-->

Kasih Di Antara Remaja Jilid 10

Jilid 10

34. Terungkapnya Misteri Puteri Cia Sun

LI HOA dapat menangkap penyesalan dalam kata-kata singkat ini, maka khawatir kalau pemuda ini marah kepada Bi Eng, ia cepat berkata, "Hal hubungan antara Pangeran Yong Tee dan Hoa-ji memang rahasia bagi banyak orang, akan tetapi bukan rahasia lagi bagiku dan bagi mendiang ayahku. Mereka memang sudah mengadakan perhubungan semenjak Hoa Hoa Cinjin masih berada di kota raja."

"Ayahmu sudah meninggal dunia?"

Li Hoa mengangguk. "Bhok-kongcu jahanam besar itulah yang membunuh ayah!" katanya dengan wajah bengis. "Justeru karena inilah maka aku dan Li Goat mati-matian membantu bala tentara Mancu untuk membinasakan Pangeran Galdan atau Bhok-kongcu itu bersama antek-anteknya!"

Han Sin mengangguk-angguk. Ia dapat menduga mengapa Thio-ciangkun, ayah Li Hoa, dibunuh oleh Bhok Kian Teng. Ia sudah maklum bahwa Thio-ciangkun adalah seorang yang amat setia kepada Pangeran Yong Tee, karena itu maka dimusuhi Bhok-kongcu dan dibunuh. Sama sekali ia tidak tahu bahwa dibunuhnya Thio-ciangkun sebetulnya adalah karena gara-gara Bi Eng!

Seperti pernah dituturkan di bagian depan dari cerita ini, Bi Eng pernah tertawan oleh Bhok-kongcu dan berada dalam bahaya yang lebih mengerikan daripada maut. Baiknya Li Hoa yang tahu akan hal ini mendesak ayahnya supaya minta pertolongan Yong Tee supaya minta gadis tawanan itu dari tangan Bhok-kongcu. Inilah sebab terutama yang membuat Bhok-kongcu menaruh hati dendam kepada Thio-ciangkun dan sebelum Pangeran Mongol ini melarikan diri ke utara dan memimpin pemberontakan, lebih dulu ia bunuh ayah Li Hoa untuk melampiaskan kemarahan dan dendamnya.

"Akan tetapi, kenapa kau berada di sini?" tanya pula Han Sin. "Setelah aku mendengar dari adikmu bahwa kau pergi mencari Hoa-ji di daerah ini, aku merasa amat khawatir. Aku cukup maklum akan kelihaianmu, akan tetapi kau tidak mengerti bahwa di sini banyak sekali berkumpul orang-orang lihai, terutama Pak-thian-tok tadi. Aku… aku sengaja menyusulmu untuk memperingatkan kau akan tokoh ini , tidak tahunya aku sendiri bertemu

dengan dia!"

Terharu sekali hati Han Sin. Ingin ia menghibur Li Hoa, ingin ia berterus terang bahwa ia tak dapat membalas budi dan cinta kasih sebesar itu, akan tetapi ia tidak kuasa membuka mulut. Tidak tega ia melukai hati Li Hoa. Akhirnya berkata juga dia,

"Li Hoa, terima kasih atas segala kebaikan hatimu. Kuharap sekarang kau kemball ke Ta-tung, harap kausuka menjaga Bi Eng. Jangan kau mengkhawatirkan aku, aku dapat menjaga diriku sendiri. Kembalilah kau ”

Setelah tadi menyaksikan betapa Han Sin dapat melawan Bhok Hong, memang tahulah Li Hoa bahwa pemuda ini memiliki kepandaian yang luar biasa sekali dan bantuannya sama sekali tidak akan ada artinya. Juga ia dapat menangkap bahwa permintaan ini tak dapat ia bantah lagi, maka ia mengangguk dan berkata,

"Baik-baiklah kau menjaga diri    ”

"Selamat jalan, Li Hoa."

"Sampai berjumpa kembali di Ta-tung ..., koko (kanda)      " kata gadis itu malu-malu dan cepat ia

meloncat lalu melarikan diri pergi dari situ! Han Sin menarik napas panjang, lalu menggerutu,

"Cinta ..... cinta ..... kau suka sekali mempermainkan hati muda sesukamu ” Sampai lama ia

merenung seorang diri, namun tetap saja tak dapat ia memecahkan persoalan sulit daripada cinta kasih yang mempermainkannya, yang menimbulkan liku-liku asmara yang membingungkan di sekelilingnya. Tilana ...... Thio Li Hoa ..... Bi Eng !

Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan keras dan muncullah belasan orang anggauta tentara Mancu yang berlari-lari ketakutan. Ada di antara mereka yang pakaiannya cobak-cabik dan berdarah di sana-sini.

"Celaka kalau muncul si jangkung pemelihara harimau !” terdengar seorang di antara mereka

berkata.

"Jangan-jangan orang Mongol akan mengajukan Kalisang siluman itu dan harimaunya    !” kata

yang lain.

"Aduh   aduh!” seorang yang.pakaiannya koyak-koyak tiba-tiba terguling dan ketika dilihat oleh

kawan-kawannya ia telah tewas!

"Sudah lima orang kawan tewas. Celaka ...., lari     !”

Akan tetapi kembali dua orang terguling dan tewas, biarpun luka-luka mereka itu tidak hebat. Makin ketakutanlah sisa rombongan tentara Mancu ini dan mereka cepat melarikan diri. Namun tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Han Sin sudah berada di depan mereka.

Pemuda ini amat tertarik hatinya ketika mendengar percakapan mereka tentang seorang jangkung berbangsa Mongol yang bernama Kalisang dan memelihara harimau. Teringat ia akan cerita mendiang Ang-jiu Toanio ketika hendak meninggal dunia, yaitu tentang adik kandungnya yang diculik oleh Ang-jiu Toanio, dan kemudian adik kandungnya itu dirampas oleh seorang Mongol gundul yang memelihara harimau!

Orang-orang Mancu yang sedang ketakutan itu makin kaget ketika tiba-tiba entah dari mana datangnya, muncul seorang pemuda tampan di depan mereka. Han Sin tak mau membuang banyak waktu.

"Lekas bilang, apakah siluman jangkung pemelihara harimau itu seorang Mongol yang berkepala gundul?"

"Betul " kata seorang di antara mereka. Han Sin berkelebat dan lenyap lagi. Orang-orang Mancu

menjadi pucat, saling pandang, kemudian lari tunggang-langgang.

"Celaka ....., di siang hari bertemu dengan siluman-siluman berkeliaran ” keluh mereka

ketakutan.

Han Sin berlari cepat menuju ke arah dari mana orang-orang itu datang. la tiba di sebuah hutan berbatu-batu. la mencari-cari dengan matanya, akan tetapi tempat itu sunyi dan gelap. Tak terdengar seekorpun binatang hutan kecuali burung-burung di udara dan di pohon-pohon. Agaknya binatang- binatang hutan bersembunyi, sama sekali tidak berani memperlihatkan diri atau mengeluarkan suara.

Tiba-tiba terdengar geraman yang luar biasa kerasnya. Geram harimau! Akan tetapi, bukan main hebatnya, serasa bergoyang bumi dibuatnya. Han Sin kagum sekali. Tentu seekor harimau yang amat besar, biarpun ia sering kali melihat harimau dan mendengar aumnya, namun belum pernah mendengar geraman harimau sedahsyat itu.

Selagi ia hendak lari ke arah suara harimau yang agak jauh dari situ, tiba-tiba ia mendengar teriakan orang ketakutan dari arah berlainan, yaitu dari arah gunung-gunungan yang banyak gua-guanya.

Ada orang terancam bahaya, pikirnya, dan jiwa satrianya membuat ia membelokkan kaki menuju ke arah suara ini lebih dulu untuk menolong orang yang berteriak-teriak ketakutan itu.

Ternyata suara itu datangnya dari sebuah gua besar dan ketika ia memasuki gua itu, ia melihat seorang laki-laki Bangsa Mancu menjerit-jerit ketakutan dalam sebuah kerangkeng beruji besi yang amat kokoh kuat. Laki-laki ini ketakutan setengah mati, agaknya setelah mendengar auman harimau yang masih bergema itu.

Akan tetapi munculnya seorang pemuda tampan yang tangan kirinya dibalut dan digantung membuat ia terdiam heran biarpun tubuhnya masih menggigil dan wajahnya pucat.

"Kenapa kau di sini? Siapa yang menawanmu?" tanya Han Sin.

"Tolonglah hamba ..... orang gagah, tolonglah " orang itu meratap dalam Bahasa Mancu yang

dimengerti baik oleh Han Sin. Memang pemuda ini dahulu di Min-san sudah mempelajari bahasa- bahasa asing di sekitar Tiongkok. "Hamba .... ditawan oleh ..... Kalisang .... dan itu dia dan ....

harimaunya sudah terdengar suaranya ...... tolonglah ”

Girang hati Han Sin. Kiranya orang ini seorang yang akan dijadikan korban, hendak dijadikan santapan harimau peliharaan Kalisang! Kesempatan bagus untuk mencari keterangan perihal adik kandungnya! Cepat ia menggunakan tangan kanannya merenggut putus beberapa buah ruji besi di belakang orang itu yang memandang dengan mata terbelalak heran. "Lekas keluarlah dan bersembunyilah. Kau harus lari dari jurusan lain supaya jangan jumpa di jalan dengan harimau itu." Orang itu saking girangnya, lupa mengatakan terima kasih. Terus saja ia meloncat keluar dan berlari sipat kuping menuju ke arah yang berlawanan dengan arah di mana terdengar auman harimau itu. Han Sin lalu memasuki kerangkeng itu dari belakang, duduk bersandar pada bagian yang sudah ia rusak rujinya, menanti tenang.

Suara auman harimau makin lama makin dekat dan tiba-tiba muncullah seekor harimau besar sekali di depan gua, bersama seorang laki-laki yang aneh. Orang ini bertubuh tinggi kurus, kepalanya gundul pelontos mengkilap seakan-akan kepala yang benjal-benjol itu digosok dan disemir selalu! Kerut keningnya membayangkan watak yang pemarah dan lucunya, di kedua telinganya bergantungan dua buah anting-anting! Adapun harimau itu benar-benar seekor harimau yang besar sekali dan nampaknya amat kuat dan buas, akan tetapi jinak di dekat orang gundul tinggi kurus itu.

Inilah Kalisang, orang Mongol pemelihara macan yang pernah kita temui satu kali dalam jilid yang lalu. Seperti telah dituturkan dalam cerita itu, Kalisang telah merampas bayi dalam gendongan Ang- jiu Toanio di dalam hutan dan pada saat ia hendak memberikan bayi itu kepada harimaunya, muncul Hoa Hoa Cinjin yang mengalahkannya dan merampas bayi itu.

Kini Kalisang memandang dengan muka muram ke dalam kerangkeng. Ia amat heran karena tadi yang ditangkapnya untuk dijadikan mangsa harimaunya adalah seorang Mancu, musuh bangsanya. Kenapa sekarang tahu-tahu telah berobah menjadi seorang pemuda Bangsa Han tampan? Tak senang ia melihat mata pemuda itu yang mencorong tajam, malah harimaunya yang tadinya menggeram melihat calon mangsanya, kini agak mendekam dan mengeluarkan gerengan takut ketika matanya bertemu dengan pandang mata pemuda itu yang tidak kalah tajam dan berpengaruh!

"Ke manga pelginya olang Mancu itu? Kau ini setang dali manga belangi masuk ke sini?" tanyanya dengan suaranya bindeng.

Geli juga hati Han Sin mendengar orang bindeng ini bicara. Kalau Bi Eng berada di sini, tentu ia akan terpingkal-pingkal, pikirnya.

"Apa kau yang bernama Kalisang?" tanyanya tak acuh.

"Betul, aku Kalisang dan kau akang mengjadi makangang macangku! Ha ha, dagingmu lebih empuk tengtu dali pada daging olang Mancu !”

Kalisang melangkah maju, mengeluarkan sebatang kunci dan membuka pintu depan kerangkeng yang dikuncinya itu. Dengan muka menyeringai ia lalu menarik pintu kerangkeng terbuka. Akan tetapi, ia merasa heran melihat harimaunya tidak lekas menubruk maju. Biasanya, begitu kerangkeng dibuka, harimaunya itu terus saja menubruk maju dan menyerang calon mangsanya di dalam kerangkeng. Sekarang ini si macan hanya menggereng-gereng memperlihatkan taringnya dan matanya mencorong ke arah Han Sin.

"Anakku .....hayo maju, makang dia ..... hayoh !” Kalisang mendesak harimaunya.

Han Sin tidak takut sama sekali menghadapi harimau itu, akan tetapi ia merasa kurang leluasa kalau harus melawan harimau di dalam kerangkeng yang sempit. Maka ia mendahului keluar dari kerangkeng menghadapi Kalisang dan harimaunya dengan tangan kiri tergantung.

"Kalisang, aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Kedatanganku ini hanya hendak bertanya, ke mana perginya anak perempuan yang belasan tahun yang lalu kaurampas dari tangan Ang-jiu Toanio?" Sambil bertanya demikian, pandang mata Han Sin menyambar-nyambar dari Kalisang kepada harimau itu dan meremang bulu tengkuknya kalau ia membayangkan betapa adik kandungnya itu sudah dijadikan mangsa harimau ini!

"Kau ....kau bilang apa ....?" Kalisang bertanya, wajahnya agak berubah. "Kau siapa ?"

"Tak perlu kau mengenal aku siapa, hanya patut kauketahui bahwa anak perempuan yang masih bayi, yang kaurampas dari tangan Ang-jiu Toanio dulu itu, dia adalah adik kandungku. Di mana dia??" Kini di dalam suara Han Sin terkandung ancaman hebat.

Kalisang menepuk pantat harimaunya dan binatang itu kini mulai menyerang, menubruk dengan kuat sekali ke arah Han Sin. "Heh heh, kau mau mampus masih benglagak !“

Akan tetapi alangkah kagetnya hati Kalisang ketika melihat betapa pemuda itu hanya dengan sebelah tangan, menggeser kaki ke samping lalu tangan itu bergerak cepat, menampar mulut macan.

"Prakk!" Harimau terbanting dan mulut harimau itu hancur, giginya pada copot dan bibirnya berdarah sampai ke hidungnya! Harimau itu kesakitan dan marah sekali. Kembali ia meloncat dengan tubrukannya, kini kedua kakinya juga ikut mencakar.

Kembali Han Sin bergerak cepat, dua kali tangan kanannya bergerak dan "Plak! Plak!" Harimau itu sekali lagi terbanting dan bergulingan sambil menggereng-gereng kesakitan. Ternyata semua tulang kaki depannya telah remuk oleh tamparan Han Sin tadi! Setelah tulang kaki depannya patah-patah dan mulutnya berikut gigi-giginya rusak, harimau besar ini tak berdaya lagi.

Kalisang membelalakkan matanya. la marah bukan main, sambil mengeluarkan seruan panjang dan aneh ia melangkah maju dan tangan kanannya bergerak ke depan. Lengan ini terus mulur panjang dan biarpun jarak antara dia dan Han Sin ada satu setengah meter lebih jauhnya, tangannya masih dapat mencengkeram ke arah pundak kanan pemuda itu! Han Sin merasa heran karena belum pernah ia melihat ilmu seperti ini, akan tetapi ia sengaja bergerak lambat dan memberi kesempatan kepada tangan lawan untuk mencengkeram pundaknya.

Kalisang berseru kaget ketika tangannya mencengkeram pundak yang menjadi lunak seperti kapas saja sehingga semua tenaganya amblas dan lenyap ke pundak lawan, dan lebih-lebih kagetnya ketika tiba-tiba tangan Han Sin sudah menotok jalan darah di dekat sikunya yang sekali gus membuat tangannya itu lumpuh! Belum sempat ia bergerak, tubuh Han Sin berkelebat dan Kalisang roboh terguling, tak dapat bergerak lagi!

Kakek ini disamping kesakitan dan kekagetan, juga merasa heran setengah mati. Bagaimana ada orang masih amat muda lagi, dapat membikin dia tak berdaya hanya dalam segebrakan saja? Belum pernah selama hidupnya ia mengalami hal aneh seperti ini!

"Hayo kaukatakan, Kalisang. Di mana bocah perempuan yang kaurampas dari tangan Ang-jiu Toanio dulu itu?" Han Sin membentak.

Kalisang berusaha bangun, akan tetapi tidak berhasil. Ia malah tidak kuasa lagi menggerakkan kaki tangannya. Akhirnya ia mengeluh,

"Aduuhhh ...... kau hebat sekali ..... angak itu ..... sudah dingampas ...... Hoa Hoa Cingjing    ”

Han Sin melompat maju, mencengkeram lengan Kalisang demikian eratnya sampai kakek itu meringis. Ia merasa betapa tulang-tulang lengannya seperti hancur luluh dicengkeram tangan pemuda aneh ini. "Jangan bohong! Anak itu tentu sudah kauberikan kepada macanmu menjadi mangsanya!"

“..... ooohh, enggak ..... enggak ..... aduhh lepaskan lengangku ......., betung betung dulu

dingampas Hoa Hoa Cingjing ..... mana aku bengani melawang dia ?"

"Dirampas Hoa Hoa Cinjin ....? Kau maksudkan ...... Hoa-ji itu "

"Aku tidak tahu siapa nangmanya .... kau boleh tanyakan saja sama dia ?"

Han Sin bangun berdiri. Sekali menyambar, ia sudah mengangkat kerangkeng itu dengan sebelah tangan, lalu membanting kerangkeng itu di atas tubuh harimau yang masih berkelojotan di atas tanah. Kerangkeng pecah berantakan dan kepala harimau pecah.

