--> -->

Kesetiaan Mr. X Bab 04

Bab 04

Kusanagi berjalan kaki dari stasiun kereta api bawah tanah Morishita ke Shin-Ohashi. Namun begitu sampai, ia malah berbelok ke gang di sebelah kanannya. Di antara deretan rumah warga terlihat beberapa toko kecil di sana-sini. Sebagian besar toko sudah beroperasi sejak lama hingga menguarkan hawa nostalgia. Dibandingkan dengan daerah lain yang didominasi supermarket dan toko-toko besar, rupanya daerah ini terbilang berhasil bertahan, pikirnya.

Saat itu pukul 20.00 lebih. Kusanagi berpapasan dengan beberapa wanita tua yang membawa baskom, kemungkinan besar mereka akan pergi ke pemandian umum terdekat.

”Sarana transportasinya nyaman, praktis untuk berbelanja. Memang daerah permukiman yang ideal,” gumam Kishitani yang berjalan di sebelahnya.

”Apa maksudmu?”

”Ah, tidak. Aku hanya sedang berpikir wilayah ini memang cocok untuk tempat tinggal seorang ibu dan putrinya.” ”Setuju.” Dua alasan Kusanagi menyetujui ucapan juniornya. Pertama: mereka memang dalam perjalanan untuk menemui seorang wanita yang hanya tinggal berdua dengan putrinya, dan kedua karena Kishitani sendiri juga dibesarkan hanya oleh ibunya.

Sambil berjalan, Kusanagi mencocokkan alamat yang tertulis di kertas dengan nomor-nomor rumah yang mereka lewati. Seharusnya sebentar lagi mereka sampai. Di kertas itu tertulis nama ”Yasuko Hanaoka”.

Alamat yang ditulis korban ternyata bukan rekaan—yang dibuktikan oleh nomor registrasi kependudukannya—hanya saja ia tidak lagi tinggal di sana. Konfirmasi identitas mayatnya juga muncul di televisi dan surat kabar, disertai imbauan "Bila Anda memiliki informasi, hubungi kantor polisi terdekat!”, tapi sampai sekarang belum ada informasi signifikan.

Polisi berhasil melacak kantor Togashi sebelumnya melalui perusahaan properti tempatnya menyewa kamar. Ia pernah bekerja sebagai salesman mobil bekas di Ogikubo, tapi hanya sebentar karena belum sampai setahun kemudian ia berhenti. Berpijak pada data tersebut, riwayat kerja pria itu mulai terungkap. Yang paling mengejutkan, ternyata korban pernah bekerja sebagai salesman mobil mewah, tapi dipecat karena ketahuan menggelapkan uang perusahaan. Tidak ada gugatan yang diajukan. Seorang penyidik hanya berhasil memperoleh info samar mengenai kasus penggelapan itu. Meskipun perusahaan itu benar ada, tidak seorang pun mengetahui detail peristiwa itu, setidaknya itu alasan yang dikemukakan pihak perusahaan.

Saat penggelapan itu terjadi, Togashi sudah menikah. Menurut orang-orang yang cukup mengenalnya, ia masih suka menghubungi mantan istrinya walau mereka sudah bercerai. Mantan istrinya memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Mencari keberadaan mereka bukan hal yang sulit. Dalam waktu singkat, penyidik berhasil menemukan alamat Yasuko Hanaoka dan Misato, yaitu di Morishita, Distrik Koto. Alamat itulah yang dituju Kusanagi dan Kishitani.

”Posisi kita memang sulit. Rasanya seperti menarik undian yang salah.” Kishitani menghela napas.

”Heh, jadi maksudmu pergi menginvestigasi bersamaku sama saja dengan salah undian?”

”?Bukan. Aku hanya tak ingin mengganggu kehidupan damai pasangan ibu dan anak itu.”

”Selama tidak terlibat dalam kasus ini, mereka tidak perlu merasa terganggu.”

”Benar juga, apalagi sepertinya Togashi tipe suami dan ayah yang jahat. Mereka pasti tidak suka jika diingatkan lagi.”

