--> -->

Kesetiaan Mr. X Bab 10

Bab 10

Mobil Bentz hijau memasuki tempat parkir bawah tanah apartemen pukul 18.00 lebih sedikit. Berkat kunjungannya ke kantor Kuniaki Kudo siang tadi, kini Kusanagi yang sejak tadi mengawasi apartemen itu dari kafe di seberang mengetahui pria itulah pemiliknya. Ia lantas bangkit dan bersiap-siap membayar dua cangkir kopi pesanannya. Ia hanya sempat sekali menyesap cangkir kedua sebelum berlari menyeberangi jalan dan bergegas ke tempat parkir bawah tanah. Pintu masuk gedung apartemen itu di lantai satu dan lantai parkir bawah tanah. Keduanya bersistem auto-lock, yang artinya hanya bisa diakses penghuni gedung. Sebisa mungkin Kusanagi ingin menjumpai Kudo sebelum pria itu masuk ke gedung karena jika ia harus memberitahukan namanya lewat interkom, itu akan memberi waktu bagi Kudo untuk berpikir macam-macam.

Untungnya, Kusanagi berhasil tiba lebih dulu di pintu masuk. la memegang dinding untuk mengatur napas ketika sosok Kudo yang menenteng tas kantor muncul. Begitu pria itu mengeluarkan kunci dan berniat memasukkannya ke lubang pintu, Kusanagi menyapanya dari belakang, ”Kudo-san?”

Terkejut, Kudo menegakkan punggung dan menarik kembali kunci yang sudah dimasukkannya. la menoleh dan menatap ragu pada Kusanagi. Tatapannya meneliti detektif itu sekilas. Ya.”

Kusanagi membiarkan lencana polisinya menyembul keluar dari balik jaket. ” Maaf saya datang tiba-tiba. Saya dari kepolisian. Bersediakah Anda meluangkan sedikit waktu?”

”Kepolisian.... artinya Anda detektif?” Kudo merendahkan nada suaranya. Tatapannya terlihat waswas.

Kusanagi mengangguk. "Benar. Saya ingin menanyakan sesuatu tentang Yasuko Hanaoka-san.” Kusanagi mengawasi Kudo, ingin melihat bagaimana reaksinya mendengar nama itu. Akan aneh sekali jika ia sampai terkejut karena seharusnya ia sudah mengetahui kasus itu. Namun pria itu hanya mengerutkan wajah, lalu menunduk paham. "Baiklah. Silakan masuk ke apartemen saya. Atau mungkin di kafe atau tempat lain?”

”Kalau bisa apartemen Anda saja.”

”Saya paham. Maaf kalau kondisinya berantakan,” kata Kudo sambil memasukkan kunci. Berlawanan dengan ucapannya barusan, ternyata apartemen pria itu bisa dibilang sepi. Selain lemari besar, nyaris tidak ada perabotan rumah tangga selain sofa untuk dua orang dan satu lagi yang lebih kecil. Kudo menyarankan supaya Kusanagi duduk di sofa yang besar. "Anda mau minum teh atau...?” tanyanya. la masih mengenakan jas.

”Tidak usah repot-repot. Ini tidak akan memakan waktu lama.”

”Baik.” Kudo masuk ke dapur dan kembali dengan dua gelas dan sebotol teh oolong.

”Maaf, di mana keluarga Anda?” tanya Kusanagi. “Istri saya meninggal tahun lalu. Kami memiliki seorang putra, tapi saat ini orangtua saya yang merawatnya,” jawab Kudo.

” Jadi sekarang Anda tinggal seorang diri?”

”Betul.” Kini Kudo terlihat lebih santai dan ia menuangkan teh ke kedua gelas yang tadi dibawanya. Satu gelas diletakkan di depan Kusanagi. "Apa ini tentang... Togashi-san?”

Tangan Kusanagi yang terulur ke arah gelas berhenti. Jika Kudo ingin mulai berbicara, Kusanagi tidak perlu lagi menyianyiakan waktu.

”Betul. Mantan suami Yasuko Hanaoka terbunuh.”

