--> -->

Kasih Di Antara Remaja Jilid 12 (Tamat)

Jilid 12 (Tamat)

42. Apakah Bahagia ?

KE MANAKAH perginya orang-orang gagah yang dulu membantu pertahanan Mancu dan berkumpul di Ta-tung? Yong Tee yang cerdik sekali telah mengatur sehingga mereka ini cerai- berai, ada yang ditarik ke daerah lain untuk membantu pasukan Mancu, ada pula yang diberi hadiah dan disuruh kembali ke tempat masing-masing karena kekuatan Mongol sudah hancur. Ada pula yang ia persilakan datang ke kota raja untuk menjadi tamu agungnya. Pendeknya, secara lihai sekali Pangeran ini mengatur supaya para orang gagah itu tidak berkumpul menjadi satu karena mereka melihat ancaman bahaya lain kalau orang-orang itu berkumpul menjadi satu!

Di antara mereka yang ia undang menjadi tamu agungnya adalah dua saudara Li Hoa dan Li Goat, dan juga Phang Yan Bu. Pangeran Yong Tee maklum bahwa tiga orang muda yang gagah ini termasuk sahabat-sahabat baik dari Bi Eng dan Han Sin oleh karena itu ia mengundang mereka ini menjadi tamunya dan mempersilakan mereka menanti datangnya Han Sin dan Bi Eng di istananya di kota raja. Mereka mendapat pelayanan yang amat manis dan hormat dari Yong Tee sehingga hati orang-orang muda itu mau tidak mau tertarik dan harus mereka akui bahwa pangeran ini berbeda dengan pembesar-pembesar lainnya, peramah dan rendah hati.

Di lain pihak, Yong Tee merasa gelisah selalu karena tidak ada berita dari Han Sin maupun Bi Eng. Bagaimanakah keadaan Han Sin dalam mencari Hoa-ji si gadis berkedok? Ia hanya merasa gelisah sekali, takut kalau-kalau kekasihnya itupun menjadi korban perang. Hatinya perih kalau teringat akan pertemuan-pertemuannya dengan Hoa-ji dahulu, di taman dalam lingkungan istananya.

Pertemuan yang amat romantis, yang mesra dan juga pertemuan antara dua orang muda yang secara rahasia dan aneh sudah saling mencinta padahal dia belum pernah melihat wajah gadis berkedok itu. Hoa-ji yang mengajukan syarat bahwa sebelum mereka bertunangan secara syah, pangeran itu tidak berhak membuka kedoknya dan pangeran itu dengan rendah hati dan sabar menerima syarat ini.

Secara membuta, menuturkan perasaan hatinya, Pangeran Yong Tee jatuh cinta kepada seorang gadis yang belum pernah ia lihat wajahnya. Benar-benar aneh sekali kalau cinta sudah meracuni hati seorang muda.

Sudah beberapa lama, setiap malam Pangeran Yong Tee duduk di dalam taman itu, mengenangkan kekasihnya sambil mengharap-harapkan datangnya Han Sin membawa berita baik.

Pada malam hari itu, malam terang bulan, pangeran inipun duduk seorang diri di dalam taman, berkawan arak dan bunga. Ia merenung dan mukanya yang tampan nampak muram oleh kegelisahan. Sampai lama pangeran muda itu merenung sambil menatap bulan yang tampak bergerak dengan megah dan halusnya di antara mega-mega, seakan akan puteri juita sedang berjalan-jalan di tengah malam. Ia menarik napas panjang. Bulan tetap sama, semenjak dia masih kecil sampai sekarang, mungkin sampai dia mati, sampai semua bunga di taman gugur, sampai dunia kiamat. Bulan akan tetap sama, atau setidaknya, akan lebih lama keadaannya daripada dirinya dan segala di sekitarnya. Tanpa disadari lagi, pangeran ini menggerakkan bibir mengucapkan kata-kata yang pada saat itu terasa di hatinya :

"Kebahagiaan, di mana kau bersembunyi? Betulkah kata orang pandai jaman dahulu, bahwa kebahagiaan selalu pergi kalau dicari? Padahal selalu dalam diri bersatu?

Berhasil membasmi pemberontakan,

mana itu kegirangan? Mana itu kebahagiaan?

Aahhh, hatiku penuh kedukaan

hanya karena seorang perempuan "

Memang keluhan Pangeran Yong Tee ini merupakan kenyataan pahit dalam kehidupan manusia. Manusia selalu mengejar kebahagiaan, mengkhayalkan kebahagiaan hidup yang disangkanya pasti akan tiba apa bila maksud hati tercapai. Namun khayal tetap khayal, membuyar setiap kali di jangkau. Maksud hati boleh terlaksana, cita-cita boleh tercapai, namun kebahagiaan? Kiranya bukan di situ letaknya, bukan dalam terlaksananya maksud hati, bukan pula dalam tercapainya cita-cita.

Mengapa? Karena maksud hati tiada putusnya, cita-cita tiada habisnya.

Terlaksana yang satu, timbul kedua. Tercapainya yang ini, belum pula yang itu, dan begitu seterusnya. Nafsu angkara murka inilah yang selalu menguasai hati manusia yang haus akan kebahagiaan. Padahal tidak perlu dihauskan, karena sudah berada dalam diri sendiri, sudah bersatu dengan diri, hanya tidak terasa bagi yang belum sadar.

Menurutkan kemauan nafsu angkara murka sama halnya dengan mengisi lubang yang tak berdasar, tidak akan pernah tamat. Bahkan makin dituruti, makin terasa kekurangannya, makin diberi minum, makin haus. Aneh tapi nyata. Sekali lagi, menuruti nafsu sama dengan menambah kehausan bagi yang haus, makin diberi makin kurang!

Kalau demikian halnya, pada hakekatnya, apakah gerangan kebahagiaan? Di mana letaknya? Dibilang jauh, amatlah jauh karena dicari sekeliling dunia takkan jumpa. Dibilang dekat, teramat dekat karena sudah ada pada diri setiap orang. Soalnya timbul karena "dicari" itulah, menjadi sulit dan jauh karena timbul setelah "dicari"! Inilah rahasianya. Tidak dicari dia sudah ada, kalau dicari dia menghilang. Itulah kebahagiaan!

Tuhan bersifat Adil dan Kasih. Manusia lahir sudah membawa bahagia. Ingin melihat tinggal membuka mata, ingin mendengar tinggal membuka telinga, semua serba menyenangkan dan karenanya serba bahagia, penuh berkah berlimpahan. Ingin petik tinggal tanam, ingin tanam tinggal cangkul. Tanah tersedia, tangan tersedia, air tersedia. Bayangkan kalau Tuhan meniadakan air, atau tanah, atau tangan atau hawa! Semua takkan jadi sempurna. Tuhan Maha Sempurna Maha Kasih dan Maha Adil. Semua lengkap bagi manusia.

Akan tetapi, kenapa tetap tidak bahagia? Karena DICARI itulah. Manusia mencari YANG TIDAK ADA! Ada ini mencari itu yang tidak ada, sudah ada itu mencari ini yang tidak ada. Memberi makan nafsu, makin diberi makan makin lapar! Karena itu akibatnya, bahagia lenyap bersembunyi, dilenyapkan atau disembunyikan oleh diri sendiri yang menghamba pada NAFSU.

Demikianlah dunia selalu berputar dengan segala persoalannya. Demikian pula Pangeran Yong Tee di dalam taman bunganya yang serba indah namun tidak kelihatan indah baginya itu. Baru saja dia berhasil menghancurkan pemberontak Mongol. Kini beristirahat setelah berhasil usahanya. Semestinya bahagia, semestinya senang. Namun, taman indah tidak kelihatan indah, kesenangan perjuangan tidak menyenangkan hati. Kenapa? Karena pangeran inipun mencari YANG TIDAK ADA, yaitu mencari kehadiran Hoa-ji disampingnya. Menjadi permainan cinta yang amat aneh.

"Hoa-ji " berkali-kali nama ini dikeluarkan, langsung dari hatinya melalui bibir yang menarik

napas panjang pendek berulang kali.

Pangeran Yong Tee sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi, bayangan seorang wanita yang langsing tubuhnya bersembunyi di balik pohon dan memandang kepadanya penuh kebencian. Wanita yang masih muda, cantik jelita dengan kerudung pada kepalanya. Tilana! Gadis ini memang Tilana, yang dengan kepandaiannya sudah berhasil menyelinap memasuki taman di luar tahunya para penjaga istana pangeran itu. Kini dengan pandang mata penuh kebencian, Tilana mengeluarkan tiga buah anak panah, dipasangnya pada gendewanya dan ditariknya tali busurnya ......

"Pangeran !"

Tilana menunda gerakannya, tidak jadi memanah pangeran itu ketika mendengar seruan ini, seruan wanita yang melompat keluar dari tembok taman. Wanita yang baru datang ini bertopeng dan langsung berlari menghampiri Pangeran Yong Tee, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan pangeran itu.

"Hoa-ji !" seruan yang keluar dari bibir pangeran itu girang bukan main, lalu ia menubruk

hendak memeluk gadis berkedok itu.

"Jangan .....! Jangan sentuh aku lagi, pangeran ....., jangan !"

Yong Tee terkejut dan menahan tangannya. "Hoa-ji, apakah yang terjadi? Apakah kau sudah bertemu dengan saudara Cia Han Sin? Kau datang dari mana dan mengapa kau bersikap begini?" Pertanyaan ini keluar dengan suara halus, mesra, dan penuh cinta kasih.

"Pangeran, ketahuilah bahwa tadinya aku datang dengan maksud membunuhmu! Tapi tapi aku

tidak tega bagaimana aku bisa membunuh seorang yang begini baik? Yang selalu kujunjung

tinggi? Yang kuketahui betul-betul isi hatinya yang baik? Ya Tuhan, mengapa aku menjadi anaknya? Mengapa ?" Hoa-ji lalu menangis.