” Justru mereka akan menyambut kita dengan gembira karena kita akan menyampaikan berita meninggalnya pria jahat itu. Nah, jangan pasang wajah muram seperti itu lagi. Bisa-bisa aku jadi ikut-ikutan depresi... Eh, sepertinya ini tempatnya.” Kusanagi menghentikan langkah di depan apartemen tua.

Gedung apartemen itu berwarna abu-abu kusam dengan sisa perbaikan di dindingnya. Gedung itu terdiri atas dua lantai yang masing-masing memiliki empat unit karnar. Saat ini hanya separuh dari keseluruhan unit yang lampunya menyala.

”?Unit 204, berarti di lantai dua.” Kusanagi menaiki tangga diikuti Kishitani. Unit yang dimaksud terletak paling ujung dari tangga. Cahaya lampu menerobos keluar dari jendela yang posisinya sejajar dengan pintu. Kusanagi lega karena penghuni apartemen itu ada, mengingat kunjungan malam ini tanpa pemberitahuan, sehingga ia tidak perlu datang lagi. Bel pintu berdering, disusul suara gerakan dari dalam apartemen. Terdengar bunyi kunci diputar dan pintu pun dibuka— dengan rantai masih terpasang. Tindakan pengamanan yang wajar, mengingat penghuninya hanya ibu dan putrinya.

Seorang wanita menatap Kusanagi dan Kishitani dengan curiga dari celah pintu. Wajahnya mungil, dengan sepasang mata hitam menawan. Kusanagi langsung sadar cahaya samar lampu membuat wanita itu terlihat seperti berusia di bawah tiga puluh tahun. Punggung tangannya yang memegang kenop pintu adalah tangan ibu rumah tangga.

” Permisi, apakah Anda Yasuko Hanaoka-san?” Kusanagi mengatur ekspresi wajah dan nada suaranya sehalus mungkin.

"Ya, saya sendiri,” jawab wanita itu gelisah.

” Kami dari kepolisian. Ada sesuatu yang ingin kami sampaikan.” Kusanagi mengeluarkan buku saku dan memperlihatkan tanda pengenal. Kishitani di sebelahnya juga melakukan hal sama.

”Polisi...” Mata wanita itu membelalak lebar. Ia terlihat kaget.

”Boleh kami minta waktu sebentar?”

”Ya, silakan.” Yasuko Hanaoka menutup pintu sesaat untuk melepaskan rantainya, lalu membukanya lagi. "Sebenarnya apa yang terjadi?”

Kusanagi melangkah masuk diikuti Kishitani. "Anda mengenal Shinji Togashi?”

Ketegangan yang muncul sekilas di wajah wanita itu tidak luput dari pengamatan Kusanagi. Tapi mungkin itu karena nama mantan suaminya mendadak disinggung.

”Dia mantan suami saya... Ada apa dengannnya?” Sepertinya ia tidak tahu pria itu tewas dibunuh. Mungkin ia tidak membaca surat kabar atau menonton berita. Dengan pemberitaan media massa yang tidak terlalu gencar, wajar jika ia sampai tidak mengetahuinya.

”Sebenarnya...” Kusanagi baru saja membuka mulut saat sudut matanya menangkap pintu geser di dalam. Pintu itu tertutup rapat. "Ada siapa di dalam?” ia bertanya.

”Putri saya.”

”Oh, begitu.” Ada sepasang sepatu olahraga di rak sepatu. Kini Kusanagi merendahkan suaranya, "Saya ingin mengabarkan bahwa Togashi-san sudah meninggal.”

Bibir Yasuko mengeluarkan kata ”Eh?”, lalu berhenti. Selain itu, tidak ada perubahan berarti di wajahnya. ”Ke... kenapa bisa begitu? Apa yang terjadi?”

”Mayatnya ditemukan di tepi Sungai Kyuu-Edo. Memang belum bisa dipastikan, tapi ini mungkin kasus pembunuhan,” Kusanagi menjelaskan dengan lugas. Dengan cara ini ia bisa melakukan interogasi singkat.

Sampai di sini baru terlihat raut terkejut di wajah Yasuko. Perlahan ia menggeleng. ”Dia... Kenapa bisa begitu?”

