--> -->

Kesetiaan Mr. X Bab 05

Bab 05

Tongkat sepanjang tiga puluh sentimeter didirikan di sebuah kotak persegi. Karet berdiameter beberapa sentimeter yang dimasukkan ke tongkat itu mengingatkan pada alat permainan lempar gelang, kecuali kawat yang menjulur keluar dari kotak yang juga dilengkapi dengan tombol.

”Apa ini?” tanya Kusanagi sambil menatap benda aneh itu.

”Lebih baik jangan disentuh,” Kishitani di sebelahnya memperingatkan.

"Tenang, dia takkan sembarangan meletakkan benda berbahaya,” sahut Kusanagi sambil menekan tombol. Tiba-tiba saja, karet di dalam tongkat mulai melayang. Kusanagi berseru kaget melihat karet itu bergerak-gerak.

”Coba tekan karet itu ke bawah,” terdengar suara dari belakang.

Kusanagi menoleh tepat saat Yukawa memasuki ruangan sambil mendekap buku dan setumpuk dokumen. ”Oh, hai. Baru selesai mengajar?” ia menyapa sambil berusaha menekan karet itu dengan ujung jari, tapi tidak sampai sedetik ia langsung menariknya kembali. "Aduh! Panas! Panas sekali!”

”Memang aku takkan sembarangan meletakkan benda berbahaya, tapi setidaknya mereka yang ingin menyentuhnya harus mengetahui dasar-dasar sains.” Yukawa menghampiri Kusanagi dan menekan tombol. ”Ini hanya alat eksperimen fisika level SMA.”

”Masalahnya, aku tidak mengambil jurusan fisika di SMA,” kata Kusanagi sambil sibuk meniup-niup jarinya. Kishitani tertawa geli.

Yukawa melihat Kishitani dan bertanya, "Siapa kau? Aku belum pernah melihatmu.”

Kishitani langsung berdiri, bersikap resmi, dan menunduk. ”Namaku Kishitani dan saat ini ditugaskan menangani kasus bersama Senior Kusanagi. Aku sering mendengar kau sudah beberapa kali membantu kepolisian, Yukawa-sensei. Kau populer dengan julukan Detektif Galileo.”

Yukawa mengibaskan tangan sambil cemberut. "Jangan pakai julukan itu! Asal kau tahu, selama ini aku selalu ikut campur bukan karena suka, tapi karena tidak tahan lagi melihat betapa irasionalnya pola pikir Kusanagi. Hati-hati, bisa-bisa otakmu terjangkit sklerosis kalau bekerja dengannya.”

Tawa Kishitani meledak. Kusanagi meliriknya tajam. "Jangan terlalu banyak bergurau! Hei, Yukawa, apa kau sendiri tidak menganggap saat-saat memecahkan misteri itu memang menyenangkan?”

”Apanya yang menyenangkan? Gara-gara kau, disertasiku sama sekali tidak maju-maju. Sebentar, jangan bilang tujuanmu datang hari ini juga karena ingin menggangguku lagi.”

”Tenang, niatku bukan itu. Aku hanya ingin singgah karena kebetulan dekat dari tempatku bertugas.” ”Baguslah.” Yukawa mendekati bak cuci piring, mengisi ketel dengan air dan menjerangnya. Ia hendak membuat kopi instan. ”?Apa kau sudah memecahkan kasus penemuan mayat di tepi Sungai Kyuu-Edo?” tanyanya sambil menuangkan bubuk kopi ke cangkir.

”Kenapa kau tahu kami yang menangani kasus itu?”

”Sama sekali tidak sulit. Di malam kau menerima telepon, berita tentang kasus itu juga muncul di televisi. Kalau dilihat dari wajahmu yang suram, kelihatannya penyidikan tidak berjalan lancar, ya?”

Wajah Kusanagi terlihat masam. la menggaruk-garuk sisi hidungnya. "Yah, bukannya tidak ada kemajuan sama sekali. Kami sudah menemukan beberapa orang yang berpotensi menjadi tersangka. Ini baru permulaannya.”

”Oh, tersangka...” Nada suara Yukawa tidak menunjukkan ketertarikan khusus, bahkan cenderung menghindar.