Yong Tee nampak bingung sekali. Ia meraih tangan gadis berkedok itu, menariknya berdiri dan mengajak duduk di atas bangku. "Duduklah, Hoa-ji, duduklah di sini, di sampingku seperti dahulu. Tidak ada apa-apa yang buruk di antara kita, masih seperti dulu. Tenangkanlah hatimu dan sekarang ceritakan apa yang menyebabkan engkau bersikap seperti ini."

Suara yang sabar, ramah dan penuh kasih sayang ini menenangkan gelora hati Hoa-ji. Gadis ini menghentikan tangisnya, mengusap air mata menahan isak lalu bercerita. Sambil berlinang air mata ia mengulang cerita yang ia dengar dari Han Sin.

"Dahulu, belasan tahun yang lalu, dipuncak Min-san tinggal suami isteri Cia Sun bersama dua orang anaknya, yang sulung laki-laki bernama Cia Han Sin dan yang bungsu, masih bayi, perempuan bernama Cia Bi Eng. Cia Sun dikenal sebagai seorang patriot bangsa, tentu saja sebutan ini hanya berlaku bagi rakyat Tiongkok.

Pemerintah menyebutnya pemberontak! Pada suatu hari, karena pengacauan puteri Hui bernama Balita, seorang di antara musuh-musuh Cia Sun, suami isteri Cia itu mengalami malapetaka. Isteri Cia Sun cemburu dan membunuh diri, disusul pembunuhan diri Cia Sun yang amat mencinta isterinya."

Pangeran Yong Tee mendengarkan dengan hati berdebar dan amat tertarik karena apakah hubungannya dengan Hoa-ji dengan keluarga Cia? Tidak hanya pangeran ini yang amat tertarik dan terkejut heran, juga Tilana yang diam-diam mendengarkan cerita itu, menjadi berubah air mukanya dan jantungnya berdebar keras. Bukankah gadis berkedok itu sedang menceritakan tentang ayah bundanya dan kakaknya serta dia sendiri?

"Pada malam terjadinya peristiwa hebat itu, terjadi lain peristiwa yang kemudian merupakan rahasia kehidupan tiga orang gadis. Pada malam hari yang malang itu, secara diam-diam muncul seorang wanita kang-ouw bernama Ang-jiu Toanio yang juga memusuhi Cia Sun. Ang-jiu Toanio yang kebetulan mempunyai seorang bayi perempuan, lalu menukarkan bayinya dengan bayi keluarga Cia, yaitu Cia Bi Eng itu. Belum lama seperginya Ang-jiu Toanio, muncul pula Balita puteri Hui itu membawa bayinya dan menukarkan bayinya sendiri dengan bayi yang disangkanya puteri keluarga Cia, padahal adalah anak Ang-jiu Toanio."

Kalau saja Hoa-ji tidak demikian terharu dan Pangeran Yong Tee tidak demikian tertarik dan tegang oleh cerita ini, tentu mereka akan mendengar jerit tertahan dari balik semak-semak, di mana Tilana hampir pingsan mendengar cerita itu.

"Bayi keluarga Cia yang aseli, yaitu Cia Bi Eng tulen, dibawa Ang-jiu Toanio. Akan tetapi di tengah jalan bayi ini dirampas oleh seorang pemelihara macan berbangsa Mongol bernama Kalisang dan di lain waktu dari tangan Kalisang dirampas pula oleh Hoa Hoa Cinjin. Kau tentu dapat menduga, pangeran, bahwa bocah itu, Cia Bi Eng yang tulen , setelah dipelihara oleh Hoa Hoa

Cinjin mendapatkan nama Hoa-ji atau aku sendiri.”

Hoa-ji terisak-isak kembali dan Pangeran Yong Tee duduk bagaikan patung batu, tak dapat bergerak, tak mampu mengeluarkan kata-kata saking heran dan kagetnya. Yang lebih hebat akibatnya ketika menerima berita ini adalah Tilana dalam tempat persembunyiannya. Gadis ini menangis dan jatuh di atas rumput. Tidak karuan rasa hatinya. Terharu, sedih, bingung, dan girang. la girang karena ternyata bahwa dia bukanlah adik kandung Han Sin! Ini berarti dia dapat menjadi isteri pemuda itu!

Tadi hampir saja ia membunuh Yong Tee karena ia hendak meneruskan perjuangan mendiang ayahnya, hendak membunuh Pangeran Mancu, penjajah bangsanya! Jadi dia sebetulnya anak Ang- jiu Toanio? Pantas saja dahulu Han Sin bilang dia bukan anak Balita. Jadi pemuda itu sudah tahu bahwa dia anak Ang-jiu Toanio? Dia sudah tahu siapa Ang-jiu Toanio. Sudah mendengar pula tentang putera Ang-jiu Toanio yang bernama Phang Yan Bu. Jadi pemuda itu kakaknya?

"Demikianlah, pangeran. Yang sekarang selalu dianggap adik Sin-ko, yang bernama Cia Bi Eng itu, sebetulnya adalah Tilana puteri Balita, sedangkan puteri Balita yang bernama Tilana itu sebetulnya adalah puteri Ang-jiu Toanio. Aku sudah berjumpa dengan Sin-ko kakak kandungku, sudah mendengar bahwa kau menyuruh dia menyelamatkanku, membawaku ke sini .... akan tetapi, ,

mendiang ayahku dianggap pemberontak, dan kau .... kau Pangeran Mancu bukankah kita

berhadapan sebagai musuh besar ?"

Yong Tee tersenyum, lalu memeluk pundak gadis berkedok itu. "Hoa-ji kekasihku. Kau tetap Hoa-ji yang dulu, tak perduli siapa namamu sebetulnya, tidak perduli anak siapa kau dan bangsa apa. Aku tetap mencintaimu, dan hanya kau seorang, Hoa-ji." Hoa-ji melepaskan pelukan pangeran itu. Tiba-tiba ia berdiri tegak dan berkata, "Pangeran Yong Tee, hubungan kita sudah lama. Aku percaya penuh akan perasaan hatimu. Hanya satu yang meragukan hatiku. Kau selalu mengaku cinta, padahal belum pernah melihat wajahku. Bagaimana mungkin seorang mencinta tanpa melihat wajah? Aku takut kalau sekali kau melihat wajahku, cintamu akan terbang lenyap ”

Yong Tee menjawab dengan suara sungguh-sungguh, "Justeru karena tidak pernah melihat wajahmu, aku yakin bahwa cintaku murni, Hoa-ji. Banyak macam cinta kasih di dunia ini, Hoa-ji. Cinta kasih berdasarkan keindahan bentuk dan rupa, cinta kasih berdasarkan budi, cinta kasih berdasarkan pamrih, dan cinta kasih berdasarkan nafsu berahi. Semua ini adalah cinta kasih yang dijadikan kedok nafsu. Cintaku terhadapmu tidak seperti itu, melainkan cinta yang digerakkan oleh sesuatu yang gaib, tidak memandang rupa, seperti cinta kasih ibu terhadap anaknya. Hoa-ji, apapun juga terjadi di dunia ini, cintaku terhadapmu tak akan berubah. Agaknya memang sudah menjadi Hukum Karma, maka kau jangan ragu-ragu lagi, dewiku "

Kembali Hoa-ji terisak karena amat terharu hatinya. Tangan kirinya bergerak dan sekaligus merenggutkan kedoknya, terlepas dari mukanya. Mereka berpandangan dan Yong Tee menjadi bengong menyaksikan wajah ditimpa cahaya bulan itu, wajah yang seakan-akan sudah dikenalnya amat lama, yang sering kali ia jumpai dalam alam mimpi. Benar aneh, mengapa wajah di balik kedok itu demikian cocok dengan kiraan dan dugaannya?

"Hoa-ji "

"Pangeran "

Dari tempat persembunyiannya, Tilana juga menjadi bengong. Ia melihat persamaan yang tak dapat dibantah lagi antara wajah Hoa-ji dengan wajah Han Sin. Tidak bisa salah lagi, memang Hoa-ji adalah adik kandung Han Sin. Dan dia bukan apa-apanya ataukah betul! Dia isterinya! Dia berhak menjadi isteri Han Sin! Tak kuasa Tilana menyaksikan pertemuan antara sepasang merpati yang amat asyik dan mesra itu. Dan diam-diam ia lalu meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi ketika Tilana berlari keluar dari lingkungan istana Pangeran Yong Tee, tiba-tiba tiga bayangan orang yang amat cepat gerakannya berkelebat dan tahu-tahu tiga orang muda yang bukan lain adalah Phang Yan Bu, Li Hoa dan Li Goat sudah berdiri di depannya dengan pandang mata penuh selidik?

"Kau lagi yang datang di sini! Apa maksudmu memasuki lingkungan istana Pangeran Yong Tee? Bukankah kau bernama Tilana puteri Balita yang disebut Jin-cam-khoa?"

Tilana menatap wajah Yan Bu di bawah sinar bulan purnama. Ada sesuatu yang menarik hatinya. Agaknya karena ia tahu bahwa pemuda ini kakaknya, maka timbul simpati besar sekali.

"Kau ..... kau bernama Phang Yan Bu putera Ang-jiu Toanio ?" tanyanya gagap.

"Betul sekali," jawab Yan Bu heran. "Eh, di mana adanya Bi Eng? Dulu kau yang membawanya pergi. Tentu kau tidak bermaksud baik!" tegur Li Goat yang tidak percaya kepada gadis berpakaian aneh, berwajah cantik bukan main tapi agak pucat itu.

Tilana menundukkan mukanya sebentar. "Dia .... dia sudah kembali kepada ibu kandungnya "

jawabnya tidak jelas. Jawabannya tentu saja merupakan teka teki bagi tiga orang itu, apa lagi bagi Li Hoa yang amat mengkhawatirkan keselamatan Bi Eng dan terutama Han Sin. "Di mana Cia Han Sin? Kau tentu tahu di mana adanya pemuda itu," tanya Li Hoa.

Tilana tiba-tiba mengangkat mukanya dan matanya yang indah tajam itu menyambar ke wajah Li Hoa. "Mau apa kau tanya-tanya tentang Cia Han Sin? Dia itu apamu?"

