan sendirinya. Aku tahu segalanya tentang dia.” Ishigami mengangguk.

”Berarti kau sendiri yang mengambil kesimpulan, bukan berdasarkan ucapan wanita itu.”

”Itu tidak benar.” Wajah datar Ishigami perlahan mulai berwarna. "Aku tahu tentang penderitaan yang disebabkan ulah mantan suaminya justru dengan cara seperti itu. Untuk apa dia membahas hal itu berulang kali dengan putrinya kalau bukan karena ingin aku mendengarnya? Jelas dia ingin meminta bantuanku.”

Kusanagi memadamkan rokok dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi digerakkannya seperti hendak menenangkan Ishigami. ”Cara lainnya?”

”Lewat telepon. Aku meneleponnya setiap malam.”

”Ke rumahnya?”

”Ke nomor telepon genggam. Sebenarnya kurang tepat kalau disebut berbicara karena aku hanya membunyikan nada panggil. Jika ada urusan mendesak, baru aku meneleponnya langsung. Setelah membunyikan nada panggil lima kali, aku memutuskan sambungan telepon. Kami berdua sepakat memakai cara itu.”

”” Kami berdua?? Jadi dia juga mengetahui itu?”

”Betul. Kami sudah pernah membicarakannya.”

”Kami akan mengeceknya langsung dengan Hanaoka-san.”

Ishigami mengangkat dagu dan bicara dengan nada penuh keyakinan, "Silakan. Kalian akan menemukan semua perkataanku benar.”

” Kami akan memintamu mengulangi cerita barusan beberapa kali untuk keperluan pernyataan resmi.”

”Terserah kalian. Aku tak keberatan.”

"Sekarang kita menuju poin terakhir,” kata Kusanagi sambil melipat tangan di meja.” "Mengapa kau menyerahkan diri?”

Ishigami menghela napas. "Jadi menurutmu lebih baik aku tidak melakukannya?”

”Bukan itu pertanyaannya. Pasti ada alasan dan pemicu yang membuatmu muncul. Itu yang ingin kuketahui.”

Ishigami mendengus. "Kurasa itu tidak ada kaitannya dengan tugasmu. Bukankah lebih baik jika si pelaku menyerahkan diri atas kesadarannya sendiri? Apa masih perlu alasan lain?”

"Karena aku tidak yakin kau datang atas kesadaran sendiri.”

”Kalau kau menganggap karena rasa bersalah, itu kurang tepat. Satu hal yang pasti, aku menyesali perbuatan itu. Andai dia tidak berkhianat, aku tak akan sampai membunuh.”

”Berkhianat?”

”Wanita itu... maksudku Hanaoka-san.” Ishigami sedikit mengangkat dagu dan melanjutkan. "Aku sudah membantu menyingkirkan mantan suaminya, tapi dia mengkhianatiku dan malah menjalin hubungan dengan pria lain. Kalau saja dia tidak berkeluh kesah tentang pria itu, aku tak akan sudi membantunya. Dulu dia pernah bilang ingin sekali membunuh mantan suaminya dan akhirnya aku yang melakukannya. Bisa dibilang dia juga terlibat. Polisi harus menangkapnya.”

Polisi menggeledah apartemen Ishigami untuk menyelidiki kebenaran ceritanya. Sementara itu, Kusanagi dan Kishitani berniat menemui Yasuko Hanaoka yang saat itu sudah pulang kerja. Misato juga ada, tapi seorang petugas membawanya ke luar ruangan. Bukan karena mereka khawatir anak itu akan mendengar detail-detail mengerikan, tapi karena ia juga akan dimintai keterangan.

Begitu mendengar Ishigami menyerahkan diri, Yasuko terkesiap. Matanya terbelalak dan ia tidak bisa berkata apa-apa.

” Anda tidak menduganya?” tanya Kusanagi sambil mengamati Yasuko dengan cermat. Yasuko menggeleng sebelum akhirnya bisa membuka mulut. ”Anda benar. Tapi mengapa dia sampai harus membunuh Togashi...”

”Anda tidak bisa menduga motifnya?”

Ekspresi bingung dan segan berbaur di wajah Yasuko. Jelas ada sesuatu yang tak ingin diutarakannya.

”Menurut Ishigami, dia melakukan pembunuhan itu demi Anda.”

Yasuko mengerutkan alis, lalu menghela napas sedih.

” Jadi Anda sudah tahu,” kata Kusanagi lagi.

Yasuko mengangguk kecil. "Saya tahu Ishigami menaruh hati pada saya. Tapi saya sama sekali tak menduga dia akan berbuat sejauh itu...”

”Anda sering mengontaknya?”

Saya?” Kini wajah Yasuko berubah keras. "Saya tak pernah melakukannya.”