Kishitani angkat bicara, "Sebenarnya aku pribadi tidak yakin kami di arah yang benar.”

Yukawa menatapnya kaget. "Heh? Jadi kau keberatan dengan penemuan hasil investigasi?”

”Bukannya keberatan, hanya saja...”

” Jangan bicara hal-hal yang tidak perlu.” Kusanagi mengernyit.

”Maaf.”

”Tak usah minta maaf. Menurutku normal saja jika seseorang punya opini sendiri saat dia harus menjalankan perintah. Kalau tidak ada orang seperti itu, rasionalitas tak akan pernah maju.”

”Bukan soal itu yang membuatnya keberatan,” ujar Kusanagi enggan. "Dia hanya ingin melindungi seseorang yang sedang kami selidiki.” ”A... aku tidak...” Kishitani tergagap.

”Sudahlah, tak perlu ditutup-tutupi. Kau bersimpati pada ibu dan anak itu, bukan? Aku pun enggan mencurigai mereka.”

"Kelihatannya rumit sekali, ya.” Yukawa menyeringai sambil memandangi kedua detektif itu bergantian.

”Tidak. Masalahnya, pria yang terbunuh itu memiliki mantan istri dan sepertinya dia mengunjungi rumah wanita itu menjelang kejadian. Kami bertugas menyelidiki kebenaran alibi wanita itu.”

”Aku paham. Jadi wanita itu memang memiliki alibi?”

”Kurang lebih begitu,” kata Kusanagi sambil menggaruk-garuk kepala.

”Hei, hei, kenapa bicaramu plinplan begitu?” Yukawa tertawa seraya bangkit dari duduknya. Uap panas keluar dari dalam ketel di atas kompor. "Kalian mau kopi?”

”Aku mau. Terima kasih banyak.”

”Sebenarnya aku segan mengatakannya, tapi sepertinya kalian yakin sekali dengan alibi itu.”

”Menurutmu mereka berbohong?”

"Sebelum memastikan kebenarannya, jangan mengatakan sesuatu yang tidak berdasar.”

”Tapi Senior Kusanagi sendiri yang bilang pada Komandan bahwa kami tak bisa mengecek alibi di bioskop dan restoran ramen,” Kishitani menjelaskan.

”Bukannya tidak bisa, tapi sulit.”

”Oh, jadi wanita itu berkeras dia di bioskop saat pembunuhan terjadi?” Yukawa kembali dengan dua cangkir kopi. Satu diberikan pada Kishitani yang berterima kasih sebelum matanya terbelalak kaget.

Pasti karena cangkir itu kotor, pikir Kusanagi sambil menahan

tawa. ”? Memang sulit membuktikan apakah benar mereka menonton film.” Yukawa kembali duduk di kursi.

”Tapi setelah itu mereka ke karaoke, begitu kata pegawai di sana,” kata Kishitani penuh semangat.

”Tetap saja kami tidak bisa mengabaikan alibi menonton itu. Tidak mustahil mereka baru ke karaoke setelah melakukan kejahatan,” imbuh Kusanagi.

”Yasuko Hanaoka menonton film antara pukul 19.00 atau pukul 20.00. Meskipun lokasi pembunuhan itu tidak ramai, tetap saja rentang waktunya tidak cukup untuk melakukan pembunuhan. Belum lagi untuk melepaskan pakaian korban.”

”Aku juga sependapat, tapi untuk memastikan dia tidak bersalah, kita tetap harus memeriksa setiap kemungkinan,” kata Kusanagi. Terutama untuk meyakinkan si keras kepala Mamiya, ia menambahkan dalam hati.

Yukawa menyela pembicaraan, ”Aku tidak begitu paham, tapi dari cerita kalian, sepertinya kalian sudah bisa memperkirakan waktu kematian?”

” Hasil autopsi memperkirakan dia tewas pada sepuluh Maret, setelah pukul 18.00.”

Kusanagi memperingatkan rekannya, "Jangan membocorkan terlalu banyak informasi pada orang sipil.”

”Tapi, bukankah Yukawa-sensei sudah sering membantu dalam penyelidikan?”