Merah muka Li Hoa. Gugup juga ia ditegur begini. "Bu .... bukan apa-apa, hanya hanya sahabat.

Di mana dia? Lekas katakan kalau memang kau tidak bermaksud buruk."

Akan tetapi Tilana sudah membuang muka tidak mau melayani Li Hoa, sebaliknya ia kembali memandang Yan Bu. "Kau adakah kau mempunyai seorang adik perempuan?"

Yan Bu berdebar jantungnya. "Betul, bagaimana kau bisa tahu?" "Ibu ...... eh ibumu sudah meninggal?"

Kembali Yan Bu mengangguk. "Apa maksudmu bertanya tentang semua ini?" "Dia bukan orang baik-baik!" tegur Li Goat penuh curiga dan cemburu.

"Kau ..... kau kakak kandungku !" Tilana berkata sambil menahan isak, akan tetapi tubuhnya

berkelebat dan lenyap dari tempat itu.

"Eh, tunggu !" Yan Bu berseru kaget, hendak mengejar. Akan tetapi tangan Li Goat menyentuh

lengannya, membuat pemuda itu menengok dan terpaksa menunda niatnya. Pandang mata Li Goat begitu aneh, seperti orang marah.

Akan tetapi tak lama kemudian kedua orang muda ini baru melihat bahwa Li Hoa tidak berada di samping mereka. "Lho, mana cici Li Hoa?" teriak Li Goat kaget.

"Agaknya mengejar dia “ jawab Yan Bu. Mereka berdua mencoba untuk menyusul, akan tetapi

karena tidak tahu ke mana arah yang ditempuh dua orang gadis itu, mereka tidak berhasil mengejar dan terpaksa kembali ke istana di mana mereka tinggal menjadi tamu Pangeran Yong Tee.

****

Memang dugaan Yan Bu tadi tidak keliru. Li Hoa yang menaruh curiga kepada Tilana, diam-diam melakukan pengejaran. Ia merasa yakin bahwa Bi Eng tentu menghadapi bencana di tangan gadis Hui itu, dan mungkin sekali gadis bangsa Hui itu tahu pula di mana adanya Han Sin. Baiknya dalam perjalanan ini, Tilana tidak mengerahkan seluruh kepandaiannya, maka Li Hoa dapat mengikuti terus.

Akan tetapi setelah tiba di luar pintu gerbang sebelah utara kota raja, mereka melalui daerah terbuka. Hal ini membuat Tilana dapat melihat bahwa ada bayangan yang mengikutinya. Namun Tilana berjalan terus, hanya sedikit mempercepat larinya. Ketika melihat bahwa bayangan itupun berlari cepat, gadis ini tersenyum mengejek. Baiklah kutunggu sampai pagi dan kulihat, mau apa dia?

Mereka telah berada di daerah pegunungan dan Tilana berhenti di tepi sungai yang mengalir di sebelah utara kota raja. Malam telah lewat, matahari hampir tampak, didahului cahayanya yang kemerahan. Sambil tersenyum Tilana membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangan. "Sahabat di belakang, kau mengikuti aku dari kota raja, ada maksud apakah? Jangan bersikap seperti pengecut!"

Merah wajah Li Hoa mendengar seruan ini dan melihat sikap yang mengejek dari nona cantik jelita itu. Ia cepat keluar dari tempat sembunyinya dan dengan dua kali loncatan jauh ia sudah berdiri tegak di depan Tilana. Gadis ini mau tak mau kagum juga menyaksikan ilmu meringankan tubuh yang begitu hebat, juga terkejut mendapat kenyataan bahwa yang mengikutinya bukan lain adalah gadis cantik yang di kota raja tadi bertanya tentang Han Sin. Dadanya menjadi panas.

Kalau tadinya Tilana merasa amat berduka tiap kali teringat akan hubungannya dengan Han Sin yang dianggap kakak kandungnya, sekarang ia bahkan merasa girang kalau teringat akan hal itu. Han Sin bukan kakak kandungnya, melainkan suaminya! Dan cinta kasihnya terhadap Han Sin makin mendalam, tentu saja ia menjadi panas dan cemburu sekali melihat seorang gadis jelita seperti Li Hoa bertanya-tanya tentang suaminya itu!

Li Hoa yang merasa malu karena orang yang diikutinya sudah tahu akan perbuatannya, terpaksa muncul dan berkata dengan nada minta maaf, "Aku tidak bermaksud buruk, hanya ingin kauberi tahu di mana adanya adik Bi Eng dan kanda Han Sin "

Mengenai sebutan "adik Bi Eng" dan terutama sekali "kanda Han Sin" ini, isi dada Tilana makin panas. Namun ia tetap tersenyum manis ketika bertanya,

"Kau tanya-tanya tentang mereka. Apamu sih mereka itu?"

Muka Li Hoa menjadi makin merah. “..... bukan     bukan apa-apa, hanya sahabat-sahabat baik,"

jawabnya kemudian, agak gagap karena pertanyaan dari gadis Hui yang aneh ini benar-benar tak disangka-sangkanya.

Makin cemburu hati Tilana, makin lebar senyumnya. Tak percuma gadis ini semenjak kecil menjadi anak dan murid Balita, sedikit banyak sifat Balita sudah menurun kepadanya.

"Ehemm, kau mencinta Cia Han Sin, bukan? Katakan terus terang, kalau tidak, akupun tidak mau memberitahu kepadamu di mana adanya Cia Han Sin dan Bi Eng."

Tentu saja Li Hoa menjadi makin jengah dan malu, malah-malah ia hampir marah. Akan tetapi mengapa tidak berterus-terang saja, pikirnya. Lebih baik mengaku dan kemudian mendengar keterangan gadis aneh ini di mana adanya Han Sin. Kalau ia bersitegang, tentu gadis itupun tidak mau memberi tahu dan mungkin sekali mereka menjadi musuh. Melihat gelagatnya, musuh seperti gadis Hui ini bukanlah musuh ringan!

"Kau tidak keliru menduga. Memang, aku cinta kepadanya. Nah, sekarang harap kau suka memberi petunjuk di mana aku dapat menyusul dia, dan di mana pula adanya adik Bi Eng." Setelah membuat pengakuan ini melalui mulutnya, Li Hoa tidak malu-malu lagi menentang mata Tilana. Ia terkejut melihat betapa sepasang mata indah dari gadis Hui itu seakan-akan bernyala, akan tetapi hanya sebentar, segera berganti pandang berseri dan mulut yang manis itu tersenyum lebar.

"Ha, jadi kau mencinta Cia Han Sin? Kau masih terhitung apakah dengan Phang Yan Bu?"

Li Hoa teringat betapa gadis ini tadi menyebut Yan Bu sebagai kakak kandung, maka tanpa ragu- ragu ia menjawab, "Aku adalah sahabat baiknya juga. Tilana, betulkah kau ini adik kandungnya? Bagaimana kau bisa mengaku begitu?" "Hal itu bukan urusanmu. Kau tadi bilang mencinta Han Sin?" sambil berkata demikian, Tilana meloloskan pedang dari sarung pedangnya perlahan-lahan!

Melihat gerakan ini, Li Hoa curiga dan siap-siaga. Boleh jadi ia salah duga, boleh jadi dengan pengakuannya ini ia malah menjadikan Tilana sebagai musuh. Apa boleh buat, ia tidak dapat mundur lagi. "Betul," jawabnya tenang, "aku mencinta Cia Han Sin."

"Mampuslah!" seru Tilana tiba-tiba dan "srattt!" pedangnya dicabut serentak lalu secepat itu pula pedangnya sudah meluncur menusuk ke arah muka Li Hoa. Serangan ini seharusnya ditusukkan ke dada atau leher, kalau Tilana sudah menusuk ke arah muka, itu hanya menandakan bahwa ia amat benci dan marah.

Cepat Li Hoa mengelak. Hal ini mudah ia lakukan karena ia memang sudah menaruh curiga dan sudah siap. Sambil melompat ke samping ia mencabut juga pedangnya. Dua orang wanita muda cantik, sama gagah, berdiri berhadapan dengan pedang telanjang di tangan.

"Tilana, seorang gagah tidak bersikap sembunyi-sembunyi. Aku Thio Li Hoa selamanya tidak pernah bermusuhan denganmu, semua pertanyaanmu kujawab sejujurnya. Mengapa tanpa sebab kau menyerang?"

"Li Hoa, buka telingamu baik-baik. Cia Han Sin adalah suamiku, mengerti? Orang lain, menyebut namanya saja tidak boleh, apa lagi seperti kau ini mengaku aku cinta. Cih, tak tahu malu!"

Sepasang mata Li Hoa bersinar marah. "Perempuan rendah, tebal sekali mukamu berani membohong. Cia Han Sin belum menikah, bagaimana bisa mempunyai seorang isteri macam engkau?"

Tilana makin marah, pedangnya berkelebat dan ia menyerang dengan ganas. Li Hoa menangkis dan sebentar saja dua orang gadis cantik itu saling serang dengan nekat dan mati-matian bagaikan dua ekor singa betina bertanding memperebutkan kelinci! Li Hoa adalah murid pertama dari Coa-tung Sin-kai sedangkan Tilana mewarisi kepandaian Jin-cam-khoa Balita. Kepandaian mereka pada waktu itu sudah jarang dapat ditandingi oleh gadis-gadis lain. Watak mereka sama-sama keras dan gagah, tidak kenal takut. Maka pertandingan itu hebatnya bukan main. Dua batang pedang yang runcing tajam itu berkelebatan menyambar-nyambar, sewaktu-waktu dapat merobek perut atau dada, dapat memenggal leher membikin buntung tangan dan kaki!

Puluhan jurus lewat dan biarpun pertandingan masih berjalan seru sekali, namun dapat dilihat bahwa perlahan-lahan Li Hoa makin terdesak. Ilmu pedangnya biarpun sama cepat dan kuatnya, namun kalah ganas dan repot jugalah akhirnya Li Hoa menghadapi rangsekan yang ganas dan dahsyat dari pedang Tilana.