Saya dengar hampir setiap malam dia menelepon Anda.” Kusanagi lantas menceritakan keterangan Ishigami.

Wajah Yasuko terlihat masam. ”Jadi dialah si penelepon itu.”

”Anda tidak tahu?”

”Saya sempat bertanya-tanya, tapi tak pernah memastikannya. Si penelepon juga tidak menyebutkan nama.”

Menurut Yasuko, telepon pertama datang sekitar tiga bulan lalu. Si penelepon tidak menyebutkan nama dan langsung berceloteh tentang kehidupan pribadi Yasuko. Semua yang dibicarakannya hanya bisa diketahui seseorang yang terus mengamati tindak tanduk Yasuko sehari-hari. Penguntit, pikir Yasuko ketakutan. latidak tahu siapa pelakunya. Setelah itu telepon serupa beberapa kali muncul, tapi Yasuko tak pernah mengangkatnya. Namun suatu hari, ia tak sengaja mengangkatnya dan pria di ujung telepon mengatakan sesuatu seperti ini: "Aku tahu saking sibuknya, kau tak bisa meneleponku. Begini saja, setiap malam aku akan menelepon. Jika kau ada perlu denganku, angkat. Tunggu sampai sedikitnya ada lima kali nada panggil.”

Yasuko setuju. Sejak saat itu, teleponnya nyaris berdering setiap malam. Sepertinya si penelepon menggunakan telepon umum. Tak sekali pun ia pernah mengangkatnya.

”Apakah Anda mengenali suaranya sebagai suara Ishigami?”

”Tidak, karena kamijarang bertegur sapa. Selain itu, saya hanya satu kali berbicara dengan si penelepon dan sampai sekarang saya tak begitu ingat seperti apa suaranya. Benar-benar sulit dipercaya Ishigami pelakunya, padahal dia guru SMA.”

”Zaman sekarang guru itu bermacam-macam,” kata Kishitani yang berdiri di samping Kusanagi. Kemudian ia menundukkan kepala seakan minta maaf karena menyela percakapan.

Kusanagi ingat detektif juniornya ini selalu membela Yasuko Hanaoka sejak pertama kali menangani kasus ini. Ia pasti lega saat Ishigami menyerahkan diri. "Selain telepon itu, apakah terjadi sesuatu yang lain?” tanyanya.

”Tunggu sebentar.” Yasuko bangkit dari kursi dan mengeluarkan amplop dari laci lemari. Ada tiga amplop, semuanya tanpa nama pengirim dan ditujukan kepada Yasuko Hanaoka. Tidak ada alamat.

ni?”

"Dimasukkan ke kotak pos depan pintu. Sebenarnya ada beberapa benda lain, tapi sudah saya buang. Saya putuskan untuk menyimpan ketiga amplop ini karena dari yang saya lihat di TV, lebih baik barang bukti seperti ini disimpan. Yah, meskipun jujur perasaan saya jadi tidak nyaman.” ”Coba saya lihat,” kata Kusanagi seraya membuka amplop.

Ada sehelai kertas di tiap amplop. Di kertas itu tertera hurufhuruf yang ditulis dengan mesin pencetak. Isi surat itu pendek saja.

Belakangan ini riasan wajahmu terlihat lebih menor. Begitu juga pakaianmu. Sama sekali tidak mencerminkan seorang wanita. Kau lebih cocok tampil sederhana. Dan kenapa kau sering pulang terlambat? Pulanglah segera begitu pekerjaanmu selesai.

Apa yang mengganggu pikiranmu? Jangan segan-segan untuk membicarakannya denganku. Untuk itulah aku meneleponmu setiap malam. Aku sudah sering memberi nasihat pada wanita. Tak ada orang lain yang bisa kaupercayai. Jangan percaya pada mereka. Patuhi saja perkataanku.

Aku punya firasat kau mengkhianatiku. Aku yakin kau tak akan berbuat seperti itu, tapijika ya, aku tak akan pernah memaafkanmu. Ingat, hanya aku yang ada di pihakmu dan bisa melindungimu.

Setelah selesai membaca, Kusanagi mengembalikan ketiga surat itu ke dalam amplop. "Boleh saya minta surat ini?”

”Silakan.”

”Selain surat ini, apakah ada hal lain yang aneh?”

”Bukan saya, tapi...” Yasuko menutup mulut.

” Jangan-jangan putri Anda?”

”Oh, bukan. Tapi Kudo-san...”

”Kuniaki Kudo-san. Apa yang terjadi padanya?”

”Saat terakhir kali bertemu, dia bercerita dia menerima surat aneh. Tidak ada nama pengirim, dan isinya meminta Kudo menjauhi saya. Ada juga foto yang diambil diam-diam.”

”Surat untuk Kudo...”

