--> -->

Kesetiaan Mr. X Bab 02

Bab 02

Misato menjatuhkan benda yang tadi digunakannya. Vas perunggu yang mereka peroleh saat acara pembukaan Benten-tei.

Yasuko menatap putrinya. ”Misato, kau...”

Ekspresi Misato tetap datar. Tubuhnya tidak bergerak, seakan nyawanya terbang entah ke mana. Tapi detik berikutnya, ia membelalakkan mata lebar-lebar ke belakang Yasuko. Yasuko menoleh dan melihat Togashi terhuyung-huyung dan berusaha berdiri. Wajahnya menyeringai. Tangannya menekan bagian belakang kepala.

”Kalian...” Togashi mengerang. la menatap Misato dengan sorot keji. Setelah sempat tersaruk-saruk, kini ia mendatangi anak itu dengan langkah-langkah lebar.

Yasuko langsung berdiri di depan putrinya, bermaksud melindunginya. ”Hentikan?”

”Minggir!” Togashi mencengkeram lengan Yasuko dan mendorongnya ke samping dengan sekuat tenaga. Tubuh Yasuko terempas dan pinggulnya membentur dinding dengan keras. Misato nyaris kabur, tapi Togashi telanjur mencengkeram bahunya dan memaksanya berlutut. Ia lantas menindih Misato, seperti ingin menghancurkan anak itu dengan bobot tubuhnya. Tangan kirinya menjambak rambut Misato dan tangan kanannya menampar pipi-anak itu.

”Kubunuh kau?” Togashi meraung seperti binatang buas.

Misato bisa mati, pikir Yasuko panik. Kalau begini terus, dia benar-benar akan mati...

Yasuko melihat ke sekeliling sampai tatapannya jatuh ke kabel kotatsu. Dicabutnya kabel itu dari stopkontak, padahal ujung satunya masih menancap di kotatsu. Ia mendekati Togashi dari belakang sementara pria itu masih berteriak-teriak marah sambil meringkus Misato. Dikalungkannya kabel itu ke leher Togashi dan ditariknya dengan sekuat tenaga.

”Aaaaaaarghh!!!” Togashi meraung keras dan ia jatuh dengan punggung terlebih dulu. Panik, dan seperti sudah menduga apa yang telah terjadi, jemarinya berusaha meraih kabel di leher. Yasuko mati-matian mengerahkan tenaga dan terus menjerat. Jika sampai terlepas, tak akan ada lagi kesempatan kedua dan Togashi akan mengganggu kehidupan mereka selamanya. Namun, fisik Yasuko kalah kuat. Kabel di tangannya mulai tergelincir.

Di saat yang tepat, Misato buru-buru melepaskan jemari Togashi yang mencengkeram kabel, lalu menindih tubuhnya supaya pria itu berhenti memberontak.

”Cepat, Ibu! Cepat!” jerit Misato.

Tidak ada waktu lagi untuk ragu-ragu. Yasuko memejamkan mata dan menyalurkan seluruh tenaga ke kedua tangannya. Jantungnya berdegup keras. Ia seakan bisa mendengar detak jantung dan aliran darahnya sendiri sementara ia semakin mengencangkan jeratan. Entah berapa lama waktu berlalu hingga ia sadar kembali. Suara lirih Misato yang pertama kali terdengar olehnya, dan gadis itu terus memanggil, "Ibu, Ibu.” Perlahan, Yasuko membuka mata. Kabel itu masih di tangannya. Dan kepala Togashi-lah pemandangan pertama yang menyambutnya. Matanya yang terbuka lebar berwarna abu-abu dan kosong. Wajahnya pucat kebiruan akibat penyumbatan aliran darah. Lehernya meninggalkan bekas lebam akibat jeratan kabel. Tubuhnya tidak bergerak. Air liur mengalir dari mulutnya, sementara hidungnya juga mengeluarkan cairan.

Yasuko berteriak, ”liih!!”, dan melemparkan kabel yang sejak tadi dipegangnya. Kepala Togashi terkulai di atas tatami dengan bunyi ”krek”, tapi ia tetap tidak bergeser sesenti pun dari posisinya. Misato yang ketakutan setengah mati meloloskan diri dari tubuh lelaki itu dan bersandar di dinding. Roknya kusut. Matanya terus menatap Togashi.

Selama beberapa saat, ibu dan anak itu hanya bisa membisu. Pandangan mereka tidak bisa lepas dari sosok yang kini tidak bergerak itu. Yang terdengar oleh Yasuko hanya dengung lampu neon yang semakin keras.

”Bagaimana ini...” gumamnya. Kepalanya kosong. ” Aku membunuhnya.”

”Ibu...”

Kini Yasuko menatap putrinya. Pipi anak itu seputih kertas, tapi sorot matanya terlihat membara. Ada jejak air mata. Yasuko tidak tahu sejak kapan Misato meneteskan air mata.