Tiba-tiba Tilana mengeluarkan seruan nyaring, tangan kirinya tahu-tahu sudah menyambar sebatang anak panah di punggungnya dan begitu tangan kirinya itu diayun, anak panah menyambar laksana terlepas dari gendewa, ke arah dada Li Hoa! Tentu saja Li Hoa kaget sekali menghadapi senjata rahasia ini, cepat ia menangkis dengan pedangnya.

"Traang! Anak panah terpukul runtuh, akan tetapi pada saat Li Hoa menangkis anak panah, pedang Tilana sudah "bekerja", membabat leher Li Hoa. Gadis ini terkejut dan merendahkan tubuh, akan tetapi tetap saja pundaknya terserempet pedang, kulitnya terkupas sedikit. Darah mengucur dan tubuh Li Hoa terhuyung ke belakang. Tilana mengeluarkan pekik nyaring dan liar, terus mendesak maju dengan tusukan-tusukan maut. Dua kali ia menusuk dan dua kali Li Hoa berhasil menangkis, akan tetapi ketika menangkis untuk ke tiga kalinya sambil mundur, Li Hoa menginjak batu bulat dan tergelincir, roboh terguling.

"Hemm, kau mau mencinta Han Sin? Mampuslah!" seru Tilana sambil mengayun pedang, penuh kebencian!

"Trangg!" Pedang di tangan Tilana bertemu dengan pedang lain yang pada saat itu menangkis. Tilana kaget dan me¬mandang.

"Kau ??" tegurnya ketika melihat bahwa yang berdiri di depannya dengan muka beringas dan

penuh benci adalah Bi Eng! Bi Englah yang menangkis pedang Tilana tadi, tepat pada saat Li

Hoa terancam bahaya maut.

"Ya, aku!" jawab Bi Eng dan diam diam Tilana terheran mengapa sikap Bi Eng sekarang demikian berubah, tidak ramah dan manis seperti dulu terhadapnya, melainkan kasar dan agaknya penuh kemarahan dan kebencian. "Jangan khawatir, enci Li Hoa, aku membantumu mengenyahkan siluman ini!" Setelah berkata demikian, Bi Eng menggerakkan pedangnya menyerang Tilana!

"Eh ....., eh ...., apa kau gila ?" Tilana berseru marah sambil menangkis. Akan tetapi Bi Eng

menyerang terus dan Li Hoa juga sudah menyerangnya dengan gemas. Menghadapi keroyokan dua orang gadis ini, Tilana tentu saja terdesak. la mengeluarkan seruan nyaring dan liar, lalu menyerang dua orang lawannya dengan dua batang anak panahnya. Ketika dua orang gadis itu dengan kaget mengelak, Tilana lalu melarikan diri sambil memekik nyaring, setengah tertawa, setengah menangis. Ginkangnya hebat, dua orang gadis lawannya tak dapat menyusul larinya yang amat cepat. Semenjak kecil Tilana sudah biasa berlari-larian di gunung-gunung, hutan-hutan dan padang pasir, tentu saja Bi Eng dan Li Hoa tidak mampu melawannya dalam hal berlari cepat.

"Adik Bi Eng, terima kasih atas pertolongamu," kata Li Hoa dengan girang. "Kau benar-benar membuat kami merasa gelisah sekali. Selama ini kaupergi ke mana sajakah?" Li Hoa menghampiri untuk memeluk kawan baik ini.

Akan tetapi aneh sekali. Dengan sikap keren dan pemarah, Bi Eng mengundurkan diri dan tidak mau menerima pelukan Li Hoa. "Tak perlu berterima kasih," jawabnya singkat, "perempuan tadi memang jahat." Setelah berkata demikian, Bi Eng membalikkan tubuhnya dan pergi

meninggalkan Li Hoa!

Tentu saja Li Hoa menjadi bengong terheran menyaksikan sifat yang tidak sewajarnya ini. Dahulu Bi Eng terkenal sebagai gadis lincah gembira yang amat peramah. Kenapa sekarang menjadi begini dan kelihatan seperti orang berduka?

"Bi Eng, tunggu " katanya mengejar. Namun Bi Eng mempercepat jalannya dan kedua orang

gadis itu kini berkejaran.

Belum jauh mereka berlari-lari, dari balik batu besar muncul seorang pemuda. Melihat orang ini, wajah Li Hoa berubah. Cepat ia mencabut pedangnya dan mempercepat larinya.

Sementara itu, ketika pemuda itu melihat Bi Eng, ia tertawa lebar.

"Ha ha ha, kalau jodoh, kemanapun juga akan bertemu. Kekasihku, benar-benar kita berjodoh, maka dapat bertemu pula di sini. Ha ha!" Akan tetapi Bi Eng tidak menjawab, hanya merengut dan membuang muka. Pada saat itu Li Hoa sudah tiba di depan pemuda tadi. Li Hoa menudingkan pedangnya membentak,

"Pemberontak keparat! Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa. Kau membunuh ayahku, sekarang aku akan membunuhmu!" Biarpun pundaknya masih terasa sakit karena luka akibat pedang Tilana tadi, namun saking marahnya melihat musuh besar ini, ia lalu maju menyerang dengan hebat.

Pemuda itu bukan lain adalah Pangeran Galdan atau Bhok-kongcu. Tadi ia terlampau girang melihat munculnya Bi Eng, yang betul-betul tak pernah ia sangka berada di tempat itu, maka ia kurang memperhatikan Li Hoa. Sekarang, melihat bahwa gadis yang seorang lagi adalah Li Hoa, gadis yang dulu pernah membuat ia tergila-gila kegirangannya memuncak.

"Aha, kaukah ini, nona Thio Li Hoa?" katanya sambil mengelak dengan mudah. "Kebetulan sekali, aku sedang kesepian tiada kawan, kaupun muncul di sini. Bagus, bagus ....! Kau makin manis ....

saja .... ha ha ha      !"

Li Hoa yang tiga kali berturut turut tidak berhasil dengan serangannya, mendengar ini menjadi gemas sekali. Ia mengertak gigi, memegang gagang pedangnya erat-erat, lalu maju menubruk dengan sebuah tusukan kilat.

43. Wanita Pertama dan Terakhir (Tamat)

"MAKIN liar dan ganas, makin menyenangkan " Bhok-kongcu yang terkenal mata keranjang itu

menggoda terus, kali ini ia mengelak sambil menggerakkan tangan, sekali pegang saja ia berhasil menangkap pergelangan tangan Li Hoa yang memegang pedang, diputarnya cepat-cepat membuat Li Hoa memekik kesakitan dan pedangnya terlepas. Di lain saat, sebelum Li Hoa mampu bergerak, gadis itu sudah dipeluk oleh Bhok-kongcu!

"Lepaskan aku! Keparat keji, lepaskan !” Li Hoa meronta dan berteriak, namun makin ia meronta,

pelukan Bhok-kongcu makin erat pula sampai ia tak mampu berkutik lagi.

"Tak tahu malu! Lepaskan dia!" Bi Eng tiba-tiba membentak dan pedangnya membabat ke arah leher Bhok-kongcu.

"Hayaaa, kaupun menyerangku? Celaka, diserang oleh tunangan sendiri!" Bhok-kongcu hendak berkelakar, namun serangan ini adalah gerakan Cin-po-thian-keng yang lihai dari Ilmu Silat Thian- po-cin-keng! Bhok-kongcu kaget sekali ketika tahu-tahu mata pedang hampir membabat lehernya. Cepat ia meloncat ke belakang dan karena gerakan ini, pelukannya pada tubuh Li Hoa mengendur. Hal ini tidak disia-siakan oleh Li Hoa yang cepat menggerakkan kedua tangannya.

"Dukkk!" Kepalan kanan Li Hoa berhasil "memasuki" perut Bhok-kongcu dengan tepat. "Aduuhhh !” Pemuda itu terlempar ke belakang, wajahnya pucat dan biarpun tidak

membahayakan jiwanya, ternyata ia telah menderita luka dalam. la tersenyum pahit, nafsu cintanya terhadap Li Hoa berubah seketika, berubah menjadi kemarahan dan kebencian.

"Kau berani memukulku?"

"Aku malah akan membunuhmu!" Li Hoa berteriak lagi setelah mengambil pedangnya, lalu menubruk dengan serangannya yang dilakukan secara nekat. "Baik, cobalah sebelum kau kukirim menyusul ayahmu!" Bhok-kongcu mengelak dan cepat mencabut senjatanya, yaitu sebuah kipas lebar. Beberapa belas jurus mereka bertempur dan Bi Eng berdiri ragu-ragu, tidak membantu, hanya pedangnya masih terpegang di tangan kanan.

Pada jurus ke lima belas, Bhok-kongcu sengaja memperlambat tangkisannya, akan tetapi ketika ujung pedang di tangan Li Hoa sudah dekat, ia cepat menggunakan sepasang gagang kipasnya menjepit pedang itu. Selagi Li Hoa berusaha melepaskan pedangnya, tangan kiri Bhok-kongcu datang menyambar.

"Plakk!" Tangan kiri yang putih halus, akan tetapi mengandung penuh tenaga Hek-tok-ciang itu telah menghantam dada Li Hoa. Gadis itu menjerit ngeri dan roboh terguling, tak dapat bergerak lagi!

"Manusia keji, di mana-mana membunuh orang!" Bi Eng berseru marah.

"Kaupun banyak rewel sekarang, lekas-lekas menjadi isteriku lebih baik, harus diberi hajaran!" Bhok-kongcu balas membentak dan sebelum Bi Eng sempat menyerang, pemuda itu sudah menerjangnya, tangan kiri memukul ke arah pedang dan tangan kanan menyambar pinggang Bi Eng. Terus saja ia memanggul tubuh Bi Eng yang menjerit-jerit, memaki-maki dan meronta-ronta, dibawa lari cepat meninggalkan tempat itu, meninggalkan tubuh Li Hoa yang tidak bergerak dan pakaian di dadanya sudah hancur memperlihatkan kulit dada yang hangus kehitaman.