”Dia memang pernah membantu mengungkap kasus sekte jadi-jadian, tapi untuk kasus kali ini kita tak perlu membahasnya dengan amatir.”

”Benar, aku memang amatir. Tapi jangan lupa, akulah yang menyediakan tempat untuk bergosip.” Yukawa menyesap kopinya dengan tenang. ”Oh, jadi kau ingin mengusir kami?” balas Kusanagi, bangkit dari kursi.

”Tidak, tunggu. Bagaimana dengan ibu dan anak itu? Kalian punya cara untuk membuktikan mereka memang menonton di bioskop?” tanya Yukawa sambil memegang cangkir kopi.

”Sang ibu bilang dia masih ingat betul cerita filmnya. Tapi kami belum memastikan kapan sebenarnya mereka pergi menonton.”

”Ada potongan tiket?”

Pertanyaan ini membuat Kusanagi langsung menatap Yukawa. Pandangan mereka bertemu.

”Ada.”

”Hmm, dari mana munculnya?” Kacamata Yukawa terlihat berkilat-kilat.

Kusanagi tiba-tiba tertawa, ”Aku tahu maksudmu. Tidak biasanya orang menyimpan tiket bioskop. Aku pastinya heran kalau wanita itu sampai mengeluarkannya dari lemari.”

”Artinya dia tak punya tiket itu?”

”Semula dia menyangka sudah membuangnya, tapi dia memeriksa pamflet film dan ternyata tiket itu diselipkan di situ.”

”Dari pamflet? Menurutku itu wajar.” Yukawa melipat kedua lengannya. ”Pasti tanggal di tiket itu bertepatan dengan tanggal pembunuhan.”

”Tentu saja. Tapi sudah kubilang, belum tentu mereka benarbenar pergi menonton. Bisa saja mereka memungut potongan tiket dari tempat sampah atau memang membelinya tanpa masuk ke gedung bioskop.”

”Berarti tersangka juga ke bioskop atau daerah sekitarnya.”

"Ya, pikiranku juga sama. Karena itulah kami meminta keterangan para saksi tadi pagi. Tapi karena hari ini staf wanita yang bertugas menjual tiket sedang libur, kami sengaja ke rumahnya. Lalu dalam perjalanan pulang kuputuskan mampir ke sini.”

”Dan ekspresi wajahmu bukan ekspresi seseorang yang berhasil mendapatkan informasi dari si penjual tiket.” Yukawa menekuk bibir dan tertawa.

”Dia memang tidak bisa mengingat wajah pengunjung satu per satu. Yah, aku sih tidak kecewa karena sejak awal memang sudah tidak berharap banyak... Ayo, sudah waktunya pergi. Jangan sampai kita menganggu Asisten Profesor lebih lama lagi.” Kusanagi menepuk punggung Kishitani yang masih meneguk kopinya.

”Semoga sukses, Detektif. Mungkin kalian akan sedikit kesulitan andai benar pelakunya memang si tersangka.”

Kata-kata Yukawa itu membuat Kusanagi menoleh. ”Apa maksudmu?”

” Aku sudah bilang, manusia normal tidak akan sampai berpikir menyiapkan tempat penyimpanan potongan tiket demi sebuah alibi, apalagi sampai menyelipkannya dalam pamflet karena sudah menduga kalian pasti akan datang. Orang seperti itu pantas disebut lawan berat.”

Kusanagi mencerna perkataan sahabatnya dan mengangguk. ”Akan kuingat-ingat.” Ia mengucapkan, "Sampai jumpa,” dan nyaris membuka pintu ketika tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia berbalik dan berkata, "Ada seniormu yang tinggal di sebelah rumah tersangka.”

”Senior?” Yukawa menelengkan kepala dengan heran.

”? Namanya Ishigami, guru matematika SMA. Dia bilang dia juga dari Universitas Teito, jadi kupikir dulu dia kuliah di Fakultas Sains.”

”Ishigami...” Yukawa berkali-kali menggumamkan nama itu, lalu sepasang mata di balik kacamatanya membesar. ”Janganjangan dia 'Darumaf Ishigami??”