Yasuko kembali rmenatap Togashi. Perasaan campur aduk berkecamuk di dadanya, sementara ia setengah berharap pria itu masih bernapas. Namun ia harus menghadapi kenyataan, Togashi tidak akan hidup kembali. "Dia... yang salah...” Misato menekuk kaki dan membenamkan wajah di antara kedua lutut. Ia mulai menangis terisak-isak.

Saat Yasuko memikirkan tindakan yang harus ia ambil, bel pintu berbunyi. Yasuko tersentak saking kagetnya.

Misato ikut mendongak. Kali ini ada air mata di pipinya. Mereka berpandangan dan bertanya-tanya, Siapa yang datang selarut ini?

Suara bel disusul ketukan di pintu. Lalu suara pria, ”Hanaokasan?”

Suara itu tidak asing lagi, tapi sesaat Yasuko tidak bisa mengingat siapa pemiliknya. Seakan ada sesuatu yang menahannya untuk bergerak. la kembali bertukar pandang dengan putrinya.

Ketukan itu kembali terdengar. ”Hanaoka-san? Nyonya?”

Rupanya orang di balik pintu tahu Yasuko dan putrinya ada di dalam. Sebenarnya tidak ada alasan bagi Yasuko untuk tidak membukakan pintu, tapi tidak dengan kondisinya sekarang. ”Pergilah ke ruangan dalam dan tutup pintu. Jangan sekali-sekali keluar,” perintah Yasuko pada Misato lirih. Akhirnya ia bisa kembali berpikir jernih.

Lagi-lagi terdengar ketukan. Yasuko menarik napas dalamdalam lalu menjawab, ”Ya?” Ia berakting mati-matian supaya suaranya terdengar tenang. ”Siapa?”

?Aku Ishigami, dari sebelah.”

Yasuko terperangah. Seharusnya suara-suara yang sejak tadi ditimbulkannya tidak sampai membuat tetangganya itu bertanyatanya. Sekarang, Ishigami pasti ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

”Ya! Tolong tunggu sebentar.” Yasuko berusaha membuat suaranya senormal mungkin, tapi ia tidak tahu apakah usahanya itu cukup meyakinkan. Misato sudah masuk ke ruangan dalam dan menutup pintu. Yasuko kembali menatap mayat Togashi. Bagaimanapun, ia harus membereskan masalah ini.

Kotatsu di ruang tamu terjungkir. Pasti akibat kabelnya yang dicabut. Setelah mengembalikan meja itu ke tempatnya, Yasuko menutupi tubuh Togashi dengan futon yang tadinya digunakan untuk menutupi kotatsu. Posisinya terlihat aneh, tapi apa boleh buat. Setelah memastikan tidak ada sesuatu yang janggal pada dirinya, Yasuko menatap sepatu kotor milik Togashi di keset dekat pintu depan. Ia langsung mendorongnya ke bawah rak sepatu.

Perlahan Yasuko melepaskan rantai pintu yang rupanya tidak terkunci. Untung Ishigami tidak sampai membukanya, pikirnya sambil mengembuskan napas lega. Pintu terbuka. Wajah Ishigami yang besar dan bulat muncul dari balik pintu. Matanya yang kecil menatap Yasuko. Ekspresi datar wajahnya menimbulkan perasaan aneh.

”Eh, ada perlu apa?” Yasuko tersenyum. Ia sadar urat-urat pipinya menegang.

”Barusan aku mendengar keributan,” ujar Ishigami. Seperti biasa, air mukanya sulit dibaca. ”Apa terjadi sesuatu?”

"Tidak, tidak ada apa-apa.” Yasuko menggeleng kuat-kuat. ”Maaf sudah menyusahkan.”

”Syukurlah kalau begitu.”

Yasuko melihat mata kedil Ishigami menjelajahi ruangan apartemennya. Sekujur tubuhnya mendadak terasa panas. "Eh, tadi ada kecoak...” Ia langsung mengucapkan apa yang terlintas di otaknya.

”Kecoak?”

”Ya. Ada kecoak muncul, jadi... aku dan putriku langsung memburunya. Makanya tadi sempat ada keributan.” ” Kalian berhasil membunuhnya?”

”Ya.” Raut wajah Yasuko langsung menegang mendengar pertanyaan Ishigami.

”Dan kecoak itu sudah disingkirkan?”

”Ya, begitulah. Sudah tidak apa-apa.” Yasuko menjawab sembari berkali-kali mengangguk.

”Baiklah. Kalau ada yang bisa kubantu, jangan segan-segan meminta.”

”Terima kasih banyak. Aku minta maaf sebesar-besarnya karena menimbulkan keributan.” Yasuko menunduk, lalu menutup pintu dan menguncinya. Ishigami pun kembali ke apartemennya sendiri. Yasuko langsung mengembuskan napas lega saat mendengar suara pintu apartemen pria itu ditutup. Tahu-tahu, ia sudah merosot di tempatnya berdiri.

la mendengar suara pintu geser dibuka di belakangnya. Lalu suara Misato yang memanggil, "Ibu...”