"Kali ini baru kerangkeng dan macanmu yang kuhancurkan. Awas, kalau ternyata kelak kau membohongiku tentang bocah itu, aku akan mencarimu dan menghancurkan kepalamu juga, jangan harap kau akan dapat terlepas dari tanganku!"

"Tidak ..... tidak bohong !" keluh Kalisang yang tidak berdaya sama sekali melihat binatang

peliharaan dan kerangkengnya hancur. Han Sin lalu meninggalkan tempat itu dan terus menuju ke utara.

Di sepanjang jalan ia tak dapat menahan jantungnya yang berdebaran tidak karuan. Kalau betul cerita Kalisang bahwa adik kandungnya itu dirampas oleh Hoa Hoa Cinjin, apakah tak boleh jadi kalau adik kandungnya itu adalah Hoa-ji si gadis berkedok? Dan ia sedang mencari Hoa-ji yang menjadi kekasih Pangeran Yong Tee. Betul-betulkah dia adik kandungku ?

Han Sin ragu-ragu, akan tetapi sekarang semangatnya mencari Hoa-ji menjadi berlipat kali lebih besar lagi. Ia akan mencari Hoa-ji, bukan saja hanya untuk memenuhi permintaan Pangeran Yong Tee, akan tetapi sekarang, terutama sekali, untuk membuktikan apakah Hoa-ji betul-betul adik kandungnya yang selama ini ia cari-cari. Betapapun juga, legalah hatinya mendengar dari Kalisang bahwa adik kandungnya tidak dimakan harimau seperti yang tadinya ia khawatirkan.

Aku harus menyerbu ke utara, kalau perlu kudatangi markas besar tentara Mongol. Harus kujumpai Hoa-ji. Siapa tahu dia betul-betul adik kandungnya! Hati Han Sin berdebar keras. Dia merasa sudah hampir dapat membuka rahasia ini. Rahasia Bi Eng, rahasia Tilana, dan rahasia adik kandungnya! Mungkin rahasia kematian orang tuanya. Dengan penuh semangat, biarpun tangan kirinya masih harus digantung, pemuda ini melakukan perjalanan cepat menuju ke utara.

****

"Ibu, ada sebuah hal yang kuharap ibu suka berkata terus terang kepadaku." Demikian Tilana berkata kepada ibunya, begitu ia memasuki rumah dan menghadap ibunya itu. Ibunya adalah Balita, seorang Puteri Hui yang tersohor, seorang pemimpin Suku Hui yang mempunyai nama besar di dunia kang-ouw, apalagi akhir-akhir ini. Sepak terjangnya aneh dan ganas sekali, sungguhpun ia pada hakekatnya membenci kejahatan dan membasminya, namun dengan cara yang ganas dan kejam tak kenal ampun. Oleh karena itulah maka Balita mendapat julukan Jin-cam-khoa (Algojo Manusia).

Di waktu mudanya, Balita terkenal seorang wanita cantik jelita jarang bandingnya. Akan tetapi, seperti telah diceritakan dalam jilid terdahulu, setelah wanita ini menjadi rusak hatinya karena tergila-gila kepada Cia Sun dan oleh pendekar itu cinta kasihnya ditolak, Balita menjadi buas dan seperti berubah ingatannya. Ia menjadi kejam, ganas sekali, dan tidak lagi memperdulikan kecantikan dirinya.

Sekarang ia telah menjadi seorang wanita tua yang biarpun masih ada tanda-tanda bekas kecantikannya, namun ia kelihatan seperti orang liar. Rambutnya riap-riapan panjang, pakaiannya sederhana dan tidak karuan. Akan tetapi hebatnya, karena ia tekun memperdalam ilmunya, ia menjadi makin lihai dan tak seorangpun Bangsa Hui yang tidak tunduk dan takut kepadanya.

Kedatangan puterinya yang sudah membuka kerudungnya itu, membuat Balita mengerutkan kening dan memandang tajam. Cantik sekali wajah anaknya ini, cantik jelita. Mendengar ucapan Tilana tadi, Balita makin tajam pandang matanya.

"Ada hal apa yang aku sembunyikan darimu?" balas tanyanya.

"Ibu, pernah aku mendengar ibu berkata bahwa anak ibu hanya aku seorang diri, akan tetapi .....

benarkah itu, ibu? Apakah selain aku, tidak ada lain orang anak perempuan lagi? Apakah tidak ada adikku?"

Seketika pucat wajah Balita mendengar pertanyaan ini. Ia bergerak maju dan lengan tangan anaknya sudah dipegangnya erat-erat, seperti seekor burung rajawali menangkap kelinci.

"Apa katamu? Dari mana kau mendengar hal itu? Dan eh, kenapa kau sudah membuka

kerudungmu? Tilana, kau telah melanggar sumpahmu! Hayo katakan, siapa yang membuka kerudungmu?" Tiba-tiba saja, mungkin karena dibangkitkan kekagetannya mendengar pertanyaan Tilana tadi, Balita menjadi marah tidak karuan.

Tilana terpukul hatinya oleh pertanyaan yang memang sudah disangka-sangkanya ini. la menundukkan mukanya. Tidak biasa gadis ini berbohong kepada ibunya.

"Ada orang yang sudah membukanya, ibu akupun hendak menceritakan hal ini kepadamu. Ada

.... seorang pria yang sudah membukakannya "

"Setan! Dan kau sudah bunuh dia, sudah cincang hancur tubuhnya?" Tilana menggeleng kepalanya.

Tiba-tiba Balita mencengkeram pundaknya, dan pikiran yang sudah kacau-balau dari wanita setengah tua ini tiba-tiba teringat akan hal lain. "Eh, katakan lekas apakah kau sudah dapat memenggal leher Cia Han Sin putera Cia Sun? Kenapa tidak kaubawa ke sini kepalanya?!?"

Tilana sudah biasa menghadapi keadaan ibunya seperti itu. Pikiran ibunya berpindah-pindah tidak karuan. Karena soal membalas dendam kepada Han Sin ada hubungannya dengan kerudung yang direnggut dari mukanya, maka Tilana lalu menjawab,

"Tidak, ibu. Dia terlalu lihai bagiku, kepandaiannya tinggi sekali dan aku telah gagal

membunuhnya. Sedikitnya aku harus berlatih sepuluh tahun lagi kalau harus menghadapi ilmu silatnya."

Balita menarik napas panjang dan menjatuhkan dirinya di atas bangku, nampak kecewa sekali. Sampai lama ia diam tak bergerak, lalu terdengar ia berkata perlahan, "Cia Sun .... Cia Sun ,

sampai kapan aku dapat membalasmu?" Dan wanita ini menangis terisak-isak. Tilana memeluk ibunya. "Ibu, harap kau jangan berduka, ibu dan soal sakit hati itu kurasa

takkan mungkin dapat dilakukan pembalasan lagi ”

Mendadak Balita meloncat lagi berdiri dan memandang bengis kepada anaknya. "Percuma saja selama ini kudidik kau! Tidak becus membikin mampus anak Cia Sun. Eh, bagaimana tentang laki- laki yang merenggut kerudungmu tadi? Kau bilang tidak membunuhnya? Kenapa kau tidak bunuh diri atau menyerahkan diri menjadi isterinya?"

Wajah Tilana menjadi merah sekali dan dua titik air mata menetes turun di atas pipinya. "Ibu aku

.... aku sudah menjadi isterinya ”

Balita membelalakkan mata. "Menjadi isterinya tanpa setahuku? Setan! Siapa itu yang menjadi menantuku? Kalau dia tidak berharga, akan kucincang hancur tubuhnya. Hayo bilang, siapa dia yang menjadi pilihanmu itu!"

Makin merah muka Tilana, sampai ke lehernya merah sekali. Kemudian dengan perlahan ia menjawab, "Cia .... Cia Han Sin ”

Balita melengak seperti disambar petir. Ia tidak percaya akan pendengarannya sendiri, maka ia mendekatkan kepala dan bertanya mendesak, "Siapa kau bilang? Yang keras!"

"Dia Cia Han Sin, ibu     ”

Balita mengeluarkan jerit melengking menyayat hati, tangannya diangkat ke atas, siap hendak dijatuhkan kepada tubuh Tilana yang sudah meramkan mata. Akan tetapi gadis yang tidak takut mati ini tidak merasa datangnya pukulan itu, malah tiba-tiba terdengar suara berkakakan.

Ketika ia membuka mata, ibunya tertawa bergelak-gelak, tubuhnya terguncang-guncang dan kepalanya berdongak. "Ha ha ha! Hi hi hi, kau menjadi isterinya? Ha ha, hi hi ..... Cia Sun Cia

Sun, apakah sekarang kau tidak akan bangun dari dalam kuburmu? Ha ha ha!" Dan Balita lalu lari keluar dari pondoknya, berlari-lari di sepanjang padang pasir sambil tertawa bergelak-gelak dan kadang-kadang menangis!

Untuk sesaat Tilana melengak. Ia kaget, bingung dan heran. Sikap ibunya merupakan teka-teki baginya. Ia cukup mengenal ibunya dan biarpun ibunya bersikap aneh, akan tetapi semua yang diucapkan masih mudah ditangkapnya. Namun kali ini benar-benar ia tidak mengerti. Kenapa ibunya bersikap seperti itu ketika mendengar bahwa ia sudah menjadi isteri Cia Han Sin? Karena penasaran, apalagi karena pertanyaan pertama belum dijawab, Tilana lalu berkelebat dan lari mengejar ibunya.

Orang-orang Hui yang melihat ibu dan anak ini berkejar-kejaran, hanya tersenyum dan mengangkat pundak. Memang mereka itu mempunyai dua orang pemimpin ibu dan anak ini, yang luar biasa anehnya. Betapapun juga, mereka berdua adalah pemimpin-pemimpin yang amat baik, amat mereka takuti, amat lihai!

Tilana melihat ibunya sudah duduk di dekat batu besar dan berlindung dalam bayangan batu itu, masih tertawa-tawa dan kadang-kadang menangis.

"Cia Sun ..... Cia Sun apakah sekarang mayatmu tidak membalik di dalam kubur? Ha ha, hi hi hi

..... puas hatiku ....., puas     “

Tilana berlutut di dekat ibunya. Dirangkulnya ibunya penuh kasih sayang. "Ibu, tenanglah, ibu." Balita memandang kepadanya, lalu tertawa lagi bergelak-gelak sambil menuding kepada Tilana, ”Kau ..... ha ha .... kau kawin dengan dia !"

"Ibu, kau kenapa begini, ibu? Harap kau terangkan dan sekalian jawab pertanyaanku apakah selain aku, kau masih mempunyai seorang anak perempuan lagi."

Tiba-tiba Balita menghentikan sikapnya yang luar biasa itu, kini ia merenung dan ketika pandang matanya bertemu dengan mata Tilana, gadis ini terkejut bukan main. Dalam pandang mata ini lenyaplah semua kasih sayang ibunya, terganti kebencian yang mengerikan hatinya.

"Hmmm, kau mau mengerti, bocah? Memang sebaiknya kau tahu agar aku dapat menyaksikan kehancuran hatimu. Dengar! Memang aku mempunyai seorang anak perempuan lain, anak kandungku. Dan kau bukan anakku. Dengar, Tilana, dengar baik-baik. Kau bukan anakku, akan tetapi kau anak Cia Sun! Ha ha ha! Kau anak Cia Sun, mengerti? Kau adik Cia Han Sin dan kau telah menjadi isteri kakak kandungmu sendiri! Ha ha ha ha gadis yang sekarang bersama Cia

Han Sin, yang dianggap adiknya selama ini ... dia itulah anakku yang sejati dia anak kandungku

.....! Ha ha, hi hi hi !”

Kalau ada geledek menyambar kepalanya di siang hari terang itu, Tilana takkan sekaget ketika mendengar ini. Pukulan hebat ini tidak kuat ia menerimanya dan seketika ia roboh terguling pingsan!

Balita tertawa-tawa memandang tubuh Tilana yang pingsan itu. Kemudian berjalan pergi sambil tertawa-tawa dan kadang-kadang menangis sedih. Matahari bergerak perlahan, bayangan batu karang itu makin menggeser sampai akhirnya tubuh Tilana tertimpa cahaya matahari. Namun tubuh itu belum juga bergerak.

****

Sesosok bayangan putih bergerak perlahan memasuki kota Ta-tung. Bayangan seorang wanita muda yang cantik jelita. Tilana! Wajah gadis ini pucat bagaikan mayat hidup, sinar matanya aneh sekali, sayu dan terbenam dalam kedukaan hebat, rambutnya yang panjang dan tertutup kerudung agak kusut, demikianpun pakaiannya yang berwarna putih. Sinar bulan yang menerangi mukanya yang cantik menimpa sepasang pipi yang basah, basah air mata.

Siapa orangnya yang takkan merasa hancur hatinya, takkan merasa perih dan sakit kalbunya, seolah-olah tertusuk ratusan jarum berbisa? Dia telah menjadi isteri kakak kandungnya sendiri!

Dia telah mencintai kakak kandungnya. Cia Han Sin, orang yang dicintainya, orang yang telah menjadi suaminya biarpun secara tak sadar ternyata adalah kakaknya sendiri!

Dan Bi Eng, nona yang dianggapnya amat baik hati, yang membantu menjadi isteri Han Sin, yang ia anggap sebagai adik ipar yang ia sayang, ternyata malah bukan adik kandung Han Sin, tepat seperti yang dikatakan oleh pemuda itu. Benar-benar Bi Eng adalah puteri Balita yang selama ini ia anggap sebagai ibunya.

Dunia serasa hancur bagi Tilana kalau ia teringat akan semua ini. Untuk ke sekian kalinya, dua butir air mata berlinang lalu menetes ke atas kedua pipinya perlahan-lahan mengalir ke bawah. Tak diusapnya, tak diperdulikan.

Dan Han Sin mencinta Bi Eng! Bi Eng sudah begitu baik terhadapku. Dan sekarang keadaan berbalik. Bi Eng puteri Balita, dicinta Han Sin. Dia sendiri adik kandung Han Sin sekarang tiba gilirannya untuk membalas budi Bi Eng dengan Han Sin! Kemudian, ah untuk apa lagi hidup di

dunia? Dia telah melakukan sesuatu yg amat hina. Menjadi isteri kakak kandung sendiri. Dia harus mati!

Bi Eng sedang bercakap-cakap dengan Li Goat dan Yan Bu di ruangan dalam, ketika seorang pelayan memberi tahu bahwa ada seorang wanita Hui mencari Bi Eng.

"Tilana ....." berkata Bi Eng girang dan berdebar hatinya. Cepat ia berlari keluar dan benar saja.

Tilana berdiri di depan rumah seperti sebuah patung dari marmer.

"Cici Tilana !" Bi Eng menubruk dan memeluknya. Girang bukan main hatinya dapat melihat

gadis ini dan tidak melihat gadis ini membunuh diri karena perbuatan Han Sin.

Makin terharu hati Tilana melihat sikap Bi Eng. Benar-benar seorang gadis yang berhati tulus dan jujur. Tak terasa lagi air matanya bercucuran ketika ia membalas pelukan Bi Eng. Bi Eng sendiri mengira bahwa Tilana masih merasa berduka karena penolakan Han Sin, maka cepat ia menghiburnya,

"Cici Tilana, harap kau jangan berduka. Aku senang sekali kau datang, biarlah kau tinggal dulu dengan aku di sini. Sin-ko sedang ke utara, tak lama lagi tentu ia datang kembali dan ,

"Bi Eng, kau mulia sekali , tapi aku mempunyai sebuah urusan yang amat penting, yang akan

kubicarakan denganmu. Bi Eng, maukah kau ikut dengan aku ke luar kota, ke tempat yang sunyi di mana kita bisa bicara secara enak tak terganggu?"

"Tentu saja, cici Tilana. Biar aku pamit dulu ke dalam ”

"Tak usahlah, urusannya penting sekali, adikku ”

Kebetulan sekali pada saat itu Li Goat dan Yan Bu keluar. "Li Goat dan saudara Yan Bu, aku akan pergi sebentar bersama cici ini " Bi Eng tak melanjutkan kata-katanya karena Tilana sudah

menggandeng dan menariknya pergi dari situ.

Li Goat dan Yan Bu saling pandang dan heran. "Siapakah wanita cantik yang aneh itu?" "Entahlah " Yan Bu mengangkat pundak lalu termenung, penuh kekhawatiran, akhirnya ia

menghibur hati sendiri dan berkata, ”Tentu seorang kenalan yang baik, orang-orang seperti dia itu

memang amat terkenal di dunia kang-ouw dan banyak hubungannya. Tadi kulihat sikap mereka amat mesra, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Sementara itu, Bi Eng dan Tilana berlari-lari cepat di malam hari itu menuju ke luar kota, kalau ada yang melihat mereka, yang melihat ini takkan heran karena di kota ini adalah pusat tempat orang- orang kang-ouw yang aneh dan lihai, hanya mungkin mereka akan kagum sekali melihat dua orang gadis yang amat cantik jelita ini.

35. Rahasia Bayi Perempuan Min-san

DI TEMPAT yang sunyi, tempat terbuka sehingga takkan ada orang dapat mengintai dan mendengarkan percakapan mereka, Tilana berhenti dan gadis ini duduk di atas rumput. Bi Eng juga duduk di depannya sambil tersenyum dan berkata, "Cici Tilana, kau amat aneh. Bercakap-cakap saja mengajak di tempat yang begini sunyi. Kalau kita tadi pergi ke rumah makan sambil makan-makan kita mengobrol, kan lebih enak?"