”'Saat ini kami masih menyelidikinya. Sepertinya Togashi-san tidak memiliki keluarga dan kami mendapat informasi Anda mantan istrinya. Alasan itulah yang membawa kami berkunjung malam-malam begini. Mohon maaf sebesar-besarnya.” Kusanagi menunduk.

”Oh, ehm, begitu.” Yasuko menyentuh bibirnya dan menunduk.

Di lain pihak, Kusanagi tertarik pada pintu geser yang tertutup rapat. la penasaran apakah putri wanita ini bisa mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu. Jika benar, bagaimana reaksinya terhadap kematian ayah tirinya?

”Maafkan atas pertanyaan ini. Anda dan Togashi-san bercerai lima tahun lalu. Apakah setelah itu Anda masih bertemu dengannya?”

Yasuko menggeleng. "Nyaris tidak setelah bercerai.” Kata ”'nyaris” menandakan mereka bukannya tidak pernah bertemu sama sekali. ”Seingat saya sudah cukup lama kami tidak bertemu. Mungkin tahun lalu, atau tahun sebelumnya...”

”Kalian tidak pernah saling mengontak lewat telepon atau surat?”

”Tidak.” Yasuko menggeleng tegas.

Sementara bertanya, tanpa kentara tatapan Kusanagi menelusuri bagian dalam apartemen. Ruangan berukuran enam tatami yang cukup tua, tapi terlihat rapi karena selalu dibersihkan dan dipelihara dengan baik. Jeruk mandarin diletakkan di atas kotatsu. Sesaat Kusanagi dilanda gelombang nostalgia saat melihat raket bulu tangkis digantungkan di dinding. Semasa kuliah ia pernah bergabung di klub.

”Togashi-san diperkirakan tewas malam hari tanggal sepuluh Maret,” kata Kusanagi. "Kami ingin tahu apa ada hal spesifik pada tanggal maupun lokasi penemuan jenazah. Petunjuk sekecil apa pun akan sangat membantu.”

”Saya tidak tahu. Tanggal itu tidak spesial bagi kami. Selain itu, saya tidak tahu apa yang dikerjakannya belakangan ini.”

”Oh, begitu.”

Yasuko jelas terlihat resah. Wajar jika ia enggan ditanyai tentang mantan suaminya. Kusanagi pun belum bisa menemukan kaitan wanita itu dalam kasus ini dan menimbang-nimbang apakah wawancara hari ini cukup sampai di sini. Tapi ada satu hal yang ingin dipastikannya.

”Anda di rumah tanggal sepuluh Maret?” Kusanagi bertanya sembari mengembalikan buku catatan ke saku, seakan pertanyaan barusan dilontarkannya hanya sambil lalu. Tapi usahanya tidak menimbulkan efek yang diharapkan. Yasuko mengerutkan alis dan terlihat jengkel.

”Haruskah saya menceritakan semua yang terjadi di hari itu?”

Kusanagi tertawa. ”Tolong jangan diambil hati. Hanya saja akan sangat membantu jika Anda bisa menceritakannya dengan jelas.”

”Tunggu sebentar.” Yasuko menatap sudut dinding tempat Kusanagi duduk. Kalender tergantung di sana. Sebenarnya Kusanagi ingin melihat sendiri jadwal apa yang tertulis di situ, tapi ia memutuskan untuk bersabar. ”Saya bekerja sejak pagi, lalu jalan-jalan bersama putri saya.”

”Anda berdua pergi ke mana?”

”Kami nonton film di bioskop Rakutenchi, Kinshicho.”

”Saya ingin tahu garis besarnya saja. Jam berapa Anda pergi? Kalau bisa tolong beritahukan judul filmnya.”

”Kami pergi sekitar pukul 18.30,” ujar Yasuko, lalu menyebutkan judul film.

Kusanagi mengenali judul film itu. Film populer produksi Hollywood yang dibuat berseri dan kini sudah mencapai bagian tiga. "Apa Anda langsung pulang setelah menonton?”

”Kami makan ramen dulu di restoran, di gedung yang sama. Kemudian baru pergi ke karaoke.”

"Karaoke? Kalian pergi ke karaoke?”

