-->

Kasih Di Antara Remaja Jilid 11

Jilid 11

38. Patriot Bangsa Berguguran

YOK-ONG menarik napas panjang. "Hemmm, berkepandaian atau tidak apa sih artinya bagiku. Mati atau hidup apa pula bedanya bagi seorang yang sudah setua aku? Akan tetapi, karena kau memaksa, baiklah. Kau pergilah menghadap Pek Sin Niang-niang yang kini bertapa di Gobi-san. Beliau adalah guruku dalam hal pengobatan. Kalau kau berhasil memintakan petunjuk kepadanya untuk penyembuhanku karena penggunaan It-yang-ci tadi, berarti kau sudah membalasku dan menyembuhkan aku kembali. Akan tetapi jangan kaukira akan mudah menjumpai Pek Sin Niang- niang. Beliau sudah menjadi manusia setengah dewa dan Pegunungan Gobi adalah tempat yang amat luas. Tidak mudah mencarinya “

"Aku akan mencarinya sampai dapat!" Setelah berkata demikian, baru Han Sin mau bangun. Yok-ong Phoa Kok Tee lagi-lagi tersenyum, lalu kakek inipun bangkit berdiri dengan perlahan dan lemah. Diambilnya topi dan pakaiannya, dipakainya semua itu dengan gerakan lemah, gerakan seorang petani tua biasa, kemudian Dipikulnya keranjang-keranjang obatnya dan dengan langkah gontai ia meninggalkan tempat itu, meninggalkan Han Sin yang berdiri memandang dengan hati penuh keharuan.

"Manusia budiman dia inikah yang oleh Nabi Khong Cu disebut kuncu? Betul Yok-ong Phoa

Kok Tee inilah orang yang patut disebut seorang kuncu, bukankah Nabi Khong Cu pernah bersabda bahwa:

"Seorang Budiman berhati penuh cinta kasih terhadap sesama manusia, tidak mau mencari keuntungan diri sendiri dengan jalan merusak cinta kasihnya itu, sebaliknya malah rela mengorbankan diri sendiri demi cinta kasihnya terhadap sesama manusia."

Demikian Han Sin berkata di dalam hatinya penuh kagum. Kakek itu menderita karena dia, kehilangan kepandaiannya, malah mungkin pengerahan lweekang yang dahsyat dalam menggunakan Ilmu It-yang-ci tadi berakibat lebih hebat lagi, yaitu melukainya. Mungkin sekali kalau tidak mendapat obat yang cocok, kakek itu akan menderita sakit dan tewas!

Kagetlah hati Han Sin ketika jalan pikirannya sampai di sini. Dia telah menolongku, bagaimana aku dapat berpeluk tangan saja melihat dia menderita? Harus kucarikan obatnya, pada Pek Sin Niang- niang, sekarang juga. Urusan lain boleh ditunda!

Keputusan dalam hati dan pikiran Han Sin ini membuat pemuda itu cepat meninggalkan tempat itu, langsung menuju ke Pegunungan Go-bi-san di utara untuk mencari Pek Sin Niang-niang. Dalam perjalanan ini, di sepanjang perjalanan ia mendengar tentang kekalahan yang diderita oleh pihak Mongol.

Diam-diam ada juga kelegaan dalam hati Han Sin karena bukankah kemenangan pihak Mancu berarti selamatnya orang-orang yang dekat dengannya seperti Bi Eng, Li Hoa, Ciu-ong Mo-kai dan yang lain-lain? Juga kalau ditimbang-timbang, andaikata kedua pihak, Mongol dan Mancu, berperang bukan karena berebutan tanah airnya, tentu ia seratus persen akan berdiri di pihak Mancu!

Baru membandingkan pribadi Bhok-kongcu sebagai wakil Mongol dan pribadi Yong Tee sebagai wakil Mancu saja, tidak sukar bagi Han Sin untuk memilih. Sayangnya kedua pihak itu perang karena memperebutkan Tiongkok, inilah yang menjengkelkan hati Han Sin dan membuat pemuda itu tidak mau mencampurinya.

****

Pegunungan Go-bi-san memang merupakan daerah yang amat luas, penuh dengan gunung dan padang pasir. Han Sin yang masih lemah tubuhnya karena baru saja sembuh dari pada luka-luka hebat, melakukan perjalanan yang amat sukar. Namun semua ini ia tempuh dengan senang, malah ia melakukan dengan tergesa-gesa karena ingin lekas-lekas bisa bertemu dengan pertapa wanita itu untuk mintakan obat bagi Yok-ong Phoa Kok Tee.

Kalau ia teringat akan Lie Ko Sianseng, iapun tersenyum. Ternyata banyak juga manusia baik di dunia ini. Benar-benar tak pernah disangkanya. Lie Ko Sianseng yang tadinya ia sangka licin, cerdik dan penuh tipu muslihat busuk, ternyata malah menolongnya seperti yang diceritakan oleh Yok-ong. Bagaimanakah Lie Ko Sianseng dapat menolongnya? Seingatnya, ia tertawan oleh Pak- thian-tok Bhok Hong, bagaimana tahu-tahu ia bisa dibawa oleh Lie Ko Sianseng kepada Yok-ong untuk diobati?

Pada suatu senja, ia memasuki sebuah kampung atau bekas tempat perkemahan bangsa Mongol yang sudah kosong. Agaknya tentara Mancu sudah sampai di tempat ini dan mengusir penduduknya, buktinya ada bekas-bekas pertempuran di kampung ini, dan bekas-bekas kebakaran. Lumayan juga tempat ini untuk bermalam, pikir Han Sin, dari pada tidur di tempat terbuka. Ia menghampiri sebuah bangunan sederhana yang masih utuh, dengan maksud bermalam di tempat itu. Sudah jelas bahwa tempat ini tidak ada manusianya lagi.

Akan tetapi, ketika ia membuka daun pintu rumah itu, ia mendengar suara orang mengerang kesakitan. Cepat ia melompat masuk dan di antara meja kursi yang malang-melintang, ia melihat tubuh seorang laki-laki dan sekali pandang saja maklumlah Han Sin bahwa orang ini sudah tak ada harapan disembuhkan lagi. Cepat ia berlutut di dekat orang itu dan ....

”Lie Ko Sianseng ......! Ah, bagaimana kau sampai menjadi begini ?"

Lie Ko Sianseng membuka matanya. Mulut yang tadinya berkerinyut menahan sakit itu tiba-tiba tersenyum lebar ketika ia melihat Han Sin.

"Kau ..... kau sudah sembuh .......? Bagus ...... tidak sia-sia Ciu-ong mengorbankan nyawa

untukmu " Setelah mengeluarkan kata-kata ini dengan amat susah payah, kakek gendut itu

pingsan.

Hati Han Sin berdebar tidak karuan. Apa artinya Ciu-ong Mo-kai berkorban nyawa untuknya? "Lie Ko Sianseng ” la mencoba menyadarkan kakek gendut itu namun sia-sia belaka.

Kurang lebih satu jam kemudian, keadaan Lie Ko Sianseng payah sekali, akan tetapi ia siuman kembali, bibirnya bergerak-gerak. Han Sin mendekatkan telinganya ke bibir kakek itu.

"........ adikmu dibawa ........ dia "

Terkejut sekali Han Sin. "Dibawa siapa?" "Bhok-kongcu "

"Siapa membunuh Ciu-ong Mo-kai ?"

"..... Bhok-kongcu "

"Siapa melukaimu sampai begini?"

".... Bhok-kongcu " Tak kuat lagi Lie Ko Sianseng menahan, tubuhnya mengejang dan di lain

saat nyawanya sudah melayang keluar dari tubuhnya.

Han Sin mengertak giginya sampai berbunyi. Dapat ia membayangkan sekarang. Tentu ketika ia tertawan oleh Bhok Hong, ia dibawa ke tempat Bhok-kongcu. Kemudian, entah cara bagaimana, muncul Ciu-ong Mo-kai, mungkin bersama Lie Ko Sianseng, menolongnya. Ciu-ong terbinasa dalam usaha ini oleh Bhok-kongcu dan Lie Ko Sianseng berhasil mengantarnya ke tempat Yok-ong. Sekarang Lie Ko Sianseng bertemu dengan Bhok-kongcu dan dilukai sampai tewas pula. Dan Bi Eng Bi Eng juga dibawa Bhok-kongcu. "Awas kau, Bhok Kian Teng! Sekali ini kalau aku bertemu denganmu, sebelum membalas dendam orang-orang ini, aku tidak mau sudah!"

Dengan hati penuh keharuan dan dendam Han Sin mengubur jenasah Lie Ko Sianseng. Seorang patriot, pikirnya. Seperti juga Ciu-ong Mo-kai. Biarpun dalam kehidupan sehari-hari merupakan seorang pedagang yang kadang kala kelihatan licik dan curang dalam mengejar untung, namun tiba saatnya tidak segan untuk mengorbankan nyawa untuk menolong bangsa sendiri dari tangan kaum penjajah.

Mungkin pendirian Lie Ko Sianseng mengenai peperangan antara Mancu dan Mongol sama dengan pendirian Ciu-ong Mo-kai dan yang lain-lain, hanya bedanya kalau Ciu-ong Mo-kai sengaja membantu Mancu agar Mongol cepat hancur, sedangkan Lie Ko Sianseng bekerja untuk kedua belah pihak, mempermainkan mereka dan mengadu mereka ke arah kehancuran bersama, kehancuran dua bangsa penjajah, musuh-musuhnya!

Setelah selesai mengubur jenasah itu, ia memberi penghormatan terakhir. "Lie Ko Sianseng, harap kau mengaso tenang, akulah yang akan membalaskan kejahatan Bhok Kian Teng," katanya seperti sumpah.

Kemudian ia melanjutkan perjalanannya menuju ke Go-bi-san. Kalau Han Sin teringat akan Ciu- ong Mo-kai, makin besar kemarahannya kepada Bhok-kongcu, dan juga besar penyesalannya kalau ia mengingat betapa dalam pertemuan terakhir dengan bekas gurunya, ia berselisih dengan kakek pengemis sakti itu.

Han Sin melakukan perjalanan cepat karena ia selain ingin segera bertemu dengan Pek Sin Niang- niang untuk mintakan obat Yok-ong Phoa Kok Tee, juga ia ingin mengejar Bhok Kian Teng. Lie Ko Sianseng baru saja dilukai orang itu, tentu Bhok Kian Teng belum lari jauh. Biarpun tubuhnya masih agak lemah dan belum pulih kembali seluruh tenaganya, namun untuk menghadapi Bhok Kian Teng saja ia masih sanggup.

Tiga hari kemudian, sampailah ia dilereng Gunung Go-bi-san, sebuah di antara puncak yang terbesar, penuh dengan batu-batu yang aneh bentuknya. Dari bawah tadi ia sudah melihat bayangan orang berlari-lari ke atas, kadang-kadang kelihatan hanya seorang, kadang-kadang ada dua dan tiga orang.

Ia mempercepat larinya dan akhirnya pada siang hari itu dapatlah ia menyusul. Dapat dibayangkan betapa girang hatinya ketika ia melihat Bhok Kian Teng dan seorang gadis yang bukan lain orang adalah Bi Eng sendiri! Bhok Kian Teng nampak kurus dan pucat, pakaiannya sudah kotor dan di tangannya pemuda ini membawa sepasang siang-kek (sepasang tombak pendek) yang agak aneh bentuknya, satu panjang dan satu pendek. Bi Eng juga nampak pucat dan kusut rambut dan pakaiannya, seperti orang sedang dalam susah.

Yang membuat Han Sin terheran heran adalah sikap gadis ini terhadap Bhok Kian Teng. Sama sekali tidak kelihatan seperti seorang tawanan, melainkan seperti seorang sahabat pemuda itu. Mereka bercakap-cakap sambil berjalan, akhirnya kelihatan mereka duduk mengaso di bawah batu karang yang mendoyong untuk berlindung dari terik panas matahari siang. Dan mereka duduk bersanding sambil bercakap-cakap, nampaknya dalam suasana bersahabat!

Timbul cemburu yang hebat dalam hati Han Sin, membuat ia menjadi makin membenci Bhok Kian Teng. Ia mempercepat larinya dan begitu tiba di tempat itu, ia segera membentak,

"Bhok Kian Teng manusia keji, bersiaplah kau menerima binasa!" Pangeran Mongol itu nampak kaget bukan main, wajahnya yang pucat menjadi makin pias, dan cepat ia meloncat bangun. Ia maklum bahwa tidak ada gunanya bicara lagi dengan Han Sin, tidak ada gunanya mencoba untuk menggunakan akal membujuknya supaya berdamai. Pemuda Mongol ini memberi tanda dengan bersuit keras dan tahu-tahu dari balik batu tinggi itu muncul seorang manusia yang membuat Han Sin menjadi kaget dan heran bukan main.

Orang itu tinggi sekali, hampir dua kali orang biasa, kurus kelihatannya seperti tengkorak saking tingginya. Tanpa banyak cakap si tinggi ini menyerang Han Sin dengan dua tangannya yang berlengan panjang sekali. Han Sin cepat mengelak, akan tetapi kedua lengan itu seperti dapat mulur panjang, terus mengejarnya dengan pukulan yang amat keras. Han Sin cepat menangkis dengan lengannya.

"Plakk!" Terkejutlah Han Sin ketika mendapat kenyataan bahwa kesehatannya belum pulih benar sehingga pertemuan lengan ini membuat ia hampir terpelanting, biarpun ia melihat orang tinggi itupun kaget dan gempur kuda-kuda kakinya. Han Sin bukan gentar karena si tinggi itu bertenaga besar, akan tetapi gelisah karena merasa bahwa tenaganya sendiri baru pulih setengah bagian saja. Andaikata ia tidak selemah ini, tentu sekali tangkis ia sanggup membikin si tinggi terlempar.

Sementara itu, Bhok Kian Teng tidak tinggal diam. Sambil tersenyum mengejek ia lalu menggerakkan sepasang senjatanya yang aneh, melakukan serangan kilat yang bertubi-tubi, Han Sin kembali mengelak sambil berusaha merobohkan pangeran Mongol itu. Namun si tinggi tidak memberi kesempatan, ia maju dengan serangan serangan susulan yang terpaksa menuntut seluruh perhatian Han Sin. Kakek tinggi itu benar-benar lihai dan dia sendiri belum pulih kekuatannya, maka sebentar saja Han Sin terdesak oleh Bhok-kongcu dan pembantunya yang aneh.

Selagi Han Sin kerepotan, tiba-tiba ia berseru kaget dan wajahnya pucat. Apa sebabnya? Ia melihat Bi Eng mencabut pedang, meloncat ke dalam pertempuran dan menyerang dia dengan tusukan

tusukan hebat menggunakan Ilmu Silat Thian-po-cin-keng yang telah dilatihnya di Min-san, yaitu tiga jurus yang amat berbahaya. Hampir saja ujung pedang Bi Eng menembus dadanya biarpun Han Sin sudah mengelak, tetap saja bajunya di bagian dada tertusuk bolong oleh pedang itu saking hebatnya jurus Heng-pai Kwan Im yang dimainkan oleh Bi Eng.

"Eng-moi ...... kenapa kau serang aku ??"

"Siapa Eng-moimu ?" jawab gadis itu sambil menyerang lebih hebat lagi.

Han Sin mengelak, hampir tidak percaya kepada mata dan telinganya sendiri. Apa boleh jadi ada gadis yang menyerupai Bi Eng, baik wajah maupun suaranya? Akan tetapi tak mungkin, gadis

ini mainkan Ilmu Silat Thian-po-cin-keng dan hanya tiga jurus yang dimainkannya! Siapa lagi kalau bukan Bi Eng?

"Eng-moi ...... ingatlah ..... aku Han Sin " serunya sambil melompat mundur.

"....... tutup mulutmu! Tak perlu banyak bicara !" gadis itu membentak lagi dan mengirim

serangan ke tiga. Tak salah lagi, inilah gerakan Ciu-po-thian-keng yang pernah ia ajarkan kepada gadis itu di Min-san! Aduh, Bi Eng Bi Eng, apakah yang telah terjadi? Bagaimana kau bisa

menjadi begini?

"Nona Tilana, jangan ladeni dia, mari kita serang dan bikin mampus anak penjahat Cia Sun ini!" terdengar Bhok Kian Teng berkata kepada gadis itu. Han Sin menjadi bingung. Bagaimana Bhok Kian Teng menyebut Bi Eng dengan nama Tilana? Apakah pendengarannya sudah rusak, ataukah otaknya yang sudah menjadi gila karena luka-luka hebat yang dideritanya? Karena tubuhnya memang masih lemah, ditambah keadaan yang amat membingungkan dan menggelisahkan hatinya ini, apa pula para pengeroyoknya memang orang yang berkepandaian tinggi, maka Han Sin tak dapat mengelak lagi ketika ujung pedang nona itu menusuk ke arah perutnya! Han Sin sudah menerima nasib, ingin mati di tangan nona yang ia yakin tentu Bi Eng ini. Akan tetapi, heran sekali ujung pedang itu tidak terus menusuk perut, melainkan diselewengkan ke bawah dan hanya melukai kulit pahanya!