Tilana menatap wajah Bi Eng yang cemerlang dan berseri ditimpa sinar bulan purnama itu, lalu menarik napas. Kasihan, pikirnya. Gadis ini begini jujur, terbuka hati baik budi. Baru sekarang ia melihat betapa mata dan bibir Bi Eng ini sama benar bentuknya dengan mata dan bibir ibunya,

Balita.

Makin terharu hati Tilana. Gadis ini senasib dengan dirinya, semenjak kecil tak mengenal ibu sendiri, dipermainkan oleh nasib yang ditimbulkan oleh orang-orang tua yang tak bertanggung jawab. Tak terasa lagi Tilana merangkul Bi Eng dan menangis.

"Aduh, adikku, Bi Eng ......, kasihan sekali kau ”

Bi Eng makin terheran, tak enak hatinya, ia melepaskan rangkulan Tilana dengan halus, menentang pandangnya lalu bertanya sungguh-sungguh, "Cici Tilana harap jangan berlaku penuh rahasia, kau membikin gelisah. Sebetulnya, ada apakah yang terjadi? Kenapa kau malah menaruh kasihan kepadaku?"

"Adikku Bi Eng, tak tahukah engkau bahwa bahwa kanda Han Sin sebetulnya hanya mencinta

kau seorang? Kaulah yang dicintanya, bukan wanita lain ”

Merah muka Bi Eng. "Aahhh, kau ini aneh-aneh saja cici Tilana. Kalau tidak mencinta aku habis bagaimana? Akukan adiknya!" la mencoba bergembira.

Akan tetapi Tilana memegang tangannya dan berkata sungguh-sungguh, ”Aku tidak main-main, Bi Eng. Ketahuilah sesungguhnya kau bukanlah adik kandung kanda Han Sin, kau malah bukan apa- apanya, bukan sanak, bukan kadang "

"Apa ...... apa artinya ini " Jangan kau main gila!" Bi Eng menjadi pucat, hatinya berdebar.

"Aku bicara sesungguhnya, dan aku berterus terang karena aku suka kepadamu. Kanda Han Sin sendiri yang berkata kepadaku tentang dirimu ketika akhir-akhir ini aku bertemu dengan dia. Malah Siauw-ong pun di tinggalkan di tempatku. Bi Eng, kau bukanlah adik kandungnya, apakah selama ini kau tidak merasanya? Apakah sikapnya terhadapmu sewajarnya?"

Makin pucatlah wajah Bi Eng, jantungnya berdebar tidak karuan. Dia bukan adik kandung Han Sin? Pemuda itu bukan kakaknya? Mana mungkin? Sejak ia dapat mengingat ia selalu berada di sisi kakaknya itu.

"Tak mungkin! Kau bohong!" katanya dengan bibir menggigil. "Sejak aku dapat mengingat, dia selalu berada di sisiku, menjadi kakakku ”

Tilana mengangguk. "Aku mengerti, demikianpun aku, adikku. Orang yang kukira ibuku, yang semenjak kecil kusangka, ibu kandung sendiri, ternyata orang lain dan bukan apa-apaku. Semenjak kecil kau berada di sisi kanda Han Sin, akan tetapi tahukah kau apa yang terjadi ketika kau masih bayi? Kau bukan adik kandungnya, Bi Eng dan hal ini aku yakin benar karena aku tahu anak siapa kau ini, malah ibumupun masih hidup ”

Bi Eng mengeluarkan jerit tertahan dan ia memegang tangan Tilana erat-erat seakan-akan hendak menghancurkan tangan itu dalam cengkeramannya. Baiknya Tilana adalah seorang gadis berilmu, kalau tidak, bisa remuk tulang tangannya dicengkeram seperti itu oleh Bi Eng. "Tilana! Awas kau kalau bohong !"

Tilana menentang pandang mata itu dan menggeleng kepala.

"Kalau begitu, siapa ibuku yang betul? Ayoh bilang, siapa dia? Aku anak siapa?"

"Ibumu adalah orang yang selama ini kuanggap ibuku. lbumu adalah Balita, Puteri Hui "

"Tak mungkin .....! Tak mungkin .....! Aku anak Jim-cam-khoa si iblis betina ?"

"Memang banyak sekali hal yang kelihatan tak mungkin telah terjadi di masa kita masih kecil, adikku. Kau memang anak tunggal Balita dan hal ini sudah diakui secara terang-terangan oleh Balita. Lihat matamu, bibirmu, serupa benar dengan Balita. Dan kanda Han Sin juga sudah tahu akan hal ini "

"Tidak bisa!! Tidak bisa jadi! Aku harus mendengar sendiri dari wanita Hui itu! Harus mendapat keterangan yang jelas! Tak mungkin " Bi Eng lalu menangis terisak-isak.

Tiba-tiba ia teringat akan keterangan Han Sin tentang tahi lalat merah di dekat telinga Tilana, tentang kenyataan bahwa Tilana ini puteri Ang-jiu Toanio. Tanpa disadarinya, tangannya menyingkap rambut di dekat telinga Tilana dan benar saja, ia melihat tanda merah Bi Eng

menjerit lirih dan merangkul Tilana lalu menangis terisak-isak lagi di pundak Tilana. Hati Bi Eng tidak karuan rasanya. Terharu, sedih, bingung dan anehnya ada juga rasa girang! Ibunya masih

hidup. Dan dia bukan adik kandung Han Sin!

"Bi Eng, adikku yang baik. Memang kau harus mendengar sendiri dari ibumu, dari Balita. Mari kubawa kau ke sana, biar kupertemukan ibu dan anak yang sudah berpisah semenjak kau masih bayi

......”

Seperti dalam mimpi, Bi Eng digandeng bangun dan diajak berlari-lari oleh Tilana. la bingung dan gelisah. Kalau Han Sin sudah mengetahui akan hal itu, kenapa diam saja tidak memberi tahu kepadanya? Pantas saja sikap Han Sin aneh sekali. Dan menurut Tilana, Han Sin hanya mencinta dirinya seorang! Bi Eng menjadi panas mukanya dan berdebar jantungnya.

Dan Tilana ah, kalau ia ingat betapa ia sudah mendorong-dorong Han Sin supaya mengawini

Tilana ...... peristiwa di Min-san itu ....... pedih, sakit rasa hatinya. Han Sin ...... Han Sin , kenapa

kau diam saja? Kalau dia betul anak Balita dan Tilana ini anak Ang-jiu Toanio, di mana adik kandung Han Sin? Apa yang telah terjadi sesungguhnya?

Di tengah perjalanan Tilana diam saja. Wajahnya yang cantik amat pucat seperti mayat dan wajah itu layu dan murung, diliputi kedukaan maha besar. Bi Eng mencoba untuk memancing keterangan, akan tetapi Tilana hanya menggeleng kepala, menarik napas panjang dan menangis.

Tentu saja Bi Eng tidak tahu apa yang terkandung dalam hati Tilana. Gadis ini merasa dunia sudah kiamat, matahari sudah tak bersinar lagi baginya. Ia hanya ingin hidup untuk bertemu dengan Han Sin, untuk bertanya kepada pemuda yang sebetulnya adalah kakaknya sendiri ini, kenapa Han Sin tidak berterus terang saja dahulu, sehingga terjadi peristiwa memalukan itu.

Kalau Han Sin dulu berterus terang bahwa dia adalah adik kandungnya, lebih baik dia mati dari pada melakukan perbuatan yang memalukan. Kenapa Han Sin tidak mau mengaku terus terang? Malah akhir-akhir ini di padang pasir, mengapa pemuda itu malah bersikap mesra kepadanya? Apakah Han Sin orang serendah itu, yang tega hati mempermainkan adik sendiri? Demikian hinakah tabiat pemuda yang menjadi kakak kandungnya itu?

Dengan masing-masing tenggelam ke dalam lautan pikiran sendiri, dua orang gadis itu melakukan perjalanan cepat dan akhirnya tibalah mereka di tempat tinggal Balita, di perkampungan orang- orang Hui.

Begitu tiba di tempat itu, dari sebuah pohon meloncat seekor monyet, yang langsung meloncat ke pundak Bi Eng.

"Siauw-ong !" Bi Eng berseru girang, akan tetapi hanya untuk dua detik saja karena pikirannya

segera dipengaruhi oleh urusan dirinya. Ia terus mengikuti Tilana yang membawanya ke sebuah pondok besar.

Tilana bersuit keras dan segera dari dalam pondok muncul seorang wanita setengah tua. Wanita itu berdiri di depan pintu, memandang kepada Bi Eng dengan mata terbelalak. Sebaliknya Bi Eng juga terpaku di atas tanah, menatap wajah Balita, wanita Hui itu, dengan muka pucat, mata terbelalak lebar, kedua kaki lemas dan gemetar dan bibir menggigil. Entah bagaimana, bertemu dengan wanita ini mendatangkan getaran aneh dalam tubuhnya, seakan-akan ia sering bertemu dengan wanita aneh ini, entah di mana "

Bi Eng, dia inilah ibumu, ibu kandungmu. Dia inilah orangnya yang menukar-nukar kita, ketika kita masih bayi, dia yang membikin celaka hidupku, yang sengaja menjebloskan aku ke dalam jurang penghinaan. Balita, di balik semua kebaikan budimu terhadap aku semenjak aku kecil, ternyata kau menyembunyikan maksud yang amat jahat terhadap aku. Sekarang terimalah pembalasanku!" Secepat kilat Tilana yang sudah mencabut pedangnya itu menyerang Balita.

Balita yang semenjak tadi berdiri mematung seperti kena sihir, hanya berbisik berkali-kali, "Ini .. anakku ...? Anakku ...? Ahh ... anak kandungku "

Karena keadaannya seperti orang linglung inilah maka ketika serangan Tilana datang, ketika pedang di tangan gadis itu menusuk dadanya, ia terlambat mengelak, sehingga biarpun ia sudah berusaha mengelak, tetap saja pundaknya tertikam pedang. Darah muncrat keluar membasahi pakaiannya dan pada saat itu terdengar jerit Bi Eng,

"Jangan bunuh dia !"

Pada saat itu Tilana sudah mengirim tusukan kedua, akan tetapi pedangnya terpental kembali karena sudah ditangkis oleh Bi Eng yang berdiri menghadapinya dengan wajah keren. "Cici Tilana! Setelah kau membawaku ke sini, setelah kau membuka rahasia ini, apakah kau hanya ingin menyuruh aku melihat kau membunuh orang yang kausebut ibu kandungku? Tidak boleh!"

Tilana sadar dan memandang Bi Eng dengan mata terbelalak. Ia mengeluh dan berkata, "Selamat tinggal!" Kemudian segera ia lari meninggalkan tempat itu. Sebentar saja bayangan Tilana lenyap di antara pondok-pondok yang berdiri di kampung itu.

"Kau ..... kau anakku ...... tak salah lagi ”

Mendengar bisikan ini, Bi Eng menjadi lemas, pedangnya terlepas dan ia membalikkan tubuhnya. Balita sudah berdiri di dekatnya, memegang kedua lengannya dan mata itu memandang kepadanya penuh selidik. Akhirnya, bagaikan besi dengan besi semberani, keduanya saling tubruk, saling peluk dan keduanya menangis. Siauw-ong berdiri bingung dan menyeringai. "Kau anakku! Ha ha, hi hi, kau anakku!"

Bi Eng kasihan melihat orang tua ini dan tanpa berkata apa-apa ia lalu membalut luka di pundak Balita. Kemudian ia menekan perasaan dan berkata,

"Kalau betul apa yang dikatakan Tilana bahwa aku adalah anakmu, harap kausuka ceritakan sejelasnya mengapa semenjak kecil aku berada di Min-san."

"Aduuhh ...... anakku .... anakku ...., nasib buruk menimpaku, semua gara-gara Cia Sun " Balita

lalu menarik tangan Bi Eng, memasuki rumah dan sambil memangku anaknya dengan penuh kasih sayang dan membelai-belai rambut Bi Eng, ia bercerita,

"Dulu di waktu aku masih muda sekali, aku telah dikawinkan oleh orang tuaku dengan seorang pemuda Hui. Aku tidak suka kepadanya, akan tetapi orang tuaku memaksaku, akhirnya kawinlah aku dengan dia. Lalu aku bertemu dengan Cia Sun " Balita berhenti lalu termenung, matanya

yang masih indah itu memancarkan sinar ganjil. "....... dia menjatuhkan hatiku, ..... aku aku

cinta padanya dan ..... diapun membalas cintaku aku tergila-gila kepadanya sampai akhirnya aku

bunuh suamiku sendiri " Kembali Balita termenung.

Bi Eng terkejut, kemudian teringat akan keadaan Tilana dengan Han Sin, kakaknya eh, bukan,

bukan apa-apa malah! "Apakah apakah kau menggunakan obat bubuk putih berbau wangi

dicampur dalam minumannya?" Pertanyaan ini keluar begitu saja dari mulutnya tanpa disadarinya terbawa oleh renungannya tentang Tilana dan Han Sin.

Akan tetapi akibatnya membuat Balita kaget sekali. Wanita itu memegang pundaknya, memandang tajam dan bertanya, "Bagaimana kau bisa tahu?"

Bi Eng menarik napas panjang. "Tilana pun menggunakan obat itu terhadap .... Han Sin ”

Balita tertawa terkekeh-kekeh, nampaknya girang sekali. "Sejarah terulang heh heh heh, sejarah

terulang pembalasan ....... pembalasan ! Biarlah arwah Cia Sun melihat betapa dua orang

anaknya sekarang melakukan perbuatan hina, hi hi hi, kakak dan adik menjadi suami isteri "

Bi Eng melengak, merasa bulu tengkuknya berdiri. "...... apa .....? Apakah Tilana itu adik .....

adiknya ?"

Mata Balita berkilat-kilat. "Siapa lagi kalau bukan adiknya? Tilana puteri Cia Sun, dan kau anakku

.....”

Jantung Bi Eng berdebar tidak karuan. Ya Tuhan, apakah yang telah ia lakukan. la telah membantu Tilana, telah mendorong-dorong Han Sin, ia telah berusaha mati-matian menjodohkan mereka.

Mereka, kakak beradik saudara kandung!

"Bagaimana bisa begitu? Ceritakan ... ceritakan !" ia mendesak Balita.

"Aku bunuh suami sendiri karena cintaku kepada Cia Sun. Tapi , dasar laki-laki tak berbudi. Dia

meninggalkan aku, aku mengejarnya, akan tetapi dia menolakku , ketika kau terlahir aku lagi-lagi

mencarinya dan mohon supaya dia menerimaku, baik sebagai pelayan atau penjaga , akan tetapi

dia menolakku "

"Kejam !" Tak terasa seruan ini keluar dari mulut Bi Eng. Balita senang mendengar ini dan memeluk anaknya. "Laki-laki memang jahat, tidak setia ”

Tiba-tiba Bi Eng tersentak kaget. "Kalau begitu ..... aku ini anakmu bersama dia?"

"Bukan, anakku. Kau telah satu bulan dalam kandunganku ketika aku tergila-gila dalam pertemuanku dengan Cia Sun. Kau anak suamiku yang kubunuh dengan terpaksa karena cinta kasihku kepada Cia Sun. Dapat kaubayangkan betapa marah dan sakit hatiku ketika aku diusir oleh Cia Sun, disaksikan oleh isterinya. Waktu itu isteri Cia Sun sudah mempunyai seorang anak laki- laki "

"Sin-ko ”

"Ya, yang bernama Cia Han Sin itulah. Anak siluman, entah bagaimana sekarang dia bisa begitu lihai, jauh melebihi ayahnya dulu. Dendamku tak dapat kutahankan lagi. Melihat bayi perempuan, dan mengingat aku takkan dapat membunuh Cia Sun karena aku begitu mencintanya sampai tidak tega membunuhnya, maka aku lalu menggunakan lain jalan. Aku menukarkan kau dengan anaknya yang kemudian menjadi Tilana itulah. Dan kau hidup sebagai adik Cia Han Sin "

"Dan kau membunuh Cia Sun dan isterinya?"

"Tidak ........, tidak " Balita menarik napas panjang, tiba-tiba menangis terisak-isak. "Kasihan Cia

Sun ......! Aku melihat dia menggeletak mandi darah Aku melepaskan kerudungku dan

kuselimutkan padanya ....... entah siapa yang membunuhnya "

Bi Eng tergerak hatinya. "Selimut kuning berkembang, halus sekali dan di ujungnya ada sulaman burung merpati?" tanyanya.

"Betul ......, betul ......, itulah kerudungku ”

Kini tak ragu-ragu lagi hati Bi Eng. Memang betul dia anak Balita. Selimut itu memang berada di Min-san, di waktu kecilnya sering ia pakai kalau tidur.

"Ibu ........., kau memang ibuku ..... alangkah banyaknya penderitaan hidupmu ” Bi Eng memeluk

dan keduanya saling peluk sambil menangis.

Setelah mereda tangisnya, Balita melanjutkan ceritanya. "Karena masih mendendam, setelah Tilana menjadi dewasa, aku menyuruh membunuh Cia Han Sin putera Cia Sun. Tentu saja aku tidak mendendam kepada engkau, anak kandungku. Akupun benci kepada Tilana karena dia itu keturunan Cia Sun, akan tetapi oleh karena semenjak bayi berada di sisiku, aku tidak tega membunuhnya dengan tangan sendiri. Maksudku, aku hendak menanam permusuhan antara dia dan Cia Han Sin, biarlah kakak beradik sekandung itu saling bunuh!"

"...... tapi akhirnya mereka malah ..... berjodoh ” Bi Eng berkata perlahan seperti dalam mimpi.