”Daruma?”

Yukawa menyuruh mereka menunggu sebentar lalu lenyap ke ruangan sebelah. Kusanagi dan Kishitani bertukar pandang. Tidak lama kemudian, Yukawa kembali. Dokumen bersampul hitam di tangannya, lalu dibukanya di hadapan Kusanagi.

”Maksudmu orang ini?”

Di halaman itu tampak sederetan foto wajah mahasiswa. Di bagian atas tertulis "Lulusan Program Pascasarjana Angkatan 38”. Yukawa menunjuk foto seorang mahasiswa berwajah bulat. Wajahnya yang tanpa ekspresi menatap ke depan, dengan mata Sipit panjang seperti benang. Namanya Tetsuya Ishigami.

”Ah, ini dia orangnya!” seru Kishitani. ”Di foto ini dia memang jauh lebih muda, tapi tidak salah lagi.”

Jari Kusanagi menyentuh dahi mahasiswa di foto itu, lalu mengangguk. "Memang dia. Aku sempat tidak mengenalinya karena sekarang rambutnya lebih tipis, tapi jelas ini foto guru itu. Jadi kau mengenalnya?”

"Kami satu angkatan. Saat itu, mahasiswa Fakultas Sains dibagi sesuai jurusan pilihan mereka di tingkat tiga. Aku masuk Jurusan Fisika, sementara Ishigami memilih Jurusan Matematika,” kata Yukawa sambil menutup kembali dokumen itu.

”Wow, tak kusangka ternyata dia sebaya denganku...”

”Sejak dulu dia memang selalu terlihat lebih tua.” Yukawa menyeringai, tapi mendadak ia terkejut. "Guru? Tadi kau bilang dia mengajar di SMA?”

”Ya, dia bekerja di SMA lokal. Selain itu, dia juga menjadi penasihat klub judo.”

“paruma: Boneka Daruma (Dharma) dibuat berdasarkan sosok Bodhidharma, pendiri

sekte Zen dari agama Buddha. Perawakan Ishigami yang pendek dan bulat dianggap mirip dengan boneka itu. Aku pernah dengar dia belajar judo sejak kecil karena ayahnya memiliki dojo. Ah, jadi sudah pasti dia mengajar di SMA?”

”Tidak salah lagi.”

”Karena kau yang bilang, itu pasti benar. Padahal selama ini aku selalu menyangka dia bakal menjadi peneliti di salah satu universitas swasta. Sulit dipercaya, Ishigami yang seperti itu malah menjadi guru...” Tatapan Yukawa terlihat kosong.

”Apakah dia memang begitu pandai?” tanya Kishitani.

Yukawa menghela napas. "Aku tak pernah sembarangan memakai istilah 'genius,” tapi kata itu memang layak untuk Ishigami. Tipe profesor berbakat yang hanya muncul sekali dalam lima puluh, bahkan seratus tahun. Kendati spesialisasi kami berbeda, kehebatannya terdengar sampai ke jurusan fisika. Dia tipe orang yang lebih suka mengurung diri sampai malam di ruang penelitian demi menyelesaikan persamaan matematika—hanya berbekal kertas dan pensil alih-alih menggunakan komputer. Sosoknya yang seperti itu sangat mengesankan saat dilihat dari belakang, dan dari situlah julukan 'Daruma? muncul. Tentu saja, itu julukan kehormatan.”

Ternyata benar, di atas langit masih ada langit, pikir Kusanagi sambil menyimak cerita Yukawa. Padahal selama ini ia selalu menganggap sahabat yang berdiri di depannya ini makhluk genius.

Kishitani bertanya, "Kalau memang dia sangat hebat, mengapa dia tidak mengajar di universitas?”

”Entahlah, di universitas memang selalu banyak masalah.” Tidak seperti biasanya Yukawa terlihat canggung.

Dan kau sendiri pasti sering stres karena merasa terkekang di antara manusia-manusia yang kauanggap tak berguna, dengan mudah Kusanagi bisa membayangkannya. ”Bagaimana keadaannya sekarang?” Yukawa menatap Kusanagi.