"Bi Eng ...... kau " Han Sin berseru girang kini tidak ragu-ragu lagi bahwa gadis ini tentulah Bi

Eng. Bagaimana tusukan yang sudah tepat akan mengambil nyawanya itu sengaja diselewengkan ke bawah?

Akan tetapi pada saat itu, sebuah tombak dari Bhok Kian Teng menyambar ke arah lehernya. Baiknya Han Sin masih dapat mendengar sambaran ini dan cepat ia menggerakkan tubuhnya dimiringkan dan terhindarlah ia dari bahaya maut. Pada saat itu, karena perhatiannya masih penuh dengan Bi Eng yang hanya bergerak mengancam dengan serangan baru di depannya, Han Sin tidak dapat menghindar serangan si jangkung yang mencengkeram pundaknya!

Han Sin mengerahkan sinkang, tapi ia mengeluh. Biasanya, kalau saja keadaannya tidak seperti itu dan tenaganya sudah pulih semua, dengan pengerahan sinkang ini pasti orang takkan kuat mencengkeramnya terus. Akan tetapi kali ini, si jangkung makin memperkuat cengkeramannya sehingga lima jari tangan si jangkung itu seakan-akan tertanam ke dalam pundaknya dan tak mungkin bagi Han Sin untuk melepaskan diri lagi.

Tiba-tiba terdengar suara halus menyebut, "Siancai ..... siancai " dan disusul suara bercuitan

yang nyaring dibarengi sinar kuning emas berkelebatan bagaikan ular panjang menyambar. Sinar kuning emas ini ternyata adalah sehelai tambang sutera panjang kecil yang melayang dari atas, ujungnya menyentuh tangan si jangkung yang mencengkeram pundak Han Sin.

Si jangkung mengeluarkan keluhan kesakitan, pegangannya terlepas karena begitu tangannya tersentuh ujung tali sutera itu, ia merasa seluruh tubuh seperti tersambar kilat. Tali sutera itu tidak berhenti, terus melayang dan melibat kaki Han Sin. Sebelum Bhok Kian Teng dan dua orang kawannya sempat menyerang lagi, tahu-tahu tubuh Han Sin sudah melayang ke atas, ditarik tambang sutera yang dipegang oleh seorang wanita yang berpakaian sebagai seorang pendeta dan berdiri di atas puncak bukit batu kecil.

"Kurang ajar!" Bhok Kian Teng berseru marah ketika melihat calon korbannya tertolong oleh seorang wanita setengah tua berpakaian pendeta dan kelihatannya amat lemah. Melihat Han Sin sudah berlutut di depan wanita itu di atas batu, pangeran ini lalu menggerakkan tangannya. Jarum- jarum hitam menyambar ke arah Han Sin dan wanita pendeta itu. Akan tetapi, ia berdiri bengong ketika melihat betapa hanya dengan mengibaskan lengan bajunya yang lebar, wanita itu telah membuat semua jarum runtuh di tengah jalan, jauh sebelum sampai di tempatnya.

Si jangkung juga marah, menggerakkan kedua tangan yang sudah mengangkat sebuah batu besar, dilontarkan ke arah pendeta wanita itu. Sekali lagi wanita itu mengebutkan lengan baju dan batu itu hancur di tengah jalan. Ketika Bhok Kian Teng dan kawan-kawannya memandang lagi, ternyata wanita itu bersama Han Sin telah lenyap dari atas batu. Dengan amat penasaran mereka meloncat- loncat ke atas, akan tetapi tidak kelihatan bayangan wanita itu lagi, juga Han Sin tidak nampak. Dengan marah dan penasaran, mereka lalu pergi dari situ. Bhok Kian Teng tidak berani lama-lama tinggal di tempat itu karena ia maklum bahwa dirinya sedang dikejar-kejar oleh orang-orang Mancu. Ia ingin mencari kawannya yang lari cerai-berai, untuk menyusun kekuatan baru.

Siapakah pertapa wanita yang amat sakti dan yang sudah menolong Han Sin tadi? Mari kita ikuti Han Sin untuk mengenal wanita itu. Ketika Han Sin merasa dirinya dilibat tali sutera dan ditarik ke atas, ia maklum bahwa ada orang pandai menolongnya. Ia menurut saja karena dia sendiri sedang bingung dan gelisah melihat keadaan gadis itu setelah berada di atas batu, pertapa wanita itu mengajaknya pergi.

Han Sin menurut saja dan ia mengerahkan ginkangnya untuk mengimbangi kecepatan larinya pertapa wanita itu. Ia merasa sukar untuk dapat menandingi pertapa itu. Kalau saja tenaganya sudah pulih semua, kiranya ia takkan kalah dalam berlari cepat, sungguhpun harus ia akui bahwa selama ini baru sekarang ia menyaksikan kepandaian yang begini tinggi.

Pertapa wanita itu beberapa kali melirik kepadanya dan sinar mata yang melembut dan halus itu bersinar gembira. Nyata pertapa itu kagum sekali menyaksikan cara Han Sin berlari cepat. Di lain pihak, apabila ada kesempatan, Han Sin mengerling ke arah pertapa itu. Ia mendapatkan kenyataan bahwa pertapa itu belum tua benar, atau setidaknya belum kelihatan tua benar. Wajahnya berkulit putih orang gadis remaja. Sukar untuk menaksir usianya. Diam-diam ia tercengang dan kaget kalau ia teringat. lnikah Pek Sin Niang-niang?

Pertapa wanita itu mengajaknya mendaki sebuah puncak dan berhenti di depan sebuah pondok kecil. Keadaan di tempat itu indah sekali, bersih dan hening, tepat benar untuk tempat bertapa. Tanpa ragu-ragu Han Sin menjatuhkan diri di depan pertapa itu dan berkata,

"Teecu sekali lagi menghaturkan terima kasih atas budi pertolongan cianpwe."

Pertapa itu tersenyum ramah. "Orang muda, kau siapakah? Bagaimana kau bisa sampai di tempat seperti ini?"

"Teecu bernama Cia Han Sin dari Pegunungan Min-san. Teecu sengaja datang ke Go-bi-san untuk mencari dan menghadap Pek Sin Niang-niang. Teecu mohon petunjuk cianpwe di mana kiranya teecu dapat bertemu dengan Pek Sin Niang-niang."

"Orang muda she Cia, ada keperluan apakah kau hendak mencari Pek Sin Niang-niang?"

Han Sin mempunyai dugaan bahwa wanita ini tentu mempunyai hubungan baik dengan Pek Sin Niang-niang, atau mungkin bahkan dia sendirilah pertapa itu, maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menuturkan maksudnya mencari pertapa itu sesuai dengan pesanan Yok-ong Phoa Kok Tee.

"Siancai ......, siancai " Pertapa wanita itu memuji. "Kok Tee dapat bersikap demikian di hari

tuanya, benar-benar menyenangkan sekali! Orang muda, Phoa Kok Tee itu menyuruhmu datang mencari Pek Sin Niang-niang di sini, sebetulnya sama sekali bukan karena hendak mintakan obat akan guna dirinya sendiri, melainkan bermaksud mintakan obat untukmu! Orang seperti kami ini, mana masih hendak terikat oleh budi dan dendam? Kok Tee sudah kehilangan ilmunya karena mempergunakan It-yang-ci, di dunia ini siapa bisa memulihkannya? Diapun sama sekali tidak menghendaki pembalasanmu karena dia tidak pernah mau menanam perasaan sudah menolongmu. Orang muda, hanya manusia yang masih mau menghambakan diri kepada pengaruh budi dan dendam, dialah yang selalu akan menjadi barang permainan Karma. Bagi kami, tidak ada lagi istilah menolong, yang ada hanyalah kewajiban yang harus dipenuhi, seperti kewajiban pinni (aku) sekarang ini memenuhi pesan Phoa Kok Tee menyembuhkanmu." Han Sin menjadi girang sekali, juga amat terheran. Sekali lagi ia memberi hormat sambil berlutut. "Mohon ampun bahwa teecu masih ragu-ragu tadinya bahwa teecu benar berhadapan dengan Pek Sin Niang-niang."

"Memang pinni sendiri yang mempunyai sebutan Pek Sin Niang-niang. Phoa Kok Tee adalah murid keponakanku. Cia-sicu, sebelum aku melanjutkan usaha Kok Tee menyembuhkanmu, perlu aku tahu lebih dulu apa yang menyebabkan kau terluka demikian hebat sampai-sampai Kok Tee harus mempergunakan It-yang-ci ilmu keturunan kami itu untuk menyembuhkanmu."

Dengan jujur dan jelas Han Sin menuturkan tentang tugasnya yang sudah ia janjikan kepada Pangeran Yong Tee untuk mencari dan melindungi Hoa-ji, kemudian menuturkan betapa ia bertemu dan bentrok dengan Pak-thian-tok Bhok Hong sampai ia terjebak dan dilukai secara curang dan betapa dalam keadaan pingsan ia tertolong oleh Ciu-ong Mo-kai dan Lie Ko Sianseng dibawa ke tempat kediaman Yok-ong Phoa Kok Tee.

Pek Sin Niang-niang mendengarkan sambil mengangguk-angguk, juga kelihatan agak heran mendengar bahwa pemuda ini sudah berani menentang Pak-thian-tok Bhok Hong. "Ciu-ong Mo-kai sudah lama pinni dengar sebagai seorang yang bersemangat gagah perkasa. Tentang Lie Ko Sianseng, tidak banyak pinni mendengar. Pak-thian-tok Bhok Hong adalah seorang pandai yang amat berbahaya, heran kau semuda ini sudah berurusan dengan dia, Cia-sicu. Tapi, sudahlah, urusan dunia memang amat menyulitkan hidup dan meruwetkan hati dan pikiran. Harap sicu kerahkan sinkang untuk melawan tekananku untuk mencoba dan melihat keadaanmu."

Setelah berkata demikian, dengan gerakan perlahan dan halus, pertapa wanita itu menggunakan jari telunjuk kanannya menekan pundak Han Sin. Pemuda ini tanpa ragu-ragu mengerahkan sinkang di dalam tubuhnya untuk melawan tekanan yang halus itu. Biarpun ia mengerahkan seluruh tenaga, namun yang keluar hanyalah setengah bagian saja. Betapapun juga, ia mendengar pertapa itu mengeluarkan seruan perlahan, seruan terheran.

"Siancai ......, siancai " Pantas saja kau berani menentang Pak-thian-tok Bhok Hong. Tak

tahunya kau telah mewarisi ilmu yang hebat sekali, orang muda !"

Diam-diam Han Sin kagum sekali. Hanya dengan menekan pundaknya saja pertapa ini dapat mengetahui keadaannya, benar-benar harus diakui bahwa pertapa ini sakti dan pandai, setidaknya ahli dalam ilmu pengobatan kalau bukan sakti dalam ilmu silatnya yang memang sudah dibuktikan ketika menolongnya tadi.

"Ilmu It-yang-ci yang dikorbankan oleh Phoa Kok Tee sudah menyelamatkanmu, orang muda, sungguhpun demikian, namun sebagian tenaga sinkangmu tenggelam dan Phoa Kok Tee tidak sanggup untuk menyembuhkan ini. Itulah sebabnya ia menyuruh kau pergi menemui pinni."

"Mohon belas kasihan Niang-niang, mohon Niang-niang sudi menolong," kata Han Sin.

Pertapa itu tersenyum. "Kau telah berada di sini, sudah menjadi kewajibanku untuk coba memulihkan keadaanmu. Memang sayang kalau kepandaian yang telah kaumiliki itu tenggelam setengah bagian. Akan tetapi, untuk menyembuhkan sama sekali, kau harus tinggal di sini sedikitnya satu bulan, melakukan samadhi menurut petunjuk-petunjukku "

Kagetlah Han Sin. "Mana bisa begitu lama ?" Ia lalu menuturkan keadaannya, betapa ia harus

memenuhi janjinya kepada Pangeran Yong Tee untuk cepat menemukan Hoa-ji yang ia yakin adalah adik kandungnya sendiri, betapa ia harus dapat membebaskan Bi Eng dari cengkeraman Bhok Kian Teng, betapa ia amat cemas melihat sikap Bi Eng yang aneh. Kesemuanya itu ia ceritakan kepada Pek Sin Niang-niang, tanpa tedeng aling-aling lagi, malah soal Tilana pun ia ceritakan. Entah bagaimana, terhadap pertapa wanita yang berwajah lembut ini Han Sin menaruh kepercayaan ikhlas dan tidak ragu-ragu atau malu-malu lagi untuk membuka semua rahasia hatinya.

"Karena semua itulah, Niang-niang, saya mengharap belas kasihanmu agar supaya saya dapat segera pulih kembali untuk pergi mengejar Bhok Kian Teng, menolong Bi Eng dan mencari Hoa-ji akhirnya Han Sin menutup penuturannya dengan suara memohon.

Pertapa wanita itu mendengarkan semua penuturan Han Sin dengan penuh perhatian, kadang- kadang mengangguk-angguk, kadang-kadang menggeleng-geleng, tersenyum atau menarik napas panjang. Kemudian mendengar permohonan Han Sin, ia nampak diam termenung, seakan-akan ia sedang mengenangkan hal-hal yang sudah lama berlalu.

"Orang muda, kau terombang-ambing dalam lautan asmara, menjadi permainan cinta kasih yang ruwet membelit-belitmu."

Kemudian tanpa memandang Han Sin dan dengan suara perlahan seperti sedang bicara kepada diri sendiri, pertapa wanita itu berkata, "Memang, cinta adalah hal yang amat pelik, amat ruwet dan penuh rahasia. Semenjak jaman dahulu, cinta menjadi bahan tulisan para sasterawan, bahkan menjadi sebab-sebab permusuhan, pertengkaran, ya malah pernah cinta menimbulkan perang

besar! Bagi orang orang muda, cinta kasih bisa membikin orang sebahagia-bahagianya, bisa membikin orang sesengsara-sengsaranya, bisa menciptakan sorga dan bisa menciptakan neraka. Karenanya, cinta kadang-kadang dipuji puji ada kalanya dimaki-maki. Padahal, Yang Maha Kuasa menurunkan cinta kasih di hati manusia bukan sekali-kali untuk dijadikan alat atau sebab perusak. Cinta kasih antara dua jenis muda menimbulkan daya tarik satu kepada yang lain, mempersatukan mereka dan dari sinilah timbulnya kembang biak sesuatu makhluk. Cinta kasih antara sesama manusia pada umumnya mempertebal prikemanusiaan, menimbulkan setia kawan, welas asih, dan membangkitkan pribadi-pribadi suci. Akan tetapi, sayang seribu kali sayang setelah bersemayam

di dalam hati manusia, cinta kasih yang suci murni telah dikotori oleh pengaruh nafsu "

Han Sin mendengarkan sambil menundukkan kepala. Dia sendiri masih hijau dalam hal ini, dia diombang-ambingkan cinta tanpa ia sendiri merasa. Dia jatuh bangun dengan cinta, suka menderita karenanya.

"Cia Han Sin, pinni tidak tega membiarkan kau bergelisah tentang orang-orang yang kaucari. Memang ada jalan untuk memulihkan tenagamu. Kau terimalah sian-tan (obat dewa) ini dan setelah kau telan, kau harus bersamadhi mengumpulkan semua tenaga sampai pulih kembali. Dengan bakat dan kemampuanmu, kurasa dalam waktu satu, dua hari kau akan sembuh kembali. Setelah sembuh kau boleh terus keluar dan tinggalkan tempat ini, jangan mencoba mencari pinni, karena pinni sekarang juga akan turun gunung."

Han Sin menerima sebutir obat pil berwarna putih mengkilap seakan-akan terbuat dari pada perak, dan sebelum ia sempat menghaturkan terima kasih kepada Pek Sin Niang-niang, pertapa wanita itu sudah berjalan pergi dari situ, tidak menoleh lagi!

39. Duel Ilmu Silat dan Ilmu Kebatinan

Ketika menuruni Pegunungan Go-bi-san, Han Sin telah sembuh sama sekali, telah pulih kembali semua tenaganya. Ia amat berterima kasih kepada Pek Sin Niang-niang, akan tetapi kepada siapa ia harus mengucapkannya? Ia tak dapat berbuat lain kecuali berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala sambil mengucap terima kasih kepada Pek Sin Niang-niang di depan pondok pertapa itu, kemudian dengan cepat ia turun gunung dan mulailah ia dengan penyelidikannya untuk mencari Bhok Kian Teng.