"..... dan aku aku mendorong mereka ”

"Bagus sekali! Kau betul-betul puteriku. Ha, biarlah mereka menderita, anak Cia Sun itu. Menderita lahir batin!" Tiba-tiba Balita menangis lagi dan entah bagaimana, Bi Eng merasa sedih sekali dan ikut menangis.

**** Kita tinggalkan dulu Bi Eng yang baru saja bertemu kembali dengan ibu kandungnya dan mari kita mengikuti perjalanan Cia Han Sin yang menuju ke utara untuk mencari Hoa-ji, anak angkat Hoa Hoa Cinjin. Kini ia mencari Hoa-ji bukan semata-mata untuk memenuhi permintaan Pangeran Yong Tee kekasih gadis itu, melainkan terutama sekali karena timbul dugaan keras di dalam hatinya bahwa Hoa-ji itulah adik kandungnya! Kiranya takkan keliru lagi kalau menurut penuturan yang didengarnya dari Ang-jiu Toanio, kemudian munculnya Tilana dan penuturan Kalisang. Dengan kecerdikan otaknya Han Sin dapat merangkai semua peristiwa dahulu dalam bayangannya.

Ang-jiu Toanio bersakit hati kepada ayahnya, seperti juga Balita. Kedua orang wanita itu karena agaknya tidak berdaya menghadapi ayahnya, lalu mengambil jalan keji untuk membalas dendam, yaitu dengan jalan menukarkan anak.

Agaknya Ang-jiu Toanio yang lebih dulu menukarkan anaknya dengan adik kandungnya, kemudian muncul Balita yang kemudian menukarkan anaknya dengan anak Ang-jiu Toanio, tentu saja yang dikiranya anak Cia Sun. Dengan demikian, anak kandungnya berada di tangan Balita dan anak Balita ditinggal di Min-san!

Tegasnya, Bi Eng adalah anak Balita, Tilana anak Ang-jiu Toanio dan adik kandungnya sendiri, dari tangan Ang-jiu Toanio dirampas Kalisang kemudian dari tangan Kalisang dirampas Hoa Hoa Cinjin dan menjadi seorang gadis berkedok, Hoa-ji!

Dalam penyelidikannya, ia mendengar bahwa Bhok-kongcu atau Pangeran Galdan bermarkas besar di Pegunungan Yin-san. Han Sin berlaku sangat hati-hati. Ia maklum bahwa dengan memasuki daerah Mongol ini, ia seperti telah memasuki gua harimau dan naga.

Maka ia melakukan penyelidikan secara bersembunyi. Tidak mau ia bentrok dengan orang-orang Mongol, karena kalau sampai diketahui ia berada di daerah ini, tentu Bhok-kongcu takkan tinggal diam dan ia akan ditangkap atau dibunuh. Dengan adanya banyak orang-orang pandai, kalau sampai dikeroyok, mana dia dapat menang? Pula, kalau sampai ketahuan maksud kunjungannya ini, tentu akan makin sukar baginya untuk mencari Hoa-ji.

Pada suatu pagi Han Sin berjalan di daerah pegunungan di kaki Gunung Yin-san. Sudah semenjak beberapa hari ia mulai bertemu dengan orang-orang Mongol dan tentara-tentara Mongol. Selalu pemuda ini menghindarkan pertemuan dan memilih jalan sunyi untuk mendaki Gunung Yin-san.

Selagi ia berjalan dan diam-diam mengagumi pemandangan alam yang masih bebas dan asli itu, tiba-tiba ia mendengar suara perlahan di belakangnya. Cepat ia menengok, namun tidak kelihatan sesuatu. Ia merasa ragu-ragu dan berjalan terus. Tiba-tiba terdengar pula suara langkah orang di belakangnya. Cepat Han Sin memutar tubuh dan seperti juga tadi, tidak kelihatan orangnya.

Salahkah pendengarannya? Tiba-tiba terdengar langkah kaki di sebelah kiri, ketika ia menengok ke kiri, langkah itu berpindah ke kanan.

"Celaka, apakah ada setan di pagi hari?" gerutunya dengan mendongkol, akan tetapi juga terheran- heran.

Ia tidak perduli dan berjalan terus. Ketika ia tiba di sebuah tebing jurang, tiba-tiba dari kanan muncul begitu saja, seakan-akan melayang dari dalam jurang, dua orang laki-laki yang luar biasa sekali. Mereka ini merupakan dua orang laki laki kembar, kembar segala-galanya sampai rambut- rambut dan jenggotnya.

Tubuh mereka besar dan nampak kuat sekali, dengan kepala yang besar pula. Rambut tak terpelihara, riap-riapan, hidung seperti paruh burung kakatua, mulut besar dengan gigi besar-besar seperti bertaring, pakaian mereka juga aneh, seperti jubah luar yang amat panjang, diikat tali pinggang yang panjang pula. Kaki mereka memakai sepatu yang tinggi, sepatu dari kulit. Amat menarik, kulit tubuh mereka berwarna putih sekali, putih dengan totol-totol merah.

Lebih mengherankan lagi, tangan mereka hanya berjari satu, atau tegasnya, empat buah jari tangan telah lenyap, buntung tinggal ibu jarinya saja pada masing-masing tangan. Tapi ibu jari ini berkuku runcing. Benar-benar makhluk yang amat mengerikan, melihatnya saja cukup membuat orang lari ketakutan!

Han Sin terkejut juga, akan. tetapi ia segera dapat menenangkan hatinya. la maklum bahwa ia berhadapan dengan dua orang yang tak boleh dipandang ringan. Gerakan mereka kelihatan ringan sekali, gerak kaki mereka biarpun bertubuh besar, amat cepat dan tidak mengeluarkan suara. Ini saja sudah membuktikan bahwa dua orang yang seperti raksasa berkulit putih dengan mata agak kebiruan ini amat lihai. Dugaannya memang terbukti karena sambil mengeluarkan suara aneh, dua orang itu bergerak dan tahu-tahu Han Sin sudah dikurung dari kanan kiri!

Han Sin adalah seorang pemuda yang suka sekali mempelajari bahasa asing, akan tetapi ketika dua orang itu bersuara, ia sama sekali tidak mengerti bahasa apakah yang mereka gunakan. Melihat bentuk pakaian mereka, ia menduga bahwa tentu mereka ini ada hubungannya dengan orang-orang Hui, maka ia segera memberi hormat dan bertanya dalam bahasa Hui,

"Tuan berdua ini siapakah dan ada keperluan apa menghadang perjalananku?"

Dua orang raksasa itu saling pandang, lalu tertawa bergelak. "Kau bisa bicara Hui? Bagus ,

bagus ......!” kata seorang di antara mereka dalam bahasa Han! Biarpun suara mereka kaku dan

janggal, namun cukup dapat dimengerti.

"Maaf, kiranya ji-wi (tuan berdua) dapat berbahasa Han. Tidak tahu siapakah ji-wi yang terhormat dan ada keperluan apa gerangan menahan perjalananku?" Han Sin mengulang dengan sikap hormat.

"Kau orang Han berkeliaran di sini, tentu mata-mata bangsa Mancu. Ayoh lekas mengaku siapa kau dan apa keperluanmu di tempat ini!" mereka membentak dengan sikap keren dan mengancam.

Han Sin mengerutkan kening. Ia maklum bahwa setelah ia dilihat orang, tentu akan timbul pelbagai kesukaran. Apa lagi dua orang ini kelihatan aneh dan lihai, mungkin tokoh-tokoh besar pembantu Bhok-kongcu. Melihat mereka mengerti bahasa Hui dan pakaian merekapun seperti orang Hui, Han Sin lalu memancing untuk membaiki mereka,

"Aku bernama Han Sin, she Cia. Apakah ji-wi sudah mengenal seorang puteri Hui bernama Balita dan anak perempuannya bernama Tilana? Aku kenal baik mereka itu."

Dua orang itu kembali saling pandang. "Cia Han Sin? Apa hubungannya dengan Cia Sun dari Min- san?"

Celaka, pikir Han Sin. Lagi-lagi ada orang mengenal mendiang ayahnya dan melihat sikap mereka, ia sangsi apakah mereka ini sahabat-sahabat ayahnya. Akan tetapi, bukan watak Han Sin untuk menyangkal ayahnya sendiri. Apapun akan terjadi atas dirinya, tak mungkin ia menyangkal ayahnya. Tidak mengakui ayah sendiri hanya untuk menyelamatkan diri adalah perbuatan pengecut dan rendah.

"Cia Sun adalah mendiang ayahku. " Baru saja Han Sin berkata sampai di sini, seorang raksasa yang berdiri di sebelah kirinya menyerang dengan hebat, memukul menggunakan tangan kanan yang berjari satu itu. Pukulan ini hebat sekali, mendatangkan angin bersiutan dan datangnya cepat bukan main, hampir saja mengenai kepala Han Sin. Baiknya pemuda ini sudah memiliki gerakan yang otomatis sehingga begitu pukulan menyambar, otomatis ia sudah menarik diri dan mengelak sambil mengibaskan tangan kiri menangkis.

"Plakk!" Han Sin terkejut bukan main ketika mendapat kenyataan betapa tangan kirinya terasa panas dan sakit ketika bertemu dengan tangan lawan. Cepat ia melompat mundur karena raksasa di kanannya sambil tertawa-tawa juga sudah menyerangnya dengan sama hebat dan cepatnya.

"Eh, kalian mengapa menyerangku? Apa salahku?" tanyanya, penasaran. Raksasa itu terkejut dan heran juga melihat pemuda itu dapat menghindarkan pukulan-pukulannya.

"Kau bukan orang sembarangan," kata seorang di antara mereka. "Baiklah kauketahui agar jangan mati penasaran. Jin-cam-khoa Balita adalah adik seperguruan kami. Nah, bocah she Cia, siaplah untuk binasa!" Kembali mereka menyerang dengan pukulan-pukulan aneh yang datangnya cepat dan kuat sekali.

Namun kali ini Han Sin sudah bersiap sedia. Dengan langkah-langkah Liap hong-sin-hoat ajaran Ciu-ong Mo-kai, tubuhnya bergerak ke sana ke mari menghindarkan diri dari ancaman pukulan dua orang pengeroyoknya. Tidak demikian saja, malah kini telunjuk tangannya dipergunakan untuk mainkan ilmu silat Lo-hai Hui-kiam yang amat sakti.

Bukan main herannya dua orang raksasa itu ketika berkali-kali serangan mereka hanya mengenai angin kosong belaka. Dan lebih-lebih kaget hati mereka ketika dua buah jari telunjuk pemuda itu menyerang mereka dengan totokan yang luar biasa hebatnya sehingga angin serangannya saja sudah terasa amat berbahaya seperti ujung dua batang pedang runcing!

Mereka berusaha mempertahankan diri, namun terhadap Lo-hai Hui-kiam, mereka benar-benar mati kutu. Baru belasan jurus saja mereka telah terkena tusukan hawa totokan jari tangan Han Sin, cepat mengenai pundak membuat mereka mengeluarkan gerengan kesakitan lalu melarikan diri tunggang langgang!

"Bhok Hong-ong ......, tolong kami !" Mereka berseru ketakutan dan dalam anggapan mereka,

Han Sin bukanlah manusia biasa, tentu sebangsa siluman. Kalau tidak, mana bisa seorang muda memiliki kepandaian demikian hebat dan anehnya?

Tadinya Han Sin hanya tersenyum saja membiarkan mereka pergi. Akan tetapi demi mendengar teriakan mereka minta tolong kepada Bhok Hong-ong, hatinya tergerak. Bhok Hong adalah Pak- thian-tok ayah Bhok-kongcu. Kalau ayahnya berada di situ, tentu Bhok-kongcu juga berada di situ, dan bukan tak mungkin kalau Hoa Hoa Cinjin berada di situ pula bersama anak angkatnya, Hoa-ji yang ia cari-cari? Maka ia lalu cepat meloncat dan mengikuti larinya dua orang raksasa kembar itu dari jauh. Mereka berdua itu ternyata dapat berlari cepat sekali, namun tidak sukar bagi Han Sin untuk mengikuti mereka.

Setelah berlari-larian setengah hari lamanya, dua orang raksasa itu memasuki sebuah pondok kecil di tengah lapangan yang kering. Nampaknya tempat itu sunyi saja. Pondok itu sendiri tidak besar, terbuat dari papan dan gentengnyapun atap. Heran hati Han Sin. Rumah siapakah ini? Masa Bhok Hong tinggal di dalam rumah seperti itu? Namun ia terus mengikuti dan menyelinap di belakang rumah secara cepat dan tidak mengeluarkan suara. Tiba-tiba ia melihat betapa tanah di sekeliling pondok itu dalam jarak dua tiga ratus meter, bergerak-gerak dan tiba-tiba tersembul kepala-kepala orang dari dalam tanah. Makin lama makin banyak dan dalam sekejap mata saja pondok itu, atau lebih tepat dirinya, telah terkurung oleh ratusan orang tentara Mongol yang bersenjata lengkap! Bukan main hebatnya baris pendam ini.

Baru sekarang Han Sin sadar bahwa dia memang dipancing oleh dua orang raksasa lihai itu dan diam-diam ia kagum sekali melihat rapinya barisan pendam dari bala tentara Mongol. Ketika ia menuju ke pondok itu, tidak terlihat sesuatu, tidak terdengar sesuatu. Tidak tahunya ratusan orang serdadu bersembunyi di dalam lubang-lubang di tanah yang tertutup batu-batu, demikian indah dan hebat tempat persembunyian itu.

Di samping kekagumannya, Han Sin menjadi panas hatinya. Apa orang mengira dia takut? Sekarang tahulah dia bahwa Bhok-kongcu memang lihai sekali. Kiranya perjalanannya ini sudah diketahui orang orang Mongol dan siang-siang ia telah diikuti orang.

Tiba-tiba ia mendengar suara orang bicara di dalam pondok ketika barisan itu sudah siap mengurung rapat tanpa membuka suara, dengan sikap yang angker seperti patung batu, agaknya menanti perintah atasan. Ia mengenal suara itu seperti suara dua orang kakek raksasa tadi yang berkata dengan nada gelisah, "Akan tetapi, Ong-ya, bagaimana bisa menangkap dia hidup-hidup? Dia lihai sekali dan kami ingin membunuhnya untuk membalas sakit hati sumoi (adik seperguruan) kami Balita "

Terdengar suara yang dalam dan besar, suara yang gagah dan juga segera dikenal Han Sin sebagai suara Pak-thian-tok Bhok Hong! Suara Bhok Hong menjawab si raksasa tadi, mengejek nadanya,

"Bocah macam itu saja mengapa diributkan? Tentara pendam sudah mengepungnya, dia bisa terbang ke mana lagi? Dia sudah menjadi antek Pangeran Yong Tee, ini kesempatan baik. Tangkap dia hidup-hidup, jadikan umpan untuk menangkap Yong Tee sendiri. Bukankah ini kesempatan baik sekali? Tentang menangkap dia, serahkan saja kepadaku kalau kalian tidak sanggup. Ha, ha, ha, anak patriot itu sudah menjadi anjing Mancu, apa sih hebatnya?"

Han Sin boleh dianggap lihai sekali ilmu silatnya, malah mungkin pada masa itu jarang ada tokoh persilatan yang dapat menandinginya. Akan tetapi ia masih bisa dibilang hijau dalam pengalaman kalau dibandingkan orang-orang seperti Pak-thian-tok Bhok Hong, masih hijau dan kalah jauh menghadapi tipu-tipu muslihat di dunia kang-ouw yang sebetulnya jauh lebih lihai dan berbahaya dari pada tajamnya pedang runcingnya tombak.

Mendengar ucapan yang keluar dengan nada mengejek dari mulut Pak-thian-tok Bhok Hong, pemuda ini menjadi naik darah. Dia dimaki sebagai antek Pangeran Mancu, malah sebagai anjing Mancu, bagaimana dia tidak akan menjadi naik darah? Apalagi ketika ia mendengar dua orang kakek raksasa yang ternyata adalah suheng (kakak seperguruan) Balita kemarahan Han Sin tak dapat dipertahankan lagi. Ia menjadi nekat.

Memang, kalau dia mau, biarpun dikepung rapat oleh para tentara Mongol, agaknya mempergunakan kepandaiannya ia masih akan dapat lolos, asal saja tokoh-tokoh di dalam pondok itu tidak keluar menghalanginya. Akan tetapi, melarikan diri adalah soal kedua baginya pada saat itu. Soal terpenting adalah menghadapi orang-orang yang menghinanya sedemikian rupa.

"Pak-thian-tok iblis sombong, jangan sembarangan membuka mulut!" bentaknya dan tubuh pemuda ini meloncat ke atas lalu menerobos memasuki pondok dengan menggerakkan kedua tangan digerakkan melakukan pukulan dengan jurus Cio-po thian-keng dari Ilmu Silat Thian-po Cin keng. 36. Benteng Pertahanan Pangeran Galdan

"BRAKKKKK!" Papan dari pondok itu pecah berantakan ketika tubuh pemuda ini melayang ke dalam. Ia melihat di antara asap-asap hitam yang memenuhi kamar itu, muka sepasang raksasa dan muka seorang tua tertawa bergelak. Ia tidak mengenal orang tua bertopi seperti seorang yang berpangkat itu, yang dicarinya adalah muka Pak-thian-tok Bhok Hong yang tidak nampak.

Saking marahnya, Han Sin berlaku ceroboh, tidak mengira bahwa ia sengaja dipancing. Tubuhnya melayang ke dalam pondok, napasnya menjadi sesak, bau yang amat keras menyengat hidungnya!