****

"Saudara Cia Han Sin!"

Han Sin terkejut mendengar panggilan ini dan cepat menengok. Ternyata Phang Yan Bu yang memanggilnya. Yan Bu berlari datang bersama seorang gadis cantik dan gagah. Ternyata bahwa gadis itu adalah Thio Li Goat, adik Li Hoa.

"Ah, Phang-loheng, kau hendak ke manakah?"

Akan tetapi sampai lama Yan Bu tak menjawab, hanya memandang pemuda itu yang menjadi pucat dan kurus sekali dengan perasaan kasihan. la tidak banyak tahu tentang pemuda aneh dan sakti ini, hanya dapat menduga bahwa banyak hal-hal yang amat sengsara terjadi menimpa keluarga Cia dan karenanya membuat ia menaruh hati kasihan.

"Kami sedang mencari jejak adikmu. Nona Cia Bi Eng   "

".... di mana dia.     ?" Han Sin memotong dengan tergesa-gesa, penuh gairah.

"Sabar dulu, saudara. Beginilah ceritanya," Yan Bu lalu menuturkan secara singkat kemunculan Tilana yang mengaku adik kandungnya itu, lalu betapa Li Hoa mengejarnya. Agaknya hanya Tilana yang tahu di mana adanya Bi Eng, maka kini Yan Bu dan Li Goat lalu pergi mencari.

"Aneh sikap Tilana itu, saudara Cia Han Sin. Dia mencarimu, dan dulupun dia yang membawa pergi Bi Eng. Dia kelihatan jahat, kami amat mengkhawatirkan keselamatan Bi Eng dan enci Li

Hoa. Kebetulan sekali kami mendapat keterangan bahwa jejaknya berada di daerah ini."

"Kalau begitu mari kita bersama mengejarnya," kata Han Sin tidak sabar lagi. Ia tidak mau banyak bercerita, hanya ingin lekas-lekas dapat mencari dan menemui Bi Eng. Karena Bi Englah, ia menjadi pucat dan kurus kering, lupa makan, lupa tidur. Sayang sekali mereka sedikit terlambat, kalau tidak kiranya Li Hoa takkan mengalami nasib sedemikian mengerikan. Hanya satu dua jam setelah Li Hoa roboh dan ditinggal pergi Bhok-kongcu yang menculik Bi Eng di tempat itu muncul Han Sin, Yan Bu dan Li Goat!

"Hoa-ci !!" Li Goat cepat menubruk cicinya dan menangis.

Li Hoa membuka matanya, memandang tiga orang itu. Melihat Han Sin, ia berbisik, "Han Sin ...

bagus sekali kau datang .... ke sinilah kau ”

Han Sin berlutut mendekati Li Hoa. Ngeri ia melihat dada yang sudah tak tertutup lagi karena pakaiannya sudah hancur, akan tetapi dada itu sudah hangus kehitaman!

"Kau terpukul Hek-tok-ciang " katanya sedih. Teringat ia betapa baik gadis ini terhadapnya,

betapa dulu ia tertolong oleh Li Hoa, bahkan dibela dengan taruhan nyawa, betapa dulu ketika terluka iapun dirawat oleh gadis itu. Dengan terharu ia lalu mengangkat kepala gadis itu dan dipangkunya, lalu mengambil baju luarnya untuk diselimutkan di atas dada. Kemudian beberapa jalan darah ia totok dan urut, bukan untuk mengobati, hanya untuk menghilangkan rasa nyeri yang hebat.

"Terima kasih ...." Li Hoa bernapas lega, "Sekarang enakan .... tidak sepanas tadi " Gadis itu

memandang kepada Han Sin dengan muka berseri! "Kau .... kau baik sekali. Han Sin tidak

percuma .... aku mencintamu eh, kenapa kau kurus dan pucat? Han Sin, jaga baik-baik dirimu

..... aku ikut berduka kalau melihat kau susah dahulu itu, ketika kau disiksa Thian-san Sam-sian

.... aduh, sakit sekali hatiku "

Melihat gadis yang sudah menghadapi maut itu masih memperlihatkan kasih sayang kepadanya, Han Sin menjadi amat terharu. Tak terasa lagi, dua butir air matanya jatuh menimpa pipi Li Hoa.

"Kau ..... kau menangis ....? Untukku ....? Ahhh, aku puas .... matipun ikhlas Phang Yan Bu, kau

harap bersikap baik terhadap adikku .... sebaik Han Sin ini ” Tiba-tiba suaranya terhenti dan

napasnyapun terhenti. Han Sin cepat sekali menggerakkan tangan menghidupkan peredaran darah dan mengerahkan sinkang untuk membantu jalan darah dan menghidupkan urat syaraf gadis itu, lalu berbisik di telinganya.

"Di mana Bi Eng "

".... Bi Eng ..... dia diculik Bhok .... ke sana " Matanya mengerling ke arah perginya Bhok-

kongcu lalu mata itu meram dan napasnyapun terhenti sama sekali. Gadis itu meninggal dalam

pelukan Han Sin.

"Kalian urus jenazahnya. Aku harus mengejar Bhok-kongcu si bedebah. Bhok Kian Teng yang membunuh Li Hoa, dengan pukulan Hek-tok-ciang. Tentu dia belum jauh!"

Yan Bu dan Li Goat mengangguk tanda setuju. Memang, siapa lagi yang dapat menghadapi Bhok Kian Teng yang lihai itu selain Han Sin? Setelah memberikan jenazah Li Hoa kepada sepasang orang muda itu untuk membawanya pergi, Han Sin cepat berlari seperti terbang ke arah yang ditunjuk oleh Li Hoa tadi. Ia berlari-lari bagaikan terbang cepatnya. Segera ia sampai di daerah yang berbatu-batu dan tahulah ia bahwa ia telah tiba dekat sungai besar.

Tiba-tiba telinganya menangkap jerit wanita, "Lepaskan aku !” Dengan jantung berdebar Han Sin berlari makin cepat lagi ke arah suara itu. Setelah melompati beberapa buah batu besar, akhirnya ia melihat Bhok Kian Teng berjalan perlahan-lahan sambil memondong tubuh Bi Eng yang meronta-ronta dan memaki-maki.

"Diamlah, manis ... diamlah, sayang bukanlah kau calon isteriku yang syah? Ibumu sendiri sudah

menyerahkan kau kepadaku. Tunggu saja, kau akan menjadi permaisuri ha ha ha!" Bhok Kian

Teng membelai rambut gadis yang dipondongnya itu, yang terurai menutupi lengannya.

Hampir meledak isi dada Han Sin menyaksikan penglihatan ini. Sekali melayang ia telah tiba di depan Bhok-kongcu sambil membentak, "Iblis bermuka manusia! Lepaskan dia!"

Pucat muka Bhok-kongcu ketika tiba-tiba ia melihat musuh yang paling ia takuti ini berdiri di depannya.

"Kau ....? Kau ??" Dan ia lalu lari sambil memondong tubuh Bi Eng. Anehnya, sekarang gadis

itu tidak meronta lagi, malah tidak mengeluarkan suara.

"Kau hendak membunuhku ? Ha ha ha, tak mungkin, Cia Han Sin Aku calon raja. Aku pangeran

besar, keturunan Jenghis Khan! Ha ha ha! Dan nona Tilana ini adalah calon permaisuriku !”

Bukan main cemasnya hati Han Sin. Agaknya Bhok-kongcu sudah menjadi gila. Hendak menyerang, ia takut kalau-kalau Bi Eng celaka di tangan pemuda Mongol itu. Maka ia cepat mengejar dengan maksud merampas tubuh Bi Eng yang dipondong Bhok-kongcu. Akan tetapi Bhok-kongcu mengerti akan maksud ini, maka ia cepat menggunakan tubuh Bi Eng untuk menyerang Han Sin!

Han Sin cepat mengelak dan pucatlah wajahnya ketika melihat gadis itu sudah lemas, tidak bergerak lagi. Saking kagetnya ia sampai berdiri tidak mengejar ketika Bhok-kongcu berlari terus. Baru setelah hilang kagetnya, ia mengejar lagi.

"Orang gila, akan kuhancurkan kepalamu kalau kau berani mengganggu dia!" geramnya marah sekali.

Bhok-kongcu sudah berlari sampai di pinggir sungai yang amat curam. Ia angkat tubuh Bi Eng dan mengancam. "Majulah setindak lagi dan akan kulemparkan dia ke bawah!"

Han Sin memandang dengan mata terbelalak, menjadi seperti patung, berdiri dalam jarak lima meter dari Bhok-kongcu, tidak berani bergerak.

" jangan .... jangan lakukan itu ..... dia tidak berdosa " suaranya memohon dengan gemetar.

"Ha ha ha ha! Dia isteriku, dia calon permaisuriku .... kau perduli apa ? Aku boleh melakukan

apa yang kusuka. Lihat !" Tak usah diminta lagi, Han Sin memang sudah melihat hal yang amat

mengerikan hatinya. Melihat betapa baju di lambung kiri Bi Eng telah hancur dan kulit lambung

yang tampak berwarna hitam! Tak salah lagi, pemuda gila itu sudah melukai lambung Bi Eng dengan pukulan Hek-tok-ciang, tentu pada saat Han Sin muncul tadi karena sebelumnya Bi Eng masih memaki-maki!

Muka Han Sin menjadi beringas, sebentar pucat, sebentar merah. Sepasang matanya seperti mengeluarkan api, dan dari kepalanya mengepul uap! Melihat keadaan pemuda itu, Bhok-kongcu sampai merasa ngeri dan ketakutan. "Awas kau ..... kuhancurkan kepalamu ...... kukeluarkan isi perutmu kuseret kau ke neraka

jahanam " dengan langkah satu-satu Han Sin menghampiri Bhok-kongcu.

"Jangan dekat, kulemparkan dia nanti ke bawah!" Bhok-kongcu mengancam lagi. Akan tetapi Han Sin tidak perduli lagi, karena ia maklum bahwa biarpun dia tidak menangkap Pangeran Mongol itu, tetap saja nyawa Bi Eng sukar ditolong lagi. Kemarahannya meluap-luap, belum pernah selama hidupnya Han Sin semarah itu.