Yasuko bangkit perlahan. Ia kembali putus asa saat melihat gundukan futon di dekat kotatsu. ”Apa boleh buat...” Akhirnya ia dapat mengucapkan sesuatu.

”Apa ada yang bisa kita lakukan?” Misato menatap ibunya.

”Tidak ada. Ibu... akan menelepon polisi.... Menyerahkan diri...”

”Menyerahkan diri?”

”Mau bagaimana lagi? Orang mati takkan hidup lagi.”

”Lalu apa yang akan terjadi pada Ibu?”

”Entahlah...” Yasuko sadar rambutnya berantakan dan mulai menyisirnya. Entah apa yang dipikirkan guru matematika tetangganya itu, tapi sekarang ia tidak peduli lagi.

Misato bertanya lagi, ”Apa Ibu akan masuk penjara?”

”Mungkin saja.” Yasuko melemaskan bibir yang sejak tadi dipaksanya tersenyum. "Bagaimanapun, Ibu membunuhnya.” Misato menggeleng dengan sengit. "Itu aneh!”

Apanya?”

”Ibu kan tidak bersalah. Dia yang jahat. Padahal kita sudah tak punya urusan dengannya, tapi dia terus membuat kita menderita... untuk apa Ibu masuk penjara gara-gara orang seperti dia?”

”Membunuh tetap membunuh.” Anehnya, perasaan Yasuko kini jauh lebih tenang sementara ia menjelaskan pada putrinya. Setelah bisa kembali berpikir jernih, ia semakin menyadari tidak ada jalan lain. Ia tak pernah menginginkan Misato menjadi putri pembunuh, tapi jika memang mereka tidak bisa lolos dari fakta itu, setidaknya ia harus memilih cara yang bisa menghindarkan putrinya dari pandangan sebelah mata masyarakat.

Mata Yasuko tertuju ke arah pesawat telepon nirkabel yang terbalik di sudut ruangan. Ia menjulurkan tangan untuk mengambilnya.

” Jangan!” Misato bergegas menghampiri Yasuko untuk merebut telepon dari ibunya.

”Lepaskan Ibu!”

”Kubilang jangan!” Misato mencengkeram pergelangan tangan ibunya. Mungkin latihan bulu tangkis membuatnya begitu kuat.

”Lepaskan Ibu, Misato!”

”Tidak! Biar aku saja yang menyerahkan diri!”

” Jangan bodoh!”

”Tapi aku yang pertama kali menghantamnya dan Ibu hanya membantuku! Lalu aku juga ikut membantu Ibu, bukan? Artinya aku juga pembunuh!”

Yasuko tertegun. Pegangannya di pesawat telepon mengendur. Memanfaatkan kesempatan itu, Misato segera merebut pesawat telepon dan membawanya ke sudut kamar untuk disembunyikan, membelakangi ibunya.

Polisi... Pikiran Yasuko berputar-putar. Apakah mereka akan memercayai ceritanya? Apakah mereka akan meragukan pengakuannya bahwa ia sendiri yang membunuh Togashi? Apakah mereka akan menelan semua perkataannya?

Polisi pasti akan menyelidiki dengan saksama. Yasuko pernah mendengar istilah "mencari bukti pendukung” dari drama televisi. Polisi akan memeriksa kebenaran setiap ucapan si pelaku melalui berbagai cara: bisa dengan interogasi, pembuktian forensik, dan masih banyak lagi.

Semuanya berubah gelap bagi Yasuko. Ia yakin dirinya bisa bertahan menghadapi tekanan polisi dan tak akan menceritakan andil Misato dalam peristiwa itu. Tapi sekali saja polisi menemukan petunjuk, habislah sudah. Mereka pasti tidak akan mengabulkan permohonannya supaya Misato bisa bebas. Sempat terpikir untuk mengelabui polisi supaya mereka yakin Yasuko-ah pelaku tunggal pembunuhan itu, tapi Yasuko langsung membuang ide itu jauhjauh. Seorang amatir sepertinya akan membuat kesalahan bodoh yang menyebabkan dirinya langsung ketahuan.

Setidaknya aku harus melindungi Misato, pikir Yasuko. Sejak kecil, putrinya yang malang itu tidak pernah mengalami masamasa bahagia karena beribukan wanita seperti dirinya. Yasuko tidak ingin Misato sampai menderita lebih jauh lagi, walau itu berarti harus ditukar dengan nyawanya.

Tapi apa yang harus ia lakukan? Andai ada suatu cara...

Tepat saat itu, pesawat telepon yang masih didekap Misato berdering. Anak itu membuka mata lebar-lebar dan menatap ibunya. Sambil membisu, Yasuko mengulurkan tangan. Meski sempat kebingungan, akhirnya Misato mau juga menyerahkan telepon itu.

Yasuko mengatur napas dan menekan tombol bicara. "Halo, di sini Hanaoka.” ”Maaf, aku Ishigami.”