Seketika Han Sin menjadi pening kepalanya. Cepat-cepat ia menahan napas, lalu mengerahkan lweekangnya untuk menghembuskan keluar hawa beracun yang telah disedotnya. Ia berhasil, akan tetapi pada saat itu ia merasa ada dua serangan menyambar dari kanan kiri. la maklum bahwa raksasa kembar itu telah menyerangnya dari kanan kiri.

Cepat digerakkannya kedua tangan melindungi tubuh dengan gerak tipu Khai-peng-twi-san (Pentang Sayap Mendorong Bukit) dari Ilmu Silat Thian-po Cin-keng! Hebat tangkisan ini, terdengar dua orang raksasa itu mengeluh perlahan dan roboh bergulingan. Ternyata tangkisan ini sekaligus membuka jalan darah mereka sehingga obat pemunah racun asap hitam yang mereka telah pakai pemberian Pak-thian-tok menjadi hilang khasiatnya.

Mereka telah terpukul oleh pukulan sendiri yang membalik, ditambah terluka oleh hawa sinkang yang keluar dari tangkisan Han Sin, kini menjadi lebih parah oleh karena mereka telah menyedot asap hitam oleh hidung mereka yang sudah tak terlindung pula. Dua orang itu bergulingan dan dalam keadaan sekarat!

Akan tetapi, karena mereka berdua bukan orang sembarangan, pukulan-pukulan mereka yang dilakukan secara tiba-tiba dan hebat sekali kepada Han Sin yang repot menghadapi asap hitam, sedikit banyak mendapatkan hasilnya pula. Pemuda itu memang betul dapat menangkis pukulan- pukulan itu, namun pergerakan yang membutuhkan pergerakan sinkang ini "membocorkan" penutupan napasnya sehingga tanpa ia sadari, sedikit asap hitam beracun telah memasuki dadanya. Hal ini diketahui setelah ia merasa napasnya sesak sekali dan kepalanya pening, hendak muntah- muntah rasanya.

Terkejutlah hati Han Sin, maklum bahwa tubuhnya kemasukan racun. Ia mencurahkan seluruh perhatian. Sedikit gerakan saja yang dibuat oleh orang berpakaian seperti pembesar tadi telah menarik perhatiannya. Benar saja, "pembesar" itu yang ternyata adalah seorang Han yang menjilat, mengekor kepada orang-orang Mongol dan sudah puas karena diberi janji akan diberi kedudukan sehingga belum apa-apa dia sudah berpakaian sebagai pembesar, menyerangnya dengan sebatang pedang. Dari gerakan orang ini, Han Sin dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang ahli pedang dari Kun-lun-pai.

Namun, Han Sin sedang marah sekali, apalagi ia sedang menderita bahaya besar dari racun, maka ia tidak sudi membuang banyak waktu. Pada saat itu, siapa yang menyerangnya dia itulah musuhnya. Tanpa menoleh, tangannya bergerak ke belakang diikuti tubuhnya yang diputar dan di lain saat, lima jari tangan Han Sin sudah berhasil mencengkeram pedang yang tajam itu!

Benar-benar pemuda ini sudah mendapatkan ilmu yang sakti, sudah memperoleh kemajuan yang luar biasa. Siapa akan mengira bahwa dalam waktu singkat, setelah berturut-turut ia mewarisi ilmu silat yang tinggi, ia akan seberani dan sekuat itu. Orang itu tentu saja akan membelalakkan kedua matanya saking herannya, lalu berusaha membetot pedang agar tangan pemuda itu terbabat putus. Akan tetapi jangan harap akan terjadi demikian, malah ketika ia cabut, pedang itu sama sekali tidak bergeming seakan-akan sudah terpegang oleh sebuah tanggem yang kuat dan besar.

Han Sin mengerahkan tenaga pada tangannya, disentakkannya sedikit dan "krekk!" pedang itu patah menjadi dua potong! Ujungnya berada di tangan Han Sin sedangkan pangkal dan gagangnya berada di tangan "pembesar" itu. Murid Kun-lun-pai yang menyeleweng itu kaget dan penasaran, terus membentak dan menyerang lagi.

Han Sin sudah mulai gelap matanya karena pengaruh racun, namun ia masih dapat melihat berkelebatnya pedang buntung ke arah perutnya. Cepat ia miringkan tubuh, mengebutkan tangan kiri yang tepat mengenai pergelangan tangan lawan sehingga pedang buntung terlepas, lalu kakinya menendang ke depan. Orang itu menjerit ngeri, tubuhnya terpelanting keluar pondok melalui lubang yang tadi dibuat oleh Han Sin.

Di luar pondok terdengar ia memekik kesakitan ketika tubuhnya terbanting ke atas batu-batu yang keras. Kulitnya lecet-lecet, babak belur, dagingnya biru-biru, pakaiannya koyak-koyak, tidak patut lagi ia menjadi pembesar, lebih menyerupai seorang pengemis gila!

"Bocah, jangan menjual lagak di sini!" terdengar bentakan keras.

Han Sin yang sudah pening itu cepat membuang diri ke kiri ketika dari kanan menyambar angin pukulan yang luar biasa dahsyatnya. Ia maklum bahwa Pak-thian tok Bhok Hong sudah keluar dari tempat sembunyinya dan mengirim serangan dengan tangan yang mengandung Hek-tok sin-kang.

Han Sin tidak takut akan Hek tok-sin-kang karena darahnya sudah mengandung racun pek-tok dari darah ular Pek-hiat-sin-coa. Akan tetapi, tenaga pukulan kakek berbaju perang itu amat hebat, juga ilmu silatnya luar biasa ganas dan kuatnya, selain ini kepalanya sendiri sudah amat pening, pandang matanya berkunang-kunang dan ia sudah terlalu lama menahan napas.

Di dalam keadaan pening dan seperti mabok itu, Han Sin masih ingat bahwa satu kali saja ia menarik napas, tentu paru-parunya akan penuh racun dan ia akan celaka. Dia harus lari dari tempat ini, kalau ingin selamat. Akan tetapi Pak-thian-tok Bhok Hong sudah menyerangnya, mengurungnya rapat-rapat dengan hawa pukulan-pukulan yang amat dahsyat. Sampai berdesing- desing angin pukulan menyambar ke arahnya dari segala jurusan! Akan tetapi, di dalam kepusingannya, panca indera Han Sin malah dapat bekerja baik sehingga kemanapun juga lawan menyerangnya, selalu ia dapat menangkisnya dengan tepat.

Beberapa jurus lewat dengan cepatnya dan selalu terdengar suara tangan beradu, suaranya keras menggetarkan pondok. Bhok Hong untuk kesekian kalinya terheran-heran. Bocah ini terlalu hebat, terlalu lihai dan harus disingkirkan dari muka bumi. Kalau tidak, nama besarnya tentu akan rusak. Sambil mengerahkan semangat dan tenaga, Bhok Hong mendesak terus dan pada suatu saat yang amat baik, ia memukulkan tangan kanannya ke arah ulu hati Han Sin. Pukulan yang keras, cepat, dan mengandung tenaga maut sukar untuk dihindarkan lagi!

Namun Cia Han Sin murid tak langsung dari Tat Mo Couwsu sendiri setelah pemuda ini mempelajari Thian-po-cin keng. Di samping ini, ia sudah pula mempelajari ilmu silat aneh dan sakti seperti Lo-hai Hui-kiam maka tentu saja serangan maut ini tidak membuatnya kehilangan akal.

Malah menghadapi serangan maut ini Han Sin melihat jalan terbuka baginya untuk membebaskan diri dari kepungan serangan Bhok Hong.

Ia menanti pukulan sudah datang dekat sehingga hawa pukulan sudah menghantam ulu hatinya, cepat ia menggerakkan tangan menerima kepalan tangan lawan dengan telapak tangan, menggunakan hawa "menyedot" sehingga tenaga pukulan itu amblas ke dalam tangannya, akan tetapi tenaga dorongnya yang mengandung tenaga gwakang (kasar) itu diterimanya. Berkat dorongan tenaga kasar yang amat kuat ini tubuhnya terlempar ke belakang dan memang sudah ia perhitungkan, tepat sekali tubuhnya itu melayang melalui lubang di papan dinding pondok tadi.

Ia mendengar Bhok Hong berseru kaget dan heran, kemudian disusul suara ketawa bergelak dari kakek itu. Han Sin terkejut dan menduga adanya jebakan lain, namun sudah terlambat baginya. Kepalanya terlampau pening dan begitu mendapatkan hawa segar, ia membuka penahanan napasnya. Hal ini membuat matanya menjadi berkunang dan ia tidak dapat menjaga diri lagi ketika tiba-tiba dari sekelilingnya banyak orang melemparkan jala ke arah tubuhnya.

Tanpa dapat mengelak lagi pemuda ini roboh terbungkus jala yang ternyata terbuat dari pada bahan yang amat kuat, yaitu otot-otot binatang yang sudah dimasak dengan minyak sehingga ulet dan tak mungkin dapat putus! Ketika Han Sin mencoba memberontak, ia merasa leher belakangnya sakit, gatal-gatal dan pedih sekali, ia terkejut, maklum bahwa Bhok Hong sudah keluar dan melukainya. Matanya gelap dan sebelum pingsan, Han Sin masih sempat mendengar suara ketawa Bhok Hong

......!

****

"Memang hebat dia " kata Ciu ong Mo-kai yang sedang duduk bercakap-cakap dengan para

tokoh kang-ouw yang membantu bala tentara Mancu. Mereka ini sedang membicarakan Lie Ko Sianseng yang mengirim dua peti batu dan diterima oleh utusan Pangeran Yong Tee seperti telah dituturkan di bagian depan. Memang tadinya Ciu-ong Mo-kai dan tokoh-tokoh lain merasa terheran-heran mengapa Pangeran Yong Tee agaknya mementingkan barang-barang yang ternyata hanyalah batu-batu kasar belaka. Juga mereka terheran kalau memikirkan bagaimana Han Sin mau membawakan dua peti itu dan malah membela dengan gagahnya.

Baru sekarang, beberapa hari kemudian mereka mendengar berita dari kota raja bahwa batu-batu kasar itu sebenarnya merupakan sebuah peta! Kalau batu-batu itu dijajar-jajar dan disusun menurut rahasia yang ditentukan, akan tergambarlah sebuah peta daerah utara, peta yang menunjukkan rahasia pertahanan bala tentara Mongol!

"Memang lihai si tukang catut. Entah berapa dia mendapatkan hadiah dari Pangeran Yong Tee untuk usahanya itu," kata pula Ciu-ong Mo-kai setelah menenggak araknya.

"Kabarnya mengumpulkan keterangan-keterangan untuk membuat peta seperti itu bukannya pekerjaan mudah," sambung seorang tosu. "Di bagian utara, bala tentara Mongol sedang membangun sebuah benteng, dan Li Ko Sianseng memasukkan beberapa orang mata-mata sebagai pekerja-pekerja di benteng ini. Mereka inilah yang membuat guratan-guratan pada batu-batu yang kemudian mengumpulkan lalu mengirim batu-batu bergurat itu kepada Lie Ko Sianseng "

"Memang tukang catut banyak akalnya ha ha ha, betapapun juga, dia orang gagah," kata pula

Ciu-ong Mo-kai dengan kagum.

Pada saat itu, datang Phang Yan Bu pemuda putera Ang-jiu Toanio. Pemuda itu memberi isyarat kepada Ciu-ong Mo kai, minta bicara berdua. Ciu-ong Mo kai lalu bangkit berdiri, meninggalkan kawan-kawannya dan pergi keluar bersama Yan Bu.

"Ada apakah, Phang-hiante? Kau kelihatan gelisah." Dengan kening berkerut Phang Yan Bu berkata, "Lo-enghiong, saya amat menggelisahkan kepergian muridmu, nona Cia Bi Eng "

Ciu-ong Mo-kai Tang Pok memandang tajam. Sebagai seorang tua yang sudah berpengalaman banyak, tentu saja ia sudah mendengar tentang perasaan pemuda ini yang dulu mencinta Bi Eng, akan tetapi sekarang melihat pula betapa Yan Bu agaknya dekat dengan Li Goat puteri mendiang Thio-ciangkun.

"Ada apa dengan Bi Eng?" tanyanya pendek.

"Malam kemarin ketika nona Cia bercakap-cakap dengan saya dan teman-teman lain, tiba-tiba muncul seorang gadis asing yang tidak kami kenal. Akan tetapi, agaknya nona Cia mengenalnya dengan baik gadis berbangsa Hui itu. Kemudian, entah apa yang mereka bicarakan, nona Cia lalu ikut pergi bersama gadis Hui yang ia sebut namanya Tilana, katanya tidak lama perginya, tidak tahunya sampai sekarang belum juga pulang."

Biarpun di luarnya tidak kentara, malah lalu menenggak araknya, akan tetapi di dalam hatinya Ciu- ong Mo-kai tertarik dan kaget juga. Disebutnya nama seorang gadis Hui sekaligus mengingatkan kepadanya akan Balita puteri Hui itu, musuh besar keluarga Cia.

"Lalu bagaimana?" desaknya karena dari wajahnya, pemuda itu kelihatan masih mempunyai penuturan yang menarik.

"Itulah yang menggelisahkan hati saya, lo-enghiong. Tadi gadis Hui itu muncul pula, hanya sebentar. Kebetulan sekali aku yang melihatnya dan ia berkata kepadaku bahwa nona Cia Bi Eng takkan kembali lagi ke sini, karena sudah berkumpul dengan ibunya. Di samping pemberitahuan ini ia bertanya di mana adanya Han Sin.

Ketika kuberi tahu bahwa saudara Cia Han Sin pergi ke utara, ia berkelebat dan pergi. Gerakannya cepat sekali, dan aku merasa curiga, ingin menahannya. Akan tetapi bagaimana aku dapat melakukan hal itu terhadap seorang gadis? Karena tidak berdaya maka kuberitahukan lo-enghiong."

Ciu-ong Mo-kai makin terkejut. Celaka, pikirnya. Jangan-jangan Bi Eng terjatuh ke dalam tangan Balita!

"Kau tunggu saja di Ta-tung, Phang hiante. Kalau sewaktu-waktu Han Sin muncul, beritahu bahwa aku hendak mencari Bi Eng, mungkin ke utara. Kudengar dua orang suheng dari Balita juga membantu Bhok Kian Teng. Bukan tak mungkin kalau Balita dan orang-orang Hui juga membantu pasukan Mongol."

Setelah meninggalkan pesan ini, Ciu¬ong Mo-kai lalu berangkat ke utara untuk mencari Bi Eng dan sekalian menyusul Han Sin. Kakek ini maklum bahwa kepandaian Han Sin jauh lebih tinggi dari padanya maka lebih baik lagi memberi tahu pemuda itu tentang hilangnya Bi Eng sehingga mereka berdua dapat mencari gadis itu.

Seperti juga Han Sin, kakek raja arak ini melakukan perjalanan cepat dan hati-hati sekali agar jangan sampai ketahuan orang-orang Mongol. Namun, dia memandang orang-orang Mongol terlalu rendah kalau mengira bahwa perjalanannya tidak dilihat orang. Semenjak dia meninggalkan Ta- tung dan menginjak daerah Mongol, perjalanan kakek sakti ini sudah diketahui oleh para mata-mata Mongol yang amat cerdik. Pada suatu hari, ketika tiba di daerah yang berhutan selagi Ciu-ong Mo kai berjalan di tempat sunyi ini, tiba tiba terdengar suara kaki kuda dan dari belakangnya muncul seorang pemuda menunggang kuda. Cepat bagaikan kilat kakek ini meloncat dan tubuhnya sudah lenyap bersembunyi di dalam semak-semak. Penunggang kuda itu nampaknya tidak tergesa-gesa, kudanya berjalan perlahan saja malah setelah memasuki hutan, pemuda yang berdandan seperti orang terpelajar dari selatan itu bernyanyi!

"Melihat pengemis mabok malas berkeliaran sungguh membuat orang jadi penasaran!

Mengejar cita-cita

itulah tugas seorang perkasa! Warisan nenek moyang takkan terbuang sia-sia.

Bumi kuinjak, langit kuraih demi terlaksana cita-cita!"

Nyanyian itu dinyanyikan dengan suara yang nyaring gagah penuh semangat dan Ciu-ong Mo-kai tersenyum mengejek ketika mengenal bahwa penunggang kuda itu bukan lain adalah Bhok-kongcu, Bhok Kian Teng atau Pangeran Galdan pemimpin pemberontak Mongol! Tak perlu kakek itu bersembunyi lagi karena dalam nyanyiannya tadi, Bhok-kongcu sudah menyindirnya, berarti sudah melihat dan mengetahui tempat persembunyiannya.

"Bagus memang nyanyian cucu Jenghis Khan! Memang bersemangat dan bagus, tapi bagus untuk siapa? Untukmu dan untuk bangsamu! Ha ha ha, kau memang seorang bun-bu-coan-jai (ahli silat dan sastera), Bhok-kongcu eh, Pangeran Galdan!" kata Ciu-ong Mo-kai sambil melompat keluar

dari tempat persembunyiannya.

Pemuda itu memang Bhok-kongcu yang sudah kita kenal. Dia adalah Bhok Kian Teng putera Pangeran Bhok Hong ong, seorang pemuda tampan yang penuh rahasia, pandai ilmu silat, pintar dalam hal kesusasteraan, pesolek, pemuda cabul yang pandai main suling, main thioki (catur), dan pandai pula dalam hal racun. Kini, biarpun pakaiannya masih seperti seorang pemuda Han terpelajar, dia sebetulnya adalah Pangeran Galdan, pemimpin pemberontak Mongol yang amat ditakuti orang.

Dengan senyum menghias bibirnya, pangeran itu menganggukkan kepalanya tanda menghormat, tanpa turun dari kudanya.