Setelah muncul peristiwa Bi Eng yang begitu aneh, Han Sin ingin mendahulukan urusan ini. Tadinya ia amat bernafsu hendak mencari Hoa-ji yang ia yakin adalah adik kandungnya, akan tetapi setelah melihat Bi Eng bersama Bhok Kian Teng dan bersikap demikian anehnya kepadanya, ia mengambil keputusan untuk mencari Bi Eng lebih dulu. Mengapa Bi Eng bersikap seperti itu? Dan kenapa pula Bhok Kian Teng menyebutnya Tilana. Apa yang telah terjadi? Apakah Bi Eng, sudah menjadi gila, ataukah dia, yang sudah miring otaknya? Han Sin benar-benar merasa gelisah sungguhpun ada pula sesuatu yang aneh, sesuatu yang terasa di hatinya, yang membuat bulu tengkuknya kadang-kadang meremang. Bisa jadikah Bi Eng sudah mengetahui bahwa dia puteri Balita, maka lalu bersikap seperti itu? Ah, tak mungkin .......

Pergerakan Pangeran Galdan atau Bhok Kian Teng untuk memberontak terhadap pemerintah Mancu boleh dibilang gagal. Bala tentaranya dihancurkan dan sudah cerai-berai. Akan tetapi selama Pangeran Mongol ini belum tertangkap atau tewas, tentu akan muncul pemberontakan lain.

Memang Pangeran Galdan takkan mau menyerah begitu saja. Bhok Kian Teng diam-diam membina lagi kekuatan, malah dengan amat lihainya ia mulai mencari-cari pembantu, menyamar sebagai orang Han dan dengan beraninya pergi ke pelbagai tempat untuk secara rahasia menghubungi kawan-kawan baru, kawan-kawan lama dan membangun lagi kekuatan yang sudah rusak.

Pada suatu hari Han Sin memasuki kota Potouw. Penyelidikannya yang dilakukan amat teliti, bahkan dengan jalan menangkap dan mengancam beberapa orang Mongol yang ditemuinya di utara, akhirnya ia dapat keterangan bahwa Pangeran Mongol itu kini berada di Potouw. Di kota ini menyamar sebagai saudagar Han yang kaya raya. Han Sin maklum bahwa tidak akan mudah mencari Pangeran Mongol itu, yang selain lihai dan cerdik, juga banyak sekali pembantu- pembantunya. Bagaimana dia bisa mencari seorang Mongol yang menyamar di kota ini? Andaikata benar Bhok-kongcu itu berada di Potouw, kiranya pangeran itu tentu akan melihatnya lebih dulu dan siang-siang sudah akan bersembunyi.

Potouw adalah kota di daerah Mongol yang sudah "dibebaskan" oleh tentara Mancu. Penduduknya terdiri dari campuran Bangsa Mongol dan Mancu, dan suku-suku bangsa lain di utara yang tidak banyak jumlahnya. Ada juga orang-orang Han yang berdagang.

Ketika sore hari itu Han Sin memasuki kota, ia melihat ribut-ribut di pintu gerbang. Setelah dekat dilihatnya seorang tosu tua sedang dikeroyok dan dipukuli oleh tiga orang Mancu yang berpakaian sebagai penjaga-penjaga kota. Jelas kelihatan bahwa tiga orang Mancu itu berada dalam keadaan mabok.

Tosu tua itu tidak mau membalas, hanya menangkis dan bergerak ke sana ke sini menghindarkan diri dari hujan pukulan. Melihat gerakan tosu itu, Han Sin terkejut. Itulah gerakan llmu Silat Cin- ling-kun dan hal ini berarti bahwa tosu itu adalah seorang anggauta Cin-ling-pai. Han Sin cepat melangkah maju ke tempat pertempuran, menggerakkan kedua tangannya dan di lain detik tiga orang Mancu mabok itu sudah terlempar ke kanan kiri dan jatuh berdebugan sampai kepala mereka benjol-benjol! Orang-orang yang menonton perkelahian ini, menjadi terheran-heran melihat seorang pemuda Han berani menentang tiga orang tentara Mancu.

Seperti biasanya, tentara-tentara yang baru saja menang perang amat ditakuti orang. Akan tetapi, tiga orang Mancu itu sendiri sudah lari tunggang-langgang setelah bertemu dengan orang yang lebih kuat. Tadipun andaikata tosu Cin-ling-pai itu berani melawan dan merobohkan mereka, kiranya mereka takkan begitu banyak berlagak. Orang-orang pemabokan semacam ini memang beraninya hanya menghina dan menindas yang lemah atau yang tidak mau melawan. Begitu bertemu dengan yang kuat, mereka akan lari ketakutan.

"Apakah totiang ini seorang anggauta Cin-ling-pai?" tanya Han Sin sambil mendekati tosu tua itu. Tosu itu semenjak tadi sudah memandangnya penuh perhatian.

"Betul, dan siapakah taihiap?"

"Aku Cia Han Sin " Baru saja bicara sampai di situ, tosu itu sudah cepat-cepat menjura memberi

hormat.

"Ah, kiranya bengcu sendiri yang menolongku. Sudah banyak pinto yang tua mendengar nama besar bengcu, sayang ketika bengcu mengunjungi Cin-ling-san, pinto sedang, turun gunung.

Bengcu, harap suka ikut dengan pinto untuk menjumpai Hee-susiok."

"Hee Tojin ada di sini? Di mana dia?" tanya Han Sin girang. Kalau ada tosu-tosu Cin-ling-pai di situ, berarti dia mempunyai sahabat-sahabat, dan tentu dia akan dapat bertanya tentang Bhok Kian Teng.

"Hee-susiok berada dalam keadaan luka parah. Mari, bengcu, harap cepat pergi sebelum orang- orang kasar itu datang membawa kawan-kawan mereka."

Berdua pergilah mereka memasuki gang yang berliku-liku, kemudian tosu itu mengajak Han Sin memasuki sebuah rumah kecil. Di atas sebuah pembaringan kayu, duduklah Hee Tojin ketua Cin- ling-pai, duduk dengan tubuh lemah, bersandarkan bantal. Napasnya tinggal satu-satu, agaknya berada dalam keadaan yang payah sekali. Akan tetapi begitu melihat Han Sin memasuki kamarnya bersama tosu itu, Hee Tojin nampak bersemangat.

"Cia-taihiap! Bagus kau datang ” katanya dengan suara perlahan namun membayangkan

kegembiraannya.

Han Sin segera menghampiri tosu itu dan duduk di pinggir pembaringan.

"Hee-totiang, kenapa kau menjadi begini? Siapa yang melukaimu?" Melihat sekelebatan saja tahulah Han Sin bahwa tosu tua ini terluka hebat oleh pukulan maut yang mengandung racun. Hawa beracun membayang pada muka yang tua itu.

Tosu tua itu menarik napas berkali kali. "Kejadian aneh, taihiap ......, kejadian aneh sekali Cia-

taihiap, sebelum pinto menuturkan pengalaman pinto lebih dulu pinto bertanya, di mana adanya adikmu, Cia-lihiap?"

Han Sin mengerutkan keningnya. "Justeru karena dialah aku berada di sini, totiang. Aku sedang mencari adikku itu yang tertawan oleh Pangeran Galdan atau Bhok Kian Teng."

"Aahhh ...... kalau begitu betul dia ....... betul dia " Tosu itu berkata terkejut.

"Siapa yang kaumaksudkan? Apakah kau bertemu dengan adikku itu, totiang?" Han Sin bertanya cepat.

"Bukan saja bertemu, malah malah pinto terluka olehnya! Ketika pinto melihat bayangan

Pangeran Galdan di kota ini, pinto mengejarnya, dia lari dan tiba-tiba muncul seorang gadis yang menyerang pinto secara tiba-tiba. Pinto mengenal dia sebagai Cia-lihiap, maka pinto tidak menyangka akan penyerangan itu dan ..... dan beginilah keadaan pinto "

Han Sin makin kaget. Cepat ia memeriksa dada Hee Tojin dan menjadi ngeri hatinya. Bagaimana Bi Eng memiliki pukulan beracun yang begitu keji? Itulah pukulan yang mengandung racun, pukulan yang hanya bisa dipelajari oleh orang-orang macam Hoa Hoa Cinjin, Pak-thian-tok Bhok Hong, atau Jin-cam-khoa Balita!

"Totiang, tidak salahkah penglihatanmu? Betulkah dia .... adikku itu yang yang memukul dan

melukaimu ?" Wajah Han Sin menjadi pucat.

"Cia-taihiap, perlu apa pinto memfitnah orang, apalagi kalau orang itu Cia lihiap sendiri? Pinto berani bersumpah, malah Cia-lihiap mengatakan bahwa namanya bukan Cia Bi Eng lagi, melainkan

...... eh, dia memakai nama orang Hui, kalau tidak salah, Tilana namanya."

Tak salah lagi, pikir Han Sin bingung. Dia yang menyerangku, atau Bi Eng itulah yang melukai Hee Tojin. "Biarlah kucoba sembuhkan lukamu, totiang." Han Sin lalu menotok jalan darah di pundak tosu itu, mengurut dada dan menggunakan hawa sinkangnya yang amat kuat mendorong keluar hawa beracun dari tubuh tosu itu, malah menggunakan lweekangnya untuk mendorong darah yang hitam keluar dari luka. Setelah muka tosu itu menjadi merah kembali, tanda bahwa ia terbebas dari pada bahaya maut, Han Sin segera bertanya,

"Di manakah adanya adikku itu? Dan di mana adanya Pangeran Galdan? Aku akan

mengunjunginya dan membongkar rahasia yang aneh ini."

Hee Tojin lebih dulu menghaturkan terima kasih atas pertolongan dan pengobatan, kemudian tosu ini lalu meloloskan pedangnya, pedang Im-yang-kiam yang dulu ia terima dari Han Sin. "Cia- taihiap, harap kausuka menerima pedang ini. Tiada gunanya lagi bagi pinto, karena sekarang Cin- ling-pai sudah cerai-berai dan pinto tidak menjadi ketua lagi. Dalam menghadapi Pangeran Galdan dan para pembantunya yang amat lihai, pedang ini ada gunanya, taihiap. Pinto sendiri tidak dapat membantu, biarlah kau memberi kepuasan kepada pinto dengan hiburan bahwa biarpun pinto tidak membantu, namun pedang Cin-ling-pai, yaitu pedang Im-yang-kiam peninggalan suhu dan pendiri Cin-ling-pai ini sedikit banyak berjasa dalam membasmi kejahatan dan membela bangsa."

Tadinya Han Sin hendak menolak, namun mendengar ucapan bersemangat ini, ia tidak tega untuk menolak lagi. la mengucapkan terima kasih, menerima pedang dan menggantungkan di pinggang.

"Kalau kau hendak mencari Pangeran Galdan atau Bhok-kongcu, agaknya biar kau kelilingi seluruh kota, kau takkan berhasil mendapatkannya taihiap. Pangeran Mongol itu cerdik sekali. Kau pergilah ke sebelah barat kota, di situ terdapat sebuah gedung besar bekas rumah seorang pedagang Han yang kaya-raya. Gedung itulah yang dibeli oleh Pangeran Galdan tanpa mengganti nama, yaitu gedung keluarga Kwa, hartawan yang sudah pindah ke selatan itu."

"Bagus! Kalau begitu sekarang juga aku akan ke sana. Selamat tinggal, totiang." "Harap kau berhati-hati, taihiap. Semoga berhasil," kata Hee Tojin.

Han Sin menempuh malam gelap mencari gedung itu. Gedung keluarga Kwa yang hartawan amat dikenal orang dan sebentar saja ia sudah berdiri di depan gedung besar yang megah itu. Lampu lampu masih bernyala dan dengan hati berdebar tegang, Han Sin menyelinap ke dalam gelap lalu meloncat ke atas genteng rumah itu. Dengan hati-hati sekali ia memeriksa keadaan gedung kemudian mengintai dari atas genteng, memeriksa setiap kamar. Ia melihat, pelayan-pelayan cantik jelita dan teringatlah ia akan pelayan pelayan yang biasa mengikuti Bhok-kong cu. Tak salah lagi, tentu di sinilah bersembunyi orang yang selama ini menjadi gara-gara segala keributan, Bhok Kian Teng atau Bhok-kongcu, kini terkenal dengan nama Pangeran Galdan!

Di lain saat Han Sin sudah berada di atas sebuah kamar yang terang di mana duduk Bhok Kian Teng seorang diri menghadapi meja! Ia melihat Pangeran Mongol itu tengah menulis di atas kertas kuning dengan huruf-huruf hitam. Huruf-huruf besar dan indah. Memang pandai sekali Pangeran Mongol ini menulis indah. Huruf huruf bersajak pula. Saking tertarik, dari atas genteng melalui celah-celah yang dibuatnya, ia membaca tulisan itu.

"Menjadikan Turkistan – Tibet - Sin kiang sekutu. Menghancurkan semua barisan Mancu. Setelah seluruh Tiongkok ditaklukkan Apa sukarnya mengusir sekutu bekas taklukan?"

Membaca tulisan ini, Han Sin menjadi marah sekali. Alangkah besarnya dan kejinya cita-cita keturunan Jenghis Khan ini. Hendak mengajak negara tetangga untuk bersekutu merampas dan menduduki Tiongkok, kemudian memukul sekutu ini yang dianggapnya hanyalah negara-negara bekas taklukan nenek moyangnya, Jenghis Khan! Benar-benar seorang pemuda yang bercita-cita besar tapi amat curang dan keji.

"Bhok Kian Teng, aku datang!" Han Sin berseru perlahan. Ia melihat pangeran itu kaget dan berdiri dari bangkunya di belakang meja, akan tetapi di lain detik Han Sin sudah berdiri di depannya, hanya terhalang meja di mana terbentang tulisannya tadi. Han Sin berdiri dengan keren, bertolak pinggang sambil menatap wajah pangeran itu yang kelihatan pucat dan kehilangan akal.

Akhirnya Pangeran Galdan atau Bhok Kian Teng dapat menguasai ketakutannya, tersenyum lebar dan berkata ramah, "Aha, kiranya orang gagah nomor satu di kolong langit yang datang mengunjungiku. Kebetulan sekali, saudara Cia. Aku sedang kesepian dan membutuhkan sahabat yang cocok untuk diajak mengobrol. Saudara Cia Han Sin, kau muda dan gagah, memiliki kelihaian luar biasa. Kenapa kau menyia-nyiakan masa muda dan kepandaianmu? Akupun masih muda dan biarpun tidak selihai kau dalam ilmu silat, namun aku memiliki kepandaian khusus dalam hal ketatanegaraan dan ilmu perang. Mari kita bersatu, kita bersama merebut dunia "

"Gila! Siapa sudi mendengar obrolanmu, Bhok Kian Teng, kau apakan Bi Eng? Kau yang sudah membunuh Ciu-ong Mo-kai, membunuh Lie Ko Sianseng, membunuh Thio-ciangkun, membunuh banyak pula orang-orang gagah, patriot-patriot menjadi pengkhianat-pengkhianat. Kau apakan Bi Eng? Di mana dia sekarang? Ayoh, kau lekas mengaku dan bebaskan Bi Eng!" Han Sin marah bukan main, suaranya keras, matanya berapi dan telunjuk kirinya ditudingkan ke muka pangeran itu, sedangkan tangan kanannya bertolak pinggang, sikapnya menantang dan mengancam.

Namun Bhok-kongcu hanya tersenyum ramah. Matanya memandang penuh ejekan. "Aku tidak mengganggu adikmu, tidak melihat nona Bi Eng harap kau, jangan menuduh yang bukan-bukan

....."

"Bohong! Setan pengecut. Seorang laki-laki berani berbuat harus berani menanggung resikonya, harus berani bertang¬gung jawab. Kau seorang laki-laki pengecut, dan "

"Diri sendiri pengecut, memaki orang lain, cih, sungguh tak tahu malu ” Tiba-tiba terdengar

suara mencela, suara yang nyaring halus tapi ketus, yang membuat tersirap darah Han Sin dan pemuda ini menoleh cepat. Bi Eng sudah berdiri di belakangnya!

"Bi Eng !" Gadis ini berdiri dengan gagah dan keren, bertolak pinggang, gagang pedang tersembul di balik pundak, sepasang matanya bernyala menatap wajah Han Sin.

"Bi Eng ..... adikku "

"Siapa adikmu? Cih, benar-benar tak tahu malu. Pura-pura tidak tahu lagi ! Orang she Cia,

biarlah kubalaskan sakit hati ibuku yang sudah terhina oleh ayahmu!" Gadis itu mencabut pedangnya, namun masih ragu-ragu melihat Han Sin berdiri seperti patung, pucat dan lemas.

"Nona Tilana, serang saja musuh kita ini!" kata Bhok Kian Teng sambil menendang meja di depannya yang melayang ke arah Han Sin.

Tanpa menoleh Han Sin yang berdiri menghadapi gadis itu, membelakangi Bhok-kongcu, menggerakkan kepalan tangannya ke belakang dan "brakkk!" meja dari kayu tebal itu hancur berkeping-keping! Demikianlah hebatnya dan dahsyatnya pukulan pemuda itu, membuat Bhok Kian Teng terkejut dan otomatis melangkah mundur saking jerihnya.