Melihat perkembangan yang terjadi belakangan ini, jelas Ishigami-lah pengirim surat itu. Ingatan Kusanagi melayang pada Yukawa Manabu. Sebagai ilmuwan, ia sangat menghormati Ishigami. Tak bisa dibayangkan betapa terkejutnya ia saat tahu sahabat baiknya ternyata penguntit.

Terdengar suara ketukan pintu. Yasuko menyahut dan pintu pun dibuka, memperlihatkan wajah opsir muda. Ia anggota tim yang ditugaskan menggeledah apartemen Ishigami.

”Kusanagi-san, bisa kemari sebentar?”

”Baik.” Kusanagi mengangguk dan bangkit dari kursi. Ia pergi ke apartemen sebelah dan mendapati Mamiya sedang duduk menunggunya. Di meja bertengger komputer dalam keadaan menyala. Para opsir muda sibuk mengisi kardus dengan berbagai benda.

Mamiya menunjuk dinding di sebelah rak buku. ”Coba lihat ini.”

”Ah!” Tanpa sadar Kusanagi berseru.

Tampak robekan pada kertas dinding berukuran sekitar dua puluh sentimeter persegi. Papan dinding di bagian itu juga dalam keadaan lepas. Kabel menjulur dari sana dan di ujungnya terpasang alat pendengar.

”Coba kenakan alat pendengar itu,” perintah Mamiya.

Kusanagi memasang alat itu di telinga. Saat itu juga terdengar suara-suara.

”Begitu kejahatan Ishigami terbukti, saya yakin situasi akan lebih baik. Setidaknya beban Anda dan putri Anda akan berkurang.”

Itu suara Kishitani. Meski ada sedikit dengungan, suaranya cukup jelas hingga tak ada yang menyangka ia berada di balik tembok itu.

”Lalu bagaimana dengan kejahatannya...?”

"Itu tergantung keputusan pengadilan. Tapi untuk kasus pembunuhan, si pelaku tak akan bisa lolos meski dia tidak dihukum mati. Dia tak akan bisa membuntuti Anda lagi.” Kusanagi melepas alat pendengar itu sambil berpikir Kishitani sudah kelewatan.

”Perlihatkan benda ini pada Yasuko Hanaoka. Dia takkan mengelak karena menurut Ishigami dia juga tahu tentang alat ini,” kata Mamiya.

”Menurut Anda dia tidak tahu apa saja yang dilakukan Ishigami?”

”Tadi aku mendengarkan pembicaraanmu dengannya memakai alat ini.” Mamiya menyeringai sambil menunjuk mikrofon di dinding. ”Ishigamni tipikal penguntit. Dia berasumsi dirinya dan Yasuko saling memahami dan dia berniat menyingkirkan semua pria yang berani mendekati wanita itu. Jangan-jangan dia juga sangat membenci kehadiran mantan suami wanita itu...”

”Hmmm...”

” Kenapa wajahmu malah suram begitu? Ada yang mengganggu pikiranmu?”

”Bukan begitu. Saya hanya bingung karena isi kesaksiannya berbeda jauh dengan bayangan saya akan sosok Ishigami.”

” Manusia selalu memiliki beberapa wajah. Umumnya identitas asli penguntit selalu orang yang tak terduga.”

”Saya paham... apakah ada benda lain yang ditemukan selain mikrofon?”

Mamiya mengangguk kuat-kuat. ”Kami menemukan kabel kotatsu yang disimpan dalam kotak bersama mesinnya. Jenis kabel lentur yang sama dengan yang dipakai untuk mencekik korban. Pasti ada sebagian kulit korban yang menempel di situ.”

”Lalu lainnya?”

”Biar kuperlihatkan,” kata Mamiya seraya menggeser mouse komputer dengan gerakan canggung. Mungkin ada seseorang yang mengajarinya secara kilat. “Ini dia.” Muncul file dokumen. Lalu di layar terpampang halaman berisi tulisan. Kusanagi mengamatinya.

Seperti inilah isi dokumen itu:

Dengan foto ini, kuharap kau paham aku tahu identitas pria yang akhir-akhir ini sering kautemui. Sebenarnya apa hubunganmu dengannya? Jika kau menjalin cinta dengannya, kuanggap itu pengkhianatan besar.

Sadarkah kau apa yang selama ini telah kulakukan untukmu? Aku menuntut kau segera berpisah dengannya. Jika tidak, pria itu akan jadi sasaran kemarahanku. Mudah sekali membuatnya bernasib sama dengan mendiang Togashi. Aku punya caranya dan siap melakukannya kapan saja.

Kuulangi sekali lagi: aku takkan memaafkanmu jika benar ada hubungan cinta di antara kalian. Yakinlah, aku pasti akan membalas dendam.