"Eh, kiranya si raja arak yang sakti berada di sini. Ciu-ong Mo-kai, kau jauh jauh dari selatan sampai tersesat di sini, apa yang kaucari? Apakah kau sudah begitu rendah untuk melakukan pekerjaan mata-mata dari pemerintah penjajah Mancu? Mana sifat patriotmu dahulu?" Pangeran itu tertawa mengejek dan tiba-tiba saja wajah yang tampan tadi berubah menyeramkan.

"Tidak ada pekerjaan yang buruk, apapun juga pekerjaan itu. Yang buruk hanya tujuannya, yang jahat adalah pamrihnya, heh heh " jawab Ciu-ong Mo-kai sambil menenggak araknya tanpa

perdulikan pangeran yang ditakuti puluhan ribu orang ini.

Pangeran Galdan mengerutkan alisnya yang hitam panjang. "Ciu-ong Mo-kai, tak perlu kau berpura-pura dan membohongi aku. Siapa tidak tahu bahwa kau tadinya berada di Ta-tung membantu bala tentara Mancu? Apa kau hendak menyangkal bahwa kau telah menjadi kaki tangan Mancu?" Kakek itu kembali tertawa bergelak, suara ketawanya bergema di hutan itu. "Siapa hendak menyangkal? Tidak ada yang perlu disangkal karena tidak ada yang perlu disembunyikan. Memang aku berada di Ta-tung, memang aku membantu tentara Mancu! Apa salahnya? Siapa membantu siapa apa bedanya? Di mana ada arak wangi, di situlah ada Ciu-ong! Tapi, ketahuilah, Pangeran Mongol, kali ini aku datang ke sini bukan karena perang yang sedang berlangsung antara bangsamu dan bangsa Mancu. Aku tersesat ke sini karena hendak mencari muridku. Hemmm, kebetulan sekali bertemu denganmu, kau tentu tahu di mana adanya Bi Eng yang sudah tertawan oleh Balita si perempuan Hui. Ayoh kau kembalikan muridku!"

Bhok-kongcu tersenyum kecil. "Setan arak, kau selalu memandang rendah dan menyangka buruk kepadaku. Kalau saja aku tidak memandang kepandaianmu dan tidak sayang kepada orang selihai engkau mana aku sudi bertemu dan bercakap-cakap denganmu? Perkara muridmu Bi Eng itu, mudah kita urus belakangan, kalau memang betul dia berada di wilayah ini, aku yang tanggung bahwa dia takkan ada yang mengganggu. Akan tetapi, yang terpenting sekarang, bagaimana kalau kau membantu aku? Kau seorang patriot, apa kau suka melihat bangsa dan tanah airmu dijajah oleh orang Mancu? Bantulah aku, mari kita membasmi penjajah itu dan mengusir orang-orang Mancu dari tanah airmu. Bagaimana?"

Di dalam hatinya Ciu-ong Mo-kai mendongkol sekali. Hemm, orang Mongol ini betul-betul gila, mengira aku seorang bocah. Membantumu mengusir orang Mancu sama artinya dengan membantumu menjajah tanah airku! Akan tetapi, apa bedanya? Biarlah orang-orang Mongol dan orang-orang Mancu berkelahi sendiri, berperang sendiri sampai habis. Membantu yang manapun sama saja, yang penting ia harus berusaha menyelamatkan Bi Eng. Ia tertawa bergelak.

"Pangeran yang cerdik! Sudah kukatakan tadi, di mana ada arak wangi di situ ada Ciu-ong (Raja Arak). Pangeran Yong Tee dari Mancu tahu akan kesukaanku itu, apakah kau juga dapat menyediakan arak wangi yang paling baik?"

Pangeran Galdan atau Bhok-kongcu tertawa senang. "Kalau kau ikut bersamaku, kau boleh minum sampai pecah perutmu."

"Dan kau akan bersikap penuh hormat seperti Pangeran Yong Tee? Dan tidak akan mengganggu wanita seperti Pangeran Yong Tee?"

Bhok-kongcu mengerutkan kening. "Pengemis kelaparan kaukira aku boleh kau banding- bandingkan dengan segala macam pangeran cilik seperti si Yong Tee itu? Huh, Kau tidak mau membantuku juga tidak apa!" Setelah berkata demikian, Bhok-kongcu menarik kendali kudanya, memutar tubuh kuda itu dan membalapkan kuda itu meninggalkan Ciu-ong Mo-kai.

"He he, nanti dulu, pangeran! Belum selesai kita bercakap-cakap!" seru Ciu¬ong Mo-kai sambil mengejar.

Bhok-kongcu mempercepat larinya kuda, menarik kendali dan mengempit perut kuda. Kuda itu adalah kuda utara yang kuat sekali, larinya kencang seperti angin. Memang pangeran ini hendak mencoba atau menguji kepandaian Ciu-ong Mo-kai yang hendak ditarik menjadi pembantunya itu.

Sebaliknya, Ciu-ong Mo¬kai yang melihat kesempatan baik baginya untuk menyelamatkan Bi Eng, tentu saja merasa menyesal mengapa Bhok Kian Teng hendak pergi meninggalkannya. Kesempatan baik ini tak boleh disia-siakan, pikirnya, maka ia lalu mengerahkan tenaga ginkangnya dan cepat mengejar. Baru saja Bhok-kongcu keluar dari hutan itu, tiba-tiba tubuh kudanya tersentak berhenti. Ketika ia menengok, ia melihat Ciu-ong Mo-kai sambil tertawa-tawa sudah berada di belakangnya dan sudah mencekal ekor kuda yang tebal dan panjang itu. Ternyata kakek aneh itu sudah berhasil menyusul larinya kuda! Terpaksa kuda itu berhenti dan tak dapat lari lagi.

"Heh heh heh, Bhok-kongcu eh, Pangeran Galdan. Kalau lohu (aku) menghendaki, bukan buntut

kuda yang kucekal, melainkan nyawa orang yang menunggangi kudanya. Kau lihat, aku tidak mempunyai maksud buruk, heh heh heh !”

Bhok-kongcu tersenyum mengejek. "Kau salah duga, Ciu-ong Mo-kai. Bukan kau yang memperlihatkan maksud baik, melainkan aku yang sengaja tidak mau mencelakaimu, karena memang aku mempunyai maksud bersahabat dengan engkau. Lihat!" Bhok-kongcu mengeluarkan sebuah bendera kuning dan melambaikan bendera itu. Tiba-tiba, seperti iblis-iblis di siang hari, bermunculan tentara Mongol dari segenap penjuru dan dalam beberapa puluh detik saja tempat itu sudah dikurung oleh ratusan orang tentara Mongol yang sudah siap dengan anak panah di gendewa masing-masing!

Diam-diam Ciu-ong Mo-kai melengak dan kagum. Kiranya kemunculan Bhok-kongcu ini bukan secara kebetulan, melainkan sengaja diatur dan lebih dulu sudah ada ratusan orang tentara Mongol yang melindungi kongcu itu sehingga andaikata terjadi hal yang tidak beres, tentu dia sudah dihujani anak panah!

"Ha ha ha ha! Pangeran Galdan benar-benar hebat sekali. Asal ada arak wangi, pengemis bangkotan macam aku ini tentu saja suka membantu memukul orang-orang Mancu!"

Girang hati Bhok-kongcu. Ia memang sudah mendengar dan menyaksikan sendiri akan kelihaian pengemis aneh ini yang kepandaiannya kiranya tidak kalah, atau hanya sedikit selisihnya, dengan Hoa Hoa Cinjin. Tentu saja kalau dia bisa mendapat bantuan tenaga seperti Ciu-ong Mo-kai, keadaannya akan menjadi lebih kuat, selain itu, juga ia melemahkan keadaan pasukan Mancu yang kehilangan Ciu-ong Mo-kai.

"Bagus, Ciu-ong Mo-kai. Kalau benar-benar kau suka bekerja sama, jangan khawatir, arak wangi telah tersedia untukmu. Akan tetapi kau harus bersumpah." Pangeran ini cerdik dan sudah mengenal watak orang-orang kang-ouw dari selatan. Orang-orang kang-ouw ini menjunjung tinggi kegagahan, selalu memegang janji, apa lagi sumpah takkan dilanggarnya biarpun harus mengorbankan nyawa!

"Aku, Ciu-ong Mo-kai, bersumpah bahwa aku selalu akan memusuhi penjajah tanah airku!"

"Dan sekarang kau memusuhi orang-orang Mancu!" sambung Bhok-kongcu yang masih belum puas.

"Aku bersumpah memusuhi orang orang Mancu sekarang!" Ciu-ong Mo-kai bersumpah tanpa ragu- ragu. Memang, di dasar hatinya ia memusuhi semua bangsa yang menjajah Tiongkok, mengapa tidak? Baik Mancu maupun Mongol, adalah musuhnya.

Girang dan puas hati Bhok-kongcu. Segera ia mengajak Ciu-ong Mo-kai menuju ke Pegunungan Yin-san, markas besarnya. Juga ia berjanji untuk membebaskan Bi Eng apabila benar-benar ternyata bahwa gadis itu ditawan oleh Balita.

"Jangan khawatir, dua orang suheng dari Balita bekerja sama dengan kami. Biarkan mereka menghadapi Balita untuk minta Bi Eng, tentu akan diserahkan dengan baik," kata pangeran ini. Rombongan ini tak lama kemudian sudah tiba di Yin-san dan di dalam sebuah istana darurat yang indah dan mewah, Ciu-ong Mo-kai dijamu dengan sebuah pesta. Benar saja, Bhok-kongcu mempunyai simpanan arak yang baik. Dengan gembira Ciu-ong Mo-kai makan minum dan sama sekali ia tidak berkeberatan untuk duduk bersama-sama dengan Hoa Hoa Cinjin, Tung-hai Siang- mo, Huang-ho Sam-ong, dan beberapa orang tokoh kang-ouw yang cukup terkenal dan yang ternyata menjadi kaki tangan Bhok-kongcu!

Selagi Bhok-kongcu dan orang-orangnya berpesta gembira, tiba-tiba datang laporan bahwa ada sepasukan tentara utusan Pak-thian-tok mengantar seorang tawanan untuk minta keputusan Pangeran Galdan!

Kedengarannya memang aneh bagaimana Bhok Hong sebagai ayah Pangeran Galdan, tidak berani memutuskan sendiri atas diri seorang tawanan, melainkan minta keputusan puteranya. Memang demikianlah. Entah bagaimana, Bhok Hong ternyata amat bangga akan puteranya.

Malah mengabarkan di antara bangsanya bahwa puteranya itu, Pangeran Galdan, adalah pemimpin besar Bangsa Mongol, penjelmaan Raja Besar Jenghis Khan dan karenanya adalah kekasih dewata yang harus ditaati, oleh siapapun juga, bahkan oleh dia sendiri! Tentu saja di balik keanehan sikapnya yang seakan-akan taat dan tunduk kepada putera sendiri ini, ada maksud tersembunyi di dalam hati Bhok Hong sebagai seorang bapak yang ingin melihat anaknya menjadi raja besar seperti Jenghis Khan.

Dia sendiri sudah tua, pula tidak ada minat tentang pemerintahan, biarlah puteranya yang menjadi Jenghis Khan kedua! Bhok-kongcu atau Pangeran Galdan yang sedang bergembira karena berhasil menarik tenaga baru yang amat kuat, mengerutkan kening. Kalau bukan tawanan yang amat penting, tak nanti ayahnya sampai mengirimnya pada saat seperti itu.

"Bawa dia masuk akan kutanyai!" katanya dengan sikap agung kepada tentara pelapor. "Ampun, pangeran. Tawanan itu terluka dan pingsan tak dapat ditanyai lagi "

"Jangan cerewet, bawa dia masuk kataku! Biar kulihat siapa dia!" bentak Pangeran Galdan marah. Tentara itu cepat memberi hormat dan mundur. Tak lama kemudian masuklah empat orang tentara yang tinggi besar, menyeret tubuh seorang laki-laki yang berada di dalam jala, menggeletak dengan muka pucat seperti mayat. Sukar diduga siapa yang lebih kaget di antara Ciu-ong Mo-kai dan Bhok- kongcu ketika melihat siapa adanya tawanan yang pingsan seperti mati itu.

"Han Sin !" Ciu-ong Mo-kai tak dapat menyembunyikan kagetnya, malah kakek yang sudah

kenyang makan asam garam dunia ini seperti sengaja memamerkan kagetnya.

Pangeran Galdan menoleh ke arah kakek itu sambil tersenyum, matanya menatap tajam. "Ehem, kau tentu mengenalnya, Ciu-ong Mo-kai " katanya penuh sindir.

"Tentu saja!" jawab Ciu-ong Mo-kai dengan suara wajar. "Untuk apa aku harus berpura-pura tidak mengenalnya kalau dia itu adalah kakak dari muridku, atau hampir boleh dibilang dia itupun muridku karena pernah belajar teori silat dariku?"

Tiba-tiba Bhok-kongcu tertawa terbahak dengan muka geli, "Dia itu belajar teori silat dari padamu? Ha ha ha, menggelikan sekali! Ciu-ong Mo-kai, apakah kau pura-pura tidak tahu bahwa dia itu sepuluh kali lebih lihai darimu? Ha ha, hanya ayahku yang sakti saja dapat mengalahkannya dan menawannya!" "Tentu saja aku tahu, Pangeran Galdan. Memang sekarang dia telah menjadi amat lihai, dan agaknya ayahmu yang terhormat itupun belum dapat mengalahkannya dalam pertandingan terbuka dan jujur." Setelah berkata demikian, Ciu-ong Mo-kai menenggak araknya. Orang-orang yang berada di situ diam-diam merasa heran sekali atas keberanian dan kelancangan mulut si pengemis bangkotan ini yang sama sekali tidak menghormat kepada "Pangeran Keturunan Dewata"!

Adapun Bhok-kongcu sudah tidak memperdulikan Ciu-ong Mo-kai lagi. Dia mendengar laporan dari pengawal yang membawa Han Sin tentang ditangkapnya Cia Han Sin oleh Pak-thian-tok Bhok Hong. Kemudian dengan amat marah Bhok-kongcu mendengar laporan pula betapa di mana-mana pasukannya dipukul hancur atau dipukul mundur oleh pasukan-pasukan Mancu yang amat kuat.

"Keparat!" bentak Pangeran Galdan sambil membanting kakinya. "Sampai titik darah terakhir dalam tubuhku, aku harus melawan dan menghancurkan Mancu!" Ia lalu memandang ke arah tubuh Han Sin yang masih menggeletak terbungkus jala.

"Keluarkan dia dari jala, belenggu kaki tangannya tapi jangan bunuh dia. Aku harus memaksanya untuk membantuku kalau dia masih belum bosan hidup. Hanya ada dua jalan baginya." Pangeran itu menoleh kepada Ciu-ong Mo-kai seakan-akan kakek itu dijadikan wakil Han Sin untuk mempertimbangkan keputusannya, "Membantuku melawan Mancu atau kupenggal kepalanya!"

Ciu-ong Mo-kai pura-pura tidak melihat atau mendengar ini. Ia terus saja menenggak araknya dan menyambar makanan yang paling enak di atas meja. Agaknya keadaan Han Sin yang tertawan dan berada dalam keadaan mengenaskan, entah hidup atau mati itu sama sekali tidak diperdulikannya.

Empat orang pengawal yang kuat kuat itu sudah membuka jala dan menarik tubuh Han Sin yang sudah tak berdaya dan lemas itu keluar dari jala. Mereka mengeluarkan tali otot kerbau yang kuat untuk mengikat kaki tangan pemuda Min-san itu.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar gerengan keras sekali dan tahu-tahu hujan arak menyembur ke arah muka keempat orang pengawal. Hujan arak yang tersembur dari mulut Ciu-ong Mo-kai sama lihainya dengan hujan jarum. Empat orang itu menutupi muka dengan kedua tangan sambil mengaduh-aduh karena mata mereka sudah seperti buta dan muka mereka sakit seperti ditusuk ratusan jarum!

"Aduh ..... aduh ..... Aduh !"

Sebelum semua orang hilang kaget mereka, tubuh Ciu-ong Mo-kai berkelebat dan tahu-tahu ia sudah menyambar tubuh Han Sin dan dipanggulnya tubuh pemuda yang pingsan itu.

37. Kehancuran Benteng Mongol

"PENGKHIANAT busuk!" Hoa Hoa Cinjin membentak marah sekali. Semenjak tadi, melihat Ciu- ong Mo-kai diterima sebagai pembantu oleh Bhok-kongcu, Hoa Hoa Cinjin sudah merasa tak senang dan curiga. Dia sudah mengenal baik-baik pengemis tua ini, yang berjiwa patriotik sampai ke rambut-rambutnya. Paling gigih, pengemis ini melawan penjajah, malah secara rahasia memimpin seluruh perkumpulan pengemis di selatan untuk bangkit melawan penjajah. Bagaimana orang seperti dia itu bisa membantu orang-orang Mancu yang sekarang menjajah tanah airnya dan bagaimana mungkin lagi dapat menghambakan diri kepada Bhok-kongcu, seorang Pangeran Mongol?

Kalau dia datang membantu, tentu di belakangnya terselip maksud-maksud lain yang tidak baik. Akan tetapi tentu saja la tidak berani membantah kehendak Bhok-kongcu karena iapun maklum bahwa makin banyak orang pandai seperti Ciu-ong Mo-kai dapat membantu mereka, betul-betul membantu dengan setia, akan makin baiklah. Maka Hoa Hoa Cinjin yang duduk tak jauh dari Bhok- kongcu, selama pesta berjalan, hanya diam saja dan hanya mengawani makan minum. Namun diam diam matanya yang tajam seperti mata burung rajawali itu selalu menaruh perhatian dan mengawasi setiap gerak-gerik Ciu-ong Mo-kai.