Bhok Kian Teng membelalakkan matanya. Ia melihat pemuda itu selangkah demi selangkah, lambat-lambat menghampirinya dan setiap melangkah, kakinya meninggalkan bekas yang

dalam dan nyata di atas batu! Sekali saja Han Sin menggerakkan tangan, tanpa menyentuh tubuh Bhok-kongcu, pemuda gila ini tentu akan remuk isi perutnya. Hawa sinkang sudah berkumpul seluruhnya di dalam tangan kaki Han Sin.

Tiba-tiba Bhok-kongcu berteriak parau, "Inginkan dia? Nih, terimalah, ha ha ha ha!" Tubuh Bi Eng ia lontarkan dengan kuat sekali ke arah Han Sin dan dia sendiri saking takut dan paniknya sudah melompat ke belakang, ke tempat kosong. Tubuhnya melayang ke bawah dan terdengar pekiknya

yang menggema di lembah itu, pekik kematian karena tubuhnya disambut oleh batu-batu keras yang runcing dan mengerikan di antara air sungai.

Han Sin cepat menyambar tubuh Bi Eng. la tidak perduli lagi kepada Bhok-kongcu. Cepat ia memeriksa detak jantung dan pernapasan. Sepuluh jari tangannya menggigil saking tegangnya hati.

"Aduhh ....., syukur kau masih hidup, Bi Eng .... tapi ..... tapi ”

la maklum bahwa ia takkan mungkin dapat mengobati Bi Eng. Pikirannya sekilat melayang kepada Phoa Kek Tee si raja obat. Akan tetapi pikiran itu buyar kembali ketika ia mengingat bahwa sekarang raja obat itu sudah kehilangan kepandaiannya karena dia.

"Ahhh ..... Bi Eng ..... kalau kau mati .... akupun ikut serta " tiba-tiba ia teringat akan Pek Sin

Niang-niang. Ya, betul dia? Satu-satunya orang di dunia ini yang dapat dimintai tolong, hanya pertapa wanita itulah.

Han Sin memondong tubuh Bi Eng. lalu berlari secepat terbang. Siang malam tiada henti-hentinya ia berlari terus menuju ke Go-bi-san, tempat pertapaan Pek Sin Niang-niang.

****

"Niang-niang, tolonglah teecu tolonglah kalau Niang-niang tidak ingin melihat kami berdua mati

....." Han Sin dengan Bi Eng dalam pondongannya, berlutut sambil memohon-mohon dan menangis di depan pertapa wanita Pek Sin Niang-niang yang bersikap tenang saja.

"Cia-sicu, tak layak seorang gagah mengucurkan air mata. Nona ini siapakah?"

"Oh, Niang-niang ..... dia satu-satunya yang kumiliki di dunia ini dia ini ya saudaraku, ya

kekasihku, ya satu-satunya orang yang kukasihi dan untuknya aku mau hidup Niang-niang,

tolonglah kami "

"Tenanglah, dan ceritakan mengapa dia sampai terluka seperti itu."

Dengan singkat Han Sin lalu menceritakan segala-galanya tentang Bi Eng yang dulu semenjak kecil ia anggap adik kandungnya, dan tentang segala perasaannya terhadap Bi Eng serta kejadian- kejadian yang amat merisaukan hatinya akhir-akhir ini. Setelah selesai, Pek Sin Niang-niang lalu memeriksa luka Bi Eng sambil berkata tersenyum, "Memang kau agaknya ditakdirkan untuk mengalami permainan asmara yang berbelit-belit, Cia-sicu. Nona ini berat lukanya, baiknya kau sudah menghentikan jalan darahnya, kalau tidak, begitu racun menyerang jantung, dia takkan tertolong lagi. Sekarang dia harus banyak beristirahat sambil berobat di sini. Akan tetapi, percayalah, kalau Thian menghendaki, dia akan sembuh."

Bukan main girangnya Han Sin. Ia berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya di depan pertapa wanita itu seperti seekor ayam makan padi!

Pek Sin Niang-niang adalah bibi guru dari Raja Obat Phoa Kok Tee. Ilmunya tentang pengobatan amat dalam, apa lagi memang pertapa ini mengutamakan ilmu pengobatan anti racun. Dengan amat teliti ia merawat dan mengobati Bi Eng yang menjadi sadar dari pingsannya pada tiga hari kemudian. Gadis ini amat lemah dan dadanya terasa sakit sekali. Ketika ia sadar dan melihat Han Sin duduk di dekat pembaringannya, ia merengut dan hendak marah-marah. Akan tetapi Han Sin menyabarkannya dan mencegah gadis itu bangun.

"Eng-moi, kau tenang dan mengasolah. Kau terluka hebat oleh Bhok-kongcu, syukur Pek Sin Niang-niang berkenan menolongmu di sini dan memberi obat. Kau harus banyak mengaso "

Suara pemuda ini lemah-lembut, penuh kasih sayang. Naik sedu-sedan dari dada Bi Eng.

Selama ini memang di dalam dadanya penuh dengan cinta dan rindu kepada pemuda ini, akan tetapi semua perasaan itu ia tekan dan coba matikan sendiri. Ia berusaha sekuat tenaga untuk membenci pemuda ini, dengan menjejalkan pikiran bahwa pemuda ini sudah berlaku tidak patut terhadap Tilana atau yang sebetulnya bernama Kiok Hwa puteri Ang-jiu Toanio. Malah ia meyakinkan dalam hatinya bahwa dia bukan Bi Eng, melainkan Tilana puteri Balita.

Akan tetapi semua usahanya ini selalu gagal, kalah oleh rasa rindu kepada Han Sin, bekas kakak kandungnya. Malah sudah pernah ia memaksa hatinya untuk menerima perintah ibunya, yaitu yang mengikat dia kepada Bhok-kongcu sebagai tunangan. Namun, makin dekat Bhok-kongcu makin bencilah ia kepada Pangeran Mongol itu.

"Kau pergilah ..... kau pergilah " akhirnya ia berkata sambil menangis.

Han Sin yang maklum bahwa perasaan gadis itu amat tertekan entah oleh apa, mengalah dan keluar dari kamar itu. Betapapun juga, hatinya lega melihat gadis itu sudah siuman.

Pek Sin Niang-niang muncul ke dalam kamar membawa semangkok bubur hangat. Bi Eng yang melihat wanita pertapa ini, memandang kagum. Ia segera dapat menduga bahwa pertapa inilah yang menolongnya, maka ia lalu mencoba untuk turun dari pembaringan.

"Jangan banyak bergerak, nona. Berbaringlah saja dan kau makanlah bubur ini." Pertapa itu lalu menyuapkan bubur ke mulut Bi Eng. Akan tetapi gadis itu tidak mau menerimanya.

"Apakah ..... apakah kau Pek Sin Niang-niang ?"

Ketika pertapa itu mengangguk Bi Eng berlinang air mata. "Niang-niang telah menolong nyawa teecu, seharusnya teecu berlutut menghaturkan terima kasih. Bagaimana teecu berani melelahkan Niang-niang untuk merawat teecu seperti ini.

Pek Sin Niang-niang tersenyum ramah. "Aku tidak mengenal apa itu tolong-menolong, anak baik. Manusia hidup harus memenuhi kewajibannya masing-masing dengan sempurna, baru tak percuma hidup di dunia. Kewajibanku saat ini ialah merawat dan mengobatimu, sedangkan kewajibanmu ialah taat pada pinni agar cepat sembuh."

"Tapi ..... tapi ...... harap Niang-niang menyuruh seorang pembantu saja untuk merawat teecu "

Bi Eng benar-benar merasa malu dan sangat tak enak kalau membiarkan pertapa tua ini turun tangan sendiri merawatnya, seperti menyuapkan makan dan lain-lain.

Pek Sin Niang-niang tertawa girang. Boleh juga bocah ini, pikirnya.

"Boleh, akan kusuruh pembantuku. Akan tetapi kau harus berjanji bahwa kau akan taat dan tidak membantah. Begitu barulah kau seorang anak yang baik."

"Teecu sudah menerima budi, bagaimana berani membantah," Bi Eng menyanggupi.

"Nah, pertama, kau tidak boleh bergerak dan tidak boleh turun dari pembaringan, apapun juga yang terjadi. Ke dua, kau harus menurut segala permintaan pembantuku."

"Baiklah, Niang-niang."

"Dan sekali-kali kau tidak boleh marah-marah. Racun masih ada bekasnya di dalam tubuhmu. Pemuda itu bukan main. Kau dipondongnya ke sini setelah melalui perjalanan empat hari empat malam tiada berhenti-henti." Setelah berkata demikian, Pek Sin Niang-niang meninggalkan kamar itu dan menutupkan daun pintu.

Bi Eng menanti datangnya pembantu pertapa itu yang disangkanya tentu seorang wanita pula. Ketika pintu kamar terbuka, ia melirik dan alangkah kagetnya ketika melihat bahwa yang memasuki kamar adalah Han Sin yang membawa mangkok bubur tadi. "Niang-niang minta kepadaku untuk

menyuapkan bubur ini kepadamu " kata Han Sin, "Bi Eng, kau makanlah bubur ini agar segera

sembuh."

Bi Eng hendak marah, akan tetapi teringat akan pesan Pek Sin Niang-niang, ia menahan diri, hanya mengomel lirih, "Namaku Tilana, bukan Bi Eng "

"Kau tetap Bi Eng bagiku, adik Bi Eng yang baik "

Bi Eng terharu. "Aku bukan adik kandungmu "

"Aku tahu. Kau makanlah " Dan Han Sin lalu menyuapkan bubur ke mulut nona itu yang tak

dapat membantah lagi. Setelah bubur itu habis, Bi Eng kelihatan menderita. "Aduh ...... aduh sakit sekali perutku"

Han Sin sudah diberi tahu oleh Pek Sin Niang-niang tadi, maka ia tidak khawatir, biarpun ia memperlihatkan muka khawatir. "Ada apakah? Bagaimana rasanya?"