”Dia tidak terlibat dalam kasus ini.”

”Betulkah?”

"Dia sudah berpisah dengan suaminya. Tidak ada lagi hubungan apa-apa di antara mereka. Juga tidak ada alasan untuk membunuh pria itu.”

”Yah, pada dasarnya kami juga berpikir demikian.”

”?Apa maksudnya?”

”Dpi dunia ini banyak jenis pasangan suami-istri. Kita tak bisa menyamaratakannya begitu saja. Ada yang setelah berpisah langsung memutuskan hubungan sama sekali keesokan harinya dan tidak lagi ikut mencampuri urusan pihak satunya. Mereka kembali menjadi orang asing. Dengan begitu, tidak akan ada penguntitan atau semacamnya. Namun kenyataannya berbeda. Ada juga kasus di mana salah satu pihak belum siap memutuskan hubungan secara total meski pihak yang lain menginginkannya. Biasanya itu terjadi setelah surat cerai dikeluarkan.”

”Tapi selama ini Yasuko tak pernah menemui Togashi-san.” Sorot permusuhan mulai terlihat di mata Kudo.

”Apakah Hanaoka pernah membicarakan kasus itu dengan Anda?” ”Ya. Justru karena itulah saya menemuinya.”

Cocok dengan kesaksian Yasuko Hanaoka, pikir Kusanagi.

”Berarti sebelum peristiwa itu terjadi, Anda memang sangat memperhatikan Hanaoka-san.”

Ucapan Kusanagi rupanya membuat Kudo tidak senang. Dahinya berkerut. ”Saya tak mengerti apa yang Anda maksud dengan 'sangat memperhatikan”. Anda datang untuk menyelidiki hubungan saya dengannya, bukan? Saya salah seorang pelanggan tetap bar tempatnya dulu bekerja. Kebetulan saya juga pernah bertemu dengan suaminya, jadi saya tahu namanya. Oleh karena itu, setelah peristiwa itu terjadi dan foto Togashi-san dirilis, saya khawatir dan mampir untuk melihat keadaannya.”

”Hanya karena itukah Anda ke kedai itu? Sebagai direktur perusahaan, apakah Anda tidak terlalu sibuk?” Kusanagi sengaja menyindir. Ia sering menggunakan teknik itu saat bertugas, meski secara pribadi tidak menyukainya.

Sepertinya teknik Kusanagi menunjukkan hasilnya. Wajah Kudo kini jelas kehilangan warna. "Bukannya menanyakan tentang Yasuko Hanaoka-san, Anda malah melontarkan pertanyaan yang menyudutkan saya. Apakah Anda mencurigai saya?”

Kusanagi tersenyum sambil mengibas-ngibaskan tangan. ”Sama sekali tidak. Saya mohon maaf jika Anda jengkel. Tapi karena Anda terlihat akrab dengan Hanaoka-san, saya merasa harus mengajukan beberapa pertanyaan.”

Kemarahan di mata Kudo belum reda meskipun Kusanagi berbicara tenang. Akhirnya ia menarik napas panjang dan mengangguk sekali. "Baik. Saya memang tertarik padanya. Bisa dibilang saya mencintainya. Saat mengetahui kasus itu, saya langsung menemuinya karena saya pikir ini kesempatan baik. Bagaimana? Apakah penjelasan ini bisa diterima?” Kusanagi tersenyum kering. Kali ini ia tidak berakting atau berpura-pura. ”Tolong jangan marah.”

”Bukankah itu yang ingin Anda dengar?”

”Kami hanya ingin tahu bagaimana interaksi sosial Hanaokasan.”

”Saya tidak mengerti. Mengapa polisi sampai mencurigainya...?” Kudo terlihat memutar otak.

”Togashi-san memang mencari-cari Hanaoka-san sebelum dirinya terbunuh. Itu berarti ada kemungkinan Hanaoka-san orang terakhir yang bertemu dengannya.” Kusanagi menganggap tidak masalah jika fakta ini diceritakannya pada Kudo.