”?Hmm, yang jelas dia terlihat sehat. Entah mengapa saat bicara dengannya, aku mendapat kesan dia sulit didekati, atau mungkin antisosial?”

”Sulit membaca isi hatinya, bukan?” Yukawa tertawa getir.

”Betul sekali. Orang lain pasti akan terkejut atau merasa tidak nyaman saat dikunjungi detektif. Tapi yang satu ini benar-benar kebal dari segala jenis ekspresi. Tidak ada hal lain yang menarik perhatiannya kecuali yang menyangkut dirinya sendiri.”

”Yang dipikirkannya memang hanya matematika dan matematika, tapi dia juga punya karisma tersendiri. Tolong beritahukan alamatnya supaya aku bisa datang saat senggang.”

”Aneh rasanya mendengarmu bicara seperti itu.” Kusanagi mengeluarkan buku catatan dan memberitahu Yukawa alamat apartemen Yasuko Hanaoka. Sang fisikawan yang kelihatannya sudah kehilangan minat pada kasus pembunuhan itu langsung

mencatatnya.

Pukul 18.28, Yasuko Hanaoka sampai di rumah dengan mengendarai sepeda. Ishigami bisa melihatnya dari jendela. Di meja di depannya, berjejer kertas bertuliskan persamaan hitungan dalam jumlah besar. Sudah menjadi rutinitas Ishigami untuk ”bertarung” melawan soal-soal matematika sepulang mengajar. Tapi hari ini ia sama sekali tidak mendapat kemajuan, padahal kegiatan di klub judo juga diliburkan. Kondisi itu tidak hanya terjadi hari ini, tapi sudah berlangsung sejak beberapa hari lalu. Ia mulai terbiasa berdiam diri di kamar sambil mengamati situasi di apartemen tetangga, memastikan para detektif itu akan kembali. Semalam, kedua detektif yang pernah singgah di apartemen Ishigami datang lagi. Ishigami masih ingat pada Kusanagi yang saat itu memperlihatkan tanda pengenalnya. Menurut cerita Yasuko, mereka datang untuk menyelidiki alibi bioskop. Tepat seperti perkiraannya, mereka ingin tahu apakah terjadi sesuatu yang tidak lazim, apakah itu sebelum atau sesudah pemutaran film, atau kemungkinan Yasuko bertemu seseorang di sana. Mereka juga ingin tahu apakah Yasuko masih menyimpan potongan tiket bioskop atau nota belanja, bagaimana cerita film yang ditonton, siapa pemerannya...

Mereka tidak menyinggung-nyinggung soal karaoke, yang berarti mereka berhasil membuktikan kebenaran alibi Yasuko. Itu wajar. Ishigami-lah yang sengaja memilih tempat itu. Yasuko juga bercerita ia sudah memperlihatkan potongan tiket dan nota pembelian pamflet kepada para detektif itu, sesuai perintah Ishigami. Ia tetap berpegang teguh pada alibinya dan tidak menyentuh hal-hal di luar topik film. Memang itu yang diajarkan Ishigami sebelumnya.

Para detektif kemudian meninggalkan apartemen, tapi Ishigami yakin mereka tidak akan menyerah. Pasti ada informasi berharga yang membuat mereka mencurigai Yasuko sehingga merasa perlu datang langsung untuk mengonfirmasikan alibi bioskop. Entah apa informasi itu.

Ishigami bangkit dan merogoh saku baju hangatnya. Ia meninggalkan apartemen hanya berbekal kunci kamar, kartu telepon, dan dompet. Terdengar suara langkah kaki dari lantai bawah saat ia mendekati tangga. Ishigami menghentikan langkah. Ia sedikit membungkukkan badan dan melihat ke bawah.

Itu Yasuko. Ia sedang menaiki tangga dan terlambat menyadari kehadiran Ishigami di hadapannya. Begitu melihatnya, ia terkejut dan langsung berhenti berjalan, tepat sebelum mereka berpapasan. Ishigami yang terus menatap ke bawah bisa merasakan Yasuko ingin mengatakan sesuatu. Namun tepat sebelum Yasuko bicara, Ishigami sudah menyapa lebih dulu, "Selamat malam.”