”Ah...” Lagi-lagi guru itu. Kali ini ada apa? ”Ya?”

Begini, aku bertanya-tanya apa yang akan kaulakukan...”

Yasuko tidak mengerti maksud pria itu.

”Maksudku,” hening sesaat sebelum Ishigami melanjutkan, ”kalau kau berniat menyerahkan diri ke polisi, aku tidak akan berkomentar apa-apa. Tapi kalau kau tak ingin melakukannya, mungkin aku bisa membantu.”

”Eh?” Yasuko kebingungan. Apa yang sebenarnya dibicarakan pria ini?

Pertama-tama,” kata Ishigami dengan suara tertahan, ”bolehkah aku ke tempatmu sekarang juga?”

”Eh, kurasa tidak... Aduh, bagaimana ya?” Keringat dingin mengalir di tubuh Yasuko.

”Hanaoka-san,” Ishigami kembali berkata. "Pasti sulit bagi wanita untuk menyingkirkan mayat sendirian.”

Yasuko tak sanggup bersuara. Bagaimana dia bisa tahu?

Dia pasti mendengarnya, pikir Yasuko. Ishigami pasti mendengar percakapan Yasuko dengan Misato barusan. Tidak. Bisa jadi dia sudah mendengar saat mereka bergulat dengan Togashi. Tamatlah riwayat Yasuko. Tidak ada jalan untuk meloloskan diri. la akan menyerahkan diri pada polisi dan berusaha sekuat tenaga menyembunyikan keterlibatan Misato.

”Kau dengar ucapanku?”

”Eh, ya. Aku dengar.”

"Bolehkah aku ke rumahmu?”

”Eh, tapi...” Yasuko menatap putrinya sementara gagang telepon masih menempel di telinga. Wajah Misato terlihat ketakutan sekaligus gelisah. Ia pasti bingung dengan siapa dan apa yang sedang dibicarakan ibunya lewat telepon. Andai benar menguping dari sebelah, Ishigami pasti tahu Misato terlibat dalam pembunuhan itu. Pria itu bisa menceritakan semuanya pada polisi, dan sekeras apa pun Yasuko menyangkal, polisi tidak akan memercayainya.

Kini Yasuko siap mengambil risiko. "Baiklah, silakan datang. Aku memang membutuhkan bantuan.”

”Baik. Aku akan segera ke sana,” jawab Ishigami.

Yasuko menutup telepon bersamaan dengan Misato yang bertanya, ”Siapa itu?”

”Ishigami-sensei yang tinggal di sebelah.”

”Kenapa dia...”

”Nanti saja penjelasannya. Sekarang masuk dan tutup pintu. Cepat?”

Misato masuk ke kamar dengan wajah kebingungan. Tepat saat ia menutup pintu geser, terdengar suara Ishigami meninggalkan apartemen dari sebelah.

Terdengar suara bel. Yasuko pergi ke depan, menggeser rantai serta membuka kunci pintu. Ishigami berdiri di balik pintu dengan wajah serius. Entah mengapa kini ia mengenakan kaus biru tua, padahal sebelumnya tidak.

”Silakan.”

”Permisi...” Ishigami membungkuk memberi hormat lalu masuk.

Yasuko kembali mengunci pintu sementara Ishigami ke ruang tamu. Dilihat dari gerakannya mengangkat futon dari kotatsu tanpa ragu-ragu, sepertinya ia ingin memastikan mayat Togashi memang ada. Diperhatikannya mayat itu sambil setengah berlutut. Terlihat dari wajahnya bahwa ia sedang berpikir keras. Yasuko baru sadar Ishigami mengenakan sarung tangan kerja.

Dengan takut-takut, Yasuko kembali menatap mayat Togashi. Rona kehidupan sudah lenyap dari wajahnya. Cairan di bawah bibirnya yang menyerupai air liur dan kotoran kini sudah kering dan mengeras.

” Jadi... Kau mendengar semuanya?” tanya Yasuko.

”Mendengar? Mendengar apa?”

”?Maksudku semua percakapan kami. Bukankah karena itu kau menelepon?”

Kini wajah tanpa ekspresi Ishigami balik menatap Yasuko. "Tidak, aku sama sekali tidak mendengar apa-apa. Apalagi bangunan apartemen ini dibuat kedap suara. Aku memutuskan ke sini karena penasaran.”

"Apa...

”Mungkin karena kondisinya...”

Yasuko terkejut.

Ishigami menunjuk sudut ruangan, ke arah kaleng kosong yang terguling. Abu rokok tumpah dari mulut kaleng. ”Tadi aku sempat mencium bau sisa asap rokok. Kupikir kau sedang kedatangan tamu, tapi aku tidak melihat alas kaki lain. Dari kabel kotatsu yang masih terpasang, aku curiga seseorang bersembunyi dalamnya, padahal ada kamar lain yang lebih cocok. Kesimpulanku, orang di dalam kotatsu itu bukan sedang bersembunyi, tapi sengaja disembunyikan. Ditambah suara ribut-ribut dan rambutmu yang berantakan, bisa dibayangkan telah terjadi sesuatu. Satu hal lagi: Tidak ada kecoak di gedung apartemen ini. Aku sudah lama tinggal di sini dan tak pernah melihatnya.”