”?Dan kalian langsung menganggap dia pembunuhnya? Sederhana sekali cara berpikir polisi.” Kudo mendengus.

"Maafkan kekurangan kami. Tentu saja kami tidak hanya mencurigai Hanaoka-san, hanya saja di titik ini kami belum bisa melepaskannya dari tuduhan. Dan andai bukan dia pelakunya, mungkin saja ada seseorang di lingkungan sekitarnya yang memegang kunci kasus ini.”

”Orang-orang di sekitarnya?” Kudo sempat mengerutkan alis, sebelum akhirnya mengangguk paham. "Jadi itu maksud Anda...”

Apa?”

”Anda menduga dia meminta bantuan orang lain untuk membunuh mantan suaminya, lalu kebetulan saya muncul. Jangan bilang Anda menuduh saya sebagai tersangka pembunuh bayaran?”

Saya tak pernah menganggap Anda seperti itu...” Kusanagi sengaja menghentikan ucapannya. Jika Kudo memiliki gagasan tertentu, ia siap mendengarkan.

”Berarti selain saya, masih banyak orang yang harus Anda selidiki karena Hanaoka-san memang punya banyak pengagum berkat kecantikannya. Saya tidak hanya bicara saat dia masih menjadi pramuria. Bahkan menurut suami-istri Yonezawa, ada seorang tamu yang sampai rutin membeli bento di kedai mereka demi bertemu dengannya. Nah, bagaimana kalau Anda temui saja orang-orang seperti itu?”

”Tentu saja saya akan melakukannya setelah mendapatkan nama dan alamat mereka. Apakah ada yang Anda kenal?”

”Tidak. Dan saya bukan pengadu.” Kudo mengibaskan tangan. "Tapi menurut saya percuma saja Anda menanyai orangorang itu. Hanaoka-san tak akan meminta orang lain melakukan sesuatu seperti membunuh. Dia bukan wanita jahat maupun bodoh. Kalau boleh saya tambahkan, saya juga tak sebodoh itu mengiyakan jika diminta membunuh oleh orang yang saya sukai. Nah, semua sudah saya jelaskan. Sepertinya kedatangan Anda ke sini sia-sia saja.” Setelah bicara begitu cepat, Kudo bangkit dari kursi, mengisyaratkan supaya Kusanagi segera pergi.

Kusanagi ikut bangkit. Tapi tangannya masih memegang buku Catatan. "Apakah tanggal sepuluh Maret Anda datang kekantor?” Sekejap, mata Kudo membulat terkejut sebelum berubah geram. ”Anda ingin mengecek alibi saya?”

”Betul.” Kusanagi merasa tidak perlu berpura-pura lagi. Bagaimanapun, Kudo telanjur marah.

”Tunggu sebentar!” Kudo mengeluarkan buku tebal dari dalam tas, membuka-buka halamannya, lalu menarik napas lega. ”Di halaman ini tidak tertulis apa-apa, berarti saya meninggalkan kantor seperti biasa pukul 18.00. Kalau tak percaya, silakan tanya karyawan lain.”

”Lalu setelah meninggalkan kantor?”

”Sudah saya bilang, kemungkinan besar saya tidak ada rencana lain di hari itu. Biasanya saya langsung pulang, makan, lalu tidur. Sayangnya tidak ada saksi.”

”Coba diingat lagi baik-baik supaya saya bisa mencoret Anda dari daftar tersangka.”

Terang-terangan menunjukkan perasaan bosan, Kudo kembali memeriksa buku catatannya. ”Tanggal sepuluh. Ah, hari itu...” Ia bergumam sendiri.

”Bagaimana?”

"Saya pergi menemui klien. Kalau tidak salah sore hari... ya, dia mentraktir saya makan yakitori".”

”Anda ingat jam berapa?”

”Saya tidak ingat persisnya. Kami minum-minum sampai pukul 21.00, lalu langsung pulang. Ini dia orangnya.” Kudo mengeluarkan kartu nama yang diselipkan di buku. Sepertinya klien Kudo bekerja di kantor desain.