Maka begitu ia melihat Ciu-ong Mo kai menyemburkan arak menyerang empat orang Mongol yang hendak membelenggu Han Sin, kemudian kakek pengemis itu menyambar tubuh Han Sin, Hoa Hoa Cinjin mengeluarkan teriakan marah lalu menyerang dengan hebat.

Ciu-ong Mo-kai bukan seorang yang ceroboh. la memang berlaku nekat ketika menolong Han Sin, maklum bahwa perbuatannya kali ini bukan main-main dan nyawalah taruhannya. Maka sebelum melakukan perbuatan itu, ia telah lebih dulu menghitung-hitung dan tahu bahwa ia akan berhadapan dengan orang-orang kosen dan lihai, terutama Hoa Hoa Cinjin. Hal ini membuat dia berlaku waspada dan tak pernah mengalihkan perhatiannya dari sai-kong ini.

Serangan dari Hoa Hoa Cinjin amat dahsyat datangnya, merupakan sebuah pukulan tangan kanan ke arah lambung Ciu-ong Mo-kai dibarengi dengan cengkeraman ke arah tubuh Han Sin yang dipanggul kakek pengemis itu. Sambaran angin serangan ini sudah membuat pakaian Ciu-ong Mo- kai di bagian lambung dan baju Han Sin di bagian pundak robek!

Ciu-ong Mo-kai kaget juga, akan tetapi tidak gugup. la maklum bahwa cengkeraman ke arah tubuh Han Sin itulah yang lebih berbahaya karena pemuda itu sedang pingsan tak dapat menjaga diri.

Cepat ia mengangkat tangan menangkis cengkeraman, sedangkan pukulan ke arah lambungnya ia hindarkan dengan sebuah gerakan mengegos yang lincah dari langkah kaki Ilmu Silat Liap hong- sin-hoat.

Ilmu silat ciptaan Ciu-ong Mo-kai ini, sesuai dengan namanya, yaitu Liap-hong-sin-hoat (Ilmu Sakti Mengejar Angin), memang mengandalkan kecepatan dan gerakan-gerakan kaki teratur yang amat cepat perubahannya. Dengan ilmu silat ini, tanpa balas menyerang Ciu-ong Mo-kai akan dapat menghadapi serangan serangan orang dengan enak saja, tubuhnya menjadi licin bagaikan belut dan trengginas, cepat bagaikan burung walet.

Akan tetapi sekarang ia menghadapi serangan Hoa Hoa Cinjin, seorang tokoh besar ilmu silat yang tingkat kepandaiannya tidak kalah tinggi olehnya. Memang ia berhasil menangkis cengkeraman ke arah Han Sin, akan tetapi pukulan ke arah lambungnya itu biarpun sudah dapat ia elakan, namun sebuah terdangan kaki yang boleh dibilang berbarengan saatnya dengan pukulan itu sendiri, tak dapat dihindarkannya lagi. Tendangan itu mengenai perut Ciu-ong Mo-kai.

Tubuh kakek pengemis ini terpental, namun hebat sekali, dia masih dapat meminjam tenaga tendangan ini untuk terus meloncat lari dari tempat itu sambil memanggul tubuh Han Sin dan membawa lari pula luka ringan di bagian dalam perutnya akibat tendangan tadi!

"Tangkap dia! Kejar!" Bhok-kongcu atau Pangeran Galdan memerintah dengan suara marah sekali. "Tangkap hidup-hidup!"

Masih untung bagi Ciu-ong Mo-kai bahwa pangeran itu saking marahnya dan saking bernafsu hendak melampiaskan amarahnya kepada Ciu-ong Mo-kai dan Han Sin, mengeluarkan perintah supaya menangkap mereka hidup-hidup. Andaikata tidak demikian, mana kakek ini mampu keluar dari kepungan dengan tubuh masih bernyawa? Serangan senjata-senjata rahasia dan anak panah tentu akan merenggut nyawanya dan nyawa Han Sin yang masih pingsan. Betapapun juga, bukanlah hal mudah bagi Ciu-ong Mo-kai untuk dapat melarikan diri. Biarpun ia sudah berlari secepatnya, tetap saja tiga orang dapat menyusulnya, yaitu Hoa Hoa Cinjin dan kedua saudara Tung-hai Siang-mo. Seperti telah dikenal dalam cerita yang lalu, dua orang saudara Tung- hai Siang-mo ini amat lihai, dengan maju bersama tingkat kepandaian mereka hampir menandingi tingkat Hoa Hoa Cinjin. Maka dengan majunya dua orang ini, sekarang Ciu-ong Mo-kai dikejar tiga orang yang amat lihai!

"Pengemis kelaparan, kauhendak pergi ke mana?" bentak Hoa Hoa Cinjin yang sudah datang dekat sambil menyerang lagi dengan pukulan dahsyat ke arah punggung kakek pengemis itu. Juga dua orang kakek Tung-hai Siang-mo (Sepasang Iblis Laut Timur) sudah menyerang dari kanan kiri sehingga Ciu-ong Mo-kai kini dikeroyok tiga!

"Ha ha ha, pentolan-pentolan kang-ouw main keroyok. Tak tahu malu!" Kakek itu tertawa mengejek, mainkan Ilmu Silat Liap-hong-sin-hoat sambil mempergunakan guci araknya sebagai senjata. Dengan gagah sekali kakek ini sambil menggendong tubuh Han Sin di pundak kiri, melakukan perlawanan mati-matian. Kadang-kadang ia menenggak arak dan menggunakan semburan-semburan araknya sebagai senjata rahasia yang ampuh.

Setiap kali mendapat kesempatan, Ciu-ong Mo-kai lari lagi untuk menjauhkan diri dari pada kepungan tentara Mongol. Dengan cara begini, terutama sekali karena Hoa Hoa Cinjin tidak berani melanggar perintah Pangeran Galdan, yaitu tidak mau membunuh Ciu-ong Mo-kai, pengemis ini dengan menderita beberapa luka di tubuhnya dapat melarikan diri sampai turun Gunung Yin-san!

Namun tiga orang kosen itu tetap membayanginya terus dan tiap kali ia tentu tersusul untuk mengalami keroyokan dan tak dapat dicegah lagi ia tentu terkena pukulan-pukulan yang amat berbahaya dari tiga orang itu.

Amat payah keadaan Ciu-ong Mo kai. Apa lagi pukulan terakhir dari Hoa Hoa Cinjin yang tepat mengenai siku lengan kanannya, membuat guci arak di tangannya terlempar dan tangan itu sendiri menjadi lumpuh karena sambungan tulang pada siku terlepas. Ciu-ong Mo-kai memindahkan tubuh Han Sin ke atas pundak kanan dan ia masih terus melawan dengan tangan kiri sambil tertawa-tawa mengejek! Dan hebatnya, selama itu kakek ini masih terus berhasil melindungi tubuh Han Sin sehingga belum sekali juga tubuh pemuda pingsan ini terkena serangan tiga orang pengeroyoknya.

"He he, Hoa Hoa Cinjin pengecut curangl" Ia masih sempat mengejek. "Kalau satu lawan satu mana kau mampu mengalahkan aku?"

Hati Hoa Hoa Cinjin panas sekali. Kalau menurut nafsunya, ingin ia mengandalkan serangan maut untuk membunuh kakek pengemis itu. Namun ia takut akan Bhok-kongcu atau Pangeran Galdan yang amat berpengaruh dan berkuasa. Sekali pangeran itu bilang ”tangkap hidup-hidup", ia harus dapat melaksanakannya.

Memang tentu saja amat sukar untuk menundukkan kakek pengemis ini tanpa melakukan serangan- serangan maut. Beberapa kali sudah ia melakukan penyerangan hebat, akan tetapi begitu melihat bahwa serangannya ini akan merenggut nyawa Ciu-ong Mo-kai, ia menarik kembali serangannya dan tentu saja hal ini membuat pertempuran menjadi amat lama.

Demikian pula halnya dengan Tung-hai Siang-mo. Mereka lebih lebih tidak berani melanggar perintah Pangeran Galdan. Memang harus diakui kehebatan Ciu-ong Mo-kai yang benar-benar amat "ulet". Pukulan-pukulan hebat yang biarpun mengenai tubuh orang lain sebetulnya sudah cukup untuk merobohkan orang itu. Namun kakek ini tetap melawan dan bahkan pada saat ia menyemburkan arak yang terakhir, yang masih tersimpan di mulut, dan melihat tiga orang lawannya mengelak, kakek ini masih dapat meloncat jauh dan lari lagi sambil tertawa-tawa.

"Hayo kejar aku! Hayo, kejar dan keroyok. Ha ha ha."

Hoa Hoa Cinjin menjadi penasaran bukan main. Kalau orang-orang kang-ouw melihat dia bersama Tung-hai Siang-mo tak dapat menangkap seorang pengemis bangkotan yang sudah terluka di beberapa tempat, malah sambungan siku kanannya sudah terlepas, alangkah akan malunya!

"Siang-mo, kita maju bareng dan tangkap dia!" katanya marah. Dua orang kawannya itu menyanggupi dan cepat-cepat mereka mengejar kakek itu yang kini larinya biarpun masih cepat, namun sudah terhuyung-huyung, napasnya empas-empis dan mukanya penuh keringat menahan nyeri yang hebat.

Ciu-ong Mo-kai maklum bahwa kali ini ia takkan dapat tertolong lagi. Dia tidak perduli lagi. Dia tidak perdulikan keselamatan sendiri. Aku sudah tua, pikirnya, tidak penasaran mati dalam pengeroyokan Hoa Hoa Cinjin dan Tung-hai Siang-mo, akan tetapi sayang kalau Han Sin sampai tewas. Dia adalah harapan kita untuk memimpin orang-orang gagah kelak ......

Pada saat itu, secara tiba-tiba saja muncullah dari sebuah tikungan seorang laki-laki gendut menuntun dua ekor kuda yang besar lagi kuat. Ciu-ong Mo-kai melihat bahwa orang itu yang menyeringai aneh bukan lain adalah Swi-poa-ong Lie Ko Sianseng si tukang catut! Biarpun

kakek pengemis ragu-ragu akan diri Raja Swipoa itu, namun ia cepat menghampiri dan berkata, "Lekas ...... kau selamatkan dia ini ....... aku tak kuat lagi ”

Lie Ko Sianseng cepat menerima tubuh Han Sin, akan tetapi ia tidak lupa untuk memandang cerdik dan bertanya, "Berapa upahnya?"

Mau tak mau Ciu-ong Mo-kai melotot kepadanya. "Tukang catut sialan! Nyawaku upahnya!"

Lie Ko Sianseng biarpun bicara namun ia tidak membuang waktu. Ia sudah meloncat ke atas kuda sambil mengempit tubuh Han Sin. "Pengemis bangkotan, nyawamu dan doamu supaya aku selamat. Pakai kuda ini!"

Ciu-ong Mo-kai yang sudah lelah sekali meloncat ke atas punggung kuda kedua dan sekali tepuk saja dua ekor kuda itu sudah meloncat dan berlari cepat. Akan tetapi, melihat dua orang buronan mereka kabur, Hoa Hoa Cinjin tentu saja tidak mau membiarkan. Terpaksa sekarang ia melanggar pantangan Pangeran Galdan dan secepat kilat ketika tangannya bergerak, sinar hijau menyambar ke arah Ciu-ong Mo-kai dan Lie Ko Sianseng.

"Lie Ko Sianseng, kaupun menjadi pengkhianat?" Ji Kong Sek, orang pertama dari Tung-hai Siang- mo berseru terheran-heran. Swi-poa-ong Lie Ko Sianseng sudah lama membantu Mongol, malah dipercaya oleh Pangeran Galdan. Kenapa sekarang menolong Ciu-ong Mo-kai?

Melihat sinar hijau menyambar, Ciu ong Mo-kai yang kudanya berada di belakang, cepat mengebutkan tangan kiri ke arah Lie Ko Sianseng. Ia berhasil menyampok runtuh sinar hijau ini, akan tetapi sinar hijau yang tertuju ke arah dirinya tak sempat ia elakkan lagi. Bawah pundak kirinya tertancap beberapa buah Cheng-tok-ciam (Jarum Racun Hijau) yang terus memasuki daging dan jalan darah. Rasa nyeri yang hebat menyerang diri Ciu-ong Mo-kai. Kakek ini menggigit bibirnya dan berkata kepada Lie Ko Sian¬seng. Menahan rasa nyeri,

"Lekas balapkan kuda, bawa dia kepada Yok-ong Phoa Kok Tee ....... di "

"Aku tahu. Di Tai-hang-san, bukan?" jawab Lie Ko Sianseng yang segala tahu itu. "Betul ..... biar aku menahan mereka, tosu-tosu bangsat itu "

"Ciu-ong ....... mari kau ikut lari. Kau sudah terluka hebat, kau takkan menang, kau akan mati "

"Ha ha ha, apakah artinya mati? Membantu Mancu atau Mongol hanya main-main belaka, akan tetapi kali ini ... menyelamatkan dia hemm, sama dengan menyelamatkan bangsa, dia harapanku

.... dan untuk menyelamatkan bangsa, untuk membela tanah air .... aku ingin mati seribu kali "

Tiba-tiba Ciu-ong Mo-kai menampar tubuh belakang kuda yang ditunggangi oleh Lie Ko Sianseng. Kuda itu terkejut, kesakitan dan membalap secepat keempat kakinya mampu lari! Adapun Ciu-ong Mo-kai sendiri lalu memutar kuda, menanti datangnya tiga orang pengeroyoknya. Dengan senyum mengejek ia menanti sampai mereka dekat, lalu berkata,

"Kalian mau tangkap aku? Tangkaplah. Akan tetapi jangan mengejar Lie Ko Sianseng, kalau kalian mengejar, terpaksa aku melawan kalian sampai mati di tangan kalian. Hasilnya, kalian takkan dapat menangkap Han Sin, juga kalian takkan dapat menangkapku hidup-hidup sehingga kalian akan dihukum oleh Pangeran Galdan. Ha ha ha!"

Hoa Hoa Cinjin dan dua orang kawannya saling pandang. Mereka tahu bahwa biarpun sudah terluka hebat, kakek pengemis ini masih tak boleh dipandang ringan dan kalau benar-benar hendak menghalang mereka bertiga mengejar Han Sin, tentu akan terjadi pertempuran lagi. Pula, kuda yang ditunggangi Lie Ko Sianseng luar biasa cepat larinya, tak mungkin mereka yang sudah lelah itu dapat menyusulnya.

"Pangeran akan menyiksamu!" Hanya demikian Hoa Hoa Cinjin dapat berkata untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya. Mereka bertiga lalu kembali ke Yin-san membawa "tawanan" yang menunggang kuda sambil tertawa-tawa dan kadang-kadang bernyanyi-nyanyi sajak To-tik-keng untuk menyindir tiga orang "pengawal" itu.

Ketika mereka berempat itu tiba di kaki Gunung Yin-san, terkejutlah mereka melihat betapa di lereng tempat markas besar Pangeran Galdan itu ternyata telah terjadi perang hebat. Nampak asap bergulung-gulung naik dan sorak-sorai gemuruh menandakan bahwa ada pihak yang menang. Pihak mana yang kalah mudah diduga karena markas besar itu telah menjadi lautan api! Bukit itu penuh dengan pasukan dan kini nampaklah nyata betapa pasukan Mongol cerai-berai dan lari turun gunung dari segala jurusan, dikejar-kejar oleh pasukan-pasukan yang bukan lain adalah pasukan Mancu!

Ciu-ong Mo-kai yang melihat ini tiba-tiba tertawa bergelak lalu meloncat dari kudanya dan sekuat tenaga ia menghantam dada Hoa Hoa Cinjin! Kakek ini tadi sedang terheran-heran dan terkejut melihat peristiwa hebat di atas gunung, maka kini dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia diserang secara tiba tiba oleh Ciu-ong Mo-kai.

Cepat ia mengelak dan menangkis, akan tetapi terlambat dan tentu ia akan terkena pukulan maut itu apabila dua orang saudara Tung-hai Siang-mo tidak bertindak cepat. Dua orang saudara ini melihat Ciu-ong Mo¬kai meloncat turun, sudah dapat menduga bahwa kakek ini akan melawan, maka mereka lalu menyerang dari kanan kiri menggunakan senjata rahasia Toat-beng-cui (semacam bor pencabut nyawa).

Senjata-senjata ini datang lebih cepat dari pada pukulan Ciu-ong Mo-kai pada Hoa Hoa Cinjin, maka sebelum pukulan itu mengenai tubuh Hoa Hoa Cinjin, kakek pengemis yang sakti ini telah lebih dulu "termakan" senjata rahasia dan terhuyung-huyung, Hoa Hoa Cinjin marah sekali, tangannya bergerak menghantam dada dan robohlah Ciu-ong Mo-kai dengan isi dada remuk.

Nyawanya melayang pada saat ia roboh.

Hoa Hoa Cinjin bertiga lalu berlari lari cepat mendaki bukit. Benar saja kekhawatiran mereka. Ternyata markas besar tentara Mongol itu telah diserbu secara tiba-tiba oleh barisan Mancu. Hal ini benar-benar amat mengherankan. Bagaimana bala tentara Mancu sampai bisa muncul secara tiba- tiba di situ tanpa dapat diketahui lebih dahulu?