Yasuko hanya terpana mendengarkan penjelasan Ishigami, dengan raut muka tetap datar, yang tepat sasaran. Pasti seperti inilah gaya pria itu saat mengajar murid-muridnya, dengan wajah tak acuh.

Menyadari tatapan Ishigami, Yasuko memalingkan wajah. Ia sadar pria itu juga sedang menganalisis dirinya. Ishigami pasti berotak cemerlang dan sangat tenang. Kalau tidak, bagaimana mungkin ia bisa menyusun analisis seperti itu hanya dengan melihat sekilas dari pintu yang sedikit terbuka? Tapi di saat yang sama, Yasuko juga merasa tenang karena sepertinya Ishigami tidak mengetahui detail di balik peristiwa itu.

”Dia mantan suamiku,” ujar Yasuko. "Kami sudah berpisah selama beberapa tahun, tapi belum lama ini dia meminta rujuk. Masalahnya, dia tidak mau pulang kalau tidak diberi uang dan hari ini juga begitu. Karena tidak tahan lagi, akhirnya aku...” Yasuko menunduk, tidak sanggup menceritakan bagaimana Togashi sampai dibunuh. Ia harus memastikan Misato tidak terseret.

”Kau akan menyerahkan diri?”

”Sepertinya hanya itu jalan satu-satunya. Tapi aku kasihan pada Misato yang tidak tahu apa-apa...”

Bersamaan dengan itu, terdengar derit keras pintu geser. Misato berdiri di depan mereka dan berkata, ”Tidak. Aku tak akan membiarkannya!”

”Diam, Misato!”

”Aku takkan diam! Dengar, Paman. Yang sebenarnya membunuh pria ini...”

”Misato!” Yasuko berteriak.

Misato tersentak, lalu balas menatap ibunya garang. Matanya merah.

”Hanaoka-san,” ujar Ishigami datar. "Kau tak perlu menyembunyikannya dariku.”

”Aku tidak menyembunyikan...”

"Jelas kau tidak melakukannya sendirian. Putrimu juga ikut membantu.”

Yasuko langsung menggeleng. "Apa maksudmu? Aku sendiri yang membunuhnya! Saat itu Misato baru pulang.... Maksudku, dia baru pulang setelah aku membunuh pria ini! Tidak ada hubungannya dengan dia!”

Namun Ishigami sara sekali tidak mernercayai ucapan Yasuko. la menghela napas dan memandang Misato. "Justru putrimu yang akan menderita karena kebohongan itu.”

”?Percayalah! Aku tidak berbohong!” Yasuko meletakkan tangannya di lutut Ishigami.

Setelah menatap tangan wanita itu beberapa saat, Ishigami mengalihkan pandangannya ke arah mayat. Lalu ia menggeleng kecil.

”Masalahnya pada bagaimana polisi akan melihat kasus ini. Kebohongan seperti itu takkan berguna.”

”Mengapa?” Begitu kata ini terucap, Yasuko langsung menyadari pertanyaan itu seakan menegaskan dirinya memang berbohong.

Tangan kanan Ishigami menunjuk mayat itu. "Punggung tangan dan pergelangan mayat itu membiru. Kalau diperhatikan baikbaik, bentuknya menyerupai jari. Artinya, pria ini dicekik dari belakang dan dia mati-matian berusaha melepaskan diri. Aku yakin jejak biru itu milik si pelaku yang berusaha mencegahnya dengan cara mencengkeram tangan korban. Sekali lihat saja orang sudah bisa menerka.”

”Itu juga perbuatanku,” ujar Yasuko menekankan.

”'Kau tak perlu menyangkal lagi.”

”Mengapa begitu?”

”Korban dicekik dari belakang. Tidak mungkin pelaku bisa melakukannya sambil mencengkeram tangannya karena untuk itu diperlukan dua pasang tangan.”

Yasuko tidak dapat membalas ucapan Ishigami. Mendadak ia tertunduk lesu, merasa seakan berada di terowongan tak berujung. Bila Ishigami saja bisa mengetahui semuanya hanya dengan sekilas pandang, polisi pasti akan melakukan penyelidikan yang lebih teliti.


”Aku tak ingin Misato terlibat. Aku hanya ingin menolongnya...”

”Tapi aku tak mau kalau Ibu sampai masuk penjara!” Misato terisak.

”Apa yang harus kulakukan...” Yasuko menutupi wajah dengan kedua tangan. Hawa di ruangan itu terasa berat, begitu berat hingga seolah dapat menghancurkan dirinya.