”Sudah cukup. Terima kasih banyak.” Kusanagi membungkuk sopan lalu berjalan ke pintu.

”Detektif?” panggil Kudo saat Kusanagi sedang mengenakan sepatu. "Sampai kapan Anda akan terus mengawasinya?” Melihat detektif itu hanya menoleh tanpa mengucapkan sesuatu, ia kembali melanjutkan dengan kesal. "Gara-gara itu, Anda tahu kami sedang bersama, bukan? Lalu Anda mengikuti saya.”

Kusanagi mengangguk. ” Memang benar.”

”Tolong jelaskan kapan Anda akan berhenti mengejarnya.”

Kusanagi menghela napas dan menatap Kudo. Kini ia tidak lagi berpura-pura tersenyum. "Tentu saja sampai kami merasa itu tidak diperlukan lagi.” Lalu ia berbalik membelakangi Kudo yang sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu, dan membuka pintu sambil berkata, ”Permisi.”

" Yakitori: Sate ayam khas Jepang. Setibanya di luar, Kusanagi memanggil taksi. ”Ke Universitas Teito,” katanya. Sang sopir mengiyakan, dan saat taksi mulai melaju, Kusanagi membuka buku catatan dan mengingat-ingat kembali percakapannya dengan Kudo sementara ia membaca tulisan cakar ayamnya. Sangat penting untuk membuktikan kebenaran suatu alibi, tetapi ia telah membuat kesimpulan.

Pria itu tidak bersalah. Ia berkata jujur...

Dan Kudo sangat mencintai Yasuko Hanaoka. Lalu seperti yang dikatakannya tadi, besar kemungkinan ada orang lain yang mau membantu wanita itu.

Pintu gerbang Universitas Teito tertutup. Kendati di dalam tidak bisa dibilang gelap karena masih ada lampu yang menyala di sana-sini, suasana malam di universitas itu terasa menyeramkan. Kusanagi masuk melalui pintu samping, melaporkan kedatangannya ke pos penjaga, lalu terus masuk. Walau sebenarnya belum membuat janji, ia mengatakan pada penjaga bahwa "ia ingin menemui Asisten Dosen Yukawa Manabu di Laboratorium 13 Jurusan Fisika”.

Koridor universitas terlihat sunyi, tapi Kusanagi tahu masih ada orang di situ saat melihat cahaya menerobos dari celah-celah pintu. Jelas beberapa peneliti dan mahasiswa diam-diam masih tenggelam dalam penelitian masing-masing. Dulu Kusanagi pernah mendengar tentang Yukawa yang juga sering bermalam di universitas.

Sebelum kunjungannya ke kediaman Kudo, Kusanagi memutuskan akan menemui Yukawa. Mungkin ia dan Yukawa memiliki dugaan yang sama, tetapi masih ada satu hal yang ingin ia pastikan.

Mengapa Yukawa bisa muncul Benten-tei? Urusan apa yang membawanya ke sana, meski saat ituia memang sedang bersama guru matematika yang juga teman kuliah seangkatannya? Jika Yukawa menemukan sesuatu yang berkaitan dengan kasus ini, mengapa ia tidak memberitahukannya pada Kusanagi? Atau ia hanya ingin bernostalgia mengenang masa lalu dengan guru itu dan datang ke Benten-tei tanpa niat khusus? Dengan kebijakannya untuk sebisa mungkin tidak berurusan dengan kasus yang sedang ditangani Kusanagi, sulit membayangkan seorang Yukawa sengaja datang ke toko tempat kerja tersangka kasus yang belum terpecahkan. Bukan karena tidak ingin dibuat repot, tapi Yukawa bertindak seperti itu karena menghormati posisi Kusanagi.

Papan informasi terpasang di muka pintu Laboratorium 13. Di situ tercantum nama para mahasiswa S1 dan magister, termasuk nama Yukawa dengan tanda "sedang keluar”. Kusanagi berdecak. Itu berarti temannya sudah pulang. Lalu ia mengetuk pintu sekali. Jika informasi di papan itu benar, seharusnya saat ini ada dua mahasiswa pascasarjana di dalam ruangan.