”Ya, itu permintaan putri saya.”

”000oh.... Anda berdua sering pergi bersama, ya?”

”Yah, setidaknya sekali dalam satu atau dua bulan.”

”Berapa lama Anda di sana?”

"Biasanya sekitar satu setengah jam karena saya khawatir ke-

malaman.” ”Menonton film, makan malam, karaoke... Anda sampai di rumah pukul...?”

"Sepertinya pukul 23.00 lebih. Saya tidak ingat persisnya.”

Kusanagi mengangguk. Ada sesuatu yang membuatnya tidak puas, hanya saja ia belum tahu sebabnya.

Setelah meminta nama tempat karaoke itu, Kusanagi dan Kishitani mohon diri dan meninggalkan apartemen.

Begitu mereka agak jauh dari unit 204, Kishitani berbicara lirih, "Kurasa mereka tidak ada sangkut pautnya dengan kasus ini.”

”Belum bisa dipastikan.”

”Ibu dan anak pergi bersama ke karaoke, pasti seru. Kelihatannya harmonis sekali.” Jelas Kishitani tidak ingin mencurigai Yasuko Hanaoka.

Seorang pria setengah baya menaiki tangga. Perawakannya pendek dan tegap. Kusanagi dan Kishitani menghentikan langkah supaya ia bisa lewat. Pria itu membuka kunci unit 203 lalu masuk.

Kusanagi dan Kishitani berpandangan sejenak dan langsung membalikkan badan. Nama ”Ishigami” terpampang di muka pintu unit 203. Mereka menekan bel dan pria tadi membuka pintu. Ia berdiri di ambang pintu—jaketnya sudah dilepas—mengenakan baju hangat dan pantalon. Dengan wajah tanpa ekspresi, ia menatap Kusanagi dan Kishitani bergantian. Orang biasa pasti sudah curiga dan waspada, tapi keduanya tidak ada di wajah pria ini. Ini benar-benar di luar dugaan Kusanagi.

”Maaf mengganggu malam-malam begini. Bersediakah kau membantu kami?” Kusanagi memperlihatkan tanda pengenalnya sambil tersenyum ramah. Namun ekspresi pria itu biasa saja. Kusanagi maju selangkah. ”Hanya beberapa menit saja. Ada sesuatu yang ingin kami tanyakan.” Khawatir ucapannya tak jelas, Kusanagi mengangkat tanda pengenalnya tepat di hadapan pria itu. ”Soal apa?” Pria itu bertanya tanpa menghiraukan tanda pengenal Kusanagi. Kelihatannya ia sudah tahu Kusanagi dan Kishitani detektif kepolisian.

Kusanagi merogoh saku jaket dan mengeluarkan foto. Itu foto Togashi saat masih bekerja di gerai mobil tua.

”Foto ini memang agak tua, tapi apakah baru-baru ini kau melihat orang di foto ini?”

Pria itu mengamati foto dengan teliti, lalu mendongak menatap Kusanagi. ” Hmm, aku tidak mengenalnya.”

” Jadi kau belurn pernah melihat seseorang yang mirip dengannya?”

”Di mana?”

”Yah, misalnya di sekitar lingkungan ini...”

Pria itu mengerutkan kening dan sekali lagi menatap foto itu. Tidak ada reaksi, batin Kusanagi.

”Entahlah,” katanya kemudian. "Aku bukan tipe yang suka mengingat wajah orang yang berpapasan di jalan.”

”Baiklah.” Kusanagi menganggap sia-sia saja mereka meminta keterangan pria ini. "Apakah kau selalu pulang di jam ini?”

”Tidak selalu. Sesekali aku pulang terlambat karena ada kegiatan klub.”

”Klub?”

”Aku penasihat klub judo. Tugasku antara lain mengunci dojo” setelah latihan selesai.”

”Ah, kau guru, ya?”

"Ya, guru SMA.” Pria itu menyebutkan nama sekolah tempatnya bekerja.