"Bi Eng, .... Eng-moi kenapa kau sekarang bernama Tilana? Apa yang terjadi? Apa dosaku

terhadapmu ......? Andaikata betul kau sudah tahu ..... bahwa kau ...... bukan adik kandungku ......

mengapa kau jadi begini? Mengapa kau membenciku .....? Eng-moi ?"

"Tutup mulutmu!" Bi Eng membentak dengan suara nyaring sambil menyerang dengan pedangnya, menusuk tenggorokan Han Sin!

Akan tetapi bentakannya itu terdengar jelas oleh Han Sin bahwa di dalamnya terkandung isak tangis! Pemuda ini bingung dan hancur hatinya. la cepat mengelak. Kerling matanya melihat betapa Bhok Kian Teng sudah lenyap dari situ.

Tadinya ia hendak menangkap Pangeran Mongol itu yang ia kira tentulah menjadi biang keladi semua peristiwa aneh ini. Akan tetapi pangeran yang licik itu sudah melenyapkan diri dan sebagai gantinya, dari balik pintu belakang muncul tiga orang raksasa berkulit putih! la sudah mengenal mereka, sudah mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang lihai pembantu Bhok Kian Teng.

Andaikata di sini tidak ada Bi Eng yang ikut menyerangnya, tentu ia akan menghadapi dan melayani tiga orang aneh itu mati-matian. Akan tetapi bagaimana dia bisa melawan Bi Eng?

Han Sin mengeluarkan pekik yang amat nyaring, pekik dari perihnya hati dan perasaannya, pekik nyaring yang membuat gadis yang menyerang itu sekaligus menjadi lemas dan hampir roboh karena kedua kakinya terasa lemas. Bahkan tiga orang aneh itupun terhuyung-huyung. Ketika mereka sudah dapat menenangkan hati, ternyata Han Sin sudah lenyap dari tempat itu! Han Sin tidak melihat lagi betapa gadis itu berlari memasuki sebuah kamar, membanting diri di atas pembaringan dan menangis tersedu-sedu.

****

Berkali-kali Han Sin menyelidiki tempat itu. Akan tetapi alangkah kaget dan menyesalnya ketika mendapat kenyataan bahwa keesokan harinya, gedung itu telah kosong! Tak seorangpun tahu ke mana perginya Bhok Kian Teng bersama pembantu-pembantunya dan ke mana pula perginya Bi Eng ataukah bukan Bi Eng gerangan gadis itu?

Dengan hati kosong dan gelisah sekali Han Sin meninggalkan kota Potouw dan semenjak saat itu, pikiran Han Sin menjadi tidak karuan. Terlampau berat tekanan batin yang dideritanya. Belum lagi beres urusannya dengan Tilana yang amat berat menindih hatinya, sekarang ditambah lagi dengan urusan Bi Eng yang amat aneh. Apakah yang terjadi dengan gadis itu? Tadinya ia tinggal di Ta- tung, bersama Lie Hoa dan yang lain-lain. Kenapa tahu-tahu berada di utara, berkeliaran bersama Bhok-kongcu, mengaku bernama Tilana dan bersikap memusuhinya? Malah seakan-akan sudah tahu bahwa dia puteri Balita, terbukti dari ucapannya hendak membalaskan sakit hati ibunya yang telah dihina oleh ayahnya!

Dengan adanya Bi Eng di samping Bhok-kongcu, kebencian Han Sin terhadap Pangeran Mongol itu makin memuncak. Malah sekarang ia menjadi benci sekali kepada setiap orang Mongol.

Kehancuran hatinya membuat ia berpendirian lain sekarang. Setiap kali ia bersua dengan pasukan Mongol yang sudah cerai-berai itu, tanpa ragu-ragu lagi Han Sin lalu mengamuk dan membasminya!

Tanpa disadari, kemarahan dan kebenciannya terhadap Bhok-kongcu membuat ia menjadi seorang pembantu Mancu yang banyak jasanya. Setiap kali melihat orang Mongol, ia lalu menangkapnya dan memaksanya memberi keterangan di mana adanya Pangeran Galdan. Dia terus mencari pangeran ini dengan hati penuh dendam.

Pada suatu hari ia melihat sepasukan besar tentara Mancu menuju ke barat, melalui tapal batas antara Mongolia dan Sin-kiang. Tentu mereka sedang mengejar-ngejar bala tentara Mongol, pikir Han Sin. Oleh karena itu Han Sin lalu mengikuti dari jauh. Ketika menjelang senja barisan itu tiba di selat gunung, tiba-tiba pasukan-pasukan Mongol yang dikejar itu membalik dan melakukan serangan. Terjadilah perang di selat gunung. Barisan Mancu lebih besar jumlahnya, maka sia-sialah bala tentara Mongol itu melakukan perlawanan.

Akan tetapi, setelah terdengar sorak-sorai riuh dari balik gunung, baru tahu orang-orang Mancu bahwa mereka telah terjebak. Orang-orang Mongol itu ternyata telah mengatur siasat telah bersekutu dengan suku-suku bangsa lain di daerah ini, mengerahkan pasukan-pasukan dari Sin- kiang, dari Mongolia Luar, bahkan ada pula pasukan Turkestan, lalu mengepung barisan Mancu dari tiga jurusan! Perang tanding hebat terjadi, namun sekarang pihak Mancu yang mengalami kerugian dan terdesak hebat.

Tadinya Han Sin hanya menonton saja pertandingan itu dari atas puncak. Ia tidak mau perduli. Akan tetapi, ketika ia melihat bayangan Pak-thian-tok Bhok Hong, tak dapat ia menahan kemarahannya. Segera ia berlari turun dari puncak untuk menghadapi musuh besar itu. Dari puncak ke tempat peperangan itu bukan dekat, melalui hutan kecil dan jurang. Ketika tiba di tempat pertempuran, Han Sin kehilangan Bhok Hong. Tidak dilihatnya lagi tokoh besar itu di antara mereka yang masih berperang. Mayat bertumpuk-tumpuk, tanah banjir darah.

Tiba-tiba telinganya menangkap suara aneh seruan orang yang memiliki khikang yang amat tinggi. Itulah tanda bahwa tak jauh dari situ terdapat orang-orang pandai sekali sedang bertempur. Han Sin tidak perduli akan peperangan antara orang Mongol dan orang Mancu. Ketika tiba di situ dan berada di tengah peperangan, siapa saja yang dekat dengannya dan mencoba menyerangnya, baik tentara Mongol maupun tentara Mancu, tentu ia robohkan dengan pukulan atau tendangan. Setelah mendengar seruan-seruan aneh itu, Han Sin lalu berlari pergi meninggalkan gelanggang peperangan, terus berlari cepat menuju ke sebuah hutan di mana tidak terdapat tentara yang sedang berperang. Dari sinilah datangnya seruan-seruan tadi.

Makin dekat dengan tempat itu, makin kagetlah Han Sin, di samping keheranannya. Suara-suara itu benar-benar hebat, membuat jantungnya tergetar dan cepat ia harus mengerahkan lweekangnya untuk menahan getaran-getaran itu. Makin tertarik hatinya. Tentu orang-orang luar biasa yang sedang mengadu ilmu. Setelah dekat, benar saja dugaannya. Ternyata Pak-thian-tok Bhok Hong sendiri yang sedang berhadapan dengan seorang kakek tua, duduk bersila berhadapan dalam jarak tiga meter, saling bercakap-cakap mempergunakan tenaga khikang yang hebat! Kadang-kadang mereka tertawa, juga dalam suara ketawa ini mengerahkan tenaga untuk menindih lawan.

Dengan amat tertarik, Han Sin menyelinap di balik pohon besar dan mengintai, Bhok Hong duduk bersila dengan tubuh tegak, matanya bersinar-sinar, mukanya tegang dan mulutnya membayangkan kemarahan dan penasaran. Pada saat itu, terdengar kakek tua di depannya berkata, suaranya perlahan, akan tetapi mengandung tenaga yang luar biasa,

"Pak-thian-tok, semenjak muda kita sama-sama berkelana di dunia, sama-sama melihat dan mengalami bermacam hal. Semenjak itu kau selalu mengambil jalan sesat, sudah beberapa kali aku menentangmu, memberi peringatan dan nasihat. Akan tetapi sampai sekarang kau bukannya berubah. Malah makin jauh tersesat. Bhok Hong, apakah kau tidak takut akan kemurkaan Tuhan? Apakah kau tidak mengenal Tuhan?"

Han Sin makin tertarik. Orang-orang tua ini agaknya tidak hanya mengadu ilmu kepandaian silat, agaknya hendak berdebat pula tentang kebatinan dan tentang pengetahuan-pengetahuan yang dalam. Filsafat-filsafat hidup, ini kesukaannya. Maka ia mendengarkan dengan penuh perhatian sambil diam-diam menduga-duga siapa gerangan kakek di depan Pak-thian-tok Bhok Hong itu.

Kakek itu sudah tua sekali, pakaiannya sederhana dari kain putih yang kasar, rambutnya tak terurus, akan tetapi bersih dan penuh uban seperti jenggotnya, panjang terurai ke belakang. Di dekat tempat ia duduk bersila terdapat sebatang tongkat buruk sekali.

Menghadapi celaan kakek itu, Pak-thian-tok Bhok Hong tertawa bergelak, suara ketawanya nyaring sekali sampai Han Sin merasa betapa pohon yang disentuhnya tergetar!

"Ha ha ha ha! Hui-kiam Koai-sian! Kau bicara tentang Tuhan? Ha ha ha! Khong Cu sendiri orang yang kalian orang-orang Han anggap sebagai nabi atau guru besar kebatinan, dia jarang sekali menyebut-nyebut tentang Tuhan! Kurasa Khong Cu sendiri juga tidak mau tahu tentang Tuhan!"

"Kau keliru, Pak-thian-tok. Justeru karena Nabi Khong Cu amat mengenal Tuhan, amat tebal imannya sehingga beliau menjadi amat setia dan taat kepada Tuhan, maka semua pelajaran yang beliau ajarkan adalah sesuai dengan Ketuhanan ”

"Koai-sian! Kau kira aku ini orang macam apa? Apa kaukira aku belum pernah membaca kitab- kitabnya? Khong Cu hanya mengajarkan tata susila hidup, mengajarkan prikemanusiaan, bukan Ketuhanan. Pernahkah Khong Cu menyebut-nyebut tentang sabda Tuhan, tentang kegaiban Tuhan? Itu tandanya dia tidak mau mengenal Tuhan!"

"Kembali kau keliru, Pak-thian-tok. Ketuhanan merupakan dasar kepercayaan, merupakan iman dan pegangan bagi manusia bahwa di alam semesta ini, ada kekuasaan Tertinggi yang mengatur dan menentukan segala sesuatu, kekuasaan tertinggi Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi, yang tak terselami alam pikiran manusia. Ketuhanan ialah iman pada Yang Maha Kuasa. Karena imannya sudah penuh dan ketaatan dan kesetiannya terhadap Tuhan sudah mutlak, maka Nabi Khong Cu mengajarkan tata susila hidup dan prikemanusiaan pada umat manusia."

"Apa kataku tadi? Dia hanya mengajarkan prikemanusiaan dan jangan kau campur-campur tentang prikemanusiaan itu dengan Ketuhanan," bantah Bhok Hong.

"Diumpamakan pohon, Ketuhanan adalah akar dan batangnya, prikemanusiaan adalah cabang- cabang, ranting-ranting dan daun-daunnya. Bagaimana tidak harus dicampurkan? Karena memang tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya. Ketuhanan merupakan iman kepercayaannya, adapun prikemanusiaan merupakan jalannya atau cara membuktikan adanya iman itu. Prikemanusiaan dan tata susila hidup bukan lain adalah prikebajikan, yang berarti pula hukum yang ditentukan oleh Tuhan. Ketuhanan tanpa prikemanusiaan takkan berarti karena tanpa bukti perbuatan yang nyata, sebaliknya prikemanusiaan tanpa Ketuhanan dapat menyeleweng karena tidak berdasar pada sumber atau pokoknya. Karena itu, Nabi Khong Cu mengajarkan tentang mempertebal tata susila hidup dan prikemanusiaan, karena kebiasaan-kebiasaan baik akan mendatangkan watak yang baik, dan semua ini sebetulnya hanyalah jalan untuk mendekatkan orang kepada Tuhannya."

"Ha ha ha, Koai-sian, kau memang tukang omong! Omong kosong belaka! Kau sebut-sebut nama Tuhan itu berarti bahwa manusialah yang menciptakan sebutan Tuhan! Tuhan itu apa sih? Tak dapat kuraba, tak dapat kulihat, tak dapat kedengarkan suaranya. Mana ada Tuhan? Kalau benar ada, Hui-kiam Koai-sian, coba kau keluarkan, biar kulihat dan kuraba dia!"

Hui-kiam Koai-sian tersenyum sabar. Han Sin yang mendengarkan di balik pohon menjadi makin tertarik. Hebat "perang tanding" kebatinan ini, pikirnya.

"Tak salah kata-katamu tadi bahwa sebutan Tuhan, seperti juga sebutan lain yang diucapkan oleh bibir, adalah ciptaan manusia. Demikian pula sebutan untuk Yang Maha Kuasa yang diucapkan oleh manusia-manusia berbangsa lain dengan bahasa mereka yang berbeda. Namun, se¬perti juga langit dan bumi, disebut apapun juga oleh bahasa apapun di dunia ini, ke¬nyataannya tetap ada langit dan bumi itu. Demikian pula Tuhan, biarpun ada seribu satu macam sebutan di dunia ini sesuai dengan bahasa masing-masing, sebetulnya hanyalah Satu, yaitu Yang Maha Kuasa.”

”Sekarang, kalau memang betul Tuhan itu ada, kau keluarkan biar kulihat dia, Koai-sian." Bhok Hong menantang, mengejek.

"Bicara dengan seorang yang berwa¬tak curang memang harus siap menghadapi segala macam tipu muslihat omongan, Pak-thian-tok. Kukatakan tadi bahwa Ketuhanan adalah soal iman, tinggal percaya atau tidak."

"Buktikan! Buktikan kalau memang ada, jangan putar balik omongan!" "Sabarlah, tentu saja aku bisa buktikan, akan tetapi ada syaratnya." "Bagaimana, teruskan!" Bhok Hong menantang.

"Pak-thian-tok Bhok Hong, aku tidak berani mengatakan bahwa kau seorang yang tidak mempunyai pikiran. Kau tentu mempunyai pikiran, bukan?"

"Tentu saja! Bahkan pikiranku lebih terang dari pada pikiranmu!"

"Tentu ....., tentu .....! Dan kaupun tentu mempunyai nyawa, ataukah barangkali kau sudah tidak

bernyawa lagi ?"

"Setan! Kalau aku tidak bernyawa tentu aku mampus. Tentu saja aku mempunyai nyawa!"

"Nah, begitulah, Pak-thian-tok. Aku sudah membuktikan kepadamu tentang adanya Tuhan, apakah kau masih tidak mengerti?"

Bhok Hong melengak heran. "Mana dia, Tuhanmu itu? Apa maksudmu?" Hui-kiam Koai-sian mengelus-elus jenggotnya yang putih. "Kau tadi minta aku mengeluarkan Tuhan. Aku akan dapat mengeluarkan Tuhan untuk kaulihat dan raba. Pak-thian-tok, asal saja kaupun bisa mengeluarkan pikiran dan nyawamu untuk kulihat dan kuraba! Bukankah kau mengaku bahwa aku mempunyai pikiran dan nyawa? Nah, akupun mengaku bahwa aku mempunyai Tuhan.

Kau keluarkanlah pikiran dan nyawamu, dan aku akan mengeluarkan Tuhanku. Bagaimana?" Pak-thian-tok tak dapat menjawab. "Itu ..... hal itu ah, kau telah menipu dan menjebakku!"

Hui-kiam Koai-sian menggeleng kepala. "Tidak sama sekali. Kau harus mengakui bahwa memang ada hal-hal yang tidak kelihatan, tidak dapat diraba oleh panca indera, namun yang dapat dirasa oleh hati kita. Dan rasa itulah yang mengenal adanya pikiran dan nyawa atau hal-hal lain yang tidak mempunyai wujud yang dapat dilihat atau dirasa oleh panca indera."

Pak-thian-tok Bhok Hong merasa terpukul dan terdesak. Ia mendengarkan saja uraian Hui-kiam Koai-sian yang sedang memberi "kuliah" kepadanya tentang Ketuhanan. Ia maklum bahwa di dalam suaranya, Hui-kiam Koai-sian telah mengerahkan khikang yang takkan mungkin ditembusi oleh penyerangan gelap dari pengaruh suara lain. Diam-diam Pak-thian-tok Bhok Hong mengerahkan tenaga ke dalam sepasang lengannya dan bersiap si¬aga untuk melakukan penyerangan tiba-tiba.