”Silakan masuk!” Suara berat menjawab. Kusanagi membuka pintu laboratorium. Pemuda berkacamata dan berbaju olahraga muncul dari dalam ruangan yang sangat dikenal Kusanagi itu. Kusanagi pernah beberapa kali melihatnya.

”Apa Yukawa sudah pulang?” tanya Kusanagi.

Wajah mahasiswa itu terlihat menyesal. "Ya, baru saja. Saya bisa memberitahukan nomor telepon genggamnya.”

”Terima kasih, tapi aku sudah punya. Sebenarnya aku hanya kebetulan mampir, tak ada keperluan khusus.”

”Oh, begitu.” Wajah si mahasiswa kini terlihat lebih santai. Pasti ia pernah mendengar tentang Detektif Kusanagi yang suka mampir untuk membahas hal-hal yang tidak jelas juntrungannya dari Yukawa. ”Kusangka Yukawa masih mengurung diri di laboratorium sampai malam.”

”Biasanya memang begitu, tapi dua-tiga hari terakhir ini dia pulang lebih awal. Kalau tak salah, tadi dia bilang akan mampir ke suatu tempat hari ini.”

”Oh, dia tidak bilang ke mana?” Kusanagi bertanya. Janganjangan Yukawa pergi untuk menemui guru matematika itu lagi.

Tapi jawaban yang muncul dari si mahasiswa sama sekali tidak disangka. ”Saya tidak begitu jelas, tapi sepertinya dia akan pergi ke Shinozaki.”

”Shinozaki?”

”Benar. Tadi dia menanyakan rute tercepat menuju Stasiun Shinozaki.”

”'Dia tidak bilang apa tujuannya ke sana?”

”Saya sempat bertanya ada apa di Shinozaki, tapi dia nyaris tidak mengatakan apa-apa...”

” Hmmm...”

Kusanagi berpamitan pada si mahasiswa dan meninggalkan ruangan. Benaknya dipenuhi rasa tidak puas. Untuk apa Yukawa pergi ke Stasiun Shinozaki? Itu stasiun yang paling dekat dengan TKP pembunuhan Togashi. Begitu keluar dari gedung universitas, ia mengambil telepon genggamnya, tetapi akhirnya batal menekan nomor Yukawa. Ini bukan saat yang tepat untuk menginterogasinya. Bila Yukawa ingin terlibat dalam kasus itu tanpa membicarakannya dengan Kusanagi, jelas itu karena ia memiliki rencana.

Tapi...

Tapi tidak salah kan kalau aku menyelidiki hal yang mengganjal pikiranku, pikir Kusanagi.

nak Di tengah pekerjaan menilai ujian perbaikan murid-muridnya, Ishigami menghela napas. Hasil ujian itu sangat menyedihkan, padahal ia sudah membuat soal-soal yang lebih mudah daripada soal ujian akhir semester supaya mereka bisa lulus. Tapi nyatanya hanya beberapa jawaban yang memadai. Seburuk apa pun nilai yang akan diperoleh, pada akhirnya pihak sekolah yang akan meluluskan mereka. Itulah alasan para murid itu tidak mempersiapkan diri dengan baik. Kenyataannya, jarang sekali ada murid yang tidak naik kelas. Jika nilai seorang murid tidak memenuhi standar, pihak sekolah tinggal mengutak-atiknya sedikit dan semua murid pun naik kelas.

Kalau seperti ini, lebih baik sejak awal tak usah mensyaratkan nilai matematika untuk kelulusan, pikir Ishigami. Hanya segelintir orang yang benar-benar memahami matematika, tapi semua itu tidak berarti selama yang mereka lakukan hanya mengajarkan hitungan level rendah yang disebut matematika SMA dan sejenisnya. Ishigami bahkan bertanya-tanya apakah mengajarkan ilmu sesulit matematika itu hal yang benar.