Sebetulnya hal ini adalah jasa dari "dua peti batu" yang dulu dibawa oleh Han Sin. Batu-batu itu setelah diatur oleh Pangeran Yong Tee, merupakan sebuah peta yang menggambarkan kedudukan tentara Mongol di Yin-san, bahkan semua tempat-tempat di mana ditaruh barisan pendam dan tempat-tempat penjagaan para penyelidik Mongol, terdapat dalam peta itu! Karena inilah maka menurutkan petunjuk peta, Pangeran Yong Tee berhasil menyelundupkan bala tentaranya yang besar dan kuat sampai ke kaki Gunung Yin-san dan melakukan penyerbuan serentak.

Hoa Hoa Cinjin dan kawan-kawannya ikut pula mengamuk, akan tetapi akhirnya mereka harus melindungi Pangeran Galdan dan bersama tokoh-tokoh lain yang berkepandaian tinggi, di antaranya Pak-thian-tok Bhok Hong, mereka terpaksa lari turun gunung mengambil jalan belakang. Di antara rombongan yang berhasil melarikan diri ini terdapat Hoa-ji, si gadis berkedok, anak angkat Hoa Hoa Cinjin.

Bala tentara Mancu yang memperoleh kemenangan besar lalu mengadakan pembersihan dan pengejaran sehingga boleh dibilang bala tentara Mongol yang tadinya amat kuat, kini sudah cerai- berai merupakan kelompok-kelompok pasukan yang tidak ada artinya, terlepas dari pada induk pasukan, tidak memliki pimpinan lagi.

****

Swi-poa-ong Lie Ko Sianseng membalapkan kudanya tak pernah berhenti. Akhirnya, menjelang senja, kudanya terjungkal roboh dan mati. Baiknya kakek gendut ini cukup sigap untuk

melompat turun sebelum ia ikut terguling, sambil mengempit tubuh Han Sin. Ia menarik napas lega ketika mendapatkan dirinya sudah berada dekat dengan Bukit Tai-hang-san yang dituju. Sudah cemas hatinya kalau melihat keadaan Han Sin. Pemuda ini sepucat mayat, napasnya lemah hampir berhenti, tubuhnya sudah dingin!

Lie Ko Sianseng yang maklum bahwa ia tidak boleh, lambat-lambatan, memaksa tubuhnya yang gendut dan sudah lelah itu untuk berlari cepat mendaki Bukit Tai hang-san. Dia tahu di mana tempat tinggal Yok-ong Phoa Kok Tee si Raja Obat. Tidak ada tempat kediaman tokoh kang-ouw yang tidak diketahui oleh Raja Swipoa ini.

Kebetulan sekali si Raja Obat, Yok-ong Phoa Kok Tee, berada di atas bukit itu, tidak sedang pergi berkelana. Tokoh kang-ouw yang kenamaan ini memang semenjak terjadi perang antara Mongol dan Mancu, tidak meninggalkan tempat kediamannya. Dia sendiri tidak mau mencampuri perang antara dua bangsa asing itu, akan tetapi ia tidak keberatan, malah menganjurkan ketika muridnya, Phang Yan Bu menghadap dan minta ijin untuk ikut menggempur Mongol yang merupakan bahaya besar yang mengancam keselamatan rakyat. Ketika Yok-ong Phoa Kok Tee melihat bahwa orang yang terluka parah yang dibawa Lie Ko Sianseng adalah Cia Han Sin, cepat-cepat ia memeriksanya. Setelah meraba nadi, memeriksa dada dan membuka pelupuk mata yang terpejam itu, kakek ini mengerutkan keningnya, lalu menggeleng- geleng kepala.

"Hebat .... memang keji Pak-thian-tok, bekas tangannya mengerikan "

Lie Ko Sianseng nampak gelisah. "Yok-ong kau tolonglah dia ini pesanan terakhir Ciu-ong Mo-

kai dan aku sendiri, aku amat suka orang muda ini. Berapa ongkos pengobatannya sampai sembuh, aku bersedia menguras semua milikku untuk memberikannya kepadamu."

Yok-ong Phoa Kok Tee tersenyum. "Orang seperti kau ini, Swi-poa-ong, di sorga atau neraka sekalipun tentu akan berusaha membujuk penjaga-penjaga di sana untuk menuruti kehendakmu dengan cara menyogok!"

Merah muka Swi-poa-ong. "Sesukamulah kau mengatakan, akan tetapi dia ini bukan sanak bukan kadang kita semua. Meskipun begitu, Ciu-ong Mo-kai sudah rela mengorbankan nyawa untuknya. Akupun sudah menyaksikan kepandaiannya dan kegagahannya, dia inilah harapan kita kaum tua. Terserah kepadamu kausuka mengobati atau tidak, aku hendak kembali mencari si Raja Arak .......

eh, setidaknya mencari jenasahnya untuk diurus "

Yok-ong Phoa Kok Tee tidak menjawab, hanya memandang bayangan yang gendut itu sambil menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang. Banyak manusia aneh di dunia ini, manusia aneh yang sukar diduga wataknya, yang kadang-kadang kelihatan jahat tapi kadang-kadang membayangkan watak manusia sejati, seperti Swi-poa-ong Lie Ko Sianseng itu. Teringatlah ia akan muridnya yang terkasih, Phang Yan Bu dan kembali kakek ini menarik napas panjang sambil menggerutu,

"Semua orang mengaku patriot .... semua orang ingin bertindak sebagai patriot " Ia maklum

bahwa memang pada dasar hati setiap orang yang berbangsa dan bertanah air, sudah ada watak patriotik ini, watak cinta nusa bangsa, berbakti kepada tanah air.

Seperti juga pada dasar hati setiap orang memang sudah ada watak cinta orang tua, berbakti kepada orang tua. Akan tetapi, tebal tipisnya cinta dan bakti ini, baik kepada tanah air maupun kepada orang tua, tergantung kepada tebal tipisnya orang itu mencintai diri sendiri. Makin tebal cintanya kepada diri sendiri, makin tipislah cintanya kepada yang lain. Namun demikian, setiap sikap, setiap tindakan yang menyatakan jiwa patriotik memang amat mengagumkan, amat mengharukan.

Yok-ong Phoa Kok Tee memandang tubuh Han Sin yang terlentang di atas tanah di hadapannya. Pemuda yang hebat, pikirnya. Keturunan seorang pahlawan besar. Masih begini muda sudah mewarisi ilmu yang amat tinggi. Hal ini sudah ia ketahui karena pernah ia bertemu dan menyaksikan kelihaian Han Sin beberapa waktu yang lalu.

"Dia masih begini muda ..., dan aku sudah amat tua apa salahnya kalau aku tolong dia, biarpun

harus menukar nyawa?"

Dengan keputusan bulat kakek raja obat itu lalu mengangkat tubuh Han Sin, mendudukkan tubuh yang masih pingsan itu di bawah sebatang pohon, dan menyandarkannya di pohon itu. Kemudian Yok-ong yang tadi ketika bertemu dengan Lie Ko Sianseng sedang membawa sebuah pikulan keranjang obat, mengeluarkan beberapa bungkus obat dari keranjangnya. Tubuh Han Sin yang luka-luka lalu diobati, ada yang sengaja ia buka kulitnya dengan pisau untuk mengeluarkan darahnya. Han Sin sama sekali tidak merasa apa-apa, masih tetap pingsan. Akan tetapi, setelah banyak darah yang terkena racun dikeluarkan, wajahnya mulai bersinar kembali.

"Hebat " terdengar Yok-ong bicara seorang diri penuh kekaguman, "Hek-tok dan Cheng-tok

(Racun Hitam dan Hijau) yang amat berbahaya tertahan saja di bawah kulit tidak dapat menjalar, benar benar luar biasa! Darah orang muda ini mengandung sesuatu yang dahsyat."

Ia memeriksa lagi dengan amat teliti. "Hemmm, semua tenaganya berkumpul di dada dan perut, melindungi semua isinya ...... tenaga sinkang yang gaib berputaran terus amat kuatnya sehingga

melumpuhkan semua syaraf " Kakek itu bicara terus, kadang-kadang terdengar, kadang-kadang

tidak, keningnya berkerut. Kemudian ia merasa puas dengan pemeriksaannya dan mundur sambil berkata,

"Cia Han Sin, tidak ada lain jalan. Hanya It-yang-ci (Totokan Satu Jari) yang akan dapat membuka lubang hawa yang tertutup sehingga hawa sinkang dapat pulih dan menyembuhkan hawa beracun yang membekukan semua syarafmu."

la menarik napas panjang lalu duduk bersila tak jauh dari Han Sin. Kakek ini maklum bahwa ilmu totok It-yang-ci yang dimilikinya adalah ilmu yang luar biasa dan sekali dipergunakan untuk menolong nyawa Han Sin, mungkin sekali hal itu berarti akan mengorbankan nyawa sendiri, atau setidaknya merusak sumber sinkang di dalam tubuhnya sendiri. Hanya dengan pengerahan tenaga dalam yang luar biasa menggunakan It-yang-ci ia akan dapat menyembuhkan pemuda ini. Dan sekali sumber sinkang di tubuhnya rusak oleh pengerahan tenaga yang berlebihan ini, kepandaiannya akan lenyap pula.

Yok-ong menenteramkan batinnya, mengumpulkan semangat dalam samadhi. Setelah merasa diri kuat betul-betul, ia membuka mata dan tiba-tiba meloncat berdiri. Sepasang matanya memancarkan cahaya berapi, topinya yang lebar terlepas di atas tanah. Dengan gerakan lambat ia melonggarkan, semua ikatan pakaiannya, malah membuka baju sehingga ia bertelanjang sebatas perut.

Kemudian kakek ini mengeluarkan suara aneh dan tubuhnya bergerak cepat sekali menotok dengan jari telunjuk kanannya ke arah leher Han Sin. Totokan ini disusul oleh telunjuk kiri yang menotok ke arah ulu hati. Kemudian disusul totokan-totokan yang amat cepat, bertubi-tubi dan dilakukan dengan kecepatan yang membuat tubuh kakek itu seakan-akan tampak menjadi empat lima orang! Makin lama makin cepat totokan totokan itu dilakukan dan mulailah terdengar napas terengah- engah dari kakek itu.

Seperti juga pada permulaannya yang tiba-tiba, kakek itu tiba-tiba menghentikan totokan- totokannya. Ia nampak pucat, keringatnya membasahi seluruh tubuhnya, napasnya terengah-engah seperti hendak putus. Ia masih berdiri dalam sikap bersilat, matanya masih tajam menatap tubuh Han Sin. Babak pertama dari usaha penyembuhan dengan It-yang-ci sudah ia lakukan.

Lalu perlahan-lahan kakek ini duduk bersila lagi, meramkan mata dan bersamadhi, mengumpulkan tenaga dan mengatur napas. Ada setengah jam ia duduk diam, kemudian ia meloncat bangun lagi dan untuk kedua kalinya ia "menyerang" Han Sin bertubi-tubi dengan totokan It-yang-ci. Masih cepat seperti tadi penyerangannya, hanya bedanya, kalau tadi ia menggunakan tenaga Im-kang sehingga totokannya itu biarpun cepat kelihatannya tidak memakai tenaga.

Padahal sebenarnya pengerahan tenaga dalam kali ini jauh lebih berat dari pada tadi! Sebentar saja napasnya sudah terdengar seperti kerbau disembelih dan ketika tiba-tiba bayangan tubuhnya yang berkelebatan itu berhenti, mukanya menjadi pucat sekali, tubuhnya menggigil dan dari muka dan dadanya keluar keringat besar-besar. la berdiri meramkan mata, mengatur napas.

Ada perubahan pada diri Han Sin. Pemuda ini mengeluarkan rintihan perlahan, tubuhnya bergerak- gerak sedikit, pelupuk matanya terbuka. Biarpun Yok-ong sendiri meramkan mata, namun ia dapat menangkap gerakan pemuda itu, maka dengan suara lirih seperti orang berbisik, lemah sekali, ia berkata,

"Jangan bergerak "

Han Sin mengerling ke arah kakek itu dan otaknya yang cerdas segera dapat menangkap apa yang sedang terjadi. Sinar matanya penuh keharuan dan terima kasih. Di dalam kitab Thian-po-cin-keng ia merasa pernah membaca tentang penyembuhan secara ini, dan ia maklum pula bahwa usaha ini akan mendatangkan bencana kepada Yok-ong!

Hanya sebentar saja ia dapat menggunakan pikirannya karena tiba-tiba kepalanya pening sekali dan ia tak dapat memikirkan apa-apa lagi. Hal ini adalah karena yang sudah terbuka hanya jalan-jalan hawa di tubuh, sedangkan urat-urat syaraf yang menuju ke kepala masih tertutup oleh hawa beracun yang tadinya menyerang dari banyak luka di tubuhnya.

Sampai satu jam kali ini Yok-ong duduk diam, bersila sambil memulihkan tenaganya. Kemudian ia berdiri, tidak meloncat seperti tadi, melainkan perlahan sekali. Namun tubuhnya mengejang, dan setiap gerakannya mengeluarkan bunyi berkerotokan di tulang-tulangnya, matanya bersinar tajam menakutkan bahkan rambut kepalanya ada sebagian yang berdiri.

Dengan langkah perlahan sekali ia menghampiri Han Sin, kemudian dengan gerakan amat lambat dan perlahan kelihatannya namun sesungguhnya mengandung tenaga yang berlipat kali lebih dahsyat dari pada babak pertama dan ke dua tadi, kakek raja obat itu menotok dengan jari-jari telunjuk kanan kiri bergantian ke arah leher, pelipis, dan ubun-ubun kepala Han Sin!

Setelah menotok dua puluh tujuh kali, keadaan kakek ini makin lama makin lemah, akhirnya selesai juga ia melakukan pengobatannya, tubuhnya limbung terhuyung-huyung ke belakang, akan tetapi mulutnya tersenyum lalu terdengar suaranya,

"Sembuh .... sembuh .... sembuh " Ia roboh terguling dan muntahkan darah sambil duduk bersila.

Han Sin merasa betapa hawa murni di tubuhnya sudah berjalan normal kembali, malah dengan hawa sinkangnya ia dapat mengusir semua sisa racun yang menguasai kulit dan urat-urat tubuhnya. la membuka mata dan melihat keadaan Phoa Kok Tee, ia mengeluarkan seruan kasihan dan cepat ia meloncat menghampiri. Yok-ong masih duduk bersila, pangkuan dan bibirnya penuh darah yang tadi ia muntahkan, napasnya senin kemis dan mukanya pucat, tubuhnya menggigil.

Han Sin menitikkan dua butir air mata. Orang yang sama sekali tidak ada hubungan dengan dia, bukan sanak, bukan kadang, bukan pula sahabatnya telah rela mengorbankan diri untuk menolongnya. Bukan main besarnya budi ini.

Pemuda itu lalu duduk bersila pula di belakang Phoa Kok Tee menempelkan telapak tangannya kepada punggung kakek itu untuk mengisi tubuh orang dengan hawa sinkangnya yang disalurkan melalui kedua telapak tangan. Berkat pelajaran Thian-po-cin-keng di dalam tubuh pemuda ini memang terkandung hawa sinkang yang luar biasa. Yok-ong merasa betapa dari punggungnya muncul semacam hawa hangat yang membangkitkan kembali sumber tenaga lweekangnya yang sudah habis, maka ia dapat menggunakan kembali tenaga yang sudah amat lemah di dalam tubuhnya itu untuk meratakan jalannya napas.

Ia menarik napas panjang dan tahu bahwa pemuda itu yang kini membalasnya, menolongnya terhindar dari pada kematian. Namun, iapun maklum bahwa sejak saat itu ia sudah kehilangan kepandaiannya, menjadi orang biasa yang hanya akan dapat mengobati orang dengan daun-daun dan akar-akar obat. Tak dapat lagi menggunakan ilmu It-yang-ci, tak dapat lagi mengerahkan tenaga dalam.

Yok-ong membuka matanya, menoleh dan tersenyum. "Cukuplah, aku tidak akan mati , dan kau

sudah sembuh ”

Han Sin cepat bangun, lalu melangkah ke depan kakek itu, cepat ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata,

"Locianpwe telah menolong nyawaku tanpa menghiraukan keselamatan sendiri. Budi sebesar ini sampai matipun aku Cia Han Sin takkan melupakan dan bagaimana aku dapat membalasnya?"

Phoa Kok Tee tersenyum pahit. "Siapa bilang bahwa aku mengobatimu karena ingin dibalas?"

"Tentu tidak, karena in-jin (tuan penolong) memang seorang yang berwatak mulia. Akan tetapi, locianpwe telah kehilangan kepandaian, malah hampir kehilangan nyawa, bagaimana aku dapat berhati lega lagi kalau tidak berusaha membalas budi. Katakanlah, locianpwe, budi apakah yang dapat kulakukan kepadamu untuk membalasmu? Kalau locianpwe tidak mau memberi petunjuk, biarlah selama hidupku aku mengabdi kepada locianpwe untuk membalas budi, akan kurawat dan kulayani locianpwe "

"Hush, bocah gila! Siapa sudi dengan pelayananmu? Pula, bukan aku yang menolongmu, melainkan Lie Ko Sianseng. Dialah yang membawamu dalam keadaan pingsan ke tempat ini. Si Raja Swipoa itulah yang menolong nyawamu, karena kalau tidak dia menolongmu, pasti kau takkan bernyawa lagi sekarang sudahlah, lekas kaupergi dari sini, jangan mengganggu aku lagi!"

Akan tetapi Han Sin tidak mau bangun dari situ, tetap berlutut di depan Yok-ong. "Biarlah locianpwe akan membunuhku, aku takkan pergi meninggalkan locianpwe kecuali kalau locianpwe memberi perintah sesuatu untuk dapat kulaksanakan sebagai pembalasan budi."