”Paman...” Misato bicara. ” Apakah Paman menganjurkan supaya Ibu menyerahkan diri ke polisi?”

Ishigami terdiam sejenak sebelum menjawab, "Paman menelepon karena ingin membantu kalian. Tidak ada salahnya jika ibumu ingin menyerahkan diri. Tapi jika tidak, aku yakin kalian akan kena masalah.”

Ucapan Ishigami membuat Yasuko melepaskan tangan yang menutupi wajah. Benar juga. Pria ini sempat mengatakan sesuatu yang aneh di telepon.

Pasti sulit bagi wanita untuk menyingkirkan mayat sendirian...

”Selain menyerahkan diri, apakah ada cara lain?” tanya Misato.

Yasuko mengangkat kepala. Ishigami terlihat bimbang, tapi sama sekali tidak ada keterkejutan di wajahnya.

”Entah itu mengubur kasus ini ataupun menutupi keterlibatan kalian berdua, yang pertama kali harus dilakukan adalah menyingkirkan mayat ini.”

"Apakah itu bisa dilakukan?” tanya Misato lagi.

”Misato!” Yasuko memperingatkan putrinya. "Apa maksud-

mu?” ”Ibu diam saja! Bagaimana, Paman? Bisa atau tidak?”

”'Sulit, tapi bukan berarti mustahil.” Meski diucapkan dengan nada dingin khas Ishigami, ucapan itu terdengar seperti bentuk dukungan yang dinantikan telinga Yasuko.

“Ibu,” pinta Misato, "biarkan dia membantu. Hanya itu satusatunya cara.”

”Tapi bagaimana...” Yasuko menatap Ishigami.

Ishigami mengarahkan pandangan ke bawah dengan tenang, seakan menunggu ibu dan anak itu mengambil keputusan. Yasuko pun teringat cerita Sayoko, guru matematika ini sepertinya tertarik padanya dan selalu membeli bento setelah memastikan Yasuko ada di toko. Andai tidak mendengar cerita ini sebelumnya, Yasuko pasti akan meragukan nyali Ishigami. Di dunia ini, mana ada seseorang yang rela berbuat sedemikian jauh demi menolong tetangga yang tidak begitu dekat dengannya? Satu kesalahan bodoh akan membuatnya ikut tertangkap.

”Meski mayat itu sudah disembunyikan, kelak pasti ada orang yang akan menemukannya,” kata Yasuko lagi. Ia menyadari satu perkataan itu ibarat satu langkah yang akan mengubah nasibnya dan Misato.

?Aku belum memutuskan untuk menyembunyikannya atau tidak,” ujar Ishigami. "Ada beberapa informasi tertentu yang tak perlu dirahasiakan. Sebaiknya kita rangkum dulu semua informasi itu sebelum menentukan nasib mayat ini. Yang jelas, berbahaya kalau dia tetap dibiarkan di sini.”

”Informasi apa?”

"Semua informasi yang berkaitan dengannya,” jawab Ishigami. ”Misalnya alamat lengkap, nama lengkap, usia, pekerjaan. Apa keperluannya ke sini, lalu ke mana dia setelah itu... Oh, tolong beritahu juga apakah dia masih memiliki keluarga, sebatas yang kau tahu.” ”Eh, soal itu...”

”Tapi sebelumnya, mari kita pindahkan dulu mayat ini. Setelah itu sebaiknya ruangan ini segera dibersihkan karena masih menyisakan setumpuk bukti kejahatan.” Begitu selesai bicara, Ishigami mulai mengangkat tubuh mayat bagian atas.

”Tapi mau dipindahkan ke mana?”

”Ke apartemenku,” jawab Ishigami mantap, lalu ia memanggul mayat itu di bahunya. Yasuko bisa melihat sepotong kain bertuliskan ”Klub Judo” dijahitkan di tepi kaus biru tua yang dikenakan Ishigami. Pantas saja dia sangat kuat.

Begitu sampai di kamarnya sendiri, Ishigami menyingkirkan buku-buku matematika yang berserakan di lantai dengan kakinya hingga tersedia ruang yang cukup untuk menurunkan mayat dari bahunya. Mata mayat itu terbuka. Ishigami menatap ibu dan anak yang berdiri terpaku di pintu masuk. ”Misato, bagaimana kalau kau mulai membersihkan kamar? Gunakan pengisap debu. Biar ibumu tetap di sini.”

Misato mengangguk dengan wajah pucat, melirik ibunya sekilas dan kembali ke apartemen sebelah.

”Tolong tutup pintunya,” perintah Ishigami pada Yasuko.

”Eh, baik.” Setelah melakukan seperti yang diminta, Yasuko berdiri termangu di dekat rak sepatu.

”Silakan masuk. Maaf, kondisinya berantakan, berbeda dengan tempatmu.” Ishigami mencopot bantal duduk kecil dari kursi dan meletakkannya di sebelah mayat. Yasuko yang sudah memasuki ruangan memilih duduk di sudut ketimbang di bantal yang disediakan dan memalingkan wajah. Akhirnya Ishigami menyadari wanita itu ketakutan melihat mayat.