Ishigami menjaga nada suaranya terdengar rendah, sama seperti saat ia berinteraksi dengan orang lain. Tidak ada kontak mata. Irama langkahnya pun tak berubah saat perlahan ia menuruni tangga. Salah satu nasihat Ishigarmi pada Yasuko adalah agar mereka tetap bersikap layaknya tetangga biasa—bahkan saat bertemu muka—karena bisa saja para detektif sedang mengawasi mereka entah di mana. Rupanya Yasuko masih ingat nasihat itu karena ia hanya membalas sapaan Ishigami dengan suara lirih sebelum melanjutkan naik tangga tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Seperti biasa, Ishigami berjalan kaki sampai ke bilik telepon umum. la bergegas mengangkat gagang telepon dan memasukkan kartu. Sekitar tiga puluh meter dari situ ada toko kelontong. Seorang pria yang sepertinya pemiliknya sedang menutup toko. Selain dia, tidak ada orang lain di sekitar situ.

”Di sini Yasuko,” Yasuko langsung menjawab. Nada suaranya menyiratkan ia tahu Ishigami-lah yang menelepon. Entah mengapa hal itu membuat Ishigami senang.

”Aku Ishigarni. Apa terjadi sesuatu yang janggal?”

”Hari ini para detektif datang ke toko.”

”Ke Benten-tei?”

"Ya, masih detektif yang sama.”

”Kali ini apa yang mereka tanyakan?”

”Mereka ingin tahu apakah Togashi pernah datang ke toko.”

”Kau jawab apa?”

”Tentu saja aku bilang tidak pernah. Lalu detektif itu masuk ke dalam toko sambil berkata mungkin saja dia datang saat aku tidak ada. Sepertinya dia menunjukkan foto Togashi pada manajer dan yang lain sambil mengajukan pertanyaan yang sama. Rupanya dia mencurigai aku...”

”Kau tidak perlu takut karena itu sudah termasuk dalam rencana. Apakah hanya itu yang ditanyakannya?”

”Dia juga menanyakan tempat aku pernah bekerja, bar di Kinshicho. Dia ingin tahu apakah belakangan ini aku pernah datang atau menghubungi orang-orang di sana. Sesuai perintahmu, Ishigami, tentu saja aku menjawab tidak. Justru aku balik bertanya mengapa dia menanyakan tempat kerjaku yang lama. Ternyata dia mendapat informasi Togashi pernah datang ke sana.”

?Rupanya begitu.” Ishigami mengangguk sambil tetap memegang gagang penerima telepon. "Aku bisa menebak Togashi datang ke sana karena ingin menyelidiki keberadaanmu.”

”Kurasa begitu karena informasi tentang Benten-tei juga diperolehnya dari sana. Detektif itu sepertinya tidak percaya Togashi tidak pernah datang ke Benten-tei. Akhirnya kujawab memangnya aku bisa apa kalau memang dia tidak pernah datang.”

Ishigami teringat pada detektif bernama Kusanagi itu. Pria yang menimbulkan kesan baik. Tutur katanya halus dan lembut, tapi juga memiliki kemampuan mengumpulkan informasi yang diharapkan dari seorang penyidik utama. Alih-alih membuat takut lawan, ia akan menarik keluar semua kebenaran dari mulut mereka tanpa kentara. Matanya yang jeli juga harus diwaspadai, terutama setelah ia melihat amplop bertuliskan Universitas Teito di antara kiriman pos.

”Ada hal lain yang dia tanyakan?”

”Hanya itu. Tapi Misato...” Ishigami mencengkeram gagang telepon erat-erat. "Apakah detektif itu juga menemuinya?”

"Ya, kudengar mereka mengajaknya bicara seusai sekolah. Masih kedua detektif yang sama.”

”Apakah Misato di situ sekarang?”

”Ya, tunggu sebentar.”

Sesaat kemudian, terdengar suara Misato yang sepertinya sejak tadi berdiri di samping ibunya. "Halo?”

"Apa saja yang ditanyakan para detektif itu?”