"Perutku sakit, kepalaku pening ..... aahhh " Dan tak tertahan lagi, Bi Eng muntah-muntah.

Karena Han Sin duduk di dekat pembaringan, tak dapat dicegah lagi pakaian Han Sin tersembur oleh isi perut yang dimuntahkan Bi Eng. Di antara bubur yang keluar lagi itu, nampak banyak darah hitam!

"Celaka .... aku .... aku mengotorkan pakaianmu " Akan tetapi Han Sin hanya tersenyum, bahkan dengan saputangannya ia lalu membersihkan bibir Bi Eng dan pinggir bantal yang terkena kotoran pula. "Tidak apa Bi Eng. Memang di dalam bubur diberi obat untuk mengeluarkan darah beracun yang masih berada di dalam perutmu. Sekarang darah itu sudah keluar semua, kaulihat. Ini berarti kau akan sembuh, adikku sayang "

"Aku .... aku bukan adikmu !”

Biarpun lemah sekali tubuhnya, Bi Eng masih bisa membentak, merengut dan matanya membelalak marah.

"Memang bukan, lebih dari pada adik malah " jawab Han Sin tersenyum. "Sekarang kau tidurlah,

Bi Eng, tidurlah " Dengan lemah-lembut dan penuh kasih sayang, Han Sin membetulkan letak

kepala gadis itu pada bantal, lalu menarik selimut sampai ke leher Bi Eng. Gadis itu menarik terus selimut menutupi mukanya dan di dalam selimut terdengar ia mengisak perlahan.

Di kedua mata Han Sin juga tampak dua butir air mata ketika pemuda ini perlahan-lahan meninggalkan kamar untuk berganti pakaian. Demikianlah, dengan amat teliti dan sabar Han Sin merawat Bi Eng di bawah pengawasan Pek Sin Niang-niang, dan sebulan kemudian sembuhlah Bi Eng.

Seperti juga dulu ketika Han Sin berobat di situ, setelah Bi Eng sembuh, pertapa wanita itu tidak kelihatan lagi bayangannya. Kemarin harinya ia sudah memesan Han Sin dan Bi Eng supaya hari itu meninggalkan Go-bi-san, dan pada hari keberangkatan mereka, ia sengaja pergi, tidak bersedia menerima ucapan terima kasih! Han Sin dan Bi Eng hanya berlutut dan dengan suara terharu menghaturkan terima kasih kepada pertapa sakti itu. Lalu mereka turun dari Go-bi-san.

Mereka melakukan perjalanan tanpa banyak bercakap. Memang Bi Eng menjadi pendiam semenjak berobat di Go-bi-san. Tak pernah mau bicara dengan Han Sin, malah selalu menghindarkan pertemuan pandang mata. Anehnya, tiap kali tanpa disengaja pandang mata mereka bertemu, gadis itu tak dapat menahan bercucurnya air matanya!

Setelah menuruni puncak Go-bi-san, Han Sin berhenti dan memegang lengan tangan Bi Eng. la tak tahan lagi didiamkan begitu saja.

"Bi Eng ..... kita harus bicara dari hati ke hati "

Gadis itu berdiri di depannya, menundukkan muka. "Bicara apa lagi! Kau sudah mempermainkan aku. Sudah lama tahu aku bukan adik kandungmu, kau diam saja. Kau putera Cia Sun, aku anak Balita. lbuku dan ayahmu musuh besar. Dan kau ... kau ... kau suami Kiok Hwa "

"Kiok Hwa siapakah?"

"Yang dulu bernama Tilana, dia anak Ang-jiu Toanio. Kaupun sudah tahu akan hal itu. Kau tahu segalanya, tapi menutup mulut "

"Tidak Bi Eng. Tidak demikian. Memang aku tahu bahwa kau bukan adik kandungku. Aku tidak memberi tahu karena ..... karena aku tidak ingin berpisah darimu pula, aku ingin membongkar

segala rahasia mengenai dirimu, mengenai hal-hal yang terjadi sebelum orang tuaku meninggal dunia. Terutama sekali ....... aku tidak ingin kehilangan kau dari sampingku karena karena aku

cinta padamu, Bi Eng. Aku akan mati kalau kau tinggalkan. Aku cinta padamu." Bi Eng mengangkat mukanya dan kedua matanya sudah penuh air mata. "Kau bohong " bibirnya

gemetar, "Kau laki-laki mata keranjang, kau bohong! Kau adalah suami Kiok Hwa "

Han Sin menggeleng kepalanya dan menarik napas panjang. "Bi Eng, kau sendiri menjadi saksi betapa aku hampir saja membunuh Tilana atau Kiok Hwa itu karena perbuatannya yang tak tahu

malu. Entah bagaimana, agaknya dia menggunakan racun dalam minuman yang membuat aku seperti mabok, lebih lagi, seperti gila aku tidak ingat apa-apa lagi dan tahu-tahu aku bangun di

sisinya. Kau tahu akan hal ini aku tidak cinta padanya. Kaulah satu-satunya wanita di dunia ini

yang kucinta, Bi Eng. Aku sudah menyatakan terus terang kepada Tilana itu "

"Tapi ..... tapi ........ kau anak musuh besar ibuku "

Han Sin merangkul pundak Bi Eng. "Bi Eng, urusan dahulu tak perlu kita campuri. Aku tahu, aku merasa di dalam hatiku, bahwa kau mencintaiku pula, bukan ..... bukan seperti kakak kandung .......

aku dapat melihat itu di dalam sinar matamu, dahulu sebelum kau tahu akan hal ini. Karena perasaanmu itulah maka kau dulu berusaha menjodohkan aku dengan Tilana. Karena kau takut jatuh cinta kepada kakak kandung sendiri! Bukankah begitu?"

Makin deras air mata membasahi pipi Bi Eng. Mereka berpandangan, cinta dan rindu bergelora memenuhi dada dan akhirnya dua orang muda yang sudah berkumpul semenjak masih kecil itu mengeluarkan jerit tertahan ketika mereka saling rangkul, saling peluk sambil bertangisan.

"Sin-ko .... Sin-ko bagaimana aku bisa membencimu? Kaulah satu-satunya orang di dunia ini

bagiku .... kalau saja dulu kau memberi tahu ..... takkan berlarut-larut begini    "

"Eng-moi, kau pujaan hatiku. Kau kurang sabar menanti, Eng-moi. Kau tak tahu betapa tersiksa hatiku itu, menahan-nahan cinta, berpura-pura seperti kakak sendiri. Alangkah sukarnya. Betapa hancur hatiku ketika kau memaksaku dengan Tilana "

Disebutnya nama ini mengingatkan Bi Eng akan sesuatu. Cepat ia merenggutkan dirinya atas dada Han Sin. "Tidak bisa ! Aku anak ibuku! Bagaimana bisa aku mengkhianati ibu sendiri? Ah, Sin-

ko, bagaimana ini ??”

Han Sin maklum. "Marilah, Bi Eng. Mari kita pergi menemui ibumu. Memang kita harus mengaku terus terang. Biarlah ibumu melihat bahwa permusuhan lama itu kita akhiri dengan perjodohan.

Marilah     "

Terhiburlah hati Bi Eng. Dengan bergandengan tangan mereka lalu pergi ke arah tempat tinggal Balita. Andaikata harus membuat pengakuan seorang diri, agaknya Bi Eng takkan berani. Akan tetapi, berdua dengan Han Sin, ia akan berani menempuh apapun juga.

Ketika mereka tiba di kaki bukit di mana tinggal Balita, tiba-tiba muncul seorang gadis yang membuat kedua merpati ini berdiri seperti patung dan menjadi pucat. Di depan mereka berdiri ......

Tilana atau Kiok Hwa, gadis berkerudung itu. Tilana berdiri dengan muka lebih pucat lagi, ketika dengan tubuh kurus dan mata layu. Tanpa disengaja Bi Eng lalu menggandeng lengan Han Sin, seakan-akan ia takut kalau-kalau Han Sin hendak pergi bersama Tilana.

"Bi Eng, dia bukan kakak kandungmu. Dia itu musuhmu, anak musuh besar ibumu!" Tilana berkata dengan suara lantang.

"Tidak, cici Tilana. Dia memang bukan kakak kandungku, akan tetapi dia bukan musuhku." Bibir Tilana gemetar. "Keparat ....., kau ..... kau juga mencintainya ?"

Bi Eng mengangguk berani. "Karena cintaku kepadanya maka dulu aku membantumu dengan sengaja. Kalau dulu aku tahu bahwa dia bukan kakakku sendiri, jangankan membantumu, mungkin pedangku sudah menembusi dadamu!"

Tilana mendekap mukanya dan menjerit lirih. Pernyataan Bi Eng ini merupakan ujung pedang yang sudah menancap dadanya. la sayang kepada Bi Eng, karena merasa berhutang budi. Ketika ia membuka lagi tangan yang menutupi muka, ia menjadi makin pucat. Dengan bingung ia memandangi dua orang di depannya itu.

"Han Sin , apakah kau masih tetap dengan cintamu? Masih tetap mencinta dia seperti

pengakuanmu dulu?"

Han Sin mengangguk pasti.

".... ahhh ..., kalau begitu...., kalian saling mencinta .... dan aku ... aku ......bagaimana ?"

Han Sin tak dapat menjawab, hanya berdiri lemas, hatinya terharu bukan main. Bi Eng melihat hal ini dan dia yang menjawab, "Salahmu sendiri, cici Tilana. Kau menggunakan akal busuk dan rendah. Cinta tak dapat dipaksa melalui segala obat racun, melalui segala alat kecantikan. Cinta demikian hanyalah cinta palsu "

"Tapi kau dulu membantuku ”

"Ya, tapi bukan dengan maksud rendah seperti maksudmu. Aku membantumu karena kusangka dia kakak kandungku sendiri, aku malah takut kalau-kalau jatuh cinta kepadanya " Cekalannya

kepada lengan Han Sin dipererat.