Hui-kiam Koai-sian agaknya tidak melihat akan tetapi Han Sin yang dapat menduga, karena pemuda ini melihat betapa Pak-thian-tok Bhok Hong memusatkan perhatian, mengatur napas dan kedua lengannya perlahan-lahan berubah hitam, tanda bahwa kakek itu menyalurkan tenaga Hek- tok-sin-kang. Pemuda ini merasa khawatir sekali. Ia sudah mendengar nama Hui-kiam Koai-sian sebagai pencipta ilmu Lo-hai Hui-kiam yang ia pelajari dari Giok Thian Cin Cu, maka secara tidak langsung kakek ini boleh dibilang masih terhitung gurunya sendiri dalam ilmu silat itu. Akan tetapi iapun maklum bahwa dalam perang tanding antara dua orang tokoh besar ini amat tidak baik kalau ia ikut-ikut, kecuali kalau melihat kakek itu dikeroyok. Maka ia hanya memandang dengan hati berdebar sambil mendengarkan uraian Hui-kiam Koai-sian tentang sifat sifat Ketuhanan.

”. mau tahu kekuasaan Tuhan?" Kakek itu melanjutkan uraiannya dengan mata setengah

berkatup. "Lihatlah di sekelilingmu ...... pasir, batu, rumput, kembang, awan, matahari dan apa

saja yang dapat kaulihat. Alangkah hebatnya, alangkah indahnya semua itu. Semua itu sudah terang ada dan semua yang ada tadinya dari tiada, karena itu yang ada tentu ada yang Mengadakan! Dia yang Mengadakan inilah Yang Maha Kuasa. Betapa gaibnya kembang-kembang itu, dengan warna tertentu, bentuk tertentu, lihat burung-burung terbang bersayap, ikan-ikan berenang di dalam air, semua sudah sempurna semenjak tercipta. Itulah Kuasa Tuhan!"

Hui-kiam Koai-sian berhenti sebentar, menarik napas panjang, wajahnya berseri. "Mau tahu akan kemurahan hati Tuhan? Lihat, semua yang tampak di dunia ini diberikan kepada kita! Setiap benda di dunia ini ada gunanya, hanya terserah kepada kemampuan kita untuk menyelidiki apa kegunaan tiap benda itu. Dan semua itu diberikan kepada kita tanpa minta balasan! Tidak, memilih dulu.

Bangsa apapun juga, mahluk apapun juga, yang jahat maupun yang baik, semua disamakan, semua mendapat bagian, semua diberi anugerah itu. ”

Pada saat itu, secara tiba-tiba Bhok Hong mengirim serangannya dari jauh, dengan memukulkan kedua tangannya yang penuh hawa beracun Hek-tok-sin-kang itu ke depan, sepenuh tenaga. lnilah penyerangan gelap yang amat berbahaya. Biarpun jarak di antara tempat mereka duduk ada tiga meter lebih, namun penyerangan ini tak kalah berbahayanya dari pada pukulan yang menghantam kulit dan daging secara langsung. Tenaga pukulannya mendatangkan angin yang hebat, yang sebelum sampai pada sasarannya sudah membawa angin pukulan yang panas dan bersuara seperti pedang diayun. Hui-kiam Koai-sian adalah seorang ahli silat tinggi yang banyak pengalamannya. Tentu saja, biarpun perhatiannya tadi ditujukan kepada pembicaraannya, namun angin pukulan itu tidak terlepas dari pendengarannya.

"Manusia curang !" keluhnya, maklum akan bahaya maut yang mengancamnya. Ia mengempos

semangatnya, menggerakkan tangan kiri setengah lingkaran di depan dada untuk menjaga bagian tubuh ini sedangkan dua jari tangan kanannya ia tusukkan ke depan mengarah dada lawan untuk menangkis atau menggempur serangan Pak-thian-tok Bhok Hong.

Han Sin membelalakkan kedua matanya. Ia mengenal gerakan yang dilakukan oleh kakek itu. Itulah jurus Hui-kiam-kan-goat (Pedang Terbang Mengejar Bulan), jurus ke tujuh belas dari Ilmu Silat Lo- hai Hui-kiam yang tiga puluh enam jurus banyaknya. Indah dan hebat gerakan itu dan ia maklum pula bahwa memang jurus-jurus itulah yang paling tepat untuk menangkis serangan gelap yang dahsyat dari Bhok Hong itu.

40. Pertemuan Saudara Kandung

Pemuda ini seakan-akan mendengar suara bertumbuknya dua tenaga dahsyat itu di tengah udara dan maklum pula bahwa Hui-kiam Koai-sian menderita kerugian dalam bentrokan pertama ini. Dia kalah persiapan dan kalah dulu, maka sebagian tenaga penyerangan Bhok Hong dapat mendobrak pertahanan Hui-kiam Koai-sian dan terus menyerang dada kakek itu. Baiknya Hui-kiam Koai-sian sudah menjaga diri sehingga biarpun tenaga pukulan Hek-tok-sin-kang itu mengenai dadanya, namun sudah tertahan oleh tangan kiri yang dilingkarkan di depan dada. Betapapun juga, kakek ini menjadi pucat seketika dan muntahlah darah segar dari mulutnya!

Wajah Pak-thian-tok Bhok Hong membayangkan kegembiraan, akan tetapi mulutnya tertutup. Ia hanya mengirim serangan lagi secara bertubi-tubi, semua dilakukan dengan tangan yang mengandung cengkeraman-cengkeraman maut!

Biarpun Hui-kiam Koai-sian sudah terluka dan muntah darah, namun dengan tenang kakek ini masih dapat menangkis semua serangan, malah kini mulai balas menyerang dengan Ilmu Silat Lo- hai Hui-kiam yang amat lihai itu. Han Sin yang menonton pertandingan mati-matian yang dilakukan dengan tenaga dalam sepenuhnya, dilakukan tanpa mengeluarkan suara karena semua tenaga dikerahkan dalam pertandingan ini, diam-diam merasa amat kagum akan Ilmu Silat Lo-hai Hui- kiam yang dimainkan kakek itu.

Ia baru tahu bahwa ilmu silat ini benar-benar hebat, kalau sudah dilatih secara sempurna, ternyata yang tiga puluh enam jurus itu sudah cukup kuat untuk menghadapi serangan sedahsyat serangan Pak-thian-tok Bhok Hong, malah dapat membalas dengan serangan yang tidak kalah ampuhnya.

Makin lama serang menyerang antara dua orang kakek yang duduk bersila sejauh jarak tiga meter itu, makin hebat. Akan tetapi anehnya, gerakan mereka makin lambat. Jangan dikira bahwa mereka kehabisan tenaga atau kelelahan, tidak sama sekali, pukulan-pukulan yang dilakukan makin lambat ini sebetulnya malah makin berbahaya karena itulah tanda bahwa pukulan itu mengandung tenaga dalam yang sepenuhnya. Seakan-akan tergetar udara sekeliling dua orang kakek itu. Tanpa diketahui dan tanpa dilihat pula, tempat duduk mereka tergeser makin dekat tanpa mereka menggerakkan kedua kaki yang bersila!

Sementara itu, sorakan-sorakan orang yang berperang di dekat gunung masih terdengar sayup sampai dari tempat itu. Han Sin tak dapat membedakan lagi suara-suara itu dan tidak tahu bagaimana kesudahan perang antara barisan Mongol dan barisan Mancu. Perhatiannya amat tertarik oleh perang tanding antara dua orang tokoh di dunia persilatan yang pada masa itu kiranya sudah boleh dianggap dua orang yang paling tinggi kedudukannya, tentu saja di bawah Pek Sin Niang- niang yang memiliki kesaktian luar biasa.

Tiba-tiba Han Sin dikejutkan oleh suara lengking yang luar biasa, serak seperti suara burung gagak, seperti suara ketawa, akan tetapi lebih patut disebut ketawa iblis dari pada ketawa manusia.

"Hoa Hoa Cinjin " Han Sin segera mengenal suara ini dan jantungnya berdebar. Teringat ia akan

Hoa-ji dan ia mengharapkan tokoh jahat ini akan muncul bersama anak angkatnya, Hoa-ji.

Tepat seperti dugaannya. Dari jauh mendatangi dua bayangan yang cepat larinya dan tak lama kemudian muncullah Hoa Hoa Cinjin, tosu jahat yang bermata luar biasa itu, bersama nona berkedok, Hoa-ji! Tosu ini begitu melihat keadaan Pak-thian-tok Bhok Hong yang sedang bertempur mati-matian melawan Hui-kiam Koai-sian, maklum bahwa dia sendiri tidak mungkin dapat campur tangan dalam pertandingan antara dua orang tokoh besar yang kepandaiannya masih beberapa tingkat lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri.

Akan tetapi, dasar orang jahat, tiba-tiba dan sayangnya Han Sin terlalu memperhatikan Hoa-ji yang membuat jantungnya berdebar kalau teringat bahwa di bawah kedok itu bersembunyi wajah adik kandungnya sehingga pemuda ini tidak melihat gerakan Hoa Hoa Cinjin, tosu itu mengayun tangannya dan sinar hijau menyambar ke arah tenggorokan Hui-kiam Koai-sian!

Pada saat itu, jarak antara Hui-kiam Koai-sian dan Pak-thian-tok hanya tinggal dua meter lagi. Pertandingan antara mereka sedang terjadi dengan hebatnya. Dua pasang lengan itu bergerak-gerak, saling serang dan saling desak, angin pukulan mereka membuat rambut dan pakaian mereka bergerak-gerak seperti tertiup angin puyuh.

Pada saat sinar hijau dari beberapa batang Cheng-tok-ciam (Jarum Racun Hijau) itu menyambar ke arah tenggorokan Hui-kiam Koai-sian, kakek ini kaget sekali akan tetapi ia tak sempat mengelak karena sedang menghadapi desakan Bhok Hong. Anehnya jarum-jarum itu sebelum mengenai leher, sudah runtuh semua ke bawah, seakan-akan tertolak semacam hawa yang ajaib. Hanya ada dua batang yang terbangnya agak ke bawah, tepat menancap di pundak Hui-kiam Koai-sian yang mengeluarkan rintihan perlahan. Gerakan kakek ini menjadi lambat karenanya, dan kini ia berada dalam keadaan berbahaya, terdesak hebat oleh Bhok Hong, bahkan terkurung oleh rangkaian penyerangan racun utara itu.

"Manusia curang !" Han Sin tak dapat menahan kemarahannya ketika menyaksikan hal ini dan

cepat ia melompat ke depan sebelum Hoa Hoa Cinjin sempat menggunakan jarum-jarumnya lagi.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya Hoa Hoa Cinjin ketika melihat pemuda yang sakti dan aneh itu muncul. Dia sudah tahu akan kelihaian Han Sin, maka begitu melihat pemuda ini muncul, cepat ia mencabut pedangnya dan berteriak kepada Hoa-ji,

"Hoa-ji, ayoh kita gempur bocah siluman ini!"

Tanpa menjawab nona berkedok itupun mencabut pedangnya. Dua sinar gemilang berkeredepan ketika ayah dan anak angkat itu maju menyerang Han Sin. Pemuda inipun tidak tinggal diam, cepat meloloskan Im-yang-kiam yang dibelitkan di pinggangnya. Pertandingan seru terjadi di dekat dua orang kakek yang masih mengadu ilmu secara mati-matian itu,

"Nona Hoa-ji, harap jangan ikut menyerangku. Aku aku membawa pesan Pangeran Yong Tee

untukmu " kata Han Sin sambil menangkis pedang Hoa Hoa Cinjin dan mengelak dari tusukan Hoa-ji. Nona itu nampak ragu-ragu, akan tetapi karena tidak dapat melihat wajahnya, sukarlah untuk menduga apa reaksi kata-kata yang diucapkan Han Sin ini.

Setelah ragu-ragu sebentar, nona itu menoleh ke arah Hoa Hoa Cinjin dan menyerang Han Sin

lagi lebih sengit. Pemuda itu amat cerdik, dapat menduga bahwa andaikata benar ada hubungan antara nona berkedok ini dengan Pangeran Mancu, tentu gadis ini takut kepada ayah angkatnya, maka setelah ragu-ragu sejenak mendengar disebutnya nama Pangeran Mancu itu, setelah memandang kepada ayah angkatnya lalu menyerang kembali.

Hoa Hoa Cinjin menyerang lagi, bahkan kini tangan kirinya ikut pula menyerang dengan ilmu pukulannya yang ampuh, yaitu Cheng-tok-ciang (Tangan Racun Hijau) sedangkan tangan kanannya menyerang dengan pedangnya yang cepat dan dahsyat gerakannya. Namun Han Sin selalu dapat menghindarkan diri, malah sekali memutar pedang ia selalu dapat menangkis pedang dua orang pengeroyoknya, membuat tangan Hoa-ji tergetar dan seperti lumpuh sedangkan Hoa Hoa Cinjin juga tergetar telapak tangannya.

"Hoa Hoa Cinjin, kau dulu bersusah payah hendak membunuhku. Kalau aku menghendaki, apa susahnya membalas semua itu? Akan tetapi aku tidak akan membalas traaangggg!" Pedang di

tangan Hoa Hoa Cinjin terpukul hampir terlepas dari genggaman, sedangkan pedang Hoa-ji yang menyambar leher Han Sin, dielakkan dengan menundukkan kepala secara mudah saja.

"Yang kukehendaki hanya pengakuanmu. Apakah nona Hoa-ji ini anak yang dulu kaurampas dari tangan Kalisang si pemelihara macan?"

Hoa Hoa Cinjin nampak kaget dan marah. "Setan! Mau apa kau tanya-tanya urusan orang lain? Hoa-ji adalah anak angkatku, kalau benar aku menyelamatkannya dari tangan pemelihara macan, habis kau mau apa?"

Hampir saja Han Sin bersorak girang mendengar ini. Tak salah lagi, Hoa-ji adalah adik kandungnya! Akan tetapi ia bergidik juga kalau teringat akan pertemuannya dengan gadis berkedok ini dahulu. Gadis ini sedikit banyak sudah mewarisi sifat kejam dan liar dari ayah angkatnya.

"Hoa Hoa Cinjin, apakah kau dulu membunuh ayah bundaku di Min-san? Kau yang menghendaki kitab wasiat, tentu kau menyerang mendiang ayahku pula!"

Keder juga hati Hoa Hoa Cinjin. Pemuda ini begini lihai, kalau saja tidak begini lihai tentu ia akan menyombong dan mengaku saja membunuh Cia Sun dan isterinya, sungguhpun ia sama sekali tidak melakukan hal itu dan sungguhpun ia tahu akan hal kematian mereka, akan tetapi untuk menyangkal sama sekalipun ia merasa malu.

"Benar dulu aku datang ke Min-san. Aku tidak membunuh mereka, tapi aku tahu bagaimana mereka tewas!" katanya kembali sambil menyerang lagi. Pada saat itu pedang di tangan Hoa-ji juga sudah datang menusuk ke arah punggung Han Sin.

Pemuda ini kaget dan girang mendengar pengakuan Hoa Hoa Cinjin, maka cepat bagaikan kilat ia menggunakan pedang Im-yang-kiam untuk "menempel" pedang Hoa Hoa Cinjin sehingga pedang tosu itu tak dapat ditariknya kembali. Tangan kiri tosu itu yang memukul dengan Cheng-tok-ciang, diterima oleh sambaran tangan Han Sin, dibarengi dengan tendangan ke arah kedua lutut tosu itu yang serentak menjadi lemas, pedangnya terlepas dan ia jatuh berlutut. Pada saat itu, pedang Hoa-ji sudah tiba, tepat menusuk punggung Han Sin. Alangkah kagetnya gadis itu ketika pedangnya menusuk punggung yang seperti karet uletnya dan seperti baja kerasnya. Pedangnya meleset, telapak tangannya lecet dan sakit! Cepat ia meloncat mundur dengan muka pucat. "Hoa Hoa Cinjin, aku tidak akan membunuhmu. Tapi kau harus mengaku bagaimana matinya ayah bundaku."

"Kenapa kau memaksaku? Mau apa kau?" bentak Hoa Hoa Cinjin yang sudah tak berdaya itu.

"Orang tua, ketahuilah. Hal itu amat penting bagiku. Juga ketahuilah bahwa Hoa-ji ini, anak angkatmu yang dulu kaurampas dari tangan Kalisang, dia ini bukan lain adalah anak ayah bundaku juga, adik kandungku yang hilang semenjak kecil, ditukar oleh Ang-jiu Toanio "

Terdengar jerit tertahan dan Hoa ji yang berdiri di belakangnya hampir roboh terguling, pedang di tangannya terlepas. Gadis berkedok itu menekan dadanya, kemudian lari pergi dari tempat itu.

"Hoa-ji, tunggu! Aku kakakmu sendiri, kakak kandungmu " Han Sin meninggalkan Hoa Hoa

Cinjin yang masih berlutut dengan mata terbelalak heran. Pemuda itu lalu mengejar Hoa-ji yang berlari sambil menangis.

Hoa Hoa Cinjin teringat akan Bhok Hong. Kalau kakek Mongol itu tidak senang menghadapi Hui- kiam Koai-sian, tentu dapat membantunya tadi menghadapi Cia Han Sin. Ia cepat menengok dan alangkah kagetnya ketika melihat bahwa pertandingan antara dua orang kakek itu sudah mencapai puncak yang paling berbahaya, tegang dan menentukan.