Setelah tugasnya selesai, Ishigami melihat jam. Pukul 20.00. Ia mengunci dojo sebelum ke gerbang utama. Begitu ia keluar dari gerbang dan menunggu di jalur penyeberangan dekat lampu lalu lintas, seorang pria mendekatinya.

”Baru pulang?” sapa pria itu. Ia tersenyum ramah. ”Tadi kau tidak ada di apartemen, jadi aku sengaja ke sini.”

Ishigami mengenali wajah itu. Dia detektif dari Kepolisian Metropolitan. ”Kau....”

”'Kau sudah lupa?”

Begitu melihat lawan bicaranya hendak merogoh saku jas, Ishigami mengangguk. "Aku masih ingat. Kau Detektif Kusanagi.” Lampu lalu lintas kini berubah hijau. Ishigami berjalan diikuti Kusanagi.

Mengapa detektif ini muncul? Ishigami mulai memutar otak sambil berjalan. Apakah berhubungan dengan kunjungan Yukawa dua hari lalu? Menurut temannya, pihak kepolisian mungkin ingin meminta bantuan Ishigami, tapi saat itu ia menolaknya.

”Kau kenal Manabu Yukawa?” Kusanagi memulai pembicaraan.

"Ya. Dia bilang mendengar tentang aku dari polisi, karena itulah dia sempat mampir ke rumah.”

”Betul.Akuyangmenceritakannyabegitutahukaujugaalumnus Fakultas Sains Universitas Teito. Apakah kau keberatan?”

”Tidak. Aku senang bisa bertemu teman lama.”

”Apa yang kalian bicarakan?”

”Yah, cerita-cerita masa lalu. Awalnya hanya itu.”

”Awalnya?” Kusanagi menjadi curiga. "Berapa kali kalian bertemu?”

"Dua kali. Yang kedua kali saat dia bilang diminta datang olehmu.”

”Olehku?” Kusanagi kebingungan. "Apa yang dia katakan?”

”Dia bilang kau ingin meminta bantuan penyelidikan.”

"Oh, bantuan penyelidikan.” Kusanagi berjalan sambil menggaruk-garuk dahi.

Aneh, pikir Ishigami yang langsung sadar. Mengapa detektif ini terlihat kebingungan? Mungkin dia tidak tahu apa yang dimaksud Yukawa.

Kusanagi tersenyum malu. "Maaf, saking seringnya kami mengobrol, tadi aku bingung kasus mana yang dia maksud. Apa dia menyebutkan bantuan apa yang diperlukan?”

Pertanyaan itu membuat Ishigami harus memeras otak. Ia segan menyebut nama Yasuko Hanaoka, tapi tahu percuma saja berpura-pura karena Kusanagi pasti akan menanyakannya pada Yukawa. ”Dia memintaku mengawasi Yasuko Hanaoka,” katanya.

Kusanagi membelalakkan mata. ”Oh, sekarang aku paham. Kami, ehm, memang benar kami pernah membicarakannya. Usul itu datang dari dia dan ternyata dia juga yang lebih dulu memberitahukannya padamu. Ya, aku mengerti.”

Ucapan terburu-buru Kusanagi terdengar seakan untuk menutupi sesuatu. Jelas Yukawa yang seenaknya sendiri mengambil keputusan. Tetapi... apa tujuannya? Ishigami berhenti berjalan, lalu membalikkan tubuh menghadap Kusanagi. "Kau sengaja datang hari ini hanya untuk membahas itu?”

”?Bukan. Aku minta maaf, tapi yang tadi hanya pendahuluan. Sebenarnya aku ingin membahas hal lain.” Kusanagi mengeluarkan selembar foto dari saku jas. "Apakah kau pernah melihat orang ini? Gambarnya tidak begitujelas karena aku memotretnya diam-diam.”

Ishigami menatap foto itu dan sesaat menahan napas. Itu foto orang yang belakangan ini membuatnya penasaran. Ia tidak tahu siapa namanya, apa pekerjaannya. Yang diketahuinya hanya pria itu sangat akrab dengan Yasuko.

Kusanagi bertanya lagi, ” Bagaimana?”