”Baiklah. Maaf sudah mengganggu.” Kusanagi membungkukkan badan. Saat itulah matanya tertuju pada tumpukan diktat mate-

 Dojo: Bangunan untuk tempat berlatih cabang bela diri Jepang. matika di samping pintu. Guru matematika, pikirnya ngeri. Dulu ia paling lemah dalam pelajaran itu. ” Namamu Ishigami? Tadi aku melihat nama itu di pintu.”

”Benar, aku Ishigami.”

”Nah, Ishigami-san, aku ingin bertanya. Jam berapa kau pulang tanggal sepuluh Maret?”

”Sepuluh Maret? Memangnya ada apa dengan tanggal itu?”

”Sebenarnya ini tidak berkaitan denganmu. Kami hanya ingin mengumpulkan informasi.”

”Oh, begitu. Sepuluh Maret, ya...” Tatapan Ishigami sesaat menerawang jauh sebelum akhirnya kembali kepada Kusanagi. ”Kalau tidak salah, hari itu aku pulang lebih awal. Kira-kira pukul 19.00.”

”Bagaimana keadaan tetanggamu saat itu?”

”Tetangga?”

”Maksudku apartemen Hanaoka-san,” jelas Kusanagi dengan sangat lirih.

”Apa yang terjadi pada Hanaoka-san?”

”Tidak ada apa-apa. Seperti yang tadi kujelaskan, aku hanya ingin mencari informasi.”

Air muka Ishigami tampak seperti mereka-reka sesuatu. Mungkin ia mulai menebak apa yang sebenarnya terjadi pada tetangganya. Dilihat dari kondisi ruangan apartemennya, Kusanagi menduga Ishigami bujangan.

”?Aku tidak ingat. Setahuku tidak ada yang aneh,” jawab Ishigami.

”Kau bisa mendengar bunyi sesuatu? Atau percakapan?”

”Hmm...” Ishigami berpikir sejenak. ”Tidak ada yang khusus, kurasa.”

”Baiklah. Apakah kau akrab dengan Hanaoka-san?” ”Hanya sebatas saling memberi salam jika bertemu. Namanya saja tetangga.”

”Terima kasih. Sekali lagi maaf karena sudah mengganggu.”

”Tidak masalah.” Ishigami menundukkan kepala sementara tangannya terulur ke kotak pos di sisi dalam ruangan. Mata Kusanagi yang semula mengikuti gerakan tangan itu tanpa menaruh perhatian, mendadak terbuka lebar. Ia bisa melihat tulisan "Universitas Teito” di antara kiriman pos yang diterima pria itu.

”Maaf, ” Kusanagi bertanya agak sungkan, "kau alumnus Universitas Teito?”

”Benar.” Mata Ishigami membesar, lalu ia menyadari pertanyaan detektif itu merujuk ke kiriman pos yang dipegangnya. "Ah, ini? Ini buletin alumni universitas. Memangnya kenapa?”

”Tidak apa-apa, hanya saja aku punya kenalan yang juga alumnus universitas itu.”

"Begitu."

"Kami permisi.” Kusanagi membungkuk sopan dan meninggalkan ruangan.

Setelah jarak mereka dari apartemen itu cukup jauh, Kishitani bertanya, ”Senior, kau juga alumnus universitas itu, kan? Kenapa tidak bilang saja padanya?”

”Tidak perlu, aku takut dianggap tidak sopan. Lagi pula, kemungkinan besar dia lulusan Fakultas Sains.”

” Jangan-jangan Senior tidak pernah akur dengan segala sesuatu yang berbau sains?” Kishitani menyeringai.

”Sudah ada seseorang di dekatku yang selalu mengingatkan soal itu.” Kusanagi langsung membayangkan wajah Manabu

Yukawa. ek Sepuluh menit setelah para detektif itu pergi, Ishigami keluar dari apartemennya. Ia melirik unit apartemen sebelah. Setelah memastikan cahaya lampu memancar dari unit 204, ia menuruni tangga.

la harus berjalan kaki kurang lebih sepuluh menit untuk mencapai telepon umum terdekat yang sepi. Sebenarnya ia memiliki ponsel—bahkan pesawat telepon konvensional—tapi ia menganggap keduanya tidak dapat dipakai.