Dua orang kakek itu kini sudah duduk berhadapan dalam jarak dekat sekali, malah dua pasang tangan itu sudah saling menempel, dua pasang telapak tangan saling tempel dan saling dorong. Seluruh tenaga dalam dikerahkan, wajah mereka kerut-merut, penuh peluh, dari kepala mereka nampak uap mengepul, mata mereka saling pandang tanpa berkedip, dan napas mereka sudah terengah-engah!

Hoa Hoa Cinjin adalah seorang ahli silat tinggi, ia tahu akan arti pertandingan ini. Pertandingan mati-matian dan seorang di antara mereka pasti akan tewas. Siapa menang dia mungkin hidup. Keadaan mereka berimbang, keduanya berada dalam bahaya. Hui-kiam Koai-sian sudah amat tua, namun nampaknya lebih tenang, kalau aku tidak bantu Pak-thian-tok, bagaimana Racun Utara itu dapat menang?

Dengan keputusan ini, Hoa Hoa Cinjin yang kedua kakinya lumpuh karena tendangan Han Sin tadi, tiba-tiba menggerakkan kedua pahanya dan tubuhnya melayang ke arah Hui-Kiam Koai-sian dari belakang. Tangan kanannya berkelebat menghantam punggung Hui-kiam Koai-sian dengan pukulan Cheng-tok-ciang.

"Bukkk!" Terdengar teriakan ngeri dan tubuh Hoa Hoa Cinjin terlempar ke belakang, dari mulutnya keluar darah segar dan tosu jahat ini terbanting dengan mata mendelik, pingsan!

Perubahan hebat terjadi karena kecurangan Hoa Hoa Cinjin ini. Biarpun dengan sinkangnya yang luar biasa Hui-kiam Koai-sian dapat merobohkan penyerang gelapnya, namun karena sebagian tenaganya molos keluar, pertahanannya kurang kuat. Saat baik itu dipergunakan oleh Pak-thian-tok Bhok Hong untuk menarik tangan kanannya yang tertempel pada tangan kiri lawan dan secepat kilat jari jari tangannya mencengkeram leher Hui-kiam Koai-sian. Seketika itu juga jari-jari tangannya amblas ke dalam leher lawan!

Akan tetapi dia sendiri yang menjerit karena pada saat itu juga yaitu dalam saat maut hendak merenggut nyawanya, kakek gagah itu sudah berhasil menggunakan jari-jari tangan kirinya dengan gerak tipu Hui-kiam-thian-sia (Pedang Terbang Turun dari Langit) menusuk ke arah jidat Bhok Hong. Jari tangan itu menancap ke dalam jidat, merusak otak dan pada saat yang hampir bersamaan nyawa kedua orang tua yang kosen ini melayang meninggalkan tubuh mereka.

Keduanya mati dalam keadaan masih duduk bersila, berhadapan dan dalam sikap yang mengerikan. Tangan kanan Bhok Hong masih mencengkeram leher Koai-sian sebaliknya jari tangan kiri Koai- sian menancap ke jidat Bhok Hong! Hoa Hoa Cinjin masih rebah dengan mata mendelik, telentang pingsan di dekat tempat itu. Suasana menjadi sunyi-senyap !

Han Sin terus mengejar Hoa-ji yang berlari cepat memasuki hutan, melompati jurang dan mendaki gunung-gunung batu yang licin berbahaya. Akan tetapi Han Sin terus mengejarnya sambil memanggil,

"Hoa-ji, kau adik kandungku .... tunggulah !”

Akhirnya ia kehilangan Hoa-ji dan matahari sudah tenggelam, malam segera tiba dan keadaan amat gelap. Terpaksa Han Sin menunda pengejarannya karena udara tiba-tiba menjadi amat gelapnya dan melakukan perjalanan di daerah yang penuh jurang ini amat berbahaya. Semalam suntuk ia tidur, mengaso di bawah batu besar. Pada keesokan harinya, pagi pagi sekali begitu terang tanah ia sudah melanjutkan pekerjaannya, mencari-cari.

Akhirnya, alangkah girang hatinya ketika ia melihat tubuh Hoa-ji berbaring miring di bawah pohon, tidur bertilamkan sehelai saputangan lebar. Agaknya gadis itupun terhalang larinya oleh udara yang gelap malam tadi, kemudian tertidur di situ. Han Sin cepat meloncat menghampiri dan pada saat ia menjatuhkan diri berlutut di dekat gadis itu, Hoa-ji terjaga dan membalikkan tubuhnya terlentang.

Alangkah kagetnya ketika ia melihat pengejarnya sudah berada di situ, berlutut di dekatnya. "Pergi kau ......! Pergi !" teriaknya.

"Tidak, Hoa-ji. Sudah lama kau kucari, kau kaulah Cia Bi Eng, kaulah adik kandungku yang

sebenarnya. Kau anak ayah bunda kita, adikku. Buktinya ada, yaitu ada tanda tahi lalat di mata kaki kirimu. Coba kaulihat kau bukalah kedokmu itu aku kakak kandungmu sendiri!"

Han Sin menggerakkan tangan kirinya hendak merenggut kedok di depan muka Hoa-ji, akan tetapi tiba-tiba tangannya gemetar karena ia teringat akan pengalamannya dengan Tilana! Juga hanya karena membuka kedok ia terlibat dalam urusan yang memusingkan dengan Tilana.

Adapun Hoa-ji ketika mendengar ucapan Han Sin ini, mengeluarkan suara keluhan perlahan, lalu bangun duduk dan suaranya terdengar gemetar,

"..... apa kau bilang ......? Tanda di kaki kiri ?"

Dengan kedua tangan menggigil gadis berkedok itu lalu membuka sepatu kaki kirinya, terus membuka kaos kakinya. Han Sin tentu saja malu untuk memandang, lalu membuang muka tidak mau memandang ke arah kaki gadis itu. Pada waktu itu, kaki gadis yang selalu tertutup rapat oleh kaos kaki dan sepatu, merupakan bagian tubuh yang amat dirahasiakan, merupakan bagian yang tak boleh dipandang sembarang orang apa lagi laki-laki.

Tak lama kemudian Han Sin merasa dirinya dipeluk orang dan ia mendengar gadis itu menjerit perlahan, "Kau benar .....! Kau benar ....., aku adik kandungmu ..... ah, kakakku saudaraku tidak

mimpikah aku ?" Ketika Han Sin menengok, ia melihat seorang gadis cantik, tidak tertutup lagi mukanya, menangis di pundaknya. Han Sin cepat memegang kedua pundak gadis itu, mendorongnya sedikit untuk dapat memandang muka itu lebih nyata lagi. Mereka berpandangan, dua pasang mata bertemu, saling selidik, mata kakak beradik kandung yang semenjak masih bayi dipisahkan orang. Keduanya seakan-akan tertarik oleh sesuatu yang gaib, seakan akan merasa bahwa mereka sudah kenal baik muka masing-masing, seperti orang yang dulu sudah kenal baik baru bertemu kembali.

"Kau ...... kau Bi Eng adik kandungku ....! Ayah ...., ibu akhirnya anakmu berdua dapat saling

bertemu dan berkumpul kembali " Tak tertahankan pula air mata menetes turun dari sepasang

mata Han Sin ketika ia memeluk adik kandungnya.

"...... kakakku Han Sin ......, Sin ko, alangkah lamanya aku menanti-nanti saat seperti ini .......

alangkah besarnya rinduku terhadap ayah ibu ..... tidak kira ayah ibuku adalah ayah bundamu

juga yang sudah lama meninggal dunia ..... ibu !” Dan gadis itu menangis menjerit-jerit sampai

akhirnya pingsan dalam pelukan kakaknya.

Hancur hati gadis itu ketika mendapat kenyataan bahwa ayah bundanya sudah meninggal. Semenjak kecil ia maklum bahwa dia hanyalah anak angkat Hoa Hoa Cinjin, bahwa dia mempunyai ayah bunda kandung. Akan tetapi Hoa Hoa Cinjin tak pernah mau mengaku, hanya menyatakan bahwa ayah angkatnya itu menemukannya di dalam hutan, tidak tahu anak siapa. Alangkah besarnya rindu hatinya kepada ayah bundanya, sering kali ia bermimpi bertemu dengan ayah bundanya. Sekarang, ia bertemu dengan kakak kandungnya dan ternyata bahwa ayah bundanya sudah meninggal dunia.

Han Sin segera dapat mengendalikan perasaannya yang tadi terpengaruh oleh keharuan. Ia teringat akan Hui-kiam Koai-sian yang sedang mengadu nyawa dengan Pak-thian-tok Bhok Hong, teringat pula akan Hoa Hoa Cinjin yang terluka. Tiba-tiba ia menarik lengan adiknya. "Ayoh kita cepat menemui ayah angkatmu itu dan minta penjelasan tentang kematian ayah bunda kita."

Hoa-ji yang sebetulnya bernama Cia Bi Eng yang "tulen" ini, tidak membantah, berlari di samping kakaknya menuju ke dalam hutan di mana terjadi pertempuran antara dua orang tokoh besar itu.

Ketika mereka tiba di tempat itu, Hoa-ji mengeluarkan jerit tertahan melihat ayah angkatnya menggeletak dengan wajah pucat dan merintih-rintih, terluka hebat. Betapapun juga, Hoa Hoa Cinjin adalah ayah angkatnya yang sudah menaruh kasih sayang kepadanya semenjak ia kecil, yang mendidiknya.

"Ayah " Ia menubruk, maju dan berlutut, Hoa Hoa Cinjin tersenyum pahit.

"Hoa-ji ....., habislah ..... aku kali ini " bisik Hoa Hoa Cinjin. Kemudian ia memandang wajah

gadis itu penuh kekaguman. "Kau ..... sudah membuka kedokmu ...... sudah terbuka rahasiamu ?"

Sambil terisak Hoa-ji mengangguk. Sementara itu, Han Sin yang sekelebatan memeriksa keadaan dua orang kakek sakti, menarik napas panjang dan merasa kagum sekali. Dua orang kakek itu tewas dalam keadaan duduk bersila dan saling serang! Kemudian iapun menghampiri Hoa Hoa Cinjin yang sudah payah pula keadaannya.

"Ayah, dia ini adalah kakak kandungku " Ia mendengar Hoa-ji menangis sambil memeluk

ayahnya. "Aku adalah anak dari Min-san "

"Sudah kuduga ..... sudah kusangka demikian Ang-jiu Toanio memang kejam, menukar-nukar

anak!" Hoa Hoa Cin¬jin terpaksa menghentikan kata-katanya karena menderita nyeri bukan main. "Ayah, katakanlah sekarang, siapa yang membunuh ayah bundaku? Apakah yang menyebabkan kematian mereka?" Hoa-ji bertanya, mendesak.

Hoa Hoa Cinjin menggeleng kepala. "Tidak ada .... tidak ada yang membunuh isteri Cia Sun

..... cemburu kepada Balita ...... marah-marah, bunuh diri dan Cia Sun yang mencintai isterinya

..... menjadi kalap dan bunuh diri pula .... aduhhh, selamat tinggal " Hoa Hoa Cinjin

menghembuskan napas terakhir dalam pelukan anak angkatnya.

"Sin-ko, apa yang menyebabkan kematiannya?" tanya gadis itu kepada Han Sin sambil memandang penuh kedukaan karena gadis ini mengira bahwa ayah angkatnya tewas akibat pertempuran melawan Han Sin tadi.

Han Sin dapat menangkap isi hati adiknya. "Ayah angkatmu terkena pukulan yang hebat sekali. Tadi ketika aku meninggalkannya, aku hanya merobohkannya dengan menendang kedua lututnya. Agaknya ia terkena luka hebat oleh seorang di antara dua kakek sakti itu."

Suara perang di lereng gunung sudah tak terdengar lagi. Agaknya sudah selesai. Memang demikian halnya, pasukan-pasukan Mongol sudah dihancurkan dan sedang dikejar-kejar ke barat oleh pasukan Mancu. Keadaan sunyi sekali.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan keras dan dari balik gunung-gunung batu yang besar berlompatan beberapa orang. Yang terdepan adalah orang jangkung pembantu Bhok Kian Teng yang lihai itu, yang dulu mengeroyok Han Sin bersama Bhok Kian Teng dan Bi Eng. Kini manusia aneh yang tinggi seperti pohon bambu itu muncul lagi, bersama beberapa orang pembantu Bhok Kian Teng.

Bahkan Bhok Kian Teng sendiri tampak muncul di belakang orang-orang itu. Beberapa orang di antara mereka yang terdepan menunggang kuda, agaknya mereka ini tadi bersembunyi karena kalah perang dan sekarang siap hendak mengawal Bhok Kian Teng pergi dari situ. Melihat mereka datang, Han Sin diam-diam terkejut dan khawatir.

”Kalau mereka melihat ayah angkatmu dan Pak-thian-tok tewas, tentu mengira aku yang melakukannya dan kau disangka mengkhianati mereka. Adikku, kau tunggulah di sini, biar aku merampas seekor kuda dan kita kabur dari sini. Perjalanan ke selatan amat jauh, lebih baik kalau kita mempunyai seekor kuda yang besar dan kuat.”

Hoa-ji hanya mengangguk saja, lalu bersembunyi. Han Sin dengan langkah lebar menghampiri rombongan orang yang sudah melihatnya itu. Si jangkung itu begitu melihat musuh lamanya yang dulu terlepas dari tangannya ketika ditolong Pek Sin Niang-niang, mengeluarkan suara aneh lalu langsung menyerang dengan kedua tangannya yang berlengan panjang.

Han Sin tidak mau memberi hati lagi. Sekarang setelah tenaganya pulih semua, mana ia takut menghadapi si jangkung ini? Serangan itu ia sambut dengan tangannya sambil mengerahkan tenaga. ”Plak!” Tangan si jangkung tidak terpental oleh tangkisan Han Sin, malahan menempel seperti mengandung perekat yang kuat. Han Sin terkejut juga, mereka berdua berkutetan mengadu tenaga, akhirnya si jangkung terpelanting dan bergulingan sampai empat lima meter ketika Han Sin mengerahkan tenaga melemparkannya!

Orang-orang kepercayaan Bhok Kian Teng maju mengeroyok. Akan tetapi Han Sin meloncat tinggi, sekali jambret sudah berhasil melemparkan seorang penunggang kuda dan tubuhnya sendiri turun di punggung kuda itu. ”Pangeran Galdan, terima kasih atas pemberian kuda ini!” kata Han Sin yang cepat membedal kudanya dari situ. Di dekat tempat persembunyian Hoa-ji ia berseru. ”Kau loncatlah di belakangku!”

Hoa-ji memang sudah bersiap-siap. Begitu kuda itu lewat ia meloncat dan tepat sekali ia duduk di belakang tubuh Han Sin. Ia memeluk pinggang kakaknya dan kuda besar itu dibalapkan oleh Han Sin cepat sekali. Dari belakang, si jangkung mencoba untuk mengejar, akan tetapi betapapun panjang kakinya, sukar juga mengejar kuda yang dapat berlari demikian cepatnya. Apa lagi ia memang agak jerih menghadapi pemuda yang demikian lihainya itu.

"Sin-ko kita mau pergi ke manakah? Apakah hendak kembali ke Min-san?" tanya Hoa-ji setelah mereka berdua selamat melarikan diri dari kejaran Bhok Kian Teng dan kaki tangannya.

Han Sin menjalankan kudanya perlahan, mereka sudah tiba di perbatasan. "Adikku, terus terang saja, sebelum aku dapat membuka rahasiamu dan mendapatkan bukti bahwa kau adalah adik kandungku sendiri, aku memang sudah berjanji pada orang untuk membawa Hoa-ji ke selatan, untuk menyelamatkan atau merampas dirinya dari lingkungan Pangeran Galdan. Apakah kau dapat menerka siapa orang yang kuberi janji itu?"

Muka yang cantik itu menjadi merah sekali, akan tetapi Hoa-ji menggeleng kepalanya. "Aku mana bisa menerka? Siapa dia?"

Han Sin menghentikan kudanya, meloncat turun sambil menarik tangan Hoa-ji. Dengan kedua tangan adiknya dipegang, pemuda ini menatap wajah Hoa-ji dengan tajam lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh,

"Adikku, banyak sekali hal-hal yang harus kujelaskan kepadamu. Setelah kita saling bertemu sebagai saudara kandung, tak perlu ada rahasia lagi di antara kita. Kau sudah mendengar tadi ceritaku tentang keadaanmu semenjak kecil, ditukar-tukar oleh Ang-jiu Toanio, kemudian anak Ang-jiu Toanio ditukar pula oleh Balita puteri Hui. Yang selama ini mengaku dan kuaku pula menjadi adikku bernama Cia Bi Eng, sebetulnya adalah anak Balita! Aku sudah lama tahu akan hal ini."