Bagaimana aku harus menjawab, pikir Ishigami. Jika ia menjawab ”tidak”, semuanya akan selesai sampai di situ. Namun di lain pihak, itu berarti ia tak bisa mendapatkan informasi tentang gambar di foto tersebut. "Sepertinya aku pernah melihatnya,” jawabnya hati-hati. "Siapa dia?”

”Tolong ingat-ingat lagi di mana tepatnya.”

”Setiap hari aku bertemu banyak orang. Mungkin akan lebih mudah jika aku tahu nama dan pekerjaannya...” ” Namanya Kudo. Dia pemilik perusahaan percetakan.”

”Kudo-san?”

”Ya, huruf 'ku? dari 'kujo”? dan 'do' dari fuji.”

Jadi namanya Kudo.... Ishigami menatap foto itu. Mengapa detektif itu ingin menyelidikinya? Pasti terkait dengan Yasuko Hanaoka. Dengan kata lain, sang detektif berpikir ada hubungan istimewa antara Yasuko dan pria itu dalam kasus ini.

”Bagaimana? Kau ingat sesuatu?”

"Yah, aku memang punya perasaan pernah melihatnya.” Ishigami mengernyit. "Maaf, aku tidak bisa ingat. Jangan-jangan aku yang salah mengiranya sebagai orang lain.”

”Baiklah.” Dengan kecewa Kusanagi memasukkan kembali foto itu ke saku, lalu mengulurkan kartu nama. "Tolong hubungi aku jika kau teringat sesuatu.”

”?Aku mengerti. Oh ya, apa kaitan orang di foto itu dengan kasus ini?”

”Kami masih menyelidikinya.”

"Apakah dia punya hubungan dengan Hanaoka-san?”

”Sepertinya begitu.” Jawaban Kusanagi terdengar samar. Gayanya seperti tidak ingin membocorkan informasi. ”Oh ya, benarkah kau dan Yukawa pergi ke Benten-tei?”

Kini giliran Ishigami yang menatap Kusanagi lekat-lekat. Ia tidak langsung menjawab karena tak menduga pertanyaan itu akan muncul.

”Kebetulan kemarin aku melihat kalian. Saat itu aku sedang bertugas, jadi tidak bisa menyapa.”

Lebih tepatnya mengintai Benten-tei, terka Ishigami dalam hati. Lalu ia berkata, ”Aku hanya mengantar Yukawa karena dia ingin membeli bent6.”

? Kujo: pabrik 3 Fuji: bunga wisteria "Kenapa harus di sana? Padahal banyak kedai di sekitar yang menjualnya. ”

”Yah, mengenai itu silakan kautanyakan padanya. Aku hanya mengantarnya karena diminta.”

”Apakah Yukawa menyinggung Hanaoka-san dan kasus itu?”

”Sudah kubilang, dia meminta bantuanku untuk menyelidiki...” Ishigami menggeleng.

”?Maksudku di luar hal itu. Mungkin kau sudah dengar dia sering membantu pekerjaanku. Untuk fisikawan genius, kemampuan detektifnya terbilang lumayan. Makanya tadi kuharap dia menceritakan sesuatu padamu, misalnya hasil analisisnya, atau yang lain.”

Pertanyaan Kusanagi membuat Ishigami sedikit bingung. Jika benar detektif itu sering bertemu Yukawa, seharusnya mereka bisa bertukar informasi. Mengapa Kusanagi malah bertanya padanya? "Dia tidak mengatakan sesuatu yang spesifik,” hanya itu yang bisa dikatakan Ishigami.

”Begitu, ya. Baiklah, terima kasih banyak.”

Kusanagi menunduk, lalu kembali ke jalan yang baru saja mereka lewati. Perasaan gelisah yang tidak diketahui wujudnya menyelimuti Ishigami sementara ia mengawasi detektif itu dari belakang. Perasaan yang sama saat persamaan yang selama ini diyakininya sudah sempurna, ternyata sedikit demi sedikit menjadi kacau karena faktor yang tidak jelas.