”Mereka memperlihatkan foto orang itu, lalu bertanya apakah dia pernah ke rumah...” Yang dimaksud orang itu adalah Togashi.

"Dan kau menjawab 'tidak?”

”Ya.”

”Ada yang lain?”

”Soal film. Apakah kami benar-benar menonton film itu tanggal sepuluh, lalu apa mungkin ada kesalahan tanggal... Tentu saja aku tetap menjawab tanggal sepuluh.”

”Lalu apa kata detektif itu?”

”Dia bertanya apakah aku bercerita atau mengirim e-mail pada seseorang soal aku menonton film.”

"Kau jawab apa?”

”Kujawab aku tidak mengirim e-mail, melainkan bercerita pada seorang teman. Setelah itu dia memintaku memberikan nama teman itu.”

”Sudah kauberikan?”

”Hanya nama Mika.”

”Benarkah kau membahas film itu dengan Mika tanggal dua belas?”

”Benar.” ”Baik, Paman sudah paham. Ada pertanyaan lain dari detektif itu?”

”Tidak ada yang istimewa, kok. Dia hanya bertanya apakah aku menikmati kehidupan sekolah, juga apakah latihan bulu tangkis selama ini terlalu keras... Tapi, kenapa dia bisa tahu aku ikut klub bulu tangkis? Padahal saat itu aku tidak membawa raket.”

Ishigami yakin Kusanagi melihat raket tergantung di dinding apartemen Yasuko. Penglihatan tajam detektif satu ini benarbenar tidak bisa diremehkan.

”Bagaimana?” Yasuko sudah kembali ke telepon.

”Tidak ada masalah,” jawab Ishigami tegas demi menenangkan perasaan Yasuko. "Semuanya berjalan sesuai perkiraan. Kurasa para detektif itu akan datang lagi, tapi selama kau mengikuti petunjuk, semua akan baik-baik saja.”

”Terima kasih banyak, Ishigami. Aku benar-benar mengandalkanmu.”

”Pokoknya jangan menyerah. Bersabarlah sedikit lagi. Nah, sampai besok.”

Sambil menutup telepon dan mengeluarkan kartu, Ishigami sedikit menyesali kalimat "bersabarlah sedikit lagi” yang diucapkannya. Kedengarannya sangat tidak bertanggung jawab, terutama karena ia sendiri tidak bisa menjelaskan dengan gamblang berapa lama lagi waktu yang dimaksud dalam kata ”sedikit” itu. Meski begitu, kenyataan menunjukkan semuanya sesuai perkiraan. Ia sudah menduga pentingnya alibi, karena hanya masalah waktu sampai polisi menemukan bahwa Togashi memang sedang mencari-cari Yasuko. Lalu fakta bahwa polisi menaruh kecurigaan pada alibi itu pun sudah termasuk dalam rencananya.

Ia tidak heran mendengar para detektif itu mengunjungi Misato karena yakin bisa meruntuhkan alibi Yasuko lebih cepat melalui putrinya. Ishigari sudah menyiapkan beberapa cara untuk mengantisipasi tindakan itu, tapi mungkin ada baiknya jika ia mengeceknya kembali untuk memastikan tidak ada yang terlewat.

Sambil memikirkan semua itu, Ishigami sampai di apartemen dan melihat seorang pria berdiri di muka pintu apartemennya. Perawakannya tinggi, ia berjaket hitam tipis. Ia menoleh ke arah Ishigami, mungkin karena mendengar suara langkah kakinya. Lensa kacamatanya berkilat-kilat.

Detektif? Ishigami sempat berpikir demikian, tapi langsung menyangkalnya. Bukan. Sepatu yang dikenakan pria itu jelas produk terbaru berkualitas baik. Sementara Ishigami mendekat dengan waswas, pria itu memanggilnya, ”Ishigami!”

Ishigami menatap wajah lawan bicaranya. Senyum mengembang di wajah pria itu. Senyum yang familier.

Ishigami menghela napas panjang dan membuka mata lebarlebar. "Manabu Yukawa...”

Dan kenangan Ishigami pun berputar kembali ke masa-masa lebih dari dua puluh tahun lalu, seolah baru terjadi kemarin.