”Maafkan aku.” Ishigami mengambil kembali bantal itu dan mengulurkannya pada Yasuko. "Silakan pakai.” ”Tidak perlu.” Yasuko menggeleng kecil sambil menunduk.

Ishigami mengembalikan bantal ke kursi dan duduk di sisi mayat. Di lehernya ada bekas sesuatu yang melingkar berwarna merah kehitaman. "Kabel listrik, ya?”

”Eh?”

”Benda yang dipakai untuk mencekiknya. Kau memakai kabel listrik?”

”Eh... Ya. Kabel kotatsu.”

?Oh, kotatsu yang itu.” Ishigami teringat selimut kotatsu yang dipakai untuk menutupi mayat. ”Lebih baik selimut itu dibuang. Ah, sudahlah. Nanti aku saja yang mengurusnya. Omong-omong...” Ishigami kembali menatap mayat. ”Apa hari ini kau memang ada janji temu dengan orang ini?”

Yasuko menggeleng. "Tidak. Tadi siang dia mendadak muncul di toko. Sore harinya kami bertemu di restoran keluarga terdekat lalu berpisah di sana. Tapi setelah itu dia malah datang ke rumah.”

”Restoran keluarga...” Itu mengesampingkan kemungkinan tidak ada saksi mata, pikir Ishigami. Ia merogoh saku baju hangat mayat dan menemukan gumpalan uang sepuluh ribu yen. Ada dua lembar.

Yasuko berkata, ”Uang itu...”

Kau yang memberikannya?”

Melihat wanita itu mengangguk, Ishigami mengulurkan uang itu. Tapi, Yasuko menolak mengambilnya. Maka Ishigami bangkit dan mengeluarkan dompet dari saku jas yang digantung di dinding. Dikeluarkannya dua lembar uang sepuluh ribuan.

”?Sekarang kau tak perlu takut lagi.” Ia memperlihatkan uang itu kepada Yasuko.

Yasuko sempat segan sebelum akhirnya mengucapkan "terima kasih” dengan lirih dan menerima uang itu. ” Nah...” Ishigarni kembali menggeledah saku Togashi. la menemukan dompet di saku celananya. Di dalamnya ada sedikit uang, SIM, nota, dan lain-lain.

”Shinji Togashi... Alamatnya di Nishi-Shinjuku, Shinjuku. Jadi selama ini dia tinggal di sana?” tanya Ishigami pada Yasuko setelah mengecek SIM.

Yang ditanya hanya mengangkat bahu dan menelengkan kepala.

”Aku kurang tahu, tapi mungkin saja tidak. Dia memang pernah tinggal di Nishi-Shinjuku, tapi kudengar dia kemudian diusir karena tidak bisa membayar uang sewa.”

”Dia memperbarui SIM ini tahun lalu. Artinya, dia tinggal entah di mana tanpa mengubah domisilinya.”

”Bisa jadi dia pindah ke sana-sini. Tanpa pekerjaan tetap, aku yakin dia tak bisa menyewa kamar yang layak.”

” Kelihatannya begitu.” Ishigami memeriksa salah satu nota. Di situ tertulis ”Hostel Oogiya.” Biaya sewanya 5.880 yen untuk dua malam dan harus dibayar di muka. Ishigami menghitung-hitung. Berarti biaya sewa kamar sehari besarnya sekitar 2.900 yen.

la memperlihatkan nota itu pada Yasuko. "Rupanya dia menginap di sini. Pemilik hostel pasti akan memeriksa kamarnya jika dia belum juga check-out. Mungkin si pemilik akan melapor pada polisi begitu melihat tamunya tidak ada, atau malah sebaliknya, karena tidak mau repot-repot. Bisa juga karena sudah sering mengalami hal serupa, dia menerapkan sistem pembayaran di muka. Tapi, tetap saja berbahaya jika kita terlalu berharap.”

Sekali lagi Ishigami menggeledah saku mayat. Kali ini sebuah kunci dengan label bulat kecil bertuliskan angka ”305”.

Yasuko hanya bisa termangu memandangi kunci itu. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Samar-samar terdengar suara pengisap debu dari apartemen sebelah. Rupanya Misato sedang membersihkan ruangan. Jelas di tengah segala ketidakpastian yang sedang dihadapinya, putrinya memutuskan melakukan sesuatu yang bisa dikerjakannya, yakni bersih-bersih.

Aku harus melindunginya, pikir Ishigami. Tidak akan ada lagi kesempatan bagi orang seperti aku bisa berhubungan dekat dengan wanita secantik ini. Kini saatnya ia mengerahkan segenap pengetahuan dan kekuatannya untuk mencegah bencana yang akan menimpa ibu dan anak itu.