Sam¬pai di sini dia menarik napas panjang dan wajahnya muram. Teringat ia akan sikap Bi Eng beberapa hari yang lalu, hatinya kecewa dan amat gelisah. Sampai sekarang masih belum tahu dia apa yang menyebabkan Bi Eng bersikap seaneh itu.

"Bi Eng "

"Sin-ko, lebih baik kau menyebut Hoa-ji padaku. Nama itu kupakai semenjak kecil dan rasanya tidak enak kalau tiba tiba diganti nama baru. Pula, bukankah nama Bi Eng sudah dipakai orang lain?" bantah Hoa-ji dengan sikap manja.

Han Sin tertawa. Memang cocok dengan kehendak hatinya. Rasanya iapun akan merasa kecewa dan janggal kalau harus memanggil Bi Eng dengan sebutan nama lain, apa lagi kalau harus memanggil Bi Eng dengan nama barunya, Tilana! Nama Tilana ini hanya akan mengingatkan dia akan pengalamannya yang amat ruwet dan tidak menyenangkan dengan gadis anak Ang-jiu Toanio itu!

41. Antara Dendam dan Cinta "BAIKLAH, Hoa-moi (adik Hoa). Terus terang tadi kukatakan bahwa ada orang yang menyuruh aku menyelamatkan engkau dan membawa engkau ke kota raja. Karena kau tidak mau mengaku, biarlah kukatakan bahwa orang itu adalah Pangeran Yong Tee "

"Ahhh    " Hoa-ji mengeluarkan seruan perlahan, wajahnya menjadi makin merah dan ia

membuang muka, tak berani menentang pandang mata kakaknya. Bibir yang manis itu tersenyum- senyum, akan tetapi matanya ditundukkan, nampak malu sekali.

Han Sin memegang pundak adiknya. "Hoa-moi, kau tak perlu takut, atau malu-malu. Aku sudah tahu, atau sedikitnya sudah menduga. Pangeran Yong Tee sudah bercerita secara terus terang bahwa ada hubungan kasih antara kau dan dia. Hanya yang amat mengherankan hatiku, bagaimana dia bisa jatuh hati kepada seorang gadis yang selalu berkedok seperti engkau ini. Benar-benar hebat "

Hoa-ji mencubit lengan kakaknya. "Sin-ko, jangan kau menggoda "

Han Sin tertawa senang. Sedikit banyak, ada persamaan antara Hoa-ji ini dengan Bi Eng. Akan tetapi tiba-tiba suaranya menghilang karena ia teringat akan keadaan ini yang sebetulnya amat bertentangan dengan hatinya. Hoa-ji adalah adiknya, adik kandungnya. Bagaimana bisa berkasih- kasihan dengan Pangeran Mancu, musuh besar bangsanya? Hoa-ji agaknya merasa akan perubahan ini dan matanya yang bening kini menatap wajah Han Sin menyelidik.

"Hoa-moi, kau sekarang mengetahui bahwa kau dan aku adalah anak dari mendiang Cia Sun, seorang patriot sejati yang sudah mendapat nama besar di dunia, terkenal sebagai seorang pahlawan rakyat yang tidak segan-segan mengorbankan apa saja demi nusa dan bangsa. Aku sama sekali tidak dapat menyalahkan kau yang semenjak kecil dipelihara dan dididik oleh Hoa Hoa Cinjin, yang kemudian menghambakan diri kepada penjajah. Akan tetapi setelah sekarang kau bertemu

dengan aku, setelah sekarang kau tahu bahwa kau adalah puteri seorang patriot bangsa, sudah tentu sekali kau harus merobah keadaan hidupmu. Kita harus melanjutkan cita-cita ayah. Tentu saja tidak tepat kalau kau membantu Bangsa Mongol yang dulu dimusuhi ayah. Pula amat tidak tepat kalau kita membantu Bangsa Mancu yang menjajah tanah air " Han Sin melihat perubahan pada wajah

adiknya, menjadi pucat ketika ia menyebut kalimat terakhir ini. Ia dapat menyelami jiwa adiknya, akan tetapi apa boleh buat, demi kebaikan adiknya sendiri, ia harus berterus terang.

"Hoa-moi, kuatkan hatimu. Aku tahu bahwa antara kau dan Pangeran Yong Tee ada ikatan kasih. Akan tetapi dia seorang pangeran Mancu! Pangeran dari bangsa yang menjajah tanah air kita!

Kalau saja dia bukan pangeran, mungkin lain lagi soalnya. Tapi dia pangeran, seorang yang berpengaruh pula di istana, yang aktif mengatur pemerintah Mancu. Pula dia mengenalmu dan

cinta kepadamu sewaktu kau masih berkedok. Dia belum pernah melihat wajahmu, bagaimana dia bisa menyatakan cinta? Aku tidak percaya akan cinta yang demikian itu!"

"Sin-ko ….!” Dalam jerit tertahan ini terkandung isak. Han Sin menepuk-nepuk pundak adiknya.

"Aku percaya akan kemurnian cintamu terhadapnya, adikku. Dan terus terang saja akupun

agaknya tidak meragukan kejujuran hati pangeran itu. Hanya dia Pangeran Mancu, Hoa-moi dan

ini harus kau ingat baik-baik. Bagaimanakah roh ayah dapat tenteram di alam baka kalau melihat puterinya ... berdampingan dengan musuh bangsa ?"

"Sin-ko ...., kau menghancurkan hatiku " Gadis itu mengeluh. Han Sin menarik napas panjang. Tentu saja ia dapat merasai kehancuran hati adiknya. Memang berat menjadi korban cinta kalau gagal di tengah jalan. Akan tetapi Hoa-ji adalah adik kandungnya, untuk mengingatkan, untuk mencegah penyelewengan yang tak disadari.

"Mari kita lanjutkan perjalanan, Hoa-ji.”

"Ke mana ?" Gadis itu bertanya lemah, menyerah.

"Ke Ta-tung."

"Eh, bukan ke Min-san?"

Ada suara girang dalam seruan ini. Han Sin juga maklum. Ta-tung adalah kota yang dekat kota raja dan Pangeran Yong Tee sering kali datang ke Ta-tung yang dijadikan pusat pertahanan dari penyerbuan Bangsa Mongol. Sebetulnya ia lebih suka mengajak Hoa-ji ke Min-san, jauh dari Pangeran Yong Tee, akan tetapi Bi Eng! la harus menyelidiki Bi Eng di Ta-tung, harus bertemu

dengan gadis itu yang benar-benar menghancurkan perasaannya dan membingungkan hatinya. Karena inilah maka ia hendak mengajak Hoa-ji ke Ta-tung lebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Min-san.

"Tidak, Hoa-moi. Kita ke Ta-tung dulu, ada urusan di sana," jawabnya singkat. Hoa-ji juga tidak bertanya lebih lanjut.

Beberapa hari kemudian tibalah mereka di Ta-tung. Alangkah kecewa hati Han Sin ketika melihat perubahan besar sekali di kota ini. Kotanya masih ramai, malah lebih ramai dari pada dahulu. Akan tetapi di sini tidak terlihat lagi orang-orang kang-ouw yang membantu Mancu. Hanya ada beberapa pasukan serdadu Mancu menjaga kota. Agaknya karena tentara Mongol sudah dihancurkan dan dipukul cerai-berai di sana-sini, kota ini dianggap sudah aman dan tidak menjadi pusat pertahanan lagi. Lebih berat rasa hati Han Sin ketika mencari keterangan di sana-sini, tak seorangpun tahu ke mana perginya orang-orang gagah dari selatan yang tadinya membantu pertahanan bala tentara Mancu. Tak seorangpun tahu ke mana perginya Li Hoa, Li Goat, Yan Bu, Bi Eng, para tosu dan lain-lain orang gagah.

Dengan penuh kekecewaan, Han Sin mengajak Hoa-ji bermalam di sebuah rumah penginapan. Tak seorangpun mengenal Hoa-ji karena gadis ini baru sekarang muncul di muka umum dengan muka tidak tertutup. Andaikata dia berkedok seperti biasa, setiap orang serdadu Mancu tentu akan mengenalnya sebagai puteri Hoa Hoa Cinjin yang membantu orang Mongol dan tentu akan timbul urusan hebat!

Kakak beradik ini mendapat sebuah kamar besar dengan tempat tidur dua buah. Tadinya Han Sin hendak minta dua kamar, akan tetapi ternyata kamar yang lain sudah tersewa orang, penginapan- penginapan penuh sehingga terpaksa ia menerimanya juga. Bagaimanapun juga, Hoa-ji adalah adik kandungnya. Apa salahnya tidur sekamar apalagi berpisah pembaringan?

Han Sin malam itu gelisah, tak dapat tidur. Ia melihat Hoa-ji segera tidur setelah membaringkan tubuhnya. Bermacam pikiran mengganggu Han Sin, terutama sekali soal Bi Eng. Agaknya tak dapat disangsikan lagi bahwa gadis itu sudah tahu akan keadaan dirinya yaitu bahwa dia adalah anak Balita dan bernama Tilana. Akan tetapi andaikata sudah tahu akan hal itu, mengapa seakan-akan membencinya dan malah mengeroyoknya? Mengapa pula membantu Bhok Kian Teng? Hal ini benar-benar amat mengganggu hatinya, menggelisahkannya dan ia takkan mau sudah kalau belum dapat membongkar rahasia baru ini. Aku harus bertemu dengannya, harus bicara dengannya dari hati ke hati. Ah, .... Bi Eng ...!!” Dengan pikiran ini dan nama gadis ini di bibirnya, akhirnya Han Sin tertidur juga menjelang tengah malam.

Tiba-tiba Han Sin sadar dari tidurnya. Ada suara yang membuat ia terbangun. Otomatis tangan kanannya menggerayang ke gagang pedang Im-yang-kiam yang ia letakkan di sebelah kanannya sambil melirik, alangkah kagetnya melihat pembaringan Hoa-ji di sebelah kanannya telah kosong! Hoa-ji telah meninggalkan kamar itu!

Han Sin cepat-cepat menengok ke kiri, ke arah jendela. Ternyata jendela sudah terbuka. Belum jauh, pikirnya. Ke mana perginya Hoa-ji? Harus kukejar. Akan tetapi sebelum ia meloncat turun, tiba-tiba ia mendengar suara orang mendekati jendela. Lilin di atas meja masih bernyala, kini bergerak-gerak tertiup angin yang masuk melalui jendela. Memang ia sengaja tidak memadamkan lilin karena merasa tidak enak tidur sekamar dengan Hoa-ji tadi. Apakah orang yang mendekati jendela itu Hoa-ji yang datang kembali? Han Sin pura-pura tidur kembali, membuka sedikit matanya untuk mengintai ke arah jendela.

Tak lama kemudian, sesosok bayangan orang melayang masuk melalui lubang jendela itu. Tak dapat disangkal lagi, tubuh seorang wanita!

Tapi bukan Hoa-ji! Siapa dia ? Han Sin memperlebar sedikit matanya ketika melirik. Cahaya

penerangan lilin yang suram menimpa wajah wanita itu yang sudah berada di dekat meja dan ....

tegang-tegang seluruh urat-syaraf di tubuh Han Sin ketika mengenal wanita ini bukan lain adalah Bi Eng! Hampir tak kuat ia menahan gelombang perasaannya, namun ia cepat mengumpulkan tenaga menindih perasaannya, tinggal berbaring seperti orang tidur pulas, tapi diam-diam memperhatikan gerak-gerik gadis itu.

Memang gadis itu bukan lain adalah Bi Eng! Masih manis, masih cantik jelita seperti biasa, hanya agak pucat dan sinar matanya memancarkan kemarahan di samping kedukaan yang mendalam.

Senyum yang dulu setiap saat membayang di bibirnya kini lenyap, terganti oleh bayangan siksa batin yang hebat.

“Bi Eng .... kasihan kau ” demikian keluh hati Han Sin.

Akan tetapi gadis itu sebaliknya. Dengan muka beringas gadis itu mencabut pedangnya, lalu menghampiri ranjang Han Sin! Maut membayang di mukanya, nampak jelas gigi yang dikertakkan itu berkilat ketika bibirnya terbuka sedikit, seakan-akan mengeraskan hatinya. Sepintas gadis itu mengerling ke arah tempat tidur Hoa-ji yang kosong, lalu bibirnya mengejek,

"Laki-laki hidung belang! Mata keranjang !” Ucapan ini terdesis dari bibirnya, membuat Han Sin

diam-diam merasa kaget dan heran sekali. Kenapa Bi Eng menganggapnya laki-laki mata keranjang dan hidung belang? Apakah ada hubungan dengan peristiwa Tilana dahulu?

Bibir Bi Eng bergerak-gerak lagi berbisik-bisik dengan suara menyeramkan.

“.... sudah tahu aku bukan adiknya masih berpura-pura mencari kesempatan mempermainkanku

.... musuh besar yang harus dibasmi sampai ke akar-akarnya laki-laki mata keranjang,

mempermainkan Kiok Hwa, sekarang punya pacar lain .... keparat !”

Untuk sedetik Han Sin terheran. Mempermainkan Kiok Hwa ? Tapi pikirannya yang cerdik

segera dapat menerkanya. Agaknya Tilana yang disebut Kiok Hwa itu. Mungkin nama aselinya, nama puteri Ang-jiu Toanio adalah Kiok Hwa! "Lebih baik melihat kau mampus!" Bi Eng mengangkat pedangnya, siap untuk menikam dada Han Sin. Pemuda ini sama sekali tidak merasa takut. Sama sekali tidak mau melawan. Terlalu hancur hatinya untuk mengingat tentang keselamatannya. Biarlah ia mati di tangan Bi Eng. Untuk apa hidup kalau Bi Eng sudah membencinya sedemikian rupa? Jelas sekarang, Bi Eng sudah bertemu dengan Balita, sudah tahu bahwa dia puteri Balita. Sekarang Bi Eng hendak membalas dendam ibunya karena perbuatan Cia Sun. Selain itu, agaknya Bi Eng sudah membencinya karena ....

Tilana! Dan Han Sin tak dapat menyangkal pula. Biarlah dia mati di tangan Bi Eng. Han Sin merapatkan matanya dan tersenyum. Aku rela mati di tanganmu, kekasihku!

Tapi ujung pedang yang runcing tidak datang-datang. Malah terdengar jerit tertahan disusul tangis. “.... aku tak bisa ..... tak bisa membunuhnya .... ahh "

Han Sin membuka matanya, melihat Bi Eng menutupi muka sambil menangis terisak-isak, pedangnya tergantung di tangan kanan, tangan kiri menutup muka!

"Bi Eng " Han Sin memanggil lirih.

Gadis itu terkejut, membuka tangannya. Untuk sesaat dua pasang mata bertemu. Mata Han Sin memancarkan cahaya lembut dan mesra, penuh cinta kasih, mata Bi Eng terbelalak, kaget, malu, duka dan marah. Kemudian gadis itu memutar tubuhnya dan meloncat ke arah jendela.

"Bi Eng ..... aku cinta padamu !" Han Sin berkata sambil bergerak bangun. Akan tetapi Bi Eng

hanya memperdengarkan sedu-sedan mendengar kata-kata ini dan menghilang di dalam gelap.

Han Sin meloncat ke jendela, hanya menghadapi malam yang hitam. Tidak nampak lagi bayangan Bi Eng, juga tidak nampak bayangan Hoa-ji. Cepat ia mengambil pedang dan pakaian, lalu melompat keluar dan mencari dua orang gadis itu, atau lebih tepat lagi, mengejar dan mencari Bi Eng, karena dalam saat itu, kekhawatirannya akan Hoa-ji dikalahkan oleh keinginannya untuk mengejar dan bicara dengan Bi Eng.

****

Sampai menjelang fajar Bi Eng, yang sekarang menggunakan nama Tilana itu, berlari-lari dari Ta- tung sambil menangis sepanjang jalan.

"Aku tidak tega membunuhnya ..... dia tersenyum, ah .... Sin-ko, bagaimana aku    tega

membunuhmu     ?" demikian terdengar ucapannya di antara isak tangisnya. Setelah tiba di sebuah

hutan di selatan kota Ta-tung, ia segera memasuki hutan itu. Tentu saja Bi Eng sama sekali tidak pernah menduga bahwa orang yang hampir dibunuhnya, yang dikenangnya sepanjang perjalanan itu, sejak tadi mengikutinya dari jauh.

Matahari telah mulai menerangi permukaan bumi ketika Bi Eng tiba di sebuah tempat terbuka, tempat indah di mana tumbuh pohon bambu di samping dinding gunung batu yang menjulang tinggi. Di bawah pohon-pohon bambu itu, duduklah seorang pemuda di atas batu licin bersih. Pemuda ini berdiri sambil tersenyum ketika melihat Bi Eng datang. Seekor monyet melompat dan hinggap di pundak Bi Eng.