"Keparat !" Tilana mencabut pedangnya, sikapnya mengancam. Matanya beringas. "Han Sin,

kalau aku bunuh Bi Eng, bagaimana?"

"Aku akan melindunginya, kalau perlu aku akan lebih dulu membunuhmu." "Kalau aku membunuhnya secara diam-diam, di luar dugaanmu?"

"Kalau begitu, aku akan membunuh diri sendiri "

Tilana menjerit ngeri, meloncat ke depan dan mengangkat pedangnya. Han Sin melindungi Bi Eng, akan tetapi ia segera berteriak kaget sekali ketika melihat darah menyembur, disusul robohnya tubuh Tilana yang ternyata telah menggorok leher sendiri dengan pedangnya!

"Tilana !"

"Cici Tilana !”

Han Sin dan Bi Eng sudah lupa akan kebencian mereka. Keduanya berlutut dekat tubuh Tilana, Bi Eng menangis dan Han Sin kelihatan terharu sekali. Tilana masih dapat tersenyum dan hanya matanya yang memandang mereka dengan sinar mata menyatakan harapan, "Semoga kalian berbahagia." Beberapa menit kemudian, nampak Han Sin dan Bi Eng mengubur jenazah Tilana dengan khidmat. ****

"Anak durhaka! Anak tidak berbakti! Kau mau ikut dengan jahanam ini? Dia sudah melakukan perbuatan zina dengan adik kandungnya sendiri. Ha ha ha, dia anak Cia Sun sudah berzina dengan adik kandungnya sendiri "

"Tidak, ibu. Dugaanmu meleset. Cici Tilana itu bukanlah adik kandung melainkan anak Ang-jiu Toanio. Sebelum ibu menukarkan aku dengan anak keluarga Cia, ibu sudah didahului Ang-jiu Toanio. Adik kandung Sin-ko jatuh di tangan Hoa Hoa Cinjin, menjadi nona Hoa-ji gadis berkedok."

"Apa ??” Balita membentak dan menatap wajah Han Sin dengan penuh keheranan.

"Betul demikian," kata Han Sin. "Kami, aku dan adik Bi Eng, saling mencinta dan tidak ada kekuasaan di dunia ini yang dapat memisahkan kami. Akan tetapi, sudah sepatutnya kami menghadap locianpwe untuk mohon ijin agar kami dapat menghapus permusuhan orang-orang tua dahulu dengan sebuah pernikahan."

"Apa .....? Anakku ..... darahku ....menikah dengan anak nyonya Cia ?” Matanya melotot,

rambutnya riap-riapan di antara matanya.

Han Sin mendapat pikiran bagus. "Bukan hanya anak nyonya Cia, locianpwe, melainkan anak darah keturunan Cia Sun sendiri. Alangkah baiknya, puteri dari Jim-cam-khoa Balita menikah dengan putera dari taihiap Cia Sun."

Balita menggerakkan kepalanya dan rambut yang riap-riapan ke depan itu kini ke belakang pundak semua. Matanya bersinar, mulutnya bergerak-gerak, kemudian ia berseru, "Bagus sekali! Seluruh dunia kang-ouw akan mendengar, akan melihat. Lihat akhirnya putera Cia Sun mengawini puteri Balita. Hi hi hi, Cia Sun, tengoklah. Kau dulu menolakku, sekarang puteramu memaksa mengawini anakku. Hi hi hi, kau masih bilang tidak mencinta aku? Lihat puteramu yang lebih tampan dari pada engkau, sekarang mencinta anakku yang tidak secantik aku. Bukankah ini pembalasan namanya?

Ha ha!"

Pada saat itu Siauw-ong meloncat turun dari pohon dan hinggap di pundak Han Sin. Hal ini membuyarkan pikiran Balita yang cepat berubah dan berteriak,

"Monyet keparat!" Memang perempuan ini aneh. Selama Bi Eng pergi, monyet itu ditinggalkan di situ dan Balita selalu bersikap baik. Sekarang mendadak ia membenci. ”Monyet bedebah! Eh, Cia Han Sin anak Cia Sun, kau bilang betul-betul mencinta Bi Eng? Mau berkorban apa saja?"

"Betul, aku bersumpah bahwa aku mencinta Bi Eng, bersiap mengorbankan apa saja demi cintaku."

"Tapi tidak akan sah kalau tidak mendapat perkenanku, bukan? Hi hi hi. Bi Eng ini adalah Tilana, puteriku yang kukandung sembilan bulan lamanya, hi hi!"

"Betul kata-kata cianpwe, memang kami datang menghadap untuk mohon perkenan." "Aku tidak memberi ijin."

"Ibu .....!" Bi Eng memeluk kaki ibunya dan menangis. "Aku lebih baik mati     " "Harap cianpwe ingat bahwa perjodohan ini akan menghapus segala permusuhan, akan menebus segala kesalahan ayah dahulu."

"Betul , betul. Tapi aku masih tidak percaya. Kau betul mencintanya?"

"Aku bersumpah!"

"Lebih mencinta anakku dari pada mencinta monyet ini?" "Sudah tentu saja ”

"Nah, kalau begitu penggal kepala monyet ini! Ayoh penggal, sebagai bukti cintamu!"

Bukan main kagetnya Han Sin dan Bi Eng. Mereka memandang kepada Siauw-ong yang melongo- longo tidak tahu apa-apa. Bi Eng menjerit dan memeluk Siauw-ong. "Ibu, kau kejam sekali! Tarik kembali permintaanmu."

Balita tertawa. "Tidak bisa. Sekali kata-kata dikeluarkan, tak dapat ditarik kembali. Eh, Cia Han Sin, kau pilih satu antara dua, kau boleh mendapat persetujuanku setelah kau memenggal batang leher monyetmu sebagai tanda cintamu terhadap Bi Eng. Kalau kau lebih sayang monyetmu dari pada Bi Eng, nah, kau pergilah bawa monyetmu dan tinggalkan anakku di sini."

Han Sin menjadi pucat dan bingung. Beberapa kali ia memandang kepada Bi Eng yang lalu berdiri dengan tubuh menggigil, matanya tajam menatap wajah ibunya. "Ibu, kalau kau memaksa aku selamanya takkan mengakuimu sebagai ibu! Kau kejam sekali!"

"Bi Eng, jangan kau berkata demikian!" Han Sin mencela. Betapapun juga, ia tidak mau melihat Bi Eng menjadi seorang anak yang mendurhakai ibunya.

"Cianpwe, apakah syaratmu itu sudah pasti. Apakah kau hendak menggunakan kekejamanku terhadap monyetku sebagai bukti cintaku kepada anakmu?"

"Ayoh penggal, tak usah banyak cakap. Penggal lehernya dan kau akan kuambil menantu!"

Han Sin. mencabut pedangnya, menghadapi Siauw-ong yang berdiri bingung. "Siauw-ong, seorang laki-laki harus berani mengambil keputusan. Aku harus memilih dan keputusanku tidak bisa aku mengorbankan kebahagiaan kami berdua untuk hidupmu. Kau hanya seekor monyet dan siapa tahu kematianmu hanya akan membebaskan aku dari pada hukuman karma. Siauw-ong, kau ampunkanlah aku. Aku Cia Han Sin bersedia menerima hukuman, bersedia kelak menerima pembalasanmu, demi cinta kasihku terhadap nonamu."

Secepat kilat, sebelum Siauw-ong dapat menyangkanya, pedangnya berkelebat dan Im-yang-kiam sudah membabat putus leher Siauw-ong yang tewas tanpa dapat mengeluh lagi. Han Sin cepat menyambar kepala monyetnya yang melayang, mencium muka itu, kemudian dengan hati-hati ia menaruh kepala itu di atas saputangannya. Bi Eng menjerit dan menangis terisak-isak, menutupi mukanya.

"Inilah, gak-bo (ibu mertua), inilah emas kawin yang kau minta," kata Han Sin menyerahkan kepala Siauw-ong di atas saputangan itu, sambil memasukkan pedangnya. Bi Eng menangis dan merangkul pundak Han Sin. "Sin-ko, mari kita pergi saja ..... tak tahan aku berada di sini lebih lama ...... marilah, Sin-ko "

Mereka berdua tak dapat menahan bercucurnya air mata.

Tiba-tiba Balita menangis. "Kau betul-betul membunuh Siauw-ong? Celaka! Kalau Tilana pergi, dia kawanku satu-satunya sekarang kau bunuh pula. Kalian orang-orang celaka, ayoh pergi dari sini.

Minggat! Dan jangan muncul lagi di hadapanku!" Setelah berkata demikian Balita lalu memondong tubuh dan kepala Siauw-ong yang sudah terpisah itu, dibawa masuk ke dalam pondoknya! Han Sin dan Bi Eng lalu pergi meninggalkan tempat itu. Mereka tidak tahu betapa dari belakang pintu, Balita memandang mereka sambil bercucuran air mata. Memandang ke arah bayangan dua orang muda yang berjalan sambil saling memeluk pinggang, sampai bayangan itu lenyap di balik gunung batu.

Demikianlah, sebagai suami isteri yang penuh kasih sayang, Han Sin dan Bi Eng hidup berdua di Min-san. Hubungan mereka dengan dunia ramai hanya ketika mereka menghadiri pernikahan Pangeran Yong Tee dan Hoa-ji, kemudian pernikahan antara Yan Bu dan Li Goat. Han Sin menolak keras ketika Pangeran Yong Tee berusaha mengangkatnya menjadi seorang pembesar di kota raja. Betapapun juga, di lubuk hatinya Han Sin masih tetap memandang pemerintah Mancu sebagai musuhnya, sebagai musuh bangsanya yang kembali terjajah. Betapapun baik bangsa Mancu menjalankan pemerintahan, namun mereka tetap bangsa penjajah dan Han Sin diam-diam menanti saat baik, saat di mana para patriot bangsa akan bangkit dan dengan semangat menggelora akan mengusir penjajah itu dari tanah air.

TAMAT