Sambil berjalan, Ishigami kembali mengingat-ingat percakapannya dengan para detektif. Ia yakin tidak meninggalkan satu pun petunjuk yang bisa mengaitkannya dengan kasus tersebut. Tetapi apa pun bisa terjadi. Kepolisian pasti bisa menduga tenaga seorang lelakilah yang memindahkan mayat itu. Kemudian mereka akan bersemangat menelaah kemungkinan ada pria yang rela mengotori tangan dengan kejahatan demi Yasuko Hanaoka dan putrinya. Bukannya tidak mungkin mereka akan mencurigai seorang guru matematika bernama Ishigami hanya karena ia tinggal di sebelah ibu dan anak itu.

Mulai sekarang, jangankan ke apartemen sebelah, aku juga harus menghindari pertemuan langsung dengan mereka, pikir Ishigami. Alasan itu juga yang membuatnya tidak menelepon dari rumah, karena polisi bisa mengetahui dari catatan telepon seberapa sering ia menghubungi apartemen Yasuko Hanaoka.

Lalu soal Benten-tei...

Untuk yang satu ini Ishigami belum bisa memutuskan. Memang sebaiknya ia tidak perlu ke sana sementara waktu, tapi polisi pasti juga akan datang untuk mencari informasi tidak lama lagi. Bagaimana jika staf toko memberitahu mereka, guru matematika tetangga Yasuko Hanaoka nyaris setiap hari membeli bento di sana? Ishigami dihadapkan pada dua pilihan: kemungkinan dirinya akan dicurigai jika tiba-tiba ia tidak pernah muncul lagi setelah peristiwa itu, atau tetap datang seperti biasa. Ia tidak yakin bisa menemukan jawaban logis dari masalah ini, karena ia sadar betul alasan utamanya mengunjungi Benten-tei selama ini: tempat itulah titik kontak satu-satunya dengan Yasuko. la takkan bisa menemui wanita itu tanpa mengunjungi tempat kerjanya.

Ishigami sampai di bilik telepon umum. Dimasukkannya kartu telepon bergambar foto bayi seorang rekan kerjanya, lalu ditekannya nomor ponsel Yasuko. Ia sudah mempertimbangkan kemungkinan telepon rumah perempuan itu disadap. Polisi pernah menyatakan kepada masyarakat sipil bahwa tidak ada hal seperti itu, tapi Ishigami sarna sekali tidak percaya.

”Halo?” Terdengar suara Yasuko. Sebelumnya Ishigami sudah memberitahukan ia akan menghubunginya lewat telepon umum.

”Aku Ishigami.”

”Ah, ya.”

”Tadi detektif mendatangi apartemenku. Kurasa mereka juga sudah mengunjungimu?”

”Ya, baru saja.”

”Apa saja yang mereka tanyakan?”

Ishigami menata, menganalisis, dan mengingat cerita Yasuko dalam benaknya. Untuk saat ini, polisi sepertinya belum mencurigai Yasuko secara khusus. Mengecek alibi seseorang bukan prosedur yang sulits cukup mengirim penyidik yang menganggur untuk bertanya ke sana-sini. Namun, mereka pasti akan kembali membidik wanita itu begitu berhasil menemukan Togashi datang ke apartemennya. Pertama, mereka akan menyelidiki kembali kesaksian Yasuko bahwa akhir-akhir ini ia tak pernah menemui Togashi. Ia sudah mengajari Yasuko cara membela diri.

” Mereka juga menemui Misato?” Ishigami kembali bertanya. ”Tidak, saat itu dia sedang di kamar.”

”Bagus. Tapi kelak mereka juga akan meminta keterangannya. Kau sudah memberitahunya cara mengatasi situasi itu?”

"Ya, beberapa kali. Dia bilang tidak masalah.”

”Maaf kalau aku terkesan cerewet, tapi kalian tidak perlu sampai berakting. Batasi diri dengan hanya menjawab pertanyaan.”

”Baik, akan kusampaikan padanya.”

”Kau sudah memperlihatkan potongan tiket bioskop itu kepada detektif?”

”Hari ini belum. Bukankah kau sendiri yang bilang supaya memperlihatkannya jika diminta?”