"Kau baru datang? Duduklah, tentu kau lelah," kata pemuda tampan itu yang bukan lain adalah Bhok-kongcu atau Bhok Kian Teng, juga belum lama ini disebut Pangeran Galdan. Bi Eng menjatuhkan dirinya di atas rumput, mengusap kepala Siauw-ong monyet itu, lalu menarik napas panjang. Diam-diam Bhok-kongcu melihat bekas air mata di sepanjang pipi gadis itu, maka sambil memandang tajam pemuda itu bertanya,

"Bagaimana, adik Tilana. Selesaikah tugasmu? Berhasilkah kau membunuh musuh besarmu?" berkata demikian pemuda ini duduk di dekat Bi Eng, lalu memegang lengan gadis itu dengan sikap mesra. Bi Eng menarik tangannya seperti tidak sengaja, akan tetapi ketika pemuda itu memegang lagi ia menariknya dengan keras.

"Sudah berkali-kali kukatakan bahwa aku tak suka kau pegang-pegang, harap kau jangan memaksa!”

Bhok-kongcu tersenyum, memperlihatkan giginya yang berderet rapi dan putih. "Adik Tilana, kau tidak tahu betapa hatiku selalu penuh olehmu, betapa aku amat mencintaimu dan ingin selalu berdekatan denganmu. Di antara tunangan dan calon suami isteri yang sudah disyahkan oleh orang tua masing-masing, apa sih halangannya kalau hanya berpegang tangan?"

Sepasang mata gadis itu mengeluarkan sinar marah. "Memang ibuku yang menerima lamaranmu, akan tetapi bukan aku! Aku tidak membantah karena tidak mau menyusahkan hati ibu, kau tahu akan hal ini dan kau sudah berjanji akan memaklumi isi hatiku ini asal aku tidak memusuhimu.

Apakah kau hendak melanggar janji?”

Bhok-kongcu menghela napas. "Alangkah kerasnya hatimu, adik Tilana. Kapankah kau dapat bersikap lebih baik kepadaku? Biarlah aku sabar menanti, akan tetapi sedikitnya berlakulah manis kepadaku "

"Sikapku tergantung pada sikapmu sendiri. Jangan ceriwis, jangan kurang ajar "

Bhok-kongcu tertawa masam. "Baiklah, aku akan bersikap seperti anak yang baik. Toh akhirnya kau menjadi punyaku. Eh, adikku yang manis, bagaimana dengan tugasmu malam tadi? Berhasilkah

..... ?"

Bi Eng menggeleng kepala. "Tak dapat aku membunuhnya ”

"Hee ...?? Tak dapat membunuh musuh besar, anak orang yang sudah menghina ibumu? Tilana, .....

bagaimana ini? Apakah kau sudah berhasil memasuki kamarnya? Betul tidak bahwa dia tidur bersama seorang gadis cantik?"

Bi Eng mengertak gigi, matanya memancarkan cahaya kemarahan. "Betul , dia bedebah, mata

keranjang! Benar-benar aku malu kalau mengenangkan hal itu agaknya bukan perempuan

baik. Malam-malam keluar dari kamar dan pergi tanpa pamit, meninggalkan dia sendiri. Aku berhasil masuk ke kamarnya setelah perempuan itu minggat, dia sedang tidur dan aku .... aku ah,

tak tega aku membunuhnya bagaimana aku bisa membunuh seorang yang sejak kecil kupandang

sebagai kakak kandungku ??" Gadis itu lalu menangis.

Tiba-tiba Bhok-kongcu nampak marah sekali. "Kau kau mencintai dia! Celaka! Kau malah jatuh

cinta kepadanya, setan!"

Bi Eng meloncat berdiri serentak, sampai membuat Siauw-ong kaget sekali. "Tutup mulutmu! Jangan kau bicara sembarangan!" Gadis itu berdiri tegak, mukanya pucat, suaranya gemetar. "Ha ha ha, siapa bicara sembarangan? Kau tadi nampak marah-marah ketika bicara tentang perempuan di kamarnya, tanda bahwa kau cemburu. Hanya orang yang mencinta saja bisa cemburu. Kau tidak tega membunuhnya. Hemm, apa lagi artinya kalau bukan kau sudah jatuh hati kepadanya! Tilana, jangan kau main-main. Kau adalah tunanganku, calon isteriku. Aku yang tidak membolehkan kau tergila-gila kepada laki-laki lain. Kupegang tanganmu saja kau tidak suka dan kau kau tergila-gila kepadanya. Mulai sekarang jangan bertingkah lagi, kau harus menjadi

isteriku. Kau harus ikut dengan aku." Setelah berkata demikian, tiba-tiba pemuda itu menggerakkan tubuhnya dan di lain saat Bi Eng sudah dipeluknya!

Bi Eng menjerit dan memberontak, tapi mana bisa dia melawan kekuatan Bhok-kongcu. Pada saat itu Bhok-kongcu mengeluarkan seruan kesakitan dan terpaksa melepaskan pelukannya. Kesempatan ini dipergunakan Bi Eng meronta dan melompat ke depan menjauhkan diri. Ternyata Siauw-ong tadi "turun tangan" menyerang dan menggigit pundak Bhok-kongcu ketika melihat nonanya diganggu orang.

"Monyet keparat!" Bhok-kongcu membentak marah dan maju memukul monyet itu. Akan tetapi Siauw-ong bukan monyet biasa, cepat mengelak dan meloncat ke belakang Bi Eng untuk berlindung. Sementara itu, Bi Eng sudah marah sekali. Tanpa pikir panjang lagi ia lalu menggunakan kepalan tangannya, menyerang Bhok-kongcu dengan Ilmu Silat Liap-hong-sin-hoat, malah ketika Bhok-kongcu mendesaknya dengan ilmu silatnya yang lebih kuat, gadis ini menggunakan beberapa jurus dari Thian-po-cin-keng yang pernah ia pelajari dari Han Sin.

"Kau hendak melawan tunanganmu?" Bhok-kongcu membentak. “Tunggu, kelak kuberitahukan kepada Balita, tentu kau akan dihajar!"

Akan tetapi Bi Eng yang sudah marah tidak bisa ditakut-takuti lagi, terus menerjang dengan nekat. Betapapun juga, mana bisa dia melawan Bhok-kongcu yang amat lihai, yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi dari pada gadis itu? Segera ia terdesak mundur. Siauw-ong maklum akan bahaya yang dihadapi nonanya, maka sambil memekik-mekik monyet inipun maju membantu Bi Eng.

Namun percuma saja, Siauw-ong bahkan dua kali kena ditendang oleh kongcu itu sampai bergulingan. Dasar monyet berani mati dan setia, begitu bangun ia melawan pula sambil memekik- mekik seperti orang memaki-maki. Bi Eng juga melawan dengan nekat, malah kini gadis itu tidak segan-segan menggunakan pedangnya.

"Kau mengajak mati-matian? Keparat!" Bhok-kongcu membentak marah. Ketika pedang Bi Eng berkelebat menusuk dadanya dengan gerakan sungguh-sungguh dalam serangan maut, pemuda ini miringkan tubuh, tangan kirinya bergerak menyambar pedang, tangan kanannya bergerak pula menangkap pergelangan lengan Bi Eng. Di lain saat, Bi Eng tak dapat bergerak pula, pedangnya terlepas dan ia tertangkap!

"Ha ha ha, manisku, apa kau mau memberontak lagi? Benar-benar kau seekor kuda betina yang binal!" Sambil tertawa-tawa Bhok-kongcu menowel pipi Bi Eng. Gadis itu bukan main marahnya, marah dan takut karena pemuda cabul itu agaknya hendak berbuat lebih kurang ajar lagi. Siauw-ong maju hendak menolong, akan tetapi sebuah tendangan membuat monyet itu terguling-guling sampai jauh!

"Toloonggg !” Bi Eng tak dapat menahan ketakutannya melihat Bhok-kong¬cu merangkulnya,

sampai mengeluarkan teriakan minta tolong ini.

"Plakk!" Sebuah telapak tangan menepuk pundak kanan Bhok-kongcu, membuat pemuda itu merasa lengan kanannya lemas dan lumpuh dan terpaksa ia tak dapat menahan ketika Bi Eng meronta dan melompat menjauhkan diri. Dengan kemarahan meluap-luap Bhok-kongcu memutar tubuh dan ia berhadapan muka dengan ....

Cia Han Sin! Seketika Bhok-kongcu menjadi pucat mukanya. "Kau ??"

Han Sin tersenyum. ”Pangeran Galdan atau Bhok Kian Teng, nafsu angkara murkamu telah membawa bangsamu ke kehancuran. Kau tidak bertobat dan hidup baik-baik menebus dosa, malah kau menambah dosamu dengan perbuatan-perbuatan yang makin lama makin jahat dan tak tahu malu."

"Kau .... kau hendak membunuhku ??" Pangeran Mongol itu nampak ketakutan.

Han Sin tersenyum lebar. "Kiranya sudah sepatutnya kalau aku melakukan hal itu. Sudah berapa kali kau berusaha membunuhku? Hanya karena aku tidak sudi mengikuti jejak hidupmu, maka aku belum membunuhmu sampai sekarang. Akan tetapi kali ini “

Han Sin tak dapat melanjutkan kata-katanya karena secara curang dan tiba-tiba Bhok Kian Teng sudah mengirim serangannya. Akhir-akhir ini ia sudah mempelajari Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam) dari ayahnya, akan tetapi dasar dalam kecerdikan ia lebih unggul dari pada Pak-thian-tok, ia dapat mengusahakan sedemikian rupa dengan segala macam obat penggosok kedua lengannya sehingga biarpun sudah berhasil memenuhi kedua lengan tangannya dengan hawa beracun dari Hek-tok-ciang, namun kulit kedua lengannya tetap putih mulus, tidak seperti kedua lengan Pak- thian-tok yang menjadi hitam hangus kalau mengeluarkan ilmu yang dahsyat ini!

Han Sin cepat mengelak dan di lain saat kedua orang muda itu sudah bertempur mati-matian dengan tangan kosong. Kaget juga hati Han Sin ketika mendapat kenyataan betapa sambaran kedua tangan pemuda Mongol itu mengandung hawa aneh yang selain kuat, juga seperti mengandung hawa beracun yang dahsyat. Bau amis menyerang hidungnya tiap kali tangan pemuda lawannya itu menyambar, padahal pada kedua lengan itu ia tidak melihat tanda-tanda bahwa lawannya menggunakan pukulan beracun.

"Kau memang manusia keji!" bentaknya dan dengan pukulan-pukulan dari Thian-po-cin-keng, sebentar saja ia sudah berhasil mendesak Bhok-kongcu sampai Pangeran Mongol itu tak mampu membalas, hanya main mundur, main kelit dan loncat saja. Siauw-ong terdengar memekik-mekik gembira ketika monyet ini melihat Han Sin mendesak lawannya. Akan tetapi, tiba-tiba teriakan girangnya terhenti ketika Bi Eng menarik tangannya dan membawa monyet itu lari cepat meninggalkan tempat itu.

"Bi Eng !” Han Sin terpaksa menunda desakannya kepada Bhok-kongcu ketika melihat Bi Eng

lari pergi. Ia sedang menengok ke arah Bi Eng dan hal ini dipergunakan oleh Bhok-kongcu yang amat curang untuk mengirim serangan lagi, kini menggunakan sebuah kipas yang beracun.

Serangannya cepat dan dahsyat, mengarah lambung!

"Pengecut curang!" Han Sin terpaksa membalikkan tubuh dan menanti kipas itu dekat, tiba-tiba tangannya bergerak menyabet dan "Prakk!" Kipas itu hancur berkeping-keping terkena sabetan

jari-jari tangan Han Sin! Bhok-kongcu terhuyung-huyung mundur dengan muka pucat. Han Sin yang sudah marah sekali melangkah maju.

Mendadak sekali sebuah lengan yang amat panjang tahu-tahu menyelonong ke tempat pertempuran dan mencengkeram pundak Han Sin yang sedang mendesak Bhok-kongcu. Pemuda ini maklum bahwa si jangkung sudah muncul lagi. Ia marah sekali dan cepat menggunakan tangannya menangkis sambil mengerahkan tenaganya. Menurut perhitungan Han Sin, sekali tangkisannya ini tentu akan mematahkan tulang lengan si jangkung.

Akan tetapi, tiba-tiba lengan yang agaknya bisa mulur mengkeret seperti karet itu tiba-tiba ditarik menjadi pendek sehingga tangkisan Han Sin tidak mengenai sasaran. Dan pada saat itu, si jangkung sudah menghadang di depannya, bersama dua orang lain yang segera ia kenal baik karena mereka itu bukan lain adalah dua orang raksasa kembar yang pernah mengeroyoknya dulu, yaitu pembantu- pembantu Pak-thian-tok Bhok Hong. Sekaligus ia menghadapi tiga orang lawan yang aneh dan tinggi ilmu silatnya.

Kalau aku tak dapat menewaskan tiga orang ini, tak mungkin dapat menangkap Bhok Kian Teng, pikir Han Sin yang cepat melakukan serangan-serangan kilat. Tiga orang lawannya juga mendesak maju dan terjadilah pertempuran yang amat hebat.

Han Sin benar seorang pemuda berjiwa gagah. Melihat tiga orang lawannya bertangan kosong, iapun tidak mau mengeluarkan Im-yang-kiam yang terbelit di pinggangnya. Iapun melawan dengan tangan kosong! Malah timbul kegembiraannya karena sekarang ia mendapat kesempatan menguji ilmu silatnya dengan ilmu silat asing yang tak pernah dilihatnya. Dan benar-benar ia mendapatkan kenyataan bahwa ilmu silat tiga orang itu benar-benar aneh.

Si jangkung memiliki ilmu silat seperti dua ekor ular yang menyambar dari atas dan bawah, yaitu kedua lengan tangannya yang panjang dan dapat mulur mengkerut! Adapun sepasang raksasa itu, selain bertenaga besar luar biasa, juga ternyata merupakan ahli-ahli ilmu silat semacam Ilmu Silat Houw-jiauw-kang (Cakar Harimau) atau Eng-jiauw-kang (Cakar Garuda) yang mengutamakan gerakan mencengkeram, menangkap, dan membanting.

Amat berbahaya kalau sampai tertangkap oleh mereka, sungguhpun yang menangkap itu hanyalah dua buah ibu jari dari tangan kanan kiri. Benar-benar aneh dan sukar dipercaya bagaimana orang yang hanya memiliki dua buah jari kanan kiri dapat mempelajari ilmu silat yang mengutamakan mencengkeram dan menangkap!

Setelah melawan tiga orang ini sambil diam-diam memperhatikan ilmu silat mereka, Han Sin mendapat kenyataan bahwa dalam hal menyerang mereka itu tidak begitu berbahaya, akan tetapi pertahanan mereka benar-benar amat mengagumkan. Ia sudah membalas dengan beberapa jurus dari Thian-po-cin-keng akan tetapi setiap kali serangannya akan mengenai sasaran, tentu seorang di antara mereka dapat menolong kawan.

Ternyata mereka itu dapat bekerja sama secara baik dan teratur. Seakan-akan mereka itu melakukan siasat dalam barisan. Benar-benar amat mengagumkan dan kepandaian mereka ini saja sudah membangkitkan rasa simpati di hati Han Sin yang menjadi tidak tega untuk membunuh mereka!

"Kalian pergilah, aku tidak bermusuhan dengan kalian!” katanya dalam bahasa Mongol. Hati Han Sin sudah amat kecewa melihat bahwa selain Bi Eng yang sudah pergi entah ke mana, juga Bhok kongcu sudah tidak kelihatan lagi mata hidungnya. Kongcu yang amat curang dan cerdik itu ternyata sudah menggunakan kesempatan tadi untuk melarikan diri secara diam-diam.

Akan tetapi tiga orang pembantu Bhok-kongcu itu mana mau menyudahi pertempuran itu begitu saja? Mereka adalah tokoh-tokoh besar dari dunia utara dan barat, sekarang mengeroyok seorang pemuda tak dapat menang, benar-benar keterlaluan dan penasaran sekali!

"Belum ada yang kalah atau menang, mana bisa berhenti?" seru si jangkung yang suaranya tinggi kecil seperti bentuk tubuhnya. Han Sin sebagai seorang ahli silat maklum akan perasaan mereka ini, maka cepat ia lalu mengatur langkah langkahnya dengan Ilmu Silat Thian-po-cin-keng, sedangkan kedua tangannya lalu dikepal hanya mengeluarkan dua buah jari tangan untuk mainkan jurus-jurus dari ilmu silat Lo-hai Hui-kiam! Bukan main hebatnya ilmu silat campuran dari dua macam ilmu silat kelas tinggi ini. Mana bisa tiga orang itu mampu menghadapinya? Berturut-turut mereka memekik dan roboh tertusuk jari tangan Han Sin yang hanya melukai mereka saja, tidak tega membinasakan.

Setelah mereka roboh, cepat ia meloncat pergi dan mencari Bhok-kongcu dan Bi Eng. Ia tidak tahu ke mana mereka itu pergi, maka dengan hati berat ia lalu mencari sekehendak hatinya saja.

Kemudian, setelah tidak berhasil usahanya mencari di sekitar daerah itu, ia kembali ke Ta-tung.

****