Ishigarmi menatap wajah pria yang menjadi mayat itu. Setelah hilangnya tanda-tanda kehidupan, yang tersisa hanya seraut wajah datar. Namun ia masih bisa membayangkan lelaki ini tergolong tampan di masa mudanya. Tidak, bahkan di usia paruh baya, Togashi masih bisa memikat banyak wanita.

Kala memikirkan betapa Yasuko pernah mencintai pria ini, kecemburuan meletup bagaikan gelembung kecil dan meluap di dada Ishigami. Ia lantas menggeleng. Rasanya memalukan sekali sampai muncul perasaan seperti itu. "Apakah ada orang terdekat yang biasa dia hubungi?” ia kembali bertanya.

”Tidak tahu. Jujur, setelah sekian lama, baru hari ini aku bertemu lagi dengannya.”

”Dan dia tidak memberitahukan apa rencananya besok? Misalnya menemui seseorang...”

”Dia tidak memberitahukan apa-apa. Maaf, aku tak bisa banyak membantu.” Yasuko menunduk penuh penyesalan.

"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya. Wajar kalau kau tidak tahu, jadi tak usah diambil hati.”

Masih mengenakan sarung tangan, Ishigami meraih pipi mayat dan memeriksa bagian dalam mulutnya. Ada gigi geraham yang disepuh emas. "Kelihatannya ada bekas perawatan gigi.” ”Saat karni menikah, dia merang rutin ke dokter gigi.”

”Kapan itu terjadi?”

”Kami bercerai lima tahun lalu.”

”Lima tahun lalu...”

Pasti ada bukti catatan medis, pikir Ishigami. Ia kembali bertanya, "Apakah dia punya catatan kriminal?”

” Kurasa tidak. Tapi aku tidak tahu setelah kami bercerai.”

” Jadi bisa saja ada.”

”Kurasa begitu...”

Walaupun tidak memiliki catatan kriminal, tetap saja ada kemungkinan Togashi pernah melakukan pelanggaran lalu lintas yang mengharuskan pengambilan sidik jari. Ishigami tidak tahu apakah pembuktian forensik kepolisian sudah termasuk pembandingan sidik jari para pelanggar lalu lintas atau tidak, tapi ia tidak boleh mengabaikannya.

Apakah kelak identitas mayat ini akan terkuak atau tidak, semua tergantung dari cara Ishigami menanganinya. Ia harus mengulur waktu. Jangan sampai ada sidik jari dan catatan kesehatan gigi yang terlewat.

Yasuko menghela napas. Suara napasnya terdengar begitu sensual di telinga Ishigami sehingga jantungnya berdebar-debar. Tekadnya pun semakin teguh demi menghindarkan wanita ini dari keputusasaan. Pekerjaan yang sulit. Begitu polisi berhasil menemukan identitas mayat, mereka pasti akan langsung mendatangi Yasuko. Apakah ibu dan anak itu bisa bertahan menghadapi cecaran pertanyaan para detektif? Penyangkalan lemah dari mereka hanya akan menimbulkan kontradiksi yang berujung pada kelelahan dan akhirnya mungkin malah mendorong mereka untuk menceritakan yang sebenarnya.

Mereka harus mempersiapkan alur dan pembelaan yang sem-

purna. Dan ia harus segera merancangnya. Jangan tergesa-gesa. Ishigami mengingatkan diri sendiri. Ketidaksabaran takkan memecahkan masalah. Pasti ada solusi untuk menyelesaikan persamaan ini.

Ishigami memejamkan mata. Seperti itulah gayanya saat menghadapi soal matematika. Dengan memblokir diri dari semua informasi dunia luar, ia akan mengubah bentuk beragam rumus matematika yang muncul di otaknya. Hanya saja, yang ada di balik otaknya kini bukanlah rumus.

Begitu kembali membuka mata, beker di meja yang pertama kali dilihat Ishigami. Waktu menunjukkan pukul 8.30 malam. Lalu ia menatap Yasuko. Wanita itu menahan napas dan mundur.

”Bantu aku melepaskan pakaiannya.”

”Eh2”

”Kita harus melepas pakaiannya. Jaket luar, baju hangat, sarnpai celana panjang. Kalau tidak dilakukan segera, mayat ini akan mulai kaku.” Sambil bicara, Ishigami mulai mencopoti jaket Togashi.

”Eh, baik!” Yasuko mulai membantu, tapi jemarinya gemetar karena segan menyentuh mayat itu.

”Sudahlah. Biar aku yang kerjakan. Lebih baik bantu putrimu.”

”Maaf...” Yasuko menunduk, lalu perlahan bangkit.

”Hanaoka-san,” panggil Ishigami. Yasuko menoleh. ” Kalian harus punya alibi. Biar aku yang mencarikan ide.”

”Alibi? Tapi kami tidak punya.”

”Oleh karena itu aku akan menyusunnya.” Ishigami menyampirkan jaket yang baru saja dilepaskannya dari mayat Togashi di bahu. "Serahkan semuanya pada kehebatan logikaku.”