”Bagus sekali. Di mana kau simpan tiket itu?”

”Di laci.”

” Jarang ada orang yang begitu telaten menyimpan potongan tiket di laci. Selipkan saja di pamflet. Mereka akan curiga jika kau menyimpannya di laci.”

”Aku mengerti.”

”Lalu,” Ishigami menelan ludah. Ia mencengkeram gagang telepon kuat-kuat. ”Apakah para staf Benten-tei tahu aku sering datang?”

”Eh...' Rupanya Yasuko menganggap pertanyaan itu terlalu tiba-tiba sehingga kata-katanya terhenti.

”Aku ingin tahu bagaimana kesan mereka tentang tetanggamu yang rutin membeli bento di sana. Tolong jawab dengan benar karena ini sangat penting.”

”Ehm, manajer toko pernah bilang dia sangat berterima kasih karena punya pelanggan tetap sepertimu.”

”Dan dia pasti tahu kita bertetangga.”

”Ya, begitulah. Apa ada yang salah?”

”Biar aku saja yang memikirkannya. Pokoknya kau cukup bergerak sesuai pembicaraan kita sebelumnya. Paham? Ya.”

”Kalau begitu, sampai di sini dulu.” Ishigami menjauhkan gagang telepon dari telinganya.

”Ishigami-san?” Yasuko memanggilnya.

Ya?”

”Terima kasih banyak. Aku berutang budi padamu.”

”Tak usah dipikirkan. Sampai jumpa.” Ishigami menutup telepon. Satu perkataan saja dari perempuan itu, dan darah di sekujur tubuhnya seakan bergolak. Wajahnya merah padam sehingga tiupan angin dingin terasa sejuk. Ketiaknya basah oleh keringat. Ia pun kembali ke rumah diselimuti perasaan bahagia.

Sayangnya, perasaan meluap-luap itu tidak bertahan lama saat ia teringat Benten-tei. Ia sadar ia membuat satu kesalahan saat menghadapi pertanyaan para detektif: Ia berkata hubungan dirinya dengan Yasuko Hanaoka hanya sebatas memberi salam, padahal seharusnya ia menambahkan ia sering membeli bento di kedai tempat Yasuko bekerja.

"Bagaimana, Kalian sudah memeriksa alibi Yasuko Hanaoka?” tanya Mamiya sembari mengikir kuku. Ia menyuruh Kusanagi dan Kishitani mendekat.

” Kami sudah mengunjungi tempat karaoke,” jawab Kusanagi. "Pegawai di sana masih ingat karena wajah mereka familier. Catatannya juga ada. Mereka menyanyi di sana selama satu setengah jam, mulai pukul 21.40.”

”Sebelumnya?”

”Dari durasi film yang mereka tonton, film itu diputar tepat pukul 19.00 dan selesai pukul 21.10. Setelah itu mereka makan ramen. Semua cocok dengan keterangan yang mereka berikan,” Kusanagi menyampaikan laporan sembari melihat buku catatannya.

”Yang kutanyakan bukan cocok tidaknya keterangan mereka, tapi apakah kalian berhasil mengonfirmasikan bukti?”

Kusanagi menutup buku catatannya, lalu mengedik. ”Belum.”

”Dan menurutmu itu sudah cukup?” Mamiya melemparkan tatapan tajam.

”Tapi Komandan, kau tahu sendiri bioskop dan restoran ramen tempat paling sulit untuk mengecek alibi.”

Sementara Kusanagi mengoceh, Mamiya melemparkan kartu nama ke meja. Di kartu itu tertulis ”Kelab Marian”, beralamat di Kinshicho.

”Yasuko Hanaoka pernah bekerja di sini. Dan Togashi mampir tanggal lima Maret.”

”Itu berarti hanya lima hari sebelum dia dibunuh...”

”Dia meninggalkan tempat itu setelah bertanya ini-itu tentang Yasuko Hanaoka. Nah, sekarang kalian tahu apa yang harus dikerjakan, bukan?” Mamiya menunjuk Kusanagi dan Kishitani. ”Cepat selidiki tempat itu! Kalau gagal, segera kembali ke apartemen Yasuko!”